TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Truk itu berwarna merah kusam. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. Ini permintaan ibuku. aku tak bisa menyangkalnya. tampak truk baruku. Terlalu hijau. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. baru buatku. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. ia tidak pernah membuntutiku. lega bisa memandang murung ke luar jendela. Ditambah lagi. Di sana. semua ini bagian masa kecilku. “Aku senang kau menyukainya. well. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. Yang membuatku amat terkejut. supaya kami gampang berkomunikasi. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. kanopi di antara cabangcabangnya. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. masa-masa awal. sebuah planet yang asing. aku menyukainya. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 .Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. dan aku harus memakainya dengan Charlie.” kata Charlie parau. Dad. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. sekali lagi merasa malu. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. Tentu saja pemandangannya indah. dinding biru cerah. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. “Wow. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. Kamar itu sangat familier. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Lantai kayu. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. itu kamarku sejak aku dilahirkan. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan.

orang aneh. ketika aku harus memikirkan esok pagi. Aku harus berkulit coklat. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. pemain voli. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan.untuk menangis habis-habisan. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. tapi aku djAnGgo 10 . aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. pirang. atau pemandu sorak mungkin. jelas bukan atlet. Tubuhku selalu langsing. sporty. tapi lembek. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. Barangkali tipuan cahaya. meskipun sering terpapar sinar matahari. mengundang penasaran. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. sekarang 358. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku.

Disini aku tidak memiliki warna. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. rak-rak kuning terang. mengamati dapur kecilnya. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. bahkan setelah aku selesai menangis. Dan besok baru permulaannya. Tak ada yang berubah. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Aku berterima kasih padanya. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Tidurku gelisah malam itu. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. dengan dinding panelnya yang gelap. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . dan menguncinya. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. bening. Charlie berangkat duluan. setidaknya selama aku tinggal di sini. nyaris transparan. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. tak pernah selaras denganku. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. kemudian menambahkan bantal-bantal. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Mungkin ada masakah dengan otakku. serta lantai linoleumnya yang putih.terlihat pucat. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. Rasanya mustahil berada di rumah ini. Tapi penyebabnya tidak penting. Aku mengenakan jaketku. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. dan menerobos hujan. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. Kulitku bisa saja cantik. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. titik. seperti di kandang. tapi semua itu tergantung warna. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Aku malu melihatnya. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. tidak sehat. Keberuntungan selalu menjauhiku. tak pernah benar-benar sepaham. Bahkan ibuku. meski tahu doanya sia-sia. Yang penting adalah akibatnya. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. Itu membuatku tidak nyaman. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. Hujan masih gerimis. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. tampak deretan foto-foto. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi.

dan peppermint . yang membuatku berhenti. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. Di dalam truk nyaman dan kering. dan aku lega karenanya. letaknya tak jauh dari jalan raya. bensin. seperti kebanyakan bangunan lainnya. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. tapi derunya keras sekali. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket.kuinginkan. dibangun dengan batu bata warna marun. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. meskipun aku belum pernah kesana. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. Yah. Bangunan sekolah. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. nilai tambah yang tidak terduga. Radio antiknya masih berfungsi. Mesinnya langsung menyala. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 .

Aku mempelajari petanya di dalam truk. dan menarik napas panjang. mengikuti barisan-barisan mobil lain. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. Di tempat asalku. “Ini jadwal pelajaranmu. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. bunyinya TATA USAHA. dan peta sekolah. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. dan menyilangkan talinya di bahu.” kataku. Di dalam keadaan cukup terang. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. gedung tiga dengan mudah kutemukan. Jaket hitam polosku tidak mencolok. “Tentu saja.” katanya. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. sebuah jam dinding besar berdetak keras. murid-murid lain berdatangan.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. Disini. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. Ia tersenyum dan berharap. Ia mengenakan T-shirt ungu. dan jelas mencolok. aku setengah membohongi diriku. Ketika aku keluar lagi menuju truk. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. tak ada yang bagus. Tak ada yang parkir disana. aku akan segera menjadi topik gosip. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. Ada 3 meja di balik konter. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Kulihat matanya berkilat terkejut. Kelasnya kecil. Aku bisa melakukannya. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. aku senang berada disini di Forks. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. berambut merah yang menggunakan kacamata. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. Kantornya kecil. karpet bersemburat jingga. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. Aku memasukkan semua ke tas. berusaha mengingatnya. Begitu sampai di kafetaria. Tak diragukan lagi. seperti Charlie. aku menyadarinya dengan perasaan lega. Tak ada yang bakal menggigitku. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. Wanita berambut merah itu mendongak. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . dan lebih hangat dari yang kuharap. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas.

Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . Aku terus menunduk.mereka di tiang gantungan yang panjang.. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. yang lain juga berkulit pucat. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. Mereka 2 orang gadis.. Chauter. dan membosankan. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. bukan respon yang membangun. Menyenangkan. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Mason. yang satu berambut pirang. Bacaan dasar : Brontë. rambutnya cokelat muda. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. Shakespeare. Aku mencontoh mereka. Faulkner. Aku sudah pernah membaca semuanya.

aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. djAnGgo 15 . Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. wajahku merah padam. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. dengan Hefferson. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. “Jadi. “Mmm. “Aku akan ke gedung empat. “Bella.” Ia berharap. Guru Trigonometriku. Aku tersenyum samar dan masuk. Tubuhnya mungil.” ujarku. “Semoga berhasil. Eric mengantarku sampai pintu. Mr.” aku meralatnya. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. Pemerintahan. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium.” katanya ketika aku meraih gagang pintu. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara. dan aku mendesah.” “Ibuku setengah albino. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. tipe anggota klub catur. Aku tak ingat namanya.” tambahnya. Aku tersenyum hati-hati. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. “Terima kasih.. “Cerah. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. aku bisa menunjukkannya padamu. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. meskipun papan tandanya jelas. Setelah 2 pelajaran. lebih pendek daripada aku yang 160 senti.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. yang sudah reda. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol. “Kau Isabella Swan. “Aku Eric. di gedung enam. Beberapa bulan saja di tempat ini.” “Wow.” Jelas tipe kelewat suka menolong. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. Ketika bel berbunyi. “Sangat. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. Vanner. “Kulitmu tidak terlalu cokelat. Aku tergagap. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. suaranya berupa gumaman sengau. Aku mencoba berdiplomasi. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku..” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.

ketika aku pertama kali melihat mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran.Aku tak berusaha memperhatikannya. Cowok dari kelas bahasa Inggris. Eric. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. duduk di ruang makan siang. Ia memperkenalkanku kepada mereka. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. djAnGgo 16 . melambai padaku dari seberang ruangan. Disanalah.

Terlepas dari hidung mereka. Mataku tertuju kembali ke yang lain. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. Rambutnya hitam kelam. memar seperti bayangan. sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mata mereka sangat gelap. Lebih pucat daripada aku. Mereka berlima. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. dari murid-murid lain. Mereka pucat pasi. dari satu sama lain. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Mereka tidak bicara. sangat kurus. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. kaku. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. keunguan. kaleng sodanya belum dibuka. perawakannya mungil. yang kelihatannya sudah kuliah. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. juga tidak makan. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Mereka tidak terpana menatapku. rambutnya gelap ikal. Rambutnya keemasan. mungkin yang paling muda. namun sangat mirip. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. tergerai lembut di punggung. yang aku lupa namanya. seolah temanku telah menyebut namanya. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Aku terus mengawasinya. yang 1 bertubuh besar. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. Namun toh mereka sama persis. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. semuanya luar biasa. semua garis tubuh mereka lurus. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. telah djAnGgo 17 . Ia berpaling dengan cepat. lebih langsing. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. si cewek mungil bangkit membawa nampan. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. Yang jangkung tatapannya dingin. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. apelnya masih utuh. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. berotot seperti atlet angkat besi professional. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Dari 3 cowok. Mereka juga memiliki kantong mata. Tubuhnya indah. begitu kontras dengan warna rambut mereka. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. Ketika aku memperhatikan. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Mereka semua mengalihkan pandangan. atau si cowok berambut perunggu. sempurna. si albino. Yang lain lebih tinggi. Yang cewek-cewek kebalikannya. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya.Mereka duduk di sudut kafetaria. dipotong pendek dan lancip. keindahan yang memancarkan kekejaman. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. yang sama sekali tak beranjak.

mereka tinggal bersama dr. “Itu Edward dan Emmett Cullen.memutuskan untuk tidak menjawab. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. Yang 3 lagi masih membuang muka. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. menunduk memandangi meja seperti aku. yang sekarang sedang memandangi nampannya.” Ia mengatakannya dengan berbisik. Mulutnya bergerak sangat cepat. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. serta Rosalie dan Jasper Hale. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. Aku melirik cowok tampan itu. djAnGgo 18 . Cullen dan istrinya.

Mereka semua anak adopsi. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. Mrs.. Jasper dan Rosalie umurnya 18. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. Dr. “Tidak. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku.” “Mereka baik sekali. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska. sekaligus lega. nama yang sangat umum. Cullen sejak masih 8 tahun. dan Jasper dan Alice. yang pirang. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas.. ketika mereka masih kecil dan segalanya. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs.. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. memang tidak.” “Oh. mau memelihara semua anak-anak itu. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. yang paling muda. Cullen tidak bisa punya anak. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan.. mereka anak angkat.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. kira-kira 20-an atau awal 30-an. salah satu yang bermarga Cullen. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer.” “Kurasa begitu. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. mereka adalah pendatang. dan jelas tidak diterima. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica.” kata Jessica. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun.” Aku merasakan sebersit rasa iba. Saat aku mengamati mereka. pikirku kritis. pikirku.” ujar Jessica enggan. mendongak dan beradu pandang denganku. ada 2 cewek yang bernama Jessica. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. Dan mereka tinggal bersamasama. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. maksudku. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. “Mereka. sangat tampan dan cantik.” “Sekarang memang. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. Cullen masih sangat muda. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. “Kurasa Mrs. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek.Nama-nama aneh dan tidak populer. Emmett dan Rosalie. “Dan mereka selalu bersama-sama. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. Tapi kalau mencoba jujur. aku menduga alasannya adalah iri.” Jessica menambahkan.

Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. dan ia masih menatapku. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. Aku kembali menunduk. Dia tampan. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. seolah-olah dia juga tersenyum. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.” Jessica mendengus. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini.lewat sudut mata. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Lalu aku kembali memandang Edward. Ia sudah memalingkan wajah. Dia tidak berkencan. sikapnya jelas pahit. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. tentu saja. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. ekspresinya sedikit gelisah. “Itu Edward. tapi jangan buang-buang waktu.

Ia menjauh dariku. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Di sisi gang tengah. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. wajahku merah padam. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. Tanpa mengangkat wajah. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. kecuali satu yang masih kosong. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. sebagai penghalang diantara kami. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. Ia menatapku lagi. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. Sepertinya baunya cukup enak. tidak bersahabat. terkejut. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. aroma shampo kesukaanku. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Cewek yang duduk disitu terkekeh. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. Mr. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. aku diam-diam memperhatikan Edward. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. sejauh mungkin dariku. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. kuatur bukuku di meja lalu duduk. Ketika kami memasuki kelas. Ia sudah punya teman sebangku. Ketika aku melewatinya. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Untuk yang satu ini. Ia sedang menatapku. Sekali lagi aku mengintip. gusar. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Tak mungkin ada hubungannya denganku. dan selalu menunduk. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. dan menyesalinya. Bergegas aku memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak mengenalku. Diam-diam aku mengendus rambutku. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Aromanya seperti stroberi.baruku. persis yang dulu sering kutempati. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. dia juga tak pernah santai. hitam legam. duduk di ujung kursi. Ia juga pemalu. duduk di sebelah kursi yang kosong. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya.

Dengan luwes dia berdiri. Aku duduk membeku. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. memunggungiku. Bel berbunyi keras. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. Ia jahat sekali. sebab khawatir air mataku bakal menggenang.jijik. Ini tidak adil. Kalau marah aku biasanya menangis. membuatku terperanjat. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Ketika aku mengalihkan pandang. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. kebiasaan memalukan. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. djAnGgo 22 . menciut di kursiku. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. Ia tersenyum ramah. ia lebih tinggi daripada yang kukira. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. menatapnya tanpa berkedip. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.

Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. Pelatih Clapp. ia bertanya. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Pintunya terbuka lagi.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Cewek yang djAnGgo 23 . Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. Pasti sesuatu yang lain. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. Mike malah terus bersamaku. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. memudahkan segalanya buatku.” Ia tampak senang. Akhirnya bel terakhir berbunyi. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. Secara harfiah. Guru senam kami. Ia cukup bersahabat dan mempesona. menunggu petugas resepsionis selesai. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun.” timpalku. Forks bagiku adalah neraka di bumi. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. dan yang kutimbulkan. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Dari pembicaraan kami. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini.” Bukannya menuju kamar ganti. jam mana saja. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. Aku memeluk diriku sendiri. “Aku Mike. nada suaranya rendah dan indah.” katanya. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. ketika bermain voli aku merasa agak mual.” ralatku sambil tersenyum. Kurasa aku bisa menemukannya.” “Aku tidak tahu. aku bakal mengobrol denganmu. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Aku berdiri merapat ke dinding belakang.“Bella. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. Kami berjalan bareng ke gymnasium.” Aku menciut. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari.” “Itu juga kelasku berikutnya. “Ya. Di tempat asalku. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. Edward sedang berdebat dengannya. meniup kertas-kertas di meja. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Jadi.” “Hai. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. memberikan seragam buatku. “Jadi. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. Hujan sudah reda. Mike.” “Dia aneh. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya.

Tapi punggung Edward Cullen menegang. Tatapannya hanya sedetik. dan perlahan ia berbalik menatapku. “Kalau begitu lupakan saja. meletakkan catatan di keranjang kawat.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. “Aku mengerti ini tak mungkin. Ia berbalik lagi ke resepsionis. tatapannya menghujam dan sarat kebencian.masuk langsung melangkah ke meja. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. lalu lenyap di balik pintu.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. lalu keluar lagi. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. djAnGgo 24 . tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. wajahnya luar biasa tampan.

Aku berjalan pelan ke meja. Ia kelihatan tidak percaya. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. Aku duduk sebentar di dalamnya. hanya menerawang ke luar kaca depan. wajahku pucat dan bukannya memerah. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. Ketika tiba di lapangan parkir. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. “Bagaimana hari pertamamu.” aku berbohong. djAnGgo 25 . Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. “Baik. suaraku lemah. Nak?” tanya resepsionis lembut. hanya tinggal beberapa mobil disana. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan.

diplomasi sangatlah penting. Lebih buruk karena Mr. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. dan membuktikan kecurigaanku keliru. meski langit sudah tebal oleh mendung. membuatku tersanjung. Ketika terbaring nyalang di ranjang. dan dengan berlalunya waktu. bersama Mike. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. Eric. aku merasa sangat tidak nyaman. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya.. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. tapi juga lebih buruk. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. melangkah setia disisiku menuju kelas. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. yang mirip Golden Retriever. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. Jessica. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. Lebih baik karena hujan belum turun. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Lebih buruk karena aku lelah. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. waswas terhadap tatapan anehnya. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. bukan tenggelam. tapi ia sendiri tak ada. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. dan sekalinya tidak terhantam bola. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Edward masih belum muncul juga. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan.. akupun semakin tegang. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Mike. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Ia tidak datang.2. Di kota seperti ini. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. dan ini takkan mudah. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Sesampainya di pintu aku menahan napas. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . gelisah menantikan kedatangan Edward.

Tidak mungkin.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. berhubung Edward tidak masuk. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar. Aku terus-terusan mengingatkan diriku. Aku djAnGgo 27 . Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. Ketika sekolah akhirnya usai. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar.

Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. dan memeriksa e-mail. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus.. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. Sebelum mengerjakan PR. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. aku membawa tas sekolahku ke atas. aku melihat Cullen bersaudara. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. Kuharap Charlie tidak keberatan. “Bella. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. namun bermerek. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. memastikan semua ada disitu. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. Tentu saja. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Tidak. hidup memang lebih sering seperti itu. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . gaya mereka. Mom. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. melapisi steak dengan saus marinade. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan.. The Thriftway tak jauh dari sekolah. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon.. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama.ku untuk pertama kali. rasanya normal. Jadi aku membuat daftar belanjaan. dan aku menyukainya. Aku mendapat 3 pesan. hanya beberapa blok ke selatan. Tapi sejauh yang kutahu. dan sekarang akan menuju Thriftway. “Bella. selesai mengepak untuk ke Florida. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka.” tulisnya. Mereka memang suka menyendiri. Selesai melakukannya. Ketika aku menunggu.berjalan cepat menuju parkiran. Karena sekarang aku memperhatikan.” tulis ibuku. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Volvo baru yang mengkilap. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. selepas jalan raya. aku tak percaya sepenuhnya. Aku pinkku. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam.. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. sama seperti yang lain. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. simpel. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. aku mengganti pakaian dengan yang kering.

Kalau sampai jam 5.Isabella. djAnGgo 29 . aku akan menelepon Charlie.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu.

Tapi senjatanya itu selalu siaga. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. Mom.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. kau harus mengambilnya hari Jumat. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Sudah pulang?” “Ya. Aku masih punya waktu 1 jam. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. Charlie memberikan aku truk. Mom. Mobil tua. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. Dad. Bella napas. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. Jangan konyol. Aku lupa waktu. Blus pinkmu ada di dry clean. hanya sedikit mengulang pelajaran. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. “Steak dan kentang. Namun diam yang nyaman. Semua baik-baik saja. dan memulai lagi. Setahuku. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas.” jawabku. Dalam beberapa hal. ketika masih kanak-kanak. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. Bella. Tenang saja. “Jadi. dan Dad tampak lega. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. djAnGgo 30 . dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. kau tahu kan. yang berarti bagus. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. kami sangat cocok hidup bersama. kemudian menyiapkan meja makan. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Waktu aku datang kesini. buatku. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. tapi benar-benar ‘bandel’. Memangnya ada orang lain? pikirku. “Aromanya lezat. Tentu saja disini hujan. Tenang. Aku sedang menulis sekarang. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Ibuku juru masak imajinatif. Aku mengirimnya. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Sekolahku tidak jelek. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . “Hei. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. kau percaya? Aku menyukainya. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. Aku akan menulis lagi nanti.” “Terima kasih.Aku melihat jam. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. Bell. Aku juga rindu padamu. tarik sayang Mom. demi kesenangan.

djAnGgo 31 .

keluarganya baik. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. Setiap hari. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Aku tertidur dengan cepat. ia telah meninggalkan sekolah. kalaupun bukan nama. hampir semua murid di sekolah.. Mike. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . Charlie. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. dan setelah selesai mencuci piring. agak berbeda. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. Malam itu suasana tenang. tapi lebih karena tidak enak menolaknya.. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa.. Yang kutahu. “Dr. Memang konyol sih. “Itu pasti Mike Newton. Anak baik.. dia cukup berhasil. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi.” gumamnya. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. suaranya makin keras. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. kelelahan... dengan anak-anak remaja adopsi itu. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Dia aset bagi komunitas kita.“Well. Ia kembali menonton TV. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. Mereka sangat menarik.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie.” Dengan satu pengecualian mencolok. Saat makan siang. “Untunglah pernikahannya bahagia. aku duduk bersama teman-temannya. Aku berusaha tidak memikirkannya. Tapi mereka sangat dewasa.” tambahku. anakanaknya. “Kita beruntung memilikinya. Aku mundur sedikit. “Kau harus bertemu dr. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. “Mereka.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan. yang sangat bersahabat. tak lagi menghawatirkan Edward. Karena banyak backpacker datang kesini. Pantai seharusnya panas dan kering. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. dan telah setuju untuk ikut. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah.” lanjutnya. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Cullen. Bukan karena ingin.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Semuanya kelihatan lumayan baik. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Aku diajak. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Sisa minggu itu berlangsung membosankan.” kata Charlie tertawa. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. Lalu ada cowok. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. “Orang-orang di kota ini. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota.

dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana.. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. Pagi ini cuaca lebih dingin. tapi untungnya tidak hujan.. aku tidak jadi membuat kartu anggota. tenang. Aku membersihkan rumah. mengerjakan PR. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. dan bergidik memikirkannya.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. memilih bekerja sepanjang akhir pekan. Iseng. Di djAnGgo 33 . tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. sehingga aku bisa tidur nyenyak. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing.

“Kau tidak lapar?” tanya Jessica. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. gumpalan es meleleh di rambutnya.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. aku mengingatkan diriku sendiri. Sejujurnya. Hilang sudah hari baikku. tahu kan. “Selain itu. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. “Di TV. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. mataku masih tertuju ke lantai. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. Jessica menarik lenganku. Angin menerpa pipi dan hidungku. rupanya ini salju pertama di tahun baru.” jawabku. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. “Hari ini aku minum soda saja. perutku keroncongan.” kata Mike. “Kita bertemu lagi saat makan siang. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. Aku curiga itu perbuatan Eric. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. “Salju. ulangan itu sangat mudah. Ia tertawa. Jessica menganggapku konyol. Mike tampak terkejut. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. Kukatakan aku baik-baik saja.” Jelas. yang berjalan jauh memunggungi kami. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. aku langsung masuk. Tentu saja lebih kering daripada hujan.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar.” Mike hanya mengangguk. lalu mengikuti mereka ke meja. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Dua kali Mike menanyakan keadaanku.” Salju. “Wow. Ketika kami berjalan keluar kelas. Lalu aku berdiri mematung. Ada 5 orang di meja itu.” Mike tertawa. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. Aku memegang binder di tanganku. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. dan bukannya menuju kelasnya. “Tentu saja pernah. “Sebenarnya. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. Bola-bola salju melesat dimana-man. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini.” kataku. Aku tak punya alasan untuk merasa malu.kelas bahasa Inggris. Aku tidak mengatakan apa-apa. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. mataku menatap ke bawah. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. aku merasa sedikit tidak enak badan. “Uuuh.” Aku terdiam. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. “Tidak apa-apa. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. telingaku panas.

bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. seperti pengecut. aku akan bolos kelas Biologi. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada. Kalau ia menatapku. Konyol. djAnGgo 35 . Aku seharusnya tak perlu melarikan diri.

Meski begitu aku yakin. jangan dilihat lagi. Berhubung ia tidak kelihatan marah.” desisku. Tapi dia masih memandangimu. Jasper. terdengar bingung dengan pertanyaanku. well. Mike terus mencerocos. Ia hanya kelihatan penasaran. menyembunyikan perasaan senangku.. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. Aku menaikkan tudung jaket. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. Aku masih gelisah.” kata Jessica.. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. Edward. “Tidak. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. Tapi ada sesuatu. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. “Kau sedang menatap apa. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. “Edward Cullen menatapmu. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. Aku menunduk. berusaha menemukan perbedaan itu. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Hujan turun. Mereka menikmati hari bersalju. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. Artinya aku bebas. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Aku diam saja. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Jessica mendengus. aku akan ikut pelajaran Biologi. seperti tidak puas. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. tapi ketika kami berjalan menuju kelas.” “Sudah. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. Ketelungkupkan kepalaku di tangan.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. djAnGgo 36 . aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. seperti anak-anak lainnya. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. tapi toh dia mengalihkan pandangan. Aku sedikit mengangkat kepala. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. Dari caranya menatap Mike.” jawabku jujur. Lalu Mike menyela kami. “Dia tidak kelihatan marah. Selama sisa waktu makan siang.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. ada sesuatu yang berbeda. Mereka sedang tertawa. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. matanya mengikuti arah pandanganku. semua orang kecuali aku serempak mengeluh.

berantakan. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser.” kudengar suara merdu dan tenang. iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. Air menetes dari rambutnya. meski begitu djAnGgo 37 . aku lega karena mejaku masih kosong. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. “Halo. tapi mataku tetap terarah pada gambarku. Mr. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja.Begitu tiba di kelas. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. tetapi kursinya diarahkan padaku. Aku mendongak. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol.

hanya sedikit. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.” Saking bingungnya. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. Ia tertawa lembut.” lanjutnya. “Kau duluan.” aku mencoba menjelaskan. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. Kupelajari slide-nya sebentar. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. Aku memalingkan wajah malu-malu. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. djAnGgo 38 . Bagaimanapun. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. Bersama partner masing-masing. wajahku merah padam.” Aku memamerkan kemampuanku. Meski masih kaget. Untungnya Mr.” Aku nyengir. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. “Namaku Edward Cullen.” ia tidak meneruskan. aku lebih suka Bella.” Senyum itu memudar.” kataku. maskudku ayahku. kurasa semua orang tahu namamu. Aku harus bicara. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. lalu melihatnya sepintas lalu. “Tapi kupikir Charlie. Ketika ia menyentuhku. “Profase. Kau pasti Bella Swan. “Tidak. benar-benar merasa seperti orang bodoh. “Aku akan memulainya. “Profase. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. langsung meraih tangannya. dan tahu apa yang harus kucari. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. Jari-jarinya dingin bagai es. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot.” bantahku bodoh. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Tapi matanya tampak hati-hati. “ Oh. kepalaku sampai pusing. Aku pernah melakukan percobaan ini. pasti memanggilku Isabella di belakangku. Banner memulai pelajaran saat itu juga.” kataku. Aku yakin dengan pengamatanku. “Mulai!” perintahnya. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. tawa yang menyenangkan.” gumamnya pelan. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak. ia menunggu. “Maksudku. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar. Seharusnya mudah.” dia setuju. “Tidak. ia tetap meraih mikroskop. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. partner?” tanya Edward. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi. “Oh. “Maaf. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung.

djAnGgo 39 . dan merasa kecewa karena dugaanku salah. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. Sial. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. ia benar. Ia menyerahkannya padaku. sambil menulis. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek.“Anafase. dan mendorong mikroskop ke arahku.” gumamnya. Aku berusaha terdengar tidak peduli.

” djAnGgo 40 .” “Whitefish blastula?” “Yeah. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Ia mengintip sebentar. “Tidak.” Mr. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami.” Edward meralat ucapan Mr.” Sekarang Mr. tapi dengan nuansa keemasan yang sama. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. “Bella. lalu menuliskannya. “Jadi. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain.” “Oh. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. Banner. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. dan aku tak bisa berkonsentrasi. Aku menunduk. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu.” gumamku. Kami selesai duluan. Ia melihat dari balik bahu. Banner mengganguk.” katanya setelah beberapa saat. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Aku tersenyum malu-malu.” jawabku jujur.“Interfase. “Kau tidak suka dingin. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Aku mendongak. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. Banner menatapku.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. “Tidak juga. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. Ketakutan kembali menyelimutiku. Tangannya mengepal lagi. ekspresinya skeptis. pandangan frustasi dan misterius yang sama. lebih gelap daripada mentega. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. “Sayang sekali turun salju. ya kan?” Edward bertanya.” Itu bukan pertanyaan. Lalu Mr. Edward. dan ia sedang menatapku. Setelah ia pergi. menatap percobaan yang telah selesai.” “Well. “Tidak dengan akar bawang merah. Banner menghampiri meja kami. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. “Atau basah. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Banner. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya.

djAnGgo 41 .. aku tak bisa membayangkannya. tidak blak-blakan seperti dirinya.” “Rasanya aku bisa mengerti.” gumamku dingin. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya. “Kau tak tahu bagaimana rasanya.“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. “Jawabannya. rumit..” ujarnya melamun.” desaknya. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. entah untuk alasan apa. begitu menuntut jawaban. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku.

Aku tertawa sinis.” Alisnya bertaut.” Edward mencoba menebak. “Kapan itu terjadi?” “September lalu..” katanya. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. Aku terus menghindari pandangannya. Aku menghela napas. ia tidak mengirimku kesini. “Kurasa tidak. bukan pertanyaan.” Ia mengangkat bahu. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini.” gumamnya puas. Tatapannya berubah menilai. bahkan untukku sendiri. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. “Itu tidak adil. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. Ia terdengar senang.” ujarnya. “Ibuku menikah lagi. “Ya sudah. dan aku menjawab tanpa berpikir. “Tapi sekarang kau tidak bahagia. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati..” Lagilagi ia melontarkan dugaan. Dahiku mengerut.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. “Kau pandai berpura-pura. Banner yang sedang berkeliling.” Aku nyengir.” ujarnya. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk. “Phil sering bepergian. “Terus?” tantangku.. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil. Aku menghela napas. “Tidak juga. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. “Apakah dia terkenal?” tanyanya.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. Dia sering berpindah-pindah.” katanya pelan.” Aku setengah tersenyum. Aku memandangnya tanpa berpikir. mengawasi Mr. balas tersenyum. “Tidak. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. Dia bukan pemain andal.. “Barangkali tidak. “Tidak. tapi dia merindukan Phil. Benar-benar liga kecil. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung.” timpalnya datar. itu saja. tapi cukup baik. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 .” bantahnya. suaranya masih ramah. Dia pemain bola. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie.” kataku.” Suaraku terdengar sedih. namun tatapannya masih tajam. “Mula-mula ia tinggal denganku. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. Ini membuatnya tidak bahagia. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Terlalu muda barangkali.Lama aku diam. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Phil baik.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya. “Dan kau tidak menyukainya. “Pertanyaan yang sangat bagus. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. “Aku tidak mengerti. Aku sendiri yang mau. lalu memalingkan wajah. memandang marah ke papan tulis. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya.” kataku.

” Ia tersenyum lebar.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya.” “Biasanya.mudah ditebak. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku.” Wajahku merengut. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna. djAnGgo 43 . ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka. ia terdengar bersungguh-sungguh. aku malah sulit menebakmu. “Kebalikannya.

matanya menatapku lekat-lekat. Toyota itu beruntung.” kataku. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa.Mr. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. dari sudut mataku. melepas tudungnya. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba.” erangnya. yang jaraknya 3 mobil dariku. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. Aku menarik napas panjang. Ia tampak menikmati percakapan kami.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. Mike tidak tamapak senang. “Itu buruk sekali.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Banner menyuruh murid-murid tenang. Aku berusaha terdengar kasual. dan berhati-hati mundur lagi. itu saja. Aku membuka jaket. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. masih melihat ke sisi lain mobil. bahwa ia menjauh lagi dariku. Trukku jenis penghancur. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. kali ini lebih baik. terkejut mendengar ucapannya. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. “Semua slide itu mirip. yang mungkin membenciku atau tidak. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya.” “Gampang saja buatku. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Aku langsung menyesal. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. aku menginjak rem tepat pada waktunya. memastikan tidak ada siapa-siapa. “Aku pernah melakukan percobaan ini. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Mike satu tim denganku hari ini. tapi sekarang bisa kulihat. Ketika bel akhirnya berbunyi. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. Aku memandang sekelilingku. Kunyalakan mesin penghangat. djAnGgo 44 . dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. Dan seperti Senin lalu.

djAnGgo 45 .

Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Sambil mengemudi ke sekolah. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. sangat bodoh. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. ada sesuatu yang berbeda. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Dan aku curiga padanya. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. Dilihat dari berbagai sisi. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. lalu mengerang ngeri. Ada cahaya. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. ataupun bertemu teman-teman baruku. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. dan ini membuatku takut. Dan itu sangat.3. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. dengan memikirkan Mike dan Eric. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Kalau mau jujur. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Apapun alasannya. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. Mungkin karena aku masih baru sisini. tapi bagaimanapun juga cerah. dan membuat jalanan menjadi putih. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. melapisi atap trukku. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini.

dan memeriksa banku.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. aku mengemudi sangat pelan. djAnGgo 47 . Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. Meski begitu. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. ketika mendengar suara aneh. Aku melihat sesuatu berwarna perak. tak ingin tergelincir. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. Aku tak terbiasa diurus. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah.

Aku berusaha menjernihkan pikiran. masih berputar dan meluncur. “Hati-hati. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. nyaris menabrakku lagi. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. terkejut. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. benar-benar terkejut. keras. karena van itu masih meluncur mendekat. Bella. “Aduh. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa.” kataku. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku.. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. “Bagaimana bisa.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Dalam kekacauan yang tibatiba. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. memandangku ngeri. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras. “Itulah yang kupikirkan. djAnGgo 48 . tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. berhamburan ke jalanan. dan sesuatu menarikku. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. mengumpulkan kekuatan. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film.Itu suara lengkingan tinggi. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. nada suaranya kembali serius.. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. sesuatu menerjangku. Aku melihat beberapa hal bersamaan. Aku mendongak. lalu terdengar suara kaca pecah.” Suaraku terdengar aneh.” katanya. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. dan van itu berhenti. dan aku berdiri diantara keduanya. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak.” suaraku perlahan menghilang. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya.

Ada kegetiran dalam suaranya. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Aku mencoba bangkit.” “Tapi dingin. “Sekarang jangan bergerak dulu. Aku terkejut karena ia tertawa kecil.” seseorang memerintah. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku. djAnGgo 49 . saling berteriak. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. “Jangan bergerak. berteriak kepada kami.” aku mengeluh.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka.

. “Tidak. “Kau ada di sebelah mobilmu. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. dan ia akan mengakuinya. tiba-tiba terdengar putus asa. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak.” Ekspresinya berubah kaku. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. aku benar. aku sedang berdiri bersamamu. “Kumohon. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. mulai dari protes sampai marah.” “Kenapa?” desakku. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu.” ia memohon. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. ekspresi mereka beragam.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku.“Kau ada di sebelah sana. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. Butuh enam petugas medis dan dua guru. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. “Tidak.” aku mengulanginya dengan nada marah. “Aku tidak apa-apa. suaranya yang lembut mengodaku. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. Edward dengan kasar menolak. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka. Mr. Yang membuatnya lebih buruk. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang.” Rahangku mengeras. Menjengkelkan. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. “Percayalah padaku.” keluhku. Mereka membawaku ke UGD. Warna emas di matanya berkilat-kilat. Lalu datang pasien lain. Varner dan Pelatih Clapp. Aku menggertakkan gigiku. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Keluarganya tampak di kejauhan.. Edward naik di depan. Aku mengenali Tyler Crowler. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. “Bella. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku.” “Aku melihatmu. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. Ketika juru rawat pergi.” Sekeliling kami kacau. Bella. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 . temanku di kelas Pemerintahan. “Aku baik-baik saja. dan aku menarikmu dari sana.” tukasnya. Yang membuat segalanya lebih parah. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. “Oke. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Dad. Char... untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. seolah memberitahu sesuatu yang penting.

maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. djAnGgo 51 . “Bella. Tyler. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. Ia menatapku waswas. kau tampak buruk.kurasakan.

“Aku baik-baik saja. Ia terus menggumamkan penyesalan. “Siapa?” “Edward Cullen.” Ia terlihat bingung.” Aku tahu aku tidak sinting. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. tampak lelah. Tidak mudah. dan mulutku menganga melihatnya. “Jadi. ini pasti ayah Edward. dan aku benar. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku.” aku mengeluh. kau tidak mengenaiku. “Tapi jangan khawatir. “Tidak ada darah. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. Jadi. “Cullen? Aku tidak melihatnya. “Jangan khawatirkan itu. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. menunggu. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. pirang. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.. nyengir. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. tidak seru. Aku bertanya apakah aku boleh pergi.. Aku memandangnya. Meski begitu ia pucat. aku terperangkap di UGD.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. Dia ada disini entah dimana.. Ia masih muda.. Ia nyengir lagi.” dr. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat.. Edward.Ia mengabaikanku. “Jadi. Edward menarikku. Dari yang dideskripsikan Charlie. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter.” “Mmm. dengan lingkaran di bawah matanya.” jawabnya. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. “Hei. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak..” Aku tak pernah pandai berbohong.. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Cullen berkata dengan suara sangat merdu.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. mudah-mudahan untuk terakhir kali. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu.” Lalu seorang dokter menghampiri. memamerkan giginya yang sempurna.. lalu kau menghilang. Miss Swan. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya.” kataku. aku datang untuk menyelamatkanmu... aku sangat menyesal. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. namun menghadap ke arahku. wow. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi.” katanya. ” Tyler memulai. djAnGgo 52 . Mataku langsung terbuka. dan mobilku selip. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. dia berdiri di sebelahku.

“Tidak juga. “Sakit?” tanyanya. djAnGgo 53 . membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.” “Tidak apa-apa. Ia memperhatikan ketika aku meringis. “Well. Mataku menyipit. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. kau bisa pulang dengannya sekarang.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. Aku mendengar suara tawa.” katanya. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward. kepalamu terbentur cukup keras. ayahmu berada di ruang tunggu.” kata Edward ponggah.” Aku menatap Edward.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku.” aku mengulangi sambil menghela napas.“Hasil rontgenmu bagus. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. lalu menatap Edward geram.

tampak bersalah. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan.. aku bergeser ke sisi Edward. juga di mobil yang lain. “Kau berhutang penjelasan padaku.” ujar dr. Cullen. “Kau sudah janji. Ia mundur selangkah. Ia menatapku tak percaya.. menutupi wajahku dengan tangan. “Sakitnya tidak separah itu kok. “Aku menyelamatan hidupmu. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu.” ia memberikan saran sambil memegangiku. Ia tampak waswas.” ia berkata kepada Tyler. Tatapannya dingin. tapi itu justru membuatku semakin curiga.” katanya sepelan mungkin. aku terpeleset. dan mulai memeriksa luka-lukanya. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku. Ia menatapku jengkel.” Ia balas menantang. Cullen terangkat. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. kepalamu terbentur. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu. kalau kau tidak keberatan. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. Tapi wajahnya tegang. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. “Aku baik-baik saja.” dr. “Apa yang kau mau dariku. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek. Tyler juga tidak melihatmu. Cullen dan Tyler.” “Bella.” Nada suaranya tajam.” kataku. ia berbalik menghadapku. well.” aku berkeras.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. Lalu semua terlontar begitu saja. Intuisiku tepat. “Kedengarannya kau sangat beruntung.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. Begitu dokter memunggungiku. tapi nyatanya tidak.” desakku. Lalu ia berpaling memandang Tyler. dan aku tak bisa melanjutkannya. Alis dr. tapi kau menahannya. “Oh. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak.” “Oh tidak. dan dr. djAnGgo 54 . Cullen menangkapku. dan kau sama sekali tidak terluka. Cullen. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. tidak!” aku berkeras. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku.” erangku.“Sebenarnya. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku.” kata dr. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. ya. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. aku tak berhutang apa-apa padamu. kutatap dia tajam-tajam. Emosiku meluap-luap sekarang. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. Cullen meralat. dan menghampiri tempat tidur sebelah. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. sang dokter sedang memikirkannya. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku.” aku mengingatkannya. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.” aku meyakinkannya lagi. Terlalu cepat. “Ayahmmu sudah menunggumu. Aku memandang dr.

rahangku mengeras. kau tahu.Aku hanya mengangguk sekali. djAnGgo 55 . “Tak ada yang bakal mempercayai itu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang.

Charlie akhirnya bicara.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan. “Aku tidak apa-apa. dan Eric ada disana. Cullen memeriksaku. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana.” Aku menunggu.” pintaku. Mike.” Aku menghela napas. Aku sangat marah. djAnGgo 56 .” bisiknya. “Ayo. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. Rasanya sangat lega. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. Wajahnya tampak kaget.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar. berusaha untuk tetap fokus. “Kau takkan menyerah. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong.. Lalu ia berbalik dan menjauh. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku. tak ingin bebasa-basi.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. Ketika kami tiba di rumah. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. tidak benar-benar menyentuhku. kan?” “Tidak. “Apa kata dokter?” “Dr. Jessica. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. berasda di mobil patroli. Setelah bisa berjalan. Charlie bergegas ke sisiku. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. yang masih tak bisa kupercaya. aku mengangkat tangan. mulai bergabung dengan kami. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. Aku terkejut. Ia berhenti. Aku masih kesal.” Ia menunduk bersalah. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Ia memohon supaya aku mau pulang. Bodoh. Akulah yang pertama bicara.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. menatapku.” desakku. Tentu saja ibuku histeris.” “Kalau begitu.” Kami saling menatap marah dalam hening.. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan.. kau harus menelepon Renée. “Aku tak tahu. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. marah dan berharap. “Aku tak suka berbohong.. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. “Mm. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. hati-hati mengendalikan amarahku. itulah pertama kali aku merasakannya. kuharap kau menikmati kekecewaanmu.

sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. Obat ini lumayan membantu. bodoh. Charlie terus-menerus mengawasiku. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. dan begitu rasa sakitnya mereda. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 .bodoh. membuatku merasa tidak nyaman. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. aku tertidur pulas.

Yang membuatku cemas. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. dengan tidak mungkinnya. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu.” sapaku ramah. tak peduli seberapa keras aku memanggil. “Halo. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. Karena ketakutan. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas.4. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. tapi ia tetap berkeras. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. Aku sangat ingin bicara dengannya. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. djAnGgo 58 . meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Aku duduk. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. meninggalkanku dalam kegelapan. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. Merasa kecewa. Aku berusaha terdengar meyakinkan. Jessica. berharap ia akan berpaling ke arahku. sebelum ia tiba-tiba. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. ia tak pernah berbalik. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. dan sejauh mungkin. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. Aku tak bisa melihat wajahnya. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Terkahir kali aku bertemu dengannya. terutama karena aku baik-baik saja. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. Tak satupun dari mereka. aku menyadari alasan yang masuk akal. tidak makan. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. memandang ke arahku lagi. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. kami berdua begitu marah. Edward. aku tak bisa mengejarnya. menyelamatkan hidupku. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. dan pada awalnya memalukan. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Hanya kadang-kadang. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. Eric. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. Mike. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. menegangkan. entah dengan cara apa. mencoba terlihat sopan. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. hanya mengobrol sendiri. Betapa menyedihkan. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. terutama Edward. tanpa melirik kanan-kiri. di luar ruang UGD. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. entah bagaimana caranya.

meskipun ia ada disana. mengangguk sekali. tak sanggup menahan diriku. Kadangkadang aku memerhatikannya. Dan itulah kontak terakhirku dengannya. sejengkal dariku. lalu berpaling lagi. setiap hari.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. di kafetaria atau di djAnGgo 59 . meskipun hanya dari jauh.

” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. “Kau yakin tidak keberatan.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. “Bakal asyik banget lho. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. Kalau Mike menolak ajakannya. Meskipun aku berlagak tak peduli. “Jadi.” kata Mike menatap lantai. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. seperti ia mengabaikan kami semua...” Aku berhenti sesaat. Aku benarbenar merana. Ia semakin percaya diri. dan aku takut menanyakan alasannya. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. mengkhawatirkan aku. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya.” “Bagus dong. Dan mimpi-mimpiku berlanjut. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. Seperti biasa. berbincang sangat akrab dengan Eric. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail.. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu.. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. seperti ia juga tak memedulikanku. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. well. aku tak akan pergi. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan.parkiran. Jess. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. kalau kau berencana mengajakku. “Bersenang-senanglah dengan Mike. mengabaikan Edward. jelas tidak menyukai reaksiku. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku.. Ia menelepon beberapa kali. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi.” “Well.. Aku berusaha meyakinkannya. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu.” aku mendukungnya. tidak seperti biasa.” aku meyakinkannya. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya. Aku merasa iba. wajahnya yang suram pertanda buruk. “Tidak. Mike juga diam. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. djAnGgo 60 . tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud.

” “Kenapa tidak?” desak Mike. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.” kataku. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. kurasa kau harus bilang ya padanya. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 . “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. jadi aku langsung menyusun rencana baru. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak.” tuturku. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle.“Mike.” aku menyakinkannya.

” Ia terdengar tulus. Tanganku mulai gemetaran. Lebih dari menyedihkan. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. mataku tetap terpejam. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. enggan. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. terkejut.“Maaf. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. “Aku tahu sikapku sangat kasar. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. dan berhubung ini tidak mungkin. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. lalu berbalik.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku. Perlahan aku berbalik. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar.” djAnGgo 62 . hati-hati. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Banner mulai bicara. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Aku menghela napas dan membuka mata. “Percayalah. “Aku minta maaf. dengan muram berjalan ke mejanya. Mr. Ia menunggu. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung. jelas membuatnya kaget.” Mataku menyipit. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu.” kataku. Ia tidak mengatakan apa-apa. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku.” gumamnya.” Aku membuka mata. Edward?” aku bertanya. Banner. Pengecut seperti biasa. Menyedihkan. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya.” desisku tertahan.” “Yeah. berharap ia langsung pergi seperti biasa. Cullen?” panggil Mr. ekspresinya tidak bisa kutebak. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. sungguh.” kataku. kau benar. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. Aku balas menatap. Banner. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. “Siklus Krebs.” ia menjelaskan. “Mr. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. Ketika bel akhirnya berbunyi. berharap ia akan langsung membuang muka. Tapi lebih baik seperti itu. berusaha menenangkan diri. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. itu tidak baik.” jawab Edward. Wajahnya sangat serius. ini tidak sehat. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. sadar aku mengertakkan gigi. tidak bisa. “Lalu apa yang kau inginkan. Dan Edward sedang menatapku penasaran.

Kukumpulkan semua buku-bukuku. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. “Kau tidak tahu apa-apa. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. sempat berpikir untuk pergi saja. lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Aku terdiam beberapa saat.Ia terpana.” tukasku. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . ia nyaris terdengar marah. tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Ketika akhirnya bicara.” Ia jelas sangat marah. Ia memandangku keheranan. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis.

Aku memandang. melompat masuk. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku.” balasnya geram. mungkin lain kali. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. Edward sedang melangkah melewati depan trukku.membungkuk untuk memungutinya.” katanya. Aku membuka pintu. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. “Well. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. rasanya lega ketika sekolah usai. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. Tyler. terlalu bingung untuk berdiplomasi. tapi masih di sekitar kafetaria. Bella. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. aku tahu. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. berpaling darinya. Kami belajar basket. pintunya terbuka.” “Tentu. Keras sekali. Keadaan di gymnsium kacau. banyak orang yang ingin kuhindari. “Oh. dan itu bagus.” ia mengakuinya malu-malu. “Kupikir ceweklah yang mengajak. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. jelas kemacetan ini bukan salahku. Eric. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. wajahnya tegang. Seperti biasa. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. ternyata Tyler. Matanya menyipit. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. lalu menyerah.” kataku dingin.” Aku kesal.” aku menyetujuinya. tapi ada kelewat banyak saksi. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Edward sudah berada di mobilnya. menatap lurus ke depan. “Hei. Aku langsung bangkit berdiri. bingung. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. “Maaf. Ia ada disana. Mobilnya masih menyala. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. ya. hanya selang 2 kendaraan. “Terima kasih. meluncur mulus dihadapanku. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. Ia berhenti disana. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Aku mendengar suara tawa samar-samar. dan membantingnya keraskeras. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . memotong jalanku.” “Oh. Aku nyaris berlari ke truk. ia sudah menyusun semuanya kembali. Aku melirik spionku. Aku mulai melangkah lagi.. menunggu keluarganya. Aku harus mengganti lampu belakangnya. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. “Sama-sama. Cullen menghalangiku. “Terima kasih untuk ajakannya. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. aku hanya bertanya-tanya. aku mendengar suara ketukan di jendela truk.. Tepat di belakangku. Aku berhasil membukanya separuh. “Hai.” kataku. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. bibirnya terkaput. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. tapi aku sering sekali terjatuh. Ketika duduk disana. “Well. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. “Ehh.” sapaku. lalu menggigit bibir.

“Yeah.” Ia nyengir.” djAnGgo 65 . “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. Tyler. “Lalu kenapa.disini.” akunya.” Suaraku agak ketus. ” Ia mengangkat bahu. “Aku akan pergi ke luar kota. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini. Ini tidak mungkin terjadi. Mike sudah bilang.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

Aku menelan ludah.. “Kedengarannya mauk akal. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Ia tertawa. tak yakin apa yang harus kulakukan.” sahutnya menerawang.. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu.. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang.. “Kau sering bilang begitu..” akuku. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. Ia tersenyum menyesal.” “Jadi. lalu sisanya terurai begitu saja. Ia tertawa. “Tahu nggak. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. karena kau tidak mendengarkan. “Kau tampak khawatir. Aku memandang matanya yang keemasan. “ Well.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun. “Atau tidak.” Senyum menawan itu muncul lagi. Tapi kuperingatkan kau. “Ya.” “Tidak. orang yang tidak pintar.” ia berhenti.. “Jadi. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . lalu mengubah topik.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. Ia nyengir. Waktu pun berlalu.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.” Mataku menyipit. aku capek berusaha menjauh darimu.” kataku.” katanya sambil mengedip jail. tapi ia tetap berusaha tersenyum. “Tidak terlalu.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. itu salah satu masalahnya.” gumamku. tapi konyolnya suaraku bergetar. apakah sekarang kita berteman?” “Teman.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal.” Rahangnya menegang.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. Aku masih menunggu kau mempercayainya. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak. “Menyerah?” ulangku bingung. “Ya. dan suaranya terdengar serius. bingung. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran.” Ia masih tersenyum. Selama sebulan terakhir ini. kurasa kita bisa mencobanya. “Aku tahu. “Apa teorimu?” Wajahku merona. menyerah berusaha bersikap baik. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya. “Aku mengandalkan itu. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.“Well.” akhirnya aku mengaku.” aku mengingatkannya. Jadi aku menyerah. kau akan menghindariku. Kalau pintar.. aku bukan teman yang baik untukmu. dan menjada suaraku tetap tenang.” Ia tersenyum lagi. “Sebenarnya aku terkejut. tapi matanya yang kekuningan tampak serius.” “Jangan khawatir.” “Mereka akan baik-baik saja. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. terus terang. ragu-ragu. selama aku adalah..” sindirku.

djAnGgo 75 . Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.Wayne dan Peter Parker.

“Terlalu memalukan.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele.” “Kecuali aku. Ia menunggu.. kau tahu.” Aku tak mengerti raut wajahnya. “Aku tak tahu apa maksudmu.. pikirannya teralih. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu. waswas namun penasaran.” lanjutku. dengan ketegangan.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. aku tidak lapar.” kataku dingin.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu. akan sangat memusingkan.” “Tidak. “Aku hanya bertanya-tanya..” Kami bertatapan. Jadi aku bisa siap-siap. Aku menggeleng. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. “Tidak.” “Ya. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka.” djAnGgo 76 . Aku pernah bilang. kecuali kau. “Atau lebih baik. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. mataku menyipit. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan. “Lagipula. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri.” Aku harus berpaling dari tatapannya. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh.” aku meyakinkannya. tatapannya muram. kebanyakan orang mudah ditebak. tentu saja..” “Ceritakan padaku satu teori. “Satu. “Tidak.” “Kau marah. demi kebaikanku sendiri. Aku meneguknya sekali.” aku langsung membantah.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi.” “Tidak susah kok. juga. nah. Itu. lalu tanpa diduga mencemooh.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. Ia memandang lewat bahuku.” keluhnya. “Kedengarannya adil. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan. “Tergantung apa yang kau inginkan. tanpa tersenyum. “Terima kasih. aku yakin kau salah. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya. “Tidak. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa.” “Itu sangat memusingkan.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang. bahkan setelah berjanji akan melakukannya. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.” Ia mencemooh lagi.

” “Kau tidak memberi syarat.Uuppss. “Jangan yang itu. “Hanya satu teori. aku takkan tertawa.” aku balas mengingatkan. kau hanya bilang satu jawaban.” djAnGgo 77 . “Kau sendiri selalu ingkar janji.” ia mengingatkan aku.

” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku. Ia menunduk. “Kuharap kau tidak mencobanya.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. mencondongkan tubuhnya ke arahku. sambil menggeleng. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan. “Tapi tidak jahat.. dan memutarmutarnya di antara jemarinya.” “Sial. “Please?” ia menghela napas. matanya yang kekuningan tampak membara. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif.” tukasku kesal. djAnGgo 78 .?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada. itu jelas.” kataku mengingatkan. sedikit saja. tapi matanya masih waswas. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. bingung.” Suaranya nyaris tak terdengar. Ia memang berbahaya.” kataku.” Aku ragu-ragu.” keluhku. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar. well. “Aku juga terkena batu kryptonite.” godanya. “Oh. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya.” kataku. aku tidak percaya kau jahat. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. Aku melompat kaget. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.” katanya. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. pikiranku kosong. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. lebih dari segalanya. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. cuma itu yang kupunya. “Aku mengerti. “Kalau begitu. sampai ketemu lagi.” bisikku. “Kau kan tidak boleh tertawa. lalu mengambil tutup botol. Ia menunduk. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. Aku menatapnya. tidak nyaman. terpesona. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. apa?” tanyaku bingung.” Ia berubah serius lagi. “Well. tatapannya sarat emosi.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. “Maaf. Ia hanya memancangku. Aku tidak mengerti.. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. “Nanti juga aku tahu. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya.” Ia tersenyum padaku.. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru. “Karena. “Kau berbahaya?” aku menebak.“Pasti kau bakal tertawa. Sialan. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. “Ehh. Aku mengerjap.” Aku yakin mengenai yang satu ini. dan.. sambil menatap untuk terakhir kali.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak. “Ceritakan satu teori. Tapi aku hanya merasa khawatir.” “Kau salah. aku masuk. “Tidak.” sahutnya sambil tertawa.” ejeknya. “Kita bakal terlambat.

Ketika aku setengah berlari menuju kelas. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. djAnGgo 79 . kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi. Setidaknya hujan telah reda. mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul.

Mike tampak kesal. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. Aku menelan liurku karena tegang. “Taruh setetes darah.” ia selesai dengan peragaannya. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. kau baik-baik saja?” tanya Mr.. “Kemudian oleskan ke kartu. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 .” gumamku. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Banner.” kata Mr. Lalu Mr. lalu memperlihatkannya kepada kami. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. tapi perutku langsung mulas. “Oke.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya.” Ia terdengar bangga. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. “Yang kedua aplikator segi empat. Oh.. tidak. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. Aku takut mengangkat kepala.Aku beruntung. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. “Aku sudah tahu golongan darahku. sadar Mike dan Angela menatapku. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. Mr. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. Mr. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. dan sedikit kagum. aku punya formulir izinnya di mejaku.” Ia memeragakannya.” kataku lemah. Banner. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Banner masuk. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. suara anak-anak mengeluh. ia melanjutkan. Angela kelihatan terkejut. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. guys.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. Sir. mengagetkanku. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator. Aku bergegas duduk di kursiku.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. “Bella. pada masing-masing kotak. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. perutku rasanya mau meledak. sedikit saja. dan mengabsen kamu satu per satu. Aku memejamkan mata. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. Suaranya terdengar sangat dekat. lalu mengenakannya.” Ia mulai dari meja Mike lagi.

“Ya.” aku memohon padanya. “Dan apapun yang kau lakukan. Keluarakan saja aku dari sini. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh.” bisikku. djAnGgo 81 . pikirku. Kalau perlu. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. Banner. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. kau pucat. “Biarkan aku duduk dulu sebentar. Sepertinya ini agak membantu. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. aku akan merangkak. aku berhenti. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Aku masih sangat pusing. jaga tanganmu. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Aku merebahkan diri dengan posisi miring.” kata Mike khawatir. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. Bella.tidak membolos. Banner. kalau-kalau Mr.” kataku mengingatkan. memejamkan mata. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. tidak terlihat dari gedung empat. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Banner memperhatikan. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. “Wow.

Ia membopongku dengan lembut. Kubuka mataku karena terkejut. djAnGgo 82 . jangan biarkan aku muntah di tubuhnya.” desahku.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. kumohon.” Edward menjelaskan. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. “Hei!” seru Mike.” Edward sudah disebelahku sekarang. Kubuka mataku. “Aku yang seharusnya melakukannya. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak. “Pasti ada saja yang pingsan. Aku terus memejamkan mata.” erangku.” katanya padaku. “Kau tampak kacau. Matanya memancarkan kegembiraan.” “Bella.” Ia tertawa. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. dia bahkan tidak menusuk jarinya. lega. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. berharap diriku mati. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. tidak muntah. Lalu ia pindah. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. menikmati perkataannya.” “Aku tahu. ya. “Bahkan dengan darahmu sendiri. Mike tampak sangat khawatir. “Turunkan aku!” Kumohon. yang tertinggal jauh di belakang kami.” Edward melontarkan ejekan pelan.” keluhku. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. Edward telah menggendongku. nyengir. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo. “Dia pingsan di kelas Biologi. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Mualnya sudah hilang.” protes Mike. Aku berada di kantor TU.” “Tidak.” aku mendengar suara perempuan terkesiap. “Dia hanya sedikit lemah. Aku tidak sedang berkhayal. dan ini sepertinya tidak mengganggunya.” Mike menjelaskan dengan nada defensif. “Ya ampun.” lanjutnya. Atau setidaknya.” “Aku akan mengantarnya. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.” kata Edward.“Apa yang terjadi. “Aku sedang membawanya ke UKS. petugas TU yang berambut merah. “Turunkan aku. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel. “Kau bisa kembali ke kelas. berdiri rapat di dinding. Sayang. bukannya 55.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. “Berbaring saja sebentar. Aku tidak menyahut. tapi tiba-tiba suasananya hangat. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan. Sepertinya ini menghiburnya. “Kurasa dia pingsan. nanti juga sembuh. “Pergilah. Miss Cope. dan ia terdengar muram. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. Edward mengabaikannya.

” erangku.” ia memberitahu Edward.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya. “Aku akan mengambil kompres untukmu.” aku mengakuinya. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. “Kau benar. tapi kali ini dalam hal apa. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang. membiarkan mataku terpejam. “Aku disuruh menemaninya. Sayang. lalu bergegas meninggalkan ruangan. ya?” djAnGgo 83 . ia tidak membantah. “Biasanya memang begitu.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. “Kadang-kadang.” perawat berkata kepadaku.

” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. “Ini. ia memapah Lee Stephens.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. tapi kemudian pintunya terbuka. “Jangan ikut campur.” aku mengingatkannya. “Keluar dari sini. tapi aku merasa semakin pulih.” Jawaban yang masuk akal.” Aku nyaris pulih sekarang.” Aku menatapnya. “Bukan apa-apa. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu. “Sudah tidak ada darah lagi. “Oh tidak.” Ia terperangah.” bantahnya. keheranan. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain. lalu membuka mata. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. bergegas keluar dari ruang perawatan..” “Kasihan Mike. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu.” Edward menatapku dalam-dalam.” katanya. seperti aku. Baunya seperti karat. Bella. Aku berani bertaruh dia pasti marah. “Percayalah. “Sejujurnya. dan garam. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. Perawat datang membawa kompres dingin. “Aku mencium bau darah. itulah yang membuatku sakit. “Apa kau akan djAnGgo 84 . Mike ganti menatapku. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. “Kurasa aku baik-baik saja. “Aku sedang di mobil. “Apa?” tanyaku. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. “Ini dia.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. tapi aku tak lagi pusing. aku tahu. aku tidak memerlukannya. Sayang. matanya kelam.” akunya setelah beberapa saat. tapi mengejutkanku. “Kita punya korban lagi. “Kau kelihatan lebih baik.” “Dia sangat membenciku. Aku mendengar suara pintu terbuka.. “Kau kelihatan lebih baik.” gumamnya. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi.” Ia meletakkannya di dahiku. “Tadi kau sempat membuatku takut. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. “Manusia tidak bisa mencium darah.” kataku.” Mataku masih terpejam. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu. “Aku lihat wajahnya. Telingaku berdenging sedikit. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan.” tuduhnya. yang tampak pucat. temanku dari kelas Biologi. mendengarkan CD. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya.” tambahnya. “Well. Tapi kalau dipikir-pikir.” kata Edward senang. Kuserahkan kompresnya pada perawat. ayo keluar. “Kau benar-benar menuruti perkatanku. aku bisa.” Aku mencoba bernapas teratur.” “Ha ha.” kataku sambil bangkit duduk. menatapku dan Edward bergantian.” gumam Edward. barangkali ada untungnya perutkku kosong. mengerutkan hidung.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu.” bantahku. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi.

Aku berusaha terdengar seramah mungkin.. kurasa begitu. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan.” “Yeah. kan sudah kubilang aku akan ikut. “Tentu saja..” djAnGgo 85 .kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. tak bergerak bagai patung. tatapannya kosong.

kalau begitu semuanya beres. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. wajahku memang selalu pucat. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan. “Aku baru saja mengundangmu. “Aku akan datang. “Daahh.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. “Gymnasium. Kita tidak djAnGgo 86 . Ia membukakan pintu untukku. dan aku baik-baik saja. di gymnasium. Ia menatapku sekali lagi. mata terpejam.” “Sama-sama.” Ia menatap lurus ke depan. “Apa kau juga perlu izin. menyipitkan mata menembus hujan. “Aku bisa mengaturnya. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. Aku mengangguk lemah.” aku berjanji. berjalan gontai ke pintu.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. Ia menunduk dan melirikku. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. tanpa ekspresi. “Asyik juga bisa membolos Olahraga. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Aku jalan saja. kau pergi nggak? Maksudku.” “Oke. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu.” Aku berdiri hati-hati. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. bahunya merosot. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku.” balasku. Rasanya menyenangkan.” “Sudahlah. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. ke First Beach. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak.” kataku ketika ia mengikutiku keluar.” kata Mike. “La Push. ekspresinya kembali mengejek. Goff takkan keberatan. ia bukan tipe seperti itu.” Aku menghela napas.” erangku. mencoba membacanya.” Kuamati wajahnya. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. “Kalau begitu. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. meskipun mustahil. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam. Ini sama sekali bukan tantangan. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. sampai ketemu di gymnasium. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. “Terima kasih. tersenyum ironis. mencoba tampak selemah mungkin. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. “Jadi. Bella?” serunya.” gumamnya. Mrs. Kau merasa lebih baik. “Apa kau bisa berjalan. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun.

“Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. kan?” Sorot matanya menari-nari. marah. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. “Mike-schmike. djAnGgo 87 . Aku sangat menyukainya dari seharusnya. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan.” gumamku.ingin di marah. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’.

“Masuk. tapi lebih cantik. jadi air menetes-netes ke punggungku. marah. “Dia sangat mirip denganku. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. bih tepatnya menarik jaketku. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. Bella. barangkali ia akan tetap menyeretku. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. aku terhuyung ke pintu penumpang.” “Ini juga salah satu favoritku. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik.” aku mengakui. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. tidak mungkin. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. meski stabil dan tenang. “Pulang.” kataku. “Sudah terbuka. “Kau kasar sekali!” gerutuku. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya.” ancamnya. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. Usahaku tidak begitu berhasil.Aku bingung. termenung. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil.” cuma itu reaksinya.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Membicarakan ibuku membuatku sedih. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku.” kataku. Dia teman baikku. terkejut. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. “Berapa umurmu. “Lepaskan!” desakku. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. Ia mengabaikanku. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. dan lebih berani. Hujan turun semakin deras. aku hanya tahu yang kusuka. “Aku tinggal menyeretmu lagi. “Claire de Lune?” tanyaku.” Ia memandang menembus hujan. Kalaupun aku jatuh. Ibuku punya sifat lebih terbuka. dan juru masak yang sangat payah. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. “Ini benar-benar tidak perlu. menyalakan pemanas dan menyetel musik. Ia menekan tombol kontol. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. Alisnya terangkat. mengamatinya dengan tatapan penasaran.” Aku berhenti berbicara. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami. heran. Lalu akhirnya ia melepaskanku.” Aku tak menjawab. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Ia tak menyahut. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Aku mendengarkan musiknya.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. “Tidak terlalu. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. Harus kuakui. Aku memandangnya. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku.

bisa kubayangkan. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. penasaran lagi. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie.” jawabku. “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. “Kenapa?” tanyanya. sedikit bingung. Ia menghentikan mobil. djAnGgo 89 .” Nada suaranya mencela. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. membuatku tertawa. “Tujuh belas.

” Beberapa saat aku jadi ragu.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. Jadi agak berbeda. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya.” Itu bukan pertanyaan. sangat muda bagi umurnya. itu pun hampir 2 bulan yang lalu. Ia kembali tersenyum.” “Kau sangat beruntung.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 . Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku.” Aku menggeleng-gelengkan kepala.” Ia langsung berhati-hati. dialah sang orangtua. lalu menghela napas. kebenaran atau kebohongan. matanya mencari-cari jawaban di mataku. harus ada yang menjadi orang dewasanya. “Tidak.” Suaranya datar. kupikir kau bisa. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. dan Phil laki-laki yang diinginkannya.” Ia tersenyum..” ujarku terbata-bata. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku. “Jadi. “Jadi. “Aku tak begitu ingat mereka.” gumamku. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu.” Aku berhenti sebentar.” Aku tertawa. kalau mau. “Ku-kurasa. “Hmm.. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. “Ibuku.” ujarnya kagum.. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu. “ Well..” Tapi aku menjawab terlalu cepat.” “Dan kau menyayangi mereka. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku.. “Ya. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. “Apakah itu penting?” tantangku.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. “Tapi bagaimanapun. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan. aku jadi berpikir. “Apa?” “Menurutmu. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward. “Maafkan aku.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya.” “Kau baik sekali.” kataku. dia tergila-gila pada Phil... “Ya. “Aku ingin dia bahagia. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan. Bagaimanapun juga..” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka.” “Aku tahu. aku baru menyebutnya sekali.

maaf. “Aku yakin dia sudah mendengarnya. kurasa kau harus pergi. djAnGgo 91 .” Aku tak ingin keluar dari mobil.Ia melirik jam di dasbor. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi. “Saudara-saudaraku.” Ia tersenyum padaku.” Aku mendesah. Tak ada rahasia di Forks. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang.” “Oh. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku. juga Jasper dan Rosalie.

Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa. “Selamat bersenang-senang di pantai.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara.. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet.” Ia memandangi hujan yang masih turun. djAnGgo 92 . ada kekhawatiran dalam tawanya. selamat bersenang-senang.” Aku berusaha terdengar antusias.. matanya yang keemasan menyala-nyala.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga.. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. Jadi. Aku mengangguk putus asa. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. well . di selatan Rainier. “Akan kuusahakan. cuacanya bagus untuk berjemur. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya. “Jangan tersinggung. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. Aku memandangnya. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal..Ia tertawa. “Oh. oke?” Ia tersenyum sangat lebar.

djAnGgo 93 .

aku menunggu-nunggu suara trukku. Itu aneh. “. Aku tidak mengerti kenapa. “Dia tak pernah mengatakannya. Meski begitu.” pancing Jessica. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. dan ia tidak menyadarinya. “Aku tidak tahu.” “Memang aneh.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. Aku tepat di belakangnya.” “Kau sepertinya agak marah. Hari ini hanya Rosalie. “Dia temanku. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . “Jadi. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar.” ujarku setuju. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike.. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. semua sibuk membicarakan rencana besok. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. Tapi hari ini udara lebih hangat. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat.” jawabku jujur. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. atau begitulah menurutku. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. hampir 15°C. dia duduk bersama kita. Jessica tampak jengkel. Kupikir. Terutama Jessica. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. ia mencibir ketika menyebut namaku.” Mike berbisik padanya. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat.tak tahu kenapa Bella”. “Oh ya?” sahutku. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. menunjukkan kesetiaannya padaku. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. lagi. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. “Kau tahu.. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. aku toh masih berharap. wajahku tetap datar. tapi juga sedikit posesif.6. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. meskipun di tengah guyuran hujan. Alice. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. truk itu tiba-tiba sudah disana. Di mejaku yang biasa. Mike sudah ceria lagi. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah.

Bukannya aku bakal memberitahunya. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. djAnGgo 95 . kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi. dan barangkali kakek buyut mereka juga. “Dad.” tanyaku santai. Malam itu. sehingga sulit untuk mengubahnya. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi.Jessica dan Angela melewatiku. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. dan orangtua mereka. saat makan malam. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Kelihatannya ia tak keberatan.

. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. Aku sudah pernah melihatnya.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. Meski begitu. “Kau datang!” serunya.” Aku bermaksud pergi tidur. “Tidak. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk. dan Sungai Quillayute yang lebar. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali. Aku tak percaya.” Ia tersenyum bahagia. Lee mengajak dua orang lagi. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. “Terlalu banyak beruang.” Ia terdengar terkejut. Eric ada disana. Betapa mudahnya membuat Mike senang. matahari bersinar. langit biru itu akan lenyap lagi. Aku mengulum senyum.” aku mengingatkan. Aku senang bisa duduk dekat jendela. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. kecuali kau mengundang seseorang.” ujarnya. berharap tidak ketahuan. dan bisa dipastikan.” gumamku. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Airnya kelabu gelap. diikuti Angela dan Lauren. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. tapi jelas itu matahari.” ujarku berbohong. Awan-awan menggantung di langit. Bukan di tempat semestinya. duduk di kursi depan Suburban Mike. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil.” “Oh. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. Mike tampak puas. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. “Sudah kubilang hari bakal cerah. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. Tapi tetap saja mempesona. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Mike tampak kecewa. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. “Mungkin aku salah mengingat namanya. membisikkan sesuatu pada Lauren. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. khawatir kalau kutinggalkan. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler.” Mike menambahkan. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. kenapa?” Aku mengangkat bahu. Jess ada disana. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. terlalu rendah. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. Setidaknya Mike senang melihatku. “Kau boleh membawa senjata. Aku berdiri di jendela selama mungkin.“Yeah..” “Oke. gembira. tapi belum pernah singgah disana. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. sehingga semua mobil penuh.

yang dari kejauhan tampak abu-abu. hijau laut. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. jauh dari jangkauan ombak. beberapa sendirian. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. djAnGgo 97 . keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. lavender . biru. beberapa berimpitan di bibir hutan. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. naik ke puncak yang tak beraturan.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya. abu-abu.

terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Mike berlutut di depan api unggun. sejuk dan asin. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. bertengger di ujung tebing berbahaya. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. “Warnanya biru. penuh abu hitam. agar tidak jatuh ke lautan. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Kami berjalan menuju pantai. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Ombaknya rendah. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. perhatikan warna-warnanya. bergosip ceria di sebelahku. Ia tidak ingin mendaki. Untung Jess ada di sisinya yang lain. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. Aku harus berhati-hati melangkah. Yang lain sepertinya tak kenal takut. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben.Angin kencang bertiup bersama ombak. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu.” kataku kagum. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. Setengah jam setelah mengobrol. “Belum. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. lalu duduk di sebelahku. Pendakiannya tidak terlalu panjang. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. “Itu karena garam. melompat-lompat di atas bebatuan. Ini benar-benar dilema. dan rantingranting di atas kepalaku. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. cewek-cewek lain berkumpul. lalu duduk hati-hati disana. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. Ada api unggun disana. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. Awan-awan masih mengelilingi langit. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku.

dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. Ketika kami kembali ke First Beach. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. hingga beberapa kali aku terjatuh.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. djAnGgo 99 . menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. tapi bisa saja lebih parah. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. Aku begitu terlena. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. Ketika makin dekat. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. kulit mereka berwarna tembaga. Telapak tanganku beberapa kali tergores. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. jumlah orang disana sudah bertambah.

Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks.” “Bukan. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. aku yang bungsu. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. dan membuat ombak berubah gelap. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. Sepertinya dia berumur 14. mungkin 15. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. dan. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. dan melekat dalam pikiranku. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. Aku duduk di sebelah Angela. “Bella. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. yang lain ikut mendaki. perlahan-lahan menutupi langit biru. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. “Aku Jacob Black. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. berdua atau bertiga. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. kadang-kadang menghalangi matahari. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. agar mereka bisa pergi memancing. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. Selama makan siang awan mulai berkumpul. Angela dan aku tiba terakhir. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. dan hal itu menggangguku.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . menggantikan Angela. matanya gelap. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. kau pasti ingat kakak-kakakku.” “Rachel dan Rebecca. beranjak ke toko di pedesaan. Kulitnya menawan. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. Mike. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. “Kau putra Billy. halus dan kecoklatan. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka.” keluhku. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki.” sahutku lega. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman.” tiba-tiba aku teringat. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. ketika Eric memperkenalkan nama kami.” “Oh. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. Jacob pindah duduk di sebelahku. sambil menjabat tangannya yang ramping. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. “Kau Isabella Swan. “Kau membeli truk ayahku. sering kali samar-samar.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. aku duduk sendirian di seonggok kayu.

“Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington. sekarang dia tinggal di Hawaii. “Tidak.” “Menikah. Wow. “Jadi.” djAnGgo 101 . membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai.” Jacob menggeleng. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. “Aku menyukainya.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku. Truknya hebat. kau menyukai truknya?” tanyanya.terhenti.

meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. mengabaikan pertanyaan Lauren. “Jadi. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi.“Yeah. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. Kalau begitu jangan. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. mereka dilarang datang.” ia tertawa. memandangku bersahabat.” panggilnya lagi. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. terkagum-kagum. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. kan?” candanya. tersenyum padaku lagi. Suaranya serak.” jawabku. “Bagus sekali. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. Ia sangat mudah diajak bicara. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. namun enak didengar. dari seberang. tapi aku berjanji akan mencari tahu.” sergahku. bahwa mereka tidak diizinkan.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku menatap cowok bersuara berat itu. awan akhirnya menutupi langit. djAnGgo 102 .” “Tidak sepelan itu kok. dan suaranya sangat berat. Rencana bodoh. Hasilnya tentu saja tidak sama. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. sambil memperhatikan wajahku. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna.” ia tertawa. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. dan setengah berbalik menghadapnya.” Aku nyengir. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. Jacob mengusik ketenanganku. Tyler.” aku tertawa. Ia tersenyum menawan. “Ya. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. “aku belum tahu. “Maksudmu anak-anak dr. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. dan matanya yang curiga menyipit. bagiku itu sesuatu yang ironis. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. sorot matanya masih coba kupahami. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. membuat laut gelap dan suhu turun. aku yakin. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. “Kau kenal Bella. terkejut. “Aku baru saja bilang pada Tyler. “Bagus. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. “Jadi.” Ia nyengir. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. menuju garis batas yang pebuh driftwood. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum.” Jacob menimpali sambil tertawa. “Maaf. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. dengan nada yang kupikir kasar. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. tapi jalannya pelan sekali. “Bella.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. Ia tersenyum penuh pengertian. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. Jacob?” tanya Lauren. “Ya. Perhatian Lauren pun teralihkan.

Kumasukkan jaket. tanganku ke saku djAnGgo 103 .

aku hanya penasaran. “Well. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. “Tidak juga.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda.” jawabku jujur. ada banyak legenda.” jelasnya. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. berharap jawabannya ya. aku takkan bilang siapa-siapa.” Suaranya semakin rendah. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam. suara tak menyenangkan.” “Untuk anak seusiaku. “Aku suka. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. setelah aku dapat SIM.” “Oh. “Tapi setelah mobilku selesai.” Jacob memutar bola matanya. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. sepertin Nuh dan bahteranya. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir.” Ia memalingkan wajah.” ia mengaku keheranan. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. umurnya 19. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. “Upss. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. Aku berusaha mengabaikannya. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. “Ya. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir.” ia mengaku malu-malu. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. Ia balas tersenyum menawan. “Kupikir kau lebih tua. “Itu Sam. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. tubuhku cukup tinggi.” lanjutnya.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. “Keluarga Cullen? Oh. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati.” Ia tersenyum. memandang Pulau James. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. “Tidak terlalu. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. dan beberapa yang lain belum terlalu tua.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. konon katanya. aku bisa pergi sesering yang kumau. Ia memandang bebatuan.” kataku bersemangat. tak lagi berpura-pura. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. “Aku baru saja berumur 15. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin.” ia memberitahuku.“Jadi. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. djAnGgo 104 . “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara. tentang asal-muasal kami. Benarbenar konyol.

“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. seperti leluhur kami. Kau tahu. djAnGgo 105 . serigala jadi-jadian. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia. seperti ayahku. Kau bisa menyebutnya werewolf.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. well. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman.” Aku menatapnya serius. bukan serigala sesungguhnya. “Dia tetua suku.

. sambil masih menatap ombak.” Ia tersenyum. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia.” Jacob tiba-tiba berhenti. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 .” lanjut Jacob.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. “Cerita yang cukup sinting. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. “Mereka adalah kelompok yang sama. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. Bulu kudukku masih berdiri. aku takkan bilang. Pada masa kakek buyutku. Aku tak tahu bagaimana rupaku. Ia tersenyum senang.” aku memujinya.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya.” ia tertawa gembira. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. suaranya membuat bulu kuduk meremang. jadi aku tak berpaling menatapnya. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. “Peminum darah. “secara tradisional. “Sekarang jumlah mereka bertambah. entah bagaimana caranya. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami.” kataku berjanji. Carlisle. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda.. “Kau pencerita yang baik. dan melanjutkan ceritanya lagi. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka.” jawabnya.” “Jadi. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin. “Tapi sungguh. seorang perempuan dan laki-laki baru. kemudian bergidik.“Jadi kau tahu. “Keren. tapi sisanya sama saja. jangan bilang apa-apa pada Charlie. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. mereka sudah mengenal pemimpinnya.” Aku belum dapat menahan emosiku.” Jacob berusaha menahan senyumnya. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. kan. Konon. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami. yang berdarah dingin adalah musuh kami. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. namun sedikit waswas. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. kan?” Aku mengulurkan lengan.” Ia mengedip. “Kalau mereka tidak berbahaya. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan.” “Tentu. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. “Tidak. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini.” Aku mencoba mengerti. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. “Kau merinding. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda.” Jacob tertawa. Cullen mulai bekerja disana.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. lihat. lalu kenapa.

tentu saja bukan. Aku mengedip padanya. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. Bella.mendekat. “Tidak. “Itu pacarmu?” tanya Jacob. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata.” Mike terdengar lega. Jacob tersenyum. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami.” bisikku. djAnGgo 107 . Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. senang karena rayuanku yang payah. “Disini kau rupanya.

Jacob tersenyum.” jawabku. Ketika kami sampai di Suburban.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob.” ucapku tulus. Kita harus nongkrong bareng sesekali. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. mengingat aku telah memanfaatkannya. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy. Mike sudah di dekat kami sekarang. “Sangat menarik. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler.. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya.. “Kita akan berkemaskemas. “Oke. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. Sepertinya memang akan hujan.” “Terima kasih. djAnGgo 108 .” kata Jacob. “Kau dari mana saja?” tanya Mike.“Jadi. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah.” ia memulai lagi. Angela hanya memandang ke luar jendela. dan ia balas tersenyum. “Aku juga.” Aku melompat berdiri. “Akan kutunggu. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. Ia sangat mudah diajak berteman. sepertinya sebentar lagi hujan. aku akan ikut. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. “Aku datang.” Mike berhenti. memandangi badai yang semakin dahsyat. “Well. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi. memejamkan mata dan berusaha santai. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai.” “Senang bertemu lagi denganmu. kalau aku mendapat SIM-ku. “Kau harus mengunjungiku di Forks. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini.” aku berjanji padanya.” Kami memandang langit yang mulai mendung.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike.

djAnGgo 109 .

tapi aku tak bisa melihatnya. Aku memejamkan mata. kulitnya bercahaya samar. tapi Jacob Black ada disana. hingga. “Percayalah padaku. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. CD-nya kuputar berulang-ulang. menekan tombol Play. “Tidak!” teriakku. aku tertidur. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. Bella!” seru Mike dari belakang. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. Setelah 3 kali memutar CD itu. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Begitu sampai di kamar. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. Karenanya. runcing. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. taringnya siap menerkam leher Edward. bulu-bulu tengkuknya meremang. ada apa?” aku bertanya. sekujur tubuhnya gemetaran. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. Aku melangkah sekali lagi. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. matanya gelap dan berbahaya. Aku memasukkan CD itu. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. mencoba memahami liriknya. Bella. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir.7. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Tapi ia sudah lenyap. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. menghampiri Edward. “Lari. dan giginya tajam. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. “Kenapa?” tanyaku. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. menarik-narik tanganku. dan tidak ingin makan apa-apa. kini putus asa menginginkan matahari. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil.” ujarnya. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. Aku maju selangkah. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Ia tersenyum. Aku mencoba mengikuti suara itu. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . aku mengunci pintu. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. akhirnya. “Lewat sini. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. “Lari. suaranya mendengkur.Tapi aku tidak berpaling. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. “Jacob!” jeritku. Berhasil. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. “Jacob.

lalu menyimpannya. Modemku sudah ketinggalan jaman.30. senang menundanya selama mungkin.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Perlahan-lahan aku berpakaian. Lebih baik mandi dulu. grup metal underground. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. Vampir. Kuintip dari jendela. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. kemudian jatuh di lantai kayu. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. ada banyak pilihan yang harus dibaca. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Aku makan pelan-pelan. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Lalu aku menyetel CD yang sama. mobil patrolinya sudah tidak ada. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. dan perusahaan kosmetik gotik.tidur. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Percuma. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Aku benci menggunakan internet disini. Kuambil CD player. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Sudah pukul 05. untuk men. membuka kancing jinsku. lalu membereskan tempat tidur. Aku harus menghadapinya sekarang. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Ketika hasil pencariannya muncul. atau sudah pergi. Lampu kamar masih menyala. langsung ke bagian yang berisik. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. sesuatu yang tak pernah kulakukan. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Aku mengerang. batinku. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Aku tak bisa tidur lagi. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. bingung. lalu mengetik satu kata. tentu saja. Lalu aku menemukan situs yang tepat. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. aku pergi ke kamar. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Kakiku kram ketika menaiki tangga. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. dan menyimpannya di laci lemari. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. Vampir A-Z. Hanya dengan berbungkus handuk. Ia pergi memancing lagi.ku dulu. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Aku memandang jam di lemari pakaian. Aku duduk. layanan servis gratisnya buruk. Kulepaskan headphone-nya. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama.

Dan dengan semua itu. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. vampir Filipina yang menanam taro. kelihatannya seperti situs pendidikan. Akhirnya selesai. tersusun secara alfabetik.bermunculan di layar. hakim. yang bukan hantu ataupun setan. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. ahli bedah. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. sejenis tumbuhan berbuah kentang. Menurut mitos itu. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. Pdr. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. Pertama-tama aku memilih Danag. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram.. tak ada figur yang begitu mengerikan. para imam. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. keterangan itu adalah mengenai vampir. di kepulauan itu dahulu kala. seperti sang vampir. Semuanya lengkap : laporan resmi.

mencari keterangan tentang vampir. musuh werewolf. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. warna mata yang berganti-ganti. Kecepatan. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. dan musuh abadi semua vampir jahat. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. hanya ada satu kalimat pendek. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Aku paling payah kalau soal arah.bertahun-tahun. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Semua ini benar-benar konyol. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. dan hanya sedikit sekali. dan satunya lagi Stegoni benefici. Mereka tidur di dalam peti seharian. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. kalau tidak. kulit pucat. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. Lalu masalah lainnya. tanpa melalui tahapan semestinya. Meski begitu. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. Rasanya lega ada satu catatan kecil. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Merasa jengkel. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. Aku harus keluar dari rumah. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. Mengenai yang terakhir ini. Stregoci benefici : vampir Italia. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. Aku membaca uraiannya dengan saksama. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. Di balik kekesalanku. keindahan. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. tapi belum hujan. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. lalu turun. tak tahu akan ke mana. vampir tidak bisa keluar di siang hari. matahari menjadikan mereka abu. dan hanya keluar di malam hari. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. dan abadi. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. konon memihak kebaikan. Aku duduk di kamar. berkulit dingin. apalagi masuk akal. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. di djAnGgo 113 . Langit mendung. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. aku merasa malu. kekuatan. Nelapsi dari Slovakua. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh.

Banyak yang tidak kuketahui. Ketika amarahku memudar. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. mapel. munurut dugaanku menuju ke timur. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. Pohon yang baru tumbang itu. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. menjulang tinggi di atasku. dan yew. aku memperlambat langkah. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut.

Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. Sepertinya ada dua pilihan. Edward Cullen bukanlah. diantara pepohonan. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam.. seandainya ia. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. Aku tak bisa melakukan yang lain. Dan caranya kadang-kadang bicara. dan bergegas beralih ke pilihan lain. keheningan serasa mencekam. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Burung-burung membisu. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Seharusnya aku tahu. Pikiranku menolak rasa sakit itu. Lagipula.. ketampanan yang tidak manusiawi. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya. Jadi. Memintanya menjauhiku. Inilah jawabanku sekarang. tanpa melihatku. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. kulit yang pucat dan dingin... Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. mengabaikannya sebisaku. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. Tapi lalu apa? Batinku. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. daripada di kamar tidurku. Pertama. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. dan kali benar-benar serius. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku... Ia lebih dari itu. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. barangkali. Membatalkan rencana kami. membuatku gelisah. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. menyandarkan kepala ke pohon satunya. berbahaya. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. kecuali aku. Di sini. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. mereka memang sesuatu. jahat. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Amat sangat cepat.lainnya.. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. sergahku dalam hati. manusia. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. Terlebih lagi.. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . siapapun pasti menganggapku bergurau. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well.ku sendiri. suara tetesan air semakin sering terdengar. menghindarinya sebisa mungkin. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. Kini setelah aku duduk.

kalau memang yakin. seberapa jahatkah ia? tukasku marah. djAnGgo 116 . Satu hal yang aku yakin. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob.nyawa adalah tindakan spontan baginya. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. Aku mengkhawatirkan-nya. bukannya karena Edward sendiri. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu.

Tapi jalan kecil itu masih disana.. Karena ketika aku memikirkan Edward. pikirku. aku tahu aku mestinya merasa takut. Tapi begitu keputusan diambil. well. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Aku sudah terlibat terlalu jauh.. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. Meskipun.. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. Kubuka jendela. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. Keduanya seharusnya berbeda. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Kamis sore sejujurnya. Aku melompat ke jendela. Aku bergegas mengikutinya. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. Malam aku tidur tanpa mimpi. Aku seharusnya takut. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. bagian yang paling membuatku menderita. aku tinggal menjalaninya. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. berhubung aku tidak kemana-mana. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. seandainya aku benar-benar tahu. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. tapi aku tak bisa memikirkannya. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. rumahnya memberi isyarat padaku. seperti keputusanku datang ke Forks. matanya yang menyihir. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Tidak disini. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. padahal malamnya aku kurang tidur. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. aman dan jelas. suaranya. pertanda hari bakal cerah. Sekarang setelah tahu. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. daya tarik kepribadiannya. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Charlie pulang membawa tangkapan besar. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. Mudah sekaligus berbahaya.. produktif. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. Sebelum kelewat panik. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. Aku memang selalu seperti itu. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. dan aku pun terbebas.

sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. warnanya sama dengan rambutku. “Ya. Tapi ketika ia tersenyum. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. mulus. “Hari yang bagus untuk berada di luar. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat.” komentarnya. Ketika Charlie tersenyum. jika bukan teksturnya. Ia balas tersenyum. djAnGgo 118 . dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. Rambut cokelat ikalnya. telah menipis. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin.” aku menimpalinya sambil tersenyum. dan menghirup udara yang kering.deritan. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang.

Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. “Hanya di bawah sinar matahari.” aku jengkel didesak seperti ini. kita bisa pergi makan malam atau apa. “Kupikir itu bukan ide bagus. bukan?” “Hari yang kusuka. “Hari yang indah. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat. Mike menghampiriku. “Seharian mengerjakan esai. dan sedang melambai ke arahku. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 .” Wajahnya kecewa. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. Dengan menuangkan banyak pelumas.” katanya.” Aku tersadar.” Ia tersenyum penuh harap. hingga mau tak mau aku senang juga. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well. Ia sangat senang bertemu denganku. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. “Hei. “Oh iya. “Gawat. dahinya berkerut. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. matanya siaga.” “Rabu?” sahutnya. “Kenapa?” ia bertanya. kan?” “Mmm.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria.... Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. PR-ku sudah selesai. senang bisa menggunakannya.” “Oh. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. rambut spike-nya bersinar keemasan.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya. rambutmu ada semburat merahnya.. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi.” sapaku sambil balas melambai...” sahutku. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. dikumpulkan Kamis. tanganku memegang jas hujan. “Mike. Mike. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. Semua anak menggunakan T-shirt .. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya. kecewa. kurasa Rabu. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan. tak perlulah menyombongkan diri. kedengarannya seperti Mike. Ia duduk di sebelahku. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. “Baru sekarang kuperhatikan. senyum merekah di bibirnya. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan.

“Jessica?” “Sungguh.” ancamku. djAnGgo 120 . jelas bingung. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. kau ini buta ya?” “Oh.Edward. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. Mike. Ia keheranan. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.” ia menarik napas. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain... Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. “Kupikir.

.“Waktunya masuk kelas. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. bukannya terpeleset di lapangan. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. Angela.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. dan raut wajahnya gelisah. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. dan sekarang aku mengatakan ya. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. Bagian terbaiknya adalah. melainkan juga semua keluarga Cullen. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. meskipun hatiku sedih. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. tidak sama sekali. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya.. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. djAnGgo 121 . Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. Aku tak bisa memutuskan. Angela juga mengajakku ikut malam ini. tapi Laurent juga bakal ikut. dan aku tak boleh terlambat lagi. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Jadi kubilang akan memikirkannya. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. berharap menemukannya duduk sendirian. ia kelihatannya sangat antusias. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. muram. pelatih tidak selesai menjelaskan. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. kubilang akan minta izin Charlie dulu. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. menungguku. lalu menetap di perut. Ketika melintasi pintu kafetaria. Ia. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. dan memilih duduk di sebelah Angela. kelas Spanyol menahan kami. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono.

Aku membumbui ikan untuk makan malam. Jessica menelepon membatalkan rencana kami. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. djAnGgo 122 .

dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. Aku langsung terbangun. hidung. Aku nggak ada di rumah. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Aku membawa beberapa buku ke Forks. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. lalu berguling hingga terlentang. djAnGgo 123 . jadi kupilih Sense and Sensibility. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. leher. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. bibir. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. Di luar. mereasa jengkel. Dan aku harus membuat makalah. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. lengan bawah. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. yang semakin lama semakin sisis. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Bella. ujarku kasar pada diri sendiri. Aku berbaring menelungkup. Aku pergi ke pantai dengan teman. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. tulang pipi. Aku mengedarkan pandang. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. hampir mirip. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . Aku sayang kau. aku tahu.Kuperiksa e-mail-ku. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Rupanya aku tertidur. duduk. aku juga terkejut. membaca tumpukan surat dari ibuku. Maaf. Kutarik rambutku ke atas. dan rasanya agak geli. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. membalik-balik halaman novel itu. di atas rumput tebal yang selalu agak basah. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. Angin masih sepoi-sepoi. Mom. menembus kausku yang tipis.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. kembali ke trotoar.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. tapi ragu. di sana ada rambu stop. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Aku setengah berbalik dengan siaga. Langkahku tetap stabil. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku. Jalanannya berakhir di sudut berikut. memutuskan akan lari atau tidak. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Aku berpikir untuk menyetopnya. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku sampai di sudut.

mobil-mobil. Aku pun tersadar. kaki terbuka.” Langkahku sekarang pelan. atau menabrakku. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. “Jangan dekati aku. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. memaksanya melompat ke trotoar. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Aku melompat djAnGgo 133 . tapi mereka terlalu jauh. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. Tentu saja jurus standar. “Jangan begitu. sementara aku berdiri membeku di trotoar. Dalam kegelapan yang menyelimuti. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. mobil ini akan berhenti. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju.” seru cowok itu. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. Aku memasang kuda-kuda. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. bersiap-siap berteriak. Teriakanku cukup keras dan lantang. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Kepalan tangan siap kulayangkan.” suara keras menyahut dari belakangku.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Manis. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. dan aku menghela napas lega. aku tidak sedang diikuti. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. “Kami hanya mengambil jalan pintas. dan berjalan pelan ke jalan. Aku dijebak. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. Aku berlari ke tengah jalan. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. tendangan lutut ke daerah vitalnya. menggenggamnya.” terdengar suara gusar memerintahku. lampu jalan. tak ada suara yang keluar. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Lalu menghentikan langkah. Aku membelok dengan helaan napas lega. Menusukkan jari ke matanya. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. ia seolaholah memandang ke belakangku. “Yeah. apalagi mereka berempat. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. “Masuk.

masuk. djAnGgo 134 . Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka.” perintahnya. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. Suasana di dalam mobil gelap. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. membanting pintu hingga tertutup. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. Ia membelok tajam ke kiri. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. melaju terlalu cepat. Tapi aku merasa sangat aman. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. “Pakai sabuk pengamanmu. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Aku langsung mematuhinya. terus melesat cepat.

“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. berarti kedudukan kami seri.. menunggu napasku kembali normal. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan..” Ia juga berbisik. memalingkan wajah. “Aku sudah dengar. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. well. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. “Mmm. Bella.. “Ya?” suaraku masih parau. “Apa yang terjadi?” bisikku.30.” perintahnya. nada suaranya marah. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. memandang ke luar jendela. Edward menghela napas. Aku tidak memerlukan musuh. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.” jawabku lembut. “Maaf. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. “Jessica dan Angela pasti khawatir. menatap langit-langit mobil.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. Kami sudah meninggalkan kota. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota.” lanjutnya. Wajahnya kaku. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom.” Kata itu sepertinya tidak cukup. menjelaskan rencanaku.” Aku menunggu. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. Ia menyandarkan kepala ke kursi. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. “Aku seharusnya menemui mereka. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 .” katanya kasar. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. Aku memandang berkeliling. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. dia juga tidak bisa pergi ke prom. Kalau tidak punya kendaraan. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. “Lebih baik?” “Tidak juga. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. “Bella?” ujarnya.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh.” gumamku. akhirnya membuka mata..” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.” ia menjelaskan.” gumamku. mobilnya masih ngebut. terkejut mendengar betapa parau suaraku. “Tidak. suaranya tegang namun terkendali. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. Aku melihat jam di dasbor. “Ya. kau pasti ingat.. Kami duduk diam lagi. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. Sudah lewat 18.” Ia terdengar lebih tenang. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya.” cerocosku. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. “Tolong alihkan perhatianku. tapi amarah tampak jelas di wajahnya.. Aku duduk diam. tapi sudut bibirnya menegang. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. Diam-diam aku berusaha berdeham. “Setidaknya. matanya menyipit.” “Oh.

. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya.” aku memulai. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil. berjalan waswas menjauhi kami. “Bagaimana kau tahu dimana.. tapi ia melakukannya dengan mudah. djAnGgo 136 . Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala.jalur boardwalk. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja.

“Sejujurnya. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. kemudian bergegas keluar dari mobil. “Kalau begitu. dan rambutnya dicat pirang. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. hibur aku. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku balas melambai. Jess berbalik dan melambai.” kataku sambil menunjuknya. sebenarnya. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Bella. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. Restorannya tidak ramai.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. maaf. entah disengaja atau tidak. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. Mereka ragu. lagi pula aku tidak lapar. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. Jelas sekali ia tak ingin didebat. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. “Aku tersesat. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. “Mmm.. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Ia menungguku di trotoar. kami sudah makan ketika menunggumu tadi. tapi sorot matanya tetap tajam.” “Eehh.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. suaranya lembut dan menggoda.” dengus Jessica. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja. “Sampai besok. Ia berbicara mendahuluiku. mengamati wajahnya. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya.” Angela mendahului Jessica..” aku berkeras. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah. “Mmm.. Ketika akan masuk ke mobil.. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. kurasa. tapi bernada memerintah.” aku Angela.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. wajahnya penasaran. aku tidak lapar.” aku mengaku malu-malu. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. Ekspresinya tak bisa ditebak. tidak masalah. Kulepaskan sabuk pengamanku.. tentu saja. enggan mendekat. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. “Oke. “Tidak apa-apa. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. “Kurasa kau harus makan sesuatu. Aku mengedip padanya. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. tapi Edward menggeleng.” Suara Edward pelan. “Pergilah. Bella. Mereka bergegas menghampiriku. Aku hendak duduk.” katanya sedikit tersenyum.” Jessica menggigit bibir. Aku tak yakin.” Aku mengangkat bahu. “Mengajakmu makan malam.. melambai ketika mereka menoleh. Dari ekspresi mereka yang terkejut. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Kami disambut seorang cewek. Edward.

“Mmm”.” aku mengkritiknya. membuat cewek itu sesaat terpana. “pelayan kalian akan segera datang. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.” djAnGgo 138 . “Tentu. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau. “Tidak adil. matanya mengerjap.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. ia menggeleng. semua kursinya kosong.

Kusesap sodanya dengan patuh.” Senyum lebar mengembang di wajahnya. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku. “Kau tidak merasa pusing.” ia menyuruhku.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. sakit. “Aku mau Coke. terkejut karena kusungguhan hatinya.. aku mau mushroom ravioli.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. “Bella?” tanya Edward.” “Sama. “Hai. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini.” Ia tampak bingung.” jawabku. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku. wajahnya penuh harap.. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 .“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu. sebenarnya aku menunggumu syok.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku. Pandangannya terpaku di wajahku.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. sorot matanya perasaran. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali.” kata Edward.” kataku setelah bisa bernapas lagi. “Terima kasih. Ia sedang memperhatikanku. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja.” Pucuk dicinta ulam tiba. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. “Oh. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. Tentu saja. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang.. Tapi Edward tidak memandangnya.” kata Edward. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. “Dua. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. “Aku tidak pesan.” gumamku. ayolah. membuatku gemetaran. lalu minum lagi lebih banyak. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward. kedinginan.” aku mengakuinya.” aku berkata ragu.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum.” Ia memiringkan kepala. “Well. “Minum. Namaku Amber. Pelayan datang. “Mmm. Edward memandangku. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis. masih haus.

Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. kembali gemetaran.” aku tersadar. ketinggalan di mobil Jessica.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. “Punya. Edward menanggalkan jaketnya. tapi sejak awal. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. benar-benar memperhatikannya.“Tidak. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . “Oh. bukan hanya malam ini. hanya Coke yang kuminum. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya.” aku menjelaskan. Namun sekarang aku melihatnya.

Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. Perkataanku membuatnya tidak nyaman. Aku menghirupnya. “Well.” Matanya menyipit. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. mengalihkan kerlingan mataku. lalu menunduk. tidak.” Ia tampak khawatir. tadi kupikir matamu berubah kelam. “Terima kasih. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. Ia menatapku. Ia menaruh makanan itu di depanku.” kataku lagi. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. tapi kau boleh membawakan soda lagi.” “Tidak masalah. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu.” djAnGgo 141 . mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. aku tidak mendapatkannya dari komik.” katanya memperhatikan.” gumamnya pada diri sendiri.warna krem muda.. alisnya yang berwarna pualam mengerut. “Kau seharusnya syok. terkesima. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. cokelat keemasan.” ujarku. Sweter itu amat pas di tubuhnya. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. mencoba mengenali aroma itu.. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. seperti pada umumnya orang normal.” lanjutku. dan langsung berbalik menghadap Edward. Aku terkejut. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. suaranya terdengar waswas. terima kasih. “Aku punya teori tentang itu. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. Ia memberikan jaketnya kepadaku. “Aku merasa sangat aman denganmu. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku. sepertinya lumayan enak. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. Tidak seperti aroma kolonye.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. “Tidak. Rasanya sejuk. Ia menatap ke dalam mataku. Kalau. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. “Sungguh. dan aku melihat betapa matanya terang. Lengannya kelewat panjang. Aku kembali gemetaran. “Aku akan menceritakannya di mobil. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. Aromanya menyenangkan. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. namun tatapannya masih tegang.. “Dan?” sambarnya.” protesku.. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. berusaha terlihat cuek. “Tentu. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. lebih terang daripada yang pernah kulihat. sambil menebak ekspresinya. sambil mengenakan jaketnya. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek.” aku berhenti.” ujarku. wajahku memerah tentu saja. “Apa katamu tadi?” tanya Edward.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. wajahnya cemberut. “Teori lagi?” “Mm-hm. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. Ia menggeleng. aku tidak merasa syok.” aku mengakui. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.

Aku menyesapnya. ayo mulai. lalu pergi.” ia mendesakku.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. “Well. djAnGgo 142 . Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. suaranya masih tegang.

seseorang. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. kesal. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti..” Aku senang ia berusaha meladeniku. Sepertinya ia sedang bergidik. masih menunduk.” Aku memandangnya marah. Ia tertawa. “secara hipotetis. “Tak salah lagi. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain.” aku mengusulkan.” sahutnya menyetujui.” ia meralatku. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. kau tahu itu. Kalau Joe memperhatikan. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. dan djAnGgo 143 .. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. penggolongan itu tidak cukup luas. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak..” “Sebut saja dia Joe.” Ia kembali menggeleng.. “Kau tahu. Kami bertatapan. membaca pikiran. dengan satu pengecualian.” “Kupikir kau selalu benar. “Katakan saja. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi.” Suaranya nyaris seperti bisikan. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. kau lebih teliti daripada yang kukira. Atau begitulah menurutku. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. “Aku salah. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya.” “Well.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat. “Secara hipotetis?” tanyanya. Meski menunduk. menandakan ia mengejekku.” “Baik kalau begitu.” gumamku.” “Tapi itu yang paling mudah. “Oke. masalah itu selalu bisa menemukanmu.. Jamurnya enak. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal..” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku. Raut wajahnye berubah dingin. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. seseorang. mengunyah sambil berpikir. begitu juga aku.” aku mengingatkannya dengan nada dingin. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. “Berikutnya. Kau daya tarik terhadap masalah. “Ya sudah. Ia tersenyum ironis. Aku menunduk. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. kau tahu.Aku memulai dengan yang paling sederhana. mengatakan yang sejujurnya atau tidak. seseorang itu. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. “Berikutnya. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa.” “Hanya satu pengecualian..” Ia menggeleng.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis. tapi ia langsung menariknya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut.. secara hipotesis tentu saja.” “Biasanya begitu..” ujarku keberatan. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. tapi aku berusaha terlihat kasual. tanpa ekspresi. kalau begitu. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. “Tentu saja. dengan beberapa pengecualian. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade. “Betul juga. kau bisa mempercayaiku.” ia mengulangi perkataannya.. memutar bola matanya. matanya hangat. kalau.

“Sudah dua kali kau menyelamatkanku. tapi mengangguk. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. djAnGgo 144 . “Terima kasih. oke?” Aku cemberut. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. seperti batu. Kulitnya dingin dan keras. “Jangan ada yang ketiga kali.” Suaraku benar-benar tulus.” Ketegangan di wajahnya mencair.

Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. “Kau makan. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku..” Ada secercah keraguan dalam suaranya. suaranya sulit didengar. tapi anehnya aku toh khawatir juga. Biasanya. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya.. djAnGgo 145 . seperti kataku. Aku tak punya alasan untuk khawatir.. Pandangannya tetap menerawang. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. lalu menatapku lagi. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Ia menatapku. aku hanya menunggumu.. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu.. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian.” Ia berhenti. Dan lalu. tapi ia menundukkan kepala. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. sambil masih. berkat dirimu. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum. Lalu. disinilah aku duduk.” katanya. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada.” Ia melamun. kembali menimbang-nimbang. mendengarkan. “Ya. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. mengalihkan kecurigaanku. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. Aku tahu kau tidak masuk kesana. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu. Aku menatapnya terpana.” sahutku tenang. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki.” Aku terdiam sebentar. Kupaksa menelan makananku. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. Matahari akhirnya terbenam. pada insiden van itu. “Kau ingat?” tanyanya. dan aku menyadari tubuhku mematung.. “Aku mulai bermobil berputar-putar. “Itu bukan yang pertama.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri..” usulnya. tapi sebaliknya aku malah senang. Jadi. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. aku bicara. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. dan aku tahu toh kau harus kembali. ” Ia berhenti.. matanya yang menyipit menatapku.. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. wajahnya yang tampan berubah serius. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama.” akunya terburu-buru. tatapannya menembusku. Ia memandangi piringku yang masih penuh. “Lalu apa?” bisikku.. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. aku bisa dengan mudah menemukannya. salah satu alisnya terangkat. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. dan kau pergi ke arah selatan.” Ia menatapku waswas. “Ya. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana.

tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. matanya mencari-cari mataku. bagai patung batu. aku akan pergi mencari mereka. dan ia masih tak bergerak. satu siku bertengger di meja.. tertutup lengannya. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. Aku duduk diam. penuh dengan pertanyaannya sendiri. Tanganku terlipat di pangkuan. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. djAnGgo 146 . kepalaku pening. dan aku bersadar lemah di kursi. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. tetap hidup.” Suaranya tidak jelas.” geramnya. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. hanya pergi menyelamatkanmu. Akhirnya ia mendongak. tangan menutupi mata. Tangannya masih menutupi wajah.” ia mengakui dalam bisikan.. pikiranku campur aduk..“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. “Sulit. sekali. dan membiarkan mereka.

masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. Aku memperhatikannya memutar ke depan. “Semoga malammu menyenangkan. dan ia menunduk penasaran. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.” Suaranya tenang. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Aku menyembunyikan senyumku. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Edward sepertinya mendengar. Aku menghela napas. masih tegang oleh obrolan tadi. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. Udara dingin sekali. masih mengagumi keanggunannya.” katanya. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. “Kami mau bayar. lalu bangkit. lalu menutupnya dengan lembut. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. “Sekarang.” ujar pelayan itu terbata-bata. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. tapi nyatanya belum. agak serak.“Ya. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. Aku ikut berdiri dengan susah payah.” Edward tersenyum. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.” aku mengiyakan. aku siap. Aku belum siap berpisah dengannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. sepertinya tanpa melirik.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. terima kasih.” giliranmu. “Ini dia. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Edward mendongak. djAnGgo 147 . berputar menuju jalan tol. Atau memperhatikan. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. “Simpan saja kembaliannya. Aku memandang trotoar. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. “T-tentu. menunggu.

“Itu lebih dari satu pertanyaan. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku mengikuti aroma tubuhmu. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. “Satu-satunya dugaanku. suara-suara dengungan di latar belakang. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. Ia menghela napas. Setelah aku terfokus pada satu suara.” Ia memandang jalan. Tapi tetap saja.. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.” Ia tersenyum jail. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. djAnGgo 148 . Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan.. Aku belum siap membiarkannya selesai. Ia memandangku tidak setuju padaku.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”. Ia nyaris tersenyum. tak lebih dari beberapa mil.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. hanya aku yang bisa. Hanya suara senandung. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. “Well . tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. semua bicara serentak.” protesnya. sengaja.9. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. “Aku tidak tahu. “Satu saja.. dan aku pergi ke selatan.” gumamnya. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. menanti jawaban. sorot matanya misterius. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja.. di mana saja. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. dan itu bisa sangat mengganggu. “Tidak. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya.. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. “Baiklah kalau begitu.” Ia berpaling. Ia menatapku.” katanya menyetujui.” gerutuku. dahinya berkerut ketika mengatakannya.” Aku merasa konyol..

.” ia tertawa. barangkali karena memang benar. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. “Yang mengingatkan aku. sekarang giliranmu.. Bagaimana memulainya. djAnGgo 149 .” Wajahnya menegang. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.tiba-tiba tertawa. itu cuma teori. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. “Jangan khawatir.” Aku menghela napas.

kemudian tertawa sebentar.” tukasnya. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. “Gila!” seruku. masih tidak memperlambat kecepatannya. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. “Tapi kau tidak. Jacob Black.” ia menyetujui gurauanku. “.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan.” Ia memutar bola matanya. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya. Aku menatap panik ke luar jendela..” Aku mengamatinya dengan hati-hati. aku bahkan belum pernah ditilang. “Charlie polisi.” “Tidak. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang.” Ia masih tampak bingung.” Aku mencoba mengubah intonasiku. Ia menunduk memandangku. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. “Kita tidak akan tabrakan.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. di pantai. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja.” aku melanjutkan. ya. mencoba berpikir.” “Apa yang memicunya.” tukasku marah.” Ia berbalik.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. “Puas?” “Hampir. “Kenapa kau tiak mulai dari awal.” “Sangat lucu.” gumamnya.” akuku. Aku menunduk memandang tanganku. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. ” aku mengubah ceritaku. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak. kau tidak lupa. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. “Aku tidak bakal tertawa. “Tenang. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. tersenyum lebar padaku. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. “Katakan saja. semuanya berawal hari Sabtu. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. Ia tampak bingung. barangkali kau masih bisa selamat. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. Lagipula. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung. “Radar pendeteksi alami. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya.” janjinya.” Suaranya tenang. Bella. tidak seperti rencana semula..” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku.” “Barangkali. Bella. buku? Film?” Ia mencoba menebak.” Ia menunggu. “Kami jalan-jalan.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. “Aku bertemu teman lama keluargaku.” Ia menghela napas.” Aku menggigit bibir. “Tidak. Ekspresinya masih sama.

” aku berhenti. “Lanjutkan. ragu-ragu. djAnGgo 151 .. Dia menceritakan salah satunya.beberapa legeda tua.. kurasa ia mencoba menakut-nakutiku.” katanya.

” kataku lembut. Tapi aku melihat genggamannya menguat.” “Tidak. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting. dan aku terkejut dibuatnya. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. menyebut keluargamu. “Jadi aku salah lagi?” tantangku. Aku menatapnya.” katanya.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. menatap lurus ke depan. suaraku memancarkan keraguan. “Kau marah. Kebanyakan konyol. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.” Ia tergelak.” aku mengakuinya. Ia tertawa. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat. “Tidak. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. “Tidak. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.” keluhku. aku harus mengaku. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi. Tidak ada yang cocok. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. “Bukan itu maksudku. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. “Tidak.” aku berhenti. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak.. Dia.” Aku sadar suaraku berbisik. kembali memandang lurus ke depan. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan. “Itu salahku.. tapi sorot matanya sengit. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. djAnGgo 152 . Ia tertawa.. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. Jacob Black yang malang.” bisikku.” Ia tidak mengatakan apa-apa. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. Wajahnya pucat dan kaku.“Tentang vampir. tapi suaranya setegang wajahnya. Kemudian. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. “Aku benar?” tanyaku menahan napas. “Kalau saja aku melihatnya. “Aku mencari keterangan di Internet. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya.” Ia terdiam. aku yang memaksanya bercerita padaku.. terus menatap jalan. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. mencengkram roda kemudi.” Saat mengingatnya lagi.” aku buru-buru berkata. “Aku mencoba merayunya. dia mencoba memprovokasiku. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang.

“Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 . “Tapi aku memang penasaran.” Aku diam sebentar.“Tidak juga. Tiba-tiba ia menyerah.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.

“Mitos. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku. “Aku tidak bisa tidur. “Kesalahan yang sangat berbahaya. untuk berjaga-jaga. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. dan ketika menatapku lagi. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Aku berkedip.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. contohnya. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.. Kami sama-sama terdiam.” Suaranya muram. dan ia cemberut. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan. “itu. “Jangan tertawa.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas.” “Terbakar matahari?” “Mitos.” ia menjelaskan perlahan. suaranya nyaris tak terdengar. Aku. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang.” Suaranya tegang sekarang. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis. Kami masih berbahaya. seperti yang dilakukannya sebelumnya.” “Kami berusaha.” akhirnya ia mengaku. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga. “Dia bilang kau tidak.. masih terkesima. Aku menganggapnya sebagai pembenaran. memburu manusia.” ia langsung menjawab. “Tapi jangan senang dulu.” Aku tersenyum. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” katanya. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . membiarkan diriku berduaan denganmu. “Jadi. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. ketika ia khawatir aku syok. “Well. “Cukup lama. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting.” gumamku.” bisiknya. “Oh. lalu nada suaranya berubah aneh.” “Ya.” Ia ragu sesaat. “Oke.” “Tidur di peti mati?” “Mitos.” ia mengingatkanku. itu. “Tidak juga.” Ia menatap ke depan. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin. Aku menatapnya sampai ia berpaling.” gumamnya.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. menghiburnya. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. tatapannya dingin. dan aku tak mampu berkata-kata. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis.” “Aku tidak mengerti. “Sama sekali?” “Tidak pernah. Aku tersenyum lebar.

Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. seperti jalanan hitam di bawah kami. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. Kata-katanya mencerminkan nada final. tanpa dinding diantara kami. hingga tidak tampak nyata. djAnGgo 155 . Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini.jalan. seperti dalam video game. secara terbuka. dan aku tersentak dibuatnya.

” Suaranya berubah licik.” Tatapannya lembut tapi dalam. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. tapi ini penting. kejadiannya bisa lebih buruk lagi. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. tidak benar-benar tanpa tergores. bukan bertanya. suaraku masih memancarkan keputusasaan. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. Ia menatapku...” Ia tersenyum menyesal.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. menyatakan.” pintaku putus asa. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul.” ia mengingatkanku. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu.” Ia menggeleng. Aku menyadari mataku basah.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami.” kataku yakin. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. Ia menghela napas.” Ia tergelak.” keluhku. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. “Kau ini memang pengamat.” Bibirnya tersenyum. Aku memperhatikan bahwa orangorang. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu.” ia djAnGgo 156 . Aku memandang telapak tanganku. hanya mendengarkan suara tawanya. “Well. terkejut karena perubahan nada suaraku.. Tiga hari yang amat panjang. dan memang tidak. tak peduli apa yang dipikirkannya. “Aku tidak ingin menjadi monster.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. “Aku terjatuh. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. Matanya tak pernah luput dari apapun. “Aku tidak yakin tentu saja. kami kembali hari Minggu.” “Apa?” “Tanganmu. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian. lalu sepertinya teringat sesuatu. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. khususnya cowok. “Well. Hampir sepanjang waktu. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak.. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. atau dahaga tepatnya. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. dan sepertinya membuatku lemah.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal.” kataku. “Ya. setidaknya. “Aku tidak ingin pergi. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia.“Ceritakan lagi. mengingat siapa dirimu. khawatir. ya kan?” Aku tidak menjawab. lebih pemarah ketika mereka lapar. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak.” “Tapi kau tidak sedang lapar. “Ya. “Sudah kuduga. berusaha mematrinya dalam ingatan. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar.” Suaranya sangat pelan. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. berada jauh darimu. “Kurasa.” Ia berhenti sesaat. lelucon diantara kami sendiri. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. kami menyebut diri kami vegetarian. Sudah kubilang aku punya teori.

” kataku. mengalihkan pandanganku.berjanji. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku. Aku. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja. Aku memikirkannya beberapa saat.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. “ aku ragu-ragu. Ia bingung. djAnGgo 157 . “Kau kan bisa meneleponku.

” ia bertanya setelah beberapa menit.” kataku. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. Ia mengemudi terlalu cepat. “Ini salah. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. “Maafkan aku.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. kau tidak terlihat setakut itu. “Tidak. “Katakan. waswas.” Suaranya sarat penyesalan.” aku mengakuinya. “Ah.” Suaranya menghardik. Kurasakan tatapannya di wajahku.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. Aku memandang jalan. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. Ini tidak aman. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. Ia terdiam. melewati perbatasan Forks. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. tapi aku tetap memandang lurus ke muka. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. tak yakin apakah aku sanggup bicara. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. Itu juga membuatku waswas. Aku berbahaya.” geramnya. itu masalah lain lagi.” Aku menghela napas.” erangnya pelan.” Ia menggeleng. “Kau benar. Kegelapan menyusup diantara keheningan. ragu-ragu ingin meraihku.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. “Ini salah. Pasti kami sudah dekat sekarang. djAnGgo 158 . kau tahu kan. “Jangan pernah mengatakan itu. “Begitu juga aku. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria.” “Tidak. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti.” Suaranya pelan namun tegas. Bergegas aku menyekanya. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. tapi suaraku parau.” Aku tak bisa memahami reaksinya. Sudah kubilang. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. pelan dan parau.” Kugigit bibirku.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan. Bella. mengertilah.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. Lalu mobil memelan. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. kumohon. tidak penting kau itu apa. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. ilmu bela diri. Aku hanya menggeleng. suaranya masih muram. Sudah terlambat. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. “Aku serius. Kata-katanya melukaiku. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. Aku melirik.

” djAnGgo 159 . “Aku akan menunggumu saat makan siang. Edward menghentikan mobilnya. tapi aku tidak beranjak.” Konyol. Kami di depan rumah Charlie. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas.” Ia tersenyum. trukku ada di tempatnya. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. dan aku tak mampu bicara. setelah semua yang kami lalui malam ini. semuanya sangat wajar. Lampu-lampunya menyala. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji.“Ya. ada tugas yang harus dikumpulkan.

” “Oh. tapi ragu. Kukembalikan jaket itu padanya. Kupikir aku mendengarnya tertawa.” “Oh ya?” aku terkejut.” “Benar.” Dengan engggan kubuka pintunya. benar.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. “Bella?” “Ya. sangat menyenangkan. Aku menyadari udara sangat dingin.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. “Baik kalau begitu. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok.” Ia terdengar waswas.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan.” Ia tersenyum. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya.” “Well.” “Sampai ketemu besok. “Aku akan menelepon Jessica dulu. terlalu antusias. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. terus menembus jendela. “Tidur nyenyak ya. “Terserah apa katamu. janji yang mudah dipenuhi. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. “Ya. namun lebih kental. tapi lega. Napasnya menyapu wajahku. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali. Lalu aku melangkah canggung keluar. dan masuk ke dalam. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya.” kataku. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. Dad. Ini. “Kau pulang cepat. tanganku pada pegangan pintu. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. biarkan dia sampai rumah dulu. lalu mengangguk. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. setidaknya. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Kau boleh menyimpannya.” ia memberitahuku. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. membuatku terpana. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok. Charlie memanggilku dari ruang tamu.” aku menyetujuinya. Kutanggalkan jaketnya. Jantungku berhenti berdetak.” “Well.” Aku menatapnya bingung. Mataku mengerjap. Lalu ia menjauh. mencoba mengulur-ulur waktu. djAnGgo 160 . wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. “Sekarang bahkan belum jam delapan. Aku ragu-ragu. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. barangkali kau harus berbaring. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan.” katanya.” ia mengingatkanku. serius. terkejut. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Ia sedang menonton pertandingan baseball. membuka pintu. Anggap saja begitu.” desahnya.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. Aku cukup banyak berjalan tadi. “Kenapa?” Dahinya mengerut.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. “Mereka membeli gaun. “Ya?” aku berbalik padanya. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. benarbenar terpesona. Aku membayangkan bagaimana rupaku. ini aku.

menjatuhkan diri di kursi. Tiba-tiba telepon berbunyi. mengagetkanku. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Pegangan. “Halo?” desahku. Aku mengangkatnya.Aku pergi ke dapur. kelelahan. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. perintahku. djAnGgo 161 .

djAnGgo 162 . Jaketku tertinggal di mobilmu. benar-benar nyaris pingsan. ayahmu ada disana ya?” “Ya. ada sebagian dirinya. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. Awalnya tak ada yang jelas.” Aku menaiki tangga perlahan. oke?” Ia langsung mengerti.. yang haus akan darahku. Aku melangkah sempoyongan. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. Jess. “Oh. menyengat kulitku. benar. meringkuk. aku jatuh cinta padanya. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. “Mmm. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. Edward adalah vampir. selamanya. Kedua. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. kalau begitu kita ngobrol besok. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. aku tersadar diriku kedinginan. dan terkejut.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega.“Bella?” “Hei. terlalu lelah untuk bergerak. Baru ketika aku berada di kamar mandi. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya.. sampai air hangatnya menyembur lagi. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. tapi semakin aku nyaris tertidur. “Ya. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. tanpa syarat. dan beberapa yang kucoba enyahkan. aku baru saja mau meneleponmu. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. Pertama. “Bye. airnya terlalu panas. Dan ketiga. Beberapa kali aku sempat gemetaran. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. besok saja. di kelas Trigono. membalut diriku dengan handuk. Jess.” “Okr.

djAnGgo 163 .

Aku cemberut. Kabut sangat tebal. Ini membuat lidahku kelu. seperti aroma tubuhnya. “Aku membawakan jaket untukmu. “Aku tak selemah itu. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. lalu bergegas meninggalkan rumah. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat.” Suaranya hatihati. Charlie sudah pergi lagi. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. aku terlambat lebih dari yang kukira. ia sudah duduk di sebelahku.” Ia kelihatan bergurau.. “Ya. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. tapi tiba-tiba ia sudah disana. Semalam semua penghalang itu lenyap. Seperti biasa. Interograsi Keesokan paginya. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. tapi aku tak yakin. selalu terlalu cepat. lega. benar-benar sempurna. Ia benar-benar memberiku pilihan. berusaha tetap tenang. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. aku bebas menolak. terima kasih. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. dan sebagian dirinya berharap begitu. menyalakan mobil. Setidaknya aku merasa begitu. mobil berwarna silver. dan lebih cepat dari seharusnya. Ada keraguan dalam suaranya. Ternyata lebih baik. Logika tak berpihak padaku. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. Ia menutup pintu. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. “Tidak seperti reaksimu. teringat aku tidak memiliki jaket.” kataku. Aku menelan tiga gigitan granola.10. Ia berbalik dan nyengir. ataupun akal sehat. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut.. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. hampir semuanya. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. membukakan pintu bagiku. terasa canggung. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. kau tahu. Aku menunggunya memulai. udara nyaris tertutup kabut. Ketika aku tiba di lantai dasar. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Aku tak ingin kau sakit atau apa. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. berhenti. Jantungku berdetak cepat. Harapan yang sia-sia. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. Aku tak melihat dari mana datangnya.” kataku. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. “Benarkah?” Ia menyangsikannya.

tidak wajar.“Tidak. itu masalahnya. “Tidak terlalu banyak.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.” tuduhnya. apa yang sebenarnya kau pikirkan. Kau menerimanya dengan tenang sekali.” djAnGgo 165 .” “Kau mengeditnya. Itu membuatku bertanyatanya.

Atau daya sihir tatapannya. wow.” Ia berlalu.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. “Hei. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas. lalu menyampirkannya di lengan.” gumamku pelan. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami.” ia mengakuinya. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit. “Jadi. aku langsung menyesalinya. Bukan sepenuhnya salah Edward. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar.. bahwa suaranya begitu menggoda. “Bagaimanapun. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward. aku bisa membaca pikirannya. Ia melipatnya. dan aku mencoba tidak mengerang.“Cukup untuk membuatku gila. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. Jessica. terkejut. Begitu katakataku terucap.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. kemudian mengenakan jaketku sendiri. “Hei. kelewat mencolok. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. “Terima kasih sudah ingat membawanya. ingin menggapai dan menyentuhnya. “Apa yang ingin djAnGgo 166 .” sapa Edward sopan. dengan senyum jail. “Mereka naik mobil Rosalie. tapi khawatir ia tidak menyukainya. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. syukurlah. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. Lalu ia tampak mengerti. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. Aku tidak terlambat. “Aku tak bisa.” desahku. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku. “Kalau Rosalie memilikinya.” aku memohon padanya. matanya nyaris keluar dari rongganya.” “Sudah kuduga.” Ia menatapku penuh makna. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang. Jessica menungguku. “Jadi.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot.” Ia menghampiriku di depan mobil. Ia tidak bereaksi.” “Kau tidak ingin mendengarnya. sampai ketemu nanti. nyaris berbisik. Aku terlambat menyadari sesuatu. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. “Selamat pagi. hai.” “Kalian tidak berhasil.” kataku ketika kami sudah dekat.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya.” gumamku pelan. Aku ingin mempersempit jarak itu. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Jessica. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai.. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. “Err. kan?” “Mmm. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. “Kelewat mencolok.” katanya. “Kami semua suka ngebut. Kami berusaha membaur.

Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. “Itu tidak adil. barangkali menatap kami. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. Orang-orang melewati kami menuju kelas.” akhirnya ia mengatakannya. djAnGgo 167 .diketahuinya?” Ia menggeleng. tersenyum nakal. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. itu baru tidak adil. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku.” “Tidak. “Iihh.

Tentu saja Edward benar. djAnGgo 168 . Bibirnya mencibir.. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. sinis. penasaran. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. Jantungku memburu. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. “Apakah itu semacam kencan. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. Dasar curang. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. Ketika aku memasuki kelas Trigono. Ia sudah berbalik dan berlalu.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess.” Mr. Mason mengabsen kami. lalu mengantarku pulang. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. aku sangat terkejut melihatnya disana.. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Jessica sudah duduk di deret belakang. menyuruh kami mengumpulkan tugas. matanya bersinarsinar. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. “Sudah pasti.” Kuharap Edward mendengarnya. “Sampai ketemu saat makan siang..” aku meyakinkannya. wajahku merah padam dan malu. karena menurut dia. kalau kau tidak keberatan. nyaris melompat-lompat di bangkunya. “Jadi. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. yang duduk di sebelahku. “Tidak. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica.. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. kecewa mendengar kejujuranku. karena kesal kubanting tasku. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis.“Hmmm. wajahnya tegang. “Hebat.” “Aku tak keberatan. Mengerikan. well.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. itu juga kejutan.. “Selamat pagi.” jawabku sekenanya. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. Aku duduk di bangkuku yang biasa. Bella. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. “Ya. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin.” Ia memandang marah padaku.” sapa Mike. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. Aku bergegas memasuki kelas.” kataku pelan.” aku menjelaskan.” ujarnya seraya menoleh ke belakang. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting..” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya.

“Well.trukku tidak bakal sanggup.” “Aku tahu.” Ia mengangguk. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili.” “W-o-w. ya. kalau begitu. apakah itu masuk hitungan?” “Ya. djAnGgo 169 .” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata.” aku setuju dengannya. “Edward Cullen.

“Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. Sikapnya selalu misterius. wajahku merona.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku. “Oh well. Tapi aku tak djAnGgo 170 . baiklah. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah. tapi Mr.” “Lebih baik lagi. sangat sedikit. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam.” kataku kasar. Vanner.. terangterangan sekali.?” Alisnya terangkat.” Dia kelihatan kecewa. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.. sedikit. kataku lagi. “Jadi. mengintimidasi. Dia memang luar biasa tampan. berbisik meminta informasi lebih lanjut. “Seberapa suka?” “Terlalu suka. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan.” aku balas berbisik. Jess. “Ya.” aku mengakui. “Bukan begitu. “Lebih daripada ia menyukaiku.” aku balas berbisik. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. Kelas sudah dimulai. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. Aku menatap ke depan kelas.. telapak tangannya menghadapku. Bella. “Menurutmu hari Sabtu.. “Kenapa?” aku terkejut. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum.” ia merajuk. seperti sedang menghentikan laju mobil. “Aku sangat meragukannya. Aku mengabaikannya.” Vampir yang ingin menjadi baik.. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali.” Wajahnya berubah. seraya menghela napas..” desahnya. dan barangkali umurnya 19 atau 20. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami.” “Kurasa.. “Ayolah..“Tunggu!” Tangannya terangkat.” Sangat. Aku yakin diriku juga.” Jessica mengangguk. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. “Ya. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. “Itu pertanda baik. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. banyak. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya.” kataku membelanya. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward.. akan kuceritakan satu. Dia pasti menyukaimu. “Ceritakan detailnya. “Maksudku.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. tapi sulit mengetahuinya. “Dia begitu. “Entahlah. Kurasa dia menyingungnya sekilas. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya. tapi ia tidak memahami reaksiku.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu.. kau benar-benar menyukainya?” desaknya.” “Well. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris.” gumamku.

Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan.tahu bagaimana mengatasinya. dan begitu bel berbunyi. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas. Mr. aku langsung menyelamatkan diri. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. “Di kelas Inggris. untungnya. Kemudian. wajahku terus merona. djAnGgo 171 . Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas.” Aku mendesah.” aku memberitahunya. perhatiannya benar-benar teralih.

Edward sedang menungguku.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. Sudah pasti. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami. maju untuk membayar makanannya.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi.“Kubilang kau sangat menikmatinya. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. kan?” tebaknya. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. kau bisa melakukannya. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. “Sampai nanti. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku. dia akan memaparkannya padamu nanti.. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 . Ia memandangku geram. semua otang memandangiku. Ia tadi mendengarkan. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. terkagum-kagum. “Halo. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. ya kan?” tanyanya meremehkan. Bella. Edward seperti tidak menyadarinya. tampak sangat mirip dewa Yunani. masih diam. kan?” Ia menggeleng. Jessica melihatnya. Ketika aku melompat dari bangku. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. dia kelihatan senang. ekspresinya berubah-ubah.” Alisku terangkat. “Kurasa aku tidak terkejut. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. dan menelannya. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini.” Ia meringis. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Ambil apa saja yang kau mau. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali. “Kurasa tidak.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. Ia membimbingku menuju antrean. memutar bola mata. “Aku penasaran. menggeleng-gelengkan kepala.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. kurasa ia mengulurulur waktu. “Tidak terlalu buruk. Bel istirahat siang berbunyi.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. ketika ditantang. sementara kami duduk berhadapan. “Hai. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. juga jawabanmu. “Tentu saja separuhnya untukku.” aku mengakuinya. “Aku pernah melakukannya.” Ia tertawa. dan ia tidak bicara. cepat-cepat mengunyah.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku.. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. Aku mengerutkan hidung. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. meski beberapa detik sekali ia memadangku. lalu pergi.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya.

“Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza..” “Cewek malang. well. gelisah. ia melirik dari balik bulu matanya. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. Aku memikirkan banyak hal. ya?” tanyanya santai.. “Jadi pelayannya cantik. djAnGgo 173 . itu menggangguku. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.membuatnya menyebalkan lagi.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. Suaranya parau.

“Itu sama saja.” aku berkeras.” Aku tetap menunduk memandang meja. lalu mengatupkan keduanya. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu. terutama bila menegangkan. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. Akhirnya ia bicara.” “Memang. semakin mendekat saat bicara. suaranya sangat lembut. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. Matanya membelalak terkejut. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. “Kau salah.” bantahku sambil berbisik. mengaitkan jemari lalu menguraikannya.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh.” bisikku. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. aku tidak tahu caranya membaca pikiran.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. kau akan menjawab. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami.” Wajahku merengut.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. “Ya. semuanya. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. Gelisah karena sikap diamku. Aku menggeleng ragu. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang. dan aku ingin sekali mempercayainya. kau tidak memikirkan beberapa hal.” aku mengakuinya. Aku hanya berharap. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. Ketegangan di wajahnya mencair. kau tidak sepenuhnya benar. djAnGgo 174 .. “Meski begitu. “Bukan salahmu. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. berusaha berpikir jernih. kadang-kadang. “Apa?” “Membuatku terpesona.” Dahinya berkerut. dan mengacungkan satu jari. tapi suaranya masih parau. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. atau ya. Kuangkat tanganku dari leher.. “Kau tak bisa mengetahuinya.” ia menyetujuinya.” aku mengingatkannya. “Oh. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi.” Aku berhenti. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. dan mencari cara untuk menjelaskan. “Biarkan aku berpikir. tangan kananku memegangi leher. “Aku tidak yakin. ia mulai kesal.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. aku benar-benar berpendapat begitu. ketika akhirnya aku bicara. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar.. terlepas dari kenyataannya. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. “Well. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. Keheningan terus berlanjut. sementara tubuhku condong ke depan. Aku memandangi tanganku. “Ya. Kujatuhkan tanganku ke meja. “Kau melakukannya lagi. mataku menelusuri kayunya.” aku mendesah.” “Ya. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan..“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan. “Kau tak bisa mencegahnya. Aku balas menatapnya.

“Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well. djAnGgo 175 . lihat aku. membenarkan ketakutanku. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. tapi kemudian matanya menyipit. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu.” ia mulai menjelaskan. well.” kataku.” bisiknya.“Peka. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. “Tapi justru itulah kenapa kau salah.

” Aku menatapnya marah. “Itu semua salahmu.” Mataku mengerjap. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. “Aku punya pertanyaan lain untukmu. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini. ia menggeleng. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal. “Mungkin tidak. terperanjat. “Tanyakan saja. supaya kau tetap aman. “Kau tahu. “Sudah sepantasnya. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. Aku bisa saja mendebatnya. tapi kupikir kau bakal mengerti. “Belum. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan.” aku mengingatkannya. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. “Aku tak percaya.” Tahu aku akan memprotes.” ia tergelak ironis. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya.” aku setuju. apakah kau akan menolak?” tanyanya.” kataku jujur. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. masih tertawa sendiri. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini. Akulah yang paling peduli. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. mencoba melawan pendapat itu.. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle..” tukasku. “Belum.” Raut wajahnya masih kasual. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar.” ia menambahkan. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka.” ia tergelak. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku.” Ia terdengar sangat yakin. “Percayalah sekali ini saja. ia pun menyela.Alisnya mengerut marah sesaat. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. djAnGgo 176 . Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu.. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki.. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar. kau bukan manusia biasa.” “Oh.” “Itu bukan masalah.” aku mengingatkannya.” Ia bingung. Kalau perlu.” aku bergumam pada diriku sendiri. karena seandainya aku bisa melakukannya”.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. “Kalau aku mengajakmu.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya.

aku tak peduli dengan yang lainnya. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian. dan waktu itu.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. memang ya. “Aku terbuka untuk tawaran lain. terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . “Tapi aku punya satu permintaan. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut. Kalau ia bertanya lagi.” kataku. “Kenapa?” “Well .” Ia tampak waswas.

“Karena itu sudah terjadi. Tapi setelah berpikir sesaat. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. itu bukan tempat yang baik untuk hiking.. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu. “ “Tapi nyatanya. “Kau tahu. dan memalingkan wajah. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. “Kita bicara yang lain saja. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 .” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. “aku akan mengambil resiko itu. aku bertemu pandang dengan adiknya.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. sekarang bukan musim berburu beruang. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya.” ia menyelaku. “Dengan Charlie.” Matanya kembali menyala-nyala.” Ia tersenyum. kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Ia memutar bola matanya. baik tatapan maupun maksudnya. aku tak keberatan berdua saja denganmu.” Ia menghela napas marah. “Tapi kalau kau tidak ingin.” Ia menggeleng-geleng tak percaya.. lagipula dia benar. berbohong selalu lebih baik. Jadi. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. lalu terdiam.” ia memberitahuku. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau.” Aku jengkel. “Meski begitu. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. kau harus memberitahu Charlie.” “Aku tahu. Untuk ukuran. banyak beruang. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. “Kalau kau membaca dengan teliti.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras.akan berbohong.” Aku menelan ludah. memastikan tak seorangpun mendengarkan. berduaan denganku. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. lebih baik kau berada di dekatku. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. Yang lain memandangi Edward.” usulku. untuk berburu? Charlie bilang. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi.. yang sedang menatapku. “Ya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. Ia masih kesal.. jadi aku akan menghilang untuk sementara. “Lagipula. Aku memandang sekelilingku..” Aku yakin soal itu. itu baru jumlah populasinya.. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. Alice. merenung. aku menjadi yakin. Aku tak bisa membantah. untuk menyembunyikan keterkejutanku.” aku menambahkan dengan tegas. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu.” desahnya.

akhirnya menatap matanya yang gelisah. “Jadi. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya.” kataku setelah sesaat. berpura-pura tidak tertarik.” Suaranya masih tenang. tanpa memandang ke arahnya.” “Ah. “Singa gunung. djAnGgo 179 . sambil mencari sodaku lagi. namun matanya mengamati reaksiku.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke.” kataku sopan. “Hmmm. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. “Beruang?” ulangku terbata-bata.memahami ucapannya. Aku mencoba mengendalikan diri.

” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi.” katanya.” aku mengakuinya. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. mereka baru saja selesai hibernasi. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri. nanti.” “Lalu kenapa?” desakku. djAnGgo 180 . Ia tertawa terbahak-bahak. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett. “Ya.” katanya.” Aku mengangguk menyetujuinya. “Lebih seperti singa. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. dan. Aku menatapnya. nada suaranya menyamai nada suaraku. “Nanti.“Tentu saja.” katanya enteng. “Kalau begitu. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. kami punya senjata. jadi lebih pemarah. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. Aku takkan lupa. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. nada suaranya dingin.” Aku memandang berkeliling. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Saat aku bersamanya. ia benar. atau begitulah kata mereka. Aku melirik ke seberang kafetaria. “Kita bakal terlambat. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. “Barangkali. “Kalau memang itu. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan.” aku mengulanginya. ke arah Emmett. meraih tasku dari sandaran kursi. takut melihat reaksinya. dan itu sebenarnya cukup.” akhirnya ia berkata.” Aku berusaha tersenyum. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. tapi tidak bisa. Aku melompat. kafetaria hampir kosong. tertegun.” “Aku mencoba membayangkannya. aku akan mengajakmu keluar malam ini. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. dan matanya tibatiba berkilat marah. Ia juga menyandarkan tubuh. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. bersedekap. ngeri. menggelengkan kepala. benar. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. mencoba mengabaikan kemarahannya.” timpalku. meskipun tak pernah mengaku padanya.

djAnGgo 181 .

“Hmmm. melemaskan jemariku yang kaku. Kulitnya dingin seperti biasa. Mr. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Hari menonton film. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. matanya melirikku juga. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. tangannya mengepal di balik lengan. Aku nyaris mengerang. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Aku berjalan memasuki gymnasium. membelai wajahnya yang sempurna. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. lalu berhenti di ambang pintu. sekali saja dalam gelap. seperti terbakar. Sia-sia aku berusaha tenang. Wajahnya membuatku bingung. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. nyaris terluka. tadi itu menarik. jemariku mengepal. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Kurenggangkan dekapan lenganku. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. Kemudian. Mr. Lengan kami nyaris bersentuhan. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. “Yuk?” ajaknya. “Well. ia duduk cukup dekat. Sebagai gantinya. ketika ruangan sudah gelap. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. tapi aku tidak merasa nyeri. Edward tertawa geli di sebelahku. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. ragu-ragu. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang.11. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . Aku mendesah lega ketika Mr. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. Pembukaan film dimulai. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa.” gumamnya. nyaris membuatku sinting.” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku menuju ruang ganti. ekspresinya sedih. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. Ia mengulurkan tangan. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. Otomatis aku melirik ke arahnya. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Aku berdiri hati-hati. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. Waktunya kelas Olahraga. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. suasana senang di kelas nyaris nyata. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. Aku kehilangan akal sehat. Banner menyalakan lampu kembali. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. matanya sarat pergumulan. sambil bangkit dengn lincah. Banner sudah masuk kelas. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Aku tak sanggup bicara.

Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. dan ia berdiri di sebelahku. Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada. djAnGgo 183 . Raket itu tidak berat.menyerahkan raket padaku. Mike. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. kau tak perlu melakukannya. kau tahu. namun terasa tak mantap di tanganku.” aku meringis penuh penyesalan. aku sepenuhnya sadar.

“Kau ini bukan main!” Aku berbalik. “Aku tidak suka.. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen.” aku mengingatkannya. “Hai. aku tidak akan mengganggumu. mereka djAnGgo 184 .” katanya sambil meninggalkan lapangan. Mike. Edward menantiku. jadi aku mengabaikannya. Ia mengajakku ber. tampak mengerumuninya. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri.” ia meneruskan. aku diam karena malu dan geram. langkahku terhenti. desahku. “Itu bukan urusanmu. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami.. meskipun tidak bermaksud begitu. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. menuju mobilnya. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium.” Aku berbohong. Pandangannya bergeser sedikit. “Memang tidak perlu. berjalan cepat ke lapangan parkir. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. “Caranya memandangmu.” ia tetap mengatakannya juga.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. nadanya menantang. raketnya aman tersimpan. tersenyum lebar. Keadaan tidak berjalan lancar. mengabaikan keberatanku. aku jadi penasaran. melirik ke belakangku. Mike bermain cukup baik. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. Aku berpakaian dengan cepat. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. “Kau sendiri yang bilang. Ia memandang marah padaku. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. kan?” aku terperanjat. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. Dengan mudah Edward menyusul. matanya menyipit.” sergahku marah.” Ia tidak terdengar menyesal. “Apa?” desakku. heh?” tanyanya. bersandar santai di dinding gymnasium. Tiba-tiba selera humorku lenyap. “Jadi. Ketika aku berjalan ke sisisnya. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. “Baikbaik saja. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. seolah ingin memakanmu. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir.” Senyumnya mempesona.” Ia tersenyum.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. “Halo.“Jangan khawatir. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. masih tegang. semua cowok. Ia kembali menatapku. aku merasa sensasi lega yang aneh. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. melainkan mobil convertible merah Rosalie. Kami berjalan tanpa bicara. “Newton membuatku kesal. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. kerumunan orang. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. Meski aku telah mencederainya. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas.

djAnGgo 185 . Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya.tampak sangat tertarik. “Mobil apa itu?” tanyaku.” gumamnya. juga luput dari perhatian. Aku langsung masuk ke jok penumpang. “Kelewat mencolok.

” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.“M3. “Aku tidak berencana membawa mobil.. sementara kami berburu.. ke awanawan yang menggayut tebal. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. tanpa mobil. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. dengan enggan. “Aku minta maaf telah membuatmu takut. Ia tidak percaya.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. Aku tetap menjaga ekspresiku.. Wajahku tidak djAnGgo 186 . Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. tanpa memandangku. tanpa banyak menggunakan pikiran. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. “Kurasa sudah. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul.” “Bagaimana. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya..” aku bersikeras. Ketika menatapnya lagi.. Aku mengangguk.” Ia memutar bola matanya. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang. Dahinya berkerut. “ Ia menyelaku. Aku mempertimbangkannya. kalau kau bersungguh-sungguh.” Ia menggeleng. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu. terkejut... sudah jelas ia sedang melucu.” ujarku. “Sangat.. aku pernah mendengarnya.” “Karena. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. masih menatap awan tebal itu dengan murung.” “Mmm. Terutama indra penciuman kami. “Jelas. kemudian berubah jadi santai. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. yang seolah dapat diraih.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin.” “Itu keluaran BMW. ia sedang menatapku. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. “Setuju. Aku mendongak. “Well.” Rahangnya mengeras. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi.” Aku tidak mendesaknya lagi. membuat irama jantungku berantakan.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.” Senyumnya kini rendah hati. “Ketika kami berburu.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama.” aku berbohong. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh.. mengamatiku.” katanya pelas. Ia menghentikan mobilnya. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.” Ia menghela napas. “Tidak. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie.

Ketika kepalaku mulai berputar.menunjukkan apa-apa. dan berubah. aku sadar aku tak bernapas. memecah kekakuan dia antara kami. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. djAnGgo 187 . Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. dan keheningan itu semakin kental. ia memejamkan mata. Namun pandangan kami bertemu.

Jelas ia berencana menemuiku berok. “Oh. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya.“Bella. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. dan aku berguling kian kemari. djAnGgo 188 . dan aku naik.” katanya. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. Aku berkata takut-takut.. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. tersenyum tipis. Ketika terbangun aku masih merasa lelah. dan mengumpulakn buku bukuku.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar.” Aku nyengir. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. tenang seperti yang kuharapkan. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. hingga sering kali terbangun. “Begitulah rencanaku. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. Bagaimanapun tidurku berubah. Makan pagi berlangsung biasa.” “Oh. kalau tak ada halangan. Aku setengah berlari menuruni tangga. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. dan menyalakan keran. “Ya?” “Besok giliranku. Betapa ngeri. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. gelisah. Khawatir kehilangan keseimbangan. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. menyikat gigi. Dad. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. Kubuka pintunya. seperti biasa. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. Bella?” ia memanggilku. Pasti sulit menjadi ayah. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. aku makan semangkuk sereal. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. menunggu di tempat Charlie biasa parkir.” Aku menatapnya jengkel. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. suaranya lebih tenang. berjalan menyeberangi dapur. tapi juga tegang. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. “Ya. “Mengenai Sabtu ini. “Bertanya padamu. keluar rumah. Aku berkelit. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. Mobil silver itu sudah ada disana. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh.. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring.” Lalu ia menghilang. kurasa kau harus masuk sekarang. memamerkan kilauan deretan giginya.” Suaranya rendah serak.” Aku merasa kasihan padanya. matanya kembali menatap awan.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.

“Selamat pagi. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. terima kasih.” Suaranya lembut. lebih dari baik. Ia tersenyum. setiap kali berada di dekatnya. “Kau tampak lelah. “Baik. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. Ia menunggu di mobil. dan seperti biasa. tenang.” Aku selalu baik. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku.Aku tak pernah menginginkannya berakhir. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam.” djAnGgo 189 . seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. Aku berjalan menuju mobil.

Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu.” keluhku. Aku rindu cokelat. Aku tertawa. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. kalau saja wajahku tidak merah padam. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. ia tersenyum mengejek. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. “Kau benar. “Tidak bisa. Ia tergelak. tatapan aneh terpancar di matanya. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. Film yang kusuka dan tidak kusuka. ekspresi seriusnya berubah. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. Itu CD yang sama. Sering kali aku tersadar. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. pasti aku telah membuatnya bosan. “Aku juga. raut wajahnya serius. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. wajahnya muram. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. sewaktu makan siang. merapikan rambutku ke balik bahu. Hari ini giliranku bertanya. “Tentu. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. “Setiap hari berubah-ubah. bebatuan.” Tangannya menyentuh lembut. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris.” aku mengaku. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. seolah sedang menginterogasi pembunuh.“Aku tak bisa tidur. Warna cokelat itu hangat. “Barangkali cokelat. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Aku menggerak-gerakkan mataku. disini semua itu dilapisi warna hijau. untuk yang satu ini tak ada habisnya. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. debu. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. “Warna cokelat itu hangat. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . kau benar.” “Jadi. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. tapi masih sedikit ragu-ragu.” “Oh. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. Ketika kusebut nama bandnya.” “Aku berani bertaruh untuk itu.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. dan mengenai buku-buku.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang.” katanya serius. “Kurasa itu benar. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Kami sudah tiba di sekolah. sambil terus menunduk. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. Sesaat ia berpikir. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. Wajahku memerah karena. Kebanyakan pertanyaannya mudah. Ia mendengus. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. kalau aku sempat mengendarainya lagi. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. “Debussy. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. batang pohon. menatap mataku. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku.

” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya.” desahku. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. “Katakan. tentu saja. mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. pasrah. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu. aku akan bilang onyx.matanya yang berwarna topaz. Dan. “Itu warna matamu hari ini.

Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. sorot matanya bingung. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. aku merasa bersalah. Aku tak melihat ke arahnya. Tpai ia terdiam hanya sedetik. percikan listrik itu muncul lagi. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Di suatu tempat. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. Ia tidak berbicara padaku hari ini. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. menungguku. Senyum lebar mengembang di wajahku. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Tapi itu tidak membantu. akhirnya memandang Edward. seperti kemarin. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah.banyak dari seharusnya. Aku menghela napas lega. agak lengket. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. pahit. tahu semakin cepat aku bergerak. Banner menyalakan lampu kembali. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. sambil menarik kereta audiovisual lagi. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. tapi akhirnya aku melangkah keluar. dan cara menggapai matahari. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. Begitu ruangan gelap. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. ia sedang menatapku. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. membelai kening hingga rahangku. khawatir ia juga sedang memandangku. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. gelisah. Ketika guru itu mendekati panel lampu. di sudut benakku. pepohonan kering yang rapuh. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. tak mudah untuk dijawab. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . Aku menghela napas lega ketika Mr. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. tapi masih menyenangkan. luasnya langit. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. Banner memasuki kelas. dan terus menjawab pertanyaannya.

tapi ayahmu sebentar lagi pulang. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega. bukannya melontarkan pertanyaan lain. “Hampir selesai pun tidak. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. djAnGgo 193 . dan mendesah. Dalam cahaya temaram badai. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. Akhirnya. ia malah terdiam.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya.dengan bebasnya. Aku kaget melihat waktu. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang.

“Sudah twilight . “Hei. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. ia masih menatap ke depan. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. “Charlie sudah dekat. Jacob sudah keluar dari mobil. antara putus asa dan menantang. lampunya menyinari mobil di depanku. “Masalah lagi.. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 .” katanya muram. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. “Charlie akan sampai sebentar lagi. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi.” ia mengingatkanku. “Ini saat paling aman bagi kami.” katanya. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. “Jadi. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. “Aku sudah bilang belum selesai. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. kembalinya sang malam. wajah yang berkeriput. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar.” Ia tertawa. tapi terlalu gelap. nyaris menarik dirinya menjauh dariku. “Aku suka malam. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. lalu bergerak. “Kacau. aku langsung melompat keluar.. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. mengingat. Meski bingung dan penasaran. Kegelapan begitu mudah ditebak. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. ini adalah akhir satu hari lain. Aku langsung mengenalinya. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. Bella.. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua.” Aku mengerutkan kening. “Terima kasih. tatapannya gelisah. “Saat termudah. menjawab tatapanku yang bertanyatanya. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. Jadi. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. pipi yang kendur. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. seolah pikirannya jauh entah dimana. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. “Jacob?” tanyaku.” Alisnya naik sebelah. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. tapi juga yang paling sedih. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku.” gumam Edward. menyipitkan mata menembus hujan. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku.. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. Billy Black. Ekspresinya aneh. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat. Itu ayah Jacob. bannya berdecit di pelataran yang basah. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” gumamnya. rembang petang. Nada suaranya melamun. Ia melirikku sebentar.

seperti kata Edward. waswas. jadi aku tersenyum malu-malu padanya. seolaholah ngeri. Matanya lebar. Diam-diam aku mengerang. mengamati wajahku. Ya. Ia memandangku. Billy masih menatapku lekat-lekat. Masalah lagi. Ya. hidungnya kembang.kempis. ia percaya djAnGgo 195 .menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Senyumku memudar.

sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras.” kata Jacob. “Tidak.” “Oh. “Sudah terlalu lama. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk.” ia menambahkan. “Seorang djAnGgo 196 .” balasnya. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut.. Lalu aku berdiri di ambang pintu.” Keningnya berkerut. “Ini kejutan. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba. “Kurasa itulah rencananya. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. “Tidak. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi.” kata Charlie.” Ia nyengir.” Charlie tertawa. “Kalian lapar?” tanyaku. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum. “Tidak masalah. “Tentu saja. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. masih kanak-kanak. berbalik menuju dapur. ekspresinya tak bisa ditebak. Jake. sambil meraih-raih ke bawah serambi. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi.” protesnya. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya. Aku masuk. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder.. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. meski sudah bertahun-tahun. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran.” Jacob nyengir.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. TV kami rusak sejak minggu lalu. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.” Aku menunduk menatap wajan. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. “Baik. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. “Bagaimana denganmu. ke TV. tentu saja. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. “Maaf. menghindari hujan. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya.” sahut Billy. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. Semangatnya sangat sulit ditolak. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi.” Aku tersenyum. Aku berbalik menuju rumah.” sahut Jacob.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. Kami meminjam mobil itu. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. kami sudah makan sebelum kemari. mengintip bagian bawah sandwich-nya. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku. “Jadi. Aku belum melihat.12.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. “Ya.

“Tapi aku tidak mengenali pemiliknya.” Suara Jacob terkagum-kagum.” djAnGgo 197 . Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.teman memberiku tumpangan.” “Tumpangan yang keren.

tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie.” “Benar sekali.” katanya. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi. Selamat tidur. tunggu. menaruh dua piring di konter sebelahku. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. Ia kelihatan sedikit malu. “Kami akan datang. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring.” gumamku. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie.” tambahnya serius. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. tentu. Bagaimana harimu?” “Baik. Sungguh malam yang sangat panjang. Akhirnya pertandingannya selesai. ia tertawa.” gumam Jacob.” djAnGgo 198 . Charlie.” Ketika tatapannya beralih padaku. Jacob menatapku sesaat. Akhirnya aku mengalah. kurasa.” aku menyahut enggan. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. “Edward Cullen. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. senyumnya memudar. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. “Tadi itu menyenangkan. kan?” Aku tak bisa menahannya. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku.” “Jacob. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu.” timpal Billy. satu kakiku pada undakan pertama. siapa dia?” tanyanya. membalikkan sandwich. “Entahlah. kata-kata itu keluar dalam bisikan.” “Tentu saja.” Aku berpura-pura polos. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang. “Tentu.” Yang membuatku terkejut. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. “Jadi. “Bella. mencoba terdengar tak peduli. “Jaga dirimu. “Terima kasih.” “Oh. Bella.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk.” kata Billy. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie.” sahutku menarik diri. Hatiku mencelos. “Sepertinya ayahku mengenalinya. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu. boleh dibilang malam ini semacam reuni.” akhirnya ia menjawab.” serunya. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh.” kataku. Aku mendongak memandangnya. lalu berpaling. PR-ku banyak yang belum selesai.” ujar Charlie membesarkan hati Billy.

” Suaranya penuh semangat..” aku mengakuinya. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu. “Keluarganya baik. sebenarnya sih tidak. tapi partnerku sangat hebat. Mike Newton.“Wow.” “Well.. “Oh ya. “Siapa?” nadanya tertarik. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 . “Mmm.” Ia terkagum-kagum sebentar.” sahutku ogah-ogahan.

. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. aku akan di rumah saja. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. sama sekali tak ada hubungannya. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. sepatu sudah kukenakan.” Aku tersenyum. hobinya. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. kelewat lelah untuk bermimpi.” “Oh iya.” Bibirnya terkatup erat. Ia. “Hari ini masih milikku. djAnGgo 200 . membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. Charlie memperhatikan. temanku. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. “Tidak. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. Tasku sudah siap. sementara aku mengunyah. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun.” Aku bergegas. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. Cuaca seharusnya cukup hangat.” Ia nyengir. Aku mengangkat bahu. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang. Lalu ia tersenyum menyesal padaku.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. mesinnya mati. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu. kau oke. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. membuat napas dan jantungku berhenti. jendelanya terbuka. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. “Dia berkencan dengan Jessica. Tidurku lebih pulas malam itu. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap.” sahutnya saat sarapan. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. gigi sudah bersih. Ia tersenyum lebar padaku. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah.” gumamnya. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. beberapa teman sekolah. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. “Dad. kita kan mirip. supaya lebih cepat memandang wajahnya. ternyata Edward lebih cepat dariku. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku.. Saat ini kami di kafetaria. “Tidak di Phoenix. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. “Baik. langsung masuk ke jok penumpang. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. sama seperti Jessica dan Angela. Dengan enggan aku mengakuinya.” Senyumnya memukau. “Ini Jumat. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. “Pagi ini kau ceria sekali. betapa menggoda suaranya. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. suasana hatiku bahagia. berharap kelegaanku tidak kentara.“Dad!” erangku.” katanya.

djAnGgo 201 . bingung dan kecewa. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.“Kenapa?” tanyaku.” “Oh. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki.” desahku.” Mataku mengerjap. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang. “Tidak masalah.” Ia menatapku tidak sabaran. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok. “Aku tidak membawa kuncinya.

aku juga tidak mengerti. “Tidak. “Kau boleh membatalkannya kapan saja.” jawabku tenang. kuncinya tergantung di lubang starter. Mereka duduk. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. matanya yang keemasan tampak gelisah.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar. “Untuk masalah ini.” aku menjawab terlalu cepat. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. Aku mengubah topik kami. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. djAnGgo 202 . Aku menolak merasa takut padanya. dan memelas. “Apa saja yang bisa kami temukan.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya.. itu kan Sabtu. besok dia pergi mancing. tapi tatapannya kelewat polos. “Bukan itu. “Tidak. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. “Tergantung.” jawabnya dingin. “Sudah kubilang. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku. Itu tak masalah.. atau apapun yang direncanakannya.Ia menggeleng. di tumpukan pakaian di ruang cuci. “Baiklah. “Jadi. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin.. Kami tidak pergi jauh-jauh. balas menatapnya. Kau membuatku kagum.” bisikku.” Aku meringis. khawatir akan tatapannya yang persuatif. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. “Trukmu akan ada disini.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. mendukung. Ia menahan senyum. “Berburu. “Mereka tidak menyukaiku. terlalu percaya diri. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi..” Ia menertawai perkataannya sendiri. Hanya saja sekarang mereka berempat. Suaranya berubah tajam.” “Barangkali kau benar. ulangku dalam benakku.” Aku menunduk. “Dan kalau kau tidak pulang. “Bisa dibilang tidak percaya.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya.. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu.” Wajahnya bertambah muram. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku.” Aku memandang marah padanya. “Alice yang paling. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. Ia nyengir.” protesnya. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. memandang ke berbagai arah. ia takkan menemukannya. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati.” aku menyetujuinya.” katanya.” gumamnya putus asa. “Aku tak bisa. “Kalau aku berduaan denganmu besok. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal.. kau tahu itu. Edward menggeleng pelan. bibirku merengut. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. persis ketika pertama kali melihat merka. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya.” aku mencoba menebak. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci.

Manusia bisa ditebak.” djAnGgo 203 .. “Dengan keunggulan yang kumiliki. kau tak pernah seperti yang kuduga. Kau selalu membuatku terkejut.” gumamnya.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. “aku lebih baik daripada manusia umumnya.. Tapi kau. menyentuh dahinya dengan hati-hati.

meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja. Aku ingin berpaling. merasa malu dan tidak puas. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. “Alice. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Tiba-tiba Rosalie. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. Dia hanya khawatir. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Alice. “Tapi ada lagi. elegan meski tidak bergerak. mataku kembali mengamati keluarganya.” balasnya. “Maaf soal itu. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. Alice. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. Mungkin ini yang terbaik. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. “Alice. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. Aku berusaha bicara sewajar mungkin.. tapi senyumnya bersahabat.” ia memperkenalkan kami.. tapi aku tak tahu bagaimana caranya. ini Bella. Begini.” lanjutnya. Aku menunggu rasa takut itu. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil..” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. berpaling dan menatapku.” Ia menunduk.. Kupaksakan tanganku meraihnya.. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. bukan hanya aku yang bakal terancam. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. ingin rasanya aku menenangkannya. bukan melihat. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. Rosalie membuang muka. dengan buruk.. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah..” Ia mengangkat wajah. Dan perasaan frustasi. Ia masih memegangi kepalanya.” “Edward. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku.Aku berpaling. ini Alice. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. Aku kembali menatap Edward. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. Aku merasakan tatapannya di wajahku. Suaranya nyaris seperti desisan. djAnGgo 204 . “Senang akhirnya bisa berkenalan. dengan cepat. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. “Halo. sesaat wajahnya serius.” Aku hendak beranjak. Kesedihannya sangat nyata. senyum sinis mengembang di wajahnya. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. Posturnya ramping. Tidak.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum.. tapi aku belum bisa menatapnya. Bella. Bella. menunjuk kami sesantai mungkin.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. “Hai.” sapaku malu-malu. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut.

begitu anggun sehingga membuatku iri. “Kalau begitu.” Ia tersenyum. langkahnya sangat gemulai.Suaranya dingin. itu sih gampang. “Akan kucoba. “Tidak.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.” Ia masih tersenyum. berbalik menghadap Edward lagi. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. selamat bersenang-senang.” djAnGgo 205 .” Aku berusaha terdengar tulus. Tentu saja aku tidak bisa menipunya. Kita ketemu di mobil. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. kumohon. “Hampir. “Dan kau.” “Aman di Forks. jagalah dirimu. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup.

kelewat ingin tahu. Ia mengulurkan tangan. “Janji. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur.” ejeknya. dan rasanya ia juga. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.” desahku. Dengan sendirinya aku tahu. berharap aku bersenang-senang di Seattle.” ia berjanji. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. dan ini membuatku terkejut.” “Lalu. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. pasti keren.” Ia marah lagi. ya kan?” godanya. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu.“Bagimu memang gampang. “Oh.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya.” aku menekankan. atau instingnya.” katanya kembali bersemangat. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. Aku mengangguk sedih.” “Jangan terjatuh.” Ia bangkit berdiri. Di Olahraga. Aku pergi ke kelas dengan patuh. “Cucian. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. mengusap lembut pipiku. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward. Mike. pasti bakal penuh bahaya. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. khawatir trukku takkan sanggup. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku.” janjinya. Kami semua akan berdansa denganmu. lebih menyakitkan. oke?” “Ya sudah. “Aku hanya menawarkan. tapi insting menghentikan niatku. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. dan aku bertekad menjalankannya. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. “Lihat saja. “Aku akan datang besok pagi. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini.” djAnGgo 206 . kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya. aku juga. setidaknya pelajaran Olahraga. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi.. “tidak akan membantuku belajar. Lalu ia berbalik dan pergi. “Tidak. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. daripada menjauhkan diriku darinya. Itu sesuatu yang mustahil. bahwa esok adalah saat yang penting.” Rahangnya mengeras. tiba-tiba marah. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. “Sampai ketemu besok. “Aku akan mencuci malam ini. Mike mengajakku bicara lagi. “Sepertinya bakalan lama bagimu. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini. menyentuh wajahku. Keputusanku sendiri sudah bulat. tersenyum lebar.” “Aku janji akan menjaga diri.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward.” ulangku. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. “Kau tahu. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.

trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. Aku menertawai diriku sendiri. djAnGgo 207 . Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. Selembar kertas tergeletak di jokku. Aku menggeleng tak percaya. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. aku berjalan lemas menuju parkiran.Ketika sekolah akhirnya selesai. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Insting terakhirku terbukti benar.

kurasa. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. Nyaris. pikirku sambil menggeleng.. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali.” “Mudah sekali hidup bersamamu. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. “Oh. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Aku akan pergi kesana kemari seharian. persediaan ikan kita sudah menipis. dan tak akan mengubahnya. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. atau mungkin pertandingan basket. terkejut.. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. Dad. tertawa.” katanya. Sepanjang makan malam Charlie melamun. kuperiksa sakunya..” Ia tersenyum.” aku memulai. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. dan setelah menemukannya. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Dan apa pilihanku yang lainnya. Aku perlu ke perpustakaan. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. PR. Bella.. dan ke toko kelontong... membuyarkan lamunannya. sejak aku datang ke Forks.. Tawaku reda. dan sudah mulai tak terkendali. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. namun gemboknya terbuka. Lagipula. “Kau juga. jangan ubah rencanamu. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. kau pergi saja dan bersenang-senanglah. Lagipula. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi.. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. Aku mencari jinsku. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. “Kau tahu. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku.” “Kau yakin?” “Tentu. Dad. djAnGgo 208 . “Ada apa.. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. Kosong. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. Dad. Dad. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. bila semua itu berakhir buruk. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. Ia ingin agar aku selamat. mencuci.” “Oh. oke. hasrat itu akan mengalahkan segalanya. aku memberitahunya tentang pembatalan itu.. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin.” kataku. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku.

Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. Aku terbangun. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Aku merasa tegang. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. berusaha djAnGgo 209 . dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. Sambil menunggu obatnya bekerja. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. Setelah semua siap untuk esok. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu.

“Belok kiri di satu-sepuluh. merasa puas. dan ia pun tertawa. “Kenakan sabuk pengamanmu. menembus kota yang masih tidur. Aku meluncur ke pintu. hargailah sedikit. “Kita serasi.” tukasku gusar. Aku mengintip ke jendela lagi. Aku berpakaian terburu-buru.” sapanya sambil tergelak. wajahnya muram. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota.menenangkan setiap bagian tubuhku. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. “Kemana?” tanyaku. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu.” aku mengingatkannya. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. dan aku pun tidur pulas. dan jins. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. Aku bangun cepat. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. Awalnya ia tidak tersenyum. meskipun ia terus saja mencela. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. Sepertinya tidak akan bertahan lama. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. buru-buru membereskannya ketika selesai. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. belum-belum aku sudah gugup. sedikit kesulitan dengan selotnya. tapi akhirnya berhasil membukanya.” Ia tertawa lagi. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . Kini aku merasa tenang. Dan ia tampak berdiri di sana. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang. atau celana. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Aku ikut tertawa. “Selamat pagi. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. melicinkan kerah pakaianku. Meski istirahatku cukup. “Ke arah satu-kosong-satu utara. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda.” perintahnya. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. dengan kerah putih mengintip di baliknya. tapi tak ada yang berubah. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. Aku mendesah lega.

“Jalan setapak.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. djAnGgo 211 . “Sekarang terus hingga ke ujung jalan.kata. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya.

“Tidak. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. Ia tidak sedang memandangku.“Tidak.” Lima mil. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu. dan itu benar. Selama sisa perjalanan kami membisu.” Kami memandang ke luar jendela.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. dan kita tidak perlu terburu-buru. aku bilang kau membatalkan rencana itu. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya. Aku mengangguk. dan sangat sinis. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara. Aku berpura-pura tidak mendengar. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak.. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. Ia menggumamkan sesuatu. dan aku tak tahu harus bilang apa. “Katamu kau bisa mendapat masalah. pandanganku tetap ke jalan.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. atau bahkan melukaiku.” aku mengingatkannya. bukan berarti kita akan melaluinya.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. jengkel. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. “Jangan khawatir.. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. ke awan-awan yang mulai menipis. Ini akan jadi perjalanan memalukan... Ia mulai memasuki hutan gelap itu. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Bella. nyaris lembab di bawah selimut awan. “Tergantung. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat.” tukasnya. sorot matanya masih kesal.. Lagi-lagi aku berbohong.” katanya sambil menoleh. djAnGgo 212 . Aku mendengarnya menutup pintu. Sekarang di luar terasa hangat. “Tidak. “Lewat sini. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny. Aku tidak menyahut.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. Kemudian jalanan berakhir.

dan aku mendengus pelan. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. Ia terlalu sempurna.“Aku takkan membiarkanmu tersesat. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya.” Kemudian ia berbalik. dengan senyum mengejek. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. djAnGgo 213 . Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku.

” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. Aku mencoba membalas senyumnya. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Ia mengamatik wajahku. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan.Ia menatapku. “Kau harus sangat sabar.” “Aku bisa sabar. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. “Tidak. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. dipenuhi jaring pepohonan kuno. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. hewan peliharaanku semasa kecil. aku menyerah. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. guru-guru sekolah dasarku. pura-pura kesal. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. lebih keras dari biasanya.” sahutku tolol. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. “Aku akan membawamu pulang. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. Kami lebih sering berjalan dalam diam.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan.” Ia tersenyum. kalau aku berusaha keras.” janjinya.” kataku dingin. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. “Hampir. sambil menatap mataku. Ketika terjadi untuk kedua kali. Ia menertawaiku. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. Ia memandang marah padaku. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. mencoba memahami maksudku. ia membantuku. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. Hutan itu membentang di sekeliling kami. mengangkatku dengan memegangi sikuku. atau bebatuan besar. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. “Ada apa?” tanyanya lembut. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. tapi sering kali aku gagal. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. tepat seperti yang diramalkannya. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. “Aku bukan pendaki yang baik. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. tapi senyumku tidak meyakinkan. Hari telah berubah cerah. Ia menanyakan hari ulang tahunku.

setelah melangkah seratus meter lagi.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. Tapi kemudian. aku bisa mendengar senandung sungai. biru keunguan. Ia nyengir semakin lebar. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. melingkar sempurna. “Barangkali belum kasat oleh matamu. bukan hijau. Tak jauh dari tempatku berdiri. Cahaya itu kuning. djAnGgo 215 . dan mengikutiku tanpa suara. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat.” gumamku. dan putih lembu. Padang rumput itu kecil.bisa melihatnya?” Ia nyengir. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. kuning. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Aku mempercepat langkah.

Edward tampak menghela napas dalam-dalam. sambil terus melangkah ke arahnya. serta udara hangat dan keemasan. dengan ketakutan mencari-carinya. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. Aku kembali melangkah ke arahnya. Aku tersenyum menyemangati. melintasi rumput halus. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. bunga-bunga yang melambai-lambai. djAnGgo 216 . ingin berbagi ini semua dengannya. dan aku pun ragu. terpesona. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. lalu berhenti.Matahari tepat bersinar di atas kami. mengulurkan tangan. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. Tatapannya hati-hati. Akhirnya aku menemukannya. enggan. Aku berjalan pelan. memperhatikanku dengan tatapan waswas. Aku setengah membalikan badan. Aku memandang berkeliling. Ia mengangkat tangan mengingatkan.

Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. Dengan tanganku yang lain. seperti yang dilakukannya. yang berada di dekatku. Aku juga menikmati sinar matahari. lebih ringan dan hangat setelah berburu. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak.. Kulitnya. Angin bertiup pelan. Tapi ketika kutanya. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. Aku ingin berbaring. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. halus bagai satin. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. bahkan sekarang. Dengan ragu-ragu. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. dagu kuletakkan di lutut. selalu khawatir. begitu cepat hingga seperti gemetar. mengamatiku. “Tidak. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. terlalu pelan untuk bisa kudengar. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. karena ia sudah memejamkan mata lagi. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. dingin seperti batu. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. tampak kemilau. lengannya yang telanjang juga berkilauan. djAnGgo 217 . “Aku tidak membuatmu takut. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri.” Ia mendesah. terukir dari bebatuan entah apa namanya. halus bagai pualam. Patung yang sempurna. meski tentu saja ia tidak tertidur. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. Jemariku gemetaran. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. Terkadang bibirnya bergerak-gerak.” Ia tersenyum lebih lebar. “Kau keberatan?” tanyaku. berkilauan bagai kristal.13.. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. kan?” guraunya. Aku beringsut mendekat. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. “Tak lebih dari biasanya. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. Aku takkan pernah terbiasa dengannya.” katanya tanpa membuka mata. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. tak ingin berpaling dari wajahnya.

untuk tidak mengetahui. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya.aku meraih dan membalikkan tangannya. “Katakan apa yang kaupikirkan. mendadak begitu lekat.” Kuangkat tangannya. Kudekatkan tangannya ke wajahku. “Masih tidak biasa untukku. “Maaf. ia membalikkan tangan dengan cepat.” “Hidup ini sulit. Aku terkejut. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. Menyadari apa yang kuinginkan. kita semua merasa seperti itu setiap saat. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. gerakannya membuatku terkesiap.” “Kau tahu. Aku melihat dan mendapatinya menatapku.” gumamnya.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi. sesaat jari-jariku membeku di lengannya.” bisiknya.” djAnGgo 218 .

Tapi aku tak bisa menjawab. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. “Apakah kau bisa mengerti maksudku.. suaraku.” sahutnya. pelan untuk ukurannya. Dan aku berharap aku tidak takut. Matanya yang keemasaan mempesonaku. aku. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. tanpa berpikir. menghempaskannya ke pohon besar lain. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. “Well. seharusnya. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. Ia mengulurkan satu tangannya. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. masih beberapa meter jauhnya. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. langsung lenyap dari pandangan. kaku bagai batu. bertopang pada lengan kanannya. lalu melemparnya begitu cepat. melepaskan tangannya dariku. Aku duduk diam tak bergerak.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. menghirupnya.” ujarnya ragu. Pohon itu bergoyang dan bergetar.. ekspresinya tak dapat kutebak. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. “Beri aku waktu sebentar. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. kakinya menyilang. bukan itu yang kumaksud. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. matanya tampak kelam dalam bayangan itu.” katanya lembut. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. Ia menatapku. Tidak seperti apapun di dunia ini. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. ia berjalan kembali ke arahku. nikmat. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. tapi aku tak bisa bergerak. “Maafkan.” ia tertawa getir. Manis. Ia berhenti. Ia menghela napas panjang dua kali. Tanganku yang kosong bagai tersengat. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. Aku tahu ia bisa mendengarnya. Aku duduk tak bergerak. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. “Aku predator terbaik di dunia. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. aku mendekat padanya. Dan ia menghilang.” bisikku. Edward. lalu tersenyum menyesal. sekarang ia setengah duduk. wajahku. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. Senyumnya berubah mengejek. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. aku mencium napas sejuknya di wajahku.. aroma yang membuatku meneteskan air liur. Aku mungkin saja.. “Aku sangat menyesal. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. “Seperti kau bisa melawanku saja.” ujarku ragu-ragu. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan.. pergi. bahkan aromaku.. ia berada enam meter dariku. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. setengah meter dariku. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. bahwa aku tak perlu takut.” “Aku tidak ingin kau takut.” Suaranya menggumam lembut. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. Aku tak djAnGgo 219 . bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. Secara naluriah. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. dan duduk anggun di tanah.

djAnGgo 220 . Dengan wajah pucat dan mata membelalak. percikan itu memudar. ketika detik demi detik berganti. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. Lalu. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular.pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna.. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. atau lebih menawan..

Keinginan untuk bersamaku.” Ia menunggu. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. meski suaraku gemetar dan tertahan.” bisiknya lagi sambil mendekat. seraya menunduk lagi.” gumamku sedih. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. suaranya lebih parau daripada biasanya. Tapi jangan khawatir. “Aku seharusnya pergi sekarang. “Kumohon maafkan aku. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” “Jangan!” Ia menarik tangannya.” Aku cemberut. lalu matanya. hanya terpisah tiga puluh senti. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu.” desahnya... Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik. tapi aku masih tak sanggup bicara. Mendengar itu aku harus tertawa. “Itulah sebabnya aku harus pergi. “Betapa mudahnya aku marah.” timpalnya pelan. “Aku bisa mengendalikan diri. itu sesuatu yang perlu ditakutkan. Kau membuatku tak berdaya.“Jangan takut. Mata itu lembut.” ujarnya ragu.” “Oh.” gumamnya. dengan amat perlahan. Aku kembali menatap tangannya. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. “Jadi..” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. “Aku takut.. tapi wajahnya tampak malu. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. Parau djAnGgo 221 . untuk. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. hari ini aku tidak merasa haus. “Aku berjanji. Ini juga masih sama sulitnya baginya. “Sejujurnya.” Ia tersenyum. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. aku tak bisa terus berada di dekatmu. kali ini lebih lembut. juga bagiku.” desahnya. “Ya. tadi kita sampai dimana. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus. “Jelas. Ia duduk luwes. “Jangan takut. Aku menatap matanya.” pintanya. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. benar. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. aku tidak bisa mengingatnya. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku. “Aku seharusnya pergi sejak lama. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. penuh penyesalan. karena. alasan yang jelas. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut.” “Aku tak ingin kau pergi. Senyuman balasannya sungguh mempesona.” Ia mengedipkan mata. Pada dasarnya aku makhluk egois. Detik demi detik pun berlalu. well.” “Aku senang. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang. disamping alasan yang sudah jelas. “Sejujurnya. hingga wajah kami sejajar.

djAnGgo 222 .” Ia berhenti. “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. dan bingung. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Aku berpikir sesaat. Sulit rasanya untuk mengikutinya. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi.untuk ukurannya.

belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. kau adalah heroin bagiku.” Tanpa terlihat memikirkannya. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. inti berbeda.” Kata itu melayang sesaat di sana. atau apapun. menurutmu. atau setidaknya mencoba. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. “Aku tak keberatan. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku.” katanya. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. ia ragu. terutama bagian terakhir. Jelaskan saja sebisamu. mencoba membaca pikiran satu sama lain. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. sepertinya menghargai usahaku. Begitulah caramu berpikir. memikirkan jawabannya. berusaha mencairkan suasana.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. hmmmm.” Ia masih memandang kejauhan. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. saling menatap. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku.. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. Aku bisa mengerti.. kalian manusia kurang-lebih sama. kalau ia bukan peminum lagi. setiap orang punya aroma berbeda. Ia balas tersenyum menyesal. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. “Tanpa membuatmu takut lagi. Ia memandang melampaui puncak pohon. dalam embusan angin yang hangat. raut wajahnya menyesal. Emmett. dia akan dengan senang meminumnya. “Ya. “Jadi.” “Dan kau?” “Tidak pernah. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. mencari-cari kata yang tepat.” “Jadi maksudmu. juga rasa.” Ia mendesah. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Tapi dia bisa menolaknya. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. Ia memandang tangan kami.” Ia memandangku. kalau ia memang ingin.” kataku. cognac langka terbaik. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung. . Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. “Bagi Jasper. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. aku semacam heroin bagimu?” godaku. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. “menariknya seperti kau bagiku. Ia kembali menatapku dan tersenyum. jadi dia mengerti maksudku. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. “Kau tahu. “Maaf.” Aku tersenyum. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. Ia langsung tersenyum. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. atau takut.

Wajahnya menjadi gelap. wajahnya muram. bukan begitu?” djAnGgo 224 . “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. Ia membuang muka. memohon. Ia melirik. tangannya mengepal dalam genggamanku.memecah keheningan. Pertanyaan yang salah. “Kurasa aku tahu. Aku menunggu.” kataku akhirnya. tapi ia takkan menjawab.

saat itu juga.” “Aku tidak mengerti alasannya. Ia memandangku muram.” ujarnya. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan.. Cope yang malang. memalingkan wajah. Saat itu aku nyaris menculikmu.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku. matanya nanar menatapku. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. memandang geram pepohonan. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. ingatanku diperbaharui lewat matanya. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya... “Kau pasti menduga aku kerasukan. kau ada disana.. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah.. tentu saja aku tidak akan. dia tidak mengenal kedua gadis itu. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya.” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Aku tidak berani pulang menemui Esme. agar aku bisa berdua saja denganmu. Aku tidak tahu bagaimana. begitu dekat. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu.. di rumah sakit. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu.” Ia berhenti.. Aroma tubuhmu membuatku sinting.. yah.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. tidak mengikutimu dari sekolah. oh. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 .. bertahuntahun yang lalu. “Aku bertukar mobil dengannya. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. dan dia tidak. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. membuat keputusan yang tepat.“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti.. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. Aku bisa berpikir lebih jernih. di ruangan kecil itu.. “Tapi aku menolaknya. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. membebaskanku dari kekuatan tatapannya. “Kau pasti datang.” Nyaliku ciut.. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. Hanya ada satu manusia lemah disana. Aku harus pergi. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. untuk memberitahunya aku akan pergi. menghipnotis dan mematikan. “Kemudian. Dan aku terus melawan keinginan itu. setangkas dan sehati-hati sekarang. menghilang. sangat mudah untuk diatasi.. di lorong gelap atau apa. karena disana aku tak bisa mencium aromamu. “Ketika aku berjalan melewatiku. Aku mencoba berkata dengan tenang. Emmett. Mrs.. Bagiku di luar lebih mudah. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. “Jadi kalau kita bertemu. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah.” Aku menatapnya terpana. memikirkan keluargaku.” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. Aroma yang menguar dari kulitmu. Kejadiannya sudah lama sekali. “Tak diragukan lagi. tidak!” Ia langsung menyesal. “Kisah kita berbeda. lalu aku pergi menemui Carlisle. “Tentu saja ada harapan! Maksudku..” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. “Maksudku.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. kami mengingat saat-saat itu. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami.

Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan. gadis kecil yang tak penting”.” Ia terdengar malu. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. dekat pun tidak.. tidak sebesar ini.. bersama beberapa kenalan lama... “Dua hari aku disana. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska.mengetahui apa yang terjadi. tiba-tiba ia nyengir. keluarga adopsiku. Siapa kau ini. dan yang lainnya. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. Dalam udara bersih pegunungan.” Pandangannya menerawang. tapi aku kuat. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting.. Aku meyakinkan diriku sendiri. djAnGgo 226 . seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. tapi aku rindu rumah. Aku benci karena telah mengecewakan Esme..

. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. “Aku kaget. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu.. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya.” Mata kami kembali bertemu. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. “Sepanjang keesokan harinya.” lanjutnya. napasmu. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu. seandainya aku akan menyakitimu. Aku mendengarkan. “Tentu saja. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya. Aku sama sekali tidak memahami dirimu.. Sebenarnya aku sangat ingin. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama. rambutmu. daripada sekarang. pikirannya tidak terlalu orisinal.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. “Aku melakukan tindakan pencegahan. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. ‘Jangan dia’. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. “Tapi efeknya justru kebalikannya. lebih antusias daripada rasional.Aku tak sanggup berkata-kata. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. karena jika aku tidak menyelamatkanmu.” Ia cemberut mengingatnya..” Ia memejamkan mata. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. pertengkaran terburuk kami. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal. “Karenanya.” ia bergegas melanjutkan.. Sangat menyebalkan.. Tapi kau terlalu menarik. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. dari semua orang yang ada.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. Saat itu. menaruh diriku dalam kuasamu. Aku tak bisa menebak alasannya. berburu. Emmett.. Akhirnya aku bisa bicara. “Aku bertengkar dengan Rosalie. dirimu.” Ia menggeleng tulus. Aku sombong mengenai hal ini.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. larut dalam pengakuannya yang menyiksa.. disini. begitu juga Alice. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. bahkan sekarang. meski suaraku samar-samar. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami. Dan setiap hari aroma kulitmu. yang bisa kupikirkan hanya.. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Carlisle membelaku. bila mungkin. jika darahmu tercecer di sana di depanku.. “Kenapa?” djAnGgo 227 . Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu.

dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami.. “Bella. “Bayangan dirimu. namun tersiksa. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku.” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati.. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. Ia menunggu.. Terpenting bagiku sampai kapan pun.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. putih.” Ia menunduk. kaku. rasanya tak tertahankan. Dari topik menyenangkan tentang kematianku. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu.” Ia menatapku dengan matanya yang indah. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. kembali malu-malu. dingin. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku.“Isabella. tak bisa melihatmu merona lagi.. djAnGgo 228 .

tentu saja. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur.” Ia tersenyum lagi. kalau bisa. “Baik kalau begitu. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Itu salahku.” “Well.” katanya. Lalu tiba-tiba. ia tertawa..” Darahku mengalir deras. “Aku ada disini. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku..” gumamnya. Dan aroma lehermu. Aku duduk diam tak bergerak. detak jantung dalam nadiku. “Masalahnya kau begitu dekat... Aku berpaling. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. “Aku takkan memperlihatkan leherku. kan.” Ia berhenti sesaat. ia mencondongkan wajah ke arahku.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. Ini.” gumamnya. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya.” Berhasil.” Wajahku muram. Dengan lembut ia membelai pipiku.” “Kau memang bodoh. “Lihat.. melihat apakah ia membuatku marah.” “Tapi aku ingin membantu.” desahku. kemudian berhenti. dan aku berharap bisa memperlambatnya. “Tidak. Aku tak bisa bergerak. Pasti ia mendengarnya. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. seolah aku belum membeku saja.” kataku bergurau..” ia menimpaliku sambil tertawa. yang suka menyakiti dirinya sendiri. “Jangan bergerak. “Rona pipimu cantik.” Sesaat ia memikirkannya. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan. peringatan yang menyuruhku untuk takut. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. Tatapan kami bertemu. dan aku ikut tertawa.” kataku akhirnya. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. mundur karena keanehan kami. contohnya”. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. “sepertinya tidak masalah. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . aku membelai punggung tangannya. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya.. Perlahan.” Senyumnya memudar. maksudku.” “Tidak. sungguh. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan.” Ia mengangkat tangannya yang bebas. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. “Kenapa?” aku memulai. “Benar-benar tidak apa-apa. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu. Bella. “Domba yang bodoh.. tahu.. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. tanpa mengalihkan pandangan dariku. tak yakin bagaimana meneruskannya. Ia memandangku dan tersenyum. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. “Bodohnya aku. “Kau tahu kenapa. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. bahkan bila menginginkannya.” bisiknya. “Singa sakit. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. namun dengan teramat lembut. Aku melipat daguku.

Ia berhenti. Akhirnya detak jantungku memelan.bagian dirinya yang lain. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Wajahnya bergeser ke samping. Mendengarkan detak jantungku. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . Aku gemetar. Bisa jadi berjamjam. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. “Ah. Dengan kelambatan yang disengaja.” desahnya. dan aku mendengarnya terengah. kemudian berhenti. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak.

Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. Ia membuka mata. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. Agar kau mengerti. tak ada yang lain. kurasakan padamu. yang kurasakan. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya.. haus. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. terlalu cepat.” desahku. Tidak pernah sebelumnya.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya.. tidak pernah.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku..” Jemarinya menyentuh lembut bibirku.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku... “Aku tak tahu apakah aku bisa. kemudian. Bibirnya membuka di bawah tanganku. “Kau tahu maksudku.. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. mengingatkannya lewat tatapanku. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. sesuatu yang asing bagiku..” katanya puas. Sudah kubilang. “Kurasa aku tidak bisa. tak ingin mendorongnya terlalu jauh.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka.” “Tapi. “Jangan bergerak. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna.. “Kemarilah. Sorot matanya damai. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya.jadi kelewat berlebihan. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan.” ia mengaku. Hasrat yang tak bisa kumengerti. “Ini sudah cukup.” desahku. kebingungan. bayangan keunguan di bawah matanya. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. Tak ada yang bisa setenang Edward. “Tidak akan sesulit itu lagi. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Kemudian. Kubelai pipinya. sebuah ukiran dalam genggamanku. Kau?” “Tidak. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu..” Aku tersenyum. bagiku.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. “kuharap kau bisa merasakan. di lain sisi. Meskipun”. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh. dengan lembut mengusap kelopak matanya. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. Bukan dengan cara yang membuatku takut. ia melepaskanku. “Katakan padaku.. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. itu tidak buruk. yang menjadikanku makhluk tercela. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. memejamkan mata. Aku tak bisa memikirkan apa pun. ia setengah tersenyum. dan hidupku bisa berakhir. Aku ingin mencondongkan tubuh.” bisiknya. “Kuharap. Dan kurasa kau bisa memahami itu. membuatku gemetaran lagi. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan.” bisikku. kesulitan. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 . “Ada hasrat lain. dan keduanya tampak kelaparan. rasa lapar. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. menghirup aromanya. “Tidak.

” sahutku. “Aku punya naluri manusia.wajahnya di rambutku. dan aku pun mendesah. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. tapi masih ada. bayangan hutan mulai menyentuh kami. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. djAnGgo 232 .” Lama sekali kami duduk seperti itu.

” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. menekankan telapak tanganku ke wajahnya. aku merasa mabuk.” “Ayo.” aku menahan napas. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. lalu mengulurkan tangan meraihku. Ia berdiri tak bergerak. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. dalam hitungan menit. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. “Rasanya aku perlu berbaring. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. Ia meraih bahuku. Rasanya seperti memeluk batu. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. sekarang terdengar waswas.” Ia menungguku. “Aku agak berat daripada tas ranselmu.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak.” ujarku.” gumamnya. dan menghirupnya dalam-dalam. lebih keras daripada yang pernah kudengar. “Jangan khawatir. “Bella?” panggilnya. “Hah!” dengusnya. senang. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. tapi otot-ototku kaku. “Sepertinya aku butuh bantuan. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. dan aku menatap wajahnya.” aku mengingatkannya. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya.” “Sudah jelas. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. bukan?” Suaranya meninggi. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tertawa. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. dan sekarang. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward. Tak ada suara. “Oh. bagai hantu. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku. menungguku turun. naik ke punggungku. Kemudian ia berlari. Ia tersenyum melihat keraguanku. Irama napasnya tak pernah berubah. kami sudah sampai di truk. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. “Asyik. pengecut kecilku. kau akan sangat aman.“Kau harus pergi. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. maaf. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Aku mencobanya. Jantungku bereaksi. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. djAnGgo 233 . selalu luput menyentuh kami. Kemudian selesai. aku yakin kau sering mendengarnya. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan.” Ia mengamati ekspresiku.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara.

Kupasrahkan diriku. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis.” djAnGgo 234 . “Rasanya pusing. Kemudian ia menarikku menghadapnya.Ia tertawa pelan. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak. Ia memelukku sebentar.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu.

” gumamku. kau lucu. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. tidak seperti biasanya. “Berlari adalah sesuatu yang alami.. memberinya sedikit ruang.” Tatapannya liar.” ujarnya pelan. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya.?” Aku mencoba menahan diri. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. itu tadi sangat menarik.” Ia terdiam. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. seperti cara manusia. Aku terus menatap matanya. Tolong tunggu sebentar. rahangnya menegang. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. terkendali. untuk mengetahui apakah ini aman.” ia tergelak.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. Napasku terengah-engah. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala.” “Bella. aku bisa mentolerirnya.” “Lain kali!” erangku. “Aku sedang berpikir. Aku terpana dibuatnya.. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. Bella. Aku mencoba bersikap positif..” gumamnya. Telingaku berdenging.” Suaranya sopan. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . bukan sesuatu yang harus kupikirkan. Jariku meremas rambutnya. Aku merasakan ia duduk di sisiku. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. Aku tak bisa bernafas. Waktu berlalu. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan. “Buka matamu. Suasana hatinya masih bagus. menjaga kepalaku tetap tenang. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Darahku mendidih dan membara di bibirku. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. “Tukang pamer. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri. Ketampanannya memukauku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras. oh bukan. “Tidak. Dan disanalah dia. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. dan lumayan membantu. Ia ragu-ragu. “Bukan. Aku bernapas palan. ketika aku berlari.” desahku. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. “Tidak. “Haruskah aku. wajahnya sangat dekat denganku. Ia tertawa. “Itu namanya melecehkan.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita.” “Tukang pamer.” lanjutnya. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. “Ups. Ia tersenyum. namun suaraku lemah.Aku mencobanya. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.” “Lain kali ingat itu..” gumamku lagi. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. terlalu berlebihan.

“Nah. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Maafkan aku.dalamnya mulai memudar dan melembut. jelas puas dengan dirinya sendiri. Kemudian ia tersenyum.” djAnGgo 236 .” “Kau toh hanya manusia biasa.” katanya. Senang mengetahuinya.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. “Bisa ditolerir?” tanyaku. Ia tertawa keras. dan senyumnya tak disangkasangka nakal.

“Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. wajah manusianya tampak tenang.” godanya. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. bisa menerimanya. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan.” kutipnya sambil tergelak.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi. Aku mulai mengitarinya. “refleksku lebih baik. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. atau trukku. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. gerakan yang tak kusangka-sangka. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. “Refleksmu jauh lebih lambat. menuju sisi pengemudi. “Mabuk?” timpalku keberatan. sedikit saja. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku.” “Sangat masuk akal.” “Percayalah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi. “Tidak.” “Kau gila ya?” protesku. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung.” timpalnya.” Alisnya terangkat tidak percaya. aku masih pening. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara. “Kau mabuk oleh kehadiranku. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini.“Terima kasih banyak.” akhirnya ia bergumam. Awalnya ia tidak menjawab. “Aku tidak yakin. Aku gemetaran. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. berulang-ulang.” djAnGgo 237 .” sahutku getir. “Kurasa gabungan keduanya. Bella. menjadi lembut dan hangat. Tak ada jalan keluar. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. memerlukannya lebih dari dugaanku. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu.” Kuselipkan tanganku di saku celana. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. Kugenggam tangannya yang dingin. Tidak sedikitpun. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. Ia mengulurkan tangan padaku.” akhirnya aku berhasi menyahut. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. tapi kurasa keberanianku. “Bella. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. trukku sudah cukup tua. mulai dari telinga ke dagu. Lagipula. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. “Santai saja. “Bagaimanapun. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. menggenggam kunci mobilku erat-erat.” desahku.” “Aku yakin itu benar.

kemudian mentap mataku. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku. menit demi menit berlalu. Ia menunduk menatap mataku lagi. tampaknya itu mudah baginya. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. Ia mendesah. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. Usiaku tujuh belas saat itu. ragu-ragu. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. tak ingin merusak selera humornya yang ceria.” aku nyengir. Seperti banyak hal. “Tidak juga.14. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam.. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. wajahku. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. Ia hafal setiap barisnya. “Coba saja. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. sekarat akibat flu Spanyol. Ia melihat ke arah matahari. uhh!” Ia bergidik. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang.. “Aku tak mengingatnya dengan baik. Ia mengemudi dengan satu tangan. Ia memandang matahari.” kataku akhirnya. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. tangan kami yang bertaut. “Delapan puluhan masih bisa diterima. lalu berkata. kadang-kadang menatapku. atau ’70-an. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. tapi aku masih bertanya-tanya.” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. “Musik ’50-an bagus. sudah lama sekali. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka.” Ia mendengarku terkesiap. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya.

ketika Carlisle menyelamatkanku. Bukan hal mudah. Itu sebabnya dia memilihku. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu.. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut.” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu.. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi. yang paling berbelas kasih di antara kami. Aku sebatang kara..” “Bagaimana dia. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi. “Sulit..memudar. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 .

dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. hal-hal yang akan datang. waktu itu kami sedang di Applachia. “Tidak. dan mengangkat tangan kami. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. “Bagiku. Jasper berasal dari keluarga. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. lagi. Dia melihat hal-hal.. itu hanya Carlisle. rasanya amat. “Ya.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. “Tapi katamu. “Kesendirianlah yang menggerakkannya.” lanjutnya. begitu kami menyebutnya.” Ia menatapku dalam-dalam. “Meski begitu.” Ia memutar bola matanya. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. Rosalie sedang berburu. Alice mengetahui hal lain.” “Sungguh?” selaku. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. dan akhirnya memilih mengembara sendirian. Tapi itu sangat subjektif. Segala sesuatu berubah. sebagai suami-istri.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami. Masa depan tidak terukir di atas batu. dan matanya tertuju padaku. meskipun nyaris tak mungkin.” gumamnya. tanpa bimbingan dari luar.” Ia tertawa. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. Dia tertekan.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan.. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. Mereka mengembangkan kesadaran. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. menempuh jarak lebih dari seratus mil. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti. lalu berlalu djAnGgo 240 . “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. jenis keluarga yang sangat berbeda. terkesima. Forks kelihatannya sempurna. hal-hal yang mungkin terjadi. Alice menemukannya. “Tapi dia berhasil.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap. Dia terjatuh dari tebing..” “Memang benar.. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. Kutekan rasa penasaranku.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. jadi kami semua mendaftar di SMA. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. lain. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami.” aku mendorongnya. sangat menyakitkan. masih terjalin. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Seperti aku.” Ia terdiam. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. Rosalie membawanya kepada Carlisle.

ketika kelompok lain mendekat. djAnGgo 241 .” “Apakah jenis kalian... Dia melihat Carlisle dan keluarga kami. contohnya. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu.begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. dan mereka datang bersamasama menemui kami. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. Dia selalu melihat. ada banyak?” Aku terkejut.

“Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. ia mengerling licik padaku.” aku memujinya. “Maaf. dan itu adalah misteri. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa..” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. Suasana sangat tenang dan gelap. Aku lupa. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. “Ya. “Sangat manusiawi. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. sungguh. Lampu teras mati.. Kadang-kadang kami bertemu yang lain. aku membuatmu terlambat makan malam.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. Tapi yang membuatku teramat malu.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. Seperti yang lainnya. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. yang telah berhenti memburu kalian manusia”.” “Aku ingin bersamamu. dia barangkali bisa berubah jahat. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. dan ia mematikan truk. membukakannya untukku. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. tak ada bulan. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. “bisa hidup bersama manusia selama apapun.” “Aku baik-baik saja. Hanya yang seperti kami. jadi aku tahu ayahku belum pulang.” Banyak sekali yang harus dipikirkan. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. perutku keroncongan. Jenis seperti kami yang hidup. Dia terbangun sendirian.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. di desa kecil di Alaska. kebiasaan ini mulai membosankan. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. seperti Jasper?” “Tidak. kalau tidak merepotkan.“Tidak. tidak banyak. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali.

tampak jauh lebih normal. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. Masih pucat. “Aku penasaran denganmu. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat.” Aku melangkah masuk. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku.” djAnGgo 243 . menyalakan lampu teras. ketampanannya masih bagai ilusi. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu.

” Nada suaranya datar..” “Tidak!” sahutku menahan napas. “Kau merindukan ibumu. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. wajahku memanas hingga ke garis rambut. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. ia sudah pindah ke sisiku. Kau pernah mengatakan sekali. Aku tersanjung. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. menempatkan sebagian di piring. Ia tahu maksudku. Ia sudah disana. Saat itu juga. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya. Aku merasa malu. Aku mencoba memalingkan wajah. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur.. Ia kelihatan tidak menyesal. “Kalau begitu lain waktu saja.” Aku berputar. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur. tentu saja.” Ia tertawa lembut. djAnGgo 244 . Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar.. tanpa suara. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. Aku tetap menatap piring ketika bicara. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. “Kau memanggil namaku. Aku masih tidak berpaling. “Kau mengigau. “Jangan malu. “Apa yang kaudengar!” erangku. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Ekspresinya langsung berubah kecewa. kemudian menatapnya.” ia mengakui. tapi sekarang sudah jauh berkurang. berharap aku bisa melihatnya. “Seandainya bisa bermimpi. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. Ia menarikku lembut ke dadanya. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. “Kau mengkhawatirkannya. suaranya membuatmu gelisah. ‘Terlalu hijau’. Tubuhku kaku dalam pelukannya. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. terperangah.” bisiknya. “Jangan sedih!” ia memohon. sama sekali tak perlu diarahkan. Piringnya berputar. Gerakannya sangat alami. Lama baru aku bisa berpaling. Ia menanti. “Pada?” desaknya. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’.” Aku memikirkannya dengan cepat. terus ke lorong menuju kami. dan tidak membuatku tersinggung lagi.. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. ibuku selalu menggodaku soal ini.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Aku mendesah kalah. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati.” ia berbisik di telingaku.” Dan akupun sendirian. kemudiam memanaskannya di microwave. “Aku tidak yakin. Dan aku tidak merasa malu. “Ada lagi?” desakku. Dan ketika hujan turun. aku pasti akan memimpikanmu.

Sebelumnya hal ini menggangguku.“Edward!” desisku tertahan. djAnGgo 245 . Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. lalu lenyap. Aku mendengar suara tawa yang samar. “Bella?” panggilnya.

ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. benar-benar menggelikan. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan.” sahutnya menerawang. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. kalau mau mencari teman istimewa.” aku menimpali sambil menaiki tangga. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. Aku kepedasan. oh. Mengapa. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. “Bagus.” “Dia hanya teman. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. “Sedang terburu-buru? “Yeah. “Bagimana harimu?” tanyaku. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. belum ada cowok yang menarik perhatianku. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. Aku membawa makananku. buruburu.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. “Selamat malam. tapi berusaha terdengar biasa saja. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba. katamu dia ramah.” “Well . Mataku mencari-cari dalam kegelapan. “Hari ini memang bagus.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. Charlie duduk di kursi. ya?” Ia curiga... “Kupikir Mike Newton itu. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. Dad. “Tidak. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.. Dad. susunya bergetar. Dad. “Sepertinya ide bagus. “Tidak.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu. aku hanya mau tidur. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Aku baru menyadari tanganku gemetaran..” timpalnya. aku lelah. Aku ingin sekali pergi ke kamar.” ujarnya. Begitu lasagna-ku habis. Tunggu saja sampai kuliah nanti.“Disini. djAnGgo 246 . Sayang. “Sampai besok pagi. “Ini hari Sabtu.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. Ketika aku meletakkan gelasku. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward. “Terima kasih.” “Kau kelihatan agak tegang. Aku mau tidur lebih cepat. Aku tak menjawab. Betapa ironisnya. pikirku.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. Acara memancingnya biasa saja. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie.” ujarnya.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas.

“Maafkan aku. “Ya?” Aku berbalik. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. djAnGgo 247 . benar-benar merasa tolol. Posisinya sangat santai. Ia berbaring. tersenyum lebar di tempat tidurku. jatuh lemas ke lantai.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. tangannya menyilang di belakang kepala. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut.“Edward?” bisikku. “Oh!” aku mendesah. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur.

Bella. “Bagus. “Ya. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. Kugosok gigiku keras-keras. handukan sekenanya. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. Ma’am. Aku bermaksud buru-buru. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. Aku menaiki anak tangga dua-dua. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. dan meluncur ke kamar.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk.” Aku nyengir. rambutku yang basah. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. kemudian menyisirnya cepat-cepat.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. Matanya mengamatiku.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. “Selamat malam.” djAnGgo 248 . aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. “Diam disitu. mencoba tampak galak. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh.” “Selamat malam. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. Salah satu alisnya terangkat. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. supaya tidak mengejutkanku lagi. Dad. berusaha tetap tenang. “Tentu. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. pakaian itu tampak bagus padamu. Sesaat kami duduk diam disana. yang sedang duduk di kamarku. kemudian menutup pintu. mengangkatku. menunggu. Aku membiarkan lampu tidak menyala. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Kulempar handuknya ke keranjang. Kumatikan keran air. Aku melompat.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. patungnya menjadi hidup. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. terburu-buru lagi.” kataku. menenangkan denyut nadiku. “Sungguh. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. menutup pintu rapat-rapat. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. meluncur keluar.

” Ia memikirkannya. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga.“Terima kasih.” “Oh. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya. mengamati wajahku.” bisikku. Aku kembali ke sisinya.” djAnGgo 249 . “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. aku bakal menyelinap keluar. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir.” Ia mengangkat daguku. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali.

.” ia menjelaskan.” ujarku.” lanjutnya.. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan.. Kau membuatku sinting.. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa.” desahnya.” kataku mencoba menghembuskan napas. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku.” aku memulai lagi.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. lebih ringan dari sayap ngengat. menerima pujianku. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat.” suaraku bergetar.. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku. meskipun semuanya baru bagiku.” desahnya.. ekspresinya tampak bingung. “Hmm. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku. Ia nyengir.. Saat ia menyentuhku.. aku bertanya-tanya.. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. dan aku kehilangan akal sehatku. Dan menemukan. dan ia membeku. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. “Kenapa. “Selain kemungkinan aku dapat.. “Mmmmmmm.... ia menghirup aroma pergelangan tanganku.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata.. kemudian... Ia memikirannya sebentar.. “Kau tahu. hidungnya meluncur ke sudut rahangku. bersamamu.. Aku sama sekali tak bergerak.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu. “aku juga rapuh. ragu.” Aku menarik diri.” “Kau bisa melakukan apa saja. bukan dalam artian seorang adik. dan kami tertawa pelan. bahwa aku tak dapat. membuatku malu.. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini.. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. dan ketika berbicara ia terdengar senang. “Ya?” desahnya...” paparku. sekarang menunduk. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.” sergahku. “Sepertinya.” “Tidak tak termaafkan.” Ia tersenyum. Aku merasakan tangannya. Saat konsentrasiku buyar. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya. djAnGgo 250 . menaklukan”.” “Jadi. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis.” “Ini tidak mudah. “Amat sangat lebih mudah. aku masih.” suaranya menggoda. “Tapi sore tadi. “Sore tadi. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya. “Terima kasih.. Maafkan aku soal itu. justru sebaliknya. “Aku hanya terkejut. Ia mengangkat bahu.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

” Wajahku memerah. “Sudah kubilang.“Tentu saja belum. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.” djAnGgo 259 . sedikitpun tidak.

“Well. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin. lembut di telingaku. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. suara malaikat. nina bobo yang asing.” Ia terdengar puas. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. “Aku tak yakin apakah aku bisa. “Naluri manusiamu. tapi aku laki-laki.. “Bagus. sekarang kau harus tidur.. Setidaknya kita punya persamaan. Ia tertawa.” ia bersikeras.” “Bagiku ya.” ia meyakinkanku. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan.” aku memulai. Aku menguap tanpa sengaja. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya.” aku mendesah. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. Ia menanti.“Aku tahu. “Aku mungkin bukan manusia. djAnGgo 260 . Lebih letih daripada yang kusadari.

djAnGgo 261 .

bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. tapi khawatir napasku bau. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. lagi. Setengah berlari aku kembali ke kamar. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. sama sekali tak memahami emosiku. setelah memasang kembali kabel akimu. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. lengannya masih menantiku. dan rambutnya sudah rapi. mengantuk dan pusing.. Sesuatu. “Dia pergi sejam yang lalu. Harus kuakui.” jawabnya kaget. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing.” Aku melompat ke kamar mandi.. dan berusaha bernapas secara normal.” ujarnya. Kupercikan air dingin ke wajahku. “Tentu saja. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. membawaku ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap punggungku. Tapi ia tertawa. djAnGgo 262 . tapi aku menyukainya. tapi nyaris gagal. Aku menatapnya. Wajah yang ada di cermin praktis asing.” “Kau tidak sekreatif itu. “Aku yakin itu mimpi. khawatir tindakanku telah melewati batas. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira.15. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. “Charlie!” Aku teringat. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi.” gumamnya. aku membeku. menghirup aroma kulitnya. kalau boleh kutambahkan. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Aku tak mengenali diriku. aku kecewa. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. “Selamat datang lagi. Aku berbaring. Begitu menyadari apa yang kulakukan. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Ia meraihku. tanpa berpikir melompat menuju pintu. ingin sekali kembali padanya. sebuah mimpi yang coba kuingat. dan jantungku berdebar tak keruan.” aku mengakuinya. Aku mengerang dan berguling ke sisi. matanya terlalu ceria.” dengusnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan. terkejut karena semangatku yang menggebu. di dalam maupun di luar.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. lengan menutupi mata. berharap bisa tertidur lagi. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. “Kutunggu.

djAnGgo 263 . sambil menyentuh kerah kausnya yang baru. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir.“Kau pergi?” tuduhku.

. “Ya. Ia memutar bola matanya..” Aku menggerutu. melompat berdiri.” jawabnya sederhana.” “Kau sudah tahu itu. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.. Perhatikan caraku berburu. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. “Jangan khawatir. Aku tersenyum. Tidakkah mereka akan. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya... Ia terperanjat. Bella. “Hmmm. baiklah. ia bisa melihatnya di mataku. menyukaiku. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. mempelajari setiap gerakanku. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap..” jelasku. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang. terkejut kau membawa seseorang. “Aku mencintaimu.“Kau tidur sangat pulas semalam. Ia memandangiku.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. “Saatnya sarapan. aku tak melewatkan apapun. aku tak yakin. well. Dan tampaknya aku dimaafkan. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. seolah-olah menyerap suasana hatiku. “Makan saja. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. menyusupkan kepalaku.” akhirnya ia berkata. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku.” aku mengakui. aku yakin. tak ingin bersikap tidak sopan. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar.” “Aku tidak takut pada mereka. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga.” Ia mencibir. bagaimana mungkin aku menyangkalnya.” “Itu sangat lucu. “Kaubilang kau mencintaiku. “Aku akan melindungimu. dan kau tahu itu. “Kau mengigau lebih awal.” Matanya berkilatkilat. tapi ia mengabaikanku. lalu berhenti. “Aku khawatir mereka takkan. mengalihkan perhatiannya. “Kau hidupku sekarang. dengan kasual. Kuletakkan makananku di meja. untuk membuktikan. “Bercanda!” aku nyengir.” Aku duduk di meja makan. “Tapi toh aku senang mendengarnya.” bisikku.” “Oh. “Boleh kuulangi?” tanyaku. dengan lembut.” Kesembunyikan wajahku di bahunya. jijik. “Mm. “Apa acara hari ini?” tanyaku. Itu membuatku tidak nyaman. Ia mendudukanku di kursi. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku. ceria. “Tidak apa-apa. memastikan ia memaafkanku. “Tidak lucu. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut...” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. ke rumah djAnGgo 264 . Ruang dapur terang. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. Aku berdeham untuk bicara. seperti aku.” aku mengingatkannya. “Saatnya sarapan untuk manusia. memperhatikannya sambil menyuap sereal.

menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. Kau tahu. mereka sudah mengetahui semuanya. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 . “Apakah aku membawamu kembali. tapi suaranya parau. ia tersenyum. kemarin mereka bertaruh”.

Aku tidak berharap kau. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. mirip patung Adonis lagi. sama sekali bukan beruang pemarah.” ia tersenyum senang. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. “Well. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk.” gumamku. ekspresinya penuh makna. kau tak perlu berpura-pura demi aku. maksudku. menerawang ke luar jendela belakang.. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia.” Aku menatapnya curiga. “Itu tidak perlu.” “Well. dan semuanya. “Aku tidak tahu. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. sambil berspekulasi.” “Kau menyimak. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya.. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Jadi. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya... “Aku akan selalu menginginkanmu. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. aku akan menunggu disini. Ia berdiri di tengah dapur. Ia tidak menyahut. makananmu tidak terlalu mengundang selera. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. “Apa itu enak?” tanyanya.” aku mengingatkannya.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian.” aku mengaku.” Ia meraih ke seberang meja.” aku mengingatkannya. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. menggigit bibir. “Jujur.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos.Alice. jangan lupa itu. mengabaikan tatapan marahnya.” Aku meringis. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan.” Senyumnya penuh kesabaran. “Ya. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. “Maksudku sebagai pacarmu.” “Berpakaianlah. memandangi meja. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku. “Selamanya. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. Aku buru-buru menghabiskan serealku.” djAnGgo 266 .” ia meyakinkanku.” aku mengakui.” “Dia sudah mengenalmu. “Kira-kira begitu. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’. Aku menatapnya penasaran. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Aku melompat berdiri. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut. “Aku tidak berpura-pura.” Perlahan ia mengelilingi meja. Kemudian tatapannya kembali padaku. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice.” katanya jengah. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. kau tahu.

Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. masih kasual. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. berwarna khaki. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. rok panjang. Lega rasanya bisa berpikir begitu. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda. djAnGgo 267 . Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya.

jalanan membentang ke utara. “Aku sudah pantas bepergian. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. “Kau sangat tidak pantas. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal.” aku langsung menjawabnya. “Begini. Amat sangat terlalu pintar.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. pingsanku kali ini berbeda. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 .” aku bersikeras. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. menggeleng-gelengkan kepala. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. Jalanan itu tak bertanda. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. “Kurasa aku lupa bernapas.. dan memasuki hutan berkabut. “Kau sangat konyol.” Ia menunggu di ujung tangga.” Aku menggeleng menyesalinya. dan semakin besar. dan aku langsung menghambur ke arahnya.” Aku menyadari.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya.” “Aku baik-baik saja. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. “Tidak. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. “Kau. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda.. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar. “Itulah masalahnya. dan aku kembali melayang. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya.“Oke. itu tidak adil. lebih dekat dari yang kukira. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. Ia memiringkan kepala perlahan. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku.” ia mendesah.” Ia mendesah. “Kau terlalu pintar melakukannya.” gumamnya di telingaku. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. Kemudian aku tak sadarkan diri. dan semakin besar. “Aku bisa mengganti. Wajahku memerah senang. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. “Kau sulit dipercaya...” Aku masih pusing. “Kemarin aku menciummu. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. dan berpaling.. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Hutan menyelimuti kedua sisinya. betul?” “Betul.” aku meracau. membuatku. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. putus asa. Aku tak tahu apa yang terjadi. dengan sangat hati-hati membukanya. jatuh pingsan. dan ruangan pun berputar. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. “Dan kau khawatir. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota. Jelas itu pertanyaan retoris. “Kau salah lagi. Tanganku membeku di dadanya..” ujarnya tak disangkasangka. Ia menggeleng.

Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. djAnGgo 269 . membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. setelah beberapa mil. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. Kemudian. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar.sekeliling pepohonan kuno. dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. hutan mulai menipis.

adalah orangtua Edward. Di bagian belakang. Tubuhnya mungil.” sahutnya tulus. tentu saja.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. daripada bagian luarnya. “Sama sekali tidak. dan karpet tebal. rambutnya berombak dan halus.” Aku mencoba tertawa.” “Tolong panggil saja Carlisle. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. berlantai pudar. namun tidak terlalu kurus. Wajahnya berbentuk hati. Rumah itu tampak abadi. menjabat tanganku. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. “Carlisle. mengingatkanku pada era film bisu. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. sangat terbuka. dan sangat luas. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. berhati-hati saat mendekatiku. dr. lebih tak bisa diramalkan. langsing. kesempurnaannya yang luar biasa. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. elegan. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. tapi tidak bergerak mendekat. tersembunyi di kegelapan hutan. Esme. Mereka tersenyum menyambut kami. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka.” Langkah Carlisle terukur. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. lantainya yang terbuat dari kayu. berbentuk persegi dan proporsional. Tampak menanti menyambut kami. Dinding-dindingnya. berdiri persis di kiri pintu. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. ayo. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Cullen. lebih berisi dibanding yang lainnya. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar.” Aku tersenyum padanya. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Cullen sebelumnya.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. Bella.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. djAnGgo 270 . berwarna cokelat karamel. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. Aku merapikan rambut dengan gugup. “ini Bella. tapi jelas bukan yang seperti ini.” “Selamat datang. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. tanpa ragu. semuanya merupakan gradasi warna putih. Aku pernah melihat dr. “Senang bisa bertemu Anda lagi. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. Sangat terang. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. “Wow. Ia membukakan pintu untukku. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. “Kau cantik. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. langitlangitnya yang tinggi. dan barangkali berusia beberapa tahun. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. berlantai tiga.” “Carlisle.

Putri Salju dalam wujud aslinya. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng.“Terima kasih. “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. djAnGgo 271 . tapi mereka tidak menjawab.” Memang itulah yang kurasakan. berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. Aku juga senang bisa bertemu Anda.

Bella!” sapa Alice.” tambahku apa adanya. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. itu tidak sopan. meskipun wajah djAnGgo 272 . aku akan membeli grand piano untuk ibuku. seandainya aku menenangkan lotere.” bentaknya. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. “Terima kasih. Esme memperhatikan keprihatinanku. membuatku sangat malu. Aku memandang wajahnya. “Edward bisa melakukan segalanya.” sahut Esme.” sapa Jasper. tentu saja. “Tidak sama sekali. tapi aku menyukainya. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. dan pada yang lainnya juga.” Alis Esme yang lembut terangkat. dan aku teringat akan kemampuannya. baginya. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. ekspresinya mendalam. rumah kalian sangat indah. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. Aku mengalihkan pandangan. itu sesuatu yang alami. “Kau memang harum. bukan begitu?” kataku menjelaskan. bingung. sekarang mereka tampak terkesiap. Tapi piano itu indah sekali. salah satu alisnya terangkat. menunjuk piano dengan kepalanya. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. begitu tenggelam.” ia tertawa. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. tinggi bagai singa. Ia terlihat bahagia. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Apakah itu milik anda?” “Tidak. “Senang bisa bertemu kalian semua. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. tapi seperti kebanyakan anak.” Edward tertawa lepas. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. tatapan yang tidak kumengerti.“Hei. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini. “Hanya sedikit. “Hai.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. Edward menatap Jasper. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini.” ia berkomentar. berusaha terlihat sopan.” Aku tersenyum malu-malu padanya. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. ia memandang Edward penuh makna. “Kurasa seharusnya aku tahu. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. “Kau bisa main piano?” tanyanya. Kugelengkan kepalaku. Ia berlari menuruni tangga. Carlisle dan Esme memelototinya. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. kemudian Jasper ada disana. “Halo. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. Bella. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Jasper.” Ia berbicara penuh perasaan. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. Ia mengajariku cara bermain piano. Ia tetap menjaga jarak. “Halo. “Kami senang sekali kau datang. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. Lagipula. dan sesaat mereka saling menatap. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya.

“Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan. bermainlah untuknya. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan. Edward menarikku bersamanya.” aku meralatnya. mendudukkanku di kursi di sampingnya.” Esme mendorong Edward menuju piano. “Sebenarnya.” bujuk Esme. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. dia terlalu rendah hati.” balas Esme.Esme tampak nyaris puas.” sahutku. “Kalau begitu.” sergah Edward keberatan. “Kalau begitu sudah diputuskan. djAnGgo 273 .

” katanya. musik masih melingkupi kami tanpa henti. Tapi Rosalie dan Emmett.. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. matanya melebar dan persuasif. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya.” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. “Kesukaan Esme.. dan dia benar. begitu kaya. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. Ia mengangguk. menertawakan reaksiku. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit.. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. Edward menatapku santai. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya.” katanya lembut.” Aku mendesah. “Esme dan Carlisle..” “Oh. “Bahkan Jasper. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku. kau tahu.. “Emmett?” “Well .” gumamku.?” lanjutku cepat.” katanya.” Aku mencibir. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. takut ada djAnGgo 274 . mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan.. “ Mereka menyukaiku. dan bergidik.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu. “Senang melihatku bahagia. “Sudah kubilang. “Dia berharap seandainya dia juga manusia.” katanya. Sebenarnya. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. “Kau manusia.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. untuk mencegahnya menyadari kengerianku. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya. masih terkejut. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya. “Mereka menyukaimu.” Aku melirik ke belakang. “Terutama Esme.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. dia pikir aku gila.” Irama musik memelan. Ia merengut.Lama sekali ia menatapku putus asa. Ia menarik napas dalam-dalam. tapi dia tidak punya masalah denganmu.” “Ini benar-benar salahku. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. “Rosalie yang paling berjuang keras. berubah jadi lebih lembut. menutupi jati diri kami. dan ia berkedip. Aku tak sanggup berkata-kata. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya. “Kau yang menginspirasi ini. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.. Dan dia agak cemburu. “Dia akan datang. tapi ruangan besar itu kosong sekarang. dan mendengar tawa pelan di belakangku. “Jangan khawatirkan Rosalie..” Ia mengangkat bahu.

Setiap kali aku menyentuhmu.. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas.. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa. bersemangat.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. djAnGgo 275 ... ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami.” katanya dengan bibir terkatup rapat. Tidak sekarang. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku.” “Alice tampak sangat.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. “Dan kau takkan menjelaskannya. Dia sangat senang.

tentu saja.. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. Mereka tahu kami ada disini. laguku. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis.” gumamku. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota.” Aku mengabaikan gurauannya. respons yang masuk akal!” gumamnya. “Tidak.. “Akhirnya.” Aku mengangkat bahu. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu.” aku mengakuinya. Ia menyentuh sudut mataku.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. “Tentu saja. atau minggu. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. “Begitu terang. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. “Tidak ada peti mati.. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya. 276 djAnGgo . mereka tidak seperti kami. well.” Lagu yang masih dimainkannya. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. ya kan?” tanyanya.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. Aku menatapnya bertanya-tanya. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Aku menyekanya. “Aku tahu kau pasti memperhatikan. Aku mengabaikannya.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. mengamati tetes air itu lekat-lekat. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku.“Jadi. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu.. karena aku akan sedikit.” lanjutnya mengejek.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab. Ia mengikuti arah pandanganku. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. menyeka titik air mata yang tersisa. begitu terbuka. “Terima kasih. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba.” “Tamu?” “Ya. suaranya terdengar arogan. dan mereka penasaran.. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.” Aku bergidik ngeri.. tiba di bagian akhir.. Kemudian. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. malu. memalingkan wajah. Ia mengangkat jarinya. sama seperti lantai keramiknya. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam.“Tidak seperti yang kauharapkan.. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu.

“Kau boleh tertawa. ruang kerja Carlisle.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. Aku tidak menyentuhnya.“Kamar Rosalie dan Emmett. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.” katanya.. warna permukaannya yang gelap mengkilat. Edward tergelak. Tanganku terulus dengan sendirinya.. djAnGgo 277 . sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan. menertawai ekspresiku yang bingung. kamar Alice. Ia bisa saja melanjutkan.. “Bisa dibilang ironis.. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku..” Aku tidak tertawa..

” aku menebaknya. Makhluk djAnGgo 278 . “Carlisle lahir di London.” Suaranya sangat pelan. mengabaikan pertanyaannya. dan vampir. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell.. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. Ia mengangkat bahu. “Nostalgia. dan lebih pintar dari ayahnya. Dia mengukirnya sendiri. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. pada tahun 1640-an. menurutnya. “Tidak. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. tentu saja”. Dia mengizinkan perburuan penyihir. memimpin pengejaran. “Dia pasti makhluk kuno. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. werewolf . Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. Lagipula bagi orangorang awam. masih memandangi salib. Tapi dia tetap ngotot.” Aku tetap menjaga ekspresiku. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya.. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. untuk berjaga-jaga. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. Saat penganut Protestan mulai berkuasa.“Pasti sudah sangat tua. Meski begitu. hanya keluar pada malam hari untuk berburu.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. Itu milik ayah Carlisle. Aku yakin ia memperhatikan. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. Aku kembali menatapnya. kurang lebih. Pada masa itu. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. “Awal 1630-an. tapi ia melanjutkannya.” “Ketika sang pendeta semakin tua.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. dia tidak gesit menuduh. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku.” jawab Edward. tawanya lebih menyeramkan sekarang. begitulah cara mereka hidup. dan lemah karena kelaparan. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. Ayahnya berpandangan sempit.

meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. dan tak ditemukan. jadi dia berbalik dan menyerang. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. menyembunyikan sesuatu dariku.” Edward berhenti. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. dan kabur membawa korban ketiganya. tapi yang lain ada di belakangnya. dan ia berbalik untuk membela diri. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. djAnGgo 279 . Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia membunuh dua manusia.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. Tubuh-tubuh akan dibakar.

” djAnGgo 280 . “Akan kutunjukkan padamu. Ia mulai menyusuri ruang besar itu.” “Beberapa. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu. “Aku baik-baik saja.“Akhirnya semua itu selesai. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. tapi tiba-tiba ia berhenti. “Kalau begitu.” Senyumnya melebar. ayo.” ajaknya. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. Ia tersenyum. sambil menarikku bersamanya.” aku menenangkannya. memamerkan giginya yang sempurna.

” kataku meminta maaf. beberapa dengan warna terang. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai. “Masuklah. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat.” tambahnya. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. dr. Aku tersentak.” kata Edward. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. “Well. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. meletakkan satu tangannya di bahuku. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. di mana saja terlihat. sejarahmu. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. Dinding-dindingnya bersekat.” undang Carlisle. Snow tidak masuk karena sakit. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak.” jawabnya. sebenarnya.” kata Edward.16. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. “Aku mau. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle.” jawab Edward. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. “London pada masa mudaku. “Tidak sama sekali. Sungai lebar mengaliri bagian muka. Setiap kali ia menyentuhku. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. jantungku langsung berdebar sangat cepat. Lagi pula. “London pada tahun 1650-an. Edward meremas tanganku. Sebagai ganti rak buku. Ia berhenti sebentar di depan pintu. tidak mendengarnya mendekat. di sebuah kursi kulit. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran. djAnGgo 281 . yang hitam-putih membosankan. kayunya berwarna lebih gelap. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. Rumah sakit menelepon tadi pagi.

mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Carlisle meninggalkan ruangan. Sungguh perpaduan yang aneh. Aku juga waswas. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. Setelah tersenyum hangat ke arahku. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. djAnGgo 282 .tersenyum pada Edward sekarang.

yang sedang mengamatiku.” kataku kagum.. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta.” Ia tergelak misterius. Lanjutkan.. tapi aku berkeras.” Mulutku membuka hendak bertanya. mendongak menatap Edward. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. “Aku takkan menyelamu lagi. dengan puncak gunung di kejauhan. dan menyelesaikan kalimatnya. mencari tempat paling sepi.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. memindahkannya ke leherku. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. sadar tekadnya mulai melemah. wajahnya kesal. ” “Segalanya mudah bagimu. nalurinya bertumbuh makin kuat.” “Kau. “Karena secara teknis. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Dia berenang ke Prancis dan. Tapi itu tidak mudah. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. Bella. dan sangat kuat. memangsa. Sejalan dengan waktu. ” “Tidak. mengambil alih segalanya. kami tidak berlu bernapas.” kata Edward pelan. tapi kata itu meluncur begitu saja. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya.” gumamku. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. “dia melawannya. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami. Dia pandai dan selalu ingin belajar. suaranya datar. “Kurasa itu benar. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. janji. dan menjadi lemah.” Edward tertawa. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat.. membenci dirinya sendiri. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. tapi ia menduluiku. djAnGgo 283 . Ia mengangkat tangan. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya.. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya. “Akhirnya dia sangat kelaparan.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas.” Edward mengingatkanku dengan sabar.. Ia menunggu.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. Dia belajar pada malam hari. tidak. “Tidak. Dia menemukan jati dirinya lagi. kau sudah janji. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. padahal ia masih begitu baru. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. Jantungku bereaksi terhadap hal itu.” Edward memberitahuku. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. bekerja di siang hari..

” “Agak tidak nyaman.“Tidak. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas.” Ia mengangkat bahu. Hanya masalah kebiasaan. djAnGgo 284 . Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman.” ulangku.. entahlah. “Berapa lama kau tahan. itu tidak perlu..

Aku merengut. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. ilmu pengetahuan.” Ia berhenti. “Kita lihat saja. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain. Marcus. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. Wajahnya melembut karena sentuhanku. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. Caius. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. dan yang paling besar. “Penjaga malam di gedung seni. “Jadi. hanya beberapa dekade. tapi tatapannya serius.” aku berjanji padanya. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. metanya menatap lekat wajahku. ke universitas-universitas di sana. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. lanjutkan. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu.” Ia mengangkat bahu. aku juga ingin bersamamu. kembali lagi ke ceritanya.” Ekspresinya penuh kekaguman. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. menyentuh wajahnya yang membeku. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Keheningan terus berlanjut. Menunggu. Kemudian kau akan menjauh dariku. “Mereka masih disana. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. yang satu lagi berambut putih bagai salju.. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani. “Aro.” katanya. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. dua berambut hitam. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. “Carlisle berenang ke Prancis. “Aku takkan lari kemana-mana. memperkenalkan tiga lainnnya. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. yang bingkainya paling penuh ukiran. dan terus ke Eropa. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya.” katanya. hormat. “Aku takkan menghentikanmu.” Ia setengah tersenyum. lalu tersadar. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. tersenyum lagi.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. seraya tertawa kaget.. dan ia mendesah. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. kedokteran. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. “Ada apa?” aku berbisik. Meski begitu. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. Pada malam hari dia belajar musik. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle.” Edward tertawa. lari sambil menjeritjerit. Carlisle berenang ke Prancis. “Aku terus menunggunya terjadi.

keduanya sama-sama tidak berhasil. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama.keberadaban mereka. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. begitulah mereka menyebutnya. djAnGgo 286 . kau tahu. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. seolah-olah dia salah satu dari mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. Dia sangat kesepian. Mereka mencoba membujuknya. kehalusan budi bahasa mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi.

aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna.” Ia tertawa. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. nyaris berbisik sekarang. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. tak djAnGgo 287 . tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. jadi dia merasa ragu. gadis yang ketakutan. dan tahu aku sebatang kara.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. laki-laki di belakangnya. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. tampak enggan menjawabnya. lebih keras daripada sebelumnya. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. lorong pada malam hari.” “Sungguh?” Aku terpancing. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. memelan. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. “Hampir selalu?” Ia mendesah. Ia bisa merasakannya. Ketika ia kembali padaku. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. dia akan menciptakannya.” ia menyimpulkan.” gumamku. Dia telah merawat orangtuaku. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya.” Aku gemetaran. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. “Sejak kelahiran baruku. “Hampir selalu. Dan Edward. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. terserah bagaimana kau menyebutnya. maka tentunya aku tidak sejahat itu. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Aku menungguu dalam diam. baik manusia maupun bukan manusia. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. kalau aku menyelamatkan gadis itu.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. jadi aku bertanya. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. bukannya ketakutan. seperti yang seharusnya kurasakan. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. Edward yang sedang berburu. di lorong berpanel lainnya. Tak ada harapan untukku. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. “ Well.“Ketika epidemi influenza merebak. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. Aku tidak menyukai caranya berpantang. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak.

membuka dan menarikku masuk. Apakah gadis itu berterima kasih.terhentikan. Mereka menyambutku secara berlebihan. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. “Kamarku. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu. djAnGgo 288 .” ia memberitahu. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. tak peduli apapun alasannya. aku mulai melihat monster dalam diriku. Lebih daripada yang layak kudapatkan.

djAnGgo 289 . dan ia mengangguk. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ia tidak mendengarkan. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. Tidak ada tempat tidur. menatapnya nanar. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku.” aku berbohong. kan?” aku menebak. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit.” ia tergelak. tersenyum samar. Sebenarnya. nyaris menyentuhku. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. Ia mengeram dengan suara pelan.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. balas tersenyum. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. “Aku benci menghancurkan harapanmu. Ternyata aku menyukainya.” katanya setengah melamun.” kataku. Ia tergelak dan mengangguk. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. alisanya terangkat. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca.” Ia mengangkat bahu. “Mmmm. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. Aku mundur darinya. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Aku berbalik. “Kau tidak akan melakukannya. Tapi kemudian. Ia berhenti. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. tegang seperti singa yang siap menerjang. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. terlalu cepat. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. setengah membungkuk. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. jelas-jelas tidak percaya. “Aku senang. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. Suaranya pelan. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. berdasarkan tahun. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Setelah kau mengetahui semuanya. Senang mengetahui bukan itu masalahnya.Kamarnya menghadap ke selatan. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. Ini membuatku… bahagia.

kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi.Ia tidak membiarkanku.” Aku berusaha bangkit. Aku menatapnya ngeri.” ia menyetujuinya. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. matanya berkilat-kilat penuh canda. “Jauh lebih baik. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Mmm. sangat menakutkan.” kataku. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. “Kau monster yang sangat. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 .

sampai aku menyadari Edward tersenyum. dan Emmett ingin bermain baseball. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi.” seru Alice. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice.” kata Jasper. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. gerakkannya sangat anggun. “Tentu. dan mereka langsung berlalu. ia berjalan.Ia hanya tertawa.” ejeknya.” “Kalau begitu.” ia berjanji. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. tersenyum sambil memasuki ruangan. Mata Edward berkilat-kilat. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. tapi konteksnya membuatku bingung. Ia menatap wajah Edward. ekspresinya agak terkejut. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. “Sebenarnya. bagus.” jawabnya.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. “Seperti kau tidak tahu saja. Aku mendapati diriku bersemangat. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. bukannya ketakutan. “Tidak. dan Jasper berdiri di belakangnya. rasanya aku tak ingin berbagi. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. “Maaf. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.” goda Jasper. semangat dalam suara Jasper menular. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. entah karena komentar Alice atau reaksiku. tapi Edward nampak santai.” Aku tak mungin mengecewakannya. Aku bisa melihat bahwa itu Alice.” Alice terdengar cukup yakin. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. “Mmm. aku tak dapat mengatakannya. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. Aku berjuang melepaskan diri. “Kita akan main apa?” tanyaku.” Aku memutar bola mataku. kelihatan senang.” Edward masih menahan tawa. tapi ia ragu.” Edward meralat. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. Pipiku merah padam. “Silahkan.” ujar Alice. djAnGgo 291 . Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. “Kau akan menonton. wajahnya bersemangat. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. di pintu masuk. “Kami yang akan bermain baseball.” Seperti biasa. nyaris menari. “Badai akan menghantam kota. Akan cukup kering di hutan. kau akan tahu kenapa. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. ke tengah ruangan. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. Tubuhku langsung kaku.

djAnGgo 292 .

Aku akan kembali sekitar senja. “Sebenarnya memang tidak perlu. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. “Barangkali itu yang terbaik. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. aku tahu. kemudian ia membungkuk. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku.” ia berjanji. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. Ia memutar bola matanya.” kataku sedih. Jacob. “Hei. Ford using. “Ini sudah kelewatan. Wajah Billy tak lagi datar.” “Belum lama. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. diparkir di pelataran parkir Charlie. Anak itu tidak tahu apa-apa.” sahut Billy tenang.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. Aku mengerang. sekilas mengecup pangkal rahangku. Ia memandangku. lebih ketakutan daripada marah.” usulku.” perintahnya. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. “Ajak mereka masuk. djAnGgo 293 . “Segera. Billy.” “Kau tidak perlu pergi. “Terima kasih banyak. Jantungku melompat tak keruan. “Aku akan segera kembali. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang. Suara Edward yang dalam terdengar marah.” Ia tersenyum lebar. dan aku memandang ke teras.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. kemarahannya langsung lenyap. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.” aku mengingatkan. Setelah kau menyingkirkan mereka”.” ia meyakinkanku dengan senyuman.” Aku menyapa mereka seceria mungkin.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “Biar aku yang mengurusnya. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. “Charlie pergi seharian. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. berhati-hatilah. Edward hanya mengangguk. ekspresinya mematikan. Jacob mengawasi. memamerkan seluruh giginya. suaranya pelan dan parau. “Oh. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. Meskipun begitu. Hai. Matanya kembali melirik teras. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. “jadi aku bisa pergi.17. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu. Kemudian aku melihat mobil hitam. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.

djAnGgo 294 .” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu.“Aku hanya mau mengantar ini. “Terima kasih. meskipun tak tahu apa isinya. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.” kataku.

” Ia menyadari perubahan ekspresiku. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening.” “Sebenarnya. Ia terus mengangguk.” “Ya.” ia menyetujuinya. “Itu memang bukan urusanmu. Kulkas akan membuatnya lebih kering. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. “Jake. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. namun kali ini bersungguh-sungguh.” jawab Billy.” “Bukan..” aku cepat-cepat berbohong. “Terima kasih. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. tapi ia menunduk menatap lantai.” Suaraku nyaris kasar. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. Aku menunggu. Matanya menyipit. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. diam. djAnGgo 295 . “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. dan itu membuatnya berpikir. alisnya bertaut.” Jacob kembali menembus hujan. Ia terkejut. “Masukkan ke kulkas.” kembali aku menjawab dengan ketus. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan. keheningan itu mulai terasa menjengahkan.” ujarku memberi isyarat.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. Aku memandangnya.” katanya. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.” ujarku tegas. aku mengetahuinya. suaranya murung.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. tapi tidak mengatakan apa-apa. biar kusimpankan untukmu. “Memang benar. wajahku menegang. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater.” “Ya.. Ia sedang menunggu. “Charlie pulang larut. “Barangkali kau tidak mengetahuinya.” timpalku. kemudian ragu-ragu. “Charlie salah satu sahabatku. “Dia ke tempat baru.” Ia mengangkat bahu. “Bella. dan berbalik menghadapnya. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi.” katanya lagi. “Barangkali ini bukan urusanku.” aku mengulanginya. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.” aku menawarkan diri. berbalik untuk menutup pintu. Tapi aku tidak tahu dimana. matanya waspada. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam. Setelah beberapa saat.“Mari..” katanya.” “Kau benar. masih mengamatiku. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah. Ia mengangguk setuju. kesukaan Charlie. “Kau kelihatannya.” “Dimana?” Jacob bertanya.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. matanya berbinar. matanya serius. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. jadi aku berbalik menuju dapur. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus. “Bella. “Rasanya aku melihatnya di bagasi.

Lebih tahu daripada yang kuduga.cukup tahu tentang keluarga Cullen.” Aku menatapnya.” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. djAnGgo 296 . “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku. “Mungkin.” ia mengalah. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu. tapi sorot matanya tajam.

Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap.” timpalku. Wajahnya menekuk.” “Akan kusampaikan.” “Tentu. tak yakin apa yang menantiku malam ini. Bella. Bella. Tapi sepertinya ia mengerti. terengah-engah. kukenakan atasan flanel usang dan jins.” akhirnya ia menyerah. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. Billy. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. “Itu bukan urusanku. Setelah ketegangan itu sedikit memudar.” “Well.” sahutku membentengi diri.” aku buru-buru menimpali. Aku tak menyahut. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. “Ya. “Bella? Ini aku. kurasa sampai ketemu nanti. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil.” kata Jessica.” Aku mendesah lega. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit.” Aku menatap matanya. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. Segera saja aku menyerah memilih pakaian.” Billy bergumam. “Hebat. “Jaga dirimu. “Maksudku. dan tak ada yang bisa kukatakan. “Hmm.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. “Terima kasih.” desaknya. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku.” Billy mengingatkanku. yang baru saja lewat jadi tidak penting. Aku berdiri di lorong sebentar. “Kurasa itu urusanmu juga.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. satu-satunya suara yang memecah keheningan. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. “Oke. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Jacob terkejut.” gumamku. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. Jacob membantu ayahnay melewati pintu.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. Ekspresinya tidak senang. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. “Halo?” tanyaku. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. beritahu Charlie”. djAnGgo 297 . Ketika ia berbelok di sudut. Aku diam di tempat. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. “Oh. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. Aku melambai sebentar. tapi tidak terkejut. Bella. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu. yang lainnya akan membuatku kecewa.” katanya. dan aku melompat mendengarnya. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. “Tapi mungkin urusan Charlie.” Jacob tampak kecewa. “bahwa kami mampir.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. maksudku. “Well.

ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya.“Oh. Jess. tapi tidak mudah djAnGgo 298 . “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. hei.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. Tak perlu dipancing lagi.

.. “Well. “Maaf. apa?” “Kubilang. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. “Kami sama-sama murid junior. yang rambutnya cokelat kemerahan.” serunya marah. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. masih jengkel karena aku kurang menyimak.. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie.” Aku menutup telepon. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. ya?” “Edward adalah yang paling muda. kita ngobrol besok.” Bukan sepanjang sore. sungguh. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. Jess. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku.. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. “Oh. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. membuyarkan lamunanku. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. Charlie menikmati makanannya. well. “Tidak ada. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. tapi perutku seperti berlubang.” “Sampai ketemu. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.” kataku. “lebih baik.. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. Jess. “Dad.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. Mike. Sampai ketemu di kelas Trigono. “Hei. ayahmu ada. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. Cullen?” ia bertanya. sebenarnya. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. “Jadi.” Ia berhenti. “Hai. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting. djAnGgo 299 .” aku meralatnya. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. “Edwin itu yang mana. pesta dansa. O-Oh. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini.” Yang tampan. Tak apa. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. Mataku terus menatap jendela. meletakkan peralatannya.. sekolah.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring.. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus. yang seperti dewa. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. “Tunggu.” Aku berusaha terdengar bersemangat. Dad.untuk berkonsentrasi. “Rumah dr. Aku melambai padanya.” kataku. “Mmm. Jess mendengar suara Charlie. “Oh. Bella?” tanya Jess jengkel. kaget. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. “Well.” Charlie menjatuhkan garpunya. “Itu kesukaanku. “Yeah. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku. makan dalam diam.” Aku tagu. “Kaudengar apa yang kukatakan. Jessica.. sore ini aku di rumah saja.

dewasa untukmu. tapi dia kelihatan terlalu. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya.kurasa. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward. Dad. tidak?” djAnGgo 300 ..” “Ya. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar..

” Bel pintu berbunyi. “Kaujaga putriku baik-baik. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. “Lagipula. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. Mereka mengikuti. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. “Ayo masuk. panggil saja aku Charlie. “Tinggalkan saja piring-piring itu. Dad. “Oke.” Charlie tertawa.” “Jangan khawatir. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. kau tahu. “Terima kasih.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Edward tidak tinggal di kota. Edward. kemudian akhirnya tergelak. ia mungkin saja mendengarkan. begitulah rencananya. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. Sir. “Jadi. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. Lagipula. Edward. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. “Aku mendesah dan memutar bola mataku. Sir.” “Silahkan duduk.” Edward berjanji. oke?” djAnGgo 301 . Ayo kita pergi. “Oh. aku bisa mencucinya malam ini. Charlie. Bell.” Faktanya. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya.” Tapi ia mengambil garpunya lagi.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah.” ia mengamatiku curiga.“Kurasa bisa dibilang begitu. “Sudah cukup menertawakanku.” “Terima kasih. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut.” sahut Edward dengan suara penuh hormat. “Jangan pulang terlalu larut. Kau sudah terlalu memanjakanku.” Wajahnya cemberut. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar.” Aku meringis. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. di sebelah Charlie.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini. “Kau bermain baseball?” “Well. “Ya. dan Edward ikut tertawa. Ia mengedip di belakang Charlie. kusimpankan jaketmu.” lanjutku. Kepala Polisi Swan. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. “Well. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. “Well.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini.” Aku bangkit berdiri. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. “ini baru tahap awal. barangkali kebanyakan aku menonton. Sini. memaksaku duduk di sofa.

Sir. “Dia akan aman bersamaku.Aku mengerang. dan Edward mengikutiku. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. tapi mereka mengabaikanku. djAnGgo 302 . yang terdengar pada setiap kata-katanya. Mereka tertawa. aku janji.

“Ini. “Kau harum sekali ketika hujan. kau akan baikbaik saja.” djAnGgo 303 .” “Aku bakal mual. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Ia mendesah.” “Oh-oh. Jeep-mu besar sekali. di belakang trukku. Disana.” jelasnya. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. selalu keduanya.Aku berhenti tiba-tiba di teras. Ia mendesah. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor.” sahutnya tercekat. dalam langkah manusia normal. Atapnya merah mengkilat.” “Pejamkan saja matamu.” Kugigit bibirku.. menyusuri tulang selangkaku. “Keduanya. Kemudian kami tiba di ujung jalan.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Tapi terlalu banyak kaitan. “Kenakan sabuk pengamanmu. atau buruk?” tanyaku hati-hati. tersenyum lebar sepanjang jalan. bingung. mmm.. melawan rasa panik. “Dalam artian yang baik. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. Lalu aku tiba-tiba mengerti. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Ia tersenyum tegang. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. “Kau tidak akan berlari. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. tapi tidak mudah. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. tampak Jeep berukuran sangat besar.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Ketika ia beralih ke jok pengemudi. kita harus jalan kaku dari sini. Aku menatapnya. “Itu perlengkapan keselamatan off-road... Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. setiap detik semakin pelan. Charlie bersiul pelan. “Maaf. Kami berlalu meninggalkan rumah. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. dan langit tampak lebih terang di balik awan. Hujan tinggal gerimis. Bella. kemudian mengerang. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar.” “Ini punya Emmett.

” protesku.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku. “Biar aku yang melakukannya. djAnGgo 304 .” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil. kau terus saja. dan menuju sisiku dalam kelebatan.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja.

“Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. ya kan?” “Tidak. berusaha mengatur napas. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual.” Ia menahan senyum. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah.. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. dengan hati-hati. menabrak pohon..” aku mendesah. dan sekarat.” Aku berusaha berkonsentrasi. tapi aku mungkin. kan?” “Tidak. di bawah lenganku sendiri.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. tapi tak ada yang bisa kulakukan. menyerah. aku bersumpah.” geramnya. “Tidak. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. Aku tak bisa melepaskan diri. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. wajahnya hanya beberapa senti dariku. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. bibirnya bergerak di bibirku. “Semacam itu.“Hmmm. “Sialan. “Kaulihat. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. “. “Bella. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya.” Sebelum aku bereaksi. Alice benar. Ia mengendus kemenangan dengan mudah.” katanya. Aku mendesah dan mengangkat bibirku. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. mm. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. “Ya. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Ia tergagap mudur. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. “Pepohonan. “Kau tidak bisa mati. “Mual. memaksaku menempel ke pintu.” gumamku.” Aku berjongkok. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. Nyaris tak berembun sekarang ini. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. ” aku menelan ludah. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. dan menciumku sepenuh hati. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. Bukannya tetap diam dengan aman. berhenti tepat di sudut mulutku. Kemudian mual. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. “Nah. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. Bella!” ujarnya terengah-engah. dan memejamkan djAnGgo 305 .” desahku.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. dengan mudah melepaskan cengkramanku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku.” ia mengingatkan dengan nada kasar. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. “Kau akan menjadi alasan kematianku. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. Aku tahu pertahananku nyaris hancur.” desahnya.” aku terengah.” Menggunakan hidungnya. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku.

Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. gerakannya terlalu halus. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak.mata.

bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. “Oh.” “Lalu kenapa?” bisikku. Ia menangkapku lagi. aku mulai melangkah ke dalam hutan. mendarat di punggungku. percaya.” “Tapi kau baru bilang. “Aku tidak marah padamu. seluruh selera humornya lenyap. frustasi akan kelemahanku. begitu juga kata-katanya. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. aku tak dapat menahan diri. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. “Karena selalu membahayakan dirimu. kami sudah berhenti. “Jangan marah. Bella. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu.. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. tapi aku menahannya. “Jangan. “Ya. ” “Aku tidak marah pada mu. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. “Sudah sampai. hangat. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. “Aku takkan pernah marah padamu. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. Bella?” Tiba-tiba ia tegang.” “Kau berjalan ke arah yang salah.” djAnGgo 307 . Bella?” “Nonton pertandingan baseball. dan cukup yakin. tapi ia menangkapku dengan cepat.mengintip. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras.. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. dan ia pun tertawa terbahakbahak. Aku harus lebih kuat. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah..” aku berkeras.” Aku memberanikan diri membuka mata.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. Aku bangkit berdiri. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. “Kau mau kemana. Ia menatapku tak percaya.” “’Bella. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. kelambananku. Tidak bisakah kau melihatnya. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. aku harus bisa. alisku terangkat.. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku.” katanya lembut. “Kau marah. Merasa jengkel.

namun meletakkannya di wajahnya. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan.” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku. Ia mungkin tidak menyadarinya. memindahkannya dari bibirnya. “Aku mencintaimu. tapi aku tentu saja menyadarinya.Ia meraih tanganku. djAnGgo 308 . tapi itu masih benar. dalam begitu banyak katakata.” katanya.

Lalu mendesah. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut.” ia melanjutkan.” ia menjelaskan. atau menari ke arah kami. dan kami pun sampai. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. gelisah. cepat-cepat membalasku. mengejar kedua saudaranya. Emmett. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. Larinya lebih agresif. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. setidaknya jaraknya seperempat mil. “Kaukah yang kami dengar tadi. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. “Sudah waktunya. mungkin jauhnya seratus meter. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. setelah mengacak-acak rambutku. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. berkilat-kilat. aku lebih suka menjadi wasit. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. “Ayo.” Emmett membenarkan. Esme. Ma’am. “Ayo. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. Emmett. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. “Kalau begitu. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. Esme. dan dengan cepat ia mendahului mereka. Esme menghampiri kami. Alice berlari bagai rusa. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. Perutku langsung mual.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu.” ia mengumumkan. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan.” “Ya. tim!” Ia mengejek dan. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. dan Rosalie bangkit berdiri. “Itu memang dia. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. tapi aku tak melihat bolanya. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa. Aku mencoba terdengar bersemangat. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 .“Sekarang. Aku diam tak bergerak. Luasnya dua kali stadion baseball.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. kemudian pecah di barat kota. tatapannya bersemangat. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku.” Edward menjelaskan. kecuali satu tanganku. sambil mengedip padaku. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. “Tidak. lebih mirip cheetah daripada rusa. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. kumohon bersikaplah yang baik. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. “Menyeramkan. Begitu ia berbicara. menembus semak-semak yang basah dan padat.

terkejut. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya.” aku tertawa. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala.mendengarnya. “ Well. djAnGgo 310 .” “Anda terdengar seperti ibuku. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. terkejut. “Ia juga tertawa.” gumamku. apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak.

menggema hingga ke pegunungan. tangannya yang terangkat menggengam bola. “Baik. sebagai anggota tim lawan. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu.” aku bergumam. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. Alice tersenyum sebentar. dan Alice memegang bola.. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. bagai serangan kobra. “Bahwa aku. makhluk kecil yang malang. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Kemudian tangannya mengayun lagi. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. kau tahu.“Ya. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper.” Alice berdiri tegak. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. baru disebut strike. mendengarkan dengan saksama.. tapi saat ia mengambil posisi.” Esme mengingatkan. Aku tersadar Edward menghilang. katanya. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. meskipun dia lebih tua dariku.” ia memberitahu. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. Bunyi pukulan itu menggetarkan. “Kaulah yang diinginkannya.” “Kalau begitu. “Emmett memukul paling keras. itu sebabnya aku melompat dari tebing. Sayang.” ujarku terbata-bata. dan kemudian.” tambahnya terus terang. seolah-olah tak bergerak. “Selalu sang pria sejati. meskipun dahinya berkerut waswas. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan.” Ia tersenyum. “Kalau mereka tidak memukulnya. Esme menghentikan langkah. “tapi Edward berlari paling cepat. “Itu menghancurkan hatiku. “Edward putra baruku yang pertama. bayi pertamaku dan satu-satunya. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. Gayanya tampak licik daripada mengancam. Gelegar petir terdengar lagi. Aku selalu menganggapnya begitu. aku sedih melihatnya sendirian. Anda tidak keberatan?” aku bertanya.” seru Esme lantang.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. “Tunggu. kembali ragu-ragu. djAnGgo 311 . Aku menunggunya menghampiri home base . “Ke posisi masing-masing. sejauh apa pun posisinya. melayang menembus hutan yang mengelilingi. “Out!” Esme berteriak lantang. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya.” ia mendesah. satu tangan terangkat. setidaknya dalam satu cara. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. menggelegar.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir.” Ia tampak bersimpati. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Entah bagaimana.” jelas Esme. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. pasti akan ada jalan keluarnya. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang.” Ia tersenyum hangat padaku. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Carlisle membayanginya. “Home run.

Tim Emmett memimpin dengan skor satu. “Safe.Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Ia berlari cepat ke sisiku. Ketika mereka bertabrakan.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. Aku melompat dengan waswas. wajahnya memancarkan rasa senang. berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. ketika Edward menangkap bola ketika. memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. djAnGgo 312 .

bingung. tidak sambil menggendong. “Aku tidak melihat. kemudian berpaling. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. bebalik menghadap Edward. menuju base.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. posturnya protektif. menjaga bola tetap rendah. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. “Tidak.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. “Yang jelas.” jawab Alice singkat.” godaku.” katanya menyesal. aku tak bisa mengatakannya. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. “Apa yang berubah?” tanyanya. “Mereka mendengar kita bermain. “Alice?” suara Esme tegang. “Well. djAnGgo 313 . aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. matanya kembali berkilat-kilat memandangku. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice.” bisiknya. Semua sudah berkumpul. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. Ketegangan menyelimuti wajahnya. membuatku kehabisan napas. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. “Kenapa?” tanyanya.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang.” Wajah Edward geram. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. seperti biasa.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. Tiba-tiba Alice terkesiap.” “Tiga. Ia bermain pintar. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. “Giliranku. “Aku agak kecewa.” katanya. Jasper mendekati Alice. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. Alice ber-high five dengan mereka. “Biarkan mereka datang.” gumamnya.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya. Mereka berlari. dan itu membuat mereka berbelok. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. mereka ingin bermain. ” Ia terdiam. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. “Ada apa. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. “Kurang dari lima menit. Mataku tertuju pada Edward.” ia tertawa. Petir terus bergemuruh. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. “Lagipula.

“Alice bilang.” akhirnya Carlisle memutuskan. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. mereka hanya penasaran. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya. Hanya Emmett yang tampak tenang.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. Carlisle berpikir. Suaranya tenang dan datar.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya.

dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. dan Emmett. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. “Kau yang menangkap. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. jangan bergerak dari sisiku. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku.” gumamnya enggan. jangan bersuara. “Itu takkan membantu. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. djAnGgo 315 .” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. mata dan pikirannya menerawang ke hutan. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku.” “Aku tahu. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. dan yang lain berpaling ke arah yang sama. Detik-demi detik berlalu. “Maafkan aku.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. Rosalie.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. “Yang lain berdatangan sekarang. Ia setengah melangkah.” katanya.” “Ya.” kata Alice lembut. Esme. kumohon diamlah.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. Carlisle. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati. tapi toh aku dapat menangkapnya.” Aku mendengar napasnya berhenti. Yang lain kembali ke lapangan. “Uraikan rambutmu. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. “Cukup untukku. Ia menarik rambut panjangku ke depan. Tatapannya tanpa ekspresi. Aku mematuhinya. menutupi wajah. Aku sungguh menyesal. Emmett. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Bella.” Dan dia pun berdiri di depanku. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Carlisle berdiri di base. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. “apakah mereka haus. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.” gumamnya marah.

memamerkan gigi putihnya. Si perempuan lebih liar.18. Postur tubuhnya sedang. ototnya kekar. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. entah mengapa tampak paling waspada. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. anggun. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. meskipun diam. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. Langkah mereka pelan. dan mereka bertelanjang kaki. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. Kedua laki-laki itu berambut cepak. Yang ketiga wanita. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. Mata mereka juga berbeda. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. djAnGgo 316 . Ketika mereka mendekat. rambutnya hitam mengkilap. Matanya. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. tapi kalah jauh dari Emmett. Sambil masih tersenyum. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Laki-laki yang pertama langsung mundur. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. dan tanpa komunikasi yang kentara. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. terpisah-pisah sejauh 12 meter. Ia tersenyum ramah. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan.

” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.” djAnGgo 317 . “Disini.“Kami kira kami mendengar permainan. Rosalie.” “Tidak. Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Aku terkejut ia menyebut namaku. ini Victoria dan James. kami baru saja selesai. di Olympic Range. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi. Emmett dan Jasper. “Sebenarnya. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. Esme dan Alice. Edward dan Bella.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. “Aku Carlisle. Ini keluargaku. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah. “Aku Laurent.

tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. tubuh Edward menegang. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. Perlahan James menegakan tubuhnya. balas siap menerkam.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James.” Carlisle menjelaskan.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. Rambutku berantakan ditiup angin. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. matanya tertuju pada James. James bergerak sedikit ke samping. Kalian mengerti. tiba-tiba memutar kepalanya. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. “Dia bersama kami. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. “Ceritanya agak panjang. “Tapi dia manusia.” Ia tertawa. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. mengamatiku. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. Ketika Laurent bicara. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. hidungnya mengendus-endus.” Senyumnya ramah.”protes Laurent.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab.” djAnGgo 318 . Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. semata-mata hanya terkejut.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. Emmett dan Alice. Lagipula. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. bengis. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga.” Carlisle menambahkan dengan tenang. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. nada suaranya lembut.” Laurent mengangguk. cuping hidungnya masih mengembang. “Kalian membawa snack?” tanyanya. menggeram penuh ancaman. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan. “Ya. “Tentu saja. Edward memperlihatkan giginya. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. James. “Kumohon jangan tersinggung. dan laki-laki kedua.

kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. “Tapi kami ingin menerima undanganmu. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. Rosalie.” Suara Carlisle masih tenang. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. tentu saja. “Akan kami tunjukkan jalannya. djAnGgo 319 . Esme?” panggilnya. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. dan Emmett mundur perlahan.“Tentu. Mereka mendekat. “Dan. Seperti kataku. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. Bella. “Ayo.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku.” Suara Edward pelan dan lemah. kami takkan melukai perempuan manusia ini. Jasper. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent.

Tak ada yang menjawab. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. Aku memberontak. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami.” Suaranya dingin. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. Alice telah berada di jok depan. jauh sekali.” “Aku harus. yang lain tak bisa mendahuluinya. “Tidak demi aku. menjauh dari Forks. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan. menyembunyikan diriku. dan Edward menyalakan mesin. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. “Emmett. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum.” kata Edward dingin. dan sama sekali saia-sia. Sesampainya di bawah naungan pepohonan.” djAnGgo 320 .” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. “Menepilah. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. yang menyelinap masuk ke sebelahku. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. matanya terpaku ke jalan. kau tidak boleh melakukan ini. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. sekarang. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. “Sialan. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela.” Ia tidak menoleh ke belakang. sekarang kumohon diamlah. Aku terus menundukkan kepala. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. “Pasangkan sabuk pengamannya.” ia memerintahkan Emmett. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. dan meskipun laju kami bertambah cepat. Edward. Alice berbicara untuk pertama kali. Kami tiba di jalan utama. “Tidak! Edward! Tidak. Dan kami menuju ke selatan. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. berputar menghadapi jalanan yang berliku. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. yang lain tak mau menjauh darinya. “Kita mau kemana?” aku bertanya. masih terkejut karena ngeri. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. Bella. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. Bahkan denganku di punggungnya. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Bella.

” ia mengerang frustasi. Alice. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. “Kau tidak mengerti. aku ingin memahaminya. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.” Nada suara Alice tenang. “Menepilah. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini.Edward menatapnya marah. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. Jarum spidometer bergerak melewati 120. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. djAnGgo 321 . kemudian menambah kecepatan. “Dia pemburu. Edward.

sungguh. “Bisa saja berhasil. “Tidak ada pilihan.” kata Alice.” “Jumlah kita cukup banyak. secara spesifik. Ia benar-benar mengabaikanku.” aku memohon.” “Tidak.” “Dengar. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. Alice memelototinya. ada. Edward berbalik padanya.” Emmett akhirnya berbicara. pilihan. ” Edward menginterupsi.” sahut Edward mantap.” Aku terkesiap. obsesinya.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. murka. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. Alice.” Emmett tersenyum. Kalian tahu itu. Kita harus membunuhnya. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya.” geram Edward.” Mereka menatapku. suaranya mengeram. “Itu sebuah pilihan. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap. lebih drastis. Alice. “Edward. dan dia menginginkan Bella.” kata Alice. Dia bersamanya. terkesiap. Dia akan mencoba djAnGgo 322 .” desis Edward.” “Kau tidak mengerti.” “Dia tak tahu kemana.” “Dan yang perempuan. Sekali memutuskan untuk berburu. dan terhempas lagi ke jok. Berburu adalah hasratnya. akhirnya terpancing juga. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. “Terlalu berbahaya. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. Aku memandang marah dan melanjutkan. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. “Bukan ide yang buruk. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan.” Alice berpikir sebentar. “Bawa aku kembali. “Tidak. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. Aku terdorong ke depan.” kata Alice pelan.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. Aku melihat pikirannya. Edward. Jeep kembali melambat. Bella. dia tak tergoyahkan. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI.” bujuk Alice. Jeep sedikit melambat. Edward. “Aku juga bisa menunggu. si pemimpin akan turun tangan juga. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix.” potong Edward. “Dengar. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. Aku memecahkannya.“Lakukan.” “Dia bukan tandingan kita. Dia takkan bisa menyentuhnya. Semua menatap Edward. “Tidak. dia takkan bisa mengalahkan kita.” “Dia akan menunggu. “Bawa aku kembali. “Aku tidak melihatnya menyerang. baru kita lari. “Kita harus membawanya kembali. Kukemasi barang-barangku. “Dia benar.” “Itu pilihan lain. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella.” Emmett tampak sangat percaya diri. Dia memulai perburuannya malam ini.

” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.menunggu kita meninggalkannya sendirian.” djAnGgo 323 .

“Inilah yang akan kita lakukan.” kata Alice yakin.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Kemasi apapun yang bisa kau ambil. Emmett. kecuali bunyi deru mesin. bannya berdecit-decit.” kata Alice tenang.” Suara Edward dingin.” Emmett menyela.” “Itu tak ada hubungannya. kemudian masuk ke trukmu.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. Lalu Edward berbicara lagi. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. sekarang ia tak meragukannya lagi.” “Ya. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. sekali ini saja. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu.” “Kita akan sampai disana sebelum dia.” Edward mendesah.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang.” protesku. “Emmett?” Aku bertanya. “Dengar. dan ia memutarnya. “Tidak akan. maaf. Sepertinya Edward tidak mendengarku. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. “Kumohon. dimanapun kau berada. “Oh. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. “Kau akan pergi malam ini. Katakan pada Charlie.” Emmett melihat ke arahku. Kami akan memastikan dia aman. Ia tidak mendongak. “Edward.” “Pikirkan lagi.” Aku berusaha terdengar tegas. dia memang benar. “Emmett juga harus tinggal.” desaknya. “Aku tak bisa melakukannya. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. mengertakkan giginya.” katanya. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. Kemudian dia punya waktu 15 menit. Dia akan berpikir kau bersamaku. Apapun masalahnya dengan Alice. “Kupikir dia benar. terlihat terkejut lagi. kau tak tahan lagi berada di Forks. “Kau akan membawanya pulang.” Ia melepaskannya. Sesampainya di rumah Bella. Ia mendengarnya. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. kau berjaga di luar rumah. Setelah dia keluar. “Aku ikut kau.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata. “Kalau si pemburu ada disana. Ketika bicara.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. djAnGgo 324 . dia bakal curiga.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. kalau si pemburu tidak ada disana.” Ia menatapku geram dari kaca spion. “Bella. Alice. suaranya terdengar terluka. Kau punya waktu 15 menit. menatap lurus tanganku. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. Charlie bukan orang bodoh. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. dengarkan dia. dan itulah yang terpenting. suaraku jauh lebih pelan. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. “kita tidak akan berhenti. Edward sepertinya setuju.” Jeep menderu menyala. Suaranya terdengar pahit. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan. kau ambil truk Bella. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. “Kalian semua takkan muat di trukku. aku tidak mau. kumohon lakukan saja dengan caraku.” kataku.” aku melanjutkan.” “Tidak.” aku berbisik. aku ikut kau. Ceritakan apa saja agar dia percaya.” Alice menimpali. “Emmett.

” timpal Alice. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya. Akal sehatnya mulai bekerja.” Edward mengulangi kata-katanya.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal. “Menurutmu. Edward menatap Alice tak percaya.” sahut Alice. aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak. djAnGgo 325 . “Jasper dan aku akan membawanya.” “Aku tak bisa melakukannya.

Nah. sangat baik. Aku langsung meringkuk ketakutan. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. Emmett. beberapa hari.” sahutku. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. Dia telah bekerja dengan sangat. Aku memikirkan Charlie. menelan ludah. “Bella. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. dalam segala hal. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. “Tetaplah disini selama seminggu.” Tentu saja.” “Oh?” tanyanya. atau kau karena mencoba melindunginya.” gumamnya tiba-tiba. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.” “Dengar. Edward tersenyum padanya.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. tak diragukan lagi. “Tidak. Meskipun ucapanku terdengar berani.” Emmett tergelak. dan buat perburuan James ini berantakan.. “Tetap di dalam ruangan. dia akan terluka. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. Edward. sendirian di rumah. nada suaranya berbahaya. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “.” aku memberitahunya. Lalu datanglah dan temui aku.” “Aku takkan pulang. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita.” “Edward. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini.” “Aku sepertinya menyukainya. Kau mengerti?” “Ya. Tentu saja ambil rute memutar.” Alice mengingatkan.Aku mencoba membujuk. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. bisa kurasakan bulu kudukku meremang. kami akan menemaninya. “Diam.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. dan mencoba untuk berani. Aku benar.. Ia berpaling pada Alice. tentunya. senyumnya mengembang perlahan.” “Dia licik. aku akan menuntut tanggung jawab darimu. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. djAnGgo 326 .” Suara Edward terdengar sangat lembut.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James.” katanya tidak sabar. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. kemungkinan besar akan ada yang terluka. apapun.

djAnGgo 327 .

Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. “Aku akan selalu mencintaimu. memarkirnya tepat di belakang trukku. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. “Alice.” Suaranya mendesak. “Aku bisa melakukannya. dan sekarang ia bangkit berdiri. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Bella. namun bagaimanapun juga. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. duduk tegak di kursi mereka. suaraku pelan dan dalam. Perpisahan Charlie menungguku.” ia mengingatkanku dengan berbisik. “Aku mencintaimu. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Mereka bertiga sangat waspada. “Jangan khawatir. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. djAnGgo 328 . sama tajamnya.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman.” aku berbisik penuh hasrat.” katanya. Kita harus bergegas. mengamati setiap bayangan. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. “Pergilah. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. Edward!” Aku berteriak padanya. Mesin dimatikan. membanting pintu dan menguncinya. air mataku mengalir deras sekarang.19. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett.” isakku. Aku berlari ke tempat tidur. Aku menatap matanya lekat-lekat.” Suara Edward memerintah. Aku nyaris tak mengenalnya. membuatku sedih.” kata Edward tegang. Bella.” “Masuklah. mendengarkan setiap suara di hutan. Semua lampu di rumah menyala. oke? Jaga Charlie untukku. “Ayo. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya.” kataku. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini.” katanya pelan namun ceria.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. Ini tidak bakal menyenangkan. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. langsung menghilang.” Ia mencondongkan tubuhnya. Emmett. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. Air mata memberiku inspirasi. “Dia tidak disini. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. tak peduli apa yang terjadi sekarang. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. “Satu lagi. “Lima belas menit. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. Perlahan Edward menepikan Jeep. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. Bella. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. “Jalankan saja rencananya. menghirup setiap aroma.

” aku berteriak. “Bella. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. memberi tekanan pada kata yang tepat.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. “Tidak!” jeritku. lalu melemparkannya padaku. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. djAnGgo 329 . kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. Aku berbalik ke lemari pakaian. “Aku mau pulang. dan Edward sudah ada disana.

wajahnya syok. Carlie. lalu membuka pintu. satu tangannya terulur ke arahku. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. memutar kenop pintu. cengkramannya kuat. sambil menarik-narik resleting tasku. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. “Semuanya kacau. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. Aku mengucapkannya semarah mungkin. “Bells. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. Aku tidak menoleh. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie.” ia memohon. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. lalu bergegas ke pintu.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. Sudah malam. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. “Aku akan menunggu di truk. djAnGgo 330 . itulah masalahnya. Ia memutar tubuhku menghadapnya. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. Ia berdiri terlalu dekat. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku.” bisiknya dibelakangku. dan aku harus memikirkan keselamatannya. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi.” gumamku. Aku benci. mereka akan kembali ke Arizona.” Aku menggeleng. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. Tapi aku tak punya waktu. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. “Apa yang terjadi. Meskipun ia masih bingung. Ia berada tepat di belakangku. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. Aku menatap geram pada ayahku. “Biarkan aku pergi. lalu mengempaskannya. “Tidak!” jeritku. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu.” Ia benar-benar membuatku kesal. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. Ia menghilang lewat jendela. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak.” “Tunggu 1 minggu lagi. dan mendorongku ke pintu. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. “Aku punya kunci. “Aku memang menyukainya. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. pergi!” ia berbisik. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. kau tak bisa pergi sekarang.

membayangkan bayangan gelap di belakangku.oke? Aku sungguh. sementara aku berlari menembus malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. Charlie bergeming di ambang pintu. terpana. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. namun sadar aku takkan pernah sanggup. “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. djAnGgo 331 . sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah.

dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi.” aku mengaku. Aku menatapnya putus asa. Ia menarikku ke pangkuannya. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. “Bukan itu maksudku. Ia memegang tanganku lagi.Edward meraih tanganku. Mesin truk menggeram. “Menepi.” “Jangan khawatir. dan ia melihat kepanikan di mataku. sambil menunduk memandangi lutut. “Ini salahku.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. “Itu cuma Alice.” Ia tersenyum sedikit. terutama akhirakhir ini. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak.” ia menenangkanku. “Bella. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. mengabaikan perhatianku. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami.” ia menjelaskan. “Charlie?” tanyaku ngeri.” aku berkeras. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. “Si pemburu mengikuti kita.” kata Edward geram. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. dan Charlie.” katanya berbasabasi.” “Ini ide terbaik. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu.” katanya begitu rumahku. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.” katanya seraya mempererat pelukannya. “Aku ada disana. menuju jalan tol utara. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu. mataku membelalak ketakutan. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela. Trukku tidak oleng sedikitpun. Dia akan memaafkanmu. semuanya akan baik-baik saja.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. “Aku bisa mengemudi. Sekarang ia berlari di belakang kita.” bisikku. “Jangan lupa. memangnya kenapa? djAnGgo 332 . dan memeluk pinggangku. tentu saja ini ideku. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. ini idemu. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil.” Tubuhku langsung membeku. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu. Bella. suaraku melengking. melepaskan tanganku dari kemudi.” ia berjanji. “Semuanya baik-baik saja.” Kami melesat melalui kota yang sepi. telah lenyap di belakang kami.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. Aku memandang lewat kaca belakang.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. meskipun matanya tidak. “Kau akan aman. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku.

kenapa aku?” Ia ragu-ragu.. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini..” Suaranya masam. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan. begitu dia melihatmu. Sebagian adalah salahmu.Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. berpikir sebelum menjawab. dia mungkin saja tidak terusik. djAnGgo 333 .” ia memulai dengan suara pelan. Tapi ketika aku membelamu. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana.

. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka.. usahakanlah jangan ceroboh. Tidak malam ini. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang.” “Tapi James dan wanita itu. Alice mengikuti di belakang.” Aku bergidik ngeri. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. Ia berhenti sebentar.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat.” kataku ragu-ragu. “Bella. aromaku tidak sama bagi yang lain. ia menarikku dari jok. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. “Kupikir. dia bersama mereka hanya demi kemudahan. Kami langsung menuju rumah. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput.” gumamnya.. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya.” Suaranya penuh kejijikan. “Carlisle takkan menyukainya. pertarungan akan terjadi saat itu juga. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. dan membawaku berlari menuju pintu. kumohon. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat.well. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan. suaraku gemetar. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. tidak seperti bagimu. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. kumohon. djAnGgo 334 . Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya. itu membuat segalanya tambah parah. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu.. “Kurasa. Dia tak terbiasa dikecewakan. Aku tak yakin dengan Laurent. atau salah satu dari mereka. Mereka tidak punya ikatan kuat. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga.. Ini permainan favoritnya. Edward dan Alice berada di sisi kami. Dia menganggap dirinya pemburu.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya.” katanya putus asa. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. Aku tahu kami semakin dekat. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting.. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. Kami menghambur ke ruangan putih luas. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. bukan yang lain. lalu membakarnya. Lampu-lampu di dalam menyala terang. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. “Memang tidak. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. Aku harus bertanya sekarang. dengan cara yang sama seperti terhadapku.” “Dua vampir lainnya.

Laurent berdiri di tengah mereka. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward. tampak marah. “Aku khawatir. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett.Semua ada disana. itu justru memicunya.” Emmett berjanji. Wajah Laurent tampak muram. “Dia mengikuti kami. djAnGgo 335 .” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya. menatap galak pada Laurent.” jawabnya. ketika beralih enggan menatapku. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya.” ungkap Edward. Matanya yang indah penuh cinta dan. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. Rosalie mengamati mereka.” “Kami akan menghentikannya. “Maafkan aku. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu. Mereka menaiki tangga bersama-sama.

Keheningan hanya bertahan sebentar.” Carlisle menimpali. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya.“Kau takkan bisa menaklukkannya. menemui klan yang ada di Denali.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. Dia sangat mematikan. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini.” gumam Emmett. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. “Esme?” tanyanya tenang. Esme sudah bergerak. Laurent menggeleng. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. Aku sungguh menyesal. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 .. “Tentu saja. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan. “Rose. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana. bingung.. wajahnya kelam.” Ia membungkuk. Edward berbalik menghadap Rosalie. “Pergilah dengan damai. seolah ia tidak ada. dan dengan suara menderu. Ia menimbang-nimbang sebentar. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya.” Laurent mengerti. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. Ia melirikku. kita akan memburu James. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku.” Ia ragu-ragu. kemudian bergegas keluar. Rosalie menepisnya. kemudian kembali menatap Carlisle. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. Kurasa aku akan menuju utara.” gumam Esme. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. “Sekitar 3 mil dari sungai. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. Laurent langsung ciut. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini.” perintah Edward. “Begitu Bella aman dari bahaya.” Kelompoknya tentu saja. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. pikirku.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca.. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. mengkhawatirkan reaksinya.. tapi aku tidak akan menentang James. Ia membuatku terkejut. teringat temperamennya yang meledak-ledak. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. Aku sama sekali tidak membenci kalian.” ujar Carlisle dengan nada formal.” “Kurasa tak ada pilihan lain. Aku memandang terkesima. Carlisle menatap Laurent dingin. “Jangan remehkan James. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa.

Aku djAnGgo 337 . Tidak akan bertahan lama. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. rasanya seperti kaus. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. ia menyerahkan celana panjangnya.. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. “Berusaha mengaburkan aromamu. “Kurasa pakaian Anda takkan muat. Ia memberi sesuatu padaku.menyadarinya.” aku ragu.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. Begitu aku selesai. Aku bergegas melepaskan jinsku..

Aku mengangguk. “James akan memburumu. mengangkat tubuhku dari lantai. Tiba-tiba aku menyadari. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. kalian bawa Mercedes-nya. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku.. “Kau salah.” Carlisle bertanya.mengenakannya. dengan ngeri. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. matanya yang indah membara menatapku. Ia menarikku kembali ke tangga. Kemudian semuanya selesai.” gumamku. “Apa?” aku terkesiap. Jasper. “Ayo kita pergi. Aku mendengar suara trukku menderu. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. Jasper dan aku berpandang-pandangan. kau tahu itu. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. “Kami naik Jeep.. Jasper dan Alice menunggu. Bella.” Carlisle berjalan menuju dapur. memelukku erat-erat. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu.” “Tidak.” ia memberitahu saat melewatiku. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. lalu lenyap. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. Kami berdiri disana. ponsel kecil berwarna perak. Akhirnya matanya membuka. “Sekarang. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. Aku akan ambil mobil. Si wanita akan mengikuti truk. Dan merekapun pergi.” Mereka juga mengangguk. mematikan. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. terlalu panjang. kemudian ponsel Esme bergetar.” Suaranya yakin. berhati-hati. Sorot matanya berubah hampa. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. “Jaga dirimu. melirik cemas ke arah Rosalie. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku.” katanya pelan. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. “Alice. Keheningan terus berlanjut. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. “Alice. Ia langsung mendengarkan. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. masih memegangi wajahku. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Ia menurunkanku ke lantai. pengorbanan djAnGgo 338 . Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.” katanya. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. ketika ia berpaling dariku. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka. dan kau memang layak. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku.

” Aku tersenyum pahit. Pikiranku kabur. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini. 20. tersenyum ramah padaku. Ketidaksabaran Ketika terbangun. tapi awalnya tidak berhasil. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. “Bolehkah?” tanyanya. Aku tak mendengar apa-apa. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Ekspresi sedih Charlie. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya..” “Kau keliru. Aku tak tahan melihat semua itu. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. serta dindingnya yang bercorak umum. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. tak tertahankan. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. tatapan mengebu-gebu si pemburu. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. dan air mataku habis terkuras. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit.” ia mengulanginya. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett.. Aku ingat mobil hitam mengkilat. kecuali di hotel. memelukku dengan sikap melindungi. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. tatapan marah Rosalie.mereka bakal sia-sia. “Kau yang pertama yang meminta izin. Tapi aku tak bisa memejamkannya. aku bingung. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. Kantuk meninggalkanku. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. dan matahari berada di belakang sekarang. menyengat mataku.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

” ia berbicara di telepon. “Ya. yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu.“Aku baru saja melihatnya. Aku berlari menghampirinya. djAnGgo 348 .” kata Edward.” Alice terdiam. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. “Halo?” desahku. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya. kemudian ia berbicara padaku. “Bella.

” Setelah percakapan selesai. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. tangannya djAnGgo 349 .” “Aku akan baik-baik saja. Sepanjang dinding. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.” Suaranya tegang.” “Aku merindukanmu.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku. Bella. semua jalanan di kota. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi. “Aku mencintaimu. Edward! Aku sangat khawatir. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. Tapi dia sudah pergi sekarang. Aku akan membuatmu aman dulu.” “Aku akan segera datang padamu. Alice melihat dia berhasil kabur.“Oh. dia berhati-hati.” “Kalau begitu datang dan ambillah. Dia pergi ke rumah Charlie. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Alice menunduk menatap gambarnya. “Bisakah kau mempercayainya. maafkan aku. begitu aku bisa. persegi. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang.” “Aku akan menunggu.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel.. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. tapi tak ada yang bisa ditemukannya. mengintip dari balik bahunya. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. sebenarnya aku percaya. aku tahu.” bisikku. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. sepertinya naik pesawat. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya.” aku mengingatkannya. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga.. si wanita ada di kota. Percayalah padaku.” “Bella. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. dia mencari-cari.” kataku. sekolah. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. “Aku tahu. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. kami kehilangan jejaknya. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. Bella.” ia mendesah frustasi. Aku bersandar di sofa. “Segera. Mereka memandangku. Bella. kabut depresi pun menyelimutiku lagi. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. “Itu studio balet. terkejut. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya. “Aku tahu. setinggi pinggang. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. tapi Charlie sedang di tempat kerja. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. kami akan menghabisinya.” aku menantangnya. Dia kelihatannya curiga. jadi jangan khawatir. Dia tidak mendekati Charlie.

Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 . stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. menggambar tangga darurat di dinding belakang.menyapu kertas itu sekarang. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari.

“Di sana letak kamar mandinya. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah.” Alice sudah di sisiku. “Alice. palangnya. sekolah. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. membuyarkan lamunanku. Aku melihat mereka bertukar pandang. aku mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. dan tidak ada TV. dimana catatan tentang diriku berada.menyempit di bagian belakang ruangan. “Mom. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. Tapi stereonya tadinya di sini”.” “Kupikir dia di Florida..” aku mengakui. sama sekali tidak. “ini aku.” “Memang. Aku penari yang payah. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. “Tidak. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya. “Tidak.” kataku. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.. tapi dia akan segera pulang. “Kalau begitu di sini.” “Jasper?” tanya Alice. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. “sudah lama.” kataku setelah bunyi bip. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama.” bisikku. “Di sekitar sudut rumah ibuku. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur.” Aku menyentuh pintunya. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. hubungi aku di nomor ini.” Kami duduk terdiam. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. masih tenang.” Alice dan Jasper menatapku. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.” ia menyakinkanku. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya. Begitu kau sudah menerima pesan ini. aku menunjuk sudut kiri.. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. cermin-cerminnya. Dengar.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. Ada jendela di ruang tunggu. entah dimana.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi.. tentu saja. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. memandangi gambar Alice. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . Ia mempertimbangkannya. apakah telepon itu aman?” “Ya. “58th Street dan Cactus. “Ya. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. suaraku menghilang. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali.” Suaraku gemetar. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. “Tidak.

Jangan khawatir. dua kali. aku baik-baik saja.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. Bye. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. mencari berita tentang Florida. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. atau tentang pelatihan musim semi.di bagian bawah gambar. Aku membacanya perlahan. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. Aku duduk di sofa. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. Aku berkonsentrasi menonton berita. mengantisipasi malam yang panjang. tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. oke? Aku mencintaimu. djAnGgo 352 . Mom.

atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. Aku pasri tertidur di sofa.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. menantikan telepon berbunyi lagi. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. djAnGgo 353 . menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. seperti yang kurasakan. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya.

. agak terlalu gelap. Dengan lembut ia menyentuh bahuku.. “Bella. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. Dinding-dindingnya berpanel kayu. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh.. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. aku takkan bisa. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper. menjaga kepalaku tetap terapung. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. Aku tak bisa berkonsentrasi. Kita akan menemuinya di bandara. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. Alice. ” djAnGgo 354 . “Teleponnya di sebelah sana.” bisikku. sambil menunjuk. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Kepanikanku tetap samar. Alice dan Jasper duduk di sofa. Dia. Dua pasang mata yang abadi menatapku. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. “Itu rumah ibuku. “Ya. telepon di tangan. dia kesini untuk mengincar ibuku. Dia akan menemukan seseorang. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. tidak fokus. ketinggalan zaman. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. Emmett. Alice. hanya saja kali ini keadaannya terang.. Aku menatapnya hampa.” “Aku tak bisa menang. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. “Bella. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. menekan nomor. dan kau akan pergi bersamanya. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya. Edward akan datang menjemputmu.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi.21. dia akan melukai orang yang kucintai.” Alice telah bangkit dari sofa. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. Sofa panjang kuno terletak di depan TV.” kata Alice. “Ya. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap.” “Tapi ibuku.

Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 .” ia meyakinkanku.“Kami akan menangkapnya. “Dan bagaimana kalau kau terluka. Bella.

“Tidak. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. Suaranya panik. menyadari apa yang sedang terjadi. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. Pikiranku berputar-putar.” Alice memberitahu.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. djAnGgo 356 . Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. tapi aku telah melangkah maju. sebenarnya membantingnya." Perutku melilit mendengar kata-katanya. seraya berjalan pelan menjauhi Alice. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. Kali ini Alice tidak mengikutiku. mengalihkan perhatianku. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. Tapi telepon berbunyi lagi.Alice menatap Jasper penuh arti. aku tak perlu melukai ibumu. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. dia ada disini. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. Aku sudah menduganya. “Nah. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Ia berbicara sangat cepat. aku janji. Kabut tebal kelelahan menyapuku.30. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. “Aku tak ingin tidur lagi. tak ada kompromi. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. “Semua baik-baik saja. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. bergoyanggoyang. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. Tak ada jalan keluar. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu. “Mereka akan mendarat pukul 09. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. meringkuk. Aku mendesah. Satu-satunya penghiburan. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding. “Tenang. Aku melihat jam. Alice tampak terkejut.” bentakku. “Mom?” “Berhati-hatilah.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. merasa sedikit malu dengan sikapku. “Halo?” sapa Alice. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. menjauhkan diri dari tangan Jasper. Satu-satunya pertanyaan adalah. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Ibumu. “Mereka baru saja lepas landas.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini.” Aku diam. Mom. suara yang amat menyenangkan dan umum. tapi yang menarik perhatianku adalah. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan.45. pukul 5. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. Barangkali. katanya tanpa suara. Itu suara tenor laki-laki. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya.

tetaplah di tempatmu.” ia memujiku. tetaplah di tempatmu. Mom. djAnGgo 357 . dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. “Sekarang ulangi kata-kataku. “Bagus sekali.” Suaraku tak lebih dari bisikan. Mom. ‘Tidak.’” “Tidak. Tolong katakan.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam.maka dia akan baikbaik saja.

‘Mom. memusingkan. Aku menunggu.” Aku menunggu. “katakan.” Suaraku parau. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya. tolong katakan.’ Katakan sekarang. Aku sedang bersiap-siap menunggu. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. “Ah. tolong dengarkan aku. “Ya. masih ringan dan ramah. Aku yakin takkan mudah. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. Sambil berjalan. Kumohon. Lebih mudah begini. “Bagus sekali. Waktuku tidak banyak.” “Itu lebih baik. percayalah padaku. itu akan sangat buruk bagi ibumu.” “Ya. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. dan dimana ini akan berakhir. Aku menutup pintu. kumohon.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan.” “Ya. menurutmu.” “Ya. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang. well. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. bagus. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur.. Bella. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara.” Entah bagaimana. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Bella. Teleponlah. nah. kalau begitu.’ Katakan sekarang. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama.” “Mom.” “Baik. ‘Mom. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku..’” “Mom. tapi ibumu pulang lebih awal. harus ada cara.” “Sebelum siang. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. Mom.” “Aku menyesal mendengarnya. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. tolong dengarkan aku.” djAnGgo 358 . kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak. percayalah padaku. kau jadi tidak terlalu khawatir.” “Ya. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat.” katanya sopan. Sekarang inilah yang harus kaulakukan.” Suara ramah itu mengancam.” Suara itu terdengar senang. Menurutmu.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. “Nah. Aku yakin itu. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu.” “Tidak.” aku memohon. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. “Ini penting.” suara menyenangkan itu melanjutkan. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Bella. hati-hati. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih.

“Selamat tinggal. Mom. Mom. “Sampai ketemu. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. ‘Aku mencintaimu.“Terima kasih.” aku berjanji. Bella. Mom.” Suaraku terdengar dalam.” “Aku mencintaimu. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku.’ Katakan sekarang. “Katakan. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. Aku menempelkan telepon di telingaku. Aku mencoba menahannya. Aku tahu aku harus berpikir. sampai ketemu. djAnGgo 359 . Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat.” Air mataku menetes.” Ia menutup telepon.

Aku sangat menyesal. Tapi aku masih tidak punya plihan. Tapi tenang saja. Menyusun rencana. penasaran. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. sebelum Jasper kembali. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. tanpa berbalik. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. “Alice. dan aku tidak menunggunya bertanya. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. djAnGgo 360 . menjaga suaraku tetap tenang. Perlahan-lahan aku menghampirinya.” Aku berpaling. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. Aku melihatnya waswas.” Suaraku lemas. Aku masuk lagi ke kamar. Bella. Keputusanku sudah bulat. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. “Ibuku khawatir. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. mencoba mengenyahkannya. Aku akan menyakitinya. kemudian aku mengesampingkannya juga.Perlahan. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. dan pergi menemui Alice. ia ingin pulang. jangan khawatir. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Bella. Bagus. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. Keputusasaan mencengkramku. dan aku harus berusaha. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Ia bisa melihat kegelisahanku. Aku harus mencoba. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya.” tulisku. karena Alice dan Jasper menungguku. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Aku harus berpikir dengan baik. amat perlahan. “Edward.” Suaranya terdengar hati-hati.” kataku pelan. Tanganku gemetaran. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tak boleh takut sekarang. tak ada cara untuk bernegosiasi. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. I a menyandera ibuku. Disana juga ada amplop. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. pikiranku mulai menembus dinding sakit. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. Aku tak memiliki jaminan. Aku teramat menyesal. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup.

Aku hanya berharap dia mengerti. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. ekspresinya masih hampa. sungguh. otomatis menyentuh tangannya. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Dari seberang ruangan. Tatapannya hampa.. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya.” balasku. itulah yang ia inginkan. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja.” katanya. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. takut ia akan menebaknya. “Bella. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya.. “Tidak ada apa-apa. pikiranku begitu tersiksa dan labil. Aku takut berada satu ruangan dengannya. dan aku melihat wajahnya. matanya terpaku padaku.” akhirnya ia menjawab. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. kedua tangannya memeluk tangan Alice. “Aku di sini. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. melepaskan cengkramannya dari meja. kehancuran hatiku. Aku mencintai mu. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. dan mau mendengarku sekali ini saja. semua ketakutan. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Aku menyambutnya. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. Kepalanya menoleh.. itu namanya mukzizat.” djAnGgo 361 . muncul tepat di belakang Alice. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. merasakan kepanikan. apalagi kau. ia menjawab pertanyaan Jasper. Kumohon. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Kurasa.Jangan marah pada Alice dan Jasper. Demi aku. “Ada apa?” desak Jasper. kumohon. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. 22. Maafkan aku. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. “Apa yang kau lihat?” kataku. Pikiranku melayang pada ibuku. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan.Teruta ma pada Alice. keputusasaan. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. “Alice!” seru Jasper. . aneh.... terpana. Jasper menatapku tajam. dan memasukkannya ke amplop. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga.

Alice akhirnya memandangku. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik.. Ia menjawab hati-hati. “Kau mau sarapan?” “Tidak. Rambutku dibiarkan tergerai. ekspresinya lembut dan tenang. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. aku bisa merasakan keinginan Alice. Alice menyandarkan tubuh di pintu. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. meskipun tersembunyi dengan baik. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. “Alice?” tanyaku cuek.” Aku juga terdengar sangat tenang. wajahnya menghadap Jasper. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. aku makan di bandara saja. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku. berayun menutupi wajah. bahwa mereka bakal gagal. Membantuku menyusun rencana. berkonsentrasi pada setiap hal kecil.. “Ya?” djAnGgo 362 . Aku bersiap-siap seperti robot.

djAnGgo 363 . Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. menginginkan kedatangannya. tak peduli betapa kecil. Benar-benar tak ada harapan. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. terutama setelah penglihatan Alice.” Aku mengangguk penuh perhatian. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. pikirku. dAn takkan pernah kulihat. tidak sabar. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan... Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. baru melarikan diri. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya.” gumam Alice. Betapa menakjubkan. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. “Suratku. seperti cuaca.” “Ya. Atlanta.” kataku.. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk.. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. hal-hal bisa berubah. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Ia mengangguk. Ia menatapku. suaraku terdengar bosan. di garasi berukuran raksasa. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. mudah-mudahan. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. untuk melihatnya dulu. Aku memandang papan jadwal kedatangan. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. Keberuntungan berpihak padaku. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. atau barangkali kebetulan saja. Chicago. kembali waspada. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Manusia lebih sulit. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. seluruh masa depan pun berubah. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Aku menunjukkan jalan.” ia menimpali. yang paling memusingkan. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. “Ya. Begitu mereka berubah pikiran. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. Itu membuatnya sangat sulit. Aku menungu kesempatan. membuat keputusan baru. Kami parkir di lantai empat. Edward akan segera menemukannya. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. Kami tiba di bandara.. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu.

Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. “Aku ikut bersamamu. Alice berdiri. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku. “Aku merasa sedikit. angka-angka itu berubah. Aku tak punya waktu lagi... “Kurasa aku mau makan sekarang.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku. djAnGgo 364 .Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri.” kataku buru-buru.

atau malah sudah. napasku tersengal-sengal. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar.” “Itu di Scottsdale. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Begitu pintunya membuka. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. seolah membimbingku. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat.Jasper bangkit berdiri. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Keberuntungan masih bersamaku. “Apakah itu cukup?” “Tentu. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. Nak. Mata Alice tampak bingung.tapi. Aku belum boleh menangis. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. “Ini shuttle ke Hyatt. Di belokan lift sudah menanti. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. tangannya di punggungku. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. tidak mau repot repot bertanya. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. jaraknya beberapa meter di belakangku. aku lari.” protesnya. tapi aku mengabaikannya. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat.” Begitu pintu menutup di belakang. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. Di depan Hyatt. “Aku tidak bakal lama. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. melambai-lambai ke arah pengemudinya. Ini satu-satunya kesempatanku. aku harus terus berlari. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. yang membuatku lega.” Aku bergegas menaiki undakannya. Dan di sanalah. dan aku berlari. ia takkan bisa melihatku. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. dia tidak curiga. Orang-prang menatapku. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. Tak ada taksi satu pun. Sudah menyala. bahkan kalaupun Jasper melihat. “Tunggu!” aku berseru. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. aku mengingatkan diri. Aku tak punya waktu. tidak masalah. dan pintu lift pun menutup. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. tapi kemudian mengangkat bahu. Kebanyakan kursinya kosong. bukannya penghianatanku. Pintu yang lain tak jauh dari lift. “itu tujuanku. di belokan.” djAnGgo 365 . Jalan yang kulalui masih panjang. Aku hanya perlu lari sebentar. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. “Ya. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun.

Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. Takdirku telah ditentukan. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. juga kekhawatiran. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward.Aku bersandar lagi di jok. Jadi. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. Kuputuskan untuk tidak menyerah. djAnGgo 366 . melipat tangan di pangkuan. tapi aku tidak memandang keluar jendela.

” Aku menutup telepon. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. kita sudah sampai. tak pernah meninggalkan sisinya.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. aku merasa bahagia. “Terima kasih. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Kecuali kau tidak datang sendirian. Kubuka pintunya. Sekarang. “Bagus sekali. agar ia bisa keluar di siang hari. di whiteboard . kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Tak ada alasan untuk takut. Di dalam gelap. ketakutan. Kemudian aku lari mendekat. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku.. kalau begitu. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. “Hei.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku.” Ringan. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. mengandalkan aku. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi.” “Well. menuju panas yang menyengat. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Aku lari meninggalkan ruangan.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Ke suatu tempat di utara. akhirnya aman. Bella. bahkan nyaris mendengar suaranya. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Hanya berdering satu kali. melewati pintu muka. dan bayangan indahku pun lenyap. djAnGgo 367 . ibuku menantiku. normal.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. tampak sepuluh digit angka yang rapi. Di sana. Sopir taksi menatapku. Aku terkesan. aku mengingatkan diriku sendiri.” Suaraku tercekat. dengan saksama menekannya satu per satu. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. aku tahu jalan ke sana. tentunya.” bisikku. senang. kulitnya berkilauan bagai air laut. Aku membayangkannya di pantai. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. kita akan bertemu sebentar lagi. Berhasil. Jangan khawatir. Aku harus menutup dan memulai lagi. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. Aku lari ke pintu. “Ini sangat cepat. “Lima-delapan-dua-satu. Bella. beberapa kali keliru. kosong.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. khawatir aku sakit atau apa. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. kikuk seperti biasa. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku.. kosong. tak pernah tidur. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. “Aku sendirian. Aku harus bergegas. “Halo. “Kalau begitu. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Aku begitu larut dalam lamunan. Rumahnya kosong.

Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. peluh menetes-netes di wajahku. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . menahan tubuhku dengan tangan. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. lalu tertatih-tatih bergerak maju. Beberapa kali aku terpeleset. meninggalkan semua di belakangku. Sinar matahari terasa panas di kulitku. napas terengah-engah. sekali jatuh. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan.Tapi aku menjauh dari semua itu. seperti berlari di pasir basah. Aku merasa sangat lamban. menuju belokkan. Aku berlari. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan.

hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. “Ya.. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. di layar televisi. mengacak-acak rambutku. Ibuku aman. menuju sumber suara. Ketika semakin dekat. seperti yang selama ini kuingat. langkah demi langkah. Ia tak pernah menerima pesanku. ramah. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. Ketika berbelok di sudut terakhir. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. aku bisa melihat tanda di balik pintu. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. berusaha menggapai keseimbanga. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu.” aku menjawab. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Ia masih di Florida. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. rumahku. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. menariknya membuka perlahan. semua kerai jendela tertutup. Dan di sanalah dia. menuju jalan Cactus. Irisnya nyaris hitam. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. kemudian ia tersenyum. Kemudian suara ibuku memanggil. merasa lega. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Aku berusaha mengatur napas. Ia berjalan menghampiriku. Lapangan parkir di depannya kosong. tak perlu merasa takut. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Aku tak bisa lari lagi. “Betapa aneh. aku bisa melihat studio itu. Bella.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. tapi kerai jendelanya tertutup.habisan. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. Ia melihatku nyaris jatuh. Aku mendengarnya tertawa. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. sejuk. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. waktu usiaku dua belas. Mengagumkan.” “Memang tidak. aku tak sanggup bernapas. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. lumayan dekat. karpetnya beraroma shampo. Haus.. Ia memegang remote control. Aku memandang sekeliling. “Bella. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Suatu hari kami ke pantai. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . Ibuku aman. Aku nyaris pusing. terdengar deru suara pendingin ruangan. Dan tiba-tiba aku tersadar. “Maafkan hal tadi. Lama kami bertatapan. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Kusentuh gagang pintunya. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. suaraku lega. memperhatikannya. Tidak dikunci. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. Lantai dansa sebelah barat gelap. Perlahan-lahan aku berbalik. Aku berlalri ke pintu. Aku hati-hati berbalik.

tangan dilipat.” djAnGgo 370 . dan bagiku ia seperti berharap-harap. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel. menatapku dengan sorot mata penasaran. Setidaknya. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. kurasa tidak. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. aku memintanya untuk tidak melakukanya.” Ia berdiri beberapa meter dariku. “Tidak.

Aku sudah siap. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. dan tak diragukan lagi. “Aku senang memanas-manasi sedikit. Kau tahu.. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. sudah lama sekali. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. melebarkan lensanya.” “Hmmmm. begini. tempat aman. manusia lemah ini. Kemudian aku bertanya-tanya. kau tahu.” “Betapa romantis. Kudengar kau ingin pulang. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. surat terakhir. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. pada waktu yang salah. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. Lagi pula. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. tempat yang katamu akan kau datangi. Awalnya. tentu saja. boleh kutambahkan. itu hanya dugaan. Hal seperti itu pernah terjadi. Well.” Ia menghampiriku. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Aku menatapnya ngeri. Victorian mengawasi mereka untukku. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. Tentu saja. “Kuharap begitu. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 . Sejujurnya. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. “Tapi tentu saja aku tidak yakin.” Aku menunggu dalam diam. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Nyaliku benar-benar ciut. aku kecewa. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. bukan?” Aku tak menyahut. Ia mengaturnya beberapa kali. Kau hanya manusia. Edward. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. aku tak bisa bekerja sendirian. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. tersenyum.” Perutku mual ketika ia berbicara. kau boleh menyebutnya indra keenam. setelah berbicara dengan Victoria. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. semua ini sedikit terlalu mudah. “Sebelum kita mulai. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. oh. kelewat cepat. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. tidak terlalu memenuhi standarku. berada bersama kelompok yang salah. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu. tapi kau bisa saja berada di Amerika. Jadi. “Maafkan aku. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. kalau begitu harapan kita berbeda.. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. bahwa kau ada di sini. Jadi. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. ini semua untuknya. “Aku meninggalkan surat untuknya. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. “Sangat mudah.

kabur dariku. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. dan begitu vampir tua itu membebaskannya. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. “Kau tahu. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. makhluk kecil malang. dia membuat gadis itu aman.

Dalam sekejap ia sudah di depanku. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. aku tak bermaksud menyinggungmu. Kacanya hancur berantakan. bagaimanapun.” Aku benar-benar mual sekarang.” Ia maju selangkah lagi. selemah lututku saat itu. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. ya kan?” Aku mengabaikannya.. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. “aku tak mengerti. “Sebagai balas dendam. dengan wajar. “Ya. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . Maaf. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. dan aku bisa melihat di matanya. “Dan aromanya memang sangat lezat. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. Ketika gadis itu membuka mata. Aku tak bisa bernapas. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai.. Aku bahkan tak bisa beringsut. kakinya menginjak kakiku. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula. “Well.” gumamnya pada diri sendiri. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. terkejut. wajahnya penasaran. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. “Tidak. Entakan keras menghantam dadaku.” “Alice. Bunga-bungaan. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. “Itu efek yang sangat menyenangkan. dan pesan kecilku. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. lalu menjatuhkan tangannya. Ia langsung menghadangku. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. suarnya kembali ramah. tapi mereka mendapatkannya. terlalu cepat. Aku tak dapat menahan diri. aku mencoba lari. teman kecilmu. Pada tahun 1920-an. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. tubuhku melayang ke belakang. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Kemudian ia mencondongkan tubuh. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. tapi tubuhku membeku. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. aku menghancurkan si vampir tua.” Ia mendesah.karena pengliatannya. Lututku gemetaran. Perlahan-lahan ia menghampiriku. Ada rasa sakit yang mendekat. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. semakin lebar. suatu kehormatan.. Sempurna. terpapar jelas dan berkilauan. sebenarnya. lalu pergi.” Ia mendesah. Aku mendapatkanmu.. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. memangsaku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu.” desahku. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. kurasa kita selesaikan saja sekarang. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. dan aku khawatir bakal jatuh. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan.

“Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. djAnGgo 374 . dan ia berdiri menjulang di atasku. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. Aku berbalik untuk meraih kakiku. “Tidak!” seruku parau. tersenyum. jangan Edward. Tapi kemudian aku merasakannya. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku.retakan itu sebelum merasakannya. “Tidak. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah.

tanganku terangkat menutupi wajah. djAnGgo 375 . Darah yang mengalir. Aku bisa melihat. raungan terakhir si pemburu. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. membuatnya sinting karena dahaga. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. kini membara dengan hasrat tak terkendali. Aku mendengar. Biarlah segera berlalu sekarang. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. sosok gelapnya menghampiriku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aromanya membuatku mual. Matanya. Mataku memejam. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. dengan cepat menggenang di lantai. Dengan kekuatan terakhir. di tempat pecahan kaca itu menusukku. Terlepas dari tujuan awalnya. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. yang sebelumnya penuh tekad. seolah dari kedalaman air.Selain sakit di kakiku.

djAnGgo 376 .

lebih kuat. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku. Bella? Aku mencintaimu. Aku menjerit. Kemudian. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. Bella. kumohon!” ia memohon. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. lebih dalam. Ada rasa sakit baru. Apa saja. aku tahu. oh kumohon. menjauh dariku. kumohon. terdengar amat sangat djAnGgo 377 .” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat.”.” aku mencoba lagi.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. “Aku tahu. memberitahunya semua baik-baik saja. kemudian. Bella. Suaraku sedikit lebih jelas. dari kedalaman air. Di belakang ratapan itu ada suara lain. aku merasakan sakit yang lain. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. dan sarat amarah.23. “Oh.” Aku mencoba memberitahunya.” “Edward. sekonyong-konyong pecah. “Bella!” si malaikat berseru. Kau bisa mendengarku. suara yang indah. Suara geraman lain. aku bermimpi. Aku diseret naik. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. aku disini. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. “Bella. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku.. itu tidak benar. Karena. “Ya. Kepalaku seperti ditekan. nyaris mencapai permukaan. kumohon. “Dia kehilangan banyak darah. Malaikat tak seharusnya menangis. dan lengkingan kesakitan. Rasanya sakit. Ruangan penuh ancaman.” rengekku. dan aku tak bisa bernapas.” “Sakit. lebih ganas. sekaligus mengerikan. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. “Edward. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. tersengal keluar dari kolam yang gelap. kumohon! Bella. “Bella. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. Aku mencoba menemukannya. Kemudian aku tahu aku sudah mati. membahagiakan. “Hati-hati kakinya patah. “Carlisle!” si malaikat berseru. tidak. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. Bella. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. tidak.. Aku ingin mengatakan ya. gelegar amarah yang mengerikan. Bella. Aku tak bisa memahami diriku sendiri. Ini tidak mungkin surga. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. dengar. tidak.” suara tenang itu memberitahuku. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. kau akan baik-baik saja. “Bella.

“Dia disini. Alice. dia tahu dimana menemukanmu. Tenangkan dirimu.. rasa sakitnya akan berhenti.ketakutan. Carlisle akan memberimu sesuatu.” Carlisle berjanji.” djAnGgo 378 .” “Tanganku sakit. “Aku tahu.. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku. Bella.” aku mencoba memberitahunya. “Alice?” erangku. itu akan membantu.

Akhirnya. kau harus melakukannya. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. Lukanya cukup bersih. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Aku membukanya. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. “Mungkin ada kesempatan. Bella.” sahut Carlisle.” kata Carlisle. Api itu lenyap.” Itu suara Alice. “Tidak!” ia berteriak. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. aku.” “Ya. Dan aku melihatnya. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang. Aku tahu mataku kembali terpejam. “Aku tidak tahu. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. “Dia disini. atau akan terlambat. Edward... “Edward. Aku tak dapat melihat wajah Edward. perlahan. Namun mereka bisa. Aku mendengar suara Alice. Aku mendesah bahagia.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. melainkan terkejut.” Wajah Edward tampak lelah. “Itu keputusanmu. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. apa pun itu. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. “Edward!” jeritku. membereskan luka di kepalaku. “Apa?” Edward memohon. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. akhirnya terbebas dari kegelapan.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat.. tapi tak dapat mendengar suaraku.” Saat Carlisle bicara.” Suaranya tegang. Rahangnya mengeras..” Suara Carlisle tak lagi tenang. “Alice. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. “Edward. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. aku pun tenang.” Edward ragu. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. begitu putus asa menemukan wajahnya.” “Tinggallah.” aku mencoba bicara. didekat kepalaku. Edward. tinggallah bersamaku. Kemudian.” “Carlisle. berusaha menenangkan diri. “Alice. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. menahannya. tapi terselip nada kemenangan disana. kau harus melakukannya sekarang. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. Aku harus menghentikan pendarahannya. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Aku tak bisa menolongmu. aku akan bersamamu. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. bibirnya yang dingin menekan kulitku. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana. “Edward. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.” aku mengerang. mataku perlahan-lahan membuka. “Tapi kita harus bergegas. saat tanganku mati rasa. Awalnya rasa sakit itu semakin parah.“Tanganku terbakar!” aku berteriak.

rasa kantuk yang melanda diriku. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya.” kata Edward pelan. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh. “Darahnya bersih.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. djAnGgo 380 .

“Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah.” Edward menenangkanku.” desahku. letih karena perasaan lega.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar.” aku menghela napas. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida. melayang-layang. djAnGgo 381 . “Bella?” Carlisle bertanya lagi. Alice.” aku menambahkan. “Aku mencium bau bensin. “Aku tahu.” kata Carlisle.” “Aku mencintaimu. videonya. meringkuk didadanya. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. Dia menonton video rekaman kami. aku akan menggendongmu. “Tidak. tapi suaraku lemah. “Alice. Dan akupun berada dalam pelukannya. Tapi itu membuatku teringat. rasanya sangat lelah.” Aku mencoba membuka mata. aku ingin tidur.” aku menolak. semua sakitnya hilang. aku ingin tidur. Edward. “Kau bisa tidur. “Alice. dia tahu darimana asalmu.” jawabnya. “Dia mengelabuhiku.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga. Edward. Bella. Sayang.” aku mendesah. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. “Sekarang tidurlah. “Sudah saatnya memindahkannya. Dahiku berkerut. “Terima kasih.Aku berusaha menjawabnya. dia tahu tentang kau.

djAnGgo 382 .

“Aku nyaris terlambat. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Ia langsung tahu maksudku. djAnGgo 383 . “Kakimu patah. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. sesaat aromamu jadi berbeda. ruang putih.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya.” Ia berhenti.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. “Oh. suaranya terdengar menyesal.” “Tidak. di rumah sakit ini. di sini.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk.” ia menyuruhku diam.” ia berbisik. “Jangan. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. aku menyukai aromamu yang asli. Edward. beberapa bagian tengkorakmu rusak.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku. Aku bisa saja terlambat. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.” “Dia mengelabuhi kita semua. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. Aku tidak menyukainya. Kupikir dia menyandera ibuku. Edward. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. “Edward?” Aku menoleh sedikit. Ibuku ada di sini. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. “Alice sudah telepon mereka. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus. Aku berada di ruang yang asing. di bawah hidung. Dia sedang mencari makan.24. well.” Edward berjanji.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. itu mungkin saja terjadi. tapi kepalaku semakin pusing. “Sebentar lagi dia kembali.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. “Aku bodoh sekali. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. memar hampir di sekujur tubuh. “Sekarang semuanya baik-baik saja. dengan besi pengaman. dan kau kehilangan banyak darah. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. “Aku tak yakin.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. “Dan kau belum boleh bergerak. cahaya terang menyilaukan pandangan. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. Mereka memberimu transfusi. di atas kepalaku. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. begitu juga empat rusukmu. kakiku bengkak. “Harus kuakui.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. tidak boleh. Renée ada di sini. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali.

” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum..” ia berbisik. Tapi aku melakukannya. untuk berhenti. setengah tersenyum. “Aku harus mencintaimu. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. bahkan.” Akhirnya ia memandangku. “Mustahil.Aku menunggu jawabannya dengan sabar.. Dan itu membuat wajahku terasa sakit. “Rasanya mustahil. “Lebih baik. lebih baik daripada yang kubayangkan.” djAnGgo 384 .

Kuputuskan untuk mengubah topik.” kata Edward.” “Kau takkan membiarkanku pergi.” “Dan Alice dan Carlisle. tapi sesuatu menghentikanku.. memalingkan pandang.” ia menimpali dengan geram. itu sebabnya dia tidak ingat. “Jarum. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana.. dia langsung lari menemuinya. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. Tapi jarum infus. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. kau tahu. dahinya kembali mulus bak pualam.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. “Ya. perhatiannya teralihkan.” aku meminta maaf lagi. sambil menggeleng. “Ada apa?” tanyanya waswas. “Takkan kubiarkan.” “Memang tidak. tapi wajahnya kelam oleh amarah. tentu. “Mereka juga menyayangimu. kemudian meringis. Aku merinding. Ini membingungkanku. “Aku tahu kenapa kau melakukannya. “Oh. ngeri membayangkannya. “Dari semua yang perlu dimaafkan. Kau seharusnya menungguku. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. maksudku. Ia menatap langit-langit. “Ada apa.” aku bertanya-tanya. samar-samar menguarkan kebencian. “Bukan. “Auw. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati.” “Ya. darahmu berceceran di mana-mana. kemudian kepedihan terpancar di matanya. tapi hanya sedikit.” Suara Edward tenang.” “Aku tahu.” aku menjelaskan. mengingatkanku akan sesuatu. Edward langsung waswas.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.” Suaranya berubah kelam. Ia menatapku.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal.” “Tapi kau tetap tinggal.“Maafkan aku.. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali.” ujarku menyesal. pertama bingung.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk.” Suaranya menenangkan.. melihat kantong transfusi menahan tanganku. tidak masalah. “Takut jarum.” “Maafkan aku. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 . Emmett dan Jasper membereskannya. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku. Aku memahaminya sekarang.” Aku memutar bola mataku.. kau tetap tinggal. “Alice tak pernah mengerti.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice.” “Mereka harus meninggalkan ruangan.” Aku meringis.. Aku memandang ke bawah. seharusnya memberitahuku.” “Oh.

” djAnGgo 386 . “Kau setuju menemuiku.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya.untuk berbicara dari hati ke hati... well. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks. tentu saja aku kesini ditemani orangtua. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas. kau tahu kelanjutannya. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice.” ia menambahkannya lugu.

aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut.” aku mengeluh. “Dia tak pernah pergi. “Mom!” aku berbisik. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri.Aku memikirkannya beberapa saat. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. “Bella. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. tidak apaapa. “Jangan tinggalkan aku. matanya masih terpejam. meskipun teramat lembut. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. Ia menarik diri. misalanya. dan ia mengintip dari sana. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat. Ia tertawa. “Mom.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. untuk menenangkannya. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku.” aku mencoba menenangkannya. “Ini bakal memalukan. Posisinya diam tak bergerak.” ia berjanji. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. Setelah semua diatasi. Aku tak bisa membiarkannya pergi. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. djAnGgo 387 . “Jangan buat aku pergi menghampirimu.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. Aku bisa mendengar ibuku sekarang. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu.. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. tersenyum. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. suaraku penuh sayang dan lega. Tapi kemudian bibirnya menegang. Monitor langsung bergerak kacau lagi. Tak ada jendela yang pecah. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya.” aku berseru. aku jadi penasaran. lalu berbaring dan memejamkan mata. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi.” katanya. “Jangan lupa bernapas. dan tatapannya mengira-ngira. Ia sedang berbicara dengan seseorang. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan.” Dahinya berkerut. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali. Mom. “Kurasa aku mendengar ibumu.” gumamku pada diri sendiri. dan ia terdengar lelah dan sedih.” “Tidak juga. “Aku belum selesai menciummu. kemudian tersenyum. Tapi sekarang semua baik-baik saja. “Aku akan tidur sebentar.” Ia mencondongkan tubuh perlahan.” katanya. Terdengar suara pintu berderit. kami membuatnya sangat meyakinkan. mungkin perawat. bunyi bip itu mendadak berhenti.” Ia tersenyum. Ia menarik napas panjang.” bisikku sinis. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. meyakinkan semuanya baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Ia langsung tersentak. “Hmmm.” ia berjanji. sungguh-sungguh. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar.. “Aku takkan meninggalkanmu. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.

kau tak sadar cukup lama. Sayang. Aku mencoba mengingat hari ketika. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa... tapi aku tak ingin memikirkannya. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu. Sayang. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat. luka-lukamu parah sekali.” “Aku tahu. djAnGgo 388 .” Ia duduk di tepi tempat tidur.” Aku bisa merasakannya.” “Jumat?” aku terkejut.“Aku senang akhirnya kau tersadar.

” Aku meragu. kau tidak menyukai Forks. karena bagian itu tidak diperban.” “Tapi kau tak perlu lagi. dan aku punya beberapa teman cewek”. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. Ide ini tak terbayangkan olehnya. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. “Aku ingin tinggal di Forks..” Aku tersenyum. sekolah. Charlie. Mom. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. Mata Edward masih terpejam.” kataku. tapi mata Mom mengamati wajahku. kau percaya?” “Itu hebat. salju dan semuanya. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. Cullen ada di sana. Dia gadis yang menyenangkan. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. Dia sebatang kara disana. kemudian mengerang. Tangannya bergerak ke sana kemari. “Tidak terlalu buruk. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan..” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward.” ia mengingatkanku. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. Mata Edward berkilat menatapku.” aku menimpali sepenuh hati. kali ini benarbenar disengaja. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville.” “Mom.. “Tidak apa-apa.” “Memang. Dan dia lebih mirip model daripada dokter.“Kau beruntuk dr.. Dia baik. aduh!” Aku mengangkat bahu. kembali menghadapku. Lalu matanya kembali melirik Edward. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. oh. kami sudah sering membicarakannya. berusaha terdengar bersemangat. tunggu sebentar!” selaku.” aku meyakinkan mereka. Aku hendak berbohong. dan kelembapannya tak seburuk itu. jadi aku mencoba alasan lain. dasar bodoh. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. ” “Mom. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns. Aku tinggal di Forks. heran. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. Alice. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . dan teras persis seperti di film-film tua. Ia menaruh tangannya di dahiku. dan pohon ek raksasa. lalu memandangku dan Edward bergantian. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. Mom. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat.” Edward kembali pura-pura tidur. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. “Bella.” ia tertawa. dan dia sama sekali tak bisa memasak. Sayang. “dan Charlie membutuhkanku. “Kenapa?” “Sudah kubilang.” Ia merengut. warna kuning dengan bingkai putih. “Di Florida. Ia menoleh ke arah Edward. meskipun masih sangat muda. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. Bukan ide bagus.

“Tentang apa?” tanyaku.” Uh-oh. “Ya. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. memandangi Edward yang diam tak bergerak. “Dia salah satu alasannya. djAnGgo 390 .disana. Tak perlu kuakui.” aku mengakui. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku.” Ia bimbang. dialah alasan terbesarku.

. dan. “Kau tegang. Kau ingat dulu kau menari di sana. Aku mendesah.” “Aku akan segera kembali. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. berusaha menjaga suaranya tetap pelan.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu.” “Kejahatan?” tanyaku kaget. “Aku juga berpikir begitu. Aku tak tahu kau akan segera sadar. menepuk-nepuk tanganku yang diperban. kemudian pergi.” Nah. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. dan aku tidak suka berada di sana sendirian. “Aku akan kembali malam ini. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. aku takkan menyadarinya. ya Tuhanku. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.” Aku bergidik dan meringis ngeri. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku.. Edward langsung berada di sisiku. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat. kalau kau membutuhkanku. Aku cuma naksir. sejauh yang bisa kuingat.” Suaranya terdengar ragu-ragu. aku tak ingin kehilangan dirimu.. “Aku tahu itu. bangga pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan sendirian. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi.” ujarku. langsung senang.” “Aku baik-baik saja. Sayang?” “Aku ingat.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka.. Kemudian ia mendesah.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. “Well. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini. Mom. “Aku terlalu tegang. “Aku bisa tinggal.” “Tidak. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.” aku meyakinkannya. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. dia kelihatan sangat baik. Mom. djAnGgo 391 . aku akan baik-baik saja. memalingkan wajah.” Mata Edward tetap terpejam.. Bella. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku.” tuduhnya. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya.” “Tidak apa-apa.” ia menimpali.. dia luar biasa tampan. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya. “Benar. Mom. Aku tidur di sini. tapi kau masih sangat muda. Sayang. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. “Aku cukup tergila-gila padanya. “Aku sayang kau. Dia akan ke sini sebentar lagi. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. Mom mengecup dahiku. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah. Sayang.” aku menenangkannya. “Oh. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. Bella.” ia mengakui malu-malu. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. Mom.” ujarnya. Edward akan menemaniku.” Begitu perawat menutup pintu. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. kau tahu. Jangan khawatir. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari. Mom.” “Aku juga sayang kau.

sama sekali tidak menyesal. “Apa?” djAnGgo 392 .” Matanya menyipit.Ia tersenyum. “Menarik. “Mobil bagus.” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. lajunya sangat cepat.

“Tidak..” ia menjelaskan. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. “Aku tidak membutuhkan apa-apa.. Bella. meskipun. Rusukku nyeri. “Aku bersumpah.” gumamku. aku merasakan nyeri di dadaku. seperti vampir sejati. lalu pergi. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.” ia berjanji. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap. sebelum beralih ke monitor. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. rasa sakit yang jauh lebih parah. tenanglah. “Bella. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. “Sssstt. mengancam menghancurkanku. Kurasa djAnGgo 393 . Kupikir Florida. dan ibumu.” aku memohon. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. tidak.Ia menunduk ketika menjawab.” Ia memandang Edward serius.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. kupikir itulah yang kau ingingkan.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Baiklah. well. “Aku terkejut.” ia mendesah.” Ia membelai wajahku hati-hati.” Aroma napasnya menenangkan. kau perlu beristirahat.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. “Lebih baik?” tanyanya. “Aku takkan kemana-mana. lebih mendekati hitam daripada keemasan. “Aku takkan meninggalkanmu. Lalu wajahnya serius. Matanya lebar dan serius. tapi aku hanya menggeleng. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas.” “Jangan tinggalkan aku. Sayang. sambil menepuknepuk kantong infus. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu.” sahutku hati-hati. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. Matanya berwarna gelap. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. “Ya. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih.” Tapi jantungku tak mau tenang. saat napasku semakin liar.” Ia nyaris tersenyum.” Ia menunggu. Bella.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. “Aku akan tinggal di Forks. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. tapi tidak juga. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku.. suaraku parau. Sayang?” tanyanya ramah.. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Ia tidak mengatakan apa-apa. “Tak perlu berpura-pura berani.

” Aku merengut. menjaga suaraku agar tidak gemetaran. “Alasan aku berada di sini. Yang benar saja. tentu saja tidak. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak.” “Nyaris.aku memilih kata ‘overreaction’.” djAnGgo 394 .” “Ya. Bella. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak.. aku tak ingin tanpa dirimu. kaulah penyebabnya. hidup-hidup. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu. bahwa akulah alasan kau berada di sini..” ia berbisik. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. bereaksi berlebihan.

. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward. Kepanikanku nyaris tak terbendung. mulutnya seolah dipahat dari batu. Tatapannya tajam.” kataku. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. “Kenapa?” ulangnya hati-hati. entah itu akan membunuhmu atau tidak.” ia melanjutkan berbisik. terbaring di lantai. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa.” “Tapi kau tidak membunuhku.” Meski begitu ia tidak berjanji. Kalau bukan karena kau. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir... Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. dingin.. aku sudah membusuk di pemakaman Forks.. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. Raut wajahnya lembut... “Kau telah menyelamatkanku.” Ia meringis mendengar kata-kataku. djAnGgo 395 .. kemarahannya mereda. Lubang hidungnya kembang-kempis. Ia tidak akan menjawan.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. “Kenapa kau melakukannya. “Apa?” “Kau tahu maksudku.” Aku tahu aku harus tetap tenang. sekarang aku mau tahu kenapa. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini.” ia menambahkan dengan kasar. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini.” “Aku bisa saja. Semudah itu. yang paling parah adalah merasa. kau boleh pilih. itu sangat jelas. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.” desakku.” Aku mulai marah sekarang. itu bukan yang terburuk. Ia terkejut.” aku berbisik.” Suaranya tercekat.... marah. “Berjanjilah padaku. “Bagus.. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. lalu meletakkan dagunya di sana. meringkuk dan terluka. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan. “Aku sedang memikirkan yang lain.” katanya pelan. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya.” kataku..” Mata Edward sepertinya berubah hitam. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. fakta itu tak terlewatkan olehku. Bukan. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. dan aku ingat.. mulai jengkel. jadi kurasa kau akan menemukan caranya. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. “Meski begitu. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu. “Tapi kelihatannya masuk akal. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain.. dan rasa panik mencekat paru-paruku. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. mencoba melepaskan diri. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.

aku tidak berharap begitu.” Suaranya lembut.” aku berkeras. “Aku juga ingin jadi Superman. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak. dan aku masih tidak yakin. kau tidak tahu.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta.” Ia berhenti sebelum melanjutkan. “tapi hidupku sudah berakhir. “Kurasa aku tahu.” “Bella.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.” djAnGgo 396 . Aku tidak menyerahkan apa pun. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini.

“Itulah yang mestinya terjadi.’ Dan aku tidak mempercayainya.” “Bukan masalah. Ia membuka mata. Lebih baik begitu.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan.seharusnya bukan apa-apa. mengambil uangnya.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat. Aku takkan melakukannya padamu.. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere.” Aku mendengus. Yakin. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. Dan aku akan menjadi tua.” tukasnya. Yang seharusnya terjagi.” Aku semakin baik dalam hal ini. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka.” Aku menatapnya geram. tapi suatu saat. dia terbiasa hidup sendirian. Dan Charlie lebih fleksibel.. Wajahku memucat. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. Aku menutupnya lagi. Dan rasa sakitnya?” tanyanya. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. dan ia balas menatap.” “Sungguh. Aku membuka mulut. “Aku mungkin takkan mati sekarang. Sama sekali bukan masalah. “Itu masalahku. djAnGgo 397 . Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. setelah itu .” “Kau keliru. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya.” “Aku bukan hadiah lotere. Meski begitu ia sangat tenang.” Sekarang ia cemas. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. “Tentu saja kau akan sembuh. “Itu bodoh. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi.. Aku menatapnya.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya.” kataku pelan. “Aku bakal mati. Ia menunggu.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya. tapi tak ada suara yang keluar. Aku melihatnya berusaha menekan amarah.” ia mengingatkanku. dan aku seharusnya tidak ada.” kataku. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. Bella. Tiga hari. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. api dalam nadiku.” geramnya. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. matanya terpejam.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. itu juga bukan masalah.” “Tepat sekali. Aku tak bisa menahannya. “Aku takkan sembuh. Paling lama dua minggu. Bella.“Kaulah hidupku. dia ingin aku melakukan yang sama.. “Aku bisa mengatasinya. terkejut.” aku berkeras.. dan berkata.” Ia menatap geram padaku. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar. ‘Begini. “Aku tak bisa melakukannya. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi.. atau kurasa beberapa hari yang lalu. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada.. “Tidak. “Begini saja. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba.” gumamku akhirnya.” Kerutan di dahinya semakin dalam.

” djAnGgo 398 .” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.“Benar. kita tidak akan membahasnya lagi. “Bella. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung. dan inilah keputusanku. Kau jauh lebih baik.

” katanya pada djAnGgo 399 . Selama kau senang karenanya. “Itu berarti selamanya. Akhirnya ekspresinya melembut. mengabaikan rasa sakit di pipiku. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding.” Ia menggapai tombol. “Aku tidak percaya.” “Oh.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Aku tidak mau tidur lagi.” ia memberitahuku. “Aku akan menyuruh perawat ke sana. “Aku takut memejamkan mata. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. Ia tertawa dingin. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan..” Kemudian ia tersenyum simpul. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.” “Jadi menyerahlah. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. “Alice sudah melihatnya. aku takan pergi ke mana-mana. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. “Jangan!” Ia mengabaikanku.” Mataku menyipit. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.” gumamku. kau akan melupakannya. tetesan. bunyi bip. “Jangan kelewat berharap. berarti kau tidak mengenalku. “Aku takkan meminumnya. itu membuatku pusing. Kau benar-benar keras kepala. tahu.” aku mengingatkannya. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. “Aku baik-baik saja. Ia melihat ketakutan di mataku. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” “Itulah hal terindah menjadi manusia. “Segala sesuatu berubah.” “Kau harus beristirahat.” “Aku tidak takut jarum. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. suatu hari nanti. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.” Aku menggeleng tak percaya. tapi itu juga tidak terjadi.” “Dia keliru.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya. Jangan khawatir.” Aku balas tersenyum. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. Dia juga melihatmu mati. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. ya kan?” Aku mencoba menebak. kau sakit.” katanya lembut..” Aku mendesah.“Kalau kaupikir ini akhirnya. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” Suara itu terdengar bosan.” aku menyarankan. kau cuma naksir aku. “Sudah kubilang.” katanya tenang. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.” Lama sekali kami bertatapan. “Auw.” Matanya kembali kelam. “Bella. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.” aku berjanji. dan detak jam besar di dinding. “Usaha bagus.” gumamku. “Permisi. “Alice takkan berani. aku akan di sini.” aku berbohong. dan mendesah putus asa.” Detak jantungku mulai memburu.

Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan.Edward. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. “Nah. ini obatnya. masih waswas. Sayang. bersandar di dinding. Ia bersedekap dan menunggu. Aku terus menatapnya. Ia menatapku tenang.” djAnGgo 400 .

.” gumamku.” gumamku.” “Aku tahu.” gumamku datar. Ia tahu apa yang kucari. Ia tertawa. Hanya sebentar. saat kelopak mataku mulai memejam.” ia berjanji.” desahku. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan. “Terima kasih. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.” gumamnya. “Sudah. “Aku akan ada di sini. “Aku mencintaimu. “Tinggallah.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya.” bisiknya. “Aku juga. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. “’Tu tidak sama. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku. “Sama-sama. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku. jangan khawatirkan itu. Aku menoleh sedikit. “Seperti kataku. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. tapi terlalu berat. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku.. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. djAnGgo 401 . mencari.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. selama ini membuatmu bahagia. “Kurasa sudah bereaksi. selama ini adalah yang terbaik untukmu. Bella. bagai nina bobo. Kemudian aku pun tertidur.”Kata itu nyaris tak terdengar.” ia tertawa pelan.“Terima kasih. Suaranya indah.

djAnGgo 402 .

ia teramat bersyukur dan berterima kasih. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas... dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. bahkan dalam pikiranku sendiri. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. ia menyelinap ke jok pengemudi. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami. aku tidak akan meninggalkan rumah. Itu yang tak dapat kusangkal. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. Atau sepatu yang kukenakan. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. sebab kalau bukan karena Edward. Charlie.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi.” sahutnya hati-hati. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. Kaciuali. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi.. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. bukan?” ujarku. aku yakin itu. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. jam berkunjung. “Sudah. djAnGgo 403 . Terhadap Charlie. warna biru gelap.. Perhatianku teralih dering telepon. dan tanpa lengan. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. Charlie. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti..” Ia tersenyum mengejek.” Ia tersenyum. dan aku tercekat. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. “Charlie?” Dahiku berkerut.. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. serta tongkat berjalanku. berimpel. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. “Halo. Sepatuku hanya satu. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. Aku benarbenar tidak suka kejutan. Setelah aku duduk nyaman. Dan ia tahu itu. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya.

Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. ini Edward Cullen. “Halo. “Kau bercanda!” Ia tertawa. Ia menunggu sebentar. Ia mengabaikanku. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya. tapi hanya di permukaan. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . “Biarkan aku bicara padanya.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya.” saran Edward.” Suaranya sangat ramah. Tyler. “Ada apa?” desakku. kegembiraannya tampak nyata.

” Aku mengabaikan kata-katanya.. “Ini benar-benar konyol. “Karena aku marah!” “Bella. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. benar-benar jauh melenceng. Ia menunjuk tuksedonya. bingung. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain.” Nada suara Edward berubah. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. Sekarang semua sudah jelas. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. Nasib burukku belum berakhir.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata.” Bibirku mencebik. “Apa?” gumamku. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. Ia terkejut melihatku.” ia mengakui. “Sungguh.” desaknya. senyum lebar menghiasi wajahnya. “Baiklah. yang berkembang di hatiku seharian ini. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya.. “Hmmm. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. setiap malam. Juga karena kecurigaan samar. Jangan tersinggung. Bella. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. itu sudah jelas. Tanganku tidak hitam ketika kutarik. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. Aku menyerah. dan Rosalie. dan Emmett. Bella.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara.” Aku menoleh ke luar jendela. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku. Kemudian ia menutup telepon. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. “Ayolah.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. “Jangan mempersulit keadaan. djAnGgo 405 . “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. Tapi nanti akan kaulihat.mengerikan mulai terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu. Pertama. “Aku akan ikuti maumu. “Bersama Jasper. Air mata kemarahan menetes di pipiku. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. sebenarnya harapan. Tapi prom. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya.

reaksi manusiaku sangat menghiburnya. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. Emmett senang berada di dekatku. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan...Perasaan tenang itu langsung lenyap. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. terpikir olehku hal lain. atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. djAnGgo 406 . menurut dia.

kau seberani singa. Hari ini langit berawan tipis. well . aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu.” djAnGgo 407 . pestanya berlangsung di ruang gym. “Tentu saja. Ia mengulurkan tangan. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. tentu saja aku bersama kelompok vampir. prom diadakan di ballroom hotel. Ia bisa melihatanya di wajahku. Aku takkan pernah melepaskanmu. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. Ia mendesah. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. tiba-tiba curiga. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. termasuk diriku sendiri. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. tempat Charlie tak bisa ikut campur. kelihatannya Tyler tidak.” Aku melihat ke arah lantai dansa. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. bahkan tidak dirimu sendiri.” Ia tersenyum enggan.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. meskipun ia praktis menggendongku. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Penampilannya sungguh di luar dugaan. ya Rosalie.” Ia nyengir.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik.” katanya lembut.. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi. Di sini. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Aku tak bergerak dari tempat duduk. “takkan seburuk itu. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Edward dan aku tak terpisahkan. aku janji. Ia tetap memelukku erat-erat. bagian tengah lantai tampak lenggang.. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. Di Phoenix. Ketika kami sampai di dalam. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. Di sekolah. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. lalu tergelak. diam-diam berpuas diri. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. Berdansa. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. “Bella. sudah. “Oh.. Kami sudah di sekolah sekarang. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil. tangan terlipat.” olokku. Dan Rosalie.” Ia menggeleng. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.” Kugertakkan gigiku. “Sudah. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. Aku menelan liurku. “Well. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai.. “Meski begitu.

boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri. dan menyeret kakiku.“Apa pun. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan. djAnGgo 408 .” Ia membayar tiket kami. kemudian membimbingku ke lantai dansa. hingga aku hanya bisa berbisik.” Tenggorokanku benar-benar kering.” ia mengingatkan. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. “Aku punya waktu semalaman. Kupeluk lengannya. “Edward.

“Aku bisa. “Terima kasih. Melihat ekspresi Edward tadi. Edward hanya mengangguk. Wajah Edward tenang. ekspresinya hampa. sedikit malu-malu. sesaat menarikku lebih rapat. mengangkatku. “Jaga sikapmu!” desisku. “Jadi. Bella. aku memang berharap kau ada di sini. “Dia ingin mengobrol denganmu. Suara Edward terdengar sinis. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. “Hai. sedikit.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. teramat sangat tidak nyaman. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. aku bisa menduga jawabannya. Kemudian kami pun berdansa. kini aku merasa kasihan pada Jacob. Itu bagus juga.“Jangan khawatir. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. dan tak seimbang. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Jacob Black.” kata Jacob ramah. lalu mundur selangkah. “Seratus delapan puluh lima senti. aku balas tersenyum padanya. Aku mengikuti arah pandangannya. “Well. “Kau percaya. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya.. Jake. “Ya. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. “Yeah. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu.” Aku balas tersenyum. Sebagai gantinya. bodoh. “Hei. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Edward mengeram sangat pelan. “Oke. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. “Tapi ia sudah bersama seseorang.. kuharap setidaknya kau menikmatinya. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. aku percaya.” gumamku. Tapi senyumnya tetap hangat. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. tidak fokus akibat berputarputar.” ia mendesah. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . Ia berjalan menghampiri kami. “Wow. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. jangkung.” ia balas berbisik. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. Jacob. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. memandang Edward untuk pertama kali.” aku mengakui.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang.” Jacob sampai di tempat kami. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga.” gumamnya. ini tidak terlalu buruk.” Kami tidak benar-benar berdansa. wajahnya tampak marah. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri.

“Omong-omong.” ia menambahkan malu-mal.sama berpaling. kau cantik sekali. merasa jengah. djAnGgo 410 .

” Aku ikut tertawa. ini kedengarannya buruk sekali. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu. “Katanya. Ia memalingkan wajah. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. “Begini. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. bahwa. meskipun tangannya masih di pinggangku.” “Aku tahu itu. hhh.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.. tapi. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. tapi hanya supaya kau tahu”. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. “Lagi pula.” Ia menggeleng jijik. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. “Kalau begitu. Dia tidak percaya. merasa malu. “Dia menyuruhku memberitahumu. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. “Pikirnya. djAnGgo 411 .” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.” Ia menggeleng. “Aku terjatuh. meskipun aku tahu jawabannya. Jacob. Jacob. Jacob. Dia memintaku untuk memohon padamu. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. “Dia masih percaya takhayul. kecewa. Jacob tak berani menatapku. Jake.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. kalau aku mengatakan sesuatu padamu.. dia ingin kau putus dengan pacarmu.” Aku balas tersenyum. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya. Aku tertawa keras-keras. Ia masih tampak canggung. ‘Hei. aku pasti sudah mati.” olokku..” desakku. bukan.” aku meyakinkannya.” “Well.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. dan terlepas dari janjiku. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy. ya kan?” “Yeah.. ini bodoh sekali. Beritahu aku. bukan aku”. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah.” Itu bukan pertanyaan.” gumamnya. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. Jacob berpaling lagi. namun lemah..” gumamnya. “Lupakan saja. “Kami akan mengawasi. eh?” “Yeah. Dia.” “Aku tak peduli. sementara wajahnya sendiri datar.. sekali lagi merasa jengah. “Jangan marah. katakan saja padaku. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya. aku merasa marah. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. katanya.” Jacob menyahut. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini.” “Aku tahu. “Oke.” aku meminta maaf. trims.. Jacob. “Katakan saja. memperingatkanmu. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. Bella. dia memandangku sekarang. dan tanganku melingkar di lehernya. Mataku menyipit. “Setidaknya. Katakan saja apa yang harus kaukatakan. “Ini buruk sekali.” ujarnya. dan ini kata-katanya. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. maafkan aku. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia.“Mm.

haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. dan kulepaskan lenganku dari lehernya.” Ia tertawa lega. “Tidak. “Bilang padanya aku berterima kasih.” Musiknya berhenti. Aku tahu dia bermaksud baik.“Aku tidak terlalu keberatan. “Jadi. djAnGgo 412 .” desahku. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku.

kerutan di wajahnya semakin nyata. yang sedikit lebih pendek daripadanya. “Dia menyebutmu cantik.Tangannya masih di pinggangku. “Tidak apa-apa. sambil terus memelukku erat di dadanya. Aku yang mengambil alih. Bulan telah muncul di langit. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben.” “Aku tidak marah pada Billy. itu bisa dibilang menghina.” “Kurasa tidak. aku memaafkanmu. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya.” katanya singkat. bingung.” Aku tertawa. “Kalau begitu. aku tidak melihatmu di situ.” desahku. Wajahnya sangat serius. Tapi ada hal lain. “Kau mungkin sedikit memihak. melambai dengan setengah hati. Lee. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Samantha. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. dan Conner menatap kami geram. Ia duduk di sana. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” Kami kembali berdansa. sampai ketemu.” ia meralat tajam. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. Bukan apa-apa.” Ia melangkah mundur. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. Jessica melambai. Well. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Lagi pula. dan ia memandang kakiku yang digips. Ia menunduk menatapku. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku.” gumam Jacob. “Merasa lebih baik?” godaku. Kemudian kami sampai di luar. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat. Ia setengah tersenyum. merasa senang. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. Begitu kami sendirian. Mulutnya tegang. djAnGgo 413 . “Jangan marah pada Billy.” Aku menatapnya tidak mengerti. Aku tersenyum. “Tidak juga. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. “Hei. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. matanya resah. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. Angela juga aga di sana. “Yeah.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. tampak jelas di antara awanawan tipis.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. Lauren. “Jadi.” ia menjelaskan.” “Maaf. Kau lebih dari sekedar cantik.” Wajah Edward cemberut. aku punya daya lihat yang sempurna. Aku menunggu dengan sabar. Bella. “Oh. sampai ketemu. “Mengingat penampilanmu saat ini. dan aku balas tersenyum padanya. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Jacob.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. “Intinya?” aku memulai dengan lembut.” “Terima kasih.

” gumamku setengah mendesis. menatap bulan. “Twilight . Ia mendesah. akhirnya menjawab pertanyaanku. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari.” katanya pelan.” “Beberapa hal tak perlu berakhir.Ia mengabaikanku. lagi. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. langsung tegang.” gumamnya. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. “Aku membawamu ke prom. toh harus berakhir juga. “Akhir yang lain. kalau aku bisa djAnGgo 414 .

Kucibirkan bibirku. ragu-ragu. “Kaupikir itu sejenis acara resmi.. aku penasaran. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku.. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.. “Aku tahu.. Kumohon. aku langsung menyesal.. kemudian ia tampak senang.” ia menimpali.” desaknya. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah.” ia memulai. “Kau siap mengakhiri ini semua. Ia menunggu dalam diam. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. “Aku tahu. senyumnya memudar. menunduk. memainkan chiffon-nya. “Aku tidak ingin memberitahumu. Ia menatap bulan dan aku menatapnya.. nyaris kepada dirinya sendiri.” Ia menghela napas dalam.membuatnya terjadi. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku.” “Kau sudah berjanji. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. acara istimewa. kau benar. “Tidak.. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai.” ia menyetujui.. ini tidak lucu. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. “siap menjadikan ini akhir hidupmu.” Beberapa saat kami terdiam.” “Itu karena aku bersamamu... “Tidak lucu tahu..” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. aku menduga itu semacam. “Tepat. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. “Aku masih ingin tahu. menatapku seraya tersenyum simpul. Kugigit bibirku dan mengangguk.” selaku.” Ia masih nyengir.” Aku mendesah. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom. Aku memandangi gaunku.. sedih.” Aku bergidik mendengar kata-katanya. Ia tersenyum sekilas. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku.” gumamnya.” aku buru-buru mengaku. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.” tukasnya keberatan. lalu menggeleng marah.. “Well . tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Aku kan tidak tahu. atau sedih. prom!” ejekku. bahwa kau akan merubahku. akhirnya. Ia memilih kata kuncinya. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. Kau siap djAnGgo 415 . Ia menunggu. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya. tersenyum.” kataku.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. “Baiklah.” “Tapi aku memang serius.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. “Manusia?” tanyanya datar. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. “Oke. “Kurasa itu akan membuatmu marah. daripada percaya bahwa kau serius. Aku ingin kau menjadi manusia .. “Memang.

” katanya sedih. satu alisku terangkat. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku.” djAnGgo 416 .” “Aku tahu siapa diriku.merelakan semuanya.” sergahku. “Aku tidak pantas mendapatkannya. suaraku berbisik. “Kau sama butanya denganku.” “Ini bukan akhir. ini baru permulaan.

“Aku akan tinggal bersamamu. itu cukup. “Seorang gadis boleh bermimpi. ya. “Bella.” Dan ia pun membungkuk lagi. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu.” Alisnya terangkat. Kusentuh wajahnya. Ia menghela napas. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya.Aku mendesah.. Aku sudah membuat keputusan ini. jadi suaraku tidak terdengar parau. cemberut mendengar pilihan katanya. “Cukup untuk selamanya. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga. “Ya?” Ia tersenyum.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. kedua tanganku mengepal. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. napasku tak beraturan. Wajahnya memang kelihatan kecewa.” Ekspresinya berubah. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. melembut. dan aku yakin.” bisikku. “Untuk sekarang. napasnya terasa sejuk di kulitku. Ia mengamati wajahku lama sekali. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. Ia tergelak misterius.” Kutelan liurku. “Ya. kau sudah siap?” tanyanya. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. ia bakal kecewa. “Dengar. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. tersenyum. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. Tanpa sadar aku gemetar. Monster.” kataku.” ejeknya. Tidakkah itu cukup?” “Ya.. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. “Sekarang juga?” ia berbisik. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak. djAnGgo 417 .” kataku. “Mmm. lalu menjauh. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. “Kalau begitu.” jawabnya.” Wajahnya cemberut melihat tekadku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful