TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. Ditambah lagi. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya.” kata Charlie parau. sebuah planet yang asing. Di sana. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. ia tidak pernah membuntutiku. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. semua ini bagian masa kecilku. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Yang membuatku amat terkejut. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . aku tak bisa menyangkalnya. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. supaya kami gampang berkomunikasi. aku menyukainya. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Dad. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. Kamar itu sangat familier. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. Ini permintaan ibuku. lega bisa memandang murung ke luar jendela. itu kamarku sejak aku dilahirkan. baru buatku. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Truk itu berwarna merah kusam. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. dan aku harus memakainya dengan Charlie. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. tampak truk baruku. Terlalu hijau. sekali lagi merasa malu. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. masa-masa awal. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. Lantai kayu. Tentu saja pemandangannya indah. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. “Wow. “Aku senang kau menyukainya. dinding biru cerah. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. well. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. kanopi di antara cabangcabangnya.

pirang.untuk menangis habis-habisan. atau pemandu sorak mungkin. meskipun sering terpapar sinar matahari. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. Aku harus berkulit coklat. orang aneh. Tubuhku selalu langsing. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. mengundang penasaran. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. pemain voli. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. sekarang 358. jelas bukan atlet. sporty. ketika aku harus memikirkan esok pagi. Barangkali tipuan cahaya. tapi aku djAnGgo 10 . aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. tapi lembek. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama.

Disini aku tidak memiliki warna. Charlie berangkat duluan. Yang penting adalah akibatnya. nyaris transparan. dan menguncinya. tidak sehat. Rasanya mustahil berada di rumah ini. seperti di kandang. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. tak pernah benar-benar sepaham. Tapi penyebabnya tidak penting. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. Aku malu melihatnya. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. Dan besok baru permulaannya. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. Aku berterima kasih padanya. titik. Mungkin ada masakah dengan otakku. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. serta lantai linoleumnya yang putih. tak pernah selaras denganku.terlihat pucat. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Tidurku gelisah malam itu. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. dengan dinding panelnya yang gelap. Hujan masih gerimis. bening. dan menerobos hujan. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. setidaknya selama aku tinggal di sini. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. mengamati dapur kecilnya. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. bahkan setelah aku selesai menangis. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. rak-rak kuning terang. Keberuntungan selalu menjauhiku. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . Itu membuatku tidak nyaman. kemudian menambahkan bantal-bantal. Tak ada yang berubah. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. Aku mengenakan jaketku. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. meski tahu doanya sia-sia. Bahkan ibuku. tapi semua itu tergantung warna. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. Kulitku bisa saja cantik. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. tampak deretan foto-foto. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain.

yang membuatku berhenti.kuinginkan. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. meskipun aku belum pernah kesana. dibangun dengan batu bata warna marun. dan peppermint . Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. seperti kebanyakan bangunan lainnya. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. Mesinnya langsung menyala. tapi derunya keras sekali. bensin. Yah. letaknya tak jauh dari jalan raya. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. Di dalam truk nyaman dan kering. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. Radio antiknya masih berfungsi. nilai tambah yang tidak terduga. Bangunan sekolah. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 . aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. dan aku lega karenanya.

salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. murid-murid lain berdatangan. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. aku setengah membohongi diriku. sebuah jam dinding besar berdetak keras. Ketika aku keluar lagi menuju truk. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. dan menarik napas panjang. Kulihat matanya berkilat terkejut. aku menyadarinya dengan perasaan lega. Tak ada yang parkir disana. Ia mengenakan T-shirt ungu. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. Disini. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. Aku mempelajari petanya di dalam truk.” kataku. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. karpet bersemburat jingga. berusaha mengingatnya. dan jelas mencolok. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Wanita berambut merah itu mendongak. bunyinya TATA USAHA. dan peta sekolah. Aku memasukkan semua ke tas.” katanya. mengikuti barisan-barisan mobil lain. Kantornya kecil. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. Tak ada yang bakal menggigitku. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. gedung tiga dengan mudah kutemukan. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. seperti Charlie. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. “Ini jadwal pelajaranmu. Di dalam keadaan cukup terang. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. Jaket hitam polosku tidak mencolok. dan menyilangkan talinya di bahu. dan lebih hangat dari yang kuharap. Ia tersenyum dan berharap. Tak diragukan lagi. Ada 3 meja di balik konter.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. Di tempat asalku. tak ada yang bagus. berambut merah yang menggunakan kacamata. aku akan segera menjadi topik gosip. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. aku senang berada disini di Forks. “Tentu saja. Aku bisa melakukannya. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. Begitu sampai di kafetaria. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. Kelasnya kecil.

rambutnya cokelat muda. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. Faulkner. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. Aku terus menunduk. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. yang lain juga berkulit pucat. Bacaan dasar : Brontë. Menyenangkan. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . yang satu berambut pirang. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. bukan respon yang membangun. Aku mencontoh mereka.. dan membosankan. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya.. Mereka 2 orang gadis. Chauter. Shakespeare. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini.mereka di tiang gantungan yang panjang. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Aku sudah pernah membaca semuanya. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Mason.

“Aku Eric. djAnGgo 15 . “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium.” ujarku. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya.” Ia berharap. Pemerintahan. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan.” Jelas tipe kelewat suka menolong. Eric mengantarku sampai pintu.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. wajahku merah padam. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. Ketika bel berbunyi. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara.” “Wow. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. “Kulitmu tidak terlalu cokelat. “Aku akan ke gedung empat. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. di gedung enam. aku bisa menunjukkannya padamu. Aku tersenyum samar dan masuk.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. “Bella. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. “Mmm. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku. Aku mencoba berdiplomasi. Setelah 2 pelajaran. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Beberapa bulan saja di tempat ini.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. suaranya berupa gumaman sengau. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. lebih pendek daripada aku yang 160 senti. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. dengan Hefferson. tipe anggota klub catur. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama.” tambahnya.. meskipun papan tandanya jelas. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. “Kau Isabella Swan..” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. Aku tak ingat namanya. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. Aku tersenyum hati-hati. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. “Sangat. Vanner. yang sudah reda. Guru Trigonometriku. “Jadi. “Cerah. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. Mr.” aku meralatnya. dan aku mendesah. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol.” “Ibuku setengah albino. “Semoga berhasil. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. Tubuhnya mungil. “Terima kasih.” katanya ketika aku meraih gagang pintu. Aku tergagap.

Aku tak berusaha memperhatikannya. Ia memperkenalkanku kepada mereka. duduk di ruang makan siang. Cowok dari kelas bahasa Inggris. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Eric. djAnGgo 16 . Disanalah. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. ketika aku pertama kali melihat mereka. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. melambai padaku dari seberang ruangan.

Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Ketika aku memperhatikan. yang kelihatannya sudah kuliah. Rambutnya keemasan. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. tergerai lembut di punggung. semuanya luar biasa. lebih langsing. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. kaku. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. Mereka tidak bicara. berotot seperti atlet angkat besi professional. sangat kurus. Ia berpaling dengan cepat. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. Mereka semua mengalihkan pandangan. dari murid-murid lain. mungkin yang paling muda. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. dipotong pendek dan lancip. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. Mataku tertuju kembali ke yang lain. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan.Mereka duduk di sudut kafetaria. seolah temanku telah menyebut namanya. Mata mereka sangat gelap. apelnya masih utuh. Tubuhnya indah. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Lebih pucat daripada aku. Yang jangkung tatapannya dingin. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. Yang lain lebih tinggi. Mereka berlima. Mereka tidak terpana menatapku. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. namun sangat mirip. yang aku lupa namanya. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. Mereka pucat pasi. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. atau si cowok berambut perunggu. kaleng sodanya belum dibuka. yang 1 bertubuh besar. si cewek mungil bangkit membawa nampan. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. Aku terus mengawasinya. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Namun toh mereka sama persis. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. Rambutnya hitam kelam. perawakannya mungil. keunguan. keindahan yang memancarkan kekejaman. semua garis tubuh mereka lurus. yang sama sekali tak beranjak. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Yang cewek-cewek kebalikannya. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. telah djAnGgo 17 . sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. memar seperti bayangan. juga tidak makan. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. sempurna. Terlepas dari hidung mereka. dari satu sama lain. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. Mereka juga memiliki kantong mata. si albino. begitu kontras dengan warna rambut mereka. Dari 3 cowok. sejauh mungkin dari tempat dudukku. rambutnya gelap ikal.

“Itu Edward dan Emmett Cullen. Gadis di sebelahku tertawa tersipu.memutuskan untuk tidak menjawab. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. Mulutnya bergerak sangat cepat. mereka tinggal bersama dr. djAnGgo 18 . Yang 3 lagi masih membuang muka. yang sekarang sedang memandangi nampannya. serta Rosalie dan Jasper Hale. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. menunduk memandangi meja seperti aku. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat.” Ia mengatakannya dengan berbisik. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. Aku melirik cowok tampan itu. Cullen dan istrinya.

salah satu yang bermarga Cullen.” “Oh.. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata.” ujar Jessica enggan. maksudku. aku menduga alasannya adalah iri..” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku.” Aku merasakan sebersit rasa iba. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. “Kurasa Mrs. yang pirang.Nama-nama aneh dan tidak populer. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. pikirku. dan jelas tidak diterima. memang tidak. “Mereka. Jasper dan Rosalie umurnya 18. kira-kira 20-an atau awal 30-an. pikirku kritis. Mereka semua anak adopsi. mendongak dan beradu pandang denganku.” kata Jessica. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer. Saat aku mengamati mereka. Mrs. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. bahkan bagi pendatang baru seperti aku.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. mereka adalah pendatang. ada 2 cewek yang bernama Jessica.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. Tapi kalau mencoba jujur. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. Emmett dan Rosalie. Cullen tidak bisa punya anak. nama yang sangat umum. sekaligus lega. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. Dr.” “Sekarang memang. sangat tampan dan cantik. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 .” Jessica menambahkan. Cullen sejak masih 8 tahun. “Dan mereka selalu bersama-sama. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. mau memelihara semua anak-anak itu. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. mereka anak angkat. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. Cullen masih sangat muda. ketika mereka masih kecil dan segalanya.” “Mereka baik sekali. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. yang paling muda.” “Kurasa begitu. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. “Tidak.. dan Jasper dan Alice. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku.. Dan mereka tinggal bersamasama. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku.

Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. dan ia masih menatapku. “Itu Edward.” Jessica mendengus. ekspresinya sedikit gelisah. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya. Dia tidak berkencan. Ia sudah memalingkan wajah. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. Dia tampan. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. tentu saja. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. seolah-olah dia juga tersenyum. Lalu aku kembali memandang Edward. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. tapi jangan buang-buang waktu.lewat sudut mata. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . sikapnya jelas pahit. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Aku kembali menunduk.

bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku.baruku. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. persis yang dulu sering kutempati. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. Tanpa mengangkat wajah. Bergegas aku memalingkan wajah. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. Sekali lagi aku mengintip. Ketika kami memasuki kelas. aroma shampo kesukaanku. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. dan menyesalinya. dan selalu menunduk. Ia juga pemalu. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Aromanya seperti stroberi. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. tidak bersahabat. Diam-diam aku mengendus rambutku. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Cewek yang duduk disitu terkekeh. Ia sedang menatapku. Ia menjauh dariku. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. Mr. dia juga tak pernah santai. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. kecuali satu yang masih kosong. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. duduk di ujung kursi. sebagai penghalang diantara kami. terkejut. duduk di sebelah kursi yang kosong. Untuk yang satu ini. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. aku diam-diam memperhatikan Edward. Sepertinya baunya cukup enak. Ia menatapku lagi. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Ketika aku melewatinya. hitam legam. sejauh mungkin dariku. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . Di sisi gang tengah. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. Ia sudah punya teman sebangku. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. kuatur bukuku di meja lalu duduk. wajahku merah padam. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Tak mungkin ada hubungannya denganku. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. gusar. Ia sama sekali tidak mengenalku. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya.

mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. Aku duduk membeku. Ini tidak adil. membuatku terperanjat. Ia tersenyum ramah. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Ia jahat sekali. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka.jijik. Dengan luwes dia berdiri. Bel berbunyi keras. menciut di kursiku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. djAnGgo 22 . ia lebih tinggi daripada yang kukira. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. menatapnya tanpa berkedip. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. kebiasaan memalukan. Kalau marah aku biasanya menangis. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. Ketika aku mengalihkan pandang. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. memunggungiku.

Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Akhirnya bel terakhir berbunyi. memudahkan segalanya buatku. Dari pembicaraan kami. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku.” Bukannya menuju kamar ganti. Kurasa aku bisa menemukannya.” “Dia aneh.“Bella. Pintunya terbuka lagi. Ia cukup bersahabat dan mempesona. Kami berjalan bareng ke gymnasium. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. Guru senam kami.” Aku menciut. Edward sedang berdebat dengannya. memberikan seragam buatku. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. Di tempat asalku. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. Aku berdiri merapat ke dinding belakang. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. ketika bermain voli aku merasa agak mual. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. Tapi ketika kami memasuki gymnasium.” Ia tampak senang. Forks bagiku adalah neraka di bumi. “Jadi.” ralatku sambil tersenyum. “Ya.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. ia bertanya.” “Itu juga kelasku berikutnya. Jadi.” “Aku tidak tahu. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. Pasti sesuatu yang lain. Mike malah terus bersamaku. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. meniup kertas-kertas di meja. dan yang kutimbulkan. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. “Aku Mike. nada suaranya rendah dan indah. jam mana saja. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris.” timpalku. Secara harfiah. Hujan sudah reda. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Cewek yang djAnGgo 23 . aku bakal mengobrol denganmu.” katanya. Pelatih Clapp.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya. menunggu petugas resepsionis selesai. Mike.” “Hai. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. Aku memeluk diriku sendiri. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini.

Terima kasih banyak atas bantuan Anda.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu.masuk langsung melangkah ke meja. Ia berbalik lagi ke resepsionis. lalu lenyap di balik pintu. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. meletakkan catatan di keranjang kawat. “Aku mengerti ini tak mungkin. dan perlahan ia berbalik menatapku. wajahnya luar biasa tampan. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. “Kalau begitu lupakan saja. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. djAnGgo 24 .” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. lalu keluar lagi. Tapi punggung Edward Cullen menegang. Tatapannya hanya sedetik. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin.

” aku berbohong. “Baik. wajahku pucat dan bukannya memerah. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Aku duduk sebentar di dalamnya. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. “Bagaimana hari pertamamu. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. suaraku lemah. Ia kelihatan tidak percaya.Aku berjalan pelan ke meja. hanya tinggal beberapa mobil disana. djAnGgo 25 . kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. hanya menerawang ke luar kaca depan. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. Ketika tiba di lapangan parkir. Nak?” tanya resepsionis lembut.

Lebih baik karena hujan belum turun. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. dan sekalinya tidak terhantam bola. waswas terhadap tatapan anehnya. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. dan membuktikan kecurigaanku keliru. meski langit sudah tebal oleh mendung. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Edward masih belum muncul juga. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. bersama Mike. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Ketika terbaring nyalang di ranjang. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. tapi juga lebih buruk. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. akupun semakin tegang. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. Lebih buruk karena aku lelah.. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. tapi ia sendiri tak ada. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. membuatku tersanjung. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. bukan tenggelam. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. Di kota seperti ini. Sesampainya di pintu aku menahan napas. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. dan ini takkan mudah. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah.. aku merasa sangat tidak nyaman. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. melangkah setia disisiku menuju kelas.2. dan dengan berlalunya waktu. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Lebih buruk karena Mr. gelisah menantikan kedatangan Edward. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. Ia tidak datang. Eric. Jessica. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. yang mirip Golden Retriever. diplomasi sangatlah penting. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Mike.

senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Ketika sekolah akhirnya usai.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. Aku djAnGgo 27 . Tidak mungkin. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar. berhubung Edward tidak masuk. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. Aku terus-terusan mengingatkan diriku.

Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. memastikan semua ada disitu. hidup memang lebih sering seperti itu. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Mom. Mereka memang suka menyendiri. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. rasanya normal.. dan sekarang akan menuju Thriftway. Kuharap Charlie tidak keberatan. selepas jalan raya. sama seperti yang lain. Aku mendapat 3 pesan.. melapisi steak dengan saus marinade. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. Tapi sejauh yang kutahu. Volvo baru yang mengkilap. Aku pinkku.. dan memeriksa e-mail. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang.berjalan cepat menuju parkiran. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. The Thriftway tak jauh dari sekolah. Karena sekarang aku memperhatikan.” tulis ibuku. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. aku mengganti pakaian dengan yang kering. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya..” tulisnya. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Ketika aku menunggu. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. simpel. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. gaya mereka. aku melihat Cullen bersaudara. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. Jadi aku membuat daftar belanjaan. aku membawa tas sekolahku ke atas. aku tak percaya sepenuhnya. dan aku menyukainya. hanya beberapa blok ke selatan. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Tentu saja. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Sebelum mengerjakan PR. Tidak. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. “Bella. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. “Bella. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. selesai mengepak untuk ke Florida. namun bermerek. Selesai melakukannya.ku untuk pertama kali.

djAnGgo 29 . aku akan menelepon Charlie.Isabella. Kalau sampai jam 5.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu.

Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . Sudah pulang?” “Ya. Blus pinkmu ada di dry clean. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Waktu aku datang kesini. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Aku juga rindu padamu. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. kau tahu kan. “Jadi. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Bella napas. demi kesenangan. Charlie memberikan aku truk. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Aku lupa waktu. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. Namun diam yang nyaman. Aku masih punya waktu 1 jam. Dad. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. Dalam beberapa hal. Jangan konyol. Tentu saja disini hujan.Aku melihat jam. dan memulai lagi. Aku akan menulis lagi nanti. “Hei. Bell. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu.” “Terima kasih. Aku sedang menulis sekarang. kau harus mengambilnya hari Jumat. Mobil tua. kemudian menyiapkan meja makan. tapi benar-benar ‘bandel’. kau percaya? Aku menyukainya.” jawabku. Aku mengirimnya. Mom. dan Dad tampak lega. Mom. Tenang. Tenang saja. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. ketika masih kanak-kanak. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. Ini lebih nyaman buat kami berdua. yang berarti bagus. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. Semua baik-baik saja. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. Setahuku. buatku. djAnGgo 30 . dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. Bella. hanya sedikit mengulang pelajaran. “Steak dan kentang. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. kami sangat cocok hidup bersama. tarik sayang Mom. “Aromanya lezat. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Ibuku juru masak imajinatif. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. Sekolahku tidak jelek. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. Memangnya ada orang lain? pikirku.

djAnGgo 31 .

keluarganya baik. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. agak berbeda. “Mereka. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. dan setelah selesai mencuci piring. Anak baik. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. Tapi mereka sangat dewasa. Yang kutahu. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. ia telah meninggalkan sekolah. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. Cullen. dia cukup berhasil. Bukan karena ingin.” Dengan satu pengecualian mencolok. Lalu ada cowok. Pantai seharusnya panas dan kering. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah.“Well. Aku berusaha tidak memikirkannya. anakanaknya.. dan telah setuju untuk ikut. suaranya makin keras. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. “Untunglah pernikahannya bahagia. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . “Kita beruntung memilikinya. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. “Itu pasti Mike Newton. Aku diajak.. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Saat makan siang. Mike. hampir semua murid di sekolah. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Setiap hari. Charlie..” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. yang sangat bersahabat. “Orang-orang di kota ini. dengan anak-anak remaja adopsi itu. Semuanya kelihatan lumayan baik.” lanjutnya. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan.. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. Malam itu suasana tenang. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Memang konyol sih. Aku tertidur dengan cepat. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa.. kalaupun bukan nama. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya.” kata Charlie tertawa.. aku duduk bersama teman-temannya. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward.” gumamnya. “Dr. kelelahan. tak lagi menghawatirkan Edward. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah.” tambahku. Dia aset bagi komunitas kita. Ia kembali menonton TV. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Aku mundur sedikit. “Kau harus bertemu dr. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Karena banyak backpacker datang kesini. Mereka sangat menarik.

. Di djAnGgo 33 . aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. aku tidak jadi membuat kartu anggota. dan bergidik memikirkannya. Aku membersihkan rumah. tenang.. Iseng.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. Pagi ini cuaca lebih dingin. sehingga aku bisa tidur nyenyak. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. memilih bekerja sepanjang akhir pekan. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. mengerjakan PR. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana. tapi untungnya tidak hujan.

Ia tertawa. “Uuuh.” Jelas. Lalu aku berdiri mematung.” kata Mike. Dua kali Mike menanyakan keadaanku. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. Bola-bola salju melesat dimana-man. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. Hilang sudah hari baikku. Mike tampak terkejut. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. perutku keroncongan. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. tahu kan. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. Jessica menarik lenganku. “Hari ini aku minum soda saja. lalu mengikuti mereka ke meja. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan.” Mike tertawa. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk.” Salju. aku langsung masuk. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. gumpalan es meleleh di rambutnya. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. “Sebenarnya.” Aku terdiam.” kataku. “Wow. Aku tidak mengatakan apa-apa. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. “Salju. “Tidak apa-apa. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. Ketika kami berjalan keluar kelas. Aku tak punya alasan untuk merasa malu. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. Sejujurnya. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. telingaku panas.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku.” Mike hanya mengangguk. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. ulangan itu sangat mudah. Tentu saja lebih kering daripada hujan. “Tentu saja pernah. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. Jessica menganggapku konyol.” jawabku. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. “Di TV. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. “Kita bertemu lagi saat makan siang. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. rupanya ini salju pertama di tahun baru. “Selain itu. dan bukannya menuju kelasnya. Angin menerpa pipi dan hidungku. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Ada 5 orang di meja itu. mataku menatap ke bawah. Aku curiga itu perbuatan Eric. aku mengingatkan diriku sendiri. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. yang berjalan jauh memunggungi kami.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Aku memegang binder di tanganku. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. mataku masih tertuju ke lantai. Kukatakan aku baik-baik saja.kelas bahasa Inggris.

bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. aku akan bolos kelas Biologi. Konyol. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada. djAnGgo 35 . Kalau ia menatapku. seperti pengecut.

hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. Tapi ada sesuatu. Aku sedikit mengangkat kepala. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. “Tidak.” desisku. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. Jasper. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. ada sesuatu yang berbeda. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. Mike terus mencerocos. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Lalu Mike menyela kami. berusaha menemukan perbedaan itu. barangkali memerah akibat perang-perangan salju.. seperti tidak puas. Artinya aku bebas. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. terdengar bingung dengan pertanyaanku. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. Aku diam saja. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku. tapi ketika kami berjalan menuju kelas.” jawabku jujur. Tapi dia masih memandangimu. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Berhubung ia tidak kelihatan marah. “Edward Cullen menatapmu. jangan dilihat lagi.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. Aku masih gelisah. “Dia tidak kelihatan marah. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. Ia hanya kelihatan penasaran. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. “Kau sedang menatap apa. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. well. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. matanya mengikuti arah pandanganku. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. tapi toh dia mengalihkan pandangan. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun.” “Sudah. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. menyembunyikan perasaan senangku. aku akan ikut pelajaran Biologi.” kata Jessica. Edward. Hujan turun. Selama sisa waktu makan siang. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Meski begitu aku yakin. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. djAnGgo 36 . Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Jessica mendengus. Aku menaikkan tudung jaket. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. Mereka menikmati hari bersalju.. Mereka sedang tertawa. Dari caranya menatap Mike. seperti anak-anak lainnya. Aku menunduk.

Banner sedang berjalan mengelilingi kelas.Begitu tiba di kelas. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. Air menetes dari rambutnya. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. berantakan. tapi mataku tetap terarah pada gambarku. “Halo. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. Aku mendongak. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser.” kudengar suara merdu dan tenang. Mr. tetapi kursinya diarahkan padaku. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. meski begitu djAnGgo 37 . Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja. aku lega karena mejaku masih kosong.

senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. “Aku akan memulainya. lalu melihatnya sepintas lalu. aku lebih suka Bella. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. “Namaku Edward Cullen. maskudku ayahku. wajahku merah padam. Tapi matanya tampak hati-hati.” kataku. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar.” ia tidak meneruskan.” Senyum itu memudar. jarinya menyengatku bagai aliran listrik.” lanjutnya. “Profase.” bantahku bodoh. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Jari-jarinya dingin bagai es. Aku harus bicara. hanya sedikit. Kupelajari slide-nya sebentar. ia tetap meraih mikroskop. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Aku memalingkan wajah malu-malu. “Tidak. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. “Tidak. Banner memulai pelajaran saat itu juga.” kataku. “Oh.” Saking bingungnya. dan tahu apa yang harus kucari. pasti memanggilku Isabella di belakangku. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. Seharusnya mudah. “Tapi kupikir Charlie. Kami tidak diperbolehkan membaca buku.” aku mencoba menjelaskan. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. langsung meraih tangannya.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi.” gumamnya pelan. Bersama partner masing-masing. Meski masih kaget. ia menunggu. benar-benar merasa seperti orang bodoh.” Aku nyengir. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. “Maaf. “Profase. Kau pasti Bella Swan.” dia setuju. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. tawa yang menyenangkan. Untungnya Mr. “ Oh. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. Aku pernah melakukan percobaan ini. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. Ketika ia menyentuhku. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. djAnGgo 38 . Aku yakin dengan pengamatanku. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. “Kau duluan. “Mulai!” perintahnya. Bagaimanapun.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak. “Maksudku. kepalaku sampai pusing. Ia tertawa lembut. partner?” tanya Edward. kurasa semua orang tahu namamu.” Aku memamerkan kemampuanku.

“Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. djAnGgo 39 . dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Aku berusaha terdengar tidak peduli. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek. dan mendorong mikroskop ke arahku. ia benar. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi.“Anafase. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa.” gumamnya. sambil menulis. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. Ia menyerahkannya padaku. Sial.

“Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. lalu menuliskannya.” Sekarang Mr. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah. Banner. “Bella.” Edward meralat ucapan Mr. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. ekspresinya skeptis. “Sayang sekali turun salju.” “Well. “Tidak juga.” gumamku. ya kan?” Edward bertanya. Edward. pandangan frustasi dan misterius yang sama. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku.“Interfase. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya.” “Oh. dan ia sedang menatapku. lebih gelap daripada mentega. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. menatap percobaan yang telah selesai.” djAnGgo 40 .” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. Tangannya mengepal lagi. Banner mengganguk. Kami selesai duluan.” Mr. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Ketakutan kembali menyelimutiku. Banner menatapku. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya.” “Whitefish blastula?” “Yeah. Banner menghampiri meja kami. Ia mengintip sebentar. “Tidak dengan akar bawang merah. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. “Kau tidak suka dingin. dan aku tak bisa berkonsentrasi. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. Ia melihat dari balik bahu. “Tidak.” katanya setelah beberapa saat. “Jadi. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. Aku menunduk.” jawabku jujur. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. Lalu Mr. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya. “Atau basah. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. Aku mendongak. Banner. Aku tersenyum malu-malu.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya.” Itu bukan pertanyaan. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Setelah ia pergi. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. tapi dengan nuansa keemasan yang sama.

“Kau tak tahu bagaimana rasanya.” gumamku dingin..“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. “Jawabannya..” ujarnya melamun. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku. djAnGgo 41 .” “Rasanya aku bisa mengerti. rumit.” desaknya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya. tidak blak-blakan seperti dirinya. begitu menuntut jawaban. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. aku tak bisa membayangkannya. entah untuk alasan apa.

“Phil sering bepergian.” kataku. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. “Ibuku menikah lagi. “Barangkali tidak.” kataku.” Aku nyengir. “Apakah dia terkenal?” tanyanya. “Aku tidak mengerti.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. itu saja. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu.” Aku setengah tersenyum. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. “Itu tidak terdengar terlalu rumit.” Edward mencoba menebak. lalu memalingkan wajah. ia tidak mengirimku kesini. Aku menghela napas. bukan pertanyaan. Ini membuatnya tidak bahagia.” bantahnya. “Tidak.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya.. Aku lebih kesal pada diriku sendiri.” katanya pelan. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. “Tidak. Benar-benar liga kecil. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.” Suaraku terdengar sedih. Ia terdengar senang.. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain.” ujarnya. Dia pemain bola. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . “Kurasa tidak. suaranya masih ramah.” Alisnya bertaut. Aku sendiri yang mau. bahkan untukku sendiri. Aku terus menghindari pandangannya. Banner yang sedang berkeliling. Aku memandangnya tanpa berpikir. “Dan kau tidak menyukainya. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. Dia sering berpindah-pindah. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. “Mula-mula ia tinggal denganku. Dahiku mengerut. Phil baik. memandang marah ke papan tulis. “Ya sudah. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.” Ia mengangkat bahu. Dia bukan pemain andal.” gumamnya puas. “Terus?” tantangku. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya.. Aku tertawa sinis. dan aku menjawab tanpa berpikir.. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward.” katanya. namun tatapannya masih tajam.” timpalnya datar. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya.” ujarnya. Aku menghela napas. tapi cukup baik.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. tapi dia merindukan Phil. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. “Tidak juga. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. “Kau pandai berpura-pura. “Itu tidak adil. mengawasi Mr. “Pertanyaan yang sangat bagus. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk.” Lagilagi ia melontarkan dugaan. Terlalu muda barangkali. Tatapannya berubah menilai. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel.Lama aku diam. “Tapi sekarang kau tidak bahagia. balas tersenyum. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran.

ia terdengar bersungguh-sungguh. djAnGgo 43 . aku malah sulit menebakmu.” Ia tersenyum lebar. “Kebalikannya. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku.” Wajahku merengut. ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.mudah ditebak.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya.” “Biasanya.

Mike tidak tamapak senang. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. yang jaraknya 3 mobil dariku. Toyota itu beruntung. melepas tudungnya. masih melihat ke sisi lain mobil. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. memastikan tidak ada siapa-siapa. dan berhati-hati mundur lagi. Aku membuka jaket. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Kunyalakan mesin penghangat. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. djAnGgo 44 . bahwa ia menjauh lagi dariku.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. matanya menatapku lekat-lekat. yang mungkin membenciku atau tidak. Trukku jenis penghancur. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. aku menginjak rem tepat pada waktunya. tapi sekarang bisa kulihat. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. Mike satu tim denganku hari ini. terkejut mendengar ucapannya.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum.” kataku. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. Dan seperti Senin lalu. Aku menarik napas panjang. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Aku berusaha terdengar kasual. Ketika bel akhirnya berbunyi. “Aku pernah melakukan percobaan ini.” “Gampang saja buatku. Aku langsung menyesal. dari sudut mataku. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. kali ini lebih baik. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Ia tampak menikmati percakapan kami. “Semua slide itu mirip. Banner menyuruh murid-murid tenang. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. itu saja. “Itu buruk sekali. Aku memandang sekelilingku. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr.Mr. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir.” erangnya. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan.

djAnGgo 45 .

Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Sambil mengemudi ke sekolah. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. ada sesuatu yang berbeda. melapisi atap trukku. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini.3. Apapun alasannya. dan ini membuatku takut. Ada cahaya. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. Tapi bukan itu bagian terburuknya. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. lalu mengerang ngeri. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. dengan memikirkan Mike dan Eric. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. ataupun bertemu teman-teman baruku. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. Dan itu sangat. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. dan membuat jalanan menjadi putih. Kalau mau jujur. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. Mungkin karena aku masih baru sisini. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. Dan aku curiga padanya. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Dilihat dari berbagai sisi. sangat bodoh. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. tapi bagaimanapun juga cerah. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan.

Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. Meski begitu. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Aku tak terbiasa diurus. Aku melihat sesuatu berwarna perak.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. aku mengemudi sangat pelan. djAnGgo 47 . Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. dan memeriksa banku. ketika mendengar suara aneh. tak ingin tergelincir.

yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. dan aku berdiri diantara keduanya. nyaris menabrakku lagi. dan sesuatu menarikku.” kataku. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku.. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. karena van itu masih meluncur mendekat. “Bagaimana bisa. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. Aku melihat beberapa hal bersamaan. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk.” katanya. mengumpulkan kekuatan. keras. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa. “Aduh. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. berhamburan ke jalanan. Dalam kekacauan yang tibatiba. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. “Itulah yang kupikirkan.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. djAnGgo 48 . Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film.” suaraku perlahan menghilang. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan. Aku berusaha menjernihkan pikiran. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es.” Suaraku terdengar aneh.Itu suara lengkingan tinggi.. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. memandangku ngeri. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. dan van itu berhenti. sesuatu menerjangku. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. Aku mendongak. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. lalu terdengar suara kaca pecah. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. “Hati-hati. nada suaranya kembali serius. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. Bella. terkejut. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. masih berputar dan meluncur. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. benar-benar terkejut.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak.

tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.” “Tapi dingin. djAnGgo 49 . Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. saling berteriak. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. “Sekarang jangan bergerak dulu. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami.” aku mengeluh.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. “Jangan bergerak. berteriak kepada kami. Ada kegetiran dalam suaranya.” seseorang memerintah. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. Aku mencoba bangkit. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan.

Keluarganya tampak di kejauhan.” Rahangku mengeras. Bella. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. “Oke. ekspresi mereka beragam. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. Aku menggertakkan gigiku. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. “Percayalah padaku.” Ekspresinya berubah kaku. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu. suaranya yang lembut mengodaku. “Kumohon.. seolah memberitahu sesuatu yang penting. dan ia akan mengakuinya. Menjengkelkan. “Kau ada di sebelah mobilmu.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. Mr.” aku mengulanginya dengan nada marah. temanku di kelas Pemerintahan.. Warna emas di matanya berkilat-kilat.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Dad.” Sekeliling kami kacau. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. Aku mengenali Tyler Crowler. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 . Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat.” “Aku melihatmu. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. Yang membuatnya lebih buruk.. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana. Edward dengan kasar menolak. mulai dari protes sampai marah. Ketika juru rawat pergi. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur.“Kau ada di sebelah sana.” ia memohon. dan aku menarikmu dari sana. Varner dan Pelatih Clapp. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. Char. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku.” keluhku. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali.. “Aku tidak apa-apa. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. Edward naik di depan. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu.” tukasnya. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. Lalu datang pasien lain.” “Kenapa?” desakku. Butuh enam petugas medis dan dua guru. “Aku baik-baik saja. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. aku benar. aku sedang berdiri bersamamu. Yang membuat segalanya lebih parah. “Tidak. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. “Bella. “Tidak. tiba-tiba terdengar putus asa. Mereka membawaku ke UGD. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans.

kau tampak buruk. Ia menatapku waswas. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. “Bella. djAnGgo 51 .kurasakan. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. Tyler.

. dan mulutku menganga melihatnya. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu. Ia nyengir lagi. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. memamerkan giginya yang sempurna. Miss Swan. aku datang untuk menyelamatkanmu. wow. nyengir. Ia masih muda. “Hei.. tampak lelah. Aku memandangnya. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.Ia mengabaikanku. kau tidak mengenaiku. aku terperangkap di UGD. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat.” jawabnya. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu... Cullen berkata dengan suara sangat merdu. Dari yang dideskripsikan Charlie. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja.” aku mengeluh. “Cullen? Aku tidak melihatnya.” Lalu seorang dokter menghampiri.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. Edward. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler.. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. Tidak mudah. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya..” kataku. Mataku langsung terbuka.” Ia terlihat bingung. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. Dia ada disini entah dimana.” dr. lalu kau menghilang. “Siapa?” “Edward Cullen. mudah-mudahan untuk terakhir kali. dia berdiri di sebelahku. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. dan aku benar. menunggu. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja.. aku sangat menyesal. “Tapi jangan khawatir.” Aku tak pernah pandai berbohong. djAnGgo 52 . ini pasti ayah Edward. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. dengan lingkaran di bawah matanya. Meski begitu ia pucat.” katanya. tidak seru. namun menghadap ke arahku. “Jangan khawatirkan itu.” “Mmm.. “Jadi. “Tidak ada darah. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. Jadi. dan mobilku selip.” Aku tahu aku tidak sinting.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. Edward menarikku. Ia terus menggumamkan penyesalan. pirang. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat.. “Aku baik-baik saja. “Jadi. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Edward berdiri di ujung tempat tidurku.. ” Tyler memulai.

“Well.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah.” “Tidak apa-apa. ayahmu berada di ruang tunggu. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.” aku mengulangi sambil menghela napas. djAnGgo 53 . kepalamu terbentur cukup keras. Mataku menyipit. “Tidak juga. kau bisa pulang dengannya sekarang. “Sakit?” tanyanya.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku. Aku mendengar suara tawa.“Hasil rontgenmu bagus. lalu menatap Edward geram.” kata Edward ponggah. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini.” Aku menatap Edward.” katanya. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. Ia memperhatikan ketika aku meringis.

dan menghampiri tempat tidur sebelah. “Kau sudah janji.” “Bella. Tatapannya dingin. “Aku baik-baik saja. tapi nyatanya tidak. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku.” dr. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. Lalu semua terlontar begitu saja. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. dan kau sama sekali tidak terluka. Cullen menangkapku. aku tak berhutang apa-apa padamu. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. Aku memandang dr.” kataku. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. “Apa yang kau mau dariku.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward. tapi kau menahannya.” Ia balas menantang. Cullen.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. “Kedengarannya kau sangat beruntung. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. Alis dr.. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. aku bergeser ke sisi Edward. “Kau berhutang penjelasan padaku. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. ia berbalik menghadapku. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. Lalu ia berpaling memandang Tyler.” ujar dr..” erangku. kepalamu terbentur. tidak!” aku berkeras. dan dr. Ia tampak waswas. Cullen terangkat. menutupi wajahku dengan tangan. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. tapi itu justru membuatku semakin curiga. Terlalu cepat. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. “Ayahmmu sudah menunggumu. dan aku tak bisa melanjutkannya. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu.” ia berkata kepada Tyler. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu. Emosiku meluap-luap sekarang. “Aku menyelamatan hidupmu. Ia mundur selangkah. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. Begitu dokter memunggungiku. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. Cullen meralat.” aku meyakinkannya lagi. djAnGgo 54 . sang dokter sedang memikirkannya. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. kutatap dia tajam-tajam. “Oh. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. Tyler juga tidak melihatmu. Ia menatapku tak percaya. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. ya. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. tampak bersalah.” kata dr. Cullen dan Tyler.“Sebenarnya.” aku mengingatkannya.” katanya sepelan mungkin. kalau kau tidak keberatan. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. juga di mobil yang lain.” “Oh tidak. aku terpeleset.” ia memberikan saran sambil memegangiku. Tapi wajahnya tegang. Ia menatapku jengkel. “Sakitnya tidak separah itu kok.” desakku.” Nada suaranya tajam. Cullen. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. dan mulai memeriksa luka-lukanya. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. Intuisiku tepat.” aku berkeras. well. rahangnya sekonyong-konyong mengeras.

djAnGgo 55 . kau tahu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang. rahangku mengeras.Aku hanya mengangguk sekali. “Tak ada yang bakal mempercayai itu.

Setelah bisa berjalan. “Aku tidak apa-apa.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. hati-hati mengendalikan amarahku. tidak benar-benar menyentuhku. Akulah yang pertama bicara.. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh..” Kami saling menatap marah dalam hening. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. Bodoh. marah dan berharap. Wajahnya tampak kaget. Rasanya sangat lega. dan Eric ada disana. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. Charlie bergegas ke sisiku..” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar. berasda di mobil patroli. berusaha untuk tetap fokus. djAnGgo 56 .“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku. kuharap kau menikmati kekecewaanmu. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin.” “Kalau begitu. Ketika kami tiba di rumah. yang masih tak bisa kupercaya. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. mulai bergabung dengan kami. Mike. kau harus menelepon Renée. menatapku. Aku masih kesal. Charlie akhirnya bicara. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku. “Apa kata dokter?” “Dr. Ia memohon supaya aku mau pulang. tak ingin bebasa-basi.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. Jessica. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. kan?” “Tidak. Cullen memeriksaku. Ia berhenti. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. “Kau takkan menyerah. Aku sangat marah. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf.” Aku menghela napas. “Mm. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana. “Aku tak suka berbohong. Tentu saja ibuku histeris.” Aku menunggu. itulah pertama kali aku merasakannya. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan.” Ia menunduk bersalah.” desakku. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku.” bisiknya. “Ayo. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward.” pintaku.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih.. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. Lalu ia berbalik dan menjauh. “Aku tak tahu. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. aku mengangkat tangan. Aku terkejut. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang.

Obat ini lumayan membantu. dan begitu rasa sakitnya mereda.bodoh. Charlie terus-menerus mengawasiku. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. aku tertidur pulas. bodoh. membuatku merasa tidak nyaman. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras.

Karena ketakutan. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. Jessica. entah bagaimana caranya. Edward. Aku sangat ingin bicara dengannya. terutama Edward. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. di luar ruang UGD. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. ia tak pernah berbalik. entah dengan cara apa. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. tidak makan. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. dengan tidak mungkinnya. Merasa kecewa. meninggalkanku dalam kegelapan. aku tak bisa mengejarnya. dan pada awalnya memalukan. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. “Halo. Aku berusaha terdengar meyakinkan. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. menyelamatkan hidupku. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. Aku tak bisa melihat wajahnya. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. hanya mengobrol sendiri. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. Terkahir kali aku bertemu dengannya. terutama karena aku baik-baik saja. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Yang membuatku cemas. berharap ia akan berpaling ke arahku. Betapa menyedihkan. Hanya kadang-kadang. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. tanpa melirik kanan-kiri. kami berdua begitu marah. djAnGgo 58 . meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Tak satupun dari mereka. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Mike. Aku duduk. dan sejauh mungkin. Eric.4. aku menyadari alasan yang masuk akal. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. sebelum ia tiba-tiba. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. tapi ia tetap berkeras. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. tak peduli seberapa keras aku memanggil. memandang ke arahku lagi. mencoba terlihat sopan.” sapaku ramah. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. menegangkan.

meskipun ia ada disana. mengangguk sekali. sejengkal dariku. Dan itulah kontak terakhirku dengannya.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. tak sanggup menahan diriku. Kadangkadang aku memerhatikannya. setiap hari. meskipun hanya dari jauh. lalu berpaling lagi. di kafetaria atau di djAnGgo 59 .

Dan mimpi-mimpiku berlanjut.” aku mendukungnya. dan aku takut menanyakan alasannya. aku tak akan pergi. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. Jess. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. Ia menelepon beberapa kali. “Jadi. seperti ia mengabaikan kami semua. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya. “Bakal asyik banget lho. berbincang sangat akrab dengan Eric. Seperti biasa.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan. seperti ia juga tak memedulikanku. bahwa cuacalah yang membuatku sedih.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. Aku benarbenar merana..” kata Mike menatap lantai. Aku berusaha meyakinkannya. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. Kalau Mike menolak ajakannya. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya.” “Well.. “Kau yakin tidak keberatan. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. Ia semakin percaya diri.” aku meyakinkannya. tidak seperti biasa. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. Meskipun aku berlagak tak peduli. Aku merasa iba. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak.. Mike juga diam. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. djAnGgo 60 .. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail.. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. kalau kau berencana mengajakku. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi. jelas tidak menyukai reaksiku. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike.” “Bagus dong..parkiran. mengkhawatirkan aku. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. “Bersenang-senanglah dengan Mike. mengabaikan Edward. well. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya.” Aku berhenti sesaat. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. wajahnya yang suram pertanda buruk. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. “Tidak.

“Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.” kataku. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. Lagipula aku memang perlu ke luar kota.” tuturku. kurasa kau harus bilang ya padanya. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 .” aku menyakinkannya.” “Kenapa tidak?” desak Mike. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya.“Mike. jadi aku langsung menyusun rencana baru. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak.

Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku. Lebih dari menyedihkan. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. tidak bisa. Banner. sungguh. terkejut. berusaha menenangkan diri. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. Mr.” djAnGgo 62 . hati-hati. Cullen?” panggil Mr. dan berhubung ini tidak mungkin.” desisku tertahan.” Aku membuka mata. Ia menunggu. Aku menghela napas dan membuka mata. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku. “Siklus Krebs. ini tidak sehat. enggan. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. Perlahan aku berbalik. mataku tetap terpejam. Pengecut seperti biasa. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Ketika bel akhirnya berbunyi.” kataku. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. Menyedihkan. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. kau benar.” jawab Edward. Banner.” Mataku menyipit. lalu berbalik. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. Edward?” aku bertanya. “Mr. Ia tidak mengatakan apa-apa. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini.” “Yeah. itu tidak baik. “Percayalah.“Maaf.” Ia terdengar tulus. berharap ia akan langsung membuang muka. Wajahnya sangat serius.” kataku. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. dengan muram berjalan ke mejanya. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. jelas membuatnya kaget. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. Banner mulai bicara. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Dan Edward sedang menatapku penasaran. ekspresinya tidak bisa kutebak.” gumamnya. Tapi lebih baik seperti itu. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. “Lalu apa yang kau inginkan. “Aku minta maaf.” ia menjelaskan. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. Aku balas menatap. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung. berharap ia langsung pergi seperti biasa. sadar aku mengertakkan gigi. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. Tanganku mulai gemetaran.

tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Ketika akhirnya bicara. sempat berpikir untuk pergi saja. lalu berdiri dan berjalan ke pintu. ia nyaris terdengar marah.” tukasku. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. Aku terdiam beberapa saat. Kukumpulkan semua buku-bukuku. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. Ia memandangku keheranan. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis.Ia terpana. “Kau tidak tahu apa-apa.” Ia jelas sangat marah. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 .

Tyler. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. banyak orang yang ingin kuhindari. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. Ia berhenti disana.” “Oh. “Hei.” sapaku. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. ya. Aku berhasil membukanya separuh. lalu menggigit bibir. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. pintunya terbuka. Aku membuka pintu. menatap lurus ke depan. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. menunggu keluarganya.” kataku dingin. “Hai. Matanya menyipit. Tepat di belakangku. berpaling darinya.. mungkin lain kali. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. lalu menyerah. Aku mendengar suara tawa samar-samar. Ketika duduk disana. Ia ada disana. “Terima kasih. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. Aku memandang. dan itu bagus. Seperti biasa. Bella.” balasnya geram. meluncur mulus dihadapanku. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. “Sama-sama. Edward sudah berada di mobilnya. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. terlalu bingung untuk berdiplomasi. aku tahu.” katanya. Keras sekali. “Terima kasih untuk ajakannya. aku hanya bertanya-tanya. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. hanya selang 2 kendaraan. tapi ada kelewat banyak saksi. ternyata Tyler. tapi aku sering sekali terjatuh. rasanya lega ketika sekolah usai. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. Aku harus mengganti lampu belakangnya. tapi masih di sekitar kafetaria.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Aku melirik spionku.” ia mengakuinya malu-malu. “Maaf. Eric.” aku menyetujuinya.” “Tentu. dan membantingnya keraskeras. Aku langsung bangkit berdiri. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. bibirnya terkaput.” Aku kesal. Mobilnya masih menyala. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. Aku mulai melangkah lagi. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Keadaan di gymnsium kacau. “Oh. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. “Kupikir ceweklah yang mengajak. “Well. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. Aku nyaris berlari ke truk.” kataku. jelas kemacetan ini bukan salahku. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. melompat masuk. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. wajahnya tegang. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . bingung. memotong jalanku. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Kami belajar basket.membungkuk untuk memungutinya. “Ehh.. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. “Well. Cullen menghalangiku. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. ia sudah menyusun semuanya kembali.

Mike sudah bilang. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini. Ini tidak mungkin terjadi.” Ia nyengir. “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya.disini.” djAnGgo 65 .” Suaraku agak ketus. ” Ia mengangkat bahu. “Aku akan pergi ke luar kota. “Lalu kenapa. Tyler. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus. “Yeah.” akunya.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

Ia tersenyum menyesal..” “Mereka akan baik-baik saja. “Kedengarannya mauk akal. “Apa teorimu?” Wajahku merona. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu.“Well. “Ya. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak. karena kau tidak mendengarkan. “Aku tahu.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. lalu mengubah topik.” kataku..” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun. tapi matanya yang kekuningan tampak serius. “Kau sering bilang begitu. Aku menelan ludah.” gumamku.” aku mengingatkannya. dan menjada suaraku tetap tenang. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. “Ya. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” Ia masih tersenyum.. “Tidak terlalu. itu salah satu masalahnya.” sahutnya menerawang. apakah sekarang kita berteman?” “Teman. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka..” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.” “Jadi. Aku masih menunggu kau mempercayainya. “Kau tampak khawatir. Jadi aku menyerah.” Senyum menawan itu muncul lagi. Tapi kuperingatkan kau.” Ia tersenyum lagi. Ia nyengir. aku capek berusaha menjauh darimu.. “Jadi. tak yakin apa yang harus kulakukan. lalu sisanya terurai begitu saja. tapi konyolnya suaraku bergetar. terus terang. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya. “Sebenarnya aku terkejut. tapi ia tetap berusaha tersenyum. dan suaranya terdengar serius. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. “Atau tidak. Ia tertawa.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan.” sindirku. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.” katanya sambil mengedip jail. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Aku memandang matanya yang keemasan. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.” “Tidak. “Menyerah?” ulangku bingung.” “Jangan khawatir. orang yang tidak pintar. “Tahu nggak.” ia berhenti.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas..” akuku.. Ia tertawa. kurasa kita bisa mencobanya. Selama sebulan terakhir ini. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu. Waktu pun berlalu.” akhirnya aku mengaku.” Mataku menyipit. menyerah berusaha bersikap baik. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. ragu-ragu. aku bukan teman yang baik untukmu.. “ Well.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. selama aku adalah. Kalau pintar. “Aku mengandalkan itu.” Rahangnya menegang. bingung. kau akan menghindariku. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran.

djAnGgo 75 .Wayne dan Peter Parker. Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.

“Tidak. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya. “Aku hanya bertanya-tanya.” Kami bertatapan. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu.” djAnGgo 76 .” “Kecuali aku. Aku meneguknya sekali. nah. “Terlalu memalukan. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri.” “Tidak. kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku. tentu saja. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. akan sangat memusingkan. Ia menunggu.. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan.. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku.. tanpa tersenyum. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.” lanjutku. demi kebaikanku sendiri.” aku langsung membantah. kau tahu.” Ia mencemooh lagi. “Tidak. Aku menggeleng. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari.” kataku dingin. “Tergantung apa yang kau inginkan. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya.” “Itu sangat memusingkan.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. “Kedengarannya adil. “Terima kasih. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa.” “Tidak susah kok. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. waswas namun penasaran. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu. lalu tanpa diduga mencemooh. Jadi aku bisa siap-siap. Itu.” aku meyakinkannya. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. bahkan setelah berjanji akan melakukannya. kecuali kau. “Aku tak tahu apa maksudmu. “Lagipula. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. “Satu.” keluhnya. aku tidak lapar. “Atau lebih baik. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. mataku menyipit. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir.” Aku harus berpaling dari tatapannya.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang.” “Ceritakan padaku satu teori.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. Ia memandang lewat bahuku. pikirannya teralih. kebanyakan orang mudah ditebak. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan.. tatapannya muram. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. aku yakin kau salah.” “Kau marah.” Aku tak mengerti raut wajahnya. “Tidak. Aku pernah bilang. dengan ketegangan.” “Ya. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya. juga.

” djAnGgo 77 .” ia mengingatkan aku. “Hanya satu teori. aku takkan tertawa. kau hanya bilang satu jawaban.Uuppss. “Kau sendiri selalu ingkar janji.” aku balas mengingatkan.” “Kau tidak memberi syarat. “Jangan yang itu.

“Nanti juga aku tahu. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. aku tidak percaya kau jahat. Ia hanya memancangku. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.“Pasti kau bakal tertawa.” kataku.” Aku yakin mengenai yang satu ini.. “Tidak. Aku tidak mengerti. Aku mengerjap. Sialan.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. cuma itu yang kupunya. matanya yang kekuningan tampak membara. Ia memang berbahaya.” “Sial. “Aku mengerti.” katanya.” bisikku.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. “Kuharap kau tidak mencobanya.” godanya. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. “Tapi tidak jahat. lalu mengambil tutup botol. “Oh. dan memutarmutarnya di antara jemarinya.” kataku. “Well. lebih dari segalanya. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya. Ia menunduk. tatapannya sarat emosi. “Aku juga terkena batu kryptonite. terpesona.” tukasku kesal.. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. Ia menunduk. “Please?” ia menghela napas. sambil menggeleng.. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. “Karena.” Ia berubah serius lagi. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut.” sahutnya sambil tertawa. tapi matanya masih waswas. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan. dan.. Aku menatapnya. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri.” Aku ragu-ragu.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. “Ceritakan satu teori.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. “Maaf. Tapi aku hanya merasa khawatir. Aku melompat kaget. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada. sampai ketemu lagi.” ejeknya. well. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. tidak nyaman. sambil menatap untuk terakhir kali. mencondongkan tubuhnya ke arahku.” Ia tersenyum padaku. djAnGgo 78 . bingung. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya.” keluhku. apa?” tanyaku bingung. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. “Kita bakal terlambat.” “Kau salah.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Kau berbahaya?” aku menebak. “Ehh.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. aku masuk. “Kau kan tidak boleh tertawa. itu jelas. pikiranku kosong.” kataku mengingatkan. sedikit saja. “Kalau begitu. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar.

djAnGgo 79 . mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. Setidaknya hujan telah reda. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi.Ketika aku setengah berlari menuju kelas.

menyuruhnya membagikannya ke yang lain.” Ia mulai dari meja Mike lagi. Mr.” ia selesai dengan peragaannya..” kata Mr. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. “Kemudian oleskan ke kartu.” Ia terdengar bangga.Aku beruntung. Sir. “Aku sudah tahu golongan darahku. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. Banner. Aku memejamkan mata. suara anak-anak mengeluh.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. dan mengabsen kamu satu per satu. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. lalu memperlihatkannya kepada kami. Angela kelihatan terkejut. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. Aku takut mengangkat kepala.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Banner. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. Oh. mengagetkanku. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. tidak. “Bella. perutku rasanya mau meledak. Aku menelan liurku karena tegang.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Suaranya terdengar sangat dekat. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Banner masuk. “Yang kedua aplikator segi empat. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. pada masing-masing kotak. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. “Taruh setetes darah. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. sadar Mike dan Angela menatapku. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian.. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. lalu mengenakannya. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. ia melanjutkan. Mr. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar.” gumamku. kau baik-baik saja?” tanya Mr. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. “Oke. sedikit saja. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. tapi perutku langsung mulas. guys. aku punya formulir izinnya di mejaku. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 .” Ia memeragakannya. dan sedikit kagum. Aku bergegas duduk di kursiku. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian.” kataku lemah. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. Lalu Mr. Mike tampak kesal.

kau pucat. Sepertinya ini agak membantu. memejamkan mata. Bella. “Dan apapun yang kau lakukan. Kalau perlu. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. Banner. tidak terlihat dari gedung empat. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Keluarakan saja aku dari sini.” bisikku. jaga tanganmu. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. aku berhenti.” aku memohon padanya. Banner. djAnGgo 81 . Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. kalau-kalau Mr. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr.” kataku mengingatkan. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. “Wow. Aku masih sangat pusing. “Ya. Banner memperhatikan. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria.” kata Mike khawatir. “Biarkan aku duduk dulu sebentar. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. pikirku. aku akan merangkak. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah.tidak membolos.

Mualnya sudah hilang.” Ia tertawa. djAnGgo 82 . petugas TU yang berambut merah. “Aku yang seharusnya melakukannya. Sepertinya ini menghiburnya.” Edward menjelaskan. Aku berada di kantor TU. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. “Kau tampak kacau.” Edward sudah disebelahku sekarang. “Kurasa dia pingsan. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. Edward mengabaikannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. nyengir. Aku terus memejamkan mata.” “Bella. Mike tampak sangat khawatir.“Apa yang terjadi. “Aku sedang membawanya ke UKS. Lalu ia pindah. Aku tidak sedang berkhayal. Sayang. Edward telah menggendongku. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan.” lanjutnya. ya. Miss Cope.” katanya padaku. “Hei!” seru Mike. menikmati perkataannya. bukannya 55. dia bahkan tidak menusuk jarinya. “Turunkan aku!” Kumohon. dan ia terdengar muram. berharap diriku mati. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak.” desahku. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. berdiri rapat di dinding. “Pergilah. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.” kata Edward. nanti juga sembuh. lega. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. “Dia hanya sedikit lemah. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. Ia membopongku dengan lembut. “Turunkan aku.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Aku tidak menyahut. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.” erangku. “Bahkan dengan darahmu sendiri.” Edward melontarkan ejekan pelan. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo.” protes Mike. “Kau bisa kembali ke kelas.” keluhku.” aku mendengar suara perempuan terkesiap. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. yang tertinggal jauh di belakang kami.” “Tidak.” “Aku akan mengantarnya. “Pasti ada saja yang pingsan. tapi tiba-tiba suasananya hangat. Atau setidaknya. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya.” “Aku tahu. tidak muntah. “Ya ampun.” Mike menjelaskan dengan nada defensif. kumohon. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. “Berbaring saja sebentar. “Dia pingsan di kelas Biologi. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. Matanya memancarkan kegembiraan. Kubuka mataku karena terkejut. Kubuka mataku. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya.

Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan. “Kadang-kadang.” ia memberitahu Edward. “Biasanya memang begitu. tapi kali ini dalam hal apa.” erangku. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. lalu bergegas meninggalkan ruangan.” perawat berkata kepadaku. ia tidak membantah.” aku mengakuinya. “Aku akan mengambil kompres untukmu. membiarkan mataku terpejam. Sayang. “Aku disuruh menemaninya.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya. “Kau benar. ya?” djAnGgo 83 .

“Kurasa aku baik-baik saja. “Sejujurnya. Aku berani bertaruh dia pasti marah. bergegas keluar dari ruang perawatan.” gumam Edward. tapi mengejutkanku. “Jangan ikut campur.” tuduhnya. “Kau kelihatan lebih baik. Tapi kalau dipikir-pikir. Perawat datang membawa kompres dingin. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya.” Edward menatapku dalam-dalam. seperti aku. “Well. temanku dari kelas Biologi. tapi aku merasa semakin pulih. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. Sayang.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.” aku mengingatkannya.” Aku nyaris pulih sekarang. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. dan garam. “Aku lihat wajahnya.. “Apa?” tanyaku.” “Dia sangat membenciku.” kataku. ia memapah Lee Stephens. “Ini dia.” katanya.. yang tampak pucat. mengerutkan hidung.” “Ha ha. keheranan.” Mataku masih terpejam. “Apa kau akan djAnGgo 84 .” gumamnya. “Percayalah. “Tadi kau sempat membuatku takut. aku tidak memerlukannya. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. “Bukan apa-apa. Telingaku berdenging sedikit. “Aku mencium bau darah.” Ia meletakkannya di dahiku. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. “Keluar dari sini. tapi aku tak lagi pusing. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. lalu membuka mata. mendengarkan CD.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. “Oh tidak. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu.” kataku sambil bangkit duduk. menatapku dan Edward bergantian. “Aku sedang di mobil.” akunya setelah beberapa saat. ayo keluar.” kata Edward senang. Baunya seperti karat.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. aku tahu. Mike ganti menatapku.” Jawaban yang masuk akal. Bella. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. “Manusia tidak bisa mencium darah.” “Kasihan Mike. “Kau benar-benar menuruti perkatanku. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. Aku mendengar suara pintu terbuka.” Aku menatapnya. itulah yang membuatku sakit.” Aku mencoba bernapas teratur. “Ini. matanya kelam.” bantahnya. “Kita punya korban lagi.” tambahnya. “Sudah tidak ada darah lagi. tapi kemudian pintunya terbuka. Kuserahkan kompresnya pada perawat.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. barangkali ada untungnya perutkku kosong.” Ia terperangah. aku bisa. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi.” bantahku. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain. “Kau kelihatan lebih baik. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.

tatapannya kosong.. kurasa begitu.kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. “Tentu saja.” “Yeah. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan.. kan sudah kubilang aku akan ikut. Aku berusaha terdengar seramah mungkin.” djAnGgo 85 . tak bergerak bagai patung.

Aku mengangguk lemah. kalau begitu semuanya beres. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Goff takkan keberatan. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. “Kalau begitu. Bella?” serunya. “Aku akan datang. Kita tidak djAnGgo 86 . mata terpejam. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. wajahku memang selalu pucat. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku.” “Sudahlah. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. menyipitkan mata menembus hujan. ekspresinya kembali mengejek. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. kau pergi nggak? Maksudku. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. di gymnasium.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang.” kata Mike. Mrs. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi.” aku berjanji. ia bukan tipe seperti itu. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward. “Apa kau juga perlu izin. mencoba membacanya.” “Sama-sama.” Ia menatap lurus ke depan. tersenyum ironis. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward. Rasanya menyenangkan. “Aku jalan saja.” gumamnya. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. meskipun mustahil. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu.” Aku menghela napas. Ia menunduk dan melirikku.” erangku. “Daahh. dan aku baik-baik saja. mencoba tampak selemah mungkin. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. ke First Beach. Ia menatapku sekali lagi. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. tanpa ekspresi. Ia membukakan pintu untukku.” Kuamati wajahnya. “Gymnasium. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. berjalan gontai ke pintu. sampai ketemu di gymnasium. Ini sama sekali bukan tantangan. “Asyik juga bisa membolos Olahraga.” balasku. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. “Terima kasih.” Aku berdiri hati-hati. “Aku bisa mengaturnya. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Jadi. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. “La Push. “Aku baru saja mengundangmu. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. bahunya merosot. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik.” “Oke.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. Kau merasa lebih baik. “Apa kau bisa berjalan. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam.

“Mike-schmike.ingin di marah. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. kan?” Sorot matanya menari-nari. djAnGgo 87 . marah. Aku sangat menyukainya dari seharusnya. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan.” gumamku. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran.

termenung. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. bih tepatnya menarik jaketku.Aku bingung. “Kau kasar sekali!” gerutuku. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. mengamatinya dengan tatapan penasaran. jadi air menetes-netes ke punggungku. Membicarakan ibuku membuatku sedih. terkejut. Kalaupun aku jatuh. “Tidak terlalu. Ia tak menyahut. dan juru masak yang sangat payah.” cuma itu reaksinya. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. “Ini benar-benar tidak perlu. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.” Aku tak menjawab. Lalu akhirnya ia melepaskanku. Usahaku tidak begitu berhasil.” Ia memandang menembus hujan. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu.” “Ini juga salah satu favoritku. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. meski stabil dan tenang. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah.” kataku. menyalakan pemanas dan menyetel musik. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. “Sudah terbuka.” aku mengakui.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. aku terhuyung ke pintu penumpang. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. Bella. “Dia sangat mirip denganku. “Berapa umurmu. Aku mendengarkan musiknya. Dia teman baikku. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku. Ia menekan tombol kontol. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . Harus kuakui. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. “Claire de Lune?” tanyaku. marah. Aku memandangnya. dan lebih berani. tidak mungkin. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. heran. Alisnya terangkat. Hujan turun semakin deras. “Masuk. tapi lebih cantik. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. “Pulang. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran.” Aku berhenti berbicara.” ancamnya. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya.” kataku. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. “Lepaskan!” desakku. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. aku hanya tahu yang kusuka. barangkali ia akan tetap menyeretku. “Aku tinggal menyeretmu lagi. Ibuku punya sifat lebih terbuka. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Ia mengabaikanku.

sedikit bingung. membuatku tertawa. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. “Tujuh belas. Ia menghentikan mobil.” Nada suaranya mencela. djAnGgo 89 . Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. penasaran lagi. “Kenapa?” tanyanya.” jawabku.bisa kubayangkan. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.

” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain.. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku.” Beberapa saat aku jadi ragu.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. “Jadi. “Ibuku.” “Aku tahu. dia tergila-gila pada Phil. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka. “Tapi bagaimanapun. Jadi agak berbeda. “ Well.” Itu bukan pertanyaan.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu.” Ia langsung berhati-hati. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu. “Ku-kurasa. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.. “Tidak.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 .” Aku tertawa. kalau mau.” Aku menggeleng-gelengkan kepala.” kataku.” Tapi aku menjawab terlalu cepat. kupikir kau bisa. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku. “Apakah itu penting?” tantangku. dialah sang orangtua.. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya. sangat muda bagi umurnya. aku baru menyebutnya sekali. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. “Hmm.” ujarku terbata-bata.. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. “Ya.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan.” Aku berhenti sebentar. kebenaran atau kebohongan. matanya mencari-cari jawaban di mataku.” “Dan kau menyayangi mereka. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. aku jadi berpikir. Ia kembali tersenyum. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward. “Aku tak begitu ingat mereka. “Jadi.” Ia tersenyum.” gumamku. “Ya.” ujarnya kagum. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. harus ada yang menjadi orang dewasanya. Bagaimanapun juga. dan Phil laki-laki yang diinginkannya. “Maafkan aku. “Aku ingin dia bahagia.” Suaranya datar. itu pun hampir 2 bulan yang lalu. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius.” “Kau baik sekali. lalu menghela napas.” “Kau sangat beruntung... “Apa?” “Menurutmu...

“Aku yakin dia sudah mendengarnya. kurasa kau harus pergi. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi.Ia melirik jam di dasbor.” Aku tak ingin keluar dari mobil.” Aku mendesah. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku. Tak ada rahasia di Forks. juga Jasper dan Rosalie.” Ia tersenyum padaku. djAnGgo 91 . “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang. maaf. “Saudara-saudaraku.” “Oh.

“Oh. di selatan Rainier.Ia tertawa. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. Aku memandangnya.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. cuacanya bagus untuk berjemur.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu.. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.. “Akan kuusahakan. well . “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. selamat bersenang-senang. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. oke?” Ia tersenyum sangat lebar.. “Jangan tersinggung. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. Jadi. djAnGgo 92 . ada kekhawatiran dalam tawanya. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness.” Aku berusaha terdengar antusias. Aku mengangguk putus asa. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. “Selamat bersenang-senang di pantai. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping.” Ia memandangi hujan yang masih turun. matanya yang keemasan menyala-nyala. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa..

djAnGgo 93 .

dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat.6. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . dia duduk bersama kita. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. Terutama Jessica.” “Kau sepertinya agak marah.” Mike berbisik padanya. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. “Dia temanku. Alice. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. “Oh ya?” sahutku. “Dia tak pernah mengatakannya.” jawabku jujur. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. “Kau tahu. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. semua sibuk membicarakan rencana besok. aku menunggu-nunggu suara trukku. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. dan ia tidak menyadarinya. “Aku tidak tahu. Meski begitu. Hari ini hanya Rosalie. tapi juga sedikit posesif. “. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan.” ujarku setuju. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya.. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. ia mencibir ketika menyebut namaku. Jessica tampak jengkel. lagi. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan.tak tahu kenapa Bella”. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. dan Jasper yang duduk mengobrol disana.” “Memang aneh.” pancing Jessica. atau begitulah menurutku. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. hampir 15°C. Aku tidak mengerti kenapa. Tapi hari ini udara lebih hangat. aku toh masih berharap. truk itu tiba-tiba sudah disana. Itu aneh. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. Aku tepat di belakangnya. “Jadi. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. meskipun di tengah guyuran hujan.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. Di mejaku yang biasa.. wajahku tetap datar. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Mike sudah ceria lagi. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Kupikir. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. menunjukkan kesetiaannya padaku. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat.

Kelihatannya ia tak keberatan. djAnGgo 95 . sehingga sulit untuk mengubahnya.” tanyaku santai. Bukannya aku bakal memberitahunya. dan orangtua mereka. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu.Jessica dan Angela melewatiku. dan barangkali kakek buyut mereka juga. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. saat makan malam. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. “Dad. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. Malam itu. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi.

” Ia tersenyum bahagia. Tapi tetap saja mempesona.” gumamku. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya.” ujarnya. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. gembira. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. Jess ada disana. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek.” aku mengingatkan. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul.. dan bisa dipastikan. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. matahari bersinar. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. Lee mengajak dua orang lagi.“Yeah. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Mike tampak puas. khawatir kalau kutinggalkan. tapi belum pernah singgah disana. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. “Beberapa teman berencana akan kemping disana.” “Oh.” Ia terdengar terkejut. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. “Mungkin aku salah mengingat namanya. Aku tak percaya.. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk. “Kau boleh membawa senjata. Setidaknya Mike senang melihatku. kenapa?” Aku mengangkat bahu. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. langit biru itu akan lenyap lagi. “Terlalu banyak beruang. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. Aku sudah pernah melihatnya. berharap tidak ketahuan. duduk di kursi depan Suburban Mike. membisikkan sesuatu pada Lauren. Eric ada disana.” Mike menambahkan. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. dan Sungai Quillayute yang lebar. sehingga semua mobil penuh. Bukan di tempat semestinya.” Aku bermaksud pergi tidur. Awan-awan menggantung di langit. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. Meski begitu. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. Mike tampak kecewa. Airnya kelabu gelap. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. diikuti Angela dan Lauren. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. tapi jelas itu matahari. Aku senang bisa duduk dekat jendela. Betapa mudahnya membuat Mike senang.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping.” ujarku berbohong. kecuali kau mengundang seseorang. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami.” “Oke. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. “Tidak. “Sudah kubilang hari bakal cerah. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. “Kau datang!” serunya. terlalu rendah. Aku mengulum senyum. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. Aku berdiri di jendela selama mungkin. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali.

lavender . keemasan yang kusam. beberapa berimpitan di bibir hutan. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. naik ke puncak yang tak beraturan. abu-abu. yang dari kejauhan tampak abu-abu. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. biru. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. jauh dari jangkauan ombak. djAnGgo 97 . hijau laut. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya. beberapa sendirian.

terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. “Belum. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. Ini benar-benar dilema. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. Kami berjalan menuju pantai. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. Untung Jess ada di sisinya yang lain. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. sejuk dan asin. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. lalu duduk di sebelahku. Mike berlutut di depan api unggun. Pendakiannya tidak terlalu panjang. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. penuh abu hitam. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. “Warnanya biru. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. lalu duduk hati-hati disana. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. Setengah jam setelah mengobrol. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Ada api unggun disana. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. melompat-lompat di atas bebatuan.” kataku kagum. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. perhatikan warna-warnanya. Ia tidak ingin mendaki. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Ombaknya rendah. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. Awan-awan masih mengelilingi langit. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. agar tidak jatuh ke lautan. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup.Angin kencang bertiup bersama ombak.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. Yang lain sepertinya tak kenal takut. cewek-cewek lain berkumpul. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. dan rantingranting di atas kepalaku. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. “Itu karena garam. Aku harus berhati-hati melangkah. bergosip ceria di sebelahku. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. bertengger di ujung tebing berbahaya. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api.

dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. jumlah orang disana sudah bertambah. menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. Ketika kami kembali ke First Beach. Ketika makin dekat. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. hingga beberapa kali aku terjatuh.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. Aku begitu terlena. kulit mereka berwarna tembaga. Telapak tanganku beberapa kali tergores. djAnGgo 99 . bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. tapi bisa saja lebih parah. Akhirnya cowok-cowok kelaparan.

termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini.” sahutku lega. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Jacob pindah duduk di sebelahku. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. mungkin 15.” keluhku. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. “Aku Jacob Black. “Kau putra Billy. berdua atau bertiga. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. kau pasti ingat kakak-kakakku. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Tiga remaja dari reservasi mengitari api.” “Oh. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. Selama makan siang awan mulai berkumpul. sambil menjabat tangannya yang ramping. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. matanya gelap. aku duduk sendirian di seonggok kayu. “Bella. halus dan kecoklatan. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. “Kau membeli truk ayahku. Sepertinya dia berumur 14. perlahan-lahan menutupi langit biru. kadang-kadang menghalangi matahari. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. dan melekat dalam pikiranku. sering kali samar-samar. “Kau Isabella Swan. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan.” “Bukan. ketika Eric memperkenalkan nama kami. yang lain ikut mendaki. dan. agar mereka bisa pergi memancing. Angela dan aku tiba terakhir. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . Kulitnya menawan. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk.” “Rachel dan Rebecca. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. beranjak ke toko di pedesaan.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. menggantikan Angela. Mike. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. Aku duduk di sebelah Angela. dan hal itu menggangguku. aku yang bungsu.” tiba-tiba aku teringat. dan membuat ombak berubah gelap. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk.

terhenti. “Aku menyukainya. “Tidak. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. Truknya hebat. Wow. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka. kau menyukai truknya?” tanyanya. sekarang dia tinggal di Hawaii. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington.” “Menikah. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai.” djAnGgo 101 . “Jadi.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.” Jacob menggeleng.

Ia tersenyum penuh pengertian. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. sambil memperhatikan wajahku. “Bagus sekali. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. dari seberang.” panggilnya lagi. Ia sangat mudah diajak bicara.” Jacob menimpali sambil tertawa. bagiku itu sesuatu yang ironis. Kalau begitu jangan. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. Jacob?” tanya Lauren. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. membuat laut gelap dan suhu turun. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. djAnGgo 102 . Aku menatap cowok bersuara berat itu. terkagum-kagum. memandangku bersahabat.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. dan suaranya sangat berat. dengan nada yang kupikir kasar.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja.” Ia nyengir. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. dan setengah berbalik menghadapnya. menuju garis batas yang pebuh driftwood. Hasilnya tentu saja tidak sama. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. “Bagus. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. tersenyum padaku lagi. “Jadi.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. Rencana bodoh. “Maaf. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. mengabaikan pertanyaan Lauren. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. Perhatian Lauren pun teralihkan. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. aku yakin. awan akhirnya menutupi langit. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku.” aku tertawa. “Maksudmu anak-anak dr.” ia tertawa. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. tapi jalannya pelan sekali.” jawabku. mereka dilarang datang. kan?” candanya. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. terkejut.“Yeah. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek.” Aku nyengir. tapi aku berjanji akan mencari tahu. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. bahwa mereka tidak diizinkan. Ia tersenyum menawan. dan matanya yang curiga menyipit. “Ya. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. sorot matanya masih coba kupahami. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. Suaranya serak. “Jadi. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. “Kau kenal Bella. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. “Bella. kau bisa merakit mobil?” tanyaku.” “Tidak sepelan itu kok. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum. Jacob mengusik ketenanganku. “Aku baru saja bilang pada Tyler. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. namun enak didengar. Tyler. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. “aku belum tahu. “Ya.” ia tertawa.” sergahku.

Kumasukkan jaket. tanganku ke saku djAnGgo 103 .

maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. “Aku suka. “Well. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami.” ia memberitahuku.” ia mengaku keheranan.” Ia tersenyum. “Itu Sam. aku takkan bilang siapa-siapa. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. aku hanya penasaran. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. tentang asal-muasal kami. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. tak lagi berpura-pura.” Suaranya semakin rendah.” jawabku jujur. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat.” “Untuk anak seusiaku. aku bisa pergi sesering yang kumau. Ia memandang bebatuan. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. Benarbenar konyol.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. umurnya 19.” ia mengaku malu-malu. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku.” jelasnya. Ia balas tersenyum menawan. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. Aku berusaha mengabaikannya. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. djAnGgo 104 . “Aku baru saja berumur 15. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara. “Tidak juga. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. dan beberapa yang lain belum terlalu tua. “Ya. berharap jawabannya ya. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat.” Ia memalingkan wajah. “Tapi setelah mobilku selesai. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. “Kupikir kau lebih tua. ada banyak legenda. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami.” kataku bersemangat. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. tubuhku cukup tinggi. memandang Pulau James. “Keluarga Cullen? Oh. setelah aku dapat SIM. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam.“Jadi. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. “Tidak terlalu. sepertin Nuh dan bahteranya. suara tak menyenangkan. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir.” Jacob memutar bola matanya.” lanjutnya. konon katanya. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. “Upss. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos.” “Oh.

bukan serigala sesungguhnya. well. serigala jadi-jadian. “Dia tetua suku. seperti leluhur kami.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Kau bisa menyebutnya werewolf.” Aku menatapnya serius. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. Kau tahu. seperti ayahku. djAnGgo 105 . tapi serigala yang menjelma menjadi manusia.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala.

” “Jadi.” lanjut Jacob. Cullen mulai bekerja disana.” Aku mencoba mengerti.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. sambil masih menatap ombak. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini.” Ia tersenyum. “Mereka adalah kelompok yang sama. Carlisle. Ia tersenyum senang. kan. mereka sudah mengenal pemimpinnya.” Jacob berusaha menahan senyumnya. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. “secara tradisional. dan melanjutkan ceritanya lagi.” Jacob tiba-tiba berhenti.” Ia mengedip. jangan bilang apa-apa pada Charlie. “Kau merinding. “Sekarang jumlah mereka bertambah. namun sedikit waswas. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya. yang berdarah dingin adalah musuh kami. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. Bulu kudukku masih berdiri. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. jadi aku tak berpaling menatapnya.. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. lalu kenapa.” aku memujinya.” Aku belum dapat menahan emosiku.” “Tentu. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. “Tapi sungguh.“Jadi kau tahu. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin.” jawabnya. lihat. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka.” Jacob tertawa. “Peminum darah. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . “Kau pencerita yang baik. kan?” Aku mengulurkan lengan. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. Pada masa kakek buyutku. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami.” kataku berjanji. Konon. suaranya membuat bulu kuduk meremang.. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia. aku takkan bilang. kemudian bergidik. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. entah bagaimana caranya. “Kalau mereka tidak berbahaya. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. “Cerita yang cukup sinting. Aku tak tahu bagaimana rupaku. “Keren. “Tidak. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. tapi sisanya sama saja.” ia tertawa gembira. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. seorang perempuan dan laki-laki baru.

” bisikku. “Tidak. “Itu pacarmu?” tanya Jacob. djAnGgo 107 .mendekat.” Mike terdengar lega. Bella. tentu saja bukan. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami. “Disini kau rupanya. senang karena rayuanku yang payah. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Jacob tersenyum. Aku mengedip padanya. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata.

sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob. “Oke. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini.” “Senang bertemu lagi denganmu. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. Kita harus nongkrong bareng sesekali. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir.” “Terima kasih. “Aku juga.“Jadi. Mike sudah di dekat kami sekarang. sepertinya sebentar lagi hujan.” Kami memandang langit yang mulai mendung. dan ia balas tersenyum.” Aku melompat berdiri. Jacob tersenyum. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. Sepertinya memang akan hujan.” ucapku tulus. Ia sangat mudah diajak berteman. “Kita akan berkemaskemas.” Mike berhenti. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy. mengingat aku telah memanfaatkannya.. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. “Kau harus mengunjungiku di Forks. “Kau dari mana saja?” tanya Mike. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. memandangi badai yang semakin dahsyat.” aku berjanji padanya. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi.” ia memulai lagi..” jawabku. aku akan ikut. “Sangat menarik. kalau aku mendapat SIM-ku. Angela hanya memandang ke luar jendela. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler. djAnGgo 108 . “Akan kutunggu. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike. “Aku datang. Ketika kami sampai di Suburban. memejamkan mata dan berusaha santai. “Well. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan.” kata Jacob.

djAnGgo 109 .

tapi aku tak bisa melihatnya. Bella!” seru Mike dari belakang. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. “Lari. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . sampai aku bisa ikut menyanyikannya. “Kenapa?” tanyaku. Setelah 3 kali memutar CD itu. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. Karenanya. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. Tapi ia sudah lenyap. CD-nya kuputar berulang-ulang. matanya gelap dan berbahaya. “Jacob!” jeritku. ada apa?” aku bertanya. kulitnya bercahaya samar. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. dan giginya tajam. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. hingga. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. Bella. Aku maju selangkah. “Tidak!” teriakku. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. menghampiri Edward. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Begitu sampai di kamar. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. “Lari. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam.” ujarnya.7. akhirnya. Ia tersenyum. mencoba memahami liriknya. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. “Lewat sini. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. kini putus asa menginginkan matahari. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Aku memasukkan CD itu. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. bulu-bulu tengkuknya meremang. menekan tombol Play. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. “Percayalah padaku. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. taringnya siap menerkam leher Edward. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi.Tapi aku tidak berpaling. Aku mencoba mengikuti suara itu. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. Berhasil. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. sekujur tubuhnya gemetaran. suaranya mendengkur. aku mengunci pintu. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. “Jacob. dan tidak ingin makan apa-apa. Aku memejamkan mata. Aku melangkah sekali lagi. runcing. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. menarik-narik tanganku. tapi Jacob Black ada disana. aku tertidur. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi.

Aku memandang jam di lemari pakaian. bingung. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Kuambil tas perlengkapan mandiku. aku pergi ke kamar. untuk men. Vampir. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Vampir A-Z. Percuma. tentu saja. Sudah pukul 05. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. sesuatu yang tak pernah kulakukan. langsung ke bagian yang berisik. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. atau sudah pergi. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Ia pergi memancing lagi. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. lalu menyimpannya. Kulepaskan headphone-nya. layanan servis gratisnya buruk. Kakiku kram ketika menaiki tangga. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. kemudian jatuh di lantai kayu. Aku makan pelan-pelan.tidur. Modemku sudah ketinggalan jaman. senang menundanya selama mungkin. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Aku harus menghadapinya sekarang. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Ketika hasil pencariannya muncul.ku dulu. Aku tak bisa tidur lagi. Kuambil CD player. Lebih baik mandi dulu. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Aku mengerang. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Kuintip dari jendela. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. dan menyimpannya di laci lemari. batinku. Perlahan-lahan aku berpakaian. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Aku benci menggunakan internet disini. grup metal underground. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. lalu membereskan tempat tidur.30. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. Lalu aku menemukan situs yang tepat. mobil patrolinya sudah tidak ada. Hanya dengan berbungkus handuk. membuka kancing jinsku. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. Lampu kamar masih menyala. lalu mengetik satu kata. Aku duduk. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. dan perusahaan kosmetik gotik. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Lalu aku menyetel CD yang sama.

kelihatannya seperti situs pendidikan. seperti sang vampir. hakim. Pdr. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. Semuanya lengkap : laporan resmi. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. di kepulauan itu dahulu kala. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. ahli bedah.. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. keterangan itu adalah mengenai vampir. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . sejenis tumbuhan berbuah kentang. siapakah di luar sana yang percaya vampir?.bermunculan di layar. Dan dengan semua itu. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. tak ada figur yang begitu mengerikan. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. Akhirnya selesai. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. yang bukan hantu ataupun setan. para imam. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. Pertama-tama aku memilih Danag. tersusun secara alfabetik. Menurut mitos itu. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. vampir Filipina yang menanam taro.

Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. warna mata yang berganti-ganti. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. keindahan. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Lalu masalah lainnya.bertahun-tahun. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. kulit pucat. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. mencari keterangan tentang vampir. Rasanya lega ada satu catatan kecil. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. aku merasa malu. Nelapsi dari Slovakua. dan abadi. kalau tidak. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. hanya ada satu kalimat pendek. dan hanya keluar di malam hari. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. Aku harus keluar dari rumah. di djAnGgo 113 . Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. kekuatan. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. vampir tidak bisa keluar di siang hari. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. Mereka tidur di dalam peti seharian. lalu turun. tak tahu akan ke mana. apalagi masuk akal. Kecepatan. Stregoci benefici : vampir Italia. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. tapi belum hujan. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. berkulit dingin. konon memihak kebaikan. matahari menjadikan mereka abu. Di balik kekesalanku. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. dan satunya lagi Stegoni benefici. Aku paling payah kalau soal arah. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. tanpa melalui tahapan semestinya. Meski begitu. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. Mengenai yang terakhir ini. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. musuh werewolf. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. dan hanya sedikit sekali. dan musuh abadi semua vampir jahat. Aku membaca uraiannya dengan saksama. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. Aku duduk di kamar. Langit mendung. Merasa jengkel. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. Semua ini benar-benar konyol. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku.

mapel. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. dan yew. Banyak yang tidak kuketahui. aku memperlambat langkah. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. Ketika amarahku memudar. munurut dugaanku menuju ke timur.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . Pohon yang baru tumbang itu. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. menjulang tinggi di atasku. Jalan ini mengitari pepohonan cemara.

Lagipula. barangkali. Jadi. Dan caranya kadang-kadang bicara. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil. Amat sangat cepat. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya.ku sendiri. suara tetesan air semakin sering terdengar. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. seandainya ia. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . Seharusnya aku tahu. Tapi lalu apa? Batinku. berbahaya. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. Kini setelah aku duduk. Di sini. kecuali aku. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku.. mengabaikannya sebisaku.. daripada di kamar tidurku. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. Memintanya menjauhiku. menghindarinya sebisa mungkin. membuatku gelisah. Sepertinya ada dua pilihan. keheningan serasa mencekam. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. Inilah jawabanku sekarang. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Burung-burung membisu. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak.. Pertama.. ketampanan yang tidak manusiawi. mereka memang sesuatu. siapapun pasti menganggapku bergurau. manusia. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. dan bergegas beralih ke pilihan lain. Terlebih lagi. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. Pikiranku menolak rasa sakit itu. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. Edward Cullen bukanlah. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Aku tak bisa melakukan yang lain. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini.lainnya.. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. jahat. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya.. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Ini tempat yang buruk untuk didatangi.. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. diantara pepohonan. dan kali benar-benar serius. sergahku dalam hati. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi.. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. menyandarkan kepala ke pohon satunya. tanpa melihatku. Ia lebih dari itu. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. Membatalkan rencana kami. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. kulit yang pucat dan dingin.

bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Aku mengkhawatirkan-nya. Satu hal yang aku yakin. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. bukannya karena Edward sendiri. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka. djAnGgo 116 . Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. kalau memang yakin.nyawa adalah tindakan spontan baginya.

tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. Kubuka jendela. Sebelum kelewat panik. Mudah sekaligus berbahaya. bagian yang paling membuatku menderita. Keduanya seharusnya berbeda. rumahnya memberi isyarat padaku. suaranya.. Tidak disini. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. matanya yang menyihir. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. Tapi jalan kecil itu masih disana. Aku melompat ke jendela.. aku tinggal menjalaninya. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya.. pikirku. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. Meskipun. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. berhubung aku tidak kemana-mana. well. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. seandainya aku benar-benar tahu. Sekarang setelah tahu. Aku seharusnya takut. Aku memang selalu seperti itu. Karena ketika aku memikirkan Edward. produktif. Kamis sore sejujurnya. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. daya tarik kepribadiannya. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Tapi begitu keputusan diambil. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Charlie pulang membawa tangkapan besar. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. aman dan jelas. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. padahal malamnya aku kurang tidur. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. dan aku pun terbebas. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. pertanda hari bakal cerah. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. aku tahu aku mestinya merasa takut. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. seperti keputusanku datang ke Forks. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Aku bergegas mengikutinya. tapi aku tak bisa memikirkannya.. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Malam aku tidur tanpa mimpi.

Tapi ketika ia tersenyum. dan menghirup udara yang kering. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. telah menipis.deritan. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. Rambut cokelat ikalnya. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. “Ya.” aku menimpalinya sambil tersenyum. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. jika bukan teksturnya. mulus. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Ia balas tersenyum. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun.” komentarnya. warnanya sama dengan rambutku. djAnGgo 118 . “Hari yang bagus untuk berada di luar. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. Ketika Charlie tersenyum.

Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris.” “Rabu?” sahutnya. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan.” katanya. “Oh iya. dikumpulkan Kamis.” Aku tersadar. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. Mike. bukan?” “Hari yang kusuka. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan.. “Hari yang indah. kedengarannya seperti Mike.” Wajahnya kecewa. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. “Kenapa?” ia bertanya. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini.. senang bisa menggunakannya. kecewa.” sahutku. kan?” “Mmm. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. Ia duduk di sebelahku. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. “Baru sekarang kuperhatikan. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. “Mike. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. hingga mau tak mau aku senang juga. “Seharian mengerjakan esai. senyum merekah di bibirnya. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan. tanganku memegang jas hujan. “Gawat. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. kurasa Rabu. matanya siaga.. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. kita bisa pergi makan malam atau apa. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. dan sedang melambai ke arahku.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. tak perlulah menyombongkan diri. Mike menghampiriku.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya.. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked..” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin.” sapaku sambil balas melambai. dahinya berkerut. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 . Ia sangat senang bertemu denganku. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. “Hanya di bawah sinar matahari. PR-ku sudah selesai.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. “Kupikir itu bukan ide bagus. Semua anak menggunakan T-shirt . Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah.. Dengan menuangkan banyak pelumas. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan.” Ia tersenyum penuh harap. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. rambut spike-nya bersinar keemasan. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. rambutmu ada semburat merahnya.” aku jengkel didesak seperti ini. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak.. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya. “Hei.” “Oh. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well.

dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. kau ini buta ya?” “Oh. “Kupikir.Edward. Mike. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama.” ancamku.. jelas bingung. Ia keheranan. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain. “Jessica?” “Sungguh.” ia menarik napas.. Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. djAnGgo 120 . jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.

kubilang akan minta izin Charlie dulu. meskipun hatiku sedih. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. tapi Laurent juga bakal ikut. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang.. berharap menemukannya duduk sendirian. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. kelas Spanyol menahan kami. Aku tak bisa memutuskan. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. menungguku. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. dan sekarang aku mengatakan ya. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. muram. Angela. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. Angela juga mengajakku ikut malam ini. pelatih tidak selesai menjelaskan. melainkan juga semua keluarga Cullen.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. bukannya terpeleset di lapangan. dan raut wajahnya gelisah. ia kelihatannya sangat antusias. dan memilih duduk di sebelah Angela. tidak sama sekali. lalu menetap di perut. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Ia. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. Bagian terbaiknya adalah. Jadi kubilang akan memikirkannya. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. dan aku tak boleh terlambat lagi.. Ketika melintasi pintu kafetaria.“Waktunya masuk kelas. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. djAnGgo 121 . Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan.

tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Aku membumbui ikan untuk makan malam. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. djAnGgo 122 .Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Jessica menelepon membatalkan rencana kami.

aku tahu. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. lengan bawah. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. Aku langsung terbangun. Dan aku harus membuat makalah. duduk. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. bibir. Aku berbaring menelungkup. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Aku mengedarkan pandang. Maaf. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. djAnGgo 123 . Aku membawa beberapa buku ke Forks. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. hidung. menembus kausku yang tipis. leher. lalu berguling hingga terlentang. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. Di luar. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. ujarku kasar pada diri sendiri. Aku nggak ada di rumah. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. yang semakin lama semakin sisis. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. Angin masih sepoi-sepoi. mereasa jengkel. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Mom. hampir mirip. tulang pipi. membalik-balik halaman novel itu. Kutarik rambutku ke atas. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. Rupanya aku tertidur. jadi kupilih Sense and Sensibility. aku juga terkejut. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. Bella. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. membaca tumpukan surat dari ibuku. dan rasanya agak geli. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. di atas rumput tebal yang selalu agak basah.Kuperiksa e-mail-ku. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. Aku sayang kau. Aku pergi ke pantai dengan teman.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

Aku setengah berbalik dengan siaga. Aku sampai di sudut. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Aku berpikir untuk menyetopnya. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. kembali ke trotoar. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. memutuskan akan lari atau tidak. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. tapi ragu. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. Langkahku tetap stabil. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Jalanannya berakhir di sudut berikut. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku. di sana ada rambu stop. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku.

“Yeah. Menusukkan jari ke matanya.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Aku memasang kuda-kuda. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. mobil-mobil. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. Lalu menghentikan langkah. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. tapi mereka terlalu jauh. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. atau menabrakku. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. dan berjalan pelan ke jalan. tendangan lutut ke daerah vitalnya. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Tentu saja jurus standar. apalagi mereka berempat.” Langkahku sekarang pelan. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. Aku berlari ke tengah jalan. dan aku menghela napas lega. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Teriakanku cukup keras dan lantang. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan.” seru cowok itu. menggenggamnya. Aku melompat djAnGgo 133 . Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Aku dijebak. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. “Masuk. ia seolaholah memandang ke belakangku.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. mobil ini akan berhenti. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. tak ada suara yang keluar. Aku pun tersadar. Manis. “Jangan dekati aku. “Kami hanya mengambil jalan pintas. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Kepalan tangan siap kulayangkan. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. lampu jalan. aku tidak sedang diikuti. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. kaki terbuka. memaksanya melompat ke trotoar. bersiap-siap berteriak. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam.” suara keras menyahut dari belakangku. “Jangan begitu. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Aku membelok dengan helaan napas lega. sementara aku berdiri membeku di trotoar. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini.” terdengar suara gusar memerintahku. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Dalam kegelapan yang menyelimuti. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang.

“Pakai sabuk pengamanmu. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. melaju terlalu cepat. terus melesat cepat. djAnGgo 134 . dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. Ia membelok tajam ke kiri. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu.” perintahnya. membanting pintu hingga tertutup. Aku langsung mematuhinya. Tapi aku merasa sangat aman.masuk. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. Suasana di dalam mobil gelap. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka.

dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Kalau tidak punya kendaraan. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. nada suaranya marah. tapi amarah tampak jelas di wajahnya. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. mobilnya masih ngebut. suaranya tegang namun terkendali.” Aku menunggu. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. akhirnya membuka mata. Edward menghela napas.. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom. Sudah lewat 18. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. “Tidak. menatap langit-langit mobil. “Ya.” Ia juga berbisik. “Aku sudah dengar. “Setidaknya. “Jessica dan Angela pasti khawatir.. terkejut mendengar betapa parau suaraku. “Aku seharusnya menemui mereka. “Apa yang terjadi?” bisikku. “Bella?” ujarnya. berarti kedudukan kami seri. “Mmm. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah.” gumamku. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya.. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.” gumamku.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. Wajahnya kaku. memalingkan wajah.” lanjutnya. Aku duduk diam. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. Kami sudah meninggalkan kota.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. Aku melihat jam di dasbor.. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. menunggu napasku kembali normal. “Ya?” suaraku masih parau. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Bella..” perintahnya. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 . “Tolong alihkan perhatianku. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. “Lebih baik?” “Tidak juga.” cerocosku. memandang ke luar jendela.. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. Aku memandang berkeliling. Aku tidak memerlukan musuh.” Ia terdengar lebih tenang. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri. menjelaskan rencanaku.” ia menjelaskan. Ia menyandarkan kepala ke kursi. tapi sudut bibirnya menegang. “Maaf. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. well.” jawabku lembut. Diam-diam aku berusaha berdeham.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya. kau pasti ingat. dia juga tidak bisa pergi ke prom. matanya menyipit.” katanya kasar. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan.” “Oh.” Kata itu sepertinya tidak cukup. Kami duduk diam lagi. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. “Kau baik-baik saja?” tanyaku.30.

..” aku memulai. berjalan waswas menjauhi kami. “Bagaimana kau tahu dimana. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala.jalur boardwalk. djAnGgo 136 . tapi ia melakukannya dengan mudah. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia.

” “Eehh. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Aku hendak duduk. suaranya lembut dan menggoda. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. Jelas sekali ia tak ingin didebat.” Jessica menggigit bibir. Kami disambut seorang cewek.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. “Pergilah. Bella.” Angela mendahului Jessica. kami sudah makan ketika menunggumu tadi. “Sejujurnya. Ia berbicara mendahuluiku.” aku berkeras.. tapi Edward menggeleng. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. Jess berbalik dan melambai. mengamati wajahnya.. Ia menungguku di trotoar. Edward. dan rambutnya dicat pirang. tidak masalah. Kulepaskan sabuk pengamanku. maaf. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. “Mengajakmu makan malam.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala... hibur aku. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya.” kataku sambil menunjuknya. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya. Restorannya tidak ramai. Ketika akan masuk ke mobil. kemudian bergegas keluar dari mobil. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku.” dengus Jessica. kurasa. Aku mengedip padanya.” Aku mengangkat bahu.” aku mengaku malu-malu. “Sampai besok. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. “Oke.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Ekspresinya tak bisa ditebak. tentu saja. “Kurasa kau harus makan sesuatu. sebenarnya.. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. enggan mendekat. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. tapi bernada memerintah. Bella. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja. “Mmm.” katanya sedikit tersenyum.” Suara Edward pelan. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . tapi sorot matanya tetap tajam. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Dari ekspresi mereka yang terkejut. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. aku tidak lapar. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. Aku tak yakin. entah disengaja atau tidak. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. wajahnya penasaran.” aku Angela. “Mmm. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Aku balas melambai. lagi pula aku tidak lapar. “Kalau begitu. melambai ketika mereka menoleh. “Aku tersesat.. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. “Tidak apa-apa. Mereka bergegas menghampiriku. Mereka ragu.

“Tidak adil.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. membuat cewek itu sesaat terpana. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang.” djAnGgo 138 . “pelayan kalian akan segera datang. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. “Mmm”.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. ia menggeleng. “Tentu. semua kursinya kosong.” aku mengkritiknya. matanya mengerjap. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok.

terkejut karena kusungguhan hatinya. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. “Terima kasih. Pandangannya terpaku di wajahku. “Mmm. Namaku Amber. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. “Minum. “Well. “Aku mau Coke. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku.” Senyum lebar mengembang di wajahnya. “Oh. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. “Bella?” tanya Edward. membuatku gemetaran. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. Pelayan datang. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. Edward memandangku.. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. “Hai. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis. sorot matanya perasaran.” Pucuk dicinta ulam tiba.” aku berkata ragu.” gumamku. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur..” kataku setelah bisa bernapas lagi. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku.” aku mengakuinya. ayolah. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu. Tentu saja. lalu minum lagi lebih banyak. wajahnya penuh harap.” kata Edward.” Ia memiringkan kepala. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. aku mau mushroom ravioli.” jawabku. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. kedinginan. Tapi Edward tidak memandangnya. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. Kusesap sodanya dengan patuh.” ia menyuruhku..” “Sama. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 . sakit. “Aku tidak pesan.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku.” kata Edward. “Dua. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. “Kau tidak merasa pusing. Ia sedang memperhatikanku. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward.” Ia tampak bingung. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. sebenarnya aku menunggumu syok. masih haus.

“Punya. kembali gemetaran. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. Edward menanggalkan jaketnya. hanya Coke yang kuminum. benar-benar memperhatikannya.” aku menjelaskan.“Tidak. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . “Oh. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. bukan hanya malam ini. tapi sejak awal. ketinggalan di mobil Jessica. Namun sekarang aku melihatnya.” aku tersadar.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku.

“Terima kasih. “Aku akan menceritakannya di mobil. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. dan aku melihat betapa matanya terang. “Well.” Ia tampak khawatir.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu. suaranya terdengar waswas. Sweter itu amat pas di tubuhnya. Aromanya menyenangkan. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.. “Sungguh. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. Rasanya sejuk...” aku berhenti. Tidak seperti aroma kolonye. sambil mengenakan jaketnya. mencoba mengenali aroma itu. cokelat keemasan. Ia menatapku.” ujarku. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi.” “Tidak masalah. Aku terkejut.” aku mengakui. aku tidak merasa syok. “Kau seharusnya syok. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. “Tidak. Aku menghirupnya.” Matanya menyipit. Ia menatap ke dalam mataku. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam.” lanjutku. berusaha terlihat cuek. seperti pada umumnya orang normal. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. Lengannya kelewat panjang. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini.. Ia memberikan jaketnya kepadaku. Ia menaruh makanan itu di depanku.warna krem muda. “Teori lagi?” “Mm-hm. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. wajahku memerah tentu saja. “Dan?” sambarnya. lalu menunduk. “Tentu. terkesima.” ujarku.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. “Aku merasa sangat aman denganmu. dan langsung berbalik menghadap Edward. Ia menggeleng. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. Perkataanku membuatnya tidak nyaman.” protesku. tadi kupikir matamu berubah kelam. aku tidak mendapatkannya dari komik. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. terima kasih. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. namun tatapannya masih tegang. lebih terang daripada yang pernah kulihat. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. sepertinya lumayan enak. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari.” katanya memperhatikan. tapi kau boleh membawakan soda lagi. sambil menebak ekspresinya.” gumamnya pada diri sendiri.” kataku lagi. wajahnya cemberut. “Aku punya teori tentang itu. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. mengalihkan kerlingan mataku. tidak. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. Kalau.” djAnGgo 141 . memperjelas bentuk dadanya yang kekar. Aku kembali gemetaran. alisnya yang berwarna pualam mengerut.

Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. lalu pergi. djAnGgo 142 . Aku menyesapnya.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. suaranya masih tegang. ayo mulai.” ia mendesakku. “Well.

” “Hanya satu pengecualian.. dengan satu pengecualian. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan.” Ia menggeleng. mengunyah sambil berpikir.” aku mengusulkan. kau bisa mempercayaiku.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.” “Sebut saja dia Joe... “Tentu saja. “Tak salah lagi. “Katakan saja. “Kau tahu.” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Aku salah. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku.Aku memulai dengan yang paling sederhana. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. kalau begitu. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa. “Ya sudah. matanya hangat. membaca pikiran. kalau. Atau begitulah menurutku. Ia tertawa. “Berikutnya. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Kami bertatapan.” ia mengulangi perkataannya. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya.” “Kupikir kau selalu benar. Ia tersenyum ironis. menandakan ia mengejekku. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat.. tanpa ekspresi.” “Baik kalau begitu. kau lebih teliti daripada yang kukira.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. seseorang itu. begitu juga aku. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut.” gumamku. masalah itu selalu bisa menemukanmu. dan djAnGgo 143 . “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. mengatakan yang sejujurnya atau tidak...” “Well. Kalau Joe memperhatikan. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. penggolongan itu tidak cukup luas. Meski menunduk.. seseorang. tapi ia langsung menariknya. Aku menunduk. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. “Oke... “Secara hipotetis?” tanyanya. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. Sepertinya ia sedang bergidik. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade. tapi aku berusaha terlihat kasual.” “Tapi itu yang paling mudah. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya. “Betul juga.” ia meralatku. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. Kau daya tarik terhadap masalah. kau tahu.” Aku senang ia berusaha meladeniku. “Berikutnya. secara hipotesis tentu saja. “secara hipotetis. seseorang.” ujarku keberatan. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. kau tahu itu.” Ia kembali menggeleng. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. memutar bola matanya.” Aku memandangnya marah. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. masih menunduk. Raut wajahnye berubah dingin.” “Biasanya begitu.” sahutnya menyetujui. dengan beberapa pengecualian. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan.. Jamurnya enak.” aku mengingatkannya dengan nada dingin. kesal.

“Terima kasih. djAnGgo 144 . seperti batu. tapi mengangguk. “Jangan ada yang ketiga kali.” Suaraku benar-benar tulus.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya.” Ketegangan di wajahnya mencair. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. oke?” Aku cemberut. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. Kulitnya dingin dan keras.

Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana.. disinilah aku duduk. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. Kupaksa menelan makananku.. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. djAnGgo 145 . tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya.” katanya.. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. “Kau makan. seperti kataku.. pada insiden van itu.” usulnya. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya. tapi sebaliknya aku malah senang.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. kembali menimbang-nimbang.” Ia berhenti. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. “Aku mulai bermobil berputar-putar. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku.. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu. mengalihkan kecurigaanku. Ia menatapku. “Ya. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Ia memandangi piringku yang masih penuh. Lalu. mendengarkan. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. “Lalu apa?” bisikku. aku bisa dengan mudah menemukannya. Pandangannya tetap menerawang. Matahari akhirnya terbenam. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. Aku tahu kau tidak masuk kesana. tatapannya menembusku. Jadi..” Ada secercah keraguan dalam suaranya.” akunya terburu-buru. wajahnya yang tampan berubah serius. tapi ia menundukkan kepala. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica.” Aku terdiam sebentar. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. dan kau pergi ke arah selatan. matanya yang menyipit menatapku. Biasanya.” sahutku tenang. Dan lalu. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. aku hanya menunggumu. ” Ia berhenti.. dan aku menyadari tubuhku mematung. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau.. “Ya. sambil masih. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. lalu menatapku lagi. dan aku tahu toh kau harus kembali. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum. “Itu bukan yang pertama. “Kau ingat?” tanyanya. salah satu alisnya terangkat. aku bicara.. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. berkat dirimu. Aku tak punya alasan untuk khawatir. tapi anehnya aku toh khawatir juga. Aku menatapnya terpana. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku.” Ia menatapku waswas. setelah pernah mendengar pikiran seseorang.” Ia melamun.. suaranya sulit didengar.

dan aku bersadar lemah di kursi.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan.. Aku duduk diam. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. matanya mencari-cari mataku. “Sulit.” geramnya.” ia mengakui dalam bisikan.” Suaranya tidak jelas. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. djAnGgo 146 . sekali.. bagai patung batu. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. Tangannya masih menutupi wajah. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. tertutup lengannya. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. hanya pergi menyelamatkanmu. tangan menutupi mata. aku akan pergi mencari mereka. satu siku bertengger di meja. dan membiarkan mereka. dan ia masih tak bergerak. tetap hidup.. penuh dengan pertanyaannya sendiri. kepalaku pening. pikiranku campur aduk.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. Akhirnya ia mendongak. Tanganku terlipat di pangkuan. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya.

Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.” katanya. tapi nyatanya belum. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. lalu bangkit. “Kami mau bayar. lalu menutupnya dengan lembut.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. djAnGgo 147 . “Semoga malammu menyenangkan. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman.” giliranmu. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal.” ujar pelayan itu terbata-bata. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya.” Suaranya tenang. Edward sepertinya mendengar.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.” Edward tersenyum. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. Aku belum siap berpisah dengannya. menunggu. Udara dingin sekali. masih mengagumi keanggunannya. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. terima kasih. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. sepertinya tanpa melirik. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. Aku menyembunyikan senyumku. Aku memandang trotoar. dan ia menunduk penasaran. masih tegang oleh obrolan tadi. “T-tentu. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. agak serak. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. “Sekarang. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. Aku menghela napas.“Ya.” aku mengiyakan. Aku memperhatikannya memutar ke depan. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. Aku ikut berdiri dengan susah payah. “Ini dia. berputar menuju jalan tol. aku siap. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. Edward mendongak. Atau memperhatikan. “Simpan saja kembaliannya.

.” gumamnya. Hanya suara senandung. “Satu saja.” Ia berpaling. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. sengaja. hanya aku yang bisa. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. “Baiklah kalau begitu. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. djAnGgo 148 . Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. tak lebih dari beberapa mil. “Well .9. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi. di mana saja. Ia menghela napas.” katanya menyetujui. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”.. dan aku pergi ke selatan. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. dan itu bisa sangat mengganggu. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.. Ia memandangku tidak setuju padaku. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. suara-suara dengungan di latar belakang. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja. menanti jawaban. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu. Ia menatapku. Setelah aku terfokus pada satu suara. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya. Aku mengikuti aroma tubuhmu.” gerutuku.. “Satu-satunya dugaanku. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. “Itu lebih dari satu pertanyaan. semua bicara serentak.. “Aku tidak tahu. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. Ia nyaris tersenyum. dahinya berkerut ketika mengatakannya. sorot matanya misterius. Tapi tetap saja. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka.” protesnya. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa.” Ia memandang jalan.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. Aku harus cukup dekat dengan orang itu.. “Tidak.” Ia tersenyum jail.” Aku merasa konyol. Aku belum siap membiarkannya selesai. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi.” aku tidak menyelesaikan kalimatku.

. “Yang mengingatkan aku. sekarang giliranmu.. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya.” ia tertawa.” Aku menghela napas.tiba-tiba tertawa. barangkali karena memang benar. “Jangan khawatir.” Wajahnya menegang. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. itu cuma teori. Bagaimana memulainya. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. djAnGgo 149 .

” Aku mencoba mengubah intonasiku. tersenyum lebar padaku.” Aku mengamatinya dengan hati-hati. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam.” akuku. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang. aku bahkan belum pernah ditilang. ya. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.. semuanya berawal hari Sabtu. kau tidak lupa.” Ia berbalik. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak.” Ia masih tampak bingung. ” aku mengubah ceritaku. “Aku tak tahu bagaimana memulainya.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. Aku menatap panik ke luar jendela. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . “Tidak.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung.” “Tidak. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera.” gumamnya. Ia menunduk memandangku. Bella.” aku melanjutkan.” tukasku marah. “Charlie polisi. “Kita tidak akan tabrakan. Ia tampak bingung.” janjinya. di pantai. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. “Tenang. “Puas?” “Hampir. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. Lagipula.. masih tidak memperlambat kecepatannya. Jacob Black. “Tapi kau tidak.” ia menyetujui gurauanku. “Kami jalan-jalan.” Ia menghela napas. tidak seperti rencana semula. barangkali kau masih bisa selamat. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. “Gila!” seruku.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini. “Katakan saja. kemudian tertawa sebentar.” “Barangkali. “Kenapa kau tiak mulai dari awal.” Suaranya tenang.” “Apa yang memicunya. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil.” Ia memutar bola matanya. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku.” “Sangat lucu.” Ia menunggu.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. “Aku bertemu teman lama keluargaku. mencoba berpikir.” tukasnya.” Aku menggigit bibir. Ekspresinya masih sama. “. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. buku? Film?” Ia mencoba menebak. Bella. “Radar pendeteksi alami. Aku menunduk memandang tanganku. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. “Aku tidak bakal tertawa. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya.

beberapa legeda tua. ragu-ragu.” aku berhenti...” katanya. Dia menceritakan salah satunya. “Lanjutkan. kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. djAnGgo 151 .

.” “Tidak. “Jadi aku salah lagi?” tantangku. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.” Ia tidak mengatakan apa-apa..” Nada mengejek terdengar dalam suaranya.” aku mengakuinya. suaraku memancarkan keraguan.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. “Aku benar?” tanyaku menahan napas. Ia tertawa. “Kalau saja aku melihatnya. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini.. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.” Ia tergelak. “Bukan itu maksudku. “Itu salahku. menyebut keluargamu.” katanya. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting. tapi sorot matanya sengit. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. dia mencoba memprovokasiku. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat.” bisikku. “Kau marah.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. terus menatap jalan. Wajahnya pucat dan kaku.” aku berhenti.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita. menatap lurus ke depan. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang. “Tidak. kembali memandang lurus ke depan. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob. Jacob Black yang malang. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya.” Saat mengingatnya lagi.” keluhku. “Tidak. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat.. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. Kebanyakan konyol.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. tapi suaranya setegang wajahnya. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.” aku buru-buru berkata.” Ia terdiam. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. Ia tertawa. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. Kemudian. aku harus mengaku. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. Tapi aku melihat genggamannya menguat. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.” kataku lembut. Tidak ada yang cocok. “Aku mencari keterangan di Internet. djAnGgo 152 . “Tidak.” Aku sadar suaraku berbisik. aku yang memaksanya bercerita padaku. Aku menatapnya. mencengkram roda kemudi.“Tentang vampir. dan aku terkejut dibuatnya. Dia. “Aku mencoba merayunya.

“Tidak juga. “Tapi aku memang penasaran.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku. “Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 .” Aku diam sebentar. Tiba-tiba ia menyerah.

. Aku menatapnya sampai ia berpaling.” akhirnya ia mengaku. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya.” Ia ragu sesaat.” Suaranya tegang sekarang. masih terkesima. untuk berjaga-jaga. lalu nada suaranya berubah aneh.” gumamku. “itu.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis.” ia langsung menjawab. “Oh. “Aku tidak bisa tidur. “Kesalahan yang sangat berbahaya. “Oke. “Mitos.” ia mengingatkanku.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. “Dia bilang kau tidak. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa.” “Terbakar matahari?” “Mitos. Kami sama-sama terdiam. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya.” “Aku tidak mengerti. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku.. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. “Tidak juga.” ia menjelaskan perlahan. Aku menganggapnya sebagai pembenaran. Kami masih berbahaya. “Jangan tertawa. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan.” Aku tersenyum. suaranya nyaris tak terdengar. “Well. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting. memburu manusia.” katanya. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. seperti yang dilakukannya sebelumnya. dan aku tak mampu berkata-kata.” “Kami berusaha.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. ketika ia khawatir aku syok. “Cukup lama. “Tapi jangan senang dulu. tatapannya dingin. membiarkan diriku berduaan denganmu.” “Ya.” Suaranya muram. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang. contohnya. “Sama sekali?” “Tidak pernah.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak.” bisiknya.” gumamnya. dan ia cemberut. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. menghiburnya. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga. dan ketika menatapku lagi. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan.” Ia menatap ke depan. Aku tersenyum lebar. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 .” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. Aku berkedip. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. itu. “Jadi. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis. Aku.

Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. seperti jalanan hitam di bawah kami. djAnGgo 155 .jalan. secara terbuka. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. tanpa dinding diantara kami. dan aku tersentak dibuatnya. Kata-katanya mencerminkan nada final. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. hingga tidak tampak nyata. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. seperti dalam video game.

” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku.” pintaku putus asa.” ia djAnGgo 156 .” “Tapi kau tidak sedang lapar. Aku memandang telapak tanganku. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. tak peduli apa yang dipikirkannya. Sudah kubilang aku punya teori. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia..” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu. tapi ini penting. “Well. “Aku terjatuh. “Aku tidak yakin tentu saja. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. mengingat siapa dirimu.” “Apa?” “Tanganmu. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. “Ya. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. “Kau ini memang pengamat.” Suaranya berubah licik.” Bibirnya tersenyum. kejadiannya bisa lebih buruk lagi.” Tatapannya lembut tapi dalam. kami kembali hari Minggu. kami menyebut diri kami vegetarian. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak. “Aku tidak ingin pergi. ya kan?” Aku tidak menjawab. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu..” Suaranya sangat pelan. dan memang tidak. “Sudah kuduga. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. Ia menghela napas. Matanya tak pernah luput dari apapun. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu.. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. setidaknya. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku.” kataku yakin. Tiga hari yang amat panjang.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. Aku memperhatikan bahwa orangorang.. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. “Kurasa. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. “Aku tidak ingin menjadi monster. Hampir sepanjang waktu. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. lebih pemarah ketika mereka lapar. terkejut karena perubahan nada suaraku. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian.” keluhku. tidak benar-benar tanpa tergores. bukan bertanya.” Ia menggeleng. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai.” Ia tersenyum menyesal.” kataku. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. atau dahaga tepatnya. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. Ia menatapku.” Ia tergelak. lalu sepertinya teringat sesuatu. “Well. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. dan sepertinya membuatku lemah. menyatakan. “Ya.” ia mengingatkanku.” Ia berhenti sesaat.“Ceritakan lagi. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. khususnya cowok. suaraku masih memancarkan keputusasaan. lelucon diantara kami sendiri. hanya mendengarkan suara tawanya. berada jauh darimu. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami. Aku menyadari mataku basah. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. khawatir. berusaha mematrinya dalam ingatan.

” kataku. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku. Aku memikirkannya beberapa saat. “Kau kan bisa meneleponku. djAnGgo 157 . “ aku ragu-ragu.berjanji. Ia bingung.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja. Aku. mengalihkan pandanganku.

” aku mengakuinya. “Kau benar. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya.” “Tidak. tapi suaraku parau. kumohon.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang.” geramnya. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. “Aku serius. Lalu mobil memelan. Ia mengemudi terlalu cepat. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. suaranya masih muram.” Suaranya sarat penyesalan. waswas. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. Aku memandang jalan. melewati perbatasan Forks.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. tak yakin apakah aku sanggup bicara.” Suaranya menghardik.” Ia menggeleng. “Ini salah. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. “Jangan pernah mengatakan itu. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. Ini tidak aman. djAnGgo 158 .” erangnya pelan. Aku berbahaya. Itu juga membuatku waswas. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu.” Suaranya pelan namun tegas. tidak penting kau itu apa. Kurasakan tatapannya di wajahku.” Kugigit bibirku. Sudah terlambat. mengertilah. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” kataku. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. Aku melirik.” Aku tak bisa memahami reaksinya. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. ragu-ragu ingin meraihku. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. “Katakan. Bergegas aku menyekanya.” ia bertanya setelah beberapa menit. tapi aku tetap memandang lurus ke muka.” Aku menghela napas. Kegelapan menyusup diantara keheningan. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. “Begitu juga aku. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. Kata-katanya melukaiku. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. Sudah kubilang.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan. “Maafkan aku. Aku hanya menggeleng. kau tahu kan. Pasti kami sudah dekat sekarang. ilmu bela diri. “Ini salah. “Ah. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. kau tidak terlihat setakut itu. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. Ia terdiam. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. itu masalah lain lagi. Bella. “Tidak. pelan dan parau. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut.

” djAnGgo 159 . Edward menghentikan mobilnya. Lampu-lampunya menyala. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. setelah semua yang kami lalui malam ini.” Ia tersenyum. Kami di depan rumah Charlie. semuanya sangat wajar. “Aku akan menunggumu saat makan siang.“Ya. ada tugas yang harus dikumpulkan. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas.” Konyol. dan aku tak mampu bicara. trukku ada di tempatnya. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. tapi aku tidak beranjak.

” kataku. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. Aku ragu-ragu. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. “Ya. Ia sedang menonton pertandingan baseball.” ia mengingatkanku. sangat menyenangkan. dan masuk ke dalam. Kutanggalkan jaketnya. benarbenar terpesona.” “Oh. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. janji yang mudah dipenuhi.” ia memberitahuku.” “Oh ya?” aku terkejut. tanganku pada pegangan pintu. “Ya?” aku berbalik padanya. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku.” “Sampai ketemu besok. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. “Baik kalau begitu. Dad.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. setidaknya. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan.” “Benar. “Sekarang bahkan belum jam delapan. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda. Anggap saja begitu. tapi ragu. mencoba mengulur-ulur waktu. terlalu antusias. Aku cukup banyak berjalan tadi. namun lebih kental.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. barangkali kau harus berbaring. ini aku. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya.” desahnya.” Aku menatapnya bingung.” Dengan engggan kubuka pintunya. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. djAnGgo 160 . wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku. Lalu ia menjauh. “Terserah apa katamu. Charlie memanggilku dari ruang tamu.” “Well.” Ia tersenyum. “Aku akan menelepon Jessica dulu. Napasnya menyapu wajahku. biarkan dia sampai rumah dulu. “Kenapa?” Dahinya mengerut. lalu mengangguk. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Ini. terkejut. serius.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya.” katanya. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. tapi lega. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok. benar. “Kau boleh menyimpannya. Aku menyadari udara sangat dingin. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Kau pulang cepat.” Ia terdengar waswas.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. Kupikir aku mendengarnya tertawa. terus menembus jendela. “Mereka membeli gaun. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya. membuka pintu.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. Mataku mengerjap. tapi jaketku tertinggal di mobilnya.” “Well.” aku menyetujuinya. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. Aku membayangkan bagaimana rupaku.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. “Tidur nyenyak ya. membuatku terpana. Kukembalikan jaket itu padanya. Lalu aku melangkah canggung keluar. Jantungku berhenti berdetak. “Bella?” “Ya.

“Halo?” desahku. perintahku. Tiba-tiba telepon berbunyi. mengagetkanku. djAnGgo 161 . Pegangan. kelelahan.Aku pergi ke dapur. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Aku mengangkatnya. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. menjatuhkan diri di kursi.

Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. aku tersadar diriku kedinginan. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. tapi semakin aku nyaris tertidur. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. tanpa syarat. “Bye. “Mmm. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. Pertama. meringkuk. Dan ketiga. Jess. menyengat kulitku. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. Jess. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. Awalnya tak ada yang jelas. sampai air hangatnya menyembur lagi. ayahmu ada disana ya?” “Ya. Aku melangkah sempoyongan. Kedua.. besok saja. “Oh. airnya terlalu panas. dan beberapa yang kucoba enyahkan. selamanya. ada sebagian dirinya. yang haus akan darahku. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. terlalu lelah untuk bergerak. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. di kelas Trigono. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Baru ketika aku berada di kamar mandi. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. membalut diriku dengan handuk.” “Okr. Jaketku tertinggal di mobilmu.. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. dan terkejut. oke?” Ia langsung mengerti.” Aku menaiki tangga perlahan.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega. Edward adalah vampir. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. “Ya. benar. djAnGgo 162 .“Bella?” “Hei. kalau begitu kita ngobrol besok. aku jatuh cinta padanya. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. Beberapa kali aku sempat gemetaran. aku baru saja mau meneleponmu. benar-benar nyaris pingsan. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku.

djAnGgo 163 .

aku terlambat lebih dari yang kukira. lalu bergegas meninggalkan rumah.” kataku. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. Aku tak melihat dari mana datangnya. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. Seperti biasa. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. tapi aku tak yakin. kau tahu. udara nyaris tertutup kabut. Interograsi Keesokan paginya. ia sudah duduk di sebelahku. Ternyata lebih baik. Ini membuat lidahku kelu. Aku menelan tiga gigitan granola. terasa canggung. ataupun akal sehat. hampir semuanya. “Ya. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut. berusaha tetap tenang. teringat aku tidak memiliki jaket. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. mobil berwarna silver. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. Charlie sudah pergi lagi. Setidaknya aku merasa begitu. Kabut sangat tebal. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. benar-benar sempurna. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. membukakan pintu bagiku. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. Semalam semua penghalang itu lenyap. Ketika aku tiba di lantai dasar. selalu terlalu cepat. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. “Tidak seperti reaksimu. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini.. Ia menutup pintu. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi.” kataku. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. seperti aroma tubuhnya. “Aku tak selemah itu. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. aku bebas menolak. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. terima kasih. tapi tiba-tiba ia sudah disana.” Ia kelihatan bergurau. Logika tak berpihak padaku.10. dan sebagian dirinya berharap begitu. Ada keraguan dalam suaranya.” Suaranya hatihati. menyalakan mobil. Ia benar-benar memberiku pilihan. dan lebih cepat dari seharusnya. Ia berbalik dan nyengir. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. Aku menunggunya memulai. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri.. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. “Aku membawakan jaket untukmu. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. lega. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. Jantungku berdetak cepat. Harapan yang sia-sia. Aku tak ingin kau sakit atau apa. Aku cemberut. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. berhenti.

“Tidak terlalu banyak.” djAnGgo 165 .” “Kau mengeditnya. itu masalahnya. apa yang sebenarnya kau pikirkan.“Tidak. tidak wajar.” tuduhnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali. Itu membuatku bertanyatanya.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.

.” sapa Edward sopan.“Cukup untuk membuatku gila. “Apa yang ingin djAnGgo 166 . Bukan sepenuhnya salah Edward. Aku tidak terlambat. Ia melipatnya.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. dan aku mencoba tidak mengerang.” “Kalian tidak berhasil. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. syukurlah. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. ingin menggapai dan menyentuhnya. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya.” katanya. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. Aku ingin mempersempit jarak itu. sampai ketemu nanti.. “Bagaimanapun. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. “Kalau Rosalie memilikinya. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. “Aku tak bisa. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. “Jadi. “Terima kasih sudah ingat membawanya. “Hei. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. kemudian mengenakan jaketku sendiri. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. dengan senyum jail. nyaris berbisik. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. aku bisa membaca pikirannya. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri.” aku memohon padanya. “Jadi. Aku terlambat menyadari sesuatu.” “Sudah kuduga.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap.” ia mengakuinya. kelewat mencolok. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. Jessica menungguku.” “Kau tidak ingin mendengarnya.” gumamku pelan. lalu menyampirkannya di lengan. “Kami semua suka ngebut. Begitu katakataku terucap. Jessica. “Err.” kataku ketika kami sudah dekat. wow. matanya nyaris keluar dari rongganya. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. Jessica.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. bahwa suaranya begitu menggoda. Kami berusaha membaur. aku langsung menyesalinya.” Ia menatapku penuh makna. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang. tapi khawatir ia tidak menyukainya. hai. kan?” “Mmm. “Hei. Ia tidak bereaksi.” desahku. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. Atau daya sihir tatapannya. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar.” Ia menghampiriku di depan mobil. Lalu ia tampak mengerti. “Mereka naik mobil Rosalie. terkejut.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. “Kelewat mencolok.” Ia berlalu. “Selamat pagi.” gumamku pelan.

tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. djAnGgo 167 . Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Orang-orang melewati kami menuju kelas. tersenyum nakal. “Iihh. barangkali menatap kami.” “Tidak. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos.” akhirnya ia mengatakannya. itu baru tidak adil.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan.diketahuinya?” Ia menggeleng. “Itu tidak adil. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui.

” aku meyakinkannya.” aku menjelaskan. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting. Aku duduk di bangkuku yang biasa. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. kalau kau tidak keberatan.” sapa Mike. Jantungku memburu. nyaris melompat-lompat di bangkunya. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin.. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. djAnGgo 168 . Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam. well. Mengerikan. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. lalu mengantarku pulang. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. Jessica sudah duduk di deret belakang. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya. yang duduk di sebelahku. “Ya. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku..” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. “Sampai ketemu saat makan siang. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. wajahnya tegang. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. “Hebat. sinis. aku sangat terkejut melihatnya disana. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. Aku bergegas memasuki kelas. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Bella. “Jadi. wajahku merah padam dan malu. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya.. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Mason mengabsen kami. itu juga kejutan.” ujarnya seraya menoleh ke belakang.” jawabku sekenanya. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica.” “Aku tak keberatan. Ia sudah berbalik dan berlalu. penasaran. matanya bersinarsinar. karena menurut dia. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka.” Mr.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. Tentu saja Edward benar. “Sudah pasti. kecewa mendengar kejujuranku. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku... “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. “Apakah itu semacam kencan.“Hmmm. Ketika aku memasuki kelas Trigono. Bibirnya mencibir. “Selamat pagi. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja.” Ia memandang marah padaku. Dasar curang. karena kesal kubanting tasku. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya.. menyuruh kami mengumpulkan tugas. “Tidak.” kataku pelan.” Kuharap Edward mendengarnya.

” “W-o-w.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata.trukku tidak bakal sanggup.” aku setuju dengannya. ya. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili. “Well. djAnGgo 169 . “Edward Cullen.” “Aku tahu. kalau begitu. apakah itu masuk hitungan?” “Ya.” Ia mengangguk.

. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. tapi ia tidak memahami reaksiku. tapi Mr.?” Alisnya terangkat. Tapi aku tak djAnGgo 170 . banyak. baiklah.” gumamku. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. “Entahlah... kau benar-benar menyukainya?” desaknya. Jess. wajahku merona.” desahnya.” Sangat. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami. Vanner. “Maksudku. telapak tangannya menghadapku.” “Kurasa. seperti sedang menghentikan laju mobil. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. sangat sedikit. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. Dia pasti menyukaimu. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata.. “Seberapa suka?” “Terlalu suka.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu. “Itu pertanda baik.” aku mengakui. “Kenapa?” aku terkejut. “Ya. “Ceritakan detailnya. “Lebih daripada ia menyukaiku. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali..” aku balas berbisik. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam.” Wajahnya berubah.” “Lebih baik lagi.. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan. kataku lagi.” “Well. akan kuceritakan satu.” Jessica mengangguk. “Menurutmu hari Sabtu.. Aku menatap ke depan kelas.“Tunggu!” Tangannya terangkat.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku. “Ya. Aku mengabaikannya. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. dan barangkali umurnya 19 atau 20.” Dia kelihatan kecewa.” kataku kasar. terangterangan sekali. mengintimidasi. “Aku sangat meragukannya. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya. Dia memang luar biasa tampan. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.. Bella.. Kurasa dia menyingungnya sekilas. “Ayolah. Kelas sudah dimulai.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya. “Dia begitu.” aku balas berbisik. “Bukan begitu. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. Aku yakin diriku juga. “Oh well.. berbisik meminta informasi lebih lanjut. seraya menghela napas.” kataku membelanya. Sikapnya selalu misterius. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. “Jadi. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. tapi sulit mengetahuinya. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess. sedikit.” Vampir yang ingin menjadi baik.” ia merajuk.

” Aku mendesah. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan. djAnGgo 171 .tahu bagaimana mengatasinya. wajahku terus merona. “Di kelas Inggris. Kemudian. untungnya.” aku memberitahunya. perhatiannya benar-benar teralih. dan begitu bel berbunyi. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. aku langsung menyelamatkan diri. Mr.

Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. ya kan?” tanyanya meremehkan. dia kelihatan senang.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya. ekspresinya berubah-ubah. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. “Aku penasaran. semua otang memandangiku. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 .” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya. kan?” tebaknya.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya.“Kubilang kau sangat menikmatinya. menggeleng-gelengkan kepala. terkagum-kagum. “Ambil apa saja yang kau mau. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran.. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. “Kurasa aku tidak terkejut. dan ia tidak bicara. maju untuk membayar makanannya.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. dia akan memaparkannya padamu nanti.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. “Sampai nanti. sementara kami duduk berhadapan. Sudah pasti. Edward sedang menungguku. “Kurasa tidak.” Alisku terangkat. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. “Aku pernah melakukannya. cepat-cepat mengunyah. Ia tadi mendengarkan. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. meski beberapa detik sekali ia memadangku. “Hai. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti. “Tidak terlalu buruk. memutar bola mata. Jessica melihatnya. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. lalu pergi. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami.” aku mengakuinya. “Tentu saja separuhnya untukku. Ia memandangku geram. Edward seperti tidak menyadarinya. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. kau bisa melakukannya. Bella. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali. dan menelannya. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. ketika ditantang. kan?” Ia menggeleng..” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku.” Ia tertawa. masih diam. Bel istirahat siang berbunyi. Aku mengerutkan hidung. tampak sangat mirip dewa Yunani. kurasa ia mengulurulur waktu. “Halo. Ketika aku melompat dari bangku. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas.” Ia meringis. Ia membimbingku menuju antrean. juga jawabanmu.

lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara. well. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak.membuatnya menyebalkan lagi.” “Cewek malang.. ia melirik dari balik bulu matanya. djAnGgo 173 . ya?” tanyanya santai.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus. itu menggangguku. Aku memikirkan banyak hal. Suaranya parau. “Jadi pelayannya cantik.. gelisah.

tapi suaranya masih parau. semakin mendekat saat bicara. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya.” aku mendesah. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk.” aku mengingatkannya.” “Ya. Aku hanya berharap. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. “Ya. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu.” Dahinya berkerut. “Kau melakukannya lagi. dan mencari cara untuk menjelaskan.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan.. suaranya sangat lembut. dan aku ingin sekali mempercayainya. “Itu sama saja. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. berusaha berpikir jernih. “Meski begitu. Keheningan terus berlanjut.” bisikku. Aku balas menatapnya. mengaitkan jemari lalu menguraikannya. “Kau tak bisa mengetahuinya. Gelisah karena sikap diamku. “Apa?” “Membuatku terpesona. ia mulai kesal. Kujatuhkan tanganku ke meja. dan mengacungkan satu jari.. terlepas dari kenyataannya. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. Matanya membelalak terkejut. lalu mengatupkan keduanya. kau akan menjawab. Aku memandangi tanganku. aku benar-benar berpendapat begitu. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas..” aku mengakuinya. “Well.” Wajahku merengut. Akhirnya ia bicara. tangan kananku memegangi leher.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. djAnGgo 174 . Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. “Aku tidak yakin. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel.” bantahku sambil berbisik. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. “Ya. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. “Kau tak bisa mencegahnya.” Aku berhenti. Kuangkat tanganku dari leher.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. mataku menelusuri kayunya. “Bukan salahmu. ketika akhirnya aku bicara.. sementara tubuhku condong ke depan.” Aku tetap menunduk memandang meja. “Kau salah. kadang-kadang. terutama bila menegangkan.” “Memang. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang.” ia menyetujuinya. “Biarkan aku berpikir.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. atau ya. kau tidak memikirkan beberapa hal.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh. semuanya. Aku menggeleng ragu.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. “Oh. Ketegangan di wajahnya mencair. kau tidak sepenuhnya benar.” aku berkeras. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya.

“Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well.” kataku. membenarkan ketakutanku. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. djAnGgo 175 . yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku.” ia mulai menjelaskan. lihat aku. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. “Tapi justru itulah kenapa kau salah. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya.” bisiknya. tapi kemudian matanya menyipit. well.“Peka.

Aku bisa saja mendebatnya. “Percayalah sekali ini saja. “Belum. “Kalau aku mengajakmu. tapi kupikir kau bakal mengerti.” aku setuju.” aku bergumam pada diriku sendiri..” aku mengingatkannya.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi.” ia tergelak. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. ia pun menyela. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku. djAnGgo 176 .” Ia terdengar sangat yakin.” ia menambahkan. “Belum. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. “Aku tak percaya. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka. terperanjat.. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. supaya kau tetap aman.” Aku menatapnya marah.” aku mengingatkannya. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. “Aku punya pertanyaan lain untukmu. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. Akulah yang paling peduli. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.” Mataku mengerjap.” ia tergelak ironis. kau bukan manusia biasa. apakah kau akan menolak?” tanyanya.” Ia bingung. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. ia menggeleng. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi.” “Oh. “Kau tahu. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.” Raut wajahnya masih kasual. mencoba melawan pendapat itu. masih tertawa sendiri. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. “Sudah sepantasnya.” Tahu aku akan memprotes.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini..” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini..” kataku jujur. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan. Kalau perlu.” tukasku.Alisnya mengerut marah sesaat. “Tanyakan saja. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. karena seandainya aku bisa melakukannya”. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. “Mungkin tidak.” “Itu bukan masalah. “Itu semua salahmu. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku.

“Aku terbuka untuk tawaran lain.” kataku. dan waktu itu. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. aku tak peduli dengan yang lainnya. memang ya. “Kenapa?” “Well . terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle.” Ia tampak waswas. “Tapi aku punya satu permintaan. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . Kalau ia bertanya lagi.

Alice. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut.” Ia memutar bola matanya.” ia memberitahuku. Untuk ukuran. Tapi setelah berpikir sesaat. “Karena itu sudah terjadi. aku bertemu pandang dengan adiknya.” Aku menelan ludah.” desahnya.. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. kau harus memberitahu Charlie. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu.” ia menyelaku. aku menjadi yakin. “Kalau kau membaca dengan teliti. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu. jadi aku akan menghilang untuk sementara. berbohong selalu lebih baik. untuk berburu? Charlie bilang. “aku akan mengambil resiko itu. “Kau tahu.” aku menambahkan dengan tegas. lebih baik kau berada di dekatku. aku tak keberatan berdua saja denganmu. Yang lain memandangi Edward. Aku tak bisa membantah.. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. banyak beruang. memastikan tak seorangpun mendengarkan. “ “Tapi nyatanya.” Aku jengkel. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. “Lagipula. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi. “Meski begitu.akan berbohong. baik tatapan maupun maksudnya.” “Aku tahu. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. lagipula dia benar. yang sedang menatapku. “Kita bicara yang lain saja.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku.. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. merenung. untuk menyembunyikan keterkejutanku. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus...” Ia tersenyum. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu.” Ia menggeleng-geleng tak percaya. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix. itu bukan tempat yang baik untuk hiking. sekarang bukan musim berburu beruang. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle.” Ia menghela napas marah.” Matanya kembali menyala-nyala..” Aku yakin soal itu. dan memalingkan wajah. berduaan denganku. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. “Ya. itu baru jumlah populasinya. Jadi. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. Ia masih kesal. “Tapi kalau kau tidak ingin. Aku memandang sekelilingku. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. “Dengan Charlie. lalu terdiam. kau malah takut dengan caraku mengemudi.” usulku.

” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. Aku mencoba mengendalikan diri.” kataku sopan. namun matanya mengamati reaksiku.” kataku setelah sesaat.memahami ucapannya. “Hmmm. tanpa memandang ke arahnya.” Suaranya masih tenang. djAnGgo 179 . “Jadi. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett.” “Ah. akhirnya menatap matanya yang gelisah. sambil mencari sodaku lagi. berpura-pura tidak tertarik. “Beruang?” ulangku terbata-bata. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke. “Singa gunung.

“Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. “Kalau begitu. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri. tapi tidak bisa. djAnGgo 180 . Ia tertawa terbahak-bahak.” katanya enteng. Aku melompat. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh.” Aku memandang berkeliling. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. “Nanti.” katanya. Saat aku bersamanya. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. meraih tasku dari sandaran kursi. meskipun tak pernah mengaku padanya. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. dan itu sebenarnya cukup. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. aku akan mengajakmu keluar malam ini. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. ke arah Emmett.” akhirnya ia berkata. Aku takkan lupa.” aku mengakuinya. benar. Ia juga menyandarkan tubuh. kami punya senjata.“Tentu saja. ngeri. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. “Lebih seperti singa. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang.” “Aku mencoba membayangkannya. Aku menatapnya. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett.” “Lalu kenapa?” desakku. mencoba mengabaikan kemarahannya. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. ia benar.” Aku mengangguk menyetujuinya. kafetaria hampir kosong.” katanya.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. nada suaranya menyamai nada suaraku. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. atau begitulah kata mereka. dan matanya tibatiba berkilat marah. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. “Kalau memang itu. mereka baru saja selesai hibernasi. “Kita bakal terlambat. nada suaranya dingin. tertegun. nanti. bersedekap. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak.” Aku berusaha tersenyum. “Ya. menggelengkan kepala.” timpalku.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi.” aku mengulanginya. “Barangkali. takut melihat reaksinya. jadi lebih pemarah. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. Aku melirik ke seberang kafetaria. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. dan.

djAnGgo 181 .

sambil bangkit dengn lincah. Aku berjalan memasuki gymnasium. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. jemariku mengepal. Sebagai gantinya. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku.” hanya itu yang bisa kukatakan. Edward tertawa geli di sebelahku. ia duduk cukup dekat. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. “Well. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. matanya melirikku juga. Aku berdiri hati-hati. tapi aku tidak merasa nyeri. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. Pembukaan film dimulai. Hari menonton film. Sia-sia aku berusaha tenang. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. lalu berhenti di ambang pintu. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Banner menyalakan lampu kembali. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. “Yuk?” ajaknya. sekali saja dalam gelap. Waktunya kelas Olahraga. Aku tak sanggup bicara. Ia mengulurkan tangan. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. Aku kehilangan akal sehat. tadi itu menarik. nyaris membuatku sinting. ekspresinya sedih. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. Kemudian. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. ragu-ragu. Banner sudah masuk kelas. nyaris terluka. Kulitnya dingin seperti biasa. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. ketika ruangan sudah gelap. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Aku nyaris mengerang. Wajahnya membuatku bingung. membelai wajahnya yang sempurna. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. sama kuatnya seperti sebelumnya. matanya sarat pergumulan. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Mr. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Lengan kami nyaris bersentuhan. melemaskan jemariku yang kaku. Otomatis aku melirik ke arahnya. Mr. Aku menuju ruang ganti. “Hmmm.11. tangannya mengepal di balik lengan. Aku mendesah lega ketika Mr. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. seperti terbakar. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Kurenggangkan dekapan lenganku. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang.” gumamnya. suasana senang di kelas nyaris nyata. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. nyaris melayang-layang dan sempoyongan.

aku sepenuhnya sadar. Raket itu tidak berat. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan.menyerahkan raket padaku. Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada.” aku meringis penuh penyesalan. Mike. kau tahu. kau tak perlu melakukannya. namun terasa tak mantap di tanganku. dan ia berdiri di sebelahku. djAnGgo 183 .

Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. semua cowok. desahku..” Ia tidak terdengar menyesal. “Caranya memandangmu. mengabaikan keberatanku.” Ia tersenyum. Meski aku telah mencederainya. Tiba-tiba selera humorku lenyap. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike.” Aku berbohong. Dengan mudah Edward menyusul. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik. melainkan mobil convertible merah Rosalie. “Itu bukan urusanmu. seolah ingin memakanmu. tersenyum lebar.. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya.” sergahku marah. Ia mengajakku ber. “Newton membuatku kesal. “Memang tidak perlu. aku merasa sensasi lega yang aneh. Keadaan tidak berjalan lancar. Ketika aku berjalan ke sisisnya.” aku mengingatkannya. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. mereka djAnGgo 184 . Mike. heh?” tanyanya. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama.“Jangan khawatir. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. “Aku tidak suka. “Kau sendiri yang bilang. menuju mobilnya. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. raketnya aman tersimpan. tampak mengerumuninya. “Halo. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. “Apa?” desakku. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. matanya menyipit. masih tegang. aku tidak akan mengganggumu. Aku berpakaian dengan cepat. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. meskipun tidak bermaksud begitu.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. “Jadi.” Senyumnya mempesona. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. nadanya menantang. Edward menantiku. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu.” katanya sambil meninggalkan lapangan. kerumunan orang. berjalan cepat ke lapangan parkir. Mike bermain cukup baik.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. “Hai. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen.” ia tetap mengatakannya juga. aku jadi penasaran. langkahku terhenti. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. jadi aku mengabaikannya. “Baikbaik saja. melirik ke belakangku. Kami berjalan tanpa bicara. bersandar santai di dinding gymnasium. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Pandangannya bergeser sedikit. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. Ia memandang marah padaku. aku diam karena malu dan geram. Ia kembali menatapku.” ia meneruskan. kan?” aku terperanjat.

“Mobil apa itu?” tanyaku. djAnGgo 185 . Aku langsung masuk ke jok penumpang.tampak sangat tertarik. juga luput dari perhatian. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya.” gumamnya. “Kelewat mencolok.

“Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius.. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. Aku mengangguk. Aku mempertimbangkannya. “ Ia menyelaku.. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu.. “Tidak.. “Well.” “Itu keluaran BMW. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu. mengamatiku. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku.. Terutama indra penciuman kami.” aku bersikeras. Dahinya berkerut.” Rahangnya mengeras.“M3. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.. terkejut.. Aku akan datang..” ujarku. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat. Ia tidak percaya. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. kemudian berubah jadi santai.” “Mmm. “Aku tidak berencana membawa mobil.” Ia memutar bola matanya.” Senyumnya kini rendah hati. “Jelas. ke awanawan yang menggayut tebal. Wajahku tidak djAnGgo 186 . “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul.” Aku tidak mendesaknya lagi.” aku berbohong. ia sedang menatapku. Aku tetap menjaga ekspresiku. “Setuju. Ketika menatapnya lagi.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil. membuat irama jantungku berantakan. dengan enggan. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. sementara kami berburu. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi.” Ia menggeleng. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama. “Jangan khawatir soal itu. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. masih menatap awan tebal itu dengan murung. “Aku minta maaf telah membuatmu takut. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. yang seolah dapat diraih.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah. “Sangat. aku pernah mendengarnya.” “Bagaimana. sudah jelas ia sedang melucu.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya. tanpa banyak menggunakan pikiran.” katanya pelas. “Ketika kami berburu.. tanpa memandangku. Ia menghentikan mobilnya. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. Aku mendongak. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. “Kurasa sudah. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam.” “Karena. tanpa mobil. kalau kau bersungguh-sungguh.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.” Ia menghela napas.

ia memejamkan mata. dan keheningan itu semakin kental. djAnGgo 187 .menunjukkan apa-apa. dan berubah. Namun pandangan kami bertemu. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. Ketika kepalaku mulai berputar. aku sadar aku tak bernapas. memecah kekakuan dia antara kami. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar.

tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. Bella?” ia memanggilku.. Aku berkata takut-takut. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. hingga sering kali terbangun. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. kurasa kau harus masuk sekarang. dan aku naik. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. “Mengenai Sabtu ini. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. suaranya lebih tenang. Mobil silver itu sudah ada disana. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. seperti biasa. memamerkan kilauan deretan giginya.” Aku nyengir. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. “Ya. “Begitulah rencanaku. menyikat gigi. Bagaimanapun tidurku berubah.” Aku menatapnya jengkel. dan mengumpulakn buku bukuku.“Bella. dan menyalakan keran. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. tenang seperti yang kuharapkan.” Suaranya rendah serak. tersenyum tipis. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. tapi juga tegang. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. “Ya?” “Besok giliranku. matanya kembali menatap awan. dan aku berguling kian kemari. gelisah. Dad. aku makan semangkuk sereal. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Ketika terbangun aku masih merasa lelah.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut. kalau tak ada halangan. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. Aku setengah berlari menuruni tangga. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa.” katanya. Betapa ngeri. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. “Bertanya padamu. Pasti sulit menjadi ayah. Aku berkelit. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Jelas ia berencana menemuiku berok. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. keluar rumah. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat.” Aku merasa kasihan padanya. Khawatir kehilangan keseimbangan. djAnGgo 188 . menunggu di tempat Charlie biasa parkir. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka.. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. berjalan menyeberangi dapur.” “Oh. Makan pagi berlangsung biasa. Kubuka pintunya.” Lalu ia menghilang. “Oh.

“Selamat pagi. setiap kali berada di dekatnya. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku.” djAnGgo 189 .” Aku selalu baik. Aku berjalan menuju mobil. Ia menunggu di mobil. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. lebih dari baik. tenang. dan seperti biasa. terima kasih. Ia tersenyum. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku.” Suaranya lembut. “Baik. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. “Kau tampak lelah. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci.Aku tak pernah menginginkannya berakhir.

Sesaat ia berpikir. ekspresi seriusnya berubah. “Tentu.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi.” “Aku berani bertaruh untuk itu. “Kurasa itu benar. pasti aku telah membuatnya bosan. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. sewaktu makan siang. Itu CD yang sama.” katanya serius. Ia tergelak. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. tapi masih sedikit ragu-ragu. kalau aku sempat mengendarainya lagi. ia tersenyum mengejek. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. dan mengenai buku-buku. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. kau benar. “Barangkali cokelat. untuk yang satu ini tak ada habisnya. “Aku juga. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Warna cokelat itu hangat.” Tangannya menyentuh lembut. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. Hari ini giliranku bertanya. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. kalau saja wajahku tidak merah padam. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya.” “Oh. menatap mataku. Kami sudah tiba di sekolah. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. “Setiap hari berubah-ubah. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. merapikan rambutku ke balik bahu. Ia mendengus. disini semua itu dilapisi warna hijau. Aku rindu cokelat.” “Jadi. debu. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. seolah sedang menginterogasi pembunuh. raut wajahnya serius. Wajahku memerah karena. sambil terus menunduk. “Tidak bisa. Film yang kusuka dan tidak kusuka. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. Ketika kusebut nama bandnya. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . tatapan aneh terpancar di matanya.“Aku tak bisa tidur.” aku mengaku. Aku menggerak-gerakkan mataku. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Sering kali aku tersadar. “Kau benar. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu.” keluhku. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. batang pohon. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. wajahnya muram. Aku tertawa. Kebanyakan pertanyaannya mudah. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. “Debussy. bebatuan. “Warna cokelat itu hangat. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku.

“Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu.” desahku. aku akan bilang onyx.matanya yang berwarna topaz. pasrah. “Itu warna matamu hari ini. “Katakan. tentu saja. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. Dan. mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil.

kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. Tpai ia terdiam hanya sedetik. Aku mencondongkan tubuh ke meja. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. Ketika guru itu mendekati panel lampu. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. khawatir ia juga sedang memandangku. agak lengket. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . Kelas Biologi menjadi masalah lagi. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. Aku menghela napas lega. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. gelisah. tapi akhirnya aku melangkah keluar. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. Ia tidak berbicara padaku hari ini. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. tahu semakin cepat aku bergerak. Tapi itu tidak membantu. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang.banyak dari seharusnya. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Begitu ruangan gelap. Banner memasuki kelas. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. dan cara menggapai matahari. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. Di suatu tempat. membelai kening hingga rahangku. dan terus menjawab pertanyaannya. sambil menarik kereta audiovisual lagi. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. percikan listrik itu muncul lagi. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. tak mudah untuk dijawab. di sudut benakku. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. Aku menghela napas lega ketika Mr. Senyum lebar mengembang di wajahku. akhirnya memandang Edward. sorot matanya bingung. ia sedang menatapku. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. pepohonan kering yang rapuh. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. seperti kemarin. pahit. luasnya langit. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. tapi masih menyenangkan. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Aku tak melihat ke arahnya. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. Banner menyalakan lampu kembali. menungguku. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. aku merasa bersalah.

Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. “Hampir selesai pun tidak. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. bukannya melontarkan pertanyaan lain. Akhirnya. tapi ayahmu sebentar lagi pulang. djAnGgo 193 . “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Aku kaget melihat waktu.dengan bebasnya. Dalam cahaya temaram badai. dan mendesah. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. ia malah terdiam. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega.

” ia mengingatkanku. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Meski bingung dan penasaran. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. Jadi. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. “Ini saat paling aman bagi kami. tapi terlalu gelap. “Charlie akan sampai sebentar lagi. ini adalah akhir satu hari lain. “Jacob?” tanyaku. Ekspresinya aneh. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat.. tapi juga yang paling sedih. rembang petang. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. antara putus asa dan menantang.” gumamnya. lalu bergerak. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. bannya berdecit di pelataran yang basah. “Terima kasih. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. mengingat. Billy Black. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok.” Ia tertawa. “Charlie sudah dekat. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. Nada suaranya melamun. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku. menyipitkan mata menembus hujan..” Aku mengerutkan kening.” Alisnya naik sebelah. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu.” gumam Edward. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi.. wajah yang berkeriput. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. kembalinya sang malam. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. aku langsung melompat keluar. menjawab tatapanku yang bertanyatanya.” katanya. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Kegelapan begitu mudah ditebak. “Jadi.. “Kacau. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . lampunya menyinari mobil di depanku. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. pipi yang kendur.” katanya muram. “Masalah lagi. “Saat termudah.“Sudah twilight . “Hei. nyaris menarik dirinya menjauh dariku. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. seolah pikirannya jauh entah dimana. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. Itu ayah Jacob. ia masih menatap ke depan. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. Ia melirikku sebentar. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Bella. Aku langsung mengenalinya. “Aku suka malam. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar. tatapannya gelisah. Jacob sudah keluar dari mobil. “Aku sudah bilang belum selesai.

Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. mengamati wajahku. Ya. Billy masih menatapku lekat-lekat. Diam-diam aku mengerang. Senyumku memudar. Ya. seolaholah ngeri. ia percaya djAnGgo 195 .kempis. jadi aku tersenyum malu-malu padanya. Masalah lagi. Ia memandangku. waswas.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Matanya lebar. seperti kata Edward. hidungnya kembang.

sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras.” kata Charlie. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku.” Aku tersenyum. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. mengintip bagian bawah sandwich-nya. “Ini kejutan. “Tidak masalah. meski sudah bertahun-tahun. berbalik menuju dapur. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum.” Charlie tertawa.” sahut Jacob..” sahut Billy. “Ya. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran. “Bagaimana denganmu. kami sudah makan sebelum kemari.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. “Tidak. Aku belum melihat. menghindari hujan. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil. “Baik. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder.” protesnya.. masih kanak-kanak. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. sambil meraih-raih ke bawah serambi. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. “Kalian lapar?” tanyaku.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur.” Keningnya berkerut. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku.” “Oh.” balasnya. “Maaf. “Sudah terlalu lama.” Aku menunduk menatap wajan.” Ia nyengir. “Kurasa itulah rencananya. Aku masuk. TV kami rusak sejak minggu lalu.12. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba. Aku berbalik menuju rumah. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. Kami meminjam mobil itu. “Jadi. “Tentu saja. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat. “Seorang djAnGgo 196 . tentu saja.” kata Jacob. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya. Jake. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. Semangatnya sangat sulit ditolak. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku.” ia menambahkan. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. ke TV. “Tidak.” Jacob nyengir. Lalu aku berdiri di ambang pintu. ekspresinya tak bisa ditebak. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat.

“Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.” djAnGgo 197 .” “Tumpangan yang keren.” Suara Jacob terkagum-kagum.teman memberiku tumpangan.

“Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.” serunya. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu.” timpal Billy.” tambahnya serius. kurasa.” “Benar sekali.” gumam Jacob. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa. membalikkan sandwich. “Sepertinya ayahku mengenalinya. Akhirnya aku mengalah. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang. satu kakiku pada undakan pertama.” akhirnya ia menjawab.” Yang membuatku terkejut. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku.” “Tentu saja. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. Ia kelihatan sedikit malu. kata-kata itu keluar dalam bisikan. kan?” Aku tak bisa menahannya.” kataku.” kata Billy. menaruh dua piring di konter sebelahku. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie.” aku menyahut enggan. “Tadi itu menyenangkan. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi. ia tertawa. senyumnya memudar. tunggu. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring. “Terima kasih. Akhirnya pertandingannya selesai. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi.” gumamku. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu.” katanya. “Entahlah. Sungguh malam yang sangat panjang. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. boleh dibilang malam ini semacam reuni. Bagaimana harimu?” “Baik. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya.” “Jacob. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. Aku mendongak memandangnya. “Bella.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie. Hatiku mencelos. Bella. siapa dia?” tanyanya. Jacob menatapku sesaat. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. tentu. PR-ku banyak yang belum selesai.” “Oh. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh.” Aku berpura-pura polos. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie. mencoba terdengar tak peduli. Selamat tidur. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. “Tentu.” ujar Charlie membesarkan hati Billy. “Kami akan datang. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. Charlie. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. “Edward Cullen. lalu berpaling.” sahutku menarik diri.” djAnGgo 198 .” Ketika tatapannya beralih padaku. “Jaga dirimu.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk. “Jadi.

“Wow.” “Well.” aku mengakuinya. “Oh ya.” sahutku ogah-ogahan. tapi partnerku sangat hebat. “Siapa?” nadanya tertarik. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.” Suaranya penuh semangat. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 .. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis.. “Keluarganya baik. “Mmm. sebenarnya sih tidak.” Ia terkagum-kagum sebentar. Mike Newton.

” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. jendelanya terbuka. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu.” sahutnya saat sarapan. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. Tasku sudah siap. sementara aku mengunyah. kau oke. Cuaca seharusnya cukup hangat. sama sekali tak ada hubungannya. djAnGgo 200 . membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. “Pagi ini kau ceria sekali. Dengan enggan aku mengakuinya. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. “Tidak di Phoenix. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. kelewat lelah untuk bermimpi. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius.” gumamnya. ternyata Edward lebih cepat dariku. “Tidak. supaya lebih cepat memandang wajahnya. hobinya. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. “Hari ini masih milikku.. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap.” Senyumnya memukau.” katanya. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. langsung masuk ke jok penumpang. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. gigi sudah bersih. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. beberapa teman sekolah. Charlie memperhatikan. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. membuat napas dan jantungku berhenti.. betapa menggoda suaranya. “Baik.” “Oh iya. mesinnya mati. Ia.” Aku bergegas. berharap kelegaanku tidak kentara. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang. kita kan mirip. sama seperti Jessica dan Angela. sepatu sudah kukenakan. aku akan di rumah saja.” Bibirnya terkatup erat.” Aku tersenyum. “Dad. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. Aku mengangkat bahu. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. Ia tersenyum lebar padaku. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap.“Dad!” erangku. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. temanku. “Dia berkencan dengan Jessica. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. Tidurku lebih pulas malam itu. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. “Ini Jumat. suasana hatiku bahagia.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang.” Ia nyengir. Saat ini kami di kafetaria. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya.

bingung dan kecewa.” “Oh. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki. djAnGgo 201 .” Ia menatapku tidak sabaran.” Mataku mengerjap. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang.” desahku. “Tidak masalah. “Aku tidak membawa kuncinya. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok.“Kenapa?” tanyaku.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran.

. “Trukmu akan ada disini. “Dan kalau kau tidak pulang. “Bukan itu. bibirku merengut. kuncinya tergantung di lubang starter. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. “Alice yang paling. memandang ke berbagai arah. “Tidak.” Wajahnya bertambah muram... mendukung. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. Itu tak masalah. Ia nyengir. “Untuk masalah ini. Kau membuatku kagum. kau tahu itu. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. persis ketika pertama kali melihat merka.” jawabnya dingin. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku. ia takkan menemukannya. “Bisa dibilang tidak percaya.” aku menjawab terlalu cepat. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin.” protesnya. tapi tatapannya kelewat polos.. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. “Berburu..Ia menggeleng. Kami tidak pergi jauh-jauh. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. matanya yang keemasan tampak gelisah.” jawabku tenang. Suaranya berubah tajam. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. dan memelas.” aku menyetujuinya. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya. Aku mengubah topik kami.. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. “Kalau aku berduaan denganmu besok. “Apa saja yang bisa kami temukan. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya.” Aku memandang marah padanya. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. Mereka duduk. Ia menahan senyum.” “Barangkali kau benar. djAnGgo 202 . sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi.” Aku meringis. terlalu percaya diri. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. “Mereka tidak menyukaiku.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu.” gumamnya putus asa. “Tergantung. “Baiklah. Aku menolak merasa takut padanya. “Aku tak bisa. di tumpukan pakaian di ruang cuci. besok dia pergi mancing. atau apapun yang direncanakannya. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. itu kan Sabtu. “Jadi. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi. Hanya saja sekarang mereka berempat. “Tidak.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya.” katanya. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. aku juga tidak mengerti. balas menatapnya. “Sudah kubilang. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang. Edward menggeleng pelan.” bisikku.” Ia menertawai perkataannya sendiri. khawatir akan tatapannya yang persuatif.” aku mencoba menebak.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar. ulangku dalam benakku.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya.” Aku menunduk.

. kau tak pernah seperti yang kuduga. menyentuh dahinya dengan hati-hati.. Tapi kau. “aku lebih baik daripada manusia umumnya.” djAnGgo 203 . Kau selalu membuatku terkejut. Manusia bisa ditebak.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku.” gumamnya. “Dengan keunggulan yang kumiliki.

. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku.. “Tapi ada lagi. Bella. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. Rosalie membuang muka. Dia hanya khawatir.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya.. Aku menunggu rasa takut itu. “Halo. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Kesedihannya sangat nyata.” sapaku malu-malu.” Ia mengangkat wajah. elegan meski tidak bergerak.” “Edward. “Maaf soal itu.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. mataku kembali mengamati keluarganya. ini Alice. tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba Rosalie.” ia memperkenalkan kami.. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. tapi aku belum bisa menatapnya.” balasnya.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. dengan cepat. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. bukan melihat. Alice. Aku berusaha bicara sewajar mungkin. senyum sinis mengembang di wajahnya.Aku berpaling. “Kalau?” “Kalau ini berakhir.. “Alice. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. Mungkin ini yang terbaik.” Aku hendak beranjak. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. ingin rasanya aku menenangkannya. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. Ia masih memegangi kepalanya. Aku kembali menatap Edward. merasa malu dan tidak puas.. bukan hanya aku yang bakal terancam. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. berpaling dan menatapku. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. Aku merasakan tatapannya di wajahku. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. “Alice. tapi senyumnya bersahabat.” lanjutnya. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. “Senang akhirnya bisa berkenalan. Kupaksakan tanganku meraihnya. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi. “Hai. menunjuk kami sesantai mungkin. Suaranya nyaris seperti desisan. Posturnya ramping.” Ia menunduk. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. Tidak. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. sesaat wajahnya serius. dengan buruk. Alice.. ini Bella. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. Aku ingin berpaling. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. djAnGgo 204 . Bella. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. Begini. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan.. Dan perasaan frustasi.

langkahnya sangat gemulai. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. kumohon. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. begitu anggun sehingga membuatku iri. selamat bersenang-senang.Suaranya dingin. berbalik menghadap Edward lagi. jagalah dirimu. Tentu saja aku tidak bisa menipunya. Kita ketemu di mobil.” Ia tersenyum. “Dan kau.” Ia masih tersenyum. itu sih gampang.” “Aman di Forks. “Hampir. “Tidak. “Akan kucoba. “Kalau begitu.” djAnGgo 205 .” Aku berusaha terdengar tulus.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.

” desahku. mengusap lembut pipiku. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. “Janji.” ejeknya. Aku pergi ke kelas dengan patuh. “Aku akan mencuci malam ini. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini.” “Jangan terjatuh.” katanya kembali bersemangat. dan aku bertekad menjalankannya. “Kau tahu. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. “Oh.. “Aku hanya menawarkan.” “Aku janji akan menjaga diri. “tidak akan membantuku belajar. pasti bakal penuh bahaya. atau instingnya.” “Lalu. Mike mengajakku bicara lagi. Mike. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. setidaknya pelajaran Olahraga. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. “Sepertinya bakalan lama bagimu. tersenyum lebar. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. “Tidak. kelewat ingin tahu. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. “Lihat saja. dan ini membuatku terkejut. Di Olahraga. Dengan sendirinya aku tahu. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. tapi insting menghentikan niatku. dan rasanya ia juga. menyentuh wajahku. Lalu ia berbalik dan pergi. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya.” aku menekankan. “Cucian. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.” Ia marah lagi. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. daripada menjauhkan diriku darinya. lebih menyakitkan. oke?” “Ya sudah.” Rahangnya mengeras. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.” djAnGgo 206 . ya kan?” godanya. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. “Aku akan datang besok pagi.” ia berjanji. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. tiba-tiba marah. Aku mengangguk sedih. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. “Sampai ketemu besok. Kami semua akan berdansa denganmu. pasti keren.” Ia bangkit berdiri. berharap aku bersenang-senang di Seattle.“Bagimu memang gampang. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. aku juga. Keputusanku sendiri sudah bulat. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya.” janjinya.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward. Itu sesuatu yang mustahil. khawatir trukku takkan sanggup. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward. Ia mengulurkan tangan.. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. bahwa esok adalah saat yang penting.” ulangku.

djAnGgo 207 . Aku menertawai diriku sendiri. Insting terakhirku terbukti benar. aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Aku menggeleng tak percaya. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. Selembar kertas tergeletak di jokku.Ketika sekolah akhirnya selesai. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya.

kuperiksa sakunya. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. terkejut. Aku mencari jinsku. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Dad. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali. namun gemboknya terbuka. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci.. Dan apa pilihanku yang lainnya. Sepanjang makan malam Charlie melamun. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan.” “Oh. oke.” Ia tersenyum. persediaan ikan kita sudah menipis.” kataku. djAnGgo 208 . Dad. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Nyaris. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. mencuci. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Dad. Lagipula. “Ada apa. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. dan setelah menemukannya. Kosong. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. membuyarkan lamunannya. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya.. pikirku sambil menggeleng. Dad. sejak aku datang ke Forks.. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. atau mungkin pertandingan basket. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. “Oh. Tawaku reda... hasrat itu akan mengalahkan segalanya. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. PR. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Bella. dan ke toko kelontong. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike.” “Mudah sekali hidup bersamamu.” katanya. Aku akan pergi kesana kemari seharian. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. dan sudah mulai tak terkendali.” aku memulai. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar.. kau pergi saja dan bersenang-senanglah. Aku perlu ke perpustakaan.” “Kau yakin?” “Tentu. bila semua itu berakhir buruk. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya.. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. Lagipula. “Kau juga.. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi.. “Kau tahu. jangan ubah rencanamu. dan tak akan mengubahnya. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. tertawa. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja.. Ia ingin agar aku selamat. kurasa.

Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. berusaha djAnGgo 209 . Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. Aku terbangun. Setelah semua siap untuk esok. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Aku merasa tegang. Sambil menunggu obatnya bekerja. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam.

Aku berpakaian terburu-buru. “Selamat pagi. belum-belum aku sudah gugup. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. meskipun ia terus saja mencela. tapi tak ada yang berubah. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang.” Ia tertawa lagi. “Kemana?” tanyaku. Dan ia tampak berdiri di sana. dan jins. dan ia pun tertawa. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. dan aku pun tidur pulas. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat.” tukasku gusar. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. “Belok kiri di satu-sepuluh. hargailah sedikit. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. tapi akhirnya berhasil membukanya. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda. Aku bangun cepat. Aku mengintip ke jendela lagi. melicinkan kerah pakaianku. menembus kota yang masih tidur.” perintahnya. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. buru-buru membereskannya ketika selesai. dengan kerah putih mengintip di baliknya. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. merasa puas. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. Aku ikut tertawa. Kini aku merasa tenang. Meski istirahatku cukup. wajahnya muram. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit.” aku mengingatkannya. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. Aku meluncur ke pintu. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. “Kenakan sabuk pengamanmu. Sepertinya tidak akan bertahan lama. atau celana. “Ke arah satu-kosong-satu utara.” sapanya sambil tergelak. “Kita serasi. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.menenangkan setiap bagian tubuhku. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. sedikit kesulitan dengan selotnya. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. Aku mendesah lega. Awalnya ia tidak tersenyum. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi.

“Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya. “Sekarang terus hingga ke ujung jalan. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. djAnGgo 211 . “Jalan setapak. tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas.kata.

nyaris lembab di bawah selimut awan. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Aku mengangguk. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. ke awan-awan yang mulai menipis. dan sangat sinis. Bella. djAnGgo 212 . Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. jengkel. bukan berarti kita akan melaluinya.” katanya sambil menoleh. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu.. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo.” tukasnya. atau bahkan melukaiku. “Tidak. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. Ia tidak sedang memandangku. Kemudian jalanan berakhir. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil. “Tidak. “Charlie bilang hari ini bakal hangat.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. dan kita tidak perlu terburu-buru.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. dan itu benar.” aku mengingatkannya. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu... “Jangan khawatir.” Kami memandang ke luar jendela. Sekarang di luar terasa hangat. “Tergantung. Aku berpura-pura tidak mendengar. Aku tidak menyahut. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. “Katamu kau bisa mendapat masalah. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku.“Tidak. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak.. sorot matanya masih kesal. Selama sisa perjalanan kami membisu. Lagi-lagi aku berbohong. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara.” Lima mil. “Lewat sini.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. Aku mendengarnya menutup pintu. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya. pandanganku tetap ke jalan. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Ia menggumamkan sesuatu.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. Ini akan jadi perjalanan memalukan. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. aku bilang kau membatalkan rencana itu.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny.. dan aku tak tahu harus bilang apa.

Ia terlalu sempurna. dan aku mendengus pelan.” Kemudian ia berbalik. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada.“Aku takkan membiarkanmu tersesat. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. djAnGgo 213 . pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya. dengan senyum mengejek.

kalau aku berusaha keras. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. Hari telah berubah cerah. “Ada apa?” tanyanya lembut. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya.Ia menatapku.” janjinya. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. dipenuhi jaring pepohonan kuno. Hutan itu membentang di sekeliling kami. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. aku menyerah. sambil menatap mataku.” sahutku tolol. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. tapi senyumku tidak meyakinkan.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. “Aku bukan pendaki yang baik. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Ia menertawaiku. Ia mengamatik wajahku. Kami lebih sering berjalan dalam diam. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. “Tidak. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa. Aku mencoba membalas senyumnya. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam.” kataku dingin. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. “Aku akan membawamu pulang. pura-pura kesal. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. atau bebatuan besar. “Kau harus sangat sabar.” “Aku bisa sabar.” Ia tersenyum. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. Ketika terjadi untuk kedua kali. tapi sering kali aku gagal. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. mencoba memahami maksudku. “Hampir. Ia menanyakan hari ulang tahunku. ia membantuku. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. guru-guru sekolah dasarku. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. lebih keras dari biasanya. Ia memandang marah padaku. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . mengangkatku dengan memegangi sikuku. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. tepat seperti yang diramalkannya. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. hewan peliharaanku semasa kecil. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya.

Tapi kemudian. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Cahaya itu kuning. Padang rumput itu kecil. Aku mempercepat langkah. Tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat.bisa melihatnya?” Ia nyengir. kuning. aku bisa mendengar senandung sungai. “Barangkali belum kasat oleh matamu.” gumamku. bukan hijau. Ia nyengir semakin lebar. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. dan mengikutiku tanpa suara. biru keunguan. djAnGgo 215 . dan putih lembu. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. setelah melangkah seratus meter lagi. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. melingkar sempurna.

berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. ingin berbagi ini semua dengannya. bunga-bunga yang melambai-lambai. Aku berjalan pelan. Tatapannya hati-hati. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. dengan ketakutan mencari-carinya. djAnGgo 216 .Matahari tepat bersinar di atas kami. Akhirnya aku menemukannya. Aku setengah membalikan badan. enggan. Aku tersenyum menyemangati. Edward tampak menghela napas dalam-dalam. lalu berhenti. mengulurkan tangan. sambil terus melangkah ke arahnya. dan aku pun ragu. Aku kembali melangkah ke arahnya. melintasi rumput halus. Aku memandang berkeliling. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. memperhatikanku dengan tatapan waswas. terpesona. serta udara hangat dan keemasan. Ia mengangkat tangan mengingatkan. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira.

seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. tampak kemilau. dingin seperti batu. selalu khawatir. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. Kulitnya. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. Aku beringsut mendekat.13. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela.. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. “Tak lebih dari biasanya. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. Dengan tanganku yang lain. dagu kuletakkan di lutut. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. tak ingin berpaling dari wajahnya. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. Dengan ragu-ragu. yang berada di dekatku. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. terlalu pelan untuk bisa kudengar.” Ia tersenyum lebih lebar. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. lebih ringan dan hangat setelah berburu. “Aku tidak membuatmu takut. lengannya yang telanjang juga berkilauan. Jemariku gemetaran. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. terukir dari bebatuan entah apa namanya. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. berkilauan bagai kristal. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. mengamatiku. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. “Tidak. Aku takkan pernah terbiasa dengannya.” katanya tanpa membuka mata. Patung yang sempurna. seperti yang dilakukannya. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. Angin bertiup pelan. karena ia sudah memejamkan mata lagi. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. halus bagai satin. “Kau keberatan?” tanyaku. Tapi ketika kutanya. djAnGgo 217 . Aku ingin berbaring. kan?” guraunya. Aku juga menikmati sinar matahari. bahkan sekarang. halus bagai pualam. meski tentu saja ia tidak tertidur.” Ia mendesah. begitu cepat hingga seperti gemetar. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang..

” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. gerakannya membuatku terkesiap. ia membalikkan tangan dengan cepat.” djAnGgo 218 . Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi.” “Hidup ini sulit. Aku melihat dan mendapatinya menatapku.” “Kau tahu. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. untuk tidak mengetahui. sesaat jari-jariku membeku di lengannya. “Katakan apa yang kaupikirkan. Menyadari apa yang kuinginkan. Kudekatkan tangannya ke wajahku.” bisiknya. Aku terkejut.aku meraih dan membalikkan tangannya. “Masih tidak biasa untukku.” Kuangkat tangannya. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya. mendadak begitu lekat. “Maaf.” gumamnya. kita semua merasa seperti itu setiap saat.

seharusnya.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. Aku mungkin saja. “Well.. Edward. bahwa tak ada yang perlu ditakuti.” bisikku. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. Aku duduk tak bergerak. bukan itu yang kumaksud. melepaskan tangannya dariku. lalu melemparnya begitu cepat. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. tanpa berpikir. Manis. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. bahwa aku tak perlu takut. Ia menatapku. suaraku. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. “Beri aku waktu sebentar. Tanganku yang kosong bagai tersengat. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. setengah meter dariku. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. Dan ia menghilang. Ia menghela napas panjang dua kali. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan.” ujarnya ragu. aku mencium napas sejuknya di wajahku. langsung lenyap dari pandangan. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. pergi. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. ia berada enam meter dariku. bahkan aromaku. menghempaskannya ke pohon besar lain.” Suaranya menggumam lembut. pelan untuk ukurannya. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka.. bertopang pada lengan kanannya. wajahku. “Aku predator terbaik di dunia. “Seperti kau bisa melawanku saja. nikmat. ia berjalan kembali ke arahku. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul.” sahutnya. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. “Aku sangat menyesal.. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. Aku duduk diam tak bergerak. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. aku.. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. Dan aku berharap aku tidak takut. sekarang ia setengah duduk. “Maafkan.” “Aku tidak ingin kau takut. ekspresinya tak dapat kutebak. kaku bagai batu. Senyumnya berubah mengejek. dan duduk anggun di tanah.. aroma yang membuatku meneteskan air liur. Ia berhenti. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. Tapi aku tak bisa menjawab. kakinya menyilang. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. masih beberapa meter jauhnya. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. Aku tak djAnGgo 219 . aku mendekat padanya. lalu tersenyum menyesal. Matanya yang keemasaan mempesonaku. matanya tampak kelam dalam bayangan itu. Secara naluriah. tapi aku tak bisa bergerak. menghirupnya..” katanya lembut. Ia mengulurkan satu tangannya. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama.” ia tertawa getir. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. Pohon itu bergoyang dan bergetar. Aku tahu ia bisa mendengarnya. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. Tidak seperti apapun di dunia ini.” ujarku ragu-ragu.

atau lebih menawan. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. ketika detik demi detik berganti. Lalu. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap..pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. djAnGgo 220 . percikan itu memudar. Dengan wajah pucat dan mata membelalak.. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular.

perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. kali ini lebih lembut. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. well. “Sejujurnya. “Aku berjanji. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. alasan yang jelas. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. meski suaraku gemetar dan tertahan.” Ia mengedipkan mata.” Aku cemberut. “Ya.” Ia tersenyum. Tapi jangan khawatir. itu sesuatu yang perlu ditakutkan. “Aku seharusnya pergi sejak lama. benar. “Jadi. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. Aku kembali menatap tangannya..” desahnya.“Jangan takut. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. tadi kita sampai dimana. Ia duduk luwes. Pada dasarnya aku makhluk egois. aku tak bisa terus berada di dekatmu. juga bagiku. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.” gumamnya.” desahnya.” gumamku sedih. penuh penyesalan. untuk. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut.” “Oh. Mata itu lembut. Ini juga masih sama sulitnya baginya. Detik demi detik pun berlalu. aku tidak bisa mengingatnya. seraya menunduk lagi. tapi wajahnya tampak malu.” “Jangan!” Ia menarik tangannya.” “Aku tak ingin kau pergi. “Itulah sebabnya aku harus pergi. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus.” bisiknya lagi sambil mendekat... hingga wajah kami sejajar. hari ini aku tidak merasa haus. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali..” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku.” timpalnya pelan.” ujarnya ragu. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik. Aku menatap matanya. Senyuman balasannya sungguh mempesona. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya. “Sejujurnya. “Jelas. “Aku seharusnya pergi sekarang.” Ia menunggu. hanya terpisah tiga puluh senti. disamping alasan yang sudah jelas.” “Aku senang. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. “Betapa mudahnya aku marah.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. tapi aku masih tak sanggup bicara. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. Kau membuatku tak berdaya. Keinginan untuk bersamaku. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. suaranya lebih parau daripada biasanya. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. dengan amat perlahan. lalu matanya. Parau djAnGgo 221 .” pintanya. “Jangan takut. Mendengar itu aku harus tertawa. karena. “Kumohon maafkan aku. “Aku takut. “Aku bisa mengendalikan diri. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu.

Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. Sulit rasanya untuk mengikutinya. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Aku berpikir sesaat. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi.untuk ukurannya. djAnGgo 222 . “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan.” Ia berhenti. dan bingung.

“Beberapa orang menyukai es krim cokelat. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. atau setidaknya mencoba. setiap orang punya aroma berbeda.” Kata itu melayang sesaat di sana. Ia langsung tersenyum. Jelaskan saja sebisamu. kalau ia memang ingin. Emmett. mencari-cari kata yang tepat. jadi dia mengerti maksudku.” Ia masih memandang kejauhan. sepertinya menghargai usahaku.” Ia memandangku. atau takut. “Bagi Jasper. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. dalam embusan angin yang hangat. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. “Tanpa membuatmu takut lagi. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . “menariknya seperti kau bagiku. hmmmm. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat.” kataku. kau adalah heroin bagiku.” “Dan kau?” “Tidak pernah. Ia balas tersenyum menyesal. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. “Ya. Aku bisa mengerti. Ia kembali menatapku dan tersenyum. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. terutama bagian terakhir.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai.” Tanpa terlihat memikirkannya. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. “Kau tahu. Begitulah caramu berpikir.. inti berbeda. mencoba membaca pikiran satu sama lain.” katanya. Ia memandang tangan kami.” Ia mendesah. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. “Jadi. menurutmu.. “Maaf. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. “Aku tak keberatan. kalau ia bukan peminum lagi.” Aku tersenyum. atau apapun. ia ragu. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. cognac langka terbaik. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin.” “Jadi maksudmu. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. dia akan dengan senang meminumnya.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. kalian manusia kurang-lebih sama. memikirkan jawabannya. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. raut wajahnya menyesal. saling menatap. aku semacam heroin bagimu?” godaku. juga rasa. Ia memandang melampaui puncak pohon. . berusaha mencairkan suasana. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. Tapi dia bisa menolaknya.

tangannya mengepal dalam genggamanku. Aku menunggu. tapi ia takkan menjawab. Ia membuang muka. wajahnya muram.memecah keheningan. Wajahnya menjadi gelap. Pertanyaan yang salah. Ia melirik. “Kurasa aku tahu. memohon.” kataku akhirnya. “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. bukan begitu?” djAnGgo 224 .

Emmett. yah.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. Aku tidak berani pulang menemui Esme. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. di lorong gelap atau apa. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. Aroma yang menguar dari kulitmu. sangat mudah untuk diatasi. “Kau pasti menduga aku kerasukan. “Tentu saja ada harapan! Maksudku. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu..” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Bagiku di luar lebih mudah.. memandang geram pepohonan. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. Kejadiannya sudah lama sekali. Aku tidak tahu bagaimana. “Kemudian. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. memalingkan wajah. Aroma tubuhmu membuatku sinting. “Tapi aku menolaknya.” “Aku tidak mengerti alasannya. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . membuat keputusan yang tepat. “Kau pasti datang. agar aku bisa berdua saja denganmu. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu.. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak.” Nyaliku ciut. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. oh. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. menghipnotis dan mematikan.“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan.. Dan aku terus melawan keinginan itu. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. memikirkan keluargaku. dan dia tidak. Cope yang malang. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. kau ada disana. saat itu juga.. Saat itu aku nyaris menculikmu. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur..” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. dia tidak mengenal kedua gadis itu.” ujarnya. bertahuntahun yang lalu.” Aku menatapnya terpana. membebaskanku dari kekuatan tatapannya... hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. Ia memandangku muram. “Maksudku. kami mengingat saat-saat itu. di rumah sakit. menghilang. tidak mengikutimu dari sekolah.. “Jadi kalau kita bertemu.” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari... “Kisah kita berbeda. di ruangan kecil itu.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Aku bisa berpikir lebih jernih.. tidak!” Ia langsung menyesal. setangkas dan sehati-hati sekarang. Hanya ada satu manusia lemah disana. “Ketika aku berjalan melewatiku.. matanya nanar menatapku. “Tak diragukan lagi. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. Mrs. lalu aku pergi menemui Carlisle.. begitu dekat. ingatanku diperbaharui lewat matanya. tentu saja aku tidak akan.” Ia berhenti. “Aku bertukar mobil dengannya. karena disana aku tak bisa mencium aromamu.. Aku harus pergi. untuk memberitahunya aku akan pergi. Aku mencoba berkata dengan tenang.

Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan. Aku meyakinkan diriku sendiri.” Pandangannya menerawang.. Siapa kau ini. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting.. bersama beberapa kenalan lama. djAnGgo 226 .” Ia terdengar malu. tiba-tiba ia nyengir. dekat pun tidak. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska.. Aku benci karena telah mengecewakan Esme. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. “Dua hari aku disana. tapi aku kuat..mengetahui apa yang terjadi. Dalam udara bersih pegunungan. dan yang lainnya. gadis kecil yang tak penting”.. tidak sebesar ini. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. tapi aku rindu rumah. keluarga adopsiku..

Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu.. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Dan setiap hari aroma kulitmu. daripada sekarang. dirimu. “Karenanya. pikirannya tidak terlalu orisinal.. yang bisa kupikirkan hanya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Aku mendengarkan. begitu juga Alice.. lebih antusias daripada rasional. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal.. Aku tak bisa menebak alasannya.. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. bila mungkin. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama.. seandainya aku akan menyakitimu.” lanjutnya.. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. “Kenapa?” djAnGgo 227 . Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Emmett..” Mata kami kembali bertemu. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. disini. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. jika darahmu tercecer di sana di depanku.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. napasmu. Sebenarnya aku sangat ingin. Saat itu. “Tentu saja. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya.” Ia menggeleng tulus. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. “Aku melakukan tindakan pencegahan. meski suaraku samar-samar. larut dalam pengakuannya yang menyiksa. Aku sombong mengenai hal ini. “Sepanjang keesokan harinya. Sangat menyebalkan. karena jika aku tidak menyelamatkanmu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu. Tapi kau terlalu menarik. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu.” Ia cemberut mengingatnya. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. menaruh diriku dalam kuasamu.” Ia memejamkan mata. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu.Aku tak sanggup berkata-kata. rambutmu. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu.” ia bergegas melanjutkan. dari semua orang yang ada. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara.. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. pertengkaran terburuk kami. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Akhirnya aku bisa bicara.. “Aku kaget. berburu. “Tapi efeknya justru kebalikannya. “Aku bertengkar dengan Rosalie. ‘Jangan dia’. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Carlisle membelaku. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. bahkan sekarang. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami.

” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati. djAnGgo 228 . “Kau yang terpenting bagiku sekarang. rasanya tak tertahankan. Dari topik menyenangkan tentang kematianku.. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. tak bisa melihatmu merona lagi. dingin. namun tersiksa. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. kaku..“Isabella. Terpenting bagiku sampai kapan pun.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah.” Ia menunduk. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku.” Ia menatapku dengan matanya yang indah. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. kembali malu-malu.. “Bayangan dirimu.. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. “Bella. Ia menunggu. putih.

“Domba yang bodoh. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. kan. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. “Baik kalau begitu. bahkan bila menginginkannya. “Jangan bergerak. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. melihat apakah ia membuatku marah. “Kau tahu kenapa.” Ia berhenti sesaat. tentu saja. Aku berpaling. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya.” kataku bergurau. “Rona pipimu cantik. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. dan aku berharap bisa memperlambatnya. sungguh. “sepertinya tidak masalah.. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu. Perlahan. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. “Benar-benar tidak apa-apa.. aku membelai punggung tangannya. “Singa sakit. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. tahu..” kataku akhirnya. Namun tak ada rasa takut dalam diriku.. yang suka menyakiti dirinya sendiri.” Ia tersenyum lagi. Aku tak bisa bergerak. Tatapan kami bertemu. tak yakin bagaimana meneruskannya.” Sesaat ia memikirkannya. ia mencondongkan wajah ke arahku.” desahku. ia tertawa.” Berhasil. “Aku ada disini..” “Well. Ia memandangku dan tersenyum. Pasti ia mendengarnya. Lalu tiba-tiba.. peringatan yang menyuruhku untuk takut.” katanya. Ini.. “Masalahnya kau begitu dekat. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan. Dan aroma lehermu. kalau bisa. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain..” bisiknya. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. contohnya”. tanpa mengalihkan pandangan dariku. “Aku takkan memperlihatkan leherku. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. namun dengan teramat lembut.” gumamnya. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan.” gumamnya. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.. “Tidak.” Darahku mengalir deras. detak jantung dalam nadiku. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain.” “Tidak.” ia menimpaliku sambil tertawa. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. mundur karena keanehan kami.” Ia mengangkat tangannya yang bebas.” “Tapi aku ingin membantu.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku. maksudku. Aku duduk diam tak bergerak. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. “Kenapa?” aku memulai.” “Kau memang bodoh.” Senyumnya memudar. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu.. Aku melipat daguku. dan aku ikut tertawa. “Bodohnya aku.” Wajahku muram. seolah aku belum membeku saja. Bella. Dengan lembut ia membelai pipiku. Itu salahku. kemudian berhenti. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. “Lihat. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu.

Akhirnya detak jantungku memelan. “Ah. Dengan kelambatan yang disengaja. Aku gemetar. Ia berhenti. Mendengarkan detak jantungku.bagian dirinya yang lain. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Bisa jadi berjamjam. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . kemudian berhenti. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. dan aku mendengarnya terengah. Wajahnya bergeser ke samping. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku.” desahnya.

” desahku. yang kurasakan. haus.. kesulitan. yang menjadikanku makhluk tercela. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. tak ingin mendorongnya terlalu jauh.jadi kelewat berlebihan.. “Jangan bergerak.. rasa lapar. terlalu cepat. membuatku gemetaran lagi. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. “Katakan padaku. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. “Ini sudah cukup. “Ada hasrat lain. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. ia melepaskanku. Bukan dengan cara yang membuatku takut. Aku tak bisa memikirkan apa pun.” ia mengaku. Aku ingin mencondongkan tubuh. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. menghirup aromanya.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku. Dan kurasa kau bisa memahami itu. Kau?” “Tidak. Bibirnya membuka di bawah tanganku. kemudian.. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. sebuah ukiran dalam genggamanku. itu tidak buruk. kebingungan. dan keduanya tampak kelaparan. bagiku.” katanya puas.. dengan lembut mengusap kelopak matanya.. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. tak ada yang lain.” Aku tersenyum. tidak pernah. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. Meskipun”.. “Tidak. “Kurasa aku tidak bisa. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya.” desahku. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. Tidak pernah sebelumnya. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya.” “Tapi.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku.. “Tidak akan sesulit itu lagi. Sorot matanya damai. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh.. “kuharap kau bisa merasakan. sesuatu yang asing bagiku. “Aku tak tahu apakah aku bisa. “Kuharap.” bisikku. Agar kau mengerti. Ia membuka mata. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. ia setengah tersenyum. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 . Hasrat yang tak bisa kumengerti. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. Kubelai pipinya. “Kemarilah.. mengingatkannya lewat tatapanku. kurasakan padamu. memejamkan mata. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. dan hidupku bisa berakhir. Tak ada yang bisa setenang Edward. Kemudian. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan. “Kau tahu maksudku.” bisiknya.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. bayangan keunguan di bawah matanya. Sudah kubilang. di lain sisi.

dan aku pun mendesah. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam.wajahnya di rambutku. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. tapi masih ada. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. bayangan hutan mulai menyentuh kami.” sahutku. djAnGgo 232 .” Lama sekali kami duduk seperti itu. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. “Aku punya naluri manusia.

Irama napasnya tak pernah berubah. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. “Hah!” dengusnya.” Ia mengamati ekspresiku. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar.” ujarku. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. djAnGgo 233 . “Sepertinya aku butuh bantuan. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. aku yakin kau sering mendengarnya. menekankan telapak tanganku ke wajahnya.” “Ayo. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. “Bella?” panggilnya. Kemudian ia berlari. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. sekarang terdengar waswas. “Rasanya aku perlu berbaring.” aku mengingatkannya. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. dan menghirupnya dalam-dalam. menungguku turun. Rasanya seperti memeluk batu.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. Ia berdiri tak bergerak.” “Sudah jelas. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. bagai hantu. pengecut kecilku. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. kau akan sangat aman. aku merasa mabuk.” aku menahan napas. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tersenyum melihat keraguanku.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya.” gumamnya. “Asyik. kami sudah sampai di truk. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. “Oh. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. senang. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. selalu luput menyentuh kami. lebih keras daripada yang pernah kudengar. Tak ada suara. Jantungku bereaksi. lalu mengulurkan tangan meraihku. “Jangan khawatir. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. Ia tertawa. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. dan sekarang. Kemudian selesai. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. Aku mencobanya.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak. tapi otot-ototku kaku. dalam hitungan menit. bukan?” Suaranya meninggi. dan aku menatap wajahnya. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku.” Ia menungguku.“Kau harus pergi. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. maaf. naik ke punggungku. Ia meraih bahuku.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak. “Rasanya pusing.” djAnGgo 234 . Kemudian ia menarikku menghadapnya. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Ia memelukku sebentar.Ia tertawa pelan.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. Kupasrahkan diriku.

Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. “Berlari adalah sesuatu yang alami. Telingaku berdenging.” “Lain kali!” erangku.. Aku terpana dibuatnya.” gumamnya. Tolong tunggu sebentar.” Suaranya sopan. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. Jariku meremas rambutnya. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. “Tukang pamer.” gumamku. aku bisa mentolerirnya. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. Aku mencoba bersikap positif. rahangnya menegang. Aku terus menatap matanya.. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri.” “Lain kali ingat itu. Aku tak bisa bernafas. Ia ragu-ragu. Dan disanalah dia.” lanjutnya.?” Aku mencoba menahan diri. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. seperti cara manusia. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. kau lucu. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras. namun suaraku lemah. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada.” desahku. Suasana hatinya masih bagus. wajahnya sangat dekat denganku. oh bukan. Aku merasakan ia duduk di sisiku. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. “Bukan. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri. “Ups. Ia tertawa. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. Ketampanannya memukauku. ketika aku berlari. dan lumayan membantu. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu.” ujarnya pelan. menjaga kepalaku tetap tenang. “Tidak. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita. Bella. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. Ia tersenyum. “Buka matamu. Napasku terengah-engah.. “Tidak. terkendali. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan. Aku bernapas palan. “Haruskah aku. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. Waktu berlalu. terlalu berlebihan.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya. “Itu namanya melecehkan.” ia tergelak. memberinya sedikit ruang. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. bukan sesuatu yang harus kupikirkan.” “Bella. Darahku mendidih dan membara di bibirku..” Tatapannya liar. tidak seperti biasanya.Aku mencobanya. untuk mengetahui apakah ini aman.” Ia terdiam. “Aku sedang berpikir.” gumamku lagi. meski begitu artikulasinya tetap sempurna.” “Tukang pamer. itu tadi sangat menarik.

Ia tertawa keras. “Bisa ditolerir?” tanyaku. Senang mengetahuinya. jelas puas dengan dirinya sendiri. Maafkan aku.” “Kau toh hanya manusia biasa. “Nah. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga.” djAnGgo 236 .dalamnya mulai memudar dan melembut. Kemudian ia tersenyum.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. dan senyumnya tak disangkasangka nakal.” katanya.

Aku mulai mengitarinya. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria.” desahku. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. menuju sisi pengemudi.” Kuselipkan tanganku di saku celana. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. atau trukku.” “Sangat masuk akal.” djAnGgo 237 . bisa menerimanya.” “Kau gila ya?” protesku. wajah manusianya tampak tenang. “Bagaimanapun. Lagipula. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. Kugenggam tangannya yang dingin. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi. “Refleksmu jauh lebih lambat.” akhirnya aku berhasi menyahut. Awalnya ia tidak menjawab. “Mabuk?” timpalku keberatan. “Aku tidak yakin. memerlukannya lebih dari dugaanku. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. mulai dari telinga ke dagu. Aku gemetaran.” akhirnya ia bergumam.“Terima kasih banyak. “Tidak. menggenggam kunci mobilku erat-erat. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. tapi kurasa keberanianku.” sahutku getir. “Kurasa gabungan keduanya. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. “Santai saja. Bella. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. aku masih pening. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi. gerakan yang tak kusangka-sangka. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang.” Alisnya terangkat tidak percaya. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.” kutipnya sambil tergelak. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. “Bella.” “Aku yakin itu benar. sedikit saja.” timpalnya. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya. menjadi lembut dan hangat. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. “Kau mabuk oleh kehadiranku.” “Percayalah. trukku sudah cukup tua. Tidak sedikitpun. “refleksku lebih baik. Ia mengulurkan tangan padaku. berulang-ulang.” godanya. Tak ada jalan keluar.

“Aku tak mengingatnya dengan baik. Ia mendesah. uhh!” Ia bergidik. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. atau ’70-an. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. “Musik ’50-an bagus. sekarat akibat flu Spanyol. lalu berkata. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. tapi aku masih bertanya-tanya. tangan kami yang bertaut. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. kemudian mentap mataku.” aku nyengir. Ia hafal setiap barisnya. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. Usiaku tujuh belas saat itu.” ia bergumam pada dirinya sendiri. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. Ia mengemudi dengan satu tangan. wajahku. ragu-ragu. “Delapan puluhan masih bisa diterima. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama.. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Ia memandang matahari. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. Seperti banyak hal.” Ia mendengarku terkesiap.14. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. menit demi menit berlalu. tampaknya itu mudah baginya.” kataku akhirnya. sudah lama sekali. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. “Coba saja. kadang-kadang menatapku. Ia menunduk menatap mataku lagi. Ia melihat ke arah matahari. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya.. “Tidak juga. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku.

Aku sebatang kara..” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. Bukan hal mudah. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut.” “Bagaimana dia. ketika Carlisle menyelamatkanku..memudar.. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan. yang paling berbelas kasih di antara kami.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi. “Sulit. Itu sebabnya dia memilihku.

” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. Alice menemukannya. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. hal-hal yang mungkin terjadi. meskipun nyaris tak mungkin. Masa depan tidak terukir di atas batu. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. tanpa bimbingan dari luar. “Ya. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku.. Dia tertekan. Dia terjatuh dari tebing. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap.” Ia menatapku dalam-dalam. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. sebagai suami-istri.. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami.” “Sungguh?” selaku. Jasper berasal dari keluarga. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain.” lanjutnya.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. Kutekan rasa penasaranku. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. menempuh jarak lebih dari seratus mil. Dia melihat hal-hal. lalu berlalu djAnGgo 240 . dan akhirnya memilih mengembara sendirian. “Tapi dia berhasil. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.” Ia terdiam. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama.” “Memang benar. dan mengangkat tangan kami. Seperti aku. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. waktu itu kami sedang di Applachia. Mereka mengembangkan kesadaran. “Kesendirianlah yang menggerakkannya. masih terjalin.. lain. lagi. itu hanya Carlisle.” Ia memutar bola matanya. Tapi itu sangat subjektif.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir.” gumamnya.” Ia tertawa. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah.. “Meski begitu. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. begitu kami menyebutnya. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. “Tidak. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. jadi kami semua mendaftar di SMA. sangat menyakitkan. dan matanya tertuju padaku. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. terkesima. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. rasanya amat. Segala sesuatu berubah. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. Forks kelihatannya sempurna. hal-hal yang akan datang. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti.” aku mendorongnya. Alice mengetahui hal lain. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Rosalie membawanya kepada Carlisle. jenis keluarga yang sangat berbeda. “Tapi katamu. “Bagiku.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. Rosalie sedang berburu.

dan mereka datang bersamasama menemui kami. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. ada banyak?” Aku terkejut. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami.” “Apakah jenis kalian. djAnGgo 241 .begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. contohnya... ketika kelompok lain mendekat. Dia selalu melihat. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan.

tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. “Ya. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. “bisa hidup bersama manusia selama apapun. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. perutku keroncongan. kalau tidak merepotkan.” Banyak sekali yang harus dipikirkan. ia mengerling licik padaku. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari.” “Aku baik-baik saja. di desa kecil di Alaska.. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. dan itu adalah misteri. membukakannya untukku.” “Aku ingin bersamamu. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama.” aku memujinya. tak ada bulan. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. Tapi yang membuatku teramat malu. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. dia barangkali bisa berubah jahat. Aku lupa. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat..“Tidak. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. Dia terbangun sendirian. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. Hanya yang seperti kami. seperti Jasper?” “Tidak. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. secara berbeda cenderung berkumpul bersama.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. “Maaf. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. kebiasaan ini mulai membosankan. aku membuatmu terlambat makan malam. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. Seperti yang lainnya. Suasana sangat tenang dan gelap.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya. Jenis seperti kami yang hidup. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Kadang-kadang kami bertemu yang lain.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. dan ia mematikan truk. jadi aku tahu ayahku belum pulang.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. tidak banyak. “Sangat manusiawi. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . sungguh. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. Lampu teras mati. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. yang telah berhenti memburu kalian manusia”.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang.

Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat.” Aku melangkah masuk. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. “Aku penasaran denganmu. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. menyalakan lampu teras.” djAnGgo 243 . Masih pucat. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. ketampanannya masih bagai ilusi. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi.tampak jauh lebih normal.

. djAnGgo 244 . Tubuhku kaku dalam pelukannya. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. Dan aku tidak merasa malu.” Dan akupun sendirian. Aku mencoba memalingkan wajah.” Nada suaranya datar. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. Ia sudah disana. aku pasti akan memimpikanmu. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. Dan ketika hujan turun. kemudiam memanaskannya di microwave. Ia tahu maksudku.” ia berbisik di telingaku. “Seandainya bisa bermimpi. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. ‘Terlalu hijau’. ibuku selalu menggodaku soal ini. Aku tetap menatap piring ketika bicara. tentu saja. “Pada?” desaknya. Ia menanti. terperangah. “Jangan sedih!” ia memohon. Lama baru aku bisa berpaling. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. menempatkan sebagian di piring. Ia kelihatan tidak menyesal. Piringnya berputar. ia sudah pindah ke sisiku. sama sekali tak perlu diarahkan. dan tidak membuatku tersinggung lagi. suaranya membuatmu gelisah.” Aku memikirkannya dengan cepat.” “Tidak!” sahutku menahan napas. “Jangan malu. Aku mendesah kalah. tanpa suara. Ekspresinya langsung berubah kecewa. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. “Kau merindukan ibumu.. “Kau mengigau. berharap aku bisa melihatnya. Gerakannya sangat alami. “Kau mengkhawatirkannya. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Aku merasa malu. “Ada lagi?” desakku.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan.” Ia tertawa lembut. “Apa yang kaudengar!” erangku. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. terus ke lorong menuju kami. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. Ia menarikku lembut ke dadanya. “Kau memanggil namaku. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya.. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.” ia mengakui. Saat itu juga. “Kalau begitu lain waktu saja. Kau pernah mengatakan sekali.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. “Aku tidak yakin. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. kemudian menatapnya. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. tapi sekarang sudah jauh berkurang. wajahku memanas hingga ke garis rambut.” Aku berputar. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur.” bisiknya. Aku tersanjung. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan.. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. Aku masih tidak berpaling.

Aku mendengar suara tawa yang samar. Sebelumnya hal ini menggangguku. siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan.“Edward!” desisku tertahan. djAnGgo 245 . Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. lalu lenyap. “Bella?” panggilnya.

Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. Mengapa. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. Aku ingin sekali pergi ke kamar. Betapa ironisnya. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. “Bagus. “Tidak. Dad.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. “Bagimana harimu?” tanyaku. Aku baru menyadari tanganku gemetaran.” ujarnya. Aku tak menjawab.” aku menimpali sambil menaiki tangga. pikirku.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. “Hari ini memang bagus. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. oh. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku.” timpalnya. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman.. buruburu.” “Well . “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba. benar-benar menggelikan. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Dad.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. “Sampai besok pagi. “Selamat malam. aku hanya mau tidur. “Kupikir Mike Newton itu. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. katamu dia ramah.. “Sepertinya ide bagus. belum ada cowok yang menarik perhatianku. kalau mau mencari teman istimewa. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. Acara memancingnya biasa saja. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.” “Kau kelihatan agak tegang.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie.” “Dia hanya teman. ya?” Ia curiga. Ketika aku meletakkan gelasku.. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu. tapi berusaha terdengar biasa saja. “Terima kasih. “Ini hari Sabtu. Aku membawa makananku.“Disini. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. aku lelah. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. djAnGgo 246 .. “Tidak. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie. Dad. Sayang. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. Aku mau tidur lebih cepat. Tunggu saja sampai kuliah nanti. Aku kepedasan.” ujarnya. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. “Sedang terburu-buru? “Yeah.” sahutnya menerawang. susunya bergetar.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. Begitu lasagna-ku habis. Charlie duduk di kursi.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.

Suara tawa pelan menyambut dari belakangku.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. benar-benar merasa tolol. tangannya menyilang di belakang kepala. jatuh lemas ke lantai. djAnGgo 247 . “Ya?” Aku berbalik. “Oh!” aku mendesah. tersenyum lebar di tempat tidurku. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. Ia berbaring. “Maafkan aku. Posisinya sangat santai.“Edward?” bisikku.

Bella. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. Matanya mengamatiku. kemudian menyisirnya cepat-cepat. mengangkatku. menunggu. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Ma’am. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. patungnya menjadi hidup.” kataku. rambutku yang basah.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. supaya tidak mengejutkanku lagi. terburu-buru lagi. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. Aku menaiki anak tangga dua-dua. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. menutup pintu rapat-rapat. meluncur keluar.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. Aku melompat.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. berusaha tetap tenang.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. Sesaat kami duduk diam disana. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. dan meluncur ke kamar. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku. kemudian menutup pintu. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. “Ya. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. pakaian itu tampak bagus padamu. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. Salah satu alisnya terangkat.” Aku nyengir. Kugosok gigiku keras-keras. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Kumatikan keran air. Aku membiarkan lampu tidak menyala. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. mencoba tampak galak. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku.” djAnGgo 248 . Dad. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. menenangkan denyut nadiku. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. “Diam disitu. Kulempar handuknya ke keranjang. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. handukan sekenanya. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. “Bagus. yang sedang duduk di kamarku.” “Selamat malam. “Tentu. Aku bermaksud buru-buru. “Selamat malam. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. “Sungguh. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku.

“Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir.” djAnGgo 249 . Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku.” “Oh. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali. Aku kembali ke sisinya.” Ia mengangkat daguku. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. mengamati wajahku.” bisikku.” Ia memikirkannya.“Terima kasih. aku bakal menyelinap keluar. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.

membuatku malu. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat...” suaranya menggoda. Saat konsentrasiku buyar. bukan dalam artian seorang adik.” “Jadi.... menerima pujianku. “aku juga rapuh. kemudian. “Ya?” desahnya. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. ia menghirup aroma pergelangan tanganku.” Ia tersenyum. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. Kau membuatku sinting. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. “Sepertinya. ragu...” “Tidak tak termaafkan.” desahnya.. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.” Aku menarik diri.” ujarku. bahwa aku tak dapat.” lanjutnya.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. “Mmmmmmm. Aku merasakan tangannya. aku masih. hidungnya meluncur ke sudut rahangku.. “Terima kasih..” ia menjelaskan.. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik... “Selain kemungkinan aku dapat. justru sebaliknya. dan aku kehilangan akal sehatku. ekspresinya tampak bingung..” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata.” aku memulai lagi. Aku sama sekali tak bergerak. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis. “Kau tahu. djAnGgo 250 . “Tapi sore tadi. menaklukan”. “Aku hanya terkejut. lebih ringan dari sayap ngengat.. dan ketika berbicara ia terdengar senang. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir.” desahnya.. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku.. aku bertanya-tanya. bersamamu. Dan menemukan.” “Kau bisa melakukan apa saja.” suaraku bergetar.. meskipun semuanya baru bagiku. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. dan kami tertawa pelan.. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya.. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. dan ia membeku..” kataku mencoba menghembuskan napas. Ia mengangkat bahu.” paparku. “Amat sangat lebih mudah. Ia nyengir.” sergahku. sekarang menunduk.. Maafkan aku soal itu. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu..” “Ini tidak mudah. “Kenapa. “Sore tadi. Ia memikirannya sebentar. “Hmm. Saat ia menyentuhku. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

” djAnGgo 259 . sedikitpun tidak. “Sudah kubilang.“Tentu saja belum. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.” Wajahku memerah.

.” “Bagiku ya. Ia tertawa. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. suara malaikat.” ia meyakinkanku. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin. “Aku mungkin bukan manusia. tapi aku laki-laki. Ia menanti.. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. nina bobo yang asing. sekarang kau harus tidur. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. “Naluri manusiamu. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. “Aku tak yakin apakah aku bisa.” Ia terdengar puas.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang. lembut di telingaku. Aku menguap tanpa sengaja. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. djAnGgo 260 .” aku mendesah.” ia bersikeras. Setidaknya kita punya persamaan. Lebih letih daripada yang kusadari.“Aku tahu.” aku memulai. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi. “Bagus. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan. “Well. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

djAnGgo 261 .

tapi kelihatan senang melihat reaksiku. tapi aku menyukainya. tapi khawatir napasku bau.” ujarnya. “Kutunggu. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. aku membeku. dan jantungku berdebar tak keruan. Sesuatu. menghirup aroma kulitnya. kalau boleh kutambahkan. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami.” dengusnya. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari.” “Kau tidak sekreatif itu. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. “Tentu saja. Aku tak mengenali diriku. terkejut karena semangatku yang menggebu. tapi nyaris gagal. Aku mengerang dan berguling ke sisi. Setengah berlari aku kembali ke kamar. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. tanpa berpikir melompat menuju pintu. “Aku yakin itu mimpi. membawaku ke dalam pelukannya. “Selamat datang lagi. Aku menatapnya. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. ingin sekali kembali padanya.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. di dalam maupun di luar. mengantuk dan pusing. sebuah mimpi yang coba kuingat. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. lengannya masih menantiku.” jawabnya kaget. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. djAnGgo 262 . Kupercikan air dingin ke wajahku. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya.” aku mengakuinya. “Charlie!” Aku teringat. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan.” gumamnya. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. dan berusaha bernapas secara normal.15. Wajah yang ada di cermin praktis asing. setelah memasang kembali kabel akimu. Harus kuakui. Tapi ia tertawa. “Dia pergi sejam yang lalu.. Begitu menyadari apa yang kulakukan. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. Ia meraihku. aku kecewa. Tangannya mengusap-usap punggungku. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira.” Aku melompat ke kamar mandi. lagi. khawatir tindakanku telah melewati batas.. matanya terlalu ceria. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. sama sekali tak memahami emosiku. dan rambutnya sudah rapi. lengan menutupi mata. berharap bisa tertidur lagi. Aku berbaring.

“Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. djAnGgo 263 . apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir.“Kau pergi?” tuduhku. sambil menyentuh kerah kausnya yang baru.

“Apa menu sarapannya?” tanyaku riang.. “Bercanda!” aku nyengir. “Tidak apa-apa. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. memperhatikannya sambil menyuap sereal. “Kaubilang kau mencintaiku. dengan lembut. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya.” aku mengingatkannya.” Aku menggerutu.. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. Aku tersenyum. Ia memutar bola matanya. menyusupkan kepalaku.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang. ceria. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas..” jawabnya sederhana. dan kau tahu itu. “Aku khawatir mereka takkan.” jelasku.” Aku duduk di meja makan. “Aku mencintaimu. “Mm.” “Oh. Ruang dapur terang. Bella. well. Itu membuatku tidak nyaman. Ia terperanjat. “Saatnya sarapan.” “Kau sudah tahu itu. aku tak melewatkan apapun. ke rumah djAnGgo 264 . “Tapi toh aku senang mendengarnya. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. “Apa acara hari ini?” tanyaku. seolah-olah menyerap suasana hatiku. mempelajari setiap gerakanku..” aku mengakui.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. lalu berhenti. “Jangan khawatir. memastikan ia memaafkanku..” Kesembunyikan wajahku di bahunya. menyukaiku. Aku berdeham untuk bicara. Perhatikan caraku berburu. jijik. melompat berdiri. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. aku tak yakin. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. seperti aku. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. “Ya. “Aku akan melindungimu. mengalihkan perhatiannya. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut.. Ia mendudukanku di kursi. tapi ia mengabaikanku.” akhirnya ia berkata. “Boleh kuulangi?” tanyaku.. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap. untuk membuktikan. “Saatnya sarapan untuk manusia.” Matanya berkilatkilat. Ia memandangiku. Kuletakkan makananku di meja.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya.” “Aku tidak takut pada mereka. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. tak ingin bersikap tidak sopan. terkejut kau membawa seseorang.” Ia mencibir. ia bisa melihatnya di mataku.” “Itu sangat lucu.“Kau tidur sangat pulas semalam. dengan kasual. “Makan saja. “Kau mengigau lebih awal. baiklah. “Kau hidupku sekarang. aku yakin.. Tidakkah mereka akan. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok.” bisikku.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. Dan tampaknya aku dimaafkan. “Tidak lucu. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku. “Hmmm.

Kau tahu. kemarin mereka bertaruh”. ia tersenyum. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 .menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. “Apakah aku membawamu kembali. tapi suaranya parau. mereka sudah mengetahui semuanya.

” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu.Alice. aku akan menunggu disini.” aku mengakui. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku. “Maksudku sebagai pacarmu. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Selamanya. sama sekali bukan beruang pemarah. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya.” Aku meringis. mirip patung Adonis lagi. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan.” “Well. Aku melompat berdiri. jangan lupa itu. maksudku. menggigit bibir. “Aku tidak berpura-pura. “Aku tidak tahu..” katanya jengah.” djAnGgo 266 . “Aku akan selalu menginginkanmu.” Aku menatapnya curiga. dan semuanya.” “Kau menyimak.” Ia meraih ke seberang meja. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu. kau tak perlu berpura-pura demi aku. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. menerawang ke luar jendela belakang.. “Jadi.” Perlahan ia mengelilingi meja. “Itu tidak perlu. memandangi meja. Ia tidak menyahut. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. “Well..” ia tersenyum senang.. ekspresinya penuh makna. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. sambil berspekulasi. “Kira-kira begitu.” “Berpakaianlah. kau tahu.” aku mengaku. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.” “Dia sudah mengenalmu.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk. mengabaikan tatapan marahnya. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. Aku tidak berharap kau. “Ya. “Jujur.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian. “Apa itu enak?” tanyanya. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. Ia berdiri di tengah dapur. Aku buru-buru menghabiskan serealku. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. makananmu tidak terlalu mengundang selera.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. Kemudian tatapannya kembali padaku. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice.” Senyumnya penuh kesabaran. Aku menatapnya penasaran.” aku mengingatkannya.” ia meyakinkanku.” gumamku.” aku mengingatkannya.

Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. djAnGgo 267 . berwarna khaki. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. rok panjang. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. masih kasual. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki.

Ia memiringkan kepala perlahan.” “Aku baik-baik saja. “Kurasa aku lupa bernapas. Ia menggeleng. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. dan memasuki hutan berkabut. dengan sangat hati-hati membukanya. dan semakin besar. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila.. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. Amat sangat terlalu pintar. dan aku langsung menghambur ke arahnya.” gumamnya di telingaku. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. putus asa. menggeleng-gelengkan kepala. dan semakin besar.” Aku menyadari.. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. dan aku kembali melayang.. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya.” Ia mendesah. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. “Kau. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. pingsanku kali ini berbeda.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya.” ujarnya tak disangkasangka. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. “Aku sangat menyukai warna kulitmu.. Wajahku memerah senang. “Tidak. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. Jelas itu pertanyaan retoris. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. Hutan menyelimuti kedua sisinya.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku. Kemudian aku tak sadarkan diri. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 .” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. membuatku. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku.” aku meracau. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. “Aku bisa mengganti. “Kau salah lagi. “Kau sangat tidak pantas.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. lebih dekat dari yang kukira. Tanganku membeku di dadanya. dan berpaling. “Kau terlalu pintar melakukannya. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. “Begini. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.” Aku masih pusing. “Itulah masalahnya. jalanan membentang ke utara.” Ia menunggu di ujung tangga. dan ruangan pun berputar. jatuh pingsan. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. Aku tak tahu apa yang terjadi. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. Jalanan itu tak bertanda. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota.” aku langsung menjawabnya.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu.” Aku menggeleng menyesalinya. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar.. “Kau sangat konyol. “Dan kau khawatir.“Oke. betul?” “Betul.” ia mendesah. “Kemarin aku menciummu. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. “Kau sulit dipercaya. itu tidak adil. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua.” aku bersikeras. “Aku sudah pantas bepergian..

setelah beberapa mil. djAnGgo 269 . dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. Kemudian. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno.sekeliling pepohonan kuno. hutan mulai menipis.

dan sangat luas. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. langsing. Cullen. Di bagian belakang. sangat terbuka. Aku merapikan rambut dengan gugup. Bella. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar.” “Carlisle. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. menjabat tanganku.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. tentu saja. dr. “Wow. berbentuk persegi dan proporsional. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. elegan. tanpa ragu. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. namun tidak terlalu kurus. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. Tubuhnya mungil. Aku pernah melihat dr. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. Wajahnya berbentuk hati. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. lebih berisi dibanding yang lainnya. “ini Bella. Cullen sebelumnya. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak. “Sama sekali tidak. rambutnya berombak dan halus. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. semuanya merupakan gradasi warna putih. Sangat terang. daripada bagian luarnya. Ia membukakan pintu untukku. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. langitlangitnya yang tinggi. berlantai pudar. “Carlisle.” sahutnya tulus. berwarna cokelat karamel. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. tersembunyi di kegelapan hutan. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. kesempurnaannya yang luar biasa.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. Mereka tersenyum menyambut kami. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. ayo.” Langkah Carlisle terukur. Rumah itu tampak abadi. adalah orangtua Edward. Dinding-dindingnya.” Aku tersenyum padanya. Tampak menanti menyambut kami. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. mengingatkanku pada era film bisu.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. “Kau cantik. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. berdiri persis di kiri pintu. berlantai tiga. lebih tak bisa diramalkan. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. berhati-hati saat mendekatiku.” “Selamat datang. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. dan barangkali berusia beberapa tahun. tapi tidak bergerak mendekat. Esme. “Senang bisa bertemu Anda lagi.” “Tolong panggil saja Carlisle. dan karpet tebal. djAnGgo 270 . tapi jelas bukan yang seperti ini.” Aku mencoba tertawa. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. lantainya yang terbuat dari kayu.

Putri Salju dalam wujud aslinya. Aku juga senang bisa bertemu Anda. tapi mereka tidak menjawab. “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. djAnGgo 271 .” Memang itulah yang kurasakan. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng.“Terima kasih. berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar.

dan aku teringat akan kemampuannya. rumah kalian sangat indah. Kugelengkan kepalaku. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. bingung. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Esme memperhatikan keprihatinanku. “Kau bisa main piano?” tanyanya. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. “Kurasa seharusnya aku tahu. Jasper. dan sesaat mereka saling menatap. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku.” bentaknya. “Terima kasih. tinggi bagai singa. Edward menatap Jasper.” ia tertawa. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. tapi aku menyukainya. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. tentu saja. Wajah Esme melembut mendengar suara itu.” Alis Esme yang lembut terangkat. Apakah itu milik anda?” “Tidak.” Ia berbicara penuh perasaan. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. “Halo. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. bukan begitu?” kataku menjelaskan. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. “Kami senang sekali kau datang.” Aku tersenyum malu-malu padanya. membuatku sangat malu. Carlisle dan Esme memelototinya. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. tatapan yang tidak kumengerti. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. Ia tetap menjaga jarak. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. Tapi piano itu indah sekali. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. dan pada yang lainnya juga. Ia mengajariku cara bermain piano. “Hanya sedikit. ia memandang Edward penuh makna. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. “Tidak sama sekali. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu. itu tidak sopan. seandainya aku menenangkan lotere. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. kemudian Jasper ada disana. “Edward bisa melakukan segalanya. sekarang mereka tampak terkesiap. “Kau memang harum. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Aku mengalihkan pandangan. “Halo. Ia terlihat bahagia. begitu tenggelam. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. ekspresinya mendalam.” Edward tertawa lepas.” ia berkomentar. menunjuk piano dengan kepalanya. salah satu alisnya terangkat. Aku memandang wajahnya. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini.” sapa Jasper. itu sesuatu yang alami. baginya. tapi seperti kebanyakan anak. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. Lagipula. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. berusaha terlihat sopan. Ia berlari menuruni tangga. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. Bella!” sapa Alice.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. meskipun wajah djAnGgo 272 .“Hei.” tambahku apa adanya. “Senang bisa bertemu kalian semua.” sahut Esme. “Hai. Bella.

” sergah Edward keberatan. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. Edward menarikku bersamanya.” bujuk Esme.” sahutku. djAnGgo 273 . “Kalau begitu. mendudukkanku di kursi di sampingnya.” aku meralatnya. “Kalau begitu sudah diputuskan.” Esme mendorong Edward menuju piano. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan. bermainlah untuknya.Esme tampak nyaris puas. dia terlalu rendah hati.” balas Esme. “Sebenarnya. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan.

. untuk mencegahnya menyadari kengerianku. Ia merengut. masih terkejut.” Irama musik memelan.” katanya lembut.. “ Mereka menyukaiku. “Kesukaan Esme. tapi ruangan besar itu kosong sekarang... “Dia berharap seandainya dia juga manusia. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya.” Aku mendesah. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. “Rosalie yang paling berjuang keras. kau tahu.” “Oh.” “Ini benar-benar salahku. dan mendengar tawa pelan di belakangku. “Bahkan Jasper. “Esme dan Carlisle. takut ada djAnGgo 274 . musik masih melingkupi kami tanpa henti. Sebenarnya. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. menutupi jati diri kami. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku.?” lanjutku cepat. Edward menatapku santai. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya. menertawakan reaksiku.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.” katanya.. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit.” Ia mengangkat bahu. “Kau manusia. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. “Sudah kubilang. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami..” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. begitu kaya. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. Tapi Rosalie dan Emmett. berubah jadi lebih lembut. “Emmett?” “Well .Lama sekali ia menatapku putus asa. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya. dan bergidik. matanya melebar dan persuasif. dan ia berkedip..” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. “Dia akan datang.” katanya.” Aku mencibir. Ia menarik napas dalam-dalam.” katanya. Ia mengangguk.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. dan dia benar. “Senang melihatku bahagia. “Mereka menyukaimu.” gumamku.. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. Aku tak sanggup berkata-kata. “Kau yang menginspirasi ini. “Terutama Esme. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. tapi dia tidak punya masalah denganmu.” Aku melirik ke belakang. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. “Jangan khawatirkan Rosalie. Dan dia agak cemburu. dia pikir aku gila.

” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal..” “Alice tampak sangat. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas..sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku. Setiap kali aku menyentuhmu. “Dan kau takkan menjelaskannya. Tidak sekarang. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami. Dia sangat senang.. djAnGgo 275 .. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa.” katanya dengan bibir terkatup rapat. bersemangat.

“Dia ingin memberitahuku beberapa hal. Ia mengangkat jarinya.“Jadi. sama seperti lantai keramiknya. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. Ia mengikuti arah pandanganku..” Lagu yang masih dimainkannya.” gumamku. tiba di bagian akhir.” Aku mengabaikan gurauannya.. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. “Aku tahu kau pasti memperhatikan. Aku menyekanya. menyeka titik air mata yang tersisa. mengamati tetes air itu lekat-lekat. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. suaranya terdengar arogan. ya kan?” tanyanya. pasti semua ini sangat mengecewakanmu.. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab. malu. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. dan mereka penasaran. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Kemudian. Aku mengabaikannya.” Aku mengangkat bahu. respons yang masuk akal!” gumamnya. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. Ia menyentuh sudut mataku.” “Tamu?” “Ya..” lanjutnya mengejek..” aku mengakuinya. well. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota. mereka tidak seperti kami. “Terima kasih. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. atau minggu. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi.. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu. laguku. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Mereka tahu kami ada disini. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. “Akhirnya. begitu terbuka. “Tidak.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab. “Begitu terang. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. “Tentu saja. memalingkan wajah. tentu saja. 276 djAnGgo . “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu. karena aku akan sedikit.” Aku bergidik ngeri. “Tidak ada peti mati.“Tidak seperti yang kauharapkan. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. Aku menatapnya bertanya-tanya..

ruang kerja Carlisle.” Aku tidak tertawa. “Bisa dibilang ironis. “Kau boleh tertawa. kamar Alice... warna permukaannya yang gelap mengkilat. menertawai ekspresiku yang bingung.. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.” katanya. Tanganku terulus dengan sendirinya. Edward tergelak. djAnGgo 277 . sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan... satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku.“Kamar Rosalie dan Emmett.. Ia bisa saja melanjutkan. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. Aku tidak menyentuhnya.

. Pada masa itu. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota. begitulah cara mereka hidup. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. masih memandangi salib. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell. untuk berjaga-jaga. menurutnya. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. Itu milik ayah Carlisle. werewolf . mengabaikan pertanyaannya. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. dan lebih pintar dari ayahnya. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. pada tahun 1640-an. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. tentu saja”.” Aku tetap menjaga ekspresiku. dia tidak gesit menuduh.” Suaranya sangat pelan. dan lemah karena kelaparan. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Lagipula bagi orangorang awam. Ayahnya berpandangan sempit. “Carlisle lahir di London.. kurang lebih. hanya keluar pada malam hari untuk berburu. “Dia pasti makhluk kuno. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. tapi ia melanjutkannya. “Nostalgia. Dia mengizinkan perburuan penyihir. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. Aku yakin ia memperhatikan. Aku kembali menatapnya.” “Ketika sang pendeta semakin tua. Makhluk djAnGgo 278 . Dia mengukirnya sendiri. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya. Tapi dia tetap ngotot. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. “Awal 1630-an. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. “Tidak. tawanya lebih menyeramkan sekarang. memimpin pengejaran. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. Meski begitu.” jawab Edward.“Pasti sudah sangat tua.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. dan vampir. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle.” aku menebaknya. Saat penganut Protestan mulai berkuasa. Ia mengangkat bahu.

Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. dan ia berbalik untuk membela diri. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. Tubuh-tubuh akan dibakar. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. Dia membunuh dua manusia.” Edward berhenti. dan tak ditemukan. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. djAnGgo 279 . tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. menyembunyikan sesuatu dariku. dan kabur membawa korban ketiganya. tapi yang lain ada di belakangnya. jadi dia berbalik dan menyerang. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri.

“Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. Ia mulai menyusuri ruang besar itu. memamerkan giginya yang sempurna. “Aku baik-baik saja.” ajaknya.” aku menenangkannya. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu.“Akhirnya semua itu selesai.” Senyumnya melebar. tapi tiba-tiba ia berhenti. ayo. sambil menarikku bersamanya. Ia tersenyum. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. “Akan kutunjukkan padamu. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” djAnGgo 280 .” “Beberapa. “Kalau begitu. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa.

dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. di sebuah kursi kulit. “Masuklah. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. Lagi pula. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat.” undang Carlisle. Sungai lebar mengaliri bagian muka. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. kayunya berwarna lebih gelap. “Well. sebenarnya.” kataku meminta maaf. Setiap kali ia menyentuhku.” tambahnya. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. yang hitam-putih membosankan. Dinding-dindingnya bersekat. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran. dr.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. tidak mendengarnya mendekat. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum.16. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. Snow tidak masuk karena sakit. Rumah sakit menelepon tadi pagi. djAnGgo 281 . menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. “Tidak sama sekali. di mana saja terlihat. Aku tersentak. Ia berhenti sebentar di depan pintu. Sebagai ganti rak buku.” kata Edward. “London pada tahun 1650-an. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. “London pada masa mudaku.” jawabnya.” jawab Edward. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. Edward meremas tanganku. meletakkan satu tangannya di bahuku. “Aku mau. sejarahmu. Edward menarikku ke ujung sisi kiri.” kata Edward. beberapa dengan warna terang. jantungku langsung berdebar sangat cepat.

tersenyum pada Edward sekarang. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Carlisle meninggalkan ruangan. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. djAnGgo 282 . Setelah tersenyum hangat ke arahku. Sungguh perpaduan yang aneh. Aku juga waswas.

Ia mengangkat tangan. ” “Segalanya mudah bagimu.” Edward memberitahuku. ” “Tidak. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. dan menjadi lemah.” Edward tertawa. tidak.” Ia tergelak misterius. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku.” Edward mengingatkanku dengan sabar. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. “Tidak. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku.” “Kau. Lanjutkan..” Mulutku membuka hendak bertanya. “Aku takkan menyelamu lagi. mencari tempat paling sepi. kau sudah janji. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. Dia belajar pada malam hari. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. dengan puncak gunung di kejauhan. tapi aku berkeras. kami tidak berlu bernapas. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. dan sangat kuat. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami. membenci dirinya sendiri. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. nalurinya bertumbuh makin kuat. dan menyelesaikan kalimatnya. “dia melawannya. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. memangsa. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. sadar tekadnya mulai melemah.” gumamku. suaranya datar.” kata Edward pelan.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. Sejalan dengan waktu.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. padahal ia masih begitu baru. “Karena secara teknis.. yang sedang mengamatiku.” kataku kagum. mendongak menatap Edward. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya. janji. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya. bekerja di siang hari.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. memindahkannya ke leherku. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. Bella. tapi kata itu meluncur begitu saja. Jantungku bereaksi terhadap hal itu. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. wajahnya kesal. “Akhirnya dia sangat kelaparan. Ia menunggu.. mengambil alih segalanya. Dia menemukan jati dirinya lagi. Dia pandai dan selalu ingin belajar.. Tapi itu tidak mudah. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram. Dia berenang ke Prancis dan. “Kurasa itu benar.. tapi ia menduluiku. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. djAnGgo 283 . “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri..“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya.

djAnGgo 284 . itu tidak perlu. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman..” Ia mengangkat bahu. entahlah. “Berapa lama kau tahan.” “Agak tidak nyaman. Hanya masalah kebiasaan. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas.” ulangku.“Tidak..

yang satu lagi berambut putih bagai salju. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. Kemudian kau akan menjauh dariku. hanya beberapa dekade. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani. lalu tersadar. metanya menatap lekat wajahku. kembali lagi ke ceritanya. “Aku takkan menghentikanmu.” Ia berhenti. lari sambil menjeritjerit. Marcus. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. aku juga ingin bersamamu. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. dan yang paling besar.” Ekspresinya penuh kekaguman. “Aro. memperkenalkan tiga lainnnya. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam.” aku berjanji padanya.” Ia setengah tersenyum. “Ada apa?” aku berbisik. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. “Jadi. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. “Aku terus menunggunya terjadi.” katanya. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. ke universitas-universitas di sana. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. Keheningan terus berlanjut. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. yang bingkainya paling penuh ukiran. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. hormat. seraya tertawa kaget. tersenyum lagi. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. “Aku takkan lari kemana-mana.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku.. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. Pada malam hari dia belajar musik. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. “Penjaga malam di gedung seni. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka.. kedokteran. “Carlisle berenang ke Prancis. Aku merengut. menyentuh wajahnya yang membeku. “Kita lihat saja.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. Caius.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. “Mereka masih disana. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu. ilmu pengetahuan.” katanya. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain. dan terus ke Eropa. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 .” Edward tertawa. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. tapi tatapannya serius. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. Carlisle berenang ke Prancis. dan ia mendesah. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. dua berambut hitam. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Meski begitu. Menunggu. lanjutkan.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi.” Ia mengangkat bahu.

dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. begitulah mereka menyebutnya. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. Dia sangat kesepian. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. djAnGgo 286 . Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. keduanya sama-sama tidak berhasil. seolah-olah dia salah satu dari mereka. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. kau tahu. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. Mereka mencoba membujuknya. kehalusan budi bahasa mereka.keberadaban mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan.

“Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. nyaris berbisik sekarang. laki-laki di belakangnya. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. Tak ada harapan untukku. bukannya ketakutan. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. kalau aku menyelamatkan gadis itu. jadi aku bertanya. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. “Sejak kelahiran baruku. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. lebih keras daripada sebelumnya. gadis yang ketakutan. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. “Hampir selalu. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. “Hampir selalu?” Ia mendesah. memelan. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku.” “Sungguh?” Aku terpancing. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. seperti yang seharusnya kurasakan. dia akan menciptakannya. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. Aku menungguu dalam diam. dan tahu aku sebatang kara. Ia bisa merasakannya.” Ia tertawa. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Aku tidak menyukai caranya berpantang. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. “ Well. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. baik manusia maupun bukan manusia. Dan Edward. tampak enggan menjawabnya. terserah bagaimana kau menyebutnya. tak djAnGgo 287 . berhubung dia tak bias mendapatkan teman. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle.” Aku gemetaran. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. Edward yang sedang berburu. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. Dia telah merawat orangtuaku. jadi dia merasa ragu. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. lorong pada malam hari.“Ketika epidemi influenza merebak. Ketika ia kembali padaku.” gumamku. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. maka tentunya aku tidak sejahat itu. di lorong berpanel lainnya. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang.” ia menyimpulkan. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku.

Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. aku mulai melihat monster dalam diriku. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. Mereka menyambutku secara berlebihan. Lebih daripada yang layak kudapatkan. Apakah gadis itu berterima kasih. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu. “Kamarku. djAnGgo 288 .” ia memberitahu. membuka dan menarikku masuk. tak peduli apapun alasannya.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu.terhentikan.

Ternyata aku menyukainya. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. Sebenarnya.” kataku.” katanya setengah melamun. setengah membungkuk. “Mmmm. Setelah kau mengetahui semuanya. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. kan?” aku menebak.Kamarnya menghadap ke selatan. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. tegang seperti singa yang siap menerjang. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. Aku berbalik. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku.” ia tergelak. balas tersenyum. jelas-jelas tidak percaya. terlalu cepat. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. alisanya terangkat. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. berdasarkan tahun. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. nyaris menyentuhku. Tapi kemudian. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Ia berhenti. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu.” Ia mengangkat bahu. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. Ini membuatku… bahagia. “Kau tidak akan melakukannya. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Ia mengeram dengan suara pelan. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. “Aku benci menghancurkan harapanmu. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. Aku mundur darinya. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. tersenyum samar. djAnGgo 289 . ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. dan ia mengangguk. menatapnya nanar. Suaranya pelan. Ia tergelak dan mengangguk. “Aku senang. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya.” aku berbohong. Tidak ada tempat tidur. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. Ia tidak mendengarkan. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.

” Aku berusaha bangkit. sangat menakutkan. Aku menatapnya ngeri. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya. “Jauh lebih baik. “Mmm. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.Ia tidak membiarkanku.” kataku. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik.” ia menyetujuinya. matanya berkilat-kilat penuh canda. “Kau monster yang sangat.

Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara. Aku bisa melihat bahwa itu Alice. “Kau akan menonton. di pintu masuk. tapi konteksnya membuatku bingung. Aku berjuang melepaskan diri. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong. wajahnya bersemangat. gerakkannya sangat anggun. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu.” Edward masih menahan tawa. Akan cukup kering di hutan. “Tentu. tapi ia ragu. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. rasanya aku tak ingin berbagi.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. “Badai akan menghantam kota.” seru Alice.” goda Jasper. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya.” Alice terdengar cukup yakin. “Maaf. ia berjalan.” Aku tak mungin mengecewakannya.” Seperti biasa.” Edward meralat. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu.” kata Jasper. Mata Edward berkilat-kilat. aku tak dapat mengatakannya. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau.” Aku memutar bola mataku. Pipiku merah padam.” ujar Alice. bagus. Aku mendapati diriku bersemangat. djAnGgo 291 . sampai aku menyadari Edward tersenyum. “Sebenarnya. dan Emmett ingin bermain baseball. “Seperti kau tidak tahu saja. “Tidak. Tubuhku langsung kaku. ke tengah ruangan. “Kita akan main apa?” tanyaku.” ia berjanji. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. entah karena komentar Alice atau reaksiku. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. tersenyum sambil memasuki ruangan. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. dan mereka langsung berlalu. “Mmm.” jawabnya.Ia hanya tertawa. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. nyaris menari. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. kau akan tahu kenapa. ekspresinya agak terkejut. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. dan Jasper berdiri di belakangnya.” “Kalau begitu.” ejeknya. “Kami yang akan bermain baseball. kelihatan senang. “Silahkan. bukannya ketakutan. semangat dalam suara Jasper menular. Ia menatap wajah Edward. tapi Edward nampak santai.

djAnGgo 292 .

membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. Anak itu tidak tahu apa-apa. diparkir di pelataran parkir Charlie.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. Jacob mengawasi. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. Meskipun begitu. Suara Edward yang dalam terdengar marah. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. dan aku memandang ke teras. Jacob. Jantungku melompat tak keruan.” “Belum lama. djAnGgo 293 . ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. “Segera. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. “Hei. Ia memutar bola matanya. “Ini sudah kelewatan.” ia berjanji. ekspresinya mematikan.” sahut Billy tenang. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Edward hanya mengangguk. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. Kemudian aku melihat mobil hitam. kemudian ia membungkuk. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku.” Ia tersenyum lebar. berhati-hatilah. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. “Oh. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang. kemarahannya langsung lenyap. “Barangkali itu yang terbaik. Ford using. “Charlie pergi seharian.” “Kau tidak perlu pergi. Ia memandangku.” aku mengingatkan. sekilas mengecup pangkal rahangku.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. Billy. Tatapan tajam Edward membuatku waswas. “Sebenarnya memang tidak perlu.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. Setelah kau menyingkirkan mereka”. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. lebih ketakutan daripada marah. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. memamerkan seluruh giginya.” perintahnya. “Aku akan segera kembali. “jadi aku bisa pergi. “Ajak mereka masuk. Aku akan kembali sekitar senja. “Terima kasih banyak. “Biar aku yang mengurusnya. suaranya pelan dan parau. Wajah Billy tak lagi datar. Aku mengerang.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan.” usulku. aku tahu. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. Hai. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata.” kataku sedih.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan.” ia meyakinkanku dengan senyuman.17. Matanya kembali melirik teras. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya.

” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya. “Terima kasih.” kataku. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.“Aku hanya mau mengantar ini.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu. djAnGgo 294 . meskipun tak tahu apa isinya. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.

“Mari.” “Dimana?” Jacob bertanya. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. tapi tidak mengatakan apa-apa. matanya berbinar.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. Ia sedang menunggu. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen.. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. tapi ia menunduk menatap lantai.” jawab Billy.” aku cepat-cepat berbohong. suaranya murung. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.” ujarku tegas. biar kusimpankan untukmu. kesukaan Charlie.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. “Bella.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. “Memang benar. wajahku menegang. jadi aku berbalik menuju dapur.” Suaraku nyaris kasar. “Jake. diam. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. kemudian ragu-ragu. matanya serius. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.” ujarku memberi isyarat. matanya waspada. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. “Kau kelihatannya. berbalik untuk menutup pintu. dan itu membuatnya berpikir.” katanya. Ia terkejut. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. “Bella.” “Sebenarnya..” Ia mengangkat bahu. Matanya menyipit. masih mengamatiku. dan berbalik menghadapnya. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening.” Ia menyadari perubahan ekspresiku. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah.” timpalku. aku mengetahuinya.” ia menyetujuinya. namun kali ini bersungguh-sungguh. Ia terus mengangguk. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi.” katanya lagi. djAnGgo 295 . dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini.” “Ya. “Charlie salah satu sahabatku. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. “Itu memang bukan urusanmu. Aku memandangnya.” “Ya. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. Ia mengangguk setuju..” kembali aku menjawab dengan ketus. “Terima kasih. Aku menunggu. Setelah beberapa saat. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. alisnya bertaut. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan.” “Kau benar.” katanya. “Charlie pulang larut.” Jacob kembali menembus hujan. Kulkas akan membuatnya lebih kering. “Barangkali ini bukan urusanku.. Tapi aku tidak tahu dimana. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” “Bukan.” aku menawarkan diri.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan. “Masukkan ke kulkas. “Dia ke tempat baru.” aku mengulanginya.

” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. tapi sorot matanya tajam.” Aku menatapnya. djAnGgo 296 .” ia mengalah. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.cukup tahu tentang keluarga Cullen. Lebih tahu daripada yang kuduga. “Mungkin.

terengah-engah. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. Aku diam di tempat. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. “Halo?” tanyaku. “Hmm.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. “bahwa kami mampir. Wajahnya menekuk. “Bella? Ini aku. “Well. maksudku. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya.” Billy bergumam.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku.” Jacob tampak kecewa.” katanya. Bella.” timpalku. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. Tapi sepertinya ia mengerti.” Aku menatap matanya. “Itu bukan urusanku.” Aku mendesah lega.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen.” desaknya. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. Bella. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah.” akhirnya ia menyerah.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. “Maksudku. Segera saja aku menyerah memilih pakaian. djAnGgo 297 . barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. tak yakin apa yang menantiku malam ini. Aku tak menyahut. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. “Terima kasih. Ketika ia berbelok di sudut. kukenakan atasan flanel usang dan jins. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. “Oke.” aku buru-buru menimpali.” “Well. beritahu Charlie”. Jacob terkejut. Ekspresinya tidak senang.” “Akan kusampaikan. “Oh. yang baru saja lewat jadi tidak penting. “Kurasa itu urusanmu juga. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. “Hebat.” “Tentu.” sahutku membentengi diri. Billy. Bella. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku. yang lainnya akan membuatku kecewa.” Billy mengingatkanku. “Jaga dirimu. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. kurasa sampai ketemu nanti. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. dan aku melompat mendengarnya. “Tapi mungkin urusan Charlie.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. satu-satunya suara yang memecah keheningan. Aku berdiri di lorong sebentar. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya.” kata Jessica.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. tapi tidak terkejut. “Ya. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap.” gumamku. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. Aku melambai sebentar. dan tak ada yang bisa kukatakan. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.

ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. hei.“Oh. “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Jess. tapi tidak mudah djAnGgo 298 . Tak perlu dipancing lagi.

Mike.. “Itu kesukaanku.. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. masih jengkel karena aku kurang menyimak.” serunya marah. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. Jess mendengar suara Charlie.” aku meralatnya. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. kita ngobrol besok. yang seperti dewa. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu. yang rambutnya cokelat kemerahan. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. “Tunggu. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja.” Ia berhenti. “Kami sama-sama murid junior. “Dad. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. ya?” “Edward adalah yang paling muda. “Hai. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. “lebih baik. sekolah. “Yeah..” kataku.. meletakkan peralatannya.” Aku tagu. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria.” kataku.. “Edwin itu yang mana. Tak apa. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya.. Sampai ketemu di kelas Trigono. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. Jessica. Cullen?” ia bertanya. membuyarkan lamunanku. “Maaf.untuk berkonsentrasi. djAnGgo 299 . Jess. “Hei.. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. “Oh.” Charlie menjatuhkan garpunya. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. Mataku terus menatap jendela. apa?” “Kubilang. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku. Bella?” tanya Jess jengkel. “Jadi. kaget. “Kaudengar apa yang kukatakan. well. “Tidak ada. sebenarnya. sungguh.” “Sampai ketemu. “Mmm. “Well.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi.” Aku menutup telepon. sore ini aku di rumah saja. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. Jess. “Oh. “Well.. tapi perutku seperti berlubang. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. “Rumah dr.” Yang tampan. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. pesta dansa. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. Charlie menikmati makanannya. Dad. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica.” Aku berusaha terdengar bersemangat. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. O-Oh. Aku melambai padanya. ayahmu ada. makan dalam diam.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam.” Bukan sepanjang sore. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus.

Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Dad. dewasa untukmu. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya. tapi dia kelihatan terlalu.kurasa... tidak?” djAnGgo 300 .” “Ya.

kemudian akhirnya tergelak.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini. dan Edward ikut tertawa. Mereka mengikuti.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. kau tahu.” Faktanya. Charlie. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.” lanjutku. barangkali kebanyakan aku menonton. “ini baru tahap awal.” Aku meringis. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar.” ia mengamatiku curiga. “Kau bermain baseball?” “Well.” Charlie tertawa. Lagipula. Ayo kita pergi. begitulah rencananya. “Lagipula.” “Silahkan duduk. Dad.” “Jangan khawatir. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. Ia mengedip di belakang Charlie. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. di sebelah Charlie. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. “Oke. “Jadi. Sir.” “Terima kasih.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. panggil saja aku Charlie. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut. Kau sudah terlalu memanjakanku. Sir.” Tapi ia mengambil garpunya lagi. aku bisa mencucinya malam ini. “Tinggalkan saja piring-piring itu.” Bel pintu berbunyi. “Well.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. Edward.“Kurasa bisa dibilang begitu. ia mungkin saja mendengarkan.” sahut Edward dengan suara penuh hormat. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. “Aku mendesah dan memutar bola mataku. “Terima kasih. “Kaujaga putriku baik-baik. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. Bell.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. “Jangan pulang terlalu larut.” Edward berjanji. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. Edward. Edward tidak tinggal di kota. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. “Well. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.” Wajahnya cemberut. “Oh.” Aku bangkit berdiri. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. memaksaku duduk di sofa. Sini. kusimpankan jaketmu.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Kepala Polisi Swan. “Sudah cukup menertawakanku. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. “Ayo masuk. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. “Ya. oke?” djAnGgo 301 . hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak.

tapi mereka mengabaikanku. aku janji. Mereka tertawa.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. Sir. djAnGgo 302 . Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. dan Edward mengikutiku. “Dia akan aman bersamaku.Aku mengerang. yang terdengar pada setiap kata-katanya.

“Itu perlengkapan keselamatan off-road. Bella. Charlie bersiul pelan.” jelasnya. di belakang trukku. mmm. Aku menatapnya. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. “Ini. atau buruk?” tanyaku hati-hati. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. tapi tidak mudah. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. Kami berlalu meninggalkan rumah. Atapnya merah mengkilat. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. bingung. Ia tersenyum tegang.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. melawan rasa panik. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Ia mendesah. selalu keduanya.. kita harus jalan kaku dari sini.” djAnGgo 303 .” “Pejamkan saja matamu. kemudian mengerang. tersenyum lebar sepanjang jalan..” sahutnya tercekat.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. Ia mendesah. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. “Kau tidak akan berlari. Tapi terlalu banyak kaitan. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. “Kenakan sabuk pengamanmu.” “Oh-oh.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. Lalu aku tiba-tiba mengerti. Disana. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. kau akan baikbaik saja. “Dalam artian yang baik. “Keduanya. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. setiap detik semakin pelan. Hujan tinggal gerimis.Aku berhenti tiba-tiba di teras. tampak Jeep berukuran sangat besar. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah.” “Aku bakal mual. dan langit tampak lebih terang di balik awan. “Maaf. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin.. Jeep-mu besar sekali. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. Kemudian kami tiba di ujung jalan. “Kau harum sekali ketika hujan. Ketika ia beralih ke jok pengemudi. dalam langkah manusia normal.” Kugigit bibirku.” “Ini punya Emmett. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep.. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. menyusuri tulang selangkaku. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap.

Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. dan menuju sisiku dalam kelebatan. kau terus saja. djAnGgo 304 .” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja. “Biar aku yang melakukannya.” protesku.

“Bella. “. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. menyerah. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. ” aku menelan ludah.” aku terengah.” desahku. berhenti tepat di sudut mulutku. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu.” Aku berjongkok. “Mual..” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. Bella!” ujarnya terengah-engah. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya.” katanya. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. dengan mudah melepaskan cengkramanku. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku.” aku mendesah. menabrak pohon. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. dengan hati-hati. mm. “Sialan. kan?” “Tidak. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. “Semacam itu. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. di bawah lenganku sendiri. dan memejamkan djAnGgo 305 .” gumamku. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual. Alice benar. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat.. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya.” geramnya. Kemudian mual. “Kaulihat. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. dan sekarat.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. Ia tergagap mudur.” Ia menahan senyum. tapi aku mungkin.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. ya kan?” “Tidak. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. tapi tak ada yang bisa kulakukan. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku.“Hmmm.” desahnya. “Pepohonan. Bukannya tetap diam dengan aman. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar.” Menggunakan hidungnya.” Aku berusaha berkonsentrasi. aku bersumpah. Aku mendesah dan mengangkat bibirku.” ia mengingatkan dengan nada kasar. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. “Nah. bibirnya bergerak di bibirku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. memaksaku menempel ke pintu. “Ya. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. Nyaris tak berembun sekarang ini. wajahnya hanya beberapa senti dariku. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. “Kau tidak bisa mati.” Sebelum aku bereaksi. “Kau akan menjadi alasan kematianku. berusaha mengatur napas. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Aku tak bisa melepaskan diri. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. “Tidak. dan menciumku sepenuh hati.

Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku.mata. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak. gerakannya terlalu halus.

“Jangan. Bella.mengintip.” aku berkeras.” “Tapi kau baru bilang. percaya. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. Merasa jengkel.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. kelambananku. ” “Aku tidak marah pada mu. “Aku tidak marah padamu. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. seluruh selera humornya lenyap. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. tapi aku menahannya. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. Aku bangkit berdiri. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. Ia menangkapku lagi. aku harus bisa. “Ya. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani.” “Lalu kenapa?” bisikku. begitu juga kata-katanya. “Karena selalu membahayakan dirimu. “Kau mau kemana. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. “Sudah sampai. “Oh. aku tak dapat menahan diri. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. “Aku takkan pernah marah padamu. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. kami sudah berhenti. “Kau marah. “Jangan marah.” Aku memberanikan diri membuka mata. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. aku mulai melangkah ke dalam hutan. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu..” katanya lembut. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku.. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu.. Tidak bisakah kau melihatnya. frustasi akan kelemahanku. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. tapi ia menangkapku dengan cepat. alisku terangkat.” djAnGgo 307 . ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu.” “’Bella. Ia menatapku tak percaya.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. dan ia pun tertawa terbahakbahak.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. dan cukup yakin. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku.” “Kau berjalan ke arah yang salah.. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. mendarat di punggungku. hangat. Aku harus lebih kuat. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras.

Ia meraih tanganku. dalam begitu banyak katakata. “Aku mencintaimu. namun meletakkannya di wajahnya. tapi itu masih benar. Ia mungkin tidak menyadarinya. memindahkannya dari bibirnya. djAnGgo 308 . “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. tapi aku tentu saja menyadarinya.” katanya.” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku.

kemudian pecah di barat kota. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. Luasnya dua kali stadion baseball. kumohon bersikaplah yang baik. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. setelah mengacak-acak rambutku. Lalu mendesah. setidaknya jaraknya seperempat mil.” ia melanjutkan. Perutku langsung mual. Ma’am.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. kecuali satu tanganku. Esme. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.” “Ya. Larinya lebih agresif. Alice berlari bagai rusa. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. atau menari ke arah kami. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. “Menyeramkan. Begitu ia berbicara. Aku diam tak bergerak. “Ayo.” Emmett membenarkan. berkilat-kilat. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. gelisah. tapi aku tak melihat bolanya. “Kedengarannya seperti beruang tersedak.“Sekarang. Emmett. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. dan kami pun sampai. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. “Itu memang dia. “Kaukah yang kami dengar tadi.” ia menjelaskan.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. “Ayo. “Tidak. Emmett. “Sudah waktunya. dan Rosalie bangkit berdiri. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. mungkin jauhnya seratus meter. mengejar kedua saudaranya. tatapannya bersemangat. Esme. menembus semak-semak yang basah dan padat. dan dengan cepat ia mendahului mereka. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. Aku mencoba terdengar bersemangat. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku.” ia mengumumkan. tim!” Ia mengejek dan. lebih mirip cheetah daripada rusa. cepat-cepat membalasku. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. aku lebih suka menjadi wasit. “Kalau begitu. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . sambil mengedip padaku. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward.” Edward menjelaskan. Esme menghampiri kami.

Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. djAnGgo 310 . apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak.” gumamku.” “Anda terdengar seperti ibuku.” aku tertawa. “Ia juga tertawa. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala.mendengarnya. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. “ Well. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. terkejut. terkejut.

Esme menghentikan langkah. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. “Kaulah yang diinginkannya.” Ia tampak bersimpati. Sayang. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan. seolah-olah tak bergerak. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu.” “Kalau begitu. “Out!” Esme berteriak lantang. tangannya yang terangkat menggengam bola. “Baik.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. aku sedih melihatnya sendirian.” seru Esme lantang. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. menggelegar. makhluk kecil yang malang. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan...” aku bergumam. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. Entah bagaimana.“Ya. “Emmett memukul paling keras. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. tapi saat ia mengambil posisi.” ujarku terbata-bata. Bunyi pukulan itu menggetarkan.” Alice berdiri tegak. melayang menembus hutan yang mengelilingi. kau tahu. djAnGgo 311 . Kemudian tangannya mengayun lagi. dan kemudian. sejauh apa pun posisinya. “Tunggu. Carlisle membayanginya. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. “Ke posisi masing-masing. mendengarkan dengan saksama. “Edward putra baruku yang pertama. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. Gelegar petir terdengar lagi. “tapi Edward berlari paling cepat. satu tangan terangkat.” ia memberitahu. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. Gayanya tampak licik daripada mengancam.” tambahnya terus terang. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. Aku tersadar Edward menghilang. Alice tersenyum sebentar. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. dan Alice memegang bola.” Esme mengingatkan. katanya. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. “Selalu sang pria sejati. meskipun dahinya berkerut waswas. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. kembali ragu-ragu. “Kalau mereka tidak memukulnya. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. baru disebut strike. bayi pertamaku dan satu-satunya.” Ia tersenyum. “Home run.” ia mendesah. pasti akan ada jalan keluarnya.” Ia tersenyum hangat padaku. Aku selalu menganggapnya begitu. “Itu menghancurkan hatiku. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan.” jelas Esme. meskipun dia lebih tua dariku. itu sebabnya aku melompat dari tebing. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. bagai serangan kobra. menggema hingga ke pegunungan. Anda tidak keberatan?” aku bertanya. setidaknya dalam satu cara. “Bahwa aku. Aku menunggunya menghampiri home base . sebagai anggota tim lawan.

Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. Ia berlari cepat ke sisiku. djAnGgo 312 . tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. ketika Edward menangkap bola ketika. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. “Safe. Aku melompat dengan waswas.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. memukul bola mati ke arah Carlisle. wajahnya memancarkan rasa senang. Ketika mereka bertabrakan.

menjaga bola tetap rendah. “Tidak. menuju base.” Wajah Edward geram. “Kenapa?” tanyanya. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. Ketegangan menyelimuti wajahnya. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. “Kurang dari lima menit. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. Mataku tertuju pada Edward. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya.” bisiknya. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira.” ia tertawa.” gumamnya. “Giliranku. “Aku tidak melihat. Ia bermain pintar. djAnGgo 313 . Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. bingung. Tiba-tiba Alice terkesiap. “Alice?” suara Esme tegang. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. “Ada apa. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. “Well. membuatku kehabisan napas. mereka ingin bermain. “Apa yang berubah?” tanyanya. Alice ber-high five dengan mereka. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. bebalik menghadap Edward.” katanya menyesal. tidak sambil menggendong. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. aku tak bisa mengatakannya. Petir terus bergemuruh. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. Jasper mendekati Alice. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang.” godaku. “Mereka mendengar kita bermain. “Yang jelas. Semua sudah berkumpul.” “Tiga. dan itu membuat mereka berbelok.” katanya. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. posturnya protektif. kemudian berpaling. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. “Biarkan mereka datang. “Lagipula. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi.” jawab Alice singkat. matanya kembali berkilat-kilat memandangku. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. “Aku agak kecewa. Mereka berlari. seperti biasa. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. ” Ia terdiam.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan.

Suaranya tenang dan datar.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. “Alice bilang.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. Hanya Emmett yang tampak tenang. Carlisle berpikir. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah. mereka hanya penasaran.” akhirnya Carlisle memutuskan.

Bella. “Uraikan rambutmu. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai.” gumamnya enggan.” Aku mendengar napasnya berhenti. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. mata dan pikirannya menerawang ke hutan. Rosalie. Tatapannya tanpa ekspresi. Yang lain kembali ke lapangan. Detik-demi detik berlalu.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.” katanya. dan Jasper berdiri di tengah lapangan.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. jangan bersuara. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Carlisle. “Cukup untukku. Esme. “Yang lain berdatangan sekarang. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. dan Emmett. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. “apakah mereka haus. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.” gumamnya marah. “Kau yang menangkap. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. Carlisle berdiri di base. “Itu takkan membantu. menutupi wajah.” Dan dia pun berdiri di depanku. Ia menarik rambut panjangku ke depan. kumohon diamlah. tapi toh aku dapat menangkapnya. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Aku sungguh menyesal. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. Aku mematuhinya.” “Ya. djAnGgo 315 . dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati.” “Aku tahu. jangan bergerak dari sisiku.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. dan yang lain berpaling ke arah yang sama.” kata Alice lembut. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. “Maafkan aku. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Emmett. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Ia setengah melangkah.

18. Matanya. djAnGgo 316 . anggun. Mata mereka juga berbeda. meskipun diam. memamerkan gigi putihnya. Ketika mereka mendekat. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. entah mengapa tampak paling waspada. Langkah mereka pelan. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. tapi kalah jauh dari Emmett. Yang ketiga wanita. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. terpisah-pisah sejauh 12 meter. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. Laki-laki yang pertama langsung mundur. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. Ia tersenyum ramah. ototnya kekar. Sambil masih tersenyum. Kedua laki-laki itu berambut cepak. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. rambutnya hitam mengkilap. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. dan tanpa komunikasi yang kentara. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. dan mereka bertelanjang kaki. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Postur tubuhnya sedang. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. Si perempuan lebih liar. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka.

ini Victoria dan James. “Disini. Emmett dan Jasper.“Kami kira kami mendengar permainan. Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Esme dan Alice. kami baru saja selesai. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Aku terkejut ia menyebut namaku. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. di Olympic Range. “Sebenarnya. Rosalie.” “Tidak. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. Edward dan Bella. “Aku Carlisle. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. “Aku Laurent.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. Ini keluargaku. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.” djAnGgo 317 .

semata-mata hanya terkejut. dan laki-laki kedua. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. Perlahan James menegakan tubuhnya. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. Kalian mengerti.” Laurent mengangguk. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. balas siap menerkam. menggeram penuh ancaman. hidungnya mengendus-endus. Rambutku berantakan ditiup angin. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri.”protes Laurent.” Carlisle menjelaskan. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James.” Ia tertawa.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. “Tentu saja.” Senyumnya ramah. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. Lagipula. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. “Tapi dia manusia.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. “Dia bersama kami. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. nada suaranya lembut. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. James bergerak sedikit ke samping. Ketika Laurent bicara. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. “Kumohon jangan tersinggung.” Carlisle menambahkan dengan tenang. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. bengis. James. “Kalian membawa snack?” tanyanya. Edward memperlihatkan giginya. cuping hidungnya masih mengembang. tubuh Edward menegang. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya.” djAnGgo 318 . Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga. matanya tertuju pada James. “Ya. “Ceritanya agak panjang. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. tiba-tiba memutar kepalanya. mengamatiku. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. Emmett dan Alice.

“Ayo. tentu saja.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. Esme?” panggilnya. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. Rosalie. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. djAnGgo 319 . Seperti kataku. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul.” Suara Carlisle masih tenang. Bella. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. “Dan.” Suara Edward pelan dan lemah. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. Jasper. “Akan kami tunjukkan jalannya. “Tapi kami ingin menerima undanganmu. Mereka mendekat. dan Emmett mundur perlahan. kami takkan melukai perempuan manusia ini.“Tentu. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria.

” “Aku harus.” Ia tidak menoleh ke belakang. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. dan sama sekali saia-sia. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. “Tidak! Edward! Tidak. “Menepilah. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. kau tidak boleh melakukan ini. sekarang kumohon diamlah. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. sekarang. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. dan Edward menyalakan mesin. “Emmett. menjauh dari Forks. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. “Kita mau kemana?” aku bertanya. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. jauh sekali. Kami tiba di jalan utama. masih terkejut karena ngeri. “Pasangkan sabuk pengamannya.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela.” Suaranya dingin.” kata Edward dingin. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. Bella. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku.” djAnGgo 320 . Tak ada yang menjawab. menyembunyikan diriku. “Tidak demi aku. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. yang lain tak bisa mendahuluinya. Dan kami menuju ke selatan. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan.” ia memerintahkan Emmett. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. Edward. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. yang lain tak mau menjauh darinya. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. Aku terus menundukkan kepala. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Alice telah berada di jok depan. dan meskipun laju kami bertambah cepat. “Sialan. Bella. matanya terpaku ke jalan. Bahkan denganku di punggungnya. berputar menghadapi jalanan yang berliku. Aku memberontak. yang menyelinap masuk ke sebelahku. Alice berbicara untuk pertama kali.

Alice. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya. djAnGgo 321 . Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. “Menepilah.Edward menatapnya marah. Edward. “Kau tidak mengerti. kemudian menambah kecepatan. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku.” Nada suara Alice tenang. aku ingin memahaminya.” ia mengerang frustasi. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. Jarum spidometer bergerak melewati 120. “Dia pemburu.

terkesiap.” Mereka menatapku. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. “Aku tidak melihatnya menyerang. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan. akhirnya terpancing juga.” “Dan yang perempuan. “Kita harus membawanya kembali. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku.” sahut Edward mantap. Berburu adalah hasratnya. Aku memecahkannya. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. Dia akan mencoba djAnGgo 322 .” Emmett akhirnya berbicara.” kata Alice pelan. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan.” Emmett tersenyum. murka. si pemimpin akan turun tangan juga. Alice memelototinya. Alice. “Dia benar. “Aku juga bisa menunggu. Aku memandang marah dan melanjutkan.” “Dia akan menunggu. secara spesifik. lebih drastis. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. suaranya mengeram. “Bisa saja berhasil. Jeep kembali melambat. Bella. Sekali memutuskan untuk berburu. “Tidak ada pilihan. sungguh. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol.” “Jumlah kita cukup banyak. Kukemasi barang-barangku. “Dengar. dan terhempas lagi ke jok.” “Dia bukan tandingan kita. dia takkan bisa mengalahkan kita. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella. ” Edward menginterupsi.” Alice berpikir sebentar. “Terlalu berbahaya. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix.” “Tidak. Edward.” “Kau tidak mengerti.“Lakukan.” aku memohon.” potong Edward. Alice. “Itu sebuah pilihan. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau.” Emmett tampak sangat percaya diri. Semua menatap Edward. Kalian tahu itu. Ia benar-benar mengabaikanku. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. Aku terdorong ke depan. “Tidak. dan dia menginginkan Bella. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. Dia bersamanya.” “Itu pilihan lain. “Tidak. dia tak tergoyahkan.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan.” desis Edward.” “Dia tak tahu kemana. Jeep sedikit melambat. Dia takkan bisa menyentuhnya. “Bukan ide yang buruk.” bujuk Alice.” kata Alice. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap. “Bawa aku kembali. “Edward. Kita harus membunuhnya. Dia memulai perburuannya malam ini. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. “Bawa aku kembali. pilihan.” geram Edward. Edward berbalik padanya. ada.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. Edward. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. baru kita lari. obsesinya. Aku melihat pikirannya.” kata Alice.” “Dengar.” Aku terkesiap.

menunggu kita meninggalkannya sendirian.” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.” djAnGgo 323 .

“Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. “Kau akan membawanya pulang. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata. dia memang benar. “Tidak akan. Ia tidak mendongak. Charlie bukan orang bodoh. Dia akan berpikir kau bersamaku. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. “Kau akan pergi malam ini. “Emmett?” Aku bertanya. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. Sesampainya di rumah Bella. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. dimanapun kau berada. Kemudian dia punya waktu 15 menit. dengarkan dia. dia bakal curiga. kau ambil truk Bella.” kataku.” katanya. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. sekali ini saja. Apapun masalahnya dengan Alice. “Inilah yang akan kita lakukan. maaf.” protesku. suaranya terdengar terluka.” aku melanjutkan. kau tak tahan lagi berada di Forks.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. mengertakkan giginya. Katakan pada Charlie. terlihat terkejut lagi.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. suaraku jauh lebih pelan. Sepertinya Edward tidak mendengarku. “Bella. “Edward. Suaranya terdengar pahit. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. Ceritakan apa saja agar dia percaya. “Kalau si pemburu ada disana.” Alice menimpali.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. djAnGgo 324 . kemudian masuk ke trukmu. dan ia memutarnya. kecuali bunyi deru mesin. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. “Aku tak bisa melakukannya.” kata Alice yakin. Edward sepertinya setuju. sekarang ia tak meragukannya lagi. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. Alice.” desaknya. “Emmett.” Emmett menyela. Emmett.” Ia menatapku geram dari kaca spion.” “Tidak. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. Ia mendengarnya. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi.” Ia melepaskannya.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang.” Emmett melihat ke arahku.” “Ya.” Jeep menderu menyala. Kami akan memastikan dia aman. Ketika bicara.” kata Alice tenang.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. “kita tidak akan berhenti.” “Pikirkan lagi. “Kalian semua takkan muat di trukku.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. “Aku ikut kau. aku tidak mau. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle.” Edward mendesah. bannya berdecit-decit. Setelah dia keluar. kumohon lakukan saja dengan caraku. “Oh. Kemasi apapun yang bisa kau ambil.” Aku berusaha terdengar tegas. “Kupikir dia benar. “Kumohon. kau berjaga di luar rumah. Kau punya waktu 15 menit. “Dengar.” aku berbisik. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. Lalu Edward berbicara lagi.” “Itu tak ada hubungannya. dan itulah yang terpenting. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan. menatap lurus tanganku. aku ikut kau.” Suara Edward dingin. “Emmett juga harus tinggal. kalau si pemburu tidak ada disana.

tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya.” Edward mengulangi kata-katanya.” sahut Alice. “Menurutmu.” “Aku tak bisa melakukannya. “Jasper dan aku akan membawanya. djAnGgo 325 . Akal sehatnya mulai bekerja.” timpal Alice. Edward menatap Alice tak percaya.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal. aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak.

“Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya.” Tentu saja. kami akan menemaninya. sendirian di rumah. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. dan mencoba untuk berani. menelan ludah. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. “Menemuimu dimana?” “Phoenix.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya.” “Aku sepertinya menyukainya.” Alice mengingatkan.” “Aku takkan pulang. Emmett. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. Kau mengerti?” “Ya. djAnGgo 326 ..” Suara Edward terdengar sangat lembut. Aku langsung meringkuk ketakutan.” sahutku. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. beberapa hari. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. dalam segala hal. Aku benar. Dia telah bekerja dengan sangat. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. dia akan terluka. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. Edward.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. senyumnya mengembang perlahan. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan.” “Edward.” “Dengar. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Edward tersenyum padanya. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. Lalu datanglah dan temui aku. Aku memikirkan Charlie. “Bella.” aku memberitahunya. dan buat perburuan James ini berantakan. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini. bisa kurasakan bulu kudukku meremang. “Tetaplah disini selama seminggu.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James.” Emmett tergelak.. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. kemungkinan besar akan ada yang terluka. “Tetap di dalam ruangan. sangat baik. tentunya. “Diam. Tentu saja ambil rute memutar. apapun. Meskipun ucapanku terdengar berani. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. Ia berpaling pada Alice.” gumamnya tiba-tiba. nada suaranya berbahaya. Nah. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. “Tidak. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. atau kau karena mencoba melindunginya. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. aku akan menuntut tanggung jawab darimu. tak diragukan lagi.” “Oh?” tanyanya.Aku mencoba membujuk.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.” “Dia licik.” katanya tidak sabar.

djAnGgo 327 .

” katanya. membanting pintu dan menguncinya. Bella. oke? Jaga Charlie untukku. “Ayo. Edward!” Aku berteriak padanya. “Aku mencintaimu. Perlahan Edward menepikan Jeep. langsung menghilang. tak peduli apa yang terjadi sekarang. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett.” Ia mencondongkan tubuhnya. “Pergilah. mendengarkan setiap suara di hutan. menghirup setiap aroma. Ini tidak bakal menyenangkan.” aku berbisik penuh hasrat. Bella.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. suaraku pelan dan dalam.” Suaranya mendesak.” “Masuklah.” katanya pelan namun ceria. memarkirnya tepat di belakang trukku. Bella. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya.” kata Edward tegang. membuatku sedih. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. “Jangan khawatir. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. “Dia tidak disini. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. “Aku bisa melakukannya. Aku menatap matanya lekat-lekat. “Aku akan selalu mencintaimu.19. namun bagaimanapun juga. sama tajamnya. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. Aku nyaris tak mengenalnya.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman.” isakku. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. Mesin dimatikan. Emmett. Aku berlari ke tempat tidur. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. air mataku mengalir deras sekarang.” ia mengingatkanku dengan berbisik. djAnGgo 328 . Air mata memberiku inspirasi.” Suara Edward memerintah. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. dan sekarang ia bangkit berdiri. Semua lampu di rumah menyala. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. Kita harus bergegas.” kataku. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. Perpisahan Charlie menungguku. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. “Jalankan saja rencananya. “Lima belas menit. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. “Alice. duduk tegak di kursi mereka. mengamati setiap bayangan. Mereka bertiga sangat waspada. “Satu lagi. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah.

Charlie mengedor-gedor pintu kamar. Aku berbalik ke lemari pakaian. lalu melemparkannya padaku. kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. memberi tekanan pada kata yang tepat. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. djAnGgo 329 . “Tidak!” jeritku. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. dan Edward sudah ada disana. “Aku mau pulang. “Bella.” aku berteriak.

Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. memutar kenop pintu. “Aku memang menyukainya. dan aku harus memikirkan keselamatannya. Carlie. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. pergi!” ia berbisik. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik.” bisiknya dibelakangku. “Biarkan aku pergi. itulah masalahnya. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. lalu membuka pintu. wajahnya syok. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. Ia berada tepat di belakangku. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. “Aku akan menunggu di truk. lalu mengempaskannya. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi.” “Tunggu 1 minggu lagi. “Bells. Ia berdiri terlalu dekat. lalu bergegas ke pintu. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat.” Aku menggeleng.” ia memohon. djAnGgo 330 . Sudah malam. Tapi aku tak punya waktu. Aku tidak menoleh.” gumamku. “Apa yang terjadi. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. satu tangannya terulur ke arahku. dan mendorongku ke pintu. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. Aku mengucapkannya semarah mungkin. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. kau tak bisa pergi sekarang. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. mereka akan kembali ke Arizona. Aku menatap geram pada ayahku. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. Ia menghilang lewat jendela. “Tidak!” jeritku. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri.” Ia benar-benar membuatku kesal. Meskipun ia masih bingung. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. Aku benci. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. sambil menarik-narik resleting tasku. Ia memutar tubuhku menghadapnya. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. “Semuanya kacau. cengkramannya kuat. “Aku punya kunci.

terpana. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. membayangkan bayangan gelap di belakangku. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. djAnGgo 331 . “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. sementara aku berlari menembus malam.oke? Aku sungguh. Charlie bergeming di ambang pintu. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. namun sadar aku takkan pernah sanggup.

Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil.” ia menjelaskan. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku.” “Jangan khawatir. “Kau akan aman. terutama akhirakhir ini. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” Ia tersenyum sedikit. “Charlie?” tanyaku ngeri. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami.” kata Edward geram. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. dan memeluk pinggangku. Trukku tidak oleng sedikitpun. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. sambil menunduk memandangi lutut.” aku berkeras. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku.” “Ini ide terbaik. “Aku ada disana. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. “Aku bisa mengemudi. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. “Si pemburu mengikuti kita.Edward meraih tanganku.” katanya berbasabasi. “Bukan itu maksudku. tentu saja ini ideku. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. “Ini salahku. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. melepaskan tanganku dari kemudi. semuanya akan baik-baik saja. ini idemu.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu.” katanya seraya mempererat pelukannya. Ia menarikku ke pangkuannya. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. meskipun matanya tidak. “Itu cuma Alice.” ia menenangkanku. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. mengabaikan perhatianku. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu.” Tubuhku langsung membeku. dan Charlie. Aku memandang lewat kaca belakang.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. suaraku melengking. telah lenyap di belakang kami. Mesin truk menggeram.” aku mengaku. Ia memegang tanganku lagi. “Bella. dan ia melihat kepanikan di mataku.” bisikku. “Menepi. menuju jalan tol utara. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. mataku membelalak ketakutan. Bella. Dia akan memaafkanmu. Sekarang ia berlari di belakang kita. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Aku menatapnya putus asa.” Kami melesat melalui kota yang sepi.” ia berjanji. memangnya kenapa? djAnGgo 332 . “Jangan lupa.” katanya begitu rumahku. “Semuanya baik-baik saja.

djAnGgo 333 . “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan. dia mungkin saja tidak terusik.. kenapa aku?” Ia ragu-ragu. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. Sebagian adalah salahmu.” Suaranya masam. Tapi ketika aku membelamu. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana.. berpikir sebelum menjawab.” ia memulai dengan suara pelan.Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. begitu dia melihatmu. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini.

Aku tahu kami semakin dekat. aromaku tidak sama bagi yang lain. djAnGgo 334 . tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu.” “Tapi James dan wanita itu. Kami langsung menuju rumah.” katanya putus asa. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. Dia menganggap dirinya pemburu. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. dan membawaku berlari menuju pintu. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu. Edward dan Alice berada di sisi kami. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. itu membuat segalanya tambah parah.. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu.. lalu membakarnya.. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. ia menarikku dari jok. Tidak malam ini. Mereka tidak punya ikatan kuat.. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang.” Aku bergidik ngeri. Lampu-lampu di dalam menyala terang. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. tidak seperti bagimu. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. suaraku gemetar. Aku harus bertanya sekarang.. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. Dia tak terbiasa dikecewakan. dia bersama mereka hanya demi kemudahan.” gumamnya. Ini permainan favoritnya. Kami menghambur ke ruangan putih luas. “Memang tidak.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. kumohon. dengan cara yang sama seperti terhadapku.” kataku ragu-ragu. “Carlisle takkan menyukainya. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. atau salah satu dari mereka. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. “Kupikir. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. Alice mengikuti di belakang. pertarungan akan terjadi saat itu juga. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan..” Suaranya penuh kejijikan. Aku tak yakin dengan Laurent.well. bukan yang lain.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. “Kurasa.” “Dua vampir lainnya. kumohon. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya. usahakanlah jangan ceroboh. “Bella. Ia berhenti sebentar.

menatap galak pada Laurent. Matanya yang indah penuh cinta dan. “Dia mengikuti kami.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. djAnGgo 335 . ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai.” “Kami akan menghentikannya. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. ketika beralih enggan menatapku. tampak marah.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng.” ungkap Edward.” Emmett berjanji. Laurent berdiri di tengah mereka. bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Rosalie mengamati mereka. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward. “Maafkan aku.Semua ada disana. Mereka menaiki tangga bersama-sama. “Aku khawatir. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas.” jawabnya. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. itu justru memicunya. Wajah Laurent tampak muram. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.

Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. menemui klan yang ada di Denali. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. dan dengan suara menderu... “Rose. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. “Begitu Bella aman dari bahaya. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa. kita akan memburu James. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. Aku sungguh menyesal. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan.” Ia ragu-ragu. Aku memandang terkesima. Ia membuatku terkejut. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. wajahnya kelam. Laurent menggeleng. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . “Pergilah dengan damai. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Ia menimbang-nimbang sebentar.” Ia membungkuk. “Tentu saja.” Laurent mengerti.” “Kurasa tak ada pilihan lain.” perintah Edward. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan. “Sekitar 3 mil dari sungai. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. “Jangan remehkan James. kemudian kembali menatap Carlisle.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. Aku sama sekali tidak membenci kalian.” gumam Emmett. Laurent langsung ciut. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana. Keheningan hanya bertahan sebentar.“Kau takkan bisa menaklukkannya. kemudian bergegas keluar. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. seolah ia tidak ada. pikirku. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. “Esme?” tanyanya tenang.” gumam Esme. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan. Dia sangat mematikan.” ujar Carlisle dengan nada formal. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. bingung. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Esme sudah bergerak.. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. Kurasa aku akan menuju utara.” Carlisle menimpali. Rosalie menepisnya.” Kelompoknya tentu saja. tapi aku tidak akan menentang James. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. Carlisle menatap Laurent dingin. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Ia melirikku. teringat temperamennya yang meledak-ledak. Edward berbalik menghadap Rosalie. mengkhawatirkan reaksinya..

“Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. Tidak akan bertahan lama.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. Aku djAnGgo 337 . Ia memberi sesuatu padaku. rasanya seperti kaus. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. “Berusaha mengaburkan aromamu. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku.menyadarinya.. ia menyerahkan celana panjangnya.” aku ragu. Begitu aku selesai. “Kurasa pakaian Anda takkan muat. Aku bergegas melepaskan jinsku.. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri.

Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri.” Carlisle berjalan menuju dapur. Ia menurunkanku ke lantai.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. Jasper dan aku berpandang-pandangan.” katanya.” ia memberitahu saat melewatiku. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. lalu lenyap.” Suaranya yakin. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. Si wanita akan mengikuti truk. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. terlalu panjang. kau tahu itu. pengorbanan djAnGgo 338 . dan kau memang layak. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Aku mengangguk. Aku akan ambil mobil. Jasper dan Alice menunggu.mengenakannya.” katanya pelan.” “Tidak. masih memegangi wajahku. berhati-hati.. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku. mematikan. melirik cemas ke arah Rosalie. “Kami naik Jeep. “Jaga dirimu. “Apa?” aku terkesiap. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. Jasper. Bella.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Kami berdiri disana. Kemudian semuanya selesai.” gumamku. “Kau salah. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. ponsel kecil berwarna perak. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. Sorot matanya berubah hampa. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. kalian bawa Mercedes-nya. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku.” Carlisle bertanya. “Alice. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. Akhirnya matanya membuka. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. mengangkat tubuhku dari lantai. Keheningan terus berlanjut. memelukku erat-erat. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka. kemudian ponsel Esme bergetar. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga.” Mereka juga mengangguk. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. “Alice. matanya yang indah membara menatapku. Ia langsung mendengarkan. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. Aku mendengar suara trukku menderu. ketika ia berpaling dariku. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. Tiba-tiba aku menyadari.. Dan merekapun pergi. dengan ngeri. “James akan memburumu. “Ayo kita pergi. “Sekarang.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Ia menarikku kembali ke tangga. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.

kecuali di hotel. tersenyum ramah padaku. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. menyengat mataku. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. Ketidaksabaran Ketika terbangun. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. Aku tak mendengar apa-apa. Pikiranku kabur.” “Kau keliru. dan matahari berada di belakang sekarang. “Bolehkah?” tanyanya.. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. dan air mataku habis terkuras. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. serta dindingnya yang bercorak umum. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap.mereka bakal sia-sia. tak tertahankan. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. tapi awalnya tidak berhasil. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. memelukku dengan sikap melindungi.” Aku tersenyum pahit. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari.. tatapan marah Rosalie. 20. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Aku tak tahan melihat semua itu. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. aku bingung. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. Tapi aku tak bisa memejamkannya. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Kantuk meninggalkanku. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini.” ia mengulanginya. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. Ekspresi sedih Charlie. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. tatapan mengebu-gebu si pemburu. “Kau yang pertama yang meminta izin. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. Aku ingat mobil hitam mengkilat.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

djAnGgo 348 .“Aku baru saja melihatnya. “Halo?” desahku. “Bella. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari menghampirinya.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu. “Ya.” kata Edward. kemudian ia berbicara padaku. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu.” ia berbicara di telepon.” Alice terdiam.

Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan.“Oh. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya.. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. kami akan menghabisinya. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. tapi tak ada yang bisa ditemukannya. Percayalah padaku.” bisikku.” “Aku akan segera datang padamu.” aku mengingatkannya. Alice menunduk menatap gambarnya.” Suaranya tegang. tangannya djAnGgo 349 . persegi. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. Bella. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. dia mencari-cari. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. mengintip dari balik bahunya.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. maafkan aku. si wanita ada di kota. “Aku tahu. jadi jangan khawatir. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi.” “Bella. Tapi dia sudah pergi sekarang. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.” Setelah percakapan selesai.” kataku.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. tapi Charlie sedang di tempat kerja. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. “Aku tahu. “Aku mencintaimu. terkejut. Aku akan membuatmu aman dulu. “Bisakah kau mempercayainya. “Itu studio balet. kami kehilangan jejaknya.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. Dia pergi ke rumah Charlie. “Segera. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks. Mereka memandangku.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. Bella.” aku menantangnya. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku.” “Aku akan baik-baik saja. sebenarnya aku percaya. Bella. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. kabut depresi pun menyelimutiku lagi. sekolah.” ia mendesah frustasi. aku tahu. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Dia mengelilingi kota sepanjang malam.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. Edward! Aku sangat khawatir. Aku bersandar di sofa. semua jalanan di kota. dia berhati-hati. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. Dia kelihatannya curiga. sepertinya naik pesawat.. setinggi pinggang. begitu aku bisa.” “Aku akan menunggu. Dia tidak mendekati Charlie. Sepanjang dinding. Alice melihat dia berhasil kabur.” “Aku merindukanmu.” “Kalau begitu datang dan ambillah. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.

Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 . ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.menyapu kertas itu sekarang. menggambar tangga darurat di dinding belakang. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari.

“Mom.” Alice sudah di sisiku. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . hubungi aku di nomor ini. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. memandangi gambar Alice. “Tidak. tapi dia akan segera pulang..” Kami duduk terdiam. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya.menyempit di bagian belakang ruangan. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Ia mempertimbangkannya. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. sekolah.” Suaraku gemetar. “Di sana letak kamar mandinya. “Ya. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Dengar. Aku melihat mereka bertukar pandang. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat. Tapi stereonya tadinya di sini”.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. “Tidak. Ada jendela di ruang tunggu. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara. Ini penting.” “Jasper?” tanya Alice. dimana catatan tentang diriku berada. entah dimana. suaraku menghilang. Begitu kau sudah menerima pesan ini. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. sama sekali tidak. “Di sekitar sudut rumah ibuku. dan tidak ada TV. Aku penari yang payah.” “Memang. membuyarkan lamunanku. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh.” “Kupikir dia di Florida.” bisikku. “Kalau begitu di sini. “58th Street dan Cactus. “Tidak.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual.” kataku. aku menunjuk sudut kiri. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama.. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama.” Alice dan Jasper menatapku. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. masih tenang. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah.” kataku setelah bunyi bip. “Alice..” aku mengakui. “ini aku. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. cermin-cerminnya. palangnya. aku mau kau melakukan sesuatu. tentu saja. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. apakah telepon itu aman?” “Ya.” ia menyakinkanku. “sudah lama.. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital.” Aku menyentuh pintunya.

Aku duduk di sofa. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. atau tentang pelatihan musim semi. mengantisipasi malam yang panjang. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. Aku berkonsentrasi menonton berita. dua kali. oke? Aku mencintaimu. mencari berita tentang Florida.di bagian bawah gambar. Bye. Aku membacanya perlahan. Jangan khawatir. djAnGgo 352 . tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. aku baik-baik saja.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. Mom. Aku berpikir untuk menelepon Charlie.

atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. Aku pasri tertidur di sofa. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. seperti yang kurasakan. menantikan telepon berbunyi lagi. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. djAnGgo 353 .

” kata Alice. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Kepanikanku tetap samar. sambil menunjuk. Alice dan Jasper duduk di sofa. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Alice. Edward akan datang menjemputmu. dia akan melukai orang yang kucintai. hanya saja kali ini keadaannya terang. telepon di tangan. dia kesini untuk mengincar ibuku. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. agak terlalu gelap. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. ” djAnGgo 354 . Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. ketinggalan zaman. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. aku takkan bisa.. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya.” “Tapi ibuku. Aku menatapnya hampa. tidak fokus. Dia akan menemukan seseorang. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. Dinding-dindingnya berpanel kayu. Mereka tidak mendongak saat aku masuk.” bisikku. Aku tak bisa berkonsentrasi. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. “Ya. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Kita akan menemuinya di bandara. “Itu rumah ibuku. Emmett. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu.. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. menekan nomor.21. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Dua pasang mata yang abadi menatapku.” “Aku tak bisa menang. “Bella. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. “Ya.” Alice telah bangkit dari sofa. menjaga kepalaku tetap terapung.. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. “Teleponnya di sebelah sana. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. dan kau akan pergi bersamanya. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Alice. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. Dia. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. “Bella. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh.. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku.

“Kami akan menangkapnya. “Dan bagaimana kalau kau terluka. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 . Bella.” ia meyakinkanku.

Mom. merasa sedikit malu dengan sikapku. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. “Nah. “Mom?” “Berhati-hatilah. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. menjauhkan diri dari tangan Jasper. “Tidak. Tak ada jalan keluar.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. suara yang amat menyenangkan dan umum.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Aku mendesah. tapi aku telah melangkah maju." Perutku melilit mendengar kata-katanya. Itu suara tenor laki-laki. Aku melihat jam. “Halo?” sapa Alice. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. dia ada disini. aku janji. “Mereka akan mendarat pukul 09.” Aku diam. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. Barangkali. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. djAnGgo 356 . “Semua baik-baik saja. pukul 5.45. Aku sudah menduganya. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu. Tapi telepon berbunyi lagi. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. Kali ini Alice tidak mengikutiku. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. seraya berjalan pelan menjauhi Alice. meringkuk. Ia berbicara sangat cepat. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. mengalihkan perhatianku. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. Satu-satunya pertanyaan adalah. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Pikiranku berputar-putar. “Aku tak ingin tidur lagi. Kabut tebal kelelahan menyapuku. tapi yang menarik perhatianku adalah. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini.30. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya.” Alice memberitahu. aku tak perlu melukai ibumu. bergoyanggoyang.Alice menatap Jasper penuh arti. Suaranya panik.” bentakku. “Mereka baru saja lepas landas. Ibumu. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. menyadari apa yang sedang terjadi. sebenarnya membantingnya. tak ada kompromi.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. Alice tampak terkejut. “Tenang. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. katanya tanpa suara. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. Satu-satunya penghiburan.

Tolong katakan. djAnGgo 357 . “Sekarang ulangi kata-kataku.” ia memujiku.maka dia akan baikbaik saja. “Bagus sekali.’” “Tidak.” Suaraku tak lebih dari bisikan.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. Mom. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. tetaplah di tempatmu. Mom. ‘Tidak. tetaplah di tempatmu.

tolong katakan. percayalah padaku. Menurutmu. Aku menunggu. dan dimana ini akan berakhir.” “Sebelum siang.” Suaraku parau. nah. ‘Mom. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan.” “Ya. Lebih mudah begini.” Aku menunggu. tolong dengarkan aku.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi. kalau begitu. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. tapi ibumu pulang lebih awal. ‘Mom. Aku menutup pintu.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan.” “Tidak. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur.” Suara itu terdengar senang.” djAnGgo 358 . memusingkan. well. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara.” “Aku menyesal mendengarnya. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka.” “Ya. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak.’” “Mom. itu akan sangat buruk bagi ibumu. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. Sekarang inilah yang harus kaulakukan. percayalah padaku. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. “Bagus sekali.” “Ya. “katakan. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. “Ini penting. menurutmu. Aku yakin itu. Waktuku tidak banyak. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara. hati-hati.” katanya sopan. Bella.” aku memohon. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak.’ Katakan sekarang. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya. kau jadi tidak terlalu khawatir. Aku yakin takkan mudah. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama.” “Mom. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Teleponlah. tolong dengarkan aku. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu.” “Baik. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu.” Suara ramah itu mengancam.’ Katakan sekarang. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. Mom.” “Itu lebih baik. Bella. “Ya. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya. “Nah. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak.. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang.” Entah bagaimana.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. bagus.” suara menyenangkan itu melanjutkan. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Sambil berjalan. Aku sedang bersiap-siap menunggu.. Bella. kumohon. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. Kumohon.” “Ya. harus ada cara. “Ah. masih ringan dan ramah. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih.

” aku berjanji.” Air mataku menetes. djAnGgo 359 .” Suaraku terdengar dalam. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. Mom. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu.” “Aku mencintaimu. “Sampai ketemu. Mom. Mom. ‘Aku mencintaimu.’ Katakan sekarang. Aku menempelkan telepon di telingaku. Aku tahu aku harus berpikir.” Ia menutup telepon. Aku mencoba menahannya. Bella.“Terima kasih. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. sampai ketemu. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. “Selamat tinggal. “Katakan.

meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. djAnGgo 360 . dan pergi menemui Alice. Bagus. tanpa berbalik. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. sebelum Jasper kembali. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. Aku teramat menyesal.” Suaraku lemas. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. dan aku harus berusaha. “Edward. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. kemudian aku mengesampingkannya juga. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. tak ada cara untuk bernegosiasi. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. mencoba mengenyahkannya. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri.” Suaranya terdengar hati-hati. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. Ia bisa melihat kegelisahanku. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Disana juga ada amplop. Tapi tenang saja. Aku harus berpikir dengan baik. Keputusanku sudah bulat. Aku harus mencoba. Bella. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Tapi aku masih tidak punya plihan. karena Alice dan Jasper menungguku. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Aku tak memiliki jaminan. menjaga suaraku tetap tenang. amat perlahan. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. jangan khawatir.” tulisku. Tanganku gemetaran. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Aku sangat menyesal. Aku masuk lagi ke kamar. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Bella.” Aku berpaling. “Ibuku khawatir. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. Aku melihatnya waswas.” kataku pelan. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. Aku akan menyakitinya. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. Keputusasaan mencengkramku. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. ia ingin pulang. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tak boleh takut sekarang. dan aku tidak menunggunya bertanya. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. I a menyandera ibuku. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya.Perlahan. Menyusun rencana. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. “Alice. pikiranku mulai menembus dinding sakit. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. penasaran. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar.

“Aku di sini. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. Aku mencintai mu. kedua tangannya memeluk tangan Alice. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. aneh. kumohon. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain.” akhirnya ia menjawab. pikiranku begitu tersiksa dan labil. keputusasaan. dan aku melihat wajahnya. “Ada apa?” desak Jasper. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. matanya terpaku padaku. Demi aku. apalagi kau. itulah yang ia inginkan. Maafkan aku. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut.” djAnGgo 361 . Aku takut berada satu ruangan dengannya. ekspresinya masih hampa. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. “Bella. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. Pikiranku melayang pada ibuku. sungguh. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja.. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. “Apa yang kau lihat?” kataku.. Aku hanya berharap dia mengerti. Jasper menatapku tajam. . takut ia akan menebaknya. Kepalanya menoleh...Teruta ma pada Alice. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya.Jangan marah pada Alice dan Jasper. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. terpana. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. semua ketakutan. otomatis menyentuh tangannya. Aku menyambutnya. Tatapannya hampa.. “Tidak ada apa-apa. dan memasukkannya ke amplop. itu namanya mukzizat. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. Kurasa. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. melepaskan cengkramannya dari meja. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. ia menjawab pertanyaan Jasper.” balasku. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. muncul tepat di belakang Alice. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. merasakan kepanikan. 22. “Alice!” seru Jasper. Kumohon.” katanya.. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. Dari seberang ruangan. dan mau mendengarku sekali ini saja. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. kehancuran hatiku.

“Kau mau sarapan?” “Tidak. “Ya?” djAnGgo 362 . Ia menjawab hati-hati. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. aku makan di bandara saja. Aku bersiap-siap seperti robot. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. Alice menyandarkan tubuh di pintu. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. “Alice?” tanyaku cuek. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. wajahnya menghadap Jasper. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. berayun menutupi wajah. bahwa mereka bakal gagal. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. Membantuku menyusun rencana. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.” Aku juga terdengar sangat tenang. aku bisa merasakan keinginan Alice.Alice akhirnya memandangku. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik. ekspresinya lembut dan tenang. meskipun tersembunyi dengan baik. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. Rambutku dibiarkan tergerai..

tidak sabar. “Ya.. djAnGgo 363 .” gumam Alice. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. Manusia lebih sulit. suaraku terdengar bosan. atau barangkali kebetulan saja. mudah-mudahan. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. baru melarikan diri. pikirku. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya..“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan. Ia mengangguk.. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. terutama setelah penglihatan Alice. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. Keberuntungan berpihak padaku. hal-hal bisa berubah. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. dAn takkan pernah kulihat.. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Kami tiba di bandara. Aku menungu kesempatan.” ia menimpali. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. membuat keputusan baru. seperti cuaca. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. untuk melihatnya dulu. Atlanta. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. Aku menunjukkan jalan.” Aku mengangguk penuh perhatian. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. Chicago. Betapa menakjubkan. Ia menatapku. kembali waspada. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. yang paling memusingkan. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Benar-benar tak ada harapan. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. seluruh masa depan pun berubah. Aku memandang papan jadwal kedatangan. Edward akan segera menemukannya. Begitu mereka berubah pikiran. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Itu membuatnya sangat sulit. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. di garasi berukuran raksasa. “Suratku. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk.” “Ya. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal.” kataku. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. tak peduli betapa kecil.. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. menginginkan kedatangannya. Kami parkir di lantai empat.

Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan.. djAnGgo 364 . Alice berdiri.” kataku buru-buru.. “Aku ikut bersamamu. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat.Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri. Aku tak punya waktu lagi. angka-angka itu berubah. “Kurasa aku mau makan sekarang.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku. “Aku merasa sedikit.

dia tidak curiga. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. jaraknya beberapa meter di belakangku. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. Aku belum boleh menangis. di belokan.” Begitu pintu menutup di belakang. Dan di sanalah. Di depan Hyatt. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. “Ini shuttle ke Hyatt. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. tapi kemudian mengangkat bahu. ia takkan bisa melihatku. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua.” djAnGgo 365 . Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. bukannya penghianatanku. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Ini satu-satunya kesempatanku. Mereka akan menemukanku dalam sekejap.” protesnya. Begitu pintunya membuka. dan pintu lift pun menutup. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Sudah menyala. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. Di belokan lift sudah menanti. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. tapi aku mengabaikannya. melambai-lambai ke arah pengemudinya. aku lari. napasku tersengal-sengal. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. seolah membimbingku. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. tidak masalah. Tak ada taksi satu pun. yang membuatku lega. Jalan yang kulalui masih panjang. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan.Jasper bangkit berdiri. atau malah sudah. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Aku hanya perlu lari sebentar. Nak. “Aku tidak bakal lama. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. “Apakah itu cukup?” “Tentu. aku mengingatkan diri. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi.” Aku bergegas menaiki undakannya.” “Itu di Scottsdale. tangannya di punggungku. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. Kebanyakan kursinya kosong. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Orang-prang menatapku. bahkan kalaupun Jasper melihat. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. Pintu yang lain tak jauh dari lift. dan aku berlari. Mata Alice tampak bingung. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal.tapi. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. Keberuntungan masih bersamaku. “itu tujuanku. Aku tak punya waktu. “Tunggu!” aku berseru. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. tidak mau repot repot bertanya. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. aku harus terus berlari. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. “Ya.

Aku bersandar lagi di jok. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. Jadi. melipat tangan di pangkuan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. djAnGgo 366 . mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. Takdirku telah ditentukan. Kuputuskan untuk tidak menyerah. juga kekhawatiran. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward.

Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. “Bagus sekali. Sekarang. kulitnya berkilauan bagai air laut.” Suaraku tercekat. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Kecuali kau tidak datang sendirian. Jangan khawatir. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. normal. kita sudah sampai. menuju panas yang menyengat. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. tak pernah tidur. kosong.” Ringan. Aku terkesan. Di dalam gelap. “Hei. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. kikuk seperti biasa. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. akhirnya aman. mengandalkan aku. Aku membayangkannya di pantai. Aku harus bergegas. Bella. ibuku menantiku. Bella. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. dengan saksama menekannya satu per satu. aku sama sekali tak punya masalah dengannya. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. ketakutan. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. aku tahu jalan ke sana. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. agar ia bisa keluar di siang hari. Tak ada alasan untuk takut. bahkan nyaris mendengar suaranya. tak pernah meninggalkan sisinya. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini.” “Well. kalau begitu. aku mengingatkan diriku sendiri. di whiteboard . “Halo. aku merasa bahagia. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. khawatir aku sakit atau apa. Sopir taksi menatapku. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. “Aku sendirian. tentunya. kosong..” bisikku.” Aku menutup telepon. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. Berhasil.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Ke suatu tempat di utara. Kemudian aku lari mendekat. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. melewati pintu muka. dan bayangan indahku pun lenyap.. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. Aku lari ke pintu. Di sana. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. beberapa kali keliru.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. “Terima kasih. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Rumahnya kosong. “Lima-delapan-dua-satu. Kubuka pintunya. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. “Ini sangat cepat. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku. Aku lari meninggalkan ruangan. kita akan bertemu sebentar lagi. djAnGgo 367 . tampak sepuluh digit angka yang rapi. “Kalau begitu. Hanya berdering satu kali. Aku harus menutup dan memulai lagi. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. senang. Aku begitu larut dalam lamunan.

Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Beberapa kali aku terpeleset. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Sinar matahari terasa panas di kulitku.Tapi aku menjauh dari semua itu. lalu tertatih-tatih bergerak maju. meninggalkan semua di belakangku. Aku merasa sangat lamban. seperti berlari di pasir basah. sekali jatuh. menahan tubuhku dengan tangan. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. napas terengah-engah. peluh menetes-netes di wajahku. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Aku berlari. menuju belokkan.

tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Aku berusaha mengatur napas. berusaha menggapai keseimbanga. Ibuku aman. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. aku bisa melihat studio itu. Ketika berbelok di sudut terakhir. memperhatikannya. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. tak perlu merasa takut. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. “Betapa aneh. Ia tak pernah menerima pesanku. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. tapi kerai jendelanya tertutup. di layar televisi. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. Haus. terdengar deru suara pendingin ruangan. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. Ia memegang remote control. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. Aku mendengarnya tertawa.habisan.” aku menjawab.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. mengacak-acak rambutku. Aku hati-hati berbalik. Irisnya nyaris hitam. menuju sumber suara. Lapangan parkir di depannya kosong. “Maafkan hal tadi. Lama kami bertatapan. aku tak sanggup bernapas. Ia melihatku nyaris jatuh. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Aku tak bisa lari lagi. Lantai dansa sebelah barat gelap. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. merasa lega. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Ia berjalan menghampiriku. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Dan di sanalah dia.” “Memang tidak. waktu usiaku dua belas. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . sejuk. Aku nyaris pusing. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. aku bisa melihat tanda di balik pintu. karpetnya beraroma shampo. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. langkah demi langkah. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. Kusentuh gagang pintunya. Bella. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. “Ya. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Ibuku aman. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. suaraku lega. kemudian ia tersenyum. Perlahan-lahan aku berbalik. Ia masih di Florida. ramah. rumahku. lumayan dekat. Kemudian suara ibuku memanggil. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. “Bella. Dan tiba-tiba aku tersadar..” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Mengagumkan. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. menuju jalan Cactus. menariknya membuka perlahan. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. Aku berlalri ke pintu.. Tidak dikunci. semua kerai jendela tertutup. Ketika semakin dekat. Suatu hari kami ke pantai. seperti yang selama ini kuingat. Aku memandang sekeliling.

” Ia berdiri beberapa meter dariku. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Setidaknya.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. menatapku dengan sorot mata penasaran. “Tidak. aku memintanya untuk tidak melakukanya. tangan dilipat. dan bagiku ia seperti berharap-harap. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. kurasa tidak.” djAnGgo 370 . Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.

“Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. Aku menatapnya ngeri. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja. bahwa kau ada di sini. tempat aman. “Aku senang memanas-manasi sedikit. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. Jadi. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. setelah berbicara dengan Victoria. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. “Sebelum kita mulai. Jadi. itu hanya dugaan. kau tahu. Kau tahu.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. tentu saja. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. kelewat cepat. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. “Sangat mudah. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar.” Aku menunggu dalam diam. Kudengar kau ingin pulang. aku kecewa. Well. kau boleh menyebutnya indra keenam. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. tapi kau bisa saja berada di Amerika. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang.. Awalnya. ini semua untuknya. pada waktu yang salah.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu.. boleh kutambahkan. tersenyum. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. Kemudian aku bertanya-tanya. tempat yang katamu akan kau datangi. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 . dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. aku tak bisa bekerja sendirian. Ia mengaturnya beberapa kali. Tentu saja. “Aku meninggalkan surat untuknya. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. surat terakhir. Nyaliku benar-benar ciut.” “Betapa romantis. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. Victorian mengawasi mereka untukku. semua ini sedikit terlalu mudah. oh. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Kau hanya manusia. berada bersama kelompok yang salah. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. Hal seperti itu pernah terjadi. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. Edward. bukan?” Aku tak menyahut. manusia lemah ini. kalau begitu harapan kita berbeda. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo.” Perutku mual ketika ia berbicara. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik.” Ia menghampiriku.” “Hmmmm. Aku sudah siap. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. melebarkan lensanya. Lagi pula. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. “Kuharap begitu. Sejujurnya. dan tak diragukan lagi. “Maafkan aku. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. tidak terlalu memenuhi standarku. sudah lama sekali. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. begini.

Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . makhluk kecil malang. “Kau tahu. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama.kabur dariku. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. dan begitu vampir tua itu membebaskannya. dia membuat gadis itu aman. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja.

Perlahan-lahan ia menghampiriku. Ada rasa sakit yang mendekat.. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Maaf. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku.. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat.karena pengliatannya. suarnya kembali ramah. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. aku tak bermaksud menyinggungmu. “Itu efek yang sangat menyenangkan. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. bagaimanapun... “Well. tapi mereka mendapatkannya.” Ia mendesah. aku mencoba lari. Aku mendapatkanmu. Bunga-bungaan. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu.” gumamnya pada diri sendiri.” Ia maju selangkah lagi. terlalu cepat. tubuhku melayang ke belakang. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. Kemudian ia mencondongkan tubuh. kakinya menginjak kakiku. ya kan?” Aku mengabaikannya. wajahnya penasaran.” Ia mendesah. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. lalu menjatuhkan tangannya. teman kecilmu. “Ya. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. kurasa kita selesaikan saja sekarang. suatu kehormatan. Entakan keras menghantam dadaku. dan aku khawatir bakal jatuh. “Tidak. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Aku bahkan tak bisa beringsut. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Aku tak dapat menahan diri. dengan wajar. Lututku gemetaran. Kacanya hancur berantakan. Sempurna. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. Dalam sekejap ia sudah di depanku. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. dan pesan kecilku. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. “Sebagai balas dendam. selemah lututku saat itu. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. terkejut. semakin lebar. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. dan aku bisa melihat di matanya. aku menghancurkan si vampir tua.” Aku benar-benar mual sekarang. sebenarnya.” “Alice. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. lalu pergi. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. Ia langsung menghadangku. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. memangsaku. Pada tahun 1920-an. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. Aku tak bisa bernapas. “Dan aromanya memang sangat lezat.” desahku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. tapi tubuhku membeku. Ketika gadis itu membuka mata. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula. terpapar jelas dan berkilauan. “aku tak mengerti. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku.

“Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. Tapi kemudian aku merasakannya. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya. tersenyum. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. dan ia berdiri menjulang di atasku. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan.retakan itu sebelum merasakannya. “Tidak. “Tidak!” seruku parau. Aku berbalik untuk meraih kakiku. djAnGgo 374 . jangan Edward.

yang sebelumnya penuh tekad. Aku bisa melihat. Aku mendengar. Matanya. di tempat pecahan kaca itu menusukku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. tanganku terangkat menutupi wajah. raungan terakhir si pemburu. kini membara dengan hasrat tak terkendali.Selain sakit di kakiku. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Terlepas dari tujuan awalnya. Aromanya membuatku mual. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. Mataku memejam. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Dengan kekuatan terakhir. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. seolah dari kedalaman air. sosok gelapnya menghampiriku. djAnGgo 375 . hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. dengan cepat menggenang di lantai. membuatnya sinting karena dahaga. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. Darah yang mengalir. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. Biarlah segera berlalu sekarang.

djAnGgo 376 .

” “Edward. Malaikat tak seharusnya menangis. Kepalaku seperti ditekan. tidak.” Aku mencoba memberitahunya. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku. dan sarat amarah. dengar. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. aku merasakan sakit yang lain. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. “Oh. aku tahu. Karena.”. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. “Bella!” si malaikat berseru. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. lebih dalam. Di belakang ratapan itu ada suara lain..” “Sakit.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. tidak. memberitahunya semua baik-baik saja. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. “Bella. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. suara yang indah. lebih kuat. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. Aku menjerit. “Hati-hati kakinya patah. nyaris mencapai permukaan. Ruangan penuh ancaman. “Edward. kau akan baik-baik saja. sekaligus mengerikan. Bella. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . “Bella. Aku mencoba menemukannya.” aku mencoba lagi. Bella. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. dan lengkingan kesakitan. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. itu tidak benar. Suara geraman lain. Apa saja. Suaraku sedikit lebih jelas. membahagiakan. kumohon. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. “Carlisle!” si malaikat berseru. Aku diseret naik. kemudian. kumohon. Aku ingin mengatakan ya. Kau bisa mendengarku.” suara tenang itu memberitahuku. sekonyong-konyong pecah. “Ya. “Dia kehilangan banyak darah. tidak. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. Aku tak bisa memahami diriku sendiri. dan aku tak bisa bernapas. oh kumohon.. Ada rasa sakit baru. Bella? Aku mencintaimu. “Bella. Ini tidak mungkin surga. dari kedalaman air. tersengal keluar dari kolam yang gelap. “Aku tahu. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. gelegar amarah yang mengerikan. Rasanya sakit. Bella. kumohon! Bella.23. aku bermimpi. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. aku disini. menjauh dariku. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. lebih ganas. Kemudian. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. kumohon!” ia memohon. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur.” rengekku. Bella.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. Kemudian aku tahu aku sudah mati.

” djAnGgo 378 .” “Tanganku sakit. itu akan membantu...” aku mencoba memberitahunya. “Alice?” erangku.ketakutan. Bella. dia tahu dimana menemukanmu. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku. rasa sakitnya akan berhenti. Carlisle akan memberimu sesuatu. Alice. “Aku tahu.” Carlisle berjanji. “Dia disini. Tenangkan dirimu.

tapi tak dapat mendengar suaraku. apa pun itu. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan.” aku mencoba bicara. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. “Edward!” jeritku. “Edward. Aku mendesah bahagia.. “Apa?” Edward memohon. melainkan terkejut. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. tapi terselip nada kemenangan disana. Lukanya cukup bersih. “Tapi kita harus bergegas. saat tanganku mati rasa. “Alice. “Edward. Kemudian. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. Akhirnya. tinggallah bersamaku.” “Ya. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. Aku mendengar suara Alice.” kata Carlisle.. kau harus melakukannya. berusaha menenangkan diri. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. aku pun tenang. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana.” Suaranya tegang. kau harus melakukannya sekarang. atau akan terlambat. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. aku akan bersamamu.. Bella. “Tidak!” ia berteriak. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . “Aku tidak tahu.” “Carlisle. Aku harus menghentikan pendarahannya.” Itu suara Alice. membereskan luka di kepalaku. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku.” aku mengerang. “Itu keputusanmu. akhirnya terbebas dari kegelapan. Aku tak dapat melihat wajah Edward.” “Tinggallah.” Suara Carlisle tak lagi tenang. mataku perlahan-lahan membuka. menahannya. Api itu lenyap.” Edward ragu. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. bibirnya yang dingin menekan kulitku. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. “Mungkin ada kesempatan. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. perlahan. Namun mereka bisa. didekat kepalaku. Aku tak bisa menolongmu. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. “Alice.. Aku membukanya. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat.” Saat Carlisle bicara. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. Edward. aku. Aku tahu mataku kembali terpejam. begitu putus asa menemukan wajahnya. “Edward. Dan aku melihatnya. Rahangnya mengeras. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. “Dia disini. Edward.” sahut Carlisle. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku.” Wajah Edward tampak lelah. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya.

rasa kantuk yang melanda diriku. “Darahnya bersih. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya. djAnGgo 380 .” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.” kata Edward pelan.

” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. aku akan menggendongmu. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga.” desahku.” jawabnya. “Aku tahu. dia tahu darimana asalmu. Bella.” aku menghela napas.” Edward menenangkanku. tapi suaraku lemah. Sayang. semua sakitnya hilang. djAnGgo 381 . dia tahu tentang kau.” “Aku mencintaimu. Edward. “Sudah saatnya memindahkannya. “Sekarang tidurlah. “Terima kasih. rasanya sangat lelah.” aku mendesah. “Dia mengelabuhiku. Edward. Alice. Tapi itu membuatku teringat. “Alice.” aku menolak. meringkuk didadanya. letih karena perasaan lega.Aku berusaha menjawabnya. Dia menonton video rekaman kami. “Tidak.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. aku ingin tidur.” aku menambahkan. “Bella?” Carlisle bertanya lagi. “Aku mencium bau bensin. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. “Alice. Dahiku berkerut.” Aku mencoba membuka mata.” kata Carlisle. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya. Dan akupun berada dalam pelukannya. videonya. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. melayang-layang. “Kau bisa tidur. aku ingin tidur.

djAnGgo 382 .

ruang putih. “Sebentar lagi dia kembali. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. di rumah sakit ini.” Edward berjanji. sesaat aromamu jadi berbeda. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan.24. “Sekarang semuanya baik-baik saja.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. “Aku tak yakin. “Aku nyaris terlambat.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. dan kau kehilangan banyak darah. tapi kepalaku semakin pusing.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. “Dan kau belum boleh bergerak. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. tidak boleh. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. well. Mereka memberimu transfusi. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. dengan besi pengaman. memar hampir di sekujur tubuh. cahaya terang menyilaukan pandangan. “Edward?” Aku menoleh sedikit.” ia berbisik. Kupikir dia menyandera ibuku.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. Aku tidak menyukainya. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. itu mungkin saja terjadi. Bantal-bantalnya kempis dan kasar.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. begitu juga empat rusukmu. “Harus kuakui. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. “Oh. “Jangan. Aku berada di ruang yang asing. Edward. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. Renée ada di sini. aku menyukai aromamu yang asli. djAnGgo 383 . kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. di atas kepalaku. “Aku bodoh sekali. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus. Edward. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. “Alice sudah telepon mereka. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. suaranya terdengar menyesal. Ia langsung tahu maksudku. di sini.” ia menyuruhku diam. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku. beberapa bagian tengkorakmu rusak.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya. di bawah hidung. “Kakimu patah. Aku bisa saja terlambat. Ibuku ada di sini.” “Tidak. kakiku bengkak. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir.” Ia berhenti. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang.” “Dia mengelabuhi kita semua. Dia sedang mencari makan. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup.

” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. “Rasanya mustahil.” djAnGgo 384 . “Lebih baik. lebih baik daripada yang kubayangkan. “Mustahil. Tapi aku melakukannya. setengah tersenyum. “Aku harus mencintaimu.” ia berbisik. untuk berhenti.Aku menunggu jawabannya dengan sabar... Dan itu membuat wajahku terasa sakit. bahkan.” Akhirnya ia memandangku.

“Ada apa?” tanyanya waswas. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali. “Bukan.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. “Takkan kubiarkan. Kau seharusnya menungguku. dia langsung lari menemuinya.” “Oh.” “Tapi kau tetap tinggal. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk.” “Mereka harus meninggalkan ruangan. melihat kantong transfusi menahan tanganku.” Aku meringis. tentu. darahmu berceceran di mana-mana. dahinya kembali mulus bak pualam. Ia menatapku. itu sebabnya dia tidak ingat. “Jarum. tidak masalah. Ia menatap langit-langit. tapi sesuatu menghentikanku. Aku merinding. ngeri membayangkannya. memalingkan pandang. kau tahu.“Maafkan aku. kemudian meringis. Aku memahaminya sekarang.. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. perhatiannya teralihkan. mengingatkanku akan sesuatu.. kemudian kepedihan terpancar di matanya. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. pertama bingung. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 .” kata Edward.” Suara Edward tenang.” aku meminta maaf lagi. “Mereka juga menyayangimu. maksudku. “Takut jarum. “Ada apa. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku. sambil menggeleng.” “Aku tahu. tapi wajahnya kelam oleh amarah.” Suaranya berubah kelam.” “Kau takkan membiarkanku pergi..” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. Emmett dan Jasper membereskannya.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri.” aku menjelaskan. “Aku tahu kenapa kau melakukannya. kau tetap tinggal...” aku bertanya-tanya. Tapi jarum infus. “Dari semua yang perlu dimaafkan.” Suaranya menenangkan. seharusnya memberitahuku. tapi hanya sedikit.” “Dan Alice dan Carlisle.” “Memang tidak. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya.” “Maafkan aku.” ujarku menyesal. Ini membingungkanku. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. samar-samar menguarkan kebencian. Kuputuskan untuk mengubah topik.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati. Edward langsung waswas. “Ya. “Auw.” “Ya.. Aku memandang ke bawah.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku.” ia menimpali dengan geram. “Oh.” Aku memutar bola mataku. “Alice tak pernah mengerti.

” djAnGgo 386 . Tapi kau tak perlu mengingat detailnya.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. tentu saja aku kesini ditemani orangtua.untuk berbicara dari hati ke hati. “Kau setuju menemuiku. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas. well.” ia menambahkannya lugu. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks.. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice.. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. kau tahu kelanjutannya.

kemudian tersenyum.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. “Aku akan tidur sebentar. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku.” Dahinya berkerut. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Tak ada jendela yang pecah. suaraku penuh sayang dan lega.” katanya. “Dia tak pernah pergi. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. tersenyum. “Jangan buat aku pergi menghampirimu. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali. Aku tak bisa membiarkannya pergi. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. “Aku belum selesai menciummu. Tapi kemudian bibirnya menegang. Ia tertawa. Ia sedang berbicara dengan seseorang. “Kurasa aku mendengar ibumu.. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. “Mom.” gumamku pada diri sendiri.” aku berseru. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya.” ia berjanji.” Ia tersenyum.” katanya. Ia menarik napas panjang.. Mom. mungkin perawat. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar. Monitor langsung bergerak kacau lagi. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut. dan ia terdengar lelah dan sedih. Setelah semua diatasi. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. aku jadi penasaran. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. matanya masih terpejam. untuk menenangkannya. “Ini bakal memalukan. meskipun teramat lembut. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. “Hmmm. “Jangan tinggalkan aku. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. Posisinya diam tak bergerak. “Aku takkan meninggalkanmu. dan ia mengintip dari sana. Ia menarik diri. djAnGgo 387 .” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. Tapi sekarang semua baik-baik saja. Terdengar suara pintu berderit. kami membuatnya sangat meyakinkan.” aku mencoba menenangkannya. meyakinkan semuanya baik-baik saja.” bisikku sinis. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri. tidak apaapa.” aku mengeluh. “Bella.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. “Mom!” aku berbisik. bunyi bip itu mendadak berhenti.Aku memikirkannya beberapa saat. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat. “Jangan lupa bernapas. sungguh-sungguh. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. dan tatapannya mengira-ngira.” “Tidak juga. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. misalanya. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi. lalu berbaring dan memejamkan mata. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. Aku bisa mendengar ibuku sekarang.” ia berjanji. Ia langsung tersentak.

“Aku senang akhirnya kau tersadar. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu. luka-lukamu parah sekali. Sayang... Sayang. tapi aku tak ingin memikirkannya.” Aku bisa merasakannya.” “Aku tahu. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa. djAnGgo 388 . kau tak sadar cukup lama.” Ia duduk di tepi tempat tidur.” “Jumat?” aku terkejut. Aku mencoba mengingat hari ketika.

dasar bodoh. Mom. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk.” kataku. sekolah. tapi mata Mom mengamati wajahku. kali ini benarbenar disengaja. kembali menghadapku.“Kau beruntuk dr. tunggu sebentar!” selaku.” ia mengingatkanku. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. warna kuning dengan bingkai putih.” “Mom. Ia menaruh tangannya di dahiku. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. Cullen ada di sana. “Di Florida.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. Alice. oh. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. berusaha terdengar bersemangat. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. kemudian mengerang. kau tidak menyukai Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah.” aku meyakinkan mereka. “Tidak apa-apa. kami sudah sering membicarakannya.” Aku tersenyum. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. jadi aku mencoba alasan lain.. Dia gadis yang menyenangkan. Mata Edward masih terpejam. lalu memandangku dan Edward bergantian.” Aku meragu. karena bagian itu tidak diperban.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya.” “Memang. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. kau percaya?” “Itu hebat. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat.” Ia merengut. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. “Kenapa?” “Sudah kubilang. “Tidak terlalu buruk. Charlie. “Bella.. dan kelembapannya tak seburuk itu. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. meskipun masih sangat muda. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. Dia sebatang kara disana. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. Dia baik. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. dan pohon ek raksasa. Mata Edward berkilat menatapku..” Edward kembali pura-pura tidur. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. Dan dia lebih mirip model daripada dokter. dan aku punya beberapa teman cewek”. “Aku ingin tinggal di Forks. heran.. Sayang. dan dia sama sekali tak bisa memasak. dan teras persis seperti di film-film tua. Ide ini tak terbayangkan olehnya. Ia menoleh ke arah Edward. ” “Mom. Lalu matanya kembali melirik Edward. aduh!” Aku mengangkat bahu. Bukan ide bagus.” aku menimpali sepenuh hati.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. Aku hendak berbohong. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur.” ia tertawa.” “Tapi kau tak perlu lagi. “dan Charlie membutuhkanku. Mom. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . Tangannya bergerak ke sana kemari. Aku tinggal di Forks. salju dan semuanya. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron.

” aku mengakui.disana. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. Tak perlu kuakui. “Tentang apa?” tanyaku. “Ya. djAnGgo 390 . “Dia salah satu alasannya.” Ia bimbang.” Uh-oh. memandangi Edward yang diam tak bergerak. dialah alasan terbesarku.

Mom.” ia menimpali. Aku mendesah. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. Mom. Aku cuma naksir.” “Aku baik-baik saja.. dan.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. kau tahu. dia luar biasa tampan.” “Aku juga sayang kau. ya Tuhanku. menepuk-nepuk tanganku yang diperban. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah.” Aku bergidik dan meringis ngeri. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. Mom. Aku tak tahu kau akan segera sadar. langsung senang.” Mata Edward tetap terpejam. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. Edward langsung berada di sisiku.. Jangan khawatir. Sayang.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu. Mom.” aku meyakinkannya. “Aku tidak akan sendirian.. Mom. Mom mengecup dahiku. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. aku akan baik-baik saja. “Aku juga berpikir begitu. “Kau tegang.” ujarnya. “Benar. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. “Aku tahu itu. Kemudian ia mendesah. Bella. Sayang?” “Aku ingat. Edward akan menemaniku.” ia mengakui malu-malu. Sayang. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat. “Aku bisa tinggal. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. Bella.” Nah. “Oh.” “Aku akan segera kembali. Aku tidur di sini. kalau kau membutuhkanku. aku tak ingin kehilangan dirimu. aku takkan menyadarinya. sejauh yang bisa kuingat.” aku menenangkannya.” “Tidak. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan.” Suaranya terdengar ragu-ragu. dan aku tidak suka berada di sana sendirian.” Begitu perawat menutup pintu.” ujarku. “Aku sayang kau.” “Kejahatan?” tanyaku kaget.” “Tidak apa-apa. djAnGgo 391 .” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. Kau ingat dulu kau menari di sana. memalingkan wajah. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar..” tuduhnya. bangga pada dirinya sendiri. “Well. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini. dia kelihatan sangat baik. kemudian pergi. Dia akan ke sini sebentar lagi. “Aku cukup tergila-gila padanya. berusaha menjaga suaranya tetap pelan.. “Aku akan kembali malam ini. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. tapi kau masih sangat muda. “Aku terlalu tegang.. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok.

Ia tersenyum. “Apa?” djAnGgo 392 . sama sekali tidak menyesal. “Menarik. lajunya sangat cepat. “Mobil bagus.” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku.” Matanya menyipit.

Bella.” aku memohon.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. sambil menepuknepuk kantong infus. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. “Aku bersumpah. lebih mendekati hitam daripada keemasan. tidak. Kau hanya bisa keluar pada malam hari.” Ia nyaris tersenyum. “Ya.” Ia menunggu.. Matanya berwarna gelap. “Aku tidak membutuhkan apa-apa. “Aku takkan kemana-mana. Lalu wajahnya serius. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” sahutku hati-hati. “Tak perlu berpura-pura berani. kupikir itulah yang kau ingingkan. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. “Aku akan tinggal di Forks.” “Jangan tinggalkan aku..” ia mendesah. “Baiklah. Ia tidak mengatakan apa-apa. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu. tenanglah. “Bella. kau perlu beristirahat. rasa sakit yang jauh lebih parah. mengancam menghancurkanku. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida..” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. “Sssstt.” Aroma napasnya menenangkan. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang.” Tapi jantungku tak mau tenang. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. lalu pergi. Sayang. tapi aku hanya menggeleng. tapi tidak juga. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. dan ibumu. Sayang?” tanyanya ramah. well. “Tidak. seperti vampir sejati.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. saat napasku semakin liar.Ia menunduk ketika menjawab. Rusukku nyeri. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Matanya lebar dan serius.” ia menjelaskan. sebelum beralih ke monitor. meskipun.” gumamku. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu.” Ia membelai wajahku hati-hati. aku merasakan nyeri di dadaku. suaraku parau. Kupikir Florida. “Aku terkejut.” Ia memandang Edward serius. Bella. Kurasa djAnGgo 393 .” ia berjanji.. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. “Lebih baik?” tanyanya. “Aku takkan meninggalkanmu.

Yang benar saja. bereaksi berlebihan. bahwa akulah alasan kau berada di sini.” “Nyaris. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. aku tak ingin tanpa dirimu. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak. tentu saja tidak.” Aku merengut. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. menjaga suaraku agar tidak gemetaran.” ia berbisik.aku memilih kata ‘overreaction’.. “Alasan aku berada di sini. Bella. kaulah penyebabnya.. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu.” “Ya. hidup-hidup.” djAnGgo 394 .

tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain.. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. lalu meletakkan dagunya di sana.. “Bagus. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti.. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward.” ia melanjutkan berbisik.. Kepanikanku nyaris tak terbendung. mencoba melepaskan diri. Semudah itu.” “Tapi kau tidak membunuhku. “Kenapa kau melakukannya.. entah itu akan membunuhmu atau tidak. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.” kataku.” kataku. kau boleh pilih. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. sekarang aku mau tahu kenapa.. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. itu bukan yang terburuk.” “Aku bisa saja.” desakku. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. “Berjanjilah padaku. terbaring di lantai. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat.. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan. dan rasa panik mencekat paru-paruku. mulai jengkel. Tatapannya tajam. marah.” Meski begitu ia tidak berjanji. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti.” Aku mulai marah sekarang. “Apa?” “Kau tahu maksudku. Raut wajahnya lembut. Ia tidak akan menjawan... semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini. dan aku ingat. Ia terkejut. kemarahannya mereda.. “Meski begitu. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.” Ia meringis mendengar kata-kataku. fakta itu tak terlewatkan olehku.” Mata Edward sepertinya berubah hitam. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. “Kau telah menyelamatkanku.” Aku tahu aku harus tetap tenang.” katanya pelan. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. djAnGgo 395 . jadi kurasa kau akan menemukan caranya. “Aku sedang memikirkan yang lain. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya.” aku berbisik. dingin.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku... Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat. Kalau bukan karena kau..” ia menambahkan dengan kasar. itu sangat jelas. mulutnya seolah dipahat dari batu. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. “Tapi kelihatannya masuk akal. yang paling parah adalah merasa.” Suaranya tercekat. “Kenapa?” ulangnya hati-hati.. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain.. meringkuk dan terluka. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu.. Lubang hidungnya kembang-kempis. Bukan. aku sudah membusuk di pemakaman Forks.

“tapi hidupku sudah berakhir. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal. kau tidak tahu. aku tidak berharap begitu. “Aku juga ingin jadi Superman.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak. dan aku masih tidak yakin. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini.” Suaranya lembut.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta. Aku tidak menyerahkan apa pun.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.” djAnGgo 396 .” “Bella.” Ia berhenti sebelum melanjutkan.” aku berkeras. “Kurasa aku tahu.

tapi suatu saat. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. api dalam nadiku. matanya terpejam.” Sekarang ia cemas. “Aku mungkin takkan mati sekarang. Bella.. Dan aku akan menjadi tua.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan. Lebih baik begitu.” “Aku bukan hadiah lotere.. Wajahku memucat. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. dan berkata. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. “Aku takkan sembuh.” “Tepat sekali.” gumamku akhirnya. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Bella.. dan ia balas menatap. dia ingin aku melakukan yang sama.” kataku.. “Itu bodoh. Dan rasa sakitnya?” tanyanya. Aku melihatnya berusaha menekan amarah. terkejut. Aku menutupnya lagi. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini.” “Kau keliru.” Ia menatap geram padaku. Meski begitu ia sangat tenang.. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. itu juga bukan masalah. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka. tapi tak ada suara yang keluar. djAnGgo 397 . Sama sekali bukan masalah. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere.” aku berkeras..” Aku menatapnya geram. dan aku seharusnya tidak ada.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. setelah itu .” geramnya. Aku takkan melakukannya padamu. Ia menunggu.. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi.” Aku mendengus.” Kerutan di dahinya semakin dalam. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. mengambil uangnya. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat. “Itulah yang mestinya terjadi. “Itu masalahku. Tiga hari.” “Bukan masalah. “Begini saja.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. “Aku bisa mengatasinya.“Kaulah hidupku.” ia mengingatkanku.’ Dan aku tidak mempercayainya. atau kurasa beberapa hari yang lalu. “Tentu saja kau akan sembuh. Aku membuka mulut. Ia membuka mata. Aku menatapnya. dia terbiasa hidup sendirian.” “Sungguh. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. Paling lama dua minggu. “Aku tak bisa melakukannya. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada.” Aku semakin baik dalam hal ini. Yakin.. “Tidak. Aku tak bisa menahannya. ‘Begini.seharusnya bukan apa-apa.” kataku pelan.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. Dan Charlie lebih fleksibel. Yang seharusnya terjagi. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya. “Aku bakal mati.” tukasnya. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya.

” djAnGgo 398 . Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. “Bella. kita tidak akan membahasnya lagi. dan inilah keputusanku.“Benar. Kau jauh lebih baik.

” aku berbohong. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu.” Aku balas tersenyum. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.” katanya lembut. Ia melihat ketakutan di mataku.“Kalau kaupikir ini akhirnya. “Permisi. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. Akhirnya ekspresinya melembut. “Auw. bunyi bip. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu.” “Dia keliru. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.” Suara itu terdengar bosan.” “Aku tidak takut jarum. “Aku tidak percaya. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya.” aku berjanji.” Ia menggapai tombol. ya kan?” Aku mencoba menebak. “Jangan kelewat berharap.” “Itulah hal terindah menjadi manusia. Kau benar-benar keras kepala. “Segala sesuatu berubah.” aku menyarankan.” aku mengingatkannya. dan mendesah putus asa. itu membuatku pusing. kau akan melupakannya.” gumamku. “Jangan!” Ia mengabaikanku.” Aku mendesah. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya.” Mataku menyipit. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding.” Aku menggeleng tak percaya.” ia memberitahuku. “Usaha bagus.” gumamku.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.” “Kau harus beristirahat. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah.. “Itu berarti selamanya. tapi itu juga tidak terjadi.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. aku takan pergi ke mana-mana. aku akan di sini. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” Detak jantungku mulai memburu. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny. mengabaikan rasa sakit di pipiku.” Kemudian ia tersenyum simpul. “Sudah kubilang. Jangan khawatir.” katanya pada djAnGgo 399 . Kau perlu tenang supaya bisa sembuh. “Alice sudah melihatnya.” katanya tenang.” Lama sekali kami bertatapan.” “Oh. Ia tertawa dingin. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. tetesan.. “Aku takut memejamkan mata. “Aku takkan meminumnya. suatu hari nanti. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. “Bella.” “Jadi menyerahlah. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah. berarti kau tidak mengenalku. “Aku tidak mau tidur lagi. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Alice takkan berani.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya. “Aku baik-baik saja. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal. kau sakit. tahu. Dia juga melihatmu mati. Selama kau senang karenanya.” Matanya kembali kelam. “Aku akan menyuruh perawat ke sana. dan detak jam besar di dinding. kau cuma naksir aku.

” djAnGgo 400 . masih waswas. “Nah. Aku terus menatapnya. “Kau akan merasa lebih baik sekarang. Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan. ini obatnya. bersandar di dinding.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. Ia bersedekap dan menunggu. Ia menatapku tenang. Sayang.Edward.

“Terima kasih.” ia berjanji.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. “Sama-sama. Suaranya indah. “Aku akan ada di sini.” gumamku. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Aku juga. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. Kemudian aku pun tertidur. “Tinggallah. “Terima kasih. Aku menoleh sedikit. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.” gumamnya.” gumamku datar. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. “Aku mencintaimu. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku. Hanya sebentar. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku.” bisiknya. jangan khawatirkan itu.” desahku. “Sudah. Ia tertawa. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. Ia tahu apa yang kucari.. “Seperti kataku. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti. bagai nina bobo.” gumamku. djAnGgo 401 .” ia tertawa pelan. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. selama ini membuatmu bahagia.. saat kelopak mataku mulai memejam.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. “’Tu tidak sama. mencari. selama ini adalah yang terbaik untukmu.” “Aku tahu. “Kurasa sudah bereaksi. Bella.”Kata itu nyaris tak terdengar. tapi terlalu berat.

djAnGgo 402 .

Charlie. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Terhadap Charlie.” sahutnya hati-hati. Charlie. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. Sepatuku hanya satu. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. Dan ia tahu itu. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami. bukan?” ujarku. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. dan tanpa lengan. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips.” Ia tersenyum mengejek. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Perhatianku teralih dering telepon. aku yakin itu.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. sebab kalau bukan karena Edward. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias.. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. bahkan dalam pikiranku sendiri. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. jam berkunjung. “Halo. djAnGgo 403 . ia menyelinap ke jok pengemudi. Itu yang tak dapat kusangkal. Setelah aku duduk nyaman.. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya.. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. “Sudah. “Charlie?” Dahiku berkerut. serta tongkat berjalanku. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. aku tidak akan meninggalkan rumah. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. dan aku tercekat. berimpel. Aku benarbenar tidak suka kejutan. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks.. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. warna biru gelap. Kaciuali. ia teramat bersyukur dan berterima kasih.. Atau sepatu yang kukenakan.” Ia tersenyum.

” saran Edward. “Kau bercanda!” Ia tertawa. Ia menunggu sebentar. Ia mengabaikanku. kegembiraannya tampak nyata. tapi hanya di permukaan. “Biarkan aku bicara padanya. Tyler. “Ada apa?” desakku. ini Edward Cullen.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.” Suaranya sangat ramah. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. “Halo. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 .

Wajah dan leherku merah pedam karena marah. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Jangan tersinggung. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. “Ini benar-benar konyol. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. Tanganku tidak hitam ketika kutarik.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. dan Emmett. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku. “Baiklah.mengerikan mulai terbentuk di benakku. “Ayolah. Ia terkejut melihatku.. bingung. “Hmmm. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. Pertama. Nasib burukku belum berakhir. Bella. Juga karena kecurigaan samar. djAnGgo 405 . Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. sebenarnya harapan. “Sungguh. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. Kemudian ia menutup telepon. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. setiap malam. senyum lebar menghiasi wajahnya. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan.” desaknya. Bella. “Aku akan ikuti maumu. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Aku menyerah.” Aku mengabaikan kata-katanya. “Karena aku marah!” “Bella.” Aku menoleh ke luar jendela.. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini. Tapi prom. yang berkembang di hatiku seharian ini. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. Tapi nanti akan kaulihat. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu. benar-benar jauh melenceng.” Nada suara Edward berubah. dan Rosalie. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Apa?” gumamku.” Bibirku mencebik.” ia mengakui. “Jangan mempersulit keadaan. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. Sekarang semua sudah jelas. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Ia menunjuk tuksedonya. Air mata kemarahan menetes di pipiku. “Bersama Jasper. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. itu sudah jelas. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara.

menurut dia.Perasaan tenang itu langsung lenyap. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. Emmett senang berada di dekatku. terpikir olehku hal lain. djAnGgo 406 . Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu.. reaksi manusiaku sangat menghiburnya.. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik.

Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. Edward dan aku tak terpisahkan. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. ya Rosalie. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. pestanya berlangsung di ruang gym. tangan terlipat. Dan Rosalie. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Ketika kami sampai di dalam. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. Ia mengulurkan tangan. “Well. Di Phoenix. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. “Sudah.” Aku melihat ke arah lantai dansa.” Ia menggeleng. bagian tengah lantai tampak lenggang. Ia mendesah. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. sudah. kelihatannya Tyler tidak. prom diadakan di ballroom hotel. “takkan seburuk itu. tiba-tiba curiga. Di sekolah. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Kami sudah di sekolah sekarang. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. bahkan tidak dirimu sendiri.” katanya lembut. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. tempat Charlie tak bisa ikut campur. Aku tak bergerak dari tempat duduk. Aku takkan pernah melepaskanmu. “Meski begitu. “Oh..“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. tentu saja aku bersama kelompok vampir. “Tentu saja. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. Hari ini langit berawan tipis.” djAnGgo 407 . Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. meskipun ia praktis menggendongku.” olokku.” Kugertakkan gigiku. Ia tetap memelukku erat-erat. well . kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa.. kau seberani singa. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil. Ia bisa melihatanya di wajahku. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. Berdansa.. Penampilannya sungguh di luar dugaan. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Di sini.” Ia nyengir. diam-diam berpuas diri.” Ia tersenyum enggan. aku janji. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. lalu tergelak. termasuk diriku sendiri.. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. Aku menelan liurku. “Bella.

“Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan. dan menyeret kakiku. “Edward. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. “Aku punya waktu semalaman.” Tenggorokanku benar-benar kering.” ia mengingatkan. hingga aku hanya bisa berbisik. Kupeluk lengannya. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri. kemudian membimbingku ke lantai dansa. djAnGgo 408 .“Apa pun.” Ia membayar tiket kami.

” Jacob sampai di tempat kami.” ia balas berbisik. sedikit. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Wajah Edward tenang. Kemudian kami pun berdansa. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. lalu mundur selangkah. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda.” aku mengakui.” gumamku. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri.” gumamnya. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. tidak fokus akibat berputarputar. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. Jacob. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. sedikit malu-malu. teramat sangat tidak nyaman. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. Itu bagus juga. Edward hanya mengangguk. ini tidak terlalu buruk. Suara Edward terdengar sinis. sesaat menarikku lebih rapat. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. wajahnya tampak marah.” ia mendesah.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri. “Dia ingin mengobrol denganmu. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. Bella. “Jadi. Sebagai gantinya. “Seratus delapan puluh lima senti. aku percaya. Ia berjalan menghampiri kami.” kata Jacob ramah. “Well.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. “Hei. kini aku merasa kasihan pada Jacob. “Oke. Tapi senyumnya tetap hangat.” Kami tidak benar-benar berdansa. mengangkatku. “Yeah. “Terima kasih. “Jaga sikapmu!” desisku. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. “Aku bisa. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu.. aku bisa menduga jawabannya. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya. ekspresinya hampa. kuharap setidaknya kau menikmatinya. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Edward mengeram sangat pelan. Melihat ekspresi Edward tadi. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. “Wow. bodoh. aku memang berharap kau ada di sini. “Ya. memandang Edward untuk pertama kali. dan tak seimbang. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku.” Aku balas tersenyum. aku balas tersenyum padanya. Aku mengikuti arah pandangannya. “Hai.. “Kau percaya.“Jangan khawatir. Jacob Black. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. jangkung. “Tapi ia sudah bersama seseorang. Jake.

merasa jengah. djAnGgo 410 . kau cantik sekali. “Omong-omong.” ia menambahkan malu-mal.sama berpaling.

seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. Jake. Dia memintaku untuk memohon padamu. “Jangan marah..” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu. ini kedengarannya buruk sekali. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah.” “Aku tak peduli. “Ini buruk sekali. kecewa. Mataku menyipit.” Itu bukan pertanyaan. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. ‘Hei. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku.” Ia menggeleng jijik. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. Ia masih tampak canggung. katanya.” gumamnya.. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. “Pikirnya. Katakan saja apa yang harus kaukatakan. Ia memalingkan wajah. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Ia menggeleng. Dia tidak percaya. Jacob. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy. “Aku terjatuh.” Jacob menyahut. “Dia menyuruhku memberitahumu. Jacob. sementara wajahnya sendiri datar. katakan saja padaku.” olokku.. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. trims.” aku meyakinkannya.” aku meminta maaf. hhh. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. djAnGgo 411 . yang penting kau mendapatkan onderdilmu. namun lemah.. ya kan?” “Yeah. dan ini kata-katanya. “Oke. Jacob. maafkan aku. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.” “Well. meskipun tangannya masih di pinggangku. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. tapi. memperingatkanmu. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. merasa malu. eh?” “Yeah. bukan aku”.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. Dia. Jacob tak berani menatapku. “Lagi pula. “Begini.” “Aku tahu itu. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. “Kalau begitu. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. “Dia masih percaya takhayul.“Mm. Aku tertawa keras-keras. dan tanganku melingkar di lehernya.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. Jacob. bahwa. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. tapi hanya supaya kau tahu”. sekali lagi merasa jengah.. Jacob berpaling lagi. meskipun aku tahu jawabannya. “Katanya.. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu.. dia ingin kau putus dengan pacarmu.” ujarnya. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya.” gumamnya. Beritahu aku. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku.” “Aku tahu.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. “Kami akan mengawasi. “Katakan saja. “Setidaknya. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya.” desakku. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. dan terlepas dari janjiku. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini.” Aku ikut tertawa. ini bodoh sekali. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. “Lupakan saja. aku pasti sudah mati. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. bukan.” Aku balas tersenyum. aku merasa marah. Bella. dia memandangku sekarang.

” Musiknya berhenti. djAnGgo 412 . Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku. “Tidak. “Jadi.” Ia tertawa lega. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. “Bilang padanya aku berterima kasih.“Aku tidak terlalu keberatan.” desahku. Aku tahu dia bermaksud baik. dan kulepaskan lenganku dari lehernya.

dan ia memandang kakiku yang digips. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti.Tangannya masih di pinggangku. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. kerutan di wajahnya semakin nyata.” katanya singkat.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. sambil terus memelukku erat di dadanya. Ia menunduk menatapku. aku punya daya lihat yang sempurna.” Aku menatapnya tidak mengerti. sampai ketemu. Aku yang mengambil alih. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri. “Kau mungkin sedikit memihak. Aku tersenyum. Wajahnya sangat serius. “Oh. Kemudian kami sampai di luar. Aku menunggu dengan sabar. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. aku memaafkanmu. dan Conner menatap kami geram. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Jacob. Ia duduk di sana.” gumam Jacob. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya.” ia meralat tajam. dan aku balas tersenyum padanya.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. “Tidak apa-apa.” “Aku tidak marah pada Billy.” ia menjelaskan.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. Mulutnya tegang.” desahku. merasa senang. Well. aku tidak melihatmu di situ. “Mengingat penampilanmu saat ini. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. Ia setengah tersenyum. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. Lagi pula. yang sedikit lebih pendek daripadanya. tampak jelas di antara awanawan tipis. sampai ketemu. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Angela juga aga di sana.” “Maaf. matanya resah. djAnGgo 413 . Jessica melambai. Begitu kami sendirian.” Aku tertawa. itu bisa dibilang menghina. Bulan telah muncul di langit. bingung. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. Kau lebih dari sekedar cantik.” “Terima kasih. “Jadi. Bella. “Tidak juga. Tapi ada hal lain. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.” Ia melangkah mundur.” Wajah Edward cemberut. Lee. “Intinya?” aku memulai dengan lembut. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. melambai dengan setengah hati. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. “Yeah. “Hei. “Jangan marah pada Billy. Bukan apa-apa. “Dia menyebutmu cantik.” Kami kembali berdansa. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Lauren. “Merasa lebih baik?” godaku.” “Kurasa tidak. “Kalau begitu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. Samantha.

” “Beberapa hal tak perlu berakhir.” gumamnya. toh harus berakhir juga. lagi. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun.” gumamku setengah mendesis.Ia mengabaikanku. menatap bulan.” katanya pelan. akhirnya menjawab pertanyaanku. Ia mendesah. “Twilight . “Aku membawamu ke prom. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. “Akhir yang lain. kalau aku bisa djAnGgo 414 . langsung tegang.

membuatnya terjadi. akhirnya.” desaknya. acara istimewa. aku langsung menyesal. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa.. daripada percaya bahwa kau serius. kau benar.” aku buru-buru mengaku.” Ia masih nyengir. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai.” Aku mendesah. menatapku seraya tersenyum simpul.. “Aku tidak ingin memberitahumu. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya.” Ia menghela napas dalam. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. “Tidak. kemudian ia tampak senang. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. “Aku tahu.” gumamnya. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Memang.” selaku. senyumnya memudar. Ia menunggu dalam diam. “Well ..” Aku bergidik mendengar kata-katanya.” “Kau sudah berjanji... aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. “Tidak lucu tahu. “Aku masih ingin tahu. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. Kumohon. “Kurasa itu akan membuatmu marah.” Beberapa saat kami terdiam. lalu menggeleng marah.” “Itu karena aku bersamamu. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.” ia menimpali. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. sedih.. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk. menunduk.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. “siap menjadikan ini akhir hidupmu. Kau siap djAnGgo 415 .” “Tapi aku memang serius. “Manusia?” tanyanya datar.. Aku memandangi gaunku. aku menduga itu semacam.. aku penasaran. “Kaupikir itu sejenis acara resmi.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku. tersenyum.” tukasnya keberatan. Kugigit bibirku dan mengangguk. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.” ia memulai. “Kau siap mengakhiri ini semua. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah.. prom!” ejekku. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon. ini tidak lucu. “Tepat.. Aku ingin kau menjadi manusia . “Aku kan tidak tahu. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku... “Baiklah.. Ia memilih kata kuncinya.” kataku.” ia menyetujui. ragu-ragu. nyaris kepada dirinya sendiri. “Oke. Ia tersenyum sekilas. “Aku tahu.. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain. memainkan chiffon-nya.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. Kucibirkan bibirku. Ia menunggu. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar. atau sedih. bahwa kau akan merubahku.

suaraku berbisik.merelakan semuanya. “Kau sama butanya denganku. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku.” “Aku tahu siapa diriku. ini baru permulaan.” sergahku.” katanya sedih. “Aku tidak pantas mendapatkannya.” djAnGgo 416 . satu alisku terangkat.” “Ini bukan akhir.

“Bella. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu.” Dan ia pun membungkuk lagi. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak.. “Dengar. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. napasku tak beraturan. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. Ia mengamati wajahku lama sekali. kedua tanganku mengepal. tersenyum. ia bakal kecewa.” Wajahnya cemberut melihat tekadku.” bisikku.Aku mendesah. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. jadi suaraku tidak terdengar parau. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya.. “Aku akan tinggal bersamamu.” kataku.” ejeknya.” Kutelan liurku. Ia tergelak misterius. “Ya?” Ia tersenyum. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. “Kalau begitu. “Cukup untuk selamanya. Tidakkah itu cukup?” “Ya. Aku sudah membuat keputusan ini.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. kau sudah siap?” tanyanya. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. melembut. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. lalu menjauh. dan aku yakin.” jawabnya. “Mmm. Monster. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga.” Ekspresinya berubah. djAnGgo 417 . Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. ya. Wajahnya memang kelihatan kecewa. “Untuk sekarang. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. cemberut mendengar pilihan katanya. “Ya. “Seorang gadis boleh bermimpi. “Sekarang juga?” ia berbisik. Tanpa sadar aku gemetar. Ia menghela napas. itu cukup. napasnya terasa sejuk di kulitku. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman.” Alisnya terangkat.” kataku. Kusentuh wajahnya.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.