TWILIGHT

Stephenie Meyer

djAnGgo

1

DAFTAR ISI
PROLOG ………………………………………………………………………………………………………… ……….. 3 1. Pandangan Pertama ………………………………………………………………………………………… 4 2. Buku yang Terbuka …………………………………………………………………………………………… 15 3. Fenomena ………………………………………………………………………………………………………… 25 4. Undangan ……………………………………………………………………………………………………….. 31 5. Golongan Darah ……………………………………………………………………………………………….. 38 6. Kisah-Kisah Seram …………………………………………………………………………………………….. 49 7. Mimpi Buruk …………………………………………………………………………………………………….. 57 8. Port Angeles …………………………………………………………………………………………………….. 66 9. Teori ………………………………………………………………………………………………………… ……… 77 10. Interograsi ……………………………………………………………………………………………………….. 85 11. Kesulitan ………………………………………………………………………………………………………….. 94 12. Penyeimbangan ………………………………………………………………………………………………… 101 13. Pengakuan ……………………………………………………………………………………………………… . 112 14. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik …………………………………….. 123

15. Keluarga Cullen ………………………………………………………………………………………………… 135 16. Carlise ………………………………………………………………………………………………………… ……. 145 17. Permainan …………………………………………………………………………….. ………………………...151 18. Perburuan ………………………………………………………………………………………………………… 163 19. Perpisahan ……………………………………………………………………………………………………….. 169 20. Ketidaksabaran ………………………………………………………………………………………………….175 21. Telepon ……………………………………………………………………….. ……………………………………183 22. Petak umpet …………………………………………………………………………………………………….. 187 23. Malaikat ………………………………………………………………………………………………………… … 195 24. Jalan buntu ………………………………………………………………………………………………………. 198 EPILOG : Acara Istimewa …………………………………………………………………………………………. 208

PROLOG
Aku tidak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku akan mati, meskipun aku punya cukup alasan beberapa bulan terakhir ini, tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak pernah 3

djAnGgo

membayangkan akan seperti ini. Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernafas, ke dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku senang. Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya itu berarti sesuatu. Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir. Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah untuk membunuhku.

djAnGgo

4

1. Pandangan Pertama

Ibuku mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23°C, langit cerah biru, tanpa awan. Aku mengenakan kaus favoritku, tanpa lengan, berenda putih; aku mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang kubawa-bawa adalah sepotong parka. Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington, sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa untuk menghabiskan 1 bulan setiap musim panas sampai aku berusia 14 tahun. Ketika itu aku akhirnya mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama 3 musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur bersamaku di California selama 2 minggu. Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri, keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat sangat. Aku benci Forks. “Bella,” akhirnya ibuku berkata-untuk terakhir kali dari ribuan kali ia mengatakannya, sebelum aku menaiki pesawat. “Kau tidak perlu melakukan ini.” Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil, jadi ada yang membayar tagihantagihannya, akan ada makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat, tapi tetap saja... “Aku ingin pergi,” aku berbohong. Aku tak pernah pandai berbohong, tapi aku telah mengatakan kebohongan ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar meyakinkan. “Sampaikan salamku buat Charlie.” “Akan kusampaikan.” “Sampai ketemu lagi,” ibuku berkeras. “Kau bisa pulang kapanpun kau mau, aku akan segera datang begitu kau membutuhkanku.” Tapi di balik matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji itu. “Jangan khawatirkan aku,” pintaku. “Semua akan baik-baik saja. Aku sayang padamu, Mom.” Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian aku naik pesawat, dan dia pun pergi. Makan waktu 4 jam untuk terbang dari Phoenix ke Seattle, 1 jam lagi menumpang pesawat kecil menuju Port Angeles, lalu 1 jam perjalanan darat menuju Forks. Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan. Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama. 5

djAnGgo

Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku mendapatkan kendaraan pribadi. Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara, dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak bingung karena keputusanku, sebab seperti ibuku, aku juga tidak menyembunyikan ketidaksukaanku terhadap Forks. Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku tidak melihatnya seperti pertanda, hanya sesuatu yang tak terelakkan. Lagipula aku telah mengucapkan selamat tinggal pada matahari. Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah

djAnGgo

6

karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang membuat laju mobil berkurang selain polisi. Charlie memelukku canggung dengan 1 lengan ketika aku menuruni pesawat. “Senang bisa ketemu denganmu, Bells,” katanya, tersenyum ketika spontan menangkap dan menyeimbangkan tubuhku. “ Kau tak banyak berubah. Bagaimana Renée?” “Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau, Dad.” Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila bertemu muka. Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington. Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi tetap saja kelewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu saja di bagasi mobil patroli Dad. “Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benar-benar murah,” ujarnya ketika kami sudah berada di mobil. “Mobil jenis apa?” Aku curiga dengan caranya mengatakan ‘mobil bagus buatmu’, seolah itu tidak sekadar ‘mobil bagus’. “Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy.” “Dimana kau mendapatkannya?” “Kau ingat Billy Black di La Push?” La Push adalah reservasi Indian kecil di pantai. “Tidak.” “Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim panas,” Charlie menambahkan. Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku. “Sekarang dia menggunakan kursi roda,” Charlie melanjutkan ketika aku diam saja, “jadi dia tidak bisa mengemudi lagi, dan menawarkan truknya padaku dengan harga murah.” “Keluaran tahun berapa?” Dari perubahan ekspresinya aku tahu dia berharap aku tidak pernah melontarkan pertanyaan ini. “Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik, umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh.” Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku mempercayai katakatanya dengan mudah. “Kapan dia membelinya?” “Rasanya tahun 1984.” “Apa waktu dibeli masih baru?” “Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal ’60-an, atau setidaknya akhir ’50-an,” Dad mengakui malumalu. “Ch, Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan aku tidak sanggup membayar montir...” “Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak ada lagi sekarang.” Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai, paling jelek sebagai nama panggilan. “Seberapa murah yang Dad maksud?” Bagaimanapun aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini. “Well, Sayang, aku sebenarnya sudah membelikannya untukmu. Sebagai hadiah selamat datang.” Charlie melirikku dengan ekspresi penuh harap. Wow. Gratis. “Kau tidak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana membeli sendiri mobilku.” “Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini.” Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke depan ketika

djAnGgo

7

menjawab. “Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya.” Tak perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku tak pernah meminta truk gratis, atau mesin. “Well, sama-sama kalau begitu,” gumamnya, tersipu oleh ucapan terima kasihku.

djAnGgo

8

Satu-satunya perubahan yang dibuat Charlie adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur sungguhan dan menambahkan meja seiring pertumbuhanku. Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barang-barangku ke atas. Akhirnya kami tiba di rumah Charlie. tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan. Terlalu hijau. Ia meninggalkanku sendirian untuk membongkar dan merapikan bawaanku. Bahkan udaranya tersaring di antara dedaunannya yang hijau. aku menyukainya. Aku berusaha tidak terlalu memikirkan hal itu. kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak bakal rusak. itu kamarku sejak aku dilahirkan. dengan modem tersambung pada kabel telepon yang menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon terdekat. Ini permintaan ibuku. Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah. kanopi di antara cabangcabangnya. Hanya itu hari-hari pernikahan yang mereka miliki. aku tak bisa menyangkalnya. jenis yang bakal kau temukan di lokasi kecelakaan dengan cat yang tak tergores dan dikelilingi serpihan mobil yang telah dihantamnya.” kata Charlie parau. Di sana. Semua hijau : pepohonan dengan batang-batang tertutup lumut. dengan bemper dan kap yang melekuk dan besar. Aku tidak sedang mood djAnGgo 9 . Lantai kayu. terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah berubah. Dad. Selebihnya kami memandang ke luar jendela dalam diam. tanahnya tertutup daun-daun yang berguguran. Ia masih tinggal di rumah kecil dengan 2 kamar tidur. Rasanya menyenangkan bisa sendirian. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada di sudut. Tentu saja pemandangannya indah. Truk itu berwarna merah kusam. semua ini bagian masa kecilku. perilaku yang tidak mungkin kudapatkan dari ibuku. sebuah planet yang asing. Kamar itu sangat familier. dinding biru cerah. yang dibelinya bersama ibuku di awal pernikahan mereka. lega bisa memandang murung ke luar jendela. tidak harus tersenyum dan tampak gembira. Di meja itu sekarang ada komputer bekas. dan itulah sebagian besar topik percakapan kami. Aku mendapati kamar tidur di sebelah barat yang menghadap ke halaman depan. Hanya ada 1 kamar mandi kecil di lantai atas. sekali lagi merasa malu. memandangi hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. tirai berenda kekuningan yang membingkai jendela. “Aku senang kau menyukainya.Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab. well. masa-masa awal. baru buatku. ia tidak pernah membuntutiku. supaya kami gampang berkomunikasi. “Wow. tampak truk baruku. aku suka! Trims!” Sekarang hari-hari menakutkan yang menjelang takkan menakutkan lagi. Yang membuatku amat terkejut. Ditambah lagi. dan aku harus memakainya dengan Charlie. Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan 2 mil ke sekolah hujan-hujan atau menumpang mobil patroli polisi.

Tubuhku selalu langsing. dan melukai diriku atau siapapun di dekatku. atau pemandu sorak mungkin. mengundang penasaran. segala sesuatu yang cocok dengan kehidupan di lembah matahari. Barangkali takkan begitu jadinya bila kau berpenampilan seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix.untuk menangis habis-habisan. Tapi secara fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. aku tak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa mempermalukan diriku sendiri. meskipun sering terpapar sinar matahari. Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid yaitu 357. Sebaliknya aku maah berkulit kekuningan. Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua dari kayu cemara. ketika aku harus memikirkan esok pagi. pirang. aku mengambil tas keperluan mandiku dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan sehari. jelas bukan atlet. tapi lembek. pemain voli. sekarang 358. orang aneh. Barangkali tipuan cahaya. Aku harus berkulit coklat. Aku akan jadi anak perempuan baru dari kota besar. sedangkan murid SMP di tempat asalku ada lebih dari 700 orang. Aku memandang wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut. bahkan tanpa mata biru atau rambut merah. sporty. Semua murid di sini tumbuh bersama-sama. Aku akan menyimpannya sampai saat tidur nanti. kakek-nenek mereka menghabiskan masa kecil bersama. tapi aku djAnGgo 10 .

Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur. mengamati dapur kecilnya. titik. Aku mengenakan jaketku. Setelah ia pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu. Dan besok baru permulaannya. Aku menarik selimut tua itu menutupi kepala. menuju kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. aku harus mencari cara supaya Charlie mau memindahkannya ke tempat lain. dan menguncinya. Aku tidak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi seperti yang djAnGgo 11 . 18 tahun yang lalu ibuku mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit kecerahan di rumah.terlihat pucat. Dan kalau aku tak bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi 300 orang. Charlie berangkat duluan. Disini aku tidak memiliki warna. tapi semua itu tergantung warna. Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak pernah bagus. Mungkin ada masakah dengan otakku. tidak sehat. kemudian menambahkan bantal-bantal. Yang penting adalah akibatnya. Itu membuatku tidak nyaman. rak-rak kuning terang. Bukan secara fisik saja aku tak pernah cocok. Aku tak mau terburu-buru ke sekolah. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit. dan bisa kurasakan klaustrafobia (ketakutan dalam ruang tertutup) merayapi tubuhku. Kadang-kadang aku membayangkan apakah aku melihat hal yang sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. bahkan setelah aku selesai menangis. aku terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Aku malu melihatnya. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Tapi penyebabnya tidak penting. Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las Vegas. Memandang pantulan wajah pucatku di cermin. kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir yang diambil oleh seorang perawat. tapi aku tak bisa tinggal di rumah lebih lama lagi. Di atas perapian bersebelahan dengan ruang keluarga yang mungil. nyaris transparan. Rasanya mustahil berada di rumah ini. tampak deretan foto-foto. setidaknya selama aku tinggal di sini. tak pernah selaras denganku. meski tahu doanya sia-sia. Ia mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. serta lantai linoleumnya yang putih. tak pernah benar-benar sepaham. tapi tak sampai membuatku basah kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu disembunyikan di bawah daun pintu. orang terdekat denganku dibandingkan siapapun di dunia ini. dengan dinding panelnya yang gelap. Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela kamarku. dengan tidak menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Bahkan ibuku. Tak ada yang berubah. Kulitku bisa saja cantik. seperti di kandang. Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. diikuti rangkaian fotoku semasa sekolah hingga tahun lalu. yang rasanya seperti pakaian antiradiasi. Tidurku gelisah malam itu. kesempatan apa yang kupunya di sini? Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus. ketika hujan akhirnya berubah menjadi gerimis. Hujan masih gerimis. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku berjalan. Aku berterima kasih padanya. dan menerobos hujan. Keberuntungan selalu menjauhiku. Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku takut. di salah satu dari 3 kursinya yang tak serasi. bening.

truk setua ini pasti memiliki kekurangan. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. bensin. Entah Billy atau Charlie pasti telah memebersihkannya. tapi dari jok berlapis kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau. meskipun aku belum pernah kesana. Mesinnya langsung menyala. seperti kebanyakan bangunan lainnya. nilai tambah yang tidak terduga. Di mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil bernostagia. dan peppermint . tapi derunya keras sekali. Bangunan sekolah. dan aku lega karenanya. yang membuatku berhenti. Di dalam truk nyaman dan kering. Di mana pagar berantai dan pendeteksi logamnya? djAnGgo 12 .kuinginkan. hanya papan namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA Forks. dibangun dengan batu bata warna marun. Menemukan letak sekolah tidaklah sulit. letaknya tak jauh dari jalan raya. Tidak langsung ketahuan itu bangunan sekolah sih. Radio antiknya masih berfungsi. Yah. aku sedang terburu-buru keluar dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan hinggap di rambutku di balik tudung jaket. Bangunannya seperti sekumpulan rumah serasi.

Aku senang mobil-mobil lainnya juga sama tuanya seperti trukku. Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus kuambil. Tetap saja aku mematikan mesin begitu mendapatkan tempat parkir. menyusuri jalan setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Tak diragukan lagi. Ruangan itu dibagi 2 oleh konter panjang. Aku mengemudi mengelilingi sekolah. mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengkilap. Tapi aku memutuskan akan bertanya di dalam.” Ia membawa beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya kepadaku. Akhirnya aku menghembuskan napas dan melangkah keluar truk.” kataku. yang membuatku merasa pakaianku berlebihan. Jaket hitam polosku tidak mencolok. Di tempat asalku. Pamflet-pamflet warna terang direkatkan di depannya. “Ini jadwal pelajaranmu. Pada akhir jam pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati pintu. sebuah jam dinding besar berdetak keras. Di dalam keadaan cukup terang. seolah pepohonan yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. aku setengah membohongi diriku. Ada 3 meja di balik konter. Kubiarkan wajahku tersamar tudung jaket ketika berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. Kulihat matanya berkilat terkejut. Begitu sampai di kafetaria. Wanita berambut merah itu mendongak. Ketika aku keluar lagi menuju truk. pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding. Ia tersenyum dan berharap. Ia mengenakan T-shirt ungu. aku tinggal di permukiman kelas bawah di distrik Paradise Valley. dan menarik napas panjang. berharap aku tak perlu berjalan sambil memeganginya seharian. dan peta sekolah. seperti Charlie. aku senang berada disini di Forks. tak ada yang bagus. Aku balas tersenyum dan mengiyakan sebisaku. Aku mendapati napasku pelan-pelan berubah menjadi terengahengah begitu mendekati pintunya. Aku bisa melakukannya. berusaha mengingatnya. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah akhirnya pulang. mengikuti barisan-barisan mobil lain. Kantornya kecil. sehingga aku yakin itu daerah parkir khusus. dan menyerahkan lembaran kertas yang harus ditandatangani masing-masing guru. dan menyilangkan talinya di bahu. Tak ada yang parkir disana. Ia mengaduk-aduk tumpukan dokumen di mejanya hingga menemukan apa yang dicarinya.” katanya. murid-murid lain berdatangan. bunyinya TATA USAHA. dan lebih hangat dari yang kuharap. menerangkan rute terbaik menuju masingmasing kelas pada peta. aku menyadarinya dengan perasaan lega. Kelasnya kecil. Disini. sehingga suaranya yang keras tidak menarik perhatian. karpet bersemburat jingga. “Tentu saja. Angka ‘tiga’ hitam besar dicat di kotak persegi putih di pojok sebelah timur. Dengan enggan aku melangkah keluar dari trukku yang nyaman dan hangat. “Bisa kubantu?” “Aku Isabella Swan. aku akan segera menjadi topik gosip. Tanaman ada di mana-mana dalam pot plastik besar. ruang tunggunya dilengkapi kursi lipat berjok. salah satunya dihuni wanita bertubuh besar. Melihat Mercedes baru atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Aku mempelajari petanya di dalam truk. Sebelum membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam. gedung tiga dengan mudah kutemukan. Tak ada yang bakal menggigitku. Aku memasukkan semua ke tas. Orang-orang di depanku berhenti tepat di muka pintu untuk menggantungkan jas hujan djAnGgo 13 .Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki papan tanda kecil di atas pintu. dan jelas mencolok. berantakan karena keranjang-keranjang kawat penuh kertas. berambut merah yang menggunakan kacamata. daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan seperti orang tolol.

Faulkner. Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru. Mereka 2 orang gadis. tapi entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Ia melongo menatapku ketika melihat namaku. tentu saja wajahku memerah seperti tomat. dan membosankan. Setidaknya warna kulitku tidak akan mencolok disini. bukan respon yang membangun. Menyenangkan. Bacaan dasar : Brontë. Aku mencontoh mereka. memandangi daftar bacaan yang diberikan guruku. yang lain juga berkulit pucat. yang satu berambut pirang. Tapi setidaknya ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Aku sudah pernah membaca semuanya...mereka di tiang gantungan yang panjang. Mason. Aku membayangkan apakah djAnGgo 14 . Aku terus menunduk. rambutnya cokelat muda. Chauter. laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama bertuliskan Mr. Sulit bagi teman-teman baruku untuk menatapku di belakang. Shakespeare.

meskipun papan tandanya jelas. tipe anggota klub catur.” Aku tak bisa melihat kemanapun tanpa beradu pandang dengan mata-mata penasaran.” aku meralatnya. tapi rambut gelapnya yang sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami. Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. seperti apa rasanya?” Ia membayangkan. Aku tergagap. “Aku akan ke gedung empat. lebih pendek daripada aku yang 160 senti. Mr. suaranya berupa gumaman sengau. jadi aku tersenyum dan mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan pelajarannya. dan aku mendesah.” Kami mengambil jaket dan menerobos hujan. Aku tersenyum hati-hati. Tubuhnya mungil. wajahku merah padam. yang memperkenalkan diri dan bertanya mengapa aku menyukai Forks. dan ia berjalan menemaniku menuju kafetaria saat jam makan siang. Aku berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus bicara. Kami berjalan lagi mengitari kafetaria. “Cerah. Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. Selalu ada yang lebih berani dari yang lain. Aku berani bersumpah beberapa orang di belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa menguping. “Jadi. ke gedung-gedung di sebelah selatan dekat gymnasium. “Semoga berhasil. Guru Trigonometriku. Setelah 2 pelajaran.. Beberapa bulan saja di tempat ini. aku bisa menunjukkannya padamu. djAnGgo 15 . “Kulitmu tidak terlalu cokelat.” ujarku.” Ia mengamati wajahku dengan waswas. Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono dan Bahasa Spanyol. Vanner.ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek.” “Wow. di gedung enam. “Mmm. Eric mengantarku sampai pintu. “Aku Eric. kan?” Ia kelihatan seperti orang yang kelewat suka menolong. tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Semua orang dalam jarak 3 kursi berbalik menghadapku. Aku tersenyum samar dan masuk.” Ia berharap. aku pasti sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis.” “Disana tidak sering hujan kan?” “3 atau 4 kali setahun.” Jelas tipe kelewat suka menolong.” katanya ketika aku meraih gagang pintu.” “Ibuku setengah albino. aku mulai mengenali beberap wajah di masing-masing kelas. “Terima kasih. yang sudah reda.. “Habis ini kau masuk kelas apa?” tanyanya. “Kau Isabella Swan. “Sangat. yang toh bakal kubenci juga karena mata pelajaran yang diajarkannya. Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara kepadaku. Aku mencoba berdiplomasi. Ketika bel berbunyi. dengan Hefferson. Setidaknya aku tidak pernah membutuhkan peta. ini sangat berbeda dengan di Phoenix heh?” tanyanya. Pemerintahan. adalah yang satu-satunya menyuruhku berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. “Bella. Kuharap aku tidak menjadi paranoid. Aku tak ingat namanya. “Barangkali kita akan bertemu di kelas lain. dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju kursiku.” tambahnya. Kelihatannya awan dan selera humor tidak pernah selaras.

melambai padaku dari seberang ruangan. djAnGgo 16 . Disanalah. Ia memperkenalkanku kepada mereka. ketika aku pertama kali melihat mereka. duduk di ruang makan siang. berusaha memulai pembicaraan dengan 7 orang asing yang penasaran.Aku tak berusaha memperhatikannya. Mereka tampak kagum dengan keberaniannya berbicara denganku. Cowok dari kelas bahasa Inggris. Aku langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai mengobrol dengan mereka. Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa teman-temannya. Eric.

perawakannya mungil. Ia berpaling dengan cepat. Mereka semua mengalihkan pandangan. sosok yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri hanya dengan berada di ruangan yang sama. Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa berpaling.Mereka duduk di sudut kafetaria. Gadis yang bertubuh pendek seperti peri. lebih cepat dari yang kupikir mungkin dilakukannya. sempurna. Mereka pucat pasi. Dari 3 cowok. Ia melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik. meskipun dari nada suaraku barangkali ia sudah tahu. Tubuhnya indah. Mereka tidak bicara. keunguan. namun sangat mirip. Tapi bukan ini yang menarik perhatianku. memar seperti bayangan. “Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas bahasa Spanyol-ku. Sulit memutuskan siapa yang paling indah. semua garis tubuh mereka lurus. kaleng sodanya belum dibuka. lebih langsing. Rambutnya hitam kelam. tapi juga berotot dan rambutnya pirang keemasan. yang sama sekali tak beranjak. kaku. apelnya masih utuh. dan berlalu sambil melompat cepat dan indah. tergerai lembut di punggung. Mereka tidak terpana menatapku. dari murid-murid lain. tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu memandang ke arahnya. mengagumi langkah luwesnya bagai penari. sejauh mungkin dari tempat dudukku. paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa matahari ini. telah djAnGgo 17 . mungkin yang paling muda. lalu matanya yang gelap mengerjap ke arahku. Mata mereka sangat gelap. yang kelihatannya sudah kuliah. meskipun di depan mereka masingmasing ada 1 nampan makanan yang tak tersentuh. Ia lebih kekanakan daripada yang 2 lagi. rambutnya gelap ikal. Mereka tidak terlihat seperti yang lain. sangat kurus. Atau dilukis seorang pelukis ahli sebagai wajah malaikat. meskipun karena malu aku langsung menunduk saat itu juga. seperti yang kalian lihat di sampul Sport Illustrated edisi pakaian renang. dari satu sama lain. atau si cowok berambut perunggu. Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang kumaksud. tidak seperti kebanyakan murid lainnya. si albino. dan ia memandang sebagai reaksi spontan. dari segala sesuatu sejauh yang kulihat. Mataku tertuju kembali ke yang lain. Namun toh mereka sama persis. Yang jangkung tatapannya dingin. atau bahkan bisa menjadi guru disini dan bukannya murid. Lebih pucat daripada aku. Rambutnya keemasan. jadi rasanya aman untuk memandangi mereka tanpa takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang kelewat penasaran. keindahan yang memancarkan kekejaman. Ketika aku memperhatikan. seolah temanku telah menyebut namanya. berotot seperti atlet angkat besi professional. semuanya luar biasa. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. si cewek mungil bangkit membawa nampan. Aku memandangi mereka karena wajah mereka yang begitu berbeda. Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. juga tidak makan. begitu kontras dengan warna rambut mereka. Yang lain lebih tinggi. atau baru saja hampir sembuh dari patah hidung. cowok yang bertubuh kurus dan berwajah kekanakan. yang 1 bertubuh besar. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna perunggu yang berantakan. lebih cepat dari yang bisa kulakukan. Seolah-olah mereka melewati malam panjang tanpa tidur. Yang cewek-cewek kebalikannya. Mereka berlima. sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan kotor dan melayang lewat pintu belakang. Mereka wajahwajah yang tak pernah kau harapkan bakal kau lihat kecuali di halaman majalah fashion. yang aku lupa namanya. Terlepas dari hidung mereka. Mereka juga memiliki kantong mata. mungkin cewek berambut pirang yang sempurna itu. Aku terus mengawasinya. dipotong pendek dan lancip.

serta Rosalie dan Jasper Hale. Aku melirik cowok tampan itu. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen. namun aku merasa ia berbicara diam-diam pada mereka. Gadis di sebelahku tertawa tersipu. mereka tinggal bersama dr. yang sekarang sedang memandangi nampannya.memutuskan untuk tidak menjawab. Mulutnya bergerak sangat cepat. Cullen dan istrinya. “Itu Edward dan Emmett Cullen. bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. djAnGgo 18 . Yang 3 lagi masih membuang muka. mencubit-cubit bagelnya dengan jari-jari panjangnya yang pucat.” Ia mengatakannya dengan berbisik. menunduk memandangi meja seperti aku.

tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs.. mendongak dan beradu pandang denganku. Yang bermarga Hale adalah sepasang kembaran laki-laki dan perempuan. mereka anak angkat.” Aku merasakan sebersit rasa iba..” kata Jessica. ada 2 cewek yang bernama Jessica. yang paling muda. Aku yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan musim panasku disini. pikirku kritis. “Kurasa Mrs. nama yang sangat umum. Cullen masih sangat muda. Emmett dan Rosalie. “Benar!” Jessica setuju seraya terkekeh lagi. mereka adalah pendatang. Tapi kalau mencoba jujur. Iba karena betapapun cantik dan tampannya mereka. Tapi barangkali disini nama-nama itu populer. “Tidak. Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke meja tempat keluarga aneh itu duduk. Aku mengintip ke arahnya djAnGgo 19 . “Mereka baru saja pindah ke sini 2 tahun yang lalu dari sekitar Alaska.” “Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi anak angkat. sangat tampan dan cantik.” “Mereka baik sekali. “Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?” tanyaku. Saat aku mengamati mereka. dan Jasper dan Alice. bahkan bagi pendatang baru seperti aku. Dr. Dan lega karena aku bukan satusatunya pendatang baru di sini. “Apa sejak dulu mereka tinggal di Forks?” tanyaku.” “Oh.” “Kurasa begitu. nadanya mengindikasikan bahwa itu seharusnya sudah jelas. ketika mereka masih kecil dan segalanya..” “Sekarang memang. kira-kira 20-an atau awal 30-an. mau memelihara semua anak-anak itu. kali ini ekspresinya memancarkan rasa penasaran yang nyata. “Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga. dan aku mendapat kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk alasan tertentu. Mrs. dan sudah pasti bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apapun.Mereka terus memandang dinding dan tidak makan. Dari caranya memandang anak-anak adopsi itu.” Dengan susah payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu. Mereka semua anak adopsi. Cullen sejak masih 8 tahun. sekaligus lega. yang pirang. Ketika pelan-pelan aku mengalihkan pandangan.” Jessica menambahkan.Nama-nama aneh dan tidak populer. “Dan mereka selalu bersama-sama..” Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota kecil ini. Dan mereka tinggal bersamasama. “Cowok berambut coklat kemerahan itu siapa?” tanyaku. seolah-oleh komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka. dan jelas tidak diterima. salah satu yang bermarga Cullen. Nama-nama yang dimiliki generasi kakek-nenek. tampak olehku bahwa tatapannya mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan. Di kelas Sejarah di sekolah tempat asalku. khas nama-nama kota kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama Jessica. aku menduga alasannya adalah iri. Jasper dan Rosalie umurnya 18. memang tidak. Cullen bibi mereka atau seperti itulah. maksudku. pikirku. “Mereka. Cullen tidak bisa punya anak. harus kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan menimbulkan gunjingan.” ujar Jessica enggan.

tapi jangan buang-buang waktu. Ia sudah memalingkan wajah. Kelihatannya tak satupun cewek disini cukup cantik baginya. ekspresinya sedikit gelisah. Lalu aku kembali memandang Edward. tapi rasanya pipinya seperti tertarik.” Jessica mendengus. Yang bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi. tapi tidak melongo seperti murid-murid lain seharian ini. Beberapa menit kemudian mereka berempat meninggalkan meja bersama-sama. Aku kembali menunduk. Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku. Dia tampan. Salah satu kenalan djAnGgo 20 . Aku tidak ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku tiba di sekolah. Tak diragukan lagi mereka sangat anggun.lewat sudut mata. tentu saja. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. bahkan yang bertubuh besar dan berotot. “Itu Edward. Dia tidak berkencan. dan ia masih menatapku. Aku membayangkan kapan Edward menampiknya. seolah-olah dia juga tersenyum. Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. sikapnya jelas pahit.

tidak bersahabat. Aromanya seperti stroberi. Tak mungkin ada hubungannya denganku. Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. mataku bertemu mata dengan sepasang mata dengan ekspresi paling aneh. Tanpa mengangkat wajah.baruku. Ia juga pemalu. atau karena aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur? Tangannya terus terkepal. Apa yang salah dengannya? Apakah ini juga perilaku normalnya? Aku mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus siang tadi. Angela duduk di meja lab yang bagian atasnya berwarna hitam. Ketika kami memasuki kelas. Ia sama sekali tidak mengenalku. Bisa kukatakakan kami bakal cocok. juga mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya. Ia sudah punya teman sebangku. dan mengejutkan karena lengannya yang kekar dan berotot di balik kulitnya yang pucat. tiba-tiba duduknya menjadi kaku. hitam legam. Ia sedang menatapku. Ia tidak pernah kelihatan sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang berperawakan gagah dan besar. Mr. gusar. duduk di sebelah kursi yang kosong. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir. Ia menatapku lagi. sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. kecuali satu yang masih kosong. terkejut. dia juga tak pernah santai. Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daipada yang lain. sejauh mungkin dariku. Untuk yang satu ini. Aku tersandung buku dan nyaris terjembab hingga tanganku meraih ujung meja. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai. Saat itulah aku memperhatikan bahwa matanya berwarna hitam. Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Sepanjang pelajaran ia tak pernah duduk santai di kursinya. wajahku merah padam. dan selalu menunduk. Cewek yang duduk disitu terkekeh. dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran. Aku terus menunduk ketika menempatkan diriku di sisi nya. Tentu saja dia tak punya pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong di tengah kelas. Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi sekuler. Ia menjauh dariku. Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan. Sekali lagi aku mengintip. duduk di ujung kursi. sebagai penghalang diantara kami. kuatur bukuku di meja lalu duduk. yang dengan baik hati mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela. aroma shampo kesukaanku. tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah. Diam-diam aku mengendus rambutku. Ketika aku melewatinya. aku mengenali Edward Cullen dari rambutnya yang tidak biasa. matanya yang hitam penuh rasa djAnGgo 21 . aku diam-diam memperhatikan Edward. Meski begitu aku tetap mencatat dengan teliti. Bergegas aku memalingkan wajah. bingung oleh tatapan antagonis yang dilemparkannya padaku. dan menyesalinya. Aku bisa melihat tangannya yang mengepal diletakkan di paha kiri. Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku. Lengan panjang kaus putihnya digulung sampai siku. otot-ototnya menyebul di balik kulit pucatnya. memalingkan wajah seakan-akan mencium bau yang tidak enak. persis yang dulu sering kutempati. Sepertinya baunya cukup enak. ia duduk tak bergeming sampai-sampai ia seolah-olah tidak bernapas. Malah sebenarnya semua meja telah terisi. Di sisi gang tengah.

tiba-tiba frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku. ia lebih tinggi daripada yang kukira. Ia jahat sekali. menciut di kursiku. “Apa kau Isabella Swan?” terdengar suara cowok bertanya. Aku duduk membeku. Ketika aku mengalihkan pandang. sebab khawatir air mataku bakal menggenang. Ini tidak adil. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak. Dengan luwes dia berdiri. membuatku terperanjat. rambutnya yang pirang pucat di-gel berbentuk spike yang teratur. Untuk beberapa alasan emosiku melekat erat dengan saluran air mataku. kebiasaan memalukan. Kalau marah aku biasanya menangis. memunggungiku. Bel berbunyi keras. Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok bertampang imut dan tampan. Edward Cullen bangkit dari tempat duduk. dan ia sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari kursi mereka. Perlahan-lahan aku mulai membereskan barang-barangku. Ia tersenyum ramah. mencoba mengenyahkan kemarahan yang menyelimutiku. djAnGgo 22 .jijik. menatapnya tanpa berkedip.

meniup kertas-kertas di meja. Kurasa aku bisa menemukannya. “Jadi. Berturut-turut aku menyaksikan 4 pertandingan voli. ia bertanya. “Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas Biologi?” tanyaku polos. Tapi ketika kami memasuki gymnasium. Disini pelajaran olahraga wajib selama 4 tahun. Forks bagiku adalah neraka di bumi. Edward sedang berdebat dengannya. tapi angin bertiup kencang dan lebih dingin.” Ia tampak senang. “ Aku tidak pernah berbicara dengannya. ia ternyata cowok yang senang mengobrol. Secara harfiah. aku bakal mengobrol denganmu. kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa? Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu.” Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar ganti cewek.” “Hai. memudahkan segalanya buatku. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan seragamku untuk kelas hari ini.” “Aku tidak tahu.” “Itu juga kelasku berikutnya. Aku mengenali rambut berwarna perunggu yang bernatakan itu. Raut wajahnya tadi pasti karena ia sedang jengkel semata. Aku sama sekali tak percaya keinginnannya memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya denganku. “Ya.” Aku menciut. “Kalau aku cukup beruntung bisa duduk denganmu. Mike. Aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Aku berjalan pelan ke kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertaskertas yang sudah ditandatangani. Di tempat asalku. jam mana saja.“Bella. kebanyakan topik pembicaraan kami berasal darinya. Dari pembicaraan kami. Jadi. Pintunya terbuka lagi. Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat. aku nyaris langsung berbalik dan melarikan diri. Dengan cepat aku menangkap inti perdebatan mereka. Mike malah terus bersamaku. meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah sekecil ini. Hujan sudah reda.” timpalku. pelajaran olahraga hanya selama 2 tahun. “Dia tampaknya kesakitan atau apa. dan yang kutimbulkan. Ia sedang berusaha menukar pelajaran Biologi dari jam keenam ke jam lain. Sepertinya ia tidak memperhatikan kedatanganku. Tapi itu tak cukup mengobati sakit hatiku. aku jadi tahu ia juga sekelas denganku di bahasa Inggris.” “Dia aneh. Ia tinggal di California sampai umur 10 tahun. nada suaranya rendah dan indah. Tak mungkin orang asing ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku.” Bukannya menuju kamar ganti. Aku memeluk diriku sendiri. Dan itu rupanya bukan perilaku Edward yang biasanya. “Aku Mike. menunggu petugas resepsionis selesai. aku bukan satu-satunya yang memperhatikan hal ini. Pasti sesuatu yang lain. Guru senam kami. Ia orang paling ramah yang kutemui hari ini. memberikan seragam buatku. sesuatu yang terjadi sebelum aku memasuki kelas itu. Kami berjalan bareng ke gymnasium. Aku berdiri merapat ke dinding belakang.” katanya. Cewek yang djAnGgo 23 . meniup rambutku hingga menutupi wajah.” “Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?” “Sebenarnya aku mau ke gymnasium. Pelatih Clapp. Akhirnya bel terakhir berbunyi. jadi ia tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. Ia cukup bersahabat dan mempesona. dan angin dingin tiba-tiba berhembus ke dalam ruangan.” ralatku sambil tersenyum. ketika bermain voli aku merasa agak mual.

“Kalau begitu lupakan saja. meletakkan catatan di keranjang kawat. hingga bulu kuduk di tanganku meremang. wajahnya luar biasa tampan.masuk langsung melangkah ke meja. Seketika aku merasakan ketakutan yang amat sangat. Tatapannya hanya sedetik. djAnGgo 24 . Ia berbalik lagi ke resepsionis. dan perlahan ia berbalik menatapku.” Dan ia berbalik tanpa memandangku lagi. tapi membuatku membeku lebih dari angin yang dingin. lalu lenyap di balik pintu. lalu keluar lagi. Terima kasih banyak atas bantuan Anda. “Aku mengerti ini tak mungkin.” katanya terburu-buru dengan nada selembut beledu. tatapannya menghujam dan sarat kebencian. Tapi punggung Edward Cullen menegang.

Aku duduk sebentar di dalamnya. hanya tinggal beberapa mobil disana. Tapi ketika aku kedinginan dan membutuhkan kehangatan. kuselipkan kuncinya dan mesin pun menyala. wajahku pucat dan bukannya memerah. Aku pulang ke rumah Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke sana. hanya menerawang ke luar kaca depan. Ketika tiba di lapangan parkir. Nak?” tanya resepsionis lembut. “Baik.” aku berbohong. Kuserahkan kertas yang sudah ditandatangani. djAnGgo 25 . “Bagaimana hari pertamamu. nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang hijau yang lembab ini.Aku berjalan pelan ke meja. Ia kelihatan tidak percaya. Truk itu rasanya seperti tempat perlindungan. suaraku lemah.

. Sepagian aku sangat menghawatirkan saat makan siang. Buku yang Terbuka Keesokan harinya lebih baik. Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica. diplomasi sangatlah penting. Edward masih belum muncul juga. tapi juga lebih buruk. dan teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami. Sebagian diriku ingin mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa masalahnya. Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya. dan beberapa anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat sekarang. Eric. Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike. Tapi aku mengenal diriku terlalu baik. Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai mereka. dan sekalinya tidak terhantam bola. akupun semakin tegang. tempat orang-orang selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi. Ia tidak datang. meski langit sudah tebal oleh mendung. Di kota seperti ini. Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri. yang mirip Golden Retriever. Eric si anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu. bersama Mike. dan dengan berlalunya waktu. Mike. Ketika terbaring nyalang di ranjang. dan membuktikan kecurigaanku keliru. dan ini takkan mudah. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir tenang. aku tak pernah berpengalaman 26 djAnGgo . Itu lebih mudah karena aku jadi tahu apa yang kuharapkan. Lebih buruk karena Mr. Mike duduk bersamaku di kelas bahasa Inggris. melangkah setia disisiku menuju kelas. membuatku tersanjung. Vanner memanggilku di pelajaran Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan jawabanku salah. aku merasa sangat tidak nyaman. Aku tak pernah pandai berdiplomasi. aku malah melemparkannya ke teman sereguku. Orang-orang tidak memandangiku seeperti kemarin. Sampai waktu makan siang berakhir tadi. gelisah menantikan kedatangan Edward. mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok Edward dan gagal total. Dan lebih buruk karena Edward Cullen sama sekali tidak terlihat di sekolah. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu. Sesampainya di pintu aku menahan napas. Aku masih tak bisa tidur karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah.2. tapi ia sendiri tak ada. dan mengantarku ke kelasku berikutnya. Aku membuat Singa Pengecut terlihat seperti sang pemusnah. aku melihat keempat saudaranya duduk bareng di meja yang sama. Jessica.. Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalan-jalan ke pantai. tapi Edward Cullen juga tidak berada disana. Aku berharap ia akan mengabaikan aku kalau muncul nanti. Lebih baik karena hujan belum turun. aku bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Menyedihkan karena aku harus bermain voli. waswas terhadap tatapan anehnya. bukan tenggelam. tak mungkin aku punya nyali melakukannya. Aku duduk dalam kelompok besar saat makan siang. Aku menghembuskan napas dan pergi ke kursi. Lebih buruk karena aku lelah.

Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek. Tidak mungkin. Aku terus-terusan mengingatkan diriku. berhubung Edward tidak masuk. Ketika sekolah akhirnya usai. Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian. aku buru-buru mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku. Aku djAnGgo 27 . tapi aku tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. senang karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari temanku yang suka mengekor. Tapi toh aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa itu benar.menghadapi teman cowok yang kelewat ramah. dan rona di pipiku akibat kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar. Betapa konyol dan narsis mengira diriku bisa mempengaruhi orang seperti itu.

Volvo baru yang mengkilap. aku kelewat terpesona dengan rupa mereka. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. “Bella. melapisi steak dengan saus marinade. hidup memang lebih sering seperti itu. Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Mom. tapi aku tak bisa menemukan blus Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Aku juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apapun di rumah. Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku melewati mereka.” tulis ibuku. Di tempat asalku akulah yang berbelanja. Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kau tunggu? Mom. Sebelum mengerjakan PR. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. mengikat rambutku yang lembab jadi kuncir kuda. dan mundur pelan menuju mobil yang mengantre keluar dari parkiran. aku melihat Cullen bersaudara. Karena sekarang aku memperhatikan. jelas sekali mereka berpakaian sangat bagus. Pesan itu dikirim 8 jam setelah pesan pertama. Pandanganku tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya keluar dari lahan sekolah. dan sekarang akan menuju Thriftway.. dan meletakkannya di atas sekarton telur di kulkas. Sebelumnya aku tidak memperhatikan pakaian mereka. sama seperti yang lain. aku membawa tas sekolahku ke atas. Mereka memang suka menyendiri. rasanya normal. Dengan rupa mereka yang luar biasa keren.” tulisnya. gaya mereka. Kuharap Charlie tidak keberatan.. Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang belanjaan. Tentu saja. Selesai melakukannya. aku tak percaya sepenuhnya. simpel. Ketika aku menunggu.. Ceritakan bagaimana hampir penerbanganmu. dan memeriksa e-mail. namun bermerek.berjalan cepat menuju parkiran. tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu. Aku masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas. Jadi aku membuat daftar belanjaan.ku untuk pertama kali. The Thriftway tak jauh dari sekolah. Kubungkus kentang dengan aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya. Charlie dengan senang hati menyerahkan urusan itu kepadaku. mengabaikan kepala-kepala yang menengok. memastikan semua ada disitu. Rasanya menyenangkan bisa berada di supermarket. selepas jalan raya. Jadi aku meminta diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. mereka bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren. Kau tahu dimana meletakkannya? Phil kirim salam. Dan sepertinya kenyataan itu tak lantas membuat mereka diterima disini. Semalam aku mengetahui Charlie tidak bisa memasak kecuali membuat telur goreng dan bacon. Yang terakhir dikirim pagi ini djAnGgo 28 . Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar. Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah rupawan dan uang. Tapi sejauh yang kutahu. mencoba berpurapura bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil orang lain. Aku mendapat 3 pesan. lalu menyumpalkannya dimana-mana. lalu mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG MAKANAN uang disimpan di lemari. hanya beberapa blok ke selatan. aku mengganti pakaian dengan yang kering. Aku pinkku. dan aku menyukainya.. “Bella. dan si kembar Hale masuk ke mobil mereka. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang mengingatkan keberadaanku sekarang. selesai mengepak untuk ke Florida. Tidak.

djAnGgo 29 . aku akan menelepon Charlie.30 sore ini aku belum juga mendengar kabar darimu.Isabella. Kalau sampai jam 5.

Aku mengirimnya. demi kesenangan. yang berarti bagus. dan itulah yang kulakukan ketika Charlie pulang.” “Terima kasih. Mobil tua. Semua baik-baik saja. Memangnya ada orang lain? pikirku. kau tahu kan. novel yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris. Mom. Bella napas. “Jadi. Sepertinya dia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa melakukan apa-apa. “Bella?” panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni tangga. Dalam beberapa hal. Aku membuat salad sementara steaknya sedang dipanggang. “Kita makan malam apa?” tanya Dad hati-hati. Aku Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights . Aku lupa waktu. Waktu aku datang kesini. dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri. Namun diam yang nyaman. Aku akan menulis lagi nanti. Ibuku juru masak imajinatif. kau percaya? Aku menyukainya. Aku sedang menulis sekarang.” Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur. Aku menunggu sampai punya cerita yang bisa kubagikan. Sekolahku tidak jelek. Aku masih punya waktu 1 jam.Aku melihat jam. Setahuku. Bella. jadi dia pergi ke ruang tamu dengan langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di dapur. Aku juga rindu padamu. kami sangat cocok hidup bersama. ketika masih kanak-kanak. Sudah pulang?” “Ya. Aku bertemu beberapa anak yang baik yang makan siang bersamaku. Tak satupun dari kami terusik keheningan itu. dan Dad tampak lega. Charlie memberikan aku truk.” Selama beberapa menit kami makan dalam diam. Tapi senjatanya itu selalu siaga. kau harus mengambilnya hari Jumat. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat teman baru?” Dad berkata setelah mengulur waktu. Dad. Tentu saja disini hujan. tarik sayang Mom.” jawabku. ia tak pernah menembakkan senapannya selama bertugas. dan bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven serta memanggang steaknya. kemudian menyiapkan meja makan. Tenang. tapi ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak. Blus pinkmu ada di dry clean. Mom. Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap. Tenang saja. dan memulai lagi. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Bell. dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan. dan percobaannya tak selalu aman untuk dimakan. hanya sedikit mengulang pelajaran. tapi aku takkan mengecek email-ku setiap 5 menit sekali. Kurasa sekarang dia sudah menganggapku cukup dewasa sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku sendiri. “Steak dan kentang. buatku. tapi benar-benar ‘bandel’. “Hei. Jangan konyol. “Aromanya lezat. djAnGgo 30 . Dad selalu mengosongkan pelurunya begitu dia masuk ke rumah.

djAnGgo 31 .

Lalu ada cowok. Bukan karena ingin. dengan anak-anak remaja adopsi itu. dengan gaji sepuluh kali lipat daripada yang didapatkannya disini. anakanaknya. Aku diajak. Setiap hari. Semuanya kelihatan lumayan baik. tak lagi menghawatirkan Edward. dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Sepertinya mereka tak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah.” tambahku.. yang tidak terbiasa djAnGgo 32 . Tapi mereka sangat dewasa. Memang konyol sih. Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki ruang kelas Biologiku.. Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam pembicaraan makan siang. “Kau harus bertemu dr.. Anak baik. dan setelah selesai mencuci piring..” Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari Charlie. aku duduk bersama teman-temannya. Banyak perawat di rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar mereka. Aku bisa merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya. dengan waswas aku memperhatikan sampai seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya. Kupikir mereka akan menimbulkan masalah. Sesuatu yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya telah tinggal disini selama beberapa generasi. Cullen. “Mereka. dia cukup berhasil. Aku memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah kesini. Aku mundur sedikit. lalu orang-orang menggunjingkan mereka. Saat makan siang. Aku terbiasa dengan rutinitas kelasku. pergi kemping setiap 2 akhir pekan sekali. Pada hari Jumat aku sudah bisa mengenali wajah.. aku belum mendapat satu masalahpun dari mereka. dan telah setuju untuk ikut. Pantai seharusnya panas dan kering. kalaupun bukan nama. “Apa kau mengenal keluarga Cullen?” tanyaku ragu-ragu. Cullen ahli bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah sakit dimana pun di dunia ini.” lanjutnya. yang sangat bersahabat. ia telah meninggalkan sekolah. Mereka sangat menarik. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan orang-orang. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri. Aku berusaha tidak memikirkannya. Aku tertidur dengan cepat. Edward Cullen tidak kembali ke sekolah. Charlie membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Charlie. tapi aku tak bisa benar-benar menekan kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas absennya Edward. Di gymnasium anak-anak sudah paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buru-buru melangkah di depanku kalau tim lain mencoba memanfaatkan kelemahanku. keluarganya baik. tapi lebih karena tidak enak menolaknya. kelelahan. Malam itu suasana tenang. Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden. “Dr.” Dengan satu pengecualian mencolok.“Well. Sering kali obrolan kami adalah mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua minggu mendatang yang diprakarsai Mike. dengan enggan aku naik untuk mengerjakan PR Matematika-ku. Mike. aku mengambil beberapa kelas bersama cewek bernama Jessica. “Kita beruntung memilikinya.” gumamnya. Karena banyak backpacker datang kesini. Sisa minggu itu berlangsung membosankan. “Orang-orang di kota ini. Yang kutahu. Dia aset bagi komunitas kita. Tapi hanya karena mereka pendatang baru. Dan keluarga itu hidup seperti keluarga biasa. “Bagiku mereka sepertinya cukup ramah.” Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak marah. Ia kembali menonton TV. suaranya makin keras. Dengan senang hati aku menyingkir dari mereka. hampir semua murid di sekolah. “Untunglah pernikahannya bahagia.” kata Charlie tertawa.. Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota. “Itu pasti Mike Newton. agak berbeda. beruntung istrinya mau tinggal di kota kecil.” Kami kembali terdiam ketika selesai makan.

memilih bekerja sepanjang akhir pekan. Hari Sabtu aku pergi ke perpustakaan. Iseng. aku tidak jadi membuat kartu anggota.. Aku tidak tahu nama mereka masingmasing. dan menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk ini. Sepanjang akhir pekan hujan gerimis. Pagi ini cuaca lebih dingin. tapi berhubung koleksinya sangat sedikit. tapi aku balas melambai dan tersenyum pada semuanya. tapi untungnya tidak hujan. Di djAnGgo 33 .menghabiskan waktu di rumah yang biasanya kosong. sehingga aku bisa tidur nyenyak. mengerjakan PR. tenang. Aku membersihkan rumah.. dan bergidik memikirkannya. aku harus segera membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau Seattle dan menemukan toko buku bagus disana. Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran.

Itu berarti terlalu dingin untuk turun hujan. Aku tak punya alasan untuk merasa malu. telingaku panas. Lalu bola salju besar dan lembut menghantam bagian belakang kepalanya. gumpalan es meleleh di rambutnya. aku merasa sedikit tidak enak badan. Aku menghirup sodaku pelan-pelan.” jawabku. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. kupikir seharusnya salju turun dalam bentuk kepingan. “Sebenarnya. “Kita bertemu lagi saat makan siang. “Di TV. Angin menerpa pipi dan hidungku. Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan mereka. “Tentu saja pernah. Kukatakan aku baik-baik saja.” Mike tertawa.” Aku terdiam. Kami berbalik untuk melihat darimana asalnya. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud. “Tidakkah kau suka salju?” “Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa. siap menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. Hilang sudah hari baikku. tapi sesuatu pada ekspresiku menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke arahku. Aku memegang binder di tanganku. dan bukannya menuju kelasnya. Aku curiga itu perbuatan Eric. dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. “Begitu orang-orang mulai melemparkan bola-bola basah itu.” Salju. perutku keroncongan. Tentu saja lebih kering daripada hujan.” Mike hanya mengangguk. masing-masing bentuknya unik dan sebagainya. matanya tertuju pada sosok Eric yang semakin menjauh. ulangan itu sangat mudah.” Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputarputar di wajahku. Dua kali Mike menanyakan keadaanku.” Jelas. tahu kan. Ia tertawa. Jessica menarik lenganku. Lalu aku berdiri mematung. aku langsung masuk. mataku masih tertuju ke lantai. “Selain itu. aku mengingatkan diriku sendiri. mataku menatap ke bawah. Sepertinya Mike memiliki dugaan yang sama. Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini. seperti biasa Mike duduk di sebelahku. “Kau tidak lapar?” tanya Jessica. udara dipenuhi butiran putih yang berputar-putar. “Tidak apa-apa. lalu mengikuti mereka ke meja. tapi dalam hati berpikir apakah sebaiknya aku djAnGgo 34 . Mike tampak terkejut. Di luar kebiasaan aku memandang sekilas ke meja di pojok. “Bella kenapa sih?” Mike bertanya pada Jessica. Lebih nyaman daripada yang pernah kuperkirakan. Sejujurnya. Ia membungkuk dan mulai membentuk bola putih. yang berjalan jauh memunggungi kami. Jessica menganggapku konyol. “Wow.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean. Ketika kami berjalan keluar kelas. Aku bisa mendengar orang-orang berteriak kesenangan.kelas bahasa Inggris. oke?” aku berkata sambil terus berjalan. “Hari ini aku minum soda saja. sampai saljunya mencair di kaus kakimu. Bola-bola salju melesat dimana-man. “Uuuh. rupanya ini salju pertama di tahun baru.” kata Mike.” kataku. Mike menghampiri ketika kami sampai di pintu. Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica seusai kelas bahasa Spanyol. Ada ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Ia dan Jessica bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami antre membeli makanan. Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan perasaan senang. “Salju. “Halo? Bella? Kau mau apa?” Aku menunduk.” “Kau pernah melihat salju tidak sih?” tanyanya heran. Ada 5 orang di meja itu.

aku akan bolos kelas Biologi. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri. Konyol.bersandiwara saja dan menyembunyikan diri di UKS selama 1 jam kedepan. djAnGgo 35 . Kalau ia menatapku. seperti pengecut. Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja tempat keluarga Cullen berada.

Tapi dia masih memandangimu. Mereka menikmati hari bersalju. dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti apa itu. Bella?” Jessica membuyarkan lamunanku. Berhubung ia tidak kelihatan marah.” desisku.” “Sudah. iya kan?” Aku tidak bisa menahan diri. Tapi ada sesuatu. bisa langsung pulang setelah kelas Olahraga. djAnGgo 36 . Jessica mendengus. Ketelungkupkan kepalaku di tangan. berusaha menemukan perbedaan itu. Meski begitu aku yakin. kubiarkan rambutku terurai menutupi wajah. aku ragu ia akan menolak apapun yang disarankan cowok itu. “Edward Cullen menatapmu. hanya saja mereka lebih mirip adegan film ketimbang kami. Ia hanya kelihatan penasaran. Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka. Artinya aku bebas. Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat. barangkali memerah akibat perang-perangan salju. well. “Dia tidak kelihatan marah. membuat salju disepanjang jalan setapak mencair. sepertinya ia sasaran empuk para pelempar bola salju. semua orang kecuali aku serempak mengeluh. Aku harus bersembunyi di gymnasium sampai lapangan parkir sepi. Hujan turun. dan mengeluh sepanjang perjalanan menuju gedung 4. mereka memang tidak mempedulikan siapa-siapa. menyembunyikan perasaan senangku. Aku menaikkan tudung jaket. “Kau sedang menatap apa. tapi toh dia mengalihkan pandangan. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya. Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan mataku.” kata Jessica. Aku masih gelisah. Aku sedikit mengangkat kepala. tapi ketika kami berjalan menuju kelas. “Tidak. ia tidak terlihat kasar atau tak bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Alice dan Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan rambutnya yang basah ke arah mereka. Jasper. Aku menunduk.” jawabku jujur.Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik bulu mataku. saat sekilas mata kami beradu pandang itu. Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu. terdengar bingung dengan pertanyaanku. Kuputuskan untuk melaksanakan ideku tadi. ia merencanakan perang salju di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami bergabung. aku akan ikut pelajaran Biologi. Selama sisa waktu makan siang. “Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun. seperti anak-anak lainnya. Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike seperti biasa. Mike terus mencerocos. Edward. Aku diam saja. dan bermaksud mengancamnya kalau dia menolak. Dari caranya menatap Mike. dan Emmett rambut mereka berlumur salju yang meleleh... Tak satupun dari mereka melihat ke arahku. ada sesuatu yang berbeda. jangan dilihat lagi. “Apakah seharusnya dia marah?” “Sepertinya dia tidak suka padaku.” Jessica berbisik di telingaku sambill cekikikan. lingkaran di bawah matanya juga sudah tidak terlalu kentara. Mereka sedang tertawa. Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan. matanya mengikuti arah pandanganku. Lalu Mike menyela kami. dengan sangat hati-hati kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. Perutku sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk bersebelahan lagi dengannya. seperti tidak puas. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama.

terkejut karena Edward-lah yang sedang berbicara padaku. meski begitu djAnGgo 37 . iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku. tetapi kursinya diarahkan padaku. Aku mendengar sangat jelas ketika kursi disebelahku bergeser. Mr. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas. Aku mendongak. membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing meja. Ia duduk sejauh mungkin hingga ujung meja.Begitu tiba di kelas. Air menetes dari rambutnya.” kudengar suara merdu dan tenang. “Halo. aku lega karena mejaku masih kosong. Aku terus menjauhkan pandangan dari pintu. Selama beberapa menit pelajaran belum juga dimulai. berantakan. dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak yang mengobrol. tapi mataku tetap terarah pada gambarku.

Tapi matanya tampak hati-hati. “Maksudku. dan tahu apa yang harus kucari. Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Kupelajari slide-nya sebentar. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.” bantahku bodoh. Aku harus bicara. kepalaku sampai pusing. “ Oh.ia terlihat seperti baru saja selesai syuting iklan gel rambut.” Saking bingungnya. Dalam 20 menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang melakukannya dengan benar. Wajahnya yang mempesona tampak bersahabat. Seharusnya mudah. senyum tipis mengembang di bibirnya yang sempurna. Aku yakin dengan pengamatanku. pasti memanggilku Isabella di belakangku. Ia tertawa lembut. langsung meraih tangannya.” “Boleh aku melihatnya?” pintanya ketika aku mulai memindahkan slide-nya. “Tidak. Kau pasti Bella Swan. Tapi bukan itu yang membuatku buru-buru menarik tangan. “Kau mau dipanggil Isabella?” “Tidak. maskudku ayahku. tawa yang menyenangkan. Jari-jarinya dingin bagai es. “Tidak. Meski masih kaget. Ketika ia menyentuhku. “Tapi kupikir Charlie. benar-benar merasa seperti orang bodoh.” lanjutnya. “Kau duluan. Seluruh kota telah menantikan kedatanganmu. hanya sedikit. Tapi aku tak bisa mengatakan apapun yang wajar. aku lebih suka Bella. Bersama partner masing-masing. “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku terbata-bata. “Mulai!” perintahnya. kita harus memisahkan slide akar bawang merah dengan tahapan mitosis yang mereka repretansikan dan diberi label sesuai identitas mereka. “Oh. Slide dalam kotak tak dapat digunakan. “Maaf. “Profase. seolah ia baru saja menggengam tumpukan salju sebelum kelas dimulai. “Aku tidak sempat memperkenalkan diri minggu lalu. Aku menaruh slide pertama di bawah mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya menjadi 40x.” Aku nyengir. dan menuliskannya dengan rapi pada halaman pertama lembar kerja kami. “Aku akan memulainya. ia menunggu.” Senyum itu memudar.” dia setuju. Untungnya Mr. Apakah aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Ia langsung mengganti slide pertama dengan yang kedua. wajahku merah padam. Aku memalingkan wajah malu-malu.” kataku.” Aku memamerkan kemampuanku. Edward mencoba menghentikannya dengan memegang tanganku. aku memperhatikannya mengamati slide lebih cepat daripada yang kulakukan tadi. Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat dia mencoba menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan hari ini. kurasa semua orang tahu namamu. “Profase.” aku mencoba menjelaskan. lalu melihatnya sepintas lalu. “Atau aku bisa memulainya kalau kau mau. Bagaimanapun. djAnGgo 38 .” kataku. pasti itulah yang diketahui orang-orang sini. Aku mengangkat kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang idiot. kenapa kau memanggilku Bella?” Ia tampak bingung. Banner memulai pelajaran saat itu juga. “Namaku Edward Cullen. Aku pernah melakukan percobaan ini. partner?” tanya Edward. jelas ia mengira aku tidak kompeten melakukannya.” ia tidak meneruskan.” gumamnya pelan. jarinya menyengatku bagai aliran listrik. ia tetap meraih mikroskop.

dan merasa kecewa karena dugaanku salah.“Anafase. “Boleh kulihat?” Ia tertawa mengejek. Ia menyerahkannya padaku. Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan penasaran. “Slide 3?” Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya. Sial. Aku berusaha terdengar tidak peduli. dan mendorong mikroskop ke arahku. sepertinya berhati-hati untuk tidak menyentuhku lagi. ia benar. sambil menulis. Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa. djAnGgo 39 .” gumamnya.

“Tidak juga.” jawabku jujur. Hari in warna matanya benar-benar berbeda : cokelat kekuningan yang aneh. Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak terduga. “Jadi. Aku masih berusaha menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini.” gumamku. Ia melihat dari balik bahu. “Sebenarnya dia mengidentifikasi 3 dari 5 slide itu.” Aku mengoper mikroskop sebelum ia memintanya. Ketakutan kembali menyelimutiku. “Bella. “Tidak. Lalu Mr. Banner.” katanya setelah beberapa saat. aku mulai mencoret-coret buku catatanku. Aku ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali melihatnya. Kami selesai duluan. ekspresinya skeptis. tapi tulisan tangannya jelas rapi dan membuatku minder. lalu menuliskannya. Aku bisa saja menuliskannya selagi ia mengamati. lalu melihat lebih serius untuk memeriksa jawaban kami. Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. menatap percobaan yang telah selesai. Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku. pandangan frustasi dan misterius yang sama. “Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?” tanyanya. Banner menatapku. dan kelompok lain membuka buku di bawah meja.” Itu bukan pertanyaan. Ia mengintip sebentar. Edward. warna itu sangat kontras dengan kulit pucat dan rambutnya yang coklat kemerahan. Banner mengganguk. ya kan?” Edward bertanya. “Tidak dengan akar bawang merah.” “Whitefish blastula?” “Yeah. untuk melihat mengapa kami tidak melakukan apa-apa. “Sayang sekali turun salju.” djAnGgo 40 . Seolah-olah ia telah mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang tadi dan berusaha membuktikan bahwa aku salah. dan ia sedang menatapku.” Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah.” Mr.” Sekarang Mr. Tangannya mengepal lagi. “Kupikir ada yang berbeda dengan matamu. Aku bisa melihat Mike dan partnernya membandingkan 2 slide lagi dan lagi. Banner. tapi dengan nuansa keemasan yang sama.” Edward meralat ucapan Mr. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?” “Ya.” “Oh. Atau barangkali Forks membuatku sinting dalam artian sebenarnya. dan aku tak bisa berkonsentrasi. Aku mendongak. tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi kesempatan menggunakan mikroskop?” tanya Mr. Tiba-tiba aku menemukan perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.” “Well. Aku tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar ayamku. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Aku tersenyum malu-malu.” Ia menggumamkan sesuatu lagi sambil berlalu. “Kupikir kalian cocok menjadi partner. Banner menghampiri meja kami. Setelah ia pergi. “Kau memakai lensa kontak ya?” kataku tanpa berpikir. “Atau basah. “Kau tidak suka dingin.“Interfase. kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Aku menunduk. dan bukannya berpura-pura normal seperti yang lain. lebih gelap daripada mentega.

rumit.” ujarnya melamun. Ia tampak terpesona oleh perkataanku.” “Rasanya aku bisa mengerti. begitu menuntut jawaban. aku tak bisa membayangkannya.. tidak blak-blakan seperti dirinya.” gumamku dingin. “Jawabannya. entah untuk alasan apa.“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu.” desaknya. Wajahnya tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya. djAnGgo 41 . “Lalu kenapa kau datang kesini?” Tak seorangpun menayakan itu padaku. “Kau tak tahu bagaimana rasanya..

memandang marah ke papan tulis. Ia terdengar senang..” ujarnya. “Tapi sekarang kau tidak bahagia. namun tatapannya masih tajam. tapi ia terus menatapku dengan pandangan menusuk. Phil baik.” katanya pelan. “Aku tidak mengerti. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.” Edward mencoba menebak.” “Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat sebelum ini. Dia sering berpindah-pindah. ia tidak mengirimku kesini. “Pertanyaan yang sangat bagus. teramat pelan hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Kenapa ini penting buatmu?” tanyaku jengkel.” Suaraku terdengar muram ketika selesai bercerita. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kauperlihatkan kepada orang lain. lalu membuat kesalahan dengan beradu pandang dengannya. “Kau pandai berpura-pura. “Tidak.” Alisnya bertaut. “Itu tidak adil. Ini membuatnya tidak bahagia. “Kapan itu terjadi?” “September lalu. Aku terus menghindari pandangannya. Aku menghela napas.” ujarnya. tapi cukup baik.” bantahnya.” kataku.. bahkan untukku sendiri. tapi tiba-tiba ia terlihat bersimpati. dan aku menjawab tanpa berpikir.” kataku..Lama aku diam. tapi dia merindukan Phil. “Apakah dia terkenal?” tanyanya.” “Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa bepergian bersamanya.” katanya. “Ya sudah. “Tidak juga. jadi sudah kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang berkualitas bersama Charlie. “Phil sering bepergian. bukan pertanyaan.” gumamnya puas. bertanya-tanya kenapa ia masih memandangiku seperti itu. Banner yang sedang berkeliling. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. itu saja. menahan keinginanku untuk menjulurkan lidahku seperti anak berumur 5 tahun. Benar-benar liga kecil. Dia pemain bola. “Dan kau tidak menyukainya. “Kurasa tidak.” Aku setengah tersenyum. Kenapa aku menjelaskan semua ini kepadanya? Ia terus menatapku penasaran. “Ibuku menikah lagi. dan ia tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini. Terlalu muda barangkali.” Suaraku terdengar sedih. Dahiku mengerut. Dia bukan pemain andal.. lalu memalingkan wajah. “Mula-mula ia tinggal denganku. Aku memandangnya tanpa berpikir. dan sekali lagi mengatakan yang sebenarnya. “Apa aku salah?” Aku mencoba mengabaikannya.” Aku nyengir. “Apakah aku mengganggumu?” tanya Edward. “Terus?” tantangku. Aku menghela napas. Tatapannya berubah menilai. Aku sendiri yang mau. mengawasi Mr.” “Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” Aku tak bisa mengerti ketertarikannya. seolah kisah hidupku yang sangat membosankan entah mengapa sangat penting. Ekspresiku sangat djAnGgo 42 . “Barangkali tidak. “Itu tidak terdengar terlalu rumit. Mata keemasannya yang gelap membuatku bingung. suaranya masih ramah. balas tersenyum. “Tidak.” Lagilagi ia melontarkan dugaan.” timpalnya datar. Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu satu-satunya jawaban yang bisa kudapat.” Ia mengangkat bahu. Aku tertawa sinis.

ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.” Terlepas dari semua yang kukatakan dan diduganya. aku malah sulit menebakmu. ia terdengar bersungguh-sungguh. “Kebalikannya.mudah ditebak.” Ia tersenyum lebar. djAnGgo 43 .” “Biasanya.” Wajahku merengut. memamerkan sederet gigi putih bersih yang sempurna. “Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang di kelasku.

Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam tak bergerak itu. “Semua slide itu mirip. tangannya dengan tegang mencengkeram ujung meja. dan aku berbalik lega untuk mendengarkan. Banner menyuruh murid-murid tenang. kali ini lebih baik. masih melihat ke sisi lain mobil. Aku memandang sekelilingku. “Aku pernah melakukan percobaan ini. tapi sekarang bisa kulihat. yang jaraknya 3 mobil dariku. aku menginjak rem tepat pada waktunya. Dan seperti Senin lalu. Mike tidak tamapak senang.” lanjutku sebelum perasaannya terluka. itu saja. Edward langsung meninggalkan kelas dengan gerakan anggun seperti yang dilakukannya Senin lalu. Edward Cullen sedang bersandar di pintu depan Volvo. dan pelajaran Olahraga tidak terlalu menarik perhatianku. Banner menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP. “Cullen tampak cukup ramah hari ini. Ia tampak menikmati percakapan kami. djAnGgo 44 . memastikan tidak ada siapa-siapa.” kataku. dari sudut mataku. Mike satu tim denganku hari ini. Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. Aku berusaha terdengar kasual. Aku membayangkannya dengan ekor bergoyang-goyang. bahwa ia menjauh lagi dariku. Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali giliranku tiba. tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat mikroskop. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku. Aku menarik napas panjang. “Itu buruk sekali. aku memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum. Ketika bel akhirnya berbunyi. tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di trukku yang kering. Aku langsung menyesal. dan menggeraikan rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang. Aku membuka jaket.Mr. terkejut mendengar ucapannya. sekali ini tidak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. melepas tudungnya.” “Gampang saja buatku. yang mungkin membenciku atau tidak. Aku memandang lurus ke depan ketika melewati Volvo itu. Aku langsung mengarahkan pandangan dan memundurkan truk begitu terburu-buru hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat.” ia berkomentar ketika kami mengenakan jas hujan.” Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang perjalanan menuju gymnasium. Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan buku-bukuku. Kunyalakan mesin penghangat. matanya menatapku lekat-lekat. Trukku jenis penghancur. namun sekilas aku bersumpah melihatnya tertawa. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku sekaligus menjalankan posisinya. dan berhati-hati mundur lagi. Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan parkir. Aku tak percaya telah menceritakan kehidupanku yang membosankan kepada cowok aneh namun tampan ini. “Aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya Senin lalu. sehingga lamunanku hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve. Toyota itu beruntung. Kau beruntung berpasangan dengan Cullen.” erangnya.

djAnGgo 45 .

ada sesuatu yang berbeda. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman. Jelas hari ini bakal menjadi mimpi buruk. melapisi atap trukku. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. dan ini membuatku takut. Dan itu sangat. Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Fenomena Ketika paginya aku membuka mata. Aku tak yakin djAnGgo 46 . Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix. sangat bodoh. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering. dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. lalu mengerang ngeri. Dan aku curiga padanya. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Mungkin karena aku masih baru sisini. dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku sisini. sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendirian. semangatku pergi ke sekolah lebih karena Edward Cullen. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini. Kalau mau jujur. kualihkan ketakutanku bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen. Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang. Masih cahaya hijau kelabu yang khas hari mendung di hutan. Hujan yang turun kemarin telah membeku.3. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin. melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola yang sangat indah. tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. dan membuat jalanan menjadi putih. Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk. Ada cahaya. Sambil mengemudi ke sekolah. Dilihat dari berbagai sisi. dengan memikirkan Mike dan Eric. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah. dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukannya kesepian. Apapun alasannya. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat keluar. Barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu. ataupun bertemu teman-teman baruku. tapi bagaimanapun juga cerah. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat. kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukannya menyedihkan.

djAnGgo 47 . Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu. Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah. dan perhatian Charlie yang diamdiam ini mengejutkanku. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Meski begitu. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku.apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja. Tenggorokkanku tiba-tiba tercekat. dan aku berjalan ke bagian belakang truk. Aku sedang berdiri di pojok belakang truk. ketika mendengar suara aneh. aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. tak ingin tergelincir. Aku melihat sesuatu berwarna perak. dan memeriksa banku. Aku tak terbiasa diurus. dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan. aku mengemudi sangat pelan.

Edward Cullen berdiri 4 mobil dariku. masih berputar dan meluncur. “Hati-hati. Aku melihat beberapa hal bersamaan. nada suaranya kembali serius. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras. yang segera berubah sangat keras hingga memekakan telinga. Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu. “Itulah yang kupikirkan.Itu suara lengkingan tinggi. sesuatu menerjangku. Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk. Aku berusaha menjernihkan pikiran. Lalu tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. dan aku berdiri diantara keduanya. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur. dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum terdengar jeritan.” Suaraku terdengar aneh. “Bagaimana bisa.” kataku. dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak. “Bella? Kau baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku.” Anehnya suara Edward terdengar seperti menahan tawa. tangantangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van.” katanya. Tapi aku tak sempat memperhatikan yang lainnya. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk. dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku. djAnGgo 48 . berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. keras. nyaris menabrakku lagi.” suaraku perlahan menghilang. lalu terdengar suara kaca pecah... karena van itu masih meluncur mendekat. memandangku ngeri. tepat si tempat kakiku berada satu detik sebelumnya. aku bisa mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku. Bella. Dalam kekacauan yang tibatiba. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata. benar-benar terkejut. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku. dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah. Aku mendongak. Yang satu tiba-tiba mencengkram bagian bawah van. sampai kakiku menabrak ban mobil coklat itu. terkejut. dan sesuatu menarikku. berhamburan ke jalanan. “Aduh. “Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?” “Aku berdiri di sebelahmu. Aku mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat di satu sisi tubuhnya.” Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas kepala kiriku. dan van itu berhenti. semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Sebaliknya semburan adrenalin membuat otakku bekerja lebih cepat.” ia mengingatkan ketika aku menggeser tubuhku. mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan. mengumpulkan kekuatan. Wajahnya tampak mencolok diantara lautan wajah disana. aku bisa mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di telingaku. tapi bukan dari arah yang semula kuduga. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es. bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku. Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga.

” seseorang memerintah. kerumunan orang dengan air mata membasahi wajah mereka.” “Tapi dingin. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami.Aku mencoba duduk dan kali ini dia membiarkanku. “Keluarkan Tyler dari bawah van!” terdengar teriakan lain. Aku memandang wajahnya yang waswas dan polos. Apa yang kutanyakan padanya tadi? Lalu mereka menemukan kami. Aku mencoba bangkit. “Sekarang jangan bergerak dulu. tapi tangan Edward yang dingin menahan bahuku. saling berteriak. berteriak kepada kami. Aku terkejut karena ia tertawa kecil. djAnGgo 49 . melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. dan sekai lagi aku merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna keemasan.” aku mengeluh. Ada kegetiran dalam suaranya. “Jangan bergerak.

Yang membuatnya lebih buruk.” “Aku melihatmu. dan aku berusaha melakukan hal yang sama. Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah sakit wilayah. “Kau ada di sebelah mobilmu. Aku mengenali Tyler Crowler.. “Oke. Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang penyangga di leherku. ruangan panjang dengan barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola warna pastel. Keluarganya tampak di kejauhan. Edward bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali. tiba-tiba terdengar putus asa. untuk memindahkan van itu cukup jauh dari kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. “Tidak. Ketika juru rawat pergi. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah. temanku di kelas Pemerintahan. Menjengkelkan. aku benar. tapi tak ada sedikitpun kepedulian akan keselamatan saudara mereka.” Ia menyalurkan kekuatan pandangannya padaku. Mr. suaranya yang lembut mengodaku. aku cepatcepat melepaskan Velcro itu dan melemparnya ke kolong tempat tidur. “Aku baik-baik saja.” Rahangku mengeras. Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang baru saja kulihat.” Ekspresinya berubah kaku. “Kumohon. “Bella.” “Kenapa?” desakku. Yang membuat segalanya lebih parah.” tukasnya.. Mereka membawaku ke UGD.” Sekeliling kami kacau. Edward dengan kasar menolak. tapi Edward si penghianat memberitahu mereka kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak.“Kau ada di sebelah sana.. ekspresi mereka beragam. Aku merasa konyol ketika mereka menurunkan aku.” aku mengulanginya dengan nada marah. sebuah tandu diangkut ke tempat tidur di sebelahku. Kepala Polisi Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan selamat. aku melihat lekukan dalam di bemper mobil cokelat itu. lekukan sangat dalam yang sesuai dengan kontur bahu Edward.” Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk menanyakan keadaanku.” tiba-tiba aku ingat dan tawa kecilnya langsung berhenti. Dad.. Varner dan Pelatih Clapp. Butuh enam petugas medis dan dua guru. Aku berusaha tidak mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan berbagai pertanyaan. balutan perban bernoda darah tampak erat membungkus kepalanya. “Bella!” ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu. solusi yang menghilangkan asumsi bahwa aku gila. Lalu datang pasien lain. Sepertinya seluruh sekolah ada di sana. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya. “Tidak. “Percayalah padaku. “Aku tidak apa-apa. aku sedang berdiri bersamamu. ketika mereka mengangkutku ke dalam ambulans. dan aku menarikmu dari sana. Char. Seolah-olah ia telah menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak bingkai baja itu.” keluhku. Ketika mereka mengangkatku menjauh dari mobil. “Maukah kau berjanji menceritakan semuanya nanti?” “Ya. Tyler kelihatan seratus kali lebih parah daripada yang djAnGgo 50 . Aku bisa mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras mendekat. mulai dari protes sampai marah. Edward naik di depan. Bella. seolah memberitahu sesuatu yang penting.” ia memohon. dan ia akan mengakuinya. kuputuskan aku tak perlu lagi mengenakan penyangga leher bodoh itu. Warna emas di matanya berkilat-kilat. Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku mendapatkan privasi. Aku menggertakkan gigiku.

maafkan aku!” “Aku tidak apa-apa. memperlihatkan luka gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi kirinya. Tyler. “Bella. Ia menatapku waswas. para juru rawat mulai melepaskan perban di kepalanya. kau tampak buruk. apa kau baik-baik saja?” Ketika kami bicara. djAnGgo 51 .kurasakan.

” dr. Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.” Aku tahu aku tidak sinting. Kukatakan kepada mereka aku baik-baik saja. “Tapi jangan khawatir. wow.” katanya... Cullen berkata dengan suara sangat merdu. ” Tyler memulai.” Ia meringis ketika salah satu juru rawat mengelap wajahnya. apa kata mereka?” ia bertanya kepadaku. Edward menarikku.” “Mmm. Dari yang dideskripsikan Charlie. Aku memandangnya.. dan lebih tampan dari bintang film manapun yang pernah kulihat.” Aku tak pernah pandai berbohong. aku sama sekali tidak terdengar meyakinkan. “Jadi. ia terus saja menyiksa dirinya sendiri.” jawabnya. mudah-mudahan untuk terakhir kali. pirang. Apa dia baik-baik saja?” “Kurasa begitu... dan aku benar. Jadi. aku sangat menyesal. “Siapa?” “Edward Cullen. dengan lingkaran di bawah matanya. ini pasti ayah Edward. dan mobilku selip. “bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. “Tidak ada darah. Meski begitu ia pucat. tampak lelah. Tidak mudah.. djAnGgo 52 . Aku bahkan tidak mengalami gegar otak. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya.” “Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada disana. Edward berdiri di ujung tempat tidurku. akan lebih wajar jika aku mengerling padanya. tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu. “Jangan khawatirkan itu. Mataku langsung terbuka. namun menghadap ke arahku. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler. terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku. aku datang untuk menyelamatkanmu. menunggu. “Kupikir aku bakal membunuhmu! Aku mengemudi terlalu cepat. Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di atas kepalaku dan menyalakannya.Ia mengabaikanku.” Lalu seorang dokter menghampiri.. “Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?” “Itu cuma soal siapa yang kaukenal. Edward. tidak seru. “Apa dia tidur?” aku mendengar suara yang merdu bertanya. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. memamerkan giginya yang sempurna. “Hei.. tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. lalu kau menghilang. tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. Miss Swan.” Ia terlihat bingung.. “Cullen? Aku tidak melihatnya.” kataku.” aku mengeluh. Ia masih muda. dan mulutku menganga melihatnya. Aku bertanya apakah aku boleh pergi. aku terperangkap di UGD.. kau tidak mengenaiku. Ia terus menggumamkan penyesalan. nyengir. dia berdiri di sebelahku. kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. “Aku baik-baik saja. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merongent kepalaku. Dia ada disini entah dimana. Ia nyengir lagi. “Jadi. Apa yang terjadi? Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan.

“Well. “Apakah dia boleh pergi ke sekolah?” “Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat. Aku mendengar suara tawa. kau bisa pulang dengannya sekarang.” “Tidak apa-apa.” katanya.” Aku menatap Edward. djAnGgo 53 . Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku.” “Bisakah aku kembali ke sekolah?” tanyaku. Ia memperhatikan ketika aku meringis. kepalamu terbentur cukup keras. ayahmu berada di ruang tunggu. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apapun dengan penglihatanmu. dan melihat Edward tersenyum meremehkan. “Apa kepalamu sakit? Kata Edward.” kata Edward ponggah. membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku. Mataku menyipit.“Hasil rontgenmu bagus.” aku mengulangi sambil menghela napas. “Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini.” Aku sudah pernah mengalami yang lebih parah. “Sakit?” tanyanya. “Tidak juga. lalu menatap Edward geram.

Cullen meralat.” ujar dr. Cullen. Ia menatapku jengkel. Ia menatapku tak percaya. “Sakitnya tidak separah itu kok. tapi itu justru membuatku semakin curiga. dan kau sama sekali tidak terluka. “Yang kutahu kau tak ada di dekatku. “Kau sudah janji. menutupi wajahku dengan tangan. djAnGgo 54 .” Aku bisa mendengar betapa itu terdengar sinting. Ia tampak waswas. tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan. ya. Tapi wajahnya tegang. aku tak berhutang apa-apa padamu. “Ayahmmu sudah menunggumu. Cullen menangkapku.“Sebenarnya.. dan van itu seharusnya menghancurkan kakiku. kalau kau tidak keberatan. Tatapannya dingin. well. “Kedengarannya kau sangat beruntung. menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat.” kata dr. Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.” ia memberikan saran sambil memegangiku. tapi nyatanya tidak. jadi jangan bilang aku mengarang semuanya. dan menghampiri tempat tidur sebelah. tidak!” aku berkeras. Aku begitu marah sehingga bisa merasakan air mata mulai menggenangi mataku. Bella?” “Aku mau tahu yang sebenarnya. Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. kau tak tahu apa yang kau bicarakan.” kataku. lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. rahangnya sekonyong-konyong mengeras. “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” aku berbisik. Aku memandang dr. “Aku baik-baik saja. Lalu ia berpaling memandang Tyler.” dr. aku bergeser ke sisi Edward. “Aku menyelamatan hidupmu. juga di mobil yang lain.” aku meyakinkannya lagi.” “Bella. Ia mundur selangkah. “Kau mau apa sih?” tanyanya jengkel. “Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama. dan dr. Aku nyaris berlari untuk mngejarnya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek.” Nada suaranya tajam. Van itu mustinya sudah menghancurkan kita berdua. Begitu dokter memunggungiku.” desakku. Terlalu cepat. “Kau mau tinggal disini?” “Tidak. “Oh. Kata-kata yang mengalir tak seketus yang kuinginkan. “Kau berhutang penjelasan padaku.” ia berkata kepada Tyler. Cullen. “Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu.” “Oh tidak. dan mulai memeriksa luka-lukanya. dan tanganmu meninggalkan lekukan di badan mobil itu. Cullen dan Tyler. “Aku ingin bicara berdua saja denganmu. Itu seperti kalimat yang dibawakan dengan sangat baik sekali oleh seorang aktor berbakat. Emosiku meluap-luap sekarang. dan aku tak bisa melanjutkannya.. sang dokter sedang memikirkannya. “Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku.” erangku.” “Apa menurutmu yang terjadi?” sergah Edward.” aku berkeras. aku terpeleset. “Minum Tyfenol untuk mengurangi sakitnya.” Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. “Kaupikir aku mengangkat mobil van itu dari atas tubuhmu?” nada suaranya mempertanyakan kewarasanku. kepalamu terbentur. kutatap dia tajam-tajam. tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas didepannya. tapi kau menahannya. Alis dr.” aku mengingatkannya. aku berusaha menahannya dengan menggertakkan gigiku.” katanya sepelan mungkin. tampak bersalah.” Ia balas menantang. Lalu semua terlontar begitu saja. “Tak ada yang salah dengan kepalaku. “sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini. Cullen terangkat. Intuisiku tepat.” aku menekankann ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat. “Apa yang kau mau dariku. Tyler juga tidak melihatmu. ia berbalik menghadapku.

djAnGgo 55 .” Suaranya terdengar mengejek sekarang. rahangku mengeras. “Tak ada yang bakal mempercayai itu.Aku hanya mengangguk sekali. kau tahu.

Aku melambai malu-malu ke arah teman-temanku. dan katanya aku baik-baik saja dan bisa pulang. Aku masih kesal. Ia memohon supaya aku mau pulang. Charlie bergegas ke sisiku. “Ayo. dan Eric ada disana. Ruang tunggu lebih tidak menyenangkan dari yang kukhawatirkan. marah dan berharap. mulai bergabung dengan kami. Sepertinya semua wajah yang kukenal di Forks ada disana.” kuyakinkan dirinya dengan nada jengkel. berharap bisa menunjukkan bahwa mereka tidak perlu khawatir lagi. djAnGgo 56 . hati-hati mengendalikan amarahku. “Aku tidak apa-apa. kuharap kau menikmati kekecewaanmu.” Kami saling menatap marah dalam hening.” “Kalau begitu. Charlie akhirnya bicara. Charlie meletakkan lengannya di punggungku. Jessica. itulah pertama kali aku merasakannya. Wajahnya tampak kaget. “Kau memberitahu Mom!” “Maaf.“Aku takkan memberitahu siapa-siapa. “Mm. tak ingin bebasa-basi. “Aku tak tahu. Aku begitu larut dalam pikiranku sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Charlie di dekatku. Aku sangat marah. Dan agak lebih terobsesi kepada Edward.” Aku membanting pintu mobil patroli sedikit lebih keras daripada yang seharusnya ketika keluar.” desakku. Aku harus memberitahunya setidaknya tiga puluh kali bahwa aku baik-baik saja sebelum ia bisa tenang.” pintaku. lalu membimbingku ke pintu keluar yang terbuat dari kaca.. Tentu saja ibuku histeris. yang masih tak bisa kupercaya. kau harus menelepon Renée. Rasanya sangat lega. kan?” “Tidak. Aku yakin sikap Edward di lorong tadi merupakan jawaban atas halhal aneh yang baru kusaksikan. melupakan kenyataan bahwa saat itu rumah kosong. Lalu ia berbalik dan menjauh.” bisiknya. Setelah bisa berjalan..” Ia menunduk bersalah. Ketika kami tiba di rumah. Cullen memeriksaku. Akulah yang pertama bicara. Sepanjang perjalanan kami berdiam diri. Ia berhenti. hingga butuh beberapa menit agar bisa bergerak. tapi permohonan Mom lebih mudah kutolak daripada yang kubayangkan. dan sesaat wajahnya yang indah tak disangka-sangka berubah rapuh.” Aku mengucapkan setiap kata dengan pelan.” “Tak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?” “Terima kasih. “Aku tak suka berbohong. Rasanya seperti menatap malaikat penghancur. “Kenapa kau bahkan peduli?” tanyaku dingin. aku mengangkat tangan. Aku terkejut. Mike. menatapku. “Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” “Ini penting buatku. berasda di mobil patroli. berusaha untuk tetap fokus.” Aku menunggu. “Apa kata dokter?” “Dr. jadi sebaiknya ada alasannya yang baik mengapa aku melakukannya.” Aku menghela napas. Aku asyik dengan misteri yang disimpan Edward.. tidak benar-benar menyentuhku. Perhatianku nyaris teralihkan oleh wajahnya yang pucat dan menawan. “Kau takkan menyerah. Bodoh. aku melangkah pelan menuju pintu keluar di ujung lorong..

Charlie terus-menerus mengawasiku. aku tertidur pulas.bodoh. Obat ini lumayan membantu. membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak terlalu ingin meninggalkan Forks sebagaimana seharusnya. dan begitu rasa sakitnya mereda. Itu adalah malam pertama aku memimpikan Edward Cullen djAnGgo 57 . bodoh. sebagaimana yang seharusnya diinginkan orang normal dan waras. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal malam itu. Aku berhenti di perjalanan untuk mengambil 3 Tyfenol di kamar mandi.

meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana. sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku sangat ingin bicara dengannya. dan orangorang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. ketika tangannya tiba-tiba mengepal. Aku berusaha terdengar meyakinkan. tak ada kesimpulan lain yang bisa kutarik selain itu. aku tak bisa mengejarnya. Ketika ia duduk di sebelahku di kelas. Merasa kecewa. aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. hanya punggungnya ketika ia menjauh dari diriku. tidak makan. Edward. terobsesi untuk memperbaiki segalanya. meninggalkanku dalam kegelapan. Yang membuatku cemas. entah dengan cara apa. tapi ia tetap berkeras. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Tak seorangpun sepertinya peduli tentang Edward. Tak satupun dari mereka. Mike. Ia mengikuti dan duduk bersamaku di meja makan siang yang sekarang penuh orang.4. Ia berharap tak pernah menarikku dari depan mobil Tyler. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Terkahir kali aku bertemu dengannya. meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan. tanpa melirik kanan-kiri. dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. tapi selalu bayangan yang tak pernah bisa kujangkau. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya ketimbang yang mereka rasakan satu sama lain. Ia sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi. tak peduli seberapa keras aku memanggil. Jessica. Aku tak bisa melihat wajahnya. menegangkan. djAnGgo 58 . dan pada awalnya memalukan. hanya mengobrol sendiri. kulitnya meregang bahkan lebih putih dari tulangnya. Betapa menyedihkan. terutama karena aku baik-baik saja. Tak seorangpun memperhatikannya seperti aku. mencoba terlihat sopan. Karena ketakutan. Eric. dan sejauh mungkin. aku berpikir ia tidak secuek penampilannya. bagaimana dia menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan. memandang ke arahku lagi. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. aku menyadari alasan yang masuk akal. dengan tidak mungkinnya. Keluarga Cullen dan Hale duduk di meja yang sama seperti biasa. Aku duduk. aku terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi untuk waktu yang sepertinya lama sekali. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan melebihi segalanya adalah agar ia melupakan kejadian itu. “Halo. di luar ruang UGD. kami berdua begitu marah. Selama sebulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman. terutama Edward. Hanya kadang-kadang. tak seorangpun menyadari keberadaan Edward seperti aku. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku. Tak peduli seberapa cepat aku berlari. berharap ia akan berpaling ke arahku. Edward tak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. ia tak pernah berbalik. Setelah itu ia nyaris ada dalam mimpiku setiap malam. Undangan Dalam mimpiku sangat gelap. dan cahaya samar-samar di sana terpancar dari kulit Edward.” sapaku ramah. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorangpun melihatnya berdiri jauh dariku. sebelum ia tiba-tiba. menyelamatkan hidupku. entah bagaimana caranya.

Dan itulah kontak terakhirku dengannya.Ia menoleh sedikit tanpa memandang mataku. meskipun ia ada disana. mengangguk sekali. di kafetaria atau di djAnGgo 59 . Kadangkadang aku memerhatikannya. tak sanggup menahan diriku. sejengkal dariku. lalu berpaling lagi. setiap hari. meskipun hanya dari jauh.

Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. Aku berusaha meyakinkannya. tidak seperti biasa. Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. bahwa cuacalah yang membuatku sedih. ia menelepon hari Selasa pertama bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi 2 minggu lagi. Dan mimpi-mimpiku berlanjut. tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Jess. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas. kau tak ingin mengajaknya?” ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan. pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya.. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. “Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang.ku membuat Renée menyadari keadaanku yang tertekan.” “Well. Mike kecewa tidak bisa main perangperangan salju lagi. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku.” aku mendukungnya. Jessica membuatku menyadari 1 masalah lagi. wajahnya yang suram pertanda buruk. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Edward tanpa sadar miring ke arahku. Ia menelepon beberapa kali. Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. Meskipun aku berlagak tak peduli. jelas tidak menyukai reaksiku. “Bakal asyik banget lho. aku sadar Edward duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya. mengabaikan Edward. Seperti biasa. djAnGgo 60 . Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas.. ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike. Bila kulihat ia khawatir aksi penyelamatan Edward yang gagah berani bisa saja membuatku terkesan. “Tidak. aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak.” aku meyakinkannya.. Setidaknya Mike senang melihat kebisuan antara aku dan pasangan lab-ku. Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah rekaan imajinasiku. Aku merasa iba. “Bersenang-senanglah dengan Mike. Ia semakin percaya diri.” Aku berhenti sesaat. Mike juga diam. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap.” ia berkata ragu sambil mengamati senyumku.. membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. seperti ia mengabaikan kami semua. “Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi.” Usahanya membujukku benar-benar setengah hati. duduk di ujung mejaku sebelum pelajaran Biologi dimulai. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya. “Jadi. well.” kata Mike menatap lantai. “Aku bertanya-tanya kalau-kalau..parkiran. kalau kau berencana mengajakku. dan Mike lega menyadari yang terjadi adalah kebalikannya. mengkhawatirkan aku.” Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat..” “Kenapa kau bilang begitu?” Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku. berbincang sangat akrab dengan Eric. “Aku bilang padanya aku akan memikirkannya. Aku benarbenar merana. emosi yang terpancar dalam e-mail -e-mail. “Kau yakin tidak keberatan. seperti ia juga tak memedulikanku.” “Bagus dong. aku tak akan pergi. Kalau Mike menolak ajakannya. dan aku takut menanyakan alasannya.

“Apa kau sudah mengajak seseorang?” Apakah Edward sadar Mike menatap nanar ke arahnya? “Tidak.” aku menyakinkannya. jadi aku langsung menyusun rencana baru.” tuturku. “Tak bisakah kau pergi lain kali?” djAnGgo 61 . tahu-tahu saja itu waktu yang tepat untuk melakukannya.” kataku. Lagipula aku memang perlu ke luar kota. “Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle. kurasa kau harus bilang ya padanya. Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa.“Mike. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa.” “Kenapa tidak?” desak Mike.

Tak diragukan lagi aku akan berpaling. “Menyesal kenapa?” “Karena tidak mebiarkan van bodoh itu menimpaku. “Lebih baik kalau kita tidak berteman. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Perlahan aku berbalik. menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar. berusaha menenangkan diri. “Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini.” jawab Edward. Banner.” Mataku menyipit. terkejut. Dan Edward sedang menatapku penasaran. aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku. Mr.” Ia terdengar tulus. hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. mataku tetap terpejam. “Aku tahu sikapku sangat kasar. mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku.” kataku. Ekspresiku hati-hati ketika akhirnya menghadapnya. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. jelas membuatnya kaget. Ketika bel akhirnya berbunyi. Wajahnya sangat serius. Tapi lebih baik seperti itu.” kataku. “Mr. lalu berbalik. tidak bisa. lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini. “Apa? Apa kau berbicara denganku lagi?” akhirnya aku bertanya. nada kesal yang tidak disengaja menyelinap dalam suaraku. aku menggerai rambutku ke samping bahu kananku untuk menyembunyikan wajah. ini tidak sehat. kau benar. dan berhubung ini tidak mungkin. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku. Banner mulai bicara. hati-hati. “Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama. sungguh. Tanganku mulai gemetaran. Edward?” aku bertanya. Banner. “Bella?” Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu. dengan muram berjalan ke mejanya. berharap ia akan langsung membuang muka. Pengecut seperti biasa. seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukkannya beberapa minggu yang singkat. Aku balas menatap.” gumamnya. Cullen?” panggil Mr.” ia menjelaskan. Aku menghela napas dan membuka mata. “Siklus Krebs. ekspresinya tidak bisa kutebak. Menyedihkan. “Aku minta maaf. Lebih dari menyedihkan. enggan. Aku menunduk memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku. Aku berusaha sangat keras agar tidak memedulikannya selama sisa pelajaran. Aku tak ingin merasakan apa yang kutahu akan kurasakan ketika aku memandang wajahnya yang kelewat sempurna.“Maaf. “Percayalah. Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening. Ia menunggu. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya.” Aku membuka mata. tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. sadar aku mengertakkan gigi. Ia tidak mengatakan apa-apa.” “Yeah.” “Menyesal?”Perkataan itu dan nada suaraku. raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. “Lalu apa yang kau inginkan. itu tidak baik.” djAnGgo 62 . “Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. berharap ia langsung pergi seperti biasa. Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung.” desisku tertahan. setidaknya agar ia tidak tahu bahwa aku peduli.

Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. Ketika akhirnya bicara. tapi tentu saja ujung sepatu botku tersangkut sudut pintu sehingga buku-buku jatuh berantakan. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis. sempat berpikir untuk pergi saja. Aku terdiam beberapa saat.Ia terpana. “Kau tidak tahu apa-apa.” Ia jelas sangat marah. Lalu aku menghela napas dan djAnGgo 63 . Kukumpulkan semua buku-bukuku. ia nyaris terdengar marah.” tukasku. Ia memandangku keheranan. “Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?” “Aku tahu kau merasa begitu. lalu berdiri dan berjalan ke pintu.

Edward sudah berada di mobilnya. Aku melirik spionku. banyak orang yang ingin kuhindari. bibirnya terkaput. ia sudah menyusun semuanya kembali. “Hei. Seperti biasa. Ketika duduk disana. Cullen menghalangiku.” kataku. memotong jalanku.” “Oh. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku. Aku mendengar suara tawa samar-samar.” “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Orangtua Tyler terpaksa menjual van mereka. pintunya terbuka.membungkuk untuk memungutinya. tapi aku sering sekali terjatuh. rasanya lega ketika sekolah usai. jelas kemacetan ini bukan salahku.” balasnya geram.” aku menyetujuinya. Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. tapi masih di sekitar kafetaria. “Well. “Kupikir ceweklah yang mengajak. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya. “Oh. Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu. menunggu keluarganya.” katanya. “Hai. dan membantingnya keraskeras. Edward sedang melangkah melewati depan trukku. ternyata Tyler. tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan. Keadaan di gymnsium kacau.” ia mengakuinya malu-malu. aku tahu. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. bingung. terlalu bingung untuk berdiplomasi. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Aku membuka pintu. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku. “Sama-sama. memandang kemana saja kecuali mobil di depanku. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Aku harus mengganti lampu belakangnya. Eric. lalu menyerah. Aku berhasil membukanya separuh. wajahnya tegang. meluncur mulus dihadapanku. Aku nyaris berlari ke truk. maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?” Suaranya bergetar. mungkin lain kali.” kataku dingin. aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari. “Maaf. aku hanya bertanya-tanya. Aku memandang. Tepat di belakangku. dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. ya. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. Ia ada disana. Kami belajar basket. berpaling darinya.” “Tentu. tapi ada kelewat banyak saksi. “Terima kasih untuk ajakannya. jadi kata-katanya berkutnya mengagetkanku. Keras sekali. Tyler. “Well. Kadang-kadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. lalu menggigit bibir. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku. menatap lurus ke depan. “Terima kasih. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Edward. dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Matanya menyipit. aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak djAnGgo 64 . Dengan malas-malasan ia kembali ke dalam sekolah. melompat masuk.” Aku kesal. “Ehh. Mobilnya masih menyala. aku mendengar suara ketukan di jendela truk. Aku langsung bangkit berdiri.. hanya selang 2 kendaraan. dan itu bagus.. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku.” sapaku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. Bella. Ia berhenti disana. Aku mulai melangkah lagi.

“Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” lanjutnya. Tyler. “Yeah. Mike sudah bilang. “Aku akan pergi ke luar kota.” djAnGgo 65 . Aku harus mengingatingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.” Suaraku agak ketus. ” Ia mengangkat bahu.” akunya. “Lalu kenapa. “Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus. Ini tidak mungkin terjadi.” Ia nyengir.disini.

Oke, ini benar-benar salahnya. “Maaf, Tyler,” kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.” “Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom.” Sebelum aku bisa menyahut, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Alice, Rosalie, Emmett, dan Jasper masuk ke Volvo. Dari kaca spionnya, mata Edward tertuju padaku. Tak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... 1 tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Kuinjak pedal gasnya. Tapi mereka semua sudah masuk di dalam, dan Edward memacu kencang Volvonya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan. Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Masaknya lama, dan itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja Mom atau Charlie. Ternyata Jessica, dan ia sangat ceria; Mike menemuinya sepulang sekolah dan menerima ajakannya. Aku mengatakan ikut senang sambil mengaduk tumisanku. Ia harus pergi, ia ingin menelepon dan memberitahu Angela dan Lauren. Aku memberinya saran, dengan nada kasual, bahwa Angela, si pemalu yang satu kelas Biologi denganku, bisa mengajak Eric. Dan Lauren, si jutek yang selalu mengabaikanku saat makan siang, bisa mengajak Tyler; kudengar belum ada yang mengajaknya. Jess pikir itu ide bagus. Berhubung sekarang ia yakin dengan Mike, ia terdengar tulus saat mengharapkan kehadiranku di pesta dansa. Lagi-lagi aku menceritakan rencanaku tentang Seattle. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Edward hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman? Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku, pikirku marah, mataku perih, jelas bukan karen irisan bawang. Aku tidak menarik . Sementara Edward sangat. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan 1 tangan. Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantaipantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.

djAnGgo

66

Charlie tampak curiga ketika ia pulang dan mencium aroma cabe hijau. Aku tak bisa menyalahkannya, makanan Meksiko yang layak dimakan dan dekat dengan Forks barangkali ada di selatan California. Tapi dia polisi, bahkan meskipun polisi kota kecil, jadi dia cukup berani mencicipinya. Sepertinya ia suka. Menyenangkan rasanya melihat ia perlahan-lahan mempercayakan urusan dapur kepadaku. “Dad?” aku bertanya ketika dia hampir selesai makan. “Yeah, Bella?” “Mmm, aku hanyaingin memberitahumu, aku akan berakhir pekan di Seattle Sabtu depan... kalau boleh?” Aku tidak ingin minta izin, itu memberi kesan buruk, tapi aku merasa kasar, jadi aku menyelipkannya di bagian akhir. “Kenapa?” Ia terkejut, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Forks. “Well, aku ingin membeli beberapa buku, koleksi perpustakan disini sedikit sekali, dan barangkali membeli beberapa pakaian juga.” Uangku lebih banyak dari biasanya, berkat Charlie, mengingat aku tak perlu membeli mobil. Bukan berarti truk itu tidak menghabiskan banyak biaya. Bahan bakarnya boros sekali. “Barangkali sistem pembuangan truk itu bermasalah,” katanya, menyuarakan pikiranku.

djAnGgo

67

“Aku tahu, aku akan berhenti di Montesano dan Olympia, dan di Tacoma kalau terpaksa.” “Apa kau pergi sendirian?” tanyanya, dan aku tak bisa menebak apakah ia curiga aku punya pacar gelap atau hanya mengkhawatirkan trukku. “Ya.” “Seattle kota besar, kau bisa tersesat,” ujarnya waswas. “Dad, Phoenix lima kali lebih besar daripada Seattle, dan aku bisa membaca peta, jangan khawatir.” “Kau mau aku ikut bersamamu?” Aku berusaha menyembunyikan rasa ngeriku mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa, Dad, barangkali aku akan seharian menjajal pakaian, sangat membosankan.” “Oh, oke.” Membayangkan bakal duduk di toko pakaian wanita langsung mematikan niatnya. “Terima kasih.” Aku tersenyum. “Apa kau akan kembali saat pesta dansa?” Grr. Hanya di kota sekecil ini seorang ayah mengetahui kapan pesta dansa sekolah diadakan. “Tidak, aku tidak berdansa, Dad.” Dari semua orang di dunia ini, harusnya dia mengetahuinya mengingat aku tidak mewarisi masalah keseimbanganku dari ibuku. Ia ternyata mengerti. “Oh, ya benar,” katanya. Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Ketika aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului aku. Aku langsung menegakkan tubuhku. Edward Cullen tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku. “Bagaimana kau melakukannya?” tanyaku kaget sekaligus sebal. “Melakukan apa?” tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku. “Muncul tiba-tiba.” “Bella, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu. Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri. “Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?”tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan. “Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati.” “Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan,” oloknya. “Kau...” ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur. “Dan aku tidak berpura-pura kau tidak ada,” lanjutnya. “Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati rasanya? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?” Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap. “Bella, kau benar-benar sinting,” katanya, suaranya dingin. Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya. “Tunggu,” panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah. “Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar,” katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya. “Aku tidak bilang itu tidak benar,” lanjutnya, “tapi bagaimanapun juga itu kasar.”

djAnGgo

68

“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?” gerutuku. “Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku,” ia tertawa. Sepertinya selera humor Edward sudah kembali. “Kau ini berkepribadian ganda ya?” tanyaku ketus.

djAnGgo

69

“Kau melakukannya lagi.” Aku menghela napas. “Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi, ” “Kau sedang melucu ya?” aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya. Matanya bersinar jail. “Izinkan aku menyelesaikannya.” Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya. “Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan.” Benar-benar tak terduga. “Apa?” Aku tak yakin maksud perkataannya. “Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” “Dengan siapa?” tanyaku terkesima. “Tentu saja aku.” Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental. Aku masih tertegun. “Kenapa?” “Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi, dan, sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana.” “Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu.” Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi. “Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?” Ia berhasil menyusulku. “Kupikir itu bukan urusanmu.” Dasar pemilik Volvo silver tolol. “Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.” “Jujur saja, Edward.” Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya. “Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku.” “Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu.” “Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas.” Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa lebih mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas. “Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku,” ia menjelaskan. “Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas. “Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?” tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius. “Kau benar-benar harus menjauh dariku,” ia mengingatkan. “Sampai ketemu di kelas.” Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.

djAnGgo

70

djAnGgo

71

5. Golongan darah
Aku berjalan menuju kelas bahasa Inggris dengan setengah melamun. Aku bahkan tidak menyadari ketika aku sampai, pelajaran sudah dimulai. “Terima kasih sudah datang, Miss Swan,” sindir Mr. Mason. Wajahku merah padam dan aku bergegas ke tempat dudukku. Ketika pelajaran berakhir, barulah aku menyadari Mike tidak duduk di sebelahku seperti biasa. Aku merasakan cubitan rasa bersalah. Tapi ia dan Eric menungguku di pintu seperti biasa, jadi aku menyimpulkan mereka sudah sedikit memaafkanku. Mike sudah lebih cerewet ketika kami berjalan, dan semakin bersemangat ketika membicarakan prakiraan cuaca untuk akhir pekan ini. Hujan diperkirakan akan berhenti sebentar, dan itu berarti berita baik untuk rencananya jalan-jalan ke pantai. Aku berusaha terdengar bersemangat, sebagai ganti karena telah membuatnya kecewa kemarin. Tetap saja: hujan atau tidak hujan, suhunya paling-paling sekitar 4°C, kalau kami beruntung. Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Edward, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benarbenar mendengar yang kudengar tadi pagi. Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Kekecewaan menyergapku ketika pandanganku tertuju ke mejanya. Keempat saudaranya ada disana, tapi dia tidak ada. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku. “Edward Cullen sedang memandangimu lagi,” kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku. “Aku kepingin tahu kenapa ya dia duduk sendirian hari ini.” Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Edward, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Ketika aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata. “Apakah maksudnya kau?” Jessica bertanya, suaranya terkejut. “Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi,” gumamku menenangkannya. “Mmm, sebaiknya aku cari tahu apa yang diinginkannya.” Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Edward. 72

djAnGgo

Setibanya di meja cowok itu, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu. “Duduklah bersamaku hari ini,” pintanya sambil tersenyum. Aku duduk, hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya seseorang setampan ini begitu nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi. Ia sepertinya menungguku mengatakan sesuatu. “Ini tidak seperti biasanya,” akhirnya aku berkata.

djAnGgo

73

“Tahu nggak.. Aku memandang matanya yang keemasan. “Apa teorimu?” Wajahku merona. Ia tertawa.” aku mengingatkannya. apakah sekarang kita berteman?” “Teman.” “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas. apa yang menyebabkan ini semua?” “Sudah kubilang. Kalau pintar.“Well.. tapi matanya yang kekuningan tampak serius.” sindirku. “Ya.” Mataku menyipit. “Menyerah?” ulangku bingung.” akhirnya aku mengaku. aku bukan teman yang baik untukmu. “Aku tahu.” ia berhenti. tak yakin apa yang harus kulakukan. aku capek berusaha menjauh darimu. Tapi kuperingatkan kau. bingung. selama aku adalah. tapi konyolnya suaraku bergetar.” “Jangan khawatir. “Atau tidak. Jadi aku menyerah. lalu mengubah topik.” Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.” Ia tersenyum lagi. ragu-ragu. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan. “Kuputuskan mengingat aku toh bakal pergi ke neraka.” Ia masih tersenyum.” sahutnya menerawang..” “Jadi. “Ya.” gumamku.” Senyum menawan itu muncul lagi. Aku menelan ludah..” “Tidak.” Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun. “Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu. dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya.” “Apa kau berhasil?” ia bertanya dengan nada tak acuh. kau akan menghindariku. terus terang.” Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku. aku sendiri bimbang antara Bruce djAnGgo 74 . aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. “Sebenarnya aku terkejut. “Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu.” Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang masuk akal. “Aku mengandalkan itu.” akuku. Ia nyengir.” Rahangnya menegang. kita akan mencoba berteman?” aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini. “Lagi-lagi kau membuatku bingung. itu salah satu masalahnya.” “Mereka akan baik-baik saja. Ia tersenyum menyesal. dan menjada suaraku tetap tenang. berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak.. lebih baik kulakukan semuanya saja sekalian. “Kau tampak khawatir. “Kedengarannya mauk akal. Aku masih menunggu kau mempercayainya. dan suaranya terdengar serius. “Kau sering bilang begitu. “Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. orang yang tidak pintar. tapi ia tetap berusaha tersenyum. Selama sebulan terakhir ini.” kataku. “Tidak terlalu. Ia tertawa. kurasa kita bisa mencobanya. menyerah berusaha bersikap baik. Waktu pun berlalu.. “Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu. “Jadi.. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya penasaran. dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. karena kau tidak mendengarkan..” Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan. aku tak mengerti satu pun ucapanmu. “ Well. lalu sisanya terurai begitu saja.” katanya sambil mengedip jail.

Wayne dan Peter Parker. Jadi tidak mungkin aku mengungkapkannya. djAnGgo 75 .

kalau-kalau lain kali kau mau mengingatkanku sebelum mengabaikanku.” Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang. dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak. lalu tanpa diduga mencemooh. “Kedengarannya adil. “Tidak. waswas namun penasaran.” “Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” pintanya. Ia memandang lewat bahuku.” “Kecuali aku. “Atau lebih baik. juga. “Apa kau tidak lapar?” tanyanya.” Aku tak mengerti raut wajahnya. tatapannya muram. “Satu. “Apa?” “Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu.. mengitari lingkaran tutupnya dengan kelingkingku.” kataku dingin. “Lagipula. memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas. nah. “Terlalu memalukan. tentu saja. “Tidak. “Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu. Jadi aku bisa siap-siap. ya?” “Aku tidak suka bertele-tele. kenapa itu memusingkan?” Ia nyengir. “Tidak.” lanjutku.” “Kau marah.” “Tidak.” aku langsung membantah. kecuali kau. akan sangat memusingkan. hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan. Itu.” aku meyakinkannya.” keluhnya. “Kau?” Kutatap meja yang kosong didepannya. kebanyakan orang mudah ditebak. sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri. “Aku tak tahu apa maksudmu.“Maukah kau memberitahuku?” pintanya.” Ia merapatkan bibirnya supaya aku tidak tertawa ketika aku memandangnya lagi. aku tidak lapar. Aku pernah bilang. dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa. kau tahu.” “Ceritakan padaku satu teori.” Aku harus berpaling dari tatapannya.. aku yakin kau salah.” Ia mencemooh lagi. pikirannya teralih.” “Ya. Aku meneguknya sekali. “Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan.” “Itu sangat memusingkan. dengan ketegangan. “Boleh minta tolong?” pintaku setelah beberapa saat merasa ragu. “katakan saja orang itu juga melakukan halhal aneh. Sekonyong-konyong is seperti berhati-hati. meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya maksudnya. demi kebaikanku sendiri. sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya. tanpa tersenyum. bahkan setelah berjanji akan melakukannya.” djAnGgo 76 .” Tiba-tiba suasana hatinya berubah. “Tergantung apa yang kau inginkan. mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari.. “Terima kasih. “Aku hanya bertanya-tanya..” “Tidak susah kok.” Aku memandangi botol limunku ketika mengatakannya. Aku menggeleng.” Kami bertatapan. mataku menyipit. Ia menunggu.

” “Kau tidak memberi syarat.” aku balas mengingatkan. aku takkan tertawa.Uuppss. kau hanya bilang satu jawaban. “Kau sendiri selalu ingkar janji. “Hanya satu teori.” djAnGgo 77 . “Jangan yang itu.” ia mengingatkan aku.

bingung. “Tapi tidak jahat. “Kau berbahaya?” aku menebak. Aku tidak mengerti.” “Dan tidak ada radio aktif?” “Tidak. tapi matanya masih waswas. “Ceritakan satu teori. Sialan. sambil menggeleng. Ia menunduk. “Aku juga terkena batu kryptonite. ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal.” katanya. Ia sungguhsungguh dengan ucapannya. well.. Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. aku masuk. itu jelas. “Kenapa tidak?” “Membolos itu menyehatkan. memastikan ia tak bergeser dari posisinya.” Suaranya nyaris tak terdengar. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. “Ehh.” sahutnya sambil tertawa. digigit laba-laba yang mengandung radio aktif?” Apakah dia bisa menghipnotis juga? Atau aku hanya penurut yang tak berdaya? “Itu sih tidak kreatif. lalu mengambil tutup botol.” Aku ragu-ragu.” kataku. Tapi aku hanya merasa khawatir..“Pasti kau bakal tertawa. “Kuharap kau tidak mencobanya.” kataku.” Aku yakin mengenai yang satu ini. sampai ketemu lagi. memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur.” “Aku tidak ikut pelajaran hari ini. ingat?” Ia berusaha mengendalkan diri. tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar.. terpesona. Ia memang berbahaya. apa?” tanyaku bingung. “Aku mengerti. lebih dari segalanya. “Tidak. Aku melompat kaget.” bisikku.” “Benarkah?” Wajahnya langsung mengang. djAnGgo 78 . Ia menunduk. lalu memandangku dari balik bulu matanya yang lentik.” tukasku kesal.” godanya. cuma itu yang kupunya. Aku menatapnya.” “Sial.” “Kau salah.?” “Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?” Ia tersenyum mengodaku. tatapannya sarat emosi.. matanya yang kekuningan tampak membara. denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. dan memutarmutarnya di antara jemarinya. “Oh. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya. “Please?” ia menghela napas. tidak nyaman. sambil menatap untuk terakhir kali. tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya.” keluhku.” Ia berubah serius lagi. “Well. bagaimana ia melakukannya?” “Mmm. aku tidak percaya kau jahat. Aku mengerjap. “Karena. “Kita bakal terlambat. Ia hanya memancangku. mencondongkan tubuhnya ke arahku. membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak. “Kalau begitu. “Kau benar-benar jauh dari kebenaran.” Ia tersenyum padaku.” Matanya yang berkilat-kilat masih menatapku. “Kau kan tidak boleh tertawa. “Maaf.” ejeknya.” kataku mengingatkan. “Nanti juga aku tahu. sedikit saja. “Tidak ada laba-laba?” “Tidak ada. dan. pikiranku kosong. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru. Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong.

Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab.Ketika aku setengah berlari menuju kelas. Setidaknya hujan telah reda. mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul. kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi. djAnGgo 79 .

Oh. “Bella. Lalu Mr.” kata Mr. “Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian. mengagetkanku.” ia selesai dengan peragaannya. “Kemudian oleskan ke kartu. memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah kepada kami. berusaha mendengar penjelasannya dengan telingaku yang berdenging. aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak. diam-diam menendang diriku sendiri karena djAnGgo 80 .” Ia mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya. “Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua. Sir. dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku takut mengangkat kepala. Suaranya terdengar sangat dekat. dan yang ketiga jarum suntik kecil steril. sadar Mike dan Angela menatapku. “Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator. Mr..” Ia mulai dari meja Mike lagi. berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. Banner. Di sekelilingku aku bisa mendengar jeritan. menyuruhnya membagikannya ke yang lain. dan mengabsen kamu satu per satu. lalu memperlihatkannya kepada kami. “Yang kedua aplikator segi empat. Mr. jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian. tidak.” Ia memeragakannya. aku punya formulir izinnya di mejaku. tapi perutku langsung mulas. ” ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi “. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya. Aku menelan liurku karena tegang. Dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan. “Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang. kau baik-baik saja?” tanya Mr. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam.” kataku lemah.” Ia terdengar bangga. “Taruh setetes darah. jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang. “Oke. “Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum. Banner. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Aku memejamkan mata. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagiku. “Apa kau mau pingsan?” “Ya. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku. Aku bergegas duduk di kursiku.” gumamku. Cairan lengket mengalir keluar di hadapanku. Angela kelihatan terkejut.” Ia meraih tangan Mike dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Mike. Banner seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya..Aku beruntung. Banner masuk.” Ia berkeliling dengan air tetesnya. Mike tampak kesal. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike. ia melanjutkan. meremas jari Mike hingga darahnya mengalir. perutku rasanya mau meledak. guys. dan sedikit kagum. sedikit saja. “Aku sudah tahu golongan darahku. pada masing-masing kotak. suara anak-anak mengeluh. lalu mengenakannya.

kau pucat. kalau-kalau Mr. jaga tanganmu.” kataku mengingatkan. “Wow. djAnGgo 81 . “Ya. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. “Bella?” suara yang berbeda memanggil dari jauh. “Dan apapun yang kau lakukan. Banner. Banner memperhatikan. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Aku masih sangat pusing. tidak terlihat dari gedung empat. Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. pikirku. Keluarakan saja aku dari sini. “Ada yang mau menolong bawa Bella ke UKS?” seru Mr.tidak membolos. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak.” bisikku. Sepertinya ini agak membantu. Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri. aku akan merangkak.” aku memohon padanya. “Kau bisa jalan?” tanya Mr. Bella. Kalau perlu. Aku merebahkan diri dengan posisi miring. aku berhenti. Banner. menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria. “Biarkan aku duduk dulu sebentar.” kata Mike khawatir. memejamkan mata. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi.

“Kau bisa kembali ke kelas.” Edward menjelaskan. Mike tampak sangat khawatir. “Dia pingsan di kelas Biologi. “Kau tampak kacau.” Edward meyakinkan si perawat yang kebingungan.” “Aku akan mengantarnya. nanti juga sembuh. petugas TU yang berambut merah. “Bahkan dengan darahmu sendiri. Atau setidaknya. “Jadi kau pingsan karena melihat darah?” ia bertanya. begitu mudahnya seolah beratku hanya lima kilo.” Edward melontarkan ejekan pelan. “Turunkan aku!” Kumohon.” Juru rawat itu mengangguk penuh pengertian. berlari mendahului Edward dan membukakan pintu untuknya. “Pergilah. menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya. “Aku yang seharusnya melakukannya.” “Bella. “Kurasa dia pingsan. Kubuka mataku.” keluhku. terkagum-kagum ketika Edward membawaku ke dalam ruangan dan meletakkanku hati-hati di atas kertas berkeresak yang menutupi kasur tipis dari vynil cokelat. kumohon. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. Kubuka mataku karena terkejut. Mualnya sudah hilang. djAnGgo 82 . Juru rawat keibuan itu seperti di novel-novel. sejauh mungkin di ujung ruangan yang sempit itu.” lanjutnya.” Ia tertawa.” protes Mike. “Mereka sedang menggolongkan darah di kelas Biologi. Miss Cope. “Pasti ada saja yang pingsan. Edward mengabaikannya. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Lalu ia pindah.” kata Edward. Aku tidak menyahut. Sepertinya ini menghiburnya. “Dia hanya sedikit lemah. Matanya memancarkan kegembiraan.” Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku.” katanya padaku. apakah dia sakit?” Suaranya lebih dekat sekarang. Aku berada di kantor TU. ya. menikmati perkataannya. “Turunkan aku.” aku mendengar suara perempuan terkesiap.” “Aku tahu.” Edward sudah disebelahku sekarang. dan ini sepertinya tidak mengganggunya. berdiri rapat di dinding. dia bahkan tidak menusuk jarinya.” desahku. Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku.” erangku. lega. Ia membopongku dengan lembut. jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. nyengir. Edward telah menggendongku. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku.” “Tidak. “tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. “Berbaring saja sebentar. Aku tidak sedang berkhayal. “Hei!” seru Mike. “Aku sedang membawanya ke UKS. Kukatupkan bibirku rapat-rapat. “Ya ampun. jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. bukannya 55.” Mike menjelaskan dengan nada defensif. tidak muntah. “Kau bisa mendengarku?” “Tidak. berharap diriku mati.“Apa yang terjadi. Sayang. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara. yang tertinggal jauh di belakang kami. Aku terus memejamkan mata. tapi tiba-tiba suasananya hangat. dan Edward sedang berjalan melewati konter menuju ruang perawatan. dan ia terdengar muram.

“Kau boleh kembali ke kelas sekarang. “Kadang-kadang. ia tidak membantah. ya?” djAnGgo 83 .” aku mengakuinya. Sayang. “Kau benar.“Apakah ini sering terjadi?” perawat bertanya. membiarkan mataku terpejam.” Ia mengatakannya dengan nada sangat meyakinkan.” ia memberitahu Edward. “Biasanya memang begitu. “Aku disuruh menemaninya. Edward terbatuk untuk menyamarkan tawanya lagi. tapi kali ini dalam hal apa. sehingga meskipun perawat mengerucutkan bibir. “Aku akan mengambil kompres untukmu. lalu bergegas meninggalkan ruangan.” perawat berkata kepadaku.” erangku.

” kataku.” Aku mencoba bernapas teratur. “Kurasa aku baik-baik saja.” Lalu Mike berjalan terhuyung-huyung melewati pintu. yang tampak pucat. tapi tiba-tiba aku membayangkan kemungkinan itu. “Jangan ikut campur.“Membolos adalah sesuatu yang menyehatkan.” “Bagaimana kau menemukanku? Kupikir kau membolos. ayo keluar.” tuduhnya. menatapku dan Edward bergantian. Bisa kurasakan Edward tepat di belakangku. tapi mengejutkanku. aku pernah melihat mayat dengan warna lebih baik. “Kita punya korban lagi. “Well. “Kupikir Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hutan. itulah yang membuatku sakit. bergegas keluar dari ruang perawatan.” bantahku. tapi aku merasa semakin pulih.” “Kasihan Mike. “Oh tidak.” Jawaban yang masuk akal.” kata Edward senang.” Aku nyaris pulih sekarang. tapi aku tak lagi pusing.” Edward menatapku dalam-dalam. dan garam.” “Ha ha. Aku tahu ia akan menyuruhku berbaring lagi.” “Dia sangat membenciku. Lee tidak sakit karena menyaksikan yang dilakukan orang lain.” aku mengingatkannya.” Ia meletakkannya di dahiku... “Apa kau akan djAnGgo 84 .” kataku sambil bangkit duduk. “Manusia tidak bisa mencium darah.” gumamnya. Aku khawatir aku mungkin harus membalas pembunuhmu. Mike ganti menatapku.” Lalu Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu. mendengarkan CD. “Sejujurnya. aku tidak memerlukannya. “Keluar dari sini. dan Miss Cope menjulurkan kepala ke dalam.” Aku menatapnya. “Percayalah. tapi kemudian pintunya terbuka.” tambahnya. seperti aku. “Aku mencium bau darah. barangkali ada untungnya perutkku kosong.” gumam Edward. lalu membuka mata. Bella. Telingaku berdenging sedikit. Baunya seperti karat. “Tadi kau sempat membuatku takut. “Kau kelihatan lebih baik. aku bisa.” Ia terperangah. Tatapan yang dilontarkannya pada Edward memastikan kebenciannya.” Aku berputar menangkap pintu sebelum tertutup lagi. “Aku sedang di mobil. “Apa?” tanyaku. Tapi kalau dipikir-pikir. Perawat datang membawa kompres dingin. Kuserahkan kompresnya pada perawat. “Aku lihat wajahnya.” katanya. keheranan.” Mataku masih terpejam. “Ini. temanku dari kelas Biologi. mengerutkan hidung. Aku berani bertaruh dia pasti marah. “Sudah tidak ada darah lagi.” bantahnya. “Kau benar-benar menuruti perkatanku. matanya kelam. Edward dan aku merapat ke dinding supaya mereka bisa lewat. aku tahu. “Kau kelihatan lebih baik. “Kau tak mungkin tahu pasti hal itu. “Bukan apa-apa. Nada suaranya membuatnya terdengar seperti sedang mengakui kelemahan yang memalukan. ia memapah Lee Stephens. Sayang.” akunya setelah beberapa saat. meski rasa mual ini barangkali bakal hilang lebih cepat kalau aku makan sesuatu waktu makan siang. Dinding berwarna hijau mint di sekelilingku tidak berputar-putar lagi. “Ini dia. Aku melompat turun supaya pasien berikutnya bisa menempat tempat tidur itu. Aku mendengar suara pintu terbuka.

tatapannya kosong.” “Yeah. “Tentu saja. kurasa begitu. tak bergerak bagai patung. Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?” Sambil bicara Mike melirik Edward yang bersandar di konter yang berantakan..” djAnGgo 85 . kan sudah kubilang aku akan ikut.kembali ke kelas?” “Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi. Aku berusaha terdengar seramah mungkin..

” “Oke. mencoba tampak selemah mungkin. ekspresinya kembali mengejek. Rasanya menyenangkan. dan aku baik-baik saja. Kita tidak djAnGgo 86 . Mantra pingsan selalu membuatku lemas. berjalan gontai ke pintu. pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit. “Aku baru saja mengundangmu. Tapi aku hanya berharap ia mungkin saja memberiku semangat yang kurasakan kalau pergi berpiknik. “Miss Cope?” “Ya?” Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya. “Sepertinya aku benar-benar tidak diundang. “Jadi. Ia menunduk dan melirikku. Ia membukakan pintu untukku. Ia menatapku sekali lagi. Ini sama sekali bukan tantangan. menyipitkan mata menembus hujan. ke First Beach.” Ia menatap lurus ke depan. “Aku akan datang. bahunya merosot. ia bukan tipe seperti itu. Aku membayangkan melihat wajahnya yang kecewa lagi. tanpa ekspresi. atau kau perlu kugendong lagi?” Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope.” kataku ketika ia mengikutiku keluar. Bella?” serunya. sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Edward?” tanya Miss Cope agak memprotes.” Kuamati wajahnya.” Aku menghela napas. aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket. kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu. mata terpejam. Kenapa aku tak bisa melakukan itu? “Tidak. Aku mengangguk lemah. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?” Suaranya semanis madu dan memabukkan. bertanya-tanya apakah ia telah berbicara terlalu banyak.” “Sama-sama. tapi suaranya terdengar jelas sekarang. “Sebenarnya kalian mau ke mana?” Ia masih menatap ke depan. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain.” “Sudahlah. “Gymnasium. wajahnya yang bulat cemberut sedikit. dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan selapis keringat di wajahku. dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. “Apa kau bisa berjalan. “Kalau begitu. “Daahh. “Setelah ini Bella ada pelajaran Olahraga. mencoba membacanya.” Matanya berkilat-kilat menatap Edward. tersenyum ironis. kau pergi nggak? Maksudku. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding. “La Push. meskipun mustahil. Kau merasa lebih baik. sampai ketemu di gymnasium.“Kita berkumpul di toko ayahku jam 10. Aku mendengar Edward berbicara pelan pada seseorang di konter.” kata Mike. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Edward. Sabtu ini?” Aku berharap jawabannya ya.” erangku. Sepertinya mata Edward nyaris terpejam. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya. “Apa kau juga perlu izin. “Asyik juga bisa membolos Olahraga.” Aku berdiri hati-hati. “Aku bisa mengaturnya. di gymnasium.” balasku.” gumamnya. “Terima kasih. “Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. wajahku memang selalu pucat. Goff takkan keberatan. “Aku jalan saja. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. kalau begitu semuanya beres. Aku berjalan menembus udara dingin dan kebut tebal yang baru saja mulai turun.” Aku tidak memperhatikan Edward pindah ke sisiku. Mrs. senyumnya ramah tapi matanya mengejek.” aku berjanji. Sebenarnya au berpikir akan mengantarnya pulang sekarang.

“Mike-schmike. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. “Pikirmu kau mau kemana?” tanyanya.ingin di marah. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan. Aku sangat menyukainya dari seharusnya. terpesona dengan caranya mengucapkan ‘kau dan aku’. djAnGgo 87 .” gumamku. kan?” Sorot matanya menari-nari. ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. marah. Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran.

“Lepaskan!” desakku. “Pulang. aku terhuyung ke pintu penumpang. “Ibumu seperti apa?” tiba-tiba ia bertanya. tapi lebih cantik. heran. dan juru masak yang sangat payah. sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. dan aku tidak mengenakan tudung jaketku. bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. Ia tak menyahut.” Aku tak menjawab.” kataku. wajahku sudah cemberut sepenuhnya. tidak mungkin. Ia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. “Claire de Lune?” tanyaku. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. “Kau tahu Debussy?” Ia juga terdengar terkejut. seolah bisa menebak apa yang kurencanakan. “Aku tinggal menyeretmu lagi.” ancamnya. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. Lalu akhirnya ia melepaskanku.” “Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?” Suaranya masih marah. Bella. “Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!” Aku berdiri di sisi mobil. “Dia sangat mirip denganku. “Tidak terlalu. barangkali ia akan tetap menyeretku.” Aku berhenti berbicara.” Sekarang ia menarikku ke mobilnya. dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula. aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu botku berdecit-decit. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran. Ibuku punya sifat lebih terbuka.” cuma itu reaksinya. menyalakan pemanas dan menyetel musik. tapi aku lalu mengenali musik yang mengalun itu. Alisnya terangkat. Hujan turun semakin deras. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. “Masuk. “Terlalu banyak Charlie dalam diriku.” Ia memandang menembus hujan. Aku mendengarkan musiknya. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.” kataku. dan lebih berani. terkejut. Kalaupun aku jatuh. bih tepatnya menarik jaketku. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi. “Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?” keluhku. Membicarakan ibuku membuatku sedih.” aku mengakui. “Ini benar-benar tidak perlu. “Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami. aku hanya tahu yang kusuka.Aku bingung. Ia mengabaikanku. Harus kuakui. Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya. Hanya itu yang bisa kulakukan agar tidak terjengkang ke belakang. meski stabil dan tenang. Dia teman baikku. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Edward diparkir. Bella?” Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak djAnGgo 88 . mengamatinya dengan tatapan penasaran. “Akan kusuruh Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. marah. jadi air menetes-netes ke punggungku. “Kau kasar sekali!” gerutuku. termenung. aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. “Berapa umurmu. Aku memandangnya. Usahaku tidak begitu berhasil. “Sudah terbuka. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali. Ia menekan tombol kontol.” “Ini juga salah satu favoritku.

“Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. dan aku tersadar kami sudah tiba di rumah Charlie. membuatku tertawa. Seolah mobil Edward tenggelam di dalam sungai. “Kenapa?” tanyanya. djAnGgo 89 . Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali.bisa kubayangkan. Ia menghentikan mobil. penasaran lagi.” Nada suaranya mencela. sedikit bingung.” jawabku. “Tujuh belas.

” Beberapa saat aku jadi ragu. Bagaimanapun juga. “Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?” Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah... lalu menghela napas. sangat muda bagi umurnya. “Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku.” “Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?” “Kurasa itu salah satunya. kebenaran atau kebohongan.” kataku. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya. aku baru menyebutnya sekali. apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?” Tiba-tiba ia berubah serius.” Aku berhenti sebentar. dialah sang orangtua. “Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru. “Jadi. “Ku-kurasa.” “Aku tahu. “Jadi.. “Apa yang terjadi dengan orangtuamu?” “Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu.” “Kau sangat beruntung. “ Well. matanya mencari-cari jawaban di mataku. “Apa?” “Menurutmu. “Aku ingin dia bahagia.” “Kakak dan adikmu?” djAnGgo 90 . “Aku tak begitu ingat mereka.” Ia tersenyum. “Kau menyetujuinya?” tanya Edward. Ketertarikan Mom pada Phil merupakan misteri bagiku. Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan..” Aku tertawa. dia tergila-gila pada Phil. “Apa yang ingin kauketahui?” “Keluarga Cullen mengadopsimu?” tanyaku. “Hmm... Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan. “Ya. “Maafkan aku.” “Apakah sekarang kau takut padaku?” Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyongkonyong serius.” Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Tapi bagaimanapun. “Tidak.” Itu bukan pertanyaan.” “Menurutmu bagaimana?” Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain. “Ibuku. Jadi agak berbeda. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi.” “Dan kau menyayangi mereka. kupikir kau bisa. Sekarang Carlisle dan Esme sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku. Ia kembali tersenyum.” “Kau baik sekali.” gumamku.” ujarnya kagum. “Ya. “Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik. aku jadi berpikir.” Ia langsung berhati-hati. “Apakah itu penting?” tantangku.” ujarku terbata-bata..“Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahiran dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun. kenapa ibumu menikah dengan Phil?” Aku terkejut ia mengingat nama itu.” Suaranya datar. harus ada yang menjadi orang dewasanya. apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?” aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya.. dan Phil laki-laki yang diinginkannya. itu pun hampir 2 bulan yang lalu. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka. kalau mau.” Tapi aku menjawab terlalu cepat.

” Ia tersenyum padaku. “Saudara-saudaraku. juga Jasper dan Rosalie.” Aku mendesah. djAnGgo 91 . kurasa kau harus pergi. akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku.” “Oh. “Aku yakin dia sudah mendengarnya.Ia melirik jam di dasbor. maaf.” Aku tak ingin keluar dari mobil. “Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum Kepala Polisi Swan pulang. Tak ada rahasia di Forks. jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi.

Kurasa aku tak berhasil membodohinya. cuacanya bagus untuk berjemur. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga.” Ia memandangi hujan yang masih turun. djAnGgo 92 . “Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness. oke?” Ia tersenyum sangat lebar.Ia tertawa. “Jangan tersinggung. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya. “Akan kuusahakan.” Aku berusaha terdengar antusias. kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.” ujarku marah ketika melompat menerobos hujan.. tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet... Aku mengangguk putus asa. matanya yang keemasan menyala-nyala. “Apa aku akan bertemu denganmu besok?” “Tidak. di selatan Rainier.” “Apa yang akan kalian lakukan?” Seorang teman boleh menanyakan itu. Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. “Oh. cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku.” Aku ingat Charlie pernah bilang keluarga Cullen sering pergi kemping. “Selamat bersenang-senang di pantai. ada kekhawatiran dalam tawanya. well . Emmett dan aku memulai akhir pekan lebih awal. selamat bersenang-senang. Aku memandangnya. Jadi.. “Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat.

djAnGgo 93 .

Kupikir. tapi juga sedikit posesif. aku menunggu-nunggu suara trukku. dan meskipun aku tahu Edward takkan muncul. “Dia temanku. jelas tak cukup baik baginya untuk tidak menyukaiku. “Kau tahu.” “Kau sepertinya agak marah. “Oh ya?” sahutku. Tapi ketika aku mengintip dari balik tirai.6. seperrtinya ia sudah mendengar semuanya. dan sepertinya tak seorangpun tahu Edward terlibat. Aku sama sekali tak menanti-nantikan hari Jumat.” pancing Jessica. hanya sejengkal di belakang rambut pirang keemasannya yang tebal. meskipun di tengah guyuran hujan. atau begitulah menurutku. “Aku tidak tahu.tak tahu kenapa Bella”. Tentu saja ada komentar-komentar tentang insiden aku pingsan. Aku tak pernah memperhatikan betapa tidak ramah dan sengau suaranya. dan Jasper yang duduk mengobrol disana. Mike sudah ceria lagi.. Aku berhenti untuk membiarkan djAnGgo 94 . Ketika aku memasuki kafetaria bersama Jessica dan Mike. Jessica punya banyak sekali pertanyaan mengenai kejadian saat makan siang. dan ia tidak menyadarinya. Meski begitu. Dan aku tak bisa mengenyahkan kesedihan yang menyelimutiku ketika menyadari berapa lama lagi aku harus menunggu sampai bisa melihat Edward lagi. “Dia tak pernah mengatakannya.” jawabku jujur. “. Aku benar-benar tak mengenalnya dengan baik selama ini. “Jadi. lagi. aku toh masih berharap. aku tak pernah melihatnya duduk dengan orang lain kecuali keluarganya. Hari ini hanya Rosalie. Aku harus melihatnya sendiri sebelum mempercayainya. aku tak bisa menahan diri memandang meja tempat ia biasa duduk. Itu aneh. dan aku terkejut dengan kebencian yang kudengar di dalamnya. truk itu tiba-tiba sudah disana. aku pasti akan mendengar deru mesinnya. ia menaruh harapan besar pada ramalan cuaca bahwa besok bakal cerah.. berusaha berkonsentrasi pada bagian ketiga Macbeth. ia mengibaskan rambut ikalnya yang berwarna gelap dengan tidak sabar. dia duduk bersama kita. Aku tepat di belakangnya. menunjukkan kesetiaannya padaku. semua sibuk membicarakan rencana besok. Selama makan siang Lauren menatapku dengan kurang bersahabat. Alice. sampai ketika kami bersama-sama meninggalkan kafetaria. wajahku tetap datar. dan ini melebihi sesuatu yang tidak kuharapkan. Kisah-Kisah Seram Ketika duduk di kamarku.” aku mendengarnya bergumam pada Mike. hampir 15°C. Itulah bagian terburuk dari hari Jumat.” ujarku setuju. apa yang diinginkan Edward Cullen kemarin?” Jessica bertanya di kelas Trigono.” Mike berbisik padanya. Tapi hari ini udara lebih hangat. ia mencibir ketika menyebut namaku. kurasa ia mengharapkan jawaban yang bisa digosipkannya pada orang lain. Aku tidak mengerti kenapa. Untungnya Mike tidak bilang apa-apa. Di mejaku yang biasa. Jessica tampak jengkel. Barangkali rencana jalan-jalan kami tidak bakal kelewat menyedihkan.” “Memang aneh. “tidak duduk dengan keluarga Cullen mulai sekarang. Terutama Jessica.

Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi. dan orangtua mereka. Kelihatannya ia tak keberatan. sehingga sulit untuk mengubahnya. dan barangkali kakek buyut mereka juga. Kurasa ia merasa bersalah karena terlalu lama ia hidup dengan kebiasaan itu. Aku membayangkan apakah ia akan menyetujui rencanaku pergi ke Seattle bersama Edward Cullen. Malam itu. saat makan malam. Tentu saja ia tahu semua nama anak-anak yang akan pergi.Jessica dan Angela melewatiku. Bukannya aku bakal memberitahunya. Charlie sepertinya bersemangat mengenai jalanjalanku ke LA Push besok pagi. kau tahu tempat bernama Goat Rocks atau semacamnya? Kurasa di selatan Gunung Rainier. “Dad.” tanyaku santai. djAnGgo 95 .

” Aku bermaksud pergi tidur. tapi jelas itu matahari.” “Oke. membisikkan sesuatu pada Lauren. duduk di kursi depan Suburban Mike.” aku mengingatkan. Aku bergegas ke jendela untuk memeriksanya. Lauren mengibaskan rambut pirangnya yang halus dan memandangku dengan tatapan mengejek. dan bisa dipastikan. tapi potongan langit biru cerah menyeruak di tengahnya. “Kau boleh membawa senjata. “Terlalu banyak beruang. yang satu aku ingat jatuh di gymnasium minggu Jumat lalu. sehingga semua mobil penuh. Meski begitu.“Yeah. gembira. Aku berdiri di jendela selama mungkin.” Mike menambahkan.. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali. “Maukah kau ikut mobilku? Pilihannya hanya itu atau minivan ibu Lee. Tapi aku juga berharap ada mukjizat dan Edward muncul. Aku senang bisa duduk dekat jendela. keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang. Aku tak percaya. Aku sudah pernah melihatnya. “Mungkin aku salah mengingat namanya. “Beberapa teman berencana akan kemping disana. “Kami sedang menunggu Lee dan Samantha. matahari bersinar. Airnya kelabu gelap. sehingga jalan panjang melingkar menuju First Beach sudah tak asing lagi bagiku. Cewek itu menatapku jijik ketika aku keluar dari truk. Tidak mudah membuat Mike dan Jessica senang sekaligus. Jadi sekarang dimulailah hari-hariku yang menyedihkan. diikuti Angela dan Lauren. Mike tampak kecewa. Di lapangan parkir aku mengenali mobil Suburban Mike dan Sentra Tyler.” “Oh. Bisa kulihat Jessica menatap marah pada kami. khawatir kalau kutinggalkan. Ketika aku memarkir trukku di sebelah mobil mereka. Aku sudah sering mengunjungi pantai-pantai di sekitar La Push selama kunjunganku ke Forks pada musim panas bersama Charlie. tapi belum pernah singgah disana. Tiga cewek lagi berdiri bersama mereka. kan?” “Sudah kubilang aku bakal datang. Awan-awan menggantung di langit. dan Sungai Quillayute yang lebar. Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. Mike tampak puas. Aku berhasil menyelipkan Jessica diantara Mike dan aku. dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. sudah lama aku tidak membutuhkan perlengkapan kemping. jumlah anak yang ikut ternyata membantuku. “Kau datang!” serunya. Kebanyakan orang pergi kesana pada musim berburu. Bukan di tempat semestinya. Tapi tetap saja mempesona. bahkan di bawah sinar matahari sekalipun.” ujarku berbohong.” Ia terdengar terkejut. kecuali kau mengundang seseorang. Setidaknya Mike senang melihatku. Aku mengulum senyum. berharap tidak ketahuan.. bersama dua cowok lain yang juga sekelas denganku. “Tidak. dan tidak kelihatan terlalu dekat seperti seharusnya. aku cukup yakin namanya Ben dan Conner. Jess ada disana. tampak pucat menjorok djAnGgo 96 .” Ia tersenyum bahagia.” “Itu bukan tempat yang terlalu bagus buat kemping. “Sudah kubilang hari bakal cerah. Lee mengajak dua orang lagi. kenapa?” Aku mengangkat bahu.” gumamku. langit biru itu akan lenyap lagi. tapi cahaya terang yang tidak biasa membangunkanku. Kubuka mataku dan melihat cahaya kuning terang memancar lewat jendela. Eric ada disana. Betapa mudahnya membuat Mike senang. terlalu rendah. aku bisa melihat anak-anak lain berkumpul di depan Suburban. tapi setidaknya Jess kelihatan puas. Toko Olympic Outfitters milik keluarga Newton terletak di utara kota.” ujarnya.

abu-abu. hijau laut. biru. beberapa berimpitan di bibir hutan. dan dimahkotai pepohonan cemara yang menjulang. lavender . naik ke puncak yang tak beraturan. djAnGgo 97 . yang setelah itu berubah menjadi bebatuan besar halus yang jumlahnya ribuan.ke pantai berbatu yang berwarna keabu-abuan. beberapa sendirian. yang dari kejauhan tampak abu-abu. jauh dari jangkauan ombak. Garis pantai penuh dengan driftwood raksasa yang memutih karena terpaan air laut yang asin. keemasan yang kusam. Pulau-pulau bermunculan dari perairan pelabuhan dengan tebing-tebing curam di sisinya. Pantainya hanya dilapisi sehamparan sempit pasir. namun dari dekat warnanya seperti segala macam bebatuan : merah bata.

“Kau pernah melihat api unggun driftwood?” Mike bertanya. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung. penuh abu hitam. Setengah jam setelah mengobrol. perhatikan warna-warnanya. seolah mengancam akan menutupinya sewaktuwaktu. sejuk dan asin. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. “Warnanya biru. Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Cahaya hijau yang dipancarkan hutan terasa aneh ditingkahi suara tawa para remaja. meski aku benci kehilangan langit di tengah hutan. Aku harus berhati-hati melangkah. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. kolam-kolam dangkal yang tak pernah benar-benar kering tampak hidup. beberapa cowok ingin mendaki ke kolam pasangsurut terdekat. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Ombaknya rendah. Aku menemukan batu yang sepertinya cukup mantap di ujung salah satu kolam terbesar. Cantik ya?” Ia menyalakan sebatang ranting kecil lagi. Ini benar-benar dilema. dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu. lalu duduk hati-hati disana. terlalu kelam dan berbahaya untuk diselingi senda gurau di sekitarku. terpesona pada pemandangan akuarium di bawahku. agar tidak jatuh ke lautan. dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. menghindari akar-akar yang menyembul di bawah. Aku duduk di kursi pantai yang terbuat dari tulang diwarnai. dan menaruhnya di tempat yang belum terjilat api.” kataku ketika dengan hati-hati ia meletakkan ranting yang menyala di tumpukan itu. Aku memperhatikan api hijau dan biru aneh itu menyeruak ke angkasa. Ada api unggun disana. Sepanjang tepiannya yang berbatu-batu. bertengger di ujung tebing berbahaya. dan sungai tampak mengalir melewati kami menuju lautan. menyalakan ranting terpendek dengan korek api. Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Akhirnya aku berhasil melewati kungkungan hutan yang hijau dan menemukan pantai berbatu lagi. “Itu karena garam. Rangkaian anemon yang indah bergoyang tanpa djAnGgo 98 . dan aku pun langsung tertingal dari yang lain.” kataku kagum.Angin kencang bertiup bersama ombak. Burung-burung pelikan melayang diatas buih ombak sementara camar dan elang terbang di atas mereka.” Ia membakar satu ranting kecil lagi dan menaruhnya di sebelah ranting pertama. “Kalau begitu kau akan menyukai ini. Apinya dengan cepat mulai menjilati kayu yang kering. dan rantingranting di atas kepalaku. Aku sudah menyukainya sejak kecil. Ia tidak ingin mendaki. bergosip ceria di sebelahku. cewek-cewek lain berkumpul. Kami berjalan menuju pantai. Pendakiannya tidak terlalu panjang. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Ia berbalik menghadap Mike dan mencoba menarik perhatiannya. Ini mengingatkanku pada permintaan Edward. Mike berlutut di depan api unggun. mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan. Untung Jess ada di sisinya yang lain. Aku sangat berhati-hati agar tidak mencondongkan tubuhku terlalu jauh ke atas kolam. melompat-lompat di atas bebatuan. “Belum. Awan-awan masih mengelilingi langit. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben. kolamkolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Yang lain sepertinya tak kenal takut. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anakanak yang ingin mendaki. lalu duduk di sebelahku. tapi sementar matahari bersinar cerah di langit yang biru.

menunggu ombak menyeretnya kembali ke laut. djAnGgo 99 . Telapak tanganku beberapa kali tergores. dan bagian lutut jinsku bernoda hijau. kulit mereka berwarna tembaga. dan aku pun bangkit dengan tubuh kaku dan mengikuti mereka. Kali ini aku mencoba lebih keras untuk mengikuti kecepatan mereka melintasi hutan. Aku begitu terlena. Ketika makin dekat.henti di karang-karang yang sekarang tampak jelas. Ketika kami kembali ke First Beach. sementara belut kecil hitam bergaris putih menggeliat melewati rumput laut yang hijau. kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan. bintang laut tersangkut tak bergerak di bebatuan yang bersisian. kecuali satu bagian kecil pikiranku yang membayangkan apa yang sedang dilakukan Edward sekarang. dan berusaha membayangkan apa yang akan dikatakannya bila ia berada disini bersamaku. Samar-samar kepiting merangkak di antaranya. Akhirnya cowok-cowok kelaparan. jumlah orang disana sudah bertambah. hingga beberapa kali aku terjatuh. tapi bisa saja lebih parah.

ia merasa tak perlu mengisi keheningan dengan percakapan. Selama makan siang awan mulai berkumpul. “Kau Isabella Swan. kadang-kadang menghalangi matahari. dan si cowok yang memerhatikanku bernama Jacob. Aku berpikir betapa waktu di Forks berlalu dengan tidak teratur. berdua atau bertiga. “Kau putra Billy. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica. mungkin 15. Mungkin seharusnya aku mengingatmu. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil.” “Bukan. aku yang bungsu. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. ketika Eric memperkenalkan nama kami. agar mereka bisa pergi memancing. aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk di batu dekat perapian menatapku tertarik. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka. Angela dan aku tiba terakhir.” keluhku.” sahutku lega. “Bella.” tiba-tiba aku teringat. Lalu pada saat lain setiap detik begitu penting. bersama Jessica yang selalu mengekorinya. bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. rambutnya yang panjang mengkilap diikat di tengkuk. beranjak ke toko di pedesaan. Ia membiarkanku makan dengan tenang sambil berpikir.Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi. dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda. Makanan sudah diedarkan dan para cowok buru-buru meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Duduk bersama Angela sangat menenangkan. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan. sambil menjabat tangannya yang ramping. Jacob pindah duduk di sebelahku. halus dan kecoklatan. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing. dengan satu bayangan tampak lebih jelas dari yang lain. Kulitnya menawan. kau pasti ingat kakak-kakakku. Sepertinya dia berumur 14. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai. kan?” Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar.” “Rachel dan Rebecca. aku duduk sendirian di seonggok kayu. sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. “Aku Jacob Black. Mike. menggantikan Angela. aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun djAnGgo 100 .” Ia mengulurkan tangan dengan ramah. matanya gelap. Charlie dan Billy sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks. termasuk cowok bernama Jacob dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara. Tiga remaja dari reservasi mengitari api. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. perlahan-lahan menutupi langit biru. Aku duduk di sebelah Angela. Ia masih tampak kekanak-kanakan karena dagunya yang agak gemuk. Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki. yang lain ikut mendaki. dan melekat dalam pikiranku. “Kau membeli truk ayahku. dan membuat ombak berubah gelap. Aku tahu benar apa yang menyebabkan perbedaan ini. ia memang tipe yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Tentu saja ketika umurku 11 tahun. sering kali samar-samar. dan. Bagaimanapun juga penilaian positifku mengenai rupanya langsung berubah akibat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya.” “Oh. menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai. dan hal itu menggangguku. sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya.

“Jadi. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku. “Rachel mendapat beasiswa untuk belajar di Washington.” Aku terpana mengingat usia di kembar tak beda jauh dariku. “Tidak.” Jacob menggeleng.” djAnGgo 101 .” “Menikah. membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.terhenti. “Aku menyukainya. kau menyukai truknya?” tanyanya. Truknya hebat. “Apakah mereka ada disini?” Aku memperhatikan para cewek di ujung pantai. Wow. dan Rebecca sudah menikah dengan peselancar Samoa. sekarang dia tinggal di Hawaii.

djAnGgo 102 . Aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna. kan?” candanya.” aku tertawa. dengan nada yang kupikir kasar.” ia tertawa. sayang sekali tak satu pun anak-anak Cullen ikut hari ini. tapi toh buktinya Jacob langsung berdiri mendengar ajakanku. Jacob?” tanya Lauren. Tyler. dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. Kuharap Jacob yang masih muda itu belum begitu berpengalaman dengan cewek. “Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?” “Belum. sorot matanya masih coba kupahami. sambil memperhatikan wajahku. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja. Aku menatap cowok bersuara berat itu. Ia tersenyum penuh pengertian. Katanya anak-anak Cullen tidak datang kesini. “Kau mau jalan-jalan di pantai bersamaku?” tanyaku. Suaranya serak. mencoba meniru cara Edward memandang dari balik bulu matanya. dan tiba-tiba saja mendapat inspirasi. “Jadi. “aku belum tahu.” Ia nyengir.” panggilnya lagi. terkagum-kagum. Perhatian Lauren pun teralihkan. kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil. Ia tersenyum menawan. membuat laut gelap dan suhu turun. dan suaranya sangat berat. dan matanya yang curiga menyipit. “Ya. aku yakin. bagiku itu sesuatu yang ironis. namun enak didengar. dari seberang. meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya.” sergahku. kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. Ia sangat mudah diajak bicara. yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren. dan setengah berbalik menghadapnya. sehingga ia tak menyadari usaha menyedihkanku untuk merayunya. kau bisa merakit mobil?” tanyaku. mereka dilarang datang. apakah Forks sudah membuatmu sinting?” “Oh.” jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan.” Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya. Carlisle Cullen?” cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren. “Kau kenal Bella. “Bagus. “Bella. mengabaikan pertanyaan Lauren. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan. tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. “Anak-anak Cullen tidak datang kesini. “Maaf. Hasilnya tentu saja tidak sama. “Ya. kau kenal mereka?” Lauren terdengar mengejek.“Yeah.” Seolaholah aku tahu saja apa maksudnya tadi. “Aku lega sekali ketika Charlie membelinya. tapi aku tak punya ide yang lebih bagus. Rencana bodoh. “Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir. memandangku bersahabat. menuju garis batas yang pebuh driftwood.” ia tertawa.” jawabku. “Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya. tapi jalannya pelan sekali. “Maksudmu anak-anak dr. awan akhirnya menutupi langit. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku. “Bagus sekali. bahwa mereka tidak diizinkan. Ketika kami berjalan ke utara melewati bebatuan aneka warna.” “Tidak sepelan itu kok. tersenyum padaku lagi. “Jadi. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?” Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan. tapi aku berjanji akan mencari tahu. Aku masih memikirkan komentar tentang anak-anak Cullen. terkejut. “Aku baru saja bilang pada Tyler. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986.” Jacob menimpali sambil tertawa. “Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak. tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain.” Aku nyengir. Jacob mengusik ketenanganku. Kalau begitu jangan.” kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu.

Kumasukkan jaket. tanganku ke saku djAnGgo 103 .

” ia mengaku keheranan.“Jadi. tentang asal-muasal kami. “Itu Sam. “Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren?” Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami. “Kupikir kau lebih tua. memandang Pulau James. ada banyak legenda. untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah. tapi kelihatannya ia masih merasa tersanjung. tak lagi berpura-pura.” jawabku jujur. Ia memandang bebatuan. “Keluarga Cullen? Oh.” “Oh. “Aku suka. “Kau suka cerita-cerita seram?” tanyanya. “Aku baru saja berumur 15. ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin. setelah aku dapat SIM.” kataku bersemangat. konon katanya.” Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda.” Ia memalingkan wajah. “Tapi setelah mobilku selesai. suara tak menyenangkan. maksudku suku Quileute?” ia memulai ceritanya.” ia memberitahuku. tubuhku cukup tinggi. Menurut legenda itu kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka.” Suaranya semakin rendah. sepertin Nuh dan bahteranya. Ia balas tersenyum menawan. aku hanya penasaran. Benarbenar konyol. “Legenda lainnya mengatakan kami keturunan serigala. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku. “Well. sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan. Aku khawatir ia akhirnya merasa jijik dan menuduhku bersandiwara. “Yang berdarah dingin?” tanyaku kaget. berharap jawabannya ya. “Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami. berapa umurmu? Enam belas?” tanyaku. dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. Aku berusaha mengabaikannya. aku takkan bilang siapa-siapa. “Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?” tanyaku polos. Jacob beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan Sam.” Jacob memutar bola matanya. para leluhur Quileute mengikat kano mereka di ujung pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa selamat.” “Untuk anak seusiaku. “Ya. “Upss.” “Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin. umurnya 19. senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar.” Ia tersenyum. berusaha tidak terlihat seperti orang bodoh ketika mengerjap-ngerjapkan mata seperti yang dilakukan cewek-cewek di televisi. “Kau sering ke Forks?” aku sengaja bertanya.” ia mengaku malu-malu.” Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin. mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih Jacob. dan beberapa yang lain belum terlalu tua.” lanjutnya. “Kenapa tidak?” Ia menatapku sambil menggigit bibir. “Tidak juga.” jelasnya. mereka tak seharusnya datang ke reservasi. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. aku bisa pergi sesering yang kumau. “Sungguh?” Keterkejutanku benar-benar palsu. aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu. beberapa dipercayai terjadi pada masa Banjir. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. “Tidak terlalu. djAnGgo 104 .

“Kakek buyutmu?” aku memberanikan diri untuk bertanya. Kau tahu. djAnGgo 105 . “Dia tetua suku.” “Werewolf punya musuh?” “Hanya satu. seperti leluhur kami. seperti ayahku. yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala. berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman. Kau bisa menyebutnya werewolf. tapi serigala yang menjelma menjadi manusia. serigala jadi-jadian. bukan serigala sesungguhnya.” Aku menatapnya serius. well.

” aku memujinya.” “Tentu. jadi aku tak berpaling menatapnya. Lalu suara batu-batu beradu menyadarkan kami seseorang sedang djAnGgo 106 . “Peminum darah. “Lalu mereka itu apa?” akhirnya aku bertanya. kan?” Aku mengulurkan lengan.. “Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami. “Sekarang jumlah mereka bertambah. Aku tak tahu bagaimana rupaku. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda.” Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan. “Bangsa kalian menyebutnya vampir.” Jacob tiba-tiba berhenti. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. lalu kenapa. “Tidak.“Jadi kau tahu. Bulu kudukku masih berdiri. “Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin.” Aku belum dapat menahan emosiku. Ia tersenyum senang. meskipun mereka beradap seperti halnya klan ini. entah bagaimana caranya. yang berdarah dingin adalah musuh kami. Carlisle. “Lalu apa hubungannya dengan keluarga Cullen? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?” “Tidak. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr.” “Aku berusaha terdengar tetap tenang. “Kalau mereka tidak berbahaya. aku takkan bilang.” jawabnya. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka. “Kau pencerita yang baik. kemudian bergidik. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini. “Apakah yang berdarah dingin?” Ia tersenyum misterius. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. namun sedikit waswas. kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka. tapi sisanya sama saja. “secara tradisional.” ia tertawa gembira.” Jacob tertawa.” Aku mencoba mengerti. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami.” Jacob berusaha menahan senyumnya.” Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. sambil masih menatap ombak.” Ia tersenyum. Cullen mulai bekerja disana. “Aku akan menyimpannya rapat-rapat. apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?” tanyanya bercanda. mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. “Cerita yang cukup sinting.” “Jadi.” lanjut Jacob. mereka sudah mengenal pemimpinnya. Konon. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin. “Keren. dan melanjutkan ceritanya lagi. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram.. Pada masa kakek buyutku.” Ia mengedip. suaranya membuat bulu kuduk meremang.” Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. “Apa maksudmu dengan ‘beradab’?” “Mereka menyatakan tidak memburu manusia. “Mereka adalah kelompok yang sama. “Kau merinding. kan. jangan bilang apa-apa pada Charlie.” kataku berjanji. mereka memburu binatang sebagai ganti manusia. seorang perempuan dan laki-laki baru. berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya. ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain. “Tapi sungguh. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri. lihat.

“Disini kau rupanya. menyadari nada cemburu yang terpancar dari suara Mike.mendekat. Aku terkejut rasa cemburu itu begitu nyata. “Tidak. tentu saja bukan. “Itu pacarmu?” tanya Jacob. Bella.” bisikku. dan ingin sekali membuatnya sesenang mungkin. Aku mengedip padanya. Aku sangat berterima kasih kepada Jacob. Jacob tersenyum. melambai-lambaikan tangannya tinggi-tinggi. Kami serentak mendongak dan melihat Mike dan Jessica lima puluh meter dari kami. djAnGgo 107 . tentunya berhati-hati supaya Mike tidak melihat.” Mike terdengar lega. senang karena rayuanku yang payah.

Sepertinya memang akan hujan. “Sangat menarik. dan Lauren beringsut ke jok tengah mendekati Tyler.” ia memulai lagi.” ucapku tulus. dan aku berani bertaruh ia sedang menggoda Mike. Aku beralasan sudah cukup melihat pemandangan selama perjalanan tadi.” kata Jacob.. memandangi badai yang semakin dahsyat.” aku berjanji padanya.” jawabku.” Aku melompat berdiri. memejamkan mata dan berusaha santai. “Kau dari mana saja?” tanya Mike. “Kau harus mengunjungiku di Forks. Mike sudah di dekat kami sekarang. “Akan kutunggu.“Jadi. dan ia balas tersenyum. Angela hanya memandang ke luar jendela.” Aku tersenyum hangat kepada Jacob.” Mike berhenti. “Aku datang. sambil berhati-hati mengamati keakrabanku dengan Jacob. meski jawabannya sudah jelas di hadapannya. aku akan ikut. Bisa kulihat Mike menatap Jacob dengan pandangan menilai. bersama Jessica yang masih tertinggal beberapa langkah. Ia sangat mudah diajak berteman. meninggalkan noda hitam pada bagian yang ditetesinya. anak-anak lain sudah selesai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi. Beberapa tetes hujan mulai berjatuhan.” Aku merasa bersalah saat mengatakannya. “Oke. djAnGgo 108 . Jacob tersenyum. sepertinya sebentar lagi hujan.” Kami memandang langit yang mulai mendung. sehingga aku bisa dengan mudah menyandarkan kepala. “Jacob baru saja menceritakan beberapa legenda daerah ini. dan tampak puas melihat penampilannya yang jelas lebih muda dari kami. “Well. “Aku juga. Kalau nanti Charlie datang untuk menemui Billy.” “Terima kasih. kalau aku mendapat SIM-ku. Ketika kami sampai di Suburban. Kita harus nongkrong bareng sesekali. mengingat aku telah memanfaatkannya.. Kukenakan tudung kepalaku ketika kami berjalan menyeberangi bebatuan menuju tempat parkir. “Kita akan berkemaskemas. Tapi aku benar-benar menyukai Jacob. Aku merangkak ke jok belakang di sebelah Angela dan Tyler.” “Senang bertemu lagi denganmu.

djAnGgo 109 .

Aku mencari-cari di mejaku sampai menemukan headphone tuakum dan memasangkannya ke CD player kecilku. “Lari. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar. kau harus lari!” bisiknya ketakutan. “Lewat sini. dan membesarkan volumenya sampai telingaku sakit. “Jacob!” jeritku. ada apa?” aku bertanya.Tapi aku tidak berpaling. setidaknya aku sudah hafal chorus-nya. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Begitu sampai di kamar. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai. Serigala itu mengeram-geram di kakiku. akhirnya. Aku mencoba mengikuti suara itu. tapi Jacob Black ada disana. jadi kututup setengah wajahku dengan bantal. aku tertidur. Dentuman bising itu membuatku tak mungkin berpikir. Mimpi buruk Aku memberitahu Charlie PR-ku banyak. aku terkejut menyadari ternyata aku menyukai band ini. Tapi ia sudah lenyap. masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jacob. kini putus asa menginginkan matahari. menarik-narik tanganku. menekan tombol Play. Bella. aku mengunci pintu. bulu-bulu tengkuknya meremang. sampai aku bisa ikut menyanyikannya. Bella!” Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap. Karenanya. Sekonyong-konyong ia jatuh ke lantai hutan yang gelap. suaranya mendengkur. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri. Setengah menyadari diriku sedang bermimpi. matanya gelap dan berbahaya. Aku melangkah sekali lagi. Kuambil CD hadiah Natal dari Phil. Isinya lagulagu dari salah satu band favoritnya. taringnya siap menerkam leher Edward. membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam.” ujarnya. dan tentu saja aku berlagak tidak tahu apa istimewanya pertandingan itu. aku mengenali cahaya kehijauan hutan. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. dan giginya tajam. hingga. dan tidak ingin makan apa-apa. menguraikan pola dentuman drumnya yang rumit. sekujur tubuhnya gemetaran. CD-nya kuputar berulang-ulang. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak. “Tidak!” teriakku. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir. Begitu aku bisa menikmati suara-suara yang ingarbingar itu. Berhasil. tapi bas dan suara teriakannya kelewat berlebihan. Aku memasukkan CD itu. Aku maju selangkah. Tapi Jacob melepaskan tanganku dan mendengking. “Kenapa?” tanyaku. menghampiri Edward. ia tidak mencurigai ekspresi maupun nada suaraku. Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. tak ingin pergi ke tengah kegelapan. Aku mendengarkan musiknya dengan saksama. kulitnya bercahaya samar. “Lari. Setelah 3 kali memutar CD itu. mencoba memahami liriknya. Ia tersenyum. runcing. langsung bangkit dari tempat djAnGgo 110 . Lalu Edward muncul dari balik pepohonan. Bella!” seru Mike dari belakang. Aku memejamkan mata.7. “Percayalah padaku. “Jacob. tapi cahaya lampu masih menyilaukan. Ada pertandingan basket yang amat dinantikannya. tapi aku tak bisa melihatnya. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam.

Ia pergi memancing lagi. Lampu kamar masih menyala. Ketika hasil pencariannya muncul. mengenakan sweaterku yang paling nyaman. Aku berbaring menyamping dan melepaskan ikatan rambutku. Kuambil CD player. Gerakanku yang tiba-tiba membuat headphone -ku terlepas dari CD player yang tergeletak di meja samping tempat tidur. dan menyimpannya di laci lemari. aku duduk di tempat tidur masih berpakaian lengkap dan mengenakan sepatu. Perlahan-lahan aku berpakaian. Vampir. ada banyak pilihan yang harus dibaca. Lalu aku menyetel CD yang sama. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. lalu cepat-cepat menyisirnya dengan jemari. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang. Aku tidak tahu apakah Charlie masih tidur. sesuatu yang tak pernah kulakukan. menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot. untuk men. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Sudah pukul 05. lalu mengetik satu kata. Hanya dengan berbungkus handuk. lalu membereskan tempat tidur. bingung. Lalu aku menemukan situs yang tepat. layanan servis gratisnya buruk.dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu. tentu saja. senang menundanya selama mungkin. lalu menyimpannya. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan. Aku benci menggunakan internet disini. Kuambil tas perlengkapan mandiku. Modemku sudah ketinggalan jaman. memungutnya dari lantai dan meletakkannya tepat di tengah-tengah meja.tidur. Lebih baik mandi dulu. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Aku harus menghadapinya sekarang. Jadi aku menghampiri meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. grup metal underground. sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang djAnGgo 111 . Percuma. Aku mengerang. mobil patrolinya sudah tidak ada. Kakiku kram ketika menaiki tangga. langsung ke bagian yang berisik. Aku memandang jam di lemari pakaian. Bahkan meski sudah berlama-lama mengeringkan rambut. membuka kancing jinsku.ku dulu.30. Aku tak bisa menundanya lebih lama lagi. semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara. kemudian jatuh di lantai kayu. Vampir A-Z. Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. tak ada lagi yang bisa kulakukan di kamar mandi. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya. kepalaku berputar-putar sebentar ketika darah mengalir turun. Aku tak bisa tidur lagi. Aku makan pelan-pelan. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga ter download sempurna. batinku. Acara mandinya tidak berlangsung selama yang kuharapkan. aku pergi ke kamar. Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Bisa kurasakan rambutku yang diikat menusuk-nusuk tengkuk. Kulepaskan headphone-nya. Aku duduk. melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. dan perusahaan kosmetik gotik. Kuintip dari jendela. atau sudah pergi.

tersusun secara alfabetik.. keterangan itu adalah mengenai vampir. yang bukan hantu ataupun setan. namun memiliki kekuatan gelap dan kualitas yang mengerikan serta misterius. kelihatannya seperti situs pendidikan. tak ada figur yang begitu mengerikan. Dan dengan semua itu. Danag bekerja sama dengan manusia selama djAnGgo 112 . vampir Filipina yang menanam taro. Montague Summers Jika di dunia ini ada keterangan yang benar-benar terbukti. namun memiliki daya tarik yang begitu mencengkram. Akhirnya selesai. tak ada figur yang begitu dibenci dan menyeramkan. Di seantero dunia hantu dan setan yang luas dan gelap. ahli bedah. latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam. siapakah di luar sana yang percaya vampir?. sejenis tumbuhan berbuah kentang. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku. para imam. Menurut mitos itu. Pertama-tama aku memilih Danag. surat tersumpah dari orang-orang terkenal. Semuanya lengkap : laporan resmi. hakim. seperti sang vampir. di kepulauan itu dahulu kala. Pdr. pembuktian hukum adalah yang paling lengkap.bermunculan di layar. Rosseau Selain itu situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia.

secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita Jacob atau pengamatanku sendiri. mencari apa saja yang tidak asing bagiku. tak tahu akan ke mana. Mereka tidur di dalam peti seharian. Nelapsi dari Slovakua. yang bahkan terobsesi soal meminum darah. Dalam waktu singkat rumah dan jalanan di belakangku sudah tidak tampak. matahari menjadikan mereka abu. Tak banyak yang kedengarannya seperti film-film yang kutonton. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania. Kebanyakan cerita itu melibatkan roh-roh tanpa raga dan peringatan tentang pemakaman yang tidak layak. Aku harus keluar dari rumah. makhluk ekstarkuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam. tapi belum hujan. lalu turun. satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. Meski begitu. dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan. Lalu masalah lainnya. Kukenakan mantel hujanku tanpa memeriksan cuaca lebih dulu dan menghambur ke luar. Stregoci benefici : vampir Italia. kekuatan. kalau tidak. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. konon memihak kebaikan. hanya ada satu kalimat pendek. kulit pucat. dan musuh abadi semua vampir jahat. lalu kriteria yang diberikan Jacob : peminum darah. keindahan. seperti Estrie dari Yahudi dan Upier dari Polandia. Aku paling payah kalau soal arah. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria. tapi pada suatu hari kerja sama itu berakhir ketika jari seorang wanita terluka dan satu Danag menghisap habis darah yang mengalir dari lukanya. vampir tidak bisa keluar di siang hari. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi cipratan air yang diciptakan langkah-langkah kakiku dan jeritan burung jay yang tiba-tiba. sosok yang tak bisa mati sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat. dan hanya keluar di malam hari. dan hanya sedikit sekali. tapi semua tempat yang ingin kukunjungi berjarak tempuh tiga hari perjalanan. Aku membaca uraiannya dengan saksama. Semua ini benar-benar konyol. Langit mendung. dan satunya lagi Stegoni benefici. apalagi masuk akal. Di balik kekesalanku. menyeberangi pekarangan Charlie menuju hutan terlarang. musuh werewolf. dan abadi. Kecepatan. berkulit dingin. Merasa jengkel. mereka juga sepertinya merupakan gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan mortalitas tingkat tinggi kepada anak-anak. Ada jalan kecil yang membimbingku melintasi hutan ini. Sepertinya seluruh mitos tentang vampir ini berpusat pada wanita cantik sebagai yang jahat dan anakanak sebagai korban. Kenapa sih aku ini? Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks. satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca. Kutinggalkan trukku dan berjalan kaki ke timur. aku takkan mengambil risiko berjalan sendirian seperti ini. mencari keterangan tentang vampir. Aku duduk di kamar.bertahun-tahun. warna mata yang berganti-ganti. Mengenai yang terakhir ini. dan memberi alasan pada para pria untuk berselingkuh. Meski begitu aku tetap mengenakan sepatu botku. Rasanya lega ada satu catatan kecil. tanpa melalui tahapan semestinya. aku merasa malu. kumatikan komputer langsung dari tombol utama. di djAnGgo 113 .

Aku hanya tahu samar-samar nama pepohonan di sekitarku. atau itu hanya tetesan hujan kemarin yang tersisa di rantingranting pohon. aku memperlambat langkah. Jalan ini mengitari pepohonan cemara. Beberapa tetes air jatuh dari dedaunan di atasku. dan yang lainnya aku tidak yakin karena tertutup pohon-pohon parasit hijau. Banyak yang tidak kuketahui. Ketika amarahku memudar. Aku terus mengikuti jalan setapak itu sejauh kemarahanku kepada diri sendiri mendorongku maju. perlahan-lahan menetes jatuh ke pangkuan bumi. mapel. bersandar di batang pohon djAnGgo 114 . Jalan setapak itu semakin memasuki hutan. munurut dugaanku menuju ke timur. tapi aku tak yakin apakah hujan mulai turun. itu pun karena dulu Charlie pernah menunjukkan pepohonan itu dan memberitahu namanya padaku.lingkungan yang lebih bersahabat saja aku bisa tersesat. dan yew. Pohon yang baru tumbang itu. menjulang tinggi di atasku. aku tahu masih baru karena tidak seluruhnya tertutup lumut.

Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitarnya. dan aku tahu seseorang bisa saja berjalan di depan jalan setapak yang hanya satu meter jauhnya. kulit yang pucat dan dingin. tanpa melihatku. Pikiranku menolak rasa sakit itu. Aku melangkahi belukar dan duduk hati-hati. Dan caranya kadang-kadang bicara. aku nyaris tak bisa memaksa diriku memikirkan kata itu. membuatku gelisah. Ini tempat yang buruk untuk didatangi. berbahaya. apa yang harus kulakukan? Melibatkan orang lain jelas tak mungkin. Edward Cullen bukanlah. Sesuatu di luar pembenaran rasional telah terjadi di depan mataku yang tidak percaya. Tapi lalu apa? Batinku.ku sendiri. menjadikan jaketku alas antara kayu yang lembab dengan pakaianku. perubahan mata dari hitam menjadi emas dan hitam lagi. Amat sangat cepat. hal-hal kecil yang muncul perlahanlahan. Kupaksa diriku berkonsentrasi pada dua pertanyaan paling penting yang harus kujawab. Rasanya konyol dan tidak wajar mempercayai kegilaan itu. Tak ada penjelasan rasional mengenai bagaimana aku masih hidup saat ini. Mungkinkan keluarga Cullen adalah vampir? Well. lebih mudah untuk mempercayai kegilaan yang membuatku resah di rumah tadi. Ia lebih dari itu. Aku membuat daftar lagi dalam pikiranku mengenai hal-hal yang kuamati sendiri : kecepatan dan kekuatan yang mustahil.. jaraknya hanya beberapa meter dari jalan setapak. Memintanya menjauhiku. dan bergegas beralih ke pilihan lain. ketampanan yang tidak manusiawi. jadi di atas sana pasti sudah turun hujan. Ia membolos ketika kami menggolongkan darah. aku harus memutuskan apakah perkataan Jacob tentang keluarga Cullen benar adanya. Pertama. bagaimana mereka tak pernah tampak makan. menghindarinya sebisa mungkin. dengan frase dan irama tidak biasa yang lebih tepat digunakan dalam novel kuno daripada percakapan di kelas pada abad ke21. diantara pepohonan. siapapun pasti menganggapku bergurau. Jadi. menyandarkan kepala ke pohon satunya.. tapi aku melakukannya dengan sangat enggan. Lagipula.. Apa yang akan kulakukan kalau dugaanku benar? Jika Edward benar vampir. Entah itu makhluk dingin versi Jacob ataukah teori superhero. Aku bahkan tak mempercayai diriku sendiri. suara tetesan air semakin sering terdengar. membentuk kursi kecil dengan pelindung di atasnya. Kini setelah decak langkah kakiku tak terdengar lagi. sergahku dalam hati. dan kali benar-benar serius.lainnya. barangkali.. Burung-burung membisu. Sepertinya ada dua pilihan. dan semua mitos serta legenda dari tempat berbeda-beda itu sepertinya lebih mungkin di hutan hijau berkabut ini. Reaksi yang langsung muncul adakah menentangnya.. belukar itu lebih tinggi dari kepalaku.. hingga itu mungkin saja murni tindakan spontan. Membatalkan rencana kami. seandainya ia. mengabaikannya sebisaku. sejauh ini ia belum melakukan sesuatu yang bisa menyakitiku. Sebaliknya aku bisa habis digilas mobil Tyler kalau saja ia tidak langsung bertindak cepat. Ia telah memberitahuku bahwa ia jahat. Ia tidak menolak ajakan jalanjalan ke pantai sampai ketika ia mendengar ke mana tujuan kami. Berpura-pura ada kaca tebal tak bisa tembus di antara kami. jahat. mereka memang sesuatu. Seharusnya aku tahu. Kini setelah aku duduk. Di sini. Tapi kalau menyelamatkan djAnGgo 115 . Inilah jawabanku sekarang.. kecuali aku. Pertama mengikuti nasihatnya : bersikap pintar. manusia. keheningan serasa mencekam. daripada di kamar tidurku. Tak ada yang berubah di hutan ini selama ribuan tahun. tapi mau kemana lagi? Hutan ini berwarna hijau pekat dan sangat mirip dengan yang ada di mimpiku semalam. Tiba-tiba aku merasa sangat putus asa memikirkan kemungkinan tersebut.. Terlebih lagi. Aku tak bisa melakukan yang lain. keanggunan mengagumkan dalam gerak mereka. Lalu pertanyaan paling penting dari semuanya.

seberapa jahatkah ia? tukasku marah. Aku mengkhawatirkan-nya. bukannya karena Edward sendiri. Kepalaku berputar dalam lingkaran jawaban yang tak berujung.nyawa adalah tindakan spontan baginya. bahkan ketika ia memanggilku dengan taringnya yang panjang dan runcing. Tetap saja ketika aku menjerit ketakutan karena serangan serigala itu. Gambaran gelap Edward dalam mimpiku semalam hanyalah cerminan ketakutan terhadap cerita Jacob. djAnGgo 116 . Satu hal yang aku yakin. Itu adalah ketakutanku bahwa ia bisa terluka. kalau memang yakin. bukanlah rasa takut akan serigala itu yang membuatku meneriakkan kata ‘tidak’.

rumahnya memberi isyarat padaku. aku mulai melihat ruang terbuka di antara ranting-ranting pepohonan yang bertautan. Akhirnya hari itu berlalu dengan tenang. Karena ketika aku memikirkan Edward. aku terbangun melihat cahaya kuning terang.. pekarangan Charlie membentang di hadapanku. Ketika aku nyaris berlari di antara pepohonan.. Tidak disini. tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit. Malam aku tidur tanpa mimpi. aku tinggal menjalaninya. Terkadang perasaan lega itu bercampur dengan penderitaan. Sebelum kelewat panik. Kamis sore sejujurnya. aku menyelesaikan makalahku sebelum jam delapan. Membuat keputusan adalah sesuatu yang menyakitkan bagiku... tapi aku tak bisa merasakan rasa takut. lebih tenang daripada yang kurasakan sejak. Aku benar-benar tidak tahu bahwa sebelumnya juga ada pilihan. aku terkejut menyadari betapa dalamnya aku telah memasuki hutan itu. dan aku langsung mencatat dalam ingatanku untuk membeli buku resep masakan ikan ketika pergi ke Seattle minggu depan. Sekarang setelah tahu. Anehya keputusan ini mudah dijalani. Tapi jalan kecil itu masih disana. kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal. matanya yang menyihir. produktif. pikirku. aku tahu aku mestinya merasa takut. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks. Aku bergegas mengikutinya. Aku bergidik ngeri dan langsung bangkit dari tempat persembunyian. daya tarik kepribadiannya. atau aku malah mengikuti jalan setapak ini semakin dalam ke hutan yang rapat. Charlie pulang membawa tangkapan besar. Keduanya seharusnya berbeda. Lalu aku bisa mendengar suara mobil melintasi jalanan. Perasaan waswas yang merambati punggungku setiap kali memikirkan perjalanan ini tidak ada bedanya dengan yang kurasakan sebelum aku berjalan-jalan dengan Jacob Black. waswas jalan setapak itu telah lenyap tersapu hujan. Aku seharusnya takut. Meskipun. berderai-derai bagaikan langkahlangkah kaki melintasi lantai bumi. Aku memang selalu seperti itu. kala aku sendirian di hutan yang mulai gelap ini. biasanya dengan perasaan lega karena pilihan sudah dibuat. Aku mulai bertanyatanya apakah arahku benar. berkelok di antara labirin hijau yang menetes-netes. Aku menguraikan versi singkatnya dengan senang hati. Tapi tetap masih lebih baik daripada bergulat dengan pilihan-pilihan lainnya. berhubung aku tidak kemana-mana. Tapi begitu keputusan diambil. menjanjikan kehangatan dan pakaian kering. Aku naik ke kamar dan mengganti pakaianku dengan jins dan T-shirt. bagian yang paling membuatku menderita. Aku melompat ke jendela. Aku sudah terlibat terlalu jauh. Hari sudah siang ketika aku masuk ke rumah. Mudah sekaligus berbahaya. Kubuka jendela. tudung jaketku menutup rapat kepalaku. seperti keputusanku datang ke Forks. Tidak terlalu sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan PR-ku hari iru. aku tak menginginkan yang lain kecuali berada di dekatnya saat ini.Dari situlah aku mendapatkan jawabanku. dan aku pun terbebas. suaranya. seandainya aku benar-benar tahu. tapi aku tak bisa merasakan rasa takut yang seharusnya. well. Tidak ketika hujan membuat suasana teramat temaram bagai langit di bibir malam di bawah payung dedaunan. hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. tapi aku tak bisa memikirkannya. makalah tentang Macbeth yang harus dikumpulkan hari Rabu. pertanda hari bakal cerah. tak ada yang bisa kulakukan tentang rahasiaku yang menakutkan itu. padahal malamnya aku kurang tidur. terkejut karena tak ada bunyi djAnGgo 117 . aman dan jelas.

dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku. sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Ketika Charlie tersenyum.” aku menimpalinya sambil tersenyum. Tapi ketika ia tersenyum. djAnGgo 118 . mulus.deritan.” komentarnya. “Ya. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. Rambut cokelat ikalnya. mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. Charlie telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun. dan menghirup udara yang kering. Ia balas tersenyum. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku. telah menipis. padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka. aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan Reneé ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang. jika bukan teksturnya. “Hari yang bagus untuk berada di luar. perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. warnanya sama dengan rambutku.

” sapaku sambil balas melambai. Charlie meneriakkan ucapan perpisahan.. Kenapa aku tak bisa lagi bercakap-cakap dengan Mike tanpa merasa canggung seperti ini? “Well.” Aku tidak bilang sudah menyelesaikannya. kecewa. dahinya berkerut. tanganku memegang jas hujan. “Hari yang indah. Pikiranku tertuju pada djAnGgo 119 .. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab.” aku jengkel didesak seperti ini. “Kenapa?” ia bertanya. Aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku.” Aku tersadar. dikumpulkan Kamis.” Aku merasa agak jengah ketika ia menyelipkannya di belakang telingaku. dan aku mendengar mobil patrolinya menjauh. “Hei. “Kupikir itu bukan ide bagus. “Gawat. bukan?” “Hari yang kusuka. jadi aku duduk beralaskan jas hujan. “Padahal aku ingin mengajakmu kencan.” “Rabu?” sahutnya. PR-ku sudah selesai. kedengarannya seperti Mike. “Bella!” Aku mendengar seseorang memanggilku. hingga mau tak mau aku senang juga.. Ia menepuk dahi dengan punggung tangan. tak perlulah menyombongkan diri. hasil kehidupan sosial yang menyedihkan. “Hanya di bawah sinar matahari. “Baru sekarang kuperhatikan. memperhatikan debu-debu berterbangan di antara sinar matahari yang menyelinap masuk lewat jendela belakang. tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap.. esaimu tentang apa?” “Apakah perlakukan Shakespeare terhadap karakter-karakter wanita meremehkan atau tidak. “Kurasa aku harus mengerjakannya malam ini. matanya siaga.” katanya sambil meraih sejumput rambutku yang berkibaran di jemarinya. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus. Ia duduk di sebelahku. aku bisa membuat kedua jendela trukku membuka sampai ke bawah. Ia sangat senang bertemu denganku. kan?” “Mmm. Semua anak menggunakan T-shirt . Aku memandang berkeliling dan menyadari sekolah sudah penuh. senyum merekah di bibirnya.. Dengan menuangkan banyak pelumas. Ia mengenakan celana pendek khaki dan T-shirt rugby bergaris. rambut spike-nya bersinar keemasan. dan sedang melambai ke arahku. dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti. memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked. “Seharian mengerjakan esai. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. “Oh iya. kurasa Rabu..” Wajahnya kecewa.” katanya.Aku menyantap sarapanku dengan ceria. Mike menghampiriku. “Mike. Mike.. Ketika melewati ambang pintu aku ragu sejenak. bahkan beberapa mengenakan celana pendek meskipun suhunya tak mungkin lebih dari 15° C.” “Oh.” Ia tersenyum penuh harap.” sahutku. aku bahkan tak sempat melihat jam ketika terburu-buru meninggalkan rumah tadi. “Apa yang kaulakukan kemarin?” Nada suaranya sedikit terdengar seolah-olah aku pacarnya. senang bisa menggunakannya. Sambil menghela napas kutaruh jas hujan itu di lipatan tanganku dan melangkah ke dalam terangnya cahaya yang sudah berbulan-bulan tak pernah kulihat. rambutmu ada semburat merahnya. kita bisa pergi makan malam atau apa. tak mampu untuk tidak bersemangat di pagi secerah ini.” Ia menatapku seolah-olah aku baru saja bicara dalam bahasa Latin. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat.

dan kalau kau beritahukan apa yang kukatakan ini kepada orang lain.” ia menarik napas. “Kupikir.” ancamku.. dengan senang hati aku akan menghajarmu sampai mati. jelas bingung. djAnGgo 120 .Edward. “tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.. Aku menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari situ. Ia keheranan. membayangkan apakah Mike juga memikirkan yang sama. kau ini buta ya?” “Oh. jelas itu sama sekali tak terpikir olehnya. Mike. “Jessica?” “Sungguh.

Angela juga mengajakku ikut malam ini. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa. tidak sama sekali. meskipun hatiku sedih. Sepanjang perjalannan menuju kelas Spanyol. lalu menetap di perut. menungguku.“Waktunya masuk kelas. menggapai apa saja yang bisa mengalihkan perhatian. dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya. Lupakan saja kenyataan bahwa lusa mereka akan memberiku raket sebelum melepaskanku untuk menjadi santapan seluruh kelas. kubilang akan minta izin Charlie dulu. meskipun sebenarnya aku tidak perlu membelu gaun. Aku tersadar aku ternyata masih berharap ketika memasuki pelajaran Biologi dan melihat kursinya kosong. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. berharap menemukannya duduk sendirian. Tapi setidaknya itu artinya aku hanya perlu duduk mendengarkan. yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Dan siapa tahu apa yang akan aku lakukan malam nanti. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama. Ia. Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria. dan aku tak boleh terlambat lagi. Sisa hari itu berjalan sangat pelan. Tentu saja aku gembira karena matahari bersinar hari in. tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Edward atau saudarasaudaranya. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapuku..” Kukumpulkan buku-bukuku dan menjejalkannya ke tas. melainkan juga semua keluarga Cullen. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengannya. jadi besok aku terbebas lagi dari penyiksaan. Pasti menyenangkan bisa jalan-jalan ke luar kota dengan sahabat-sahabat cewek. kurasakan rasa takut pertama yang sesungguhnya menuruni punggungku. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan. dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono. Tapi aku tak boleh membiarkan pikiranku mengembara kesana. Aku tak bisa memutuskan. Kuharap apapun yang dipikirkannya akan membawanya ke arah yang benar. apakah Edward menunggu untuk duduk bersamaku lagi? Seperti biasa mula-mula kau memandang meja keluarga Cullen. Bagian terbaiknya adalah. sama sekali tak repotrepot berpura-pura mendengarkan. tapi Laurent juga bakal ikut. pelatih tidak selesai menjelaskan. dan sekarang aku mengatakan ya. Kafetaria itu sudah nyaris penuh. Sebisa mungkin kujawab sewajarnya. untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggayuti pikiranku. Di pelajaran Olahraga kami membahas tentang peraturan bulutangkis. dan kamipun menuju kafetaria untuk makan siang. bukannya terpeleset di lapangan. Angela. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Gelombang kekecewaan melanda diriku lagi. djAnGgo 121 . Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. ia kelihatannya sangat antusias. Tapi sinar matahari tak sepenuhnya bertanggung jawab atas suasana gembira yang kurasakan saat ini. Ketika melintasi pintu kafetaria. dan memilih duduk di sebelah Angela. kelas Spanyol menahan kami. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike. dan raut wajahnya gelisah.. muram. dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka. Angela menanyakan beberapa hal tentang makalah Macbeth-ku. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan. Jadi kubilang akan memikirkannya. siksaan berikut yang sudah mereka siapkan untukku.

Yang berarti aku hanya tinggal sedikit hal untuk mengalihkan perharian. Aku membumbui ikan untuk makan malam. jadi tak ada apa-apa lagi yang bisa kukerjakan. tapi lalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat. aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti. tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam.Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah. Jessica menelepon membatalkan rencana kami. dan menyiapkan salad dan roti sisa semalam. djAnGgo 122 .

di halaman kecil Charlie yang berbentuk persegi. selimutnya kulipat dua lalu kuhamparkan di bawah pepohonan. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat. Favoritku adalah Pride and Prejudice dan Sense and Sensibility . yang semakin lama semakin sisis. menembus kausku yang tipis. mereasa jengkel. hidung. mengangkat dan menyilangkan pergelangan kaki. beberapa Alasanku terdengar menyedihkan. Aku berbaring menelungkup. dan kembali berkonsentrasi pada kehangatan yang menyentuh kelopak mata. ujarku kasar pada diri sendiri. duduk. dan rasanya agak geli. Setelah samapai bab tiga aku pun teringat bahwa tokoh pahlawan di cerita itu kebetulan bernama Edward. Aku mengedarkan pandang. Baru-baru ini aku telah membaca yang pertama. Di luar. leher. membalik-balik halaman novel itu. Rupanya aku tertidur. Dengan marah kuganti bacaanku dengan Mansfield Park. jadi aku akan keluar dan menyerep vitamin D sebanyak yang kubisa. jadi aku menyerah saja Hari ini cuaca cerah. tapi mampu meniup bulu-bulu halus di wajahku. djAnGgo 123 . Aku nggak ada di rumah. Kutarik lengan bajuku setinggi mungkin dan memejamkan mata. tulang pipi. Angin masih sepoi-sepoi. Dlaam perjalanan turun aku menyambar selembar selimut tua usang dari lemari di tangga teratas. Aku membawa beberapa buku ke Forks. Kutarik rambutku ke atas. aku tahu. jadi kupilih Sense and Sensibility. membaca tumpukan surat dari ibuku. hampir mirip. lengan bawah. Aku sayang kau. Bella. tapi peduli seberapa lama matahari menyinarinya. Memangnya tak ada nama lain di akhir abad kedelapan belas ya? Kubanting buku itu hingga menutup. Dan aku harus membuat makalah. Aku memilihnya dan pergi ke halaman belakan. bibir. Aku tidak memikirkan apa pun kecuali kehangatan yang kurasakan pada kulitku. mencoba memutuskan karya mana yang paling menarik. Aku langsung terbangun. Hal berikut yang kusadari adalah suara mobil patroli Charlie memasuki halaman. di atas rumput tebal yang selalu agak basah.Kuperiksa e-mail-ku. bingung karena perasaan yang muncul tiba-tiba bahwa aku tak lagi sendirian. membirkannya mengering di selimut diatas kepalaku. tapi pahlawan di buku itu bernama Edmund. Maaf. Kuputuskan untuk mengahabiskan waktu satu jam membaca sesuatu yang tak ada hubungannya dnegan pelajaran sekolah. menyadari sinar matahari sudah lenyap di balik pohon. Aku pergi ke pantai dengan teman. Mom. dan yang paling tebal merupakan kumpulan karya Jane Austen. lalu berguling hingga terlentang. aku juga terkejut.

“Charlie?” panggilku. Tapi aku mendengar pintunya terbanting menutup. Aku melompat, merasa gugup dan konyol, mengumpulkan selimut yang sekarang lembab dan bukubukuku. Aku berlari masuk untuk memanaskan minyak, saat sadar waktu makan malam sudah tiba. Charlie sedang menggantungkan sabuk senjatanya dan melepaskan sepatu bot ketika aku masuk. “Maaf, Dad, makan malam belum siap, aku ketiduran di luar sana.” Aku mengatakannya sambil menguap. “Jangan khawatir,” katanya. “Aku hanya ingin cepat-cepat nonton pertandingan kok.” Setelah makan malam aku nonton TV bersama Charlie, sekadar mengisi waktu. Tak ada yang ingin kutonton, tapi ia tahu aku tidak suka baseball, jadi ia menggantinya ke sitkom membosankan. Tak satu pun dari kami menikmatinya. Meski begitu ia kelihatan senang karena bisa melakukan sesuatu bersamaku. Dan meskipn aku sedang sedih, rasanya menyenangkan bisa membuatnya senang. “Dad,” kataku saat jeda iklan, “besok malam Jessica dan Angela ingin ke Port Angeles mencari gaun pesta, dan mereka ingin aku membantu memilih... apakah aku boleh ikut bersama mereka?” “Jessica Stanley?” tanyanya.

djAnGgo

124

“Dan Angela Webber.” Aku menghela napas ketika memberi keterangan tambahan padanya. Ia bingung. “Tapi kau tidak akan pergi ke pesta dansa, kan?” “Tidak, Dad, tapi aku membantu mereka memilih pakaian, kau tahu, memberi kritik yang membangun.” Aku nggak bakal perlu menjelaskan hal ini kalau ayahku perempuan. “Well, baiklah.” Ia sepertinya menyadari dirinya tidak mengerti urusan anak perempuan. “Itu masih malam sekolah, kan?” “Kami langsung pergi sepulang sekolah, jadi bisa pulang lebih cepat. Kau bisa menyapkan makan malam sendiri kan?” “Bells, aku memasak makananku sendiri selama tujuh belas tahun sebelum kau datang,” ia mengingatkanku. “Aku tak tahu bagaimana kau bisa bertahan hidup selama itu,” gumamku, lalu menambahkan sesuatu yang lebih jelas, “aku akan menyiapkan bahan-bahan sandwich di kulkas, oke? Persis di sebelah atas.” Paginya matahari bersinar cerah lagi. Aku terbangun dengan harapan baru yang susah payah coba kutekan. Aku mengenakan pakaina yang cocok untuk udara hangat seperti sekarang, blus berpotongan V biru tua, sesuatu yang kukenakan pada musim dingin yang parah di Phoenix. Aku telah mengatur kedatanganku di sekolah agar tidak terlalu pagi, sampaisampai nyaris tak ada waktu untuk bergegas ke kelas. Dengan hati mencelos aku mengitari parkiran yang penuh, mencari tempat yang masih kosong, sambil mencari Volvo silver yang jelas-jelas tak ada disitu. Aku memarkir truk di baris terakhir dan bergegas ke kelas bahasa Inggris. Aku tiba terengah-engah, tapi berhasil sampai sebelum bel terakhir berbunyi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan secercah harapan tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat dengan hati hancur aku mencari-cari mereka di ruang makan siang, dan duduk sendirian di kelas Biologi. Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota supaya bisa berhenti menoleh ke belakang, berharap melihatnya muncul tiba-tiba seperti yang selalu di lakukannya. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusaka kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian. Kuenyahkan ppikiran bahwa aku mungkin akan berbelanja sendirian di Seatle akhir pekan ini, tak lagi tertarik dengan kesepakatan tempo hari. Tak mungkin ia membatalkannya tanpa setidaknya memberitahuku. Usai sekolah Jessica ikut ke rumahku dengan Mercury tuanya yang putih, jadi aku bisa meninggalkan buku-buku dan trukku. Kusisir rambutku cepat-cepat selagi di dalam, merasa sedikit senang membayangkan meninggalkan Forks. Aku meninggalkan pesan di meja untuk Charlie, kujelaskan lagi dimana kusimpan makan malamnya, Lalu aku memindahkan dompet lipatku dari tas sekolah ke tas kecil yang jarang kugunakan, lalu lari dan bergabung dengan Jessica. Selanjutnya kami pergi ke rumah Angela, ia sudah menunggu kami. Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

djAnGgo

125

djAnGgo

126

8. Port Angeles
Jess mengemudi lebih cepat daripada Charlie, jadi kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Sudah lama aku tidak kumpul-kumpul dan nongkrong dengan temanteman cewekku, hingga aliran esterogen membuatku bersemangat. Kami mendengarkan lagu-lagu rock berisik sementara Jessica berceloteh tentang cowok-cowok yang sering nongkrong bersama kami. Makan malamnya bersama Mike berlangsung sangat baik, dan ia berharap malam Minggu nanti mereka bakal berciuman. Aku tersenyum sendiri, merasa senang. Secara tidak kentara Angela juga senang akan pergi ke pesta dansa, tapi ia tidak benar-benar naksir Eric. Jess mencoba membuat Angela mengaku tipe cowok seperti apa yang disukainya, tapi aku menyela dengan menanyakan soal pakaian, untuk mengalihkan perhatiannya. Angela memandangku dengan ekspresi terima kasih. Port Angeles adalah daya tarik yang indah bagi wisatawan. Meskipun hanya kota kecil, tempat itu lebih tertata dan menarik dibanding Forks. Tapi Jessica dan Angela sudah sangat mengenalnya, jadi mereka tidak berencana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di semenanjung, mengagumi keindahan kota. Jess langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix. “Apa kau tak pernah berkencan atau apa?” Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko. “Sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. “Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar.” “Kenapa?” tanya Jessica. “Tidak ada yang mengajakku,” jawabku jujur. Ia tampak ragu. “Di sini orang-orang mengajakmu berkencan,” ia mengingatkanku, “dan kau menolaknya.” Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun. “Well, kecuali Tyler,” ralat Angela. “Maaf?” aku menahan napas. “Apa katamu?” “Tyler bilang ke semua orang dia mengajakmu ke pesta prom,” Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga. “Dia bilang apa?” aku kedengaran seperti tersedak. “Sudah kubilang itu tidak benar, kan,” Angela bergumam pada Jessica. Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. “Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu,” Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih. Dengan geram aku berkata, “Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?” “Mungkin?” Jess nyengir. “Kalau memang itulah alasannya mengajakmu.” Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek di kamar pas, di depan cermin tiga arah, berusaha 127

djAnGgo

mengendalikan amarahku. Jess bimbang diantara dua pilihan, gaun panjang hitam tanpa lengan, atau gaun warna biru elektrik dengan tali tipis di pundak. Kusarankan ia memilih yang biru; kenapa tidak mencoba sesuatu yang berbeda? Angela memilih gaun pink pucat yang membalut tubuh jangkungnya dengan indah dan menegaskan warna

djAnGgo

128

keemasan rambutnya yang kecoklatan. Aku memuji mereka dengan tulus dan membantu mengembalikan pakaian yang tak jadi dipilih ke rak. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama Reneé di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macammacam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan. “Angela?” ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian. “Ya?” Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda. Lalu aku mendadak takut. “Aku suka yang itu.” “Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini,” ia melamun. “Beli saja, sedang diskon kok,” dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis. Aku mencobal lagi. “Mmm, Angela...” Ia menatap penasaran. “Apakah anak-anak... Cullen”, aku terus memandangi sepatu, “memang sering membolos sekolah?” Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja. “Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati,” ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela. “Oh.” Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya. Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess. Mudah bagiku menemukannya, tapi ternyata bukan toko buku itu yang kucari. Jendelanya penuh dengan kristal, penangkap mimpi, dan buku-buku penyembuhan spiritual. Aku bahkan tidak masuk. Lewat jendela kaca aku bisa melihat perempuan berumur lima puluh tahunan dengan rambut panjang beruban tergerai di punggung, mengenakan pakaian tahun ’60-an. Ia tersenyum ramah dari balik konter. Kuputuskan tidak mencoba bicara dengannya. Pasti ada toko buku normal di kota ini. Aku menelusuri jalan demi jalan yang padat oleh orang-orang pulang kerja, berharap aku sedang menuju pusat kota. Aku tidak terlal memperhatikan arah langkahku; aku berusaha keras tidak memikirkan Edward, juga apa yang dikatakan Angela... Lebih lagi, aku mencoba mematikan harapanku untuk Sabtu nanti, khawatir akan lebih kecewa lagi. Ketika itu aku mendongak dan melihat sebuah Volvo silver di parkir di jalan. Tiba-tiba saja pikiran itu menyergapku. Dasar vampir tolol yang tak bisa dipercaya, pikirku. Aku melangkah marah ke selatan, menuju beberapa toko berjendela kaca yang

djAnGgo

129

sepertinya menjanjikan. Tapi ketika tiba disana, itu hanya toko reparasi dan toko kosong. Masih ada terlalu banyak waktu sebelum bertemu Jess dan Angela, dan jelas aku perlu memulihkan suasana hatiku sebelum bertemu mereka lagi. Kusisir rambutku dengan jemari dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbelok di sudut jalan. Ketika menyeberang, aku tersadar telah menuju ke arah yang salah. Rambu lalu lintas yang kulihat menuju ke arah utara, dan sepertinya bangungan-bangunan disini kebanyakan gudang. Kuputuskan untuk membelok ke timur di belokan berikut, kemudian setelah beberapa blok aku berputar dan mencoba keberuntunganku dengan mengambil jalan yang berbeda.

djAnGgo

130

Empat cowok muncul dari pojokan yang kutuju, berpakaian terlalu santai untuk kategori pekerja yang baru pulang kerja, tapi terlalu lusuh sebagai turis. Ketika mereka mendekat, aku menyadari umur mereka tidak telalu jauh dariku. Mereka bercanda sambil berteriak-teriak, tertawa liar dan saling menonjok lengan. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka. “Hei, kau!” panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap, kira-kira awal dua puluhan. Ia mengenakan kaus flanel diatas Tshirt kotornya, jins sobek-sobek, dan sandal. Ia melangkah ke arahku. “Halo,” gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku. “Hei, tunggu!” salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudanggudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai di badian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap, awan-awan akhirnya berkumpul lagi di langit barat, membuat matahari terbenam lebih awal. Langit timur masih bersih, tapi mulai kelabu dengan semburat merah jambu dan jingga. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyongkonyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat. Sebuah van melintas di depanku, lalu jalanan kembali kosong. Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak udang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri. Aku mendengarkan langlah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Bella, aku mengingatkan diri sendiri. Kau tidak tahu apakah mereka mengikutimu. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

djAnGgo

131

dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. di sana ada rambu stop. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang. Aku melihat dua mobil djAnGgo 132 . Aku berpikir untuk menyetopnya. Aku memberanikan diri menoleh sekilas. tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku setengah berbalik dengan siaga. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku. Aku sampai di sudut. kembali ke trotoar. memutuskan akan lari atau tidak.Sebuah mobil biru muncul dari selatan dan meluncur cepat ke arahku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu. Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Jalanannya berakhir di sudut berikut. Langkahku tetap stabil. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku. tapi ragu. tak yakin apakah mereka benar-benar mengejarku.

aku tidak sedang diikuti. tendangan lutut ke daerah vitalnya. Suara pesimis dalam benakku terdengar lagi. Karena terhalang bangunan di sebelah barat. Dalam kegelapan yang menyelimuti.” terdengar suara gusar memerintahku. karenanya aku menghirup napas dalam-dalam. mobil ini akan berhenti. mengingatkanku bahwa aku tak mungkin bisa mengalahkan salah satu dari mereka. dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku. Dengan hari ciut aku menyadari usahaku sia-sia. di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. “Jangan dekati aku. Lalu menghentikan langkah. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. bersiap-siap berteriak.” aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Aku memasang kuda-kuda. Manis. Dengan cepat aku meloloskan tapi tasku dari kepala. menggenggamnya. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik. bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan. siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku pun tersadar. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Aku melompat djAnGgo 133 . Sekonyong-konyong lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar. Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap. Tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin seberapa keras aku bisa berteriak.” seru cowok itu. ia seolaholah memandang ke belakangku. apalagi mereka berempat. Menusukkan jari ke matanya. membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. Mereka menatapku sambil tersenyum puas. memaksanya melompat ke trotoar. mudah-mudahan bisa mematahkan hidungnya atau menghantam kepalanya. Kutelan liurku supaya bisa berteriak lantang. Aku dijebak. “Disitu kau rupanya!” Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. “Masuk. Tentu saja jurus standar. lampu jalan. dan berjalan pelan ke jalan. hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Kepalan tangan siap kulayangkan. Aku takkan menyerah sebelum mengalahkan salah satu dari mereka. Teriakanku cukup keras dan lantang. Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Diam! Kuperintah suara itu diam sebelum mulai ketakutan. Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan. “Kami hanya mengambil jalan pintas. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering. mencoba menusuk dan mencongkel keluar matanya. atau menabrakku. Aku berlari ke tengah jalan. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. tapi mereka terlalu jauh. kaki terbuka.” suara keras menyahut dari belakangku. mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku. Aku membelok dengan helaan napas lega. dan lebih banyak lagi pejalan kaki. tak ada suara yang keluar. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang. “Jangan begitu.yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju. “Yeah. dan aku menghela napas lega. mobil-mobil.” Langkahku sekarang pelan.

terus melesat cepat. dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. melaju terlalu cepat. kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. Suasana di dalam mobil gelap. suara klik ketika sabuh pengaman terpasang terdengar nyata dalam kegelapan. tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka.” perintahnya. Tapi aku merasa sangat aman. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam. membanting pintu hingga tertutup. berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. “Pakai sabuk pengamanmu. Ia membelok tajam ke kiri. dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan. djAnGgo 134 .masuk. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara. Aku langsung mematuhinya. melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil.

” Kata itu sepertinya tidak cukup.” gumamku. memalingkan wajah. Kami sudah meninggalkan kota. “Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku.” Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. “Mmm. “Oh ya?” tanyaku tidak percaya. “Apa yang terjadi?” bisikku. “Tidak.” perintahnya. beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi.” Ia juga berbisik. berarti kedudukan kami seri.” gumamku. kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang. Wajahnya kaku. Aku memandang berkeliling. Aku duduk diam. berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom. mobilnya masih ngebut.” katanya kasar.. matanya menyipit. “Setidaknya. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya.30. Ia menyandarkan kepala ke kursi.” Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa. kau pasti ingat. tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo. “Ya?” suaraku masih parau.” ia menjelaskan. Kalau tidak punya kendaraan. “itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri. “Aku seharusnya menemui mereka. berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. “Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu. “Jessica dan Angela pasti khawatir. “Aku sudah dengar. tapi sudut bibirnya menegang. menunggu napasku kembali normal.” “Oh. memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan. Kami duduk diam lagi. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. Aku tidak memerlukan musuh. akhirnya membuka mata. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya. “Lebih baik?” “Tidak juga. Aku melihat jam di dasbor. dia juga tidak bisa pergi ke prom. “Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah. “Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?” Ia masih memejamkan mata dengan susah payah. dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. “Tolong alihkan perhatianku. dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di djAnGgo 135 .. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk. apa katamu?” Ia menghela napas keras-keras. “Kenapa?” “Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom. hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.. suaranya tegang namun terkendali. tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik. nada suaranya marah. “Kau baik-baik saja?”Ia masih tidak memandang ke arahku. menatap langit-langit mobil. dan barangkali Lauren akan kembalu bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku... Edward menghela napas.” Ia tidak menyelesaikan kata-katanya. Bella.” jawabku lembut.” lanjutnya. “Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang. Sudah lewat 18. “Maaf. tapi amarah tampak jelas di wajahnya. tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.” cerocosku. “Ya. “Bella?” ujarnya. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan. sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. well.. memandang ke luar jendela.Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas. Diam-diam aku berusaha berdeham.” Aku menunggu.” Ia terdengar lebih tenang. terkejut mendengar betapa parau suaraku. menjelaskan rencanaku.

.. Aku mendengar pintunya terbuka dan melihat ia hendak keluar dai mobil. tapi ia melakukannya dengan mudah.jalur boardwalk. berjalan waswas menjauhi kami. djAnGgo 136 . Aku memandang ke luar dan melihat tulisan La Bella Italia.” aku memulai. “Bagaimana kau tahu dimana. tapi lalu aku hanya menggelenggelengkan kepala. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya. Jess dan Angel tampak baru saja meninggalkan meja.

” kataku sambil menunjuknya. Kurasa aku takkan bisa menahan diriku kalau bertemu ‘temantemanmu’ yang tadi itu lagi. Jelas sekali ia tak ingin didebat. aku tahu Edward belum pernah bicara seperti itu pada mereka. “Kalau begitu. Mereka ragu. “Jess! Angela!” seruku mengejar mereka. Ia menungguku di trotoar. dan rambutnya dicat pirang. Aku mengedip padanya. lagi pula aku tidak lapar.” “Eehh.” Suara Edward pelan. tapi Edward menggeleng. hibur aku. Aku hendak duduk. “Aku tersesat. “Boleh aku bergabung dengan kalian?” ia bertanya. tapi sepertinya Edward menyelipkan tip ke tangan si cewek. sebenarnya. dan aku memahai sorot matanya ketika ia menilai Edward. melambai ketika mereka menoleh. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku.“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.” Angela mendahului Jessica.” aku mengaku malu-malu.” aku Angela. saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung.” Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil. mengamati wajahnya. menunggu mereka menjauh sebelum berbalik menghadap Edward. “Sejujurnya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku....” Aku mengangkat bahu. “Pergilah. “Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Bella pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan. Kami disambut seorang cewek. kami sudah makan ketika menunggumu tadi.” Aku bergidik mendengar ancaman dalam suaranya. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. wajahnya penasaran.. yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi. “Mmm. Edward. maaf. “Mmm. “Tidak apa-apa. Bella. Jess berbalik dan melambai.” Ia berjalan ke pintu restoran dan membukakannya untukku dengan raut keras kepala. hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga. “Kau dari mana saja?” suara Jessica terdengar curiga. “Kurasa kau harus makan sesuatu. tentu saja.. aku tidak lapar. Bella. berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku tak yakin.” Jessica menggigit bibir. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku. Restorannya tidak ramai. “Untuk dua orang?” suara Edward terdengar menawan. “Oke. “Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” desaknya lembut. Ia berbicara mendahuluiku.” dengus Jessica. Dari ekspresi mereka yang terkejut. kemudian bergegas keluar dari mobil. puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Edward berdiri tidak terlalu dekat denganku. Ia melangkah keluar dari mobil dan membanting pintunya.” aku berkeras. entah disengaja atau tidak. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras. tidak masalah. “Sampai besok. kurasa.” katanya sedikit tersenyum. Kulepaskan sabuk pengamanku. tapi sorot matanya tetap tajam. Mereka bergegas menghampiriku. suaranya lembut dan menggoda. enggan mendekat. Aku balas melambai. Ekspresinya tak bisa ditebak. Aku tak pernah melihat ada orang djAnGgo 137 .. Ketika akan masuk ke mobil. tapi bernada memerintah. Aku berjalan melewatinya ke dalam restoran sambil menghela napas tanda menyerah. “Mengajakmu makan malam. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. “Kemudian aku berpapasan dengan Edward.

” Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.yang menolah tawaran meja kecuali di film-film lama. ia menggeleng. “Tentu. matanya mengerjap. “Tidak adil. “pelayan kalian akan segera datang. “Kau seharusnya tidak melakukan itu padang orang-orang. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok. semua kursinya kosong. membuat cewek itu sesaat terpana.” aku mengkritiknya. “Mmm”. “Bagaimana dengan yang ini?” “Sempurna.” Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku.” djAnGgo 138 .” Edward memamerkan senyumnya yang memukau.

terkejut karena kusungguhan hatinya. “Oh. masih haus.. wajahnya penuh harap. “Aku tidak pesan. “Minum. “Kau sudah mau memesan?” tanyanya pada Edward.” Senyum lebar mengembang di wajahnya.” Ia tampak bingung. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku. Ia sedang memperhatikanku. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. “Apakah aku membuatmu terpesona?” “Sering kali.” jawabku. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku. “Aku membuat orang terpesona?” “Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?” Ia mengabaikan pertanyaanku. “Bagaimana perasaanmu?” “Aku baik-baik saja. Tentu saja.” Pucuk dicinta ulam tiba.” Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya. sebenarnya aku menunggumu syok.” aku berkata ragu. dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini..” “Kau?” ia berbalik lagi sambil tersenyum.” Ia memiringkan kepala. barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur. “Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan. Pelayan datang. “Kupikir itu tidak bakal terjadi. “Well.” ia menyuruhku. “Mmm.” “Sama.” aku mengakuinya. aku mau mushroom ravioli. “Kau tidak merasa pusing. “Bella?” tanya Edward. kedinginan. “Aku mau Coke. “Hai. Kalian mau minum apa?” Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Edward.” kataku setelah bisa bernapas lagi. sorot matanya perasaran..?” “Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?” Ia tergelak mendengar kebingunganku. Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. Namaku Amber. “Kenapa?” tanyaku ketika si pelayan berlalu. ayolah. aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis. “Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian. “Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu. Kusesap sodanya dengan patuh.” gumamku. sakit. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat.” ia meyakinkan Edward sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. Edward memandangku. tapi Edward tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa. “Terima kasih. “Kau kedinginan?” djAnGgo 139 . membuatku gemetaran. Pandangannya terpaku di wajahku. si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis.” kata Edward. lalu minum lagi lebih banyak. Tapi Edward tidak memandangnya.” Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang. “Dua.“Melakukan apa?” “Membuat mereka terpesona seperti itu.” kata Edward. “Panggil aku kalau kau berubah pikiran. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku.

Namun sekarang aku melihatnya. benar-benar memperhatikannya.” aku menjelaskan. Edward menanggalkan jaketnya.” Aku memandang kursi kosong di sebelahku. Ia menanggalkan jaket kulit djAnGgo 140 .” aku tersadar. bukan hanya malam ini. hanya Coke yang kuminum. tapi sejak awal.“Tidak. “Oh. ketinggalan di mobil Jessica. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. “Kau tidak punya jaket?” suaranya tidak puas dengan penjelasanku. “Punya. kembali gemetaran.

“Sungguh. “Kau tak ingin kubawakan sesuatu?” Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya.” djAnGgo 141 . Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku. “Dan?” sambarnya. namun tatapannya masih tegang. Ia memberikan jaketnya kepadaku. “Kau seharusnya syok. seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. terkesima. “Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang.” lanjutku. sambil menebak ekspresinya. mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung. tapi kau boleh membawakan soda lagi. “Well.” Ia tampak khawatir. Ia menatap ke dalam mataku. cokelat keemasan. Lengannya kelewat panjang.” aku mengakui. sambil mengenakan jaketnya. dan aku melihat betapa matanya terang. mengalihkan kerlingan mataku.. Sweter itu amat pas di tubuhnya. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah. “Ada syaratnya?” Ia mengangkat satu alisnya.. “Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan.” kataku lagi. Ia menggeleng. alisnya yang berwarna pualam mengerut.” Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu.” Matanya menyipit. dan langsung berbalik menghadap Edward. Aku terkejut.” “Tidak masalah.” katanya memperhatikan.warna krem muda.” protesku. Aromanya menyenangkan. Aku menghirupnya. berusaha terlihat cuek. “Aku akan menceritakannya di mobil. Tidak seperti aroma kolonye. “Aku punya teori tentang itu.” ujarku. aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan. begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. sepertinya lumayan enak. “Tidak. “Tentu. tidak. seperti pada umumnya orang normal. Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya. memperjelas bentuk dadanya yang kekar. tadi kupikir matamu berubah kelam. wajahku memerah tentu saja. “Aku merasa sangat aman denganmu. “Teori lagi?” “Mm-hm. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran.”Aku mengunyah sepotong kecil roti. “Apa katamu tadi?” tanya Edward. karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. Rasanya sejuk.” gumamnya pada diri sendiri. Ia menatapku. “Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu. mencoba mengenali aroma itu. Ia menaruh makanan itu di depanku. di baluk jaketnya ia mengenakan sweter turtleneck kuning gading. terima kasih.” aku berhenti. atau kau masih mengutip dari buku-buku komik?” Senyumnya mengejek. lalu menunduk. tapi aku juga tidak mendugaduganya sendiri. aku tidak merasa syok. “Apa?” “Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam. Kalau. lebih terang daripada yang pernah kulihat. wajahnya cemberut. “Apakah kau berubah pikiran?” tanyanya. “Terima kasih. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya.” ujarku. Perkataanku membuatnya tidak nyaman... “Kuharap kau lebih kreatif kali ini. “Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. Aku kembali gemetaran.” Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong. aku tidak mendapatkannya dari komik. suaranya terdengar waswas.

djAnGgo 142 . ayo mulai. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara.” ia mendesakku. “Well.Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. lalu pergi. suaranya masih tegang. Aku menyesapnya.

” ia mengulangi perkataannya..” “Baik kalau begitu. masih menunduk. “Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. membaca pikiran. “Ya sudah.” “Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?” tebakku. Kalau Joe memperhatikan. “Betul juga.. dengan satu pengecualian. tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. “Kenapa kau berada di Port Angeles?” Ia menunduk. Meski menunduk.” Ia menggeleng. dan kurasa ia sedang membuat keputusan. Kau daya tarik terhadap masalah.” aku mengingatkannya dengan nada dingin. mengunyah sambil berpikir. seseorang. Ia tertawa. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan. pemilihan waktunya tak perlu setepat itu. “Secara hipotetis?” tanyanya. “Berikutnya. kalau begitu. “Tak salah lagi. mengabaikan ketika ia mencoba menariknya. Atau begitulah menurutku. disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. memutar bola matanya.” aku mengusulkan... “Aku salah. Kami bertatapan.” “Tapi itu yang paling mudah. penggolongan itu tidak cukup luas. perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. “Katakan saja. kau tahu itu...” “Hanya satu pengecualian. matanya hangat. Kau bisa membuat angkat tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade. secara hipotesis tentu saja. Sepertinya ia sedang bergidik.” Aku memandangnya marah. kesal.” “Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli -nya.” sahutnya menyetujui. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. “Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” gumamku. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi. “Berikutnya.. kau lebih teliti daripada yang kukira.” Ia kembali menggeleng.. Jamurnya enak. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat. Raut wajahnye berubah dingin.. seseorang itu. begitu juga aku. dan djAnGgo 143 .” Aku senang ia berusaha meladeniku. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak. kau tahu. mengatakan yang sejujurnya atau tidak. tapi ia langsung menariknya. Aku menunduk.” “Biasanya begitu. tapi aku berusaha terlihat kasual.” “Kupikir kau selalu benar.Aku memulai dengan yang paling sederhana. “Kau tahu. menandakan ia mengejekku.. “Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasanbatasannya? Bagaimana bisa. “Oke. “Bisakah kita memanggilmu Jane?” “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. kalau. “Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan. bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain. seseorang. masalah itu selalu bisa menemukanmu. kau bisa mempercayaiku. tanpa ekspresi. bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya.” “Well.” “Sebut saja dia Joe.” Suaranya nyaris seperti bisikan.” Kuulurkan tanganku sekali lagi. dengan beberapa pengecualian. dan perlahan melanjutkan pertanyaan. menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bgaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?” Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti. Ia tersenyum ironis. “Tentu saja. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut. “secara hipotetis.” ia meralatku.” ujarku keberatan.

seperti batu.dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. tapi mengangguk. “Jangan ada yang ketiga kali. Kulitnya dingin dan keras. djAnGgo 144 . oke?” Aku cemberut.” Ketegangan di wajahnya mencair. “Terima kasih.” Suaraku benar-benar tulus. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. “Sudah dua kali kau menyelamatkanku.

dan aku tahu toh kau harus kembali. kembali menimbang-nimbang. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya.. melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan. ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu. aku bicara. dan aku menyadari tubuhku mematung. hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles. Pandangannya tetap menerawang. Biasanya. mengalihkan kecurigaanku. aku pergi mencarimua di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku. aku bisa dengan mudah menemukannya. salah satu alisnya terangkat. sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan. Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya. menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. disinilah aku duduk. Aku tak punya alasan untuk khawatir. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kau makan.” katanya. “Ya. sambil masih.. pada insiden van itu. ” Ia berhenti.” Ada secercah keraguan dalam suaranya. tatapannya menembusku. barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. “Tapi toh sekarang kau duduk disini.” Aku terdiam sebentar.. suaranya sulit didengar. Ia menatapku. berkat dirimu. tapi sebaliknya aku malah senang. Aku tahu kau tidak masuk kesana.. “Ya. dan kau pergi ke arah selatan. “Lalu apa?” bisikku.. “Itu bukan yang pertama.” Ia berhenti.” Ia melamun.” usulnya. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku.” akunya terburu-buru. wajahnya yang tampan berubah serius. dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya.. tapi ia menundukkan kepala. “Aku mulai bermobil berputar-putar. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana.. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. “Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi. setelah pernah mendengar pikiran seseorang. “Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica. dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian.” Aku merasakan sekelumi perasaan ngeri mendengar kata-katanya. djAnGgo 145 . Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Aku menatapnya terpana.. Jadi. Dan lalu.” Ia menatapku waswas. matanya yang menyipit menatapku. “Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?” semburku.” sahutku tenang. aku hanya menunggumu.“Aku membuntutimu ke Port Angeles. Lalu. Matahari akhirnya terbenam. “Kau ingat?” tanyanya. lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya. dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. dan kau malah mencampurinya?” tanyaku berspekulasi. lalu menatapku lagi. tapi anehnya aku toh khawatir juga. melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. seperti kataku. tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. Kupaksa menelan makananku. “Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama.. mendengarkan.. Ia memandangi piringku yang masih penuh.

Akhirnya ia mendongak. Aku duduk diam. djAnGgo 146 . dan membiarkan mereka. aku akan pergi mencari mereka. bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya. bagai patung batu..” Suaranya tidak jelas. Tanganku terlipat di pangkuan. “Kau sudah siap pulang?” tanyanya.” ia mengakui dalam bisikan. tetap hidup. hanya pergi menyelamatkanmu. “Sulit. tangan menutupi mata. penuh dengan pertanyaannya sendiri. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya. Tangannya masih menutupi wajah..” geramnya. pikiranku campur aduk.. kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya.” Tiba-tiba Edward mencondongkan tubuh. kepalaku pening. tertutup lengannya. matanya mencari-cari mataku. satu siku bertengger di meja.“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan. sekali. dan ia masih tak bergerak. “Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela. tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian. dan aku bersadar lemah di kursi.

masih tegang oleh obrolan tadi. “Semoga malammu menyenangkan. menunggu. dan ia menunduk penasaran. “T-tentu. Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. agak serak. lalu menutupnya dengan lembut. Aku memandang trotoar.” ujar pelayan itu terbata-bata. Ia tersenyum menggoda lagi pada Edward. Ia berjalan dekat di sisiku menuju pintu. Edward mengeluarkan mobilnya dari parkiran. terima kasih. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike. Aku memperhatikannya memutar ke depan. masih mengagumi keanggunannya.“Ya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang. Atau memperhatikan. tapi nyatanya belum. Edward sepertinya mendengar.” aku mengiyakan. Aku ikut berdiri dengan susah payah.” katanya. Ia membukakan pintu untukku dan menunggu samapai aku masuk. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Edward. aku siap. menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. “Simpan saja kembaliannya.” giliranmu. bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan. Aku menghela napas. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya. “Sekarang. djAnGgo 147 . Aku menyembunyikan senyumku. bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan. Edward mendongak. dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir.” Suaranya tenang. “Jadi bagaimana?” ia bertanya kepada Edward.” Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Edward. “Ini dia. Ternyata Edward sudah menyiapkan uangnya. amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. Aku belum siap berpisah dengannya.” Edward tersenyum. lalu bangkit. Udara dingin sekali. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. “Kami mau bayar. sepertinya tanpa melirik.” Edward tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. berputar menuju jalan tol.

Aku belum siap membiarkannya selesai. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal”. hanya aku yang bisa. “Kebanyakan aku mendengarkan semuanya. tak lebih dari beberapa mil. “Well . adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. tapi akan kusimpan jauhjauh untuk kupikirkan nanti. “Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi.” protesnya.” Ia berhenti dengan penuh pertimbangan. menanti jawaban. “Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu. dan itu bisa sangat mengganggu.9. sorot matanya misterius. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati.” Ia tersenyum jail.” gumamnya. sengaja. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja. Setelah aku terfokus pada satu suara.” aku tidak menyelesaikan kalimatku. meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata. Ia nyaris tersenyum. Hanya suara senandung... “Aku tidak tahu. Teori “Boleh aku bertanya satu hal lagi?” aku memohon ketika Edward memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. Semakun aku mengenal ‘suara’ seseorang. Aku mengikuti aroma tubuhmu. semua bicara serentak. di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa. Ia menghela napas.” Ia berpaling. “Tidak. di mana saja. katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu.” Aku merasa konyol. barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas.. suara-suara dengungan di latar belakang. dahinya berkerut ketika mengatakannya. Tapi tetap saja. “ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya. “Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang. “Yang mana?” “Bagaimana caranya. membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja.. “Satu saja. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya..” gerutuku. dan aku pergi ke selatan.. djAnGgo 148 . mengingat sekarang ia mau menjelaskan semuanya. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkan gelombang FM.” “Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?” tanyaku penasaran. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya. meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. “Itu lebih dari satu pertanyaan. memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. “Baiklah kalau begitu. Ia memandangku tidak setuju padaku. Ia menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi lagi.” Ia memandang jalan. “Satu-satunya dugaanku.” katanya menyetujui.

” ia tertawa.. “Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?” Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya. itu cuma teori. djAnGgo 149 . barangkali karena memang benar. “Yang mengingatkan aku.” Wajahnya menegang. hingga akhirnya merasa malu bila terbukti benar.tiba-tiba tertawa. Bagaimana memulainya. “Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?” dengan lembut ia mengingatkanku. “Jangan khawatir. Aku sendiri menduga diriku memang aneh. sekarang giliranmu.. “Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu aneh.” Aku menghela napas.

“. jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. tersenyum lebar padaku.” Ia menunggu. kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. “Tenang.” Ia masih tampak bingung.” janjinya. buku? Film?” Ia mencoba menebak. “Radar pendeteksi alami.” Aku mencoba mengubah intonasiku. “Aku tak tahu bagaimana memulainya. matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut. kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera. Bella.” Ia berbalik. mencoba berpikir. Aku menunduk memandang tanganku. dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. “Kau bilang ini pelan?” “Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku. dan dia menceritakan djAnGgo 150 . Aku menatap panik ke luar jendela. “Pelankan mobilnya!” “Kenapa?” Ia bingung. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.” Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang. “Ayahnya dan Charlie telah berteman sejak aku masih bayi. “Aku tidak bakal tertawa. “Aku bertemu teman lama keluargaku.” “Barangkali.” “Apa yang memicunya.” tukasnya. “Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” “Aku belum pernah mengalami kecelakaan. semuanya berawal hari Sabtu. “Kenapa kau terburu-buru seperti ini?” “Aku selalu mengemudi seperti ini. “Katakan saja. “Tidak. sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam. barangkali kau masih bisa selamat. kemudian tertawa sebentar.Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya. “Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” tanyaku. “Puas?” “Hampir.” ia menyetujui gurauanku. “Kau melaju seratus mil per jam!” aku masih berteriak. Ekspresinya masih sama. “Kami jalan-jalan. tidak seperti rencana semula. tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa.” “Seburuk itukah?” “Kurang-lebih. di pantai. “Charlie polisi. “Kita tidak akan tabrakan..” “Tidak. “Kenapa kau tiak mulai dari awal. Ia tampak bingung.” aku melanjutkan. ya. Bella.” Suaranya tenang. ” aku mengubah ceritaku. “Tapi kau tidak. aku bahkan belum pernah ditilang.” tukasku marah. “Ayahnya salah satu tetua suku Quileute.” Aku menggigit bibir. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya.” Aku mengamatinya dengan hati-hati. masih tidak memperlambat kecepatannya. “Aku khawatir kau bakal marah padaku.” akuku.” “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan.” “Sangat lucu. Lagipula.” Ia memutar bola matanya.” gumamnya. “Gila!” seruku.. kau tidak lupa. Jacob Black.” Ia menghela napas. Ia menunduk memandangku. katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil.” Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya.

ragu-ragu.” aku berhenti. Dia menceritakan salah satunya..beberapa legeda tua.” katanya. “Lanjutkan. kurasa ia mencoba menakut-nakutiku.. djAnGgo 151 .

terus menatap jalan. “Aku mencoba merayunya.. “Tidak penting bagiku apa pun kau ini. dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.” aku mengakuinya. “Dan kau menuduhku membuat orang terpesona. “Itu salahku.“Tentang vampir. kembali memandang lurus ke depan. djAnGgo 152 . Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan. dan aku terkejut dibuatnya. “Dan kau langsung teringat padaku?” Suaranya masih tenang. “Apakah itu penting?” Aku menghela napas panjang.” kataku lembut. tapi sorot matanya sengit. tapi suaranya setegang wajahnya. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan. “Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa. menatap lurus ke depan. Kebanyakan konyol.. “Tidak. Jacob Black yang malang.” Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. “Aku mencari keterangan di Internet. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan Jacob. “Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?” “Tidak. bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.” keluhku.” Saat mengingatnya lagi. “Memancingnya bagaimana?” tanyanya. “Itu tidak penting ?” nada suaranya membuatku mendongak. suaraku memancarkan keraguan. aku yang memaksanya bercerita padaku. Wajahnya pucat dan kaku. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang.” katanya.” Ia tidak mengatakan apa-apa. “Bukan itu maksudku. ‘Itu tidak penting!’” ia mengutip kata-kataku. akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. “Aku benar?” tanyaku menahan napas.” “Kenapa?” “Lauren mengatakan sesuatu tentang kau. Tapi aku melihat genggamannya menguat.” aku buru-buru berkata. “Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan. menyebut keluargamu.” “Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?” Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik.” Nada mengejek terdengar dalam suaranya. “Kalau saja aku melihatnya. hanya saja sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya.. aku harus mengaku. dia mencoba memprovokasiku. “Lalu apa yang kaulakukan?” ia bertanya lagi setelah beberapa saat.” Aku sadar suaraku berbisik. “Kau marah.” bisikku. sambil mengatupkan rahangnya erat-erat. Kemudian.” “Tidak. Dia. denan sedikit amarah yang membuatku waswas. “Tidak. Ia tertawa. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi. Aku menatapnya. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita. “Jadi aku salah lagi?” tantangku.” aku berhenti. Tidak ada yang cocok. Ia tertawa. Tapi tangannay semakin kuat mencengkeram kemudi. “Apa?” “Kuputuskan itu tidak penting.” Ia tergelak.” Ia terdiam. “Tidak.” Sepertinya ucapanku itu tidak cukup.. mencengkram roda kemudi. “Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol.

“Apa yang membuatmu penasaran?” djAnGgo 153 . “Tapi aku memang penasaran.” Aku diam sebentar.” Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.“Tidak juga. Tiba-tiba ia menyerah.

dan ia cemberut.” Aku tersenyum. Aku menatapnya sampai ia berpaling. apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?” Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin.” “Ya. tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?” Bagaimanapun juga ia tertawa. dan ketika menatapku lagi.” Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. “Oke. seperti yang dilakukannya sebelumnya.. “Kesalahan yang sangat berbahaya.” “Dia bilang kami tidak berbahaya?” Suaranya terdengar sangat sinis. “Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?” Aku tersentak.” gumamku. Kami sama-sama terdiam.” Ia menatap ke depan. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih.“Berapa umurmu?” “Tujuh belas. Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. “Sama sekali?” “Tidak pernah.” ia menjelaskan perlahan.” “Kami berusaha. membiarkan diriku berduaan denganmu. “Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?” Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka.” “Apa yang dikatakan Jacob?” tanyanya datar. “Mitos. Aku menganggapnya sebagai pembenaran. ketika ia khawatir aku syok. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti djAnGgo 154 . Mata emasnya bertemu pandang denganku. tapi tak tahu apakah ia mendengarnya juga. “Suku Quileute punya ingatan yang panjang. Ia menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang. tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya.” ia langsung menjawab. “Yang mana?” “Kau tidak peduli dengan makananku?” tanyanya sinis.” ia mengingatkanku. Aku. Aku berkedip.” Suaranya muram. “Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting. senang karena setidaknya ia mau jujur padaku. suaranya nyaris tak terdengar.” “Tidur di peti mati?” “Mitos. “Dia bilang kau tidak. “Cukup lama. “Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. “Aku tidak bisa tidur. tatapannya dingin. dan aku tak mampu berkata-kata. “Tidak juga.” Suaranya tegang sekarang. untuk berjaga-jaga. Kami masih berbahaya. “Jadi. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan.” katanya. menghiburnya. “Oh. masih terkesima..” Ia ragu sesaat. contohnya. “Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. itu. “Tapi jangan senang dulu. “Jangan tertawa.” akhirnya ia mengaku. “itu.” “Aku tidak mengerti. “Well. memburu manusia. lalu nada suaranya berubah aneh.” “Kau sebut ini kesalahan?” aku mendengar nada sedih dalam suaraku. Aku tersenyum lebar.” bisiknya.” gumamnya.” “Terbakar matahari?” “Mitos.

seperti dalam video game. secara terbuka. tanpa dinding diantara kami. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya. dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini. dan aku tersentak dibuatnya. djAnGgo 155 . Aku sadar waktu berlalu begitu cepat. seperti jalanan hitam di bawah kami.jalan. Kata-katanya mencerminkan nada final. hingga tidak tampak nyata.

. setidaknya.“Ceritakan lagi.” Tatapannya lembut tapi dalam. “Aku tidak ingin menjadi monster. bukan bertanya.” Bibirnya tersenyum. “Aku tidak ingin pergi. “Kau ini memang pengamat. “Aku tidak yakin tentu saja. “Well.” Suaranya sangat pelan. “Sudah kuduga. aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores.. Hampir sepanjang waktu.” kataku yakin. Aku menyadari mataku basah.” “Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?” Aku merasa kesal. Tiga hari yang amat panjang.” Ia berhenti sesaat. kejadiannya bisa lebih buruk lagi. tidak di tempat yang bisa dilihat orang. “Well. “Ya. “Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. tapi ini penting. kami kembali hari Minggu. mengingat siapa dirimu. nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul. khawatir.” “Apa?” “Tanganmu. dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku.” “Apakah sekarang sangat sulit bagimu?” tanyaku.” “Kenapa kau tidak ingin pergi?” “Itu membuatku. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Matamu. dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku.” “Tapi kau tidak sedang lapar. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar. Matanya tak pernah luput dari apapun. ya kan?” Aku tidak menjawab.” Ia tersenyum menyesal. atau dahaga tepatnya. “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya. menyatakan. dengan Emmett?” tanyaku memecah kesunyian. khususnya cowok. tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu.” Ia menggeleng. berada jauh darimu. kami menyebut diri kami vegetarian. suaraku masih memancarkan keputusasaan. ke guratanguratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. berusaha mematrinya dalam ingatan. Aku memandang telapak tanganku. “Ya. “Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini. kau bertanya apakah matahari menyakitiku. Aku benar-benar membuat Emmett kesal. Ia menatapku. hanya mendengarkan suara tawanya.” Ia tergelak.” ia djAnGgo 156 . Ia menghela napas. seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. “Tiga hari?” Bukankah kau baru kembali hari ini?” “Tidak.” kataku. lelucon diantara kami sendiri. hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi.” Suaranya berubah licik. dan sepertinya membuatku lemah. “Tapi binatang tidak cukup bukan?” Ia berhenti.. lalu sepertinya teringat sesuatu.” pintaku putus asa. “Kurasa. dan memang tidak.. tidak benar-benar tanpa tergores. Dan setelah apa yang terjadi malam ini. Sudah kubilang aku punya teori.” “Kenapa?” “Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu. terkejut karena perubahan nada suaraku.” ia mengingatkanku. “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia.” keluhku. Aku memperhatikan bahwa orangorang. lebih pemarah ketika mereka lapar. tak peduli apa yang dipikirkannya. “Aku terjatuh.

mengalihkan pandanganku. “ aku ragu-ragu.” kataku. “Apa?” suaranya yang lembut mendesakku. Ia bingung. “Kau kan bisa meneleponku.” “Tapi aku tak tahu dimana kau berada. Aku. djAnGgo 157 .berjanji. Aku memikirkannya beberapa saat. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja.

ilmu bela diri. “Kau akan melawan mereka?” Ini membuatnya kecewa. Aku melirik. “Katakan. katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti. tapi suaraku parau.” Kugigit bibirku. pelan dan parau.” ia bertanya setelah beberapa menit. “Tidak. Aku berbahaya. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. Kurasakan tatapannya di wajahku. Bergegas aku menyekanya.” Aku tak bisa memahami reaksinya. “Ah. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?” “Aku sering terjatuh kalau lari. “Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi. “Kau menangis?” Ia terdengar terkejut. sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu. Sudah kubilang. Bella. Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana. mengertilah. “Ini salah. Ini tidak aman.” Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk.” Suaranya sarat penyesalan. tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya. tidak penting kau itu apa. Aku tahu ia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. itu masalah lain lagi. kau tahu kan.” Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian. Aku memandang jalan. “Kau benar. dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria. Lalu mobil memelan.“Aku tidak suka tidak bertemu denganmu.” erangnya pelan. “Bagaimana kalau berteriak minta tolong?” “Aku juga bermaksud melakukannya. “Apakah besok kita akan bertemu?” tanyaku. Kata-katanya melukaiku.” Aku menghela napas. “Aku serius.” “Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan.” Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan.” Suaranya pelan namun tegas. tapi aku tetap memandang lurus ke muka.” Ia menggeleng. suaranya masih muram. Aku melihatnya hendak mengulurkan tangan kanannya. kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu.” “Tidak. waswas. aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup. Pasti kami sudah dekat sekarang. dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. “Ya?” “Apa yang kaupikirkan malam ini. Kegelapan menyusup diantara keheningan. melewati perbatasan Forks. Aku bermaksud mengjandurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya. Aku hanya menggeleng. Ia terdiam. “Ini salah. “Jangan pernah mengatakan itu.” aku mengakuinya.” Suaranya menghardik. ragu-ragu ingin meraihku. “Maafkan aku. kumohon. dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi. tak yakin apakah aku sanggup bicara. “Memangnya aku bilang apa?” “Tidakkah kau mengerti. Ia mengemudi terlalu cepat. “Begitu juga aku.” geramnya. djAnGgo 158 . kau tidak terlihat setakut itu. Itu juga membuatku waswas. Sudah terlambat. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit.” kataku.” Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang. tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi.

” djAnGgo 159 .” Ia tersenyum. setelah semua yang kami lalui malam ini. tapi aku tidak beranjak. Lampu-lampunya menyala. Edward menghentikan mobilnya. trukku ada di tempatnya. janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas. Kami di depan rumah Charlie. dan aku tak mampu bicara. ada tugas yang harus dikumpulkan.“Ya. semuanya sangat wajar. “Aku akan menunggumu saat makan siang.” Konyol. “Kau janji akan datang besok?” “Aku janji. Rasanya seperti terbangun dari mimpi.

” “Well.” Ia terdengar waswas. Anggap saja begitu. “Sekarang bahkan belum jam delapan. wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku. “Kau boleh menyimpannya.” katanya.” aku menyetujuinya. Ia menunggu hingga aku sampai di pintu depan. tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin.” “Bukankah kau baru saja bersamanya?” ia bertanya. dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.” “Sampai ketemu besok.” kataku. “Bella?” panggilnya dengan nada berbeda.” desahnya. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. Aku meraih kunciku tanpa berpikir. Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya. tapi ragu. Lalu aku melangkah canggung keluar.” Aku menatapnya bingung. benar. lalu mengangguk. “Baik kalau begitu. Kukembalikan jaket itu padanya. biarkan dia sampai rumah dulu.” ia memberitahuku. “Terserah apa katamu. tanganku pada pegangan pintu. “Aku akan menelepon Jessica dulu. Mataku mengerjap.”Apakah kalian bersenang-senang?” “Yeah. djAnGgo 160 .” “Benar. Aku cukup banyak berjalan tadi. Ia sedang menonton pertandingan baseball. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu. tapi lega. terkejut. membuka pintu. “Bella?” “Ya. “Jangan pergi ke hutan seorang diri. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ya. ini aku.” Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Napasnya menyapu wajahku. “Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. namun lebih kental. Charlie memanggilku dari ruang tamu. tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku. sangat menyenangkan. “Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie.” Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin. janji yang mudah dipenuhi. dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. sampai harus berpegangan pada sisi pintu. kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. Kupikir aku mendengarnya tertawa.” Ia tersenyum. serius. “Ya. terus menembus jendela.” “Kau baik-baik saja?” “Aku hanya lelah. setidaknya. “Bella?” aku berbalik dan ia mendekat padaku.” “Well. dan masuk ke dalam. “Kenapa?” Dahinya mengerut.” ia mengingatkanku.” “Oh. Aku menyadari udara sangat dingin. barangkali kau harus berbaring.” Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi.” “Oh ya?” aku terkejut. Dad. “Tidur nyenyak ya.” Dengan engggan kubuka pintunya. tapi jaketku tertinggal di mobilnya. kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok.Aku mempertimbangkannya beberapa saat. benarbenar terpesona. Lalu ia menjauh. Aku membayangkan bagaimana rupaku. Kutanggalkan jaketnya. terlalu antusias. “Kau pulang cepat. Jantungku berhenti berdetak. Aku ragu-ragu. Ini. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok. “Ya?” aku berbalik padanya. “Mereka membeli gaun. dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang. membuatku terpana. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. mencoba mengulur-ulur waktu.

djAnGgo 161 . Tiba-tiba telepon berbunyi. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. mengagetkanku. menjatuhkan diri di kursi.Aku pergi ke dapur. Pegangan. Aku mengangkatnya. kelelahan. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. perintahku. “Halo?” desahku.

Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. kalau begitu kita ngobrol besok. Dan ketiga. “Bye. bisakah kau membawakannya besok?” “Tentu saja. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut. membalut diriku dengan handuk. Jess. dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu. besok saja. tapi semakin aku nyaris tertidur. “Ya. airnya terlalu panas. aku baru saja mau meneleponmu. Bye!” Aku tahu ia sudah tidak sabar. aku tersadar diriku kedinginan. sampai air hangatnya menyembur lagi.. oke?” Ia langsung mengerti. menyengat kulitku. aku jatuh cinta padanya. Aku melangkah sempoyongan. berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. benar. Pikiranku masih berputarputar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti. “Mmm. dan terkejut. Baru ketika aku berada di kamar mandi.“Bella?” “Hei.” “Kau sudah sampai di rumah?” Suaranya terdengar lega.” “Okr. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras. Jaketku tertinggal di mobilmu. dan beberapa yang kucoba enyahkan. benar-benar nyaris pingsan. Pertama.. beberapa kemungkinan pun menjadi nyata. memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. selamanya. Awalnya tak ada yang jelas. Jess. Beberapa kali aku sempat gemetaran. Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. terlalu lelah untuk bergerak.” Aku menaiki tangga perlahan. meringkuk. yang haus akan darahku. ada sebagian dirinya. tanpa syarat. Kedua. Edward adalah vampir. djAnGgo 162 . hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Tapi ceritakan apa yang terjadi!” pintanya. Lalu aku berdiri di bawah pancuran. ayahmu ada disana ya?” “Ya. “Oh. di kelas Trigono.

djAnGgo 163 .

Charlie sudah pergi lagi. sulit berdebat dengan bagian diriku yang yakin bahwa semalam adalah mimpi. Ia benar-benar memberiku pilihan. terima kasih. tapi aku tak yakin. berusaha tetap tenang. dan lebih cepat dari seharusnya. Ternyata lebih baik. Setidaknya aku merasa begitu. sehingga aku baru bisa melihat ada mobil terparkir disana. hanya kaus rajut lengan panjang berkerah V warna abu-abu muda. Ia menutup pintu. Semalam semua penghalang itu lenyap. Aku tak melihat dari mana datangnya. Ia tak punya alasan untuk tidak ke sekolah hari ini. “Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyanya. Aku menunggunya memulai. Ada keraguan dalam suaranya. tersenyum melihat ekspresiku berkat kejutan yang diberikannya lagi ini. Tak sabar rasanya ingin menyalakan pemanas dalam tru.” kataku. teringat aku tidak memiliki jaket. ketika hanya tinggal beberapa jengkal dari jalan raya. benar-benar sempurna. Aku yakin takkan pernah bisa memimpikannya dengan usahaku sendiri.” Suaranya hatihati. “Tidak seperti reaksimu. Di luar jendela cuaca gelap dan berkabut. Ketika aku tiba di lantai dasar. Aku menelan tiga gigitan granola. aku memperhatikan jaket krem mudanya disampirkan di sandaran kursiku. ataupun akal sehat. kau tahu. Lagi-lagi bahan itu melekat sempurna di dadanya yang bidang. terasa canggung. hampir semuanya. Harapan yang sia-sia. mendorong lenganku ke lengan jaket yang kelewat panjang. Logika tak berpihak padaku. lalu berdebar lagi dua kali lebih cepat. aku bebas menolak. Cuaca di luar lebih berkabut dai biasa. “Apa? Tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” “Apakah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu?” tanyaku. suaranya sangat pelan hingga aku tak yakin ia ingin aku mendengarnya. Ini membuat lidahku kelu. tapi tiba-tiba ia sudah disana. “Aku membawakan jaket untukmu. mobil berwarna silver. Mudah-mudahan hujan tidak turun sampai aku bertemu Jessica. berhenti. Aku tak ingin kau sakit atau apa. Kabut sangat tebal. membukakan pintu bagiku. Aku melihat ia sendiri tidak mengenakan jaket.10... seperti aroma tubuhnya. Seperti biasa. Bukti lagi bahwa ingatanku benar. udara nyaris tertutup kabut. menyalakan mobil. Aku cemberut. aku terlambat lebih dari yang kukira. ia sudah duduk di sebelahku. penasaran ingin mengetahui apakah aromanya masih seperti yang ada dalam ingatanku. tapi kutarik jaketnya ke pangkuan. “Benarkah?” Ia menyangsikannya. lalu bergegas meninggalkan rumah. Ia berbalik dan nyengir. selalu terlalu cepat. “Aku tak selemah itu. Kami mengemudi melewati jalanan yang berselimut kabut. “Apakah reaksiku buruk?” djAnGgo 164 . dan menyapunya dengan susu yang langsung kuminum dari karton. Aku mengenakan pakaian yang cukup hangat. Aku tak tahu apakah hari ini kami bisa seterbuka itu. Interograsi Keesokan paginya. Ketika masuk ke mobilnya yang hangat. Embun sedingin es menerpa kulit leher dan wajahku yang telanjang. Jantungku berdetak cepat. lega. “Ya. wajahnyalah yang membuatku mengalihkan pandang dari tubuhnya. Aku bergantung pada bagian yang tak mungkin cuma khayalanku.” kataku.” Ia kelihatan bergurau. dan sebagian dirinya berharap begitu.

“Tidak terlalu banyak.” djAnGgo 165 .“Tidak.” “Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan. itu masalahnya. Itu membuatku bertanyatanya. apa yang sebenarnya kau pikirkan.” tuduhnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali. tidak wajar.” “Kau mengeditnya.

“Kalau kalian memang menginginkan privasi?” “Memanjakan diri.” “Kalian tidak berhasil. Apa yang akan kukatakan padanya nanti? “Yeah. kemudian mengenakan jaketku sendiri. kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?” “Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sekarang. aku hanya berharap ia tidak memperhatikan. “Err. Bukan sepenuhnya salah Edward. Lalu ia tampak mengerti.” “Sudah kuduga. Aku tidak terlambat. “Kelewat mencolok. Kepedihan dalam suaraku nyaris samar. syukurlah.” katanya. dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.” gumamku pelan.” “Kau tidak ingin mendengarnya.” desahku. “Kami semua suka ngebut. “Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu?” aku bertanya terangterangan. terkejut. Ia tidak bereaksi. kan?” “Mmm. hai. Ia melipatnya. “Aku tak bisa. “Kalau begitu sampai ketemu di kelas Trigono.“Cukup untuk membuatku gila. aku langsung menyesalinya. “Jadi.” Ia menatapku penuh makna. berjalan sangat dekat di sisiku menuju gedung sekolah. Jessica. lalu menyampirkannya di lengan.” Ia menghampiriku di depan mobil. “Apa yang akan kaukatakan padanya?” gumam Edward. Aku ingin mempersempit jarak itu. kelewat mencolok. “Kalau Rosalie memilikinya. “Hei.” aku memohon padanya. “Apa yang ingin djAnGgo 166 . “Jadi. sampai ketemu nanti. “Terima kasih sudah ingat membawanya. cara mengemudinya yang gila-gilaan membuatku punya banyak waktu sebelum sekolah dimulai. kau akan bilang apa padanya?” “Tolong bantu sedikit.” Ia mengangkat bahu ketika memarkir mobilnya di sebelah mobil kap terbuka warna merah mengkilap. dengan senyum jail. “Bagaimanapun. ingin menggapai dan menyentuhnya.. mengingat biasanya mobil ini penuh dengan yang lain.” kataku ketika kami sudah dekat. Di bawah naungan atap kafetaria yang menjuntai.” ia mengakuinya. dan aku bertanya-tanya apakah aku telah merusak suasana hatinya. “Mereka naik mobil Rosalie. berusaha mengumpulkan pikirannya yang tercecer. “Selamat pagi.” gumamku pelan. berhenti dua kali untuk menoleh ke arah kami.” Aku mengerang seraya melepaskan jaketnya dan menyerahkannya padanya.. Kami berusaha membaur. “Hei. kenapa ia pergi bersamamu?” “Seperti kataku. matanya nyaris keluar dari rongganya. bahwa suaranya begitu menggoda. kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!” tukasku.” Jessica melirik ke arahku dengan mata melotot. Di atas lipatan lengannya ada jaketku. tapi khawatir ia tidak menyukainya. Jessica menungguku. wow. nyaris berbisik. lebih dari bahagia bisa berduaan dengannya.” Ia menyerahkan jaketku tanpa bicara. Atau daya sihir tatapannya. Aku terlambat menyadari sesuatu. aku bisa membaca pikirannya. dan aku mencoba tidak mengerang. “Dimana keluargamu yang lain?” aku bertanya.” sapa Edward sopan.” Ia berlalu. Begitu katakataku terucap. Ekspresinya tak dapat ditebak ketika kami memasuki parkiran sekolah. Jessica.” Aku tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kami keluar dari mobil.

Apa yang harus kukatakan?” Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap polos. tapi aku nyaris tak menyadari keberadaan mereka.” “Tidak.” Ia sengaja berdiam diri selama beberapa saat. itu baru tidak adil. barangkali menatap kami. “Iihh. tersenyum nakal.diketahuinya?” Ia menggeleng.” akhirnya ia mengatakannya. “Itu tidak adil. Dan dia ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku. Kami berhenti di depan pintu kelas pertamaku. Orang-orang melewati kami menuju kelas. kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui. djAnGgo 167 . “Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan.

apakah kau memberitahunya untuk menemuimu disana?” Tidak terpikir olehku hal itu. Tiga orang yang berjalan ke pintu berhenti untuk menatapku. kalau kau tidak keberatan. nyaris melompat-lompat di bangkunya. kalau sedang tidak digunakan untuk menyelamatkan jiwaku. Jantungku memburu.. penasaran.” jawabku sekenanya.” Salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman yang sangat kusuka.. “Jadi. Aku bergegas memasuki kelas. tapi hari masih gelap dan awan mendung masih menutupi langit. well. wajahku merah padam dan malu. Bella. Ketika aku memasuki kelas Trigono. mencoba menyakinkan diriku sendiri lebih baik menyelesaikannya secepat mungkin. “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” ia menganalisis. “Kurasa kau bisa mengatakan ya untuk pertanyaan pertama. kalian akan berkencan lagi?” “Dia menawarkan mengantarku ke Seattle Sabtu nanti.” aku menjelaskan. kecewa mendengar kejujuranku. “Benarkah?” tanyanya bersemangat. “Apa yang ingin kauketahui?” tanyaku hati-hati. djAnGgo 168 . “Apakah itu semacam kencan. Sekarang aku bahkan lebih khawatir lagi tentang apa yang akan kukatakan pada Jessica. “Sudah pasti.” Ia memandang marah padaku. “Dan untuk pertanyaan yang satu lagi. “Apa yang terjadi semalam?” “Dia mengajakku makan malam. itu juga kejutan.” “Apa dia bilang sesuatu tentang Senin malam?” tanyanya.” Ia berhenti untuk meraih rambutku yang lepas dari ikatan di leherku dan menyelipkannya ke tempatnya. Kabut nyaris lenyap pada akhir pelajaran kedua. “Ceritakan semuanya!” perintahnya sebelum aku duduk.” aku meyakinkannya. “Selamat pagi. itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya. Dasar curang. matanya bersinarsinar. Mason mengabsen kami. aku sangat terkejut melihatnya disana. “Tidak. “Hebat..” ujarnya seraya menoleh ke belakang. Dia memperhatikan aku tidak membawa jaket semalam. yang duduk di sebelahku.. “Ya. “Jessica membeli gaun yang sangat keren. Ia sudah berbalik dan berlalu. lalu mengantarku pulang. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. dan apakah Edward akan benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan lewat pikiran Jess.” Mr. menyuruh kami mengumpulkan tugas. karena menurut dia.” Kuharap Edward mendengarnya.“Hmmm. karena kesal kubanting tasku. Aku duduk di bangkuku yang biasa.” sapa Mike. sementara aku waswas bagaimana menjelaskan semuanya kepada Jessica.” “Aku tak keberatan. Jessica sudah duduk di deret belakang. Tentu saja Edward benar. wajahnya tegang.. “Katanya dia benar-benar menikmatinya. Mengerikan. Dengan enggan aku duduk di sebelahnya. Pelajaran bahasa Inggris dan Pemerintahan lewat begitu saja. sinis. “Bagaimana di Port Angeles?” “Yah. Aku tak cukup cepat untuk menunjukkan reaksiku.” tak ada cara yang bagus untuk menyimpulkannya.. Aku mendongak dan melihat raut wajah aneh dan pasrah di wajahnya. Bibirnya mencibir. “Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?” “Dia ngebut seperti orang sinting. Betapa bakat kecilnya itu sangat membuat tidak nyaman. aku akan mendengar jawabannya langsung darimu. “Sampai ketemu saat makan siang.” kataku pelan.

” aku setuju dengannya. apakah itu masuk hitungan?” “Ya.” Ia melebih-lebihkan kata itu menjadi tiga suku kata. ya.trukku tidak bakal sanggup. ‘Wow’ bahkan tidak cukup mewakili.” “Aku tahu. “Well. “Edward Cullen.” Ia mengangguk. kalau begitu.” “W-o-w. djAnGgo 169 .

?” Alisnya terangkat.” aku balas berbisik. “Ya.” Wajahnya berubah. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan padanya.” Kekecewaan terasa nyata dalam suaraku.” ia merajuk..” “Sungguh? Seperti apa?” Aku berharap tidak perbah mengatakan apa-apa.” Vampir yang ingin menjadi baik. seperti sedang menghentikan laju mobil. Bella.. “Entahlah.” Jessica mengangkat bahu seolah-olah apa yang dikatakannya menghapus semua kekurangan Edward. yang berkeliaran menyelamatkan nyawa orang supaya dirinya tidak menjadi monster. “Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris. “Jadi. baiklah.” Biar saja Edward menebak-nebak apa maksud perkataanku itu. “Bukan begitu. sangat sedikit. berbisik meminta informasi lebih lanjut.. Vanner. Dia pasti menyukaimu.. kau benar-benar menyukainya?” desaknya.” “Kurasa.” kataku kasar.” Sangat. wajahku merona. barangkali mengingat kejadian pagi ini atau semalam. “Aku tak bisa menjelaskannya dengan tepat..” “Well. akan kuceritakan satu.” aku balas berbisik. “Oh well.” desahnya. “Maksudku. Vanner tidak terlalu memperhatikan dan kami bukan satusatunya yang masih mengobrol.” Jessica mengangguk.. Aku yakin diriku juga.” “Lebih baik lagi.. “Apakah pelayan itu cantik?” “Sangat. “Kenapa?” aku terkejut. Yang barangkali memang begitulah menurut pandangannya. “Dia begitu. Tapi aku tak djAnGgo 170 . tapi ia tidak memahami reaksiku. mengintimidasi... banyak. Sudah cukup dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban satu kata. dan barangkali umurnya 19 atau 20. sama seperti aku berharap Edward hanya bercanda ketika mendengarkan percakapan kami. “Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. Mestinya kaulihat pelayan restoran merayunya. mencoba terlihat seperti memperhatikan Mr.” kataku membelanya. Sikapnya selalu misterius. “Dia jauh lebih daripada sekedar sangat tampan. seraya menghela napas. tapi sulit mengetahuinya. kau menyukainnya?” Ia belum mau menyerah. “Itu pertanda baik. “Apa yang kalian obrolkan?” desaknya.” gumamku. Kelas sudah dimulai. “Ceritakan detailnya. “Apakah itu mungkin?” Jessica cekikikan. Kurasa dia menyingungnya sekilas. Aku mengabaikannya. Jess.” aku mengakui. sedikit. “Apakah dia sudah menciummu?” “Belum. ketika Edward menebarkan pesona tatapannya pada Jess. Aku menatap ke depan kelas. tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya.” Dia kelihatan kecewa. Dia memang luar biasa tampan. “Aku tak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.“Tunggu!” Tangannya terangkat. terangterangan sekali. kataku lagi. tapi Mr. “Ya. “Seberapa suka?” “Terlalu suka. “Aku sangat meragukannya. “Menurutmu hari Sabtu.. “Ayolah. Kuharap detail itu tidak melekat dalam ingatannya. Tapi dia tidak memperhatikan cewek itu sama sekali. telapak tangannya menghadapku. “Lebih daripada ia menyukaiku.

Mr. untungnya. djAnGgo 171 . “Di kelas Inggris. dan begitu bel berbunyi. Vanner menyuruh Jessica menjawab pertanyaan.tahu bagaimana mengatasinya. “Kau bercanda! Apa katamu!?” ia menahan napas. Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin malam.” aku memberitahunya.” Aku mendesah. Ia tak bisa memulai percakapan lagi selama di kelas. Kemudian. aku langsung menyelamatkan diri. perhatiannya benar-benar teralih. wajahku terus merona.

tampak sangat mirip dewa Yunani. Jessica melihatnya.” aku mengakuinya. kan?” tebaknya. dan ia tidak bicara. Aku mengerutkan hidung. kau bisa melakukannya. juga jawabanmu. lalu pergi.” Aku tak yakin Edward tidak akan menghilang seperti yang pernah dilakukannya. terkagum-kagum. “Kurasa aku tidak terkejut. Aku memainkan ritsleting jaketku karena gugup.” katanya seraya mendorong nampannya ke arahku. kan?” Ia menggeleng. Ia tadi mendengarkan. Bel istirahat siang berbunyi.” kataku sambil mengambil apel dan menggenggamnya. Bella. memasukkan bukubuku sembarangan ke tas. ketika ditantang. Menyebutkan nama Jessica djAnGgo 172 . Tapi di luar puntu kelas bahasa Spanyol kami. “Hai.“Kubilang kau sangat menikmatinya. jadi perjalanan kami ke kafetaria berlangsung hening. dan menelannya. “Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami. Ia memandangku geram. “Tidak terlalu buruk. semua otang memandangiku. cepat-cepat mengunyah.” Alisku terangkat. Edward sedang menungguku. kurasa ia mengulurulur waktu. “Aku pernah melakukannya. maju untuk membayar makanannya. Dari ujung meja sekelompok murid senior menatap kami. dan sambil terus menatap mataku ia mengambil pizza dari nampan. sementara kami duduk berhadapan. “Ambil apa saja yang kau mau. menggeleng-gelengkan kepala. “Halo. dan dengan sengaja menggigitnya besar-besar. “Tentu saja separuhnya untukku. Ketika aku melompat dari bangku.” “Katakan apa persisnya yang dikatakannya. “Sampai nanti. Sudah pasti. “Jessica sedang memperhatikan semua tindak-tandukku..” Ia menyorongkan sisa pizza padaku.” Suara Edward mempesona sekaligus mengusik. Aku mengamatinya dengan mata membelalak. “Kurasa tidak. masih diam. “apa yang kaulakukan bila ada yang menantangmu makan?” “Kau selalu penasaran. meski beberapa detik sekali ia memadangku. ya kan?” tanyanya meremehkan. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku.” Kami menghabiskan perjalanan kami ke kelas selanjutnya. dengan menggambarkan ekspresi Mike sampai sedetail-detailnya. dia akan memaparkannya padamu nanti. memutar bola mata. “Aku penasaran. “Kalau seseorang menantangmu makan kotoran. Ia membimbingku ke tempat yang kami duduki bersama terakhir kali.” Ia meringis. dia kelihatan senang. Ia membimbingku menuju antrean. ekspresi wajahku yang bersemangat pasti membuat Jess menyadari sesuatu. Kurasa aku harus mematikan teleponku nanti.” Sesuatu di belakangku seperti menarik perhatiannya.” Kata-katanya penuh maksud tersembuyi. Berjalan di sisi Edward menuju kafetaria pada jam makan siang yang padat seperti ini rasanya mirip hari pertamaku disini.” Ia tertawa. Tampak olehku rasa kesal lebih mendominasi wajahnya daripada perasaan senang. Ia maju ke konter dan mengisi nampan dengan makanan. ekspresinya berubah-ubah.” Aku tak bisa memikirkan perkataan apa lagi. dan juga hampir sepanjang pelajaran Spanyol. Aku tidak bakal repot-repot menggambarkannya selama mungkin kalau tidak khawatir pembicaraan akan berbalik padaku. Edward seperti tidak menyadarinya.. “Kau tidak mengambul itu semua untukku.

. itu menggangguku.” “Cewek malang. Aku memikirkan banyak hal. well. Aku meletakkan apel dan menggigit pizza. ia melirik dari balik bulu matanya. gelisah.” Ia menolak dialihkan perhatiannya. “Kau benar-benar tidak memperhatikan?” “Tidak.membuatnya menyebalkan lagi. lalu memalingkan wajah ketika tahu ia hendak bicara. Suaranya parau. “Jadi pelayannya cantik..” Sekarang aku bisa bersimpati dengan tulus. ya?” tanyanya santai. “Sesuatu yang kaukatakan pada Jessica. djAnGgo 173 .

berusaha berpikir jernih. semakin mendekat saat bicara. Ketika aku sedang memilih kata-kataku kulihat ia mulai tidak sabar.. aku benar-benar berpendapat begitu. kau tidak memikirkan beberapa hal.. Ketegangan di wajahnya mencair.” “Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” Aku menunduk. kau akan menjawab. “Oh. “Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.” aku berkeras.” “Lalu apa?” Sekarang kami sudah saling mencondongkan tubuh.” Aku berhenti. Dengan keras kepala aku menolak menjadi yang pertama memecah keheningan. terlepas dari kenyataannya.. sementara tubuhku condong ke depan. Aku hanya berharap. dan mencari cara untuk menjelaskan. Aku memandangi tanganku. “Itu sama saja.” Dahinya berkerut..” bisikku. dan barangkali ada banyak tatapan penasaran tertuju pada kami.” Aku tetap menunduk memandang meja.” Itu kesimpulan terbaik dari sensasi sedih yang sering ditimbulkan perkataannya. djAnGgo 174 . karena kini ia puas aku berniat menjawab pertanyaannya. tapi suaranya masih parau. aku tidak tahu caranya membaca pikiran.” aku mengakuinya. “Kau salah. Itu resiko suka menguping pembicaraan orang. “Kau tak bisa mencegahnya. tangan kananku memegangi leher. Aku berusaha keras menahan godaan untuk melihat ekspresinya. Aku harus berpaling sebelum hal itu terjadi lagi. Aku balas menatapnya.” ia menyetujuinya.” “Ya. ketika akhirnya aku bicara. “Ya. Aku menggeleng ragu. Matanya membelalak terkejut. “Kau melakukannya lagi. Aku berusaha mengingat bagaimana caranya bernapas. tak pdculi seperti apa pun raut wajahnya. kau tidak sepenuhnya benar. semuanya.” “Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Begitu mudahnya larut dalam percakapan rahasia. “Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?” gumamnya.” Wajahku merengut. kau benar-benar berpendapat begitu?” Lagi-lagi ia jengkel. “Bukan salahmu. tapi terkadang rasanya seolah kau berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengucapkan sesuatu yang lain. “Aku tidak yakin.” bantahku sambil berbisik. Keheningan terus berlanjut. Ia duduk dengan tangan menumpu dagu. “Meski begitu. atau ya. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Mata topaz-nya sangat menusuk. suaranya sangat lembut. kadang-kadang. “Well.” Aku menatapnya dan mendapati sorot matanya yang lembut. mengaitkan jemari lalu menguraikannya. lalu mengatupkan keduanya.” “Memang. meskipun jantungku berdebar mendengar ucapannya. Akhirnya ia bicara. dan aku ingin sekali mempercayainya. “Ya. Kuangkat tanganku dari leher. matanya yang gelap keemasan menyorot tajam.” aku mendesah. ia mulai kesal.” “Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui. dan mengacungkan satu jari. Kujatuhkan tanganku ke meja. menurutku sia-sia saja berusaha mencari kebenaran dalam benakku. terutama bila menegangkan.“Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Gelisah karena sikap diamku. Aku ingin tahu apa yang kaupikirkan. “Biarkan aku berpikir.” aku mengingatkannya. mataku menelusuri kayunya. “Apa?” “Membuatku terpesona. mencoba berkonsentrasi untuk menatapnya lagi. “Kau tak bisa mengetahuinya. Aku harus mengingatkan diriku bahwa kami berada di kafetaria penuh orang.

” ia mulai menjelaskan. tapi kemudian matanya menyipit. dan aku begitu canggung sehingga bisa dibilang nyaris lumpuh. “Apa maksudmu ‘kenyataannya’?” “Well.“Peka. membenarkan ketakutanku. “Tapi justru itulah kenapa kau salah. Lagi-lagi aku menangkap kepedihan dalam kata-katanya. djAnGgo 175 . Sedangkan kau?” Kulambaikan tanganku padanya dan semua kesempurnaannya yang membingungkan. “Aku sungguh-sungguh manusia biasa. well. yang benar-benar tidak penting karena Edward sudah menatapku. lihat aku.” kataku. kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian itu.” bisiknya.

“Belum. dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku. lalu santai lagi ketika ia akhirnya mengerti.” tukasku. djAnGgo 176 . aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya.. aku hanya benar-benar ingin melihat reaksimu. “Aku tak percaya.” Aku menatapnya marah. “Aku punya pertanyaan lain untukmu.” “Itu bukan masalah. Kalau perlu. “Kau tahu. kau bukan manusia biasa.Alisnya mengerut marah sesaat. “Dan pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?” “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu. “seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan.” “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tidak bisa berjalan di permukaan rata dan stabil tanpa tersandung?” “Tentu saja. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat tinggal.” ia menambahkan. “Tapi aku kemudian akan membatalkannya. “Tentu saja menjagamu tetap aman mulai terasa sebagai pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku. senyum jail dan mempesona itu muncul di wajahnya. Aku tak ingin ia membicarakan perpisahan lagi.” aku setuju. “Kalau aku mengajakmu. Aku bisa saja mendebatnya. Akulah yang paling peduli.” Tiba-tiba suasana hatinya yang tidak bisa ditebak berubah lagi. “Tapi kau tak pernah bilang padaku. berpurapura sakit atau mengalami cedera pergelangan kaki..” Raut wajahnya masih kasual. “Kau tak pernah melihatku di kelas Olahraga.” “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini. Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk itu. Aku pasti akan lebih marah lagi kalau tawanya tidak semenawan itu. “Mungkin tidak.” kataku jujur. karena seandainya aku bisa melakukannya”.” Ia terdengar sangat yakin. Ide itu jelas bakal mendatangkan masalah buatku. “Itu semua salahmu. ia menggeleng.” Mataku mengerjap. akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu tidak terluka.” Rasa maluku lebih kuat daripada perasaan senang melihat sorot di matanya saat ia mengatakannya. apakah kau akan menolak?” tanyanya.” ia tergelak ironis. “Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas.” Ia bingung. “Belum. bersyukur topiknya sudah jauh lebih ringan. atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda. Kusingkirkan pikiran itu sebelum ia bisa membacanya di wajahku. “Tanyakan saja. “tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu disini.” “Apakah kau benar-benar harus ke Seattle Sabtu ini. ia pun menyela.” aku mengingatkannya.” aku bergumam pada diriku sendiri. kurasa aku bisa dengan sengaja membahayakan diriku sendiri agar ia tetap di dekatku..” Tahu aku akan memprotes.” “Oh. mencoba melawan pendapat itu. masih tertawa sendiri. apakah kau sudah mantap pergi ke Seattle. supaya kau tetap aman. “Kenapa kau melakukan itu?” Aku menggeleng sedih. tapi kupikir kau bakal mengerti. ataukah itu hanya alasan untuk menolak semua penggemarmu?” Aku merenggut mengingat hal itu. terperanjat.” ia tergelak.” aku mengingatkannya. Aku langsung mengingatkannya tentang agrumentasiku sebelumnya.. “Sudah sepantasnya. tapi sekarang aku ingin ia menghadapi masalah besar. “Tidakkah kau mengeri? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. “Percayalah sekali ini saja.

” Ia tampak waswas. aku tak peduli dengan yang lainnya. terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle.Selama kata ‘kita’ dilibatkan. dan waktu itu. “Apa?” “Boleh aku yang mengemudi?” Ia merengut. seperti biasa setiap kali aku melontarkan pertanyaan terbuka. “Tapi aku punya satu permintaan. barangkali aku tidak djAnGgo 177 . memang ya. “Kenapa?” “Well . “Aku terbuka untuk tawaran lain. dia secara spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian. Kalau ia bertanya lagi.” kataku.

“Tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu.. yang sedang menatapku. Aku memandang sekelilingku. jadi aku akan menghilang untuk sementara.” “Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” Sorot matanya tiba-tiba mengeras.” Ia tersenyum. Aku buru-buru mengalihkan pandangan kepada Edward. Tapi setelah berpikir sesaat.” usulku.. gembira oleh gagasan akan terungkapnya misteri ini. Aku tak bisa membantah. “Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu.. aku tetap tak ingin kau pergi ke Seattle sendirian.” Ia menghela napas marah. “Ya. memangnya kita mau kemana?” “Prakiraan cuacanya bagus. “Beruang?” aku menahan napas dan ia tersenyum mencemooh. Ia masih kesal.” Aku yakin soal itu. tapi kemudian matanya berubah serius lagi. “Meski begitu. peraturannya hanya mencakup berburu dengan senjata. “ “Tapi nyatanya. Dengan perasaan senang ia mengamati wajahku sementara perlahan-lahan aku djAnGgo 178 . memastikan tak seorangpun mendengarkan. “Lagipula. “Kau tahu. “Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle. itu bukan tempat yang baik untuk hiking. Alice. lagipula dia benar. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya. untuk menyembunyikan keterkejutanku. dan melontarkan hal pertama yang terlintas dalam benakku. berduaan denganku. “aku akan mengambil resiko itu.” ia memberitahuku.. Juga karena cara menyetirmu membuatku takut.” desahnya.” Aku jengkel. “Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu. berbohong selalu lebih baik. baik tatapan maupun maksudnya.akan berbohong.” Ia menggeleng-geleng tak percaya. kau akan melewatkan hari itu bersamaku?” Ada maksud lain yang tidak kumengerti di balik pertanyaannya. lebih baik kau berada di dekatku. “Karena itu sudah terjadi. Jadi.” “Aku tahu.” Ia memutar bola matanya. dan meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya..” ia menyelaku. kau harus memberitahu Charlie. banyak beruang. “kecelakaan yang kau alami tidak bermula di Phoenix. itu baru jumlah populasinya. dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut. kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Lagi-lagi ia membiarkanku memilih keputusanku. untuk berburu? Charlie bilang. sekarang bukan musim berburu beruang.. aku tak keberatan berdua saja denganmu. “Kalau kau membaca dengan teliti. aku menjadi yakin. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. merenung.” Aku menelan ludah. Yang lain memandangi Edward. Untuk ukuran. dan memalingkan wajah. “Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kaumaksud mengenai matahari?” tanyaku. aku bertemu pandang dengan adiknya. lalu terdiam. “Tapi kalau kau tidak ingin.” Ia menatapku seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat jelas.” Matanya kembali menyala-nyala. “Kita bicara yang lain saja. “Dengan Charlie.” aku menambahkan dengan tegas. tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi.

Aku mengunyah perlahan lalu meminum Coke.” kataku sopan. namun matanya mengamati reaksiku.memahami ucapannya. Aku mencoba mengendalikan diri. djAnGgo 179 . “Singa gunung.” kataku setelah sesaat.” Suaranya masih tenang.” “Ah. berpura-pura tidak tertarik. “Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmett. tanpa memandang ke arahnya. “Hmmm. sambil mencari sodaku lagi.” kataku sambil menggigit pizza lagi agar bisa menunduk. “Kesukaanmu apa?” Alisnya terangkat dan senyum kecewa tersungging di ujung bibirnya. “Beruang?” ulangku terbata-bata. “Jadi. akhirnya menatap matanya yang gelisah.

menciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. Aku melompat. “Kalau begitu. Saat aku bersamanya.” Aku berusaha tersenyum. ia benar. kafetaria hampir kosong.” Aku memandang berkeliling. dan itu sebenarnya cukup. aku akan mengajakmu keluar malam ini. “Apa aku akan pernah melihatnya?” “Tentu saja tidak!” Wajahnya memucat bahkan lebih dari biasanya.” aku mengulanginya. Aku takkan lupa. kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmett berburu. takut melihat reaksinya. Aku melirik ke seberang kafetaria. ngeri. meskipun tak pernah mengaku padanya. ke arah Emmett.” aku mengakuinya. nanti. Ia juga menyandarkan tubuh.” Ia tersenyum mengingat sesuatu yang lucu. “kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. atau begitulah kata mereka. djAnGgo 180 . Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara televisi. “Terlalu menakutkan buatku?” tanyaku ketika dapat mengendalikan suaraku lagi. Tapi pikiranku dipenuhi bayangan bayangan yang bertolak belakang dan tak bisa kusatukan. Kami berusaha fokus pada area yang jumlah populasi predatornya tinggi. Di sekitar sini ada banyak rusa dan kijang. “Nanti. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami. dan matanya tibatiba berkilat marah. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu.” katanya. bersedekap. menggelengkan kepala. “Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmett. “Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. benar. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?” “Oh. “Lebih seperti singa. mereka baru saja selesai hibernasi.” akhirnya ia berkata. nada suaranya dingin.” “Lalu kenapa?” desakku. “Kalau memang itu. tertegun. “Ya.” Ia memamerkan gigi putihnya dengan senyum mengerikan. “Apa kau juga seperti beruang?” tanyaku pelan. “Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. tapi dimana kesenangannya?” Ia tersenyum menggoda. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang. untung ia tidak sedang melihat ke arahku. “Kita bakal terlambat. nada suaranya menyamai nada suaraku. Tak ada cara yang lebih baik buatmu. dan. tapi tidak bisa.” “Aku mencoba membayangkannya.” katanya. Aku menatapnya. mencoba mengabaikan kemarahannya.” timpalku.“Tentu saja. Aku menahan tubuhku agar tidak bergidik sebelum ia melihatnya. Ia menatapku marah selama satu menit yang panjang. Otot kekar yang membungkus lengan dan torsonya sekarang bahkan lebih menakutkan lagi. Ia tertawa terbahak-bahak. Dengan satu gerakan kecil ia sudah bangkit berdiri.” aku bergumam sambil menggigit pizza lagi. Edward mengikuti arah pandanganku dan tergelak. “Tolong katakan apa yang benarbenar kaupikirkan.” Aku tak bisa mengentikan rasa takut yang menjalari punggungku. jadi lebih pemarah.” katanya enteng. kami punya senjata. meraih tasku dari sandaran kursi. waktu dan keberadaanku begitu tak nyata hingga aku benar-benar tak menyadari keduanya. “Barangkali.” Aku mengangguk menyetujuinya.

djAnGgo 181 .

Edward tertawa geli di sebelahku. nyaris terluka. Lengan kami nyaris bersentuhan. Banner menyalakan lampu kembali. Kemudian. Aku mendesah lega ketika Mr. Sia-sia aku berusaha tenang. Otomatis aku melirik ke arahnya. Ia mengulurkan tangan. dan kepalan tanganku semakin erat hingga jari-jariku sakit karenanya. aliran listrik yang sepertinya mengalir dari salah satu bagian tubuhnya tak pernah berkurang. nyaris melayang-layang dan sempoyongan. sama kuatnya seperti sebelumnya.” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku berjalan memasuki gymnasium. Aku berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal. lalu berhenti di ambang pintu. ragu-ragu. namun jejak yang ditinggalkan jari-jarinya terasa hangat di kulitku. Kulitnya dingin seperti biasa. Aku tersenyum malu-malu menyadari postur tubuhnya sama seperti aku. Banner memasukkan tape ke VCR dan berjalan ke dinding untuk mematikan lampu. Wajahnya membuatku bingung. Mr. Sesekali aku membiarkan diriku melirik ke arahnya. khawatir keseimbanganku terpengaruh oleh hasrat baru yang muncul diantara kami. Barulah ketika seseorang djAnGgo 182 .11. hanya samarsamar menyadari kehadiran orang-orang di sekitarku. Mr. tangannya mengepal di balik lengan. Pembukaan film dimulai. sekonyong-konyong aku terkejut menyadari Edward duduk sangat dekat denganku. betapa perencanaan waktunya sangat tepat. ketika ruangan sudah gelap. melemaskan jemariku yang kaku. Aku menyilangkan lengan erat-erat di dada. Jam pelajaran sepertinya sangat panjang. Waktunya kelas Olahraga. Hari menonton film. Benar-benar konyol kalau aku sampai pusing. matanya melirikku juga. sekali saja dalam gelap. membelai wajahnya yang sempurna. “Well. dan dengan lembut ia membelai pipiku dengan ujung jemarinya. seperti terbakar. Aku nyaris mengerang. nyaris membuatku sinting. tapi aku tidak merasa nyeri. “Yuk?” ajaknya. aku bahkan tidak tahu filmnya tentang apa. Tanpa bicara ia mengantarku ke kelas berikut. Sebagai gantinya. ekspresinya sedih. sambil bangkit dengn lincah. sambil menarik kereta beroda dengan TV dan VCR yang kelihatannya berat dan ketinggalan jaman. tapi kelihatannya ia juga tak pernah bisa tenang. Suaranya misterius dan tatapannya hati-hati. Kurenggangkan dekapan lenganku. Aku menuju ruang ganti. Hasrat kuat untuk menyentuhnya pun sama sekali tak berkurang. Ia berbalik tanpa kata-kata dan langsung meninggalkanku. “Hmmm. kagum karena kesadaranku akan keberadaannya melebihi yang sudah-sudah. Aku kehilangan akal sehat. mengganti pakaian dalam keadaan melamun. sekaligus begitu menawan hingga keinginan untuk menyentuhnya kembali menyala-nyala. Aku berdiri hati-hati. Aku tak bisa berkonsentrasi pada filmnya. ia duduk cukup dekat. Aku terkesiap oleh aliran listrik yang melanda sekujur tubuhku. Aku sadar ia tak lagi duduk jauhjauh seperti biasa. Dorongan sinting untuk meraih dan menyentuhnya. Aku langsung memalingkan wajah sebelum kehabisan napas.” gumamnya. Banner sudah masuk kelas. jemariku mengepal. cahayanya sekejap menyinari ruangan. tadi itu menarik. Aku tak sanggup bicara. Kesulitan Semua memperhatikan ketika kami berjalan bersama-sama menuju meja lab. suasana senang di kelas nyaris nyata. matanya sarat pergumulan.

” aku meringis penuh penyesalan. Kulihat beberapa anak mengamatiku diam-diam. Raket itu tidak berat. Pelatih Clapp menyuruh kami berpasang-pasangan. djAnGgo 183 . Untung sia-sia kesopanan Mike masih ada. kau tahu. kau tak perlu melakukannya. dan ia berdiri di sebelahku.menyerahkan raket padaku. aku sepenuhnya sadar. “Mau berpasangan denganku?” “Terima kasih. Mike. namun terasa tak mantap di tanganku.

tapi akhirnya aku toh tertawa kecil. mengabaikan keberatanku. Aku menoleh dan melihat Mike berjalan memunggungi kami. aku jadi penasaran. aku tidak akan mengganggumu. Tapi kekhawatiranku tidak perlu.” Aku berbohong. Ia memandang marah padaku.“Jangan khawatir.” Ia tersenyum. “Itu bukan urusanmu. Bagaimana kalau saudara-saudaranya ada disana? Aku merasakan gelombang ketakutan yang mendalam. Aku bertanya-tanya apakah Edward menungguku. “Bagaimana kepalamu?” tanyanya polos. Aku berpakaian dengan cepat. “Memang tidak perlu.” Ia tidak terdengar menyesal. melainkan mobil convertible merah Rosalie. “Aku tidak suka. semua cowok. Dengan mudah Edward menyusul. Tahukah mereka kalau aku tahu? Apakah seharusnya aku tahu mereka tahu bahwa aku tahu. aku merasa sensasi lega yang aneh. masih tegang.” aku mengingatkannya. nadanya menantang. “Halo. Tiba-tiba selera humorku lenyap.” “Kau tidak sedang mendengarkan lagi. Kadang-kadang rasanya mudah sekali untuk menyukai Mike. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya. tampak mengerumuninya. Kutahan emosiku yang sewaktu-waktu bisa meledak. matanya menyipit. “Bagaimana kelas Olahragamu?” Wajahku berubah agak kecewa. “Newton membuatku kesal. diam-diam mengutuk Jessica ke pusat neraka paling panas. melirik ke belakangku. “Jadi apa?” “Kau jalan dengan Cullen. “Baikbaik saja. “Jadi. Meski aku telah mencederainya. sesuatu yang lebih hebat mangaduk-aduk perutku. pertengkaranku dengan Mike sudah jauh dari ingatanku.” katanya sambil meninggalkan lapangan. kerumunan orang. Lalu aku sadar mereka tidak sedang mengerumuni Volvo. “Kau ini bukan main!” Aku berbalik. Entah bagaimana aku memukul kepalaku sendiri dengan raket dan mengenai bahu Mike dengan ayunan yang sama. berjalan cepat ke lapangan parkir. Kami berjalan tanpa bicara.” ia tetap mengatakannya juga. Mike bermain cukup baik. bersandar santai di dinding gymnasium. jadi aku mengabaikannya. aku baru saja memutuskan akan langsung pulang tanpa melihat lapangan parkir.. “Apa?” desakku.” Senyumnya mempesona. mereka djAnGgo 184 . Pandangannya bergeser sedikit. “Kau sendiri yang bilang.” ia meneruskan. desahku. Mike. Aku melambai dan langsung menuju ruang loker. langkahku terhenti. Edward menantiku. tersenyum lebar. “Caranya memandangmu. seolah ingin memakanmu. heh?” tanyanya. Perasaan suka yang tadi kurasakan padanya lenyap.. wajahnya yang luar biasa tampan kini tampak tenang.” sergahku marah. raketnya aman tersimpan. Tapi belum sampai di tempat Edward memarkir Volvo-nya. kan?” aku terperanjat. atau tidak? Ketika beranjak meninggalkan gymnasium.high five yang seharusnya tak perlu ketika pelatih akhirnya meniup peluit tanda kelas berakhir. aku diam karena malu dan geram. Ia mengajakku ber. aku tak pernah melihatmu di kelas Olahraga. ia memenangkan tiga dari empat babak seorang diri. Ketika aku berjalan ke sisisnya. Keadaan tidak berjalan lancar. atau apakah seharusnya aku menemuinya di mobil. Aku menghabiskan sisa pelajaran menyendiri di pojok belakang lapangan. “Hai. menuju mobilnya. Ia kembali menatapku. meskipun tidak bermaksud begitu.

” gumamnya. “Kelewat mencolok. Aku langsung masuk ke jok penumpang. Tak satu pun dari mereka bahkan mendongak ketika Edward menyelinap diantara mereka dan membuka pintu mobilnya. djAnGgo 185 .tampak sangat tertarik. juga luput dari perhatian. “Mobil apa itu?” tanyaku.

masih menatap awan tebal itu dengan murung. mengamatiku.” Senyumnya kini rendah hati.” “Apa aku membuatmu takut?” Ya. Aku mengangguk.. tanpa mobil. “Hanya saja membayangkan kau ada di sana. “Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh. yang seolah dapat diraih.” “Itu keluaran BMW.” Aku tetap menjaga kesopananku sambil menunggu. Wajahku tidak djAnGgo 186 . Ia tidak percaya. “Kau masih marah?” tanyanya sambil berhati-hati mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah. “Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali Sabtu nanti. “Jangan khawatir soal itu. “Tidak..” Ia menghela napas. dan memutuskan itu tawaran terbaik yang bisa kudapat. “kami membiarkan indra mengendalikan diri kami.” “Karena. ia sedang menatapku.” katanya pelas. Aku mendongak.” aku berbohong. Dahinya berkerut.” aku bersikeras.” ujarku.. rasanya tidak akan terlalu membantu bila Charlie melihat Volvo asing di halaman rumahnya. sudah jelas ia sedang melucu. Dan kalau kau berjanji takkan mengulanginya lagi. membuat irama jantungku berantakan.” Rahangnya mengeras. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta maaf?” “Mungkin. Ketika menatapnya lagi. kalau kau bersungguh-sungguh. “Apakah sudah tiba saatnya?” tanyaku. Edward memarkir mobilnya di belakang trukku.” “Bagaimana. tanpa memandangku. kemudian berubah jadi santai.” Ia menarik napas dalam-dalam dan memandang melewati kaca depan.” “Mmm. ke awanawan yang menggayut tebal.. “Jelas.. “ Ia menyelaku.” “Aku tidak paham jenis-jenis mobil. mencoba memundurkan mobil tanpa menabrak para penggila mobil yang sedang berkerumun itu. “Well. terkejut.. “Dan kau masih ingin tahu kenapa kau tak bisa melihatku berburu?” Ia tampak serius. tentu saja kami sudah sampai di rumah Charlie. “Pasti buruk?” Ia berkata dengan rahang rapat.. dan aku setuju membiarkanmu mengemudi Sabtu nanti?” ujarnya.. Aku mempertimbangkannya.” Aku tidak mendesaknya lagi. “Kurasa sudah. “Sangat. “Aku minta maaf telah membuatmu takut. tapi rasanya aku melihat kejailan di matanya.” ia tetap bersikeras sambil tersenyum simpul. “Setuju. menantikan kelebatan matanya yang beberapa saat kemudian mengamatik reaksiku atas ucapannya. aku pernah mendengarnya. Aku akan datang. tanpa banyak menggunakan pikiran. Aku punya pertanyaan yang lebih penting. Aku tetap menjaga ekspresiku. “aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. dengan enggan. “Ketika kami berburu. tapi kemudian semua gurauan itu lenyap. Ia menghentikan mobilnya.“M3.” “Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu. sementara kami berburu.. “Aku tidak berencana membawa mobil. Terutama indra penciuman kami. Sorot matanya sekonyong-konyong berubah tajam.” Ketulusan membara di matanya untuk waktu lama.” Ia memutar bola matanya.” Ia menggeleng. Bermobil dengannya akan lebih mudah bila aku hanya membuka mata ketika kami sudah sampai.

menunjukkan apa-apa. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer saat ia menatap mataku tanpa berkedip. memecah kekakuan dia antara kami. dan keheningan itu semakin kental. aku sadar aku tak bernapas. djAnGgo 187 . Ketika akhirnya aku menghela napas gemetar. Namun pandangan kami bertemu. Ketika kepalaku mulai berputar. dan berubah. ia memejamkan mata.

. Ia menjulurkan tubuhnya di jendela yang terbuka. kalau tak ada halangan. Suara jendela diturunkan membuatku berbalik.. hidup dalam kekhawatiran bahwa anak gadisnya akan bertemu cowok yang disukainya. Aku bertanya-tanya apakah ia lupa mengenai rencanaku Sabtu ini. tapi juga tegang.” “Oh.” Lalu ia menghilang. Bagaimanapun tidurku berubah. menyikat gigi. Aku berkata takut-takut. tenang seperti yang kuharapkan. memamerkan kilauan deretan giginya. Bella?” ia memanggilku.” Aku nyengir. dan menyalakan keran. berusaha menyembunyikan kepeduliannya dengan berkonsentrasi membilas piring.” Aku merasa kasihan padanya.” Aku menatapnya jengkel.“Bella. keluar rumah. Mobil silver itu sudah ada disana. pikirku bergidik seandainya Charlie bahkan sedikit saja mencurigai siapa yang sebenarnya yang kusukai. Ketika mendengar mobil patroli Charlie menjauh. matanya kembali menatap awan. Makan pagi berlangsung biasa. Aku berjalan menuju rumah sambil tersenyum. suaranya lebih tenang. Menjelang subuh akhirnya aku jatuh ke dalam tidur yang melelahkan dan tanpa mimpi. djAnGgo 188 . berharap ia tidak menyinggungnya sehingga aku tak perlu berbohong. “Kali ini anak ceweklah yang mengajak. den embusan angin sangat dingin yang menyerbu ke dalam mobil menjernihkan pikiranku. dan aku berguling kian kemari. berjalan menyeberangi dapur. mobilnya melaju cepat sepanjang jalan dan lenyap di belokan bahkan sebelum aku mengumpulkan kesadaranku. “Begitulah rencanaku. “Ya. Ia menuang sabun cuci piring ke piringnya dan menggosok-gosoknya dengan sikat. Dad?” “Kau masih kepingin ke Seattle?” tanyanya. Jelas ia berencana menemuiku berok. seperti biasa.” “Giliran apa?” Senyumnya melebar. menunggu di tempat Charlie biasa parkir. aku makan semangkuk sereal. tapi juga mengkhawatirkan sebaliknya. dan mengumpulakn buku bukuku.” katanya. Ia menjawab pertanyaanku yang tak sempat terlontar ini ketika beranjak membawa piringnya ke tempat cuci piring. “Ya?” “Besok giliranku. Khawatir kehilangan keseimbangan. Kubuka pintunya. gelisah. aku hanya bisa bertahan sebentar sekali sebelum mengintip ke luar jendela. Charlie menggoreng telur untuknya sendiri. Betapa ngeri. Malam itu Edward muncul dalam mimpiku. tersenyum tipis. “Bertanya padamu. dan aku naik. Pasti sulit menjadi ayah. membayangkan berapa lama rutinitas aneh ini akan berlanjut. dengan hati-hati aku keluar dari mobil dan menutupnya tanpa menoleh. Aku setengah berlari menuruni tangga. Kemudian Charlie pergi sambil melambai. kurasa kau harus masuk sekarang. “Mengenai Sabtu ini. “Oh. hingga sering kali terbangun. Aku berkelit.” Ia mengeringkan piring dengan wajah cemberut. mimpi itu menimbulkan getaran yang sama seperti yang muncul siangnya. Aku mengenakan kaus turtleneck cokelat dan celana pendek. “Tak adakah yang mengajakmu?” tanyanya. Dad. Ketika terbangun aku masih merasa lelah. “Dan kau yakin takkan sempat ke pesta dansa?” “Aku tidak akan ke pesta dansa.” Suaranya rendah serak.

berhenti malu-malu sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam. setiap kali berada di dekatnya.” djAnGgo 189 . “Kau tampak lelah. begitu sempurna dan tampan hingga membuatku tersiksa.” Aku selalu baik. Ia tersenyum. sepertinya tidak memperhatikan waktu aku menutup pintu tanpa perlu repotrepot mengunci. terima kasih. Pandangannya melekat pada lingkaran di bawah mataku. seolah pertanyaannya lebih dari sekedar basa-basi. tenang. “Baik.” Suaranya lembut.Aku tak pernah menginginkannya berakhir. dan seperti biasa. “Bagaimana kabarmu hari ini?” matanya menjelajahi wajahku. Aku berjalan menuju mobil. lebih dari baik. Ia menunggu di mobil. “Selamat pagi.

lalu ini?” Satu alisnya terangkat. sewaktu makan siang. raut wajahnya serius. Sepanjang hari itu terus berlanjut seperti itu. Ia menderaku dengan pertanyaan-pertanyaan itu begitu cepat sehingga aku merasa sedang menjalani psikotes saat kau langsung menyebutkan kata pertama yang terlintas dalam benakmu. Apa yang ingin kau ketahui?” Dahiku mengerut. dan mengenai buku-buku. Sering kali aku tersadar. tanpa sadar menggerai rambutku agar sedikit menutupi wajah. Aku yakin deruman trukku akan membuatku kaget. tapi masih sedikit ragu-ragu. ekspresi seriusnya berubah. Ia mendengus.” “Kalau hari ini?” Ia masih tenang. Itu CD yang sama. wajahnya muram. Ia membuka laci di bawah CD player mobilnya. “Barangkali cokelat.” “Oh. seolah sedang menginterogasi pembunuh. beberapa tempat yang pernah kukunjungi. ketika menemuiku seusai kelas Bahasa Spanyol. Tapi ketika wajahku akhirnya toh merah padam. ia tersenyum mengejek. selama ini batu kesukaanku adalah garnet. ia malah mulai melontarkan rentetan pertanyaan baru lagi. hanya sedikit sekali yang membuat wajahku merona merah.” Aku biasa berpakaian sesuai dengan suasana hatiku. dan aku langsung menjawab topaz tanpa berpikir. Ia tergelak. pasti aku telah membuatnya bosan. dan rentetan pertanyaannya yang bertubi-tubi memaksaku meneruskannya. Seperti ketika ia menanyakan batu kesukaanku. Aku jadi sadar tak pernah memindahkan CD yang diberikan Phil.“Aku tak bisa tidur. Tapi ia kelihatannya menyerap semua informasi yang kusampaikan. tatapan aneh terpancar di matanya.” godanya sambil menyalakan mesin mobil. mengeluarkan satu dari tiga puluh atau lebih CD yang diselipkan dalam satu wadah sempit dan menyerahkannya padaku. Aku mulai terbiasa dengan suara deruman halus itu. “Cokelat?” tanyanya ragu-ragu. “Warna cokelat itu hangat.” Tangannya menyentuh lembut. untuk yang satu ini tak ada habisnya. bebatuan. Aku rindu cokelat. ia terus-menerus menanyakan detail-detail remeh dalam hidupku. Sesaat ia berpikir. Aku yakin ia pasti akan melanjutkan daftar pertanyaan dalam benaknya. Semua yang seharusnya berwarna cokelat. “Kurasa itu benar. kalau saja wajahku tidak merah padam. Sambil mengantarku ke kelas Bahasa Inggris. “Setiap hari berubah-ubah. sambil terus menunduk. “Aku juga. “Debussy. Ketika memandang matanya yang bertanya djAnGgo 190 . “Musik apa yang kaumainkan di CD palyer-mu saat ini?” tanyanya. “Tentu.” keluhku. Kami sudah tiba di sekolah.” aku mengaku.” “Jadi. “Kau benar. Warna cokelat itu hangat. kalau aku sempat mengendarainya lagi. Kurasa aku tidur agak lebih banyak darimu. kau benar. Wajahku memerah karena. batang pohon. Kebanyakan pertanyaannya mudah. Aku tidak bisa membayangkan apa pun tentangku yang bisa membuatnya tertarik. Film yang kusuka dan tidak kusuka. Ketika kusebut nama bandnya. Aku menggerak-gerakkan mataku. Ia sepertinya terkesima mendengar celotehanku. apa yang kaulakukan semalam?” tanyaku. Aku mengamati sampulnya yang tak asing lagi. “Apa warna kesukaanmu?” tanyanya. Aku tidak bisa mengingat terakhir kali aku bicara sebanyak itu.” katanya serius. menatap mataku.” “Aku berani bertaruh untuk itu. Ia berbalik menghadapku sambil memarkir mobil. Aku tertawa. “Tidak bisa. Hari ini giliranku bertanya. merapikan rambutku ke balik bahu. debu. disini semua itu dilapisi warna hijau.

Dan. “Itu warna matamu hari ini. aku akan bilang onyx. ia takkan menyerah hingga aku mengakui mengapa aku jadi malu. mustahil aku tidak ingat alasannya mengapa aku kini menyukai topaz. pasrah. “Katakan.” desahku. “Kurasa kalau kau menanyakannya dua mingu lalu.” akhirnya ia memerintahkan setelah bujukkannya tidak berhasil. tentu saja. memandangi tanganku yang bermain-main dengan rambutku. dadal hanya karena aku berhasil mengelak menatap wajahnya.” Aku mengatakan terlalu djAnGgo 191 .matanya yang berwarna topaz.

tak mudah untuk dijawab. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi padanya. Senyum lebar mengembang di wajahku. Ia tidak berbicara padaku hari ini. Aku menghela napas lega ketika Mr. Aku tak melihat ke arahnya. Ia balas tersenyum sebelum mengamatiku lebih dalam. di sudut benakku. untuk menjelaskan keindahan yang tidak ada hubungannya dengan tumbuhtumbuhan berduri yang sering tampak sekarat. kali ini dengan punggung tangannya yang dingin. percikan listrik itu muncul lagi. ia sedang menatapku. Pertanyaan-pertanyaannya berbeda sekarang. tapi masih menyenangkan. Kami berjalan ke gymnasium tanpa bicara. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian. hasrat yang sama untuk mengulurkan tangan dan menyentuh kulitnya yang dingin seperti kemarin telah kembali. warna biru dan putih yang membentang sepanjang kaki langit. Pertanyaannya yang sederhana namun menyelidik membuatku terus berbicara djAnGgo 192 . dan cara menggapai matahari. luasnya langit. langit mulai gelap dan hujan sekonyong-konyong turun membasahi sekeliling kami. Ketika guru itu mendekati panel lampu. merasakan kelegaan yang sama ketika melihatnya berdiri disana. membelai kening hingga rahangku. agak lengket. namun pada akhir pelajaran aku tak tahu apa yang baru saja kusaksikan. Aku sadar menggunakan kedua tanganku ketika menggambarkan semua itu padanya. Dan seperti kemarin juga ia menyentuh wajahku tanpa berkata-kata. Banner menyalakan lampu kembali. dan terus menjawab pertanyaannya. sorot matanya bingung. dan aku khawatir ini akan menimbulkan kemarahan aneh yang muncul setiap kali aku salah bicara dan mengungkapkan obsesiku terlalu jelas. entah karena ekspresiku yang hampa atau karena ia masih marah karena pertengkaran kami kemarin. Aku menghela napas lega. jemariku yang tersembunyi meremas ujung meja saat aku berusaha mengabaikan hasrat konyol yang membuaku resah. bunyi cicada yang melingking dan agak lantang. Berjam-jam kami duduk di depan rumah Charlie. Ia ingin tahu apa yang kurindukan dari rumahku. dengan lembah-lembah yang menekuk dangkal di antara bukit-bukit berbatu. khawatir ia juga sedang memandangku. gelisah. Aku mencoba menonton dengan sungguh-sungguh. Pelajaran Olahraga berlalu cepat ketika aku menyaksikan Mike berlaga dalam nomor tunggal bulu tangkis. Di suatu tempat. Kelas Biologi menjadi masalah lagi. nyaris tak terselingi pegunungan pegunungan rendah dengan bebatuan vulkanik ungu. Banner memasuki kelas. Tpai ia terdiam hanya sedetik. pepohonan kering yang rapuh. dan itu hanya membuatku sulit mengendalikan diri. ia memaksaku menggambarkan apa saja yang tidak biasa baginya. Tanpa berkata-kata ia bangkit dan diam tak bergerak. Tekanan itu membuatku lebih tegang daripada biasanya. “Kau suka bunga apa?” desaknya lagi. Begitu ruangan gelap. aku merasa bersalah. Aku berusaha menggambarkan hal-hal abstrak seperti aroma antiseptik. seperti kemarin. sebelum akhirnya berbalik dan pergi. aku melihat Edward menggeser kursinya agak sedikit jauh. keindahan yang lebih berkaitan dengan lekuk tanah yang menonjol. Tapi itu tidak membantu. menungguku. Edward terus melontarkan pertanyaan sampai Mr. pahit. Aku mencondongkan tubuh ke meja. Hal tersulit yang harus kujelaskan adalah mengapa itu semua begitu indah bagiku. sambil menarik kereta audiovisual lagi. meletakkan dagu di atas lengan yang kulipat.banyak dari seharusnya. semakin cepat pula aku akan menemui Edward. tapi akhirnya aku melangkah keluar. akhirnya memandang Edward. tahu semakin cepat aku bergerak.

tapi aku tak tahu jam berapa sekarang. aku dibuatnya lupa untuk merasa malu karena telah memonopoli pembicaraan. “Jam berapa sekarang?” tanyaku sambil melihat jam. Dalam cahaya temaram badai. ketika aku selesai mendeskripsikan kamarku yang berantakan di rumah. Akhirnya. Charlie sedang dalam perjalanan pulang sekarang. “Hampir selesai pun tidak. bukannya melontarkan pertanyaan lain. Aku menerawang ke langit yang gelap karena derasnya hujan.dengan bebasnya. Aku kaget melihat waktu.” “Charlie!” Aku tiba-tiba menyadari keberadaannya. dan mendesah. tapi ayahmu sebentar lagi pulang. ia malah terdiam. djAnGgo 193 . “Kau sudah selesai?” tanyaku lega.

Ia melirikku sebentar. “Charlie akan sampai sebentar lagi.“Sudah twilight . pria bertubuh kekar dengan wajah yang kuingat. Ekspresinya aneh.. Itu ayah Jacob. kecuali kau mau memberitahunya kau akan memberitahunya kau akan bersamaku Sabtu nanti. rembang petang. dengan kulit keriput bagai jaket kulit tua. memandang langit barat yang gelap tertutup awan. Tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang. Lampu sorot yang menembus hujan menarik perhatianku. “Masalah lagi.. Mobil patroli Charlie muncul dari belokan jalan. Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya. Dan sepasang mata yang tak disangkasangka sangat familier. Nada suaranya melamun. antara putus asa dan menantang. “Kacau. “Ini saat paling aman bagi kami. Aku bisa melihat sosok Edward dalam sorotan lampu mobil yang baru saja datang tadi. Kedekatannya yang tiba-tiba membuat jantungku berdetak liar. Aku nyaris lupa namanya jika Charlie tidak djAnGgo 194 .. “Meski disini tak banyak yang bisa dilihat. Aku menatapnya ketika ia memandang ke luar kaca depan mobil. “Terima kasih.” ia mengingatkanku. “Aku sudah bilang belum selesai. ia masih menatap ke depan. Bella. Billy Black. pipi yang kendur. kan?” “Ada apa lagi sih?” “Kau akan tahu besok. “Charlie sudah dekat. tatapannya terpaku pada sesuatu atau seseorang yang tak bisa kulihat. nyaris menarik dirinya menjauh dariku. tubuhku kaku karena terlalu lama duduk. menjawab tatapanku yang bertanyatanya.” gumam Edward. Kegelapan begitu mudah ditebak.” katanya. “Apa?” aku terkejut melihat rahangnya terkunci erat. Meski bingung dan penasaran.” Aku mengerutkan kening. lampunya menyinari mobil di depanku. “Hei. tapi tidak!” Kukumpulkan buku-bukuku. tapi juga yang paling sedih. Hujan terdengar lebih keras ketika membasahi jaketku.” Alisnya naik sebelah. Jadi. menyipitkan mata menembus hujan. mata hitam yang tampak terlalu muda dan sekaligus kuno untuk sebuah wajahnya yang lebar.” Ia tertawa. lalu bergerak. Aku mencoba mengenali sosok yang duduk di jok depan mobil tadi. Tapi tangannya membeku di pegangan pintu. tapi terlalu gelap. Dalam sekejap Volvo itu menghilang dari pandangan. mengingat. meski sudah lebih dari lima tahun sejak terakhir kali aku melihatnya.” gumamnya. Ia membuka pintu itu dalam gerakan luwes. Jacob sudah keluar dari mobil. “Saat termudah.” katanya muram. seolah pikirannya jauh entah dimana. Di jok penumpang duduk seseorang yang lebih tua. aku langsung melompat keluar. bannya berdecit di pelataran yang basah. kembalinya sang malam. Sebuah mobil menepi dan berhenti hanya beberapa meter di depan kami. “Aku suka malam. ini adalah akhir satu hari lain. “Jadi. “Jacob?” tanyaku. dan suasana di tengah-tengah kami tiba-tiba ceria lagi. bukankah begitu?” Ia tersenyum muram. Aku langsung mengenalinya.” Ia mencondongkan tubuh meraih pegangan pintuku dan membukakannya. kalau begitu besok giliranku?” “Tentu saja tidak!” Wajah marahnya menggodaku. wajah yang berkeriput.. memandang menembus hujan lebat yang mengguyur mobil tadi. senyumnya yang lebar tampak nyata meski saat itu gelap. tatapannya gelisah.” suara serak yang tak asing lagi memanggilku dari jok pengemudi mobil hitam kecil itu.

seperti kata Edward.menyebutnya pada hari pertama kedatanganku disini. seolaholah ngeri. Apakah Billy mengenali Edward semudah itu? Mungkinkah ia benar-benar mempercayai legenda mustahil yang diceritakan anaknya? Jawabannya tampak jelas di mata Billy. hidungnya kembang. Ia memandangku. Billy masih menatapku lekat-lekat.kempis. Senyumku memudar. Masalah lagi. Diam-diam aku mengerang. mengamati wajahku. waswas. Ya. Ya. ia percaya djAnGgo 195 . Matanya lebar. jadi aku tersenyum malu-malu padanya.

” Ia menunjuk pekarangan dengan ibu jarinya.” kata Jacob. “Apakah trukku bermasalah?” lanjutnya tiba-tiba.” “Oh. Semangatnya sangat sulit ditolak. menghindari hujan. Barangkali rayuanku di pantai tempo hari kelewat meyakinkan. “Bagaimana denganmu.” Matanya yang gelap bersinar-sinar menatapku. suaranya terdengar berpindah ke ruang depan.” Ia nyengir. Sandwich panggang keju sudah siap di wajan dan aku sedang mengiris tomat ketika merasakan seseorang di belakangku. Penyeimbangan “Billy!” seru Charlie begitu ia keluar dari mobil.” sahut Billy. “Tadinya aku mau berpura-pura tidak melihatmu di belakang kemudi. “Aku masih perlu beberapa bagian lainnya. “Kurasa itulah rencananya.” protesnya. ke TV. Jacob cemberut dan menunduk sementara aku mencoba mengenyahkan perasaan menyesal yang menyelimutiku. “Jadi. “Kalian lapar?” tanyaku. tentu saja. “Dan tentu saja Jacob sudah tak sabar ingin bertemu Bella lagi. kami sudah makan sebelum kemari.” kata Charlie. dengan waswas memperhatikan Charlie dan Jacob membantu Billy keluar dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. sementara aku membuka pintu dan menyalakan lampu teras. Aku belum melihat. Lalu aku berdiri di ambang pintu. “Bagaimanapu aku harus mampir kemari. sambil meraih-raih ke bawah serambi. Kuharap kau tinggal untuk menyaksikan pertandingan. “Baik. “Ini kejutan.” Aku mengenali suara Billy yang mengelegar itu dengan mudah. “Tidak. meski sudah bertahun-tahun. Aku mendengar Charlie menyambut mereka lantang di belakangku. TV kami rusak sejak minggu lalu.. “Bagaimana denganmu? Apakah mobilmu sudah selesai?” “Belum.12. “Tidak. bagaimana keadaanmu?” tanya Jacob. Aku menepi memberi jalan ketika ketiganya bergegas masuk.” Jacob nyengir.” Keningnya berkerut. Suaranya membuatku tibatiba merasa lebih muda. Charlie?” aku menengok sambil meluncur ke sudut. Aku hanya penasaran sebab kau tidak menggunakannya.” Aku menunduk menatap wajan.” Billy menatap anaknya dengan pandangan menegur.” sahut Jacob. Bisa kudengar suara kursi roda Billy menyusul di belakangnya.” Charlie tertawa. “Tentu saja. Aku masuk. Aku ingin sekali melarikan diri dari tatapan Billy yang penasaran. “Ya.” balasnya. Aku berbalik menuju rumah. “Maaf. “Kuharap kami datang di waktu yang tepat.. memberi isyarat pada Jacob untuk mendekat. “Sudah terlalu lama.” Aku tersenyum. masih kanak-kanak. apa yang kau cari itu?” “Master cylinder. berbalik menuju dapur. “Seorang djAnGgo 196 . “Tidak masalah.” ia menambahkan. mengintip bagian bawah sandwich-nya. “Kami mendapat izin meninggalkan reservasi. ekspresinya tak bisa ditebak. Jake. membiarkan pintu terbuka dan menyalakan semua lampu sebelum menanggalkan jaket. Kami meminjam mobil itu.

” djAnGgo 197 . Kusangka aku kenal hampir semua anak disini. “Tapi aku tidak mengenali pemiliknya.” “Tumpangan yang keren.teman memberiku tumpangan.” Suara Jacob terkagum-kagum.

Bella.” timpal Billy.Aku mengangguk lemah sambil terus menunduk.” “Dasar orang tua yang percaya takhayul. “Tentu.” gumam Jacob. Akhirnya pertandingannya selesai. “Apakah kau dan teman-temanmu akan ke pantai lagi?” tanya Jacob sambil mendorong ayahnya ke pintu.” akhirnya ia menjawab. PR-ku banyak yang belum selesai.” Aku berpura-pura polos. Akhirnya aku mengalah.” tambahnya serius. “Sepertinya ayahku mengenalinya. kata-kata itu keluar dalam bisikan. “Terima kasih.” kata Billy. Hatiku mencelos. tunggu.” aku menyahut enggan. “Jaga dirimu. siapa dia?” tanyanya. Sungguh malam yang sangat panjang. “Tadi itu menyenangkan. lalu berpaling. Aku tetap tinggal di ruang depan setelah mengantar makanan kepada Charlie. Selamat tidur.” serunya. berpura-pura menonton pertandingan sementara Jacob terus berceloteh. membalikkan sandwich. satu kakiku pada undakan pertama. Mereka tidak banyak bercakap-cakap sejak. dan aku tak bisa menebak ekspresi yang terpancar di matanya yang gelap. Aku bergegas menuju tangga sementara Charlie melambaikan tangannya di ambang pintu. menaruh dua piring di konter sebelahku. Kuharap ia tidak meneruskan topik itu lagi. Apakah Billy sempat mengatakan sesuatu sebelum aku bergabung dengan mereka di ruang tamu? Tapi Charlie tampak tenang.” Ketika tatapannya beralih padaku. Sebenarnya aku mendengarkan pembicaraan pria-pria dewasa itu. “Jadi. bisakah kau mengambilkan piring? Ada di lemari di sebelah atas tempat cuci piring. Menurutku dia takkan mengungkitnya lagi. “Kami akan datang.” “Jacob. “Dia tidak menyukai keluarga Cullen. “Edward Cullen.” “Tentu saja.” kataku. Aku mendongak memandangnya.” ujar Charlie membesarkan hati Billy.” Yang membuatku terkejut. Ia kelihatan sedikit malu. ia tertawa. “Kurasa itu menjelaskan semuanya.” “Benar sekali.” gumamku.” “Oh. kan?” Aku tak bisa menahannya. mencoba mencari jalan untuk menghentikannya bila ia memulainya. “Kita belum sempat mengobrol malam ini. Bagaimana harimu?” “Baik. “Dia tidak bakal bilang apa-apa pada Charlie. memperhatikan tanda apa pun yang menunjukkan Billy akan menginterogasiku. Jacob menatapku sesaat. boleh dibilang malam ini semacam reuni. “Entahlah. tentu. “Tim bulu tangkisku memenangkan empat nomor pertandingan yang digelar.” Ia mengambil piring tanpa mengatakan apa-apa.” djAnGgo 198 . “Aku sih tidak yakin dia bakal bilang.” sahutku menarik diri. “Datanglah untuk menonton pertandingan berikutnya. senyumnya memudar. benakku memikirkan informasi mana yang bisa kuceritakan pada Charlie. “Kurasa Charlie sudah membuatnya mengerti terakhir kali mereka bertemu.” katanya. mencoba terdengar tak peduli. Charlie. kurasa. tapi aku khawatir meninggalkan Billy sendirian bersama Charlie. “Bella. di wajahnya masih tersisa senyuman dari kunjungan yang tak disangka sangka tadi. “Kenapa ayahku bersikap sangat aneh.

” sahutku ogah-ogahan.” Ia terkagum-kagum sebentar.. aku tak tahu kau bisa bermain bulu tangkis. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke pesta dansa akhir pekan ini?” djAnGgo 199 .” aku mengakuinya.. sebenarnya sih tidak. “Keluarganya baik. “Siapa?” nadanya tertarik. tapi partnerku sangat hebat. kau pernah bilang kau beretman dengan si Newton itu.” “Well. Mike Newton. “Mmm. “Oh ya.” Suaranya penuh semangat.“Wow.

Kemudian satu-satunya nenek yang kutahu. berharap kelegaanku tidak kentara. Tidurku lebih pulas malam itu. sementara aku mengunyah. Charlie memperhatikan.” Ia nyengir. dan lagi ketika aku melompat-lompat menuruni tangga. Ia sedang menanti di mobilnya yang mengkilap. Aku tahu aku terlalu sering meninggalkanmu sendirian di rumah. sama seperti Jessica dan Angela. “Jadi kau tak pernah bertemu orang-orang yang ingin kau jumpai?” tanyanya serius. “Boleh aku bertanya apa saja yang kaulakukan?” tanyaku.” Aku bergegas. “Pagi ini kau ceria sekali. Lagipula kau kan tahu aku tidak bisa berdansa. Ketika aku terbangun di pagi hari yang kelabu.. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apa pun. Tapi kalau kau ingin menunda perjalananmu hingga ada yang bisa menemanimu. Aku bertanya-tanya apakah ia menyadari. aku merasa ada humor di dalamnya yang tak berhasil kutangkap. “Tidak di Phoenix. Aku lega karena tak pernah benar-benar berkencan. Saat ini kami di kafetaria. sehingga begitu Charlie berangkat aku sudah siap. temanku. Ia. “Aku seharusnya membiarkanmu mengemudi sendiri hari ini.“Dad!” erangku. “Ini Jumat. kau oke. Tasku sudah siap. supaya lebih cepat memandang wajahnya. suasana hatiku bahagia. jendelanya terbuka. jadi kuputuskan untuk melupakan semuanya. kelewat lelah untuk bermimpi. “Dia berkencan dengan Jessica.” Aku mengerling padanya hingga sudut-sudut matanya mengerut. “Baik. mesinnya mati.. ternyata Edward lebih cepat dariku. membuatku malu ketika ia menanyakan tentang cowok-cowok yang berkencan denganku.” sahutnya saat sarapan. Aku mengangkat bahu. membuatku bertanya-tanya apa yang dipikirkannya. sama sekali tak ada hubungannya. membuat napas dan jantungku berhenti. hobinya. apa yang kami lakukan bersama-sama waktu senggang. Dengan enggan aku mengakuinya. “Aku tak pernah keberatan tinggal di rumah sendirian. jadi topik yang satu itu tidak berlangsung lama. djAnGgo 200 . Aku memanfaatkan diamnya untuk menggigit bagelku. terkejut mendengar sejarah kehidupan percintaanku yang sama sekali nol.” Senyumnya memukau. Aku mendapati diriku bersiul ketika menjepit rambutku.” Hari ini ia ingin tahu tentang orang-orang dalam hidupku: lebih banyak tentang Reneé.” Aku tersenyum. Lalu ia tersenyum menyesal padaku. Kali ini aku tidak ragu-ragu lagi. sepatu sudah kukenakan. betapa menggoda suaranya. Cuaca seharusnya cukup hangat. Hari berlalu begitu cepat dalam kelebatan yang segera berubah jadi rutinitas. gigi sudah bersih.” gumamnya. “Jadi kurasa bagus bagimu untuk pergi Sabtu nanti. Malam yang menegangkan bersama Billy dan Jacob kelihatannya tidak terlalu berbahaya lagi sekarang. Ia tersenyum lebar padaku. Bagaimana dengan malammu?” “Menyenangkan. Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia.” “Oh iya. “Hari ini masih milikku.” katanya. “Tidak. Aku berencana pergi memancing bersama teman-temanku sepulang kerja. kita kan mirip. “Bagaimana tidurmu semalam?” tanyanya. namun meskipun aku bergegas ke pintu sudah hilang dari pandangan. langsung masuk ke jok penumpang. aku akan di rumah saja. “Dad.” Bibirnya terkatup erat. beberapa teman sekolah.

“Aku tidak membawa kuncinya. “Aku akan pergi dengan Alice setelah makan siang. djAnGgo 201 .” Ia menatapku tidak sabaran.“Kenapa?” tanyaku.” Mataku mengerjap. Kami akan mengambil trukmu dan meninggalkannya di parkiran. “Tidak masalah.” Yang membuatku keberatan adalah kehilangan waktu bersamanya. bingung dan kecewa.” “Oh. “Aku takkan membiarkanmu pulang jalan kaki. “Aku benar-benar tidak keberatan berjalan kaki. berjalan kaki tidak terlalu jauh kok.” desahku.

Aku cukup yakin kunciku ada di kantong jins yang kupakai hari Rabu.” protesnya. Ia sepertinya merasa tertantang dengan jawabanku tadi. kau tahu itu. “Kalau aku berduaan denganmu besok. bibirku merengut. mendukung. “Berburu.” Ia menertawai perkataannya sendiri.” Dahinya mengerut ketika mengatakan itu. kau sendiri sama sekali tidak memahami dirimu. Aku menolak merasa takut padanya.” Ia memandangku marah dan aku membalasnya. besok dia pergi mancing. persis ketika pertama kali melihat merka. “Jadi.” Aku menunduk. saudara laki-laki mereka yang menawan dan berambut perunggu duduk berseberangan denganku... “Mereka apa?” Sesaat ia mengernyitkan alis. “Kau akan berburu apa malam ini?” tanyaku akhirnya. “Jam berapa kita ketemu besok?” tanyaku. “Dan yang lain?” tanyaku hati-hati. Edward menggeleng pelan. “Kalau begitu waktu yang sama seperti biasa. ketika yakin telah kalah dalam adu tatapan marah. Mereka duduk. Kau tidak seperti orang-orang yang pernah kukenal. “Baiklah. Hanya saja sekarang mereka berempat.” Ia tampak heran dengan sikapku yang biasa saja menanggapi rahasia gelapnya. “Charlie akan ada di rumah?” “Tidak. khawatir akan tatapannya yang persuatif.” aku mencoba menebak. di tumpukan pakaian di ruang cuci.Ia menggeleng. kau mau kemana?” tanyaku sewajar mungkin.. “Apa saja yang bisa kami temukan. “Trukmu akan ada disini. kuncinya tergantung di lubang starter. Barangkali dipikirnya aku terjatuh ke dalam mesin cuci.” Wajahnya bertambah muram. matanya yang keemasan tampak gelisah.” Aku meringis. “Dia tahu aku berencana mencuci pakaian.” “Barangkali kau benar. “Mereka tidak mengerti kenapa aku tak bisa meninggalkanmu.” aku menyetujuinya.” bisikku. “Dan kalau kau tidak pulang. “Untuk masalah ini. “Alice yang paling.” aku menjawab terlalu cepat.” jawabku tenang. kecuali kau khawatir seseorang akan mengambilnya. Aku mengubah topik kami. terlalu percaya diri. sudah merasa sedih memikirkan ia bakal pergi.” ujarku membayangkan betapa semuanya berjalan lancar.” Aku memandang marah padanya.” katanya. “Bisa dibilang tidak percaya. karena yakin ia sedang menggodaku sekarang. Kami tidak pergi jauh-jauh. aku juga tidak mengerti. Warna matanya berubah gelap ketika kuperhatikan. Itu tak masalah. Kau membuatku kagum.” gumamnya putus asa.. matanya memandangin langit-langit sebelum menatapku lagi.. “Kenapa kau pergi dengan Alice?” tanyaku. Kemarahannya jauh lebih mengesankan daripada kemarahanku. Bahkan kalaupun ia menerobos masuk ke rumahku. balas menatapnya. tidakkah kau ingin bangun lebih siang?” ia menawarkan.” Aku langsung menoleh ke arah keluarganya. tak peduli berapa nyata bahaya yang mungkin menghadang. “Bukan itu. dan memelas. djAnGgo 202 . “Tidak. atau apapun yang direncanakannya. ia takkan menemukannya. apa yang akan dipikirkannya?” “Aku tidak tahu. itu kan Sabtu. aku akan melakukan tindakan pencegahan apapun yang kubisa. “Tergantung. Ia nyengir. “Kau boleh membatalkannya kapan saja. Ia menahan senyum. Suaranya berubah tajam. “Sudah kubilang.” jawabnya dingin. “Aku tak bisa. ulangku dalam benakku. “Tidak. tapi tatapannya kelewat polos. memandang ke berbagai arah.. “Mereka tidak menyukaiku.

“Dengan keunggulan yang kumiliki. menyentuh dahinya dengan hati-hati.. Manusia bisa ditebak.” gumamnya. kau tak pernah seperti yang kuduga. “aku lebih baik daripada manusia umumnya.Ia tersenyum begitu memahami ekspresiku.” djAnGgo 203 . Kau selalu membuatku terkejut. Tapi kau..

tapi aku belum bisa menatapnya. “Halo. dengan buruk.” Edward melontarkan pandangan misterius ke arahnya. Aku ingin berpaling. Begini.” Warna matanya yang seperti batu obsidian tak bisa ditebak. Aku merasakan tatapannya di wajahku.. Kita masih punya waktu lima belas menit menonton film menyedihkan itu di kelas Biologi. “Tapi ada lagi. rambut gelapnya yang pendek berpotongan lancip membingkai wajahnya seperti peri kecil. elegan meski tidak bergerak.” Ia menaruh kepalanya diantara kedua tangannya seperti yang dilakukannya malam itu di Port Angeles. saudaranya yang berambut pirang dan luar biasa cantik.. tapi senyumnya bersahabat. Mungkin ini yang terbaik.” Aku hendak beranjak. kalau setelah menghabiskan begitu banyak waktu denganmu terang-terangan. Bella. tapi tatapannya memerangkapku sampai akhirnya Edward menghentikan kata-katanya dan mengeram marah. suara soprano tingginya nyaris sama menariknya seperti suara Edward. “Kalau?” “Kalau ini berakhir. Aku menunggu rasa takut itu. khawatir sentuhanku akan memperburuk keadaan. tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Alice. “Alice. melainkan menatap marah dengan tatapan gelap dan dingin. Kesedihannya sangat nyata. Aku ingin menertawai diriku sendiri karena mengharapkan yang lain. meski akhirnya kujatuhkan lagi ke meja.. ” Aku masih memandangi keluarga Cullen ketika ia berbicara.. dan tak mudah menjelaskannya dengan kata-kata.” Ia menunduk. bukan hanya aku yang bakal terancam. Kupaksakan tanganku meraihnya. Alice. mataku kembali mengamati keluarganya. Ia masih memegangi kepalanya.. aku tak yakin bisa melakukannya lagi. Perlahan aku menyadari katakatanya seharusnya membuatku takut. Aku tak tahu bagaimana caranya membuatnya membicarakannya lagi. menunjuk kami sesantai mungkin. tapi sepertinya yang dapat kurasakan hanya perasaan sedih karena rasa sakit yang dialaminya. Wajahnya tegang ketika menjelaskan. tiba-tiba sudah berdiri di belakang Edward.. merasa malu dan tidak puas. kemudian suasana hatinya berubah dan ia tersenyum. Dan perasaan frustasi. “Hai. ingin rasanya aku menenangkannya. “Senang akhirnya bisa berkenalan. sesaat wajahnya serius.” Ia mengangkat wajah. “Bagian itu cukup mudah untuk dijelaskan. ini Alice. senyum sinis mengembang di wajahnya. “Alice. dan aku lega karena terbebas dari tatapannya.” sapaku malu-malu. Kata-katanya membuatku merasa seperti kelinci percobaan. Posturnya ramping.. Suaranya nyaris seperti desisan. khawatir ia bisa saja membaca kekecewaan di mataku. bukan melihat. berpaling dan menatapku. dan tahu ia bisa melihat perasaan bingung dan takut yang memenuhi mataku. frustasi karena Rosalie telah menyela apapun itu yang hendak dikatakannya.” balasnya. ini Bella. dengan cepat. “Maaf soal itu.” “Edward. Edward menyapanya tanpa memalingkan pandangan dariku. Tiba-tiba Rosalie. Bella. Dia hanya khawatir. Rosalie membuang muka. Aku berusaha bicara sewajar mungkin. “Kau harus pergi sekarang?” “Ya. djAnGgo 204 .Aku berpaling.” ia memperkenalkan kami.” lanjutnya. Tidak. Aku kembali menatap Edward..

” Ia masih tersenyum. “Akan kucoba. “Haruskah aku mengucapkan ‘Selamat bersenang-senang’. jagalah dirimu.Suaranya dingin.” Ia tersenyum. “Kalau begitu. ‘selamat bersenang-senang’ sudah cukup.” djAnGgo 205 . atau kalimat itu tidak tepat?” tanyaku. “Tidak.” “Aman di Forks. itu sih gampang.” Aku berusaha terdengar tulus. “Dan kau. Tentu saja aku tidak bisa menipunya.” Tanpa mengucapkan apa-apa Alice meninggalkan kami. Kita ketemu di mobil. langkahnya sangat gemulai. “Hampir. berbalik menghadap Edward lagi. begitu anggun sehingga membuatku iri. selamat bersenang-senang. kumohon.

” aku menekankan. dan rasanya ia juga. Lalu ia berbalik dan pergi. aku juga. Karena tak ada yang lebih menakutkan buatku. khawatir trukku takkan sanggup. Mike mengajakku bicara lagi. mengusap lembut pipiku. “Aku akan mencuci malam ini. kau bisa datang ke pesta dansa dengan kami. Aku tak bisa mengatakan sejujurnya apa yang terjadi di kelas Biologi.. Mike. Aku mengangguk sedih.” “Aku janji akan menjaga diri. Mike dan yang lain pasti menduga aku pergi dengan Edward. dan aku harus belajar untuk ujian Trigono atau nilaiku bakal jelek. menyentuh wajahku. aku sama sekali tidak akan ke pesta dansa. Hubungan kami tak bisa berlanjut secara seimbang. “Aku akan datang besok pagi. “Oh.. pasti keren. Dengan sendirinya aku tahu. bahwa esok adalah saat yang penting.” ulangku.” “Jangan terjatuh.” katanya kembali bersemangat. Aku mencoba mengenyahkan keinginanku itu. pikiranku kelewat sibuk memikirkan hari esok. tapi insting menghentikan niatku. “Kau tahu. Tapi sebagai gantinya dengan cerdik aku berbohong. atau instingnya. dan aku bertekad menjalankannya. “Sampai ketemu besok. Keinginanku paling besar adalah menyuruhnya tidak ikut campur. dan ini membuatku terkejut.” janjinya.” djAnGgo 206 . “tidak akan membantuku belajar. Aku amat tergoda untuk membolos selama sisa jam pelajaran hari itu. “Sepertinya bakalan lama bagimu. setidaknya pelajaran Olahraga. Kami semua akan berdansa denganmu. “Aku tidak akan pergi ke pesta dansa. lebih menyakitkan. berharap aku bersenang-senang di Seattle. ya kan?” godanya. “Aku hanya menawarkan.” Ia bangkit berdiri. pasti bakal penuh bahaya. Aku pergi ke kelas dengan patuh. bahkan sebelum aku memutuskannya dengan sadar. oke?” “Ya sudah. Di Olahraga. Dia pergi entah kemana akhir pekan ini.” ia berjanji.” “Lalu.” ejeknya. Aku memandanginya hingga ia tak terlihat lagi. Kami akan terjatuh ke satu sisi atau sisi lain. kalau saja semuanya tidak berjalan semestinya. tergantung sepenuhnya pada keputusannya. daripada menjauhkan diriku darinya.” desahku.” Ia marah lagi.” Rahangnya mengeras. Ia mengulurkan tangan. Aku tahu kalau aku menghilang sekarang. Hati-hati kujelaskan bahwa aku tidak jadi pergi. “Tidak. “Cucian. Itu sesuatu yang mustahil. Bayangan wajah Jessica mengubah nada suaraku lebih tajam dari seharusnya. “Kau akan ke pesta dansa dengan Cullen?” tanyannya. tersenyum lebar. tiba-tiba marah. “Lihat saja.” “Apakah Cullen membantumu belajar?” “Edward. dan lebih berkonsentrasi membuat segalanya lebih aman baginya. seperti layaknya hubungan di ujung tanduk.“Bagimu memang gampang.” Kebohongan itu mengalir lebih alami dari biasanya. Keputusanku sendiri sudah bulat. kelewat ingin tahu. “Janji. Dan Edward sendiri mengkhawatirkan kebersamaan kami yang terang-terangan seperti ini. apa yang akan kaulakukan?” tanyanya.

Selembar kertas tergeletak di jokku. Tapi aku mulai percaya tak ada yang mustahil baginya. tapi aku tak mengerti bagaimana ia bisa membawa trukku kesini. membuka pintu yang tak terkunci dan melihat kuncinya menggantung di lubang starter. Aku menertawai diriku sendiri.Ketika sekolah akhirnya selesai. Aku mengambilnya dan menutup pintu sebelum membuka lipatannya. Aku menggeleng tak percaya. Tertera dua kata dalam tulisan yang elegan. trukku diparkir di tempat ia memarkir Volvo-nya tadi pagi. Insting terakhirku terbukti benar. aku berjalan lemas menuju parkiran. Jaga dirimu Suara deru truk membuatku kaget. Aku terutama tak ingin pulang berjalan kaki. djAnGgo 207 .

Tawaku reda. Aku punya banyak hal yang harus kulakukan.” “Kau yakin?” “Tentu... bila semua itu berakhir buruk. Setelah makan malam aku melipat pakaian dan memindahkan sebagian lagi ke mesin pengering. Mengikuti insting sama yang telah membuatku berbohong pada Mike.. Kurasa aku akan menunggu sampai Jessica atau orang lain bisa pergi bersamaku. bertanya-tanya apakah akan sangat menyakitkan. Sesampai di dalam aku segera ke ruang cuci.. Aku akan pergi kesana kemari seharian.” “Mudah sekali hidup bersamamu. Jadi kau ingin aku menemanimu di rumah?” “Tidak. dan tak akan mengubahnya.” aku memulai. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya. Ketika ia menyampaikan harapan yang sama untuk hariku bersama Edward. tertawa. aku menelepon Jessica untuk berpura-pura mendoakan semoga pesta dansanya berjalan lancar. Aku langsung mengakhiri pembicaraan setelah itu. oke. Tapi suara kecil di relung benakku yang terdalam khawatir. Lagipula. Pikiranku berpindah-pindah antara antisipasi yang begitu kuat hingga nyaris menyakitkan. Aku hanya perlu berpegang pada keyakinan bahwa akhirnya. kurasa. “Kau juga. “Oh. aku mengingatkan diriku sendiri berulang-ulang.Ketika aku sampai di rumah pintunya terkunci. djAnGgo 208 . kau pergi saja dan bersenang-senanglah.. Sebagai pihak ketiga yang tak ada hubungannya sama sekali. Pikiranku jelas punya banyak waktu senggang. Aku perlu ke perpustakaan.. mengenyahkannya dari hidupku? Tidak mungkin. persis seperti yang kutinggalkan tadi pagi. Kosong..” kataku. dan setelah menemukannya. Bell?” “Kurasa kau benar tentang Seattle. namun gemboknya terbuka. persediaan ikan kita sudah menipis. Dad. “Kau tahu. atau mungkin ia hanya benarbenar menikmati lasagna yang kubuat. Ia ingin agar aku selamat. Dan apa pilihanku yang lainnya.” Ia tersenyum. Aku mencari jinsku. terkejut. mengkhawatirkan sesuatu tentang pekerjaannya. Barangkali kuncinya telah kugantungkan di suatu tempat. Sayangnya ini jenis pekerjaan yang hanya dapat menyibukkan tangan saja.. kuperiksa sakunya. mencuci. Dad. Aku harus terus mengingatkan diri bahwa aku telah membuat keputusan. atau mungkin pertandingan basket. Nyaris. sulit menebak apa yang dipikirkan Charlie. Aku mengeliarkan kertas berisi tulisannya dari sakuku lebih sering dari yang diperlukan untuk menyerap dua kata yang ditulisnya. sejak aku datang ke Forks. PR. hasrat itu akan mengalahkan segalanya. Lagipula. Dad.” “Oh. Dad. membuyarkan lamunannya. aku memberitahunya tentang pembatalan itu. jangan ubah rencanamu. “Ada apa.. pikirku sambil menggeleng. persediaan kita tinggal cukup untuk dua atau tiga tahun barangkali. ia terdengar lebih kecewa dari seharusnya. kelihatannya hidupku benar-benar tentang dirinya. dan perasaan sangat takut membulatkan tekadku.. Sepanjang makan malam Charlie melamun. Bella. dan ke toko kelontong.” katanya. Kelihatannya juga sama seperti ketika kutinggalkan tadi. tapi sepertinya Dad tidak memperhatikan. dan sudah mulai tak terkendali. sampai-sampai aku nyaris mengikuti nasihat Edward dan mengatakan yang sebenarnya.

obat itu bisa membuatku tidur selama delapan jam. Dalam keadaan normal aku tidak akan memaafkan tindakan seperti itu. Aku menyalakannya dengan volume sangat pelan lalu berbaring lagi. dan mencari-cari di kotak sepatuku hingga menemukan koleksi instrumental Chopin. hingga tak bisa berhenti bolak-balik. Aku terbangun. dan memikirkan apa yang akan kukenakan besok. Aku tahu aku terlalu tegang untuk bisa tidur. aku mengeringkan rambutku yang sudah bersih hingga benar-benar lurus. tapi besok bakal cukup rumit tanpa aku menjadi sinting karena kurang tidur. akhirnya aku berbaring di tempat tidur. Setelah semua siap untuk esok. Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku sengaja meminum pil demam yang sebenarnya tidak kuperlukan. Aku merasa tegang. Sambil menunggu obatnya bekerja.Aku merasa lega ketika hari sudah cukup malam untuk pergi tidur. berusaha djAnGgo 209 .

buru-buru membereskannya ketika selesai. dan ia pun tertawa. “Kemana?” tanyaku. dan meraih ke seberang untuk membukakan pintu baginya.” Aku menatapnya jengkel ketika melakukan perintahnya. dan jins. merapikan sweter cokelatku hingga jatuh alami di pinggangku.menenangkan setiap bagian tubuhku. melicinkan kerah pakaianku. Aku mengintip ke luar jendela untuk memastikan Charlie sudah benar-benar pergi. Aku menyantap sarapanku tanpa benar-benar merasakannya. Tapi kemudian raut wajahnya sedikit ceria ketika melihatku. Karenanya aku mengemudi lebih hati-hati dari biasa. Dan ia tampak berdiri di sana. “Ada apa?” aku menunduk untuk memastikan tidak melupakan sesuatu yang penting seperti sepatu. dengan kerah putih mengintip di baliknya.” tukasku gusar. Aku mendesah lega. sedikit kesulitan dengan selotnya. Semua kegelisahanku lenyap begitu aku melihat wajahnya.” sapanya sambil tergelak. tapi akhirnya berhasil membukanya. kenapa ia terlihat sebagai model peragaan busana sementara aku tidak? “Kita sudah sepakat.” Ia tertawa lagi. “Ke arah satu-kosong-satu utara. Aku baru menyadari bahwa ia mengenakan sweter tangan panjang cokelat muda. tidurku benar-benar nyenyak dan tanpa mimpi berkat obat yang sengaja kuminum. Lalu aku masuk ke kursi kemudi. dan aku pun tidur pulas.” aku mengingatkannya. belum-belum aku sudah gugup. “Apakah kau bermaksud meninggalkan Forks sebelum malam tiba?” “Truk ini cukup tua untuk menjadi mobil kakekmu. Awalnya ia tidak tersenyum. Aku ikut tertawa. atau celana. hargailah sedikit. “Belok kiri di satu-sepuluh. Aku baru saja selesai menggosok gigi dan hendak turun ketika sebuah ketukan pelan membuat jantungku berdetak kencang.” perintahnya ketika aku hendak bertanya. Di tengah-tengah itu ada obat yang kuminum tadi mulai bekerja. Kini aku merasa tenang. merasa puas. Aku mengintip ke jendela lagi. Aku meluncur ke pintu. ketakutan yang kurasakan kemarin terasa konyol setelah sekarang ia sudah di sini bersamaku. Awan tipis bagai kapas menyelimuti langit. meskipun ia terus saja mencela. menembus kota yang masih tidur. Aku berpakaian terburu-buru. “Selamat pagi. “Kenakan sabuk pengamanmu. Sepertinya tidak akan bertahan lama. “Kemana?” ulangku sambil mendesah. Pemandangan semak belukar yang lebat dan batang-batang pohon berselimut lumut menggantikan pekarangan dan rumahrumah yang tadi kami lewati. Aku terkejut menemukan diriku sulit berkonsentrasi pada jalanan di depanku ketika merasakan tatapannya di wajahku. Aku mematuhinya tanpa berkata- djAnGgo 210 . wajahnya muram.” perintahnya. Aku bangun cepat. aku kembali tergesa-gesa seperti semalam. menyembunyikan sekelumit kekecewaan. tapi tak ada yang berubah. Tak lama kemudian kami sampai di perbatasan kota. “Kita serasi. Meski istirahatku cukup.

“Dan di ujung jalan sana ada apa?” aku bertanya-tanya. “Apakah itu masalah?” Ia terdengar tidak kaget.kata. “Sekarang terus hingga ke ujung jalan.” “Kita akan mendaki gunung?” Untung aku memakai sepatu tenis. “Jalan setapak. tapi terlalu takut bakal keluar jalur dan membuktikan ia benar untuk merasa waswas. djAnGgo 211 .” Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya.

atau bahkan melukaiku.. ke awan-awan yang mulai menipis. kalau kita terlihat bersama-sama di depan orang banyak. “Jangan khawatir.Aku memarkir truk di sisi jalan yang sempit dan melangkah keluar.” “Apakah kau menceritakan rencanamu padanya?” tanyanya. nyaris lembab di bawah selimut awan. Aku mendengarnya menutup pintu. bersyukur telah mengenakan kaus tipis tanpa lengan di baliknya. Ia tidak sedang memandangku. dan aku tak tahu harus bilang apa. dan sangat sinis. aku bilang kau membatalkan rencana itu. waswas karena ia marah padaku dan aku tak bisa menjadikan mengemudi sebagai alasan untuk tidak memandangnya. dan melihat apakah ia juga melepas sweternya. sorot matanya masih kesal. Ia mulai memasuki hutan gelap itu. “Apa yang kaupikirkan?” tanyanya tak sabar setelah beberapa saat. kurasa kau memberitahu Alice?” “Sangat membantu.” “Tak ada yang tahu kau bersamaku?” Sekarang ia marah. apalagi karena aku harus berjalan kaki sejauh lima mil.” katanya sambil menoleh.. “Charlie bilang hari ini bakal hangat.” aku mengingatkannya. Aku berpura-pura tidak mendengar.” tukasnya.. “Kubilang ada jalan setapak di ujung jalan. jaraknya hanya kurang-lebih lima mil.” Lima mil. berbicara begitu cepat hingga aku tak bisa memahaminya. Sekarang di luar terasa hangat. dan itu benar.. “Jadi kau mengkhawatirkan masalah yang mungkin menimpaku. Kemudian jalanan berakhir. supaya ia tidak mendengar kepanikan dalam suaraku.” “Tapi Jessica mengira kita pergi ke Seattle bersama-sama?” Ia kelihatannya senang dengan pemikiran itu. “Apakah Forks membuatmu begitu tertekan sehingga kau kepingin bunuh diri?” tanyanya ketika aku mengabaikan kata-katanya. Aku mengangguk. Lima mil dengan akar-akar berbahaya dan bebatuan yang mudah luruh. “Hanya membayangkan tempat yang kita tuju. Lagi-lagi aku berbohong. Aku melepaskan sweter dan mengikatkannya di pinggang. Bella.“Tidak. Aku bisa merasakan gelombang kemarahan dan kekecewaan dalam diriny. bukan berarti kita akan melaluinya. “Tidak. Ia menggumamkan sesuatu.” “Tanpa jalan setapak?” tanyaku putus asa.” Kami memandang ke luar jendela.. Tapi kalau pikirnya trukku berjalan pelan. menyempit menjadi jalan setapak dengan penanda dari kayu kecil. sementara aku membayangkan kengerian yang bakal kuhadapi. melainkan hutan tak berujung di sebelah trukku. Ini akan jadi perjalanan memalukan. lebih hangat daripada yang pernah kurasakan sejak tiba di Forks. Selama sisa perjalanan kami membisu. dan kita tidak perlu terburu-buru. “Tergantung. “Jalan setapaknya?” suaraku jelas terdengar panik ketika mengitari truk dan mengejarnya.” “Tempat itu sering kudatangi ketika cuaca sedang bersahabat. “Lewat sini. “Tidak. djAnGgo 212 . Selama beberapa saat kami melanjutkan tanpa bicara. kalau kau tidak pulang ke rumah?” Ia masih terdengar marah. pandanganku tetap ke jalan.” Aku berusaha agar jawabanku terdengar meyakinkan. Aku tidak menyahut. sepertinya ia berencana membuat pergelangan kakiku keseleo. “Katamu kau bisa mendapat masalah. jengkel.

otot-ototnya yang sempurna tak lagi tampak samar dari pakaian yang membalutnya. dan aku mendengus pelan.” Kemudian ia berbalik. Ia terlalu sempurna. Tidak mungkin makhluk menyerupai dewa inii ditakdirkan untukku. sehingga kulit putihnya yang mulus terpapar dari leher hingga ke dada. dengan senyum mengejek. pikirku sambil menatap tajam dengan putus asa. djAnGgo 213 .“Aku takkan membiarkanmu tersesat. Kaus putihnya tanpa lengan dan ia tidak mengancingkannya.

“Aku akan membawamu pulang. berusaha mengangkatku dari kesedihan yang mendadak dan tak bisa dijelaskan. “Apakah seharusnya aku djAnGgo 214 . tapi sering kali aku gagal. tak ingin membuang-buang lagi satu detik atau berapa pun lamanya waktuku bersamanya. Kami lebih sering berjalan dalam diam. tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. ia membantuku. keheranan melihat ekspresiku yang tersiksa.” Ia tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi. atau artinya ia akan mengantarku lalu pulang ke rumahnya sendiri. “Aku bukan pendaki yang baik. Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah. tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju. gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong. Hari telah berubah cerah. dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. tepat seperti yang diramalkannya. Aku mencoba membalas senyumnya.” sahutku tolol. “Apakah kita sudah sampai?” godaku. kalau aku berusaha keras. mengangkatku dengan memegangi sikuku. Aku tak bisa mengatakan apakah janji itu tanpa syarat. perasaan tersiksa yang sedikit berbeda dariku terdengar dalam suaranya. Ketika terjadi untuk kedua kali. tapi senyumku tidak meyakinkan. “Ada apa?” tanyanya lembut. guru-guru sekolah dasarku. “Kalau kau mau aku menempuh lima mil ke dalam hutan sebelum matahari terbenam. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin. dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati. dan ia menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Sesaat akhirnya ia menyerah dan mulai berjalan ke dalam hutan. Ia memandang marah padaku. Kadang-kadang ia melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya dua hari yang lalu ketika menginterogasiku. sambil menatap mataku.” Ia tersenyum. pura-pura kesal. Ia mengamatik wajahku.” kataku dingin. dipenuhi jaring pepohonan kuno. dan sekali lagi aku bersyukur akulah satu-satunya orang dengan pikiran yang tidak terbaca olehnya. Ia menertawaiku. “Kau harus sangat sabar. Hutan itu membentang di sekeliling kami. “Hampir. Ia menanyakan hari ulang tahunku. lebih keras dari biasanya. atau bebatuan besar. tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. aku menyerah. Aku tahu ia mengira rasa takutlah yang membuatku sedih. “Kau ingin pulang?” tanyanya tenang.” Aku melangkah maju sampai ke dekatnya. aku sempat melihat wajahnya dan yakin entah bagaimana ia bisa mendengar detak jantungku. sebaiknya kau mulai menunjukkan arahnya.Ia menatapku. mencoba memahami maksudku. Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian. yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar. merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar. hewan peliharaanku semasa kecil. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira. warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah.” “Aku bisa sabar. Sentuhan dingn kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak keruan. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan. Sebaliknya ia merasa sangat tenang.” janjinya. “Tidak. “Kaulihat cahaya terang di depan sana?” Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang. dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan.

Cahaya itu kuning. setelah melangkah seratus meter lagi. dan putih lembu. dan ditumbuhi bunga-bunga liar. biru keunguan. hasratku semakin bertambah di setiap langkahku.” gumamku. aku bisa mendengar senandung sungai. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang. aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. “Barangkali belum kasat oleh matamu. melingkar sempurna.” “Waktunya mengunjungi dokter mata. Aku mempercepat langkah. bukan hijau. Tapi kemudian. djAnGgo 215 . dan mengikutiku tanpa suara. Padang rumput itu kecil. kuning. Tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. Ia nyengir semakin lebar.bisa melihatnya?” Ia nyengir.

menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang. bunga-bunga yang melambai-lambai. ingin berbagi ini semua dengannya. sambil terus melangkah ke arahnya. tapi ia tak ada di belakangku seperti yang kukira. Aku memandang berkeliling. Tatapannya hati-hati. Aku kembali melangkah ke arahnya. Aku setengah membalikan badan.Matahari tepat bersinar di atas kami. terpesona. berdiri di bawah bayangan pepohonan lebar di tepi kegelapan hutan. memperhatikanku dengan tatapan waswas. djAnGgo 216 . Edward tampak menghela napas dalam-dalam. serta udara hangat dan keemasan. Akhirnya aku menemukannya. mengulurkan tangan. lalu berhenti. dan aku pun ragu. sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. dengan ketakutan mencari-carinya. enggan. Ia mengangkat tangan mengingatkan. Aku berjalan pelan. melintasi rumput halus. Aku tersenyum menyemangati.

dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya. “Tidak. Dengan tanganku yang lain. karena ia sudah memejamkan mata lagi. Tapi ketika kutanya.” Ia mendesah. mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. selalu khawatir. lengannya yang telanjang juga berkilauan. bahwa ia akan menghilang bagai halusinasi. terukir dari bebatuan entah apa namanya. “Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Angin bertiup pelan. kan?” guraunya. djAnGgo 217 .. Ia berbaring tak bergerak di rerumputan. meskipun udara tidak cukup kering bagiku. Jemariku gemetaran.” katanya tanpa membuka mata. meski tentu saja ia tidak tertidur.” Ia tersenyum lebih lebar. Hari ini warnanya cokelat keemasan. Patung yang sempurna. tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya. dagu kuletakkan di lutut. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela. Aku juga menikmati sinar matahari. yang berada di dekatku. “Tak lebih dari biasanya. kini tampak pudar di samping keberadaan Edward yang bersinar cemerlang. dingin seperti batu. putih meski agak memerah sepulang berburu kemarin. Aku beringsut mendekat. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna. Kulitnya. sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. seperti yang dilakukannya. berkilauan bagai kristal.. tampak kemilau.13. giginya mengkilap di bawah sinar matahari. halus bagai satin. bahkan sekarang. Terkadang bibirnya bergerak-gerak. terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan. Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku. kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya. “Kau keberatan?” tanyaku. begitu cepat hingga seperti gemetar. seolah-olah ribuan berlian mungil tertanan di bawah permukaan kulitnya. “Aku tidak membuatmu takut. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam. membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Edward yang tak bergerak. Ketika aku memandangnya lagi matanya terbuka. meskipun aku telah memandanginya seharian ini. tak ingin berpaling dari wajahnya. mengamatiku. Dengan ragu-ragu. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku. halus bagai pualam. terlalu pelan untuk bisa kudengar. katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri. lebih ringan dan hangat setelah berburu. Pengakuan Melihat Edward di bawah sinar matahari sungguh membuatku terpesona. dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Aku ingin berbaring.

kita semua merasa seperti itu setiap saat. “Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu. Aku melihat dan mendapatinya menatapku. Menyadari apa yang kuinginkan. ia membalikkan tangan dengan cepat.” djAnGgo 218 .” “Kau tahu. “Katakan apa yang kaupikirkan.” Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya? “Tapi kau tidak memberitahuku. “Masih tidak biasa untukku.” gumamnya. Kudekatkan tangannya ke wajahku.” “Hidup ini sulit.” Kuangkat tangannya. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi. gerakannya membuatku terkesiap. mendadak begitu lekat. membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya. mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi. “Maaf.aku meraih dan membalikkan tangannya. Aku terkejut.” bisiknya. untuk tidak mengetahui. sesaat jari-jariku membeku di lengannya.

berdiri di ujung padang rumput kecil ini. pergi.. telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. Senyumnya berubah mengejek. meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus. aku mendekat padanya. ia berada enam meter dariku. Ia menatapku. ia berjalan kembali ke arahku.. “Dan?” “Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata.. hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. Dan ia menghilang. bukan itu yang kumaksud. menghirupnya. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. Aku tak djAnGgo 219 . Manis. setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik. masih beberapa meter jauhnya. Matanya yang keemasaan mempesonaku. Ia mengulurkan satu tangannya. Ia menghela napas panjang dua kali. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. pelan untuk ukurannya. Aku mungkin saja. Beberapa saat ia menimbang-nimbangnya dengan tangannya.” bisikku.. ekspresinya tak dapat kutebak. Tapi aku tak bisa menjawab. Aku tahu ia bisa mendengarnya. tanpa berpikir. “Maafkan. aku. kakinya menyilang. Pohon itu bergoyang dan bergetar. “Well. cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka.” ujarnya ragu. menjauh dari kedekatannya yang tak disangkasangka. tapi aku tak bisa bergerak. Ia dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. “Seperti kau bisa melawanku saja. “Beri aku waktu sebentar.” sahutnya. “Seperti kau bisa kabur dariku saja. seharusnya. langsung lenyap dari pandangan. aroma yang membuatku meneteskan air liur.“Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan. menghempaskannya ke pohon besar lain. dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya. matanya tampak kelam dalam bayangan itu. bahkan aromaku.” Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya. Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi. kaku bagai batu. aku mencium napas sejuknya di wajahku. bahwa tak ada yang perlu ditakuti. suaraku. Seperti aku membutuhkannya saja!” Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri. Edward.. bertopang pada lengan kanannya. dan duduk anggun di tanah. Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama. bahwa aku tak perlu takut. di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. Aku duduk tak bergerak. Tanganku yang kosong bagai tersengat. wajahku. Dan aku berharap aku tidak takut. lalu tersenyum menyesal. Aku duduk diam tak bergerak. lalu melemparnya begitu cepat.” Suaranya menggumam lembut. sekarang ia setengah duduk. dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya. setengah meter dariku.. nikmat. Seperti yang pernah kualami sebelumnya. tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. melepaskan tangannya dariku. Ia berhenti.” ia tertawa getir. “Lalu apa yang kau takutkan?” bisiknya sungguh-sungguh.” “Aku tidak ingin kau takut.” ujarku ragu-ragu. bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat.” katanya lembut. “Aku predator terbaik di dunia. Secara naluriah. kalau kubilang aku hanya manusia?” Aku mengangguk sekali. Tak sekalipun ia pernah melepaskan pandangannya dariku. Tidak seperti apapun di dunia ini. “Apakah kau bisa mengerti maksudku. Aku mendengar apa yang tak sanggup dikatakannya sejujurnya. merasa lebih takut padanya daripada selama ini. “Aku sangat menyesal.

Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat. Ia tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi. percikan itu memudar. djAnGgo 220 . ketika detik demi detik berganti. atau lebih menawan. Lalu.. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap.pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. aku duduk bagai burung siap dimangsa ular.. Dengan wajah pucat dan mata membelalak.

“Aku berjanji. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya. hari ini aku tidak merasa haus. aku tidak bisa mengingatnya. “Aku seharusnya pergi sekarang. “Sejujurnya. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali... Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan. aku tak bisa terus berada di dekatmu. Aku menatap matanya. penuh penyesalan. hingga wajah kami sejajar. “Aku takut. seraya menunduk lagi. Ini juga masih sama sulitnya baginya. juga bagiku.” timpalnya pelan.” Ia mengedipkan mata. hanya terpisah tiga puluh senti. suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda. “Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.” “Jadi?” Aku menunduk menatap tangannya. “Aku seharusnya pergi sejak lama. suaranya lebih parau daripada biasanya. sebelum aku bersikap kasar?” tanyanya dengan aksen tempo dulu yang lembut. perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku.” “Aku tak ingin kau pergi.” pintanya. Aku kembali menatap tangannya. tapi wajahnya tampak malu. Aku memandang tangannya yang dingin dan halus. benar..” gumamku sedih. meski suaraku gemetar dan tertahan. Detik demi detik pun berlalu. dengan amat perlahan. “Ya. tapi aku masih tak sanggup bicara. “Jadi. Parau djAnGgo 221 . itu sesuatu yang perlu ditakutkan. lalu matanya. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa. disamping alasan yang sudah jelas.” bisiknya lagi sambil mendekat. kali ini lebih lembut. “Kumohon maafkan aku.” Aku cemberut. Kau membuatku tak berdaya.. “Jelas. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik.“Jangan takut. “Aku bersumpah tidak akan menyakitimu.” ujarnya ragu. “Sejujurnya. dengan gerakan tak bergegas yang disengaja. Tapi jangan khawatir. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. “Betapa mudahnya aku marah. karena.” gumamnya. Ia duduk luwes. Senyuman balasannya sungguh mempesona. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang. Mata itu lembut. “Aku bisa mengendalikan diri. “Itulah sebabnya aku harus pergi. kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. Pada dasarnya aku makhluk egois.” Ia menunggu. dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. “Jangan takut.” “Aku senang. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini.” “Jangan!” Ia menarik tangannya.” “Oh.” Ia tersenyum. Mendengar itu aku harus tertawa. well.” desahnya. alasan yang jelas. “Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut.” desahnya. untuk.” Ia kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku. dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. tadi kita sampai dimana.” Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. Keinginan untuk bersamaku.

Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain.” Ia berhenti. djAnGgo 222 . “Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan. perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi. dan bingung. tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Aku berpikir sesaat.untuk ukurannya. Sulit rasanya untuk mengikutinya.

dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung. kalau ia memang ingin. kau adalah heroin bagiku.. Ia kembali menatapku dan tersenyum. kalian manusia kurang-lebih sama. atau apapun.” Ia masih memandang kejauhan.” “Dan kau?” “Tidak pernah. “Beberapa orang menyukai es krim cokelat. Ia memandang melampaui puncak pohon. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin. Aku bisa mengerti. yang kedua lebih kuat daipada yang pertama. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya. mencari-cari kata yang tepat. inti berbeda. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. Jelaskan saja sebisamu. jadi dia mengerti maksudku. Tapi dia bisa menolaknya. terutama bagian terakhir. setiap orang punya aroma berbeda. ia meletakkan tangannya dalam genggamanku. atau setidaknya mencoba. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Ia langsung tersenyum. bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami. Emmett. saling menatap. “Jadi. berusaha mencairkan suasana. “Tanpa membuatmu takut lagi.” “Jadi maksudmu. dia akan dengan senang meminumnya. “menariknya seperti kau bagiku. mencoba membaca pikiran satu sama lain. dalam embusan angin yang hangat. yang lain memilih stroberi?” Aku mengangguk. raut wajahnya menyesal. belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah. dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. Jasper tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama”. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya.” Ia memandangku. Ia balas tersenyum menyesal. . sepertinya menghargai usahaku. “Aku tak keberatan. hmmmm. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma..“Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud. Ia memandang tangan kami. “Maaf.” Tanpa terlihat memikirkannya. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi. cognac langka terbaik.” Ia menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit. Dialah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu. “Kehangatan ini luar biasa menyenangkan. memikirkan jawabannya. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. aku semacam heroin bagimu?” godaku. menurutmu. Begitulah caramu berpikir. “Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku.” kataku. “Bagi Jasper. “Kau tahu.” “Apakah itu sering terjadi?” tanyaku. atau takut.” Kata itu melayang sesaat di sana. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi.” katanya. “Bagaimana aku menjelaskannya?” godanya. apa yang akan dilakukannya?” Kami duduk diam. “Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan.” Aku tersenyum. kalau ia bukan peminum lagi. “Ya.” Ia mendesah. juga rasa. “Apa yang dilakukan Emmett?” tanyaku djAnGgo 223 . ia ragu. “Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?” Ia memulai. aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya. “Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Sekarang misalnya kautaruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu.

tapi ia takkan menjawab. Ia melirik. Pertanyaan yang salah. memohon. tangannya mengepal dalam genggamanku. Aku menunggu. wajahnya muram. “Kurasa aku tahu. bukan begitu?” djAnGgo 224 . Wajahnya menjadi gelap. Ia membuang muka. “Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf.” kataku akhirnya.memecah keheningan.

.. aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya. ingatanku diperbaharui lewat matanya. ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu.” Aku menatapnya terpana. lalu aku pergi menemui Carlisle. Aku tidak tahu bagaimana.” Ia terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. memandang geram pepohonan.” Dahinya mengerut ketika ia menatap tanganku. apakah tidak ada harapan lagi?” Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri! “Tidak. “Kisah kita berbeda. bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti.” Nyaliku ciut. Aku tidak berani pulang menemui Esme. menghipnotis dan mematikan. aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur. memikirkan keluargaku. “Ketika aku berjalan melewatiku. sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku. setangkas dan sehati-hati sekarang. aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri. Mrs. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu. “Kau pasti menduga aku kerasukan. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah.” Ia menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. dan dia tidak. “Kau pasti datang. Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. di ruangan kecil itu.” Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari. Emmett. hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. Aroma tubuhmu membuatku sinting. aku bisa saja menghancurkan semua yang Carlisle bangun untuk kami... Dan aku terus melawan keinginan itu.” ujarnya. di rumah sakit. Bagiku di luar lebih mudah. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak. dia tidak mengenal kedua gadis itu.. Aku mencoba berkata dengan tenang.. Hanya ada satu manusia lemah disana. yah..” “Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. “Kemudian. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku.“Apa yang kauminta dariku? Izinku?” Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan.. apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku... begitu dekat. “ Sekonyong-konyong ia berhenti. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya. kami mengingat saat-saat itu. “Tak diragukan lagi.. karena disana aku tak bisa mencium aromamu. mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. Cope yang malang. sangat mudah untuk diatasi. Aku harus pergi. “Jadi kalau kita bertemu. Aroma yang menguar dari kulitmu. Dia tidak akan tinggal diam sampai djAnGgo 225 . Aku bisa berpikir lebih jernih. membuat keputusan yang tepat. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu.. menghilang. agar aku bisa berdua saja denganmu.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. “Tapi aku menolaknya. memalingkan wajah. tidak mengikutimu dari sekolah. tidak!” Ia langsung menyesal. aku kelewat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku.. mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah. “Maksudku. “Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan. untuk memberitahunya aku akan pergi.. oh. bertahuntahun yang lalu. tentu saja aku tidak akan. kau ada disana.” “Aku tidak mengerti alasannya. membebaskanku dari kekuatan tatapannya.” Ia berhenti. “Aku bertukar mobil dengannya. Saat itu aku nyaris menculikmu. “Tentu saja ada harapan! Maksudku. Ia memandangku muram. Kejadiannya sudah lama sekali. di lorong gelap atau apa. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah. matanya nanar menatapku.. saat itu juga.

bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. Siapa kau ini..mengetahui apa yang terjadi.” Ia terdengar malu. dan yang lainnya.. tidak sebesar ini. tiba-tiba ia nyengir.. Dalam udara bersih pegunungan.. tapi aku rindu rumah. seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya. djAnGgo 226 . keluarga adopsiku. Aku benci karena telah mengecewakan Esme. “Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska..” Pandangannya menerawang. tapi aku kuat.. “Dua hari aku disana. gadis kecil yang tak penting”. sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. “yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan. Aku meyakinkan diriku sendiri. bersama beberapa kenalan lama. dekat pun tidak.

lebih antusias daripada rasional. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya.” Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap. “Karenanya. ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.. Aku sama sekali tidak memahami dirimu.” Ia cemberut mengingatnya.. “Sepanjang keesokan harinya. dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu.” ia bergegas melanjutkan. dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi. aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu.” Ia meringis ketika menyebut nama itu. jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun... kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Sebenarnya aku sangat ingin. disini. “akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu. “Esme menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal. bila mungkin. daripada sekarang.. memukulku sama kerasnya seperti hari pertama. jika darahmu tercecer di sana di depanku. Aku mendengarkan. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. “Aku bertengkar dengan Rosalie. Carlisle membelaku. “Aku kaget.” lanjutnya. Emmett.” Ia memejamkan mata. ‘Jangan dia’.. Aku tak bisa menebak alasannya.Aku tak sanggup berkata-kata. dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau rambutmu. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami.. “Aku melakukan tindakan pencegahan.. seandainya aku akan menyakitimu. dan Jasper ketika mereka bilang sekaranglah waktunya. Tapi kau terlalu menarik. makan lebih banyak daripada biasa sebelum bertemu lagi denganmu.. rambutmu. begitu juga Alice. Tapi aku tahu aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. larut dalam pengakuannya yang menyiksa. napasmu. mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica. Saat itu. “Tentu saja. kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya. pertengkaran terburuk kami. berburu. “Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu. Akhirnya aku bisa bicara. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu. meski suaraku samar-samar. “Kenapa?” djAnGgo 227 . yang bisa kupikirkan hanya. Sangat menyebalkan. “Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benarbenar menggangguku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. menaruh diriku dalam kuasamu.” Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya. aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. dari semua orang yang ada. dirimu. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. pikirannya tidak terlalu orisinal. tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku. bahkan sekarang.” Mata kami kembali bertemu. Aku sombong mengenai hal ini. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. “Di rumah sakit?” Matanya berkilat-kilat menatapku.” Ia menggeleng tulus. Dan setiap hari aroma kulitmu.. “Tapi efeknya justru kebalikannya. Aku tak terbiasa melakukannya lewat perantara. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu. karena jika aku tidak menyelamatkanmu.

” Ia menatapku dengan matanya yang indah. tak bisa melihatmu merona lagi. putih.” Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku. rasanya tak tertahankan. “Bayangan dirimu. sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. Dari topik menyenangkan tentang kematianku.“Isabella. namun tersiksa.. aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku. Ia menunggu. dingin. Terpenting bagiku sampai kapan pun. Kau tak tahu betapa itu menyiksaku. djAnGgo 228 ..” Ia mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati.” Ia menunduk. kaku. “Kau yang terpenting bagiku sekarang. “Bella. kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang. aku takkan bisa memaafkan diriku jika aku sampai menyakitimu. kembali malu-malu...

yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu. “Aku ada disini. bahkan bila menginginkannya.” Wajahku muram. “Kau tahu kenapa. melihat apakah ia membuatku marah.” Sesaat ia memikirkannya. “Masalahnya kau begitu dekat. Aku melipat daguku. Ia memandangku dan tersenyum. Aku duduk diam tak bergerak.” “Kau memang bodoh. Tatapan kami bertemu.” gumamnya. ia tertawa.” Ia mengangkat tangannya yang bebas. maksudku. Dan aroma lehermu. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami. ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. Lalu tiba-tiba.” Ia berhenti sesaat. tak yakin bagaimana meneruskannya. kalau bisa. “Kenapa?” aku memulai. peringatan yang menyuruhku untuk takut. “Rona pipimu cantik. Aku berpaling. Bagaimanapun yang ada justru perasaan lain. menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu. tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga. “Singa sakit. Ini. tanpa mengalihkan pandangan dariku.. Itu salahku.” kataku akhirnya. “Aku takkan memperlihatkan leherku.“Kau sudah tahu bagaimana perasaanku. “Baik kalau begitu.” Berhasil. sungguh. Perlahan. Pasti ia mendengarnya. tahu.” ia menimpaliku sambil tertawa. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu. “Jangan bergerak. tentu saja.” gumamnya. mundur karena keanehan kami. sinar matahari membuat wajah dan giginya berkilauan. “Benar-benar tidak apa-apa. “sepertinya tidak masalah. agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu.” katanya. “Bodohnya aku. “Tidak. mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu. dan menaruhnya dengan lembut di leherku. kan.. Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya. ia mencondongkan wajah ke arahku. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur. detak jantung dalam nadiku. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun.. “Jadi sang singa jauh cinta pada domba. Aku tak bisa bergerak. namun dengan teramat lembut. dan aku berharap bisa memperlambatnya. sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami.” “Tapi aku ingin membantu.” Darahku mengalir deras. sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit... “Lihat.” “Well..” “Tidak.” bisiknya. contohnya”. Bella. Namun tak ada rasa takut dalam diriku. “Domba yang bodoh. lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya. Tanganku jatuh lunglai di pangkuan. Dengan lembut ia membebaskan tangannya yang lain. mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.. kemudian berhenti. dan aku ikut tertawa.” Senyumnya memudar.” Lama sekali ia memandang hutan yang gelap. “Ya?” “Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya.. lebih manusiawi daripada djAnGgo 229 . dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya. Dengan lembut ia membelai pipiku..” desahku. seolah aku belum membeku saja..” Ia tersenyum lagi.” kataku bergurau. aku membelai punggung tangannya. yang suka menyakiti dirinya sendiri.

Wajahnya bergeser ke samping. Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. Dengan kelambatan yang disengaja. Aku gemetar. Aku tahu kapan pun ini bisa djAnGgo 230 .bagian dirinya yang lain. Bisa jadi berjamjam.” desahnya. hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Akhirnya detak jantungku memelan. tapi ia tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. Mendengarkan detak jantungku. “Ah. kemudian berhenti. Ia berhenti. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku. dan aku mendengarnya terengah. salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku. tangan-tangannya meluncur menuruni leherku.

.” bisikku. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya.” Aku tersenyum. mengingatkannya lewat tatapanku. “Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu. Dengan gerakan yang amat manusiawi ia memelukku dan menekankan djAnGgo 231 . dan keduanya tampak kelaparan. sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya. bagiku.. dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. berhubung aku sedang menyentuh wajahnya. itu tidak buruk. “Kuharap. barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya.” Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku. “Tidak akan sesulit itu lagi. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan.. tak ada yang lain.. Aku tak bisa memikirkan apa pun. ia melepaskanku. Apakah rasanya selalu seperti ini?” “Bagiku?” Aku berhenti.. dan hidupku bisa berakhir. membuatku gemetaran lagi.” Ia tersenyum mendengar nada suaraku. kebingungan. “Kurasa aku tidak bisa. Aku ingin mencondongkan tubuh. Dan kurasa kau bisa memahami itu.” “Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. Kau?” “Tidak. berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. Sudah kubilang.. “Ini sudah cukup. rasa lapar. Tak ada yang bisa setenang Edward.” ia mengaku. Ia membuka mata. yang menjadikanku makhluk tercela. “Kau tahu maksudku. “Aku tak tahu apakah aku bisa. “Jangan bergerak. kemudian.. “Apakah sulit sekali bagimu?” “Tak seburuk yang kubayangkan. yang kurasakan. Kemudian.. tak ingin mendorongnya terlalu jauh. dan aku bisa merasakan embusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. Hasrat yang tak bisa kumengerti. “Bisa kaurasakan hangatnya?” Kulitnya yang biasanya dingin nyaris hangat. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna.” Ia mengulurkan tangannya ke rambutku. Aku bergerak bahkan lebih pelan daripadanya. Bukan dengan cara yang membuatku takut. sebuah ukiran dalam genggamanku.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya.” Ia menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. Ia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu. bayangan keunguan di bawah matanya. Bibirnya membuka di bawah tanganku.” Jemarinya menyentuh lembut bibirku. kecuali bahwa ia sedang menyentuhku.” bisiknya. Meskipun”..” “Tapi..” katanya puas. kesulitan. “Kemarilah. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya. Sorot matanya damai. menghirup aromanya. terlalu cepat. haus. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. “berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang. Kubelai pipinya. tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh.” “Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka. di lain sisi. kurasakan padamu.” desahku. sesuatu yang asing bagiku. Tidak pernah sebelumnya. dengan lembut mengusap kelopak matanya. memejamkan mata. tidak pernah. kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku. begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. “Tidak.jadi kelewat berlebihan. “kuharap kau bisa merasakan.” desahku. Agar kau mengerti. “Katakan padaku. “Ada hasrat lain. ia setengah tersenyum.

djAnGgo 232 . “Aku punya naluri manusia. naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam. aku bertanya-tanya mungkinkah ia sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku.” sahutku. “Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar. dan aku pun mendesah. tapi masih ada.” Lama sekali kami duduk seperti itu. bayangan hutan mulai menyentuh kami.wajahnya di rambutku.

kau akan sangat aman. Kemudian ia mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah.” Ia menungguku. Rasanya seperti memeluk batu. Ia tertawa.” Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. aku merasa mabuk. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya. “Rasanya aku perlu berbaring. senang. djAnGgo 233 .” gumamnya. dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kaubayangkan. pengecut kecilku. “Bella?” panggilnya.” “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku. bukan?” Suaranya meninggi. Irama napasnya tak pernah berubah. “Selalu lebih mudah daripada sebelumnya. Aku mencobanya. “Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?” pintanya. lebih keras daripada yang pernah kudengar. Tak ada suara. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman. tapi otot-ototku kaku. Ia membuatku terkejut ketika sekonyong-konyong ia meraih tanganku.” Ia mengamati ekspresiku. bagai hantu. ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. dan sekarang. sekarang terdengar waswas.“Kau harus pergi. “Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?” tanyaku hati-hati. lalu mengulurkan tangan meraihku. Ia menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru. maaf. Ia meraih bahuku. “Hah!” dengusnya. menungguku turun. Aku terlalu takut untuk memejamkan mata. “Asyik. dalam hitungan menit. Kemudian selesai. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat. kami sudah sampai di truk. selalu luput menyentuh kami. “Sepertinya aku butuh bantuan. kegembiraan tiba-tiba menyalanyala di matanya. Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian. aku yakin kau sering mendengarnya.” aku mengingatkannya.” “Sudah jelas. tapi tampaknya ia bersungguh-sungguh. Dan untuk pertama kali dalam hidupku. Jantungku bereaksi. “Jangan khawatir. “Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!” “Benar. tapi aku masih tetap tak bisa bergerak.” Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak. dan aku menatap wajahnya. “Aku agak berat daripada tas ranselmu. Ia tersenyum melihat keraguanku. tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. dan menghirupnya dalam-dalam. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. Aku nyaris bisa mendengar ia memutar bola matanya. meskipun tak bisa mendengar pikiranku. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. Ia berdiri tak bergerak. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput Edward.” Aku menunggu untuk meyakinkan apakah ia bergurau. meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. menekankan telapak tanganku ke wajahnya. “Oh.” “Ayo.” ujarku.” aku menahan napas. Kemudian ia berlari. naik ke punggungku. “Memperlihatkan apa?” “Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan di hutan.

Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. Kupasrahkan diriku. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. Ia memelukku sebentar. lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis. dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. “Rasanya pusing.Ia tertawa pelan.” djAnGgo 234 . Kemudian ia menarikku menghadapnya. menggendongku seolaholah aku kanak-kanak.” “Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu.

. meski begitu artikulasinya tetap sempurna.” “Lain kali!” erangku. “Tidak.. mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. memberinya sedikit ruang. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. dan lumayan membantu.” gumamnya.” gumamku. Jariku meremas rambutnya.” “Tukang pamer. untuk mengetahui apakah ini aman. “aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba. Aku merasakan ia duduk di sisiku. oh bukan. Edward ragu untuk menguji dirinya sendiri. saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri. terlalu berlebihan.. “Itu namanya melecehkan.” Suaranya sopan. kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa. itu tadi sangat menarik. Aku tak bisa bernafas. Aku bernapas palan. ketika aku berlari. untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya. bukan sesuatu yang harus kupikirkan. Waktu berlalu. memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di djAnGgo 235 . untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya.?” Aku mencoba menahan diri. Bella.” Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi. “Haruskah aku. wajahnya sangat dekat denganku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras.” ujarnya pelan. Aku mencoba bersikap positif. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu. Ia memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. “Tidak. “Berlari adalah sesuatu yang alami. “Buka matamu. Tolong tunggu sebentar. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada.” “Hah! Wajahmu sepucat hantu begitu. Telingaku berdenging. Darahku mendidih dan membara di bibirku.” desahku. “Ups. Aku terus menatap matanya. tidak seperti biasanya.. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku.” “Lain kali ingat itu.” Ia terdiam. “Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan.” Tatapannya liar. untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya.” lanjutnya. Dan disanalah dia. aku bisa mentolerirnya. Ia ragu-ragu. Ia tersenyum. Suasana hatinya masih bagus. “Bukan. Ketampanannya memukauku. kau sepucat aku!” “Seharusnya tadi aku memejamkan mata. kau lucu. seperti cara manusia. Ia tertawa. Aku terpana dibuatnya.” gumamku lagi. terkendali. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium wanita.Aku mencobanya. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun. rahangnya menegang. Tiba-tiba kurasakan ia mematung di bawah bibirku. namun suaraku lemah.” ia tergelak. Napasku terengah-engah. menjaga kepalaku tetap tenang. “Aku sedang berpikir. “Kurasa itu bukan gagasan yang bagus. dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. “Tukang pamer.” “Bella.

” “Kau toh hanya manusia biasa. “Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Ia tertawa keras. “Nah. dan senyumnya tak disangkasangka nakal.dalamnya mulai memudar dan melembut. Kemudian ia tersenyum. “Bisa ditolerir?” tanyaku.” djAnGgo 236 . Senang mengetahuinya.” “Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. jelas puas dengan dirinya sendiri. Maafkan aku.” katanya.

tapi kurasa keberanianku. aku masih pening.” Kuselipkan tanganku di saku celana. “Kau mabuk oleh kehadiranku. bisa menerimanya. “Bagaimanapun. “Aku tidak yakin. Aku mulai mengitarinya. Kugenggam tangannya yang dingin. dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku. memerlukannya lebih dari dugaanku.“Terima kasih banyak. wajah manusianya tampak tenang.” akhirnya aku berhasi menyahut. “Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?” tanyaku jengkel. menuju sisi pengemudi. Tapi kalau dipikir-pikir lagi. ia mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. Dalam satu gerakan luwes dan cepat ia sudah berdiri. “Santai saja. menjadi lembut dan hangat. Lagipula. “Refleksmu jauh lebih lambat. menggenggam kunci mobilku erat-erat. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya.” timpalnya. Ia adalah Edward yang berbeda dari yang kukenal.” Alisnya terangkat tidak percaya. “Mabuk?” timpalku keberatan. “Aku tak bisa menyangkal yang satu itu. gerakan yang tak kusangka-sangka. “refleksku lebih baik. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku. Aku gemetaran. “Tidak. Tak ada jalan keluar.” akhirnya ia bergumam. “Oleh kehadiranku?” Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi. sedikit saja. Bella.” desahku. “Kurasa gabungan keduanya. Awalnya ia tidak menjawab. aku tak bisa menolaknya untuk apapun.” sahutku getir. mulai dari telinga ke dagu.” “Aku yakin itu benar. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya. “Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu. berulang-ulang.” djAnGgo 237 .” kutipnya sambil tergelak.” “Kau gila ya?” protesku. seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk. “Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?” Betapa ceria. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya. atau trukku. trukku sudah cukup tua. Ia mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.” “Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi. hanya menundukkan wajahnya ke arahku. aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Tidak sedikitpun.” Ia memamerkan senyumnya yang menggoda lagi. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan.” “Percayalah.” “Sangat masuk akal. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang. betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini.” godanya. “Bella. Ia mengulurkan tangan padaku. mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.

Ia tersenyum simpul dan melanjutkan. Seperti banyak hal. Apapun yang dilihatnya pasti telah membangkitkan keberaniannya. “Coba saja. tangan kami yang bertaut. Ia melihat ke arah matahari. wajahku. tapi aku masih bertanya-tanya. atau ’70-an. Dengan hatihati kujaga wajahku agar tetap tenang. “Aku lahir di Chicago tahun 1901. Tekad yang Kuat Mengalahkan Segala Hambatan Fisik Harus kuakui ia bisa mengemudi dengan baik saat ia menjaga kecepatannya tetap wajar. rambutku yang berkibaran dari jendela yang terbuka. Jauh lebih bagus daripada musik ’60-an.” Ia berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Meskipun ia nyaris tak melihat ke jalanan. kadang-kadang menatapku. “Tidak juga. “Apakah itu sangat penting?” Untungnya senyumnya tetap mengembang.” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Carlisle menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. dan ikut menyanyikan lagu yang tak pernah kudengar. sudah lama sekali. Ia menyetel saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu lama. uhh!” Ia bergidik.” kataku akhirnya.” “Aku membayangkan apakah itu akan membuatmu kecewa. tangan yang lain menggenggam tanganku yang bersandari di kursi. sekarat akibat flu Spanyol. “Misteri tak terpecahkan selalu bisa membuatmu terjaga sepanjang malam. kemudian mentap mataku.14. dan ingatan manusia djAnGgo 238 . ban trukku tak pernah keluar satu sentipun dari batas jalur. Kadang-kadang ia memandang matahari yang mulai terbenam. meskui bagiku sendiri nyaris tak terdengar. Ia mengemudi dengan satu tangan. seolah-olah benar-benar melupakan jalanan selama beberapa saat. menit demi menit berlalu.. “Musik ’50-an bagus. lalu berkata. “Delapan puluhan masih bisa diterima. Ia memandang matahari. Ia mendesah. sabar menantikan penjelasan selanjutnya.” “Apakah kau akan pernah memberitahuku berapa usiamu?” tanyaku. “Kau suka musik ’50-an?” tanyaku. tak ingin merusak selera humornya yang ceria. cahaya benda langit bundar yang terbenam itu membuat kulitnya bercahaya dalam kilauan butirbutir kemerahan.. tampaknya itu mudah baginya. ragu-ragu. “Aku tak mengingatnya dengan baik. Ia menunduk menatap mataku lagi.” aku nyengir.” Ia mendengarku terkesiap. Ia hafal setiap barisnya. Usiaku tujuh belas saat itu.

Bukan hal mudah. “Sulit.. Itu sebabnya dia memilihku. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya.” “Bagaimana dia..memudar. Tapi Carlisle selalu menjadi yang paling manusiawi. “Tapi aku ingat bagaimana rasanya. ketika Carlisle menyelamatkanku. yang paling berbelas kasih di antara kami. Kurasa kau tak bisa djAnGgo 239 . Aku sebatang kara.. menyelamatkanmu?” Beberapa detik berlalu sebelum ia menyahut. tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang.” “Orangtuamu?” “Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. Sepertinya ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu.” Sesaat ia larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi.. bukan sesuatu yang bisa kaulupakan.

meskipun nyaris tak mungkin.” Rahangnya mengeras ketika mengatakan hal itu. “Tapi katamu. “Dia melihat sesuatu di wajah Emmett yang membuatnya cukup kuat. Forks kelihatannya sempurna.” “Sungguh?” selaku. Segala sesuatu berubah. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya. Seperti aku.” aku mendorongnya. Jasper berasal dari keluarga. Mereka mengembangkan kesadaran. Rosalie membawanya kepada Carlisle. Dia tertekan. Dia terjatuh dari tebing. “Kesendirianlah yang menggerakkannya. lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya.” Kami tak pernah mengucapkan kata itu. meski tak lama setelah itu dia menemukan Esme. Aku adalah yang pertama dalam keluarga Carlisle. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain. Carlisle berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku. lalu berlalu djAnGgo 240 . Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku. menempuh jarak lebih dari seratus mil. “Emmett dan Rosalie?” “Carlisle membawa Rosalie ke keluarga kami setelah Esme. Alice memiliki bakat khusus di atas dan melampaui rata-rata jenis kami. “Tapi dia berhasil.” “Memang benar. rasanya amat. berpaling dari keindahan matanya yang tak tertahankan. hal-hal yang akan datang.menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah. hal-hal yang mungkin terjadi. “Ya. “Meski begitu. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami. sangat menyakitkan. “Bagiku. Alice menemukannya. semakin lama kami bisa tinggal dimana pun.” Dari garis bibirnya aku tahu ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. waktu itu kami sedang di Applachia. terkesima. dan mengangkat tangan kami. katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami.” Ia tertawa. khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri..” gumamnya. dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Emmett. Alice mengetahui hal lain. jadi kami semua mendaftar di SMA. lain. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Rosalie akan menjadi seseorang bagiku seperti Esme baginya. Masa depan tidak terukir di atas batu.. Tapi itu sangat subjektif. dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini.” “Alice dan Jasper?” “Alice dan Jasper dua makhuk yang sangat langka. lagi. Dua tahun kemudian dia menemukan Emmett. hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku. masih terjalin. sebagai suami-istri.. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama.” Ia terdiam. jenis keluarga yang sangat berbeda. Ia memandang jalanan yang sekarang telah menggelap.” “Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi. kau satu-satunya yang bisa mendengarkan pikiran orang lain. meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut. dan akhirnya memilih mengembara sendirian.” Ia memutar bola matanya. Tak diragukan lagi benaknya yang berputar cepat telah mengetahui setiap aspek yang tidak kumengerti. tanpa bimbingan dari luar. begitu kami menyebutnya. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit. dan aku bisa merasakan topik ini telah berakhir. “Tidak. “Tapi Rosalie tak pernah lebih daripada seorang adik. Kutekan rasa penasaranku. Dia melihat hal-hal..” Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali ia membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu.” Ia menatapku dalam-dalam. “Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun.” lanjutnya. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. Rosalie sedang berburu. itu hanya Carlisle. dan matanya tertuju padaku.

” “Apakah jenis kalian. “Hal-hal apa yang dilihatnya?” “Dia melihat Jasper dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Jasper sendiri mengetahui hal itu. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan.begitu cepat sehingga aku tak yakin bahwa aku hanya mengkhayalkannya.. Dia selalu melihat.. ada banyak?” Aku terkejut. contohnya. ketika kelompok lain mendekat. Alice paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. djAnGgo 241 . dan mereka datang bersamasama menemui kami. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi. Dia melihat Carlisle dan keluarga kami.

” aku memujinya. Jenis seperti kami yang hidup. tidak banyak. Tapi yang membuatku teramat malu. “Ya. karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara. “Sangat manusiawi. Aku begitu terkesima sehingga bahkan tidak sadar diriku kelaparan. Alice tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya. “Jelas kebiasaan itu muncul lagi. Sekarang aku sadar bahwa aku sangat kelaparan. Seandainya Alice tidak memiliki indra istimewa itu.” “Jadi dari situkah asal-muasal legenda itu?” “Barangkali. jadi aku tahu ayahku belum pulang. Kadang-kadang kami bertemu yang lain. yang telah berhenti memburu kalian manusia”. membukakannya untukku. “Kupikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic. seandainya dia tidak melihat Jasper dan Carlisle dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami. makhluk bagai dewa ini duduk di kursi dapur ayahku yang jelek. ia mengerling licik padaku.. begitu diamnya sehingga aku harus terus-menerus melirik ke arahnya untuk memastikan ia masih disana.” Aku mendengar pintunya menutup pelan. kalau tidak merepotkan. “Maaf. atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. dia barangkali bisa berubah jahat. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Hanya yang seperti kami. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama.” “Dan Alice berasal dari keluarga yang lain.” “Aku ingin bersamamu.” “Aku tak pernah menghabiskan begitu banyak waktu bersama seseorang yang perlu makan.” Ia berjalan disisiku dalam kegelapan malam. “Kau memperhatikan sore tadi?” godanya. Dalam gelap ia djAnGgo 242 . di desa kecil di Alaska. dan tak satupun dari kami mengerti kenapa. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu.” “Kenapa begitu?” Kami telah sampai di depan rumahku sekarang. banyak sekali yang masih ingin kutanyakan. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. Seperti yang lainnya.” “Aku baik-baik saja. “Kau mau?” aku tak bisa membayangkannya.” “Dan yang lain?” “Kebanyakan berpindah-pindah. Lampu teras mati.” Banyak sekali yang harus dipikirkan.” Lebih mudah mengatakannya dalam kegelapan. seperti Jasper?” “Tidak. secara berbeda cenderung berkumpul bersama. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami. dan ia mematikan truk. mengetahui bagaimana suaraku bisa mengkhianatiku dan kencanduanku akan dirinya terdengar sangat nyata. “Tidak bisakah aku masuk?” tanyanya. Dia terbangun sendirian. tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. “bisa hidup bersama manusia selama apapun.. aku membuatmu terlambat makan malam. Aku lupa. salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. sungguh. dan nyaris saat itu juga ia telah berada di samping pintuku. dan itu adalah misteri.“Tidak. perutku keroncongan. Suasana sangat tenang dan gelap. kebiasaan ini mulai membosankan. tak ada bulan.

“Pintunya tak terkunci?” “Bukan.” djAnGgo 243 . Ia menggapai pintu di depanku dan membukakannya untukku. “Aku penasaran denganmu. tapi bukan lagi makhluk kemilau di bawah matahari seperti sore tadi. dan berbalik menghadapnya dengan alis terangkat. Aku berhenti di tengah-tengah pintu.tampak jauh lebih normal.” Aku melangkah masuk. Masih pucat. aku menggunakan kunci di bawah daun pintu. Aku yakin tak pernah menggunakan kunci itu di hadapannya. ketampanannya masih bagai ilusi. menyalakan lampu teras.

ibuku selalu menggodaku soal ini. “Seberapa sering kau datang kemari?” “Aku datang ke sini hampir setiap malam. “Hmmm?” Ia terdengar seolah-olah aku telah menariknya keluar dari lamunannya.“Kau memata-mataiku?” Entah bagaimana aku tak bisa membuat suaraku terdengar marah.” ia mengakui. menempatkan sebagian di piring. “Apa lagi yang bisa dilakukan pada malam hari?” Untuk sementara aku mengabaikannya dan menyusuri lorong menuju dapur.. wajahku memanas hingga ke garis rambut. Ia menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan mataku. Saat itu juga. menyebarkan aroma tomat dan oregano ke seluruh dapur. Aku berkonsentrasi menyiapkan makan malamku. “Pada?” desaknya. tentu saja.” Nada suaranya datar.” “Tidak!” sahutku menahan napas. Ia kelihatan tidak menyesal. tanpa suara. “Kau memanggil namaku. Ia menanti. Ekspresinya langsung berubah kecewa.. “Seberapa sering?” tanyaku kasual. “Haruskah ayahmu tahu aku disini?” tanyanya. Aku masih tidak berpaling. Kau pernah mengatakan sekali. “Jangan malu. ia sudah pindah ke sisiku. “Aku tidak yakin.” Ia tertawa lembut. Dan ketika hujan turun. Ia tahu maksudku. “Sering?” “Seberapa sering yang kaumaksud dengan ‘sering’. Aku merasa malu. Kau juga sering mengigau tentang rumahmu.” ia berbisik di telingaku. Ia menarikku lembut ke dadanya. Lama baru aku bisa berpaling. mengambil lasagna sisa semalam dari dapur.” Dan akupun sendirian. terus ke lorong menuju kami. dan tidak membuatku tersinggung lagi. Ia duduk di kursi yang sma dengan yang kubayangkan akan didudukinya.” Aku memikirkannya dengan cepat. tapi sekarang sudah jauh berkurang.. “Apa yang kaudengar!” erangku. “Kau merindukan ibumu. ‘Terlalu hijau’. Aku tersanjung.” Kemudian kami mendengar suara ban mobil melintasi jalanan. Ia sudah disana. kemudiam memanaskannya di microwave. Tubuhku kaku dalam pelukannya. “Kau mengkhawatirkannya. Meski begitu aku tidak menyangka aku perlu mengkhawatirkannya disini. Piringnya berputar. “Kenapa?” “Kau menarik ketika sedang tidur. aku pasti akan memimpikanmu. Aku tetap menatap piring ketika bicara.. Gerakannya sangat alami. terperangah. kemudian menatapnya. Dan aku tidak merasa malu. Aku tahu aku suka mengigau ketika tidur. “Jangan sedih!” ia memohon. “Seandainya bisa bermimpi. “Ada lagi?” desakku. djAnGgo 244 . “Kau mengigau. “Kalau begitu lain waktu saja. melihat lampu sorotnya menyinari jendela depan. suaranya membuatmu gelisah. Aku meraih meja dapur untuk menjaga keseimbangan.” bisiknya. Ketampanannya membuat dapurku bersinar-sinar. tangannya meraih tanganku dengan hati-hati.” Aku berputar. tepatnya?” “Oh tidak!” Kepalaku terkulai. “Apa kau sangat marah padaku?” “Tergantung!” Aku merasa dan terdengar seolah kehabisan napas. sama sekali tak perlu diarahkan. Aku mencoba memalingkan wajah. berharap aku bisa melihatnya. Aku mendesah kalah.

siapa lagi yang ada di rumah kalau bukan aku? Tapi tiba-tiba saja ia tidak kelihatan kelewat menyebalkan. Sebelumnya hal ini menggangguku. Terdengar suara Dad membuka kunci pintu. “Bella?” panggilnya. lalu lenyap.“Edward!” desisku tertahan. djAnGgo 245 . Aku mendengar suara tawa yang samar.

” Aku menyuap lasagna-ku lagi. katamu dia ramah. “Terima kasih. buruburu. mengunyahnya sambil mengambil mengambilkan makan malamnya. pikirku.” “Dia hanya teman.” sahutnya ketika aku menghidangkan makanannya di meja. Kututup pintunya cukup keras agar bisa didengarnya. “Tidak. Aku membukanya dan melongok ke luar menembus malam.” “Kau kelihatan agak tegang. Sayang. Aku mengambil makan malamku dari microwave dan duduk di meja ketika ia masuk. Dad. Charlie membuatku kaget karena ternyata ia memperhatikan. Begitu lasagna-ku habis.” “Well . kalau mau mencari teman istimewa.” ujarnya. “Hari ini memang bagus.” Impian setiap ayah adalah putri mereka akan meninggalkan rumah sebelum masalah hormon bermunculan.d an meminum susuku untuk menghilangkan pedas. Aku baru menyadari tanganku gemetaran.” Aku berhati-hati agar tidak terlalu menekankan kata cowok dalam usahaku bersikap jujur pada Charlie. djAnGgo 246 . Dad. ya?” Ia curiga. “Bagus. “Selamat malam. “Tidak. Aku ingin sekali pergi ke kamar. Dad. benar-benar menggelikan.” aku menimpali sambil menaiki tangga. oh. Aku membawa makananku.” sahutnya menerawang. Aku tak menjawab. Tunggu saja sampai kuliah nanti. Aku mau tidur lebih cepat. Langkah kakinya terdengar berisik setelah aku melewatkan seharian bersama Edward. Aku berusaha agar langkahku sepelan dan selelah mungkin ketika menaiki tangga menuju kamar. sambil berpegangan dengan sandaran kursi yang tadi diduduki Edward.. “Sedang terburu-buru? “Yeah. aku hanya mau tidur.. susunya bergetar. kemudian berlari dengan berjingkat menuju jendela. Kutuangkan dua gelas susu sementara memanaskan lasagna Charlie. ke bayangan pepohonan yang tak dapat ditembus. “Sepertinya ide bagus.” Ia menginjak bagian tumit sepatunya untuk melepaskannya. “Sampai besok pagi.” Sampai nanti malam ketika kau mengendap-endap ke kamarku tengah malam nanti untuk memeriksaku. Aku langsung mencuci piring dan menempatkannya terbalik di pengering. lagi pula kau terlalu baik untuk mereka semua.” timpalnya. Charlie duduk di kursi. Tak diragukan lagi ia akan memasang telinga semalaman.. menungguku mengendap-endap meninggalkan rumah. dan perbedaan antara dirinya dan orang yang duduk disana sebelum dia. aku mengangkat gelasku dan menandaskan susu yang tersisa.” ujarnya.“Disini. tapi berusaha terdengar biasa saja.” “Tak satupun cowok di kota ini sesuai tipemu. “Kupikir Mike Newton itu. “Ini hari Sabtu. “Bagimana harimu?” tanyaku. Aku kepedasan. Betapa ironisnya.” Kuharap ia tidak mendengar nada histeris dalam suaraku. Acara memancingnya biasa saja. Mataku mencari-cari dalam kegelapan. “Tak ada rencana malam ini?” tanyanya tiba-tiba. kau? Apakah semua yang kaukerjakan akhirnya selesai?” “Tidak juga. Mengapa.. “Maukah kau mengambilkan lasagna untukku juga? Aku lelah sekali. belum ada cowok yang menarik perhatianku. aku lelah. Ketika aku meletakkan gelasku. cuaca di luar terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. mengapa ia harus begitu perhatian malam ini? “Masa sih?” hanya itu yang bisa kukatakan.

“Ya?” Aku berbalik. jatuh lemas ke lantai. Suara tawa pelan menyambut dari belakangku. Ia berbaring. tangannya menyilang di belakang kepala. berusaha menyembunyikan perasaan gelinya. benar-benar merasa tolol. Posisinya sangat santai. djAnGgo 247 . kakinya berayun-ayun di ujung tempat tidur.” Ia mengatupkan bibirnya erat-erat. “Maafkan aku.“Edward?” bisikku. salah satu tanganku melayang ke leher karena terkejut. “Oh!” aku mendesah. tersenyum lebar di tempat tidurku.

Kukenakan T-shirt lusuhku dan celana joging abu-abuku. Dad. Kumatikan keran air. memungut piamaku dari lantai dan tas perlengkapan mandiku dari meja. Aku melompat. Aroma khas shampoku membuatku merasa aku mungkin saja orang yang sama seperti tadi pagi. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengulurkan lengannya yang panjang. “Bagus. lalu melembar sikat dan pasta gigi ke tasku. berusaha tetap tenang. handukan sekenanya. “Sungguh. “Bagaimana jantungmu?” “Kau saja yang bilang. mengangkatku. sama-sama mendengarkan detak jantungku melambat.” djAnGgo 248 . menyingkirkan sisa-sisa lasagna. “Diam disitu. yang sedang duduk di kamarku. dan meluncur ke kamar. Kulempar handuknya ke keranjang. meletakkan tangannya yang dingin di tanganku. pakaian itu tampak bagus padamu. meluncur keluar. “Ya. “Tentu. “Selamat malam. Aku berpikir tentang keberadaan Edward di kamarku sementara ayahku ada di rumah. menunggu. Aku bisa mendengar suara TV menggema hingga ke atas. Ia mendudukanku di tempat tidur di sebelahnya. “Bolehkah aku meminta waktu sebentar untuk menjadi manusia?” pintaku. aku yakin kau mendengarnya lebih baik dariku.” Ia menggerakkan tangan menyuruhku melakukannya. supaya tidak mengejutkanku lagi. Bella. Kugosok gigiku keras-keras. Siramannya melemaskan otot-otot punggungku. terburu-buru lagi. Salah satu alisnya terangkat. rambutku yang basah. Akhirnya aku tak bisa menunda lagi. Aku mencoba tidak memikirkan Edward. “Kenapa kau tidak duduk saja denganku?” ia menyarankan. menenangkan denyut nadiku. Aku menaiki anak tangga dua-dua. menutup pintu rapat-rapat. bagai ukiran Adonis yang bertengger di selimutku yang lusuh. Terlambat untuk menyesal karena tidak membawa piama sutra Victoria Secret yang diberikan ibuku pada ulang tahunku dua tahun yang lalu.” kataku. Matanya mengamatiku.” Dan ia berpura-pura seperti patung di ujung tempat tidurku. Aku membiarkan lampu tidak menyala. karena kalau begitu aku harus mengulangi proses menenangkan diri dari awal lagi.” Perlahan-lahan ia bangkit duduk. patungnya menjadi hidup. Barangkali itu mencegahnya memeriksaku malam ini. yang masih ada label harganya dan tersimpan di suatu tempat di lemari pakaianku di rumah.” Aku nyengir. Sesaat kami duduk diam disana. Kemudian aku melunc=ur turun supaya Charlie bisa melihatku mengenakan piama dan habis mandi. kemudian menyisirnya cepat-cepat. memegang pangkal lenganku seolah aku anak kecil. kemudian menutup pintu. berusaha menyeluruh sekaligus cepat. Tapi air panas dari pancuran tak bisa mengalir cepat.” “Selamat malam. Kukeringkan rambutku lagi dengan handuk. T-shirt yang sudah berlubang-lubang. Aku membanting pintu kamar mandi agar Charlie tidak naik mencariku.” Kurasakan tawanya yang pelan menggetarkan tempat tidur.” Ia tampak terkejut dengan kemunculanku. mencoba tampak galak.“Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan jantungku. Edward tak bergerak sedikitpun dari posisi semula. Aku tersenyum dan bibirnya bergerak-gerak. Ma’am. Aku bermaksud buru-buru.

” Ia mengangkat daguku.” bisikku. “Sepertinya aku tampak agak terlalu bersemangat. Aku kembali ke sisinya. “Kenapa?” Seolah-olah ia tidak dapat membaca pikiran Charlie lebih jelas daripada yang kuduga.” “Oh.” Ia memikirkannya. aku bakal menyelinap keluar.” djAnGgo 249 . mengamati wajahku.“Terima kasih. Aku memandang garis-garis lantai kayu kamarku. “Sebenarnya kau tampak hangat sekali. “Untuk apa kau mandi dan sebagainya itu?” “Charlie pikir. duduk menyilangkan kaki di sebelahnya.

kemudian. dan ia membeku. “Apa aku melakukan kesalahan?” “Tidak.Perlahan-lahan ia menundukkan wajahnya ke wajahku. bahwa aku tak dapat.” ujarku. “Aku hanya terkejut. dan ketika berbicara ia terdengar senang. aku bertanya-tanya. ragu. Aku sama sekali tak bergerak... “Ya?” desahnya. bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat. sekarang lebih mudah bagimu berada di dekatku.” Ia tersenyum. “Sore tadi.. tapi jari-jarinya perlahan menelusuri tulang selangkaku..” suaraku bergetar. “Hmm.” paparku. Ia nyengir.. menaklukan”.. Dan menemukan. aku masih. “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik.” ia menjelaskan. membuatku malu. “aku juga rapuh. bahwa sama sekali tak ada kemungkinan aku akan... Ia memikirannya sebentar. lebih ringan dari sayap ngengat. hidungnya meluncur ke sudut rahangku. butuh beberapa menit bagiku untuk memulai. “Benarkah?” Senyum kemenangan perlahan menyinari wajahnya..” kataku mencoba menghembuskan napas. bersamaan dengan rahangnya yang mulai rileks. Kau membuatku sinting. Aku tak pernah percaya akan pernah menemukan seseorang dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku.” “Jadi. ekspresinya tampak bingung. “aku tak yakin apakah aku cukup kuat. sangat sulit memikirkan pertanyaan yang masuk akal. ia menghirup aroma pergelangan tanganku. Sampai aku memutuskan diriku memang cukup kuat. Saat konsentrasiku buyar.” Aku tak pernah melihatnya kesulitan menemukan kata-kata. benar-benar tak termaafkan sikap seperti itu. justru sebaliknya.” “Kau bisa melakukan apa saja.. bukan dalam artian seorang adik. dan aku tak lagi mendengar suara napasnya.” Ia mengangkat satu tanganku dan menempelkannya lembut ke wajahnya.” “Ini tidak mudah. “Kenapa.. “Kau mau tepukan tangan?” tanyaku sinis. djAnGgo 250 . “Tapi sore tadi. Aku merasakan tangannya. Maafkan aku soal itu. menyibak rambut basahku ke belakang sehingga bibirnya bisa menyentuh lekukan di bawah daun telingaku.. Ia mengangkat bahu.. menerima pujianku.. “Kau tahu. sekarang menunduk.. Saat ia menyentuhku.. “Selain kemungkinan aku dapat. “Terima kasih. meskipun semuanya baru bagiku.” suaranya menggoda.. Sesaat kami bertatapan dengan hati-hati.. dan kami tertawa pelan..” Aku menarik diri.” desahnya. “Selama kurang-lebih seratus tahun terakhir. “Mmmmmmm.” “Tidak tak termaafkan. bersamamu.” “Begitukah yang kaulihat?” gumamnya.” sergahku..” desahnya. “Sepertinya... “seperti itu menurutmu?” Kurasakan getaran napasnya di leherku saat ia tertawa. “Amat sangat lebih mudah.. “aku tak pernah membayangan sesuatu seperti ini.” lanjutnya.” aku memulai lagi. meletakkan pipinya yang dingin ke kulitku.. dan aku kehilangan akal sehatku. “Tapi kenapa sekarang bisa begitu mudah?” desakku.

Begitu... manusiawi. “Jadi sekarang tidak ada kemungkinan?” “Tekad yang kuat mengalahkan segala hambatan fisik,” ulangnya, tersenyum, giginya tampak berkilau bahkan dalam kegelapan. “Wow, itu tadi mudah,” sahutku. Ia mengedikkan kepala dan tertawa, sepelan bisikan, namun tetap bersemangat. “Mudah bagimu!” ralatnya, menyentuh hidungku dengan ujung jarinya. Lalu wajahnya tiba-tiba serius.

djAnGgo

251

“Aku berusaha,” bisiknya, suaranya sedih. “Kalau nanti segalanya jadi... kelewat berat, aku tak yakin akan bisa pergi.” Aku menatapnya marah. Aku tidak suka membicarakan kepergian. “Dan akan lebih sulit besok,” lanjutnya. “Aku menyimpan aroma tubuhmu di kepalaku seharian, dan aku jadi luar biasa kebal terhadapnya. Seandainya aku jauh darimu selama apapun, aku harus mengulang semuanya lagi. Tapi tidak benar-benar dari awal, kurasa.” “Kalau begitu jangan pergi,” timpalku, tak mampu menyembunyikan hasrat dalam suaraku. “Setuju,” balasnya, wajahnya berubah menjadi senyuman lembut. “Kemarikan borgolnya, aku adalah tawananmu.” Tapi tangannya yang panjang membentuk borgol di sekeliling pergelangan tanganku saat mengatakannya. Ia mengeluarkan tawa merdunya yang pelan. Malam ini ia lebih banyak tertawa daipada seluruh waktu yang kuhabiskan dengannya sebelumnya. “Kau tampak lebih... ceria dari biasanya,” kataku. “Aku belum pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.” “Bukankah seharusnya seperti ini?” Ia tersenyum. “Keindahan cinta pertama, dan semuanya. Bukankah mengagumkan, perbedaan antara membaca sesuatu, melihatnya di gambar, dan merasakannya sendiri?” “Sangat berbeda,” timpalku. “Lebih kuat daripada yang pernah kubayangkan.” “Contohnya”, kata-katanya lebih mengalir sekarang, aku sampai harus berkonsentrasi untuk menangkap semuanya, “perasaan cemburu. Aku telah membacanya ratusan kali, melihatnya dimainkan aktor dalam ribuan pertunjukan dan film. Aku yakin telah memahaminya dengan jelas. Tapi toh itu mengejutkanku...” Ia meringis. “Kau ingat waktu Mike mengajakmu pergi ke pesta dansa?” Aku mengangguk, meski aku mengingat hari itu untuk alasan berbeda. “Hari itu kau mulai bicara lagi denganku.” “Aku terkejut karena kemarahan, nyaris murka, yang kurasakan, awalnya aku tidak menyadarinya. Aku bahkan lebih jengkel daripada sebelumnya karena tidak bisa mengetahui apa yang kaupikirkan, mengapa kau menolaknya. Apakah itu hanya sematamata demi persahabatanmu dengan Jessica? Apakah ada orang lain? Aku tahu bagaimanapun juga aku tak punya hak untuk memedulikannya. Aku berusaha untuk tidak peduli. “Lalu semuanya mulai jelas,” ia tergelak. Aku menatapnya jengkel dalam gelap. “Aku menunggu, kelewat ingin mendengar apa yang akan kaukatakan pada mereka, untuk mengamati ekspresimu. Aku tak bisa menyangkal perasaan lega yang kurasakan saat menyaksikan wajahmu yang kesal. Tapi aku tak bisa yakin. “Itu adalah malam pertama aku datang kesini. Sambil melihatmu tidur, aku bergumul semalaman antara apa yang kutahu benar , bermoral, etis, dengan apa yang kuinginkan . Aku tahu seandainya aku terus mengabaikanmu sebagaimana seharusnya, atau seandainya aku pergi selama beberapa tahun, sampai kau pergi dari sini, suatu hari kelak kau akan mengatakan ya pada Mike, atau seseorang seperti dia. Dan pemikiran itu membuatku marah.” “Kemudian,” ia berbisik, “ketika kau tidur, kau menyebut namaku. Kau menyebutnya begitu jelas, hingga awalnya kukira kau terbangun. Tapi kau bergulak-gulik gelisah, dan menggumamkan namaku sekali lagi, lalu mendesah. Perasaan yang menyelimutiku kemudian adalah perasaan takut, bahagia. Dan aku pun tahu, aku tak bisa mengabaikanmu lebih lama lagi.” Ia terdiam sebentar, barangkali mendengarkan jantungku yang tiba-tiba berdebar-debar. “Tapi kecemburuan... adalah hal aneh. Jauh lebih kuat daripada yang kukira. Dan tidak masuk akal! Baru saja, ketika Charlie menanyakan soal si brengsek Mike Newton itu...” Ia

djAnGgo

252

menggelengkan kepala keras-keras. “Aku seharusnya tahu kau pasti menguping,” gerutuku. “Tentu saja,” “Dan itu membuatmu cemburu, benarkah?” “Semua ini hal baru bagiku; kau membangkitkan sisi manusia dalam diriku, dan segalanya terasa lebih kuat karena ini baru.”

djAnGgo

253

“Yang benar saja,” godaku, “itu tidak ada apa-apanya, mengingat aku harus mendengar bahwa Rosalie, Rosalie, penjelmaan kecantikan yang murni, Rosalie , sebenarnya tercipta untukmu. Emmett atau tanpa Emmett, bagaimana aku bisa bersaing dengan kenyataan itu?” “Tidak ada persaingan.” Giginya berkilauan. Ia menarik tanganku ke punggungnya, membawaku ke dadanya. Aku diam sebisa mungkin, bahkan bernafas dengan hati-hati. “Aku tahu tidak ada persaingan,” gumamku di kulitnya yang dingin. “Itulah masalahnya.” “Tentu saja Rosalie memang cantik dengan caranya sendiri,tapi bahkan seandainya dia bukan seperti adik bagiku, bahkan seandainya Emmett tidak bersamanya, dia takkan pernah memiliki sepersepuluh, tidak, seperseratus daya tarikmu terhadapku.” Ia serius sekarang, tulus. “Selama hampir sembilan puluh tahun hidup bersama jenisku sendiri, dan jenis kalian... selama itu aku berpikir bahwa aku sempurna di dalam diriku sendiri, sama sekali tak menyadari apa yang kucari. Dan tidak menemukan apa pun, karena kau belum dilahirkan.” “Kedengarannya tidak adil,” bisikku, wajahku masih rebah di dadanya, mendengarkan irama napasnya. “Aku sama sekali tak perlu menunggu. Mengapa bagiku semudah itu?” “Kau benar,” timpalnya senang. “Aku harus membuatnya lebih sulit bagimu, sudah pasti.” Ia melepaskan salah satu tangannya, melepaskan pergelangan tanganku, hanya untuk memindahkannya dengan pelan ke tangannya yang lain. Ia membelai lembut rambut basahku, dari ujung kepala sampai ke pinggang. “Kau hanya perlu membahayakan hidupmu setiap detik yang kauhabiskan bersamaku, dan tentu saja itu tidak terlalu banyak. Kau hanya perlu berpaling dari alam, dari kemanusiaan... seberapa besar harga yang harus kaubayar?” “Sangat sedikit, aku tak merasa dirugikan untuk apapun.” “Belum.” Dan sekonyong-konyong suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Aku berusaha menarik diri untuk memandang wajahnya, tapi tangannya mengunci pergelangan tanganku sangat erat. “Apa, ” aku mulai bertanya, tapi tubuhnya menegang. Aku membeku, namun tibatiba ia melepaskan tanganku, lalu menghilang. Aku nyaris jatuh terjembap. “Berbaringlah!” desisnya. Aku tak bisa mengatakan dari mana datangnya suara itu dalam kegelapan. Aku berguling di bawah selimutku, meringkuk miring, seperti biasanya aku tidur. Aku mendengar pintu terkuak saat Charlie mengintip ke dalam, memastikan aku berada di tempat seharusnya. Napasku teratur, aku sengaja melebih-lebihkannya. Satu menit yang panjang berlalu. Aku mendengarkan, tak yakin apakah aku mendengar pintunya menutup lagi. Kemudian lengan Edward yang sejuk memelukku di bawah selimut, bibirnya di telingaku. “Kau aktris yang payah, bisa kubilang karier seperti itu tidak cocok untukmu.” “Sialan,” gumamku. Jantungku berdebar kencang. Ia menggumamkan lagu yang tidak kukenal; kedengarannya seperti lagi nina bobo. Ia berhenti. “Haruskah aku meninabobokanmu hingga kau tidur?” “Yang benar saja,” aku tertawa. “Seolah-olah aku bisa tidur saja sementara kau disini!” “Kau melakukannya setiap saat,” ia mengingatkanku. “Tapi aku tidak tahu kau ada disini,” balasku dingin. “Jadi kau tidak ingin tidur...” ujarnya, mengabaikan kekesalanku. Napasku tertahan. “Kalau aku tidak ingin tidur..?” Ia tergelak. “Kalau begitu apa yang ingin

djAnGgo

254

kaulakukan?” Mula-mula aku tak bisa menjawab. “Aku tidak tahu,” jawabku akhirnya. “Katakan kalau kau sudah memutuskannya.” Aku bisa merasakan napasnya yang sejuk di leherku, merasakan hidungnya meluncur sepanjang rahangku, menghirup napas. “Kupikir kau sudah kebal?” “Hanya karena aku menolak anggur, tidak berarti aku tak bisa menghargai aromanya,” bisiknya. “Aromamu seperti bunga, mirip lavender... atau freesia,” ujarnya. “Menggiurkan.” “Ya, ini hari libur ketika aku tidak membuat seseorang mengetahui betapa lezat aromaku.”

djAnGgo

255

Ia tergelak, lalu mendesah. “Aku telah memuluskan apa yang ingin kulakukan,” aku memberitahunya. “Aku mau mendengar lebih banyak tentangmu.” “Tanyakan apa saja.” Aku memilih pertanyaanku hingga yang paling penting. “Kenapa kau melakukannya?” kataku. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa begitu kuat menyangkal dirimu... yang sebenarnya. Tolong jangan salah mengertim tentu saja aku senang kau melakukannya. Aku hanya tidak mengerti kenapa kau mau melakukannya sejak awal.” Ia sempat ragu sebelum menjawab. “Itu pertanyaan bagus, dan kau bukan yang pertama menanyakannya. Yang lainnya, mayoritas jenis kami yang cukup puas dengan kelompok kami, mereka, juga, bertanya-tanya bagaimana cara kami hidup. Tapi dengar, hanya karena kami telah... mendapatkan satu kemampuan... tak berarti kami tidak bisa memilih untuk mengendalikannya, untuk menaklukkan batasan takdir yang tak diinginkan oleh satupun dari kami. Untuk berusaha sebisa mungkin mempertahankan sisi kemanusiaan apa pun yang kami miliki.” Aku berbaring tak bergerak, terpukau dalam keheningan. “Apakah kau tertidur?” ia berbisik setelah beberapa menit. “Tidak.” “Cuma itu yang membuatmu penasaran?” Aku memutar bola mataku. “Tidak juga.” “Apa lagi yang ingin kau ketahui?” “Kenapa kau bisa membaca pikiran, kenapa hanya kau? Dan Alice melihat masa depan... kenapa itu terjadi?” Aku merasakannya mengangkat bahu dalam kegelapan. “Kami tidak benar-benar tahu. Carlisle punya teori... dia yakin kami semua membawa karakteristik manusia kami yang paling kuat ke kehidupan berikutnya, dan karakteristik itu menjadi lebih kuat, seperti pikiran dan indra kami. Menurut dia, aku pasti telah menjadi sangat peka terhadap pikiran orang-orang di sekitarku. dan bahwa Alice memiliki indra keenam, dimana pun ia berada.” “Apa yang dibawa Carlisle dan lainnya ke kehidupan mereka berikutnya?” “Carlisle membawa kebaikan hatinya. Esme membawa kemampuannya untuk mencintai sepenuh hati. Emmett membawa kekuatannya, Rosalie... keteguhannya. Atau kau bisa menyebutnya sifat keras kepala,” ia tergelak. “Jasper sangat menarik. Dia cukup memiliki karisma dalam kehidupan awalnya, mampu mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melihat lewat sudut pandangnya. Sekarang ia mampu memanipulasi emosi orang-orang di sekelilingnya, menenangkan seruangan penuh orang yang sedang marah, contohnya, atau di sisi lain membuat kerumunan orang yang letih menjadi bersemangat. Karunia yang sangat unik.” Aku membayangkan kemustahilan yang digambarkannya, mencoba

djAnGgo

256

memahaminya. Ia menunggu dengan sabar sementara aku berpikir. “Jadi, dari mana ini semua bermula? Maksudku, Carlisle mengubahmu, dan seseorang pasti telah mengubahnya, dan seterusnya...” “Well, dari mana asalmu? Evolusi, penciptaan? Tidak mungkinkah kami berkembang dengan cara yang sama seperti spesies lainnya, entah itu pemangsa atau mangsanya? Atau kalau kau tidak percaya dunia ini mungkin saja terjadi dengan sendirinya, yang mana aku sendiri sulit mempercayainya, apakah begitu sulit untuk mempercayai bahwa kekuatan yang sama yang menciptakan angelfish juga hiu, bayi anjing laut, dan paus pembunuh, juga bisa menciptakan kedua jenis kita?” “Biar kuluruskan, aku bayi anjing lautnya, kan?” “Benar.” Ia tertawa, dan sesuatu menyentuh rambutku, bibirnya? Aku ingin berbalik menghadapnya, untuk memastikan apakah benar bibirnya yang menyentuh rambutku. Tapi aku harus bersikap tenang; aku tak ingin membuat ini lebih sulit baginya daripada sekarang.

djAnGgo

257

“Kau sudah siap tidur?” tanyanya, menyela keheningan singkat di antara kami. “Atau kau punya pertanyaan lagi?” “Hanya sejuta atau dua.” “Kita memiliki hari esok, dan hari berikutnya lagi, dan selanjutnya...” ia mengingatkanku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. “Kau yakin tidak akan menghilang besok pagi?” Aku menginginkan kepastian. “Lagipula, kau ini makhluk legenda.” “Aku takkan meninggalkanmu.” Suaranya memancarkan kesungguhan. “Kalau begitu, satu lagi malam ini...” Dan akupun merona. Kegelapan sama sekali tidak membantu, aku yakin ia bisa merasakan kehangatan kulitku yang tiba-tiba. “Apa itu?” “Tidak, lupakan. Aku berubah pikiran.” “Bella, kau bisa bertanya apapun padaku.” Aku tak menyahut, dan ia mengerang. “Aku terus berpikir, akan lebih tidak membuat frustasi bila tidak mendengar pikiranmu. Tapi kenyataannya justru semakin parah dan lebih parah lagi.” “Aku senang kau tak dapat membaca pikiranku. Sudah cukup buruk bahwa kau menguping saat aku mengigau.” “Please?” Suaranya begitu membujuk, begitu mustahil untuk kutolak. Aku menggeleng. “Kalau kau tidak bilang padaku, aku hanya tinggal menyimpulkan itu sesuatu yang lebih buruk dari seharusnya,” ancamnya licik. “Please?” Lagi-lagi, suara penuh bujuk rayu itu. “Well,” aku memulainya, senang ia tak bisa melihat wajahku. “Katamu Rosalie dan Emmett akan segera menikah... Apakah... pernikahan itu... sama seperti pernikahan manusia?” Ia tertawa terbahak sekarang, menangkap maksudku. “Apakah itu arah pembicaraanmu?” Aku gelisah, tak mempu menjawab. “Ya, kurasa kurang-lebih sama,” katanya. “Sudah kubilang kebanyakan hasrat manusia ada dalam diri kami, hanya saja tersembunyi di balik hasrat yang lebih kuat lagi.” Aku hanya bisa menggumamkan “Oh.” “Apakah ada maksud di balik rasa penasaranmu?” “Well, aku memang membayangkan... kau dan aku... suatu hari...” Ia langsung berubah serius, aku bisa mengatakannya dari tubuhnya yang mendadak kaku. Aku juga membeku, bereaksi dengan sendirinya. “Aku tidak berpikir itu... itu... akan mungkin bagi kita.” “Karena itu akan sangat sulit bagimu, seandainya kita... sedekat itu?” “Itu jelas masalah. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Kau sangat lembut dan rapuh. Aku harus memperhitungkan setiap tindakanku setiap kali kita bersama-sama, supaya aku tak melukaimu. Aku bisa membunuhmu dengan sangat mudah, Bella, hanya dengan tidak sengaja.” Suaranya hanya tinggal gumaman. Ia menggerakkan telapak tangannya yang dingin dan menaruhnya di pipiku. “Kalau aku terlalu gegabah... seandainy satu detik saja aku tak cukup memperhatikan, aku bisa saja mengulurkan tanganku, maksudnya ingin menyentuh wajahmu namun malah menghancurkan tengkorakmu karena khilaf. Kau tak tahu betapa sangat rapuhnya dirimu. Aku takkan sanggup kehilangan kendali apa pun saat aku bersamamu. Ia menungguku bereaksi, dan semakin waswas saat aku tetap diam. “Kau takut?” tanyanya. Aku menunggu sebentar sebelum menjawab, sehingga ucapanku jujur. “Tidak, aku baik-baik saja.” Ia seperti berpikir selama sesaat. “Meski begitu, sekarang aku penasaran,” katanya, suaranya kembali ringan. “Kau sudah pernah...” ia sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.

djAnGgo

258

aku belum pernah merasa seperti ini terhadap orang lain.“Tentu saja belum. “Sudah kubilang.” djAnGgo 259 . sedikitpun tidak.” Wajahku memerah.

” Ia terdengar puas. “Naluri manusiamu. Lebih letih daripada yang kusadari. aku tertidur dalam pelukan tangannya yang dingin. Ia tertawa.” aku memulai.. tapi aku laki-laki. “Aku telah menjawab pertanyaanmu. apakah kau menganggapku menarik dari segi itu. lelah karena tekanan mental dan emosi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Paling tidak sekarang keduanya nyata bagiku. kemudian mulai menggumamkan senandung yang sama lagi.” ia bersikeras. djAnGgo 260 .” “Bagiku ya. lembut di telingaku. sama sekali?” Ia tertawa dan dengan lembut mengusap-usap rambutku yang hampir kering. “Aku tak yakin apakah aku bisa. Setidaknya kita punya persamaan. “Well. suara malaikat. Aku tahu cinta dan nafsu tidak selalu sejalan.” “Kau mau aku pergi?” “Tidak!” seruku terlalu lantang.” ia meyakinkanku. sekarang kau harus tidur. “Aku mungkin bukan manusia.. Hanya saja aku tahu pikiran orang lain. Ia menanti. Aku menguap tanpa sengaja. “Bagus.“Aku tahu. nina bobo yang asing.” aku mendesah.

djAnGgo 261 .

sebuah mimpi yang coba kuingat. tapi aku menyukainya. bintik-bintik merah menyebar di tulang pipiku. djAnGgo 262 . Harus kuakui.” aku mengakuinya.” jawabnya kaget. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. seandainya kau berniat pergi?” Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak. Setengah berlari aku kembali ke kamar. tanpa berpikir melompat menuju pintu. dan rambutnya sudah rapi. Ia meraihku.” Aku melompat ke kamar mandi. lengannya masih menantiku. mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Tapi ia tertawa. Aku berbaring. Tangannya mengusap-usap punggungku. sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian. “Tentu saja. “Kau tidak sebiasanya sebingung ini di pagi hari. aku kecewa. Ia menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan. “Selamat datang lagi.. “Aku yakin itu mimpi. tapi kelihatan senang melihat reaksiku. “Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami. dan jantungku berdebar tak keruan. “Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia. “Oh!” Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing. kalau boleh kutambahkan.” dengusnya. khawatir tindakanku telah melewati batas. “Charlie!” Aku teringat. Keluarga Cullen Cahaya suram dari satu lagi hari mendung akhirnya membangunkanku. matanya terlalu ceria. “Edward! Kau tidak pergi!” Aku berseru gembira. lengan menutupi mata. membawaku ke dalam pelukannya. di dalam maupun di luar. ingin sekali kembali padanya. Aku mengerang dan berguling ke sisi. dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. setelah memasang kembali kabel akimu.” “Kau tidak sekreatif itu. Sesuatu. terkejut karena semangatku yang menggebu.” ujarnya. Ia merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu. mengantuk dan pusing.. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan.15. aku membeku. “Dia pergi sejam yang lalu. berharap bisa tertidur lagi. Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya. Kupercikan air dingin ke wajahku.” gumamnya. lagi. menghirup aroma kulitnya. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana. dan berusaha bernapas secara normal. “Kutunggu. tapi khawatir napasku bau. Begitu menyadari apa yang kulakukan. Aku tak mengenali diriku.” Suaranya yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. Wajah yang ada di cermin praktis asing. tapi nyaris gagal. Aku menatapnya. sama sekali tak memahami emosiku.

“Kau pergi?” tuduhku. djAnGgo 263 . sambil menyentuh kerah kausnya yang baru. apa yang akan dipikirkan para tetangga?” Aku mencibir. “Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang.

“Hmmm. melompat berdiri. well.. “Jangan khawatir. bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku.” “Aku tidak takut pada mereka. lalu berhenti.” aku mengakui. “Tapi toh aku senang mendengarnya. “Apa yang kaudengar?” Mata keemasannya melembut. memastikan ia memaafkanku. tak ingin bersikap tidak sopan. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar. aku tak yakin. Kau mau apa?” Alis pualamnya berkerut.” “Itu sangat lucu. menyusupkan kepalaku.” bisikku.. Aku tersenyum. “Apa acara hari ini?” tanyaku.” jawabnya sederhana. menyukaiku. “Aku akan melindungimu. “Boleh kuulangi?” tanyaku. mempelajari setiap gerakanku. seperti aku. “Tidak apa-apa.. mengalihkan perhatiannya. aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. seolah-olah menyerap suasana hatiku. aku tak melewatkan apapun.. “Makan saja. “Saatnya sarapan. “Apa menu sarapannya?” tanyaku riang. ceria.” Matanya berkilatkilat. ia bisa melihatnya di mataku. Ruang dapur terang. “Aku mencintaimu. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. “Kau mengigau lebih awal. bagaimana mungkin aku menyangkalnya. dan kau tahu itu.” akhirnya ia berkata. Bisa kurasakan tatapannya ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. dengan kasual. Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Dan tampaknya aku dimaafkan. “Padahal katamu aku tidak bisa berakting!” Ia mengerutkan dahi. Ia memutar bola matanya. Itu membuatku tidak nyaman. “Tidak lucu. tapi ia mengabaikanku.... “Kaubilang kau mencintaiku. baiklah. “Mm. “Kau mau sesuatu?” tanyaku. aku yakin.“Kau tidur sangat pulas semalam. “Aku khawatir mereka takkan. terkejut kau membawa seseorang.” Aku duduk di meja makan. namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. Bella. memperhatikannya sambil menyuap sereal. Tidakkah mereka akan. jijik. “Kau hidupku sekarang. Ia memandangiku.. “Bercanda!” aku nyengir.” Kesembunyikan wajahku di bahunya. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga. Kuletakkan makananku di meja. “Saatnya sarapan untuk manusia. Perhatikan caraku berburu. dengan lembut. ke rumah djAnGgo 264 . untuk membuktikan.” Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya.” Ia mengusungku di bahunya yang kokoh.” Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya.” “Oh.” aku mengingatkannya.” Ia mencibir. Ia mendudukanku di kursi.” Aku menggerutu. Aku berdeham untuk bicara. “Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?” Aku menelan liurku.” “Kau sudah tahu itu. Ia bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.” jelasku. Ia terperanjat. “Ya. “Apa sekarang kau takut?” Ia terdengar berharap.” Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal.

kemarin mereka bertaruh”. ia tersenyum.menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?” “Oh. meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan djAnGgo 265 . Kau tahu. mereka sudah mengetahui semuanya. “Apakah aku membawamu kembali. tapi suaranya parau.

setelah beberapa senti dariku ia menghentikan langkah. memandangi meja. sambil berspekulasi. “Well. terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Alice melihat masa depan.Alice. menggigit bibir. Lama sekali ia menatap ke dalam mataku. jangan lupa itu. maksudku. “Kau sudah selesai?” ia akhirnya bertanya.” Senyumnya penuh kesabaran.” “Benarkah?” aku sekonyong-konyong waswas. Aku tak ingin Kepala Polisi Swan menetapkan larangan untukku.” Perlahan ia mengelilingi meja.. “Kenapa?” “Bukankah begitu kebiasaannya?” tanyanya polos. “Aku tidak tahu.” gumamku. menerawang ke luar jendela belakang.. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia. “Selamanya. “Kau akan memberitahu Charlie bahwa aku pacarmu atau tidak?” “Apakah kau boyfriendku ?” Kutekan ketakutanku membayangkan Edward dan Charlie dan kata ‘boyfriend’ dalam ruangan yang sama pada waktu yang bersamaan. mengabaikan tatapan marahnya.” “Aku mendapat kesan sebenarnya kau tahu lebih dari itu. Kemudian tatapannya kembali padaku. mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku.” ia meyakinkanku. kau tak perlu berpura-pura demi aku. mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut. “Benarkah kau akan berada disini?” “Selama yang kauinginkan.” katanya jengah.” “Berpakaianlah.” Ia meraih ke seberang meja.. “Apa itu enak?” tanyanya.” djAnGgo 266 . Aku melompat berdiri.” Aku meringis. “Aku tidak berpura-pura. makananmu tidak terlalu mengundang selera. “Kira-kira begitu.” Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk.” aku mengakui. aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini.” “Well. ekspresinya penuh makna. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. sama sekali bukan beruang pemarah.” aku mengaku. “Kuakui itu pengertian bebas mengenai kata ‘boy’.” ia tersenyum senang. “Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari.. Aku tidak berharap kau.” “Dia sudah mengenalmu. “Maksudku sebagai pacarmu. kau tahu. “Ya.” “Dan Jasper membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kalian.” aku mengingatkannya. berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. apakah Alice sudah melihat kedatanganku?” Reaksinya aneh. “Aku cukup dikenal akan hal ini kadang-kadang. Aku menatapnya penasaran.” “Kau menyimak. “Apa itu membuatmu sedih?” tanyaku. “Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu. tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. Aku buru-buru menghabiskan serealku.” Aku menatapnya curiga. Ia berdiri di tengah dapur. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Alice. mirip patung Adonis lagi. dan ia memamerkan senyumnya yang menawan. “Jujur.” aku mengingatkannya. aku akan menunggu disini. Ia tidak menyahut. “Jadi. “Itu tidak perlu. “Aku akan selalu menginginkanmu. dan semuanya.

djAnGgo 267 .Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Lirikan singkat di cermin memberitahu rambutku benarbenar berantakan. berwarna khaki. masih kasual. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Akhrinya aku mengenakan satu-satunya rok yang kumiliki. Aku mengenakan blus biru tua yang pernah dipujinya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. jadi aku menguncirnya jadi ekor kuda. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. rok panjang.

” Ia menunggu di ujung tangga.. putus asa. saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota. napasnya makin menderu di permukaan kulitku. tak seorangpun boleh terlihat begitu menggoda. ketika ia tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal..” “Apa yang akan kulakukan denganmu?” ia menggerutu. bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua. “Kurasa aku lupa bernapas.” ujarnya tak disangkasangka.... rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang. dan semakin besar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah. “Kau sulit dipercaya. “Kau sangat tidak pantas. “Aku sudah pantas bepergian. Hutan menyelimuti kedua sisinya. Ia menggeleng.” Aku menggeleng menyesalinya. betul?” “Betul. Jalanan itu tak bertanda.” aku bersikeras.” “Kau merasa sakit?” ia bertanya. “Kau.“Oke. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah.” “Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini. hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter.” aku langsung menjawabnya.” Dengan lembut ia menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku. “Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila. jadi bisakah kita berangkat sekarang?” tanyaku. ia pernah melihatku seperti ini sebelumnya. membuatku.” “Aku baik-baik saja. dan ruangan pun berputar. dan semakin besar. nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. “Tidak. “Kau terlalu pintar melakukannya. “Dan kau khawatir. meliuk-liuk seperti ular di djAnGgo 268 . “Begini. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang.” aku meracau. dan aku langsung menghambur ke arahnya.” Aku melompat-lompat menuruni tangga. Wajahku memerah senang.. “Dan katamu aku bisa melakukan segalanya. Amat sangat terlalu pintar. pingsanku kali ini berbeda. “Aku bisa mengganti. menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.” “Menggoda bagaimana?” tanyaku. tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimaku. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar. menggeleng-gelengkan kepala. lebih dekat dari yang kukira. aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan. “Aku sangat menyukai warna kulitmu. “Bella?” suaranya terdengar kaget ketika ia menangkap dan memegangiku. itu tidak adil. dengan sangat hati-hati membukanya. aku sama sekali tak tahu dimana ia tinggal. Tanganku membeku di dadanya. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ia memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku. dan aku kembali melayang. dan kau menyerangku! Hari ini kau pingsan di hadapanku!” Aku tertawa lemah.” Ia mendesah. Kemudian aku tak sadarkan diri.” Aku masih pusing. dan berpaling. dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku untuk kedua kalinya. dan memasuki hutan berkabut. “Itulah masalahnya. jalanan membentang ke utara. “Kemarin aku menciummu. Jelas itu pertanyaan retoris. “Kau sangat konyol.” gumamnya di telingaku. “Kau salah lagi. membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar.” Aku menyadari. Ia memiringkan kepala perlahan.” ia mendesah. jatuh pingsan. jadi apa bedanya?” Ia mengamati ekspresiku beberapa saat. “Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?” katanya.

hutan mulai menipis. setelah beberapa mil. atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya. membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno. djAnGgo 269 . Kemudian. karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar.sekeliling pepohonan kuno. dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil.

“Senang sekali bisa berkenalan denganmu. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut. berlantai pudar. dan sangat luas. rambutnya berombak dan halus. Di bagian belakang. namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. “Sama sekali tidak. Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah.” Aku tersenyum padanya. berwarna cokelat karamel. tapi tidak bergerak mendekat.” Aku mencoba tertawa.” “Kau menyukainya?” Ia tersenyum. “Bangunan ini memiliki pesona tersendiri. Ia membukakan pintu untukku. mengingatkanku pada era film bisu. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. dr. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar. berlantai tiga. “Kau cantik. langsing.” Ia menggenggamtanganku dengan luwes. Bella. Tampak menanti menyambut kami. tersembunyi di kegelapan hutan. dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. “Senang bisa bertemu Anda lagi. pada badian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler. tanpa ragu. Sangat terang. Rumah itu tampak abadi. lebih berisi dibanding yang lainnya. “Siap?” ia bertanya sambil membukakan pintuku. Cullen.” suara Edward memecah keheningan yang terjadi sebentar. dan karpet tebal. tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami. Wajahnya berbentuk hati. satu-satunya anggota keluarga Cullen yang belum pernah kulihat. “Carlisle. langitlangitnya yang tinggi. menjabat tanganku. “ini Bella. Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi. Esme. tentu saja. semuanya merupakan gradasi warna putih. tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya.” Langkah Carlisle terukur. Aku tahu ia bisa merasakan keteganganku. lebih tak bisa diramalkan. Dinding-dindingnya. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. lantainya yang terbuat dari kayu. Tubuhnya mungil.” “Carlisle. namun tidak terlalu kurus. berhati-hati saat mendekatiku. dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca. Ia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. berdiri persis di kiri pintu. ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku.” sahutnya tulus. tapi jelas bukan yang seperti ini. dan barangkali berusia beberapa tahun. Cullen sebelumnya. elegan. daripada bagian luarnya. Mereka tersenyum menyambut kami. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan.” “Tolong panggil saja Carlisle. ayo. kesempurnaannya yang luar biasa. “Wow. Ia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya. kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. sangat terbuka. Aku merapikan rambut dengan gugup. Aku bisa merasakan Edward merasa lega di sampingku. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka.Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. djAnGgo 270 . berbentuk persegi dan proporsional. Kurasa perempuan yang berdiri di sisinya adalah Esme.” Ia menarik ujung ekor kudaku dan tergelak. Aku pernah melihat dr. adalah orangtua Edward.” “Selamat datang. Esme tersenyum dan melangkah maju juga.

Putri Salju dalam wujud aslinya. “Dimana Alice dan Jasper?” Edward bertanya. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng. tapi mereka tidak menjawab.“Terima kasih.” Memang itulah yang kurasakan. Aku juga senang bisa bertemu Anda. berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar. djAnGgo 271 .

itu tidak sopan. dan aku ingat penyangkalan Edward yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku. “Kuharap aku tidak pamer pada Bella. Bella.” sapa Jasper.” sahut Esme. “Hanya sedikit. Aku memandang wajahnya. itu sesuatu yang alami. bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru. dan ia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. begitu tenggelam. rumah kalian sangat indah. ekspresinya mendalam. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku. “Terima kasih. aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya. aku akan membeli grand piano untuk ibuku. “Senang bisa bertemu kalian semua. “Hai. dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. tentu saja. “Kau bisa main piano?” tanyanya.” Aku tersenyum malu-malu padanya. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. Bella!” sapa Alice. “Kurasa seharusnya aku tahu. berusaha terlihat sopan. bingung. Edward!” Alice memanggilnya bersemangat. “Halo. Perasaan lega menyeruak dalam diriku. “Tidak sama sekali. tapi ekspresinya tak bisa ditebak. menunjuk piano dengan kepalanya. Aku bingung melihat Edward yang mendadak kaku di sebelahku. dan aku menyadari ia pasti menganggapku berani. Apakah itu milik anda?” “Tidak. tatapan yang tidak kumengerti. Ekspresi Carlisle mengalihkanku dari pikiran ini. tapi aku suka melihatnya memainkan piano.“Hei. seseorang di luar sosok ‘ibu’ yang kukenal selama ini. Tapi mustahil untuk merasa gugup di dekatnya. Ia terlihat bahagia. membuatku sangat malu. “Edward bisa melakukan segalanya. Aku juga menyadari bahwa Rosalie dan Emmett tak terlihat dimanapun di rumah itu.” Dengan marah kutatap Edward yang memasang ekspresi tak berdosa. dan aku teringat akan kemampuannya. Jasper. dan pada yang lainnya juga. “Edward tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?” “Tidak. sekarang mereka tampak terkesiap. Ia tetap menjaga jarak. Kugelengkan kepalaku.” bentaknya.” ia tertawa. salah satu alisnya terangkat. Aku mengalihkan pandangan. tapi aku menyukainya.” Edward tertawa lepas. meskipun wajah djAnGgo 272 . “Kau memang harum. tidak menawarkan untuk berjabat tangan.” Ia berbicara penuh perasaan. Ia berlari menuruni tangga. Lagipula. sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri. perpaduan rambut hitam dan kulit putih. “Kami senang sekali kau datang. tapi seperti kebanyakan anak.” ia berkomentar. kemudian Jasper ada disana. Wajah Esme melembut mendengar suara itu. Esme memperhatikan keprihatinanku. seandainya aku menenangkan lotere. Mataku juga memancarkan rasa terkejut. ia memandang Edward penuh makna. aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih. “Halo. Edward menatap Jasper. Bila Carlisle dan Esme sebelumnya tampak berhati-hati. Dari sudut mata aku melihat Edward mengangguk sekali. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano. Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan. Ia mengajariku cara bermain piano. tinggi bagai singa. dan sesaat mereka saling menatap. Tapi piano itu indah sekali. Jasper tertawa sinis dan Esme menatap Edward tak setuju. bukan begitu?” kataku menjelaskan.” Alis Esme yang lembut terangkat. baginya. Carlisle dan Esme memelototinya.” tambahku apa adanya.

bermainlah untuknya.” bujuk Esme. dia terlalu rendah hati. Edward menarikku bersamanya. “Kalau begitu sudah diputuskan.” sahutku. “Kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan.” balas Esme. djAnGgo 273 . mendudukkanku di kursi di sampingnya.” sergah Edward keberatan. “Sebenarnya. “Kalau begitu.Esme tampak nyaris puas.” aku meralatnya. “Aku ingin mendengarmu bermain piano. “Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan.” Esme mendorong Edward menuju piano.

. tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.” Aku melirik ke belakang. “Bahkan Jasper. “ Mereka menyukaiku. Ia menarik napas dalam-dalam..” katanya. “Senang melihatku bahagia. tapi dia tidak punya masalah denganmu. Sebenarnya. “Kesukaan Esme... dan ia berkedip.. dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit. “Emmett?” “Well . kau tahu. tapi ruangan besar itu kosong sekarang.” gumamku. mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya. “Kau yang menginspirasi ini. “Dia akan datang.” “Ini benar-benar salahku. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. matanya melebar dan persuasif. menutupi jati diri kami. Edward menatapku santai.” “Rosalie cemburu padaku?” tanyaku tak percaya.” Aku mendesah. dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya. berubah jadi lebih lembut. untuk mencegahnya menyadari kengerianku.. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya.?” lanjutku cepat. dan dia benar.” katanya lembut. “Terutama Esme. begitu kaya.” katanya. dia yang terakhir mencoba cara hidup kami..” Irama musik memelan. Selama ini dia mengkhawatirkan aku. takut ada djAnGgo 274 . Tapi Rosalie dan Emmett. dan bergidik. “Sudah kubilang. “Jangan khawatirkan Rosalie. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu.” Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu. “Kau manusia. Aku tak sanggup berkata-kata. dia pikir aku gila. Ia merengut. “Dia berharap seandainya dia juga manusia. masih terkejut.” aku tidak menyelesaikan kata kataku. Esme tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. “Mereka menyukaimu. Dia mencoba berempati dengan Rosalie. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak. “Ada apa?” “Aku merasa amat sangat tidak berguna. “Mereka kemana?” “Kurasa mereka ingin memberi kita privasi.Lama sekali ia menatapku putus asa..” Aku mencibir. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Rosalie memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku. Ia mengangguk. “Rosalie yang paling berjuang keras. Dan dia agak cemburu. “Kau menyukainya?” “Kau menciptakannya?” Aku terperangah menyadarinya.” katanya.” Aku memejamkan mata sambil menggelenggelengkan kepala. sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. menertawakan reaksiku. musik masih melingkupi kami tanpa henti.” “Apa yang membuat Rosalie tidak suka?” Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.” “Oh. dan mendengar tawa pelan di belakangku. “Esme dan Carlisle.” Ia mengangkat bahu.

dia nyaris tersedak oleh perasaan puas.” “Alice punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal. Tidak sekarang.” “Alice tampak sangat. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa.sesuatu yang hilang dari karakter utamaku. Dia sangat senang.. bahwa aku terlalu muda ketika Carlisle mengubahku.. bersemangat.” katanya dengan bibir terkatup rapat.. “Dan kau takkan menjelaskannya.. Setiap kali aku menyentuhmu. djAnGgo 275 . ya kan?” Sesaat keheningan melintas diantara kami. Ia menyadari bahwa aku tahu ia menyembunyikan sesuatu dariku.

ia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya. “Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi. aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba. “Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?” “Tidak ada peti mati?” aku mengulanginya.” “Ada apa?” “Sebenarnya tidak ada apa-apa. tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi. ya kan?” tanyanya. tadi Carlisle bilang apa padamu?” Alisnya menyatu. mereka tidak seperti kami. “Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu.” gumamku. menyeka titik air mata yang tersisa. dan ia balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum.” “Tamu?” “Ya. “Tidak. “Tidak ada peti mati. mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. karena aku akan sedikit.” lanjutnya mengejek. kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan waswas yang kurasakan. 276 djAnGgo .. dan mereka penasaran.. begitu cepat hingga aku tak yakin ia benarbenar melakukannya.” Aku mengangkat bahu. tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Ia mengangkat jarinya. “Dia ingin memberitahuku beberapa hal.” “Apakah kau akan memberitahuku?” “Aku harus. Mereka tahu kami ada disini. respons yang masuk akal!” gumamnya.” Aku mengabaikan gurauannya. Ia mengikuti arah pandanganku. tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. begitu terbuka.. “Akhirnya. pasti semua ini sangat mengecewakanmu. “Aku tahu kau pasti memperhatikan.. “Terima kasih.. kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. memalingkan wajah. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota. suaranya terdengar arogan. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan. Ia menyentuh sudut mataku. dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam. dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu. tiba di bagian akhir. mengamati tetes air itu lekat-lekat..” Ia memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab..” aku mengakuinya. Aku menatapnya bertanya-tanya.. sama seperti lantai keramiknya. “Tentu saja. “Begitu terang. laguku.” Lagu yang masih dimainkannya. atau minggu. malu. tentu saja.” Aku bergidik ngeri. maksudku dalam kebiasaan berburu mereka.“Jadi. Aku mengabaikannya. Aku menyekanya. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu. Kami menaiki anak tangga yang besar-besar. Aku tersadar air mata merebak di pelupuk mataku. well. Kemudian. kelewat protektif selama beberapa hari kedepan. Alice hanya melihat akan ada beberapa tamu.“Tidak seperti yang kauharapkan.” Ia terdengar lebih serius saat menjawab.

satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu. “Bisa dibilang ironis. Ia bisa saja melanjutkan. Tanganku terulus dengan sendirinya.. sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan.” Aku tidak tertawa. menertawai ekspresiku yang bingung.. ruang kerja Carlisle.” Ia menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu. kamar Alice. warna permukaannya yang gelap mengkilat. Edward tergelak. djAnGgo 277 .“Kamar Rosalie dan Emmett.. “Kau boleh tertawa.” katanya.. Aku tidak menyentuhnya. terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku. tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu. meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya...

ketika monster bukan hanya mitos dan legenda. begitulah cara mereka hidup. sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. “dan menunggu di tempat Carlisle telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. Dia mengizinkan perburuan penyihir. Aku kembali menatapnya. mengabaikan pertanyaannya. werewolf . “Mengapa kalian menyimpannya disini?” aku bertanya-tanya.” Suaranya sangat pelan. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota. Itu milik ayah Carlisle. hanya keluar pada malam hari untuk berburu. Tapi dia tetap ngotot.” Aku tetap menjaga ekspresiku. pada tahun 1640-an. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan. “Tidak. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. Carlisle mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. “Awal 1630-an. Ia mengangkat bahu. masih memandangi salib.“Pasti sudah sangat tua. untuk berjaga-jaga. “Dia pasti makhluk kuno. Meski begitu.. untuk menemukan roh-roh jahat diaman mereka tidak eksis. dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. “Carlisle lahir di London.” Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Edward. Makhluk djAnGgo 278 . dia tidak gesit menuduh. Pada masa itu. “Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362. dan vampir. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahuntahun yang begitu banyak. Ia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara. dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. menurutnya. Lagipula bagi orangorang awam. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya. dan lebih pintar dari ayahnya. tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu. Akhirnya salah satu dari mereka muncul. berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas. “Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. “Kau baik-baik saja?” Ia terdengar waswas. Dia berlari ke jalanan dan Carlisle. dan lemah karena kelaparan. Ibunya meninggal saat melahirkannya. tentu saja”. Ayahnya berpandangan sempit.” Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. memimpin pengejaran. “Berapa umur Carlisle?” tanyaku pelan. Aku yakin ia memperhatikan. tawanya lebih menyeramkan sekarang. aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya. “Nostalgia. saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell..” Aku tak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku.” jawab Edward.” aku menebaknya. “Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka. kurang lebih.” “Ketika sang pendeta semakin tua.” “Dia mengoleksi barang-barang antik?” aku menebak ragu-ragu. “Mereka membakar banyak orang tak berdosa. Dia mengukirnya sendiri. Saat penganut Protestan mulai berkuasa. tapi ia melanjutkannya. saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. Awalnya kemampuan Carlisle mengecewakan.

Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. dan tak ditemukan.” Edward berhenti.itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka. Dia membunuh dua manusia. mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. Tubuh-tubuh akan dibakar. djAnGgo 279 . jadi dia berbalik dan menyerang. dan kabur membawa korban ketiganya. Makhluk itu menjatuhkan Carlisle terlebih dahulu. tapi Carlisle mengira makhluk itu terlalu lapar. Aku bisa merasakan ia mengedit sesuatu. Carlisle mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. meninggalkan Carlisle berdarah-darah di jalanan. tapi yang lain ada di belakangnya. Benarbenar mukjizat dia dapat tetap diam. “Carlisle tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. dan ia berbalik untuk membela diri. menyembunyikan sesuatu dariku. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah.

” Aku tak yakin bagaimana ekspresiku. sambil menarikku bersamanya. “Kuharap kau punya beberapa pertanyaan lagi untukku. memamerkan giginya yang sempurna.” djAnGgo 280 .” aku menenangkannya. “Aku baik-baik saja. Ia mulai menyusuri ruang besar itu. Dan meskipun aku menggigit bibir karena ragu.“Akhirnya semua itu selesai. “Kalau begitu.” ajaknya. dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa.” Senyumnya melebar.” “Beberapa. Ia tersenyum. “Akan kutunjukkan padamu. tapi tiba-tiba ia berhenti. ayo. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. ia pasti telah melihat rasa penasaran yang membara di mataku.

” “Kami tidak bermaksud mengganggu anda. menggambarkan kota yang sarat dengan atap yang amat landai. yang hitam-putih membosankan. Rumah sakit menelepon tadi pagi. “Aku mau. “Masuklah. Ia berhenti sebentar di depan pintu. di sebuah kursi kulit.16. “Tapi sebenarnya aku sudah agak terlambat. dan memutar tubuhku untuk melihat kembali pintu yang baru kami lalui. Dinding-dindingnya bersekat.” kata Edward. dr. Aku berusaha mencari benang merah yang meghubungkan gambar-gambar itu.” tambahnya.” kata Edward. Dinding yang kami hadapi sekarang berbeda dengan yang lainnya. “Tidak sama sekali. Edward membuka pintu yang mengantar kami ke ruangan beratap tinggi dengan jendela-jendela tinggi yan menghadap ke barat. “London pada masa mudaku. dilintasi jembatan penuh bangunan yang tampak seperti katedral kecil. “Maukah kau menceritakannya?” pinta Edward.” undang Carlisle.” Carlisle menambahkan beberapa meter di belakangku. Aku menoleh sedikit untuk melihat reaksi Carlisle. Ia baru saja menyelipkan pembatas buku pada halaman buku tebal yang dipegangnya. jantungku langsung berdebar sangat cepat. di mana saja terlihat. Ruangan itu bagaikan ruang dekan yang ada di bayanganku. memposisikanku di depan lukisan cat minyak persegi kecil yang dibingkai kayu sederhana. Edward meremas tanganku. Carlisle duduk di belakang meja mahoni besar.” jawabnya. Kehadiran Carlisle membuatnya lebih memalukan lagi. Carlise Ia menuntunku ke ruangan yang tadi disebutnya sebagai ruang kerja Carlisle. djAnGgo 281 . Sebagai ganti rak buku. Kami bertemu pandang dan ia tersenyum. Snow tidak masuk karena sakit. tapi pengamatanku yang terburu-buru tidak menghasilkan apapun. Lagi pula. kau mengetahui ceritanya sebaik aku. dengan puncak menara tipis di atas beberapa menara yang terserak. kayunya berwarna lebih gelap. meletakkan satu tangannya di bahuku. Dari mana kau akan mulai?” “The Wagonner. bahkan dengan sentuhan paling ringan sekalipun.” kataku meminta maaf. Setiap kali ia menyentuhku. Edward menarikku ke ujung sisi kiri. Kebanyakan ruas dinding dipenuhi rak buku yang menjulang di atas kepalaku dan menyimpan lebih banyak buku daripada yang pernah kulihat selain di perpustakaan. hanya saja Carlisle terlalu muda untuk menempatinya. “Aku ingin menunjukkan kepada Bella sebagian sejarah kita. Sungai lebar mengaliri bagian muka.” jawab Edward. sejarahmu. Yang satu ini tidak mencolok dibanding dengan lukisan-lukisan yang lebih besar dan cerah. tidak mendengarnya mendekat. “Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?” ia bertanya dengan suara menyenangkan seraya bangkit dari duduk. “Well. Aku tersentak. beberapa dengan warna terang. dilukis dengan beragam gradiasi warna coklat. sebenarnya. “London pada tahun 1650-an. dinding ini dipenuhi gambar berbingkai dalam segala ukuran.

Sungguh perpaduan yang aneh. dokter kota yang sibuk dengan masalah seharihari. Carlisle meninggalkan ruangan.tersenyum pada Edward sekarang. Lama sekali aku menatap gambar kecil kampung halaman Carlisle itu. Setelah tersenyum hangat ke arahku. djAnGgo 282 . mengetahui ia mengatakannya dengan lantang hanya demi kepentinganku. Aku juga waswas. terjebak dalam pembahasan mengenai masa mudanya pada abad ke-17 di London.

sadar tekadnya mulai melemah. Ia menunggu. Bella. dan sangat kuat. Sejalan dengan waktu. “Akhirnya dia sangat kelaparan. Sekarang dia memiliki waktu tak terbatas.. mencari tempat paling sepi.“Lalu apa yang terjadi?” akhirnya aku bertanya. Dia berenang ke Prancis dan. Dia berusaha menghancurkan dirinya sendiri. yang sedang mengamatiku. Dia pergi sejauh mungkin dari manusia.. “Suatu malam sekawanan rusa melintas di tempat persembunyiannya. padahal ia masih begitu baru. Dia dapat hidup tanpa menjadi makhluk jahat. lalu berharap aku tak mengatakan apa-apa. “Ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya?” Edward kembali memandang lukisan-lukisan itu.” gumamku. mengambil alih segalanya. suaranya datar. ” “Segalanya mudah bagimu. “Dia berusaha menenggelamkan dirinya di lautan. “Kau tak perlu bernapas?” desakku.” “Apakah itu mungkin?” suaraku terdengar samar. bekerja di siang hari. “Kau mau mendengar ceritanya atau tidak?” “Kau tak bisa menceritakan sesuatu seperti itu padaku. “Ketika tahu dirinya telah menjelma menjadi apa. dengan lembut meletakkan jarinya yang dingin di bibirku. Ternyata gambar pemandangan berukuran lebih besar dalam warnawarna musim gugur yang muram. nalurinya bertumbuh makin kuat. Berbulan-bulan dia berkeliaran pada malam hari.. Pernahkah dia memakan daging rusa pada kehidupan silamnya? Beberapa bulan kemudian filosofi barunya pun tercipta. memangsa. “Karena secara teknis. Dia pandai dan selalu ingin belajar. “Dia melompat dari ketinggian yang amat sangat.” Edward memberitahuku.. Dia begitu haus hingga menyerang tanpa berpikir lagi. tapi ia menduluiku. kau sudah janji. tapi dia masih baru untuk kehidupan barunya.” Edward mengingatkanku dengan sabar. Lanjutkan.” “Bagaimana?” Aku tak bermaksud mengatakannya keras-keras. djAnGgo 283 . memindahkannya ke leherku. Ia mengangkat tangan. “Kurasa itu benar. tidak. Dia belajar pada malam hari. Tapi dia begitu jijik dengan dirinya sendiri hingga memiliki kekuatan untuk mencoba bunuh diri dengan membiarkan dirinya kelaparan. ” “Tidak. tapi aku berkeras. wajahnya kesal.” Ia tergelak misterius. Hanya saja kedengarannya lucu dalam konteks itu. “Aku takkan menyelamu lagi. hanya ada sangat sedikit cara untuk membunuh kami. dan menjadi lemah. Dia menemukan jati dirinya lagi.” “Kau.” kata Edward pelan.” kataku kagum. “Dia mulai menggunakan waktunya sebaik-baiknya. mendongak menatap Edward. dan menyelesaikan kalimatnya. Sungguh mengagumkan bahwa ia mampu menolak. dan aku memperhatikan utuk melihat gambar mana yang menarik perhatiannya sekarang. membenci dirinya sendiri. dengan puncak gunung di kejauhan. Tapi itu tidak mudah. janji. “Tidak. kami tidak berlu bernapas. ” “Dia berenang ke Prancis?” “Orang-orang mengarungi Channell setiap saat.” Edward tertawa. Kekuatannya pulih dan dia menyadari ada cara lain untuk mengelakkan dirinya menjadi monster jahat yang selama ini dikhawatirkannya.. “dia melawannya.” “Berenang sesuatu yang mudah bagi kami.” Mulutku membuka hendak bertanya. padang rumput kosong dan berbayang di sebuah hutan. tapi kata itu meluncur begitu saja. Jantungku bereaksi terhadap hal itu..

Lama kelamaan rasanya agak tidak nyaman untuk tidak memiliki indra penciuman. tanpa bernafas?” “Kurasa untuk waktu yang tak terbatas. djAnGgo 284 .“Tidak.” “Agak tidak nyaman. entahlah..” ulangku.. itu tidak perlu.” Ia mengangkat bahu. “Berapa lama kau tahan. Hanya masalah kebiasaan.

dan menemukan panggilan hidup dan penebusan dirinya lewat menyelamatkan nyawa manusia. “Solimena sangat terinspirasi oleh teman-teman Carlisle. “Seperti selama entah siapa yang tahu berapa ribu tahun ini. lari sambil menjeritjerit. “Mereka masih disana.” katanya. Wajahnya melembut karena sentuhanku. Aku mengamati sosok-sosok itu dengan saksama.” Ia menyentuh empat sosok yang terlukis di balkon paling tinggi. hanya beberapa dekade. dan yang paling besar. Carlisle berenang ke Prancis. lalu tersadar. Kanvasnya sarat dengan sosok-sosok terang dalam jubah panjang. lanjutkan.” Ia berhenti.” “Menunggu apa?” “Aku tahu pada titik tertentu.” Ekspresinya penuh kekaguman. kembali lagi ke ceritanya. berputar-putar mengelilingi pilar-pilar dan melewati balkon pualam. tapi sesuatu yang ditunjukkannnya membuat Edward semakin muram. seraya tertawa kaget. “Jadi.” “Apa yang terjadi pada mereka?” tanyaku lantang. “Carlisle berenang ke Prancis. “Aro. “Aku terus menunggunya terjadi. Carlisle tinggal hanya sebentar bersama mereka. Tiba-tiba ia teringat tujuan awalnya. Aku merengut. Dua hasrat yang mustahil dipertemukan. dan dia mampu melakukan pekerjaan yang dicintainya tanpa tersiksa. Dengan sendirinya matanya tertuju ke gambar lain. memperkenalkan tiga lainnnya. Tangannya terkulai disisinya dan ia berdiri diam tak bergerak. aku juga ingin bersamamu. yang satu lagi berambut putih bagai salju. Kemudian kau akan menjauh dariku. tersenyum lagi. “Ada apa?” aku berbisik.” Edward tertawa. “Aku takkan lari kemana-mana. Meski begitu. kedokteran. dia menghabiskan dua abad untuk menyempurnakan pengendalian dirinya dengan susah payah. bahwa aku mengenali pria berambut keemasan itu. yang bingkainya paling penuh ukiran. di rumah sakit…” Lama sekali Edward menerawang. Tubuhnya tak bergerak bagai batu. Sekarang dia sudah kebal dengan bau darah manusia. dan terus ke Eropa. yang dengan tenang memandang kekacauan di bawah mereka. menyentuh wajahnya yang membeku..” Ia mengangkat bahu.” katanya. ke universitas-universitas di sana. metanya menatap lekat wajahku.” Ia setengah tersenyum. Pada malam hari dia belajar musik. “Dia sedang belajar di Italia ketika menemukan yang lainnya disana. dua berambut hitam. hormat. “Kita lihat saja. ilmu pengetahuan. tapi tatapannya serius. dan ia mendesah. Aku tak bisa mengatakan apakah gambar itu menggambarkan mitologi Yunani.” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan hanya memandang wajahku.. “Aku tak punya cukup katakata untuk menggambarkan perjuangan Carlisle. Mereka jauh lebih beradab dan berpendidikan daripada makhluk-makhluk penghuni gorong-gorong di London. lebarnya dua kali pintu di sebelahnya. Ia menepukkan tangannya ke lukisan besar di depan kami. ataukah karakter yang melawang di atas awan dimaksudkan bersifat ke-alkitab-an. Caius.” aku berjanji padanya. “Penjaga malam di gedung seni. Keheningan terus berlanjut. “Aku takkan menghentikanmu. sesuatu yang kukatakan padamu atau sesuatu yang kaulihat akan sulit diterima.Aku tidak memperhatikan ekspresiku sendiri. Dia sering melukiskan mereka sebagai dewa. Dia sangat mengagumi djAnGgo 285 . Aku ingin ini terjadi sebab aku ingin kau aman. ujung jariku hanya satu sendti dari figur-figur di kanvas itu. Marcus. Dia menemukan kedamaian yang luar biasa disana. Menunggu.

Mereka mencoba membujuknya. begitulah mereka menyebutnya. Tapi mengingat monster telah menjelma menjadi makhluk dongeng. dan dia berusaha mempengaruhi mereka. “Dia tidak menemukan siapa-siapa untuk waktu yang lama. seolah-olah dia salah satu dari mereka. tapi mereka tetap berusaha memulihkan ketidaksukaan Carlisle terhadap ‘makanan utamanya’. kau tahu. Karena itu Carlisle memutuskan untuk mencoba Dunia Baru. Dan meskipun hasratnya untuk menjalin persahabatan tak terelakkan lagi. keduanya sama-sama tidak berhasil. dia tak dapat mempertaruhkan identitasnya. kehalusan budi bahasa mereka. Dia sangat kesepian. dia mendapati dirinya dapat berinteraksi dengan manusia. Dia mulai menerapkan metode pengobatan. djAnGgo 286 .keberadaban mereka. Dia berkhayal menemukan yang lain seperti dirinya.

Itu sebabnya perlu sepuluh tahun bagiku untuk menentang Carlisle. jadi aku bertanya. menyeramkan sekaligus mengagumkan bagai dewa muda. memelan.” Aku gemetaran.” “Kenapa tidak?” “Kurasa… kedengarannya masuk akal. aku bisa mengetahui ketulusannya yang sempurna. dan tahu aku sebatang kara. kalau aku menyelamatkan gadis itu. aku memiliki jiwa pemberontak khas remaja. Aku samar-samar menyadari kami sedang menuju rangkaian anak tangga selanjutnya. gadis yang ketakutan. tampak enggan menjawabnya.” ia menyimpulkan. dia bekerja bermalam-malam di sebuah rumah sakit di Chicago. Edward tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kami berjalan menyusuri lorong. mengerti benar mengapa dia hidup seperti itu. Dia tak sepenuhnya yakin terjadinya perubahan dalam dirinya. “aku memiliki kemampuan mengetahui apa yang dipikirkan orangorang di sekitarku. “Hampir selalu. “Itu tidak membuatmu takut?” “Tidak. Jadi aku pergi seorang diri selama beberapa waktu. Dan Edward. dan aku marah padanya karena telah membatasi seleraku. Diam-diam matanya menerawang ke jendela-jendela di sebelah barat. dia akan menciptakannya. Dan dia benci mengambil hidup seseorang seperti hidupnya telah diambil. Karena aku mengetahui pikiran mangsaku. dan dia nyaris memutuskan untuk melakukannya. “Apakah sejak saat itu kau selalu tinggal bersama Carlisle?” tanyaku. terserah bagaimana kau menyebutnya. Ia bisa merasakannya. “Sejak kelahiran baruku. nyaris berbisik sekarang. bertanya-tanya apakah aku akan pernah mendengarkan kisah yang lainnya. senyuman malaikat yang lembut menghiasi wajahnya. lebih keras daripada sebelumnya. lorong pada malam hari.” gumamku. maka tentunya aku tidak sejahat itu. Tak ada harapan untukku. “ Well. Aku menoleh memandang dinding yang dipenuhi gambar itu. Dia telah merawat orangtuaku. “Hampir selalu?” Ia mendesah. bukannya ketakutan. Kupikir aku akan terbebas dari… depresi… yang menyertai hati nurani. aku dapat mengabaikan yang tak bersalah dan mengejar hanya yang jahat. berhubung dia tak bias mendapatkan teman. jadi dia merasa ragu. Aku menungguu dalam diam. Aku bertanya-tanya apa yang mengisi pikirannya sekarang. Edward yang sedang berburu. di lorong berpanel lainnya. Kalau aku mengikuti seorang pembunuh di lorong tempat dia membunuh seorang gadis muda. Aku tidak menyukai caranya berpantang. tapi aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku.” “Sungguh?” Aku terpancing. tak djAnGgo 287 .“Ketika epidemi influenza merebak. baik manusia maupun bukan manusia. “Dan sejak itu hidup kami sempurna. Dalam pemikiran itu dia menemukanku. Kami sekarang berada di anak tangga teratas. Ketika ia kembali padaku. aku dibiarkan berbaring di bangsal bersama orang-orang sekarat. laki-laki di belakangnya. Bertahun-tahun dia telah mempertimbangkan sebuah gagasan dalam benaknya. membayangkan terlalu jelas apa yang digambarkannya. kenangan Carlisle ataukah ingatannya sendiri. “Hanya butuh beberapa tahun sampai aku kembali pada Carlisle dan berkomitmen pada visinya. Dia memutuskan untuk mencobanya…” Suara Edward. sekitar sepuluh tahun setelah aku… dilahirkan… diciptakan. seperti yang seharusnya kurasakan.” Ia meletakkan tangannya di pinggangku dan menarikku bersamanya sambil berjalan ke arah pintu.” Ia tertawa.

ataukah lebih ketakutan daripada sebelumnya? “Tapi sejalan dengan waktu. tak peduli apapun alasannya. Dan akupun kembali kepada Carlisle dan Esme. Mereka menyambutku secara berlebihan. aku mulai melihat monster dalam diriku. Lebih daripada yang layak kudapatkan.terhentikan.” Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu. “Kamarku.” ia memberitahu. membuka dan menarikku masuk. djAnGgo 288 . Aku tak dapat melarikan diri dari begitu banyak kehidupan manusia yang telah kuambil. Apakah gadis itu berterima kasih.

“Bagaimana kau menyusunnya?” aku bertanya. Tidak ada tempat tidur. Ia berhenti. namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. setengah membungkuk. dan ia sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. “Kau seharusnya tidak mengatakan itu. Ia tergelak dan mengangguk. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. “Mmmm. alisanya terangkat. Ia mengambil remote dan menyalakan stereonya. jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD.” aku berbohong. Setelah kau mengetahui semuanya. ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku. nyaris menyentuhku. Sekonyong-konyong ia menggeser posisinya. “Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit. dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap. Sebenarnya. balas tersenyum. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga. Aku berbalik. djAnGgo 289 . lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu. “Perlengkapan audio yang bagus?” aku mencoba menebak. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Sekonyong-konyong aku mendapati diriku melayang. “Aku benci menghancurkan harapanmu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Aku melihat-lihat koleksi musiknya. tersenyum samar. terlalu cepat.” ia tergelak. senyumnya memudar dan dahinya berkerut.” kataku. berdasarkan tahun. Ini membuatku… bahagia. Ternyata aku menyukainya. Lengannya membentuk sangkar baja di sekeliling tubuhku. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. dan ia mengangguk. aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Tapi aku toh terengah-enga saat mencoba memperbaiki posisiku. kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding.” Ia mengangkat bahu. kan?” aku menebak. Tapi kemudian. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik. “Aku senang.Kamarnya menghadap ke selatan. Ia tidak mendengarkan. Aku khawatir ia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. “Kau tidak akan melakukannya. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih. Ia mengeram dengan suara pelan. aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan. dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. menatapnya nanar. Aku mundur darinya.” Aku tidak melihatnya melompat ke arahku. tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. Suaranya pelan. tegang seperti singa yang siap menerjang. hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang.” katanya setengah melamun. bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. jelas-jelas tidak percaya. “Apa?” “Aku tahu aku akan merasa… lega.

sangat menakutkan. Aku menatapnya ngeri. kesinisanku sedikit melunak karena terengahengah.” Aku berusaha bangkit. tapi sepertinya ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya.Ia tidak membiarkanku. rahangnya melemas ketika ia tersenyum. “Boleh aku bangun sekarang?” djAnGgo 290 . “Kau monster yang sangat. “Jauh lebih baik. “Mmm. “Apa katamu tadi?” ia berpura-pura mengeram. matanya berkilat-kilat penuh canda. dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi.” ia menyetujuinya.” kataku.

“Kedengarannya kau akan memangsa Bella untuk makan siang.” Aku tak mungin mengecewakannya. “Tidak. tapi ia ragu. “Mmm.” Alice melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri ballerina manapun. ekspresinya agak terkejut. “Perlukah?” Jasper bertanya pada Alice.” goda Jasper.” Edward masih menahan tawa. djAnGgo 291 . sampai aku menyadari Edward tersenyum. Kau mau ikut?” Ucapannya terdengar cukup biasa. kita akan kemana?” “Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball.” “Kalau begitu.” seru Alice. Mata Edward berkilat-kilat. Ia menatap wajah Edward. dan Emmett ingin bermain baseball. kelihatan senang. dan aku bertanyatanya apakah ia sdang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa. Pipiku merah padam. nyaris menari. bagus.” Aku memutar bola mataku. Meskipun kusimpulkan Alice lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. entah karena komentar Alice atau reaksiku.” Alice terdengar cukup yakin. ke tengah ruangan. kau akan tahu kenapa. “Apa kau ingin ikut?” Edward bertanya padaku. Sebaliknya Jasper berhenti di pintu. “Sebenarnya. Aku berjuang melepaskan diri. rasanya aku tak ingin berbagi. wajahnya bersemangat. “Kami yang akan bermain baseball. dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi. Sepertinya aku melihat Jasper melirik ke arahnya. Akan cukup kering di hutan.” ujar Alice. Alice sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. bukannya ketakutan. gerakkannya sangat anggun. dengan seenaknya memelukku lebih dekat. Aku bisa melihat bahwa itu Alice. aku tak dapat mengatakannya.” ejeknya. “Alice bilang akan ada badai besar malam ini. Aku mendapati diriku bersemangat. “Tentu saja kau harus mengajak Bella. tapi konteksnya membuatku bingung.” Edward meralat. “Boleh kami masuk?” terdengar suara lembut dari lorong.” Seperti biasa.Ia hanya tertawa. dan mereka langsung berlalu. tersenyum sambil memasuki ruangan. Jasper berhasil menutup pintu tanpa bersuara. “Kita akan main apa?” tanyaku. “Ayo kita lihat apakah Carlisle mau ikut. tapi Edward nampak santai. “Silahkan. “Tentu. ia berjalan.” jawabnya. “Seperti kau tidak tahu saja.” kata Jasper. “Badai akan menghantam kota. di pintu masuk. semangat dalam suara Jasper menular. “Kau akan menonton. tapi Edward hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya.” ia berjanji. “Vampir suka baseball?” “Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau. Tubuhku langsung kaku. dan Jasper berdiri di belakangnya. “Maaf. “Apakah aku akan memerlukan payung?” Mereka tertawa keras.

djAnGgo 292 .

Wajah Billy diam bagai patung ketika Edward memarkir trukku. berhati-hatilah. “Segera. Meskipun begitu. “Oh. kemarahannya langsung lenyap. Kemudian aku melihat mobil hitam. Anak itu tidak tahu apa-apa. “Jacob tidak jauh lebih muda daripadaku.” Aku menyapa mereka seceria mungkin. Ford using. sekilas mengecup pangkal rahangku. Aku akan kembali sekitar senja. ” kau masih harus mempersiapkan Charlie untuk bertemu pacar barumu. Jantungku melompat tak keruan. memamerkan seluruh giginya. “Charlie pergi seharian. kuharap kalian belum terlalu lama menunggu.17. lebih ketakutan daripada marah.” usulku. Setelah kau menyingkirkan mereka”.” “Kau tidak perlu pergi. dan mendengar Edward menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Hai. “Ini sudah kelewatan. Aku mengerang. membalas tatapan Billy yang menembus hujan dengan mata menyipit. Aku terkejut karena ia menyetujuinya. Hingga saat itu aku sama sekali tidak ragu ia akan terus menemaniku semantara aku menghabiskan waktu sebentar di dunia nyata. “Terima kasih banyak. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku ketika aku setengah berlari menembus gerimis menuju teras.” kataku sedih. Mtanya yang berwarna hitam memandangku tajam.” “Kau mau membawa trukku?” aku menawarkan. sambil membayangkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Charlie dimana trukku berada. Tatapan tajam Edward membuatku waswas. “Barangkali itu yang terbaik. Billy.” perintahnya. Aku merasa lemas dan sekaligus lega bahwa Charlie belum pulang.” ia berjanji. djAnGgo 293 .” “Ia menyunggingkan senyumnya yang kusuka. “Ajak mereka masuk. kemudian ia membungkuk.” Aku sedikit kesal karena ia menyebut Jacob anak . Edward hanya mengangguk. “Aku akan segera kembali. ia melemparkan tatapan kelam ke arah Jacob dan Billy. “jadi aku bisa pergi. Jacob mengawasi. dan ia mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya. Aku mendesah dan meletakkan tanganku di pegangan pintu. Suara Edward yang dalam terdengar marah.” “Belum lama. “Hei. Permainan Gerimis baru saja mulai ketika Edward berbelok menuju jalanan rumahku. aku tahu. Jacob.” aku menekankan kata itu sambil membuka pintu dan berdiri di bawah hujan. Matanya kembali melirik teras. Ia memutar bola matanya.” Ia tersenyum lebar.” “Dia datang untuk memperingatkan Charlie?” aku menebak.” sahut Billy tenang. “Aku bisa berjalan pulang lebih cepat daripada truk ini. “Sebenarnya memang tidak perlu.” ia meyakinkanku dengan senyuman. suaranya pelan dan parau. tampak Jacob Black berdiri di belakang kursi roda ayahnya. ekspresinya mematikan. Ia memandangku. dan aku memandang ke teras.” aku mengingatkan. diparkir di pelataran parkir Charlie. Berteduh dari hujan di teras depan yang beratap rendah. Ia tersenyum melihat ekspresiku yang muram. “Biar aku yang mengurusnya. Wajah Billy tak lagi datar.

“Masuklah sebentar dan keringkan dirimu. meskipun tak tahu apa isinya.” Ia menunjuk kantong cokelat di pangkuannya.” Aku berpura-pura tidak menyadari tatapannya yang tajam saat membuka pintu. “Terima kasih. dan menyuruh mereka berjalan menduluiku. djAnGgo 294 .“Aku hanya mau mengantar ini.” kataku.

aku mengetahuinya. “Mengapa kau tidak mengambil gambar Rebecca yang baru di mobil? Aku juga ingin memberikannya pada Charlie. berbalik untuk menutup pintu. “Masukkan ke kulkas.” kembali aku menjawab dengan ketus. tapi ia menunduk menatap lantai.” aku cepat-cepat berbohong.” Ia mengangkat bahu. “Tapi reputasi itu tidak bisa dibenarkan.“Mari. “Kau kelihatannya.” ujarku tegas.” “Kau benar. tapi tidak mengatakan apa-apa. “Dia ke tempat baru. Tapi aku tidak tahu dimana.. Aku memandangnya. alisnya bertaut. Kumasukkan kantong itu ke rak teratas kulkas yang sudah penuh.” “Ya. dan ia bertekad membawa lebih banyak ikan malam ini. matanya waspada.” timpalku. “Kurasa kau perlu mencari-cari di bagian bawah. Setelah beberapa saat. Aku mendesah dan melipat tanganku di dada. djAnGgo 295 .” aku mengulanginya. “Rasanya aku melihatnya di bagasi. Aku menunggu. kesukaan Charlie.” katanya.” jawab Billy.” “Bukan. keheningan itu mulai terasa menjengahkan. “Charlie salah satu sahabatku.. kemudian ragu-ragu. “Aku kehabisan cara baru untuk mengolah ikan. “Memang benar.” ujarku memberi isyarat. “Bella. matanya berbinar.” Suaraku nyaris kasar. masih mengamatiku. diam.. “Terima kasih.” aku menawarkan diri.” ia menyetujuinya. “Sekali lagi terima kasih untuk ikan gorengnya. “Di tempat memancing yang biasa? Barangkali aku akan kesana menemuinya.” Hati-hati ia mengucapkan setiap kata dengan suara bergemuruh. Ia sepertinya bisa merasakan bahwa aku sudah tak ingin berbasa-basi lagi. “Barangkali ini bukan urusanku. Billy dan aku berhadap-hadapan dalam hening. Kubiarkan diriku memandang ke arah Edward sekali lagi. Ia sedang menunggu. ya kan?” Bisa kulihat ucapanku yang mengingatkannya pada kesepakatan yang mengikat dan melindungi sukunya telah membuatnya bungkam.” “Memancing lagi?” Billy bertanya. Aku bisa mendengar decit roda kurisnya yang basah di atas lantai linoleum ketika mengikutiku.” “Sebenarnya.” katanya.. “Charlie pulang larut.” “Ya.” Alisnya yang beruban terangkat mendengar nada suaraku.” “Dimana?” Jacob bertanya. Kulkas akan membuatnya lebih kering. Ia mengangguk setuju. “Jake.” Jacob kembali menembus hujan. “Bella. tapi keluarga Cullen punya reputasi yang tidak bagus di reservasi kami. jadi aku berbalik menuju dapur. “Keperhatikan kau menghabiskan waktumu dengan salah satu anak keluarga Cullen. wajahku menegang. Wajahnya yang keriput tak dapat ditebak. Ia terus mengangguk. bukan begitu? Karena keluarga Cullen tidak pernah menginjakkan kaki di reservasi. Matanya menyipit. suaranya murung. “Isinya beberapa potong ikan goreng buatan Harry Clearwater. biar kusimpankan untukmu. matanya serius. “Itu memang bukan urusanmu. “Barangkali kau tidak mengetahuinya. dan itu membuatnya berpikir. dan berbalik menghadapnya. namun kali ini bersungguh-sungguh.” katanya lagi.” Billy mengingatkan ketika menyerahkan bungkusan itu padaku. tapi menurutku itu bukan ide yang bagus.” Ia menyadari perubahan ekspresiku. Ia terkejut.

” Aku menatapnya. “Mungkin. tapi sorot matanya tajam.cukup tahu tentang keluarga Cullen. djAnGgo 296 .” ia mengalah. Lebih tahu daripada yang kuduga. “Apakah Charlie sama tahunya seperti dirimu?” Ia sudah menemukan kelemahan pertahananku.” Ia mengerucutkan bibirnya yang tebal sambil memikirkannya. “Bahkan mungkin lebih tahu daripadamu.

” timpalku. “Hebat. kukenakan atasan flanel usang dan jins. “Oh. di dalamnya tak lain hanya rasa peduli terhadapku. Jacob terkejut.” Aku menatap matanya.” “Well.” Billy mengingatkanku. Aku melambai sebentar. Saat aku berkomunikasi pada apa yang akan terjadi. Wajahnya menekuk. Ia mempertimbangkannya sementara hujan mengguyur atap. Aku diam di tempat. Telepon berbunyi dan aku lari menuruni tangga untuk mengangkatnya. mendengarkan suara mobil mereka menjauh meninggalkan pekarangan.” akhirnya ia menyerah. “Jaga dirimu. “Maksudku. Bella. Segera saja aku menyerah memilih pakaian. tak yakin apa yang menantiku malam ini.” aku buru-buru menimpali.” desaknya. Setelah ketegangan itu sedikit memudar. “bahwa kami mampir.” Billy bergumam.” Keluhan Jacob mencapai kami sebelum dirinya sendiri. jangan lakukan apa yang sedang kaulakukan. Ketika ia berbelok di sudut. Aku berdiri di lorong sebentar.” Billy menjelaskan sambil meluncur melewati Jacob. “Halo?” tanyaku. menunggu kejengkelan dan kekhawatiranku lenyap. Bella. Aku mencoba beberapa atasan berbeda. “Terima kasih. maksudku. Ekspresinya tidak senang. “Oke. “Kurasa itu urusanmu juga. “Ya.” Aku mendesah lega.“Charlie sangat menyukai keluarga Cullen.” “Akan kusampaikan. aku pergi ke lantai atas untuk mengganti pakaian. beritahu Charlie”.” Jacob tampak kecewa.” “Tentu. “Gambar itu tak ada dimanapun di mobil. aku mulai bersiap-siap untuk tidak merasa takut sebelumnya. satu-satunya suara yang memecah keheningan. kurasa sampai ketemu nanti. “Itu bukan urusanku. Sekarang setelah tak lagi dibawah pengaruh Jasper dan Edward. dan aku melompat mendengarnya. “Kita sudah mau pergi?” “Charlie akan pulang larut. “Tapi mungkin urusan Charlie.” katanya. Saat itu juga pintu depan terbanting keras. Jacob membantu ayahnay melewati pintu.” “Pikirkan saja apa yang kau lakukan. kemudian menutup pintu sebelum mereka berlalu.” sahutku membentengi diri. sambil melirik trukku yang sekarang sudah kosong. Tapi aku tahu kalau ia ingin berbicara denganku.” gumamku. Bella. Tapi sepertinya ia mengerti. yang baru saja lewat jadi tidak penting. “Bella? Ini aku. Billy. “Hmm. “Well. Aku tak menyahut.” Jacob memutar-mutar bola matanya secara dramatis. entah aku menganggap itu urusan Charlie atau tidak. tapi tidak terkejut. tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan memutar kursi menghadap anaknya.” “Meskipun lagi-lagi itu adalah urusanku. ya kan?” Aku bertanya-tanya apakah ia bahkan mengerti pertanyaan yang membingungkan itu selagi aku berusaha untuk tidak mengatakan apapun yang mencurigakan. djAnGgo 297 . lagipula aku toh bakal mengenakan jas hujan semalaman. yang lainnya akan membuatku kecewa. Hanya ada satu suara yang ingin kudengar. “Kurasa aku meninggalkannya di rumah. terengah-engah. Billy berhenti sebelum melanjutkan kata-katanya. dan tak ada yang bisa kukatakan.” kata Jessica. barangkali ia langsung muncul saja di kamarku. Ia jelas memahami bahwa aku berkelit. bagian pundak bajunya tampak basah kuyup karena hujan dan air menetes-netes dari rambutnya.

“Bagaimana pesta dansanya?” “Asyik banget!” sembur Jessica. Rasanya seperti berbulanbulan bukannya berhari-hari sejak terakhir aku berbicara dengan Jessica. Jess. Aku menggumamkan mmm dan ahh pada saat yang tepat.” Sejenak kukerahkan diriku untuk kembali ke dunia nyata. hei. Tak perlu dipancing lagi. tapi tidak mudah djAnGgo 298 . ia langsung menceritakan detail demi detail tentang malam sebelumnya.“Oh.

sungguh. ayahmu ada. Sampai ketemu di kelas Trigono. sekolah. Jess. sebenarnya. “Kupikir kau menyukai keluarga Cullen?” “Dia terlalu tua untukmu.. “Hai. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja. Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. kita ngobrol besok. Atau mungkin ia kecewa karena aku tidak menanyakan detailnya.. bisa dibilang aku punya kencan dengan Edward Cullen malam ini. masih jengkel karena aku kurang menyimak. Charlie menikmati makanannya.” Ia berhenti.” kataku. yang rambutnya cokelat kemerahan. dan aku bisa mendengar Charlie menimbulkan suara gedebakgedebuk di bawah tangga.. “Oh. “Dad. makan dalam diam. “Oh ya?” Mata Charlie berbinar-binar. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria. “Oh..” “Akan kuambil beberapa sebelum membeku. Mataku terus menatap jendela. mencoba mengukur cahaya di balik awan tebal itu. “Apa yang kaulakukan hari ini?” tanyanya.” “Apa yang kaulakukan disana?” Ia tidak mengambil garpunya lagi. “Well. “Tidak ada. tak yakin apa lagi yang harus kuceritakan. Ia sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring. Dad?” Kelihatannya Charlie mengalami penyempitan pembuluh darah. djAnGgo 299 . “Maaf. “Well. Dengan putus asa aku membayangkan bagaimana melaksanakan tugasku. kau baik-baik saja?” “Kau berkencan dengan Edward Cullen?” gelegar Charlie. apa?” “Kubilang. yang seperti dewa.” kataku. apa yang kaulakukan kemarin?” tantang Jessica. “Mana ikannya?” “Aku meletakkannya di freezer. Aku hanya berjalan-jalan di luar menikmati matahari. kaget.. Aku melambai padanya. “Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Cullen. “Edwin itu yang mana. Billy mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini. “Mmm. “Yeah. Dad. Bella?” tanya Jess jengkel. Cullen?” ia bertanya. berjuang memikirkan cara untuk mengangkat masalah itu.” aku meralatnya. O-Oh.” Bukan sepanjang sore..” “Sampai ketemu. Mike menciumku! Kau percaya?” “Itu bagus.” Yang tampan. meletakkan peralatannya. ya?” “Edward adalah yang paling muda.” Aku menutup telepon.. itu” -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya. tapi perutku seperti berlubang. meskipun ia lebih benar dari yang diduganya. “Itu kesukaanku. “Rumah dr. “Apa kau pernah mendengar kabar lagi dari Edward Cullen?” Pintu depan dibanting.” Charlie menjatuhkan garpunya. Nak!” seru Charlie saat berjalan ke dapur. Jess. semuanya terdengar sangat tidak sesuai dengan saat ini. membuyarkan lamunanku. “Kami sama-sama murid junior. sore ini aku di rumah saja.” Aku mendengar suara mobil Charlie di garasi. dan ia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya. “Tunggu.” Aku berusaha terdengar bersemangat. Jess mendengar suara Charlie. “Kaudengar apa yang kukatakan.” serunya marah. well. Tak apa. Mike.” Aku tagu. “Jadi. “lebih baik. “Hei. pesta dansa. Jessica..untuk berkonsentrasi.” Charlie membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam.

tidak?” djAnGgo 300 . Dad.” “Ya. dewasa untukmu.kurasa. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar... Apakah Edwin ini pacarmu?” “Namanya Edward. tapi dia kelihatan terlalu.

” Faktanya. “Ayo masuk. kau tahu.” Wajahnya cemberut. “Ya. “Well. Ayo kita pergi. dan Edward ikut tertawa.” “Silahkan duduk.” “Terima kasih. Sir. Kepala Polisi Swan. “Kaujaga putriku baik-baik.” Ia menatapku jengkel saat mengunyah. aku bisa mencucinya malam ini. kusimpankan jaketmu.” “Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini. ia mungkin saja mendengarkan.” ia mengamatiku curiga. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya.” Tapi ia mengambil garpunya lagi. aku akan mengantarnya pulang sebelum larut. Edward berdiri di bawah bias lampu teras. Edward.” Edward berjanji. kudengar kau mau mengajak putriku menonton pertandingan baseball. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. Edward dengan luwes duduk di kursi satu dudukan. Edward. “Oh. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku. oke?” “Kapan dia akan kemari?” “Dia akan tiba sebentar lagi. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. Lagipula. “Lagipula. Charlie. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya. “Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang.” Bel pintu berbunyi.” sahut Edward dengan suara penuh hormat. kemudian akhirnya tergelak.“Kurasa bisa dibilang begitu. “Terima kasih. “Aku mendesah dan memutar bola mataku. kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu. jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu. oke?” djAnGgo 301 .” Charlie tertawa. “Well.” Aku mendesah lega ketika Charlie menyebut namanya dengan benar. Dad. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar. hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak.” Aku meringis. Sini.” Aku bangkit berdiri. barangkali kebanyakan aku menonton. “Jadi. di sebelah Charlie. “Jangan pulang terlalu larut. Edward tidak tinggal di kota. Kau sudah terlalu memanjakanku.” “Jangan khawatir. “Kau bermain baseball?” “Well.” lanjutku. Bell. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. panggil saja aku Charlie.” Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Ia mengedip di belakang Charlie. “Tinggalkan saja piring-piring itu. “Oke. tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan. Mereka mengikuti.” “Dia akan mengajakmu ke mana?” Aku mengeram keras-keras. “ini baru tahap awal.” “Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini. dan Charlie berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. “Sudah cukup menertawakanku. memaksaku duduk di sofa. begitulah rencananya.” Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Sir.

“Dia akan aman bersamaku. Mereka tertawa.Aku mengerang. dan Edward mengikutiku.” Charlie tak bisa meragukan ketulusan Edward. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaku. tapi mereka mengabaikanku. Sir. aku janji. djAnGgo 302 . yang terdengar pada setiap kata-katanya.

atau buruk?” tanyaku hati-hati.” jelasnya. pepohonan membentuk dinding hijau pada ketika sisi Jeep. Atapnya merah mengkilat. tapi entah bagaimana ia menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Edward yang menyentuh leherku. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan. “Ini.” Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan. kemudian mengerang. dan langit tampak lebih terang di balik awan.” “Ini punya Emmett..” sahutnya tercekat. “Ini semua untuk apa?” tanyaku ketika ia membuka pintu. aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. mmm. Edward mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. “Keduanya. di belakang trukku. tapi tidak mudah. kita harus jalan kaku dari sini. “Maaf. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa Charlie tidak terlalu jelas melihat kemari. “Itu perlengkapan keselamatan off-road. Kami berlalu meninggalkan rumah. Kemudian kami tiba di ujung jalan. melawan rasa panik. Tapi terlalu banyak kaitan. kemudian mengangkatku dengan satu tangan. Ia mencondongkan tubuh mengecup keningku. “Kau harum sekali ketika hujan..” “Aku bakal mual.” Kugigit bibirku. “Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?” Suaraku naik beberapa oktaf. Ia mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. Ia mendesah.Aku berhenti tiba-tiba di teras.” “Di mana kalian menyimpan benda ini?” “Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi. “Dalam artian yang baik. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. selalu keduanya. setiap detik semakin pelan.” “Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?” Ia menatapku tak percaya. Kuharap Charlie tidak memperhatikan. Charlie bersiul pelan. Ia tersenyum tegang.” Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat. dalam langkah manusia normal. “Kenakan sabuk pengamanmu. kau akan baikbaik saja. Lalu aku tiba-tiba mengerti. Bella. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap. Meski begiut Edward kelihatannya menikmati perjalanan. Edward memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah.” “Oh-oh. Jeep-mu besar sekali. Hujan tinggal gerimis. bingung.. Aku menatapnya. Ketika ia beralih ke jok pengemudi.” djAnGgo 303 . “Kau tidak akan berlari. Ia mendesah.” “Pejamkan saja matamu. menyusuri tulang selangkaku. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik.. tersenyum lebar sepanjang jalan. karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. tampak Jeep berukuran sangat besar. Disana.

” protesku.” “Apa yang terjadi dengan semua nyalimu? Kau sangat luar biasa pagi ini. djAnGgo 304 . dan menuju sisiku dalam kelebatan. “Biar aku yang melakukannya.“Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja. Ia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.” “Aku belum melupakan pengalaman terakhirku.” Mungkinkah itu baru kemarin? Ia mengitari bagian depan mobil. kau terus saja.

. Bella!” ujarnya terengah-engah.” Ia memperhatikanku lekat-lekat.” gumamku. aku bersumpah.” Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. dan menciumku sepenuh hati. ya kan?” “Tidak. kan?” “Tidak. berusaha mengatur napas. “Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya. “Bella. Alice benar. tapi tak ada yang bisa kulakukan.” ia mengingatkan dengan nada kasar.” katanya. tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. “Kau masih khawatir sekarang?” gumamnya di atas kulitku. menyerah. Ia mengendus kemenangan dengan mudah. “Sialan. “Mual. bibirnya bergerak di bibirku. “.” Ia menahan senyum. Sungguh tak ada alasan untuk perilakuku. “Jangan lupa untuk memejamkan mata. menabrak pohon. “Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual.” Aku berusaha berkonsentrasi. Ia tergagap mudur. “Pepohonan. lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya. di bawah lenganku sendiri. “Sekarang?” Bibirnya berbisik di rahangku. dengan hati-hati. ia menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. Namun toh aku tak bisa menahan diri untuk tidak bereaksi seperti kali pertama. Kemudian dengan dua tangan ia meraih wajahku nyaris dengan kasar. aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku.” desahku.” aku mendesah. “Kau akan menjadi alasan kematianku. Ia mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya. “Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu.” ia berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya.” Sebelum aku bereaksi. bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya. Aku mendesah dan mengangkat bibirku. dengan mudah melepaskan cengkramanku. “apa tepatnya yang kau khawatirkan?” “Well. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Aku tak bisa melepaskan diri. Kemudian mual.. “Kaulihat. dan memejamkan djAnGgo 305 . Jelas aku mestinya tahu lebih baik saat ini. wajahnya hanya beberapa senti dariku. dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. Nyaris tak berembun sekarang ini. mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah. ia menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. “Semacam itu.” Menggunakan hidungnya. mm. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku. Ia mencondongkan tubuhnya semakin dekat. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. tapi aku mungkin.” geramnya. “Ya. dan sekarat.“Hmmm.” aku terengah. “Nah. dan bisa kulihat ia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku.” Ia mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur. Kemudian ia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku. memaksaku menempel ke pintu. “Kau tidak bisa mati. “Memanipulasi ingatanku?” tanyaku gugup. Aku cepat-cepat membenamkan wajahku di bahunya.” Aku berjongkok. kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon. Ia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh. Bukannya tetap diam dengan aman.” desahnya. ” aku menelan ludah. “Tidak. berhenti tepat di sudut mulutku. “Akankah kubiarkan pohon melukaimu?” Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.

Aku tergoda untuk djAnGgo 306 . Aku bisa merasakannya meluncur di bawahku. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak.mata. tapi ia bisa saja sedang berjalan di jalan setapak. gerakannya terlalu halus.

dan reaksi manusiaku yang tak terkendali. dan cukup yakin. mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku. “Ya. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah. “Sudah sampai. dan ia pun tertawa terbahakbahak. frustasi akan kelemahanku. jelas-jelas tak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. “Aku takkan pernah marah padamu.” Ia tergelak sebelum bisa menahannya. jadi hanya kau yang berhak marah?” tanyaku.” katanya lembut. “Tidakkah kau mengerti?” “Mengerti apa?” tuntutku. “Oh!” dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Aku bangkit berdiri. ” Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu.” “Kau berjalan ke arah yang salah. kami sudah berhenti. Bella. tapi ia menangkapku dengan cepat. “Jangan.. kelambananku. Ia menangkapku lagi. “Itu hanya pernyataan sesungguhnya. begitu juga kata-katanya. yang selalu kuinterpretaskan sebagai perasaan frustasi yang rasional. tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu. Ia menatapku tak percaya.. mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku.” “’Bella. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. alisku terangkat. aku mulai melangkah ke dalam hutan. “Kau mau kemana. kau akan menjadi alasan kematianku’?” aku mengingatkannya dengan nada sinis. seluruh selera humornya lenyap. Kadang kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. aku harus bisa. “Karena selalu membahayakan dirimu. hangat. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Bella?” Tiba-tiba ia tegang. mendarat di punggungku.” djAnGgo 307 .” Aku memberanikan diri membuka mata. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri. Aku harus lebih kuat. “Aku tidak marah padamu.” Aku berbalik tanpa melihat ke arahnya. Bella?” “Nonton pertandingan baseball.” aku berkeras. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai. “Jangan marah.. bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani. bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba. “Oh. ” “Aku tidak marah pada mu.mengintip. “Aku membangkitkan kemarahanku sendiri. dan berjalan mengentak-entak ke arah sebaliknya. Merasa jengkel. tapi aku menahannya. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku. aku tak dapat menahan diri.” “Lalu kenapa?” bisikku. Tidak bisakah kau melihatnya. Hati-hati ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku.. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain. hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya. “Kau marah. percaya.” “Tapi kau baru bilang.” Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi.

tapi itu masih benar.” katanya.Ia meraih tanganku. tapi aku tentu saja menyadarinya. dalam begitu banyak katakata. “Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan. djAnGgo 308 . memindahkannya dari bibirnya. Ia mungkin tidak menyadarinya.” Itulah pertama kalinya ia menyatakan cintanya padaku. “Aku mencintaimu. namun meletakkannya di wajahnya.

“Ayo. Rosalie yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami. cepat-cepat membalasku. “Itu memang dia. Esme. “Kaukah yang kami dengar tadi. aku lebih suka menjadi wasit. Aku diam tak bergerak. tatapannya bersemangat. Edward?” Esme bertanya sambil mendekati kami. Perutku langsung mual. di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. bukan?” kata Emmett dengan nada akrab. dan aku bertanya-tanya apakah ia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Aku tersenyum ragu-ragu kepada Esme. Aku mencoba terdengar bersemangat. berkilat-kilat. “Mau ikut turun?” Esme bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu. dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. Ia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter. “Kedengarannya seperti beruang tersedak. “Kalau begitu. kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu. Esme tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami. Aku bisa melihat yang lain semua ada disana. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. kumohon bersikaplah yang baik. kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya. mungkin jauhnya seratus meter. Emmett. sambil mengedip padaku. kemudian pecah di barat kota. gelisah. “Kau berjanji pada Kepala Polisi Swan akan mengantarku pulang tidak sampai larut. mesli begitu ia takkan pernah bisa dibandingkan dengan rusa. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku. “Kau siap bermain?” Edward bertanya.” Ia tersenyum sedih dan melepaskanku. menembus semak-semak yang basah dan padat.” Emmett membenarkan.” “Ya.” ia menjelaskan. “Sudah waktunya. Alice berlari bagai rusa. tapi aku tak melihat bolanya. aku suka menjaga mereka tetpa jujur. dan dengan cepat ia mendahului mereka. dan aku menyadari aku telah melongo menatap Edward. Rosalie telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu? Ketika kami sampai.” Edward menjelaskan. setidaknya jaraknya seperempat mil. Larinya lebih agresif. “Menyeramkan. gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan. Esme menghampiri kami. Alice telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari.“Sekarang. lebih mirip cheetah daripada rusa. Esme. kecuali satu tanganku. ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang. tim!” Ia mengejek dan. apakah mereka suka bermain curang?” “Oh ya. dan kami pun sampai.” “Bella tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu.” Alice meraih tangan Emmett dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Ia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. Emmet juga nyaris seanggun dan secepat Alice. Emmett mengikuti setelah lama menatap punggung Rosalie. setelah mengacak-acak rambutku. dan Rosalie bangkit berdiri. “Ayo. atau menari ke arah kami. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar. Kelihatannya Carlisle sedang menandai base. Emmett. Lalu mendesah. Ma’am. Begitu ia berbicara. “Anda tidak bermain bersama mereka?” tanyaku malu-malu. “Tidak.” ia melanjutkan. Luasnya dua kali stadion baseball. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Jasper dan Alice. mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali. kuharap kau tak perlu djAnGgo 309 . mengejar kedua saudaranya.” ia mengumumkan.

” “Anda terdengar seperti ibuku. aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak hal.mendengarnya. djAnGgo 310 . “Ia juga tertawa. “ Well. apakah Edward bilang bahwa aku kehilangan seorang anak?” “Tidak. kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala.” aku tertawa.” gumamku. terkejut. Aku tak pernah bisa menghilangkan naluri keibuanku. berusaha memahami kehidupan mana yang sedang diingatnya. terkejut.

dan aku tahu bahkan Edward pun akan mendengarnya. Anda tidak keberatan?” aku bertanya.” ia mendesah. suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. Emmett tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut. Edward berada jauh di sisi kiri lapangan. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. Esme menghentikan langkah. menggelegar. “Kaulah yang diinginkannya.” Ia tersenyum. Aku menatap tak percaya ketika Edward melompat keluar dari tepi pepohonan. kembali ragu-ragu. Carlisle berdiri diantara base pertama dan kedua. “tapi Edward berlari paling cepat. “Home run. “Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh. berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher. mendengarkan dengan saksama. “Edward putra baruku yang pertama. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. melayang menembus hutan yang mengelilingi. Dia meninggal hanya beberapa hari setelah dilahirkan. kau tahu. Jasper berdiri beberapa meter di belakangnya. Aku tersadar Edward menghilang. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan.” seru Esme lantang. “Out!” Esme berteriak lantang. “Bahwa aku. tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Jasper. meskipun dahinya berkerut waswas. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan. sebagai anggota tim lawan.“Ya. makhluk kecil yang malang.” Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. aku sedih melihatnya sendirian. katanya. Sayang. Bunyi pukulan itu menggetarkan. bagai serangan kobra. meskipun dia lebih tua dariku.” Ia tersenyum hangat padaku. dan kemudian. aku baru menyadari bahwa ia sudah disana.” Alice berdiri tegak. baru disebut strike. dan Alice memegang bola. setidaknya dalam satu cara. “Itu menghancurkan hatiku. itu sebabnya aku melompat dari tebing. bayi pertamaku dan satu-satunya. Ia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang.” ujarku terbata-bata. tangannya yang terangkat menggengam bola.. “Itu sebabnya aku senang dia menemukanmu. Kemudian tangannya mengayun lagi.” jelas Esme. “Apakah itu strike?” Aku berbisik kepada Esme. menggema hingga ke pegunungan. Gelegar petir terdengar lagi. seolah-olah tak bergerak.” ia memberitahu. djAnGgo 311 . “Ke posisi masing-masing. Entah bagaimana.” Ia tampak bersimpati.. Emmett mengayunkan tongkat aluminium. sangat tidak tepat untuknya?” “Tidak. satu tangan terangkat. “Edward hanya bilang Anda j-jatuh. tapi saat ia mengambil posisi. pasti akan ada jalan keluarnya.” Inning berlanjut di depan mataku yang keheranan.” Esme mengingatkan. lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Jasper melempar bolanya kembali pada Alice. Carlisle membayanginya. “Baik. sejauh apa pun posisinya. rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Alice tersenyum sebentar. senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku. Aku selalu menganggapnya begitu. Gayanya tampak licik daripada mengancam.” aku bergumam. Aku menunggunya menghampiri home base . “Selalu sang pria sejati. “Tunggu. aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. “Emmett memukul paling keras.” “Kalau begitu.” tambahnya terus terang. “Kalau mereka tidak memukulnya.

berusaha menghindari tangkapan sempurna Edward. Ia berlari cepat ke sisiku. wajahnya memancarkan rasa senang.” seru Esme dengan suaranya yang tenang. djAnGgo 312 . suaranya bagai tabrakan dua batu besar. ketika Edward menangkap bola ketika. Ketika mereka bertabrakan. Tim Emmett memimpin dengan skor satu. Aku melompat dengan waswas. tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka. “Safe.Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Jasper. memukul bola mati ke arah Carlisle. Carlisle lari mengejar bola dan kemudian mengejar Jasper ke base pertama. Rosalie melayang mengelilingi base demi base setelah Emmett berhasil memukul bola jauh-jauh.

Tiba-tiba Alice terkesiap. “Kenapa?” tanyanya.” Otot lengannya yang kekar tampak tegang. “Biarkan mereka datang. “Kurang dari lima menit. dengan suara dentuman yang menyakitkan telingaku. Alice ber-high five dengan mereka. Ia bermain pintar. Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut. “Aku agak kecewa.” bisiknya. Carlisle membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan. seperti biasa.” “Tiga. “Alice?” suara Esme tegang. “Aku tidak melihat. Sekarang giliran Carlisle memukul dan Edward menangkap. tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Alice. “Ada apa. Jasper mendekati Alice.” jawab Alice singkat. Alice?” Carlisle bertanya dengan suara tenang berwibawa. Petir terus bergemuruh. akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini. mereka ingin bermain. dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Alice. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru. Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku. Mataku tertuju pada Edward. “Tiga!” sahut Emmett meremehkan. “Tidak. Kadang-kadang Esme menyuruh mereka tenang. menjaga bola tetap rendah. hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu. bebalik menghadap Edward.” godaku. “Mereka mendengar kita bermain. sehingga dia dan Edward berhasil menyelesaikan putaran. seolah-olah ia bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan. jauh dari jangkauan Rosalie yang tangannya selalu siap di pinggir lapangan. djAnGgo 313 . melampaui dua base bagai kilat sebelum Emmett berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan.” gumamnya.” “Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya. matanya kembali berkilat-kilat memandangku. dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. menuju base. membuatku kehabisan napas. Semua sudah berkumpul. “Lagipula. “Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira.” katanya menyesal.” katanya.” Wajah Edward geram. bingung. aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. Mereka berlari. “Giliranku. “Yang jelas.” “Berapa banyak?” tanya Emmett pada Alice.“Bagaimana menurutmu?” tanyanya.” ia tertawa. “Apa yang berubah?” tanyanya. aku tak bisa mengatakannya. Ketegangan menyelimuti wajahnya. “Seberapa cepat?” Carlisle bertanya. “Well. dan itu membuat mereka berbelok. kemudian berpaling. tidak sambil menggendong. Edward sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Alice apa yang terjadi. ” Ia terdiam. posturnya protektif. “Kau bisa melakukannya?” Carlisle bertanya padanya.” Ia menyunggingkan senyumnya yang istimewa.

” akhirnya Carlisle memutuskan. Suaranya tenang dan datar. Carlisle berpikir. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya. “Mari kita lanjutkan saja permainan ini. “Alice bilang.Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya.” Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. mereka hanya penasaran. meskipun aku tak bisa djAnGgo 314 . Hanya Emmett yang tampak tenang. yang lain menatap wajah Carlisle dengan tatapan gelisah.

dan yang lain iktu bermain dengan setengah hati.” Dan dia pun berdiri di depanku. Bella. dan yang lain berpaling ke arah yang sama.” Edward berkata dengan nada suara rendah dan datar. matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. dengan waswas menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam.” Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya. “Itu takkan membantu. tepi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. “Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan. mata dan pikirannya menerawang ke hutan. Esme. tapi toh aku dapat menangkapnya. Rosalie. djAnGgo 315 . “apakah mereka haus. kumohon diamlah.” “Ya. “Uraikan rambutmu. Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku.mendengar apa yang sekarang Esme tanyakan pada Edward dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Detik-demi detik berlalu. aku menyadari mata Rosalie tertuju padaku. jangan bergerak dari sisiku. Emmett.” gumamnya marah. dan Jasper berdiri di tengah lapangan. Aku mematuhinya. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku.” Ia menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya. “Cukup untukku. Tak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. melepaskan ikat rambutku dan mengibaskan rambutku hingga tergerai. “Kau yang menangkap. Carlisle berdiri di base. mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. Carlisle. Edward sama sekali tidak memperhatikan permainan. dan Emmett. menutupi wajah. “Maafkan aku. sekarang permainan berlanjut tanpa semangat.” “Aku tahu.” Aku mendengar napasnya berhenti.” katanya.” gumamnya enggan. “Sungguh bodoh dan tak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Aku hanya melihat Edward menggeleng samar dan wajah Esme tampak lega. “Yang lain berdatangan sekarang. Ia menarik rambut panjangku ke depan. “Apa yang Esme tanyakan padamu?” bisikku. Ia ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. Ia setengah melangkah. jangan bersuara. memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang.” kata Alice lembut. Aku sungguh menyesal. Alice dan Esme tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri. Yang lain kembali ke lapangan. Tatapannya tanpa ekspresi.

entah mengapa tampak paling waspada. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Mata mereka juga berbeda. rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan. laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah Carlisle. dan mereka bertelanjang kaki. tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan. Langkah mereka pelan. Si perempuan lebih liar. Lakilaki kedua berdiri diam di belakang mereka. meskipun diam. bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Cullen. Perburuan Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan. Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur Carlisle yang elegan dan sempurna. Sambil masih tersenyum. anggun. Ia berdiri diapit Emmett dan Jasper. dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku. menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Postur tubuhnya sedang. langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. Para pendatang itu melangkah hatihati menghampiri mereka. mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. Matanya. membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai. rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. terpisah-pisah sejauh 12 meter. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan. rambutnya hitam mengkilap. dan tanpa komunikasi yang kentara. ototnya kekar. tapi kalah jauh dari Emmett. dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Edward.18. Ketika mereka mendekat. tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin. Kedua laki-laki itu berambut cepak. kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama. memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. Laki-laki yang pertama langsung mundur. Yang ketiga wanita. memamerkan gigi putihnya. djAnGgo 316 . Ia tersenyum ramah.

“Aku Laurent. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain.” “Tidak. di Olympic Range. tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Emmett dan Jasper. di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Ini keluargaku. kami baru saja selesai. wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. Carlisle membalas dengan sama ramahnya.” djAnGgo 317 . Carlisle mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa. “Disini. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?” “Kami sedang menuju ke utara.” Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Rosalie. “Aku Carlisle. “Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?” Laurent bertanya dengan sikap santai. Aku terkejut ia menyebut namaku. “Sebenarnya.” katanya santai dengan sedikit logat Prancis. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali.” Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya. kurasa Jasper menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.” Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai. “Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?” tanya Laurent ramah.“Kami kira kami mendengar permainan. Edward dan Bella. ini Victoria dan James. Esme dan Alice.

Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi. “Ceritanya agak panjang.” James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata ‘rumah’. “Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. “Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. Emmett dan Alice. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James. tubuh Edward menegang. dan sudah lama belum sempat membersihkan diri. “Apa ini?” Lauren blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. “Ya. James bergerak sedikit ke samping. Baik Edward maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar.” Carlisle menambahkan dengan tenang. “Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku. Perlahan James menegakan tubuhnya. Rambutku berantakan ditiup angin. Edward memperlihatkan giginya. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku. bengis. semata-mata hanya terkejut. mengamatiku. dan laki-laki kedua. tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan. menggeram penuh ancaman.”protes Laurent. “Kalian membawa snack?” tanyanya.” Senyumnya ramah. Edward tetap tegang bagai singa di hadapanku. dan sebagai jawabannya Edward sedikit bergeser.” Jawaban Carlisle yang tegas diarahkan langsung pada James.” Ia mengagumi penampilan Carlisle yang beradab. kalian bisa pergi bersama Edward dan Bella ke Jeep. ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan.” Carlisle menjelaskan. “Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami. James.” Laurent mengangguk. tapi tatapannya tak pernah lepas dariku. Kalian mengerti. Ketika Laurent bicara. “Tapi dia manusia. tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif. nada suaranya lembut. hidungnya mengendus-endus. kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga. Edward menggeram bahkan lebih menakutkan lagi. mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul.” Ia tertawa. balas siap menerkam. Lagipula. “Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario.” Emmett jelas-jelas membela Carlisle. tiba-tiba memutar kepalanya.” djAnGgo 318 . cuping hidungnya masih mengembang.Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan. tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya. “Tentu saja. “Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?” Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya. “Dia bersama kami. matanya tertuju pada James. Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika Carlisle bicara. kami baru saja bersantap di luar Seattle. “Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?” undang Carlisle. “Kumohon jangan tersinggung.

” Suara Edward pelan dan lemah. kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu. “Akan kami tunjukkan jalannya. James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. kami takkan melukai perempuan manusia ini. Bella. Seperti kataku.“Tentu. “Ayo.” Matanya bergantian menatap Carlisle dan aku. tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami. Sekali lagi ia bertukar pandang sekilas dengan Victoria. menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul.” Suara Carlisle masih tenang. “Dan. dan Emmett mundur perlahan. Esme?” panggilnya. djAnGgo 319 . tentu saja. Rosalie. Sesaat Carlisle mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. “Tapi kami ingin menerima undanganmu. Serta merta Alice sudah berada di sisiku. yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain. Jasper. Mereka mendekat.

Emmett dan Alice memandang saksama keluar jendela. Bella. “Emmett. Aku terus menundukkan kepala.” djAnGgo 320 . matanya terpaku ke jalan. dan meskipun laju kami bertambah cepat. Dan kami menuju ke selatan. jauh sekali.” Ia tidak menoleh ke belakang. “Tidak! Edward! Tidak.” “Aku harus. Dan Emmett mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat. berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini. aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. yang lain tak mau menjauh darinya. Aku berpegangan erat-erat saat ia bergerak. dan sama sekali saia-sia. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum.” Suaranya dingin. sekarang. Aku memberontak. bersembunyi selamanya!” “Tenanglah. “Sialan. menyembunyikan diriku. Bella. yang lain tak bisa mendahuluinya. “Kita mau kemana?” aku bertanya. Edward. Alice berbicara untuk pertama kali. Kemudian mesinya menderu dan kami bergerak mundur. dan Edward menyalakan mesin. “Menepilah. Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat. Edward menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti. kau tidak boleh melakukan ini. Alice dan Emmett berada dekat di belakang kami. Bahkan denganku di punggungnya. Ketidaksabaran Edward begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan. tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam. Edward mengayunkanku ke punggungnya tanpa menghentikan langkah. “Kembali! Kau harus membawaku pulang!” aku berteriak.Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama.” “Tidak akan! Kau harus membawaku pulang. Charlie akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu. menjauh dari Forks. Carlisle dan Esme! Mereka terpaksa harus pergi. “Tidak demi aku. sekarang kumohon diamlah. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. Bagai hantu mereka melesat menembus hutan yang kini kelam.” ia memerintahkan Emmett. dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Tak ada yang menjawab. Edward sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. berputar menghadapi jalanan yang berliku. tapi mataku yang membelalak ketakutan tak mau terpejam. Sesampainya di bawah naungan pepohonan.” kata Edward dingin. begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. Edward! Kemana kau membawaku?” “Kami harus membawamu pergi dari sini. tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!” Aku memberontak habis-habisan. “Pasangkan sabuk pengamannya. masih terkejut karena ngeri. yang menyelinap masuk ke sebelahku. digantikan amarah yang merasuki dan membuatnya bergerak lebih cepat. “Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya. Alice telah berada di jok depan. Aku berjalan tersandung-sandung di sebelah Edward. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini. Edward nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang. Kami tiba di jalan utama. Perasaan senang yang biasanya menyelimuti Edward ketika berlari kini lenyap sepenuhnya.

tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya. Alice. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku.” Nada suara Alice tenang. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115. aku ingin memahaminya. Edward.Edward menatapnya marah. dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. “Kau tidak mengerti. Jarum spidometer bergerak melewati 120. begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. kemudian menambah kecepatan. namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Dia pemburu. djAnGgo 321 . “Menepilah. tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!” Aku merasakan Emmett menegang di sebelahku.” ia mengerang frustasi.

” “Dan yang perempuan. Aku melihat pikirannya.” “Jumlah kita cukup banyak. secara spesifik.” Mereka menatapku. Dia memulai perburuannya malam ini. baru kita lari. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan. Bella. “Kita harus membawanya kembali. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu Charlie. Keheningan berlangsung panjang sementara Edward dan Alice saling menatap.” potong Edward. tapi Alice kelihatannya biasa-biasa saja. “Bisa saja berhasil. “Dia benar. terkesiap. “Aku juga bisa menunggu.” Emmett kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. sungguh.” “Dengar. aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Bella.” kata Alice pelan. “Bawa aku kembali. “Charlie! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!” Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk.” kata Alice.” aku memohon.” geram Edward. Edward. Dia bersamanya. Edward. pilihan.” “Tidak. “Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?” “Tidak. lain!” Emmett dan aku memandangnya terkejut.” Aku terkesiap. lebih drastis. “Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak.” “Dia bukan tandingan kita. Semua menatap Edward.” “Kau tidak mengerti. “Edward. ada.” bujuk Alice.” “Itu pilihan lain. “Bawa aku kembali. Dia takkan bisa menyentuhnya.” “Dia akan menunggu. dan terhempas lagi ke jok. Ia benar-benar mengabaikanku. “Dengar. dan kita tak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan.” Emmett akhirnya berbicara. “Itu sebuah pilihan. “Aku tidak melihatnya menyerang. Alice. akhirnya terpancing juga.” Alice berpikir sebentar. Alice memelototinya. menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya. Jeep sedikit melambat. Charlie takkan melaporkan keluargamu pada FBI.” sahut Edward mantap.” Emmett tersenyum. Alice. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau. suaranya mengeram. si pemimpin akan turun tangan juga. ” Edward menginterupsi. “Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara. Dia akan mencoba djAnGgo 322 . dia tak tergoyahkan. obsesinya. Berburu adalah hasratnya. Kukemasi barang-barangku. Sekali memutuskan untuk berburu.” kata Alice. “Tidak. akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. dan dia menginginkan Bella.” desis Edward. murka. “Tidak. “Terlalu berbahaya. Aku terdorong ke depan.” Keterkejutan Emmett jelas penghinaan. Aku memecahkannya. “Aku tidak akan meninggalkan Charlie!” teriakku.” Emmett tampak sangat percaya diri. dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol.“Lakukan. “Bukan ide yang buruk. Jeep kembali melambat. Edward berbalik padanya. dia takkan bisa mengalahkan kita. “Tidak ada pilihan. Aku memandang marah dan melanjutkan. Kita harus membunuhnya.” “Dia tak tahu kemana. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan. Kalian tahu itu.

menunggu kita meninggalkannya sendirian.” “Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi.” djAnGgo 323 .

” kataku. aku tidak mau. Beberapa menit berlangsung dalam keheningan. “Kalau besok kau tidak tampak di kota. Ceritakan apa saja agar dia percaya. tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. sekarang ia tak meragukannya lagi. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu. “kita tidak akan berhenti.” Edward mendesah.” Emmett menyela. terlihat terkejut lagi. suaranya terdengar terluka. aku ikut kau. “Kau akan pergi malam ini.” protesku. “Dia jelas menaruh perhatian pada Emmett.” katanya. kalau si pemburu tidak ada disana. kau tak tahan lagi berada di Forks. Kemudian dia punya waktu 15 menit. “Aku tak bisa melakukannya. Dia akan berpikir kau bersamaku. Edward sepertinya setuju. menatap lurus tanganku. Kami akan memastikan dia aman. dimanapun kau berada. kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu Carlisle. “Oh.” “Itu tak ada hubungannya. Ketika bicara. “Bella. “Kau akan membawanya pulang. suaraku jauh lebih pelan.” “Apa?” Emmett berbalik padaku. dan itulah yang terpenting.” “Tidak. Apapun masalahnya dengan Alice. Emmett. Suaranya terdengar pahit. kumohon lakukan saja dengan caraku. kau ambil truk Bella.” “Ya. “Kupikir dia benar. dia memang benar. Sepertinya Edward tidak mendengarku. Setelah dia keluar.” “Pikirkan lagi. Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. djAnGgo 324 . “Kalau si pemburu ada disana. Ia tidak mendongak.” Aku berusaha terdengar tegas. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Charlie bukan orang bodoh. Ia mendengarnya. kau berjaga di luar rumah.” kata Alice tenang. kecuali bunyi deru mesin. “Inilah yang akan kita lakukan. “Emmett.” Emmett melihat ke arahku. Katakan pada Charlie. “Kalian semua takkan muat di trukku. sekali ini saja.” ia melanjutkan perkataannya dengan muram.” Alice menimpali.” “Kita akan sampai disana sebelum dia. kemudian masuk ke trukmu.” kata Alice yakin.” Ia menatapku geram dari kaca spion. dia bakal curiga.” desaknya. Alice.“Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang. Edward menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.” Jeep menderu menyala. “Dengar. aku akan mengantarnya sampai ke pintu.” Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. “Emmett juga harus tinggal. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan. “Tidak akan.” “Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. “Edward.” Ia melepaskannya. Lalu Edward berbicara lagi. “Kumohon. Kemasi apapun yang bisa kau ambil. “Aku ikut kau. “Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri. Kau punya waktu 15 menit.” aku melanjutkan.” Suara Edward dingin.” aku berbisik.” “Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung. bannya berdecit-decit. “Emmett?” Aku bertanya. mengertakkan giginya. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. “Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?” Alice bertanya. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. dengarkan dia. maaf. Sesampainya di rumah Bella. dan ia memutarnya.

” “Aku tak bisa melakukannya. aku harus membiarkan Bella pergi sendirian?” “Tentu saja tidak.“Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal. djAnGgo 325 .” timpal Alice. “Menurutmu.” sahut Alice.” Edward mengulangi kata-katanya. Akal sehatnya mulai bekerja. Edward menatap Alice tak percaya. “Jasper dan aku akan membawanya. tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya.

Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. beberapa hari. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju. Biarkan Charlie melihat kau tidak menculikku. Alice dan Emmett memandang keluar jendela. “Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon. Edward.. dalam segala hal.” “Aku sepertinya menyukainya. Dia telah bekerja dengan sangat.” gumamnya tiba-tiba. kami akan menemaninya. kemudian Alice dan Jasper bisa pulang. apapun. dan mencoba untuk berani. “Tetaplah disini selama seminggu.Aku mencoba membujuk. menelan ludah.” katanya tidak sabar. Lalu datanglah dan temui aku.” Tentu saja. dia akan terluka. Meskipun ucapanku terdengar berani. dan buat perburuan James ini berantakan. “Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?” ia bertanya pada Alice. “Dan kalau itu tidak berhasil?” “Beberapa juta orang tinggal di Phoenix. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. “Tapi simpan opinimu untuk dirimu sendiri. ” aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku “.” “Oh?” tanyanya.” “Aku takkan pulang.” “Edward. senyumnya mengembang perlahan. “Kalau kau membiarkan sesuatu terjadi padamu. atau kau karena mencoba melindunginya. Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota.” Emmett tergelak. sendirian di rumah. Kau mengerti?” “Ya. djAnGgo 326 . Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan.” Emmett sedang memikirkan tentang menghabisi James. “Diam. tak diragukan lagi. Aku memikirkan Charlie.” “Bisakah kau menanganinya?” ia bertanya. Tentu saja ambil rute memutar. kemungkinan besar akan ada yang terluka.” “Dengar.” “Dia licik. Aku langsung meringkuk ketakutan. Edward tersenyum padanya. kalau kita mencoba membunuhnya sementara Bella masih disini.. aku akan menuntut tanggung jawab darimu. “Bella. “Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan. kalau kita menyerang disaat dia sendirian. Nah. Emmett. “Menemuimu dimana?” “Phoenix. tentunya. “Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri. sangat baik. “Apakah Jasper bisa menanganinya?” “Percayalah padanya.” aku memberitahunya.” dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dan si kecil Alice yang anggun menarik bibirnya lalu meringis mengerikan sambil mengeram parau. bisa kurasakan bulu kudukku meremang. “Tetap di dalam ruangan.” Aku bisa melihat Edward mempertimbangkan ideku.” sahutku.” Alice mengingatkan. Ia berpaling pada Alice.” Suara Edward terdengar sangat lembut. “Tidak. nada suaranya berbahaya. Aku benar.

djAnGgo 327 .

“Dia tidak disini. air mataku mengalir deras sekarang. duduk tegak di kursi mereka. Edward!” Aku berteriak padanya. Bella. “Ayo.” Ia mencondongkan tubuhnya.” “Masuklah.” Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Emmett.” katanya. “Aku akan selalu mencintaimu. “Pergilah. “Bella?” Charlie sedang bersantai di ruang tamu. berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut. “kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat. Perlahan Edward menepikan Jeep. mendengarkan setiap suara di hutan. suaraku pelan dan dalam. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Bella. mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Air mata memberiku inspirasi.” katanya pelan namun ceria. Bella. “Jangan khawatir.” isakku. tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini. jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin.” aku berbisik penuh hasrat.19. “Satu lagi. sama tajamnya. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama 1 jam ke depan. “Lima belas menit. namun bagaimanapun juga. Edward membukakan pintuku dan memegang tanganku. mengamati setiap bayangan.” “Takkan terjadi apa-apa padamu. dan sekarang ia bangkit berdiri. oke? Jaga Charlie untukku. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. tak peduli apa yang terjadi sekarang. mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka. dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya. menghirup setiap aroma. Perpisahan Charlie menungguku. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini. Aku berlari ke tempat tidur. Aku nyaris tak mengenalnya. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar. memarkirnya tepat di belakang trukku. Ini tidak bakal menyenangkan. dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun. Kita harus bergegas. membuatku sedih. Mesin dimatikan. Ia mengantarku dengan cepat ke rumah. “Alice.” Emmett meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman.” Suara Edward memerintah. Emmett. Aku menatap matanya lekat-lekat.” kata Edward tegang. Semua lampu di rumah menyala. membanting pintu dan menguncinya. ”Jangan ganggu aku!” aku berteriak padanya. langsung menghilang. matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.” kataku. djAnGgo 328 . “Aku bisa melakukannya. kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi.” ia mengingatkanku dengan berbisik. Mereka bertiga sangat waspada. “Jalankan saja rencananya. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan.” Suaranya mendesak. “Jangan dengarkan kata-kataku malam ini. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar ia mau membiarkanku pergi. “Aku mencintaimu.

tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku. dan Edward sudah ada disana. “Bella.” aku berteriak. kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Suaranya waswas. “Tidak!” jeritku. “Aku mau pulang. djAnGgo 329 . “Apakah dia melukaimu?” suaranya hampir marah. Aku berbalik ke lemari pakaian.Charlie mengedor-gedor pintu kamar. lalu melemparkannya padaku. memberi tekanan pada kata yang tepat.

Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri. memutar kenop pintu. “Bells. “Kupikir kau menyukainya?” Ia menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur.” bisiknya dibelakangku. lalu mengempaskannya. satu tangannya terulur ke arahku. “Biarkan aku pergi. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti Mom! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan Mom. Sudah malam. “Tidak!” jeritku. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik.” Ia benar-benar membuatku kesal. dan mendorongku ke pintu. Ia berdiri terlalu dekat. “Apa yang terjadi. “Dia menelepon ketika kau sedang keluar.” gumamku. djAnGgo 330 . Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka. dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan. Edward melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. masih terkejut setengah mati “ Renée akan kembali pada saat itu. “Apa?” Charlie melanjutkan dengan bersemangat. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi. Aku membuka pintu dan menghambur melewati Charlie. itulah masalahnya. Ia menghilang lewat jendela. “Aku akan tidur di truk bila mengantuk. “Aku memang menyukainya. Aku mengucapkannya semarah mungkin. kau tak bisa pergi sekarang. wajahnya syok. cengkramannya kuat. Aku benci. “Aku punya kunci. “Aku mencampakkannya!” aku balas berteriak. sambil menarik-narik resleting tasku.” Aku menggeleng. dan aku harus memikirkan keselamatannya. Tapi aku tak punya waktu. mereka akan kembali ke Arizona. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya. Ia memutar tubuhku menghadapnya. berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga. Ia berada tepat di belakangku. agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. Tangan Edward yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!” Ia melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. lalu membuka pintu. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh. lalu bergegas ke pintu. bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. Aku menatap geram pada ayahku. Carlie.” Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. “Semuanya kacau.“Apakah dia mencampakkanmu?” Charlie benar-benar bingung.” ia memohon. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku. Aku tidak menoleh. “Apa yang terjadi?” ia berteriak. berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya. air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan. pergi!” ia berbisik. “Aku akan menunggu di truk. Bella?” seru Charlie dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi. Meskipun ia masih bingung.” “Tunggu 1 minggu lagi. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa Charlie.

Charlie bergeming di ambang pintu. berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu. sementara aku berlari menembus malam. membayangkan bayangan gelap di belakangku. djAnGgo 331 . namun sadar aku takkan pernah sanggup. terpana. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah. sungguh membenci Forks!” Ucapanku yang jahat berhasil. “Besok aku akan menelepon!” aku berteriak. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka.oke? Aku sungguh.

“Bella. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Alice ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela. dan aku tahu ia berusaha mengalihkan perhatianku. “Si pemburu mengikuti kita. mataku membelalak ketakutan. dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. suaraku melengking. “Itu Emmett!” Ia melepaskan tangannya dari mulutku.” aku mengaku. sambil menunduk memandangi lutut. ini idemu.” kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi. “Si Pemburu?” “Dia mendengar akhir sandiwaramu. Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku. “Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari. menuju jalan tol utara. dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi.” “Jangan khawatir. “Bisakah kita meninggalkannya?” “Tidak.” Senyumnya pucat dan langsung lenyap. “Jangan lupa.” “Aku benar-benar bukan anak yang baik.” aku berkeras.” kata Edward geram. Aku menatapnya putus asa.” katanya seraya mempererat pelukannya.” Ia tersenyum sedikit. Benakku dipenuhi sosok Charlie yang berdiri di ambang pintu.Edward meraih tanganku. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik. Ia menarikku ke pangkuannya.” “Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu. semuanya akan baik-baik saja. Bella. Mesin truk menggeram. Ia memegang tanganku lagi.” Kami melesat melalui kota yang sepi.” ia menjelaskan. aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil.” bisikku. “Bukan itu maksudku. dan Charlie. “Kau akan aman. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. Dia akan memaafkanmu. Darahku bergejolak sesaat sebelum Edward membekap mulutku. mengabaikan perhatianku. “Kau takkan bisa menemukan rumahnya. telah lenyap di belakang kami. Sekarang ia berlari di belakang kita.” Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri. meskipun matanya tidak.” Tubuhku langsung membeku. dan ia melihat kepanikan di mataku. “Kenapa aku?” Ia menatap marah ke jalanan di depan kami. “Charlie?” tanyaku ngeri. “Itu tadi hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan Dad.” ia berjanji.” katanya berbasabasi. Aku memandang lewat kaca belakang. “Kenapa ini terjadi?” tanyaku. tentu saja ini ideku.” ia menenangkanku. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami.” katanya begitu rumahku. “Aku bisa mengemudi. “Semuanya baik-baik saja. “Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik. “Aku ada disana. melepaskan tanganku dari kemudi. “Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil. dan memeluk pinggangku. “Menepi. terutama akhirakhir ini. Trukku tidak oleng sedikitpun.” “Ini ide terbaik. “Ini salahku. memangnya kenapa? djAnGgo 332 .” Tapi Edward mempercepat mesin trukku sambil berbicara. “Itu cuma Alice.

” ia memulai dengan suara pelan. dia mungkin saja tidak terusik.” Suaranya masam. “Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan.. berpikir sebelum menjawab.Kehadiranku tidak mengganggu 2 yang lain. “Aku tak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuh ku? Ada orang dimana-mana. begitu dia melihatmu.. djAnGgo 333 . Sebagian adalah salahmu. kenapa aku?” Ia ragu-ragu. “Aku mendengarkan pikirannya malam ini. Tapi ketika aku membelamu.

Meskipun begitu dia takkan menyerang rumah kami. Satusatunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan.” “Apakah dia masih mengikuti?” “Ya. “Kupikir. itu membuat segalanya tambah parah. Tidak malam ini. Ini permainan favoritnya. dengan cara yang sama seperti terhadapku. jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku.. lalu membakarnya. Lampu-lampu di dalam menyala terang. mereka akan mencoba membunuhmu?” tanyaku. Mereka tidak punya ikatan kuat. Aku tahu kami semakin dekat. dia bisa saja membunuhmu saat itu juga. meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. dan baginya tantangan adalah satusatunya hal yang penting. “Kurasa. dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya. Aku harus bertanya sekarang.well... Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu. Kami menghambur ke ruangan putih luas. kumohon. tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Edward dan Alice berada di sisi kami.” kataku ragu-ragu. “Bella. dia bersama mereka hanya demi kemudahan. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang.” “Dua vampir lainnya. Dia menganggap dirinya pemburu.” Edward membelok ke jalanan yang tak terlihat. Ia berhenti sebentar. atau salah satu dari mereka.” “Tapi James dan wanita itu. ia menarikku dari jok. Aku tak yakin dengan Laurent.” Suaranya penuh kejijikan. bukan yang lain. dan membawaku berlari menuju pintu. djAnGgo 334 . suaraku gemetar.. apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?” “Yang perempuan ya. Emmett telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti.” katanya putus asa. “Bagaimana kau membunuh vampir?” Ia melirikku dengan tatapan yang tak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau.. pertarungan akan terjadi saat itu juga. Kami langsung menuju rumah. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu. “Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping. tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. kumohon.” Aku bergidik ngeri. Dia tak terbiasa dikecewakan. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. “Tapi seandainya aku tidak membelamu. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput. aromaku tidak sama bagi yang lain.” gumamnya. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya.” Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan. Alice mengikuti di belakang. “Carlisle takkan menyukainya.. satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. tidak seperti bagimu. meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang. aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang. usahakanlah jangan ceroboh. “Memang tidak.

” jawabnya.” “Bisakah kau menghentikannya?” Laurent menggeleng. “Maafkan aku. tampak marah. Laurent berdiri di tengah mereka. kemudian bergerak cepat ke sisi Emmett. bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tak terdengar. Matanya yang indah penuh cinta dan. Aku bisa mendengar geraman pelan Emmett saat dia mendudukanku di sisi Edward.” “Kami akan menghentikannya. Tak ada keraguan di balik maksud perkataannya. Rosalie mengamati mereka. itu justru memicunya.Semua ada disana.” Emmett berjanji. mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. Mereka menaiki tangga bersama-sama. djAnGgo 335 . “Aku khawatir. ketika beralih enggan menatapku.” ungkap Edward. Wajah Laurent tampak muram. menatap galak pada Laurent. ketika anak laki-lakimu tadi membelanya. “Aku sudah mengkhawatirkan hal itu.” Alice bergerak anggun ke sisi Jasper dan berbisik di telinganya. “Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai. “Apa yang akan dilakukannya?” Carlisle bertanya pada Laurent dengan perasaan waswas. “Dia mengikuti kami.

Tak sampai sedetik Esme sudah berada di sisiku. Laurent menggeleng.” gumam Esme. tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku. sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya purapura. “Esme?” tanyanya tenang.” ujar Carlisle dengan nada formal. Ia berpaling dari Rosalie seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa. Carlisle menatap Laurent dingin.” “Lalu?” Nada suara Edward terdengar mematikan.” Laurent mengerti. dia sedang memutar untuk menemui si wanita.” “Apa rencananya?” “Kita akan mengalihkan perhatiannya. Dan jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya. Dia sangat mematikan. dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu. Ia melirikku. mengkhawatirkan reaksinya... dan dengan suara menderu. seolah ia tidak ada. “Kenapa aku harus melakukannya?” desisnya. bahaya yang kaupilih untuk kita semua. pikirku..“Kau takkan bisa menaklukkannya. “Rose. Ia menimbang-nimbang sebentar.” “Kurasa tak ada pilihan lain. “Seberapa dekat?” Carlisle menatap Edward. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Aku sama sekali tidak membenci kalian. Tapi aku mengamati Edward dengan hati-hati.” gumam Emmett.” perintah Edward. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. “Sekitar 3 mil dari sungai. Kurasa aku akan menuju utara. Aku memandang terkesima. tapi aku tidak akan menentang James. “Memangnya dia siapaku? Dia hanya membawa sial. “Bawa Bella ke atas dan tukarlah pakaian kalian. tangannya menekan tombol tak kasatmata di dinding. Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. Edward berbalik menghadap Rosalie. “Jangan remehkan James.” Carlisle menimpali. kemudian kembali menatap Carlisle. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian. “Tentu saja. Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama. Ia membuatku terkejut. bingung.” Kelompoknya tentu saja. “Pergilah dengan damai. kita akan memburu James. Ia menatap satu per satu setiap wajah disana.” Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya.” Ia ragu-ragu. “Kau yakin ini layak?” Geraman marah Edward menggema di seluruh ruangan. kemudian bergegas keluar. Laurent langsung ciut. Keheningan hanya bertahan sebentar. Esme sudah bergerak.. mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku. Rosalie menepisnya. teringat temperamennya yang meledak-ledak. “Begitu Bella aman dari bahaya. menemui klan yang ada di Denali. Aku sungguh menyesal. dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan.” Ia membungkuk. dan melompati anak tangga sebelum aku djAnGgo 336 . “Aku khawatir kau harus menentukan pilihan. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. kemudian Jasper dan Alice akan membawanya ke selatan. Rosalie balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya. wajahnya kelam. “Aku tertarik pada kehidupan yang kauciptakan disini.

“Apa yang kita lakukan?” tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai 2. “Berusaha mengaburkan aromamu. Ia memberi sesuatu padaku.menyadarinya.” Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai. Tidak akan bertahan lama... “Kurasa pakaian Anda takkan muat. Aku bergegas melepaskan jinsku. tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri. tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku.” aku ragu. Begitu aku selesai. ia menyerahkan celana panjangnya. rasanya seperti kaus. Aku djAnGgo 337 . Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat.

“Sekarang.” Ia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Edward pergi. Kami berdiri disana. Tapi Edward serta merta telah berdiri di sisiku.” Mereka juga mengangguk. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu.” “Tidak. “Edward bilang si wanita membuntuti Esme. kemudian ponsel Esme bergetar. “Alice. ponsel kecil berwarna perak. Ia sedang menatap geram ke arah Carlisle. Tiba-tiba aku menyadari. Emmett menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. kau tahu itu. ketika ia berpaling dariku. melirik cemas ke arah Rosalie. Ia langsung mendengarkan. Akhirnya matanya membuka. terlalu panjang. “Kalau terjadi sesuatu pada mereka. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga. Si wanita akan mengikuti truk. Aku mengangguk. “Jaga dirimu.” Suaranya yakin. Ia sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat ia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya. Ia berdiri agak jauh di pintu masuk. Bella. matanya yang indah membara menatapku. mematikan. Ia menarikku kembali ke tangga.” Carlisle bertanya.” Bisikannya menggema di belakang mereka saat mereka menyelinap keluar. “James akan memburumu.” gumamku. Aku mendengar suara trukku menderu. Rosalie berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku. kalian bawa Mercedes-nya. “Esme dan Rosalie akan membawa trukmu. Ponsel Alice sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku.” katanya pelan. lalu lenyap. “Kau salah.” ia memberitahu saat melewatiku. masih memegangi wajahku. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan. dengan ngeri. memelukku erat-erat. Sorot matanya berubah hampa. Jasper dan aku berpandang-pandangan. tapi Esme menyentuh pipiku ketika melewatiku. mengangkat tubuhku dari lantai. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Alice. Dan merekapun pergi. tapi tak bisa mengeluarkan kakiku. Kemudian semuanya selesai. dan kau memang layak. “apakah mereka akan memakan umpannya?” Semua memperhatikan Alice ketika ia memejamkan mata dan bergeming. “Alice. “Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang. “Kami naik Jeep. Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Aku akan ambil mobil. pengorbanan djAnGgo 338 . “Apa?” aku terkesiap.mengenakannya.. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku.” Aku terkejut mengetahui Carlisle berniat pergi bersama Edward..” Carlisle berjalan menuju dapur. Edward dan Emmett sudah siap berangkat.” katanya. Jasper. berhati-hati. Keheningan terus berlanjut. bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan. Carlisle menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Esme. Ia menurunkanku ke lantai. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. Jasper dan Alice menunggu. ke tempat Alice berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Ia menangkapku dalam genggamannya yang kuat. yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. “Ayo kita pergi.

tatapan Edward yang mematikan setelah ia terakhir kali menciumku. Kedekatan ini sepertinya tidak mengganggunya sama ekali. Kantuk meninggalkanku. “Kau yang pertama yang meminta izin. Aku masih terjaga ketika kami melintasi gunung yang rendah.mereka bakal sia-sia. begitu juga tirai panjang yang terbuat dari bahan yang sama dengan penutup tempat tidurnya. Aku tak tahan melihat semua itu. Ketidaksabaran Ketika terbangun. 20. Entah bagaimana sepanjang malam yang panjang kepalaku bersandar di lehernya yang bagai granit. tatapan mengebu-gebu si pemburu. tak tertahankan.” ia mengulanginya. Aku tak mendengar apa-apa. dan anehnya kulitnya yang dingin dan keras membuatku merasa nyaman. ketika aku melakukannya bayangan-bayangan yang berkelebat tampak kelewat nyata. geraman brutal Edwad yang memamerkan deretan giginya. aku bingung. Ekspresi sedih Charlie. “Bolehkah?” tanyanya. tapi kemudian Alice melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang.. dan air mataku habis terkuras.. Aku menatap hampa lahan luas yang 339 djAnGgo . meskipun kami melaju melebihi dua kali batas kecepatan yang diijinkan di jalan tol. menyengat mataku. Pikiranku kabur. mataku yang perih membuka dengan susah payah meskipun malam akhirnya berakhir dan fajar pecah di puncak yang rendah entah di bagian mana California. meninggalkan cahaya terang di belakang kami. lembab karena air mataku yang mengalir deras hingga mataku bengkak dan memerah. bagaikan slide yang tertanam di balik pelupuk mataku. Cahaya kelabu memancar di langit tak berawan. Aku berusaha mengingat-ingat bagaimana aku sampai disini.” “Kau keliru. Dan aku ingat Alice duduk bersamaku di jok belakang yang terbuat dari kulit berwarna gelap.” Aku tersenyum pahit. Jadi aku melawan kelelahanku dan mataharipun semakin tinggi. Suara mesinnya nyaris tak terdengar. serta dindingnya yang bercorak umum. sinarnya memantulkan bubungan atap keramik Valley of the Sun. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun. kecuali di hotel. Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Emmett. dan matahari berada di belakang sekarang. Tapi aku tak bisa memejamkannya. memelukku dengan sikap melindungi. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Lampu tidur yang disekrupkan ke meja memastikan dugaanku tepat. tapi awalnya tidak berhasil. Aku tak memiliki cukup emosi untuk merasa terkejut menyadari kami telah melakukan perjalanan tiga hari hanya dalam sehari. tatapan marah Rosalie. Bagian depan kaus katunnya yang tipis terasa dingin. kaca jendelanya lebih gelap daripada kaca limusin. masih antara tak sadar dan mimpi buruk. tersenyum ramah padaku. Aku ingat mobil hitam mengkilat.

membentang di hadapanku. Phoenix, pohon-pohon palem, semak belukarnya, garisgaris tak beraturan di persimpangan jalan bebas hambatan, bentangan luas lapangan golf yang hijau, dan bercak turquoise kolam-kolam renang, semua kabur di balik kabut asap yang tipis dan dikelilingi bukit berbatu pendek yang tak cukup besar untuk disebut pegunungan. Bayangan pepohonan palem menaungi jalan bebas hambatan, jelas, lebih tajam dari yang kuingat, lebih pucat dari seharusnya. Tak ada yang bisa bersembunyi dari balik bayangan ini. Jalan bebas hambatan yang terbuka dan terang tampak cukup aman. Tapi aku tidak merasa lega sedikitpun, tak ada perasaan seperti pulang ke rumah. “Jalan mana yang menuju ke bandara, Bella?” tanya Jasper. Aku terkejut, meskipun suaranya cukup lembut dan tenang. Itu adalah suara pertama, selain deruman mesin mobil, yang memecah keheningan malam yang panjang. “Ikuti terus rute I-sepuluh,” jawabku otomatis. “Kita akan melewatinya.” Pikiranku bekerja lebih lambat akibat kurang tidur. “Apakah kita akan terbang ke suatu tempat?” aku bertanya pada Alice. “Tidak, tapi lebih baik berada di dekat bandara, hanya untuk berjaga-jaga.” Aku ingat memulai putaran di sekitar Sky Harbor Internationa... tapi tidak ingat telah mengakhirinya. Kurasa pasti saat itulah aku tertidur.

djAnGgo

340

Meskipun sekaranga ku telah melupakan ingatanku, samar-samar aku ingat telah meninggalkan mobil, matahari baru saja terbenam, lenganku di bahu Alice dan lengannya melingkar kuat di pinggangku, membawaku bersamanya saat aku tersandung-sandung menembus kegelapan yang kering dan hangat. Aku tak ingat ruangan ini. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu. Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri. Aku masih mengenakan pakaian Esme yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget. “Boleh aku masuk?” tanya Alice. Aku menghela napas panjang. “Tentu.” Ia melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. “Sepertinya kau butuh tidur lebih lama,” katanya. Aku hanya menggeleng. Ia bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. “Kita harus tinggal di kamar,” ia memberitahuku. “Oke.” Suaraku serak, parau. “Haus?” ia bertanya. Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?” “Tak ada yang tak bisa diatasi.” Ia tersenyum. “Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Edward mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami.” Aku langsung lebih waspada. “Dia menelepon?” “Tidak,” katanya, dan melihatku kecewa. “Dia mengatakannya sebelum kita pergi.” Hati-hati ia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Jasper duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Alice bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Jasper. Aku makan dengan pelan, mengamati Alice dan sesekali melirik Jasper. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diamm. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Alice menatapku. “Ada apa, Alice?” aku bertanya. “Tidak ada apa-apa.” Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. “Apa yang kita lakukan sekarang?” “Kita tunggu sampai Carlisle menelepon.” “Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?” Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Alice beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi. “Apa artinya?” suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. “Kalau dia belum menelepon?’ “Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita.” Tapi suaranya

djAnGgo

341

kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Jasper tiba-tiba sudah berada di sebelah Alice, lebih dekat denganku daripada biasanya. “Bella,” kata Jasper dengan suara menenangkan yang mencurigakan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini.” “Aku tahu itu.”

djAnGgo

342

“Lalu kenapa kau ketakutan?” tanyanya, bingung. Ia mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi ia tak bisa menebak maksud di balik itu semua. “Kaudengar apa yang dikatakan Laurent.” Suaraku hanya bisiskan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya. “Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, Carlisle, Emmett, Edward...” Aku menelan liurku. “Kalau si wanita liar itu melukai Esme...” Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya. “Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku, ” “Bella, Bella, hentikan,” Jasper menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti. “Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Bella. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja; jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!” perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah. “Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu.” “Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu, ” Alice menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin. “Hampir satu abad lamanya Edward seorang diri. Sekarang Edward telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?” Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Jasper ada disana. Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Alice menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Telepon perak di atas tas Alice sepertinya tumbuh semakin besar sejalan dengan berlalunya waktu. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondarmandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patuh yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah. Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Jasper yang tajam. Tapi Alice mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Edward padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya

djAnGgo

343

lenyap karena berada di dekat Jasper, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku. “Alice?” aku bertanya. “Ya?” Aku menjaga suaraku tetap tenang. “Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?” “Carlisle ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Esme dan Rosalie seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, merka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bial mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon.

djAnGgo

344

“Dan Esme?” “Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhatihati.” “Menurutmu mereka benar-benar aman?” “Bella, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?” “Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?” “Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu.” Suaranya tulus. Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?” Pertanyaanku membuatnya kaget. Ia diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu. “Edward tidak ingin aku memberitahumu,” katanya tegas, tapi aku merasa ia tak sependapat. “Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya.” “Aku tahu.” Aku mentapnya, menunggu. Ia mendesah. “Dia bakal sangat marah.” “Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Alice, sebagai teman, aku memohon padamu.” Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Ia menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan. “Aku akan menceritakan cara kerjanya,” akhirnya ia berkata, “tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya.” Aku menunggu. “Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Edward, Jasper, dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami. Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Edward menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput. Senyumnya yang lebar tampak jahat. “Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa,” katanya, giginya berkilauan. “Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Carlisle misalnya.” “Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar...” gumamku. “Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian.” Aku gemetar mendengarnya. “Itu tidak menyenangkan, kau tahu.” “Edward bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti,” kataku. “Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan

djAnGgo

345

menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa.” “Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?” “Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang merka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia.” Suaranya terdengar muram.

djAnGgo

346

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Alice melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut. “Ada yang berubah.” Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi. Ia sampai ke pintu bersamaan dengan Jasper. Jelas ia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Alice yang tiba-tiba. Jasper meletakkan tangannya di bahu Alicedan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur. “Apa yang kaulihat?” tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Alice. Mata Alice terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali. “Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermincermin itu.” “Di mana kamar itu?” “Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat.” “Berapa lama lagi?” “Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan.” Suara Jasper tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. “Apa yang dilakukannya?” “Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain.” “Bisakah kau melihat dimana dia berada?” “Tidak, terlalu gelap.” “Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?” “Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu.” Pandangan Alice menerawang, kemudian terpusat di wajah Jasper. “Tak ada yang lainnya?” Alice menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. “Apa maksudnya?” aku bertanya. Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Jasper menatapku. “Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap.” “Tapi kita tidak tahu dimana ruanganruangan itu.” “Tidak.” “Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka.” Suara Alice terdengar putus asa. “Haruskah kita menelepon?” tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Alice sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Ia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu. “Carlisle,” desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan. “Ya,” katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

djAnGgo

347

” kata Edward. Aku berlari menghampirinya. kemudian ia berbicara padaku. “Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu. yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu.” ia berbicara di telepon. “Bella. “Halo?” desahku.” Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya. djAnGgo 348 .“Aku baru saja melihatnya.” Alice terdiam. “Bella?” Ia menyodorkan teleponnya. “Ya.

dia berhati-hati. “Aku mencintaimu.” aku mengingatkannya. sepertinya naik pesawat. “Aku tahu. menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. jadi jangan khawatir. “Kau tahu ruangan ini?” suara Jasper terdengar tenang.” “Apa yang dilakukan wanita itu?” “Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. “Aku tahu.” aku menantangnya. Rosalie mengikutinya hingga ke bandara. dia mencari-cari. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. mengintip dari balik bahunya. tampak garis yang disebut Alice berwarna emas. “sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal. Sepanjang dinding.” “Kalau begitu datang dan ambillah. “Itu studio balet.” “Bella. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks.“Oh. Bella. Aku bersandar di sofa. sekolah.” Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Alice dan mendapati ia dan Jasper membungkuk di atas meja. Dia tidak mendekati Charlie.. persegi.” Setelah percakapan selesai.” Suaranya tegang. maafkan aku. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang.” “Kau yakin Charlie aman?’ “Ya. kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman. tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Alice menunduk menatap gambarnya. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.” “Meski begitu kau tak perlu khawatir. aku tahu. sebenarnya aku percaya. terkejut. Esme takkan membiarkannya luput dari pengawasan.” Aku bisa mendengar Alice menggantikan Jasper di belakangku. terlepas dari semua yang telah kaualami karena aku. “Bisakah kau mempercayainya. kami kehilangan jejaknya. si wanita ada di kota. kabut depresi pun menyelimutiku lagi. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi.” “Aku akan menunggu. Apakah Esme bersama Charlie?” “Ya. Dia pergi ke rumah Charlie. semua jalanan di kota.. bahwa aku juga mencintaimu?” “Ya.” bisikku.” “Aku merindukanmu. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. tapi tak ada yang bisa ditemukannya.” kataku. tapi Charlie sedang di tempat kerja. Mereka memandangku. begitu aku bisa. “Kau dimana?” “Kami berada di luar Vancouver. Aku akan membuatmu aman dulu. Bella. tangannya djAnGgo 349 . Edward! Aku sangat khawatir. “Segera. kami akan menghabisinya. tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. Dia kelihatannya curiga. Bella.” ia mendesah frustasi.” “Aku akan baik-baik saja. Tapi dia sudah pergi sekarang. Alice melihat dia berhasil kabur. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Alice sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. Dia aman dalam pengawasan Rosalie dan Esme.” “Aku akan segera datang padamu. Percayalah padaku. setinggi pinggang. Ia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang.

Bentuknya tak berubah.menyapu kertas itu sekarang. ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan. “Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari. menggambar tangga darurat di dinding belakang.” Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian djAnGgo 350 .

Aku yakin itu hanya studio tari lainnya. “Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing. Ada jendela di ruang tunggu. Aku melihat mereka bertukar pandang.” “Memang. “Alice.” aku mengakui.” Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin..” “Di mana letak studio yang biasa kau datangi?” Jasper bertanya dengan nada kasual. “Ya. entah dimana... “Kau yakin ini ruangan yang sama?” Jasper bertanya. tapi dia akan segera pulang. dan tidak ada TV. “Kalau begitu di sini. “Di sana letak kamar mandinya. aku menunjuk sudut kiri. “Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?” tanya Alice sungguh-sungguh. palangnya.” Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Alice dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Dengar.” ia menyakinkanku.” “Kupikir dia di Florida. sekolah. Aku penari yang payah.” kataku. “58th Street dan Cactus. membuyarkan lamunanku.” “Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku. “Tidak. kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama. “Mom.” Alice sudah di sisiku.menyempit di bagian belakang ruangan. hubungi aku di nomor ini.” Suaraku gemetar. “Tidak. masih tenang. apakah telepon itu aman?” “Ya. Ia mempertimbangkannya. kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan. kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah. “Tidak. “Bagaimana kau akan menghubunginya?” “Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah. “sudah lama.” kataku setelah bunyi bip. aku mau kau melakukan sesuatu. tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah Charlie. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali.” Kami duduk terdiam.” bisikku. menuliskan nomornya untukku djAnGgo 351 . “Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Edward. “Kurasa itu tidak mungkin berbahaya. di Phoenix?” Suara Jasper masih santai. mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital. suaraku menghilang. Tapi stereonya tadinya di sini”. “Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?” Alice bertanya. sama sekali tidak. dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur. dimana catatan tentang diriku berada. memandangi gambar Alice. cermin-cerminnya. tentu saja. pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada. kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu. terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat. dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara. Ini penting. “Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington.” “Jasper?” tanya Alice.” Alice dan Jasper menatapku. “ini aku..” Aku menyentuh pintunya. Begitu kau sudah menerima pesan ini. sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya.

tapi aku harus bicara denganmu secepatnya. mengantisipasi malam yang panjang. oke? Aku mencintaimu.” Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku. Aku berkonsentrasi menonton berita. apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal. “Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Aku duduk di sofa. Bye. atau tentang pelatihan musim semi. Jangan khawatir. djAnGgo 352 . aku baik-baik saja. Aku berpikir untuk menelepon Charlie. Mom. mencari berita tentang Florida. mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring. tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum.di bagian bawah gambar. tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini. aksi demo atau badai topan atau serangan teroris. dua kali. Aku membacanya perlahan.

Aku pasri tertidur di sofa. menantikan telepon berbunyi lagi. menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Tapi ketika selesai ia hanya duduk. Baik Jasper maupun Alice tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu Alice membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya. seperti yang kurasakan. Sentuhan tangan Alice yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur. tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. djAnGgo 353 . atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak. Jasper juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai.

terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Alice.. meja tamu yang bundar berdiri di depannya. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Alice membuat sketsa sementar Jasper mengintip dari bahunya.. “Jasper dan aku akan tinggal sampai ibumu aman.” “Edward akan datang?” Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu. “Bella. “Itu rumah ibuku. dan kau akan pergi bersamanya. Mereka tidak mendongak saat aku masuk. “Ya. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. “Teleponnya di sebelah sana. Alice!” Terlepas dari kemampuan Jasper.” kata Alice. Tidak seperti biasa Jasper mendekatiku. kepanikan terdengar jelas dalam suaraku. ” djAnGgo 354 . Dinding-dindingnya berpanel kayu. dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. dia akan melukai orang yang kucintai. Bibir Alice bergetar akibat kecepatan ucapannya. Aku tak bisa berkonsentrasi. Edward akan datang menjemputmu. telepon di tangan. Kepanikanku tetap samar. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. aku takkan bisa. Alice. Dia akan menemukan seseorang. Aku berbaring di tempat tidur dan mendengarkan suara Alice dan Jasper yang pelan dari ruangan yang lain. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai.” Alice telah bangkit dari sofa. perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu.” bisikku. dia kesini untuk mengincar ibuku. menekan nomor.” “Tapi ibuku. Telepon Aku bisa merasakan hari-hari lagi masih terlalu dini ketika aku terbangun.. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. “Apakah dia melihat sesuatu yang baru?” aku bertanya pelan pada Jasper. Aku menatapnya hampa. Alice.21. “Bella. dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Dua pasang mata yang abadi menatapku. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu.” Aku melihat Alice menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. Kita akan menemuinya di bandara. Dengan lembut ia menyentuh bahuku. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. menjaga kepalaku tetap terapung.” “Aku tak bisa menang. Alice dan Jasper duduk di sofa. dan Carlisle akan membawamu ke suatu tempat. hanya saja kali ini keadaannya terang. ketinggalan zaman. tidak fokus. suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. sambil menunjuk. Aku berjinjit ke sisi Jasper untuk mengintip.. Sofa panjang kuno terletak di depan TV. Dia. “Ya. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul 2 pagi. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. menyembunyikanmu untuk sementara waktu. Emmett. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. agak terlalu gelap. Kau tak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya.

” ia meyakinkanku. Bella. “Dan bagaimana kalau kau terluka. Alice? Kaupikir aku bisa menerimanya? Kaupikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?” djAnGgo 355 .“Kami akan menangkapnya.

Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. djAnGgo 356 . merasa sedikit malu dengan sikapku. aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tak terlihat olehku sekarang. “Tidak. dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan.” Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Alice tampak terkejut. meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya. Tak ada jalan keluar. “Nah. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. “Mereka baru saja lepas landas. Satu-satunya pertanyaan adalah. katanya tanpa suara. kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu.Alice menatap Jasper penuh arti." Perutku melilit mendengar kata-katanya. untuk pertama kalinya Jasper tak ada di ruangan itu. Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu. Aku mendesah. bergoyanggoyang. Kali ini Alice tidak mengikutiku. “Dimana Jasper?” “Dia pergi untuk check out. Suaranya panik. “Mereka akan mendarat pukul 09. Kuharap aku tak menyinggung perasaan mereka. menyadari apa yang sedang terjadi. kalau bisa melihatt wajahnya lagi.” “Kalian tidak menginap disini?” “Tidak. supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya.30. meringkuk. sebenarnya membantingnya. seraya berjalan pelan menjauhi Alice.” Ia menyodorkan teleponnya padaku. terkejut karena ia belum menyela kata-kataku. tak ada kompromi.” Hanya beberapa jam lagi sebelum Edward tiba disini. Tapi telepon berbunyi lagi. satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Edward. “Tenang. “Mom?” “Berhati-hatilah. tapi aku telah melangkah maju. Barangkali. Aku tak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku. “Aku tak ingin tidur lagi.45. menggapai telepon sambil berharap-harap cemas. Kabut tebal kelelahan menyapuku. aku tak perlu melukai ibumu. jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan.” bentakku.” kataku dengan suaraku yang paling menenangkan. “Semua baik-baik saja. Satu-satunya penghiburan.” Aku diam. tapi yang menarik perhatianku adalah. mengalihkan perhatianku. menjauhkan diri dari tangan Jasper. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding. “Halo?” sapa Alice. Pikiranku mencoba melawan kabut itu.” Alice memberitahu. Itu suara tenor laki-laki. jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu. Aku sudah menduganya. suara yang amat menyenangkan dan umum. Aku melihat jam. mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. pukul 5. Mom. setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. Ibumu. dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku. Pikiranku berputar-putar. aku janji. “Halo?” “Bella? Bella?” Itu suara ibuku. Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan. oke? Beri aku waktu 1 menit dan aku akan menjelaskan semuanya. Alice berbicara dengan sangat cepat seperti biasa. bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Ia berbicara sangat cepat. dia ada disini.

djAnGgo 357 .” ia memujiku. dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. ‘Tidak. “Bagus sekali.’” “Tidak. Tolong katakan. Mom. “Sekarang ulangi kata-kataku.maka dia akan baikbaik saja. tetaplah di tempatmu. Mom.” Suaraku tak lebih dari bisikan.” Ia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam. tetaplah di tempatmu.

Mom.” suara menyenangkan itu melanjutkan. “Dimana Phil?” aku langsung bertanya. memusingkan. harus ada cara. Sekarang inilah yang harus kaulakukan.” Suara itu terdengar senang. Aku menunggu. “Nah.” djAnGgo 358 . menurutmu. Aku sedang bersiap-siap menunggu. tolong dengarkan aku. kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak. “katakan.” aku memohon.” “Ya. tolong katakan..” “Aku menyesal mendengarnya. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat. itu akan sangat buruk bagi ibumu.” “Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. hati-hati. “Ya.” “Baik. merasakan tatapan waswas Alice di belakangku. “Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. “Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak. Teleponlah. tunggu sampai aku menyuruhmu bicara. berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku. Aku yakin takkan mudah. apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak. kumohon. Bella. Sambil berjalan. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak. ya kan? Tidak terlalu menegangkan. jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. percayalah padaku. tapi ibumu pulang lebih awal.” “Mom.. ‘Mom. “Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama.” katanya sopan. Kumohon.” Entah bagaimana. Bella.” Suaraku parau. Aku yakin itu. kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak.“Bisa kulihat ini bakalan sulit. Bella.” “Sebelum siang. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu.” “Tapi mereka masih bisa mendengarmu. “Ah. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. “Ini penting. dan dimana ini akan berakhir.” “Ya. Lebih mudah begini.” “Tidak. tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang.’ Katakan sekarang. tolong dengarkan aku. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Menurutmu. bagus. Waktuku tidak banyak. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Aku menutup pintu. kau jadi tidak terlalu khawatir. dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya.” Suara ramah itu mengancam.” “Ya. kalau begitu.” “Ya.” Aku menunggu. nah. well. masih ringan dan ramah.’” “Mom. percayalah padaku.” Aku sudah tahu kemana aku akan pergi.’ Katakan sekarang. “Bagus sekali. “Kenapa kau tidak pertgi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tak ada alasan ibumu untuk menderita.” “Itu lebih baik. Sekarang ulangi kata-kataku ‘ Terima kasih. Sky Harbour International Airport: penuh sesak. ‘Mom. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu.

“Selamat tinggal.“Terima kasih. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat. “Sampai ketemu. ‘Aku mencintaimu. “Katakan. tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Aku mencoba menahannya. Aku menempelkan telepon di telingaku.” “Aku mencintaimu. Aku tahu aku harus berpikir.’ Katakan sekarang. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri. Bella. Mom.” Air mataku menetes.” Ia menutup telepon. aku tak dapat meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. Mom. sampai ketemu. djAnGgo 359 .” aku berjanji. Aku menantikan bertemu denganmu lagi. Mom.” Suaraku terdengar dalam.

Keputusasaan mencengkramku. Aku harus menerima kanyataan bahwa aku takkan bertemu Edward lagi. dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat.” Suaraku lemas. “Ibuku khawatir. Menyusun rencana. “Edward.” tulisku. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar. Ia bisa melihat kegelisahanku. karena Alice dan Jasper menungguku. Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Tiba-tiba aku beryukur Jasper sedang keluar. djAnGgo 360 . sebuah rencana mulai tesusun di benakku. dan pergi menemui Alice. Entah bagimana aku harus menjauhkan Alice. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku. ia ingin pulang. kemudian aku mengesampingkannya juga. Aku tahu Alice berada di ruangan lain menungguku. “Kami akan memastikan dia baik-baik saja. Perlahan-lahan aku menghampirinya. Aku teramat menyesal. Tapi aku masih tidak punya plihan. Aku sangat menyesal.” kataku pelan. tanpa berbalik. Keputusanku sudah bulat. Aku harus mencoba. tulisanku nyaris tak terbaca Aku mencintaimu. Aku hanya punya 1 skenario dan sekarang aku takkan bisa berimprovisasi. tak ada cara untuk bernegosiasi. Disana juga ada amplop. maukah kau memberikannya padanya? Maksudku. bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku. Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Tapi tenang saja.” Aku berpaling. Aku tak memiliki jaminan. Tapi aku harus membereskan 1 hal lagi selagi sendirian. dan aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal. jangan khawatir. “Kalau aku menulis surat untuk ibuku. menjaga suaraku tetap tenang. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan. aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana. Bella. tak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. sebelum Jasper kembali. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram.” Suaranya terdengar hati-hati. mencoba mengenyahkannya. Tanganku gemetaran. “Alice. aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku.Perlahan. dan aku harus berusaha. amat perlahan. Aku tak tahu kapan Jasper akan kembali. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama 5 menit terakhir ini. dan aku tidak menunggunya bertanya. Bella. Aku akan menyakitinya. Bagus. Aku masuk lagi ke kamar. tak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. I a menyandera ibuku. dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Aku melihatnya waswas. meninggalkan suratnya di rumahnya?” “Tentu saja. pikiranku mulai menembus dinding sakit. Karena sekarang aku hanya punya 1 pilihan : pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tak boleh takut sekarang. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Tak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. penasaran. bahwa mengalahkan Edward cukup baginya. Aku harus berpikir dengan baik. Aku tahu ini mungkin tak berhasil. takkan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin.

“Ada apa?” desak Jasper. kedua tangannya memeluk tangan Alice. pikiranku begitu tersiksa dan labil. Aku hanya berharap dia mengerti.Teruta ma pada Alice. otomatis menyentuh tangannya. Akhirnya Edward toh akan menemukannya juga. terpana. Aku takkan tah an bila ada yang harus menderita karena aku. itulah yang ia inginkan. melepaskan cengkramannya dari meja. aneh. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan.. Maafkan aku. kumohon.” katanya.. dan memasukkannya ke amplop. Apakah aku sudah terlambat?” Aku bergegas ke sisinya.. . merasakan kepanikan.. Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. 22. Jasper belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Alice. Jasper menatapku tajam. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku. Alice memalingkan wajah dariku dan membenamkannya di dada Jasper. tapi aku toh terkehut juga saat melihat Alice membungkuk di meja. ekspresinya masih hampa. Petak umpet Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. semua ketakutan. Aku takut berada satu ruangan dengannya. kehancuran hatiku.” djAnGgo 361 . Kurasa. “Bella. “Aku di sini. Aku mencintai mu. Tatapannya hampa. apalagi kau. Seharusnya aku tahu aku takkan mungkin sanggup terkejut.. dan aku melihat wajahnya. “Apa yang kau lihat?” kataku. Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Alice sendiri juga berhasil mengontrol dirinya. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Alice. “Alice!” seru Jasper. Aku menyambutnya. Kumohon. pintu menutup dengan bunyi klik pelan. Mata Jasper kebingungan saat dengat cepat menatap wajahku dan Alice. matanya terpaku padaku. takut ia akan menebaknya. “Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya. muncul tepat di belakang Alice.Jangan marah pada Alice dan Jasper. suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. itu namanya mukzizat. tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. ia menjawab pertanyaan Jasper. keputusasaan. tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Pikiranku melayang pada ibuku. Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya.. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka. “Tidak ada apa-apa. Demi aku. Aku langsung tersadar ia tidak berbicara padaku. menggunakannya untuk megendalikan emosiku.” balasku. dan mau mendengarku sekali ini saja. “Alice?” Ia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya. sungguh. Kepalanya menoleh. Dari seberang ruangan. Bella Kulipat surat itu dengan hati-hati.” akhirnya ia menjawab. mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan. hanya ini yang bisa kuminta dari mu saat ini.

dan aku merasa lega ketika kami berangkat pukul tujuh. “Kau mau sarapan?” “Tidak.Alice akhirnya memandangku. Alice menyandarkan tubuh di pintu. Kali ini aku duduk sendirian di belakang. Rambutku dibiarkan tergerai.. meskipun tersembunyi dengan baik. Suasana damai yang diciptakan Jasper mempengaruhi dan membantuku berpikir jernih. Ia menjawab hati-hati. berkonsentrasi pada setiap hal kecil. Aku mengosongkannya dan memasukkan uangnya ke saku. “Ya?” djAnGgo 362 . Aku bersiap-siap seperti robot. Hampir seolah meminjam indra istimewa Jasper. Supaya ia bisa memberitahu Jasper bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru. Membantuku menyusun rencana. tapi dari balik kacamata hitamnya ia melirikku setiap beberapa detik. berayun menutupi wajah.” Aku juga terdengar sangat tenang.. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. aku bisa merasakan keinginan Alice. Aku merogoh-rogoh tasku hingga menemukan kaus kakiku yang berisi uang. aku makan di bandara saja. Ingin sekali rasany segera tiba di bandara. ekspresinya lembut dan tenang. “Alice?” tanyaku cuek. bahwa mereka bakal gagal. wajahnya menghadap Jasper. agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Jasper.

Ia menatapku. Aku hanya melihat hal yang mereka lakukan ketika mereka sedang melakukannya. setiap sel tubuhku sepertinya mengetahui kedatangannya. Aku memberitahunya belum ingin sarapan. menyelipkannya di balik penutup bagian atas. Tapi toh itulah terminal yang kubutuhkan : yang terbesar. Apakah aku lari saja? Apakah mereka berani menggunakan kemampuan mereka untuk menghentikanku di tempat umum seperti ini? Atau mereka hanya mengikuti? Aku mengeluarkan suara tak beralamat itu dari sakuku dan meletakkannya di atas tas kulit hitam Alice. Lirikan cepat mereka mengikuti setiap gerakanku. Kami tiba di bandara. Betapa menakjubkan. Tempat-tempat yang tak pernah kulihat. dAn takkan pernah kulihat. Aku bisa mendengar mereka mendiskusikan pro dan kontra tenang New York. Beberapa kali Alice menawarkan menemaniku membeli sarapan.” “Ya. Begitu mereka berubah pikiran. Jasper dan Alice berpura-pura memperhatikan orang-orang yang lalu lalang.” kataku. Pesawat Edward mendarat di terminal empat.. di garasi berukuran raksasa.. terminal paling besar tempat mendaratnya semua penerbangan. Edward akan segera menemukannya. Pasti itulah yang membuat Jasper waspada dan mengerahkan gelombang ketenangan baru di mobil yang kami tumpangi. Lama sekali Alice dan Jasper memandangi papan jadwal penerbangan. Mereka akan mengawasiku lebih ketat lagi sekarang.. Aku menunjukkan jalan. yang paling memusingkan. untuk melihatnya dulu. memperhatikan saat penerbangan demi penerbangan tiba tepat waktu. pikirku. bahwa halhal berubah?” Menyebut namanya jauh lebih sulit dari yang kukira. djAnGgo 363 . “Ya. Manusia lebih sulit. Itu membuatnya sangat sulit. Chicago. Benar-benar tak ada harapan. “Jadi kau tidak bisa melihat James di Phoenix sampai dia memutuskan datang ke sini. Aku menungu kesempatan. “Suratku. Aku mendapati diriku memikirkan alasan untuk tetap tinggal. Aku berusaha tidak memikirkan apa lagi yang mungkin dilihatnya. hal-hal bisa berubah. Atlanta. terutama setelah penglihatan Alice. atau barangkali kebetulan saja. Dan ia tidak melihatku di ruangan cermin itu bersama James sampai aku membuat keputusan untuk menemuinya di sana. Ia mengangguk. Kami parkir di lantai empat..” Aku mengangguk penuh perhatian. Kami duduk di barisan kursi panjang di dekat pendeteksi logam. Dan ada pintu di lantai tiga yang bisa jadi satu-satunya kesempatan. Penerbangan dari Seattle merangkak mendekati batas teratas. jadi fakta itu bukan sesuatu yang aneh.” gumam Alice. Keberuntungan berpihak padaku. tapi sebenarnya mereka mengawasiku. mudah-mudahan. “Kata Edward hal yang kaulihat tidak berarti final. Tapi aku tahu akan mustahil kabur kalau Edwad sudah disini.“Bagaimana cara kerjanya? Hal-hal yang kaulihat itu?” Aku menatap ke luar jendela. Aku memandang papan jadwal kedatangan. Menit-menit berlalu dan waktu kedatangan Edwad semakin dekat. suaraku terdengar bosan. tidak sabar.. tak peduli betapa kecil. seperti cuaca. menginginkan kedatangannya. Kami menggunakan lift untuk turun ke lantai tiga tempat para penumpang turun. Rencanaku nyaris tak mungkin terlaksana. “Beberapa hal lebih pasti dari yang lain. seluruh masa depan pun berubah. membuat keputusan baru.” ia menimpali. berhubung pengetahuanku tentang bandara ini lebih baik daripada mereka. baru melarikan diri. Aku tidak ingin kepanikanku membuat Jasper semakin curiga. kembali waspada. tak mampu menghentikan jari kakiku mengetuk-ngetuk.

” kataku buru-buru. “Aku ikut bersamamu.. Pesawatnya tiba sepuluh menit lebih cepat. Aku tak punya waktu lagi. “Kurasa aku mau makan sekarang.” “Kau keberatan kalau Jasper saja yang menemaniku?” tanyaku. Alice berdiri. Mataku cukup liar sehingga bisa menyampaikan apa yang tidak kukatakan. angka-angka itu berubah.” Aku tidak menyelesaikan kalimatku. djAnGgo 364 . “Aku merasa sedikit.Ketika aku hanya punya tiga puluh menit untuk melarikan diri..

tidak masalah. Tak ada taksi satu pun. Kuberitahu sopir taksi yang terkejut itu alamat ibuku. Begitu pintunya membuka. Aku hanya punya beberapa detik kalau ia mengikuti bau tubuhku. ia takkan bisa melihatku. “Tunggu!” aku berseru. Aku tidak tahu apakah Jasper sudah mulai mencariku atau belum. menyelinap ke jok di belakang pengemudi. dan aku berlari. aku lari lagi meninggalkan gerutuan jengkel di belakangku. Aku belum boleh menangis. Ini satu-satunya kesempatanku. Keberuntungan masih bersamaku. “Ini shuttle ke Hyatt. Pintu shuttle menuju Hyatt sedang menutup. Nak. Sudah menyala.” protesnya.Jasper bangkit berdiri. pandanganku mencari-cari apa yang sesungguhnya kuinginkan. Dan di sanalah. Aku ingat saat tersesat dari kamar mandi ini karena pintunya ada dua. dan lari lagi begitu mendekati pintu keluar. Aku memperlambat lariku saat melewati petugas sekuriti di rel pemindai koper. Aku menyelinap di antar pengguna lift yang kesal. seolah membimbingku. Orang-prang menatapku. Lift itu penuh sesak oleh orang-orang yang akan turun. Jasper berjalan tanpa suara di sisiku. Aku hanya perlu lari sebentar. tidak mau repot repot bertanya.” Begitu pintu menutup di belakang. tapi aku mengabaikannya. Aku duduk sejauh mungkin dari penumpang lain dan memandang ke luar jendela saat mula-mula jalan setapak. aku harus terus berlari. Di depan Hyatt. Kebanyakan kursinya kosong. “Ya. “Aku tidak bakal lama.” djAnGgo 365 .” Aku bergegas menaiki undakannya. dan memastikan tombol lantai satu sudah ditekan. atau malah sudah. Aku tidak menoleh ke belakang saat berlari. bahkan kalaupun Jasper melihat. pasangan yang kelelahan tampak mengeluarkan koper terakhir dari bagasi taksi. jaraknya beberapa meter di belakangku. di belokan.tapi. di luar jangkauan mata Alice yang tajam : toilet wanita lantai tiga. Aku melompat keluar dari pintu otomatis. Pasangan itu dan si pengemudi shuttle menatapku. Pintu yang lain tak jauh dari lift. aku mengingatkan diri.” “Itu di Scottsdale. Aku tak bisa menahan diri membayangkan Edward berdiri di ujung jalan saat menemukan ujung jejakku. bukannya penghianatanku. napasku tersengal-sengal. Ia pasti menganggap perubahan dalam penglihatanya sebagai hasil rencana si pemburu. dan pintu lift pun menutup. tangannya di punggungku. “itu tujuanku. “Kau keberatan?”” tanyaku pada Jasper saat kami melintasinya. Alice dan Jasper entah hampir menyadari aku menghilang. mengulurkan tangan di antara pintunya yang hampir menutup. Mata Alice tampak bingung. Aku melempat emat puluh dua dolaran ke kursi di sebelahnya. yang membuatku lega. “Apakah itu cukup?” “Tentu. Ia ragu-ragu melihatku tidak membawa bawaan. nyaris menabrak kacanya ketika pintu itu membuka terlalu pelan. Jalan yang kulalui masih panjang. dia tidak curiga. aku lari. melambai-lambai ke arah pengemudinya. “Aku harus tiba di sana secepat mungkin. Aku berpurapura tidak tertarik pada beberapa kafe yang mula-mula kami lihat. kemudan bandaranya melesat dari pandangan. Aku tak punya waktu. Di belokan lift sudah menanti. Mereka akan menemukanku dalam sekejap. Aku melompat dari shuttle dan berlari ke taksi. dan kalu Jasper tetap menunggu di tempat.” si pengemudi berseru bingung saat membukakan pintu. tapi kemudian mengangkat bahu.

Jadi. djAnGgo 366 . juga kekhawatiran. Tak ada gunanya larut dalam ketakutan. mengingat rencanaku sudah berjalan dengan baik. melipat tangan di pangkuan. Aku memaksa diriku tetap penuh kendali. tapi aku tidak memandang keluar jendela.Aku bersandar lagi di jok. sebagai ganti panik aku memejamkan mata dan menghabiskan dua puluh menit perjalanan itu bersama Edward. Kota yang familier mulai melesat di sekelilingku. Sekarang aku hany tinggal mengikutinya. Kuputuskan untuk tidak menyerah. Takdirku telah ditentukan.

Aku harus menutup dan memulai lagi. dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini. akhirnya aman. Aku bertanya-tanya kemana kami akan pergi.. aku mengingatkan diriku sendiri.. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. normal. melewati pintu muka. aku sama sekali tak punya masalah dengannya.” suara tenang itu menyambut di ujung telepon. kalau begitu. Atau mungkin di tempat yang sangat terpencil. barangkali berharap aku takkan meminta kembalian. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini.” Aku menutup telepon. kita sudah sampai. Sekarang. Aku lari meninggalkan ruangan. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya. tak pernah tidur. kikuk seperti biasa. Hanya berdering satu kali. senang.” Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku. Bisa kulihat wajahnya sangat jelas sekarang. dan bayangan indahku pun lenyap. tak pernah meninggalkan sisinya. makam segala macam bunga yang coba ditanam Mom. aku merasa bahagia. Aku membayangkan aku berdiri berjinjit untuk melihat wajahnya lebih dulu. “Hei. Aku terkesan. kulitnya berkilauan bagai air laut. kita akan bertemu sebentar lagi. “Lima-delapan-dua-satu. Aku harus bergegas. agar ia bisa keluar di siang hari. hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. “Bagus sekali. bahkan nyaris mendengar suaranya. Aku begitu larut dalam lamunan. Tak ada waktu untk menoleh dan memandang rumahku. Bella. Di dalam gelap. tentunya. ibuku menantiku. “Aku sendirian. Aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan untuknya. dengan saksama menekannya satu per satu. Tak peduli betapa lamanya kami harus bersembunyi. Terperangkap dalam kamar hotel bersamanya akan menjadi surga dunia bagiku. mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos. Rumahnya kosong. Aku membayangkannya di pantai. kosong. Aku lari ke pintu.” “Well. “Ini sangat cepat. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku. Jemariku gemetaran menekan nomor itu. kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?” “YA. Berhasil. simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. dan aku pun berada dalam pelukan tangan pualamnya. Rasa ngeri yang dingin dan tanpa kompromi menanti untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkannya. aku tahu jalan ke sana. Di sana. Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. ketakutan.” Suaraku tercekat. Aku bisa mengobrol dengannya selamanya. Jangan khawatir.” Ia ingin sekali mengeluarkan aku dari mobilnya. tampak sepuluh digit angka yang rapi. Bella. djAnGgo 367 .” bisikku. mengandalkan aku. Kemudian aku lari mendekat. Betapa luwes dan anggun gerakkannya di antara keramaian orang yang memisahkan kami. Dan terlepas dari semua ketakutan dan keputusasaanku. kosong.” Ringan. Kecuali kau tidak datang sendirian. “Halo.Aku membayangkan tetap tinggal di bandara untuk bertemu Edward. menuju panas yang menyengat. supaya kami bisa berbaring di bawah matahari bersama-sama lagi. Kubuka pintunya. berapa nomornya?” Pertanyaan sopir taksi membuyarkan lamunanku.” “Apakah ibuku baik-baik saja?” “Dia sangat baik-baik. “Terima kasih. Tak ada alasan untuk takut. di whiteboard . beberapa kali keliru. “Kalau begitu. khawatir aku sakit atau apa. Sopir taksi menatapku. Ke suatu tempat di utara.

napas terengah-engah.Tapi aku menjauh dari semua itu. seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. menuju belokkan. seperti berlari di pasir basah. kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Aku merasa terekspos habis- djAnGgo 368 . Beberapa kali aku terpeleset. lalu tertatih-tatih bergerak maju. meninggalkan semua di belakangku. Aku merasa sangat lamban. Sinar matahari terasa panas di kulitku. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. menahan tubuhku dengan tangan. sekali jatuh. peluh menetes-netes di wajahku. Aku berlari.

Aku berlalri ke pintu. aku tak sanggup bernapas. semua kerai jendela tertutup. kemudian ia tersenyum. Perlahan-lahan aku berbalik. Mengagumkan. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak. Ketika berbelok di sudut terakhir. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding. Lantai dansa sebelah barat gelap. aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif. Tidak dikunci. Kami pergi mengunjungi nenekku di California. menuju jalan Cactus. Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. lumayan dekat. Haus. sebagian kalian sepertinya sama djAnGgo 369 . langkah demi langkah. Ibuku aman. Kusentuh gagang pintunya. “Kalian manusia bisa lumayan menarik. Dan tiba-tiba aku tersadar. dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong. berusaha menemukan dari mana datang suaranya Mom. terdengar deru suara pendingin ruangan. lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Suatu hari kami ke pantai. Kemudian suara ibuku memanggil. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala. itu tahun terakhir sebelum ia meningal. waktu usiaku dua belas. Ia tak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu. Aku nyaris pusing.. di layar televisi. Ibuku aman. begitu kaku hingga awalnay aku tak mengenalinya. menariknya membuka perlahan. tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?” Suranya sopan. Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Aku berusaha mengatur napas. “Ya.” Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik.” Suaraku meninggi memicu keberanianku. Ia melihatku nyaris jatuh. dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan.” “Memang tidak. “Bella. ramah. Aku mendengarnya tertawa. Lapangan parkir di depannya kosong. Ketika semakin dekat. Ia memegang remote control. tak perlu merasa takut. Ia berjalan menghampiriku. sejuk. suaraku lega. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala. kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Irisnya nyaris hitam. tulisan itu berbunyi ‘studio tari ditutup selama libur musim semi’. Aku hati-hati berbalik. Charlie dan Mom takkan pernah terluka.. tapi kerai jendelanya tertutup. merasa lega. Aku tak bisa lari lagi. mengacak-acak rambutku. Dan di sanalah dia. Aku memandang sekeliling. “Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu. “Bella? Bella?” ia memanggilku ketakutan. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. memperhatikannya. aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. “Betapa aneh. Ia masih di Florida. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving. aku bisa melihat tanda di balik pintu. berusaha menggapai keseimbanga.habisan. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!” Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu. “Maafkan hal tadi.” aku menjawab. seperti yang selama ini kuingat. Bella. “Bella? Bella?” Nada histeris yang sama. karpetnya beraroma shampo. James berdiri mematung di ambang pintu belakang. Lama kami bertatapan. Ia tak pernah menerima pesanku. rumahku. aku bisa melihat studio itu. menuju sumber suara. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan.

tangan dilipat. “Tidak. dan bagiku ia seperti berharap-harap. menatapku dengan sorot mata penasaran.sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri. kurasa tidak. Setidaknya. aku memintanya untuk tidak melakukanya. “Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?” ia bertanya. Tak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya.” djAnGgo 370 .” Ia berdiri beberapa meter dariku. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Ia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.

Jadi. Hal seperti itu pernah terjadi. “Sebelum kita mulai. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu. dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini. Kudengar kau ingin pulang. “Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. kau boleh menyebutnya indra keenam. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain. Tak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. kelewat cepat. “Maafkan aku. sudah lama sekali. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku. begini.” Ia menghampiriku. Aku punya firasat sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. yang sayang sekali berada di tempat yang salah. Lagi pula. dan tak diragukan lagi. tapi kau bisa saja berada di Amerika. Dan bukankah ini rencana yang sempurna. boleh kutambahkan. nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan. kalau begitu harapan kita berbeda.” Aku menunggu dalam diam. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam.. “Aku meninggalkan surat untuknya.“Apa katanya?” “Aku tidak tahu. itu hanya dugaan. Nyaliku benar-benar ciut. Aku sudah siap. Sesuatu yang tidak kuperkirakan. kau tahu.. “Tapi tentu saja aku tidak yakin. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu. aku kecewa. manusia lemah ini. tidak terlalu memenuhi standarku. “Kalau Victoria tak dapat menyentuh ayahmu. “Sangat mudah. Well. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. Ia mengaturnya beberapa kali. “Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Edward-mu?” Ia mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan. Edward. Tentu saja. Sejujurnya. Victorian mengawasi mereka untukku. “Aku senang memanas-manasi sedikit. Memiliki nomormu tentu sangat berguna. tentu saja. Sebenarnya jawabannya sudah ada di sana selama ini. Manusia bisa sangat mudah ditebakl mereka suka berada di tempat yang familiar. surat terakhir. setelah berbicara dengan Victoria. Dan menurutmu dia akan menghargainya?” Suaranya hanya sedikit tegang sekarang. Kau tahu. aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. melebarkan lensanya. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja.” Perutku mual ketika ia berbicara.” Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini. semua ini sedikit terlalu mudah. pada waktu yang salah. aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu.” “Hmmmm. tempat yang katamu akan kau datangi. Kemudian aku bertanya-tanya. tersenyum. Satu-satunya mangsaku yang berhasil djAnGgo 371 . Aku menatapnya ngeri. Jadi. ini semua untuknya. “Kuharap begitu. kuharap kau salah mengenai kekasihmu. pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu. aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan. bahwa kau ada di sini. tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Dan kemenangannya sama sekali tak ada hubungannya denganku. dan aku begitu takut Edward akan mengetahuiny dan merusak kesenanganku. aku tak bisa bekerja sendirian. Awalnya. tempat aman. berada bersama kelompok yang salah. Kau hanya manusia.” “Betapa romantis. tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. bukan?” Aku tak menyahut. oh.

Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar djAnGgo 372 . dan begitu vampir tua itu membebaskannya. makhluk kecil malang. vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilny aini mengambil keputusan yang tak sanggup diambil oleh Edward-mu yang lemah itu. aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya.kabur dariku. dia membuat gadis itu aman. dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. “Kau tahu. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya.

tubuhku melayang ke belakang.” desahku. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya. hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terap syok. “aku tak mengerti. Bunga-bungaan. Dalam sekejap ia sudah di depanku. seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. aku tak bermaksud menyinggungmu. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya. Aromanya bahkan lebih lezat daripada kau. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu... dan aku khawatir bakal jatuh. Maaf. Aku tak dapat menahan diri. “Sebagai balas dendam. semakin lebar. “Ya.” Aku benar-benar mual sekarang. dan aku merasakan ujung jarinya yang dingin di leherku. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. Kemudian ia mencondongkan tubuh. terkejut. Entakan keras menghantam dadaku. suatu kehormatan. tapi mereka mendapatkannya. Ia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut.” Ia mendesah. Ia langsung menghadangku. ya kan?” Aku mengabaikannya. Aku mendengar suara djAnGgo 373 . aku menghancurkan si vampir tua. serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku. memangsaku. “Itu efek yang sangat menyenangkan. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. Sempurna. lalu menjatuhkan tangannya. sebenarnya. Ketika gadis itu membuka mata. Pada tahun 1920-an. Perlahan-lahan ia menghampiriku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. bagaimanapun. Ia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku. suarnya kembali ramah. dengan wajar. Ada rasa sakit yang mendekat. kakinya menginjak kakiku. dan pesan kecilku. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan. Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. Aku mendapatkanmu. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan.” “Alice. Kemudian aku bisa menelepon teman-temanmu dan memberitahu mereka di aman bisa menemukanmu. terpapar jelas dan berkilauan. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat. “Tidak.” gumamnya pada diri sendiri.” Ia maju selangkah lagi. kemudaannya yang baru membuatnya kuat.. teman kecilmu. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. selemah lututku saat itu. Kacanya hancur berantakan. Aku tidak melihat apakah ia menggunakan tangan atau kakinya. dan tak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya. sampai jaraknya tinggal beberapa senti. wajahnya penasaran..karena pengliatannya. aku mencoba lari. kurasa kita selesaikan saja sekarang. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku. “Well.” katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan. Aku tak bisa bernapas. “Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. dan senyumnya yang menawan perlahan melebar. “Dan aromanya memang sangat lezat. Lalu perlahan-lahan ia mengembalikannya lagi di tempat semula.” Ia mendesah. terlalu cepat. lalu pergi. Jadi kurasa pengalaman ini tidak burukburuk amat bagi kelompoknya. dan aku bisa melihat di matanya. Aku bahkan tak bisa beringsut. Lututku gemetaran. tapi tubuhku membeku. dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya. hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi. Ia tidak akan puas hanya dengan menang. seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum.

Aku terkejut menyadari akulah yang menjerit itu. “Tidakkah aku lebih ingin Edward berusaha mencariku?” ujarnya. “Tidak. djAnGgo 374 . tersenyum. dan ia berdiri menjulang di atasku. jangan Edward. “Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?” tanyanya ramah. ” Lalu sesuatu mengantam wajahku. “Tidak!” seruku parau. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. Aku berbalik untuk meraih kakiku. Tapi kemudian aku merasakannya. melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah.retakan itu sebelum merasakannya.

dengan cepat menggenang di lantai. di tempat pecahan kaca itu menusukku. sosok gelapnya menghampiriku. Matanya. Darah yang mengalir. Biarlah segera berlalu sekarang. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku. mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku.Selain sakit di kakiku. lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku. tanganku terangkat menutupi wajah. raungan terakhir si pemburu. yang sebelumnya penuh tekad. Aku mendengar. seolah dari kedalaman air. membuatnya sinting karena dahaga. Mataku memejam. kini membara dengan hasrat tak terkendali. meninggalkan noda kemerahan di kaus putihku. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri. ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi. hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku. djAnGgo 375 . Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku bisa melihat. Terlepas dari tujuan awalnya. Dengan kekuatan terakhir. Aromanya membuatku mual.

djAnGgo 376 .

Malaikat tak seharusnya menangis. Aku ingin mengatakan ya. sekonyong-konyong pecah.” suara tenang itu memberitahuku.. dari kedalaman air. dengar. Suaraku sedikit lebih jelas.” rengekku. Ada rasa sakit baru. Aku mencoba menemukannya. Rasanya sakit. tersengal keluar dari kolam yang gelap.” “Edward. “Bella. memanggilku ke satusatunya surga yang kuinginkan. kumohon. Bella. itu tidak benar. memberitahunya semua baik-baik saja. lebih dalam. “Edward.” pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya. Apa saja.” “Sakit. “Carlisle!” si malaikat berseru. Ruangan penuh ancaman.” aku mencoba lagi. “Ya. Kepalaku seperti ditekan. sekaligus mengerikan. aku mendengar suara malaikat memanggil namaku. tidak. kumohon. “Dia kehilangan banyak darah. aku tahu. Suara geraman lain. membahagiakan. dan sarat amarah. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. aku merasakan sakit yang lain. “Aku tahu. lebih ganas. “Hati-hati kakinya patah. “Bella. tidak. aku disini. keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan.. Aku menjerit. “Bella!” si malaikat berseru. Di belakang ratapan itu ada suara lain. Karena. kumohon!” ia memohon. dan aku tak bisa bernapas. kemudian. kumohon! Bella. tidak!” Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. “Bella. oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur. Bella? Aku mencintaimu. tapi luka di kepalanya tidak begitu dalam. nyaris mencapai permukaan. rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan.” Aku mencoba memberitahunya. saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku. Kau bisa mendengarku. Ini tidak mungkin surga. dan lengkingan kesakitan. tidak!” malaikat itu berseru putus asa. oh kumohon. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat. “Oh. Kemudian. Kemudian aku tahu aku sudah mati. aku bermimpi. Aku diseret naik. tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. Bella. tidak. Bella. lebih kuat. terdengar amat sangat djAnGgo 377 . Bella. suara yang indah. gelegar amarah yang mengerikan. kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna. namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata. “Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah. Tapi aku tak bisa mengucapkannya. Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap. Tapi rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. tapi airnya sangat dalam hingga menekanku.”. ya kan? Terlalu banyak rasa sakit.” Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. kau akan baik-baik saja. menjauh dariku. Malaikat Saat aku tak sadarkan diri.23. Aku tak bisa memahami diriku sendiri.

. rasa sakitnya akan berhenti. Alice. itu akan membantu. “Alice?” erangku. dia tahu dimana menemukanmu. Tenangkan dirimu. Bella.” “Tanganku sakit. “Aku tahu. Carlisle akan memberimu sesuatu..” Carlisle berjanji.ketakutan. “tak bisakah kau melakukan sesuatu?” “Tolong ambilkan tasku.” aku mencoba memberitahunya.” djAnGgo 378 . “Dia disini.

” Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi. ada yang berdenyutdenyut di kulit kepalaku. rasa sakit yang lain memudar berganti djAnGgo 379 . Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.” Saat Carlisle bicara.” sahut Carlisle. Rahangnya mengeras. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. “Bella?” “Apinya! Tolong matikan apinya!” aku menjerit saat rasa panas itu membakarku. aku pun tenang.” Itu suara Alice.. aku. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. tapi tak dapat mendengar suaraku. “Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. Aku mendengar suara Alice. membereskan luka di kepalaku.” “Tinggallah. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku.. “Mungkin ada kesempatan. kau harus melakukannya sekarang. “Apakah akan berhasil?” tanya Alice tegang. aku akan bersamamu. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap. “Edward. Edward. bibirnya yang dingin menekan kulitku. “Tidak!” ia berteriak. aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk di tanganku yang terbakar.” Wajah Edward tampak lelah. Aku mendesah bahagia. berusaha menenangkan diri.” aku mencoba bicara. “Alice. “Tapi kita harus bergegas. Aku harus menghentikan pendarahannya. “Carlisle! Tanggannya!” “Dia menggigitnya. dan Carlisle menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu. perlahan. apa pun itu. Aku membukanya. kalau kau akan mengisap darah dari tangannya. “Itu keputusanmu..” aku mengerang. takut akan kehilangan dirinya di kegelapan. begitu putus asa menemukan wajahnya.” Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat. Namun mereka bisa. saat tanganku mati rasa. kau harus melakukannya. “Apa?” Edward memohon.” Suaranya tegang. Api itu lenyap. mataku perlahan-lahan membuka. “Aku tidak tahu. membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi. Aku tak bisa menolongmu. Bella. cari sesuatu untuk menahan kakinya!” Carlisle membungkuk di depanku.” Suara Carlisle tak lagi tenang. akhirnya terbebas dari kegelapan. atau akan terlambat.” “Ya. Edward. tapi terselip nada kemenangan disana. “Edward!” jeritku. aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku. menahannya.“Tanganku terbakar!” aku berteriak. “Alice. “Edward. “Edward. melainkan terkejut. pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana. tinggallah bersamaku. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya. didekat kepalaku. Kemudian.” Edward ragu.” “Carlisle.. Aku tahu mataku kembali terpejam.” kata Carlisle. Aku mendengar Edward menghela napas ngeri. Dan aku melihatnya. Lukanya cukup bersih. Akhirnya. “Dia disini. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri. “Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya. Aku tak dapat melihat wajah Edward. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai.

” “Bella?” Carlisle mencoba memanggilku.rasa kantuk yang melanda diriku. “Sudah keluar semua?” Carlisle bertanya dari jauh. “Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya. “Darahnya bersih.” kata Edward pelan. djAnGgo 380 .

” desahku.” Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga. dia tahu tentang kau. “Tidak. “Terima kasih. “Alice. “Dia mengelabuhiku. “Bella?” Carlisle bertanya lagi.” jawabnya. dia tahu darimana asalmu.Aku berusaha menjawabnya. Alice. videonya.” kata Carlisle.” adalah kata-kata terakhir yang kudengar. tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku. meringkuk didadanya. aku ingin tidur. “Sudah saatnya memindahkannya.” aku menambahkan. Dan akupun berada dalam pelukannya.” “Aku mencintaimu.” Edward menenangkanku. Edward. “Alice.” aku mendesah. melayang-layang. “Sekarang tidurlah. aku akan menggendongmu. “Mmmm?” “Apakah apinya sudah hilang?” “Ya. “Kau bisa tidur. djAnGgo 381 . Bella. Dia menonton video rekaman kami. aku ingin tidur. Tapi itu membuatku teringat. Dahiku berkerut. Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward.” Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. semua sakitnya hilang.” Aku mencoba membuka mata. letih karena perasaan lega. Sayang. tapi suaraku lemah. “Apa?” “Dimana ibumu?” “Di Florida. Edward.” aku menolak. “Aku mencium bau bensin. rasanya sangat lelah.” aku menghela napas. “Aku tahu.

djAnGgo 382 .

Kupikir dia menyandera ibuku.” “Dia mengelabuhi kita semua.” “Itu pasti perubahan yang baik untukmu.” Jari-jari dingin menangkap tanganku.” “Aku harus menelepon Charlie dan ibuku. djAnGgo 383 . aku menyukai aromamu yang asli. di rumah sakit ini. Aku memandangi tubuhku di balik selimut. Edward. “Oh. dan tangannya yang lembut menahanku di bantal. Jalan buntu Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. “Harus kuakui. “Kakimu patah.” samar-samar aku ingat untuk melakukannya. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. cahaya terang menyilaukan pandangan. dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya. “Kenapa kau memberitahunya aku ada di sini?” “Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela. Aku bisa saja terlambat. mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya. Renée ada di sini. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup. Dia sedang mencari makan. di sini. berhati-hati agar tidak mengenai kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. suaranya terdengar menyesal. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya. Ia langsung tahu maksudku. sesaat aromamu jadi berbeda. Ibuku ada di sini. “Aku tak yakin. Aku dibaringkan di tempat tidur keras. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah.” “Tapi apa yang kau katakan padanya?” tanyaku panik. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. dengan besi pengaman.” “Dia di sini?” Aku mencoba duduk. well. itu mungkin saja terjadi. dan ada sesuatu direkatkan di wajahku.24.” ia berbisik. ia meletakkan dagunya di ujung bantal. Edward. kakiku bengkak.” Edward berjanji. dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir. Aku berada di ruang yang asing. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini. dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti darik. “Aku nyaris terlambat. “Sekarang semuanya baik-baik saja. di atas kepalaku. tapi kepalaku semakin pusing.” Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. tidak boleh. “Sebentar lagi dia kembali. beberapa bagian tengkorakmu rusak. memar hampir di sekujur tubuh. “Dan kau belum boleh bergerak. “Edward?” Aku menoleh sedikit.” Ia memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya.” “Apa yang terjadi?” Aku tak bisa mengingat dengan jelas. Mereka memberimu transfusi. “Alice sudah telepon mereka. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Aku tidak menyukainya.” Ia berhenti. ruang putih. kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia. aku benar-benar menyesal!” “Ssssttt.” “Tidak.” ia menyuruhku diam. “Jangan. Tangan-tanganku dipenuhi slang infus. begitu juga empat rusukmu. “Seberapa buruk keadaanku?” aku bertanya. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. di bawah hidung. dan kau kehilangan banyak darah. “Aku bodoh sekali.” “Bagimana kau melakukannya?” tanyaku pelan.

“Lebih baik.Aku menunggu jawabannya dengan sabar. setengah tersenyum.” Akhirnya ia memandangku. “Mustahil. “Rasanya mustahil.” djAnGgo 384 . lebih baik daripada yang kubayangkan.” “Tidakkah rasaku seenak aromaku?” Aku balas tersenyum.. untuk berhenti.. Ia mendesah tanpa membalas tatapanku. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.” ia berbisik. Tapi aku melakukannya. “Aku harus mencintaimu. bahkan.

memalingkan pandang. “Takut jarum. “Bukan.” “Memang tidak. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku. ngeri membayangkannya. “Kenapa kau ada di sini?” aku bertanya. “Takkan kubiarkan.” ujarku menyesal.” “Tapi kau tetap tinggal. “Tentu saja itu masih tidak masuk akal. mengingatkanku akan sesuatu. “Aku datang ke Phoenix djAnGgo 385 .” Suaranya menenangkan. dia langsung lari menemuinya.” kata Edward. tidak masalah. Bella?” “Apa yang terjadi pada James?” “Setelah aku menjauhkannya darimu. Ia menatap langit-langit..” “Maafkan aku.” ia menimpali dengan geram.” “Mereka harus meninggalkan ruangan. “Oh. kau tetap tinggal. “Aku tidak melihat Emmett dan Jasper disana. seharusnya memberitahuku. “Mereka juga menyayangimu. kau tahu.” “Ya. Aku memahaminya sekarang.. pertama bingung. tentu. “Jarum. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. melihat kantong transfusi menahan tanganku. kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali..” “Oh..” “Kau takkan membiarkanku pergi. “Auw. “Ada apa. sambil menggeleng.” Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Alice.” “Apa lagi yang harus kumintai maaf?” “Karena nyaris mengenyahkan dirimu selamanya dariku. Emmett dan Jasper membereskannya. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya. “Aku tahu kenapa kau melakukannya.” Aku meringis. Kuputuskan untuk mengubah topik. Ia menatapku.” “Dan Alice dan Carlisle. “Ya. Ini membingungkanku.” Suara Edward tenang. kemudian meringis. Tapi jarum infus. “Alice tak pernah mengerti. Kau seharusnya menungguku. Edward langsung waswas. “Apakah Alice melihat rekamannya?” tanyaku waswas. “Ada apa?” tanyanya waswas.” Suaranya berubah kelam.” Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. tapi hanya sedikit. itu sebabnya dia tidak ingat. Aku merinding. samar-samar menguarkan kebencian.” aku menjelaskan. dahinya kembali mulus bak pualam. perhatiannya teralihkan.“Maafkan aku. maksudku. tapi wajahnya kelam oleh amarah.” ia bergumam pelan pada dirinya sendiri. “Kau ingin aku pergi?” “Tidak!” protesku. tapi sesuatu menghentikanku. darahmu berceceran di mana-mana.” aku bertanya-tanya.. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk..” “Aku tahu. Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain. vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati. Aku memandang ke bawah.” Aku memutar bola mataku. “Dari semua yang perlu dimaafkan. kemudian kepedihan terpancar di matanya.” aku meminta maaf lagi.” Beberapa ingatan yang sangat tak menyenangkan mulai menghantuiku.

kau tahu kelanjutannya. dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama Carlisle dan Alice. hingga aku sendiri nyaris mempercayainya. “Kau setuju menemuiku.” Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya. kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas.. “tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan. untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks. well.untuk berbicara dari hati ke hati.” ia menambahkannya lugu.. tentu saja aku kesini ditemani orangtua.” djAnGgo 386 .

Aku bisa mendengar ibuku sekarang. “Jangan buat aku pergi menghampirimu.” Ia pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur. sungguh-sungguh. Monitor langsung bergerak kacau lagi.” bisikku sinis.” katanya. Sekejap ia melihat ketakutan di mataku.. Mom. rasa panik yang tak masuk akal merasukiku. “Aku takkan meninggalkanmu. “Jangan lupa bernapas. Ia tertawa. Setelah semua diatasi. Aku tak bisa membiarkannya pergi. Ia sedang berbicara dengan seseorang. “Sekarang tugasmu hanya sembuh. Ia menarik napas panjang.” gumamku pada diri sendiri. kami membuatnya sangat meyakinkan. “Jangan tinggalkan aku. “Bella.” Ia tersenyum.” Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. suaraku penuh sayang dan lega. Tak ada jendela yang pecah. kemudian tersenyum. mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. meskipun teramat lembut. jadi aku menunggunya dengan tidak sabar. tidak apaapa.” aku mencoba menenangkannya. mungkin perawat. aku sedih sekali!” “Maafkan aku. Tapi kemudian bibirnya menegang. bunyi bip itu mendadak berhenti. untuk menenangkannya. Ia langsung tersentak. “Hmmm.. “Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya. dan tatapannya mengira-ngira. Suara bip di monitor langsung bergerak tak terkendali. “Aku akan tidur sebentar.” ia berjanji. ia mungkin akan menghilang dari diriku lagi. matanya masih terpejam.” aku mengeluh. aku senang sekali bertemu denganmu!” Ia membungkuk dan memelukku lembut. misalanya. “Alice terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya.Aku memikirkannya beberapa saat. “Kurasa aku mendengar ibumu. “Mom. “Mom!” aku berbisik. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan. suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Ia menarik diri.” Ia mencondongkan tubuh perlahan. Posisinya diam tak bergerak. aku jadi penasaran. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku melompat. ekspresi waswasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi. djAnGgo 387 . barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. dan ia terdengar lelah dan sedih. lalu berbaring dan memejamkan mata. Tapi sekarang semua baik-baik saja. dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku. Ia melihat Edward yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku.” ia berjanji. dan ia mengintip dari sana.” aku berseru. “Dia tak pernah pergi.” Dahinya berkerut. sekarang bukan ia satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar. tersenyum. dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. “Aku belum selesai menciummu. “Ini bakal memalukan. Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun.” “Tidak juga. ya kan?” gumamnya pada diri sendiri. meyakinkan semuanya baik-baik saja.” katanya. “Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. Terdengar suara pintu berderit.

” “Jumat?” aku terkejut. kau tak sadar cukup lama.“Aku senang akhirnya kau tersadar. Sayang.” Ia duduk di tepi tempat tidur.. djAnGgo 388 . tapi aku tak ingin memikirkannya. luka-lukamu parah sekali. Aku mencoba mengingat hari ketika.” “Aku tahu. Aku tiba-tiba menyadari aku tak tahu ini hari apa.” Aku bisa merasakannya. “Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu.. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” “Sekarang hari Jumat. Sayang.

” aku menimpali sepenuh hati. Bukan ide bagus. karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin. Lalu matanya kembali melirik Edward.” Ia merengut. dan kelembapannya tak seburuk itu. Ia menaruh tangannya di dahiku. dan dia sama sekali tak bisa memasak.“Kau beruntuk dr. jadi aku mencoba alasan lain. dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya djAnGgo 389 . salju dan semuanya. dasar bodoh.. “Aku ingin tinggal di Forks. “Di Florida. “Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron. dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut. “Kenapa?” “Sudah kubilang.” “Kau bertemu Carlisle?” “Dan adik Edward. oh. Aku hendak berbohong. “Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak. “Tidak apa-apa. kau percaya?” “Itu hebat. Cullen ada di sana. “Apa yang sakit?” Mom bertanya waswas.” aku meyakinkan mereka.” Aku meragu. “Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah. “Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns.” Aku tersenyum. dan teras persis seperti di film-film tua. dan pohon ek raksasa. aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya.” Mom sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya. “Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida.. Dia sebatang kara disana. Aku tinggal di Forks.” “Kau mau tinggal di Forks?” tanyanya. Alice. Dia baik. bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini. warna kuning dengan bingkai putih. Mom. “Di mana Phil?” tanyaku cepat. sekolah. heran. aduh!” Aku mengangkat bahu.” kataku. tunggu sebentar!” selaku. karena bagian itu tidak diperban. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan. yang berbaring di kursi dengan mata terpejam. berusaha terdengar bersemangat.” Edward kembali pura-pura tidur. kemudian mengerang.” ia mengingatkanku. Mom. ” “Mom.” “Mom. lalu memandangku dan Edward bergantian. ia melirik ke arah Edward saat aku mengingatkannya aku punya teman. kali ini benarbenar disengaja. dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh. Dan dia lebih mirip model daripada dokter. Tangannya bergerak ke sana kemari. Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. “Apakah karena anak laki-laki ini?” bisiknya. dan aku punya beberapa teman cewek”. “Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang.” ia tertawa. meskipun masih sangat muda.. kami sudah sering membicarakannya. mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Dia gadis yang menyenangkan. Bella! Kau takkan menyangka! Tepat sebelum berangkat. Mata Edward berkilat menatapku. Ide ini tak terbayangkan olehnya.. Charlie. kami mendapat berita terbaik!” “Phil mendapatkan kontrak?” aku menebaknya. Sayang. dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri. Ia menoleh ke arah Edward.” “Memang. “Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. tapi mata Mom mengamati wajahku. tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar. meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu. kembali menghadapku. Mata Edward masih terpejam. kau tidak menyukai Forks. “Bella. tapi ia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur. “dan Charlie membutuhkanku. “Tidak terlalu buruk.” “Tapi kau tak perlu lagi.

” Ia bimbang. “Ya.disana.” aku mengakui. dialah alasan terbesarku. “Tentang apa?” tanyaku.” Uh-oh. Tak perlu kuakui. “Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini. memandangi Edward yang diam tak bergerak. “Apakah kau sempat berbicara dengan Edward?” tanyaku. “Dia salah satu alasannya. djAnGgo 390 .

Edward langsung berada di sisiku. Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah kualami dengannya ketika membahas cowok. dan ia kembali menatap Edward saat mengucapkannya. “Oh. Aku tak tahu kau akan segera sadar. dia luar biasa tampan.” ujarku. “Kau mencuri mobil?” Alisku terangkat. bangga pada dirinya sendiri.” “Kejahatan?” tanyaku kaget.” “Tidak. ini bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya.” Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang. aku tak ingin kehilangan dirimu.“Kurasa anak lak-laki itu jatuh cinta padamu. kemudian pergi. Meskipun aku sangat menyayangi ibuku. ya Tuhanku. Mom. dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding. “Aku sayang kau. “Aku akan kembali malam ini.. memalingkan wajah.. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan. aku takkan menyadarinya.” Aku bergidik dan meringis ngeri. inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ia nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua. dan. Sayang?” “Aku ingat. berusaha menjaga suaranya tetap pelan.” Suaranya terdengar ragu-ragu. itu kedengarannya seperti sesuatu yang mungkin dikatakan seorang remaja cewek tentang cowok pertamanya.” “Aku juga sayang kau. “Kau harus pergi?” Ia menggigit bibir. sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan.” aku menenangkannya. kau tak perlu melakukannya! Kau bisa tidur di rumah.” “Aku akan segera kembali. Mom. Aku cuma naksir.” Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.” ia menimpali.. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku. “Benar.” Aku berusaha menyembunyikan rasa legaku supaya perasaanku tidak terluka. sejauh yang bisa kuingat.” “Aku baik-baik saja. “Aku bisa tinggal. “Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. Kemudian ia mendesah. tapi kau masih sangat muda.. djAnGgo 391 . “Aku cukup tergila-gila padanya.” Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji.. “Kau tegang. langsung senang.” Mata Edward tetap terpejam.” aku meyakinkannya. kalau kau membutuhkanku. Mom. Edward akan menemaniku. dan aku tidak suka berada di sana sendirian. kau tahu. Mom. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku.” tuduhnya.” Nah. Mom. “Dan bagaimana perasaanmu padanya?” Ia tak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya. Kau ingat dulu kau menari di sana. “Aku tidak akan sendirian. Bella. aku akan baik-baik saja. Sayang. Dia akan ke sini sebentar lagi.” “Tidak apa-apa. dia kelihatan sangat baik.” ujarnya. “Well. Jangan khawatir. menepuk-nepuk tanganku yang diperban. “Telah terjadi tindak kejahatan di kompleks kita. tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. Sayang. “Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah. “Phil seharusnya menelepon sebentar lagi.. Aku mendesah.” ia mengakui malu-malu. Aku tidur di sini.” Begitu perawat menutup pintu. “Aku juga berpikir begitu. “Aku tahu itu. Sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini. “Aku terlalu tegang. Mom mengecup dahiku. Bella. meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.

Ia tersenyum. sama sekali tidak menyesal. “Apa?” djAnGgo 392 .” “Bagiamana tidur siangmu?” tanyaku.” Matanya menyipit. “Menarik. lajunya sangat cepat. “Mobil bagus.

Aku terus menatapnya hampa saat katakatanya satu per satu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. seperti vampir sejati.” Ia membelai wajahku hati-hati. kupikir itulah yang kau ingingkan. kau perlu beristirahat. berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku. Matanya lebar dan serius. Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. Kurasa djAnGgo 393 . “Di tempat aku tak bisa melukaimu lagi. aku merasakan nyeri di dadaku. Kau hanya bisa keluar pada malam hari. “Aku takkan meninggalkanmu.” ia berjanji..” sahutku hati-hati. sambil menepuknepuk kantong infus.. Ia meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. suaraku parau.” ia menjelaskan. Ia tidak mengatakan apa-apa.” gumamku. Ia menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tak kumengeri. meskipun. Ia terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. “Aku tidak membutuhkan apa-apa. Aku nyaris tak menyadari detak jantungku yang semakin memburu.” Ia memandang Edward serius. Edward duduk tak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih. tapi tidak juga.” Aku menatapnya tidak mengerti. “Aku terkejut. tapi aku hanya menggeleng.” “Kau bersumpah takkan meninggalkanku?” bisikku. Sayang?” tanyanya ramah. lalu pergi. Rusukku nyeri. “Sssstt. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang. “Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. “Aku akan tinggal di Forks..” Tapi jantungku tak mau tenang.Ia menunduk ketika menjawab. sebelum beralih ke monitor.” “Jangan tinggalkan aku. dan ibumu. “Baiklah.” ia mendesah. Matanya berwarna gelap. “Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap. “Aku takkan kemana-mana. “Bella. “Tak perlu berpura-pura berani. dan sekali lagi melirik waswas mesinmesin itu. saat napasku semakin liar. lebih mendekati hitam daripada keemasan. “Waktunya untuk obal penghilang sakit. “Ya.” Ia menunggu. “Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang. tenanglah. Kupikir Florida. Bella. tidak. Atau di mana pun yang keadaannya seperti di sana. rasa sakit yang jauh lebih parah. “Aku bersumpah. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku. “Tidak..” Aku tak bisa memejamkan mata sekarang. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas.” Awalnya aku tak langsung memahaminya. Bella.” aku memohon.” Ia nyaris tersenyum. Sayang. “Lebih baik?” tanyanya. well. Lalu wajahnya serius. Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. mengancam menghancurkanku. ia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah.” Aroma napasnya menenangkan.

” djAnGgo 394 .” “Ya. Bella. “Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?” “Tidak. bereaksi berlebihan. hidup-hidup. aku tak ingin tanpa dirimu. kaulah penyebabnya. “Alasan aku berada di sini.. bahwa akulah alasan kau berada di sini.aku memilih kata ‘overreaction’. tentu saja tidak.” Aku merengut. “Dibalut perban dan plester dan nyaris tak bisa bergerak. “Mengapa kau bilang begitu?” aku berbisik. jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya.” “Nyaris. menjaga suaraku agar tidak gemetaran. Yang benar saja..” ia berbisik. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu.

kemarahannya mereda. ia tak ingin aku mengetahui hal seperti ini. tapi ia mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku.. marah. “Kenapa kau melakukannya.“Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini.” Mata Edward sepertinya berubah hitam. “Aku sedang memikirkan yang lain.. atau ia sangat berhatihati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Edward. dan aku ingat. “Berjanjilah padaku. Semudah itu.” kataku. “Tapi kelihatannya masuk akal. yang paling parah adalah merasa.” Ia melipat tangan dan meletakkannya di sisi tempat tidurku...” Aku mulai marah sekarang. tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.. Kalau bukan karena kau. dingin. “Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan. fakta itu tak terlewatkan olehku. mulutnya seolah dipahat dari batu. kau boleh pilih.. Kenapa kau tak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu. Raut wajahnya lembut. jadi kurasa kau akan menemukan caranya.” Suaranya tercekat. “Yang terburuk bukanlah saat melihatmu di sana. seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa. Ia tidak akan menjawan.. Alice pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya.. Ia mendengar perubahan pada nada suaraku. sekarang aku mau tahu kenapa. semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. seorang laki-laki dan perempuan seharusnya sederajat.” ia menambahkan dengan kasar. lalu meletakkan dagunya di sana. mengetahui bahwa aku tak bisa berhenti. Bukan.” ia melanjutkan berbisik. Percaya aku sendirilah yang akan membunuhmu. mencoba melepaskan diri.” Meski begitu ia tidak berjanji. djAnGgo 395 . Ia benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif. mulai jengkel.” “Aku bisa saja.” aku berbisik. tapi raut khawatir tak juga enyah dari wajahnya. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Alice sebelum Edward menemuinya. Kepanikanku nyaris tak terbendung... dan rasa panik mencekat paru-paruku.” “Tapi kau tidak membunuhku. “Kenapa?” ulangnya hati-hati.. “Sepertinya aku tak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu. “Kau telah menyelamatkanku. “Meski begitu. Tatapannya tajam.” desakku..” Aku tahu aku harus tetap tenang.” katanya pelan. entah itu akan membunuhmu atau tidak..” kataku. itu sangat jelas. Lubang hidungnya kembang-kempis. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain. “Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat.. terbaring di lantai.. “Bagus.” Ia meringis mendengar kata-kataku. itu bukan yang terburuk. Sepertinya ia telah memutuskan ia tidak marah padaku. meringkuk dan terluka. salah satu dari mereka tak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. “Apa?” “Kau tahu maksudku. jelas Edward tidak tahu Alice telah memberitahuku tentang penciptaan vampir.. Ia terkejut. “Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tak berpengalaman menjalin hubungan. aku sudah membusuk di pemakaman Forks.

” Ia berhenti sebelum melanjutkan. Aku tidak menyerahkan apa pun. kau tidak tahu. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini. aku tidak berharap begitu. dan aku masih tidak yakin.” “Apakah kau berharap Carlisle tidak menyelamatkanmu?” “Tidak.” djAnGgo 396 .” Suaranya lembut. “tapi hidupku sudah berakhir.” aku berkeras. ia menatap lekat-lekat ujung sarung bantal. “Aku juga ingin jadi Superman.” “Kau tidak tahu apa yang kauminta. “Kurasa aku tahu.” “Bella.“Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane.

Yakin. Aku melihatnya berusaha menekan amarah. Aku takkan melakukannya padamu. Bella. “Aku takkan sembuh. “Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. atau kurasa beberapa hari yang lalu. Dan aku akan menjadi tua. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Begini saja.” Sekarang ia cemas. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tak kelihatan bertapa jelas aku mengingat rasanya... Lebih baik begitu.” “Aku bukan hadiah lotere.” Kerutan di dahinya semakin dalam.” gumamku akhirnya. “Aku bisa mengatasinya. “Dan aku tak ingin mengakhirinya. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotere. kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.” tukasnya.“Kaulah hidupku. “Itu masalahku. Paling lama dua minggu. Wajahnya tidak menunjukkan kompromi. “Aku mungkin takkan mati sekarang.” kataku pelan. itu juga bukan masalah. dia terbiasa hidup sendirian. Aku membuka mulut.seharusnya bukan apa-apa.” “Kenapa tidak?” Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tak selantang yang kuinginkan. dia ingin aku melakukan yang sama. kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi.” “Bukan masalah. Aku tak bisa menjaga mereka selamanya. dan aku seharusnya tidak ada. “Charlie?” tanyanya tiba-tiba.” “Kau keliru. djAnGgo 397 .” “Tepat sekali..” Aku menatapnya geram. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka. dan ia balas menatap. Yang seharusnya terjagi. Tiga hari.. “Itu bodoh. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat ke kematian. Dan Charlie lebih fleksibel.” geramnya. terkejut. “Tentu saja kau akan sembuh.. Dan rasa sakitnya?” tanyanya.. Meski begitu ia sangat tenang.’ Dan aku tidak mempercayainya.” ia mengingatkanku. ‘Begini. “Aku tak bisa melakukannya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani. Aku menutupnya lagi.. setelah itu . Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku.” Ia menatap geram padaku. Ia menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya.” aku berkeras.” “Sungguh. “Renée?” Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab.” “Kalau kau menungguku hingga sekarat. “Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini.” “Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan. matanya terpejam. tapi suatu saat. Ia membuka mata. memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya.. mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. “Itulah yang mestinya terjadi. Ia menunggu. ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!” “Kau akan sembuh.” Wajahnya merengut saat ia memahami arti ucapanku. Bella. mengambil uangnya. Sama sekali bukan masalah. suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkannya seperti setiap kalu aku berbohong. tapi tak ada suara yang keluar. “Aku bakal mati. Wajahku memucat.” Aku semakin baik dalam hal ini.” kataku.” Aku mendengus. Yang akan terjadi seandainya aku tidak ada.” Edward meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkannya. “Tidak. api dalam nadiku. Aku tak bisa menahannya. dan berkata. “Renée selalu membuat keputusan yang menurut dia benar. Aku menatapnya.

Kau jauh lebih baik.“Benar. “Bella. kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tak berujung.” Ia memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya. dan inilah keputusanku.” djAnGgo 398 .

suatu hari nanti.. “Jangan!” Ia mengabaikanku. “Itu berarti selamanya. “Permisi.” katanya pada djAnGgo 399 . tetesan. “Alice sudah melihatnya. “Bagaimana perasaanku?” tanyanya. “Aku terkejut waktu Renée mempercayai ucapanku itu. “Bella. kau cuma naksir aku. aku akan di sini. “Segala sesuatu berubah.” Lama sekali kami bertatapan. “Alice takkan berani.” “Dia keliru. “Aku akan menyuruh perawat ke sana. “Aku yakin itu namanya jalan buntu.” Aku balas tersenyum. “Aku takkan meminumnya.” aku berjanji. tak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku. Ia memandang kantong cairan di samping tempat tidurku.” Suara itu terdengar bosan. tapi itu juga tidak terjadi.” gumamku. Dia juga melihatmu mati.” aku mengingatkannya. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu. Ia melihat ketakutan di mataku. mengabaikan rasa sakit di pipiku.” aku berbohong.” “Aku tidak takut jarum. ya kan?” Aku mencoba menebak. aku takan pergi ke mana-mana. “Jangan kelewat berharap.” Kemudian ia tersenyum simpul. bunyi bip. kau akan melupakannya.” Aku mendesah.” “Kau harus beristirahat.” “Jadi menyerahlah.” Matanya kembali kelam. itu membuatku pusing.” Dan untuk beberapa saat ia tampak sangat mengerikan hingga aku tak dapat mencegah untuk mempercayainya.“Kalau kaupikir ini akhirnya. “Auw. Jangan khawatir. Kau benar-benar keras kepala.” aku menyarankan. “Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. “Jadi bagaimana kesimpulannya?” aku bertanya-tanya. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu. Selama kau senang karenanya. dan detak jam besar di dinding. aku tak dapat membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah. Kau perlu tenang supaya bisa sembuh. Ia tertawa dingin.” “Kau takkan mendapatkanku bertaruh melawan Alice. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin. “Aku takut memejamkan mata. “Kurasa mereka takkan menyuruhmu meminum apa-apa.” Mataku menyipit.” Ia tertawa ketiak perawat masuk sambil mengacungkan suntikan.” Aku menggeleng tak percaya. tahu.” gumamku. dan mendesah putus asa.” Detak jantungku mulai memburu.. “Usaha bagus. “Aku tidak percaya. “Aku baik-baik saja. Akhirnya ekspresinya melembut. “Sudah kubilang.” “Itulah hal terindah menjadi manusia.” ia memberitahuku. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu. “Aku tidak mau tidur lagi. sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.” “Oh. dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. “Kurasa Bella sudah siap untuk obat penghilang sakitny. “Kau bukan satu satunya vampir yang kukenal. “Ya?” terdengar suara dari speaker di dinding. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya. kau sakit.” Ia menggapai tombol. berarti kau tidak mengenalku.” katanya tenang.” katanya lembut.

bersandar di dinding. “Kau akan merasa lebih baik sekarang. Aku terus menatapnya. masih waswas. Ia bersedekap dan menunggu. “Nah. Ia menatapku tenang. Edward bangkit dan pergi ke ujung ruangan.Edward.” djAnGgo 400 . Sayang.” Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku. ini obatnya.

“Aku juga. Kemudian aku pun tertidur.”Kata itu nyaris tak terdengar. “Ya?” “Aku bertaruh memegang Alice. Ia tahu apa yang kucari. selama ini adalah yang terbaik untukmu. Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan.” Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala.” desahku.” gumamku datar.” ia berjanji.” Aku sudah nyaris tak sadarkan diri. djAnGgo 401 . “Sama-sama. “’Tu tidak sama. saat kelopak mataku mulai memejam.” gumamnya.” gumamku. jangan khawatirkan itu. selama ini membuatmu bahagia. Bella.” Kurasa aku tesenyum mendengarnya. “Aku akan ada di sini. karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.” gumamku. “Terima kasih. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. “Seperti kataku. Ia tertawa. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya. tapi terlalu berat.” bisiknya.. “Sudah. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku. “Aku mencintaimu. “Tinggallah. “Edward?” aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas.“Terima kasih. bagai nina bobo. Aku menoleh sedikit. “Oke” Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.” “Aku tahu.” ia tertawa pelan. mencari. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti. Hanya sebentar. Suaranya indah. Bibirnya menyentuh lembut bibirku. “Kurasa sudah bereaksi..

djAnGgo 402 .

Sepatuku hanya satu. aku tidak akan meninggalkan rumah.EPILOG : ACARA ISTIMEWA Edward membantuku naik ke mobilnya.” Ia tersenyum. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah diterapkannya padaku sebelumnya : jam malam. sebab kalau bukan karena Edward. dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini. djAnGgo 403 . bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. “Halo. ia teramat bersyukur dan berterima kasih. ia menyelinap ke jok pengemudi. ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Charlie. Apakah aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan.” sahutku seraya mencengkeram jok kursi. Ia menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. “Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan. serta tongkat berjalanku. Itu yang tak dapat kusangkal. Kaciuali. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh. dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu. Aku benarbenar tidak suka kejutan. berhubung kakiku yang lain masih rapat terbalut gips.. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. aku yakin itu. Terhadap Charlie. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Atau sepatu yang kukenakan. Charlie. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami. bunga-bunga yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya. “Charlie?” Dahiku berkerut.” sahutnya hati-hati. “Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga. “Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Di sisi lain ia sangat yakin semua ini salah Edward. tapi aku takut menguraikan kecurigaanku.. dengan label berbahasa Prancis yang tidak kumengerti. bahkan dalam pikiranku sendiri. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi.. gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks.” Ia tersenyum mengejek. dan aku tercekat. menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. melihat sebentar ke layar sebelum menjawab. Setelah aku duduk nyaman. Dan Edward sama sekali tidak menentangnya. sangat berhati-hati dengan sutra dan chiffon-nya. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol. “Sudah.. bukan?” ujarku.. agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku ku Forks. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas. dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. dan tanpa lengan. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra.. Perhatianku teralih dering telepon. Dan ia tahu itu. jam berkunjung. warna biru gelap. Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. berimpel.

Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak tak percaya. “Kau bercanda!” Ia tertawa. “Ada apa?” desakku. Ia mengabaikanku.” saran Edward. “Halo. ini Edward Cullen. “Biarkan aku bicara padanya. kegembiraannya tampak nyata.” Suaranya sangat ramah. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran djAnGgo 404 . tapi hanya di permukaan. Tyler. Ia menunggu sebentar. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejailan di baliknya. kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.

yang berkembang di hatiku seharian ini. Ia menunjuk tuksedonya. Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. “Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman.” Bibirku mencebik. dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan katakatanya. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. “Jangan mempersulit keadaan. Aku menyerah. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal. Air mata kemarahan menetes di pipiku. Tapi prom. “Sungguh. Bella. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.. sebenarnya harapan.mengerikan mulai terbentuk di benakku. tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini. “Karena aku marah!” “Bella. Tapi nanti akan kaulihat. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang. “Bersama Jasper. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. dan Emmett. itu sudah jelas. bingung. Ia mengatupkan bibir dan matanya menyipit. Bergegas kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan.. Pertama. djAnGgo 405 .” ia mengakui.” “Alice akan datang?” ini sedikit menenangkan. karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Juga karena kecurigaan samar. mengingat Alice mencoba mengubahku jadi ratu kecantikan. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu. Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Alice untuk hal itu nanti malam.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal.” desaknya. senyum lebar menghiasi wajahnya.” Aku menoleh ke luar jendela. Ia terkejut melihatku.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. kami sudah setengah jalan menuju sekolah. aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. benar-benar jauh melenceng. “Hmmm. “Kau mengajakku ke prom!” teriakku. “Baiklah. Bella. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu. menurutmu apa yang kita lakukan?” Aku merasa dipermalukan. “Ini benar-benar konyol. barangkali Alice tahu aku membutuhkan make up antiair. “Aku akan ikuti maumu. “Apa?” gumamku. “Ayolah. yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku. Kemudian ia menutup telepon.” Aku mengabaikan kata-katanya. Nasib burukku belum berakhir. setiap malam. Jangan tersinggung.” Nada suara Edward berubah. “Dan sejujurnya dia takkan punya waktu untuk siapapun kecuali aku. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sekarang semua sudah jelas. dan Rosalie. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya. aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. Tanganku tidak hitam ketika kutarik.

terpikir olehku hal lain. meskipun hubunganku dengan suami-sekali-waktunya bisa dibilang baik. djAnGgo 406 . atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. menurut dia.. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada.. Setelah menggelenggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu. Emmett senang berada di dekatku. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan. reaksi manusiaku sangat menghiburnya.Perasaan tenang itu langsung lenyap.

Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal : para saksi. kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi. Alice tampak memukau dalam gaun satin berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Ketika kami sampai di dalam.. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. “Sudah. “Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram. meskipun ia praktis menggendongku.” Aku melihat ke arah lantai dansa.” olokku. tempat Charlie tak bisa ikut campur. Aku takkan pernah melepaskanmu.” Ia tersenyum enggan. Ia mengulurkan tangan. Edward dan aku tak terpisahkan. Berdansa. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Aku tak bergerak dari tempat duduk. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.. tangan terlipat.“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya.” katanya lembut. “takkan seburuk itu.” Ia menggeleng. “Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai. melekat ketat sampai ke betis yang kemudian melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya.” Ia nyengir. “Apa pun asal kau tidak perlu berdansa. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu. tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. Di sini. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Kami sudah di sekolah sekarang. Hari ini langit berawan tipis. “Waktu seseorang hendak membunuhmu. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang. secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Garis leher gaunnnya jatuh hingga ke pinggang. lalu tergelak.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. termasuk diriku sendiri. kelihatannya Tyler tidak. Di sekolah. bahkan tidak dirimu sendiri. sudah. “Well. aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding. ya Rosalie. kau seberani singa. “ada lebih dari cukup campir hadir di sini. mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir.” Kugertakkan gigiku. Dan Rosalie. diam-diam berpuas diri.. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka. prom diadakan di ballroom hotel. kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa. well . aku janji. aku takkan membiarkan apa pun melukaimu.” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis. “Bella.” djAnGgo 407 .” Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. Ia bisa melihatanya di wajahku. tiba-tiba curiga. tentu saja aku bersama kelompok vampir. pestanya berlangsung di ruang gym. “Tentu saja. Ia tetap memelukku erat-erat. Penampilannya sungguh di luar dugaan. bagian tengah lantai tampak lenggang. Di Phoenix.. “Oh. “Meski begitu. menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. Ia mendesah. Aku menelan liurku. “Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku penuh konspirasi.

Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.” Tenggorokanku benar-benar kering. djAnGgo 408 . “Edward. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan.” Ia membayar tiket kami.“Apa pun. hingga aku hanya bisa berbisik. “Aku punya waktu semalaman.” ia mengingatkan. kemudian membimbingku ke lantai dansa. boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. dan menyeret kakiku. Kupeluk lengannya. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!” Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.

namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Jacob menaruh tangannya di pinggangku.” Jacob sampai di tempat kami. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati. Aku terkejut Jacob tak perlu mendongakkan kepala. lalu mundur selangkah.” ia mendesah.” Kami tidak benar-benar berdansa. “Hai. “Jaga sikapmu!” desisku. menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. “Terima kasih. Jacob Black. dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.” kata Jacob ramah. rambutnya ditarik licin dalam kuncir kuda. Setelah kaget waktu mengenalinya tadi. “Dia ingin mengobrol denganmu.” ia balas berbisik. Kemudian kami pun berdansa. kini aku merasa kasihan pada Jacob.” Ia melingkarkan tanganku di lehernya. “Kau percaya. kemudian kami sama- djAnGgo 409 . perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya. dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. “Hei.” gumamnya.” aku mengakui. bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. aku memang berharap kau ada di sini. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya. sedikit malu-malu. Aku mengikuti arah pandangannya. Tapi senyumnya tetap hangat. Jacob. sedikit. “Wow. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. Itu bagus juga. “Ya. “Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun. aku balas tersenyum padanya. Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu. Ia pasti telah bertambah tingi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya.. memandang Edward untuk pertama kali. Bella. teramat sangat tidak nyaman.” Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku. Edward mengeram sangat pelan. mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. aku bisa menduga jawabannya. kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku menggodoanya.“Jangan khawatir. “Oke. aku percaya. Jake. dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus. jangkung. “Yeah. Edward hanya mengangguk.” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah. ekspresinya hampa. wajahnya tampak marah. memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.. ini tidak terlalu buruk. sesaat menarikku lebih rapat. Wajah Edward tenang. mengangkatku. “Tapi ia sudah bersama seseorang. tidak fokus akibat berputarputar. Suara Edward terdengar sinis. “Jadi. Sebagai gantinya. ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui. “Well. bodoh. Melihat ekspresi Edward tadi. “Ada apa?” aku bertanya keras-keras. dan tak seimbang. “Aku merasa seperti berumur lima tahun. hingga barangkali ia bukan pedansa yang baik daripada diriku sendiri.” Aku balas tersenyum. lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. “Seratus delapan puluh lima senti.” gumamku. Ia jelasjelas merasa tidak nyaman. sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai. “Aku bisa.” Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Ia berjalan menghampiri kami. tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. “Apa kabar?” “Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu. berapa tinggimu sekarang?” Ia tampak bangga. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri.

“Omong-omong. kau cantik sekali.” ia menambahkan malu-mal. merasa jengah. djAnGgo 410 .sama berpaling.

.” “Aku tahu itu. “Dia masih percaya takhayul. “Jangan marah.” ujarnya.“Mm. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Dia tidak percaya. Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya.” Jacob menyahut. katanya. “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri.” gumamnya. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Itu bukan pertanyaan. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu.” desakku.” Aku balas tersenyum. Mataku menyipit. Katakan saja apa yang harus kaukatakan. oke?” “Tidak mungkin aku marah padamu. Jake. bahwa. meskipun aku tahu jawabannya. “Lagi pula.” “Aku tahu. katakan saja padaku. dan terlepas dari janjiku. dia akan membelikan master cylinder uang kubutuhkan. bukan. “Dia menyuruhku memberitahumu. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy.. Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Jacob. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya. aku merasa marah. seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix.” Ia menggeleng jijik. Kami bahkan tak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik. trims. djAnGgo 411 . bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku. di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. dia memandangku sekarang. eh?” “Yeah. “Setidaknya. “Pikirnya. dan ini kata-katanya. Jacob. memperingatkanmu.. ini bodoh sekali. sementara wajahnya sendiri datar. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya. Ia masih tampak canggung. namun lemah. Ia memalingkan wajah. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.” Ia menggeleng.. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya.. aku pasti sudah mati. “Kalau begitu. “Begini.” olokku.” aku meyakinkannya.” Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. “Kami akan mengawasi. dan tanganku melingkar di lehernya. kalau aku mengatakan sesuatu padamu. Bella. Dia. yang penting kau mendapatkan onderdilmu. Beritahu aku. “Katanya. kecewa. Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku. Aku tertawa keras-keras. sekali lagi merasa jengah.” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu. “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Setidaknya Jacob tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. maafkan aku. tapi. meskipun tangannya masih di pinggangku. “Aku menyesal aku harus melakukan ini. “Ada lagi?” tanyaku tak percaya. dia ingin kau putus dengan pacarmu. ini kedengarannya buruk sekali. bukan aku”. “Lupakan saja. ya kan?” “Yeah. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku..” Aku ikut tertawa. “Aku terjatuh. aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini.” aku meminta maaf.” “Well. Jacob berpaling lagi.” Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. hhh.. namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. Jacob.” gumamnya. merasa malu. Jacob tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. Dia memintaku untuk memohon padamu.” “Aku tak peduli.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku. aku tahu Billy barangkali tidak bajal percaya. Jacob tak berani menatapku. “Ini buruk sekali. “Katakan saja. tapi hanya supaya kau tahu”. ‘Hei. ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip. Jacob. “Oke.

“Tidak. haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?” tanyanya penuh harap. “Bilang padanya aku berterima kasih. “Jadi.” desahku.” Musiknya berhenti. Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusiri gaunku.” Ia tertawa lega. Aku tahu dia bermaksud baik.“Aku tidak terlalu keberatan. dan kulepaskan lenganku dari lehernya. djAnGgo 412 .

” Aku tertawa. “Kau mungkin sedikit memihak. Bukan apa-apa. “Hei. “Kalau begitu. yang sedikit lebih pendek daripadanya. Aku menunggu dengan sabar. sampai ketemu.” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.” “Aku tidak marah pada Billy. kerutan di wajahnya semakin nyata. Ia duduk di sana. Ia setengah tersenyum.” ia meralat tajam. “Tidak apa-apa. Jacob. dan ia memandang kakiku yang digips.” Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat.” Ia melangkah mundur.” desahku. di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk.” Kami kembali berdansa. Ia menunduk menatapku. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya. melambai dengan setengah hati. Bulan telah muncul di langit.Tangannya masih di pinggangku. tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney. kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat. Begitu kami sendirian.” “Maaf.” “Kurasa tidak. Kemudian kami sampai di luar. aku memaafkanmu.” gumam Jacob. sampai ketemu. “Yeah. matanya resah. tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. dan aku balas tersenyum padanya. sambil terus memelukku erat di dadanya. “Oh. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah. Jessica melambai. djAnGgo 413 . Samantha. bingung.” “Terima kasih.” Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami. Tapi ada hal lain. “Tidak juga. Lauren. aku tidak melihatmu di situ.” katanya singkat. Lagi pula. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini. “Kenapa?” “Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. “Jadi. “Intinya?” aku memulai dengan lembut. Kusandarkan kepalaku di dadanya. “Mengingat penampilanmu saat ini. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Bella. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?” Edward menjawabnya untukku. Well. “Dia menyebutmu cantik. dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. “Merasa lebih baik?” godaku. “Jangan marah pada Billy. aku punya daya lihat yang sempurna. Aku yang mengambil alih. merasa senang. Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben. ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di bawah bayangan pepohonan madrone.” akhirnya ia meneruskan kata-katanya. Mulutnya tegang. Aku tersenyum.” Aku menatapnya tidak mengerti. Wajahnya sangat serius.” ia menjelaskan. itu bisa dibilang menghina. memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Kau lebih dari sekedar cantik. tampak jelas di antara awanawan tipis. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel. Lee. dan wajahnya bertambah ppucat dalam cahaya putih. aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. dan Conner menatap kami geram.” Wajah Edward cemberut. Angela juga aga di sana.

” katanya pelan.Ia mengabaikanku. toh harus berakhir juga. “karena aku tak ingin kau kehilangan momen apa pun. langsung tegang. “Twilight . “Aku membawamu ke prom. “Akhir yang lain. Ia mendesah. menatap bulan.” “Beberapa hal tak perlu berakhir. kalau aku bisa djAnGgo 414 . akhirnya menjawab pertanyaanku. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang.” gumamku setengah mendesis. Tak peduli bertapa sempurna sebuah hari. lagi.” gumamnya.

“Maukah kau memberitahuku sesuatu?” tanyanya. Aku mengenali beberapa di antaranya : amarah. aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. senyumnya memudar. Ia tersenyum sekilas. “Bukankah aku selalu melakukannya?” “Berjanjilah kau akan memberitahuku.. “siap menjadikan ini akhir hidupmu. akhirnya. “Kaupikir itu sejenis acara resmi. Dan kau benar-benar menginginkannya?” Kepedihan itu kembali tampak di matanya. “Aku kan tidak tahu. acara istimewa.” selaku. meskpun hidupmu bahkan belum dimulai.” Aku mendesah. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku. Ia menunggu.” Aku bergidik mendengar kata-katanya.” aku buru-buru mengaku. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon.. “Tidak lucu tahu. prom!” ejekku..” ia menimpali..” Ia masih nyengir.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.” kataku. kemudian ia tampak senang. tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. Ia memilih kata kuncinya. “Baiklah..” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku. “Kau siap mengakhiri ini semua.” Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. “Aku tahu.. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa. aku penasaran. “Aku masih ingin tahu.. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku. aku langsung menyesal. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran. Kau siap djAnGgo 415 .” desaknya..” “Itu karena aku bersamamu. daripada percaya bahwa kau serius. “Kurasa itu akan membuatmu marah. “Tidak. “Manusia?” tanyanya datar. Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. nyaris kepada dirinya sendiri. ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. “Memang. Aku ingin kau menjadi manusia . ini tidak lucu.” gumamnya. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.” “Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini. “Tepat.” “Kau sudah berjanji. aku menduga itu semacam. “Aku tahu.membuatnya terjadi. sedih. memainkan chiffon-nya. menatapku seraya tersenyum simpul. ragu-ragu. Ia menunggu dalam diam. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain.” tukasnya keberatan. “Aku tidak ingin memberitahumu.. “Well . atau sedih. Kucibirkan bibirku.. Aku memandangi gaunku. “Oke.” ia menyetujui. tersenyum. bahwa kau akan merubahku. menunduk. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom..” “Tapi aku memang serius. kaupikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?” Benar. Kugigit bibirku dan mengangguk.” Beberapa saat kami terdiam. kau benar. Kumohon. lalu menggeleng marah..” Ia menghela napas dalam.” ia memulai..

“Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?” tanyaku. “Kau sama butanya denganku. ini baru permulaan. “Aku tidak pantas mendapatkannya.” “Ini bukan akhir.” djAnGgo 416 .” sergahku. suaraku berbisik.” katanya sedih.merelakan semuanya. satu alisku terangkat.” “Aku tahu siapa diriku.

sedih mendengar kepedihan dalam suaraku. “Untuk sekarang. “Seorang gadis boleh bermimpi. Wajahnya memang kelihatan kecewa. ya. “Kalau begitu. tidakkah itu cukup?” Aku tersenyum di bawah jemarinya. “Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu. Tanpa sadar aku gemetar. lalu menjauh. “Mmm. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. “Ya?” Ia tersenyum.. melembut.. dan aku yakin. Ia menghela napas. menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku. napasnya terasa sejuk di kulitku.” Alisnya terangkat.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. ia bakal kecewa.” bisikku. itu cukup. Ia tergelak misterius.Aku mendesah. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan.” kataku. Monster. Ia mengamati wajahku lama sekali. “Dengar.” jawabnya. “Sekarang juga?” ia berbisik. jadi suaraku tidak terdengar parau. lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut rahang. Kalau di pikirnya aku cuma menggertak.” Wajahnya cemberut melihat tekadku. “Bella.” Dan ia pun membungkuk lagi.” kataku. “Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya. Kusentuh wajahnya.” Kutelan liurku. djAnGgo 417 . kedua tanganku mengepal.” ejeknya. tersenyum. cemberut mendengar pilihan katanya. “Cukup untuk selamanya. Aku sudah membuat keputusan ini. Tidakkah itu cukup?” “Ya. kau sudah siap?” tanyanya. dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi monster?” “Tidak juga. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. “Ya. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan.” Ekspresinya berubah. “Aku akan tinggal bersamamu. napasku tak beraturan. Ia mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.