TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Ditambah lagi. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. dinding biru cerah. ia tidak pernah membuntutiku. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. kanopi di antara cabangcabangnya. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. dan aku harus memakainya dengan Charlie. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. Di sana. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. Truk itu berwarna merah kusam. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. Terlalu hijau. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. baru buatku. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. Ini permintaan ibuku. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. well. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. Dad.” kata Charlie parau. semua ini bagian masa kecilku. sekali lagi merasa malu. Lantai kayu. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. “Aku senang kau menyukainya. lega bisa memandang murung ke luar jendela. “Wow. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. masa-masa awal. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Kamar itu sangat familier. itu kamarku sejak aku dilahirkan. sebuah planet yang asing. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . Yang membuatku amat terkejut. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. Tentu saja pemandangannya indah. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. aku tak bisa menyangkalnya. aku menyukainya. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. supaya kami gampang berkomunikasi. tampak truk baruku.

dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. sporty.untuk menangis habis-habisan. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. Barangkali tipuan cahaya. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. ketika aku harus memikirkan esok pagi. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. sekarang 358. Aku harus berkulit coklat. atau pemandu sorak mungkin. tapi lembek. orang aneh. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. mengundang penasaran. jelas bukan atlet. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. meskipun sering terpapar sinar matahari. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. pemain voli. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. Tubuhku selalu langsing. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. pirang. tapi aku djAnGgo 10 . Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri.

Charlie berangkat duluan. Tidurku gelisah malam itu. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. kemudian menambahkan bantal-bantal. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Keberuntungan selalu menjauhiku. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Aku berterima kasih padanya. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. Tak ada yang berubah. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. seperti di kandang. titik. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. Kulitku bisa saja cantik. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. dengan dinding panelnya yang gelap. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. mengamati dapur kecilnya. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. Disini aku tidak memiliki warna. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. serta lantai linoleumnya yang putih. Hujan masih gerimis. tampak deretan foto-foto. bahkan setelah aku selesai menangis. tapi semua itu tergantung warna. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. bening. Tapi penyebabnya tidak penting. Aku malu melihatnya. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. Yang penting adalah akibatnya. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. Mungkin ada masakah dengan otakku. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Dan besok baru permulaannya. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. rak-rak kuning terang. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. Bahkan ibuku.terlihat pucat. Rasanya mustahil berada di rumah ini. Itu membuatku tidak nyaman. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . Aku mengenakan jaketku. dan menguncinya. tidak sehat. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. tak pernah selaras denganku. setidaknya selama aku tinggal di sini. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. tak pernah benar-benar sepaham. nyaris transparan. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. meski tahu doanya sia-sia. dan menerobos hujan. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus.

bensin. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. Yah. Di dalam truk nyaman dan kering. dibangun dengan batu bata warna marun. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. yang membuatku berhenti. Radio antiknya masih berfungsi. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya.kuinginkan. nilai tambah yang tidak terduga. tapi derunya keras sekali. dan aku lega karenanya. Bangunan sekolah. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 . Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. letaknya tak jauh dari jalan raya. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. seperti kebanyakan bangunan lainnya. meskipun aku belum pernah kesana. dan peppermint . Mesinnya langsung menyala.

seperti Charlie. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. murid-murid lain berdatangan. Disini. gedung tiga dengan mudah kutemukan. berusaha mengingatnya. berambut merah yang menggunakan kacamata.” katanya.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. Jaket hitam polosku tidak mencolok. Di dalam keadaan cukup terang. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. Ketika aku keluar lagi menuju truk. sebuah jam dinding besar berdetak keras. dan peta sekolah. aku akan segera menjadi topik gosip. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. dan menarik napas panjang. bunyinya TATA USAHA. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. Tak ada yang parkir disana. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. Aku mempelajari petanya di dalam truk. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Aku memasukkan semua ke tas. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. aku senang berada disini di Forks. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . Begitu sampai di kafetaria. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. tak ada yang bagus. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru.” kataku. “Ini jadwal pelajaranmu. Ia tersenyum dan berharap. dan jelas mencolok. karpet bersemburat jingga. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. Wanita berambut merah itu mendongak. Aku bisa melakukannya. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Ada 3 meja di balik konter. Kantornya kecil. Tak diragukan lagi. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. mengikuti barisan-barisan mobil lain. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. aku menyadarinya dengan perasaan lega. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Tak ada yang bakal menggigitku. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Kelasnya kecil. Kulihat matanya berkilat terkejut. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. “Tentu saja. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. dan menyilangkan talinya di bahu. aku setengah membohongi diriku. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. Di tempat asalku. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. Ia mengenakan T-shirt ungu. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. dan lebih hangat dari yang kuharap. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku.

Shakespeare. Menyenangkan. rambutnya cokelat muda. bukan respon yang membangun. Mereka 2 orang gadis.. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. yang lain juga berkulit pucat. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku.mereka di tiang gantungan yang panjang. Mason. Chauter. yang satu berambut pirang. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Aku mencontoh mereka. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. dan membosankan.. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Faulkner. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Bacaan dasar : Brontë. Aku sudah pernah membaca semuanya. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . Aku terus menunduk.

Aku tak ingat namanya.” Ia berharap.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. “Sangat. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. meskipun papan tandanya jelas.” katanya ketika aku meraih gagang pintu. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. “Semoga berhasil. Pemerintahan. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. “Aku akan ke gedung empat. Beberapa bulan saja di tempat ini.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. “Mmm. wajahku merah padam. “Jadi.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. lebih pendek daripada aku yang 160 senti. Setelah 2 pelajaran. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol.” Jelas tipe kelewat suka menolong. Vanner. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. djAnGgo 15 . Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. suaranya berupa gumaman sengau. Aku tersenyum samar dan masuk. Eric mengantarku sampai pintu. dan aku mendesah. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan.” ujarku. dengan Hefferson. “Kau Isabella Swan. aku bisa menunjukkannya padamu. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. “Kulitmu tidak terlalu cokelat. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. Aku mencoba berdiplomasi. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. “Aku Eric. Guru Trigonometriku. tipe anggota klub catur. Tubuhnya mungil. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. “Terima kasih. Aku tergagap. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong.” “Ibuku setengah albino. Ketika bel berbunyi. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara. Aku tersenyum hati-hati. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang.” tambahnya. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta.” aku meralatnya... yang sudah reda. di gedung enam. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain.” “Wow. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku. Mr. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. “Bella. “Cerah.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.

berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. ketika aku pertama kali melihat mereka. melambai padaku dari seberang ruangan. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. Disanalah. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. Cowok dari kelas bahasa Inggris. Ia memperkenalkanku kepada mereka. Eric. djAnGgo 16 .Aku tak berusaha memperhatikannya. duduk di ruang makan siang.

berotot seperti atlet angkat besi professional. telah djAnGgo 17 . sejauh mungkin dari tempat dudukku. si albino. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. si cewek mungil bangkit membawa nampan. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. rambutnya gelap ikal. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. yang kelihatannya sudah kuliah. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. Lebih pucat daripada aku. yang 1 bertubuh besar. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. Mereka tidak bicara. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. kaku. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. memar seperti bayangan. dipotong pendek dan lancip. Tubuhnya indah. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. Rambutnya keemasan. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. dari murid-murid lain. Mereka pucat pasi. dari satu sama lain. Namun toh mereka sama persis. sangat kurus. Mereka tidak terpana menatapku. Mereka semua mengalihkan pandangan. Aku terus mengawasinya. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. Yang cewek-cewek kebalikannya. Terlepas dari hidung mereka. keunguan. Mereka juga memiliki kantong mata. namun sangat mirip. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. begitu kontras dengan warna rambut mereka. Ia berpaling dengan cepat. perawakannya mungil. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. Mata mereka sangat gelap. Ketika aku memperhatikan. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. tergerai lembut di punggung. Mataku tertuju kembali ke yang lain. Yang lain lebih tinggi. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. juga tidak makan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. lebih langsing. atau si cowok berambut perunggu. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. semuanya luar biasa. apelnya masih utuh. Yang jangkung tatapannya dingin. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama.Mereka duduk di sudut kafetaria. Rambutnya hitam kelam. Mereka berlima. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. mungkin yang paling muda. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. semua garis tubuh mereka lurus. keindahan yang memancarkan kekejaman. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. yang aku lupa namanya. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. yang sama sekali tak beranjak. seolah temanku telah menyebut namanya. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. sempurna. kaleng sodanya belum dibuka. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. Dari 3 cowok.

“Itu Edward dan Emmett Cullen. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. mereka tinggal bersama dr.memutuskan untuk tidak menjawab. menunduk memandangi meja seperti aku. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. serta Rosalie dan Jasper Hale. Mulutnya bergerak sangat cepat. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. Aku melirik cowok tampan itu. Cullen dan istrinya. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. djAnGgo 18 . yang sekarang sedang memandangi nampannya. Yang 3 lagi masih membuang muka.” Ia mengatakannya dengan berbisik.

yang paling muda. Cullen masih sangat muda.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. mau memelihara semua anak-anak itu. Cullen tidak bisa punya anak. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. Dr. Mereka semua anak adopsi. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska. Cullen sejak masih 8 tahun. ada 2 cewek yang bernama Jessica. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. mendongak dan beradu pandang denganku. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. salah satu yang bermarga Cullen. ketika mereka masih kecil dan segalanya. sangat tampan dan cantik. nama yang sangat umum.” “Oh.. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. “Mereka. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. dan Jasper dan Alice. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. pikirku. dan jelas tidak diterima. yang pirang.. Emmett dan Rosalie.” kata Jessica.. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. Jasper dan Rosalie umurnya 18. mereka anak angkat. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. Mrs. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs.” “Mereka baik sekali. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. Dan mereka tinggal bersamasama. maksudku. Tapi kalau mencoba jujur.” Aku merasakan sebersit rasa iba. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.” “Sekarang memang. aku menduga alasannya adalah iri. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. memang tidak. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. mereka adalah pendatang.” Jessica menambahkan.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . “Dan mereka selalu bersama-sama. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. kira-kira 20-an atau awal 30-an.. Saat aku mengamati mereka.Nama-nama aneh dan tidak populer.” “Kurasa begitu. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. sekaligus lega. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. “Tidak.” ujar Jessica enggan. “Kurasa Mrs. pikirku kritis.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan.

“Itu Edward.lewat sudut mata. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. seolah-olah dia juga tersenyum. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Lalu aku kembali memandang Edward. Ia sudah memalingkan wajah. tentu saja. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Dia tampan. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. dan ia masih menatapku. Dia tidak berkencan. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. ekspresinya sedikit gelisah. sikapnya jelas pahit. tapi jangan buang-buang waktu. Aku kembali menunduk. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.” Jessica mendengus. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku.

Cewek yang duduk disitu terkekeh. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Ia sama sekali tidak mengenalku. kuatur bukuku di meja lalu duduk. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. Aromanya seperti stroberi. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. Diam-diam aku mengendus rambutku. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. dan selalu menunduk. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. tidak bersahabat. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. gusar. dia juga tak pernah santai. dan menyesalinya. sejauh mungkin dariku. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Sepertinya baunya cukup enak. Sekali lagi aku mengintip. kecuali satu yang masih kosong. Ia menjauh dariku. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. aku diam-diam memperhatikan Edward. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Ia menatapku lagi. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. hitam legam. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. aroma shampo kesukaanku.baruku. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. duduk di sebelah kursi yang kosong. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. sebagai penghalang diantara kami. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. Ia sudah punya teman sebangku. Ketika kami memasuki kelas. Ketika aku melewatinya. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. Ia juga pemalu. Untuk yang satu ini. wajahku merah padam. duduk di ujung kursi. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Bergegas aku memalingkan wajah. persis yang dulu sering kutempati. terkejut. Tanpa mengangkat wajah. Tak mungkin ada hubungannya denganku. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. Mr. Di sisi gang tengah. Ia sedang menatapku.

Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Bel berbunyi keras. menatapnya tanpa berkedip. memunggungiku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. kebiasaan memalukan. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka. djAnGgo 22 . Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. Dengan luwes dia berdiri. Aku duduk membeku. Ia jahat sekali. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. ia lebih tinggi daripada yang kukira. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. Ia tersenyum ramah.jijik. menciut di kursiku. Kalau marah aku biasanya menangis. Ketika aku mengalihkan pandang. membuatku terperanjat. Ini tidak adil.

Pelatih Clapp. Pasti sesuatu yang lain. Mike malah terus bersamaku. Secara harfiah. jam mana saja. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. dan yang kutimbulkan. Pintunya terbuka lagi. Kami berjalan bareng ke gymnasium.” “Aku tidak tahu. Aku memeluk diriku sendiri. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Hujan sudah reda. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. ketika bermain voli aku merasa agak mual.” ralatku sambil tersenyum. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku.” Ia tampak senang.” Bukannya menuju kamar ganti. Edward sedang berdebat dengannya. ia ternyata cowok yang senang mengobrol.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Guru senam kami. Jadi. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. memudahkan segalanya buatku.” Aku menciut. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku.” “Dia aneh.” katanya. Aku berdiri merapat ke dinding belakang. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. Kurasa aku bisa menemukannya.“Bella. memberikan seragam buatku.” “Itu juga kelasku berikutnya. Ia cukup bersahabat dan mempesona. Akhirnya bel terakhir berbunyi. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu.” timpalku. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. “Aku Mike. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. “Jadi. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Cewek yang djAnGgo 23 . Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. “Ya. meniup kertas-kertas di meja.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium.” “Hai. Mike. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Dari pembicaraan kami. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. Forks bagiku adalah neraka di bumi. aku bakal mengobrol denganmu. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. Di tempat asalku. ia bertanya. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. menunggu petugas resepsionis selesai. nada suaranya rendah dan indah. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu.

wajahnya luar biasa tampan.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. hingga bulu kuduk di tanganku meremang.masuk langsung melangkah ke meja. lalu lenyap di balik pintu. meletakkan catatan di keranjang kawat. Tapi punggung Edward Cullen menegang. lalu keluar lagi. “Aku mengerti ini tak mungkin.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. Tatapannya hanya sedetik. djAnGgo 24 . Ia berbalik lagi ke resepsionis. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. dan perlahan ia berbalik menatapku. “Kalau begitu lupakan saja.

hanya menerawang ke luar kaca depan. djAnGgo 25 . Nak?” tanya resepsionis lembut. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. “Bagaimana hari pertamamu. suaraku lemah. Aku duduk sebentar di dalamnya.Aku berjalan pelan ke meja.” aku berbohong. wajahku pucat dan bukannya memerah. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. “Baik. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. Ia kelihatan tidak percaya. Ketika tiba di lapangan parkir. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. hanya tinggal beberapa mobil disana.

Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. Mike. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. Di kota seperti ini. Eric. dan dengan berlalunya waktu. Lebih buruk karena Mr. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Jessica. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. dan membuktikan kecurigaanku keliru. aku merasa sangat tidak nyaman. bukan tenggelam. melangkah setia disisiku menuju kelas. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. dan ini takkan mudah. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. bersama Mike. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. meski langit sudah tebal oleh mendung. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. gelisah menantikan kedatangan Edward. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. diplomasi sangatlah penting. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. Ketika terbaring nyalang di ranjang. Lebih buruk karena aku lelah. tapi ia sendiri tak ada. akupun semakin tegang. tapi juga lebih buruk. Sesampainya di pintu aku menahan napas. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik.2. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. waswas terhadap tatapan anehnya. membuatku tersanjung. Lebih baik karena hujan belum turun. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. dan mengantarku ke kelasku berikutnya.. yang mirip Golden Retriever. Ia tidak datang. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. dan sekalinya tidak terhantam bola. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Edward masih belum muncul juga. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang..

Aku djAnGgo 27 . Ketika sekolah akhirnya usai. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. berhubung Edward tidak masuk. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. Tidak mungkin. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Aku terus-terusan mengingatkan diriku.

Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Volvo baru yang mengkilap. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. aku mengganti pakaian dengan yang kering. sama seperti yang lain. Aku mendapat 3 pesan. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. dan sekarang akan menuju Thriftway.” tulis ibuku. Selesai melakukannya.ku untuk pertama kali. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. Mereka memang suka menyendiri. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. selesai mengepak untuk ke Florida. The Thriftway tak jauh dari sekolah. aku melihat Cullen bersaudara.. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka.. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. aku membawa tas sekolahku ke atas. “Bella. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. selepas jalan raya. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. gaya mereka. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. Sebelum mengerjakan PR. Karena sekarang aku memperhatikan.. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Aku pinkku. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. rasanya normal. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas.. Mom. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. dan memeriksa e-mail. Tidak. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. namun bermerek. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang. “Bella. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka.berjalan cepat menuju parkiran. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. hanya beberapa blok ke selatan.” tulisnya. aku tak percaya sepenuhnya. Kuharap Charlie tidak keberatan. simpel. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Tentu saja. hidup memang lebih sering seperti itu. melapisi steak dengan saus marinade. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Tapi sejauh yang kutahu. Ketika aku menunggu. memastikan semua ada disitu. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. dan aku menyukainya. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . Jadi aku membuat daftar belanjaan.

Isabella. aku akan menelepon Charlie. Kalau sampai jam 5.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu. djAnGgo 29 .

Tenang. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Waktu aku datang kesini. Mom. kau percaya? Aku menyukainya. Tentu saja disini hujan. Bella napas. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. Aku mengirimnya. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Memangnya ada orang lain? pikirku. kau tahu kan. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. Setahuku. Semua baik-baik saja. Aku sedang menulis sekarang. kemudian menyiapkan meja makan. demi kesenangan. Ibuku juru masak imajinatif. “Aromanya lezat. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . djAnGgo 30 . Aku masih punya waktu 1 jam.” jawabku. Bella. tapi benar-benar ‘bandel’. “Hei. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. Sekolahku tidak jelek. Aku akan menulis lagi nanti. hanya sedikit mengulang pelajaran. Sudah pulang?” “Ya.” “Terima kasih. Charlie memberikan aku truk. Aku lupa waktu. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. Dad. Namun diam yang nyaman. Tenang saja. yang berarti bagus. dan memulai lagi. buatku. kau harus mengambilnya hari Jumat. “Jadi. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. Mom. Jangan konyol. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. Dalam beberapa hal. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. kami sangat cocok hidup bersama. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. Mobil tua. Bell. Blus pinkmu ada di dry clean. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. ketika masih kanak-kanak. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu.Aku melihat jam. Aku juga rindu padamu. dan Dad tampak lega. tarik sayang Mom. “Steak dan kentang.

djAnGgo 31 .

aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Yang kutahu. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. Aku diajak. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. “Kita beruntung memilikinya. Pantai seharusnya panas dan kering. dan setelah selesai mencuci piring. dan telah setuju untuk ikut. Malam itu suasana tenang. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. “Untunglah pernikahannya bahagia. Aku berusaha tidak memikirkannya. Anak baik. Semuanya kelihatan lumayan baik. kelelahan.. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa. Setiap hari. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. keluarganya baik. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. “Itu pasti Mike Newton. dengan anak-anak remaja adopsi itu. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden.. dia cukup berhasil. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Karena banyak backpacker datang kesini. Dia aset bagi komunitas kita. Charlie. Memang konyol sih. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. Bukan karena ingin.” lanjutnya.. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka.” kata Charlie tertawa. kalaupun bukan nama. Aku tertidur dengan cepat.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah.. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. Ia kembali menonton TV. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. Lalu ada cowok. aku duduk bersama teman-temannya.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Saat makan siang. “Kau harus bertemu dr. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. suaranya makin keras.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. “Mereka. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah.. Tapi mereka sangat dewasa. Cullen. anakanaknya. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. hampir semua murid di sekolah. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. “Orang-orang di kota ini. Mereka sangat menarik. ia telah meninggalkan sekolah. agak berbeda. tak lagi menghawatirkan Edward. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . Sisa minggu itu berlangsung membosankan.“Well. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan..” gumamnya. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Aku mundur sedikit.” Dengan satu pengecualian mencolok. Mike. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah.” tambahku. yang sangat bersahabat. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. “Dr. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali.

memilih bekerja sepanjang akhir pekan.. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis.. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. dan bergidik memikirkannya. aku tidak jadi membuat kartu anggota. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. tenang. sehingga aku bisa tidur nyenyak. Aku membersihkan rumah. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. tapi untungnya tidak hujan. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. mengerjakan PR. Pagi ini cuaca lebih dingin. Iseng. Di djAnGgo 33 .

Aku curiga itu perbuatan Eric. “Wow. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. Ia tertawa. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. “Di TV. tahu kan. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. “Tidak apa-apa. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. “Selain itu. dan bukannya menuju kelasnya. telingaku panas. Jessica menganggapku konyol. “Salju. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. “Kita bertemu lagi saat makan siang. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. rupanya ini salju pertama di tahun baru. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama.” Aku terdiam. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. Angin menerpa pipi dan hidungku.” Salju. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. Mike tampak terkejut. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. gumpalan es meleleh di rambutnya. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud.” kata Mike.” jawabku. Bola-bola salju melesat dimana-man. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol.” Jelas. Ketika kami berjalan keluar kelas. perutku keroncongan.kelas bahasa Inggris. “Tentu saja pernah. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. ulangan itu sangat mudah. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. yang berjalan jauh memunggungi kami.” kataku. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. Jessica menarik lenganku. Sejujurnya. Aku tidak mengatakan apa-apa. aku mengingatkan diriku sendiri. mataku masih tertuju ke lantai. aku langsung masuk. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Hilang sudah hari baikku. Aku memegang binder di tanganku. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. “Uuuh. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. lalu mengikuti mereka ke meja. aku merasa sedikit tidak enak badan. Dua kali Mike menanyakan keadaanku. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. “Hari ini aku minum soda saja. Lalu aku berdiri mematung. Kukatakan aku baik-baik saja. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. mataku menatap ke bawah. “Sebenarnya. Ada 5 orang di meja itu.” Mike hanya mengangguk. Tentu saja lebih kering daripada hujan.” Mike tertawa. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Aku tak punya alasan untuk merasa malu. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk.

Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. djAnGgo 35 .bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. seperti pengecut. Kalau ia menatapku. aku akan bolos kelas Biologi. Konyol. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada.

Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. matanya mengikuti arah pandanganku. berusaha menemukan perbedaan itu. jangan dilihat lagi.” jawabku jujur. Aku menaikkan tudung jaket. Aku diam saja. menyembunyikan perasaan senangku. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. Edward. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. Tapi ada sesuatu. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. tapi toh dia mengalihkan pandangan. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. “Dia tidak kelihatan marah. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. “Tidak. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. Jessica mendengus. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. Tapi dia masih memandangimu. seperti anak-anak lainnya.” kata Jessica. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. ada sesuatu yang berbeda. Artinya aku bebas. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. terdengar bingung dengan pertanyaanku. well.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. Aku sedikit mengangkat kepala. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Mike terus mencerocos. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. tapi ketika kami berjalan menuju kelas. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. Selama sisa waktu makan siang. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. seperti tidak puas. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. djAnGgo 36 .” “Sudah. Ia hanya kelihatan penasaran. Mereka sedang tertawa. “Edward Cullen menatapmu. Dari caranya menatap Mike. Meski begitu aku yakin. Lalu Mike menyela kami. Berhubung ia tidak kelihatan marah. “Kau sedang menatap apa. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. aku akan ikut pelajaran Biologi.” desisku. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Jasper. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Aku masih gelisah. Aku menunduk. Hujan turun.. Mereka menikmati hari bersalju. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya.. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku.

tetapi kursinya diarahkan padaku. Air menetes dari rambutnya. aku lega karena mejaku masih kosong. Mr. berantakan.” kudengar suara merdu dan tenang. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser.Begitu tiba di kelas. Aku mendongak. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja. tapi mataku tetap terarah pada gambarku. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. meski begitu djAnGgo 37 . terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. “Halo. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja.

” bantahku bodoh. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna.” aku mencoba menjelaskan. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. langsung meraih tangannya. kepalaku sampai pusing. Aku memalingkan wajah malu-malu.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya.” kataku. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. Aku pernah melakukan percobaan ini. maskudku ayahku.” Senyum itu memudar. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. “Tidak. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. pasti memanggilku Isabella di belakangku. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. Aku yakin dengan pengamatanku. aku lebih suka Bella. Ketika ia menyentuhku. “Mulai!” perintahnya. Untungnya Mr. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai.” kataku. djAnGgo 38 . “Namaku Edward Cullen.” ia tidak meneruskan. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. Kau pasti Bella Swan. Kupelajari slide-nya sebentar.” dia setuju. “Aku akan memulainya. Bagaimanapun. lalu melihatnya sepintas lalu. “Tidak. “Profase.” Aku memamerkan kemampuanku. “Tapi kupikir Charlie. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. benar-benar merasa seperti orang bodoh. ia menunggu. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. “Oh. ia tetap meraih mikroskop. dan tahu apa yang harus kucari. tawa yang menyenangkan. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. Aku harus bicara. Banner memulai pelajaran saat itu juga.” lanjutnya.” Aku nyengir. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Jari-jarinya dingin bagai es. kurasa semua orang tahu namamu. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. hanya sedikit. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. “Maaf. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. wajahku merah padam. Meski masih kaget. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar.” Saking bingungnya. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Seharusnya mudah. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. “ Oh. “Maksudku. Bersama partner masing-masing. “Profase. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. “Kau duluan. Ia tertawa lembut. Tapi matanya tampak hati-hati. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya.” gumamnya pelan. partner?” tanya Edward.

dan merasa kecewa karena dugaanku salah. ia benar. sambil menulis. Sial. djAnGgo 39 . sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. Ia menyerahkannya padaku. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. Aku berusaha terdengar tidak peduli.” gumamnya.“Anafase. dan mendorong mikroskop ke arahku. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek.

” jawabku jujur. Banner mengganguk. Tangannya mengepal lagi.“Interfase. Ia melihat dari balik bahu. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. dan aku tak bisa berkonsentrasi. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini.” “Whitefish blastula?” “Yeah. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. “Sayang sekali turun salju. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. tapi dengan nuansa keemasan yang sama. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya.” Itu bukan pertanyaan. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. Setelah ia pergi. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. menatap percobaan yang telah selesai. lebih gelap daripada mentega. Banner. Ketakutan kembali menyelimutiku. ya kan?” Edward bertanya. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Banner menghampiri meja kami. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Lalu Mr.” Sekarang Mr. Aku mendongak. dan ia sedang menatapku. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah. Kami selesai duluan.” katanya setelah beberapa saat.” Mr.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. “Tidak. Ia mengintip sebentar. “Atau basah. “Bella. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. “Jadi. Banner menatapku. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. Aku menunduk. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. pandangan frustasi dan misterius yang sama. “Tidak juga.” Edward meralat ucapan Mr. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu.” djAnGgo 40 . Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya. Edward. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Aku tersenyum malu-malu. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. “Tidak dengan akar bawang merah. ekspresinya skeptis.” “Oh. lalu menuliskannya.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya.” gumamku. “Kau tidak suka dingin. Banner.” “Well.

aku tak bisa membayangkannya.” gumamku dingin. tidak blak-blakan seperti dirinya.“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. begitu menuntut jawaban.” desaknya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya. entah untuk alasan apa..” “Rasanya aku bisa mengerti.” ujarnya melamun. rumit. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku. djAnGgo 41 .. “Kau tak tahu bagaimana rasanya. “Jawabannya.

Dia sering berpindah-pindah.” kataku.” bantahnya.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. Aku tertawa sinis. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya.. namun tatapannya masih tajam.” Ia mengangkat bahu. “Pertanyaan yang sangat bagus. Phil baik. “Tidak.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain.” ujarnya.” Lagilagi ia melontarkan dugaan. Dia bukan pemain andal. “Ya sudah.” Aku setengah tersenyum. “Barangkali tidak. Aku memandangnya tanpa berpikir.” ujarnya. Aku menghela napas. “Itu tidak adil. memandang marah ke papan tulis.” Aku nyengir. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Dahiku mengerut. mengawasi Mr. suaranya masih ramah. ia tidak mengirimku kesini. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. tapi dia merindukan Phil.” katanya. Aku sendiri yang mau. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. “Tidak.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. “Kau pandai berpura-pura.” kataku. itu saja. Ia terdengar senang. “Terus?” tantangku. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. Terlalu muda barangkali. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. Tatapannya berubah menilai. “Phil sering bepergian. Banner yang sedang berkeliling.” katanya pelan. “Ibuku menikah lagi.” Suaraku terdengar sedih. balas tersenyum. lalu memalingkan wajah. “Aku tidak mengerti. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati.” gumamnya puas. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya.. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel.. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil. “Kurasa tidak. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. “Dan kau tidak menyukainya.” Alisnya bertaut. “Tapi sekarang kau tidak bahagia.. “Mula-mula ia tinggal denganku. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. dan aku menjawab tanpa berpikir. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.” Edward mencoba menebak.Lama aku diam. bukan pertanyaan. Benar-benar liga kecil. Ini membuatnya tidak bahagia. “Tidak juga. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. tapi cukup baik. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward. Aku menghela napas. “Apakah dia terkenal?” tanyanya. Aku terus menghindari pandangannya. Dia pemain bola.” timpalnya datar. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. bahkan untukku sendiri.

” Ia tersenyum lebar. djAnGgo 43 . ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka. aku malah sulit menebakmu.” “Biasanya. ia terdengar bersungguh-sungguh. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya.mudah ditebak. “Kebalikannya.” Wajahku merengut.

Mike tidak tamapak senang. aku menginjak rem tepat pada waktunya. Ia tampak menikmati percakapan kami. Aku membuka jaket. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. melepas tudungnya. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. Ketika bel akhirnya berbunyi. Aku menarik napas panjang. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. “Semua slide itu mirip.” “Gampang saja buatku. Toyota itu beruntung. djAnGgo 44 . Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. dari sudut mataku. Aku memandang sekelilingku. dan berhati-hati mundur lagi.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. tapi sekarang bisa kulihat. “Aku pernah melakukan percobaan ini. yang mungkin membenciku atau tidak.” kataku. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Mike satu tim denganku hari ini. kali ini lebih baik. itu saja. Banner menyuruh murid-murid tenang. Dan seperti Senin lalu. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. matanya menatapku lekat-lekat. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. Aku langsung menyesal.” erangnya. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. Kunyalakan mesin penghangat. “Itu buruk sekali. Trukku jenis penghancur. yang jaraknya 3 mobil dariku. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. bahwa ia menjauh lagi dariku. masih melihat ke sisi lain mobil. memastikan tidak ada siapa-siapa. Aku berusaha terdengar kasual. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang.Mr.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. terkejut mendengar ucapannya. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung.

djAnGgo 45 .

semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. melapisi atap trukku. Kalau mau jujur. Dilihat dari berbagai sisi. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. Dan aku curiga padanya. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya.3. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Ada cahaya. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. dengan memikirkan Mike dan Eric. dan ini membuatku takut. sangat bodoh. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. Dan itu sangat. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Sambil mengemudi ke sekolah. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. ada sesuatu yang berbeda. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. lalu mengerang ngeri. Mungkin karena aku masih baru sisini. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. dan membuat jalanan menjadi putih. ataupun bertemu teman-teman baruku. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. tapi bagaimanapun juga cerah. Apapun alasannya. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Tapi bukan itu bagian terburuknya.

dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Aku tak terbiasa diurus. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. ketika mendengar suara aneh. djAnGgo 47 . Meski begitu. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. tak ingin tergelincir. Aku melihat sesuatu berwarna perak.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. dan memeriksa banku. Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. aku mengemudi sangat pelan. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah.

” suaraku perlahan menghilang. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. Aku melihat beberapa hal bersamaan. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. lalu terdengar suara kaca pecah.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. Aku mendongak. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu.. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. dan sesuatu menarikku. mengumpulkan kekuatan. sesuatu menerjangku.Itu suara lengkingan tinggi. berhamburan ke jalanan. dan aku berdiri diantara keduanya. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. benar-benar terkejut. “Hati-hati. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. masih berputar dan meluncur. nada suaranya kembali serius. “Aduh. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. Aku berusaha menjernihkan pikiran. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. memandangku ngeri. karena van itu masih meluncur mendekat. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. keras. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku.. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa.” Suaraku terdengar aneh. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. Bella. nyaris menabrakku lagi. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. “Itulah yang kupikirkan. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. dan van itu berhenti. djAnGgo 48 . dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. terkejut. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. Dalam kekacauan yang tibatiba. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur.” kataku. “Bagaimana bisa. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. tapi bukan dari arah yang semula kuduga.” katanya.

Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. “Jangan bergerak.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. djAnGgo 49 . Aku mencoba bangkit. berteriak kepada kami. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.” seseorang memerintah. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka.” “Tapi dingin. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. saling berteriak. Ada kegetiran dalam suaranya. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu.” aku mengeluh. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. “Sekarang jangan bergerak dulu. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami.

sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. Edward naik di depan. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu.. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Edward dengan kasar menolak.” “Kenapa?” desakku.. aku benar. Varner dan Pelatih Clapp. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. Dad.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku. dan ia akan mengakuinya. dan aku menarikmu dari sana. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. Menjengkelkan. Mereka membawaku ke UGD. Yang membuatnya lebih buruk. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya.. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. “Kau ada di sebelah mobilmu.” aku mengulanginya dengan nada marah. Warna emas di matanya berkilat-kilat.” Rahangku mengeras. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Char.” “Aku melihatmu.“Kau ada di sebelah sana. temanku di kelas Pemerintahan. suaranya yang lembut mengodaku. “Aku baik-baik saja.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. Keluarganya tampak di kejauhan. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. “Tidak.” tukasnya. “Aku tidak apa-apa.” keluhku. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Aku mengenali Tyler Crowler. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. “Tidak. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. tiba-tiba terdengar putus asa. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. “Bella. “Kumohon.” ia memohon. “Percayalah padaku. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. Bella. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat.” Ekspresinya berubah kaku.. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. ekspresi mereka beragam.” Sekeliling kami kacau. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. aku sedang berdiri bersamamu. “Oke. Yang membuat segalanya lebih parah. Lalu datang pasien lain. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. Butuh enam petugas medis dan dua guru. seolah memberitahu sesuatu yang penting. Ketika juru rawat pergi. Aku menggertakkan gigiku. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. mulai dari protes sampai marah. Mr. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 .

apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara.kurasakan. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. Ia menatapku waswas. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. kau tampak buruk. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. djAnGgo 51 . “Bella. Tyler.

dengan lingkaran di bawah matanya. “Jangan khawatirkan itu. lalu kau menghilang. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. “Jadi.. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Dia ada disini entah dimana. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. Cullen berkata dengan suara sangat merdu. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. dia berdiri di sebelahku.” “Mmm. namun menghadap ke arahku. “Tidak ada darah. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu. aku sangat menyesal. Dari yang dideskripsikan Charlie. aku terperangkap di UGD. “Siapa?” “Edward Cullen..Ia mengabaikanku. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. tampak lelah. Tidak mudah. dan aku benar.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. “Cullen? Aku tidak melihatnya. Ia masih muda.. Meski begitu ia pucat. Miss Swan. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan..” Lalu seorang dokter menghampiri. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja.” katanya. menunggu. kau tidak mengenaiku. tidak seru. mudah-mudahan untuk terakhir kali. Aku memandangnya. Ia terus menggumamkan penyesalan.. Ia nyengir lagi. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. djAnGgo 52 . “Jadi. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. “Tapi jangan khawatir. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. nyengir.” Aku tahu aku tidak sinting.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. memamerkan giginya yang sempurna.. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat.” Aku tak pernah pandai berbohong. “Hei. ini pasti ayah Edward..” aku mengeluh. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. wow.. pirang.” dr.” kataku. Mataku langsung terbuka. aku datang untuk menyelamatkanmu. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi..” jawabnya. Edward menarikku. Jadi. “Aku baik-baik saja. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku.” Ia terlihat bingung. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. dan mobilku selip. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya. dan mulutku menganga melihatnya. ” Tyler memulai. Edward..

Mataku menyipit. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku. kau bisa pulang dengannya sekarang. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. “Well. “Sakit?” tanyanya. Ia memperhatikan ketika aku meringis. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku.” katanya. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.“Hasil rontgenmu bagus.” kata Edward ponggah. ayahmu berada di ruang tunggu. “Tidak juga.” “Tidak apa-apa. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. lalu menatap Edward geram.” aku mengulangi sambil menghela napas.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku. Aku mendengar suara tawa.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. kepalamu terbentur cukup keras. djAnGgo 53 .” Aku menatap Edward.

Cullen.“Sebenarnya.” ia memberikan saran sambil memegangiku. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. tapi nyatanya tidak. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. tapi itu justru membuatku semakin curiga. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya.” Nada suaranya tajam. dan menghampiri tempat tidur sebelah. Cullen dan Tyler. Aku memandang dr.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. Ia tampak waswas. Terlalu cepat. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. Alis dr. “Oh. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. kalau kau tidak keberatan.” ia berkata kepada Tyler.” ujar dr. well. sang dokter sedang memikirkannya. Lalu semua terlontar begitu saja. Intuisiku tepat. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan.” Ia balas menantang. ya.” kataku. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya.” aku berkeras. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu. ia berbalik menghadapku. Begitu dokter memunggungiku.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. kepalamu terbentur. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. “Apa yang kau mau dariku. kutatap dia tajam-tajam. “Sakitnya tidak separah itu kok.” “Oh tidak. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. “Aku menyelamatan hidupmu. Lalu ia berpaling memandang Tyler. aku terpeleset. aku bergeser ke sisi Edward. Tatapannya dingin. menutupi wajahku dengan tangan.” aku meyakinkannya lagi.” dr. Cullen. tapi kau menahannya. Tapi wajahnya tegang. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik.. Cullen menangkapku. “Aku baik-baik saja. Emosiku meluap-luap sekarang. djAnGgo 54 . “Kau sudah janji. tampak bersalah. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku.” katanya sepelan mungkin. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. dan aku tak bisa melanjutkannya. aku tak berhutang apa-apa padamu. “Kau berhutang penjelasan padaku. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. “Ayahmmu sudah menunggumu. “Kedengarannya kau sangat beruntung. Ia menatapku jengkel. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu.” “Bella. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku.” kata dr. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. juga di mobil yang lain.” aku mengingatkannya. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak.. dan kau sama sekali tidak terluka. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. tidak!” aku berkeras. dan dr. Cullen terangkat. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. dan mulai memeriksa luka-lukanya. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. Ia menatapku tak percaya. Tyler juga tidak melihatmu. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu.” erangku. Cullen meralat.” desakku. Ia mundur selangkah.

djAnGgo 55 . kau tahu. rahangku mengeras. “Tak ada yang bakal mempercayai itu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang.Aku hanya mengangguk sekali.

” pintaku. berasda di mobil patroli. Cullen memeriksaku.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar.. Charlie meletakkan lengannya di punggungku.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan. Charlie akhirnya bicara. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. dan Eric ada disana. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku. Rasanya sangat lega. “Kau takkan menyerah.” Aku menghela napas.” “Kalau begitu.” Kami saling menatap marah dalam hening. “Mm. marah dan berharap. Aku sangat marah. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. Lalu ia berbalik dan menjauh.” desakku.. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. Ia memohon supaya aku mau pulang.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. Akulah yang pertama bicara. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. djAnGgo 56 . tak ingin bebasa-basi.” Ia menunduk bersalah. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. “Aku tidak apa-apa. kau harus menelepon Renée. “Ayo. Bodoh. hati-hati mengendalikan amarahku.. aku mengangkat tangan. Charlie bergegas ke sisiku. berusaha untuk tetap fokus. kuharap kau menikmati kekecewaanmu. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. “Aku tak tahu. kan?” “Tidak. Ia berhenti. Aku masih kesal. “Aku tak suka berbohong. Tentu saja ibuku histeris. Ketika kami tiba di rumah. yang masih tak bisa kupercaya. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. tidak benar-benar menyentuhku.” bisiknya. Setelah bisa berjalan. mulai bergabung dengan kami. menatapku. itulah pertama kali aku merasakannya. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf..” Aku menunggu. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana. Jessica. Wajahnya tampak kaget. Mike.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. “Apa kata dokter?” “Dr. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. Aku terkejut.

bodoh. membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . Obat ini lumayan membantu. aku tertidur pulas. dan begitu rasa sakitnya mereda. bodoh. Charlie terus-menerus mengawasiku. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi.

Mike. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. di luar ruang UGD. kami berdua begitu marah. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. aku menyadari alasan yang masuk akal. dengan tidak mungkinnya. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. berharap ia akan berpaling ke arahku. Terkahir kali aku bertemu dengannya. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. ia tak pernah berbalik. Jessica.4. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Eric. Merasa kecewa. Aku sangat ingin bicara dengannya. “Halo. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. djAnGgo 58 . menegangkan. tapi ia tetap berkeras. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. entah bagaimana caranya.” sapaku ramah. mencoba terlihat sopan. aku tak bisa mengejarnya. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. Aku duduk. Betapa menyedihkan. dan sejauh mungkin. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Hanya kadang-kadang. entah dengan cara apa. memandang ke arahku lagi. Edward. Tak satupun dari mereka. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. tidak makan. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Karena ketakutan. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. Aku berusaha terdengar meyakinkan. terutama Edward. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. dan pada awalnya memalukan. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. meninggalkanku dalam kegelapan. menyelamatkan hidupku. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. tak peduli seberapa keras aku memanggil. Aku tak bisa melihat wajahnya. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. hanya mengobrol sendiri. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. sebelum ia tiba-tiba. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. tanpa melirik kanan-kiri. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. Yang membuatku cemas. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. terutama karena aku baik-baik saja.

di kafetaria atau di djAnGgo 59 . setiap hari. meskipun ia ada disana.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. mengangguk sekali. lalu berpaling lagi. sejengkal dariku. Kadangkadang aku memerhatikannya. tak sanggup menahan diriku. Dan itulah kontak terakhirku dengannya. meskipun hanya dari jauh.

” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. Ia menelepon beberapa kali. well. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. “Jadi. djAnGgo 60 . namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi.. mengkhawatirkan aku.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. berbincang sangat akrab dengan Eric. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. Jess. wajahnya yang suram pertanda buruk. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud.” aku mendukungnya. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. Aku merasa iba. Aku berusaha meyakinkannya.” Aku berhenti sesaat. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. tidak seperti biasa. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau.” “Bagus dong. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. dan aku takut menanyakan alasannya. Ia semakin percaya diri.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. “Bersenang-senanglah dengan Mike. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. Aku benarbenar merana. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. Mike juga diam..” kata Mike menatap lantai. “Tidak. jelas tidak menyukai reaksiku.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. seperti ia mengabaikan kami semua. kalau kau berencana mengajakku. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. Dan mimpi-mimpiku berlanjut. seperti ia juga tak memedulikanku. Seperti biasa. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya.” aku meyakinkannya. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. aku tak akan pergi.” “Well. Kalau Mike menolak ajakannya. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku.. Meskipun aku berlagak tak peduli.. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. “Kau yakin tidak keberatan. mengabaikan Edward. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak.parkiran. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku.. “Bakal asyik banget lho. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya.. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi.

jadi aku langsung menyusun rencana baru.” kataku.” tuturku.” aku menyakinkannya. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.” “Kenapa tidak?” desak Mike. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 .“Mike. kurasa kau harus bilang ya padanya. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle.

Pengecut seperti biasa. Wajahnya sangat serius. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. tidak bisa. sadar aku mengertakkan gigi. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. “Siklus Krebs.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku.” Ia terdengar tulus. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. Tapi lebih baik seperti itu. Dan Edward sedang menatapku penasaran. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. lalu berbalik. Mr.” djAnGgo 62 . Ia menunggu. “Lalu apa yang kau inginkan. berusaha menenangkan diri. berharap ia langsung pergi seperti biasa. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. “Aku minta maaf. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. Cullen?” panggil Mr. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. sungguh.” Aku membuka mata. terkejut. “Aku tahu sikapku sangat kasar. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. ini tidak sehat. dan berhubung ini tidak mungkin. Banner. berharap ia akan langsung membuang muka. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya.” kataku. Perlahan aku berbalik. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. ekspresinya tidak bisa kutebak. Banner. Ketika bel akhirnya berbunyi. mataku tetap terpejam. kau benar.” jawab Edward. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. Aku menghela napas dan membuka mata. enggan. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku.” gumamnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku.” “Yeah. Edward?” aku bertanya. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. hati-hati. dengan muram berjalan ke mejanya.” Mataku menyipit. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. jelas membuatnya kaget. “Mr. itu tidak baik. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. Tanganku mulai gemetaran.” ia menjelaskan. Banner mulai bicara.” kataku. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. Lebih dari menyedihkan.“Maaf. “Percayalah. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat.” desisku tertahan. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. “Aku tidak tahu apa maksudmu. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. Aku balas menatap. Menyedihkan. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya.

Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. Aku terdiam beberapa saat.” tukasku. ia nyaris terdengar marah.Ia terpana. “Kau tidak tahu apa-apa.” Ia jelas sangat marah. sempat berpikir untuk pergi saja. tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Ketika akhirnya bicara. Kukumpulkan semua buku-bukuku. Ia memandangku keheranan. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis.

Aku membuka pintu. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. Aku nyaris berlari ke truk.” sapaku. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. terlalu bingung untuk berdiplomasi. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Ia ada disana. Keras sekali. bibirnya terkaput. “Terima kasih. Cullen menghalangiku. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. pintunya terbuka. Seperti biasa. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Kami belajar basket. dan itu bagus. menatap lurus ke depan. aku hanya bertanya-tanya. “Hei. dan membantingnya keraskeras. aku mendengar suara ketukan di jendela truk.. Aku langsung bangkit berdiri. ya. “Oh. Aku mulai melangkah lagi. Ketika duduk disana. tapi aku sering sekali terjatuh.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Edward sudah berada di mobilnya. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku.” aku menyetujuinya. Aku memandang. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. “Well. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. aku tahu.. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. ternyata Tyler. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. melompat masuk. mungkin lain kali. Keadaan di gymnsium kacau. Eric. lalu menyerah. “Ehh. “Sama-sama. menunggu keluarganya. berpaling darinya. memotong jalanku. Ia berhenti disana. Aku harus mengganti lampu belakangnya.” kataku. Tepat di belakangku.” “Oh.” balasnya geram. tapi ada kelewat banyak saksi. rasanya lega ketika sekolah usai. meluncur mulus dihadapanku. bingung.” kataku dingin.” katanya. jelas kemacetan ini bukan salahku.” Aku kesal. Bella. Matanya menyipit. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. “Terima kasih untuk ajakannya. “Maaf. Lalu aku sadar itu hanya Eric. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat.membungkuk untuk memungutinya. “Hai. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Aku berhasil membukanya separuh. Aku melirik spionku. wajahnya tegang. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. “Well. Mobilnya masih menyala. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. “Kupikir ceweklah yang mengajak.” “Tentu. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. hanya selang 2 kendaraan. lalu menggigit bibir. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. tapi masih di sekitar kafetaria. Tyler. Aku mendengar suara tawa samar-samar.” ia mengakuinya malu-malu. ia sudah menyusun semuanya kembali. banyak orang yang ingin kuhindari. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan.

” Suaraku agak ketus. “Lalu kenapa. ” Ia mengangkat bahu. “Yeah.disini. Mike sudah bilang.” djAnGgo 65 . Tyler. Ini tidak mungkin terjadi. “Aku akan pergi ke luar kota. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus. “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya.” akunya.” Ia nyengir. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

lalu mengubah topik. terus terang..” ia berhenti.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas. Aku menelan ludah.” akuku.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang.” katanya sambil mengedip jail. “Menyerah?” ulangku bingung. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu. bingung. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. “Atau tidak. karena kau tidak mendengarkan.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun. tapi ia tetap berusaha tersenyum.” Rahangnya menegang. Ia tersenyum menyesal.” kataku. ragu-ragu. Jadi aku menyerah.” “Mereka akan baik-baik saja. “Apa teorimu?” Wajahku merona. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. tapi matanya yang kekuningan tampak serius.” “Jadi. Ia tertawa.” sahutnya menerawang. orang yang tidak pintar. lalu sisanya terurai begitu saja..” Ia masih tersenyum.. “Aku mengandalkan itu. kau akan menghindariku.” akhirnya aku mengaku.“Well. “Kau tampak khawatir.. kurasa kita bisa mencobanya.” aku mengingatkannya. dan menjada suaraku tetap tenang. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak. tapi konyolnya suaraku bergetar. dan suaranya terdengar serius. “Aku tahu. “Kau sering bilang begitu. Ia nyengir. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. aku bukan teman yang baik untukmu.” gumamku. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan. “Tidak terlalu.” “Jangan khawatir. Tapi kuperingatkan kau. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. “Jadi. “Sebenarnya aku terkejut. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran.” sindirku. “Ya. Aku masih menunggu kau mempercayainya.” Mataku menyipit. “Kedengarannya mauk akal. apakah sekarang kita berteman?” “Teman.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. aku capek berusaha menjauh darimu.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. Selama sebulan terakhir ini.” Senyum menawan itu muncul lagi..” Ia tersenyum lagi.” “Tidak. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. selama aku adalah. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu. Kalau pintar. Waktu pun berlalu. Ia tertawa.. itu salah satu masalahnya. tak yakin apa yang harus kulakukan. “Tahu nggak. “ Well.. Aku memandang matanya yang keemasan. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya. “Ya. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.. menyerah berusaha bersikap baik.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh.

Wayne dan Peter Parker. Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya. djAnGgo 75 .

kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku. aku yakin kau salah. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya. kecuali kau. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu. mataku menyipit.” Aku tak mengerti raut wajahnya. “Atau lebih baik.” Ia mencemooh lagi. lalu tanpa diduga mencemooh. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. Aku pernah bilang.” “Ya. “Tidak.” “Ceritakan padaku satu teori. waswas namun penasaran. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya. aku tidak lapar.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas.. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari.. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang. “Terima kasih. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak.” “Kecuali aku. tanpa tersenyum. “Satu. “Tidak.. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu.” “Kau marah. “Tidak.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya.” keluhnya.” Kami bertatapan. juga.” “Itu sangat memusingkan. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya. “Aku tak tahu apa maksudmu.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. Aku meneguknya sekali. dengan ketegangan.” kataku dingin. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan.” Aku harus berpaling dari tatapannya. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele.” djAnGgo 76 . “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. bahkan setelah berjanji akan melakukannya.” aku langsung membantah.” aku meyakinkannya. nah. Jadi aku bisa siap-siap. Ia menunggu. “Kedengarannya adil.” “Tidak.. demi kebaikanku sendiri. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan. pikirannya teralih. akan sangat memusingkan.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.” lanjutku.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi.” “Tidak susah kok. kebanyakan orang mudah ditebak. tatapannya muram. Aku menggeleng. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. “Tergantung apa yang kau inginkan. kau tahu. Itu. Ia memandang lewat bahuku. “Aku hanya bertanya-tanya. tentu saja. “Lagipula. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. “Terlalu memalukan.

” aku balas mengingatkan. “Kau sendiri selalu ingkar janji.” djAnGgo 77 . “Hanya satu teori.” “Kau tidak memberi syarat. aku takkan tertawa. “Jangan yang itu. kau hanya bilang satu jawaban.” ia mengingatkan aku.Uuppss.

“Nanti juga aku tahu. “Kuharap kau tidak mencobanya. dan. Ia memang berbahaya. mencondongkan tubuhnya ke arahku.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang.” Aku ragu-ragu. itu jelas. matanya yang kekuningan tampak membara. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.” Suaranya nyaris tak terdengar. tidak nyaman. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. “Kita bakal terlambat. lebih dari segalanya.” kataku mengingatkan. tatapannya sarat emosi. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. terpesona. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut.” keluhku. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. apa?” tanyaku bingung. Sialan. “Aku juga terkena batu kryptonite. “Maaf. sampai ketemu lagi. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. “Ceritakan satu teori. “Kau berbahaya?” aku menebak. Aku menatapnya. Ia hanya memancangku. bingung. cuma itu yang kupunya. “Kalau begitu. Aku melompat kaget..” Ia tersenyum padaku. “Oh. “Please?” ia menghela napas. aku masuk. “Aku mengerti. dan memutarmutarnya di antara jemarinya. “Kau kan tidak boleh tertawa. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. pikiranku kosong. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak.” ejeknya. “Karena. Aku tidak mengerti. “Tidak. “Well. Aku mengerjap. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri.” katanya. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. “Tapi tidak jahat. sambil menggeleng.” tukasku kesal.“Pasti kau bakal tertawa.” bisikku.” Aku yakin mengenai yang satu ini. djAnGgo 78 . bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. Ia menunduk.” sahutnya sambil tertawa. sedikit saja.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku.” Ia berubah serius lagi.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku..” kataku.” kataku.. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. sambil menatap untuk terakhir kali. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur.” “Kau salah. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan.. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya.” godanya. well. Tapi aku hanya merasa khawatir. tapi matanya masih waswas. Ia menunduk. lalu mengambil tutup botol. “Ehh.” “Sial. aku tidak percaya kau jahat.

Setidaknya hujan telah reda. mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi.Ketika aku setengah berlari menuju kelas. djAnGgo 79 .

Lalu Mr. mengagetkanku. guys.. ia melanjutkan. Aku takut mengangkat kepala. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Banner masuk. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya. sadar Mike dan Angela menatapku. Oh. “Yang kedua aplikator segi empat. Banner. dan mengabsen kamu satu per satu. perutku rasanya mau meledak. Suaranya terdengar sangat dekat. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. Aku menelan liurku karena tegang. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. tapi perutku langsung mulas. “Oke. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. “Aku sudah tahu golongan darahku. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. Mr. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. lalu memperlihatkannya kepada kami. Aku bergegas duduk di kursiku.” Ia memeragakannya. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir.” ia selesai dengan peragaannya.” kataku lemah.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Mike tampak kesal.Aku beruntung. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. kau baik-baik saja?” tanya Mr. aku punya formulir izinnya di mejaku. “Kemudian oleskan ke kartu. Banner. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. suara anak-anak mengeluh.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator.” Ia terdengar bangga.. “Taruh setetes darah.” kata Mr. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. “Bella. Angela kelihatan terkejut. dan sedikit kagum.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. tidak. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. Sir. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku.” gumamku. lalu mengenakannya.” Ia mulai dari meja Mike lagi. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. Aku memejamkan mata. pada masing-masing kotak. sedikit saja. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 . “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. Mr.

“Biarkan aku duduk dulu sebentar. Aku masih sangat pusing. kau pucat. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. “Wow. Sepertinya ini agak membantu. pikirku. “Dan apapun yang kau lakukan. “Ya. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya.” bisikku.” kataku mengingatkan. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr.” aku memohon padanya. Kalau perlu. memejamkan mata. Banner. Bella. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. aku berhenti. jaga tanganmu. Banner. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. kalau-kalau Mr. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. aku akan merangkak.” kata Mike khawatir. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Banner memperhatikan. djAnGgo 81 . tidak terlihat dari gedung empat.tidak membolos. Keluarakan saja aku dari sini.

“Berbaring saja sebentar. Lalu ia pindah. “Pergilah. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. dia bahkan tidak menusuk jarinya. “Kau bisa kembali ke kelas. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. “Hei!” seru Mike. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik.” keluhku. Miss Cope. kumohon. Aku tidak menyahut.” desahku.” “Aku akan mengantarnya. Sepertinya ini menghiburnya. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. “Turunkan aku!” Kumohon.“Apa yang terjadi. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.” Ia tertawa. “Dia hanya sedikit lemah. “Ya ampun. “Aku yang seharusnya melakukannya. Mualnya sudah hilang. Matanya memancarkan kegembiraan. menikmati perkataannya. nyengir. ya. lega.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. Edward telah menggendongku. tidak muntah. “Kurasa dia pingsan. berharap diriku mati. nanti juga sembuh.” kata Edward. Aku tidak sedang berkhayal.” Edward menjelaskan. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. Ia membopongku dengan lembut. petugas TU yang berambut merah. Edward mengabaikannya. Kubuka mataku karena terkejut. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak. Sayang. Kubuka mataku. Aku terus memejamkan mata.” Edward melontarkan ejekan pelan. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan.” “Tidak. dan ia terdengar muram. yang tertinggal jauh di belakang kami.” aku mendengar suara perempuan terkesiap. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya.” “Bella. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. “Bahkan dengan darahmu sendiri. berdiri rapat di dinding. bukannya 55. tapi tiba-tiba suasananya hangat. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel.” protes Mike. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi.” “Aku tahu. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya.” Edward sudah disebelahku sekarang.” Mike menjelaskan dengan nada defensif.” lanjutnya.” katanya padaku. “Turunkan aku. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. Mike tampak sangat khawatir. “Dia pingsan di kelas Biologi. djAnGgo 82 . Aku berada di kantor TU. “Aku sedang membawanya ke UKS.” erangku. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. “Kau tampak kacau. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. Atau setidaknya. “Pasti ada saja yang pingsan.

” perawat berkata kepadaku. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir.” aku mengakuinya. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang. ya?” djAnGgo 83 . Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. tapi kali ini dalam hal apa. ia tidak membantah. “Aku akan mengambil kompres untukmu. “Kau benar. “Biasanya memang begitu.” erangku.” ia memberitahu Edward. “Aku disuruh menemaninya. lalu bergegas meninggalkan ruangan. Sayang.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya. “Kadang-kadang. membiarkan mataku terpejam.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan.

“Well.” kata Edward senang. “Kau benar-benar menuruti perkatanku.” katanya. “Kurasa aku baik-baik saja. tapi kemudian pintunya terbuka. “Ini.” Aku menatapnya.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. “Bukan apa-apa.. “Aku lihat wajahnya.” Ia terperangah. mengerutkan hidung. tapi aku tak lagi pusing.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. “Ini dia. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. Kuserahkan kompresnya pada perawat. “Manusia tidak bisa mencium darah. Telingaku berdenging sedikit.” Mataku masih terpejam.” kataku.” “Dia sangat membenciku. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu. aku bisa. aku tidak memerlukannya. bergegas keluar dari ruang perawatan.” Ia meletakkannya di dahiku.” bantahnya. seperti aku. “Oh tidak.” Jawaban yang masuk akal. Aku berani bertaruh dia pasti marah. temanku dari kelas Biologi. dan garam. “Kau kelihatan lebih baik.” Edward menatapku dalam-dalam.” tuduhnya. barangkali ada untungnya perutkku kosong. menatapku dan Edward bergantian.” Aku nyaris pulih sekarang. itulah yang membuatku sakit. yang tampak pucat. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. “Aku sedang di mobil. “Kau kelihatan lebih baik. keheranan.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. Bella. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan.. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu.” akunya setelah beberapa saat. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi. matanya kelam. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu.” bantahku. tapi mengejutkanku.” aku mengingatkannya. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik.” tambahnya. Sayang. “Kita punya korban lagi. ia memapah Lee Stephens. “Percayalah.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan. “Jangan ikut campur. “Apa kau akan djAnGgo 84 . “Apa?” tanyaku. lalu membuka mata. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain.” gumamnya. “Sudah tidak ada darah lagi.” “Kasihan Mike. Mike ganti menatapku. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. “Aku mencium bau darah. Baunya seperti karat. Tapi kalau dipikir-pikir. Aku mendengar suara pintu terbuka.” “Ha ha. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu. “Keluar dari sini. “Tadi kau sempat membuatku takut.” kataku sambil bangkit duduk.” Aku mencoba bernapas teratur. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. mendengarkan CD. “Sejujurnya.” gumam Edward.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. ayo keluar. Perawat datang membawa kompres dingin. tapi aku merasa semakin pulih. aku tahu.

kan sudah kubilang aku akan ikut. Aku berusaha terdengar seramah mungkin. tak bergerak bagai patung.kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. tatapannya kosong..” djAnGgo 85 .. kurasa begitu. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan.” “Yeah. “Tentu saja.

mencoba membacanya.” Aku menghela napas. “Jadi.” aku berjanji. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku.” balasku. ke First Beach. “Apa kau juga perlu izin. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. di gymnasium. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. Kita tidak djAnGgo 86 . “Asyik juga bisa membolos Olahraga. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam.” “Sama-sama. kalau begitu semuanya beres. Aku mengangguk lemah. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. tanpa ekspresi. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. Ia menatapku sekali lagi. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. meskipun mustahil. sampai ketemu di gymnasium. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. bahunya merosot.” Kuamati wajahnya. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. Rasanya menyenangkan.” erangku.” Ia menatap lurus ke depan. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. “Aku jalan saja.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward.” gumamnya. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. “Terima kasih. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding.” “Sudahlah. menyipitkan mata menembus hujan. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. wajahku memang selalu pucat. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. berjalan gontai ke pintu. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. Kau merasa lebih baik. Ini sama sekali bukan tantangan. ekspresinya kembali mengejek. mencoba tampak selemah mungkin. “Kalau begitu. “La Push. Mrs. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. Ia menunduk dan melirikku. Bella?” serunya. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. tersenyum ironis. “Aku bisa mengaturnya. “Aku baru saja mengundangmu. mata terpejam. “Gymnasium. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. “Daahh. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. kau pergi nggak? Maksudku. ia bukan tipe seperti itu. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. Goff takkan keberatan. Ia membukakan pintu untukku. “Aku akan datang.” Aku berdiri hati-hati. dan aku baik-baik saja.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. “Apa kau bisa berjalan.” kata Mike.” “Oke. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward.

ingin di marah. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. djAnGgo 87 . ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya.” gumamku. marah. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. kan?” Sorot matanya menari-nari. Aku sangat menyukainya dari seharusnya. “Mike-schmike.

sehingga aku tidak merasakan kecepatannya.” cuma itu reaksinya. “Masuk. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. heran. Usahaku tidak begitu berhasil. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya. aku terhuyung ke pintu penumpang. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Harus kuakui. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. Bella. “Sudah terbuka. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. “Dia sangat mirip denganku. “Tidak terlalu. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. Dia teman baikku. mengamatinya dengan tatapan penasaran. Hujan turun semakin deras. Aku mendengarkan musiknya. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki.” kataku. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . “Berapa umurmu. Lalu akhirnya ia melepaskanku. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. “Lepaskan!” desakku. marah. “Claire de Lune?” tanyaku. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. Kalaupun aku jatuh. aku hanya tahu yang kusuka. Ia tak menyahut. dan lebih berani. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. Aku memandangnya. termenung.Aku bingung. Ibuku punya sifat lebih terbuka. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. Membicarakan ibuku membuatku sedih. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. “Pulang. Alisnya terangkat. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. “Kau kasar sekali!” gerutuku.” Aku tak menjawab. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. tapi lebih cantik.” aku mengakui. dan juru masak yang sangat payah. barangkali ia akan tetap menyeretku. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. jadi air menetes-netes ke punggungku. Ia mengabaikanku. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. terkejut. “Aku tinggal menyeretmu lagi.” Aku berhenti berbicara. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya.” Ia memandang menembus hujan. meski stabil dan tenang. Ia menekan tombol kontol. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali.” kataku. tidak mungkin.” ancamnya. “Ini benar-benar tidak perlu. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. bih tepatnya menarik jaketku.” “Ini juga salah satu favoritku. menyalakan pemanas dan menyetel musik. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi.

penasaran lagi. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai.” jawabku. Ia menghentikan mobil. “Tujuh belas.bisa kubayangkan. “Kenapa?” tanyanya.” Nada suaranya mencela. membuatku tertawa. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. sedikit bingung. djAnGgo 89 . “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie.

Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka. dia tergila-gila pada Phil. “Apa?” “Menurutmu. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward. kalau mau.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 .” gumamku.” Itu bukan pertanyaan.. “Apakah itu penting?” tantangku.” Suaranya datar.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya. “Jadi. “Aku ingin dia bahagia. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. kupikir kau bisa. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain..” “Aku tahu. harus ada yang menjadi orang dewasanya. “Maafkan aku.” kataku.. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. “Ya.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun..” ujarku terbata-bata. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.” Ia tersenyum. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan. “ Well. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius... “Ku-kurasa. matanya mencari-cari jawaban di mataku. “Hmm.” “Kau sangat beruntung. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku. “Ibuku. itu pun hampir 2 bulan yang lalu.. Ia kembali tersenyum.” “Kau baik sekali. Bagaimanapun juga. aku jadi berpikir.” ujarnya kagum. sangat muda bagi umurnya. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu.” Aku tertawa. “Tapi bagaimanapun. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.” Beberapa saat aku jadi ragu.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. “Jadi. “Ya. dan Phil laki-laki yang diinginkannya.” Tapi aku menjawab terlalu cepat.” Aku berhenti sebentar. kebenaran atau kebohongan. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. Jadi agak berbeda. lalu menghela napas.” Ia langsung berhati-hati. dialah sang orangtua. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku. “Tidak. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku.” Aku menggeleng-gelengkan kepala.. “Aku tak begitu ingat mereka.” “Dan kau menyayangi mereka. aku baru menyebutnya sekali.

Ia melirik jam di dasbor.” “Oh. “Saudara-saudaraku. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku.” Aku tak ingin keluar dari mobil.” Ia tersenyum padaku. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi. Tak ada rahasia di Forks.” Aku mendesah. “Aku yakin dia sudah mendengarnya. juga Jasper dan Rosalie. kurasa kau harus pergi. djAnGgo 91 . maaf.

“Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. ada kekhawatiran dalam tawanya. “Selamat bersenang-senang di pantai... Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.. “Akan kuusahakan. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Aku memandangnya.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.” Ia memandangi hujan yang masih turun. cuacanya bagus untuk berjemur. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. selamat bersenang-senang. oke?” Ia tersenyum sangat lebar.” Aku berusaha terdengar antusias. djAnGgo 92 . matanya yang keemasan menyala-nyala.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. Jadi. Aku mengangguk putus asa. “Oh. “Jangan tersinggung. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal.Ia tertawa. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. di selatan Rainier. well .. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet.

djAnGgo 93 .

Itulah bagian terburuk dari hari Jumat. Jessica tampak jengkel. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. Itu aneh.” Mike berbisik padanya. semua sibuk membicarakan rencana besok. hampir 15°C.” ujarku setuju. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. ia mencibir ketika menyebut namaku.6. Meski begitu. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. wajahku tetap datar. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. truk itu tiba-tiba sudah disana. aku menunggu-nunggu suara trukku. dan ia tidak menyadarinya.. “Aku tidak tahu. “Dia tak pernah mengatakannya. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. “Kau tahu.tak tahu kenapa Bella”. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. “Oh ya?” sahutku. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain.” jawabku jujur. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. Aku tepat di belakangnya.” “Memang aneh. Tapi hari ini udara lebih hangat. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Di mejaku yang biasa. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi.. Mike sudah ceria lagi. menunjukkan kesetiaannya padaku. “Dia temanku. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . aku toh masih berharap.” “Kau sepertinya agak marah. atau begitulah menurutku. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya.” pancing Jessica. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Aku tidak mengerti kenapa. Terutama Jessica. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. “Jadi. dia duduk bersama kita. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. Kupikir. meskipun di tengah guyuran hujan. Hari ini hanya Rosalie. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. lagi. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. tapi juga sedikit posesif. Alice.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. “. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini.

djAnGgo 95 . “Dad. saat makan malam. Kelihatannya ia tak keberatan. sehingga sulit untuk mengubahnya. dan barangkali kakek buyut mereka juga. dan orangtua mereka. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi. Bukannya aku bakal memberitahunya. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi.Jessica dan Angela melewatiku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Malam itu.” tanyaku santai.

tapi jelas itu matahari. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Mike tampak kecewa. sehingga semua mobil penuh. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. kecuali kau mengundang seseorang. “Mungkin aku salah mengingat namanya. Bukan di tempat semestinya.“Yeah. Jess ada disana. terlalu rendah. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. “Tidak. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. Awan-awan menggantung di langit. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. gembira.” aku mengingatkan. Setidaknya Mike senang melihatku. Aku tak percaya. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. dan bisa dipastikan. matahari bersinar.. “Terlalu banyak beruang. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. Lee mengajak dua orang lagi. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. khawatir kalau kutinggalkan. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner.” Ia tersenyum bahagia.” gumamku.” Ia terdengar terkejut.” ujarku berbohong. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. “Kau boleh membawa senjata. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Betapa mudahnya membuat Mike senang. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. Meski begitu.” Mike menambahkan. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. duduk di kursi depan Suburban Mike. diikuti Angela dan Lauren. Aku berdiri di jendela selama mungkin. Aku senang bisa duduk dekat jendela.” Aku bermaksud pergi tidur. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. tapi belum pernah singgah disana. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. Eric ada disana. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. berharap tidak ketahuan. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu.” “Oke.. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk. tapi setidaknya Jess kelihatan puas.” ujarnya. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. langit biru itu akan lenyap lagi.” “Oh. membisikkan sesuatu pada Lauren. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Airnya kelabu gelap. Mike tampak puas. Aku sudah pernah melihatnya. Tapi tetap saja mempesona. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. Aku mengulum senyum. dan Sungai Quillayute yang lebar. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali. kenapa?” Aku mengangkat bahu. “Sudah kubilang hari bakal cerah. “Kau datang!” serunya.

jauh dari jangkauan ombak. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. yang dari kejauhan tampak abu-abu. beberapa sendirian. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. biru. lavender . djAnGgo 97 . beberapa berimpitan di bibir hutan. hijau laut. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. keemasan yang kusam. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. naik ke puncak yang tak beraturan. abu-abu.

penuh abu hitam. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. Ada api unggun disana.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. sejuk dan asin. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. lalu duduk di sebelahku. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. agar tidak jatuh ke lautan. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Yang lain sepertinya tak kenal takut. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan.Angin kencang bertiup bersama ombak. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Awan-awan masih mengelilingi langit. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. dan rantingranting di atas kepalaku. Untung Jess ada di sisinya yang lain. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. Setengah jam setelah mengobrol. melompat-lompat di atas bebatuan. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. perhatikan warna-warnanya. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. cewek-cewek lain berkumpul. Aku harus berhati-hati melangkah. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. bergosip ceria di sebelahku. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . “Belum. Ombaknya rendah. “Itu karena garam. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Ini benar-benar dilema. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya.” kataku kagum. Pendakiannya tidak terlalu panjang. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Aku sudah menyukainya sejak kecil. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. lalu duduk hati-hati disana. “Warnanya biru. bertengger di ujung tebing berbahaya. Ia tidak ingin mendaki. Mike berlutut di depan api unggun. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api. Kami berjalan menuju pantai. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa.

Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. djAnGgo 99 . sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. Ketika makin dekat. Ketika kami kembali ke First Beach. Aku begitu terlena. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. tapi bisa saja lebih parah. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. hingga beberapa kali aku terjatuh. Telapak tanganku beberapa kali tergores. menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. kulit mereka berwarna tembaga. jumlah orang disana sudah bertambah. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas.

sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. Selama makan siang awan mulai berkumpul.” tiba-tiba aku teringat. Jacob pindah duduk di sebelahku. perlahan-lahan menutupi langit biru. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. dan hal itu menggangguku. “Bella. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. sering kali samar-samar.” “Rachel dan Rebecca. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. kadang-kadang menghalangi matahari. kau pasti ingat kakak-kakakku. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. sambil menjabat tangannya yang ramping. dan melekat dalam pikiranku. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. menggantikan Angela.” sahutku lega. Sepertinya dia berumur 14. bersama Jessica yang selalu mengekorinya.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik.” keluhku. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. Angela dan aku tiba terakhir. Mike. Aku duduk di sebelah Angela. Kulitnya menawan. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. dan. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. dan membuat ombak berubah gelap. agar mereka bisa pergi memancing. “Aku Jacob Black. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. aku duduk sendirian di seonggok kayu. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. berdua atau bertiga. beranjak ke toko di pedesaan. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . “Kau membeli truk ayahku.” “Oh. “Kau putra Billy. yang lain ikut mendaki. mungkin 15. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. aku yang bungsu. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. “Kau Isabella Swan. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. ketika Eric memperkenalkan nama kami.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi.” “Bukan. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. halus dan kecoklatan. matanya gelap. Mungkin seharusnya aku mengingatmu.

“Jadi.” “Menikah. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. “Aku menyukainya. “Tidak. Wow.” djAnGgo 101 . sekarang dia tinggal di Hawaii. Truknya hebat. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.terhenti. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington. kau menyukai truknya?” tanyanya. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.” Jacob menggeleng.

“aku belum tahu. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. menuju garis batas yang pebuh driftwood. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya.” “Tidak sepelan itu kok. mengabaikan pertanyaan Lauren. kan?” candanya.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. “Bagus. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. sambil memperhatikan wajahku. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. dari seberang. dengan nada yang kupikir kasar. membuat laut gelap dan suhu turun. dan suaranya sangat berat. namun enak didengar.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu. terkejut.” Ia nyengir. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. terkagum-kagum. “Bella.” Jacob menimpali sambil tertawa.” sergahku. dan setengah berbalik menghadapnya. aku yakin. tapi aku berjanji akan mencari tahu. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren.” jawabku. Tyler. Ia sangat mudah diajak bicara. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. Ia tersenyum penuh pengertian. dan matanya yang curiga menyipit. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. “Bagus sekali. sorot matanya masih coba kupahami. Jacob mengusik ketenanganku. mereka dilarang datang. Hasilnya tentu saja tidak sama. “Kau kenal Bella. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. “Ya.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. “Jadi. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja.” aku tertawa. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel.” Aku nyengir. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum. djAnGgo 102 . yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. bahwa mereka tidak diizinkan. Perhatian Lauren pun teralihkan. “Aku baru saja bilang pada Tyler. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. “Jadi. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. “Maaf. Suaranya serak. tapi jalannya pelan sekali. Ia tersenyum menawan. Jacob?” tanya Lauren. Rencana bodoh. Kalau begitu jangan. bagiku itu sesuatu yang ironis.“Yeah.” ia tertawa. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. memandangku bersahabat. awan akhirnya menutupi langit. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak.” ia tertawa.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi.” panggilnya lagi. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. “Maksudmu anak-anak dr. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. Aku menatap cowok bersuara berat itu. “Ya. tersenyum padaku lagi.

tanganku ke saku djAnGgo 103 .Kumasukkan jaket.

berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. aku takkan bilang siapa-siapa. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya.” “Untuk anak seusiaku. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. “Aku suka. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. tentang asal-muasal kami. memandang Pulau James.” Ia tersenyum. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala.” ia mengaku keheranan. Benarbenar konyol.” kataku bersemangat.” ia mengaku malu-malu.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. berharap jawabannya ya. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. “Kupikir kau lebih tua. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. “Aku baru saja berumur 15. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. umurnya 19. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. “Tidak juga.“Jadi. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. dan beberapa yang lain belum terlalu tua.” jawabku jujur. “Upss. djAnGgo 104 . aku bisa pergi sesering yang kumau. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. “Itu Sam. ada banyak legenda. tak lagi berpura-pura.” ia memberitahuku. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. aku hanya penasaran. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. “Ya. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. konon katanya. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara.” Jacob memutar bola matanya. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos. suara tak menyenangkan. tubuhku cukup tinggi. Ia memandang bebatuan. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. “Well. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah.” Ia memalingkan wajah.” Suaranya semakin rendah. “Tidak terlalu. sepertin Nuh dan bahteranya. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. Ia balas tersenyum menawan. “Keluarga Cullen? Oh. setelah aku dapat SIM. “Tapi setelah mobilku selesai.” jelasnya.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda.” lanjutnya.” “Oh. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. Aku berusaha mengabaikannya.

well. serigala jadi-jadian.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. “Dia tetua suku. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. seperti leluhur kami. bukan serigala sesungguhnya. Kau bisa menyebutnya werewolf. Kau tahu. djAnGgo 105 . seperti ayahku.” Aku menatapnya serius. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala.

” ia tertawa gembira. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini.” Jacob tertawa. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. seorang perempuan dan laki-laki baru. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. “Peminum darah.“Jadi kau tahu.. jadi aku tak berpaling menatapnya. Carlisle. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat.” Ia mengedip. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. Bulu kudukku masih berdiri.” Jacob tiba-tiba berhenti.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. jangan bilang apa-apa pada Charlie. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. yang berdarah dingin adalah musuh kami. sambil masih menatap ombak.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. lihat. lalu kenapa. tapi sisanya sama saja.” Jacob berusaha menahan senyumnya. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 .” “Tentu. “Mereka adalah kelompok yang sama. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. kemudian bergidik. kan. “Tapi sungguh. kan?” Aku mengulurkan lengan. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. Aku tak tahu bagaimana rupaku. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami.” aku memujinya. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. “Tidak. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. “Sekarang jumlah mereka bertambah. Konon. “Kau pencerita yang baik.” “Jadi. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. Ia tersenyum senang.” Ia tersenyum. suaranya membuat bulu kuduk meremang..” kataku berjanji. Pada masa kakek buyutku. dan melanjutkan ceritanya lagi. “Keren. “Cerita yang cukup sinting. entah bagaimana caranya. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda.” lanjut Jacob. “Kalau mereka tidak berbahaya.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. aku takkan bilang. mereka sudah mengenal pemimpinnya. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin.” jawabnya. Cullen mulai bekerja disana. namun sedikit waswas. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. “secara tradisional.” Aku belum dapat menahan emosiku. “Kau merinding.” Aku mencoba mengerti.

“Tidak.” Mike terdengar lega.mendekat. Bella. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata. Jacob tersenyum. senang karena rayuanku yang payah. “Itu pacarmu?” tanya Jacob.” bisikku. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. “Disini kau rupanya. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Aku mengedip padanya. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. tentu saja bukan. djAnGgo 107 . tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami.

Ia sangat mudah diajak berteman. Kita harus nongkrong bareng sesekali. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. kalau aku mendapat SIM-ku. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler.” Kami memandang langit yang mulai mendung.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi.” Aku melompat berdiri.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. “Kau dari mana saja?” tanya Mike.. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya.” aku berjanji padanya. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler.” jawabku.“Jadi.” ia memulai lagi. Jacob tersenyum. djAnGgo 108 . “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini.. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. memandangi badai yang semakin dahsyat. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. mengingat aku telah memanfaatkannya. sepertinya sebentar lagi hujan. “Well. dan ia balas tersenyum.” kata Jacob. memejamkan mata dan berusaha santai. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. “Kau harus mengunjungiku di Forks. “Kita akan berkemaskemas. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. Angela hanya memandang ke luar jendela.” “Senang bertemu lagi denganmu. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy. Mike sudah di dekat kami sekarang. Ketika kami sampai di Suburban. aku akan ikut. “Aku datang. “Sangat menarik. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. “Aku juga.” ucapku tulus.” Mike berhenti. Sepertinya memang akan hujan.” “Terima kasih. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. “Oke. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. “Akan kutunggu.

djAnGgo 109 .

CD-nya kuputar berulang-ulang. Bella!” seru Mike dari belakang. mencoba memahami liriknya. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. hingga. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. tapi aku tak bisa melihatnya. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. tapi Jacob Black ada disana. kini putus asa menginginkan matahari. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob.” ujarnya. “Lari. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. dan giginya tajam. taringnya siap menerkam leher Edward. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. Berhasil. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Bella. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. menarik-narik tanganku. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. “Jacob. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama.Tapi aku tidak berpaling. Aku memejamkan mata. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Aku mencoba mengikuti suara itu. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. ada apa?” aku bertanya. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. Begitu sampai di kamar. aku mengunci pintu. sekujur tubuhnya gemetaran. Aku melangkah sekali lagi. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. menghampiri Edward. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Karenanya. “Percayalah padaku. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. suaranya mendengkur. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. runcing. Aku maju selangkah. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Aku memasukkan CD itu. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. “Jacob!” jeritku. bulu-bulu tengkuknya meremang. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . “Kenapa?” tanyaku. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Setelah 3 kali memutar CD itu. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. menekan tombol Play. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. Tapi ia sudah lenyap. Ia tersenyum. aku tertidur. “Tidak!” teriakku. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. “Lewat sini. “Lari. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. dan tidak ingin makan apa-apa.7. kulitnya bercahaya samar. matanya gelap dan berbahaya. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. akhirnya.

atau sudah pergi. Lebih baik mandi dulu. Vampir. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. membuka kancing jinsku. Ia pergi memancing lagi.ku dulu. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. bingung. Lampu kamar masih menyala. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. Aku benci menggunakan internet disini. Kuambil CD player. Aku duduk. layanan servis gratisnya buruk. senang menundanya selama mungkin. Percuma. Aku tak bisa tidur lagi. dan menyimpannya di laci lemari. aku pergi ke kamar. kemudian jatuh di lantai kayu. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. lalu mengetik satu kata.tidur. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. langsung ke bagian yang berisik. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Ketika hasil pencariannya muncul.30. grup metal underground. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. sesuatu yang tak pernah kulakukan. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Aku harus menghadapinya sekarang. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Aku makan pelan-pelan. Kuintip dari jendela. lalu menyimpannya. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Kakiku kram ketika menaiki tangga. tentu saja. Sudah pukul 05. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. lalu membereskan tempat tidur. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Lalu aku menyetel CD yang sama. Perlahan-lahan aku berpakaian. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Aku memandang jam di lemari pakaian. batinku. untuk men. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Hanya dengan berbungkus handuk. Vampir A-Z. Kulepaskan headphone-nya. dan perusahaan kosmetik gotik. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. Aku mengerang. mobil patrolinya sudah tidak ada. Kuambil tas perlengkapan mandiku. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. Lalu aku menemukan situs yang tepat.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Modemku sudah ketinggalan jaman.

ahli bedah.. keterangan itu adalah mengenai vampir. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. kelihatannya seperti situs pendidikan. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. seperti sang vampir. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. tak ada figur yang begitu mengerikan.bermunculan di layar. Pertama-tama aku memilih Danag. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. yang bukan hantu ataupun setan. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. sejenis tumbuhan berbuah kentang. Menurut mitos itu. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. tersusun secara alfabetik. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . Semuanya lengkap : laporan resmi. vampir Filipina yang menanam taro. para imam. hakim. Pdr. di kepulauan itu dahulu kala. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. Akhirnya selesai. Dan dengan semua itu.

Aku membaca uraiannya dengan saksama. mencari keterangan tentang vampir. dan satunya lagi Stegoni benefici. Merasa jengkel. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. warna mata yang berganti-ganti. tapi belum hujan. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. Nelapsi dari Slovakua. apalagi masuk akal. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. Rasanya lega ada satu catatan kecil. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. hanya ada satu kalimat pendek. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. Meski begitu. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Langit mendung. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. konon memihak kebaikan. Mengenai yang terakhir ini. di djAnGgo 113 . Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. dan abadi. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. kulit pucat. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. Di balik kekesalanku. musuh werewolf. lalu turun. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. berkulit dingin. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. aku merasa malu. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. Lalu masalah lainnya. kalau tidak. Kecepatan. Aku paling payah kalau soal arah. dan hanya keluar di malam hari. dan musuh abadi semua vampir jahat. Stregoci benefici : vampir Italia. dan hanya sedikit sekali. Aku duduk di kamar. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. Aku harus keluar dari rumah.bertahun-tahun. tanpa melalui tahapan semestinya. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. tak tahu akan ke mana. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Mereka tidur di dalam peti seharian. kekuatan. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. matahari menjadikan mereka abu. vampir tidak bisa keluar di siang hari. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. Semua ini benar-benar konyol. keindahan. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca.

dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . mapel. aku memperlambat langkah. Banyak yang tidak kuketahui. menjulang tinggi di atasku. munurut dugaanku menuju ke timur.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. Pohon yang baru tumbang itu. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. dan yew. Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. Ketika amarahku memudar.

Edward Cullen bukanlah. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Jadi. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. seandainya ia. mengabaikannya sebisaku. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. Aku tak bisa melakukan yang lain.lainnya.. menyandarkan kepala ke pohon satunya. diantara pepohonan. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . Membatalkan rencana kami. manusia. ketampanan yang tidak manusiawi. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil.. Memintanya menjauhiku. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. mereka memang sesuatu. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. daripada di kamar tidurku. Ia lebih dari itu. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. Seharusnya aku tahu. Kini setelah aku duduk.. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. keheningan serasa mencekam. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya.. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. dan bergegas beralih ke pilihan lain. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. sergahku dalam hati. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. Burung-burung membisu. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Inilah jawabanku sekarang. Sepertinya ada dua pilihan. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. tanpa melihatku. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. suara tetesan air semakin sering terdengar. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. Terlebih lagi.. jahat. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi.. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. dan kali benar-benar serius. Di sini. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. siapapun pasti menganggapku bergurau. Lagipula. kulit yang pucat dan dingin. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Amat sangat cepat.. Pikiranku menolak rasa sakit itu. berbahaya. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. barangkali.. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. Dan caranya kadang-kadang bicara. Pertama. menghindarinya sebisa mungkin. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. Tapi lalu apa? Batinku. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. membuatku gelisah. bagaimana mereka tak pernah tampak makan.ku sendiri. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. kecuali aku. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku.

kalau memang yakin. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. djAnGgo 116 . bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. Aku mengkhawatirkan-nya. bukannya karena Edward sendiri. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka.nyawa adalah tindakan spontan baginya. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. Satu hal yang aku yakin. seberapa jahatkah ia? tukasku marah.

atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. aman dan jelas. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. well. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. Aku seharusnya takut. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu.. Malam aku tidur tanpa mimpi. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Kubuka jendela. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. Tidak disini.. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. rumahnya memberi isyarat padaku. dan aku pun terbebas. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Aku bergegas mengikutinya. pertanda hari bakal cerah. Kamis sore sejujurnya. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. seandainya aku benar-benar tahu. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. Karena ketika aku memikirkan Edward. Charlie pulang membawa tangkapan besar. bagian yang paling membuatku menderita. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. daya tarik kepribadiannya. tapi aku tak bisa memikirkannya. Mudah sekaligus berbahaya. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal.. Meskipun. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Aku memang selalu seperti itu. matanya yang menyihir. aku tinggal menjalaninya. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. Aku sudah terlibat terlalu jauh. berhubung aku tidak kemana-mana. Tapi jalan kecil itu masih disana. padahal malamnya aku kurang tidur. Sebelum kelewat panik. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. aku terbangun melihat cahaya kuning terang.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. suaranya. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. produktif. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Sekarang setelah tahu. aku tahu aku mestinya merasa takut. Aku melompat ke jendela. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. seperti keputusanku datang ke Forks. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. pikirku. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. Tapi begitu keputusan diambil. Keduanya seharusnya berbeda. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar..

” aku menimpalinya sambil tersenyum. “Ya. dan menghirup udara yang kering. Ketika Charlie tersenyum. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Tapi ketika ia tersenyum. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. jika bukan teksturnya. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. “Hari yang bagus untuk berada di luar.” komentarnya. Ia balas tersenyum. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. mulus. warnanya sama dengan rambutku. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. telah menipis. Rambut cokelat ikalnya. djAnGgo 118 . dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya.deritan.

rambutmu ada semburat merahnya. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. “Gawat.” Aku tersadar. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. “Hei.. senyum merekah di bibirnya... Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh.” sahutku. tanganku memegang jas hujan. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Mike menghampiriku.” “Rabu?” sahutnya. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. Ia duduk di sebelahku. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. dikumpulkan Kamis. bukan?” “Hari yang kusuka. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. “Hari yang indah.. kita bisa pergi makan malam atau apa. dahinya berkerut. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. “Kupikir itu bukan ide bagus. kan?” “Mmm.” aku jengkel didesak seperti ini. “Mike. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. “Oh iya. Semua anak menggunakan T-shirt . memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked. tak perlulah menyombongkan diri. kedengarannya seperti Mike. rambut spike-nya bersinar keemasan.” Wajahnya kecewa. “Hanya di bawah sinar matahari. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku.” “Oh. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya.. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. senang bisa menggunakannya. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.” Ia tersenyum penuh harap.. “Seharian mengerjakan esai. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. “Baru sekarang kuperhatikan. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. dan sedang melambai ke arahku. Mike. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan.. PR-ku sudah selesai. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.” sapaku sambil balas melambai.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan. kurasa Rabu. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 . Dengan menuangkan banyak pelumas. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. “Kenapa?” ia bertanya. Ia sangat senang bertemu denganku. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab. hingga mau tak mau aku senang juga. kecewa. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. matanya siaga.” katanya. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya.

jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. “Jessica?” “Sungguh. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. kau ini buta ya?” “Oh.Edward.” ancamku.. Mike. Ia keheranan. “Kupikir. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain.” ia menarik napas.. djAnGgo 120 . Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. jelas bingung.

Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. menungguku. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. muram. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Aku tak bisa memutuskan. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. Ketika melintasi pintu kafetaria. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. pelatih tidak selesai menjelaskan. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Angela. lalu menetap di perut. tapi Laurent juga bakal ikut. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini.. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. tidak sama sekali. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. ia kelihatannya sangat antusias.. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. djAnGgo 121 . tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. dan sekarang aku mengatakan ya. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Angela juga mengajakku ikut malam ini. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Ia. dan memilih duduk di sebelah Angela. dan raut wajahnya gelisah. kubilang akan minta izin Charlie dulu. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku.“Waktunya masuk kelas. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. kelas Spanyol menahan kami. Bagian terbaiknya adalah. meskipun hatiku sedih. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. Jadi kubilang akan memikirkannya. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. bukannya terpeleset di lapangan. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. berharap menemukannya duduk sendirian.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. dan aku tak boleh terlambat lagi. melainkan juga semua keluarga Cullen. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan.

tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. Aku membumbui ikan untuk makan malam. djAnGgo 122 . jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Jessica menelepon membatalkan rencana kami. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam.

selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. Aku nggak ada di rumah. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. Kutarik rambutku ke atas. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. lengan bawah. yang semakin lama semakin sisis. Aku membawa beberapa buku ke Forks. tulang pipi. Dan aku harus membuat makalah. Maaf. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . aku tahu. aku juga terkejut. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. hampir mirip. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. mereasa jengkel. Aku pergi ke pantai dengan teman. Angin masih sepoi-sepoi. membalik-balik halaman novel itu. jadi kupilih Sense and Sensibility. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. dan rasanya agak geli. membaca tumpukan surat dari ibuku. Rupanya aku tertidur. lalu berguling hingga terlentang. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki.Kuperiksa e-mail-ku. Aku mengedarkan pandang. di atas rumput tebal yang selalu agak basah. bibir. Di luar. Aku langsung terbangun. Aku berbaring menelungkup. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. leher. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. djAnGgo 123 . jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. Bella. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. Mom. hidung. Aku sayang kau. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. ujarku kasar pada diri sendiri. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. menembus kausku yang tipis. duduk.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

kembali ke trotoar. di sana ada rambu stop. Aku berpikir untuk menyetopnya. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. Aku setengah berbalik dengan siaga. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku sampai di sudut. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Langkahku tetap stabil. tapi ragu. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. Jalanannya berakhir di sudut berikut. memutuskan akan lari atau tidak. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut.

Mereka menatapku sambil tersenyum puas. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. mobil ini akan berhenti. ia seolaholah memandang ke belakangku. “Jangan begitu. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. lampu jalan. “Kami hanya mengambil jalan pintas. Aku memasang kuda-kuda. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap.” terdengar suara gusar memerintahku. bersiap-siap berteriak. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. atau menabrakku.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. dan aku menghela napas lega. apalagi mereka berempat. dan lebih banyak lagi pejalan kaki.” suara keras menyahut dari belakangku. tak ada suara yang keluar. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. tapi mereka terlalu jauh. aku tidak sedang diikuti. Kepalan tangan siap kulayangkan. memaksanya melompat ke trotoar. menggenggamnya. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Aku membelok dengan helaan napas lega.” Langkahku sekarang pelan. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. “Jangan dekati aku. Manis. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. dan berjalan pelan ke jalan. “Masuk. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Tentu saja jurus standar. Teriakanku cukup keras dan lantang. Aku pun tersadar. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku berlari ke tengah jalan. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Menusukkan jari ke matanya. Aku melompat djAnGgo 133 . tendangan lutut ke daerah vitalnya. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. “Yeah. Dalam kegelapan yang menyelimuti. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. Lalu menghentikan langkah. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya.” seru cowok itu. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. mobil-mobil. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. Aku dijebak.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. kaki terbuka.

dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. “Pakai sabuk pengamanmu. Suasana di dalam mobil gelap. djAnGgo 134 . Aku langsung mematuhinya. melaju terlalu cepat. membanting pintu hingga tertutup.masuk. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor.” perintahnya. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. Tapi aku merasa sangat aman. Ia membelok tajam ke kiri. terus melesat cepat. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu.

“Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. well.” jawabku lembut. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. Wajahnya kaku. “Maaf. “Bella?” ujarnya. “Aku sudah dengar. “Kau baik-baik saja?” tanyaku.” Ia juga berbisik. menjelaskan rencanaku. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.. Kami duduk diam lagi. Aku tidak memerlukan musuh. “Aku seharusnya menemui mereka.” ia menjelaskan.” perintahnya. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. menunggu napasku kembali normal. suaranya tegang namun terkendali. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya. “Ya?” suaraku masih parau.” lanjutnya. Edward menghela napas. “Lebih baik?” “Tidak juga..Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. dia juga tidak bisa pergi ke prom.. matanya menyipit.” cerocosku. Ia menyandarkan kepala ke kursi. Aku duduk diam. Kami sudah meninggalkan kota. memandang ke luar jendela.. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. “Jessica dan Angela pasti khawatir. “Tolong alihkan perhatianku. “Apa yang terjadi?” bisikku. mobilnya masih ngebut.30. “Setidaknya. Diam-diam aku berusaha berdeham. Kalau tidak punya kendaraan. Aku memandang berkeliling.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 . kau pasti ingat.” Aku menunggu. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. Sudah lewat 18. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan.” gumamku.” Ia terdengar lebih tenang. tapi amarah tampak jelas di wajahnya. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. “Mmm. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang.” gumamku. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. akhirnya membuka mata. memalingkan wajah. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. nada suaranya marah.” katanya kasar. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti.” “Oh. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. terkejut mendengar betapa parau suaraku. Aku melihat jam di dasbor. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. menatap langit-langit mobil.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. “Ya. tapi sudut bibirnya menegang.” Kata itu sepertinya tidak cukup. “Tidak. berarti kedudukan kami seri... Bella. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri.

tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala.. berjalan waswas menjauhi kami. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. “Bagaimana kau tahu dimana. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya.” aku memulai.jalur boardwalk. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja. djAnGgo 136 .. tapi ia melakukannya dengan mudah. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil.

menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. “Kalau begitu. “Aku tersesat. lagi pula aku tidak lapar.” aku mengaku malu-malu. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Bella. Edward. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Mereka ragu. Restorannya tidak ramai. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Bella. “Mengajakmu makan malam. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi..” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. “Mmm. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. “Sampai besok. aku tidak lapar. “Pergilah. “Sejujurnya. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. Kulepaskan sabuk pengamanku. Aku hendak duduk. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. Ia menungguku di trotoar. hibur aku. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. kemudian bergegas keluar dari mobil. Mereka bergegas menghampiriku. tapi sorot matanya tetap tajam. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. Ia berbicara mendahuluiku...” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. Jess berbalik dan melambai.” aku berkeras. Aku balas melambai.” dengus Jessica. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. Aku tak yakin. mengamati wajahnya.” kataku sambil menunjuknya.. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. maaf. Aku mengedip padanya. Jelas sekali ia tak ingin didebat. Kami disambut seorang cewek. tentu saja. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Ketika akan masuk ke mobil. “Mmm. entah disengaja atau tidak. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. tapi Edward menggeleng.” “Eehh. tidak masalah. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . Ia lebih tinggi beberapa senti dariku. melambai ketika mereka menoleh. wajahnya penasaran. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. kurasa. “Oke. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya.” Jessica menggigit bibir. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka.” Angela mendahului Jessica. Ekspresinya tak bisa ditebak. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga.” katanya sedikit tersenyum. enggan mendekat. kami sudah makan ketika menunggumu tadi.” aku Angela. sebenarnya. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.” Suara Edward pelan. tapi bernada memerintah. Dari ekspresi mereka yang terkejut.. “Kurasa kau harus makan sesuatu. dan rambutnya dicat pirang. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya.” Aku mengangkat bahu. “Tidak apa-apa.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.. suaranya lembut dan menggoda.

“Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang. membuat cewek itu sesaat terpana.” aku mengkritiknya. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna. “pelayan kalian akan segera datang.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku.” djAnGgo 138 . “Tidak adil.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. ia menggeleng.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. matanya mengerjap. semua kursinya kosong. “Mmm”. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok. “Tentu.

” Ia memiringkan kepala.” kata Edward.” kataku setelah bisa bernapas lagi. masih haus. “Kau tidak merasa pusing. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. “Hai. Ia sedang memperhatikanku. wajahnya penuh harap. “Aku tidak pesan.” Pucuk dicinta ulam tiba.” jawabku.. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. sakit. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis.. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. Pelayan datang. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. membuatku gemetaran. “Terima kasih. Tentu saja. sorot matanya perasaran. “Dua. “Mmm. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. aku mau mushroom ravioli. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. lalu minum lagi lebih banyak. Kusesap sodanya dengan patuh. Edward memandangku. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 .” Senyum lebar mengembang di wajahnya. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Pandangannya terpaku di wajahku. kedinginan. “Well.” Ia tampak bingung. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. “Minum.” ia menyuruhku. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. terkejut karena kusungguhan hatinya.” kata Edward. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali. “Bella?” tanya Edward.. sebenarnya aku menunggumu syok.” gumamku.” aku berkata ragu.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku. ayolah.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya.” “Sama. Tapi Edward tidak memandangnya. Namaku Amber. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. “Aku mau Coke.” aku mengakuinya. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. “Oh.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat.

hanya Coke yang kuminum. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . kembali gemetaran. benar-benar memperhatikannya. “Oh. tapi sejak awal. Namun sekarang aku melihatnya. “Punya. bukan hanya malam ini. Edward menanggalkan jaketnya. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya.“Tidak. ketinggalan di mobil Jessica.” aku tersadar.” aku menjelaskan.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya.

Aku menghirupnya. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. Perkataanku membuatnya tidak nyaman. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. “Dan?” sambarnya.. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya.” lanjutku. Ia menatapku. Rasanya sejuk.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. Sweter itu amat pas di tubuhnya. Ia menatap ke dalam mataku.” katanya memperhatikan. Ia menaruh makanan itu di depanku. lebih terang daripada yang pernah kulihat.warna krem muda.” kataku lagi. dan langsung berbalik menghadap Edward. mengalihkan kerlingan mataku. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. aku tidak merasa syok. Aromanya menyenangkan.” “Tidak masalah.” aku mengakui. tadi kupikir matamu berubah kelam. alisnya yang berwarna pualam mengerut. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu.. tidak. Aku kembali gemetaran. “Teori lagi?” “Mm-hm.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. aku tidak mendapatkannya dari komik. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran. mencoba mengenali aroma itu.” protesku. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. sepertinya lumayan enak. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku. lalu menunduk.. namun tatapannya masih tegang. berusaha terlihat cuek. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. Ia menggeleng. sambil mengenakan jaketnya. Aku terkejut.” djAnGgo 141 . karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. suaranya terdengar waswas. tapi kau boleh membawakan soda lagi.” aku berhenti. “Kau seharusnya syok. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. dan aku melihat betapa matanya terang. “Aku punya teori tentang itu. “Terima kasih. terima kasih. Kalau. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. wajahnya cemberut. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. terkesima. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. Ia memberikan jaketnya kepadaku. “Tentu. Lengannya kelewat panjang. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. Tidak seperti aroma kolonye.” Ia tampak khawatir. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. cokelat keemasan. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. “Well.” Matanya menyipit. sambil menebak ekspresinya. seperti pada umumnya orang normal. “Tidak.” ujarku. “Aku merasa sangat aman denganmu. wajahku memerah tentu saja. “Aku akan menceritakannya di mobil.” ujarku. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. “Sungguh.” gumamnya pada diri sendiri..

ayo mulai. suaranya masih tegang. “Well. Aku menyesapnya. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. lalu pergi.” ia mendesakku. djAnGgo 142 .Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke.

bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. mengunyah sambil berpikir. kau tahu. seseorang. matanya hangat.. tapi aku berusaha terlihat kasual.” “Biasanya begitu. seseorang.” sahutnya menyetujui.” Ia kembali menggeleng. menandakan ia mengejekku. seseorang itu. Kau daya tarik terhadap masalah. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti. “Secara hipotetis?” tanyanya.” gumamku. “Aku salah. “Tentu saja. “Oke. “Ya sudah. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Ia tertawa. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. dengan beberapa pengecualian.” Ia menggeleng. kalau begitu. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya.. “Tak salah lagi. dan djAnGgo 143 .” “Baik kalau begitu. Meski menunduk. tanpa ekspresi. secara hipotesis tentu saja. Atau begitulah menurutku. memutar bola matanya.” Suaranya nyaris seperti bisikan.” aku mengusulkan. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. kau tahu itu. kalau. begitu juga aku. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis.” ia meralatku.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. kesal. “Kau tahu.. “Betul juga. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat. dan perlahan melanjutkan pertanyaan.Aku memulai dengan yang paling sederhana.” ujarku keberatan.” “Hanya satu pengecualian.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku.” Aku memandangnya marah. dengan satu pengecualian. membaca pikiran. kau lebih teliti daripada yang kukira. masalah itu selalu bisa menemukanmu. “Berikutnya.” “Sebut saja dia Joe. Jamurnya enak.. Aku menunduk.” Aku senang ia berusaha meladeniku.” aku mengingatkannya dengan nada dingin.. masih menunduk.” “Kupikir kau selalu benar. kau bisa mempercayaiku.” “Well. Kalau Joe memperhatikan. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. “secara hipotetis. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. Ia tersenyum ironis. mengatakan yang sejujurnya atau tidak. tapi ia langsung menariknya... “Katakan saja. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku.” ia mengulangi perkataannya... dan kurasa ia sedang membuat keputusan. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk.. Kami bertatapan. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. “Berikutnya.” “Tapi itu yang paling mudah. penggolongan itu tidak cukup luas. Sepertinya ia sedang bergidik. Raut wajahnye berubah dingin.

“Terima kasih. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. oke?” Aku cemberut.” Ketegangan di wajahnya mencair. djAnGgo 144 .” Suaraku benar-benar tulus.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Jangan ada yang ketiga kali. seperti batu. tapi mengangguk. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. Kulitnya dingin dan keras.

. dan aku menyadari tubuhku mematung.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat.” usulnya. wajahnya yang tampan berubah serius. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum. pada insiden van itu.” Ada secercah keraguan dalam suaranya.” akunya terburu-buru. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. aku bisa dengan mudah menemukannya. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. tapi anehnya aku toh khawatir juga. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya.. “Ya. “Kau ingat?” tanyanya. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu. suaranya sulit didengar. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. Aku menatapnya terpana. aku hanya menunggumu.” Aku terdiam sebentar. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. tapi ia menundukkan kepala.. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. mendengarkan. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. Ia menatapku. kembali menimbang-nimbang.” Ia melamun. Ia memandangi piringku yang masih penuh. aku bicara. Pandangannya tetap menerawang. ” Ia berhenti. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya.. Jadi. berkat dirimu. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. Kupaksa menelan makananku. Aku tahu kau tidak masuk kesana.” sahutku tenang.. salah satu alisnya terangkat. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. Aku tak punya alasan untuk khawatir. lalu menatapku lagi. tapi sebaliknya aku malah senang. Lalu. mengalihkan kecurigaanku. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya... “Ya. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. Biasanya. seperti kataku. Dan lalu. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku.. “Lalu apa?” bisikku.” Ia berhenti. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. sambil masih. “Kau makan.” Ia menatapku waswas. djAnGgo 145 . lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya.. dan kau pergi ke arah selatan. dan aku tahu toh kau harus kembali. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana.” katanya. Matahari akhirnya terbenam. “Aku mulai bermobil berputar-putar. “Itu bukan yang pertama. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. matanya yang menyipit menatapku. disinilah aku duduk. tatapannya menembusku..

pikiranku campur aduk. satu siku bertengger di meja. dan membiarkan mereka. Akhirnya ia mendongak. sekali. djAnGgo 146 .“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. Tanganku terlipat di pangkuan. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya.” geramnya.. bagai patung batu. “Sulit. tangan menutupi mata. matanya mencari-cari mataku.” Suaranya tidak jelas. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. tertutup lengannya. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. Tangannya masih menutupi wajah. kepalaku pening. dan aku bersadar lemah di kursi. Aku duduk diam.. tetap hidup. dan ia masih tak bergerak. aku akan pergi mencari mereka.” ia mengakui dalam bisikan. hanya pergi menyelamatkanmu.. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. penuh dengan pertanyaannya sendiri. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.

” katanya. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. berputar menuju jalan tol. “Semoga malammu menyenangkan. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.” Edward tersenyum. Edward sepertinya mendengar. “Simpan saja kembaliannya. tapi nyatanya belum. agak serak. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. “T-tentu. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. masih mengagumi keanggunannya. dan ia menunduk penasaran. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. Aku ikut berdiri dengan susah payah. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward.” ujar pelayan itu terbata-bata. “Sekarang. Edward mendongak. menunggu.” Suaranya tenang.” giliranmu. Aku menyembunyikan senyumku. Aku menghela napas.” aku mengiyakan. lalu bangkit. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. Aku memperhatikannya memutar ke depan. Udara dingin sekali. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya.“Ya. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. masih tegang oleh obrolan tadi. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. lalu menutupnya dengan lembut. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. “Ini dia. Aku memandang trotoar. Atau memperhatikan. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. sepertinya tanpa melirik. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. terima kasih. “Kami mau bayar.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. djAnGgo 147 . Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Aku belum siap berpisah dengannya. aku siap. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat.

“ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.” gumamnya.9. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja. menanti jawaban. Hanya suara senandung. hanya aku yang bisa. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. “Well . Setelah aku terfokus pada satu suara. “Itu lebih dari satu pertanyaan. Ia memandangku tidak setuju padaku. dan aku pergi ke selatan. Aku belum siap membiarkannya selesai. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. “Satu saja. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja.” Ia tersenyum jail. di mana saja. Ia nyaris tersenyum. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya. “Aku tidak tahu.” gerutuku... suara-suara dengungan di latar belakang. semua bicara serentak. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. “Baiklah kalau begitu. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi.. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas.. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”.” protesnya. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. djAnGgo 148 .” Ia berpaling. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu. sorot matanya misterius. tak lebih dari beberapa mil. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi.” Aku merasa konyol.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. dahinya berkerut ketika mengatakannya. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. “Satu-satunya dugaanku.. “Tidak. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. Tapi tetap saja. Aku mengikuti aroma tubuhmu. sengaja.” katanya menyetujui. dan itu bisa sangat mengganggu. Ia menatapku.” Ia memandang jalan. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. Ia menghela napas..” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang.

sekarang giliranmu. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.” ia tertawa.. barangkali karena memang benar. Bagaimana memulainya.tiba-tiba tertawa. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku. “Jangan khawatir.. itu cuma teori. “Yang mengingatkan aku.” Wajahnya menegang. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya. djAnGgo 149 .” Aku menghela napas.

” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung.” Aku menggigit bibir.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan. kemudian tertawa sebentar.. di pantai. Aku menatap panik ke luar jendela. Ia menunduk memandangku.” Suaranya tenang. ” aku mengubah ceritaku. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. “Kami jalan-jalan. “Tapi kau tidak. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang.” aku melanjutkan. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa.” Ia menunggu. “Katakan saja. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku.” “Sangat lucu.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya. barangkali kau masih bisa selamat. buku? Film?” Ia mencoba menebak. aku bahkan belum pernah ditilang.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. masih tidak memperlambat kecepatannya. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. tersenyum lebar padaku. “Radar pendeteksi alami.” tukasku marah. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku.” akuku.” Aku mengamatinya dengan hati-hati.” Ia menghela napas. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. “Charlie polisi. semuanya berawal hari Sabtu.” ia menyetujui gurauanku. Bella. “Kenapa kau tiak mulai dari awal. “Kita tidak akan tabrakan. Lagipula. ya.” “Tidak. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. “.” “Apa yang memicunya.” Ia berbalik. kau tidak lupa. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini. “Aku bertemu teman lama keluargaku.” janjinya.. “Puas?” “Hampir. Ia tampak bingung.” Ia memutar bola matanya.” “Barangkali. Ekspresinya masih sama. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. mencoba berpikir.” Aku mencoba mengubah intonasiku. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. “Gila!” seruku. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. “Tidak. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. “Aku tidak bakal tertawa. tidak seperti rencana semula.” gumamnya.” tukasnya. Aku menunduk memandang tanganku. “Tenang.” Ia masih tampak bingung. Jacob Black. Bella. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil.

kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. Dia menceritakan salah satunya.” katanya. djAnGgo 151 .” aku berhenti. ragu-ragu. “Lanjutkan...beberapa legeda tua.

” Saat mengingatnya lagi. “Tidak. terus menatap jalan. dan aku terkejut dibuatnya. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. “Tidak. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. Dia.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. Kebanyakan konyol.” aku mengakuinya.” bisikku. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. aku harus mengaku. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan.” “Tidak. Wajahnya pucat dan kaku. Ia tertawa.” Ia tergelak. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. Jacob Black yang malang.. “Bukan itu maksudku. menatap lurus ke depan. “Kau marah.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. djAnGgo 152 . “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. “Aku mencoba merayunya.” aku berhenti. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini. Ia tertawa. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. “Aku mencari keterangan di Internet. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. suaraku memancarkan keraguan.” Ia tidak mengatakan apa-apa. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.. “Itu salahku.“Tentang vampir. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan. “Tidak.” katanya. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.” Aku sadar suaraku berbisik.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau..” Ia terdiam. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. “Jadi aku salah lagi?” tantangku.” aku buru-buru berkata. aku yang memaksanya bercerita padaku.” kataku lembut. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol. menyebut keluargamu. dia mencoba memprovokasiku. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. Tapi aku melihat genggamannya menguat. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. “Aku benar?” tanyaku menahan napas. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob.. Aku menatapnya. tapi suaranya setegang wajahnya. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. Kemudian. mencengkram roda kemudi. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. kembali memandang lurus ke depan.” keluhku. “Kalau saja aku melihatnya. Tidak ada yang cocok. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita. tapi sorot matanya sengit. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting.

“Tapi aku memang penasaran.“Tidak juga.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.” Aku diam sebentar. Tiba-tiba ia menyerah. “Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 .

untuk berjaga-jaga. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. tatapannya dingin. “Well. contohnya. Aku menatapnya sampai ia berpaling. “itu. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. “Dia bilang kau tidak. Aku tersenyum lebar.” Ia menatap ke depan.” ia mengingatkanku.” “Terbakar matahari?” “Mitos.. “Cukup lama. itu. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. “Jadi.” Suaranya muram. suaranya nyaris tak terdengar.” ia menjelaskan perlahan.” “Ya. seperti yang dilakukannya sebelumnya. “Mitos. “Jangan tertawa.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku. menghiburnya. “Aku tidak bisa tidur. Aku menganggapnya sebagai pembenaran.” akhirnya ia mengaku. Aku berkedip. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami.” katanya. ketika ia khawatir aku syok. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin. “Oke. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis.” bisiknya.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting.” Ia ragu sesaat. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” Aku tersenyum. Aku. memburu manusia.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. lalu nada suaranya berubah aneh. “Oh. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan.” ia langsung menjawab.. “Tapi jangan senang dulu. dan ia cemberut. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. membiarkan diriku berduaan denganmu. Kami masih berbahaya.” “Kami berusaha.” Suaranya tegang sekarang. dan ketika menatapku lagi. “Kesalahan yang sangat berbahaya.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. masih terkesima.” gumamku.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga.” “Aku tidak mengerti. dan aku tak mampu berkata-kata.” gumamnya. Kami sama-sama terdiam. “Tidak juga. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa. “Sama sekali?” “Tidak pernah.

hingga tidak tampak nyata. dan aku tersentak dibuatnya. Kata-katanya mencerminkan nada final. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. tanpa dinding diantara kami. secara terbuka.jalan. djAnGgo 155 . seperti jalanan hitam di bawah kami. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. seperti dalam video game. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat.

lalu sepertinya teringat sesuatu. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. setidaknya. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. lelucon diantara kami sendiri.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. “Kurasa.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. Hampir sepanjang waktu. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu. dan sepertinya membuatku lemah. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. kami kembali hari Minggu. menyatakan. Aku memperhatikan bahwa orangorang. Matanya tak pernah luput dari apapun. “Sudah kuduga. bukan bertanya. suaraku masih memancarkan keputusasaan.” keluhku.” kataku yakin.“Ceritakan lagi. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. lebih pemarah ketika mereka lapar.” kataku.. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian.” Ia berhenti sesaat.” Suaranya berubah licik.” Tatapannya lembut tapi dalam. “Aku tidak ingin menjadi monster. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. tidak benar-benar tanpa tergores. “Ya. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. “Aku tidak yakin tentu saja. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. tak peduli apa yang dipikirkannya. “Aku terjatuh. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. dan memang tidak. berusaha mematrinya dalam ingatan. Dan setelah apa yang terjadi malam ini.” ia djAnGgo 156 . hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi.” “Tapi kau tidak sedang lapar. mengingat siapa dirimu. berada jauh darimu. Aku memandang telapak tanganku. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. kejadiannya bisa lebih buruk lagi.” Bibirnya tersenyum. kami menyebut diri kami vegetarian. terkejut karena perubahan nada suaraku. ya kan?” Aku tidak menjawab. atau dahaga tepatnya. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. khususnya cowok..” Suaranya sangat pelan. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia. “Kau ini memang pengamat.” “Apa?” “Tanganmu. “Ya.” pintaku putus asa. Sudah kubilang aku punya teori. “Well. Ia menghela napas. Ia menatapku. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. khawatir.” Ia menggeleng... hanya mendengarkan suara tawanya. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak. Aku menyadari mataku basah. “Aku tidak ingin pergi. Tiga hari yang amat panjang. “Well.” Ia tersenyum menyesal.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. tapi ini penting. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu.” Ia tergelak.” ia mengingatkanku. Aku benar-benar membuat Emmett kesal.

berjanji. mengalihkan pandanganku.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. djAnGgo 157 . “Tapi aku tahu kau baik-baik saja. Ia bingung. “Kau kan bisa meneleponku. “ aku ragu-ragu. Aku memikirkannya beberapa saat. Aku.” kataku. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku.

“Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. djAnGgo 158 . “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. Aku melirik. melewati perbatasan Forks. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku.” kataku. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu. Aku memandang jalan. “Tidak. “Jangan pernah mengatakan itu. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. Bella. “Ah. Aku tidak sadar air mataku telah menetes.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan. suaranya masih muram. “Katakan. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi. ragu-ragu ingin meraihku. Aku berbahaya. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. tapi suaraku parau.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. tak yakin apakah aku sanggup bicara. Ini tidak aman. kau tidak terlihat setakut itu. Itu juga membuatku waswas. “Aku serius. Ia mengemudi terlalu cepat. waswas. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” Suaranya pelan namun tegas. Sudah kubilang. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. Pasti kami sudah dekat sekarang. pelan dan parau. kau tahu kan. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya.” geramnya.” erangnya pelan. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari.” “Tidak. Kegelapan menyusup diantara keheningan. ilmu bela diri. Kurasakan tatapannya di wajahku.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. “Ini salah. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. Lalu mobil memelan. “Kau benar. itu masalah lain lagi. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. Bergegas aku menyekanya. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. “Ini salah.” Suaranya menghardik. Ia terdiam.” Aku tak bisa memahami reaksinya. Aku hanya menggeleng. tapi aku tetap memandang lurus ke muka. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. Kata-katanya melukaiku.” Kugigit bibirku.” ia bertanya setelah beberapa menit. mengertilah. tidak penting kau itu apa. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. kumohon. “Maafkan aku.” Aku menghela napas.” aku mengakuinya. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. “Begitu juga aku. Sudah terlambat.” Ia menggeleng.” Suaranya sarat penyesalan. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku.

Edward menghentikan mobilnya. semuanya sangat wajar. setelah semua yang kami lalui malam ini.” djAnGgo 159 . dan aku tak mampu bicara.“Ya. “Aku akan menunggumu saat makan siang. trukku ada di tempatnya. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas.” Konyol. Kami di depan rumah Charlie. ada tugas yang harus dikumpulkan.” Ia tersenyum. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. Lampu-lampunya menyala. tapi aku tidak beranjak.

biarkan dia sampai rumah dulu.” kataku. tapi lega.” “Oh.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. Jantungku berhenti berdetak.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. “Kau boleh menyimpannya. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. Ini. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya.” Ia terdengar waswas. sangat menyenangkan. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. “Mereka membeli gaun.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. “Sekarang bahkan belum jam delapan. terkejut. Aku cukup banyak berjalan tadi.” “Well. benarbenar terpesona. Kukembalikan jaket itu padanya.” “Oh ya?” aku terkejut. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. tapi ragu. Napasnya menyapu wajahku. Aku ragu-ragu. janji yang mudah dipenuhi.” Dengan engggan kubuka pintunya. terlalu antusias. setidaknya.” ia mengingatkanku. namun lebih kental.” “Benar.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.” desahnya. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. Aku membayangkan bagaimana rupaku. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Ya?” aku berbalik padanya. Anggap saja begitu. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. tanganku pada pegangan pintu. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. Mataku mengerjap.” Ia tersenyum. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. mencoba mengulur-ulur waktu. Ia sedang menonton pertandingan baseball. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. ini aku. membuatku terpana. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. “Tidur nyenyak ya. “Kau pulang cepat. barangkali kau harus berbaring.” katanya. djAnGgo 160 . Aku meraih kunciku tanpa berpikir. “Baik kalau begitu. “Bella?” “Ya. Dad. lalu mengangguk. serius. Charlie memanggilku dari ruang tamu. “Ya. membuka pintu. dan masuk ke dalam. Kutanggalkan jaketnya. Aku menyadari udara sangat dingin. Lalu ia menjauh. terus menembus jendela.” Aku menatapnya bingung.” ia memberitahuku.” “Sampai ketemu besok.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. “Aku akan menelepon Jessica dulu. “Kenapa?” Dahinya mengerut. benar. “Terserah apa katamu.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. Lalu aku melangkah canggung keluar. Kupikir aku mendengarnya tertawa. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan.” “Well.” aku menyetujuinya.

menjatuhkan diri di kursi. djAnGgo 161 . Aku mengangkatnya. kelelahan. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Pegangan. “Halo?” desahku. mengagetkanku.Aku pergi ke dapur. perintahku. Tiba-tiba telepon berbunyi. Sekarang aku benar-benar merasa pusing.

Pertama. dan beberapa yang kucoba enyahkan. dan terkejut. tanpa syarat. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. sampai air hangatnya menyembur lagi. tapi semakin aku nyaris tertidur. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Jaketku tertinggal di mobilmu.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega.” Aku menaiki tangga perlahan. Edward adalah vampir. Awalnya tak ada yang jelas.” “Okr. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. kalau begitu kita ngobrol besok. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. besok saja. menyengat kulitku. selamanya. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. “Bye. benar-benar nyaris pingsan.“Bella?” “Hei. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. aku jatuh cinta padanya. Kedua. benar. ada sebagian dirinya.. “Mmm. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. “Oh. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. Jess. “Ya. di kelas Trigono. Aku melangkah sempoyongan. airnya terlalu panas. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. ayahmu ada disana ya?” “Ya. yang haus akan darahku.. oke?” Ia langsung mengerti. membalut diriku dengan handuk. Beberapa kali aku sempat gemetaran. aku baru saja mau meneleponmu. Dan ketiga. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. terlalu lelah untuk bergerak. djAnGgo 162 . Baru ketika aku berada di kamar mandi. Jess. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. meringkuk. aku tersadar diriku kedinginan. Lalu aku berdiri di bawah pancuran.

djAnGgo 163 .

Ketika aku tiba di lantai dasar.” Ia kelihatan bergurau.” kataku. Ini membuat lidahku kelu. Semalam semua penghalang itu lenyap. dan lebih cepat dari seharusnya. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. terasa canggung. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang.. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. Charlie sudah pergi lagi. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut.” Suaranya hatihati. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. ataupun akal sehat. Jantungku berdetak cepat. Ia menutup pintu. “Aku membawakan jaket untukmu.10. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. mobil berwarna silver. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. lalu bergegas meninggalkan rumah. tapi aku tak yakin. membukakan pintu bagiku. Aku tak melihat dari mana datangnya. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. Logika tak berpihak padaku. Ada keraguan dalam suaranya. aku terlambat lebih dari yang kukira. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . teringat aku tidak memiliki jaket. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. hampir semuanya. Harapan yang sia-sia. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. seperti aroma tubuhnya. dan sebagian dirinya berharap begitu. Interograsi Keesokan paginya. Aku tak ingin kau sakit atau apa. Ia berbalik dan nyengir.” kataku. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. Aku cemberut. selalu terlalu cepat. Aku menunggunya memulai. benar-benar sempurna. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku.. Ternyata lebih baik. terima kasih. Setidaknya aku merasa begitu. udara nyaris tertutup kabut. berhenti. Kabut sangat tebal. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. tapi tiba-tiba ia sudah disana. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. aku bebas menolak. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. “Tidak seperti reaksimu. ia sudah duduk di sebelahku. Ia benar-benar memberiku pilihan. menyalakan mobil. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. “Aku tak selemah itu. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. “Ya. lega. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. Aku menelan tiga gigitan granola. Seperti biasa. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. berusaha tetap tenang. kau tahu.

” tuduhnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali. tidak wajar.” djAnGgo 165 . Itu membuatku bertanyatanya. itu masalahnya. “Tidak terlalu banyak.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.“Tidak.” “Kau mengeditnya. apa yang sebenarnya kau pikirkan.

Jessica menungguku. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.” “Kau tidak ingin mendengarnya. “Apa yang ingin djAnGgo 166 .” ia mengakuinya. ingin menggapai dan menyentuhnya. tapi khawatir ia tidak menyukainya. Atau daya sihir tatapannya. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku..” aku memohon padanya. syukurlah.” katanya.” gumamku pelan. hai. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. sampai ketemu nanti. “Jadi. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. Aku tidak terlambat. terkejut. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. “Hei. Jessica. nyaris berbisik.” desahku. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya.“Cukup untuk membuatku gila. kelewat mencolok. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. dan aku mencoba tidak mengerang. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. Bukan sepenuhnya salah Edward. “Hei. “Jadi. bahwa suaranya begitu menggoda. “Bagaimanapun. aku langsung menyesalinya.” “Sudah kuduga.” “Kalian tidak berhasil. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit.” Ia menghampiriku di depan mobil. lalu menyampirkannya di lengan. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. matanya nyaris keluar dari rongganya. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. Kami berusaha membaur. “Kalau Rosalie memilikinya. Ia tidak bereaksi. “Selamat pagi. Aku terlambat menyadari sesuatu. Ia melipatnya. “Kelewat mencolok.” Ia menatapku penuh makna.” gumamku pelan. “Err.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. aku bisa membaca pikirannya. kemudian mengenakan jaketku sendiri. wow.” sapa Edward sopan. “Aku tak bisa. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. Lalu ia tampak mengerti.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. “Mereka naik mobil Rosalie. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami. Jessica. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar.” kataku ketika kami sudah dekat.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. Begitu katakataku terucap. “Kami semua suka ngebut. kan?” “Mmm. “Terima kasih sudah ingat membawanya. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. dengan senyum jail. Aku ingin mempersempit jarak itu.” Ia berlalu.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai..

” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. tersenyum nakal. barangkali menatap kami. “Itu tidak adil.” “Tidak.” akhirnya ia mengatakannya. itu baru tidak adil. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. “Iihh.diketahuinya?” Ia menggeleng. Orang-orang melewati kami menuju kelas. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. djAnGgo 167 .

Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. well. matanya bersinarsinar.” jawabku sekenanya. aku sangat terkejut melihatnya disana.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku.” aku menjelaskan. wajahku merah padam dan malu. Bibirnya mencibir. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam.“Hmmm. Bella. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya. sinis. “Tidak. “Hebat. karena menurut dia. nyaris melompat-lompat di bangkunya.. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. “Selamat pagi.” Ia memandang marah padaku.” Mr. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting.. karena kesal kubanting tasku.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Aku duduk di bangkuku yang biasa. Jantungku memburu... Ketika aku memasuki kelas Trigono. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.. itu juga kejutan. kecewa mendengar kejujuranku. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. Mason mengabsen kami. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. Mengerikan. lalu mengantarku pulang. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin. “Jadi. Tentu saja Edward benar. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. “Sudah pasti. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. Ia sudah berbalik dan berlalu.” “Aku tak keberatan. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. Jessica sudah duduk di deret belakang. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. penasaran. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. menyuruh kami mengumpulkan tugas. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. “Ya.” ujarnya seraya menoleh ke belakang. yang duduk di sebelahku. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. wajahnya tegang. “Apakah itu semacam kencan.” aku meyakinkannya.. kalau kau tidak keberatan. Aku bergegas memasuki kelas. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. djAnGgo 168 .” kataku pelan. “Sampai ketemu saat makan siang. Dasar curang. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis.” Kuharap Edward mendengarnya.” sapa Mike.

” Ia mengangguk.trukku tidak bakal sanggup. kalau begitu.” “Aku tahu. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili. djAnGgo 169 .” “W-o-w. “Well.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata.” aku setuju dengannya. ya. “Edward Cullen. apakah itu masuk hitungan?” “Ya.

sangat sedikit..” kataku membelanya. Bella.. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu. mengintimidasi. Tapi aku tak djAnGgo 170 . “Entahlah.” kataku kasar. kau benar-benar menyukainya?” desaknya.” Vampir yang ingin menjadi baik. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess.. Kurasa dia menyingungnya sekilas. “Oh well. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. banyak. “Aku sangat meragukannya. “Seberapa suka?” “Terlalu suka.” Jessica mengangguk. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. “Ceritakan detailnya. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya. baiklah. kataku lagi. “Jadi. telapak tangannya menghadapku. Jess. “Ya. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat. tapi Mr. “Dia begitu. wajahku merona.” “Kurasa. Dia pasti menyukaimu.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. tapi ia tidak memahami reaksiku.” “Well. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. “Lebih daripada ia menyukaiku. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum.. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya. Aku mengabaikannya. seperti sedang menghentikan laju mobil. terangterangan sekali. seraya menghela napas. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya..” aku balas berbisik.” Sangat. Aku yakin diriku juga. sedikit. “Bukan begitu. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. Kelas sudah dimulai. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan.” ia merajuk.” gumamku.“Tunggu!” Tangannya terangkat.” “Lebih baik lagi. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. “Itu pertanda baik. “Ayolah. Dia memang luar biasa tampan..” aku mengakui. Aku menatap ke depan kelas..” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward. tapi sulit mengetahuinya.. “Menurutmu hari Sabtu.” Dia kelihatan kecewa. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. berbisik meminta informasi lebih lanjut. Vanner. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris.?” Alisnya terangkat. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah.. akan kuceritakan satu. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya.” desahnya.” aku balas berbisik. “Maksudku.” Wajahnya berubah. “Ya. Sikapnya selalu misterius. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam. dan barangkali umurnya 19 atau 20.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku. “Kenapa?” aku terkejut. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata..

aku langsung menyelamatkan diri. untungnya. dan begitu bel berbunyi. Mr. wajahku terus merona. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan.” aku memberitahunya.tahu bagaimana mengatasinya. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. Kemudian.” Aku mendesah. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas. djAnGgo 171 . perhatiannya benar-benar teralih. “Di kelas Inggris.

Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.” Ia tertawa. “Hai. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. Bel istirahat siang berbunyi. “Kurasa aku tidak terkejut. kau bisa melakukannya. “Tentu saja separuhnya untukku. Ia memandangku geram. kan?” Ia menggeleng. masih diam. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. semua otang memandangiku. ketika ditantang. meski beberapa detik sekali ia memadangku. maju untuk membayar makanannya.” Ia meringis. “Aku penasaran. “Aku pernah melakukannya. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. Ia tadi mendengarkan.“Kubilang kau sangat menikmatinya. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.” aku mengakuinya. dia akan memaparkannya padamu nanti.. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. “Halo. Ketika aku melompat dari bangku. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. dan menelannya. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. Ia membimbingku menuju antrean. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. dan ia tidak bicara. Edward sedang menungguku. menggeleng-gelengkan kepala. terkagum-kagum. Jessica melihatnya. memutar bola mata. Edward seperti tidak menyadarinya. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. cepat-cepat mengunyah.. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. Bella.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. dia kelihatan senang. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami. “Kurasa tidak. “Tidak terlalu buruk. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. juga jawabanmu.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 .” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. tampak sangat mirip dewa Yunani.” Alisku terangkat. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku. ya kan?” tanyanya meremehkan. “Ambil apa saja yang kau mau.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. kurasa ia mengulurulur waktu.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. Aku mengerutkan hidung. sementara kami duduk berhadapan. Sudah pasti. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas. ekspresinya berubah-ubah.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya. kan?” tebaknya. “Sampai nanti. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. lalu pergi.

membuatnya menyebalkan lagi. Aku memikirkan banyak hal. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara. Suaranya parau. itu menggangguku. gelisah... djAnGgo 173 . “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak. ya?” tanyanya santai. well. “Jadi pelayannya cantik.” Ia menolak dialihkan perhatiannya.” “Cewek malang. ia melirik dari balik bulu matanya.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus.

dan mengacungkan satu jari. Kujatuhkan tanganku ke meja.” “Ya.” bisikku.” Aku berhenti. kau akan menjawab.” aku mengingatkannya. “Meski begitu. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. “Apa?” “Membuatku terpesona. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar. kau tidak sepenuhnya benar. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. kau tidak memikirkan beberapa hal. “Itu sama saja. “Kau tak bisa mengetahuinya.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. “Well. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. tapi suaranya masih parau. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan.. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia.” ia menyetujuinya.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. dan aku ingin sekali mempercayainya. Aku menggeleng ragu.. “Biarkan aku berpikir. ketika akhirnya aku bicara.. Aku memandangi tanganku. dan mencari cara untuk menjelaskan. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. Aku balas menatapnya. Gelisah karena sikap diamku..” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut. berusaha berpikir jernih. kadang-kadang. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang. Ketegangan di wajahnya mencair. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. tangan kananku memegangi leher. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. suaranya sangat lembut. Akhirnya ia bicara. “Oh.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang.” bantahku sambil berbisik.” Dahinya berkerut. terutama bila menegangkan. Kuangkat tanganku dari leher. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. ia mulai kesal. terlepas dari kenyataannya. “Ya.” aku mendesah. “Kau salah. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.” Aku tetap menunduk memandang meja.” aku mengakuinya.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. “Bukan salahmu. semuanya. mengaitkan jemari lalu menguraikannya. “Kau tak bisa mencegahnya. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. Aku hanya berharap. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. mataku menelusuri kayunya. sementara tubuhku condong ke depan. Keheningan terus berlanjut. lalu mengatupkan keduanya. aku benar-benar berpendapat begitu. atau ya. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu.” Wajahku merengut. “Ya. Matanya membelalak terkejut.” aku berkeras.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya.” “Memang. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. “Kau melakukannya lagi. “Aku tidak yakin. semakin mendekat saat bicara. djAnGgo 174 .

well.” bisiknya. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well.” kataku. “Tapi justru itulah kenapa kau salah.” ia mulai menjelaskan. djAnGgo 175 . dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. lihat aku.“Peka. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. membenarkan ketakutanku. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu. tapi kemudian matanya menyipit. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan.

Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki.. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga.” aku setuju. “Tanyakan saja. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar.” Raut wajahnya masih kasual. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. ia menggeleng. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle.” Ia terdengar sangat yakin.” aku mengingatkannya. “Sudah sepantasnya.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini. karena seandainya aku bisa melakukannya”. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. “Percayalah sekali ini saja. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan. mencoba melawan pendapat itu. ia pun menyela. “Belum. “Belum.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. “Aku tak percaya. “Itu semua salahmu. Aku bisa saja mendebatnya. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku. apakah kau akan menolak?” tanyanya.Alisnya mengerut marah sesaat. “Tapi kau tak pernah bilang padaku.” tukasku. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku.” Ia bingung. tapi kupikir kau bakal mengerti. terperanjat. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini.” Aku menatapnya marah. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. supaya kau tetap aman.. Akulah yang paling peduli. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan.. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya.” ia menambahkan. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka.” aku bergumam pada diriku sendiri.” kataku jujur.” aku mengingatkannya. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. Kalau perlu. masih tertawa sendiri. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal.” “Itu bukan masalah. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu.” ia tergelak. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. “Kau tahu. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini.” Tahu aku akan memprotes. “Kalau aku mengajakmu. djAnGgo 176 . kau bukan manusia biasa. “Mungkin tidak. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. “Aku punya pertanyaan lain untukmu.” Mataku mengerjap.” “Oh.” ia tergelak ironis.

” Ia tampak waswas.” kataku. Kalau ia bertanya lagi. dan waktu itu. aku tak peduli dengan yang lainnya. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. “Aku terbuka untuk tawaran lain. memang ya. “Tapi aku punya satu permintaan. “Kenapa?” “Well . seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle.

” Ia tersenyum. Untuk ukuran. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. itu bukan tempat yang baik untuk hiking. “ “Tapi nyatanya.. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. “Lagipula.. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. dan memalingkan wajah. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. aku tak keberatan berdua saja denganmu. Yang lain memandangi Edward. aku bertemu pandang dengan adiknya.” “Aku tahu. banyak beruang. “Ya.” ia menyelaku.” Aku yakin soal itu. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu. Aku memandang sekelilingku. Tapi setelah berpikir sesaat. yang sedang menatapku... Juga karena cara menyetirmu membuatku takut.” Aku jengkel. sekarang bukan musim berburu beruang. “Dengan Charlie.” usulku. kau harus memberitahu Charlie.” desahnya. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. “Kita bicara yang lain saja. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. jadi aku akan menghilang untuk sementara. untuk berburu? Charlie bilang. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix. lalu terdiam. lagipula dia benar.” aku menambahkan dengan tegas. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward.” Ia menghela napas marah. “aku akan mengambil resiko itu. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu. itu baru jumlah populasinya.” ia memberitahuku. lebih baik kau berada di dekatku.. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. untuk menyembunyikan keterkejutanku. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . “Kau tahu. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu.” Ia memutar bola matanya. merenung. Aku tak bisa membantah. “Meski begitu. “Kalau kau membaca dengan teliti.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras.” Aku menelan ludah. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Alice. aku menjadi yakin. Jadi. berbohong selalu lebih baik. Ia masih kesal. “Tapi kalau kau tidak ingin. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya.akan berbohong.” Ia menggeleng-geleng tak percaya.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. memastikan tak seorangpun mendengarkan.” Matanya kembali menyala-nyala. “Karena itu sudah terjadi. kau malah takut dengan caraku mengemudi. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. baik tatapan maupun maksudnya.. berduaan denganku.

Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke. sambil mencari sodaku lagi. namun matanya mengamati reaksiku. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. djAnGgo 179 .” Suaranya masih tenang.” “Ah.” kataku setelah sesaat. “Jadi. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. tanpa memandang ke arahnya. “Beruang?” ulangku terbata-bata.” kataku sopan. “Hmmm. akhirnya menatap matanya yang gelisah.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. “Singa gunung.memahami ucapannya. berpura-pura tidak tertarik. Aku mencoba mengendalikan diri.

Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. kafetaria hampir kosong. benar. “Lebih seperti singa. menggelengkan kepala. ia benar.” aku mengakuinya.“Tentu saja. “Kalau memang itu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi. Aku takkan lupa. atau begitulah kata mereka. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan. Ia tertawa terbahak-bahak. “Ya. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.” “Lalu kenapa?” desakku. tertegun. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. nanti. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. ngeri.” Aku memandang berkeliling.” Aku mengangguk menyetujuinya. aku akan mengajakmu keluar malam ini.” aku mengulanginya. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami.” Aku berusaha tersenyum. djAnGgo 180 . Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. dan.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. nada suaranya dingin. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. mereka baru saja selesai hibernasi. nada suaranya menyamai nada suaraku. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri. jadi lebih pemarah. “Nanti. “Barangkali. dan matanya tibatiba berkilat marah.” “Aku mencoba membayangkannya. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. Aku melompat. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Saat aku bersamanya. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett. tapi tidak bisa. dan itu sebenarnya cukup. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.” akhirnya ia berkata. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. mencoba mengabaikan kemarahannya.” timpalku. kami punya senjata. meskipun tak pernah mengaku padanya. Aku menatapnya. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. ke arah Emmett. meraih tasku dari sandaran kursi.” katanya enteng. Aku melirik ke seberang kafetaria. “Kita bakal terlambat. Ia juga menyandarkan tubuh. bersedekap. “Kalau begitu.” katanya. takut melihat reaksinya.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku.” katanya.

djAnGgo 181 .

Mr. tapi aku tidak merasa nyeri. matanya melirikku juga. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. sekali saja dalam gelap. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. tangannya mengepal di balik lengan. ketika ruangan sudah gelap. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. “Hmmm. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Lengan kami nyaris bersentuhan. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Edward tertawa geli di sebelahku. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Banner sudah masuk kelas. jemariku mengepal. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. Hari menonton film. Sebagai gantinya. Pembukaan film dimulai.” gumamnya. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal.11. seperti terbakar. Otomatis aku melirik ke arahnya. sambil bangkit dengn lincah. nyaris membuatku sinting. Sia-sia aku berusaha tenang. Kulitnya dingin seperti biasa.” hanya itu yang bisa kukatakan. “Yuk?” ajaknya. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. ragu-ragu. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. Aku berjalan memasuki gymnasium. matanya sarat pergumulan. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. lalu berhenti di ambang pintu. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. nyaris terluka. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Kurenggangkan dekapan lenganku. Mr. membelai wajahnya yang sempurna. ia duduk cukup dekat. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Aku mendesah lega ketika Mr. Kemudian. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. Wajahnya membuatku bingung. “Well. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. Aku berdiri hati-hati. sama kuatnya seperti sebelumnya. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. melemaskan jemariku yang kaku. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. tadi itu menarik. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Aku menuju ruang ganti. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Banner menyalakan lampu kembali. Waktunya kelas Olahraga. Ia mengulurkan tangan. suasana senang di kelas nyaris nyata. Aku kehilangan akal sehat. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Aku tak sanggup bicara. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Aku nyaris mengerang. ekspresinya sedih. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas.

Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada. Raket itu tidak berat. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih.” aku meringis penuh penyesalan. aku sepenuhnya sadar.menyerahkan raket padaku. namun terasa tak mantap di tanganku. djAnGgo 183 . Mike. kau tak perlu melakukannya. dan ia berdiri di sebelahku. kau tahu.

Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Dengan mudah Edward menyusul. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. menuju mobilnya. Pandangannya bergeser sedikit. bersandar santai di dinding gymnasium. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos.” Ia tidak terdengar menyesal. kan?” aku terperanjat. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. mereka djAnGgo 184 . tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. melirik ke belakangku. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. aku jadi penasaran. langkahku terhenti.. “Aku tidak suka. meskipun tidak bermaksud begitu. aku tidak akan mengganggumu. Mike bermain cukup baik. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. “Jadi. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. Ketika aku berjalan ke sisisnya. Kami berjalan tanpa bicara.” ia meneruskan. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik. nadanya menantang. “Halo. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. Mike. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. Tiba-tiba selera humorku lenyap. mengabaikan keberatanku.” katanya sambil meninggalkan lapangan. Meski aku telah mencederainya.” aku mengingatkannya. Aku berpakaian dengan cepat. kerumunan orang. berjalan cepat ke lapangan parkir. raketnya aman tersimpan. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen.” Aku berbohong. Ia mengajakku ber. aku merasa sensasi lega yang aneh.. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. semua cowok. aku diam karena malu dan geram. “Caranya memandangmu.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan.” Senyumnya mempesona.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. Ia kembali menatapku. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. heh?” tanyanya. tersenyum lebar. jadi aku mengabaikannya.“Jangan khawatir. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang.” ia tetap mengatakannya juga. masih tegang. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. “Newton membuatku kesal. “Baikbaik saja.” Ia tersenyum. Keadaan tidak berjalan lancar. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu. desahku. matanya menyipit. “Apa?” desakku. tampak mengerumuninya. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. Tapi kekhawatiranku tidak perlu.” sergahku marah. “Memang tidak perlu. Edward menantiku. seolah ingin memakanmu. “Itu bukan urusanmu. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. “Kau sendiri yang bilang. Ia memandang marah padaku. “Hai. melainkan mobil convertible merah Rosalie.

“Mobil apa itu?” tanyaku. “Kelewat mencolok. djAnGgo 185 . juga luput dari perhatian. Aku langsung masuk ke jok penumpang.” gumamnya. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya.tampak sangat tertarik.

” aku bersikeras. ia sedang menatapku.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. terkejut. Aku akan datang. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. Aku mempertimbangkannya.” Aku tidak mendesaknya lagi. “Setuju.” ujarku. “ Ia menyelaku. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. mengamatiku. tanpa memandangku. Aku tetap menjaga ekspresiku. tanpa mobil. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya. “Kurasa sudah. Aku mendongak. Ia menghentikan mobilnya. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. sementara kami berburu..” Ia memutar bola matanya. aku pernah mendengarnya. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul.” “Karena.” Senyumnya kini rendah hati..” Rahangnya mengeras.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya.. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan..” aku berbohong.” “Mmm. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. dengan enggan. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. Aku punya pertanyaan yang lebih penting.. ke awanawan yang menggayut tebal. kalau kau bersungguh-sungguh.” “Bagaimana. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. “Ketika kami berburu.“M3. Ketika menatapnya lagi. “Well. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. “Tidak. “Jangan khawatir soal itu. sudah jelas ia sedang melucu.. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. membuat irama jantungku berantakan. yang seolah dapat diraih. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku.” “Itu keluaran BMW. tanpa banyak menggunakan pikiran. Terutama indra penciuman kami. Dahinya berkerut. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai.” Ia menggeleng.” Ia menghela napas. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu... “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi. Aku mengangguk. “Aku tidak berencana membawa mobil. Wajahku tidak djAnGgo 186 . “Sangat. “Jelas. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. kemudian berubah jadi santai. Ia tidak percaya.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. masih menatap awan tebal itu dengan murung.. “Aku minta maaf telah membuatmu takut.” katanya pelas.

ia memejamkan mata.menunjukkan apa-apa. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. djAnGgo 187 . Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. Namun pandangan kami bertemu. dan keheningan itu semakin kental. memecah kekakuan dia antara kami. aku sadar aku tak bernapas. Ketika kepalaku mulai berputar. dan berubah.

memamerkan kilauan deretan giginya. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. “Begitulah rencanaku. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai.. “Ya. matanya kembali menatap awan. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring.” Aku menatapnya jengkel. tersenyum tipis. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Aku berkata takut-takut. Bella?” ia memanggilku. kurasa kau harus masuk sekarang. Aku berkelit. keluar rumah. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya.” Lalu ia menghilang. aku makan semangkuk sereal. Betapa ngeri. “Oh. Dad. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya.” “Oh. Bagaimanapun tidurku berubah. dan menyalakan keran.” Aku nyengir. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. Pasti sulit menjadi ayah. dan mengumpulakn buku bukuku.” Aku merasa kasihan padanya. “Ya?” “Besok giliranku. menyikat gigi. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. Ketika terbangun aku masih merasa lelah. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. Khawatir kehilangan keseimbangan. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. gelisah. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. dan aku berguling kian kemari. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. tapi juga tegang. dan aku naik. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. menunggu di tempat Charlie biasa parkir. kalau tak ada halangan. berjalan menyeberangi dapur. hingga sering kali terbangun. tenang seperti yang kuharapkan.” katanya. djAnGgo 188 . membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat.. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. Aku setengah berlari menuruni tangga. Kubuka pintunya.” Suaranya rendah serak. suaranya lebih tenang. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. “Mengenai Sabtu ini. Makan pagi berlangsung biasa. Jelas ia berencana menemuiku berok. seperti biasa. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut.“Bella. Mobil silver itu sudah ada disana. “Bertanya padamu.

“Baik. lebih dari baik. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. “Selamat pagi.” Aku selalu baik. “Kau tampak lelah. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. setiap kali berada di dekatnya.” djAnGgo 189 . Ia tersenyum. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. Aku berjalan menuju mobil. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi.” Suaranya lembut. dan seperti biasa. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. Ia menunggu di mobil. tenang.Aku tak pernah menginginkannya berakhir. terima kasih.

kau benar.” aku mengaku. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu.” katanya serius. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. ia tersenyum mengejek. “Debussy. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Kami sudah tiba di sekolah.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu.” keluhku. Kebanyakan pertanyaannya mudah. “Kau benar. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. Wajahku memerah karena. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. raut wajahnya serius. sewaktu makan siang. Ia mendengus. batang pohon. kalau aku sempat mengendarainya lagi. seolah sedang menginterogasi pembunuh. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. ekspresi seriusnya berubah. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia tergelak. Aku rindu cokelat. untuk yang satu ini tak ada habisnya. merapikan rambutku ke balik bahu. menatap mataku. Itu CD yang sama. Sering kali aku tersadar. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. “Aku juga. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. kalau saja wajahku tidak merah padam. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. bebatuan. Hari ini giliranku bertanya. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. “Kurasa itu benar. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. pasti aku telah membuatnya bosan. dan mengenai buku-buku. Aku tertawa.” “Jadi. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. sambil terus menunduk. tatapan aneh terpancar di matanya.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Ketika kusebut nama bandnya. “Setiap hari berubah-ubah. wajahnya muram.” Tangannya menyentuh lembut. “Tidak bisa. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. debu. Film yang kusuka dan tidak kusuka. “Warna cokelat itu hangat. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. Warna cokelat itu hangat. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. “Barangkali cokelat. Aku menggerak-gerakkan mataku. Semua yang seharusnya berwarna cokelat.” “Oh. tapi masih sedikit ragu-ragu. Sesaat ia berpikir.” “Aku berani bertaruh untuk itu. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. disini semua itu dilapisi warna hijau.“Aku tak bisa tidur. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. “Tentu. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku.

mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.” desahku. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu. aku akan bilang onyx. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu.matanya yang berwarna topaz. Dan.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. pasrah. tentu saja. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya. “Itu warna matamu hari ini. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . “Katakan.

warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat.banyak dari seharusnya. sorot matanya bingung. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. tahu semakin cepat aku bergerak. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. Tpai ia terdiam hanya sedetik. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Aku tak melihat ke arahnya. Aku menghela napas lega ketika Mr. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Di suatu tempat. tapi akhirnya aku melangkah keluar. khawatir ia juga sedang memandangku. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. Aku menghela napas lega. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. pahit. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. membelai kening hingga rahangku. aku merasa bersalah. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . agak lengket. tak mudah untuk dijawab. gelisah. Ia tidak berbicara padaku hari ini. seperti kemarin. tapi masih menyenangkan. dan terus menjawab pertanyaannya. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. Begitu ruangan gelap. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. sambil menarik kereta audiovisual lagi. di sudut benakku. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. Tapi itu tidak membantu. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. luasnya langit. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. Banner menyalakan lampu kembali. percikan listrik itu muncul lagi. Banner memasuki kelas. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. dan cara menggapai matahari. akhirnya memandang Edward. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. pepohonan kering yang rapuh. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Ketika guru itu mendekati panel lampu. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. ia sedang menatapku. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Senyum lebar mengembang di wajahku. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. menungguku.

ia malah terdiam. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. bukannya melontarkan pertanyaan lain. djAnGgo 193 . dan mendesah. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. Dalam cahaya temaram badai. Aku kaget melihat waktu.dengan bebasnya. “Hampir selesai pun tidak. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega. Akhirnya. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. tapi ayahmu sebentar lagi pulang.

Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. lalu bergerak. menjawab tatapanku yang bertanyatanya. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. “Aku sudah bilang belum selesai. rembang petang. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. nyaris menarik dirinya menjauh dariku.” gumamnya. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. “Terima kasih. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes.” Aku mengerutkan kening. “Ini saat paling aman bagi kami. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. wajah yang berkeriput. “Jacob?” tanyaku.. “Charlie sudah dekat. “Kacau. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya.” katanya muram. lampunya menyinari mobil di depanku. Billy Black. “Jadi.” ia mengingatkanku.” gumam Edward. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar.. Bella. Aku langsung mengenalinya. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. antara putus asa dan menantang. aku langsung melompat keluar. Jacob sudah keluar dari mobil. “Masalah lagi. ini adalah akhir satu hari lain. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. Ekspresinya aneh. bannya berdecit di pelataran yang basah. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. tapi juga yang paling sedih. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. “Charlie akan sampai sebentar lagi. tatapannya gelisah. menyipitkan mata menembus hujan. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. “Hei. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat.” katanya. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. Kegelapan begitu mudah ditebak. tapi terlalu gelap. Ia melirikku sebentar.” Ia tertawa. Meski bingung dan penasaran. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . kembalinya sang malam. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar.” Alisnya naik sebelah... “Saat termudah. Itu ayah Jacob. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. seolah pikirannya jauh entah dimana. pipi yang kendur. ia masih menatap ke depan. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. Jadi. “Aku suka malam.“Sudah twilight . Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Nada suaranya melamun. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. mengingat.

seperti kata Edward. Diam-diam aku mengerang. Ya. jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Matanya lebar. Masalah lagi. Senyumku memudar. mengamati wajahku.kempis. Ya. ia percaya djAnGgo 195 .menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. hidungnya kembang. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. waswas. seolaholah ngeri. Ia memandangku. Billy masih menatapku lekat-lekat.

Aku berbalik menuju rumah. “Tentu saja. “Ini kejutan.” sahut Billy.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.. “Sudah terlalu lama.” balasnya. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. meski sudah bertahun-tahun. menghindari hujan. berbalik menuju dapur. “Kurasa itulah rencananya. “Bagaimana denganmu. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba.” Ia nyengir.12. “Maaf. “Tidak. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku. kami sudah makan sebelum kemari. masih kanak-kanak. “Ya. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku.” Aku menunduk menatap wajan.” Charlie tertawa.” Aku tersenyum. mengintip bagian bawah sandwich-nya.” protesnya.” ia menambahkan. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. ke TV. Jake. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya. “Jadi. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat. “Baik. ekspresinya tak bisa ditebak.” Keningnya berkerut. “Tidak masalah. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. “Tidak. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran.” kata Jacob. tentu saja.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi. “Seorang djAnGgo 196 . Semangatnya sangat sulit ditolak. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan. Kami meminjam mobil itu.. sambil meraih-raih ke bawah serambi. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. TV kami rusak sejak minggu lalu.” Jacob nyengir.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. Aku belum melihat. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut.” kata Charlie. “Kalian lapar?” tanyaku. Lalu aku berdiri di ambang pintu.” “Oh. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat.” sahut Jacob. Aku masuk.

” “Tumpangan yang keren.teman memberiku tumpangan. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini. “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya.” Suara Jacob terkagum-kagum.” djAnGgo 197 .

Jacob menatapku sesaat. tunggu. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie.” serunya. “Tentu. kurasa. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi. “Entahlah.” “Jacob.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk.” “Oh. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu. Hatiku mencelos.” kata Billy. “Tadi itu menyenangkan.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. “Jadi. Aku mendongak memandangnya. kata-kata itu keluar dalam bisikan. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. Bagaimana harimu?” “Baik. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang. Charlie.” “Benar sekali. satu kakiku pada undakan pertama. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring.” timpal Billy.” “Tentu saja. boleh dibilang malam ini semacam reuni. tentu. Selamat tidur. “Bella. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. mencoba terdengar tak peduli. membalikkan sandwich. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu.” gumam Jacob.” Ketika tatapannya beralih padaku. PR-ku banyak yang belum selesai.” tambahnya serius. senyumnya memudar.” sahutku menarik diri. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie.” katanya. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap.” djAnGgo 198 . Ia kelihatan sedikit malu. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. Akhirnya pertandingannya selesai. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. “Jaga dirimu.” Aku berpura-pura polos.” akhirnya ia menjawab.” aku menyahut enggan. menaruh dua piring di konter sebelahku. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. Sungguh malam yang sangat panjang. “Kami akan datang. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. “Edward Cullen.” gumamku. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. siapa dia?” tanyanya. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa.” ujar Charlie membesarkan hati Billy. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie. “Sepertinya ayahku mengenalinya. Akhirnya aku mengalah. lalu berpaling. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku.” Yang membuatku terkejut. ia tertawa. “Terima kasih. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. Bella.” kataku. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. kan?” Aku tak bisa menahannya.

” “Well. “Oh ya. “Mmm.“Wow. “Siapa?” nadanya tertarik. “Keluarganya baik.” aku mengakuinya. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.” Ia terkagum-kagum sebentar. sebenarnya sih tidak.” sahutku ogah-ogahan. Mike Newton. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis.. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 ..” Suaranya penuh semangat. tapi partnerku sangat hebat.

jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama.” Senyumnya memukau. aku akan di rumah saja. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. membuat napas dan jantungku berhenti. “Dad.” katanya.” “Oh iya. Saat ini kami di kafetaria. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. Ia tersenyum lebar padaku. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. sementara aku mengunyah.” Aku bergegas. “Baik. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. “Tidak di Phoenix. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. “Hari ini masih milikku. djAnGgo 200 . Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. ternyata Edward lebih cepat dariku. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. hobinya. sama sekali tak ada hubungannya.” Aku tersenyum. Charlie memperhatikan.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. gigi sudah bersih. berharap kelegaanku tidak kentara.” Bibirnya terkatup erat. “Pagi ini kau ceria sekali. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. Ia. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. Aku mengangkat bahu. Lalu ia tersenyum menyesal padaku.” gumamnya.“Dad!” erangku. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tidurku lebih pulas malam itu. temanku. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang.” sahutnya saat sarapan. kita kan mirip. “Ini Jumat. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. “Dia berkencan dengan Jessica. Dengan enggan aku mengakuinya. beberapa teman sekolah. langsung masuk ke jok penumpang. kau oke. kelewat lelah untuk bermimpi.. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. sepatu sudah kukenakan. “Tidak. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. sama seperti Jessica dan Angela.” Ia nyengir. Cuaca seharusnya cukup hangat. jendelanya terbuka. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. mesinnya mati. supaya lebih cepat memandang wajahnya. suasana hatiku bahagia. betapa menggoda suaranya. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. Tasku sudah siap. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu.. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap.

“Tidak masalah. bingung dan kecewa. “Aku tidak membawa kuncinya.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.“Kenapa?” tanyaku.” “Oh. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran.” desahku.” Ia menatapku tidak sabaran. djAnGgo 201 . berjalan kaki tidak terlalu jauh kok. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang.” Mataku mengerjap.

“Kalau aku berduaan denganmu besok. “Jadi. “Kau boleh membatalkannya kapan saja.” “Barangkali kau benar. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu. Ia nyengir. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku.. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. “Baiklah. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang.” bisikku. “Aku tak bisa. Itu tak masalah. “Alice yang paling. Ia menahan senyum.” aku menjawab terlalu cepat.. Aku mengubah topik kami. Mereka duduk. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin. tapi tatapannya kelewat polos.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku..” katanya. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. “Tergantung.” aku mencoba menebak. besok dia pergi mancing. “Bukan itu.. terlalu percaya diri.” jawabku tenang. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. matanya yang keemasan tampak gelisah.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar. atau apapun yang direncanakannya. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal..” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis.” protesnya. ia takkan menemukannya. bibirku merengut. Suaranya berubah tajam. Kau membuatku kagum. kuncinya tergantung di lubang starter. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. Edward menggeleng pelan.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi.. “Apa saja yang bisa kami temukan. “Tidak. “Sudah kubilang. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya.” Aku menunduk. kau tahu itu.” Aku memandang marah padanya. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. memandang ke berbagai arah. khawatir akan tatapannya yang persuatif.” gumamnya putus asa.” Aku meringis. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi.” aku menyetujuinya. persis ketika pertama kali melihat merka. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. mendukung.Ia menggeleng.” Wajahnya bertambah muram. “Bisa dibilang tidak percaya. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya. balas menatapnya. “Mereka tidak menyukaiku. aku juga tidak mengerti. “Trukmu akan ada disini. Aku menolak merasa takut padanya. di tumpukan pakaian di ruang cuci. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang.” Ia menertawai perkataannya sendiri. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. “Dan kalau kau tidak pulang.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. Kami tidak pergi jauh-jauh. “Untuk masalah ini. djAnGgo 202 . dan memelas. ulangku dalam benakku. “Tidak.” jawabnya dingin. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. “Berburu. itu kan Sabtu. Hanya saja sekarang mereka berempat.

“aku lebih baik daripada manusia umumnya. kau tak pernah seperti yang kuduga. Manusia bisa ditebak. “Dengan keunggulan yang kumiliki. Kau selalu membuatku terkejut.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku..” gumamnya.” djAnGgo 203 .. Tapi kau. menyentuh dahinya dengan hati-hati.

“Halo. bukan hanya aku yang bakal terancam. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. mataku kembali mengamati keluarganya. ini Alice. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja. senyum sinis mengembang di wajahnya. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. “Alice.” lanjutnya.” Ia menunduk. “Maaf soal itu.. berpaling dan menatapku.. “Senang akhirnya bisa berkenalan. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya.” Aku hendak beranjak.. Kupaksakan tanganku meraihnya. Bella. merasa malu dan tidak puas. Kesedihannya sangat nyata. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. “Alice.” balasnya. tapi senyumnya bersahabat. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. Dia hanya khawatir.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. Suaranya nyaris seperti desisan.. Tiba-tiba Rosalie. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. menunjuk kami sesantai mungkin. Ia masih memegangi kepalanya. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. Aku menunggu rasa takut itu. Tidak. Aku berusaha bicara sewajar mungkin. djAnGgo 204 .. bukan melihat. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. “Hai. Mungkin ini yang terbaik. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. tapi aku belum bisa menatapnya. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Alice. dengan cepat. “Tapi ada lagi. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. Aku merasakan tatapannya di wajahku.” Ia mengangkat wajah. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi. Bella. elegan meski tidak bergerak. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. ingin rasanya aku menenangkannya. Dan perasaan frustasi. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward.. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. Aku ingin berpaling.” “Edward.” sapaku malu-malu. tapi aku tak tahu bagaimana caranya.. sesaat wajahnya serius.. Posturnya ramping.” ia memperkenalkan kami. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. Aku kembali menatap Edward. Rosalie membuang muka. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. dengan buruk. Alice.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya.Aku berpaling. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. ini Bella. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. Begini.

“Kalau begitu. “Tidak. kumohon. itu sih gampang.” “Aman di Forks. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. berbalik menghadap Edward lagi. Kita ketemu di mobil.” Aku berusaha terdengar tulus. begitu anggun sehingga membuatku iri.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.” djAnGgo 205 . jagalah dirimu.Suaranya dingin. “Akan kucoba. Tentu saja aku tidak bisa menipunya. selamat bersenang-senang. “Hampir. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. langkahnya sangat gemulai. “Dan kau.” Ia masih tersenyum.” Ia tersenyum.

Mike. khawatir trukku takkan sanggup. “Tidak. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu.” desahku. “Aku akan mencuci malam ini.” ejeknya. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. “Cucian. “Oh. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. pasti keren. menyentuh wajahku. berharap aku bersenang-senang di Seattle.” djAnGgo 206 . Itu sesuatu yang mustahil.” ulangku. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar.” “Aku janji akan menjaga diri. Aku mengangguk sedih.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward.” aku menekankan. “Janji. “Aku hanya menawarkan. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. oke?” “Ya sudah. tiba-tiba marah. pasti bakal penuh bahaya. Mike mengajakku bicara lagi. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward.” Ia bangkit berdiri.” janjinya. “Sampai ketemu besok. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. tapi insting menghentikan niatku. Lalu ia berbalik dan pergi. Keputusanku sendiri sudah bulat. mengusap lembut pipiku.” “Jangan terjatuh. “Lihat saja. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. kelewat ingin tahu. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. atau instingnya. dan ini membuatku terkejut. Aku pergi ke kelas dengan patuh. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. Kami semua akan berdansa denganmu.” katanya kembali bersemangat.” ia berjanji. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. ya kan?” godanya. dan rasanya ia juga. aku juga. Ia mengulurkan tangan. “Kau tahu. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. bahwa esok adalah saat yang penting. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. setidaknya pelajaran Olahraga. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. “tidak akan membantuku belajar.” “Lalu. Dengan sendirinya aku tahu.” Ia marah lagi. “Sepertinya bakalan lama bagimu. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya. “Aku akan datang besok pagi. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya. tersenyum lebar. lebih menyakitkan.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya.“Bagimu memang gampang. dan aku bertekad menjalankannya. Di Olahraga. daripada menjauhkan diriku darinya.. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami.” Rahangnya mengeras. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi.

Ketika sekolah akhirnya selesai. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Aku menertawai diriku sendiri. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Insting terakhirku terbukti benar. aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. Aku menggeleng tak percaya. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. djAnGgo 207 . Selembar kertas tergeletak di jokku.

Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. Dad. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar... hasrat itu akan mengalahkan segalanya. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. namun gemboknya terbuka. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. Aku mencari jinsku. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. dan ke toko kelontong. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. tertawa. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. Nyaris.. “Oh. kurasa.” “Mudah sekali hidup bersamamu. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. Sepanjang makan malam Charlie melamun. kau pergi saja dan bersenang-senanglah.. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku. sejak aku datang ke Forks. Lagipula. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Kosong. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. terkejut.” kataku. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. “Kau tahu. dan setelah menemukannya.. membuyarkan lamunannya. “Kau juga. “Ada apa. pikirku sambil menggeleng. jangan ubah rencanamu.” “Oh. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Dad. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. dan sudah mulai tak terkendali.. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. PR. Dad. persediaan ikan kita sudah menipis. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. mencuci. Tawaku reda. dan tak akan mengubahnya. djAnGgo 208 . atau mungkin pertandingan basket.” aku memulai.. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie.” katanya. Dan apa pilihanku yang lainnya. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. Aku akan pergi kesana kemari seharian. kuperiksa sakunya. oke.” Ia tersenyum. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. bila semua itu berakhir buruk. Aku perlu ke perpustakaan. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. Lagipula. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. Bella... Ia ingin agar aku selamat.” “Kau yakin?” “Tentu. Dad..

Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. Aku terbangun. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Setelah semua siap untuk esok. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. Sambil menunggu obatnya bekerja. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. berusaha djAnGgo 209 . Aku merasa tegang. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam.

dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.” tukasku gusar. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. Aku mengintip ke jendela lagi.” aku mengingatkannya. Aku bangun cepat. melicinkan kerah pakaianku. Aku meluncur ke pintu. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. dan jins. meskipun ia terus saja mencela. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. “Belok kiri di satu-sepuluh. hargailah sedikit. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. Dan ia tampak berdiri di sana. Lalu aku masuk ke kursi kemudi.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati.” Ia tertawa lagi. tapi akhirnya berhasil membukanya. dan aku pun tidur pulas. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang. dengan kerah putih mengintip di baliknya. Aku ikut tertawa. atau celana. Meski istirahatku cukup. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. “Kita serasi. Aku berpakaian terburu-buru.menenangkan setiap bagian tubuhku. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. belum-belum aku sudah gugup.” perintahnya. wajahnya muram. Sepertinya tidak akan bertahan lama. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Awalnya ia tidak tersenyum. “Ke arah satu-kosong-satu utara. “Selamat pagi. dan ia pun tertawa.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. merasa puas. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. menembus kota yang masih tidur. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda.” sapanya sambil tergelak. Kini aku merasa tenang. “Kenakan sabuk pengamanmu. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. sedikit kesulitan dengan selotnya. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. buru-buru membereskannya ketika selesai. Aku mendesah lega. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . “Kemana?” tanyaku. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu. tapi tak ada yang berubah.

“Jalan setapak. tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. djAnGgo 211 . “Sekarang terus hingga ke ujung jalan.kata.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya.

” aku mengingatkannya. “Lewat sini. Kemudian jalanan berakhir. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku.. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Ini akan jadi perjalanan memalukan.” tukasnya. Selama sisa perjalanan kami membisu. dan itu benar. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. Sekarang di luar terasa hangat. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. “Tidak. “Tergantung.. Aku mengangguk.. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. djAnGgo 212 . Aku berpura-pura tidak mendengar.. pandanganku tetap ke jalan. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. bukan berarti kita akan melaluinya. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. atau bahkan melukaiku. aku bilang kau membatalkan rencana itu. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. Bella. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. dan kita tidak perlu terburu-buru.” Lima mil.” Kami memandang ke luar jendela. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny. dan aku tak tahu harus bilang apa. “Jangan khawatir. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. Aku tidak menyahut. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. jengkel. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. Ia tidak sedang memandangku. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. nyaris lembab di bawah selimut awan. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara.” katanya sambil menoleh. Ia menggumamkan sesuatu. Lagi-lagi aku berbohong. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. dan sangat sinis. “Katamu kau bisa mendapat masalah. “Tidak. sorot matanya masih kesal. ke awan-awan yang mulai menipis. Aku mendengarnya menutup pintu. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju.“Tidak.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang..

sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya.” Kemudian ia berbalik. djAnGgo 213 . dengan senyum mengejek. dan aku mendengus pelan.“Aku takkan membiarkanmu tersesat. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. Ia terlalu sempurna.

Hari telah berubah cerah. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. mengangkatku dengan memegangi sikuku. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa.Ia menatapku. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. tapi sering kali aku gagal. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. tapi senyumku tidak meyakinkan. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. dipenuhi jaring pepohonan kuno. Hutan itu membentang di sekeliling kami. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. “Hampir. Ia memandang marah padaku. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. “Kau harus sangat sabar.” “Aku bisa sabar. pura-pura kesal. kalau aku berusaha keras. tepat seperti yang diramalkannya. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. aku menyerah. atau bebatuan besar. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. mencoba memahami maksudku. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya.” sahutku tolol.” Ia tersenyum. sambil menatap mataku. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam.” janjinya. Ia menertawaiku. Aku mencoba membalas senyumnya. “Tidak. Ketika terjadi untuk kedua kali. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. “Ada apa?” tanyanya lembut. guru-guru sekolah dasarku.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. Ia menanyakan hari ulang tahunku. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. “Aku bukan pendaki yang baik. hewan peliharaanku semasa kecil. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. “Aku akan membawamu pulang. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. Kami lebih sering berjalan dalam diam. Ia mengamatik wajahku. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. ia membantuku.” kataku dingin. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. lebih keras dari biasanya. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju.

setelah melangkah seratus meter lagi. “Barangkali belum kasat oleh matamu. djAnGgo 215 . Padang rumput itu kecil. Tapi kemudian.bisa melihatnya?” Ia nyengir. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. melingkar sempurna. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami.” gumamku. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. bukan hijau. biru keunguan. aku bisa mendengar senandung sungai. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. dan putih lembu. Tak jauh dari tempatku berdiri.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. dan mengikutiku tanpa suara. kuning. Ia nyengir semakin lebar. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Aku mempercepat langkah. Cahaya itu kuning.

Tatapannya hati-hati. dengan ketakutan mencari-carinya. djAnGgo 216 . Ia mengangkat tangan mengingatkan. enggan. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. Aku kembali melangkah ke arahnya. Aku berjalan pelan. lalu berhenti. memperhatikanku dengan tatapan waswas. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. dan aku pun ragu. Aku tersenyum menyemangati. mengulurkan tangan. terpesona. sambil terus melangkah ke arahnya. melintasi rumput halus. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. Aku memandang berkeliling. Aku setengah membalikan badan.Matahari tepat bersinar di atas kami. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. ingin berbagi ini semua dengannya. serta udara hangat dan keemasan. bunga-bunga yang melambai-lambai. Edward tampak menghela napas dalam-dalam. Akhirnya aku menemukannya.

Kulitnya. bahkan sekarang. Tapi ketika kutanya. tak ingin berpaling dari wajahnya. begitu cepat hingga seperti gemetar. terukir dari bebatuan entah apa namanya. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. “Aku tidak membuatmu takut. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. Aku juga menikmati sinar matahari. lebih ringan dan hangat setelah berburu. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela.” katanya tanpa membuka mata. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. Dengan tanganku yang lain. Angin bertiup pelan. Dengan ragu-ragu.” Ia tersenyum lebih lebar. dagu kuletakkan di lutut. Jemariku gemetaran. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. Aku ingin berbaring. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. Patung yang sempurna.. terlalu pelan untuk bisa kudengar. Hari ini warnanya cokelat keemasan. tampak kemilau. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan.. seperti yang dilakukannya. djAnGgo 217 . halus bagai pualam. mengamatiku. “Tidak. Aku beringsut mendekat. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. “Kau keberatan?” tanyaku.” Ia mendesah. selalu khawatir. dingin seperti batu. halus bagai satin. berkilauan bagai kristal. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. meski tentu saja ia tidak tertidur. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. karena ia sudah memejamkan mata lagi. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. kan?” guraunya. yang berada di dekatku. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. “Tak lebih dari biasanya. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. terlalu indah untuk menjadi kenyataan.13. lengannya yang telanjang juga berkilauan. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya.

“Maaf. “Katakan apa yang kaupikirkan.” Kuangkat tangannya. Aku melihat dan mendapatinya menatapku.aku meraih dan membalikkan tangannya. ia membalikkan tangan dengan cepat. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi.” “Kau tahu.” gumamnya. Kudekatkan tangannya ke wajahku. mendadak begitu lekat. Aku terkejut. Menyadari apa yang kuinginkan. gerakannya membuatku terkesiap.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. “Masih tidak biasa untukku.” “Hidup ini sulit. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya.” bisiknya.” djAnGgo 218 . untuk tidak mengetahui. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. kita semua merasa seperti itu setiap saat. sesaat jari-jariku membeku di lengannya.

setengah meter dariku. “Beri aku waktu sebentar. Ia menatapku. pelan untuk ukurannya. Ia berhenti. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. menghempaskannya ke pohon besar lain.” katanya lembut. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. pergi. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. Secara naluriah. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat.. aku mendekat padanya.. Dan ia menghilang. Edward. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. ekspresinya tak dapat kutebak.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. aku mencium napas sejuknya di wajahku. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku.. wajahku. Dan aku berharap aku tidak takut. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. tanpa berpikir. bukan itu yang kumaksud. bertopang pada lengan kanannya.” ujarku ragu-ragu.. Matanya yang keemasaan mempesonaku. ia berjalan kembali ke arahku. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. Aku tak djAnGgo 219 . “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. Pohon itu bergoyang dan bergetar. kakinya menyilang. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. bahwa aku tak perlu takut. Tidak seperti apapun di dunia ini. “Aku predator terbaik di dunia. Senyumnya berubah mengejek. nikmat. dan duduk anggun di tanah. Tanganku yang kosong bagai tersengat. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. Aku duduk tak bergerak. lalu melemparnya begitu cepat.” sahutnya. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. “Aku sangat menyesal. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. lalu tersenyum menyesal.. melepaskan tangannya dariku. Aku tahu ia bisa mendengarnya. bahkan aromaku.” ia tertawa getir. masih beberapa meter jauhnya.” Suaranya menggumam lembut. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. aku.” bisikku. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. “Well. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. ia berada enam meter dariku. Aku duduk diam tak bergerak. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. langsung lenyap dari pandangan. aroma yang membuatku meneteskan air liur. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. Tapi aku tak bisa menjawab.. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. menghirupnya.” ujarnya ragu. “Seperti kau bisa melawanku saja. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. matanya tampak kelam dalam bayangan itu. Aku mungkin saja. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. sekarang ia setengah duduk. Ia menghela napas panjang dua kali.” “Aku tidak ingin kau takut. suaraku. Ia mengulurkan satu tangannya. Manis. kaku bagai batu. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. seharusnya. “Maafkan. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. tapi aku tak bisa bergerak.

Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. atau lebih menawan. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. Lalu.. djAnGgo 220 . percikan itu memudar. Dengan wajah pucat dan mata membelalak. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular..pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. ketika detik demi detik berganti.

disamping alasan yang sudah jelas. tapi aku masih tak sanggup bicara. untuk. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku.” pintanya. aku tidak bisa mengingatnya. “Aku takut.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku. seraya menunduk lagi. Aku kembali menatap tangannya. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. Mendengar itu aku harus tertawa. hingga wajah kami sejajar. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” desahnya.” timpalnya pelan. dengan amat perlahan.” Ia mengedipkan mata. “Sejujurnya. “Jelas. Detik demi detik pun berlalu. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya. itu sesuatu yang perlu ditakutkan. Ini juga masih sama sulitnya baginya. “Aku berjanji. “Ya. “Jangan takut. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik.” “Aku tak ingin kau pergi.. “Itulah sebabnya aku harus pergi. “Aku bisa mengendalikan diri. juga bagiku. Tapi jangan khawatir.. meski suaraku gemetar dan tertahan.” Ia menunggu.. alasan yang jelas. well. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang. aku tak bisa terus berada di dekatmu. karena. tadi kita sampai dimana. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan.” ujarnya ragu. Aku menatap matanya. Keinginan untuk bersamaku. Pada dasarnya aku makhluk egois. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. “Jadi.“Jangan takut.” Ia tersenyum. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. tapi wajahnya tampak malu. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku.” gumamnya. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. Ia duduk luwes. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus.” desahnya.” bisiknya lagi sambil mendekat. hari ini aku tidak merasa haus. lalu matanya. kali ini lebih lembut. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut.” “Oh. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. “Betapa mudahnya aku marah.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. “Sejujurnya. Parau djAnGgo 221 . “Aku seharusnya pergi sejak lama.” gumamku sedih. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. Mata itu lembut. hanya terpisah tiga puluh senti. Senyuman balasannya sungguh mempesona. Kau membuatku tak berdaya. penuh penyesalan.” “Jangan!” Ia menarik tangannya. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. “Aku seharusnya pergi sekarang. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. suaranya lebih parau daripada biasanya.” “Aku senang. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali. “Kumohon maafkan aku.. benar.” Aku cemberut.

” Ia berhenti. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. djAnGgo 222 . perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. dan bingung. Aku berpikir sesaat.untuk ukurannya. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya.

. “Jadi. mencari-cari kata yang tepat. aku semacam heroin bagimu?” godaku. Ia balas tersenyum menyesal. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. setiap orang punya aroma berbeda. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. kalau ia bukan peminum lagi. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan.” kataku. kau adalah heroin bagiku. cognac langka terbaik. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai.” Ia memandangku. “menariknya seperti kau bagiku. Begitulah caramu berpikir. mencoba membaca pikiran satu sama lain. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. ia ragu. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma.” Tanpa terlihat memikirkannya. Tapi dia bisa menolaknya. Ia langsung tersenyum. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. Jelaskan saja sebisamu. “Tanpa membuatmu takut lagi. menurutmu.” Ia mendesah. hmmmm. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. atau apapun.” Ia masih memandang kejauhan. jadi dia mengerti maksudku. raut wajahnya menyesal. berusaha mencairkan suasana. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. saling menatap. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. terutama bagian terakhir. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit.” katanya. Ia memandang tangan kami. “Aku tak keberatan. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. dalam embusan angin yang hangat. Ia memandang melampaui puncak pohon.” “Jadi maksudmu. “Ya. juga rasa.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. memikirkan jawabannya. atau setidaknya mencoba. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. “Maaf. . Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. kalau ia memang ingin. Ia kembali menatapku dan tersenyum. sepertinya menghargai usahaku. inti berbeda. dia akan dengan senang meminumnya. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. atau takut.. Aku bisa mengerti. “Kau tahu.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi.” “Dan kau?” “Tidak pernah. “Bagi Jasper. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. kalian manusia kurang-lebih sama. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Emmett.” Kata itu melayang sesaat di sana.” Aku tersenyum.

“Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. memohon.” kataku akhirnya. bukan begitu?” djAnGgo 224 . “Kurasa aku tahu. tapi ia takkan menjawab. Ia melirik. wajahnya muram. Ia membuang muka.memecah keheningan. tangannya mengepal dalam genggamanku. Wajahnya menjadi gelap. Aku menunggu. Pertanyaan yang salah.

kami mengingat saat-saat itu. Kejadiannya sudah lama sekali. tidak!” Ia langsung menyesal... “Kisah kita berbeda. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. Aroma tubuhmu membuatku sinting. di rumah sakit. memalingkan wajah. membuat keputusan yang tepat. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. Saat itu aku nyaris menculikmu.. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. Hanya ada satu manusia lemah disana. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya.” “Aku tidak mengerti alasannya.. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. menghilang.. untuk memberitahunya aku akan pergi.. “Tak diragukan lagi. Mrs. tentu saja aku tidak akan. agar aku bisa berdua saja denganmu.. memikirkan keluargaku. Bagiku di luar lebih mudah. kau ada disana. lalu aku pergi menemui Carlisle. dan dia tidak. Emmett.” Ia berhenti. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. saat itu juga. Aroma yang menguar dari kulitmu.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. “Aku bertukar mobil dengannya.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. matanya nanar menatapku. membebaskanku dari kekuatan tatapannya. bertahuntahun yang lalu. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu.” Aku menatapnya terpana. oh. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana..“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. “Jadi kalau kita bertemu. Dan aku terus melawan keinginan itu.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. dia tidak mengenal kedua gadis itu. Aku bisa berpikir lebih jernih. “Kau pasti datang. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. memandang geram pepohonan.. “Tentu saja ada harapan! Maksudku. begitu dekat.. tidak mengikutimu dari sekolah. “Ketika aku berjalan melewatiku. Cope yang malang. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu. Ia memandangku muram. “Kau pasti menduga aku kerasukan.” ujarnya. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur.. “Kemudian. karena disana aku tak bisa mencium aromamu.” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku.. Aku harus pergi. setangkas dan sehati-hati sekarang... aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. sangat mudah untuk diatasi. Aku tidak berani pulang menemui Esme.” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku. ingatanku diperbaharui lewat matanya. di ruangan kecil itu. “Maksudku. menghipnotis dan mematikan.. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku.” Nyaliku ciut. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. yah. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. di lorong gelap atau apa. “Tapi aku menolaknya. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. Aku mencoba berkata dengan tenang.

Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan.. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku.” Pandangannya menerawang. Aku benci karena telah mengecewakan Esme.. Dalam udara bersih pegunungan.. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska. dan yang lainnya.” Ia terdengar malu. gadis kecil yang tak penting”. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. “Dua hari aku disana. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. bersama beberapa kenalan lama.. Siapa kau ini.. tapi aku rindu rumah. djAnGgo 226 .mengetahui apa yang terjadi. Aku meyakinkan diriku sendiri. tiba-tiba ia nyengir. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. keluarga adopsiku. dekat pun tidak. tidak sebesar ini. tapi aku kuat..

Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. bila mungkin.. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. Aku mendengarkan. yang bisa kupikirkan hanya. Tapi kau terlalu menarik. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama.. larut dalam pengakuannya yang menyiksa.. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. “Aku melakukan tindakan pencegahan. “Tentu saja. begitu juga Alice. “Sepanjang keesokan harinya. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. lebih antusias daripada rasional. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal. “Aku bertengkar dengan Rosalie. Emmett. berburu.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami.” Ia cemberut mengingatnya. Akhirnya aku bisa bicara. Sebenarnya aku sangat ingin. pikirannya tidak terlalu orisinal. dari semua orang yang ada. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku.Aku tak sanggup berkata-kata.” ia bergegas melanjutkan. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. Aku sama sekali tidak memahami dirimu.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku. rambutmu. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. disini.. daripada sekarang.. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya.” Ia menggeleng tulus. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu. Aku tak bisa menebak alasannya. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. ‘Jangan dia’. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. napasmu. Dan setiap hari aroma kulitmu. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. bahkan sekarang.” Mata kami kembali bertemu. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. seandainya aku akan menyakitimu. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. Aku sombong mengenai hal ini. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut.” lanjutnya. “Tapi efeknya justru kebalikannya. jika darahmu tercecer di sana di depanku. “Kenapa?” djAnGgo 227 .. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu. Carlisle membelaku. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. pertengkaran terburuk kami. “Karenanya. karena jika aku tidak menyelamatkanmu.. Saat itu. meski suaraku samar-samar.. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku.” Ia memejamkan mata.. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara.. menaruh diriku dalam kuasamu. Sangat menyebalkan. dirimu. “Aku kaget.

tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. Ia menunggu.“Isabella. namun tersiksa.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. tak bisa melihatmu merona lagi. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. “Bella. “Bayangan dirimu. rasanya tak tertahankan. Dari topik menyenangkan tentang kematianku.” Ia menatapku dengan matanya yang indah. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku.. kembali malu-malu..” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati.. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang.” Ia menunduk. Terpenting bagiku sampai kapan pun.. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. djAnGgo 228 . kaku. dingin. putih.

” Darahku mengalir deras. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. Aku melipat daguku.” bisiknya. “Masalahnya kau begitu dekat.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. detak jantung dalam nadiku. ia tertawa.. tentu saja. Dan aroma lehermu. Ini.” kataku bergurau. mundur karena keanehan kami. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain.” “Tapi aku ingin membantu.” gumamnya. “Aku ada disini.” desahku... Namun tak ada rasa takut dalam diriku. “Baik kalau begitu. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. tanpa mengalihkan pandangan dariku. “sepertinya tidak masalah. “Bodohnya aku.. namun dengan teramat lembut. “Kau tahu kenapa. “Domba yang bodoh. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. yang suka menyakiti dirinya sendiri. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. Aku berpaling. “Rona pipimu cantik. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang. “Tidak. contohnya”. Lalu tiba-tiba. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. dan aku ikut tertawa.. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. Dengan lembut ia membelai pipiku. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku.” kataku akhirnya. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. “Benar-benar tidak apa-apa. sungguh.” Wajahku muram. Aku duduk diam tak bergerak. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. “Lihat. kan.” katanya. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 .” Sesaat ia memikirkannya.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku.” Berhasil. Pasti ia mendengarnya. dan aku berharap bisa memperlambatnya. seolah aku belum membeku saja. kemudian berhenti. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. bahkan bila menginginkannya... Aku tak bisa bergerak.. aku membelai punggung tangannya.” Ia berhenti sesaat. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu. “Singa sakit. maksudku.” ia menimpaliku sambil tertawa. tahu. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. tak yakin bagaimana meneruskannya. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. ia mencondongkan wajah ke arahku. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. Itu salahku. “Aku takkan memperlihatkan leherku. Tatapan kami bertemu.” Senyumnya memudar. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan.” gumamnya. “Jangan bergerak. “Kenapa?” aku memulai. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba. melihat apakah ia membuatku marah...” Ia mengangkat tangannya yang bebas.” Ia tersenyum lagi. Bella. Perlahan.” “Tidak.” “Kau memang bodoh. kalau bisa. peringatan yang menyuruhku untuk takut. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun.” “Well. Ia memandangku dan tersenyum. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan.

Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. dan aku mendengarnya terengah. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . kemudian berhenti. Mendengarkan detak jantungku. Wajahnya bergeser ke samping. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. Dengan kelambatan yang disengaja. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Bisa jadi berjamjam. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. Ia berhenti.bagian dirinya yang lain. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. Akhirnya detak jantungku memelan. Aku gemetar. “Ah.” desahnya.

Kubelai pipinya.” desahku. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya. Tidak pernah sebelumnya. mengingatkannya lewat tatapanku.. “Tidak. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya. bagiku. Aku ingin mencondongkan tubuh.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku.” bisikku. yang menjadikanku makhluk tercela. “Ini sudah cukup. Aku tak bisa memikirkan apa pun. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. Bukan dengan cara yang membuatku takut. Kau?” “Tidak. “Kurasa aku tidak bisa.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. tidak pernah.. sesuatu yang asing bagiku.” ia mengaku.. kurasakan padamu. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh. rasa lapar. “Jangan bergerak. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya.” katanya puas. yang kurasakan. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 .. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. dengan lembut mengusap kelopak matanya. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya.” “Tapi. Sorot matanya damai.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. “Kau tahu maksudku.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. Agar kau mengerti. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Meskipun”. membuatku gemetaran lagi. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan.” bisiknya. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. “Aku tak tahu apakah aku bisa.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. Bibirnya membuka di bawah tanganku.. memejamkan mata. Tak ada yang bisa setenang Edward. Ia membuka mata.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. ia melepaskanku. “Katakan padaku. tak ingin mendorongnya terlalu jauh. Hasrat yang tak bisa kumengerti. itu tidak buruk.” desahku. Dan kurasa kau bisa memahami itu. tak ada yang lain. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. kebingungan.. dan keduanya tampak kelaparan. kemudian.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. “kuharap kau bisa merasakan.. haus. Kemudian. dan hidupku bisa berakhir.” Aku tersenyum. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. kesulitan. terlalu cepat.. Sudah kubilang.jadi kelewat berlebihan. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. “Kuharap. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. di lain sisi.. “Kemarilah.. sebuah ukiran dalam genggamanku. menghirup aromanya. “Ada hasrat lain. ia setengah tersenyum. bayangan keunguan di bawah matanya. “Tidak akan sesulit itu lagi. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku.

“Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. “Aku punya naluri manusia.” Lama sekali kami duduk seperti itu. dan aku pun mendesah. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. bayangan hutan mulai menyentuh kami. djAnGgo 232 .” sahutku.wajahnya di rambutku. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. tapi masih ada.

maaf. Aku mencobanya. menungguku turun. Tak ada suara. pengecut kecilku. “Jangan khawatir. aku merasa mabuk. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. senang. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. lalu mengulurkan tangan meraihku. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. dan aku menatap wajahnya. dan menghirupnya dalam-dalam. Ia tertawa. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. bagai hantu. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. “Bella?” panggilnya. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. selalu luput menyentuh kami. Dan untuk pertama kali dalam hidupku.” aku mengingatkannya.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman.“Kau harus pergi. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. sekarang terdengar waswas. Jantungku bereaksi. kau akan sangat aman.” ujarku. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata.” aku menahan napas. “Rasanya aku perlu berbaring. Ia meraih bahuku. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. Rasanya seperti memeluk batu. dalam hitungan menit. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. “Hah!” dengusnya. dan sekarang. Kemudian selesai. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah.” Ia mengamati ekspresiku. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya.” gumamnya. “Sepertinya aku butuh bantuan. Ia berdiri tak bergerak. Ia tersenyum melihat keraguanku. “Oh. aku yakin kau sering mendengarnya. djAnGgo 233 . naik ke punggungku. Irama napasnya tak pernah berubah.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. lebih keras daripada yang pernah kudengar. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku.” “Ayo. tapi otot-ototku kaku. “Asyik.” Ia menungguku. menekankan telapak tanganku ke wajahnya. kami sudah sampai di truk. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku.” “Sudah jelas. bukan?” Suaranya meninggi. Kemudian ia berlari.

Ia memelukku sebentar. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Kupasrahkan diriku.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” djAnGgo 234 . Kemudian ia menarikku menghadapnya. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. “Rasanya pusing. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak.Ia tertawa pelan.

” Tatapannya liar. “Bukan. seperti cara manusia. Tolong tunggu sebentar. Suasana hatinya masih bagus. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. “Tidak.” gumamnya. bukan sesuatu yang harus kupikirkan. “Itu namanya melecehkan.” gumamku lagi. Aku mencoba bersikap positif. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. rahangnya menegang. oh bukan. Ia ragu-ragu.” “Bella. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi.. tidak seperti biasanya. Aku merasakan ia duduk di sisiku. itu tadi sangat menarik. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri. Aku terpana dibuatnya.?” Aku mencoba menahan diri. dan lumayan membantu. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu.” “Lain kali!” erangku. Ia tertawa. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. “Aku sedang berpikir. wajahnya sangat dekat denganku. “Tukang pamer.” lanjutnya. Ia tersenyum.” “Tukang pamer.” “Lain kali ingat itu. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala.” Ia terdiam. “Buka matamu. Darahku mendidih dan membara di bibirku. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. Jariku meremas rambutnya.Aku mencobanya. Dan disanalah dia.” gumamku. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Aku tak bisa bernafas. memberinya sedikit ruang. Aku terus menatap matanya. Ketampanannya memukauku. Aku bernapas palan. Telingaku berdenging. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. terlalu berlebihan. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.. Bella.” ujarnya pelan. “Ups. menjaga kepalaku tetap tenang. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. “Berlari adalah sesuatu yang alami..” ia tergelak. kau lucu. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. “Tidak. aku bisa mentolerirnya. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.. ketika aku berlari. terkendali. Waktu berlalu. Napasku terengah-engah. untuk mengetahui apakah ini aman. namun suaraku lemah.” desahku.” Suaranya sopan. “Haruskah aku.

dalamnya mulai memudar dan melembut.” “Kau toh hanya manusia biasa. “Nah. dan senyumnya tak disangkasangka nakal. Ia tertawa keras. “Bisa ditolerir?” tanyaku.” katanya.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. Senang mengetahuinya.” djAnGgo 236 . Kemudian ia tersenyum. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Maafkan aku. jelas puas dengan dirinya sendiri.

ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. “Santai saja. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. mulai dari telinga ke dagu. “Mabuk?” timpalku keberatan. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. Lagipula. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. “Kau mabuk oleh kehadiranku. atau trukku. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk.” godanya. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. “Bella.” desahku.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. “Tidak. Tapi kalau dipikir-pikir lagi.” djAnGgo 237 .” “Percayalah. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. aku masih pening. Ia mengulurkan tangan padaku. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. menggenggam kunci mobilku erat-erat. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. Awalnya ia tidak menjawab. memerlukannya lebih dari dugaanku. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya. menjadi lembut dan hangat. Bella. Aku gemetaran. “refleksku lebih baik. “Kurasa gabungan keduanya. sedikit saja.” “Sangat masuk akal. berulang-ulang. bisa menerimanya. tapi kurasa keberanianku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. “Refleksmu jauh lebih lambat.” “Kau gila ya?” protesku.” kutipnya sambil tergelak. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya.” timpalnya. “Bagaimanapun. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Kugenggam tangannya yang dingin. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi.” akhirnya aku berhasi menyahut. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. trukku sudah cukup tua. “Aku tidak yakin.“Terima kasih banyak. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini.” sahutku getir. hanya menundukkan wajahnya ke arahku.” “Aku yakin itu benar. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri.” akhirnya ia bergumam. Aku mulai mengitarinya.” Alisnya terangkat tidak percaya.” Kuselipkan tanganku di saku celana. Tidak sedikitpun. Tak ada jalan keluar. menuju sisi pengemudi. gerakan yang tak kusangka-sangka. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. wajah manusianya tampak tenang.

Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. tangan kami yang bertaut.” kataku akhirnya. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka.” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Tidak juga. sudah lama sekali. kemudian mentap mataku. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. sekarat akibat flu Spanyol. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. Ia menunduk menatap mataku lagi. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. Seperti banyak hal. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. “Delapan puluhan masih bisa diterima. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. atau ’70-an. “Aku tak mengingatnya dengan baik. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam.. tapi aku masih bertanya-tanya. Ia mendesah. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. Ia hafal setiap barisnya. “Musik ’50-an bagus. Usiaku tujuh belas saat itu. Ia mengemudi dengan satu tangan. ragu-ragu. Ia memandang matahari.” Ia mendengarku terkesiap. menit demi menit berlalu.” aku nyengir.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. “Coba saja. lalu berkata. tampaknya itu mudah baginya.. uhh!” Ia bergidik. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. wajahku. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. Ia melihat ke arah matahari. kadang-kadang menatapku. tak ingin merusak selera humornya yang ceria.14.

” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya.memudar. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut. Itu sebabnya dia memilihku. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . ketika Carlisle menyelamatkanku. “Sulit. yang paling berbelas kasih di antara kami... Bukan hal mudah.” “Bagaimana dia. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang. Aku sebatang kara. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya.” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan.. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi.. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

“Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. “Tidak.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. Dia tertekan. Jasper berasal dari keluarga. masih terjalin.” Ia terdiam. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. sebagai suami-istri. “Ya.” aku mendorongnya. waktu itu kami sedang di Applachia. Rosalie sedang berburu.. Masa depan tidak terukir di atas batu. Forks kelihatannya sempurna. “Tapi dia berhasil.” Ia memutar bola matanya.” Ia menatapku dalam-dalam.” “Sungguh?” selaku. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. dan mengangkat tangan kami.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. rasanya amat. Segala sesuatu berubah. Rosalie membawanya kepada Carlisle. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun.” Ia tertawa. dan akhirnya memilih mengembara sendirian.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. dan matanya tertuju padaku. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. lagi. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut.” gumamnya. Alice mengetahui hal lain. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang.” “Memang benar. lalu berlalu djAnGgo 240 . meskipun nyaris tak mungkin. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami.. Dia melihat hal-hal.. Mereka mengembangkan kesadaran. “Tapi katamu. hal-hal yang mungkin terjadi.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. Kutekan rasa penasaranku. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. “Bagiku. hal-hal yang akan datang. “Kesendirianlah yang menggerakkannya. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri.” lanjutnya. Seperti aku. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. Alice menemukannya. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. itu hanya Carlisle. sangat menyakitkan. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. Tapi itu sangat subjektif. menempuh jarak lebih dari seratus mil. terkesima. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. begitu kami menyebutnya. Dia terjatuh dari tebing.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap. jenis keluarga yang sangat berbeda. “Meski begitu.. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. tanpa bimbingan dari luar. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. lain.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. jadi kami semua mendaftar di SMA.

dan mereka datang bersamasama menemui kami.. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi.” “Apakah jenis kalian.. contohnya. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. ada banyak?” Aku terkejut. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. ketika kelompok lain mendekat. djAnGgo 241 .begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. Dia selalu melihat. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami.

” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain.” “Aku ingin bersamamu. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. kalau tidak merepotkan. perutku keroncongan. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit.. dan itu adalah misteri. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami.” aku memujinya. Seperti yang lainnya. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. ia mengerling licik padaku. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa. tak ada bulan. yang telah berhenti memburu kalian manusia”. Jenis seperti kami yang hidup. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya.. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. “bisa hidup bersama manusia selama apapun.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. sungguh. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. Suasana sangat tenang dan gelap. Hanya yang seperti kami. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. dia barangkali bisa berubah jahat. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. aku membuatmu terlambat makan malam. “Maaf. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. secara berbeda cenderung berkumpul bersama.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. jadi aku tahu ayahku belum pulang.” “Aku baik-baik saja.“Tidak. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. membukakannya untukku. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama.” Banyak sekali yang harus dipikirkan. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. tidak banyak.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. di desa kecil di Alaska. seperti Jasper?” “Tidak.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . Tapi yang membuatku teramat malu. Aku lupa. kebiasaan ini mulai membosankan. dan ia mematikan truk. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. “Ya. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. “Sangat manusiawi. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. Lampu teras mati. Dia terbangun sendirian. Kadang-kadang kami bertemu yang lain.

tampak jauh lebih normal. ketampanannya masih bagai ilusi. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. menyalakan lampu teras.” djAnGgo 243 . aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. “Aku penasaran denganmu.” Aku melangkah masuk. Masih pucat. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku.

Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur.” Aku berputar. wajahku memanas hingga ke garis rambut. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Aku mencoba memalingkan wajah. “Apa yang kaudengar!” erangku. aku pasti akan memimpikanmu. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. tanpa suara. “Kalau begitu lain waktu saja.. Kau pernah mengatakan sekali. suaranya membuatmu gelisah. “Seberapa sering?” tanyaku kasual.” Dan akupun sendirian. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. ia sudah pindah ke sisiku. “Pada?” desaknya. djAnGgo 244 . Lama baru aku bisa berpaling. menempatkan sebagian di piring.” Ia tertawa lembut. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. Tubuhku kaku dalam pelukannya.. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. Aku tersanjung. Saat itu juga.” “Tidak!” sahutku menahan napas. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. “Seandainya bisa bermimpi. tapi sekarang sudah jauh berkurang. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. Ia sudah disana. Aku masih tidak berpaling. Aku mendesah kalah. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. Ekspresinya langsung berubah kecewa. Aku merasa malu. “Jangan malu. ‘Terlalu hijau’. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. Dan aku tidak merasa malu. terperangah. dan tidak membuatku tersinggung lagi. Ia kelihatan tidak menyesal. Ia menanti.” ia mengakui. “Kau mengigau.. Dan ketika hujan turun.. berharap aku bisa melihatnya. sama sekali tak perlu diarahkan.” bisiknya. Ia tahu maksudku.” Nada suaranya datar. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur.” ia berbisik di telingaku. “Jangan sedih!” ia memohon. Gerakannya sangat alami.” Aku memikirkannya dengan cepat. kemudiam memanaskannya di microwave. terus ke lorong menuju kami. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. kemudian menatapnya. tentu saja. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. “Ada lagi?” desakku. “Aku tidak yakin. “Kau mengkhawatirkannya. Aku tetap menatap piring ketika bicara. “Kau memanggil namaku. Ia menarikku lembut ke dadanya. “Kau merindukan ibumu. Piringnya berputar. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. ibuku selalu menggodaku soal ini.

“Bella?” panggilnya. lalu lenyap. Sebelumnya hal ini menggangguku. Aku mendengar suara tawa yang samar. siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. djAnGgo 245 .“Edward!” desisku tertahan.

“Hari ini memang bagus. Aku baru menyadari tanganku gemetaran. katamu dia ramah. oh. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. aku lelah. “Tidak. buruburu. kalau mau mencari teman istimewa.” timpalnya.” ujarnya. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. Dad.” “Dia hanya teman. “Selamat malam. pikirku. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. Begitu lasagna-ku habis. Sayang.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku.” “Well . mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk.. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward. “Sedang terburu-buru? “Yeah. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus.” sahutnya menerawang.. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. Betapa ironisnya. belum ada cowok yang menarik perhatianku.” “Kau kelihatan agak tegang. “Terima kasih.” aku menimpali sambil menaiki tangga. Tunggu saja sampai kuliah nanti. Charlie duduk di kursi. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. djAnGgo 246 . Aku tak menjawab. aku hanya mau tidur. “Bagimana harimu?” tanyaku. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. “Sampai besok pagi. Dad..” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. “Ini hari Sabtu. tapi berusaha terdengar biasa saja. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. Ketika aku meletakkan gelasku. Mengapa. benar-benar menggelikan. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. Aku ingin sekali pergi ke kamar. “Tidak. Aku membawa makananku. Dad. “Bagus. “Kupikir Mike Newton itu. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. Aku kepedasan. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. susunya bergetar. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga.. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. ya?” Ia curiga.” ujarnya.“Disini.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua. Acara memancingnya biasa saja.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. “Sepertinya ide bagus. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. Aku mau tidur lebih cepat.

Ia berbaring. jatuh lemas ke lantai. “Ya?” Aku berbalik.“Edward?” bisikku. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. tangannya menyilang di belakang kepala.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. “Maafkan aku. benar-benar merasa tolol. tersenyum lebar di tempat tidurku. “Oh!” aku mendesah. Posisinya sangat santai. djAnGgo 247 . kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut.

“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. supaya tidak mengejutkanku lagi. berusaha tetap tenang. “Sungguh. rambutku yang basah. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. menunggu. Kumatikan keran air. mencoba tampak galak. kemudian menyisirnya cepat-cepat. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. kemudian menutup pintu. Salah satu alisnya terangkat. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. patungnya menjadi hidup. handukan sekenanya. menenangkan denyut nadiku. Aku menaiki anak tangga dua-dua.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. pakaian itu tampak bagus padamu. “Ya. menutup pintu rapat-rapat. “Bagus. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. Sesaat kami duduk diam disana. “Selamat malam. terburu-buru lagi. Aku bermaksud buru-buru. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. “Tentu. dan meluncur ke kamar. Kulempar handuknya ke keranjang. meluncur keluar. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini.” kataku. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. Bella. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. yang sedang duduk di kamarku. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. Matanya mengamatiku. Kugosok gigiku keras-keras.” Aku nyengir.” “Selamat malam.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. mengangkatku. Dad. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. “Diam disitu. Aku membiarkan lampu tidak menyala. Aku melompat. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. Ma’am. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya.” djAnGgo 248 .

aku bakal menyelinap keluar. mengamati wajahku.” “Oh. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir.” Ia mengangkat daguku. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat.” bisikku.” Ia memikirkannya. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.” djAnGgo 249 . Aku kembali ke sisinya.“Terima kasih. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali.

meskipun semuanya baru bagiku. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. “Kenapa. dan aku kehilangan akal sehatku. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan. Ia mengangkat bahu.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. kemudian.. Saat konsentrasiku buyar.. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku. “Kau tahu. membuatku malu. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. bukan dalam artian seorang adik.. Maafkan aku soal itu.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya.” kataku mencoba menghembuskan napas.” “Ini tidak mudah. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku... menerima pujianku.. Aku merasakan tangannya. djAnGgo 250 . Ia nyengir... Dan menemukan. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks. dan ia membeku. “Aku hanya terkejut. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik. justru sebaliknya.. ia menghirup aroma pergelangan tanganku. “Selain kemungkinan aku dapat.... “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. ekspresinya tampak bingung... “Terima kasih. dan kami tertawa pelan.” “Tidak tak termaafkan. aku masih... “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.. “Ya?” desahnya. “Sepertinya. “Sore tadi.” desahnya.” suaraku bergetar.” sergahku.” ia menjelaskan. “Tapi sore tadi.” ujarku. ragu. sekarang menunduk. Saat ia menyentuhku.” paparku.” Aku menarik diri.. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya.. “Mmmmmmm.” lanjutnya. lebih ringan dari sayap ngengat.” suaranya menggoda. hidungnya meluncur ke sudut rahangku. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.” “Kau bisa melakukan apa saja. Kau membuatku sinting. Aku sama sekali tak bergerak. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir. “Hmm. dan ketika berbicara ia terdengar senang.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. bersamamu.. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. aku bertanya-tanya. menaklukan”... “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini. bahwa aku tak dapat. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati.. “aku juga rapuh. Ia memikirannya sebentar.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. “Amat sangat lebih mudah.” Ia tersenyum.” “Jadi.” desahnya..” aku memulai lagi. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

” Wajahku memerah.” djAnGgo 259 . sedikitpun tidak. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.“Tentu saja belum. “Sudah kubilang.

“Aku mungkin bukan manusia.” “Bagiku ya. Aku menguap tanpa sengaja.” ia bersikeras. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. “Well.“Aku tahu. Ia menanti. “Aku tak yakin apakah aku bisa. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. lembut di telingaku. “Naluri manusiamu. djAnGgo 260 . “Bagus. Ia tertawa. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang.” ia meyakinkanku. suara malaikat. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. Setidaknya kita punya persamaan.” Ia terdengar puas.” aku mendesah. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan. tapi aku laki-laki. sekarang kau harus tidur. nina bobo yang asing. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi.. Lebih letih daripada yang kusadari.” aku memulai. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya..

djAnGgo 261 .

” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. Sesuatu. ingin sekali kembali padanya. Tangannya mengusap-usap punggungku. dan jantungku berdebar tak keruan. Aku menatapnya. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. dan rambutnya sudah rapi. Tapi ia tertawa.” aku mengakuinya. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. “Kutunggu. dan berusaha bernapas secara normal.” jawabnya kaget. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. tapi khawatir napasku bau. sebuah mimpi yang coba kuingat.. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. Begitu menyadari apa yang kulakukan. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. mengantuk dan pusing. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. matanya terlalu ceria. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. lagi. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. berharap bisa tertidur lagi. khawatir tindakanku telah melewati batas. lengan menutupi mata. Aku mengerang dan berguling ke sisi. “Selamat datang lagi. kalau boleh kutambahkan.” dengusnya. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. “Dia pergi sejam yang lalu. tapi aku menyukainya. Setengah berlari aku kembali ke kamar. djAnGgo 262 . seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. sama sekali tak memahami emosiku. Wajah yang ada di cermin praktis asing. Aku berbaring. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan.” Aku melompat ke kamar mandi. “Charlie!” Aku teringat.” ujarnya. tapi nyaris gagal. setelah memasang kembali kabel akimu. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. terkejut karena semangatku yang menggebu. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Harus kuakui. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. lengannya masih menantiku. “Tentu saja. “Aku yakin itu mimpi..” gumamnya. Aku tak mengenali diriku. Kupercikan air dingin ke wajahku. di dalam maupun di luar. membawaku ke dalam pelukannya. aku kecewa. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami.” “Kau tidak sekreatif itu. tanpa berpikir melompat menuju pintu. aku membeku. menghirup aroma kulitnya.15. Ia meraihku.

djAnGgo 263 .“Kau pergi?” tuduhku. sambil menyentuh kerah kausnya yang baru. apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang.

“Aku mencintaimu. “Tapi toh aku senang mendengarnya. aku yakin.. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. Perhatikan caraku berburu.” “Itu sangat lucu. dengan lembut. melompat berdiri.” aku mengingatkannya. “Ya. well. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar.” Matanya berkilatkilat. aku tak melewatkan apapun.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. seolah-olah menyerap suasana hatiku. Aku tersenyum..” Aku duduk di meja makan.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. memperhatikannya sambil menyuap sereal. Itu membuatku tidak nyaman..” Ia mencibir. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. Ruang dapur terang. “Kau mengigau lebih awal.” jawabnya sederhana. “Aku khawatir mereka takkan.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok.. untuk membuktikan. ke rumah djAnGgo 264 . “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap. “Boleh kuulangi?” tanyaku. tak ingin bersikap tidak sopan. Aku berdeham untuk bicara. menyusupkan kepalaku.” Kesembunyikan wajahku di bahunya. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Tidakkah mereka akan. Dan tampaknya aku dimaafkan. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. “Kau hidupku sekarang. Ia memutar bola matanya. memastikan ia memaafkanku. lalu berhenti. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. ceria. Ia mendudukanku di kursi. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. “Mm. Ia terperanjat. “Tidak apa-apa.“Kau tidur sangat pulas semalam..” “Kau sudah tahu itu.” aku mengakui. “Saatnya sarapan untuk manusia. jijik. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. tapi ia mengabaikanku. seperti aku. ia bisa melihatnya di mataku.” Aku menggerutu. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi.” “Aku tidak takut pada mereka.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal.” jelasku. terkejut kau membawa seseorang.. “Makan saja. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku.” bisikku. menyukaiku.. “Jangan khawatir. “Aku akan melindungimu. Kuletakkan makananku di meja.” “Oh. Bella. “Hmmm. “Saatnya sarapan. aku tak yakin. baiklah. “Apa acara hari ini?” tanyaku. “Bercanda!” aku nyengir. mengalihkan perhatiannya. dan kau tahu itu. “Kaubilang kau mencintaiku. Ia memandangiku.” akhirnya ia berkata. dengan kasual. “Tidak lucu. mempelajari setiap gerakanku..

“Apakah aku membawamu kembali. mereka sudah mengetahui semuanya. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 . Kau tahu.menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. ia tersenyum. kemarin mereka bertaruh”. tapi suaranya parau.

Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.” Senyumnya penuh kesabaran.” aku mengaku. ekspresinya penuh makna. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. aku akan menunggu disini. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. sama sekali bukan beruang pemarah. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. Kemudian tatapannya kembali padaku. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya.” “Well. dan semuanya.” gumamku. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu.” Perlahan ia mengelilingi meja. “Aku tidak berpura-pura.” aku mengakui.” “Berpakaianlah. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku.Alice. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. Aku buru-buru menghabiskan serealku. “Aku tidak tahu.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian.. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. “Jujur. “Apa itu enak?” tanyanya. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu. makananmu tidak terlalu mengundang selera. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya. “Itu tidak perlu.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan.” Ia meraih ke seberang meja. maksudku.” “Dia sudah mengenalmu.” aku mengingatkannya..” ia tersenyum senang. kau tak perlu berpura-pura demi aku. Ia tidak menyahut.” aku mengingatkannya. “Maksudku sebagai pacarmu. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh.” katanya jengah. Ia berdiri di tengah dapur.” “Kau menyimak. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan.” ia meyakinkanku. “Ya. “Kira-kira begitu. memandangi meja.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu. “Well. jangan lupa itu. “Aku akan selalu menginginkanmu. “Selamanya.” Aku menatapnya curiga. mengabaikan tatapan marahnya. kau tahu. “Jadi. Aku melompat berdiri. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. sambil berspekulasi. Aku tidak berharap kau. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. menggigit bibir. Aku menatapnya penasaran.. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. menerawang ke luar jendela belakang. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan.. mirip patung Adonis lagi.” djAnGgo 266 . Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.” Aku meringis.

rok panjang. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. berwarna khaki. Lega rasanya bisa berpikir begitu. masih kasual. djAnGgo 267 . Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan.

pingsanku kali ini berbeda. Kemudian aku tak sadarkan diri. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. itu tidak adil. Hutan menyelimuti kedua sisinya. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila.” aku langsung menjawabnya. dan aku langsung menghambur ke arahnya. “Itulah masalahnya. “Kau sangat tidak pantas. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat.. “Dan kau khawatir. Ia memiringkan kepala perlahan. “Aku sudah pantas bepergian.. “Kemarin aku menciummu. dan ruangan pun berputar. “Kau terlalu pintar melakukannya. dan berpaling.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter.” ujarnya tak disangkasangka.” Aku menyadari.. “Kurasa aku lupa bernapas. dan semakin besar. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.” Aku menggeleng menyesalinya. Jelas itu pertanyaan retoris.” Aku masih pusing. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. Jalanan itu tak bertanda. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. Tanganku membeku di dadanya. dan semakin besar. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku.” ia mendesah. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal.” “Aku baik-baik saja. “Kau sulit dipercaya.” gumamnya di telingaku. dan memasuki hutan berkabut. “Kau sangat konyol. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota.“Oke. jatuh pingsan. “Aku bisa mengganti. “Kau salah lagi. “Kau. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya. membuatku. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda..” aku bersikeras. “Tidak. Ia menggeleng.” Aku melompat-lompat menuruni tangga.. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. dan aku kembali melayang.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. Aku tak tahu apa yang terjadi. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. menggeleng-gelengkan kepala. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. putus asa. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. dengan sangat hati-hati membukanya.” Ia menunggu di ujung tangga. lebih dekat dari yang kukira. betul?” “Betul.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis..” Ia mendesah. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. “Begini. Wajahku memerah senang. jalanan membentang ke utara.” aku meracau. Amat sangat terlalu pintar.

setelah beberapa mil. Kemudian.sekeliling pepohonan kuno. hutan mulai menipis. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. djAnGgo 269 .

djAnGgo 270 . dr. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna.” “Selamat datang. tersembunyi di kegelapan hutan. “Sama sekali tidak. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme. namun tidak terlalu kurus.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. menjabat tanganku. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. langitlangitnya yang tinggi. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. berbentuk persegi dan proporsional. Aku merapikan rambut dengan gugup. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Dinding-dindingnya. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. Tubuhnya mungil. Aku pernah melihat dr.” sahutnya tulus. sangat terbuka. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. Mereka tersenyum menyambut kami. Esme. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. “Kau cantik. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. dan sangat luas. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. Tampak menanti menyambut kami. Sangat terang. “ini Bella. tapi tidak bergerak mendekat. tentu saja.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. berlantai tiga. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. berdiri persis di kiri pintu. “Carlisle. rambutnya berombak dan halus. Cullen sebelumnya.” Langkah Carlisle terukur. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. lantainya yang terbuat dari kayu. berwarna cokelat karamel. daripada bagian luarnya. Cullen. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca.” Aku tersenyum padanya. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. lebih tak bisa diramalkan. lebih berisi dibanding yang lainnya. mengingatkanku pada era film bisu.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.” “Tolong panggil saja Carlisle. berlantai pudar. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. Ia membukakan pintu untukku. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. Esme tersenyum dan melangkah maju juga.” Aku mencoba tertawa. “Wow. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Wajahnya berbentuk hati.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. elegan. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. “Senang bisa bertemu Anda lagi. Di bagian belakang. dan barangkali berusia beberapa tahun. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. langsing.” “Carlisle. adalah orangtua Edward. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. berhati-hati saat mendekatiku. tapi jelas bukan yang seperti ini. ayo. semuanya merupakan gradasi warna putih. tanpa ragu. kesempurnaannya yang luar biasa. Rumah itu tampak abadi. Bella. dan karpet tebal. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan.

berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. Putri Salju dalam wujud aslinya.“Terima kasih.” Memang itulah yang kurasakan. tapi mereka tidak menjawab. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng. “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. Aku juga senang bisa bertemu Anda. djAnGgo 271 .

Edward menatap Jasper.” bentaknya. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. “Hai.” ia tertawa. membuatku sangat malu. sekarang mereka tampak terkesiap. baginya. Ia berlari menuruni tangga. seandainya aku menenangkan lotere. tentu saja. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu.” sapa Jasper. kemudian Jasper ada disana. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu. Tapi piano itu indah sekali. dan aku teringat akan kemampuannya. tapi aku menyukainya. “Senang bisa bertemu kalian semua. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan.” Ia berbicara penuh perasaan. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. ia memandang Edward penuh makna. Jasper. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. rumah kalian sangat indah. “Kami senang sekali kau datang. Apakah itu milik anda?” “Tidak. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. Kugelengkan kepalaku. Aku memandang wajahnya. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. “Kau memang harum. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. “Hanya sedikit. tinggi bagai singa. “Edward bisa melakukan segalanya. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku.” Aku tersenyum malu-malu padanya. Lagipula. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali.” ia berkomentar. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Bella!” sapa Alice. Ia mengajariku cara bermain piano. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku.” tambahku apa adanya. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. berusaha terlihat sopan.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. Ia tetap menjaga jarak. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. begitu tenggelam. Bella. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. “Terima kasih. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. bukan begitu?” kataku menjelaskan. dan pada yang lainnya juga. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. tapi seperti kebanyakan anak. perpaduan rambut hitam dan kulit putih.“Hei. “Halo. bingung. Carlisle dan Esme memelototinya. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. meskipun wajah djAnGgo 272 . “Kau bisa main piano?” tanyanya. Esme memperhatikan keprihatinanku. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. salah satu alisnya terangkat. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. dan sesaat mereka saling menatap. itu tidak sopan.” Alis Esme yang lembut terangkat. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. Aku mengalihkan pandangan.” sahut Esme. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. Ia terlihat bahagia. “Kurasa seharusnya aku tahu.” Edward tertawa lepas. tatapan yang tidak kumengerti. menunjuk piano dengan kepalanya. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. “Halo. ekspresinya mendalam. itu sesuatu yang alami. “Tidak sama sekali.

“Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan. bermainlah untuknya.” Esme mendorong Edward menuju piano.” balas Esme.” aku meralatnya. “Kalau begitu sudah diputuskan.” bujuk Esme. dia terlalu rendah hati. “Sebenarnya. “Kalau begitu.Esme tampak nyaris puas. djAnGgo 273 .” sahutku. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. mendudukkanku di kursi di sampingnya. Edward menarikku bersamanya.” sergah Edward keberatan.

” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu. menutupi jati diri kami. Tapi Rosalie dan Emmett.” katanya. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. “Esme dan Carlisle. tapi dia tidak punya masalah denganmu.” gumamku. matanya melebar dan persuasif.” Ia mengangkat bahu. Ia merengut. “Senang melihatku bahagia. “Kau manusia. “ Mereka menyukaiku. takut ada djAnGgo 274 . menertawakan reaksiku.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.. “Jangan khawatirkan Rosalie. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya. “Emmett?” “Well . Ia mengangguk.” Irama musik memelan. “Dia akan datang. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. untuk mencegahnya menyadari kengerianku.” Aku mendesah..” katanya.Lama sekali ia menatapku putus asa. dia pikir aku gila.” “Oh..” aku tidak menyelesaikan kata kataku.” Aku mencibir. masih terkejut.” “Ini benar-benar salahku. begitu kaya..” katanya lembut. musik masih melingkupi kami tanpa henti. “Sudah kubilang. “Kau yang menginspirasi ini. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. Ia menarik napas dalam-dalam. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya.” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. dan dia benar.?” lanjutku cepat.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. Dan dia agak cemburu. dan mendengar tawa pelan di belakangku. berubah jadi lebih lembut.. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit. kau tahu.” katanya. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis.. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku. “Terutama Esme. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku.. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi. tapi ruangan besar itu kosong sekarang. “Dia berharap seandainya dia juga manusia.” Aku melirik ke belakang. “Bahkan Jasper. “Mereka menyukaimu. dan ia berkedip. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya. Aku tak sanggup berkata-kata. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. dan bergidik. Sebenarnya. Edward menatapku santai. “Kesukaan Esme.. “Rosalie yang paling berjuang keras.

Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku. djAnGgo 275 . Tidak sekarang.... “Dan kau takkan menjelaskannya.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku.” “Alice tampak sangat. Setiap kali aku menyentuhmu. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. Dia sangat senang. ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami. bersemangat.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas..” katanya dengan bibir terkatup rapat.

Aku menatapnya bertanya-tanya. dan mereka penasaran. 276 djAnGgo . “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi..” “Tamu?” “Ya. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. “Aku tahu kau pasti memperhatikan. Ia mengikuti arah pandanganku. menyeka titik air mata yang tersisa. “Tentu saja.. suaranya terdengar arogan.. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal. Aku mengabaikannya.” Aku bergidik ngeri. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. Ia menyentuh sudut mataku. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu.. Aku menyekanya. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.” Aku mengangkat bahu. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. Ia mengangkat jarinya. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku.. “Begitu terang. ya kan?” tanyanya. begitu terbuka. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. “Akhirnya. “Tidak ada peti mati. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. Mereka tahu kami ada disini.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. atau minggu. memalingkan wajah. malu.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab.” aku mengakuinya.. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin.. mengamati tetes air itu lekat-lekat. tiba di bagian akhir. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. laguku. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan.” gumamku.“Jadi.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab. respons yang masuk akal!” gumamnya. “Terima kasih.” Lagu yang masih dimainkannya. well. karena aku akan sedikit. sama seperti lantai keramiknya. mereka tidak seperti kami. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. tentu saja.“Tidak seperti yang kauharapkan. “Tidak. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu. Kemudian.” Aku mengabaikan gurauannya. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota.” lanjutnya mengejek.

menertawai ekspresiku yang bingung..” Aku tidak tertawa. Aku tidak menyentuhnya. Edward tergelak..” katanya. djAnGgo 277 .. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu. sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan..” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. Ia bisa saja melanjutkan. “Kau boleh tertawa.“Kamar Rosalie dan Emmett. ruang kerja Carlisle.. kamar Alice. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.. “Bisa dibilang ironis. warna permukaannya yang gelap mengkilat. Tanganku terulus dengan sendirinya. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku.

. “Nostalgia. begitulah cara mereka hidup.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. werewolf . Dia juga sangat percaya adanya roh jahat.” jawab Edward.” aku menebaknya. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. memimpin pengejaran.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. “Tidak. tawanya lebih menyeramkan sekarang. Akhirnya salah satu dari mereka muncul.. “Carlisle lahir di London. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. “Dia pasti makhluk kuno. kurang lebih. Saat penganut Protestan mulai berkuasa. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. Ibunya meninggal saat melahirkannya. “Awal 1630-an. Ayahnya berpandangan sempit. mengabaikan pertanyaannya. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya.” Suaranya sangat pelan. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. Aku kembali menatapnya. Ia mengangkat bahu. Makhluk djAnGgo 278 . Aku yakin ia memperhatikan. Lagipula bagi orangorang awam.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. Itu milik ayah Carlisle.” “Ketika sang pendeta semakin tua. untuk berjaga-jaga. Meski begitu. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. dan vampir. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. menurutnya. tapi ia melanjutkannya. masih memandangi salib. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. Tapi dia tetap ngotot. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. Dia mengizinkan perburuan penyihir. dan lebih pintar dari ayahnya. tentu saja”. hanya keluar pada malam hari untuk berburu.” Aku tetap menjaga ekspresiku. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. Dia mengukirnya sendiri.“Pasti sudah sangat tua. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. Pada masa itu. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. dan lemah karena kelaparan. dia tidak gesit menuduh. pada tahun 1640-an. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan.

Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. dan ia berbalik untuk membela diri. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Tubuh-tubuh akan dibakar. tapi yang lain ada di belakangnya. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. dan kabur membawa korban ketiganya. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. dan tak ditemukan. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. Dia membunuh dua manusia.” Edward berhenti. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. djAnGgo 279 . menyembunyikan sesuatu dariku. jadi dia berbalik dan menyerang.

ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. tapi tiba-tiba ia berhenti. Ia tersenyum.” ajaknya. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. “Aku baik-baik saja. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” aku menenangkannya.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. sambil menarikku bersamanya.” “Beberapa. “Kalau begitu. ayo. memamerkan giginya yang sempurna.” djAnGgo 280 .” Senyumnya melebar. Ia mulai menyusuri ruang besar itu. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa. “Akan kutunjukkan padamu.“Akhirnya semua itu selesai.

“London pada tahun 1650-an. “Masuklah. Edward meremas tanganku.” kataku meminta maaf. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Ia berhenti sebentar di depan pintu.” jawabnya. Aku tersentak. djAnGgo 281 . dr. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. “Well. tidak mendengarnya mendekat. Dinding-dindingnya bersekat. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. Sungai lebar mengaliri bagian muka. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. di mana saja terlihat. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun.16. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. di sebuah kursi kulit. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai. yang hitam-putih membosankan. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. “Tidak sama sekali. beberapa dengan warna terang. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. Snow tidak masuk karena sakit. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. “London pada masa mudaku. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi.” kata Edward. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk.” tambahnya. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. Lagi pula. kayunya berwarna lebih gelap. Sebagai ganti rak buku. sejarahmu. Setiap kali ia menyentuhku. meletakkan satu tangannya di bahuku. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. “Aku mau. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. jantungku langsung berdebar sangat cepat. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita.” jawab Edward. Rumah sakit menelepon tadi pagi.” kata Edward. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. sebenarnya.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran.” undang Carlisle.

djAnGgo 282 . terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. Setelah tersenyum hangat ke arahku. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Sungguh perpaduan yang aneh. Aku juga waswas. Carlisle meninggalkan ruangan.tersenyum pada Edward sekarang. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu.

” Ia tergelak misterius. Tapi itu tidak mudah. dan menjadi lemah.. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram. mencari tempat paling sepi. Dia menemukan jati dirinya lagi.” Edward tertawa. suaranya datar. “Tidak.” Edward memberitahuku. memindahkannya ke leherku. ” “Segalanya mudah bagimu. padahal ia masih begitu baru. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya.. tidak. tapi kata itu meluncur begitu saja. Bella. tapi aku berkeras.” Mulutku membuka hendak bertanya. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya.. tapi ia menduluiku.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras.” Edward mengingatkanku dengan sabar. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. djAnGgo 283 . hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami.” gumamku. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. sadar tekadnya mulai melemah. mendongak menatap Edward.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. Jantungku bereaksi terhadap hal itu. Sejalan dengan waktu. mengambil alih segalanya. Dia berenang ke Prancis dan. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya. nalurinya bertumbuh makin kuat. bekerja di siang hari. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan.” “Kau. dengan puncak gunung di kejauhan. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. kami tidak berlu bernapas.” kataku kagum. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. dan menyelesaikan kalimatnya. kau sudah janji. “Aku takkan menyelamu lagi. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi.. memangsa. “dia melawannya. wajahnya kesal. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. Ia menunggu. Dia pandai dan selalu ingin belajar. “Karena secara teknis. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. yang sedang mengamatiku.. dan sangat kuat.” kata Edward pelan. “Akhirnya dia sangat kelaparan. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. Ia mengangkat tangan..“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. Dia belajar pada malam hari. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. “Kurasa itu benar. ” “Tidak. janji. membenci dirinya sendiri. Lanjutkan.

” “Agak tidak nyaman. itu tidak perlu. djAnGgo 284 . tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas...” ulangku. Hanya masalah kebiasaan.” Ia mengangkat bahu. entahlah. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman.“Tidak. “Berapa lama kau tahan.

” Edward tertawa. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. tersenyum lagi. Kemudian kau akan menjauh dariku. yang bingkainya paling penuh ukiran.” Ia berhenti. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. dan yang paling besar. Keheningan terus berlanjut. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan.. “Carlisle berenang ke Prancis. Menunggu. Marcus. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. “Kita lihat saja. aku juga ingin bersamamu. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. seraya tertawa kaget. Pada malam hari dia belajar musik. “Aku takkan lari kemana-mana. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. “Ada apa?” aku berbisik. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. metanya menatap lekat wajahku.. Aku merengut.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri.” Ia setengah tersenyum. lanjutkan. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London.” Ekspresinya penuh kekaguman. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. “Penjaga malam di gedung seni. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani.” Ia mengangkat bahu. tapi tatapannya serius.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi.” katanya. dua berambut hitam.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. yang satu lagi berambut putih bagai salju.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle.” katanya. dan ia mendesah. lalu tersadar. kembali lagi ke ceritanya. lari sambil menjeritjerit. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. “Aro. Meski begitu. menyentuh wajahnya yang membeku. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. “Jadi. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. “Aku terus menunggunya terjadi. hormat. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . “Aku takkan menghentikanmu. “Mereka masih disana. ke universitas-universitas di sana. Caius. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an.” aku berjanji padanya. kedokteran. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. ilmu pengetahuan. memperkenalkan tiga lainnnya. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. hanya beberapa dekade. dan terus ke Eropa. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Carlisle berenang ke Prancis. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia.

keduanya sama-sama tidak berhasil. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. Mereka mencoba membujuknya. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. kau tahu. Dia sangat kesepian.keberadaban mereka. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. djAnGgo 286 . begitulah mereka menyebutnya. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. kehalusan budi bahasa mereka. seolah-olah dia salah satu dari mereka.

“Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. tak djAnGgo 287 . Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. memelan. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. “Hampir selalu. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. maka tentunya aku tidak sejahat itu. Dan Edward.” Aku gemetaran.” ia menyimpulkan. seperti yang seharusnya kurasakan.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal.” “Sungguh?” Aku terpancing. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. dan tahu aku sebatang kara. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. baik manusia maupun bukan manusia. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. “Sejak kelahiran baruku. “Hampir selalu?” Ia mendesah. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. terserah bagaimana kau menyebutnya. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. Edward yang sedang berburu. lorong pada malam hari. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. Dia telah merawat orangtuaku. bukannya ketakutan. nyaris berbisik sekarang. gadis yang ketakutan. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Aku menungguu dalam diam. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Ketika ia kembali padaku. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. Aku tidak menyukai caranya berpantang. kalau aku menyelamatkan gadis itu.“Ketika epidemi influenza merebak. laki-laki di belakangnya. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. Ia bisa merasakannya. lebih keras daripada sebelumnya. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. dia akan menciptakannya. Tak ada harapan untukku. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. jadi aku bertanya. tampak enggan menjawabnya. jadi dia merasa ragu. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya.” gumamku. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. di lorong berpanel lainnya.” Ia tertawa. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. “ Well. “Dan sejak itu hidup kami sempurna.

” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. Lebih daripada yang layak kudapatkan. Apakah gadis itu berterima kasih. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. membuka dan menarikku masuk. djAnGgo 288 . aku mulai melihat monster dalam diriku. “Kamarku. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme.” ia memberitahu. tak peduli apapun alasannya. Mereka menyambutku secara berlebihan. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu.terhentikan.

Aku berbalik. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ternyata aku menyukainya. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. berdasarkan tahun. menatapnya nanar. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. dan ia mengangguk. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga.” ia tergelak. nyaris menyentuhku. Tapi kemudian.” Ia mengangkat bahu. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. Sebenarnya.” kataku. Ia tergelak dan mengangguk. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. Suaranya pelan. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. “Aku benci menghancurkan harapanmu. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya.Kamarnya menghadap ke selatan. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. “Mmmm. setengah membungkuk. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. jelas-jelas tidak percaya. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Setelah kau mengetahui semuanya. Ia mengeram dengan suara pelan. Ini membuatku… bahagia. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. alisanya terangkat. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. kan?” aku menebak. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Ia berhenti.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. Ia tidak mendengarkan. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. Tidak ada tempat tidur. djAnGgo 289 .” katanya setengah melamun. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. tegang seperti singa yang siap menerjang. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. terlalu cepat.” aku berbohong. “Aku senang. tersenyum samar. “Kau tidak akan melakukannya. balas tersenyum. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Aku mundur darinya.

Aku menatapnya ngeri. sangat menakutkan. kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.Ia tidak membiarkanku.” ia menyetujuinya. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya.” kataku. “Mmm. “Jauh lebih baik. matanya berkilat-kilat penuh canda.” Aku berusaha bangkit. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . “Kau monster yang sangat.

“Mmm. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. bagus. aku tak dapat mengatakannya. “Tidak.Ia hanya tertawa.” Edward masih menahan tawa. dan Jasper berdiri di belakangnya.” Edward meralat. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. Akan cukup kering di hutan. “Tentu. Mata Edward berkilat-kilat.” kata Jasper. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. ke tengah ruangan. sampai aku menyadari Edward tersenyum. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong.” seru Alice. rasanya aku tak ingin berbagi.” ujar Alice.” jawabnya. kelihatan senang. Pipiku merah padam. di pintu masuk. “Kau akan menonton. bukannya ketakutan. Aku mendapati diriku bersemangat. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau. dan mereka langsung berlalu. tapi ia ragu.” Aku memutar bola mataku. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. “Badai akan menghantam kota. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. ekspresinya agak terkejut. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. ia berjalan. “Kami yang akan bermain baseball. dan Emmett ingin bermain baseball.” goda Jasper.” Aku tak mungin mengecewakannya.” ejeknya. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. “Kita akan main apa?” tanyaku. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. “Maaf. kau akan tahu kenapa. gerakkannya sangat anggun. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara. “Seperti kau tidak tahu saja.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. “Sebenarnya. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. entah karena komentar Alice atau reaksiku. Aku berjuang melepaskan diri. tapi konteksnya membuatku bingung. tersenyum sambil memasuki ruangan.” “Kalau begitu. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. semangat dalam suara Jasper menular. wajahnya bersemangat. Aku bisa melihat bahwa itu Alice. “Silahkan.” Seperti biasa.” ia berjanji. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. Tubuhku langsung kaku. tapi Edward nampak santai. nyaris menari. Ia menatap wajah Edward. djAnGgo 291 .” Alice terdengar cukup yakin.

djAnGgo 292 .

dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang.” aku mengingatkan. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. suaranya pelan dan parau. Jacob.” kataku sedih.” perintahnya.” “Belum lama. kemarahannya langsung lenyap. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata. kemudian ia membungkuk. ekspresinya mematikan. “Barangkali itu yang terbaik. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. “Aku akan segera kembali. Wajah Billy tak lagi datar. Hai. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini.” ia berjanji. “Terima kasih banyak.” “Kau tidak perlu pergi. Ford using. diparkir di pelataran parkir Charlie. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. memamerkan seluruh giginya.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. “Ini sudah kelewatan. Jacob mengawasi. Ia memandangku.” Ia tersenyum lebar. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya.” sahut Billy tenang. “Sebenarnya memang tidak perlu. “Oh. “Hei. dan aku memandang ke teras. Setelah kau menyingkirkan mereka”. Suara Edward yang dalam terdengar marah. Kemudian aku melihat mobil hitam. Billy. “Ajak mereka masuk. Matanya kembali melirik teras. lebih ketakutan daripada marah. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu.” usulku.17. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.” ia meyakinkanku dengan senyuman. Edward hanya mengangguk. “Segera. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. aku tahu. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit. Aku mengerang. Jantungku melompat tak keruan.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. djAnGgo 293 . Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. berhati-hatilah. Meskipun begitu. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. Anak itu tidak tahu apa-apa.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. “jadi aku bisa pergi. “Biar aku yang mengurusnya.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . sekilas mengecup pangkal rahangku. “Charlie pergi seharian. Aku akan kembali sekitar senja. Ia memutar bola matanya.

” kataku. meskipun tak tahu apa isinya. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.“Aku hanya mau mengantar ini. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu. djAnGgo 294 . “Terima kasih.

Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. djAnGgo 295 . “Dia ke tempat baru. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya. “Itu memang bukan urusanmu. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan..” “Bukan. alisnya bertaut. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. matanya serius. “Bella. Setelah beberapa saat. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. masih mengamatiku. suaranya murung.” katanya.” timpalku.” ujarku memberi isyarat. matanya waspada.” aku cepat-cepat berbohong.” katanya lagi. Ia terus mengangguk. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” aku mengulanginya. Tapi aku tidak tahu dimana. Aku memandangnya. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan. kesukaan Charlie.” jawab Billy. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. Matanya menyipit. diam. “Masukkan ke kulkas. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. “Barangkali ini bukan urusanku.” “Dimana?” Jacob bertanya.” aku menawarkan diri. jadi aku berbalik menuju dapur. Aku menunggu. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. wajahku menegang. aku mengetahuinya. biar kusimpankan untukmu.” Ia mengangkat bahu. tapi tidak mengatakan apa-apa.. namun kali ini bersungguh-sungguh. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. Ia terkejut.” Ia menyadari perubahan ekspresiku. “Bella. Ia mengangguk setuju.” “Sebenarnya. dan itu membuatnya berpikir. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi.“Mari. “Jake. Ia sedang menunggu.” “Ya. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah. Kulkas akan membuatnya lebih kering. “Charlie salah satu sahabatku.” katanya. kemudian ragu-ragu.” “Kau benar. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater. “Memang benar. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku..” Jacob kembali menembus hujan.” ia menyetujuinya.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. dan berbalik menghadapnya. “Terima kasih.” “Ya.” ujarku tegas.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. tapi ia menunduk menatap lantai. berbalik untuk menutup pintu.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. matanya berbinar.” kembali aku menjawab dengan ketus..” Suaraku nyaris kasar. “Kau kelihatannya. “Charlie pulang larut. “Rasanya aku melihatnya di bagasi.

“Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.” Aku menatapnya.” ia mengalah. “Mungkin. Lebih tahu daripada yang kuduga. tapi sorot matanya tajam. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.cukup tahu tentang keluarga Cullen. djAnGgo 296 .” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya.

” desaknya. kurasa sampai ketemu nanti.” aku buru-buru menimpali.” Jacob tampak kecewa. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. yang baru saja lewat jadi tidak penting. yang lainnya akan membuatku kecewa. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya.” Billy bergumam.” Aku menatap matanya. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. “bahwa kami mampir.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. tak yakin apa yang menantiku malam ini.” sahutku membentengi diri. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. terengah-engah. maksudku. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. “Hmm. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.” katanya. “Oh. satu-satunya suara yang memecah keheningan. Segera saja aku menyerah memilih pakaian. Ekspresinya tidak senang. “Bella? Ini aku.” “Tentu. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. Aku melambai sebentar.” Billy mengingatkanku. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. “Oke.” timpalku. “Terima kasih. dan tak ada yang bisa kukatakan. Billy. “Well.” “Akan kusampaikan. kukenakan atasan flanel usang dan jins.” “Well. Aku tak menyahut. “Jaga dirimu. “Hebat. “Itu bukan urusanku. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Bella. beritahu Charlie”.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. Bella. “Halo?” tanyaku. dan aku melompat mendengarnya. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar.” Aku mendesah lega.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. “Ya.” gumamku. Jacob terkejut. Ketika ia berbelok di sudut. tapi tidak terkejut. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri.” kata Jessica. Bella. Aku diam di tempat. “Maksudku. Wajahnya menekuk. Tapi sepertinya ia mengerti. “Tapi mungkin urusan Charlie.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. djAnGgo 297 . Aku berdiri di lorong sebentar. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. “Kurasa itu urusanmu juga.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi.” akhirnya ia menyerah.

” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. Tak perlu dipancing lagi. Jess. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica.“Oh. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat. tapi tidak mudah djAnGgo 298 . hei. ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya. “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica.

Jessica. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. “Well. membuyarkan lamunanku. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus. sebenarnya. djAnGgo 299 .” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. “Tunggu. Jess. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu..” serunya marah. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. apa?” “Kubilang. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. sekolah.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. Cullen?” ia bertanya. “Itu kesukaanku. “Dad. Bella?” tanya Jess jengkel. masih jengkel karena aku kurang menyimak. yang rambutnya cokelat kemerahan. “Mmm.” aku meralatnya. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. “Tidak ada.” Aku berusaha terdengar bersemangat. Tak apa. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. sungguh. kaget.. “Well. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting.untuk berkonsentrasi.” Charlie menjatuhkan garpunya. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. sore ini aku di rumah saja. “Hai.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. Aku melambai padanya. ayahmu ada.. Jess.” kataku. pesta dansa. makan dalam diam.” Aku tagu. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. meletakkan peralatannya. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini.. Dad. “Hei. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku. O-Oh. Mataku terus menatap jendela. “Edwin itu yang mana. ya?” “Edward adalah yang paling muda. “Jadi.. “Yeah. “Oh. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga. Mike. Sampai ketemu di kelas Trigono. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. “Kaudengar apa yang kukatakan.” Aku menutup telepon. yang seperti dewa. “Maaf.” kataku. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. well.” Ia berhenti. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. tapi perutku seperti berlubang. “lebih baik.” Yang tampan. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring.” Bukan sepanjang sore. “Oh. kita ngobrol besok. Charlie menikmati makanannya. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar..” “Sampai ketemu. “Rumah dr. “Kami sama-sama murid junior.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku... Jess mendengar suara Charlie.

Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya. tidak?” djAnGgo 300 . Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Dad.. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward.kurasa.” “Ya.. dewasa untukmu. tapi dia kelihatan terlalu.

“ini baru tahap awal. Kepala Polisi Swan.” “Jangan khawatir. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. “Oh.“Kurasa bisa dibilang begitu. Sir. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. Sir. Lagipula. memaksaku duduk di sofa.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan.” lanjutku. “Sudah cukup menertawakanku. Charlie.” Faktanya.” ia mengamatiku curiga. kemudian akhirnya tergelak.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. “Kau bermain baseball?” “Well. “Terima kasih. Dad. “Well. aku bisa mencucinya malam ini. Edward tidak tinggal di kota. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball.” Charlie tertawa. “Aku mendesah dan memutar bola mataku.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah. Kau sudah terlalu memanjakanku.” Wajahnya cemberut.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu.” sahut Edward dengan suara penuh hormat.” Aku bangkit berdiri. “Lagipula.” Aku meringis.” Edward berjanji. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. oke?” djAnGgo 301 .” Bel pintu berbunyi. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut.” “Terima kasih. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar. Edward. Ayo kita pergi. dan Edward ikut tertawa. “Jadi. Edward. “Ayo masuk. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.” “Silahkan duduk. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. Sini. panggil saja aku Charlie. Mereka mengikuti. Bell. “Jangan pulang terlalu larut. kusimpankan jaketmu. “Tinggalkan saja piring-piring itu. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. kau tahu. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. di sebelah Charlie. “Oke. ia mungkin saja mendengarkan. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya.” Tapi ia mengambil garpunya lagi.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. begitulah rencananya. barangkali kebanyakan aku menonton. “Kaujaga putriku baik-baik. “Ya. “Well. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Ia mengedip di belakang Charlie.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku.

Mereka tertawa. “Dia akan aman bersamaku. tapi mereka mengabaikanku.Aku mengerang. aku janji. Sir. yang terdengar pada setiap kata-katanya.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. djAnGgo 302 . dan Edward mengikutiku. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku.

Bella. kau akan baikbaik saja. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. “Dalam artian yang baik. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. kemudian mengerang.” djAnGgo 303 . Hujan tinggal gerimis. Charlie bersiul pelan. tapi tidak mudah. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku.” “Aku bakal mual. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. Aku menatapnya. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. dalam langkah manusia normal.” “Pejamkan saja matamu. melawan rasa panik. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. Ketika ia beralih ke jok pengemudi.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat.” “Oh-oh. “Kau harum sekali ketika hujan. atau buruk?” tanyaku hati-hati.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. kita harus jalan kaku dari sini. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. tersenyum lebar sepanjang jalan. Kami berlalu meninggalkan rumah. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. menyusuri tulang selangkaku. “Maaf. Tapi terlalu banyak kaitan. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. Jeep-mu besar sekali. Ia mendesah... Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. Kemudian kami tiba di ujung jalan. “Ini.” jelasnya. tampak Jeep berukuran sangat besar. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari...” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku.” sahutnya tercekat. dan langit tampak lebih terang di balik awan. Lalu aku tiba-tiba mengerti.” Kugigit bibirku. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu.Aku berhenti tiba-tiba di teras.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. di belakang trukku. Ia mendesah. setiap detik semakin pelan. “Kau tidak akan berlari. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Disana. Ia tersenyum tegang. Atapnya merah mengkilat. mmm. “Kenakan sabuk pengamanmu. “Itu perlengkapan keselamatan off-road. selalu keduanya. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. bingung.” “Ini punya Emmett. “Keduanya.

” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku. kau terus saja. djAnGgo 304 .” protesku. “Biar aku yang melakukannya.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. dan menuju sisiku dalam kelebatan.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil.

tapi aku mungkin. “Nah. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. berusaha mengatur napas. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. menyerah.. ” aku menelan ludah. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. Aku mendesah dan mengangkat bibirku. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku.. bibirnya bergerak di bibirku. Alice benar.” Ia menahan senyum. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya.” geramnya. “.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku.” Menggunakan hidungnya. berhenti tepat di sudut mulutku. “Kau akan menjadi alasan kematianku.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh.” Aku berusaha berkonsentrasi. ya kan?” “Tidak. “Sialan. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku.” katanya. “Semacam itu. dan memejamkan djAnGgo 305 . Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. dengan hati-hati. wajahnya hanya beberapa senti dariku. “Tidak. “Kaulihat. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Nyaris tak berembun sekarang ini. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. Bukannya tetap diam dengan aman. dan sekarat. kan?” “Tidak. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.“Hmmm. aku bersumpah. tapi tak ada yang bisa kulakukan. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. “Jangan lupa untuk memejamkan mata.” Aku berjongkok. memaksaku menempel ke pintu. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual. “Ya. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya. Ia tergagap mudur.” aku terengah. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. di bawah lenganku sendiri.” ia mengingatkan dengan nada kasar.” desahnya. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. dengan mudah melepaskan cengkramanku. “Pepohonan.” gumamku. “Kau tidak bisa mati. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. mm. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar.” Sebelum aku bereaksi.” aku mendesah. menabrak pohon. Aku tahu pertahananku nyaris hancur. Kemudian mual. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. “Mual.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. Bella!” ujarnya terengah-engah. “Bella.” desahku. dan menciumku sepenuh hati. Aku tak bisa melepaskan diri.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya.

mata. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak. gerakannya terlalu halus.

Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai. “Karena selalu membahayakan dirimu. kami sudah berhenti. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. Ia menatapku tak percaya. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu.. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. hangat. “Jangan. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. dan cukup yakin. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku. ” “Aku tidak marah pada mu. “Jangan marah. Aku harus lebih kuat. Aku bangkit berdiri. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. percaya.” “Lalu kenapa?” bisikku. aku tak dapat menahan diri.” Aku memberanikan diri membuka mata. kelambananku. seluruh selera humornya lenyap. “Aku tidak marah padamu. mendarat di punggungku. frustasi akan kelemahanku. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku. Tidak bisakah kau melihatnya. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya.mengintip. “Kau marah.” “’Bella.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. alisku terangkat.” “Tapi kau baru bilang.. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya.” katanya lembut. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. Merasa jengkel. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. “Sudah sampai. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku.” aku berkeras. Bella. “Ya. “Kau mau kemana. Ia menangkapku lagi.. tapi aku menahannya. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. dan ia pun tertawa terbahakbahak. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. “Oh. begitu juga kata-katanya. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba.” “Kau berjalan ke arah yang salah. aku mulai melangkah ke dalam hutan.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya.. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. tapi ia menangkapku dengan cepat.” djAnGgo 307 . Bella?” Tiba-tiba ia tegang. “Aku takkan pernah marah padamu. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. aku harus bisa.

“Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. djAnGgo 308 .” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku. memindahkannya dari bibirnya.” katanya. Ia mungkin tidak menyadarinya. “Aku mencintaimu.Ia meraih tanganku. namun meletakkannya di wajahnya. tapi aku tentu saja menyadarinya. dalam begitu banyak katakata. tapi itu masih benar.

” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. dan dengan cepat ia mendahului mereka. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. setidaknya jaraknya seperempat mil. tim!” Ia mengejek dan. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Aku mencoba terdengar bersemangat.” Emmett membenarkan. Emmett. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. Emmett.” Edward menjelaskan. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan.“Sekarang. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. sambil mengedip padaku. “Itu memang dia. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. “Ayo. Ma’am. “Kaukah yang kami dengar tadi. mengejar kedua saudaranya. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. kecuali satu tanganku.” ia mengumumkan. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. lebih mirip cheetah daripada rusa. Larinya lebih agresif. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. Aku diam tak bergerak. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. aku lebih suka menjadi wasit. Esme menghampiri kami. Alice berlari bagai rusa. dan kami pun sampai. Esme. mungkin jauhnya seratus meter. “Kalau begitu. Begitu ia berbicara. menembus semak-semak yang basah dan padat. “Ayo. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. Luasnya dua kali stadion baseball. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Esme. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. dan Rosalie bangkit berdiri. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. Perutku langsung mual. setelah mengacak-acak rambutku. gelisah. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. Lalu mendesah. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. “Menyeramkan. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. tapi aku tak melihat bolanya.” ia menjelaskan. tatapannya bersemangat. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. kemudian pecah di barat kota. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. “Tidak. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. “Sudah waktunya.” “Ya. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. berkilat-kilat. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. kumohon bersikaplah yang baik. cepat-cepat membalasku. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu.” ia melanjutkan. atau menari ke arah kami.

” “Anda terdengar seperti ibuku. “ Well.mendengarnya.” gumamku. apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. “Ia juga tertawa.” aku tertawa. djAnGgo 310 . kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. terkejut. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. terkejut. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal.

menggema hingga ke pegunungan. melayang menembus hutan yang mengelilingi. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. sebagai anggota tim lawan. “Ke posisi masing-masing. Carlisle membayanginya.” tambahnya terus terang. kembali ragu-ragu.” ia memberitahu. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. makhluk kecil yang malang. Gelegar petir terdengar lagi. katanya. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. “Itu menghancurkan hatiku. mendengarkan dengan saksama. aku sedih melihatnya sendirian. Bunyi pukulan itu menggetarkan.“Ya. Sayang. itu sebabnya aku melompat dari tebing. “Tunggu. “Kalau mereka tidak memukulnya.” seru Esme lantang.” Esme mengingatkan. “Edward putra baruku yang pertama.” Ia tersenyum. tangannya yang terangkat menggengam bola. “Emmett memukul paling keras.” Ia tersenyum hangat padaku.” Ia tampak bersimpati. Esme menghentikan langkah. sejauh apa pun posisinya. seolah-olah tak bergerak.” ujarku terbata-bata. Alice tersenyum sebentar. Anda tidak keberatan?” aku bertanya. menggelegar. tapi saat ia mengambil posisi. Kemudian tangannya mengayun lagi. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu.” ia mendesah.” jelas Esme. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Aku menunggunya menghampiri home base . djAnGgo 311 . Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. Aku selalu menganggapnya begitu. pasti akan ada jalan keluarnya. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. “Selalu sang pria sejati. “Home run. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. bagai serangan kobra. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. “tapi Edward berlari paling cepat. dan kemudian. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. “Baik. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan.” aku bergumam. kau tahu. “Bahwa aku. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya.. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. Entah bagaimana. dan Alice memegang bola. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana.. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. Gayanya tampak licik daripada mengancam. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. bayi pertamaku dan satu-satunya. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. satu tangan terangkat. baru disebut strike.” “Kalau begitu. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. meskipun dahinya berkerut waswas. Aku tersadar Edward menghilang. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. meskipun dia lebih tua dariku. “Out!” Esme berteriak lantang. “Kaulah yang diinginkannya. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. setidaknya dalam satu cara.” Alice berdiri tegak.

ketika Edward menangkap bola ketika. berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. “Safe. Ketika mereka bertabrakan. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. djAnGgo 312 .Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. memukul bola mati ke arah Carlisle. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. Aku melompat dengan waswas. Ia berlari cepat ke sisiku.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. wajahnya memancarkan rasa senang.

Ketegangan menyelimuti wajahnya. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. tidak sambil menggendong.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini.” katanya. aku tak bisa mengatakannya. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. Petir terus bergemuruh.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. kemudian berpaling. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. menuju base. djAnGgo 313 . mereka ingin bermain. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. menjaga bola tetap rendah. “Tidak. Semua sudah berkumpul. ” Ia terdiam. “Kurang dari lima menit. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. “Mereka mendengar kita bermain. Tiba-tiba Alice terkesiap. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan.” gumamnya. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. bingung. “Kenapa?” tanyanya.” Wajah Edward geram. dan itu membuat mereka berbelok. “Lagipula.” katanya menyesal. Alice ber-high five dengan mereka. “Giliranku. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. “Yang jelas. Ia bermain pintar.” jawab Alice singkat. matanya kembali berkilat-kilat memandangku.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya. “Well. Mereka berlari. “Aku tidak melihat. Mataku tertuju pada Edward. seperti biasa. “Alice?” suara Esme tegang. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. “Aku agak kecewa. Jasper mendekati Alice. membuatku kehabisan napas.” “Tiga. “Apa yang berubah?” tanyanya.” bisiknya. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. bebalik menghadap Edward.” godaku. “Ada apa. posturnya protektif. “Biarkan mereka datang.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin.” ia tertawa. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan.

meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . Suaranya tenang dan datar.” akhirnya Carlisle memutuskan.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah. mereka hanya penasaran. Hanya Emmett yang tampak tenang. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. “Alice bilang. Carlisle berpikir.

Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati. menutupi wajah. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. “Maafkan aku.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar.” gumamnya marah.” “Aku tahu. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Ia setengah melangkah. Carlisle. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. mata dan pikirannya menerawang ke hutan.” gumamnya enggan. Emmett. “Kau yang menangkap.” katanya. Detik-demi detik berlalu. “Itu takkan membantu.” kata Alice lembut. Tatapannya tanpa ekspresi. djAnGgo 315 . “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. dan Emmett. tapi toh aku dapat menangkapnya. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. Aku sungguh menyesal. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. “apakah mereka haus. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. Ia menarik rambut panjangku ke depan. Aku mematuhinya. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. jangan bergerak dari sisiku. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan.” “Ya. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Rosalie. dan yang lain berpaling ke arah yang sama.” Aku mendengar napasnya berhenti. “Yang lain berdatangan sekarang.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. Carlisle berdiri di base. “Cukup untukku. “Uraikan rambutmu. Esme. Yang lain kembali ke lapangan. Bella. kumohon diamlah. jangan bersuara.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega.” Dan dia pun berdiri di depanku. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab.

entah mengapa tampak paling waspada. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. Matanya. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. meskipun diam. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. Kedua laki-laki itu berambut cepak. Mata mereka juga berbeda. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. tapi kalah jauh dari Emmett. anggun. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. dan tanpa komunikasi yang kentara. terpisah-pisah sejauh 12 meter. memamerkan gigi putihnya. Ia tersenyum ramah. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Postur tubuhnya sedang. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. rambutnya hitam mengkilap. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. Yang ketiga wanita. Ketika mereka mendekat. ototnya kekar. dan mereka bertelanjang kaki. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Laki-laki yang pertama langsung mundur. Langkah mereka pelan. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper.18. Sambil masih tersenyum. djAnGgo 316 . Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Si perempuan lebih liar. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing.

Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Rosalie. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah.” djAnGgo 317 . “Disini. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu.“Kami kira kami mendengar permainan. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. “Aku Laurent. Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Edward dan Bella. di Olympic Range. Ini keluargaku.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. Emmett dan Jasper. Esme dan Alice. Aku terkejut ia menyebut namaku. “Aku Carlisle.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. kami baru saja selesai. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.” “Tidak. “Sebenarnya. ini Victoria dan James. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai.

“Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. cuping hidungnya masih mengembang. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.” djAnGgo 318 .Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul.” Carlisle menjelaskan.” Senyumnya ramah. Perlahan James menegakan tubuhnya. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. Kalian mengerti. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. “Kalian membawa snack?” tanyanya. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. “Tentu saja. nada suaranya lembut. “Dia bersama kami. mengamatiku. Rambutku berantakan ditiup angin. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser. James. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario. Emmett dan Alice. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. “Ceritanya agak panjang. tubuh Edward menegang. Ketika Laurent bicara. dan laki-laki kedua. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Kumohon jangan tersinggung. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan.” Carlisle menambahkan dengan tenang. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. Lagipula. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. balas siap menerkam. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. bengis. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. semata-mata hanya terkejut.”protes Laurent. “Tapi dia manusia. menggeram penuh ancaman.” Laurent mengangguk. hidungnya mengendus-endus. matanya tertuju pada James. “Ya. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam.” Ia tertawa. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. James bergerak sedikit ke samping. tiba-tiba memutar kepalanya. Edward memperlihatkan giginya. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.

Rosalie.” Suara Edward pelan dan lemah. “Akan kami tunjukkan jalannya. “Tapi kami ingin menerima undanganmu.” Suara Carlisle masih tenang. dan Emmett mundur perlahan. Jasper. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. Mereka mendekat. Seperti kataku. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. djAnGgo 319 . Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Bella. “Ayo.“Tentu. “Dan. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. tentu saja. Esme?” panggilnya.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. kami takkan melukai perempuan manusia ini.

Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. “Emmett. Alice telah berada di jok depan. yang lain tak bisa mendahuluinya. “Tidak! Edward! Tidak. berputar menghadapi jalanan yang berliku. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Bella.” Ia tidak menoleh ke belakang. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya.” kata Edward dingin. menyembunyikan diriku. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami.” ia memerintahkan Emmett. Aku memberontak. menjauh dari Forks. dan Edward menyalakan mesin. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. dan sama sekali saia-sia. “Menepilah. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan.” djAnGgo 320 . Kami tiba di jalan utama. Bahkan denganku di punggungnya. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. masih terkejut karena ngeri. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. “Pasangkan sabuk pengamannya. Edward.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. “Kita mau kemana?” aku bertanya. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. sekarang kumohon diamlah. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. “Sialan. kau tidak boleh melakukan ini. yang lain tak mau menjauh darinya. sekarang. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini.” Suaranya dingin. matanya terpaku ke jalan. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. “Tidak demi aku. Tak ada yang menjawab. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu.” “Aku harus.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. Aku terus menundukkan kepala. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. Alice berbicara untuk pertama kali. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. jauh sekali. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. Dan kami menuju ke selatan. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. dan meskipun laju kami bertambah cepat. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Bella. yang menyelinap masuk ke sebelahku. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah.

tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. Jarum spidometer bergerak melewati 120. Edward. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. “Menepilah.” ia mengerang frustasi. kemudian menambah kecepatan. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. aku ingin memahaminya. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115.Edward menatapnya marah. djAnGgo 321 . Alice. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. “Dia pemburu. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. “Kau tidak mengerti. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit.” Nada suara Alice tenang.

Aku melihat pikirannya. “Dia benar.” aku memohon. Bella. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella. Jeep kembali melambat.” Emmett tampak sangat percaya diri.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. Aku memecahkannya. Alice. Berburu adalah hasratnya. “Bawa aku kembali. “Bawa aku kembali. “Itu sebuah pilihan. Ia benar-benar mengabaikanku. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. obsesinya.” kata Alice pelan.” “Dan yang perempuan. Kukemasi barang-barangku. akhirnya terpancing juga.” “Dia tak tahu kemana. Jeep sedikit melambat.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu.” Alice berpikir sebentar. Edward berbalik padanya. dan dia menginginkan Bella.” “Jumlah kita cukup banyak.” bujuk Alice. Semua menatap Edward. suaranya mengeram. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. dia tak tergoyahkan. murka.” desis Edward. Dia takkan bisa menyentuhnya.” Emmett tersenyum. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix.” “Dengar. Alice. Aku terdorong ke depan. Alice memelototinya.” geram Edward. Edward. “Aku tidak melihatnya menyerang. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. “Tidak.“Lakukan. Dia akan mencoba djAnGgo 322 .” “Dia bukan tandingan kita. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. pilihan. “Aku juga bisa menunggu. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. “Tidak ada pilihan. lebih drastis. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. si pemimpin akan turun tangan juga. Edward.” kata Alice. dia takkan bisa mengalahkan kita. Sekali memutuskan untuk berburu.” potong Edward. “Kita harus membawanya kembali.” “Itu pilihan lain. ada. Kita harus membunuhnya.” sahut Edward mantap. “Terlalu berbahaya.” kata Alice. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. secara spesifik. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Tidak. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. “Bukan ide yang buruk. Aku memandang marah dan melanjutkan.” “Dia akan menunggu. Kalian tahu itu. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut.” “Tidak. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya.” Aku terkesiap. “Edward. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk.” Emmett akhirnya berbicara. baru kita lari. Dia bersamanya. terkesiap. “Bisa saja berhasil. ” Edward menginterupsi. “Dengar. Dia memulai perburuannya malam ini.” Mereka menatapku. sungguh. dan terhempas lagi ke jok.” “Kau tidak mengerti.

” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.menunggu kita meninggalkannya sendirian.” djAnGgo 323 .

“Aku tak bisa melakukannya.” Emmett menyela. “Aku ikut kau. dia memang benar. maaf.” “Ya.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. Dia akan berpikir kau bersamaku. mengertakkan giginya. “Kau akan pergi malam ini. Sepertinya Edward tidak mendengarku. dimanapun kau berada.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. “Edward.” “Tidak.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang. “Kupikir dia benar.” Aku berusaha terdengar tegas. Katakan pada Charlie. dengarkan dia. aku ikut kau. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. terlihat terkejut lagi. “Kumohon. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.” katanya. “Tidak akan. kau tak tahan lagi berada di Forks. suaranya terdengar terluka. kumohon lakukan saja dengan caraku.” Suara Edward dingin. sekarang ia tak meragukannya lagi. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Apapun masalahnya dengan Alice. Lalu Edward berbicara lagi. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.” Ia melepaskannya.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. kau ambil truk Bella.” “Itu tak ada hubungannya.” Edward mendesah. “Kalian semua takkan muat di trukku. bannya berdecit-decit. “Dengar.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Kami akan memastikan dia aman. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. “Oh. Sesampainya di rumah Bella. kemudian masuk ke trukmu. Setelah dia keluar.” desaknya. kau berjaga di luar rumah. Kemudian dia punya waktu 15 menit.” kata Alice tenang.” Emmett melihat ke arahku. Charlie bukan orang bodoh. Suaranya terdengar pahit. “kita tidak akan berhenti. Alice.” Alice menimpali. djAnGgo 324 .” “Pikirkan lagi. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. dan ia memutarnya. “Kalau si pemburu ada disana. suaraku jauh lebih pelan. sekali ini saja.” aku melanjutkan.” Jeep menderu menyala. Ceritakan apa saja agar dia percaya. Kemasi apapun yang bisa kau ambil.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. aku tidak mau.” Ia menatapku geram dari kaca spion. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. “Bella.” kata Alice yakin. dan itulah yang terpenting. “Emmett juga harus tinggal. kalau si pemburu tidak ada disana. Aku akan berada di dalam selama dia di sana.” protesku. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. Ia tidak mendongak. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu.” kataku. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. Ia mendengarnya.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. “Inilah yang akan kita lakukan. “Kau akan membawanya pulang. Kau punya waktu 15 menit. Ketika bicara. “Emmett.” aku berbisik. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. “Emmett?” Aku bertanya. kecuali bunyi deru mesin. Emmett. menatap lurus tanganku. dia bakal curiga. Edward sepertinya setuju.

Edward menatap Alice tak percaya. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya. “Jasper dan aku akan membawanya.” sahut Alice.” “Aku tak bisa melakukannya. djAnGgo 325 . aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak.” Edward mengulangi kata-katanya.” timpal Alice.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal. Akal sehatnya mulai bekerja. “Menurutmu.

tak diragukan lagi.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.” Suara Edward terdengar sangat lembut. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku benar. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang.” “Oh?” tanyanya.” Tentu saja. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “. kemungkinan besar akan ada yang terluka. djAnGgo 326 . Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. Ia berpaling pada Alice. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. “Tetaplah disini selama seminggu.” “Edward. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota.Aku mencoba membujuk..” Alice mengingatkan. kami akan menemaninya. dalam segala hal. dia akan terluka. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. bisa kurasakan bulu kudukku meremang.” “Dia licik. Nah. Emmett. Edward tersenyum padanya.” gumamnya tiba-tiba. aku akan menuntut tanggung jawab darimu.” Emmett tergelak. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. menelan ludah. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan. Meskipun ucapanku terdengar berani. beberapa hari.” aku memberitahunya. nada suaranya berbahaya. Tentu saja ambil rute memutar. apapun. Lalu datanglah dan temui aku. Aku memikirkan Charlie.” “Aku takkan pulang. Aku langsung meringkuk ketakutan. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. Dia telah bekerja dengan sangat.” katanya tidak sabar.” sahutku. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. sendirian di rumah. dan mencoba untuk berani. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. dan buat perburuan James ini berantakan. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. atau kau karena mencoba melindunginya. sangat baik.. Kau mengerti?” “Ya. Edward. “Diam. “Bella.” “Dengar.” “Aku sepertinya menyukainya. “Tidak. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. senyumnya mengembang perlahan. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. “Tetap di dalam ruangan. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. tentunya.

djAnGgo 327 .

Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. Aku nyaris tak mengenalnya. Aku berlari ke tempat tidur. Kita harus bergegas. Air mata memberiku inspirasi.” Ia mencondongkan tubuhnya. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. menghirup setiap aroma. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan.” “Masuklah.” Suaranya mendesak. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. “Alice. oke? Jaga Charlie untukku. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. Bella. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. langsung menghilang. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. “Aku bisa melakukannya. membuatku sedih. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. tak peduli apa yang terjadi sekarang. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. Bella. duduk tegak di kursi mereka. namun bagaimanapun juga. Emmett. dan sekarang ia bangkit berdiri. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.” katanya. “Satu lagi.” ia mengingatkanku dengan berbisik. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka.” aku berbisik penuh hasrat. Ini tidak bakal menyenangkan. “Aku akan selalu mencintaimu. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. djAnGgo 328 . air mataku mengalir deras sekarang. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. Aku menatap matanya lekat-lekat.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. Perpisahan Charlie menungguku. Bella. Mesin dimatikan.” “Takkan terjadi apa-apa padamu.” kata Edward tegang.” katanya pelan namun ceria. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. Perlahan Edward menepikan Jeep. Semua lampu di rumah menyala. mendengarkan setiap suara di hutan. sama tajamnya. “Ayo. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. mengamati setiap bayangan.” kataku. “Aku mencintaimu. memarkirnya tepat di belakang trukku. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. “Lima belas menit.” isakku. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. “Jangan khawatir.19. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini.” Suara Edward memerintah. “Jalankan saja rencananya. Mereka bertiga sangat waspada. “Pergilah. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. “Dia tidak disini. suaraku pelan dan dalam. membanting pintu dan menguncinya. Edward!” Aku berteriak padanya.

lalu melemparkannya padaku. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. “Bella.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. “Tidak!” jeritku. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas.” aku berteriak. “Aku mau pulang. djAnGgo 329 . memberi tekanan pada kata yang tepat. Aku berbalik ke lemari pakaian. dan Edward sudah ada disana.

“Dia menelepon ketika kau sedang keluar. lalu mengempaskannya. Meskipun ia masih bingung. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. sambil menarik-narik resleting tasku. Aku benci. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. “Aku memang menyukainya. Ia berdiri terlalu dekat. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. lalu membuka pintu. dan aku harus memikirkan keselamatannya. Aku mengucapkannya semarah mungkin. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh.” bisiknya dibelakangku. “Semuanya kacau. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. memutar kenop pintu. dan mendorongku ke pintu. cengkramannya kuat. “Apa yang terjadi.” Ia benar-benar membuatku kesal. itulah masalahnya. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku.” Aku menggeleng. “Tidak!” jeritku. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. Aku tidak menoleh. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. djAnGgo 330 . Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. Ia menghilang lewat jendela. “Biarkan aku pergi.” “Tunggu 1 minggu lagi. lalu bergegas ke pintu. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. “Aku punya kunci. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. “Bells. wajahnya syok. Aku menatap geram pada ayahku. pergi!” ia berbisik. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. mereka akan kembali ke Arizona. Ia memutar tubuhku menghadapnya. Ia berada tepat di belakangku.” ia memohon. satu tangannya terulur ke arahku. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. Sudah malam. Tapi aku tak punya waktu. Carlie. “Aku akan menunggu di truk. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas.” gumamku. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. kau tak bisa pergi sekarang. “Apa yang terjadi?” ia berteriak.

“Besok aku akan menelepon!” aku berteriak.oke? Aku sungguh. terpana. sementara aku berlari menembus malam. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. namun sadar aku takkan pernah sanggup. Charlie bergeming di ambang pintu. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. djAnGgo 331 . Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. membayangkan bayangan gelap di belakangku. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong.

semuanya akan baik-baik saja. Aku menatapnya putus asa. “Charlie?” tanyaku ngeri. “Ini salahku. Ia menarikku ke pangkuannya.” ia berjanji.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. memangnya kenapa? djAnGgo 332 . “Jangan lupa. Dia akan memaafkanmu. “Aku bisa mengemudi. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari.Edward meraih tanganku. dan ia melihat kepanikan di mataku.” ia menjelaskan. tentu saja ini ideku. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. telah lenyap di belakang kami.” Ia tersenyum sedikit. dan memeluk pinggangku. suaraku melengking.” aku berkeras. Ia memegang tanganku lagi.” “Jangan khawatir. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. “Itu cuma Alice. “Bella. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku.” Kami melesat melalui kota yang sepi.” katanya seraya mempererat pelukannya.” katanya berbasabasi. mengabaikan perhatianku. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. “Si pemburu mengikuti kita. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku.” aku mengaku. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. menuju jalan tol utara.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. “Bukan itu maksudku.” “Ini ide terbaik. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak. Trukku tidak oleng sedikitpun. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu. ini idemu.” Tubuhku langsung membeku. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. “Kau akan aman.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. mataku membelalak ketakutan. “Aku ada disana. “Menepi.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu.” kata Edward geram.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.” bisikku. Bella. Sekarang ia berlari di belakang kita. melepaskan tanganku dari kemudi. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. dan Charlie. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. “Semuanya baik-baik saja. Mesin truk menggeram. meskipun matanya tidak. terutama akhirakhir ini. Aku memandang lewat kaca belakang.” katanya begitu rumahku. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” ia menenangkanku. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. sambil menunduk memandangi lutut.

berpikir sebelum menjawab..Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. Sebagian adalah salahmu. begitu dia melihatmu. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana.” ia memulai dengan suara pelan. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. Tapi ketika aku membelamu.” Suaranya masam. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. kenapa aku?” Ia ragu-ragu.. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan. djAnGgo 333 . dia mungkin saja tidak terusik.

Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami.” katanya putus asa.” Suaranya penuh kejijikan.well.. bukan yang lain.” kataku ragu-ragu. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. dengan cara yang sama seperti terhadapku.. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. “Memang tidak. usahakanlah jangan ceroboh.. “Kupikir. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya.. atau salah satu dari mereka. “Carlisle takkan menyukainya.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya. Lampu-lampu di dalam menyala terang.. kumohon. djAnGgo 334 . Eksistensinya hanya melulu tentang berburu.” “Tapi James dan wanita itu. dia bersama mereka hanya demi kemudahan. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Tidak malam ini. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. tidak seperti bagimu. Aku tak yakin dengan Laurent. Ia berhenti sebentar.” “Dua vampir lainnya. “Kurasa. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. Alice mengikuti di belakang. pertarungan akan terjadi saat itu juga. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya.” Aku bergidik ngeri. Aku tahu kami semakin dekat. suaraku gemetar. kumohon.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. “Bella. Dia tak terbiasa dikecewakan. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu. lalu membakarnya.. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku.” gumamnya. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga. ia menarikku dari jok. Edward dan Alice berada di sisi kami. Aku harus bertanya sekarang. Mereka tidak punya ikatan kuat. Ini permainan favoritnya. aromaku tidak sama bagi yang lain. Kami langsung menuju rumah. dan membawaku berlari menuju pintu. Dia menganggap dirinya pemburu. itu membuat segalanya tambah parah. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. Kami menghambur ke ruangan putih luas. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan.

kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett.” “Kami akan menghentikannya. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.” ungkap Edward. Mereka menaiki tangga bersama-sama. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. itu justru memicunya. Wajah Laurent tampak muram. tampak marah. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. menatap galak pada Laurent. “Aku khawatir.” Emmett berjanji. ketika beralih enggan menatapku. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng. Laurent berdiri di tengah mereka.” jawabnya. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. Rosalie mengamati mereka. “Dia mengikuti kami. Matanya yang indah penuh cinta dan. djAnGgo 335 . “Maafkan aku.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar.Semua ada disana.

Carlisle menatap Laurent dingin.” Carlisle menimpali. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. pikirku.“Kau takkan bisa menaklukkannya. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. bingung. Ia melirikku. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. dia sedang memutar untuk menemui si wanita.” perintah Edward. “Pergilah dengan damai. Aku memandang terkesima. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. “Jangan remehkan James.” Ia ragu-ragu. kemudian bergegas keluar. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Laurent menggeleng. Laurent langsung ciut. tapi aku tidak akan menentang James. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. dan dengan suara menderu. Ia membuatku terkejut.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. kemudian kembali menatap Carlisle. kita akan memburu James. menemui klan yang ada di Denali. “Sekitar 3 mil dari sungai. teringat temperamennya yang meledak-ledak. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya.. “Tentu saja..” gumam Emmett. “Rose. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu.” gumam Esme. “Esme?” tanyanya tenang. Esme sudah bergerak. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa.. wajahnya kelam.” Laurent mengerti.” “Kurasa tak ada pilihan lain. Kurasa aku akan menuju utara. seolah ia tidak ada.” Kelompoknya tentu saja. Keheningan hanya bertahan sebentar.” ujar Carlisle dengan nada formal. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana. Rosalie menepisnya. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. mengkhawatirkan reaksinya.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. Aku sama sekali tidak membenci kalian. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. “Begitu Bella aman dari bahaya. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Dia sangat mematikan. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku.. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. Aku sungguh menyesal. Edward berbalik menghadap Rosalie. Ia menimbang-nimbang sebentar.” Ia membungkuk.

ia menyerahkan celana panjangnya. “Kurasa pakaian Anda takkan muat.” aku ragu. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat.. Aku djAnGgo 337 .menyadarinya. rasanya seperti kaus. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. “Berusaha mengaburkan aromamu. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Ia memberi sesuatu padaku..” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. Begitu aku selesai. Tidak akan bertahan lama. Aku bergegas melepaskan jinsku.

. pengorbanan djAnGgo 338 . “Kau salah.” Carlisle bertanya.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.” Carlisle berjalan menuju dapur. Jasper. dan kau memang layak. ponsel kecil berwarna perak.. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga.” gumamku. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil.” Suaranya yakin. memelukku erat-erat. “Kami naik Jeep. masih memegangi wajahku. “Apa?” aku terkesiap.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. “James akan memburumu. Keheningan terus berlanjut. berhati-hati. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. lalu lenyap. Dan merekapun pergi. “Sekarang.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Aku mengangguk. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. Jasper dan aku berpandang-pandangan. ketika ia berpaling dariku.” ia memberitahu saat melewatiku. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. terlalu panjang. dengan ngeri. Sorot matanya berubah hampa. kemudian ponsel Esme bergetar. “Ayo kita pergi. matanya yang indah membara menatapku. mematikan. Ia langsung mendengarkan. Jasper dan Alice menunggu. melirik cemas ke arah Rosalie. mengangkat tubuhku dari lantai. Kemudian semuanya selesai. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. “Alice. Akhirnya matanya membuka. Aku akan ambil mobil. Bella. Aku mendengar suara trukku menderu. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. kau tahu itu. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. “Jaga dirimu. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat.” katanya pelan. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk.” katanya. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. Tiba-tiba aku menyadari.” Mereka juga mengangguk. Si wanita akan mengikuti truk. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. Ia menurunkanku ke lantai. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. kalian bawa Mercedes-nya. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Kami berdiri disana. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. “Alice. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. Ia menarikku kembali ke tangga.” “Tidak. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.mengenakannya. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu.

geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. tatapan mengebu-gebu si pemburu.” ia mengulanginya. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. tak tertahankan. 20. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Aku tak mendengar apa-apa. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. tapi awalnya tidak berhasil. Tapi aku tak bisa memejamkannya. Pikiranku kabur. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. Aku tak tahan melihat semua itu. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini. serta dindingnya yang bercorak umum. Aku ingat mobil hitam mengkilat.. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku.mereka bakal sia-sia. Suara mesinnya nyaris tak terdengar.. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman.” Aku tersenyum pahit. dan air mataku habis terkuras. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. menyengat mataku. Ketidaksabaran Ketika terbangun. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. tatapan marah Rosalie. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. aku bingung. Kantuk meninggalkanku. dan matahari berada di belakang sekarang. “Bolehkah?” tanyanya. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . kecuali di hotel. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata.” “Kau keliru. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. memelukku dengan sikap melindungi. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. Ekspresi sedih Charlie. “Kau yang pertama yang meminta izin. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. tersenyum ramah padaku.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

kemudian ia berbicara padaku.” Alice terdiam. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya. “Halo?” desahku.” ia berbicara di telepon. “Ya. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu. djAnGgo 348 . yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu. Aku berlari menghampirinya. “Bella.“Aku baru saja melihatnya.” kata Edward.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya.

Dia pergi ke rumah Charlie. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. “Aku tahu. mengintip dari balik bahunya. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Edward! Aku sangat khawatir.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Alice menunduk menatap gambarnya. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku.. terkejut. aku tahu.” “Aku merindukanmu.” kataku. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. kami akan menghabisinya. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.“Oh. Alice melihat dia berhasil kabur. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi. Aku akan membuatmu aman dulu.” “Kalau begitu datang dan ambillah. si wanita ada di kota. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” “Aku akan menunggu. kami kehilangan jejaknya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara.” “Aku akan baik-baik saja. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. Tapi dia sudah pergi sekarang. Aku bersandar di sofa. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. dia mencari-cari.” ia mendesah frustasi.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Mereka memandangku. sebenarnya aku percaya. Sepanjang dinding. semua jalanan di kota.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. sepertinya naik pesawat. setinggi pinggang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. maafkan aku.” aku menantangnya.” “Bella.. “Itu studio balet. “Aku mencintaimu. dia berhati-hati. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya. jadi jangan khawatir. Bella. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. “Aku tahu. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Percayalah padaku. sekolah.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. begitu aku bisa. “Bisakah kau mempercayainya. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. persegi.” aku mengingatkannya.” Setelah percakapan selesai. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. tapi Charlie sedang di tempat kerja. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin.” Suaranya tegang. Bella. Bella.” bisikku. Dia tidak mendekati Charlie. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. kabut depresi pun menyelimutiku lagi. tangannya djAnGgo 349 . tapi tak ada yang bisa ditemukannya. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. Dia kelihatannya curiga. “Segera.” “Aku akan segera datang padamu.

“Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari. menggambar tangga darurat di dinding belakang. Bentuknya tak berubah. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun.menyapu kertas itu sekarang.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 . stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu.” Alice sudah di sisiku. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama.” Alice dan Jasper menatapku. apakah telepon itu aman?” “Ya.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama. tentu saja. sekolah. “ini aku. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya.” kataku. Ia mempertimbangkannya. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. hubungi aku di nomor ini. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. “Kalau begitu di sini. membuyarkan lamunanku. cermin-cerminnya. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. Begitu kau sudah menerima pesan ini. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. “sudah lama.menyempit di bagian belakang ruangan. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya. sama sekali tidak. aku menunjuk sudut kiri. dimana catatan tentang diriku berada.. “Di sekitar sudut rumah ibuku. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali. dan tidak ada TV. palangnya.” bisikku. “58th Street dan Cactus. masih tenang. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 .” aku mengakui.” “Memang.” “Kupikir dia di Florida. Ada jendela di ruang tunggu.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. “Alice. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur.” Kami duduk terdiam. “Tidak.. “Di sana letak kamar mandinya. tapi dia akan segera pulang. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah. Tapi stereonya tadinya di sini”. memandangi gambar Alice.. Aku penari yang payah.” “Jasper?” tanya Alice.” Suaraku gemetar. “Tidak.” Aku menyentuh pintunya. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat. entah dimana. “Ya. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. Aku melihat mereka bertukar pandang. Dengar. “Mom. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. aku mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. “Tidak. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie.” ia menyakinkanku. suaraku menghilang.” kataku setelah bunyi bip. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan.

tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. djAnGgo 352 . “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Jangan khawatir.di bagian bawah gambar. atau tentang pelatihan musim semi. Aku membacanya perlahan. Bye. mengantisipasi malam yang panjang. dua kali. Mom. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. mencari berita tentang Florida. oke? Aku mencintaimu. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. aku baik-baik saja. Aku duduk di sofa.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. Aku berkonsentrasi menonton berita. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal.

tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. seperti yang kurasakan. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. menantikan telepon berbunyi lagi. Aku pasri tertidur di sofa. djAnGgo 353 . Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur.

Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. ketinggalan zaman. “Ya.. Dia akan menemukan seseorang. Alice. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. Emmett. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. “Teleponnya di sebelah sana. menjaga kepalaku tetap terapung. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. Alice dan Jasper duduk di sofa. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. “Ya.” “Tapi ibuku. sambil menunjuk. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi.” Alice telah bangkit dari sofa. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. Kepanikanku tetap samar. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. Dua pasang mata yang abadi menatapku. “Bella. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Aku menatapnya hampa. “Bella. dia kesini untuk mengincar ibuku. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat.” kata Alice. Dinding-dindingnya berpanel kayu. ” djAnGgo 354 .. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. Dia.. agak terlalu gelap. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain.” “Aku tak bisa menang. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. dia akan melukai orang yang kucintai. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Aku tak bisa berkonsentrasi.21.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. tidak fokus. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. hanya saja kali ini keadaannya terang. dan kau akan pergi bersamanya. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. telepon di tangan. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. aku takkan bisa. menekan nomor. “Itu rumah ibuku.” bisikku. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. Alice.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu.. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. Edward akan datang menjemputmu. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Kita akan menemuinya di bandara.

“Kami akan menangkapnya. Bella. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 .” ia meyakinkanku. “Dan bagaimana kalau kau terluka.

Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. tapi aku telah melangkah maju. seraya berjalan pelan menjauhi Alice. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. menjauhkan diri dari tangan Jasper. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. “Mereka akan mendarat pukul 09.45.” Aku diam. katanya tanpa suara. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. tak ada kompromi. mengalihkan perhatianku. “Semua baik-baik saja. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. Aku sudah menduganya. bergoyanggoyang. Kabut tebal kelelahan menyapuku. Aku mendesah. Pikiranku berputar-putar.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan.Alice menatap Jasper penuh arti.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. Aku melihat jam. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. Ibumu. Satu-satunya penghiburan. Barangkali. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu. dia ada disini. “Nah. “Mom?” “Berhati-hatilah. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. aku janji. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. sebenarnya membantingnya. Kali ini Alice tidak mengikutiku. pukul 5.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. Mom. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. Suaranya panik. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. Ia berbicara sangat cepat.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. djAnGgo 356 . “Mereka baru saja lepas landas. aku tak perlu melukai ibumu. meringkuk.” bentakku. menyadari apa yang sedang terjadi. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan.” Alice memberitahu.30. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. “Aku tak ingin tidur lagi. Tak ada jalan keluar. tapi yang menarik perhatianku adalah." Perutku melilit mendengar kata-katanya. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. Itu suara tenor laki-laki. Satu-satunya pertanyaan adalah. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. merasa sedikit malu dengan sikapku. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. suara yang amat menyenangkan dan umum. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. Alice tampak terkejut. “Halo?” sapa Alice. Tapi telepon berbunyi lagi. “Tidak. “Tenang.

” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. tetaplah di tempatmu. Mom. “Bagus sekali. djAnGgo 357 .” Suaraku tak lebih dari bisikan. Tolong katakan. tetaplah di tempatmu.” ia memujiku.maka dia akan baikbaik saja. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. ‘Tidak.’” “Tidak. “Sekarang ulangi kata-kataku. Mom.

tolong dengarkan aku. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. dan dimana ini akan berakhir. percayalah padaku. Aku menutup pintu. masih ringan dan ramah. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. “Ah. Aku yakin itu.” Suara ramah itu mengancam. tapi ibumu pulang lebih awal. Sekarang inilah yang harus kaulakukan.” “Sebelum siang. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. Bella. kumohon.” “Aku menyesal mendengarnya.” “Tidak. kau jadi tidak terlalu khawatir. Lebih mudah begini. “katakan. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih. well. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. bagus.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Aku menunggu. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara.” “Ya..” “Baik. “Ini penting. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. nah..“Bisa kulihat ini bakalan sulit. Aku yakin takkan mudah. “Nah. “Bagus sekali. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya. kalau begitu. menurutmu.” Suaraku parau. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan.” djAnGgo 358 .” “Ya.” “Ya.’ Katakan sekarang.” Entah bagaimana.’ Katakan sekarang. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. Kumohon. Bella. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang.” aku memohon.” “Mom.” katanya sopan. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka.” Suara itu terdengar senang. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama.” “Itu lebih baik. hati-hati. tolong katakan. ‘Mom. ‘Mom. harus ada cara. tolong dengarkan aku.” Aku menunggu.” “Ya. “Ya. percayalah padaku. Bella. Menurutmu. memusingkan. itu akan sangat buruk bagi ibumu. Waktuku tidak banyak. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak.’” “Mom. Sambil berjalan. Teleponlah. Mom.” suara menyenangkan itu melanjutkan. Aku sedang bersiap-siap menunggu.

” Ia menutup telepon. “Katakan. Mom. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. “Sampai ketemu. “Selamat tinggal. Mom.“Terima kasih. Mom. sampai ketemu. ‘Aku mencintaimu. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Aku menempelkan telepon di telingaku. Aku mencoba menahannya.” aku berjanji. djAnGgo 359 . Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. Aku tahu aku harus berpikir.” Air mataku menetes.’ Katakan sekarang. Bella.” Suaraku terdengar dalam.” “Aku mencintaimu. Aku menantikan bertemu denganmu lagi.

Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. Keputusasaan mencengkramku.” Suaranya terdengar hati-hati. “Alice. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. ia ingin pulang. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. Bella. mencoba mengenyahkannya. amat perlahan. Ia bisa melihat kegelisahanku. dan aku harus berusaha. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu.” tulisku. Aku teramat menyesal. Aku akan menyakitinya. dan aku tidak menunggunya bertanya. Aku harus berpikir dengan baik. djAnGgo 360 . Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin.” kataku pelan. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. sebelum Jasper kembali. dan pergi menemui Alice. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. Aku melihatnya waswas. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. “Edward. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Keputusanku sudah bulat. pikiranku mulai menembus dinding sakit. Disana juga ada amplop. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Aku sangat menyesal. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. kemudian aku mengesampingkannya juga. jangan khawatir. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana.” Aku berpaling. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. Aku masuk lagi ke kamar. Aku tak memiliki jaminan. Tapi tenang saja. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. “Ibuku khawatir. Bagus. Perlahan-lahan aku menghampirinya. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. Tapi aku masih tidak punya plihan. I a menyandera ibuku. tak ada cara untuk bernegosiasi. Bella. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan.” Suaraku lemas. Aku harus mencoba. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Aku tak boleh takut sekarang. menjaga suaraku tetap tenang. Tanganku gemetaran.Perlahan. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. tanpa berbalik. Menyusun rencana. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. karena Alice dan Jasper menungguku. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. penasaran. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi.

.” katanya. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Demi aku.” balasku. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini.Teruta ma pada Alice. 22. Aku menyambutnya. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. muncul tepat di belakang Alice. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. kedua tangannya memeluk tangan Alice. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. “Alice!” seru Jasper... Aku takut berada satu ruangan dengannya. itulah yang ia inginkan. aneh. dan aku melihat wajahnya. kehancuran hatiku.Jangan marah pada Alice dan Jasper.. “Ada apa?” desak Jasper. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. Aku mencintai mu. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga.. dan memasukkannya ke amplop.” djAnGgo 361 . Kepalanya menoleh. apalagi kau. Kurasa. Aku hanya berharap dia mengerti.. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. keputusasaan. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. melepaskan cengkramannya dari meja. “Tidak ada apa-apa. Dari seberang ruangan. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. “Aku di sini. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. itu namanya mukzizat. kumohon. ia menjawab pertanyaan Jasper. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. . merasakan kepanikan. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. Tatapannya hampa. matanya terpaku padaku. dan mau mendengarku sekali ini saja.” akhirnya ia menjawab. ekspresinya masih hampa. terpana. “Apa yang kau lihat?” kataku. sungguh. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. Jasper menatapku tajam. Kumohon. otomatis menyentuh tangannya. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. takut ia akan menebaknya. Pikiranku melayang pada ibuku. “Bella. pikiranku begitu tersiksa dan labil. Maafkan aku. semua ketakutan. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku.

Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.. Alice menyandarkan tubuh di pintu. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih.. meskipun tersembunyi dengan baik. Aku bersiap-siap seperti robot. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik.” Aku juga terdengar sangat tenang. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. bahwa mereka bakal gagal. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. aku bisa merasakan keinginan Alice. wajahnya menghadap Jasper. “Ya?” djAnGgo 362 . agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. Ia menjawab hati-hati. “Kau mau sarapan?” “Tidak. Rambutku dibiarkan tergerai.Alice akhirnya memandangku. berayun menutupi wajah. aku makan di bandara saja. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. ekspresinya lembut dan tenang. “Alice?” tanyaku cuek. Membantuku menyusun rencana.

Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga.” “Ya. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. Aku memandang papan jadwal kedatangan. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Aku memberitahunya belum ingin sarapan.. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. untuk melihatnya dulu. Edward akan segera menemukannya.. Benar-benar tak ada harapan. Kami tiba di bandara. terutama setelah penglihatan Alice. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Ia mengangguk. Atlanta. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Aku menungu kesempatan. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini.” kataku. dAn takkan pernah kulihat. baru melarikan diri. yang paling memusingkan. “Ya. atau barangkali kebetulan saja. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas.. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice.” gumam Alice. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan.. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. di garasi berukuran raksasa. Itu membuatnya sangat sulit. seperti cuaca. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Kami parkir di lantai empat. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. pikirku. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. membuat keputusan baru. Chicago. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Begitu mereka berubah pikiran. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. “Suratku. tidak sabar. Keberuntungan berpihak padaku. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. kembali waspada. Ia menatapku. hal-hal bisa berubah. mudah-mudahan.. Aku menunjukkan jalan. menginginkan kedatangannya.” Aku mengangguk penuh perhatian. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. tak peduli betapa kecil. seluruh masa depan pun berubah.” ia menimpali. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. Betapa menakjubkan. Manusia lebih sulit. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. djAnGgo 363 . suaraku terdengar bosan. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York.

djAnGgo 364 . “Aku merasa sedikit. “Kurasa aku mau makan sekarang. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. Alice berdiri..Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri. Aku tak punya waktu lagi.. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan. angka-angka itu berubah. “Aku ikut bersamamu.” kataku buru-buru.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku.

dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. dan aku berlari. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. “Ya. atau malah sudah. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. jaraknya beberapa meter di belakangku. “Aku tidak bakal lama. bukannya penghianatanku. tapi aku mengabaikannya. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. Jalan yang kulalui masih panjang. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. seolah membimbingku. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. Tak ada taksi satu pun. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. “Tunggu!” aku berseru. Orang-prang menatapku.” Aku bergegas menaiki undakannya. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal. Aku belum boleh menangis. “itu tujuanku. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup.Jasper bangkit berdiri. Dan di sanalah. aku lari. “Apakah itu cukup?” “Tentu. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. yang membuatku lega. Mata Alice tampak bingung. Di belokan lift sudah menanti. di belokan. Begitu pintunya membuka. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Pintu yang lain tak jauh dari lift. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. ia takkan bisa melihatku. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang.” djAnGgo 365 . Aku tak punya waktu. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. Nak. Aku hanya perlu lari sebentar. Sudah menyala. bahkan kalaupun Jasper melihat.” Begitu pintu menutup di belakang. melambai-lambai ke arah pengemudinya. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. napasku tersengal-sengal. aku harus terus berlari. dan pintu lift pun menutup. tidak mau repot repot bertanya.” protesnya. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. Ini satu-satunya kesempatanku. dia tidak curiga. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. “Ini shuttle ke Hyatt.tapi. aku mengingatkan diri. Kebanyakan kursinya kosong.” “Itu di Scottsdale. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. tangannya di punggungku. tapi kemudian mengangkat bahu. Di depan Hyatt. Keberuntungan masih bersamaku. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. tidak masalah. Mereka akan menemukanku dalam sekejap.

sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. Kuputuskan untuk tidak menyerah.Aku bersandar lagi di jok. djAnGgo 366 . Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Takdirku telah ditentukan. Jadi. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. melipat tangan di pangkuan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. juga kekhawatiran.

mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku.. aku tahu jalan ke sana. tak pernah meninggalkan sisinya. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. “Hei. Aku begitu larut dalam lamunan. dan bayangan indahku pun lenyap. Kemudian aku lari mendekat. bahkan nyaris mendengar suaranya. kalau begitu. aku sama sekali tak punya masalah dengannya.” Aku menutup telepon. Di dalam gelap. kikuk seperti biasa. aku merasa bahagia.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik.. agar ia bisa keluar di siang hari. tampak sepuluh digit angka yang rapi. Rumahnya kosong. mengandalkan aku.” Ringan.” bisikku. Aku harus bergegas. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. kosong. “Halo. Aku harus menutup dan memulai lagi. Kubuka pintunya. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. tentunya. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. normal.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. “Lima-delapan-dua-satu. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini. Di sana. “Ini sangat cepat. melewati pintu muka.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. kita akan bertemu sebentar lagi. beberapa kali keliru. “Kalau begitu. “Terima kasih. kulitnya berkilauan bagai air laut. Aku lari ke pintu. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. tak pernah tidur. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Tak ada alasan untuk takut. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. ketakutan. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. Aku lari meninggalkan ruangan. Bella. Jangan khawatir. dengan saksama menekannya satu per satu. djAnGgo 367 . Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. senang. kosong. “Bagus sekali. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. khawatir aku sakit atau apa. di whiteboard . Aku membayangkannya di pantai. aku mengingatkan diriku sendiri. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu.” “Well. Aku terkesan. Bella. “Aku sendirian. Kecuali kau tidak datang sendirian. akhirnya aman. kita sudah sampai. Sekarang. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Hanya berdering satu kali. menuju panas yang menyengat. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. ibuku menantiku. Ke suatu tempat di utara.” Suaraku tercekat.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. Berhasil. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Sopir taksi menatapku.

Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Aku berlari. menahan tubuhku dengan tangan. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Beberapa kali aku terpeleset. sekali jatuh. meninggalkan semua di belakangku. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. peluh menetes-netes di wajahku. Sinar matahari terasa panas di kulitku. lalu tertatih-tatih bergerak maju. seperti berlari di pasir basah. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. napas terengah-engah. menuju belokkan. Aku merasa sangat lamban.Tapi aku menjauh dari semua itu.

Aku tak bisa lari lagi.. menuju jalan Cactus. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Tidak dikunci. seperti yang selama ini kuingat. suaraku lega.habisan. aku tak sanggup bernapas.” “Memang tidak. rumahku. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. mengacak-acak rambutku. Lantai dansa sebelah barat gelap. Mengagumkan. aku bisa melihat tanda di balik pintu. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama.” aku menjawab. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. tak perlu merasa takut. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. Ia tak pernah menerima pesanku. Ia masih di Florida. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. Ia melihatku nyaris jatuh. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Ketika semakin dekat. “Bella. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Aku mendengarnya tertawa. karpetnya beraroma shampo. langkah demi langkah. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan.. Ketika berbelok di sudut terakhir. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. lumayan dekat. Perlahan-lahan aku berbalik. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. Kemudian suara ibuku memanggil. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. Dan tiba-tiba aku tersadar. Bella. berusaha menggapai keseimbanga.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. kemudian ia tersenyum. Suatu hari kami ke pantai. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. “Ya. semua kerai jendela tertutup. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. di layar televisi. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . Kusentuh gagang pintunya. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. sejuk. Ibuku aman. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. menuju sumber suara. Aku berlalri ke pintu.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Haus. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Aku memandang sekeliling. aku bisa melihat studio itu. ramah. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. Aku nyaris pusing. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. “Betapa aneh. menariknya membuka perlahan. Ia memegang remote control. memperhatikannya. Ia berjalan menghampiriku. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Lama kami bertatapan. Ibuku aman. Aku berusaha mengatur napas. terdengar deru suara pendingin ruangan. Lapangan parkir di depannya kosong. merasa lega. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. waktu usiaku dua belas. Dan di sanalah dia. Irisnya nyaris hitam. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. “Maafkan hal tadi. Aku hati-hati berbalik. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. tapi kerai jendelanya tertutup.

aku memintanya untuk tidak melakukanya.” djAnGgo 370 . dan bagiku ia seperti berharap-harap. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. tangan dilipat. kurasa tidak. menatapku dengan sorot mata penasaran. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya.” Ia berdiri beberapa meter dariku. “Tidak. Setidaknya.

Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. Victorian mengawasi mereka untukku. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. sudah lama sekali. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. “Sebelum kita mulai. tempat aman. “Kuharap begitu. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. kelewat cepat. Sejujurnya. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Well. aku tak bisa bekerja sendirian. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu..” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu.” “Betapa romantis. Lagi pula. Kau hanya manusia. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 . dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. Aku sudah siap. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. Jadi. Ia mengaturnya beberapa kali. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. ini semua untuknya. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. “Maafkan aku. dan tak diragukan lagi. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. aku kecewa. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. bahwa kau ada di sini. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Kemudian aku bertanya-tanya. begini. Edward. kau boleh menyebutnya indra keenam. tidak terlalu memenuhi standarku. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. Nyaliku benar-benar ciut. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. pada waktu yang salah. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. tempat yang katamu akan kau datangi. melebarkan lensanya. surat terakhir.” Perutku mual ketika ia berbicara. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. oh. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. tapi kau bisa saja berada di Amerika. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. Kudengar kau ingin pulang. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. kalau begitu harapan kita berbeda. Hal seperti itu pernah terjadi. bukan?” Aku tak menyahut. manusia lemah ini. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. kau tahu. setelah berbicara dengan Victoria. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Kau tahu.” Ia menghampiriku. “Aku senang memanas-manasi sedikit. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. “Aku meninggalkan surat untuknya. boleh kutambahkan. semua ini sedikit terlalu mudah.” “Hmmmm. “Sangat mudah. tersenyum. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo..” Aku menunggu dalam diam. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. Awalnya. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. Aku menatapnya ngeri. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. Jadi. Tentu saja. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. itu hanya dugaan. tentu saja. berada bersama kelompok yang salah.

Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya.kabur dariku. makhluk kecil malang. “Kau tahu. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. dia membuat gadis itu aman. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. dan begitu vampir tua itu membebaskannya.

Ketika gadis itu membuka mata. terlalu cepat. “Ya. kurasa kita selesaikan saja sekarang. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. Aku mendapatkanmu. dengan wajar. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. aku tak bermaksud menyinggungmu. selemah lututku saat itu. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. aku mencoba lari. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya.” Ia mendesah. Ada rasa sakit yang mendekat. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. Sempurna. semakin lebar. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. Entakan keras menghantam dadaku. Dalam sekejap ia sudah di depanku. terkejut. terpapar jelas dan berkilauan. tapi mereka mendapatkannya. lalu menjatuhkan tangannya.. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. tubuhku melayang ke belakang. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula.” desahku. suarnya kembali ramah. Ia langsung menghadangku.” Ia mendesah. Perlahan-lahan ia menghampiriku. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. wajahnya penasaran. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. “Tidak. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. “Sebagai balas dendam. Kemudian ia mencondongkan tubuh. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. Aku tak dapat menahan diri. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya.karena pengliatannya. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. Bunga-bungaan. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. dan pesan kecilku. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. Lututku gemetaran. “aku tak mengerti. suatu kehormatan. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu.” “Alice. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin.” Ia maju selangkah lagi. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan.. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. Aku bahkan tak bisa beringsut. Maaf. dan aku khawatir bakal jatuh. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. “Well.. bagaimanapun. tapi tubuhku membeku. “Dan aromanya memang sangat lezat. kakinya menginjak kakiku. lalu pergi. Aku tak bisa bernapas. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. dan aku bisa melihat di matanya.. teman kecilmu. “Itu efek yang sangat menyenangkan.” gumamnya pada diri sendiri. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. aku menghancurkan si vampir tua. memangsaku. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. Kacanya hancur berantakan. sebenarnya.” Aku benar-benar mual sekarang. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. ya kan?” Aku mengabaikannya. Pada tahun 1920-an.

dan ia berdiri menjulang di atasku. “Tidak. jangan Edward. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. djAnGgo 374 . “Tidak!” seruku parau. Tapi kemudian aku merasakannya. Aku berbalik untuk meraih kakiku. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. tersenyum.retakan itu sebelum merasakannya. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya.

djAnGgo 375 . tanganku terangkat menutupi wajah. membuatnya sinting karena dahaga. dengan cepat menggenang di lantai. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. Darah yang mengalir. Terlepas dari tujuan awalnya. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. kini membara dengan hasrat tak terkendali. Dengan kekuatan terakhir. di tempat pecahan kaca itu menusukku. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. raungan terakhir si pemburu. Aromanya membuatku mual. Mataku memejam. Matanya. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. seolah dari kedalaman air. Biarlah segera berlalu sekarang.Selain sakit di kakiku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku mendengar. yang sebelumnya penuh tekad. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Aku bisa melihat. sosok gelapnya menghampiriku.

djAnGgo 376 .

“Oh. Suaraku sedikit lebih jelas. Bella.” Aku mencoba memberitahunya. “Dia kehilangan banyak darah. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. “Ya. itu tidak benar. Kemudian. Karena. sekaligus mengerikan. Ini tidak mungkin surga. Aku menjerit. Bella.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. tidak. Rasanya sakit.23. nyaris mencapai permukaan. kumohon!” ia memohon. lebih dalam. “Bella. “Bella. kumohon. kemudian. “Bella!” si malaikat berseru. “Carlisle!” si malaikat berseru. tersengal keluar dari kolam yang gelap. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. Aku ingin mengatakan ya. “Bella. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . aku merasakan sakit yang lain. Aku tak bisa memahami diriku sendiri.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya.. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku. tidak. dan aku tak bisa bernapas. lebih ganas. dan sarat amarah. Malaikat tak seharusnya menangis. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. Suara geraman lain. “Hati-hati kakinya patah. “Aku tahu. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. aku tahu. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. memberitahunya semua baik-baik saja.” rengekku. aku bermimpi. Aku diseret naik. “Edward.” “Sakit. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. tidak. Kemudian aku tahu aku sudah mati. lebih kuat. Bella? Aku mencintaimu. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. kumohon. membahagiakan.” “Edward. Bella. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. Kepalaku seperti ditekan. Apa saja. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan.” aku mencoba lagi. Bella. Ruangan penuh ancaman. Ada rasa sakit baru. Aku mencoba menemukannya. oh kumohon. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. kumohon! Bella.” suara tenang itu memberitahuku. aku disini. dan lengkingan kesakitan. Tapi aku tak bisa mengucapkannya.. suara yang indah. menjauh dariku. Kau bisa mendengarku. dari kedalaman air. kau akan baik-baik saja. gelegar amarah yang mengerikan. dengar. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. Di belakang ratapan itu ada suara lain.”. sekonyong-konyong pecah.

Carlisle akan memberimu sesuatu. Bella. Tenangkan dirimu. rasa sakitnya akan berhenti. “Dia disini. dia tahu dimana menemukanmu. itu akan membantu. “Alice?” erangku. Alice..” aku mencoba memberitahunya.” djAnGgo 378 .. “Aku tahu.ketakutan.” Carlisle berjanji. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku.” “Tanganku sakit.

” kata Carlisle.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri.” Suaranya tegang. Namun mereka bisa. Aku tahu mataku kembali terpejam. akhirnya terbebas dari kegelapan. tapi tak dapat mendengar suaraku. “Dia disini. bibirnya yang dingin menekan kulitku. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. tinggallah bersamaku. “Alice. Kemudian. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. membereskan luka di kepalaku.” sahut Carlisle. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. Edward. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. mataku perlahan-lahan membuka.” “Tinggallah. Aku tak bisa menolongmu.. kau harus melakukannya sekarang. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang.” Saat Carlisle bicara. aku pun tenang. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. Api itu lenyap. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. “Edward. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. Akhirnya. “Alice. begitu putus asa menemukan wajahnya. “Edward!” jeritku.” “Carlisle. melainkan terkejut. “Aku tidak tahu. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Aku tak dapat melihat wajah Edward. Bella. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.” Itu suara Alice. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Edward. Rahangnya mengeras. apa pun itu. “Tapi kita harus bergegas. berusaha menenangkan diri. atau akan terlambat. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . kau harus melakukannya. Aku harus menghentikan pendarahannya. “Edward. aku akan bersamamu.. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. menahannya. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. Dan aku melihatnya. tapi terselip nada kemenangan disana.” Edward ragu..” aku mencoba bicara. aku. Aku mendengar suara Alice. saat tanganku mati rasa. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. “Edward. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi.” “Ya. “Apa?” Edward memohon.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. Aku mendesah bahagia.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. perlahan. Aku membukanya. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu.” Suara Carlisle tak lagi tenang. “Tidak!” ia berteriak. didekat kepalaku.” aku mengerang. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar.” Wajah Edward tampak lelah. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Lukanya cukup bersih.. “Mungkin ada kesempatan. “Itu keputusanmu.

“Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.” kata Edward pelan.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Darahnya bersih. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya. djAnGgo 380 .rasa kantuk yang melanda diriku.

Tapi itu membuatku teringat. aku ingin tidur.” desahku. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida. Bella. “Alice. aku akan menggendongmu.” kata Carlisle. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. “Aku tahu.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah.Aku berusaha menjawabnya. semua sakitnya hilang. Edward. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. Dia menonton video rekaman kami. dia tahu darimana asalmu.” aku menolak. “Tidak.” aku menghela napas. meringkuk didadanya. “Sudah saatnya memindahkannya.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga. “Terima kasih.” aku mendesah.” Aku mencoba membuka mata. melayang-layang.” “Aku mencintaimu. Dahiku berkerut. “Bella?” Carlisle bertanya lagi.” aku menambahkan.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. letih karena perasaan lega. “Aku mencium bau bensin.” Edward menenangkanku. rasanya sangat lelah. aku ingin tidur.” jawabnya. djAnGgo 381 . Edward. “Kau bisa tidur. dia tahu tentang kau. videonya. “Sekarang tidurlah. “Alice. Sayang. tapi suaraku lemah. “Dia mengelabuhiku. Alice. Dan akupun berada dalam pelukannya. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya.

djAnGgo 382 .

24. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. aku menyukai aromamu yang asli. di sini. di rumah sakit ini. Aku bisa saja terlambat. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Edward. cahaya terang menyilaukan pandangan. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. dan kau kehilangan banyak darah. “Sebentar lagi dia kembali. ruang putih. “Edward?” Aku menoleh sedikit. Kupikir dia menyandera ibuku. suaranya terdengar menyesal. “Aku tak yakin. djAnGgo 383 . Mereka memberimu transfusi. “Oh. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. “Alice sudah telepon mereka. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. memar hampir di sekujur tubuh.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. “Sekarang semuanya baik-baik saja. sesaat aromamu jadi berbeda.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku.” Edward berjanji. Ia langsung tahu maksudku.” “Dia mengelabuhi kita semua. Aku tidak menyukainya.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. well. “Harus kuakui.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela.” Jari-jari dingin menangkap tanganku.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup. Edward. dengan besi pengaman. begitu juga empat rusukmu. Dia sedang mencari makan.” “Tidak. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. di atas kepalaku. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya. beberapa bagian tengkorakmu rusak.” ia menyuruhku diam. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. kakiku bengkak. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. di bawah hidung.” ia berbisik. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Renée ada di sini. “Kakimu patah. “Dan kau belum boleh bergerak. tapi kepalaku semakin pusing. itu mungkin saja terjadi. tidak boleh. “Aku nyaris terlambat.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. “Aku bodoh sekali. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. “Jangan. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. Ibuku ada di sini.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. Aku berada di ruang yang asing.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir.” Ia berhenti.

” Akhirnya ia memandangku.Aku menunggu jawabannya dengan sabar. Dan itu membuat wajahku terasa sakit. bahkan.” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum.” ia berbisik. lebih baik daripada yang kubayangkan.” djAnGgo 384 . untuk berhenti. “Rasanya mustahil... setengah tersenyum. “Aku harus mencintaimu. “Lebih baik. “Mustahil. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. Tapi aku melakukannya.

” Aku memutar bola mataku. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 . Ia menatap langit-langit.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. mengingatkanku akan sesuatu. “Dari semua yang perlu dimaafkan. tentu. “Oh.” “Maafkan aku. kau tahu. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. perhatiannya teralihkan.. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. ngeri membayangkannya. itu sebabnya dia tidak ingat. sambil menggeleng. tapi wajahnya kelam oleh amarah.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. Aku memandang ke bawah.” “Aku tahu. samar-samar menguarkan kebencian. tapi hanya sedikit. kemudian meringis.” “Mereka harus meninggalkan ruangan. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. kemudian kepedihan terpancar di matanya.” aku bertanya-tanya. melihat kantong transfusi menahan tanganku. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. kau tetap tinggal. “Bukan. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal.” “Tapi kau tetap tinggal. Ia menatapku. “Alice tak pernah mengerti.” “Kau takkan membiarkanku pergi. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya. Aku merinding. “Ada apa. pertama bingung. tapi sesuatu menghentikanku. memalingkan pandang.” “Memang tidak. Tapi jarum infus. darahmu berceceran di mana-mana. Kau seharusnya menungguku.” ujarku menyesal.” Suaranya menenangkan. seharusnya memberitahuku. “Jarum. “Auw.” Suaranya berubah kelam..” Suara Edward tenang..” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice.” aku meminta maaf lagi. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. “Aku tahu kenapa kau melakukannya. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati.“Maafkan aku. “Ada apa?” tanyanya waswas. dahinya kembali mulus bak pualam. “Takut jarum. dia langsung lari menemuinya.” kata Edward. Emmett dan Jasper membereskannya. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku.. “Takkan kubiarkan.” ia menimpali dengan geram.” “Oh. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali.” Aku meringis. maksudku. Edward langsung waswas. “Ya. tidak masalah.. “Mereka juga menyayangimu. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. Kuputuskan untuk mengubah topik.” aku menjelaskan.” “Ya.” “Dan Alice dan Carlisle. Aku memahaminya sekarang. Ini membingungkanku..

. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. kau tahu kelanjutannya. well. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas..untuk berbicara dari hati ke hati. “Kau setuju menemuiku.” ia menambahkannya lugu.” djAnGgo 386 . hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan. tentu saja aku kesini ditemani orangtua.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks.

. Tapi kemudian bibirnya menegang.” ia berjanji. aku jadi penasaran. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya. meskipun teramat lembut. Ia sedang berbicara dengan seseorang. Tak ada jendela yang pecah. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. djAnGgo 387 . “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. dan ia terdengar lelah dan sedih. “Aku takkan meninggalkanmu. misalanya. “Bella.” katanya. Ia menarik diri. tidak apaapa. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. tersenyum. suaraku penuh sayang dan lega.” katanya. dan tatapannya mengira-ngira.” gumamku pada diri sendiri.” Dahinya berkerut. “Mom. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. “Jangan tinggalkan aku.” aku mengeluh. “Jangan buat aku pergi menghampirimu. lalu berbaring dan memejamkan mata. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. Aku tak bisa membiarkannya pergi. “Mom!” aku berbisik. matanya masih terpejam. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri. Posisinya diam tak bergerak. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali.. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku.” bisikku sinis. “Aku belum selesai menciummu. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku.Aku memikirkannya beberapa saat. “Ini bakal memalukan.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut. untuk menenangkannya. “Kurasa aku mendengar ibumu. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. meyakinkan semuanya baik-baik saja. “Hmmm. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar. “Jangan lupa bernapas. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. bunyi bip itu mendadak berhenti. Ia menarik napas panjang.” aku berseru. Tapi sekarang semua baik-baik saja. sungguh-sungguh. Terdengar suara pintu berderit. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. Monitor langsung bergerak kacau lagi.” aku mencoba menenangkannya. kemudian tersenyum. Ia langsung tersentak. Ia tertawa. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat. mungkin perawat. Aku bisa mendengar ibuku sekarang. “Aku akan tidur sebentar.” Ia mencondongkan tubuh perlahan.” ia berjanji. dan ia mengintip dari sana. Mom. “Dia tak pernah pergi.” “Tidak juga. kami membuatnya sangat meyakinkan.” Ia tersenyum. Setelah semua diatasi. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi.

kau tak sadar cukup lama. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu. djAnGgo 388 ..” Aku bisa merasakannya. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat.” “Aku tahu. luka-lukamu parah sekali.. tapi aku tak ingin memikirkannya. Sayang.” “Jumat?” aku terkejut.” Ia duduk di tepi tempat tidur. Sayang.“Aku senang akhirnya kau tersadar. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa. Aku mencoba mengingat hari ketika.

” Aku meragu. Aku tinggal di Forks. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. Mom.” “Memang. kami sudah sering membicarakannya. berusaha terdengar bersemangat. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks.. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. Cullen ada di sana. Mom. ” “Mom. “Bella. karena bagian itu tidak diperban. Lalu matanya kembali melirik Edward. Mata Edward masih terpejam. Dia baik. dan kelembapannya tak seburuk itu. Ide ini tak terbayangkan olehnya. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh.“Kau beruntuk dr. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. Mata Edward berkilat menatapku. dasar bodoh. dan aku punya beberapa teman cewek”. Bukan ide bagus. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. “Di Florida. Dia sebatang kara disana. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. kali ini benarbenar disengaja. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam.” kataku. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. “Kenapa?” “Sudah kubilang. “Aku ingin tinggal di Forks. sekolah.” aku meyakinkan mereka. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. heran. kau percaya?” “Itu hebat.” “Tapi kau tak perlu lagi. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. tapi mata Mom mengamati wajahku. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas.” Edward kembali pura-pura tidur. meskipun masih sangat muda. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. Alice. dan teras persis seperti di film-film tua.” “Mom.. tunggu sebentar!” selaku. Sayang. kembali menghadapku. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. Dia gadis yang menyenangkan. Ia menoleh ke arah Edward.” Aku tersenyum. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. aduh!” Aku mengangkat bahu. warna kuning dengan bingkai putih. kemudian mengerang. oh. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. Charlie. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . “Tidak terlalu buruk. Dan dia lebih mirip model daripada dokter.. salju dan semuanya.” aku menimpali sepenuh hati. jadi aku mencoba alasan lain. “Tidak apa-apa. Ia menaruh tangannya di dahiku. dan pohon ek raksasa. Aku hendak berbohong.. Tangannya bergerak ke sana kemari. “Di mana Phil?” tanyaku cepat.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. kau tidak menyukai Forks.” ia tertawa. dan dia sama sekali tak bisa memasak. “dan Charlie membutuhkanku.” ia mengingatkanku. lalu memandangku dan Edward bergantian. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang.” Ia merengut.

“Tentang apa?” tanyaku. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. djAnGgo 390 .” aku mengakui.” Ia bimbang. “Dia salah satu alasannya. dialah alasan terbesarku.” Uh-oh. “Ya. memandangi Edward yang diam tak bergerak. Tak perlu kuakui. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku.disana.

” “Aku baik-baik saja. kau tahu.. Mom. Aku mendesah. “Benar. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. kalau kau membutuhkanku. “Aku akan kembali malam ini. “Kau tegang.” ujarnya.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu. “Aku bisa tinggal. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.” Begitu perawat menutup pintu.” aku meyakinkannya. Jangan khawatir.” Suaranya terdengar ragu-ragu.. Edward akan menemaniku. Sayang. Mom. “Aku cukup tergila-gila padanya. Sayang. “Oh. dan aku tidak suka berada di sana sendirian..” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang.” “Aku akan segera kembali. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Kau ingat dulu kau menari di sana. “Aku tahu itu. sejauh yang bisa kuingat. “Aku juga berpikir begitu. “Aku tidak akan sendirian. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya.” Mata Edward tetap terpejam. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. Mom. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka.. bangga pada dirinya sendiri. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari. Aku tidur di sini. menepuk-nepuk tanganku yang diperban.” “Aku juga sayang kau. dia kelihatan sangat baik. “Aku sayang kau. aku takkan menyadarinya.” “Tidak apa-apa. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. dan. dia luar biasa tampan. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan.” aku menenangkannya. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. “Well. ya Tuhanku. langsung senang. tapi kau masih sangat muda.” ia menimpali. berusaha menjaga suaranya tetap pelan. Bella.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.” Nah. memalingkan wajah. “Aku terlalu tegang. Dia akan ke sini sebentar lagi.” Aku bergidik dan meringis ngeri. Sayang?” “Aku ingat.. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. aku tak ingin kehilangan dirimu.” ujarku. aku akan baik-baik saja. Bella. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat.. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua.” tuduhnya. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah. Edward langsung berada di sisiku.” “Kejahatan?” tanyaku kaget. Aku cuma naksir. Mom. Mom mengecup dahiku. djAnGgo 391 .” “Tidak. kemudian pergi. Kemudian ia mendesah.” ia mengakui malu-malu. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. Aku tak tahu kau akan segera sadar. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. Mom.

” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. “Apa?” djAnGgo 392 . “Menarik.” Matanya menyipit. “Mobil bagus. lajunya sangat cepat.Ia tersenyum. sama sekali tidak menyesal.

tapi tidak juga.” Ia membelai wajahku hati-hati.” ia berjanji.” Ia nyaris tersenyum. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku.” aku memohon. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. “Waktunya untuk obal penghilang sakit.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. Sayang. tenanglah. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu. sambil menepuknepuk kantong infus. “Ya. saat napasku semakin liar. Matanya berwarna gelap.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. “Tidak. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. seperti vampir sejati.” “Jangan tinggalkan aku. “Tak perlu berpura-pura berani. tapi aku hanya menggeleng. Lalu wajahnya serius. Bella. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. “Aku bersumpah. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. “Aku takkan meninggalkanmu.” Aroma napasnya menenangkan.” ia menjelaskan. kau perlu beristirahat. kupikir itulah yang kau ingingkan. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” Ia memandang Edward serius. Rusukku nyeri.. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. meskipun. “Lebih baik?” tanyanya.. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. “Aku tidak membutuhkan apa-apa.. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. lebih mendekati hitam daripada keemasan. “Aku akan tinggal di Forks. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasa djAnGgo 393 . Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. lalu pergi. Sayang?” tanyanya ramah. “Bella. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih.” gumamku. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. aku merasakan nyeri di dadaku. Kau hanya bisa keluar pada malam hari.” ia mendesah. Matanya lebar dan serius. Kupikir Florida. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap.” Tapi jantungku tak mau tenang. dan ibumu. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. “Baiklah. “Aku terkejut. “Sssstt.. rasa sakit yang jauh lebih parah. tidak.Ia menunduk ketika menjawab. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Bella.” Aku menatapnya tidak mengerti.” sahutku hati-hati. Ia tidak mengatakan apa-apa. suaraku parau. “Aku takkan kemana-mana.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku.” Ia menunggu. mengancam menghancurkanku. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. well. sebelum beralih ke monitor.

” djAnGgo 394 .” ia berbisik. bahwa akulah alasan kau berada di sini. hidup-hidup. menjaga suaraku agar tidak gemetaran. kaulah penyebabnya. “Alasan aku berada di sini. aku tak ingin tanpa dirimu. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu.” “Ya. Yang benar saja.” Aku merengut. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak..” “Nyaris. tentu saja tidak. Bella. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik.aku memilih kata ‘overreaction’. bereaksi berlebihan. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya..

” ia menambahkan dengan kasar.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku.” Meski begitu ia tidak berjanji. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. dan rasa panik mencekat paru-paruku.” Suaranya tercekat. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. Lubang hidungnya kembang-kempis... tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. djAnGgo 395 . Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya.. jadi kurasa kau akan menemukan caranya. meringkuk dan terluka. mulai jengkel. terbaring di lantai. kemarahannya mereda.” aku berbisik. mulutnya seolah dipahat dari batu.. “Apa?” “Kau tahu maksudku. “Tapi kelihatannya masuk akal. “Kenapa kau melakukannya. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu.. Kalau bukan karena kau. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain.” Aku mulai marah sekarang. Ia tidak akan menjawan.. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku. kau boleh pilih.. “Kau telah menyelamatkanku.. Tatapannya tajam. Bukan. Semudah itu. sekarang aku mau tahu kenapa. marah...” Mata Edward sepertinya berubah hitam. Kepanikanku nyaris tak terbendung. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat.. yang paling parah adalah merasa.” ia melanjutkan berbisik. itu sangat jelas.. “Meski begitu. entah itu akan membunuhmu atau tidak. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain. “Aku sedang memikirkan yang lain. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward.” Aku tahu aku harus tetap tenang. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.” kataku... seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. fakta itu tak terlewatkan olehku. “Kenapa?” ulangnya hati-hati. mencoba melepaskan diri. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu.” Ia meringis mendengar kata-kataku.” katanya pelan.. Raut wajahnya lembut. Ia terkejut. dingin. “Berjanjilah padaku. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan.” kataku.” “Aku bisa saja. itu bukan yang terburuk. aku sudah membusuk di pemakaman Forks..” desakku. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini. dan aku ingat. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu.” “Tapi kau tidak membunuhku. lalu meletakkan dagunya di sana. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif. “Bagus.

dan aku masih tidak yakin. “Kurasa aku tahu. aku tidak berharap begitu.” djAnGgo 396 . “Aku juga ingin jadi Superman. Aku tidak menyerahkan apa pun.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak.” Ia berhenti sebelum melanjutkan.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta. kau tidak tahu.” aku berkeras. “tapi hidupku sudah berakhir. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini.” “Bella.” Suaranya lembut. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.

‘Begini. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. Bella.” Aku menatapnya geram. Dan rasa sakitnya?” tanyanya.. “Tentu saja kau akan sembuh.” Aku mendengus. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya. “Begini saja. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. api dalam nadiku. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya. “Aku bakal mati. dia ingin aku melakukan yang sama.. Aku membuka mulut. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. Dan aku akan menjadi tua. Tiga hari. terkejut. “Tidak. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar.” tukasnya.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan. “Aku bisa mengatasinya. “Aku takkan sembuh. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka. Dan Charlie lebih fleksibel. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. matanya terpejam. Meski begitu ia sangat tenang.” “Sungguh. Aku menutupnya lagi.. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya.” Sekarang ia cemas. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. atau kurasa beberapa hari yang lalu. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong.. dan berkata. itu juga bukan masalah.” kataku pelan. Ia membuka mata. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh. Aku melihatnya berusaha menekan amarah..” “Kalau kau menungguku hingga sekarat.” ia mengingatkanku. “Itulah yang mestinya terjadi. “Itu bodoh.” kataku. Lebih baik begitu.. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. Ia menunggu.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. “Aku tak bisa melakukannya. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. Sama sekali bukan masalah.” Ia menatap geram padaku.” Aku semakin baik dalam hal ini. Bella. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. djAnGgo 397 . Aku menatapnya.” “Aku bukan hadiah lotere.” “Tepat sekali. dan aku seharusnya tidak ada. Yakin. Aku tak bisa menahannya..” “Kau keliru. dia terbiasa hidup sendirian.” gumamku akhirnya. setelah itu . mengambil uangnya.“Kaulah hidupku. Wajahku memucat.’ Dan aku tidak mempercayainya. Aku takkan melakukannya padamu. Paling lama dua minggu.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya.” Kerutan di dahinya semakin dalam.” geramnya..” “Bukan masalah. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku.seharusnya bukan apa-apa. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. “Aku mungkin takkan mati sekarang. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada. Yang seharusnya terjagi. “Itu masalahku. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi.” aku berkeras. tapi tak ada suara yang keluar. tapi suatu saat.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. dan ia balas menatap.

” djAnGgo 398 .“Benar. dan inilah keputusanku.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. kita tidak akan membahasnya lagi. “Bella. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung. Kau jauh lebih baik.

” Aku menggeleng tak percaya.” ia memberitahuku.” aku mengingatkannya.“Kalau kaupikir ini akhirnya. Dia juga melihatmu mati.” “Dia keliru. dan detak jam besar di dinding. Akhirnya ekspresinya melembut. “Alice sudah melihatnya. “Aku tidak mau tidur lagi.” gumamku. “Aku yakin itu namanya jalan buntu. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny.” Kemudian ia tersenyum simpul.” Lama sekali kami bertatapan. “Jangan kelewat berharap. berarti kau tidak mengenalku. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.” “Jadi menyerahlah. “Aku takut memejamkan mata. aku akan di sini. aku takan pergi ke mana-mana. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. tahu.” “Itulah hal terindah menjadi manusia. “Sudah kubilang. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal.” katanya tenang. tetesan. kau akan melupakannya. Ia melihat ketakutan di mataku.” “Kau harus beristirahat. ya kan?” Aku mencoba menebak.” katanya pada djAnGgo 399 .” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.” aku berjanji.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Auw.” Suara itu terdengar bosan. “Aku baik-baik saja. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.. Jangan khawatir.” aku menyarankan. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. “Aku takkan meminumnya. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” Mataku menyipit. “Alice takkan berani. “Segala sesuatu berubah. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding. “Aku akan menyuruh perawat ke sana. “Itu berarti selamanya.” “Oh. “Usaha bagus. “Aku tidak percaya. suatu hari nanti.. “Bella.” Aku mendesah. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. tapi itu juga tidak terjadi. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. kau cuma naksir aku.” Ia menggapai tombol. Kau benar-benar keras kepala.” aku berbohong. “Permisi.” Aku balas tersenyum. Ia tertawa dingin. mengabaikan rasa sakit di pipiku. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.” “Aku tidak takut jarum. “Jangan!” Ia mengabaikanku. Selama kau senang karenanya.” Matanya kembali kelam.” Detak jantungku mulai memburu.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya. dan mendesah putus asa. kau sakit. itu membuatku pusing.” katanya lembut. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu.” gumamku. bunyi bip.

Sayang. Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan. Ia menatapku tenang. Aku terus menatapnya. bersandar di dinding. ini obatnya. masih waswas. “Nah. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.Edward. Ia bersedekap dan menunggu.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku.” djAnGgo 400 .

” desahku.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri.” ia tertawa pelan. “Aku mencintaimu.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. “Tinggallah. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. Kemudian aku pun tertidur. bagai nina bobo.“Terima kasih. “Sudah. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice.” gumamnya. Bella.” “Aku tahu.” gumamku datar. “Kurasa sudah bereaksi. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan.” gumamku. selama ini adalah yang terbaik untukmu. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Ia tertawa. jangan khawatirkan itu. “Aku juga. “Sama-sama. “Seperti kataku. selama ini membuatmu bahagia. mencari. “Aku akan ada di sini. Ia tahu apa yang kucari. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku. Aku menoleh sedikit..” ia berjanji. saat kelopak mataku mulai memejam.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya.” gumamku. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.. tapi terlalu berat. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku. “’Tu tidak sama. Suaranya indah. “Terima kasih.” bisiknya. Hanya sebentar. Bibirnya menyentuh lembut bibirku.”Kata itu nyaris tak terdengar. djAnGgo 401 .

djAnGgo 402 .

Dan ia tahu itu. djAnGgo 403 . bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. bahkan dalam pikiranku sendiri. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. sebab kalau bukan karena Edward. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. ia menyelinap ke jok pengemudi. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. serta tongkat berjalanku.” Ia tersenyum mengejek. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. bukan?” ujarku.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. dan tanpa lengan. jam berkunjung. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. “Sudah. dan aku tercekat.. Kaciuali. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. “Charlie?” Dahiku berkerut. Terhadap Charlie. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam.. Sepatuku hanya satu. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. Setelah aku duduk nyaman. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. aku yakin itu.. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. “Halo. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. aku tidak akan meninggalkan rumah. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab..” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Charlie. Atau sepatu yang kukenakan.. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. warna biru gelap. Charlie. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh.” sahutnya hati-hati. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Aku benarbenar tidak suka kejutan. Perhatianku teralih dering telepon. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Itu yang tak dapat kusangkal..” Ia tersenyum. berimpel.

Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya.” saran Edward.” Suaranya sangat ramah.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. “Kau bercanda!” Ia tertawa. ini Edward Cullen. tapi hanya di permukaan. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya. “Ada apa?” desakku. kegembiraannya tampak nyata. “Biarkan aku bicara padanya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . Ia mengabaikanku. Ia menunggu sebentar. “Halo. Tyler.

“Jangan mempersulit keadaan. Tanganku tidak hitam ketika kutarik.” Aku menoleh ke luar jendela. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. Ia terkejut melihatku. dan Rosalie. “Sungguh. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal.mengerikan mulai terbentuk di benakku. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. Bella. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. Juga karena kecurigaan samar. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. Sekarang semua sudah jelas. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. “Ini benar-benar konyol.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini. kami sudah setengah jalan menuju sekolah.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. itu sudah jelas. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan.” ia mengakui. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. benar-benar jauh melenceng. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. senyum lebar menghiasi wajahnya. bingung. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. Tapi prom. “Apa?” gumamku.” Nada suara Edward berubah.” Aku mengabaikan kata-katanya. Bella.” desaknya. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. Air mata kemarahan menetes di pipiku. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. “Hmmm. sebenarnya harapan. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku.. “Ayolah. Tapi nanti akan kaulihat. setiap malam. djAnGgo 405 .. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Pertama. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Nasib burukku belum berakhir. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. “Karena aku marah!” “Bella.” Bibirku mencebik. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. “Aku akan ikuti maumu. Kemudian ia menutup telepon. Ia menunjuk tuksedonya. “Baiklah.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. Jangan tersinggung. dan Emmett. Aku menyerah. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. “Bersama Jasper. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. yang berkembang di hatiku seharian ini. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair.

atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. menurut dia. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. reaksi manusiaku sangat menghiburnya.. terpikir olehku hal lain.. djAnGgo 406 .Perasaan tenang itu langsung lenyap. Emmett senang berada di dekatku.

“Apa pun asal kau tidak perlu berdansa.” olokku. Aku menelan liurku. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. tentu saja aku bersama kelompok vampir. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik.” Ia tersenyum enggan. Berdansa..” Kugertakkan gigiku. tempat Charlie tak bisa ikut campur. well . Ia bisa melihatanya di wajahku.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya.” djAnGgo 407 . aku janji. Dan Rosalie. Edward dan aku tak terpisahkan. “Meski begitu. tiba-tiba curiga. meskipun ia praktis menggendongku. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik.” Ia nyengir. “Tentu saja. bagian tengah lantai tampak lenggang. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih.. ya Rosalie. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. “takkan seburuk itu.” Aku melihat ke arah lantai dansa. Ia mengulurkan tangan.. “Well. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Kami sudah di sekolah sekarang. “Waktu seseorang hendak membunuhmu.” Ia menggeleng. Penampilannya sungguh di luar dugaan. Aku tak bergerak dari tempat duduk. termasuk diriku sendiri. diam-diam berpuas diri. Ia mendesah. Aku takkan pernah melepaskanmu. pestanya berlangsung di ruang gym. “Bella. sudah. kau seberani singa. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. Hari ini langit berawan tipis. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. “Sudah. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. Di sekolah. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. Ia tetap memelukku erat-erat. tangan terlipat. kelihatannya Tyler tidak. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.. prom diadakan di ballroom hotel. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. “Oh. Di sini.” katanya lembut. Di Phoenix. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. lalu tergelak. Ketika kami sampai di dalam. bahkan tidak dirimu sendiri. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai.

djAnGgo 408 . “Aku punya waktu semalaman.” ia mengingatkan. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. kemudian membimbingku ke lantai dansa.” Ia membayar tiket kami. hingga aku hanya bisa berbisik.” Tenggorokanku benar-benar kering. dan menyeret kakiku. “Edward. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan.“Apa pun. Kupeluk lengannya. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.

jangkung.” gumamku. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. Bella. Sebagai gantinya. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. lalu mundur selangkah. Melihat ekspresi Edward tadi. Suara Edward terdengar sinis. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Jacob Black. “Terima kasih. Aku mengikuti arah pandangannya. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. Edward mengeram sangat pelan.” gumamnya. “Wow. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri. sedikit. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu. “Seratus delapan puluh lima senti. “Ya. teramat sangat tidak nyaman.” ia mendesah. memandang Edward untuk pertama kali. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri. wajahnya tampak marah. kini aku merasa kasihan pada Jacob. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. sedikit malu-malu. “Yeah. Wajah Edward tenang. Itu bagus juga. ini tidak terlalu buruk. kuharap setidaknya kau menikmatinya. bodoh. mengangkatku. aku balas tersenyum padanya. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel..“Jangan khawatir. Edward hanya mengangguk. sesaat menarikku lebih rapat. aku memang berharap kau ada di sini.. aku bisa menduga jawabannya. “Aku merasa seperti berumur lima tahun.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. “Aku bisa.” Jacob sampai di tempat kami. “Dia ingin mengobrol denganmu. “Jaga sikapmu!” desisku. Tapi senyumnya tetap hangat. “Well. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. “Oke.” ia balas berbisik. aku percaya.” Aku balas tersenyum. Jake. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. “Kau percaya. “Hei. “Tapi ia sudah bersama seseorang.” aku mengakui. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui.” kata Jacob ramah. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. Kemudian kami pun berdansa. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. “Hai. tidak fokus akibat berputarputar. dan tak seimbang. “Jadi.” Kami tidak benar-benar berdansa. Ia berjalan menghampiri kami. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. ekspresinya hampa. Jacob.

merasa jengah.sama berpaling.” ia menambahkan malu-mal. kau cantik sekali. djAnGgo 410 . “Omong-omong.

Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.. Jacob. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya. meskipun tangannya masih di pinggangku. “Begini. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini.. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. Jacob tak berani menatapku. “Oke.” “Aku tahu. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. memperingatkanmu. dia memandangku sekarang. “Lagi pula. Bella.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. sementara wajahnya sendiri datar. Dia memintaku untuk memohon padamu. Mataku menyipit. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. “Setidaknya. Jacob. Dia.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. kecewa.” Jacob menyahut.. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu. maafkan aku.” gumamnya.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. aku merasa marah. dia ingin kau putus dengan pacarmu. Katakan saja apa yang harus kaukatakan. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. meskipun aku tahu jawabannya. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. “Dia masih percaya takhayul. bukan aku”. ‘Hei. “Katakan saja. aku pasti sudah mati. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan. Ia masih tampak canggung.” Ia menggeleng jijik. trims. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. Jacob. dan ini kata-katanya. namun lemah. katanya. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. tapi hanya supaya kau tahu”. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. “Kalau begitu. Aku tertawa keras-keras.” “Aku tahu itu.” Aku ikut tertawa. sekali lagi merasa jengah. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu. hhh.” gumamnya. “Kami akan mengawasi. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. “Katanya.. Jake. bukan. “Dia menyuruhku memberitahumu. “Aku terjatuh. Jacob. Beritahu aku. djAnGgo 411 . tapi. ya kan?” “Yeah. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip.” aku meminta maaf.” olokku. Dia tidak percaya.” ujarnya.“Mm. merasa malu. katakan saja padaku.” desakku. Ia memalingkan wajah. eh?” “Yeah. dan tanganku melingkar di lehernya. “Ini buruk sekali. “Pikirnya. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. ini kedengarannya buruk sekali.” “Aku tak peduli. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. “Lupakan saja. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. dan terlepas dari janjiku. ini bodoh sekali. bahwa. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu.” Aku balas tersenyum.” Ia menggeleng. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia.” “Well. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. Jacob berpaling lagi..” aku meyakinkannya. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. “Jangan marah. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix... Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.

” desahku. “Bilang padanya aku berterima kasih. “Jadi. djAnGgo 412 . Aku tahu dia bermaksud baik.“Aku tidak terlalu keberatan.” Musiknya berhenti. dan kulepaskan lenganku dari lehernya. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. “Tidak.” Ia tertawa lega. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku.

“Tidak juga. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. “Tidak apa-apa. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri. djAnGgo 413 . Kemudian kami sampai di luar. Ia setengah tersenyum. Lauren.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Well. “Jangan marah pada Billy. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. aku punya daya lihat yang sempurna.” Ia melangkah mundur. Mulutnya tegang. “Dia menyebutmu cantik.” Wajah Edward cemberut. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. sampai ketemu. kerutan di wajahnya semakin nyata. “Hei. sampai ketemu. Lee.” “Maaf. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah.Tangannya masih di pinggangku. Bulan telah muncul di langit. melambai dengan setengah hati.” Kami kembali berdansa. sambil terus memelukku erat di dadanya. Bella. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. dan ia memandang kakiku yang digips.” ia meralat tajam. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. Wajahnya sangat serius. bingung.” “Terima kasih. Angela juga aga di sana. dan aku balas tersenyum padanya. matanya resah. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan.” Aku menatapnya tidak mengerti. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Ia menunduk menatapku. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. aku tidak melihatmu di situ.” desahku. “Kalau begitu.” Aku tertawa.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. “Merasa lebih baik?” godaku. Bukan apa-apa. tampak jelas di antara awanawan tipis. “Intinya?” aku memulai dengan lembut.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. “Mengingat penampilanmu saat ini. Aku menunggu dengan sabar. Aku tersenyum.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. dan Conner menatap kami geram. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. itu bisa dibilang menghina.” gumam Jacob. Begitu kami sendirian. “Kau mungkin sedikit memihak. “Oh. yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lagi pula. “Jadi. merasa senang.” ia menjelaskan. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat. Jacob. aku memaafkanmu.” “Kurasa tidak. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku.” katanya singkat. Jessica melambai. “Yeah. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. Samantha.” “Aku tidak marah pada Billy. Kau lebih dari sekedar cantik. Aku yang mengambil alih. Ia duduk di sana. Tapi ada hal lain. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih.

“Akhir yang lain. “Twilight .” katanya pelan. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang.” gumamnya. menatap bulan. “Aku membawamu ke prom. langsung tegang. akhirnya menjawab pertanyaanku.” gumamku setengah mendesis. lagi. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. Ia mendesah. toh harus berakhir juga.” “Beberapa hal tak perlu berakhir. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun.Ia mengabaikanku. kalau aku bisa djAnGgo 414 .

.. “Aku masih ingin tahu.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. kau benar.. “Aku kan tidak tahu. Kucibirkan bibirku.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. “Oke. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya. “Aku tidak ingin memberitahumu. aku menduga itu semacam. tersenyum.” “Tapi aku memang serius. “Memang.” Beberapa saat kami terdiam. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku. Ia tersenyum sekilas. daripada percaya bahwa kau serius. “Kau siap mengakhiri ini semua. lalu menggeleng marah. Kumohon. ragu-ragu. atau sedih. Ia menatap bulan dan aku menatapnya.. “Tepat.. “Tidak. Aku memandangi gaunku. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar.. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa. bahwa kau akan merubahku.” aku buru-buru mengaku. nyaris kepada dirinya sendiri. aku langsung menyesal. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.” “Itu karena aku bersamamu.” “Kau sudah berjanji. sedih.. prom!” ejekku. Ia memilih kata kuncinya.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku.” tukasnya keberatan. “Kaupikir itu sejenis acara resmi.. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya.” selaku.” Ia masih nyengir.” ia menimpali. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah. “Manusia?” tanyanya datar. “Aku tahu. menatapku seraya tersenyum simpul.” kataku. Ia menunggu..” ia memulai.” gumamnya.” desaknya.membuatnya terjadi. kemudian ia tampak senang. “Kurasa itu akan membuatmu marah.” Aku bergidik mendengar kata-katanya. “siap menjadikan ini akhir hidupmu.” ia menyetujui. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. senyumnya memudar. Kau siap djAnGgo 415 . Ia menunggu dalam diam... Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. acara istimewa.. ini tidak lucu. menunduk. Kugigit bibirku dan mengangguk. “Aku tahu.” Aku mendesah. Aku ingin kau menjadi manusia . ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. akhirnya. “Tidak lucu tahu. aku penasaran. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain.. memainkan chiffon-nya. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon. “Baiklah. “Well . Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.” Ia menghela napas dalam.

” “Aku tahu siapa diriku. “Kau sama butanya denganku.merelakan semuanya. ini baru permulaan. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku.” sergahku. “Aku tidak pantas mendapatkannya.” “Ini bukan akhir. suaraku berbisik.” djAnGgo 416 . satu alisku terangkat.” katanya sedih.

Kalau di pikirnya aku cuma menggertak.” bisikku. “Untuk sekarang. “Ya?” Ia tersenyum. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku.” Ekspresinya berubah. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. “Dengar. tersenyum. napasku tak beraturan. “Cukup untuk selamanya.” jawabnya. “Sekarang juga?” ia berbisik. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku.Aku mendesah. Aku sudah membuat keputusan ini.” kataku. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang.” ejeknya. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. itu cukup. Tanpa sadar aku gemetar.. lalu menjauh.” kataku. Ia mengamati wajahku lama sekali. Ia menghela napas. Ia tergelak misterius. “Bella. dan aku yakin. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga.” Kutelan liurku. Monster. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. “Aku akan tinggal bersamamu. cemberut mendengar pilihan katanya.” Alisnya terangkat.” Wajahnya cemberut melihat tekadku.” Dan ia pun membungkuk lagi. “Ya. “Mmm. Tidakkah itu cukup?” “Ya. Kusentuh wajahnya. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. “Seorang gadis boleh bermimpi. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. kedua tanganku mengepal. melembut. “Kalau begitu. djAnGgo 417 . jadi suaraku tidak terdengar parau. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. ya.. napasnya terasa sejuk di kulitku. kau sudah siap?” tanyanya. ia bakal kecewa. Wajahnya memang kelihatan kecewa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful