TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. Lantai kayu. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . Ditambah lagi. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. Ini permintaan ibuku. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Tentu saja pemandangannya indah. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. “Wow. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. dan aku harus memakainya dengan Charlie. well. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. tampak truk baruku. Di sana. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. aku menyukainya. itu kamarku sejak aku dilahirkan. sekali lagi merasa malu. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. dinding biru cerah. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. Terlalu hijau. kanopi di antara cabangcabangnya.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Dad. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. ia tidak pernah membuntutiku. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. lega bisa memandang murung ke luar jendela. baru buatku. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. supaya kami gampang berkomunikasi. masa-masa awal. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut.” kata Charlie parau. sebuah planet yang asing. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. Truk itu berwarna merah kusam. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. aku tak bisa menyangkalnya. Yang membuatku amat terkejut. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. semua ini bagian masa kecilku. Kamar itu sangat familier. “Aku senang kau menyukainya. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku.

Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. sekarang 358.untuk menangis habis-habisan. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. Barangkali tipuan cahaya. orang aneh. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. jelas bukan atlet. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. pirang. tapi aku djAnGgo 10 . segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. ketika aku harus memikirkan esok pagi. sporty. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. meskipun sering terpapar sinar matahari. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. tapi lembek. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. pemain voli. Tubuhku selalu langsing. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. mengundang penasaran. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. atau pemandu sorak mungkin. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. Aku harus berkulit coklat.

Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. tak pernah selaras denganku. tampak deretan foto-foto. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. Charlie berangkat duluan. Bahkan ibuku. titik. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. seperti di kandang. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. dan menguncinya. dan menerobos hujan. tak pernah benar-benar sepaham. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. Aku malu melihatnya. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. setidaknya selama aku tinggal di sini. mengamati dapur kecilnya. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. bahkan setelah aku selesai menangis. bening. Disini aku tidak memiliki warna. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 .terlihat pucat. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. kemudian menambahkan bantal-bantal. dengan dinding panelnya yang gelap. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. Keberuntungan selalu menjauhiku. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. Hujan masih gerimis. tidak sehat. Mungkin ada masakah dengan otakku. meski tahu doanya sia-sia. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. Aku berterima kasih padanya. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. nyaris transparan. Tidurku gelisah malam itu. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. tapi semua itu tergantung warna. Kulitku bisa saja cantik. Tak ada yang berubah. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Tapi penyebabnya tidak penting. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. rak-rak kuning terang. Itu membuatku tidak nyaman. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. Rasanya mustahil berada di rumah ini. Yang penting adalah akibatnya. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. serta lantai linoleumnya yang putih. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. Dan besok baru permulaannya. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Aku mengenakan jaketku.

bensin. dibangun dengan batu bata warna marun. Bangunan sekolah. Di dalam truk nyaman dan kering. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 . Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit.kuinginkan. Yah. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. letaknya tak jauh dari jalan raya. nilai tambah yang tidak terduga. dan aku lega karenanya. Mesinnya langsung menyala. Radio antiknya masih berfungsi. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. yang membuatku berhenti. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. dan peppermint . seperti kebanyakan bangunan lainnya. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. tapi derunya keras sekali. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. meskipun aku belum pernah kesana.

” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. Di tempat asalku. Ia tersenyum dan berharap. aku akan segera menjadi topik gosip. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. Tak ada yang parkir disana. Ada 3 meja di balik konter. Aku memasukkan semua ke tas. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. dan jelas mencolok. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian.” kataku. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. Ia mengenakan T-shirt ungu. Tak ada yang bakal menggigitku. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. “Ini jadwal pelajaranmu. Ketika aku keluar lagi menuju truk. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. gedung tiga dengan mudah kutemukan. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. dan menyilangkan talinya di bahu. Kantornya kecil. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. aku setengah membohongi diriku. karpet bersemburat jingga. Wanita berambut merah itu mendongak. seperti Charlie. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. “Tentu saja. tak ada yang bagus. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Kulihat matanya berkilat terkejut. Aku bisa melakukannya. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . bunyinya TATA USAHA. berusaha mengingatnya. Aku mempelajari petanya di dalam truk. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok.” katanya. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Kelasnya kecil. Disini. Di dalam keadaan cukup terang. dan peta sekolah. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. dan lebih hangat dari yang kuharap. Begitu sampai di kafetaria. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. aku menyadarinya dengan perasaan lega. sebuah jam dinding besar berdetak keras. mengikuti barisan-barisan mobil lain. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. berambut merah yang menggunakan kacamata. aku senang berada disini di Forks. murid-murid lain berdatangan. Tak diragukan lagi. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Jaket hitam polosku tidak mencolok. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. dan menarik napas panjang.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. Aku mengemudi mengelilingi sekolah.

Menyenangkan.mereka di tiang gantungan yang panjang. dan membosankan. rambutnya cokelat muda. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. bukan respon yang membangun. yang satu berambut pirang. Aku mencontoh mereka. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. Chauter. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku terus menunduk.. Mason. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . Mereka 2 orang gadis. Bacaan dasar : Brontë. yang lain juga berkulit pucat. Aku sudah pernah membaca semuanya.. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Faulkner. Shakespeare.

Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. Eric mengantarku sampai pintu.. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. “Bella. di gedung enam. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara.” “Ibuku setengah albino.” Ia berharap. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. yang sudah reda. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Pemerintahan. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. “Sangat. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. “Cerah.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Aku tersenyum samar dan masuk. meskipun papan tandanya jelas. “Mmm. wajahku merah padam. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. tipe anggota klub catur. dengan Hefferson. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku. dan aku mendesah. Tubuhnya mungil. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Beberapa bulan saja di tempat ini. lebih pendek daripada aku yang 160 senti. Guru Trigonometriku.” tambahnya. “Kau Isabella Swan. “Aku Eric. “Semoga berhasil. aku bisa menunjukkannya padamu. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.” ujarku. Aku tergagap. Mr.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan.. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya.” Jelas tipe kelewat suka menolong. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain.” katanya ketika aku meraih gagang pintu. “Terima kasih. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. Vanner. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras.” “Wow. djAnGgo 15 . Setelah 2 pelajaran. Aku mencoba berdiplomasi. suaranya berupa gumaman sengau. “Kulitmu tidak terlalu cokelat. Aku tersenyum hati-hati. Ketika bel berbunyi.” aku meralatnya. Aku tak ingat namanya. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. “Jadi. “Aku akan ke gedung empat. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.

Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. melambai padaku dari seberang ruangan. Disanalah. Eric. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. duduk di ruang makan siang. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya.Aku tak berusaha memperhatikannya. ketika aku pertama kali melihat mereka. Ia memperkenalkanku kepada mereka. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. Cowok dari kelas bahasa Inggris. djAnGgo 16 .

semuanya luar biasa. Ketika aku memperhatikan. Rambutnya keemasan. Mereka pucat pasi. dari satu sama lain. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. Lebih pucat daripada aku. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. Yang jangkung tatapannya dingin. apelnya masih utuh. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Ia berpaling dengan cepat. lebih langsing. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. dipotong pendek dan lancip. juga tidak makan. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu.Mereka duduk di sudut kafetaria. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. Mereka semua mengalihkan pandangan. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. Mataku tertuju kembali ke yang lain. Mata mereka sangat gelap. sempurna. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. si albino. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. si cewek mungil bangkit membawa nampan. Dari 3 cowok. kaku. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. mungkin yang paling muda. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. seolah temanku telah menyebut namanya. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. keindahan yang memancarkan kekejaman. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. yang aku lupa namanya. atau si cowok berambut perunggu. memar seperti bayangan. Tubuhnya indah. Terlepas dari hidung mereka. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. yang kelihatannya sudah kuliah. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. keunguan. Rambutnya hitam kelam. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. semua garis tubuh mereka lurus. rambutnya gelap ikal. Mereka tidak bicara. perawakannya mungil. Yang lain lebih tinggi. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. Mereka tidak terpana menatapku. begitu kontras dengan warna rambut mereka. telah djAnGgo 17 . dari murid-murid lain. tergerai lembut di punggung. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. yang sama sekali tak beranjak. Aku terus mengawasinya. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. berotot seperti atlet angkat besi professional. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. Yang cewek-cewek kebalikannya. yang 1 bertubuh besar. sangat kurus. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. namun sangat mirip. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. Mereka juga memiliki kantong mata. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. Namun toh mereka sama persis. Mereka berlima. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. kaleng sodanya belum dibuka.

memutuskan untuk tidak menjawab. Cullen dan istrinya. Aku melirik cowok tampan itu. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat.” Ia mengatakannya dengan berbisik. menunduk memandangi meja seperti aku. yang sekarang sedang memandangi nampannya. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. Yang 3 lagi masih membuang muka. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. mereka tinggal bersama dr. djAnGgo 18 . Mulutnya bergerak sangat cepat. “Itu Edward dan Emmett Cullen. serta Rosalie dan Jasper Hale. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka.

“Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. dan Jasper dan Alice. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. Saat aku mengamati mereka. ada 2 cewek yang bernama Jessica. maksudku.” “Mereka baik sekali. Mrs. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini.. mereka adalah pendatang. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. Cullen masih sangat muda. ketika mereka masih kecil dan segalanya. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. Dr. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun. Emmett dan Rosalie... harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan.” ujar Jessica enggan. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. nama yang sangat umum. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . pikirku. salah satu yang bermarga Cullen. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga.” Jessica menambahkan. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. kira-kira 20-an atau awal 30-an. “Kurasa Mrs. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. Cullen sejak masih 8 tahun.” kata Jessica. mau memelihara semua anak-anak itu. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. pikirku kritis. Mereka semua anak adopsi.” Aku merasakan sebersit rasa iba. mereka anak angkat. mendongak dan beradu pandang denganku.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. yang paling muda. sekaligus lega. Cullen tidak bisa punya anak. Jasper dan Rosalie umurnya 18. yang pirang.. “Mereka. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu.” “Kurasa begitu.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. “Dan mereka selalu bersama-sama. aku menduga alasannya adalah iri. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka.” “Sekarang memang. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka.” “Oh. Dan mereka tinggal bersamasama. sangat tampan dan cantik. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica.Nama-nama aneh dan tidak populer. “Tidak.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. memang tidak. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. dan jelas tidak diterima. Tapi kalau mencoba jujur.

dan ia masih menatapku. Ia sudah memalingkan wajah.lewat sudut mata. Aku kembali menunduk. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. seolah-olah dia juga tersenyum. ekspresinya sedikit gelisah. tentu saja. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. tapi jangan buang-buang waktu. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. Lalu aku kembali memandang Edward. “Itu Edward. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. bahkan yang bertubuh besar dan berotot.” Jessica mendengus. Dia tidak berkencan. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya. Dia tampan. sikapnya jelas pahit.

Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Ia sudah punya teman sebangku. Ketika aku melewatinya. Aromanya seperti stroberi. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. tidak bersahabat. gusar. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. Sekali lagi aku mengintip. Mr. Diam-diam aku mengendus rambutku. dan selalu menunduk. dan menyesalinya. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. sebagai penghalang diantara kami. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. sejauh mungkin dariku. Untuk yang satu ini. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Bergegas aku memalingkan wajah. Di sisi gang tengah. kecuali satu yang masih kosong. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Ia sama sekali tidak mengenalku. aku diam-diam memperhatikan Edward. Ia sedang menatapku. kuatur bukuku di meja lalu duduk. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Sepertinya baunya cukup enak. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Ia menatapku lagi. wajahku merah padam.baruku. Ketika kami memasuki kelas. hitam legam. Ia menjauh dariku. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. duduk di sebelah kursi yang kosong. terkejut. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Cewek yang duduk disitu terkekeh. aroma shampo kesukaanku. Ia juga pemalu. persis yang dulu sering kutempati. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya. dia juga tak pernah santai. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. duduk di ujung kursi. Tanpa mengangkat wajah. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Tak mungkin ada hubungannya denganku. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh.

sebab khawatir air mataku bakal menggenang. membuatku terperanjat. kebiasaan memalukan. Ini tidak adil. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. memunggungiku. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. Bel berbunyi keras. Dengan luwes dia berdiri. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Ia jahat sekali. Ketika aku mengalihkan pandang. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku.jijik. menatapnya tanpa berkedip. Kalau marah aku biasanya menangis. djAnGgo 22 . Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. Aku duduk membeku. ia lebih tinggi daripada yang kukira. menciut di kursiku. Ia tersenyum ramah.

Ia cukup bersahabat dan mempesona. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. jam mana saja. Kurasa aku bisa menemukannya. memberikan seragam buatku. Aku berdiri merapat ke dinding belakang. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini.” “Itu juga kelasku berikutnya. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Hujan sudah reda. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. “Ya. Secara harfiah. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. Forks bagiku adalah neraka di bumi.” timpalku. Cewek yang djAnGgo 23 . Akhirnya bel terakhir berbunyi. Dari pembicaraan kami.” “Dia aneh. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. Di tempat asalku.” katanya. Mike. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. “Jadi. dan yang kutimbulkan. Pelatih Clapp.” “Aku tidak tahu.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat.“Bella. ia bertanya.” Ia tampak senang. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya.” “Hai. menunggu petugas resepsionis selesai.” Aku menciut. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Jadi.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. ketika bermain voli aku merasa agak mual. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Edward sedang berdebat dengannya. meniup kertas-kertas di meja. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Guru senam kami. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. aku bakal mengobrol denganmu. Pintunya terbuka lagi. Kami berjalan bareng ke gymnasium. Aku memeluk diriku sendiri. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. nada suaranya rendah dan indah. Pasti sesuatu yang lain. memudahkan segalanya buatku. Mike malah terus bersamaku. “Aku Mike.” Bukannya menuju kamar ganti. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya.” ralatku sambil tersenyum.

Terima kasih banyak atas bantuan Anda. djAnGgo 24 . tatapannya menghujam dan sarat kebencian.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. “Aku mengerti ini tak mungkin. dan perlahan ia berbalik menatapku. Tapi punggung Edward Cullen menegang. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. Ia berbalik lagi ke resepsionis. meletakkan catatan di keranjang kawat.masuk langsung melangkah ke meja. lalu lenyap di balik pintu. Tatapannya hanya sedetik. lalu keluar lagi. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. “Kalau begitu lupakan saja. wajahnya luar biasa tampan.

Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. Ketika tiba di lapangan parkir. suaraku lemah. “Baik. Ia kelihatan tidak percaya. hanya menerawang ke luar kaca depan. Aku duduk sebentar di dalamnya. djAnGgo 25 . Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani.Aku berjalan pelan ke meja. “Bagaimana hari pertamamu. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. wajahku pucat dan bukannya memerah.” aku berbohong. Nak?” tanya resepsionis lembut. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. hanya tinggal beberapa mobil disana.

Sesampainya di pintu aku menahan napas. dan ini takkan mudah. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. bersama Mike. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik.2. tapi ia sendiri tak ada. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Edward masih belum muncul juga. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Lebih buruk karena Mr. waswas terhadap tatapan anehnya. Eric. Lebih baik karena hujan belum turun. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. meski langit sudah tebal oleh mendung. bukan tenggelam. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah.. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. akupun semakin tegang. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. dan membuktikan kecurigaanku keliru. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Lebih buruk karena aku lelah. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. gelisah menantikan kedatangan Edward. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. tapi juga lebih buruk. dan dengan berlalunya waktu. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. membuatku tersanjung. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. dan sekalinya tidak terhantam bola. Di kota seperti ini. Jessica. yang mirip Golden Retriever. aku merasa sangat tidak nyaman. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. Ketika terbaring nyalang di ranjang. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. diplomasi sangatlah penting. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. Mike. Ia tidak datang. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. melangkah setia disisiku menuju kelas. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang.. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah.

Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. berhubung Edward tidak masuk. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Aku terus-terusan mengingatkan diriku. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar. Tidak mungkin. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Ketika sekolah akhirnya usai. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. Aku djAnGgo 27 .

Dengan rupa mereka yang luar biasa keren.” tulisnya. melapisi steak dengan saus marinade. gaya mereka. namun bermerek.. dan sekarang akan menuju Thriftway. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. Tapi sejauh yang kutahu. selepas jalan raya.. hanya beberapa blok ke selatan. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Mom. aku mengganti pakaian dengan yang kering. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. “Bella. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Jadi aku membuat daftar belanjaan. Aku pinkku. Selesai melakukannya. “Bella. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. Karena sekarang aku memperhatikan.berjalan cepat menuju parkiran. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. The Thriftway tak jauh dari sekolah. simpel. hidup memang lebih sering seperti itu..ku untuk pertama kali. Ketika aku menunggu. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Sebelum mengerjakan PR. Tentu saja.” tulis ibuku.. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. dan aku menyukainya. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. Mereka memang suka menyendiri. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Tidak. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. selesai mengepak untuk ke Florida. dan memeriksa e-mail. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. aku melihat Cullen bersaudara. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Kuharap Charlie tidak keberatan. memastikan semua ada disitu. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. aku membawa tas sekolahku ke atas. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. aku tak percaya sepenuhnya. Volvo baru yang mengkilap. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . rasanya normal. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. sama seperti yang lain. Aku mendapat 3 pesan. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang.

Kalau sampai jam 5.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu. aku akan menelepon Charlie.Isabella. djAnGgo 29 .

Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . tapi benar-benar ‘bandel’. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. kau percaya? Aku menyukainya. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Blus pinkmu ada di dry clean. Aku lupa waktu. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. Ibuku juru masak imajinatif. Aku akan menulis lagi nanti. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap.Aku melihat jam. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. yang berarti bagus. kami sangat cocok hidup bersama. Tenang saja. Bella. Sekolahku tidak jelek. Aku juga rindu padamu. Jangan konyol. kau harus mengambilnya hari Jumat. hanya sedikit mengulang pelajaran. buatku. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Waktu aku datang kesini. “Jadi. “Steak dan kentang. “Hei. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. Ini lebih nyaman buat kami berdua. kemudian menyiapkan meja makan. “Aromanya lezat. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. tarik sayang Mom. Memangnya ada orang lain? pikirku. Tentu saja disini hujan. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. Semua baik-baik saja. Aku mengirimnya. Charlie memberikan aku truk. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang.” “Terima kasih. Setahuku. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Bell. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. Tenang. dan Dad tampak lega. ketika masih kanak-kanak. kau tahu kan. Mom. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. Mom. Bella napas. Sudah pulang?” “Ya. Mobil tua. Dad. dan memulai lagi. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Aku sedang menulis sekarang. Namun diam yang nyaman. demi kesenangan. Aku masih punya waktu 1 jam.” jawabku. Dalam beberapa hal. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. djAnGgo 30 . tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak.

djAnGgo 31 .

“Kita beruntung memilikinya. dan setelah selesai mencuci piring. tak lagi menghawatirkan Edward. suaranya makin keras. “Itu pasti Mike Newton. Setiap hari. yang sangat bersahabat. Yang kutahu.” tambahku. Bukan karena ingin. Pantai seharusnya panas dan kering. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. Mike. “Dr. Aku diajak. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Anak baik. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. hampir semua murid di sekolah. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring.. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan.” Dengan satu pengecualian mencolok. Aku berusaha tidak memikirkannya. dan telah setuju untuk ikut. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. Aku tertidur dengan cepat.. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. Lalu ada cowok. Karena banyak backpacker datang kesini. anakanaknya. Ia kembali menonton TV. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan.. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. Memang konyol sih. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. ia telah meninggalkan sekolah. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah.“Well. kelelahan. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden.” lanjutnya. “Kau harus bertemu dr.. aku duduk bersama teman-temannya. Malam itu suasana tenang. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku.. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. Semuanya kelihatan lumayan baik.” kata Charlie tertawa. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. kalaupun bukan nama.. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. Dia aset bagi komunitas kita. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah. Saat makan siang. dengan anak-anak remaja adopsi itu. Tapi mereka sangat dewasa. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. Mereka sangat menarik.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. “Mereka. Charlie. dia cukup berhasil. “Untunglah pernikahannya bahagia. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. “Orang-orang di kota ini. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. keluarganya baik. Cullen.” gumamnya. Aku mundur sedikit. agak berbeda.

mengerjakan PR. aku tidak jadi membuat kartu anggota. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis. Di djAnGgo 33 .menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. Pagi ini cuaca lebih dingin. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. dan bergidik memikirkannya. memilih bekerja sepanjang akhir pekan. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya... aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. tenang. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. Iseng. tapi untungnya tidak hujan. sehingga aku bisa tidur nyenyak. Aku membersihkan rumah. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana.

ulangan itu sangat mudah. Aku curiga itu perbuatan Eric. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. perutku keroncongan.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. Aku tak punya alasan untuk merasa malu. Jessica menganggapku konyol. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. Aku memegang binder di tanganku. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. telingaku panas. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. tahu kan. “Tentu saja pernah. “Salju. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. lalu mengikuti mereka ke meja. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud.” jawabku.” kataku. “Hari ini aku minum soda saja. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. aku merasa sedikit tidak enak badan. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. Sejujurnya.” Jelas. Dua kali Mike menanyakan keadaanku.” Salju. seperti biasa Mike duduk di sebelahku.kelas bahasa Inggris. yang berjalan jauh memunggungi kami. gumpalan es meleleh di rambutnya. mataku menatap ke bawah. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang.” kata Mike. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. “Selain itu. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. Mike tampak terkejut. Angin menerpa pipi dan hidungku. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan.” Mike hanya mengangguk. “Uuuh.” Mike tertawa. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Tentu saja lebih kering daripada hujan. mataku masih tertuju ke lantai. “Di TV.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. aku langsung masuk. Kukatakan aku baik-baik saja. Ketika kami berjalan keluar kelas. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Jessica menarik lenganku. “Sebenarnya. “Kita bertemu lagi saat makan siang. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. Bola-bola salju melesat dimana-man. Ia tertawa. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Hilang sudah hari baikku. “Wow. “Tidak apa-apa.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. Lalu aku berdiri mematung. dan bukannya menuju kelasnya. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. aku mengingatkan diriku sendiri. rupanya ini salju pertama di tahun baru.” Aku terdiam. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. Ada 5 orang di meja itu.

seperti pengecut.bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. Kalau ia menatapku. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. aku akan bolos kelas Biologi. djAnGgo 35 . Konyol. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada.

” jawabku jujur. Edward. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. “Edward Cullen menatapmu. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya.. “Dia tidak kelihatan marah.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. tapi ketika kami berjalan menuju kelas. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. Mereka menikmati hari bersalju. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa.” “Sudah. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. Aku sedikit mengangkat kepala. Selama sisa waktu makan siang. Lalu Mike menyela kami. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. Dari caranya menatap Mike. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. well. “Tidak. Aku masih gelisah. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku. Berhubung ia tidak kelihatan marah. terdengar bingung dengan pertanyaanku.” kata Jessica. Aku menunduk. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. berusaha menemukan perbedaan itu. Meski begitu aku yakin. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama.. “Kau sedang menatap apa. Artinya aku bebas. matanya mengikuti arah pandanganku. aku akan ikut pelajaran Biologi. ada sesuatu yang berbeda. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Aku diam saja. Aku menaikkan tudung jaket. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. djAnGgo 36 . Tapi dia masih memandangimu. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga.” desisku. Tapi ada sesuatu. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. tapi toh dia mengalihkan pandangan. Ia hanya kelihatan penasaran. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. jangan dilihat lagi. Jasper. Hujan turun. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. seperti anak-anak lainnya. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Jessica mendengus. Mike terus mencerocos. Mereka sedang tertawa. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. menyembunyikan perasaan senangku. seperti tidak puas. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami.

iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. Mr. berantakan.Begitu tiba di kelas. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. tetapi kursinya diarahkan padaku. meski begitu djAnGgo 37 .” kudengar suara merdu dan tenang. aku lega karena mejaku masih kosong. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. “Halo. tapi mataku tetap terarah pada gambarku. Aku mendongak. Air menetes dari rambutnya. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja.

” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. aku lebih suka Bella. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. Aku memalingkan wajah malu-malu. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar. “Mulai!” perintahnya.” bantahku bodoh. ia tetap meraih mikroskop. Seharusnya mudah. Tapi matanya tampak hati-hati. lalu melihatnya sepintas lalu. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. partner?” tanya Edward.” kataku. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x.” gumamnya pelan. “Tidak. pasti memanggilku Isabella di belakangku. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. dan tahu apa yang harus kucari. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. djAnGgo 38 . Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini. Bersama partner masing-masing.” kataku.” Senyum itu memudar. Jari-jarinya dingin bagai es. kurasa semua orang tahu namamu. kepalaku sampai pusing. ia menunggu.” Aku memamerkan kemampuanku. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. “Profase. “Kau duluan. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak. Aku pernah melakukan percobaan ini. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. maskudku ayahku. wajahku merah padam. “Tidak. “Maksudku.” dia setuju. “Maaf. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu.” aku mencoba menjelaskan.” ia tidak meneruskan. “ Oh. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. tawa yang menyenangkan. Kupelajari slide-nya sebentar. Aku yakin dengan pengamatanku. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Ketika ia menyentuhku. “Profase. “Aku akan memulainya. “Oh. Untungnya Mr. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. langsung meraih tangannya.” lanjutnya. benar-benar merasa seperti orang bodoh.” Saking bingungnya. “Namaku Edward Cullen. Aku harus bicara. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. Meski masih kaget. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. hanya sedikit. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi.” Aku nyengir. Ia tertawa lembut. Kau pasti Bella Swan. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. Banner memulai pelajaran saat itu juga. “Tapi kupikir Charlie. Bagaimanapun.

djAnGgo 39 . ia benar. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. Aku berusaha terdengar tidak peduli. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. dan mendorong mikroskop ke arahku.” gumamnya. Sial. dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Ia menyerahkannya padaku. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek.“Anafase. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. sambil menulis.

Aku tersenyum malu-malu. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. Lalu Mr. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda.” “Whitefish blastula?” “Yeah. Banner mengganguk. tapi dengan nuansa keemasan yang sama.” Itu bukan pertanyaan. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. “Atau basah. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu.” Edward meralat ucapan Mr. “Sayang sekali turun salju. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. “Tidak dengan akar bawang merah. Tangannya mengepal lagi. dan ia sedang menatapku.” Sekarang Mr.” “Well. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. dan aku tak bisa berkonsentrasi.” djAnGgo 40 . Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya. “Tidak juga. Ia melihat dari balik bahu. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. lebih gelap daripada mentega. “Tidak.” jawabku jujur. ekspresinya skeptis. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. Aku mendongak. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi.” Mr. Kami selesai duluan. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. pandangan frustasi dan misterius yang sama. Setelah ia pergi.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. Banner menatapku. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga.” gumamku. lalu menuliskannya. Aku menunduk. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. Banner. Ia mengintip sebentar. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. Banner menghampiri meja kami. “Bella. Edward. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. ya kan?” Edward bertanya. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. “Kau tidak suka dingin.” katanya setelah beberapa saat. Banner. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. menatap percobaan yang telah selesai. “Jadi. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.“Interfase.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah.” “Oh. Ketakutan kembali menyelimutiku. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu.

” “Rasanya aku bisa mengerti. tidak blak-blakan seperti dirinya. djAnGgo 41 .“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku. begitu menuntut jawaban. “Kau tak tahu bagaimana rasanya.” ujarnya melamun. “Jawabannya.” gumamku dingin.” desaknya. rumit.. aku tak bisa membayangkannya. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. entah untuk alasan apa. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya..

” kataku. Phil baik.” Alisnya bertaut. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya.” katanya. Aku memandangnya tanpa berpikir. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. “Terus?” tantangku.” Ia mengangkat bahu. “Tidak. Dia pemain bola. Aku tertawa sinis. namun tatapannya masih tajam. memandang marah ke papan tulis.” Aku setengah tersenyum.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. Dahiku mengerut. dan aku menjawab tanpa berpikir.” gumamnya puas. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. Banner yang sedang berkeliling. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. Tatapannya berubah menilai. itu saja. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. “Ya sudah. tapi dia merindukan Phil.” Aku nyengir. “Tapi sekarang kau tidak bahagia. “Apakah dia terkenal?” tanyanya. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting...” kataku. Terlalu muda barangkali. Benar-benar liga kecil. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. Aku terus menghindari pandangannya. “Kau pandai berpura-pura. “Kurasa tidak. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.” katanya pelan. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. ia tidak mengirimku kesini. Aku sendiri yang mau. Dia sering berpindah-pindah. balas tersenyum. “Kapan itu terjadi?” “September lalu.” ujarnya.” ujarnya. “Pertanyaan yang sangat bagus. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. “Dan kau tidak menyukainya. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini. bahkan untukku sendiri. “Tidak. Aku menghela napas. mengawasi Mr. tapi cukup baik.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya.. lalu memalingkan wajah. “Phil sering bepergian.” Edward mencoba menebak.. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. “Aku tidak mengerti. “Itu tidak adil. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . “Mula-mula ia tinggal denganku. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil. Ini membuatnya tidak bahagia. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. Ia terdengar senang. bukan pertanyaan.” Lagilagi ia melontarkan dugaan. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk. Aku lebih kesal pada diriku sendiri.Lama aku diam.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya.” Suaraku terdengar sedih. “Barangkali tidak. Dia bukan pemain andal.” timpalnya datar. suaranya masih ramah. Aku menghela napas. “Ibuku menikah lagi.” bantahnya. “Tidak juga.

” Ia tersenyum lebar. aku malah sulit menebakmu. ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.mudah ditebak. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku.” “Biasanya. djAnGgo 43 . ia terdengar bersungguh-sungguh. “Kebalikannya.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya.” Wajahku merengut.

Mr.” kataku. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Aku berusaha terdengar kasual.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. dari sudut mataku. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. Aku langsung menyesal. Dan seperti Senin lalu. Ia tampak menikmati percakapan kami. tapi sekarang bisa kulihat. Aku memandang sekelilingku. Mike tidak tamapak senang. Mike satu tim denganku hari ini. masih melihat ke sisi lain mobil.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. “Semua slide itu mirip. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. itu saja. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu.” erangnya. Aku menarik napas panjang. Ketika bel akhirnya berbunyi. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat.” “Gampang saja buatku. memastikan tidak ada siapa-siapa. dan berhati-hati mundur lagi. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. “Aku pernah melakukan percobaan ini. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. aku menginjak rem tepat pada waktunya. matanya menatapku lekat-lekat. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. Kunyalakan mesin penghangat. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. kali ini lebih baik. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. “Itu buruk sekali. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. bahwa ia menjauh lagi dariku. Aku membuka jaket. yang mungkin membenciku atau tidak. Banner menyuruh murid-murid tenang. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Trukku jenis penghancur.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. Toyota itu beruntung. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. djAnGgo 44 . melepas tudungnya. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. terkejut mendengar ucapannya. yang jaraknya 3 mobil dariku. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve.

djAnGgo 45 .

Kalau mau jujur. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. Dilihat dari berbagai sisi. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Dan itu sangat. Ada cahaya. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. ataupun bertemu teman-teman baruku. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. Apapun alasannya.3. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. melapisi atap trukku. ada sesuatu yang berbeda. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. lalu mengerang ngeri. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. Mungkin karena aku masih baru sisini. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. dan membuat jalanan menjadi putih. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. tapi bagaimanapun juga cerah. dengan memikirkan Mike dan Eric. Sambil mengemudi ke sekolah. dan ini membuatku takut. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. Dan aku curiga padanya. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. sangat bodoh. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk.

Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. dan memeriksa banku. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. djAnGgo 47 . Meski begitu. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Aku melihat sesuatu berwarna perak. tak ingin tergelincir. Aku tak terbiasa diurus. aku mengemudi sangat pelan. ketika mendengar suara aneh. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku.

Itu suara lengkingan tinggi.” suaraku perlahan menghilang. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. dan van itu berhenti. Aku melihat beberapa hal bersamaan. keras.” Suaraku terdengar aneh. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Dalam kekacauan yang tibatiba. “Hati-hati. nada suaranya kembali serius. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. berhamburan ke jalanan. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. benar-benar terkejut. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. karena van itu masih meluncur mendekat. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya.. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. Aku mendongak. dan aku berdiri diantara keduanya. masih berputar dan meluncur. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. lalu terdengar suara kaca pecah. terkejut. nyaris menabrakku lagi. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan.. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu.” katanya. Bella. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. dan sesuatu menarikku.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. Aku berusaha menjernihkan pikiran. mengumpulkan kekuatan. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku.” kataku. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. “Aduh. “Itulah yang kupikirkan. djAnGgo 48 . “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. memandangku ngeri. sesuatu menerjangku. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. “Bagaimana bisa. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. tapi bukan dari arah yang semula kuduga.

saling berteriak. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami. berteriak kepada kami.” “Tapi dingin. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. Ada kegetiran dalam suaranya. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. djAnGgo 49 . “Jangan bergerak. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain.” seseorang memerintah. Aku mencoba bangkit.” aku mengeluh. “Sekarang jangan bergerak dulu.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.

“Aku baik-baik saja. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana..” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Edward dengan kasar menolak. “Tidak.” tukasnya. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka.” “Kenapa?” desakku. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. Edward naik di depan.” ia memohon. Ketika juru rawat pergi. Aku mengenali Tyler Crowler. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. seolah memberitahu sesuatu yang penting. temanku di kelas Pemerintahan. Menjengkelkan. aku benar. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. Lalu datang pasien lain.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. “Tidak. Char. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah.” keluhku. Aku menggertakkan gigiku. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. tiba-tiba terdengar putus asa. aku sedang berdiri bersamamu. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. “Bella. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu.. “Oke. dan ia akan mengakuinya. “Aku tidak apa-apa.” Ekspresinya berubah kaku. mulai dari protes sampai marah. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans.” Sekeliling kami kacau. Yang membuatnya lebih buruk.“Kau ada di sebelah sana. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 .” aku mengulanginya dengan nada marah. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. Varner dan Pelatih Clapp. Bella. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. suaranya yang lembut mengodaku. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku.” “Aku melihatmu. “Kau ada di sebelah mobilmu.. Mereka membawaku ke UGD. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Dad. dan aku menarikmu dari sana. Warna emas di matanya berkilat-kilat. Yang membuat segalanya lebih parah. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah.. Keluarganya tampak di kejauhan. ekspresi mereka beragam.” Rahangku mengeras. Butuh enam petugas medis dan dua guru. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. Mr. “Kumohon. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. “Percayalah padaku.

“Bella. Tyler. djAnGgo 51 . kau tampak buruk. Ia menatapku waswas. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya.kurasakan. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya.

dan mulutku menganga melihatnya. Aku memandangnya. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya..” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. ” Tyler memulai..” dr.” Ia terlihat bingung. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. mudah-mudahan untuk terakhir kali.. Edward. nyengir. kau tidak mengenaiku. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Tidak mudah. pirang. “Jadi. “Aku baik-baik saja. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana.” kataku. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal.. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. wow. “Jangan khawatirkan itu. “Jadi. aku datang untuk menyelamatkanmu. Ia nyengir lagi. Dia ada disini entah dimana. “Tapi jangan khawatir. “Cullen? Aku tidak melihatnya. tampak lelah.” “Mmm.” jawabnya. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu.” Aku tahu aku tidak sinting.. dengan lingkaran di bawah matanya. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter.” katanya.. Ia terus menggumamkan penyesalan. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. Dari yang dideskripsikan Charlie.” Aku tak pernah pandai berbohong. aku sangat menyesal.. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat. Mataku langsung terbuka. djAnGgo 52 ..” Lalu seorang dokter menghampiri. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku.. dan mobilku selip. “Siapa?” “Edward Cullen.. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Cullen berkata dengan suara sangat merdu. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. aku terperangkap di UGD. Edward menarikku. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. menunggu. lalu kau menghilang. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. namun menghadap ke arahku. tidak seru. “Hei. Jadi.Ia mengabaikanku. Meski begitu ia pucat. Ia masih muda. dia berdiri di sebelahku. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu. “Tidak ada darah. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. ini pasti ayah Edward. dan aku benar. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan.” aku mengeluh. memamerkan giginya yang sempurna. Miss Swan. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja.

lalu menatap Edward geram.” katanya. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku.“Hasil rontgenmu bagus. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku. Ia memperhatikan ketika aku meringis.” “Tidak apa-apa. kau bisa pulang dengannya sekarang.” Aku menatap Edward.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. Mataku menyipit. “Well. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat.” kata Edward ponggah. “Tidak juga. kepalamu terbentur cukup keras. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. ayahmu berada di ruang tunggu. “Sakit?” tanyanya. Aku mendengar suara tawa. djAnGgo 53 . “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku.” aku mengulangi sambil menghela napas. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.

kepalamu terbentur. “Apa yang kau mau dariku. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya.” Ia balas menantang. Ia tampak waswas. “Kau sudah janji. Lalu ia berpaling memandang Tyler. Cullen dan Tyler. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. Ia menatapku tak percaya. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku.” kata dr. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. Emosiku meluap-luap sekarang. Aku memandang dr. kalau kau tidak keberatan.” “Oh tidak. Alis dr.” ia berkata kepada Tyler. “Kau berhutang penjelasan padaku. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. tapi nyatanya tidak. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. “Ayahmmu sudah menunggumu. aku terpeleset.” aku mengingatkannya. dan aku tak bisa melanjutkannya.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward.” ia memberikan saran sambil memegangiku. tapi kau menahannya. Tapi wajahnya tegang. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini.” ujar dr. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek.” dr.” desakku. dan menghampiri tempat tidur sebelah.“Sebenarnya.” katanya sepelan mungkin. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. aku bergeser ke sisi Edward. tapi itu justru membuatku semakin curiga. djAnGgo 54 .” Nada suaranya tajam. Ia mundur selangkah. kutatap dia tajam-tajam.. ia berbalik menghadapku. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. “Oh. tampak bersalah. “Kedengarannya kau sangat beruntung. aku tak berhutang apa-apa padamu. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. Begitu dokter memunggungiku. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. Terlalu cepat. Cullen.. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. Lalu semua terlontar begitu saja.” erangku. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya.” kataku. Intuisiku tepat. dan mulai memeriksa luka-lukanya.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. “Sakitnya tidak separah itu kok. Cullen terangkat. “Aku menyelamatan hidupmu. “Aku baik-baik saja. Cullen menangkapku.” aku berkeras. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. dan kau sama sekali tidak terluka. dan dr. menutupi wajahku dengan tangan. sang dokter sedang memikirkannya. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. well. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. Tyler juga tidak melihatmu. Cullen.” aku meyakinkannya lagi. Cullen meralat. juga di mobil yang lain. Ia menatapku jengkel. ya. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu.” “Bella. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. Tatapannya dingin. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku. tidak!” aku berkeras.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya.

rahangku mengeras. “Tak ada yang bakal mempercayai itu.Aku hanya mengangguk sekali. djAnGgo 55 . kau tahu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang.

berasda di mobil patroli. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. Bodoh. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Setelah bisa berjalan. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. aku mengangkat tangan. Ia memohon supaya aku mau pulang.” bisiknya. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. dan Eric ada disana. Ia berhenti. menatapku. “Apa kata dokter?” “Dr. “Aku tak suka berbohong. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. Rasanya sangat lega.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. berusaha untuk tetap fokus. djAnGgo 56 . Aku terkejut.” Aku menunggu. “Ayo. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh. Charlie akhirnya bicara. Aku masih kesal. hati-hati mengendalikan amarahku. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. Aku sangat marah. itulah pertama kali aku merasakannya.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. Wajahnya tampak kaget. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. “Aku tak tahu. “Mm. tak ingin bebasa-basi. Jessica.. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. mulai bergabung dengan kami.. yang masih tak bisa kupercaya. “Kau takkan menyerah. Lalu ia berbalik dan menjauh.” Aku menghela napas. kuharap kau menikmati kekecewaanmu. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan.” Kami saling menatap marah dalam hening. tidak benar-benar menyentuhku..” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana. kau harus menelepon Renée.” desakku. Mike. Tentu saja ibuku histeris. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. Ketika kami tiba di rumah.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. “Aku tidak apa-apa.. Cullen memeriksaku. marah dan berharap. kan?” “Tidak.” “Kalau begitu. Charlie bergegas ke sisiku.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih.” pintaku. Akulah yang pertama bicara.” Ia menunduk bersalah. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku.

Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . Charlie terus-menerus mengawasiku. bodoh. dan begitu rasa sakitnya mereda. aku tertidur pulas. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya.bodoh. Obat ini lumayan membantu. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu.

Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. di luar ruang UGD.” sapaku ramah. Aku sangat ingin bicara dengannya. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. aku menyadari alasan yang masuk akal. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. berharap ia akan berpaling ke arahku. “Halo. tak peduli seberapa keras aku memanggil. Hanya kadang-kadang. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. kami berdua begitu marah. Betapa menyedihkan. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. Eric. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. Aku berusaha terdengar meyakinkan. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. meninggalkanku dalam kegelapan. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. memandang ke arahku lagi. entah dengan cara apa. Aku duduk. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. menegangkan. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. tapi ia tetap berkeras. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Jessica. Merasa kecewa. dengan tidak mungkinnya. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. mencoba terlihat sopan. Tak satupun dari mereka. dan sejauh mungkin. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. terutama karena aku baik-baik saja. djAnGgo 58 . Mike. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. tidak makan. aku tak bisa mengejarnya. hanya mengobrol sendiri. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. terutama Edward. entah bagaimana caranya. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. sebelum ia tiba-tiba. Karena ketakutan. menyelamatkan hidupku.4. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. dan pada awalnya memalukan. Yang membuatku cemas. Edward. tanpa melirik kanan-kiri. ia tak pernah berbalik. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. Terkahir kali aku bertemu dengannya.

meskipun ia ada disana. tak sanggup menahan diriku. Kadangkadang aku memerhatikannya. mengangguk sekali. Dan itulah kontak terakhirku dengannya. di kafetaria atau di djAnGgo 59 . setiap hari. meskipun hanya dari jauh.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. lalu berpaling lagi. sejengkal dariku.

tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. well. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. Aku benarbenar merana.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan. mengabaikan Edward.. mengkhawatirkan aku. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. Jess. Seperti biasa..parkiran. aku tak akan pergi. Dan mimpi-mimpiku berlanjut. “Kau yakin tidak keberatan. berbincang sangat akrab dengan Eric.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku...” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati.” “Well. Ia semakin percaya diri. seperti ia mengabaikan kami semua. seperti ia juga tak memedulikanku. “Jadi. Aku berusaha meyakinkannya.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. tidak seperti biasa. Aku merasa iba.” kata Mike menatap lantai. dan aku takut menanyakan alasannya. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. “Bakal asyik banget lho. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi.” aku meyakinkannya. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas.. kalau kau berencana mengajakku. djAnGgo 60 . jelas tidak menyukai reaksiku. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku.” aku mendukungnya. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. “Tidak.. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. Kalau Mike menolak ajakannya. Meskipun aku berlagak tak peduli.” “Bagus dong. wajahnya yang suram pertanda buruk. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. Ia menelepon beberapa kali. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. Mike juga diam. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. “Bersenang-senanglah dengan Mike. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku.” Aku berhenti sesaat. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya.

Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.” aku menyakinkannya. kurasa kau harus bilang ya padanya. Lagipula aku memang perlu ke luar kota.” tuturku. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 .“Mike. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya. jadi aku langsung menyusun rencana baru.” “Kenapa tidak?” desak Mike. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.” kataku.

“Lalu apa yang kau inginkan.” Mataku menyipit. dan berhubung ini tidak mungkin. sungguh. Perlahan aku berbalik.” “Yeah. lalu berbalik. Banner. Edward?” aku bertanya. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Banner mulai bicara. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. Ia tidak mengatakan apa-apa. berharap ia langsung pergi seperti biasa. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. Pengecut seperti biasa. itu tidak baik. Wajahnya sangat serius. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. kau benar. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. “Aku minta maaf. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. berharap ia akan langsung membuang muka. tidak bisa.” gumamnya. Ketika bel akhirnya berbunyi.“Maaf. terkejut. dengan muram berjalan ke mejanya. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. Aku menghela napas dan membuka mata.” kataku. Menyedihkan.” Aku membuka mata. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. Mr. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. “Percayalah. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini.” Ia terdengar tulus. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. “Aku tidak tahu apa maksudmu. enggan. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. Tanganku mulai gemetaran. jelas membuatnya kaget. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. Banner. berusaha menenangkan diri. mataku tetap terpejam.” desisku tertahan.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku. “Siklus Krebs. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama.” kataku. Lebih dari menyedihkan.” djAnGgo 62 . sadar aku mengertakkan gigi. “Mr. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. Aku balas menatap. hati-hati. ini tidak sehat. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku.” jawab Edward. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. Tapi lebih baik seperti itu. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Ia menunggu. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. Dan Edward sedang menatapku penasaran. Cullen?” panggil Mr. ekspresinya tidak bisa kutebak.” ia menjelaskan. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr.

tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. sempat berpikir untuk pergi saja.Ia terpana. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Ketika akhirnya bicara. ia nyaris terdengar marah. “Kau tidak tahu apa-apa. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis.” Ia jelas sangat marah. Aku terdiam beberapa saat. Ia memandangku keheranan.” tukasku. Kukumpulkan semua buku-bukuku. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu.

banyak orang yang ingin kuhindari.” sapaku. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan. Tepat di belakangku. lalu menggigit bibir.. ternyata Tyler. Ia berhenti disana. Aku melirik spionku. “Hei. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. Ketika duduk disana. Aku mendengar suara tawa samar-samar. ia sudah menyusun semuanya kembali. dan itu bagus. pintunya terbuka. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. mungkin lain kali. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku.membungkuk untuk memungutinya.” “Tentu.” Aku kesal. aku hanya bertanya-tanya. Keras sekali. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 .” kataku dingin.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. “Hai. Mobilnya masih menyala. Edward sudah berada di mobilnya. Eric. Keadaan di gymnsium kacau. hanya selang 2 kendaraan. melompat masuk. menunggu keluarganya. rasanya lega ketika sekolah usai. meluncur mulus dihadapanku. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. “Ehh. Aku nyaris berlari ke truk. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Aku harus mengganti lampu belakangnya. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku.” aku menyetujuinya. bingung. Aku memandang. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. “Oh. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. “Well. memotong jalanku. tapi masih di sekitar kafetaria.” “Oh. “Sama-sama. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. lalu menyerah. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Seperti biasa. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. jelas kemacetan ini bukan salahku. ya. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. terlalu bingung untuk berdiplomasi. tapi ada kelewat banyak saksi. Matanya menyipit. “Maaf. aku tahu. Aku langsung bangkit berdiri. Bella. berpaling darinya. “Terima kasih untuk ajakannya. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. wajahnya tegang.” katanya. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. Aku mulai melangkah lagi. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Ia ada disana. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. Cullen menghalangiku. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. Aku membuka pintu. tapi aku sering sekali terjatuh. Aku berhasil membukanya separuh. menatap lurus ke depan.” ia mengakuinya malu-malu.” balasnya geram. “Kupikir ceweklah yang mengajak. dan membantingnya keraskeras. Kami belajar basket. “Well. “Terima kasih. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. Tyler.. bibirnya terkaput.” kataku.

“Aku akan pergi ke luar kota.” Ia nyengir.” akunya. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus. “Lalu kenapa. Tyler. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.disini. “Yeah. “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. Ini tidak mungkin terjadi. Mike sudah bilang. ” Ia mengangkat bahu.” Suaraku agak ketus.” djAnGgo 65 .

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

tapi konyolnya suaraku bergetar.. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. menyerah berusaha bersikap baik..“Well.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. aku tak mengerti satu pun ucapanmu.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.” Rahangnya menegang.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. Ia tersenyum menyesal.” aku mengingatkannya. Ia tertawa. Waktu pun berlalu. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya..” “Jangan khawatir. karena kau tidak mendengarkan. Selama sebulan terakhir ini. “Jadi.” katanya sambil mengedip jail. Ia tertawa. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. selama aku adalah. tak yakin apa yang harus kulakukan. “Kedengarannya mauk akal. tapi ia tetap berusaha tersenyum.” akuku. “Kau sering bilang begitu.” “Jadi. “Ya. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian..” Ia tersenyum lagi.” sahutnya menerawang. “Apa teorimu?” Wajahku merona..” Mataku menyipit.. “Atau tidak.” “Tidak.” gumamku. “ Well. “Aku mengandalkan itu. “Aku tahu.. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. tapi matanya yang kekuningan tampak serius.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. dan menjada suaraku tetap tenang. Aku masih menunggu kau mempercayainya. lalu sisanya terurai begitu saja.” Senyum menawan itu muncul lagi. Ia nyengir. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak. Aku menelan ludah.. Jadi aku menyerah. kurasa kita bisa mencobanya. “Menyerah?” ulangku bingung.” sindirku. itu salah satu masalahnya. aku capek berusaha menjauh darimu. ragu-ragu. “Sebenarnya aku terkejut. dan suaranya terdengar serius.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun. terus terang. bingung. “Ya.” “Mereka akan baik-baik saja. “Tidak terlalu. “Tahu nggak. orang yang tidak pintar.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran. Tapi kuperingatkan kau.” akhirnya aku mengaku. “Kau tampak khawatir. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.” ia berhenti.” Ia masih tersenyum. Kalau pintar. Aku memandang matanya yang keemasan. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu. aku bukan teman yang baik untukmu.” kataku. apakah sekarang kita berteman?” “Teman. kau akan menghindariku.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. lalu mengubah topik.

djAnGgo 75 . Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.Wayne dan Peter Parker.

” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang.” “Itu sangat memusingkan. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak. “Aku hanya bertanya-tanya. demi kebaikanku sendiri.” kataku dingin. “Kedengarannya adil. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. “Lagipula. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. waswas namun penasaran. tanpa tersenyum. “Terima kasih. aku yakin kau salah. Ia memandang lewat bahuku.” lanjutku. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. Ia menunggu. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. Itu. “Satu. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. juga.” Aku tak mengerti raut wajahnya.” aku meyakinkannya. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku. “Terlalu memalukan. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya.” Aku harus berpaling dari tatapannya. “Tidak. Aku menggeleng. dengan ketegangan.” djAnGgo 76 .” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. tentu saja..” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. “Tidak. kecuali kau. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu.” “Ya. tatapannya muram.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya.” “Kau marah. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.. aku tidak lapar. Jadi aku bisa siap-siap. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan.” “Ceritakan padaku satu teori. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa. lalu tanpa diduga mencemooh.” aku langsung membantah. “Atau lebih baik.” Kami bertatapan. kebanyakan orang mudah ditebak. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari. mataku menyipit..” keluhnya. bahkan setelah berjanji akan melakukannya. nah. “Aku tak tahu apa maksudmu. “Tidak. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu. pikirannya teralih. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri.” Ia mencemooh lagi.” “Tidak susah kok.. kau tahu.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. Aku pernah bilang. kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku.” “Kecuali aku. Aku meneguknya sekali. akan sangat memusingkan. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. “Tergantung apa yang kau inginkan.” “Tidak.

” ia mengingatkan aku. kau hanya bilang satu jawaban.” aku balas mengingatkan.” djAnGgo 77 .Uuppss. aku takkan tertawa.” “Kau tidak memberi syarat. “Kau sendiri selalu ingkar janji. “Hanya satu teori. “Jangan yang itu.

bingung. “Well. Ia menunduk. aku masuk.” Aku yakin mengenai yang satu ini. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. tapi matanya masih waswas. “Kuharap kau tidak mencobanya. “Oh.” kataku. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. itu jelas. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada.” tukasku kesal. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. pikiranku kosong.” godanya. terpesona. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. cuma itu yang kupunya. sambil menggeleng. matanya yang kekuningan tampak membara.. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.” kataku mengingatkan.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang.” “Sial. “Kau kan tidak boleh tertawa..” Ia tersenyum padaku. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. lebih dari segalanya.” katanya. “Kita bakal terlambat. lalu mengambil tutup botol. dan. Sialan. “Tidak. sambil menatap untuk terakhir kali.” ejeknya.. djAnGgo 78 .” keluhku. well. apa?” tanyaku bingung. “Kalau begitu. Ia hanya memancangku. Ia menunduk. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini.” Ia berubah serius lagi. “Tapi tidak jahat.” sahutnya sambil tertawa. sampai ketemu lagi. tidak nyaman. “Ceritakan satu teori. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak.” bisikku. “Ehh. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. Aku tidak mengerti. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. “Nanti juga aku tahu. “Kau berbahaya?” aku menebak. dan memutarmutarnya di antara jemarinya.“Pasti kau bakal tertawa.” Suaranya nyaris tak terdengar. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. “Aku mengerti. Aku menatapnya. Ia memang berbahaya. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. mencondongkan tubuhnya ke arahku. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. “Karena.” Aku ragu-ragu. “Maaf.” kataku.” “Kau salah. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. tatapannya sarat emosi. aku tidak percaya kau jahat. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar. Aku melompat kaget. “Please?” ia menghela napas. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. Tapi aku hanya merasa khawatir. sedikit saja. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak. “Aku juga terkena batu kryptonite. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya.. Aku mengerjap.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku.

mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi.Ketika aku setengah berlari menuju kelas. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. Setidaknya hujan telah reda. djAnGgo 79 .

dan sedikit kagum. Banner. tapi perutku langsung mulas. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. “Taruh setetes darah. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 . sadar Mike dan Angela menatapku. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. aku punya formulir izinnya di mejaku. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. Oh. Mike tampak kesal. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang..” ia selesai dengan peragaannya. Banner masuk.” Ia mulai dari meja Mike lagi. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. Aku menelan liurku karena tegang. kau baik-baik saja?” tanya Mr. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril.” gumamku. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. Banner. Aku bergegas duduk di kursiku. “Kemudian oleskan ke kartu. Sir. ia melanjutkan. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. guys. pada masing-masing kotak. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. tidak.Aku beruntung.” kata Mr. Aku memejamkan mata. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. mengagetkanku. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. Lalu Mr.” Ia terdengar bangga. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. perutku rasanya mau meledak. “Yang kedua aplikator segi empat. dan mengabsen kamu satu per satu. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. Aku takut mengangkat kepala. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. sedikit saja.” kataku lemah. “Aku sudah tahu golongan darahku. Mr.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator.” Ia memeragakannya. Angela kelihatan terkejut. “Oke. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Mr. lalu memperlihatkannya kepada kami. lalu mengenakannya. suara anak-anak mengeluh. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. “Bella. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang.. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya. Suaranya terdengar sangat dekat.

menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. tidak terlihat dari gedung empat.” aku memohon padanya. memejamkan mata.” kata Mike khawatir. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Sepertinya ini agak membantu. Banner. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. Keluarakan saja aku dari sini. kalau-kalau Mr. Bella. Aku masih sangat pusing. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. Banner. “Dan apapun yang kau lakukan. kau pucat. jaga tanganmu. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. aku berhenti. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. “Wow.” bisikku. djAnGgo 81 . Banner memperhatikan. “Biarkan aku duduk dulu sebentar.tidak membolos. pikirku. aku akan merangkak. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Kalau perlu. “Ya. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya.” kataku mengingatkan. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak.

Mike tampak sangat khawatir. “Turunkan aku!” Kumohon. kumohon. berharap diriku mati. “Ya ampun.” “Aku tahu.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan. menikmati perkataannya.“Apa yang terjadi. djAnGgo 82 . “Aku yang seharusnya melakukannya.” protes Mike. Sepertinya ini menghiburnya. Kubuka mataku. petugas TU yang berambut merah. Ia membopongku dengan lembut. “Hei!” seru Mike. “Pergilah. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik.” “Bella. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel.” Edward menjelaskan. Matanya memancarkan kegembiraan.” “Aku akan mengantarnya. “Kurasa dia pingsan.” aku mendengar suara perempuan terkesiap. tapi tiba-tiba suasananya hangat. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. “Dia hanya sedikit lemah. Aku berada di kantor TU. tidak muntah. “Bahkan dengan darahmu sendiri. “Kau tampak kacau.” Ia tertawa. “Kau bisa kembali ke kelas. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. Atau setidaknya.” Mike menjelaskan dengan nada defensif. Aku tidak menyahut. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. Kubuka mataku karena terkejut. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. “Aku sedang membawanya ke UKS. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Aku terus memejamkan mata. berdiri rapat di dinding.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. Aku tidak sedang berkhayal. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.” Edward melontarkan ejekan pelan. Edward telah menggendongku.” desahku.” kata Edward. nyengir. Mualnya sudah hilang. Edward mengabaikannya. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. “Pasti ada saja yang pingsan. dan ia terdengar muram. yang tertinggal jauh di belakang kami. ya. bukannya 55. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. “Berbaring saja sebentar.” katanya padaku. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo.” “Tidak. lega. nanti juga sembuh. Sayang. “Turunkan aku.” lanjutnya. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku.” erangku.” Edward sudah disebelahku sekarang. dia bahkan tidak menusuk jarinya. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu.” keluhku. “Dia pingsan di kelas Biologi. Lalu ia pindah. Miss Cope.

sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir.” perawat berkata kepadaku.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya.” aku mengakuinya. lalu bergegas meninggalkan ruangan.” erangku. ya?” djAnGgo 83 . “Kau benar.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang. ia tidak membantah. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. membiarkan mataku terpejam.” ia memberitahu Edward. “Biasanya memang begitu. “Aku disuruh menemaninya. tapi kali ini dalam hal apa. “Aku akan mengambil kompres untukmu. Sayang. “Kadang-kadang.

temanku dari kelas Biologi.” “Ha ha.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. mengerutkan hidung. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. keheranan. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. Telingaku berdenging sedikit. ayo keluar.” tambahnya. “Sudah tidak ada darah lagi.” bantahnya. Perawat datang membawa kompres dingin. Aku mendengar suara pintu terbuka. aku bisa.” Ia meletakkannya di dahiku. lalu membuka mata.” aku mengingatkannya.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi.” “Dia sangat membenciku. barangkali ada untungnya perutkku kosong. menatapku dan Edward bergantian. Kuserahkan kompresnya pada perawat. tapi mengejutkanku. “Apa kau akan djAnGgo 84 .” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. “Kurasa aku baik-baik saja. Sayang. Bella. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. “Jangan ikut campur.” Aku nyaris pulih sekarang.” tuduhnya.” bantahku. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.” Ia terperangah. aku tidak memerlukannya. tapi kemudian pintunya terbuka. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. bergegas keluar dari ruang perawatan.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.” kataku.” gumam Edward. yang tampak pucat. mendengarkan CD. “Aku sedang di mobil.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. “Tadi kau sempat membuatku takut. “Well.” Aku mencoba bernapas teratur. tapi aku merasa semakin pulih. ia memapah Lee Stephens. itulah yang membuatku sakit. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu. “Ini. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi. “Manusia tidak bisa mencium darah..” kataku sambil bangkit duduk.” akunya setelah beberapa saat.” gumamnya.. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu.” Aku menatapnya.” “Kasihan Mike. “Ini dia. dan garam.” Jawaban yang masuk akal. “Sejujurnya. “Aku mencium bau darah. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. Tapi kalau dipikir-pikir.” Mataku masih terpejam. “Aku lihat wajahnya. “Oh tidak. seperti aku. Aku berani bertaruh dia pasti marah. aku tahu. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. “Apa?” tanyaku.” katanya. Mike ganti menatapku. “Keluar dari sini. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu. “Bukan apa-apa.” kata Edward senang. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya.” Edward menatapku dalam-dalam. “Kau kelihatan lebih baik. matanya kelam. “Kita punya korban lagi. “Kau kelihatan lebih baik. “Percayalah. “Kau benar-benar menuruti perkatanku. Baunya seperti karat. tapi aku tak lagi pusing.

Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan.” djAnGgo 85 .kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. tak bergerak bagai patung.. kan sudah kubilang aku akan ikut. tatapannya kosong.” “Yeah. kurasa begitu. “Tentu saja. Aku berusaha terdengar seramah mungkin..

menyipitkan mata menembus hujan. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. di gymnasium.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. “Apa kau bisa berjalan. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. “Aku akan datang. Ia membukakan pintu untukku. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang.” Ia menatap lurus ke depan. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. Aku mengangguk lemah.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam. sampai ketemu di gymnasium. “Daahh. Ia menatapku sekali lagi. “Jadi. berjalan gontai ke pintu. Bella?” serunya. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. Rasanya menyenangkan. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. bahunya merosot. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. ke First Beach. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. Kita tidak djAnGgo 86 .” balasku. “Aku jalan saja. mencoba tampak selemah mungkin. tanpa ekspresi. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. Goff takkan keberatan.” Kuamati wajahnya.” kata Mike.” gumamnya. “Asyik juga bisa membolos Olahraga. “Gymnasium. meskipun mustahil. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan. “Aku bisa mengaturnya.” aku berjanji. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. ekspresinya kembali mengejek. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. “Apa kau juga perlu izin. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. ia bukan tipe seperti itu. “Kalau begitu. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. “Terima kasih.” kataku ketika ia mengikutiku keluar.” “Sama-sama. dan aku baik-baik saja. senyumnya ramah tapi matanya mengejek.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi.” “Sudahlah. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. wajahku memang selalu pucat. mata terpejam. kalau begitu semuanya beres. mencoba membacanya. Ia menunduk dan melirikku. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. kau pergi nggak? Maksudku. tersenyum ironis. “Aku baru saja mengundangmu.” erangku. Kau merasa lebih baik.” Aku berdiri hati-hati. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. tapi suaranya terdengar jelas sekarang.” Aku menghela napas. “La Push. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Ini sama sekali bukan tantangan. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward.” “Oke. Mrs.

terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’.” gumamku. marah. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. “Mike-schmike. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. Aku berbelok ke kiri menuju trukku.ingin di marah. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. Aku sangat menyukainya dari seharusnya. kan?” Sorot matanya menari-nari. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. djAnGgo 87 . Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan.

Bella. Kalaupun aku jatuh. “Pulang. Usahaku tidak begitu berhasil. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. dan juru masak yang sangat payah. “Ini benar-benar tidak perlu. marah. mengamatinya dengan tatapan penasaran.” aku mengakui. Membicarakan ibuku membuatku sedih. Ia tak menyahut.” “Ini juga salah satu favoritku.Aku bingung. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. “Sudah terbuka. “Claire de Lune?” tanyaku. meski stabil dan tenang. Dia teman baikku. termenung. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. Harus kuakui. “Aku tinggal menyeretmu lagi.” kataku. Hujan turun semakin deras. tapi lebih cantik. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. Ibuku punya sifat lebih terbuka. Ia mengabaikanku.” Aku berhenti berbicara. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . “Tidak terlalu. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. Alisnya terangkat. aku terhuyung ke pintu penumpang. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.” ancamnya. heran.” Aku tak menjawab. wajahku sudah cemberut sepenuhnya.” cuma itu reaksinya. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. “Berapa umurmu. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu.” Ia memandang menembus hujan. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Ia menekan tombol kontol. Lalu akhirnya ia melepaskanku. aku hanya tahu yang kusuka. “Masuk. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. dan lebih berani. tidak mungkin. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. bih tepatnya menarik jaketku.” kataku. Aku memandangnya. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. terkejut. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. Aku mendengarkan musiknya. “Lepaskan!” desakku. jadi air menetes-netes ke punggungku. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. “Dia sangat mirip denganku. “Kau kasar sekali!” gerutuku. barangkali ia akan tetap menyeretku. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. menyalakan pemanas dan menyetel musik. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki.

” Nada suaranya mencela.” jawabku. membuatku tertawa. “Tujuh belas. “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. “Kenapa?” tanyanya. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. penasaran lagi. djAnGgo 89 . Ia menghentikan mobil. sedikit bingung.bisa kubayangkan.

sangat muda bagi umurnya.” “Kau baik sekali. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku.” Itu bukan pertanyaan.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun.” Ia langsung berhati-hati. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan. “Hmm.” Ia tersenyum.. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya. “Maafkan aku.” “Aku tahu. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya.” Beberapa saat aku jadi ragu. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku. matanya mencari-cari jawaban di mataku.” ujarnya kagum. “Ya. Ia kembali tersenyum. “ Well. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. “Ku-kurasa.” ujarku terbata-bata. Jadi agak berbeda. “Aku ingin dia bahagia. dialah sang orangtua. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. aku jadi berpikir. kalau mau.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain.” kataku. lalu menghela napas. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu. “Tidak.. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi.” Aku berhenti sebentar.” “Kau sangat beruntung. Bagaimanapun juga. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka. dia tergila-gila pada Phil. “Jadi. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku.” Tapi aku menjawab terlalu cepat.. kebenaran atau kebohongan... “Jadi. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward.” Aku tertawa. aku baru menyebutnya sekali. dan Phil laki-laki yang diinginkannya. “Ibuku. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan..” “Dan kau menyayangi mereka.. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius. “Apa?” “Menurutmu.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tak begitu ingat mereka.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. harus ada yang menjadi orang dewasanya.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 . “Apakah itu penting?” tantangku. kupikir kau bisa. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. “Ya.” Suaranya datar.” gumamku. itu pun hampir 2 bulan yang lalu.. “Tapi bagaimanapun.

“Saudara-saudaraku. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi.” Ia tersenyum padaku. Tak ada rahasia di Forks. juga Jasper dan Rosalie.” Aku tak ingin keluar dari mobil.” Aku mendesah. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku.Ia melirik jam di dasbor. “Aku yakin dia sudah mendengarnya. kurasa kau harus pergi. maaf. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang.” “Oh. djAnGgo 91 .

“Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. cuacanya bagus untuk berjemur. ada kekhawatiran dalam tawanya. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. di selatan Rainier. Aku memandangnya. matanya yang keemasan menyala-nyala. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. “Oh. “Akan kuusahakan. oke?” Ia tersenyum sangat lebar. “Selamat bersenang-senang di pantai. Jadi.” Aku berusaha terdengar antusias..Ia tertawa.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. djAnGgo 92 . Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku. Aku mengangguk putus asa.” Ia memandangi hujan yang masih turun.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. “Jangan tersinggung. selamat bersenang-senang.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. well . Keputusasaan memudar ketika ia berbicara... Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya..

djAnGgo 93 .

Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. Kupikir.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. Mike sudah ceria lagi. “Dia temanku..” “Kau sepertinya agak marah. Tapi hari ini udara lebih hangat. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat. Aku tidak mengerti kenapa. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. “Oh ya?” sahutku. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. “Jadi. ia mencibir ketika menyebut namaku.6. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. Di mejaku yang biasa. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku.” jawabku jujur. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. aku menunggu-nunggu suara trukku. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya.tak tahu kenapa Bella”. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. atau begitulah menurutku. Meski begitu. semua sibuk membicarakan rencana besok.” Mike berbisik padanya. dia duduk bersama kita. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. meskipun di tengah guyuran hujan.” pancing Jessica. “Kau tahu. dan ia tidak menyadarinya. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat. truk itu tiba-tiba sudah disana. Jessica tampak jengkel. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. “Aku tidak tahu. “. “Dia tak pernah mengatakannya. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. menunjukkan kesetiaannya padaku.” “Memang aneh. wajahku tetap datar. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. Terutama Jessica. Hari ini hanya Rosalie. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. Itu aneh. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. tapi juga sedikit posesif. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang.” ujarku setuju. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Aku tepat di belakangnya.. Alice. lagi. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. aku toh masih berharap. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. hampir 15°C. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan.

Malam itu. dan orangtua mereka. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. “Dad.” tanyaku santai. saat makan malam. Bukannya aku bakal memberitahunya. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. sehingga sulit untuk mengubahnya. Kelihatannya ia tak keberatan.Jessica dan Angela melewatiku. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. dan barangkali kakek buyut mereka juga. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. djAnGgo 95 .

“Yeah.” aku mengingatkan. Mike tampak puas. Lee mengajak dua orang lagi. kecuali kau mengundang seseorang. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. “Terlalu banyak beruang. tapi belum pernah singgah disana.” ujarku berbohong. “Mungkin aku salah mengingat namanya. sehingga semua mobil penuh.” Ia terdengar terkejut. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . berharap tidak ketahuan. kenapa?” Aku mengangkat bahu. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. “Kau datang!” serunya. diikuti Angela dan Lauren. Tapi tetap saja mempesona. Awan-awan menggantung di langit. Aku senang bisa duduk dekat jendela. Mike tampak kecewa. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. langit biru itu akan lenyap lagi. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku.” Ia tersenyum bahagia. Aku mengulum senyum.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping.” Aku bermaksud pergi tidur. terlalu rendah. “Sudah kubilang hari bakal cerah.. Aku berdiri di jendela selama mungkin. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. Jess ada disana. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. duduk di kursi depan Suburban Mike.” “Oke. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. Airnya kelabu gelap. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil..” “Oh. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. Meski begitu. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku.” Mike menambahkan. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali. Aku sudah pernah melihatnya. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk.” gumamku. Setidaknya Mike senang melihatku. dan bisa dipastikan. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. gembira. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Betapa mudahnya membuat Mike senang. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. dan Sungai Quillayute yang lebar. tapi jelas itu matahari. “Kau boleh membawa senjata. membisikkan sesuatu pada Lauren. “Tidak. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. Aku tak percaya. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. Eric ada disana. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek.” ujarnya. matahari bersinar. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. Bukan di tempat semestinya. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. khawatir kalau kutinggalkan. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota.

jauh dari jangkauan ombak. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. keemasan yang kusam. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. biru.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. abu-abu. naik ke puncak yang tak beraturan. lavender . djAnGgo 97 . beberapa berimpitan di bibir hutan. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. beberapa sendirian. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. yang dari kejauhan tampak abu-abu. hijau laut. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya.

menyalakan ranting terpendek dengan korek api. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. Untung Jess ada di sisinya yang lain. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. Ini benar-benar dilema. melompat-lompat di atas bebatuan. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya.” kataku kagum. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Ia tidak ingin mendaki. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Pendakiannya tidak terlalu panjang. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Ada api unggun disana. cewek-cewek lain berkumpul. “Itu karena garam. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. bertengger di ujung tebing berbahaya. Setengah jam setelah mengobrol. “Warnanya biru. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. sejuk dan asin.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. dan rantingranting di atas kepalaku. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. bergosip ceria di sebelahku. Kami berjalan menuju pantai. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. agar tidak jatuh ke lautan. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. lalu duduk di sebelahku. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Aku sudah menyukainya sejak kecil.Angin kencang bertiup bersama ombak. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . “Kalau begitu kau akan menyukai ini. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. penuh abu hitam. Aku harus berhati-hati melangkah. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. perhatikan warna-warnanya. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Ombaknya rendah. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Awan-awan masih mengelilingi langit. “Belum. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Yang lain sepertinya tak kenal takut. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. Mike berlutut di depan api unggun. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. lalu duduk hati-hati disana.

menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. djAnGgo 99 . dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. Aku begitu terlena. jumlah orang disana sudah bertambah.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. Ketika makin dekat. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. Telapak tanganku beberapa kali tergores. tapi bisa saja lebih parah. Ketika kami kembali ke First Beach. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. hingga beberapa kali aku terjatuh. kulit mereka berwarna tembaga.

mungkin 15. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . Aku duduk di sebelah Angela. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. matanya gelap. aku duduk sendirian di seonggok kayu. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. agar mereka bisa pergi memancing. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. dan. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. dan melekat dalam pikiranku. ketika Eric memperkenalkan nama kami. aku yang bungsu. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. Sepertinya dia berumur 14.” sahutku lega.” “Oh. Mike. “Bella. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar.” keluhku. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. sering kali samar-samar. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. “Kau putra Billy. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. menggantikan Angela. “Aku Jacob Black.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. Jacob pindah duduk di sebelahku. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. yang lain ikut mendaki.” “Bukan. sambil menjabat tangannya yang ramping. dan membuat ombak berubah gelap. Selama makan siang awan mulai berkumpul. kadang-kadang menghalangi matahari. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. dan hal itu menggangguku. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil.” tiba-tiba aku teringat. beranjak ke toko di pedesaan. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. “Kau Isabella Swan. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. perlahan-lahan menutupi langit biru. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. halus dan kecoklatan. Angela dan aku tiba terakhir. berdua atau bertiga. Kulitnya menawan.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. “Kau membeli truk ayahku. Tentu saja ketika umurku 11 tahun.” “Rachel dan Rebecca. kau pasti ingat kakak-kakakku.

dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. Wow. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington.” djAnGgo 101 .” “Menikah.” Jacob menggeleng.terhenti. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai. kau menyukai truknya?” tanyanya. “Tidak. Truknya hebat. “Jadi. “Aku menyukainya. sekarang dia tinggal di Hawaii. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku.

” sergahku. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. tapi jalannya pelan sekali. “Bagus sekali. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. Kalau begitu jangan. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. “Kau kenal Bella. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya.” Ia nyengir. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus.” “Tidak sepelan itu kok. awan akhirnya menutupi langit. “Maaf.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku.” aku tertawa. sambil memperhatikan wajahku. bahwa mereka tidak diizinkan. membuat laut gelap dan suhu turun. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami.” panggilnya lagi. “Ya. djAnGgo 102 . Tyler. Jacob?” tanya Lauren. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. terkagum-kagum. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. dari seberang. “Maksudmu anak-anak dr. “Jadi. Ia tersenyum penuh pengertian. mengabaikan pertanyaan Lauren. “Jadi. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. dan matanya yang curiga menyipit. tersenyum padaku lagi. Hasilnya tentu saja tidak sama. “Aku baru saja bilang pada Tyler. dan setengah berbalik menghadapnya. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek.” Aku nyengir. menuju garis batas yang pebuh driftwood. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna. dengan nada yang kupikir kasar. bagiku itu sesuatu yang ironis. “Ya. terkejut.” ia tertawa. Aku menatap cowok bersuara berat itu. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. namun enak didengar. “Bella. “aku belum tahu. Suaranya serak. memandangku bersahabat. mereka dilarang datang.” ia tertawa. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. Ia sangat mudah diajak bicara. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. Perhatian Lauren pun teralihkan.“Yeah. kan?” candanya. Ia tersenyum menawan. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. aku yakin. sorot matanya masih coba kupahami. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya.” jawabku. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. tapi aku berjanji akan mencari tahu. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak.” Jacob menimpali sambil tertawa. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. “Bagus. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu. Jacob mengusik ketenanganku. dan suaranya sangat berat. Rencana bodoh.

Kumasukkan jaket. tanganku ke saku djAnGgo 103 .

senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. ada banyak legenda. dan beberapa yang lain belum terlalu tua. sepertin Nuh dan bahteranya. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. “Aku suka.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin.” ia memberitahuku. aku bisa pergi sesering yang kumau. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. “Tidak terlalu. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka.” “Oh. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. “Keluarga Cullen? Oh. “Upss. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku.” jelasnya. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. Ia memandang bebatuan. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. tentang asal-muasal kami. setelah aku dapat SIM.“Jadi. Aku berusaha mengabaikannya. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati.” jawabku jujur. Ia balas tersenyum menawan. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. berharap jawabannya ya. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat.” Ia tersenyum. konon katanya. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda.” ia mengaku malu-malu. “Ya. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos.” Ia memalingkan wajah. “Tapi setelah mobilku selesai.” lanjutnya. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. “Tidak juga. aku hanya penasaran.” “Untuk anak seusiaku. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. “Aku baru saja berumur 15. djAnGgo 104 . mereka tak seharusnya datang ke reservasi. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami.” kataku bersemangat. umurnya 19. memandang Pulau James. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin.” ia mengaku keheranan. “Well. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. aku takkan bilang siapa-siapa. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. Benarbenar konyol. tubuhku cukup tinggi.” Jacob memutar bola matanya. “Kupikir kau lebih tua. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. tak lagi berpura-pura. suara tak menyenangkan. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. “Itu Sam. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget.” Suaranya semakin rendah.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam.

” Aku menatapnya serius. bukan serigala sesungguhnya. djAnGgo 105 . serigala jadi-jadian. “Dia tetua suku.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. seperti leluhur kami. Kau tahu. seperti ayahku. Kau bisa menyebutnya werewolf.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia. well.

Aku tak tahu bagaimana rupaku. Konon.” ia tertawa gembira. Pada masa kakek buyutku. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. “secara tradisional. Cullen mulai bekerja disana. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan..” aku memujinya. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. “Tapi sungguh. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku.” Jacob berusaha menahan senyumnya. dan melanjutkan ceritanya lagi.” Jacob tiba-tiba berhenti. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . aku takkan bilang. “Kau pencerita yang baik. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. tapi sisanya sama saja.” “Jadi. seorang perempuan dan laki-laki baru. sambil masih menatap ombak. Bulu kudukku masih berdiri. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. yang berdarah dingin adalah musuh kami. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. Carlisle. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. “Peminum darah. Ia tersenyum senang. mereka sudah mengenal pemimpinnya. suaranya membuat bulu kuduk meremang. entah bagaimana caranya.” “Tentu. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain.” Aku mencoba mengerti.” lanjut Jacob.” Jacob tertawa.” Ia tersenyum.. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka.” kataku berjanji. lihat.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin. kan. “Kalau mereka tidak berbahaya. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. kan?” Aku mengulurkan lengan. “Cerita yang cukup sinting.” Ia mengedip. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. “Keren. lalu kenapa. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda.” jawabnya. kemudian bergidik. jadi aku tak berpaling menatapnya. “Sekarang jumlah mereka bertambah. jangan bilang apa-apa pada Charlie. “Tidak. namun sedikit waswas. “Kau merinding. “Mereka adalah kelompok yang sama. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr.” Aku belum dapat menahan emosiku.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang.“Jadi kau tahu. “Bangsa kalian menyebutnya vampir.

“Itu pacarmu?” tanya Jacob. “Disini kau rupanya. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. Bella.” Mike terdengar lega. djAnGgo 107 . tentu saja bukan.mendekat. senang karena rayuanku yang payah. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. “Tidak. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata.” bisikku. Jacob tersenyum. Aku mengedip padanya. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike.

kalau aku mendapat SIM-ku. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. memejamkan mata dan berusaha santai. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. “Kau harus mengunjungiku di Forks. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini. Kita harus nongkrong bareng sesekali.” “Senang bertemu lagi denganmu. Angela hanya memandang ke luar jendela. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy.. “Akan kutunggu. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. Mike sudah di dekat kami sekarang. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. “Oke..” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. Ketika kami sampai di Suburban. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob. Sepertinya memang akan hujan. “Sangat menarik. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. “Aku juga. memandangi badai yang semakin dahsyat.“Jadi. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai.” Mike berhenti. “Aku datang.” “Terima kasih.” Aku melompat berdiri. Ia sangat mudah diajak berteman.” ia memulai lagi. sepertinya sebentar lagi hujan. aku akan ikut. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler. djAnGgo 108 .” aku berjanji padanya. “Kita akan berkemaskemas.” ucapku tulus. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. mengingat aku telah memanfaatkannya. “Kau dari mana saja?” tanya Mike. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike.” jawabku. “Well. dan ia balas tersenyum.” kata Jacob. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. Jacob tersenyum.” Kami memandang langit yang mulai mendung.

djAnGgo 109 .

Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. Aku memasukkan CD itu. “Lewat sini. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. menarik-narik tanganku. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. “Jacob. menghampiri Edward. ada apa?” aku bertanya. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Aku melangkah sekali lagi. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. Aku mencoba mengikuti suara itu. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. “Kenapa?” tanyaku.” ujarnya. dan tidak ingin makan apa-apa. Begitu sampai di kamar. “Lari. Setelah 3 kali memutar CD itu. “Jacob!” jeritku. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. “Percayalah padaku. “Lari. Aku memejamkan mata. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. runcing. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. kini putus asa menginginkan matahari. Ia tersenyum.7. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan.Tapi aku tidak berpaling. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. aku mengunci pintu. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. sekujur tubuhnya gemetaran. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . Berhasil. Bella!” seru Mike dari belakang. tapi Jacob Black ada disana. menekan tombol Play. Bella. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. Karenanya. aku tertidur. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. akhirnya. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. suaranya mendengkur. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. “Tidak!” teriakku. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. mencoba memahami liriknya. matanya gelap dan berbahaya. hingga. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. tapi aku tak bisa melihatnya. CD-nya kuputar berulang-ulang. dan giginya tajam. bulu-bulu tengkuknya meremang. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Tapi ia sudah lenyap. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Aku maju selangkah. kulitnya bercahaya samar. taringnya siap menerkam leher Edward. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap.

untuk men. Aku benci menggunakan internet disini. dan perusahaan kosmetik gotik. Ia pergi memancing lagi. Aku harus menghadapinya sekarang. grup metal underground. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. kemudian jatuh di lantai kayu. lalu menyimpannya. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. Aku mengerang. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. Lalu aku menemukan situs yang tepat. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. langsung ke bagian yang berisik. Lampu kamar masih menyala. Percuma. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. aku pergi ke kamar. Aku memandang jam di lemari pakaian. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Modemku sudah ketinggalan jaman. bingung. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. lalu membereskan tempat tidur. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Kuambil CD player. membuka kancing jinsku. sesuatu yang tak pernah kulakukan. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. batinku. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. atau sudah pergi. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . mengunyah setiap suapan dengan sempurna.ku dulu. Sudah pukul 05. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Perlahan-lahan aku berpakaian. Kuintip dari jendela. mobil patrolinya sudah tidak ada.30. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Hanya dengan berbungkus handuk.tidur. senang menundanya selama mungkin. Vampir A-Z. Aku makan pelan-pelan. Ketika hasil pencariannya muncul. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. Kulepaskan headphone-nya. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. Lebih baik mandi dulu. Lalu aku menyetel CD yang sama. Aku tak bisa tidur lagi. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. lalu mengetik satu kata. tentu saja. Aku duduk. Vampir. ada banyak pilihan yang harus dibaca. dan menyimpannya di laci lemari. layanan servis gratisnya buruk. Kakiku kram ketika menaiki tangga. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja.

Pertama-tama aku memilih Danag. keterangan itu adalah mengenai vampir. ahli bedah. Pdr. tersusun secara alfabetik. tak ada figur yang begitu mengerikan. Menurut mitos itu. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. vampir Filipina yang menanam taro.. Dan dengan semua itu. Semuanya lengkap : laporan resmi. para imam. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. Akhirnya selesai. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. kelihatannya seperti situs pendidikan. di kepulauan itu dahulu kala. seperti sang vampir. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. yang bukan hantu ataupun setan.bermunculan di layar. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. sejenis tumbuhan berbuah kentang. hakim. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius.

aku merasa malu. dan satunya lagi Stegoni benefici. apalagi masuk akal. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. konon memihak kebaikan. Lalu masalah lainnya. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. tapi belum hujan. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. Aku membaca uraiannya dengan saksama. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. lalu turun. Kecepatan. Meski begitu. tak tahu akan ke mana. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. tanpa melalui tahapan semestinya. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. mencari keterangan tentang vampir. Merasa jengkel. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. dan musuh abadi semua vampir jahat. kulit pucat. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. kalau tidak. dan abadi. warna mata yang berganti-ganti. vampir tidak bisa keluar di siang hari. Nelapsi dari Slovakua. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. Aku duduk di kamar. kekuatan. dan hanya keluar di malam hari. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. Di balik kekesalanku. Semua ini benar-benar konyol. hanya ada satu kalimat pendek. matahari menjadikan mereka abu. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. di djAnGgo 113 . Mereka tidur di dalam peti seharian. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan.bertahun-tahun. Stregoci benefici : vampir Italia. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. dan hanya sedikit sekali. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. berkulit dingin. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. Aku harus keluar dari rumah. musuh werewolf. Aku paling payah kalau soal arah. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. Rasanya lega ada satu catatan kecil. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. Langit mendung. Mengenai yang terakhir ini. keindahan.

mapel. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. Ketika amarahku memudar.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut. Banyak yang tidak kuketahui. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. munurut dugaanku menuju ke timur. aku memperlambat langkah. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. menjulang tinggi di atasku. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . dan yew. Pohon yang baru tumbang itu. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi.

hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. siapapun pasti menganggapku bergurau. Amat sangat cepat. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. Lagipula. menghindarinya sebisa mungkin. keheningan serasa mencekam. diantara pepohonan. Pikiranku menolak rasa sakit itu. Aku tak bisa melakukan yang lain. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Ia lebih dari itu. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku. jahat.. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya.. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Edward Cullen bukanlah. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. tanpa melihatku. Terlebih lagi. Inilah jawabanku sekarang. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. kecuali aku. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. Di sini. menyandarkan kepala ke pohon satunya. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. Jadi. Burung-burung membisu. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Memintanya menjauhiku. Sepertinya ada dua pilihan. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. sergahku dalam hati. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. Membatalkan rencana kami. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. barangkali.lainnya. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. Kini setelah aku duduk. dan bergegas beralih ke pilihan lain. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya.. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. Pertama. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. Dan caranya kadang-kadang bicara. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Tapi lalu apa? Batinku. daripada di kamar tidurku. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 .. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya.. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. berbahaya. suara tetesan air semakin sering terdengar. mereka memang sesuatu.. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi.. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Seharusnya aku tahu. membuatku gelisah. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. ketampanan yang tidak manusiawi. manusia. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. mengabaikannya sebisaku.. seandainya ia.ku sendiri. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. dan kali benar-benar serius. kulit yang pucat dan dingin.

Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Satu hal yang aku yakin. djAnGgo 116 . Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. bukannya karena Edward sendiri. seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Aku mengkhawatirkan-nya. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. kalau memang yakin. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka.nyawa adalah tindakan spontan baginya.

produktif. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. Malam aku tidur tanpa mimpi. Aku sudah terlibat terlalu jauh. well. tapi aku tak bisa memikirkannya. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Kamis sore sejujurnya. padahal malamnya aku kurang tidur. Meskipun. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. Tapi jalan kecil itu masih disana. Aku bergegas mengikutinya. Tidak disini. pertanda hari bakal cerah.. suaranya. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. Sebelum kelewat panik. Tapi begitu keputusan diambil. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. Aku seharusnya takut. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. Charlie pulang membawa tangkapan besar. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. dan aku pun terbebas. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. Karena ketika aku memikirkan Edward. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. daya tarik kepribadiannya. pikirku. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. Kubuka jendela.. matanya yang menyihir. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. bagian yang paling membuatku menderita. Sekarang setelah tahu. Aku memang selalu seperti itu.. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. aku tinggal menjalaninya. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. Aku melompat ke jendela. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya.. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. Keduanya seharusnya berbeda. Mudah sekaligus berbahaya. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. berhubung aku tidak kemana-mana. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. seperti keputusanku datang ke Forks. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. aman dan jelas. rumahnya memberi isyarat padaku. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. aku tahu aku mestinya merasa takut. seandainya aku benar-benar tahu.

Ketika Charlie tersenyum.” aku menimpalinya sambil tersenyum. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. Tapi ketika ia tersenyum. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. dan menghirup udara yang kering. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka.” komentarnya. djAnGgo 118 .deritan. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. mulus. Ia balas tersenyum. “Ya. telah menipis. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. warnanya sama dengan rambutku. Rambut cokelat ikalnya. jika bukan teksturnya. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. “Hari yang bagus untuk berada di luar.

“Padahal aku ingin mengajakmu kencan. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. rambutmu ada semburat merahnya.” Ia tersenyum penuh harap. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. “Kenapa?” ia bertanya. kedengarannya seperti Mike. kan?” “Mmm. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C.” Wajahnya kecewa. tanganku memegang jas hujan. rambut spike-nya bersinar keemasan.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. “Seharian mengerjakan esai. matanya siaga. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah.” katanya. dikumpulkan Kamis.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. Mike.” sapaku sambil balas melambai. Dengan menuangkan banyak pelumas.” aku jengkel didesak seperti ini. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap.. senyum merekah di bibirnya. jadi aku duduk beralaskan jas hujan.. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 . Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. bukan?” “Hari yang kusuka.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin.” “Oh. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. “Baru sekarang kuperhatikan.. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan.. tak perlulah menyombongkan diri. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. Ia duduk di sebelahku. kita bisa pergi makan malam atau apa. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. “Mike. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked.” “Rabu?” sahutnya. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. “Hei. kurasa Rabu. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini.. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well. “Kupikir itu bukan ide bagus. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. “Gawat. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.. kecewa. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Mike menghampiriku.” Aku tersadar. “Hari yang indah. Semua anak menggunakan T-shirt .” sahutku. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. dahinya berkerut. “Hanya di bawah sinar matahari. “Oh iya. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab. senang bisa menggunakannya.. dan sedang melambai ke arahku.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. hingga mau tak mau aku senang juga. PR-ku sudah selesai. Ia sangat senang bertemu denganku.

. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. “Jessica?” “Sungguh. jelas bingung. Ia keheranan.Edward. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama.” ia menarik napas. kau ini buta ya?” “Oh..” ancamku. djAnGgo 120 . Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. “Kupikir. Mike.

Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya.. tidak sama sekali. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. Angela juga mengajakku ikut malam ini. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. dan memilih duduk di sebelah Angela. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. menungguku. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. Ia. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. bukannya terpeleset di lapangan. dan sekarang aku mengatakan ya. Aku tak bisa memutuskan. dan aku tak boleh terlambat lagi. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. kelas Spanyol menahan kami. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong.“Waktunya masuk kelas. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini.. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. kubilang akan minta izin Charlie dulu. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. berharap menemukannya duduk sendirian. dan raut wajahnya gelisah. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. djAnGgo 121 . Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. Ketika melintasi pintu kafetaria. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. melainkan juga semua keluarga Cullen. meskipun hatiku sedih. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. muram. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. Jadi kubilang akan memikirkannya. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. tapi Laurent juga bakal ikut. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Angela. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Bagian terbaiknya adalah. pelatih tidak selesai menjelaskan. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. lalu menetap di perut. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. ia kelihatannya sangat antusias. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek.

Jessica menelepon membatalkan rencana kami. djAnGgo 122 . Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Aku membumbui ikan untuk makan malam. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam.

Maaf. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. djAnGgo 123 . jadi kupilih Sense and Sensibility. Mom. lalu berguling hingga terlentang. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. Aku pergi ke pantai dengan teman. Aku langsung terbangun. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah.Kuperiksa e-mail-ku. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. leher. duduk. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. dan rasanya agak geli. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. di atas rumput tebal yang selalu agak basah. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. ujarku kasar pada diri sendiri. Aku membawa beberapa buku ke Forks. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . lengan bawah. Kutarik rambutku ke atas. Aku berbaring menelungkup. Bella. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Aku mengedarkan pandang. Angin masih sepoi-sepoi. Rupanya aku tertidur. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. aku juga terkejut. hidung. tulang pipi. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. Aku nggak ada di rumah. menembus kausku yang tipis. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. Dan aku harus membuat makalah. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. hampir mirip. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. mereasa jengkel. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. yang semakin lama semakin sisis. Di luar. membalik-balik halaman novel itu. bibir. membaca tumpukan surat dari ibuku. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Aku sayang kau. aku tahu.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. kembali ke trotoar. di sana ada rambu stop. Aku berpikir untuk menyetopnya. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. tapi ragu. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. memutuskan akan lari atau tidak. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Jalanannya berakhir di sudut berikut. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Langkahku tetap stabil. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Aku setengah berbalik dengan siaga. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Aku sampai di sudut. Aku memberanikan diri menoleh sekilas.

Menusukkan jari ke matanya. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. dan berjalan pelan ke jalan. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Lalu menghentikan langkah. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. “Kami hanya mengambil jalan pintas.” Langkahku sekarang pelan. “Yeah. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. kaki terbuka. “Jangan dekati aku. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. mobil ini akan berhenti. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. tak ada suara yang keluar. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. bersiap-siap berteriak. apalagi mereka berempat. Teriakanku cukup keras dan lantang. tapi mereka terlalu jauh. Aku dijebak. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. Aku pun tersadar. sementara aku berdiri membeku di trotoar. mobil-mobil. tendangan lutut ke daerah vitalnya. atau menabrakku. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Manis.” terdengar suara gusar memerintahku. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari.” suara keras menyahut dari belakangku. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Aku berlari ke tengah jalan. Tentu saja jurus standar. Aku membelok dengan helaan napas lega. “Jangan begitu. “Masuk. Aku melompat djAnGgo 133 . mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. Kepalan tangan siap kulayangkan. menggenggamnya. aku tidak sedang diikuti. lampu jalan. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. Dalam kegelapan yang menyelimuti. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju.” seru cowok itu. ia seolaholah memandang ke belakangku. memaksanya melompat ke trotoar. Aku memasang kuda-kuda. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. dan aku menghela napas lega. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela.

masuk. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. membanting pintu hingga tertutup.” perintahnya. “Pakai sabuk pengamanmu. Suasana di dalam mobil gelap. melaju terlalu cepat. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Ia membelok tajam ke kiri. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka. terus melesat cepat. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. djAnGgo 134 . melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. Aku langsung mematuhinya. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Tapi aku merasa sangat aman.

” Ia terdengar lebih tenang.. “Aku sudah dengar. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Bella. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. suaranya tegang namun terkendali. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah.” jawabku lembut. menatap langit-langit mobil. dia juga tidak bisa pergi ke prom. “Apa yang terjadi?” bisikku. terkejut mendengar betapa parau suaraku. “Mmm. berarti kedudukan kami seri..” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.” Aku menunggu.” cerocosku. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Edward menghela napas. “Maaf. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. Aku memandang berkeliling.” katanya kasar. tapi sudut bibirnya menegang. “Ya. “Setidaknya. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu.. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. “Ya?” suaraku masih parau. akhirnya membuka mata. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat.” gumamku. memandang ke luar jendela. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. Wajahnya kaku. “Tidak. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri. Ia menyandarkan kepala ke kursi. well.” Kata itu sepertinya tidak cukup. “Tolong alihkan perhatianku. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom.” ia menjelaskan. Aku melihat jam di dasbor. Aku tidak memerlukan musuh.” perintahnya. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. Kami sudah meninggalkan kota. memalingkan wajah. menunggu napasku kembali normal. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras.” Ia juga berbisik. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya..” lanjutnya. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku duduk diam. Kalau tidak punya kendaraan.” “Oh. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. kau pasti ingat. Kami duduk diam lagi.. tapi amarah tampak jelas di wajahnya.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. “Lebih baik?” “Tidak juga.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.” gumamku. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo.30. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. nada suaranya marah. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. matanya menyipit. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. menjelaskan rencanaku.. “Bella?” ujarnya. mobilnya masih ngebut. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. Diam-diam aku berusaha berdeham. Sudah lewat 18. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 . “Jessica dan Angela pasti khawatir. “Aku seharusnya menemui mereka.

Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. tapi ia melakukannya dengan mudah.” aku memulai.. “Bagaimana kau tahu dimana.. djAnGgo 136 .jalur boardwalk. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil. berjalan waswas menjauhi kami. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala.

tidak masalah. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. hibur aku. suaranya lembut dan menggoda.” Suara Edward pelan.” aku mengaku malu-malu. tapi Edward menggeleng. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. Ekspresinya tak bisa ditebak. “Pergilah. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya.” aku Angela. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Restorannya tidak ramai. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. tapi bernada memerintah. “Sejujurnya. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku.. Jess berbalik dan melambai. sebenarnya. “Aku tersesat. dan rambutnya dicat pirang. “Sampai besok.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. kurasa. wajahnya penasaran. Aku mengedip padanya. tentu saja. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Kami disambut seorang cewek.” Angela mendahului Jessica. Mereka ragu. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. entah disengaja atau tidak. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. Aku balas melambai. “Mmm. Ia menungguku di trotoar. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward.. Aku hendak duduk. Bella. tapi sorot matanya tetap tajam. Edward. Kulepaskan sabuk pengamanku. Ketika akan masuk ke mobil.” Aku mengangkat bahu. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Aku tak yakin.. aku tidak lapar. Ia berbicara mendahuluiku. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut.. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.. Mereka bergegas menghampiriku.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. Bella. “Oke. melambai ketika mereka menoleh.” katanya sedikit tersenyum. “Tidak apa-apa. “Kalau begitu. “Kurasa kau harus makan sesuatu.” Jessica menggigit bibir. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. kemudian bergegas keluar dari mobil. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. “Mmm.” dengus Jessica. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . kami sudah makan ketika menunggumu tadi. Dari ekspresi mereka yang terkejut. Jelas sekali ia tak ingin didebat. enggan mendekat. mengamati wajahnya. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. maaf.” “Eehh.” kataku sambil menunjuknya. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga.. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. lagi pula aku tidak lapar. “Mengajakmu makan malam. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya.” aku berkeras.

ia menggeleng. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang. “pelayan kalian akan segera datang. “Tidak adil.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. “Mmm”.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama.” aku mengkritiknya. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna. matanya mengerjap.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. membuat cewek itu sesaat terpana. semua kursinya kosong.” djAnGgo 138 . “Tentu.

Tentu saja. kedinginan. terkejut karena kusungguhan hatinya. Edward memandangku. “Hai. sorot matanya perasaran.” gumamku.. masih haus. “Aku tidak pesan. aku mau mushroom ravioli. “Well. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis.” kataku setelah bisa bernapas lagi. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu.” Pucuk dicinta ulam tiba. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku.” jawabku. ayolah. “Dua. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. “Minum. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku.” kata Edward. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. sebenarnya aku menunggumu syok. wajahnya penuh harap. “Mmm.” “Sama. Namaku Amber. Ia sedang memperhatikanku.” kata Edward.” Ia memiringkan kepala.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku.” aku mengakuinya. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward. “Kau tidak merasa pusing.” ia menyuruhku. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang.” Ia tampak bingung. Pelayan datang. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. Tapi Edward tidak memandangnya. “Terima kasih.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya. “Bella?” tanya Edward.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. sakit. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. “Oh. “Aku mau Coke. membuatku gemetaran.” aku berkata ragu. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. lalu minum lagi lebih banyak. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 . dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa... Kusesap sodanya dengan patuh. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. Pandangannya terpaku di wajahku. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kupikir itu tidak bakal terjadi.” Senyum lebar mengembang di wajahnya.

ketinggalan di mobil Jessica. tapi sejak awal. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. benar-benar memperhatikannya. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . Edward menanggalkan jaketnya.” aku tersadar. hanya Coke yang kuminum. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. bukan hanya malam ini.“Tidak. Namun sekarang aku melihatnya. “Punya.” aku menjelaskan. kembali gemetaran. “Oh.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku.

“Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. dan langsung berbalik menghadap Edward. Ia menatap ke dalam mataku.” lanjutku. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya.” aku berhenti. suaranya terdengar waswas. “Aku punya teori tentang itu. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. tadi kupikir matamu berubah kelam. Sweter itu amat pas di tubuhnya. “Aku merasa sangat aman denganmu. Ia memberikan jaketnya kepadaku. sepertinya lumayan enak.”Aku mengunyah sepotong kecil roti.” Ia tampak khawatir. aku tidak merasa syok.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. lalu menunduk. aku tidak mendapatkannya dari komik. Aromanya menyenangkan. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. mengalihkan kerlingan mataku. “Well. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. cokelat keemasan.” “Tidak masalah. lebih terang daripada yang pernah kulihat. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. “Teori lagi?” “Mm-hm. Ia menaruh makanan itu di depanku. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.. terkesima. berusaha terlihat cuek. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. “Dan?” sambarnya. terima kasih. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. dan aku melihat betapa matanya terang. mencoba mengenali aroma itu. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran. tapi kau boleh membawakan soda lagi. “Tidak.” gumamnya pada diri sendiri. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. “Terima kasih. namun tatapannya masih tegang. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. sambil menebak ekspresinya.” ujarku.” ujarku. Aku terkejut. Ia menggeleng. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. wajahnya cemberut. seperti pada umumnya orang normal.” katanya memperhatikan. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.warna krem muda.. Lengannya kelewat panjang.” djAnGgo 141 .” Matanya menyipit. sambil mengenakan jaketnya. “Sungguh.” protesku.. “Aku akan menceritakannya di mobil. alisnya yang berwarna pualam mengerut. Kalau.” aku mengakui. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu. Aku kembali gemetaran. tidak. wajahku memerah tentu saja. Aku menghirupnya.” kataku lagi. Rasanya sejuk. Tidak seperti aroma kolonye. Perkataanku membuatnya tidak nyaman. Ia menatapku. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. “Kau seharusnya syok. “Tentu. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang.. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan.

Aku menyesapnya. djAnGgo 142 . Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. suaranya masih tegang. “Well.” ia mendesakku. lalu pergi. ayo mulai.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke.

” Ia kembali menggeleng. Ia tertawa. dengan beberapa pengecualian. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. “Tak salah lagi.” sahutnya menyetujui. “Aku salah. dan djAnGgo 143 . membaca pikiran.” Aku senang ia berusaha meladeniku.. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. “Secara hipotetis?” tanyanya.. tapi aku berusaha terlihat kasual.” Aku memandangnya marah. kau bisa mempercayaiku. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Raut wajahnye berubah dingin. Sepertinya ia sedang bergidik. seseorang. “Betul juga.” ia mengulangi perkataannya.” “Sebut saja dia Joe.” “Baik kalau begitu. mengunyah sambil berpikir. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. Jamurnya enak. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. Atau begitulah menurutku. kalau. Ia tersenyum ironis. Kalau Joe memperhatikan.” Suaranya nyaris seperti bisikan. masalah itu selalu bisa menemukanmu. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. “secara hipotetis. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. kau tahu itu.. “Berikutnya. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. “Oke. mengatakan yang sejujurnya atau tidak. dengan satu pengecualian. kesal. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini.” ia meralatku. tapi ia langsung menariknya. matanya hangat. kau tahu. masih menunduk. “Berikutnya.” aku mengingatkannya dengan nada dingin.. “Ya sudah. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.” aku mengusulkan. penggolongan itu tidak cukup luas.. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya..Aku memulai dengan yang paling sederhana.” “Tapi itu yang paling mudah.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis.” gumamku. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa.. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. dan perlahan melanjutkan pertanyaan.” Kuulurkan tanganku sekali lagi.” Ia menggeleng. Kau daya tarik terhadap masalah. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade.. Kami bertatapan.” “Biasanya begitu. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. seseorang itu. “Kau tahu. menandakan ia mengejekku.” “Hanya satu pengecualian. “Katakan saja.. memutar bola matanya. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak.” “Well.” ujarku keberatan. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. kalau begitu. tanpa ekspresi. Meski menunduk. Aku menunduk.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku. kau lebih teliti daripada yang kukira.” “Kupikir kau selalu benar. seseorang. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya.. secara hipotesis tentu saja. “Tentu saja. begitu juga aku.

dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. tapi mengangguk. oke?” Aku cemberut. Kulitnya dingin dan keras. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. “Jangan ada yang ketiga kali. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.” Suaraku benar-benar tulus. “Terima kasih. seperti batu. djAnGgo 144 .” Ketegangan di wajahnya mencair.

aku bicara. “Kau makan. “Aku mulai bermobil berputar-putar.” Ada secercah keraguan dalam suaranya. Biasanya. Ia memandangi piringku yang masih penuh. tapi ia menundukkan kepala. tapi anehnya aku toh khawatir juga. seperti kataku. tatapannya menembusku. “Itu bukan yang pertama. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya.” sahutku tenang. tapi sebaliknya aku malah senang. Lalu. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. suaranya sulit didengar. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. “Lalu apa?” bisikku. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. lalu menatapku lagi. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya..” akunya terburu-buru. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. “Kau ingat?” tanyanya.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. berkat dirimu. disinilah aku duduk. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. mengalihkan kecurigaanku. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya.. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. pada insiden van itu. matanya yang menyipit menatapku. kembali menimbang-nimbang. Aku tahu kau tidak masuk kesana.. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu..” Aku terdiam sebentar. “Ya. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. Kupaksa menelan makananku. “Tapi toh sekarang kau duduk disini.. aku hanya menunggumu. salah satu alisnya terangkat. Ia menatapku.” Ia menatapku waswas.. Pandangannya tetap menerawang. “Ya. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. mendengarkan. dan kau pergi ke arah selatan.. aku bisa dengan mudah menemukannya.” katanya. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada.. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. ” Ia berhenti. Matahari akhirnya terbenam. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan.” Ia melamun.. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. wajahnya yang tampan berubah serius. dan aku tahu toh kau harus kembali. Aku tak punya alasan untuk khawatir. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.. Jadi. sambil masih.” Ia berhenti. Dan lalu. djAnGgo 145 .” usulnya. Aku menatapnya terpana. dan aku menyadari tubuhku mematung.

pikiranku campur aduk. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya.” geramnya. Akhirnya ia mendongak.. aku akan pergi mencari mereka. dan aku bersadar lemah di kursi. sekali. tertutup lengannya. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. kepalaku pening. Aku duduk diam.. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya. dan membiarkan mereka. “Sulit. hanya pergi menyelamatkanmu. penuh dengan pertanyaannya sendiri. Tangannya masih menutupi wajah. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. djAnGgo 146 .” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh.” ia mengakui dalam bisikan. tangan menutupi mata. tetap hidup. dan ia masih tak bergerak. bagai patung batu. satu siku bertengger di meja. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. matanya mencari-cari mataku. Tanganku terlipat di pangkuan..” Suaranya tidak jelas.

Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. masih tegang oleh obrolan tadi. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. aku siap. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. lalu bangkit. menunggu.” Suaranya tenang. lalu menutupnya dengan lembut. masih mengagumi keanggunannya. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. sepertinya tanpa melirik. “Simpan saja kembaliannya. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Atau memperhatikan. Aku memandang trotoar. “T-tentu. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. “Ini dia. Aku memperhatikannya memutar ke depan. agak serak.” Edward tersenyum. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. “Semoga malammu menyenangkan. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike.” ujar pelayan itu terbata-bata. djAnGgo 147 . “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. Aku menghela napas. terima kasih. Aku belum siap berpisah dengannya. “Kami mau bayar.” aku mengiyakan. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. tapi nyatanya belum.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.” giliranmu. Aku menyembunyikan senyumku. Edward mendongak. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk.” katanya.“Ya. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. berputar menuju jalan tol. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. Aku ikut berdiri dengan susah payah. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Udara dingin sekali. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. “Sekarang. Edward sepertinya mendengar. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. dan ia menunduk penasaran.

“Satu saja. Hanya suara senandung.. “Well . Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. menanti jawaban. sengaja. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti.” gumamnya. hanya aku yang bisa. dahinya berkerut ketika mengatakannya.. semua bicara serentak.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. Tapi tetap saja. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. suara-suara dengungan di latar belakang. di mana saja. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu.” protesnya. Ia menghela napas. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja.” katanya menyetujui.. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. tak lebih dari beberapa mil. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya. Ia memandangku tidak setuju padaku. “Tidak. dan itu bisa sangat mengganggu. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya.. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi.” Aku merasa konyol.” Ia memandang jalan. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. Setelah aku terfokus pada satu suara.” Ia tersenyum jail. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya.9.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. sorot matanya misterius. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi.. “Aku tidak tahu. Ia menatapku. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. dan aku pergi ke selatan.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. Aku mengikuti aroma tubuhmu. Ia nyaris tersenyum. djAnGgo 148 .” gerutuku. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. “Satu-satunya dugaanku. Aku mencoba berkonsentrasi lagi..” Ia berpaling. “Itu lebih dari satu pertanyaan. “Baiklah kalau begitu. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. Aku belum siap membiarkannya selesai.

barangkali karena memang benar. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya. “Jangan khawatir. Bagaimana memulainya. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. itu cuma teori. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar..tiba-tiba tertawa.” Wajahnya menegang.” ia tertawa. djAnGgo 149 . sekarang giliranmu. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku.” Aku menghela napas.. “Yang mengingatkan aku.

“Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan. masih tidak memperlambat kecepatannya. kemudian tertawa sebentar.” tukasku marah. Bella. kau tidak lupa. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh.. Ekspresinya masih sama. semuanya berawal hari Sabtu. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam.” “Apa yang memicunya. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. “Charlie polisi.” tukasnya. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku.” Ia memutar bola matanya. barangkali kau masih bisa selamat. “Tenang.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. “Katakan saja.” Ia menghela napas.” Ia masih tampak bingung.” Aku mengamatinya dengan hati-hati. “Aku bertemu teman lama keluargaku. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. “Radar pendeteksi alami. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. Jacob Black. aku bahkan belum pernah ditilang. “Kita tidak akan tabrakan. “Kami jalan-jalan. Bella. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku. “Puas?” “Hampir. Ia menunduk memandangku. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini.” “Barangkali.” “Tidak. “Kenapa kau tiak mulai dari awal.” Aku mencoba mengubah intonasiku. Lagipula.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. tersenyum lebar padaku. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa.” akuku. “Gila!” seruku. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. Aku menunduk memandang tanganku.” gumamnya. Ia tampak bingung.” ia menyetujui gurauanku.” janjinya. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi.. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung. “Tidak. “. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas.” Aku menggigit bibir. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini. ” aku mengubah ceritaku.” Ia berbalik.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. “Aku tidak bakal tertawa.” Suaranya tenang. mencoba berpikir.” aku melanjutkan. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. Aku menatap panik ke luar jendela.” Ia menunggu. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. buku? Film?” Ia mencoba menebak.” “Sangat lucu. “Tapi kau tidak. tidak seperti rencana semula. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya. ya. di pantai.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih.

beberapa legeda tua.” aku berhenti. ragu-ragu.. djAnGgo 151 . “Lanjutkan. Dia menceritakan salah satunya.. kurasa ia mencoba menakut-nakutiku.” katanya.

aku yang memaksanya bercerita padaku.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik.” katanya.. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. “Kau marah. aku harus mengaku. Dia. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.“Tentang vampir. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. “Kalau saja aku melihatnya.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi. suaraku memancarkan keraguan. Tidak ada yang cocok.” Ia terdiam. Wajahnya pucat dan kaku. Ia tertawa. Tapi aku melihat genggamannya menguat. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.” aku buru-buru berkata. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol.” Ia tergelak.” Aku sadar suaraku berbisik. “Tidak.. “Aku mencari keterangan di Internet.” Ia tidak mengatakan apa-apa. “Itu salahku. “Aku mencoba merayunya.” “Tidak. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. Jacob Black yang malang.” aku mengakuinya.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. “Aku benar?” tanyaku menahan napas..” kataku lembut. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi.” bisikku. terus menatap jalan.” Saat mengingatnya lagi. Kebanyakan konyol. menyebut keluargamu. “Tidak. djAnGgo 152 . tapi suaranya setegang wajahnya. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. “Jadi aku salah lagi?” tantangku. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting.. tapi sorot matanya sengit. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob. Ia tertawa. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak. “Bukan itu maksudku. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. dia mencoba memprovokasiku. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Aku menatapnya. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. kembali memandang lurus ke depan. menatap lurus ke depan. dan aku terkejut dibuatnya. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita.” keluhku.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat. Kemudian. mencengkram roda kemudi.” aku berhenti. “Tidak.

Tiba-tiba ia menyerah.” Aku diam sebentar.“Tidak juga. “Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 . “Tapi aku memang penasaran.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.

. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” gumamnya.. “Cukup lama. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. dan ia cemberut. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin. “Oh. Aku menatapnya sampai ia berpaling.” Suaranya muram. Aku berkedip.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak.” ia langsung menjawab. “Aku tidak bisa tidur. Aku. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan.” ia menjelaskan perlahan. ketika ia khawatir aku syok. Aku tersenyum lebar. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. “Oke. untuk berjaga-jaga. tatapannya dingin. suaranya nyaris tak terdengar.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. dan ketika menatapku lagi. “Tidak juga. contohnya. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. Aku menganggapnya sebagai pembenaran.” “Kami berusaha.” Suaranya tegang sekarang. “Mitos. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak. itu. dan aku tak mampu berkata-kata. membiarkan diriku berduaan denganmu. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting.” gumamku. “itu. Kami masih berbahaya. “Sama sekali?” “Tidak pernah.” Aku tersenyum. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. seperti yang dilakukannya sebelumnya. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. memburu manusia.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya.” akhirnya ia mengaku. Kami sama-sama terdiam. “Well. masih terkesima.” “Aku tidak mengerti.” ia mengingatkanku. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. “Dia bilang kau tidak.” bisiknya. menghiburnya. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku.” katanya. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. “Kesalahan yang sangat berbahaya.” “Ya. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . “Jadi.” Ia ragu sesaat.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis. “Jangan tertawa. “Tapi jangan senang dulu.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku.” Ia menatap ke depan.” “Terbakar matahari?” “Mitos. lalu nada suaranya berubah aneh. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang.

dan aku tersentak dibuatnya. secara terbuka. Kata-katanya mencerminkan nada final. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. hingga tidak tampak nyata. seperti jalanan hitam di bawah kami. seperti dalam video game.jalan. djAnGgo 155 . dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. tanpa dinding diantara kami. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat.

dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. lelucon diantara kami sendiri. Aku memandang telapak tanganku.“Ceritakan lagi. “Aku tidak ingin menjadi monster. Matanya tak pernah luput dari apapun. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. ya kan?” Aku tidak menjawab.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu.” kataku.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. lalu sepertinya teringat sesuatu. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. kejadiannya bisa lebih buruk lagi. tapi ini penting.” “Tapi kau tidak sedang lapar.” ia mengingatkanku..” Tatapannya lembut tapi dalam. “Aku tidak ingin pergi. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. suaraku masih memancarkan keputusasaan. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. hanya mendengarkan suara tawanya.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. Aku memperhatikan bahwa orangorang.. “Well. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu.” Ia tersenyum menyesal. Hampir sepanjang waktu. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian. berusaha mematrinya dalam ingatan. kami kembali hari Minggu. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. menyatakan.” Ia menggeleng. “Sudah kuduga. Aku menyadari mataku basah. atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan.” Suaranya berubah licik. bukan bertanya. berada jauh darimu. “Kurasa. khususnya cowok.. tidak benar-benar tanpa tergores. kami menyebut diri kami vegetarian. terkejut karena perubahan nada suaraku. “Aku tidak yakin tentu saja.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. dan memang tidak. tak peduli apa yang dipikirkannya. lebih pemarah ketika mereka lapar.” “Apa?” “Tanganmu. “Ya.” Ia tergelak. khawatir.” Suaranya sangat pelan.” kataku yakin. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. Ia menatapku. Tiga hari yang amat panjang. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. mengingat siapa dirimu. Ia menghela napas. Sudah kubilang aku punya teori. “Ya. “Kau ini memang pengamat.” Bibirnya tersenyum. dan sepertinya membuatku lemah. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti.. “Aku terjatuh.” Ia berhenti sesaat. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu.” ia djAnGgo 156 . setidaknya. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami.” pintaku putus asa. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. “Well.” keluhku.

djAnGgo 157 . Aku memikirkannya beberapa saat. mengalihkan pandanganku. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku.” kataku.berjanji. Ia bingung. Aku. “Kau kan bisa meneleponku. “ aku ragu-ragu.

Aku melirik. Itu juga membuatku waswas. Kata-katanya melukaiku.” aku mengakuinya. “Aku serius. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. “Maafkan aku.” Ia menggeleng.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. “Begitu juga aku. kumohon.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. “Ah. Bergegas aku menyekanya. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. Kurasakan tatapannya di wajahku.” kataku. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. “Tidak. ragu-ragu ingin meraihku. kau tidak terlihat setakut itu. waswas.” Suaranya pelan namun tegas. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi.” Aku tak bisa memahami reaksinya. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. Aku hanya menggeleng. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. Bella. suaranya masih muram. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. tak yakin apakah aku sanggup bicara.” Suaranya menghardik. “Ini salah.” Suaranya sarat penyesalan. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” Kugigit bibirku. “Ini salah.” “Tidak. tapi aku tetap memandang lurus ke muka.” ia bertanya setelah beberapa menit. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. Ia terdiam.” geramnya. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. ilmu bela diri. “Katakan.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. Ia mengemudi terlalu cepat. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. itu masalah lain lagi. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. pelan dan parau. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. tidak penting kau itu apa. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. Sudah kubilang. Aku berbahaya.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. Lalu mobil memelan. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. Ini tidak aman. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu. “Jangan pernah mengatakan itu.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan. melewati perbatasan Forks. Kegelapan menyusup diantara keheningan. Aku memandang jalan. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. Pasti kami sudah dekat sekarang.” erangnya pelan. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. djAnGgo 158 . mengertilah.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. “Kau benar.” Aku menghela napas. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. tapi suaraku parau. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. kau tahu kan. Sudah terlambat.

dan aku tak mampu bicara. Lampu-lampunya menyala. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas. trukku ada di tempatnya. “Aku akan menunggumu saat makan siang. ada tugas yang harus dikumpulkan.” Ia tersenyum. Rasanya seperti terbangun dari mimpi.” djAnGgo 159 . “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. setelah semua yang kami lalui malam ini. tapi aku tidak beranjak. Kami di depan rumah Charlie. semuanya sangat wajar.“Ya.” Konyol. Edward menghentikan mobilnya.

” “Sampai ketemu besok. membuatku terpana.” Dengan engggan kubuka pintunya. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. tapi ragu.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. “Sekarang bahkan belum jam delapan. Dad.” “Well. terus menembus jendela. Ini. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. Charlie memanggilku dari ruang tamu. Aku cukup banyak berjalan tadi.” kataku. djAnGgo 160 . Kupikir aku mendengarnya tertawa. benar.” desahnya. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. ini aku. Lalu aku melangkah canggung keluar. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.” Ia tersenyum. Aku membayangkan bagaimana rupaku. dan masuk ke dalam. “Kau boleh menyimpannya.” “Oh ya?” aku terkejut. “Tidur nyenyak ya.” Aku menatapnya bingung.” “Oh. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang.” “Benar. namun lebih kental.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi.” katanya. Aku menyadari udara sangat dingin. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. “Aku akan menelepon Jessica dulu. serius.” Ia terdengar waswas.” “Well. Napasnya menyapu wajahku. mencoba mengulur-ulur waktu. Ia sedang menonton pertandingan baseball. Mataku mengerjap. “Terserah apa katamu.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. terkejut. tanganku pada pegangan pintu. Kutanggalkan jaketnya. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. biarkan dia sampai rumah dulu. Jantungku berhenti berdetak.” ia mengingatkanku. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok. Anggap saja begitu.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. “Ya?” aku berbalik padanya. “Ya. Aku ragu-ragu. barangkali kau harus berbaring. terlalu antusias. “Kenapa?” Dahinya mengerut. membuka pintu. janji yang mudah dipenuhi. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. “Bella?” “Ya. tapi lega. setidaknya.” aku menyetujuinya. lalu mengangguk. Lalu ia menjauh. Kukembalikan jaket itu padanya. “Kau pulang cepat.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. “Mereka membeli gaun.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. “Baik kalau begitu. benarbenar terpesona. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda.” ia memberitahuku. sangat menyenangkan. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu.

“Halo?” desahku. djAnGgo 161 . Sekarang aku benar-benar merasa pusing. menjatuhkan diri di kursi. Aku mengangkatnya. kelelahan. Tiba-tiba telepon berbunyi. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. perintahku. Pegangan.Aku pergi ke dapur. mengagetkanku.

Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. tapi semakin aku nyaris tertidur. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. menyengat kulitku. membalut diriku dengan handuk. selamanya. tanpa syarat. “Ya. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. benar. sampai air hangatnya menyembur lagi. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya.“Bella?” “Hei. aku jatuh cinta padanya. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. di kelas Trigono. dan beberapa yang kucoba enyahkan. Kedua.” “Okr. Dan ketiga. Baru ketika aku berada di kamar mandi. Jess. oke?” Ia langsung mengerti. Jaketku tertinggal di mobilmu. “Bye. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. kalau begitu kita ngobrol besok. benar-benar nyaris pingsan. aku baru saja mau meneleponmu. “Oh. Aku melangkah sempoyongan. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. yang haus akan darahku. Jess.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. dan terkejut.. aku tersadar diriku kedinginan. Pertama. ayahmu ada disana ya?” “Ya.. besok saja. “Mmm. Beberapa kali aku sempat gemetaran. terlalu lelah untuk bergerak. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. Edward adalah vampir. Awalnya tak ada yang jelas. airnya terlalu panas. ada sebagian dirinya. meringkuk. djAnGgo 162 .” Aku menaiki tangga perlahan.

djAnGgo 163 .

Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. Logika tak berpihak padaku. Ia menutup pintu. ia sudah duduk di sebelahku. hampir semuanya. Ada keraguan dalam suaranya. Ia benar-benar memberiku pilihan. lega. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . kau tahu. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. mobil berwarna silver. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. “Aku membawakan jaket untukmu. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. Ternyata lebih baik.” Suaranya hatihati. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini.” Ia kelihatan bergurau. Setidaknya aku merasa begitu. menyalakan mobil. terima kasih. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang.” kataku. Charlie sudah pergi lagi. lalu bergegas meninggalkan rumah. Kabut sangat tebal. Jantungku berdetak cepat. Ia berbalik dan nyengir. selalu terlalu cepat. Seperti biasa. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. Semalam semua penghalang itu lenyap. “Aku tak selemah itu. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut.” kataku. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. Aku menunggunya memulai. benar-benar sempurna. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Aku menelan tiga gigitan granola. tapi aku tak yakin. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. Ketika aku tiba di lantai dasar. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. aku bebas menolak.10. dan sebagian dirinya berharap begitu. teringat aku tidak memiliki jaket. “Ya. terasa canggung. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. dan lebih cepat dari seharusnya. tapi tiba-tiba ia sudah disana. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. membukakan pintu bagiku. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. aku terlambat lebih dari yang kukira. Aku tak melihat dari mana datangnya. seperti aroma tubuhnya. ataupun akal sehat.. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. berusaha tetap tenang. Ini membuat lidahku kelu. berhenti. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. Interograsi Keesokan paginya. Harapan yang sia-sia. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. “Tidak seperti reaksimu. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. “Benarkah?” Ia menyangsikannya.. udara nyaris tertutup kabut. Aku tak ingin kau sakit atau apa. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. Aku cemberut.

” djAnGgo 165 . tidak wajar.” tuduhnya. Itu membuatku bertanyatanya. apa yang sebenarnya kau pikirkan.“Tidak.” “Kau mengeditnya.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan. “Tidak terlalu banyak. itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali.

“Apa yang ingin djAnGgo 166 . lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. Begitu katakataku terucap.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. lalu menyampirkannya di lengan. dan aku mencoba tidak mengerang. Aku ingin mempersempit jarak itu. “Bagaimanapun. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit.” “Sudah kuduga. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. Jessica. “Hei.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. hai. “Aku tak bisa. aku langsung menyesalinya.” gumamku pelan. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. ingin menggapai dan menyentuhnya. Atau daya sihir tatapannya. Ia tidak bereaksi. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah.“Cukup untuk membuatku gila.” Ia menatapku penuh makna.” ia mengakuinya..” gumamku pelan. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku.” “Kalian tidak berhasil. “Err.” “Kau tidak ingin mendengarnya. “Jadi.” kataku ketika kami sudah dekat. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward. terkejut. kelewat mencolok. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri. Di atas lipatan lengannya ada jaketku.” sapa Edward sopan. Bukan sepenuhnya salah Edward. “Selamat pagi. “Hei. aku bisa membaca pikirannya. Kami berusaha membaur. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. wow. sampai ketemu nanti. matanya nyaris keluar dari rongganya.” desahku. “Terima kasih sudah ingat membawanya. Lalu ia tampak mengerti. “Kelewat mencolok. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah.” aku memohon padanya. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. Ia melipatnya. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.. Jessica. Jessica menungguku.” Ia menghampiriku di depan mobil. “Kalau Rosalie memilikinya. nyaris berbisik. kan?” “Mmm. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar. Aku terlambat menyadari sesuatu. tapi khawatir ia tidak menyukainya.” Ia berlalu. “Jadi. kemudian mengenakan jaketku sendiri. Aku tidak terlambat. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami. “Mereka naik mobil Rosalie.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. bahwa suaranya begitu menggoda. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang. “Kami semua suka ngebut. dengan senyum jail.” katanya. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. syukurlah. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku.

Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. “Iihh. itu baru tidak adil.diketahuinya?” Ia menggeleng. “Itu tidak adil. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. barangkali menatap kami. Orang-orang melewati kami menuju kelas. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan.” “Tidak. tersenyum nakal. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. djAnGgo 167 .” akhirnya ia mengatakannya.

Tentu saja Edward benar.. Jantungku memburu.. well. Mengerikan. “Sampai ketemu saat makan siang. itu juga kejutan. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. djAnGgo 168 .” ujarnya seraya menoleh ke belakang. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku.” aku menjelaskan. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. “Selamat pagi. yang duduk di sebelahku. nyaris melompat-lompat di bangkunya. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. Dasar curang. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. karena menurut dia. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.” aku meyakinkannya.” Mr. wajahku merah padam dan malu. Jessica sudah duduk di deret belakang. Ketika aku memasuki kelas Trigono. Mason mengabsen kami.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. lalu mengantarku pulang. menyuruh kami mengumpulkan tugas. “Jadi.” kataku pelan. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. Aku duduk di bangkuku yang biasa. kecewa mendengar kejujuranku.” Ia memandang marah padaku. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. penasaran. wajahnya tegang. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya.” jawabku sekenanya. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam.. Bibirnya mencibir.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. karena kesal kubanting tasku. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica.” sapa Mike. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Bella. “Sudah pasti..“Hmmm. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica.. “Tidak.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku.” “Aku tak keberatan. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. Aku bergegas memasuki kelas. Ia sudah berbalik dan berlalu. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin. matanya bersinarsinar. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. “Hebat. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. “Apakah itu semacam kencan.. kalau kau tidak keberatan.” Kuharap Edward mendengarnya. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. aku sangat terkejut melihatnya disana. “Ya.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. sinis.

trukku tidak bakal sanggup.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata. “Well.” aku setuju dengannya.” Ia mengangguk. kalau begitu. ya.” “W-o-w. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili. “Edward Cullen. apakah itu masuk hitungan?” “Ya. djAnGgo 169 .” “Aku tahu.

tapi Mr. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. baiklah. sangat sedikit.” Dia kelihatan kecewa. seperti sedang menghentikan laju mobil.. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya. “Aku sangat meragukannya.” desahnya.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu.” “Kurasa. Kelas sudah dimulai. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali.. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. Kurasa dia menyingungnya sekilas. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. “Menurutmu hari Sabtu.. terangterangan sekali. “Itu pertanda baik. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat..” gumamku.. Aku yakin diriku juga. “Ayolah.” “Lebih baik lagi. Bella. “Oh well. sedikit.“Tunggu!” Tangannya terangkat. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. mengintimidasi. “Ya. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya. “Lebih daripada ia menyukaiku. Dia memang luar biasa tampan. “Bukan begitu. “Entahlah. Aku mengabaikannya. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami.” Vampir yang ingin menjadi baik..” ia merajuk. “Jadi. dan barangkali umurnya 19 atau 20.?” Alisnya terangkat. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya.” kataku membelanya. Jess. Vanner.” aku balas berbisik.” Jessica mengangguk.. berbisik meminta informasi lebih lanjut. “Ceritakan detailnya. “Seberapa suka?” “Terlalu suka. wajahku merona. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. Sikapnya selalu misterius. “Ya. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. Tapi aku tak djAnGgo 170 .” aku balas berbisik. Aku menatap ke depan kelas.. banyak. Dia pasti menyukaimu. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. tapi ia tidak memahami reaksiku. kau benar-benar menyukainya?” desaknya. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah.” “Well. “Dia begitu.. tapi sulit mengetahuinya. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam. “Kenapa?” aku terkejut.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. kataku lagi..” Wajahnya berubah.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku. telapak tangannya menghadapku.” kataku kasar.” Sangat. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess. akan kuceritakan satu. “Maksudku.” aku mengakui. seraya menghela napas.

“Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas.” Aku mendesah. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. djAnGgo 171 . wajahku terus merona.tahu bagaimana mengatasinya. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. dan begitu bel berbunyi.” aku memberitahunya. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan. aku langsung menyelamatkan diri. perhatiannya benar-benar teralih. “Di kelas Inggris. untungnya. Mr. Kemudian.

Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. Ia membimbingku menuju antrean. “Kurasa tidak.” Alisku terangkat. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. menggeleng-gelengkan kepala. masih diam. “Sampai nanti. “Halo.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya. juga jawabanmu.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. sementara kami duduk berhadapan. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. terkagum-kagum. “Kurasa aku tidak terkejut. Ia memandangku geram. ekspresinya berubah-ubah. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami. memutar bola mata. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. Edward seperti tidak menyadarinya. “Aku pernah melakukannya.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi.” Ia tertawa.. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya. dan menelannya. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. maju untuk membayar makanannya.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. lalu pergi. cepat-cepat mengunyah. Bella. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. ya kan?” tanyanya meremehkan. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. Sudah pasti. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Tidak terlalu buruk. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 . dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. ketika ditantang. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas. kan?” Ia menggeleng.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. meski beberapa detik sekali ia memadangku. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang.“Kubilang kau sangat menikmatinya. semua otang memandangiku. dia akan memaparkannya padamu nanti. kan?” tebaknya. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku. “Aku penasaran. dan ia tidak bicara. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. tampak sangat mirip dewa Yunani. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. Edward sedang menungguku. “Hai. Ia tadi mendengarkan. Aku mengerutkan hidung. “Tentu saja separuhnya untukku.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. kau bisa melakukannya. Jessica melihatnya. “Ambil apa saja yang kau mau.” aku mengakuinya. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti. Bel istirahat siang berbunyi.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya.” Ia meringis. dia kelihatan senang. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. Ketika aku melompat dari bangku. kurasa ia mengulurulur waktu..

” “Cewek malang.membuatnya menyebalkan lagi. Aku memikirkan banyak hal. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. ya?” tanyanya santai. well.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. itu menggangguku.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus. “Jadi pelayannya cantik. djAnGgo 173 . ia melirik dari balik bulu matanya. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. Suaranya parau... gelisah. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.

Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. “Kau melakukannya lagi. “Apa?” “Membuatku terpesona. Kujatuhkan tanganku ke meja. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. semuanya. “Ya. Matanya membelalak terkejut. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. Kuangkat tanganku dari leher. tapi suaranya masih parau.” “Memang. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain.” ia menyetujuinya. kadang-kadang. “Biarkan aku berpikir.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. “Ya. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. “Kau salah. terlepas dari kenyataannya. “Meski begitu.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. “Kau tak bisa mencegahnya. Aku balas menatapnya. “Well. sementara tubuhku condong ke depan.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. kau tidak memikirkan beberapa hal. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. ia mulai kesal.” Dahinya berkerut. Gelisah karena sikap diamku. mataku menelusuri kayunya. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. Ketegangan di wajahnya mencair. “Itu sama saja. “Kau tak bisa mengetahuinya.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. semakin mendekat saat bicara. kau tidak sepenuhnya benar. terutama bila menegangkan. dan mencari cara untuk menjelaskan. “Oh. ketika akhirnya aku bicara. Akhirnya ia bicara. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya.” Wajahku merengut. “Aku tidak yakin. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. kau akan menjawab.” “Ya. Aku menggeleng ragu. dan mengacungkan satu jari.” Aku berhenti. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan. berusaha berpikir jernih. aku benar-benar berpendapat begitu. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar..” bisikku.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel.” Aku tetap menunduk memandang meja. Aku memandangi tanganku. Keheningan terus berlanjut. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas.” bantahku sambil berbisik.. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu. atau ya. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. mengaitkan jemari lalu menguraikannya.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan. suaranya sangat lembut. “Bukan salahmu.” aku mengakuinya. lalu mengatupkan keduanya.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan.. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang. dan aku ingin sekali mempercayainya.” aku berkeras.” aku mendesah.” aku mengingatkannya. Aku hanya berharap. tangan kananku memegangi leher.. djAnGgo 174 .

” bisiknya.” kataku. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. lihat aku. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. well. djAnGgo 175 . kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well.“Peka. tapi kemudian matanya menyipit. “Tapi justru itulah kenapa kau salah. membenarkan ketakutanku. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa.” ia mulai menjelaskan.

” aku mengingatkannya.” Tahu aku akan memprotes. Kalau perlu..” “Itu bukan masalah. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan. “Aku punya pertanyaan lain untukmu.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja.. “Percayalah sekali ini saja. masih tertawa sendiri. “Sudah sepantasnya.” Aku menatapnya marah. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. ia menggeleng. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. terperanjat. djAnGgo 176 . tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar.Alisnya mengerut marah sesaat. “Kalau aku mengajakmu. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti.” Raut wajahnya masih kasual. “Mungkin tidak. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. tapi kupikir kau bakal mengerti.” Ia bingung.” aku mengingatkannya. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku.” ia menambahkan.” “Oh. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. apakah kau akan menolak?” tanyanya. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle. “Belum.” ia tergelak. supaya kau tetap aman. karena seandainya aku bisa melakukannya”.” tukasku. mencoba melawan pendapat itu. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya. “Tanyakan saja. Akulah yang paling peduli. kau bukan manusia biasa.” aku bergumam pada diriku sendiri. “Itu semua salahmu.” ia tergelak ironis.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku.” kataku jujur.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.” Mataku mengerjap.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini.” aku setuju. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. “Aku tak percaya.. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal. “Belum. ia pun menyela.” Ia terdengar sangat yakin. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini.. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. Aku bisa saja mendebatnya. “Kau tahu. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku.

“Kenapa?” “Well . memang ya. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka.” Ia tampak waswas. aku tak peduli dengan yang lainnya. dan waktu itu. Kalau ia bertanya lagi. terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. “Aku terbuka untuk tawaran lain. “Tapi aku punya satu permintaan.” kataku. barangkali aku tidak djAnGgo 177 .

“Meski begitu. “Lagipula. “aku akan mengambil resiko itu.” desahnya.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu. dan memalingkan wajah. aku bertemu pandang dengan adiknya. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu.” usulku. berbohong selalu lebih baik. “ “Tapi nyatanya.. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata.” ia memberitahuku. banyak beruang..” Ia menghela napas marah.” Aku yakin soal itu. Tapi setelah berpikir sesaat. Jadi. untuk menyembunyikan keterkejutanku. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini.” “Aku tahu. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. itu baru jumlah populasinya.. itu bukan tempat yang baik untuk hiking.” ia menyelaku. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. “Kalau kau membaca dengan teliti. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi. “Dengan Charlie. merenung.” Ia tersenyum. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. berduaan denganku.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. sekarang bukan musim berburu beruang. Alice. untuk berburu? Charlie bilang.” Ia memutar bola matanya.akan berbohong. kau malah takut dengan caraku mengemudi. memastikan tak seorangpun mendengarkan. Untuk ukuran. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. jadi aku akan menghilang untuk sementara. lalu terdiam.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. “Ya.” Ia menggeleng-geleng tak percaya. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. Aku memandang sekelilingku. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. Yang lain memandangi Edward. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.” Aku menelan ludah. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . aku menjadi yakin.” aku menambahkan dengan tegas. lagipula dia benar. lebih baik kau berada di dekatku. “Kita bicara yang lain saja. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. Ia masih kesal. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. “Tapi kalau kau tidak ingin. aku tak keberatan berdua saja denganmu.. “Karena itu sudah terjadi.” Matanya kembali menyala-nyala. Aku tak bisa membantah. tapi kemudian matanya berubah serius lagi.” Aku jengkel. baik tatapan maupun maksudnya. “Kau tahu. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. kau harus memberitahu Charlie. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut.. yang sedang menatapku.. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix.

Aku mencoba mengendalikan diri. djAnGgo 179 . sambil mencari sodaku lagi. “Hmmm.” “Ah. akhirnya menatap matanya yang gelisah. “Singa gunung. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. namun matanya mengamati reaksiku. “Beruang?” ulangku terbata-bata.” kataku setelah sesaat. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. “Jadi.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. berpura-pura tidak tertarik. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke. tanpa memandang ke arahnya.memahami ucapannya.” kataku sopan.” Suaranya masih tenang.

ia benar.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett. ke arah Emmett. nada suaranya dingin.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. Saat aku bersamanya. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri. “Barangkali.” aku mengulanginya. nada suaranya menyamai nada suaraku. Aku takkan lupa. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. jadi lebih pemarah. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. Aku menatapnya. “Nanti. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. “Kalau memang itu.“Tentu saja. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami.” katanya. “Kalau begitu. menggelengkan kepala.” “Lalu kenapa?” desakku. benar. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan. “Kita bakal terlambat. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. mereka baru saja selesai hibernasi. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. dan itu sebenarnya cukup. atau begitulah kata mereka. kafetaria hampir kosong. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. nanti. tertegun.” Aku berusaha tersenyum.” katanya. ngeri. Aku melirik ke seberang kafetaria.” aku mengakuinya.” Aku memandang berkeliling. meraih tasku dari sandaran kursi. kami punya senjata. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. Ia juga menyandarkan tubuh.” “Aku mencoba membayangkannya. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. dan. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. takut melihat reaksinya.” Aku mengangguk menyetujuinya.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. djAnGgo 180 .” timpalku. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan.” akhirnya ia berkata. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu.” katanya enteng. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. dan matanya tibatiba berkilat marah. Aku melompat. Ia tertawa terbahak-bahak. “Lebih seperti singa. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. “Ya. bersedekap. mencoba mengabaikan kemarahannya. tapi tidak bisa. meskipun tak pernah mengaku padanya. aku akan mengajakmu keluar malam ini.

djAnGgo 181 .

nyaris membuatku sinting. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. Hari menonton film. ragu-ragu. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. ketika ruangan sudah gelap. Mr. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Mr. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. Kurenggangkan dekapan lenganku. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. tapi aku tidak merasa nyeri. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. Aku menuju ruang ganti. matanya sarat pergumulan. lalu berhenti di ambang pintu. “Well. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. sekali saja dalam gelap. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Aku berdiri hati-hati.11. membelai wajahnya yang sempurna. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Pembukaan film dimulai. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. jemariku mengepal. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. ekspresinya sedih. Aku mendesah lega ketika Mr. nyaris terluka. Waktunya kelas Olahraga. suasana senang di kelas nyaris nyata. tangannya mengepal di balik lengan. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Banner menyalakan lampu kembali. matanya melirikku juga. “Hmmm. tadi itu menarik. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. Edward tertawa geli di sebelahku. Sebagai gantinya. Kulitnya dingin seperti biasa. Sia-sia aku berusaha tenang. seperti terbakar. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Aku kehilangan akal sehat.” gumamnya. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. Banner sudah masuk kelas. melemaskan jemariku yang kaku. Lengan kami nyaris bersentuhan. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Kemudian. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. ia duduk cukup dekat. Aku berjalan memasuki gymnasium. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Aku tak sanggup bicara.” hanya itu yang bisa kukatakan. “Yuk?” ajaknya. Aku nyaris mengerang. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . Ia mengulurkan tangan. Otomatis aku melirik ke arahnya. Wajahnya membuatku bingung. sama kuatnya seperti sebelumnya. sambil bangkit dengn lincah. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku.

menyerahkan raket padaku. Raket itu tidak berat. Mike. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. aku sepenuhnya sadar. kau tahu. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. djAnGgo 183 . Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada.” aku meringis penuh penyesalan. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. namun terasa tak mantap di tanganku. dan ia berdiri di sebelahku. kau tak perlu melakukannya.

Mike. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. semua cowok. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen. “Itu bukan urusanmu. heh?” tanyanya. “Kau sendiri yang bilang. aku tidak akan mengganggumu. desahku. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. aku merasa sensasi lega yang aneh. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. “Aku tidak suka. Tiba-tiba selera humorku lenyap. langkahku terhenti.” aku mengingatkannya.“Jangan khawatir. Ketika aku berjalan ke sisisnya. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik. nadanya menantang. mengabaikan keberatanku. Keadaan tidak berjalan lancar.” ia tetap mengatakannya juga. “Newton membuatku kesal.” Senyumnya mempesona. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. mereka djAnGgo 184 . aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. jadi aku mengabaikannya.” Aku berbohong. Edward menantiku. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. “Halo. melirik ke belakangku. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu.” ia meneruskan. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Mike bermain cukup baik. Kami berjalan tanpa bicara. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. “Caranya memandangmu. kerumunan orang.. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. Pandangannya bergeser sedikit. tersenyum lebar. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. bersandar santai di dinding gymnasium. masih tegang. raketnya aman tersimpan. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. seolah ingin memakanmu.. meskipun tidak bermaksud begitu. aku diam karena malu dan geram. berjalan cepat ke lapangan parkir. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap.” Ia tersenyum. aku jadi penasaran.” katanya sambil meninggalkan lapangan. Ia mengajakku ber. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. “Jadi. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan. menuju mobilnya. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. matanya menyipit. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. melainkan mobil convertible merah Rosalie. Meski aku telah mencederainya. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. Ia kembali menatapku. “Apa?” desakku. Dengan mudah Edward menyusul. “Baikbaik saja. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil.” sergahku marah. Ia memandang marah padaku. tampak mengerumuninya. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. “Memang tidak perlu.” Ia tidak terdengar menyesal. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. Aku berpakaian dengan cepat. kan?” aku terperanjat. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. “Hai.

” gumamnya. juga luput dari perhatian. djAnGgo 185 .tampak sangat tertarik. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya. “Mobil apa itu?” tanyaku. Aku langsung masuk ke jok penumpang. “Kelewat mencolok.

Aku tetap menjaga ekspresiku.” “Mmm.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama. Terutama indra penciuman kami. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi. yang seolah dapat diraih.” Rahangnya mengeras.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil. sudah jelas ia sedang melucu. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. aku pernah mendengarnya. Aku mempertimbangkannya. Ketika menatapnya lagi. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu. mengamatiku. “ Ia menyelaku..“M3.” ujarku. “Sangat.. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. ke awanawan yang menggayut tebal. sementara kami berburu. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya..” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan.. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. tanpa banyak menggunakan pikiran. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. Wajahku tidak djAnGgo 186 . Ia tidak percaya. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat.. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.” aku berbohong. Aku mendongak. “Tidak.” “Karena. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. kalau kau bersungguh-sungguh. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya. Aku akan datang. “Ketika kami berburu. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. terkejut.” katanya pelas. masih menatap awan tebal itu dengan murung.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya. “Aku tidak berencana membawa mobil. tanpa mobil. membuat irama jantungku berantakan.. “Kurasa sudah. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. Aku mengangguk. ia sedang menatapku. “Aku minta maaf telah membuatmu takut. dengan enggan. Ia menghentikan mobilnya. “Jelas.” Ia menggeleng. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie.” “Bagaimana.” aku bersikeras.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu. tanpa memandangku.” Ia menghela napas. “Setuju. Dahinya berkerut.” Aku tidak mendesaknya lagi.” Ia memutar bola matanya.” Senyumnya kini rendah hati.. “Jangan khawatir soal itu. “Well.” “Itu keluaran BMW. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. kemudian berubah jadi santai.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh...

aku sadar aku tak bernapas.menunjukkan apa-apa. Namun pandangan kami bertemu. memecah kekakuan dia antara kami. Ketika kepalaku mulai berputar. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. dan keheningan itu semakin kental. ia memejamkan mata. djAnGgo 187 . dan berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip.

dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. memamerkan kilauan deretan giginya. kurasa kau harus masuk sekarang. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. seperti biasa. keluar rumah. Aku berkelit. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi.” Aku nyengir. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. matanya kembali menatap awan. “Oh. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. aku makan semangkuk sereal. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. menunggu di tempat Charlie biasa parkir. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. berjalan menyeberangi dapur.“Bella. gelisah. Bagaimanapun tidurku berubah. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Aku setengah berlari menuruni tangga. tersenyum tipis. Makan pagi berlangsung biasa. Pasti sulit menjadi ayah. dan aku naik. Dad. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. djAnGgo 188 .” Aku merasa kasihan padanya. “Bertanya padamu. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. Jelas ia berencana menemuiku berok. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. Aku berkata takut-takut. Khawatir kehilangan keseimbangan. Mobil silver itu sudah ada disana. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. Kubuka pintunya. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. dan mengumpulakn buku bukuku. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Betapa ngeri. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. Bella?” ia memanggilku. menyikat gigi.” Aku menatapnya jengkel.” “Oh. tapi juga tegang.. “Begitulah rencanaku. dan aku berguling kian kemari.” Lalu ia menghilang. tenang seperti yang kuharapkan. kalau tak ada halangan.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut. “Ya?” “Besok giliranku. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. dan menyalakan keran..” katanya. “Ya. hingga sering kali terbangun. Kemudian Charlie pergi sambil melambai.” Suaranya rendah serak. suaranya lebih tenang. Ketika terbangun aku masih merasa lelah. “Mengenai Sabtu ini.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong.

“Kau tampak lelah.Aku tak pernah menginginkannya berakhir.” Suaranya lembut. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. terima kasih. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. tenang. dan seperti biasa. Ia tersenyum. setiap kali berada di dekatnya. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. lebih dari baik. “Selamat pagi. Aku berjalan menuju mobil. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. Ia menunggu di mobil. “Baik. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku.” djAnGgo 189 .” Aku selalu baik.

Wajahku memerah karena. sambil terus menunduk. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan.” katanya serius. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil.” keluhku. “Tidak bisa. Aku menggerak-gerakkan mataku. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. “Warna cokelat itu hangat. ia tersenyum mengejek.” “Aku berani bertaruh untuk itu. “Kau benar. disini semua itu dilapisi warna hijau. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. “Aku juga. merapikan rambutku ke balik bahu. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. sewaktu makan siang. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. raut wajahnya serius. ekspresi seriusnya berubah. Ketika kusebut nama bandnya. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. “Tentu. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Aku tertawa. untuk yang satu ini tak ada habisnya. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. Sering kali aku tersadar. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. “Debussy. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi.“Aku tak bisa tidur. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. “Setiap hari berubah-ubah. kau benar. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. tatapan aneh terpancar di matanya.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. Aku rindu cokelat. kalau saja wajahku tidak merah padam. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya.” aku mengaku. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. seolah sedang menginterogasi pembunuh. Kebanyakan pertanyaannya mudah. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku. Sesaat ia berpikir. pasti aku telah membuatnya bosan. Itu CD yang sama. dan mengenai buku-buku. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. “Kurasa itu benar. kalau aku sempat mengendarainya lagi. wajahnya muram. bebatuan. tapi masih sedikit ragu-ragu. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. Hari ini giliranku bertanya.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Kami sudah tiba di sekolah. batang pohon. “Barangkali cokelat. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi.” “Oh. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. Warna cokelat itu hangat.” Tangannya menyentuh lembut.” “Jadi. debu. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. menatap mataku. Ia tergelak. Film yang kusuka dan tidak kusuka. Ia mendengus. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam.

tentu saja. Dan.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu. aku akan bilang onyx.matanya yang berwarna topaz. “Katakan.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. pasrah.” desahku. “Itu warna matamu hari ini. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu.

jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. percikan listrik itu muncul lagi. pahit. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya.banyak dari seharusnya. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. agak lengket. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. pepohonan kering yang rapuh. tapi masih menyenangkan. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. menungguku. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. Aku tak melihat ke arahnya. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. aku merasa bersalah. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Begitu ruangan gelap. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. luasnya langit. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. akhirnya memandang Edward. Banner memasuki kelas. Aku menghela napas lega. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. tak mudah untuk dijawab. membelai kening hingga rahangku. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . Tpai ia terdiam hanya sedetik. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. tapi akhirnya aku melangkah keluar. Ketika guru itu mendekati panel lampu. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Di suatu tempat. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. dan terus menjawab pertanyaannya. Ia tidak berbicara padaku hari ini. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. sambil menarik kereta audiovisual lagi. Tapi itu tidak membantu. gelisah. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. Aku menghela napas lega ketika Mr. Banner menyalakan lampu kembali. seperti kemarin. ia sedang menatapku. Senyum lebar mengembang di wajahku. tahu semakin cepat aku bergerak. sorot matanya bingung. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. di sudut benakku. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. dan cara menggapai matahari. khawatir ia juga sedang memandangku.

dan mendesah. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan.dengan bebasnya. “Hampir selesai pun tidak. Aku kaget melihat waktu. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. Akhirnya. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. tapi ayahmu sebentar lagi pulang. Dalam cahaya temaram badai. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. djAnGgo 193 . bukannya melontarkan pertanyaan lain. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. ia malah terdiam. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega.

Itu ayah Jacob. lampunya menyinari mobil di depanku. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua..” Aku mengerutkan kening.“Sudah twilight .” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat.. “Masalah lagi. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. seolah pikirannya jauh entah dimana. Ia melirikku sebentar. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. antara putus asa dan menantang.” Alisnya naik sebelah. tapi terlalu gelap. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi.” katanya. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. Jacob sudah keluar dari mobil. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. wajah yang berkeriput. “Terima kasih. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku.. Kegelapan begitu mudah ditebak. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. ini adalah akhir satu hari lain. “Aku suka malam. pipi yang kendur. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. tatapannya gelisah. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi.” gumam Edward. “Charlie sudah dekat. nyaris menarik dirinya menjauh dariku.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. Bella. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. rembang petang. menyipitkan mata menembus hujan. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . Billy Black. “Aku sudah bilang belum selesai. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. aku langsung melompat keluar. “Jadi. mengingat. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami.. ia masih menatap ke depan. Ekspresinya aneh. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. lalu bergerak. “Ini saat paling aman bagi kami. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” katanya muram. Aku langsung mengenalinya. Nada suaranya melamun. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. Jadi. “Jacob?” tanyaku. menjawab tatapanku yang bertanyatanya. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram.” Ia tertawa. bannya berdecit di pelataran yang basah. “Charlie akan sampai sebentar lagi. kembalinya sang malam. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. tapi juga yang paling sedih. Meski bingung dan penasaran. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. “Kacau.” ia mengingatkanku. “Hei.” gumamnya. “Saat termudah.

Diam-diam aku mengerang. hidungnya kembang. seperti kata Edward. jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Billy masih menatapku lekat-lekat. Ia memandangku. seolaholah ngeri. Senyumku memudar. waswas. mengamati wajahku. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Matanya lebar. Ya.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Ya.kempis. Masalah lagi. ia percaya djAnGgo 195 .

“Tidak masalah..” kata Charlie. masih kanak-kanak.” Charlie tertawa. “Seorang djAnGgo 196 . tentu saja. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba. “Sudah terlalu lama. “Ini kejutan. mengintip bagian bawah sandwich-nya. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk. TV kami rusak sejak minggu lalu. “Tidak. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil. Aku berbalik menuju rumah. “Kalian lapar?” tanyaku. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku.. kami sudah makan sebelum kemari. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. Jake. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya. “Baik. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. “Bagaimana denganmu. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan. Kami meminjam mobil itu.” sahut Jacob.” protesnya.” Keningnya berkerut. Aku masuk. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya.” “Oh.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat.” Aku menunduk menatap wajan.” Ia nyengir. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. Aku belum melihat. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum. menghindari hujan.” Jacob nyengir. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya.” ia menambahkan.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur.” balasnya.12. “Tentu saja. Lalu aku berdiri di ambang pintu. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. “Maaf. “Ya. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. meski sudah bertahun-tahun. ekspresinya tak bisa ditebak. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket.” kata Jacob. Semangatnya sangat sulit ditolak.” sahut Billy. “Jadi. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. berbalik menuju dapur. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. “Kurasa itulah rencananya.” Aku tersenyum. sambil meraih-raih ke bawah serambi. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. ke TV. “Tidak.

” djAnGgo 197 .” “Tumpangan yang keren.” Suara Jacob terkagum-kagum. “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.teman memberiku tumpangan.

kan?” Aku tak bisa menahannya. membalikkan sandwich. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. Bella. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu.” akhirnya ia menjawab. Akhirnya pertandingannya selesai.” djAnGgo 198 . bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap.” Aku berpura-pura polos. PR-ku banyak yang belum selesai. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie. “Kami akan datang.” Yang membuatku terkejut. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi.” “Tentu saja. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. Aku mendongak memandangnya.” sahutku menarik diri. “Entahlah. “Bella. tentu. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie.” kata Billy. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi. siapa dia?” tanyanya. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. lalu berpaling.” “Jacob. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. kata-kata itu keluar dalam bisikan. Ia kelihatan sedikit malu. “Jadi. boleh dibilang malam ini semacam reuni. “Edward Cullen. Bagaimana harimu?” “Baik. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu.” “Benar sekali. Charlie. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. “Tentu.” katanya. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. ia tertawa. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.” serunya. tunggu. “Terima kasih. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu.” ujar Charlie membesarkan hati Billy. Jacob menatapku sesaat. “Jaga dirimu. mencoba terdengar tak peduli. satu kakiku pada undakan pertama.” tambahnya serius. “Sepertinya ayahku mengenalinya. Akhirnya aku mengalah. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang.” timpal Billy.” “Oh. “Kurasa itu menjelaskan semuanya.” kataku. kurasa. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. menaruh dua piring di konter sebelahku.” Ketika tatapannya beralih padaku.” gumam Jacob. senyumnya memudar.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa.” aku menyahut enggan.” gumamku. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. Selamat tidur. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. Hatiku mencelos. “Tadi itu menyenangkan.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk. Sungguh malam yang sangat panjang. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie.

“Oh ya.” Suaranya penuh semangat. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis.“Wow. tapi partnerku sangat hebat.. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 .” “Well. “Keluarganya baik.” sahutku ogah-ogahan. “Siapa?” nadanya tertarik. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.” Ia terkagum-kagum sebentar. “Mmm..” aku mengakuinya. Mike Newton. sebenarnya sih tidak.

“Dad!” erangku. supaya lebih cepat memandang wajahnya. Tasku sudah siap. sama seperti Jessica dan Angela. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. membuat napas dan jantungku berhenti. Ia. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu.” Bibirnya terkatup erat. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. “Dad. aku akan di rumah saja. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. kau oke. Aku mengangkat bahu. Cuaca seharusnya cukup hangat. Tidurku lebih pulas malam itu. Dengan enggan aku mengakuinya. “Tidak. sepatu sudah kukenakan.” Aku tersenyum. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga.” Senyumnya memukau. temanku.. “Baik. Saat ini kami di kafetaria. “Hari ini masih milikku. kita kan mirip.” “Oh iya. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. berharap kelegaanku tidak kentara.” Aku bergegas.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. sama sekali tak ada hubungannya. kelewat lelah untuk bermimpi. Ia tersenyum lebar padaku. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. langsung masuk ke jok penumpang. “Pagi ini kau ceria sekali.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. jendelanya terbuka. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. djAnGgo 200 .” katanya. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. gigi sudah bersih. beberapa teman sekolah. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. ternyata Edward lebih cepat dariku. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. Charlie memperhatikan. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. hobinya.. sementara aku mengunyah.” gumamnya. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. betapa menggoda suaranya. “Tidak di Phoenix. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. “Dia berkencan dengan Jessica. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. “Ini Jumat.” Ia nyengir. suasana hatiku bahagia. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. mesinnya mati.” sahutnya saat sarapan.

” “Oh.” Mataku mengerjap. “Tidak masalah. bingung dan kecewa.“Kenapa?” tanyaku. djAnGgo 201 .” Ia menatapku tidak sabaran.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang. “Aku tidak membawa kuncinya.” desahku. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.

” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. Itu tak masalah. persis ketika pertama kali melihat merka.” gumamnya putus asa. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. “Kalau aku berduaan denganmu besok. Kau membuatku kagum. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi. “Tergantung. “Jadi. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. besok dia pergi mancing. “Alice yang paling. aku juga tidak mengerti. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya.Ia menggeleng. “Sudah kubilang.. “Tidak.” protesnya. Hanya saja sekarang mereka berempat.” Aku memandang marah padanya.” aku menjawab terlalu cepat. kau tahu itu. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. “Apa saja yang bisa kami temukan. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. kuncinya tergantung di lubang starter.. mendukung. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi.” bisikku.” Aku menunduk.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. Ia nyengir. balas menatapnya. bibirku merengut. matanya yang keemasan tampak gelisah.” aku menyetujuinya. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya. “Trukmu akan ada disini. “Berburu.. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. djAnGgo 202 ... aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. “Bukan itu.” Aku meringis. “Aku tak bisa. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku.” katanya. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar.” aku mencoba menebak.” jawabnya dingin.” jawabku tenang. “Bisa dibilang tidak percaya.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. “Mereka tidak menyukaiku. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. Ia menahan senyum.. ia takkan menemukannya. di tumpukan pakaian di ruang cuci. itu kan Sabtu. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci. atau apapun yang direncanakannya. ulangku dalam benakku.” Ia menertawai perkataannya sendiri. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. “Dan kalau kau tidak pulang. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu.” Wajahnya bertambah muram. memandang ke berbagai arah. khawatir akan tatapannya yang persuatif. Aku menolak merasa takut padanya.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. terlalu percaya diri. dan memelas. “Baiklah. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. “Untuk masalah ini. Kami tidak pergi jauh-jauh. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. Mereka duduk.” “Barangkali kau benar. Edward menggeleng pelan. Aku mengubah topik kami. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Suaranya berubah tajam. “Tidak. tapi tatapannya kelewat polos.

Tapi kau.” gumamnya...” djAnGgo 203 . menyentuh dahinya dengan hati-hati. Kau selalu membuatku terkejut. “aku lebih baik daripada manusia umumnya. “Dengan keunggulan yang kumiliki. Manusia bisa ditebak.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. kau tak pernah seperti yang kuduga.

menunjuk kami sesantai mungkin. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. Tidak. “Hai..” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. senyum sinis mengembang di wajahnya. Aku kembali menatap Edward.. Aku ingin berpaling.” “Edward. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. Rosalie membuang muka. Kupaksakan tanganku meraihnya. Kesedihannya sangat nyata. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. Alice. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. bukan melihat. “Maaf soal itu. “Senang akhirnya bisa berkenalan.” sapaku malu-malu. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. Bella. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. Begini. Aku merasakan tatapannya di wajahku.. dengan cepat. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. Posturnya ramping. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. Aku menunggu rasa takut itu.” balasnya.” lanjutnya. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain.Aku berpaling. Tiba-tiba Rosalie..” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. elegan meski tidak bergerak.. “Halo. dengan buruk. Bella. Aku berusaha bicara sewajar mungkin. Mungkin ini yang terbaik. Wajahnya tegang ketika menjelaskan..” Aku hendak beranjak. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah.” Ia mengangkat wajah. “Alice.” Ia menunduk. Alice. tapi senyumnya bersahabat. tapi aku belum bisa menatapnya. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. ini Bella. sesaat wajahnya serius. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. merasa malu dan tidak puas. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. tapi aku tak tahu bagaimana caranya.” ia memperkenalkan kami.. ingin rasanya aku menenangkannya. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. Ia masih memegangi kepalanya. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. Dan perasaan frustasi. “Alice. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward.. djAnGgo 204 . mataku kembali mengamati keluarganya. bukan hanya aku yang bakal terancam. ini Alice. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. “Tapi ada lagi. berpaling dan menatapku. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Dia hanya khawatir. Suaranya nyaris seperti desisan.

” djAnGgo 205 .” “Aman di Forks. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. Kita ketemu di mobil. berbalik menghadap Edward lagi. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. begitu anggun sehingga membuatku iri. “Tidak.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.Suaranya dingin. “Kalau begitu. kumohon. selamat bersenang-senang. “Hampir. itu sih gampang.” Ia masih tersenyum. “Akan kucoba.” Aku berusaha terdengar tulus. langkahnya sangat gemulai. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. jagalah dirimu. “Dan kau.” Ia tersenyum. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.

“Aku akan mencuci malam ini.. “Janji. tiba-tiba marah.” katanya kembali bersemangat. setidaknya pelajaran Olahraga.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.” “Aku janji akan menjaga diri. berharap aku bersenang-senang di Seattle. Aku mengangguk sedih. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. Di Olahraga.” Rahangnya mengeras. mengusap lembut pipiku. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. Mike. Keputusanku sendiri sudah bulat. “Kau tahu. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya.” djAnGgo 206 . tergantung sepenuhnya pada keputusannya..” ulangku. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. tapi insting menghentikan niatku.” ejeknya.” janjinya. oke?” “Ya sudah. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward. “Aku akan datang besok pagi. “Sepertinya bakalan lama bagimu. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. khawatir trukku takkan sanggup.” Ia marah lagi. “Lihat saja. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi.” “Lalu. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. daripada menjauhkan diriku darinya. Kami semua akan berdansa denganmu. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. Ia mengulurkan tangan. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. “Cucian. Mike mengajakku bicara lagi. lebih menyakitkan. “Aku hanya menawarkan. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.” aku menekankan.“Bagimu memang gampang. Dengan sendirinya aku tahu. “Tidak. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. Aku pergi ke kelas dengan patuh.” ia berjanji. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. dan rasanya ia juga. Itu sesuatu yang mustahil. “tidak akan membantuku belajar. pasti bakal penuh bahaya. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain.” desahku. menyentuh wajahku. aku juga. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. bahwa esok adalah saat yang penting. kelewat ingin tahu. Lalu ia berbalik dan pergi. dan aku bertekad menjalankannya. atau instingnya. “Oh.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. “Sampai ketemu besok. tersenyum lebar. dan ini membuatku terkejut.” “Jangan terjatuh.” Ia bangkit berdiri. pasti keren. ya kan?” godanya.

djAnGgo 207 . Aku menggeleng tak percaya. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. aku berjalan lemas menuju parkiran. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini.Ketika sekolah akhirnya selesai. Insting terakhirku terbukti benar. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. Selembar kertas tergeletak di jokku. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Aku menertawai diriku sendiri. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan.

Aku akan pergi kesana kemari seharian. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. kau pergi saja dan bersenang-senanglah.” Ia tersenyum. Aku mencari jinsku. dan ke toko kelontong. tertawa. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. “Kau juga. PR. “Ada apa. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. Dan apa pilihanku yang lainnya. atau mungkin pertandingan basket.. Dad. terkejut. namun gemboknya terbuka. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Ia ingin agar aku selamat. hasrat itu akan mengalahkan segalanya. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. Lagipula. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. bila semua itu berakhir buruk.. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat..” “Kau yakin?” “Tentu.” aku memulai. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. Bella.. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. kurasa.. oke. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. Aku perlu ke perpustakaan.” “Oh.” katanya. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. Nyaris.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. Dad. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Lagipula. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. kuperiksa sakunya. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. membuyarkan lamunannya. “Oh. dan sudah mulai tak terkendali. Kosong. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku.. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. sejak aku datang ke Forks..” kataku. Sepanjang makan malam Charlie melamun. Dad. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. djAnGgo 208 .. Dad. persediaan ikan kita sudah menipis.. dan setelah menemukannya.. Tawaku reda.” “Mudah sekali hidup bersamamu. “Kau tahu. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. dan tak akan mengubahnya. pikirku sambil menggeleng. jangan ubah rencanamu. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. mencuci.

dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku merasa tegang. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. Sambil menunggu obatnya bekerja. Aku terbangun. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. Setelah semua siap untuk esok. berusaha djAnGgo 209 . Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur.

dengan kerah putih mengintip di baliknya.” Ia tertawa lagi.” tukasku gusar. belum-belum aku sudah gugup. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu. Aku ikut tertawa. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya. hargailah sedikit. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. melicinkan kerah pakaianku. sedikit kesulitan dengan selotnya. Aku mengintip ke jendela lagi. dan jins. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. wajahnya muram. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. Aku bangun cepat. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. Sepertinya tidak akan bertahan lama. “Kemana?” tanyaku. dan aku pun tidur pulas. tapi tak ada yang berubah. menembus kota yang masih tidur.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. “Kenakan sabuk pengamanmu. meskipun ia terus saja mencela. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. “Kita serasi. Aku berpakaian terburu-buru. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. Aku meluncur ke pintu. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. Aku mendesah lega.” sapanya sambil tergelak. atau celana. Awalnya ia tidak tersenyum. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang. Dan ia tampak berdiri di sana.menenangkan setiap bagian tubuhku. merasa puas. “Selamat pagi. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. tapi akhirnya berhasil membukanya. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Kini aku merasa tenang. buru-buru membereskannya ketika selesai. “Ke arah satu-kosong-satu utara. “Belok kiri di satu-sepuluh. Meski istirahatku cukup. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda.” perintahnya. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya.” aku mengingatkannya. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. dan ia pun tertawa.

tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis.kata. “Sekarang terus hingga ke ujung jalan. djAnGgo 211 .” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya. “Jalan setapak.

Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. “Katamu kau bisa mendapat masalah.” Kami memandang ke luar jendela. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Selama sisa perjalanan kami membisu. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. Ia tidak sedang memandangku. nyaris lembab di bawah selimut awan. Aku mengangguk.“Tidak.” katanya sambil menoleh. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu. Aku tidak menyahut. aku bilang kau membatalkan rencana itu. pandanganku tetap ke jalan.. Bella. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.. Ini akan jadi perjalanan memalukan. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. Ia menggumamkan sesuatu..” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa. Kemudian jalanan berakhir.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. “Jangan khawatir. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. “Tidak.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. sorot matanya masih kesal. atau bahkan melukaiku. dan kita tidak perlu terburu-buru. “Lewat sini. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya. Aku mendengarnya menutup pintu. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. bukan berarti kita akan melaluinya. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. dan sangat sinis.” aku mengingatkannya. Lagi-lagi aku berbohong.” Lima mil. dan aku tak tahu harus bilang apa. djAnGgo 212 . jengkel.. dan itu benar. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Aku berpura-pura tidak mendengar.. “Tergantung. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. Sekarang di luar terasa hangat. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny.” tukasnya. ke awan-awan yang mulai menipis. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. “Tidak. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi.

dan aku mendengus pelan. Ia terlalu sempurna. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. dengan senyum mengejek. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. djAnGgo 213 . Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya.“Aku takkan membiarkanmu tersesat.” Kemudian ia berbalik. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya.

sambil menatap mataku.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. tapi sering kali aku gagal. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. Kami lebih sering berjalan dalam diam. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. kalau aku berusaha keras. mengangkatku dengan memegangi sikuku. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. “Kau harus sangat sabar. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. tepat seperti yang diramalkannya.” Ia tersenyum. Hutan itu membentang di sekeliling kami. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. Ketika terjadi untuk kedua kali. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. dipenuhi jaring pepohonan kuno. Ia menertawaiku. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang.Ia menatapku. pura-pura kesal. mencoba memahami maksudku. “Ada apa?” tanyanya lembut. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. lebih keras dari biasanya. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 .” sahutku tolol. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. aku menyerah. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. tapi senyumku tidak meyakinkan.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. “Tidak. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati.” janjinya. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. ia membantuku. Hari telah berubah cerah. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. guru-guru sekolah dasarku. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. hewan peliharaanku semasa kecil. “Aku akan membawamu pulang. Ia mengamatik wajahku. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Ia menanyakan hari ulang tahunku. atau bebatuan besar.” “Aku bisa sabar. “Hampir. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. Aku mencoba membalas senyumnya. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. “Aku bukan pendaki yang baik.” kataku dingin. Ia memandang marah padaku.

dan putih lembu.” gumamku. djAnGgo 215 . hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Aku mempercepat langkah. setelah melangkah seratus meter lagi. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. dan mengikutiku tanpa suara. Tak jauh dari tempatku berdiri. “Barangkali belum kasat oleh matamu. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. Cahaya itu kuning.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. kuning. Tapi kemudian. Padang rumput itu kecil. melingkar sempurna. Ia nyengir semakin lebar. biru keunguan.bisa melihatnya?” Ia nyengir. bukan hijau. aku bisa mendengar senandung sungai.

Matahari tepat bersinar di atas kami. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. serta udara hangat dan keemasan. Aku tersenyum menyemangati. dan aku pun ragu. Edward tampak menghela napas dalam-dalam. Tatapannya hati-hati. Aku memandang berkeliling. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. djAnGgo 216 . enggan. mengulurkan tangan. memperhatikanku dengan tatapan waswas. terpesona. Ia mengangkat tangan mengingatkan. bunga-bunga yang melambai-lambai. lalu berhenti. sambil terus melangkah ke arahnya. Aku berjalan pelan. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. dengan ketakutan mencari-carinya. Aku kembali melangkah ke arahnya. Akhirnya aku menemukannya. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. ingin berbagi ini semua dengannya. Aku setengah membalikan badan. melintasi rumput halus.

mengamatiku. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna..13. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. Aku ingin berbaring. karena ia sudah memejamkan mata lagi. terlalu pelan untuk bisa kudengar. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Patung yang sempurna. halus bagai pualam. Kulitnya. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. meskipun aku telah memandanginya seharian ini.. Tapi ketika kutanya. Angin bertiup pelan. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. terlalu indah untuk menjadi kenyataan.” Ia tersenyum lebih lebar. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. Aku juga menikmati sinar matahari. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. halus bagai satin. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. “Aku tidak membuatmu takut. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. bahkan sekarang. meski tentu saja ia tidak tertidur. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. terukir dari bebatuan entah apa namanya. berkilauan bagai kristal. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. “Tidak. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. Dengan tanganku yang lain. selalu khawatir. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi.” Ia mendesah. dagu kuletakkan di lutut. tak ingin berpaling dari wajahnya. seperti yang dilakukannya. Jemariku gemetaran.” katanya tanpa membuka mata. “Tak lebih dari biasanya. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. djAnGgo 217 . tampak kemilau. Aku beringsut mendekat. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. lengannya yang telanjang juga berkilauan. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. lebih ringan dan hangat setelah berburu. dingin seperti batu. yang berada di dekatku. begitu cepat hingga seperti gemetar. Dengan ragu-ragu. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. “Kau keberatan?” tanyaku. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. kan?” guraunya. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri.

” Kuangkat tangannya. “Masih tidak biasa untukku. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya. ia membalikkan tangan dengan cepat. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. Menyadari apa yang kuinginkan. kita semua merasa seperti itu setiap saat. Aku terkejut.aku meraih dan membalikkan tangannya.” “Hidup ini sulit. Kudekatkan tangannya ke wajahku. mendadak begitu lekat. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi. Aku melihat dan mendapatinya menatapku.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. “Maaf. gerakannya membuatku terkesiap. untuk tidak mengetahui.” djAnGgo 218 . “Katakan apa yang kaupikirkan.” “Kau tahu. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi.” gumamnya. sesaat jari-jariku membeku di lengannya.” bisiknya.

Aku tak djAnGgo 219 . “Beri aku waktu sebentar.. Aku duduk tak bergerak. aroma yang membuatku meneteskan air liur.. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. dan duduk anggun di tanah. Tapi aku tak bisa menjawab. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. “Maafkan. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. Secara naluriah. Ia berhenti. Ia menghela napas panjang dua kali. “Seperti kau bisa melawanku saja. pelan untuk ukurannya. ekspresinya tak dapat kutebak. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. Edward. Dan ia menghilang.” bisikku. seharusnya. Tanganku yang kosong bagai tersengat. ia berjalan kembali ke arahku. menghempaskannya ke pohon besar lain. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. lalu melemparnya begitu cepat. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. Senyumnya berubah mengejek. sekarang ia setengah duduk. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. bertopang pada lengan kanannya. “Aku sangat menyesal. menghirupnya. Manis.. Aku tahu ia bisa mendengarnya.” Suaranya menggumam lembut.. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. aku mencium napas sejuknya di wajahku. Aku mungkin saja. langsung lenyap dari pandangan. tapi aku tak bisa bergerak. Tidak seperti apapun di dunia ini. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. “Aku predator terbaik di dunia.” ujarnya ragu. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. nikmat. aku mendekat padanya. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. merasa lebih takut padanya daripada selama ini.” ia tertawa getir. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. Dan aku berharap aku tidak takut.” ujarku ragu-ragu. tanpa berpikir. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. Matanya yang keemasaan mempesonaku. bahkan aromaku. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. pergi. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. melepaskan tangannya dariku. kakinya menyilang.. Aku duduk diam tak bergerak. kaku bagai batu. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan.. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. matanya tampak kelam dalam bayangan itu.” sahutnya. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. ia berada enam meter dariku. bahwa aku tak perlu takut. lalu tersenyum menyesal. Ia mengulurkan satu tangannya. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. “Well. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. masih beberapa meter jauhnya. suaraku. setengah meter dariku. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. aku. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya.” “Aku tidak ingin kau takut. bukan itu yang kumaksud. “Seperti kau bisa kabur dariku saja.” katanya lembut. Pohon itu bergoyang dan bergetar. wajahku. Ia menatapku. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku.

pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. atau lebih menawan. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. Lalu.. ketika detik demi detik berganti. djAnGgo 220 . Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap.. percikan itu memudar. Dengan wajah pucat dan mata membelalak. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi.

. Mata itu lembut. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. seraya menunduk lagi. alasan yang jelas. “Jelas. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya.” gumamnya.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. disamping alasan yang sudah jelas. suaranya lebih parau daripada biasanya. lalu matanya. benar. untuk.” Ia mengedipkan mata. hingga wajah kami sejajar. “Aku berjanji. “Aku seharusnya pergi sekarang. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. itu sesuatu yang perlu ditakutkan. juga bagiku.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku.” “Oh. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali.” Ia menunggu.. penuh penyesalan. karena. tadi kita sampai dimana. Ini juga masih sama sulitnya baginya.” timpalnya pelan. “Aku takut. hari ini aku tidak merasa haus. “Ya.. Keinginan untuk bersamaku. Kau membuatku tak berdaya.” gumamku sedih. “Jadi. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. “Sejujurnya.” “Aku senang. “Jangan takut.” desahnya. aku tidak bisa mengingatnya.” pintanya. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut. tapi wajahnya tampak malu. “Aku bisa mengendalikan diri. Aku kembali menatap tangannya. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. “Itulah sebabnya aku harus pergi. Parau djAnGgo 221 . Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini.” Aku cemberut. “Betapa mudahnya aku marah. Pada dasarnya aku makhluk egois. dengan amat perlahan.” ujarnya ragu. meski suaraku gemetar dan tertahan. “Aku seharusnya pergi sejak lama. kali ini lebih lembut. hanya terpisah tiga puluh senti. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan.. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. Ia duduk luwes.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. Senyuman balasannya sungguh mempesona. aku tak bisa terus berada di dekatmu. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus.” Ia tersenyum. “Kumohon maafkan aku. well. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. Detik demi detik pun berlalu.“Jangan takut. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. tapi aku masih tak sanggup bicara.” “Jangan!” Ia menarik tangannya. “Sejujurnya. Aku memandangnya dan tersenyum gugup.” desahnya.” bisiknya lagi sambil mendekat. Mendengar itu aku harus tertawa. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. Tapi jangan khawatir.” “Aku tak ingin kau pergi. Aku menatap matanya.

” Ia berhenti. Sulit rasanya untuk mengikutinya. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. dan bingung. djAnGgo 222 . Aku berpikir sesaat. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu.untuk ukurannya.

mencari-cari kata yang tepat.” “Jadi maksudmu.” Aku tersenyum. berusaha mencairkan suasana. “Maaf. . Ia langsung tersenyum. setiap orang punya aroma berbeda.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. Jelaskan saja sebisamu. inti berbeda. dia akan dengan senang meminumnya. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. “Ya. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. saling menatap. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Begitulah caramu berpikir. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. mencoba membaca pikiran satu sama lain. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya.” katanya. atau setidaknya mencoba. Ia balas tersenyum menyesal. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. aku semacam heroin bagimu?” godaku. atau apapun. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. juga rasa. menurutmu. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. kalian manusia kurang-lebih sama.. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. Emmett. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. kalau ia bukan peminum lagi. “Tanpa membuatmu takut lagi. “menariknya seperti kau bagiku. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. Ia kembali menatapku dan tersenyum. Ia memandang tangan kami. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat.” “Dan kau?” “Tidak pernah. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. raut wajahnya menyesal. atau takut. jadi dia mengerti maksudku. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku.” Kata itu melayang sesaat di sana. “Jadi. Tapi dia bisa menolaknya. dalam embusan angin yang hangat. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku.” Tanpa terlihat memikirkannya.” Ia memandangku. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. “Kau tahu. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. “Aku tak keberatan. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat.” kataku. memikirkan jawabannya. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. kalau ia memang ingin. hmmmm. sepertinya menghargai usahaku. kau adalah heroin bagiku. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . ia ragu. Ia memandang melampaui puncak pohon. terutama bagian terakhir..” Ia masih memandang kejauhan. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami.” Ia mendesah. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. cognac langka terbaik.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. Aku bisa mengerti. “Bagi Jasper.

” kataku akhirnya. bukan begitu?” djAnGgo 224 . Aku menunggu.memecah keheningan. memohon. tangannya mengepal dalam genggamanku. Ia melirik. Wajahnya menjadi gelap. wajahnya muram. tapi ia takkan menjawab. Ia membuang muka. “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. “Kurasa aku tahu. Pertanyaan yang salah.

” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. setangkas dan sehati-hati sekarang. Ia memandangku muram.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. bertahuntahun yang lalu.. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. ingatanku diperbaharui lewat matanya. “Kau pasti menduga aku kerasukan. Kejadiannya sudah lama sekali. “Kemudian. “Jadi kalau kita bertemu.. Aroma tubuhmu membuatku sinting. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. Hanya ada satu manusia lemah disana. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. tentu saja aku tidak akan.. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. “Aku bertukar mobil dengannya. “Tentu saja ada harapan! Maksudku. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. sangat mudah untuk diatasi. “Tak diragukan lagi. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. tidak!” Ia langsung menyesal. memikirkan keluargaku.. Saat itu aku nyaris menculikmu. membuat keputusan yang tepat.. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu... Dan aku terus melawan keinginan itu.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. “Tapi aku menolaknya.. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. kami mengingat saat-saat itu. Bagiku di luar lebih mudah. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah.. Aku tidak berani pulang menemui Esme.“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. “Kisah kita berbeda. Aku bisa berpikir lebih jernih... lalu aku pergi menemui Carlisle. agar aku bisa berdua saja denganmu. Emmett. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. di ruangan kecil itu. Cope yang malang. “ Sekonyong-konyong ia berhenti.. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. Aku harus pergi. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. Aku tidak tahu bagaimana. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. kau ada disana.” Aku menatapnya terpana. “Kau pasti datang. di rumah sakit. Mrs. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. Aku mencoba berkata dengan tenang. matanya nanar menatapku. dia tidak mengenal kedua gadis itu. “Ketika aku berjalan melewatiku.” Nyaliku ciut. menghilang. memalingkan wajah.” ujarnya.” Ia berhenti. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. karena disana aku tak bisa mencium aromamu..” “Aku tidak mengerti alasannya. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 .” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. memandang geram pepohonan. begitu dekat.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. membebaskanku dari kekuatan tatapannya. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. Aroma yang menguar dari kulitmu. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. oh. saat itu juga. menghipnotis dan mematikan. dan dia tidak. tidak mengikutimu dari sekolah.” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. yah. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku.. di lorong gelap atau apa.. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. “Maksudku. untuk memberitahunya aku akan pergi.

bersama beberapa kenalan lama. tapi aku kuat.. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska. tiba-tiba ia nyengir.” Ia terdengar malu. tidak sebesar ini. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. dan yang lainnya.... Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan.. dekat pun tidak. Dalam udara bersih pegunungan. keluarga adopsiku. “Dua hari aku disana.” Pandangannya menerawang. gadis kecil yang tak penting”. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. Aku meyakinkan diriku sendiri. djAnGgo 226 . Aku benci karena telah mengecewakan Esme. tapi aku rindu rumah. Siapa kau ini.mengetahui apa yang terjadi. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu.. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya.

. Aku tak bisa menebak alasannya.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. Aku sombong mengenai hal ini.Aku tak sanggup berkata-kata. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. Tapi kau terlalu menarik. Sangat menyebalkan.. bila mungkin. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. rambutmu. disini. Sebenarnya aku sangat ingin. ‘Jangan dia’. daripada sekarang. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku. meski suaraku samar-samar. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. begitu juga Alice. “Sepanjang keesokan harinya.” ia bergegas melanjutkan. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. karena jika aku tidak menyelamatkanmu. pikirannya tidak terlalu orisinal. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu. napasmu. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. berburu.. lebih antusias daripada rasional. “Tapi efeknya justru kebalikannya. Saat itu. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal... dari semua orang yang ada. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu.” Ia menggeleng tulus.. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. dirimu. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut.” lanjutnya. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. Emmett. Akhirnya aku bisa bicara. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. “Aku bertengkar dengan Rosalie. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya. pertengkaran terburuk kami. “Aku melakukan tindakan pencegahan. menaruh diriku dalam kuasamu. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. yang bisa kupikirkan hanya.” Ia memejamkan mata. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. Dan setiap hari aroma kulitmu. jika darahmu tercecer di sana di depanku. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Aku mendengarkan. “Tentu saja. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. “Aku kaget. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica.” Mata kami kembali bertemu.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap.. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. “Karenanya.” Ia cemberut mengingatnya. larut dalam pengakuannya yang menyiksa.. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. bahkan sekarang. seandainya aku akan menyakitimu. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Carlisle membelaku... dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. “Kenapa?” djAnGgo 227 .

” Ia menatapku dengan matanya yang indah. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang.” Ia menunduk. kembali malu-malu. tak bisa melihatmu merona lagi. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. namun tersiksa.. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku.“Isabella.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. kaku.. rasanya tak tertahankan.” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu.. putih. Terpenting bagiku sampai kapan pun. “Bayangan dirimu. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. Ia menunggu. “Bella. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. dingin. djAnGgo 228 . Dari topik menyenangkan tentang kematianku..

Dengan lembut ia membelai pipiku. dan aku ikut tertawa. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba.. Aku duduk diam tak bergerak. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. Aku melipat daguku. “Kau tahu kenapa.. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. “Baik kalau begitu. aku membelai punggung tangannya..” “Well.” bisiknya.” desahku. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan.” Wajahku muram. kan. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. “Singa sakit.” Berhasil.” Senyumnya memudar. “sepertinya tidak masalah.” “Tapi aku ingin membantu.” Sesaat ia memikirkannya.. ia mencondongkan wajah ke arahku.. sungguh. Ia memandangku dan tersenyum. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. kalau bisa. kemudian berhenti. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu. “Kenapa?” aku memulai. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya.” Ia berhenti sesaat. Tatapan kami bertemu. peringatan yang menyuruhku untuk takut. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain.” kataku bergurau. tanpa mengalihkan pandangan dariku. detak jantung dalam nadiku. “Masalahnya kau begitu dekat. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. ia tertawa. maksudku. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.” Ia tersenyum lagi.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku.” katanya. yang suka menyakiti dirinya sendiri. Lalu tiba-tiba. tahu. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. Aku tak bisa bergerak. “Domba yang bodoh.” gumamnya. seolah aku belum membeku saja. Pasti ia mendengarnya. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit..” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang... Perlahan. bahkan bila menginginkannya. “Tidak. “Bodohnya aku. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya.. dan aku berharap bisa memperlambatnya. contohnya”.” ia menimpaliku sambil tertawa. “Lihat. tak yakin bagaimana meneruskannya. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. Ini..” “Kau memang bodoh.” gumamnya.” Darahku mengalir deras. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya.” kataku akhirnya. “Aku takkan memperlihatkan leherku. namun dengan teramat lembut. tentu saja. Itu salahku. “Jangan bergerak. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini.” “Tidak.” Ia mengangkat tangannya yang bebas. “Benar-benar tidak apa-apa. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . mundur karena keanehan kami. “Aku ada disini. Bella. melihat apakah ia membuatku marah. Aku berpaling. “Rona pipimu cantik. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. Dan aroma lehermu.

Dengan kelambatan yang disengaja. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . kemudian berhenti. “Ah. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. hidungnya menyusuri tulang selangkaku.bagian dirinya yang lain. Ia berhenti. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. dan aku mendengarnya terengah. Mendengarkan detak jantungku. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. Bisa jadi berjamjam. Akhirnya detak jantungku memelan. Wajahnya bergeser ke samping. Aku gemetar.” desahnya.

Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. Meskipun”. Sudah kubilang... dan hidupku bisa berakhir.” desahku. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. Kemudian. memejamkan mata. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. “Tidak. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. ia melepaskanku.. dengan lembut mengusap kelopak matanya.jadi kelewat berlebihan. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. Kau?” “Tidak. Sorot matanya damai. Agar kau mengerti. Hasrat yang tak bisa kumengerti. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat..” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. Bukan dengan cara yang membuatku takut.. “Aku tak tahu apakah aku bisa. yang kurasakan. “Katakan padaku. ia setengah tersenyum.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. di lain sisi. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya. bayangan keunguan di bawah matanya.. kemudian. Tak ada yang bisa setenang Edward.. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. tidak pernah. sebuah ukiran dalam genggamanku.” “Tapi. kesulitan. “Ada hasrat lain. Kubelai pipinya. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 . begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya.” Aku tersenyum.” bisikku. “Kemarilah.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. Aku ingin mencondongkan tubuh. dan keduanya tampak kelaparan. Dan kurasa kau bisa memahami itu. menghirup aromanya. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya. “Jangan bergerak. rasa lapar.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku.” desahku. “Kuharap.. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. yang menjadikanku makhluk tercela. kebingungan. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. itu tidak buruk. terlalu cepat. Tidak pernah sebelumnya. sesuatu yang asing bagiku. haus. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. membuatku gemetaran lagi. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan.. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya. Ia membuka mata. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku. “Kau tahu maksudku. “Ini sudah cukup. “kuharap kau bisa merasakan. kurasakan padamu. “Kurasa aku tidak bisa.” katanya puas. Bibirnya membuka di bawah tanganku.” ia mengaku. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. bagiku. Aku tak bisa memikirkan apa pun.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. tak ada yang lain. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku.. tak ingin mendorongnya terlalu jauh. “Tidak akan sesulit itu lagi. mengingatkannya lewat tatapanku.” bisiknya.

wajahnya di rambutku.” sahutku. tapi masih ada.” Lama sekali kami duduk seperti itu. dan aku pun mendesah. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. djAnGgo 232 . bayangan hutan mulai menyentuh kami. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. “Aku punya naluri manusia. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka.

“Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. lalu mengulurkan tangan meraihku. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. bagai hantu. dalam hitungan menit.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. dan menghirupnya dalam-dalam. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. Ia berdiri tak bergerak. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. bukan?” Suaranya meninggi. sekarang terdengar waswas.” “Sudah jelas. kami sudah sampai di truk. Ia meraih bahuku.“Kau harus pergi.” Ia mengamati ekspresiku. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. Kemudian selesai. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tersenyum melihat keraguanku. “Oh. maaf. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. dan aku menatap wajahnya. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. naik ke punggungku. Rasanya seperti memeluk batu. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. “Sepertinya aku butuh bantuan.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. Jantungku bereaksi. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. pengecut kecilku. “Bella?” panggilnya. Ia tertawa. Aku mencobanya. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. “Hah!” dengusnya. kau akan sangat aman. selalu luput menyentuh kami.” aku menahan napas.” ujarku. menekankan telapak tanganku ke wajahnya.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. tapi otot-ototku kaku. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku. lebih keras daripada yang pernah kudengar. aku merasa mabuk. Tak ada suara. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar. menungguku turun. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. Irama napasnya tak pernah berubah. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. “Rasanya aku perlu berbaring. aku yakin kau sering mendengarnya. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward.” aku mengingatkannya. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman.” “Ayo. “Jangan khawatir. senang.” gumamnya. djAnGgo 233 .” Ia menungguku. Kemudian ia berlari. dan sekarang. “Asyik.

” djAnGgo 234 .” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak. “Rasanya pusing. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. Kemudian ia menarikku menghadapnya. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis.Ia tertawa pelan. Ia memelukku sebentar. Kupasrahkan diriku. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

Ketampanannya memukauku. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. menjaga kepalaku tetap tenang. “Ups.” Ia terdiam.” lanjutnya. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. Darahku mendidih dan membara di bibirku. “Tidak.” “Tukang pamer. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. seperti cara manusia. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. dan lumayan membantu. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. Aku terpana dibuatnya. Bella.” Tatapannya liar..” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. namun suaraku lemah. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.” ujarnya pelan. untuk mengetahui apakah ini aman.” gumamnya. Aku merasakan ia duduk di sisiku. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. Jariku meremas rambutnya. Telingaku berdenging.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. “Tidak.” gumamku. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. Ia tersenyum. “Bukan. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. rahangnya menegang. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.. Waktu berlalu.” “Lain kali ingat itu.” desahku. bukan sesuatu yang harus kupikirkan. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. memberinya sedikit ruang.?” Aku mencoba menahan diri. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. terlalu berlebihan. terkendali.” ia tergelak.” “Lain kali!” erangku. Aku bernapas palan.. itu tadi sangat menarik. “Tukang pamer. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan.” Suaranya sopan. Ia tertawa. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.” “Bella. Dan disanalah dia. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. “Berlari adalah sesuatu yang alami.Aku mencobanya. Aku terus menatap matanya. Suasana hatinya masih bagus. “Haruskah aku. ketika aku berlari. “Aku sedang berpikir.. tidak seperti biasanya. Napasku terengah-engah. Ia ragu-ragu. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. oh bukan. wajahnya sangat dekat denganku. kau lucu.” gumamku lagi. aku bisa mentolerirnya. “Buka matamu. Tolong tunggu sebentar. “Itu namanya melecehkan. Aku tak bisa bernafas. Aku mencoba bersikap positif.

” djAnGgo 236 . dan senyumnya tak disangkasangka nakal. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga.” katanya. jelas puas dengan dirinya sendiri.dalamnya mulai memudar dan melembut. Senang mengetahuinya. Kemudian ia tersenyum. Maafkan aku. Ia tertawa keras. “Bisa ditolerir?” tanyaku.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama.” “Kau toh hanya manusia biasa. “Nah.

“Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. menjadi lembut dan hangat. “Santai saja. Awalnya ia tidak menjawab. Aku gemetaran. bisa menerimanya. tapi kurasa keberanianku. trukku sudah cukup tua. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. aku masih pening.” djAnGgo 237 . mulai dari telinga ke dagu. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. “Tidak.” Alisnya terangkat tidak percaya. memerlukannya lebih dari dugaanku.” “Kau gila ya?” protesku. Tidak sedikitpun. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. atau trukku. Bella. menggenggam kunci mobilku erat-erat. “Bella. berulang-ulang.” “Percayalah. “Aku tidak yakin. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali.” desahku.” kutipnya sambil tergelak. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal.“Terima kasih banyak.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. “Kau mabuk oleh kehadiranku.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. Kugenggam tangannya yang dingin. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup.” akhirnya aku berhasi menyahut. sedikit saja.” timpalnya. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang.” akhirnya ia bergumam. “refleksku lebih baik. Aku mulai mengitarinya. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya. “Bagaimanapun. Lagipula.” “Aku yakin itu benar. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. “Kurasa gabungan keduanya. “Refleksmu jauh lebih lambat. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini. Ia mengulurkan tangan padaku.” Kuselipkan tanganku di saku celana. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya.” godanya. Tak ada jalan keluar.” “Sangat masuk akal. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. menuju sisi pengemudi. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. gerakan yang tak kusangka-sangka.” sahutku getir. wajah manusianya tampak tenang. “Mabuk?” timpalku keberatan. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.

.. tampaknya itu mudah baginya. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. uhh!” Ia bergidik. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. Usiaku tujuh belas saat itu. menit demi menit berlalu. Ia menunduk menatap mataku lagi. tangan kami yang bertaut. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Ia mendesah. sekarat akibat flu Spanyol. “Tidak juga.” Ia mendengarku terkesiap. Ia hafal setiap barisnya. ragu-ragu. wajahku. “Coba saja. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. “Delapan puluhan masih bisa diterima. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. kadang-kadang menatapku. Ia memandang matahari. “Aku tak mengingatnya dengan baik.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku.” aku nyengir. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. lalu berkata. Ia melihat ke arah matahari. kemudian mentap mataku.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. atau ’70-an. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. “Musik ’50-an bagus.” ia bergumam pada dirinya sendiri. Seperti banyak hal. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918.” kataku akhirnya.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan.14. tapi aku masih bertanya-tanya. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. sudah lama sekali. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. Ia mengemudi dengan satu tangan.

bukan sesuatu yang bisa kaulupakan. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut..” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 .” “Bagaimana dia.. Itu sebabnya dia memilihku. ketika Carlisle menyelamatkanku. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. Aku sebatang kara. “Sulit.memudar. Bukan hal mudah. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. yang paling berbelas kasih di antara kami. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya.. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi.

lalu berlalu djAnGgo 240 . “Tapi dia berhasil. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. masih terjalin.” “Sungguh?” selaku.” Ia menatapku dalam-dalam. jadi kami semua mendaftar di SMA. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. itu hanya Carlisle. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain.. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap. Alice mengetahui hal lain. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. lain. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. “Ya. “Kesendirianlah yang menggerakkannya.” Ia terdiam. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama.. “Meski begitu. hal-hal yang akan datang. Mereka mengembangkan kesadaran. “Tapi katamu. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. dan matanya tertuju padaku.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini.” Ia tertawa.” “Memang benar. Alice menemukannya. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami. “Tidak. Forks kelihatannya sempurna. Dia terjatuh dari tebing. begitu kami menyebutnya. Jasper berasal dari keluarga. hal-hal yang mungkin terjadi. Dia melihat hal-hal. “Bagiku. Masa depan tidak terukir di atas batu. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit.” lanjutnya. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. Rosalie sedang berburu. menempuh jarak lebih dari seratus mil.. sangat menyakitkan.” Ia memutar bola matanya. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. Kutekan rasa penasaranku. sebagai suami-istri. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. terkesima.. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. Tapi itu sangat subjektif. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. Rosalie membawanya kepada Carlisle. dan mengangkat tangan kami. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. jenis keluarga yang sangat berbeda. tanpa bimbingan dari luar. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. Segala sesuatu berubah. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. dan akhirnya memilih mengembara sendirian. meskipun nyaris tak mungkin.” gumamnya.” aku mendorongnya. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. lagi.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. Dia tertekan.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. Seperti aku. rasanya amat. waktu itu kami sedang di Applachia. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya.

. contohnya. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. dan mereka datang bersamasama menemui kami. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. Dia selalu melihat. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami. ketika kelompok lain mendekat. djAnGgo 241 .” “Apakah jenis kalian. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi.begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. ada banyak?” Aku terkejut. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia..

“bisa hidup bersama manusia selama apapun. membukakannya untukku.” Banyak sekali yang harus dipikirkan. Lampu teras mati. kebiasaan ini mulai membosankan. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. dia barangkali bisa berubah jahat. aku membuatmu terlambat makan malam. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. perutku keroncongan. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. Hanya yang seperti kami. Jenis seperti kami yang hidup.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. ia mengerling licik padaku.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. Dalam gelap ia djAnGgo 242 .. dan ia mematikan truk. “Maaf. sungguh. dan itu adalah misteri. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. tidak banyak. kalau tidak merepotkan. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Dia terbangun sendirian. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa.” “Aku ingin bersamamu. Tapi yang membuatku teramat malu. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. “Sangat manusiawi. seperti Jasper?” “Tidak. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. Kadang-kadang kami bertemu yang lain. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. Seperti yang lainnya. tak ada bulan.” aku memujinya. Aku lupa.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. jadi aku tahu ayahku belum pulang. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami.” “Aku baik-baik saja. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Suasana sangat tenang dan gelap.“Tidak. di desa kecil di Alaska. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. yang telah berhenti memburu kalian manusia”. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali.. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. “Ya.

Masih pucat. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. menyalakan lampu teras. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. ketampanannya masih bagai ilusi.” Aku melangkah masuk. “Aku penasaran denganmu.” djAnGgo 243 . aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat.tampak jauh lebih normal.

“Kau merindukan ibumu. Ia sudah disana. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. “Pada?” desaknya. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. djAnGgo 244 . “Aku tidak yakin. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. menempatkan sebagian di piring. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. Aku tetap menatap piring ketika bicara. terus ke lorong menuju kami. “Kalau begitu lain waktu saja. Aku mencoba memalingkan wajah. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur.” Aku memikirkannya dengan cepat. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. Ia menarikku lembut ke dadanya. sama sekali tak perlu diarahkan. Ia menanti. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. berharap aku bisa melihatnya. Aku merasa malu. “Jangan malu. wajahku memanas hingga ke garis rambut.” Dan akupun sendirian. Ekspresinya langsung berubah kecewa.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. kemudiam memanaskannya di microwave. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. dan tidak membuatku tersinggung lagi. “Seandainya bisa bermimpi. “Jangan sedih!” ia memohon. Aku tersanjung. Ia kelihatan tidak menyesal.” ia berbisik di telingaku. Aku masih tidak berpaling. “Kau memanggil namaku. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. tentu saja. tapi sekarang sudah jauh berkurang. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur.” Ia tertawa lembut.” “Tidak!” sahutku menahan napas. Kau pernah mengatakan sekali... “Ada lagi?” desakku. Gerakannya sangat alami. ia sudah pindah ke sisiku. “Kau mengkhawatirkannya.” Nada suaranya datar. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. tanpa suara. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. Ia tahu maksudku. aku pasti akan memimpikanmu. “Apa yang kaudengar!” erangku. Piringnya berputar. Aku mendesah kalah.” Aku berputar. Saat itu juga. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya. terperangah. kemudian menatapnya.. Dan aku tidak merasa malu. “Kau mengigau.” ia mengakui. ‘Terlalu hijau’. Tubuhku kaku dalam pelukannya. ibuku selalu menggodaku soal ini. suaranya membuatmu gelisah.. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. Lama baru aku bisa berpaling.” bisiknya. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. Dan ketika hujan turun.

“Edward!” desisku tertahan. Sebelumnya hal ini menggangguku. siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. djAnGgo 245 . Aku mendengar suara tawa yang samar. “Bella?” panggilnya. Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. lalu lenyap.

oh.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu.. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua. “Tidak. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. Acara memancingnya biasa saja. Sayang.” timpalnya.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. “Tidak. “Hari ini memang bagus. pikirku. Aku baru menyadari tanganku gemetaran. Mengapa. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward.” “Dia hanya teman. Aku ingin sekali pergi ke kamar. Betapa ironisnya. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. “Kupikir Mike Newton itu.. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa.. djAnGgo 246 .” ujarnya. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar.” aku menimpali sambil menaiki tangga. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. Ketika aku meletakkan gelasku. “Ini hari Sabtu.” “Kau kelihatan agak tegang. susunya bergetar. Aku membawa makananku. “Bagus. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. aku hanya mau tidur. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. benar-benar menggelikan. ya?” Ia curiga. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. “Bagimana harimu?” tanyaku.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. buruburu. Tunggu saja sampai kuliah nanti. “Sedang terburu-buru? “Yeah. “Sampai besok pagi.. kalau mau mencari teman istimewa.” “Well . Aku mau tidur lebih cepat. “Selamat malam. “Terima kasih. Aku kepedasan.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba.“Disini. belum ada cowok yang menarik perhatianku. Aku tak menjawab. Begitu lasagna-ku habis. Dad. Dad.” sahutnya menerawang. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. aku lelah. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. Dad. Charlie duduk di kursi. tapi berusaha terdengar biasa saja. “Sepertinya ide bagus.” ujarnya. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. katamu dia ramah. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. “Oh!” aku mendesah. benar-benar merasa tolol. Ia berbaring. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. jatuh lemas ke lantai. tersenyum lebar di tempat tidurku. “Ya?” Aku berbalik. tangannya menyilang di belakang kepala.“Edward?” bisikku. djAnGgo 247 . “Maafkan aku.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. Posisinya sangat santai. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur.

Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. supaya tidak mengejutkanku lagi. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. Dad. kemudian menutup pintu. Aku melompat. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. “Tentu. terburu-buru lagi. Kugosok gigiku keras-keras. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. pakaian itu tampak bagus padamu. yang sedang duduk di kamarku.” kataku. Bella. mencoba tampak galak.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. Salah satu alisnya terangkat. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. menyingkirkan sisa-sisa lasagna.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. Sesaat kami duduk diam disana. “Sungguh. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. “Bagus.” “Selamat malam. Aku bermaksud buru-buru. Ma’am.” Aku nyengir. patungnya menjadi hidup.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. “Diam disitu.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. dan meluncur ke kamar. “Selamat malam. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. mengangkatku. “Ya. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. Aku menaiki anak tangga dua-dua. rambutku yang basah. Kumatikan keran air. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. berusaha tetap tenang. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. menunggu. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. menenangkan denyut nadiku. Kulempar handuknya ke keranjang. Aku membiarkan lampu tidak menyala. Matanya mengamatiku. handukan sekenanya. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. meluncur keluar. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. kemudian menyisirnya cepat-cepat.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. menutup pintu rapat-rapat.” djAnGgo 248 . Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk.

Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya. mengamati wajahku.” Ia memikirkannya. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga.” djAnGgo 249 .” bisikku. aku bakal menyelinap keluar. Aku kembali ke sisinya. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali.” “Oh. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir.“Terima kasih.” Ia mengangkat daguku.

“Sore tadi. ragu. membuatku malu. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks.” “Kau bisa melakukan apa saja. Ia mengangkat bahu.. kemudian. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai. bukan dalam artian seorang adik. bersamamu.... sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku.. bahwa aku tak dapat.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. dan ketika berbicara ia terdengar senang..” sergahku. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir. Ia nyengir. Aku merasakan tangannya. Maafkan aku soal itu. “Ya?” desahnya. “Kau tahu...” Ia tersenyum. djAnGgo 250 . “Aku hanya terkejut.” aku memulai lagi.” suaraku bergetar.. “Kenapa. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat... menaklukan”. “Mmmmmmm. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. Saat ia menyentuhku. aku bertanya-tanya. hidungnya meluncur ke sudut rahangku. menerima pujianku...” paparku. ia menghirup aroma pergelangan tanganku. dan kami tertawa pelan. sekarang menunduk.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku.. aku masih.” desahnya.. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku.” suaranya menggoda. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.” “Jadi.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata.” Aku menarik diri.. Ia memikirannya sebentar. meskipun semuanya baru bagiku. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan.” ia menjelaskan.. “Sepertinya.” kataku mencoba menghembuskan napas.. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. “Amat sangat lebih mudah. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. ekspresinya tampak bingung. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.” ujarku.. dan ia membeku..” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. justru sebaliknya.. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya. lebih ringan dari sayap ngengat.” desahnya. Saat konsentrasiku buyar. dan aku kehilangan akal sehatku. “Selain kemungkinan aku dapat. “Terima kasih. “Tapi sore tadi. “aku juga rapuh.” “Tidak tak termaafkan. Kau membuatku sinting. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat.. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. Aku sama sekali tak bergerak. Dan menemukan. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis. “Hmm. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu.” “Ini tidak mudah. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku.. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya..” lanjutnya.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

“Sudah kubilang.” Wajahku memerah. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.” djAnGgo 259 . sedikitpun tidak.“Tentu saja belum.

. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.” ia meyakinkanku.“Aku tahu.” Ia terdengar puas. Ia menanti. tapi aku laki-laki. djAnGgo 260 . apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. Setidaknya kita punya persamaan. “Well. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering.” aku memulai. “Aku mungkin bukan manusia. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. Lebih letih daripada yang kusadari. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. suara malaikat. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi.” ia bersikeras. Aku menguap tanpa sengaja. “Naluri manusiamu.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. sekarang kau harus tidur.. nina bobo yang asing. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan. “Bagus.” “Bagiku ya. Ia tertawa. “Aku tak yakin apakah aku bisa.” aku mendesah. lembut di telingaku. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain.

djAnGgo 261 .

tapi aku menyukainya. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.” aku mengakuinya. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. “Aku yakin itu mimpi. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. “Dia pergi sejam yang lalu. matanya terlalu ceria. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. Aku tak mengenali diriku. Aku mengerang dan berguling ke sisi. tapi khawatir napasku bau. tanpa berpikir melompat menuju pintu. aku kecewa. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. Aku berbaring. setelah memasang kembali kabel akimu. lagi. membawaku ke dalam pelukannya.” “Kau tidak sekreatif itu. “Kutunggu. djAnGgo 262 . dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. dan rambutnya sudah rapi. Wajah yang ada di cermin praktis asing. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu.15.” gumamnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan.. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. “Charlie!” Aku teringat. aku membeku. dan berusaha bernapas secara normal. kalau boleh kutambahkan. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. lengannya masih menantiku. “Selamat datang lagi. “Tentu saja. khawatir tindakanku telah melewati batas. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. berharap bisa tertidur lagi. lengan menutupi mata. Harus kuakui.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. Setengah berlari aku kembali ke kamar.” jawabnya kaget. Tapi ia tertawa.. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. dan jantungku berdebar tak keruan. ingin sekali kembali padanya. Tangannya mengusap-usap punggungku.” Aku melompat ke kamar mandi. tapi nyaris gagal. sama sekali tak memahami emosiku. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. sebuah mimpi yang coba kuingat. mengantuk dan pusing. Sesuatu. Aku menatapnya. Kupercikan air dingin ke wajahku. di dalam maupun di luar.” dengusnya. Ia meraihku. Begitu menyadari apa yang kulakukan.” ujarnya. terkejut karena semangatku yang menggebu. menghirup aroma kulitnya.

apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. sambil menyentuh kerah kausnya yang baru. djAnGgo 263 .“Kau pergi?” tuduhku.

“Mm.. “Kau hidupku sekarang. memperhatikannya sambil menyuap sereal. “Tidak apa-apa. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. Aku tersenyum. untuk membuktikan. “Aku mencintaimu. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi. “Kau mau sesuatu?” tanyaku..” akhirnya ia berkata. “Bercanda!” aku nyengir. tak ingin bersikap tidak sopan. baiklah. “Tapi toh aku senang mendengarnya. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. seperti aku.” Aku menggerutu.” aku mengakui. menyukaiku. melompat berdiri. “Boleh kuulangi?” tanyaku. Ia mendudukanku di kursi. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. ceria.” aku mengingatkannya. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku.” Kesembunyikan wajahku di bahunya.” Matanya berkilatkilat. terkejut kau membawa seseorang. “Tidak lucu. “Aku akan melindungimu. Bella. dengan kasual. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. dan kau tahu itu. memastikan ia memaafkanku. menyusupkan kepalaku.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya.“Kau tidur sangat pulas semalam.. well. Ia memutar bola matanya.” “Itu sangat lucu.” Ia mencibir. aku tak yakin. mengalihkan perhatiannya.” “Kau sudah tahu itu. aku tak melewatkan apapun. “Jangan khawatir.. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. ia bisa melihatnya di mataku. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.. Perhatikan caraku berburu. Dan tampaknya aku dimaafkan.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. aku yakin.” jelasku.. Ia terperanjat. Itu membuatku tidak nyaman. Kuletakkan makananku di meja. Ia memandangiku. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. “Aku khawatir mereka takkan. “Saatnya sarapan.” “Oh. lalu berhenti.. jijik. seolah-olah menyerap suasana hatiku. dengan lembut.” “Aku tidak takut pada mereka. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. “Saatnya sarapan untuk manusia. “Kau mengigau lebih awal. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. ke rumah djAnGgo 264 . “Ya. “Makan saja. “Hmmm. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang..” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. mempelajari setiap gerakanku. Ruang dapur terang. “Apa acara hari ini?” tanyaku. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap.” bisikku. tapi ia mengabaikanku. “Kaubilang kau mencintaiku. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. Tidakkah mereka akan.” jawabnya sederhana.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. Aku berdeham untuk bicara.” Aku duduk di meja makan. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas.

ia tersenyum. Kau tahu. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 .menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. mereka sudah mengetahui semuanya. tapi suaranya parau. “Apakah aku membawamu kembali. kemarin mereka bertaruh”.

” Senyumnya penuh kesabaran. Aku tidak berharap kau..” Ia meraih ke seberang meja. menerawang ke luar jendela belakang. mengabaikan tatapan marahnya.” gumamku. sama sekali bukan beruang pemarah.” Perlahan ia mengelilingi meja.” djAnGgo 266 . “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya. dan semuanya. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. aku akan menunggu disini.” “Well. kau tak perlu berpura-pura demi aku. makananmu tidak terlalu mengundang selera. “Kira-kira begitu. ekspresinya penuh makna.” “Kau menyimak. maksudku.” ia meyakinkanku. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. Aku menatapnya penasaran. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. “Itu tidak perlu. memandangi meja.” “Berpakaianlah.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk.Alice. “Apa itu enak?” tanyanya. “Aku akan selalu menginginkanmu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah.” Aku meringis. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. menggigit bibir. “Jadi. Kemudian tatapannya kembali padaku. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. “Selamanya. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan.. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.. Aku buru-buru menghabiskan serealku. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu. Ia berdiri di tengah dapur. kau tahu. “Ya.” aku mengakui. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan. jangan lupa itu. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. “Aku tidak berpura-pura. “Jujur. Aku melompat berdiri.” aku mengaku.” katanya jengah. “Maksudku sebagai pacarmu.” ia tersenyum senang. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku.” “Dia sudah mengenalmu.” aku mengingatkannya. Ia tidak menyahut. sambil berspekulasi. mirip patung Adonis lagi.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian..” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. “Aku tidak tahu. “Well.” Aku menatapnya curiga.” aku mengingatkannya. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu.

Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda. Lega rasanya bisa berpikir begitu. berwarna khaki. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. djAnGgo 267 . Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. rok panjang. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. masih kasual.

jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. menggeleng-gelengkan kepala. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku..” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. “Begini.” Aku menggeleng menyesalinya. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. “Aku sudah pantas bepergian..” aku bersikeras. Kemudian aku tak sadarkan diri. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. lebih dekat dari yang kukira. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . “Kau salah lagi. Jalanan itu tak bertanda. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. Hutan menyelimuti kedua sisinya. Amat sangat terlalu pintar. dengan sangat hati-hati membukanya... Tanganku membeku di dadanya. jatuh pingsan.” Aku masih pusing. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. jalanan membentang ke utara. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila. “Kau sangat tidak pantas. “Kemarin aku menciummu. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. betul?” “Betul. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. Wajahku memerah senang. “Kau sulit dipercaya. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah.“Oke. putus asa. “Kurasa aku lupa bernapas. Ia menggeleng. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya.” Aku menyadari. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. “Kau sangat konyol. “Kau terlalu pintar melakukannya..” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. membuatku. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. dan aku kembali melayang.” gumamnya di telingaku.” “Aku baik-baik saja.” Ia menunggu di ujung tangga. dan ruangan pun berputar. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. dan berpaling. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. Jelas itu pertanyaan retoris. dan memasuki hutan berkabut.. pingsanku kali ini berbeda. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. “Dan kau khawatir. itu tidak adil. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.” ia mendesah. “Kau. dan aku langsung menghambur ke arahnya. dan semakin besar. Ia memiringkan kepala perlahan. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. “Tidak.” ujarnya tak disangkasangka. dan semakin besar.” aku meracau. Aku tak tahu apa yang terjadi. “Itulah masalahnya.” Ia mendesah. “Aku bisa mengganti.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal.” aku langsung menjawabnya.

dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. setelah beberapa mil. hutan mulai menipis. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. Kemudian. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. djAnGgo 269 .sekeliling pepohonan kuno.

Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. Aku pernah melihat dr. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. Bella. berwarna cokelat karamel. “Carlisle.” “Tolong panggil saja Carlisle. “Wow. Tubuhnya mungil. Di bagian belakang. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. dr. namun tidak terlalu kurus. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. Rumah itu tampak abadi. berdiri persis di kiri pintu. berhati-hati saat mendekatiku. berlantai pudar. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. Cullen sebelumnya. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. Ia membukakan pintu untukku. dan barangkali berusia beberapa tahun. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. mengingatkanku pada era film bisu. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. djAnGgo 270 . dan karpet tebal. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. langsing. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. Wajahnya berbentuk hati. Esme. tapi tidak bergerak mendekat. “ini Bella.” “Carlisle. ayo. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. lebih berisi dibanding yang lainnya. langitlangitnya yang tinggi. Mereka tersenyum menyambut kami. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. lebih tak bisa diramalkan.” Langkah Carlisle terukur. dan sangat luas. sangat terbuka. “Sama sekali tidak. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum.” Aku mencoba tertawa. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai.” Aku tersenyum padanya. menjabat tanganku. lantainya yang terbuat dari kayu. tersembunyi di kegelapan hutan. berlantai tiga. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. Dinding-dindingnya.” sahutnya tulus. elegan. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. rambutnya berombak dan halus. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. Aku merapikan rambut dengan gugup. Tampak menanti menyambut kami. daripada bagian luarnya. kesempurnaannya yang luar biasa. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. Sangat terang.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. berbentuk persegi dan proporsional. tapi jelas bukan yang seperti ini. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. tentu saja. adalah orangtua Edward. “Kau cantik. tanpa ragu. “Senang bisa bertemu Anda lagi.” “Selamat datang. semuanya merupakan gradasi warna putih. Cullen. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme.

“Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng.” Memang itulah yang kurasakan. Putri Salju dalam wujud aslinya. tapi mereka tidak menjawab.“Terima kasih. berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. Aku juga senang bisa bertemu Anda. djAnGgo 271 .

” Ia berbicara penuh perasaan. tapi seperti kebanyakan anak. “Senang bisa bertemu kalian semua. Bella!” sapa Alice. Ia terlihat bahagia. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. “Terima kasih. dan sesaat mereka saling menatap. “Halo. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. ekspresinya mendalam. bingung. tatapan yang tidak kumengerti.” Edward tertawa lepas. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. Ia berlari menuruni tangga.” bentaknya. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. bukan begitu?” kataku menjelaskan. baginya. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. tinggi bagai singa. menunjuk piano dengan kepalanya. itu sesuatu yang alami. “Kami senang sekali kau datang.” ia tertawa. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan.“Hei. Tapi piano itu indah sekali. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. itu tidak sopan. tapi aku menyukainya. Aku memandang wajahnya. “Hai. Ia mengajariku cara bermain piano. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. sekarang mereka tampak terkesiap. Jasper. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini. dan aku teringat akan kemampuannya. begitu tenggelam. Aku mengalihkan pandangan. kemudian Jasper ada disana. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. Carlisle dan Esme memelototinya. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. ia memandang Edward penuh makna. Kugelengkan kepalaku.” ia berkomentar.” sahut Esme. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. seandainya aku menenangkan lotere. Ia tetap menjaga jarak. “Kurasa seharusnya aku tahu. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano.” tambahku apa adanya. “Halo. Edward menatap Jasper. “Edward bisa melakukan segalanya. Apakah itu milik anda?” “Tidak. meskipun wajah djAnGgo 272 . dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. “Kau bisa main piano?” tanyanya.” sapa Jasper. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. dan pada yang lainnya juga.” Aku tersenyum malu-malu padanya. “Kau memang harum. Bella. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. Lagipula. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. rumah kalian sangat indah. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. membuatku sangat malu. Esme memperhatikan keprihatinanku. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. berusaha terlihat sopan. salah satu alisnya terangkat. “Tidak sama sekali. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. tentu saja. “Hanya sedikit.” Alis Esme yang lembut terangkat. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa.

bermainlah untuknya.Esme tampak nyaris puas.” Esme mendorong Edward menuju piano. “Kalau begitu. Edward menarikku bersamanya. djAnGgo 273 . dia terlalu rendah hati.” balas Esme. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. “Kalau begitu sudah diputuskan.” sahutku.” sergah Edward keberatan. mendudukkanku di kursi di sampingnya. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan. “Sebenarnya.” aku meralatnya.” bujuk Esme.

Aku tak sanggup berkata-kata..” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi. matanya melebar dan persuasif. untuk mencegahnya menyadari kengerianku.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.” katanya. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis.. “Dia berharap seandainya dia juga manusia. “Kesukaan Esme..” Aku melirik ke belakang. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. “Bahkan Jasper. masih terkejut.” gumamku. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. “Terutama Esme. menertawakan reaksiku. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya. Ia merengut. “Kau manusia. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya.” “Oh. “Kau yang menginspirasi ini. “Emmett?” “Well . “Esme dan Carlisle.” Aku mendesah. “Sudah kubilang.. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit.. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput..” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. Ia mengangguk. menutupi jati diri kami. tapi dia tidak punya masalah denganmu. berubah jadi lebih lembut. Selama ini dia mengkhawatirkan aku.” Aku mencibir. “Dia akan datang. dan bergidik. “Senang melihatku bahagia.. dia pikir aku gila. “Rosalie yang paling berjuang keras. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya.” Irama musik memelan. Dan dia agak cemburu. musik masih melingkupi kami tanpa henti. Edward menatapku santai. Tapi Rosalie dan Emmett. dan ia berkedip. kau tahu.. takut ada djAnGgo 274 . “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu.” katanya lembut. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. begitu kaya. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. Sebenarnya. Ia menarik napas dalam-dalam. dan mendengar tawa pelan di belakangku. dan dia benar. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan.” Ia mengangkat bahu. tapi ruangan besar itu kosong sekarang.?” lanjutku cepat. “Mereka menyukaimu. “Jangan khawatirkan Rosalie.” katanya.Lama sekali ia menatapku putus asa.” “Ini benar-benar salahku. “ Mereka menyukaiku.” katanya.

djAnGgo 275 . Tidak sekarang.” “Alice tampak sangat.. ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas.. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa. Setiap kali aku menyentuhmu. Dia sangat senang. bersemangat. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal...” katanya dengan bibir terkatup rapat.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. “Dan kau takkan menjelaskannya.

Ia mengangkat jarinya. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.” Lagu yang masih dimainkannya. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya.” “Tamu?” “Ya.” aku mengakuinya. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. “Tentu saja. well.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. karena aku akan sedikit. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Ia mengikuti arah pandanganku.. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya. Kemudian.. “Aku tahu kau pasti memperhatikan.. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. “Tidak ada peti mati..” Ia terdengar lebih serius saat menjawab.” gumamku. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu.. malu. Aku menyekanya. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. “Tidak. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi. Mereka tahu kami ada disini.” Aku bergidik ngeri. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. dan mereka penasaran.“Tidak seperti yang kauharapkan. “Begitu terang. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku.” Aku mengangkat bahu.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. tiba di bagian akhir. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. suaranya terdengar arogan. laguku. ya kan?” tanyanya.” lanjutnya mengejek. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu.. “Terima kasih. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu. tentu saja. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. mengamati tetes air itu lekat-lekat. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota. Ia menyentuh sudut mataku. sama seperti lantai keramiknya. “Akhirnya. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. Aku menatapnya bertanya-tanya. menyeka titik air mata yang tersisa. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. 276 djAnGgo . respons yang masuk akal!” gumamnya. mereka tidak seperti kami. Aku mengabaikannya.“Jadi. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan.” Aku mengabaikan gurauannya. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. begitu terbuka. atau minggu.. memalingkan wajah.

menertawai ekspresiku yang bingung... Aku tidak menyentuhnya.. Tanganku terulus dengan sendirinya. Ia bisa saja melanjutkan. “Bisa dibilang ironis. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. Edward tergelak. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku. djAnGgo 277 . warna permukaannya yang gelap mengkilat. ruang kerja Carlisle. sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.“Kamar Rosalie dan Emmett. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu...” Aku tidak tertawa.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. “Kau boleh tertawa.. kamar Alice.” katanya.

Tapi dia tetap ngotot. dia tidak gesit menuduh. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. dan lemah karena kelaparan. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Dia mengizinkan perburuan penyihir. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara.” jawab Edward.” Aku tetap menjaga ekspresiku. Akhirnya salah satu dari mereka muncul.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican.. “Nostalgia. Ibunya meninggal saat melahirkannya. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. dan lebih pintar dari ayahnya. “Carlisle lahir di London. memimpin pengejaran.” aku menebaknya. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. menurutnya. werewolf . Pada masa itu. tentu saja”. tapi ia melanjutkannya. Itu milik ayah Carlisle. Dia mengukirnya sendiri. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. Meski begitu. Ia mengangkat bahu. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. dan vampir.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. hanya keluar pada malam hari untuk berburu.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota.. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. pada tahun 1640-an. kurang lebih. mengabaikan pertanyaannya.“Pasti sudah sangat tua. Makhluk djAnGgo 278 . ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. begitulah cara mereka hidup. masih memandangi salib. “Tidak. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. “Dia pasti makhluk kuno. Saat penganut Protestan mulai berkuasa. Aku yakin ia memperhatikan. Lagipula bagi orangorang awam. “Awal 1630-an. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. untuk berjaga-jaga. Aku kembali menatapnya. tawanya lebih menyeramkan sekarang. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. Ayahnya berpandangan sempit.” “Ketika sang pendeta semakin tua.” Suaranya sangat pelan. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat.

menyembunyikan sesuatu dariku. Dia membunuh dua manusia. jadi dia berbalik dan menyerang. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. dan ia berbalik untuk membela diri. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar.” Edward berhenti. Tubuh-tubuh akan dibakar. djAnGgo 279 . mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. dan tak ditemukan. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. dan kabur membawa korban ketiganya.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. tapi yang lain ada di belakangnya. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu.

“Kalau begitu. ayo.” ajaknya. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.“Akhirnya semua itu selesai. Ia mulai menyusuri ruang besar itu.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu.” “Beberapa. Ia tersenyum. sambil menarikku bersamanya. tapi tiba-tiba ia berhenti.” aku menenangkannya. “Akan kutunjukkan padamu. memamerkan giginya yang sempurna.” Senyumnya melebar. “Aku baik-baik saja.” djAnGgo 280 .

dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. dr. “London pada masa mudaku. “Aku mau. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. Sungai lebar mengaliri bagian muka. Setiap kali ia menyentuhku. Aku tersentak. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah.” kata Edward. “Masuklah. sejarahmu. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. Rumah sakit menelepon tadi pagi.16.” undang Carlisle. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. beberapa dengan warna terang. kayunya berwarna lebih gelap. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. djAnGgo 281 . Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. “London pada tahun 1650-an.” jawab Edward. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. “Well. Sebagai ganti rak buku. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. meletakkan satu tangannya di bahuku.” jawabnya. di mana saja terlihat. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. Edward meremas tanganku. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun.” kata Edward. Snow tidak masuk karena sakit. Lagi pula. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. Dinding-dindingnya bersekat.” kataku meminta maaf. sebenarnya. jantungku langsung berdebar sangat cepat. “Tidak sama sekali.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. tidak mendengarnya mendekat. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. yang hitam-putih membosankan. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai.” tambahnya. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. Ia berhenti sebentar di depan pintu. di sebuah kursi kulit. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. Edward menarikku ke ujung sisi kiri.

Aku juga waswas. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. Setelah tersenyum hangat ke arahku. djAnGgo 282 . dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari.tersenyum pada Edward sekarang. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. Carlisle meninggalkan ruangan. Sungguh perpaduan yang aneh.

“Kurasa itu benar. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. suaranya datar. dan menyelesaikan kalimatnya. Tapi itu tidak mudah.. Dia pandai dan selalu ingin belajar. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa.” Edward memberitahuku. ” “Tidak. kau sudah janji. membenci dirinya sendiri.” “Kau. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. padahal ia masih begitu baru. Lanjutkan. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. tidak. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya. ” “Segalanya mudah bagimu.. bekerja di siang hari. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Dia menemukan jati dirinya lagi.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. “Akhirnya dia sangat kelaparan. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. mendongak menatap Edward. Bella. Ia menunggu. “Karena secara teknis. tapi kata itu meluncur begitu saja. tapi aku berkeras. djAnGgo 283 . padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan.” gumamku.. nalurinya bertumbuh makin kuat. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami.” Edward tertawa.. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. wajahnya kesal. sadar tekadnya mulai melemah.” Edward mengingatkanku dengan sabar. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. yang sedang mengamatiku. Dia berenang ke Prancis dan. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. dan sangat kuat. Dia belajar pada malam hari. Ia mengangkat tangan.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. kami tidak berlu bernapas. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi.” kata Edward pelan.” Ia tergelak misterius. “Aku takkan menyelamu lagi. memangsa.” Mulutku membuka hendak bertanya. tapi ia menduluiku. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. dan menjadi lemah. mencari tempat paling sepi. mengambil alih segalanya. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. Sejalan dengan waktu. janji. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. “dia melawannya.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar.. Jantungku bereaksi terhadap hal itu.” kataku kagum. “Tidak. dengan puncak gunung di kejauhan.. memindahkannya ke leherku.

” Ia mengangkat bahu. djAnGgo 284 . itu tidak perlu.. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman. entahlah. Hanya masalah kebiasaan.” ulangku.“Tidak.. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas. “Berapa lama kau tahan.” “Agak tidak nyaman.

Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . “Ada apa?” aku berbisik. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. “Kita lihat saja. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. “Aku takkan lari kemana-mana. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. dan terus ke Eropa. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu.” Ia berhenti. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. hormat. Marcus. hanya beberapa dekade. ke universitas-universitas di sana. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. dan ia mendesah. tapi tatapannya serius. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. dua berambut hitam. Pada malam hari dia belajar musik.” Ia setengah tersenyum. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah.” aku berjanji padanya.. tersenyum lagi. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. aku juga ingin bersamamu. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana.” katanya. kedokteran. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. Carlisle berenang ke Prancis.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya.” Ekspresinya penuh kekaguman. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi. yang bingkainya paling penuh ukiran. menyentuh wajahnya yang membeku. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. lanjutkan. “Penjaga malam di gedung seni. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani. memperkenalkan tiga lainnnya. Aku merengut. “Mereka masih disana. “Jadi. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle.. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an.” katanya. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. “Carlisle berenang ke Prancis. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. lalu tersadar. dan yang paling besar. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. Keheningan terus berlanjut. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri.” Ia mengangkat bahu. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. “Aku terus menunggunya terjadi.” Edward tertawa. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. Meski begitu. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain. Caius. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. yang satu lagi berambut putih bagai salju. “Aku takkan menghentikanmu. metanya menatap lekat wajahku. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. ilmu pengetahuan. kembali lagi ke ceritanya. “Aro. Menunggu. Kemudian kau akan menjauh dariku. lari sambil menjeritjerit. seraya tertawa kaget.

seolah-olah dia salah satu dari mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. keduanya sama-sama tidak berhasil. Dia sangat kesepian. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. djAnGgo 286 . begitulah mereka menyebutnya. kau tahu. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. kehalusan budi bahasa mereka. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Mereka mencoba membujuknya. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya.keberadaban mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan.

dan tahu aku sebatang kara. laki-laki di belakangnya.” “Sungguh?” Aku terpancing.” ia menyimpulkan. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna.“Ketika epidemi influenza merebak. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu.” gumamku. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. kalau aku menyelamatkan gadis itu. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. lebih keras daripada sebelumnya. Aku menungguu dalam diam. terserah bagaimana kau menyebutnya. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat.” Ia tertawa. Aku tidak menyukai caranya berpantang. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. baik manusia maupun bukan manusia. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. lorong pada malam hari. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. memelan. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. dia akan menciptakannya. Tak ada harapan untukku. “Hampir selalu. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. bukannya ketakutan. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. Edward yang sedang berburu. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. tak djAnGgo 287 . maka tentunya aku tidak sejahat itu. di lorong berpanel lainnya. jadi aku bertanya. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. seperti yang seharusnya kurasakan. Kami sekarang berada di anak tangga teratas.” Aku gemetaran. Dan Edward. gadis yang ketakutan. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. “ Well. “Sejak kelahiran baruku. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. Dia telah merawat orangtuaku. tampak enggan menjawabnya. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. “Hampir selalu?” Ia mendesah. Ia bisa merasakannya. Ketika ia kembali padaku. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. jadi dia merasa ragu. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. nyaris berbisik sekarang. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya.

Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. aku mulai melihat monster dalam diriku.” ia memberitahu. Mereka menyambutku secara berlebihan. djAnGgo 288 . ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. “Kamarku. Apakah gadis itu berterima kasih. Lebih daripada yang layak kudapatkan.terhentikan. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. membuka dan menarikku masuk. tak peduli apapun alasannya.

balas tersenyum. Aku mundur darinya. jelas-jelas tidak percaya. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna.” kataku. “Mmmm. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. Setelah kau mengetahui semuanya. Ternyata aku menyukainya. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. “Aku benci menghancurkan harapanmu.Kamarnya menghadap ke selatan. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Tapi kemudian. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu.” ia tergelak. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. Ini membuatku… bahagia. kan?” aku menebak. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. dan ia mengangguk. Suaranya pelan. menatapnya nanar. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. djAnGgo 289 . terlalu cepat. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. “Aku senang. tersenyum samar. Ia berhenti. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. Tidak ada tempat tidur. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak mendengarkan. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. berdasarkan tahun.” aku berbohong. nyaris menyentuhku. Ia tergelak dan mengangguk. “Kau tidak akan melakukannya. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. tegang seperti singa yang siap menerjang. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Sebenarnya. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. Ia mengeram dengan suara pelan. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. alisanya terangkat. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu.” Ia mengangkat bahu. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih.” katanya setengah melamun. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Aku berbalik. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. setengah membungkuk.

Aku menatapnya ngeri. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Jauh lebih baik. “Kau monster yang sangat. matanya berkilat-kilat penuh canda. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram.” kataku. “Mmm.” ia menyetujuinya. sangat menakutkan.” Aku berusaha bangkit. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.Ia tidak membiarkanku.

Aku mendapati diriku bersemangat. “Maaf.” Edward meralat. tersenyum sambil memasuki ruangan. “Sebenarnya. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.” ejeknya. rasanya aku tak ingin berbagi. tapi konteksnya membuatku bingung. “Silahkan. nyaris menari. djAnGgo 291 . tapi ia ragu.” goda Jasper. bagus.” Alice terdengar cukup yakin. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball.” Edward masih menahan tawa. dan Emmett ingin bermain baseball. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. “Badai akan menghantam kota.” Aku tak mungin mengecewakannya.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku.” ujar Alice. wajahnya bersemangat. kelihatan senang. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau.” Aku memutar bola mataku. tapi Edward nampak santai. ke tengah ruangan. “Tentu.” ia berjanji. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. Aku bisa melihat bahwa itu Alice.” jawabnya. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. Pipiku merah padam. aku tak dapat mengatakannya.” “Kalau begitu. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. ekspresinya agak terkejut. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. bukannya ketakutan. “Tidak. dan Jasper berdiri di belakangnya. kau akan tahu kenapa. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras.” seru Alice. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. dan mereka langsung berlalu. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. “Kami yang akan bermain baseball. semangat dalam suara Jasper menular. Akan cukup kering di hutan. “Seperti kau tidak tahu saja.” Seperti biasa. “Kau akan menonton. Ia menatap wajah Edward.” kata Jasper. di pintu masuk. “Kita akan main apa?” tanyaku. gerakkannya sangat anggun. entah karena komentar Alice atau reaksiku. Tubuhku langsung kaku.Ia hanya tertawa. Aku berjuang melepaskan diri. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. sampai aku menyadari Edward tersenyum. “Mmm. ia berjalan. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. Mata Edward berkilat-kilat.

djAnGgo 292 .

” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. Ford using. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku.” “Kau tidak perlu pergi. Setelah kau menyingkirkan mereka”. Billy.” kataku sedih. Ia memandangku. Jantungku melompat tak keruan. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram.” aku mengingatkan. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.” usulku. lebih ketakutan daripada marah. berhati-hatilah. Meskipun begitu.” sahut Billy tenang.” “Belum lama. kemarahannya langsung lenyap. “Terima kasih banyak. kemudian ia membungkuk. “Segera. “Charlie pergi seharian. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. ekspresinya mematikan. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. “Ini sudah kelewatan. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. Edward hanya mengangguk. dan aku memandang ke teras.” Ia tersenyum lebar. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.17.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. Tatapan tajam Edward membuatku waswas. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. Hai. Aku mengerang. “Ajak mereka masuk. suaranya pelan dan parau. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. diparkir di pelataran parkir Charlie. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. aku tahu. Wajah Billy tak lagi datar.” ia berjanji. Matanya kembali melirik teras.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . Ia memutar bola matanya. Anak itu tidak tahu apa-apa. “Barangkali itu yang terbaik. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. “Oh. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. memamerkan seluruh giginya. “jadi aku bisa pergi. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. “Biar aku yang mengurusnya. Jacob.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. “Hei. djAnGgo 293 .” ia meyakinkanku dengan senyuman.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. Kemudian aku melihat mobil hitam. “Aku akan segera kembali. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang. “Sebenarnya memang tidak perlu. Suara Edward yang dalam terdengar marah. sekilas mengecup pangkal rahangku. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. Aku akan kembali sekitar senja. Jacob mengawasi.” perintahnya.

dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.“Aku hanya mau mengantar ini. “Terima kasih. djAnGgo 294 .” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu. meskipun tak tahu apa isinya.” kataku. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.

jadi aku berbalik menuju dapur. suaranya murung. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. Tapi aku tidak tahu dimana. “Dia ke tempat baru. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada. diam. Ia terus mengangguk. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.” Ia menyadari perubahan ekspresiku.” aku cepat-cepat berbohong.” katanya. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. “Barangkali ini bukan urusanku.. “Memang benar. Matanya menyipit. djAnGgo 295 .” “Memancing lagi?” Billy bertanya.” aku menawarkan diri.” Ia mengangkat bahu. “Charlie pulang larut. Aku memandangnya. berbalik untuk menutup pintu. dan itu membuatnya berpikir.“Mari. “Jake.” katanya.” Jacob kembali menembus hujan.” kembali aku menjawab dengan ketus.” “Ya. namun kali ini bersungguh-sungguh. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. dan berbalik menghadapnya.” ujarku memberi isyarat. Ia sedang menunggu.” timpalku. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. tapi ia menunduk menatap lantai. tapi tidak mengatakan apa-apa.. Setelah beberapa saat. matanya berbinar. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus. “Bella. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi..” “Ya.” “Bukan.. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. Ia terkejut. “Bella. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan.” aku mengulanginya. biar kusimpankan untukmu. “Masukkan ke kulkas.” ia menyetujuinya. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi.” jawab Billy. aku mengetahuinya. Aku menunggu. matanya serius. alisnya bertaut. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan.” Suaraku nyaris kasar. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. “Terima kasih. “Itu memang bukan urusanmu.” katanya lagi. kemudian ragu-ragu. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. kesukaan Charlie.” “Sebenarnya. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. “Kau kelihatannya. Ia mengangguk setuju. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.” “Kau benar. matanya waspada. wajahku menegang. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater.” ujarku tegas.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. Kulkas akan membuatnya lebih kering. masih mengamatiku. “Charlie salah satu sahabatku.” “Dimana?” Jacob bertanya.

“Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.” ia mengalah. tapi sorot matanya tajam. “Mungkin. djAnGgo 296 .” Aku menatapnya.” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.cukup tahu tentang keluarga Cullen. Lebih tahu daripada yang kuduga.

” Billy bergumam. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. “Halo?” tanyaku. “Bella? Ini aku.” Aku mendesah lega. djAnGgo 297 . Aku tak menyahut. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Bella. kurasa sampai ketemu nanti. dan aku melompat mendengarnya. “Jaga dirimu. “bahwa kami mampir.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen. Bella. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. “Hebat. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. “Kurasa itu urusanmu juga. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. beritahu Charlie”. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. yang lainnya akan membuatku kecewa.” kata Jessica. terengah-engah.” akhirnya ia menyerah.” sahutku membentengi diri. tapi tidak terkejut. tak yakin apa yang menantiku malam ini. “Itu bukan urusanku.” Billy mengingatkanku. “Oke.” “Akan kusampaikan. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. “Hmm. Segera saja aku menyerah memilih pakaian.” Jacob tampak kecewa. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.” “Well. Tapi sepertinya ia mengerti. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. maksudku. Aku melambai sebentar. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. “Well. Aku berdiri di lorong sebentar.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. “Terima kasih. Bella. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. Jacob terkejut. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. satu-satunya suara yang memecah keheningan. Ekspresinya tidak senang. Wajahnya menekuk. dan tak ada yang bisa kukatakan.” aku buru-buru menimpali. “Maksudku. “Tapi mungkin urusan Charlie.” katanya. Ketika ia berbelok di sudut. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan.” gumamku. Billy.” Aku menatap matanya.” desaknya. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan.” “Tentu. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. yang baru saja lewat jadi tidak penting. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut.” timpalku. “Oh. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. Aku diam di tempat. “Ya. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. kukenakan atasan flanel usang dan jins. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya.

tapi tidak mudah djAnGgo 298 . Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. hei.“Oh. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Tak perlu dipancing lagi. Jess. ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya.

berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan.. well. “Well. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu.. Jess mendengar suara Charlie. “Edwin itu yang mana.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. pesta dansa. sekolah. Mike.” Ia berhenti. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. djAnGgo 299 . dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi.untuk berkonsentrasi. kita ngobrol besok. sore ini aku di rumah saja. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. ayahmu ada. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. yang rambutnya cokelat kemerahan. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting. “Rumah dr. “Mmm. “Hai. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. Charlie menikmati makanannya. sebenarnya. Sampai ketemu di kelas Trigono. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. “Kami sama-sama murid junior. “Jadi. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. “Well. tapi perutku seperti berlubang. membuyarkan lamunanku. masih jengkel karena aku kurang menyimak. kaget. makan dalam diam. Jessica.. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. meletakkan peralatannya.” kataku. Bella?” tanya Jess jengkel. O-Oh. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. Jess. apa?” “Kubilang. “Oh.. “Oh.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi.” “Sampai ketemu. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur.” Yang tampan... “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini.” Aku menutup telepon. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria. “Dad. Mataku terus menatap jendela. Tak apa. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. Cullen?” ia bertanya.” Bukan sepanjang sore.” Aku tagu. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. “Tunggu. yang seperti dewa. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini.” aku meralatnya.. ya?” “Edward adalah yang paling muda. sungguh. Aku melambai padanya. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. Dad. “lebih baik. Jess.” Charlie menjatuhkan garpunya. “Maaf. “Tidak ada. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku.” kataku.” Aku berusaha terdengar bersemangat. “Hei.. “Itu kesukaanku.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. “Kaudengar apa yang kukatakan. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga.” serunya marah. “Yeah. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus.

kurasa. tapi dia kelihatan terlalu.. dewasa untukmu.. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Dad. tidak?” djAnGgo 300 .” “Ya. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya.

di sebelah Charlie. Edward.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku.” Edward berjanji.“Kurasa bisa dibilang begitu. dan Edward ikut tertawa. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. kusimpankan jaketmu. Dad.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini.” sahut Edward dengan suara penuh hormat.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. “Kau bermain baseball?” “Well. Ia mengedip di belakang Charlie. aku bisa mencucinya malam ini.” Tapi ia mengambil garpunya lagi.” “Silahkan duduk. begitulah rencananya. “Jadi. “Terima kasih. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. “Oke. “Ya.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah. “Tinggalkan saja piring-piring itu. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. “Well. Bell.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini.” Aku meringis. memaksaku duduk di sofa. “Lagipula. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. Charlie. Ayo kita pergi. barangkali kebanyakan aku menonton. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. “Jangan pulang terlalu larut. “Ayo masuk. Mereka mengikuti. Kepala Polisi Swan. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Edward tidak tinggal di kota.” “Jangan khawatir.” Aku bangkit berdiri. “Kaujaga putriku baik-baik. “Aku mendesah dan memutar bola mataku.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut. panggil saja aku Charlie.” ia mengamatiku curiga. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. “Sudah cukup menertawakanku. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. “Well. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.” Faktanya.” Charlie tertawa.” “Terima kasih. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang.” lanjutku. kau tahu. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. “Oh. oke?” djAnGgo 301 . “ini baru tahap awal.” Wajahnya cemberut. ia mungkin saja mendengarkan. Sir. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar.” Bel pintu berbunyi. Sini. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. Lagipula. Edward. Sir. Kau sudah terlalu memanjakanku. kemudian akhirnya tergelak. Edward berdiri di bawah bias lampu teras.

dan Edward mengikutiku. yang terdengar pada setiap kata-katanya.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. Sir. djAnGgo 302 . Mereka tertawa. aku janji. tapi mereka mengabaikanku.Aku mengerang. “Dia akan aman bersamaku.

karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. “Keduanya.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. dalam langkah manusia normal. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. “Kau harum sekali ketika hujan. “Ini. Charlie bersiul pelan. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari.” “Pejamkan saja matamu. Jeep-mu besar sekali.” “Ini punya Emmett.. Bella. kita harus jalan kaku dari sini.” djAnGgo 303 . tersenyum lebar sepanjang jalan. “Kenakan sabuk pengamanmu. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. Ia mendesah. tampak Jeep berukuran sangat besar. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. Ia tersenyum tegang. “Dalam artian yang baik. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. melawan rasa panik. “Itu perlengkapan keselamatan off-road.” “Oh-oh. Ia mendesah.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan.. dan langit tampak lebih terang di balik awan. Aku menatapnya. Lalu aku tiba-tiba mengerti. Atapnya merah mengkilat.” “Aku bakal mual. setiap detik semakin pelan.” Kugigit bibirku. kau akan baikbaik saja. selalu keduanya. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. Kami berlalu meninggalkan rumah. “Kau tidak akan berlari. atau buruk?” tanyaku hati-hati.” sahutnya tercekat. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. menyusuri tulang selangkaku. Disana. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. bingung. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah.. Kemudian kami tiba di ujung jalan. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan.. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. di belakang trukku. kemudian mengerang.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. “Maaf.” jelasnya. mmm. Ketika ia beralih ke jok pengemudi. Tapi terlalu banyak kaitan. Kuharap Charlie tidak memperhatikan.Aku berhenti tiba-tiba di teras. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. tapi tidak mudah. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Hujan tinggal gerimis.

dan menuju sisiku dalam kelebatan. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja.” protesku. kau terus saja.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini.” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku. “Biar aku yang melakukannya. djAnGgo 304 .” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil.

” Menggunakan hidungnya.” Aku berusaha berkonsentrasi.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. bibirnya bergerak di bibirku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. “Ya. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya.“Hmmm. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. Bella!” ujarnya terengah-engah.” Ia menahan senyum. memaksaku menempel ke pintu. dengan mudah melepaskan cengkramanku. “Mual.” desahku. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. “. “Semacam itu. berusaha mengatur napas. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. “Tidak. mm. “Kaulihat. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual.” Ia memperhatikanku lekat-lekat.. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. dan memejamkan djAnGgo 305 . Aku tahu pertahananku nyaris hancur. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. kan?” “Tidak. wajahnya hanya beberapa senti dariku.” ia mengingatkan dengan nada kasar. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. “Pepohonan. Bukannya tetap diam dengan aman. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. di bawah lenganku sendiri. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. menyerah. dan menciumku sepenuh hati. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. “Bella.” geramnya.” Aku berjongkok. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. “Nah. dan sekarat. “Kau akan menjadi alasan kematianku. Kemudian mual. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. ya kan?” “Tidak. dengan hati-hati. Aku mendesah dan mengangkat bibirku.” desahnya. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. Alice benar. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. menabrak pohon. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nyaris tak berembun sekarang ini.” gumamku. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. ” aku menelan ludah. Ia tergagap mudur. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. “Kau tidak bisa mati. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.” Sebelum aku bereaksi. “Sialan.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Aku tak bisa melepaskan diri.. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya.” katanya. berhenti tepat di sudut mulutku. tapi aku mungkin. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. aku bersumpah. tapi tak ada yang bisa kulakukan.” aku mendesah.” aku terengah.

Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 .mata. gerakannya terlalu halus.

“Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. aku harus bisa. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. dan ia pun tertawa terbahakbahak. Bella. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Tidak bisakah kau melihatnya. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. “Aku tidak marah padamu. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai.” “Tapi kau baru bilang. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku.mengintip. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. begitu juga kata-katanya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. “Ya. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku.” aku berkeras.” “Lalu kenapa?” bisikku. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku. aku tak dapat menahan diri. Merasa jengkel.” Aku memberanikan diri membuka mata.” “Kau berjalan ke arah yang salah.. “Kau marah.. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku. Ia menatapku tak percaya. kelambananku. mendarat di punggungku.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. “Jangan. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur.. hangat. tapi aku menahannya. ” “Aku tidak marah pada mu. “Oh.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. frustasi akan kelemahanku. tapi ia menangkapku dengan cepat. “Jangan marah. kami sudah berhenti. “Aku takkan pernah marah padamu. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. “Karena selalu membahayakan dirimu. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. dan cukup yakin. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya.” “’Bella. Aku harus lebih kuat. seluruh selera humornya lenyap.” katanya lembut. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu.. Aku bangkit berdiri. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. Ia menangkapku lagi. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. aku mulai melangkah ke dalam hutan. “Sudah sampai. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. alisku terangkat. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. percaya.” djAnGgo 307 . “Kau mau kemana.

Ia mungkin tidak menyadarinya. “Aku mencintaimu. namun meletakkannya di wajahnya.” katanya. memindahkannya dari bibirnya. tapi itu masih benar. djAnGgo 308 .” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku.Ia meraih tanganku. dalam begitu banyak katakata. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. tapi aku tentu saja menyadarinya.

Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. Esme menghampiri kami. berkilat-kilat. tim!” Ia mengejek dan. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. atau menari ke arah kami. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Aku mencoba terdengar bersemangat. lebih mirip cheetah daripada rusa. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. kumohon bersikaplah yang baik. setidaknya jaraknya seperempat mil. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Alice berlari bagai rusa. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. Larinya lebih agresif. cepat-cepat membalasku.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. Esme. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. mungkin jauhnya seratus meter. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Luasnya dua kali stadion baseball. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan. Lalu mendesah. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. Emmett.” Edward menjelaskan. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. “Menyeramkan.“Sekarang. “Kalau begitu. Emmett. mengejar kedua saudaranya.” ia menjelaskan.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. setelah mengacak-acak rambutku. gelisah. dan kami pun sampai. dan Rosalie bangkit berdiri. kemudian pecah di barat kota.” ia mengumumkan. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. tatapannya bersemangat. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. “Itu memang dia. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. “Ayo. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. tapi aku tak melihat bolanya. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. sambil mengedip padaku. aku lebih suka menjadi wasit. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. kecuali satu tanganku. Perutku langsung mual.” “Ya.” ia melanjutkan. Begitu ia berbicara. Esme. menembus semak-semak yang basah dan padat. Aku diam tak bergerak. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. “Sudah waktunya. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. “Kaukah yang kami dengar tadi. “Tidak. Ma’am. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.” Emmett membenarkan. “Ayo. dan dengan cepat ia mendahului mereka. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami.

apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. terkejut.” aku tertawa. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. “ Well. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal.” “Anda terdengar seperti ibuku. “Ia juga tertawa.” gumamku. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala. terkejut. djAnGgo 310 .mendengarnya.

“Edward hanya bilang Anda j-jatuh. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. pasti akan ada jalan keluarnya. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. tangannya yang terangkat menggengam bola. menggelegar. melayang menembus hutan yang mengelilingi. “Bahwa aku. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. Anda tidak keberatan?” aku bertanya. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya.” Alice berdiri tegak. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu. seolah-olah tak bergerak. aku sedih melihatnya sendirian. Gelegar petir terdengar lagi. “Emmett memukul paling keras. “Edward putra baruku yang pertama.. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan.” aku bergumam. kau tahu. menggema hingga ke pegunungan. bayi pertamaku dan satu-satunya. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. Carlisle membayanginya. tapi saat ia mengambil posisi.” jelas Esme. “tapi Edward berlari paling cepat. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice.” Ia tampak bersimpati. Alice tersenyum sebentar. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut.” “Kalau begitu. Bunyi pukulan itu menggetarkan.” ujarku terbata-bata. Kemudian tangannya mengayun lagi. setidaknya dalam satu cara. kembali ragu-ragu. “Selalu sang pria sejati.” Esme mengingatkan. “Tunggu. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. sebagai anggota tim lawan. dan kemudian. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. Gayanya tampak licik daripada mengancam. satu tangan terangkat. “Baik. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. “Itu menghancurkan hatiku. itu sebabnya aku melompat dari tebing. “Out!” Esme berteriak lantang.. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. meskipun dia lebih tua dariku.” seru Esme lantang. katanya. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Aku tersadar Edward menghilang.” ia memberitahu. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. Aku menunggunya menghampiri home base . makhluk kecil yang malang. Entah bagaimana. Aku selalu menganggapnya begitu. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. “Kaulah yang diinginkannya. mendengarkan dengan saksama. “Ke posisi masing-masing. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. Emmett mengayunkan tongkat aluminium.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. baru disebut strike.” tambahnya terus terang. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. “Home run. meskipun dahinya berkerut waswas. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara.“Ya. bagai serangan kobra. “Kalau mereka tidak memukulnya. Sayang.” ia mendesah.” Ia tersenyum hangat padaku. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. sejauh apa pun posisinya.” Ia tersenyum. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. dan Alice memegang bola. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. Esme menghentikan langkah. djAnGgo 311 .

Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. “Safe. suaranya bagai tabrakan dua batu besar.Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. Ketika mereka bertabrakan. Aku melompat dengan waswas. djAnGgo 312 . berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. ketika Edward menangkap bola ketika. memukul bola mati ke arah Carlisle. Ia berlari cepat ke sisiku.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. wajahnya memancarkan rasa senang.

Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. “Well.” Wajah Edward geram. kemudian berpaling.” bisiknya. “Tidak. menjaga bola tetap rendah.” godaku. mereka ingin bermain. Petir terus bergemuruh. seperti biasa. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. Ketegangan menyelimuti wajahnya. “Alice?” suara Esme tegang. “Kenapa?” tanyanya.” gumamnya. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. Tiba-tiba Alice terkesiap. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. “Yang jelas. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. “Giliranku. “Ada apa.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. tidak sambil menggendong. matanya kembali berkilat-kilat memandangku. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. djAnGgo 313 . aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. “Lagipula.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. Mereka berlari. “Kurang dari lima menit. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan.” katanya. Ia bermain pintar. menuju base.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. ” Ia terdiam. aku tak bisa mengatakannya.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. bingung. Jasper mendekati Alice. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan.” katanya menyesal. “Biarkan mereka datang. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku.” “Tiga. bebalik menghadap Edward.” jawab Alice singkat. Semua sudah berkumpul.” ia tertawa. Alice ber-high five dengan mereka. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. “Aku tidak melihat. “Aku agak kecewa. “Apa yang berubah?” tanyanya. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. posturnya protektif. “Mereka mendengar kita bermain. membuatku kehabisan napas. Mataku tertuju pada Edward. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. dan itu membuat mereka berbelok. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya.

yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah. Carlisle berpikir.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. mereka hanya penasaran.” akhirnya Carlisle memutuskan. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya. Hanya Emmett yang tampak tenang. Suaranya tenang dan datar. “Alice bilang. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 .

memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. Esme.” Dan dia pun berdiri di depanku. Bella. “Cukup untukku.” “Aku tahu. “Uraikan rambutmu.” gumamnya enggan. menutupi wajah.” katanya. “Itu takkan membantu. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Ia menarik rambut panjangku ke depan. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati. “Kau yang menangkap. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. dan yang lain berpaling ke arah yang sama.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. Rosalie. Detik-demi detik berlalu. jangan bergerak dari sisiku. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. Ia setengah melangkah. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Carlisle.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. “Yang lain berdatangan sekarang. tapi toh aku dapat menangkapnya. Carlisle berdiri di base. Tatapannya tanpa ekspresi. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. “Maafkan aku. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. kumohon diamlah.” gumamnya marah.” “Ya.” kata Alice lembut. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. “apakah mereka haus. djAnGgo 315 . Aku mematuhinya.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Emmett. Yang lain kembali ke lapangan. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Aku sungguh menyesal.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya.” Aku mendengar napasnya berhenti. jangan bersuara. mata dan pikirannya menerawang ke hutan. dan Emmett.

rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Sambil masih tersenyum. terpisah-pisah sejauh 12 meter. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. memamerkan gigi putihnya. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Matanya. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. meskipun diam. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin.18. Ia tersenyum ramah. dan tanpa komunikasi yang kentara. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. entah mengapa tampak paling waspada. Ketika mereka mendekat. anggun. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. Postur tubuhnya sedang. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Mata mereka juga berbeda. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. rambutnya hitam mengkilap. ototnya kekar. Yang ketiga wanita. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. Kedua laki-laki itu berambut cepak. dan mereka bertelanjang kaki. Langkah mereka pelan. tapi kalah jauh dari Emmett. Laki-laki yang pertama langsung mundur. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. Si perempuan lebih liar. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. djAnGgo 316 . Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka.

Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Esme dan Alice.” djAnGgo 317 . Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi. Emmett dan Jasper.” “Tidak. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. Edward dan Bella. “Sebenarnya. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya.“Kami kira kami mendengar permainan. ini Victoria dan James. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. “Aku Carlisle. “Aku Laurent. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. “Disini. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. Rosalie. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. Aku terkejut ia menyebut namaku. Ini keluargaku. kami baru saja selesai. di Olympic Range.

” Carlisle menambahkan dengan tenang. tiba-tiba memutar kepalanya. Ketika Laurent bicara. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. “Dia bersama kami. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. Kalian mengerti. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. Perlahan James menegakan tubuhnya. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser. matanya tertuju pada James.”protes Laurent. “Tapi dia manusia. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Kumohon jangan tersinggung. hidungnya mengendus-endus.” Senyumnya ramah.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab.” Carlisle menjelaskan.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario. semata-mata hanya terkejut. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya.” Ia tertawa. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. menggeram penuh ancaman. balas siap menerkam. “Tentu saja. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. Lagipula. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. James bergerak sedikit ke samping. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku.” Laurent mengangguk. cuping hidungnya masih mengembang. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. mengamatiku. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga. bengis. dan laki-laki kedua. “Kalian membawa snack?” tanyanya. Edward memperlihatkan giginya. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. Rambutku berantakan ditiup angin. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. tubuh Edward menegang. “Ya. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. nada suaranya lembut. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. “Ceritanya agak panjang. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. Emmett dan Alice. James.” djAnGgo 318 .

Jasper. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. djAnGgo 319 . kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Bella. Seperti kataku. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. Rosalie. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. “Ayo. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. Serta merta Alice sudah berada di sisiku.” Suara Carlisle masih tenang. tentu saja. Mereka mendekat. kami takkan melukai perempuan manusia ini.“Tentu. “Akan kami tunjukkan jalannya. Esme?” panggilnya. “Dan. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. dan Emmett mundur perlahan.” Suara Edward pelan dan lemah. “Tapi kami ingin menerima undanganmu.

tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. yang lain tak bisa mendahuluinya. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. Tak ada yang menjawab.” ia memerintahkan Emmett. “Sialan. Kami tiba di jalan utama. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak.” kata Edward dingin. dan sama sekali saia-sia. Bella. menjauh dari Forks.” “Aku harus.” Suaranya dingin. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. Bella. masih terkejut karena ngeri. Aku memberontak. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. menyembunyikan diriku. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. Aku terus menundukkan kepala. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Dan kami menuju ke selatan. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. berputar menghadapi jalanan yang berliku. “Menepilah. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. “Pasangkan sabuk pengamannya. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. dan meskipun laju kami bertambah cepat. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. yang lain tak mau menjauh darinya. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. Bahkan denganku di punggungnya.” Ia tidak menoleh ke belakang. jauh sekali. Edward. dan Edward menyalakan mesin. sekarang kumohon diamlah. “Tidak! Edward! Tidak. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. “Kita mau kemana?” aku bertanya. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. matanya terpaku ke jalan. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. yang menyelinap masuk ke sebelahku. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. kau tidak boleh melakukan ini. “Tidak demi aku. sekarang. Alice telah berada di jok depan. “Emmett. Alice berbicara untuk pertama kali. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan.” djAnGgo 320 . Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat.

djAnGgo 321 . dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. Edward. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. Alice. “Dia pemburu. “Kau tidak mengerti. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. aku ingin memahaminya. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit.” ia mengerang frustasi. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini.Edward menatapnya marah.” Nada suara Alice tenang. “Menepilah. Jarum spidometer bergerak melewati 120. kemudian menambah kecepatan. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.

” Aku terkesiap. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. Edward berbalik padanya.” desis Edward. Sekali memutuskan untuk berburu. Aku memecahkannya. “Bisa saja berhasil. Aku terdorong ke depan.” bujuk Alice. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. Kita harus membunuhnya. lebih drastis. “Tidak. “Itu sebuah pilihan. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. pilihan. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. Jeep kembali melambat.” “Dia akan menunggu. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja.” kata Alice. “Dia benar.” Alice berpikir sebentar. Dia bersamanya.” potong Edward.“Lakukan. “Tidak ada pilihan. Alice memelototinya. “Bawa aku kembali. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. dia takkan bisa mengalahkan kita. akhirnya terpancing juga. suaranya mengeram. “Kita harus membawanya kembali.” Emmett akhirnya berbicara. “Bukan ide yang buruk. obsesinya. Ia benar-benar mengabaikanku. baru kita lari. “Bawa aku kembali. Bella. dan dia menginginkan Bella. dan terhempas lagi ke jok.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu.” “Jumlah kita cukup banyak. Edward. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap.” sahut Edward mantap. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. ” Edward menginterupsi. sungguh.” kata Alice. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan.” “Dia tak tahu kemana. Aku melihat pikirannya.” “Tidak. Berburu adalah hasratnya. “Aku tidak melihatnya menyerang. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. Jeep sedikit melambat.” Emmett tersenyum.” aku memohon.” Mereka menatapku. “Dengar. dia tak tergoyahkan. Dia akan mencoba djAnGgo 322 . aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella.” “Itu pilihan lain. Edward. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. ada. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. terkesiap.” “Dia bukan tandingan kita. Kukemasi barang-barangku. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Tidak. si pemimpin akan turun tangan juga. Dia memulai perburuannya malam ini.” “Dengar. Kalian tahu itu. murka. “Edward. secara spesifik.” Emmett tampak sangat percaya diri.” geram Edward. Alice. Semua menatap Edward. Aku memandang marah dan melanjutkan.” “Dan yang perempuan. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. Dia takkan bisa menyentuhnya.” kata Alice pelan. Alice. “Aku juga bisa menunggu. “Terlalu berbahaya.” “Kau tidak mengerti.

menunggu kita meninggalkannya sendirian.” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.” djAnGgo 323 .

kecuali bunyi deru mesin. Setelah dia keluar. Dia akan berpikir kau bersamaku. terlihat terkejut lagi. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. “Kalau si pemburu ada disana.” Aku berusaha terdengar tegas. Katakan pada Charlie. Kami akan memastikan dia aman.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. menatap lurus tanganku. kalau si pemburu tidak ada disana. “Inilah yang akan kita lakukan. Alice. “Tidak akan. mengertakkan giginya. kumohon lakukan saja dengan caraku. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi.” “Tidak. “Kumohon. “Emmett juga harus tinggal. “Emmett. sekali ini saja. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.” Jeep menderu menyala. dan itulah yang terpenting. Sepertinya Edward tidak mendengarku.” katanya. dengarkan dia. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. Kemasi apapun yang bisa kau ambil. “Emmett?” Aku bertanya. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu.” Alice menimpali. dia bakal curiga.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. kau berjaga di luar rumah. Sesampainya di rumah Bella. Kau punya waktu 15 menit. “Oh. “Kalian semua takkan muat di trukku.” “Ya.” kata Alice yakin.” aku melanjutkan.” Emmett menyela. Charlie bukan orang bodoh. Lalu Edward berbicara lagi. Apapun masalahnya dengan Alice. “Bella. Edward sepertinya setuju. djAnGgo 324 . “Aku tak bisa melakukannya. “Kupikir dia benar. sekarang ia tak meragukannya lagi. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya.” Ia menatapku geram dari kaca spion.” “Pikirkan lagi.” protesku.” desaknya. dan ia memutarnya.” kata Alice tenang. aku ikut kau.” Ia melepaskannya.” “Itu tak ada hubungannya.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. suaranya terdengar terluka. Ia mendengarnya. dimanapun kau berada. aku tidak mau.” Suara Edward dingin.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.” aku berbisik. suaraku jauh lebih pelan. Ia tidak mendongak. maaf. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. Kemudian dia punya waktu 15 menit. dia memang benar. Emmett.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Ceritakan apa saja agar dia percaya.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. “kita tidak akan berhenti.” kataku. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. Ketika bicara. Suaranya terdengar pahit. “Aku ikut kau. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. kemudian masuk ke trukmu. bannya berdecit-decit. “Edward. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. “Kau akan membawanya pulang. kau tak tahan lagi berada di Forks.” Edward mendesah.” Emmett melihat ke arahku. “Kau akan pergi malam ini. kau ambil truk Bella. “Dengar.

aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak. “Jasper dan aku akan membawanya. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya.” Edward mengulangi kata-katanya.” timpal Alice. “Menurutmu.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal.” “Aku tak bisa melakukannya.” sahut Alice. Edward menatap Alice tak percaya. djAnGgo 325 . Akal sehatnya mulai bekerja.

Kau mengerti?” “Ya.” sahutku. dan buat perburuan James ini berantakan. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. Meskipun ucapanku terdengar berani. aku akan menuntut tanggung jawab darimu. apapun. sendirian di rumah.” “Dengar. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. beberapa hari. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “. dan mencoba untuk berani. kemungkinan besar akan ada yang terluka. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. tak diragukan lagi. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice.” aku memberitahunya. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. sangat baik. Alice dan Emmett memandang keluar jendela.Aku mencoba membujuk. Aku benar. menelan ludah. Edward tersenyum padanya. Tentu saja ambil rute memutar. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. Lalu datanglah dan temui aku. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon.” “Aku takkan pulang.” “Dia licik. “Diam. kami akan menemaninya.” “Aku sepertinya menyukainya. Ia berpaling pada Alice.” Tentu saja. “Tetaplah disini selama seminggu. tentunya.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri.” gumamnya tiba-tiba. dalam segala hal.” Emmett tergelak. senyumnya mengembang perlahan. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini.” Suara Edward terdengar sangat lembut. Edward. Dia telah bekerja dengan sangat. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya.” Alice mengingatkan. djAnGgo 326 . “Tidak. atau kau karena mencoba melindunginya. dia akan terluka. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. “Bella. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. Aku memikirkan Charlie.” “Oh?” tanyanya.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku. Emmett. Nah. kalau kita menyerang disaat dia sendirian.” “Edward. “Tetap di dalam ruangan.. Aku langsung meringkuk ketakutan..” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James.” katanya tidak sabar. bisa kurasakan bulu kudukku meremang. nada suaranya berbahaya.

djAnGgo 327 .

“kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. Aku nyaris tak mengenalnya. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. Emmett. “Alice. Perlahan Edward menepikan Jeep. mengamati setiap bayangan. “Aku bisa melakukannya. oke? Jaga Charlie untukku. “Jangan khawatir. djAnGgo 328 . Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. “Aku akan selalu mencintaimu. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. Mesin dimatikan.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. Aku menatap matanya lekat-lekat. membuatku sedih.” isakku. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar.19. Mereka bertiga sangat waspada. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. dan sekarang ia bangkit berdiri. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin.” ia mengingatkanku dengan berbisik. “Aku mencintaimu.” Suara Edward memerintah. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. suaraku pelan dan dalam. “Satu lagi. mendengarkan setiap suara di hutan.” kataku. Perpisahan Charlie menungguku.” Suaranya mendesak. “Dia tidak disini. “Jalankan saja rencananya. “Ayo. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Ini tidak bakal menyenangkan.” kata Edward tegang.” Ia mencondongkan tubuhnya. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut.” aku berbisik penuh hasrat. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam. sama tajamnya. tak peduli apa yang terjadi sekarang.” katanya. duduk tegak di kursi mereka. Kita harus bergegas. Air mata memberiku inspirasi. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. Edward!” Aku berteriak padanya.” “Masuklah. Bella. langsung menghilang. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. namun bagaimanapun juga.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. Bella.” katanya pelan namun ceria. “Lima belas menit.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. menghirup setiap aroma. memarkirnya tepat di belakang trukku. membanting pintu dan menguncinya. Semua lampu di rumah menyala. Aku berlari ke tempat tidur. “Pergilah. Bella. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. air mataku mengalir deras sekarang.

Aku berbalik ke lemari pakaian. “Bella. djAnGgo 329 . kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. dan Edward sudah ada disana. lalu melemparkannya padaku. memberi tekanan pada kata yang tepat. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku.” aku berteriak. “Aku mau pulang.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. “Tidak!” jeritku.

“Aku akan menunggu di truk. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik.” “Tunggu 1 minggu lagi. lalu mengempaskannya. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Meskipun ia masih bingung. Carlie.” Ia benar-benar membuatku kesal. memutar kenop pintu. “Biarkan aku pergi. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. Ia berdiri terlalu dekat. “Apa yang terjadi. kau tak bisa pergi sekarang. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. dan aku harus memikirkan keselamatannya. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. wajahnya syok. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. Aku mengucapkannya semarah mungkin. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. “Aku punya kunci. Aku tidak menoleh. Sudah malam. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. “Tidak!” jeritku. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat. Aku benci. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. Aku menatap geram pada ayahku. Ia menghilang lewat jendela. mereka akan kembali ke Arizona. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. Ia memutar tubuhku menghadapnya. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. lalu bergegas ke pintu. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. lalu membuka pintu.” Aku menggeleng. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya.” ia memohon. “Aku memang menyukainya. “Bells. djAnGgo 330 . cengkramannya kuat. Ia berada tepat di belakangku. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. satu tangannya terulur ke arahku. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. Tapi aku tak punya waktu.” bisiknya dibelakangku. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. itulah masalahnya. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. “Semuanya kacau. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. sambil menarik-narik resleting tasku. pergi!” ia berbisik.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. dan mendorongku ke pintu.” gumamku. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie.

oke? Aku sungguh. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. sementara aku berlari menembus malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. membayangkan bayangan gelap di belakangku. Charlie bergeming di ambang pintu. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. djAnGgo 331 . sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. terpana. “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. namun sadar aku takkan pernah sanggup.

“Aku ada disana. tentu saja ini ideku. terutama akhirakhir ini. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku. Ia memegang tanganku lagi. mengabaikan perhatianku.” katanya begitu rumahku. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. telah lenyap di belakang kami.” ia menjelaskan.” “Ini ide terbaik.” katanya berbasabasi. dan ia melihat kepanikan di mataku. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya. Bella. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. “Itu cuma Alice. suaraku melengking. meskipun matanya tidak. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. “Jangan lupa.” bisikku. “Kau akan aman. “Charlie?” tanyaku ngeri. ini idemu.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu.” ia menenangkanku. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. “Menepi. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami.” Kami melesat melalui kota yang sepi. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak. Ia menarikku ke pangkuannya. sambil menunduk memandangi lutut. Sekarang ia berlari di belakang kita.” katanya seraya mempererat pelukannya. dan Charlie. “Bella. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela. memangnya kenapa? djAnGgo 332 .” aku berkeras. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu.Edward meraih tanganku. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas.” “Jangan khawatir.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami.” Tubuhku langsung membeku.” aku mengaku. Mesin truk menggeram. melepaskan tanganku dari kemudi. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. “Aku bisa mengemudi. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. dan memeluk pinggangku.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara.” Ia tersenyum sedikit. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi.” ia berjanji. Aku memandang lewat kaca belakang. menuju jalan tol utara. Aku menatapnya putus asa.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. “Bukan itu maksudku.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu. “Ini salahku. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. mataku membelalak ketakutan. “Si pemburu mengikuti kita. Trukku tidak oleng sedikitpun.” kata Edward geram. “Semuanya baik-baik saja. Dia akan memaafkanmu. semuanya akan baik-baik saja.

“Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. berpikir sebelum menjawab. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. begitu dia melihatmu.” ia memulai dengan suara pelan. djAnGgo 333 . Tapi ketika aku membelamu.. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan. Sebagian adalah salahmu. kenapa aku?” Ia ragu-ragu.” Suaranya masam. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana. dia mungkin saja tidak terusik..Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain.

” Suaranya penuh kejijikan. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. kumohon. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. dia bersama mereka hanya demi kemudahan.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya. “Bella. ia menarikku dari jok. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu.” “Tapi James dan wanita itu. “Carlisle takkan menyukainya. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. atau salah satu dari mereka. Ini permainan favoritnya. Tidak malam ini.. usahakanlah jangan ceroboh. Kami langsung menuju rumah. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. itu membuat segalanya tambah parah. Aku harus bertanya sekarang.” Aku bergidik ngeri.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Mereka tidak punya ikatan kuat.” gumamnya. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku.” katanya putus asa. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah.. Dia tak terbiasa dikecewakan. “Kupikir. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya..” “Dua vampir lainnya. Ia berhenti sebentar. Lampu-lampu di dalam menyala terang. dengan cara yang sama seperti terhadapku. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. Alice mengikuti di belakang. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan.” kataku ragu-ragu. Aku tahu kami semakin dekat. Kami menghambur ke ruangan putih luas. “Memang tidak. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. dan membawaku berlari menuju pintu. kumohon. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. tidak seperti bagimu. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. Aku tak yakin dengan Laurent. djAnGgo 334 . Edward dan Alice berada di sisi kami... aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. lalu membakarnya. suaraku gemetar. pertarungan akan terjadi saat itu juga. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. “Kurasa. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. Dia menganggap dirinya pemburu. aromaku tidak sama bagi yang lain. bukan yang lain. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku..well. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga.

bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar.Semua ada disana. tampak marah. ketika beralih enggan menatapku. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.” jawabnya. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward. “Aku khawatir. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. djAnGgo 335 .” “Kami akan menghentikannya. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. Laurent berdiri di tengah mereka. Rosalie mengamati mereka.” ungkap Edward. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat.” Emmett berjanji. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. Matanya yang indah penuh cinta dan. itu justru memicunya. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. “Dia mengikuti kami. menatap galak pada Laurent. Wajah Laurent tampak muram. “Maafkan aku. Mereka menaiki tangga bersama-sama.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng.

Ia membuatku terkejut.” perintah Edward. seolah ia tidak ada. “Jangan remehkan James..” gumam Esme. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. Kurasa aku akan menuju utara. Aku sama sekali tidak membenci kalian. Laurent langsung ciut.” Ia ragu-ragu. Ia melirikku.. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Laurent menggeleng.. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan. Esme sudah bergerak. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. “Begitu Bella aman dari bahaya. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. teringat temperamennya yang meledak-ledak.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya.” gumam Emmett. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. wajahnya kelam. “Tentu saja. mengkhawatirkan reaksinya.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. kemudian bergegas keluar. “Rose. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana.” Laurent mengerti. Dia sangat mematikan. “Sekitar 3 mil dari sungai. “Pergilah dengan damai. Keheningan hanya bertahan sebentar.” Ia membungkuk. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. Edward berbalik menghadap Rosalie. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. menemui klan yang ada di Denali.” Carlisle menimpali. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan.“Kau takkan bisa menaklukkannya. kemudian kembali menatap Carlisle.. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. tapi aku tidak akan menentang James. bingung.” ujar Carlisle dengan nada formal. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. Ia menimbang-nimbang sebentar. Carlisle menatap Laurent dingin. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. kita akan memburu James. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. Rosalie menepisnya.” Kelompoknya tentu saja. pikirku. Aku memandang terkesima. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. Aku sungguh menyesal. “Esme?” tanyanya tenang. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa. dan dengan suara menderu.” “Kurasa tak ada pilihan lain.

Ia memberi sesuatu padaku.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. ia menyerahkan celana panjangnya.” aku ragu. rasanya seperti kaus. Begitu aku selesai. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri.menyadarinya.. “Berusaha mengaburkan aromamu.. “Kurasa pakaian Anda takkan muat. Aku bergegas melepaskan jinsku. Tidak akan bertahan lama. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Aku djAnGgo 337 .

“Alice. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. Sorot matanya berubah hampa.mengenakannya.” gumamku. “Kami naik Jeep. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Jasper dan Alice menunggu. “Kau salah.” katanya. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga.” Suaranya yakin. kemudian ponsel Esme bergetar. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. Dan merekapun pergi. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. Tiba-tiba aku menyadari. kau tahu itu. melirik cemas ke arah Rosalie. berhati-hati. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. Ia menarikku kembali ke tangga. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. Akhirnya matanya membuka. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. kalian bawa Mercedes-nya. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. Si wanita akan mengikuti truk. memelukku erat-erat. dan kau memang layak. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar.” Carlisle berjalan menuju dapur. terlalu panjang. Bella. Aku akan ambil mobil. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. “James akan memburumu. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. pengorbanan djAnGgo 338 .” Carlisle bertanya. “Sekarang. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. “Alice. “Apa?” aku terkesiap. Jasper. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. ponsel kecil berwarna perak.” katanya pelan.” Mereka juga mengangguk. “Jaga dirimu. Aku mendengar suara trukku menderu. masih memegangi wajahku. “Ayo kita pergi.” ia memberitahu saat melewatiku. Jasper dan aku berpandang-pandangan. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. lalu lenyap.. mengangkat tubuhku dari lantai. Ia langsung mendengarkan. matanya yang indah membara menatapku.” “Tidak.. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. mematikan. Kami berdiri disana. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. Keheningan terus berlanjut.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. ketika ia berpaling dariku. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Kemudian semuanya selesai. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Aku mengangguk. Ia menurunkanku ke lantai. dengan ngeri. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku.

tersenyum ramah padaku.mereka bakal sia-sia. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. dan air mataku habis terkuras. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. serta dindingnya yang bercorak umum. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . tak tertahankan. memelukku dengan sikap melindungi. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. menyengat mataku. tapi awalnya tidak berhasil.” “Kau keliru. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. Aku tak mendengar apa-apa. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. dan matahari berada di belakang sekarang. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. “Kau yang pertama yang meminta izin. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. tatapan marah Rosalie. kecuali di hotel. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya..” ia mengulanginya. Kantuk meninggalkanku. aku bingung.. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. Tapi aku tak bisa memejamkannya. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. Ekspresi sedih Charlie. Aku tak tahan melihat semua itu. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. tatapan mengebu-gebu si pemburu. Aku ingat mobil hitam mengkilat. Ketidaksabaran Ketika terbangun. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. “Bolehkah?” tanyanya. 20. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini.” Aku tersenyum pahit. Pikiranku kabur.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

“Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu.” ia berbicara di telepon.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. “Ya. yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu. Aku berlari menghampirinya. “Halo?” desahku. djAnGgo 348 .” Alice terdiam.“Aku baru saja melihatnya. “Bella. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya. kemudian ia berbicara padaku.” kata Edward.

“Oh. Dia pergi ke rumah Charlie. Aku bersandar di sofa. aku tahu.” “Bella.” “Aku akan baik-baik saja. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. “Bisakah kau mempercayainya.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. “Aku tahu. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Alice melihat dia berhasil kabur. Sepanjang dinding. Aku akan membuatmu aman dulu.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir.” aku menantangnya.” bisikku. Mereka memandangku. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi. dia mencari-cari. Dia tidak mendekati Charlie. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. tangannya djAnGgo 349 . Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman.” Setelah percakapan selesai. Edward! Aku sangat khawatir.” “Aku akan segera datang padamu.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Tapi dia sudah pergi sekarang.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. “Aku mencintaimu. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. kami kehilangan jejaknya.” ia mendesah frustasi. jadi jangan khawatir. setinggi pinggang. sepertinya naik pesawat.” “Aku merindukanmu. Bella. tapi Charlie sedang di tempat kerja. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara. Percayalah padaku. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing.” “Kalau begitu datang dan ambillah. Bella.. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. mengintip dari balik bahunya. begitu aku bisa. “Aku tahu. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya.. Bella. sebenarnya aku percaya.” Suaranya tegang. maafkan aku. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. terkejut. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” “Aku akan menunggu. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. kami akan menghabisinya. sekolah. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku. “Segera. Alice menunduk menatap gambarnya. si wanita ada di kota. Dia kelihatannya curiga. kabut depresi pun menyelimutiku lagi.” kataku. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. semua jalanan di kota. persegi. “Itu studio balet. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan.” aku mengingatkannya. dia berhati-hati. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. tapi tak ada yang bisa ditemukannya.

Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 . “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari. menggambar tangga darurat di dinding belakang.menyapu kertas itu sekarang. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

tapi dia akan segera pulang. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama.” “Kupikir dia di Florida.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya.. Tapi stereonya tadinya di sini”. dan tidak ada TV.” Kami duduk terdiam. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. “Alice. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . Terdengar nada sambung sebanyak empat kali.menyempit di bagian belakang ruangan.” kataku setelah bunyi bip. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya. membuyarkan lamunanku. “58th Street dan Cactus. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya.” ia menyakinkanku. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah. “Di sana letak kamar mandinya. aku mau kau melakukan sesuatu. “Mom.” Suaraku gemetar. “sudah lama.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku. “Kalau begitu di sini. Dengar.” bisikku. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. hubungi aku di nomor ini. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie..” Alice sudah di sisiku. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. “Tidak. memandangi gambar Alice. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. sekolah. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.” “Memang. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. apakah telepon itu aman?” “Ya. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama.” kataku. Ada jendela di ruang tunggu.” “Jasper?” tanya Alice. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. palangnya. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. “Ya. sama sekali tidak. aku menunjuk sudut kiri. “Di sekitar sudut rumah ibuku. Begitu kau sudah menerima pesan ini. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. Ia mempertimbangkannya. tentu saja.” aku mengakui. masih tenang. Ini penting. Aku melihat mereka bertukar pandang. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. “Tidak. entah dimana..” Alice dan Jasper menatapku. Aku penari yang payah.” Aku menyentuh pintunya. “Tidak. cermin-cerminnya.. suaraku menghilang.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. dimana catatan tentang diriku berada. “ini aku.

Aku membacanya perlahan. aku baik-baik saja. oke? Aku mencintaimu. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. mengantisipasi malam yang panjang. djAnGgo 352 . “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Bye. Mom. dua kali. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. mencari berita tentang Florida. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum.di bagian bawah gambar.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. Aku berkonsentrasi menonton berita. tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. Jangan khawatir. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. Aku duduk di sofa. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. atau tentang pelatihan musim semi. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris.

tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. menantikan telepon berbunyi lagi. Aku pasri tertidur di sofa. seperti yang kurasakan. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. djAnGgo 353 .

dia akan melukai orang yang kucintai. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. “Itu rumah ibuku.” Alice telah bangkit dari sofa. dan kau akan pergi bersamanya. Dinding-dindingnya berpanel kayu.” bisikku. Alice. Kepanikanku tetap samar. menyembunyikanmu untuk sementara waktu.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. hanya saja kali ini keadaannya terang. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. Edward akan datang menjemputmu. agak terlalu gelap. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR... Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. Aku tak bisa berkonsentrasi. aku takkan bisa. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. “Bella. ketinggalan zaman. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. dia kesini untuk mengincar ibuku.. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Dia. menekan nomor. telepon di tangan. “Teleponnya di sebelah sana. menjaga kepalaku tetap terapung.” kata Alice. “Ya. ” djAnGgo 354 . tidak fokus. Dia akan menemukan seseorang. meja tamu yang bundar berdiri di depannya.” “Aku tak bisa menang.” “Tapi ibuku. “Bella. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat.. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai. Kita akan menemuinya di bandara. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. “Ya. sambil menunjuk. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Aku menatapnya hampa. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Alice dan Jasper duduk di sofa. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya.21. Dua pasang mata yang abadi menatapku. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Emmett. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Alice.

” ia meyakinkanku. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 . “Dan bagaimana kalau kau terluka. Bella.“Kami akan menangkapnya.

bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. “Halo?” sapa Alice. Itu suara tenor laki-laki. tapi aku telah melangkah maju. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding. “Tidak. “Nah. “Mom?” “Berhati-hatilah.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya.30. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. sebenarnya membantingnya. meringkuk. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. aku janji. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. Mom. mengalihkan perhatianku. “Tenang. djAnGgo 356 . Aku mendesah. suara yang amat menyenangkan dan umum. tapi yang menarik perhatianku adalah. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku.45. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. menjauhkan diri dari tangan Jasper. Pikiranku berputar-putar. Suaranya panik. pukul 5. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. dia ada disini. katanya tanpa suara. Alice tampak terkejut. menyadari apa yang sedang terjadi. Ia berbicara sangat cepat. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. Kabut tebal kelelahan menyapuku. tak ada kompromi. aku tak perlu melukai ibumu. bergoyanggoyang. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku." Perutku melilit mendengar kata-katanya. Tapi telepon berbunyi lagi. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. merasa sedikit malu dengan sikapku. Aku melihat jam. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa.” bentakku. Satu-satunya pertanyaan adalah.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. Tak ada jalan keluar. Aku sudah menduganya. “Mereka baru saja lepas landas. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. seraya berjalan pelan menjauhi Alice. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. “Semua baik-baik saja. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya.Alice menatap Jasper penuh arti. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. Ibumu. Satu-satunya penghiburan. Barangkali. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan.” Alice memberitahu. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. “Aku tak ingin tidur lagi.” Aku diam. Kali ini Alice tidak mengikutiku. “Mereka akan mendarat pukul 09.

Tolong katakan.maka dia akan baikbaik saja. tetaplah di tempatmu.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam.” Suaraku tak lebih dari bisikan. ‘Tidak. “Sekarang ulangi kata-kataku.” ia memujiku. Mom. tetaplah di tempatmu. Mom. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. “Bagus sekali.’” “Tidak. djAnGgo 357 .

Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. “Ya.” “Mom. well.” suara menyenangkan itu melanjutkan. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. “Ini penting. percayalah padaku. Sambil berjalan.” “Sebelum siang. kumohon. Aku menunggu.” Suara itu terdengar senang. “katakan. menurutmu. Bella. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. kalau begitu. percayalah padaku.” Suaraku parau. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. ‘Mom. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu.” katanya sopan. Aku sedang bersiap-siap menunggu.” “Ya. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur. Teleponlah.’ Katakan sekarang. nah.. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang.” Entah bagaimana. Aku yakin takkan mudah. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak.” aku memohon. Mom. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya.. masih ringan dan ramah. Aku menutup pintu. Menurutmu. Waktuku tidak banyak. tolong dengarkan aku.” “Baik. bagus.’ Katakan sekarang.” “Ya.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat.” “Tidak. dan dimana ini akan berakhir. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita.’” “Mom. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. Bella.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi. itu akan sangat buruk bagi ibumu. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. Sekarang inilah yang harus kaulakukan.” “Ya. Aku yakin itu.” djAnGgo 358 . Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. kau jadi tidak terlalu khawatir.” Suara ramah itu mengancam. “Bagus sekali. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. hati-hati. tolong dengarkan aku. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. memusingkan. Lebih mudah begini.” “Itu lebih baik. “Ah. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya.” “Ya. Bella. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara. Kumohon. tolong katakan.” Aku menunggu.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu.” “Aku menyesal mendengarnya. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak. “Nah. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. ‘Mom.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. tapi ibumu pulang lebih awal. harus ada cara.

Mom. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. Aku mencoba menahannya. Mom. “Katakan.“Terima kasih.” “Aku mencintaimu. sampai ketemu. “Sampai ketemu. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu.” Suaraku terdengar dalam. “Selamat tinggal. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku.’ Katakan sekarang. Bella. ‘Aku mencintaimu. djAnGgo 359 . Aku tahu aku harus berpikir. Aku menempelkan telepon di telingaku.” aku berjanji. Mom.” Air mataku menetes.” Ia menutup telepon.

mencoba mengenyahkannya. Keputusasaan mencengkramku. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. dan aku harus berusaha. Aku harus berpikir dengan baik. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. Tanganku gemetaran.” tulisku. dan pergi menemui Alice. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri.Perlahan. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. Disana juga ada amplop. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Tapi aku masih tidak punya plihan. Keputusanku sudah bulat. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Menyusun rencana. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. tanpa berbalik. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. karena Alice dan Jasper menungguku. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Bella. pikiranku mulai menembus dinding sakit. amat perlahan. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. Aku teramat menyesal. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. jangan khawatir. Aku tak boleh takut sekarang. Tapi tenang saja. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. Aku harus mencoba. Aku akan menyakitinya. menjaga suaraku tetap tenang. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Aku masuk lagi ke kamar. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. djAnGgo 360 . Aku melihatnya waswas. Aku sangat menyesal. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. kemudian aku mengesampingkannya juga. ia ingin pulang. I a menyandera ibuku. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. “Edward. Perlahan-lahan aku menghampirinya. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. dan aku tidak menunggunya bertanya. Aku tak memiliki jaminan. “Alice.” Suaraku lemas.” kataku pelan. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. sebelum Jasper kembali. penasaran. tak ada cara untuk bernegosiasi. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja.” Suaranya terdengar hati-hati.” Aku berpaling. Ia bisa melihat kegelisahanku. “Ibuku khawatir. Bella. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Bagus. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali.

Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Aku hanya berharap dia mengerti. kedua tangannya memeluk tangan Alice. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga.Jangan marah pada Alice dan Jasper. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. ia menjawab pertanyaan Jasper. pikiranku begitu tersiksa dan labil. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. muncul tepat di belakang Alice.. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. Kurasa. Kumohon. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja. dan memasukkannya ke amplop. terpana. dan aku melihat wajahnya. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. Maafkan aku. sungguh. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. aneh.. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan.” katanya. itulah yang ia inginkan. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. semua ketakutan. otomatis menyentuh tangannya. Pikiranku melayang pada ibuku.. 22. itu namanya mukzizat. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. “Apa yang kau lihat?” kataku. kumohon. keputusasaan. matanya terpaku padaku. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. Dari seberang ruangan. Aku takut berada satu ruangan dengannya. Demi aku. dan mau mendengarku sekali ini saja. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka.. Aku mencintai mu. ekspresinya masih hampa. “Bella. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. kehancuran hatiku.” balasku. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. Aku menyambutnya. melepaskan cengkramannya dari meja. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. Tatapannya hampa. . Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. “Alice!” seru Jasper.. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. Jasper menatapku tajam. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. merasakan kepanikan. “Ada apa?” desak Jasper. Kepalanya menoleh. “Aku di sini.” djAnGgo 361 . Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. “Tidak ada apa-apa.. apalagi kau. takut ia akan menebaknya.Teruta ma pada Alice.” akhirnya ia menjawab. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper.

“Kau mau sarapan?” “Tidak. Aku bersiap-siap seperti robot. wajahnya menghadap Jasper. Ia menjawab hati-hati. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. “Ya?” djAnGgo 362 . Rambutku dibiarkan tergerai. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. “Alice?” tanyaku cuek. berayun menutupi wajah. aku bisa merasakan keinginan Alice. aku makan di bandara saja.. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru.” Aku juga terdengar sangat tenang. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik. Membantuku menyusun rencana. ekspresinya lembut dan tenang.Alice akhirnya memandangku. bahwa mereka bakal gagal. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. Alice menyandarkan tubuh di pintu.. meskipun tersembunyi dengan baik. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara.

yang paling memusingkan. Ia mengangguk. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. Atlanta. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. kembali waspada. Betapa menakjubkan. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini.. untuk melihatnya dulu. Aku menunjukkan jalan. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. Aku menungu kesempatan. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. menginginkan kedatangannya. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Benar-benar tak ada harapan. Aku memandang papan jadwal kedatangan. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. dAn takkan pernah kulihat. Kami tiba di bandara.” gumam Alice. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan. Keberuntungan berpihak padaku. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. Edward akan segera menemukannya. Kami parkir di lantai empat.. Pesawat Edward mendarat di terminal empat.” “Ya. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi.” Aku mengangguk penuh perhatian. “Suratku. terutama setelah penglihatan Alice. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira.. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. suaraku terdengar bosan.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela.” kataku.” ia menimpali.. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. tidak sabar. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. djAnGgo 363 . baru melarikan diri. membuat keputusan baru. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Ia menatapku. “Ya.. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. seluruh masa depan pun berubah. Chicago. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. di garasi berukuran raksasa. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. tak peduli betapa kecil. mudah-mudahan. pikirku. atau barangkali kebetulan saja. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. Itu membuatnya sangat sulit. Begitu mereka berubah pikiran. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. seperti cuaca. Manusia lebih sulit. hal-hal bisa berubah. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu.

“Kurasa aku mau makan sekarang. angka-angka itu berubah. “Aku ikut bersamamu... Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan. “Aku merasa sedikit.Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri. Aku tak punya waktu lagi. djAnGgo 364 .” kataku buru-buru. Alice berdiri.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. bukannya penghianatanku.” “Itu di Scottsdale. dia tidak curiga. Aku belum boleh menangis. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. “Aku tidak bakal lama. tapi kemudian mengangkat bahu. seolah membimbingku. napasku tersengal-sengal. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. Begitu pintunya membuka.” djAnGgo 365 . Di depan Hyatt. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. Pintu yang lain tak jauh dari lift. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. “Apakah itu cukup?” “Tentu. tangannya di punggungku.” Aku bergegas menaiki undakannya. “itu tujuanku.Jasper bangkit berdiri. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. Jalan yang kulalui masih panjang. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. Ini satu-satunya kesempatanku. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. Aku tak punya waktu. tapi aku mengabaikannya. tidak masalah. aku mengingatkan diri. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. Nak. aku lari. Aku hanya perlu lari sebentar. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. ia takkan bisa melihatku. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. bahkan kalaupun Jasper melihat. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi.” protesnya. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. Kebanyakan kursinya kosong. tidak mau repot repot bertanya. Aku melompat keluar dari pintu otomatis.tapi. Orang-prang menatapku. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. Dan di sanalah. Di belokan lift sudah menanti. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. melambai-lambai ke arah pengemudinya. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. jaraknya beberapa meter di belakangku. Sudah menyala. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. di belokan. Tak ada taksi satu pun. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. “Tunggu!” aku berseru. dan pintu lift pun menutup. yang membuatku lega. atau malah sudah. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. Keberuntungan masih bersamaku. dan aku berlari. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. “Ini shuttle ke Hyatt. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. “Ya. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. aku harus terus berlari. Mata Alice tampak bingung.” Begitu pintu menutup di belakang.

melipat tangan di pangkuan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya.Aku bersandar lagi di jok. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. juga kekhawatiran. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. Jadi. Kuputuskan untuk tidak menyerah. Takdirku telah ditentukan. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. djAnGgo 366 . Aku memaksa diriku tetap penuh kendali.

Aku lari ke pintu. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. dan bayangan indahku pun lenyap. tampak sepuluh digit angka yang rapi. kulitnya berkilauan bagai air laut. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. kalau begitu. djAnGgo 367 . tak pernah tidur.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. “Ini sangat cepat. Di sana. “Lima-delapan-dua-satu. Rumahnya kosong. khawatir aku sakit atau apa. kita sudah sampai.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. “Halo. aku merasa bahagia. Kubuka pintunya. Aku begitu larut dalam lamunan. “Kalau begitu. “Hei. Sekarang. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Sopir taksi menatapku. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. “Bagus sekali.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. melewati pintu muka. kita akan bertemu sebentar lagi. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Kecuali kau tidak datang sendirian. akhirnya aman. mengandalkan aku. kosong. di whiteboard .” bisikku. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku. bahkan nyaris mendengar suaranya. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Tak ada alasan untuk takut. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. kosong.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. “Aku sendirian. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak.” Aku menutup telepon. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. Bella. Bella. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Di dalam gelap. Aku harus menutup dan memulai lagi. agar ia bisa keluar di siang hari.” Suaraku tercekat. normal. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. Aku harus bergegas. ibuku menantiku. Jangan khawatir. menuju panas yang menyengat. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. Kemudian aku lari mendekat. Aku terkesan. Ke suatu tempat di utara.” “Well. aku tahu jalan ke sana.. Aku lari meninggalkan ruangan. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. tak pernah meninggalkan sisinya. aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Hanya berdering satu kali. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. “Terima kasih. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. kikuk seperti biasa. aku mengingatkan diriku sendiri. dengan saksama menekannya satu per satu.. ketakutan. senang. beberapa kali keliru. Berhasil. tentunya. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini.” Ringan. Aku membayangkannya di pantai. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini.

menahan tubuhku dengan tangan. peluh menetes-netes di wajahku. Beberapa kali aku terpeleset. menuju belokkan. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. meninggalkan semua di belakangku. napas terengah-engah. seperti berlari di pasir basah. Aku merasa sangat lamban. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Sinar matahari terasa panas di kulitku. lalu tertatih-tatih bergerak maju. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini.Tapi aku menjauh dari semua itu. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . sekali jatuh. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Aku berlari.

ramah. Ia memegang remote control. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. menariknya membuka perlahan. Lama kami bertatapan. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. lumayan dekat. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. Bella. “Bella. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. Ketika berbelok di sudut terakhir. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. terdengar deru suara pendingin ruangan. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving.habisan. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. karpetnya beraroma shampo. Tidak dikunci. Kusentuh gagang pintunya. memperhatikannya. semua kerai jendela tertutup. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. suaraku lega. Aku memandang sekeliling. Haus. waktu usiaku dua belas. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Aku berusaha mengatur napas. Ia masih di Florida. Aku berlalri ke pintu. tapi kerai jendelanya tertutup.” aku menjawab. mengacak-acak rambutku. langkah demi langkah. Ketika semakin dekat. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Mengagumkan. tak perlu merasa takut. Dan tiba-tiba aku tersadar.. “Betapa aneh. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Ibuku aman. Ia tak pernah menerima pesanku. Kemudian suara ibuku memanggil. aku bisa melihat studio itu. di layar televisi. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. sejuk. “Maafkan hal tadi. merasa lega. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. Irisnya nyaris hitam. Suatu hari kami ke pantai. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Aku nyaris pusing. seperti yang selama ini kuingat. aku bisa melihat tanda di balik pintu. Perlahan-lahan aku berbalik. berusaha menggapai keseimbanga. kemudian ia tersenyum. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. Lantai dansa sebelah barat gelap. rumahku. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik.” “Memang tidak. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. Aku hati-hati berbalik. Aku mendengarnya tertawa. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. “Ya. Dan di sanalah dia. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. aku tak sanggup bernapas. Lapangan parkir di depannya kosong. Ia melihatku nyaris jatuh. Aku tak bisa lari lagi. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu.. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. Ia berjalan menghampiriku. menuju sumber suara. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. menuju jalan Cactus. Ibuku aman.

Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel. “Tidak. Setidaknya.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. dan bagiku ia seperti berharap-harap.” Ia berdiri beberapa meter dariku. tangan dilipat. menatapku dengan sorot mata penasaran. kurasa tidak. aku memintanya untuk tidak melakukanya.” djAnGgo 370 . “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya.

melebarkan lensanya. aku tak bisa bekerja sendirian. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. kau tahu. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. kelewat cepat. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. tempat yang katamu akan kau datangi. bukan?” Aku tak menyahut. oh. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. “Sebelum kita mulai.. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam.” Perutku mual ketika ia berbicara. Victorian mengawasi mereka untukku. Aku menatapnya ngeri. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 .“Apa katanya?” “Aku tidak tahu.” “Betapa romantis. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. Lagi pula. Jadi. “Sangat mudah. tersenyum. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. berada bersama kelompok yang salah. aku kecewa. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. tentu saja. tapi kau bisa saja berada di Amerika. bahwa kau ada di sini. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. itu hanya dugaan. kau boleh menyebutnya indra keenam. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. boleh kutambahkan. Ia mengaturnya beberapa kali. Kau tahu.” Aku menunggu dalam diam. kalau begitu harapan kita berbeda. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. semua ini sedikit terlalu mudah. “Aku senang memanas-manasi sedikit. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo.. Aku sudah siap. surat terakhir. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. ini semua untuknya. dan tak diragukan lagi. “Aku meninggalkan surat untuknya. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. manusia lemah ini. Well. “Kuharap begitu. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. tidak terlalu memenuhi standarku. Awalnya. “Maafkan aku. pada waktu yang salah.” Ia menghampiriku. Kemudian aku bertanya-tanya. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. Kudengar kau ingin pulang. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. sudah lama sekali. Sejujurnya. setelah berbicara dengan Victoria. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. Edward. Tentu saja. Kau hanya manusia. begini.” “Hmmmm.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. Nyaliku benar-benar ciut. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. Jadi. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. tempat aman. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. Hal seperti itu pernah terjadi. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.

“Kau tahu.kabur dariku. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. dan begitu vampir tua itu membebaskannya. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . dia membuat gadis itu aman. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. makhluk kecil malang.

sebenarnya. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. ya kan?” Aku mengabaikannya. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. tapi mereka mendapatkannya. wajahnya penasaran. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. terlalu cepat.karena pengliatannya. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya.” Aku benar-benar mual sekarang. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. “Well.” Ia mendesah. selemah lututku saat itu. dan aku bisa melihat di matanya. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu.. Pada tahun 1920-an. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. aku mencoba lari. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Bunga-bungaan. dengan wajar. suatu kehormatan. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya.. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. Sempurna. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Aku mendapatkanmu.” gumamnya pada diri sendiri. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. lalu menjatuhkan tangannya. Ketika gadis itu membuka mata. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. Maaf. lalu pergi. aku tak bermaksud menyinggungmu. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. Kacanya hancur berantakan.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. Aku tak dapat menahan diri. dan pesan kecilku. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. “Ya. aku menghancurkan si vampir tua. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. semakin lebar. Ada rasa sakit yang mendekat. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. “aku tak mengerti. “Itu efek yang sangat menyenangkan. “Dan aromanya memang sangat lezat.. Aku bahkan tak bisa beringsut. Aku tak bisa bernapas. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. kakinya menginjak kakiku. tubuhku melayang ke belakang. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar.” Ia mendesah. Lututku gemetaran. Entakan keras menghantam dadaku. Kemudian ia mencondongkan tubuh.” Ia maju selangkah lagi. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu.” “Alice. Ia langsung menghadangku. suarnya kembali ramah. Dalam sekejap ia sudah di depanku. memangsaku. dan aku khawatir bakal jatuh.” desahku. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. terpapar jelas dan berkilauan. terkejut. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula. teman kecilmu. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. “Sebagai balas dendam.. tapi tubuhku membeku. kurasa kita selesaikan saja sekarang. “Tidak. Perlahan-lahan ia menghampiriku. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. bagaimanapun.

Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. dan ia berdiri menjulang di atasku. “Tidak. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. Aku berbalik untuk meraih kakiku. jangan Edward. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. Tapi kemudian aku merasakannya.retakan itu sebelum merasakannya. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. “Tidak!” seruku parau. tersenyum. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. djAnGgo 374 . “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya.

Darah yang mengalir. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. kini membara dengan hasrat tak terkendali. sosok gelapnya menghampiriku. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku bisa melihat. raungan terakhir si pemburu. dengan cepat menggenang di lantai. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. Aku mendengar. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. Mataku memejam. djAnGgo 375 . Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. tanganku terangkat menutupi wajah. di tempat pecahan kaca itu menusukku. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. membuatnya sinting karena dahaga. Biarlah segera berlalu sekarang. yang sebelumnya penuh tekad. Matanya. seolah dari kedalaman air.Selain sakit di kakiku. Dengan kekuatan terakhir. Aromanya membuatku mual. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Terlepas dari tujuan awalnya.

djAnGgo 376 .

kumohon! Bella. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. Bella? Aku mencintaimu.. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku.”. Malaikat tak seharusnya menangis.” suara tenang itu memberitahuku. Suaraku sedikit lebih jelas. Aku mencoba menemukannya. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. menjauh dariku.” “Sakit. aku tahu. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. tidak. tersengal keluar dari kolam yang gelap. “Edward. oh kumohon. “Aku tahu. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . Aku tak bisa memahami diriku sendiri. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Kau bisa mendengarku. dari kedalaman air. Bella. aku bermimpi. suara yang indah.. nyaris mencapai permukaan. Karena. Aku menjerit. “Oh. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. “Hati-hati kakinya patah. Ini tidak mungkin surga. Aku diseret naik. “Bella. Rasanya sakit. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. dengar. Di belakang ratapan itu ada suara lain. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. lebih ganas. kau akan baik-baik saja. “Ya.” Aku mencoba memberitahunya. dan aku tak bisa bernapas.” “Edward.” rengekku. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. lebih kuat. “Carlisle!” si malaikat berseru. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. “Bella. Kemudian aku tahu aku sudah mati. Bella. “Bella. Apa saja. aku merasakan sakit yang lain. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. kemudian. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. Aku ingin mengatakan ya. “Dia kehilangan banyak darah. sekonyong-konyong pecah.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. kumohon. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. kumohon!” ia memohon. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. aku disini. “Bella!” si malaikat berseru. kumohon. membahagiakan.23. dan lengkingan kesakitan.” aku mencoba lagi. Kepalaku seperti ditekan. tidak.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. lebih dalam. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. Bella. itu tidak benar. dan sarat amarah. Bella. Ruangan penuh ancaman. sekaligus mengerikan. memberitahunya semua baik-baik saja. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. Suara geraman lain. tidak. gelegar amarah yang mengerikan. Ada rasa sakit baru. Kemudian.

dia tahu dimana menemukanmu.” djAnGgo 378 .. “Dia disini.. “Alice?” erangku. Tenangkan dirimu. Bella.ketakutan. Alice. “Aku tahu. Carlisle akan memberimu sesuatu. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku. rasa sakitnya akan berhenti.” “Tanganku sakit.” Carlisle berjanji. itu akan membantu.” aku mencoba memberitahunya.

Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. atau akan terlambat. perlahan. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya.” “Ya. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. kau harus melakukannya sekarang.” kata Carlisle. melainkan terkejut.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. “Mungkin ada kesempatan. Dan aku melihatnya.” Wajah Edward tampak lelah. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. tapi terselip nada kemenangan disana. saat tanganku mati rasa. Rahangnya mengeras. “Alice. “Tidak!” ia berteriak. “Alice. tinggallah bersamaku. “Aku tidak tahu. mataku perlahan-lahan membuka. begitu putus asa menemukan wajahnya. Aku mendengar suara Alice.. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. “Itu keputusanmu.. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. “Dia disini. kau harus melakukannya. “Apa?” Edward memohon. Aku tak dapat melihat wajah Edward. “Edward. Lukanya cukup bersih.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku. “Tapi kita harus bergegas.” Edward ragu. menahannya. Aku harus menghentikan pendarahannya. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. Kemudian. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. tapi tak dapat mendengar suaraku.” Saat Carlisle bicara. Aku mendesah bahagia. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. Aku tahu mataku kembali terpejam. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. berusaha menenangkan diri. aku pun tenang.” sahut Carlisle. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Aku membukanya. Akhirnya.. Api itu lenyap. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. apa pun itu. Edward. Aku tak bisa menolongmu. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya.” “Tinggallah. “Edward.” Itu suara Alice. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. “Edward.” aku mencoba bicara. didekat kepalaku. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. akhirnya terbebas dari kegelapan. membereskan luka di kepalaku. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . aku. “Edward!” jeritku.. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana. Bella. Namun mereka bisa. Edward.” “Carlisle. aku akan bersamamu. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. bibirnya yang dingin menekan kulitku. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang.” Suaranya tegang.” Suara Carlisle tak lagi tenang. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan.” aku mengerang.

“Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya. “Darahnya bersih.rasa kantuk yang melanda diriku.” kata Edward pelan. djAnGgo 380 .

“Kau bisa tidur.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. Alice.” aku menolak. “Aku tahu. “Terima kasih. dia tahu tentang kau. “Sekarang tidurlah.” aku menghela napas. djAnGgo 381 . “Aku mencium bau bensin.” aku mendesah.” aku menambahkan. Edward. videonya.” Aku mencoba membuka mata. letih karena perasaan lega. Edward. Dan akupun berada dalam pelukannya. rasanya sangat lelah. “Dia mengelabuhiku. Dia menonton video rekaman kami. meringkuk didadanya. aku ingin tidur. Dahiku berkerut.” “Aku mencintaimu. “Sudah saatnya memindahkannya. dia tahu darimana asalmu. Bella.” kata Carlisle.” jawabnya. “Tidak. aku ingin tidur. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida. melayang-layang.” desahku. aku akan menggendongmu. “Alice. tapi suaraku lemah.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. Sayang.” Edward menenangkanku.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. “Alice. Tapi itu membuatku teringat. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya. “Bella?” Carlisle bertanya lagi. semua sakitnya hilang.Aku berusaha menjawabnya. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku.

djAnGgo 382 .

tapi kepalaku semakin pusing.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup. di bawah hidung. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. “Harus kuakui.” Edward berjanji. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. itu mungkin saja terjadi. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. di rumah sakit ini. tidak boleh. di sini. Dia sedang mencari makan. Aku bisa saja terlambat. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Edward. “Sebentar lagi dia kembali. cahaya terang menyilaukan pandangan.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. di atas kepalaku. Renée ada di sini. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. Mereka memberimu transfusi. “Aku nyaris terlambat. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. “Kakimu patah. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. “Edward?” Aku menoleh sedikit. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. Aku berada di ruang yang asing.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya. “Oh. “Aku bodoh sekali.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku. Aku dibaringkan di tempat tidur keras.” “Tidak. dengan besi pengaman. “Aku tak yakin. Aku tidak menyukainya. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik.” ia berbisik. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku. beberapa bagian tengkorakmu rusak. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. “Sekarang semuanya baik-baik saja. memar hampir di sekujur tubuh. dan kau kehilangan banyak darah.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. begitu juga empat rusukmu. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus.” “Dia mengelabuhi kita semua. Edward. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. Kupikir dia menyandera ibuku. ruang putih. “Dan kau belum boleh bergerak.” Ia berhenti.24. aku menyukai aromamu yang asli.” ia menyuruhku diam. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. kakiku bengkak.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. Ia langsung tahu maksudku. djAnGgo 383 . “Jangan. Ibuku ada di sini.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya. suaranya terdengar menyesal. well.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. “Alice sudah telepon mereka. sesaat aromamu jadi berbeda.

Aku menunggu jawabannya dengan sabar.” djAnGgo 384 . “Aku harus mencintaimu. setengah tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit...” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum.” ia berbisik. “Lebih baik.” Akhirnya ia memandangku. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. bahkan. “Rasanya mustahil. “Mustahil. untuk berhenti. Tapi aku melakukannya. lebih baik daripada yang kubayangkan.

kau tetap tinggal. “Ada apa. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku.” “Kau takkan membiarkanku pergi. “Bukan. mengingatkanku akan sesuatu.. tapi sesuatu menghentikanku. Ia menatapku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu.” “Mereka harus meninggalkan ruangan. Aku memandang ke bawah.” kata Edward.. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.” Aku meringis.” ia menimpali dengan geram. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. samar-samar menguarkan kebencian.” Suaranya berubah kelam. “Ada apa?” tanyanya waswas. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. “Dari semua yang perlu dimaafkan.” “Tapi kau tetap tinggal.” aku meminta maaf lagi... Emmett dan Jasper membereskannya.” Suara Edward tenang. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. Aku merinding.” “Ya. perhatiannya teralihkan.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. “Oh.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali. tapi wajahnya kelam oleh amarah.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku.” “Oh. Aku memahaminya sekarang.” “Dan Alice dan Carlisle.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. sambil menggeleng. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku. kau tahu. Ini membingungkanku. “Takut jarum. “Jarum. ngeri membayangkannya.” “Aku tahu. Tapi jarum infus.” Suaranya menenangkan.” ujarku menyesal. Kau seharusnya menungguku.. kemudian meringis. “Takkan kubiarkan. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk.” aku menjelaskan. Ia menatap langit-langit. dia langsung lari menemuinya. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. Kuputuskan untuk mengubah topik. pertama bingung. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati. “Mereka juga menyayangimu.” “Memang tidak. maksudku. itu sebabnya dia tidak ingat. “Aku tahu kenapa kau melakukannya.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. kemudian kepedihan terpancar di matanya. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. seharusnya memberitahuku. tidak masalah. dahinya kembali mulus bak pualam. memalingkan pandang. Edward langsung waswas. tentu. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 .” “Maafkan aku.“Maafkan aku. darahmu berceceran di mana-mana.” aku bertanya-tanya. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. “Alice tak pernah mengerti. tapi hanya sedikit. “Ya.” Aku memutar bola mataku.. melihat kantong transfusi menahan tanganku. “Auw.

well.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas.” ia menambahkannya lugu. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. “Kau setuju menemuiku. kau tahu kelanjutannya. tentu saja aku kesini ditemani orangtua.. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan.untuk berbicara dari hati ke hati. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks.” djAnGgo 386 .. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice.

dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat. kami membuatnya sangat meyakinkan. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri.” gumamku pada diri sendiri.” katanya.” aku berseru.” ia berjanji. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. bunyi bip itu mendadak berhenti. matanya masih terpejam. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. meskipun teramat lembut. Ia sedang berbicara dengan seseorang. Tapi sekarang semua baik-baik saja. Terdengar suara pintu berderit.. “Jangan lupa bernapas. Monitor langsung bergerak kacau lagi.” katanya. tersenyum.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. Tapi kemudian bibirnya menegang.. aku jadi penasaran. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu.” ia berjanji. dan ia terdengar lelah dan sedih.” Ia tersenyum. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. “Jangan buat aku pergi menghampirimu. Ia menarik diri. “Jangan tinggalkan aku. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. dan ia mengintip dari sana. kemudian tersenyum. “Bella.” aku mengeluh. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali. Mom. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. “Aku takkan meninggalkanmu. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. misalanya. “Mom. untuk menenangkannya.” bisikku sinis. “Aku belum selesai menciummu. sungguh-sungguh. Aku tak bisa membiarkannya pergi. dan tatapannya mengira-ngira. “Aku akan tidur sebentar.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. mungkin perawat. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi. “Ini bakal memalukan. Posisinya diam tak bergerak. djAnGgo 387 . Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. “Hmmm. lalu berbaring dan memejamkan mata. Tak ada jendela yang pecah. “Kurasa aku mendengar ibumu. Ia langsung tersentak. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut.” aku mencoba menenangkannya. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. meyakinkan semuanya baik-baik saja. tidak apaapa. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. “Mom!” aku berbisik. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. Ia tertawa. Aku bisa mendengar ibuku sekarang. Ia menarik napas panjang. suaraku penuh sayang dan lega.” Dahinya berkerut. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya.” “Tidak juga. Setelah semua diatasi. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.Aku memikirkannya beberapa saat. “Dia tak pernah pergi.

” “Jumat?” aku terkejut. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu... Aku mencoba mengingat hari ketika. luka-lukamu parah sekali.“Aku senang akhirnya kau tersadar. djAnGgo 388 . Sayang.” Ia duduk di tepi tempat tidur. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa.” “Aku tahu. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat. Sayang.” Aku bisa merasakannya. tapi aku tak ingin memikirkannya. kau tak sadar cukup lama.

dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. Charlie.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. Cullen ada di sana. kau percaya?” “Itu hebat.” “Tapi kau tak perlu lagi. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. karena bagian itu tidak diperban. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. dan teras persis seperti di film-film tua. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. kembali menghadapku. kemudian mengerang. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. tunggu sebentar!” selaku. sekolah.” Ia merengut. “Tidak apa-apa. dan kelembapannya tak seburuk itu. Tangannya bergerak ke sana kemari. heran.” ia mengingatkanku. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. Mom. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. “Aku ingin tinggal di Forks.” Edward kembali pura-pura tidur. “Di Florida. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. Dia sebatang kara disana. dasar bodoh. Dia gadis yang menyenangkan. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. Aku hendak berbohong. Alice.. tapi mata Mom mengamati wajahku. “Kenapa?” “Sudah kubilang. aduh!” Aku mengangkat bahu. Sayang. meskipun masih sangat muda.” kataku. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. “Bella. Ide ini tak terbayangkan olehnya. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur.” “Memang. kali ini benarbenar disengaja. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks.” aku menimpali sepenuh hati. Mata Edward berkilat menatapku.“Kau beruntuk dr. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. dan pohon ek raksasa. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. “dan Charlie membutuhkanku. oh. Aku tinggal di Forks. berusaha terdengar bersemangat. dan aku punya beberapa teman cewek”. ” “Mom.” ia tertawa.” Aku tersenyum. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns.” “Mom. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. Dan dia lebih mirip model daripada dokter. “Tidak terlalu buruk. jadi aku mencoba alasan lain.” aku meyakinkan mereka. dan dia sama sekali tak bisa memasak. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. salju dan semuanya. Dia baik. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . Mom. lalu memandangku dan Edward bergantian. Ia menoleh ke arah Edward.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya..” Aku meragu. Bukan ide bagus.. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. Mata Edward masih terpejam. Ia menaruh tangannya di dahiku. warna kuning dengan bingkai putih.. Lalu matanya kembali melirik Edward. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. kau tidak menyukai Forks. kami sudah sering membicarakannya. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida.

” Ia bimbang. memandangi Edward yang diam tak bergerak. djAnGgo 390 .” aku mengakui.” Uh-oh. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. “Tentang apa?” tanyaku. dialah alasan terbesarku. “Ya.disana. “Dia salah satu alasannya. Tak perlu kuakui. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini.

” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. aku akan baik-baik saja. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. “Oh. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. sejauh yang bisa kuingat. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. tapi kau masih sangat muda.. Mom. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat..” Suaranya terdengar ragu-ragu. djAnGgo 391 . dia kelihatan sangat baik.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. Bella.” “Kejahatan?” tanyaku kaget.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu. “Aku tahu itu. “Aku sayang kau. Sayang?” “Aku ingat. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Sayang. aku tak ingin kehilangan dirimu. ya Tuhanku. kalau kau membutuhkanku. Kemudian ia mendesah. menepuk-nepuk tanganku yang diperban.” ujarku.” ujarnya.” “Aku juga sayang kau. “Aku tidak akan sendirian. Edward langsung berada di sisiku. Aku cuma naksir. memalingkan wajah. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. langsung senang. “Well. “Aku terlalu tegang.” Aku bergidik dan meringis ngeri.” aku meyakinkannya. kau tahu. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku.” Mata Edward tetap terpejam. Mom. Aku mendesah. Mom.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. Bella. “Kau tegang. bangga pada dirinya sendiri. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Dia akan ke sini sebentar lagi. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari. Mom mengecup dahiku. Jangan khawatir. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi.” “Tidak apa-apa. Mom. Aku tak tahu kau akan segera sadar. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya. “Aku akan kembali malam ini. “Aku juga berpikir begitu. Kau ingat dulu kau menari di sana. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini.” tuduhnya.. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah.” aku menenangkannya.” “Tidak..” “Aku baik-baik saja.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.” ia menimpali. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. Sayang. kemudian pergi. “Aku cukup tergila-gila padanya. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. aku takkan menyadarinya.” Nah. dia luar biasa tampan. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. Aku tidur di sini. dan. “Benar.” “Aku akan segera kembali.” Begitu perawat menutup pintu. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. dan aku tidak suka berada di sana sendirian.. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. “Aku bisa tinggal.” ia mengakui malu-malu. Edward akan menemaniku. Mom. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. berusaha menjaga suaranya tetap pelan. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya..

Ia tersenyum. “Apa?” djAnGgo 392 .” Matanya menyipit.” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. sama sekali tidak menyesal. “Mobil bagus. lajunya sangat cepat. “Menarik.

tidak. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap.” aku memohon. kau perlu beristirahat. Bella. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. dan ibumu. “Aku bersumpah. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Rusukku nyeri.” ia menjelaskan.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. saat napasku semakin liar. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan.Ia menunduk ketika menjawab. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas.” “Jangan tinggalkan aku. Matanya berwarna gelap. seperti vampir sejati.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. “Ya. “Aku terkejut. “Aku akan tinggal di Forks. Matanya lebar dan serius. “Baiklah. “Lebih baik?” tanyanya. well. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. tenanglah. tapi aku hanya menggeleng. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. Sayang?” tanyanya ramah. sebelum beralih ke monitor. mengancam menghancurkanku.” ia mendesah. “Aku tidak membutuhkan apa-apa. “Tidak. suaraku parau. aku merasakan nyeri di dadaku. “Aku takkan kemana-mana. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku.” Ia membelai wajahku hati-hati. “Tak perlu berpura-pura berani. “Bella. Bella. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi.” Tapi jantungku tak mau tenang. tapi tidak juga.. “Sssstt. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. meskipun. “Aku takkan meninggalkanmu.. lebih mendekati hitam daripada keemasan..” Ia memandang Edward serius.” sahutku hati-hati. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana.” ia berjanji. Lalu wajahnya serius. Kupikir Florida. Kurasa djAnGgo 393 .” Aku menatapnya tidak mengerti. Sayang..” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku.” Ia menunggu. lalu pergi. sambil menepuknepuk kantong infus. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. Ia tidak mengatakan apa-apa.” Aroma napasnya menenangkan. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu. rasa sakit yang jauh lebih parah. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang.” gumamku.” Ia nyaris tersenyum. kupikir itulah yang kau ingingkan. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang.

” “Ya. Yang benar saja. Bella.” ia berbisik. hidup-hidup. tentu saja tidak.” Aku merengut.” djAnGgo 394 . menjaga suaraku agar tidak gemetaran. bahwa akulah alasan kau berada di sini. bereaksi berlebihan. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya.. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak.” “Nyaris.aku memilih kata ‘overreaction’. “Alasan aku berada di sini.. kaulah penyebabnya. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu. aku tak ingin tanpa dirimu.

Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain. aku sudah membusuk di pemakaman Forks. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya. “Apa?” “Kau tahu maksudku. sekarang aku mau tahu kenapa. “Meski begitu.” ia melanjutkan berbisik. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. “Bagus. “Berjanjilah padaku. “Aku sedang memikirkan yang lain. fakta itu tak terlewatkan olehku.” ia menambahkan dengan kasar.. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.. yang paling parah adalah merasa... Bukan. Ia terkejut.” Mata Edward sepertinya berubah hitam. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. Semudah itu. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. itu bukan yang terburuk. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.” Aku mulai marah sekarang... lalu meletakkan dagunya di sana. marah.” Aku tahu aku harus tetap tenang.. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif. dan rasa panik mencekat paru-paruku. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku. Ia tidak akan menjawan. dingin.” “Aku bisa saja.” Suaranya tercekat. Kepanikanku nyaris tak terbendung. “Kenapa kau melakukannya. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward. mencoba melepaskan diri.. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti.” “Tapi kau tidak membunuhku. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. Tatapannya tajam.. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. itu sangat jelas... terbaring di lantai. dan aku ingat. kau boleh pilih.” Ia meringis mendengar kata-kataku. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. meringkuk dan terluka.. mulutnya seolah dipahat dari batu.” kataku. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. Lubang hidungnya kembang-kempis.” aku berbisik. “Kau telah menyelamatkanku. “Kenapa?” ulangnya hati-hati. kemarahannya mereda.. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat.” kataku. Kalau bukan karena kau. mulai jengkel.” desakku.. Raut wajahnya lembut. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan.” katanya pelan... jadi kurasa kau akan menemukan caranya.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini. entah itu akan membunuhmu atau tidak. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. “Tapi kelihatannya masuk akal.” Meski begitu ia tidak berjanji. djAnGgo 395 . “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya.

” Ia berhenti sebelum melanjutkan. aku tidak berharap begitu. “Kurasa aku tahu.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane. kau tidak tahu. Aku tidak menyerahkan apa pun. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.” “Bella.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak. “Aku juga ingin jadi Superman. “tapi hidupku sudah berakhir.” aku berkeras. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini. dan aku masih tidak yakin.” djAnGgo 396 .” Suaranya lembut.

Lebih baik begitu.” geramnya.” ia mengingatkanku. Aku menatapnya..” Ia menatap geram padaku. atau kurasa beberapa hari yang lalu.. Dan rasa sakitnya?” tanyanya. Meski begitu ia sangat tenang. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar. “Begini saja. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani.” aku berkeras. Sama sekali bukan masalah.” Aku semakin baik dalam hal ini. mengambil uangnya. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. “Tidak.” “Tepat sekali.. “Itu masalahku. Bella.. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. tapi tak ada suara yang keluar. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada. tapi suatu saat. setelah itu . “Aku takkan sembuh.” gumamku akhirnya. “Tentu saja kau akan sembuh. Bella. Aku tak bisa menahannya. “Itu bodoh.. matanya terpejam. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh. “Aku mungkin takkan mati sekarang. Wajahku memucat.” kataku. “Itulah yang mestinya terjadi. “Aku bisa mengatasinya. itu juga bukan masalah. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri..” Aku mendengus. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. Yang seharusnya terjagi. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. dan aku seharusnya tidak ada. Ia menunggu. ‘Begini. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya. dia terbiasa hidup sendirian.” “Kau keliru.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat.seharusnya bukan apa-apa.” Kerutan di dahinya semakin dalam.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku.” kataku pelan.. “Aku bakal mati. Yakin. Aku menutupnya lagi. Dan Charlie lebih fleksibel. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. dan ia balas menatap. “Aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. terkejut.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. Aku melihatnya berusaha menekan amarah. Aku takkan melakukannya padamu. dan berkata.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. api dalam nadiku.” tukasnya. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. djAnGgo 397 . Ia membuka mata.’ Dan aku tidak mempercayainya.” “Bukan masalah. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi.. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya.” Sekarang ia cemas.” “Sungguh.“Kaulah hidupku. Paling lama dua minggu. Aku membuka mulut. Tiga hari. Dan aku akan menjadi tua.” Aku menatapnya geram.” “Aku bukan hadiah lotere. dia ingin aku melakukan yang sama.

kita tidak akan membahasnya lagi.“Benar. dan inilah keputusanku.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung. “Bella. Kau jauh lebih baik.” djAnGgo 398 .

” Matanya kembali kelam. bunyi bip. “Auw. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku.. Ia melihat ketakutan di mataku. “Aku tidak mau tidur lagi. “Permisi. “Bella. tetesan. “Aku tidak percaya. “Aku baik-baik saja.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice.” aku menyarankan. “Alice takkan berani.” Aku mendesah. Ia tertawa dingin. “Aku takkan meminumnya.“Kalau kaupikir ini akhirnya.. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. “Itu berarti selamanya. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding. dan detak jam besar di dinding. Akhirnya ekspresinya melembut. Dia juga melihatmu mati. ya kan?” Aku mencoba menebak.” “Jadi menyerahlah.” Detak jantungku mulai memburu.” Mataku menyipit. Kau benar-benar keras kepala. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu. itu membuatku pusing. mengabaikan rasa sakit di pipiku. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. “Usaha bagus. “Segala sesuatu berubah. “Sudah kubilang. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” Aku balas tersenyum.” aku berbohong. “Alice sudah melihatnya. tapi itu juga tidak terjadi.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya. “Jangan kelewat berharap. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. kau cuma naksir aku. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” Lama sekali kami bertatapan. kau akan melupakannya. “Aku akan menyuruh perawat ke sana. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.” “Aku tidak takut jarum.” “Kau harus beristirahat. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny.” Ia menggapai tombol. kau sakit. dan mendesah putus asa.” “Dia keliru.” katanya pada djAnGgo 399 . “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya.” aku berjanji. tahu.” ia memberitahuku. “Aku takut memejamkan mata.” gumamku. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. Jangan khawatir.” aku mengingatkannya. aku akan di sini.” Aku menggeleng tak percaya. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.” Suara itu terdengar bosan.” katanya lembut. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya. aku takan pergi ke mana-mana.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. suatu hari nanti. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.” gumamku.” katanya tenang. Selama kau senang karenanya.” “Oh. berarti kau tidak mengenalku. “Jangan!” Ia mengabaikanku.” “Itulah hal terindah menjadi manusia.” Kemudian ia tersenyum simpul.

masih waswas. Ia menatapku tenang. Aku terus menatapnya.Edward. “Nah. Sayang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. Ia bersedekap dan menunggu. ini obatnya. Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan.” djAnGgo 400 . bersandar di dinding. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.

djAnGgo 401 . karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku. tapi terlalu berat.” gumamku.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku. “Aku mencintaimu.” bisiknya. Ia tahu apa yang kucari. “’Tu tidak sama. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku.” gumamku. Bella. bagai nina bobo.. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Sama-sama. “Aku akan ada di sini.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. “Tinggallah.. “Sudah.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri.” desahku.”Kata itu nyaris tak terdengar. “Terima kasih.” gumamnya. “Seperti kataku. Hanya sebentar. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. Ia tertawa. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. Suaranya indah. Kemudian aku pun tertidur. jangan khawatirkan itu. Aku menoleh sedikit. “Kurasa sudah bereaksi.” ia tertawa pelan.” ia berjanji.” “Aku tahu. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. selama ini membuatmu bahagia. “Aku juga. mencari. saat kelopak mataku mulai memejam.” gumamku datar. selama ini adalah yang terbaik untukmu. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan.“Terima kasih.

djAnGgo 402 .

“Sudah. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol.. “Charlie?” Dahiku berkerut. warna biru gelap. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Aku benarbenar tidak suka kejutan. djAnGgo 403 . Sepatuku hanya satu. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra.... Charlie. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya.. bahkan dalam pikiranku sendiri. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. dan tanpa lengan. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. aku tidak akan meninggalkan rumah. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Charlie. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. Kaciuali. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. dan aku tercekat.” Ia tersenyum mengejek. Terhadap Charlie. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. “Halo. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. berimpel.” Ia tersenyum. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. ia menyelinap ke jok pengemudi. serta tongkat berjalanku. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Atau sepatu yang kukenakan. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab. Dan ia tahu itu. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. sebab kalau bukan karena Edward. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. Setelah aku duduk nyaman. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Perhatianku teralih dering telepon. jam berkunjung. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh.” sahutnya hati-hati. bukan?” ujarku. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. aku yakin itu. Itu yang tak dapat kusangkal.. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat.

” saran Edward. “Ada apa?” desakku. Ia mengabaikanku. tapi hanya di permukaan. “Biarkan aku bicara padanya. Ia menunggu sebentar. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. kegembiraannya tampak nyata.” Suaranya sangat ramah. “Halo. Tyler. “Kau bercanda!” Ia tertawa. ini Edward Cullen.

dan Rosalie. “Jangan mempersulit keadaan. Ia terkejut melihatku. senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku.. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. setiap malam. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah.. Kemudian ia menutup telepon.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. “Sungguh. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata.” ia mengakui. Bella. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya.” Aku mengabaikan kata-katanya. Juga karena kecurigaan samar. Tapi prom. “Aku akan ikuti maumu. Sekarang semua sudah jelas. yang berkembang di hatiku seharian ini. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. “Hmmm. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan.” desaknya. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. Jangan tersinggung. “Bersama Jasper. Aku menyerah.” Nada suara Edward berubah.” Bibirku mencebik. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku. sebenarnya harapan. Air mata kemarahan menetes di pipiku. “Ayolah. “Ini benar-benar konyol. “Baiklah. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu.” Aku menoleh ke luar jendela. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. dan Emmett. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. itu sudah jelas. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.mengerikan mulai terbentuk di benakku. “Karena aku marah!” “Bella. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Nasib burukku belum berakhir.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. benar-benar jauh melenceng. Bella. bingung. Tanganku tidak hitam ketika kutarik. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. Ia menunjuk tuksedonya. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. djAnGgo 405 . Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. Tapi nanti akan kaulihat. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. “Apa?” gumamku. Pertama.

reaksi manusiaku sangat menghiburnya. Emmett senang berada di dekatku. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. djAnGgo 406 . atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik.Perasaan tenang itu langsung lenyap... terpikir olehku hal lain. menurut dia. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada.

bahkan tidak dirimu sendiri. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. tiba-tiba curiga. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. Aku takkan pernah melepaskanmu. Aku menelan liurku. Dan Rosalie. aku janji. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai.” Ia nyengir. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih..” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. prom diadakan di ballroom hotel. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. bagian tengah lantai tampak lenggang.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik.” Ia tersenyum enggan. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. kau seberani singa. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. tempat Charlie tak bisa ikut campur. Edward dan aku tak terpisahkan. “Sudah. “Oh. “takkan seburuk itu. Ia mengulurkan tangan. tangan terlipat.” olokku.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. tentu saja aku bersama kelompok vampir. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. Aku tak bergerak dari tempat duduk.” Kugertakkan gigiku. “Tentu saja. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir.” Ia menggeleng. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. Kami sudah di sekolah sekarang. Berdansa. Di sekolah. Penampilannya sungguh di luar dugaan. “Bella. pestanya berlangsung di ruang gym.. “Well. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. diam-diam berpuas diri. kelihatannya Tyler tidak. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. ya Rosalie. Ia bisa melihatanya di wajahku. lalu tergelak. termasuk diriku sendiri.” djAnGgo 407 . Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. sudah.” katanya lembut. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. well . meskipun ia praktis menggendongku.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. Hari ini langit berawan tipis.” Aku melihat ke arah lantai dansa. Ia tetap memelukku erat-erat. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa. Ia mendesah. “Meski begitu.. Di Phoenix. Di sini. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat.. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil. Ketika kami sampai di dalam.

Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.” Tenggorokanku benar-benar kering. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. djAnGgo 408 . Kupeluk lengannya.” Ia membayar tiket kami.” ia mengingatkan. kemudian membimbingku ke lantai dansa. dan menyeret kakiku. “Aku punya waktu semalaman. hingga aku hanya bisa berbisik. “Edward.“Apa pun. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan.

“Ada apa?” aku bertanya keras-keras. aku balas tersenyum padanya. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati.” ia balas berbisik. “Oke. mengangkatku. aku memang berharap kau ada di sini. “Terima kasih. Suara Edward terdengar sinis. Wajah Edward tenang. kini aku merasa kasihan pada Jacob. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Edward hanya mengangguk.” Jacob sampai di tempat kami. dan tak seimbang. Melihat ekspresi Edward tadi. Ia berjalan menghampiri kami.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.” aku mengakui. Bella. “Tapi ia sudah bersama seseorang. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu. Edward mengeram sangat pelan. “Hai. “Wow. Jacob. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. sedikit malu-malu. memandang Edward untuk pertama kali. wajahnya tampak marah. “Jaga sikapmu!” desisku. “Ya.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. jangkung. ini tidak terlalu buruk. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. Jacob Black.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya.” gumamnya.. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. Sebagai gantinya. “Yeah. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. “Well. “Hei. Jake. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman.” gumamku. “Seratus delapan puluh lima senti. Tapi senyumnya tetap hangat. “Dia ingin mengobrol denganmu. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. teramat sangat tidak nyaman. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri.” kata Jacob ramah. aku bisa menduga jawabannya.“Jangan khawatir. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.. “Jadi. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri.” Aku balas tersenyum. “Kau percaya. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. Kemudian kami pun berdansa. sedikit. sesaat menarikku lebih rapat. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. “Aku bisa. aku percaya.” Kami tidak benar-benar berdansa. Aku mengikuti arah pandangannya. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. bodoh. Itu bagus juga. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah.” ia mendesah. lalu mundur selangkah. tidak fokus akibat berputarputar. kuharap setidaknya kau menikmatinya. “Aku merasa seperti berumur lima tahun.

“Omong-omong. djAnGgo 410 . merasa jengah. kau cantik sekali.” ia menambahkan malu-mal.sama berpaling.

di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. ini kedengarannya buruk sekali. aku pasti sudah mati..” Aku balas tersenyum. Bella. “Setidaknya.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. kecewa. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. namun lemah. ya kan?” “Yeah. “Ini buruk sekali. bukan aku”. Ia masih tampak canggung. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini.” gumamnya.” “Aku tahu. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. “Katanya. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku..” gumamnya. Beritahu aku. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. aku merasa marah. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia.” “Aku tak peduli.” desakku. Jacob tak berani menatapku. hhh. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. djAnGgo 411 . “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. Katakan saja apa yang harus kaukatakan..“Mm. tapi hanya supaya kau tahu”. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. “Kalau begitu. eh?” “Yeah.” Ia menggeleng. “Jangan marah.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.” “Well.. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya.” Jacob menyahut. “Dia masih percaya takhayul. memperingatkanmu. dan tanganku melingkar di lehernya.. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya.” Aku ikut tertawa. meskipun tangannya masih di pinggangku. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. ‘Hei. “Begini. trims.” Itu bukan pertanyaan.” “Aku tahu itu. Aku tertawa keras-keras. Jacob. dia memandangku sekarang. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip.. Dia tidak percaya. meskipun aku tahu jawabannya. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.. Jacob. Dia memintaku untuk memohon padamu. dia ingin kau putus dengan pacarmu. dan ini kata-katanya. maafkan aku. katakan saja padaku. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. “Lagi pula.” Ia menggeleng jijik. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. “Lupakan saja. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini. Jacob berpaling lagi. Dia. bukan. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.” olokku. Ia memalingkan wajah. merasa malu. “Oke. tapi.” ujarnya. “Aku terjatuh. Jacob. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. Jake. Mataku menyipit. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. sementara wajahnya sendiri datar.” aku meminta maaf. katanya.” aku meyakinkannya. sekali lagi merasa jengah. ini bodoh sekali. “Kami akan mengawasi. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. “Pikirnya. bahwa. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. dan terlepas dari janjiku. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu. “Dia menyuruhku memberitahumu. Jacob. “Katakan saja.

“Jadi. djAnGgo 412 . dan kulepaskan lenganku dari lehernya.” desahku. “Tidak.“Aku tidak terlalu keberatan.” Musiknya berhenti. Aku tahu dia bermaksud baik. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku. “Bilang padanya aku berterima kasih.” Ia tertawa lega.

Tapi ada hal lain. itu bisa dibilang menghina.Tangannya masih di pinggangku.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. merasa senang. kerutan di wajahnya semakin nyata. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Well.” “Kurasa tidak.” Ia melangkah mundur. Ia setengah tersenyum. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone.” Aku menatapnya tidak mengerti. tampak jelas di antara awanawan tipis. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah.” “Terima kasih. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. Mulutnya tegang. Ia duduk di sana. yang sedikit lebih pendek daripadanya. Kemudian kami sampai di luar. matanya resah. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. “Kau mungkin sedikit memihak. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. aku punya daya lihat yang sempurna. Lee. Ia menunduk menatapku. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. “Tidak apa-apa. aku tidak melihatmu di situ. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. “Intinya?” aku memulai dengan lembut. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. “Oh. Samantha. dan Conner menatap kami geram.” Kami kembali berdansa. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. Begitu kami sendirian. Bella.” ia meralat tajam. “Tidak juga. dan ia memandang kakiku yang digips. Aku yang mengambil alih. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri. Lauren.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.” katanya singkat. Bukan apa-apa. Kusandarkan kepalaku di dadanya.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. sampai ketemu.” desahku.” ia menjelaskan. Aku tersenyum. Jacob. bingung. aku memaafkanmu. Wajahnya sangat serius. Jessica melambai. dan aku balas tersenyum padanya. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. sampai ketemu. Angela juga aga di sana. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Bulan telah muncul di langit.” Aku tertawa. “Merasa lebih baik?” godaku. “Yeah. “Kalau begitu. “Jadi. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat.” “Maaf. “Dia menyebutmu cantik. “Mengingat penampilanmu saat ini. Kau lebih dari sekedar cantik. Aku menunggu dengan sabar. Lagi pula. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym.” Wajah Edward cemberut. sambil terus memelukku erat di dadanya. djAnGgo 413 .” “Aku tidak marah pada Billy. melambai dengan setengah hati.” gumam Jacob. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. “Hei. “Jangan marah pada Billy.

Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. toh harus berakhir juga. “Twilight .” gumamnya. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. “Aku membawamu ke prom.” katanya pelan. Ia mendesah. “Akhir yang lain. lagi. langsung tegang. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. kalau aku bisa djAnGgo 414 .Ia mengabaikanku. akhirnya menjawab pertanyaanku.” “Beberapa hal tak perlu berakhir.” gumamku setengah mendesis. menatap bulan.

” selaku.” gumamnya. Kumohon.. “Manusia?” tanyanya datar. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk. “Kau siap mengakhiri ini semua. “Well . kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar. “Aku masih ingin tahu.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. aku menduga itu semacam. “Memang. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. Ia menunggu dalam diam.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku..” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. Kucibirkan bibirku.” tukasnya keberatan. “Aku tahu.. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. Kau siap djAnGgo 415 .” desaknya.. kau benar.. “Aku kan tidak tahu. “Kaupikir itu sejenis acara resmi. daripada percaya bahwa kau serius.” Ia menghela napas dalam... “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku. aku langsung menyesal. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. “Oke..” kataku. “Tidak lucu tahu. Ia memilih kata kuncinya. “Aku tidak ingin memberitahumu. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya. “Baiklah. acara istimewa. Kugigit bibirku dan mengangguk. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia . Ia tersenyum sekilas. tersenyum. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. “siap menjadikan ini akhir hidupmu. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.” “Kau sudah berjanji. menatapku seraya tersenyum simpul. bahwa kau akan merubahku. nyaris kepada dirinya sendiri.” “Tapi aku memang serius.” ia menimpali.” “Itu karena aku bersamamu. “Kurasa itu akan membuatmu marah. Aku memandangi gaunku. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran.” Ia masih nyengir. sedih. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon. Ia menunggu.” ia memulai.. akhirnya.” Aku bergidik mendengar kata-katanya. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. “Tepat.. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. ragu-ragu. atau sedih. senyumnya memudar.” aku buru-buru mengaku. ini tidak lucu.. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah.” Beberapa saat kami terdiam.” Aku mendesah. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. lalu menggeleng marah. kemudian ia tampak senang.. aku penasaran. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya.. prom!” ejekku. “Aku tahu. menunduk. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku. memainkan chiffon-nya.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya..” ia menyetujui. “Tidak. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain.

satu alisku terangkat.merelakan semuanya.” katanya sedih.” sergahku.” “Ini bukan akhir. suaraku berbisik. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku.” “Aku tahu siapa diriku.” djAnGgo 416 . “Kau sama butanya denganku. ini baru permulaan. “Aku tidak pantas mendapatkannya.

ya. djAnGgo 417 . napasnya terasa sejuk di kulitku. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga.” jawabnya.. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. Aku sudah membuat keputusan ini.” Wajahnya cemberut melihat tekadku.” Alisnya terangkat.” Ekspresinya berubah. Tidakkah itu cukup?” “Ya. “Ya?” Ia tersenyum.” ejeknya.Aku mendesah. jadi suaraku tidak terdengar parau. cemberut mendengar pilihan katanya. itu cukup. Ia mengamati wajahku lama sekali. kau sudah siap?” tanyanya. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. “Sekarang juga?” ia berbisik. “Kalau begitu. “Ya. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak.. Kusentuh wajahnya. Monster. “Mmm. lalu menjauh. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. “Untuk sekarang. napasku tak beraturan. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. “Aku akan tinggal bersamamu. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. melembut. tersenyum. ia bakal kecewa. Tanpa sadar aku gemetar.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku.” Dan ia pun membungkuk lagi. Ia tergelak misterius. dan aku yakin.” bisikku. Wajahnya memang kelihatan kecewa.” kataku. “Cukup untuk selamanya. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku.” Kutelan liurku. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. “Seorang gadis boleh bermimpi.” kataku. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. “Dengar. “Bella. Ia menghela napas. kedua tanganku mengepal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful