TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. Dad. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. tampak truk baruku. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. well. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. itu kamarku sejak aku dilahirkan. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Ditambah lagi. dinding biru cerah. Di sana. aku tak bisa menyangkalnya.” kata Charlie parau. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. kanopi di antara cabangcabangnya. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. Tentu saja pemandangannya indah. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. masa-masa awal. supaya kami gampang berkomunikasi. Terlalu hijau. sekali lagi merasa malu. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. aku menyukainya. Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. lega bisa memandang murung ke luar jendela. “Aku senang kau menyukainya. Kamar itu sangat familier. Yang membuatku amat terkejut. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. sebuah planet yang asing. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. baru buatku. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. dan aku harus memakainya dengan Charlie. Ini permintaan ibuku. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. Lantai kayu. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. “Wow. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. semua ini bagian masa kecilku. Truk itu berwarna merah kusam. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi. ia tidak pernah membuntutiku. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur.

Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. jelas bukan atlet. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah.untuk menangis habis-habisan. ketika aku harus memikirkan esok pagi. orang aneh. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. pemain voli. atau pemandu sorak mungkin. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. sporty. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. tapi lembek. mengundang penasaran. meskipun sering terpapar sinar matahari. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. Barangkali tipuan cahaya. Tubuhku selalu langsing. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. tapi aku djAnGgo 10 . Aku harus berkulit coklat. pirang. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. sekarang 358.

Tak ada yang berubah. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. Rasanya mustahil berada di rumah ini. tapi semua itu tergantung warna. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. titik. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. Hujan masih gerimis. tak pernah benar-benar sepaham. dengan dinding panelnya yang gelap. dan menguncinya. Aku malu melihatnya. nyaris transparan. Tapi penyebabnya tidak penting. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. Mungkin ada masakah dengan otakku. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. tak pernah selaras denganku. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Aku mengenakan jaketku. mengamati dapur kecilnya. setidaknya selama aku tinggal di sini. Kulitku bisa saja cantik. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. Dan besok baru permulaannya. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. Disini aku tidak memiliki warna. Tidurku gelisah malam itu. serta lantai linoleumnya yang putih. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. bahkan setelah aku selesai menangis. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. Yang penting adalah akibatnya. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. meski tahu doanya sia-sia. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. bening. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. Bahkan ibuku. Keberuntungan selalu menjauhiku. Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Aku berterima kasih padanya. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah.terlihat pucat. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. dan menerobos hujan. Itu membuatku tidak nyaman. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. tidak sehat. Charlie berangkat duluan. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. rak-rak kuning terang. kemudian menambahkan bantal-bantal. seperti di kandang. tampak deretan foto-foto.

truk setua ini pasti memiliki kekurangan. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. Bangunan sekolah. dibangun dengan batu bata warna marun. Radio antiknya masih berfungsi. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 .kuinginkan. Mesinnya langsung menyala. seperti kebanyakan bangunan lainnya. nilai tambah yang tidak terduga. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. tapi derunya keras sekali. Yah. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. letaknya tak jauh dari jalan raya. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. dan aku lega karenanya. Di dalam truk nyaman dan kering. yang membuatku berhenti. meskipun aku belum pernah kesana. dan peppermint . bensin.

Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Di tempat asalku.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. Aku memasukkan semua ke tas. Kantornya kecil. tak ada yang bagus. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. murid-murid lain berdatangan. gedung tiga dengan mudah kutemukan. Tak diragukan lagi. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. Ia mengenakan T-shirt ungu. Kulihat matanya berkilat terkejut. seperti Charlie. bunyinya TATA USAHA. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. Aku bisa melakukannya. mengikuti barisan-barisan mobil lain. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding.” kataku. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Ketika aku keluar lagi menuju truk. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam. Jaket hitam polosku tidak mencolok. Kelasnya kecil. sebuah jam dinding besar berdetak keras. Begitu sampai di kafetaria. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas.Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Di dalam keadaan cukup terang. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. Aku mempelajari petanya di dalam truk. berusaha mengingatnya. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. “Tentu saja. aku senang berada disini di Forks. berambut merah yang menggunakan kacamata. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. dan lebih hangat dari yang kuharap. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 . Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. dan jelas mencolok. Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Wanita berambut merah itu mendongak. Tak ada yang bakal menggigitku. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. Ada 3 meja di balik konter. karpet bersemburat jingga. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. Tak ada yang parkir disana. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur.” katanya. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. Disini. aku setengah membohongi diriku. dan peta sekolah. dan menarik napas panjang. dan menyilangkan talinya di bahu. Ia tersenyum dan berharap. “Ini jadwal pelajaranmu. aku menyadarinya dengan perasaan lega. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. aku akan segera menjadi topik gosip. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian.

yang satu berambut pirang. yang lain juga berkulit pucat. bukan respon yang membangun. dan membosankan. Aku terus menunduk. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. Bacaan dasar : Brontë. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. rambutnya cokelat muda.. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. tentu saja wajahku memerah seperti tomat.mereka di tiang gantungan yang panjang. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Menyenangkan. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Mereka 2 orang gadis. Shakespeare. Chauter. Aku mencontoh mereka. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. Faulkner. Mason.. Aku sudah pernah membaca semuanya.

“Terima kasih. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. suaranya berupa gumaman sengau. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran. “Bella. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. “Mmm. aku bisa menunjukkannya padamu. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. “Aku akan ke gedung empat. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. tipe anggota klub catur. meskipun papan tandanya jelas. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. Setelah 2 pelajaran. dengan Hefferson.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.” Ia berharap.” Jelas tipe kelewat suka menolong. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku.” ujarku. “Cerah. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. “Semoga berhasil. dan aku mendesah. Mr.” “Wow. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta. Vanner.” katanya ketika aku meraih gagang pintu. Tubuhnya mungil. Aku mencoba berdiplomasi. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. “Aku Eric. Guru Trigonometriku..” tambahnya. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara. Pemerintahan. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. “Jadi.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan. Ketika bel berbunyi. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. lebih pendek daripada aku yang 160 senti. Aku tak ingat namanya. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis. wajahku merah padam. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. Aku tersenyum samar dan masuk. “Kau Isabella Swan. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain.” “Ibuku setengah albino. djAnGgo 15 . “Kulitmu tidak terlalu cokelat. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. Aku tersenyum hati-hati. “Sangat. Beberapa bulan saja di tempat ini. di gedung enam. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. yang sudah reda..” aku meralatnya. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. Eric mengantarku sampai pintu. Aku tergagap.

Cowok dari kelas bahasa Inggris. Eric. djAnGgo 16 .Aku tak berusaha memperhatikannya. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran. melambai padaku dari seberang ruangan. Disanalah. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. ketika aku pertama kali melihat mereka. Ia memperkenalkanku kepada mereka. duduk di ruang makan siang. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku.

rambutnya gelap ikal. seolah temanku telah menyebut namanya. apelnya masih utuh. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. atau si cowok berambut perunggu. Mataku tertuju kembali ke yang lain. begitu kontras dengan warna rambut mereka. Rambutnya hitam kelam. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. namun sangat mirip. sangat kurus. telah djAnGgo 17 . yang kelihatannya sudah kuliah. Ia berpaling dengan cepat. si cewek mungil bangkit membawa nampan. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. mungkin yang paling muda. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. keindahan yang memancarkan kekejaman. kaleng sodanya belum dibuka. dipotong pendek dan lancip. juga tidak makan. Mereka berlima. Mereka juga memiliki kantong mata. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. Aku terus mengawasinya. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. Yang jangkung tatapannya dingin. lebih langsing. Mereka pucat pasi. semua garis tubuh mereka lurus. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. berotot seperti atlet angkat besi professional. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. Mereka tidak terpana menatapku. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. keunguan. Ketika aku memperhatikan. Dari 3 cowok. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling. tergerai lembut di punggung. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. dari murid-murid lain. si albino. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi.Mereka duduk di sudut kafetaria. yang aku lupa namanya. yang 1 bertubuh besar. Lebih pucat daripada aku. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. sempurna. kaku. perawakannya mungil. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. Yang cewek-cewek kebalikannya. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. Namun toh mereka sama persis. Rambutnya keemasan. semuanya luar biasa. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. Tubuhnya indah. Mereka tidak bicara. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. Terlepas dari hidung mereka. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Yang lain lebih tinggi. yang sama sekali tak beranjak. sejauh mungkin dari tempat dudukku. Mata mereka sangat gelap. memar seperti bayangan. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. dari satu sama lain. Mereka semua mengalihkan pandangan.

Gadis di sebelahku tertawa tersipu. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. djAnGgo 18 . menunduk memandangi meja seperti aku. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen.memutuskan untuk tidak menjawab. yang sekarang sedang memandangi nampannya. Aku melirik cowok tampan itu. mereka tinggal bersama dr.” Ia mengatakannya dengan berbisik. Yang 3 lagi masih membuang muka. “Itu Edward dan Emmett Cullen. Cullen dan istrinya. serta Rosalie dan Jasper Hale. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. Mulutnya bergerak sangat cepat. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat.

Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. mereka adalah pendatang.” “Mereka baik sekali. pikirku. salah satu yang bermarga Cullen. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. sangat tampan dan cantik.” kata Jessica. yang paling muda...” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska.” “Oh. “Tidak. Saat aku mengamati mereka. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. ada 2 cewek yang bernama Jessica. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. nama yang sangat umum. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. Mrs. Emmett dan Rosalie. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. pikirku kritis.” “Kurasa begitu. Dan mereka tinggal bersamasama. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini.” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. Jasper dan Rosalie umurnya 18.” ujar Jessica enggan. “Mereka. memang tidak. Mereka semua anak adopsi.. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer.” Aku merasakan sebersit rasa iba. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs. mendongak dan beradu pandang denganku. Cullen sejak masih 8 tahun. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. “Dan mereka selalu bersama-sama. mau memelihara semua anak-anak itu. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. dan Jasper dan Alice. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku. Cullen tidak bisa punya anak. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan. maksudku. kira-kira 20-an atau awal 30-an. “Kurasa Mrs.Nama-nama aneh dan tidak populer..Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. mereka anak angkat. sekaligus lega. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. aku menduga alasannya adalah iri. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka.” Jessica menambahkan. ketika mereka masih kecil dan segalanya.” “Sekarang memang. Dr. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. dan jelas tidak diterima. Tapi kalau mencoba jujur.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. yang pirang. Cullen masih sangat muda.

seolah-olah dia juga tersenyum. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. “Itu Edward. Aku kembali menunduk. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. tapi jangan buang-buang waktu. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. sikapnya jelas pahit. ekspresinya sedikit gelisah.lewat sudut mata. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Ia sudah memalingkan wajah. tapi rasanya pipinya seperti tertarik. Dia tampan. tentu saja. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun. Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Lalu aku kembali memandang Edward. dan ia masih menatapku. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi.” Jessica mendengus. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya.

dan selalu menunduk. hitam legam. duduk di ujung kursi. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. dia juga tak pernah santai. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya. Ia menjauh dariku. aroma shampo kesukaanku. kecuali satu yang masih kosong. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. Ia juga pemalu. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. Sekali lagi aku mengintip. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Ketika kami memasuki kelas. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. wajahku merah padam. Bergegas aku memalingkan wajah. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Di sisi gang tengah. Cewek yang duduk disitu terkekeh. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. Ia sama sekali tidak mengenalku. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Aromanya seperti stroberi. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Sepertinya baunya cukup enak. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. tidak bersahabat. Ia menatapku lagi. Tanpa mengangkat wajah. dan menyesalinya. aku diam-diam memperhatikan Edward. duduk di sebelah kursi yang kosong. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. persis yang dulu sering kutempati. Tak mungkin ada hubungannya denganku. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. sejauh mungkin dariku. Diam-diam aku mengendus rambutku. gusar. sebagai penghalang diantara kami. Ketika aku melewatinya. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi.baruku. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. Mr. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. Ia sedang menatapku. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. terkejut. Untuk yang satu ini. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. kuatur bukuku di meja lalu duduk. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Ia sudah punya teman sebangku.

membuatku terperanjat. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. djAnGgo 22 . Bel berbunyi keras. Ia jahat sekali. Ia tersenyum ramah. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. Ketika aku mengalihkan pandang. kebiasaan memalukan. ia lebih tinggi daripada yang kukira. memunggungiku. Aku duduk membeku. menatapnya tanpa berkedip. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. menciut di kursiku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk.jijik. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka. Ini tidak adil. tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. Kalau marah aku biasanya menangis. Dengan luwes dia berdiri.

Cewek yang djAnGgo 23 . Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. “Ya. Aku memeluk diriku sendiri. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Pelatih Clapp. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. Akhirnya bel terakhir berbunyi. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. Pintunya terbuka lagi. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. ia bertanya.” timpalku. Di tempat asalku. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. menunggu petugas resepsionis selesai.” Bukannya menuju kamar ganti.” ralatku sambil tersenyum. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. Mike.” “Dia aneh. Edward sedang berdebat dengannya. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini. Hujan sudah reda. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. jam mana saja. Kurasa aku bisa menemukannya. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. Dari pembicaraan kami. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya. Guru senam kami. Kami berjalan bareng ke gymnasium.“Bella. Mike malah terus bersamaku. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Aku berdiri merapat ke dinding belakang. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. “Aku Mike. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. ketika bermain voli aku merasa agak mual. Ia cukup bersahabat dan mempesona. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris.” Ia tampak senang.” katanya. meniup kertas-kertas di meja. Secara harfiah. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. meniup rambutku hingga menutupi wajah.” “Hai. dan yang kutimbulkan. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan. Pasti sesuatu yang lain. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. nada suaranya rendah dan indah.” “Aku tidak tahu. aku bakal mengobrol denganmu.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku. “Jadi. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. memberikan seragam buatku. Forks bagiku adalah neraka di bumi. memudahkan segalanya buatku.” “Itu juga kelasku berikutnya.” Aku menciut.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Jadi.

“Aku mengerti ini tak mungkin. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. Ia berbalik lagi ke resepsionis.masuk langsung melangkah ke meja. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. lalu lenyap di balik pintu. meletakkan catatan di keranjang kawat. lalu keluar lagi. djAnGgo 24 . Terima kasih banyak atas bantuan Anda. “Kalau begitu lupakan saja. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. wajahnya luar biasa tampan. dan perlahan ia berbalik menatapku. Tatapannya hanya sedetik. Tapi punggung Edward Cullen menegang.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu.

kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala.” aku berbohong. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. hanya menerawang ke luar kaca depan. hanya tinggal beberapa mobil disana. wajahku pucat dan bukannya memerah. Aku duduk sebentar di dalamnya. “Baik. djAnGgo 25 . Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini. Nak?” tanya resepsionis lembut. Ketika tiba di lapangan parkir. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. suaraku lemah.Aku berjalan pelan ke meja. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. “Bagaimana hari pertamamu. Ia kelihatan tidak percaya.

Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. bersama Mike. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. Lebih buruk karena Mr. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan.. gelisah menantikan kedatangan Edward. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. tapi ia sendiri tak ada. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. membuatku tersanjung. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. dan dengan berlalunya waktu. dan ini takkan mudah. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Sesampainya di pintu aku menahan napas. dan membuktikan kecurigaanku keliru. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. Jessica. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. Di kota seperti ini. Ketika terbaring nyalang di ranjang. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Mike. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. tapi juga lebih buruk. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. melangkah setia disisiku menuju kelas. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin.2. dan sekalinya tidak terhantam bola. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Eric. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. Lebih buruk karena aku lelah. akupun semakin tegang. Edward masih belum muncul juga. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. waswas terhadap tatapan anehnya. bukan tenggelam.. meski langit sudah tebal oleh mendung. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Ia tidak datang. Lebih baik karena hujan belum turun. aku merasa sangat tidak nyaman. diplomasi sangatlah penting. yang mirip Golden Retriever. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya.

Tidak mungkin. Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Aku djAnGgo 27 . aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Ketika sekolah akhirnya usai. Aku terus-terusan mengingatkan diriku. berhubung Edward tidak masuk. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.

. Mereka memang suka menyendiri. Tentu saja. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. simpel. aku tak percaya sepenuhnya.berjalan cepat menuju parkiran. dan memeriksa e-mail. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. “Bella. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. aku mengganti pakaian dengan yang kering. Ketika aku menunggu. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Tapi sejauh yang kutahu. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. aku membawa tas sekolahku ke atas.” tulisnya. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. melapisi steak dengan saus marinade. gaya mereka. Selesai melakukannya. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Volvo baru yang mengkilap. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. sama seperti yang lain. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. hidup memang lebih sering seperti itu.. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Aku mendapat 3 pesan. memastikan semua ada disitu. Kuharap Charlie tidak keberatan. Mom. Tidak. Karena sekarang aku memperhatikan. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. “Bella. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. aku melihat Cullen bersaudara. dan sekarang akan menuju Thriftway. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari.” tulis ibuku. Sebelum mengerjakan PR. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. dan aku menyukainya.. hanya beberapa blok ke selatan. namun bermerek. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. lalu menyumpalkannya dimana-mana. The Thriftway tak jauh dari sekolah.ku untuk pertama kali. Jadi aku membuat daftar belanjaan. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama.. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. rasanya normal. Aku pinkku. selesai mengepak untuk ke Florida. selepas jalan raya.

djAnGgo 29 .30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu.Isabella. Kalau sampai jam 5. aku akan menelepon Charlie.

“Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Setahuku. Aku sedang menulis sekarang. Sudah pulang?” “Ya. “Aromanya lezat. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. Aku lupa waktu. dan Dad tampak lega. Bella. Jangan konyol. ketika masih kanak-kanak. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Bell. Tenang saja. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. Charlie memberikan aku truk. Dalam beberapa hal. Mobil tua.” jawabku. Tenang. kau harus mengambilnya hari Jumat. Mom. kemudian menyiapkan meja makan. kau tahu kan. Memangnya ada orang lain? pikirku. Semua baik-baik saja.Aku melihat jam. Ibuku juru masak imajinatif. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. Namun diam yang nyaman. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Tentu saja disini hujan. Aku masih punya waktu 1 jam. Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah. kau percaya? Aku menyukainya. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . Blus pinkmu ada di dry clean. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. Aku juga rindu padamu. Mom. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. tarik sayang Mom. “Steak dan kentang. dan memulai lagi. yang berarti bagus. Waktu aku datang kesini. kami sangat cocok hidup bersama. Sekolahku tidak jelek.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. hanya sedikit mengulang pelajaran. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. tapi benar-benar ‘bandel’. demi kesenangan. Aku mengirimnya. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. Aku akan menulis lagi nanti.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. buatku. Dad. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. “Hei. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. djAnGgo 30 . Bella napas.” “Terima kasih. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Tapi senjatanya itu selalu siaga. “Jadi.

djAnGgo 31 .

” gumamnya. Charlie. Mereka sangat menarik. dan telah setuju untuk ikut. Pantai seharusnya panas dan kering. Lalu ada cowok. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. Bukan karena ingin. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku. “Itu pasti Mike Newton. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah.. Memang konyol sih. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku. keluarganya baik. “Mereka. Ia kembali menonton TV. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil. dengan anak-anak remaja adopsi itu. Yang kutahu. Aku mundur sedikit. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. kalaupun bukan nama. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya.” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. Cullen. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. Malam itu suasana tenang. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. aku duduk bersama teman-temannya. dia cukup berhasil. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. ia telah meninggalkan sekolah.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Aku diajak. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini.” tambahku. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini.. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah. hampir semua murid di sekolah. Aku berusaha tidak memikirkannya. Mike.. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. Saat makan siang.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan.” lanjutnya.. suaranya makin keras. Semuanya kelihatan lumayan baik. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. Setiap hari. Tapi mereka sangat dewasa. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Dia aset bagi komunitas kita. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah. lalu orang-orang menggunjingkan mereka.” Dengan satu pengecualian mencolok. “Kau harus bertemu dr. “Untunglah pernikahannya bahagia. tak lagi menghawatirkan Edward. “Dr.” kata Charlie tertawa.. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. Karena banyak backpacker datang kesini. yang sangat bersahabat. agak berbeda. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. “Kita beruntung memilikinya. “Orang-orang di kota ini. Anak baik.“Well. anakanaknya. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. Aku tertidur dengan cepat. kelelahan.. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. dan setelah selesai mencuci piring.

dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku.. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. tapi untungnya tidak hujan. Di djAnGgo 33 . Sepanjang akhir pekan hujan gerimis. mengerjakan PR. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana.. dan bergidik memikirkannya. tenang. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini.menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. aku tidak jadi membuat kartu anggota. memilih bekerja sepanjang akhir pekan. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. Aku membersihkan rumah. Pagi ini cuaca lebih dingin. Iseng. sehingga aku bisa tidur nyenyak. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit.

” Jelas. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Aku menghirup sodaku pelan-pelan.” Mike tertawa. Aku tak punya alasan untuk merasa malu. Bola-bola salju melesat dimana-man. “Tidak apa-apa. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. Aku tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya.” Salju. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. “Di TV. “Tentu saja pernah. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. Ia tertawa. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan. aku langsung masuk. telingaku panas. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. “Hari ini aku minum soda saja.” jawabku. Mike tampak terkejut. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk. “Sebenarnya. “Uuuh. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. tahu kan. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. dan bukannya menuju kelasnya. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. gumpalan es meleleh di rambutnya. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini.” kata Mike. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. aku mengingatkan diriku sendiri. Dua kali Mike menanyakan keadaanku. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. Lalu aku berdiri mematung. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. “Wow.kelas bahasa Inggris. Angin menerpa pipi dan hidungku. aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. yang berjalan jauh memunggungi kami. lalu mengikuti mereka ke meja. Jessica menganggapku konyol. Tentu saja lebih kering daripada hujan. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. ulangan itu sangat mudah. Ada 5 orang di meja itu. mataku menatap ke bawah. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan.” Aku terdiam. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. Kukatakan aku baik-baik saja. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. perutku keroncongan. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Aku memegang binder di tanganku. Ketika kami berjalan keluar kelas.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. Aku curiga itu perbuatan Eric.” kataku. “Selain itu. “Kita bertemu lagi saat makan siang. rupanya ini salju pertama di tahun baru. Jessica menarik lenganku. Hilang sudah hari baikku. mataku masih tertuju ke lantai. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. “Salju.” Mike hanya mengangguk.

seperti pengecut.bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. Konyol. djAnGgo 35 . Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. Kalau ia menatapku. aku akan bolos kelas Biologi. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada.

Lalu Mike menyela kami. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. Mereka sedang tertawa. terdengar bingung dengan pertanyaanku. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. Edward.” jawabku jujur. Meski begitu aku yakin. jangan dilihat lagi.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. menyembunyikan perasaan senangku.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. seperti anak-anak lainnya. Aku sedikit mengangkat kepala. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. “Kau sedang menatap apa. seperti tidak puas. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. Aku masih gelisah. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku.. berusaha menemukan perbedaan itu. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Artinya aku bebas. Tapi ada sesuatu. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. ada sesuatu yang berbeda. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. Hujan turun. matanya mengikuti arah pandanganku. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama. Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. Ia hanya kelihatan penasaran. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. djAnGgo 36 . “Tidak. tapi ketika kami berjalan menuju kelas. Aku menunduk. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. Mike terus mencerocos. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. Tapi dia masih memandangimu.. Jessica mendengus. well. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. “Edward Cullen menatapmu. aku akan ikut pelajaran Biologi. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. “Dia tidak kelihatan marah. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. Aku menaikkan tudung jaket.” kata Jessica. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. Selama sisa waktu makan siang. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. tapi toh dia mengalihkan pandangan. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. Jasper.” “Sudah. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. Dari caranya menatap Mike. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. Mereka menikmati hari bersalju. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan.” desisku. Berhubung ia tidak kelihatan marah. Aku diam saja.

” kudengar suara merdu dan tenang. iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja. tapi mataku tetap terarah pada gambarku. aku lega karena mejaku masih kosong. meski begitu djAnGgo 37 . Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. berantakan. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser. Aku mendongak. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. “Halo. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. tetapi kursinya diarahkan padaku. Air menetes dari rambutnya.Begitu tiba di kelas. Mr.

Aku memalingkan wajah malu-malu. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut.” bantahku bodoh. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini.” lanjutnya. “Aku akan memulainya. hanya sedikit. “Maaf. “Mulai!” perintahnya. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. Bersama partner masing-masing. aku lebih suka Bella. Banner memulai pelajaran saat itu juga. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya. kurasa semua orang tahu namamu. pasti memanggilku Isabella di belakangku.” Aku nyengir. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar. Kau pasti Bella Swan. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. Jari-jarinya dingin bagai es.” aku mencoba menjelaskan. “Kau duluan. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. tawa yang menyenangkan. Aku yakin dengan pengamatanku. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. Tapi matanya tampak hati-hati. Bagaimanapun. Ia tertawa lembut. kepalaku sampai pusing. “ Oh. “Tidak.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat.” Saking bingungnya.” kataku. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Ketika ia menyentuhku. wajahku merah padam.” Senyum itu memudar.” kataku. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Kupelajari slide-nya sebentar. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. benar-benar merasa seperti orang bodoh. “Tapi kupikir Charlie. Meski masih kaget. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. partner?” tanya Edward. “Namaku Edward Cullen. maskudku ayahku.” gumamnya pelan. Seharusnya mudah. “Tidak. Aku pernah melakukan percobaan ini. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi. “Profase. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. langsung meraih tangannya. Aku harus bicara. djAnGgo 38 . Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. “Profase. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. “Maksudku. Untungnya Mr. dan tahu apa yang harus kucari. Slide dalam kotak tak dapat digunakan.” Aku memamerkan kemampuanku. ia tetap meraih mikroskop. ia menunggu. lalu melihatnya sepintas lalu. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak.” ia tidak meneruskan. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.” dia setuju. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. “Oh.

Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. Aku berusaha terdengar tidak peduli. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran.“Anafase. dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Ia menyerahkannya padaku. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. sambil menulis. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek. ia benar.” gumamnya. dan mendorong mikroskop ke arahku. djAnGgo 39 . Sial.

Setelah ia pergi. “Jadi.” jawabku jujur. Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah.” gumamku. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Ketakutan kembali menyelimutiku.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku.” Itu bukan pertanyaan. Banner. Lalu Mr. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya. “Tidak. Banner menghampiri meja kami. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini. “Bella. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku.” Mr. “Tidak dengan akar bawang merah. “Atau basah. “Sayang sekali turun salju. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. Ia melihat dari balik bahu. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya.” “Oh. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. dan aku tak bisa berkonsentrasi. Aku tersenyum malu-malu. ya kan?” Edward bertanya. Ia mengintip sebentar.“Interfase. ekspresinya skeptis. Banner. Aku mendongak. Kami selesai duluan.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan.” Edward meralat ucapan Mr.” Sekarang Mr. lebih gelap daripada mentega.” djAnGgo 40 . pandangan frustasi dan misterius yang sama. Banner menatapku.” “Whitefish blastula?” “Yeah. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya.” “Well. Tangannya mengepal lagi. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Banner mengganguk. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. tapi dengan nuansa keemasan yang sama. Edward. dan ia sedang menatapku. “Tidak juga. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. menatap percobaan yang telah selesai. lalu menuliskannya. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. Aku menunduk. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. “Kau tidak suka dingin.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya.” katanya setelah beberapa saat.

” ujarnya melamun. rumit. entah untuk alasan apa. djAnGgo 41 . Ia tampak terpesona oleh perkataanku. tidak blak-blakan seperti dirinya... begitu menuntut jawaban. “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku.” “Rasanya aku bisa mengerti. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya. “Jawabannya. “Kau tak tahu bagaimana rasanya. aku tak bisa membayangkannya.” gumamku dingin.“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu.” desaknya.

teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak mengerti. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya. bukan pertanyaan. Aku tertawa sinis. memandang marah ke papan tulis. Phil baik. Ia terdengar senang. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya. “Tidak. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun.” ujarnya.” Ia mengangkat bahu.. Banner yang sedang berkeliling. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat. Ini membuatnya tidak bahagia. Aku terus menghindari pandangannya. “Barangkali tidak. Aku menghela napas. Dia sering berpindah-pindah. lalu memalingkan wajah. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . balas tersenyum. suaranya masih ramah. “Apakah dia terkenal?” tanyanya. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk.” kataku.” bantahnya. Dia pemain bola. “Mula-mula ia tinggal denganku.” gumamnya puas. Tatapannya berubah menilai.” Edward mencoba menebak. namun tatapannya masih tajam. “Ibuku menikah lagi. Terlalu muda barangkali. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. Benar-benar liga kecil. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. tapi cukup baik.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Dahiku mengerut. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya.” Lagilagi ia melontarkan dugaan. mengawasi Mr. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. “Tidak juga. itu saja. “Terus?” tantangku.” katanya pelan.” katanya.” Aku nyengir. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel. dan aku menjawab tanpa berpikir. tapi dia merindukan Phil. Aku sendiri yang mau.” kataku. “Dan kau tidak menyukainya.Lama aku diam.” ujarnya.” timpalnya datar.. Dia bukan pemain andal. “Itu tidak adil. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. “Tapi sekarang kau tidak bahagia.” Alisnya bertaut. “Pertanyaan yang sangat bagus.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. ia tidak mengirimku kesini. Aku memandangnya tanpa berpikir. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. “Tidak. Aku menghela napas.” Aku setengah tersenyum. “Phil sering bepergian. “Ya sudah.” Suaraku terdengar sedih.. “Kurasa tidak. bahkan untukku sendiri.. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. “Kau pandai berpura-pura. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya.

” Wajahku merengut. ia terdengar bersungguh-sungguh. aku malah sulit menebakmu.” “Biasanya.” Ia tersenyum lebar. djAnGgo 43 . “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku. ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.mudah ditebak. “Kebalikannya. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya.

Toyota itu beruntung. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat. masih melihat ke sisi lain mobil. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. Dan seperti Senin lalu. Banner menyuruh murid-murid tenang. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. itu saja. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. dari sudut mataku. yang jaraknya 3 mobil dariku. Trukku jenis penghancur. “Aku pernah melakukan percobaan ini. memastikan tidak ada siapa-siapa. Aku membuka jaket. Aku berusaha terdengar kasual. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. yang mungkin membenciku atau tidak.Mr. Mike satu tim denganku hari ini. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Ia tampak menikmati percakapan kami. Aku langsung menyesal. Aku memandang sekelilingku. dan berhati-hati mundur lagi. kali ini lebih baik. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. tapi sekarang bisa kulihat. aku menginjak rem tepat pada waktunya.” “Gampang saja buatku. “Itu buruk sekali. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. matanya menatapku lekat-lekat. Mike tidak tamapak senang. Kunyalakan mesin penghangat. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu.” erangnya. Ketika bel akhirnya berbunyi. Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Aku menarik napas panjang.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan. melepas tudungnya. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa.” kataku. bahwa ia menjauh lagi dariku. djAnGgo 44 . terkejut mendengar ucapannya. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. “Semua slide itu mirip.

djAnGgo 45 .

melapisi atap trukku. dengan memikirkan Mike dan Eric. dan membuat jalanan menjadi putih. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. ataupun bertemu teman-teman baruku. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan. Apapun alasannya. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen.3. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. tapi bagaimanapun juga cerah. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. sangat bodoh. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Kalau mau jujur. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Ada cahaya. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. ada sesuatu yang berbeda. Hujan yang turun kemarin telah membeku. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. Mungkin karena aku masih baru sisini. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. Tapi bukan itu bagian terburuknya. lalu mengerang ngeri. Sambil mengemudi ke sekolah. dan ini membuatku takut. Dilihat dari berbagai sisi. Dan aku curiga padanya. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Dan itu sangat.

Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. dan memeriksa banku. ketika mendengar suara aneh. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. Meski begitu. djAnGgo 47 . dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. aku mengemudi sangat pelan. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. tak ingin tergelincir. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Aku melihat sesuatu berwarna perak. Aku tak terbiasa diurus. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah.

lalu terdengar suara kaca pecah. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras. sesuatu menerjangku. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Aku mendongak. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. dan aku berdiri diantara keduanya. “Hati-hati. dan van itu berhenti. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. Bella. “Bagaimana bisa. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga.” suaraku perlahan menghilang.” Suaraku terdengar aneh. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan.. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. memandangku ngeri. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu.” kataku. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van. karena van itu masih meluncur mendekat. dan sesuatu menarikku. djAnGgo 48 . “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. terkejut. nyaris menabrakku lagi. Aku melihat beberapa hal bersamaan. Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. “Itulah yang kupikirkan. nada suaranya kembali serius. berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. “Aduh. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Dalam kekacauan yang tibatiba. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. keras. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. benar-benar terkejut. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama..” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku.” katanya. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. masih berputar dan meluncur.Itu suara lengkingan tinggi. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa. berhamburan ke jalanan. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. Aku berusaha menjernihkan pikiran. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. mengumpulkan kekuatan.

Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Aku terkejut karena ia tertawa kecil.” “Tapi dingin.” seseorang memerintah. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan. melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. djAnGgo 49 . tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. “Sekarang jangan bergerak dulu.” aku mengeluh. berteriak kepada kami. Aku mencoba bangkit. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami. “Jangan bergerak. saling berteriak. Ada kegetiran dalam suaranya.

aku benar. tiba-tiba terdengar putus asa.” keluhku.” “Aku melihatmu. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. Menjengkelkan. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. “Tidak. dan aku menarikmu dari sana. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. temanku di kelas Pemerintahan.. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana. mulai dari protes sampai marah.” tukasnya.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Mereka membawaku ke UGD. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. Char. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. aku sedang berdiri bersamamu.” Sekeliling kami kacau. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu.. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. dan ia akan mengakuinya. Edward naik di depan. Keluarganya tampak di kejauhan.. “Bella. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. suaranya yang lembut mengodaku. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 . Aku menggertakkan gigiku. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Warna emas di matanya berkilat-kilat. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. Mr.” aku mengulanginya dengan nada marah. Yang membuatnya lebih buruk. “Aku tidak apa-apa.. seolah memberitahu sesuatu yang penting. Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka.“Kau ada di sebelah sana.” Ekspresinya berubah kaku. “Kau ada di sebelah mobilmu. Bella. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. Aku mengenali Tyler Crowler. Ketika juru rawat pergi. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Lalu datang pasien lain. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku.” “Kenapa?” desakku. Yang membuat segalanya lebih parah. “Percayalah padaku. “Aku baik-baik saja. Dad. ekspresi mereka beragam. Varner dan Pelatih Clapp.” ia memohon.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku. “Kumohon.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Edward dengan kasar menolak. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. “Tidak. Butuh enam petugas medis dan dua guru. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu. “Oke.” Rahangku mengeras. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku.

apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. Tyler. “Bella. kau tampak buruk. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. Ia menatapku waswas.kurasakan. djAnGgo 51 .

” Tyler memulai. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. “Tapi jangan khawatir. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. Ia nyengir lagi. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. memamerkan giginya yang sempurna... Miss Swan.” Lalu seorang dokter menghampiri. mudah-mudahan untuk terakhir kali. Aku memandangnya. Ia terus menggumamkan penyesalan. namun menghadap ke arahku. “Jadi.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu. “Cullen? Aku tidak melihatnya. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya. dan aku benar. tidak seru.” katanya.” dr. lalu kau menghilang. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. ini pasti ayah Edward.” Aku tahu aku tidak sinting. Dia ada disini entah dimana.” kataku. aku terperangkap di UGD. aku datang untuk menyelamatkanmu. nyengir. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. “Jangan khawatirkan itu.Ia mengabaikanku. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. kau tidak mengenaiku. pirang. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. Edward berdiri di ujung tempat tidurku.” “Mmm.. Edward. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat.. dan mobilku selip. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. “Siapa?” “Edward Cullen. djAnGgo 52 . aku sangat menyesal. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. dia berdiri di sebelahku. Aku bertanya apakah aku boleh pergi.. wow. “Tidak ada darah. “Hei. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler..” Ia terlihat bingung. Mataku langsung terbuka. Jadi. tampak lelah. dengan lingkaran di bawah matanya. menunggu. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. “Jadi. dan mulutku menganga melihatnya.. Edward menarikku. Ia masih muda. Meski begitu ia pucat.” aku mengeluh. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Cullen berkata dengan suara sangat merdu....” jawabnya. “Aku baik-baik saja. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. Tidak mudah.” Aku tak pernah pandai berbohong. Dari yang dideskripsikan Charlie.

” katanya. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku. “Well.“Hasil rontgenmu bagus. Ia memperhatikan ketika aku meringis. Mataku menyipit. kepalamu terbentur cukup keras.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah.” Aku menatap Edward. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. kau bisa pulang dengannya sekarang. djAnGgo 53 . Aku mendengar suara tawa. lalu menatap Edward geram.” “Tidak apa-apa. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku. “Sakit?” tanyanya.” aku mengulangi sambil menghela napas. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. “Tidak juga. ayahmu berada di ruang tunggu. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.” kata Edward ponggah.

” erangku. dan dr. Aku memandang dr.” katanya sepelan mungkin. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. Cullen terangkat. aku terpeleset. Ia tampak waswas. kutatap dia tajam-tajam.” ia memberikan saran sambil memegangiku. Emosiku meluap-luap sekarang. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku. Lalu ia berpaling memandang Tyler. kepalamu terbentur. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. kalau kau tidak keberatan. tapi kau menahannya.” ujar dr. ya. tapi nyatanya tidak. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. tampak bersalah. dan mulai memeriksa luka-lukanya. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya.” aku meyakinkannya lagi. kau tak tahu apa yang kau bicarakan. “Aku menyelamatan hidupmu. ia berbalik menghadapku. Intuisiku tepat. Tapi wajahnya tegang. “Oh. aku tak berhutang apa-apa padamu. “Kedengarannya kau sangat beruntung. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.“Sebenarnya. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. Cullen dan Tyler. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. sang dokter sedang memikirkannya. dan kau sama sekali tidak terluka.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward.” kata dr.. Ia menatapku tak percaya.” “Bella. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. Tatapannya dingin. tapi itu justru membuatku semakin curiga. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. “Ayahmmu sudah menunggumu. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. tidak!” aku berkeras. Cullen. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku.” “Oh tidak..” Ia balas menantang. “Sakitnya tidak separah itu kok. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. aku bergeser ke sisi Edward.” aku mengingatkannya.” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. menutupi wajahku dengan tangan.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. Cullen. well. Alis dr. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek. Ia mundur selangkah.” dr.” desakku. “Kau sudah janji. Lalu semua terlontar begitu saja.” Nada suaranya tajam. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya.” ia berkata kepada Tyler. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu. Cullen meralat. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya. Terlalu cepat. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. “Apa yang kau mau dariku. dan menghampiri tempat tidur sebelah. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. juga di mobil yang lain. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. Tyler juga tidak melihatmu. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. “Kau berhutang penjelasan padaku.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat.” kataku. dan aku tak bisa melanjutkannya.” aku berkeras. djAnGgo 54 . Begitu dokter memunggungiku. Ia menatapku jengkel. Cullen menangkapku. “Aku baik-baik saja. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan.

rahangku mengeras. “Tak ada yang bakal mempercayai itu. kau tahu.” Suaranya terdengar mengejek sekarang. djAnGgo 55 .Aku hanya mengangguk sekali.

kuharap kau menikmati kekecewaanmu. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. Tentu saja ibuku histeris. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. Charlie bergegas ke sisiku. Aku sangat marah. “Aku tidak apa-apa.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. Wajahnya tampak kaget. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf. Setelah bisa berjalan. marah dan berharap.” desakku. Bodoh. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. mulai bergabung dengan kami..” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong. tak ingin bebasa-basi.” Aku menunggu. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. djAnGgo 56 . “Mm.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel... Lalu ia berbalik dan menjauh. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. hati-hati mengendalikan amarahku. Jessica. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. “Aku tak tahu. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. kan?” “Tidak. Mike. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong.” Kami saling menatap marah dalam hening. aku mengangkat tangan. tidak benar-benar menyentuhku.” Ia menunduk bersalah. dan Eric ada disana. Cullen memeriksaku. kau harus menelepon Renée. Akulah yang pertama bicara. Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku.” “Kalau begitu.” Aku menghela napas. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang. Ketika kami tiba di rumah. Aku masih kesal.” bisiknya. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana.” pintaku. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward. Ia memohon supaya aku mau pulang. “Apa kata dokter?” “Dr. berusaha untuk tetap fokus. menatapku. Charlie akhirnya bicara. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. Ia berhenti. “Kau takkan menyerah. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. “Aku tak suka berbohong. Rasanya sangat lega. “Ayo. berasda di mobil patroli. itulah pertama kali aku merasakannya. Aku terkejut. yang masih tak bisa kupercaya.. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan.

bodoh. Obat ini lumayan membantu. aku tertidur pulas. membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. dan begitu rasa sakitnya mereda. Charlie terus-menerus mengawasiku. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. bodoh. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras.

Tak peduli seberapa cepat aku berlari. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. terutama Edward. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Aku tak bisa melihat wajahnya. mencoba terlihat sopan. berharap ia akan berpaling ke arahku. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. aku menyadari alasan yang masuk akal. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. Yang membuatku cemas. dan pada awalnya memalukan. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Mike. “Halo. memandang ke arahku lagi. tak peduli seberapa keras aku memanggil. Terkahir kali aku bertemu dengannya. Merasa kecewa. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. dan sejauh mungkin. di luar ruang UGD. dengan tidak mungkinnya. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward. tapi ia tetap berkeras. Karena ketakutan. Aku berusaha terdengar meyakinkan. aku tak bisa mengejarnya. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. Betapa menyedihkan. Jessica. tidak makan. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. menyelamatkan hidupku. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. menegangkan. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. Edward. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. Eric. entah dengan cara apa. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. djAnGgo 58 . Tak satupun dari mereka. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. Hanya kadang-kadang.” sapaku ramah. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang. Aku sangat ingin bicara dengannya. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu.4. tanpa melirik kanan-kiri. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. hanya mengobrol sendiri. meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. kami berdua begitu marah. meninggalkanku dalam kegelapan. sebelum ia tiba-tiba. terutama karena aku baik-baik saja. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. entah bagaimana caranya. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. Aku duduk. ia tak pernah berbalik.

Dan itulah kontak terakhirku dengannya. tak sanggup menahan diriku. Kadangkadang aku memerhatikannya. di kafetaria atau di djAnGgo 59 . mengangguk sekali.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. meskipun hanya dari jauh. lalu berpaling lagi. setiap hari. meskipun ia ada disana. sejengkal dariku.

aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. “Bersenang-senanglah dengan Mike..ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan.” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica.” aku meyakinkannya. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. Meskipun aku berlagak tak peduli. seperti ia juga tak memedulikanku. Aku berusaha meyakinkannya. “Jadi. Dan mimpi-mimpiku berlanjut.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau. Aku merasa iba. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. Kalau Mike menolak ajakannya. Seperti biasa. Jess. “Tidak. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. dan aku takut menanyakan alasannya. Mike juga diam. mengkhawatirkan aku.. kalau kau berencana mengajakku. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku. aku tak akan pergi.” “Well. berbincang sangat akrab dengan Eric. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap.. mengabaikan Edward. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak. Ia semakin percaya diri. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. “Bakal asyik banget lho. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku. Ia menelepon beberapa kali. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang.” “Bagus dong. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya.” Aku berhenti sesaat. seperti ia mengabaikan kami semua..” kata Mike menatap lantai. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. tidak seperti biasa. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. “Kau yakin tidak keberatan.. Aku benarbenar merana. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. wajahnya yang suram pertanda buruk.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai.” aku mendukungnya. djAnGgo 60 . ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi.. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. well. jelas tidak menyukai reaksiku.parkiran. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu.

” “Kenapa tidak?” desak Mike. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle.” kataku. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa. jadi aku langsung menyusun rencana baru.” aku menyakinkannya. kurasa kau harus bilang ya padanya. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 . “Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak.” tuturku.“Mike. tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya.

” gumamnya. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. Banner.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku.” djAnGgo 62 . Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya. berusaha menenangkan diri. “Lalu apa yang kau inginkan. “Aku tahu sikapku sangat kasar. tidak bisa. Perlahan aku berbalik. sungguh. “Mr. Banner mulai bicara. terkejut.” desisku tertahan. lalu berbalik. ekspresinya tidak bisa kutebak. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Ia menunggu. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung.” Aku membuka mata. Ketika bel akhirnya berbunyi.” Ia terdengar tulus. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. Mr. enggan. itu tidak baik. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah.” ia menjelaskan. “Percayalah. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku.” “Yeah. Menyedihkan. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. “Siklus Krebs. kau benar. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. “Aku minta maaf. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar.” kataku.” Mataku menyipit. Edward?” aku bertanya.” kataku. Banner. Tanganku mulai gemetaran. jelas membuatnya kaget. “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. Aku menghela napas dan membuka mata. mataku tetap terpejam. Cullen?” panggil Mr. Aku balas menatap. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. berharap ia akan langsung membuang muka. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Lebih dari menyedihkan. dan berhubung ini tidak mungkin. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. ini tidak sehat. Pengecut seperti biasa. Ia tidak mengatakan apa-apa. dengan muram berjalan ke mejanya. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna.“Maaf. Tapi lebih baik seperti itu. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. berharap ia langsung pergi seperti biasa. hati-hati. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. Wajahnya sangat serius. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini.” jawab Edward. sadar aku mengertakkan gigi. Dan Edward sedang menatapku penasaran. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. “Lebih baik kalau kita tidak berteman.

tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. sempat berpikir untuk pergi saja. Aku terdiam beberapa saat. Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. Kukumpulkan semua buku-bukuku. “Kau tidak tahu apa-apa. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis.Ia terpana.” tukasku. ia nyaris terdengar marah.” Ia jelas sangat marah. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . Ia memandangku keheranan. lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Ketika akhirnya bicara.

“Terima kasih untuk ajakannya. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. Aku harus mengganti lampu belakangnya. Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku.” Aku kesal. aku tahu. Aku berhasil membukanya separuh. Matanya menyipit.” kataku. ya. tapi aku sering sekali terjatuh. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. “Well. tapi masih di sekitar kafetaria. Edward sudah berada di mobilnya. bingung. menatap lurus ke depan. wajahnya tegang. dan itu bagus. ternyata Tyler. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. lalu menyerah. Aku mulai melangkah lagi. mungkin lain kali..membungkuk untuk memungutinya. Bella. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Tepat di belakangku. “Terima kasih. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Seperti biasa. Ketika duduk disana. terlalu bingung untuk berdiplomasi. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. Mobilnya masih menyala.” balasnya geram. “Oh. Aku memandang. “Hai. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. “Hei. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. aku hanya bertanya-tanya. rasanya lega ketika sekolah usai.. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. meluncur mulus dihadapanku.” ia mengakuinya malu-malu. Ia berhenti disana. Aku nyaris berlari ke truk. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Ia ada disana. bibirnya terkaput. tapi ada kelewat banyak saksi.” katanya. hanya selang 2 kendaraan. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. pintunya terbuka. “Sama-sama. memotong jalanku. “Ehh. Lalu aku sadar itu hanya Eric. “Kupikir ceweklah yang mengajak. berpaling darinya. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar.” “Tentu. Aku melirik spionku. Kami belajar basket. Aku langsung bangkit berdiri. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan.” “Oh. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. ia sudah menyusun semuanya kembali.” sapaku. Keras sekali. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. melompat masuk.” aku menyetujuinya. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Keadaan di gymnsium kacau. menunggu keluarganya. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. Cullen menghalangiku. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku. “Maaf. Aku mendengar suara tawa samar-samar. dan membantingnya keraskeras. Tyler. Eric. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . lalu menggigit bibir. jelas kemacetan ini bukan salahku. “Well. Aku membuka pintu.” kataku dingin. banyak orang yang ingin kuhindari. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku.

” Suaraku agak ketus. “Lalu kenapa. “Yeah.” akunya. Mike sudah bilang.” Ia nyengir. Ini tidak mungkin terjadi. ” Ia mengangkat bahu. “Aku akan pergi ke luar kota. Tyler. Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.” djAnGgo 65 . “Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus.disini.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

” Mataku menyipit. “Apa teorimu?” Wajahku merona. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. Selama sebulan terakhir ini. Jadi aku menyerah.“Well. “Aku mengandalkan itu. Waktu pun berlalu. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.” gumamku. “Menyerah?” ulangku bingung.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. “Tidak terlalu.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas.” “Jangan khawatir..” sahutnya menerawang.” “Mereka akan baik-baik saja. “Atau tidak. terus terang.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata. dan menjada suaraku tetap tenang. “Sebenarnya aku terkejut. ragu-ragu. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. “Jadi. aku capek berusaha menjauh darimu. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka. selama aku adalah.” sindirku. Tapi kuperingatkan kau. kurasa kita bisa mencobanya. lalu sisanya terurai begitu saja. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak.” Senyum menawan itu muncul lagi. tapi konyolnya suaraku bergetar. orang yang tidak pintar. “Kau sering bilang begitu. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 .” akhirnya aku mengaku.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun.” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. kau akan menghindariku.. “Kedengarannya mauk akal. Aku masih menunggu kau mempercayainya. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu.” “Tidak. bingung. Ia nyengir. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang. Kalau pintar. menyerah berusaha bersikap baik. lalu mengubah topik. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan. apakah sekarang kita berteman?” “Teman.. aku bukan teman yang baik untukmu. Ia tertawa.” katanya sambil mengedip jail. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. “ Well.. tapi matanya yang kekuningan tampak serius. “Ya. aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. tak yakin apa yang harus kulakukan. “Aku tahu. Ia tertawa. “Ya.” “Jadi.” akuku. Aku menelan ludah. tapi ia tetap berusaha tersenyum. dan suaranya terdengar serius..” aku mengingatkannya. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya.” ia berhenti.” Ia masih tersenyum. “Tahu nggak.” Rahangnya menegang..” kataku. itu salah satu masalahnya.” Ia tersenyum lagi. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal.. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu. karena kau tidak mendengarkan. Aku memandang matanya yang keemasan. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. Ia tersenyum menyesal.. “Kau tampak khawatir.

Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya.Wayne dan Peter Parker. djAnGgo 75 .

” “Ya.” Kami bertatapan. “Terlalu memalukan.” “Itu sangat memusingkan. kecuali kau. aku yakin kau salah. “Lagipula. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. kau tahu. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. Aku pernah bilang.” kataku dingin.” lanjutku. mataku menyipit. demi kebaikanku sendiri. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.” “Tidak susah kok. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.” Aku tak mengerti raut wajahnya.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. aku tidak lapar.” Aku harus berpaling dari tatapannya. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari. waswas namun penasaran.. “Tidak. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu.” Tiba-tiba suasana hatinya berubah.” “Tidak.” “Ceritakan padaku satu teori. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan.” djAnGgo 76 . kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku. “Atau lebih baik. “Terima kasih. Aku menggeleng. tentu saja. tanpa tersenyum. “Aku tak tahu apa maksudmu.. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya. “Tergantung apa yang kau inginkan. nah. tatapannya muram.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak. Aku meneguknya sekali. juga. lalu tanpa diduga mencemooh. Ia menunggu. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya. “Tidak.” aku langsung membantah.. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya.. pikirannya teralih. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. Itu. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. bahkan setelah berjanji akan melakukannya. “Aku hanya bertanya-tanya.” “Kecuali aku.” aku meyakinkannya. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. “Tidak. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. Jadi aku bisa siap-siap. “Kedengarannya adil.” “Kau marah. kebanyakan orang mudah ditebak. akan sangat memusingkan. Ia memandang lewat bahuku.” keluhnya. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu. “Satu. dengan ketegangan.” Ia mencemooh lagi.

” ia mengingatkan aku.” djAnGgo 77 . kau hanya bilang satu jawaban.” “Kau tidak memberi syarat. “Kau sendiri selalu ingkar janji.” aku balas mengingatkan. aku takkan tertawa. “Hanya satu teori.Uuppss. “Jangan yang itu.

” kataku.” keluhku. mencondongkan tubuhnya ke arahku.” Ia tersenyum padaku. sampai ketemu lagi. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar. “Oh. Aku tidak mengerti. “Aku juga terkena batu kryptonite. pikiranku kosong.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku.” tukasku kesal. sedikit saja. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran. Ia memang berbahaya.” bisikku. Tapi aku hanya merasa khawatir. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak.” “Kau salah.“Pasti kau bakal tertawa. sambil menatap untuk terakhir kali. “Aku mengerti. “Tapi tidak jahat. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. tatapannya sarat emosi. “Please?” ia menghela napas. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada.. Ia menunduk.” Aku yakin mengenai yang satu ini. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. aku tidak percaya kau jahat.” godanya. Sialan. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur. sambil menggeleng. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. Aku menatapnya. apa?” tanyaku bingung. cuma itu yang kupunya. “Kalau begitu. djAnGgo 78 . tidak nyaman. lalu mengambil tutup botol. “Kau kan tidak boleh tertawa. “Kita bakal terlambat. “Nanti juga aku tahu. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. “Maaf. itu jelas.” Ia berubah serius lagi. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. “Karena. Ia hanya memancangku. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. lebih dari segalanya.” kataku mengingatkan. Aku melompat kaget.” ejeknya. memastikan ia tak bergeser dari posisinya. well.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. dan memutarmutarnya di antara jemarinya.. aku masuk. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. “Ehh. matanya yang kekuningan tampak membara. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik. “Well. tapi matanya masih waswas. dan...” sahutnya sambil tertawa. Aku mengerjap. “Kuharap kau tidak mencobanya. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. Ia menunduk.” kataku. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya.” Aku ragu-ragu. “Tidak. “Ceritakan satu teori.” katanya. “Kau berbahaya?” aku menebak. terpesona.” Suaranya nyaris tak terdengar.” “Sial. bingung.

djAnGgo 79 . Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab. mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi. Setidaknya hujan telah reda.Ketika aku setengah berlari menuju kelas.

” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “.. dan sedikit kagum. tidak. sedikit saja. kau baik-baik saja?” tanya Mr. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. Aku bergegas duduk di kursiku. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Angela kelihatan terkejut. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 . lalu mengenakannya.” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. perutku rasanya mau meledak. Sir. Oh. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. Lalu Mr. Banner.” ia selesai dengan peragaannya.” Ia memeragakannya. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. “Yang kedua aplikator segi empat.” kata Mr. “Taruh setetes darah. Mr.” gumamku.” kataku lemah. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. ia melanjutkan.Aku beruntung. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. mengagetkanku. Aku menelan liurku karena tegang. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku.” Ia terdengar bangga. sadar Mike dan Angela menatapku. Mr. pada masing-masing kotak. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging.” Ia mulai dari meja Mike lagi. Suaranya terdengar sangat dekat. dan mengabsen kamu satu per satu. Aku takut mengangkat kepala. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. tapi perutku langsung mulas. lalu memperlihatkannya kepada kami. “Oke. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike.. “Bella. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator. Banner. suara anak-anak mengeluh. Banner masuk. guys. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. “Kemudian oleskan ke kartu. “Aku sudah tahu golongan darahku. aku punya formulir izinnya di mejaku. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Aku memejamkan mata. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. Mike tampak kesal.

“Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. memejamkan mata. “Wow. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. Bella.” kata Mike khawatir. djAnGgo 81 .” kataku mengingatkan.” aku memohon padanya. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr. Banner memperhatikan. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. Aku masih sangat pusing. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. Banner.tidak membolos. tidak terlihat dari gedung empat. “Dan apapun yang kau lakukan. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. “Biarkan aku duduk dulu sebentar. “Ya. Sepertinya ini agak membantu. aku berhenti. kalau-kalau Mr. aku akan merangkak. jaga tanganmu. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak. Keluarakan saja aku dari sini. Banner. kau pucat.” bisikku. pikirku. Kalau perlu.

” “Aku tahu. Aku tidak menyahut. “Turunkan aku.” “Tidak. Aku terus memejamkan mata.” lanjutnya. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. nanti juga sembuh.” kata Edward. Kubuka mataku.” “Aku akan mengantarnya. “Kurasa dia pingsan. petugas TU yang berambut merah. ya. Kubuka mataku karena terkejut. kumohon. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. “Pasti ada saja yang pingsan. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. “Turunkan aku!” Kumohon. Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel. “Dia hanya sedikit lemah. djAnGgo 82 . Kukatupkan bibirku rapat-rapat. Sayang. dan ia terdengar muram. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. Ia membopongku dengan lembut. lega.” keluhku. “Dia pingsan di kelas Biologi. Aku tidak tahu apa yang terjadi.” katanya padaku. dia bahkan tidak menusuk jarinya. berdiri rapat di dinding.” Edward menjelaskan. Aku tidak sedang berkhayal. Edward telah menggendongku. “Kau bisa kembali ke kelas. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. Atau setidaknya. Sepertinya ini menghiburnya. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Aku berada di kantor TU. tidak muntah.” aku mendengar suara perempuan terkesiap.” Ia tertawa. yang tertinggal jauh di belakang kami. nyengir. “Pergilah. Mike tampak sangat khawatir. “Aku sedang membawanya ke UKS. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak. Miss Cope. tapi tiba-tiba suasananya hangat. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. “Aku yang seharusnya melakukannya. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku.” Mike menjelaskan dengan nada defensif.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya.“Apa yang terjadi.” Edward melontarkan ejekan pelan.” erangku. Edward mengabaikannya. “Hei!” seru Mike. Lalu ia pindah. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. menikmati perkataannya.” Edward sudah disebelahku sekarang. berharap diriku mati. “Berbaring saja sebentar. bukannya 55. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. “Bahkan dengan darahmu sendiri. Mualnya sudah hilang. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu. Matanya memancarkan kegembiraan. “Kau tampak kacau.” protes Mike. “Ya ampun.” desahku.” “Bella.

” ia memberitahu Edward.” erangku. membiarkan mataku terpejam. ia tidak membantah. “Aku disuruh menemaninya.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya.” aku mengakuinya. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. ya?” djAnGgo 83 . Sayang. “Kau boleh kembali ke kelas sekarang. lalu bergegas meninggalkan ruangan. “Biasanya memang begitu. “Kadang-kadang. “Kau benar. tapi kali ini dalam hal apa.” perawat berkata kepadaku. “Aku akan mengambil kompres untukmu.

“Manusia tidak bisa mencium darah.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. barangkali ada untungnya perutkku kosong. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam. “Apa?” tanyaku.” Mataku masih terpejam.” Ia meletakkannya di dahiku. “Sudah tidak ada darah lagi. Telingaku berdenging sedikit. “Apa kau akan djAnGgo 84 ..” Ia terperangah. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu. seperti aku. tapi mengejutkanku.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. “Sejujurnya. temanku dari kelas Biologi. “Aku sedang di mobil.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain. “Oh tidak. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu.” tambahnya.. “Keluar dari sini.” kataku.” tuduhnya.” bantahku. aku bisa.” Aku mencoba bernapas teratur. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu.” Edward menatapku dalam-dalam. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. ia memapah Lee Stephens. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. Sayang.” gumam Edward. mengerutkan hidung. “Aku lihat wajahnya. bergegas keluar dari ruang perawatan.” kataku sambil bangkit duduk.” Aku menatapnya. lalu membuka mata. “Jangan ikut campur. Kuserahkan kompresnya pada perawat. ayo keluar.” bantahnya. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya. aku tahu. “Well. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang.” gumamnya. Aku berani bertaruh dia pasti marah. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi.” aku mengingatkannya. “Kau kelihatan lebih baik. “Kau kelihatan lebih baik. tapi aku tak lagi pusing. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. yang tampak pucat.” katanya. “Bukan apa-apa.” “Kasihan Mike. Aku mendengar suara pintu terbuka. dan garam. Perawat datang membawa kompres dingin. aku tidak memerlukannya. tapi aku merasa semakin pulih. “Ini. Tapi kalau dipikir-pikir. keheranan. “Kurasa aku baik-baik saja.” Aku nyaris pulih sekarang. Baunya seperti karat. mendengarkan CD.” “Ha ha. itulah yang membuatku sakit.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan. Bella. menatapku dan Edward bergantian. “Kita punya korban lagi. “Tadi kau sempat membuatku takut. “Ini dia. “Aku mencium bau darah. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik.” akunya setelah beberapa saat.” “Dia sangat membenciku. matanya kelam. “Percayalah.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. Mike ganti menatapku.” kata Edward senang. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. “Kau benar-benar menuruti perkatanku.” Jawaban yang masuk akal. tapi kemudian pintunya terbuka.

kurasa begitu..” djAnGgo 85 .kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. Aku berusaha terdengar seramah mungkin. tatapannya kosong.” “Yeah. “Tentu saja. kan sudah kubilang aku akan ikut.. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan. tak bergerak bagai patung.

” balasku. “Daahh.” “Sudahlah.” kata Mike. wajahku memang selalu pucat.” Kuamati wajahnya. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. senyumnya ramah tapi matanya mengejek. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. tanpa ekspresi. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. “Apa kau bisa berjalan. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. sampai ketemu di gymnasium.” aku berjanji. berjalan gontai ke pintu. Rasanya menyenangkan. ke First Beach. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. tersenyum ironis. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Ia membukakan pintu untukku. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward. Ia menatapku sekali lagi. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. dan aku baik-baik saja. mencoba membacanya. Mrs. Kau merasa lebih baik. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga.” gumamnya. “Jadi. menyipitkan mata menembus hujan. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi.” “Oke. Ia menunduk dan melirikku. meskipun mustahil. “La Push. “Aku baru saja mengundangmu. Aku mengangguk lemah. mata terpejam. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes.” Aku menghela napas. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. kalau begitu semuanya beres. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. “Gymnasium. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun.” erangku. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan. “Kalau begitu.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. “Aku akan datang. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Aku jalan saja. “Aku bisa mengaturnya. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter. Kita tidak djAnGgo 86 . Bella?” serunya. Mantra pingsan selalu membuatku lemas. mencoba tampak selemah mungkin. “Apa kau juga perlu izin. ia bukan tipe seperti itu. ekspresinya kembali mengejek. “Asyik juga bisa membolos Olahraga. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. kau pergi nggak? Maksudku.” “Sama-sama. Goff takkan keberatan.” Aku berdiri hati-hati. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. “Terima kasih. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. bahunya merosot. Ini sama sekali bukan tantangan. di gymnasium.” Ia menatap lurus ke depan. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward.

ingin di marah. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya. kan?” Sorot matanya menari-nari. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. djAnGgo 87 . “Mike-schmike. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. marah. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. Aku sangat menyukainya dari seharusnya.” gumamku. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya.

“Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. Ia tak menyahut. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . Ia mengabaikanku. Alisnya terangkat. “Lepaskan!” desakku.” kataku. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan.” cuma itu reaksinya. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. “Tidak terlalu. Dia teman baikku. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. Usahaku tidak begitu berhasil. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. termenung. “Pulang. Ibuku punya sifat lebih terbuka. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. dan lebih berani. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. dan juru masak yang sangat payah.” Ia memandang menembus hujan. mengamatinya dengan tatapan penasaran. Aku memandangnya. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. “Claire de Lune?” tanyaku.Aku bingung. aku terhuyung ke pintu penumpang. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. aku hanya tahu yang kusuka. “Dia sangat mirip denganku. bih tepatnya menarik jaketku. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. heran. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. Kalaupun aku jatuh. “Masuk. terkejut. tidak mungkin. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya.” kataku. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku. Hujan turun semakin deras. “Berapa umurmu. Ia menekan tombol kontol. “Kau kasar sekali!” gerutuku. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. Bella. Membicarakan ibuku membuatku sedih. Lalu akhirnya ia melepaskanku. Aku mendengarkan musiknya. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. marah. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. “Sudah terbuka.” ancamnya. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula.” Aku berhenti berbicara.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. meski stabil dan tenang. menyalakan pemanas dan menyetel musik.” “Ini juga salah satu favoritku. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. jadi air menetes-netes ke punggungku.” Aku tak menjawab. “Aku tinggal menyeretmu lagi.” aku mengakui. “Ini benar-benar tidak perlu. tapi lebih cantik. barangkali ia akan tetap menyeretku. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. Harus kuakui. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku.

Ia menghentikan mobil. “Kenapa?” tanyanya. penasaran lagi. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. “Tujuh belas. membuatku tertawa. djAnGgo 89 .” Nada suaranya mencela. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. “Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.” jawabku. sedikit bingung.bisa kubayangkan.

Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan. Bagaimanapun juga.. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu. aku baru menyebutnya sekali. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku. itu pun hampir 2 bulan yang lalu.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius.” Aku tertawa.. matanya mencari-cari jawaban di mataku..” Tapi aku menjawab terlalu cepat.” “Dan kau menyayangi mereka..” “Kau sangat beruntung. dan Phil laki-laki yang diinginkannya. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius. harus ada yang menjadi orang dewasanya. “Ya. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku.. Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan.” ujarnya kagum. “Maafkan aku. “Aku tak begitu ingat mereka.” “Aku tahu. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka. dialah sang orangtua. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku. “Tapi bagaimanapun.. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. kebenaran atau kebohongan. kupikir kau bisa. sangat muda bagi umurnya.” kataku. Jadi agak berbeda. Ia kembali tersenyum. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya..” Ia tersenyum.” Suaranya datar. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.” “Kau baik sekali. aku jadi berpikir. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 . “Aku ingin dia bahagia. “Ya. lalu menghela napas. kalau mau.” Itu bukan pertanyaan. “Jadi. “Tidak.” Ia langsung berhati-hati.” gumamku. “Jadi. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. “Apakah itu penting?” tantangku. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah.“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. “ Well. “Ibuku. “Ku-kurasa.” ujarku terbata-bata.. dia tergila-gila pada Phil. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru.” Aku berhenti sebentar.” Beberapa saat aku jadi ragu. “Apa?” “Menurutmu. “Hmm.

maaf.” Aku mendesah. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang.” Ia tersenyum padaku. “Aku yakin dia sudah mendengarnya.Ia melirik jam di dasbor. kurasa kau harus pergi.” Aku tak ingin keluar dari mobil. juga Jasper dan Rosalie.” “Oh. Tak ada rahasia di Forks. djAnGgo 91 . “Saudara-saudaraku.

.. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.. well . oke?” Ia tersenyum sangat lebar. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Aku memandangnya. Jadi.Ia tertawa. “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. “Jangan tersinggung. “Oh.” Ia memandangi hujan yang masih turun. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. selamat bersenang-senang. Aku mengangguk putus asa. cuacanya bagus untuk berjemur. Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak.” Aku berusaha terdengar antusias. “Akan kuusahakan.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat. matanya yang keemasan menyala-nyala. di selatan Rainier. ada kekhawatiran dalam tawanya.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. “Selamat bersenang-senang di pantai.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. djAnGgo 92 . kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.

djAnGgo 93 .

Hari ini hanya Rosalie. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. truk itu tiba-tiba sudah disana. Meski begitu. aku menunggu-nunggu suara trukku. meskipun di tengah guyuran hujan. lagi.tak tahu kenapa Bella”.” “Kau sepertinya agak marah. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. Jessica tampak jengkel. Terutama Jessica. Itu aneh. dia duduk bersama kita. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain.. aku toh masih berharap. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku. hampir 15°C. Alice. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku.. “Aku tidak tahu. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. Kupikir. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan. “Jadi. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat.” ujarku setuju. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono. “Dia tak pernah mengatakannya. “Oh ya?” sahutku. Tapi hari ini udara lebih hangat. Di mejaku yang biasa. dan ia tidak menyadarinya. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai.” “Memang aneh. “Dia temanku. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. atau begitulah menurutku. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah. tapi juga sedikit posesif.” Mike berbisik padanya. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Mike sudah ceria lagi. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria.” pancing Jessica.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. Aku tepat di belakangnya. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat. semua sibuk membicarakan rencana besok. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. “Kau tahu. wajahku tetap datar. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya.” jawabku jujur. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. Aku tidak mengerti kenapa. Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. ia mencibir ketika menyebut namaku.6. “. menunjukkan kesetiaannya padaku. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat.

djAnGgo 95 . Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. “Dad. dan orangtua mereka. Kelihatannya ia tak keberatan. Malam itu. saat makan malam. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. dan barangkali kakek buyut mereka juga. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. Bukannya aku bakal memberitahunya. sehingga sulit untuk mengubahnya.” tanyaku santai. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu.Jessica dan Angela melewatiku.

“Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. Eric ada disana. Setidaknya Mike senang melihatku. langit biru itu akan lenyap lagi. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. berharap tidak ketahuan.. Bukan di tempat semestinya. Awan-awan menggantung di langit. Aku mengulum senyum. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. gembira.” ujarku berbohong. kenapa?” Aku mengangkat bahu. Lee mengajak dua orang lagi. tapi jelas itu matahari. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. matahari bersinar. diikuti Angela dan Lauren.” “Oh.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping. Jess ada disana. “Mungkin aku salah mengingat namanya. Mike tampak kecewa. duduk di kursi depan Suburban Mike. “Sudah kubilang hari bakal cerah. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya.. Meski begitu. Aku senang bisa duduk dekat jendela.” gumamku. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. dan bisa dipastikan. sehingga semua mobil penuh. tapi belum pernah singgah disana. tapi setidaknya Jess kelihatan puas.” “Oke. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. “Terlalu banyak beruang. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 . Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali.” ujarnya. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun.” Aku bermaksud pergi tidur.“Yeah. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. Betapa mudahnya membuat Mike senang. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Tapi tetap saja mempesona. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Aku berdiri di jendela selama mungkin. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. kecuali kau mengundang seseorang. dan Sungai Quillayute yang lebar. “Tidak. “Kau boleh membawa senjata. membisikkan sesuatu pada Lauren. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya.” Ia terdengar terkejut. khawatir kalau kutinggalkan. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. terlalu rendah. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Airnya kelabu gelap. “Kau datang!” serunya.” Ia tersenyum bahagia.” Mike menambahkan. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. Aku sudah pernah melihatnya. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk.” aku mengingatkan. Aku tak percaya. Mike tampak puas. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota.

Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. hijau laut. yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan. beberapa sendirian. jauh dari jangkauan ombak. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. lavender . djAnGgo 97 . biru. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. yang dari kejauhan tampak abu-abu. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. keemasan yang kusam. beberapa berimpitan di bibir hutan. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata. naik ke puncak yang tak beraturan. abu-abu.

menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. lalu duduk di sebelahku. Awan-awan masih mengelilingi langit. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Ombaknya rendah. agar tidak jatuh ke lautan.Angin kencang bertiup bersama ombak. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Ia tidak ingin mendaki. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. cewek-cewek lain berkumpul. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Aku sudah menyukainya sejak kecil. perhatikan warna-warnanya. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. dan rantingranting di atas kepalaku. Aku harus berhati-hati melangkah. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. lalu duduk hati-hati disana. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. sejuk dan asin. Setengah jam setelah mengobrol. Yang lain sepertinya tak kenal takut. Mike berlutut di depan api unggun. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Kami berjalan menuju pantai. “Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. Ini benar-benar dilema. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru. penuh abu hitam. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya.” kataku kagum. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. bergosip ceria di sebelahku. “Belum. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. Pendakiannya tidak terlalu panjang. “Itu karena garam. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. melompat-lompat di atas bebatuan. Untung Jess ada di sisinya yang lain. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . Ada api unggun disana. bertengger di ujung tebing berbahaya.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. dan aku pun langsung tertingal dari yang lain. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. “Warnanya biru.

Ketika makin dekat. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. jumlah orang disana sudah bertambah. djAnGgo 99 . kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. Ketika kami kembali ke First Beach. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. tapi bisa saja lebih parah. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. Aku begitu terlena. kulit mereka berwarna tembaga. Telapak tanganku beberapa kali tergores. hingga beberapa kali aku terjatuh. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau.

Tiga remaja dari reservasi mengitari api. dan membuat ombak berubah gelap. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. yang lain ikut mendaki. Angela dan aku tiba terakhir. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. dan. aku yang bungsu. berdua atau bertiga. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. Kulitnya menawan. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. agar mereka bisa pergi memancing. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut.” “Bukan. dan hal itu menggangguku. Jacob pindah duduk di sebelahku. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. Selama makan siang awan mulai berkumpul. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. bersama Jessica yang selalu mengekorinya.” keluhku. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. menggantikan Angela. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. “Aku Jacob Black. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. “Kau Isabella Swan. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. sering kali samar-samar. “Kau membeli truk ayahku.” sahutku lega. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya. Aku duduk di sebelah Angela. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 . menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. beranjak ke toko di pedesaan. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. ketika Eric memperkenalkan nama kami.” “Rachel dan Rebecca. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. matanya gelap. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami.” “Oh. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. “Bella. sambil menjabat tangannya yang ramping. “Kau putra Billy. Sepertinya dia berumur 14.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. dan melekat dalam pikiranku. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. halus dan kecoklatan. aku duduk sendirian di seonggok kayu. mungkin 15. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. Mike. kadang-kadang menghalangi matahari.” tiba-tiba aku teringat. perlahan-lahan menutupi langit biru. ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. kau pasti ingat kakak-kakakku. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara.

Wow. kau menyukai truknya?” tanyanya.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.” “Menikah.” djAnGgo 101 . dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. “Tidak. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington.terhenti. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai. “Aku menyukainya.” Jacob menggeleng. “Jadi. Truknya hebat. sekarang dia tinggal di Hawaii.

sorot matanya masih coba kupahami. namun enak didengar.” aku tertawa. Ia tersenyum menawan. Kalau begitu jangan. mengabaikan pertanyaan Lauren. membuat laut gelap dan suhu turun. dengan nada yang kupikir kasar. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. “Ya. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya.” jawabku. “Bagus sekali. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. Jacob mengusik ketenanganku. Rencana bodoh. bagiku itu sesuatu yang ironis. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. “Kau kenal Bella. “Ya. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini.” panggilnya lagi.” ia tertawa. Perhatian Lauren pun teralihkan. Ia tersenyum penuh pengertian. dan matanya yang curiga menyipit. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya.” sergahku.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan. “Maaf. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna.” Ia nyengir. terkagum-kagum. Ia sangat mudah diajak bicara.” Aku nyengir. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. “Maksudmu anak-anak dr. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir.“Yeah. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. Jacob?” tanya Lauren. “Bagus. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. dan setengah berbalik menghadapnya. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna. dari seberang. kan?” candanya. Suaranya serak. “Jadi. Hasilnya tentu saja tidak sama. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. “Bella. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. aku yakin. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. tapi jalannya pelan sekali. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum. Aku menatap cowok bersuara berat itu. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. tersenyum padaku lagi. bahwa mereka tidak diizinkan. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. awan akhirnya menutupi langit. “Jadi. terkejut. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek. Tyler.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. dan suaranya sangat berat.” Jacob menimpali sambil tertawa. tapi aku berjanji akan mencari tahu. “aku belum tahu. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. “Aku baru saja bilang pada Tyler. sambil memperhatikan wajahku.” “Tidak sepelan itu kok. menuju garis batas yang pebuh driftwood.” ia tertawa. memandangku bersahabat. djAnGgo 102 . sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. mereka dilarang datang. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku.

tanganku ke saku djAnGgo 103 .Kumasukkan jaket.

“Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. djAnGgo 104 . mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. memandang Pulau James. tentang asal-muasal kami. setelah aku dapat SIM. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. Ia balas tersenyum menawan.” jelasnya.” lanjutnya. “Upss. “Keluarga Cullen? Oh. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. konon katanya. Aku berusaha mengabaikannya. “Aku suka.” Suaranya semakin rendah. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. ada banyak legenda. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. “Well. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos.” jawabku jujur. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. sepertin Nuh dan bahteranya. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya.“Jadi.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin.” “Oh. Ia memandang bebatuan. “Tidak terlalu. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. tubuhku cukup tinggi.” ia memberitahuku. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. dan beberapa yang lain belum terlalu tua. “Tapi setelah mobilku selesai. aku takkan bilang siapa-siapa.” “Untuk anak seusiaku.” Ia memalingkan wajah.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda. “Tidak juga. “Kupikir kau lebih tua. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya. “Ya.” kataku bersemangat. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat.” Jacob memutar bola matanya. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. “Aku baru saja berumur 15. aku hanya penasaran. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. umurnya 19.” ia mengaku keheranan. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. “Itu Sam. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala.” Ia tersenyum.” ia mengaku malu-malu. aku bisa pergi sesering yang kumau. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. suara tak menyenangkan. Benarbenar konyol. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. tak lagi berpura-pura. berharap jawabannya ya.

seperti ayahku. Kau tahu. seperti leluhur kami. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman.“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. djAnGgo 105 . serigala jadi-jadian. “Dia tetua suku. bukan serigala sesungguhnya.” Aku menatapnya serius.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. well. Kau bisa menyebutnya werewolf. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia.

Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. seorang perempuan dan laki-laki baru. kemudian bergidik. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. yang berdarah dingin adalah musuh kami. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. “Kalau mereka tidak berbahaya.. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami.” kataku berjanji. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri.” Jacob berusaha menahan senyumnya. jadi aku tak berpaling menatapnya. kan.” lanjut Jacob. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. tapi sisanya sama saja. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. dan melanjutkan ceritanya lagi. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin. “Mereka adalah kelompok yang sama. Carlisle. Konon. sambil masih menatap ombak.” ia tertawa gembira. mereka sudah mengenal pemimpinnya.” Aku mencoba mengerti.” jawabnya.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. Pada masa kakek buyutku. kan?” Aku mengulurkan lengan.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. Cullen mulai bekerja disana.” aku memujinya. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. “Tapi sungguh. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. Bulu kudukku masih berdiri.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang.” Jacob tiba-tiba berhenti. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. “Kau merinding.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya.” Ia mengedip.” Aku belum dapat menahan emosiku. “Tidak. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia. entah bagaimana caranya. namun sedikit waswas. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. lalu kenapa.. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya. “Cerita yang cukup sinting. Ia tersenyum senang. “Bangsa kalian menyebutnya vampir. “Kau pencerita yang baik. Aku tak tahu bagaimana rupaku. jangan bilang apa-apa pada Charlie.” “Jadi.” “Tentu.” Ia tersenyum. lihat. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. “Sekarang jumlah mereka bertambah.” Jacob tertawa. “Peminum darah.“Jadi kau tahu. “Keren. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami. suaranya membuat bulu kuduk meremang. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. “secara tradisional. aku takkan bilang.

Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike.” bisikku. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami. “Tidak. senang karena rayuanku yang payah. tentu saja bukan.” Mike terdengar lega. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. Aku mengedip padanya. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. djAnGgo 107 . “Disini kau rupanya.mendekat. Bella. Jacob tersenyum. “Itu pacarmu?” tanya Jacob.

Ia sangat mudah diajak berteman. dan ia balas tersenyum. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan. Angela hanya memandang ke luar jendela.” “Terima kasih. Kita harus nongkrong bareng sesekali. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. “Aku datang. Mike sudah di dekat kami sekarang.” ucapku tulus. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi. “Kau dari mana saja?” tanya Mike.” “Senang bertemu lagi denganmu. “Well. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob..” jawabku. kalau aku mendapat SIM-ku. “Akan kutunggu.” Aku melompat berdiri. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. Jacob tersenyum. mengingat aku telah memanfaatkannya. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. “Kita akan berkemaskemas. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. “Oke.” ia memulai lagi.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. Sepertinya memang akan hujan. Ketika kami sampai di Suburban. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. “Aku juga. memejamkan mata dan berusaha santai. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir.” kata Jacob. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy.“Jadi..” aku berjanji padanya. aku akan ikut. djAnGgo 108 . “Sangat menarik. memandangi badai yang semakin dahsyat. sepertinya sebentar lagi hujan.” Kami memandang langit yang mulai mendung. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler. “Kau harus mengunjungiku di Forks. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala.” Mike berhenti.

djAnGgo 109 .

dan giginya tajam. Tapi ia sudah lenyap. Karenanya. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. kulitnya bercahaya samar. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. tapi Jacob Black ada disana. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. aku tertidur. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. Bella!” seru Mike dari belakang. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. sekujur tubuhnya gemetaran. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap.” ujarnya. Aku melangkah sekali lagi. akhirnya. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. “Lari. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. Aku memasukkan CD itu. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. Aku maju selangkah. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. CD-nya kuputar berulang-ulang. bulu-bulu tengkuknya meremang. matanya gelap dan berbahaya. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. “Tidak!” teriakku. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. “Jacob!” jeritku. taringnya siap menerkam leher Edward. Aku mencoba mengikuti suara itu. hingga. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. “Percayalah padaku. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. mencoba memahami liriknya. “Lewat sini. runcing. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam. Begitu sampai di kamar.7. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. tapi aku tak bisa melihatnya. suaranya mendengkur. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. Ia tersenyum. Bella. “Lari. Aku memejamkan mata. aku mengunci pintu. “Jacob. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . Berhasil. “Kenapa?” tanyaku. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. kini putus asa menginginkan matahari.Tapi aku tidak berpaling. menarik-narik tanganku. ada apa?” aku bertanya. dan tidak ingin makan apa-apa. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. Setelah 3 kali memutar CD itu. menekan tombol Play. menghampiri Edward.

Ia pergi memancing lagi. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. Aku memandang jam di lemari pakaian. Hanya dengan berbungkus handuk. Kulepaskan headphone-nya. kemudian jatuh di lantai kayu.30. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. lalu menyimpannya. untuk men. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. lalu membereskan tempat tidur. dan menyimpannya di laci lemari. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. sesuatu yang tak pernah kulakukan. bingung. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. lalu mengetik satu kata. Aku benci menggunakan internet disini.ku dulu. senang menundanya selama mungkin. Sudah pukul 05. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. Aku mengerang. Kakiku kram ketika menaiki tangga. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. Aku harus menghadapinya sekarang. Vampir A-Z. Ketika hasil pencariannya muncul. Lalu aku menemukan situs yang tepat. grup metal underground. Vampir. langsung ke bagian yang berisik. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Lalu aku menyetel CD yang sama. atau sudah pergi. Kuambil CD player. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. aku pergi ke kamar. Perlahan-lahan aku berpakaian. Modemku sudah ketinggalan jaman. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Lebih baik mandi dulu. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. layanan servis gratisnya buruk. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. tentu saja. mobil patrolinya sudah tidak ada. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Aku makan pelan-pelan. Lampu kamar masih menyala. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Percuma. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja. batinku. dan perusahaan kosmetik gotik. Aku duduk. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Kuintip dari jendela. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Aku tak bisa tidur lagi.tidur. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. membuka kancing jinsku. Aku menutup mataku lagi dengan bantal.

tak ada figur yang begitu mengerikan. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. Akhirnya selesai. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. tersusun secara alfabetik. seperti sang vampir. hakim. yang bukan hantu ataupun setan. ahli bedah.. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . di kepulauan itu dahulu kala. keterangan itu adalah mengenai vampir. sejenis tumbuhan berbuah kentang. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia. para imam. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. Menurut mitos itu. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. Semuanya lengkap : laporan resmi. Pdr. vampir Filipina yang menanam taro. Dan dengan semua itu. Pertama-tama aku memilih Danag. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. kelihatannya seperti situs pendidikan.bermunculan di layar.

Lalu masalah lainnya. hanya ada satu kalimat pendek. Stregoci benefici : vampir Italia. aku merasa malu. Rasanya lega ada satu catatan kecil. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Langit mendung. berkulit dingin. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. konon memihak kebaikan. vampir tidak bisa keluar di siang hari. lalu turun. dan satunya lagi Stegoni benefici. Kecepatan. Mereka tidur di dalam peti seharian. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. Aku membaca uraiannya dengan saksama. Meski begitu. Aku duduk di kamar. tapi belum hujan.bertahun-tahun. dan hanya sedikit sekali. Merasa jengkel. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. Di balik kekesalanku. musuh werewolf. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. Semua ini benar-benar konyol. tak tahu akan ke mana. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. keindahan. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. warna mata yang berganti-ganti. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. tanpa melalui tahapan semestinya. di djAnGgo 113 . dan musuh abadi semua vampir jahat. Mengenai yang terakhir ini. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. Nelapsi dari Slovakua. matahari menjadikan mereka abu. Aku harus keluar dari rumah. mencari keterangan tentang vampir. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. dan abadi. dan hanya keluar di malam hari. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. kulit pucat. kekuatan. apalagi masuk akal. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. kalau tidak. Aku paling payah kalau soal arah. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur.

munurut dugaanku menuju ke timur. Pohon yang baru tumbang itu. Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. aku memperlambat langkah. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . dan yew. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. mapel. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. menjulang tinggi di atasku. Banyak yang tidak kuketahui. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. Ketika amarahku memudar.

barangkali. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya.. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Pikiranku menolak rasa sakit itu. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. berbahaya.. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. suara tetesan air semakin sering terdengar. mereka memang sesuatu. Memintanya menjauhiku. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. keheningan serasa mencekam.. Dan caranya kadang-kadang bicara. Edward Cullen bukanlah.. Membatalkan rencana kami. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . Pertama. menyandarkan kepala ke pohon satunya. Aku tak bisa melakukan yang lain. ketampanan yang tidak manusiawi. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. Lagipula. manusia. sergahku dalam hati. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. Amat sangat cepat. Di sini. Tapi lalu apa? Batinku. dan kali benar-benar serius. mengabaikannya sebisaku. diantara pepohonan. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. seandainya ia. Kini setelah aku duduk. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. Inilah jawabanku sekarang. kecuali aku.. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Burung-burung membisu. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini.ku sendiri. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya.. menghindarinya sebisa mungkin. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil.. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. jahat. Jadi. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. tanpa melihatku. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Ia lebih dari itu. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya. membuatku gelisah. Seharusnya aku tahu. Sepertinya ada dua pilihan. daripada di kamar tidurku. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. dan bergegas beralih ke pilihan lain. Terlebih lagi.. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. kulit yang pucat dan dingin. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar.lainnya. siapapun pasti menganggapku bergurau. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi.

kalau memang yakin. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka. Aku mengkhawatirkan-nya. Satu hal yang aku yakin. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung. bukannya karena Edward sendiri. djAnGgo 116 . Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. seberapa jahatkah ia? tukasku marah.nyawa adalah tindakan spontan baginya.

Meskipun. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. Tidak disini. padahal malamnya aku kurang tidur.. Anehya keputusan ini mudah dijalani. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. daya tarik kepribadiannya. Karena ketika aku memikirkan Edward. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. Sekarang setelah tahu. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. Keduanya seharusnya berbeda. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Aku bergegas mengikutinya.. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . seperti keputusanku datang ke Forks. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. Aku melompat ke jendela. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Mudah sekaligus berbahaya. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. pertanda hari bakal cerah. matanya yang menyihir. dan aku pun terbebas. berhubung aku tidak kemana-mana. Sebelum kelewat panik. aku tinggal menjalaninya. Tapi jalan kecil itu masih disana. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. tapi aku tak bisa memikirkannya. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. Kubuka jendela. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. suaranya. Aku sudah terlibat terlalu jauh. pikirku. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan. Malam aku tidur tanpa mimpi. well. Kamis sore sejujurnya. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. rumahnya memberi isyarat padaku. seandainya aku benar-benar tahu. produktif. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. aku tahu aku mestinya merasa takut.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. Aku memang selalu seperti itu. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. aku terbangun melihat cahaya kuning terang. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. Tapi begitu keputusan diambil. Aku seharusnya takut. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku. tudung jaketku menutup rapat kepalaku... Charlie pulang membawa tangkapan besar. bagian yang paling membuatku menderita. aman dan jelas.

Ia balas tersenyum. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. warnanya sama dengan rambutku. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. telah menipis. djAnGgo 118 . Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. jika bukan teksturnya.” aku menimpalinya sambil tersenyum. dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. dan menghirup udara yang kering. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. Rambut cokelat ikalnya. “Ya. “Hari yang bagus untuk berada di luar. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. Tapi ketika ia tersenyum. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. mulus. Ketika Charlie tersenyum.deritan. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah.” komentarnya.

. kita bisa pergi makan malam atau apa. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat. bukan?” “Hari yang kusuka. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. Dengan menuangkan banyak pelumas. rambutmu ada semburat merahnya. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. Semua anak menggunakan T-shirt . “Mike. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan. “Kupikir itu bukan ide bagus. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku.” aku jengkel didesak seperti ini. “Oh iya. matanya siaga. kecewa. “Kenapa?” ia bertanya. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 . memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. dikumpulkan Kamis. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. dahinya berkerut. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat.. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku.” Ia tersenyum penuh harap. Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh.” “Rabu?” sahutnya. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C. “Seharian mengerjakan esai. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. rambut spike-nya bersinar keemasan. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. tak perlulah menyombongkan diri.” sahutku. tanganku memegang jas hujan. “Gawat. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. kurasa Rabu.” “Oh..” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. “Baru sekarang kuperhatikan. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab. Ia sangat senang bertemu denganku. senang bisa menggunakannya. PR-ku sudah selesai.” katanya. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. hingga mau tak mau aku senang juga. “Hari yang indah.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. Mike.. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked.” sapaku sambil balas melambai. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi.. “Hanya di bawah sinar matahari. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah.. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan. senyum merekah di bibirnya. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well. Mike menghampiriku. dan sedang melambai ke arahku.” Aku tersadar. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. Ia duduk di sebelahku. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini.” Wajahnya kecewa. kan?” “Mmm. “Hei. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun..” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. kedengarannya seperti Mike.

” ancamku..” ia menarik napas. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.. “Kupikir. jelas bingung. djAnGgo 120 . Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. “Jessica?” “Sungguh. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati.Edward. Mike. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. Ia keheranan. dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain. kau ini buta ya?” “Oh.

kelas Spanyol menahan kami. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. pelatih tidak selesai menjelaskan. Bagian terbaiknya adalah. Jadi kubilang akan memikirkannya.. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. menungguku. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. ia kelihatannya sangat antusias. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. tidak sama sekali.“Waktunya masuk kelas. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. meskipun hatiku sedih. muram. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. Angela juga mengajakku ikut malam ini. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in.” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. Ketika melintasi pintu kafetaria. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Ia. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. kubilang akan minta izin Charlie dulu.. djAnGgo 121 . meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. dan raut wajahnya gelisah. dan memilih duduk di sebelah Angela. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. Aku tak bisa memutuskan. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. dan aku tak boleh terlambat lagi. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. lalu menetap di perut. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. berharap menemukannya duduk sendirian. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. dan sekarang aku mengatakan ya. melainkan juga semua keluarga Cullen. tapi Laurent juga bakal ikut. Angela. bukannya terpeleset di lapangan. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian.

Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam. Jessica menelepon membatalkan rencana kami. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Aku membumbui ikan untuk makan malam. djAnGgo 122 . Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti.

membalik-balik halaman novel itu. Aku nggak ada di rumah. Rupanya aku tertidur. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. tulang pipi. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. Aku mengedarkan pandang. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. duduk. Mom. Di luar. yang semakin lama semakin sisis. lengan bawah. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . di atas rumput tebal yang selalu agak basah. mereasa jengkel. Bella. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. lalu berguling hingga terlentang. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. jadi kupilih Sense and Sensibility.Kuperiksa e-mail-ku. Maaf. Aku langsung terbangun. ujarku kasar pada diri sendiri. membaca tumpukan surat dari ibuku. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. hidung. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. Angin masih sepoi-sepoi. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. leher. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. dan rasanya agak geli. aku juga terkejut. aku tahu. Dan aku harus membuat makalah. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. Aku sayang kau. djAnGgo 123 . mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. bibir. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. Aku berbaring menelungkup. hampir mirip. Aku membawa beberapa buku ke Forks. Aku pergi ke pantai dengan teman. Kutarik rambutku ke atas. menembus kausku yang tipis.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. kembali ke trotoar. Langkahku tetap stabil. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. di sana ada rambu stop. tapi ragu. memutuskan akan lari atau tidak. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. Aku sampai di sudut. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. Aku setengah berbalik dengan siaga. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. Jalanannya berakhir di sudut berikut. dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku berpikir untuk menyetopnya.

Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik.” seru cowok itu. tapi mereka terlalu jauh. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. bersiap-siap berteriak. Kepalan tangan siap kulayangkan. Teriakanku cukup keras dan lantang. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. mobil ini akan berhenti. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. dan berjalan pelan ke jalan. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. “Jangan dekati aku. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. kaki terbuka. dan aku menghela napas lega. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. lampu jalan. “Kami hanya mengambil jalan pintas. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. “Masuk. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. ia seolaholah memandang ke belakangku. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. tendangan lutut ke daerah vitalnya. Aku pun tersadar.” suara keras menyahut dari belakangku. Aku memasang kuda-kuda. apalagi mereka berempat. Aku membelok dengan helaan napas lega. “Yeah. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. tak ada suara yang keluar. Lalu menghentikan langkah. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Aku berlari ke tengah jalan. aku tidak sedang diikuti. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. sementara aku berdiri membeku di trotoar.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. Dalam kegelapan yang menyelimuti. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati.” terdengar suara gusar memerintahku. atau menabrakku. “Jangan begitu. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. Tentu saja jurus standar. Aku melompat djAnGgo 133 . “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. mobil-mobil. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Aku dijebak. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. menggenggamnya. Manis. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka.” Langkahku sekarang pelan. memaksanya melompat ke trotoar. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. Menusukkan jari ke matanya. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan.

tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. melaju terlalu cepat. terus melesat cepat. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu.masuk. Aku langsung mematuhinya. Suasana di dalam mobil gelap. membanting pintu hingga tertutup. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. djAnGgo 134 . Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. Tapi aku merasa sangat aman.” perintahnya. “Pakai sabuk pengamanmu. Ia membelok tajam ke kiri. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu.

“Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. menjelaskan rencanaku. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. Aku duduk diam. tapi sudut bibirnya menegang. Aku memandang berkeliling. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. “Aku seharusnya menemui mereka. Wajahnya kaku. Ia menyandarkan kepala ke kursi. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. memandang ke luar jendela.” perintahnya. nada suaranya marah. dia juga tidak bisa pergi ke prom. “Jessica dan Angela pasti khawatir. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. “Setidaknya.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya.. Edward menghela napas. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri. terkejut mendengar betapa parau suaraku. tapi amarah tampak jelas di wajahnya. “Mmm.. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. mobilnya masih ngebut.” cerocosku. “Ya?” suaraku masih parau.. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. menatap langit-langit mobil. “Tidak. “Apa yang terjadi?” bisikku. memalingkan wajah.” jawabku lembut. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah.. Aku melihat jam di dasbor.” “Oh.30.” Aku menunggu. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.” Ia terdengar lebih tenang. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. Kami sudah meninggalkan kota. “Aku sudah dengar. Diam-diam aku berusaha berdeham. menunggu napasku kembali normal. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Kalau tidak punya kendaraan.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa.” Ia juga berbisik.” Kata itu sepertinya tidak cukup. berarti kedudukan kami seri. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang.” ia menjelaskan. “Bella?” ujarnya. well. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo.” katanya kasar. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Kami duduk diam lagi. “Maaf. “Tolong alihkan perhatianku.” lanjutnya. matanya menyipit. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi. akhirnya membuka mata. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 . “Ya.. Bella.. suaranya tegang namun terkendali. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik.” gumamku. kau pasti ingat. “Lebih baik?” “Tidak juga.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. Sudah lewat 18. Aku tidak memerlukan musuh. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah.” gumamku.

Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja. djAnGgo 136 . Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya. berjalan waswas menjauhi kami.jalur boardwalk. “Bagaimana kau tahu dimana. tapi ia melakukannya dengan mudah... tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil.” aku memulai.

kami sudah makan ketika menunggumu tadi. “Oke. dan rambutnya dicat pirang. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. Jelas sekali ia tak ingin didebat. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward. Dari ekspresi mereka yang terkejut.. aku tidak lapar. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. melambai ketika mereka menoleh. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. Kami disambut seorang cewek..” Suara Edward pelan. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku.” aku berkeras. kurasa. “Sampai besok.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya. “Kalau begitu. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. kemudian bergegas keluar dari mobil.” aku mengaku malu-malu. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.” dengus Jessica. “Mengajakmu makan malam. hibur aku. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. Edward. Aku balas melambai.. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Restorannya tidak ramai.” Aku mengangkat bahu.” Jessica menggigit bibir. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. “Pergilah. “Mmm. tentu saja. enggan mendekat. “Sejujurnya. Aku mengedip padanya. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.” Angela mendahului Jessica. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. Ia menungguku di trotoar. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. Ekspresinya tak bisa ditebak. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. lagi pula aku tidak lapar.. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya.. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. Ia berbicara mendahuluiku. Bella.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. Aku tak yakin. entah disengaja atau tidak. Ketika akan masuk ke mobil. mengamati wajahnya. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah. Kulepaskan sabuk pengamanku. tapi bernada memerintah.” katanya sedikit tersenyum. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 . suaranya lembut dan menggoda. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. Mereka ragu. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. Jess berbalik dan melambai. “Aku tersesat. tapi Edward menggeleng. “Mmm.” aku Angela. Aku hendak duduk.” “Eehh. “Tidak apa-apa. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. sebenarnya.” kataku sambil menunjuknya. tidak masalah. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. wajahnya penasaran. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka.. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Mereka bergegas menghampiriku. “Kurasa kau harus makan sesuatu. maaf. Bella. tapi sorot matanya tetap tajam.

“Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang. “Tentu. ia menggeleng.” djAnGgo 138 .” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan. “Tidak adil.” aku mengkritiknya. “Mmm”. semua kursinya kosong. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok.” Edward memamerkan senyumnya yang memukau.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. matanya mengerjap.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. membuat cewek itu sesaat terpana. “pelayan kalian akan segera datang. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna.

” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum. Namaku Amber. Pandangannya terpaku di wajahku. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 . sebenarnya aku menunggumu syok. “Oh. “Aku mau Coke.” Senyum lebar mengembang di wajahnya.” kata Edward. “Aku tidak pesan. “Well. terkejut karena kusungguhan hatinya. Tapi Edward tidak memandangnya. Tentu saja. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward. “Kau tidak merasa pusing.” kataku setelah bisa bernapas lagi. “Terima kasih.” gumamku. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. lalu minum lagi lebih banyak. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. masih haus. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. wajahnya penuh harap.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu. Kusesap sodanya dengan patuh.” jawabku. Ia sedang memperhatikanku. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. ayolah. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. “Minum.” kata Edward. membuatku gemetaran. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini.” Ia tampak bingung.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. “Dua. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat.?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku.. sorot matanya perasaran. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya.” ia menyuruhku. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja.. “Bella?” tanya Edward. “Mmm. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku. Edward memandangku.” Pucuk dicinta ulam tiba. sakit.” “Sama. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. “Hai. kedinginan. aku mau mushroom ravioli. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat. “Kupikir itu tidak bakal terjadi.” Ia memiringkan kepala.” aku berkata ragu. Pelayan datang.. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward.” aku mengakuinya.

ketinggalan di mobil Jessica.“Tidak. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 . kembali gemetaran. tapi sejak awal. benar-benar memperhatikannya. hanya Coke yang kuminum. Edward menanggalkan jaketnya. “Oh. bukan hanya malam ini. Namun sekarang aku melihatnya.” aku menjelaskan.” aku tersadar. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. “Punya. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya.

sambil mengenakan jaketnya.” kataku lagi.” Ia tampak khawatir. “Tentu.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang. “Aku punya teori tentang itu. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya. Lengannya kelewat panjang. berusaha terlihat cuek. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. namun tatapannya masih tegang. Ia menatapku. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku. sambil menebak ekspresinya. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.” ujarku. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang.warna krem muda. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu.” aku mengakui. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. Aku terkejut.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. “Well. tapi kau boleh membawakan soda lagi. wajahku memerah tentu saja. tidak. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan. Aku kembali gemetaran. “Aku akan menceritakannya di mobil. Aku menghirupnya. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. tadi kupikir matamu berubah kelam. lebih terang daripada yang pernah kulihat.” aku berhenti.” “Tidak masalah.” katanya memperhatikan. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. Tidak seperti aroma kolonye. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. lalu menunduk. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari.” gumamnya pada diri sendiri.” djAnGgo 141 . Perkataanku membuatnya tidak nyaman. “Sungguh. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. dan langsung berbalik menghadap Edward. Rasanya sejuk. “Apa katamu tadi?” tanya Edward.. alisnya yang berwarna pualam mengerut. seperti pada umumnya orang normal. “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. Ia menaruh makanan itu di depanku. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya. terima kasih. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. suaranya terdengar waswas.” ujarku. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.” lanjutku. Aromanya menyenangkan. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. wajahnya cemberut. “Terima kasih... Kalau.” protesku. “Teori lagi?” “Mm-hm. cokelat keemasan. terkesima.” Matanya menyipit. mengalihkan kerlingan mataku. Ia menggeleng. Ia menatap ke dalam mataku. aku tidak mendapatkannya dari komik. “Dan?” sambarnya. sepertinya lumayan enak. “Tidak.. Sweter itu amat pas di tubuhnya. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. “Kau seharusnya syok. dan aku melihat betapa matanya terang.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu. “Aku merasa sangat aman denganmu. Ia memberikan jaketnya kepadaku. aku tidak merasa syok. mencoba mengenali aroma itu.

” ia mendesakku. lalu pergi. “Well. djAnGgo 142 . suaranya masih tegang.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. ayo mulai. Aku menyesapnya. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara.

kau bisa mempercayaiku. “Ya sudah. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. Kalau Joe memperhatikan.” “Tapi itu yang paling mudah.. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. “Tentu saja. Sepertinya ia sedang bergidik. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. menandakan ia mengejekku.” “Kupikir kau selalu benar. “secara hipotetis. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade.” Aku senang ia berusaha meladeniku.” ujarku keberatan.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. mengunyah sambil berpikir. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. Raut wajahnye berubah dingin. seseorang.Aku memulai dengan yang paling sederhana. Atau begitulah menurutku.. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya.” “Hanya satu pengecualian.” Suaranya nyaris seperti bisikan. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa. dan kurasa ia sedang membuat keputusan.” ia mengulangi perkataannya. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku... perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. dengan satu pengecualian.” Aku memandangnya marah. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. Kau daya tarik terhadap masalah.” “Well.. mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Ia tersenyum ironis. “Tak salah lagi. kalau. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat.. “Secara hipotetis?” tanyanya. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti. Aku menunduk..” “Baik kalau begitu. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut.” ia meralatku. matanya hangat. masalah itu selalu bisa menemukanmu. “Aku salah. Jamurnya enak. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. memutar bola matanya. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. membaca pikiran. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. kau tahu itu.” aku mengusulkan.” Ia menggeleng.” Ia kembali menggeleng. masih menunduk. “Berikutnya. kalau begitu. dan djAnGgo 143 . Kami bertatapan.” “Biasanya begitu. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. “Kau tahu. kesal.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku.” aku mengingatkannya dengan nada dingin. secara hipotesis tentu saja. “Berikutnya. “Betul juga.. “Katakan saja. kau lebih teliti daripada yang kukira. Ia tertawa. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya. kau tahu. seseorang.” “Sebut saja dia Joe. dengan beberapa pengecualian. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. tapi aku berusaha terlihat kasual.” gumamku. tanpa ekspresi..” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. seseorang itu. begitu juga aku. Meski menunduk. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya. “Oke. tapi ia langsung menariknya.” sahutnya menyetujui. penggolongan itu tidak cukup luas.

Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. tapi mengangguk.” Ketegangan di wajahnya mencair. seperti batu. oke?” Aku cemberut. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku. “Terima kasih. “Jangan ada yang ketiga kali. Kulitnya dingin dan keras. djAnGgo 144 . Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja.” Suaraku benar-benar tulus.

” Aku terdiam sebentar. Kupaksa menelan makananku. tapi anehnya aku toh khawatir juga. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama. berkat dirimu. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk kesana. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. Aku menatapnya terpana. suaranya sulit didengar. mengalihkan kecurigaanku.. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku. Pandangannya tetap menerawang. aku bisa dengan mudah menemukannya. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. Dan lalu.” akunya terburu-buru..” katanya. wajahnya yang tampan berubah serius. djAnGgo 145 . seperti kataku. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum. Aku tak punya alasan untuk khawatir. sambil masih. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. “Lalu apa?” bisikku. Matahari akhirnya terbenam. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. dan aku tahu toh kau harus kembali. kembali menimbang-nimbang.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. Jadi.” sahutku tenang. matanya yang menyipit menatapku.. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. “Itu bukan yang pertama..” Ia menatapku waswas. Ia menatapku. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. disinilah aku duduk. tapi sebaliknya aku malah senang... tatapannya menembusku. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi.” Ia melamun. pada insiden van itu. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. aku bicara. Lalu. “Ya. lalu menatapku lagi. “Aku mulai bermobil berputar-putar. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu.. “Ya.. Biasanya.” Ada secercah keraguan dalam suaranya. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. tapi ia menundukkan kepala. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya.. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. ” Ia berhenti. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya.” Ia berhenti.” usulnya.. aku hanya menunggumu. salah satu alisnya terangkat. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. dan aku menyadari tubuhku mematung. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. mendengarkan. “Kau makan. “Kau ingat?” tanyanya. dan kau pergi ke arah selatan. “Tapi toh sekarang kau duduk disini. Ia memandangi piringku yang masih penuh.

bagai patung batu. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya. Tangannya masih menutupi wajah.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya. penuh dengan pertanyaannya sendiri. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. tetap hidup.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. hanya pergi menyelamatkanmu. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. kepalaku pening. Akhirnya ia mendongak. satu siku bertengger di meja.” Suaranya tidak jelas. aku akan pergi mencari mereka. Tanganku terlipat di pangkuan. Aku duduk diam..” geramnya. sekali. dan ia masih tak bergerak. tertutup lengannya. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. djAnGgo 146 ... tangan menutupi mata. dan aku bersadar lemah di kursi.” ia mengakui dalam bisikan. dan membiarkan mereka. pikiranku campur aduk. matanya mencari-cari mataku. “Sulit.

“Ini dia. djAnGgo 147 . Aku belum siap berpisah dengannya. Aku menyembunyikan senyumku.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward. Aku memandang trotoar. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. tapi nyatanya belum.” Suaranya tenang.” aku mengiyakan. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward. Udara dingin sekali. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. Edward mendongak. Aku menghela napas. lalu menutupnya dengan lembut. menunggu. lalu bangkit. agak serak. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Edward sepertinya mendengar. sepertinya tanpa melirik. “Semoga malammu menyenangkan. dan ia menunduk penasaran.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya.“Ya. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku.” katanya. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. masih tegang oleh obrolan tadi. “T-tentu. “Sekarang. aku siap. Aku ikut berdiri dengan susah payah. masih mengagumi keanggunannya.” ujar pelayan itu terbata-bata. “Kami mau bayar. terima kasih. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Aku memperhatikannya memutar ke depan. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran.” Edward tersenyum. “Simpan saja kembaliannya. Atau memperhatikan.” giliranmu. berputar menuju jalan tol. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya.

tak lebih dari beberapa mil.. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. dan itu bisa sangat mengganggu. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. semua bicara serentak.. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja.. Hanya suara senandung. “Itu lebih dari satu pertanyaan. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Ia menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya. suara-suara dengungan di latar belakang. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan..” Ia memandang jalan. mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. dahinya berkerut ketika mengatakannya. Tapi tetap saja. menanti jawaban. “Satu saja. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu.” protesnya. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. “Baiklah kalau begitu. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. Aku mengikuti aroma tubuhmu. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. Ia nyaris tersenyum. “Tidak. “Aku tidak tahu.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. dan aku pergi ke selatan.” gumamnya.. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati. di mana saja..” gerutuku. adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. djAnGgo 148 . Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi.” katanya menyetujui. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. hanya aku yang bisa. Aku belum siap membiarkannya selesai. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Ia menghela napas. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang. sengaja. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi.” Ia berpaling.9. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”.” Aku merasa konyol. sorot matanya misterius. “Satu-satunya dugaanku. “Well . “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. Setelah aku terfokus pada satu suara. Ia memandangku tidak setuju padaku. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas.” Ia tersenyum jail. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.

hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.tiba-tiba tertawa. “Jangan khawatir. sekarang giliranmu.. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya. “Yang mengingatkan aku. djAnGgo 149 .. Bagaimana memulainya. barangkali karena memang benar.” ia tertawa. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh.” Aku menghela napas. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku.” Wajahnya menegang. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. itu cuma teori.

” tukasku marah.” janjinya. “Tenang. Aku menunduk memandang tanganku. barangkali kau masih bisa selamat. “Aku tak tahu bagaimana memulainya.” Aku mengamatinya dengan hati-hati.” Ia menghela napas.” gumamnya. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan.. Aku menatap panik ke luar jendela.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya.” Aku menggigit bibir. aku bahkan belum pernah ditilang. “Kita tidak akan tabrakan. “Aku bertemu teman lama keluargaku.” Suaranya tenang. Ia tampak bingung. “Tidak. di pantai. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” “Barangkali. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan.” ia menyetujui gurauanku. “Puas?” “Hampir. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja.. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. tersenyum lebar padaku. Lagipula. buku? Film?” Ia mencoba menebak.” “Sangat lucu.” Ia memutar bola matanya. kau tidak lupa. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. Bella. “Kami jalan-jalan. “. Ia menunduk memandangku. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang. “Charlie polisi.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya.” Aku mencoba mengubah intonasiku. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. tidak seperti rencana semula. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. Ekspresinya masih sama.” Ia menunggu. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. kemudian tertawa sebentar. “Aku masih menantikan teori terakhirmu. Bella. “Tapi kau tidak. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. “Katakan saja. Jacob Black.” “Apa yang memicunya. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung.” “Tidak. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . “Aku khawatir kau bakal marah padaku.” akuku. “Gila!” seruku. masih tidak memperlambat kecepatannya. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. semuanya berawal hari Sabtu.” Ia berbalik. mencoba berpikir. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. ” aku mengubah ceritaku.” tukasnya. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. ya. “Kenapa kau tiak mulai dari awal. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. “Aku tidak bakal tertawa. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku. “Radar pendeteksi alami. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini.” Ia masih tampak bingung.” aku melanjutkan.

beberapa legeda tua. djAnGgo 151 . kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. ragu-ragu.” katanya.” aku berhenti. Dia menceritakan salah satunya. “Lanjutkan...

“Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat. suaraku memancarkan keraguan. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.” bisikku.” “Tidak. kembali memandang lurus ke depan. Jacob Black yang malang.” keluhku. dan aku terkejut dibuatnya. “Aku benar?” tanyaku menahan napas..” Ia terdiam. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup. Wajahnya pucat dan kaku. “Tidak. “Tidak.. Kemudian. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam.. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. “Kalau saja aku melihatnya. menyebut keluargamu. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. Ia tertawa. “Kau marah.” aku mengakuinya. Aku menatapnya. “Tidak. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi.” Saat mengingatnya lagi. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi. dia mencoba memprovokasiku. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob. “Jadi aku salah lagi?” tantangku. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Aku mencari keterangan di Internet. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.” Ia tergelak.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. tapi suaranya setegang wajahnya. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. Kebanyakan konyol. “Aku mencoba merayunya. Dia. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Tidak ada yang cocok. terus menatap jalan. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting.” aku buru-buru berkata. aku yang memaksanya bercerita padaku. tapi sorot matanya sengit. “Itu salahku.” katanya. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku.“Tentang vampir.. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. Ia tertawa. mencengkram roda kemudi. “Bukan itu maksudku. Tapi aku melihat genggamannya menguat. djAnGgo 152 .” aku berhenti. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.” kataku lembut.” Aku sadar suaraku berbisik. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.” Ia tidak mengatakan apa-apa. menatap lurus ke depan. aku harus mengaku. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat.

“Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 .“Tidak juga.” Aku diam sebentar. “Tapi aku memang penasaran.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku. Tiba-tiba ia menyerah.

“Mitos.” ia menjelaskan perlahan. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting.. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . contohnya.” Ia ragu sesaat.” ia langsung menjawab. “Jadi. Aku menatapnya sampai ia berpaling.” ia mengingatkanku. Kami masih berbahaya. seperti yang dilakukannya sebelumnya. dan ia cemberut. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa. itu. memburu manusia. Aku tersenyum lebar. Aku menganggapnya sebagai pembenaran.” Ia menatap ke depan. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga.” bisiknya. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. “Jangan tertawa. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami.” Aku tersenyum. “Sama sekali?” “Tidak pernah. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. “Aku tidak bisa tidur.” “Terbakar matahari?” “Mitos. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan.. Aku berkedip. tatapannya dingin. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. menghiburnya. “itu. lalu nada suaranya berubah aneh. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis. “Kesalahan yang sangat berbahaya. dan ketika menatapku lagi.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih.” “Ya. “Tapi jangan senang dulu. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya.” Suaranya tegang sekarang.” gumamnya. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. suaranya nyaris tak terdengar. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku.” “Kami berusaha.” Suaranya muram. untuk berjaga-jaga.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar.” gumamku. “Oke.” katanya. “Tidak juga. “Well. dan aku tak mampu berkata-kata. “Oh.” “Aku tidak mengerti. masih terkesima. ketika ia khawatir aku syok. Mata emasnya bertemu pandang denganku.” akhirnya ia mengaku. membiarkan diriku berduaan denganmu. Kami sama-sama terdiam.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis. “Dia bilang kau tidak. Aku. “Cukup lama.

hingga tidak tampak nyata.jalan. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. djAnGgo 155 . seperti dalam video game. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. Kata-katanya mencerminkan nada final. seperti jalanan hitam di bawah kami. secara terbuka. tanpa dinding diantara kami. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. dan aku tersentak dibuatnya.

menyatakan.” pintaku putus asa. “Aku tidak yakin tentu saja. “Aku tidak ingin pergi. lalu sepertinya teringat sesuatu. lelucon diantara kami sendiri. “Kau ini memang pengamat.” Ia tergelak. Sudah kubilang aku punya teori. mengingat siapa dirimu. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. berada jauh darimu. Tiga hari yang amat panjang. tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. setidaknya. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami.. Aku memandang telapak tanganku. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. “Ya. atau dahaga tepatnya. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores. “Aku tidak ingin menjadi monster. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. “Kurasa.” “Apa?” “Tanganmu. tak peduli apa yang dipikirkannya. ya kan?” Aku tidak menjawab. dan memang tidak. suaraku masih memancarkan keputusasaan.” Ia tersenyum menyesal. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. kejadiannya bisa lebih buruk lagi. kami menyebut diri kami vegetarian. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. Aku menyadari mataku basah. Matanya tak pernah luput dari apapun.” “Tapi kau tidak sedang lapar. khususnya cowok.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. lebih pemarah ketika mereka lapar..” ia mengingatkanku. Aku memperhatikan bahwa orangorang. “Sudah kuduga. dan sepertinya membuatku lemah. Hampir sepanjang waktu. “Well. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. bukan bertanya. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu.” kataku. tidak di tempat yang bisa dilihat orang.” kataku yakin.” keluhku.” Ia menggeleng. kami kembali hari Minggu. hanya mendengarkan suara tawanya. “Ya. tidak benar-benar tanpa tergores. “Aku terjatuh. berusaha mematrinya dalam ingatan.” Bibirnya tersenyum.“Ceritakan lagi.” Ia berhenti sesaat. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. khawatir.” Suaranya sangat pelan. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak.” ia djAnGgo 156 . “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti. “Well. Ia menatapku. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku..” Tatapannya lembut tapi dalam. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. Ia menghela napas.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu. terkejut karena perubahan nada suaraku.” Suaranya berubah licik. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian..

berjanji. mengalihkan pandanganku.” kataku. djAnGgo 157 . Ia bingung. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku. “ aku ragu-ragu. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja. Aku.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. “Kau kan bisa meneleponku. Aku memikirkannya beberapa saat.

Aku tidak sadar air mataku telah menetes. Itu juga membuatku waswas. Kata-katanya melukaiku. “Ini salah. “Katakan. Kegelapan menyusup diantara keheningan. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku.” Suaranya pelan namun tegas. ragu-ragu ingin meraihku.” geramnya. Sudah kubilang. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti.” “Tidak.” erangnya pelan.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. Lalu mobil memelan. ilmu bela diri. Aku melirik. Sudah terlambat.” Aku menghela napas. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana.” Suaranya sarat penyesalan. “Kau benar. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. kau tidak terlihat setakut itu. “Ah. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi. Aku hanya menggeleng. Bella. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya.” Ia menggeleng. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. Aku memandang jalan.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk. tak yakin apakah aku sanggup bicara.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. kau tahu kan. Bergegas aku menyekanya.” aku mengakuinya.” Kugigit bibirku. Aku berbahaya. “Ini salah.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. tapi aku tetap memandang lurus ke muka. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. Pasti kami sudah dekat sekarang. tapi suaraku parau. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. “Jangan pernah mengatakan itu.” Aku tak bisa memahami reaksinya. kumohon. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. Kurasakan tatapannya di wajahku. Ia terdiam. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. suaranya masih muram. “Maafkan aku. djAnGgo 158 . Ia mengemudi terlalu cepat. “Tidak.” kataku. itu masalah lain lagi. “Aku serius. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu.” ia bertanya setelah beberapa menit. Ini tidak aman. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. pelan dan parau. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan.” Suaranya menghardik. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. “Begitu juga aku. mengertilah. waswas. tidak penting kau itu apa. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. melewati perbatasan Forks.

Lampu-lampunya menyala. dan aku tak mampu bicara. setelah semua yang kami lalui malam ini.” Konyol. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji.” djAnGgo 159 . “Aku akan menunggumu saat makan siang. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. ada tugas yang harus dikumpulkan. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas. Kami di depan rumah Charlie.” Ia tersenyum.“Ya. trukku ada di tempatnya. tapi aku tidak beranjak. Edward menghentikan mobilnya. semuanya sangat wajar.

Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. dan masuk ke dalam. “Kenapa?” Dahinya mengerut. Kukembalikan jaket itu padanya. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie.” Ia tersenyum. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya.” “Benar.” ia mengingatkanku. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. Aku ragu-ragu. “Kau pulang cepat.” Aku menatapnya bingung.” ia memberitahuku. “Baik kalau begitu. terus menembus jendela. namun lebih kental. Charlie memanggilku dari ruang tamu. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. sangat menyenangkan. Jantungku berhenti berdetak. “Aku akan menelepon Jessica dulu. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. Kutanggalkan jaketnya. “Ya?” aku berbalik padanya. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Kupikir aku mendengarnya tertawa. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. tapi ragu. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali. Ini. mencoba mengulur-ulur waktu. terlalu antusias. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. Mataku mengerjap.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. janji yang mudah dipenuhi. membuatku terpana. Aku menyadari udara sangat dingin. lalu mengangguk.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. “Bella?” “Ya. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. sampai harus berpegangan pada sisi pintu.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok.” Dengan engggan kubuka pintunya. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku. Aku membayangkan bagaimana rupaku. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah.” “Well. “Tidur nyenyak ya. Ia sedang menonton pertandingan baseball. “Ya. biarkan dia sampai rumah dulu.” katanya. benar. Dad. “Terserah apa katamu.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Lalu aku melangkah canggung keluar. barangkali kau harus berbaring. setidaknya. ini aku.” desahnya.” “Oh. membuka pintu. djAnGgo 160 . Napasnya menyapu wajahku. serius. Anggap saja begitu. “Kau boleh menyimpannya.” aku menyetujuinya.” “Oh ya?” aku terkejut. Aku cukup banyak berjalan tadi.” Ia terdengar waswas. tapi lega.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu.” kataku.” “Sampai ketemu besok.” “Well. terkejut. “Sekarang bahkan belum jam delapan. “Mereka membeli gaun. Lalu ia menjauh. benarbenar terpesona. tanganku pada pegangan pintu.

menjatuhkan diri di kursi. kelelahan. “Halo?” desahku. Tiba-tiba telepon berbunyi. djAnGgo 161 . Aku mengangkatnya. mengagetkanku. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga.Aku pergi ke dapur. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Pegangan. perintahku.

aku tersadar diriku kedinginan. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. Pertama. yang haus akan darahku. aku baru saja mau meneleponmu. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan.. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. “Bye. airnya terlalu panas. di kelas Trigono. sampai air hangatnya menyembur lagi. djAnGgo 162 . Lalu aku berdiri di bawah pancuran. aku jatuh cinta padanya. “Oh. meringkuk. Edward adalah vampir. “Ya. Jaketku tertinggal di mobilmu. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. Jess. Aku melangkah sempoyongan. benar. hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. oke?” Ia langsung mengerti.” Aku menaiki tangga perlahan. dan terkejut. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. Awalnya tak ada yang jelas.“Bella?” “Hei. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. tapi semakin aku nyaris tertidur. ayahmu ada disana ya?” “Ya. Baru ketika aku berada di kamar mandi. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. selamanya. benar-benar nyaris pingsan. Dan ketiga. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. Jess.” “Okr. terlalu lelah untuk bergerak. kalau begitu kita ngobrol besok. Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Beberapa kali aku sempat gemetaran. besok saja. “Mmm. dan beberapa yang kucoba enyahkan..” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. ada sebagian dirinya. tanpa syarat. menyengat kulitku. membalut diriku dengan handuk. Kedua.

djAnGgo 163 .

Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket. kau tahu. tapi tiba-tiba ia sudah disana. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. seperti aroma tubuhnya. Ia berbalik dan nyengir. Ini membuat lidahku kelu. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku. udara nyaris tertutup kabut. Ketika aku tiba di lantai dasar. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . Aku menunggunya memulai. aku terlambat lebih dari yang kukira. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. Aku cemberut. Ia menutup pintu. hampir semuanya. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. Aku tak ingin kau sakit atau apa. lalu bergegas meninggalkan rumah. Interograsi Keesokan paginya. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. terima kasih. benar-benar sempurna. Harapan yang sia-sia. Ternyata lebih baik. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu.. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. berhenti. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru. selalu terlalu cepat. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. “Aku membawakan jaket untukmu. “Ya.10. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri. aku bebas menolak. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. lega. Charlie sudah pergi lagi. Ia benar-benar memberiku pilihan. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku.. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Setidaknya aku merasa begitu. Semalam semua penghalang itu lenyap. “Tidak seperti reaksimu.” Ia kelihatan bergurau. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. teringat aku tidak memiliki jaket. Aku menelan tiga gigitan granola. membukakan pintu bagiku. menyalakan mobil. dan lebih cepat dari seharusnya. Jantungku berdetak cepat. berusaha tetap tenang. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut. ia sudah duduk di sebelahku. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya.” kataku. mobil berwarna silver. ataupun akal sehat. tapi aku tak yakin. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. dan sebagian dirinya berharap begitu. “Aku tak selemah itu. terasa canggung. Logika tak berpihak padaku.” kataku. Ada keraguan dalam suaranya. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku.” Suaranya hatihati. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. Aku tak melihat dari mana datangnya. Kabut sangat tebal. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. Seperti biasa.

” tuduhnya.” djAnGgo 165 .” “Kau mengeditnya. itu masalahnya.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan. “Tidak terlalu banyak. Kau menerimanya dengan tenang sekali. tidak wajar. Itu membuatku bertanyatanya. apa yang sebenarnya kau pikirkan.“Tidak.

“Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. “Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri.. hai.” “Sudah kuduga. matanya nyaris keluar dari rongganya. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas. Aku terlambat menyadari sesuatu. “Jadi. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami. “Jadi. Begitu katakataku terucap. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. aku langsung menyesalinya. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar. Lalu ia tampak mengerti. Jessica menungguku.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya. “Hei. sampai ketemu nanti.” gumamku pelan. “Aku tak bisa. “Apa yang ingin djAnGgo 166 . Di atas lipatan lengannya ada jaketku. syukurlah. dengan senyum jail. nyaris berbisik. “Err. dan aku mencoba tidak mengerang.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. lalu menyampirkannya di lengan. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. Atau daya sihir tatapannya. wow. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono. Jessica. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward.” katanya.“Cukup untuk membuatku gila. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain. “Mereka naik mobil Rosalie. “Terima kasih sudah ingat membawanya. bahwa suaranya begitu menggoda. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. kelewat mencolok. Aku tidak terlambat.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. Jessica.” ia mengakuinya. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit.” kataku ketika kami sudah dekat.” Ia berlalu. “Selamat pagi. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer.” aku memohon padanya.” desahku.” “Kalian tidak berhasil.” Ia menatapku penuh makna. ingin menggapai dan menyentuhnya. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya.” sapa Edward sopan. terkejut.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil. Aku ingin mempersempit jarak itu. Kami berusaha membaur. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. aku bisa membaca pikirannya.” gumamku pelan. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang. “Kalau Rosalie memilikinya. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai. “Kelewat mencolok. tapi khawatir ia tidak menyukainya.” “Kau tidak ingin mendengarnya. “Kami semua suka ngebut.” Ia menghampiriku di depan mobil. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. “Hei. Ia melipatnya. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah..” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. kemudian mengenakan jaketku sendiri. Ia tidak bereaksi. “Bagaimanapun. kan?” “Mmm. Bukan sepenuhnya salah Edward.

“Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat.diketahuinya?” Ia menggeleng. barangkali menatap kami. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. itu baru tidak adil.” akhirnya ia mengatakannya. tersenyum nakal. “Itu tidak adil. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka. “Iihh. Orang-orang melewati kami menuju kelas.” “Tidak. Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. djAnGgo 167 .

kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti. aku sangat terkejut melihatnya disana.. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk. Ketika aku memasuki kelas Trigono. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting.” jawabku sekenanya.” aku menjelaskan.” Ia memandang marah padaku. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. “Jadi. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Bella. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. kecewa mendengar kejujuranku. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. Mengerikan.. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman.” kataku pelan.“Hmmm. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya. penasaran.. “Selamat pagi. wajahnya tegang. “Benarkah?” tanyanya bersemangat.” Mr. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku. nyaris melompat-lompat di bangkunya. Dasar curang. Tentu saja Edward benar. Mason mengabsen kami. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess. “Ya.” ujarnya seraya menoleh ke belakang. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama.” aku meyakinkannya. apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu.” “Aku tak keberatan. menyuruh kami mengumpulkan tugas. lalu mengantarku pulang. “Apakah itu semacam kencan. well. Aku bergegas memasuki kelas.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya. “Hebat. sinis. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis. kalau kau tidak keberatan. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica. matanya bersinarsinar. Bibirnya mencibir. karena kesal kubanting tasku. “Sampai ketemu saat makan siang. itu juga kejutan. Jessica sudah duduk di deret belakang.” Kuharap Edward mendengarnya. yang duduk di sebelahku. “Sudah pasti. Ia sudah berbalik dan berlalu... Aku duduk di bangkuku yang biasa.” sapa Mike. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. Jantungku memburu. djAnGgo 168 . wajahku merah padam dan malu.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam.. “Tidak. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. karena menurut dia.

” “W-o-w.” “Aku tahu. “Well. ya.trukku tidak bakal sanggup.” aku setuju dengannya. apakah itu masuk hitungan?” “Ya.” Ia mengangguk. djAnGgo 169 .” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata. “Edward Cullen. kalau begitu. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili.

“Itu pertanda baik. “Ya. Aku menatap ke depan kelas. “Jadi. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya. “Entahlah. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami.” “Kurasa. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. kataku lagi.” ia merajuk. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat. Jess.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu.” Wajahnya berubah. “Ayolah. akan kuceritakan satu.” Vampir yang ingin menjadi baik. terangterangan sekali. sangat sedikit. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya.. Aku yakin diriku juga. mengintimidasi.” kataku membelanya.” Sangat. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam.“Tunggu!” Tangannya terangkat. seraya menghela napas. “Seberapa suka?” “Terlalu suka. “Ceritakan detailnya. Aku mengabaikannya. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. banyak. kau benar-benar menyukainya?” desaknya.. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr. “Dia begitu.” Jessica mengangguk. sedikit. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya. “Kenapa?” aku terkejut. “Bukan begitu.?” Alisnya terangkat.” “Lebih baik lagi. “Lebih daripada ia menyukaiku. tapi Mr. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan.. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah.” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa. Kelas sudah dimulai. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. telapak tangannya menghadapku. tapi sulit mengetahuinya. Vanner. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya.. tapi ia tidak memahami reaksiku. Bella. Dia memang luar biasa tampan. “Ya. Tapi aku tak djAnGgo 170 .” gumamku. dan barangkali umurnya 19 atau 20. “Oh well.. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess.” kataku kasar. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya.” “Well. Kurasa dia menyingungnya sekilas.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward.” desahnya. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol.. wajahku merona.. “Menurutmu hari Sabtu. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan.” aku balas berbisik. berbisik meminta informasi lebih lanjut. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris. baiklah.” Dia kelihatan kecewa.” aku mengakui. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya.. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya. Dia pasti menyukaimu. “Maksudku.. seperti sedang menghentikan laju mobil. “Aku sangat meragukannya.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku.” aku balas berbisik.. Sikapnya selalu misterius.

Mr. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas. untungnya. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. Kemudian.” Aku mendesah.tahu bagaimana mengatasinya. aku langsung menyelamatkan diri. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam. “Di kelas Inggris.” aku memberitahunya. wajahku terus merona. perhatiannya benar-benar teralih. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan. djAnGgo 171 . dan begitu bel berbunyi.

Ia tadi mendengarkan. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran.” Ia meringis.” aku mengakuinya. “Halo. Edward seperti tidak menyadarinya. cepat-cepat mengunyah. ketika ditantang. “Aku penasaran. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. “Kurasa aku tidak terkejut. “Hai. Ia memandangku geram. Bella. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. dan ia tidak bicara. “Tidak terlalu buruk. dan menelannya. menggeleng-gelengkan kepala.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. Ketika aku melompat dari bangku. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. Bel istirahat siang berbunyi. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup.. Jessica melihatnya. “Aku pernah melakukannya. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Sudah pasti. kan?” tebaknya. Ia membimbingku menuju antrean.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. “Sampai nanti.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti. ekspresinya berubah-ubah. Edward sedang menungguku. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. kau bisa melakukannya. lalu pergi. dia akan memaparkannya padamu nanti. kan?” Ia menggeleng. maju untuk membayar makanannya.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya.” Ia menyorongkan sisa pizza padaku. memutar bola mata. tampak sangat mirip dewa Yunani. Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami.” Alisku terangkat. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. “Kau tidak mengambul itu semua untukku. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. terkagum-kagum. semua otang memandangiku. “Tentu saja separuhnya untukku. Aku mengerutkan hidung. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 . ya kan?” tanyanya meremehkan. kurasa ia mengulurulur waktu.” Ia tertawa.. masih diam. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. dia kelihatan senang. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. juga jawabanmu. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan.“Kubilang kau sangat menikmatinya.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. “Ambil apa saja yang kau mau. sementara kami duduk berhadapan. “Kurasa tidak. meski beberapa detik sekali ia memadangku.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku.

Aku meletakkan apel dan menggigit pizza.membuatnya menyebalkan lagi.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. ya?” tanyanya santai.” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus.” “Cewek malang. ia melirik dari balik bulu matanya. djAnGgo 173 . gelisah. Aku memikirkan banyak hal. well. itu menggangguku. “Jadi pelayannya cantik. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara.. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. Suaranya parau. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak..

terlepas dari kenyataannya. ia mulai kesal. “Aku tidak yakin.” aku mendesah. “Ya. kau tidak sepenuhnya benar. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam. dan aku ingin sekali mempercayainya. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang. suaranya sangat lembut.” Dahinya berkerut. “Itu sama saja. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu.” bisikku. berusaha berpikir jernih. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami.. Ketegangan di wajahnya mencair. tapi suaranya masih parau. Matanya membelalak terkejut. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan.” aku mengingatkannya. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. “Kau tak bisa mengetahuinya. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. tangan kananku memegangi leher.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. “Oh. “Kau melakukannya lagi. “Well. terutama bila menegangkan.” Wajahku merengut.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. Akhirnya ia bicara..” aku mengakuinya. karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya.” aku berkeras. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh.. Keheningan terus berlanjut. kau tidak memikirkan beberapa hal.. “Kau tak bisa mencegahnya. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku.” “Ya. “Bukan salahmu. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. aku benar-benar berpendapat begitu.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. Gelisah karena sikap diamku. “Apa?” “Membuatku terpesona. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. sementara tubuhku condong ke depan. semakin mendekat saat bicara. Aku hanya berharap. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan.” ia menyetujuinya. dan mencari cara untuk menjelaskan. kau akan menjawab. djAnGgo 174 . semuanya. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya. mataku menelusuri kayunya. “Ya. “Meski begitu. “Kau salah. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. dan mengacungkan satu jari. kadang-kadang. aku tidak tahu caranya membaca pikiran. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan. Aku menggeleng ragu. mengaitkan jemari lalu menguraikannya.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Aku balas menatapnya.” “Memang.” bantahku sambil berbisik. “Biarkan aku berpikir. ketika akhirnya aku bicara. Aku memandangi tanganku. lalu mengatupkan keduanya. atau ya.” Aku tetap menunduk memandang meja. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. Kuangkat tanganku dari leher. Kujatuhkan tanganku ke meja.” Aku berhenti.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut.

djAnGgo 175 . yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. well.” ia mulai menjelaskan. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well. tapi kemudian matanya menyipit.” bisiknya. “Tapi justru itulah kenapa kau salah. lihat aku. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan.“Peka. membenarkan ketakutanku. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh.” kataku. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu.

Aku bisa saja mendebatnya. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal.” Ia terdengar sangat yakin.” Tahu aku akan memprotes.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. “Kau tahu. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka.” “Oh.” ia tergelak.” aku mengingatkannya. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya. supaya kau tetap aman. tapi kupikir kau bakal mengerti.” aku setuju. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku.” Mataku mengerjap. “Kalau aku mengajakmu. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku.” Raut wajahnya masih kasual. “Aku punya pertanyaan lain untukmu.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. ia pun menyela. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. “Belum.” aku bergumam pada diriku sendiri..” tukasku. Akulah yang paling peduli. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku. kau bukan manusia biasa. karena seandainya aku bisa melakukannya”. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya..” “Itu bukan masalah. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih.” Aku menatapnya marah. masih tertawa sendiri. Kalau perlu. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini.. apakah kau akan menolak?” tanyanya. “Tanyakan saja.” ia tergelak ironis.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini. “Aku tak percaya. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. “Belum.” aku mengingatkannya. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki. terperanjat.” kataku jujur.Alisnya mengerut marah sesaat. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. “Itu semua salahmu.. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. ia menggeleng.” Ia bingung. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas. “Percayalah sekali ini saja. aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti. djAnGgo 176 .” ia menambahkan. “Sudah sepantasnya. “Mungkin tidak. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. mencoba melawan pendapat itu. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar.

Kalau ia bertanya lagi. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut. dan waktu itu. “Tapi aku punya satu permintaan. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka.” kataku. memang ya.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. aku tak peduli dengan yang lainnya. “Aku terbuka untuk tawaran lain. “Kenapa?” “Well . terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian.” Ia tampak waswas.

itu bukan tempat yang baik untuk hiking. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix.” Ia menghela napas marah.” Ia tersenyum. “Tapi kalau kau tidak ingin. “Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas. “Kita bicara yang lain saja. “Ya. Alice. “aku akan mengambil resiko itu. “ “Tapi nyatanya. untuk berburu? Charlie bilang. jadi aku akan menghilang untuk sementara. “Karena itu sudah terjadi.” Matanya kembali menyala-nyala. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian.” aku menambahkan dengan tegas. “Meski begitu. aku tak keberatan berdua saja denganmu.” Ia menggeleng-geleng tak percaya. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata.” Aku menelan ludah.” ia menyelaku. sekarang bukan musim berburu beruang. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu.. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . Tapi setelah berpikir sesaat.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku.. “Dengan Charlie. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. lagipula dia benar. aku menjadi yakin. Jadi. aku bertemu pandang dengan adiknya.” usulku.” ia memberitahuku. lebih baik kau berada di dekatku. baik tatapan maupun maksudnya. yang sedang menatapku. Aku memandang sekelilingku. lalu terdiam.” Aku yakin soal itu.” “Aku tahu. “Kau tahu. berduaan denganku. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi.” Aku jengkel. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan.. “Lagipula. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. kau malah takut dengan caraku mengemudi. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. dan memalingkan wajah.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. banyak beruang. itu baru jumlah populasinya. Yang lain memandangi Edward. Aku tak bisa membantah.. memastikan tak seorangpun mendengarkan.” desahnya. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. berbohong selalu lebih baik. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. Untuk ukuran. untuk menyembunyikan keterkejutanku. Ia masih kesal. “Kalau kau membaca dengan teliti. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle.” Ia memutar bola matanya. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu.akan berbohong. kau harus memberitahu Charlie.. merenung. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya..

” “Ah. “Beruang?” ulangku terbata-bata. djAnGgo 179 . “Hmmm. Aku mencoba mengendalikan diri. tanpa memandang ke arahnya. sambil mencari sodaku lagi. berpura-pura tidak tertarik.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. “Singa gunung.” kataku sopan. namun matanya mengamati reaksiku. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. akhirnya menatap matanya yang gelisah. Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke.” kataku setelah sesaat.memahami ucapannya. “Jadi.” Suaranya masih tenang. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett.

tertegun. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. bersedekap. nada suaranya dingin. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi.” aku mengulanginya. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett.” timpalku. Aku melompat.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi.” katanya enteng. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. takut melihat reaksinya. aku akan mengajakmu keluar malam ini. Aku takkan lupa. Aku menatapnya. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. “Lebih seperti singa. “Kalau begitu. Ia juga menyandarkan tubuh. “Nanti.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu.“Tentu saja. Ia tertawa terbahak-bahak. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. ke arah Emmett.” “Lalu kenapa?” desakku. benar.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku.” katanya. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. “Kita bakal terlambat. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. kami punya senjata. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. “Ya. tapi tidak bisa. meskipun tak pernah mengaku padanya. ngeri. menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. mencoba mengabaikan kemarahannya. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. meraih tasku dari sandaran kursi. nada suaranya menyamai nada suaraku. “Barangkali. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. djAnGgo 180 . menggelengkan kepala.” “Aku mencoba membayangkannya. atau begitulah kata mereka. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda.” Aku berusaha tersenyum. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya.” Aku mengangguk menyetujuinya. dan itu sebenarnya cukup.” katanya. kafetaria hampir kosong. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. untung ia tidak sedang melihat ke arahku.” aku mengakuinya. nanti. “Kalau memang itu. dan matanya tibatiba berkilat marah. mereka baru saja selesai hibernasi. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan.” Aku memandang berkeliling. jadi lebih pemarah. Aku melirik ke seberang kafetaria. ia benar. dan. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi. Saat aku bersamanya. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak.” akhirnya ia berkata.

djAnGgo 181 .

jemariku mengepal. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Kurenggangkan dekapan lenganku. nyaris membuatku sinting. cahayanya sekejap menyinari ruangan. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. Lengan kami nyaris bersentuhan. Pembukaan film dimulai. matanya sarat pergumulan. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. Sebagai gantinya. Wajahnya membuatku bingung. membelai wajahnya yang sempurna. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Otomatis aku melirik ke arahnya. Waktunya kelas Olahraga. Aku berjalan memasuki gymnasium. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. Kemudian. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Aku nyaris mengerang. Aku menuju ruang ganti. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. melemaskan jemariku yang kaku. suasana senang di kelas nyaris nyata. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. sekali saja dalam gelap. sambil bangkit dengn lincah. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. seperti terbakar. Aku kehilangan akal sehat. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. nyaris terluka.11. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. Mr. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. Mr. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. “Yuk?” ajaknya. Hari menonton film. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas. “Well. ekspresinya sedih. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. Banner sudah masuk kelas. Kulitnya dingin seperti biasa. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. ia duduk cukup dekat.” hanya itu yang bisa kukatakan. tadi itu menarik.” gumamnya. lalu berhenti di ambang pintu. Edward tertawa geli di sebelahku. Ia mengulurkan tangan. Sia-sia aku berusaha tenang. ketika ruangan sudah gelap. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak sanggup bicara. sama kuatnya seperti sebelumnya. Aku mendesah lega ketika Mr. matanya melirikku juga. Banner menyalakan lampu kembali. tapi aku tidak merasa nyeri. tangannya mengepal di balik lengan. ragu-ragu. “Hmmm. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 . Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. Aku berdiri hati-hati. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang.

namun terasa tak mantap di tanganku.menyerahkan raket padaku. kau tak perlu melakukannya. Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. kau tahu. Raket itu tidak berat. djAnGgo 183 . “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih.” aku meringis penuh penyesalan. aku sepenuhnya sadar. dan ia berdiri di sebelahku. Mike. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam.

sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. Tapi kekhawatiranku tidak perlu. kerumunan orang. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. kan?” aku terperanjat. berjalan cepat ke lapangan parkir. Ketika aku berjalan ke sisisnya. mereka djAnGgo 184 . “Newton membuatku kesal. “Aku tidak suka. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. menuju mobilnya. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. Aku berpakaian dengan cepat.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. matanya menyipit. mengabaikan keberatanku. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen. bersandar santai di dinding gymnasium.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. Ia memandang marah padaku. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. Edward menantiku. tampak mengerumuninya. “Jadi. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. Mike bermain cukup baik.. “Memang tidak perlu. melainkan mobil convertible merah Rosalie.” katanya sambil meninggalkan lapangan. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan.” Senyumnya mempesona.” Aku berbohong.” aku mengingatkannya. jadi aku mengabaikannya. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. langkahku terhenti. desahku. “Hai.“Jangan khawatir. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik. Ia mengajakku ber. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike.. masih tegang. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu. aku merasa sensasi lega yang aneh. Keadaan tidak berjalan lancar. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. “Apa?” desakku. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa.” sergahku marah. melirik ke belakangku. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku. “Caranya memandangmu.” Ia tidak terdengar menyesal.” ia meneruskan. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. tersenyum lebar. nadanya menantang. Dengan mudah Edward menyusul. Pandangannya bergeser sedikit. heh?” tanyanya. tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. Tiba-tiba selera humorku lenyap.” Ia tersenyum. “Kau sendiri yang bilang. semua cowok. aku jadi penasaran. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang. Meski aku telah mencederainya.” ia tetap mengatakannya juga. seolah ingin memakanmu. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. Kami berjalan tanpa bicara. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. “Baikbaik saja. meskipun tidak bermaksud begitu. aku tidak akan mengganggumu. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap. Mike. aku diam karena malu dan geram. “Itu bukan urusanmu. Ia kembali menatapku. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. raketnya aman tersimpan. “Halo.

tampak sangat tertarik. djAnGgo 185 . “Mobil apa itu?” tanyaku. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya.” gumamnya. juga luput dari perhatian. “Kelewat mencolok. Aku langsung masuk ke jok penumpang.

sudah jelas ia sedang melucu. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti.” aku bersikeras. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku. Terutama indra penciuman kami. “Aku tidak berencana membawa mobil. membuat irama jantungku berantakan.” ujarku.. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu. “Kurasa sudah. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam.. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku.” Senyumnya kini rendah hati. “Sangat. Aku mendongak. aku pernah mendengarnya. Ketika menatapnya lagi. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami. “ Ia menyelaku. “Tidak. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan. Aku tetap menjaga ekspresiku. Dahinya berkerut.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai.” “Mmm. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat.” katanya pelas. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. ia sedang menatapku.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama.“M3.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya.” Ia memutar bola matanya. yang seolah dapat diraih.. Aku akan datang. sementara kami berburu. kalau kau bersungguh-sungguh. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya. “Setuju. tanpa mobil.” aku berbohong... Wajahku tidak djAnGgo 186 .” “Karena. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil. “Jelas. “Aku minta maaf telah membuatmu takut. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. mengamatiku.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah. kemudian berubah jadi santai. tanpa banyak menggunakan pikiran. ke awanawan yang menggayut tebal.” Rahangnya mengeras.” Aku tidak mendesaknya lagi. masih menatap awan tebal itu dengan murung. Ia menghentikan mobilnya. “Well. Aku mempertimbangkannya.” “Itu keluaran BMW.. tanpa memandangku. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. dengan enggan.. “Jangan khawatir soal itu. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi.” Ia menghela napas.” “Bagaimana. terkejut. Aku mengangguk..” Ia menggeleng. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya.. “Ketika kami berburu. Ia tidak percaya.

djAnGgo 187 .menunjukkan apa-apa. ia memejamkan mata. dan keheningan itu semakin kental. Ketika kepalaku mulai berputar. aku sadar aku tak bernapas. Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. Namun pandangan kami bertemu. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. dan berubah. memecah kekakuan dia antara kami.

djAnGgo 188 . keluar rumah... pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai.” “Oh.” Aku nyengir. Betapa ngeri. berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. seperti biasa. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. tersenyum tipis.” Suaranya rendah serak. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Dad.” katanya. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring. Khawatir kehilangan keseimbangan. tapi juga tegang. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. kurasa kau harus masuk sekarang. memamerkan kilauan deretan giginya. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa. dan mengumpulakn buku bukuku. menyikat gigi. “Mengenai Sabtu ini. Mobil silver itu sudah ada disana.” Aku menatapnya jengkel. “Begitulah rencanaku. “Bertanya padamu. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. Jelas ia berencana menemuiku berok.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar.” Aku merasa kasihan padanya. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. Bagaimanapun tidurku berubah.” Lalu ia menghilang. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. menunggu di tempat Charlie biasa parkir. “Ya?” “Besok giliranku. kalau tak ada halangan. Aku setengah berlari menuruni tangga. Ketika terbangun aku masih merasa lelah.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut. gelisah. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. suaranya lebih tenang. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. Kubuka pintunya. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. hingga sering kali terbangun. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. berjalan menyeberangi dapur. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. dan aku naik. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. “Oh. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Bella?” ia memanggilku.“Bella. matanya kembali menatap awan. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. “Ya. aku makan semangkuk sereal. dan aku berguling kian kemari. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. tenang seperti yang kuharapkan. Aku berkelit. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. Makan pagi berlangsung biasa. dan menyalakan keran. Pasti sulit menjadi ayah. Aku berkata takut-takut.

Ia menunggu di mobil. tenang.” djAnGgo 189 .” Suaranya lembut. berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. “Selamat pagi. lebih dari baik. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa. “Kau tampak lelah.” Aku selalu baik. Aku berjalan menuju mobil. setiap kali berada di dekatnya. dan seperti biasa. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. terima kasih. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. Ia tersenyum. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci.Aku tak pernah menginginkannya berakhir. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku. “Baik.

seolah sedang menginterogasi pembunuh. Ia tergelak. “Barangkali cokelat. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. Kami sudah tiba di sekolah. Aku menggerak-gerakkan mataku.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. merapikan rambutku ke balik bahu. tapi masih sedikit ragu-ragu. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut.” “Aku berani bertaruh untuk itu. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. wajahnya muram. “Kurasa itu benar. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku.” “Oh. kalau saja wajahku tidak merah padam. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil. Ketika kusebut nama bandnya. lalu ini?” Satu alisnya terangkat. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. batang pohon. sewaktu makan siang. untuk yang satu ini tak ada habisnya. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. pasti aku telah membuatnya bosan. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu. raut wajahnya serius. kau benar. disini semua itu dilapisi warna hijau. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi.” “Jadi. Sering kali aku tersadar.” Tangannya menyentuh lembut.” keluhku. Hari ini giliranku bertanya.” aku mengaku. kalau aku sempat mengendarainya lagi. ia tersenyum mengejek. Aku tertawa. Warna cokelat itu hangat. Film yang kusuka dan tidak kusuka. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. ekspresi seriusnya berubah. “Kau benar. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku.” katanya serius. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. “Aku juga. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. tatapan aneh terpancar di matanya. “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. “Setiap hari berubah-ubah. debu. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik.“Aku tak bisa tidur. Itu CD yang sama. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Sesaat ia berpikir. dan mengenai buku-buku. “Tentu. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. menatap mataku. Aku rindu cokelat. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. sambil terus menunduk. Ia mendengus. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. bebatuan. “Debussy. “Tidak bisa. Kebanyakan pertanyaannya mudah. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. “Warna cokelat itu hangat. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. Wajahku memerah karena. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku.

matanya yang berwarna topaz. aku akan bilang onyx. “Itu warna matamu hari ini. pasrah.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya. “Katakan.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 . mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz.” desahku. tentu saja. Dan. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu.

dan terus menjawab pertanyaannya. Banner menyalakan lampu kembali. seperti kemarin. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. Ia tidak berbicara padaku hari ini. Banner memasuki kelas. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. gelisah. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. Aku menghela napas lega. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. pepohonan kering yang rapuh. aku merasa bersalah. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Tapi itu tidak membantu. luasnya langit. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. Ketika guru itu mendekati panel lampu. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. ia sedang menatapku. pahit. membelai kening hingga rahangku. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. dan cara menggapai matahari. Begitu ruangan gelap. percikan listrik itu muncul lagi. tapi akhirnya aku melangkah keluar. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Aku tak melihat ke arahnya. Senyum lebar mengembang di wajahku. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. Tpai ia terdiam hanya sedetik. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. tak mudah untuk dijawab. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. Aku menghela napas lega ketika Mr. tahu semakin cepat aku bergerak. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. tapi masih menyenangkan. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. Di suatu tempat. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. di sudut benakku. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan.banyak dari seharusnya. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. sambil menarik kereta audiovisual lagi. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. sorot matanya bingung. akhirnya memandang Edward. agak lengket. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. menungguku. khawatir ia juga sedang memandangku.

” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. tapi ayahmu sebentar lagi pulang. “Kau sudah selesai?” tanyaku lega. bukannya melontarkan pertanyaan lain.dengan bebasnya. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. “Hampir selesai pun tidak. ia malah terdiam. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan. dan mendesah. tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. Aku kaget melihat waktu. djAnGgo 193 . Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Dalam cahaya temaram badai. Akhirnya.

tapi juga yang paling sedih.. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 . Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes.” ia mengingatkanku. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. pipi yang kendur. Aku langsung mengenalinya. “Masalah lagi. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. menyipitkan mata menembus hujan. Jadi. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. Jacob sudah keluar dari mobil. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar. “Jacob?” tanyaku. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. Itu ayah Jacob.. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi. tapi terlalu gelap. “Terima kasih. lalu bergerak. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku. Meski bingung dan penasaran. seolah pikirannya jauh entah dimana. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. Kegelapan begitu mudah ditebak. “Charlie akan sampai sebentar lagi. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang.” Alisnya naik sebelah..” Aku mengerutkan kening. lampunya menyinari mobil di depanku. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. bannya berdecit di pelataran yang basah.” katanya muram. aku langsung melompat keluar. tatapannya gelisah. kembalinya sang malam. rembang petang. “Hei. Ia melirikku sebentar.“Sudah twilight . Billy Black. “Saat termudah. Ekspresinya aneh. nyaris menarik dirinya menjauh dariku. pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat. ini adalah akhir satu hari lain. Bella. wajah yang berkeriput.. Nada suaranya melamun. “Aku suka malam. antara putus asa dan menantang. “Jadi.” Ia tertawa. “Kacau.” gumamnya. menjawab tatapanku yang bertanyatanya.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi.” gumam Edward. “Charlie sudah dekat. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. “Ini saat paling aman bagi kami.” katanya. mengingat. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. “Aku sudah bilang belum selesai. ia masih menatap ke depan. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat.

ia percaya djAnGgo 195 . Ia memandangku. Senyumku memudar. seperti kata Edward.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. Billy masih menatapku lekat-lekat. Matanya lebar. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. seolaholah ngeri. jadi aku tersenyum malu-malu padanya. mengamati wajahku. Ya.kempis. hidungnya kembang. Ya. Masalah lagi. Diam-diam aku mengerang. waswas.

Semangatnya sangat sulit ditolak. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya.” kata Charlie. “Seorang djAnGgo 196 . “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat.” sahut Billy.” sahut Jacob. “Tidak masalah. Jake. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. “Sudah terlalu lama. “Tidak. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. “Kalian lapar?” tanyaku.” protesnya. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran. “Ini kejutan. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. Kami meminjam mobil itu. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba. sambil meraih-raih ke bawah serambi. ekspresinya tak bisa ditebak. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi. ke TV. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan. kami sudah makan sebelum kemari. Aku belum melihat. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.” “Oh.12. Aku berbalik menuju rumah. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya.” Jacob nyengir. tentu saja.” Charlie tertawa.” Aku tersenyum. “Ya. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. “Baik. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. menghindari hujan.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. berbalik menuju dapur. mengintip bagian bawah sandwich-nya.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum. “Bagaimana denganmu. Aku masuk.” ia menambahkan.” kata Jacob. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. TV kami rusak sejak minggu lalu. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. “Tidak.” Ia nyengir.. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku.” Keningnya berkerut. “Kurasa itulah rencananya. “Tentu saja. masih kanak-kanak. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk.” balasnya..” Aku menunduk menatap wajan.” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya. meski sudah bertahun-tahun. “Jadi. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. “Maaf. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. Lalu aku berdiri di ambang pintu. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya.

” Suara Jacob terkagum-kagum.” “Tumpangan yang keren.teman memberiku tumpangan.” djAnGgo 197 . “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya. Kusangka aku kenal hampir semua anak disini.

Hatiku mencelos. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang. tunggu.” Aku berpura-pura polos. “Kami akan datang. “Bella.” Ketika tatapannya beralih padaku. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi. “Tadi itu menyenangkan. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi.” serunya.” sahutku menarik diri. menaruh dua piring di konter sebelahku.” katanya. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. “Tentu.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. Selamat tidur.” kata Billy. lalu berpaling.” aku menyahut enggan. siapa dia?” tanyanya.” timpal Billy. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh. Jacob menatapku sesaat. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring. “Edward Cullen. Ia kelihatan sedikit malu. kan?” Aku tak bisa menahannya. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie. “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang. Akhirnya aku mengalah.” ujar Charlie membesarkan hati Billy.” djAnGgo 198 . Bella. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. kata-kata itu keluar dalam bisikan.” “Jacob. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk.” kataku. “Jaga dirimu. Charlie.” “Oh. Akhirnya pertandingannya selesai. kurasa. boleh dibilang malam ini semacam reuni. mencoba terdengar tak peduli. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. Sungguh malam yang sangat panjang.” “Benar sekali. PR-ku banyak yang belum selesai. satu kakiku pada undakan pertama. Aku mendongak memandangnya. ia tertawa. “Entahlah.” Yang membuatku terkejut. “Terima kasih. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie. Bagaimana harimu?” “Baik. “Sepertinya ayahku mengenalinya. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie.” gumam Jacob.” “Tentu saja. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya.” tambahnya serius.” akhirnya ia menjawab. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.” gumamku. “Kurasa itu menjelaskan semuanya. membalikkan sandwich. tentu. “Jadi. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. senyumnya memudar. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen.

.” “Well.” Suaranya penuh semangat.. sebenarnya sih tidak.” sahutku ogah-ogahan.” Ia terkagum-kagum sebentar.“Wow. Mike Newton. “Oh ya. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 . aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis. “Keluarganya baik. “Mmm. “Siapa?” nadanya tertarik.” aku mengakuinya. tapi partnerku sangat hebat.

. kau oke. Tasku sudah siap. sementara aku mengunyah. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. sama sekali tak ada hubungannya. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. ternyata Edward lebih cepat dariku. “Baik. hobinya. Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. sepatu sudah kukenakan. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Ia. “Pagi ini kau ceria sekali. “Ini Jumat. beberapa teman sekolah. djAnGgo 200 . “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. mesinnya mati. langsung masuk ke jok penumpang. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku. temanku. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang.” katanya. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. “Dad.” Ia nyengir. Tidurku lebih pulas malam itu. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. Aku mengangkat bahu. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. jendelanya terbuka.” Senyumnya memukau. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. gigi sudah bersih. Ia tersenyum lebar padaku. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol. Cuaca seharusnya cukup hangat..” Aku tersenyum. berharap kelegaanku tidak kentara.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. membuat napas dan jantungku berhenti. “Dia berkencan dengan Jessica.” gumamnya. “Tidak di Phoenix. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah.” “Oh iya. “Hari ini masih milikku.” Bibirnya terkatup erat. supaya lebih cepat memandang wajahnya. kelewat lelah untuk bermimpi.” sahutnya saat sarapan. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. Saat ini kami di kafetaria. sama seperti Jessica dan Angela. suasana hatiku bahagia. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu.“Dad!” erangku. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku.” Aku bergegas. betapa menggoda suaranya. aku akan di rumah saja. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. Charlie memperhatikan. “Tidak. kita kan mirip. Dengan enggan aku mengakuinya.

“Aku tidak membawa kuncinya. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki.“Kenapa?” tanyaku. bingung dan kecewa.” Mataku mengerjap.” “Oh.” Ia menatapku tidak sabaran. “Tidak masalah.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok. djAnGgo 201 . “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang.” desahku. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki.

.. “Bisa dibilang tidak percaya. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya.” aku menyetujuinya. kuncinya tergantung di lubang starter.” Aku memandang marah padanya. balas menatapnya.. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak.” Aku meringis. Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu. “Berburu. Hanya saja sekarang mereka berempat. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. aku juga tidak mengerti. kau tahu itu. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi. ia takkan menemukannya. atau apapun yang direncanakannya. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin. khawatir akan tatapannya yang persuatif. Ia menahan senyum. Suaranya berubah tajam. ulangku dalam benakku. persis ketika pertama kali melihat merka.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu.” gumamnya putus asa.” katanya. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. memandang ke berbagai arah. Aku menolak merasa takut padanya. terlalu percaya diri. Kami tidak pergi jauh-jauh.” aku mencoba menebak. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. Aku mengubah topik kami.” aku menjawab terlalu cepat. “Tidak. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. “Tidak. bibirku merengut. djAnGgo 202 . Edward menggeleng pelan. “Jadi. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu. “Tergantung.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. “Dan kalau kau tidak pulang.” bisikku. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu.” jawabku tenang. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. “Untuk masalah ini.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. “Sudah kubilang. “Baiklah. Mereka duduk. “Apa saja yang bisa kami temukan. mendukung. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. Ia nyengir. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku.Ia menggeleng. “Kalau aku berduaan denganmu besok. besok dia pergi mancing. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian. itu kan Sabtu.” Ia menertawai perkataannya sendiri.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar.” jawabnya dingin.. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang..” “Barangkali kau benar.” Wajahnya bertambah muram.. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati.” Aku menunduk.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. di tumpukan pakaian di ruang cuci. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. Kau membuatku kagum. Itu tak masalah. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya. “Mereka tidak menyukaiku. “Alice yang paling. “Bukan itu. tapi tatapannya kelewat polos. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. dan memelas. matanya yang keemasan tampak gelisah.” protesnya. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi. “Trukmu akan ada disini. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci. “Aku tak bisa.

“aku lebih baik daripada manusia umumnya. menyentuh dahinya dengan hati-hati.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku. Manusia bisa ditebak.. Kau selalu membuatku terkejut. Tapi kau. “Dengan keunggulan yang kumiliki.” gumamnya..” djAnGgo 203 . kau tak pernah seperti yang kuduga.

” balasnya.. senyum sinis mengembang di wajahnya. elegan meski tidak bergerak. Alice. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. tapi senyumnya bersahabat. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja.Aku berpaling. ini Alice. merasa malu dan tidak puas.. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. Mungkin ini yang terbaik. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan.. “Hai. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. Rosalie membuang muka. Tidak. Kupaksakan tanganku meraihnya. berpaling dan menatapku. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. ingin rasanya aku menenangkannya. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin.. Alice. Aku ingin berpaling. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. tapi aku tak tahu bagaimana caranya. sesaat wajahnya serius.” Ia menunduk.” “Edward. Dia hanya khawatir. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. Kesedihannya sangat nyata. djAnGgo 204 . ini Bella. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya.” sapaku malu-malu. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. bukan hanya aku yang bakal terancam.” Ia mengangkat wajah. mataku kembali mengamati keluarganya.. dengan buruk. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. “Senang akhirnya bisa berkenalan. “Halo.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. Aku berusaha bicara sewajar mungkin.” ia memperkenalkan kami. “Maaf soal itu. “Tapi ada lagi. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. bukan melihat. Aku kembali menatap Edward.. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik. Bella.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak.. Dan perasaan frustasi. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. Tiba-tiba Rosalie. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya. menunjuk kami sesantai mungkin. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. Bella. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. Ia masih memegangi kepalanya. tapi aku belum bisa menatapnya.” Aku hendak beranjak. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. “Alice.. Begini.” lanjutnya. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward. Suaranya nyaris seperti desisan. “Alice. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara. dengan cepat. Aku merasakan tatapannya di wajahku. Aku menunggu rasa takut itu. Posturnya ramping. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward.

‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup. atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. “Kalau begitu. Kita ketemu di mobil.” Aku berusaha terdengar tulus. jagalah dirimu.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami.” djAnGgo 205 . selamat bersenang-senang. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.” Ia tersenyum. langkahnya sangat gemulai. “Hampir. kumohon. itu sih gampang. begitu anggun sehingga membuatku iri. “Tidak.” “Aman di Forks. berbalik menghadap Edward lagi. “Dan kau.” Ia masih tersenyum.Suaranya dingin. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. “Akan kucoba.

Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. “Aku akan datang besok pagi.” Ia marah lagi. Kami semua akan berdansa denganmu. tersenyum lebar. Aku pergi ke kelas dengan patuh. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu.” djAnGgo 206 . Di Olahraga. pasti bakal penuh bahaya. Mike. berharap aku bersenang-senang di Seattle. khawatir trukku takkan sanggup. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya.” katanya kembali bersemangat. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini. Mike mengajakku bicara lagi. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. lebih menyakitkan. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. “Sepertinya bakalan lama bagimu. dan ini membuatku terkejut.” Rahangnya mengeras. Lalu ia berbalik dan pergi. aku juga. dan rasanya ia juga. daripada menjauhkan diriku darinya. menyentuh wajahku. bahwa esok adalah saat yang penting. atau instingnya. “Aku akan mencuci malam ini.. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. “Aku hanya menawarkan. Keputusanku sendiri sudah bulat. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok.” “Aku janji akan menjaga diri. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya.” janjinya. “Sampai ketemu besok.” “Jangan terjatuh. ya kan?” godanya. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. “tidak akan membantuku belajar. tapi insting menghentikan niatku..” desahku. oke?” “Ya sudah. “Janji. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward.” aku menekankan.” Ia bangkit berdiri. “Tidak. “Kau tahu.” ulangku. “Cucian.” “Lalu. dan aku bertekad menjalankannya.” ia berjanji.” ejeknya. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. “Oh. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. Itu sesuatu yang mustahil. Ia mengulurkan tangan. kelewat ingin tahu. setidaknya pelajaran Olahraga. pasti keren. tiba-tiba marah.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. Aku mengangguk sedih.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya.“Bagimu memang gampang. mengusap lembut pipiku. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. Dengan sendirinya aku tahu. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya. “Lihat saja. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang.

Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki.Ketika sekolah akhirnya selesai. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. Aku menertawai diriku sendiri. Aku menggeleng tak percaya. djAnGgo 207 . Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. aku berjalan lemas menuju parkiran. Selembar kertas tergeletak di jokku. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. Insting terakhirku terbukti benar. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi.

“Oh. dan ke toko kelontong. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. membuyarkan lamunannya. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya.” aku memulai. kurasa. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya. Aku mencari jinsku. djAnGgo 208 .. dan setelah menemukannya. “Kau juga. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya..Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. Lagipula. Lagipula. persediaan ikan kita sudah menipis. Ia ingin agar aku selamat. kuperiksa sakunya. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan. Sepanjang makan malam Charlie melamun. kau pergi saja dan bersenang-senanglah. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang. bila semua itu berakhir buruk. “Kau tahu. pikirku sambil menggeleng. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. Dad. jangan ubah rencanamu. mencuci. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. dan sudah mulai tak terkendali... sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. “Ada apa. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. dan tak akan mengubahnya. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan.” “Kau yakin?” “Tentu. Aku akan pergi kesana kemari seharian. oke.. Kosong.” katanya.. Tawaku reda.” kataku. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. Dad. Bella. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali.. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. Dad.. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku.” “Oh.” “Mudah sekali hidup bersamamu. tertawa. Dan apa pilihanku yang lainnya.” Ia tersenyum. namun gemboknya terbuka.. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. Nyaris. PR. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. Aku perlu ke perpustakaan. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. sejak aku datang ke Forks.. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. Dad. atau mungkin pertandingan basket. hasrat itu akan mengalahkan segalanya. terkejut.

dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Aku merasa tegang. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. Setelah semua siap untuk esok. berusaha djAnGgo 209 . Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. Sambil menunggu obatnya bekerja. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. Aku terbangun. obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

Lalu aku masuk ke kursi kemudi. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang. “Selamat pagi. menembus kota yang masih tidur. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat. “Kita serasi. dan jins. Kini aku merasa tenang. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. “Kemana?” tanyaku. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. hargailah sedikit. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu. Aku bangun cepat. dan ia pun tertawa. melicinkan kerah pakaianku. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. Dan ia tampak berdiri di sana. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Aku mendesah lega. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. Awalnya ia tidak tersenyum. meskipun ia terus saja mencela. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.menenangkan setiap bagian tubuhku. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati.” Ia tertawa lagi. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya.” perintahnya. tapi tak ada yang berubah.” tukasku gusar. Aku mengintip ke jendela lagi. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku. wajahnya muram. Sepertinya tidak akan bertahan lama.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya.” sapanya sambil tergelak. sedikit kesulitan dengan selotnya. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. “Ke arah satu-kosong-satu utara. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. “Belok kiri di satu-sepuluh. dengan kerah putih mengintip di baliknya. atau celana. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. tapi akhirnya berhasil membukanya. belum-belum aku sudah gugup.” aku mengingatkannya. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. dan aku pun tidur pulas. Meski istirahatku cukup. “Kenakan sabuk pengamanmu. Aku meluncur ke pintu. Aku ikut tertawa. buru-buru membereskannya ketika selesai. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. merasa puas. Aku berpakaian terburu-buru.

tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. “Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya.kata.” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. “Jalan setapak. “Sekarang terus hingga ke ujung jalan. djAnGgo 211 . “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.

” katanya sambil menoleh. dan itu benar..” Lima mil.“Tidak. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. dan kita tidak perlu terburu-buru. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. Selama sisa perjalanan kami membisu. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Ini akan jadi perjalanan memalukan.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. nyaris lembab di bawah selimut awan. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil. Aku mengangguk. pandanganku tetap ke jalan. Ia menggumamkan sesuatu.. Kemudian jalanan berakhir. Lagi-lagi aku berbohong... Ia mulai memasuki hutan gelap itu. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. bukan berarti kita akan melaluinya. “Charlie bilang hari ini bakal hangat. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku. Aku tidak menyahut. “Lewat sini.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa. Ia tidak sedang memandangku. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. jengkel. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. dan aku tak tahu harus bilang apa. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. ke awan-awan yang mulai menipis. Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. “Tergantung. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. aku bilang kau membatalkan rencana itu. Sekarang di luar terasa hangat.” tukasnya.” aku mengingatkannya. “Jangan khawatir. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. Aku mendengarnya menutup pintu. “Katamu kau bisa mendapat masalah.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. djAnGgo 212 .. “Tidak. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny.” Kami memandang ke luar jendela. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. sorot matanya masih kesal. Bella. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. atau bahkan melukaiku. Aku berpura-pura tidak mendengar. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. dan sangat sinis. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya. “Tidak.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya.

“Aku takkan membiarkanmu tersesat. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. dan aku mendengus pelan. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. Ia terlalu sempurna. dengan senyum mengejek. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa.” Kemudian ia berbalik. djAnGgo 213 . Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya.

“Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang. Ia mengamatik wajahku. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. Ketika terjadi untuk kedua kali. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. tapi sering kali aku gagal.” kataku dingin. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya.” Ia tersenyum. mengangkatku dengan memegangi sikuku. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. “Kau harus sangat sabar. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. “Aku akan membawamu pulang. aku menyerah. “Ada apa?” tanyanya lembut. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 .” sahutku tolol. kalau aku berusaha keras. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi.” janjinya. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. tapi senyumku tidak meyakinkan. Hari telah berubah cerah. sambil menatap mataku. Hutan itu membentang di sekeliling kami. atau bebatuan besar. hewan peliharaanku semasa kecil. ia membantuku. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. pura-pura kesal. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. Aku mencoba membalas senyumnya. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Ia menanyakan hari ulang tahunku. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. Ia menertawaiku. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. tepat seperti yang diramalkannya. “Aku bukan pendaki yang baik. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. Kami lebih sering berjalan dalam diam. “Tidak. Sebaliknya ia merasa sangat tenang. Ia memandang marah padaku. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. mencoba memahami maksudku. lebih keras dari biasanya.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira.Ia menatapku. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. dipenuhi jaring pepohonan kuno. guru-guru sekolah dasarku. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa.” “Aku bisa sabar. “Hampir. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat.

hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. kuning.” gumamku. Padang rumput itu kecil. Tapi kemudian. “Barangkali belum kasat oleh matamu. dan putih lembu. biru keunguan.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami.bisa melihatnya?” Ia nyengir. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. aku bisa mendengar senandung sungai. Ia nyengir semakin lebar. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. Cahaya itu kuning. melingkar sempurna. Aku mempercepat langkah. bukan hijau. setelah melangkah seratus meter lagi. dan mengikutiku tanpa suara. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. Tak jauh dari tempatku berdiri. djAnGgo 215 .

lalu berhenti. Aku berjalan pelan. djAnGgo 216 . tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. enggan. Aku tersenyum menyemangati. memperhatikanku dengan tatapan waswas. Tatapannya hati-hati. terpesona. Edward tampak menghela napas dalam-dalam. dengan ketakutan mencari-carinya. bunga-bunga yang melambai-lambai. mengulurkan tangan. Ia mengangkat tangan mengingatkan. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. Aku kembali melangkah ke arahnya. sambil terus melangkah ke arahnya. ingin berbagi ini semua dengannya. Aku setengah membalikan badan.Matahari tepat bersinar di atas kami. Akhirnya aku menemukannya. menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. melintasi rumput halus. serta udara hangat dan keemasan. dan aku pun ragu. Aku memandang berkeliling.

halus bagai pualam. karena ia sudah memejamkan mata lagi. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. “Tak lebih dari biasanya. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. yang berada di dekatku. terlalu pelan untuk bisa kudengar. Patung yang sempurna. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. seperti yang dilakukannya. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. lengannya yang telanjang juga berkilauan. halus bagai satin. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. “Aku tidak membuatmu takut. Aku juga menikmati sinar matahari. Angin bertiup pelan. Aku ingin berbaring.13. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. tampak kemilau. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. djAnGgo 217 .” Ia mendesah. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Dengan ragu-ragu. “Kau keberatan?” tanyaku. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam.” katanya tanpa membuka mata. mengamatiku. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. meski tentu saja ia tidak tertidur. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. Aku beringsut mendekat. dingin seperti batu. kan?” guraunya. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. berkilauan bagai kristal. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. bahkan sekarang. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Jemariku gemetaran. begitu cepat hingga seperti gemetar. Kulitnya. selalu khawatir. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. lebih ringan dan hangat setelah berburu.. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. tak ingin berpaling dari wajahnya. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. “Tidak. dagu kuletakkan di lutut.. Dengan tanganku yang lain. terukir dari bebatuan entah apa namanya. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona.” Ia tersenyum lebih lebar. Tapi ketika kutanya. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang.

” bisiknya. Aku melihat dan mendapatinya menatapku. sesaat jari-jariku membeku di lengannya.” “Hidup ini sulit. kita semua merasa seperti itu setiap saat.aku meraih dan membalikkan tangannya.” gumamnya. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya. ia membalikkan tangan dengan cepat.” Kuangkat tangannya. “Masih tidak biasa untukku. Kudekatkan tangannya ke wajahku. “Katakan apa yang kaupikirkan.” “Kau tahu. mendadak begitu lekat. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu.” djAnGgo 218 . untuk tidak mengetahui. “Maaf. gerakannya membuatku terkesiap. Aku terkejut. Menyadari apa yang kuinginkan.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi.

Matanya yang keemasaan mempesonaku. “Maafkan. “Seperti kau bisa kabur dariku saja.” katanya lembut. nikmat. kaku bagai batu. Aku tak djAnGgo 219 . aku mencium napas sejuknya di wajahku. ia berada enam meter dariku. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. Senyumnya berubah mengejek. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. Tanganku yang kosong bagai tersengat. lalu melemparnya begitu cepat. bahkan aromaku. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. aku mendekat padanya. Secara naluriah. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama.. Ia menghela napas panjang dua kali. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku.. masih beberapa meter jauhnya. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. wajahku.. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. aroma yang membuatku meneteskan air liur.” Suaranya menggumam lembut. Edward.. Dan ia menghilang. melepaskan tangannya dariku. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. menghirupnya. kakinya menyilang. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya.” sahutnya. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. langsung lenyap dari pandangan.” ujarnya ragu. menghempaskannya ke pohon besar lain.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. sekarang ia setengah duduk. berdiri di ujung padang rumput kecil ini. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku.. Manis. ia berjalan kembali ke arahku. “Well. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. dan duduk anggun di tanah.” ia tertawa getir. Aku duduk tak bergerak. “Beri aku waktu sebentar. “Seperti kau bisa melawanku saja.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. Aku mungkin saja. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat. pergi. Ia berhenti. matanya tampak kelam dalam bayangan itu. setengah meter dariku.” “Aku tidak ingin kau takut.” ujarku ragu-ragu. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. Aku duduk diam tak bergerak. seharusnya. bertopang pada lengan kanannya. Ia mengulurkan satu tangannya. “Aku predator terbaik di dunia. aku. Tidak seperti apapun di dunia ini. lalu tersenyum menyesal. bukan itu yang kumaksud. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. Ia menatapku. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. “Aku sangat menyesal. tanpa berpikir. bahwa aku tak perlu takut. Pohon itu bergoyang dan bergetar. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. ekspresinya tak dapat kutebak. Dan aku berharap aku tidak takut. Tapi aku tak bisa menjawab. Aku tahu ia bisa mendengarnya. pelan untuk ukurannya. suaraku.” bisikku.. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh. tapi aku tak bisa bergerak. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan.

Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap.. Dengan wajah pucat dan mata membelalak. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat.. ketika detik demi detik berganti. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular. percikan itu memudar. Lalu. atau lebih menawan.pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. djAnGgo 220 .

” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. “Itulah sebabnya aku harus pergi. “Sejujurnya. hingga wajah kami sejajar. kali ini lebih lembut. Ia duduk luwes. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. “Aku bisa mengendalikan diri. tapi aku masih tak sanggup bicara. Detik demi detik pun berlalu.” gumamku sedih. “Betapa mudahnya aku marah. aku tak bisa terus berada di dekatmu.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya.” “Oh. “Kumohon maafkan aku.. seraya menunduk lagi. “Aku seharusnya pergi sejak lama. Keinginan untuk bersamaku. tadi kita sampai dimana. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. Aku kembali menatap tangannya.” pintanya. Parau djAnGgo 221 . alasan yang jelas. Mata itu lembut. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus. Senyuman balasannya sungguh mempesona.” “Aku tak ingin kau pergi.” desahnya. “Aku takut. “Jelas. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. “Sejujurnya. Tapi jangan khawatir... suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda.” ujarnya ragu.” Ia menunggu.” “Aku senang.” desahnya. Mendengar itu aku harus tertawa.” Ia tersenyum. Pada dasarnya aku makhluk egois. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. suaranya lebih parau daripada biasanya. untuk. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. “Ya. “Aku seharusnya pergi sekarang.” bisiknya lagi sambil mendekat. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut. karena. dengan amat perlahan. itu sesuatu yang perlu ditakutkan..” Ia mengedipkan mata. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. juga bagiku. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali.” “Jangan!” Ia menarik tangannya.” gumamnya. meski suaraku gemetar dan tertahan. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” timpalnya pelan. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut. tapi wajahnya tampak malu. “Aku berjanji. hari ini aku tidak merasa haus.” Aku cemberut. Ini juga masih sama sulitnya baginya. penuh penyesalan. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku. “Jangan takut. Kau membuatku tak berdaya. well. “Jadi. benar. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. aku tidak bisa mengingatnya. Aku menatap matanya.“Jangan takut. lalu matanya. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. disamping alasan yang sudah jelas. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik. hanya terpisah tiga puluh senti.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku.

perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. djAnGgo 222 . tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Aku berpikir sesaat. “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu.untuk ukurannya. dan bingung.” Ia berhenti. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain. Sulit rasanya untuk mengikutinya.

” kataku. Aku bisa mengerti.” “Dan kau?” “Tidak pernah.” Ia memandangku. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. terutama bagian terakhir.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku.” katanya. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. “Bagi Jasper. Emmett. “Ya. Ia memandang tangan kami.” “Jadi maksudmu. setiap orang punya aroma berbeda.. menurutmu. mencari-cari kata yang tepat. memikirkan jawabannya. hmmmm.“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. kalian manusia kurang-lebih sama. inti berbeda. sepertinya menghargai usahaku. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. atau takut. dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku. kau adalah heroin bagiku. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung. atau setidaknya mencoba. Ia memandang melampaui puncak pohon. atau apapun. Ia balas tersenyum menyesal. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . dalam embusan angin yang hangat. Begitulah caramu berpikir. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya. Jelaskan saja sebisamu. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. “Kau tahu.” Ia masih memandang kejauhan. berusaha mencairkan suasana. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. kalau ia bukan peminum lagi. . Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. ia ragu. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. Ia kembali menatapku dan tersenyum. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. Tapi dia bisa menolaknya.” Kata itu melayang sesaat di sana. Ia langsung tersenyum.” Tanpa terlihat memikirkannya. “Tanpa membuatmu takut lagi. cognac langka terbaik. “menariknya seperti kau bagiku. “Maaf. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.. jadi dia mengerti maksudku. raut wajahnya menyesal. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. dia akan dengan senang meminumnya. juga rasa.” Aku tersenyum. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. mencoba membaca pikiran satu sama lain.” Ia mendesah. “Jadi. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma. aku semacam heroin bagimu?” godaku.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan. kalau ia memang ingin. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. “Aku tak keberatan. saling menatap.

“Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf. tapi ia takkan menjawab. memohon. Pertanyaan yang salah. tangannya mengepal dalam genggamanku. “Kurasa aku tahu. bukan begitu?” djAnGgo 224 .” kataku akhirnya. wajahnya muram. Ia membuang muka. Wajahnya menjadi gelap.memecah keheningan. Ia melirik. Aku menunggu.

memandang geram pepohonan. “Aku bertukar mobil dengannya. saat itu juga.. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. karena disana aku tak bisa mencium aromamu.. “Maksudku. tentu saja aku tidak akan. Aku tidak tahu bagaimana. Ia memandangku muram.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. Saat itu aku nyaris menculikmu.. menghilang. Aroma yang menguar dari kulitmu. Aku mencoba berkata dengan tenang. ingatanku diperbaharui lewat matanya. “Tak diragukan lagi. menghipnotis dan mematikan..” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya.. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. oh. “Jadi kalau kita bertemu. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . bertahuntahun yang lalu. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu. “Ketika aku berjalan melewatiku. “Kisah kita berbeda. Cope yang malang. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. “Tentu saja ada harapan! Maksudku.. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. Bagiku di luar lebih mudah. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku. tidak mengikutimu dari sekolah. memikirkan keluargaku. di rumah sakit. dan dia tidak.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku.. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan.” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. setangkas dan sehati-hati sekarang. agar aku bisa berdua saja denganmu. tidak!” Ia langsung menyesal. kami mengingat saat-saat itu. Aku harus pergi. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu. Emmett. untuk memberitahunya aku akan pergi.. di lorong gelap atau apa.” Aku menatapnya terpana. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti.. Dan aku terus melawan keinginan itu. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu.” Nyaliku ciut.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. sangat mudah untuk diatasi. lalu aku pergi menemui Carlisle.. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku. begitu dekat.” ujarnya. di ruangan kecil itu. yah. Mrs.. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. Hanya ada satu manusia lemah disana. matanya nanar menatapku. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah. “Kau pasti datang. Aroma tubuhmu membuatku sinting.. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah.” Ia berhenti..” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. Aku tidak berani pulang menemui Esme.. membuat keputusan yang tepat. kau ada disana. Aku bisa berpikir lebih jernih. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. “Kemudian.” “Aku tidak mengerti alasannya. “Kau pasti menduga aku kerasukan..“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. memalingkan wajah. “Tapi aku menolaknya. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. dia tidak mengenal kedua gadis itu. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. Kejadiannya sudah lama sekali. membebaskanku dari kekuatan tatapannya.

tapi aku rindu rumah... bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska. Siapa kau ini. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. “Dua hari aku disana.. tidak sebesar ini. djAnGgo 226 .mengetahui apa yang terjadi.” Ia terdengar malu. tiba-tiba ia nyengir. dan yang lainnya.. Aku meyakinkan diriku sendiri.. gadis kecil yang tak penting”. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. tapi aku kuat. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. Aku benci karena telah mengecewakan Esme.. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. keluarga adopsiku. bersama beberapa kenalan lama. Dalam udara bersih pegunungan.” Pandangannya menerawang. dekat pun tidak.

. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Carlisle membelaku.” ia bergegas melanjutkan. Aku tak bisa menebak alasannya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. bahkan sekarang. pertengkaran terburuk kami. dirimu. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. Dan setiap hari aroma kulitmu. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya.. Sangat menyebalkan. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. Aku mendengarkan. lebih antusias daripada rasional.... “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku.. Tapi kau terlalu menarik.. Akhirnya aku bisa bicara. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama. “Sepanjang keesokan harinya. jika darahmu tercecer di sana di depanku. Aku sombong mengenai hal ini. napasmu. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. daripada sekarang. ‘Jangan dia’. karena jika aku tidak menyelamatkanmu. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. “Aku bertengkar dengan Rosalie. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun.” Ia cemberut mengingatnya. “Aku melakukan tindakan pencegahan. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu.Aku tak sanggup berkata-kata. rambutmu. disini. begitu juga Alice. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut.. seandainya aku akan menyakitimu. pikirannya tidak terlalu orisinal. yang bisa kupikirkan hanya. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Emmett. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. menaruh diriku dalam kuasamu.” Mata kami kembali bertemu. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal. “Aku kaget. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. bila mungkin. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku.. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi.” Ia menggeleng tulus. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu. Sebenarnya aku sangat ingin. larut dalam pengakuannya yang menyiksa. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu..” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. Saat itu. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. berburu.” lanjutnya. “Tapi efeknya justru kebalikannya. kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. meski suaraku samar-samar. dari semua orang yang ada. “Karenanya. “Kenapa?” djAnGgo 227 . “Tentu saja.” Ia memejamkan mata.

putih.. “Bayangan dirimu. kaku..” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. tak bisa melihatmu merona lagi.” Ia menunduk. dingin.“Isabella. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami.” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. Ia menunggu. “Bella.. Dari topik menyenangkan tentang kematianku. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. kembali malu-malu. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu.. rasanya tak tertahankan.” Ia menatapku dengan matanya yang indah. djAnGgo 228 . dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. Terpenting bagiku sampai kapan pun. namun tersiksa. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku.

kan. Bella.” “Tidak.” “Tapi aku ingin membantu. Ia memandangku dan tersenyum. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. “Benar-benar tidak apa-apa. “Jangan bergerak. ia tertawa.” Ia mengangkat tangannya yang bebas. “Rona pipimu cantik. Dan aroma lehermu. “Aku ada disini...” katanya. sungguh. detak jantung dalam nadiku.” Senyumnya memudar. Aku melipat daguku. melihat apakah ia membuatku marah.. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. tanpa mengalihkan pandangan dariku.” Sesaat ia memikirkannya. yang suka menyakiti dirinya sendiri..” “Well. Ini. Dengan lembut ia membelai pipiku. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain. “Kenapa?” aku memulai. tahu. seolah aku belum membeku saja. “Baik kalau begitu. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami.. dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. kemudian berhenti. Aku duduk diam tak bergerak. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain. Aku berpaling. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami. dan aku berharap bisa memperlambatnya.” desahku. Tatapan kami bertemu.” kataku bergurau. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya. contohnya”. kalau bisa. “Bodohnya aku. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . namun dengan teramat lembut. “sepertinya tidak masalah. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit. “Masalahnya kau begitu dekat..” Ia berhenti sesaat. tentu saja. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan. yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. dan aku ikut tertawa.. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. “Aku takkan memperlihatkan leherku. “Kau tahu kenapa. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. Aku tak bisa bergerak. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu. “Lihat. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang. mundur karena keanehan kami. Perlahan. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. “Singa sakit. “Domba yang bodoh. tak yakin bagaimana meneruskannya.” Wajahku muram.” Darahku mengalir deras. Lalu tiba-tiba.” gumamnya. maksudku.” “Kau memang bodoh.” bisiknya. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku.” ia menimpaliku sambil tertawa.” gumamnya.. aku membelai punggung tangannya. “Tidak.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku. peringatan yang menyuruhku untuk takut..” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap.” kataku akhirnya..” Ia tersenyum lagi.” Berhasil. Pasti ia mendengarnya. bahkan bila menginginkannya. Itu salahku. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. ia mencondongkan wajah ke arahku.

Akhirnya detak jantungku memelan. kemudian berhenti. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku.bagian dirinya yang lain. dan aku mendengarnya terengah.” desahnya. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. “Ah. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 . Dengan kelambatan yang disengaja. Mendengarkan detak jantungku. Wajahnya bergeser ke samping. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku. Bisa jadi berjamjam. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Aku gemetar. Ia berhenti. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak.

Tapi aku nyaris tidak memperhatikan. yang menjadikanku makhluk tercela. tak ada yang lain. kesulitan.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya.” bisikku.” katanya puas.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. ia setengah tersenyum. yang kurasakan. Aku tak bisa memikirkan apa pun.” “Tapi. “Ada hasrat lain. dan keduanya tampak kelaparan.. Kemudian. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. ia melepaskanku. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. “Kurasa aku tidak bisa. mengingatkannya lewat tatapanku. di lain sisi.” bisiknya. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. sebuah ukiran dalam genggamanku. bagiku. “Kau tahu maksudku.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya.. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. Tak ada yang bisa setenang Edward. “Kemarilah. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya.jadi kelewat berlebihan. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan. “Ini sudah cukup... tak ingin mendorongnya terlalu jauh. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna. Kubelai pipinya.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka. Tidak pernah sebelumnya. memejamkan mata. tidak pernah. “kuharap kau bisa merasakan. Sorot matanya damai. “Jangan bergerak.. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh. haus. kemudian. menghirup aromanya. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. Agar kau mengerti. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. terlalu cepat. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 .. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. Kau?” “Tidak. “Kuharap.” Aku tersenyum.. Dan kurasa kau bisa memahami itu. dan hidupku bisa berakhir. Ia membuka mata. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. “Katakan padaku.. Aku ingin mencondongkan tubuh. membuatku gemetaran lagi. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya. Meskipun”. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku. sesuatu yang asing bagiku. “Tidak. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya. “Aku tak tahu apakah aku bisa. kebingungan.” ia mengaku.” desahku. Sudah kubilang. bayangan keunguan di bawah matanya. rasa lapar.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. dengan lembut mengusap kelopak matanya. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya. Bibirnya membuka di bawah tanganku. itu tidak buruk. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan..” desahku. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. kurasakan padamu. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras..” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku. Hasrat yang tak bisa kumengerti. Bukan dengan cara yang membuatku takut. “Tidak akan sesulit itu lagi. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela.

djAnGgo 232 . “Aku punya naluri manusia. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. dan aku pun mendesah. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. tapi masih ada.” sahutku.” Lama sekali kami duduk seperti itu. bayangan hutan mulai menyentuh kami.wajahnya di rambutku.

“Kau harus pergi. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. “Hah!” dengusnya. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. menekankan telapak tanganku ke wajahnya.” ujarku. Tak ada suara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku. senang. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Ia tertawa. djAnGgo 233 . Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. selalu luput menyentuh kami. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. bukan?” Suaranya meninggi. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati.” Ia menungguku. Kemudian selesai.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. “Sepertinya aku butuh bantuan. “Jangan khawatir. lalu mengulurkan tangan meraihku. bagai hantu. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. dan aku menatap wajahnya. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak. menungguku turun. dan menghirupnya dalam-dalam. naik ke punggungku. lebih keras daripada yang pernah kudengar. pengecut kecilku.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak.” gumamnya.” aku menahan napas. tapi otot-ototku kaku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. kami sudah sampai di truk. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar.” aku mengingatkannya. aku yakin kau sering mendengarnya. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. “Oh. Rasanya seperti memeluk batu. dalam hitungan menit. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. “Asyik.” “Ayo. kau akan sangat aman. sekarang terdengar waswas.” “Sudah jelas. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Kemudian ia berlari.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward. dan sekarang. Ia meraih bahuku. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. “Bella?” panggilnya. Jantungku bereaksi.” Ia mengamati ekspresiku. Ia berdiri tak bergerak. maaf. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. Irama napasnya tak pernah berubah. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. Ia tersenyum melihat keraguanku. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. aku merasa mabuk. “Rasanya aku perlu berbaring.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. Aku mencobanya.

Ia tertawa pelan. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. Kupasrahkan diriku. Kemudian ia menarikku menghadapnya. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. “Rasanya pusing. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak. Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali.” djAnGgo 234 . Ia memelukku sebentar.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu.

rahangnya menegang.. Aku merasakan ia duduk di sisiku. Darahku mendidih dan membara di bibirku. aku bisa mentolerirnya. Aku tak bisa bernafas.Aku mencobanya. terlalu berlebihan. Telingaku berdenging. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. Aku terus menatap matanya. “Haruskah aku. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada. Aku bernapas palan.” ia tergelak.. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. wajahnya sangat dekat denganku. dan lumayan membantu. “Tidak. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. seperti cara manusia. “Berlari adalah sesuatu yang alami. tidak seperti biasanya.” “Lain kali!” erangku. oh bukan. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. Aku mencoba bersikap positif.” “Tukang pamer.” Ia terdiam.” Suaranya sopan.” gumamnya. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. “Itu namanya melecehkan.” “Lain kali ingat itu. untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. itu tadi sangat menarik. meski begitu artikulasinya tetap sempurna. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun.” desahku. Ia ragu-ragu. Ia tersenyum. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. namun suaraku lemah. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.?” Aku mencoba menahan diri. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. ketika aku berlari. “Aku sedang berpikir. Dan disanalah dia. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya.” lanjutnya. “Ups. Suasana hatinya masih bagus. Tolong tunggu sebentar.. Aku terpana dibuatnya.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. “Tukang pamer. menjaga kepalaku tetap tenang.. Ia tertawa. Waktu berlalu. bukan sesuatu yang harus kupikirkan. untuk mengetahui apakah ini aman. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. “Buka matamu. memberinya sedikit ruang. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba.” gumamku lagi. “Tidak. kau lucu. terkendali. Ketampanannya memukauku.” ujarnya pelan. Bella. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri.” gumamku. Jariku meremas rambutnya. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita.” Tatapannya liar. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan. Napasku terengah-engah.” “Bella. “Bukan.

” djAnGgo 236 . Maafkan aku. dan senyumnya tak disangkasangka nakal. Senang mengetahuinya. jelas puas dengan dirinya sendiri.” “Kau toh hanya manusia biasa.” katanya. Kemudian ia tersenyum.dalamnya mulai memudar dan melembut. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Ia tertawa keras. “Nah.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. “Bisa ditolerir?” tanyaku.

Aku gemetaran. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan.” Kuselipkan tanganku di saku celana.” akhirnya aku berhasi menyahut. “Refleksmu jauh lebih lambat. “Kurasa gabungan keduanya. menuju sisi pengemudi.” djAnGgo 237 . “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. Bella. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa.” “Aku yakin itu benar. memerlukannya lebih dari dugaanku. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. sedikit saja.” Alisnya terangkat tidak percaya.” desahku. aku tak bisa menolaknya untuk apapun. “Mabuk?” timpalku keberatan.” sahutku getir.” “Percayalah. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. “Tidak. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini. Ia mengulurkan tangan padaku. tapi kurasa keberanianku. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. “Aku tidak yakin. Aku mulai mengitarinya. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Tak ada jalan keluar. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. Kugenggam tangannya yang dingin. Tidak sedikitpun. menggenggam kunci mobilku erat-erat. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya. berulang-ulang. Lagipula.” akhirnya ia bergumam. “Kau mabuk oleh kehadiranku. mulai dari telinga ke dagu. “Bella. wajah manusianya tampak tenang. gerakan yang tak kusangka-sangka. menjadi lembut dan hangat. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara. “Bagaimanapun.” “Kau gila ya?” protesku. Tapi kalau dipikir-pikir lagi.” kutipnya sambil tergelak.” godanya.“Terima kasih banyak. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. Awalnya ia tidak menjawab.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi.” “Sangat masuk akal. “Santai saja. aku masih pening. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal. bisa menerimanya. atau trukku.” timpalnya. “refleksku lebih baik. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. trukku sudah cukup tua. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya.

uhh!” Ia bergidik. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. Ia tersenyum simpul dan melanjutkan.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Ia memandang matahari. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya.” Ia mendengarku terkesiap. sabar menantikan penjelasan selanjutnya. atau ’70-an. Usiaku tujuh belas saat itu. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. Ia hafal setiap barisnya. sudah lama sekali. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. lalu berkata. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. tampaknya itu mudah baginya. “Aku tak mengingatnya dengan baik. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. Ia melihat ke arah matahari. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku.. ragu-ragu. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. “Tidak juga. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. wajahku. sekarat akibat flu Spanyol. tangan kami yang bertaut.14. Ia mendesah. ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. dan ingatan manusia djAnGgo 238 .” aku nyengir. “Coba saja. “Delapan puluhan masih bisa diterima. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka. Ia menunduk menatap mataku lagi. tapi aku masih bertanya-tanya. kadang-kadang menatapku.” kataku akhirnya. Ia mengemudi dengan satu tangan.” ia bergumam pada dirinya sendiri. Seperti banyak hal. menit demi menit berlalu. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. kemudian mentap mataku. “Musik ’50-an bagus. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar..

ketika Carlisle menyelamatkanku. “Sulit. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi.. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut. yang paling berbelas kasih di antara kami. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya..” “Bagaimana dia. Bukan hal mudah. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya.memudar..” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu.. Aku sebatang kara. Itu sebabnya dia memilihku. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi.

Tapi itu sangat subjektif. begitu kami menyebutnya. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. sangat menyakitkan. itu hanya Carlisle. Masa depan tidak terukir di atas batu.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka.” Ia menatapku dalam-dalam.” aku mendorongnya.. “Kesendirianlah yang menggerakkannya.” lanjutnya.” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu. “Tidak. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya.” “Sungguh?” selaku. meskipun nyaris tak mungkin. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. menempuh jarak lebih dari seratus mil.. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap. dan matanya tertuju padaku.” gumamnya. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. hal-hal yang akan datang. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain.” Ia memutar bola matanya. Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya. hal-hal yang mungkin terjadi. “Tapi katamu. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir. jadi kami semua mendaftar di SMA. Jasper berasal dari keluarga. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti. Dia tertekan. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. Alice mengetahui hal lain. Mereka mengembangkan kesadaran. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. sebagai suami-istri. terkesima. rasanya amat. tanpa bimbingan dari luar. “Meski begitu. jenis keluarga yang sangat berbeda. Rosalie sedang berburu. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. “Bagiku. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun. Rosalie membawanya kepada Carlisle. Seperti aku. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. lagi.” “Memang benar. Segala sesuatu berubah. lalu berlalu djAnGgo 240 . Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. masih terjalin. Dia melihat hal-hal. dan mengangkat tangan kami. Kutekan rasa penasaranku. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. “Tapi dia berhasil. “Ya.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut.” Ia tertawa. Alice menemukannya. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme..” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. lain. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat.” Ia terdiam. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. dan akhirnya memilih mengembara sendirian.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. waktu itu kami sedang di Applachia.. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. Forks kelihatannya sempurna. Dia terjatuh dari tebing.

Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. dan mereka datang bersamasama menemui kami.begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya.. Dia selalu melihat. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami. ada banyak?” Aku terkejut. djAnGgo 241 .. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan. ketika kelompok lain mendekat.” “Apakah jenis kalian. contohnya.

Kadang-kadang kami bertemu yang lain. Dia terbangun sendirian. di desa kecil di Alaska. seperti Jasper?” “Tidak. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Seperti yang lainnya. Hanya yang seperti kami. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. Tapi yang membuatku teramat malu. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. dia barangkali bisa berubah jahat. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu. perutku keroncongan. Jenis seperti kami yang hidup. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana.” “Aku baik-baik saja. jadi aku tahu ayahku belum pulang.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. “Ya. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. yang telah berhenti memburu kalian manusia”. Suasana sangat tenang dan gelap. “bisa hidup bersama manusia selama apapun. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari.. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. kalau tidak merepotkan.. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. ia mengerling licik padaku.“Tidak. membukakannya untukku. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan.” aku memujinya. tidak banyak.” Banyak sekali yang harus dipikirkan. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. Lampu teras mati. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. dan itu adalah misteri. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama. Aku lupa. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya.” “Aku ingin bersamamu. “Maaf. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. “Sangat manusiawi. tak ada bulan.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. kebiasaan ini mulai membosankan.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. aku membuatmu terlambat makan malam. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. dan ia mematikan truk. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain. sungguh.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku.

” djAnGgo 243 . menyalakan lampu teras. “Pintunya tak terkunci?” “Bukan. ketampanannya masih bagai ilusi. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. Masih pucat. Aku berhenti di tengah-tengah pintu. “Aku penasaran denganmu. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya.tampak jauh lebih normal.” Aku melangkah masuk. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku.

Saat itu juga. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya. Kau pernah mengatakan sekali. Ekspresinya langsung berubah kecewa. “Kau memanggil namaku. tentu saja. terus ke lorong menuju kami. kemudian menatapnya. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. wajahku memanas hingga ke garis rambut. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. ‘Terlalu hijau’. Aku mencoba memalingkan wajah. Dan ketika hujan turun. Aku mendesah kalah. djAnGgo 244 . “Ada lagi?” desakku. Ia kelihatan tidak menyesal. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan. “Kau mengigau. Ia menarikku lembut ke dadanya.. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur. suaranya membuatmu gelisah. Tubuhku kaku dalam pelukannya. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. Aku tersanjung. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu. “Kau mengkhawatirkannya. Aku masih tidak berpaling.” bisiknya. Ia tahu maksudku.. ia sudah pindah ke sisiku. dan tidak membuatku tersinggung lagi. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. Aku tetap menatap piring ketika bicara. Gerakannya sangat alami. “Apa yang kaudengar!” erangku. tanpa suara. “Kalau begitu lain waktu saja. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini.” Aku berputar.” Ia tertawa lembut..” ia berbisik di telingaku. Lama baru aku bisa berpaling.. aku pasti akan memimpikanmu. “Jangan malu. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur. Ia sudah disana. “Aku tidak yakin.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. sama sekali tak perlu diarahkan. “Jangan sedih!” ia memohon. menempatkan sebagian di piring. Aku merasa malu.” “Tidak!” sahutku menahan napas. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya. kemudiam memanaskannya di microwave. ibuku selalu menggodaku soal ini. tapi sekarang sudah jauh berkurang.” Nada suaranya datar. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah.” ia mengakui. “Pada?” desaknya. berharap aku bisa melihatnya.” Dan akupun sendirian. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. terperangah. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. Ia menanti. Piringnya berputar. “Seandainya bisa bermimpi. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan.” Aku memikirkannya dengan cepat. Dan aku tidak merasa malu. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. “Kau merindukan ibumu.

siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. “Bella?” panggilnya. Terdengar suara Dad membuka kunci pintu.“Edward!” desisku tertahan. Sebelumnya hal ini menggangguku. djAnGgo 245 . Aku mendengar suara tawa yang samar. lalu lenyap.

Aku membawa makananku. ya?” Ia curiga. “Hari ini memang bagus.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. “Bagus. Aku ingin sekali pergi ke kamar. aku lelah.. susunya bergetar. buruburu.“Disini. Tunggu saja sampai kuliah nanti..” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk.” Aku menyuap lasagna-ku lagi. tapi berusaha terdengar biasa saja.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. “Ini hari Sabtu. “Kupikir Mike Newton itu. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. Mengapa. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. katamu dia ramah. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward. Aku mau tidur lebih cepat.. Aku baru menyadari tanganku gemetaran.” ujarnya.” “Kau kelihatan agak tegang. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. Dad.” sahutnya menerawang. djAnGgo 246 . benar-benar menggelikan. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. belum ada cowok yang menarik perhatianku. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar.” ujarnya. kalau mau mencari teman istimewa. pikirku. “Tidak. aku hanya mau tidur. “Tidak. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.” aku menimpali sambil menaiki tangga. Dad. “Sedang terburu-buru? “Yeah. Betapa ironisnya. Acara memancingnya biasa saja. “Selamat malam. Begitu lasagna-ku habis. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. Dad.” “Well . Ketika aku meletakkan gelasku. “Sepertinya ide bagus.” “Dia hanya teman. Charlie duduk di kursi. Aku kepedasan. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. Aku tak menjawab.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan. oh. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward. “Bagimana harimu?” tanyaku.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu..” timpalnya. Sayang. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba. “Sampai besok pagi. “Terima kasih.

tangannya menyilang di belakang kepala. djAnGgo 247 . Ia berbaring.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. jatuh lemas ke lantai. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. benar-benar merasa tolol. “Ya?” Aku berbalik. Posisinya sangat santai. tersenyum lebar di tempat tidurku. “Maafkan aku. “Oh!” aku mendesah.“Edward?” bisikku. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur.

T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Kugosok gigiku keras-keras. handukan sekenanya. Ma’am. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. menutup pintu rapat-rapat. terburu-buru lagi. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya.” “Selamat malam.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku.” Aku nyengir. Aku melompat. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. mencoba tampak galak. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Dad. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. Aku membiarkan lampu tidak menyala. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. Kulempar handuknya ke keranjang. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. yang sedang duduk di kamarku. dan meluncur ke kamar. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. “Diam disitu. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. “Selamat malam. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. berusaha tetap tenang. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi.” kataku. “Bagus. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. pakaian itu tampak bagus padamu. Matanya mengamatiku. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. meluncur keluar.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur. mengangkatku. Aku bermaksud buru-buru. menenangkan denyut nadiku. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. kemudian menyisirnya cepat-cepat. menunggu. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. “Tentu. menyingkirkan sisa-sisa lasagna. Aku menaiki anak tangga dua-dua. Salah satu alisnya terangkat. supaya tidak mengejutkanku lagi. Bella.” djAnGgo 248 . Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. Kumatikan keran air. kemudian menutup pintu. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat. patungnya menjadi hidup. rambutku yang basah. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. “Ya. Sesaat kami duduk diam disana. “Sungguh. Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku.

aku bakal menyelinap keluar. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat.” Ia mengangkat daguku. Aku kembali ke sisinya. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.” djAnGgo 249 .” Ia memikirkannya. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku.” bisikku.“Terima kasih. mengamati wajahku.” “Oh.

.. Ia mengangkat bahu. hidungnya meluncur ke sudut rahangku. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku.” Aku menarik diri. sekarang menunduk.” “Jadi. dan kami tertawa pelan. justru sebaliknya. bukan dalam artian seorang adik. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan... Aku sama sekali tak bergerak. menaklukan”. bersamamu.” suaranya menggoda.” desahnya. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. “Kau tahu.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya. “Aku hanya terkejut.. bahwa aku tak dapat.. ragu. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku. ia menghirup aroma pergelangan tanganku. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.” Ia tersenyum. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat. “Ya?” desahnya. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak. aku masih. menerima pujianku. “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. Aku merasakan tangannya.. dan ketika berbicara ia terdengar senang..” suaraku bergetar. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. “Hmm..” “Tidak tak termaafkan. ekspresinya tampak bingung. dan ia membeku.... “aku juga rapuh. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal..” “Kau bisa melakukan apa saja. Kau membuatku sinting.” “Ini tidak mudah. “Sore tadi. “Selain kemungkinan aku dapat. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku.. “Mmmmmmm.. “Terima kasih....Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik. kemudian.” aku memulai lagi. aku bertanya-tanya..” ia menjelaskan. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks..” kataku mencoba menghembuskan napas. Dan menemukan. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku. Ia memikirannya sebentar. “Sepertinya. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu.” paparku. “Kenapa. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya.” sergahku. dan aku kehilangan akal sehatku. djAnGgo 250 .” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya..” ujarku. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir.. meskipun semuanya baru bagiku.. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis. Maafkan aku soal itu. Saat ia menyentuhku.” lanjutnya. lebih ringan dari sayap ngengat.. membuatku malu. “Tapi sore tadi. Ia nyengir. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini.” desahnya. “Amat sangat lebih mudah. Saat konsentrasiku buyar.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

sedikitpun tidak. aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.” Wajahku memerah.” djAnGgo 259 .“Tentu saja belum. “Sudah kubilang.

. djAnGgo 260 . “Aku telah menjawab pertanyaanmu.” ia bersikeras.” Ia terdengar puas. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan.” aku mendesah. “Well..” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. Setidaknya kita punya persamaan. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu.” “Bagiku ya. nina bobo yang asing. Ia menanti. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin.” ia meyakinkanku. “Aku tak yakin apakah aku bisa. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. suara malaikat. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. “Aku mungkin bukan manusia. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain.“Aku tahu. Ia tertawa. Lebih letih daripada yang kusadari. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi. sekarang kau harus tidur. Aku menguap tanpa sengaja.” aku memulai. lembut di telingaku. tapi aku laki-laki. “Bagus. “Naluri manusiamu.

djAnGgo 261 .

Tangannya mengusap-usap punggungku. “Charlie!” Aku teringat. djAnGgo 262 . mengantuk dan pusing. tapi khawatir napasku bau. sama sekali tak memahami emosiku. lengan menutupi mata. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan. Aku mengerang dan berguling ke sisi. “Tentu saja.” “Kau tidak sekreatif itu.” aku mengakuinya. matanya terlalu ceria. di dalam maupun di luar.15. setelah memasang kembali kabel akimu. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak.” Aku melompat ke kamar mandi. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. “Aku yakin itu mimpi. Harus kuakui. menghirup aroma kulitnya. tapi aku menyukainya. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira. Setengah berlari aku kembali ke kamar. Aku berbaring. Aku tak mengenali diriku. dan berusaha bernapas secara normal. “Selamat datang lagi. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. sebuah mimpi yang coba kuingat. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. Tapi ia tertawa. tapi nyaris gagal. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. “Dia pergi sejam yang lalu. kalau boleh kutambahkan. terkejut karena semangatku yang menggebu. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. Aku menatapnya. dan rambutnya sudah rapi.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. khawatir tindakanku telah melewati batas. membawaku ke dalam pelukannya. lengannya masih menantiku. ingin sekali kembali padanya. lagi. aku kecewa. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. aku membeku. dan jantungku berdebar tak keruan. Ia meraihku.. tanpa berpikir melompat menuju pintu. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku.” gumamnya. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. berharap bisa tertidur lagi. Sesuatu. Wajah yang ada di cermin praktis asing. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku.” dengusnya.” ujarnya.” jawabnya kaget. “Kutunggu.. Begitu menyadari apa yang kulakukan. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Kupercikan air dingin ke wajahku. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia.

apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir. sambil menyentuh kerah kausnya yang baru.“Kau pergi?” tuduhku. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang. djAnGgo 263 .

terkejut kau membawa seseorang.” akhirnya ia berkata. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. mengalihkan perhatiannya. dengan lembut. baiklah. “Aku khawatir mereka takkan. Aku tersenyum. lalu berhenti. “Jangan khawatir. “Tidak lucu.. tak ingin bersikap tidak sopan..” “Kau sudah tahu itu. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik.” Aku duduk di meja makan.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal.” Aku menggerutu. menyukaiku. “Aku akan melindungimu. “Mm.. well. “Tidak apa-apa. “Tapi toh aku senang mendengarnya.. ia bisa melihatnya di mataku. ke rumah djAnGgo 264 .. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang.” bisikku.” Matanya berkilatkilat. “Hmmm. menyusupkan kepalaku. Ia terperanjat...” jelasku. “Kau hidupku sekarang. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. aku yakin. “Aku mencintaimu. Dan tampaknya aku dimaafkan. “Kaubilang kau mencintaiku. Ia mendudukanku di kursi.” aku mengingatkannya.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. dengan kasual. Aku berdeham untuk bicara. Ruang dapur terang. dan kau tahu itu. “Boleh kuulangi?” tanyaku. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku. aku tak melewatkan apapun. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap. Itu membuatku tidak nyaman.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. Tidakkah mereka akan. Bella. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu.” Kesembunyikan wajahku di bahunya.” “Aku tidak takut pada mereka. untuk membuktikan. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. memperhatikannya sambil menyuap sereal. Kuletakkan makananku di meja. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. “Kau mengigau lebih awal. Ia memutar bola matanya. tapi ia mengabaikanku. jijik. ceria. Perhatikan caraku berburu. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi.” Ia mencibir.” jawabnya sederhana. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. Ia memandangiku.“Kau tidur sangat pulas semalam. “Saatnya sarapan.” “Oh. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.” aku mengakui. “Bercanda!” aku nyengir. “Saatnya sarapan untuk manusia. “Apa acara hari ini?” tanyaku. aku tak yakin. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut. mempelajari setiap gerakanku. seolah-olah menyerap suasana hatiku. “Makan saja. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya.. seperti aku. melompat berdiri. “Ya. memastikan ia memaafkanku.” “Itu sangat lucu.

Kau tahu. tapi suaranya parau.menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 . ia tersenyum. mereka sudah mengetahui semuanya. kemarin mereka bertaruh”. “Apakah aku membawamu kembali.

Aku menatapnya penasaran. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.Alice. Aku buru-buru menghabiskan serealku. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. jangan lupa itu... “Selamanya. “Aku akan selalu menginginkanmu. sambil berspekulasi. menerawang ke luar jendela belakang.” “Dia sudah mengenalmu. “Jadi.” Perlahan ia mengelilingi meja. mirip patung Adonis lagi. “Itu tidak perlu.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. “Well. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. “Aku tidak tahu. mengabaikan tatapan marahnya. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya.” ia tersenyum senang.” ia meyakinkanku. Kemudian tatapannya kembali padaku.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku. “Kira-kira begitu. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. Ia berdiri di tengah dapur. Aku tidak berharap kau. aku akan menunggu disini.” Ia meraih ke seberang meja..” djAnGgo 266 . “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. kau tak perlu berpura-pura demi aku. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan.” Aku menatapnya curiga. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu.” aku mengingatkannya. dan semuanya. kau tahu.” “Berpakaianlah.” gumamku.” aku mengaku.” aku mengingatkannya. “Ya. Ia tidak menyahut. memandangi meja.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu.” aku mengakui. Aku melompat berdiri. “Apa itu enak?” tanyanya. maksudku.” katanya jengah. ekspresinya penuh makna. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.” “Well. “Maksudku sebagai pacarmu. “Jujur.” “Kau menyimak.. sama sekali bukan beruang pemarah. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. makananmu tidak terlalu mengundang selera.” Senyumnya penuh kesabaran. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Aku tidak berpura-pura. menggigit bibir.” Aku meringis. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku.

berwarna khaki. djAnGgo 267 . Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. masih kasual. rok panjang. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. Lega rasanya bisa berpikir begitu. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya.Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya.

” aku meracau. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah. Jalanan itu tak bertanda. Wajahku memerah senang. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. “Kau sulit dipercaya. Tanganku membeku di dadanya. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. dan berpaling.” Aku menyadari.” aku langsung menjawabnya. Kemudian aku tak sadarkan diri. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya.” “Aku baik-baik saja. membuatku. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. “Kau sangat tidak pantas. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. “Kau terlalu pintar melakukannya. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. betul?” “Betul.” Ia mendesah. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. jalanan membentang ke utara. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . “Itulah masalahnya.. “Kau.” gumamnya di telingaku. rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. menggeleng-gelengkan kepala. “Kurasa aku lupa bernapas. Ia menggeleng. “Dan kau khawatir. dan semakin besar. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. dan memasuki hutan berkabut. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya. lebih dekat dari yang kukira. jatuh pingsan. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku. itu tidak adil. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. Ia memiringkan kepala perlahan.“Oke. Amat sangat terlalu pintar. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir. “Kemarin aku menciummu. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.” Aku masih pusing.. Jelas itu pertanyaan retoris. napasnya makin menderu di permukaan kulitku.” Aku menggeleng menyesalinya. Hutan menyelimuti kedua sisinya.” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. dengan sangat hati-hati membukanya.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku.” ujarnya tak disangkasangka. Aku tak tahu apa yang terjadi. “Kau sangat konyol.. dan aku langsung menghambur ke arahnya.. “Tidak.” Ia menunggu di ujung tangga. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah. “Aku bisa mengganti. “Kau salah lagi. dan aku kembali melayang. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter..” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. dan semakin besar.” ia mendesah.” aku bersikeras. dan ruangan pun berputar. pingsanku kali ini berbeda. “Begini. putus asa. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. “Aku sudah pantas bepergian..

Kemudian. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. djAnGgo 269 . karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil. setelah beberapa mil.sekeliling pepohonan kuno. hutan mulai menipis. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar.

” Langkah Carlisle terukur. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. Esme. elegan. “ini Bella. berhati-hati saat mendekatiku. menjabat tanganku. “Carlisle. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku.” Aku tersenyum padanya. dan sangat luas. Ia membukakan pintu untukku. dr. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. Tubuhnya mungil. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. berdiri persis di kiri pintu. djAnGgo 270 . Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. tentu saja. Rumah itu tampak abadi. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. berbentuk persegi dan proporsional. semuanya merupakan gradasi warna putih. dan karpet tebal. Di bagian belakang. Cullen sebelumnya. “Senang sekali bisa berkenalan denganmu. rambutnya berombak dan halus. Esme tersenyum dan melangkah maju juga. Wajahnya berbentuk hati. lebih berisi dibanding yang lainnya. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler.” sahutnya tulus. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. “Wow. Dinding-dindingnya. lebih tak bisa diramalkan. lantainya yang terbuat dari kayu. sangat terbuka. berlantai pudar.” Aku mencoba tertawa. namun tidak terlalu kurus. “Senang bisa bertemu Anda lagi. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan. tersembunyi di kegelapan hutan. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. tanpa ragu. dan barangkali berusia beberapa tahun. Aku merapikan rambut dengan gugup.” “Tolong panggil saja Carlisle.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme. tapi jelas bukan yang seperti ini.” “Carlisle. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak. ayo. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. adalah orangtua Edward. berwarna cokelat karamel. kesempurnaannya yang luar biasa. Sangat terang. Bella. Aku pernah melihat dr. berlantai tiga. “Sama sekali tidak. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. “Kau cantik. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai.” “Selamat datang. Mereka tersenyum menyambut kami.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. langsing. daripada bagian luarnya. mengingatkanku pada era film bisu. langitlangitnya yang tinggi. tapi tidak bergerak mendekat. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. Tampak menanti menyambut kami. Cullen. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya.

berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. tapi mereka tidak menjawab. “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya.“Terima kasih. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng. Aku juga senang bisa bertemu Anda.” Memang itulah yang kurasakan. Putri Salju dalam wujud aslinya. djAnGgo 271 .

” tambahku apa adanya. Bella!” sapa Alice. bukan begitu?” kataku menjelaskan.” Edward tertawa lepas. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. “Kau memang harum. salah satu alisnya terangkat. Tapi piano itu indah sekali. “Edward bisa melakukan segalanya. tinggi bagai singa. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku.” ia berkomentar. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. “Kami senang sekali kau datang. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. itu sesuatu yang alami. kemudian Jasper ada disana. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. menunjuk piano dengan kepalanya. tatapan yang tidak kumengerti. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu.” Ia berbicara penuh perasaan. tapi seperti kebanyakan anak.“Hei. Apakah itu milik anda?” “Tidak. dan sesaat mereka saling menatap. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. “Senang bisa bertemu kalian semua. rumah kalian sangat indah. Mataku juga memancarkan rasa terkejut.” Alis Esme yang lembut terangkat. tentu saja. bingung. “Halo. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. “Tidak sama sekali. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. tidak menawarkan untuk berjabat tangan. Aku memandang wajahnya. “Hanya sedikit. “Terima kasih. sekarang mereka tampak terkesiap. “Halo.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa.” Aku tersenyum malu-malu padanya. ia memandang Edward penuh makna. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. Ia tetap menjaga jarak. tapi aku menyukainya. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. dan pada yang lainnya juga.” bentaknya. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. begitu tenggelam. Ia mengajariku cara bermain piano. Carlisle dan Esme memelototinya. seandainya aku menenangkan lotere. “Kurasa seharusnya aku tahu. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. Esme memperhatikan keprihatinanku. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya.” sahut Esme. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. ekspresinya mendalam. Bella. “Hai. baginya. “Kau bisa main piano?” tanyanya. Lagipula. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. Ia berlari menuruni tangga. Edward menatap Jasper. Kugelengkan kepalaku. meskipun wajah djAnGgo 272 . itu tidak sopan. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. dan aku teringat akan kemampuannya. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. Ia terlihat bahagia. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini.” ia tertawa. Aku mengalihkan pandangan. membuatku sangat malu. Jasper. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada.” sapa Jasper. berusaha terlihat sopan. tapi aku suka melihatnya memainkan piano.

” sahutku. djAnGgo 273 .” aku meralatnya.” balas Esme. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. “Sebenarnya. mendudukkanku di kursi di sampingnya.” sergah Edward keberatan. Edward menarikku bersamanya.Esme tampak nyaris puas. “Kalau begitu sudah diputuskan. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan. dia terlalu rendah hati. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan. bermainlah untuknya.” Esme mendorong Edward menuju piano.” bujuk Esme. “Kalau begitu.

?” lanjutku cepat. “Kau manusia. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku... “Kau yang menginspirasi ini. takut ada djAnGgo 274 . menutupi jati diri kami.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya.” Irama musik memelan.” Aku mendesah. “Sudah kubilang. tapi dia tidak punya masalah denganmu.” katanya. “Jangan khawatirkan Rosalie. “Senang melihatku bahagia.” katanya. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya.” aku tidak menyelesaikan kata kataku.” Aku mencibir. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya.. kau tahu. Aku tak sanggup berkata-kata.. Ia merengut. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. musik masih melingkupi kami tanpa henti. “Emmett?” “Well . Dia mencoba berempati dengan Rosalie.. Dan dia agak cemburu. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. “Esme dan Carlisle. dia pikir aku gila. “Rosalie yang paling berjuang keras..” Aku melirik ke belakang. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. dan dia benar. dan mendengar tawa pelan di belakangku. dan ia berkedip. berubah jadi lebih lembut. Tapi Rosalie dan Emmett.” katanya.” “Ini benar-benar salahku. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. matanya melebar dan persuasif. “Dia akan datang. “Bahkan Jasper.” gumamku. Edward menatapku santai. menertawakan reaksiku. “Dia berharap seandainya dia juga manusia.Lama sekali ia menatapku putus asa. Ia mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.” katanya lembut. untuk mencegahnya menyadari kengerianku.” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya. “Kesukaan Esme. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. Sebenarnya. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit. dan bergidik. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi. masih terkejut. begitu kaya.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu. tapi ruangan besar itu kosong sekarang.” “Oh.. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu. “Terutama Esme..” Ia mengangkat bahu. “ Mereka menyukaiku. “Mereka menyukaimu.

” “Alice tampak sangat. “Dan kau takkan menjelaskannya. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku..” katanya dengan bibir terkatup rapat. djAnGgo 275 . ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. bersemangat. Setiap kali aku menyentuhmu.. Dia sangat senang... Tidak sekarang. dia nyaris tersedak oleh perasaan puas. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal.

“Tidak ada peti mati.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. Mereka tahu kami ada disini. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba.” gumamku. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab.” lanjutnya mengejek. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis.“Tidak seperti yang kauharapkan.” Aku bergidik ngeri. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. “Tidak.“Jadi.. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu. suaranya terdengar arogan.” Aku mengabaikan gurauannya. Aku mengabaikannya. “Terima kasih.” “Tamu?” “Ya.. Kemudian. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal.” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab. tentu saja. Aku menyekanya. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan. laguku.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya. Ia menyentuh sudut mataku. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. malu. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu.. menyeka titik air mata yang tersisa. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu. “Akhirnya. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya. memalingkan wajah.” aku mengakuinya. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. tiba di bagian akhir. mengamati tetes air itu lekat-lekat. respons yang masuk akal!” gumamnya. sama seperti lantai keramiknya... “Aku tahu kau pasti memperhatikan.” Aku mengangkat bahu.” Lagu yang masih dimainkannya. dan mereka penasaran. karena aku akan sedikit. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. Ia mengangkat jarinya. “Begitu terang. well. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Ia mengikuti arah pandanganku. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan.. begitu terbuka. 276 djAnGgo . “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu. mereka tidak seperti kami. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. ya kan?” tanyanya. Aku menatapnya bertanya-tanya. atau minggu. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi. “Tentu saja. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya...

sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan... Ia bisa saja melanjutkan.” Aku tidak tertawa. “Bisa dibilang ironis. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya. satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu. Aku tidak menyentuhnya.. “Kau boleh tertawa. Tanganku terulus dengan sendirinya. menertawai ekspresiku yang bingung.” katanya.. ruang kerja Carlisle. kamar Alice.. djAnGgo 277 . tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu.“Kamar Rosalie dan Emmett.. Edward tergelak.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku. warna permukaannya yang gelap mengkilat.

Tapi dia tetap ngotot. “Nostalgia.” jawab Edward. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. “Carlisle lahir di London. begitulah cara mereka hidup. Aku yakin ia memperhatikan.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. dia tidak gesit menuduh. dan vampir. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa.. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya. untuk berjaga-jaga. dan lemah karena kelaparan. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. Ayahnya berpandangan sempit.. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. “Awal 1630-an. Saat penganut Protestan mulai berkuasa.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. Dia mengizinkan perburuan penyihir. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. Itu milik ayah Carlisle. tapi ia melanjutkannya. mengabaikan pertanyaannya. Dia mengukirnya sendiri. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell. Pada masa itu. “Dia pasti makhluk kuno. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. tawanya lebih menyeramkan sekarang. dan lebih pintar dari ayahnya.” Suaranya sangat pelan. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. “Tidak. masih memandangi salib. hanya keluar pada malam hari untuk berburu. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. Meski begitu. tentu saja”.” Aku tetap menjaga ekspresiku. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. werewolf . Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. memimpin pengejaran. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat.” aku menebaknya. Makhluk djAnGgo 278 . untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. Ibunya meninggal saat melahirkannya. kurang lebih.” “Ketika sang pendeta semakin tua. Aku kembali menatapnya. pada tahun 1640-an. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. menurutnya. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362.“Pasti sudah sangat tua. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. Lagipula bagi orangorang awam. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka.” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. Ia mengangkat bahu.

tapi yang lain ada di belakangnya. jadi dia berbalik dan menyerang. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah. dan ia berbalik untuk membela diri. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. menyembunyikan sesuatu dariku. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. Tubuh-tubuh akan dibakar. dan kabur membawa korban ketiganya. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri.” Edward berhenti. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. dan tak ditemukan. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. djAnGgo 279 . Dia membunuh dua manusia. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya.

” ajaknya.“Akhirnya semua itu selesai. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku. Ia mulai menyusuri ruang besar itu.” aku menenangkannya. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. “Aku baik-baik saja.” djAnGgo 280 . ayo. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa.” Senyumnya melebar.” “Beberapa. memamerkan giginya yang sempurna. “Kalau begitu. tapi tiba-tiba ia berhenti. “Akan kutunjukkan padamu. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. sambil menarikku bersamanya. Ia tersenyum.

djAnGgo 281 . jantungku langsung berdebar sangat cepat. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat.” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. Snow tidak masuk karena sakit.” kata Edward. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. meletakkan satu tangannya di bahuku. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle.” tambahnya. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. “Aku mau. kayunya berwarna lebih gelap. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. di mana saja terlihat. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai. Sungai lebar mengaliri bagian muka. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. Ia berhenti sebentar di depan pintu. Sebagai ganti rak buku. “Tidak sama sekali. di sebuah kursi kulit.” undang Carlisle. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun.” jawabnya. Aku tersentak. “Well. sejarahmu. Dinding-dindingnya bersekat. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. Setiap kali ia menyentuhku. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. “Masuklah. beberapa dengan warna terang. “London pada masa mudaku. Rumah sakit menelepon tadi pagi.” kataku meminta maaf. “London pada tahun 1650-an. dr. Edward meremas tanganku.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran.” jawab Edward. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu.16. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil.” kata Edward. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. sebenarnya. Lagi pula. yang hitam-putih membosankan. tidak mendengarnya mendekat. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita.

Aku juga waswas. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London. mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Setelah tersenyum hangat ke arahku. Carlisle meninggalkan ruangan. djAnGgo 282 .tersenyum pada Edward sekarang. Sungguh perpaduan yang aneh.

Tapi itu tidak mudah. ” “Segalanya mudah bagimu.. membenci dirinya sendiri. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. tapi kata itu meluncur begitu saja. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. padahal ia masih begitu baru. Ia menunggu. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. dan menjadi lemah. suaranya datar. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. dan sangat kuat. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. mengambil alih segalanya. janji. Dia pandai dan selalu ingin belajar.” kataku kagum. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. Jantungku bereaksi terhadap hal itu. mencari tempat paling sepi..” “Kau. Dia belajar pada malam hari.. tapi aku berkeras.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. Bella.” Edward mengingatkanku dengan sabar.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. ” “Tidak. “Akhirnya dia sangat kelaparan. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat.” gumamku. Ia mengangkat tangan. bekerja di siang hari. djAnGgo 283 .. dan menyelesaikan kalimatnya. tapi ia menduluiku. Dia menemukan jati dirinya lagi. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta.” Edward memberitahuku. memindahkannya ke leherku. “Kurasa itu benar. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang.. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu. Dia berenang ke Prancis dan. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya.” Mulutku membuka hendak bertanya. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. Lanjutkan. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. nalurinya bertumbuh makin kuat. “Tidak. mendongak menatap Edward. kami tidak berlu bernapas. “Karena secara teknis. dengan puncak gunung di kejauhan. “Kau tak perlu bernapas?” desakku.” Edward tertawa. sadar tekadnya mulai melemah. yang sedang mengamatiku.” Ia tergelak misterius. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. kau sudah janji. wajahnya kesal. “Aku takkan menyelamu lagi.. memangsa. “dia melawannya. tidak.” kata Edward pelan.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami. Sejalan dengan waktu.

” Ia mengangkat bahu. Hanya masalah kebiasaan..“Tidak. Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman. entahlah. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas.” ulangku.” “Agak tidak nyaman. itu tidak perlu.. djAnGgo 284 . “Berapa lama kau tahan.

Tubuhnya tak bergerak bagai batu. Caius. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. dan ia mendesah. “Kita lihat saja. “Penjaga malam di gedung seni. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. “Aku terus menunggunya terjadi. kedokteran.” Ia berhenti. “Ada apa?” aku berbisik. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. lanjutkan. Marcus. Menunggu. dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. kembali lagi ke ceritanya. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an. hormat.” katanya. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. “Carlisle berenang ke Prancis. aku juga ingin bersamamu. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. “Aro. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London. ilmu pengetahuan. memperkenalkan tiga lainnnya. metanya menatap lekat wajahku. dan yang paling besar. Aku merengut. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain.” katanya. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya.” Edward tertawa. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami.. tapi tatapannya serius. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. Meski begitu.” Ekspresinya penuh kekaguman. “Aku takkan menghentikanmu. Carlisle berenang ke Prancis. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . lalu tersadar. menyentuh wajahnya yang membeku. yang satu lagi berambut putih bagai salju. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. yang bingkainya paling penuh ukiran. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. dan terus ke Eropa.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku.” Ia setengah tersenyum. Keheningan terus berlanjut. “Jadi. ke universitas-universitas di sana. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. Kemudian kau akan menjauh dariku. “Aku takkan lari kemana-mana. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram.” Ia mengangkat bahu.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu. seraya tertawa kaget. lari sambil menjeritjerit. Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani. tersenyum lagi. dua berambut hitam. “Mereka masih disana. hanya beberapa dekade.. Pada malam hari dia belajar musik. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi.” aku berjanji padanya.

Dia mulai menerapkan metode pengobatan. kau tahu. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. djAnGgo 286 . dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. Mereka mencoba membujuknya. keduanya sama-sama tidak berhasil. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya. Dia sangat kesepian.keberadaban mereka. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. begitulah mereka menyebutnya. kehalusan budi bahasa mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. seolah-olah dia salah satu dari mereka.

tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. Ketika ia kembali padaku. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu.” ia menyimpulkan. “Hampir selalu?” Ia mendesah. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. maka tentunya aku tidak sejahat itu. tampak enggan menjawabnya.” Aku gemetaran. laki-laki di belakangnya. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku.“Ketika epidemi influenza merebak. nyaris berbisik sekarang. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. Dalam pemikiran itu dia menemukanku.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. kalau aku menyelamatkan gadis itu. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. “ Well. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. Ia bisa merasakannya. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna.” “Sungguh?” Aku terpancing. lorong pada malam hari. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. bukannya ketakutan. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. memelan. gadis yang ketakutan. Dia telah merawat orangtuaku. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. Aku menungguu dalam diam. baik manusia maupun bukan manusia. dia akan menciptakannya.” gumamku. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. Tak ada harapan untukku. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil.” Ia tertawa. jadi dia merasa ragu. Edward yang sedang berburu. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. jadi aku bertanya.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu. Dan Edward. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. lebih keras daripada sebelumnya. dan tahu aku sebatang kara. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. Aku tidak menyukai caranya berpantang. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. “Hampir selalu. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. tak djAnGgo 287 . terserah bagaimana kau menyebutnya. di lorong berpanel lainnya. “Sejak kelahiran baruku. seperti yang seharusnya kurasakan. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat.

terhentikan. Mereka menyambutku secara berlebihan. Apakah gadis itu berterima kasih. aku mulai melihat monster dalam diriku.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu. “Kamarku. Lebih daripada yang layak kudapatkan. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. membuka dan menarikku masuk.” ia memberitahu. djAnGgo 288 . tak peduli apapun alasannya.

Tidak ada tempat tidur. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. dan ia mengangguk. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. Sebenarnya. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. Ia berhenti. “Mmmm. alisanya terangkat. Ia mengeram dengan suara pelan. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. djAnGgo 289 . Ia tergelak dan mengangguk.” kataku. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. jelas-jelas tidak percaya.” ia tergelak. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. Aku mundur darinya. Aku berbalik. “Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. tersenyum samar. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. nyaris menyentuhku. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. menatapnya nanar. setengah membungkuk. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu.Kamarnya menghadap ke selatan. Ia tidak mendengarkan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. tegang seperti singa yang siap menerjang.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega. Tapi kemudian. “Aku senang. Ternyata aku menyukainya. “Kau tidak akan melakukannya. terlalu cepat.” Ia mengangkat bahu. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. kan?” aku menebak. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. “Aku benci menghancurkan harapanmu. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. berdasarkan tahun. Ini membuatku… bahagia. balas tersenyum. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. Suaranya pelan. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD.” aku berbohong. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. senyumnya memudar dan dahinya berkerut.” katanya setengah melamun. Setelah kau mengetahui semuanya.

Aku menatapnya ngeri.Ia tidak membiarkanku. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . “Mmm. matanya berkilat-kilat penuh canda. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. “Kau monster yang sangat.” Aku berusaha bangkit.” ia menyetujuinya.” kataku. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Jauh lebih baik. sangat menakutkan. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya. kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.

ekspresinya agak terkejut. dan Emmett ingin bermain baseball. “Kami yang akan bermain baseball. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. “Tentu. bagus. nyaris menari.” Aku memutar bola mataku. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. dan Jasper berdiri di belakangnya. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. “Tidak. “Mmm. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong. “Silahkan. Mata Edward berkilat-kilat. “Kau akan menonton. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. “Kita akan main apa?” tanyaku. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau. kau akan tahu kenapa. aku tak dapat mengatakannya.” “Kalau begitu. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. kelihatan senang.” seru Alice.” ia berjanji.” jawabnya. “Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang. di pintu masuk. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. “Sebenarnya. “Badai akan menghantam kota. Pipiku merah padam. ia berjalan.” ejeknya.” Aku tak mungin mengecewakannya. Aku mendapati diriku bersemangat. semangat dalam suara Jasper menular. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. sampai aku menyadari Edward tersenyum.” Seperti biasa. entah karena komentar Alice atau reaksiku. tapi konteksnya membuatku bingung.” Edward meralat. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara.Ia hanya tertawa. tapi ia ragu. Aku berjuang melepaskan diri. Ia menatap wajah Edward.” ujar Alice. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. Aku bisa melihat bahwa itu Alice.” kata Jasper. ke tengah ruangan. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. Akan cukup kering di hutan.” Edward masih menahan tawa. Tubuhku langsung kaku. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball. bukannya ketakutan. wajahnya bersemangat.” goda Jasper. rasanya aku tak ingin berbagi. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice. dan mereka langsung berlalu. “Seperti kau tidak tahu saja. “Maaf. djAnGgo 291 .” Alice terdengar cukup yakin. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras. tersenyum sambil memasuki ruangan. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. gerakkannya sangat anggun. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. tapi Edward nampak santai.

djAnGgo 292 .

kuharap kalian belum terlalu lama menunggu. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya.” “Kau tidak perlu pergi. Matanya kembali melirik teras. memamerkan seluruh giginya. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. kemarahannya langsung lenyap. “Hei.” “Belum lama.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. “Ini sudah kelewatan. Anak itu tidak tahu apa-apa. Hai.” ia berjanji. “Terima kasih banyak.17. “Oh. Meskipun begitu. Setelah kau menyingkirkan mereka”. Aku mengerang. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras. “Aku akan segera kembali. djAnGgo 293 .” ia meyakinkanku dengan senyuman. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. suaranya pelan dan parau. dan aku memandang ke teras. “Biar aku yang mengurusnya. “Sebenarnya memang tidak perlu.” Ia tersenyum lebar. Jantungku melompat tak keruan. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam. Ford using. “Charlie pergi seharian.” kataku sedih. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. “Segera. Jacob mengawasi. Wajah Billy tak lagi datar.” sahut Billy tenang. ekspresinya mematikan.” perintahnya. Billy. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. sekilas mengecup pangkal rahangku. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang. Suara Edward yang dalam terdengar marah. Kemudian aku melihat mobil hitam.” aku mengingatkan. “jadi aku bisa pergi. “Barangkali itu yang terbaik. kemudian ia membungkuk. lebih ketakutan daripada marah. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku. Jacob. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak. berhati-hatilah. Tatapan tajam Edward membuatku waswas.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak .” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata. “Ajak mereka masuk.” usulku. diparkir di pelataran parkir Charlie. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. Aku akan kembali sekitar senja. Ia memutar bola matanya. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. Edward hanya mengangguk. aku tahu. Ia memandangku. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu.

dan menyuruh mereka berjalan menduluiku.“Aku hanya mau mengantar ini. djAnGgo 294 . meskipun tak tahu apa isinya.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya. “Terima kasih.” kataku.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu. “Masuklah sebentar dan keringkan dirimu.

” katanya lagi. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. “Bella.” katanya. Setelah beberapa saat. Matanya menyipit. kemudian ragu-ragu. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” Ia menyadari perubahan ekspresiku.” ujarku tegas. diam. “Barangkali ini bukan urusanku. “Masukkan ke kulkas.” Jacob kembali menembus hujan.” ujarku memberi isyarat. dan berbalik menghadapnya. “Dia ke tempat baru. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater. Aku menunggu. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. dan itu membuatnya berpikir. berbalik untuk menutup pintu.” Suaraku nyaris kasar.. masih mengamatiku.” katanya. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. “Terima kasih.” “Ya.” jawab Billy. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. kesukaan Charlie. “Charlie pulang larut. Tapi aku tidak tahu dimana. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan.. Ia mengangguk setuju. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan. matanya serius. alisnya bertaut. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam. Ia sedang menunggu. “Jake. Ia terkejut. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen.” aku mengulanginya. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh. Kulkas akan membuatnya lebih kering. matanya berbinar.” Ia mengangkat bahu. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. djAnGgo 295 . Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak.” “Dimana?” Jacob bertanya. “Itu memang bukan urusanmu.” “Ya. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya. tapi tidak mengatakan apa-apa. wajahku menegang. “Bella.” aku cepat-cepat berbohong.“Mari. aku mengetahuinya. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. “Kau kelihatannya.” “Bukan. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. tapi ia menunduk menatap lantai.” timpalku.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku.” kembali aku menjawab dengan ketus. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi.” aku menawarkan diri.. biar kusimpankan untukmu. namun kali ini bersungguh-sungguh. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku. matanya waspada. Ia terus mengangguk. suaranya murung.” “Kau benar. “Memang benar. keheningan itu mulai terasa menjengahkan..” ia menyetujuinya.” “Sebenarnya. jadi aku berbalik menuju dapur. “Charlie salah satu sahabatku. Aku memandangnya.

“Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu. djAnGgo 296 .” ia mengalah. Lebih tahu daripada yang kuduga.cukup tahu tentang keluarga Cullen.” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Mungkin. tapi sorot matanya tajam. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.” Aku menatapnya.

Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku.” “Akan kusampaikan. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. Segera saja aku menyerah memilih pakaian. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. yang lainnya akan membuatku kecewa.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. Jacob membantu ayahnay melewati pintu. maksudku. satu-satunya suara yang memecah keheningan.” kata Jessica.” sahutku membentengi diri. “Jaga dirimu. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. dan aku melompat mendengarnya. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan. beritahu Charlie”.” desaknya. “Well.” timpalku. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. Aku berdiri di lorong sebentar.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. djAnGgo 297 . Tapi sepertinya ia mengerti. yang baru saja lewat jadi tidak penting. “Tapi mungkin urusan Charlie.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. “bahwa kami mampir. Billy.” gumamku. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. “Itu bukan urusanku. Aku tak menyahut. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. “Bella? Ini aku. kukenakan atasan flanel usang dan jins. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. tak yakin apa yang menantiku malam ini. Ketika ia berbelok di sudut. Bella. terengah-engah.” akhirnya ia menyerah. Aku melambai sebentar. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. “Oh. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya. Wajahnya menekuk. dan tak ada yang bisa kukatakan. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. Ekspresinya tidak senang.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. “Ya. “Halo?” tanyaku. “Maksudku. Bella. “Kurasa itu urusanmu juga.” Aku menatap matanya. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. “Hebat. “Hmm. tapi tidak terkejut. Jacob terkejut. “Terima kasih. Bella.” Billy bergumam.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri.” katanya. Aku diam di tempat.” “Tentu.” aku buru-buru menimpali.” Aku mendesah lega. kurasa sampai ketemu nanti.” “Well.” Billy mengingatkanku. “Oke.” Jacob tampak kecewa.

Jess.“Oh. Tak perlu dipancing lagi. “Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. tapi tidak mudah djAnGgo 298 . Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. hei. ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya.

. Jess.” Aku tagu. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria.. Aku melambai padanya. “lebih baik. kaget. Mataku terus menatap jendela. ya?” “Edward adalah yang paling muda. membuyarkan lamunanku. “Itu kesukaanku. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen.” Ia berhenti. Sampai ketemu di kelas Trigono.. “Yeah. Charlie menikmati makanannya. Bella?” tanya Jess jengkel. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu.untuk berkonsentrasi. apa?” “Kubilang. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. “Oh.” Aku berusaha terdengar bersemangat. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur.” Aku menutup telepon. “Well. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. “Hei. “Tunggu. “Mmm. “Well.” “Sampai ketemu.” Charlie menjatuhkan garpunya. O-Oh. Cullen?” ia bertanya.. “Jadi. “Dad. Tak apa. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. well. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. kita ngobrol besok. Jess mendengar suara Charlie. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu. yang seperti dewa. tapi perutku seperti berlubang. meletakkan peralatannya. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. “Maaf. “Rumah dr. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu. makan dalam diam. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya. sungguh. Jess.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus. “Kami sama-sama murid junior. masih jengkel karena aku kurang menyimak. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. sore ini aku di rumah saja. “Tidak ada. “Kaudengar apa yang kukatakan.. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku.” serunya marah. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. “Hai.” kataku. “Oh. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga. “Edwin itu yang mana. pesta dansa..” Yang tampan.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam.. Dad. Jessica. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting. ayahmu ada. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. Mike. sebenarnya. sekolah.. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. djAnGgo 299 .” aku meralatnya. yang rambutnya cokelat kemerahan.” kataku.” Bukan sepanjang sore.

tidak?” djAnGgo 300 . tapi dia kelihatan terlalu.kurasa. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. dewasa untukmu. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya. Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward. Dad.” “Ya...

” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras.” ia mengamatiku curiga. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. Edward. Bell. “Well.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket.” “Silahkan duduk. ia mungkin saja mendengarkan. Kepala Polisi Swan. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut.” Aku meringis. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. “Kaujaga putriku baik-baik. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. Sini. memaksaku duduk di sofa. di sebelah Charlie. Lagipula. “Ya. Sir. “Oke.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini. Sir. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. aku bisa mencucinya malam ini.“Kurasa bisa dibilang begitu. Charlie. panggil saja aku Charlie. “Aku mendesah dan memutar bola mataku. “Oh. “Sudah cukup menertawakanku. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak. kusimpankan jaketmu. Ayo kita pergi.” “Terima kasih. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. “Jadi. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. “ini baru tahap awal. “Kau bermain baseball?” “Well.” Edward berjanji. begitulah rencananya. Edward. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya. kemudian akhirnya tergelak. “Lagipula. Dad. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. kau tahu. Edward tidak tinggal di kota. “Ayo masuk.” Charlie tertawa.” Faktanya. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Kau sudah terlalu memanjakanku.” “Jangan khawatir.” sahut Edward dengan suara penuh hormat. dan Edward ikut tertawa.” Wajahnya cemberut. Mereka mengikuti. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. “Well.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar. “Jangan pulang terlalu larut. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.” Tapi ia mengambil garpunya lagi. barangkali kebanyakan aku menonton.” Bel pintu berbunyi. oke?” djAnGgo 301 . Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. Ia mengedip di belakang Charlie.” Aku bangkit berdiri.” lanjutku.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah. “Tinggalkan saja piring-piring itu. “Terima kasih.

Sir. Mereka tertawa. tapi mereka mengabaikanku.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. “Dia akan aman bersamaku. djAnGgo 302 . dan Edward mengikutiku. aku janji. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. yang terdengar pada setiap kata-katanya.Aku mengerang.

mmm. “Keduanya.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. setiap detik semakin pelan. “Itu perlengkapan keselamatan off-road. Aku menatapnya. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. “Kau tidak akan berlari.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. tampak Jeep berukuran sangat besar.” “Aku bakal mual. “Ini. Hujan tinggal gerimis.” djAnGgo 303 . Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar.. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. di belakang trukku. kita harus jalan kaku dari sini.” jelasnya. dalam langkah manusia normal. Atapnya merah mengkilat. menyusuri tulang selangkaku.. Bella. Lalu aku tiba-tiba mengerti. tersenyum lebar sepanjang jalan. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. “Kau harum sekali ketika hujan. bingung. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. Kami berlalu meninggalkan rumah. Ketika ia beralih ke jok pengemudi.. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku.” “Ini punya Emmett.. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. Charlie bersiul pelan. Ia mendesah. Kemudian kami tiba di ujung jalan. selalu keduanya.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. melawan rasa panik. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku.” sahutnya tercekat. kemudian mengerang. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. tapi tidak mudah. Jeep-mu besar sekali. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. “Dalam artian yang baik. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. “Kenakan sabuk pengamanmu.” “Oh-oh.” “Pejamkan saja matamu. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. Ia tersenyum tegang. kau akan baikbaik saja.” Kugigit bibirku. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. Tapi terlalu banyak kaitan. “Maaf. dan langit tampak lebih terang di balik awan.Aku berhenti tiba-tiba di teras. Disana.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Ia mendesah. atau buruk?” tanyaku hati-hati. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor.

“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku. djAnGgo 304 . “Biar aku yang melakukannya.” protesku. dan menuju sisiku dalam kelebatan.” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku. kau terus saja.

wajahnya hanya beberapa senti dariku. “Nah.“Hmmm. di bawah lenganku sendiri. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. dengan hati-hati. Aku tak bisa melepaskan diri.” desahnya. Aku tahu pertahananku nyaris hancur. “Kau akan menjadi alasan kematianku. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.” Aku berjongkok. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya.” Sebelum aku bereaksi. Alice benar.” desahku. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran. aku bersumpah. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh.” Menggunakan hidungnya. “Mual. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. “Pepohonan. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. “Tidak. berhenti tepat di sudut mulutku. dan menciumku sepenuh hati.” ia mengingatkan dengan nada kasar. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya.” Ia menahan senyum. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. “. ya kan?” “Tidak.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. tapi tak ada yang bisa kulakukan.” aku mendesah.” gumamku. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku.. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku. “Ya. ” aku menelan ludah. dan sekarat. Ia tergagap mudur. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. kan?” “Tidak.” Aku berusaha berkonsentrasi. menabrak pohon. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. “Semacam itu.” Ia memperhatikanku lekat-lekat. Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. Bella!” ujarnya terengah-engah. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. Bukannya tetap diam dengan aman.” katanya. memaksaku menempel ke pintu. “Sialan. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. “Kaulihat. Kemudian mual. mm. berusaha mengatur napas.” aku terengah. menyerah. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. “Bella. dengan mudah melepaskan cengkramanku. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual. “Kau tidak bisa mati. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Nyaris tak berembun sekarang ini.” geramnya. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. dan memejamkan djAnGgo 305 . aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku. tapi aku mungkin. bibirnya bergerak di bibirku. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. Aku mendesah dan mengangkat bibirku..

Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. gerakannya terlalu halus.mata. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak.

Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. “Kau mau kemana. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku.” “Tapi kau baru bilang. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai. “Jangan marah. “Oh. Bella?” “Nonton pertandingan baseball. dan ia pun tertawa terbahakbahak. Aku bangkit berdiri. kelambananku.” “Lalu kenapa?” bisikku. “Kau marah. ” “Aku tidak marah pada mu. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. “Aku tidak marah padamu..” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. Ia menangkapku lagi.. hangat.” katanya lembut. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. Aku harus lebih kuat. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku. aku harus bisa. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Merasa jengkel.” “’Bella. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur.” “Kau berjalan ke arah yang salah. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. “Karena selalu membahayakan dirimu. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. “Sudah sampai. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. frustasi akan kelemahanku. seluruh selera humornya lenyap. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. aku mulai melangkah ke dalam hutan. Tidak bisakah kau melihatnya.” djAnGgo 307 . “Ya. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. percaya. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi. “Aku takkan pernah marah padamu.” Aku memberanikan diri membuka mata. dan cukup yakin. “Jangan. Ia menatapku tak percaya.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. tapi ia menangkapku dengan cepat. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. alisku terangkat.mengintip. Bella. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. kami sudah berhenti. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah.. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. begitu juga kata-katanya. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. aku tak dapat menahan diri.. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. tapi aku menahannya. mendarat di punggungku.” aku berkeras.

memindahkannya dari bibirnya. Ia mungkin tidak menyadarinya. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. “Aku mencintaimu. namun meletakkannya di wajahnya. djAnGgo 308 . tapi aku tentu saja menyadarinya.” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku.Ia meraih tanganku. tapi itu masih benar.” katanya. dalam begitu banyak katakata.

Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan. lebih mirip cheetah daripada rusa. “Itu memang dia. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic.” ia melanjutkan.“Sekarang. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. sambil mengedip padaku. Esme menghampiri kami. menembus semak-semak yang basah dan padat. Lalu mendesah. setidaknya jaraknya seperempat mil. kumohon bersikaplah yang baik. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Aku diam tak bergerak. Alice berlari bagai rusa. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. “Ayo. “Kaukah yang kami dengar tadi. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. “Menyeramkan. “Ayo. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. Emmett. tapi aku tak melihat bolanya. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. Ma’am. dan dengan cepat ia mendahului mereka. kemudian pecah di barat kota. berkilat-kilat. mungkin jauhnya seratus meter. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. Aku mencoba terdengar bersemangat. dan Rosalie bangkit berdiri. Luasnya dua kali stadion baseball. cepat-cepat membalasku. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. setelah mengacak-acak rambutku.” Edward menjelaskan. Esme. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.” Emmett membenarkan. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. aku lebih suka menjadi wasit. “Kalau begitu. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Esme. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai. atau menari ke arah kami. gelisah. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. Larinya lebih agresif. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. tim!” Ia mengejek dan. mengejar kedua saudaranya. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.” “Ya. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. tatapannya bersemangat. “Tidak. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. “Kau siap bermain?” Edward bertanya. Emmett. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. “Sudah waktunya. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 .” ia menjelaskan. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. Perutku langsung mual. kecuali satu tanganku.” ia mengumumkan. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. Begitu ia berbicara. dan kami pun sampai.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku.

terkejut. djAnGgo 310 .mendengarnya. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala. apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. terkejut.” “Anda terdengar seperti ibuku.” aku tertawa. “ Well. “Ia juga tertawa.” gumamku.

” ia mendesah.“Ya. dan kemudian. Kemudian tangannya mengayun lagi.” seru Esme lantang. melayang menembus hutan yang mengelilingi. “tapi Edward berlari paling cepat. “Kaulah yang diinginkannya. djAnGgo 311 . Aku tersadar Edward menghilang. seolah-olah tak bergerak. meskipun dahinya berkerut waswas. menggema hingga ke pegunungan. itu sebabnya aku melompat dari tebing. bagai serangan kobra.” Ia tersenyum. Aku selalu menganggapnya begitu. tapi saat ia mengambil posisi. Anda tidak keberatan?” aku bertanya. Gayanya tampak licik daripada mengancam.” tambahnya terus terang. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin.” ia memberitahu.” Ia tersenyum hangat padaku..” jelas Esme. Gelegar petir terdengar lagi. sebagai anggota tim lawan. satu tangan terangkat. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. “Ke posisi masing-masing. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. pasti akan ada jalan keluarnya.” Alice berdiri tegak. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana. makhluk kecil yang malang. bayi pertamaku dan satu-satunya.” Esme mengingatkan. Sayang. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. menggelegar. kembali ragu-ragu. aku sedih melihatnya sendirian. “Itu menghancurkan hatiku.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan. “Emmett memukul paling keras. Alice tersenyum sebentar.” Ia tampak bersimpati. “Selalu sang pria sejati.” aku bergumam. “Out!” Esme berteriak lantang. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. mendengarkan dengan saksama. Bunyi pukulan itu menggetarkan. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. “Tunggu. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Esme menghentikan langkah. “Home run. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. sejauh apa pun posisinya. “Edward putra baruku yang pertama. meskipun dia lebih tua dariku. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. dan Alice memegang bola. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan.. katanya. dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. Entah bagaimana. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. “Bahwa aku. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. Carlisle membayanginya. setidaknya dalam satu cara. Aku menunggunya menghampiri home base . Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. baru disebut strike. “Baik. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. tangannya yang terangkat menggengam bola.” “Kalau begitu. “Kalau mereka tidak memukulnya. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan.” ujarku terbata-bata. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. kau tahu.

wajahnya memancarkan rasa senang. djAnGgo 312 . Ia berlari cepat ke sisiku. berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward.Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Ketika mereka bertabrakan. Aku melompat dengan waswas. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. ketika Edward menangkap bola ketika.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. memukul bola mati ke arah Carlisle. “Safe. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama.

” jawab Alice singkat. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. mereka ingin bermain.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. Tiba-tiba Alice terkesiap. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. “Mereka mendengar kita bermain. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. ” Ia terdiam. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya. bebalik menghadap Edward. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. “Alice?” suara Esme tegang. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. Mereka berlari. dan itu membuat mereka berbelok. Ia bermain pintar. bingung. Semua sudah berkumpul.” ia tertawa. melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. seperti biasa. menjaga bola tetap rendah. “Tidak. membuatku kehabisan napas. “Apa yang berubah?” tanyanya. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. “Yang jelas. menuju base. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. djAnGgo 313 . matanya kembali berkilat-kilat memandangku. “Ada apa.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya. “Aku tidak melihat. Jasper mendekati Alice. Ketegangan menyelimuti wajahnya. “Kenapa?” tanyanya. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini.” gumamnya. “Well. “Biarkan mereka datang. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. “Lagipula.” “Tiga.” katanya menyesal. “Aku agak kecewa. tidak sambil menggendong.” katanya. “Kurang dari lima menit. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. Petir terus bergemuruh. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice. kemudian berpaling.” bisiknya. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. posturnya protektif. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya.” Wajah Edward geram.” godaku. “Giliranku. Alice ber-high five dengan mereka. Mataku tertuju pada Edward. aku tak bisa mengatakannya. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka.

“Mari kita lanjutkan saja permainan ini. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya. “Alice bilang.” akhirnya Carlisle memutuskan. mereka hanya penasaran. Suaranya tenang dan datar.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . Carlisle berpikir. Hanya Emmett yang tampak tenang. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya.

Emmett. tapi toh aku dapat menangkapnya. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. “apakah mereka haus. Aku mematuhinya.” “Ya. djAnGgo 315 . Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. “Kau yang menangkap. Tatapannya tanpa ekspresi. Carlisle berdiri di base. dan Emmett. mata dan pikirannya menerawang ke hutan.” gumamnya enggan. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. “Cukup untukku. jangan bergerak dari sisiku.” “Aku tahu. Esme. Carlisle.” kata Alice lembut.” katanya. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam.” gumamnya marah. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. kumohon diamlah.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. “Itu takkan membantu. “Yang lain berdatangan sekarang. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. Rosalie. jangan bersuara. dan yang lain berpaling ke arah yang sama. menutupi wajah. Yang lain kembali ke lapangan. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Aku sungguh menyesal. “Uraikan rambutmu. “Maafkan aku. Detik-demi detik berlalu.” Dan dia pun berdiri di depanku.” Aku mendengar napasnya berhenti. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. Ia menarik rambut panjangku ke depan. Bella. dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. Ia setengah melangkah. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku.

dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. dan mereka bertelanjang kaki. rambutnya hitam mengkilap. Ia tersenyum ramah. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. Sambil masih tersenyum. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Matanya. meskipun diam. Laki-laki yang pertama langsung mundur. djAnGgo 316 . anggun. memamerkan gigi putihnya. ototnya kekar. Si perempuan lebih liar. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Postur tubuhnya sedang. Langkah mereka pelan. terpisah-pisah sejauh 12 meter. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. Ketika mereka mendekat. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. entah mengapa tampak paling waspada. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. Kedua laki-laki itu berambut cepak. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. dan tanpa komunikasi yang kentara. Mata mereka juga berbeda. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. Yang ketiga wanita. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. tapi kalah jauh dari Emmett.18.

“Disini. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini.” djAnGgo 317 . “Aku Carlisle. Emmett dan Jasper. Carlisle membalas dengan sama ramahnya. Aku terkejut ia menyebut namaku. Rosalie.“Kami kira kami mendengar permainan.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara. ini Victoria dan James. di Olympic Range. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. “Aku Laurent. Ini keluargaku. Edward dan Bella. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah. kami baru saja selesai. Esme dan Alice.” “Tidak.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. “Sebenarnya. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis.

bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. “Kalian membawa snack?” tanyanya. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. menggeram penuh ancaman. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. semata-mata hanya terkejut. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab. Emmett dan Alice. Edward memperlihatkan giginya. Ketika Laurent bicara. “Ceritanya agak panjang. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan. “Ya.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. hidungnya mengendus-endus. Perlahan James menegakan tubuhnya. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. “Kumohon jangan tersinggung. Rambutku berantakan ditiup angin. dan laki-laki kedua. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini.” djAnGgo 318 . Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. Kalian mengerti. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. James. Lagipula.” Laurent mengangguk. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. “Tapi dia manusia. tiba-tiba memutar kepalanya. “Tentu saja. mengamatiku. cuping hidungnya masih mengembang. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. matanya tertuju pada James. tubuh Edward menegang. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya.”protes Laurent. “Dia bersama kami.” Carlisle menjelaskan.” Carlisle menambahkan dengan tenang. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. James bergerak sedikit ke samping. nada suaranya lembut. kami baru saja bersantap di luar Seattle. bengis. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian.” Ia tertawa.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. balas siap menerkam. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka.” Senyumnya ramah. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif.

tentu saja. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. Jasper.” Suara Carlisle masih tenang. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent.“Tentu. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. “Akan kami tunjukkan jalannya. Seperti kataku. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. Esme?” panggilnya. “Dan.” Suara Edward pelan dan lemah. Rosalie. djAnGgo 319 . kami takkan melukai perempuan manusia ini. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. “Tapi kami ingin menerima undanganmu. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Bella. Mereka mendekat. “Ayo. dan Emmett mundur perlahan.

Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. menjauh dari Forks. “Sialan. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. dan sama sekali saia-sia. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. “Menepilah. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan.” Ia tidak menoleh ke belakang. Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. Edward. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. menyembunyikan diriku. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang.” djAnGgo 320 . Bella. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. Alice telah berada di jok depan. yang menyelinap masuk ke sebelahku. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. dan meskipun laju kami bertambah cepat. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. Dan kami menuju ke selatan. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak. Tak ada yang menjawab.” ia memerintahkan Emmett. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya. matanya terpaku ke jalan.” “Aku harus. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. yang lain tak bisa mendahuluinya. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur.” Suaranya dingin. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam. masih terkejut karena ngeri. “Emmett. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. “Kita mau kemana?” aku bertanya. “Pasangkan sabuk pengamannya. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. “Tidak! Edward! Tidak.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama. Alice berbicara untuk pertama kali. kau tidak boleh melakukan ini. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. yang lain tak mau menjauh darinya. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. sekarang kumohon diamlah. berputar menghadapi jalanan yang berliku. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. dan Edward menyalakan mesin. Aku terus menundukkan kepala. Bahkan denganku di punggungnya. Sesampainya di bawah naungan pepohonan. Aku memberontak. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. sekarang.” kata Edward dingin. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. “Tidak demi aku. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Kami tiba di jalan utama. jauh sekali.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. Bella. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar.

“Dia pemburu. Edward. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. kemudian menambah kecepatan. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. djAnGgo 321 . Jarum spidometer bergerak melewati 120.” ia mengerang frustasi. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku. aku ingin memahaminya. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit.Edward menatapnya marah. “Menepilah. tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.” Nada suara Alice tenang. “Kau tidak mengerti. Alice.

dan dia menginginkan Bella.” geram Edward. Aku melihat pikirannya. dia takkan bisa mengalahkan kita. murka.” “Tidak.” “Dia bukan tandingan kita. “Aku juga bisa menunggu. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak. “Itu sebuah pilihan. terkesiap. “Tidak. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. dan terhempas lagi ke jok.” desis Edward.” kata Alice pelan. “Dia benar. lebih drastis. Edward.” potong Edward. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan.” “Jumlah kita cukup banyak. Dia bersamanya. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku. dia tak tergoyahkan. “Kita harus membawanya kembali.” “Dia akan menunggu.” sahut Edward mantap. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan.” “Dia tak tahu kemana. Aku terdorong ke depan. Sekali memutuskan untuk berburu. “Bawa aku kembali. “Tidak ada pilihan. Dia memulai perburuannya malam ini.” aku memohon. Aku memandang marah dan melanjutkan. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. Edward. pilihan.” “Dengar. Dia akan mencoba djAnGgo 322 . si pemimpin akan turun tangan juga.” “Itu pilihan lain.” bujuk Alice. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. “Aku tidak melihatnya menyerang. Kita harus membunuhnya. “Tidak. Alice. “Bisa saja berhasil.” Mereka menatapku.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk. ada. Aku memecahkannya. sungguh.” Emmett tampak sangat percaya diri.” Emmett tersenyum.” “Kau tidak mengerti. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI.” kata Alice. “Bukan ide yang buruk.” kata Alice. Kukemasi barang-barangku. Edward berbalik padanya. “Terlalu berbahaya.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. “Bawa aku kembali. Alice. Dia takkan bisa menyentuhnya. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella. Ia benar-benar mengabaikanku. obsesinya. Alice memelototinya. Kalian tahu itu. baru kita lari.” Alice berpikir sebentar. akhirnya terpancing juga. suaranya mengeram. ” Edward menginterupsi.” “Dan yang perempuan.” Emmett akhirnya berbicara.” Aku terkesiap.“Lakukan. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap. Bella. Semua menatap Edward. “Edward. Berburu adalah hasratnya. Jeep sedikit melambat. Jeep kembali melambat. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. “Dengar. secara spesifik.

menunggu kita meninggalkannya sendirian.” djAnGgo 323 .” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.

Emmett. dia bakal curiga.” aku melanjutkan. “Dengar. dengarkan dia.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. Suaranya terdengar pahit. Kemasi apapun yang bisa kau ambil.” “Tidak. Katakan pada Charlie. Ketika bicara. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. “Inilah yang akan kita lakukan. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. kalau si pemburu tidak ada disana.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak.” “Pikirkan lagi.” desaknya. kumohon lakukan saja dengan caraku. dimanapun kau berada. Kemudian dia punya waktu 15 menit. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett. Setelah dia keluar. Ia tidak mendongak. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. aku akan mengantarnya sampai ke pintu. suaranya terdengar terluka.” protesku. “Oh. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. Ceritakan apa saja agar dia percaya. Kau punya waktu 15 menit.” “Itu tak ada hubungannya. Sepertinya Edward tidak mendengarku.” Aku berusaha terdengar tegas.” Ia menatapku geram dari kaca spion. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. “Kau akan membawanya pulang. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan.” kata Alice yakin. “Edward. maaf.” “Ya.” Emmett melihat ke arahku.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. “Kalau si pemburu ada disana.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang. menatap lurus tanganku.” katanya. sekarang ia tak meragukannya lagi. Dia akan berpikir kau bersamaku. Edward sepertinya setuju.” Ia melepaskannya. “Emmett. djAnGgo 324 .” kata Alice tenang. Charlie bukan orang bodoh. aku tidak mau. Apapun masalahnya dengan Alice. kecuali bunyi deru mesin. dan ia memutarnya.” aku berbisik. suaraku jauh lebih pelan. Ia mendengarnya. kau ambil truk Bella.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. “Kalian semua takkan muat di trukku. kau berjaga di luar rumah.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Alice. “Emmett?” Aku bertanya.” Edward mendesah. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. dan itulah yang terpenting. kemudian masuk ke trukmu. “Aku tak bisa melakukannya. Kami akan memastikan dia aman.” kataku. Sesampainya di rumah Bella. “Kau akan pergi malam ini. sekali ini saja. terlihat terkejut lagi.” Jeep menderu menyala.” Suara Edward dingin. “Aku ikut kau. “Tidak akan. “Bella. “Kupikir dia benar. “kita tidak akan berhenti. mengertakkan giginya.” Alice menimpali.” Emmett menyela.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. aku ikut kau. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. Lalu Edward berbicara lagi. bannya berdecit-decit. dia memang benar. “Emmett juga harus tinggal. kau tak tahan lagi berada di Forks. “Kumohon. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.

Edward menatap Alice tak percaya. aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya. “Jasper dan aku akan membawanya. “Menurutmu.” Edward mengulangi kata-katanya.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal.” “Aku tak bisa melakukannya. djAnGgo 325 .” timpal Alice.” sahut Alice. Akal sehatnya mulai bekerja.

“Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya. “Tetap di dalam ruangan. “Tetaplah disini selama seminggu. dan mencoba untuk berani. Aku memikirkan Charlie.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. “Tidak.Aku mencoba membujuk. senyumnya mengembang perlahan.” “Aku sepertinya menyukainya. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita.” Tentu saja. Edward tersenyum padanya. dalam segala hal. menelan ludah. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. sangat baik. bisa kurasakan bulu kudukku meremang.” “Oh?” tanyanya.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. “Bella. Lalu datanglah dan temui aku.” katanya tidak sabar. atau kau karena mencoba melindunginya. “Diam.” “Edward. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. Edward.” Emmett tergelak.. djAnGgo 326 . aku akan menuntut tanggung jawab darimu.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. Alice dan Emmett memandang keluar jendela.” Suara Edward terdengar sangat lembut. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. sendirian di rumah. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. tak diragukan lagi.” sahutku. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri.. apapun. Nah.” “Dia licik. Aku langsung meringkuk ketakutan. Emmett. Dia telah bekerja dengan sangat. kami akan menemaninya.” “Dengar. kemungkinan besar akan ada yang terluka. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. Meskipun ucapanku terdengar berani.” Alice mengingatkan. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini. kalau kita menyerang disaat dia sendirian.” aku memberitahunya. dan buat perburuan James ini berantakan. dia akan terluka. Kau mengerti?” “Ya. Tentu saja ambil rute memutar. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. Ia berpaling pada Alice. Aku benar.” gumamnya tiba-tiba.” “Aku takkan pulang. tentunya. beberapa hari. nada suaranya berbahaya.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.

djAnGgo 327 .

“Jangan khawatir. “Dia tidak disini. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya.” aku berbisik penuh hasrat. Perlahan Edward menepikan Jeep. Kita harus bergegas. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. duduk tegak di kursi mereka. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. “Jalankan saja rencananya. menghirup setiap aroma. “Ayo. djAnGgo 328 . Semua lampu di rumah menyala. mendengarkan setiap suara di hutan. dan sekarang ia bangkit berdiri. Bella. suaraku pelan dan dalam.” Suaranya mendesak. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.” katanya pelan namun ceria.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. mengamati setiap bayangan. “Aku bisa melakukannya.” ia mengingatkanku dengan berbisik. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. Aku nyaris tak mengenalnya. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. Aku menatap matanya lekat-lekat. langsung menghilang. namun bagaimanapun juga. sama tajamnya. “Alice. membuatku sedih.” isakku.19. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. oke? Jaga Charlie untukku. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. “Satu lagi. Bella.” katanya. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. “Pergilah. Air mata memberiku inspirasi. Perpisahan Charlie menungguku. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. Mesin dimatikan. membanting pintu dan menguncinya. Bella. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. “Aku mencintaimu. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya.” Ia mencondongkan tubuhnya. “Lima belas menit. “Aku akan selalu mencintaimu.” kataku. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Emmett. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett.” kata Edward tegang.” Suara Edward memerintah. Edward!” Aku berteriak padanya. tak peduli apa yang terjadi sekarang. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. Aku berlari ke tempat tidur. Mereka bertiga sangat waspada. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman. air mataku mengalir deras sekarang. Ini tidak bakal menyenangkan. memarkirnya tepat di belakang trukku.” “Masuklah.

Aku berbalik ke lemari pakaian.” aku berteriak. dan Edward sudah ada disana. lalu melemparkannya padaku. “Tidak!” jeritku.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. djAnGgo 329 . “Bella. “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. “Aku mau pulang. tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. memberi tekanan pada kata yang tepat. kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas.

Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. Ia berdiri terlalu dekat. satu tangannya terulur ke arahku. lalu membuka pintu. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. “Aku punya kunci. “Tidak!” jeritku. lalu mengempaskannya. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. cengkramannya kuat. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. pergi!” ia berbisik. Aku tidak menoleh.” bisiknya dibelakangku. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. Ia menghilang lewat jendela.” Ia benar-benar membuatku kesal.” Aku menggeleng. Sudah malam. Ia berada tepat di belakangku. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. Aku benci. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. “Bells. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas.” “Tunggu 1 minggu lagi. Aku menatap geram pada ayahku. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. Carlie. djAnGgo 330 . dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. wajahnya syok. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. memutar kenop pintu. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. “Aku akan menunggu di truk. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. lalu bergegas ke pintu. Aku mengucapkannya semarah mungkin. “Biarkan aku pergi. itulah masalahnya. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. “Semuanya kacau.” ia memohon. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. mereka akan kembali ke Arizona.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung. Tapi aku tak punya waktu. “Aku memang menyukainya. dan mendorongku ke pintu. kau tak bisa pergi sekarang.” gumamku. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. sambil menarik-narik resleting tasku. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. dan aku harus memikirkan keselamatannya. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. “Apa yang terjadi. Meskipun ia masih bingung. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik. Ia memutar tubuhku menghadapnya.

Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. membayangkan bayangan gelap di belakangku. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. djAnGgo 331 . “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. namun sadar aku takkan pernah sanggup.oke? Aku sungguh. Charlie bergeming di ambang pintu. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. terpana. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. sementara aku berlari menembus malam.

” aku mengaku. “Bukan itu maksudku. Sekarang ia berlari di belakang kita.” katanya berbasabasi. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. mengabaikan perhatianku. “Semuanya baik-baik saja. ini idemu. terutama akhirakhir ini.” ia menjelaskan. memangnya kenapa? djAnGgo 332 .” aku berkeras. meskipun matanya tidak. Aku memandang lewat kaca belakang. “Jangan lupa. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. menuju jalan tol utara.” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu. “Charlie?” tanyaku ngeri. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik.” katanya seraya mempererat pelukannya. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku. Ia menarikku ke pangkuannya. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil. dan Charlie. Trukku tidak oleng sedikitpun. semuanya akan baik-baik saja.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu. mataku membelalak ketakutan.” ia berjanji. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad. Dia akan memaafkanmu.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.” ia menenangkanku. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak.” bisikku. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela. “Itu cuma Alice. dan ia melihat kepanikan di mataku. “Ini salahku. sambil menunduk memandangi lutut.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. Mesin truk menggeram. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. “Kau akan aman. melepaskan tanganku dari kemudi.” Ia tersenyum sedikit.” “Ini ide terbaik. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi.Edward meraih tanganku. “Bella. Ia memegang tanganku lagi.” “Jangan khawatir. Bella.” katanya begitu rumahku. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” Tubuhku langsung membeku. tentu saja ini ideku. Aku menatapnya putus asa. telah lenyap di belakang kami. “Menepi. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu.” Kami melesat melalui kota yang sepi. suaraku melengking. dan memeluk pinggangku.” kata Edward geram. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. “Aku ada disana. “Aku bisa mengemudi. “Si pemburu mengikuti kita.

Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini.” ia memulai dengan suara pelan. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan. Tapi ketika aku membelamu. djAnGgo 333 . kenapa aku?” Ia ragu-ragu. dia mungkin saja tidak terusik.. Sebagian adalah salahmu.” Suaranya masam. berpikir sebelum menjawab.. begitu dia melihatmu. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana.

Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. “Kurasa. Ini permainan favoritnya. pertarungan akan terjadi saat itu juga. djAnGgo 334 . Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. dengan cara yang sama seperti terhadapku. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. Mereka tidak punya ikatan kuat. Kami langsung menuju rumah.. kumohon. Ia berhenti sebentar. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. Tidak malam ini.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya. “Kupikir. tidak seperti bagimu. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. Aku harus bertanya sekarang. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. atau salah satu dari mereka. Lampu-lampu di dalam menyala terang. “Bella.” kataku ragu-ragu. Edward dan Alice berada di sisi kami... Aku tahu kami semakin dekat. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu.well..” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. dia bersama mereka hanya demi kemudahan.” gumamnya.” “Tapi James dan wanita itu. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang.. Dia menganggap dirinya pemburu. Aku tak yakin dengan Laurent. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau. dan membawaku berlari menuju pintu. suaraku gemetar. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. Kami menghambur ke ruangan putih luas. usahakanlah jangan ceroboh. itu membuat segalanya tambah parah. aromaku tidak sama bagi yang lain. bukan yang lain. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. ia menarikku dari jok. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. lalu membakarnya.. “Memang tidak.” “Dua vampir lainnya. Dia tak terbiasa dikecewakan.” katanya putus asa. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. Alice mengikuti di belakang. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan. kumohon. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga.” Suaranya penuh kejijikan.” Aku bergidik ngeri. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. “Carlisle takkan menyukainya.

” “Kami akan menghentikannya. bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar.Semua ada disana. itu justru memicunya. Laurent berdiri di tengah mereka. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward. menatap galak pada Laurent.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. tampak marah. Mereka menaiki tangga bersama-sama.” ungkap Edward. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat.” jawabnya. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. Wajah Laurent tampak muram. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu. “Aku khawatir. Rosalie mengamati mereka. “Dia mengikuti kami. “Maafkan aku. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. djAnGgo 335 . “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. ketika beralih enggan menatapku.” Emmett berjanji. Matanya yang indah penuh cinta dan.

pikirku. dia sedang memutar untuk menemui si wanita. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 .” Laurent mengerti. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya.” “Kurasa tak ada pilihan lain. “Pergilah dengan damai. Rosalie menepisnya.“Kau takkan bisa menaklukkannya. Kurasa aku akan menuju utara..” perintah Edward. Ia membuatku terkejut. kita akan memburu James.. Ia menimbang-nimbang sebentar. Carlisle menatap Laurent dingin. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. menemui klan yang ada di Denali. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Laurent langsung ciut. “Tentu saja. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. “Begitu Bella aman dari bahaya. “Esme?” tanyanya tenang. Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. dan dengan suara menderu. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana.” ujar Carlisle dengan nada formal. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian.. “Sekitar 3 mil dari sungai.” gumam Emmett. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama.” Ia ragu-ragu. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan. “Jangan remehkan James. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. Keheningan hanya bertahan sebentar.” Carlisle menimpali. “Rose. wajahnya kelam. Edward berbalik menghadap Rosalie. bingung. kemudian kembali menatap Carlisle. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. seolah ia tidak ada.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya. Esme sudah bergerak.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan. Dia sangat mematikan. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. tapi aku tidak akan menentang James..” gumam Esme. kemudian bergegas keluar. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward.” Ia membungkuk. Aku memandang terkesima. Aku sama sekali tidak membenci kalian.” Kelompoknya tentu saja. Ia melirikku. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. Aku sungguh menyesal. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. Laurent menggeleng. “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. teringat temperamennya yang meledak-ledak. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. mengkhawatirkan reaksinya. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini.

Ia memberi sesuatu padaku. Tidak akan bertahan lama.. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. Aku bergegas melepaskan jinsku.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. Aku djAnGgo 337 .. “Berusaha mengaburkan aromamu. ia menyerahkan celana panjangnya.menyadarinya. “Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2.” aku ragu. Begitu aku selesai. “Kurasa pakaian Anda takkan muat. rasanya seperti kaus.

Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.” gumamku. Si wanita akan mengikuti truk. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. “Sekarang. “James akan memburumu.. Aku mengangguk.” Carlisle bertanya. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. “Ayo kita pergi. Sorot matanya berubah hampa. kau tahu itu.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. mematikan. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. dan kau memang layak. Bella. Aku mendengar suara trukku menderu. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Ia menurunkanku ke lantai. Jasper dan Alice menunggu. masih memegangi wajahku. terlalu panjang. “Alice. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk.” katanya pelan. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu. Akhirnya matanya membuka.” “Tidak. berhati-hati. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.” ia memberitahu saat melewatiku. Ia langsung mendengarkan. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. Aku akan ambil mobil. Ia menarikku kembali ke tangga. mengangkat tubuhku dari lantai. “Apa?” aku terkesiap. Kami berdiri disana. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. ketika ia berpaling dariku. “Kami naik Jeep. kemudian ponsel Esme bergetar. Dan merekapun pergi. kalian bawa Mercedes-nya.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. “Kau salah. “Jaga dirimu. Jasper. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.” katanya.” Mereka juga mengangguk. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. Kemudian semuanya selesai. lalu lenyap. Edward dan Emmett sudah siap berangkat. Keheningan terus berlanjut. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka.” Suaranya yakin.mengenakannya. Jasper dan aku berpandang-pandangan. melirik cemas ke arah Rosalie. memelukku erat-erat.. matanya yang indah membara menatapku. ponsel kecil berwarna perak. dengan ngeri. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku.” Carlisle berjalan menuju dapur. “Alice. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. Tiba-tiba aku menyadari. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. pengorbanan djAnGgo 338 .

bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku.mereka bakal sia-sia. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. aku bingung. dan matahari berada di belakang sekarang. “Kau yang pertama yang meminta izin. Ekspresi sedih Charlie. tapi awalnya tidak berhasil. Kantuk meninggalkanku. Aku tak tahan melihat semua itu. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. tatapan mengebu-gebu si pemburu.” ia mengulanginya. menyengat mataku. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. tatapan marah Rosalie. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California.” “Kau keliru. tersenyum ramah padaku.” Aku tersenyum pahit. dan air mataku habis terkuras. meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. Ketidaksabaran Ketika terbangun. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang. Pikiranku kabur. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. “Bolehkah?” tanyanya. Aku ingat mobil hitam mengkilat. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. Aku tak mendengar apa-apa. memelukku dengan sikap melindungi. 20. Tapi aku tak bisa memejamkannya. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. serta dindingnya yang bercorak umum. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit.. tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. kecuali di hotel.. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. tak tertahankan.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

“Bella?” Ia menyodorkan teleponnya.” ia berbicara di telepon. “Bella. “Ya.“Aku baru saja melihatnya.” kata Edward. yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu. djAnGgo 348 . kemudian ia berbicara padaku. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu. Aku berlari menghampirinya. “Halo?” desahku.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya.” Alice terdiam.

Alice melihat dia berhasil kabur. Dia kelihatannya curiga. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku.” aku mengingatkannya. Bella.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya.“Oh. “Aku tahu. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. Edward! Aku sangat khawatir. persegi. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. terkejut.” bisikku. Tapi dia sudah pergi sekarang. sepertinya naik pesawat.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. setinggi pinggang. tangannya djAnGgo 349 . bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Percayalah padaku.” ia mendesah frustasi. maafkan aku. aku tahu. Bella. sebenarnya aku percaya.” “Aku akan menunggu. jadi jangan khawatir. Sepanjang dinding. “Bisakah kau mempercayainya. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang. Aku akan membuatmu aman dulu.” kataku. Dia tidak mendekati Charlie.” “Aku akan segera datang padamu. Bella. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman.” Suaranya tegang. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. begitu aku bisa. “Itu studio balet. “Aku tahu. Alice menunduk menatap gambarnya. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Aku bersandar di sofa.. Mereka memandangku. sekolah. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal.” aku menantangnya. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas.” “Kalau begitu datang dan ambillah. kami kehilangan jejaknya.” “Aku akan baik-baik saja. dia mencari-cari. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin.. “Segera. tapi Charlie sedang di tempat kerja.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. semua jalanan di kota. kabut depresi pun menyelimutiku lagi.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku.” “Aku merindukanmu. si wanita ada di kota. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks.” “Bella.” Setelah percakapan selesai. mengintip dari balik bahunya. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi. Dia pergi ke rumah Charlie. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara. tapi tak ada yang bisa ditemukannya. dia berhati-hati. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. “Aku mencintaimu. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang. kami akan menghabisinya.

stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari. menggambar tangga darurat di dinding belakang. Bentuknya tak berubah.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 .menyapu kertas itu sekarang.

” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital.. “Tidak. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama. “58th Street dan Cactus. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. aku mau kau melakukan sesuatu.” “Memang.. aku menunjuk sudut kiri. Dengar. “Di sana letak kamar mandinya. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya.” kataku setelah bunyi bip. “Tidak..” ia menyakinkanku. “Mom. entah dimana. “ini aku.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin. apakah telepon itu aman?” “Ya. sekolah. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya.” Alice dan Jasper menatapku. Aku melihat mereka bertukar pandang. Ada jendela di ruang tunggu. Begitu kau sudah menerima pesan ini. hubungi aku di nomor ini.menyempit di bagian belakang ruangan. tapi dia akan segera pulang. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . Tapi stereonya tadinya di sini”.” “Jasper?” tanya Alice. dan tidak ada TV. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.” bisikku. suaraku menghilang. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington.” Aku menyentuh pintunya. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. “sudah lama.” Alice sudah di sisiku.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. cermin-cerminnya.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. masih tenang. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. Aku penari yang payah. “Ya.. “Di sekitar sudut rumah ibuku. membuyarkan lamunanku. memandangi gambar Alice. dimana catatan tentang diriku berada. sama sekali tidak. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara. “Tidak. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali. Ini penting.” Kami duduk terdiam. “Alice.” kataku. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. tentu saja. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. palangnya.” Suaraku gemetar. Ia mempertimbangkannya. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. “Kalau begitu di sini. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya.” aku mengakui.” “Kupikir dia di Florida.

mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring.di bagian bawah gambar. Aku duduk di sofa. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. Mom. Jangan khawatir. djAnGgo 352 . dua kali. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. oke? Aku mencintaimu. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. Aku berkonsentrasi menonton berita. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. atau tentang pelatihan musim semi. aku baik-baik saja. mengantisipasi malam yang panjang. Bye. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. Aku membacanya perlahan. mencari berita tentang Florida. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum.

Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. menantikan telepon berbunyi lagi. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. seperti yang kurasakan. atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. djAnGgo 353 . menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai. Aku pasri tertidur di sofa. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.

” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh.21. “Ya. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. dia akan melukai orang yang kucintai. Kita akan menemuinya di bandara. Dia akan menemukan seseorang. hanya saja kali ini keadaannya terang. “Itu rumah ibuku. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. “Bella. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. ketinggalan zaman. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. dia kesini untuk mengincar ibuku. Alice.” kata Alice. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya.. telepon di tangan. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. ” djAnGgo 354 . suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. Kepanikanku tetap samar. menjaga kepalaku tetap terapung. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. Emmett. Alice. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai. Dua pasang mata yang abadi menatapku. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Edward akan datang menjemputmu. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. dan kau akan pergi bersamanya. “Bella..” “Aku tak bisa menang. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper. agak terlalu gelap. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. menekan nomor. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Dia. “Teleponnya di sebelah sana. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Aku tak bisa berkonsentrasi. Dinding-dindingnya berpanel kayu. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku.” bisikku. aku takkan bisa. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya.” “Tapi ibuku. sambil menunjuk... Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya. “Ya.” Alice telah bangkit dari sofa. Aku menatapnya hampa. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun. Alice dan Jasper duduk di sofa. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. tidak fokus.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan.

Bella. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 . “Dan bagaimana kalau kau terluka.” ia meyakinkanku.“Kami akan menangkapnya.

“Mereka baru saja lepas landas. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. menyadari apa yang sedang terjadi. “Nah.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. “Semua baik-baik saja. Ia berbicara sangat cepat. katanya tanpa suara. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. merasa sedikit malu dengan sikapku. seraya berjalan pelan menjauhi Alice. Kabut tebal kelelahan menyapuku. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. Itu suara tenor laki-laki.” bentakku. Pikiranku mencoba melawan kabut itu. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu.45. kalau bisa melihatt wajahnya lagi. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding. Barangkali. suara yang amat menyenangkan dan umum." Perutku melilit mendengar kata-katanya. aku tak perlu melukai ibumu.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. “Mom?” “Berhati-hatilah.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. meringkuk. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. djAnGgo 356 . jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. aku janji. menjauhkan diri dari tangan Jasper. Alice tampak terkejut. Aku sudah menduganya. dia ada disini. Aku melihat jam. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. Tapi telepon berbunyi lagi. pukul 5. Pikiranku berputar-putar. “Aku tak ingin tidur lagi. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Satu-satunya pertanyaan adalah. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas.” Alice memberitahu. Ibumu. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku.30.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. “Tenang. Tak ada jalan keluar. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. Suaranya panik. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. Satu-satunya penghiburan.” Aku diam. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. Mom. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. mengalihkan perhatianku. “Tidak. tapi yang menarik perhatianku adalah. sebenarnya membantingnya. Kali ini Alice tidak mengikutiku. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. “Mereka akan mendarat pukul 09. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan.Alice menatap Jasper penuh arti. bergoyanggoyang. tak ada kompromi. tapi aku telah melangkah maju. Aku mendesah. “Halo?” sapa Alice.

tetaplah di tempatmu. djAnGgo 357 . Mom.’” “Tidak. ‘Tidak. “Sekarang ulangi kata-kataku.” Suaraku tak lebih dari bisikan. Tolong katakan. “Bagus sekali.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam.” ia memujiku. Mom.maka dia akan baikbaik saja. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. tetaplah di tempatmu.

“Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka.” “Aku menyesal mendengarnya. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. Lebih mudah begini. “Ini penting.’ Katakan sekarang. ‘Mom.” “Ya.” “Sebelum siang.” suara menyenangkan itu melanjutkan.” “Mom.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Sambil berjalan.” djAnGgo 358 .” “Ya. tolong katakan. “katakan. “Nah. Bella. “Ya. percayalah padaku.. hati-hati. well. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. menurutmu. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu.” “Ya.” “Tidak.“Bisa kulihat ini bakalan sulit.’ Katakan sekarang.” “Itu lebih baik. tapi ibumu pulang lebih awal. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. harus ada cara. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang. bagus.” “Baik. Aku yakin takkan mudah. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan.” Entah bagaimana. Sekarang inilah yang harus kaulakukan. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. Bella.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi. “Bagus sekali. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya. Aku menutup pintu.” Suara ramah itu mengancam. Aku menunggu.’” “Mom. Menurutmu. kumohon. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. “Ah. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. dan dimana ini akan berakhir. kalau begitu. tolong dengarkan aku. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara.. Waktuku tidak banyak. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak. kau jadi tidak terlalu khawatir. memusingkan. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya.” Suaraku parau. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. Aku sedang bersiap-siap menunggu. Aku yakin itu. Teleponlah. masih ringan dan ramah. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak. Kumohon. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. Bella. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu.” Aku menunggu.” Suara itu terdengar senang.” aku memohon. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih.” “Ya. nah. tolong dengarkan aku. ‘Mom. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. percayalah padaku.” katanya sopan. Mom. itu akan sangat buruk bagi ibumu. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak.

“Katakan. Bella.’ Katakan sekarang.“Terima kasih. ‘Aku mencintaimu.” Ia menutup telepon.” Air mataku menetes. djAnGgo 359 . Aku tahu aku harus berpikir. “Sampai ketemu. Mom. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. sampai ketemu. Mom. “Selamat tinggal.” Suaraku terdengar dalam. Mom.” “Aku mencintaimu. Aku menempelkan telepon di telingaku.” aku berjanji. Aku mencoba menahannya. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat.

kemudian aku mengesampingkannya juga. jangan khawatir.” Suaraku lemas. mencoba mengenyahkannya. Aku masuk lagi ke kamar. Aku harus berpikir dengan baik. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. I a menyandera ibuku. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Disana juga ada amplop. Aku teramat menyesal.” tulisku. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan.” Suaranya terdengar hati-hati. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. sebelum Jasper kembali. Keputusasaan mencengkramku. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. tanpa berbalik. Aku tak boleh takut sekarang. Tapi aku masih tidak punya plihan. Aku melihatnya waswas. Aku harus mencoba. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku.” kataku pelan. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. Keputusanku sudah bulat. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. Aku akan menyakitinya. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. djAnGgo 360 .Perlahan. ia ingin pulang. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. Tapi tenang saja. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. Bella. pikiranku mulai menembus dinding sakit. Aku tak memiliki jaminan. Bagus. dan pergi menemui Alice. “Ibuku khawatir. tak ada cara untuk bernegosiasi. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. penasaran. Tanganku gemetaran. Aku sangat menyesal. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. dan aku harus berusaha. dan aku tidak menunggunya bertanya. Ia bisa melihat kegelisahanku. “Alice. amat perlahan. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Menyusun rencana. menjaga suaraku tetap tenang. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. “Edward. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. karena Alice dan Jasper menungguku. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Bella.” Aku berpaling. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku.

. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. 22. itu namanya mukzizat. kehancuran hatiku. Aku menyambutnya.. itulah yang ia inginkan. pikiranku begitu tersiksa dan labil. kumohon. Tatapannya hampa. terpana. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. ia menjawab pertanyaan Jasper. “Aku di sini. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya.. Jasper menatapku tajam. dan aku melihat wajahnya.” djAnGgo 361 . merasakan kepanikan. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama.” katanya. Kepalanya menoleh. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya. Demi aku. Dari seberang ruangan. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. sungguh. Kurasa. dan mau mendengarku sekali ini saja. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. aneh. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. Aku mencintai mu. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. dan memasukkannya ke amplop.. kedua tangannya memeluk tangan Alice.. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini. melepaskan cengkramannya dari meja. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya berharap dia mengerti.” akhirnya ia menjawab. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut. Pikiranku melayang pada ibuku. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. Aku takut berada satu ruangan dengannya. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. menggunakannya untuk megendalikan emosiku..Jangan marah pada Alice dan Jasper. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. “Bella. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja.” balasku. ekspresinya masih hampa. semua ketakutan. “Apa yang kau lihat?” kataku. muncul tepat di belakang Alice. takut ia akan menebaknya. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati. keputusasaan.Teruta ma pada Alice. “Ada apa?” desak Jasper. otomatis menyentuh tangannya.. “Alice!” seru Jasper. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. matanya terpaku padaku. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. apalagi kau. Maafkan aku. Kumohon.

“Ya?” djAnGgo 362 . aku bisa merasakan keinginan Alice.. Kali ini aku duduk sendirian di belakang.. berayun menutupi wajah. Membantuku menyusun rencana. ekspresinya lembut dan tenang. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. bahwa mereka bakal gagal. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik.” Aku juga terdengar sangat tenang. aku makan di bandara saja. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. “Alice?” tanyaku cuek. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. Rambutku dibiarkan tergerai. meskipun tersembunyi dengan baik. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. “Kau mau sarapan?” “Tidak. dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. Aku bersiap-siap seperti robot.Alice akhirnya memandangku. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. Ia menjawab hati-hati. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku. Alice menyandarkan tubuh di pintu. wajahnya menghadap Jasper.

Benar-benar tak ada harapan. suaraku terdengar bosan. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. “Suratku. seperti cuaca. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. Ia menatapku. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Kami parkir di lantai empat. baru melarikan diri. Kami tiba di bandara. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat.. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang.. mudah-mudahan. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Ia mengangguk. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga.. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. hal-hal bisa berubah.” “Ya. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Keberuntungan berpihak padaku. menginginkan kedatangannya. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. dAn takkan pernah kulihat. tak peduli betapa kecil. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. yang paling memusingkan. Atlanta. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini.” Aku mengangguk penuh perhatian. Aku menungu kesempatan. djAnGgo 363 .” ia menimpali. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. Itu membuatnya sangat sulit. tidak sabar. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. Aku memandang papan jadwal kedatangan.” gumam Alice. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Betapa menakjubkan. “Ya. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. di garasi berukuran raksasa. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana.. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh. Manusia lebih sulit. Aku menunjukkan jalan. tapi sebenarnya mereka mengawasiku.” kataku.. atau barangkali kebetulan saja. terutama setelah penglihatan Alice. kembali waspada. Edward akan segera menemukannya. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. pikirku. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Chicago. Begitu mereka berubah pikiran. seluruh masa depan pun berubah. membuat keputusan baru. Pesawat Edward mendarat di terminal empat. untuk melihatnya dulu. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan.

djAnGgo 364 .” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku. “Kurasa aku mau makan sekarang. Aku tak punya waktu lagi. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan.. “Aku merasa sedikit.Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri.” kataku buru-buru. Alice berdiri. angka-angka itu berubah. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat.. “Aku ikut bersamamu.

Mata Alice tampak bingung.” Aku bergegas menaiki undakannya. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Aku tak punya waktu. Tak ada taksi satu pun. Jalan yang kulalui masih panjang. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. bahkan kalaupun Jasper melihat.” djAnGgo 365 . Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Pintu yang lain tak jauh dari lift. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. jaraknya beberapa meter di belakangku. napasku tersengal-sengal. ia takkan bisa melihatku. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. Di belokan lift sudah menanti. di belokan. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. tapi kemudian mengangkat bahu. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. Sudah menyala. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi.Jasper bangkit berdiri. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. dan pintu lift pun menutup. Orang-prang menatapku. Di depan Hyatt. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. Aku belum boleh menangis. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. Begitu pintunya membuka. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. “itu tujuanku. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. atau malah sudah.” “Itu di Scottsdale. Ini satu-satunya kesempatanku. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. dan aku berlari. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. melambai-lambai ke arah pengemudinya. “Aku tidak bakal lama. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. tidak masalah. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. “Ini shuttle ke Hyatt. Aku hanya perlu lari sebentar.tapi. “Apakah itu cukup?” “Tentu. aku harus terus berlari. Dan di sanalah. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. dia tidak curiga. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. Nak. Kebanyakan kursinya kosong. bukannya penghianatanku. Keberuntungan masih bersamaku. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. seolah membimbingku. tapi aku mengabaikannya. “Ya. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. tangannya di punggungku. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. “Tunggu!” aku berseru. tidak mau repot repot bertanya.” Begitu pintu menutup di belakang. yang membuatku lega.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu.” protesnya. aku mengingatkan diri. aku lari. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga.

Aku memaksa diriku tetap penuh kendali.Aku bersandar lagi di jok. tapi aku tidak memandang keluar jendela. Jadi. Kuputuskan untuk tidak menyerah. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. djAnGgo 366 . juga kekhawatiran. Takdirku telah ditentukan. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. melipat tangan di pangkuan.

dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. agar ia bisa keluar di siang hari. beberapa kali keliru.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. normal. “Bagus sekali. di whiteboard . djAnGgo 367 . ibuku menantiku. “Hei. mengandalkan aku. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi. Aku lari meninggalkan ruangan. kulitnya berkilauan bagai air laut. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. Kemudian aku lari mendekat. Kubuka pintunya. tampak sepuluh digit angka yang rapi. khawatir aku sakit atau apa. Bella. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Aku harus bergegas. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. melewati pintu muka. aku tahu jalan ke sana. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. akhirnya aman. “Lima-delapan-dua-satu. “Aku sendirian. tak pernah tidur. Kecuali kau tidak datang sendirian.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. Aku membayangkannya di pantai. tak pernah meninggalkan sisinya. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. kosong. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. “Kalau begitu.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. “Halo. aku sama sekali tak punya masalah dengannya. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. Sekarang. kalau begitu. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku.” Aku menutup telepon.” Ringan.” Suaraku tercekat. kita sudah sampai. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. Aku lari ke pintu. Di dalam gelap. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Sopir taksi menatapku. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon.. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. senang. aku mengingatkan diriku sendiri. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. “Ini sangat cepat. Aku terkesan. Tak ada alasan untuk takut. dengan saksama menekannya satu per satu. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. kita akan bertemu sebentar lagi. menuju panas yang menyengat. dan bayangan indahku pun lenyap. Ke suatu tempat di utara. bahkan nyaris mendengar suaranya. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. “Terima kasih. ketakutan. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. kikuk seperti biasa.” “Well. tentunya.” bisikku. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini. Aku begitu larut dalam lamunan. kosong. aku merasa bahagia. Jangan khawatir. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Berhasil. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. Rumahnya kosong. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Aku harus menutup dan memulai lagi.. Bella. Di sana. Hanya berdering satu kali.

menuju belokkan. seperti berlari di pasir basah. Aku merasa sangat lamban. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . menahan tubuhku dengan tangan. peluh menetes-netes di wajahku. Aku berlari. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. napas terengah-engah. meninggalkan semua di belakangku. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Sinar matahari terasa panas di kulitku. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Beberapa kali aku terpeleset. lalu tertatih-tatih bergerak maju.Tapi aku menjauh dari semua itu. sekali jatuh.

Aku hati-hati berbalik. Aku memandang sekeliling. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Lantai dansa sebelah barat gelap. menariknya membuka perlahan. sejuk. Bella. merasa lega. Dan tiba-tiba aku tersadar. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. berusaha menggapai keseimbanga. Lama kami bertatapan.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. menuju sumber suara. tak perlu merasa takut. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. tapi kerai jendelanya tertutup. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. lumayan dekat. Ia berjalan menghampiriku. Ia masih di Florida. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. karpetnya beraroma shampo. seperti yang selama ini kuingat. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . Dan di sanalah dia.. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Mengagumkan. ramah. menuju jalan Cactus. Aku tak bisa lari lagi. “Maafkan hal tadi. “Ya. Irisnya nyaris hitam. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Ibuku aman. Ia tak pernah menerima pesanku. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. semua kerai jendela tertutup. suaraku lega. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Haus. Suatu hari kami ke pantai. Lapangan parkir di depannya kosong. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. terdengar deru suara pendingin ruangan. mengacak-acak rambutku.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Ketika berbelok di sudut terakhir. Ia melihatku nyaris jatuh. “Bella.” “Memang tidak. Kemudian suara ibuku memanggil. aku bisa melihat studio itu. Perlahan-lahan aku berbalik. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan. memperhatikannya. Aku berlalri ke pintu. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. Aku berusaha mengatur napas. Aku nyaris pusing. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya.” aku menjawab. aku bisa melihat tanda di balik pintu. Kusentuh gagang pintunya. Ia memegang remote control. langkah demi langkah. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. di layar televisi. Charlie dan Mom takkan pernah terluka. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya.habisan. aku tak sanggup bernapas. Ibuku aman. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ketika semakin dekat. waktu usiaku dua belas. rumahku.. Tidak dikunci. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. kemudian ia tersenyum. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. Aku mendengarnya tertawa. “Betapa aneh.

” Ia berdiri beberapa meter dariku. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. tangan dilipat. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. aku memintanya untuk tidak melakukanya. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel. Setidaknya. dan bagiku ia seperti berharap-harap. kurasa tidak.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. menatapku dengan sorot mata penasaran. “Tidak.” djAnGgo 370 . Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku.

boleh kutambahkan. Ia mengaturnya beberapa kali.” Perutku mual ketika ia berbicara. tapi kau bisa saja berada di Amerika. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 .” “Betapa romantis.” Aku menunggu dalam diam. Kudengar kau ingin pulang. Kemudian aku bertanya-tanya. “Kuharap begitu. “Sebelum kita mulai. pada waktu yang salah. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. tersenyum. tentu saja. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. kau tahu. surat terakhir. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. oh. Tentu saja. Nyaliku benar-benar ciut. setelah berbicara dengan Victoria. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. aku tak bisa bekerja sendirian. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. Lagi pula. melebarkan lensanya. Well. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. Dan bukankah ini rencana yang sempurna.. kalau begitu harapan kita berbeda.” “Hmmmm. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. Jadi. bukan?” Aku tak menyahut.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. ini semua untuknya. Aku sudah siap. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Victorian mengawasi mereka untukku. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. berada bersama kelompok yang salah. Kau tahu. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. kelewat cepat. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. tidak terlalu memenuhi standarku. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. Sejujurnya. tempat yang katamu akan kau datangi. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. begini. “Sangat mudah. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. manusia lemah ini. bahwa kau ada di sini. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja. Awalnya. “Aku meninggalkan surat untuknya. Jadi. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. Hal seperti itu pernah terjadi. semua ini sedikit terlalu mudah. tempat aman.. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. sudah lama sekali. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. “Aku senang memanas-manasi sedikit. aku kecewa. “Maafkan aku. “Tapi tentu saja aku tidak yakin.” Ia menghampiriku. Kau hanya manusia. Edward. itu hanya dugaan. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. dan tak diragukan lagi. Aku menatapnya ngeri. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. kau boleh menyebutnya indra keenam.

makhluk kecil malang. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. dan begitu vampir tua itu membebaskannya.kabur dariku. “Kau tahu. dia membuat gadis itu aman. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama.

Ia langsung menghadangku. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. kemudaannya yang baru membuatnya kuat. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . Kemudian ia mencondongkan tubuh. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. kurasa kita selesaikan saja sekarang. bagaimanapun. terpapar jelas dan berkilauan. “Ya. “Itu efek yang sangat menyenangkan. kakinya menginjak kakiku. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. suatu kehormatan. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. Kacanya hancur berantakan. dan aku bisa melihat di matanya.. Dalam sekejap ia sudah di depanku. suarnya kembali ramah. Aku mendapatkanmu.” Ia mendesah. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. terkejut. sebenarnya. “aku tak mengerti.. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. Perlahan-lahan ia menghampiriku.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan.” desahku. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. Lututku gemetaran.. Maaf. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku.karena pengliatannya. Aku bahkan tak bisa beringsut. lalu pergi. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. dengan wajar.” Aku benar-benar mual sekarang. memangsaku. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. teman kecilmu. tubuhku melayang ke belakang. Bunga-bungaan. ya kan?” Aku mengabaikannya. semakin lebar. “Tidak. terlalu cepat. “Sebagai balas dendam. Ketika gadis itu membuka mata. selemah lututku saat itu. Pada tahun 1920-an.” Ia maju selangkah lagi. aku menghancurkan si vampir tua. tapi mereka mendapatkannya. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. tapi tubuhku membeku. lalu menjatuhkan tangannya. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan.” gumamnya pada diri sendiri. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. Ada rasa sakit yang mendekat. Entakan keras menghantam dadaku.. dan pesan kecilku. Aku tak bisa bernapas. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. dan aku khawatir bakal jatuh. “Well. Aku tak dapat menahan diri. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. Sempurna. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. aku mencoba lari. aku tak bermaksud menyinggungmu. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. wajahnya penasaran. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut.” “Alice. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya.” Ia mendesah. “Dan aromanya memang sangat lezat.

dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. Tapi kemudian aku merasakannya. djAnGgo 374 . tersenyum. “Tidak. jangan Edward. Aku berbalik untuk meraih kakiku. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. dan ia berdiri menjulang di atasku. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah. “Tidak!” seruku parau. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya.retakan itu sebelum merasakannya. Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku.

seolah dari kedalaman air.Selain sakit di kakiku. raungan terakhir si pemburu. Aku mendengar. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. kini membara dengan hasrat tak terkendali. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. djAnGgo 375 . Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Biarlah segera berlalu sekarang. Matanya. membuatnya sinting karena dahaga. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. tanganku terangkat menutupi wajah. Aku bisa melihat. Terlepas dari tujuan awalnya. Mataku memejam. yang sebelumnya penuh tekad. di tempat pecahan kaca itu menusukku. dengan cepat menggenang di lantai. Darah yang mengalir. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. sosok gelapnya menghampiriku. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. Dengan kekuatan terakhir. Aromanya membuatku mual.

djAnGgo 376 .

Kemudian aku tahu aku sudah mati. “Ya. Rasanya sakit.. Karena. Bella. dan aku tak bisa bernapas. tidak!” malaikat itu berseru putus asa.” “Sakit. kumohon! Bella. memberitahunya semua baik-baik saja. Suaraku sedikit lebih jelas. “Hati-hati kakinya patah. “Edward. oh kumohon. Apa saja. “Bella. kumohon. suara yang indah. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Kemudian. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. tersengal keluar dari kolam yang gelap. tidak. lebih ganas. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . dan sarat amarah. itu tidak benar. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku.” aku mencoba lagi. dari kedalaman air.23. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. dan lengkingan kesakitan. Aku diseret naik. Bella. “Oh. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. gelegar amarah yang mengerikan. Bella. kumohon!” ia memohon.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat.. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. Di belakang ratapan itu ada suara lain. Malaikat tak seharusnya menangis. tidak. “Bella!” si malaikat berseru. aku merasakan sakit yang lain. “Bella. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri. Ada rasa sakit baru. lebih kuat. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan.” “Edward. Suara geraman lain. menjauh dariku. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. aku tahu. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. Aku mencoba menemukannya. dengar. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. sekaligus mengerikan. nyaris mencapai permukaan. kemudian. Ruangan penuh ancaman. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. sekonyong-konyong pecah.” suara tenang itu memberitahuku.” Aku mencoba memberitahunya. membahagiakan. “Bella. Bella? Aku mencintaimu. Kepalaku seperti ditekan. lebih dalam. aku bermimpi. Aku menjerit.” rengekku. “Dia kehilangan banyak darah. Aku tak bisa memahami diriku sendiri. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. Bella. tidak. Ini tidak mungkin surga. “Carlisle!” si malaikat berseru. “Aku tahu. kumohon. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. Kau bisa mendengarku. aku disini. Aku ingin mengatakan ya. kau akan baik-baik saja.”.

“Alice?” erangku... rasa sakitnya akan berhenti.” Carlisle berjanji. “Aku tahu. dia tahu dimana menemukanmu.ketakutan. Tenangkan dirimu.” aku mencoba memberitahunya.” djAnGgo 378 . Carlisle akan memberimu sesuatu. Bella.” “Tanganku sakit. Alice. itu akan membantu. “Dia disini. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku.

Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 .. aku akan bersamamu. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu.” aku mengerang. begitu putus asa menemukan wajahnya. “Dia disini. Rahangnya mengeras. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku.. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. membereskan luka di kepalaku.. melainkan terkejut. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana. bibirnya yang dingin menekan kulitku. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai. Aku harus menghentikan pendarahannya. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya.” Wajah Edward tampak lelah.” Suaranya tegang. “Tidak!” ia berteriak. Aku tak dapat melihat wajah Edward. Bella. Api itu lenyap. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri.” Itu suara Alice. Dan aku melihatnya. tapi tak dapat mendengar suaraku. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Kemudian. “Alice.” “Tinggallah. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. didekat kepalaku..” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. tinggallah bersamaku. menahannya. Edward. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. Edward. mataku perlahan-lahan membuka. “Edward.” sahut Carlisle. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa.” kata Carlisle.” “Carlisle. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. Aku mendengar suara Alice. “Aku tidak tahu. berusaha menenangkan diri. aku pun tenang. apa pun itu. “Mungkin ada kesempatan.” “Ya. Aku tahu mataku kembali terpejam. “Itu keputusanmu. kau harus melakukannya. “Edward. akhirnya terbebas dari kegelapan.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Aku tak bisa menolongmu. Namun mereka bisa. “Edward. Akhirnya.” aku mencoba bicara.” Saat Carlisle bicara. perlahan. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. atau akan terlambat.” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. tapi terselip nada kemenangan disana.” Edward ragu. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. “Edward!” jeritku. kau harus melakukannya sekarang. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. Aku membukanya. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. “Tapi kita harus bergegas. Aku mendesah bahagia. aku. “Apa?” Edward memohon.” Suara Carlisle tak lagi tenang. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. “Alice. saat tanganku mati rasa. Lukanya cukup bersih.

“Darahnya bersih. djAnGgo 380 .rasa kantuk yang melanda diriku.” kata Edward pelan. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya.” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh.

melayang-layang. rasanya sangat lelah.” aku mendesah.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah.Aku berusaha menjawabnya. Bella. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya.” Edward menenangkanku. Edward. “Aku tahu.” “Aku mencintaimu. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. “Bella?” Carlisle bertanya lagi.” aku menghela napas.” Aku mencoba membuka mata. aku ingin tidur.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga.” desahku. aku ingin tidur. aku akan menggendongmu. “Sudah saatnya memindahkannya. Edward. dia tahu tentang kau. tapi suaraku lemah. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward. “Sekarang tidurlah.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. Alice. videonya. letih karena perasaan lega. “Dia mengelabuhiku. dia tahu darimana asalmu. “Terima kasih. Sayang. Dan akupun berada dalam pelukannya. “Kau bisa tidur.” aku menambahkan. meringkuk didadanya. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida.” kata Carlisle. Dia menonton video rekaman kami.” aku menolak. Dahiku berkerut. djAnGgo 381 . semua sakitnya hilang. Tapi itu membuatku teringat. “Alice. “Tidak. “Aku mencium bau bensin.” jawabnya. “Alice.

djAnGgo 382 .

” ia berbisik. suaranya terdengar menyesal. dengan besi pengaman. “Sekarang semuanya baik-baik saja. Kupikir dia menyandera ibuku. “Aku tak yakin. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. “Edward?” Aku menoleh sedikit. Mereka memberimu transfusi. “Jangan. begitu juga empat rusukmu. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. memar hampir di sekujur tubuh. tapi kepalaku semakin pusing.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya. Edward.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. “Alice sudah telepon mereka.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu. djAnGgo 383 . Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup. aku menyukai aromamu yang asli.” Edward berjanji. ruang putih.” ia menyuruhku diam. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. Ibuku ada di sini.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan. cahaya terang menyilaukan pandangan.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. “Harus kuakui. Aku tidak menyukainya. Ia langsung tahu maksudku. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Aku bisa saja terlambat. “Dan kau belum boleh bergerak. di sini. “Aku bodoh sekali.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. Renée ada di sini.” “Dia mengelabuhi kita semua. “Sebentar lagi dia kembali. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Dia sedang mencari makan. “Kakimu patah. itu mungkin saja terjadi. well.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku.” Jari-jari dingin menangkap tanganku. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. di atas kepalaku. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. tidak boleh. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah. beberapa bagian tengkorakmu rusak. di rumah sakit ini. Edward. “Oh.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. “Aku nyaris terlambat. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. Aku berada di ruang yang asing. kakiku bengkak. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. di bawah hidung. sesaat aromamu jadi berbeda.” “Tidak. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya.24. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus.” Ia berhenti. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. dan kau kehilangan banyak darah. Aku berharap itu artinya aku masih hidup.

Dan itu membuat wajahku terasa sakit. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku.” djAnGgo 384 .” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum. setengah tersenyum. bahkan. Tapi aku melakukannya.. “Lebih baik. “Mustahil. “Rasanya mustahil. untuk berhenti..Aku menunggu jawabannya dengan sabar.” Akhirnya ia memandangku.” ia berbisik. lebih baik daripada yang kubayangkan. “Aku harus mencintaimu.

” aku meminta maaf lagi.. maksudku. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. seharusnya memberitahuku.“Maafkan aku. “Alice tak pernah mengerti.” Aku memutar bola mataku. kemudian meringis. Kuputuskan untuk mengubah topik. Ini membingungkanku.” “Oh. Kau seharusnya menungguku.” “Dan Alice dan Carlisle. tapi wajahnya kelam oleh amarah.. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. itu sebabnya dia tidak ingat. tapi hanya sedikit. “Jarum.” aku menjelaskan. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal.. Aku memandang ke bawah. Aku memahaminya sekarang.” “Ya.” “Tapi kau tetap tinggal. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. Emmett dan Jasper membereskannya. melihat kantong transfusi menahan tanganku. tapi sesuatu menghentikanku.” “Aku tahu.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. Edward langsung waswas. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku.” aku bertanya-tanya.” “Maafkan aku. ngeri membayangkannya.” Suaranya berubah kelam.. Ia menatap langit-langit. Ia menatapku.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri..” kata Edward.” “Memang tidak. kemudian kepedihan terpancar di matanya.” ia menimpali dengan geram. pertama bingung. kau tahu. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 . dia langsung lari menemuinya. darahmu berceceran di mana-mana. “Dari semua yang perlu dimaafkan.” Aku meringis. “Takkan kubiarkan. tentu. “Bukan. “Takut jarum.” “Kau takkan membiarkanku pergi.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice. sambil menggeleng. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali. tidak masalah. memalingkan pandang. “Ya. “Ada apa?” tanyanya waswas. samar-samar menguarkan kebencian. “Aku tahu kenapa kau melakukannya.” Suaranya menenangkan. perhatiannya teralihkan.. mengingatkanku akan sesuatu. “Auw. “Oh. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya. “Mereka juga menyayangimu.” “Mereka harus meninggalkan ruangan.” ujarku menyesal. Aku merinding. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain.” Suara Edward tenang. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. kau tetap tinggal. dahinya kembali mulus bak pualam.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. “Ada apa. Tapi jarum infus.

” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas. “Kau setuju menemuiku. kau tahu kelanjutannya. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice.untuk berbicara dari hati ke hati.” djAnGgo 386 .. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan.. well. tentu saja aku kesini ditemani orangtua. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya.” ia menambahkannya lugu.

” bisikku sinis. “Jangan lupa bernapas. Aku bisa mendengar ibuku sekarang. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. meyakinkan semuanya baik-baik saja. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar. “Kurasa aku mendengar ibumu.” aku mencoba menenangkannya. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. “Jangan buat aku pergi menghampirimu.” katanya. tidak apaapa. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. Ia tertawa. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat.” aku mengeluh. lalu berbaring dan memejamkan mata. suaraku penuh sayang dan lega. matanya masih terpejam. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. Terdengar suara pintu berderit. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri. meskipun teramat lembut. Ia langsung tersentak. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku.” Dahinya berkerut.” ia berjanji. “Mom. tersenyum. sungguh-sungguh. Monitor langsung bergerak kacau lagi. Tapi sekarang semua baik-baik saja. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. Setelah semua diatasi. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Ia sedang berbicara dengan seseorang. Ia menarik diri. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya. “Aku takkan meninggalkanmu. mungkin perawat. aku jadi penasaran. “Aku belum selesai menciummu. “Aku akan tidur sebentar. dan tatapannya mengira-ngira. Aku tak bisa membiarkannya pergi.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. kami membuatnya sangat meyakinkan. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali.” ia berjanji. untuk menenangkannya. barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. “Ini bakal memalukan.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku.Aku memikirkannya beberapa saat. Posisinya diam tak bergerak. dan ia mengintip dari sana. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. kemudian tersenyum. “Mom!” aku berbisik. Ia menarik napas panjang. bunyi bip itu mendadak berhenti.” aku berseru. Tapi kemudian bibirnya menegang. Tak ada jendela yang pecah... “Bella. “Jangan tinggalkan aku. “Hmmm. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi.” Ia tersenyum. dan ia terdengar lelah dan sedih. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi.” katanya.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. misalanya. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut.” gumamku pada diri sendiri. aku sedih sekali!” “Maafkan aku.” “Tidak juga. “Dia tak pernah pergi. Mom. djAnGgo 387 . “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya.

” “Aku tahu. tapi aku tak ingin memikirkannya.” Aku bisa merasakannya. Aku mencoba mengingat hari ketika. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu..” Ia duduk di tepi tempat tidur. Sayang.. djAnGgo 388 . luka-lukamu parah sekali.“Aku senang akhirnya kau tersadar.” “Jumat?” aku terkejut. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat. kau tak sadar cukup lama. Sayang.

dasar bodoh. kau tidak menyukai Forks. Ia menoleh ke arah Edward. warna kuning dengan bingkai putih. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas.” Aku tersenyum. dan kelembapannya tak seburuk itu. kemudian mengerang. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. “Tidak apa-apa.” kataku. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. “Bella. dan dia sama sekali tak bisa memasak. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. tunggu sebentar!” selaku. kami sudah sering membicarakannya. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. Dia sebatang kara disana. dan pohon ek raksasa. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. Aku tinggal di Forks. Alice.” Ia merengut.” “Tapi kau tak perlu lagi.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. Charlie.. berusaha terdengar bersemangat. “Aku ingin tinggal di Forks.” Aku meragu.” “Mom. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. oh. Mata Edward masih terpejam. “dan Charlie membutuhkanku. kali ini benarbenar disengaja.” aku meyakinkan mereka.. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. meskipun masih sangat muda. Ide ini tak terbayangkan olehnya. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. “Tidak terlalu buruk. Dan dia lebih mirip model daripada dokter. “Kenapa?” “Sudah kubilang. Lalu matanya kembali melirik Edward. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. Tangannya bergerak ke sana kemari. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. heran.” “Memang. Dia baik. Ia menaruh tangannya di dahiku. kembali menghadapku. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk.” ia tertawa. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. Cullen ada di sana. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. aduh!” Aku mengangkat bahu. Mom. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . dan teras persis seperti di film-film tua. Dia gadis yang menyenangkan. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. Bukan ide bagus. salju dan semuanya. “Di Florida. Aku hendak berbohong. Mata Edward berkilat menatapku..” Edward kembali pura-pura tidur. lalu memandangku dan Edward bergantian. jadi aku mencoba alasan lain. dan aku punya beberapa teman cewek”. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. Mom. kau percaya?” “Itu hebat. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. karena bagian itu tidak diperban. sekolah. tapi mata Mom mengamati wajahku. ” “Mom. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar.” aku menimpali sepenuh hati. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns.“Kau beruntuk dr.. Sayang.” ia mengingatkanku.

“Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. dialah alasan terbesarku.” aku mengakui. “Tentang apa?” tanyaku.disana.” Ia bimbang. Tak perlu kuakui. “Ya. djAnGgo 390 . “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. “Dia salah satu alasannya. memandangi Edward yang diam tak bergerak.” Uh-oh.

“Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua.” tuduhnya. Dia akan ke sini sebentar lagi. Bella. bangga pada dirinya sendiri. menepuk-nepuk tanganku yang diperban. tapi kau masih sangat muda.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. “Oh. dan.” “Aku baik-baik saja. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya. “Aku tidak akan sendirian. Mom mengecup dahiku. Mom. kalau kau membutuhkanku.” Suaranya terdengar ragu-ragu. Sayang. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. Mom.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. “Aku akan kembali malam ini.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal. “Aku bisa tinggal. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji. dia luar biasa tampan. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok.. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya. aku akan baik-baik saja. sejauh yang bisa kuingat. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah. Kau ingat dulu kau menari di sana. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi.” “Aku akan segera kembali.” ia mengakui malu-malu. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini.” Nah. Aku tak tahu kau akan segera sadar. “Aku sayang kau. Mom... Bella.” “Tidak. Kemudian ia mendesah. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. “Kau tegang.” Begitu perawat menutup pintu. ya Tuhanku. kemudian pergi. Sayang?” “Aku ingat.” ujarku. Aku cuma naksir.” ia menimpali. berusaha menjaga suaranya tetap pelan. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. Jangan khawatir. Aku mendesah.” ujarnya.. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya.” “Aku juga sayang kau.. “Benar. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan.” aku meyakinkannya.” aku menenangkannya.” Aku bergidik dan meringis ngeri.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu. aku takkan menyadarinya. Mom. dan aku tidak suka berada di sana sendirian. “Aku terlalu tegang. Edward akan menemaniku. “Aku juga berpikir begitu. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. Edward langsung berada di sisiku. “Well. memalingkan wajah. djAnGgo 391 . “Aku tahu itu.” Mata Edward tetap terpejam. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.. aku tak ingin kehilangan dirimu. Mom. langsung senang.” “Tidak apa-apa. kau tahu. “Aku cukup tergila-gila padanya.” “Kejahatan?” tanyaku kaget. Aku tidur di sini. Sayang. dia kelihatan sangat baik.

” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku. lajunya sangat cepat. sama sekali tidak menyesal.” Matanya menyipit.Ia tersenyum. “Apa?” djAnGgo 392 . “Menarik. “Mobil bagus.

” Ia menunggu. Kurasa djAnGgo 393 . ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” Aroma napasnya menenangkan.” ia menjelaskan. tapi aku hanya menggeleng.. suaraku parau.” Tapi jantungku tak mau tenang. kau perlu beristirahat. “Aku takkan meninggalkanmu. Kupikir Florida. rasa sakit yang jauh lebih parah.” Ia memandang Edward serius.” “Jangan tinggalkan aku. well. mengancam menghancurkanku.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. “Baiklah. seperti vampir sejati. Bella. “Bella. dan ibumu. “Lebih baik?” tanyanya.” gumamku. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. saat napasku semakin liar. tidak.” ia mendesah. aku merasakan nyeri di dadaku. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. Ia tidak mengatakan apa-apa. “Aku terkejut.. “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi..Ia menunduk ketika menjawab. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih.” ia berjanji. tapi tidak juga.” Ia nyaris tersenyum. Matanya lebar dan serius. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. lebih mendekati hitam daripada keemasan.. Sayang. meskipun. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. “Aku takkan kemana-mana. “Sssstt. “Aku tidak membutuhkan apa-apa. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. tenanglah. Matanya berwarna gelap.” Ia membelai wajahku hati-hati.” aku memohon.” Aku menatapnya tidak mengerti. Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap. “Tak perlu berpura-pura berani. “Aku akan tinggal di Forks. “Tidak. Rusukku nyeri. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Sayang?” tanyanya ramah. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. lalu pergi. sebelum beralih ke monitor.” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. “Ya. Bella. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. sambil menepuknepuk kantong infus. kupikir itulah yang kau ingingkan.” sahutku hati-hati. “Aku bersumpah.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. Lalu wajahnya serius.

Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu.” Aku merengut.aku memilih kata ‘overreaction’. Yang benar saja. “Alasan aku berada di sini. tentu saja tidak. bahwa akulah alasan kau berada di sini..” “Ya. menjaga suaraku agar tidak gemetaran. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak. Bella. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak.. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. hidup-hidup. aku tak ingin tanpa dirimu. kaulah penyebabnya.” “Nyaris. bereaksi berlebihan. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya.” ia berbisik.” djAnGgo 394 .

Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya. lalu meletakkan dagunya di sana.. Raut wajahnya lembut.. dan aku ingat. terbaring di lantai. Bukan. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. “Bagus.. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini.” “Tapi kau tidak membunuhku. marah. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain. mulutnya seolah dipahat dari batu. itu bukan yang terburuk. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu. djAnGgo 395 .. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti.” Aku mulai marah sekarang.” Ia meringis mendengar kata-kataku. “Berjanjilah padaku.” kataku.” desakku.” Mata Edward sepertinya berubah hitam.. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. “Kau telah menyelamatkanku. jadi kurasa kau akan menemukan caranya. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. dan rasa panik mencekat paru-paruku. sekarang aku mau tahu kenapa. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku.. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. mencoba melepaskan diri.” katanya pelan. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.” “Aku bisa saja. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. mulai jengkel. Tatapannya tajam. Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku. yang paling parah adalah merasa. “Tapi kelihatannya masuk akal.. Ia terkejut. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. “Kenapa?” ulangnya hati-hati. kemarahannya mereda. “Kenapa kau melakukannya. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa.. Kepanikanku nyaris tak terbendung. dingin. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward.. Ia tidak akan menjawan. Lubang hidungnya kembang-kempis.” Aku tahu aku harus tetap tenang.. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. “Apa?” “Kau tahu maksudku. itu sangat jelas. kau boleh pilih.” aku berbisik..“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini.” Meski begitu ia tidak berjanji. fakta itu tak terlewatkan olehku.. “Meski begitu. Kalau bukan karena kau.. entah itu akan membunuhmu atau tidak. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat. “Aku sedang memikirkan yang lain.” ia melanjutkan berbisik. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan.. aku sudah membusuk di pemakaman Forks.. meringkuk dan terluka.” ia menambahkan dengan kasar..” Suaranya tercekat. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana.” kataku. Semudah itu.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku.

aku tidak berharap begitu. Aku tidak menyerahkan apa pun. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak.” djAnGgo 396 . dan aku masih tidak yakin. kau tidak tahu.” Suaranya lembut.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane. “tapi hidupku sudah berakhir. “Kurasa aku tahu.” “Bella.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.” Ia berhenti sebelum melanjutkan. “Aku juga ingin jadi Superman.” aku berkeras.

” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan.. Aku membuka mulut.” “Kau keliru.” Aku mendengus. Ia menunggu. dia ingin aku melakukan yang sama. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku. mengambil uangnya.. dan berkata. Sama sekali bukan masalah. Yakin.” “Bukan masalah.” Kerutan di dahinya semakin dalam. setelah itu . Meski begitu ia sangat tenang. atau kurasa beberapa hari yang lalu. Ia membuka mata.” tukasnya. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong.” aku berkeras.” Aku semakin baik dalam hal ini.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya.” geramnya.” Ia menatap geram padaku. terkejut. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. Yang seharusnya terjagi. tapi suatu saat. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka.” “Tepat sekali. “Aku tak bisa melakukannya. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat. Aku takkan melakukannya padamu. Aku menatapnya. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya.. Dan Charlie lebih fleksibel. Dan aku akan menjadi tua. “Begini saja.” Aku menatapnya geram. Paling lama dua minggu. Dan rasa sakitnya?” tanyanya.. “Itulah yang mestinya terjadi. dan aku seharusnya tidak ada. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya. itu juga bukan masalah. ‘Begini. “Aku bakal mati. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. Aku menutupnya lagi.” “Aku bukan hadiah lotere. “Tentu saja kau akan sembuh. Aku tak bisa menahannya.’ Dan aku tidak mempercayainya. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.” kataku pelan.“Kaulah hidupku. Bella.seharusnya bukan apa-apa. “Itu bodoh. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya. dan ia balas menatap. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian.” ia mengingatkanku. “Aku bisa mengatasinya.” gumamku akhirnya. api dalam nadiku. djAnGgo 397 . Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. “Tidak.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. Lebih baik begitu. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. “Dan aku tak ingin mengakhirinya.” “Sungguh. Tiga hari. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh. dia terbiasa hidup sendirian.. Aku melihatnya berusaha menekan amarah. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini. Wajahku memucat.” kataku. “Itu masalahku. tapi tak ada suara yang keluar. Bella.. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. “Aku mungkin takkan mati sekarang. matanya terpejam...” Sekarang ia cemas. “Aku takkan sembuh.

” djAnGgo 398 . Kau jauh lebih baik. “Bella. dan inilah keputusanku.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.“Benar. kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung.

tetesan. Akhirnya ekspresinya melembut.” Matanya kembali kelam. berarti kau tidak mengenalku. tapi itu juga tidak terjadi. suatu hari nanti.” Aku balas tersenyum. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. kau akan melupakannya. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu.” gumamku.” katanya lembut. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. “Auw.” Aku menggeleng tak percaya.” “Jadi menyerahlah. tahu. kau cuma naksir aku. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya. Kau benar-benar keras kepala. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa. Jangan khawatir. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. mengabaikan rasa sakit di pipiku. dan mendesah putus asa. Dia juga melihatmu mati.” Lama sekali kami bertatapan. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” “Dia keliru. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. “Permisi. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh.” katanya tenang..” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan.” “Kau harus beristirahat. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. “Aku akan menyuruh perawat ke sana.” Aku mendesah. “Aku tidak percaya.” “Itulah hal terindah menjadi manusia. “Bella.” ia memberitahuku. “Usaha bagus. “Aku takkan meminumnya.” aku berjanji. dan detak jam besar di dinding. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal.” Ia menggapai tombol. “Aku takut memejamkan mata. “Alice sudah melihatnya.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. kau sakit. “Jangan!” Ia mengabaikanku.” “Aku tidak takut jarum. “Itu berarti selamanya. “Segala sesuatu berubah.” Kemudian ia tersenyum simpul. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah. Ia tertawa dingin.” Detak jantungku mulai memburu. Ia melihat ketakutan di mataku.” aku berbohong. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny.“Kalau kaupikir ini akhirnya. aku akan di sini.” aku menyarankan. “Sudah kubilang.” “Oh.” Mataku menyipit. aku takan pergi ke mana-mana. itu membuatku pusing. Selama kau senang karenanya. ya kan?” Aku mencoba menebak. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat. “Alice takkan berani.. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. bunyi bip.” katanya pada djAnGgo 399 .” gumamku. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu.” Suara itu terdengar bosan. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding. “Aku baik-baik saja. “Jangan kelewat berharap.” aku mengingatkannya. “Aku tidak mau tidur lagi.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya.

“Nah. masih waswas. Ia menatapku tenang. “Kau akan merasa lebih baik sekarang.” djAnGgo 400 . Aku terus menatapnya. ini obatnya. Ia bersedekap dan menunggu. Sayang. Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan.Edward.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. bersandar di dinding.

“Kurasa sudah bereaksi.” desahku.” ia tertawa pelan.” gumamnya. “Seperti kataku. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. jangan khawatirkan itu. “Sama-sama. Ia tahu apa yang kucari. selama ini adalah yang terbaik untukmu. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. “Aku akan ada di sini. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. selama ini membuatmu bahagia. saat kelopak mataku mulai memejam. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Ia tertawa. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti.” gumamku datar. “Aku mencintaimu. “Aku juga. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku. Aku menoleh sedikit.. bagai nina bobo. tapi terlalu berat. “Sudah. djAnGgo 401 .” ia berjanji. Kemudian aku pun tertidur.“Terima kasih. Hanya sebentar..” bisiknya.” “Aku tahu. “Terima kasih.” gumamku. “’Tu tidak sama.”Kata itu nyaris tak terdengar.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. Suaranya indah. mencari. “Tinggallah.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas.” gumamku. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku. Bella.

djAnGgo 402 .

Aku benarbenar tidak suka kejutan.” Ia tersenyum mengejek. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya.. djAnGgo 403 . “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. Sepatuku hanya satu. Kaciuali. Dan ia tahu itu. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. aku tidak akan meninggalkan rumah. Setelah aku duduk nyaman. bahkan dalam pikiranku sendiri. Charlie. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. berimpel. “Halo. aku yakin itu. sebab kalau bukan karena Edward.” sahutnya hati-hati.” Ia tersenyum. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. warna biru gelap. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. dan aku tercekat. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. “Sudah. “Charlie?” Dahiku berkerut.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. jam berkunjung. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. bukan?” ujarku.. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab.. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya. ia menyelinap ke jok pengemudi.. Perhatianku teralih dering telepon. Charlie. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. dan tanpa lengan. Terhadap Charlie. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku.. Atau sepatu yang kukenakan. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. Itu yang tak dapat kusangkal. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra. serta tongkat berjalanku.

kegembiraannya tampak nyata. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. “Kau bercanda!” Ia tertawa. “Biarkan aku bicara padanya.” saran Edward. “Halo. ini Edward Cullen. “Ada apa?” desakku.” Suaranya sangat ramah. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 .Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya. Ia mengabaikanku. tapi hanya di permukaan. Ia menunggu sebentar. Tyler.

Aku menyerah. “Hmmm. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. “Ayolah. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. “Aku akan ikuti maumu.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. “Jangan mempersulit keadaan. Nasib burukku belum berakhir. setiap malam.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. Juga karena kecurigaan samar.” Nada suara Edward berubah. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. Tapi prom. “Baiklah. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. senyum lebar menghiasi wajahnya. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. dan Rosalie. yang berkembang di hatiku seharian ini. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman. dan Emmett.” Aku menoleh ke luar jendela. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. itu sudah jelas. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. “Karena aku marah!” “Bella. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Tapi nanti akan kaulihat. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. kami sudah setengah jalan menuju sekolah.” Aku mengabaikan kata-katanya. Bella.” ia mengakui. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Apa?” gumamku. Ia menunjuk tuksedonya. Air mata kemarahan menetes di pipiku. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Bella. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. sebenarnya harapan. Pertama. benar-benar jauh melenceng. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku. Tanganku tidak hitam ketika kutarik. Sekarang semua sudah jelas. “Sungguh. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam. Jangan tersinggung. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. Ia terkejut melihatku. djAnGgo 405 . Kemudian ia menutup telepon. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.” Bibirku mencebik.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.” desaknya.. bingung. “Ini benar-benar konyol.. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara.mengerikan mulai terbentuk di benakku. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. “Bersama Jasper. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.

Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik..Perasaan tenang itu langsung lenyap. atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. terpikir olehku hal lain. menurut dia. Emmett senang berada di dekatku. reaksi manusiaku sangat menghiburnya.. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. djAnGgo 406 . Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu.

well .” Aku melihat ke arah lantai dansa. lalu tergelak. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. sudah. Ketika kami sampai di dalam. Berdansa.” olokku.. “takkan seburuk itu. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. tangan terlipat.” Ia tersenyum enggan. Di Phoenix. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. Ia bisa melihatanya di wajahku. ya Rosalie. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. prom diadakan di ballroom hotel. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. “Oh. kelihatannya Tyler tidak.” djAnGgo 407 . “Meski begitu. Aku menelan liurku. Edward dan aku tak terpisahkan. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Ia mengulurkan tangan. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. meskipun ia praktis menggendongku. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya.. aku janji. Hari ini langit berawan tipis. diam-diam berpuas diri. bahkan tidak dirimu sendiri. Aku takkan pernah melepaskanmu.” Kugertakkan gigiku. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. tempat Charlie tak bisa ikut campur. kau seberani singa. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. “Waktu seseorang hendak membunuhmu.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis.” katanya lembut.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. Di sekolah. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. “Tentu saja. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa. Ia tetap memelukku erat-erat.. Penampilannya sungguh di luar dugaan. pestanya berlangsung di ruang gym. “Well. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. termasuk diriku sendiri. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.. Kami sudah di sekolah sekarang.” Ia menggeleng. tentu saja aku bersama kelompok vampir. Di sini. bagian tengah lantai tampak lenggang. tiba-tiba curiga. “Sudah. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. “Bella. Aku tak bergerak dari tempat duduk. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. Ia mendesah.” Ia nyengir. Dan Rosalie.

Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Kupeluk lengannya.” Tenggorokanku benar-benar kering. kemudian membimbingku ke lantai dansa. hingga aku hanya bisa berbisik. “Aku punya waktu semalaman.” Ia membayar tiket kami.” ia mengingatkan.“Apa pun. djAnGgo 408 . dan menyeret kakiku. “Edward. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.

ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . aku percaya. wajahnya tampak marah.” kata Jacob ramah.. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. dan tak seimbang. namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya.. Bella. Kemudian kami pun berdansa.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. Jake.” ia mendesah. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. mengangkatku. bodoh.” Kami tidak benar-benar berdansa.” gumamnya. “Tapi ia sudah bersama seseorang. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. “Wow. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. sedikit. “Seratus delapan puluh lima senti. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. Jacob menaruh tangannya di pinggangku. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. Aku mengikuti arah pandangannya. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. “Ya. memandang Edward untuk pertama kali.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. sedikit malu-malu. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. “Terima kasih. Tapi senyumnya tetap hangat. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya. Ia berjalan menghampiri kami. Sebagai gantinya.” Jacob sampai di tempat kami. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. “Dia ingin mengobrol denganmu. aku bisa menduga jawabannya. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu.” aku mengakui. jangkung.“Jangan khawatir. perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. kuharap setidaknya kau menikmatinya. “Jaga sikapmu!” desisku. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri. Edward hanya mengangguk.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. “Yeah. Jacob. “Hai. “Kau percaya. Suara Edward terdengar sinis. Melihat ekspresi Edward tadi. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya. aku balas tersenyum padanya. Itu bagus juga. ekspresinya hampa. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. “Jadi. Edward mengeram sangat pelan. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. lalu mundur selangkah. teramat sangat tidak nyaman. “Hei. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. sesaat menarikku lebih rapat. ini tidak terlalu buruk.” ia balas berbisik. tidak fokus akibat berputarputar. “Oke. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. kini aku merasa kasihan pada Jacob.” Aku balas tersenyum. Jacob Black. “Aku bisa. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri.” gumamku. Wajah Edward tenang. aku memang berharap kau ada di sini. “Well. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini.

“Omong-omong.sama berpaling. merasa jengah.” ia menambahkan malu-mal. djAnGgo 410 . kau cantik sekali.

meskipun aku tahu jawabannya.” ujarnya. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. Dia tidak percaya. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya. ya kan?” “Yeah. bahwa.” Ia menggeleng. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. Aku tertawa keras-keras. katanya. “Dia masih percaya takhayul. Jacob tak berani menatapku. meskipun tangannya masih di pinggangku. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. sekali lagi merasa jengah. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku. merasa malu. Jacob berpaling lagi. Dia memintaku untuk memohon padamu. Ia masih tampak canggung. dan ini kata-katanya.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.” gumamnya. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. dan terlepas dari janjiku.” “Aku tak peduli. kecewa. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. Jake. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri. Jacob. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy. “Begini. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.“Mm. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. “Jangan marah. bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku.” Aku balas tersenyum. tapi hanya supaya kau tahu”. namun lemah. aku pasti sudah mati. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. hhh. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. Mataku menyipit.” Ia menggeleng jijik. Ia memalingkan wajah. maafkan aku. “Ini buruk sekali. bukan aku”.” Aku ikut tertawa. Jacob. bukan. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.” Jacob menyahut. “Kami akan mengawasi. Beritahu aku. eh?” “Yeah.” “Well.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya.” olokku. djAnGgo 411 . aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini. Jacob.” “Aku tahu itu.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. “Dia menyuruhku memberitahumu. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. sementara wajahnya sendiri datar. “Kalau begitu. ini kedengarannya buruk sekali... Katakan saja apa yang harus kaukatakan. Bella. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. “Setidaknya.” desakku. “Pikirnya. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini.” “Aku tahu.. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. memperingatkanmu. Jacob. “Lupakan saja. trims. Dia.. dan tanganku melingkar di lehernya.” gumamnya..” aku meminta maaf. katakan saja padaku. “Katanya. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya. “Katakan saja. ini bodoh sekali. dia ingin kau putus dengan pacarmu. ‘Hei. aku merasa marah.” Itu bukan pertanyaan. dia memandangku sekarang.” aku meyakinkannya. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. “Oke.. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. “Aku terjatuh. tapi.. “Lagi pula.

“Aku tidak terlalu keberatan. djAnGgo 412 . dan kulepaskan lenganku dari lehernya. “Bilang padanya aku berterima kasih.” Ia tertawa lega.” Musiknya berhenti. “Jadi. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. Aku tahu dia bermaksud baik. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku.” desahku. “Tidak.

Lee. aku memaafkanmu. Jessica melambai. Bella.” ia menjelaskan. Mulutnya tegang. Samantha. djAnGgo 413 . “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. yang sedikit lebih pendek daripadanya. Angela juga aga di sana. “Hei.” Kami kembali berdansa. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Wajahnya sangat serius.” “Terima kasih. Ia duduk di sana. aku tidak melihatmu di situ.” gumam Jacob. Jacob.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. sampai ketemu.” “Kurasa tidak. “Jangan marah pada Billy. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. “Jadi. tampak jelas di antara awanawan tipis. “Oh. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Begitu kami sendirian. matanya resah. “Mengingat penampilanmu saat ini. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. aku punya daya lihat yang sempurna. “Tidak juga. kerutan di wajahnya semakin nyata. Ia menunduk menatapku. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya.” Ia melangkah mundur.” desahku. Aku tersenyum. Well. dan Conner menatap kami geram. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Tapi ada hal lain. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” “Aku tidak marah pada Billy.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Kau mungkin sedikit memihak. dan aku balas tersenyum padanya. sampai ketemu. Lauren. Bulan telah muncul di langit. “Kalau begitu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan.Tangannya masih di pinggangku. melambai dengan setengah hati.” Wajah Edward cemberut. Bukan apa-apa. merasa senang. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Aku menunggu dengan sabar. Ia setengah tersenyum.” “Maaf. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. Kau lebih dari sekedar cantik. Aku yang mengambil alih. Kemudian kami sampai di luar.” katanya singkat. “Tidak apa-apa. “Yeah. dan ia memandang kakiku yang digips. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat. bingung. “Intinya?” aku memulai dengan lembut. “Dia menyebutmu cantik. itu bisa dibilang menghina.” ia meralat tajam.” Aku tertawa. “Merasa lebih baik?” godaku. sambil terus memelukku erat di dadanya. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. Lagi pula.

toh harus berakhir juga. kalau aku bisa djAnGgo 414 .” “Beberapa hal tak perlu berakhir. “Akhir yang lain.” gumamku setengah mendesis. “Aku membawamu ke prom.Ia mengabaikanku. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. langsung tegang.” katanya pelan.” gumamnya. “Twilight . akhirnya menjawab pertanyaanku. lagi. menatap bulan. Ia mendesah. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari.

” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. “Kaupikir itu sejenis acara resmi. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. bahwa kau akan merubahku. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon. Ia menunggu. “Kurasa itu akan membuatmu marah. senyumnya memudar. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.” ia menimpali. atau sedih.. “Aku tidak ingin memberitahumu. sedih. daripada percaya bahwa kau serius... menatapku seraya tersenyum simpul. “Manusia?” tanyanya datar. Aku ingin kau menjadi manusia .” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya. Ia memilih kata kuncinya. aku penasaran.. Kumohon.. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.. Kugigit bibirku dan mengangguk. ragu-ragu.” “Kau sudah berjanji. “Aku kan tidak tahu. nyaris kepada dirinya sendiri. prom!” ejekku. tersenyum. Kau siap djAnGgo 415 . “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar.. akhirnya.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya.” ia menyetujui.. “Aku masih ingin tahu.” aku buru-buru mengaku.” tukasnya keberatan..” ia memulai.” Aku bergidik mendengar kata-katanya.” desaknya. “Aku tahu. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah.” Beberapa saat kami terdiam. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku. Ia tersenyum sekilas. “siap menjadikan ini akhir hidupmu. menunduk.” Ia masih nyengir.” kataku. acara istimewa.. “Aku tahu.” “Tapi aku memang serius. “Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. Ia menunggu dalam diam.” Aku mendesah.” Ia menghela napas dalam. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya.. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk. ini tidak lucu. memainkan chiffon-nya.. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain.. “Well . tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. kau benar. “Memang. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. aku langsung menyesal.” “Itu karena aku bersamamu. kemudian ia tampak senang. aku menduga itu semacam. Aku memandangi gaunku. “Tepat..” gumamnya.membuatnya terjadi. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku. Kucibirkan bibirku. “Tidak lucu tahu. “Kau siap mengakhiri ini semua. “Oke. “Tidak. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai.” selaku. lalu menggeleng marah. “Baiklah. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya.

” katanya sedih. satu alisku terangkat.” djAnGgo 416 . suaraku berbisik. “Kau sama butanya denganku. “Aku tidak pantas mendapatkannya.merelakan semuanya. “Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku.” sergahku.” “Ini bukan akhir.” “Aku tahu siapa diriku. ini baru permulaan.

” jawabnya. djAnGgo 417 . Ia mengamati wajahku lama sekali. itu cukup. Tidakkah itu cukup?” “Ya. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan.” Ekspresinya berubah. “Mmm. “Ya?” Ia tersenyum.” Alisnya terangkat. lalu menjauh. kedua tanganku mengepal. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. Kusentuh wajahnya. ia bakal kecewa. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu. “Cukup untuk selamanya.” bisikku. cemberut mendengar pilihan katanya. Ia menghela napas. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini.” kataku.” Kutelan liurku.” kataku.. “Bella. Ia tergelak misterius. Aku sudah membuat keputusan ini. Monster. tersenyum.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku.” Wajahnya cemberut melihat tekadku. “Dengar. “Kalau begitu. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga. dan aku yakin. “Aku akan tinggal bersamamu. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Tanpa sadar aku gemetar. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak. sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. melembut. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. napasnya terasa sejuk di kulitku. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. “Untuk sekarang. Wajahnya memang kelihatan kecewa. napasku tak beraturan. ya.Aku mendesah. “Seorang gadis boleh bermimpi.” Dan ia pun membungkuk lagi.” ejeknya. kau sudah siap?” tanyanya. jadi suaraku tidak terdengar parau.. “Ya. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. “Sekarang juga?” ia berbisik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful