P. 1
Twilight Bahasa Indonesia

Twilight Bahasa Indonesia

|Views: 3|Likes:
Published by alampandulang

More info:

Published by: alampandulang on Jan 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Pandangan Pertama
  • 2. Buku yang Terbuka
  • 3. Fenomena
  • 4. Undangan
  • 5. Golongan darah
  • 6. Kisah-Kisah Seram
  • 7. Mimpi buruk
  • 8. Port Angeles
  • 9. Teori
  • 10. Interograsi
  • 11. Kesulitan
  • 12. Penyeimbangan
  • 13. Pengakuan
  • 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala
  • 15. Keluarga Cullen
  • 16. Carlise
  • 17. Permainan
  • 18. Perburuan
  • 19. Perpisahan
  • 20. Ketidaksabaran
  • 21. Telepon
  • 22. Petak umpet
  • 23. Malaikat
  • 24. Jalan buntu

TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Tentu saja pemandangannya indah. tampak truk baruku. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. lega bisa memandang murung ke luar jendela. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. well. “Aku senang kau menyukainya. Ini permintaan ibuku. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. ia tidak pernah membuntutiku. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. Dad. dan aku harus memakainya dengan Charlie. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. Lantai kayu. Terlalu hijau. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. “Wow. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. kanopi di antara cabangcabangnya. baru buatku.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. semua ini bagian masa kecilku. sekali lagi merasa malu. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu.” kata Charlie parau. aku tak bisa menyangkalnya. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. Truk itu berwarna merah kusam. supaya kami gampang berkomunikasi. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. Kamar itu sangat familier. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. Ditambah lagi. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. masa-masa awal. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. Di sana. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. itu kamarku sejak aku dilahirkan. Yang membuatku amat terkejut. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. aku menyukainya. sebuah planet yang asing. dinding biru cerah.

sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. pemain voli. ketika aku harus memikirkan esok pagi. tapi aku djAnGgo 10 . sporty. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. Aku harus berkulit coklat. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. mengundang penasaran. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. orang aneh. Barangkali tipuan cahaya. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. meskipun sering terpapar sinar matahari. jelas bukan atlet. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. pirang. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama.untuk menangis habis-habisan. Tubuhku selalu langsing. sekarang 358. tapi lembek. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. atau pemandu sorak mungkin. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama.

ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. nyaris transparan. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. bahkan setelah aku selesai menangis. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. tak pernah selaras denganku. Hujan masih gerimis. Kulitku bisa saja cantik. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Charlie berangkat duluan. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. Yang penting adalah akibatnya. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. tak pernah benar-benar sepaham. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. seperti di kandang. meski tahu doanya sia-sia. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. Mungkin ada masakah dengan otakku. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. titik. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. serta lantai linoleumnya yang putih. dan menguncinya. Aku berterima kasih padanya. Tapi penyebabnya tidak penting. tidak sehat. Tidurku gelisah malam itu. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Tak ada yang berubah. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. Bahkan ibuku. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. tapi semua itu tergantung warna. Disini aku tidak memiliki warna. tampak deretan foto-foto. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. rak-rak kuning terang. setidaknya selama aku tinggal di sini. bening. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini.terlihat pucat. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah. dan menerobos hujan. Dan besok baru permulaannya. Rasanya mustahil berada di rumah ini. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. kemudian menambahkan bantal-bantal. Aku mengenakan jaketku. Keberuntungan selalu menjauhiku. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. dengan dinding panelnya yang gelap. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. mengamati dapur kecilnya. Itu membuatku tidak nyaman. Aku malu melihatnya. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur.

Radio antiknya masih berfungsi. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. meskipun aku belum pernah kesana. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. dan peppermint . yang membuatku berhenti. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. Mesinnya langsung menyala. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. dan aku lega karenanya. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. Di dalam truk nyaman dan kering. Bangunan sekolah. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. Yah. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. tapi derunya keras sekali. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 .kuinginkan. bensin. nilai tambah yang tidak terduga. letaknya tak jauh dari jalan raya. truk setua ini pasti memiliki kekurangan. seperti kebanyakan bangunan lainnya. dibangun dengan batu bata warna marun.

berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. aku setengah membohongi diriku. “Tentu saja. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Tak diragukan lagi. berusaha mengingatnya. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. mengikuti barisan-barisan mobil lain. bunyinya TATA USAHA. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. “Ini jadwal pelajaranmu. Aku bisa melakukannya. Kulihat matanya berkilat terkejut. Aku mempelajari petanya di dalam truk. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. karpet bersemburat jingga.” kataku. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Aku memasukkan semua ke tas. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. Disini. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Jaket hitam polosku tidak mencolok. dan menyilangkan talinya di bahu. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. gedung tiga dengan mudah kutemukan. dan peta sekolah. Ia mengenakan T-shirt ungu. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. aku akan segera menjadi topik gosip. sebuah jam dinding besar berdetak keras. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Ada 3 meja di balik konter. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. seperti Charlie. Wanita berambut merah itu mendongak. dan menarik napas panjang.” katanya. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. Di tempat asalku. Tak ada yang bakal menggigitku. Kelasnya kecil. Ketika aku keluar lagi menuju truk. Kantornya kecil. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. Tak ada yang parkir disana. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. Di dalam keadaan cukup terang. Ia tersenyum dan berharap. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. aku senang berada disini di Forks. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. aku menyadarinya dengan perasaan lega. dan lebih hangat dari yang kuharap. berambut merah yang menggunakan kacamata. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. Begitu sampai di kafetaria. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. dan jelas mencolok. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. murid-murid lain berdatangan. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. tak ada yang bagus. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. Aku mengemudi mengelilingi sekolah.

Chauter. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Faulkner. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Bacaan dasar : Brontë. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. Mason.mereka di tiang gantungan yang panjang. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. Aku terus menunduk. bukan respon yang membangun. Menyenangkan. Shakespeare. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. rambutnya cokelat muda. Mereka 2 orang gadis.. yang satu berambut pirang. yang lain juga berkulit pucat. dan membosankan. Aku sudah pernah membaca semuanya. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 .. Aku mencontoh mereka.

Vanner. Aku tak ingat namanya. “Jadi.” aku meralatnya. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. wajahku merah padam. Tubuhnya mungil. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. dengan Hefferson.” “Wow. yang sudah reda.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta. Ketika bel berbunyi. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. Aku tergagap. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.. Eric mengantarku sampai pintu. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. “Sangat. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. Setelah 2 pelajaran.” “Ibuku setengah albino. “Aku akan ke gedung empat. “Mmm. Pemerintahan. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara. “Aku Eric. Guru Trigonometriku. di gedung enam. tipe anggota klub catur. dan aku mendesah. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. “Bella. Beberapa bulan saja di tempat ini. Mr. “Cerah. aku bisa menunjukkannya padamu. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. Aku mencoba berdiplomasi. “Semoga berhasil. Aku tersenyum hati-hati.” Ia berharap. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. Kuharap aku tidak menjadi paranoid.” tambahnya. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku. djAnGgo 15 . “Kau Isabella Swan.” Jelas tipe kelewat suka menolong. suaranya berupa gumaman sengau. “Kulitmu tidak terlalu cokelat. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol.” ujarku. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. Aku tersenyum samar dan masuk. “Terima kasih.. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. meskipun papan tandanya jelas. lebih pendek daripada aku yang 160 senti.” katanya ketika aku meraih gagang pintu.

duduk di ruang makan siang. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. melambai padaku dari seberang ruangan. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. djAnGgo 16 . ketika aku pertama kali melihat mereka. Cowok dari kelas bahasa Inggris.Aku tak berusaha memperhatikannya. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. Ia memperkenalkanku kepada mereka. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. Disanalah. Eric.

Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. seolah temanku telah menyebut namanya. Mereka juga memiliki kantong mata. Mereka semua mengalihkan pandangan. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. semua garis tubuh mereka lurus. dari satu sama lain. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. juga tidak makan. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Dari 3 cowok. atau si cowok berambut perunggu. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. lebih langsing. Yang jangkung tatapannya dingin. Ketika aku memperhatikan. Mataku tertuju kembali ke yang lain. sempurna. memar seperti bayangan. Lebih pucat daripada aku. berotot seperti atlet angkat besi professional. Terlepas dari hidung mereka. Namun toh mereka sama persis. Mereka pucat pasi. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. yang 1 bertubuh besar. dari murid-murid lain. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. kaleng sodanya belum dibuka. yang aku lupa namanya.Mereka duduk di sudut kafetaria. begitu kontras dengan warna rambut mereka. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Tubuhnya indah. semuanya luar biasa. namun sangat mirip. sangat kurus. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Mata mereka sangat gelap. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. Mereka tidak terpana menatapku. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. telah djAnGgo 17 . dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. rambutnya gelap ikal. apelnya masih utuh. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. keunguan. Ia berpaling dengan cepat. Aku terus mengawasinya. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. keindahan yang memancarkan kekejaman. sejauh mungkin dari tempat dudukku. si albino. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. yang kelihatannya sudah kuliah. perawakannya mungil. mungkin yang paling muda. Yang lain lebih tinggi. Rambutnya keemasan. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. dipotong pendek dan lancip. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. yang sama sekali tak beranjak. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. tergerai lembut di punggung. Mereka tidak bicara. Yang cewek-cewek kebalikannya. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. kaku. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. Mereka berlima. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. si cewek mungil bangkit membawa nampan. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. Rambutnya hitam kelam.

bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. menunduk memandangi meja seperti aku. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat. Yang 3 lagi masih membuang muka. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. yang sekarang sedang memandangi nampannya. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. Cullen dan istrinya.memutuskan untuk tidak menjawab. Aku melirik cowok tampan itu. “Itu Edward dan Emmett Cullen.” Ia mengatakannya dengan berbisik. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. mereka tinggal bersama dr. Mulutnya bergerak sangat cepat. djAnGgo 18 . serta Rosalie dan Jasper Hale.

Tapi kalau mencoba jujur.” Aku merasakan sebersit rasa iba. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska. “Dan mereka selalu bersama-sama.” Jessica menambahkan.” “Oh.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu.” kata Jessica. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. Dr. dan jelas tidak diterima. kira-kira 20-an atau awal 30-an. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. yang paling muda. sangat tampan dan cantik.. Cullen masih sangat muda. “Tidak. Saat aku mengamati mereka. dan Jasper dan Alice. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. nama yang sangat umum. Cullen tidak bisa punya anak.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku.” “Mereka baik sekali. ada 2 cewek yang bernama Jessica. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. ketika mereka masih kecil dan segalanya. pikirku.. Mrs. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas.. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . Emmett dan Rosalie. salah satu yang bermarga Cullen. pikirku kritis. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. Mereka semua anak adopsi. yang pirang. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. mereka adalah pendatang.” ujar Jessica enggan. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. aku menduga alasannya adalah iri. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.” “Kurasa begitu.” “Sekarang memang.Nama-nama aneh dan tidak populer. “Mereka. Jasper dan Rosalie umurnya 18. maksudku. Dan mereka tinggal bersamasama. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. mendongak dan beradu pandang denganku. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. mau memelihara semua anak-anak itu. sekaligus lega.. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. memang tidak. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. Cullen sejak masih 8 tahun. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun. “Kurasa Mrs. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. mereka anak angkat. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer.

Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Dia tampan. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. “Itu Edward. sikapnya jelas pahit. Ia sudah memalingkan wajah. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.” Jessica mendengus. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. ekspresinya sedikit gelisah. Dia tidak berkencan. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. Lalu aku kembali memandang Edward. dan ia masih menatapku. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Aku kembali menunduk. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. tapi jangan buang-buang waktu. seolah-olah dia juga tersenyum.lewat sudut mata. tentu saja. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian.

matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . dan menyesalinya. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. tidak bersahabat. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Ketika aku melewatinya. Ia sudah punya teman sebangku. gusar. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. duduk di sebelah kursi yang kosong. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Tak mungkin ada hubungannya denganku. Aromanya seperti stroberi. Bergegas aku memalingkan wajah. Cewek yang duduk disitu terkekeh. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Mr. Ia menatapku lagi. dan selalu menunduk.baruku. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. aroma shampo kesukaanku. Di sisi gang tengah. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. Sepertinya baunya cukup enak. Untuk yang satu ini. Ia menjauh dariku. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. kecuali satu yang masih kosong. Tanpa mengangkat wajah. dia juga tak pernah santai. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. wajahku merah padam. kuatur bukuku di meja lalu duduk. Diam-diam aku mengendus rambutku. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Ketika kami memasuki kelas. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. terkejut. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. aku diam-diam memperhatikan Edward. sejauh mungkin dariku. persis yang dulu sering kutempati. hitam legam. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. Ia juga pemalu. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Ia sama sekali tidak mengenalku. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. Ia sedang menatapku. sebagai penghalang diantara kami. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. Sekali lagi aku mengintip. duduk di ujung kursi. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas.

Ia jahat sekali. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan.jijik. ia lebih tinggi daripada yang kukira. membuatku terperanjat. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. Dengan luwes dia berdiri. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. Bel berbunyi keras. menatapnya tanpa berkedip. Kalau marah aku biasanya menangis. memunggungiku. Ia tersenyum ramah. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. djAnGgo 22 . rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. Ini tidak adil. kebiasaan memalukan. Ketika aku mengalihkan pandang. menciut di kursiku. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Aku duduk membeku.

“Jadi. memudahkan segalanya buatku. Pintunya terbuka lagi. Dari pembicaraan kami. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli.” timpalku. aku bakal mengobrol denganmu. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Di tempat asalku. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. Kurasa aku bisa menemukannya. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. Akhirnya bel terakhir berbunyi. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. Guru senam kami. “Aku Mike. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu.” Ia tampak senang. ketika bermain voli aku merasa agak mual. jam mana saja.” katanya. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. nada suaranya rendah dan indah.” ralatku sambil tersenyum. Hujan sudah reda. menunggu petugas resepsionis selesai.” “Dia aneh. Kami berjalan bareng ke gymnasium. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. Ia cukup bersahabat dan mempesona. “Dia tampaknya kesakitan atau apa.” Aku menciut. Pelatih Clapp. Edward Cullen berdiri di meja di depanku.” “Aku tidak tahu. Edward sedang berdebat dengannya. Aku memeluk diriku sendiri. Aku berdiri merapat ke dinding belakang.” Bukannya menuju kamar ganti.“Bella. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Mike. meniup kertas-kertas di meja. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. memberikan seragam buatku. dan yang kutimbulkan. Pasti sesuatu yang lain. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Mike malah terus bersamaku. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya. Cewek yang djAnGgo 23 . Jadi.” “Itu juga kelasku berikutnya. “Ya. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari.” “Hai. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris. ia bertanya. Secara harfiah. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. Forks bagiku adalah neraka di bumi. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. meniup rambutku hingga menutupi wajah. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun.

Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. “Kalau begitu lupakan saja. lalu keluar lagi.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. meletakkan catatan di keranjang kawat. Ia berbalik lagi ke resepsionis. dan perlahan ia berbalik menatapku. Tapi punggung Edward Cullen menegang. djAnGgo 24 . tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. wajahnya luar biasa tampan. “Aku mengerti ini tak mungkin.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi.masuk langsung melangkah ke meja. lalu lenyap di balik pintu. Tatapannya hanya sedetik.

“Bagaimana hari pertamamu. Ketika tiba di lapangan parkir. wajahku pucat dan bukannya memerah. Ia kelihatan tidak percaya. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala.Aku berjalan pelan ke meja. hanya tinggal beberapa mobil disana. Nak?” tanya resepsionis lembut. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana.” aku berbohong. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. suaraku lemah. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. hanya menerawang ke luar kaca depan. “Baik. Aku duduk sebentar di dalamnya. djAnGgo 25 .

waswas terhadap tatapan anehnya. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. Lebih buruk karena aku lelah. Di kota seperti ini. Lebih buruk karena Mr. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. Eric. yang mirip Golden Retriever. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. meski langit sudah tebal oleh mendung. dan membuktikan kecurigaanku keliru.. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. dan dengan berlalunya waktu. Jessica. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah.. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. dan sekalinya tidak terhantam bola.2. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. tapi ia sendiri tak ada. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. tapi juga lebih buruk. Sesampainya di pintu aku menahan napas. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. gelisah menantikan kedatangan Edward. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Ia tidak datang. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. akupun semakin tegang. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Edward masih belum muncul juga. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. aku merasa sangat tidak nyaman. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. bukan tenggelam. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. dan ini takkan mudah. melangkah setia disisiku menuju kelas. membuatku tersanjung. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Lebih baik karena hujan belum turun. Mike. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. Ketika terbaring nyalang di ranjang. diplomasi sangatlah penting. bersama Mike. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi.

Ketika sekolah akhirnya usai. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. berhubung Edward tidak masuk. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. Aku terus-terusan mengingatkan diriku. Aku djAnGgo 27 . Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Tidak mungkin. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor.

Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. Tidak.. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. Tentu saja. selesai mengepak untuk ke Florida. Sebelum mengerjakan PR. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. dan sekarang akan menuju Thriftway. The Thriftway tak jauh dari sekolah. Aku mendapat 3 pesan.. memastikan semua ada disitu. gaya mereka. dan memeriksa e-mail. simpel. aku membawa tas sekolahku ke atas. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. Kuharap Charlie tidak keberatan. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya.. dan aku menyukainya. hanya beberapa blok ke selatan. “Bella. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. Ketika aku menunggu. melapisi steak dengan saus marinade. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. lalu menyumpalkannya dimana-mana. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. “Bella. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. sama seperti yang lain. Mereka memang suka menyendiri. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Selesai melakukannya. Jadi aku membuat daftar belanjaan. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka.berjalan cepat menuju parkiran. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. namun bermerek. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Kirimi aku kabar begitu kau sampai.” tulisnya. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. Aku pinkku. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. rasanya normal. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. aku tak percaya sepenuhnya. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. hidup memang lebih sering seperti itu. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. Mom. Tapi sejauh yang kutahu. selepas jalan raya. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . aku mengganti pakaian dengan yang kering. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini.. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. Karena sekarang aku memperhatikan. aku melihat Cullen bersaudara.” tulis ibuku. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Volvo baru yang mengkilap. Di tempat asalku akulah yang berbelanja.ku untuk pertama kali.

djAnGgo 29 .Isabella. Kalau sampai jam 5. aku akan menelepon Charlie.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu.

” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Aku masih punya waktu 1 jam. dan memulai lagi.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. Aku akan menulis lagi nanti. Mom. “Steak dan kentang. Tenang saja. ketika masih kanak-kanak. Dad. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. “Jadi. Semua baik-baik saja. kemudian menyiapkan meja makan. tarik sayang Mom. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. Setahuku. “Hei. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. Aku sedang menulis sekarang. Sekolahku tidak jelek. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Memangnya ada orang lain? pikirku. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. Dalam beberapa hal. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Mom. Bell. tapi benar-benar ‘bandel’. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. Tenang. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Aku lupa waktu. kau percaya? Aku menyukainya. Namun diam yang nyaman. kau harus mengambilnya hari Jumat. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. Jangan konyol. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Bella napas. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Mobil tua.” “Terima kasih. Tapi senjatanya itu selalu siaga.Aku melihat jam. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Bella. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . yang berarti bagus. hanya sedikit mengulang pelajaran. Charlie memberikan aku truk. Sudah pulang?” “Ya. Blus pinkmu ada di dry clean. kau tahu kan. Waktu aku datang kesini. demi kesenangan. Aku mengirimnya. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. djAnGgo 30 . dan Dad tampak lega. Aku juga rindu padamu. “Aromanya lezat. Tentu saja disini hujan. buatku.” jawabku. Ibuku juru masak imajinatif. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. kami sangat cocok hidup bersama. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak.

djAnGgo 31 .

Mereka sangat menarik. dia cukup berhasil.” Dengan satu pengecualian mencolok. dan telah setuju untuk ikut. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Setiap hari. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. keluarganya baik.. “Kau harus bertemu dr. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Saat makan siang.” tambahku. suaranya makin keras. Ia kembali menonton TV. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. kalaupun bukan nama. dan setelah selesai mencuci piring. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. “Orang-orang di kota ini. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. “Untunglah pernikahannya bahagia. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku.. Yang kutahu.. Karena banyak backpacker datang kesini. Aku tertidur dengan cepat. Anak baik. Semuanya kelihatan lumayan baik. Memang konyol sih. Pantai seharusnya panas dan kering.“Well. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. “Kita beruntung memilikinya. Cullen.” gumamnya. Tapi mereka sangat dewasa. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri.. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. “Itu pasti Mike Newton. Aku berusaha tidak memikirkannya. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. dengan anak-anak remaja adopsi itu. “Dr. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. Lalu ada cowok.” kata Charlie tertawa. agak berbeda.. Aku mundur sedikit. anakanaknya. “Mereka. Aku diajak.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Bukan karena ingin. kelelahan. ia telah meninggalkan sekolah. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. hampir semua murid di sekolah. Charlie.” lanjutnya. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. Mike. Malam itu suasana tenang. aku duduk bersama teman-temannya. yang sangat bersahabat. Dia aset bagi komunitas kita. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 .. tak lagi menghawatirkan Edward. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku.

. tapi untungnya tidak hujan. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. sehingga aku bisa tidur nyenyak. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. aku tidak jadi membuat kartu anggota. Aku membersihkan rumah. Di djAnGgo 33 . memilih bekerja sepanjang akhir pekan. tenang. Pagi ini cuaca lebih dingin. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis.. dan bergidik memikirkannya. mengerjakan PR. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana. Iseng.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong.

Dua kali Mike menanyakan keadaanku. “Di TV. Jessica menarik lenganku. “Sebenarnya.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Tentu saja lebih kering daripada hujan.” Jelas. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. telingaku panas. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan.” jawabku. “Salju. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. Bola-bola salju melesat dimana-man. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk. “Tentu saja pernah. mataku masih tertuju ke lantai. Ia tertawa. gumpalan es meleleh di rambutnya. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. aku mengingatkan diriku sendiri. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. aku langsung masuk. Mike tampak terkejut. Ada 5 orang di meja itu. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud. “Kita bertemu lagi saat makan siang. Lalu aku berdiri mematung. Aku tak punya alasan untuk merasa malu.” Mike tertawa. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. Sejujurnya. yang berjalan jauh memunggungi kami.” Aku terdiam. “Wow. Angin menerpa pipi dan hidungku.” kata Mike.kelas bahasa Inggris. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. Hilang sudah hari baikku. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. “Hari ini aku minum soda saja. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica.” Mike hanya mengangguk. tahu kan. rupanya ini salju pertama di tahun baru. aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku curiga itu perbuatan Eric. “Uuuh. “Tidak apa-apa.” kataku. Jessica menganggapku konyol. Aku memegang binder di tanganku. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Aku menghirup sodaku pelan-pelan. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Kukatakan aku baik-baik saja. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. Aku tidak mengatakan apa-apa. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. mataku menatap ke bawah. ulangan itu sangat mudah. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya.” Salju. lalu mengikuti mereka ke meja. dan bukannya menuju kelasnya. “Selain itu. perutku keroncongan. Ketika kami berjalan keluar kelas.

seperti pengecut. djAnGgo 35 . Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada. Konyol. Kalau ia menatapku. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. aku akan bolos kelas Biologi.bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan.

ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku menaikkan tudung jaket. Lalu Mike menyela kami. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. aku akan ikut pelajaran Biologi. Aku masih gelisah. tapi toh dia mengalihkan pandangan. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. “Kau sedang menatap apa. Selama sisa waktu makan siang. well. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. Jessica mendengus. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. Jasper. Ia hanya kelihatan penasaran.” “Sudah. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. Tapi dia masih memandangimu.. Mike terus mencerocos. jangan dilihat lagi. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. Mereka menikmati hari bersalju. Dari caranya menatap Mike. berusaha menemukan perbedaan itu. menyembunyikan perasaan senangku. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. Aku sedikit mengangkat kepala. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami.. ada sesuatu yang berbeda. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan.” kata Jessica. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. Hujan turun. seperti tidak puas. “Tidak. Tapi ada sesuatu. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. Edward. Berhubung ia tidak kelihatan marah. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. tapi ketika kami berjalan menuju kelas.” jawabku jujur. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku.” desisku. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. Artinya aku bebas. djAnGgo 36 . Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. “Dia tidak kelihatan marah. seperti anak-anak lainnya. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. “Edward Cullen menatapmu. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. Aku menunduk. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku. Aku diam saja. matanya mengikuti arah pandanganku. Mereka sedang tertawa. terdengar bingung dengan pertanyaanku. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Meski begitu aku yakin.

Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. Air menetes dari rambutnya. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. berantakan. “Halo. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. aku lega karena mejaku masih kosong. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja.” kudengar suara merdu dan tenang. tetapi kursinya diarahkan padaku. Mr.Begitu tiba di kelas. meski begitu djAnGgo 37 . Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser. iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. Aku mendongak. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. tapi mataku tetap terarah pada gambarku.

dan tahu apa yang harus kucari.” gumamnya pelan. partner?” tanya Edward. hanya sedikit. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. “Oh. “Tidak. Seharusnya mudah.” kataku. kepalaku sampai pusing. Bagaimanapun. wajahku merah padam. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar. Banner memulai pelajaran saat itu juga. Ia tertawa lembut. “Maksudku. pasti memanggilku Isabella di belakangku. lalu melihatnya sepintas lalu. tawa yang menyenangkan. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini. “Aku akan memulainya.” ia tidak meneruskan. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. langsung meraih tangannya. “Kau duluan. Tapi matanya tampak hati-hati. kurasa semua orang tahu namamu. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. “Profase. maskudku ayahku. ia menunggu. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. Kau pasti Bella Swan. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Bersama partner masing-masing. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar.” Aku memamerkan kemampuanku.” dia setuju. djAnGgo 38 . Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. benar-benar merasa seperti orang bodoh. “Namaku Edward Cullen. aku lebih suka Bella. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi.” Senyum itu memudar. “Tidak. Kupelajari slide-nya sebentar. “ Oh. Aku pernah melakukan percobaan ini.” lanjutnya. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Jari-jarinya dingin bagai es. ia tetap meraih mikroskop.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut. “Tapi kupikir Charlie.” aku mencoba menjelaskan.” Saking bingungnya. Untungnya Mr. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. “Mulai!” perintahnya. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. Aku yakin dengan pengamatanku. “Profase. Aku memalingkan wajah malu-malu. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Aku harus bicara. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak. “Maaf.” kataku.” Aku nyengir. Ketika ia menyentuhku. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. Meski masih kaget.” bantahku bodoh.

dan merasa kecewa karena dugaanku salah. djAnGgo 39 . dan mendorong mikroskop ke arahku. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. ia benar.“Anafase. sambil menulis. Ia menyerahkannya padaku. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. Sial. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi.” gumamnya. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. Aku berusaha terdengar tidak peduli.

” Itu bukan pertanyaan.” Sekarang Mr. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya. Banner mengganguk. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Banner. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. Ia melihat dari balik bahu.” katanya setelah beberapa saat. Kami selesai duluan. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Ia mengintip sebentar.” “Well. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku.” “Oh.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. dan ia sedang menatapku. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya.” jawabku jujur. Banner. menatap percobaan yang telah selesai. Banner menatapku. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah. “Tidak juga.” Mr. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Aku menunduk. “Sayang sekali turun salju. dan aku tak bisa berkonsentrasi. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. “Kau tidak suka dingin. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. Edward. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu.” djAnGgo 40 . “Bella. lalu menuliskannya. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. “Tidak. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. tapi dengan nuansa keemasan yang sama. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. Lalu Mr. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. ekspresinya skeptis. Setelah ia pergi.” “Whitefish blastula?” “Yeah. Aku tersenyum malu-malu. “Jadi. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. Banner menghampiri meja kami.” gumamku. lebih gelap daripada mentega.” Edward meralat ucapan Mr. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.“Interfase. Tangannya mengepal lagi. “Tidak dengan akar bawang merah. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. “Atau basah. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu. Aku mendongak. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. Ketakutan kembali menyelimutiku. ya kan?” Edward bertanya. pandangan frustasi dan misterius yang sama.

“Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku.” gumamku dingin. “Kau tak tahu bagaimana rasanya. entah untuk alasan apa. aku tak bisa membayangkannya. begitu menuntut jawaban.” desaknya.” ujarnya melamun.” “Rasanya aku bisa mengerti.“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. “Jawabannya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya.. tidak blak-blakan seperti dirinya. rumit. Ia tampak terpesona oleh perkataanku. djAnGgo 41 ..

namun tatapannya masih tajam. “Tidak juga. “Mula-mula ia tinggal denganku. Dia bukan pemain andal.” katanya pelan. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. “Phil sering bepergian. “Tidak. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. suaranya masih ramah. “Ibuku menikah lagi. “Tidak.” timpalnya datar. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. “Tapi sekarang kau tidak bahagia.Lama aku diam.” Edward mencoba menebak.” Aku setengah tersenyum.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya.” ujarnya.” katanya.” bantahnya.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. “Itu tidak adil. “Dan kau tidak menyukainya. dan aku menjawab tanpa berpikir.” Lagilagi ia melontarkan dugaan. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. Terlalu muda barangkali. Aku sendiri yang mau. Ini membuatnya tidak bahagia. bahkan untukku sendiri. tapi cukup baik.. “Apakah dia terkenal?” tanyanya.” Ia mengangkat bahu.. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward.. Banner yang sedang berkeliling. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. Ia terdengar senang. “Kurasa tidak. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. lalu memalingkan wajah. balas tersenyum. memandang marah ke papan tulis. itu saja. Aku terus menghindari pandangannya. “Aku tidak mengerti. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.” kataku. Dahiku mengerut. “Pertanyaan yang sangat bagus. mengawasi Mr. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. tapi dia merindukan Phil. “Kau pandai berpura-pura.” Suaraku terdengar sedih. Aku tertawa sinis. Aku menghela napas. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. Dia pemain bola. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. Tatapannya berubah menilai. Aku menghela napas. Phil baik. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. “Terus?” tantangku.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. Benar-benar liga kecil. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya.” gumamnya puas. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. ia tidak mengirimku kesini.” Alisnya bertaut. Aku memandangnya tanpa berpikir. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . Dia sering berpindah-pindah. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. bukan pertanyaan.” ujarnya. “Barangkali tidak. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk. “Ya sudah.” kataku..” Aku nyengir. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting.

” “Biasanya.mudah ditebak.” Wajahku merengut. ia terdengar bersungguh-sungguh. djAnGgo 43 . “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.” Ia tersenyum lebar. aku malah sulit menebakmu. “Kebalikannya.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya. ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.

namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. memastikan tidak ada siapa-siapa. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. Toyota itu beruntung. aku menginjak rem tepat pada waktunya. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. kali ini lebih baik. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. melepas tudungnya. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. djAnGgo 44 . Dan seperti Senin lalu.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. yang mungkin membenciku atau tidak. Ketika bel akhirnya berbunyi.” erangnya. yang jaraknya 3 mobil dariku. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. matanya menatapku lekat-lekat. masih melihat ke sisi lain mobil. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Ia tampak menikmati percakapan kami. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. itu saja. Trukku jenis penghancur. Aku membuka jaket.” “Gampang saja buatku. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. terkejut mendengar ucapannya.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. Banner menyuruh murid-murid tenang. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. “Itu buruk sekali. Aku langsung menyesal. “Aku pernah melakukan percobaan ini. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. dari sudut mataku. “Semua slide itu mirip. Aku berusaha terdengar kasual. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini.” kataku. tapi sekarang bisa kulihat. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. Aku memandang sekelilingku. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. dan berhati-hati mundur lagi. Mike tidak tamapak senang. Mike satu tim denganku hari ini. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. bahwa ia menjauh lagi dariku. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. Kunyalakan mesin penghangat. Aku menarik napas panjang.Mr.

djAnGgo 45 .

dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. Ada cahaya.3. ataupun bertemu teman-teman baruku. tapi bagaimanapun juga cerah. lalu mengerang ngeri. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. Apapun alasannya. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. ada sesuatu yang berbeda. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. Sambil mengemudi ke sekolah. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Dan aku curiga padanya. dengan memikirkan Mike dan Eric. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Hujan yang turun kemarin telah membeku. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. melapisi atap trukku. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Kalau mau jujur. sangat bodoh. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. Dan itu sangat. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. dan membuat jalanan menjadi putih. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Mungkin karena aku masih baru sisini. dan ini membuatku takut. Dilihat dari berbagai sisi. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu.

Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Aku melihat sesuatu berwarna perak. djAnGgo 47 . Meski begitu. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. dan memeriksa banku. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. Aku tak terbiasa diurus.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. aku mengemudi sangat pelan. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. ketika mendengar suara aneh. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. tak ingin tergelincir. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan.

berhamburan ke jalanan. terkejut. dan aku berdiri diantara keduanya.” kataku. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. keras. Aku berusaha menjernihkan pikiran.” Suaraku terdengar aneh. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. nyaris menabrakku lagi. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. “Itulah yang kupikirkan. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. masih berputar dan meluncur. lalu terdengar suara kaca pecah. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. “Aduh. mengumpulkan kekuatan. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit.Itu suara lengkingan tinggi. djAnGgo 48 . dan van itu berhenti. nada suaranya kembali serius. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya.” katanya. benar-benar terkejut. Aku melihat beberapa hal bersamaan. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata.” suaraku perlahan menghilang. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. Dalam kekacauan yang tibatiba. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. “Hati-hati. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. Bella. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. dan sesuatu menarikku. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.. memandangku ngeri.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa.. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. karena van itu masih meluncur mendekat. “Bagaimana bisa. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. Aku mendongak. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. sesuatu menerjangku. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya.

” “Tapi dingin. Aku mencoba bangkit. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Ada kegetiran dalam suaranya.” aku mengeluh. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku. “Jangan bergerak.” seseorang memerintah. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. saling berteriak. berteriak kepada kami. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. “Sekarang jangan bergerak dulu. djAnGgo 49 .

Yang membuat segalanya lebih parah. Edward dengan kasar menolak. Menjengkelkan. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. “Kumohon. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka. dan aku menarikmu dari sana. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku.” “Aku melihatmu.” Rahangku mengeras. “Aku baik-baik saja.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Dad. “Aku tidak apa-apa. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya.” tukasnya. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah.” Ekspresinya berubah kaku.. Aku mengenali Tyler Crowler. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. mulai dari protes sampai marah. Ketika juru rawat pergi. temanku di kelas Pemerintahan. Aku menggertakkan gigiku.” “Kenapa?” desakku. “Oke. ekspresi mereka beragam.” aku mengulanginya dengan nada marah.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. Warna emas di matanya berkilat-kilat.” ia memohon. aku sedang berdiri bersamamu. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. “Tidak. tiba-tiba terdengar putus asa. dan aku berusaha melakukan hal yang sama.” Sekeliling kami kacau. “Tidak.” keluhku. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. dan ia akan mengakuinya. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku. Bella.. aku benar. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. “Kau ada di sebelah mobilmu. Varner dan Pelatih Clapp. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana. “Bella.“Kau ada di sebelah sana. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Edward naik di depan. Mereka membawaku ke UGD. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Yang membuatnya lebih buruk. Char.. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Mr. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi.. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Keluarganya tampak di kejauhan. Butuh enam petugas medis dan dua guru. suaranya yang lembut mengodaku. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 . Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. Lalu datang pasien lain. seolah memberitahu sesuatu yang penting. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. “Percayalah padaku.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku.

Ia menatapku waswas. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. Tyler. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. “Bella. djAnGgo 51 .kurasakan. kau tampak buruk. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa.

Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. Dia ada disini entah dimana. nyengir. tidak seru.” Aku tak pernah pandai berbohong. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri...” katanya.. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. aku terperangkap di UGD. Tidak mudah. aku datang untuk menyelamatkanmu. “Jadi. Edward menarikku. Meski begitu ia pucat. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu. Edward. memamerkan giginya yang sempurna... Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. kau tidak mengenaiku..” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. Ia terus menggumamkan penyesalan. dengan lingkaran di bawah matanya. “Jangan khawatirkan itu.” kataku. wow.” Ia terlihat bingung. ” Tyler memulai. mudah-mudahan untuk terakhir kali.” aku mengeluh. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. Dari yang dideskripsikan Charlie. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. “Tidak ada darah. “Aku baik-baik saja. dia berdiri di sebelahku.” jawabnya.” Lalu seorang dokter menghampiri.Ia mengabaikanku. pirang. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu.” Aku tahu aku tidak sinting. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat. ini pasti ayah Edward. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat.. menunggu. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. dan aku benar. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. aku sangat menyesal. Ia nyengir lagi. djAnGgo 52 . lalu kau menghilang. Mataku langsung terbuka. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. “Cullen? Aku tidak melihatnya. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. namun menghadap ke arahku. dan mulutku menganga melihatnya.. “Hei.. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. Miss Swan. dan mobilku selip.. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. “Siapa?” “Edward Cullen. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. Jadi. “Tapi jangan khawatir. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku.” “Mmm. Cullen berkata dengan suara sangat merdu. “Jadi.” dr. Ia masih muda. tampak lelah. Aku memandangnya.

” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku.” Aku menatap Edward. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku.” kata Edward ponggah. Aku mendengar suara tawa. djAnGgo 53 . dan melihat Edward tersenyum meremehkan. Ia memperhatikan ketika aku meringis. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu.” “Tidak apa-apa. kepalamu terbentur cukup keras. Mataku menyipit.” katanya. “Sakit?” tanyanya.” aku mengulangi sambil menghela napas. “Well. kau bisa pulang dengannya sekarang. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. “Tidak juga. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. ayahmu berada di ruang tunggu. lalu menatap Edward geram. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.“Hasil rontgenmu bagus.

“Sebenarnya. kalau kau tidak keberatan. Alis dr. Cullen dan Tyler. well. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. “Sakitnya tidak separah itu kok. “Aku baik-baik saja. tapi kau menahannya.” desakku.” kata dr. dan dr. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu.” “Bella. “Ayahmmu sudah menunggumu.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek. Terlalu cepat. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. Ia menatapku jengkel. Begitu dokter memunggungiku. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. menutupi wajahku dengan tangan. tidak!” aku berkeras. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. Ia menatapku tak percaya. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. “Kedengarannya kau sangat beruntung. Cullen meralat. tapi nyatanya tidak. ia berbalik menghadapku. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. Tapi wajahnya tegang. “Kau sudah janji.” ia berkata kepada Tyler. Lalu ia berpaling memandang Tyler. aku terpeleset.” Nada suaranya tajam. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. dan aku tak bisa melanjutkannya. djAnGgo 54 . menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward. kepalamu terbentur. Aku memandang dr. tampak bersalah. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. “Aku menyelamatan hidupmu. Lalu semua terlontar begitu saja. Cullen terangkat. ya. Intuisiku tepat.” kataku. Ia mundur selangkah.. “Kau berhutang penjelasan padaku.” dr. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. sang dokter sedang memikirkannya. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. Cullen. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu. dan menghampiri tempat tidur sebelah.” ujar dr. Tyler juga tidak melihatmu. “Oh.” Ia balas menantang. dan mulai memeriksa luka-lukanya. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. Emosiku meluap-luap sekarang.” katanya sepelan mungkin. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku.” “Oh tidak. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku.” ia memberikan saran sambil memegangiku. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. aku tak berhutang apa-apa padamu.. Tatapannya dingin.” aku berkeras. aku bergeser ke sisi Edward. Cullen menangkapku. juga di mobil yang lain. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku.” erangku. rahangnya sekonyong-konyong mengeras.” aku meyakinkannya lagi.” aku mengingatkannya. Ia tampak waswas. tapi itu justru membuatku semakin curiga. Cullen. kutatap dia tajam-tajam. “Apa yang kau mau dariku.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. dan kau sama sekali tidak terluka.

rahangku mengeras.” Suaranya terdengar mengejek sekarang.Aku hanya mengangguk sekali. kau tahu. “Tak ada yang bakal mempercayai itu. djAnGgo 55 .

” Kami saling menatap marah dalam hening. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. kan?” “Tidak. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. Charlie akhirnya bicara. “Kau takkan menyerah.. itulah pertama kali aku merasakannya. “Aku tak tahu.” Aku menunggu. Ia memohon supaya aku mau pulang. yang masih tak bisa kupercaya. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan.” pintaku.. Jessica. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. kuharap kau menikmati kekecewaanmu. “Mm. menatapku. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. tak ingin bebasa-basi. “Aku tak suka berbohong. Mike. marah dan berharap. berusaha untuk tetap fokus. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. Aku terkejut. Lalu ia berbalik dan menjauh.” desakku. kau harus menelepon Renée. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf. Akulah yang pertama bicara. Aku masih kesal. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku.” Aku menghela napas. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. aku mengangkat tangan. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. djAnGgo 56 .” bisiknya.. hati-hati mengendalikan amarahku. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. Ia berhenti.” Ia menunduk bersalah. berasda di mobil patroli. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku.” “Kalau begitu. mulai bergabung dengan kami. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh.. Setelah bisa berjalan. “Aku tidak apa-apa. “Apa kata dokter?” “Dr. tidak benar-benar menyentuhku. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. Bodoh. Ketika kami tiba di rumah. Wajahnya tampak kaget. Tentu saja ibuku histeris.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. Aku sangat marah. Charlie bergegas ke sisiku.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar. Cullen memeriksaku. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. dan Eric ada disana. “Ayo. Rasanya sangat lega.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. Charlie meletakkan lengannya di punggungku.

bodoh. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. bodoh. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. dan begitu rasa sakitnya mereda. membuatku merasa tidak nyaman. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . aku tertidur pulas. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Obat ini lumayan membantu. Charlie terus-menerus mengawasiku.

hanya mengobrol sendiri. Terkahir kali aku bertemu dengannya. menyelamatkan hidupku. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. ketika tangannya tiba-tiba mengepal.” sapaku ramah. aku tak bisa mengejarnya. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. Yang membuatku cemas. Jessica. Merasa kecewa. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. entah dengan cara apa. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Aku berusaha terdengar meyakinkan. memandang ke arahku lagi. dan sejauh mungkin. aku menyadari alasan yang masuk akal. entah bagaimana caranya. dan pada awalnya memalukan. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. tak peduli seberapa keras aku memanggil. Karena ketakutan. tapi ia tetap berkeras. ia tak pernah berbalik. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. djAnGgo 58 . Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. “Halo. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. Edward. terutama Edward. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. Tak satupun dari mereka. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Hanya kadang-kadang. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. tidak makan. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. di luar ruang UGD. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Aku sangat ingin bicara dengannya. dengan tidak mungkinnya. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. sebelum ia tiba-tiba. menegangkan. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. Eric. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. Aku duduk. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. Mike. kami berdua begitu marah. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. tanpa melirik kanan-kiri.4. meninggalkanku dalam kegelapan. berharap ia akan berpaling ke arahku. mencoba terlihat sopan. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. terutama karena aku baik-baik saja. Betapa menyedihkan. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Aku tak bisa melihat wajahnya.

tak sanggup menahan diriku. lalu berpaling lagi. sejengkal dariku. meskipun hanya dari jauh. di kafetaria atau di djAnGgo 59 . setiap hari. mengangguk sekali. Dan itulah kontak terakhirku dengannya. meskipun ia ada disana. Kadangkadang aku memerhatikannya.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku.

well. Aku merasa iba. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku.parkiran. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. “Jadi. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku.” aku mendukungnya. seperti ia juga tak memedulikanku. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. Aku berusaha meyakinkannya. Kalau Mike menolak ajakannya. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud.” Aku berhenti sesaat. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. jelas tidak menyukai reaksiku. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. djAnGgo 60 .. seperti ia mengabaikan kami semua. aku tak akan pergi.” kata Mike menatap lantai. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. wajahnya yang suram pertanda buruk. Seperti biasa. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. dan aku takut menanyakan alasannya. Jess. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya.” “Well.. “Bersenang-senanglah dengan Mike. “Kau yakin tidak keberatan. Ia menelepon beberapa kali.. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. berbincang sangat akrab dengan Eric. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak. Dan mimpi-mimpiku berlanjut.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. mengkhawatirkan aku.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan. “Tidak. Mike juga diam. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu.. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai.” “Bagus dong. Aku benarbenar merana. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku.” aku meyakinkannya. kalau kau berencana mengajakku. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat.. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang. Meskipun aku berlagak tak peduli. mengabaikan Edward. tidak seperti biasa. “Bakal asyik banget lho. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. Ia semakin percaya diri..

” aku menyakinkannya. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 . Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.“Mike. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya. “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak. jadi aku langsung menyusun rencana baru.” tuturku. kurasa kau harus bilang ya padanya.” kataku. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle.” “Kenapa tidak?” desak Mike. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.

hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. terkejut. dengan muram berjalan ke mejanya. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. dan berhubung ini tidak mungkin. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. mataku tetap terpejam. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. Banner mulai bicara. sungguh. Aku menghela napas dan membuka mata. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku.” Mataku menyipit. ini tidak sehat. Menyedihkan. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya.” Aku membuka mata. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung.” kataku. sadar aku mengertakkan gigi. “Siklus Krebs. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. kau benar. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. enggan. berharap ia langsung pergi seperti biasa. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama.” gumamnya. Pengecut seperti biasa. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna. jelas membuatnya kaget. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. Edward?” aku bertanya. “Mr. hati-hati. “Percayalah. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran.” djAnGgo 62 . Ketika bel akhirnya berbunyi. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu. Tapi lebih baik seperti itu. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr.” jawab Edward. Banner. berharap ia akan langsung membuang muka. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Lebih dari menyedihkan. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. Perlahan aku berbalik. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Wajahnya sangat serius. lalu berbalik. Dan Edward sedang menatapku penasaran.” Ia terdengar tulus. Cullen?” panggil Mr. Tanganku mulai gemetaran. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. Banner.” “Yeah. berusaha menenangkan diri. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. Aku balas menatap. Mr. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. itu tidak baik. tidak bisa. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. “Aku minta maaf. “Aku tidak tahu apa maksudmu. “Lalu apa yang kau inginkan.“Maaf. ekspresinya tidak bisa kutebak.” desisku tertahan. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku.” kataku.” ia menjelaskan.

Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya.” Ia jelas sangat marah. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. “Kau tidak tahu apa-apa.Ia terpana. Ketika akhirnya bicara. ia nyaris terdengar marah. Ia memandangku keheranan. Aku terdiam beberapa saat. Kukumpulkan semua buku-bukuku. tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis. lalu berdiri dan berjalan ke pintu.” tukasku. sempat berpikir untuk pergi saja.

tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. menunggu keluarganya.membungkuk untuk memungutinya. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. aku hanya bertanya-tanya. “Well. ternyata Tyler. “Sama-sama. Aku memandang. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. menatap lurus ke depan. Aku harus mengganti lampu belakangnya. rasanya lega ketika sekolah usai. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka.” balasnya geram. lalu menggigit bibir. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. berpaling darinya. tapi ada kelewat banyak saksi. “Oh. Lalu aku sadar itu hanya Eric. Keras sekali. lalu menyerah. “Kupikir ceweklah yang mengajak. Eric. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. banyak orang yang ingin kuhindari. “Well. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Keadaan di gymnsium kacau. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah.” Aku kesal. Aku membuka pintu. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. mungkin lain kali. melompat masuk. Tyler. dan membantingnya keraskeras.” “Tentu.” aku menyetujuinya. Aku berhasil membukanya separuh.” katanya. wajahnya tegang. dan itu bagus. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. pintunya terbuka. Aku mulai melangkah lagi.” “Oh. Matanya menyipit. Cullen menghalangiku. “Terima kasih untuk ajakannya. ya.. tapi masih di sekitar kafetaria. hanya selang 2 kendaraan.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Ia berhenti disana. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. Aku melirik spionku. Aku langsung bangkit berdiri. bibirnya terkaput. Ketika duduk disana.” ia mengakuinya malu-malu. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . Ia ada disana.” kataku. Aku mendengar suara tawa samar-samar.” kataku dingin. Tepat di belakangku. ia sudah menyusun semuanya kembali. Aku nyaris berlari ke truk. Bella. aku tahu. Mobilnya masih menyala. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. tapi aku sering sekali terjatuh. meluncur mulus dihadapanku. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. memotong jalanku. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. “Ehh. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. “Hai. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan. terlalu bingung untuk berdiplomasi. Seperti biasa.. Edward sudah berada di mobilnya. “Maaf.” sapaku. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. “Hei. bingung. “Terima kasih. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. jelas kemacetan ini bukan salahku. Kami belajar basket. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya.

“Aku akan pergi ke luar kota. “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.” akunya. Ini tidak mungkin terjadi. Tyler.disini. “Lalu kenapa. Mike sudah bilang. ” Ia mengangkat bahu. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus.” djAnGgo 65 .” Suaraku agak ketus. “Yeah.” Ia nyengir.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

bingung. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . Selama sebulan terakhir ini. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya... Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan.” “Tidak. Jadi aku menyerah. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu.” Senyum menawan itu muncul lagi.” “Jadi.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas.. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. lalu sisanya terurai begitu saja. “Aku mengandalkan itu. selama aku adalah. Aku masih menunggu kau mempercayainya. Ia nyengir. “Sebenarnya aku terkejut. karena kau tidak mendengarkan.” Ia tersenyum lagi. tapi matanya yang kekuningan tampak serius. tapi ia tetap berusaha tersenyum. “Menyerah?” ulangku bingung.” ia berhenti. aku capek berusaha menjauh darimu. tak yakin apa yang harus kulakukan. “Jadi. “ Well. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang. Tapi kuperingatkan kau. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu. kurasa kita bisa mencobanya.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. Ia tertawa.” kataku. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. aku bukan teman yang baik untukmu. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. Waktu pun berlalu. itu salah satu masalahnya.“Well. menyerah berusaha bersikap baik.” aku mengingatkannya. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. Kalau pintar.” Rahangnya menegang.” “Jangan khawatir. dan menjada suaraku tetap tenang.” Ia masih tersenyum. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian.” Mataku menyipit.” “Mereka akan baik-baik saja. “Atau tidak. “Aku tahu.” gumamku. “Tidak terlalu. “Kau sering bilang begitu.. “Apa teorimu?” Wajahku merona.” sahutnya menerawang. Aku memandang matanya yang keemasan.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun.” katanya sambil mengedip jail. Aku menelan ludah.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata. “Lagi-lagi kau membuatku bingung.. “Ya. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini. kau akan menghindariku. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. ragu-ragu.. orang yang tidak pintar. lalu mengubah topik. “Kedengarannya mauk akal.” sindirku. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran. Ia tersenyum menyesal.” akuku. dan suaranya terdengar serius. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. Ia tertawa. “Tahu nggak.. terus terang. tapi konyolnya suaraku bergetar. “Kau tampak khawatir.” akhirnya aku mengaku. apakah sekarang kita berteman?” “Teman.. “Ya.

djAnGgo 75 . Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.Wayne dan Peter Parker.

” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak.” “Kecuali aku. “Satu.. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya.” “Ceritakan padaku satu teori. “Tergantung apa yang kau inginkan.” “Tidak susah kok. Jadi aku bisa siap-siap. tentu saja. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. “Aku hanya bertanya-tanya. tanpa tersenyum. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.. pikirannya teralih. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. dengan ketegangan. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.” Kami bertatapan. akan sangat memusingkan. “Tidak. waswas namun penasaran.” keluhnya. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan. lalu tanpa diduga mencemooh. kebanyakan orang mudah ditebak.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. bahkan setelah berjanji akan melakukannya. aku tidak lapar. kau tahu. “Atau lebih baik. Ia memandang lewat bahuku.” “Itu sangat memusingkan.” Aku tak mengerti raut wajahnya. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. “Terima kasih. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu.” kataku dingin. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu.” aku meyakinkannya. “Aku tak tahu apa maksudmu.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang.” “Kau marah.” “Tidak. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya.” lanjutku. kecuali kau..” Ia mencemooh lagi. Aku meneguknya sekali. Ia menunggu.” Aku harus berpaling dari tatapannya. Aku menggeleng. Itu.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya.” aku langsung membantah. “Tidak. aku yakin kau salah. “Tidak.. juga.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku.” “Ya. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa. “Lagipula. tatapannya muram. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele. “Kedengarannya adil. mataku menyipit. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan. demi kebaikanku sendiri. “Terlalu memalukan.” djAnGgo 76 . “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya. Aku pernah bilang. nah.

Uuppss. “Jangan yang itu. kau hanya bilang satu jawaban. aku takkan tertawa.” djAnGgo 77 .” aku balas mengingatkan. “Hanya satu teori.” ia mengingatkan aku.” “Kau tidak memberi syarat. “Kau sendiri selalu ingkar janji.

?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. Tapi aku hanya merasa khawatir. “Kau berbahaya?” aku menebak. well.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. “Karena. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm.” “Sial..” ejeknya. bingung. “Aku mengerti.” katanya.” bisikku. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. cuma itu yang kupunya. Sialan. Aku tidak mengerti. sambil menggeleng. tidak nyaman. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan. aku tidak percaya kau jahat. dan. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. Aku mengerjap. terpesona.” Aku ragu-ragu.” tukasku kesal.. tatapannya sarat emosi.” Suaranya nyaris tak terdengar.” kataku.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak.. Ia menunduk. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada.” godanya. tapi matanya masih waswas.” Aku yakin mengenai yang satu ini. lalu mengambil tutup botol. matanya yang kekuningan tampak membara. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. “Kita bakal terlambat. “Kalau begitu. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. “Ceritakan satu teori. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku.” kataku. “Tapi tidak jahat. “Please?” ia menghela napas. “Aku juga terkena batu kryptonite. itu jelas. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. djAnGgo 78 . sampai ketemu lagi. apa?” tanyaku bingung. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. Ia hanya memancangku. “Well.” sahutnya sambil tertawa. “Kuharap kau tidak mencobanya. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.” “Kau salah.” kataku mengingatkan. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya. sedikit saja. “Tidak. sambil menatap untuk terakhir kali. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar. Ia memang berbahaya.. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. Aku menatapnya. “Oh. aku masuk.“Pasti kau bakal tertawa. “Ehh. pikiranku kosong. lebih dari segalanya. dan memutarmutarnya di antara jemarinya.” Ia berubah serius lagi. Ia menunduk.” keluhku.” Ia tersenyum padaku. Aku melompat kaget. mencondongkan tubuhnya ke arahku. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. “Kau kan tidak boleh tertawa. “Nanti juga aku tahu. “Maaf.

mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul.Ketika aku setengah berlari menuju kelas. Setidaknya hujan telah reda. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. djAnGgo 79 . kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi.

Aku bergegas duduk di kursiku.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. Suaranya terdengar sangat dekat. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. “Taruh setetes darah. Mike tampak kesal. sedikit saja. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. dan sedikit kagum. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. lalu memperlihatkannya kepada kami. Oh. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya.” Ia memeragakannya. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. “Yang kedua aplikator segi empat. Aku memejamkan mata. Sir. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. pada masing-masing kotak. tidak.” Ia terdengar bangga. “Aku sudah tahu golongan darahku..” ia selesai dengan peragaannya. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 .” Ia mulai dari meja Mike lagi. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. “Bella. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. sadar Mike dan Angela menatapku. Mr. tapi perutku langsung mulas. aku punya formulir izinnya di mejaku. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. mengagetkanku.. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. Angela kelihatan terkejut. kau baik-baik saja?” tanya Mr. guys.Aku beruntung. Mr. Aku takut mengangkat kepala. Lalu Mr. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. dan mengabsen kamu satu per satu. ia melanjutkan. Banner masuk. “Oke. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator.” gumamku. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku.” kata Mr. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. suara anak-anak mengeluh. perutku rasanya mau meledak. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. “Kemudian oleskan ke kartu. Banner.” kataku lemah. lalu mengenakannya. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. Banner. Aku menelan liurku karena tegang. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian.

kau pucat. Keluarakan saja aku dari sini. pikirku.tidak membolos. Banner. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. “Wow. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. Bella. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Sepertinya ini agak membantu. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.” kata Mike khawatir. memejamkan mata. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap.” aku memohon padanya. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. djAnGgo 81 . Aku masih sangat pusing. Banner memperhatikan.” bisikku. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. Banner. aku berhenti.” kataku mengingatkan. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. “Biarkan aku duduk dulu sebentar. kalau-kalau Mr. jaga tanganmu. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. tidak terlihat dari gedung empat. “Dan apapun yang kau lakukan. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Kalau perlu. “Ya. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. aku akan merangkak.

” kata Edward.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan.” “Aku tahu. Aku berada di kantor TU.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian.” Mike menjelaskan dengan nada defensif.” keluhku. “Aku sedang membawanya ke UKS. Mualnya sudah hilang. “Ya ampun. lega. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. “Kau tampak kacau. Kubuka mataku. “Pergilah. “Hei!” seru Mike. nyengir.” “Aku akan mengantarnya. Edward mengabaikannya. tidak muntah. dia bahkan tidak menusuk jarinya. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. “Turunkan aku!” Kumohon. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel. “Dia pingsan di kelas Biologi. djAnGgo 82 . yang tertinggal jauh di belakang kami. “Kurasa dia pingsan. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi.” lanjutnya. ya. Mike tampak sangat khawatir. Aku tidak menyahut. “Aku yang seharusnya melakukannya. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. Ia membopongku dengan lembut. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. Aku tidak tahu apa yang terjadi. berharap diriku mati.“Apa yang terjadi. Lalu ia pindah. Edward telah menggendongku. menikmati perkataannya.” desahku.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo. tapi tiba-tiba suasananya hangat. bukannya 55.” protes Mike. “Pasti ada saja yang pingsan. “Bahkan dengan darahmu sendiri.” Ia tertawa.” erangku. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. “Turunkan aku. Matanya memancarkan kegembiraan.” aku mendengar suara perempuan terkesiap.” Edward melontarkan ejekan pelan. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak. Sepertinya ini menghiburnya. Sayang.” “Tidak. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.” Edward sudah disebelahku sekarang. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. Aku terus memejamkan mata. “Dia hanya sedikit lemah. kumohon. “Berbaring saja sebentar. Atau setidaknya. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku.” katanya padaku. petugas TU yang berambut merah.” Edward menjelaskan. Kukatupkan bibirku rapat-rapat. “Kau bisa kembali ke kelas. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Kubuka mataku karena terkejut. Miss Cope.” “Bella. berdiri rapat di dinding. Aku tidak sedang berkhayal. nanti juga sembuh. dan ia terdengar muram.

” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan. “Aku disuruh menemaninya. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. “Biasanya memang begitu. “Kadang-kadang. tapi kali ini dalam hal apa. membiarkan mataku terpejam.” aku mengakuinya. ia tidak membantah.” perawat berkata kepadaku.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya. Sayang. “Aku akan mengambil kompres untukmu.” erangku. lalu bergegas meninggalkan ruangan. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. ya?” djAnGgo 83 .” ia memberitahu Edward. “Kau benar. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang.

ia memapah Lee Stephens. Baunya seperti karat.” Edward menatapku dalam-dalam.” Aku mencoba bernapas teratur. “Aku sedang di mobil. tapi aku tak lagi pusing. “Ini dia. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.” tuduhnya. tapi kemudian pintunya terbuka.” kata Edward senang. lalu membuka mata. “Apa kau akan djAnGgo 84 .” gumamnya. “Keluar dari sini. Tapi kalau dipikir-pikir..” bantahku.” Mataku masih terpejam.” tambahnya. dan garam. Aku mendengar suara pintu terbuka. Telingaku berdenging sedikit.” “Ha ha.” kataku sambil bangkit duduk. Aku berani bertaruh dia pasti marah. “Bukan apa-apa. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain.” aku mengingatkannya. “Tadi kau sempat membuatku takut.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.. Mike ganti menatapku. “Percayalah. menatapku dan Edward bergantian.” gumam Edward. “Jangan ikut campur. matanya kelam. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. ayo keluar. aku tahu. “Kurasa aku baik-baik saja. temanku dari kelas Biologi. “Manusia tidak bisa mencium darah.” Jawaban yang masuk akal. mendengarkan CD. “Sudah tidak ada darah lagi. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya. Bella. barangkali ada untungnya perutkku kosong.” “Kasihan Mike.” “Dia sangat membenciku.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. tapi aku merasa semakin pulih. yang tampak pucat. “Kau kelihatan lebih baik. “Aku lihat wajahnya.” katanya. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. “Kau kelihatan lebih baik. keheranan. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. Perawat datang membawa kompres dingin.” Ia meletakkannya di dahiku. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi. aku tidak memerlukannya. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. mengerutkan hidung. “Aku mencium bau darah.” Aku menatapnya. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu.” kataku. bergegas keluar dari ruang perawatan. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu. Sayang. Kuserahkan kompresnya pada perawat. “Oh tidak. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. seperti aku.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. “Well. itulah yang membuatku sakit. “Kita punya korban lagi. “Apa?” tanyaku.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu.” akunya setelah beberapa saat. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. aku bisa. “Ini. “Kau benar-benar menuruti perkatanku.” bantahnya.” Aku nyaris pulih sekarang. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos.” Ia terperangah. tapi mengejutkanku. “Sejujurnya.

” “Yeah.. “Tentu saja.. tak bergerak bagai patung. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan. tatapannya kosong. Aku berusaha terdengar seramah mungkin.” djAnGgo 85 .kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. kurasa begitu. kan sudah kubilang aku akan ikut.

“Apa kau bisa berjalan. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. bahunya merosot.” aku berjanji. Aku mengangguk lemah.” “Sudahlah. Goff takkan keberatan. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik.” “Oke. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang.” erangku. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. “Aku akan datang. “Daahh. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope. “Terima kasih.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward. Ia menatapku sekali lagi. “Aku jalan saja.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. Rasanya menyenangkan.” Kuamati wajahnya. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak.” gumamnya. “Aku baru saja mengundangmu. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. “Gymnasium. tersenyum ironis. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward.” Aku menghela napas. Ia menunduk dan melirikku. di gymnasium. mencoba membacanya. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam. Mrs. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. kau pergi nggak? Maksudku. “Aku bisa mengaturnya. Bella?” serunya. menyipitkan mata menembus hujan. mencoba tampak selemah mungkin. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. sampai ketemu di gymnasium. berjalan gontai ke pintu. “Jadi. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. meskipun mustahil. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. tanpa ekspresi.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. “La Push. Kau merasa lebih baik.” balasku. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. dan aku baik-baik saja.” “Sama-sama.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10.” Aku berdiri hati-hati. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. ekspresinya kembali mengejek. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. Ini sama sekali bukan tantangan. ia bukan tipe seperti itu. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. mata terpejam. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan.” kata Mike. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. “Kalau begitu.” Ia menatap lurus ke depan. ke First Beach. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. kalau begitu semuanya beres. wajahku memang selalu pucat. “Asyik juga bisa membolos Olahraga. Ia membukakan pintu untukku. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun. “Apa kau juga perlu izin. Kita tidak djAnGgo 86 .

“Mike-schmike. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya.ingin di marah. djAnGgo 87 . Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. kan?” Sorot matanya menari-nari. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. marah. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. Aku sangat menyukainya dari seharusnya.” gumamku.

“Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. meski stabil dan tenang. Aku memandangnya.” aku mengakui. “Kau kasar sekali!” gerutuku. Membicarakan ibuku membuatku sedih. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. “Aku tinggal menyeretmu lagi. Usahaku tidak begitu berhasil. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. Hujan turun semakin deras. Alisnya terangkat. marah. “Ini benar-benar tidak perlu. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami. “Pulang. dan lebih berani. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. aku terhuyung ke pintu penumpang. Dia teman baikku. “Berapa umurmu. bih tepatnya menarik jaketku. heran. aku hanya tahu yang kusuka. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran.” kataku. Ia menekan tombol kontol. Ia mengabaikanku.” kataku. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku.” ancamnya. “Lepaskan!” desakku. dan juru masak yang sangat payah. Lalu akhirnya ia melepaskanku.” “Ini juga salah satu favoritku. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya. Aku mendengarkan musiknya. barangkali ia akan tetap menyeretku. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. menyalakan pemanas dan menyetel musik. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit.” Aku berhenti berbicara. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. “Claire de Lune?” tanyaku. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. Harus kuakui. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. terkejut. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. Bella. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu.Aku bingung. tapi lebih cantik.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah.” Ia memandang menembus hujan. Kalaupun aku jatuh.” Aku tak menjawab. “Masuk. Ia tak menyahut. “Tidak terlalu.” cuma itu reaksinya. Ibuku punya sifat lebih terbuka. jadi air menetes-netes ke punggungku.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. “Sudah terbuka. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. termenung. tidak mungkin. mengamatinya dengan tatapan penasaran. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. “Dia sangat mirip denganku. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku.

“Tujuh belas. djAnGgo 89 . Ia menghentikan mobil.” jawabku. penasaran lagi. membuatku tertawa. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. “Kenapa?” tanyanya. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. sedikit bingung. “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.” Nada suaranya mencela.bisa kubayangkan.

“Kau menyetujuinya?” tanya Edward.” “Aku tahu. aku jadi berpikir.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu. kupikir kau bisa. “Aku ingin dia bahagia. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku. “ Well.. aku baru menyebutnya sekali. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. Ia kembali tersenyum.” Ia langsung berhati-hati. “Tapi bagaimanapun. “Tidak.” Aku berhenti sebentar.” “Kau sangat beruntung. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius. Jadi agak berbeda.. sangat muda bagi umurnya. “Jadi. “Aku tak begitu ingat mereka. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku.” kataku. “Maafkan aku. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya. dialah sang orangtua. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu. “Hmm. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka.. matanya mencari-cari jawaban di mataku.” “Dan kau menyayangi mereka.” Itu bukan pertanyaan. Bagaimanapun juga.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 . “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah. itu pun hampir 2 bulan yang lalu.” ujarnya kagum. “Jadi. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik.” Beberapa saat aku jadi ragu. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan.. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius. harus ada yang menjadi orang dewasanya. lalu menghela napas.” Suaranya datar.” Aku tertawa. “Ya. “Ya.” ujarku terbata-bata. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya.. kalau mau.” Tapi aku menjawab terlalu cepat.” “Kau baik sekali...” Ia tersenyum.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya.” gumamku.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. kebenaran atau kebohongan. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku. dia tergila-gila pada Phil. “Apa?” “Menurutmu. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku. “Ku-kurasa. “Apakah itu penting?” tantangku. “Ibuku. dan Phil laki-laki yang diinginkannya.

“Saudara-saudaraku.Ia melirik jam di dasbor.” Aku tak ingin keluar dari mobil.” Ia tersenyum padaku. djAnGgo 91 . Tak ada rahasia di Forks. maaf.” Aku mendesah. juga Jasper dan Rosalie.” “Oh. kurasa kau harus pergi. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang. “Aku yakin dia sudah mendengarnya. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku.

matanya yang keemasan menyala-nyala.. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.” Aku berusaha terdengar antusias. “Akan kuusahakan.Ia tertawa. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. well . “Jangan tersinggung.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. “Selamat bersenang-senang di pantai. di selatan Rainier. Aku memandangnya. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping.. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku. “Oh. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. oke?” Ia tersenyum sangat lebar. Aku mengangguk putus asa.. Jadi.. ada kekhawatiran dalam tawanya. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. djAnGgo 92 .” Ia memandangi hujan yang masih turun. cuacanya bagus untuk berjemur. selamat bersenang-senang.

djAnGgo 93 .

hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. wajahku tetap datar.tak tahu kenapa Bella”. ia mencibir ketika menyebut namaku. “Aku tidak tahu. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. “. meskipun di tengah guyuran hujan. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. Jessica tampak jengkel. “Oh ya?” sahutku. “Jadi. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. Tapi hari ini udara lebih hangat. Alice. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. Hari ini hanya Rosalie. aku menunggu-nunggu suara trukku. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. hampir 15°C. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. tapi juga sedikit posesif. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat..” ujarku setuju. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. Aku tepat di belakangnya. menunjukkan kesetiaannya padaku. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. “Kau tahu. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. semua sibuk membicarakan rencana besok. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya.6. aku toh masih berharap.” Mike berbisik padanya. Aku tidak mengerti kenapa. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. “Dia tak pernah mengatakannya. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. Mike sudah ceria lagi. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. Di mejaku yang biasa. “Dia temanku. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat. lagi. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. Terutama Jessica..” jawabku jujur. dia duduk bersama kita.” “Kau sepertinya agak marah. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. dan ia tidak menyadarinya. Meski begitu. Kupikir.” “Memang aneh. truk itu tiba-tiba sudah disana. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. Itu aneh. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini.” pancing Jessica. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 .” aku mendengarnya bergumam pada Mike. atau begitulah menurutku.

Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Bukannya aku bakal memberitahunya. Kelihatannya ia tak keberatan.” tanyaku santai. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. dan barangkali kakek buyut mereka juga.Jessica dan Angela melewatiku. Malam itu. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. djAnGgo 95 . “Dad. dan orangtua mereka. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. saat makan malam. sehingga sulit untuk mengubahnya. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi.

” Ia terdengar terkejut. Awan-awan menggantung di langit. tapi jelas itu matahari. Eric ada disana. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun. Aku mengulum senyum. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. Betapa mudahnya membuat Mike senang. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Mike tampak kecewa. duduk di kursi depan Suburban Mike. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. kecuali kau mengundang seseorang.” Ia tersenyum bahagia. Jess ada disana. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. gembira. Bukan di tempat semestinya. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. Aku sudah pernah melihatnya. tapi belum pernah singgah disana.” ujarnya. “Mungkin aku salah mengingat namanya.” Aku bermaksud pergi tidur. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Setidaknya Mike senang melihatku. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. Tapi tetap saja mempesona. Meski begitu. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk. Aku tak percaya. sehingga semua mobil penuh. dan bisa dipastikan. khawatir kalau kutinggalkan. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. Aku senang bisa duduk dekat jendela. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota. terlalu rendah. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. “Sudah kubilang hari bakal cerah. Mike tampak puas. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. membisikkan sesuatu pada Lauren. matahari bersinar.” gumamku. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. “Kau datang!” serunya. Airnya kelabu gelap.“Yeah. “Terlalu banyak beruang. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. diikuti Angela dan Lauren. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu.. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. dan Sungai Quillayute yang lebar.. langit biru itu akan lenyap lagi.” ujarku berbohong. “Tidak.” aku mengingatkan.” Mike menambahkan. berharap tidak ketahuan. kenapa?” Aku mengangkat bahu. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali.” “Oke. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. “Kau boleh membawa senjata. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Lee mengajak dua orang lagi. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . Aku berdiri di jendela selama mungkin.” “Oh.

keemasan yang kusam.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. jauh dari jangkauan ombak. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. abu-abu. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. djAnGgo 97 . hijau laut. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya. lavender . Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. naik ke puncak yang tak beraturan. yang dari kejauhan tampak abu-abu. biru. beberapa berimpitan di bibir hutan. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. beberapa sendirian.

“Kalau begitu kau akan menyukai ini. Untung Jess ada di sisinya yang lain. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam.” kataku kagum. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Awan-awan masih mengelilingi langit. cewek-cewek lain berkumpul. Ini benar-benar dilema. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. Setengah jam setelah mengobrol. melompat-lompat di atas bebatuan. Pendakiannya tidak terlalu panjang. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup.Angin kencang bertiup bersama ombak. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. “Belum. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Ombaknya rendah. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. perhatikan warna-warnanya. Aku harus berhati-hati melangkah. Ia tidak ingin mendaki. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. penuh abu hitam. sejuk dan asin. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. agar tidak jatuh ke lautan. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Ada api unggun disana. bergosip ceria di sebelahku. bertengger di ujung tebing berbahaya.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. Mike berlutut di depan api unggun. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Yang lain sepertinya tak kenal takut. Kami berjalan menuju pantai. “Itu karena garam. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. dan rantingranting di atas kepalaku. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. lalu duduk di sebelahku. lalu duduk hati-hati disana. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. “Warnanya biru.

hingga beberapa kali aku terjatuh. tapi bisa saja lebih parah. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. Aku begitu terlena. Telapak tanganku beberapa kali tergores. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. kulit mereka berwarna tembaga. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. jumlah orang disana sudah bertambah. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. djAnGgo 99 . Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. Ketika kami kembali ke First Beach.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. Ketika makin dekat. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka.

” “Rachel dan Rebecca. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. aku yang bungsu. Aku duduk di sebelah Angela. Angela dan aku tiba terakhir. dan melekat dalam pikiranku. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. Mungkin seharusnya aku mengingatmu.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. Kulitnya menawan. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. perlahan-lahan menutupi langit biru. dan membuat ombak berubah gelap. “Bella. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. “Kau membeli truk ayahku. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. yang lain ikut mendaki. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. agar mereka bisa pergi memancing.” “Oh. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir. ketika Eric memperkenalkan nama kami. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. Mike. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. halus dan kecoklatan. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman.” tiba-tiba aku teringat. aku duduk sendirian di seonggok kayu.” “Bukan. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. sering kali samar-samar. berdua atau bertiga. mungkin 15. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. kau pasti ingat kakak-kakakku. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. “Aku Jacob Black. sambil menjabat tangannya yang ramping. Jacob pindah duduk di sebelahku. “Kau putra Billy. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi.” sahutku lega. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda.” keluhku. beranjak ke toko di pedesaan. menggantikan Angela. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. “Kau Isabella Swan. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. matanya gelap. kadang-kadang menghalangi matahari. dan. Selama makan siang awan mulai berkumpul. Sepertinya dia berumur 14. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. dan hal itu menggangguku.

terhenti. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku. “Tidak. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington. “Aku menyukainya. sekarang dia tinggal di Hawaii.” djAnGgo 101 .” “Menikah. kau menyukai truknya?” tanyanya. Truknya hebat. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka. “Jadi.” Jacob menggeleng. Wow.

“Aku baru saja bilang pada Tyler. “Jadi. Hasilnya tentu saja tidak sama. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. bahwa mereka tidak diizinkan.” “Tidak sepelan itu kok. “Bella.” aku tertawa. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. awan akhirnya menutupi langit. dan matanya yang curiga menyipit. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. namun enak didengar. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. Ia sangat mudah diajak bicara. mereka dilarang datang. Kalau begitu jangan. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. Jacob?” tanya Lauren. “Bagus. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. dan setengah berbalik menghadapnya.” ia tertawa.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu. Ia tersenyum penuh pengertian. tapi jalannya pelan sekali. “Maaf. “Ya. mengabaikan pertanyaan Lauren. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. Suaranya serak.” Ia nyengir. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. Tyler. terkagum-kagum. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. bagiku itu sesuatu yang ironis. dengan nada yang kupikir kasar.” ia tertawa. Perhatian Lauren pun teralihkan.” Aku nyengir. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. menuju garis batas yang pebuh driftwood. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum. sorot matanya masih coba kupahami.” jawabku.“Yeah. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. terkejut. “aku belum tahu. Rencana bodoh. Aku menatap cowok bersuara berat itu. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. “Jadi. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. aku yakin. dan suaranya sangat berat. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. dari seberang. “Maksudmu anak-anak dr. tapi aku berjanji akan mencari tahu. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. Jacob mengusik ketenanganku. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. kan?” candanya. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. djAnGgo 102 . Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. sambil memperhatikan wajahku. “Ya. “Kau kenal Bella. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. Ia tersenyum menawan.” Jacob menimpali sambil tertawa. tersenyum padaku lagi. membuat laut gelap dan suhu turun. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. “Bagus sekali. memandangku bersahabat.” panggilnya lagi. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini.” sergahku. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku.

tanganku ke saku djAnGgo 103 .Kumasukkan jaket.

“Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. aku takkan bilang siapa-siapa. aku hanya penasaran. ada banyak legenda. “Tidak juga. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala.“Jadi. tentang asal-muasal kami. Ia memandang bebatuan. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. dan beberapa yang lain belum terlalu tua.” ia mengaku keheranan. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita.” jawabku jujur. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget.” lanjutnya.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin.” “Oh.” ia mengaku malu-malu. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. “Itu Sam. Benarbenar konyol. “Tapi setelah mobilku selesai. “Aku suka. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. berharap jawabannya ya. “Well.” Ia tersenyum. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. sepertin Nuh dan bahteranya. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. tubuhku cukup tinggi. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah.” kataku bersemangat. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. “Aku baru saja berumur 15. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. umurnya 19. “Tidak terlalu. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. memandang Pulau James.” “Untuk anak seusiaku. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu.” Ia memalingkan wajah. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya. djAnGgo 104 . ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam. setelah aku dapat SIM. “Keluarga Cullen? Oh. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. Aku berusaha mengabaikannya. aku bisa pergi sesering yang kumau. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung.” jelasnya. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. “Upss. Ia balas tersenyum menawan. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. “Kupikir kau lebih tua. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. “Ya. tak lagi berpura-pura. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. suara tak menyenangkan.” Suaranya semakin rendah.” ia memberitahuku. konon katanya.” Jacob memutar bola matanya. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara.

Kau tahu. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. serigala jadi-jadian. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. well. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia. seperti leluhur kami.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. djAnGgo 105 .” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. seperti ayahku. “Dia tetua suku. bukan serigala sesungguhnya. Kau bisa menyebutnya werewolf.” Aku menatapnya serius.

kemudian bergidik.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. Aku tak tahu bagaimana rupaku. aku takkan bilang.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. sambil masih menatap ombak. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. yang berdarah dingin adalah musuh kami. entah bagaimana caranya. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. Carlisle. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. Cullen mulai bekerja disana.” Ia mengedip. Pada masa kakek buyutku. mereka sudah mengenal pemimpinnya. “Tapi sungguh. kan. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka.” jawabnya. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius.” Jacob tiba-tiba berhenti. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia.” Jacob berusaha menahan senyumnya. kan?” Aku mengulurkan lengan.” Ia tersenyum. “Kau merinding. tapi sisanya sama saja. Ia tersenyum senang. “Keren. “Kalau mereka tidak berbahaya.” lanjut Jacob. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. “Sekarang jumlah mereka bertambah. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri.” Jacob tertawa.“Jadi kau tahu.” aku memujinya. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat.” kataku berjanji. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. “Kau pencerita yang baik.. Bulu kudukku masih berdiri. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.” Aku belum dapat menahan emosiku. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. dan melanjutkan ceritanya lagi. jadi aku tak berpaling menatapnya.” ia tertawa gembira. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. lalu kenapa. lihat.. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. seorang perempuan dan laki-laki baru.” Aku mencoba mengerti. namun sedikit waswas. “Mereka adalah kelompok yang sama. “Tidak. jangan bilang apa-apa pada Charlie. “secara tradisional. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. suaranya membuat bulu kuduk meremang.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. “Peminum darah. “Cerita yang cukup sinting.” “Tentu. Konon.” “Jadi. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya.

” bisikku. “Tidak. Bella. Aku mengedip padanya. “Itu pacarmu?” tanya Jacob. djAnGgo 107 . dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami. senang karena rayuanku yang payah. Jacob tersenyum. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike. tentu saja bukan. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi.mendekat.” Mike terdengar lega. “Disini kau rupanya.

Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. kalau aku mendapat SIM-ku. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. dan ia balas tersenyum. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. Sepertinya memang akan hujan. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini. “Aku datang. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike. “Aku juga.” Mike berhenti.” ia memulai lagi.” Aku melompat berdiri.” kata Jacob. “Kau dari mana saja?” tanya Mike.” aku berjanji padanya. Mike sudah di dekat kami sekarang. Jacob tersenyum.” jawabku.. “Kita akan berkemaskemas.” “Senang bertemu lagi denganmu. Kita harus nongkrong bareng sesekali. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. “Kau harus mengunjungiku di Forks.” Kami memandang langit yang mulai mendung.” “Terima kasih. memandangi badai yang semakin dahsyat. “Well. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya.“Jadi. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. “Oke.. sepertinya sebentar lagi hujan. Angela hanya memandang ke luar jendela. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob. djAnGgo 108 . “Sangat menarik. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.” ucapku tulus. Ketika kami sampai di Suburban. Ia sangat mudah diajak berteman. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. memejamkan mata dan berusaha santai. aku akan ikut. “Akan kutunggu. mengingat aku telah memanfaatkannya.

djAnGgo 109 .

Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. kini putus asa menginginkan matahari. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. “Lewat sini. Aku maju selangkah. menekan tombol Play. CD-nya kuputar berulang-ulang. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. “Kenapa?” tanyaku. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. Bella!” seru Mike dari belakang. sekujur tubuhnya gemetaran. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. matanya gelap dan berbahaya. dan tidak ingin makan apa-apa. “Tidak!” teriakku.” ujarnya. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. ada apa?” aku bertanya. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. Aku memasukkan CD itu. aku tertidur. taringnya siap menerkam leher Edward. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Setelah 3 kali memutar CD itu. Tapi ia sudah lenyap. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. bulu-bulu tengkuknya meremang. “Lari. akhirnya. Karenanya. “Percayalah padaku. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. “Jacob!” jeritku. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. hingga. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. mencoba memahami liriknya. “Jacob. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 .7. Begitu sampai di kamar. Ia tersenyum. Aku memejamkan mata. tapi Jacob Black ada disana. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. kulitnya bercahaya samar. Bella. Aku mencoba mengikuti suara itu. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. dan giginya tajam. Aku melangkah sekali lagi. “Lari.Tapi aku tidak berpaling. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. runcing. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. Berhasil. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. menarik-narik tanganku. aku mengunci pintu. suaranya mendengkur. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. tapi aku tak bisa melihatnya. menghampiri Edward. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap.

layanan servis gratisnya buruk. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. bingung. Aku makan pelan-pelan. Kakiku kram ketika menaiki tangga. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Vampir. untuk men. sesuatu yang tak pernah kulakukan. membuka kancing jinsku. dan perusahaan kosmetik gotik.tidur. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. Vampir A-Z. Kulepaskan headphone-nya. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. Ia pergi memancing lagi. grup metal underground. Aku mengerang. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. Hanya dengan berbungkus handuk. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Aku tak bisa tidur lagi.30. batinku. Lampu kamar masih menyala. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. atau sudah pergi. Percuma. Kuintip dari jendela. aku pergi ke kamar. Aku benci menggunakan internet disini. Lebih baik mandi dulu. Aku memandang jam di lemari pakaian. Ketika hasil pencariannya muncul. tentu saja. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. Lalu aku menyetel CD yang sama. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. lalu menyimpannya. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Aku harus menghadapinya sekarang. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. langsung ke bagian yang berisik.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Sudah pukul 05. Perlahan-lahan aku berpakaian. lalu membereskan tempat tidur.ku dulu. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. kemudian jatuh di lantai kayu. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Modemku sudah ketinggalan jaman. senang menundanya selama mungkin. Kuambil CD player. Aku duduk. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . lalu mengetik satu kata. dan menyimpannya di laci lemari. Lalu aku menemukan situs yang tepat. mobil patrolinya sudah tidak ada. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu.

Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. Menurut mitos itu. Akhirnya selesai. di kepulauan itu dahulu kala.. tak ada figur yang begitu mengerikan. tersusun secara alfabetik. Pdr. Semuanya lengkap : laporan resmi. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. surat tersumpah dari orang-orang terkenal.bermunculan di layar. ahli bedah. keterangan itu adalah mengenai vampir. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. sejenis tumbuhan berbuah kentang. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . para imam. Dan dengan semua itu. hakim. vampir Filipina yang menanam taro. seperti sang vampir. kelihatannya seperti situs pendidikan. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. yang bukan hantu ataupun setan. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. Pertama-tama aku memilih Danag. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan.

Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos.bertahun-tahun. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. dan abadi. Nelapsi dari Slovakua. mencari keterangan tentang vampir. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. Lalu masalah lainnya. Mereka tidur di dalam peti seharian. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. Meski begitu. musuh werewolf. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. dan satunya lagi Stegoni benefici. apalagi masuk akal. warna mata yang berganti-ganti. dan musuh abadi semua vampir jahat. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. di djAnGgo 113 . Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. tak tahu akan ke mana. kalau tidak. Mengenai yang terakhir ini. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. lalu turun. kekuatan. hanya ada satu kalimat pendek. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. Aku paling payah kalau soal arah. berkulit dingin. Merasa jengkel. Rasanya lega ada satu catatan kecil. kulit pucat. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. Aku membaca uraiannya dengan saksama. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. Kecepatan. Semua ini benar-benar konyol. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. Stregoci benefici : vampir Italia. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Langit mendung. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. Di balik kekesalanku. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. aku merasa malu. Aku duduk di kamar. tanpa melalui tahapan semestinya. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. Aku harus keluar dari rumah. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. dan hanya keluar di malam hari. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. keindahan. vampir tidak bisa keluar di siang hari. matahari menjadikan mereka abu. dan hanya sedikit sekali. konon memihak kebaikan. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. tapi belum hujan. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria.

Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. Banyak yang tidak kuketahui. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. menjulang tinggi di atasku. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. mapel. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. aku memperlambat langkah. dan yew. Pohon yang baru tumbang itu. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. Ketika amarahku memudar. munurut dugaanku menuju ke timur. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau.

Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. tanpa melihatku. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. Terlebih lagi. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku. mengabaikannya sebisaku.. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. keheningan serasa mencekam. Di sini. diantara pepohonan.lainnya. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. ketampanan yang tidak manusiawi. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. dan bergegas beralih ke pilihan lain. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Seharusnya aku tahu. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. Amat sangat cepat. Sepertinya ada dua pilihan. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. seandainya ia. Edward Cullen bukanlah. berbahaya. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya. sergahku dalam hati. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. Jadi.. Kini setelah aku duduk. mereka memang sesuatu. menghindarinya sebisa mungkin. Pikiranku menolak rasa sakit itu. siapapun pasti menganggapku bergurau. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Pertama. barangkali.. Burung-burung membisu.. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. Lagipula. Aku tak bisa melakukan yang lain. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. kecuali aku. Inilah jawabanku sekarang. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. Dan caranya kadang-kadang bicara. menyandarkan kepala ke pohon satunya.ku sendiri. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya.. suara tetesan air semakin sering terdengar. manusia. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. daripada di kamar tidurku. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . bagaimana mereka tak pernah tampak makan. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. Membatalkan rencana kami.. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan.. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. Tapi lalu apa? Batinku. dan kali benar-benar serius. membuatku gelisah. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Memintanya menjauhiku.. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Ia lebih dari itu. kulit yang pucat dan dingin. jahat.

Aku mengkhawatirkan-nya. Satu hal yang aku yakin. seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. bukannya karena Edward sendiri. kalau memang yakin. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka.nyawa adalah tindakan spontan baginya. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. djAnGgo 116 .

aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. well. rumahnya memberi isyarat padaku. aku tinggal menjalaninya. daya tarik kepribadiannya. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Sebelum kelewat panik. seperti keputusanku datang ke Forks. pikirku. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. Charlie pulang membawa tangkapan besar. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Tidak disini. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. seandainya aku benar-benar tahu. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. bagian yang paling membuatku menderita. Kubuka jendela. Aku melompat ke jendela. Malam aku tidur tanpa mimpi.. Karena ketika aku memikirkan Edward. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Aku bergegas mengikutinya. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. tapi aku tak bisa memikirkannya. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. Aku memang selalu seperti itu.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . aman dan jelas. Aku seharusnya takut. Tapi jalan kecil itu masih disana. Tapi begitu keputusan diambil. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. Kamis sore sejujurnya. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. matanya yang menyihir. Keduanya seharusnya berbeda. suaranya.. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. Meskipun. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. dan aku pun terbebas. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. berhubung aku tidak kemana-mana. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. padahal malamnya aku kurang tidur. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. aku tahu aku mestinya merasa takut. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Sekarang setelah tahu.. produktif. Mudah sekaligus berbahaya. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. Aku sudah terlibat terlalu jauh. pertanda hari bakal cerah. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. tudung jaketku menutup rapat kepalaku.. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu.

aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. “Ya. “Hari yang bagus untuk berada di luar. warnanya sama dengan rambutku. djAnGgo 118 . Ketika Charlie tersenyum. jika bukan teksturnya. Ia balas tersenyum. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. dan menghirup udara yang kering. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. telah menipis. mulus.deritan. Tapi ketika ia tersenyum. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. Rambut cokelat ikalnya.” aku menimpalinya sambil tersenyum.” komentarnya.

dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. “Gawat. “Kenapa?” ia bertanya.” “Oh. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. Mike. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. kedengarannya seperti Mike. tak perlulah menyombongkan diri. senyum merekah di bibirnya.. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi.” “Rabu?” sahutnya. “Oh iya. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria.. “Mike. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab. Mike menghampiriku. PR-ku sudah selesai. Ia sangat senang bertemu denganku. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan..” sapaku sambil balas melambai. rambut spike-nya bersinar keemasan. senang bisa menggunakannya. dahinya berkerut. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus.” Ia tersenyum penuh harap.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya.” aku jengkel didesak seperti ini. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya.. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. rambutmu ada semburat merahnya. Ia duduk di sebelahku. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini. “Hei. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked. Semua anak menggunakan T-shirt . Dengan menuangkan banyak pelumas.” katanya.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap.. “Seharian mengerjakan esai. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan.. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well. dikumpulkan Kamis. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. bukan?” “Hari yang kusuka.” Wajahnya kecewa.. matanya siaga. “Hanya di bawah sinar matahari.” Aku tersadar. kita bisa pergi makan malam atau apa. tanganku memegang jas hujan. hingga mau tak mau aku senang juga. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 .” sahutku. “Baru sekarang kuperhatikan. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. kurasa Rabu. “Kupikir itu bukan ide bagus. “Hari yang indah. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. kecewa. kan?” “Mmm. dan sedang melambai ke arahku.

dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati.” ancamku. Mike. “Kupikir. kau ini buta ya?” “Oh. jelas bingung. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya.” ia menarik napas. djAnGgo 120 . Ia keheranan.Edward.. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama.. Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. “Jessica?” “Sungguh. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain.

Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Aku tak bisa memutuskan. tidak sama sekali.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. muram. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Angela. Angela juga mengajakku ikut malam ini. Ketika melintasi pintu kafetaria. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. lalu menetap di perut. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. melainkan juga semua keluarga Cullen. dan memilih duduk di sebelah Angela. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana.“Waktunya masuk kelas. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. dan raut wajahnya gelisah. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. menungguku. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku.. Ia. berharap menemukannya duduk sendirian. Bagian terbaiknya adalah. dan sekarang aku mengatakan ya. dan aku tak boleh terlambat lagi. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. meskipun hatiku sedih. bukannya terpeleset di lapangan. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku.. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. djAnGgo 121 . Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Jadi kubilang akan memikirkannya. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. tapi Laurent juga bakal ikut. kelas Spanyol menahan kami. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. kubilang akan minta izin Charlie dulu. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. pelatih tidak selesai menjelaskan. ia kelihatannya sangat antusias. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya.

tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. djAnGgo 122 . dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. Aku membumbui ikan untuk makan malam.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Jessica menelepon membatalkan rencana kami. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR.

Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. Aku mengedarkan pandang. hidung. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Aku nggak ada di rumah. Angin masih sepoi-sepoi. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. jadi kupilih Sense and Sensibility. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. Di luar. Rupanya aku tertidur. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. Maaf. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. Aku langsung terbangun. yang semakin lama semakin sisis. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. hampir mirip. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. aku tahu. Aku berbaring menelungkup. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. membaca tumpukan surat dari ibuku. dan rasanya agak geli. lengan bawah. Dan aku harus membuat makalah. aku juga terkejut. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. djAnGgo 123 . jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. Bella. Aku sayang kau. Aku pergi ke pantai dengan teman. Aku membawa beberapa buku ke Forks. Mom. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan.Kuperiksa e-mail-ku. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. membalik-balik halaman novel itu. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . di atas rumput tebal yang selalu agak basah. tulang pipi. duduk. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. bibir. Kutarik rambutku ke atas. ujarku kasar pada diri sendiri. leher. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. menembus kausku yang tipis. mereasa jengkel. lalu berguling hingga terlentang. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

di sana ada rambu stop. Aku sampai di sudut. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. tapi ragu. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. Langkahku tetap stabil. memutuskan akan lari atau tidak. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Jalanannya berakhir di sudut berikut. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. Aku setengah berbalik dengan siaga. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. kembali ke trotoar. Aku berpikir untuk menyetopnya. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku.

Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Lalu menghentikan langkah. mobil ini akan berhenti. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. aku tidak sedang diikuti. apalagi mereka berempat. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. “Jangan dekati aku. mobil-mobil. Menusukkan jari ke matanya. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. tak ada suara yang keluar. atau menabrakku. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. tapi mereka terlalu jauh. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Tentu saja jurus standar.” seru cowok itu. memaksanya melompat ke trotoar. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. lampu jalan.” suara keras menyahut dari belakangku. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. tendangan lutut ke daerah vitalnya. Teriakanku cukup keras dan lantang. “Yeah. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. Aku pun tersadar. ia seolaholah memandang ke belakangku. sementara aku berdiri membeku di trotoar. Manis. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. Aku membelok dengan helaan napas lega.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. bersiap-siap berteriak. kaki terbuka. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. “Kami hanya mengambil jalan pintas. Aku berlari ke tengah jalan. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Kepalan tangan siap kulayangkan. “Jangan begitu. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. Aku melompat djAnGgo 133 . dan aku menghela napas lega.” Langkahku sekarang pelan. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Aku memasang kuda-kuda. Aku dijebak. dan berjalan pelan ke jalan. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. menggenggamnya. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. “Masuk. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku.” terdengar suara gusar memerintahku. Dalam kegelapan yang menyelimuti.

Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. “Pakai sabuk pengamanmu. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. Ia membelok tajam ke kiri.masuk. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Suasana di dalam mobil gelap. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. membanting pintu hingga tertutup. djAnGgo 134 . melaju terlalu cepat. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. Tapi aku merasa sangat aman.” perintahnya. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. terus melesat cepat. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. Aku langsung mematuhinya.

menatap langit-langit mobil. memandang ke luar jendela. “Aku seharusnya menemui mereka. Ia menyandarkan kepala ke kursi. “Tolong alihkan perhatianku.” gumamku.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. “Lebih baik?” “Tidak juga. Kalau tidak punya kendaraan. menjelaskan rencanaku. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya.” gumamku.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh.30. “Tidak.” Ia terdengar lebih tenang.. berarti kedudukan kami seri. menunggu napasku kembali normal. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.. Kami sudah meninggalkan kota. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. matanya menyipit. tapi amarah tampak jelas di wajahnya. memalingkan wajah. nada suaranya marah.” Kata itu sepertinya tidak cukup.” jawabku lembut. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. “Setidaknya. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Wajahnya kaku. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. well. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. “Bella?” ujarnya.” “Oh. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. “Ya. Diam-diam aku berusaha berdeham. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom.. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat.. dia juga tidak bisa pergi ke prom. suaranya tegang namun terkendali. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. Aku memandang berkeliling. Edward menghela napas. kau pasti ingat. Bella. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. Kami duduk diam lagi. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya.. tapi sudut bibirnya menegang.. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. “Maaf. mobilnya masih ngebut.” katanya kasar.” Aku menunggu. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 . Sudah lewat 18. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. “Apa yang terjadi?” bisikku. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom.” lanjutnya. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. Aku duduk diam.” perintahnya. “Mmm.” ia menjelaskan. Aku melihat jam di dasbor. “Jessica dan Angela pasti khawatir. terkejut mendengar betapa parau suaraku. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. Aku tidak memerlukan musuh. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri.” Ia juga berbisik. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. akhirnya membuka mata. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. “Ya?” suaraku masih parau. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik. “Aku sudah dengar.” cerocosku.

berjalan waswas menjauhi kami. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil.jalur boardwalk. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja...” aku memulai. Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. “Bagaimana kau tahu dimana. tapi ia melakukannya dengan mudah. djAnGgo 136 . Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya.

dan rambutnya dicat pirang.” aku mengaku malu-malu. hibur aku. tapi Edward menggeleng. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku. wajahnya penasaran. Restorannya tidak ramai. Ia berbicara mendahuluiku.” Suara Edward pelan.. Dari ekspresi mereka yang terkejut.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala.” Aku mengangkat bahu. “Mmm. Aku mengedip padanya. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . Ekspresinya tak bisa ditebak. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. tapi sorot matanya tetap tajam. “Kurasa kau harus makan sesuatu. “Kalau begitu. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. tapi bernada memerintah. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. suaranya lembut dan menggoda. Aku hendak duduk. Mereka ragu. tentu saja. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Kami disambut seorang cewek. “Pergilah. Jelas sekali ia tak ingin didebat. sebenarnya.” aku berkeras.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya.” Angela mendahului Jessica. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Kulepaskan sabuk pengamanku.. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. “Aku tersesat. “Tidak apa-apa.. Aku tak yakin.. “Oke. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward.” Jessica menggigit bibir. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. Ketika akan masuk ke mobil. “Sejujurnya. Ia menungguku di trotoar. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan.” kataku sambil menunjuknya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. aku tidak lapar. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. kurasa.. Mereka bergegas menghampiriku. Aku balas melambai.” aku Angela. maaf. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Bella.” katanya sedikit tersenyum. “Sampai besok.” “Eehh. lagi pula aku tidak lapar. Edward. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. kami sudah makan ketika menunggumu tadi. kemudian bergegas keluar dari mobil. enggan mendekat. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Jess berbalik dan melambai. “Mengajakmu makan malam.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil.. entah disengaja atau tidak. Bella. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku.” dengus Jessica. “Mmm. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja. melambai ketika mereka menoleh. mengamati wajahnya. tidak masalah.

” aku mengkritiknya. “Tentu.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama.” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna. “Tidak adil. ia menggeleng.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau. “pelayan kalian akan segera datang.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. “Mmm”. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang.” djAnGgo 138 . membuat cewek itu sesaat terpana. matanya mengerjap. semua kursinya kosong.

Tapi Edward tidak memandangnya.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya.” Ia memiringkan kepala.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. wajahnya penuh harap.” Senyum lebar mengembang di wajahnya. “Aku mau Coke. “Hai.” kata Edward. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. “Bella?” tanya Edward. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. “Well. Pelayan datang. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. “Aku tidak pesan. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian.” aku berkata ragu. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis.” jawabku. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku. sorot matanya perasaran.” gumamku. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 .. membuatku gemetaran. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Ia sedang memperhatikanku. Kusesap sodanya dengan patuh. terkejut karena kusungguhan hatinya. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. aku mau mushroom ravioli.” kata Edward.” Ia tampak bingung.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya.” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum. lalu minum lagi lebih banyak. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu.” aku mengakuinya. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku. kedinginan. “Oh. sebenarnya aku menunggumu syok. ayolah.” ia menyuruhku. Namaku Amber. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali. “Mmm.” “Sama. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. masih haus. Edward memandangku. sakit.” Pucuk dicinta ulam tiba. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. “Terima kasih. “Dua. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. “Kau tidak merasa pusing. Pandangannya terpaku di wajahku. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. “Minum. Tentu saja. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku..“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu..” kataku setelah bisa bernapas lagi.

“Punya.“Tidak.” aku menjelaskan. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. “Oh. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. benar-benar memperhatikannya. Edward menanggalkan jaketnya.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. tapi sejak awal. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . Namun sekarang aku melihatnya. hanya Coke yang kuminum. bukan hanya malam ini. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. kembali gemetaran. ketinggalan di mobil Jessica.” aku tersadar.

tadi kupikir matamu berubah kelam.” Ia tampak khawatir. “Dan?” sambarnya. suaranya terdengar waswas. tidak.” protesku. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang.warna krem muda. Rasanya sejuk. aku tidak mendapatkannya dari komik. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. seperti pada umumnya orang normal. “Aku punya teori tentang itu. Aku kembali gemetaran. Aromanya menyenangkan. dan langsung berbalik menghadap Edward. wajahnya cemberut. sambil menebak ekspresinya. namun tatapannya masih tegang.” aku mengakui. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. “Teori lagi?” “Mm-hm. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini.” gumamnya pada diri sendiri.” ujarku. Ia memberikan jaketnya kepadaku. Ia menggeleng. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. “Aku merasa sangat aman denganmu. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. cokelat keemasan. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. “Terima kasih. Ia menatapku. “Kau seharusnya syok.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. berusaha terlihat cuek.. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek.” kataku lagi. sambil mengenakan jaketnya. Aku terkejut. “Tidak. Aku menghirupnya. Tidak seperti aroma kolonye.” Matanya menyipit. “Well. sepertinya lumayan enak. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. Perkataanku membuatnya tidak nyaman. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. terima kasih. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. “Aku akan menceritakannya di mobil.” “Tidak masalah. Ia menatap ke dalam mataku. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. mengalihkan kerlingan mataku. Ia menaruh makanan itu di depanku.. lalu menunduk. tapi kau boleh membawakan soda lagi.. Sweter itu amat pas di tubuhnya.” katanya memperhatikan. dan aku melihat betapa matanya terang. “Sungguh.” aku berhenti. alisnya yang berwarna pualam mengerut.” ujarku. aku tidak merasa syok. mencoba mengenali aroma itu. Kalau. lebih terang daripada yang pernah kulihat. terkesima. wajahku memerah tentu saja. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. Lengannya kelewat panjang. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.” lanjutku.. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku. “Tentu. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari.” djAnGgo 141 . mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.

suaranya masih tegang. lalu pergi. ayo mulai.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. Aku menyesapnya. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara. djAnGgo 142 .” ia mendesakku. “Well.

seseorang itu. “Berikutnya. “Secara hipotetis?” tanyanya. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. “Berikutnya. Jamurnya enak. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti. kau tahu.” Ia kembali menggeleng. kesal..” “Kupikir kau selalu benar. “Kau tahu.. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. begitu juga aku. tanpa ekspresi. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. matanya hangat. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan.. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa.. Kalau Joe memperhatikan.” Aku senang ia berusaha meladeniku.” “Tapi itu yang paling mudah. memutar bola matanya.” sahutnya menyetujui. seseorang.. kau bisa mempercayaiku.” “Hanya satu pengecualian. Aku menunduk. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut. “secara hipotetis. masih menunduk. dan djAnGgo 143 . kalau.” Ia menggeleng. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya. kau tahu itu.. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. mengunyah sambil berpikir.. Meski menunduk.. Kau daya tarik terhadap masalah. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. membaca pikiran. menandakan ia mengejekku.” Aku memandangnya marah. seseorang.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis. Ia tersenyum ironis. “Oke. mengatakan yang sejujurnya atau tidak.” aku mengusulkan. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Raut wajahnye berubah dingin. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. tapi ia langsung menariknya. Kami bertatapan. tapi aku berusaha terlihat kasual.” ia mengulangi perkataannya. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade. “Aku salah.” “Biasanya begitu. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku.” ujarku keberatan. Sepertinya ia sedang bergidik. Atau begitulah menurutku. “Betul juga.” “Baik kalau begitu. masalah itu selalu bisa menemukanmu.. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. kalau begitu. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil.Aku memulai dengan yang paling sederhana.” aku mengingatkannya dengan nada dingin.” “Well. “Katakan saja. kau lebih teliti daripada yang kukira.” Suaranya nyaris seperti bisikan.. dengan satu pengecualian. Ia tertawa. penggolongan itu tidak cukup luas.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku. “Tak salah lagi. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. dengan beberapa pengecualian.” “Sebut saja dia Joe. “Tentu saja. “Ya sudah.” ia meralatku.” gumamku. secara hipotesis tentu saja. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini.

seperti batu. “Terima kasih. “Jangan ada yang ketiga kali. djAnGgo 144 . oke?” Aku cemberut. tapi mengangguk. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. Kulitnya dingin dan keras. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.” Suaraku benar-benar tulus.” Ketegangan di wajahnya mencair.

“Kau ingat?” tanyanya. seperti kataku. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian.. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. berkat dirimu. Ia menatapku. tapi anehnya aku toh khawatir juga.” katanya. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi.” Ia melamun. Kupaksa menelan makananku. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku..“Aku membuntutimu ke Port Angeles. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. “Lalu apa?” bisikku.. “Kau makan. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. Lalu. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya. Matahari akhirnya terbenam. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. aku bisa dengan mudah menemukannya. sambil masih. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Pandangannya tetap menerawang. tatapannya menembusku. Biasanya. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. “Itu bukan yang pertama. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.. dan aku tahu toh kau harus kembali. aku bicara. wajahnya yang tampan berubah serius.. pada insiden van itu.. salah satu alisnya terangkat. “Ya.” Aku terdiam sebentar. tapi ia menundukkan kepala.” Ia berhenti...” sahutku tenang. dan kau pergi ke arah selatan. lalu menatapku lagi. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. dan aku menyadari tubuhku mematung. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana. matanya yang menyipit menatapku. tapi sebaliknya aku malah senang.” Ada secercah keraguan dalam suaranya.” Ia menatapku waswas.. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir. ” Ia berhenti.” usulnya.. disinilah aku duduk.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. Jadi. mengalihkan kecurigaanku. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. “Ya. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya. mendengarkan. Aku tahu kau tidak masuk kesana. Aku menatapnya terpana. Ia memandangi piringku yang masih penuh. “Aku mulai bermobil berputar-putar. djAnGgo 145 . dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. kembali menimbang-nimbang. suaranya sulit didengar. Dan lalu. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum.” akunya terburu-buru. aku hanya menunggumu.

penuh dengan pertanyaannya sendiri. dan membiarkan mereka. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. pikiranku campur aduk. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. Aku duduk diam. djAnGgo 146 . dan ia masih tak bergerak. Tanganku terlipat di pangkuan. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela.” geramnya. tertutup lengannya.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh.” ia mengakui dalam bisikan. matanya mencari-cari mataku. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. “Sulit.. sekali. dan aku bersadar lemah di kursi. tangan menutupi mata. Akhirnya ia mendongak. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya. tetap hidup. hanya pergi menyelamatkanmu. satu siku bertengger di meja... Tangannya masih menutupi wajah. bagai patung batu.” Suaranya tidak jelas. aku akan pergi mencari mereka. kepalaku pening. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya.

Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. agak serak. lalu bangkit. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. berputar menuju jalan tol.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward.” Edward tersenyum. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward.” ujar pelayan itu terbata-bata. Aku memperhatikannya memutar ke depan. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. lalu menutupnya dengan lembut. masih tegang oleh obrolan tadi. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.“Ya. “Semoga malammu menyenangkan.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. “Simpan saja kembaliannya. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku.” katanya. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. Aku belum siap berpisah dengannya. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. menunggu. “T-tentu. Edward sepertinya mendengar. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Atau memperhatikan. dan ia menunduk penasaran.” giliranmu. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. Edward mendongak. “Sekarang. sepertinya tanpa melirik. “Kami mau bayar.” Suaranya tenang. Aku menyembunyikan senyumku. Aku memandang trotoar. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. “Ini dia. Aku menghela napas. Aku ikut berdiri dengan susah payah. Udara dingin sekali. aku siap. masih mengagumi keanggunannya. tapi nyatanya belum. terima kasih. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang.” aku mengiyakan. djAnGgo 147 . Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk.

” gerutuku. tak lebih dari beberapa mil. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya. “Aku tidak tahu. Ia menghela napas.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. Hanya suara senandung. djAnGgo 148 . barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. suara-suara dengungan di latar belakang. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka.. “Yang mana?” “Bagaimana caranya.” Ia berpaling. hanya aku yang bisa. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. dan aku pergi ke selatan. Ia nyaris tersenyum. “Baiklah kalau begitu. “Satu saja..” protesnya. Ia memandangku tidak setuju padaku.. di mana saja. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. Aku mengikuti aroma tubuhmu.9. Setelah aku terfokus pada satu suara. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya.. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. menanti jawaban.” Ia memandang jalan. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang.” gumamnya. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi.” katanya menyetujui. sorot matanya misterius. “Well .. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”. dan itu bisa sangat mengganggu. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. “Itu lebih dari satu pertanyaan. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan.. sengaja. Ia menatapku. semua bicara serentak.” Ia tersenyum jail. “Satu-satunya dugaanku. Aku belum siap membiarkannya selesai. Tapi tetap saja. “Tidak. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu.” Aku merasa konyol. dahinya berkerut ketika mengatakannya. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya.

Bagaimana memulainya. Aku sendiri menduga diriku memang aneh.” Wajahnya menegang. sekarang giliranmu.tiba-tiba tertawa. “Yang mengingatkan aku.” ia tertawa.. barangkali karena memang benar. itu cuma teori. djAnGgo 149 .” Aku menghela napas.. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku. “Jangan khawatir. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya.

Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. Bella.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan. ” aku mengubah ceritaku. “. kemudian tertawa sebentar. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. “Kami jalan-jalan.” Aku mencoba mengubah intonasiku. kau tidak lupa. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut.” Ia memutar bola matanya. “Kenapa kau tiak mulai dari awal. “Tapi kau tidak. mencoba berpikir. tidak seperti rencana semula. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung. buku? Film?” Ia mencoba menebak. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih..” Aku mengamatinya dengan hati-hati. Ia tampak bingung.” Aku menggigit bibir.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. “Aku tidak bakal tertawa.” “Sangat lucu. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. Aku menatap panik ke luar jendela.” Ia berbalik.” “Apa yang memicunya. tersenyum lebar padaku. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. “Kita tidak akan tabrakan.” “Barangkali.” janjinya. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. “Katakan saja. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya.” tukasku marah. Ekspresinya masih sama.” akuku. Bella. Ia menunduk memandangku.” Ia masih tampak bingung. “Tidak. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. di pantai.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh..” Ia menunggu. “Puas?” “Hampir. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak.” gumamnya. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. “Tenang. “Charlie polisi. “Radar pendeteksi alami. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. “Aku bertemu teman lama keluargaku. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. “Gila!” seruku. Jacob Black. barangkali kau masih bisa selamat. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku. “Aku khawatir kau bakal marah padaku. masih tidak memperlambat kecepatannya.” Ia menghela napas.” “Tidak. Lagipula. ya. semuanya berawal hari Sabtu. aku bahkan belum pernah ditilang. Aku menunduk memandang tanganku.” Suaranya tenang. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini.” ia menyetujui gurauanku. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” aku melanjutkan.” tukasnya.

djAnGgo 151 . kurasa ia mencoba menakut-nakutiku.beberapa legeda tua..” aku berhenti..” katanya. Dia menceritakan salah satunya. ragu-ragu. “Lanjutkan.

Kebanyakan konyol. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. Tidak ada yang cocok. Kemudian. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. dan aku terkejut dibuatnya. suaraku memancarkan keraguan. “Tidak. Ia tertawa. mencengkram roda kemudi.. Jacob Black yang malang. “Aku mencari keterangan di Internet. “Bukan itu maksudku. terus menatap jalan..” aku buru-buru berkata.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. Tapi aku melihat genggamannya menguat. menyebut keluargamu. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. aku yang memaksanya bercerita padaku. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob.“Tentang vampir.” “Tidak. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. “Tidak.” Aku sadar suaraku berbisik. Aku menatapnya.” Ia tergelak.. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. menatap lurus ke depan. djAnGgo 152 . Wajahnya pucat dan kaku. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita. “Kau marah.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. “Tidak.. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.” keluhku. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang. Dia. Ia tertawa. tapi suaranya setegang wajahnya. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting.” katanya.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. “Itu salahku.” kataku lembut.” aku mengakuinya. “Aku mencoba merayunya.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Aku benar?” tanyaku menahan napas.” bisikku. dia mencoba memprovokasiku. aku harus mengaku. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. “Jadi aku salah lagi?” tantangku. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona.” Saat mengingatnya lagi. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak. “Kalau saja aku melihatnya. tapi sorot matanya sengit.” Ia terdiam. kembali memandang lurus ke depan.” Ia tidak mengatakan apa-apa. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi.” aku berhenti. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya.

Tiba-tiba ia menyerah.“Tidak juga.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku. “Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 .” Aku diam sebentar. “Tapi aku memang penasaran.

” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya.” Suaranya muram. “itu. “Sama sekali?” “Tidak pernah. ketika ia khawatir aku syok.” ia langsung menjawab.” gumamnya. “Cukup lama. itu. “Well.” ia menjelaskan perlahan.” Aku tersenyum. Aku. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting. Aku berkedip.” bisiknya. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. “Jangan tertawa. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan. “Oke. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Aku menganggapnya sebagai pembenaran. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 .” gumamku.. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga. tatapannya dingin.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. dan aku tak mampu berkata-kata.” Ia menatap ke depan. “Tidak juga. “Mitos. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis. contohnya.” “Terbakar matahari?” “Mitos. “Aku tidak bisa tidur. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. membiarkan diriku berduaan denganmu. masih terkesima. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang.” “Ya. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. memburu manusia. “Dia bilang kau tidak. “Jadi. menghiburnya. Aku menatapnya sampai ia berpaling. untuk berjaga-jaga. “Kesalahan yang sangat berbahaya. seperti yang dilakukannya sebelumnya. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan.” “Kami berusaha. “Tapi jangan senang dulu. “Oh. Kami masih berbahaya.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar.” akhirnya ia mengaku. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan.” “Aku tidak mengerti. Mata emasnya bertemu pandang denganku. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.” Ia ragu sesaat. lalu nada suaranya berubah aneh. dan ketika menatapku lagi.. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis.” ia mengingatkanku. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin.” katanya. Kami sama-sama terdiam. Aku tersenyum lebar. dan ia cemberut.” Suaranya tegang sekarang.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. suaranya nyaris tak terdengar.

Kata-katanya mencerminkan nada final.jalan. hingga tidak tampak nyata. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. secara terbuka. dan aku tersentak dibuatnya. djAnGgo 155 . Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. seperti dalam video game. tanpa dinding diantara kami. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. seperti jalanan hitam di bawah kami.

hanya mendengarkan suara tawanya. berusaha mematrinya dalam ingatan. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores.” kataku. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak. bukan bertanya. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. “Kau ini memang pengamat. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. khususnya cowok. kami menyebut diri kami vegetarian.” ia mengingatkanku.” Suaranya berubah licik.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku. “Well. “Ya. Hampir sepanjang waktu. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak.” kataku yakin. “Ya. kejadiannya bisa lebih buruk lagi.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. dan sepertinya membuatku lemah.” Suaranya sangat pelan. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini.” Ia menggeleng.” Ia tergelak. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. tapi ini penting. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia.“Ceritakan lagi. terkejut karena perubahan nada suaraku. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu.” pintaku putus asa. “Sudah kuduga. “Well. suaraku masih memancarkan keputusasaan. Matanya tak pernah luput dari apapun.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu.” Tatapannya lembut tapi dalam. lebih pemarah ketika mereka lapar. “Kurasa.” “Tapi kau tidak sedang lapar. lalu sepertinya teringat sesuatu. “Aku tidak yakin tentu saja. “Aku terjatuh. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. Aku memperhatikan bahwa orangorang.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. atau dahaga tepatnya. Aku menyadari mataku basah.. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian.” “Apa?” “Tanganmu. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. lelucon diantara kami sendiri.. khawatir. Tiga hari yang amat panjang. setidaknya. Ia menghela napas.. kami kembali hari Minggu. berada jauh darimu. “Aku tidak ingin menjadi monster. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku.” keluhku..” Ia tersenyum menyesal. tak peduli apa yang dipikirkannya. “Aku tidak ingin pergi. mengingat siapa dirimu. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. Sudah kubilang aku punya teori. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. ya kan?” Aku tidak menjawab. tidak benar-benar tanpa tergores. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami. dan memang tidak.” Bibirnya tersenyum.” Ia berhenti sesaat. Aku memandang telapak tanganku.” ia djAnGgo 156 . Ia menatapku. menyatakan.

berjanji.” kataku. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja. Aku memikirkannya beberapa saat. Aku. “Kau kan bisa meneleponku. “ aku ragu-ragu.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. Ia bingung. djAnGgo 157 . mengalihkan pandanganku. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku.

” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. Aku berbahaya. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. Aku memandang jalan. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” Suaranya pelan namun tegas.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. “Maafkan aku. Ia terdiam.” Kugigit bibirku.” erangnya pelan.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. suaranya masih muram. Kata-katanya melukaiku. kau tidak terlihat setakut itu.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. Sudah terlambat. Pasti kami sudah dekat sekarang. Kegelapan menyusup diantara keheningan.” “Tidak. djAnGgo 158 . kumohon. tidak penting kau itu apa. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. Itu juga membuatku waswas. pelan dan parau. Sudah kubilang.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan.” Ia menggeleng. “Jangan pernah mengatakan itu. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu. Bella. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku.” ia bertanya setelah beberapa menit. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. “Aku serius. tapi aku tetap memandang lurus ke muka.” aku mengakuinya. Aku hanya menggeleng. mengertilah. Ini tidak aman. “Begitu juga aku. “Katakan. “Ini salah. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya.” Suaranya sarat penyesalan. ilmu bela diri. Ia mengemudi terlalu cepat. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. Lalu mobil memelan.” Suaranya menghardik. kau tahu kan.” geramnya. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. tak yakin apakah aku sanggup bicara. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. tapi suaraku parau.” Aku tak bisa memahami reaksinya. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. Kurasakan tatapannya di wajahku. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. ragu-ragu ingin meraihku. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. “Ini salah.” kataku. Bergegas aku menyekanya. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. Aku melirik. melewati perbatasan Forks. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. waswas. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. itu masalah lain lagi. “Kau benar. “Tidak. “Ah.” Aku menghela napas. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu.

setelah semua yang kami lalui malam ini. Rasanya seperti terbangun dari mimpi.“Ya. Edward menghentikan mobilnya. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. Kami di depan rumah Charlie. ada tugas yang harus dikumpulkan. semuanya sangat wajar.” Ia tersenyum. Lampu-lampunya menyala. dan aku tak mampu bicara. tapi aku tidak beranjak. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas. trukku ada di tempatnya.” Konyol.” djAnGgo 159 . “Aku akan menunggumu saat makan siang.

“Maukah kau berjanji padaku?” “Ya.” “Oh ya?” aku terkejut.” “Well. Anggap saja begitu. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali. setidaknya. “Terserah apa katamu. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin.” ia memberitahuku. benar. lalu mengangguk.” “Oh. “Tidur nyenyak ya.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. membuatku terpana. “Ya?” aku berbalik padanya. mencoba mengulur-ulur waktu. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku.” katanya. tanganku pada pegangan pintu. Mataku mengerjap. ini aku.” Ia tersenyum. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. “Kau pulang cepat. Charlie memanggilku dari ruang tamu. terlalu antusias. Jantungku berhenti berdetak. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. Aku ragu-ragu.” “Well. dan masuk ke dalam. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya. tapi lega. Ini. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok. “Ya.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya.” ia mengingatkanku.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah.” “Sampai ketemu besok.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. Kutanggalkan jaketnya. Aku cukup banyak berjalan tadi.” Aku menatapnya bingung. “Kau boleh menyimpannya.” kataku. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. “Mereka membeli gaun. “Bella?” “Ya. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. biarkan dia sampai rumah dulu. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. Aku membayangkan bagaimana rupaku. Napasnya menyapu wajahku. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. benarbenar terpesona. djAnGgo 160 . janji yang mudah dipenuhi. Ia sedang menonton pertandingan baseball. Lalu ia menjauh. Aku menyadari udara sangat dingin. namun lebih kental. “Sekarang bahkan belum jam delapan. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. Kupikir aku mendengarnya tertawa. Dad. terkejut. Kukembalikan jaket itu padanya. tapi ragu. barangkali kau harus berbaring.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. membuka pintu. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. “Baik kalau begitu.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin.” “Benar. “Aku akan menelepon Jessica dulu. sangat menyenangkan. “Kenapa?” Dahinya mengerut.” Dengan engggan kubuka pintunya. serius.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah.” aku menyetujuinya. terus menembus jendela. Lalu aku melangkah canggung keluar.” Ia terdengar waswas.” desahnya.

kelelahan. Sekarang aku benar-benar merasa pusing.Aku pergi ke dapur. perintahku. djAnGgo 161 . Pegangan. menjatuhkan diri di kursi. Aku mengangkatnya. mengagetkanku. “Halo?” desahku. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Tiba-tiba telepon berbunyi.

besok saja. “Bye. meringkuk. Jaketku tertinggal di mobilmu. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat.” “Okr. di kelas Trigono. benar. Beberapa kali aku sempat gemetaran. ayahmu ada disana ya?” “Ya. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. aku baru saja mau meneleponmu. Aku melangkah sempoyongan. “Mmm. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. tapi semakin aku nyaris tertidur. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. aku jatuh cinta padanya. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras.. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. yang haus akan darahku. kalau begitu kita ngobrol besok. Kedua. Baru ketika aku berada di kamar mandi. Jess. sampai air hangatnya menyembur lagi. Pertama. airnya terlalu panas. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. benar-benar nyaris pingsan. Awalnya tak ada yang jelas.“Bella?” “Hei. djAnGgo 162 . ada sebagian dirinya. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. oke?” Ia langsung mengerti. tanpa syarat. aku tersadar diriku kedinginan. “Oh. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. terlalu lelah untuk bergerak. selamanya. dan beberapa yang kucoba enyahkan. dan terkejut. Edward adalah vampir. Dan ketiga. membalut diriku dengan handuk. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti.” Aku menaiki tangga perlahan. Jess. menyengat kulitku. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. “Ya..” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega.

djAnGgo 163 .

lalu bergegas meninggalkan rumah.10. Ia benar-benar memberiku pilihan. berhenti. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. tapi aku tak yakin. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. dan sebagian dirinya berharap begitu. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. dan lebih cepat dari seharusnya. udara nyaris tertutup kabut. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. Interograsi Keesokan paginya.” Ia kelihatan bergurau.” kataku. benar-benar sempurna. seperti aroma tubuhnya. teringat aku tidak memiliki jaket. ataupun akal sehat. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat.” Suaranya hatihati. Setidaknya aku merasa begitu. Aku cemberut. membukakan pintu bagiku. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. mobil berwarna silver. terima kasih. Semalam semua penghalang itu lenyap. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. “Ya. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. Aku menunggunya memulai. Ia berbalik dan nyengir. Jantungku berdetak cepat.. berusaha tetap tenang. menyalakan mobil. lega. aku terlambat lebih dari yang kukira. tapi tiba-tiba ia sudah disana. Kabut sangat tebal. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Charlie sudah pergi lagi. ia sudah duduk di sebelahku. terasa canggung. Aku tak ingin kau sakit atau apa. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. Aku tak melihat dari mana datangnya. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. Ini membuat lidahku kelu. “Aku tak selemah itu. hampir semuanya.” kataku. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut. aku bebas menolak. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. Logika tak berpihak padaku. Harapan yang sia-sia. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. Aku menelan tiga gigitan granola. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Seperti biasa. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Ada keraguan dalam suaranya. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. “Tidak seperti reaksimu. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. Ketika aku tiba di lantai dasar. Ternyata lebih baik. Ia menutup pintu. “Aku membawakan jaket untukmu.. kau tahu. selalu terlalu cepat.

Itu membuatku bertanyatanya. itu masalahnya.” “Kau mengeditnya. apa yang sebenarnya kau pikirkan. “Tidak terlalu banyak. Kau menerimanya dengan tenang sekali.” djAnGgo 165 .” tuduhnya.“Tidak.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan. tidak wajar.

” “Kalian tidak berhasil.” “Sudah kuduga. Atau daya sihir tatapannya.” gumamku pelan.. nyaris berbisik. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. Ia tidak bereaksi. dan aku mencoba tidak mengerang. Aku ingin mempersempit jarak itu. “Kalau Rosalie memilikinya. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya.” katanya. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya. “Kelewat mencolok. Begitu katakataku terucap. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. Ia melipatnya. “Aku tak bisa.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil.” desahku. “Hei. “Hei. Kami berusaha membaur.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. “Mereka naik mobil Rosalie. hai. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah.. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Jessica. aku langsung menyesalinya. wow. aku bisa membaca pikirannya. bahwa suaranya begitu menggoda. Jessica menungguku. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. matanya nyaris keluar dari rongganya. Aku tidak terlambat.” aku memohon padanya. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. ingin menggapai dan menyentuhnya.” sapa Edward sopan. tapi khawatir ia tidak menyukainya. “Jadi. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. lalu menyampirkannya di lengan. Jessica. kelewat mencolok. “Selamat pagi. “Jadi. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward.” Ia berlalu. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar. “Kami semua suka ngebut. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. “Apa yang ingin djAnGgo 166 . Lalu ia tampak mengerti.” gumamku pelan.” “Kau tidak ingin mendengarnya.” Ia menatapku penuh makna. “Err. Bukan sepenuhnya salah Edward. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. sampai ketemu nanti. kemudian mengenakan jaketku sendiri. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku.“Cukup untuk membuatku gila. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri. “Bagaimanapun.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas. dengan senyum jail. kan?” “Mmm. Aku terlambat menyadari sesuatu.” ia mengakuinya. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. “Terima kasih sudah ingat membawanya. terkejut. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang.” Ia menghampiriku di depan mobil. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai.” kataku ketika kami sudah dekat. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. syukurlah.

“Iihh. tersenyum nakal.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat.diketahuinya?” Ia menggeleng. “Itu tidak adil. itu baru tidak adil. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. djAnGgo 167 . barangkali menatap kami.” akhirnya ia mengatakannya. “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Orang-orang melewati kami menuju kelas. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos.” “Tidak.

” “Aku tak keberatan.“Hmmm. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku. lalu mengantarku pulang. “Sampai ketemu saat makan siang. Ia sudah berbalik dan berlalu. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. sinis.” aku menjelaskan. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. wajahku merah padam dan malu. “Ya. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya...” ujarnya seraya menoleh ke belakang. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis.. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Jantungku memburu.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. “Hebat. Ketika aku memasuki kelas Trigono. well. aku sangat terkejut melihatnya disana. itu juga kejutan. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. “Apakah itu semacam kencan. Aku bergegas memasuki kelas. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. “Sudah pasti. “Tidak. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. “Jadi.. Jessica sudah duduk di deret belakang. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. “Selamat pagi. penasaran. wajahnya tegang. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin.” aku meyakinkannya. Aku duduk di bangkuku yang biasa. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama.. djAnGgo 168 .” jawabku sekenanya.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. Bibirnya mencibir. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. matanya bersinarsinar. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. Dasar curang. menyuruh kami mengumpulkan tugas.” kataku pelan. karena kesal kubanting tasku.” Mr. Bella.” Kuharap Edward mendengarnya. Mason mengabsen kami. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. Mengerikan. nyaris melompat-lompat di bangkunya. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. yang duduk di sebelahku. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. kecewa mendengar kejujuranku. Tentu saja Edward benar. kalau kau tidak keberatan.” Ia memandang marah padaku.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati.” sapa Mike. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess.. karena menurut dia.

trukku tidak bakal sanggup.” “W-o-w.” aku setuju dengannya.” “Aku tahu. djAnGgo 169 . ya. “Edward Cullen. apakah itu masuk hitungan?” “Ya. kalau begitu.” Ia mengangguk. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili. “Well.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata.

ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess.. “Aku sangat meragukannya.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya.“Tunggu!” Tangannya terangkat.” Sangat. baiklah. Aku menatap ke depan kelas. “Menurutmu hari Sabtu. Bella. tapi ia tidak memahami reaksiku. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. akan kuceritakan satu. “Maksudku.. “Bukan begitu. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami. terangterangan sekali. Aku yakin diriku juga. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya.” gumamku. “Entahlah. “Jadi. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris.” “Well. Sikapnya selalu misterius. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam.” kataku kasar. seraya menghela napas. mengintimidasi. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya.. kataku lagi. Dia pasti menyukaimu. “Ceritakan detailnya.” ia merajuk. “Ayolah.. “Itu pertanda baik. wajahku merona.” Wajahnya berubah. Kelas sudah dimulai. tapi Mr. banyak. kau benar-benar menyukainya?” desaknya.” aku balas berbisik.” “Lebih baik lagi. Dia memang luar biasa tampan. berbisik meminta informasi lebih lanjut..” kataku membelanya. Aku mengabaikannya. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat. telapak tangannya menghadapku. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan. “Ya. “Kenapa?” aku terkejut. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. “Lebih daripada ia menyukaiku. Tapi aku tak djAnGgo 170 . Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata... “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya. dan barangkali umurnya 19 atau 20. seperti sedang menghentikan laju mobil. “Dia begitu.?” Alisnya terangkat. sedikit. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. Vanner. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. Jess.” Vampir yang ingin menjadi baik.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward. “Oh well.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu. “Ya.. tapi sulit mengetahuinya...” aku balas berbisik. “Seberapa suka?” “Terlalu suka. Kurasa dia menyingungnya sekilas.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku.” Jessica mengangguk.” Dia kelihatan kecewa.” desahnya.” “Kurasa. sangat sedikit. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya.” aku mengakui.

Mr. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. dan begitu bel berbunyi. untungnya. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas.” aku memberitahunya. aku langsung menyelamatkan diri. djAnGgo 171 . Kemudian.” Aku mendesah. perhatiannya benar-benar teralih. “Di kelas Inggris.tahu bagaimana mengatasinya. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan. wajahku terus merona.

Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali. kurasa ia mengulurulur waktu. Ia memandangku geram. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. sementara kami duduk berhadapan. cepat-cepat mengunyah.. “Aku pernah melakukannya. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. “Ambil apa saja yang kau mau. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. dan menelannya. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. “Tidak terlalu buruk. Aku mengerutkan hidung. “Tentu saja separuhnya untukku. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku. ketika ditantang.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. kan?” tebaknya. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 . “Kurasa tidak. kau bisa melakukannya. Edward seperti tidak menyadarinya. Ia membimbingku menuju antrean. dan ia tidak bicara.. Jessica melihatnya. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. maju untuk membayar makanannya. Ia tadi mendengarkan. “Aku penasaran. menggeleng-gelengkan kepala. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup. ekspresinya berubah-ubah. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. dia akan memaparkannya padamu nanti. “Kurasa aku tidak terkejut.” Alisku terangkat. masih diam. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya.” aku mengakuinya. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami.” Ia meringis. “Sampai nanti. memutar bola mata.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. semua otang memandangiku.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya. “Hai. lalu pergi. tampak sangat mirip dewa Yunani. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.“Kubilang kau sangat menikmatinya. “Halo. Bel istirahat siang berbunyi. Bella. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. terkagum-kagum.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. juga jawabanmu. meski beberapa detik sekali ia memadangku. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. Ketika aku melompat dari bangku. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Kau tidak mengambul itu semua untukku.” Ia tertawa. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. dia kelihatan senang. Sudah pasti. ya kan?” tanyanya meremehkan. kan?” Ia menggeleng.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. Edward sedang menungguku.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya.

. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak. ya?” tanyanya santai.membuatnya menyebalkan lagi. well. Aku memikirkan banyak hal. djAnGgo 173 . Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. itu menggangguku. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica.” “Cewek malang. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus. ia melirik dari balik bulu matanya. Suaranya parau.. gelisah. “Jadi pelayannya cantik.” Ia menolak dialihkan perhatiannya.

semuanya.” aku mengakuinya.” aku mengingatkannya. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan.” Wajahku merengut. kau tidak memikirkan beberapa hal.” Aku tetap menunduk memandang meja. terutama bila menegangkan.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. mengaitkan jemari lalu menguraikannya. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu. berusaha berpikir jernih. “Aku tidak yakin. ia mulai kesal. Keheningan terus berlanjut.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh. “Biarkan aku berpikir. semakin mendekat saat bicara. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan. Aku balas menatapnya. “Well. sementara tubuhku condong ke depan.” “Ya. Kujatuhkan tanganku ke meja. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. tangan kananku memegangi leher. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.” bisikku. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. tapi suaranya masih parau. “Kau tak bisa mengetahuinya. Aku hanya berharap. atau ya. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. suaranya sangat lembut. dan mencari cara untuk menjelaskan. “Ya. dan aku ingin sekali mempercayainya. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. “Itu sama saja. “Oh. “Apa?” “Membuatku terpesona. “Kau tak bisa mencegahnya.” aku mendesah. “Kau melakukannya lagi.. Aku memandangi tanganku. terlepas dari kenyataannya. “Meski begitu. “Ya. “Kau salah.” ia menyetujuinya. dan mengacungkan satu jari. Akhirnya ia bicara. Ketegangan di wajahnya mencair.” bantahku sambil berbisik. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku..” Aku berhenti.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. “Bukan salahmu. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. Matanya membelalak terkejut. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. Gelisah karena sikap diamku. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. kau tidak sepenuhnya benar.” aku berkeras.” “Memang. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. ketika akhirnya aku bicara. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. kadang-kadang.” Dahinya berkerut. Aku menggeleng ragu. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan.. kau akan menjawab. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar.. mataku menelusuri kayunya. Kuangkat tanganku dari leher. djAnGgo 174 . lalu mengatupkan keduanya. aku benar-benar berpendapat begitu.

” ia mulai menjelaskan. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. membenarkan ketakutanku.“Peka. djAnGgo 175 . kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu. well.” bisiknya. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. “Tapi justru itulah kenapa kau salah.” kataku. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well. lihat aku. tapi kemudian matanya menyipit.

supaya kau tetap aman.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini.” Ia terdengar sangat yakin.” kataku jujur.” ia tergelak. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. Kalau perlu. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu.. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. Aku bisa saja mendebatnya. kau bukan manusia biasa. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. terperanjat. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle. “Aku tak percaya. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki. apakah kau akan menolak?” tanyanya. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. “Kalau aku mengajakmu.” aku setuju. “Belum.” Raut wajahnya masih kasual. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku. ia pun menyela. “Aku punya pertanyaan lain untukmu. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. “Mungkin tidak. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan.” tukasku. “Tanyakan saja.” aku bergumam pada diriku sendiri.” Tahu aku akan memprotes. “Belum. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. mencoba melawan pendapat itu.. “Itu semua salahmu. “Sudah sepantasnya. karena seandainya aku bisa melakukannya”. “Percayalah sekali ini saja. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi.Alisnya mengerut marah sesaat.” ia menambahkan. Akulah yang paling peduli. “Kau tahu.” aku mengingatkannya.” “Itu bukan masalah.” ia tergelak ironis. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu.” Aku menatapnya marah.” Mataku mengerjap. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. ia menggeleng.” “Oh. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. masih tertawa sendiri. tapi kupikir kau bakal mengerti.” Ia bingung. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. djAnGgo 176 . “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal.” aku mengingatkannya..” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini..

“Tapi aku punya satu permintaan. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut.” kataku. memang ya. Kalau ia bertanya lagi. “Aku terbuka untuk tawaran lain.” Ia tampak waswas. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . “Kenapa?” “Well . seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian. terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle. dan waktu itu.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. aku tak peduli dengan yang lainnya.

itu bukan tempat yang baik untuk hiking. Untuk ukuran. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau.” ia menyelaku.” Aku jengkel. “Kalau kau membaca dengan teliti. Alice. lebih baik kau berada di dekatku. Ia masih kesal.” Aku yakin soal itu. “Tapi kalau kau tidak ingin. memastikan tak seorangpun mendengarkan. merenung. itu baru jumlah populasinya. Aku memandang sekelilingku. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu. “Meski begitu.” Aku menelan ludah. jadi aku akan menghilang untuk sementara. lalu terdiam. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.” “Aku tahu.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras. sekarang bukan musim berburu beruang.. berduaan denganku. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. “Dengan Charlie. “Kita bicara yang lain saja. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. “Ya.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku.. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. Yang lain memandangi Edward. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. untuk berburu? Charlie bilang. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix.” desahnya. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. “ “Tapi nyatanya. aku tak keberatan berdua saja denganmu. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. kau malah takut dengan caraku mengemudi. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut.” ia memberitahuku.” Ia menggeleng-geleng tak percaya.” Ia menghela napas marah.. untuk menyembunyikan keterkejutanku. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi.” Matanya kembali menyala-nyala. “Karena itu sudah terjadi.” aku menambahkan dengan tegas. banyak beruang. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya.. baik tatapan maupun maksudnya. “Kau tahu. aku bertemu pandang dengan adiknya. “Lagipula. dan memalingkan wajah.akan berbohong. kau harus memberitahu Charlie..” Ia tersenyum. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. “aku akan mengambil resiko itu.” Ia memutar bola matanya. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. Aku tak bisa membantah. yang sedang menatapku.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. lagipula dia benar.” usulku.. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. aku menjadi yakin. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu. berbohong selalu lebih baik. Tapi setelah berpikir sesaat. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. Jadi. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus.

djAnGgo 179 .” “Ah. Aku mencoba mengendalikan diri.memahami ucapannya. “Singa gunung.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. akhirnya menatap matanya yang gelisah. namun matanya mengamati reaksiku.” Suaranya masih tenang. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. “Hmmm. “Jadi. berpura-pura tidak tertarik. “Beruang?” ulangku terbata-bata.” kataku setelah sesaat.” kataku sopan. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke. tanpa memandang ke arahnya. sambil mencari sodaku lagi.

nada suaranya menyamai nada suaraku.” aku mengakuinya. Aku takkan lupa. dan matanya tibatiba berkilat marah. “Ya. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. tapi tidak bisa. tertegun. dan itu sebenarnya cukup. ngeri. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin.” Aku memandang berkeliling. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. mereka baru saja selesai hibernasi. “Nanti. dan. bersedekap. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. mencoba mengabaikan kemarahannya. takut melihat reaksinya. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.” akhirnya ia berkata.” “Aku mencoba membayangkannya. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. “Kita bakal terlambat.” katanya. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. kafetaria hampir kosong.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. “Lebih seperti singa. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. Aku melirik ke seberang kafetaria. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. untung ia tidak sedang melihat ke arahku.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. Saat aku bersamanya. “Kalau begitu. “Kalau memang itu.” aku mengulanginya. atau begitulah kata mereka. kami punya senjata. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi. aku akan mengajakmu keluar malam ini. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. ke arah Emmett. Aku melompat. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. nada suaranya dingin. Ia juga menyandarkan tubuh. menggelengkan kepala.” Aku berusaha tersenyum. djAnGgo 180 .“Tentu saja.” Aku mengangguk menyetujuinya. benar. meraih tasku dari sandaran kursi. Ia tertawa terbahak-bahak. nanti.” “Lalu kenapa?” desakku. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya.” timpalku.” katanya enteng. ia benar. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang.” katanya. jadi lebih pemarah. meskipun tak pernah mengaku padanya. Aku menatapnya. “Barangkali. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri.

djAnGgo 181 .

khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. seperti terbakar. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. tapi aku tidak merasa nyeri. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. ragu-ragu. Edward tertawa geli di sebelahku. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Ia mengulurkan tangan. Kurenggangkan dekapan lenganku. Aku mendesah lega ketika Mr.” gumamnya. “Well. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. sama kuatnya seperti sebelumnya. Kemudian. nyaris terluka. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. ia duduk cukup dekat. Mr. Pembukaan film dimulai. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Kulitnya dingin seperti biasa. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. melemaskan jemariku yang kaku. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah.” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku menuju ruang ganti. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. Banner sudah masuk kelas. “Yuk?” ajaknya. Lengan kami nyaris bersentuhan. sambil bangkit dengn lincah.11. suasana senang di kelas nyaris nyata. matanya melirikku juga. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. tadi itu menarik. Wajahnya membuatku bingung. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. matanya sarat pergumulan. Otomatis aku melirik ke arahnya. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. jemariku mengepal. Aku tak sanggup bicara. “Hmmm. Sia-sia aku berusaha tenang. Aku kehilangan akal sehat. Mr. sekali saja dalam gelap. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. membelai wajahnya yang sempurna. tangannya mengepal di balik lengan. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. lalu berhenti di ambang pintu. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. Hari menonton film. Banner menyalakan lampu kembali. nyaris membuatku sinting. Aku berdiri hati-hati. Waktunya kelas Olahraga. Aku nyaris mengerang. Sebagai gantinya. Aku berjalan memasuki gymnasium. ekspresinya sedih. ketika ruangan sudah gelap.

Raket itu tidak berat. kau tak perlu melakukannya.menyerahkan raket padaku.” aku meringis penuh penyesalan. Mike. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. kau tahu. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. namun terasa tak mantap di tanganku. dan ia berdiri di sebelahku. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. aku sepenuhnya sadar. djAnGgo 183 . Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada.

Kami berjalan tanpa bicara. “Newton membuatku kesal. “Halo. “Jadi. “Aku tidak suka. raketnya aman tersimpan. Mike. kerumunan orang.” katanya sambil meninggalkan lapangan. “Caranya memandangmu. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu. Ia kembali menatapku.” Aku berbohong. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. Aku berpakaian dengan cepat. semua cowok. meskipun tidak bermaksud begitu. jadi aku mengabaikannya. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. seolah ingin memakanmu. “Kau sendiri yang bilang. Ia memandang marah padaku. Pandangannya bergeser sedikit.“Jangan khawatir. “Memang tidak perlu. tersenyum lebar. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. melainkan mobil convertible merah Rosalie. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. Meski aku telah mencederainya. mengabaikan keberatanku. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga.” Senyumnya mempesona. Keadaan tidak berjalan lancar. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. mereka djAnGgo 184 . “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. Edward menantiku. bersandar santai di dinding gymnasium. Ketika aku berjalan ke sisisnya. masih tegang. aku diam karena malu dan geram.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi.” sergahku marah.” ia tetap mengatakannya juga. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. Tiba-tiba selera humorku lenyap. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. berjalan cepat ke lapangan parkir. tampak mengerumuninya. kan?” aku terperanjat. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. Dengan mudah Edward menyusul. “Baikbaik saja. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker.. desahku. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang.” aku mengingatkannya. menuju mobilnya. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak.” Ia tersenyum. aku tidak akan mengganggumu. melirik ke belakangku. aku merasa sensasi lega yang aneh. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen. heh?” tanyanya. “Itu bukan urusanmu. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. aku jadi penasaran. langkahku terhenti. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan.. Mike bermain cukup baik. “Apa?” desakku. Ia mengajakku ber. matanya menyipit. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya.” ia meneruskan. “Hai. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. nadanya menantang.” Ia tidak terdengar menyesal.

” gumamnya. “Mobil apa itu?” tanyaku. juga luput dari perhatian. “Kelewat mencolok. Aku langsung masuk ke jok penumpang. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya.tampak sangat tertarik. djAnGgo 185 .

Ia menghentikan mobilnya. Aku mendongak.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya. Aku akan datang..” “Bagaimana. Aku mengangguk. Terutama indra penciuman kami. Aku tetap menjaga ekspresiku. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. yang seolah dapat diraih. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya.” Rahangnya mengeras.” katanya pelas. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius... Wajahku tidak djAnGgo 186 . “Aku minta maaf telah membuatmu takut.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul. “ Ia menyelaku. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi.” Aku tidak mendesaknya lagi. aku pernah mendengarnya. Ketika menatapnya lagi. “Well..” Senyumnya kini rendah hati. terkejut. “Aku tidak berencana membawa mobil. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. membuat irama jantungku berantakan.. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu.” ujarku.” aku berbohong. tanpa memandangku. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. “Kurasa sudah.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama. Ia tidak percaya.” “Itu keluaran BMW. tanpa banyak menggunakan pikiran. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam. “Setuju. mengamatiku.” Ia menghela napas. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. “Ketika kami berburu.” Ia memutar bola matanya. “Jangan khawatir soal itu. masih menatap awan tebal itu dengan murung. “Sangat.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.” aku bersikeras.” Ia menggeleng. tanpa mobil. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. Aku mempertimbangkannya.. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat... Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai. ia sedang menatapku. kalau kau bersungguh-sungguh. “Jelas. ke awanawan yang menggayut tebal. Dahinya berkerut.” “Mmm. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. dengan enggan. kemudian berubah jadi santai.“M3.. “Tidak. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. sementara kami berburu. sudah jelas ia sedang melucu.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.” “Karena.

Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. memecah kekakuan dia antara kami. aku sadar aku tak bernapas. dan keheningan itu semakin kental. ia memejamkan mata. djAnGgo 187 .menunjukkan apa-apa. Namun pandangan kami bertemu. dan berubah. Ketika kepalaku mulai berputar. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip.

Bella?” ia memanggilku. Kubuka pintunya.” Lalu ia menghilang. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. suaranya lebih tenang. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. Aku berkata takut-takut. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. hingga sering kali terbangun.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut. Bagaimanapun tidurku berubah. “Begitulah rencanaku. Khawatir kehilangan keseimbangan. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. menyikat gigi. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. “Ya?” “Besok giliranku..” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. memamerkan kilauan deretan giginya. Aku setengah berlari menuruni tangga. keluar rumah. Jelas ia berencana menemuiku berok.” Aku nyengir.” katanya. kalau tak ada halangan. Betapa ngeri. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. Pasti sulit menjadi ayah. Aku berkelit. tapi juga tegang. Dad. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. dan mengumpulakn buku bukuku.” “Oh. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. dan aku berguling kian kemari.“Bella. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku.. dan menyalakan keran. tersenyum tipis. berjalan menyeberangi dapur. kurasa kau harus masuk sekarang. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. “Ya.” Suaranya rendah serak.” Aku merasa kasihan padanya. Ketika terbangun aku masih merasa lelah. menunggu di tempat Charlie biasa parkir. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. “Oh. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. dan aku naik. Mobil silver itu sudah ada disana. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. djAnGgo 188 . membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik.” Aku menatapnya jengkel. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. “Mengenai Sabtu ini. tenang seperti yang kuharapkan. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. matanya kembali menatap awan. gelisah. Makan pagi berlangsung biasa. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. “Bertanya padamu. seperti biasa. aku makan semangkuk sereal.

Ia menunggu di mobil. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia tersenyum. dan seperti biasa. “Selamat pagi.” Suaranya lembut. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. lebih dari baik. “Baik. terima kasih. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi.” djAnGgo 189 . setiap kali berada di dekatnya. Aku berjalan menuju mobil. tenang. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku.” Aku selalu baik. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. “Kau tampak lelah.Aku tak pernah menginginkannya berakhir.

“Warna cokelat itu hangat. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. “Debussy. debu.” “Aku berani bertaruh untuk itu. Itu CD yang sama. menatap mataku. “Kau benar. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. wajahnya muram. Ketika kusebut nama bandnya. “Tentu. pasti aku telah membuatnya bosan. “Barangkali cokelat. Aku tertawa. kau benar. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. Kebanyakan pertanyaannya mudah. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. ia tersenyum mengejek.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. Warna cokelat itu hangat. Hari ini giliranku bertanya. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . Film yang kusuka dan tidak kusuka. tatapan aneh terpancar di matanya. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. “Kurasa itu benar. sewaktu makan siang. batang pohon. disini semua itu dilapisi warna hijau.” Tangannya menyentuh lembut. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. Aku rindu cokelat. “Tidak bisa. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Sering kali aku tersadar. kalau aku sempat mengendarainya lagi. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. merapikan rambutku ke balik bahu.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. Wajahku memerah karena. Sesaat ia berpikir.” “Oh. raut wajahnya serius. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. untuk yang satu ini tak ada habisnya. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. bebatuan. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. dan mengenai buku-buku.” katanya serius. tapi masih sedikit ragu-ragu. Ia tergelak.” “Jadi.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. ekspresi seriusnya berubah.“Aku tak bisa tidur. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. seolah sedang menginterogasi pembunuh. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. Ia mendengus. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. Aku menggerak-gerakkan mataku.” keluhku. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut.” aku mengaku. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. Kami sudah tiba di sekolah. “Aku juga. sambil terus menunduk. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. kalau saja wajahku tidak merah padam. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. “Setiap hari berubah-ubah.

“Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu. tentu saja.” desahku.matanya yang berwarna topaz. pasrah. aku akan bilang onyx. Dan. “Itu warna matamu hari ini. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . “Katakan. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.

namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. agak lengket. di sudut benakku. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. sambil menarik kereta audiovisual lagi. Di suatu tempat. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. Senyum lebar mengembang di wajahku. seperti kemarin. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. tapi akhirnya aku melangkah keluar. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. gelisah. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . membelai kening hingga rahangku. ia sedang menatapku. Tapi itu tidak membantu. Aku menghela napas lega ketika Mr.banyak dari seharusnya. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. khawatir ia juga sedang memandangku. pepohonan kering yang rapuh. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. akhirnya memandang Edward. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. Banner menyalakan lampu kembali. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. tahu semakin cepat aku bergerak. aku merasa bersalah. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. tapi masih menyenangkan. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. menungguku. Ia tidak berbicara padaku hari ini. Aku menghela napas lega. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. dan terus menjawab pertanyaannya. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. Tpai ia terdiam hanya sedetik. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. luasnya langit. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. dan cara menggapai matahari. Begitu ruangan gelap. tak mudah untuk dijawab. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. percikan listrik itu muncul lagi. sorot matanya bingung. Ketika guru itu mendekati panel lampu. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Aku tak melihat ke arahnya. Banner memasuki kelas. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. pahit.

tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. Aku kaget melihat waktu. dan mendesah. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. djAnGgo 193 . “Hampir selesai pun tidak.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. Akhirnya. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. bukannya melontarkan pertanyaan lain. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega. Dalam cahaya temaram badai. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. ia malah terdiam.dengan bebasnya. tapi ayahmu sebentar lagi pulang.

“Hei. lalu bergerak. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar.. tapi juga yang paling sedih. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. Jacob sudah keluar dari mobil. “Ini saat paling aman bagi kami. seolah pikirannya jauh entah dimana. pipi yang kendur. “Masalah lagi. “Saat termudah. Billy Black. “Kacau. Ekspresinya aneh.. rembang petang. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. Bella. antara putus asa dan menantang. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. nyaris menarik dirinya menjauh dariku. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. aku langsung melompat keluar. Aku langsung mengenalinya. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . “Charlie sudah dekat. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat.” ia mengingatkanku. tapi terlalu gelap.. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi. “Jacob?” tanyaku. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku.” katanya muram. bannya berdecit di pelataran yang basah. Nada suaranya melamun. ini adalah akhir satu hari lain. kembalinya sang malam. menyipitkan mata menembus hujan. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku.“Sudah twilight . wajah yang berkeriput. “Charlie akan sampai sebentar lagi. “Jadi. Itu ayah Jacob. lampunya menyinari mobil di depanku.” Alisnya naik sebelah.” Aku mengerutkan kening.. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. Jadi. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. Kegelapan begitu mudah ditebak. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. mengingat.” katanya.” gumam Edward.” gumamnya.” Ia tertawa. Meski bingung dan penasaran. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. “Terima kasih. “Aku sudah bilang belum selesai. “Aku suka malam. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. tatapannya gelisah. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. menjawab tatapanku yang bertanyatanya.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. ia masih menatap ke depan. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. Ia melirikku sebentar.

Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. Diam-diam aku mengerang. mengamati wajahku. seolaholah ngeri. seperti kata Edward. Ia memandangku. Ya.kempis. ia percaya djAnGgo 195 . Billy masih menatapku lekat-lekat. Masalah lagi. waswas. hidungnya kembang. Ya. jadi aku tersenyum malu-malu padanya.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Senyumku memudar. Matanya lebar.

menghindari hujan. “Ya. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. mengintip bagian bawah sandwich-nya.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. TV kami rusak sejak minggu lalu. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. “Tidak.” Ia nyengir. “Kurasa itulah rencananya. tentu saja. “Maaf. Semangatnya sangat sulit ditolak. sambil meraih-raih ke bawah serambi. kami sudah makan sebelum kemari. masih kanak-kanak. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya.” “Oh. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. Jake. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.12. “Tentu saja.” protesnya. “Seorang djAnGgo 196 .” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. “Baik. meski sudah bertahun-tahun. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya. ekspresinya tak bisa ditebak. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk.” ia menambahkan. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba.” Charlie tertawa. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi.” sahut Billy.” Aku menunduk menatap wajan. “Tidak masalah. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum.” kata Jacob. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi.” balasnya. Aku masuk..” Aku tersenyum. Aku berbalik menuju rumah. berbalik menuju dapur.” Jacob nyengir. Lalu aku berdiri di ambang pintu. Kami meminjam mobil itu. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku.” kata Charlie. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran.” Keningnya berkerut. “Tidak.. “Kalian lapar?” tanyaku. ke TV. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. “Bagaimana denganmu. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat. Aku belum melihat. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. “Sudah terlalu lama.” sahut Jacob. “Jadi. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya. “Ini kejutan.

” djAnGgo 197 . “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.” Suara Jacob terkagum-kagum.” “Tumpangan yang keren.teman memberiku tumpangan.

Ia kelihatan sedikit malu. Selamat tidur.” “Oh. ia tertawa.” timpal Billy. kata-kata itu keluar dalam bisikan. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu.” gumam Jacob. “Sepertinya ayahku mengenalinya. Jacob menatapku sesaat. Hatiku mencelos. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring. Aku mendongak memandangnya. Bella. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. Bagaimana harimu?” “Baik. Charlie. boleh dibilang malam ini semacam reuni.” serunya. “Terima kasih.” kata Billy. “Tadi itu menyenangkan. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang. “Tentu. tentu. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi.” sahutku menarik diri. “Kami akan datang. “Bella.” katanya. “Edward Cullen.” ujar Charlie membesarkan hati Billy. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie.” kataku.” djAnGgo 198 .” akhirnya ia menjawab. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. PR-ku banyak yang belum selesai.” Aku berpura-pura polos. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku. senyumnya memudar. menaruh dua piring di konter sebelahku.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa. tunggu. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. “Jadi.” tambahnya serius. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar.” Yang membuatku terkejut. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. Akhirnya pertandingannya selesai.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. satu kakiku pada undakan pertama. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. lalu berpaling. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie. membalikkan sandwich.” “Benar sekali. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. Sungguh malam yang sangat panjang. “Entahlah. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi.” Ketika tatapannya beralih padaku.” “Jacob. kurasa.” “Tentu saja.” gumamku. “Jaga dirimu.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu. kan?” Aku tak bisa menahannya.” aku menyahut enggan. siapa dia?” tanyanya. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu. mencoba terdengar tak peduli. Akhirnya aku mengalah. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen.

.“Wow. “Siapa?” nadanya tertarik. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 . aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis. “Mmm. “Keluarganya baik.” sahutku ogah-ogahan. “Oh ya.” “Well. tapi partnerku sangat hebat.” Ia terkagum-kagum sebentar.” aku mengakuinya.” Suaranya penuh semangat. sebenarnya sih tidak.. Mike Newton.

“Hari ini masih milikku. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas.” Ia nyengir. Saat ini kami di kafetaria. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. Charlie memperhatikan. djAnGgo 200 . ternyata Edward lebih cepat dariku. Tasku sudah siap. Tidurku lebih pulas malam itu. supaya lebih cepat memandang wajahnya. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. hobinya. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku. “Tidak di Phoenix. kau oke. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. kita kan mirip. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. sama seperti Jessica dan Angela.” Aku bergegas. “Ini Jumat. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. sementara aku mengunyah. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. gigi sudah bersih. sepatu sudah kukenakan. Cuaca seharusnya cukup hangat. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama.” gumamnya. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. Dengan enggan aku mengakuinya. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia.” katanya. “Pagi ini kau ceria sekali. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. aku akan di rumah saja.. betapa menggoda suaranya. kelewat lelah untuk bermimpi. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. “Tidak. temanku. Ia. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. berharap kelegaanku tidak kentara. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. “Baik. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu. langsung masuk ke jok penumpang. jendelanya terbuka. “Dad.” “Oh iya.. sama sekali tak ada hubungannya. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. beberapa teman sekolah.” Bibirnya terkatup erat. mesinnya mati. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa.” Senyumnya memukau. “Dia berkencan dengan Jessica. Aku mengangkat bahu. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. Ia tersenyum lebar padaku.” Aku tersenyum.” sahutnya saat sarapan.“Dad!” erangku. suasana hatiku bahagia. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. membuat napas dan jantungku berhenti. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang.

Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang. “Tidak masalah. bingung dan kecewa.” Mataku mengerjap. “Aku tidak membawa kuncinya.” Ia menatapku tidak sabaran. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. djAnGgo 201 .” “Oh.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya.” desahku. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.“Kenapa?” tanyaku.

” Aku meringis..” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. mendukung.” Aku memandang marah padanya.Ia menggeleng. djAnGgo 202 . Kau membuatku kagum. “Tidak. di tumpukan pakaian di ruang cuci. “Tergantung. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. Ia menahan senyum. “Berburu. matanya yang keemasan tampak gelisah. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. bibirku merengut. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. balas menatapnya. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. itu kan Sabtu.” Wajahnya bertambah muram. atau apapun yang direncanakannya..” gumamnya putus asa. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci.” katanya. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. kuncinya tergantung di lubang starter. persis ketika pertama kali melihat merka. Kami tidak pergi jauh-jauh. “Trukmu akan ada disini. “Sudah kubilang. “Apa saja yang bisa kami temukan. Edward menggeleng pelan.” jawabnya dingin. Ia nyengir. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku. kau tahu itu. dan memelas.” aku mencoba menebak.” aku menyetujuinya. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. aku juga tidak mengerti. Hanya saja sekarang mereka berempat.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya..” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar. “Dan kalau kau tidak pulang.” Ia menertawai perkataannya sendiri. ia takkan menemukannya..” protesnya. memandang ke berbagai arah. “Aku tak bisa.. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. Aku mengubah topik kami. Suaranya berubah tajam. “Alice yang paling.” jawabku tenang. terlalu percaya diri. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. “Tidak. “Jadi.” “Barangkali kau benar. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. besok dia pergi mancing.” aku menjawab terlalu cepat. Mereka duduk. tapi tatapannya kelewat polos. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu. “Bukan itu. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. khawatir akan tatapannya yang persuatif. “Bisa dibilang tidak percaya.” bisikku.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi.. Aku menolak merasa takut padanya. “Mereka tidak menyukaiku. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi. “Baiklah. “Kalau aku berduaan denganmu besok. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku.” Aku menunduk. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. Itu tak masalah. “Untuk masalah ini. ulangku dalam benakku. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang.

. Manusia bisa ditebak.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. Kau selalu membuatku terkejut.” gumamnya. kau tak pernah seperti yang kuduga.” djAnGgo 203 . “Dengan keunggulan yang kumiliki. Tapi kau. menyentuh dahinya dengan hati-hati.. “aku lebih baik daripada manusia umumnya.

dengan buruk. Aku berusaha bicara sewajar mungkin.” sapaku malu-malu. Bella. Dan perasaan frustasi. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. Dia hanya khawatir. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja. Rosalie membuang muka. tapi senyumnya bersahabat.. merasa malu dan tidak puas. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. Tidak. dengan cepat. Kupaksakan tanganku meraihnya. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. tapi aku belum bisa menatapnya. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah.. menunjuk kami sesantai mungkin. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil.. berpaling dan menatapku. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan.. bukan hanya aku yang bakal terancam. Kesedihannya sangat nyata.” Ia mengangkat wajah.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. Aku ingin berpaling. Aku merasakan tatapannya di wajahku. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. Ia masih memegangi kepalanya.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles.. elegan meski tidak bergerak. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. Alice. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya.” “Edward. “Senang akhirnya bisa berkenalan. “Halo. “Alice. ini Alice. Posturnya ramping. “Alice.” ia memperkenalkan kami. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. mataku kembali mengamati keluarganya.Aku berpaling.. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. Tiba-tiba Rosalie. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. bukan melihat. “Tapi ada lagi. “Maaf soal itu. Suaranya nyaris seperti desisan. tapi aku tak tahu bagaimana caranya.” Aku hendak beranjak. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward.. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. senyum sinis mengembang di wajahnya. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. ini Bella. “Hai. djAnGgo 204 . Aku menunggu rasa takut itu. Alice. Bella. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. Begini. ingin rasanya aku menenangkannya. Mungkin ini yang terbaik.” lanjutnya. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku.. Aku kembali menatap Edward.” balasnya.” Ia menunduk. sesaat wajahnya serius. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi.

” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. “Hampir. “Kalau begitu. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.” “Aman di Forks. selamat bersenang-senang.” Ia masih tersenyum. “Tidak.” djAnGgo 205 . berbalik menghadap Edward lagi. kumohon. jagalah dirimu.Suaranya dingin.” Ia tersenyum. “Akan kucoba. langkahnya sangat gemulai. Kita ketemu di mobil. “Dan kau. itu sih gampang. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’.” Aku berusaha terdengar tulus. begitu anggun sehingga membuatku iri.

tersenyum lebar. ya kan?” godanya. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.” “Jangan terjatuh.” Ia bangkit berdiri. “Janji. daripada menjauhkan diriku darinya. “tidak akan membantuku belajar. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang.“Bagimu memang gampang.” “Aku janji akan menjaga diri. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.” katanya kembali bersemangat. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. Aku mengangguk sedih.” desahku. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. kelewat ingin tahu. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya.” ulangku. Aku pergi ke kelas dengan patuh. “Lihat saja. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. lebih menyakitkan. Itu sesuatu yang mustahil. dan aku bertekad menjalankannya. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward.” Rahangnya mengeras. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. bahwa esok adalah saat yang penting. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. tapi insting menghentikan niatku. pasti keren. berharap aku bersenang-senang di Seattle.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward. mengusap lembut pipiku. “Aku hanya menawarkan. “Tidak. dan rasanya ia juga. pasti bakal penuh bahaya. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. khawatir trukku takkan sanggup. Mike mengajakku bicara lagi. oke?” “Ya sudah. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. dan ini membuatku terkejut.” djAnGgo 206 . pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. “Aku akan mencuci malam ini.. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya. “Aku akan datang besok pagi. Mike. Lalu ia berbalik dan pergi.” ia berjanji.” aku menekankan. “Sepertinya bakalan lama bagimu. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. Ia mengulurkan tangan. “Sampai ketemu besok. aku juga. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya.” “Lalu. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. “Cucian. menyentuh wajahku.” Ia marah lagi. Dengan sendirinya aku tahu. atau instingnya.” ejeknya. tiba-tiba marah.” janjinya. Kami semua akan berdansa denganmu. Keputusanku sendiri sudah bulat. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. “Oh. Di Olahraga.. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. setidaknya pelajaran Olahraga. “Kau tahu. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya.

trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. djAnGgo 207 . tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. aku berjalan lemas menuju parkiran. Aku menggeleng tak percaya. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Insting terakhirku terbukti benar. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Selembar kertas tergeletak di jokku. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter.Ketika sekolah akhirnya selesai. Aku menertawai diriku sendiri. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget.

. Tawaku reda. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali. Dad.. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali.” katanya. membuyarkan lamunannya. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. jangan ubah rencanamu. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. kurasa. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Bella. persediaan ikan kita sudah menipis. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. PR. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. Aku akan pergi kesana kemari seharian.. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya.. Lagipula. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. “Kau tahu. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle.. Nyaris. mencuci.. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. djAnGgo 208 . sejak aku datang ke Forks.” kataku. hasrat itu akan mengalahkan segalanya.” aku memulai. kau pergi saja dan bersenang-senanglah.. dan tak akan mengubahnya. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan.. Ia ingin agar aku selamat. Kosong. Sepanjang makan malam Charlie melamun. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. dan ke toko kelontong. “Oh. kuperiksa sakunya. Dad. atau mungkin pertandingan basket.. tertawa. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. “Kau juga.” “Kau yakin?” “Tentu. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku. namun gemboknya terbuka. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. pikirku sambil menggeleng. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. bila semua itu berakhir buruk. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. dan setelah menemukannya. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. “Ada apa.” Ia tersenyum. oke. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya.” “Oh. Dan apa pilihanku yang lainnya. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi.. Aku mencari jinsku. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. terkejut. Lagipula.” “Mudah sekali hidup bersamamu. Aku perlu ke perpustakaan. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. Dad. Dad. dan sudah mulai tak terkendali.

Setelah semua siap untuk esok. Sambil menunggu obatnya bekerja. akhirnya aku berbaring di tempat tidur.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. Aku terbangun. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Aku merasa tegang. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. berusaha djAnGgo 209 . hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan.

Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang. Meski istirahatku cukup. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. wajahnya muram. dan jins. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. Aku berpakaian terburu-buru. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum.” tukasku gusar.menenangkan setiap bagian tubuhku.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. “Selamat pagi. tapi akhirnya berhasil membukanya. Aku ikut tertawa. tapi tak ada yang berubah. Aku mengintip ke jendela lagi. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . Kini aku merasa tenang. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu.” aku mengingatkannya. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. dan ia pun tertawa.” perintahnya. belum-belum aku sudah gugup. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. Aku bangun cepat. Dan ia tampak berdiri di sana.” sapanya sambil tergelak. meskipun ia terus saja mencela. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. “Belok kiri di satu-sepuluh. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. sedikit kesulitan dengan selotnya. “Kita serasi. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. buru-buru membereskannya ketika selesai. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. dan aku pun tidur pulas. atau celana. hargailah sedikit. Aku mendesah lega. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku.” Ia tertawa lagi. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. dengan kerah putih mengintip di baliknya. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda. Aku meluncur ke pintu. Sepertinya tidak akan bertahan lama. “Ke arah satu-kosong-satu utara. Awalnya ia tidak tersenyum. merasa puas. melicinkan kerah pakaianku. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. menembus kota yang masih tidur. “Kenakan sabuk pengamanmu. “Kemana?” tanyaku.

tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget. djAnGgo 211 . “Jalan setapak.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya.kata. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya. “Sekarang terus hingga ke ujung jalan.

Aku tidak menyahut. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. Lagi-lagi aku berbohong. “Katamu kau bisa mendapat masalah. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. ke awan-awan yang mulai menipis. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. Kemudian jalanan berakhir. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. jengkel. Bella. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. Ini akan jadi perjalanan memalukan. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny..” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. Ia menggumamkan sesuatu. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan.. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya.. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. “Tergantung. “Tidak. Sekarang di luar terasa hangat. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. aku bilang kau membatalkan rencana itu.” Kami memandang ke luar jendela. dan sangat sinis. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. dan aku tak tahu harus bilang apa.” katanya sambil menoleh. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. Aku mendengarnya menutup pintu.” tukasnya. bukan berarti kita akan melaluinya. dan itu benar. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.“Tidak. “Lewat sini. Ia tidak sedang memandangku. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. Selama sisa perjalanan kami membisu. sorot matanya masih kesal.. atau bahkan melukaiku.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu. djAnGgo 212 . Aku berpura-pura tidak mendengar. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. dan kita tidak perlu terburu-buru. Aku mengangguk. pandanganku tetap ke jalan.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar.” aku mengingatkannya.. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. “Tidak. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya. “Jangan khawatir. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil.” Lima mil. nyaris lembab di bawah selimut awan.

” Kemudian ia berbalik. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya. Ia terlalu sempurna. djAnGgo 213 .“Aku takkan membiarkanmu tersesat. dan aku mendengus pelan. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. dengan senyum mengejek.

” “Aku bisa sabar. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. “Kau harus sangat sabar. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Hari telah berubah cerah. aku menyerah. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. mencoba memahami maksudku. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi.” sahutku tolol. “Hampir. Ketika terjadi untuk kedua kali. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. guru-guru sekolah dasarku. hewan peliharaanku semasa kecil. lebih keras dari biasanya. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. mengangkatku dengan memegangi sikuku. dipenuhi jaring pepohonan kuno. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. Kami lebih sering berjalan dalam diam. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. “Aku bukan pendaki yang baik. Hutan itu membentang di sekeliling kami. atau bebatuan besar. Ia mengamatik wajahku. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. tepat seperti yang diramalkannya. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa. ia membantuku.” kataku dingin. tapi senyumku tidak meyakinkan. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku.” janjinya. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . tapi sering kali aku gagal. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Ia memandang marah padaku. sambil menatap mataku. kalau aku berusaha keras. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. “Ada apa?” tanyanya lembut. Ia menertawaiku. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. Aku mencoba membalas senyumnya. Ia menanyakan hari ulang tahunku. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. “Aku akan membawamu pulang. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. pura-pura kesal.Ia menatapku. “Tidak.” Ia tersenyum.

setelah melangkah seratus meter lagi. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. melingkar sempurna. dan putih lembu. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. aku bisa mendengar senandung sungai. Cahaya itu kuning. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. biru keunguan. Tak jauh dari tempatku berdiri.” gumamku. Aku mempercepat langkah. Padang rumput itu kecil. dan mengikutiku tanpa suara. bukan hijau.bisa melihatnya?” Ia nyengir. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. kuning. Tapi kemudian. Ia nyengir semakin lebar. djAnGgo 215 . “Barangkali belum kasat oleh matamu. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang.

tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. serta udara hangat dan keemasan. ingin berbagi ini semua dengannya. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. dan aku pun ragu. Ia mengangkat tangan mengingatkan. memperhatikanku dengan tatapan waswas. dengan ketakutan mencari-carinya. melintasi rumput halus. Tatapannya hati-hati. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan.Matahari tepat bersinar di atas kami. Aku tersenyum menyemangati. lalu berhenti. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. bunga-bunga yang melambai-lambai. enggan. mengulurkan tangan. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. djAnGgo 216 . Edward tampak menghela napas dalam-dalam. sambil terus melangkah ke arahnya. Aku memandang berkeliling. Aku kembali melangkah ke arahnya. Aku setengah membalikan badan. Akhirnya aku menemukannya. terpesona. Aku berjalan pelan.

Aku beringsut mendekat. Aku ingin berbaring. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. bahkan sekarang. Patung yang sempurna. halus bagai satin. seperti yang dilakukannya. Kulitnya. Jemariku gemetaran. begitu cepat hingga seperti gemetar. dingin seperti batu. tampak kemilau.” Ia mendesah. djAnGgo 217 .. berkilauan bagai kristal. Dengan ragu-ragu. “Aku tidak membuatmu takut. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. karena ia sudah memejamkan mata lagi. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. “Tak lebih dari biasanya. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku.13. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. lengannya yang telanjang juga berkilauan. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. kan?” guraunya. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. tak ingin berpaling dari wajahnya. terlalu pelan untuk bisa kudengar. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. yang berada di dekatku.” Ia tersenyum lebih lebar. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. “Kau keberatan?” tanyaku. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. Angin bertiup pelan. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. meski tentu saja ia tidak tertidur. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Aku juga menikmati sinar matahari. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. “Tidak. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Tapi ketika kutanya.” katanya tanpa membuka mata. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. halus bagai pualam.. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. dagu kuletakkan di lutut. lebih ringan dan hangat setelah berburu. selalu khawatir. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. mengamatiku. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. terukir dari bebatuan entah apa namanya. Dengan tanganku yang lain. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya.

Aku terkejut. “Katakan apa yang kaupikirkan. “Masih tidak biasa untukku.” Kuangkat tangannya. Kudekatkan tangannya ke wajahku.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. ia membalikkan tangan dengan cepat.” bisiknya.aku meraih dan membalikkan tangannya.” djAnGgo 218 . sesaat jari-jariku membeku di lengannya. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu.” “Kau tahu. gerakannya membuatku terkesiap. Menyadari apa yang kuinginkan. mendadak begitu lekat. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi. Aku melihat dan mendapatinya menatapku.” gumamnya. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya.” “Hidup ini sulit. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. kita semua merasa seperti itu setiap saat. untuk tidak mengetahui. “Maaf.

Aku mungkin saja. Aku tahu ia bisa mendengarnya. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. aku. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. “Aku predator terbaik di dunia.” sahutnya.” ujarnya ragu. Aku duduk tak bergerak. sekarang ia setengah duduk. ekspresinya tak dapat kutebak. kakinya menyilang. setengah meter dariku. ia berada enam meter dariku. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. Ia menatapku.” ia tertawa getir.. nikmat. Ia mengulurkan satu tangannya. bertopang pada lengan kanannya.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. tapi aku tak bisa bergerak. melepaskan tangannya dariku. “Seperti kau bisa melawanku saja. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. wajahku. Aku duduk diam tak bergerak.” Suaranya menggumam lembut. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. Secara naluriah. “Beri aku waktu sebentar. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. lalu melemparnya begitu cepat. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya.” bisikku.. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. bahkan aromaku.. dan duduk anggun di tanah.. aku mencium napas sejuknya di wajahku. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. “Maafkan. “Aku sangat menyesal. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku.” “Aku tidak ingin kau takut. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. Aku tak djAnGgo 219 . Ia menghela napas panjang dua kali. langsung lenyap dari pandangan. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. Dan ia menghilang. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. suaraku. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. Tidak seperti apapun di dunia ini. kaku bagai batu.” ujarku ragu-ragu. pelan untuk ukurannya. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. bukan itu yang kumaksud. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. aroma yang membuatku meneteskan air liur. masih beberapa meter jauhnya. seharusnya. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. bahwa aku tak perlu takut. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. Senyumnya berubah mengejek. “Well. pergi. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. Tanganku yang kosong bagai tersengat. Edward. Pohon itu bergoyang dan bergetar. aku mendekat padanya. menghirupnya. Ia berhenti. Tapi aku tak bisa menjawab. ia berjalan kembali ke arahku. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya. menghempaskannya ke pohon besar lain. lalu tersenyum menyesal. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik.. Matanya yang keemasaan mempesonaku. matanya tampak kelam dalam bayangan itu.. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. tanpa berpikir. Manis.” katanya lembut. Dan aku berharap aku tidak takut. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan.

Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. djAnGgo 220 .. percikan itu memudar.pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. ketika detik demi detik berganti. Dengan wajah pucat dan mata membelalak. atau lebih menawan.. Lalu.

Detik demi detik pun berlalu. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” gumamku sedih. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. lalu matanya. “Ya.” ujarnya ragu. “Sejujurnya. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. “Itulah sebabnya aku harus pergi. “Aku seharusnya pergi sekarang. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus. kali ini lebih lembut. benar. well. Ini juga masih sama sulitnya baginya. tapi aku masih tak sanggup bicara. Senyuman balasannya sungguh mempesona. hari ini aku tidak merasa haus.” “Oh.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. “Betapa mudahnya aku marah. hingga wajah kami sejajar. alasan yang jelas.” bisiknya lagi sambil mendekat. Parau djAnGgo 221 . aku tidak bisa mengingatnya. Pada dasarnya aku makhluk egois. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku.” “Aku senang. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. penuh penyesalan. Kau membuatku tak berdaya. disamping alasan yang sudah jelas. Aku kembali menatap tangannya. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik.” Ia menunggu. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya.” “Jangan!” Ia menarik tangannya. itu sesuatu yang perlu ditakutkan. aku tak bisa terus berada di dekatmu. “Jangan takut.” pintanya..” Ia mengedipkan mata. tapi wajahnya tampak malu. Keinginan untuk bersamaku. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. Aku memandangnya dan tersenyum gugup.. tadi kita sampai dimana.” “Aku tak ingin kau pergi.” gumamnya. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.” timpalnya pelan. juga bagiku. “Aku bisa mengendalikan diri.” desahnya. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. dengan amat perlahan.” desahnya. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. “Aku takut. karena. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. “Aku seharusnya pergi sejak lama. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. “Sejujurnya. seraya menunduk lagi. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan.” Ia tersenyum. “Jadi. suaranya lebih parau daripada biasanya. hanya terpisah tiga puluh senti. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut. Aku menatap matanya.” Aku cemberut.. Mata itu lembut. Ia duduk luwes. “Aku berjanji.“Jangan takut. Mendengar itu aku harus tertawa. “Kumohon maafkan aku.. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku. “Jelas. meski suaraku gemetar dan tertahan. Tapi jangan khawatir. untuk.

“Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu.” Ia berhenti. dan bingung. Aku berpikir sesaat.untuk ukurannya. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. djAnGgo 222 . Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan.

Ia langsung tersenyum. kalau ia memang ingin. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. Ia memandang tangan kami. Jelaskan saja sebisamu. Tapi dia bisa menolaknya. dia akan dengan senang meminumnya. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. memikirkan jawabannya. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung.” Ia masih memandang kejauhan. kalau ia bukan peminum lagi. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. Begitulah caramu berpikir. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. atau takut. atau setidaknya mencoba. terutama bagian terakhir. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. sepertinya menghargai usahaku. hmmmm. “Jadi. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”.” Ia mendesah. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. raut wajahnya menyesal. jadi dia mengerti maksudku. berusaha mencairkan suasana. cognac langka terbaik. saling menatap. . Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. menurutmu. ia ragu.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. “Kau tahu. Emmett.” “Dan kau?” “Tidak pernah.” katanya. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat.” kataku. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. “Ya. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami.” Kata itu melayang sesaat di sana.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku.” Ia memandangku. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.. juga rasa.” “Jadi maksudmu. aku semacam heroin bagimu?” godaku. mencari-cari kata yang tepat. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. Ia kembali menatapku dan tersenyum. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. inti berbeda. dalam embusan angin yang hangat.” Aku tersenyum. mencoba membaca pikiran satu sama lain. “Maaf. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . atau apapun. Aku bisa mengerti. “Aku tak keberatan. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. kau adalah heroin bagiku.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. setiap orang punya aroma berbeda. kalian manusia kurang-lebih sama.. Ia memandang melampaui puncak pohon. “Tanpa membuatmu takut lagi. “menariknya seperti kau bagiku. Ia balas tersenyum menyesal. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya.” Tanpa terlihat memikirkannya. “Bagi Jasper.

Ia membuang muka. tangannya mengepal dalam genggamanku.” kataku akhirnya. tapi ia takkan menjawab. “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. Ia melirik. wajahnya muram.memecah keheningan. bukan begitu?” djAnGgo 224 . Wajahnya menjadi gelap. memohon. “Kurasa aku tahu. Aku menunggu. Pertanyaan yang salah.

Hanya ada satu manusia lemah disana. Emmett. di lorong gelap atau apa. karena disana aku tak bisa mencium aromamu.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. menghipnotis dan mematikan. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. memikirkan keluargaku. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. Dan aku terus melawan keinginan itu.” Aku menatapnya terpana. tidak mengikutimu dari sekolah. bertahuntahun yang lalu. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. untuk memberitahunya aku akan pergi. “Tapi aku menolaknya. setangkas dan sehati-hati sekarang. matanya nanar menatapku. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. begitu dekat. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. saat itu juga. di rumah sakit. dia tidak mengenal kedua gadis itu. yah. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. “Tak diragukan lagi. Aroma tubuhmu membuatku sinting. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu.. membebaskanku dari kekuatan tatapannya. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. “Kau pasti menduga aku kerasukan. “Maksudku. Saat itu aku nyaris menculikmu. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. oh. Aku mencoba berkata dengan tenang. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. Kejadiannya sudah lama sekali. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. Ia memandangku muram.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya.. kau ada disana.” “Aku tidak mengerti alasannya... Cope yang malang. kami mengingat saat-saat itu. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . tentu saja aku tidak akan. dan dia tidak.” Nyaliku ciut. “Ketika aku berjalan melewatiku. ingatanku diperbaharui lewat matanya. Aku tidak berani pulang menemui Esme. “Tentu saja ada harapan! Maksudku.” ujarnya. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu..” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. di ruangan kecil itu.” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. Mrs. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku. “Kemudian. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur.. Aku tidak tahu bagaimana. memandang geram pepohonan..” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. lalu aku pergi menemui Carlisle. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. tidak!” Ia langsung menyesal. agar aku bisa berdua saja denganmu. Aku harus pergi.. Aku bisa berpikir lebih jernih.” Ia berhenti. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. “Kisah kita berbeda.. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. memalingkan wajah. membuat keputusan yang tepat..“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan.. “Aku bertukar mobil dengannya. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu. sangat mudah untuk diatasi. “Kau pasti datang. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya... “Jadi kalau kita bertemu. Aroma yang menguar dari kulitmu. Bagiku di luar lebih mudah... menghilang.

. gadis kecil yang tak penting”..mengetahui apa yang terjadi. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan. keluarga adopsiku. tiba-tiba ia nyengir. Aku meyakinkan diriku sendiri. dekat pun tidak. djAnGgo 226 . bersama beberapa kenalan lama.. tapi aku kuat. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska.. Siapa kau ini. tidak sebesar ini. Dalam udara bersih pegunungan. dan yang lainnya. “Dua hari aku disana.” Pandangannya menerawang... Aku benci karena telah mengecewakan Esme.” Ia terdengar malu. bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. tapi aku rindu rumah.

Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. bahkan sekarang. “Sepanjang keesokan harinya. rambutmu. yang bisa kupikirkan hanya. Aku sama sekali tidak memahami dirimu.. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal.” lanjutnya. Carlisle membelaku. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu.” Mata kami kembali bertemu. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu.” Ia meringis ketika menyebut nama itu..” Ia cemberut mengingatnya. Aku tak bisa menebak alasannya.. dirimu. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. disini. begitu juga Alice. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. lebih antusias daripada rasional. bila mungkin. Aku sombong mengenai hal ini. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Sebenarnya aku sangat ingin. karena jika aku tidak menyelamatkanmu. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. “Aku melakukan tindakan pencegahan. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami. pertengkaran terburuk kami. “Tapi efeknya justru kebalikannya. Emmett. “Aku bertengkar dengan Rosalie.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya.” ia bergegas melanjutkan.. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. pikirannya tidak terlalu orisinal. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. meski suaraku samar-samar. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. daripada sekarang. seandainya aku akan menyakitimu.. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. ‘Jangan dia’. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama..” Ia memejamkan mata. Sangat menyebalkan. “Aku kaget. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu.” Ia menggeleng tulus. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu. Aku mendengarkan. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. napasmu. “Karenanya. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. “Tentu saja. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. “Kenapa?” djAnGgo 227 .” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. Saat itu.. larut dalam pengakuannya yang menyiksa. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya.. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. berburu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. dari semua orang yang ada. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku..Aku tak sanggup berkata-kata. menaruh diriku dalam kuasamu. Tapi kau terlalu menarik. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku. Akhirnya aku bisa bicara. Dan setiap hari aroma kulitmu.. jika darahmu tercecer di sana di depanku.

Dari topik menyenangkan tentang kematianku. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya.“Isabella. putih.. tak bisa melihatmu merona lagi.. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. “Bayangan dirimu. kembali malu-malu..” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati. Terpenting bagiku sampai kapan pun. “Bella. kaku. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku.” Ia menunduk.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. rasanya tak tertahankan. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. djAnGgo 228 .” Ia menatapku dengan matanya yang indah. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. Ia menunggu. dingin.. namun tersiksa. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu.

peringatan yang menyuruhku untuk takut. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.. “Bodohnya aku.” gumamnya. seolah aku belum membeku saja.. Aku berpaling.” gumamnya. “Kau tahu kenapa.. Pasti ia mendengarnya. tentu saja. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. “Benar-benar tidak apa-apa. yang suka menyakiti dirinya sendiri. “Lihat.” Ia berhenti sesaat.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain. Ini. “Rona pipimu cantik. kalau bisa..” Berhasil. Itu salahku. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. maksudku. ia tertawa. tak yakin bagaimana meneruskannya. Bella. sungguh. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku.” Ia mengangkat tangannya yang bebas. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. tahu..“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku.. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. dan aku berharap bisa memperlambatnya.” “Tapi aku ingin membantu. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun.” Ia tersenyum lagi. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya.” kataku bergurau. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. “Singa sakit.. Aku tak bisa bergerak. contohnya”. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya.” bisiknya. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . Tatapan kami bertemu. aku membelai punggung tangannya. “Domba yang bodoh.” kataku akhirnya. Ia memandangku dan tersenyum. ia mencondongkan wajah ke arahku. “Kenapa?” aku memulai. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. detak jantung dalam nadiku. “Aku ada disini.” “Well.” Senyumnya memudar. kan. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan.” Darahku mengalir deras. Lalu tiba-tiba.” Wajahku muram. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. Perlahan.. “Masalahnya kau begitu dekat. “Tidak. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. kemudian berhenti. “sepertinya tidak masalah. Aku duduk diam tak bergerak. tanpa mengalihkan pandangan dariku. Aku melipat daguku. Dengan lembut ia membelai pipiku.” ia menimpaliku sambil tertawa.” “Tidak. Dan aroma lehermu. namun dengan teramat lembut. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan.” Sesaat ia memikirkannya. mundur karena keanehan kami. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya.” desahku. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu.” katanya. “Jangan bergerak. bahkan bila menginginkannya. dan aku ikut tertawa.. “Aku takkan memperlihatkan leherku. “Baik kalau begitu..” “Kau memang bodoh. melihat apakah ia membuatku marah. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu.

dan aku mendengarnya terengah. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . Mendengarkan detak jantungku. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. Aku gemetar.” desahnya. Bisa jadi berjamjam. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. kemudian berhenti. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Dengan kelambatan yang disengaja. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. Ia berhenti.bagian dirinya yang lain. Wajahnya bergeser ke samping. “Ah. Akhirnya detak jantungku memelan. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku.

Kubelai pipinya.. “Kemarilah. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. “Kuharap. Sorot matanya damai. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. Ia membuka mata.” katanya puas. Hasrat yang tak bisa kumengerti. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya. ia setengah tersenyum.. “Ada hasrat lain. Tak ada yang bisa setenang Edward. Dan kurasa kau bisa memahami itu.. rasa lapar..” bisiknya. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. haus. bayangan keunguan di bawah matanya.” desahku. sebuah ukiran dalam genggamanku. Tidak pernah sebelumnya.. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. yang kurasakan. kurasakan padamu.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. mengingatkannya lewat tatapanku. Meskipun”. “Tidak akan sesulit itu lagi. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. itu tidak buruk. membuatku gemetaran lagi.” ia mengaku.. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. kesulitan. ia melepaskanku. Aku ingin mencondongkan tubuh. “Aku tak tahu apakah aku bisa. sesuatu yang asing bagiku. “Ini sudah cukup. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. Agar kau mengerti. tidak pernah. Bukan dengan cara yang membuatku takut. dengan lembut mengusap kelopak matanya.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. Sudah kubilang.” desahku.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka.” Aku tersenyum.. Bibirnya membuka di bawah tanganku.” “Tapi.. bagiku.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. kemudian. dan hidupku bisa berakhir. tak ingin mendorongnya terlalu jauh. “Katakan padaku. di lain sisi. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku. terlalu cepat. Aku tak bisa memikirkan apa pun. dan keduanya tampak kelaparan. memejamkan mata. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. “Kau tahu maksudku. “Tidak. tak ada yang lain.. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras.jadi kelewat berlebihan.” bisikku. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. “Kurasa aku tidak bisa. “kuharap kau bisa merasakan. menghirup aromanya. “Jangan bergerak. yang menjadikanku makhluk tercela. Kau?” “Tidak.. Kemudian. kebingungan. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 .” Ia tersenyum mendengar nada suaraku.

aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. “Aku punya naluri manusia. bayangan hutan mulai menyentuh kami. djAnGgo 232 . naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. dan aku pun mendesah.” sahutku.” Lama sekali kami duduk seperti itu. tapi masih ada.wajahnya di rambutku. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar.

” Ia menungguku. Irama napasnya tak pernah berubah. bukan?” Suaranya meninggi. Rasanya seperti memeluk batu. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. tapi otot-ototku kaku. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. selalu luput menyentuh kami. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak. menekankan telapak tanganku ke wajahnya. Ia meraih bahuku.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya.” aku menahan napas.“Kau harus pergi. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar. sekarang terdengar waswas. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. lebih keras daripada yang pernah kudengar. Ia tertawa. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. aku merasa mabuk. maaf. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. lalu mengulurkan tangan meraihku. Kemudian selesai. Ia berdiri tak bergerak. “Sepertinya aku butuh bantuan. “Asyik. Aku mencobanya. senang. “Hah!” dengusnya.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. dan sekarang. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. “Oh.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau.” Ia mengamati ekspresiku. aku yakin kau sering mendengarnya. dan menghirupnya dalam-dalam. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. dalam hitungan menit. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya.” “Sudah jelas. Jantungku bereaksi. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan.” “Ayo. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward.” aku mengingatkannya. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. Ia tersenyum melihat keraguanku. pengecut kecilku. “Bella?” panggilnya. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. djAnGgo 233 . Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. Tak ada suara. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. “Jangan khawatir. dan aku menatap wajahnya. kau akan sangat aman. menungguku turun. “Rasanya aku perlu berbaring.” ujarku. naik ke punggungku. Kemudian ia berlari. bagai hantu. kami sudah sampai di truk. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku.” gumamnya. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya.

Ia tertawa pelan. “Rasanya pusing. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. Ia memelukku sebentar.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu. Kemudian ia menarikku menghadapnya. Kupasrahkan diriku. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali.” djAnGgo 234 .

Aku bernapas palan. Aku tak bisa bernafas. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Darahku mendidih dan membara di bibirku. “Tidak. wajahnya sangat dekat denganku. Jariku meremas rambutnya. tidak seperti biasanya.” Suaranya sopan. terlalu berlebihan. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.” desahku.” gumamku lagi. menjaga kepalaku tetap tenang.” ujarnya pelan. “Tidak. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. Ia ragu-ragu. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. Ia tersenyum. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. Aku terpana dibuatnya.” “Lain kali!” erangku. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya. “Haruskah aku. untuk mengetahui apakah ini aman. Aku terus menatap matanya.” gumamnya. bukan sesuatu yang harus kupikirkan.” lanjutnya. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. “Buka matamu. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada.Aku mencobanya. Tolong tunggu sebentar.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. rahangnya menegang. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. Suasana hatinya masih bagus. “Bukan. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. seperti cara manusia. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.. “Aku sedang berpikir. Dan disanalah dia.” Ia terdiam. memberinya sedikit ruang. aku bisa mentolerirnya. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba.” Tatapannya liar.” “Lain kali ingat itu. Telingaku berdenging. “Berlari adalah sesuatu yang alami. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. Napasku terengah-engah. Bella. namun suaraku lemah. Waktu berlalu.” gumamku. Ia tertawa. ketika aku berlari. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 .. “Ups. terkendali. Aku merasakan ia duduk di sisiku..” ia tergelak. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan..” “Tukang pamer. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. dan lumayan membantu. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. Ketampanannya memukauku.?” Aku mencoba menahan diri. “Itu namanya melecehkan. “Tukang pamer. oh bukan.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. itu tadi sangat menarik. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita. kau lucu. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Aku mencoba bersikap positif. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala.” “Bella.

“Nah.” katanya. Kemudian ia tersenyum.” djAnGgo 236 . dan senyumnya tak disangkasangka nakal.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. Ia tertawa keras. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga.” “Kau toh hanya manusia biasa. Senang mengetahuinya. jelas puas dengan dirinya sendiri.dalamnya mulai memudar dan melembut. Maafkan aku. “Bisa ditolerir?” tanyaku.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi. Awalnya ia tidak menjawab. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. menuju sisi pengemudi.” Kuselipkan tanganku di saku celana. bisa menerimanya. Kugenggam tangannya yang dingin. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. Aku mulai mengitarinya. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya.” djAnGgo 237 . “Kau mabuk oleh kehadiranku. “Santai saja. mulai dari telinga ke dagu. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri.” “Sangat masuk akal. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung.“Terima kasih banyak. berulang-ulang.” desahku. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. wajah manusianya tampak tenang. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.” sahutku getir. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. Bella. “Mabuk?” timpalku keberatan.” akhirnya ia bergumam. trukku sudah cukup tua. Lagipula. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu.” Alisnya terangkat tidak percaya. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Aku gemetaran. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. atau trukku. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini. “Refleksmu jauh lebih lambat.” akhirnya aku berhasi menyahut.” godanya. “refleksku lebih baik. “Aku tidak yakin. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya. “Bella. memerlukannya lebih dari dugaanku. sedikit saja. aku masih pening. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi.” kutipnya sambil tergelak.” “Percayalah. menjadi lembut dan hangat. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. menggenggam kunci mobilku erat-erat.” timpalnya.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi.” “Kau gila ya?” protesku. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Ia mengulurkan tangan padaku. “Tidak. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. “Bagaimanapun.” “Aku yakin itu benar. “Kurasa gabungan keduanya. tapi kurasa keberanianku. Tidak sedikitpun. gerakan yang tak kusangka-sangka. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. Tak ada jalan keluar. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.

uhh!” Ia bergidik. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa...” Ia mendengarku terkesiap. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. Ia memandang matahari. ragu-ragu. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka. lalu berkata. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. sudah lama sekali. sekarat akibat flu Spanyol. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar.” aku nyengir. “Musik ’50-an bagus. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar.” ia bergumam pada dirinya sendiri. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. kemudian mentap mataku. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. Ia melihat ke arah matahari. Ia menunduk menatap mataku lagi. Usiaku tujuh belas saat itu.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. menit demi menit berlalu. wajahku. “Delapan puluhan masih bisa diterima. “Aku tak mengingatnya dengan baik. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. Ia mengemudi dengan satu tangan. tapi aku masih bertanya-tanya. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. tangan kami yang bertaut. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. “Coba saja.” kataku akhirnya. atau ’70-an. Ia hafal setiap barisnya. “Tidak juga. Ia mendesah. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. kadang-kadang menatapku.14. Seperti banyak hal. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. tampaknya itu mudah baginya.

Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . “Sulit. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang..” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi.. Bukan hal mudah..” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu.” “Bagaimana dia. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Aku sebatang kara. yang paling berbelas kasih di antara kami. ketika Carlisle menyelamatkanku. Itu sebabnya dia memilihku. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut.. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya.memudar.

dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. begitu kami menyebutnya. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. Dia melihat hal-hal. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. lalu berlalu djAnGgo 240 . sangat menyakitkan. Kutekan rasa penasaranku. menempuh jarak lebih dari seratus mil. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. Forks kelihatannya sempurna. “Ya. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. Alice mengetahui hal lain. lagi. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. “Meski begitu.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. “Tidak. rasanya amat.” “Memang benar. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. sebagai suami-istri. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. dan akhirnya memilih mengembara sendirian. Dia tertekan. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. itu hanya Carlisle.” “Sungguh?” selaku.. meskipun nyaris tak mungkin. “Bagiku.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu.. Rosalie sedang berburu. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. Segala sesuatu berubah. Masa depan tidak terukir di atas batu. Seperti aku. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. hal-hal yang akan datang. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. Dia terjatuh dari tebing. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. Rosalie membawanya kepada Carlisle. terkesima. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. dan matanya tertuju padaku. “Tapi katamu. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap. “Kesendirianlah yang menggerakkannya.” aku mendorongnya.” gumamnya. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. “Tapi dia berhasil. tanpa bimbingan dari luar. jenis keluarga yang sangat berbeda. dan mengangkat tangan kami. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. hal-hal yang mungkin terjadi. Mereka mengembangkan kesadaran. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. waktu itu kami sedang di Applachia. Tapi itu sangat subjektif.” Ia terdiam. lain. Jasper berasal dari keluarga. Alice menemukannya.” Ia menatapku dalam-dalam. jadi kami semua mendaftar di SMA..” Ia memutar bola matanya. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. masih terjalin.” lanjutnya.” Ia tertawa. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik.

Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia.. dan mereka datang bersamasama menemui kami. ketika kelompok lain mendekat. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu.” “Apakah jenis kalian. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami.begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. ada banyak?” Aku terkejut. djAnGgo 241 .. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. Dia selalu melihat. contohnya.

Seperti yang lainnya. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya.. tidak banyak. Suasana sangat tenang dan gelap. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya..” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. “Maaf. Tapi yang membuatku teramat malu. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana. Lampu teras mati. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. tak ada bulan. membukakannya untukku. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa.” “Aku ingin bersamamu. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. kalau tidak merepotkan. aku membuatmu terlambat makan malam. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. Kadang-kadang kami bertemu yang lain. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. dan ia mematikan truk. Jenis seperti kami yang hidup. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. “bisa hidup bersama manusia selama apapun. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali.” “Aku baik-baik saja. “Ya. jadi aku tahu ayahku belum pulang. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. dia barangkali bisa berubah jahat. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. yang telah berhenti memburu kalian manusia”.” Banyak sekali yang harus dipikirkan.” aku memujinya.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. “Sangat manusiawi. ia mengerling licik padaku. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah.“Tidak. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya. seperti Jasper?” “Tidak. Hanya yang seperti kami.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. Dia terbangun sendirian.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. di desa kecil di Alaska. perutku keroncongan.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. sungguh. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. dan itu adalah misteri. kebiasaan ini mulai membosankan. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. Aku lupa.

dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat.tampak jauh lebih normal. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. Masih pucat.” djAnGgo 243 . ketampanannya masih bagai ilusi. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. menyalakan lampu teras. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya.” Aku melangkah masuk. “Aku penasaran denganmu.

” Dan akupun sendirian.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. “Kau memanggil namaku. kemudian menatapnya.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah. Ia kelihatan tidak menyesal. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Saat itu juga. Ia menanti. Lama baru aku bisa berpaling. “Kau mengigau. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. Gerakannya sangat alami. suaranya membuatmu gelisah. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. “Jangan sedih!” ia memohon. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. terperangah. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. “Apa yang kaudengar!” erangku.” Aku memikirkannya dengan cepat. Ia tahu maksudku.” bisiknya. tanpa suara. djAnGgo 244 . tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. dan tidak membuatku tersinggung lagi. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. “Kau merindukan ibumu. ibuku selalu menggodaku soal ini. ‘Terlalu hijau’. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. “Seandainya bisa bermimpi.” Aku berputar. Piringnya berputar. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur. Tubuhku kaku dalam pelukannya. Ekspresinya langsung berubah kecewa. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. Dan ketika hujan turun. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. “Pada?” desaknya. berharap aku bisa melihatnya. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. “Jangan malu. Ia menarikku lembut ke dadanya. tapi sekarang sudah jauh berkurang.” ia berbisik di telingaku. Aku tetap menatap piring ketika bicara. “Aku tidak yakin. menempatkan sebagian di piring. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.” Nada suaranya datar.” “Tidak!” sahutku menahan napas. Aku mencoba memalingkan wajah. Aku merasa malu. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. aku pasti akan memimpikanmu. “Kau mengkhawatirkannya. Dan aku tidak merasa malu. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. sama sekali tak perlu diarahkan.” Ia tertawa lembut. Ia sudah disana. terus ke lorong menuju kami. Aku tersanjung. kemudiam memanaskannya di microwave.. Aku mendesah kalah. Kau pernah mengatakan sekali.. wajahku memanas hingga ke garis rambut. Aku masih tidak berpaling... melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar.” ia mengakui. tentu saja. “Ada lagi?” desakku. “Kalau begitu lain waktu saja. ia sudah pindah ke sisiku.

“Edward!” desisku tertahan. djAnGgo 245 . Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. Aku mendengar suara tawa yang samar. siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. lalu lenyap. Sebelumnya hal ini menggangguku. “Bella?” panggilnya.

Aku kepedasan. Betapa ironisnya..” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu..“Disini. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. Aku baru menyadari tanganku gemetaran.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. Charlie duduk di kursi.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar.” aku menimpali sambil menaiki tangga. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. “Sedang terburu-buru? “Yeah.. “Ini hari Sabtu. pikirku. Sayang. “Bagimana harimu?” tanyaku. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward. Dad.” ujarnya.. Dad. tapi berusaha terdengar biasa saja.” ujarnya. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie. belum ada cowok yang menarik perhatianku. Dad.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. “Hari ini memang bagus.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. benar-benar menggelikan.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. Ketika aku meletakkan gelasku.” “Dia hanya teman. Begitu lasagna-ku habis. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. “Tidak. “Sampai besok pagi. susunya bergetar. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. Tunggu saja sampai kuliah nanti. kalau mau mencari teman istimewa. ya?” Ia curiga.” sahutnya menerawang. Aku ingin sekali pergi ke kamar. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. aku hanya mau tidur.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. “Kupikir Mike Newton itu. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. “Terima kasih. “Selamat malam. Aku membawa makananku. oh. Mataku mencari-cari dalam kegelapan.” “Kau kelihatan agak tegang. “Tidak. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.” “Well . Mengapa. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. Aku mau tidur lebih cepat. aku lelah. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. buruburu. “Sepertinya ide bagus. katamu dia ramah. djAnGgo 246 . Acara memancingnya biasa saja. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. “Bagus. Aku tak menjawab.” timpalnya. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela.

djAnGgo 247 . “Oh!” aku mendesah. “Ya?” Aku berbalik.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. Ia berbaring. Posisinya sangat santai.“Edward?” bisikku. tersenyum lebar di tempat tidurku. “Maafkan aku. jatuh lemas ke lantai. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur. benar-benar merasa tolol. tangannya menyilang di belakang kepala.

“Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. menutup pintu rapat-rapat. kemudian menutup pintu. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. “Diam disitu.” djAnGgo 248 . bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. “Sungguh. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. Aku melompat. Aku membiarkan lampu tidak menyala.” kataku. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. mengangkatku. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku.” “Selamat malam. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. menunggu. terburu-buru lagi. Kumatikan keran air. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. patungnya menjadi hidup. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. Salah satu alisnya terangkat. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi. menenangkan denyut nadiku.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. berusaha tetap tenang. Aku menaiki anak tangga dua-dua. kemudian menyisirnya cepat-cepat. Kulempar handuknya ke keranjang. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. pakaian itu tampak bagus padamu. meluncur keluar. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. “Bagus. yang sedang duduk di kamarku. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Aku bermaksud buru-buru. supaya tidak mengejutkanku lagi. “Selamat malam. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. “Ya. dan meluncur ke kamar. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. mencoba tampak galak. handukan sekenanya.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. rambutku yang basah. “Tentu. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku. Dad. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. Ma’am. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Sesaat kami duduk diam disana. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Matanya mengamatiku. Kugosok gigiku keras-keras. Bella. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku.” Aku nyengir.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku.

“Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga. Aku kembali ke sisinya. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.” Ia memikirkannya.” djAnGgo 249 .“Terima kasih. aku bakal menyelinap keluar.” Ia mengangkat daguku.” “Oh. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku.” bisikku. mengamati wajahku. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali.

dan aku kehilangan akal sehatku.. Saat konsentrasiku buyar.. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati. “Aku hanya terkejut. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan..” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu. “Terima kasih. Aku merasakan tangannya... dan ketika berbicara ia terdengar senang. lebih ringan dari sayap ngengat. dan ia membeku.” ia menjelaskan. aku bertanya-tanya. Aku sama sekali tak bergerak. “Kenapa.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. membuatku malu.” ujarku.” “Kau bisa melakukan apa saja. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.. “Amat sangat lebih mudah.” kataku mencoba menghembuskan napas. hidungnya meluncur ke sudut rahangku.” “Tidak tak termaafkan. Ia mengangkat bahu. Dan menemukan.. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya.” paparku.” sergahku. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku. sekarang menunduk. djAnGgo 250 . “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis.. Kau membuatku sinting. menaklukan”.. ragu.... butuh beberapa menit bagiku untuk memulai. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. Ia memikirannya sebentar. “Hmm. “Mmmmmmm. ekspresinya tampak bingung. justru sebaliknya. Ia nyengir.. “Sepertinya. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. “Sore tadi.. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir.” “Ini tidak mudah.” Ia tersenyum.. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal.” lanjutnya. dan kami tertawa pelan.” “Jadi... sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku. “Kau tahu. meskipun semuanya baru bagiku. bahwa aku tak dapat. bukan dalam artian seorang adik. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini. “Selain kemungkinan aku dapat. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat.” aku memulai lagi.. “Ya?” desahnya.” Aku menarik diri. bersamamu.. “aku juga rapuh. Maafkan aku soal itu.” suaraku bergetar.... menerima pujianku. kemudian. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya. aku masih. Saat ia menyentuhku. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku.” desahnya. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku. “Tapi sore tadi.” suaranya menggoda.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. ia menghirup aroma pergelangan tanganku..” desahnya.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

sedikitpun tidak. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain. “Sudah kubilang.” Wajahku memerah.“Tentu saja belum.” djAnGgo 259 .

” “Bagiku ya.” ia bersikeras. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku.” aku mendesah. “Aku tak yakin apakah aku bisa. Aku menguap tanpa sengaja. suara malaikat. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan. “Well.” Ia terdengar puas. nina bobo yang asing. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Setidaknya kita punya persamaan. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi. Lebih letih daripada yang kusadari.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang. “Aku mungkin bukan manusia.“Aku tahu. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. lembut di telingaku. Ia menanti. tapi aku laki-laki. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.” ia meyakinkanku. “Naluri manusiamu.. djAnGgo 260 .. sekarang kau harus tidur. “Bagus. Ia tertawa.” aku memulai.

djAnGgo 261 .

membawaku ke dalam pelukannya. tapi nyaris gagal. kalau boleh kutambahkan.” gumamnya. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. terkejut karena semangatku yang menggebu. ingin sekali kembali padanya.” aku mengakuinya. “Charlie!” Aku teringat. djAnGgo 262 .” jawabnya kaget. “Selamat datang lagi.” “Kau tidak sekreatif itu. Setengah berlari aku kembali ke kamar.” ujarnya. lagi.15. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. di dalam maupun di luar. “Dia pergi sejam yang lalu. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. setelah memasang kembali kabel akimu. berharap bisa tertidur lagi. menghirup aroma kulitnya.” Aku melompat ke kamar mandi. aku membeku. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan. Tapi ia tertawa. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. Aku mengerang dan berguling ke sisi. Wajah yang ada di cermin praktis asing. Harus kuakui. “Aku yakin itu mimpi. dan rambutnya sudah rapi. Aku menatapnya. dan berusaha bernapas secara normal. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.” dengusnya. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Aku tak mengenali diriku. lengan menutupi mata. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. tapi aku menyukainya. lengannya masih menantiku. Tangannya mengusap-usap punggungku.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. matanya terlalu ceria. khawatir tindakanku telah melewati batas. Kupercikan air dingin ke wajahku. “Tentu saja. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira. “Kutunggu. Aku berbaring. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. sebuah mimpi yang coba kuingat. Sesuatu. sama sekali tak memahami emosiku.. mengantuk dan pusing. Ia meraihku. dan jantungku berdebar tak keruan. Begitu menyadari apa yang kulakukan. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. tapi khawatir napasku bau. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. aku kecewa. tanpa berpikir melompat menuju pintu..

sambil menyentuh kerah kausnya yang baru.“Kau pergi?” tuduhku. apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. djAnGgo 263 .

“Boleh kuulangi?” tanyaku.” aku mengingatkannya.” jelasku..” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya. ia bisa melihatnya di mataku. tapi ia mengabaikanku. “Hmmm. Perhatikan caraku berburu. seolah-olah menyerap suasana hatiku.” “Kau sudah tahu itu. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. baiklah. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. Ia mendudukanku di kursi.. aku tak yakin. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. Dan tampaknya aku dimaafkan. “Aku khawatir mereka takkan.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya.” Aku menggerutu. Aku berdeham untuk bicara. seperti aku. Bella. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku. well.” jawabnya sederhana. Itu membuatku tidak nyaman.” Aku duduk di meja makan.. melompat berdiri. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. “Mm. tak ingin bersikap tidak sopan. Ia terperanjat. “Saatnya sarapan untuk manusia. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. jijik. Tidakkah mereka akan. “Kaubilang kau mencintaiku. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. “Tapi toh aku senang mendengarnya. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas.” aku mengakui. menyusupkan kepalaku. ceria. ke rumah djAnGgo 264 . “Apa acara hari ini?” tanyaku. mempelajari setiap gerakanku. dan kau tahu itu. menyukaiku. memastikan ia memaafkanku.“Kau tidur sangat pulas semalam. terkejut kau membawa seseorang.. Aku tersenyum.” “Itu sangat lucu.” “Aku tidak takut pada mereka. aku tak melewatkan apapun.” Kesembunyikan wajahku di bahunya.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh.. “Makan saja.” Matanya berkilatkilat.” “Oh. aku yakin.” akhirnya ia berkata. dengan kasual. lalu berhenti. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap.” bisikku. “Ya. “Aku mencintaimu. Ruang dapur terang. “Aku akan melindungimu. memperhatikannya sambil menyuap sereal. “Jangan khawatir. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi.” Ia mencibir. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. “Saatnya sarapan.. “Tidak apa-apa. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut. mengalihkan perhatiannya. Kuletakkan makananku di meja. untuk membuktikan.. “Kau hidupku sekarang. “Tidak lucu. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang. Ia memutar bola matanya. “Bercanda!” aku nyengir. Ia memandangiku. dengan lembut. “Kau mengigau lebih awal..

tapi suaranya parau. kemarin mereka bertaruh”. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 . “Apakah aku membawamu kembali.menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. Kau tahu. ia tersenyum. mereka sudah mengetahui semuanya.

“Aku akan selalu menginginkanmu. “Jujur. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku. Ia tidak menyahut. menerawang ke luar jendela belakang. “Aku tidak tahu. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut..” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu. kau tahu. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari.” “Kau menyimak. mengabaikan tatapan marahnya.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. “Well. “Itu tidak perlu. Aku melompat berdiri. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. “Selamanya.” aku mengingatkannya. “Jadi.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk. makananmu tidak terlalu mengundang selera. dan semuanya.” Perlahan ia mengelilingi meja. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. “Apa itu enak?” tanyanya. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice.” “Dia sudah mengenalmu. “Ya.. ekspresinya penuh makna. menggigit bibir. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan. maksudku. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. “Maksudku sebagai pacarmu. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.” aku mengaku. aku akan menunggu disini. memandangi meja. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah.” ia meyakinkanku. mirip patung Adonis lagi.. “Aku tidak berpura-pura..” katanya jengah.” aku mengakui. Aku buru-buru menghabiskan serealku. kau tak perlu berpura-pura demi aku. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. “Kira-kira begitu. Kemudian tatapannya kembali padaku.” Senyumnya penuh kesabaran. jangan lupa itu.” Ia meraih ke seberang meja. Aku menatapnya penasaran. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. Aku tidak berharap kau. Ia berdiri di tengah dapur.” djAnGgo 266 .” “Berpakaianlah.” Aku menatapnya curiga.” Aku meringis. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu.Alice. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya.” “Well.” ia tersenyum senang. sama sekali bukan beruang pemarah. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. sambil berspekulasi.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian.” gumamku. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda.” aku mengingatkannya.

Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. masih kasual. djAnGgo 267 . berwarna khaki. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. rok panjang.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan.

” Aku menyadari. “Itulah masalahnya. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. “Aku sudah pantas bepergian.” Ia menunggu di ujung tangga. dan berpaling.” aku langsung menjawabnya. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. betul?” “Betul.. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. “Kurasa aku lupa bernapas.” aku meracau. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. dan memasuki hutan berkabut. “Kau salah lagi. Jalanan itu tak bertanda. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya.” Ia mendesah. “Kemarin aku menciummu..“Oke.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya.. lebih dekat dari yang kukira. dan aku kembali melayang.” ujarnya tak disangkasangka. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Kemudian aku tak sadarkan diri. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku.” Aku menggeleng menyesalinya. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. membuatku. “Kau terlalu pintar melakukannya. “Kau sangat konyol. “Aku bisa mengganti. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota. “Kau. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. Hutan menyelimuti kedua sisinya. Ia memiringkan kepala perlahan. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. dengan sangat hati-hati membukanya. putus asa. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir. dan semakin besar. Jelas itu pertanyaan retoris. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. Aku tak tahu apa yang terjadi. dan ruangan pun berputar. “Begini..” gumamnya di telingaku. Wajahku memerah senang. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat.” “Aku baik-baik saja. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. “Dan kau khawatir.” ia mendesah. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. “Tidak. jalanan membentang ke utara. Amat sangat terlalu pintar. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter.. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. “Kau sulit dipercaya.” Aku masih pusing. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. pingsanku kali ini berbeda. dan aku langsung menghambur ke arahnya. “Kau sangat tidak pantas. itu tidak adil. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. napasnya makin menderu di permukaan kulitku.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. Tanganku membeku di dadanya.. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. jatuh pingsan. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . Ia menggeleng. menggeleng-gelengkan kepala.” aku bersikeras. dan semakin besar.

Kemudian. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar.sekeliling pepohonan kuno. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. setelah beberapa mil. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. djAnGgo 269 . dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. hutan mulai menipis.

Tubuhnya mungil. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai.” Aku tersenyum padanya. langsing. Aku pernah melihat dr. tapi tidak bergerak mendekat. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku.” “Carlisle. djAnGgo 270 . pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. dr. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. namun tidak terlalu kurus.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak.” “Tolong panggil saja Carlisle. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami.” sahutnya tulus. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. “Sama sekali tidak.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. Bella. dan karpet tebal. Mereka tersenyum menyambut kami. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. adalah orangtua Edward. sangat terbuka.” Langkah Carlisle terukur. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. elegan. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. lebih tak bisa diramalkan. kesempurnaannya yang luar biasa. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. tentu saja. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya. lantainya yang terbuat dari kayu. langitlangitnya yang tinggi. Ia membukakan pintu untukku. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. lebih berisi dibanding yang lainnya. berdiri persis di kiri pintu. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. dan barangkali berusia beberapa tahun. Dinding-dindingnya. “Wow. berlantai tiga. Di bagian belakang. ayo. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. tapi jelas bukan yang seperti ini. “Carlisle. Aku merapikan rambut dengan gugup. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. dan sangat luas.” Aku mencoba tertawa.” “Selamat datang. “ini Bella. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. berwarna cokelat karamel. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. “Kau cantik. menjabat tanganku.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Sangat terang. Cullen sebelumnya. tanpa ragu. Cullen. “Senang bisa bertemu Anda lagi. berbentuk persegi dan proporsional. Wajahnya berbentuk hati. Rumah itu tampak abadi. berhati-hati saat mendekatiku. berlantai pudar. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. tersembunyi di kegelapan hutan. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. mengingatkanku pada era film bisu. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. Esme. rambutnya berombak dan halus. daripada bagian luarnya. Tampak menanti menyambut kami.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. semuanya merupakan gradasi warna putih.

berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. Putri Salju dalam wujud aslinya. tapi mereka tidak menjawab. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng.” Memang itulah yang kurasakan.“Terima kasih. djAnGgo 271 . “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. Aku juga senang bisa bertemu Anda.

” sahut Esme. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. Kugelengkan kepalaku. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. seandainya aku menenangkan lotere. bingung. dan pada yang lainnya juga. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. Ia berlari menuruni tangga. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. “Halo. Edward menatap Jasper. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. tatapan yang tidak kumengerti. itu tidak sopan. Ia terlihat bahagia.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa.” ia tertawa. Ia mengajariku cara bermain piano. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. Bella. “Hanya sedikit. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. tapi aku suka melihatnya memainkan piano. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku.” tambahku apa adanya. Carlisle dan Esme memelototinya. “Hai. Aku mengalihkan pandangan. dan sesaat mereka saling menatap. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. kemudian Jasper ada disana.“Hei. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini.” sapa Jasper. dan aku teringat akan kemampuannya. salah satu alisnya terangkat. Ia tetap menjaga jarak. “Edward bisa melakukan segalanya. “Halo. Jasper. itu sesuatu yang alami. Aku memandang wajahnya. “Kau bisa main piano?” tanyanya.” Alis Esme yang lembut terangkat. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. ia memandang Edward penuh makna.” Ia berbicara penuh perasaan. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. menunjuk piano dengan kepalanya. rumah kalian sangat indah. begitu tenggelam. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. berusaha terlihat sopan. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. Bella!” sapa Alice. “Terima kasih. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. Apakah itu milik anda?” “Tidak. Lagipula.” Edward tertawa lepas. “Kau memang harum. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Esme memperhatikan keprihatinanku. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. membuatku sangat malu. tinggi bagai singa. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. tentu saja. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. “Kami senang sekali kau datang.” ia berkomentar. meskipun wajah djAnGgo 272 . “Senang bisa bertemu kalian semua. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. ekspresinya mendalam. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih.” bentaknya. tapi seperti kebanyakan anak. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. tapi aku menyukainya. baginya.” Aku tersenyum malu-malu padanya. sekarang mereka tampak terkesiap. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. Tapi piano itu indah sekali. “Kurasa seharusnya aku tahu. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. “Tidak sama sekali. bukan begitu?” kataku menjelaskan.

Edward menarikku bersamanya. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan.” bujuk Esme.” Esme mendorong Edward menuju piano. dia terlalu rendah hati.” balas Esme. djAnGgo 273 . “Kalau begitu. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan.” sergah Edward keberatan. “Kalau begitu sudah diputuskan.Esme tampak nyaris puas.” aku meralatnya. “Sebenarnya. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. mendudukkanku di kursi di sampingnya. bermainlah untuknya.” sahutku.

” Aku melirik ke belakang. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. tapi dia tidak punya masalah denganmu.” Aku mendesah.” Aku mencibir.” katanya lembut. dia pikir aku gila. “Rosalie yang paling berjuang keras. dan mendengar tawa pelan di belakangku.. masih terkejut. Ia mengangguk. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Tapi Rosalie dan Emmett. untuk mencegahnya menyadari kengerianku. Edward menatapku santai. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. musik masih melingkupi kami tanpa henti.?” lanjutku cepat. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.” Ia mengangkat bahu.” gumamku..” “Oh. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya.. dan ia berkedip. berubah jadi lebih lembut. “Dia berharap seandainya dia juga manusia. “Dia akan datang. “Kesukaan Esme. “Sudah kubilang.” “Ini benar-benar salahku. “Mereka menyukaimu. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku. takut ada djAnGgo 274 . matanya melebar dan persuasif. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. Ia merengut. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya..” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. “Bahkan Jasper. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. Sebenarnya. begitu kaya. “Esme dan Carlisle. dan bergidik. Ia menarik napas dalam-dalam.” Irama musik memelan. “Senang melihatku bahagia. “Kau manusia.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. “ Mereka menyukaiku.Lama sekali ia menatapku putus asa. menutupi jati diri kami. dan dia benar. menertawakan reaksiku..” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala.” katanya. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya. “Jangan khawatirkan Rosalie. “Kau yang menginspirasi ini. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. kau tahu.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu... Dan dia agak cemburu..” katanya. Aku tak sanggup berkata-kata. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit. tapi ruangan besar itu kosong sekarang. “Emmett?” “Well . Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. “Terutama Esme.” katanya.

.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. Tidak sekarang. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa.. bersemangat.” “Alice tampak sangat.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal.. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku. ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami. Setiap kali aku menyentuhmu. “Dan kau takkan menjelaskannya.. djAnGgo 275 . Dia sangat senang.” katanya dengan bibir terkatup rapat.

.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. menyeka titik air mata yang tersisa.” lanjutnya mengejek. sama seperti lantai keramiknya. karena aku akan sedikit. respons yang masuk akal!” gumamnya. ya kan?” tanyanya.. “Tentu saja. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu... begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal. mengamati tetes air itu lekat-lekat. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. pasti semua ini sangat mengecewakanmu.” Aku bergidik ngeri. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis.. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. atau minggu. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya. “Tidak. well. “Begitu terang. Aku menatapnya bertanya-tanya. malu.” gumamku.“Tidak seperti yang kauharapkan. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. dan mereka penasaran. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. mereka tidak seperti kami.” “Tamu?” “Ya.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus.. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. “Aku tahu kau pasti memperhatikan. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu. memalingkan wajah. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Aku mengabaikannya. suaranya terdengar arogan. “Tidak ada peti mati..” aku mengakuinya. tentu saja. begitu terbuka. Ia menyentuh sudut mataku. Kemudian. tiba di bagian akhir. laguku. “Akhirnya. Ia mengikuti arah pandanganku.” Aku mengangkat bahu. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka.” Aku mengabaikan gurauannya.. Mereka tahu kami ada disini. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. 276 djAnGgo . “Terima kasih. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. Aku menyekanya.” Lagu yang masih dimainkannya.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab.“Jadi. Ia mengangkat jarinya.

sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan.. Aku tidak menyentuhnya. kamar Alice. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. Tanganku terulus dengan sendirinya. “Kau boleh tertawa. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu.“Kamar Rosalie dan Emmett. ruang kerja Carlisle. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya. Edward tergelak. djAnGgo 277 .” Aku tidak tertawa. Ia bisa saja melanjutkan.. “Bisa dibilang ironis..” katanya.. menertawai ekspresiku yang bingung. warna permukaannya yang gelap mengkilat..” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu..

“Carlisle lahir di London. “Nostalgia. Saat penganut Protestan mulai berkuasa.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. Tapi dia tetap ngotot. “Tidak. werewolf . Itu milik ayah Carlisle. Makhluk djAnGgo 278 . sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Meski begitu.“Pasti sudah sangat tua. Dia mengukirnya sendiri. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. tawanya lebih menyeramkan sekarang. kurang lebih. Aku kembali menatapnya. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat.” jawab Edward. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya.” Aku tetap menjaga ekspresiku. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. memimpin pengejaran. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. untuk berjaga-jaga. Ibunya meninggal saat melahirkannya. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. dan lebih pintar dari ayahnya. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. “Awal 1630-an. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. mengabaikan pertanyaannya. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. dan lemah karena kelaparan.” Suaranya sangat pelan. hanya keluar pada malam hari untuk berburu. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. Aku yakin ia memperhatikan. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. pada tahun 1640-an. Ayahnya berpandangan sempit. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. dan vampir. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. Lagipula bagi orangorang awam.” aku menebaknya. tentu saja”. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. begitulah cara mereka hidup. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. tapi ia melanjutkannya. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat.. masih memandangi salib. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. “Dia pasti makhluk kuno. Pada masa itu. dia tidak gesit menuduh. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. Ia mengangkat bahu. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. Dia mengizinkan perburuan penyihir. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota.” “Ketika sang pendeta semakin tua.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku.. menurutnya.

“Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Tubuh-tubuh akan dibakar. jadi dia berbalik dan menyerang. dan kabur membawa korban ketiganya.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Dia membunuh dua manusia. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. djAnGgo 279 . Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. dan ia berbalik untuk membela diri. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. dan tak ditemukan. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam.” Edward berhenti. menyembunyikan sesuatu dariku. tapi yang lain ada di belakangnya. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya.

ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu. “Aku baik-baik saja.” aku menenangkannya. sambil menarikku bersamanya. memamerkan giginya yang sempurna. Ia tersenyum. Ia mulai menyusuri ruang besar itu. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa. tapi tiba-tiba ia berhenti. “Kalau begitu.“Akhirnya semua itu selesai. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” Senyumnya melebar. “Akan kutunjukkan padamu. ayo.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku.” ajaknya.” “Beberapa.” djAnGgo 280 . “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku.

Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. “Tidak sama sekali. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. beberapa dengan warna terang. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu. Setiap kali ia menyentuhku. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. dr. “Well. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. Edward meremas tanganku. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. Sungai lebar mengaliri bagian muka. tidak mendengarnya mendekat. “Masuklah.” jawabnya.” tambahnya. kayunya berwarna lebih gelap. meletakkan satu tangannya di bahuku. “London pada masa mudaku. Snow tidak masuk karena sakit. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita. di mana saja terlihat.” undang Carlisle.” jawab Edward. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. yang hitam-putih membosankan. Rumah sakit menelepon tadi pagi. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk.” kata Edward. “Aku mau. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. jantungku langsung berdebar sangat cepat. sebenarnya. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum.” kata Edward. Ia berhenti sebentar di depan pintu. Sebagai ganti rak buku. djAnGgo 281 . “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. “London pada tahun 1650-an. di sebuah kursi kulit.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. Lagi pula.16. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. Aku tersentak. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. Dinding-dindingnya bersekat. sejarahmu. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai.” kataku meminta maaf. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana.

Setelah tersenyum hangat ke arahku. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. Sungguh perpaduan yang aneh. Aku juga waswas. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari.tersenyum pada Edward sekarang. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. djAnGgo 282 . Carlisle meninggalkan ruangan. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu.

“Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. memindahkannya ke leherku. nalurinya bertumbuh makin kuat. dan menjadi lemah. djAnGgo 283 . “dia melawannya. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. janji. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. “Tidak.” Ia tergelak misterius. dan sangat kuat. “Karena secara teknis. padahal ia masih begitu baru. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami. suaranya datar. bekerja di siang hari.” Mulutku membuka hendak bertanya. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya.” “Kau. ” “Segalanya mudah bagimu. memangsa. “Kurasa itu benar. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. membenci dirinya sendiri.” Edward memberitahuku. Dia belajar pada malam hari. mengambil alih segalanya. “Aku takkan menyelamu lagi..” kataku kagum. Jantungku bereaksi terhadap hal itu. Sejalan dengan waktu. dan menyelesaikan kalimatnya. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. Bella.. Tapi itu tidak mudah. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. Dia menemukan jati dirinya lagi. kau sudah janji. mendongak menatap Edward. tapi ia menduluiku. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram.. ” “Tidak. Ia menunggu.” Edward mengingatkanku dengan sabar.. Ia mengangkat tangan. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat.. mencari tempat paling sepi. “Akhirnya dia sangat kelaparan. Lanjutkan. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. sadar tekadnya mulai melemah.” kata Edward pelan. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. tapi kata itu meluncur begitu saja.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. tapi aku berkeras. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku.” Edward tertawa. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. yang sedang mengamatiku. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya. kami tidak berlu bernapas. Dia pandai dan selalu ingin belajar. “Kau tak perlu bernapas?” desakku. Dia berenang ke Prancis dan. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia.” gumamku. tidak.. dengan puncak gunung di kejauhan. wajahnya kesal.

.” Ia mengangkat bahu.. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman.“Tidak. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas.” ulangku. “Berapa lama kau tahan. djAnGgo 284 .” “Agak tidak nyaman. Hanya masalah kebiasaan. entahlah. itu tidak perlu.

” aku berjanji padanya.” Ia mengangkat bahu.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. Marcus.” Ekspresinya penuh kekaguman. ilmu pengetahuan. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. seraya tertawa kaget. dua berambut hitam. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. dan yang paling besar. lalu tersadar. hanya beberapa dekade.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang.” katanya. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani. “Mereka masih disana. “Aku takkan lari kemana-mana. Kemudian kau akan menjauh dariku. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. lanjutkan. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. “Penjaga malam di gedung seni. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. “Aku takkan menghentikanmu. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. “Jadi. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. dan ia mendesah. menyentuh wajahnya yang membeku.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi. yang bingkainya paling penuh ukiran. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. dan terus ke Eropa. ke universitas-universitas di sana. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan.” katanya. aku juga ingin bersamamu. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London. hormat. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. “Kita lihat saja. yang satu lagi berambut putih bagai salju. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. memperkenalkan tiga lainnnya. Carlisle berenang ke Prancis. Pada malam hari dia belajar musik. tersenyum lagi. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. Aku merengut. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama.” Ia setengah tersenyum. “Aku terus menunggunya terjadi. “Aro. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an. tapi tatapannya serius. “Carlisle berenang ke Prancis. “Ada apa?” aku berbisik. Caius. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. Menunggu. kembali lagi ke ceritanya. Wajahnya melembut karena sentuhanku.” Ia berhenti. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku.” Edward tertawa. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. Keheningan terus berlanjut. metanya menatap lekat wajahku. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu.. lari sambil menjeritjerit. Meski begitu.. kedokteran.

dan dia berusaha mempengaruhi mereka. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. begitulah mereka menyebutnya. Mereka mencoba membujuknya. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. keduanya sama-sama tidak berhasil. djAnGgo 286 . kehalusan budi bahasa mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. Dia sangat kesepian. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. kau tahu. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. seolah-olah dia salah satu dari mereka.keberadaban mereka. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng.

maka tentunya aku tidak sejahat itu. Aku menungguu dalam diam. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. memelan. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. “ Well. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward.” Ia tertawa. Dan Edward. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. gadis yang ketakutan. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. terserah bagaimana kau menyebutnya. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. jadi aku bertanya. bukannya ketakutan. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. seperti yang seharusnya kurasakan. dan tahu aku sebatang kara. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. Dia telah merawat orangtuaku.“Ketika epidemi influenza merebak. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. lebih keras daripada sebelumnya. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Aku tidak menyukai caranya berpantang. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. nyaris berbisik sekarang. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat.” Aku gemetaran. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna. jadi dia merasa ragu. Edward yang sedang berburu. di lorong berpanel lainnya. kalau aku menyelamatkan gadis itu. tampak enggan menjawabnya.” ia menyimpulkan. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Ia bisa merasakannya. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. “Sejak kelahiran baruku. Tak ada harapan untukku. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago.” gumamku. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. dia akan menciptakannya. Ketika ia kembali padaku.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. lorong pada malam hari. baik manusia maupun bukan manusia. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani.” “Sungguh?” Aku terpancing. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. “Hampir selalu?” Ia mendesah. tak djAnGgo 287 . “Hampir selalu. laki-laki di belakangnya.

” ia memberitahu.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu. djAnGgo 288 . Mereka menyambutku secara berlebihan. Apakah gadis itu berterima kasih. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. aku mulai melihat monster dalam diriku. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil.terhentikan. tak peduli apapun alasannya. membuka dan menarikku masuk. Lebih daripada yang layak kudapatkan. “Kamarku.

Aku berbalik. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. Ia berhenti. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. Ini membuatku… bahagia. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. setengah membungkuk. djAnGgo 289 . tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. Suaranya pelan. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. nyaris menyentuhku. kan?” aku menebak. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. Tapi kemudian. jelas-jelas tidak percaya. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Aku mundur darinya. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu.Kamarnya menghadap ke selatan. menatapnya nanar. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. Ia tidak mendengarkan. Tidak ada tempat tidur. “Kau tidak akan melakukannya. senyumnya memudar dan dahinya berkerut. tersenyum samar. berdasarkan tahun. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. Sebenarnya. balas tersenyum. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. alisanya terangkat.” ia tergelak.” aku berbohong. Ia mengeram dengan suara pelan. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. Ia tergelak dan mengangguk. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. “Aku benci menghancurkan harapanmu. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. “Aku senang.” kataku. Ternyata aku menyukainya. terlalu cepat. tegang seperti singa yang siap menerjang. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya.” Ia mengangkat bahu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Mmmm. dan ia mengangguk.” katanya setengah melamun. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Setelah kau mengetahui semuanya.

dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.Ia tidak membiarkanku.” Aku berusaha bangkit. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. rahangnya melemas ketika ia tersenyum.” kataku. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya. Aku menatapnya ngeri. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. “Mmm.” ia menyetujuinya. matanya berkilat-kilat penuh canda. sangat menakutkan. “Kau monster yang sangat. “Jauh lebih baik.

Aku bisa melihat bahwa itu Alice. sampai aku menyadari Edward tersenyum. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. nyaris menari. bagus. gerakkannya sangat anggun. entah karena komentar Alice atau reaksiku.” Aku memutar bola mataku. “Kita akan main apa?” tanyaku. tapi ia ragu.” goda Jasper.” seru Alice. aku tak dapat mengatakannya. Pipiku merah padam. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. “Tentu. tapi Edward nampak santai. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. semangat dalam suara Jasper menular.Ia hanya tertawa. Tubuhku langsung kaku.” Aku tak mungin mengecewakannya. di pintu masuk.” Seperti biasa. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara. Aku berjuang melepaskan diri. kau akan tahu kenapa. tapi konteksnya membuatku bingung. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. dengan seenaknya memelukku lebih dekat.” Alice terdengar cukup yakin. “Mmm. ke tengah ruangan. dan Jasper berdiri di belakangnya. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. “Badai akan menghantam kota. “Kami yang akan bermain baseball. ia berjalan. ekspresinya agak terkejut. Aku mendapati diriku bersemangat. rasanya aku tak ingin berbagi. “Tentu saja kau harus mengajak Bella.” Edward masih menahan tawa.” kata Jasper. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. “Tidak. “Sebenarnya. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. “Maaf.” ujar Alice. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. kelihatan senang. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya.” ia berjanji. dan Emmett ingin bermain baseball. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. “Silahkan. bukannya ketakutan.” “Kalau begitu. Ia menatap wajah Edward. Mata Edward berkilat-kilat. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. “Seperti kau tidak tahu saja.” ejeknya. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau.” jawabnya. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. dan mereka langsung berlalu. wajahnya bersemangat. tersenyum sambil memasuki ruangan. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong.” Edward meralat. Akan cukup kering di hutan. djAnGgo 291 . “Kau akan menonton.

djAnGgo 292 .

dan aku memandang ke teras.” ia meyakinkanku dengan senyuman. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.17. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. “Biar aku yang mengurusnya. Ford using. Jacob. “Charlie pergi seharian. sekilas mengecup pangkal rahangku.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. berhati-hatilah. “Oh. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. “Terima kasih banyak.” ia berjanji. “Ajak mereka masuk. lebih ketakutan daripada marah. “jadi aku bisa pergi. Billy.” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. Aku mengerang. Kemudian aku melihat mobil hitam. Matanya kembali melirik teras. Ia memutar bola matanya.” sahut Billy tenang.” “Belum lama. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada.” kataku sedih. “Barangkali itu yang terbaik. aku tahu. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. “Sebenarnya memang tidak perlu.” perintahnya. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu. Ia memandangku.” Aku menyapa mereka seceria mungkin.” Ia tersenyum lebar. Hai. Jantungku melompat tak keruan. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata. Aku akan kembali sekitar senja. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. ekspresinya mematikan.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. “Hei. suaranya pelan dan parau.” aku mengingatkan.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. “Aku akan segera kembali. kemarahannya langsung lenyap. kemudian ia membungkuk. Edward hanya mengangguk. “Segera. “Ini sudah kelewatan. djAnGgo 293 . diparkir di pelataran parkir Charlie. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Jacob mengawasi. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. memamerkan seluruh giginya. Wajah Billy tak lagi datar.” usulku. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. Setelah kau menyingkirkan mereka”.” “Kau tidak perlu pergi. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. Suara Edward yang dalam terdengar marah. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit. Anak itu tidak tahu apa-apa. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. Meskipun begitu.

” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya. meskipun tak tahu apa isinya. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.” kataku.“Aku hanya mau mengantar ini. “Terima kasih. djAnGgo 294 .

“Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku. tapi ia menunduk menatap lantai. matanya waspada.” ujarku tegas. masih mengamatiku. Kulkas akan membuatnya lebih kering. “Dia ke tempat baru. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. “Charlie salah satu sahabatku. “Masukkan ke kulkas. matanya berbinar.” katanya lagi.” katanya.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. matanya serius..” Ia mengangkat bahu. “Itu memang bukan urusanmu. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. djAnGgo 295 . “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan. “Kau kelihatannya. Ia terkejut. “Bella.” “Kau benar. Setelah beberapa saat. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.. “Terima kasih. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. kesukaan Charlie. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. namun kali ini bersungguh-sungguh. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada. Ia sedang menunggu. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater.” ia menyetujuinya.” “Sebenarnya.” aku mengulanginya. alisnya bertaut. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi.” katanya. “Barangkali kau tidak mengetahuinya.” Suaraku nyaris kasar.” “Ya. dan berbalik menghadapnya. “Barangkali ini bukan urusanku.“Mari. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening.” jawab Billy. dan itu membuatnya berpikir. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. “Bella.” Ia menyadari perubahan ekspresiku. wajahku menegang.” aku menawarkan diri. aku mengetahuinya.” kembali aku menjawab dengan ketus.” timpalku. Aku menunggu.. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah.” “Ya.” ujarku memberi isyarat. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya. Ia terus mengangguk. tapi tidak mengatakan apa-apa. Aku memandangnya.” “Dimana?” Jacob bertanya. Tapi aku tidak tahu dimana.” Jacob kembali menembus hujan. Ia mengangguk setuju. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak.. kemudian ragu-ragu. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. berbalik untuk menutup pintu. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. “Jake. biar kusimpankan untukmu. Matanya menyipit. suaranya murung. diam. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.” “Bukan. “Charlie pulang larut.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. “Memang benar. jadi aku berbalik menuju dapur.” aku cepat-cepat berbohong.

djAnGgo 296 .” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya.” ia mengalah. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.cukup tahu tentang keluarga Cullen.” Aku menatapnya. Lebih tahu daripada yang kuduga. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku. tapi sorot matanya tajam. “Mungkin.

” “Tentu. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan.” aku buru-buru menimpali. Aku diam di tempat. tak yakin apa yang menantiku malam ini. Billy.” katanya. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. “Halo?” tanyaku. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. yang lainnya akan membuatku kecewa. maksudku.” akhirnya ia menyerah. terengah-engah. “Kurasa itu urusanmu juga. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. beritahu Charlie”. satu-satunya suara yang memecah keheningan.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. Aku melambai sebentar. djAnGgo 297 . ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan.” desaknya.” Billy bergumam. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. Ketika ia berbelok di sudut. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. “Terima kasih. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. Aku berdiri di lorong sebentar. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. “Ya. “Itu bukan urusanku. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. Jacob terkejut. Wajahnya menekuk. Aku tak menyahut.” kata Jessica. “Bella? Ini aku. tapi tidak terkejut. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. Bella. “Hebat. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. “Hmm. yang baru saja lewat jadi tidak penting. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. Ekspresinya tidak senang.” Jacob tampak kecewa.” Aku mendesah lega. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. “Well. dan aku melompat mendengarnya.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku.” sahutku membentengi diri.” gumamku. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. Bella. kukenakan atasan flanel usang dan jins. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil.” Aku menatap matanya. “Jaga dirimu. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya.” timpalku. Bella. “Maksudku. “bahwa kami mampir.” “Well. “Tapi mungkin urusan Charlie. kurasa sampai ketemu nanti. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku.” “Akan kusampaikan. “Oh. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya.” Billy mengingatkanku. dan tak ada yang bisa kukatakan. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. “Oke. Tapi sepertinya ia mengerti. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. Segera saja aku menyerah memilih pakaian.

Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat. “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Tak perlu dipancing lagi. hei.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya. Jess.“Oh. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. tapi tidak mudah djAnGgo 298 .

” Ia berhenti. sebenarnya. sore ini aku di rumah saja.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. “Tunggu. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting.” “Sampai ketemu.” Bukan sepanjang sore.... Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. meletakkan peralatannya. tapi perutku seperti berlubang. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus. masih jengkel karena aku kurang menyimak. “Hai. Aku melambai padanya. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku.” Aku berusaha terdengar bersemangat. sekolah. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. Cullen?” ia bertanya. Mataku terus menatap jendela.” serunya marah. Jessica. “Rumah dr..untuk berkonsentrasi. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. Mike. kita ngobrol besok. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. Jess.. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. “Oh. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. “Kaudengar apa yang kukatakan. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. “Hei..” kataku. kaget. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. membuyarkan lamunanku. “Jadi. apa?” “Kubilang... “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. “Edwin itu yang mana.” aku meralatnya. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. Dad. “Maaf. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. Jess mendengar suara Charlie. makan dalam diam. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga. Jess. “Tidak ada. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. yang seperti dewa. “Well. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah.” kataku. “Mmm. O-Oh. “Oh. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. “Kami sama-sama murid junior. “Dad. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.” Aku tagu. sungguh. Bella?” tanya Jess jengkel. “lebih baik. ya?” “Edward adalah yang paling muda. well.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. ayahmu ada. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya. Tak apa. “Well. yang rambutnya cokelat kemerahan. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. djAnGgo 299 . “Itu kesukaanku. “Yeah. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu. pesta dansa. Charlie menikmati makanannya.” Aku menutup telepon.” Yang tampan.” Charlie menjatuhkan garpunya. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. Sampai ketemu di kelas Trigono. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan.

tidak?” djAnGgo 300 . Dad. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya.. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward.. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar.kurasa. dewasa untukmu.” “Ya. tapi dia kelihatan terlalu.

Kau sudah terlalu memanjakanku. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi.” Aku meringis. di sebelah Charlie. Ia mengedip di belakang Charlie. “ini baru tahap awal. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. kemudian akhirnya tergelak.” “Jangan khawatir. “Oke. Edward. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya.” Tapi ia mengambil garpunya lagi. Lagipula. panggil saja aku Charlie.” Aku bangkit berdiri.” ia mengamatiku curiga. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Edward tidak tinggal di kota. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. “Jangan pulang terlalu larut. Dad. Sir.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini.” Edward berjanji. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.” Charlie tertawa.” “Terima kasih.“Kurasa bisa dibilang begitu. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. kau tahu.” Faktanya. “Kaujaga putriku baik-baik. Charlie. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan.” Wajahnya cemberut. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar.” “Silahkan duduk. dan Edward ikut tertawa. “Well.” sahut Edward dengan suara penuh hormat. memaksaku duduk di sofa.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. “Lagipula. “Oh.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. “Terima kasih. oke?” djAnGgo 301 . begitulah rencananya. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. “Aku mendesah dan memutar bola mataku.” Bel pintu berbunyi. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. Kepala Polisi Swan. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. Sir. aku bisa mencucinya malam ini. Ayo kita pergi. kusimpankan jaketmu. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. “Well. Mereka mengikuti.” lanjutku. ia mungkin saja mendengarkan. “Ayo masuk.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. Edward. Sini. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut. barangkali kebanyakan aku menonton. “Tinggalkan saja piring-piring itu. “Sudah cukup menertawakanku. “Jadi. “Kau bermain baseball?” “Well.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Bell. “Ya.

tapi mereka mengabaikanku. aku janji.Aku mengerang. Mereka tertawa. Sir. djAnGgo 302 . Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. dan Edward mengikutiku. yang terdengar pada setiap kata-katanya. “Dia akan aman bersamaku.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward.

. di belakang trukku.” djAnGgo 303 . “Keduanya. Atapnya merah mengkilat. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku.” Kugigit bibirku. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep.” jelasnya. kita harus jalan kaku dari sini. “Kau tidak akan berlari. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. Lalu aku tiba-tiba mengerti. Bella. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. Bannya lebih tinggi dari pinggangku.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. atau buruk?” tanyaku hati-hati. tampak Jeep berukuran sangat besar. tapi tidak mudah. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. Ketika ia beralih ke jok pengemudi. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. setiap detik semakin pelan. Aku menatapnya. “Kau harum sekali ketika hujan. selalu keduanya. bingung. “Itu perlengkapan keselamatan off-road. Ia mendesah. Ia mendesah.Aku berhenti tiba-tiba di teras. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. “Maaf. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. tersenyum lebar sepanjang jalan. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. dan langit tampak lebih terang di balik awan. kemudian mengerang. Kemudian kami tiba di ujung jalan. mmm. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. “Ini. Hujan tinggal gerimis.. melawan rasa panik. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. Ia tersenyum tegang..” “Oh-oh. menyusuri tulang selangkaku.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin.” “Aku bakal mual. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Disana. Jeep-mu besar sekali. kemudian mengangkatku dengan satu tangan.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi.” “Pejamkan saja matamu.” sahutnya tercekat. Kami berlalu meninggalkan rumah..” “Ini punya Emmett. “Dalam artian yang baik. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. dalam langkah manusia normal. kau akan baikbaik saja. Tapi terlalu banyak kaitan. Charlie bersiul pelan. “Kenakan sabuk pengamanmu.

kau terus saja. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku. djAnGgo 304 .“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja.” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. “Biar aku yang melakukannya.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil.” protesku. dan menuju sisiku dalam kelebatan.

” desahku. Aku tak bisa melepaskan diri. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. Kemudian mual. dan menciumku sepenuh hati. dengan mudah melepaskan cengkramanku.” Aku berjongkok. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual. ” aku menelan ludah. bibirnya bergerak di bibirku. “Mual. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. berusaha mengatur napas. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. “.” Ia menahan senyum. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. Ia tergagap mudur. aku bersumpah.. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya. tapi aku mungkin. dan memejamkan djAnGgo 305 . dan sekarat. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya.“Hmmm. kan?” “Tidak. “Kau tidak bisa mati. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. ya kan?” “Tidak. Bukannya tetap diam dengan aman.” gumamku.” aku terengah.” desahnya. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku.” Menggunakan hidungnya. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah.” ia mengingatkan dengan nada kasar. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. dengan hati-hati. “Ya. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. “Nah. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. Bella!” ujarnya terengah-engah. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. berhenti tepat di sudut mulutku. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan.” katanya. mm. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya.” Sebelum aku bereaksi. Aku mendesah dan mengangkat bibirku. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. memaksaku menempel ke pintu. tapi tak ada yang bisa kulakukan. di bawah lenganku sendiri. “Bella. menabrak pohon. Alice benar. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. “Sialan.” Aku berusaha berkonsentrasi. “Kaulihat. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama.” aku mendesah. “Pepohonan. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. “Kau akan menjadi alasan kematianku. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. “Semacam itu. menyerah. Nyaris tak berembun sekarang ini. wajahnya hanya beberapa senti dariku.” geramnya. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. “Tidak. Aku tahu pertahananku nyaris hancur. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku.

mata. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak. Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . gerakannya terlalu halus. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak.

“Sudah sampai. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. “Karena selalu membahayakan dirimu.mengintip. percaya. dan ia pun tertawa terbahakbahak.. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. “Jangan marah. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. Aku harus lebih kuat.” aku berkeras. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. “Aku tidak marah padamu. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. hangat. aku tak dapat menahan diri.” “Kau berjalan ke arah yang salah. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya.” “Lalu kenapa?” bisikku. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku. aku harus bisa. alisku terangkat.” djAnGgo 307 . Ia menangkapku lagi. “Jangan. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional.. Merasa jengkel. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah.” Aku memberanikan diri membuka mata. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. seluruh selera humornya lenyap. kami sudah berhenti.” katanya lembut. begitu juga kata-katanya. “Ya. ” “Aku tidak marah pada mu. tapi aku menahannya. tapi ia menangkapku dengan cepat. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya.” “’Bella. kelambananku. dan cukup yakin.” “Tapi kau baru bilang. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. “Oh. “Aku takkan pernah marah padamu. “Kau mau kemana. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. frustasi akan kelemahanku. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. mendarat di punggungku. Tidak bisakah kau melihatnya. “Kau marah. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. Bella. Aku bangkit berdiri. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri.. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku. Ia menatapku tak percaya. aku mulai melangkah ke dalam hutan..

” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku.Ia meraih tanganku.” katanya. Ia mungkin tidak menyadarinya. tapi aku tentu saja menyadarinya. djAnGgo 308 . tapi itu masih benar. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. memindahkannya dari bibirnya. dalam begitu banyak katakata. “Aku mencintaimu. namun meletakkannya di wajahnya.

Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. “Ayo. Esme. Luasnya dua kali stadion baseball. menembus semak-semak yang basah dan padat. aku lebih suka menjadi wasit. “Kaukah yang kami dengar tadi. setidaknya jaraknya seperempat mil. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward.” ia melanjutkan. “Tidak. mungkin jauhnya seratus meter. “Itu memang dia. aku suka menjaga mereka tetpa jujur.” Edward menjelaskan. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. lebih mirip cheetah daripada rusa. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa. mengejar kedua saudaranya. kumohon bersikaplah yang baik. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. setelah mengacak-acak rambutku. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. kemudian pecah di barat kota. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. Aku mencoba terdengar bersemangat. “Menyeramkan. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan. berkilat-kilat.” Emmett membenarkan. “Ayo. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. Emmett. Begitu ia berbicara. Emmett. “Sudah waktunya. gelisah. tim!” Ia mengejek dan. dan Rosalie bangkit berdiri. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. Alice berlari bagai rusa.” “Ya. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya.“Sekarang. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. dan dengan cepat ia mendahului mereka.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Esme. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. Aku diam tak bergerak. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. Esme menghampiri kami. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. Perutku langsung mual. cepat-cepat membalasku. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu.” ia menjelaskan. sambil mengedip padaku. “Kalau begitu. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. Ma’am. kecuali satu tanganku. atau menari ke arah kami. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. tatapannya bersemangat. dan kami pun sampai. Lalu mendesah. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. Larinya lebih agresif.” ia mengumumkan. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. tapi aku tak melihat bolanya.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku.

apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. djAnGgo 310 . “Ia juga tertawa.” aku tertawa. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala. “ Well. terkejut. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. terkejut.mendengarnya.” “Anda terdengar seperti ibuku.” gumamku. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku.

djAnGgo 311 . suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. sebagai anggota tim lawan. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. satu tangan terangkat. “Emmett memukul paling keras. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. “Kaulah yang diinginkannya. dan Alice memegang bola. meskipun dia lebih tua dariku. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. “Bahwa aku. melayang menembus hutan yang mengelilingi.” ia memberitahu.” Ia tersenyum hangat padaku. “Edward putra baruku yang pertama. itu sebabnya aku melompat dari tebing. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. dan kemudian. “Out!” Esme berteriak lantang.” seru Esme lantang. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan..” ujarku terbata-bata. makhluk kecil yang malang.“Ya. kembali ragu-ragu.. katanya.” tambahnya terus terang. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice.” Alice berdiri tegak. “Home run. Entah bagaimana.” jelas Esme. Esme menghentikan langkah. Gayanya tampak licik daripada mengancam. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. Sayang. kau tahu. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang. sejauh apa pun posisinya. Carlisle membayanginya. Bunyi pukulan itu menggetarkan. “Baik. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua.” “Kalau begitu. Aku selalu menganggapnya begitu. pasti akan ada jalan keluarnya.” ia mendesah. meskipun dahinya berkerut waswas. “Selalu sang pria sejati. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. menggelegar. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. Aku menunggunya menghampiri home base . “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. Gelegar petir terdengar lagi. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. Kemudian tangannya mengayun lagi. bagai serangan kobra. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. menggema hingga ke pegunungan. tapi saat ia mengambil posisi. seolah-olah tak bergerak.” Ia tersenyum. bayi pertamaku dan satu-satunya. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu.” Esme mengingatkan. baru disebut strike. “tapi Edward berlari paling cepat. setidaknya dalam satu cara. “Ke posisi masing-masing. mendengarkan dengan saksama.” aku bergumam.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. “Tunggu. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. “Itu menghancurkan hatiku. tangannya yang terangkat menggengam bola. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. Alice tersenyum sebentar. “Kalau mereka tidak memukulnya. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut.” Ia tampak bersimpati. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. aku sedih melihatnya sendirian. Anda tidak keberatan?” aku bertanya. Aku tersadar Edward menghilang.

berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka.Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. Ia berlari cepat ke sisiku. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. ketika Edward menangkap bola ketika. Aku melompat dengan waswas. djAnGgo 312 . “Safe.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. Ketika mereka bertabrakan. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. wajahnya memancarkan rasa senang.

“Apa yang berubah?” tanyanya. “Ada apa.” “Tiga. matanya kembali berkilat-kilat memandangku. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. membuatku kehabisan napas.” katanya. “Tidak. seperti biasa. bingung. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. dan itu membuat mereka berbelok. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. Ketegangan menyelimuti wajahnya. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. Mataku tertuju pada Edward. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice.” bisiknya. bebalik menghadap Edward. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. “Aku agak kecewa. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. Jasper mendekati Alice. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. “Alice?” suara Esme tegang. “Kurang dari lima menit. “Mereka mendengar kita bermain. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. menjaga bola tetap rendah. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. Alice ber-high five dengan mereka. Semua sudah berkumpul. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. ” Ia terdiam.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. “Well. “Aku tidak melihat. djAnGgo 313 . Tiba-tiba Alice terkesiap.” katanya menyesal.” gumamnya.” godaku. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. “Lagipula.” jawab Alice singkat.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. posturnya protektif. mereka ingin bermain. Petir terus bergemuruh.” Wajah Edward geram. tidak sambil menggendong. Ia bermain pintar. “Biarkan mereka datang. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. “Kenapa?” tanyanya. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. Mereka berlari. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut.” ia tertawa. “Giliranku. kemudian berpaling. menuju base. aku tak bisa mengatakannya. “Yang jelas.

meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . mereka hanya penasaran. “Alice bilang. Suaranya tenang dan datar.” akhirnya Carlisle memutuskan. Carlisle berpikir.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya. Hanya Emmett yang tampak tenang.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.

melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. “Yang lain berdatangan sekarang. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. Carlisle. Esme. dan yang lain berpaling ke arah yang sama. dan Jasper berdiri di tengah lapangan.” gumamnya marah. Emmett.” Aku mendengar napasnya berhenti. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah.” “Aku tahu.” “Ya. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Bella. Carlisle berdiri di base. kumohon diamlah.” kata Alice lembut.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. “Kau yang menangkap.” gumamnya enggan. jangan bergerak dari sisiku. Aku mematuhinya. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. mata dan pikirannya menerawang ke hutan. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. Rosalie. Yang lain kembali ke lapangan. “Maafkan aku.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. tapi toh aku dapat menangkapnya. “Uraikan rambutmu. Aku sungguh menyesal. “Itu takkan membantu. djAnGgo 315 . dan Emmett. “Cukup untukku. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. “apakah mereka haus. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku.” katanya. jangan bersuara.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. Ia menarik rambut panjangku ke depan.” Dan dia pun berdiri di depanku. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Tatapannya tanpa ekspresi. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. menutupi wajah. Detik-demi detik berlalu. Ia setengah melangkah.

mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. tapi kalah jauh dari Emmett. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. Si perempuan lebih liar. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. Mata mereka juga berbeda. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. memamerkan gigi putihnya. entah mengapa tampak paling waspada. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. djAnGgo 316 . Laki-laki yang pertama langsung mundur. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. anggun. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka.18. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Sambil masih tersenyum. ototnya kekar. terpisah-pisah sejauh 12 meter. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Postur tubuhnya sedang. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. Yang ketiga wanita. Langkah mereka pelan. Kedua laki-laki itu berambut cepak. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Ketika mereka mendekat. meskipun diam. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. dan tanpa komunikasi yang kentara. Matanya. dan mereka bertelanjang kaki. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. Ia tersenyum ramah. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. rambutnya hitam mengkilap. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku.

Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. “Aku Carlisle.” “Tidak. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. Aku terkejut ia menyebut namaku. “Disini. ini Victoria dan James. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. di Olympic Range. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. “Sebenarnya. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi. Edward dan Bella.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. Esme dan Alice. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Rosalie. Emmett dan Jasper. Carlisle membalas dengan sama ramahnya.” djAnGgo 317 .” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. kami baru saja selesai.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain.“Kami kira kami mendengar permainan. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali. “Aku Laurent. Ini keluargaku.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu.

Ketika Laurent bicara.” Laurent mengangguk. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario. tiba-tiba memutar kepalanya. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. nada suaranya lembut.” djAnGgo 318 . “Kalian membawa snack?” tanyanya. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga. semata-mata hanya terkejut. mengamatiku. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. James. balas siap menerkam. “Tentu saja. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. matanya tertuju pada James. Kalian mengerti. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku.” Senyumnya ramah. Lagipula. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle.” Ia tertawa. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. cuping hidungnya masih mengembang. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. “Ya. menggeram penuh ancaman. Edward memperlihatkan giginya. Perlahan James menegakan tubuhnya.”protes Laurent. “Dia bersama kami.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. bengis. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. Rambutku berantakan ditiup angin. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. “Kumohon jangan tersinggung. Emmett dan Alice. “Tapi dia manusia. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James.” Carlisle menjelaskan. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul. James bergerak sedikit ke samping. hidungnya mengendus-endus. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. tubuh Edward menegang. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser.” Carlisle menambahkan dengan tenang. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Ceritanya agak panjang.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. dan laki-laki kedua.

“Tapi kami ingin menerima undanganmu. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Jasper. dan Emmett mundur perlahan.” Suara Carlisle masih tenang. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. Rosalie. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. djAnGgo 319 . yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. kami takkan melukai perempuan manusia ini. “Ayo.” Suara Edward pelan dan lemah. “Dan.“Tentu. Bella. Esme?” panggilnya. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. Mereka mendekat. “Akan kami tunjukkan jalannya. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. tentu saja. Seperti kataku.

“Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. Edward. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. menjauh dari Forks. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. “Pasangkan sabuk pengamannya. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. “Tidak demi aku. berputar menghadapi jalanan yang berliku. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. Dan kami menuju ke selatan.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. menyembunyikan diriku. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam.” ia memerintahkan Emmett. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. Kami tiba di jalan utama. “Kita mau kemana?” aku bertanya. yang menyelinap masuk ke sebelahku. yang lain tak mau menjauh darinya. Aku memberontak. “Sialan. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. jauh sekali. sekarang kumohon diamlah. yang lain tak bisa mendahuluinya. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. Bella.” djAnGgo 320 . Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi.” kata Edward dingin. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku.” “Aku harus. “Emmett.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. Alice telah berada di jok depan. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. Bahkan denganku di punggungnya. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. dan sama sekali saia-sia. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. “Tidak! Edward! Tidak. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini.” Suaranya dingin. sekarang. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Aku terus menundukkan kepala. matanya terpaku ke jalan. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. “Menepilah. Bella. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. masih terkejut karena ngeri. dan Edward menyalakan mesin. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. Tak ada yang menjawab.” Ia tidak menoleh ke belakang. dan meskipun laju kami bertambah cepat. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan. Alice berbicara untuk pertama kali. kau tidak boleh melakukan ini.

Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. “Dia pemburu. aku ingin memahaminya. Jarum spidometer bergerak melewati 120.Edward menatapnya marah. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. Alice. kemudian menambah kecepatan. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.” ia mengerang frustasi. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. Edward. “Menepilah. “Kau tidak mengerti. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku.” Nada suara Alice tenang. djAnGgo 321 .

” Emmett tersenyum. ada. “Itu sebuah pilihan. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. Edward. Alice. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol.” kata Alice. Jeep sedikit melambat. Aku memandang marah dan melanjutkan.” “Tidak. “Bawa aku kembali. sungguh. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap.” “Kau tidak mengerti.“Lakukan. dia takkan bisa mengalahkan kita. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja.” potong Edward. Aku memecahkannya.” geram Edward.” “Dengar. Bella. “Tidak. Semua menatap Edward. Jeep kembali melambat. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Bawa aku kembali. Edward berbalik padanya. Kita harus membunuhnya. secara spesifik. ” Edward menginterupsi.” “Jumlah kita cukup banyak.” Alice berpikir sebentar. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. “Bisa saja berhasil. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. Kukemasi barang-barangku. akhirnya terpancing juga.” kata Alice pelan. Dia bersamanya.” kata Alice. “Aku tidak melihatnya menyerang. dia tak tergoyahkan. “Bukan ide yang buruk. “Dengar. Ia benar-benar mengabaikanku. lebih drastis. “Edward. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. “Tidak ada pilihan. Edward.” desis Edward. Dia akan mencoba djAnGgo 322 . baru kita lari. Aku terdorong ke depan. Dia memulai perburuannya malam ini. murka.” bujuk Alice.” Emmett tampak sangat percaya diri. “Tidak. dan dia menginginkan Bella. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan. Aku melihat pikirannya. obsesinya. Alice.” Mereka menatapku.” Emmett akhirnya berbicara.” aku memohon. “Aku juga bisa menunggu.” sahut Edward mantap. Kalian tahu itu. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya.” “Dia akan menunggu.” “Dan yang perempuan.” “Dia bukan tandingan kita. “Terlalu berbahaya. dan terhempas lagi ke jok. Alice memelototinya. “Kita harus membawanya kembali.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. pilihan.” Aku terkesiap. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. Sekali memutuskan untuk berburu. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. terkesiap. si pemimpin akan turun tangan juga.” “Itu pilihan lain. “Dia benar. Berburu adalah hasratnya.” “Dia tak tahu kemana. Dia takkan bisa menyentuhnya. suaranya mengeram.

” djAnGgo 323 .” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.menunggu kita meninggalkannya sendirian.

kau berjaga di luar rumah. “Emmett juga harus tinggal. kemudian masuk ke trukmu. suaranya terdengar terluka.” Aku berusaha terdengar tegas. Sesampainya di rumah Bella. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. aku tidak mau. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. Kami akan memastikan dia aman. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.” protesku. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. Apapun masalahnya dengan Alice.” aku melanjutkan.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini.” aku berbisik. kecuali bunyi deru mesin.” Edward mendesah. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri.” kata Alice yakin. “Kalau si pemburu ada disana. “Dengar. Edward sepertinya setuju. kau tak tahan lagi berada di Forks. terlihat terkejut lagi. sekali ini saja. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. Kau punya waktu 15 menit.” katanya. sekarang ia tak meragukannya lagi. Alice.” Suara Edward dingin. “Aku ikut kau. “Tidak akan. Dia akan berpikir kau bersamaku. Ceritakan apa saja agar dia percaya.” Ia menatapku geram dari kaca spion. dia memang benar.” “Apa?” Emmett berbalik padaku.” kataku. “Edward. menatap lurus tanganku. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu.” Emmett melihat ke arahku.” “Pikirkan lagi. kau ambil truk Bella. dan ia memutarnya.” “Ya. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata. “kita tidak akan berhenti. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. djAnGgo 324 . Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. Kemudian dia punya waktu 15 menit. bannya berdecit-decit. “Emmett?” Aku bertanya. “Kau akan membawanya pulang. “Kau akan pergi malam ini. maaf. “Emmett. suaraku jauh lebih pelan. Charlie bukan orang bodoh.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. dengarkan dia.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang. Emmett. Ia mendengarnya. “Bella. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya.” Alice menimpali.” Emmett menyela. “Kalian semua takkan muat di trukku.” Ia melepaskannya. Ia tidak mendongak. “Oh. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. dia bakal curiga. Setelah dia keluar. mengertakkan giginya. Lalu Edward berbicara lagi. Sepertinya Edward tidak mendengarku.” “Itu tak ada hubungannya.” desaknya.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. “Kumohon. kumohon lakukan saja dengan caraku. Kemasi apapun yang bisa kau ambil. dan itulah yang terpenting. dimanapun kau berada.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. Ketika bicara. Suaranya terdengar pahit.” kata Alice tenang. kalau si pemburu tidak ada disana.” Jeep menderu menyala. “Inilah yang akan kita lakukan. Katakan pada Charlie.” “Tidak. “Kupikir dia benar.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. aku ikut kau. “Aku tak bisa melakukannya.

” Edward mengulangi kata-katanya.” sahut Alice. Edward menatap Alice tak percaya.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal. djAnGgo 325 . aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya.” “Aku tak bisa melakukannya.” timpal Alice. “Menurutmu. Akal sehatnya mulai bekerja. “Jasper dan aku akan membawanya.

. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. Edward tersenyum padanya.” “Oh?” tanyanya. sangat baik. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. Ia berpaling pada Alice. bisa kurasakan bulu kudukku meremang. menelan ludah. dalam segala hal. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita.” sahutku. atau kau karena mencoba melindunginya. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. Nah.” Emmett tergelak. tak diragukan lagi. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan. Edward. Tentu saja ambil rute memutar. “Bella. dan buat perburuan James ini berantakan.” Tentu saja. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. Dia telah bekerja dengan sangat.” “Edward.” “Aku sepertinya menyukainya.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. sendirian di rumah. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “.” katanya tidak sabar. “Tetaplah disini selama seminggu.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. kemungkinan besar akan ada yang terluka. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix.Aku mencoba membujuk. beberapa hari. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. Alice dan Emmett memandang keluar jendela..” “Dia licik. dia akan terluka.” “Aku takkan pulang. Emmett.” Suara Edward terdengar sangat lembut.” gumamnya tiba-tiba. Aku benar.” aku memberitahunya. “Tetap di dalam ruangan. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. Aku langsung meringkuk ketakutan. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya. nada suaranya berbahaya. “Tidak. senyumnya mengembang perlahan. “Diam. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku.” “Dengar. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. tentunya. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. Meskipun ucapanku terdengar berani. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. dan mencoba untuk berani. aku akan menuntut tanggung jawab darimu.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. Lalu datanglah dan temui aku.” Alice mengingatkan.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James. kami akan menemaninya. Aku memikirkan Charlie. apapun. Kau mengerti?” “Ya. djAnGgo 326 .

djAnGgo 327 .

Kita harus bergegas. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan.” “Masuklah. Bella. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. mengamati setiap bayangan.” Ia mencondongkan tubuhnya. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi.” katanya pelan namun ceria.” ia mengingatkanku dengan berbisik. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. “Jangan khawatir. “Pergilah. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. Bella. sama tajamnya. “Ayo.” kataku. namun bagaimanapun juga. memarkirnya tepat di belakang trukku. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Edward!” Aku berteriak padanya. Emmett. Air mata memberiku inspirasi. Perlahan Edward menepikan Jeep. “Dia tidak disini.” kata Edward tegang.” katanya. “Aku mencintaimu. mendengarkan setiap suara di hutan.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. “Aku akan selalu mencintaimu.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. duduk tegak di kursi mereka. Perpisahan Charlie menungguku.” Suara Edward memerintah. Ini tidak bakal menyenangkan. “Alice.” isakku.19. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam. menghirup setiap aroma. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. “Aku bisa melakukannya. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. djAnGgo 328 .” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. suaraku pelan dan dalam. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. “Jalankan saja rencananya. membanting pintu dan menguncinya.” aku berbisik penuh hasrat. Mesin dimatikan. “Satu lagi.” Suaranya mendesak. Mereka bertiga sangat waspada. Aku nyaris tak mengenalnya. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. langsung menghilang. oke? Jaga Charlie untukku. Aku berlari ke tempat tidur. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. tak peduli apa yang terjadi sekarang. dan sekarang ia bangkit berdiri. Semua lampu di rumah menyala. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. Aku menatap matanya lekat-lekat. Bella. “Lima belas menit. membuatku sedih. air mataku mengalir deras sekarang. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar.

kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. djAnGgo 329 . memberi tekanan pada kata yang tepat. lalu melemparkannya padaku. “Bella.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. dan Edward sudah ada disana. Aku berbalik ke lemari pakaian. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. “Aku mau pulang. “Tidak!” jeritku.” aku berteriak.

cengkramannya kuat.” gumamku. pergi!” ia berbisik. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. Aku mengucapkannya semarah mungkin. sambil menarik-narik resleting tasku.” bisiknya dibelakangku. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. dan mendorongku ke pintu. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. Ia memutar tubuhku menghadapnya. memutar kenop pintu. Sudah malam.” Aku menggeleng. Tapi aku tak punya waktu. djAnGgo 330 . Aku tidak menoleh. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. dan aku harus memikirkan keselamatannya. Ia berdiri terlalu dekat. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. “Apa yang terjadi. mereka akan kembali ke Arizona. Aku benci.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. “Biarkan aku pergi. Meskipun ia masih bingung. Aku menatap geram pada ayahku. itulah masalahnya. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. satu tangannya terulur ke arahku. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. kau tak bisa pergi sekarang. wajahnya syok. Ia menghilang lewat jendela. “Tidak!” jeritku. “Semuanya kacau. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas.” ia memohon. lalu bergegas ke pintu. lalu mengempaskannya.” “Tunggu 1 minggu lagi. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. lalu membuka pintu. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. “Aku memang menyukainya. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. Carlie.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. Ia berada tepat di belakangku. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. “Aku akan menunggu di truk. “Aku punya kunci. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. “Bells. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie.” Ia benar-benar membuatku kesal.

Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah.oke? Aku sungguh. Charlie bergeming di ambang pintu. djAnGgo 331 . Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. namun sadar aku takkan pernah sanggup. terpana. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. membayangkan bayangan gelap di belakangku. sementara aku berlari menembus malam. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter.

” katanya seraya mempererat pelukannya.” “Ini ide terbaik. Mesin truk menggeram. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” katanya begitu rumahku.” kata Edward geram. Sekarang ia berlari di belakang kita. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. ini idemu. “Charlie?” tanyaku ngeri. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. “Itu cuma Alice.” “Jangan khawatir. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya.” bisikku. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. suaraku melengking. dan ia melihat kepanikan di mataku. “Aku bisa mengemudi. Ia memegang tanganku lagi. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap.” Kami melesat melalui kota yang sepi. sambil menunduk memandangi lutut.” Tubuhku langsung membeku.” aku berkeras. Aku menatapnya putus asa. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu. meskipun matanya tidak. menuju jalan tol utara. Aku memandang lewat kaca belakang.” Ia tersenyum sedikit.” aku mengaku.” katanya berbasabasi.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. mataku membelalak ketakutan.” ia menjelaskan.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu.” ia menenangkanku.Edward meraih tanganku. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. “Semuanya baik-baik saja. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak. telah lenyap di belakang kami. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. “Si pemburu mengikuti kita. Bella. memangnya kenapa? djAnGgo 332 . “Aku ada disana. Trukku tidak oleng sedikitpun. “Kau akan aman. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. “Bukan itu maksudku. “Menepi. Ia menarikku ke pangkuannya. dan memeluk pinggangku.” ia berjanji. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. tentu saja ini ideku. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. “Bella. semuanya akan baik-baik saja. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. terutama akhirakhir ini. dan Charlie. Dia akan memaafkanmu. “Jangan lupa. melepaskan tanganku dari kemudi. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku. mengabaikan perhatianku. “Ini salahku.

djAnGgo 333 .” ia memulai dengan suara pelan. berpikir sebelum menjawab. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana.Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. begitu dia melihatmu.. Tapi ketika aku membelamu. kenapa aku?” Ia ragu-ragu. Sebagian adalah salahmu.. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan.” Suaranya masam. dia mungkin saja tidak terusik.

Dia tak terbiasa dikecewakan. dan membawaku berlari menuju pintu. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. djAnGgo 334 . kumohon.. Dia menganggap dirinya pemburu. Kami menghambur ke ruangan putih luas. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan. aromaku tidak sama bagi yang lain. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. “Memang tidak. “Kurasa.” kataku ragu-ragu.. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. Aku tak yakin dengan Laurent..” “Dua vampir lainnya. pertarungan akan terjadi saat itu juga. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah.” Suaranya penuh kejijikan. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang.” “Tapi James dan wanita itu.” gumamnya.. dia bersama mereka hanya demi kemudahan.” Aku bergidik ngeri. kumohon. “Kupikir.. Kami langsung menuju rumah.. Tidak malam ini. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. tidak seperti bagimu. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. Aku harus bertanya sekarang. Lampu-lampu di dalam menyala terang. usahakanlah jangan ceroboh. Ia berhenti sebentar. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. suaraku gemetar. Mereka tidak punya ikatan kuat. bukan yang lain. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga. lalu membakarnya. Alice mengikuti di belakang. “Bella. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. ia menarikku dari jok. itu membuat segalanya tambah parah. Edward dan Alice berada di sisi kami. Ini permainan favoritnya. dengan cara yang sama seperti terhadapku.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya.well. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. “Carlisle takkan menyukainya.” katanya putus asa. atau salah satu dari mereka. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. Aku tahu kami semakin dekat.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan.

bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar.Semua ada disana. “Maafkan aku. djAnGgo 335 .” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. Wajah Laurent tampak muram. Matanya yang indah penuh cinta dan. Laurent berdiri di tengah mereka. Rosalie mengamati mereka. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas.” “Kami akan menghentikannya. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.” jawabnya. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. “Aku khawatir. “Dia mengikuti kami. tampak marah. itu justru memicunya. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward.” ungkap Edward. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya.” Emmett berjanji. ketika beralih enggan menatapku. Mereka menaiki tangga bersama-sama. menatap galak pada Laurent.

Laurent menggeleng. Ia membuatku terkejut. kemudian bergegas keluar.” Ia ragu-ragu. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca.” ujar Carlisle dengan nada formal. “Esme?” tanyanya tenang. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. teringat temperamennya yang meledak-ledak. mengkhawatirkan reaksinya.” “Kurasa tak ada pilihan lain. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward.. menemui klan yang ada di Denali. dan dengan suara menderu. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini. “Pergilah dengan damai. Aku sungguh menyesal. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding.” gumam Emmett. Esme sudah bergerak. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. Aku memandang terkesima. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya.. Edward berbalik menghadap Rosalie. pikirku. bingung. Dia sangat mematikan. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . wajahnya kelam. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. tapi aku tidak akan menentang James.” perintah Edward..” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. kita akan memburu James. “Rose. Ia menimbang-nimbang sebentar.” gumam Esme. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan.” Ia membungkuk. “Tentu saja. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana. seolah ia tidak ada. Carlisle menatap Laurent dingin. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya.” Laurent mengerti. “Begitu Bella aman dari bahaya. Aku sama sekali tidak membenci kalian. “Jangan remehkan James. Ia melirikku. kemudian kembali menatap Carlisle. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian.“Kau takkan bisa menaklukkannya. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. Kurasa aku akan menuju utara. sambil meletakkan satu tangan di bahunya.” Carlisle menimpali.” Kelompoknya tentu saja. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. “Sekitar 3 mil dari sungai. Rosalie menepisnya. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. Laurent langsung ciut.. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. Keheningan hanya bertahan sebentar.

“Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2.. Ia memberi sesuatu padaku. Aku bergegas melepaskan jinsku.. ia menyerahkan celana panjangnya.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. Aku djAnGgo 337 . “Kurasa pakaian Anda takkan muat. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Tidak akan bertahan lama.menyadarinya.” aku ragu. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. “Berusaha mengaburkan aromamu. rasanya seperti kaus. Begitu aku selesai.

Ia langsung mendengarkan. Kami berdiri disana. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. melirik cemas ke arah Rosalie.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. Jasper dan Alice menunggu. matanya yang indah membara menatapku. Aku akan ambil mobil. “Apa?” aku terkesiap. Ia menurunkanku ke lantai. Akhirnya matanya membuka. Aku mengangguk.” Suaranya yakin.. Dan merekapun pergi. Tiba-tiba aku menyadari. “Kami naik Jeep. mematikan. Jasper dan aku berpandang-pandangan. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. Sorot matanya berubah hampa.” Mereka juga mengangguk. “James akan memburumu. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme.” katanya pelan. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. “Kau salah. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. “Alice. dengan ngeri. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. terlalu panjang. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku.” ia memberitahu saat melewatiku.. Bella. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. lalu lenyap. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. “Sekarang. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. ketika ia berpaling dariku. memelukku erat-erat. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. Si wanita akan mengikuti truk. kalian bawa Mercedes-nya. Jasper. berhati-hati. Aku mendengar suara trukku menderu. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle.” Carlisle bertanya. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. pengorbanan djAnGgo 338 . kau tahu itu. kemudian ponsel Esme bergetar. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku.” gumamku. “Ayo kita pergi. dan kau memang layak. Keheningan terus berlanjut.” “Tidak. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang.mengenakannya. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. “Jaga dirimu.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Ia menarikku kembali ke tangga. ponsel kecil berwarna perak. masih memegangi wajahku. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. “Alice.” Carlisle berjalan menuju dapur. Kemudian semuanya selesai. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil.” katanya. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. mengangkat tubuhku dari lantai.

Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Kantuk meninggalkanku. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. “Bolehkah?” tanyanya. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin.mereka bakal sia-sia. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. Aku tak mendengar apa-apa. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. tapi awalnya tidak berhasil. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. “Kau yang pertama yang meminta izin. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Pikiranku kabur. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. 20. tak tertahankan. menyengat mataku. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. tatapan marah Rosalie. Aku ingat mobil hitam mengkilat. dan matahari berada di belakang sekarang. Aku tak tahan melihat semua itu. Ekspresi sedih Charlie. Tapi aku tak bisa memejamkannya.. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. dan air mataku habis terkuras..” ia mengulanginya. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. Ketidaksabaran Ketika terbangun. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku.” “Kau keliru. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap.” Aku tersenyum pahit. kecuali di hotel. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. tatapan mengebu-gebu si pemburu. aku bingung. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . serta dindingnya yang bercorak umum. memelukku dengan sikap melindungi. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. tersenyum ramah padaku. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

“Ya. “Bella.” Alice terdiam.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. kemudian ia berbicara padaku.” ia berbicara di telepon. djAnGgo 348 . yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu. “Halo?” desahku.“Aku baru saja melihatnya. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya.” kata Edward. Aku berlari menghampirinya.

mengintip dari balik bahunya. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. Dia tidak mendekati Charlie. Dia pergi ke rumah Charlie. Dia mengelilingi kota sepanjang malam.” “Aku akan baik-baik saja.” ia mendesah frustasi.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir.” aku mengingatkannya. “Segera. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. dia mencari-cari. sekolah. sepertinya naik pesawat. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja.. Percayalah padaku. sebenarnya aku percaya. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. tapi tak ada yang bisa ditemukannya.” “Aku merindukanmu.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. “Aku tahu.” “Aku akan segera datang padamu.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya. Sepanjang dinding. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara. “Aku mencintaimu.” bisikku. tangannya djAnGgo 349 . “Itu studio balet. si wanita ada di kota. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya.. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. tapi Charlie sedang di tempat kerja. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal.” aku menantangnya. maafkan aku.” Setelah percakapan selesai. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” Suaranya tegang. kabut depresi pun menyelimutiku lagi.” kataku. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. Alice melihat dia berhasil kabur. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. dia berhati-hati. Mereka memandangku. terkejut. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin.” “Kalau begitu datang dan ambillah. persegi. semua jalanan di kota. kami kehilangan jejaknya. setinggi pinggang. Dia kelihatannya curiga. “Aku tahu. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman dulu. Bella. “Bisakah kau mempercayainya. jadi jangan khawatir.“Oh. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu.” “Aku akan menunggu. Bella.” “Bella. Bella. Tapi dia sudah pergi sekarang. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. Aku bersandar di sofa. Edward! Aku sangat khawatir. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. Alice menunduk menatap gambarnya. kami akan menghabisinya. aku tahu.

ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. menggambar tangga darurat di dinding belakang. stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan. Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 .menyapu kertas itu sekarang. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari.

Ia mempertimbangkannya.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. “Tidak. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. apakah telepon itu aman?” “Ya. Aku penari yang payah. aku mau kau melakukan sesuatu..” kataku. aku menunjuk sudut kiri. Tapi stereonya tadinya di sini”. Aku melihat mereka bertukar pandang. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington. “ini aku.” “Jasper?” tanya Alice.” ia menyakinkanku.” Alice sudah di sisiku. sama sekali tidak. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah. suaraku menghilang.” kataku setelah bunyi bip. dan tidak ada TV.” aku mengakui. hubungi aku di nomor ini. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. dimana catatan tentang diriku berada.” Alice dan Jasper menatapku. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. masih tenang.” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya.. cermin-cerminnya. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana.. “Mom. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali.” bisikku. Ada jendela di ruang tunggu. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. tapi dia akan segera pulang. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. “Alice. tentu saja.menyempit di bagian belakang ruangan. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. “Di sekitar sudut rumah ibuku.. Begitu kau sudah menerima pesan ini.” “Memang. “Ya. memandangi gambar Alice.” Kami duduk terdiam.” “Kupikir dia di Florida. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. “Kalau begitu di sini. Dengar. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya. Ini penting.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku. palangnya. “Di sana letak kamar mandinya. “Tidak. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat. sekolah. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara. “Tidak. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh.” Suaraku gemetar.” Aku menyentuh pintunya. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. entah dimana. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . “sudah lama. membuyarkan lamunanku. “58th Street dan Cactus. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya.

di bagian bawah gambar. tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. oke? Aku mencintaimu. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. Bye. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. djAnGgo 352 . Mom. Aku berkonsentrasi menonton berita. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. Aku membacanya perlahan. aku baik-baik saja.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. Jangan khawatir. Aku duduk di sofa. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. mengantisipasi malam yang panjang. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. mencari berita tentang Florida. dua kali. atau tentang pelatihan musim semi.

Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. Tapi ketika selesai ia hanya duduk.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. menantikan telepon berbunyi lagi. djAnGgo 353 . seperti yang kurasakan. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal. Aku pasri tertidur di sofa.

Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. “Ya. Alice.. ketinggalan zaman. Dia akan menemukan seseorang. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. dan kau akan pergi bersamanya. Dia.” “Tapi ibuku. “Bella. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. Alice dan Jasper duduk di sofa.” kata Alice. Edward akan datang menjemputmu. “Teleponnya di sebelah sana.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah.21. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap.. dia akan melukai orang yang kucintai. Emmett. Aku tak bisa berkonsentrasi. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. Dinding-dindingnya berpanel kayu. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Kita akan menemuinya di bandara. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya.” “Aku tak bisa menang.” bisikku. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. menjaga kepalaku tetap terapung. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai.. “Bella. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper.” Alice telah bangkit dari sofa. Dua pasang mata yang abadi menatapku. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. menekan nomor. tidak fokus. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. “Ya. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. sambil menunjuk. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. Alice. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. ” djAnGgo 354 . dia kesini untuk mengincar ibuku. telepon di tangan. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat.. aku takkan bisa. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. “Itu rumah ibuku.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. Kepanikanku tetap samar. hanya saja kali ini keadaannya terang. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. Aku menatapnya hampa. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. agak terlalu gelap. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun.

“Dan bagaimana kalau kau terluka.” ia meyakinkanku. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 . Bella.“Kami akan menangkapnya.

Mom. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku.” bentakku. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. Ia berbicara sangat cepat. “Semua baik-baik saja. Ibumu. sebenarnya membantingnya. aku tak perlu melukai ibumu. Tapi telepon berbunyi lagi. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya.45. “Nah. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. seraya berjalan pelan menjauhi Alice.30.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. dia ada disini.” Aku diam. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Alice tampak terkejut. djAnGgo 356 . “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. “Mom?” “Berhati-hatilah. tapi yang menarik perhatianku adalah.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. merasa sedikit malu dengan sikapku. Suaranya panik. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. bergoyanggoyang. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. tak ada kompromi. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. suara yang amat menyenangkan dan umum. Satu-satunya pertanyaan adalah. Satu-satunya penghiburan. “Tenang. katanya tanpa suara. Aku mendesah." Perutku melilit mendengar kata-katanya. “Mereka baru saja lepas landas. Aku sudah menduganya. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. “Halo?” sapa Alice. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. “Aku tak ingin tidur lagi. Pikiranku berputar-putar. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. “Mereka akan mendarat pukul 09.Alice menatap Jasper penuh arti. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan. Kabut tebal kelelahan menyapuku.” Alice memberitahu. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Aku melihat jam. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. Barangkali. mengalihkan perhatianku. aku janji. Itu suara tenor laki-laki. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. Kali ini Alice tidak mengikutiku. meringkuk.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. Tak ada jalan keluar. menjauhkan diri dari tangan Jasper. “Tidak. tapi aku telah melangkah maju. pukul 5. menyadari apa yang sedang terjadi.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini.

” Suaraku tak lebih dari bisikan. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin.maka dia akan baikbaik saja. “Bagus sekali. Tolong katakan. Mom. ‘Tidak.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. “Sekarang ulangi kata-kataku. Mom.” ia memujiku. tetaplah di tempatmu. djAnGgo 357 .’” “Tidak. tetaplah di tempatmu.

” katanya sopan. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang. “Bagus sekali.” “Ya.” Suaraku parau.” Suara itu terdengar senang. “Ini penting. Aku menunggu. Aku yakin itu. bagus. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu.” “Tidak.” “Sebelum siang. kalau begitu. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak.’ Katakan sekarang. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Di sebelah telepon adan sebuah nomor.” suara menyenangkan itu melanjutkan. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya. Aku menutup pintu. “Ya. well. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. Bella.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak. “katakan.” “Mom. “Nah. kumohon.” djAnGgo 358 . nah.” Aku menunggu.. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. menurutmu. ‘Mom.” Entah bagaimana. kau jadi tidak terlalu khawatir.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Bella. tolong dengarkan aku.” Suara ramah itu mengancam. Mom.” “Baik. hati-hati. harus ada cara. Sambil berjalan. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. tapi ibumu pulang lebih awal. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur.” “Ya.” “Ya.’ Katakan sekarang. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. “Ah. memusingkan. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak.” aku memohon. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Sekarang inilah yang harus kaulakukan. tolong dengarkan aku. Lebih mudah begini.’” “Mom.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi.” “Ya. Aku yakin takkan mudah. percayalah padaku.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Bella. itu akan sangat buruk bagi ibumu. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. ‘Mom. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Kumohon. dan dimana ini akan berakhir. Waktuku tidak banyak. Teleponlah. Aku sedang bersiap-siap menunggu. tolong katakan. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. percayalah padaku. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku..” “Itu lebih baik. Menurutmu. masih ringan dan ramah.” “Aku menyesal mendengarnya.

” Suaraku terdengar dalam.” aku berjanji. Bella. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. Aku menantikan bertemu denganmu lagi.” “Aku mencintaimu. sampai ketemu. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Aku mencoba menahannya. “Sampai ketemu. ‘Aku mencintaimu. djAnGgo 359 .” Ia menutup telepon.” Air mataku menetes. “Selamat tinggal. Mom.“Terima kasih. Aku menempelkan telepon di telingaku. Mom. “Katakan. Aku tahu aku harus berpikir. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. Mom.’ Katakan sekarang. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri.

Aku sangat menyesal. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian.” Aku berpaling. Menyusun rencana. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. Tanganku gemetaran. I a menyandera ibuku. Keputusasaan mencengkramku. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. karena Alice dan Jasper menungguku. dan aku harus berusaha.” kataku pelan. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. sebelum Jasper kembali. ia ingin pulang. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Aku harus berpikir dengan baik. djAnGgo 360 .” tulisku. tak ada cara untuk bernegosiasi. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. Aku masuk lagi ke kamar. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. “Alice. menjaga suaraku tetap tenang. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. Aku akan menyakitinya. Bagus. mencoba mengenyahkannya. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. Aku teramat menyesal. “Ibuku khawatir. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin.” Suaraku lemas. Bella. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar.” Suaranya terdengar hati-hati. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. amat perlahan. kemudian aku mengesampingkannya juga. “Edward. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. jangan khawatir. pikiranku mulai menembus dinding sakit. penasaran. Aku tahu ini mungkin tak berhasil.Perlahan. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. tanpa berbalik. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. Tapi tenang saja. Ia bisa melihat kegelisahanku. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. Bella. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Aku tak memiliki jaminan. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. Aku harus mencoba. Aku tak boleh takut sekarang. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. dan pergi menemui Alice. Keputusanku sudah bulat. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. dan aku tidak menunggunya bertanya. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Tapi aku masih tidak punya plihan. Disana juga ada amplop. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Aku melihatnya waswas.

matanya terpaku padaku. 22. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. sungguh. dan mau mendengarku sekali ini saja. “Bella. semua ketakutan. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. . Aku mencintai mu. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice.” katanya. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper.. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. melepaskan cengkramannya dari meja. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. “Ada apa?” desak Jasper. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja.” balasku. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. terpana.Teruta ma pada Alice. pikiranku begitu tersiksa dan labil. “Alice!” seru Jasper.” akhirnya ia menjawab. takut ia akan menebaknya.Jangan marah pada Alice dan Jasper. Aku menyambutnya. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice.. Kepalanya menoleh. itulah yang ia inginkan. Kurasa. Demi aku. dan aku melihat wajahnya. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. itu namanya mukzizat.. Jasper menatapku tajam.. otomatis menyentuh tangannya. aneh.. “Tidak ada apa-apa. muncul tepat di belakang Alice. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. dan memasukkannya ke amplop. Aku hanya berharap dia mengerti. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Kumohon. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. apalagi kau. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. “Aku di sini.. ekspresinya masih hampa. kehancuran hatiku. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Pikiranku melayang pada ibuku. Aku takut berada satu ruangan dengannya. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. Dari seberang ruangan. merasakan kepanikan. Maafkan aku.” djAnGgo 361 . Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. kedua tangannya memeluk tangan Alice. kumohon. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. ia menjawab pertanyaan Jasper. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. menggunakannya untuk megendalikan emosiku. keputusasaan. “Apa yang kau lihat?” kataku. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. Tatapannya hampa.

Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. berayun menutupi wajah. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. meskipun tersembunyi dengan baik. “Alice?” tanyaku cuek. wajahnya menghadap Jasper. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. “Ya?” djAnGgo 362 . “Kau mau sarapan?” “Tidak.. Rambutku dibiarkan tergerai. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. Membantuku menyusun rencana. Ia menjawab hati-hati. aku bisa merasakan keinginan Alice.Alice akhirnya memandangku. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku.” Aku juga terdengar sangat tenang. ekspresinya lembut dan tenang. Aku bersiap-siap seperti robot. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik. Alice menyandarkan tubuh di pintu. bahwa mereka bakal gagal. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang.. aku makan di bandara saja. berkonsentrasi pada setiap hal kecil.

Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang. Manusia lebih sulit. Benar-benar tak ada harapan. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana.” Aku mengangguk penuh perhatian. Aku memandang papan jadwal kedatangan. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. “Ya. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi.. Begitu mereka berubah pikiran. seluruh masa depan pun berubah. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. tak peduli betapa kecil. tidak sabar.. untuk melihatnya dulu. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. mudah-mudahan. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. Ia menatapku.. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat.” “Ya. Keberuntungan berpihak padaku. suaraku terdengar bosan. kembali waspada. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Betapa menakjubkan. Edward akan segera menemukannya. Kami parkir di lantai empat. pikirku. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. Chicago. Aku menunjukkan jalan.” ia menimpali. djAnGgo 363 .“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. “Suratku. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan.” gumam Alice.. terutama setelah penglihatan Alice. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. Itu membuatnya sangat sulit. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. dAn takkan pernah kulihat. Aku menungu kesempatan. Ia mengangguk. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. Atlanta. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. hal-hal bisa berubah. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Kami tiba di bandara. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. di garasi berukuran raksasa. atau barangkali kebetulan saja.. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. seperti cuaca. menginginkan kedatangannya. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini. membuat keputusan baru. yang paling memusingkan.” kataku. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. baru melarikan diri. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan.

angka-angka itu berubah. “Aku merasa sedikit. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku. djAnGgo 364 .Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri. “Kurasa aku mau makan sekarang. “Aku ikut bersamamu. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan. Alice berdiri.” kataku buru-buru. Aku tak punya waktu lagi..” Aku tidak menyelesaikan kalimatku..

Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. dan aku berlari. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. tapi aku mengabaikannya. tangannya di punggungku. yang membuatku lega. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. Dan di sanalah. “Aku tidak bakal lama.” Aku bergegas menaiki undakannya. Di belokan lift sudah menanti. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. “Ya. Aku tak punya waktu. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku hanya perlu lari sebentar. Tak ada taksi satu pun.” djAnGgo 365 . dia tidak curiga. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Orang-prang menatapku. tidak mau repot repot bertanya. Di depan Hyatt.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. bukannya penghianatanku. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. Nak. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. Sudah menyala. atau malah sudah. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. ia takkan bisa melihatku. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal.Jasper bangkit berdiri. tidak masalah.” protesnya. aku mengingatkan diri. napasku tersengal-sengal. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak.” Begitu pintu menutup di belakang. Mata Alice tampak bingung. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. aku harus terus berlari. “itu tujuanku. seolah membimbingku. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Aku belum boleh menangis. Ini satu-satunya kesempatanku. di belokan. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. Keberuntungan masih bersamaku. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. Jalan yang kulalui masih panjang. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan.” “Itu di Scottsdale. bahkan kalaupun Jasper melihat. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. jaraknya beberapa meter di belakangku. Kebanyakan kursinya kosong. Pintu yang lain tak jauh dari lift. melambai-lambai ke arah pengemudinya.tapi. tapi kemudian mengangkat bahu. “Tunggu!” aku berseru. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. dan pintu lift pun menutup. Begitu pintunya membuka. “Apakah itu cukup?” “Tentu. aku lari. “Ini shuttle ke Hyatt. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku.

sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. melipat tangan di pangkuan. djAnGgo 366 . Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Jadi.Aku bersandar lagi di jok. juga kekhawatiran. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. Takdirku telah ditentukan. Kuputuskan untuk tidak menyerah. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku.

dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku.” “Well. kita akan bertemu sebentar lagi. Bella. Ke suatu tempat di utara. aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Hanya berdering satu kali. “Halo. Aku harus bergegas. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. ibuku menantiku. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci.” Suaraku tercekat. Di sana. Di dalam gelap. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. di whiteboard . Bella. Aku terkesan. kalau begitu. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. Aku lari ke pintu. Jangan khawatir. Aku harus menutup dan memulai lagi. senang.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. “Kalau begitu. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. “Terima kasih. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. Aku lari meninggalkan ruangan. aku merasa bahagia. Aku begitu larut dalam lamunan. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. menuju panas yang menyengat. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. khawatir aku sakit atau apa. mengandalkan aku. ketakutan. melewati pintu muka. bahkan nyaris mendengar suaranya.. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. tak pernah meninggalkan sisinya. djAnGgo 367 . kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. kosong. Aku membayangkannya di pantai. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Kubuka pintunya.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. Berhasil. tentunya. aku tahu jalan ke sana. “Ini sangat cepat.” Ringan.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. tak pernah tidur. dan bayangan indahku pun lenyap. Sopir taksi menatapku. Kemudian aku lari mendekat. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. Rumahnya kosong. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku. “Aku sendirian. kikuk seperti biasa. “Hei. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Sekarang. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. normal. “Lima-delapan-dua-satu. tampak sepuluh digit angka yang rapi. dengan saksama menekannya satu per satu.” Aku menutup telepon. kulitnya berkilauan bagai air laut. kosong. agar ia bisa keluar di siang hari. aku mengingatkan diriku sendiri.” bisikku. kita sudah sampai. “Bagus sekali. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian.. beberapa kali keliru. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Kecuali kau tidak datang sendirian. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Tak ada alasan untuk takut. akhirnya aman. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku.

peluh menetes-netes di wajahku. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. napas terengah-engah. Aku berlari. lalu tertatih-tatih bergerak maju. Sinar matahari terasa panas di kulitku. meninggalkan semua di belakangku. Beberapa kali aku terpeleset. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. menuju belokkan. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan.Tapi aku menjauh dari semua itu. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. menahan tubuhku dengan tangan. seperti berlari di pasir basah. Aku merasa sangat lamban. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . sekali jatuh.

Ia memegang remote control. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. memperhatikannya. Lantai dansa sebelah barat gelap. Dan tiba-tiba aku tersadar. menuju sumber suara. suaraku lega. ramah. lumayan dekat. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Aku mendengarnya tertawa. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. kemudian ia tersenyum.” “Memang tidak. tapi kerai jendelanya tertutup. Dan di sanalah dia. aku bisa melihat studio itu. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. “Betapa aneh. waktu usiaku dua belas. langkah demi langkah. menariknya membuka perlahan. Lama kami bertatapan. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Aku berlalri ke pintu. Ketika berbelok di sudut terakhir. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. James berdiri mematung di ambang pintu belakang.” aku menjawab. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Kemudian suara ibuku memanggil. Mengagumkan. sejuk. Haus. tak perlu merasa takut. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. Aku berusaha mengatur napas. Ia tak pernah menerima pesanku. Tidak dikunci. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. terdengar deru suara pendingin ruangan. Ketika semakin dekat. Kusentuh gagang pintunya. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Ia masih di Florida. “Bella. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku.habisan. Aku nyaris pusing. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 .” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. menuju jalan Cactus. seperti yang selama ini kuingat. Aku hati-hati berbalik. Ia melihatku nyaris jatuh. Aku memandang sekeliling. aku bisa melihat tanda di balik pintu. Ibuku aman. Perlahan-lahan aku berbalik. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. aku tak sanggup bernapas. semua kerai jendela tertutup. Aku tak bisa lari lagi. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. Ibuku aman.. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. “Ya. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. di layar televisi. Suatu hari kami ke pantai. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. mengacak-acak rambutku. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. rumahku. merasa lega. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. Lapangan parkir di depannya kosong. karpetnya beraroma shampo. berusaha menggapai keseimbanga. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. “Maafkan hal tadi. Bella. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. Irisnya nyaris hitam.. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. Ia berjalan menghampiriku.

Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku.” djAnGgo 370 . “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. kurasa tidak.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. menatapku dengan sorot mata penasaran. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. Setidaknya. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.” Ia berdiri beberapa meter dariku. dan bagiku ia seperti berharap-harap. tangan dilipat. “Tidak. aku memintanya untuk tidak melakukanya.

Kudengar kau ingin pulang. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. kelewat cepat. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. Well.” Ia menghampiriku. begini. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. Edward. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. Victorian mengawasi mereka untukku. aku kecewa. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini.. tentu saja. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. “Sangat mudah. Aku menatapnya ngeri. tempat yang katamu akan kau datangi. Hal seperti itu pernah terjadi. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Memiliki nomormu tentu sangat berguna.” “Hmmmm. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. kau boleh menyebutnya indra keenam. manusia lemah ini. tapi kau bisa saja berada di Amerika. Tentu saja. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. “Sebelum kita mulai.” Aku menunggu dalam diam. Kau hanya manusia. setelah berbicara dengan Victoria. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. tersenyum. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. aku tak bisa bekerja sendirian. Jadi. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. “Maafkan aku. semua ini sedikit terlalu mudah. Sejujurnya. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan.” “Betapa romantis. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. pada waktu yang salah. itu hanya dugaan. oh. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. Awalnya. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang.” Perutku mual ketika ia berbicara. Kau tahu.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. ini semua untuknya. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Jadi. Kemudian aku bertanya-tanya. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu. melebarkan lensanya. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. surat terakhir. bukan?” Aku tak menyahut. tidak terlalu memenuhi standarku. tempat aman. Aku sudah siap. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. kau tahu. sudah lama sekali. dan tak diragukan lagi. boleh kutambahkan. “Kuharap begitu. “Aku meninggalkan surat untuknya. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. Nyaliku benar-benar ciut. berada bersama kelompok yang salah. bahwa kau ada di sini. Lagi pula. “Aku senang memanas-manasi sedikit. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. kalau begitu harapan kita berbeda. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. Ia mengaturnya beberapa kali. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 .

Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . dan begitu vampir tua itu membebaskannya. “Kau tahu.kabur dariku. dia membuat gadis itu aman. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. makhluk kecil malang.

karena pengliatannya.” Ia mendesah. dan pesan kecilku. Ketika gadis itu membuka mata. “Well. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai.” Ia maju selangkah lagi. Aku tak dapat menahan diri. Lututku gemetaran.” “Alice. Dalam sekejap ia sudah di depanku. “Ya. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. terlalu cepat. kurasa kita selesaikan saja sekarang. sebenarnya.. “Tidak.. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. “Dan aromanya memang sangat lezat. wajahnya penasaran. aku tak bermaksud menyinggungmu. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. ya kan?” Aku mengabaikannya. terkejut. Bunga-bungaan. aku menghancurkan si vampir tua. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. Sempurna. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan.. tapi tubuhku membeku. Kemudian ia mencondongkan tubuh. Aku bahkan tak bisa beringsut. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. “Sebagai balas dendam. dan aku khawatir bakal jatuh. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku.” gumamnya pada diri sendiri. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . teman kecilmu. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. suarnya kembali ramah. aku mencoba lari. Perlahan-lahan ia menghampiriku.” desahku. suatu kehormatan. kakinya menginjak kakiku. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu.” Aku benar-benar mual sekarang. dengan wajar. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. Pada tahun 1920-an. tapi mereka mendapatkannya. lalu pergi. bagaimanapun. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. tubuhku melayang ke belakang.. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. Maaf. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. selemah lututku saat itu. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi.” Ia mendesah. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. dan aku bisa melihat di matanya. lalu menjatuhkan tangannya. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. Ada rasa sakit yang mendekat. “aku tak mengerti. terpapar jelas dan berkilauan. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. Entakan keras menghantam dadaku. memangsaku. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. “Itu efek yang sangat menyenangkan. Kacanya hancur berantakan. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. Ia langsung menghadangku. semakin lebar. Aku tak bisa bernapas. Aku mendapatkanmu.

” Lalu sesuatu mengantam wajahku. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya. Aku berbalik untuk meraih kakiku. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. tersenyum. Tapi kemudian aku merasakannya.retakan itu sebelum merasakannya. “Tidak!” seruku parau. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. jangan Edward. “Tidak. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. djAnGgo 374 . dan ia berdiri menjulang di atasku.

Aku mendengar. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. Dengan kekuatan terakhir. Biarlah segera berlalu sekarang. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. Mataku memejam. sosok gelapnya menghampiriku. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. membuatnya sinting karena dahaga. Darah yang mengalir. Aku bisa melihat. Terlepas dari tujuan awalnya. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. raungan terakhir si pemburu. djAnGgo 375 . seolah dari kedalaman air. Aromanya membuatku mual.Selain sakit di kakiku. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. tanganku terangkat menutupi wajah. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. yang sebelumnya penuh tekad. kini membara dengan hasrat tak terkendali. di tempat pecahan kaca itu menusukku. dengan cepat menggenang di lantai. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Matanya. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir.

djAnGgo 376 .

Aku ingin mengatakan ya. lebih kuat. “Edward. dan aku tak bisa bernapas. Karena. dan lengkingan kesakitan. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. Malaikat tak seharusnya menangis. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku. Bella.” Aku mencoba memberitahunya.” aku mencoba lagi. tidak. aku disini. sekonyong-konyong pecah. membahagiakan.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. kumohon!” ia memohon.23. oh kumohon. memberitahunya semua baik-baik saja. aku bermimpi..”. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. Aku menjerit. tidak. “Oh. sekaligus mengerikan. Di belakang ratapan itu ada suara lain. kemudian. “Carlisle!” si malaikat berseru. gelegar amarah yang mengerikan.” suara tenang itu memberitahuku. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. dan sarat amarah.” rengekku. Ada rasa sakit baru. kumohon. tidak. Bella. aku tahu. “Bella. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. “Aku tahu.” “Sakit. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. “Ya. Bella. dari kedalaman air. tersengal keluar dari kolam yang gelap. Suaraku sedikit lebih jelas. Aku mencoba menemukannya. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. “Bella!” si malaikat berseru. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. Bella. lebih dalam. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . Ruangan penuh ancaman. Aku tak bisa memahami diriku sendiri. Kemudian. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. itu tidak benar. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. Aku diseret naik. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. nyaris mencapai permukaan. “Bella. “Dia kehilangan banyak darah. Suara geraman lain. dengar. Apa saja..” “Edward. “Hati-hati kakinya patah. Kepalaku seperti ditekan. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. Kau bisa mendengarku. Rasanya sakit. Kemudian aku tahu aku sudah mati. lebih ganas. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. kumohon. kau akan baik-baik saja. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. “Bella. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. Ini tidak mungkin surga. aku merasakan sakit yang lain. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. Bella? Aku mencintaimu. suara yang indah. kumohon! Bella. menjauh dariku. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat.

Carlisle akan memberimu sesuatu.” aku mencoba memberitahunya.” “Tanganku sakit. Alice.. “Dia disini.. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku. rasa sakitnya akan berhenti. Bella.” djAnGgo 378 . itu akan membantu.” Carlisle berjanji. “Alice?” erangku. Tenangkan dirimu. dia tahu dimana menemukanmu. “Aku tahu.ketakutan.

Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. Edward. kau harus melakukannya sekarang.” Itu suara Alice. membereskan luka di kepalaku. Namun mereka bisa. perlahan. “Edward. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. atau akan terlambat. “Itu keputusanmu. saat tanganku mati rasa. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. didekat kepalaku. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. Aku tahu mataku kembali terpejam. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar.” Suara Carlisle tak lagi tenang. Edward. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana.” aku mengerang. Api itu lenyap. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. kau harus melakukannya. Aku membukanya.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi... “Alice. akhirnya terbebas dari kegelapan. tinggallah bersamaku.” “Tinggallah. Aku tak dapat melihat wajah Edward.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. bibirnya yang dingin menekan kulitku. “Aku tidak tahu.” Edward ragu.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan.” “Carlisle. “Mungkin ada kesempatan. Aku mendesah bahagia.” Wajah Edward tampak lelah. Lukanya cukup bersih. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. Dan aku melihatnya. Aku harus menghentikan pendarahannya. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. berusaha menenangkan diri.” Suaranya tegang. Akhirnya.” “Ya. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. “Edward.” kata Carlisle. mataku perlahan-lahan membuka. Aku mendengar suara Alice. Bella. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. “Tapi kita harus bergegas. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. “Dia disini. tapi tak dapat mendengar suaraku. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku. menahannya. “Alice. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya.” Saat Carlisle bicara. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. aku akan bersamamu. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. “Tidak!” ia berteriak. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya.” sahut Carlisle. “Edward!” jeritku. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku.. tapi terselip nada kemenangan disana. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. “Edward. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku. Aku tak bisa menolongmu. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku.. aku. aku pun tenang. begitu putus asa menemukan wajahnya. “Apa?” Edward memohon.” aku mencoba bicara. Kemudian. apa pun itu. melainkan terkejut. Rahangnya mengeras. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang.

djAnGgo 380 .” kata Edward pelan. “Darahnya bersih.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya.rasa kantuk yang melanda diriku.

Dan akupun berada dalam pelukannya. “Kau bisa tidur. Edward. djAnGgo 381 .” desahku. “Tidak. aku akan menggendongmu. “Bella?” Carlisle bertanya lagi. “Sudah saatnya memindahkannya. “Terima kasih. tapi suaraku lemah.” aku mendesah. dia tahu tentang kau. aku ingin tidur.Aku berusaha menjawabnya.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar.” “Aku mencintaimu.” aku menghela napas. Edward. meringkuk didadanya. Sayang. “Dia mengelabuhiku. semua sakitnya hilang. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida.” jawabnya.” aku menambahkan. Dahiku berkerut. Bella. Tapi itu membuatku teringat.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga. rasanya sangat lelah. dia tahu darimana asalmu. “Aku mencium bau bensin. Alice. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya.” kata Carlisle.” Edward menenangkanku. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. “Sekarang tidurlah. “Aku tahu.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. “Alice. melayang-layang.” aku menolak. videonya. letih karena perasaan lega. aku ingin tidur. “Alice. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku.” Aku mencoba membuka mata. Dia menonton video rekaman kami.

djAnGgo 382 .

Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. memar hampir di sekujur tubuh. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya. Dia sedang mencari makan. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. Kupikir dia menyandera ibuku. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.” ia berbisik. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. di rumah sakit ini. “Oh. Renée ada di sini.” “Tidak. “Aku tak yakin. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor.” Ia berhenti. “Edward?” Aku menoleh sedikit. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. suaranya terdengar menyesal.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. begitu juga empat rusukmu. kakiku bengkak. Mereka memberimu transfusi. “Sebentar lagi dia kembali. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. cahaya terang menyilaukan pandangan.24. “Aku bodoh sekali. Aku bisa saja terlambat. dan kau kehilangan banyak darah. Aku tidak menyukainya. Aku berada di ruang yang asing. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku. Edward. tapi kepalaku semakin pusing.” Edward berjanji. Edward. Ibuku ada di sini. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. ruang putih. “Jangan. aku menyukai aromamu yang asli. di sini. sesaat aromamu jadi berbeda. “Alice sudah telepon mereka. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. “Kakimu patah. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. di bawah hidung. well. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. “Aku nyaris terlambat. itu mungkin saja terjadi. “Dan kau belum boleh bergerak. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. djAnGgo 383 . ia meletakkan dagunya di ujung bantal.” “Dia mengelabuhi kita semua. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. beberapa bagian tengkorakmu rusak. “Harus kuakui. tidak boleh.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. di atas kepalaku. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik.” ia menyuruhku diam. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. Ia langsung tahu maksudku. “Sekarang semuanya baik-baik saja. dengan besi pengaman.

” Akhirnya ia memandangku. lebih baik daripada yang kubayangkan. untuk berhenti. setengah tersenyum.Aku menunggu jawabannya dengan sabar.” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.. “Rasanya mustahil. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku.. bahkan. “Aku harus mencintaimu. “Mustahil.” djAnGgo 384 .” ia berbisik. Tapi aku melakukannya. “Lebih baik.

” aku menjelaskan. Ia menatap langit-langit.” aku meminta maaf lagi.” Suaranya menenangkan.” “Memang tidak. memalingkan pandang. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya.” ujarku menyesal. Emmett dan Jasper membereskannya. Kau seharusnya menungguku.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. dahinya kembali mulus bak pualam. sambil menggeleng. “Ya. “Bukan. mengingatkanku akan sesuatu. “Dari semua yang perlu dimaafkan. “Takut jarum. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati. Ia menatapku. “Takkan kubiarkan.. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 .” ia menimpali dengan geram. Edward langsung waswas. “Alice tak pernah mengerti. kau tahu.” “Dan Alice dan Carlisle. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya. “Mereka juga menyayangimu. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain.. “Jarum. tentu. Kuputuskan untuk mengubah topik.. “Auw.. “Ada apa..” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. “Aku tahu kenapa kau melakukannya. tapi sesuatu menghentikanku. melihat kantong transfusi menahan tanganku. tapi hanya sedikit. kau tetap tinggal. seharusnya memberitahuku.” “Aku tahu.” Aku memutar bola mataku.” Aku meringis.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri.” “Ya. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. itu sebabnya dia tidak ingat. Aku merinding. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk. tidak masalah. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu.” “Mereka harus meninggalkan ruangan.” kata Edward. Ini membingungkanku. tapi wajahnya kelam oleh amarah. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku.” “Maafkan aku. Tapi jarum infus.” “Tapi kau tetap tinggal. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal.” “Kau takkan membiarkanku pergi.” “Oh.” Suara Edward tenang. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. dia langsung lari menemuinya.“Maafkan aku. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. “Ada apa?” tanyanya waswas. ngeri membayangkannya. kemudian kepedihan terpancar di matanya.. maksudku. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali. Aku memahaminya sekarang. pertama bingung. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas.” aku bertanya-tanya. kemudian meringis. “Oh.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice. perhatiannya teralihkan.” Suaranya berubah kelam.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. darahmu berceceran di mana-mana. Aku memandang ke bawah. samar-samar menguarkan kebencian.

tentu saja aku kesini ditemani orangtua.” ia menambahkannya lugu. “Kau setuju menemuiku.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus.untuk berbicara dari hati ke hati. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas... kau tahu kelanjutannya.” djAnGgo 386 . hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. well. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice.

Terdengar suara pintu berderit. Tak ada jendela yang pecah.Aku memikirkannya beberapa saat. Mom. “Mom. lalu berbaring dan memejamkan mata. Ia menarik diri. “Jangan lupa bernapas. Ia langsung tersentak.” Dahinya berkerut. “Bella. Setelah semua diatasi. suaraku penuh sayang dan lega. Posisinya diam tak bergerak.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya. tidak apaapa. Ia sedang berbicara dengan seseorang. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. “Hmmm. Ia tertawa.” ia berjanji. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. “Jangan buat aku pergi menghampirimu. dan ia mengintip dari sana. “Dia tak pernah pergi. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. Ia menarik napas panjang. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali.” gumamku pada diri sendiri. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku.” aku berseru. dan tatapannya mengira-ngira. Aku tak bisa membiarkannya pergi. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri.” aku mencoba menenangkannya. bunyi bip itu mendadak berhenti. Tapi kemudian bibirnya menegang. Aku bisa mendengar ibuku sekarang.. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya.” katanya. meyakinkan semuanya baik-baik saja. djAnGgo 387 . “Ini bakal memalukan. Tapi sekarang semua baik-baik saja. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. “Kurasa aku mendengar ibumu. Monitor langsung bergerak kacau lagi. tersenyum. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.” Ia tersenyum. aku sedih sekali!” “Maafkan aku.” katanya. misalanya. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat.. matanya masih terpejam. kami membuatnya sangat meyakinkan. mungkin perawat.” aku mengeluh. “Aku akan tidur sebentar. aku jadi penasaran. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. dan ia terdengar lelah dan sedih. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. “Mom!” aku berbisik.” “Tidak juga. “Jangan tinggalkan aku.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. “Aku takkan meninggalkanmu. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu.” ia berjanji. “Aku belum selesai menciummu. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. meskipun teramat lembut. untuk menenangkannya. kemudian tersenyum. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun.” bisikku sinis. sungguh-sungguh.

“Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu. luka-lukamu parah sekali.” Aku bisa merasakannya.“Aku senang akhirnya kau tersadar.” “Aku tahu. tapi aku tak ingin memikirkannya. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa.” “Jumat?” aku terkejut.. djAnGgo 388 . “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat.. Aku mencoba mengingat hari ketika.” Ia duduk di tepi tempat tidur. kau tak sadar cukup lama. Sayang. Sayang.

warna kuning dengan bingkai putih.” Aku meragu. meskipun masih sangat muda. ” “Mom. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin.” Edward kembali pura-pura tidur. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur.. dasar bodoh. tunggu sebentar!” selaku. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. Mom. “Aku ingin tinggal di Forks.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. dan dia sama sekali tak bisa memasak. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. Ia menaruh tangannya di dahiku. Bukan ide bagus. Dia sebatang kara disana. Dia baik. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. oh. Cullen ada di sana.” kataku. dan teras persis seperti di film-film tua. Charlie. jadi aku mencoba alasan lain.” ia mengingatkanku. Mata Edward berkilat menatapku.” “Memang. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri.. kau tidak menyukai Forks. tapi mata Mom mengamati wajahku. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. kali ini benarbenar disengaja. Mom. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. Aku hendak berbohong. Ia menoleh ke arah Edward. kau percaya?” “Itu hebat. Ide ini tak terbayangkan olehnya. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. heran. dan pohon ek raksasa. Dan dia lebih mirip model daripada dokter.” aku meyakinkan mereka. salju dan semuanya. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. Alice.” Aku tersenyum. karena bagian itu tidak diperban. Lalu matanya kembali melirik Edward.” “Tapi kau tak perlu lagi. lalu memandangku dan Edward bergantian. dan kelembapannya tak seburuk itu. aduh!” Aku mengangkat bahu... Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. “dan Charlie membutuhkanku.“Kau beruntuk dr. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns. kembali menghadapku. kemudian mengerang. “Kenapa?” “Sudah kubilang.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . Mata Edward masih terpejam. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. Sayang. Tangannya bergerak ke sana kemari. “Di Florida. “Bella. “Di mana Phil?” tanyaku cepat.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward.” aku menimpali sepenuh hati. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. “Tidak apa-apa. kami sudah sering membicarakannya.” ia tertawa. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya.” Ia merengut. dan aku punya beberapa teman cewek”.” “Mom. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. Dia gadis yang menyenangkan. berusaha terdengar bersemangat. sekolah. Aku tinggal di Forks. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. “Tidak terlalu buruk.

disana. djAnGgo 390 .” Uh-oh. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. dialah alasan terbesarku.” Ia bimbang.” aku mengakui. memandangi Edward yang diam tak bergerak. “Tentang apa?” tanyaku. “Dia salah satu alasannya. Tak perlu kuakui. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. “Ya.

. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. “Aku sayang kau.” ujarku. dan. “Aku tahu itu.” ujarnya. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. Edward akan menemaniku.” Begitu perawat menutup pintu. Bella. aku tak ingin kehilangan dirimu. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. bangga pada dirinya sendiri.” aku menenangkannya. “Well. ya Tuhanku.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. Edward langsung berada di sisiku. aku akan baik-baik saja.” Mata Edward tetap terpejam.” “Tidak.” “Tidak apa-apa.. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. Jangan khawatir. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya. sejauh yang bisa kuingat. Dia akan ke sini sebentar lagi. “Aku cukup tergila-gila padanya. tapi kau masih sangat muda.” aku meyakinkannya. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. “Kau tegang. Sayang. kalau kau membutuhkanku.” ia mengakui malu-malu. Mom.” ia menimpali. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. langsung senang.” “Aku baik-baik saja. aku takkan menyadarinya. Sayang?” “Aku ingat. Aku tak tahu kau akan segera sadar. “Aku tidak akan sendirian.” “Aku akan segera kembali.” Suaranya terdengar ragu-ragu. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. djAnGgo 391 . kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah. Aku mendesah.. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. “Oh. dia luar biasa tampan. Kemudian ia mendesah. berusaha menjaga suaranya tetap pelan. Kau ingat dulu kau menari di sana. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. “Aku juga berpikir begitu. Aku tidur di sini.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu.” “Aku juga sayang kau. “Aku akan kembali malam ini.. Mom. Mom. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi. kau tahu. “Aku bisa tinggal. “Aku terlalu tegang. menepuk-nepuk tanganku yang diperban.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal. Mom. Mom. Aku cuma naksir. Sayang..” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. Bella. “Benar. memalingkan wajah. kemudian pergi.” Nah. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. dan aku tidak suka berada di sana sendirian.” tuduhnya.” Aku bergidik dan meringis ngeri. dia kelihatan sangat baik.” “Kejahatan?” tanyaku kaget.. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. Mom mengecup dahiku.

“Menarik. “Apa?” djAnGgo 392 . sama sekali tidak menyesal.” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. lajunya sangat cepat. “Mobil bagus.Ia tersenyum.” Matanya menyipit.

sambil menepuknepuk kantong infus. Bella. meskipun. “Ya. suaraku parau. “Aku akan tinggal di Forks. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. tapi tidak juga. “Sssstt.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. lebih mendekati hitam daripada keemasan. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. well. “Aku tidak membutuhkan apa-apa.” “Jangan tinggalkan aku. “Aku takkan kemana-mana. seperti vampir sejati. “Waktunya untuk obal penghilang sakit.” ia berjanji..Ia menunduk ketika menjawab.” Tapi jantungku tak mau tenang. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. “Tak perlu berpura-pura berani. “Tidak. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. saat napasku semakin liar.” ia mendesah. Kupikir Florida. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang.” aku memohon.. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal.” Ia menunggu. Sayang. Sayang?” tanyanya ramah. dan ibumu. tidak.” ia menjelaskan. rasa sakit yang jauh lebih parah. “Baiklah. “Aku terkejut. “Aku takkan meninggalkanmu. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. Kurasa djAnGgo 393 . ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” Ia nyaris tersenyum.” Ia membelai wajahku hati-hati.” Aroma napasnya menenangkan.. mengancam menghancurkanku. Lalu wajahnya serius.” sahutku hati-hati.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. “Aku bersumpah. lalu pergi. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap.. tenanglah. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Matanya berwarna gelap. Ia tidak mengatakan apa-apa. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. aku merasakan nyeri di dadaku. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu. sebelum beralih ke monitor. tapi aku hanya menggeleng. “Lebih baik?” tanyanya. Rusukku nyeri. kupikir itulah yang kau ingingkan.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Bella. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih.” Ia memandang Edward serius.” gumamku.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. kau perlu beristirahat. Bella. Matanya lebar dan serius. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri.

bereaksi berlebihan. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. bahwa akulah alasan kau berada di sini. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. kaulah penyebabnya. tentu saja tidak. aku tak ingin tanpa dirimu. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu.” “Nyaris. “Alasan aku berada di sini. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya. hidup-hidup.” Aku merengut...” “Ya.aku memilih kata ‘overreaction’. Yang benar saja.” djAnGgo 394 . Bella.” ia berbisik. menjaga suaraku agar tidak gemetaran.

djAnGgo 395 ... semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. jadi kurasa kau akan menemukan caranya.. dan aku ingat. “Bagus. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan.” Mata Edward sepertinya berubah hitam.” Meski begitu ia tidak berjanji. mulai jengkel. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. “Kau telah menyelamatkanku. “Apa?” “Kau tahu maksudku.” ia menambahkan dengan kasar. Semudah itu. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat. marah. Tatapannya tajam. mencoba melepaskan diri.” ia melanjutkan berbisik. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.” desakku.. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu.” kataku. kemarahannya mereda.” Aku tahu aku harus tetap tenang. terbaring di lantai.. “Tapi kelihatannya masuk akal. Ia tidak akan menjawan... Kepanikanku nyaris tak terbendung.. “Kenapa kau melakukannya.. lalu meletakkan dagunya di sana. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward. “Kenapa?” ulangnya hati-hati.” Suaranya tercekat. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku.. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. “Aku sedang memikirkan yang lain.” katanya pelan.. Raut wajahnya lembut. “Meski begitu. Bukan.. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. itu bukan yang terburuk.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku.” aku berbisik.” kataku. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. sekarang aku mau tahu kenapa. Ia terkejut. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana. mulutnya seolah dipahat dari batu.” Aku mulai marah sekarang. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. dingin. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. fakta itu tak terlewatkan olehku.” “Tapi kau tidak membunuhku.” “Aku bisa saja. “Berjanjilah padaku. Kalau bukan karena kau. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. Lubang hidungnya kembang-kempis.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini... itu sangat jelas. entah itu akan membunuhmu atau tidak.. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku.” Ia meringis mendengar kata-kataku. dan rasa panik mencekat paru-paruku. meringkuk dan terluka. yang paling parah adalah merasa. kau boleh pilih. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.. aku sudah membusuk di pemakaman Forks.

” djAnGgo 396 . ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal. Aku tidak menyerahkan apa pun.” Suaranya lembut.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta.” “Bella.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak. kau tidak tahu. “Aku juga ingin jadi Superman. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini. aku tidak berharap begitu.” Ia berhenti sebelum melanjutkan. “tapi hidupku sudah berakhir. dan aku masih tidak yakin. “Kurasa aku tahu.” aku berkeras.

“Aku mungkin takkan mati sekarang. “Aku tak bisa melakukannya.. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. Wajahku memucat. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian.” kataku pelan. “Itu masalahku. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya.. Ia membuka mata. Aku melihatnya berusaha menekan amarah.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya.” aku berkeras. Lebih baik begitu. itu juga bukan masalah.” “Kau keliru.” “Bukan masalah. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. tapi tak ada suara yang keluar.” Aku menatapnya geram. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. Aku membuka mulut. “Aku bisa mengatasinya. dan aku seharusnya tidak ada.” “Aku bukan hadiah lotere.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada. Aku takkan melakukannya padamu. Bella. dan berkata.” geramnya. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. dia ingin aku melakukan yang sama. Aku menutupnya lagi. djAnGgo 397 .” “Sungguh.. matanya terpejam. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. Meski begitu ia sangat tenang. Dan aku akan menjadi tua.. atau kurasa beberapa hari yang lalu.” ia mengingatkanku.” Aku mendengus. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. dia terbiasa hidup sendirian. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar.” Ia menatap geram padaku.” “Tepat sekali.“Kaulah hidupku.” Aku semakin baik dalam hal ini. Aku menatapnya.” Sekarang ia cemas.” gumamku akhirnya. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. Ia menunggu. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. Tiga hari. “Itu bodoh. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. ‘Begini. tapi suatu saat.” Kerutan di dahinya semakin dalam. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka.” tukasnya. dan ia balas menatap. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh.” kataku. “Tidak. “Tentu saja kau akan sembuh. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi... Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya.. “Aku bakal mati.’ Dan aku tidak mempercayainya. Sama sekali bukan masalah. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. api dalam nadiku. Paling lama dua minggu. mengambil uangnya. terkejut. Aku tak bisa menahannya. Yang seharusnya terjagi..seharusnya bukan apa-apa.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. “Begini saja. Bella. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. Dan Charlie lebih fleksibel. Dan rasa sakitnya?” tanyanya. “Itulah yang mestinya terjadi. “Aku takkan sembuh.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan. Yakin.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat. setelah itu .

Kau jauh lebih baik. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung. “Bella.“Benar. kita tidak akan membahasnya lagi.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.” djAnGgo 398 . dan inilah keputusanku.

tahu. Kau benar-benar keras kepala. dan detak jam besar di dinding. tetesan. “Alice takkan berani. ya kan?” Aku mencoba menebak. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya. Ia tertawa dingin.“Kalau kaupikir ini akhirnya.” gumamku.” aku berjanji.” aku berbohong. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. “Usaha bagus. Akhirnya ekspresinya melembut.” Ia menggapai tombol. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal.” Aku menggeleng tak percaya. itu membuatku pusing. “Aku tidak percaya. “Segala sesuatu berubah.” “Oh. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny. “Aku yakin itu namanya jalan buntu. “Auw.” “Jadi menyerahlah. mengabaikan rasa sakit di pipiku. berarti kau tidak mengenalku. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding.” aku mengingatkannya. “Aku baik-baik saja. tapi itu juga tidak terjadi. “Aku takut memejamkan mata.” “Aku tidak takut jarum.” Aku balas tersenyum. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.” Mataku menyipit. suatu hari nanti. “Aku takkan meminumnya. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. “Permisi. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat. Selama kau senang karenanya.” katanya pada djAnGgo 399 . kau sakit.. “Jangan kelewat berharap.” “Itulah hal terindah menjadi manusia. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. kau akan melupakannya. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku.” Detak jantungku mulai memburu. “Itu berarti selamanya.. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. “Alice sudah melihatnya. Jangan khawatir.” “Dia keliru. bunyi bip.” gumamku.” “Kau harus beristirahat. aku takan pergi ke mana-mana.” aku menyarankan.” katanya tenang. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. aku akan di sini. “Aku tidak mau tidur lagi.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice.” Matanya kembali kelam. “Jangan!” Ia mengabaikanku. Dia juga melihatmu mati. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.” Kemudian ia tersenyum simpul. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.” ia memberitahuku. “Bella.” katanya lembut.” Suara itu terdengar bosan. “Sudah kubilang. Ia melihat ketakutan di mataku. dan mendesah putus asa.” Aku mendesah. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” Lama sekali kami bertatapan. kau cuma naksir aku.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya. “Aku akan menyuruh perawat ke sana.

Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan. “Nah. Ia bersedekap dan menunggu. Sayang. Ia menatapku tenang. Aku terus menatapnya. ini obatnya.Edward. masih waswas. bersandar di dinding.” djAnGgo 400 .” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.

” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala..” “Aku tahu. Aku menoleh sedikit.“Terima kasih. mencari. bagai nina bobo.” bisiknya.” desahku. “Aku akan ada di sini. “’Tu tidak sama. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. jangan khawatirkan itu. Kemudian aku pun tertidur.. “Tinggallah. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas. “Aku mencintaimu. “Sudah. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.” gumamku datar. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Terima kasih. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku. “Sama-sama.” gumamku. selama ini membuatmu bahagia.” gumamku. selama ini adalah yang terbaik untukmu. “Aku juga. Bella. “Kurasa sudah bereaksi.” ia tertawa pelan.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku. saat kelopak mataku mulai memejam. tapi terlalu berat. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan. “Seperti kataku. Suaranya indah.” ia berjanji. djAnGgo 401 .”Kata itu nyaris tak terdengar. Ia tahu apa yang kucari. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Ia tertawa.” gumamnya. Hanya sebentar. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya.

djAnGgo 402 .

Sepatuku hanya satu.. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. djAnGgo 403 . melihat sebentar ke layar sebelum menjawab.” sahutnya hati-hati. jam berkunjung. serta tongkat berjalanku. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami.. bahkan dalam pikiranku sendiri. warna biru gelap. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. Charlie. “Halo. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. ia menyelinap ke jok pengemudi.. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. Kaciuali. aku tidak akan meninggalkan rumah.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan.” Ia tersenyum mengejek. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. dan aku tercekat. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. “Sudah. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. sebab kalau bukan karena Edward. Itu yang tak dapat kusangkal. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup.” Ia tersenyum. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. aku yakin itu. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. Charlie. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. Setelah aku duduk nyaman. Perhatianku teralih dering telepon. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Terhadap Charlie. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. bukan?” ujarku. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. “Charlie?” Dahiku berkerut. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. Aku benarbenar tidak suka kejutan. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. berimpel. dan tanpa lengan. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Atau sepatu yang kukenakan.. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu.. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam.. Dan ia tahu itu. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku.

Tyler. Ia mengabaikanku. tapi hanya di permukaan. kegembiraannya tampak nyata. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya. “Halo.Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. “Ada apa?” desakku. Ia menunggu sebentar. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . “Biarkan aku bicara padanya.” saran Edward.” Suaranya sangat ramah. ini Edward Cullen. “Kau bercanda!” Ia tertawa. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya.

Air mata kemarahan menetes di pipiku. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. Juga karena kecurigaan samar. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. “Hmmm. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. “Apa?” gumamku. itu sudah jelas. Ia terkejut melihatku. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Bella. “Aku akan ikuti maumu. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. “Sungguh. Bella. bingung.. Tanganku tidak hitam ketika kutarik. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. Aku menyerah.” ia mengakui. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. “Ini benar-benar konyol. Tapi prom.” Aku menoleh ke luar jendela. sebenarnya harapan. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu.” Bibirku mencebik. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Tapi nanti akan kaulihat. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. Jangan tersinggung.” Aku mengabaikan kata-katanya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku.. dan Rosalie.” desaknya. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. setiap malam.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. Nasib burukku belum berakhir.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu. “Jangan mempersulit keadaan. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. Kemudian ia menutup telepon. Sekarang semua sudah jelas. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. senyum lebar menghiasi wajahnya. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang.mengerikan mulai terbentuk di benakku. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini. dan Emmett. djAnGgo 405 . Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. “Ayolah. “Karena aku marah!” “Bella. Ia menunjuk tuksedonya.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. “Baiklah. benar-benar jauh melenceng.” Nada suara Edward berubah. yang berkembang di hatiku seharian ini. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. Pertama. “Bersama Jasper. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan.

. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. Emmett senang berada di dekatku. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada.. djAnGgo 406 . Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. reaksi manusiaku sangat menghiburnya. menurut dia. terpikir olehku hal lain. atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu.Perasaan tenang itu langsung lenyap.

tempat Charlie tak bisa ikut campur. Ketika kami sampai di dalam. kelihatannya Tyler tidak. well . “Meski begitu. “Tentu saja. Edward dan aku tak terpisahkan. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. meskipun ia praktis menggendongku. “Bella.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku.” Ia nyengir. Ia bisa melihatanya di wajahku. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. Ia mendesah. “Well. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.” Kugertakkan gigiku.. Aku takkan pernah melepaskanmu.” Ia menggeleng. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. ya Rosalie. pestanya berlangsung di ruang gym. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. Kami sudah di sekolah sekarang. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Di sini.” djAnGgo 407 . menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah.” katanya lembut. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. Penampilannya sungguh di luar dugaan..” olokku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. lalu tergelak. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. bagian tengah lantai tampak lenggang. prom diadakan di ballroom hotel. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi. Hari ini langit berawan tipis. Dan Rosalie. Di Phoenix... hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. “takkan seburuk itu. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini.” Ia tersenyum enggan. tiba-tiba curiga. “Sudah. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. aku janji.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Ia tetap memelukku erat-erat. kau seberani singa. sudah. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik.” Aku melihat ke arah lantai dansa. Aku tak bergerak dari tempat duduk. termasuk diriku sendiri. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi. Aku menelan liurku. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. Berdansa. Ia mengulurkan tangan. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Di sekolah. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. bahkan tidak dirimu sendiri. diam-diam berpuas diri. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. “Oh. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. tangan terlipat. tentu saja aku bersama kelompok vampir.

“Edward.” Tenggorokanku benar-benar kering.” Ia membayar tiket kami. Kupeluk lengannya. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri. djAnGgo 408 . “Aku punya waktu semalaman.” ia mengingatkan. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. kemudian membimbingku ke lantai dansa.“Apa pun. dan menyeret kakiku. hingga aku hanya bisa berbisik.

“Seratus delapan puluh lima senti. “Hei. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. kini aku merasa kasihan pada Jacob. Jake. wajahnya tampak marah. sedikit. Kemudian kami pun berdansa. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. aku percaya. “Hai. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. dan tak seimbang. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. Wajah Edward tenang. “Yeah. kuharap setidaknya kau menikmatinya. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. “Jaga sikapmu!” desisku.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. aku memang berharap kau ada di sini.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. Jacob.” aku mengakui. sedikit malu-malu. bodoh. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. lalu mundur selangkah. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Edward mengeram sangat pelan. tidak fokus akibat berputarputar. “Dia ingin mengobrol denganmu.” ia mendesah. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. sesaat menarikku lebih rapat. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.” Kami tidak benar-benar berdansa.” Jacob sampai di tempat kami. Sebagai gantinya. mengangkatku. “Ya. “Wow. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . Jacob Black.” kata Jacob ramah.. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. “Kau percaya. ekspresinya hampa. “Jadi.“Jangan khawatir. jangkung. Itu bagus juga. “Aku bisa.” ia balas berbisik. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. “Oke.” Aku balas tersenyum. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. Tapi senyumnya tetap hangat. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. teramat sangat tidak nyaman.. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. aku balas tersenyum padanya. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. Edward hanya mengangguk. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri. aku bisa menduga jawabannya. “Terima kasih. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. “Well. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Suara Edward terdengar sinis. ini tidak terlalu buruk. Bella. “Tapi ia sudah bersama seseorang. memandang Edward untuk pertama kali. Aku mengikuti arah pandangannya.” gumamnya. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.” gumamku. Melihat ekspresi Edward tadi. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. Ia berjalan menghampiri kami.

sama berpaling. “Omong-omong. merasa jengah. djAnGgo 410 .” ia menambahkan malu-mal. kau cantik sekali.

Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. meskipun tangannya masih di pinggangku. “Katakan saja. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik.” desakku. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Jacob. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. “Setidaknya. “Kami akan mengawasi. dan ini kata-katanya. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. bahwa. Jacob berpaling lagi. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. “Lagi pula. Bella.“Mm. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya. Jacob. “Aku terjatuh. “Jangan marah. eh?” “Yeah. sekali lagi merasa jengah. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. aku pasti sudah mati.” “Aku tahu.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.. Jacob. katanya. kecewa. memperingatkanmu. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini.” ujarnya.. tapi hanya supaya kau tahu”. “Oke. Jacob tak berani menatapku. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan.” Itu bukan pertanyaan. tapi.” gumamnya. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. meskipun aku tahu jawabannya. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. trims. Dia tidak percaya.” olokku.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. “Pikirnya. dan tanganku melingkar di lehernya. sementara wajahnya sendiri datar. Ia masih tampak canggung.. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. namun lemah. “Ini buruk sekali.. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. djAnGgo 411 .” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.” “Aku tak peduli. katakan saja padaku.” “Aku tahu itu. Jake. ya kan?” “Yeah. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. maafkan aku. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. aku merasa marah. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu. Ia memalingkan wajah. bukan. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. merasa malu. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. “Katanya.” gumamnya. Dia. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy. Mataku menyipit. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku.” “Well. ini kedengarannya buruk sekali. “Lupakan saja.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. “Kalau begitu..” Ia menggeleng. dia ingin kau putus dengan pacarmu. Aku tertawa keras-keras.” Aku balas tersenyum. Katakan saja apa yang harus kaukatakan.” Aku ikut tertawa. “Begini. bukan aku”. “Dia menyuruhku memberitahumu.. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. Dia memintaku untuk memohon padamu. ‘Hei. dia memandangku sekarang.” Jacob menyahut.” aku meyakinkannya. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya. dan terlepas dari janjiku. Jacob.” Ia menggeleng jijik.” aku meminta maaf. ini bodoh sekali.. Beritahu aku. “Dia masih percaya takhayul. hhh.

” desahku.” Musiknya berhenti. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. djAnGgo 412 . “Tidak. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku. Aku tahu dia bermaksud baik.” Ia tertawa lega. “Bilang padanya aku berterima kasih. “Jadi.“Aku tidak terlalu keberatan. dan kulepaskan lenganku dari lehernya.

tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. Lauren. sampai ketemu. Aku menunggu dengan sabar. Bella. Kau lebih dari sekedar cantik. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Well. Jacob. bingung. Angela juga aga di sana.” “Maaf.” gumam Jacob. itu bisa dibilang menghina. aku tidak melihatmu di situ. Mulutnya tegang.” ia meralat tajam. Bukan apa-apa.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. aku punya daya lihat yang sempurna.” desahku.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. merasa senang. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. Bulan telah muncul di langit. “Tidak juga. kerutan di wajahnya semakin nyata.” ia menjelaskan. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. “Dia menyebutmu cantik. yang sedikit lebih pendek daripadanya. sampai ketemu. dan ia memandang kakiku yang digips. melambai dengan setengah hati.” katanya singkat. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Jessica melambai. sambil terus memelukku erat di dadanya. “Merasa lebih baik?” godaku. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Kemudian kami sampai di luar.” Wajah Edward cemberut. “Hei. djAnGgo 413 .” Aku tertawa. Ia setengah tersenyum.” Kami kembali berdansa. “Oh. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. aku memaafkanmu. Samantha. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Jadi. matanya resah. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. Tapi ada hal lain. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. Lagi pula. “Intinya?” aku memulai dengan lembut.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. Begitu kami sendirian. tampak jelas di antara awanawan tipis. “Kau mungkin sedikit memihak. Wajahnya sangat serius. dan aku balas tersenyum padanya.” “Terima kasih. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. dan Conner menatap kami geram. “Tidak apa-apa. Ia duduk di sana. Lee. “Jangan marah pada Billy.Tangannya masih di pinggangku. “Kalau begitu. Aku yang mengambil alih.” “Kurasa tidak. “Mengingat penampilanmu saat ini. “Yeah. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” “Aku tidak marah pada Billy. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie.” Ia melangkah mundur. Ia menunduk menatapku. Aku tersenyum.

” katanya pelan. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. toh harus berakhir juga. lagi. “Akhir yang lain.” gumamku setengah mendesis.” gumamnya. Ia mendesah. langsung tegang.Ia mengabaikanku. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. kalau aku bisa djAnGgo 414 .” “Beberapa hal tak perlu berakhir. menatap bulan. “Aku membawamu ke prom. “Twilight . Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. akhirnya menjawab pertanyaanku.

. “Aku tahu. Ia tersenyum sekilas.. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. “siap menjadikan ini akhir hidupmu. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya.” ia menyetujui.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.” Ia masih nyengir.” kataku. Kucibirkan bibirku.. aku langsung menyesal. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku.” Beberapa saat kami terdiam. Ia menunggu. aku penasaran. menunduk. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. ragu-ragu.” “Itu karena aku bersamamu.” selaku. lalu menggeleng marah. “Memang.” Aku mendesah.. kemudian ia tampak senang. Aku memandangi gaunku.. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. acara istimewa. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah. “Kau siap mengakhiri ini semua. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. Kugigit bibirku dan mengangguk.membuatnya terjadi. “Aku masih ingin tahu. kau benar. bahwa kau akan merubahku. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa.. “Well .. akhirnya. “Aku kan tidak tahu. “Baiklah. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku.” Aku bergidik mendengar kata-katanya. daripada percaya bahwa kau serius..” “Tapi aku memang serius. Aku ingin kau menjadi manusia .. “Kaupikir itu sejenis acara resmi. tersenyum. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. sedih. “Oke. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. “Manusia?” tanyanya datar. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya.” desaknya. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom. “Tidak lucu tahu. atau sedih.” ia menimpali. aku menduga itu semacam. “Tidak. nyaris kepada dirinya sendiri. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.. Kumohon.. “Kurasa itu akan membuatmu marah.” aku buru-buru mengaku. ini tidak lucu.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. Ia memilih kata kuncinya.” tukasnya keberatan. senyumnya memudar.” Ia menghela napas dalam. menatapku seraya tersenyum simpul. Kau siap djAnGgo 415 . prom!” ejekku... “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.” gumamnya.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. Ia menunggu dalam diam. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain. “Tepat. “Aku tidak ingin memberitahumu.” ia memulai. Ia menatap bulan dan aku menatapnya.” “Kau sudah berjanji. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya.. “Aku tahu. memainkan chiffon-nya.

” sergahku. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku. satu alisku terangkat.” djAnGgo 416 . ini baru permulaan. suaraku berbisik.” “Aku tahu siapa diriku.merelakan semuanya.” “Ini bukan akhir.” katanya sedih. “Kau sama butanya denganku. “Aku tidak pantas mendapatkannya.

“Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu. tersenyum. kau sudah siap?” tanyanya. lalu menjauh. kedua tanganku mengepal. “Kalau begitu. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. ya. melembut. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. Ia mengamati wajahku lama sekali. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku.” ejeknya. “Ya?” Ia tersenyum. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Aku sudah membuat keputusan ini. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. djAnGgo 417 .” Kutelan liurku. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga. jadi suaraku tidak terdengar parau. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan. dan aku yakin. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman.. cemberut mendengar pilihan katanya.” Wajahnya cemberut melihat tekadku. “Cukup untuk selamanya. Kusentuh wajahnya. napasnya terasa sejuk di kulitku. itu cukup. “Seorang gadis boleh bermimpi. “Bella. Wajahnya memang kelihatan kecewa.” Alisnya terangkat. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. Ia menghela napas. “Mmm.Aku mendesah. “Aku akan tinggal bersamamu. napasku tak beraturan.” kataku. Tanpa sadar aku gemetar. “Sekarang juga?” ia berbisik.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. “Ya. ia bakal kecewa. Ia tergelak misterius.” bisikku.” Ekspresinya berubah. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya.” jawabnya.” Dan ia pun membungkuk lagi.” kataku. “Dengar. Monster.. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. Tidakkah itu cukup?” “Ya. “Untuk sekarang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->