TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Dad. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. sebuah planet yang asing. baru buatku. Ditambah lagi. dan aku harus memakainya dengan Charlie. semua ini bagian masa kecilku. supaya kami gampang berkomunikasi. Terlalu hijau. dinding biru cerah. lega bisa memandang murung ke luar jendela.” kata Charlie parau. Ini permintaan ibuku.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. sekali lagi merasa malu. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. Yang membuatku amat terkejut. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. “Wow. aku menyukainya. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. ia tidak pernah membuntutiku. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. masa-masa awal. Lantai kayu. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. Truk itu berwarna merah kusam. “Aku senang kau menyukainya. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. Tentu saja pemandangannya indah. tampak truk baruku. kanopi di antara cabangcabangnya. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. itu kamarku sejak aku dilahirkan. Kamar itu sangat familier. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. Di sana. well. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. aku tak bisa menyangkalnya. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah.

Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. Tubuhku selalu langsing. orang aneh. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. tapi aku djAnGgo 10 . Aku harus berkulit coklat. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. Barangkali tipuan cahaya. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar.untuk menangis habis-habisan. tapi lembek. sekarang 358. pirang. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. meskipun sering terpapar sinar matahari. ketika aku harus memikirkan esok pagi. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. jelas bukan atlet. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. sporty. atau pemandu sorak mungkin. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. pemain voli. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. mengundang penasaran.

Keberuntungan selalu menjauhiku. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. kemudian menambahkan bantal-bantal. Aku mengenakan jaketku. nyaris transparan. Aku berterima kasih padanya. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Bahkan ibuku. Tidurku gelisah malam itu. Mungkin ada masakah dengan otakku. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. Tak ada yang berubah. mengamati dapur kecilnya. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. tak pernah benar-benar sepaham. rak-rak kuning terang. bening. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. Charlie berangkat duluan. dengan dinding panelnya yang gelap. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. Rasanya mustahil berada di rumah ini. tak pernah selaras denganku. tampak deretan foto-foto. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. Yang penting adalah akibatnya. Dan besok baru permulaannya. setidaknya selama aku tinggal di sini. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. dan menguncinya. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. Tapi penyebabnya tidak penting. Disini aku tidak memiliki warna.terlihat pucat. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. tidak sehat. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Hujan masih gerimis. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. tapi semua itu tergantung warna. titik. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. seperti di kandang. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. Aku malu melihatnya. dan menerobos hujan. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. meski tahu doanya sia-sia. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. bahkan setelah aku selesai menangis. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. serta lantai linoleumnya yang putih. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. Itu membuatku tidak nyaman. Kulitku bisa saja cantik.

Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. meskipun aku belum pernah kesana. dibangun dengan batu bata warna marun. Bangunan sekolah. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 . bensin. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. Radio antiknya masih berfungsi. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. Di dalam truk nyaman dan kering. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Mesinnya langsung menyala. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. nilai tambah yang tidak terduga. seperti kebanyakan bangunan lainnya. tapi derunya keras sekali.kuinginkan. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. dan aku lega karenanya. Yah. dan peppermint . letaknya tak jauh dari jalan raya. yang membuatku berhenti. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit.

Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Aku bisa melakukannya. sebuah jam dinding besar berdetak keras. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. Wanita berambut merah itu mendongak. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Ketika aku keluar lagi menuju truk. dan lebih hangat dari yang kuharap. Jaket hitam polosku tidak mencolok. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . Kulihat matanya berkilat terkejut. bunyinya TATA USAHA. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku.” kataku. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. Aku memasukkan semua ke tas. murid-murid lain berdatangan. “Ini jadwal pelajaranmu. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. aku setengah membohongi diriku. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. karpet bersemburat jingga. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur.” katanya. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. Begitu sampai di kafetaria. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. aku akan segera menjadi topik gosip. Tak ada yang bakal menggigitku. Di tempat asalku. Aku mempelajari petanya di dalam truk. dan menarik napas panjang. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. tak ada yang bagus. Tak ada yang parkir disana. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. Disini. dan jelas mencolok. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. Tak diragukan lagi. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. seperti Charlie. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. berambut merah yang menggunakan kacamata. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. Ia tersenyum dan berharap. Ada 3 meja di balik konter. aku menyadarinya dengan perasaan lega. berusaha mengingatnya. aku senang berada disini di Forks. dan menyilangkan talinya di bahu. gedung tiga dengan mudah kutemukan. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Ia mengenakan T-shirt ungu. Di dalam keadaan cukup terang. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. dan peta sekolah. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. Kelasnya kecil. Kantornya kecil. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. mengikuti barisan-barisan mobil lain.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. “Tentu saja. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang.

dan membosankan.. Aku terus menunduk. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. bukan respon yang membangun.. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Shakespeare. yang satu berambut pirang. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. rambutnya cokelat muda. Mason. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Menyenangkan.mereka di tiang gantungan yang panjang. Mereka 2 orang gadis. yang lain juga berkulit pucat. Bacaan dasar : Brontë. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Aku sudah pernah membaca semuanya. Chauter. Faulkner. Aku mencontoh mereka.

Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. “Kulitmu tidak terlalu cokelat.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. Aku tersenyum hati-hati. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku.. “Semoga berhasil. “Bella. djAnGgo 15 . “Sangat. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. suaranya berupa gumaman sengau. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. “Aku Eric. “Aku akan ke gedung empat. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. Mr. yang sudah reda. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. “Kau Isabella Swan. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. Aku tergagap. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol.” katanya ketika aku meraih gagang pintu.. dan aku mendesah. “Cerah. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku. Vanner. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. Guru Trigonometriku. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. Tubuhnya mungil. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. “Terima kasih. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. lebih pendek daripada aku yang 160 senti.” Jelas tipe kelewat suka menolong. “Jadi. di gedung enam. Aku mencoba berdiplomasi. Pemerintahan. tipe anggota klub catur.” aku meralatnya. Beberapa bulan saja di tempat ini. meskipun papan tandanya jelas. “Mmm.” Ia berharap. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping.” “Ibuku setengah albino.” tambahnya. Eric mengantarku sampai pintu. dengan Hefferson.” “Wow. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. Aku tersenyum samar dan masuk. wajahku merah padam. Aku tak ingat namanya. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta.” ujarku. aku bisa menunjukkannya padamu. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. Ketika bel berbunyi. Setelah 2 pelajaran.

ketika aku pertama kali melihat mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. Disanalah. melambai padaku dari seberang ruangan. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. Ia memperkenalkanku kepada mereka. duduk di ruang makan siang. Eric.Aku tak berusaha memperhatikannya. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. djAnGgo 16 . Cowok dari kelas bahasa Inggris.

atau si cowok berambut perunggu. yang kelihatannya sudah kuliah. mungkin yang paling muda. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. Yang jangkung tatapannya dingin. sangat kurus. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. sejauh mungkin dari tempat dudukku. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. semuanya luar biasa. Mereka berlima. Rambutnya keemasan. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. Mata mereka sangat gelap. Yang lain lebih tinggi. dipotong pendek dan lancip. tergerai lembut di punggung. si cewek mungil bangkit membawa nampan. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. dari satu sama lain. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. begitu kontras dengan warna rambut mereka. si albino. yang sama sekali tak beranjak. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. telah djAnGgo 17 . namun sangat mirip. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. Mereka tidak bicara. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Mereka tidak terpana menatapku. Mereka semua mengalihkan pandangan. yang 1 bertubuh besar. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. kaleng sodanya belum dibuka. dari murid-murid lain. Aku terus mengawasinya. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. kaku. seolah temanku telah menyebut namanya. Namun toh mereka sama persis. perawakannya mungil. lebih langsing. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. Rambutnya hitam kelam. Mereka pucat pasi. Mereka juga memiliki kantong mata. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya.Mereka duduk di sudut kafetaria. Ketika aku memperhatikan. Yang cewek-cewek kebalikannya. keunguan. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. yang aku lupa namanya. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. berotot seperti atlet angkat besi professional. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. Dari 3 cowok. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. rambutnya gelap ikal. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. Mataku tertuju kembali ke yang lain. semua garis tubuh mereka lurus. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. Ia berpaling dengan cepat. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. keindahan yang memancarkan kekejaman. apelnya masih utuh. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. Terlepas dari hidung mereka. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. Tubuhnya indah. Lebih pucat daripada aku. memar seperti bayangan. sempurna. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. juga tidak makan.

mereka tinggal bersama dr. yang sekarang sedang memandangi nampannya. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. menunduk memandangi meja seperti aku. Mulutnya bergerak sangat cepat. Aku melirik cowok tampan itu. Cullen dan istrinya. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat.” Ia mengatakannya dengan berbisik.memutuskan untuk tidak menjawab. serta Rosalie dan Jasper Hale. djAnGgo 18 . namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. “Itu Edward dan Emmett Cullen. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. Yang 3 lagi masih membuang muka.

dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun. salah satu yang bermarga Cullen.” “Kurasa begitu..Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. pikirku kritis. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. mereka anak angkat. Dan mereka tinggal bersamasama. sekaligus lega. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. mereka adalah pendatang. Emmett dan Rosalie. yang paling muda. kira-kira 20-an atau awal 30-an. maksudku. ada 2 cewek yang bernama Jessica. mau memelihara semua anak-anak itu. Jasper dan Rosalie umurnya 18. Mereka semua anak adopsi. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. Cullen tidak bisa punya anak. Cullen masih sangat muda.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. ketika mereka masih kecil dan segalanya. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. aku menduga alasannya adalah iri. dan Jasper dan Alice. “Kurasa Mrs.” “Mereka baik sekali. “Tidak. Cullen sejak masih 8 tahun. Mrs. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer.. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. dan jelas tidak diterima. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. memang tidak.Nama-nama aneh dan tidak populer.” Jessica menambahkan.” “Sekarang memang.. Saat aku mengamati mereka.” “Oh. Tapi kalau mencoba jujur. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka..” ujar Jessica enggan.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. pikirku. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. Dr. mendongak dan beradu pandang denganku. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. yang pirang.” Aku merasakan sebersit rasa iba. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. “Mereka. sangat tampan dan cantik. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. nama yang sangat umum. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk.” kata Jessica. “Dan mereka selalu bersama-sama. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku.

Lalu aku kembali memandang Edward. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Ia sudah memalingkan wajah. dan ia masih menatapku. sikapnya jelas pahit. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. Dia tidak berkencan.” Jessica mendengus. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. seolah-olah dia juga tersenyum.lewat sudut mata. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. Dia tampan. tapi jangan buang-buang waktu. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. “Itu Edward. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya. ekspresinya sedikit gelisah. Aku kembali menunduk. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. tentu saja. Salah satu kenalan djAnGgo 20 .

Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Aromanya seperti stroberi. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Ia sudah punya teman sebangku. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. tidak bersahabat. Mr. dia juga tak pernah santai. Sepertinya baunya cukup enak. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. Ketika kami memasuki kelas. Tak mungkin ada hubungannya denganku. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. wajahku merah padam. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. sejauh mungkin dariku. Ia menatapku lagi. Sekali lagi aku mengintip. Bergegas aku memalingkan wajah. Ia sama sekali tidak mengenalku. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. dan selalu menunduk. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Tanpa mengangkat wajah. Untuk yang satu ini.baruku. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . kuatur bukuku di meja lalu duduk. gusar. duduk di sebelah kursi yang kosong. Ketika aku melewatinya. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. kecuali satu yang masih kosong. duduk di ujung kursi. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Di sisi gang tengah. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. hitam legam. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. aroma shampo kesukaanku. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. Ia menjauh dariku. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. terkejut. Diam-diam aku mengendus rambutku. persis yang dulu sering kutempati. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. dan menyesalinya. sebagai penghalang diantara kami. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Ia juga pemalu. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. aku diam-diam memperhatikan Edward. Ia sedang menatapku. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. Cewek yang duduk disitu terkekeh. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya.

Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. Ini tidak adil. membuatku terperanjat. Ketika aku mengalihkan pandang. Aku duduk membeku. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. ia lebih tinggi daripada yang kukira. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. Bel berbunyi keras. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. menatapnya tanpa berkedip. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. memunggungiku. Ia tersenyum ramah. menciut di kursiku. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. Kalau marah aku biasanya menangis. Ia jahat sekali.jijik. djAnGgo 22 . kebiasaan memalukan. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. Dengan luwes dia berdiri. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.

Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku.” Ia tampak senang. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. Edward Cullen berdiri di meja di depanku.” “Itu juga kelasku berikutnya.” “Dia aneh. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. jam mana saja. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. ia bertanya. aku bakal mengobrol denganmu. nada suaranya rendah dan indah. Dari pembicaraan kami. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya.” “Aku tidak tahu. Edward sedang berdebat dengannya. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. Aku berdiri merapat ke dinding belakang. “Aku Mike. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. Cewek yang djAnGgo 23 . meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Kurasa aku bisa menemukannya. Secara harfiah. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. Kami berjalan bareng ke gymnasium. dan yang kutimbulkan.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya.” Aku menciut. Guru senam kami. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Mike. Akhirnya bel terakhir berbunyi.” katanya. Pelatih Clapp. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. memberikan seragam buatku. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain.“Bella. menunggu petugas resepsionis selesai. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. “Ya. Hujan sudah reda. Mike malah terus bersamaku. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. Pintunya terbuka lagi. ketika bermain voli aku merasa agak mual. Ia cukup bersahabat dan mempesona. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. Jadi. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. memudahkan segalanya buatku. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini.” Bukannya menuju kamar ganti. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari.” “Hai. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu.” timpalku. Forks bagiku adalah neraka di bumi. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. “Jadi.” ralatku sambil tersenyum. Pasti sesuatu yang lain. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. Aku memeluk diriku sendiri. meniup kertas-kertas di meja. Di tempat asalku. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun.

djAnGgo 24 . Tatapannya hanya sedetik. wajahnya luar biasa tampan. “Kalau begitu lupakan saja. “Aku mengerti ini tak mungkin. hingga bulu kuduk di tanganku meremang.masuk langsung melangkah ke meja. lalu keluar lagi. Tapi punggung Edward Cullen menegang. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. meletakkan catatan di keranjang kawat. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. dan perlahan ia berbalik menatapku. lalu lenyap di balik pintu.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. Ia berbalik lagi ke resepsionis. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin.

hanya menerawang ke luar kaca depan. hanya tinggal beberapa mobil disana.” aku berbohong. djAnGgo 25 . suaraku lemah. Aku duduk sebentar di dalamnya. “Bagaimana hari pertamamu. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. “Baik. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. Ketika tiba di lapangan parkir. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan.Aku berjalan pelan ke meja. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. wajahku pucat dan bukannya memerah. Ia kelihatan tidak percaya. Nak?” tanya resepsionis lembut.

Ketika terbaring nyalang di ranjang. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. meski langit sudah tebal oleh mendung. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. tapi juga lebih buruk. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. dan membuktikan kecurigaanku keliru. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. yang mirip Golden Retriever. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Lebih buruk karena Mr. dan ini takkan mudah. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. dan mengantarku ke kelasku berikutnya.. membuatku tersanjung. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. bersama Mike. Mike. diplomasi sangatlah penting. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. dan sekalinya tidak terhantam bola. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. gelisah menantikan kedatangan Edward. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. Lebih baik karena hujan belum turun. Lebih buruk karena aku lelah. Ia tidak datang. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. melangkah setia disisiku menuju kelas. Jessica. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Edward masih belum muncul juga. waswas terhadap tatapan anehnya. aku merasa sangat tidak nyaman. Eric. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah.2. bukan tenggelam. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang.. dan dengan berlalunya waktu. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Sesampainya di pintu aku menahan napas. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. akupun semakin tegang. tapi ia sendiri tak ada. Di kota seperti ini. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya.

Aku terus-terusan mengingatkan diriku. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Tidak mungkin. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. Aku djAnGgo 27 . Ketika sekolah akhirnya usai. berhubung Edward tidak masuk. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.

.ku untuk pertama kali. Mereka memang suka menyendiri. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Tentu saja. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. hanya beberapa blok ke selatan. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. namun bermerek. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang.” tulisnya. Tapi sejauh yang kutahu. dan aku menyukainya.. aku melihat Cullen bersaudara. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. dan sekarang akan menuju Thriftway. hidup memang lebih sering seperti itu.. Mom. aku tak percaya sepenuhnya. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Sebelum mengerjakan PR. Aku pinkku. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. aku mengganti pakaian dengan yang kering. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. selesai mengepak untuk ke Florida. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. gaya mereka. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. The Thriftway tak jauh dari sekolah.. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom.” tulis ibuku. Karena sekarang aku memperhatikan. melapisi steak dengan saus marinade. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Ketika aku menunggu. memastikan semua ada disitu. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. rasanya normal. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . simpel. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. sama seperti yang lain. Aku mendapat 3 pesan. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Tidak. Selesai melakukannya. selepas jalan raya. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. aku membawa tas sekolahku ke atas. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. dan memeriksa e-mail.berjalan cepat menuju parkiran. “Bella. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. “Bella. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Volvo baru yang mengkilap. Jadi aku membuat daftar belanjaan. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. Kuharap Charlie tidak keberatan. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan.

aku akan menelepon Charlie. Kalau sampai jam 5.Isabella.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu. djAnGgo 29 .

Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . Dalam beberapa hal. Aku mengirimnya. Tapi senjatanya itu selalu siaga. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Jangan konyol. Tenang saja. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. Dad. Semua baik-baik saja. “Aromanya lezat. ketika masih kanak-kanak. Bella. demi kesenangan. yang berarti bagus. Mom. Mobil tua. dan memulai lagi. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. “Steak dan kentang. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Tenang. Aku lupa waktu. buatku. “Hei.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Aku akan menulis lagi nanti. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. “Jadi. Aku sedang menulis sekarang. hanya sedikit mengulang pelajaran. kau tahu kan. Bella napas.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Sekolahku tidak jelek. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. Waktu aku datang kesini.Aku melihat jam. Bell. Ibuku juru masak imajinatif.” “Terima kasih. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. djAnGgo 30 . Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Blus pinkmu ada di dry clean. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. Namun diam yang nyaman. Aku masih punya waktu 1 jam. dan Dad tampak lega.” jawabku. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. kau harus mengambilnya hari Jumat. Memangnya ada orang lain? pikirku. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. kau percaya? Aku menyukainya. kami sangat cocok hidup bersama. kemudian menyiapkan meja makan. Tentu saja disini hujan. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Setahuku. Sudah pulang?” “Ya. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. tapi benar-benar ‘bandel’. Mom. Charlie memberikan aku truk. tarik sayang Mom. Aku juga rindu padamu.

djAnGgo 31 .

dengan anak-anak remaja adopsi itu. Semuanya kelihatan lumayan baik. “Kita beruntung memilikinya. suaranya makin keras. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Mike. Aku diajak. hampir semua murid di sekolah. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. Charlie. yang sangat bersahabat.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring.” tambahku. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa. Ia kembali menonton TV. Aku berusaha tidak memikirkannya. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan.. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. dia cukup berhasil. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah.. tak lagi menghawatirkan Edward.” gumamnya. “Kau harus bertemu dr. Setiap hari. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. Memang konyol sih. “Orang-orang di kota ini.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Tapi mereka sangat dewasa. Pantai seharusnya panas dan kering.. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. Aku mundur sedikit. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. kalaupun bukan nama. “Itu pasti Mike Newton.. dan setelah selesai mencuci piring. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. Malam itu suasana tenang. tapi lebih karena tidak enak menolaknya.” kata Charlie tertawa. Karena banyak backpacker datang kesini. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. dan telah setuju untuk ikut.. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. keluarganya baik. Dia aset bagi komunitas kita. Saat makan siang. “Dr. anakanaknya. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. “Mereka. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Cullen. Bukan karena ingin. Aku tertidur dengan cepat. kelelahan. Yang kutahu. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi.” Dengan satu pengecualian mencolok. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. aku duduk bersama teman-temannya. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. ia telah meninggalkan sekolah. “Untunglah pernikahannya bahagia. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku.“Well. Lalu ada cowok. Mereka sangat menarik. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah.. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. agak berbeda. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali.” lanjutnya. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . Anak baik.

tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan.. Aku membersihkan rumah. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis.. Pagi ini cuaca lebih dingin. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana. sehingga aku bisa tidur nyenyak. mengerjakan PR. Iseng. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. Di djAnGgo 33 . dan bergidik memikirkannya. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. tenang.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. tapi untungnya tidak hujan. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. aku tidak jadi membuat kartu anggota. memilih bekerja sepanjang akhir pekan.

Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. Angin menerpa pipi dan hidungku. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. rupanya ini salju pertama di tahun baru. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. “Wow. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. gumpalan es meleleh di rambutnya.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. Jessica menarik lenganku. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. Dua kali Mike menanyakan keadaanku. Ada 5 orang di meja itu. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. yang berjalan jauh memunggungi kami. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Kukatakan aku baik-baik saja. Bola-bola salju melesat dimana-man. Mike tampak terkejut. dan bukannya menuju kelasnya. mataku masih tertuju ke lantai. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. “Kita bertemu lagi saat makan siang. telingaku panas.kelas bahasa Inggris. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. Ia tertawa. “Uuuh. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya.” Mike tertawa. ulangan itu sangat mudah. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. Sejujurnya. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. “Sebenarnya. perutku keroncongan. Tentu saja lebih kering daripada hujan. Aku curiga itu perbuatan Eric.” Mike hanya mengangguk. “Di TV. “Salju.” Aku terdiam. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. “Tidak apa-apa.” kata Mike. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu.” jawabku. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . mataku menatap ke bawah. “Tentu saja pernah. Hilang sudah hari baikku. lalu mengikuti mereka ke meja. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. aku langsung masuk. “Hari ini aku minum soda saja. “Selain itu.” Salju. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. tahu kan. Ketika kami berjalan keluar kelas. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. Lalu aku berdiri mematung.” Jelas. Jessica menganggapku konyol. Aku memegang binder di tanganku.” kataku. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. aku mengingatkan diriku sendiri. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku tak punya alasan untuk merasa malu.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku.

Konyol. seperti pengecut.bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. aku akan bolos kelas Biologi. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. djAnGgo 35 . Kalau ia menatapku.

Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. well. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi.” jawabku jujur. Aku masih gelisah. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. djAnGgo 36 . tapi ketika kami berjalan menuju kelas. menyembunyikan perasaan senangku.” kata Jessica. Aku sedikit mengangkat kepala. Aku menunduk. Mereka sedang tertawa. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. matanya mengikuti arah pandanganku. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. “Kau sedang menatap apa. Mike terus mencerocos. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. Tapi ada sesuatu. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. seperti anak-anak lainnya. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. jangan dilihat lagi. “Dia tidak kelihatan marah. seperti tidak puas. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. berusaha menemukan perbedaan itu. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. tapi toh dia mengalihkan pandangan. Mereka menikmati hari bersalju. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. “Tidak. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. Meski begitu aku yakin. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Edward. Ia hanya kelihatan penasaran. Berhubung ia tidak kelihatan marah. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. Lalu Mike menyela kami. Selama sisa waktu makan siang.” desisku.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. Jasper. Hujan turun. “Edward Cullen menatapmu. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Aku menaikkan tudung jaket. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. Jessica mendengus. Artinya aku bebas. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. Tapi dia masih memandangimu. terdengar bingung dengan pertanyaanku. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku.. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. Dari caranya menatap Mike. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka.. Aku diam saja.” “Sudah. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. ada sesuatu yang berbeda. aku akan ikut pelajaran Biologi. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri.

iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja. aku lega karena mejaku masih kosong. Air menetes dari rambutnya. tetapi kursinya diarahkan padaku. Aku mendongak. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. berantakan. “Halo. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai.Begitu tiba di kelas. meski begitu djAnGgo 37 . Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. Mr. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. tapi mataku tetap terarah pada gambarku.” kudengar suara merdu dan tenang.

Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. kurasa semua orang tahu namamu. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Bagaimanapun. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. Untungnya Mr. “Kau duluan. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. “Maaf. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. “Tidak. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata.” gumamnya pelan. “Tapi kupikir Charlie. Jari-jarinya dingin bagai es. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. Kau pasti Bella Swan. maskudku ayahku. Bersama partner masing-masing. Aku yakin dengan pengamatanku. “Mulai!” perintahnya. Aku harus bicara. djAnGgo 38 .” bantahku bodoh. ia menunggu. Kupelajari slide-nya sebentar. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. dan tahu apa yang harus kucari. “Tidak. “Maksudku.” Aku nyengir. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. “Profase. tawa yang menyenangkan.” aku mencoba menjelaskan. Ketika ia menyentuhku. ia tetap meraih mikroskop.” ia tidak meneruskan. wajahku merah padam.” Aku memamerkan kemampuanku. Banner memulai pelajaran saat itu juga. Seharusnya mudah. Aku memalingkan wajah malu-malu. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. kepalaku sampai pusing. Meski masih kaget. langsung meraih tangannya. “Namaku Edward Cullen. Tapi matanya tampak hati-hati. “Profase. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. “ Oh. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. Ia tertawa lembut.” lanjutnya. “Oh. benar-benar merasa seperti orang bodoh. partner?” tanya Edward. “Aku akan memulainya. aku lebih suka Bella. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar.” dia setuju. Aku pernah melakukan percobaan ini.” Saking bingungnya.” kataku. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. pasti memanggilku Isabella di belakangku.” kataku. lalu melihatnya sepintas lalu. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak.” Senyum itu memudar. hanya sedikit. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai.

dan mendorong mikroskop ke arahku. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa.“Anafase. Ia menyerahkannya padaku. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya.” gumamnya. Sial. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek. sambil menulis. ia benar. dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Aku berusaha terdengar tidak peduli. djAnGgo 39 .

” jawabku jujur. dan ia sedang menatapku. Banner menghampiri meja kami. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. “Jadi. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. “Bella.” Mr. Ketakutan kembali menyelimutiku. Aku mendongak. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Lalu Mr. Aku tersenyum malu-malu. ya kan?” Edward bertanya. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami.” Sekarang Mr. Ia melihat dari balik bahu. “Atau basah. Aku menunduk.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya.” Edward meralat ucapan Mr. Setelah ia pergi.” gumamku. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. lebih gelap daripada mentega. Banner.” “Oh. lalu menuliskannya. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. “Kau tidak suka dingin.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. “Tidak juga. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu.“Interfase.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu.” “Whitefish blastula?” “Yeah. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. Edward. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. pandangan frustasi dan misterius yang sama. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. “Tidak dengan akar bawang merah. dan aku tak bisa berkonsentrasi. Ia mengintip sebentar. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. “Tidak. tapi dengan nuansa keemasan yang sama.” “Well. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. ekspresinya skeptis. Kami selesai duluan. Banner menatapku. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah. menatap percobaan yang telah selesai.” Itu bukan pertanyaan. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya. “Sayang sekali turun salju.” djAnGgo 40 . Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Banner mengganguk. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja.” katanya setelah beberapa saat. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu. Tangannya mengepal lagi. Banner. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan.

” “Rasanya aku bisa mengerti. rumit. begitu menuntut jawaban. djAnGgo 41 . aku tak bisa membayangkannya. “Jawabannya. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. tidak blak-blakan seperti dirinya.” ujarnya melamun..” desaknya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya..“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. entah untuk alasan apa.” gumamku dingin. “Kau tak tahu bagaimana rasanya.

jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. Aku menghela napas. ia tidak mengirimku kesini.” gumamnya puas.” Aku nyengir. “Apakah dia terkenal?” tanyanya. namun tatapannya masih tajam.” bantahnya.” Alisnya bertaut. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. Banner yang sedang berkeliling. “Itu tidak terdengar terlalu rumit..” timpalnya datar. “Tidak juga.” Ia mengangkat bahu. memandang marah ke papan tulis. “Ya sudah.. bahkan untukku sendiri.” kataku. itu saja.” ujarnya.” katanya pelan. balas tersenyum. tapi cukup baik. “Terus?” tantangku. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. “Barangkali tidak. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. “Dan kau tidak menyukainya.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk. Dia sering berpindah-pindah. Ini membuatnya tidak bahagia. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. Phil baik. “Tidak. “Tapi sekarang kau tidak bahagia. “Pertanyaan yang sangat bagus.” Suaraku terdengar sedih. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. Aku terus menghindari pandangannya. tapi dia merindukan Phil. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. Dia bukan pemain andal. “Kurasa tidak. “Kau pandai berpura-pura. Terlalu muda barangkali. Aku sendiri yang mau.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. bukan pertanyaan.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya. “Ibuku menikah lagi. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. suaranya masih ramah. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . Dahiku mengerut. “Aku tidak mengerti. Aku menghela napas. Dia pemain bola.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya. Aku tertawa sinis. “Mula-mula ia tinggal denganku.” kataku.” ujarnya. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. lalu memalingkan wajah. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. mengawasi Mr. Benar-benar liga kecil. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.” katanya. “Itu tidak adil.” Edward mencoba menebak.. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. Ia terdengar senang. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward.. Aku memandangnya tanpa berpikir. “Tidak.” Aku setengah tersenyum. “Phil sering bepergian. Tatapannya berubah menilai. dan aku menjawab tanpa berpikir.Lama aku diam.” Lagilagi ia melontarkan dugaan.

ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.” Ia tersenyum lebar.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya. “Kebalikannya.” “Biasanya. ia terdengar bersungguh-sungguh. aku malah sulit menebakmu.” Wajahku merengut. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.mudah ditebak. djAnGgo 43 .

Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr.” erangnya.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. dari sudut mataku. itu saja. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. Mike satu tim denganku hari ini. masih melihat ke sisi lain mobil. Toyota itu beruntung. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. Aku membuka jaket. kali ini lebih baik. Ia tampak menikmati percakapan kami. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. yang jaraknya 3 mobil dariku. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Ketika bel akhirnya berbunyi. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. Aku berusaha terdengar kasual. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. “Itu buruk sekali. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. Trukku jenis penghancur. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. aku menginjak rem tepat pada waktunya. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. “Aku pernah melakukan percobaan ini. tapi sekarang bisa kulihat. memastikan tidak ada siapa-siapa.” kataku.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. Mike tidak tamapak senang. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Dan seperti Senin lalu. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo.Mr. Kunyalakan mesin penghangat. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. Aku menarik napas panjang. bahwa ia menjauh lagi dariku. yang mungkin membenciku atau tidak. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. Aku memandang sekelilingku. djAnGgo 44 . melepas tudungnya. Aku langsung menyesal. dan berhati-hati mundur lagi. “Semua slide itu mirip.” “Gampang saja buatku. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Banner menyuruh murid-murid tenang. matanya menatapku lekat-lekat. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. terkejut mendengar ucapannya. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen.

djAnGgo 45 .

dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Mungkin karena aku masih baru sisini. lalu mengerang ngeri. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. dengan memikirkan Mike dan Eric. ada sesuatu yang berbeda. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Dilihat dari berbagai sisi. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. tapi bagaimanapun juga cerah. dan membuat jalanan menjadi putih. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. Kalau mau jujur. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. Dan itu sangat. dan ini membuatku takut.3. Sambil mengemudi ke sekolah. Dan aku curiga padanya. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. sangat bodoh. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Ada cahaya. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. Apapun alasannya. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. ataupun bertemu teman-teman baruku. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. melapisi atap trukku.

dan memeriksa banku. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. djAnGgo 47 . Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. Aku melihat sesuatu berwarna perak. Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. ketika mendengar suara aneh. tak ingin tergelincir. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. aku mengemudi sangat pelan. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Meski begitu. Aku tak terbiasa diurus.

Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. dan van itu berhenti. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. Aku mendongak.” kataku. masih berputar dan meluncur.” Suaraku terdengar aneh. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. Aku melihat beberapa hal bersamaan. mengumpulkan kekuatan. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya.. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. “Aduh. Dalam kekacauan yang tibatiba. “Hati-hati. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. nada suaranya kembali serius. lalu terdengar suara kaca pecah. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. dan aku berdiri diantara keduanya. berhamburan ke jalanan. dan sesuatu menarikku. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. “Itulah yang kupikirkan. djAnGgo 48 . benar-benar terkejut.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. “Bagaimana bisa.” katanya. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. keras. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. Aku berusaha menjernihkan pikiran. Bella. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. terkejut. karena van itu masih meluncur mendekat. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. sesuatu menerjangku. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. memandangku ngeri. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es.” suaraku perlahan menghilang.. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku.Itu suara lengkingan tinggi. nyaris menabrakku lagi. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.

melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. berteriak kepada kami.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku.” seseorang memerintah. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami.” “Tapi dingin. “Sekarang jangan bergerak dulu. saling berteriak. djAnGgo 49 . “Jangan bergerak. Ada kegetiran dalam suaranya. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. Aku mencoba bangkit. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.” aku mengeluh. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan.

dan aku berusaha melakukan hal yang sama.. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana.” tukasnya. “Tidak.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka. Char. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. Aku mengenali Tyler Crowler. Butuh enam petugas medis dan dua guru. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu.” aku mengulanginya dengan nada marah. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. Varner dan Pelatih Clapp. suaranya yang lembut mengodaku. Lalu datang pasien lain. mulai dari protes sampai marah. Edward dengan kasar menolak. dan ia akan mengakuinya. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Ketika juru rawat pergi. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila.” Rahangku mengeras. Yang membuat segalanya lebih parah..” keluhku. Aku menggertakkan gigiku. Bella. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Mr. dan aku menarikmu dari sana.” Ekspresinya berubah kaku. temanku di kelas Pemerintahan. Menjengkelkan. Mereka membawaku ke UGD. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. “Kau ada di sebelah mobilmu. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. “Kumohon.” “Kenapa?” desakku. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. ekspresi mereka beragam.” “Aku melihatmu. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu.” Sekeliling kami kacau. Keluarganya tampak di kejauhan. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku. “Percayalah padaku. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. seolah memberitahu sesuatu yang penting.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. “Tidak. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. Yang membuatnya lebih buruk. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. “Bella.. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Edward naik di depan. Warna emas di matanya berkilat-kilat. Dad. tiba-tiba terdengar putus asa.. “Oke.” ia memohon. aku sedang berdiri bersamamu. “Aku baik-baik saja. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 .“Kau ada di sebelah sana. “Aku tidak apa-apa. aku benar.

“Bella. Ia menatapku waswas. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa.kurasakan. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. Tyler. kau tampak buruk. djAnGgo 51 .

tidak seru..” dr. “Siapa?” “Edward Cullen. Ia masih muda. “Jadi. aku terperangkap di UGD.” jawabnya.. djAnGgo 52 . “Hei. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. pirang. dan mulutku menganga melihatnya. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. ini pasti ayah Edward.” “Mmm. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Dia ada disini entah dimana. Ia terus menggumamkan penyesalan. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. aku sangat menyesal.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya.. dengan lingkaran di bawah matanya.” Aku tak pernah pandai berbohong. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. Dari yang dideskripsikan Charlie. Cullen berkata dengan suara sangat merdu. mudah-mudahan untuk terakhir kali. kau tidak mengenaiku.. dan mobilku selip. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. tampak lelah.” Aku tahu aku tidak sinting.” Lalu seorang dokter menghampiri. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. wow. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya.. Mataku langsung terbuka. “Aku baik-baik saja. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu. Tidak mudah. ” Tyler memulai. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya.. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. Meski begitu ia pucat. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan.” kataku. lalu kau menghilang. Edward.. “Jangan khawatirkan itu. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat. nyengir. “Tapi jangan khawatir. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu. “Tidak ada darah.Ia mengabaikanku. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. Miss Swan. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. “Cullen? Aku tidak melihatnya. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. menunggu. aku datang untuk menyelamatkanmu.” aku mengeluh. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya.. memamerkan giginya yang sempurna. namun menghadap ke arahku. dia berdiri di sebelahku. “Jadi.” Ia terlihat bingung. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. Aku memandangnya.” katanya.. Jadi. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Ia nyengir lagi. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya.. dan aku benar.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. Edward menarikku.

“Sakit?” tanyanya.” Aku menatap Edward. lalu menatap Edward geram. “Tidak juga.” aku mengulangi sambil menghela napas. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. Mataku menyipit. ayahmu berada di ruang tunggu. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.” katanya.“Hasil rontgenmu bagus. kau bisa pulang dengannya sekarang. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. djAnGgo 53 . Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. “Well. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. Ia memperhatikan ketika aku meringis.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku. kepalamu terbentur cukup keras. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu. Aku mendengar suara tawa.” “Tidak apa-apa. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.” kata Edward ponggah.

“Sebenarnya. dan dr. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. menutupi wajahku dengan tangan. kepalamu terbentur. tidak!” aku berkeras. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. “Kedengarannya kau sangat beruntung. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. kalau kau tidak keberatan. djAnGgo 54 . “Aku ingin bicara berdua saja denganmu. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur. Ia menatapku tak percaya. Ia menatapku jengkel.” ujar dr. aku tak berhutang apa-apa padamu. juga di mobil yang lain. Cullen dan Tyler. tampak bersalah. Lalu semua terlontar begitu saja.” aku meyakinkannya lagi. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. “Kau berhutang penjelasan padaku. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. aku terpeleset.” aku mengingatkannya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. “Kau sudah janji. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan.” “Oh tidak. well. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku. ia berbalik menghadapku. Tapi wajahnya tegang. sang dokter sedang memikirkannya. Cullen terangkat.” Ia balas menantang. kutatap dia tajam-tajam. Aku memandang dr. “Ayahmmu sudah menunggumu. ya. “Apa yang kau mau dariku. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. Ia tampak waswas. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. dan menghampiri tempat tidur sebelah. aku bergeser ke sisi Edward.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. Cullen. dan mulai memeriksa luka-lukanya. dan aku tak bisa melanjutkannya. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. tapi itu justru membuatku semakin curiga. tapi nyatanya tidak. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu.” desakku.” ia berkata kepada Tyler. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. Terlalu cepat.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama.” dr. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. “Oh.” kataku. “Aku baik-baik saja. “Aku menyelamatan hidupmu. Cullen meralat. Emosiku meluap-luap sekarang. “Sakitnya tidak separah itu kok. Cullen. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. dan kau sama sekali tidak terluka.” aku berkeras. Alis dr.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward. Cullen menangkapku.” kata dr. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku.” katanya sepelan mungkin. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua.” “Bella. Tatapannya dingin.. Ia mundur selangkah. Tyler juga tidak melihatmu. Begitu dokter memunggungiku.” ia memberikan saran sambil memegangiku. Lalu ia berpaling memandang Tyler. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. Intuisiku tepat. tapi kau menahannya.” Nada suaranya tajam.. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku.” erangku.

” Suaranya terdengar mengejek sekarang.Aku hanya mengangguk sekali. kau tahu. rahangku mengeras. “Tak ada yang bakal mempercayai itu. djAnGgo 55 .

dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang.. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf. kau harus menelepon Renée. yang masih tak bisa kupercaya. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. Bodoh. itulah pertama kali aku merasakannya. Ia berhenti. Rasanya sangat lega. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. Ketika kami tiba di rumah.” bisiknya. dan Eric ada disana.. Lalu ia berbalik dan menjauh. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. Akulah yang pertama bicara.” Kami saling menatap marah dalam hening. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana. Wajahnya tampak kaget. Aku masih kesal. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar.” Aku menghela napas. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. marah dan berharap. mulai bergabung dengan kami. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku. Tentu saja ibuku histeris. berasda di mobil patroli. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. “Mm. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku.” pintaku. Setelah bisa berjalan.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan.. Charlie bergegas ke sisiku. Charlie akhirnya bicara. “Aku tak suka berbohong. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi.” “Kalau begitu. berusaha untuk tetap fokus. djAnGgo 56 . “Aku tidak apa-apa. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. tak ingin bebasa-basi. “Ayo. “Apa kata dokter?” “Dr. aku mengangkat tangan. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku.” Ia menunduk bersalah. Jessica. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. “Kau takkan menyerah.” Aku menunggu..” desakku. kuharap kau menikmati kekecewaanmu.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. hati-hati mengendalikan amarahku. “Aku tak tahu. tidak benar-benar menyentuhku. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. kan?” “Tidak. Aku sangat marah. Mike. Cullen memeriksaku.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. menatapku. Aku terkejut. Ia memohon supaya aku mau pulang. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong.

Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . dan begitu rasa sakitnya mereda. Charlie terus-menerus mengawasiku.bodoh. bodoh. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. Obat ini lumayan membantu. membuatku merasa tidak nyaman. aku tertidur pulas. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya.

terutama Edward.” sapaku ramah. menegangkan. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. sebelum ia tiba-tiba. meninggalkanku dalam kegelapan. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. dan sejauh mungkin. terutama karena aku baik-baik saja. Tak satupun dari mereka. ia tak pernah berbalik. Aku sangat ingin bicara dengannya. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. entah dengan cara apa. kami berdua begitu marah. memandang ke arahku lagi. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. berharap ia akan berpaling ke arahku. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. Betapa menyedihkan. entah bagaimana caranya. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. Edward. Jessica. tanpa melirik kanan-kiri. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. hanya mengobrol sendiri. Karena ketakutan. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. Yang membuatku cemas. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. Aku berusaha terdengar meyakinkan. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. Eric. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. aku tak bisa mengejarnya. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan.4. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. mencoba terlihat sopan. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. dan pada awalnya memalukan. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. di luar ruang UGD. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Mike. tapi ia tetap berkeras. Terkahir kali aku bertemu dengannya. tidak makan. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. Hanya kadang-kadang. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. dengan tidak mungkinnya. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Aku tak bisa melihat wajahnya. Aku duduk. tak peduli seberapa keras aku memanggil. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. djAnGgo 58 . Merasa kecewa. “Halo. aku menyadari alasan yang masuk akal. menyelamatkan hidupku. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya.

di kafetaria atau di djAnGgo 59 . meskipun hanya dari jauh. lalu berpaling lagi. sejengkal dariku. tak sanggup menahan diriku.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. setiap hari. mengangguk sekali. meskipun ia ada disana. Kadangkadang aku memerhatikannya. Dan itulah kontak terakhirku dengannya.

Aku merasa iba. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi.” “Bagus dong.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. “Tidak. seperti ia juga tak memedulikanku. Aku benarbenar merana. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. jelas tidak menyukai reaksiku.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. mengkhawatirkan aku. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi.” Aku berhenti sesaat. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat.” aku meyakinkannya. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya. dan aku takut menanyakan alasannya. Dan mimpi-mimpiku berlanjut.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku... pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. well. “Bakal asyik banget lho. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. “Kau yakin tidak keberatan. kalau kau berencana mengajakku. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan.. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. “Bersenang-senanglah dengan Mike. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol... Aku berusaha meyakinkannya. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku.parkiran. Jess. Ia menelepon beberapa kali. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. “Jadi. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. mengabaikan Edward. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku.” kata Mike menatap lantai. wajahnya yang suram pertanda buruk. berbincang sangat akrab dengan Eric. Ia semakin percaya diri.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan.” aku mendukungnya. Kalau Mike menolak ajakannya. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Meskipun aku berlagak tak peduli. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. Seperti biasa. djAnGgo 60 . aku tak akan pergi.” “Well.. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. tidak seperti biasa. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. seperti ia mengabaikan kami semua. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. Mike juga diam. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan.

tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak.” kataku.” tuturku. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.“Mike. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 .” “Kenapa tidak?” desak Mike.” aku menyakinkannya. kurasa kau harus bilang ya padanya. jadi aku langsung menyusun rencana baru.

“Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. Tapi lebih baik seperti itu. hati-hati. Menyedihkan.” “Yeah. Perlahan aku berbalik. tidak bisa.” kataku.” Mataku menyipit. “Siklus Krebs. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. Lebih dari menyedihkan. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. Pengecut seperti biasa. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung. berusaha menenangkan diri. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. sungguh. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. ini tidak sehat. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. Ketika bel akhirnya berbunyi.” gumamnya. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. lalu berbalik.” jawab Edward. enggan. dan berhubung ini tidak mungkin. Dan Edward sedang menatapku penasaran. Aku balas menatap. Cullen?” panggil Mr.” desisku tertahan. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. “Aku minta maaf. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. “Percayalah. jelas membuatnya kaget. Banner.” kataku. itu tidak baik. terkejut. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Ia menunggu. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku. “Aku tidak tahu apa maksudmu. “Mr. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. Tanganku mulai gemetaran. ekspresinya tidak bisa kutebak. kau benar. “Lalu apa yang kau inginkan. berharap ia akan langsung membuang muka. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. Banner. Aku menghela napas dan membuka mata. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. dengan muram berjalan ke mejanya. berharap ia langsung pergi seperti biasa.” Aku membuka mata.“Maaf. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. Edward?” aku bertanya. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Wajahnya sangat serius. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. Banner mulai bicara. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. Mr. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna.” ia menjelaskan.” djAnGgo 62 . sadar aku mengertakkan gigi. Tak diragukan lagi aku akan berpaling.” Ia terdengar tulus. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. mataku tetap terpejam. Ia tidak mengatakan apa-apa. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku.

lalu berdiri dan berjalan ke pintu. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis. tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan.” tukasku. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . Ia memandangku keheranan. Kukumpulkan semua buku-bukuku. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. ia nyaris terdengar marah.Ia terpana. Ketika akhirnya bicara.” Ia jelas sangat marah. “Kau tidak tahu apa-apa. sempat berpikir untuk pergi saja. Aku terdiam beberapa saat.

Ketika duduk disana.” “Oh. “Sama-sama. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. tapi aku sering sekali terjatuh. “Hai. terlalu bingung untuk berdiplomasi. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Aku langsung bangkit berdiri. memotong jalanku. Seperti biasa. “Terima kasih. Aku mulai melangkah lagi. lalu menggigit bibir. bibirnya terkaput.” sapaku. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. Keras sekali. Tyler. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Lalu aku sadar itu hanya Eric. rasanya lega ketika sekolah usai.” Aku kesal. bingung.” ia mengakuinya malu-malu. Cullen menghalangiku.” balasnya geram. Matanya menyipit. mungkin lain kali. wajahnya tegang. hanya selang 2 kendaraan. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. “Ehh.membungkuk untuk memungutinya. Aku melirik spionku. Ia berhenti disana. Eric. dan itu bagus. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. Edward sudah berada di mobilnya. banyak orang yang ingin kuhindari. Ia ada disana.” katanya. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. meluncur mulus dihadapanku. “Maaf. berpaling darinya. “Hei. menunggu keluarganya. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku.” aku menyetujuinya. jelas kemacetan ini bukan salahku. Aku membuka pintu.” “Tentu. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. Aku harus mengganti lampu belakangnya.. Keadaan di gymnsium kacau. aku hanya bertanya-tanya. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan.. Mobilnya masih menyala. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. dan membantingnya keraskeras.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. Bella. melompat masuk. ia sudah menyusun semuanya kembali. lalu menyerah. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. menatap lurus ke depan. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. “Kupikir ceweklah yang mengajak. ya. Tepat di belakangku. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. aku tahu.” kataku. “Terima kasih untuk ajakannya. “Oh. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. pintunya terbuka. “Well. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. Aku mendengar suara tawa samar-samar. tapi masih di sekitar kafetaria.” kataku dingin. Aku memandang. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. Kami belajar basket. tapi ada kelewat banyak saksi. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. ternyata Tyler. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. Aku berhasil membukanya separuh. Aku nyaris berlari ke truk. “Well.

“Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. Ini tidak mungkin terjadi. ” Ia mengangkat bahu. Mike sudah bilang.” djAnGgo 65 . “Lalu kenapa. Tyler. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus.” Suaraku agak ketus. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.disini.” akunya. “Aku akan pergi ke luar kota. “Yeah.” Ia nyengir.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

terus terang. “Menyerah?” ulangku bingung. “Ya. “Kedengarannya mauk akal.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas. kurasa kita bisa mencobanya. menyerah berusaha bersikap baik.” “Jadi..” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. lalu sisanya terurai begitu saja. aku bukan teman yang baik untukmu. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. tapi ia tetap berusaha tersenyum. lalu mengubah topik. “Sebenarnya aku terkejut. “Lagi-lagi kau membuatku bingung.” Rahangnya menegang. Jadi aku menyerah. “ Well. Aku memandang matanya yang keemasan.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. itu salah satu masalahnya. selama aku adalah. tapi konyolnya suaraku bergetar.” Mataku menyipit.” akhirnya aku mengaku. Ia tertawa.” sindirku.” gumamku. “Jadi. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.. Selama sebulan terakhir ini. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya.“Well.. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.” sahutnya menerawang.” ia berhenti.” Senyum menawan itu muncul lagi. bingung. Aku masih menunggu kau mempercayainya. Tapi kuperingatkan kau. “Kau tampak khawatir. Ia nyengir.” Ia masih tersenyum.” “Tidak.” Ia tersenyum lagi.. “Apa teorimu?” Wajahku merona. Aku menelan ludah.” aku mengingatkannya.” kataku. dan suaranya terdengar serius. “Aku mengandalkan itu. “Ya. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak. dan menjada suaraku tetap tenang. Ia tersenyum menyesal. Kalau pintar. Waktu pun berlalu. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. apakah sekarang kita berteman?” “Teman. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. tak yakin apa yang harus kulakukan..” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang. orang yang tidak pintar.. ragu-ragu. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. tapi matanya yang kekuningan tampak serius.” akuku. kau akan menghindariku. “Atau tidak. karena kau tidak mendengarkan. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu.” “Mereka akan baik-baik saja. “Kau sering bilang begitu.. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran. “Tidak terlalu.. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. Ia tertawa. “Aku tahu.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.” “Jangan khawatir.” katanya sambil mengedip jail. aku capek berusaha menjauh darimu. “Tahu nggak.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun.

Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya. djAnGgo 75 .Wayne dan Peter Parker.

” Ia mencemooh lagi.” aku meyakinkannya. juga.” Kami bertatapan.” “Kecuali aku.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. “Tergantung apa yang kau inginkan. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. “Satu. pikirannya teralih. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. “Terlalu memalukan. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya.” Aku tak mengerti raut wajahnya. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. “Tidak. waswas namun penasaran. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku.” “Kau marah. Ia memandang lewat bahuku. “Aku tak tahu apa maksudmu. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu.” “Ceritakan padaku satu teori.. kau tahu. kebanyakan orang mudah ditebak.” “Tidak susah kok. “Kedengarannya adil. Aku pernah bilang.” aku langsung membantah.” “Itu sangat memusingkan. Aku meneguknya sekali. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari.. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele.” Aku harus berpaling dari tatapannya.” keluhnya. “Terima kasih.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu. Itu.” lanjutku. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati.” “Tidak. “Aku hanya bertanya-tanya. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa. kecuali kau.” “Ya.” djAnGgo 76 .” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. “Tidak. “Lagipula.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak... bahkan setelah berjanji akan melakukannya. demi kebaikanku sendiri. akan sangat memusingkan.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang. Ia menunggu. Jadi aku bisa siap-siap. “Atau lebih baik. lalu tanpa diduga mencemooh.” kataku dingin. tatapannya muram. kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku. “Tidak. aku yakin kau salah. Aku menggeleng. nah. mataku menyipit.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. tanpa tersenyum. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. aku tidak lapar. dengan ketegangan. tentu saja.

” “Kau tidak memberi syarat.” djAnGgo 77 . kau hanya bilang satu jawaban.” ia mengingatkan aku. “Jangan yang itu. aku takkan tertawa. “Kau sendiri selalu ingkar janji. “Hanya satu teori.Uuppss.” aku balas mengingatkan.

“Maaf.” kataku.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. dan. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. well. “Kuharap kau tidak mencobanya. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. “Aku mengerti. “Well.” keluhku.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak. “Kau berbahaya?” aku menebak.” ejeknya.. cuma itu yang kupunya. matanya yang kekuningan tampak membara. sambil menatap untuk terakhir kali. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik.” tukasku kesal. tapi matanya masih waswas. sedikit saja.” Ia tersenyum padaku. Ia memang berbahaya. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku.” Aku yakin mengenai yang satu ini. Sialan. Ia menunduk. Ia menunduk. Aku menatapnya. “Ehh. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. “Aku juga terkena batu kryptonite.. “Kita bakal terlambat.” kataku. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan.“Pasti kau bakal tertawa. lalu mengambil tutup botol. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada.” Suaranya nyaris tak terdengar. Tapi aku hanya merasa khawatir. Ia hanya memancangku.” kataku mengingatkan.” Aku ragu-ragu. “Please?” ia menghela napas. Aku mengerjap.. tatapannya sarat emosi. “Oh. mencondongkan tubuhnya ke arahku. tidak nyaman. apa?” tanyaku bingung.. Aku tidak mengerti. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. lebih dari segalanya. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. “Kalau begitu. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya. “Ceritakan satu teori.” katanya. Aku melompat kaget.” “Kau salah.” Ia berubah serius lagi. “Kau kan tidak boleh tertawa.” sahutnya sambil tertawa. “Nanti juga aku tahu. sambil menggeleng. aku masuk. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. djAnGgo 78 .” bisikku. terpesona. pikiranku kosong. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. aku tidak percaya kau jahat. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya.” godanya.” “Sial. “Tapi tidak jahat. itu jelas. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. dan memutarmutarnya di antara jemarinya. sampai ketemu lagi. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. “Karena. “Tidak. bingung. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya.

djAnGgo 79 .Ketika aku setengah berlari menuju kelas. mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. Setidaknya hujan telah reda. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi.

diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 .” gumamku. Banner. mengagetkanku. Aku bergegas duduk di kursiku. “Kemudian oleskan ke kartu. Mr. tidak. Banner. Oh.” ia selesai dengan peragaannya. Aku menelan liurku karena tegang. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. sadar Mike dan Angela menatapku.” kata Mr.Aku beruntung. Sir. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. “Taruh setetes darah. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. Suaranya terdengar sangat dekat. lalu mengenakannya. ia melanjutkan. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian.” Ia memeragakannya. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku takut mengangkat kepala. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator. “Bella. Mike tampak kesal. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya.” Ia mulai dari meja Mike lagi. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar.” Ia terdengar bangga. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. kau baik-baik saja?” tanya Mr. Angela kelihatan terkejut. dan sedikit kagum. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. dan mengabsen kamu satu per satu. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. perutku rasanya mau meledak. suara anak-anak mengeluh. “Oke.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. Mr. aku punya formulir izinnya di mejaku.” kataku lemah.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Lalu Mr. “Aku sudah tahu golongan darahku. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. pada masing-masing kotak. sedikit saja. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. guys. lalu memperlihatkannya kepada kami.. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku.. Banner masuk. Aku memejamkan mata. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. “Yang kedua aplikator segi empat. tapi perutku langsung mulas.

djAnGgo 81 . Aku merebahkan diri dengan posisi miring. aku berhenti. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.” bisikku. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Banner. Kalau perlu. jaga tanganmu. aku akan merangkak. Banner memperhatikan. tidak terlihat dari gedung empat. “Wow. kalau-kalau Mr. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria.tidak membolos. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. Aku masih sangat pusing. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. Banner. memejamkan mata. Sepertinya ini agak membantu. “Biarkan aku duduk dulu sebentar.” kataku mengingatkan. “Dan apapun yang kau lakukan. “Ya. pikirku.” aku memohon padanya. kau pucat.” kata Mike khawatir. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Keluarakan saja aku dari sini. Bella.

” Edward melontarkan ejekan pelan. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo. “Dia pingsan di kelas Biologi. Ia membopongku dengan lembut. Lalu ia pindah. Miss Cope. “Hei!” seru Mike. “Kau tampak kacau. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak.” “Aku akan mengantarnya.” aku mendengar suara perempuan terkesiap. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya.” “Aku tahu. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. Aku tidak tahu apa yang terjadi.” “Bella. “Berbaring saja sebentar. Sepertinya ini menghiburnya. “Pergilah. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik.“Apa yang terjadi. nanti juga sembuh.” Edward sudah disebelahku sekarang. Kubuka mataku karena terkejut. “Turunkan aku. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. “Pasti ada saja yang pingsan.” Mike menjelaskan dengan nada defensif. Kukatupkan bibirku rapat-rapat. Mike tampak sangat khawatir. dia bahkan tidak menusuk jarinya. “Bahkan dengan darahmu sendiri. tapi tiba-tiba suasananya hangat. Kubuka mataku. dan ini sepertinya tidak mengganggunya.” desahku. dan ia terdengar muram. “Turunkan aku!” Kumohon.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. ya. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. Aku berada di kantor TU. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya.” protes Mike. nyengir. Aku terus memejamkan mata. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. bukannya 55. Edward telah menggendongku. “Kau bisa kembali ke kelas.” Ia tertawa. djAnGgo 82 . “Kurasa dia pingsan. berharap diriku mati. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. Atau setidaknya.” erangku. “Aku sedang membawanya ke UKS.” “Tidak.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. “Ya ampun. “Aku yang seharusnya melakukannya. menikmati perkataannya. Mualnya sudah hilang. Sayang. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku.” keluhku. lega. Matanya memancarkan kegembiraan. petugas TU yang berambut merah. Aku tidak sedang berkhayal. tidak muntah.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan.” katanya padaku.” kata Edward.” lanjutnya. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. “Dia hanya sedikit lemah. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang.” Edward menjelaskan. yang tertinggal jauh di belakang kami. Edward mengabaikannya. Aku tidak menyahut. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel. berdiri rapat di dinding. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. kumohon.

“Kadang-kadang.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan. Sayang. tapi kali ini dalam hal apa. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. “Aku disuruh menemaninya. “Aku akan mengambil kompres untukmu.” aku mengakuinya.” ia memberitahu Edward. lalu bergegas meninggalkan ruangan.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya.” erangku. ya?” djAnGgo 83 . “Biasanya memang begitu. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. ia tidak membantah. membiarkan mataku terpejam.” perawat berkata kepadaku. “Kau benar. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang.

aku bisa. tapi kemudian pintunya terbuka.” kata Edward senang. “Sejujurnya. “Aku mencium bau darah.” tambahnya.” kataku sambil bangkit duduk. “Bukan apa-apa. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain. “Kita punya korban lagi. “Kurasa aku baik-baik saja. Telingaku berdenging sedikit. “Tadi kau sempat membuatku takut.” Edward menatapku dalam-dalam. “Percayalah. bergegas keluar dari ruang perawatan. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. tapi aku tak lagi pusing. yang tampak pucat.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. “Kau benar-benar menuruti perkatanku.” Mataku masih terpejam. itulah yang membuatku sakit. tapi aku merasa semakin pulih. temanku dari kelas Biologi.” “Ha ha.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. Mike ganti menatapku.” Aku mencoba bernapas teratur.” Aku menatapnya.” Jawaban yang masuk akal. Aku berani bertaruh dia pasti marah. ia memapah Lee Stephens. “Well. “Aku lihat wajahnya. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu. Bella. “Jangan ikut campur.” katanya. ayo keluar. aku tidak memerlukannya. menatapku dan Edward bergantian. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. Tapi kalau dipikir-pikir. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan.” kataku. dan garam.” “Dia sangat membenciku.” “Kasihan Mike.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. Aku mendengar suara pintu terbuka. “Apa kau akan djAnGgo 84 .” akunya setelah beberapa saat. aku tahu.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.” gumam Edward.” Ia meletakkannya di dahiku. “Keluar dari sini. “Kau kelihatan lebih baik.” bantahku. “Apa?” tanyaku. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu.” bantahnya. Kuserahkan kompresnya pada perawat. “Kau kelihatan lebih baik. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya. matanya kelam.. “Oh tidak. “Ini. mendengarkan CD. tapi mengejutkanku. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. keheranan. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. Baunya seperti karat. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi. “Sudah tidak ada darah lagi.. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam. lalu membuka mata. Sayang.” Aku nyaris pulih sekarang. mengerutkan hidung.” Ia terperangah. Perawat datang membawa kompres dingin.” tuduhnya. seperti aku. barangkali ada untungnya perutkku kosong. “Manusia tidak bisa mencium darah. “Ini dia. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang.” aku mengingatkannya. “Aku sedang di mobil.” gumamnya.

kan sudah kubilang aku akan ikut.. “Tentu saja.” “Yeah. kurasa begitu.. tak bergerak bagai patung. Aku berusaha terdengar seramah mungkin. tatapannya kosong.” djAnGgo 85 . Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan.kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi.

berjalan gontai ke pintu. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward. dan aku baik-baik saja. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. Kita tidak djAnGgo 86 .” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. Bella?” serunya. di gymnasium. Mrs. ekspresinya kembali mengejek. “Aku akan datang. Ia menatapku sekali lagi. tanpa ekspresi.” Ia menatap lurus ke depan.” “Sama-sama. Ini sama sekali bukan tantangan. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. “Jadi.” Aku menghela napas.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward.” balasku. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan.” erangku.” “Oke. mencoba tampak selemah mungkin. wajahnya yang bulat cemberut sedikit.” Kuamati wajahnya. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. “Terima kasih. Kau merasa lebih baik. sampai ketemu di gymnasium. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini.” aku berjanji. Rasanya menyenangkan.” “Sudahlah. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Kalau begitu. mencoba membacanya. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. ke First Beach.” kata Mike. “Apa kau bisa berjalan. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Ia membukakan pintu untukku. menyipitkan mata menembus hujan. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam. “Aku baru saja mengundangmu. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. Goff takkan keberatan. meskipun mustahil. bahunya merosot. mata terpejam. kalau begitu semuanya beres. Aku mengangguk lemah. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. “Gymnasium. ia bukan tipe seperti itu. “Aku bisa mengaturnya. “Aku jalan saja.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. “Apa kau juga perlu izin. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi. “Daahh. kau pergi nggak? Maksudku. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. wajahku memang selalu pucat.” Aku berdiri hati-hati.” gumamnya. Ia menunduk dan melirikku. “La Push. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. “Asyik juga bisa membolos Olahraga. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. tersenyum ironis.

ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. kan?” Sorot matanya menari-nari. “Mike-schmike.” gumamku.ingin di marah. marah. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. djAnGgo 87 . “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. Aku sangat menyukainya dari seharusnya. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran.

Aku memandangnya. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil.” “Ini juga salah satu favoritku. “Claire de Lune?” tanyaku. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. tapi lebih cantik. “Kau kasar sekali!” gerutuku. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. “Sudah terbuka.” Ia memandang menembus hujan. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. Ia menekan tombol kontol. barangkali ia akan tetap menyeretku. marah. Kalaupun aku jatuh. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. “Ini benar-benar tidak perlu.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. aku terhuyung ke pintu penumpang. meski stabil dan tenang. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. “Berapa umurmu. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. Hujan turun semakin deras. jadi air menetes-netes ke punggungku. “Tidak terlalu. Lalu akhirnya ia melepaskanku. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. Dia teman baikku. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami.” ancamnya. Ia mengabaikanku. Alisnya terangkat. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Usahaku tidak begitu berhasil. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . “Aku tinggal menyeretmu lagi. “Masuk. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya.” Aku berhenti berbicara. tidak mungkin. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. bih tepatnya menarik jaketku. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. dan lebih berani.” Aku tak menjawab. menyalakan pemanas dan menyetel musik. “Lepaskan!” desakku. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Ibuku punya sifat lebih terbuka. “Dia sangat mirip denganku.” aku mengakui. Bella. Aku mendengarkan musiknya. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. heran. “Pulang. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. dan juru masak yang sangat payah.” kataku. Membicarakan ibuku membuatku sedih. terkejut.” cuma itu reaksinya. aku hanya tahu yang kusuka. Ia tak menyahut. termenung.Aku bingung.” kataku. Harus kuakui. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. mengamatinya dengan tatapan penasaran. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku.

djAnGgo 89 . “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali.” jawabku.bisa kubayangkan. penasaran lagi. sedikit bingung. Ia menghentikan mobil. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. membuatku tertawa. “Kenapa?” tanyanya. “Tujuh belas.” Nada suaranya mencela.

“Ya. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan.” Ia tersenyum. “Jadi. “Aku tak begitu ingat mereka. “Apakah itu penting?” tantangku. “Hmm. itu pun hampir 2 bulan yang lalu. matanya mencari-cari jawaban di mataku.” Tapi aku menjawab terlalu cepat.. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka.” “Dan kau menyayangi mereka. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku. dia tergila-gila pada Phil.. “Tapi bagaimanapun.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 .” ujarku terbata-bata. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. “Ibuku. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. aku jadi berpikir..” ujarnya kagum.” Aku berhenti sebentar. “Tidak. Jadi agak berbeda. Bagaimanapun juga..” Itu bukan pertanyaan. lalu menghela napas.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. “Aku ingin dia bahagia. sangat muda bagi umurnya. harus ada yang menjadi orang dewasanya. “ Well.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. kalau mau. aku baru menyebutnya sekali. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. “Maafkan aku.” gumamku.. kupikir kau bisa..” kataku. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku.” “Kau sangat beruntung.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. “Jadi. “Ya. “Apa?” “Menurutmu. “Ku-kurasa.” “Kau baik sekali.” Aku tertawa.” Ia langsung berhati-hati.. dialah sang orangtua.” Beberapa saat aku jadi ragu. kebenaran atau kebohongan. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. dan Phil laki-laki yang diinginkannya.” Suaranya datar. Ia kembali tersenyum. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku.” “Aku tahu. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku.

” Aku mendesah. “Aku yakin dia sudah mendengarnya. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku. juga Jasper dan Rosalie. maaf. kurasa kau harus pergi.Ia melirik jam di dasbor. djAnGgo 91 . “Saudara-saudaraku.” “Oh.” Aku tak ingin keluar dari mobil. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang.” Ia tersenyum padaku. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi. Tak ada rahasia di Forks.

” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. “Akan kuusahakan. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. “Jangan tersinggung. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. Kurasa aku tak berhasil membodohinya.Ia tertawa..” Ia memandangi hujan yang masih turun. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. “Oh. oke?” Ia tersenyum sangat lebar.. cuacanya bagus untuk berjemur. Aku memandangnya.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. selamat bersenang-senang.. djAnGgo 92 . di selatan Rainier. matanya yang keemasan menyala-nyala. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. Jadi. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku. “Selamat bersenang-senang di pantai. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness.” Aku berusaha terdengar antusias. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya. ada kekhawatiran dalam tawanya.. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa. well .” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. Aku mengangguk putus asa. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga.

djAnGgo 93 .

“Kau tahu. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. dan Jasper yang duduk mengobrol disana..” “Kau sepertinya agak marah.. Aku tepat di belakangnya. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. “Dia tak pernah mengatakannya.6. Tapi hari ini udara lebih hangat. “Jadi. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. menunjukkan kesetiaannya padaku.” jawabku jujur. semua sibuk membicarakan rencana besok. dan ia tidak menyadarinya. “Dia temanku. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal.” ujarku setuju.” pancing Jessica. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat. ia mencibir ketika menyebut namaku. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. lagi. Terutama Jessica. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. Itu aneh. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. tapi juga sedikit posesif. meskipun di tengah guyuran hujan. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Jessica tampak jengkel. “. Alice. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. dia duduk bersama kita. wajahku tetap datar. Meski begitu. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. “Aku tidak tahu. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. “Oh ya?” sahutku. Mike sudah ceria lagi. aku menunggu-nunggu suara trukku. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. atau begitulah menurutku. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. Di mejaku yang biasa.tak tahu kenapa Bella”. Aku tidak mengerti kenapa. Kupikir. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. hampir 15°C.” “Memang aneh.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. truk itu tiba-tiba sudah disana. aku toh masih berharap. Hari ini hanya Rosalie. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi.” Mike berbisik padanya.

Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. “Dad. dan barangkali kakek buyut mereka juga. Malam itu. saat makan malam.” tanyaku santai. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Kelihatannya ia tak keberatan. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. djAnGgo 95 . kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier.Jessica dan Angela melewatiku. Bukannya aku bakal memberitahunya. dan orangtua mereka. sehingga sulit untuk mengubahnya.

Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Bukan di tempat semestinya. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. khawatir kalau kutinggalkan. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . Aku tak percaya. Aku mengulum senyum.” ujarku berbohong. Awan-awan menggantung di langit. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. Eric ada disana. “Kau datang!” serunya. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. “Tidak. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping.. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. terlalu rendah. “Terlalu banyak beruang. Setidaknya Mike senang melihatku. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul.” “Oke. Betapa mudahnya membuat Mike senang. “Mungkin aku salah mengingat namanya. kecuali kau mengundang seseorang. dan Sungai Quillayute yang lebar. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. diikuti Angela dan Lauren. Tapi tetap saja mempesona. Aku senang bisa duduk dekat jendela. duduk di kursi depan Suburban Mike. Mike tampak puas. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka.” ujarnya. Airnya kelabu gelap.” Ia tersenyum bahagia. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner.” Mike menambahkan. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. Lee mengajak dua orang lagi. Meski begitu.“Yeah. tapi belum pernah singgah disana. Aku sudah pernah melihatnya.” Ia terdengar terkejut. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. “Sudah kubilang hari bakal cerah. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. kenapa?” Aku mengangkat bahu. Jess ada disana. gembira. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. tapi jelas itu matahari. membisikkan sesuatu pada Lauren. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. dan bisa dipastikan. berharap tidak ketahuan. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. sehingga semua mobil penuh.” gumamku. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya.” aku mengingatkan.” “Oh. matahari bersinar. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk.. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. langit biru itu akan lenyap lagi. “Kau boleh membawa senjata. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. Mike tampak kecewa.” Aku bermaksud pergi tidur. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Aku berdiri di jendela selama mungkin. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela.

beberapa berimpitan di bibir hutan. naik ke puncak yang tak beraturan. lavender .ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. beberapa sendirian. keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. djAnGgo 97 . abu-abu. yang dari kejauhan tampak abu-abu. hijau laut. biru. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. jauh dari jangkauan ombak. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya.

lalu duduk hati-hati disana. Aku harus berhati-hati melangkah. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. agar tidak jatuh ke lautan. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. “Warnanya biru. Ada api unggun disana.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. Kami berjalan menuju pantai. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. cewek-cewek lain berkumpul. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Mike berlutut di depan api unggun. lalu duduk di sebelahku. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. melompat-lompat di atas bebatuan. Ia tidak ingin mendaki. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. penuh abu hitam. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Awan-awan masih mengelilingi langit.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. bergosip ceria di sebelahku. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. perhatikan warna-warnanya. Pendakiannya tidak terlalu panjang. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. sejuk dan asin. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Setengah jam setelah mengobrol. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. Ombaknya rendah. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. dan rantingranting di atas kepalaku.” kataku kagum. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. Untung Jess ada di sisinya yang lain. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. Ini benar-benar dilema. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. “Belum. “Itu karena garam. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Yang lain sepertinya tak kenal takut. bertengger di ujung tebing berbahaya. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api.Angin kencang bertiup bersama ombak.

Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. djAnGgo 99 . menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. Aku begitu terlena. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. Telapak tanganku beberapa kali tergores. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. hingga beberapa kali aku terjatuh. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. kulit mereka berwarna tembaga. jumlah orang disana sudah bertambah. Ketika kami kembali ke First Beach. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Ketika makin dekat. tapi bisa saja lebih parah. Akhirnya cowok-cowok kelaparan.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas.

Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali.” “Rachel dan Rebecca. sambil menjabat tangannya yang ramping. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Mike. perlahan-lahan menutupi langit biru. mungkin 15. “Kau putra Billy. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. dan melekat dalam pikiranku. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. Angela dan aku tiba terakhir.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. halus dan kecoklatan.” “Oh. kau pasti ingat kakak-kakakku. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Kulitnya menawan. matanya gelap. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. Jacob pindah duduk di sebelahku. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. “Bella. agar mereka bisa pergi memancing.” keluhku.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. dan hal itu menggangguku. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. “Kau membeli truk ayahku. sering kali samar-samar.” “Bukan. dan. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Selama makan siang awan mulai berkumpul. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. beranjak ke toko di pedesaan. aku yang bungsu. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. “Aku Jacob Black. menggantikan Angela. ketika Eric memperkenalkan nama kami. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. kadang-kadang menghalangi matahari. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut.” sahutku lega. aku duduk sendirian di seonggok kayu. Sepertinya dia berumur 14. Aku duduk di sebelah Angela. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. yang lain ikut mendaki. “Kau Isabella Swan. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. dan membuat ombak berubah gelap. berdua atau bertiga.” tiba-tiba aku teringat. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami.

“Tidak. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.” “Menikah.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku.terhenti. kau menyukai truknya?” tanyanya. Truknya hebat. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. “Jadi. sekarang dia tinggal di Hawaii. Wow. “Aku menyukainya. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington.” Jacob menggeleng.” djAnGgo 101 .

” sergahku.” Ia nyengir. Jacob mengusik ketenanganku. dan matanya yang curiga menyipit. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. menuju garis batas yang pebuh driftwood.” panggilnya lagi. tapi jalannya pelan sekali. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. “Bagus. bahwa mereka tidak diizinkan. tersenyum padaku lagi. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. “Bagus sekali. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum.” “Tidak sepelan itu kok. “aku belum tahu. “Maksudmu anak-anak dr. memandangku bersahabat. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. bagiku itu sesuatu yang ironis. “Aku baru saja bilang pada Tyler. terkagum-kagum. Kalau begitu jangan. sorot matanya masih coba kupahami.” ia tertawa. mengabaikan pertanyaan Lauren. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. sambil memperhatikan wajahku. dengan nada yang kupikir kasar.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya.” Jacob menimpali sambil tertawa. awan akhirnya menutupi langit.” aku tertawa. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. Perhatian Lauren pun teralihkan. mereka dilarang datang. Aku menatap cowok bersuara berat itu. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. “Jadi.“Yeah.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. kan?” candanya. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. tapi aku berjanji akan mencari tahu. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. membuat laut gelap dan suhu turun. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. djAnGgo 102 . kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. “Kau kenal Bella. Jacob?” tanya Lauren. “Ya. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami.” Aku nyengir.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu. “Jadi. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku. namun enak didengar. aku yakin. “Ya. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. Ia tersenyum penuh pengertian. Hasilnya tentu saja tidak sama.” ia tertawa. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. Suaranya serak. Ia sangat mudah diajak bicara. terkejut. dan suaranya sangat berat.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. dari seberang.” jawabku. “Maaf. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna. Ia tersenyum menawan. “Bella. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. Tyler. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. Rencana bodoh. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. dan setengah berbalik menghadapnya.

Kumasukkan jaket. tanganku ke saku djAnGgo 103 .

“Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya.” Suaranya semakin rendah. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya.” ia mengaku keheranan.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda. tubuhku cukup tinggi. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya.” lanjutnya. setelah aku dapat SIM. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara.” kataku bersemangat. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. “Itu Sam.” jelasnya. sepertin Nuh dan bahteranya. “Well. tak lagi berpura-pura. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. memandang Pulau James.” “Untuk anak seusiaku. ada banyak legenda. “Kupikir kau lebih tua.” Ia memalingkan wajah. “Keluarga Cullen? Oh.” “Oh. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. aku takkan bilang siapa-siapa. tentang asal-muasal kami. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. aku bisa pergi sesering yang kumau.” ia memberitahuku. “Tidak juga. dan beberapa yang lain belum terlalu tua. konon katanya. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. “Ya. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. “Aku baru saja berumur 15.” Jacob memutar bola matanya. suara tak menyenangkan. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. umurnya 19. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. Aku berusaha mengabaikannya. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. “Upss. aku hanya penasaran. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. Ia balas tersenyum menawan.” jawabku jujur. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar.” ia mengaku malu-malu. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. “Aku suka. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami.” Ia tersenyum.“Jadi. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. djAnGgo 104 .” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. “Tapi setelah mobilku selesai. Benarbenar konyol. Ia memandang bebatuan. berharap jawabannya ya. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam. “Tidak terlalu.

“Dia tetua suku. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. well. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. seperti ayahku. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia. bukan serigala sesungguhnya. Kau tahu. Kau bisa menyebutnya werewolf. djAnGgo 105 . serigala jadi-jadian.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. seperti leluhur kami.” Aku menatapnya serius.

” “Tentu.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. entah bagaimana caranya. “Keren. Aku tak tahu bagaimana rupaku. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. kan?” Aku mengulurkan lengan.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya.” Jacob berusaha menahan senyumnya. aku takkan bilang. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin.” aku memujinya. mereka sudah mengenal pemimpinnya. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. “Peminum darah.” lanjut Jacob. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. tapi sisanya sama saja.. “Cerita yang cukup sinting.” Jacob tertawa. jadi aku tak berpaling menatapnya. “Kau pencerita yang baik. Bulu kudukku masih berdiri.” Aku mencoba mengerti.. Cullen mulai bekerja disana. kemudian bergidik. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. kan.” Aku belum dapat menahan emosiku.” jawabnya.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. lihat. suaranya membuat bulu kuduk meremang. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. “Tapi sungguh. “Tidak. jangan bilang apa-apa pada Charlie. dan melanjutkan ceritanya lagi. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.“Jadi kau tahu. Konon. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. sambil masih menatap ombak.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. lalu kenapa. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini.” “Jadi. “Kau merinding. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. Pada masa kakek buyutku. seorang perempuan dan laki-laki baru. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. namun sedikit waswas. Ia tersenyum senang. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka.” kataku berjanji. yang berdarah dingin adalah musuh kami. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram.” Ia tersenyum.” Jacob tiba-tiba berhenti. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . “Mereka adalah kelompok yang sama.” ia tertawa gembira. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka.” Ia mengedip. “secara tradisional. “Sekarang jumlah mereka bertambah. “Kalau mereka tidak berbahaya. Carlisle.

Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami.” bisikku. Bella. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. “Itu pacarmu?” tanya Jacob. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Jacob tersenyum. “Tidak. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. senang karena rayuanku yang payah. Aku mengedip padanya. “Disini kau rupanya.” Mike terdengar lega. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. tentu saja bukan. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. djAnGgo 107 .mendekat.

sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. dan ia balas tersenyum. “Kita akan berkemaskemas.” aku berjanji padanya. Sepertinya memang akan hujan.” Aku melompat berdiri. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. “Kau dari mana saja?” tanya Mike.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya.” ia memulai lagi. kalau aku mendapat SIM-ku. “Sangat menarik. “Aku juga. Mike sudah di dekat kami sekarang. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini. Ia sangat mudah diajak berteman.” kata Jacob. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler.” Kami memandang langit yang mulai mendung. mengingat aku telah memanfaatkannya. “Aku datang. memejamkan mata dan berusaha santai. “Kau harus mengunjungiku di Forks.“Jadi. Jacob tersenyum.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob. Kita harus nongkrong bareng sesekali. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi. Ketika kami sampai di Suburban.” “Senang bertemu lagi denganmu. aku akan ikut.. memandangi badai yang semakin dahsyat. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. sepertinya sebentar lagi hujan. “Akan kutunggu.” “Terima kasih.. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. “Well. Angela hanya memandang ke luar jendela. “Oke.” ucapku tulus.” jawabku.” Mike berhenti. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. djAnGgo 108 . Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike.

djAnGgo 109 .

” ujarnya. Aku memejamkan mata. CD-nya kuputar berulang-ulang. Tapi ia sudah lenyap. Aku maju selangkah. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. Berhasil. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. kini putus asa menginginkan matahari. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. Begitu sampai di kamar. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. suaranya mendengkur. taringnya siap menerkam leher Edward. akhirnya. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. Ia tersenyum. “Tidak!” teriakku. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. Aku memasukkan CD itu. Aku melangkah sekali lagi. mencoba memahami liriknya. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. menarik-narik tanganku. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. aku mengunci pintu. “Lewat sini. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. tapi aku tak bisa melihatnya. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. Setelah 3 kali memutar CD itu. matanya gelap dan berbahaya. Karenanya. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. “Lari. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. “Jacob!” jeritku. menekan tombol Play. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. Aku mencoba mengikuti suara itu. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. kulitnya bercahaya samar. hingga. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. bulu-bulu tengkuknya meremang. dan tidak ingin makan apa-apa. Bella!” seru Mike dari belakang. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. tapi Jacob Black ada disana. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil.7. runcing. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . aku tertidur. menghampiri Edward. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. “Percayalah padaku. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. Bella. “Lari. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. dan giginya tajam. sekujur tubuhnya gemetaran.Tapi aku tidak berpaling. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. “Kenapa?” tanyaku. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. “Jacob. ada apa?” aku bertanya.

ku dulu. lalu mengetik satu kata. Kuambil CD player. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Aku memandang jam di lemari pakaian. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. membuka kancing jinsku. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. senang menundanya selama mungkin. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Aku duduk. Vampir. Aku tak bisa tidur lagi. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. batinku.tidur. Lalu aku menemukan situs yang tepat. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. dan menyimpannya di laci lemari. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Aku makan pelan-pelan. kemudian jatuh di lantai kayu. Ia pergi memancing lagi. aku pergi ke kamar. lalu menyimpannya. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Aku mengerang. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. untuk men. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. Kakiku kram ketika menaiki tangga. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. tentu saja. Modemku sudah ketinggalan jaman. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Aku harus menghadapinya sekarang. Kuintip dari jendela. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Percuma. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Lebih baik mandi dulu. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. atau sudah pergi. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. grup metal underground. dan perusahaan kosmetik gotik. lalu membereskan tempat tidur. Perlahan-lahan aku berpakaian. langsung ke bagian yang berisik. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. Hanya dengan berbungkus handuk. Lalu aku menyetel CD yang sama. Kulepaskan headphone-nya. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Ketika hasil pencariannya muncul. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up.30. sesuatu yang tak pernah kulakukan. bingung. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Lampu kamar masih menyala. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. mobil patrolinya sudah tidak ada. layanan servis gratisnya buruk. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Aku benci menggunakan internet disini. Vampir A-Z. Sudah pukul 05.

hakim. Semuanya lengkap : laporan resmi. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. kelihatannya seperti situs pendidikan. Pertama-tama aku memilih Danag. seperti sang vampir. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. di kepulauan itu dahulu kala. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. vampir Filipina yang menanam taro. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. Dan dengan semua itu. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. Akhirnya selesai. sejenis tumbuhan berbuah kentang.. tak ada figur yang begitu mengerikan. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. tersusun secara alfabetik. yang bukan hantu ataupun setan. keterangan itu adalah mengenai vampir. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . ahli bedah. Pdr. Menurut mitos itu. para imam. siapakah di luar sana yang percaya vampir?.bermunculan di layar. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius.

Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. matahari menjadikan mereka abu. Semua ini benar-benar konyol. Aku paling payah kalau soal arah. keindahan. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. Aku duduk di kamar. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. kekuatan. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. Langit mendung. dan hanya sedikit sekali. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. dan hanya keluar di malam hari. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. Merasa jengkel. Di balik kekesalanku.bertahun-tahun. lalu turun. tapi belum hujan. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. apalagi masuk akal. warna mata yang berganti-ganti. Rasanya lega ada satu catatan kecil. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. berkulit dingin. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. musuh werewolf. Lalu masalah lainnya. Meski begitu. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. dan abadi. kalau tidak. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. hanya ada satu kalimat pendek. aku merasa malu. kulit pucat. di djAnGgo 113 . dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. Stregoci benefici : vampir Italia. Nelapsi dari Slovakua. Aku harus keluar dari rumah. tak tahu akan ke mana. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. Mereka tidur di dalam peti seharian. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. tanpa melalui tahapan semestinya. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. Aku membaca uraiannya dengan saksama. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. mencari keterangan tentang vampir. Kecepatan. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. konon memihak kebaikan. vampir tidak bisa keluar di siang hari. dan satunya lagi Stegoni benefici. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. Mengenai yang terakhir ini. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. dan musuh abadi semua vampir jahat.

Ketika amarahku memudar. Banyak yang tidak kuketahui. mapel. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. menjulang tinggi di atasku. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. dan yew. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. aku memperlambat langkah. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. Pohon yang baru tumbang itu. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. munurut dugaanku menuju ke timur. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut.

Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Seharusnya aku tahu. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat.lainnya. dan kali benar-benar serius. Di sini. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. Ia lebih dari itu. berbahaya. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. Aku tak bisa melakukan yang lain. manusia. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan.ku sendiri. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. menyandarkan kepala ke pohon satunya. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. barangkali. ketampanan yang tidak manusiawi.. membuatku gelisah. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya.. mengabaikannya sebisaku. tanpa melihatku. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . Pertama. jahat. kulit yang pucat dan dingin. kecuali aku. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. suara tetesan air semakin sering terdengar. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami.. Inilah jawabanku sekarang. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan.. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. keheningan serasa mencekam. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. Pikiranku menolak rasa sakit itu. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. mereka memang sesuatu. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. dan bergegas beralih ke pilihan lain. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. seandainya ia. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. menghindarinya sebisa mungkin. Jadi. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. Edward Cullen bukanlah... daripada di kamar tidurku. diantara pepohonan. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan.. Burung-burung membisu. siapapun pasti menganggapku bergurau. Membatalkan rencana kami. Dan caranya kadang-kadang bicara. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. Sepertinya ada dua pilihan. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. Memintanya menjauhiku. Kini setelah aku duduk. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil. Lagipula. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. Terlebih lagi. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. sergahku dalam hati. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. Tapi lalu apa? Batinku.. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. Amat sangat cepat. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu.

nyawa adalah tindakan spontan baginya. Satu hal yang aku yakin. seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. Aku mengkhawatirkan-nya. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. kalau memang yakin. djAnGgo 116 . bukannya karena Edward sendiri. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing.

aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. Kamis sore sejujurnya.. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. Karena ketika aku memikirkan Edward. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. well. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Kubuka jendela. padahal malamnya aku kurang tidur. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. matanya yang menyihir. produktif. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. aman dan jelas. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Sebelum kelewat panik. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. bagian yang paling membuatku menderita. Tapi jalan kecil itu masih disana. rumahnya memberi isyarat padaku. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini.. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan.. Charlie pulang membawa tangkapan besar. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. Aku seharusnya takut. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Meskipun. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . aku tinggal menjalaninya. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. Aku memang selalu seperti itu. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. daya tarik kepribadiannya. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. Sekarang setelah tahu. Mudah sekaligus berbahaya. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. pertanda hari bakal cerah. Keduanya seharusnya berbeda. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. seandainya aku benar-benar tahu. Aku melompat ke jendela. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. berhubung aku tidak kemana-mana. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Aku bergegas mengikutinya. pikirku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan.. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. tapi aku tak bisa memikirkannya. Tidak disini. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. seperti keputusanku datang ke Forks. suaranya. dan aku pun terbebas.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Tapi begitu keputusan diambil. aku tahu aku mestinya merasa takut. Malam aku tidur tanpa mimpi.

Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. “Hari yang bagus untuk berada di luar. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. telah menipis.” aku menimpalinya sambil tersenyum. warnanya sama dengan rambutku. Rambut cokelat ikalnya. dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. jika bukan teksturnya. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. Ketika Charlie tersenyum. “Ya. Tapi ketika ia tersenyum. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya.” komentarnya. djAnGgo 118 . mulus. Ia balas tersenyum. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku.deritan. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. dan menghirup udara yang kering.

Ia duduk di sebelahku.. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. kurasa Rabu. Ia sangat senang bertemu denganku. Mike. “Kupikir itu bukan ide bagus. matanya siaga. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. PR-ku sudah selesai.” Aku tersadar. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan.” “Rabu?” sahutnya. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. kita bisa pergi makan malam atau apa. rambut spike-nya bersinar keemasan. Mike menghampiriku. bukan?” “Hari yang kusuka. “Hari yang indah. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya. dan sedang melambai ke arahku.” “Oh. “Hei..” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. “Hanya di bawah sinar matahari. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat. senyum merekah di bibirnya. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well.” sahutku.. tak perlulah menyombongkan diri. Dengan menuangkan banyak pelumas. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan.” aku jengkel didesak seperti ini. “Kenapa?” ia bertanya. hingga mau tak mau aku senang juga.. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya. tanganku memegang jas hujan. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. “Seharian mengerjakan esai. “Mike. kecewa. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab.. Semua anak menggunakan T-shirt . Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. kan?” “Mmm. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked.” Ia tersenyum penuh harap.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.” sapaku sambil balas melambai.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat.” katanya.. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. dikumpulkan Kamis. “Gawat. kedengarannya seperti Mike. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 .Aku menyantap sarapanku dengan ceria. dahinya berkerut.” Wajahnya kecewa. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. “Oh iya. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. senang bisa menggunakannya. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. “Baru sekarang kuperhatikan. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi.. rambutmu ada semburat merahnya.

Edward. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain. Mike. jelas bingung. Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ.” ia menarik napas. “Jessica?” “Sungguh. djAnGgo 120 .. “Kupikir. kau ini buta ya?” “Oh. Ia keheranan. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya.. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama.” ancamku.

Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. melainkan juga semua keluarga Cullen. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. menungguku. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. lalu menetap di perut. muram. dan raut wajahnya gelisah. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen.. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. Jadi kubilang akan memikirkannya. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. dan memilih duduk di sebelah Angela. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. pelatih tidak selesai menjelaskan. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. dan sekarang aku mengatakan ya. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. kelas Spanyol menahan kami. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. berharap menemukannya duduk sendirian. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. bukannya terpeleset di lapangan. tidak sama sekali. Aku tak bisa memutuskan. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. kubilang akan minta izin Charlie dulu.“Waktunya masuk kelas.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. djAnGgo 121 . Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. Angela juga mengajakku ikut malam ini. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku.. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Angela. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Bagian terbaiknya adalah. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. dan aku tak boleh terlambat lagi. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. tapi Laurent juga bakal ikut. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. ia kelihatannya sangat antusias. meskipun hatiku sedih. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. Ia. Ketika melintasi pintu kafetaria.

dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Jessica menelepon membatalkan rencana kami.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. djAnGgo 122 . aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Aku membumbui ikan untuk makan malam.

Bella. tulang pipi. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. Aku langsung terbangun. duduk. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. Angin masih sepoi-sepoi. Mom. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah.Kuperiksa e-mail-ku. Dan aku harus membuat makalah. jadi kupilih Sense and Sensibility. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. menembus kausku yang tipis. membalik-balik halaman novel itu. Aku nggak ada di rumah. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. Di luar. leher. hidung. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. dan rasanya agak geli. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. lalu berguling hingga terlentang. Aku sayang kau. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. ujarku kasar pada diri sendiri. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. yang semakin lama semakin sisis. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. Aku pergi ke pantai dengan teman. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. Kutarik rambutku ke atas. Aku mengedarkan pandang. Aku berbaring menelungkup. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. hampir mirip. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. membaca tumpukan surat dari ibuku. di atas rumput tebal yang selalu agak basah. Maaf. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. lengan bawah. djAnGgo 123 . bibir. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Aku membawa beberapa buku ke Forks. aku juga terkejut. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . Rupanya aku tertidur. aku tahu. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. mereasa jengkel.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Aku berpikir untuk menyetopnya. di sana ada rambu stop. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Langkahku tetap stabil. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. tapi ragu. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Aku setengah berbalik dengan siaga. memutuskan akan lari atau tidak. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. kembali ke trotoar. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. Aku sampai di sudut. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Jalanannya berakhir di sudut berikut. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Aku memberanikan diri menoleh sekilas.

dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. tendangan lutut ke daerah vitalnya. “Kami hanya mengambil jalan pintas. Menusukkan jari ke matanya.” suara keras menyahut dari belakangku. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak.” Langkahku sekarang pelan. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Dalam kegelapan yang menyelimuti. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. Teriakanku cukup keras dan lantang. Aku dijebak. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Lalu menghentikan langkah. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. Kepalan tangan siap kulayangkan. lampu jalan. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Aku melompat djAnGgo 133 . kaki terbuka. menggenggamnya. Manis. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. dan aku menghela napas lega. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. dan berjalan pelan ke jalan. Aku memasang kuda-kuda. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali.” seru cowok itu. tak ada suara yang keluar. Aku pun tersadar. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. dan lebih banyak lagi pejalan kaki.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. “Masuk. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. mobil ini akan berhenti.” terdengar suara gusar memerintahku. apalagi mereka berempat. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Tentu saja jurus standar. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. mobil-mobil. ia seolaholah memandang ke belakangku. “Jangan dekati aku. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. “Jangan begitu. Aku membelok dengan helaan napas lega. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. bersiap-siap berteriak. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. Aku berlari ke tengah jalan. “Yeah. tapi mereka terlalu jauh. aku tidak sedang diikuti. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. memaksanya melompat ke trotoar. sementara aku berdiri membeku di trotoar.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. atau menabrakku.

masuk. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan.” perintahnya. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. Suasana di dalam mobil gelap. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Aku langsung mematuhinya. melaju terlalu cepat. “Pakai sabuk pengamanmu. membanting pintu hingga tertutup. djAnGgo 134 . tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka. Ia membelok tajam ke kiri. terus melesat cepat. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. Tapi aku merasa sangat aman. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara.

dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku.” gumamku. berarti kedudukan kami seri. Sudah lewat 18. Diam-diam aku berusaha berdeham. Wajahnya kaku. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. dia juga tidak bisa pergi ke prom. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. memandang ke luar jendela. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 .” Ia juga berbisik. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. Ia menyandarkan kepala ke kursi. memalingkan wajah. suaranya tegang namun terkendali. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri.” Aku menunggu. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. mobilnya masih ngebut. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. “Mmm.” Ia terdengar lebih tenang.. Aku tidak memerlukan musuh.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. “Aku sudah dengar. well. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.” Kata itu sepertinya tidak cukup. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. Aku melihat jam di dasbor. Kami duduk diam lagi. Kalau tidak punya kendaraan. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan.” jawabku lembut. “Maaf. kau pasti ingat. “Bella?” ujarnya. Bella. “Aku seharusnya menemui mereka. nada suaranya marah. menatap langit-langit mobil. “Ya. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.” perintahnya. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku duduk diam. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan.. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. Aku memandang berkeliling.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. tapi sudut bibirnya menegang. “Tolong alihkan perhatianku. “Ya?” suaraku masih parau. “Lebih baik?” “Tidak juga. tapi amarah tampak jelas di wajahnya.30. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. menunggu napasku kembali normal. menjelaskan rencanaku. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. matanya menyipit. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku.” katanya kasar.. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang.. akhirnya membuka mata. Kami sudah meninggalkan kota.” ia menjelaskan.” gumamku. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras..” cerocosku.” “Oh. “Apa yang terjadi?” bisikku. “Jessica dan Angela pasti khawatir.. “Tidak.” lanjutnya. terkejut mendengar betapa parau suaraku. “Setidaknya. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. Edward menghela napas.

“Bagaimana kau tahu dimana. berjalan waswas menjauhi kami.” aku memulai.jalur boardwalk.. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala.. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil. djAnGgo 136 . tapi ia melakukannya dengan mudah. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia.

kurasa. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Jelas sekali ia tak ingin didebat. tidak masalah. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward... maaf. Bella. Jess berbalik dan melambai. Aku hendak duduk. “Mmm. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek.” aku Angela.” katanya sedikit tersenyum. “Mengajakmu makan malam. “Pergilah. Ia berbicara mendahuluiku. Edward.” Suara Edward pelan.” Aku mengangkat bahu. mengamati wajahnya. wajahnya penasaran. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja. Restorannya tidak ramai. Aku balas melambai. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. “Sejujurnya..” Jessica menggigit bibir. tapi sorot matanya tetap tajam. “Tidak apa-apa. Mereka ragu. melambai ketika mereka menoleh. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya. Ketika akan masuk ke mobil.. Kami disambut seorang cewek. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. aku tidak lapar. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. Dari ekspresi mereka yang terkejut. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. “Kalau begitu. tapi Edward menggeleng. sebenarnya. Mereka bergegas menghampiriku. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Mmm.” aku mengaku malu-malu. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . kami sudah makan ketika menunggumu tadi. “Oke. lagi pula aku tidak lapar. Aku mengedip padanya. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. suaranya lembut dan menggoda. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. dan rambutnya dicat pirang. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Aku tak yakin.. Bella.” Angela mendahului Jessica. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. hibur aku. enggan mendekat. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. “Kurasa kau harus makan sesuatu.” kataku sambil menunjuknya. “Sampai besok. Ekspresinya tak bisa ditebak.” aku berkeras..” dengus Jessica. tapi bernada memerintah. tentu saja. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras.” “Eehh. kemudian bergegas keluar dari mobil. “Aku tersesat. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. entah disengaja atau tidak. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. Ia menungguku di trotoar. Kulepaskan sabuk pengamanku.

yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. matanya mengerjap. “pelayan kalian akan segera datang. “Tentu.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. membuat cewek itu sesaat terpana. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok.” aku mengkritiknya. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna. “Mmm”. “Tidak adil.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau.” djAnGgo 138 . semua kursinya kosong.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang. ia menggeleng.

“Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. wajahnya penuh harap. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja.” Ia tampak bingung.” kata Edward. “Aku mau Coke. membuatku gemetaran. Pandangannya terpaku di wajahku.” jawabku. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis. “Aku tidak pesan. Tentu saja. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. “Well. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa.” aku berkata ragu.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja..” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward. Tapi Edward tidak memandangnya. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang.” gumamku. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. Ia sedang memperhatikanku.” Pucuk dicinta ulam tiba.” “Sama. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku. kedinginan. terkejut karena kusungguhan hatinya. masih haus. Kusesap sodanya dengan patuh. Namaku Amber.. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. ayolah. “Bella?” tanya Edward. sakit.” Senyum lebar mengembang di wajahnya.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya.” aku mengakuinya. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 . “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward.. aku mau mushroom ravioli. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu.” kataku setelah bisa bernapas lagi. Pelayan datang. sorot matanya perasaran. sebenarnya aku menunggumu syok. Edward memandangku. “Oh. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. “Terima kasih. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum. “Kau tidak merasa pusing. “Minum.” ia menyuruhku. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. “Mmm.” kata Edward.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.” Ia memiringkan kepala. “Dua. “Hai. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. lalu minum lagi lebih banyak.

“Tidak. ketinggalan di mobil Jessica.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. kembali gemetaran. Edward menanggalkan jaketnya. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . Namun sekarang aku melihatnya. benar-benar memperhatikannya.” aku menjelaskan.” aku tersadar. “Punya. bukan hanya malam ini. “Oh. tapi sejak awal. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. hanya Coke yang kuminum. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya.

” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. suaranya terdengar waswas. Aku kembali gemetaran. “Teori lagi?” “Mm-hm. lebih terang daripada yang pernah kulihat.” Matanya menyipit. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. seperti pada umumnya orang normal. tidak. alisnya yang berwarna pualam mengerut. mengalihkan kerlingan mataku. Aku menghirupnya.” protesku. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. mencoba mengenali aroma itu. Ia menaruh makanan itu di depanku. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah.” lanjutku. Aku terkejut. “Well. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya.. terima kasih. Kalau. Perkataanku membuatnya tidak nyaman. “Aku punya teori tentang itu. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.” gumamnya pada diri sendiri.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. lalu menunduk.” aku mengakui.” Ia tampak khawatir.” ujarku. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. namun tatapannya masih tegang. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran. berusaha terlihat cuek. aku tidak merasa syok. sambil menebak ekspresinya. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. sambil mengenakan jaketnya. Aromanya menyenangkan. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.” “Tidak masalah. wajahnya cemberut. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. Ia memberikan jaketnya kepadaku.” kataku lagi.. terkesima. Ia menggeleng. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu. Ia menatapku. Ia menatap ke dalam mataku. Sweter itu amat pas di tubuhnya. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. “Aku merasa sangat aman denganmu. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. Lengannya kelewat panjang. cokelat keemasan. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. Tidak seperti aroma kolonye. tadi kupikir matamu berubah kelam. “Aku akan menceritakannya di mobil..warna krem muda.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. sepertinya lumayan enak. wajahku memerah tentu saja. “Kau seharusnya syok. “Terima kasih. dan langsung berbalik menghadap Edward.” katanya memperhatikan. Rasanya sejuk.” djAnGgo 141 .” aku berhenti. dan aku melihat betapa matanya terang. aku tidak mendapatkannya dari komik. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. “Dan?” sambarnya. tapi kau boleh membawakan soda lagi. “Tidak. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. “Sungguh. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang.” ujarku.. “Tentu.

djAnGgo 142 . ayo mulai. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. “Well. Aku menyesapnya.” ia mendesakku.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. suaranya masih tegang. lalu pergi.

. seseorang. mengatakan yang sejujurnya atau tidak.” Ia kembali menggeleng. kau tahu. Kau daya tarik terhadap masalah. kalau begitu. kau bisa mempercayaiku.” ujarku keberatan. Meski menunduk.” aku mengusulkan. dengan beberapa pengecualian. dengan satu pengecualian. secara hipotesis tentu saja. mengunyah sambil berpikir.. “Berikutnya. Raut wajahnye berubah dingin. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. tapi ia langsung menariknya. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade.” Aku senang ia berusaha meladeniku.” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Kau tahu. “Ya sudah. seseorang itu. tanpa ekspresi.” ia meralatku. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. “Katakan saja. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. masih menunduk. kau lebih teliti daripada yang kukira. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya.” “Hanya satu pengecualian.” “Sebut saja dia Joe. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya. penggolongan itu tidak cukup luas. Kami bertatapan. “Secara hipotetis?” tanyanya. dan djAnGgo 143 .” gumamku. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya.. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat. “Berikutnya. tapi aku berusaha terlihat kasual. “secara hipotetis.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku.” sahutnya menyetujui. kau tahu itu. Atau begitulah menurutku. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. seseorang. Ia tersenyum ironis. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. “Tak salah lagi..” “Kupikir kau selalu benar.” aku mengingatkannya dengan nada dingin. masalah itu selalu bisa menemukanmu..” ia mengulangi perkataannya. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. menandakan ia mengejekku.. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. “Tentu saja.” “Baik kalau begitu. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain.” Aku memandangnya marah.” Ia menggeleng.” “Biasanya begitu..” “Well. matanya hangat.” Kuulurkan tanganku sekali lagi.. “Oke. kesal. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. Jamurnya enak.Aku memulai dengan yang paling sederhana. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. kalau. “Betul juga. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. begitu juga aku. memutar bola matanya. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. Sepertinya ia sedang bergidik. Kalau Joe memperhatikan. “Aku salah. Ia tertawa. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” “Tapi itu yang paling mudah.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis. membaca pikiran. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk.. Aku menunduk.

seperti batu. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. oke?” Aku cemberut. “Jangan ada yang ketiga kali. “Terima kasih.” Ketegangan di wajahnya mencair. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. djAnGgo 144 .dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. tapi mengangguk.” Suaraku benar-benar tulus. Kulitnya dingin dan keras.

melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. aku hanya menunggumu. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum.. Aku tahu kau tidak masuk kesana.. ” Ia berhenti. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. Biasanya.” Ia berhenti. lalu menatapku lagi... Dan lalu. Matahari akhirnya terbenam. dan kau pergi ke arah selatan. matanya yang menyipit menatapku. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka.” Ia menatapku waswas. “Kau ingat?” tanyanya. dan aku menyadari tubuhku mematung.” Aku terdiam sebentar.” Ia melamun. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu.” katanya. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. Aku menatapnya terpana.. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. tapi anehnya aku toh khawatir juga. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. tapi sebaliknya aku malah senang. salah satu alisnya terangkat. aku bisa dengan mudah menemukannya. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. sambil masih. Aku tak punya alasan untuk khawatir.. “Kau makan. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. Lalu. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya. Ia menatapku.” Ada secercah keraguan dalam suaranya.. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. mengalihkan kecurigaanku.. Kupaksa menelan makananku.” sahutku tenang. tapi ia menundukkan kepala. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. “Lalu apa?” bisikku. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. mendengarkan. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Pandangannya tetap menerawang. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. Jadi. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. wajahnya yang tampan berubah serius. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. Ia memandangi piringku yang masih penuh.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. disinilah aku duduk. suaranya sulit didengar. “Aku mulai bermobil berputar-putar. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. “Itu bukan yang pertama. pada insiden van itu. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana. “Ya. seperti kataku. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. berkat dirimu. tatapannya menembusku.” akunya terburu-buru. dan aku tahu toh kau harus kembali.” usulnya.. aku bicara. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. kembali menimbang-nimbang. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. djAnGgo 145 .. “Ya. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.

kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya. Akhirnya ia mendongak. tangan menutupi mata.. Tangannya masih menutupi wajah. Tanganku terlipat di pangkuan. tetap hidup.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. dan ia masih tak bergerak.” geramnya. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. pikiranku campur aduk. matanya mencari-cari mataku.” Suaranya tidak jelas. dan membiarkan mereka. satu siku bertengger di meja. djAnGgo 146 . tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. hanya pergi menyelamatkanmu.. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. bagai patung batu.. aku akan pergi mencari mereka. kepalaku pening. penuh dengan pertanyaannya sendiri.” ia mengakui dalam bisikan. Aku duduk diam. “Sulit. dan aku bersadar lemah di kursi. sekali.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. tertutup lengannya.

“Simpan saja kembaliannya. Aku menghela napas. Aku menyembunyikan senyumku. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. “Ini dia. tapi nyatanya belum.” katanya. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. “Kami mau bayar. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. “T-tentu. terima kasih. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. menunggu. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. aku siap. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. “Semoga malammu menyenangkan. Aku ikut berdiri dengan susah payah. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. berputar menuju jalan tol.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. Edward mendongak. lalu menutupnya dengan lembut. Edward sepertinya mendengar. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya.” ujar pelayan itu terbata-bata. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Udara dingin sekali. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. sepertinya tanpa melirik. Aku memperhatikannya memutar ke depan.” Suaranya tenang. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.“Ya.” Edward tersenyum.” giliranmu. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. djAnGgo 147 . Atau memperhatikan. “Sekarang. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. masih tegang oleh obrolan tadi. masih mengagumi keanggunannya. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Aku belum siap berpisah dengannya. agak serak. dan ia menunduk penasaran. Aku memandang trotoar.” aku mengiyakan. lalu bangkit.

menanti jawaban. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. dan aku pergi ke selatan.” aku tidak menyelesaikan kalimatku.” gerutuku. “Aku tidak tahu. suara-suara dengungan di latar belakang. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. Ia menghela napas. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. Hanya suara senandung. sorot matanya misterius. Setelah aku terfokus pada satu suara.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. di mana saja. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi. Ia nyaris tersenyum. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya. hanya aku yang bisa. Aku mencoba berkonsentrasi lagi.9. “Satu-satunya dugaanku. “Itu lebih dari satu pertanyaan. dahinya berkerut ketika mengatakannya. “Tidak.” Ia tersenyum jail. Aku mengikuti aroma tubuhmu.” protesnya. “Baiklah kalau begitu.” katanya menyetujui.” gumamnya. dan itu bisa sangat mengganggu. “Satu saja. Aku belum siap membiarkannya selesai. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja. sengaja. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang.. tak lebih dari beberapa mil. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. “Well . Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Tapi tetap saja.. djAnGgo 148 . “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa.” Ia berpaling. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”. Ia menatapku.... adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. Ia memandangku tidak setuju padaku. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya.” Ia memandang jalan. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu.. semua bicara serentak.” Aku merasa konyol.

Aku sendiri menduga diriku memang aneh. itu cuma teori.. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.” ia tertawa. Bagaimana memulainya. sekarang giliranmu. “Yang mengingatkan aku. “Jangan khawatir.tiba-tiba tertawa. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya.” Aku menghela napas. djAnGgo 149 . barangkali karena memang benar. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku.” Wajahnya menegang..

dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh.” gumamnya. “Aku bertemu teman lama keluargaku. “.” ia menyetujui gurauanku. Aku menunduk memandang tanganku. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” Ia memutar bola matanya. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. “Aku tidak bakal tertawa. “Puas?” “Hampir. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku.” Aku menggigit bibir. barangkali kau masih bisa selamat. kau tidak lupa. semuanya berawal hari Sabtu. aku bahkan belum pernah ditilang. “Charlie polisi. Ekspresinya masih sama. Jacob Black. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini.” Ia menunggu.” tukasnya.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya. Lagipula. Bella. di pantai. “Kami jalan-jalan. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang. mencoba berpikir. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. Ia tampak bingung. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak.” Ia menghela napas.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. tidak seperti rencana semula.” Suaranya tenang.” Aku mengamatinya dengan hati-hati. “Kenapa kau tiak mulai dari awal. buku? Film?” Ia mencoba menebak. tersenyum lebar padaku.” aku melanjutkan. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya.” “Apa yang memicunya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan.” tukasku marah. “Tapi kau tidak. ” aku mengubah ceritaku. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . “Kita tidak akan tabrakan. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. “Tenang. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. Bella. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. kemudian tertawa sebentar.” “Barangkali.” “Sangat lucu.. ya.” janjinya. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. “Gila!” seruku.” Aku mencoba mengubah intonasiku. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. masih tidak memperlambat kecepatannya. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung. Ia menunduk memandangku.” Ia masih tampak bingung. Aku menatap panik ke luar jendela..” Ia berbalik. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. “Radar pendeteksi alami.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya.” akuku. “Tidak.” “Tidak. “Katakan saja.

djAnGgo 151 .beberapa legeda tua. ragu-ragu.. kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. “Lanjutkan..” aku berhenti.” katanya. Dia menceritakan salah satunya.

” kataku lembut. “Aku mencari keterangan di Internet. “Tidak. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita.” keluhku. Kemudian. Wajahnya pucat dan kaku. “Tidak. “Bukan itu maksudku. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. aku harus mengaku. mencengkram roda kemudi.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik.” “Tidak. tapi sorot matanya sengit. Aku menatapnya. “Kau marah.” Ia tergelak.” Aku sadar suaraku berbisik. “Jadi aku salah lagi?” tantangku.. “Aku mencoba merayunya. “Aku benar?” tanyaku menahan napas. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat. terus menatap jalan. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. menatap lurus ke depan. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa.” Ia terdiam. menyebut keluargamu. Tapi aku melihat genggamannya menguat. kembali memandang lurus ke depan.” aku berhenti. “Kalau saja aku melihatnya. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. Kebanyakan konyol.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. tapi suaranya setegang wajahnya.“Tentang vampir..” Ia tidak mengatakan apa-apa. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. “Tidak. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol. dan aku terkejut dibuatnya. Ia tertawa. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam.. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. Dia..” bisikku.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. Jacob Black yang malang. Ia tertawa. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob. dia mencoba memprovokasiku. aku yang memaksanya bercerita padaku. suaraku memancarkan keraguan. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. Tidak ada yang cocok.” aku mengakuinya. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi.” katanya.” aku buru-buru berkata. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. djAnGgo 152 . “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. “Itu salahku. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak.” Saat mengingatnya lagi. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.

” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku. Tiba-tiba ia menyerah. “Tapi aku memang penasaran. “Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 .“Tidak juga.” Aku diam sebentar.

Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. “Jadi. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. Aku.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku.” “Ya.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. “Mitos.” gumamnya. Kami masih berbahaya. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa. suaranya nyaris tak terdengar. “Well. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting. “itu.” Ia menatap ke depan. Aku menatapnya sampai ia berpaling.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis.” gumamku. “Oh. lalu nada suaranya berubah aneh.” “Terbakar matahari?” “Mitos. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis. Aku tersenyum lebar..” Ia ragu sesaat. “Aku tidak bisa tidur. dan ketika menatapku lagi. memburu manusia. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. masih terkesima.” bisiknya.” akhirnya ia mengaku. “Kesalahan yang sangat berbahaya.” Suaranya tegang sekarang. Kami sama-sama terdiam. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. Aku menganggapnya sebagai pembenaran. itu. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. “Sama sekali?” “Tidak pernah.” ia menjelaskan perlahan. “Dia bilang kau tidak.” Suaranya muram. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang. “Tapi jangan senang dulu. “Tidak juga. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” ia langsung menjawab. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . menghiburnya.” “Kami berusaha. Aku berkedip. ketika ia khawatir aku syok.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak. dan ia cemberut. “Cukup lama. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. seperti yang dilakukannya sebelumnya. “Oke. membiarkan diriku berduaan denganmu..” “Aku tidak mengerti.” Aku tersenyum. untuk berjaga-jaga. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku. dan aku tak mampu berkata-kata. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. tatapannya dingin. “Jangan tertawa. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan.” ia mengingatkanku. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami.” katanya. contohnya. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga.

jalan. djAnGgo 155 . dan aku tersentak dibuatnya. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. tanpa dinding diantara kami. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. seperti jalanan hitam di bawah kami. hingga tidak tampak nyata. seperti dalam video game. Kata-katanya mencerminkan nada final. secara terbuka. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat.

lelucon diantara kami sendiri. Tiga hari yang amat panjang. lalu sepertinya teringat sesuatu. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu. kami menyebut diri kami vegetarian. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. dan memang tidak. kejadiannya bisa lebih buruk lagi. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. “Well. Sudah kubilang aku punya teori. tidak benar-benar tanpa tergores. mengingat siapa dirimu. Aku memperhatikan bahwa orangorang. “Kurasa.” Bibirnya tersenyum.” Suaranya sangat pelan. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. “Well.” kataku yakin. “Aku tidak ingin pergi. Aku menyadari mataku basah.. “Ya. berada jauh darimu.” Tatapannya lembut tapi dalam. setidaknya. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. menyatakan. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. tapi ini penting.” Ia tergelak. suaraku masih memancarkan keputusasaan. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti.. terkejut karena perubahan nada suaraku. dan sepertinya membuatku lemah. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini.” pintaku putus asa. hanya mendengarkan suara tawanya. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku.” keluhku. Ia menghela napas. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. “Aku tidak ingin menjadi monster..” Suaranya berubah licik. lebih pemarah ketika mereka lapar.. khususnya cowok. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. Ia menatapku. atau dahaga tepatnya.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. kami kembali hari Minggu.” Ia tersenyum menyesal. Aku memandang telapak tanganku.” ia mengingatkanku.” “Tapi kau tidak sedang lapar. “Aku terjatuh. “Aku tidak yakin tentu saja. tak peduli apa yang dipikirkannya. khawatir. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. Hampir sepanjang waktu.” ia djAnGgo 156 . Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar.” Ia berhenti sesaat.” kataku. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian. bukan bertanya. Matanya tak pernah luput dari apapun. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu.” “Apa?” “Tanganmu.“Ceritakan lagi. “Sudah kuduga. ya kan?” Aku tidak menjawab. “Ya. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus.” Ia menggeleng. berusaha mematrinya dalam ingatan.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu. “Kau ini memang pengamat. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak.

“ aku ragu-ragu.” kataku. mengalihkan pandanganku. Aku.berjanji. Aku memikirkannya beberapa saat. “Kau kan bisa meneleponku. Ia bingung. djAnGgo 157 .” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja.

Ini tidak aman. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. Aku melirik.” kataku. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. tapi suaraku parau. kau tahu kan.” ia bertanya setelah beberapa menit. kau tidak terlihat setakut itu.” aku mengakuinya. suaranya masih muram. melewati perbatasan Forks. Lalu mobil memelan. Aku tidak sadar air mataku telah menetes.” Suaranya menghardik. djAnGgo 158 . Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih.” “Tidak.” geramnya.” Aku tak bisa memahami reaksinya. Kurasakan tatapannya di wajahku. “Ini salah. Kegelapan menyusup diantara keheningan.” Suaranya pelan namun tegas. “Ini salah. “Aku serius. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. Ia terdiam. Aku memandang jalan. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang.” Suaranya sarat penyesalan. Bella. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. Kata-katanya melukaiku. “Tidak. kumohon.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. tak yakin apakah aku sanggup bicara. Aku hanya menggeleng. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. Bergegas aku menyekanya. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya.” Kugigit bibirku. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. ragu-ragu ingin meraihku. pelan dan parau.” erangnya pelan. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. “Maafkan aku. “Begitu juga aku. tidak penting kau itu apa.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. Ia mengemudi terlalu cepat. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini.” Aku menghela napas. Pasti kami sudah dekat sekarang. tapi aku tetap memandang lurus ke muka. ilmu bela diri. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. Itu juga membuatku waswas. mengertilah. itu masalah lain lagi. “Katakan. Sudah kubilang. Aku berbahaya.” Ia menggeleng. Sudah terlambat. “Kau benar. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. “Ah. “Jangan pernah mengatakan itu. waswas. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku.

dan aku tak mampu bicara. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. trukku ada di tempatnya. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. “Aku akan menunggumu saat makan siang.” Ia tersenyum. setelah semua yang kami lalui malam ini. ada tugas yang harus dikumpulkan.” djAnGgo 159 . semuanya sangat wajar.“Ya. Lampu-lampunya menyala. Kami di depan rumah Charlie.” Konyol. Edward menghentikan mobilnya. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas. tapi aku tidak beranjak.

Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. serius. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. Aku menyadari udara sangat dingin. ini aku. Ini. “Baik kalau begitu. membuka pintu. terkejut.” Aku menatapnya bingung.” ia memberitahuku.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. Anggap saja begitu. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda. barangkali kau harus berbaring. “Tidur nyenyak ya.” “Well. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. Charlie memanggilku dari ruang tamu. dan masuk ke dalam. janji yang mudah dipenuhi. Aku cukup banyak berjalan tadi. “Kau boleh menyimpannya. djAnGgo 160 . Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok.” kataku. namun lebih kental. Lalu aku melangkah canggung keluar. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. tapi ragu. tanganku pada pegangan pintu. Dad.” “Sampai ketemu besok.” ia mengingatkanku. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. “Ya?” aku berbalik padanya. Kupikir aku mendengarnya tertawa. Lalu ia menjauh. sangat menyenangkan.” Dengan engggan kubuka pintunya.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya.” “Oh. “Bella?” “Ya. “Mereka membeli gaun.” aku menyetujuinya. Napasnya menyapu wajahku. “Ya. “Sekarang bahkan belum jam delapan.” desahnya. mencoba mengulur-ulur waktu. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. Mataku mengerjap.” katanya. tapi lega.” “Well.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Kukembalikan jaket itu padanya. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok.” Ia tersenyum. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. Aku membayangkan bagaimana rupaku. terus menembus jendela. lalu mengangguk. “Kenapa?” Dahinya mengerut.” Ia terdengar waswas. Jantungku berhenti berdetak.” “Benar.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. “Kau pulang cepat. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku. Aku ragu-ragu. membuatku terpana. “Aku akan menelepon Jessica dulu. setidaknya. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku.” “Oh ya?” aku terkejut. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. benarbenar terpesona. “Terserah apa katamu. biarkan dia sampai rumah dulu. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. Ia sedang menonton pertandingan baseball. benar. Kutanggalkan jaketnya. terlalu antusias.

Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Pegangan. Tiba-tiba telepon berbunyi. djAnGgo 161 . perintahku.Aku pergi ke dapur. menjatuhkan diri di kursi. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. kelelahan. Aku mengangkatnya. mengagetkanku. “Halo?” desahku.

memeluk diriku sendiri agar tetap hangat.” “Okr. membalut diriku dengan handuk. Jaketku tertinggal di mobilmu. “Oh. meringkuk. besok saja. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut.” Aku menaiki tangga perlahan. djAnGgo 162 . oke?” Ia langsung mengerti. aku baru saja mau meneleponmu. airnya terlalu panas. Dan ketiga. tapi semakin aku nyaris tertidur. terlalu lelah untuk bergerak. “Ya.“Bella?” “Hei. sampai air hangatnya menyembur lagi.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega. “Mmm. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Beberapa kali aku sempat gemetaran. yang haus akan darahku. di kelas Trigono. Jess. Pertama. Jess. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. menyengat kulitku. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. dan beberapa yang kucoba enyahkan. Kedua. kalau begitu kita ngobrol besok. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. aku tersadar diriku kedinginan. Awalnya tak ada yang jelas. Aku melangkah sempoyongan. aku jatuh cinta padanya.. ada sebagian dirinya. tanpa syarat. Edward adalah vampir. ayahmu ada disana ya?” “Ya. Baru ketika aku berada di kamar mandi. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. “Bye. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. selamanya. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti.. benar-benar nyaris pingsan. dan terkejut. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. benar.

djAnGgo 163 .

penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku.” kataku. Semalam semua penghalang itu lenyap. Aku tak melihat dari mana datangnya. kau tahu. udara nyaris tertutup kabut. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. Logika tak berpihak padaku.10. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang.. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Seperti biasa. Ini membuat lidahku kelu. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. dan lebih cepat dari seharusnya. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku.. Charlie sudah pergi lagi. Ada keraguan dalam suaranya. Ia benar-benar memberiku pilihan. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Harapan yang sia-sia. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. aku terlambat lebih dari yang kukira. Ternyata lebih baik. “Aku membawakan jaket untukmu. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. aku bebas menolak. “Ya. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. terasa canggung. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru.” Suaranya hatihati. berhenti. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. Aku tak ingin kau sakit atau apa. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. lalu bergegas meninggalkan rumah. Setidaknya aku merasa begitu. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. Aku cemberut. “Tidak seperti reaksimu. Kabut sangat tebal. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. terima kasih. menyalakan mobil. hampir semuanya. Ia berbalik dan nyengir. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. ataupun akal sehat. Interograsi Keesokan paginya. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. berusaha tetap tenang. dan sebagian dirinya berharap begitu. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. Aku menelan tiga gigitan granola. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. Ketika aku tiba di lantai dasar. mobil berwarna silver. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. seperti aroma tubuhnya. ia sudah duduk di sebelahku. tapi tiba-tiba ia sudah disana. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya.” kataku. lega. membukakan pintu bagiku. benar-benar sempurna. Jantungku berdetak cepat. tapi aku tak yakin.” Ia kelihatan bergurau. selalu terlalu cepat. “Aku tak selemah itu. Aku menunggunya memulai. Ia menutup pintu. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. teringat aku tidak memiliki jaket.

” tuduhnya. tidak wajar.” djAnGgo 165 . Kau menerimanya dengan tenang sekali.“Tidak.” “Kau mengeditnya. itu masalahnya. Itu membuatku bertanyatanya. apa yang sebenarnya kau pikirkan. “Tidak terlalu banyak.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.

“Hei. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. Atau daya sihir tatapannya. terkejut. “Err. dengan senyum jail. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku. “Selamat pagi. hai.” desahku.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. Jessica menungguku.” “Kau tidak ingin mendengarnya. syukurlah. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Aku ingin mempersempit jarak itu. tapi khawatir ia tidak menyukainya. “Mereka naik mobil Rosalie.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami. “Aku tak bisa.” Ia menghampiriku di depan mobil.” aku memohon padanya. kan?” “Mmm. aku langsung menyesalinya.. Bukan sepenuhnya salah Edward. Jessica.” Ia menatapku penuh makna. sampai ketemu nanti. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. Lalu ia tampak mengerti.” Ia berlalu. “Kalau Rosalie memilikinya.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar. “Hei.” gumamku pelan. matanya nyaris keluar dari rongganya. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer.” ia mengakuinya. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. Kami berusaha membaur. lalu menyampirkannya di lengan. “Bagaimanapun. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit. “Terima kasih sudah ingat membawanya. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah.” katanya. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward.” “Sudah kuduga. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. “Kami semua suka ngebut. aku bisa membaca pikirannya.. “Jadi.” “Kalian tidak berhasil. “Apa yang ingin djAnGgo 166 . “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. ingin menggapai dan menyentuhnya.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap.” gumamku pelan. wow. “Jadi. bahwa suaranya begitu menggoda. kemudian mengenakan jaketku sendiri. Aku terlambat menyadari sesuatu.” sapa Edward sopan. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. Ia tidak bereaksi. Jessica. “Kelewat mencolok. dan aku mencoba tidak mengerang. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri. Aku tidak terlambat. Begitu katakataku terucap. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. nyaris berbisik. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan.” kataku ketika kami sudah dekat. kelewat mencolok. Ia melipatnya.“Cukup untuk membuatku gila.

tersenyum nakal.” akhirnya ia mengatakannya. itu baru tidak adil. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. barangkali menatap kami. djAnGgo 167 . Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Orang-orang melewati kami menuju kelas.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. “Iihh. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. “Itu tidak adil. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos.diketahuinya?” Ia menggeleng.” “Tidak.

wajahnya tegang. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti.” Kuharap Edward mendengarnya.. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. Ketika aku memasuki kelas Trigono. kalau kau tidak keberatan.” sapa Mike.. “Jadi.“Hmmm. “Hebat. karena menurut dia. lalu mengantarku pulang. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. “Katanya dia benar-benar menikmatinya.” kataku pelan. Bella. karena kesal kubanting tasku.. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. “Sudah pasti. well.” “Aku tak keberatan. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. Bibirnya mencibir. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. nyaris melompat-lompat di bangkunya.. Jessica sudah duduk di deret belakang. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam. “Selamat pagi.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya.” Mr. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica. penasaran. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. “Ya.” Ia memandang marah padaku. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. aku sangat terkejut melihatnya disana. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin. djAnGgo 168 . “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. “Tidak. “Apakah itu semacam kencan. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. menyuruh kami mengumpulkan tugas. itu juga kejutan. Mengerikan. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Dasar curang. Aku bergegas memasuki kelas.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. yang duduk di sebelahku.” jawabku sekenanya. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Aku duduk di bangkuku yang biasa. Jantungku memburu. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu.” aku menjelaskan. sinis. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess.. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. “Sampai ketemu saat makan siang. Ia sudah berbalik dan berlalu.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. wajahku merah padam dan malu. matanya bersinarsinar. kecewa mendengar kejujuranku. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati.” aku meyakinkannya. Mason mengabsen kami.” ujarnya seraya menoleh ke belakang. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku. Tentu saja Edward benar. “Jessica membeli gaun yang sangat keren..

ya. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili. “Well.” “Aku tahu. djAnGgo 169 . “Edward Cullen.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata.” “W-o-w.” aku setuju dengannya.trukku tidak bakal sanggup.” Ia mengangguk. kalau begitu. apakah itu masuk hitungan?” “Ya.

“Seberapa suka?” “Terlalu suka. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. dan barangkali umurnya 19 atau 20. Jess.” Vampir yang ingin menjadi baik.” gumamku. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. Aku menatap ke depan kelas.” kataku membelanya. telapak tangannya menghadapku. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. “Itu pertanda baik. “Ya.. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan. “Kenapa?” aku terkejut. “Oh well. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. Dia memang luar biasa tampan. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward.” aku mengakui. “Bukan begitu. tapi ia tidak memahami reaksiku. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam. “Ya.. sangat sedikit.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku.” “Lebih baik lagi. Tapi aku tak djAnGgo 170 .” desahnya. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat.” “Well. wajahku merona. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.” Sangat. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya. Bella. “Ayolah. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris. kau benar-benar menyukainya?” desaknya. tapi Mr. Sikapnya selalu misterius. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. seraya menghela napas. sedikit.” Dia kelihatan kecewa.“Tunggu!” Tangannya terangkat. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess.” aku balas berbisik.. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya.” ia merajuk. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya.” Wajahnya berubah. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. terangterangan sekali. “Maksudku. “Menurutmu hari Sabtu.” Jessica mengangguk. Vanner. Dia pasti menyukaimu.?” Alisnya terangkat. Aku yakin diriku juga... sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami. banyak.” kataku kasar. seperti sedang menghentikan laju mobil. kataku lagi.” “Kurasa.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu. “Dia begitu. “Jadi.. “Ceritakan detailnya. mengintimidasi. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster.. “Entahlah... baiklah.” aku balas berbisik. berbisik meminta informasi lebih lanjut. “Aku sangat meragukannya. akan kuceritakan satu. Aku mengabaikannya. tapi sulit mengetahuinya. Kurasa dia menyingungnya sekilas. Kelas sudah dimulai. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. “Lebih daripada ia menyukaiku.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa.. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya.

“Di kelas Inggris. wajahku terus merona.” aku memberitahunya. Mr. perhatiannya benar-benar teralih. untungnya. dan begitu bel berbunyi. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan. Kemudian. djAnGgo 171 . Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas.” Aku mendesah. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas.tahu bagaimana mengatasinya. aku langsung menyelamatkan diri.

.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. “Kurasa aku tidak terkejut. kurasa ia mengulurulur waktu.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. “Hai. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. sementara kami duduk berhadapan. lalu pergi. kan?” tebaknya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. dia kelihatan senang. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. “Ambil apa saja yang kau mau. “Sampai nanti. semua otang memandangiku. masih diam. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. ya kan?” tanyanya meremehkan.. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. dan ia tidak bicara. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 .” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya. “Kurasa tidak. menggeleng-gelengkan kepala. Bel istirahat siang berbunyi. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. kau bisa melakukannya. “Aku pernah melakukannya. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. dan menelannya. cepat-cepat mengunyah. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi.” Ia meringis.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. meski beberapa detik sekali ia memadangku. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. Jessica melihatnya. Ia tadi mendengarkan. “Tentu saja separuhnya untukku. “Halo. ketika ditantang.” aku mengakuinya. memutar bola mata. dia akan memaparkannya padamu nanti. Bella. terkagum-kagum. Aku mengerutkan hidung.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya.” Ia tertawa. Sudah pasti. Ia membimbingku menuju antrean. tampak sangat mirip dewa Yunani. maju untuk membayar makanannya.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. juga jawabanmu. ekspresinya berubah-ubah. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. kan?” Ia menggeleng. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya.” Alisku terangkat.“Kubilang kau sangat menikmatinya. “Aku penasaran. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Edward sedang menungguku. Ketika aku melompat dari bangku. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. “Tidak terlalu buruk. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas. Ia memandangku geram.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. Edward seperti tidak menyadarinya. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami.

” “Cewek malang.membuatnya menyebalkan lagi. gelisah. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.. “Jadi pelayannya cantik. Aku memikirkan banyak hal.. ya?” tanyanya santai. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. itu menggangguku.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus. well. Suaranya parau. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. ia melirik dari balik bulu matanya. djAnGgo 173 .

Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. Matanya membelalak terkejut. kadang-kadang. “Kau salah. “Apa?” “Membuatku terpesona. djAnGgo 174 . “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai.” bantahku sambil berbisik. Gelisah karena sikap diamku. Aku hanya berharap. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. Aku memandangi tanganku. kau tidak memikirkan beberapa hal. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.” “Ya.” aku berkeras.” “Memang.” aku mendesah. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan. Aku menggeleng ragu. “Well. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. Kuangkat tanganku dari leher. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang.. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. berusaha berpikir jernih. mengaitkan jemari lalu menguraikannya. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. “Biarkan aku berpikir. dan mencari cara untuk menjelaskan. “Kau melakukannya lagi. “Ya.” Dahinya berkerut. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. ia mulai kesal. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. “Meski begitu. terutama bila menegangkan.” bisikku. ketika akhirnya aku bicara. dan aku ingin sekali mempercayainya.” ia menyetujuinya. sementara tubuhku condong ke depan.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. “Aku tidak yakin. dan mengacungkan satu jari.” Aku berhenti.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. suaranya sangat lembut. tangan kananku memegangi leher. kau akan menjawab. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. lalu mengatupkan keduanya. Kujatuhkan tanganku ke meja. aku benar-benar berpendapat begitu.” Wajahku merengut. “Oh.. mataku menelusuri kayunya. “Bukan salahmu. kau tidak sepenuhnya benar. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. “Itu sama saja.” aku mengakuinya.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang.” aku mengingatkannya. Keheningan terus berlanjut..” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. semakin mendekat saat bicara. terlepas dari kenyataannya. Ketegangan di wajahnya mencair. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. atau ya.” Aku tetap menunduk memandang meja.. “Ya. Akhirnya ia bicara. Aku balas menatapnya. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. “Kau tak bisa mencegahnya. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. “Kau tak bisa mengetahuinya. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan. tapi suaranya masih parau. semuanya.

lihat aku. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa.” ia mulai menjelaskan. djAnGgo 175 . “Tapi justru itulah kenapa kau salah. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. tapi kemudian matanya menyipit.” kataku.“Peka. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. well. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well.” bisiknya. membenarkan ketakutanku. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh.

djAnGgo 176 . Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi.” kataku jujur.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya. karena seandainya aku bisa melakukannya”.” Ia bingung.. “Belum. masih tertawa sendiri. Kalau perlu. supaya kau tetap aman. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.” Tahu aku akan memprotes. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle.” Ia terdengar sangat yakin.” “Oh. “Belum. Akulah yang paling peduli. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. Aku bisa saja mendebatnya. “Tanyakan saja.” Raut wajahnya masih kasual.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya.. “Percayalah sekali ini saja. “Aku punya pertanyaan lain untukmu. tapi kupikir kau bakal mengerti. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. mencoba melawan pendapat itu.” ia tergelak ironis. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. “Aku tak percaya.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. apakah kau akan menolak?” tanyanya.” aku mengingatkannya. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. terperanjat.. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. ia menggeleng. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. kau bukan manusia biasa. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda.” aku mengingatkannya. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan.” aku bergumam pada diriku sendiri.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “Kau tahu.” ia tergelak. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga. “Itu semua salahmu.” tukasku.” Mataku mengerjap.” Aku menatapnya marah.. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu.” ia menambahkan. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku.Alisnya mengerut marah sesaat. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku. ia pun menyela. “Mungkin tidak.” aku setuju. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku.” “Itu bukan masalah.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini. “Sudah sepantasnya. “Kalau aku mengajakmu.

terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. dan waktu itu. aku tak peduli dengan yang lainnya. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . “Aku terbuka untuk tawaran lain. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian.” kataku. “Kenapa?” “Well .Selama kata ‘kita’ dilibatkan. “Tapi aku punya satu permintaan. memang ya.” Ia tampak waswas. Kalau ia bertanya lagi.

“Kalau kau membaca dengan teliti.. Alice. “Kau tahu.” aku menambahkan dengan tegas. aku bertemu pandang dengan adiknya. lagipula dia benar. memastikan tak seorangpun mendengarkan. Jadi.” Ia menggeleng-geleng tak percaya. yang sedang menatapku. “Karena itu sudah terjadi. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. aku menjadi yakin. banyak beruang. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. kau harus memberitahu Charlie. “Ya. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix.. “Kita bicara yang lain saja. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya.” Matanya kembali menyala-nyala. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. itu baru jumlah populasinya. “Dengan Charlie. berduaan denganku. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . untuk berburu? Charlie bilang. jadi aku akan menghilang untuk sementara. lebih baik kau berada di dekatku. “Tapi kalau kau tidak ingin.. “Lagipula. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. tapi kemudian matanya berubah serius lagi.akan berbohong.” desahnya. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. sekarang bukan musim berburu beruang. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya.” ia menyelaku.” ia memberitahuku. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu. Tapi setelah berpikir sesaat. Aku tak bisa membantah. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian.” Aku yakin soal itu. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut. “aku akan mengambil resiko itu. berbohong selalu lebih baik..” Ia menghela napas marah. kau malah takut dengan caraku mengemudi.” “Aku tahu. “ “Tapi nyatanya. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu.” Ia memutar bola matanya. Yang lain memandangi Edward. “Meski begitu. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. Ia masih kesal. Aku memandang sekelilingku.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. aku tak keberatan berdua saja denganmu. itu bukan tempat yang baik untuk hiking. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. untuk menyembunyikan keterkejutanku.” Ia tersenyum.” Aku jengkel.” Aku menelan ludah. merenung.” usulku.. lalu terdiam.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. dan memalingkan wajah. Untuk ukuran. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. baik tatapan maupun maksudnya. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi.

berpura-pura tidak tertarik. djAnGgo 179 . “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. “Singa gunung.” “Ah. “Jadi. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke. Aku mencoba mengendalikan diri. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. “Hmmm.” kataku setelah sesaat. tanpa memandang ke arahnya.memahami ucapannya. “Beruang?” ulangku terbata-bata. akhirnya menatap matanya yang gelisah.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. namun matanya mengamati reaksiku. sambil mencari sodaku lagi.” kataku sopan.” Suaranya masih tenang.

kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. ke arah Emmett. mencoba mengabaikan kemarahannya. “Kita bakal terlambat. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. Aku melirik ke seberang kafetaria. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. menggelengkan kepala. nada suaranya dingin. “Barangkali. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang.” katanya.” aku mengakuinya.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. aku akan mengajakmu keluar malam ini. Ia juga menyandarkan tubuh.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. nada suaranya menyamai nada suaraku. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. benar. takut melihat reaksinya. kafetaria hampir kosong.” Aku mengangguk menyetujuinya. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett.” Aku memandang berkeliling. atau begitulah kata mereka.” aku mengulanginya. bersedekap. dan matanya tibatiba berkilat marah.” “Lalu kenapa?” desakku. Aku melompat. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. Aku takkan lupa. Aku menatapnya. “Kalau memang itu. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. jadi lebih pemarah. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. meraih tasku dari sandaran kursi. “Kalau begitu.” timpalku. tapi tidak bisa. Ia tertawa terbahak-bahak. kami punya senjata. “Lebih seperti singa. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu.” akhirnya ia berkata.” katanya.” katanya enteng. Saat aku bersamanya.” Aku berusaha tersenyum. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri.” “Aku mencoba membayangkannya.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. ia benar. djAnGgo 180 . tertegun. “Nanti. “Ya. dan itu sebenarnya cukup.“Tentu saja. dan. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. ngeri. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. meskipun tak pernah mengaku padanya. nanti. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. mereka baru saja selesai hibernasi.

djAnGgo 181 .

kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. ketika ruangan sudah gelap. sambil bangkit dengn lincah. Sebagai gantinya. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. “Well. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. membelai wajahnya yang sempurna. Pembukaan film dimulai. Kurenggangkan dekapan lenganku. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. ia duduk cukup dekat. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. lalu berhenti di ambang pintu. sama kuatnya seperti sebelumnya. seperti terbakar. Aku mendesah lega ketika Mr. “Hmmm. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. jemariku mengepal.” gumamnya. Aku kehilangan akal sehat. matanya sarat pergumulan. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang.11. tangannya mengepal di balik lengan. Kulitnya dingin seperti biasa. Lengan kami nyaris bersentuhan. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku.” hanya itu yang bisa kukatakan. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Aku tak sanggup bicara. Kemudian. Hari menonton film. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. tapi aku tidak merasa nyeri. nyaris membuatku sinting. ekspresinya sedih. Aku berjalan memasuki gymnasium. sekali saja dalam gelap. Banner sudah masuk kelas. Aku berdiri hati-hati. Aku menuju ruang ganti. nyaris terluka. suasana senang di kelas nyaris nyata. tadi itu menarik. cahayanya sekejap menyinari ruangan. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. Waktunya kelas Olahraga. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . ragu-ragu. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. melemaskan jemariku yang kaku. Edward tertawa geli di sebelahku. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Otomatis aku melirik ke arahnya. Mr. Aku nyaris mengerang. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. matanya melirikku juga. “Yuk?” ajaknya. Wajahnya membuatku bingung. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Mr. Sia-sia aku berusaha tenang. Banner menyalakan lampu kembali. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. Ia mengulurkan tangan. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya.

namun terasa tak mantap di tanganku. kau tak perlu melakukannya.menyerahkan raket padaku. aku sepenuhnya sadar. Mike. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. dan ia berdiri di sebelahku. Raket itu tidak berat.” aku meringis penuh penyesalan. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. djAnGgo 183 . Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada. kau tahu.

Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama.” ia meneruskan..” katanya sambil meninggalkan lapangan. meskipun tidak bermaksud begitu. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. aku jadi penasaran. nadanya menantang. desahku. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. Kami berjalan tanpa bicara. “Memang tidak perlu. “Aku tidak suka. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik.. heh?” tanyanya. “Kau sendiri yang bilang. “Hai. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku.“Jangan khawatir. “Itu bukan urusanmu.” ia tetap mengatakannya juga. Keadaan tidak berjalan lancar.” sergahku marah. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. “Jadi.” aku mengingatkannya. melainkan mobil convertible merah Rosalie. kan?” aku terperanjat. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak.” Aku berbohong. aku tidak akan mengganggumu. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu.” Ia tersenyum. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. aku diam karena malu dan geram. bersandar santai di dinding gymnasium. berjalan cepat ke lapangan parkir. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. “Apa?” desakku. “Caranya memandangmu. tersenyum lebar. Mike. Ia mengajakku ber. raketnya aman tersimpan. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. langkahku terhenti. Meski aku telah mencederainya. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. “Newton membuatku kesal. semua cowok.” Ia tidak terdengar menyesal. Mike bermain cukup baik. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. Aku berpakaian dengan cepat. jadi aku mengabaikannya. mereka djAnGgo 184 . menuju mobilnya. tampak mengerumuninya.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. seolah ingin memakanmu. masih tegang. melirik ke belakangku. mengabaikan keberatanku. Pandangannya bergeser sedikit. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. aku merasa sensasi lega yang aneh. matanya menyipit. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. “Halo. kerumunan orang. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan.” Senyumnya mempesona.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. Edward menantiku. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen. Ia kembali menatapku. Dengan mudah Edward menyusul. “Baikbaik saja. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. Ketika aku berjalan ke sisisnya. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. Ia memandang marah padaku. Tiba-tiba selera humorku lenyap.

Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya. Aku langsung masuk ke jok penumpang. “Mobil apa itu?” tanyaku. djAnGgo 185 . juga luput dari perhatian. “Kelewat mencolok.tampak sangat tertarik.” gumamnya.

” katanya pelas. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. sudah jelas ia sedang melucu. “Setuju. tanpa banyak menggunakan pikiran. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. kalau kau bersungguh-sungguh.” Ia menghela napas. tanpa memandangku. “Well.” “Mmm. Ketika menatapnya lagi. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” Ia menggeleng. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. Ia tidak percaya.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan. sementara kami berburu. “Jelas. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul. “Kurasa sudah. Aku mengangguk.” Aku tidak mendesaknya lagi. “Aku tidak berencana membawa mobil. Aku mendongak. ke awanawan yang menggayut tebal.” Senyumnya kini rendah hati. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. masih menatap awan tebal itu dengan murung..” Rahangnya mengeras. Ia menghentikan mobilnya. kemudian berubah jadi santai. terkejut.. Dahinya berkerut. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.. Aku akan datang. Aku punya pertanyaan yang lebih penting.. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. “Ketika kami berburu.” ujarku. “Tidak. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana.” aku bersikeras. “ Ia menyelaku. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.” “Itu keluaran BMW.” “Karena. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.“M3. Terutama indra penciuman kami. “Jangan khawatir soal itu.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.” Ia memutar bola matanya.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai.” “Bagaimana. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. membuat irama jantungku berantakan. yang seolah dapat diraih.” aku berbohong. ia sedang menatapku. Aku tetap menjaga ekspresiku... “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. Aku mempertimbangkannya. “Sangat. dengan enggan. aku pernah mendengarnya. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat. Wajahku tidak djAnGgo 186 . “Aku minta maaf telah membuatmu takut.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya..” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.. mengamatiku.. tanpa mobil.

dan berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. memecah kekakuan dia antara kami.menunjukkan apa-apa. Ketika kepalaku mulai berputar. ia memejamkan mata. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. djAnGgo 187 . Namun pandangan kami bertemu. dan keheningan itu semakin kental. aku sadar aku tak bernapas.

Ketika terbangun aku masih merasa lelah. gelisah..” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.. “Mengenai Sabtu ini. Kubuka pintunya. dan menyalakan keran. dan aku berguling kian kemari. Aku berkata takut-takut. dan aku naik. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku.” Lalu ia menghilang. Makan pagi berlangsung biasa. “Oh. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. dan mengumpulakn buku bukuku. Khawatir kehilangan keseimbangan. Aku setengah berlari menuruni tangga. Jelas ia berencana menemuiku berok. kalau tak ada halangan.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. hingga sering kali terbangun. berjalan menyeberangi dapur. Dad.” Aku menatapnya jengkel. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. keluar rumah. Aku berkelit. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. matanya kembali menatap awan. Betapa ngeri. “Ya. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. Mobil silver itu sudah ada disana.” katanya. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. Pasti sulit menjadi ayah. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. “Ya?” “Besok giliranku. tenang seperti yang kuharapkan.” “Oh. Bagaimanapun tidurku berubah. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. djAnGgo 188 . berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai. aku makan semangkuk sereal. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. Bella?” ia memanggilku. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. “Bertanya padamu. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. “Begitulah rencanaku.” Suaranya rendah serak.“Bella. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. memamerkan kilauan deretan giginya.” Aku merasa kasihan padanya. tapi juga tegang. suaranya lebih tenang. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. kurasa kau harus masuk sekarang. seperti biasa. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. menunggu di tempat Charlie biasa parkir.” Aku nyengir. menyikat gigi. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. tersenyum tipis.

terima kasih. tenang.” Suaranya lembut. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. “Kau tampak lelah. dan seperti biasa. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia menunggu di mobil. “Selamat pagi. “Baik. Aku berjalan menuju mobil. lebih dari baik. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku.” djAnGgo 189 . “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku.Aku tak pernah menginginkannya berakhir. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa.” Aku selalu baik. Ia tersenyum. setiap kali berada di dekatnya.

“Setiap hari berubah-ubah. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. merapikan rambutku ke balik bahu. “Kurasa itu benar. pasti aku telah membuatnya bosan. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 .” keluhku.“Aku tak bisa tidur. Aku menggerak-gerakkan mataku. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. wajahnya muram. bebatuan. tatapan aneh terpancar di matanya.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. kau benar. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir.” “Jadi. batang pohon. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. Itu CD yang sama.” katanya serius. Kebanyakan pertanyaannya mudah. Warna cokelat itu hangat.” “Oh. Aku rindu cokelat. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. Hari ini giliranku bertanya. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. Film yang kusuka dan tidak kusuka. “Kau benar. Sering kali aku tersadar.” aku mengaku. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. “Aku juga. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. kalau aku sempat mengendarainya lagi.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Ketika kusebut nama bandnya. Ia mendengus. raut wajahnya serius. tapi masih sedikit ragu-ragu. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. Aku tertawa. sewaktu makan siang. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. “Warna cokelat itu hangat. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. ekspresi seriusnya berubah. untuk yang satu ini tak ada habisnya. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. sambil terus menunduk. “Tentu.” Tangannya menyentuh lembut. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. disini semua itu dilapisi warna hijau. ia tersenyum mengejek. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. “Debussy.” “Aku berani bertaruh untuk itu. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. “Tidak bisa. seolah sedang menginterogasi pembunuh. kalau saja wajahku tidak merah padam. Kami sudah tiba di sekolah. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. Ia tergelak. “Barangkali cokelat. Sesaat ia berpikir. menatap mataku. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. dan mengenai buku-buku. debu. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Wajahku memerah karena. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku.

“Itu warna matamu hari ini.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya. mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.matanya yang berwarna topaz.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . “Katakan. Dan. tentu saja. aku akan bilang onyx. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu. pasrah. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.” desahku.

tapi akhirnya aku melangkah keluar. aku merasa bersalah. tak mudah untuk dijawab. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. luasnya langit. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. menungguku. sorot matanya bingung. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. dan terus menjawab pertanyaannya. Aku tak melihat ke arahnya. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. akhirnya memandang Edward. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. khawatir ia juga sedang memandangku. sambil menarik kereta audiovisual lagi. membelai kening hingga rahangku. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. ia sedang menatapku. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. agak lengket. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. percikan listrik itu muncul lagi. Begitu ruangan gelap. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. seperti kemarin. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. Aku menghela napas lega. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Di suatu tempat. pepohonan kering yang rapuh. Ia tidak berbicara padaku hari ini. dan cara menggapai matahari. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. Aku menghela napas lega ketika Mr. Senyum lebar mengembang di wajahku. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh.banyak dari seharusnya. tapi masih menyenangkan. Banner menyalakan lampu kembali. gelisah. Banner memasuki kelas. Tapi itu tidak membantu. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. tahu semakin cepat aku bergerak. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. Ketika guru itu mendekati panel lampu. Tpai ia terdiam hanya sedetik. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. pahit. di sudut benakku. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang.

ia malah terdiam. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega. djAnGgo 193 . Akhirnya.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya.dengan bebasnya. tapi ayahmu sebentar lagi pulang. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Dalam cahaya temaram badai. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. Aku kaget melihat waktu. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. dan mendesah. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. “Hampir selesai pun tidak. bukannya melontarkan pertanyaan lain.

. “Kacau.” gumamnya. Aku langsung mengenalinya. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang. seolah pikirannya jauh entah dimana. Nada suaranya melamun. “Charlie sudah dekat.. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. Itu ayah Jacob. rembang petang. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. “Aku sudah bilang belum selesai. Kegelapan begitu mudah ditebak. “Hei. Billy Black. Meski bingung dan penasaran. wajah yang berkeriput. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat. “Charlie akan sampai sebentar lagi..” Ia tertawa. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. tapi juga yang paling sedih. ia masih menatap ke depan. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. menjawab tatapanku yang bertanyatanya. “Saat termudah. aku langsung melompat keluar. “Jacob?” tanyaku. menyipitkan mata menembus hujan. pipi yang kendur. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier.” katanya muram. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. “Ini saat paling aman bagi kami. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. Ia melirikku sebentar. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi.” Aku mengerutkan kening. Ekspresinya aneh.“Sudah twilight . Bella. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. lampunya menyinari mobil di depanku. nyaris menarik dirinya menjauh dariku.” Alisnya naik sebelah. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. lalu bergerak. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Jadi.” gumam Edward. antara putus asa dan menantang. tatapannya gelisah. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya.” ia mengingatkanku. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. “Jadi. mengingat. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. tapi terlalu gelap. ini adalah akhir satu hari lain. kembalinya sang malam.” katanya. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku. “Aku suka malam. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. “Masalah lagi. “Terima kasih. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Jacob sudah keluar dari mobil.. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. bannya berdecit di pelataran yang basah.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar.

ia percaya djAnGgo 195 . Masalah lagi. Ia memandangku.kempis. mengamati wajahku. waswas. Ya. Ya. Diam-diam aku mengerang. seolaholah ngeri. hidungnya kembang. Senyumku memudar. Matanya lebar. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Billy masih menatapku lekat-lekat. seperti kata Edward.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. jadi aku tersenyum malu-malu padanya.

Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk.” Aku tersenyum. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob.” Aku menunduk menatap wajan.” Jacob nyengir. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi.” Keningnya berkerut. Aku berbalik menuju rumah.12. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket.” Ia nyengir. Lalu aku berdiri di ambang pintu. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku..” ia menambahkan. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. “Ini kejutan. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari.” balasnya. Aku masuk.” kata Charlie. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. ekspresinya tak bisa ditebak.” protesnya. “Tidak. Kami meminjam mobil itu.” sahut Billy. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya. sambil meraih-raih ke bawah serambi. “Bagaimana denganmu.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. “Maaf. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan.” kata Jacob. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda.” sahut Jacob. kami sudah makan sebelum kemari. “Sudah terlalu lama. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran. meski sudah bertahun-tahun. Semangatnya sangat sulit ditolak.. “Kurasa itulah rencananya. “Ya. “Tidak masalah. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi. Jake.” “Oh. Aku belum melihat. berbalik menuju dapur. masih kanak-kanak. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan.” Charlie tertawa. “Jadi. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat. “Tentu saja. “Tidak. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. mengintip bagian bawah sandwich-nya. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. tentu saja. “Baik. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil. menghindari hujan. “Kalian lapar?” tanyaku. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. ke TV. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. “Seorang djAnGgo 196 . TV kami rusak sejak minggu lalu.

” Suara Jacob terkagum-kagum. “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya.” djAnGgo 197 . Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.teman memberiku tumpangan.” “Tumpangan yang keren.

mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. Hatiku mencelos. boleh dibilang malam ini semacam reuni.” ujar Charlie membesarkan hati Billy.” serunya. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring.” djAnGgo 198 . “Edward Cullen. ia tertawa. menaruh dua piring di konter sebelahku. Selamat tidur. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. satu kakiku pada undakan pertama.” “Oh.” akhirnya ia menjawab.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. “Jadi. Bella. mencoba terdengar tak peduli.” “Benar sekali. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu.” tambahnya serius. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. “Jaga dirimu. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. Jacob menatapku sesaat.” timpal Billy.” “Jacob. Aku mendongak memandangnya. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie.” kata Billy. kurasa.” Yang membuatku terkejut. “Terima kasih. kan?” Aku tak bisa menahannya. kata-kata itu keluar dalam bisikan. Charlie. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang.” “Tentu saja.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa. Sungguh malam yang sangat panjang. “Bella. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku. “Kami akan datang. siapa dia?” tanyanya. “Kita belum sempat mengobrol malam ini.” katanya. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk. “Sepertinya ayahku mengenalinya.” gumam Jacob.” sahutku menarik diri. Ia kelihatan sedikit malu. Bagaimana harimu?” “Baik. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie.” aku menyahut enggan. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu.” kataku.” Aku berpura-pura polos. lalu berpaling. senyumnya memudar. tunggu. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. “Entahlah. Akhirnya aku mengalah.” Ketika tatapannya beralih padaku. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. membalikkan sandwich. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi.” gumamku. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. “Tadi itu menyenangkan. Akhirnya pertandingannya selesai. tentu. PR-ku banyak yang belum selesai. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu. “Tentu.

kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.“Wow. sebenarnya sih tidak. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis.” sahutku ogah-ogahan. “Keluarganya baik. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 . “Oh ya.” “Well.” aku mengakuinya..” Suaranya penuh semangat. “Siapa?” nadanya tertarik. Mike Newton.. “Mmm. tapi partnerku sangat hebat.” Ia terkagum-kagum sebentar.

Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap.” gumamnya. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu.” Senyumnya memukau. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan.. mesinnya mati. langsung masuk ke jok penumpang. beberapa teman sekolah.” katanya. Tasku sudah siap. Dengan enggan aku mengakuinya. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. sepatu sudah kukenakan. kau oke. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. “Hari ini masih milikku. Saat ini kami di kafetaria. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang. “Pagi ini kau ceria sekali. kelewat lelah untuk bermimpi. Ia tersenyum lebar padaku.. Charlie memperhatikan. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. gigi sudah bersih. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. sama seperti Jessica dan Angela. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. “Ini Jumat. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. sama sekali tak ada hubungannya.” Aku tersenyum. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. ternyata Edward lebih cepat dariku. “Dia berkencan dengan Jessica. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Cuaca seharusnya cukup hangat. hobinya. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. “Baik. berharap kelegaanku tidak kentara. aku akan di rumah saja. djAnGgo 200 . Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. jendelanya terbuka. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. “Dad. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. betapa menggoda suaranya. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap.” Aku bergegas. suasana hatiku bahagia.” Ia nyengir. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. Aku mengangkat bahu.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. “Tidak di Phoenix. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. kita kan mirip. Ia. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. sementara aku mengunyah.” sahutnya saat sarapan. temanku. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas.” Bibirnya terkatup erat.” “Oh iya. supaya lebih cepat memandang wajahnya. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun.“Dad!” erangku. “Tidak. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tidurku lebih pulas malam itu. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. membuat napas dan jantungku berhenti.

” Mataku mengerjap.” desahku. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. djAnGgo 201 . “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok.“Kenapa?” tanyaku. “Tidak masalah. bingung dan kecewa. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang.” “Oh. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran.” Ia menatapku tidak sabaran. “Aku tidak membawa kuncinya.

bibirku merengut. itu kan Sabtu.” Aku menunduk. Ia nyengir. mendukung. “Tidak. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. “Tidak. Kau membuatku kagum.Ia menggeleng. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya.” Aku meringis. tapi tatapannya kelewat polos. besok dia pergi mancing. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. Aku menolak merasa takut padanya. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. matanya yang keemasan tampak gelisah..” bisikku. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. “Kalau aku berduaan denganmu besok..” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi. terlalu percaya diri.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar. Ia menahan senyum.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. djAnGgo 202 . balas menatapnya.” Wajahnya bertambah muram. “Bukan itu. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi..” “Barangkali kau benar. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu.” jawabnya dingin. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. “Tergantung. “Aku tak bisa. “Berburu. “Untuk masalah ini. kuncinya tergantung di lubang starter. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu.” aku mencoba menebak. “Apa saja yang bisa kami temukan. ia takkan menemukannya. Mereka duduk. memandang ke berbagai arah. “Baiklah. “Jadi..” Aku memandang marah padanya. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu.” katanya. aku juga tidak mengerti.” Ia menertawai perkataannya sendiri.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. Itu tak masalah. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku.” aku menyetujuinya. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. “Mereka tidak menyukaiku.” jawabku tenang.. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. “Alice yang paling. “Trukmu akan ada disini. “Bisa dibilang tidak percaya. Kami tidak pergi jauh-jauh. Hanya saja sekarang mereka berempat. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. di tumpukan pakaian di ruang cuci. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. “Sudah kubilang. khawatir akan tatapannya yang persuatif. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa.” aku menjawab terlalu cepat.” gumamnya putus asa. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku. “Dan kalau kau tidak pulang. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah.. Suaranya berubah tajam. Aku mengubah topik kami. persis ketika pertama kali melihat merka. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. ulangku dalam benakku. Edward menggeleng pelan. atau apapun yang direncanakannya.” protesnya. kau tahu itu. dan memelas.

” djAnGgo 203 .. kau tak pernah seperti yang kuduga. “Dengan keunggulan yang kumiliki. Kau selalu membuatku terkejut.” gumamnya.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. Manusia bisa ditebak.. menyentuh dahinya dengan hati-hati. Tapi kau. “aku lebih baik daripada manusia umumnya.

djAnGgo 204 .” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. “Alice. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. senyum sinis mengembang di wajahnya. Kesedihannya sangat nyata. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja. Ia masih memegangi kepalanya.” lanjutnya. Aku berusaha bicara sewajar mungkin. “Alice. Bella. merasa malu dan tidak puas. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. berpaling dan menatapku. Tidak. “Halo.” sapaku malu-malu. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. tapi aku belum bisa menatapnya. “Senang akhirnya bisa berkenalan.. “Hai. sesaat wajahnya serius. ini Alice.” balasnya. Aku kembali menatap Edward. bukan melihat. menunjuk kami sesantai mungkin. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut.. Alice. Begini. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. elegan meski tidak bergerak. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. Aku menunggu rasa takut itu. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. Bella. Alice.. Posturnya ramping.Aku berpaling. “Maaf soal itu. tapi senyumnya bersahabat. ingin rasanya aku menenangkannya. tapi aku tak tahu bagaimana caranya. dengan buruk. Aku ingin berpaling. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. Tiba-tiba Rosalie. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi.. Dan perasaan frustasi. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. ini Bella. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. Suaranya nyaris seperti desisan. “Tapi ada lagi.. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. “Kalau?” “Kalau ini berakhir.” Ia menunduk. mataku kembali mengamati keluarganya.” “Edward. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. dengan cepat. Rosalie membuang muka.” Aku hendak beranjak. Kupaksakan tanganku meraihnya.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. Aku merasakan tatapannya di wajahku. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Dia hanya khawatir... dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata.” Ia mengangkat wajah. Mungkin ini yang terbaik..” ia memperkenalkan kami. bukan hanya aku yang bakal terancam.

” “Aman di Forks.” Aku berusaha terdengar tulus. “Kalau begitu. berbalik menghadap Edward lagi. langkahnya sangat gemulai.” djAnGgo 205 . “Akan kucoba. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. “Tidak. jagalah dirimu.Suaranya dingin. “Dan kau. Kita ketemu di mobil. itu sih gampang. Tentu saja aku tidak bisa menipunya. “Hampir.” Ia masih tersenyum. begitu anggun sehingga membuatku iri. kumohon.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.” Ia tersenyum. selamat bersenang-senang. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’.

“Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya.. Kami semua akan berdansa denganmu. lebih menyakitkan. Keputusanku sendiri sudah bulat. mengusap lembut pipiku. khawatir trukku takkan sanggup. aku juga. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini.. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. Itu sesuatu yang mustahil. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. dan rasanya ia juga. “Sepertinya bakalan lama bagimu.” djAnGgo 206 .” “Lalu. berharap aku bersenang-senang di Seattle. pasti bakal penuh bahaya.” “Jangan terjatuh.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya.” ulangku. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. Dengan sendirinya aku tahu. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. Mike mengajakku bicara lagi.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward.” janjinya. “Lihat saja. “Aku akan datang besok pagi. tapi insting menghentikan niatku. Ia mengulurkan tangan. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. Lalu ia berbalik dan pergi.“Bagimu memang gampang. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. “Kau tahu. kelewat ingin tahu. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. menyentuh wajahku. oke?” “Ya sudah. Aku pergi ke kelas dengan patuh. setidaknya pelajaran Olahraga. Mike. “Aku hanya menawarkan.” katanya kembali bersemangat. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. “Oh. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya.” “Aku janji akan menjaga diri. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya. dan ini membuatku terkejut.” Ia marah lagi.” ejeknya.” aku menekankan. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. “tidak akan membantuku belajar.” ia berjanji. “Sampai ketemu besok. “Cucian. “Tidak. daripada menjauhkan diriku darinya. Aku mengangguk sedih. tiba-tiba marah. “Aku akan mencuci malam ini. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya. pasti keren. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. dan aku bertekad menjalankannya. atau instingnya. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward.” Ia bangkit berdiri. bahwa esok adalah saat yang penting. Di Olahraga. ya kan?” godanya.” desahku. tersenyum lebar.” Rahangnya mengeras. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. “Janji. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa.

Insting terakhirku terbukti benar. Aku menertawai diriku sendiri. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. djAnGgo 207 .Ketika sekolah akhirnya selesai. Selembar kertas tergeletak di jokku. Aku menggeleng tak percaya. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi.

. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. dan sudah mulai tak terkendali. sejak aku datang ke Forks. “Kau tahu. bila semua itu berakhir buruk.. “Kau juga.” aku memulai. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. pikirku sambil menggeleng. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Lagipula. membuyarkan lamunannya. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. Nyaris. atau mungkin pertandingan basket. kau pergi saja dan bersenang-senanglah. namun gemboknya terbuka. Dad. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. Bella.. Dad.” “Kau yakin?” “Tentu..” Ia tersenyum. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. “Ada apa.” kataku.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci.. Dad. dan tak akan mengubahnya. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali.. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. dan setelah menemukannya. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan.” “Mudah sekali hidup bersamamu. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. jangan ubah rencanamu. terkejut. tertawa. kurasa. hasrat itu akan mengalahkan segalanya.” “Oh. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. djAnGgo 208 . Aku mencari jinsku. PR. Sepanjang makan malam Charlie melamun.. Aku perlu ke perpustakaan. Aku akan pergi kesana kemari seharian. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku. “Oh.. Ia ingin agar aku selamat. oke. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. Dan apa pilihanku yang lainnya. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Tawaku reda. dan ke toko kelontong. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya.. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. Dad.. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. Kosong. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. kuperiksa sakunya. Lagipula. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. persediaan ikan kita sudah menipis.” katanya. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. mencuci. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya.

Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. Aku merasa tegang. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. Sambil menunggu obatnya bekerja. Aku terbangun. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. berusaha djAnGgo 209 . tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Setelah semua siap untuk esok.

sedikit kesulitan dengan selotnya. “Belok kiri di satu-sepuluh. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. Aku meluncur ke pintu. Sepertinya tidak akan bertahan lama. dan ia pun tertawa. hargailah sedikit. “Kemana?” tanyaku.” tukasku gusar. “Ke arah satu-kosong-satu utara. menembus kota yang masih tidur. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. “Kita serasi. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. wajahnya muram. Aku bangun cepat.” sapanya sambil tergelak. Dan ia tampak berdiri di sana. tapi tak ada yang berubah. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. Aku berpakaian terburu-buru.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya. buru-buru membereskannya ketika selesai. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. dengan kerah putih mengintip di baliknya. Aku mendesah lega. Awalnya ia tidak tersenyum. meskipun ia terus saja mencela. melicinkan kerah pakaianku. Meski istirahatku cukup.” perintahnya. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya.” aku mengingatkannya. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. Aku mengintip ke jendela lagi. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. tapi akhirnya berhasil membukanya. dan aku pun tidur pulas. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. belum-belum aku sudah gugup.” Ia tertawa lagi. Kini aku merasa tenang.menenangkan setiap bagian tubuhku. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . “Selamat pagi. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. merasa puas. “Kenakan sabuk pengamanmu. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Aku ikut tertawa. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. dan jins. atau celana. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.

“Sekarang terus hingga ke ujung jalan. “Jalan setapak. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. djAnGgo 211 . “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya.kata. tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas.

. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu.. bukan berarti kita akan melaluinya. dan sangat sinis. sorot matanya masih kesal.” tukasnya. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. Ia menggumamkan sesuatu.” Lima mil. “Tidak.. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. Lagi-lagi aku berbohong. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. dan itu benar.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. Aku berpura-pura tidak mendengar. ke awan-awan yang mulai menipis. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. “Tergantung. Ia tidak sedang memandangku. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya.” aku mengingatkannya.. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks..” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. dan kita tidak perlu terburu-buru.” katanya sambil menoleh. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara. aku bilang kau membatalkan rencana itu. atau bahkan melukaiku. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. Sekarang di luar terasa hangat.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa.” Kami memandang ke luar jendela. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. “Tidak. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. Aku mendengarnya menutup pintu. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. Kemudian jalanan berakhir. “Lewat sini. Ini akan jadi perjalanan memalukan. nyaris lembab di bawah selimut awan. Bella. jengkel.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil. djAnGgo 212 . dan aku tak tahu harus bilang apa. Aku tidak menyahut. “Jangan khawatir. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. “Katamu kau bisa mendapat masalah. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. pandanganku tetap ke jalan. Aku mengangguk. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. Selama sisa perjalanan kami membisu.“Tidak. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan.

Ia terlalu sempurna.“Aku takkan membiarkanmu tersesat. dengan senyum mengejek. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya. dan aku mendengus pelan. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada.” Kemudian ia berbalik. djAnGgo 213 .

atau bebatuan besar. Ketika terjadi untuk kedua kali. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. “Tidak.” Ia tersenyum. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. ia membantuku.” kataku dingin. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. kalau aku berusaha keras. lebih keras dari biasanya. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. “Hampir. Hutan itu membentang di sekeliling kami. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. hewan peliharaanku semasa kecil. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. guru-guru sekolah dasarku. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. tepat seperti yang diramalkannya. mengangkatku dengan memegangi sikuku. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong.” sahutku tolol. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. Ia mengamatik wajahku. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. Hari telah berubah cerah. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. “Aku bukan pendaki yang baik. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. tapi senyumku tidak meyakinkan. Aku mencoba membalas senyumnya. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. pura-pura kesal.” janjinya. “Ada apa?” tanyanya lembut. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. mencoba memahami maksudku. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau.Ia menatapku. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. aku menyerah. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. dipenuhi jaring pepohonan kuno.” “Aku bisa sabar. “Kau harus sangat sabar. tapi sering kali aku gagal. “Aku akan membawamu pulang. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. sambil menatap mataku. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Ia memandang marah padaku. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. Ia menanyakan hari ulang tahunku. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Ia menertawaiku. Kami lebih sering berjalan dalam diam. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya.

Tapi kemudian. setelah melangkah seratus meter lagi. Padang rumput itu kecil. djAnGgo 215 . dan putih lembu. dan mengikutiku tanpa suara. Cahaya itu kuning. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Tak jauh dari tempatku berdiri. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. bukan hijau. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. biru keunguan. Ia nyengir semakin lebar.bisa melihatnya?” Ia nyengir. kuning. Aku mempercepat langkah. melingkar sempurna. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. “Barangkali belum kasat oleh matamu. aku bisa mendengar senandung sungai. dan ditumbuhi bunga-bunga liar.” gumamku.

menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. djAnGgo 216 . Tatapannya hati-hati. mengulurkan tangan. memperhatikanku dengan tatapan waswas. dan aku pun ragu. Ia mengangkat tangan mengingatkan. ingin berbagi ini semua dengannya. Aku berjalan pelan. Edward tampak menghela napas dalam-dalam. Aku setengah membalikan badan. dengan ketakutan mencari-carinya. melintasi rumput halus. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. bunga-bunga yang melambai-lambai.Matahari tepat bersinar di atas kami. enggan. Aku memandang berkeliling. lalu berhenti. terpesona. Akhirnya aku menemukannya. Aku tersenyum menyemangati. Aku kembali melangkah ke arahnya. serta udara hangat dan keemasan. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. sambil terus melangkah ke arahnya. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan.

Aku takkan pernah terbiasa dengannya. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka.13.” katanya tanpa membuka mata. dagu kuletakkan di lutut. “Tidak. Kulitnya. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. “Kau keberatan?” tanyaku. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. lengannya yang telanjang juga berkilauan. lebih ringan dan hangat setelah berburu. mengamatiku. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. Hari ini warnanya cokelat keemasan.. bahkan sekarang. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. halus bagai pualam. berkilauan bagai kristal.. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. Aku beringsut mendekat. tampak kemilau. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya.” Ia mendesah. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. karena ia sudah memejamkan mata lagi. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. “Tak lebih dari biasanya. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. Aku juga menikmati sinar matahari. Dengan tanganku yang lain. kan?” guraunya. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. “Aku tidak membuatmu takut. Tapi ketika kutanya. meski tentu saja ia tidak tertidur. halus bagai satin. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya.” Ia tersenyum lebih lebar. seperti yang dilakukannya. begitu cepat hingga seperti gemetar. djAnGgo 217 . Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. terlalu pelan untuk bisa kudengar. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. dingin seperti batu. Patung yang sempurna. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. selalu khawatir. Dengan ragu-ragu. Angin bertiup pelan. yang berada di dekatku. tak ingin berpaling dari wajahnya. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. Jemariku gemetaran. Aku ingin berbaring. terukir dari bebatuan entah apa namanya. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya.

mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. mendadak begitu lekat. sesaat jari-jariku membeku di lengannya. gerakannya membuatku terkesiap.” bisiknya.” gumamnya.” djAnGgo 218 . ia membalikkan tangan dengan cepat. Aku terkejut.” “Kau tahu.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. “Maaf. Aku melihat dan mendapatinya menatapku. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi.” “Hidup ini sulit. kita semua merasa seperti itu setiap saat. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. “Masih tidak biasa untukku. untuk tidak mengetahui. Kudekatkan tangannya ke wajahku. “Katakan apa yang kaupikirkan. Menyadari apa yang kuinginkan.” Kuangkat tangannya.aku meraih dan membalikkan tangannya. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya.

meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. ia berada enam meter dariku. Secara naluriah. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. tapi aku tak bisa bergerak. Matanya yang keemasaan mempesonaku.. lalu melemparnya begitu cepat. Dan ia menghilang.” ujarku ragu-ragu. matanya tampak kelam dalam bayangan itu. sekarang ia setengah duduk. dan duduk anggun di tanah. seharusnya. Ia mengulurkan satu tangannya. Tidak seperti apapun di dunia ini.” sahutnya. Ia menatapku.. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. “Seperti kau bisa melawanku saja. ekspresinya tak dapat kutebak. aku. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. aku mencium napas sejuknya di wajahku. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. Aku mungkin saja. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. bukan itu yang kumaksud. “Maafkan.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. kakinya menyilang. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. nikmat. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. Ia berhenti.” Suaranya menggumam lembut.. aroma yang membuatku meneteskan air liur. tanpa berpikir. menghempaskannya ke pohon besar lain. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. Ia menghela napas panjang dua kali.” bisikku. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. Manis.” katanya lembut. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. aku mendekat padanya. Edward. Aku duduk tak bergerak. “Aku predator terbaik di dunia. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi.. pergi. “Well. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. langsung lenyap dari pandangan.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. Pohon itu bergoyang dan bergetar. “Beri aku waktu sebentar. Senyumnya berubah mengejek. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. wajahku. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. bertopang pada lengan kanannya. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. Aku duduk diam tak bergerak. bahwa aku tak perlu takut.” “Aku tidak ingin kau takut. Aku tahu ia bisa mendengarnya.. ia berjalan kembali ke arahku. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. Tanganku yang kosong bagai tersengat. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. suaraku. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul.” ia tertawa getir. Tapi aku tak bisa menjawab. Dan aku berharap aku tidak takut. bahkan aromaku.” ujarnya ragu. kaku bagai batu. setengah meter dariku. “Aku sangat menyesal. masih beberapa meter jauhnya. Aku tak djAnGgo 219 . melepaskan tangannya dariku.. pelan untuk ukurannya. menghirupnya. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. lalu tersenyum menyesal.

djAnGgo 220 . Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi..pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. percikan itu memudar. Lalu. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat.. Dengan wajah pucat dan mata membelalak. ketika detik demi detik berganti. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular. atau lebih menawan.

tapi aku masih tak sanggup bicara.” gumamnya. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. karena.” timpalnya pelan.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku. benar.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. Ini juga masih sama sulitnya baginya. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. untuk.” “Oh. dengan amat perlahan. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. “Itulah sebabnya aku harus pergi. “Sejujurnya. Senyuman balasannya sungguh mempesona. Mendengar itu aku harus tertawa. Aku menatap matanya. Mata itu lembut.” pintanya. penuh penyesalan. juga bagiku. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali.” “Jangan!” Ia menarik tangannya.” desahnya. hanya terpisah tiga puluh senti. Ia duduk luwes. suaranya lebih parau daripada biasanya.“Jangan takut. Tapi jangan khawatir. “Sejujurnya.. “Jadi. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun.” gumamku sedih.. tapi wajahnya tampak malu. “Kumohon maafkan aku. Detik demi detik pun berlalu. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik. tadi kita sampai dimana. hari ini aku tidak merasa haus.” bisiknya lagi sambil mendekat. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. “Aku berjanji.” ujarnya ragu. Parau djAnGgo 221 . hingga wajah kami sejajar. kali ini lebih lembut. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. “Aku seharusnya pergi sekarang. “Aku seharusnya pergi sejak lama. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. meski suaraku gemetar dan tertahan. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. “Aku takut. “Jelas.” “Aku senang. aku tidak bisa mengingatnya.” “Aku tak ingin kau pergi. Kau membuatku tak berdaya. seraya menunduk lagi. Keinginan untuk bersamaku. “Ya. itu sesuatu yang perlu ditakutkan.” Ia menunggu. aku tak bisa terus berada di dekatmu. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. Pada dasarnya aku makhluk egois. alasan yang jelas. lalu matanya. “Betapa mudahnya aku marah. “Jangan takut.” Aku cemberut. disamping alasan yang sudah jelas. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus. “Aku bisa mengendalikan diri. Aku kembali menatap tangannya. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya.” desahnya.” Ia tersenyum. well. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan.” Ia mengedipkan mata..

tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun.” Ia berhenti. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. Aku berpikir sesaat.untuk ukurannya. Sulit rasanya untuk mengikutinya. “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. djAnGgo 222 . dan bingung. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan.

Tapi dia bisa menolaknya.” Ia memandangku. Jelaskan saja sebisamu. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk.” Tanpa terlihat memikirkannya. . “Kau tahu. atau setidaknya mencoba. “Maaf. mencari-cari kata yang tepat. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. “Bagi Jasper. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. kalian manusia kurang-lebih sama.” Ia masih memandang kejauhan. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. Ia memandang tangan kami. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . Emmett.” “Dan kau?” “Tidak pernah.” Ia mendesah. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. ia ragu. dalam embusan angin yang hangat. sepertinya menghargai usahaku. atau apapun. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. kau adalah heroin bagiku. dia akan dengan senang meminumnya. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. kalau ia memang ingin. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. mencoba membaca pikiran satu sama lain. setiap orang punya aroma berbeda. kalau ia bukan peminum lagi. memikirkan jawabannya. Aku bisa mengerti. raut wajahnya menyesal. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. berusaha mencairkan suasana. “menariknya seperti kau bagiku. “Ya. “Tanpa membuatmu takut lagi.” Aku tersenyum. Begitulah caramu berpikir. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi.. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. jadi dia mengerti maksudku. “Jadi..” Kata itu melayang sesaat di sana. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. hmmmm.” katanya. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. Ia balas tersenyum menyesal. “Aku tak keberatan. menurutmu. inti berbeda.” kataku. terutama bagian terakhir. cognac langka terbaik. Ia memandang melampaui puncak pohon. Ia kembali menatapku dan tersenyum. aku semacam heroin bagimu?” godaku. atau takut.” “Jadi maksudmu. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. saling menatap. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. juga rasa. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. Ia langsung tersenyum.

Wajahnya menjadi gelap. tangannya mengepal dalam genggamanku.” kataku akhirnya. “Kurasa aku tahu. tapi ia takkan menjawab. Pertanyaan yang salah. “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. Ia melirik. memohon. Ia membuang muka. bukan begitu?” djAnGgo 224 . Aku menunggu.memecah keheningan. wajahnya muram.

. sangat mudah untuk diatasi. memandang geram pepohonan.” ujarnya.” Ia berhenti.. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku.. “Tentu saja ada harapan! Maksudku. “ Sekonyong-konyong ia berhenti.“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. “Tak diragukan lagi. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. setangkas dan sehati-hati sekarang. tidak!” Ia langsung menyesal. “Aku bertukar mobil dengannya.. ingatanku diperbaharui lewat matanya. di lorong gelap atau apa... bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Mrs. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. kami mengingat saat-saat itu. “Tapi aku menolaknya.. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya.. “Kisah kita berbeda. dan dia tidak.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku.. “Kau pasti menduga aku kerasukan.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. memikirkan keluargaku.. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. bertahuntahun yang lalu. “Jadi kalau kita bertemu.” Aku menatapnya terpana. membebaskanku dari kekuatan tatapannya. untuk memberitahunya aku akan pergi.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . Aku tidak berani pulang menemui Esme. Bagiku di luar lebih mudah. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. membuat keputusan yang tepat. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. kau ada disana. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. saat itu juga. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. Aku harus pergi. lalu aku pergi menemui Carlisle.. Aku mencoba berkata dengan tenang.. Aroma tubuhmu membuatku sinting.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.” Nyaliku ciut. Saat itu aku nyaris menculikmu.. di rumah sakit. yah. menghilang. Cope yang malang. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. Aku tidak tahu bagaimana. tentu saja aku tidak akan. oh. “Kau pasti datang. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu..” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. Aku bisa berpikir lebih jernih. Kejadiannya sudah lama sekali. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. karena disana aku tak bisa mencium aromamu. Hanya ada satu manusia lemah disana. “Maksudku. tidak mengikutimu dari sekolah. Aroma yang menguar dari kulitmu. “Kemudian. Dan aku terus melawan keinginan itu. matanya nanar menatapku. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. memalingkan wajah. Emmett. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak.” “Aku tidak mengerti alasannya. di ruangan kecil itu. Ia memandangku muram. “Ketika aku berjalan melewatiku.” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. menghipnotis dan mematikan. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. begitu dekat. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu.. agar aku bisa berdua saja denganmu. dia tidak mengenal kedua gadis itu.

“Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska. tapi aku rindu rumah.” Pandangannya menerawang. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. gadis kecil yang tak penting”. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu.. Dalam udara bersih pegunungan. tidak sebesar ini. Aku meyakinkan diriku sendiri. tiba-tiba ia nyengir.. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan.mengetahui apa yang terjadi. keluarga adopsiku. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali.. Siapa kau ini. dekat pun tidak. “Dua hari aku disana. bersama beberapa kenalan lama.... djAnGgo 226 . tapi aku kuat. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. dan yang lainnya.” Ia terdengar malu. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. Aku benci karena telah mengecewakan Esme.

yang bisa kupikirkan hanya. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. seandainya aku akan menyakitimu. Emmett. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami.. lebih antusias daripada rasional. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. Tapi kau terlalu menarik. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu.” ia bergegas melanjutkan. Aku tak bisa menebak alasannya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya... Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. rambutmu. Saat itu. bila mungkin. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. Sangat menyebalkan. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. pertengkaran terburuk kami. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal.. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. begitu juga Alice. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. “Aku kaget.. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. dari semua orang yang ada.. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku. dirimu. meski suaraku samar-samar. berburu. jika darahmu tercecer di sana di depanku. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. “Aku melakukan tindakan pencegahan.. “Karenanya. “Tapi efeknya justru kebalikannya.. Carlisle membelaku. napasmu. “Kenapa?” djAnGgo 227 . karena jika aku tidak menyelamatkanmu..” Mata kami kembali bertemu. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. ‘Jangan dia’. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. Akhirnya aku bisa bicara. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. menaruh diriku dalam kuasamu. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama. “Sepanjang keesokan harinya. Aku mendengarkan. “Tentu saja. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. pikirannya tidak terlalu orisinal.” lanjutnya. larut dalam pengakuannya yang menyiksa.. Dan setiap hari aroma kulitmu.” Ia memejamkan mata. Aku sombong mengenai hal ini. “Aku bertengkar dengan Rosalie. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya.” Ia cemberut mengingatnya. Sebenarnya aku sangat ingin.” Ia menggeleng tulus. disini.Aku tak sanggup berkata-kata. daripada sekarang. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. bahkan sekarang.

Ia menunggu. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku.. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku. “Bayangan dirimu. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. Terpenting bagiku sampai kapan pun. tak bisa melihatmu merona lagi..” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami.” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati. rasanya tak tertahankan. “Bella.“Isabella. Dari topik menyenangkan tentang kematianku. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. namun tersiksa. kembali malu-malu. dingin. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya.” Ia menunduk.. kaku. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. djAnGgo 228 . Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang..” Ia menatapku dengan matanya yang indah. putih.

“Kenapa?” aku memulai. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. Itu salahku. “Aku takkan memperlihatkan leherku.” Darahku mengalir deras. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami.” Sesaat ia memikirkannya. “Masalahnya kau begitu dekat.. dan aku berharap bisa memperlambatnya.” Ia mengangkat tangannya yang bebas.” “Tidak. Ia memandangku dan tersenyum. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya.. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. melihat apakah ia membuatku marah.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. Aku melipat daguku. Tatapan kami bertemu. aku membelai punggung tangannya.” “Kau memang bodoh. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. Perlahan. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. maksudku. mundur karena keanehan kami. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan. tanpa mengalihkan pandangan dariku.” Wajahku muram. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. “Domba yang bodoh.” bisiknya... Pasti ia mendengarnya. Dan aroma lehermu. contohnya”. ia mencondongkan wajah ke arahku. Aku duduk diam tak bergerak. peringatan yang menyuruhku untuk takut. “Rona pipimu cantik. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . “Jadi sang singa jauh cinta pada domba.” Senyumnya memudar. Dengan lembut ia membelai pipiku. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. “Lihat. “Jangan bergerak. “sepertinya tidak masalah. “Tidak. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu.” gumamnya. kemudian berhenti.. kan. “Kau tahu kenapa. bahkan bila menginginkannya. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.” katanya. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. Ini.” “Well..” kataku akhirnya. tahu. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain.” ia menimpaliku sambil tertawa. “Bodohnya aku. detak jantung dalam nadiku. yang suka menyakiti dirinya sendiri. Aku tak bisa bergerak. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami.” gumamnya. “Baik kalau begitu. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. “Aku ada disini.. “Benar-benar tidak apa-apa.” kataku bergurau. namun dengan teramat lembut. Bella. Lalu tiba-tiba.” Berhasil. tentu saja. seolah aku belum membeku saja. sungguh. dan aku ikut tertawa. tak yakin bagaimana meneruskannya.” Ia berhenti sesaat.” Ia tersenyum lagi. Aku berpaling. dan menaruhnya dengan lembut di leherku.. “Singa sakit. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan.” desahku.. ia tertawa.” “Tapi aku ingin membantu. kalau bisa.

Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. Akhirnya detak jantungku memelan.bagian dirinya yang lain. dan aku mendengarnya terengah. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Wajahnya bergeser ke samping. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Ia berhenti.” desahnya. Aku gemetar. kemudian berhenti. “Ah. Mendengarkan detak jantungku. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . Bisa jadi berjamjam. Dengan kelambatan yang disengaja.

sebuah ukiran dalam genggamanku.jadi kelewat berlebihan.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. Meskipun”. “Ini sudah cukup. Sudah kubilang. Agar kau mengerti. “Kau tahu maksudku. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 . Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. tak ada yang lain. kurasakan padamu. Aku tak bisa memikirkan apa pun. “Jangan bergerak. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh.. “Tidak akan sesulit itu lagi. di lain sisi.” bisikku.. “Tidak. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. dengan lembut mengusap kelopak matanya... kebingungan. dan keduanya tampak kelaparan.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. Kau?” “Tidak. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya. “Ada hasrat lain. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. kesulitan. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. Hasrat yang tak bisa kumengerti. “Aku tak tahu apakah aku bisa.. yang kurasakan.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka. Sorot matanya damai. mengingatkannya lewat tatapanku. “Katakan padaku. tidak pernah. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. menghirup aromanya. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. Kubelai pipinya.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. kemudian. itu tidak buruk. memejamkan mata. bayangan keunguan di bawah matanya.. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya.” bisiknya.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. Aku ingin mencondongkan tubuh. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. sesuatu yang asing bagiku. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Bukan dengan cara yang membuatku takut. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan.” ia mengaku. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. “Kurasa aku tidak bisa. rasa lapar.” “Tapi. yang menjadikanku makhluk tercela.” desahku. Tak ada yang bisa setenang Edward.. “Kemarilah. Ia membuka mata. Tidak pernah sebelumnya. Bibirnya membuka di bawah tanganku. Kemudian. bagiku.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. membuatku gemetaran lagi. “Kuharap. terlalu cepat.” katanya puas. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan. tak ingin mendorongnya terlalu jauh. ia setengah tersenyum. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya.. “kuharap kau bisa merasakan. dan hidupku bisa berakhir. haus. Dan kurasa kau bisa memahami itu.” Aku tersenyum. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya.” desahku. ia melepaskanku. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku... dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku.

tapi masih ada. dan aku pun mendesah. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. bayangan hutan mulai menyentuh kami.” sahutku.” Lama sekali kami duduk seperti itu. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. djAnGgo 232 . Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. “Aku punya naluri manusia.wajahnya di rambutku.

Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku.” aku menahan napas. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. bukan?” Suaranya meninggi. “Sepertinya aku butuh bantuan. tapi otot-ototku kaku. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. dan menghirupnya dalam-dalam. Ia tersenyum melihat keraguanku.“Kau harus pergi. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. Ia berdiri tak bergerak. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. “Bella?” panggilnya.” ujarku. menekankan telapak tanganku ke wajahnya. pengecut kecilku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. kau akan sangat aman. dan sekarang.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. selalu luput menyentuh kami.” aku mengingatkannya. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah.” Ia menungguku. “Asyik. Aku mencobanya. Rasanya seperti memeluk batu. maaf. “Hah!” dengusnya.” gumamnya. menungguku turun. lebih keras daripada yang pernah kudengar. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. Irama napasnya tak pernah berubah. Tak ada suara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. Jantungku bereaksi. djAnGgo 233 . aku merasa mabuk. dan aku menatap wajahnya. Kemudian ia berlari.” “Sudah jelas.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak.” “Ayo. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. kami sudah sampai di truk. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. aku yakin kau sering mendengarnya. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. “Rasanya aku perlu berbaring. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. dalam hitungan menit. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. senang. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. “Oh. naik ke punggungku. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. Kemudian selesai. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar.” Ia mengamati ekspresiku. Ia tertawa.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. bagai hantu. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward. Ia meraih bahuku. lalu mengulurkan tangan meraihku. “Jangan khawatir. sekarang terdengar waswas.

“Rasanya pusing. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. Ia memelukku sebentar. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. Kupasrahkan diriku.” djAnGgo 234 . menggendongku seolaholah aku kanak-kanak.Ia tertawa pelan.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Kemudian ia menarikku menghadapnya.

Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita. “Tidak. “Tidak.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya.” lanjutnya.” “Lain kali ingat itu. tidak seperti biasanya.” “Tukang pamer.” gumamku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.” ujarnya pelan. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. Napasku terengah-engah. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku.” Ia terdiam. Telingaku berdenging. ketika aku berlari. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. “Haruskah aku. bukan sesuatu yang harus kupikirkan. Aku bernapas palan. “Berlari adalah sesuatu yang alami.” ia tergelak. “Aku sedang berpikir. Ia tersenyum.. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.. Aku tak bisa bernafas. itu tadi sangat menarik. Darahku mendidih dan membara di bibirku. “Itu namanya melecehkan. “Bukan.” Tatapannya liar. terkendali.?” Aku mencoba menahan diri. dan lumayan membantu.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. aku bisa mentolerirnya. “Tukang pamer. Aku terus menatap matanya. Ketampanannya memukauku. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus.” gumamnya. Ia tertawa.” gumamku lagi.” Suaranya sopan. memberinya sedikit ruang. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. kau lucu. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. “Buka matamu.Aku mencobanya.” desahku..” “Bella. menjaga kepalaku tetap tenang. Waktu berlalu. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. Tolong tunggu sebentar. Jariku meremas rambutnya. Ia ragu-ragu. terlalu berlebihan. rahangnya menegang. namun suaraku lemah. Aku mencoba bersikap positif. Aku terpana dibuatnya. Aku merasakan ia duduk di sisiku. wajahnya sangat dekat denganku. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan. oh bukan. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Suasana hatinya masih bagus. untuk mengetahui apakah ini aman. “Ups. seperti cara manusia. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Bella..” “Lain kali!” erangku. Dan disanalah dia. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.

Maafkan aku.” djAnGgo 236 . Kemudian ia tersenyum. Senang mengetahuinya. jelas puas dengan dirinya sendiri.” katanya. “Nah.dalamnya mulai memudar dan melembut.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. “Bisa ditolerir?” tanyaku. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Ia tertawa keras.” “Kau toh hanya manusia biasa. dan senyumnya tak disangkasangka nakal.

“refleksku lebih baik.” Kuselipkan tanganku di saku celana. “Santai saja. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan.” “Percayalah. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel.” akhirnya ia bergumam. aku masih pening.“Terima kasih banyak. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa.” djAnGgo 237 . mulai dari telinga ke dagu. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.” godanya. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. “Aku tidak yakin. Tidak sedikitpun. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. Awalnya ia tidak menjawab. trukku sudah cukup tua. Tapi kalau dipikir-pikir lagi. menuju sisi pengemudi.” “Sangat masuk akal. Bella. berulang-ulang. sedikit saja. Kugenggam tangannya yang dingin.” “Aku yakin itu benar. “Kau mabuk oleh kehadiranku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. “Bagaimanapun. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu.” “Kau gila ya?” protesku. Aku mulai mengitarinya. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya.” sahutku getir. gerakan yang tak kusangka-sangka.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. menjadi lembut dan hangat. memerlukannya lebih dari dugaanku. wajah manusianya tampak tenang. Tak ada jalan keluar.” akhirnya aku berhasi menyahut. menggenggam kunci mobilku erat-erat.” desahku. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. “Bella.” Alisnya terangkat tidak percaya. Aku gemetaran. tapi kurasa keberanianku.” kutipnya sambil tergelak. “Refleksmu jauh lebih lambat.” timpalnya. “Kurasa gabungan keduanya. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. bisa menerimanya. “Mabuk?” timpalku keberatan. atau trukku. “Tidak. Lagipula. Ia mengulurkan tangan padaku.

Usiaku tujuh belas saat itu. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . kadang-kadang menatapku. tampaknya itu mudah baginya. Ia memandang matahari. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. menit demi menit berlalu.. “Musik ’50-an bagus. “Tidak juga. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. “Coba saja. “Delapan puluhan masih bisa diterima. Ia mengemudi dengan satu tangan. wajahku. sekarat akibat flu Spanyol. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. Ia mendesah. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar..14. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. tangan kami yang bertaut.” kataku akhirnya. uhh!” Ia bergidik. ragu-ragu.” aku nyengir. Seperti banyak hal. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku. Ia hafal setiap barisnya. atau ’70-an. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. sudah lama sekali. tapi aku masih bertanya-tanya. Ia menunduk menatap mataku lagi.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa.” ia bergumam pada dirinya sendiri. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. kemudian mentap mataku. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. Ia melihat ke arah matahari. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan.” Ia mendengarku terkesiap. “Aku tak mengingatnya dengan baik. lalu berkata. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur.

Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya. yang paling berbelas kasih di antara kami. “Sulit.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut.” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu.” “Bagaimana dia. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . Itu sebabnya dia memilihku.. ketika Carlisle menyelamatkanku.. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. Aku sebatang kara. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang..memudar. Bukan hal mudah. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan.. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

“Meski begitu. lalu berlalu djAnGgo 240 .” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. meskipun nyaris tak mungkin. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. Segala sesuatu berubah. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. Dia terjatuh dari tebing. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. hal-hal yang mungkin terjadi.” Ia tertawa. lain. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. Forks kelihatannya sempurna. menempuh jarak lebih dari seratus mil. “Kesendirianlah yang menggerakkannya. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. jadi kami semua mendaftar di SMA. Jasper berasal dari keluarga. dan matanya tertuju padaku. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. sebagai suami-istri. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka.” aku mendorongnya. Masa depan tidak terukir di atas batu. Rosalie membawanya kepada Carlisle.” Ia terdiam. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir... lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku.” Ia memutar bola matanya. begitu kami menyebutnya. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. “Tapi katamu. Alice menemukannya.” “Memang benar. hal-hal yang akan datang. Dia tertekan. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. rasanya amat. waktu itu kami sedang di Applachia.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. dan akhirnya memilih mengembara sendirian. masih terjalin. itu hanya Carlisle. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. Seperti aku. Kutekan rasa penasaranku. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Rosalie sedang berburu. Mereka mengembangkan kesadaran. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. dan mengangkat tangan kami. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami.” “Sungguh?” selaku..” lanjutnya. terkesima. sangat menyakitkan.” Ia menatapku dalam-dalam.” gumamnya. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. Alice mengetahui hal lain. Dia melihat hal-hal. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. “Tidak. tanpa bimbingan dari luar. “Tapi dia berhasil. Tapi itu sangat subjektif.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. “Bagiku. lagi.. “Ya. jenis keluarga yang sangat berbeda.

. djAnGgo 241 . ada banyak?” Aku terkejut..begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. ketika kelompok lain mendekat. Dia selalu melihat. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami. dan mereka datang bersamasama menemui kami.” “Apakah jenis kalian. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. contohnya. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia.

atau bagaimana orang itu bisa melakukannya.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. Jenis seperti kami yang hidup. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya.” aku memujinya.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya.” “Aku ingin bersamamu. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. kalau tidak merepotkan.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. Seperti yang lainnya.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. Lampu teras mati.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. aku membuatmu terlambat makan malam.” Banyak sekali yang harus dipikirkan.” “Aku baik-baik saja. perutku keroncongan. Dia terbangun sendirian. “Sangat manusiawi.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. “Maaf. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. Suasana sangat tenang dan gelap. Tapi yang membuatku teramat malu. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Aku lupa. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. tak ada bulan. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. jadi aku tahu ayahku belum pulang. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. dan itu adalah misteri. “bisa hidup bersama manusia selama apapun. Kadang-kadang kami bertemu yang lain. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. di desa kecil di Alaska. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . Hanya yang seperti kami. tidak banyak. ia mengerling licik padaku. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. dan ia mematikan truk. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. membukakannya untukku. “Ya. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. sungguh.. dia barangkali bisa berubah jahat..” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. seperti Jasper?” “Tidak. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali.“Tidak. yang telah berhenti memburu kalian manusia”. kebiasaan ini mulai membosankan.

tampak jauh lebih normal. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku.” djAnGgo 243 . “Aku penasaran denganmu. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. menyalakan lampu teras. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. ketampanannya masih bagai ilusi. Masih pucat.” Aku melangkah masuk.

Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. “Ada lagi?” desakku. “Kau mengigau.” Nada suaranya datar. “Apa yang kaudengar!” erangku. Saat itu juga.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. berharap aku bisa melihatnya. Ia kelihatan tidak menyesal.” ia berbisik di telingaku. terperangah. Dan ketika hujan turun. Aku mencoba memalingkan wajah. Aku tetap menatap piring ketika bicara. Ia menarikku lembut ke dadanya.. Piringnya berputar. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. aku pasti akan memimpikanmu. Dan aku tidak merasa malu. Ekspresinya langsung berubah kecewa. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. Tubuhku kaku dalam pelukannya. “Seandainya bisa bermimpi. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. ‘Terlalu hijau’. “Jangan sedih!” ia memohon. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. Aku masih tidak berpaling. dan tidak membuatku tersinggung lagi. tentu saja. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. Lama baru aku bisa berpaling. ibuku selalu menggodaku soal ini. terus ke lorong menuju kami. tapi sekarang sudah jauh berkurang. kemudiam memanaskannya di microwave. ia sudah pindah ke sisiku. “Kalau begitu lain waktu saja. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. Ia sudah disana.” Aku berputar.. menempatkan sebagian di piring. “Jangan malu. Aku tersanjung. Aku merasa malu.” Ia tertawa lembut. Gerakannya sangat alami. suaranya membuatmu gelisah. “Aku tidak yakin. Kau pernah mengatakan sekali.” bisiknya.. sama sekali tak perlu diarahkan. Ia tahu maksudku. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.. “Kau merindukan ibumu. wajahku memanas hingga ke garis rambut.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. djAnGgo 244 . “Kau memanggil namaku.” Dan akupun sendirian. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. “Pada?” desaknya. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. “Kau mengkhawatirkannya.” Aku memikirkannya dengan cepat. Ia menanti.” ia mengakui. kemudian menatapnya. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur.” “Tidak!” sahutku menahan napas. tanpa suara. Aku mendesah kalah. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini.

“Bella?” panggilnya.“Edward!” desisku tertahan. djAnGgo 245 . siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. lalu lenyap. Aku mendengar suara tawa yang samar. Sebelumnya hal ini menggangguku. Terdengar suara Dad membuka kunci pintu.

” timpalnya.” aku menimpali sambil menaiki tangga. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. ya?” Ia curiga. “Sedang terburu-buru? “Yeah.. Betapa ironisnya.” ujarnya.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. “Kupikir Mike Newton itu. Aku baru menyadari tanganku gemetaran. oh. Aku tak menjawab. “Hari ini memang bagus.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan. Aku mau tidur lebih cepat. aku hanya mau tidur. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. katamu dia ramah.“Disini. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu. belum ada cowok yang menarik perhatianku.” sahutnya menerawang.. “Terima kasih. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. “Ini hari Sabtu. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam.” “Dia hanya teman. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. susunya bergetar. Dad. Acara memancingnya biasa saja. Begitu lasagna-ku habis. pikirku.” “Kau kelihatan agak tegang.” “Well . cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua. buruburu. Sayang.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya.. “Selamat malam. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward. kalau mau mencari teman istimewa. Aku kepedasan. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. Aku membawa makananku. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. “Tidak.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Dad.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. Ketika aku meletakkan gelasku. “Tidak. aku lelah. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. benar-benar menggelikan. “Bagimana harimu?” tanyaku. Dad. djAnGgo 246 . Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. Mengapa. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. Tunggu saja sampai kuliah nanti.” ujarnya. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie. “Sampai besok pagi. Aku ingin sekali pergi ke kamar. tapi berusaha terdengar biasa saja.. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. “Sepertinya ide bagus. “Bagus. Charlie duduk di kursi.

salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur. tersenyum lebar di tempat tidurku. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. “Maafkan aku. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya.“Edward?” bisikku. tangannya menyilang di belakang kepala. “Oh!” aku mendesah. Posisinya sangat santai. djAnGgo 247 . jatuh lemas ke lantai. benar-benar merasa tolol. Ia berbaring. “Ya?” Aku berbalik.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat.

lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. “Bagus. “Diam disitu.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. menunggu. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. “Sungguh. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. mengangkatku.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. pakaian itu tampak bagus padamu. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. “Tentu. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. Bella.” djAnGgo 248 . “Ya. kemudian menutup pintu. Ma’am.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. patungnya menjadi hidup. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.” Aku nyengir.” “Selamat malam. Aku menaiki anak tangga dua-dua. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. rambutku yang basah. Dad. Kugosok gigiku keras-keras. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. Aku melompat. terburu-buru lagi. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku. berusaha tetap tenang. Matanya mengamatiku. kemudian menyisirnya cepat-cepat. dan meluncur ke kamar. Aku bermaksud buru-buru. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. Kulempar handuknya ke keranjang. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. yang sedang duduk di kamarku. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. Aku membiarkan lampu tidak menyala. menenangkan denyut nadiku. “Selamat malam. Kumatikan keran air. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. supaya tidak mengejutkanku lagi. handukan sekenanya. menutup pintu rapat-rapat. Salah satu alisnya terangkat. mencoba tampak galak. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. meluncur keluar. Sesaat kami duduk diam disana.” kataku.

“Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir.” djAnGgo 249 . “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku.” bisikku.“Terima kasih. mengamati wajahku.” Ia memikirkannya.” Ia mengangkat daguku. Aku kembali ke sisinya. aku bakal menyelinap keluar.” “Oh.

..” paparku. Aku sama sekali tak bergerak. meskipun semuanya baru bagiku. djAnGgo 250 . “aku juga rapuh... bukan dalam artian seorang adik..” “Jadi..” Ia tersenyum. “Terima kasih. dan ketika berbicara ia terdengar senang. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku. Dan menemukan.. “Amat sangat lebih mudah..Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. “Aku hanya terkejut. “Mmmmmmm. “Kau tahu. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. kemudian.” suaranya menggoda. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir. Aku merasakan tangannya... dan aku tak lagi mendengar suara napasnya. hidungnya meluncur ke sudut rahangku.” aku memulai lagi. Ia nyengir. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. ekspresinya tampak bingung. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku.” ujarku.. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.” “Tidak tak termaafkan. “Sepertinya. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.” Aku menarik diri. Kau membuatku sinting.” lanjutnya. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.. Maafkan aku soal itu. dan ia membeku..” “Kau bisa melakukan apa saja.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. menaklukan”. dan kami tertawa pelan. ia menghirup aroma pergelangan tanganku. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan. aku masih.. aku bertanya-tanya.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku..” “Ini tidak mudah. lebih ringan dari sayap ngengat. “Tapi sore tadi.” desahnya.” ia menjelaskan. bersamamu. sekarang menunduk. dan aku kehilangan akal sehatku. Ia mengangkat bahu. Saat konsentrasiku buyar. menerima pujianku.. ragu. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini.” kataku mencoba menghembuskan napas.... “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.” desahnya. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. “Sore tadi. membuatku malu.. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu.. bahwa aku tak dapat. Saat ia menyentuhku. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis.” sergahku. “Kenapa. justru sebaliknya. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. Ia memikirannya sebentar... “Hmm. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks. “Ya?” desahnya. “Selain kemungkinan aku dapat.. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat.” suaraku bergetar.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

“Sudah kubilang.“Tentu saja belum.” Wajahku memerah. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain. sedikitpun tidak.” djAnGgo 259 .

“Well. sekarang kau harus tidur. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. “Aku tak yakin apakah aku bisa. “Bagus. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. “Aku mungkin bukan manusia. Ia menanti.” ia bersikeras.” ia meyakinkanku. Setidaknya kita punya persamaan. “Aku telah menjawab pertanyaanmu.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang... “Naluri manusiamu.” Ia terdengar puas.” aku mendesah. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. Ia tertawa.” “Bagiku ya. tapi aku laki-laki. djAnGgo 260 . Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. nina bobo yang asing. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin. suara malaikat.“Aku tahu. lembut di telingaku. Aku menguap tanpa sengaja.” aku memulai. Lebih letih daripada yang kusadari. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi.

djAnGgo 261 .

aku membeku. terkejut karena semangatku yang menggebu. ingin sekali kembali padanya. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira.15. membawaku ke dalam pelukannya. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. tapi aku menyukainya. dan berusaha bernapas secara normal. Aku berbaring. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. lengan menutupi mata. Setengah berlari aku kembali ke kamar. dan rambutnya sudah rapi. Begitu menyadari apa yang kulakukan. “Charlie!” Aku teringat. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi.” jawabnya kaget. tapi nyaris gagal. berharap bisa tertidur lagi. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. Tangannya mengusap-usap punggungku. “Selamat datang lagi. tapi khawatir napasku bau. menghirup aroma kulitnya. setelah memasang kembali kabel akimu. sebuah mimpi yang coba kuingat. “Dia pergi sejam yang lalu. aku kecewa. “Kutunggu. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Aku tak mengenali diriku. Wajah yang ada di cermin praktis asing. mengantuk dan pusing. Aku menatapnya. Sesuatu.” gumamnya. “Tentu saja. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. di dalam maupun di luar. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. djAnGgo 262 . Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. matanya terlalu ceria. dan jantungku berdebar tak keruan. Kupercikan air dingin ke wajahku. khawatir tindakanku telah melewati batas. lagi. Aku mengerang dan berguling ke sisi. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana..” Aku melompat ke kamar mandi. sama sekali tak memahami emosiku. tanpa berpikir melompat menuju pintu. Ia meraihku. lengannya masih menantiku.. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Tapi ia tertawa. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak.” dengusnya. Harus kuakui.” ujarnya.” aku mengakuinya. “Aku yakin itu mimpi. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku.” “Kau tidak sekreatif itu. kalau boleh kutambahkan.

“Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir.“Kau pergi?” tuduhku. sambil menyentuh kerah kausnya yang baru. djAnGgo 263 .

bagaimana mungkin aku menyangkalnya. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga.” akhirnya ia berkata. lalu berhenti. “Aku akan melindungimu. terkejut kau membawa seseorang. Perhatikan caraku berburu. “Kau mengigau lebih awal. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu.” “Itu sangat lucu. aku tak yakin. “Tapi toh aku senang mendengarnya. “Bercanda!” aku nyengir. menyukaiku. Ia mendudukanku di kursi. Ruang dapur terang. ceria..” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya. Ia terperanjat. “Mm. Tidakkah mereka akan. untuk membuktikan.. “Boleh kuulangi?” tanyaku. menyusupkan kepalaku.” bisikku. jijik. “Jangan khawatir. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. Aku berdeham untuk bicara.” “Oh. Itu membuatku tidak nyaman.. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. Ia memandangiku.. “Aku khawatir mereka takkan. well. dengan kasual. “Ya. baiklah.” Aku duduk di meja makan. memperhatikannya sambil menyuap sereal. “Saatnya sarapan. Aku tersenyum. mengalihkan perhatiannya.. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang. dengan lembut. Bella. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang.” aku mengakui. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku. tapi ia mengabaikanku.“Kau tidur sangat pulas semalam. “Tidak apa-apa. melompat berdiri. ke rumah djAnGgo 264 .” Aku menggerutu.” aku mengingatkannya. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. mempelajari setiap gerakanku. aku yakin. tak ingin bersikap tidak sopan. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. ia bisa melihatnya di mataku. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. “Makan saja.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap. “Saatnya sarapan untuk manusia.” jelasku.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. seolah-olah menyerap suasana hatiku. “Tidak lucu. dan kau tahu itu. “Aku mencintaimu.” Kesembunyikan wajahku di bahunya. Kuletakkan makananku di meja. “Kau hidupku sekarang. aku tak melewatkan apapun..” “Kau sudah tahu itu.” Matanya berkilatkilat.” Ia mencibir.” jawabnya sederhana. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. “Apa acara hari ini?” tanyaku. memastikan ia memaafkanku. seperti aku.” “Aku tidak takut pada mereka. Ia memutar bola matanya. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. “Kaubilang kau mencintaiku.. Dan tampaknya aku dimaafkan.. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut. “Hmmm. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi.

ia tersenyum. tapi suaranya parau.menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. kemarin mereka bertaruh”. “Apakah aku membawamu kembali. Kau tahu. mereka sudah mengetahui semuanya. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 .

” “Well. ekspresinya penuh makna.” ia meyakinkanku.” gumamku.” “Kau menyimak. dan semuanya.” “Berpakaianlah. Aku buru-buru menghabiskan serealku. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.” ia tersenyum senang. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. Aku melompat berdiri. “Ya. Ia berdiri di tengah dapur. “Jujur.” “Dia sudah mengenalmu.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. memandangi meja.” djAnGgo 266 . menerawang ke luar jendela belakang. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu.Alice. “Kira-kira begitu. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu.” aku mengingatkannya. makananmu tidak terlalu mengundang selera. Aku menatapnya penasaran.” Aku menatapnya curiga. “Maksudku sebagai pacarmu. menggigit bibir.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya. “Well.. “Jadi..” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah.” Senyumnya penuh kesabaran.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu..” aku mengingatkannya.. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. kau tak perlu berpura-pura demi aku. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. “Selamanya. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. aku akan menunggu disini. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. mirip patung Adonis lagi. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. maksudku. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan.” katanya jengah. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. “Apa itu enak?” tanyanya. mengabaikan tatapan marahnya.” Ia meraih ke seberang meja. “Aku tidak berpura-pura. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. “Aku akan selalu menginginkanmu. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.” aku mengakui. sambil berspekulasi.” Aku meringis. kau tahu. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. “Aku tidak tahu. Aku tidak berharap kau. Kemudian tatapannya kembali padaku. jangan lupa itu. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. Ia tidak menyahut.” Perlahan ia mengelilingi meja. sama sekali bukan beruang pemarah.” aku mengaku. “Itu tidak perlu. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.

Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. masih kasual. Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. djAnGgo 267 . berwarna khaki. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. rok panjang. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda.

” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. pingsanku kali ini berbeda.” Aku masih pusing. dan aku kembali melayang. betul?” “Betul. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang.” Aku menyadari. Jalanan itu tak bertanda. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. “Kau sangat tidak pantas.” Ia menunggu di ujung tangga. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila.” ia mendesah. “Aku sudah pantas bepergian. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. “Itulah masalahnya. “Kau sangat konyol.“Oke.” Ia mendesah. Ia memiringkan kepala perlahan. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang..” ujarnya tak disangkasangka. “Kemarin aku menciummu. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar. membuatku. “Kau. “Begini. dan berpaling.” aku meracau.” aku bersikeras. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. Amat sangat terlalu pintar.. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. jatuh pingsan. itu tidak adil. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. dan ruangan pun berputar.. “Aku bisa mengganti. dan semakin besar. Kemudian aku tak sadarkan diri. dan aku langsung menghambur ke arahnya. “Kau sulit dipercaya. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . Kami melewati jembatan di Sungai Calawah.. dan semakin besar. dan memasuki hutan berkabut. “Kau salah lagi. lebih dekat dari yang kukira. putus asa. jalanan membentang ke utara. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar.. “Dan kau khawatir. Wajahku memerah senang. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter.” aku langsung menjawabnya. Tanganku membeku di dadanya. menggeleng-gelengkan kepala. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. “Kau terlalu pintar melakukannya. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. dengan sangat hati-hati membukanya.” Aku menggeleng menyesalinya. “Tidak. Aku tak tahu apa yang terjadi.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku.” Aku melompat-lompat menuruni tangga.” gumamnya di telingaku. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. “Kurasa aku lupa bernapas. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya. Ia menggeleng. Hutan menyelimuti kedua sisinya.. Jelas itu pertanyaan retoris. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya.” “Aku baik-baik saja.

Kemudian. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. hutan mulai menipis. djAnGgo 269 . setelah beberapa mil. dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno.sekeliling pepohonan kuno.

“Carlisle. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. dan karpet tebal. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. berlantai tiga. Cullen. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan.” “Carlisle.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami.” Langkah Carlisle terukur. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. langitlangitnya yang tinggi. “Sama sekali tidak. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. berbentuk persegi dan proporsional.” “Tolong panggil saja Carlisle. “Senang bisa bertemu Anda lagi. adalah orangtua Edward. “Wow.” Aku mencoba tertawa. lebih tak bisa diramalkan. Esme.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. Dinding-dindingnya. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Sangat terang.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. djAnGgo 270 . ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. tentu saja. berlantai pudar. Rumah itu tampak abadi. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. Aku merapikan rambut dengan gugup. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. berwarna cokelat karamel. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme. berhati-hati saat mendekatiku. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. mengingatkanku pada era film bisu. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. tersembunyi di kegelapan hutan. elegan. sangat terbuka. tapi jelas bukan yang seperti ini.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. semuanya merupakan gradasi warna putih. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. Cullen sebelumnya. menjabat tanganku. lebih berisi dibanding yang lainnya. Tampak menanti menyambut kami.” Aku tersenyum padanya. ayo. langsing. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. rambutnya berombak dan halus. tapi tidak bergerak mendekat. dan sangat luas. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. kesempurnaannya yang luar biasa. Aku pernah melihat dr. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. lantainya yang terbuat dari kayu. Tubuhnya mungil. berdiri persis di kiri pintu. Wajahnya berbentuk hati. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. Ia membukakan pintu untukku. namun tidak terlalu kurus. dan barangkali berusia beberapa tahun.” “Selamat datang. Mereka tersenyum menyambut kami. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. tanpa ragu. “Kau cantik. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. Di bagian belakang.” sahutnya tulus. daripada bagian luarnya. dr. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. Bella. “ini Bella.

“Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. djAnGgo 271 . Putri Salju dalam wujud aslinya.“Terima kasih. tapi mereka tidak menjawab.” Memang itulah yang kurasakan. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng. Aku juga senang bisa bertemu Anda.

bukan begitu?” kataku menjelaskan. “Kami senang sekali kau datang. seandainya aku menenangkan lotere. Apakah itu milik anda?” “Tidak. perpaduan rambut hitam dan kulit putih.” ia tertawa. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. begitu tenggelam. meskipun wajah djAnGgo 272 . menunjuk piano dengan kepalanya. membuatku sangat malu. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. “Senang bisa bertemu kalian semua. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. dan pada yang lainnya juga.” sahut Esme. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. “Kau memang harum.” Alis Esme yang lembut terangkat. baginya. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya.” sapa Jasper. Tapi piano itu indah sekali. bingung.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. Ia terlihat bahagia. ekspresinya mendalam. Aku memandang wajahnya. tapi aku menyukainya. “Tidak sama sekali. tapi seperti kebanyakan anak. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. “Hai. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu. “Edward bisa melakukan segalanya. salah satu alisnya terangkat. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. Aku mengalihkan pandangan. tentu saja. Ia tetap menjaga jarak. itu tidak sopan. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. rumah kalian sangat indah. Bella!” sapa Alice.” Aku tersenyum malu-malu padanya. Esme memperhatikan keprihatinanku. ia memandang Edward penuh makna. tatapan yang tidak kumengerti. tinggi bagai singa. dan sesaat mereka saling menatap. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku.” bentaknya. “Kau bisa main piano?” tanyanya.” Edward tertawa lepas.” ia berkomentar. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini. Carlisle dan Esme memelototinya.” tambahku apa adanya. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. “Halo. Lagipula. Ia berlari menuruni tangga. “Kurasa seharusnya aku tahu. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. dan aku teringat akan kemampuannya.” Ia berbicara penuh perasaan. Kugelengkan kepalaku. “Terima kasih. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. “Halo. berusaha terlihat sopan. itu sesuatu yang alami. “Hanya sedikit. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. Jasper. kemudian Jasper ada disana. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Wajah Esme melembut mendengar suara itu.“Hei. Ia mengajariku cara bermain piano. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. Bella. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. sekarang mereka tampak terkesiap. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. Edward menatap Jasper. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani.

“Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan.” sergah Edward keberatan. Edward menarikku bersamanya. “Aku ingin mendengarmu bermain piano.” aku meralatnya. bermainlah untuknya. “Kalau begitu.Esme tampak nyaris puas.” bujuk Esme. dia terlalu rendah hati. djAnGgo 273 . “Kalau begitu sudah diputuskan. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan.” sahutku.” Esme mendorong Edward menuju piano. “Sebenarnya.” balas Esme. mendudukkanku di kursi di sampingnya.

dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya. masih terkejut. “Kau manusia. “Jangan khawatirkan Rosalie.. “Terutama Esme. Sebenarnya. menertawakan reaksiku... mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. “Esme dan Carlisle. “Emmett?” “Well .” “Ini benar-benar salahku. berubah jadi lebih lembut. “Kesukaan Esme. dan bergidik.” “Oh. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. Tapi Rosalie dan Emmett. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami.” gumamku.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu.?” lanjutku cepat. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. Ia mengangguk.Lama sekali ia menatapku putus asa. takut ada djAnGgo 274 .” katanya.” Irama musik memelan. kau tahu. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya. dan ia berkedip. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya.” Aku mencibir. dan dia benar. “Sudah kubilang.” Ia mengangkat bahu.” Aku melirik ke belakang. Aku tak sanggup berkata-kata. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. “Rosalie yang paling berjuang keras. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.” katanya. “ Mereka menyukaiku.. untuk mencegahnya menyadari kengerianku.. tapi ruangan besar itu kosong sekarang. “Dia akan datang. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. musik masih melingkupi kami tanpa henti. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. Dan dia agak cemburu.. “Kau yang menginspirasi ini. “Dia berharap seandainya dia juga manusia. dan mendengar tawa pelan di belakangku.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. “Senang melihatku bahagia.” Aku mendesah. tapi dia tidak punya masalah denganmu. begitu kaya. matanya melebar dan persuasif. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit. “Mereka menyukaimu. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku. Edward menatapku santai. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. dia pikir aku gila..” katanya lembut. “Bahkan Jasper. Ia menarik napas dalam-dalam. Ia merengut..” katanya. menutupi jati diri kami.

Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa.” “Alice tampak sangat. Setiap kali aku menyentuhmu.. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku.. ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami.” katanya dengan bibir terkatup rapat.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku.. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas. “Dan kau takkan menjelaskannya. djAnGgo 275 . Dia sangat senang.. bersemangat. Tidak sekarang. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal.

Ia mengangkat jarinya. Mereka tahu kami ada disini. “Terima kasih.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab.“Jadi. Ia menyentuh sudut mataku. “Aku tahu kau pasti memperhatikan. well. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. tidak ada tumpukan kerangka di sudut.” Lagu yang masih dimainkannya. 276 djAnGgo .. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu... Aku menatapnya bertanya-tanya.. “Tidak.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.“Tidak seperti yang kauharapkan. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.” aku mengakuinya.” Aku mengabaikan gurauannya. respons yang masuk akal!” gumamnya. begitu terbuka. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. malu.. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya. mengamati tetes air itu lekat-lekat. suaranya terdengar arogan. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi.” lanjutnya mengejek. “Tidak ada peti mati.” Aku bergidik ngeri.” gumamku..” Aku mengangkat bahu. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. “Tentu saja. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota.” “Tamu?” “Ya. tiba di bagian akhir. sama seperti lantai keramiknya.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab. dan mereka penasaran. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. menyeka titik air mata yang tersisa. Aku mengabaikannya. memalingkan wajah. tentu saja. “Akhirnya. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. mereka tidak seperti kami. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. atau minggu. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. Aku menyekanya.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. Ia mengikuti arah pandanganku. karena aku akan sedikit.. Kemudian. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. “Begitu terang. laguku. ya kan?” tanyanya..

” Aku tidak tertawa. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu.“Kamar Rosalie dan Emmett.. Tanganku terulus dengan sendirinya.. ruang kerja Carlisle. kamar Alice. djAnGgo 277 . terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku.. Ia bisa saja melanjutkan. “Kau boleh tertawa. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu.... warna permukaannya yang gelap mengkilat.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. menertawai ekspresiku yang bingung. sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan.” katanya. Aku tidak menyentuhnya. “Bisa dibilang ironis. Edward tergelak. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.

” Suaranya sangat pelan. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. Ia mengangkat bahu. “Nostalgia. masih memandangi salib. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku.. Aku yakin ia memperhatikan. Ayahnya berpandangan sempit. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. dia tidak gesit menuduh. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. dan lemah karena kelaparan. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. tentu saja”. Tapi dia tetap ngotot. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. pada tahun 1640-an.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. memimpin pengejaran.. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya. dan lebih pintar dari ayahnya. Dia mengukirnya sendiri. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya.” jawab Edward. Saat penganut Protestan mulai berkuasa. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. untuk berjaga-jaga.“Pasti sudah sangat tua. Itu milik ayah Carlisle. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. hanya keluar pada malam hari untuk berburu. Makhluk djAnGgo 278 . Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. mengabaikan pertanyaannya. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. begitulah cara mereka hidup. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. Aku kembali menatapnya.” Aku tetap menjaga ekspresiku. “Dia pasti makhluk kuno.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. tawanya lebih menyeramkan sekarang. Ibunya meninggal saat melahirkannya. dan vampir. kurang lebih. Dia mengizinkan perburuan penyihir. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. menurutnya. “Tidak. “Carlisle lahir di London. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. Pada masa itu. tapi ia melanjutkannya. Lagipula bagi orangorang awam. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat.” “Ketika sang pendeta semakin tua. “Awal 1630-an. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. Meski begitu. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. werewolf .” aku menebaknya.

Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. dan kabur membawa korban ketiganya. Tubuh-tubuh akan dibakar. menyembunyikan sesuatu dariku. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan.” Edward berhenti. jadi dia berbalik dan menyerang. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. dan ia berbalik untuk membela diri. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. dan tak ditemukan. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia membunuh dua manusia. tapi yang lain ada di belakangnya. djAnGgo 279 . Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk.

“Aku baik-baik saja. Ia tersenyum.“Akhirnya semua itu selesai. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” aku menenangkannya. “Kalau begitu. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. Ia mulai menyusuri ruang besar itu.” “Beberapa. sambil menarikku bersamanya. ayo.” ajaknya.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. tapi tiba-tiba ia berhenti. memamerkan giginya yang sempurna.” Senyumnya melebar. “Akan kutunjukkan padamu.” djAnGgo 280 . “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku.

Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar.16. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita.” jawabnya. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. beberapa dengan warna terang. tidak mendengarnya mendekat. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. di mana saja terlihat. Rumah sakit menelepon tadi pagi.” kata Edward. Aku tersentak. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. djAnGgo 281 . menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. meletakkan satu tangannya di bahuku. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. “Aku mau. di sebuah kursi kulit.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. Sebagai ganti rak buku. Ia berhenti sebentar di depan pintu. Setiap kali ia menyentuhku. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Sungai lebar mengaliri bagian muka. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. “London pada tahun 1650-an.” kata Edward. kayunya berwarna lebih gelap. Snow tidak masuk karena sakit.” tambahnya. Lagi pula. sejarahmu. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. yang hitam-putih membosankan. “Masuklah. Edward meremas tanganku. jantungku langsung berdebar sangat cepat. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle.” undang Carlisle. “London pada masa mudaku. “Tidak sama sekali. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum.” kataku meminta maaf. “Well. Dinding-dindingnya bersekat. dr. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui.” jawab Edward. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran. sebenarnya. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi.

tersenyum pada Edward sekarang. Aku juga waswas. Carlisle meninggalkan ruangan. Setelah tersenyum hangat ke arahku. Sungguh perpaduan yang aneh. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. djAnGgo 282 .

sadar tekadnya mulai melemah. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. ” “Tidak. tapi kata itu meluncur begitu saja. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. Sejalan dengan waktu.” kata Edward pelan. Ia menunggu. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. memangsa. janji. tapi ia menduluiku. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. memindahkannya ke leherku. Lanjutkan.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. dengan puncak gunung di kejauhan.” Edward mengingatkanku dengan sabar. Tapi itu tidak mudah. yang sedang mengamatiku. “Karena secara teknis. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya.. dan menjadi lemah. tidak. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. mencari tempat paling sepi.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. “Akhirnya dia sangat kelaparan. mendongak menatap Edward. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram.. kau sudah janji.. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. “dia melawannya. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. wajahnya kesal. Bella. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. ” “Segalanya mudah bagimu.. Dia pandai dan selalu ingin belajar.. suaranya datar.” Mulutku membuka hendak bertanya.” Ia tergelak misterius. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. “Kurasa itu benar. membenci dirinya sendiri. “Aku takkan menyelamu lagi.” Edward memberitahuku. Dia belajar pada malam hari. nalurinya bertumbuh makin kuat. djAnGgo 283 . hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami.” kataku kagum. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. padahal ia masih begitu baru. Jantungku bereaksi terhadap hal itu. dan menyelesaikan kalimatnya. Dia menemukan jati dirinya lagi.” Edward tertawa. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta.” “Kau. kami tidak berlu bernapas. tapi aku berkeras. Dia berenang ke Prancis dan. bekerja di siang hari.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat.. “Tidak. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. mengambil alih segalanya. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. Ia mengangkat tangan. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. dan sangat kuat.” gumamku.

. “Berapa lama kau tahan.“Tidak.” “Agak tidak nyaman. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman. itu tidak perlu.” Ia mengangkat bahu. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas.” ulangku. entahlah. Hanya masalah kebiasaan.. djAnGgo 284 .

” Edward tertawa. Aku merengut. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. “Jadi. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. Meski begitu. seraya tertawa kaget. Pada malam hari dia belajar musik. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu.. kembali lagi ke ceritanya. Caius. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini.” katanya. “Ada apa?” aku berbisik. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. aku juga ingin bersamamu. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. ilmu pengetahuan. lari sambil menjeritjerit. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. “Aro.” katanya. dua berambut hitam. dan terus ke Eropa. “Kita lihat saja. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. Keheningan terus berlanjut. “Carlisle berenang ke Prancis.” Ia mengangkat bahu. “Mereka masih disana. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa.” aku berjanji padanya. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. “Aku takkan menghentikanmu. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. lalu tersadar. tapi tatapannya serius. hanya beberapa dekade. Carlisle berenang ke Prancis. memperkenalkan tiga lainnnya.” Ekspresinya penuh kekaguman. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman.” Ia setengah tersenyum. yang bingkainya paling penuh ukiran.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an.” Ia berhenti. menyentuh wajahnya yang membeku. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. dan ia mendesah. ke universitas-universitas di sana.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi. “Aku takkan lari kemana-mana. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. kedokteran. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani.. Menunggu. Kemudian kau akan menjauh dariku. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. tersenyum lagi. “Penjaga malam di gedung seni. lanjutkan. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. hormat. dan yang paling besar. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. Marcus. “Aku terus menunggunya terjadi. metanya menatap lekat wajahku. yang satu lagi berambut putih bagai salju.

seolah-olah dia salah satu dari mereka. djAnGgo 286 . begitulah mereka menyebutnya. Dia sangat kesepian. kau tahu. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Mereka mencoba membujuknya. keduanya sama-sama tidak berhasil. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. kehalusan budi bahasa mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama.keberadaban mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’.

Dia telah merawat orangtuaku. Aku menungguu dalam diam. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. Dan Edward. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. di lorong berpanel lainnya. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. bukannya ketakutan.” “Sungguh?” Aku terpancing. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. dia akan menciptakannya. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. nyaris berbisik sekarang. memelan. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. “Sejak kelahiran baruku. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. dan tahu aku sebatang kara. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. gadis yang ketakutan. jadi dia merasa ragu. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. lorong pada malam hari.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. Ia bisa merasakannya. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. maka tentunya aku tidak sejahat itu. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku.“Ketika epidemi influenza merebak. Tak ada harapan untukku. Edward yang sedang berburu.” ia menyimpulkan. “Hampir selalu.” Aku gemetaran. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Ketika ia kembali padaku. “Hampir selalu?” Ia mendesah. tak djAnGgo 287 . membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. laki-laki di belakangnya. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. kalau aku menyelamatkan gadis itu. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. seperti yang seharusnya kurasakan. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Aku tidak menyukai caranya berpantang. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. tampak enggan menjawabnya.” gumamku. lebih keras daripada sebelumnya.” Ia tertawa. “ Well. baik manusia maupun bukan manusia. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. terserah bagaimana kau menyebutnya. jadi aku bertanya.

terhentikan. “Kamarku. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu.” ia memberitahu.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. Mereka menyambutku secara berlebihan. djAnGgo 288 . membuka dan menarikku masuk. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. Apakah gadis itu berterima kasih. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. Lebih daripada yang layak kudapatkan. aku mulai melihat monster dalam diriku. tak peduli apapun alasannya.

“Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. “Mmmm.” ia tergelak.Kamarnya menghadap ke selatan. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. menatapnya nanar. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. dan ia mengangguk. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Setelah kau mengetahui semuanya. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. setengah membungkuk. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. “Kau tidak akan melakukannya. Ia tergelak dan mengangguk. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. nyaris menyentuhku. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic.” aku berbohong. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. berdasarkan tahun. Tidak ada tempat tidur. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah.” kataku. “Aku senang. djAnGgo 289 . Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. tegang seperti singa yang siap menerjang.” katanya setengah melamun. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. balas tersenyum. Sebenarnya. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. jelas-jelas tidak percaya. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. Ia tidak mendengarkan.” Ia mengangkat bahu. terlalu cepat. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. alisanya terangkat. Suaranya pelan. tersenyum samar. kan?” aku menebak. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Ternyata aku menyukainya. “Aku benci menghancurkan harapanmu. Ini membuatku… bahagia. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. Ia berhenti. Aku mundur darinya. Aku berbalik. Ia mengeram dengan suara pelan. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. Tapi kemudian. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira.

dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah. “Kau monster yang sangat.” Aku berusaha bangkit. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . “Jauh lebih baik. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. Aku menatapnya ngeri. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik.Ia tidak membiarkanku.” ia menyetujuinya. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya.” kataku. sangat menakutkan. matanya berkilat-kilat penuh canda. “Mmm. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram.

” Edward masih menahan tawa. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. rasanya aku tak ingin berbagi. ia berjalan. “Kami yang akan bermain baseball. Aku mendapati diriku bersemangat. aku tak dapat mengatakannya.” ejeknya. Tubuhku langsung kaku.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. ke tengah ruangan.” Seperti biasa. dan Emmett ingin bermain baseball. “Seperti kau tidak tahu saja. “Badai akan menghantam kota.” ia berjanji. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. kau akan tahu kenapa.” seru Alice. di pintu masuk. Pipiku merah padam. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. tapi ia ragu. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. Akan cukup kering di hutan. bagus. wajahnya bersemangat.” Edward meralat. sampai aku menyadari Edward tersenyum. bukannya ketakutan. “Sebenarnya.” kata Jasper.” Alice terdengar cukup yakin. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.” Aku memutar bola mataku.” jawabnya.” Aku tak mungin mengecewakannya. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. Aku berjuang melepaskan diri. “Kita akan main apa?” tanyaku. nyaris menari. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. “Maaf. tapi Edward nampak santai. “Mmm. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. Mata Edward berkilat-kilat. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. dan Jasper berdiri di belakangnya. tapi konteksnya membuatku bingung. “Tentu.Ia hanya tertawa. dan mereka langsung berlalu. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. Ia menatap wajah Edward. semangat dalam suara Jasper menular. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. entah karena komentar Alice atau reaksiku. Aku bisa melihat bahwa itu Alice. “Silahkan. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi.” “Kalau begitu.” ujar Alice. “Kau akan menonton. dengan seenaknya memelukku lebih dekat.” goda Jasper. gerakkannya sangat anggun. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. tersenyum sambil memasuki ruangan. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong. ekspresinya agak terkejut. “Tidak. kelihatan senang. djAnGgo 291 . “Tentu saja kau harus mengajak Bella.

djAnGgo 292 .

sekilas mengecup pangkal rahangku. Setelah kau menyingkirkan mereka”. Edward hanya mengangguk. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang. Jantungku melompat tak keruan. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. djAnGgo 293 . tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. “Biar aku yang mengurusnya.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. “Ini sudah kelewatan. Ia memandangku.” ia meyakinkanku dengan senyuman. diparkir di pelataran parkir Charlie. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. aku tahu.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. lebih ketakutan daripada marah. “Hei.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. Hai. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.” usulku. “Ajak mereka masuk.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. Aku akan kembali sekitar senja. ekspresinya mematikan.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . berhati-hatilah. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. Ia memutar bola matanya. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. “Segera.” “Belum lama. Wajah Billy tak lagi datar. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. “Oh.” aku mengingatkan. “Charlie pergi seharian. “Barangkali itu yang terbaik. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. Suara Edward yang dalam terdengar marah. Aku mengerang. dan aku memandang ke teras.17. Meskipun begitu. Jacob mengawasi. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu.” Ia tersenyum lebar. “Terima kasih banyak.” kataku sedih. Jacob.” “Kau tidak perlu pergi. “Sebenarnya memang tidak perlu. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. “jadi aku bisa pergi. “Aku akan segera kembali. Matanya kembali melirik teras. Tatapan tajam Edward membuatku waswas. Ford using. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. Kemudian aku melihat mobil hitam. memamerkan seluruh giginya. suaranya pelan dan parau.” ia berjanji. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram.” sahut Billy tenang. kemarahannya langsung lenyap.” perintahnya. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. kemudian ia membungkuk. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Anak itu tidak tahu apa-apa. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. Billy.

” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu. djAnGgo 294 . meskipun tak tahu apa isinya.“Aku hanya mau mengantar ini. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku. “Terima kasih.” kataku. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.

” “Memancing lagi?” Billy bertanya. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. kemudian ragu-ragu. masih mengamatiku. matanya serius.” Ia mengangkat bahu. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. “Charlie pulang larut. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater. wajahku menegang. biar kusimpankan untukmu. jadi aku berbalik menuju dapur. Aku memandangnya. diam.” “Ya.” “Dimana?” Jacob bertanya. kesukaan Charlie. “Masukkan ke kulkas. Tapi aku tidak tahu dimana. Matanya menyipit.. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. “Barangkali ini bukan urusanku.” aku mengulanginya. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami.” kembali aku menjawab dengan ketus.” jawab Billy. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. tapi tidak mengatakan apa-apa.. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam. “Memang benar. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” Jacob kembali menembus hujan. dan berbalik menghadapnya.” katanya lagi.” Ia menyadari perubahan ekspresiku.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku.” “Ya.” timpalku. Ia terus mengangguk.. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. “Kau kelihatannya. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi.. Kulkas akan membuatnya lebih kering. Ia terkejut. tapi ia menunduk menatap lantai. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan. Setelah beberapa saat. berbalik untuk menutup pintu.“Mari.” “Bukan.” ia menyetujuinya. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.” ujarku memberi isyarat. suaranya murung. “Bella. “Charlie salah satu sahabatku. Ia mengangguk setuju. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya. “Dia ke tempat baru.” katanya.” aku cepat-cepat berbohong. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan. matanya waspada. Ia sedang menunggu. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. “Jake.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. namun kali ini bersungguh-sungguh. alisnya bertaut. djAnGgo 295 .” “Kau benar. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh.” ujarku tegas.” aku menawarkan diri. aku mengetahuinya. Aku menunggu. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. dan itu membuatnya berpikir. “Itu memang bukan urusanmu. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah.” katanya. “Terima kasih.” “Sebenarnya. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. “Bella. matanya berbinar.” Suaraku nyaris kasar.

djAnGgo 296 .” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu. tapi sorot matanya tajam. Lebih tahu daripada yang kuduga. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.” ia mengalah.cukup tahu tentang keluarga Cullen. “Mungkin.” Aku menatapnya.

ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. yang baru saja lewat jadi tidak penting. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. Ekspresinya tidak senang.” Billy mengingatkanku.” Billy bergumam. “Well. terengah-engah.” Aku menatap matanya. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. dan aku melompat mendengarnya. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Aku diam di tempat. Bella. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. “Tapi mungkin urusan Charlie. “Maksudku.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku.” “Tentu. “Terima kasih. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. Bella. Ketika ia berbelok di sudut. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu. “Jaga dirimu. kurasa sampai ketemu nanti. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. “Kurasa itu urusanmu juga. kukenakan atasan flanel usang dan jins.” kata Jessica.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. Wajahnya menekuk. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. “Hebat. Bella. tak yakin apa yang menantiku malam ini. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut.” desaknya. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya. “bahwa kami mampir. “Oke. “Halo?” tanyaku. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku. djAnGgo 297 . Aku berdiri di lorong sebentar. Tapi sepertinya ia mengerti.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. Billy.” akhirnya ia menyerah. satu-satunya suara yang memecah keheningan.” “Akan kusampaikan. “Hmm. tapi tidak terkejut. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. yang lainnya akan membuatku kecewa.” katanya. maksudku. dan tak ada yang bisa kukatakan. Aku melambai sebentar. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan.” sahutku membentengi diri. Segera saja aku menyerah memilih pakaian. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap.” Jacob tampak kecewa. Aku tak menyahut. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. “Ya.” Aku mendesah lega. “Itu bukan urusanku. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. “Bella? Ini aku. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian.” “Well.” aku buru-buru menimpali. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. beritahu Charlie”.” timpalku.” gumamku. “Oh. Jacob terkejut. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward.

“Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Jess. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat. tapi tidak mudah djAnGgo 298 .” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. Tak perlu dipancing lagi. ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya.“Oh. hei.

” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. “Oh. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. “Well..” Bukan sepanjang sore. pesta dansa. kita ngobrol besok. sebenarnya. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria. Mataku terus menatap jendela. “Dad. Cullen?” ia bertanya. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. sekolah. “Oh. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. Aku melambai padanya.untuk berkonsentrasi..” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. Jess.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga.” Ia berhenti. ayahmu ada.” kataku.” aku meralatnya. Mike. sore ini aku di rumah saja.. apa?” “Kubilang. makan dalam diam. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. Sampai ketemu di kelas Trigono. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. “Well. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. meletakkan peralatannya. “Kami sama-sama murid junior. “Tunggu.” serunya marah. sungguh. yang seperti dewa. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.” Yang tampan. “Kaudengar apa yang kukatakan. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. “Maaf. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting. “Itu kesukaanku. “Rumah dr. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. “Yeah.” “Sampai ketemu. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie.” kataku.” Aku menutup telepon. masih jengkel karena aku kurang menyimak. well. “Edwin itu yang mana. O-Oh. “Tidak ada.. tapi perutku seperti berlubang..” Aku tagu... Dad. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. Charlie menikmati makanannya. “Jadi. “Hai. yang rambutnya cokelat kemerahan. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. “Mmm. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku. Bella?” tanya Jess jengkel. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu. ya?” “Edward adalah yang paling muda. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. kaget.” Charlie menjatuhkan garpunya. “lebih baik. Jess mendengar suara Charlie. Jess. djAnGgo 299 ..” Aku berusaha terdengar bersemangat. Jessica. Tak apa. membuyarkan lamunanku. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. “Hei.

Dad. tidak?” djAnGgo 300 . Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya.kurasa.” “Ya. dewasa untukmu. tapi dia kelihatan terlalu.. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar.. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward.

memaksaku duduk di sofa.” “Jangan khawatir.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya.” Tapi ia mengambil garpunya lagi. Edward. Ia mengedip di belakang Charlie. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. kusimpankan jaketmu. ia mungkin saja mendengarkan. panggil saja aku Charlie. “Kau bermain baseball?” “Well.” “Terima kasih. Sir. dan Edward ikut tertawa. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. Kepala Polisi Swan. Ayo kita pergi. Dad. Sir. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. Mereka mengikuti. “Oke. “Terima kasih.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. “Kaujaga putriku baik-baik. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. “Well. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. Edward tidak tinggal di kota.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah.” sahut Edward dengan suara penuh hormat.” Bel pintu berbunyi. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. “Tinggalkan saja piring-piring itu. Edward.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. Charlie. Kau sudah terlalu memanjakanku.” Edward berjanji. aku bisa mencucinya malam ini. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. “Lagipula.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar. “Jangan pulang terlalu larut.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini.” lanjutku. “Sudah cukup menertawakanku.” Aku meringis.” Faktanya. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. “Well.“Kurasa bisa dibilang begitu. Sini. “Jadi. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar.” Charlie tertawa. oke?” djAnGgo 301 . Bell. “Aku mendesah dan memutar bola mataku. “Oh. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi.” Wajahnya cemberut. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya.” “Silahkan duduk. di sebelah Charlie. “Ayo masuk.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. “ini baru tahap awal.” ia mengamatiku curiga. barangkali kebanyakan aku menonton. Lagipula. kau tahu.” Aku bangkit berdiri. begitulah rencananya. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. kemudian akhirnya tergelak. “Ya.

Aku mengerang. Mereka tertawa. djAnGgo 302 . “Dia akan aman bersamaku. Sir.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. tapi mereka mengabaikanku. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. yang terdengar pada setiap kata-katanya. aku janji. dan Edward mengikutiku.

Ia mendesah.” “Oh-oh. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku.” djAnGgo 303 . tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. “Itu perlengkapan keselamatan off-road. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Hujan tinggal gerimis. dalam langkah manusia normal.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. Kami berlalu meninggalkan rumah. bingung. melawan rasa panik. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Charlie bersiul pelan. kemudian mengangkatku dengan satu tangan.. Ia tersenyum tegang. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. “Kau harum sekali ketika hujan. Bella. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. tersenyum lebar sepanjang jalan. mmm. kemudian mengerang.” sahutnya tercekat. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. “Dalam artian yang baik. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. “Kau tidak akan berlari. Ia mendesah.” Kugigit bibirku. tapi tidak mudah.Aku berhenti tiba-tiba di teras. atau buruk?” tanyaku hati-hati. Atapnya merah mengkilat. Lalu aku tiba-tiba mengerti. kau akan baikbaik saja.” “Pejamkan saja matamu. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. tampak Jeep berukuran sangat besar. “Maaf. Disana. “Keduanya.” jelasnya.” “Ini punya Emmett. dan langit tampak lebih terang di balik awan. Ketika ia beralih ke jok pengemudi. “Kenakan sabuk pengamanmu. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. menyusuri tulang selangkaku. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari..” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. setiap detik semakin pelan.. selalu keduanya. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. kita harus jalan kaku dari sini. Jeep-mu besar sekali. Kemudian kami tiba di ujung jalan.” “Aku bakal mual. di belakang trukku.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. “Ini. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik.. Aku menatapnya. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. Tapi terlalu banyak kaitan.

dan menuju sisiku dalam kelebatan. “Biar aku yang melakukannya. kau terus saja.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. djAnGgo 304 .” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.” protesku.

” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. “Kau tidak bisa mati. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku.” aku terengah. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku..” desahnya. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. tapi tak ada yang bisa kulakukan. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. tapi aku mungkin. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. menabrak pohon. Nyaris tak berembun sekarang ini. wajahnya hanya beberapa senti dariku. Ia tergagap mudur.” geramnya. “Bella. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.” Ia menahan senyum. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. “. ” aku menelan ludah.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. “Kau akan menjadi alasan kematianku.” ia mengingatkan dengan nada kasar. menyerah. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. dan memejamkan djAnGgo 305 .” gumamku.” Menggunakan hidungnya. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya. Aku mendesah dan mengangkat bibirku. “Pepohonan.“Hmmm.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. berusaha mengatur napas. kan?” “Tidak. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. Bella!” ujarnya terengah-engah. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. Bukannya tetap diam dengan aman. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur.” katanya. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. dan sekarat. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. dengan hati-hati.. “Mual. “Semacam itu.” Aku berusaha berkonsentrasi. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. “Ya. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. ya kan?” “Tidak.” desahku. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku.” aku mendesah. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. dan menciumku sepenuh hati. Alice benar. “Kaulihat. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. “Nah. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya. aku bersumpah. Aku tak bisa melepaskan diri. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. Kemudian mual.” Aku berjongkok. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya. berhenti tepat di sudut mulutku. bibirnya bergerak di bibirku. di bawah lenganku sendiri. memaksaku menempel ke pintu. mm.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. “Sialan.” Sebelum aku bereaksi. dengan mudah melepaskan cengkramanku. “Tidak.

Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku.mata. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . gerakannya terlalu halus. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak.

tapi ia menangkapku dengan cepat. “Jangan. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri.” “Kau berjalan ke arah yang salah. seluruh selera humornya lenyap.” “Lalu kenapa?” bisikku.. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. Ia menangkapku lagi. dan ia pun tertawa terbahakbahak. “Karena selalu membahayakan dirimu. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai.” “’Bella. Merasa jengkel. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. percaya. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani.. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku. “Kau mau kemana.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu.” katanya lembut. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. “Kau marah.” djAnGgo 307 . “Aku tidak marah padamu. “Aku takkan pernah marah padamu. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku.” “Tapi kau baru bilang. aku mulai melangkah ke dalam hutan. “Sudah sampai. ” “Aku tidak marah pada mu. kami sudah berhenti. aku harus bisa.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. Aku bangkit berdiri.” aku berkeras. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. begitu juga kata-katanya. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Tidak bisakah kau melihatnya. mendarat di punggungku. aku tak dapat menahan diri.. hangat.. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. tapi aku menahannya. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. Bella. dan cukup yakin. “Oh. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. “Ya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. “Jangan marah. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya.mengintip. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku.” Aku memberanikan diri membuka mata. frustasi akan kelemahanku. kelambananku. Ia menatapku tak percaya. Aku harus lebih kuat. alisku terangkat. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya.

“Aku mencintaimu.” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku.” katanya. memindahkannya dari bibirnya. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. tapi aku tentu saja menyadarinya. namun meletakkannya di wajahnya. djAnGgo 308 . tapi itu masih benar. Ia mungkin tidak menyadarinya. dalam begitu banyak katakata.Ia meraih tanganku.

setelah mengacak-acak rambutku. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. kecuali satu tanganku. Esme menghampiri kami. Aku diam tak bergerak. Emmett. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan.” ia mengumumkan. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme.” Emmett membenarkan. berkilat-kilat. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. dan kami pun sampai. Lalu mendesah. Esme. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. “Tidak. lebih mirip cheetah daripada rusa.” ia menjelaskan. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. “Itu memang dia. Esme. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. aku lebih suka menjadi wasit.” ia melanjutkan.” “Ya. gelisah. dan dengan cepat ia mendahului mereka. Ma’am. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. “Menyeramkan. menembus semak-semak yang basah dan padat. dan Rosalie bangkit berdiri. tapi aku tak melihat bolanya.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. “Kaukah yang kami dengar tadi.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. sambil mengedip padaku. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. Begitu ia berbicara. tim!” Ia mengejek dan. atau menari ke arah kami. Luasnya dua kali stadion baseball. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. “Kalau begitu. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. “Kedengarannya seperti beruang tersedak.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. cepat-cepat membalasku. Larinya lebih agresif. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Alice berlari bagai rusa. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. mengejar kedua saudaranya. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. “Ayo. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami.“Sekarang. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. “Ayo. kemudian pecah di barat kota. Aku mencoba terdengar bersemangat.” Edward menjelaskan. Emmett. “Sudah waktunya. mungkin jauhnya seratus meter. Perutku langsung mual. setidaknya jaraknya seperempat mil. tatapannya bersemangat. kumohon bersikaplah yang baik. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter.

berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. djAnGgo 310 .” gumamku. terkejut. “ Well.mendengarnya.” aku tertawa. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku.” “Anda terdengar seperti ibuku. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. “Ia juga tertawa. terkejut.

Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. Carlisle membayanginya. Alice tersenyum sebentar.” ia memberitahu. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. “Kaulah yang diinginkannya. “tapi Edward berlari paling cepat..” Ia tersenyum. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. seolah-olah tak bergerak. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. sebagai anggota tim lawan. dan Alice memegang bola. menggema hingga ke pegunungan. meskipun dahinya berkerut waswas. meskipun dia lebih tua dariku. “Itu menghancurkan hatiku. Gelegar petir terdengar lagi. “Tunggu.” tambahnya terus terang. melayang menembus hutan yang mengelilingi. itu sebabnya aku melompat dari tebing. Sayang. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. “Kalau mereka tidak memukulnya. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan.” aku bergumam. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. djAnGgo 311 . menggelegar.” Esme mengingatkan. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. baru disebut strike.” ujarku terbata-bata. kau tahu. Aku menunggunya menghampiri home base . “Out!” Esme berteriak lantang. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. “Edward putra baruku yang pertama. Aku selalu menganggapnya begitu. Bunyi pukulan itu menggetarkan. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu. tangannya yang terangkat menggengam bola. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. satu tangan terangkat. Kemudian tangannya mengayun lagi. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. dan kemudian.” Alice berdiri tegak. tapi saat ia mengambil posisi.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya.” seru Esme lantang.” Ia tersenyum hangat padaku. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. “Baik. aku sedih melihatnya sendirian. “Selalu sang pria sejati. katanya. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan. makhluk kecil yang malang. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. kembali ragu-ragu. Aku tersadar Edward menghilang.” jelas Esme. Entah bagaimana. setidaknya dalam satu cara. bagai serangan kobra.” ia mendesah. pasti akan ada jalan keluarnya. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. mendengarkan dengan saksama. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. “Home run. sejauh apa pun posisinya. bayi pertamaku dan satu-satunya.” Ia tampak bersimpati. “Bahwa aku. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya.” “Kalau begitu. Esme menghentikan langkah. Gayanya tampak licik daripada mengancam. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Anda tidak keberatan?” aku bertanya.. “Ke posisi masing-masing.“Ya. “Emmett memukul paling keras.

Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. memukul bola mati ke arah Carlisle. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Ia berlari cepat ke sisiku. berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. djAnGgo 312 . “Safe.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. wajahnya memancarkan rasa senang. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. Aku melompat dengan waswas. Ketika mereka bertabrakan. ketika Edward menangkap bola ketika.

” gumamnya.” “Tiga. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. kemudian berpaling. “Well.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. posturnya protektif. Jasper mendekati Alice. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. djAnGgo 313 . “Tidak. Mereka berlari. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. membuatku kehabisan napas. “Kurang dari lima menit. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira.” katanya. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. “Giliranku. tidak sambil menggendong. aku tak bisa mengatakannya. “Kenapa?” tanyanya. matanya kembali berkilat-kilat memandangku.” godaku.” bisiknya. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. “Aku tidak melihat.” Wajah Edward geram. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. Ia bermain pintar. ” Ia terdiam. bebalik menghadap Edward. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya.” jawab Alice singkat. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. “Lagipula.” katanya menyesal. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. Mataku tertuju pada Edward. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. mereka ingin bermain. Alice ber-high five dengan mereka. “Aku agak kecewa.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. “Alice?” suara Esme tegang. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya. “Apa yang berubah?” tanyanya. Petir terus bergemuruh. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. bingung. “Mereka mendengar kita bermain. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice.” ia tertawa. dan itu membuat mereka berbelok. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. menuju base. Semua sudah berkumpul. Tiba-tiba Alice terkesiap. seperti biasa. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. “Yang jelas. “Biarkan mereka datang. menjaga bola tetap rendah. “Ada apa.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. Ketegangan menyelimuti wajahnya.

Hanya Emmett yang tampak tenang. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. Carlisle berpikir. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya.” akhirnya Carlisle memutuskan. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah. Suaranya tenang dan datar.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya. mereka hanya penasaran.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. “Alice bilang.

“Kau yang menangkap. jangan bersuara. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku.” gumamnya enggan. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Emmett. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Bella. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. “apakah mereka haus. “Cukup untukku. Aku sungguh menyesal. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. jangan bergerak dari sisiku. “Itu takkan membantu.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. Yang lain kembali ke lapangan. Ia setengah melangkah. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. “Maafkan aku. dan Emmett.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. “Uraikan rambutmu. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati.” gumamnya marah.” “Ya. mata dan pikirannya menerawang ke hutan.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. “Yang lain berdatangan sekarang.” kata Alice lembut. Carlisle berdiri di base. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab.” Dan dia pun berdiri di depanku.” katanya. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. Ia menarik rambut panjangku ke depan. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. Tatapannya tanpa ekspresi. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. dan yang lain berpaling ke arah yang sama. Aku mematuhinya. Rosalie. Esme. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. tapi toh aku dapat menangkapnya. menutupi wajah.” “Aku tahu.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.” Aku mendengar napasnya berhenti. Detik-demi detik berlalu. kumohon diamlah. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. Carlisle. djAnGgo 315 . Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam.

Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. tapi kalah jauh dari Emmett. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. ototnya kekar. Mata mereka juga berbeda. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. memamerkan gigi putihnya. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. dan mereka bertelanjang kaki. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. anggun. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. Kedua laki-laki itu berambut cepak. entah mengapa tampak paling waspada. Laki-laki yang pertama langsung mundur. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. terpisah-pisah sejauh 12 meter. Postur tubuhnya sedang. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam.18. dan tanpa komunikasi yang kentara. Si perempuan lebih liar. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. meskipun diam. Yang ketiga wanita. Langkah mereka pelan. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. Ketika mereka mendekat. djAnGgo 316 . Ia tersenyum ramah. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. Sambil masih tersenyum. Matanya. rambutnya hitam mengkilap.

Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. “Aku Laurent. Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. ini Victoria dan James.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu.” djAnGgo 317 . Aku terkejut ia menyebut namaku. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. Edward dan Bella. Emmett dan Jasper.“Kami kira kami mendengar permainan.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi. Ini keluargaku. Esme dan Alice.” “Tidak.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah. Rosalie.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. kami baru saja selesai. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. “Sebenarnya. “Aku Carlisle. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. “Disini. di Olympic Range. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.

Rambutku berantakan ditiup angin. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser. “Ceritanya agak panjang. Lagipula. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam.” Carlisle menjelaskan. semata-mata hanya terkejut. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. hidungnya mengendus-endus. tubuh Edward menegang. “Kumohon jangan tersinggung. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. menggeram penuh ancaman. bengis. Perlahan James menegakan tubuhnya. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. Kalian mengerti.” Carlisle menambahkan dengan tenang. nada suaranya lembut. kami baru saja bersantap di luar Seattle. Ketika Laurent bicara. “Dia bersama kami. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi.” Laurent mengangguk. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. James bergerak sedikit ke samping. dan laki-laki kedua. tiba-tiba memutar kepalanya. “Kalian membawa snack?” tanyanya. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. Emmett dan Alice. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara.” Senyumnya ramah. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. “Ya. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. mengamatiku.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. Edward memperlihatkan giginya. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga.”protes Laurent.” Ia tertawa. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. matanya tertuju pada James. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. “Tapi dia manusia. cuping hidungnya masih mengembang.” djAnGgo 318 . balas siap menerkam. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. James. “Tentu saja.

James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. Bella. Esme?” panggilnya. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. Jasper.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. Mereka mendekat. kami takkan melukai perempuan manusia ini. “Tapi kami ingin menerima undanganmu. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. tentu saja. dan Emmett mundur perlahan. “Dan. djAnGgo 319 .” Suara Edward pelan dan lemah.” Suara Carlisle masih tenang. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. “Ayo. Seperti kataku.“Tentu. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. “Akan kami tunjukkan jalannya. Rosalie.

digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Bahkan denganku di punggungnya.” “Aku harus. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. kau tidak boleh melakukan ini. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. sekarang. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. menyembunyikan diriku. dan Edward menyalakan mesin. “Kita mau kemana?” aku bertanya. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. Bella. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. Aku terus menundukkan kepala. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. matanya terpaku ke jalan. dan meskipun laju kami bertambah cepat. sekarang kumohon diamlah.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. “Sialan.” kata Edward dingin. yang lain tak mau menjauh darinya. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat.” djAnGgo 320 . Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. “Tidak demi aku. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi.” Ia tidak menoleh ke belakang. “Pasangkan sabuk pengamannya. “Tidak! Edward! Tidak. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. berputar menghadapi jalanan yang berliku. Dan kami menuju ke selatan. yang menyelinap masuk ke sebelahku. dan sama sekali saia-sia. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. Edward. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. Tak ada yang menjawab. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. Bella. “Emmett. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. menjauh dari Forks.” Suaranya dingin. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Kami tiba di jalan utama. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. Aku memberontak. masih terkejut karena ngeri. Alice telah berada di jok depan. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. “Menepilah. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak.” ia memerintahkan Emmett. jauh sekali. yang lain tak bisa mendahuluinya. Alice berbicara untuk pertama kali.

tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya. djAnGgo 321 . dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu.” ia mengerang frustasi.” Nada suara Alice tenang. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115.Edward menatapnya marah. “Kau tidak mengerti. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. Jarum spidometer bergerak melewati 120. Edward. “Dia pemburu. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. Alice. kemudian menambah kecepatan. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Menepilah. aku ingin memahaminya.

“Dengar. Aku melihat pikirannya. Semua menatap Edward. ada.” geram Edward. suaranya mengeram. pilihan. baru kita lari.” “Dia akan menunggu. Kita harus membunuhnya.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu.” “Dengar.” “Itu pilihan lain. “Itu sebuah pilihan. Jeep sedikit melambat. Kalian tahu itu. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. Jeep kembali melambat. murka. Dia bersamanya. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak.” “Jumlah kita cukup banyak. Dia takkan bisa menyentuhnya. akhirnya terpancing juga. dan terhempas lagi ke jok. dia takkan bisa mengalahkan kita. si pemimpin akan turun tangan juga.” desis Edward. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap.” Alice berpikir sebentar.” Mereka menatapku. lebih drastis. “Tidak. “Dia benar. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. “Aku juga bisa menunggu.” aku memohon. terkesiap.” kata Alice.” Aku terkesiap. “Tidak. dan dia menginginkan Bella. Edward berbalik padanya. “Bukan ide yang buruk.” Emmett tampak sangat percaya diri. sungguh. “Aku tidak melihatnya menyerang.“Lakukan. Berburu adalah hasratnya. “Bisa saja berhasil. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella.” kata Alice. Sekali memutuskan untuk berburu. Alice. Bella. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. Aku memandang marah dan melanjutkan. Aku terdorong ke depan. Edward. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI.” “Dia bukan tandingan kita.” “Kau tidak mengerti. Dia akan mencoba djAnGgo 322 . obsesinya. “Tidak ada pilihan. Edward. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. “Bawa aku kembali. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan. “Kita harus membawanya kembali.” potong Edward. “Edward. Ia benar-benar mengabaikanku. dia tak tergoyahkan. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara.” “Dan yang perempuan.” sahut Edward mantap. Aku memecahkannya. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. secara spesifik. ” Edward menginterupsi.” “Tidak.” “Dia tak tahu kemana. Alice memelototinya. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak.” Emmett tersenyum. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. Kukemasi barang-barangku. Alice. “Bawa aku kembali.” kata Alice pelan.” bujuk Alice. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau.” Emmett akhirnya berbicara. “Terlalu berbahaya. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. Dia memulai perburuannya malam ini. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja.

menunggu kita meninggalkannya sendirian.” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.” djAnGgo 323 .

Apapun masalahnya dengan Alice. maaf. dimanapun kau berada.” desaknya.” Ia melepaskannya.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. “Aku tak bisa melakukannya.” aku melanjutkan. “Kau akan pergi malam ini. dia bakal curiga. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle.” Ia menatapku geram dari kaca spion.” “Ya. Edward sepertinya setuju. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. terlihat terkejut lagi. “Emmett?” Aku bertanya. djAnGgo 324 . kecuali bunyi deru mesin. Kemasi apapun yang bisa kau ambil.” kataku. Ia tidak mendongak. “Inilah yang akan kita lakukan. Lalu Edward berbicara lagi. Katakan pada Charlie. “Aku ikut kau. suaranya terdengar terluka. Kau punya waktu 15 menit. kumohon lakukan saja dengan caraku. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. “Emmett. aku tidak mau. “Bella. Charlie bukan orang bodoh. aku ikut kau.” Alice menimpali. “Kupikir dia benar. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata. dia memang benar. Suaranya terdengar pahit. “Edward. “Tidak akan. Dia akan berpikir kau bersamaku. suaraku jauh lebih pelan.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. kau berjaga di luar rumah. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. Sesampainya di rumah Bella.” aku berbisik.” Edward mendesah. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi.” Emmett melihat ke arahku. “kita tidak akan berhenti.” protesku. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.” Aku berusaha terdengar tegas. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. kau tak tahan lagi berada di Forks. “Kumohon. kalau si pemburu tidak ada disana. “Kau akan membawanya pulang.” Emmett menyela.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. kau ambil truk Bella.” Jeep menderu menyala. kemudian masuk ke trukmu. “Oh. bannya berdecit-decit. mengertakkan giginya. “Kalian semua takkan muat di trukku. Alice. menatap lurus tanganku. sekali ini saja.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu.” kata Alice tenang. dan ia memutarnya. Ia mendengarnya. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Ketika bicara.” kata Alice yakin. “Kalau si pemburu ada disana. Setelah dia keluar. Kami akan memastikan dia aman.” Suara Edward dingin.” “Itu tak ada hubungannya.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. Kemudian dia punya waktu 15 menit. Ceritakan apa saja agar dia percaya. Emmett.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. “Dengar. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. Sepertinya Edward tidak mendengarku.” katanya. dan itulah yang terpenting. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. “Emmett juga harus tinggal.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang.” “Pikirkan lagi.” “Tidak. sekarang ia tak meragukannya lagi. dengarkan dia. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. aku akan mengantarnya sampai ke pintu.

“Menurutmu.” “Aku tak bisa melakukannya. aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak.” Edward mengulangi kata-katanya. djAnGgo 325 . Akal sehatnya mulai bekerja. “Jasper dan aku akan membawanya. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya.” sahut Alice. Edward menatap Alice tak percaya.” timpal Alice.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal.

“Bella. kami akan menemaninya. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. Lalu datanglah dan temui aku. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. sangat baik.” sahutku. beberapa hari. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju.” Emmett tergelak. Tentu saja ambil rute memutar. dan mencoba untuk berani. Emmett..” aku memberitahunya. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix.” “Dengar. menelan ludah. “Menemuimu dimana?” “Phoenix.Aku mencoba membujuk. Kau mengerti?” “Ya. apapun. Ia berpaling pada Alice. Nah. “Tidak. atau kau karena mencoba melindunginya.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya.” “Oh?” tanyanya. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. nada suaranya berbahaya. kemungkinan besar akan ada yang terluka. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. dia akan terluka. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya. Aku memikirkan Charlie. dalam segala hal.” “Aku sepertinya menyukainya. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. “Tetap di dalam ruangan.” “Aku takkan pulang. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. Dia telah bekerja dengan sangat.” gumamnya tiba-tiba.” Alice mengingatkan. Edward tersenyum padanya.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya.” Tentu saja. djAnGgo 326 . aku akan menuntut tanggung jawab darimu. dan buat perburuan James ini berantakan. bisa kurasakan bulu kudukku meremang.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku. “Diam.” “Dia licik. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James.. Meskipun ucapanku terdengar berani. Edward. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. senyumnya mengembang perlahan. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. “Tetaplah disini selama seminggu. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini.” “Edward. Aku benar. tak diragukan lagi. Aku langsung meringkuk ketakutan. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri.” katanya tidak sabar. tentunya.” Suara Edward terdengar sangat lembut. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan. sendirian di rumah.

djAnGgo 327 .

Aku nyaris tak mengenalnya. Bella.” kataku.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. namun bagaimanapun juga. membanting pintu dan menguncinya. langsung menghilang. “Aku akan selalu mencintaimu. “Jalankan saja rencananya. “Jangan khawatir.19. mendengarkan setiap suara di hutan. oke? Jaga Charlie untukku. Mesin dimatikan. “Satu lagi. “Ayo. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. menghirup setiap aroma. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini.” ia mengingatkanku dengan berbisik.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. “Alice. memarkirnya tepat di belakang trukku. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam. mengamati setiap bayangan. suaraku pelan dan dalam. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan.” katanya pelan namun ceria. Aku menatap matanya lekat-lekat. duduk tegak di kursi mereka. Bella. “Aku mencintaimu.” Suara Edward memerintah.” Ia mencondongkan tubuhnya.” kata Edward tegang. Kita harus bergegas. Ini tidak bakal menyenangkan. Aku berlari ke tempat tidur. membuatku sedih. sama tajamnya. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. “Pergilah. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. djAnGgo 328 . jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Emmett. Bella. Mereka bertiga sangat waspada. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya.” aku berbisik penuh hasrat.” katanya. dan sekarang ia bangkit berdiri. Edward!” Aku berteriak padanya. “Dia tidak disini. Perpisahan Charlie menungguku. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. air mataku mengalir deras sekarang. “Lima belas menit.” Suaranya mendesak. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu.” “Masuklah. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. Semua lampu di rumah menyala. Perlahan Edward menepikan Jeep. tak peduli apa yang terjadi sekarang. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini.” isakku. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. “Aku bisa melakukannya. Air mata memberiku inspirasi.

“Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. “Aku mau pulang. kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. dan Edward sudah ada disana. Aku berbalik ke lemari pakaian. “Bella. djAnGgo 329 . lalu melemparkannya padaku.” aku berteriak. memberi tekanan pada kata yang tepat.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. “Tidak!” jeritku.

masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. “Apa yang terjadi.” bisiknya dibelakangku. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. wajahnya syok. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. sambil menarik-narik resleting tasku. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri.” Ia benar-benar membuatku kesal. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. dan mendorongku ke pintu.” gumamku. Meskipun ia masih bingung. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. lalu bergegas ke pintu. “Aku akan menunggu di truk. Ia menghilang lewat jendela. djAnGgo 330 . Sudah malam. Aku menatap geram pada ayahku. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. “Aku punya kunci. Ia memutar tubuhku menghadapnya. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. dan aku harus memikirkan keselamatannya. Carlie. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas.” Aku menggeleng. Ia berada tepat di belakangku. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. memutar kenop pintu. mereka akan kembali ke Arizona. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. lalu membuka pintu. “Biarkan aku pergi. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. satu tangannya terulur ke arahku. Ia berdiri terlalu dekat. Aku mengucapkannya semarah mungkin. kau tak bisa pergi sekarang. pergi!” ia berbisik. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. “Tidak!” jeritku.” “Tunggu 1 minggu lagi. Aku tidak menoleh. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. itulah masalahnya. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. “Semuanya kacau. Aku benci. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. Tapi aku tak punya waktu. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. “Aku memang menyukainya. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. “Bells. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat.” ia memohon.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. lalu mengempaskannya. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. cengkramannya kuat. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku.

djAnGgo 331 . “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. namun sadar aku takkan pernah sanggup.oke? Aku sungguh. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. terpana. sementara aku berlari menembus malam. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. membayangkan bayangan gelap di belakangku. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. Charlie bergeming di ambang pintu. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil.

“Jangan lupa.” Kami melesat melalui kota yang sepi.” Ia tersenyum sedikit. “Semuanya baik-baik saja. dan Charlie. Sekarang ia berlari di belakang kita. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik.” katanya begitu rumahku. “Aku ada disana. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu. “Itu cuma Alice.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. “Kau akan aman. suaraku melengking. “Bella. “Si pemburu mengikuti kita.” ia menjelaskan.Edward meraih tanganku.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. telah lenyap di belakang kami. tentu saja ini ideku. memangnya kenapa? djAnGgo 332 . “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu. sambil menunduk memandangi lutut. mataku membelalak ketakutan.” “Jangan khawatir.” ia berjanji.” ia menenangkanku.” katanya berbasabasi. menuju jalan tol utara.” bisikku. mengabaikan perhatianku. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” Tubuhku langsung membeku. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. “Ini salahku. dan ia melihat kepanikan di mataku.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. Mesin truk menggeram. melepaskan tanganku dari kemudi. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. Trukku tidak oleng sedikitpun. meskipun matanya tidak. Dia akan memaafkanmu. “Bukan itu maksudku. ini idemu. “Charlie?” tanyaku ngeri. Ia memegang tanganku lagi.” katanya seraya mempererat pelukannya. “Menepi. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak. “Aku bisa mengemudi. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku.” aku mengaku. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik.” kata Edward geram. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. terutama akhirakhir ini.” “Ini ide terbaik. Ia menarikku ke pangkuannya. dan memeluk pinggangku. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku. Aku menatapnya putus asa. Bella.” aku berkeras. Aku memandang lewat kaca belakang. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. semuanya akan baik-baik saja.

. Tapi ketika aku membelamu. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini.” Suaranya masam. djAnGgo 333 . kenapa aku?” Ia ragu-ragu. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. Sebagian adalah salahmu.” ia memulai dengan suara pelan.. dia mungkin saja tidak terusik. berpikir sebelum menjawab. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan.Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. begitu dia melihatmu.

satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang.” gumamnya.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. “Memang tidak. “Carlisle takkan menyukainya. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan.” “Tapi James dan wanita itu.” Aku bergidik ngeri. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. suaraku gemetar.. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga. usahakanlah jangan ceroboh. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti.. Ia berhenti sebentar. Tidak malam ini. djAnGgo 334 . “Kurasa. “Bella. itu membuat segalanya tambah parah. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. dia bersama mereka hanya demi kemudahan. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. dan membawaku berlari menuju pintu. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. Kami langsung menuju rumah. Lampu-lampu di dalam menyala terang. Ini permainan favoritnya.” “Dua vampir lainnya. Aku tak yakin dengan Laurent. “Kupikir. tidak seperti bagimu.” kataku ragu-ragu. Dia tak terbiasa dikecewakan. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu. Edward dan Alice berada di sisi kami. Alice mengikuti di belakang. Kami menghambur ke ruangan putih luas.” Suaranya penuh kejijikan.. Dia menganggap dirinya pemburu. aromaku tidak sama bagi yang lain. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. Aku harus bertanya sekarang. dengan cara yang sama seperti terhadapku. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. atau salah satu dari mereka.. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya. ia menarikku dari jok. bukan yang lain.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya.” katanya putus asa. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan.. Mereka tidak punya ikatan kuat. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. lalu membakarnya. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu..well. kumohon. pertarungan akan terjadi saat itu juga. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. kumohon. Aku tahu kami semakin dekat.

bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Laurent berdiri di tengah mereka. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. ketika beralih enggan menatapku.” ungkap Edward. tampak marah.” Emmett berjanji. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett.Semua ada disana. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward.” “Kami akan menghentikannya. Wajah Laurent tampak muram. “Aku khawatir. djAnGgo 335 . “Dia mengikuti kami. itu justru memicunya. menatap galak pada Laurent. Mereka menaiki tangga bersama-sama. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng.” jawabnya. “Maafkan aku. Rosalie mengamati mereka. Matanya yang indah penuh cinta dan.

“Jangan remehkan James. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. Esme sudah bergerak. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Laurent langsung ciut. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. kemudian bergegas keluar.” gumam Esme. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan.” Kelompoknya tentu saja. Dia sangat mematikan. seolah ia tidak ada. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana.” “Kurasa tak ada pilihan lain. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. “Rose. “Begitu Bella aman dari bahaya.“Kau takkan bisa menaklukkannya. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya.” Laurent mengerti. Kurasa aku akan menuju utara. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Edward berbalik menghadap Rosalie. menemui klan yang ada di Denali.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. bingung.” ujar Carlisle dengan nada formal. kemudian kembali menatap Carlisle.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. pikirku.” gumam Emmett. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. Aku sungguh menyesal.. “Esme?” tanyanya tenang. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial.” perintah Edward.. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini.. kita akan memburu James. Rosalie menepisnya. “Pergilah dengan damai. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa.” Ia membungkuk. “Tentu saja. Ia menimbang-nimbang sebentar. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. Ia membuatku terkejut. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. Laurent menggeleng.” Carlisle menimpali. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. Carlisle menatap Laurent dingin. dan dengan suara menderu.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. Ia melirikku. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. wajahnya kelam. teringat temperamennya yang meledak-ledak. tapi aku tidak akan menentang James. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. Aku sama sekali tidak membenci kalian. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. “Sekitar 3 mil dari sungai. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. mengkhawatirkan reaksinya. Aku memandang terkesima.. Keheningan hanya bertahan sebentar.” Ia ragu-ragu.

“Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2.” aku ragu. “Berusaha mengaburkan aromamu. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. Aku djAnGgo 337 . Aku bergegas melepaskan jinsku. ia menyerahkan celana panjangnya.. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Tidak akan bertahan lama. Ia memberi sesuatu padaku.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai..menyadarinya. rasanya seperti kaus. Begitu aku selesai. “Kurasa pakaian Anda takkan muat. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku.

“Sekarang. Jasper. Kami berdiri disana. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu.” Carlisle bertanya. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Dan merekapun pergi.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. pengorbanan djAnGgo 338 . “Alice. Akhirnya matanya membuka.” gumamku.” katanya pelan. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. Aku mendengar suara trukku menderu. mengangkat tubuhku dari lantai. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. memelukku erat-erat. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Ia langsung mendengarkan. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. dengan ngeri. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. “Ayo kita pergi. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. kalian bawa Mercedes-nya.” Suaranya yakin. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. Aku mengangguk. Keheningan terus berlanjut. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. Bella.” Mereka juga mengangguk.” Carlisle berjalan menuju dapur. kau tahu itu. Si wanita akan mengikuti truk. Jasper dan aku berpandang-pandangan. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Jasper dan Alice menunggu. kemudian ponsel Esme bergetar. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. ketika ia berpaling dariku.mengenakannya. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. berhati-hati. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka.” “Tidak. “Jaga dirimu. “Apa?” aku terkesiap. dan kau memang layak.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. melirik cemas ke arah Rosalie. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. Ia menurunkanku ke lantai.” ia memberitahu saat melewatiku. “Kau salah. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. terlalu panjang. Aku akan ambil mobil. mematikan. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Ia menarikku kembali ke tangga. Tiba-tiba aku menyadari.. Kemudian semuanya selesai. matanya yang indah membara menatapku. ponsel kecil berwarna perak. “Alice.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. “James akan memburumu. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.” katanya. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. masih memegangi wajahku.. lalu lenyap. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. Sorot matanya berubah hampa. “Kami naik Jeep.

” Aku tersenyum pahit. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. tak tertahankan. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini. “Bolehkah?” tanyanya. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. aku bingung.mereka bakal sia-sia. memelukku dengan sikap melindungi. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. menyengat mataku. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. tatapan marah Rosalie. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. Kantuk meninggalkanku. tersenyum ramah padaku.” “Kau keliru. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. Ketidaksabaran Ketika terbangun. Aku tak mendengar apa-apa. tapi awalnya tidak berhasil. Aku tak tahan melihat semua itu. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Aku ingat mobil hitam mengkilat. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. 20. Tapi aku tak bisa memejamkannya. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata.. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. Ekspresi sedih Charlie. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Pikiranku kabur. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. dan air mataku habis terkuras. serta dindingnya yang bercorak umum. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. “Kau yang pertama yang meminta izin. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat.. kecuali di hotel. tatapan mengebu-gebu si pemburu. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. dan matahari berada di belakang sekarang.” ia mengulanginya. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya.” ia berbicara di telepon. kemudian ia berbicara padaku. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu. “Bella. “Halo?” desahku.” kata Edward.” Alice terdiam.“Aku baru saja melihatnya. “Ya. djAnGgo 348 . Aku berlari menghampirinya. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya.

” ia mendesah frustasi.” “Aku merindukanmu. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme. kami akan menghabisinya. Bella. “Bisakah kau mempercayainya. Dia tidak mendekati Charlie. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Alice melihat dia berhasil kabur. Percayalah padaku.” “Kalau begitu datang dan ambillah. dia berhati-hati.” Suaranya tegang. jadi jangan khawatir. aku tahu.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. Edward! Aku sangat khawatir. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja.” “Aku akan segera datang padamu.” Setelah percakapan selesai.” bisikku. tangannya djAnGgo 349 .” kataku. “Aku tahu. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. terkejut. Bella. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. persegi. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. setinggi pinggang. Aku bersandar di sofa. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks. sekolah..” “Aku akan baik-baik saja. dia mencari-cari. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas.” aku menantangnya. kami kehilangan jejaknya. Dia pergi ke rumah Charlie. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. tapi tak ada yang bisa ditemukannya. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. tapi Charlie sedang di tempat kerja.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. “Itu studio balet. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. “Aku mencintaimu.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. maafkan aku. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. Mereka memandangku.” aku mengingatkannya. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku. Bella. Tapi dia sudah pergi sekarang.” “Bella. begitu aku bisa. “Aku tahu..“Oh. Alice menunduk menatap gambarnya. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. “Segera. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. sepertinya naik pesawat. sebenarnya aku percaya. kabut depresi pun menyelimutiku lagi. Dia kelihatannya curiga. Aku akan membuatmu aman dulu. Dia mengelilingi kota sepanjang malam.” “Aku akan menunggu. si wanita ada di kota. Sepanjang dinding. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. semua jalanan di kota. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya. mengintip dari balik bahunya.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak.

menggambar tangga darurat di dinding belakang. Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 .menyapu kertas itu sekarang. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

Tapi stereonya tadinya di sini”. Dengar.” “Kupikir dia di Florida. “Kalau begitu di sini. “Tidak. Ada jendela di ruang tunggu. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. tentu saja.” kataku.. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama.. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. Ini penting.” Alice sudah di sisiku. “Di sekitar sudut rumah ibuku.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya.” “Memang. palangnya. Ia mempertimbangkannya. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. tapi dia akan segera pulang. “Tidak. dimana catatan tentang diriku berada. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. “Tidak. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. hubungi aku di nomor ini. “Di sana letak kamar mandinya. Aku penari yang payah. apakah telepon itu aman?” “Ya. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. membuyarkan lamunanku. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat. entah dimana. cermin-cerminnya. “sudah lama.. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin.” bisikku.. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. suaraku menghilang.menyempit di bagian belakang ruangan. sekolah. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. memandangi gambar Alice.” Suaraku gemetar. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. “Ya. sama sekali tidak. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. “58th Street dan Cactus. Aku melihat mereka bertukar pandang. “Alice.” ia menyakinkanku. dan tidak ada TV. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. aku mau kau melakukan sesuatu.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. aku menunjuk sudut kiri. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh.” “Jasper?” tanya Alice. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . “ini aku. “Mom. masih tenang.” Kami duduk terdiam.” Alice dan Jasper menatapku.” kataku setelah bunyi bip. Begitu kau sudah menerima pesan ini.” aku mengakui. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah.” Aku menyentuh pintunya.

aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. Bye. atau tentang pelatihan musim semi. Aku membacanya perlahan. Aku duduk di sofa. aku baik-baik saja. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. mencari berita tentang Florida. Mom. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. oke? Aku mencintaimu. mengantisipasi malam yang panjang. Aku berkonsentrasi menonton berita. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini.di bagian bawah gambar. djAnGgo 352 . Aku berpikir untuk menelepon Charlie. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. dua kali. Jangan khawatir.

seperti yang kurasakan. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. Aku pasri tertidur di sofa. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. menantikan telepon berbunyi lagi. djAnGgo 353 . sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur.

“Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. ketinggalan zaman. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. “Bella. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. menekan nomor. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. aku takkan bisa.” Alice telah bangkit dari sofa. telepon di tangan. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice.. Alice. Dia akan menemukan seseorang.” kata Alice. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya. “Bella.” bisikku. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. Kepanikanku tetap samar. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Edward akan datang menjemputmu. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle.21. Kita akan menemuinya di bandara. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. Dua pasang mata yang abadi menatapku. Aku menatapnya hampa. Dinding-dindingnya berpanel kayu. Mereka tidak mendongak saat aku masuk.” “Aku tak bisa menang. agak terlalu gelap. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. ” djAnGgo 354 .” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar.. Alice dan Jasper duduk di sofa. “Ya. “Ya. menjaga kepalaku tetap terapung. “Teleponnya di sebelah sana. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. Alice. “Itu rumah ibuku. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. dia akan melukai orang yang kucintai. Emmett. sambil menunjuk. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. tidak fokus.” “Tapi ibuku. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. dia kesini untuk mengincar ibuku.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. dan kau akan pergi bersamanya. Dia. meja tamu yang bundar berdiri di depannya.. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain.. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. hanya saja kali ini keadaannya terang. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. Aku tak bisa berkonsentrasi. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku.

Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 .“Kami akan menangkapnya.” ia meyakinkanku. Bella. “Dan bagaimana kalau kau terluka.

” Ia menyodorkan teleponnya padaku. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. tak ada kompromi.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. Alice tampak terkejut. “Tidak.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. Satu-satunya pertanyaan adalah. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. Kabut tebal kelelahan menyapuku. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu.” Aku diam. Barangkali. Kali ini Alice tidak mengikutiku.Alice menatap Jasper penuh arti.30. Aku sudah menduganya. aku tak perlu melukai ibumu. djAnGgo 356 . Tapi telepon berbunyi lagi. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. Aku melihat jam. menjauhkan diri dari tangan Jasper. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. “Aku tak ingin tidur lagi. Tak ada jalan keluar. Ia berbicara sangat cepat. Itu suara tenor laki-laki. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. tapi aku telah melangkah maju. mengalihkan perhatianku. Mom." Perutku melilit mendengar kata-katanya. menyadari apa yang sedang terjadi. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. “Mom?” “Berhati-hatilah. katanya tanpa suara. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. “Mereka baru saja lepas landas. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. Pikiranku mencoba melawan kabut itu.” bentakku. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. Ibumu. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. sebenarnya membantingnya. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. “Tenang. seraya berjalan pelan menjauhi Alice.” Alice memberitahu. merasa sedikit malu dengan sikapku. meringkuk. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. tapi yang menarik perhatianku adalah. “Nah. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. suara yang amat menyenangkan dan umum. dia ada disini. “Mereka akan mendarat pukul 09. Aku mendesah. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Suaranya panik. “Halo?” sapa Alice.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan. pukul 5. Pikiranku berputar-putar. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. “Semua baik-baik saja. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. aku janji. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. bergoyanggoyang.45. Satu-satunya penghiburan.

Mom. ‘Tidak. “Bagus sekali.” ia memujiku. djAnGgo 357 . tetaplah di tempatmu.maka dia akan baikbaik saja.” Suaraku tak lebih dari bisikan. “Sekarang ulangi kata-kataku.’” “Tidak. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. Tolong katakan.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. Mom. tetaplah di tempatmu.

” djAnGgo 358 . Bella. kalau begitu. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. tolong dengarkan aku. dan dimana ini akan berakhir.” aku memohon. kau jadi tidak terlalu khawatir.” “Sebelum siang. “katakan.” “Baik. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur. Aku sedang bersiap-siap menunggu. memusingkan. tolong katakan.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. Bella.. “Ya. percayalah padaku.” “Mom. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu.” “Ya. well. Aku yakin itu. tapi ibumu pulang lebih awal. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak.” Suaraku parau. harus ada cara. Aku yakin takkan mudah.” “Itu lebih baik. “Nah. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Waktuku tidak banyak. Sekarang inilah yang harus kaulakukan.’ Katakan sekarang. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. Sky Harbour International Airport: penuh sesak.” Entah bagaimana. bagus. kumohon. Kumohon. ‘Mom. hati-hati. “Ah.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi.” katanya sopan. ‘Mom.” “Ya. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Bella.. “Ini penting. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Menurutmu. Sambil berjalan.” suara menyenangkan itu melanjutkan. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. menurutmu.” Suara itu terdengar senang.’” “Mom. nah. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya. Lebih mudah begini.” Aku menunggu. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya. Di sebelah telepon adan sebuah nomor.” “Aku menyesal mendengarnya. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Aku menutup pintu. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. “Bagus sekali. percayalah padaku. Mom.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. itu akan sangat buruk bagi ibumu.” Suara ramah itu mengancam.” “Ya. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu.’ Katakan sekarang. tolong dengarkan aku. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara. Aku menunggu. Teleponlah. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. masih ringan dan ramah. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak.” “Ya. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka.” “Tidak. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku.

djAnGgo 359 . ‘Aku mencintaimu. Mom.” Ia menutup telepon. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku.” Air mataku menetes. Aku menempelkan telepon di telingaku. Bella. Aku tahu aku harus berpikir.’ Katakan sekarang. Mom.” Suaraku terdengar dalam.“Terima kasih. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. “Sampai ketemu. Aku mencoba menahannya.” aku berjanji.” “Aku mencintaimu. Mom. “Selamat tinggal. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. “Katakan. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. sampai ketemu.

dan pergi menemui Alice. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. “Edward. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. tak ada cara untuk bernegosiasi. Menyusun rencana. Aku akan menyakitinya. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. “Ibuku khawatir. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Bella. ia ingin pulang. mencoba mengenyahkannya. Tanganku gemetaran. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Bagus. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Disana juga ada amplop.” Aku berpaling. Keputusanku sudah bulat. pikiranku mulai menembus dinding sakit. Ia bisa melihat kegelisahanku. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin.” tulisku. Aku harus berpikir dengan baik. djAnGgo 360 . Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. I a menyandera ibuku. Aku melihatnya waswas. Tapi tenang saja. “Alice. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. tanpa berbalik. Aku sangat menyesal. kemudian aku mengesampingkannya juga. Aku tak boleh takut sekarang. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. Bella. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi.Perlahan. Aku teramat menyesal. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. dan aku tidak menunggunya bertanya. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku harus mencoba. dan aku harus berusaha. Aku tak memiliki jaminan. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja.” kataku pelan. amat perlahan. sebelum Jasper kembali. Keputusasaan mencengkramku.” Suaraku lemas. Tapi aku masih tidak punya plihan. jangan khawatir. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. penasaran. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. karena Alice dan Jasper menungguku. Aku masuk lagi ke kamar.” Suaranya terdengar hati-hati. menjaga suaraku tetap tenang. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku.

Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. itu namanya mukzizat. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Maafkan aku. “Alice!” seru Jasper. Jasper menatapku tajam. Tatapannya hampa. “Aku di sini. kehancuran hatiku. Aku mencintai mu. .. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper.” djAnGgo 361 . tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Kurasa. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka.. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku.” akhirnya ia menjawab. itulah yang ia inginkan. aneh. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. apalagi kau.Jangan marah pada Alice dan Jasper. keputusasaan. pikiranku begitu tersiksa dan labil. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. dan memasukkannya ke amplop. Kumohon.. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. “Ada apa?” desak Jasper. Dari seberang ruangan. ekspresinya masih hampa. Aku hanya berharap dia mengerti. Aku menyambutnya.” katanya. terpana. matanya terpaku padaku. “Apa yang kau lihat?” kataku. muncul tepat di belakang Alice. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Kepalanya menoleh. takut ia akan menebaknya... Pikiranku melayang pada ibuku. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. ia menjawab pertanyaan Jasper. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. merasakan kepanikan. dan mau mendengarku sekali ini saja. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. kedua tangannya memeluk tangan Alice. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. kumohon. “Bella. Demi aku. “Tidak ada apa-apa.Teruta ma pada Alice.” balasku. Aku takut berada satu ruangan dengannya. otomatis menyentuh tangannya. semua ketakutan. dan aku melihat wajahnya. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja. 22. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan.. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. sungguh. melepaskan cengkramannya dari meja. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya.

Alice menyandarkan tubuh di pintu. aku makan di bandara saja. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. berayun menutupi wajah.Alice akhirnya memandangku. bahwa mereka bakal gagal. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. “Kau mau sarapan?” “Tidak. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. ekspresinya lembut dan tenang. Ia menjawab hati-hati. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.. meskipun tersembunyi dengan baik.. Aku bersiap-siap seperti robot. wajahnya menghadap Jasper. aku bisa merasakan keinginan Alice. “Ya?” djAnGgo 362 . Rambutku dibiarkan tergerai. Membantuku menyusun rencana. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. “Alice?” tanyaku cuek. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. Kali ini aku duduk sendirian di belakang.” Aku juga terdengar sangat tenang.

Chicago. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. terutama setelah penglihatan Alice. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. di garasi berukuran raksasa. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Aku menunjukkan jalan. tak peduli betapa kecil. “Suratku.. untuk melihatnya dulu. dAn takkan pernah kulihat. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. atau barangkali kebetulan saja. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. Ia mengangguk. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun.. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. djAnGgo 363 .” Aku mengangguk penuh perhatian. Aku menungu kesempatan. suaraku terdengar bosan.” gumam Alice. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. seluruh masa depan pun berubah. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Aku memandang papan jadwal kedatangan.” kataku. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. Atlanta.” “Ya. seperti cuaca. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. Keberuntungan berpihak padaku. Edward akan segera menemukannya. tidak sabar. yang paling memusingkan. Kami tiba di bandara. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. membuat keputusan baru. baru melarikan diri. kembali waspada. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Benar-benar tak ada harapan. Begitu mereka berubah pikiran. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Kami parkir di lantai empat. “Ya. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga.. menginginkan kedatangannya. Itu membuatnya sangat sulit. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. Betapa menakjubkan..” ia menimpali. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela.. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. mudah-mudahan. Ia menatapku. hal-hal bisa berubah. Manusia lebih sulit. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. pikirku. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana.

Aku tak punya waktu lagi. “Aku ikut bersamamu. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan. angka-angka itu berubah. “Aku merasa sedikit..” Aku tidak menyelesaikan kalimatku.” kataku buru-buru. Alice berdiri..Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri. “Kurasa aku mau makan sekarang.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku. djAnGgo 364 . Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat.

kemudan bandaranya melesat dari pandangan. bahkan kalaupun Jasper melihat. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. tidak masalah. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. di belokan. “Ini shuttle ke Hyatt. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. “Tunggu!” aku berseru. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. ia takkan bisa melihatku. Di depan Hyatt.” Aku bergegas menaiki undakannya. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. tidak mau repot repot bertanya. Mata Alice tampak bingung.tapi. bukannya penghianatanku. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. jaraknya beberapa meter di belakangku.” “Itu di Scottsdale. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. tapi kemudian mengangkat bahu. dan pintu lift pun menutup. dan aku berlari. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. “itu tujuanku. aku harus terus berlari. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. tapi aku mengabaikannya. “Apakah itu cukup?” “Tentu. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. Begitu pintunya membuka. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. dia tidak curiga.” protesnya. Pintu yang lain tak jauh dari lift. Aku hanya perlu lari sebentar. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. Dan di sanalah. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. melambai-lambai ke arah pengemudinya. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal. “Aku tidak bakal lama. Jalan yang kulalui masih panjang.” Begitu pintu menutup di belakang. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. “Ya. aku mengingatkan diri. Sudah menyala. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Keberuntungan masih bersamaku. Aku belum boleh menangis. Kebanyakan kursinya kosong. yang membuatku lega. Tak ada taksi satu pun. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. aku lari. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Aku tak punya waktu. Orang-prang menatapku. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Ini satu-satunya kesempatanku. napasku tersengal-sengal. Aku melompat keluar dari pintu otomatis.Jasper bangkit berdiri. tangannya di punggungku. seolah membimbingku.” djAnGgo 365 . atau malah sudah. Nak. Di belokan lift sudah menanti. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar.

Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. djAnGgo 366 . Jadi. melipat tangan di pangkuan. Takdirku telah ditentukan. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. Kuputuskan untuk tidak menyerah. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali.Aku bersandar lagi di jok. juga kekhawatiran.

” Ringan. senang. beberapa kali keliru.. menuju panas yang menyengat. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. “Lima-delapan-dua-satu. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. aku sama sekali tak punya masalah dengannya.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. kita sudah sampai. Bella. Jangan khawatir. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. tak pernah meninggalkan sisinya.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. Di dalam gelap. “Halo. Kecuali kau tidak datang sendirian. normal.” Aku menutup telepon. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. kita akan bertemu sebentar lagi. tentunya. Di sana. agar ia bisa keluar di siang hari. kulitnya berkilauan bagai air laut. “Hei. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Rumahnya kosong.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. aku tahu jalan ke sana. Jemariku gemetaran menekan nomor itu.. Tak ada alasan untuk takut. “Ini sangat cepat. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Kubuka pintunya. aku merasa bahagia. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. “Kalau begitu. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. “Bagus sekali. “Aku sendirian. tampak sepuluh digit angka yang rapi. dan bayangan indahku pun lenyap. aku mengingatkan diriku sendiri. Ke suatu tempat di utara. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Aku begitu larut dalam lamunan. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. Aku terkesan.” bisikku. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Sopir taksi menatapku. Aku lari ke pintu. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. ibuku menantiku. akhirnya aman. Aku harus menutup dan memulai lagi. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. “Terima kasih. mengandalkan aku. kosong. djAnGgo 367 . dengan saksama menekannya satu per satu. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini. Aku membayangkannya di pantai. melewati pintu muka. kikuk seperti biasa. tak pernah tidur. Aku lari meninggalkan ruangan. Aku harus bergegas. khawatir aku sakit atau apa. bahkan nyaris mendengar suaranya. kalau begitu.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon.” “Well. kosong. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. di whiteboard . Berhasil.” Suaraku tercekat. Sekarang. Hanya berdering satu kali. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. Bella. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. Kemudian aku lari mendekat. ketakutan.

Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. napas terengah-engah. sekali jatuh. seperti berlari di pasir basah. Aku berlari. peluh menetes-netes di wajahku. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Sinar matahari terasa panas di kulitku.Tapi aku menjauh dari semua itu. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. meninggalkan semua di belakangku. Aku merasa sangat lamban. menuju belokkan. lalu tertatih-tatih bergerak maju. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. menahan tubuhku dengan tangan. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . Beberapa kali aku terpeleset.

Ia melihatku nyaris jatuh. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. menariknya membuka perlahan. “Bella. berusaha menggapai keseimbanga. “Ya. Tidak dikunci. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku.. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . Dan tiba-tiba aku tersadar. rumahku. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. tak perlu merasa takut. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. Kusentuh gagang pintunya. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. langkah demi langkah. suaraku lega. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. Bella. di layar televisi. kemudian ia tersenyum. Mengagumkan. Ibuku aman. “Betapa aneh. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. Aku mendengarnya tertawa. menuju jalan Cactus. Dan di sanalah dia.. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Kemudian suara ibuku memanggil. Ibuku aman. seperti yang selama ini kuingat. Aku memandang sekeliling. Aku berlalri ke pintu. Aku hati-hati berbalik. “Maafkan hal tadi.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Haus. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Lantai dansa sebelah barat gelap. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. waktu usiaku dua belas. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Ia masih di Florida. tapi kerai jendelanya tertutup. Suatu hari kami ke pantai. Aku nyaris pusing.habisan. mengacak-acak rambutku. Ia tak pernah menerima pesanku. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. aku bisa melihat tanda di balik pintu. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. terdengar deru suara pendingin ruangan.” “Memang tidak. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. sejuk. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. menuju sumber suara. semua kerai jendela tertutup. Lama kami bertatapan. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. Irisnya nyaris hitam. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. karpetnya beraroma shampo.” aku menjawab. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Ketika semakin dekat. lumayan dekat. merasa lega. Ia berjalan menghampiriku. Aku tak bisa lari lagi. Ia memegang remote control. Lapangan parkir di depannya kosong. memperhatikannya. aku tak sanggup bernapas. aku bisa melihat studio itu. Ketika berbelok di sudut terakhir. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. Perlahan-lahan aku berbalik. Aku berusaha mengatur napas. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. ramah. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR.

menatapku dengan sorot mata penasaran. tangan dilipat.” djAnGgo 370 . aku memintanya untuk tidak melakukanya.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. kurasa tidak. Setidaknya. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. “Tidak. dan bagiku ia seperti berharap-harap.” Ia berdiri beberapa meter dariku.

bukan?” Aku tak menyahut.” Ia menghampiriku. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. “Maafkan aku. Jadi.” “Hmmmm. Sejujurnya. kau boleh menyebutnya indra keenam. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. pada waktu yang salah..” Aku menunggu dalam diam. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Kau hanya manusia. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. Aku sudah siap. Well. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. Edward. dan tak diragukan lagi. tersenyum. “Sebelum kita mulai.. manusia lemah ini. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Ia mengaturnya beberapa kali. Awalnya. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. melebarkan lensanya. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. tidak terlalu memenuhi standarku. itu hanya dugaan. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. kelewat cepat. “Aku senang memanas-manasi sedikit. ini semua untuknya. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. Nyaliku benar-benar ciut. “Aku meninggalkan surat untuknya. aku tak bisa bekerja sendirian. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. Victorian mengawasi mereka untukku. tapi kau bisa saja berada di Amerika.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu. sudah lama sekali. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. aku kecewa. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.” “Betapa romantis. berada bersama kelompok yang salah. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. tentu saja. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. kalau begitu harapan kita berbeda. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. Hal seperti itu pernah terjadi. Aku menatapnya ngeri. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu.” Perutku mual ketika ia berbicara. tempat yang katamu akan kau datangi. Kau tahu. Lagi pula. oh. Jadi. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. “Sangat mudah. begini. “Kuharap begitu. boleh kutambahkan. setelah berbicara dengan Victoria. bahwa kau ada di sini. Kemudian aku bertanya-tanya. surat terakhir. semua ini sedikit terlalu mudah. kau tahu. Tentu saja. tempat aman. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 . Kudengar kau ingin pulang.

dia membuat gadis itu aman. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. “Kau tahu. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. makhluk kecil malang.kabur dariku. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. dan begitu vampir tua itu membebaskannya. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya.

suatu kehormatan. tapi mereka mendapatkannya.” desahku. Sempurna. aku tak bermaksud menyinggungmu. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. semakin lebar. “Tidak. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. Entakan keras menghantam dadaku. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. Ada rasa sakit yang mendekat. dan aku khawatir bakal jatuh. Aku tak dapat menahan diri. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. “Itu efek yang sangat menyenangkan.” Ia mendesah. “Well.” Ia mendesah. terpapar jelas dan berkilauan. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu.” gumamnya pada diri sendiri. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. kurasa kita selesaikan saja sekarang.. tapi tubuhku membeku. sebenarnya. Kacanya hancur berantakan. “Dan aromanya memang sangat lezat. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. suarnya kembali ramah. terlalu cepat. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. “Ya. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. dengan wajar. selemah lututku saat itu. teman kecilmu. lalu menjatuhkan tangannya. Maaf. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. kakinya menginjak kakiku.” Ia maju selangkah lagi. Aku mendapatkanmu. aku menghancurkan si vampir tua. memangsaku.. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. lalu pergi. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. aku mencoba lari. dan pesan kecilku.” “Alice.” Aku benar-benar mual sekarang. wajahnya penasaran.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. Perlahan-lahan ia menghampiriku. Kemudian ia mencondongkan tubuh. Ketika gadis itu membuka mata. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. bagaimanapun. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. Pada tahun 1920-an. Bunga-bungaan... Aku mendengar suara djAnGgo 373 . Aku bahkan tak bisa beringsut. Ia langsung menghadangku.karena pengliatannya. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. “Sebagai balas dendam. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. Lututku gemetaran. dan aku bisa melihat di matanya. ya kan?” Aku mengabaikannya. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. tubuhku melayang ke belakang. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. terkejut. Dalam sekejap ia sudah di depanku. Aku tak bisa bernapas. “aku tak mengerti.

Aku berbalik untuk meraih kakiku. jangan Edward. Tapi kemudian aku merasakannya. tersenyum. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. dan ia berdiri menjulang di atasku. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. “Tidak.retakan itu sebelum merasakannya. djAnGgo 374 . “Tidak!” seruku parau. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya.

Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. membuatnya sinting karena dahaga. Mataku memejam. sosok gelapnya menghampiriku. di tempat pecahan kaca itu menusukku. Aku bisa melihat. Biarlah segera berlalu sekarang. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. kini membara dengan hasrat tak terkendali. raungan terakhir si pemburu. Aku mendengar. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. yang sebelumnya penuh tekad. Darah yang mengalir. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. tanganku terangkat menutupi wajah. seolah dari kedalaman air. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. djAnGgo 375 . Terlepas dari tujuan awalnya. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. dengan cepat menggenang di lantai. Aromanya membuatku mual.Selain sakit di kakiku. Matanya. Dengan kekuatan terakhir.

djAnGgo 376 .

memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. Ruangan penuh ancaman. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. Kemudian. Ada rasa sakit baru. Bella. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. “Edward. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. membahagiakan. gelegar amarah yang mengerikan. tidak. kumohon! Bella..23. “Hati-hati kakinya patah. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. Suaraku sedikit lebih jelas. tidak. nyaris mencapai permukaan.. Aku menjerit. “Dia kehilangan banyak darah. Bella. dan lengkingan kesakitan. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. Ini tidak mungkin surga. Karena. Kemudian aku tahu aku sudah mati. Bella. tidak. “Ya. Kau bisa mendengarku.” “Edward. kumohon. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. kumohon!” ia memohon. aku tahu. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. Aku diseret naik. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. aku bermimpi. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. lebih ganas. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. Aku tak bisa memahami diriku sendiri. “Bella. Rasanya sakit. sekaligus mengerikan. Apa saja. Malaikat tak seharusnya menangis. dan aku tak bisa bernapas. menjauh dariku. aku merasakan sakit yang lain. “Bella!” si malaikat berseru. kemudian. Bella.” rengekku. Kepalaku seperti ditekan. kau akan baik-baik saja. Suara geraman lain. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. lebih dalam. Aku mencoba menemukannya. dari kedalaman air. Aku ingin mengatakan ya.” “Sakit.”. tersengal keluar dari kolam yang gelap. sekonyong-konyong pecah. “Carlisle!” si malaikat berseru. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. lebih kuat.” aku mencoba lagi. Di belakang ratapan itu ada suara lain. oh kumohon. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. “Bella. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. dan sarat amarah.” Aku mencoba memberitahunya. “Bella.” suara tenang itu memberitahuku. kumohon. suara yang indah. dengar. “Aku tahu. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . tapi airnya sangat dalam hingga menekanku.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. aku disini. “Oh. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. memberitahunya semua baik-baik saja. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. itu tidak benar. Bella? Aku mencintaimu.

.” djAnGgo 378 . Tenangkan dirimu. itu akan membantu.” aku mencoba memberitahunya. Alice. “Aku tahu.” Carlisle berjanji. Bella. dia tahu dimana menemukanmu. “Alice?” erangku.ketakutan. rasa sakitnya akan berhenti. Carlisle akan memberimu sesuatu.. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku. “Dia disini.” “Tanganku sakit.

“Alice. Aku mendesah bahagia. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. melainkan terkejut. Aku mendengar suara Alice. Edward.” “Ya. “Edward. Rahangnya mengeras. Aku tak dapat melihat wajah Edward. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan..” Saat Carlisle bicara. “Aku tidak tahu. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. bibirnya yang dingin menekan kulitku.” “Tinggallah.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. aku pun tenang. tapi tak dapat mendengar suaraku. begitu putus asa menemukan wajahnya. tapi terselip nada kemenangan disana.” kata Carlisle. mataku perlahan-lahan membuka.. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana.” aku mencoba bicara. Akhirnya. “Alice. tinggallah bersamaku. Namun mereka bisa.” Itu suara Alice. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku.” Suaranya tegang. Dan aku melihatnya. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. Bella. “Tidak!” ia berteriak. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. “Mungkin ada kesempatan. Aku membukanya. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. atau akan terlambat. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. “Edward. “Apa?” Edward memohon. Api itu lenyap. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap.” Wajah Edward tampak lelah. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. menahannya..“Tanganku terbakar!” aku berteriak.” aku mengerang. apa pun itu. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku. Edward. “Edward!” jeritku. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. Aku tahu mataku kembali terpejam. berusaha menenangkan diri. “Edward. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. Kemudian. “Tapi kita harus bergegas. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. Aku tak bisa menolongmu. Lukanya cukup bersih. akhirnya terbebas dari kegelapan. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya.” Edward ragu. “Dia disini.” “Carlisle.” Suara Carlisle tak lagi tenang. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. “Itu keputusanmu.” sahut Carlisle. kau harus melakukannya sekarang. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. aku. aku akan bersamamu. perlahan.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. saat tanganku mati rasa.. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. membereskan luka di kepalaku. Aku harus menghentikan pendarahannya. didekat kepalaku. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. kau harus melakukannya.

“Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya. djAnGgo 380 .rasa kantuk yang melanda diriku. “Darahnya bersih.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.” kata Edward pelan.

dia tahu darimana asalmu. semua sakitnya hilang. “Dia mengelabuhiku. “Terima kasih.” “Aku mencintaimu. “Sudah saatnya memindahkannya.” aku menambahkan. Alice. letih karena perasaan lega. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. videonya. “Alice.” Edward menenangkanku.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. aku akan menggendongmu. Sayang. “Aku mencium bau bensin. Tapi itu membuatku teringat. Dia menonton video rekaman kami. Dan akupun berada dalam pelukannya. “Bella?” Carlisle bertanya lagi. aku ingin tidur. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward.” kata Carlisle. “Kau bisa tidur.” Aku mencoba membuka mata. Bella.” aku mendesah.Aku berusaha menjawabnya. “Sekarang tidurlah. melayang-layang.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. djAnGgo 381 . aku ingin tidur. tapi suaraku lemah. Edward. Dahiku berkerut. “Tidak. rasanya sangat lelah. “Aku tahu.” aku menghela napas.” jawabnya. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida. dia tahu tentang kau. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya. meringkuk didadanya.” aku menolak. “Alice.” desahku. Edward.

djAnGgo 382 .

Aku sama sekali tak ingin ditenangkan.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. Aku bisa saja terlambat. dan kau kehilangan banyak darah. Edward. “Aku bodoh sekali. ruang putih. “Oh.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. Aku tidak menyukainya. “Sekarang semuanya baik-baik saja. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya.” Ia berhenti. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. Edward. Ia langsung tahu maksudku. “Aku nyaris terlambat.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. suaranya terdengar menyesal. Ibuku ada di sini. beberapa bagian tengkorakmu rusak. “Alice sudah telepon mereka. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal.” Edward berjanji. memar hampir di sekujur tubuh. di sini. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah.” ia menyuruhku diam. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. di bawah hidung.” “Tidak.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. cahaya terang menyilaukan pandangan. dengan besi pengaman. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Aku berada di ruang yang asing. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. tidak boleh. di rumah sakit ini.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. tapi kepalaku semakin pusing. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. djAnGgo 383 . Kupikir dia menyandera ibuku.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. Renée ada di sini.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. “Edward?” Aku menoleh sedikit. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. sesaat aromamu jadi berbeda. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup.24.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. Dia sedang mencari makan. di atas kepalaku.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. “Sebentar lagi dia kembali. Mereka memberimu transfusi. “Harus kuakui. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. well. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. “Dan kau belum boleh bergerak. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus.” “Dia mengelabuhi kita semua. begitu juga empat rusukmu. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. itu mungkin saja terjadi. “Kakimu patah. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya. “Aku tak yakin. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. “Jangan. kakiku bengkak.” ia berbisik. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. aku menyukai aromamu yang asli.

” Akhirnya ia memandangku.. “Rasanya mustahil. untuk berhenti.” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. lebih baik daripada yang kubayangkan. bahkan. “Aku harus mencintaimu..” djAnGgo 384 . Tapi aku melakukannya. “Mustahil. Dan itu membuat wajahku terasa sakit. “Lebih baik.Aku menunggu jawabannya dengan sabar. setengah tersenyum. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku.” ia berbisik.

“Ada apa?” tanyanya waswas.” aku meminta maaf lagi.” aku bertanya-tanya. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali.” “Ya. tentu. tidak masalah. kemudian kepedihan terpancar di matanya.. “Ya. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. pertama bingung. “Oh. Tapi jarum infus. itu sebabnya dia tidak ingat. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. memalingkan pandang. dia langsung lari menemuinya. Ia menatapku. sambil menggeleng. Aku memahaminya sekarang. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.” “Aku tahu. “Bukan. “Ada apa. “Dari semua yang perlu dimaafkan. Aku memandang ke bawah.” ujarku menyesal.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice.” “Memang tidak. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 . kau tahu.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku.” “Mereka harus meninggalkan ruangan. samar-samar menguarkan kebencian.” Suaranya menenangkan.. melihat kantong transfusi menahan tanganku.” “Maafkan aku. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk. Ini membingungkanku.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. dahinya kembali mulus bak pualam.“Maafkan aku. perhatiannya teralihkan. “Takut jarum. tapi wajahnya kelam oleh amarah. Kau seharusnya menungguku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. kemudian meringis... “Alice tak pernah mengerti. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. Edward langsung waswas. “Auw. tapi sesuatu menghentikanku. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku.” kata Edward.” aku menjelaskan..” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. “Aku tahu kenapa kau melakukannya. mengingatkanku akan sesuatu.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. “Jarum. “Mereka juga menyayangimu.” Suaranya berubah kelam. tapi hanya sedikit.” “Tapi kau tetap tinggal.” Suara Edward tenang. Emmett dan Jasper membereskannya.” ia menimpali dengan geram.” Aku memutar bola mataku. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas.” “Oh. Aku merinding. “Takkan kubiarkan. ngeri membayangkannya. kau tetap tinggal. darahmu berceceran di mana-mana.” Aku meringis. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati.” “Kau takkan membiarkanku pergi. maksudku.” “Dan Alice dan Carlisle. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. Ia menatap langit-langit. Kuputuskan untuk mengubah topik.. seharusnya memberitahuku.

untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas.. tentu saja aku kesini ditemani orangtua. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan.” ia menambahkannya lugu. kau tahu kelanjutannya. “Kau setuju menemuiku. well.” djAnGgo 386 .untuk berbicara dari hati ke hati..” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya.

sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.” aku mengeluh. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku.” aku berseru. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. meskipun teramat lembut. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali. dan ia terdengar lelah dan sedih. Tapi kemudian bibirnya menegang. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi. “Dia tak pernah pergi. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri. “Bella. “Jangan lupa bernapas. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. “Mom!” aku berbisik. Aku tak bisa membiarkannya pergi. Ia menarik diri. Aku bisa mendengar ibuku sekarang.” Dahinya berkerut. “Hmmm. dan ia mengintip dari sana. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya.” ia berjanji. kami membuatnya sangat meyakinkan.” katanya. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya. “Aku akan tidur sebentar.” bisikku sinis.” gumamku pada diri sendiri. Ia sedang berbicara dengan seseorang.. “Ini bakal memalukan. Tak ada jendela yang pecah. dan tatapannya mengira-ngira. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. “Jangan buat aku pergi menghampirimu. “Mom. “Aku takkan meninggalkanmu. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. bunyi bip itu mendadak berhenti. Ia langsung tersentak.” katanya. “Aku belum selesai menciummu. lalu berbaring dan memejamkan mata.” “Tidak juga. Ia tertawa. misalanya. matanya masih terpejam.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. Mom. djAnGgo 387 . Tapi sekarang semua baik-baik saja. aku jadi penasaran. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. meyakinkan semuanya baik-baik saja. tidak apaapa. kemudian tersenyum.” Ia tersenyum.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. tersenyum. suaraku penuh sayang dan lega. mungkin perawat. sungguh-sungguh.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. Posisinya diam tak bergerak. untuk menenangkannya. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. “Sekarang tugasmu hanya sembuh.. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti.” ia berjanji. Setelah semua diatasi. Monitor langsung bergerak kacau lagi. “Jangan tinggalkan aku. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat.Aku memikirkannya beberapa saat. Ia menarik napas panjang. “Kurasa aku mendengar ibumu.” aku mencoba menenangkannya. Terdengar suara pintu berderit.

” Aku bisa merasakannya. kau tak sadar cukup lama.. luka-lukamu parah sekali.” “Aku tahu..” Ia duduk di tepi tempat tidur. djAnGgo 388 . Sayang. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat.“Aku senang akhirnya kau tersadar.” “Jumat?” aku terkejut. tapi aku tak ingin memikirkannya. Sayang. Aku mencoba mengingat hari ketika. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa.

.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya.“Kau beruntuk dr. “dan Charlie membutuhkanku. tapi mata Mom mengamati wajahku. Mata Edward berkilat menatapku. Ia menoleh ke arah Edward. kami sudah sering membicarakannya.” kataku. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. heran. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. berusaha terdengar bersemangat. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Ia menaruh tangannya di dahiku.” Aku tersenyum. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh.” “Tapi kau tak perlu lagi. Ide ini tak terbayangkan olehnya.” Aku meragu. Mata Edward masih terpejam. jadi aku mencoba alasan lain. Mom. lalu memandangku dan Edward bergantian. dan dia sama sekali tak bisa memasak. oh.” ia mengingatkanku.” Ia merengut. warna kuning dengan bingkai putih. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. Mom. salju dan semuanya. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya.. Bukan ide bagus. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. Dia sebatang kara disana. kemudian mengerang. dan kelembapannya tak seburuk itu. kau percaya?” “Itu hebat. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas. Tangannya bergerak ke sana kemari.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. Aku hendak berbohong. dasar bodoh. kali ini benarbenar disengaja. sekolah.” “Memang. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. Cullen ada di sana. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. dan teras persis seperti di film-film tua. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. “Tidak terlalu buruk. Dan dia lebih mirip model daripada dokter. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. meskipun masih sangat muda. “Tidak apa-apa. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. Charlie. dan pohon ek raksasa. Dia baik. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. Alice. Sayang. karena bagian itu tidak diperban.” aku menimpali sepenuh hati.” “Mom. “Di Florida. dan aku punya beberapa teman cewek”.” Edward kembali pura-pura tidur. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. “Kenapa?” “Sudah kubilang. Dia gadis yang menyenangkan. “Bella. kau tidak menyukai Forks.” ia tertawa. tunggu sebentar!” selaku. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. aduh!” Aku mengangkat bahu. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 .. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu..” aku meyakinkan mereka. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. Lalu matanya kembali melirik Edward. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. “Aku ingin tinggal di Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. Aku tinggal di Forks. kembali menghadapku. ” “Mom.

memandangi Edward yang diam tak bergerak.disana. dialah alasan terbesarku. djAnGgo 390 . Tak perlu kuakui. “Ya.” Uh-oh. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. “Tentang apa?” tanyaku. “Dia salah satu alasannya.” Ia bimbang.” aku mengakui.

“Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita.” Mata Edward tetap terpejam.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang.” “Tidak apa-apa. kalau kau membutuhkanku. Aku tidur di sini. Edward akan menemaniku. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat.” aku meyakinkannya. Kemudian ia mendesah. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. bangga pada dirinya sendiri.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. “Aku sayang kau. Bella. dan. djAnGgo 391 . dia luar biasa tampan. memalingkan wajah. Mom. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu.. menepuk-nepuk tanganku yang diperban. Mom mengecup dahiku.” Suaranya terdengar ragu-ragu.” tuduhnya. Sayang?” “Aku ingat. “Aku bisa tinggal.” ia mengakui malu-malu.. berusaha menjaga suaranya tetap pelan.” Aku bergidik dan meringis ngeri. Sayang. dia kelihatan sangat baik. aku takkan menyadarinya. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.” Begitu perawat menutup pintu. “Aku akan kembali malam ini. “Aku terlalu tegang. Edward langsung berada di sisiku.” “Tidak.” “Kejahatan?” tanyaku kaget. Mom.” ia menimpali. langsung senang. “Kau tegang. “Aku cukup tergila-gila padanya..” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal. aku tak ingin kehilangan dirimu. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. Mom. Aku mendesah. Aku cuma naksir. “Aku juga berpikir begitu. Dia akan ke sini sebentar lagi.” “Aku juga sayang kau. kau tahu. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.. sejauh yang bisa kuingat. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah.” ujarnya. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi. Mom.” “Aku baik-baik saja. “Aku tidak akan sendirian.” ujarku. Sayang. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya.” “Aku akan segera kembali. ya Tuhanku. Kau ingat dulu kau menari di sana... “Benar. tapi kau masih sangat muda. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. Jangan khawatir.” Nah. Mom. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini. “Well. “Aku tahu itu. Bella. kemudian pergi.” aku menenangkannya. Aku tak tahu kau akan segera sadar. “Oh. dan aku tidak suka berada di sana sendirian. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah. aku akan baik-baik saja.

Ia tersenyum. lajunya sangat cepat.” Matanya menyipit. sama sekali tidak menyesal. “Menarik.” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. “Mobil bagus. “Apa?” djAnGgo 392 .

dan ibumu. well. “Ya.” Ia nyaris tersenyum.” ia berjanji. “Aku takkan meninggalkanmu.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang.. saat napasku semakin liar. kupikir itulah yang kau ingingkan.. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. lalu pergi. sambil menepuknepuk kantong infus. mengancam menghancurkanku. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap. Lalu wajahnya serius..” Aroma napasnya menenangkan. seperti vampir sejati. tenanglah. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. tidak. Matanya berwarna gelap. “Aku takkan kemana-mana. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida.” Ia memandang Edward serius.” aku memohon.” Aku menatapnya tidak mengerti. Bella. suaraku parau. tapi tidak juga. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu.” Ia menunggu. rasa sakit yang jauh lebih parah.” “Jangan tinggalkan aku. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang.. “Bella. “Sssstt. Sayang.Ia menunduk ketika menjawab. tapi aku hanya menggeleng.” Awalnya aku tak langsung memahaminya.” ia mendesah.” Ia membelai wajahku hati-hati. meskipun. “Aku tidak membutuhkan apa-apa. “Aku terkejut. sebelum beralih ke monitor.” ia menjelaskan. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. “Aku bersumpah.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. “Tak perlu berpura-pura berani. Bella. lebih mendekati hitam daripada keemasan. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. kau perlu beristirahat. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. aku merasakan nyeri di dadaku. “Baiklah. Matanya lebar dan serius. Sayang?” tanyanya ramah. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. Ia tidak mengatakan apa-apa. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. Kupikir Florida. “Lebih baik?” tanyanya. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” gumamku.” Tapi jantungku tak mau tenang. Kurasa djAnGgo 393 . Rusukku nyeri. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. “Tidak.” sahutku hati-hati. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. “Aku akan tinggal di Forks. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu.

kaulah penyebabnya.” Aku merengut. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya.” djAnGgo 394 . “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak.aku memilih kata ‘overreaction’. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu. “Alasan aku berada di sini. menjaga suaraku agar tidak gemetaran.. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. Bella. bereaksi berlebihan.” ia berbisik. Yang benar saja. hidup-hidup.” “Nyaris.. bahwa akulah alasan kau berada di sini. tentu saja tidak.” “Ya. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. aku tak ingin tanpa dirimu.

“Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.” Suaranya tercekat. mulai jengkel.” desakku. “Aku sedang memikirkan yang lain. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat. mencoba melepaskan diri. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. meringkuk dan terluka. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku. Kepanikanku nyaris tak terbendung. “Apa?” “Kau tahu maksudku.” ia melanjutkan berbisik. lalu meletakkan dagunya di sana.” Aku tahu aku harus tetap tenang. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. entah itu akan membunuhmu atau tidak. Ia tidak akan menjawan.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini.” “Aku bisa saja. itu sangat jelas. kau boleh pilih.. Tatapannya tajam..” aku berbisik.. “Kenapa?” ulangnya hati-hati.” Ia meringis mendengar kata-kataku. djAnGgo 395 . ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Semudah itu.” “Tapi kau tidak membunuhku.” katanya pelan. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya. “Kau telah menyelamatkanku. Lubang hidungnya kembang-kempis.” kataku. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat.” kataku. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa.. aku sudah membusuk di pemakaman Forks. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu..” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku.... tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. sekarang aku mau tahu kenapa. mulutnya seolah dipahat dari batu. “Kenapa kau melakukannya. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. “Bagus. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif. Kalau bukan karena kau.. Ia terkejut. marah. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. dingin. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain.” ia menambahkan dengan kasar.” Mata Edward sepertinya berubah hitam. dan rasa panik mencekat paru-paruku.” Aku mulai marah sekarang. kemarahannya mereda. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. Bukan. jadi kurasa kau akan menemukan caranya. yang paling parah adalah merasa. terbaring di lantai. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. Raut wajahnya lembut. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan.. itu bukan yang terburuk.. fakta itu tak terlewatkan olehku. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward... dan aku ingat.. “Meski begitu... “Tapi kelihatannya masuk akal.” Meski begitu ia tidak berjanji. “Berjanjilah padaku.

” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal. “Aku juga ingin jadi Superman. “Kurasa aku tahu.” Suaranya lembut. Aku tidak menyerahkan apa pun. “tapi hidupku sudah berakhir. aku tidak berharap begitu.” Ia berhenti sebelum melanjutkan.” aku berkeras.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta. kau tidak tahu.” “Bella. dan aku masih tidak yakin.” djAnGgo 396 . Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini.

” “Sungguh. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Aku menatapnya. Aku membuka mulut. Ia menunggu.” kataku.” tukasnya. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. “Tentu saja kau akan sembuh.” kataku pelan.’ Dan aku tidak mempercayainya.. mengambil uangnya. Meski begitu ia sangat tenang. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. Paling lama dua minggu. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka. dan ia balas menatap.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada. terkejut. Ia membuka mata. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. “Tidak. tapi tak ada suara yang keluar.“Kaulah hidupku.” Ia menatap geram padaku. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. djAnGgo 397 .” Aku mendengus. Dan aku akan menjadi tua. “Aku tak bisa melakukannya. Aku melihatnya berusaha menekan amarah.” “Tepat sekali. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. dia terbiasa hidup sendirian.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan.. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar.” Aku semakin baik dalam hal ini. Tiga hari. Aku tak bisa menahannya. dia ingin aku melakukan yang sama. Wajahku memucat. itu juga bukan masalah... Lebih baik begitu. Sama sekali bukan masalah. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya. Dan Charlie lebih fleksibel. Aku menutupnya lagi.” “Kau keliru. Yakin. Bella. tapi suatu saat. dan aku seharusnya tidak ada.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. Aku takkan melakukannya padamu. “Itu bodoh. matanya terpejam. api dalam nadiku. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. Dan rasa sakitnya?” tanyanya.” “Bukan masalah.” geramnya.” Aku menatapnya geram.” “Aku bukan hadiah lotere.” gumamku akhirnya.. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi..” aku berkeras. “Aku bisa mengatasinya.seharusnya bukan apa-apa. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. dan berkata. Bella. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. “Aku takkan sembuh. setelah itu . ‘Begini.” ia mengingatkanku. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. Yang seharusnya terjagi.” Sekarang ia cemas. “Aku bakal mati.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku.” Kerutan di dahinya semakin dalam. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. “Aku mungkin takkan mati sekarang.. atau kurasa beberapa hari yang lalu.. “Itulah yang mestinya terjadi. “Itu masalahku. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. “Begini saja.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat.

” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.“Benar. kita tidak akan membahasnya lagi. “Bella. Kau jauh lebih baik. dan inilah keputusanku. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung.” djAnGgo 398 .

Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu.” gumamku. “Aku takut memejamkan mata. Ia tertawa dingin. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.” Kemudian ia tersenyum simpul. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. aku akan di sini. Kau benar-benar keras kepala. “Alice sudah melihatnya. “Auw.” katanya tenang. tapi itu juga tidak terjadi.” aku berjanji. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Alice takkan berani.” aku menyarankan. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. “Aku tidak percaya.” Suara itu terdengar bosan.” aku berbohong. “Jangan kelewat berharap.” “Kau harus beristirahat.” Aku menggeleng tak percaya. “Jangan!” Ia mengabaikanku.” katanya lembut.. Jangan khawatir.” “Aku tidak takut jarum. bunyi bip. dan detak jam besar di dinding.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal.“Kalau kaupikir ini akhirnya.” Lama sekali kami bertatapan. Dia juga melihatmu mati. “Bella. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” Detak jantungku mulai memburu. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. Ia melihat ketakutan di mataku.” katanya pada djAnGgo 399 .” gumamku. suatu hari nanti. kau sakit. itu membuatku pusing. kau cuma naksir aku. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa. “Aku akan menyuruh perawat ke sana..” ia memberitahuku.” Matanya kembali kelam. tetesan.” Mataku menyipit.” Aku balas tersenyum. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” “Oh. “Segala sesuatu berubah. Selama kau senang karenanya. “Permisi. “Aku takkan meminumnya. aku takan pergi ke mana-mana. dan mendesah putus asa. “Itu berarti selamanya. mengabaikan rasa sakit di pipiku. berarti kau tidak mengenalku. kau akan melupakannya. tahu.” “Jadi menyerahlah.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya.” Ia menggapai tombol.” aku mengingatkannya. “Sudah kubilang.” “Dia keliru. “Aku tidak mau tidur lagi. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu. ya kan?” Aku mencoba menebak. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. “Aku baik-baik saja.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. Akhirnya ekspresinya melembut.” Aku mendesah. “Usaha bagus. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.” “Itulah hal terindah menjadi manusia.

Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan. masih waswas. Sayang. Aku terus menatapnya. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. ini obatnya.” djAnGgo 400 . Ia menatapku tenang. “Nah.Edward. bersandar di dinding. Ia bersedekap dan menunggu.

bagai nina bobo. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. “’Tu tidak sama. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti. Kemudian aku pun tertidur. “Kurasa sudah bereaksi. mencari. selama ini adalah yang terbaik untukmu. saat kelopak mataku mulai memejam. “Terima kasih. jangan khawatirkan itu.” ia berjanji. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan. “Sudah. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.” desahku. Ia tahu apa yang kucari.” gumamku. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.” bisiknya.” gumamku datar. Bella.” ia tertawa pelan.“Terima kasih. “Tinggallah. selama ini membuatmu bahagia. “Aku juga. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. Aku menoleh sedikit. “Sama-sama.” gumamku.”Kata itu nyaris tak terdengar. Suaranya indah.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya.. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Aku akan ada di sini.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. Hanya sebentar. Ia tertawa. djAnGgo 401 . “Aku mencintaimu.” “Aku tahu. “Seperti kataku.” gumamnya. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku..” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. tapi terlalu berat.

djAnGgo 402 .

gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. aku yakin itu. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup.. dan aku tercekat. Aku benarbenar tidak suka kejutan. jam berkunjung. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. Itu yang tak dapat kusangkal. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. bukan?” ujarku. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. “Sudah.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Setelah aku duduk nyaman. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. Perhatianku teralih dering telepon. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. bahkan dalam pikiranku sendiri.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. “Halo. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Atau sepatu yang kukenakan. Dan ia tahu itu. berimpel. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya.. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu.” Ia tersenyum mengejek. aku tidak akan meninggalkan rumah. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. warna biru gelap. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra. Charlie. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. “Charlie?” Dahiku berkerut. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat.. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Sepatuku hanya satu. ia menyelinap ke jok pengemudi. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. serta tongkat berjalanku. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. dan tanpa lengan. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas.” sahutnya hati-hati. Kaciuali. Charlie. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami... Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. djAnGgo 403 . Terhadap Charlie. sebab kalau bukan karena Edward. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam.” Ia tersenyum.. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips.

Tyler.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. “Kau bercanda!” Ia tertawa. ini Edward Cullen.” Suaranya sangat ramah. “Ada apa?” desakku. tapi hanya di permukaan. “Halo. “Biarkan aku bicara padanya.” saran Edward. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . Ia mengabaikanku. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Ia menunggu sebentar. kegembiraannya tampak nyata.

Juga karena kecurigaan samar.mengerikan mulai terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.” Aku mengabaikan kata-katanya. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. “Apa?” gumamku. “Aku akan ikuti maumu. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. Pertama. dan Emmett. djAnGgo 405 . dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. itu sudah jelas. Bella. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. Kemudian ia menutup telepon. “Baiklah.. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. Tapi prom. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. “Karena aku marah!” “Bella. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. “Ayolah. Ia menunjuk tuksedonya. sebenarnya harapan. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Tanganku tidak hitam ketika kutarik.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan.” Bibirku mencebik. “Sungguh. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. benar-benar jauh melenceng. Bella. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku.” Aku menoleh ke luar jendela. “Ini benar-benar konyol. bingung. “Bersama Jasper. Nasib burukku belum berakhir. Tapi nanti akan kaulihat.” desaknya. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. Air mata kemarahan menetes di pipiku. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku.. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Jangan tersinggung. Aku menyerah. “Jangan mempersulit keadaan.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. dan Rosalie. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. setiap malam. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. Ia terkejut melihatku. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. yang berkembang di hatiku seharian ini. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman.” ia mengakui. senyum lebar menghiasi wajahnya. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. “Hmmm. Sekarang semua sudah jelas.” Nada suara Edward berubah. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.

reaksi manusiaku sangat menghiburnya.. terpikir olehku hal lain. Emmett senang berada di dekatku. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. menurut dia. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. djAnGgo 406 .. atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu.Perasaan tenang itu langsung lenyap.

Aku menelan liurku. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. Berdansa. Di Phoenix. bahkan tidak dirimu sendiri. Ia mengulurkan tangan. Dan Rosalie. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya.. “Meski begitu. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. tentu saja aku bersama kelompok vampir. Penampilannya sungguh di luar dugaan. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku.. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Ia bisa melihatanya di wajahku. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. “Oh.” Ia nyengir. well . prom diadakan di ballroom hotel. Edward dan aku tak terpisahkan. “Well. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Ketika kami sampai di dalam. Di sini. “Bella. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. meskipun ia praktis menggendongku. ya Rosalie. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. kelihatannya Tyler tidak. tangan terlipat. Kami sudah di sekolah sekarang. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. diam-diam berpuas diri. kau seberani singa. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang.” Aku melihat ke arah lantai dansa. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. bagian tengah lantai tampak lenggang.” olokku. sudah. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. lalu tergelak. aku janji.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. Aku tak bergerak dari tempat duduk.. “Tentu saja. Ia mendesah. Aku takkan pernah melepaskanmu. tiba-tiba curiga. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi. tempat Charlie tak bisa ikut campur.” Ia tersenyum enggan. Di sekolah.” katanya lembut. “Sudah. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah.” Ia menggeleng. pestanya berlangsung di ruang gym.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa.. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi. termasuk diriku sendiri.” Kugertakkan gigiku. Hari ini langit berawan tipis. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram.” djAnGgo 407 . “takkan seburuk itu. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. Ia tetap memelukku erat-erat.

“Aku punya waktu semalaman.“Apa pun. dan menyeret kakiku. Kupeluk lengannya.” Ia membayar tiket kami. “Edward. kemudian membimbingku ke lantai dansa.” Tenggorokanku benar-benar kering.” ia mengingatkan. djAnGgo 408 . “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan. hingga aku hanya bisa berbisik. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.

“Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . ini tidak terlalu buruk. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras.” ia mendesah. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. aku percaya. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. Itu bagus juga. kuharap setidaknya kau menikmatinya. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. “Wow.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. teramat sangat tidak nyaman. Aku mengikuti arah pandangannya. “Yeah.“Jangan khawatir.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. “Hei. Wajah Edward tenang. “Hai. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. Kemudian kami pun berdansa.” Kami tidak benar-benar berdansa. aku bisa menduga jawabannya. sedikit. lalu mundur selangkah. “Terima kasih.” kata Jacob ramah. bodoh.. Jacob Black. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri. tidak fokus akibat berputarputar. “Ya. sedikit malu-malu. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. jangkung. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. “Jaga sikapmu!” desisku. Bella. Ia berjalan menghampiri kami.” aku mengakui. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel. Melihat ekspresi Edward tadi. “Dia ingin mengobrol denganmu. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. sesaat menarikku lebih rapat. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri. mengangkatku. “Seratus delapan puluh lima senti. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. Suara Edward terdengar sinis. ekspresinya hampa.. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya.” ia balas berbisik. Edward hanya mengangguk. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus.” Jacob sampai di tempat kami. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. “Oke. “Aku bisa. Tapi senyumnya tetap hangat. Jacob. “Jadi.” Aku balas tersenyum. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. wajahnya tampak marah. aku balas tersenyum padanya.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. Edward mengeram sangat pelan.” gumamnya. dan tak seimbang. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu. “Kau percaya. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki.” gumamku. kini aku merasa kasihan pada Jacob. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. Sebagai gantinya. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. “Well. aku memang berharap kau ada di sini. “Tapi ia sudah bersama seseorang. memandang Edward untuk pertama kali. Jake. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.

“Omong-omong. merasa jengah. djAnGgo 410 .sama berpaling.” ia menambahkan malu-mal. kau cantik sekali.

Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia.” “Aku tak peduli. “Begini. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. eh?” “Yeah. bukan aku”. dan terlepas dari janjiku. meskipun tangannya masih di pinggangku.” desakku. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya. katanya. Bella. “Kami akan mengawasi. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. ini kedengarannya buruk sekali. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. “Aku terjatuh. sementara wajahnya sendiri datar. Jacob tak berani menatapku. Jacob berpaling lagi. sekali lagi merasa jengah.” gumamnya.” “Aku tahu. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. dia memandangku sekarang. Jacob. “Lagi pula. Aku tertawa keras-keras. tapi hanya supaya kau tahu”. Jacob. kecewa.” aku meminta maaf.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. “Kalau begitu. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik.” aku meyakinkannya. Jake. “Katakan saja. Ia masih tampak canggung.“Mm. “Dia masih percaya takhayul.. “Dia menyuruhku memberitahumu. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. “Lupakan saja.” Aku ikut tertawa. Jacob. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. ‘Hei. ini bodoh sekali. Jacob. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. “Oke.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. namun lemah. “Katanya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. dan tanganku melingkar di lehernya. bukan. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. Ia memalingkan wajah. Mataku menyipit. trims. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. memperingatkanmu...” Aku balas tersenyum.” “Well. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini.” Ia menggeleng. katakan saja padaku.” Jacob menyahut. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. merasa malu. maafkan aku. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya.” gumamnya. aku merasa marah. “Jangan marah. hhh. meskipun aku tahu jawabannya. dan ini kata-katanya. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. djAnGgo 411 .. Beritahu aku. Dia tidak percaya. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. “Setidaknya. tapi.” “Aku tahu itu. “Pikirnya.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy. bahwa.” olokku. Katakan saja apa yang harus kaukatakan.. yang penting kau mendapatkan onderdilmu.” Ia menggeleng jijik.” Itu bukan pertanyaan. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah.. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. aku pasti sudah mati. Dia. dia ingin kau putus dengan pacarmu. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah.” ujarnya.. Dia memintaku untuk memohon padamu. “Ini buruk sekali. ya kan?” “Yeah. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.

” Musiknya berhenti.” Ia tertawa lega. “Tidak. dan kulepaskan lenganku dari lehernya. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. Aku tahu dia bermaksud baik. djAnGgo 412 .” desahku. “Jadi.“Aku tidak terlalu keberatan. “Bilang padanya aku berterima kasih. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku.

” Kami kembali berdansa. merasa senang. Lee. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. Bella. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya.” gumam Jacob. Wajahnya sangat serius. tampak jelas di antara awanawan tipis. Aku tersenyum.” “Maaf. Kau lebih dari sekedar cantik. “Tidak apa-apa. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. “Tidak juga.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. Jessica melambai. “Yeah.Tangannya masih di pinggangku. “Intinya?” aku memulai dengan lembut. Aku menunggu dengan sabar.” ia menjelaskan.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya.” desahku. yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. dan aku balas tersenyum padanya.” Wajah Edward cemberut. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. Bulan telah muncul di langit. “Dia menyebutmu cantik. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Tapi ada hal lain. Ia menunduk menatapku. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. Bukan apa-apa. dan Conner menatap kami geram. “Kalau begitu. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” ia meralat tajam. dan ia memandang kakiku yang digips. Samantha. Angela juga aga di sana. aku tidak melihatmu di situ. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. “Oh.” Aku tertawa. sambil terus memelukku erat di dadanya. matanya resah. aku memaafkanmu. melambai dengan setengah hati.” “Terima kasih. Ia setengah tersenyum. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. “Kau mungkin sedikit memihak. Jacob.” Aku menatapnya tidak mengerti. Kusandarkan kepalaku di dadanya.” “Kurasa tidak. kerutan di wajahnya semakin nyata.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.” “Aku tidak marah pada Billy.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. “Hei. Kemudian kami sampai di luar. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Lauren. “Merasa lebih baik?” godaku. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. sampai ketemu. Mulutnya tegang. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih.” katanya singkat. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. itu bisa dibilang menghina. Well. bingung. “Jangan marah pada Billy. “Mengingat penampilanmu saat ini. Ia duduk di sana. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Begitu kami sendirian. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Lagi pula. aku punya daya lihat yang sempurna. djAnGgo 413 . “Jadi. sampai ketemu.” Ia melangkah mundur. Aku yang mengambil alih.

“Aku membawamu ke prom. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. kalau aku bisa djAnGgo 414 .Ia mengabaikanku. menatap bulan. lagi. Ia mendesah. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. langsung tegang. “Twilight . toh harus berakhir juga.” gumamku setengah mendesis. akhirnya menjawab pertanyaanku.” “Beberapa hal tak perlu berakhir.” gumamnya.” katanya pelan. “Akhir yang lain. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang.

daripada percaya bahwa kau serius. senyumnya memudar. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah. Kumohon.. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.” ia memulai. Kugigit bibirku dan mengangguk.” selaku. bahwa kau akan merubahku. lalu menggeleng marah. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain. menunduk.” Ia masih nyengir..” desaknya. “Oke.. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya.. “siap menjadikan ini akhir hidupmu.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom... “Tepat.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. Ia tersenyum sekilas.. atau sedih. “Kurasa itu akan membuatmu marah. “Well . Aku memandangi gaunku.” “Tapi aku memang serius. “Tidak.” Beberapa saat kami terdiam. sedih.. “Aku masih ingin tahu. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. “Aku kan tidak tahu.” aku buru-buru mengaku. tersenyum.” ia menimpali. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya.” ia menyetujui. Aku ingin kau menjadi manusia .” “Itu karena aku bersamamu. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. acara istimewa. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. “Baiklah..” Aku bergidik mendengar kata-katanya.” Aku mendesah. “Aku tahu.” gumamnya. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. aku penasaran.. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku.” tukasnya keberatan. aku menduga itu semacam. Kau siap djAnGgo 415 . “Kaupikir itu sejenis acara resmi. “Memang. Ia menunggu dalam diam. kau benar. memainkan chiffon-nya.” “Kau sudah berjanji. ini tidak lucu. Kucibirkan bibirku. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon.” Ia menghela napas dalam.. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Manusia?” tanyanya datar. “Tidak lucu tahu. menatapku seraya tersenyum simpul. Ia menunggu.membuatnya terjadi. aku langsung menyesal. Ia menatap bulan dan aku menatapnya..” kataku. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk. “Aku tahu. “Kau siap mengakhiri ini semua. kemudian ia tampak senang.. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. Ia memilih kata kuncinya. akhirnya.. “Aku tidak ingin memberitahumu. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. prom!” ejekku. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. ragu-ragu. nyaris kepada dirinya sendiri.

“Kau sama butanya denganku.” djAnGgo 416 .merelakan semuanya.” sergahku. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku. ini baru permulaan.” katanya sedih.” “Ini bukan akhir. “Aku tidak pantas mendapatkannya.” “Aku tahu siapa diriku. suaraku berbisik. satu alisku terangkat.

menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. itu cukup. dan aku yakin. Tidakkah itu cukup?” “Ya.” Ekspresinya berubah.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. “Kalau begitu. kedua tanganku mengepal. “Aku akan tinggal bersamamu. napasnya terasa sejuk di kulitku. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. “Untuk sekarang. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya.” kataku. lalu menjauh.” Wajahnya cemberut melihat tekadku. melembut. Aku sudah membuat keputusan ini. Ia menghela napas. Wajahnya memang kelihatan kecewa.” Kutelan liurku.. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu. “Cukup untuk selamanya.” bisikku. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak. djAnGgo 417 . Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. ia bakal kecewa.Aku mendesah. “Sekarang juga?” ia berbisik.” kataku. Ia mengamati wajahku lama sekali. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. “Dengar. “Seorang gadis boleh bermimpi. “Bella. kau sudah siap?” tanyanya.” Alisnya terangkat. tersenyum. cemberut mendengar pilihan katanya. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga. Ia tergelak misterius. jadi suaraku tidak terdengar parau. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. Kusentuh wajahnya. napasku tak beraturan. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. ya. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. “Mmm.” jawabnya.” Dan ia pun membungkuk lagi. “Ya?” Ia tersenyum. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. Tanpa sadar aku gemetar. “Ya. Monster.” ejeknya..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful