P. 1
program gizi.pdf

program gizi.pdf

|Views: 135|Likes:
Published by ant_bee

More info:

Published by: ant_bee on Jan 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

Pembelajaran DALAM MELAKSANAKAN PROGRAM GIZI

“Inisiasi

IRI dalam penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk melalui implementasi PD yang inklusif di Propinsi Banten”

WORKSHOP NASIONAL

5 Years of Implementing Nutrition Programs   Using the Positive Deviance Approach 
(Lessons Learned and the Way Forward)    Hotel Bumi Wiyata Depok, 13 – 15 November 2007 

DEPKES RI

PDRC – UI

PD NETWORK

Inisiasi IRI dalam penanganan masalah kurang gizi anak balita melalui implementasi PD yang inklusif di Propinsi Banten1 oleh : Nanang S Dirja dan Gusrini Apon2 PENGANTAR Islamic Relief mulai bekerja di Banten pada tahun 2003 melalui program air bersih dan sanitasi. Tahun 2004, program air bersih diteruskan dan ditambah dengan program penanggulangan masalah gizi melalui pemberian makanan tambahan (PMT). Pada tahun 2005, Islamic Relief mulai melakukan uji coba menerapkan pendekatan positive deviance dalam program gizi di empat desa. Tahun 2006, program gizi dengan pendekatan positive deviance (PD) diteruskan di 7 desa yang pelaksanaannya diintegrasikan dengan program-program lainnya seperti program air bersih dan sanitasi melalui pendekatan CLTS (Community led total sanitation), peningkatan taraf hidup melalui program microfinance, dan peningkatan akses pendidikan melalui pengembangan CLC (Community Learning Center). Makalah ini hanya membahas program gizi melalui pendekatan positive deviance dengan menekankan sisi-sisi unik yang dijalankan. Dianggap unik karena pendekatan positive deviance dilakukan secara inklusif yang dipadukan dengan pendekatan lain, yaitu dengan program out-patient teurafitic feeding dan dengan program perawatan di rumah sakit. LATAR BELAKANG Hasil baseline survey (BB/U) Islamic Relief di tujuh desa sasaran yang dilaksanakan pada bulan April 2006 menunjukkan tingginya tingkat keparahan penderita kurang gizi. Dari 2,136 anak yang disurvey, 631 anak (30%) termasuk pada katagori gizi kurang, dan 443 (21%) menderita gizi buruk. Puluhan balita bahkan sudah menunjukkan gejala-gejala klinis. Selanjutnya, dalam upaya mengurangi masalah kekurangan gizi balita tersebut, Islamic Relief membuka 26 pos gizi di 7 desa sasaran dimaksud dengan melaksanakan program pendidikan dan rehabilitasi gizi (NERP=Nutrition Education and Rehabilitation Program). Sementara kegiatan di pos gizi berlangsung musim paceklik datang, setelah 3 bulan memasuki musim kemarau. Akibatnya, anak anak yang termasuk pada kondisi gizi buruk semakin parah keadaannya mengingat terjadi rawan pangan pada keluarga-keluarga sangat miskin. Menyadari hal ini, Islamic Relief segera mengkomunikasikan hasil baseline survey, kegiatan pos gizi, beserta tantangan-tantangan yang ada di lapangan kepada pihak-pihak terkait melalui sebuah rapat koordinasi yang dihadiri oleh Puskesmas setempat, Dinas Kesehatan kabupaten dan propinsi, Bappeda propinsi dan kabupaten, perwakilan rumah sakit daerah, serta kepala kecamatan. Rapat koordinasi ini menghasilkan kesepakatan bersama untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya dan berupaya untuk merehabilitasi atau memperbaiki status balita kurang gizi. Langkahlangkah yang disepakati meliputi: 1. Bagi anak-anak dengan status gizi kurang dan gizi buruk tahap awal akan direhabilitasi melalui pos gizi. Pos ini akan melaksanakan kegiatan pendidikan dan rehabilitasi gizi (NERP) yang dijalankan kader posyandu atas dampingan Islamic Relief dan bidan desa.
1

Disampaikan pada workshop nasional “5 Years Implementing Nutrition Programs Using the Positive Deviance Approach”. Depok, 13-15 November 2007 kerjasama Depkes, PDRC-UI, dan PD Network. 2 Staff pada Islamic Relief (LSM internasional yang berkantor pusat di Birmingham – UK)

1

2. Bagi balita dengan status gizi buruk yang sudah memperlihatkan gejala klinis akan dilakukan rawat jalan di klinik gizi yang dijalankan oleh puskesmas setempat. Di klinik gizi akan ada pemeriksaan dokter spesialis anak dan dilanjutkan dengan pemberian teuraphitic feeding Formula 75 (F75) untuk anak dalam tahap stabilisasi dan Formula 100 (F100) untuk tahap rehabilitasi. Klinik Gizi dibuka 3 hari seminggu. Bagi balita peserta pos gizi yang tidak memperlihatkan kemajuan atau bahkan kondisinya lebih buruk juga akan dirujuk ke klinik gizi. 3. Bagi balita yang tidak dapat ditangani di klinik gizi akan ditangani melalui perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah. Sebagai tindaklanjut dari rapat koordinasi tersebut, pada tanggal 16 Agustus 2007, sebanyak 250 anak gizi buruk hasil baseline survey dikirim ke klinik gizi. Hasilnya, 42 di antaranya diidentifikasi telah menunjukkan gejala klinis seperti kwasiorkor atau marasumus atau marasmic kwasiorkor. Sembilan belas diantara 42 anak tersebut (45%) telah terinfeksi penyakit sehingga perlu tindakan medis yang segera. Karenanya, disepakati sembilan belas anak tersebut dikirim ke rumah sakit daerah untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Hasilnya, 2 diantaranya langsung dirawat di rumah sakit, sisanya memperoleh rawat jalan. Kegiatan di atas menandai berlangsungnya kegiatan rehabilitasi dan pendidikan gizi di pos gizi yang inklusif dengan klinik gizi di puskesmas dan perawatan di rumah sakit. Hal ini sekaligus menandakan adanya harmonisasi dan kerjasama efektif antara pihak-pihak terkait dalam menanggulangi masalah gizi, yakni: 1. Islamic Relief mendampingi kader dalam melaksanakan rehabilitasi dan pendidikan gizi di pos gizi. 2. Puskesmas memberikan pelayanan pemeriksanaan kesehatan, konseling gizi, dan pemberian perlakuan teurafitic feeding di Klinik Gizi; 3. Dinas Kesehatan Kabupaten menyediakan dokter spesialis untuk diperbantukan pada pelayanan Klinik Gizi di Puskesmas; 4. Dinas Kesehatan Propinsi menyediakan uang transport sebesar dua puluh ribu rupiah bagi penderita gizi buruk yang akan berobat ke Klinik Gizi dan rumah sakit; 5. Pihak Desa dan Kecamatan memberikan pelayanan cepat dalam pengurusan adminsitrasi gakin/askeskin manakala ada keluarga balita gizi buruk yang harus menjalani perawatan rumah sakit; 6. Pengadaan F75 dan F1OO untuk keperluan teurafitic feeding di Klinik Gizi disediakan secara bersama-sama. PROFIL DAERAH SASARAN Tingkat kemiskinan di desa-desa sasaran merupakan representasi kompleksitas masalah gizi buruk di Indonesia yang menyangkut rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya pendapatan, kurangnya kualitas dan kuantitas asupan, buruknya sanitasi, dan lain-lain. Beberapa data menonjol hasil baseline survey Islamic Relief di 103 desa sasaran (jumlah responden 4,631 KK miskin versi BPS Banten, 2005) yang dilaksanakan pada bulan April-Mei 2006 sebagai berikut:
Islamic Relief bekerja di 10 desa sasaran. 7 desa yang paling parah kemiskinannya dengan tingkat penderita gizi buruk dan kurang di atas 30% dijadikan daerah kerja program rehabilitasi dan pendidikan gizi, yaitu Desa Terumbu, Kilasah, Warungjaud, dan Kasunyatan <Kab. Serang>, desa Pasirkupa, Cilangkap, dan Sykamekarsari <Kab. Lebak>.
3

2

Rata-rata ukuran keluarga sebanyak 4,1 orang, 10% diantaranya memiliki anggota keluarga lebih dari 7 orang; 32% kepala keluarga usia di bawah 65 tahun buta huruf, dengan 35% tidak sekolah, dan 61% hanya mengenyam pendidikan SD; 8% keluarga tidak memiliki pendapatan tetap, 34% memperoleh penghasilan < 1 USD/hari, 27% memperoleh income >2 USD/hari; 21% makan 2 kali sehari karena alasan ketiadaan pangan; 20% menggunakan air sungai sebagai sumber air minum dan 86% terbiasa melakukan BAB (buang air besar) di sawah, kebun, atau tegalan; Hanya 29% yang mengaku tidak memiliki keluhan penyakit. Yang lainnya, 4% mengaku mengidap TBC, 20% sering kena diare, 12% menderita penyakit kulit; Untuk pengobatan: 1% mengaku tidak pernah berobat walau pun sakit, 11% berobat ke dukun, dan hanya 64% yang berobat ke puskesmas. Gambar 1. Profile masyarakat miskin di daerah sasaran kerja Islamic Relief
Profile masyarakat miskin di 10 desa sasaran program IRI (n=4.631)
4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0
ta Bu ru hu f ak l ko se ah <1 U r /h SD M an ak Sm
Sumber: IR Survey, Mei 2oo6

d Ti

n pt nd Pe

2

k

i/ al

r ha

i d u rs

ai ng

r Ai br

m

um in

n ng ku ra du ba m ke se at B ob r BA Be

Gambaran keadaan sehari-hari di desa-desa sasaran.

3

HASIL DAN PEMBAHASAN Mengingat keterbatasan data yang dimiliki, bagian ini akan dibatasi pada pembahasan kegiatan di 4 daerah sasaran di Kab. Serang, yakni di Desa Terumbu, Kasunyatan, Warungjaud, dan Kilasah yang semuanya berada di Kecamatan Kasemen. Kegiatan yang akan dibahas meliputi revitalisasi posyandu, pendidikan dan rehabilitasi gizi di pos gizi, klinik gizi, dan fasilitasi ke rumah sakit. 1. Revitalisasi Posyandu Tujuan Strategis: mengaktifkan kembali dan/atau merekrut baru para kader posyandu agar dapat melakukan aktivitas pelayanan dasar secara benar dan berkelanjutan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: 1. Konsultasi dengan Puskesmas setempat dan berkoordinasi dengan Bidan Desa 2. Studi data penimbangan balita yang ada 3. Rekrutment kader untuk melengkapi jumlah kader minimal 4 orang di setiap posyandu 4. Training Kader: sistem 5 meja posyandu 5. Pemilihan Kader yang diprojeksikan untuk kader pos gizi 6. Penyediaan timbangan 7. Penyediaan makanan tambahan bulanan sebagai penarik minat 8. Penimbangan dan Penyisiran Balita 9. Pengolahan data penimbangan balita Tabel 1. Indikator Kinerja yang dapat dicapai meliputi:
Input 112 kader posyandu terekrut Output 112 kader mengikuti training dasar pengelolaan posyandu Hasil • 31 posyandu aktif: 18 sejak April 2006, dan 13 posyandu lain mulai aktif sejak Des 2006 • Rata-rata 47,5 % balita tertimbang dan mengikuti program posyandu • Status gizi balita termonitor setiap bulan Dampak Posyandu dapat memberikan pelayanan dasar yang memadai secara rutin kepada kelompok masyarakat sasaran

Ada 112 kader di 31 posyandu yang telah direkrut dan dilatih oleh IR. Seratus enam (95%) diantaranya terus aktif melakukan kegiatan posyandu setiap bulan. Nama-nama kader posyandu aktif beserta nama posyandu yang direvitalisasi disajikan di dalam lampiran 1. Data balita sasaran dan balita yang tertimbang sejak April 2006 sampai Januari 2007 yang dilaksanakan di 4 desa binaan Islamic Relief disajikan dalam diagram 1 di bawah ini:

4

Gambar 2. Perbandingan jumlah balita sasaran dengan balita tertimbang
Jan '7 Dec Nov Oct Sept Aug July June May April '6 0 500 1000 1500
962 937 1036 1014 1047 1195 1335 1672 1749 1694 3478 3394 2676 2676 2676 2676 2676 2676 2676 2676

2000

2500 Datang

3000

3500

4000

Sasaran

Diagram di atas menunjukkan bahwa ada keajegan aktivitas yang dilakukan posyandu, karena data balita tertimbang setiap bulan mengalami perkembangan. Namun demikian, jumlah balita yang tertimbang mengalami penurunan signifikan sejak penimbangan pertama kali, yaitu 65% tertimbang pada bulan April 2006 menjadi 36% pada bulan Nov 2006. Jumlahnya kembali naik karena pada bulan Desember 2006 Islamic Relief mulai melakukan revitalisasi pada 13 posyandu yang lain. Angka tertinggi penimbangan bulan April 2006 terjadi karena para kader posyandu beserta Tim IR melakukan penyisiran kepada balita yang tidak datang ke posyandu. Sementara, bulan-bulan berikutnya, para kader posyandu melakukan penimbangan di posyandu. Ini artinya, angka antara 45% sampai 50% yaitu angka pada bulan Mei sampai September 2006 adalah angka yang menunjukkan tingkat kesadaran para ibu akan pentingnya posyandu, karena mereka datang sendiri ke posyandu untuk mengikuti penimbangan, penyuluhan kesehatan, dan pengobatan. Data mengenai perkembangan status gizi balita yang berhasil dikumpulkan oleh posyandu dapat dilihat di dalam diagram 3 di bawah:

5

Diagram 3: Perkembangan pemantauan status gizi balita di 18 posyandu (data sampai bulan Nov 2006) dan di 31 posyandus (data Dec 06 dan Jan 07)
11

262

Jan07
12

478

1027

1778

306

Dec
2

459

917

1694

Nov
9

158

273

529

962

128

Oct
14

250

550

937

152

Sept
12

265

605

1036

151

Aug
15

254

597

1014

147

July
21

244

641

1047

June
27

197

283

694

1195 844

170

May
40

294 231

1335 998

April 0 Total

403

1672

500 Gizi Baik

1000 Gizi kurang

1500 Gizi Buruk Gizi Lebih

2000

Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Angka gizi buruk rata-rata di seluruh posyandu wilayah kerja IR dari bulan April 2006 sampai Jan 2007 berdasarkan ukuran BB/U adalah 14%. Angka ini tentunya sudah jauh di atas rata-rata angka gizi buruk nasional yang hanya 8,8%. 2. Angka gizi kurang yang terpantau mengalami fluktuasi, yaitu 24% pada bulan April 2006, lalu turun sebesar 2% pada bulan Mei dan kemudian naik turun rata-rata 1% setiap bulan sampai bulan Januari 2007 dengan prevalensi sebesar 27%. Artinya, angka terakhir gizi kurang masih jauh lebih tinggi dari angka prevalensi gizi kurang nasional (19,2%). Data sebaran tertinggi penderita gizi buruk terdapat di 4 posyandu (keadaan Apr 2006), yaitu posyandu Terumbu (36), Sinaba (27), Kalipangpang (22), dan Tegaldawa (19). Keadaan ini berubah pada Jan 2007, yaitu posyandu Sudimampir (29), Kisaud (24), Terumbu (23), dan Kalipangpang (17). Data sebaran penderita gizi buruk yang paling tinggi ada pada posyandu Terumbu (tahun 2006 ada 36 anak gizi buruk dan merupakan tertinggi di antara posyandu yang lain. Angka ini turun menjadi 23 pada tahun 2007) setelah ada program IR.

6

Turun naiknya angka gizi buruk di posyandu terutama terjadi di daerahdaerah dengan jumlah balita yang cukup besar yang berasal dari banyak kampung, seperti di posyandu Terumbu yang melayani 7 kampung. Namun, penimbangan bulan Januari 2007 tidak mencapai target maksimal seperti April 2006 karena tidak dilakukan penyisiran ke rumah-rumah dan lebih banyak mengandalkan kesadaran peserta untuk datang ke posyandu. Gambar 4: Data sebaran penderita gizi buruk di 18 posyandu Apr – Nov 2006 dan 31 posyandu December 2006 – Jan 2007.
Kasumberan-30 Warung Pasar-29 Jerakah-28 Kijaud-27 L. Abang Kecil-26 L. Abang Besar-25 Kisaud-24 Sa'diah II-23 Sa'diah I-22 Sukamandi-21 Suci-20 Karang Kayen-19 Sudimampir-18 Puji-17 Terumbu-16 Kademangan-15 Pasir Soka-14 Sukarela-13 Kali Pangpang-12 Kilasah III-11 Kilasah II-10 Kilasah I-9 Tegal Dawa-8 Sinaba-7 Bagawati-7 Sukadana II-6 Sukadiri-5 Kenari-4 Kasunyatan-3 Kroya Lama-2 Kroya Baru-1

10 2 1 5 6 8 13 13 12 11 6 13 12 5 8

14

24

9 9

29 23

36

9 10 0 1 17 13 4 2 6 14 9 8 9 2 2 1 1 3 4 7 9 13 12 19 27 22

Jan 07 Apr 06

0

5

10

15

20

25

30

35

40

Sumber: Data Posyandu 2006-2007

2. Pendidikan dan Rehabilitasi Gizi Tujuan Strategis: 1. Memperbaiki status gizi balita dengan menggunakan sumberdaya (sosial, ekonomi, dan budaya) yang ada di dalam keluarga dan masyarakat 2. Merubah perilaku ibu/pengasuh balita dalam pola pemberian makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan kesehatan.

7

Strategi yang dilakukan adalah dengan cara mencari role model (keluarga unik) yang ada di lingkungan masyarakat sekitar yang terbukti memiliki balita yang sehat dan bergizi baik walaupun berasal dari keluarga miskin seperti keluarga-keluarga lainnya. Perilaku positif para keluarga unik ini kemudian dipelajari bersama oleh para keluarga lain yang memiliki anak gizi kurang atau gizi buruk untuk ditiru dalam perilaku hidup mereka sehari-hari. Proses peniruan ini menjadi paket pendidikan dan rehabilitasi gizi yang dilakukan di pos-pos gizi yang dijalankan oleh para kader yang terlatih. Setidaknya ada lima prinsip yang dibangun dalam menjalankan pos gizi, yaitu: 1. Proses pendidikan dan rehabilitasi gizi dilakukan setidaknya 10 hari secara berturut-turut (disebut satu sesi) untuk setiap anak. Setiap sesi melayani 10 sampai 12 anak balita. Bila anak ybs belum mencapai status gizi baik dalam kurun 1 sesi, maka balita dimaksud harus mengikuti satu sesi sampai dua sesi berikutnya sampai lulus. Bila sampai 3 sesi belum lulus juga maka ybs dirujuk ke puskesmas; 2. Terdapat kegiatan pembelajaran sambil berbuat (learning by doing) yang meliputi pola makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan kesehatan; 3. Dalam mempraktekkan pola makan yang baik, semua peserta menyediakan kontribusi bahan makanan bergizi yang biasa digunakan oleh keluarga unik yang menjadi contoh dan memasaknya secara bergiliran yang didampingi oleh kader; 4. Standar kesuksesan pos gizi diukur melalui dua hal: (1) 30% peserta mengalami lulus berdasarkan penimbangan di posyandu. Standar kelulusan yang dipakai adalah apabila peserta mengalami kenaikan berat badan sampai >400 gram dengan status KMS tidak Merah atau status gizinya berubah dari Merah ke Hijau atau Kuning ke Hijau, dan (2) Terjadi perubahan perilaku Ibu atau pengasuh di dalam pola makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan masalah kesehatan; 5. Setiap pos gizi ditangani oleh minimal empat orang kader pos gizi yang terdiri atas 2 orang yang bertanggung jawab dalam kegiatan di pos gizi, dan 2 orang lagi bertanggung jawab untuk melakukan monitoring dan kunjungan periodik ke rumah peserta. Untuk mencapai tujuan di atas, rangkaian aktivitas yang dilakukan berupa: 1. Diskusi masyarakat untuk menyepakati peringkat kesejateraan yang berlaku di masyarakat 2. Diskusi Kelompok Terarah bagi para pengasuh balita untuk mencari kebiasaan pola makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan penyakit di daerah setempat 3. Penyelidikan keluarga unik untuk mencari kebiasaan positif yang diterapkan oleh keluarga miskin tetapi memiliki balita yang sehat 4. Analisa Diskusi Kelompok Terarah dan Penyelidikan Keluarga Unik bersama masyarakat untuk dijadikan bahan pelatihan kader pos gizi 5. Pelatihan Kader Posyandu sebagai Kader Pos Gizi 6. Merancang Pos Gizi oleh kader pos gizi terlatih 7. Pembukaan Sesi Pos Gizi 8. Monitoring perilaku melalui Kunjungan Rumah 9. Evaluasi Pos Gizi bersama kader

8

Tabel 2: Indikator Kinerja yang dapat dicapai meliputi:
Input 64 kader pos gizi terekrut Output 64 kader mengikuti training dasar pengelolaan pos gizi Hasil • 57*) kader pos gizi aktif mengelola pos pendidikan dan rehabilitasi gizi secara rutin • 16 pos gizi dibuka melayani 474 balita peserta pos gizi Dampak 76 (16%) anak telah dinyatakan lulus memperoleh gizi baik; dan 54 (11,4%) anak mengalami perubahan status dari gizi buruk menjadi gizi kurang

474**) anak gizi • 332 balita kurang dan buruk mengalami kenaikan beserta pengasuh berat badan, 66 mengikuti balita tetap dan 76 kegiatan balita mengalami pendidikan dan penurunan berat rehabilitasi gizi badan. secara lengkap *) 3 kader di satu pos gizi tidak dapat melanjutkan kegiatan karena alasan keluarga **) 452 balita dinyatakan mengikuti pos gizi secara lengkap. Sisanya, 14 anak drop out (5%) karena pindah dan 10 anak meninggal dunia

Para ibu mulai mempraktekkan perilaku positive dalam hal pemberian makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan kesehatan terhadap balitanya (data disajikan di bawah)

Kekuatan dari pos gizi adalah proses peniruan perilaku positif keluarga unik yang ditemukan sepanjang proses persiapan pos gizi. Di bawah ini salah satu contoh daftar perilaku positive yang ditemukan seperti tergambar dalam Tabel 3. Tabel 3: Daftar perilaku positif yang menjadi kebiasaan keluarga unik di desa Terumbu yang dijadikan bahan pembelajaran di dalam pos gizi
Pemberian Makanan Anak makan tempe setiap hari Ana makan tahu setiap hari Anak makan sayur kangkung setiap hari Anak makan sayur bayam setiap hari Anak makan telor 2x/minggu Anak jajan buah-buahan Kebersihan Rumah selalu bersih dan rapih Ibu menggunting kuku anak 2x/minggu Ibu tidak memandikan anak dengan air kali Ibu memasak tidak menggunakan air kali Minum tidak menggunakan air kali Ibu mencuci tidak menggunakan air dari kali Sebelum makan, Ibu mencuci tangan anak air dan sabun Anak selalu pakai sendal jika keluar rumah/main Baju anak selalu bersih Perilaku selama Hamil & Menyusui ASI Eksklusif diberikan Kolostrum diberikan

Perilaku Menuju Sehat Anak diimunisasi lengkap di Posyandu Anak diberi obat cacing 6 bulan sekali Jika anak sakit langsung dibawa ke Puskesmas/bidan

9

Perawatan Ayah melarang anak main tanah/kotor Ibu selalu mengawasi anak bermain Ayah melarang anak tidak pakai baju Ibu memberikan minum yang banyak ketika sakit Ayah tidak membiarkan anak jajan sembarangan Ibu berusaha menyuapi anak walaupun sedikit ketika anak sakit Ayah menyuapi anak sambil bermain Ayah melarang anak jajan es , chiki Ibu memasak makanan anak tidak pakai mecin
Sumber: Survey Islamic Relief, 2006

Daftar temuan perilaku positif di desa lainnya disajikan di dalam lampiran 2. Kegiatan pos gizi ternyata cukup mampu meningkatkan berat badan balita peserta pos gizi. Di antaranya adalah 221 (47%) anak mengalami kenaikan berat badan lebih dari 400 gram. Di dalam grafik 5 bawah ini selengkapnya dapat dilihat kenaikan dan penurunan berat badan balita peserta pos gizi.
Perubahan Berat Badan Balita Peserta Pos Gizi Mei 2006 - Januari 2007

250 200 150 100 50 0
Naik < 200 gr Series1 35 Naik 200 - Naik >= < 400 gr 400 gr 76 221 Tetap 66 Turun <= 200 gr 27

Jumlah Peserta

Turun > 200 <400 gr 21

Turun >=400 gr 28

Sumber: Data PosGizi Islamic Relief, 2006

Tingginya jumlah balita yang dapat meningkat berat badannya sampai 400 gram tersebut nampaknya cukup lama bertahan sampai pelaksanaan posyandu secara rutin dilakukan. Hasilnya, setelah dilakukan pengukuran 6 bulan berikutnya, ada 16% (76 anak) anak memperoleh kelulusan. Di dalam grafik 6 bawah ini terlihat secara lengkap perubahan status gizi balita dimaksud:

10

Perubahan Status Gizi Balita Peserta Pos Gizi Mei 2006 - Januari 2007

180 160

Jumlah Peserta

140 120 100 80 60 40 20 0 M-M 177 M-K 54 M-H 8 K-K 150 K-H 68 K-M 17 H-K 0 H-H 0

Series1

Sumber: Data pos gizi Islamic Relief, 2006

Dari grafik batang tersebut terlihat bahwa ada 76 anak (16%) berubah status gizinya menjadi baik, dan 54 anak (11,4%) anak berubah status gizinya dari buruk ke kurang. Namun demikian 230 anak (68%) statusnya belum berubah, dan bahkan 17 anak (14%) mengalami penurunan status dari gizi kurang menjadi gizi buruk. Angka kelulusan sebetulnya dapat lebih tinggi lagi, namun karena terkendala faktor eksternal, yakni musim kering yang berkepanjangan, maka hal ini tidak dapat terjadi. Musim kering menyebabkan paceklik sehingga tingkat pendapatan kepala keluarga menurun yang berakibat tidak tersedianya asupan di tingkat rumah tangga dalam jumlah dan kuantitas yang memadai –sekalipun untuk makanan bergizi yang sangat murah. Sesungguhnya, angka kelulusan anak selepas mengikuti pos gizi bukanlah merupakan ukuran utama keberhasilan program. Yang lebih penting adalah sejauh mana para ibu atau pengasuh dapat mengubah perilaku mereka di dalam hal pemberian makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan kesehatan secara benar. Karena hal-hal tersebut itulah yang akan dapat mempertahankan status gizi baik anaknya di masa mendatang. Yang lebih penting adalah perubahan perilaku ibu/pengasuh yang positif dapat mencegah lahirnya anak-anak dengan status gizi yang kurang baik. Untuk melihat efektivitas pos gizi terhadap perubahan perilaku para ibu/pengasuh dalam hal pola pemberian makan, pola pengasuhan, pola hidup bersih, dan pola penanganan yang sakit dilakukan melalui kunjungan rumah oleh para kader. Questioner sederhana digunakan dalam hal ini yang mencakup 11 pertanyaan kunci, dengan hasil seperti tergambar dalam grafik 7 di bawah ini.

11

Perbandingan aspek pendidikan gizi antara yang dipelajari dan dipraktekan ibu/pengasuh balita peserta pos gizi (n=394)
dipelajari 350 300 250 200 150 100 50 0
pa M en ka yu im ap ec ia in na k sc ra kt if G un C tin uc g it ku an ku ga n dg sa bu n P ak ai sa nd P ak al e ba ju be rs ih m as ak B in ca ng 2 B er m ai n2 C ar a M en ya ny i pu sk es K e

dipraktekan

Sumber: survey pengetahuan dan perilaku ibu/pengasuh, IRI 2006.

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa 76% ibu/pengasuh mempelajari hal baru dalam hal memasak makanan yang bergizi. Pengetahuan ini diakui telah dipraktekan oleh mereka. Selain itu, 21% dari mereka mengaku belajar bagaimana memasak tanpa menggunakan mecin, sementara yang mengaku telah mempraktekan untuk memasak tanpa menggunakan mecin mencapai 15%. Hal-hal lain yang menonjol diantaranya adalah: 51% mengaku mempelajari pentingnya menggunting kuku anak secara teratur, dan 36% responden mengaku mempraktekannya di rumah; 78% responden sangat mengetahui pentingnya cuci tangan pakai sabun sebelum makan. Sementara yang mengaku telah mempraktekkannya di rumah sebanyak 52%. Hasil monitoring pengetahuan dan perilaku di atas tentunya sangat menggembirakan. Namun demikian, diakui bahwa dari sisi metode, teknik, dan alat pemantauan yang digunakan masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, yaitu: Survey dilakukan oleh kader, yang 80%-nya memiliki latar belakang pendidikan sekolah dasar. Selain itu, pelatihan khusus kepada mereka untuk maksud monitoring tersebut belum dilakukan secara memadai; Butir-butir pertanyaan dibuat sesederhana mungkin agar tidak menyulitkan kader kunjungan rumah sehingga belum dapat mengungkap fakta-fakta yang komprehensif; Monitoring dilakukan melalui wawancara secara terbatas, tanpa melakukan probing-probing. Selain itu, teknik pengamatan sebagai pembuktian hasil wawancara juga belum maksimal dilakukan; Jawaban-jawaban dari responden dikhawatirkan sangat bias, karena pewawancaranya adalah kader yang notabene bertugas di pos gizi.

Ti da k

12

Dikhawatirkan, jawaban-jawaban yang diberikan memikiki tujuan untuk menyenangkan kader. Dengan demikian, hasil monitoring tersebut masih perlu diuji lebih jauh melalui metoda dan teknik yang lebih ilmiah karena faktor non-sampling error sangat menonjol. Klinik Gizi Tujuan Strategis: memulihkan status gizi balita gizi buruk yang tidak dapat ditangani di pos gizi dengan kondisi tanpa komplikasi penyakit melalui perawatan klinis dengan memberikan PMT berupa formula F75 dan/atau F100. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam hal ini adalah: 1. Seleksi peserta pos gizi: (1) berdasarkan evaluasi kader pos gizi (bila dalam 2 sesi pos gizi balita tidak menunjukkan perkembangan kenaikan berat badan atau turun terus); (2) rujukan oleh bidan bagi balita non-peserta pos gizi dengan status gizi buruk menggunakan standar NCHS WHO. 2. Pelayanan di klinik gizi mencakup: pendaftaran, pengukuran BB (Berat Badan) setiap kali datang dan TB (Tinggi badan) sebulan sekali, wawancara konsumsi pangan (recall asupan 1 x 24 jam sebelumnya), konsultasi dan diagnosis dokter untuk menentukan jenis formula yang akan diberikan (termasuk jenis obat yang akan diberikan bila sakit) 3. Pemberian formula disertai demo cara pembuatan (untuk pemula) dan penyuluhan. 4. Monitoring pemberian formula di rumah oleh kader 5. Kembali lagi untuk berobat sesuai saran petugas klinik gizi pada saat kunjungan sebelumnya. Seluruh kegiatan klinik gizi dilakukan oleh Puskesmas Kilasah atas dukungan dari Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten Serang. Islamic Relief berpartisipasi dalam mobilisasi kader dan balita sasaran. Kinerja yang dapat disampaikan berdasarkan data sekunder yang terkumpul disajikan dalam Tabel 4 di bawah ini: Tabel 4. Kinerja Klinik Gizi dalam rehabilitasi balita gizi buruk periode Agustus 2006 – Januari 2007)
Input Sistem, mekanisme, dan infrastruktur penanggulangan gizi buruk melalui teurapeutik feeding di rumah penderita berjalan Output Hasil Dampak 324 anak berkunjung 23 (11%) dari 204 Belum dilakukan ke klinik gizi dengan anak yang datang > 2 pengukuran rincian: 119 anak kali ke klinik gizi berkunjung 1 kali; berubah status gizinya 128 anak berkunjung menjadi lebih baik 2-5 kali; 48 anak berkunjung 6-10 kali; 29 anak berkunjung > 10 kali *) 208 gizi buruk yang dirujuk (73 gizi kurang yang datang atas insiatif sendiri). Selain itu terdapat 36 balita gizi baik dan 1 anak gizi lebih yang juga memeriksakan diri ke klinik gizi.

13

Rendahnya tingkat kelulusan peserta klinik gizi (hanya 11%) kemungkinan besar berhubungan dengan dua hal utama, yaitu: 1. Disiplin peserta untuk datang ke klinik gizi secara teratur sangat rendah. Hal ini terlihat bahwa 37% dari mereka hanya datang satu kali ketika dimobilisasi Islamic Relief. Padahal, kunjungan ideal bisa mencapai 5 kali kunjungan (>1 kali tahap rehabilitasi, dan > 4 kali tahap rehabilitasi tergantung dari kondisi yang bersangkutan); 2. Lemahnya pemantauan terhadap para ibu atau pengasuh balita peserta klinik gizi. Diakui, bahwa pengoperasian klinik gizi belum sepenuhnya dilengkapi perangkat dan sumberdaya untuk melakukan pemantauan/monitoring di rumah-rumah terutama bagi para pasien yang berasal dari desa di luar wilayah kerja Islamic Relief4. Sehingga, tidak diketahui dengan nyata bagaimana para ibu atau pengasuh balita peserta klinik gizi memberi asupan Formula 75 atau 100 di rumah. Gambar 7: Perubahan berat badan balita peserta klinik gizi
Perubahan status Gizi menurut kunjungan
100% 0 10 80% 0 1 0 2 0 0 1 3 1 1 0 0 0

3

1

60% 119 40% 40 30 25 19 10 8 6 8 13 4 3 4 3 4 3 1 1

20%

0%

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
frekuensi kunjungan

Turun /Tetap

Naik

Sumber: Data Klinik Gizi-Puskesmas Kilasah, 2006

Dari grafik di atas diketahui bahwa ada anak yang datang ke klinik gizi sampai 18 kali tetapi status gizinya tidak berubah. Demikian juga ada 24 anak yang berkunjung antara 8-16 kali dan status gizinya tidak berubah. Yang menarik adalah dari 40 anak yang berkunjung 2 kali ke klinik gizi, 25%-nya (atau 10 anak) mengalami perubahan status gizi. Data-data ini cukup menarik untuk diteliti lebih jauh, apakah para ibu/pengasuh yang membawa anaknya ke klinik gizi benar-benar memberikan formula tersebut kepada anaknya atau tidak. 3. Fasilitasi Ke Rumah Sakit Tujuan Strategis: memulihkan status gizi balita gizi buruk yang tidak dapat ditangani di pos gizi dengan kondisi dugaan komplikasi penyakit melalui perawatan medis di rumah sakit setelah melalui referal di klinik gizi. Untuk kegiatan fasilitasi ke rumah sakit ini, Islamic Relief mengacu pada kebijakan pemerintah yang memberikan pelayanan rawat inap cuma-cuma bagi seluruh
Cakupan pelayanan Klinik Gizi juga meliputi 3 desa lain di luar wilayah kerja Islamic Relief, yaitu desa Bendung, Sawah Luhur, dan Priyayi.
4

14

penderita gizi buruk. Peran yang dijalankan Islamic Relief dalam hal ini adalah (1) menyeleksi sedemikian rupa agar hanya penderita gizi buruk yang benar-benar tidak dapat ditangani oleh metode lain yang dikirim untuk dirawat di Rumah sakit; (2) memberi dukungan moral dan bantuan logistik kepada keluarga penderita agar balita gizi buruk dimaksud mendapat perawatan di rumah sakit secara layak dengan jangka waktu yang cukup. Untuk kepentingan tersebut, Islamic Relief bekerja sama dengan Puskesmas Kilasah melakukan rekrutmen 11 orang kader kesehatan dan selanjutnya memberikan pelatihan tentang penyuluhan. Tugas dari kader kesehatan tersebut diantaranya adalah: Melakukan penyuluhan kesehatan dasar dan sanitasi kepada kelompok masyarakat yang rentan terhadap serangan penyakit; Melakukan identifikasi awal keberadaan anak-anak balita yang menderita gizi buruk yang diduga disertai penyakit (early surveillance); Melakukan koordinasi dengan para kader pos gizi berkenaan dengan balita peserta pos gizi yang memerlukan rujukan ke puskesmas/rumah sakit; Melakukan koordinasi dengan kepala desa dan puskesmas untuk membantu pengurusan askeskin atau surat keterangan tidak mampu bagi balita gizi buruk yang akan dirawat di rumah sakit. Membantu keluarga pasien untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit; Melakukan langkah-langkah antisipasi segera (quick response) bagi anak-anak gizi buruk yang kritis misalnya mengantar keluarga ke puskesmas, RSUD, dll. Mengingat keterbatasan tenaga sukarelwan di desa-desa, para kader kesehatan ini juga merangkap kader posyandu atau kader pos gizi sekaligus. Materi pelatihan kader kesehatan meliputi: (a) pengenalan 10 besar penyakit di desa sasaran; (b) gizi buruk (masalah dan upaya penanggulangan); (c) kesehatan lingkungan (sanitasi); (d) sistem rujukan untuk perawatan di RS dan puskesmas. Indikator kinerja fasilitasi ke rumah sakit ini disajikan di dalam tabel 5 berikut. Tabel 5. Indikator kinerja fasilitasi ke rumah sakit penderita gizi buruk dengan komplikasi penyakit (Agustus –Desember 2006)
Input Sistem, mekanisme, dan sarana dukungan bagi keluarga balita gizi buruk yang dirawat di RS tersedia dengan baik Output 20 anak gizi buruk dapat memanfaatkan fasilitas askeskin dalam pemulihan gizi buruk di rumah sakit dengan rawat inap Hasil 6 anak memperoleh status gizi baik, 6 anak tidak mengalami perubahan, 7 anak meninggal dunia. Dampak Perlu dicari perbandingan data jumlah anak balita yang meninggal sebelum adanya program ini untuk melihat turun naiknya angka kematian balita.

Fasilitasi ke rumah sakit ini pada akhirnya tidak dibatasi kepada balita saja, tetapi mencakup semua anak yang memerlukan perawatan rumah sakit akibat kondisi gizi buruk yang disertai oleh penyakit penyerta yang ditemukan oleh para kader kesehatan. Hal ini merupakan wujud nyata komitmen semua pihak dalam upaya menekan laju kematian anak yang cukup tinggi. Namun demikian, upaya ini belum cukup maksimal untuk menekan laju kematian anak. Terbukti, 7 anak meninggal dunia walaupun sudah memperoleh perawatan rumah sakit. Beberapa kendala yang ditemui diantaranya adalah: 1. Tingkat disiplin para ibu atau pengasuh untuk membawa anaknya berobat ke klinik gizi pasca perawatan di rumah sakit sangat rendah. Hal ini berdampak bagi terganggungnya kembali kondisi phisik balita yang bersangkutan.

15

2. Keadaan pasien ketika dirujuk ke rumah sakit sudah sangat lemah akibat serangan penyakit akut seperti diare, sehingga ada balita yang tidak dapat tertolong. 3. Ada banyak alasan yang dikemukakan keluarga penderita untuk melakukan pulang paksa. 4 orang di antara pasien melakukan hal tersebut dengan alasanalasan seperti tidak ada jaminan makan untuk anak-anak di rumah, tidak tahan melihat diinfus, khawatir meninggal di rumah sakit, perasaan minder karena tidak bisa membaca, dlsb. Di dalam Tabel 6 di bawah ini adalah data pasien gizi buruk yang difasilitasi untuk dirawat di RSUD Serang.

16

Tabel 6. Daftar nama balita gizi buruk yang difasilitasi untuk memanfaatkan askeskin perawatan di RSUD Serang
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Fatoni Fia Anwar Sahid Sapri Nurohah Saripudin Dahlia Husnul. H Aliyah Nailah Dedi Safitri Milah Andi*) Gufiroh Sapnah Saefudin Nurlela Abib Alamat Peranan (TR) Peranan (TR) Sinaba I (KL) Kilasah 3 (KL) Keradenan (KS) Kilasah Kilasah Kilasah Bagawati (KL) Sampang 4 (TR) Trangganan (TR) Sampang (TR) Sampang 1 (TR) Tegal Dawa (KL) Sampang 3 (TR) Kilasah (KS) Kebon Kelapa (KS) Usia 36 bln 18 bln 24 bln 11 th 18 bln 8 th 8 th 48 bln 51 bln 12 th 7 th 54 bln 13 bln 6 th 60 bln 14 bln 33 bln Jenis Kelamin L P L L L P L P P P P L P P L P P L P L Penyakit Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk, Diare Gizi Buruk, TBC Gizi Buruk, Muntah Gizi Buruk Gizi Buruk, Panas Gizi Buruk, Demam Tinggi Gizi Buruk, Diare Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk, Cacingan Gizi Buruk, Post Campak Gizi Buruk,Anemia Grafis Gizi Buruk, Muntah Darah Gizi Buruk + Diare Akut Gizi Buruk+Diare Gizi Buruk+ Susp KP Gizi Buruk + Panas Gizi Buruk & Thalasemia Tanggal Masuk Rawat Agustus Agustus Agustus 13-09-06 12-09-06 19-09-06 19-09-06 21-09-06 07-09-06 04-11-06 25-10-06 02-11-06 02-11-06 06-11-06 20-11-06 Tanggal Klr Rawat Agustus Agustus Agustus 21-09-06 16-09-06 26-09-06 26-09-06 30-09-06 10-09-06 08-11-06 08-11-06 20-11-06 21-11-06 22-11-06 25-11-06 Jumlah Hari Rawat 4 hr 10 hr 6 hr 9 hr 4h 10 hr 8 hr 10 hr 3 hr 5 hr 15 hr 19 hr 20 hr 17 hr 6 hr 8 8,5 8 Buruk dirawat kembali BB BB Berat Badan setelah Keluar Rawat sebelum sesudah 1 Status 3 Status 6 dirawat dirawat Bulan Gizi Bulan Gizi Bulan 6,4 5,3 5,6 5.9 Buruk 5.9 Buruk 6 6 6,3 6.5 Buruk 6.7 Buruk 7.3 7 8,2 10 Buruk 17 Kurang 20 7 7,3 14 6,7 15 11 7,8 5,8 8 7,9 15 16 12 8,3 9 9.3 15 17 13 8.5 6.3 Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk Buruk 11 13.6 14 24 19 10,7 6,8 Buruk 12.5 Kurang 18.5 Buruk Baik Baik Buruk Buruk 15 27 22 14 7 Status Gizi Buruk Buruk Baik Buruk Baik Buruk Baik Baik Baik Buruk

24-12-06 3-01-06 10-01-06 01-03-06

28-12-06 15-01-06 15-01-06 10-03-06 13

5

5 6,4 5,5 10,3 8,5

5,3 6,4 5,5 10,8 9

5.3 6.6 5.9 11

Buruk Buruk Buruk

6.7

Buruk

7,5

Kurang

Kali Pang-pang (KL) 15 Bln Kisaud (WJ) Kroya (KS) 24 Bln 4 th

4 hr 10 14

Andi*) Sampang 3 (TR) 5 th L Gizi Buruk murni 09-03-07 23-03-07 Diolah dari berbagai sumber:RSUD Serang, data posyandu, klinik gizi, observasi lapangan

Buruk 11 Buruk 11 Kuran 13 g 14,5 Keterangan: yang diarsir meninggal dunia

Buruk Baik

17

KESIMPULAN 1. Daerah kerja binaan Islamic Relief merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dengan tingkat kompleksitas masalah gizi yang juga sangat tinggi. Masalah kurang gizi disebabkan oleh kualitas dan kuantitas asupan yang kurang memadai disertai dengan ancaman infestasi penyakit karena kualitas lingkungan yang buruk, PHBS dan sanitasi yang kurang baik, BAB sembarang tempat, dan tiadanya akses terhadap air bersih; Pemerintah telah menyediakan sarana dan prasarana penanggulangan masalah kurang gizi seperti perawatan rumah sakit gratis, sumberdaya manusia dan tatalaksana gizi buruk di puskesmas, pemberian makanan tambahan, dan lainlain. Komunikasi dan koordinasi yang baik sejak awal dan terus menerus yang dibina oleh Islamic Relief dengan para stakeholder kunci seperti puskesmas, dinas kesehatan kota dan propinsi, kecamatan, dan desa merupakan salah satu faktor penentu berjalannya pelaksanaan program gizi yang terintegrasi dan komprehensif; Program PD yang dilaksanakan Islamic Relief bersifat inklusif dengan pendekatan lainnya. Karenanya, upaya rehabilitasi gizi balita dilakukan melalui (1) pendirian pos pendidikan dan rehabilitasi gizi dalam kerangka revitalisasi posyandu yang dilaksanakan melalui para kader posyandu, (2) pemberian makanan tambahan formula 75 atau formula 100 bagi balita gizi buruk yang tidak mengalami komplikasi penyakit melalui klinik gizi di puskesmas, dan (3) fasilitasi perawatan di rumah sakit bagi penderita gizi buruk dengan komplikasi penyakit. Masing-masing pendekatan memiliki sasaran sendiri-sendiri dengan tingkat efektivitas yang berbeda-beda. Oleh karenanya, ketiga pendekatan tersebut saling melengkapi (komplementer); Para kader pos gizi adalah juga kader posyandu yang sangat aktif dan telah menjadi modal utama upaya penanggulangan masalah gizi di tingkat akar rumput. Mereka merupakan unjung tombak dalam melakukan pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat dapat memecahkan persoalan atas dasar kemampuannya sendiri. Dengan demikian, program-program pemerintah seperti klinik gizi dan perawatan rumah sakit merupakan upaya komplementer lanjutan apabila pos gizi tidak mampu memecahkan persoalan kurang gizi; Perubahan perilaku para ibu/pengasuh dalam hal pola makan, pola asuh, pola hidup bersih, dan pola penanganan anak sakit setelah mengikuti pos gizi cukup baik. Hal ini diantaranya dibuktikan melalui pengakuan mereka bahwa 78% responden mengaku belajar pentingnya mencuci tangan pakai sabun sebelum makan, sementara 52%-nya telah mempraktekannya di rumah. Namun demikian, hal ini masih perlu dibuktikan melalui penelitian yang lebih ilmiah untuk menghindari non-sampling error yang masih terjadi. Karenanya, monitoring perubahan perilaku positif para ibu/pengasuh peserta pos gizi perlu dilakukan secara ilmiah namun tetap sederhana agar dapat dilakukan para kader. Sepanjang 6 bulan pelaksanaan, Pos Gizi mampu menekan laju prevalensi masalah gizi rata-rata sebesar 16%. Secara lengkap efektivitas ketiga jenis intervensi dapat dilihat dengan perincian di dalam Tabel 8 di bawah ini.

2.

3.

4.

5.

6.

18

Tabel 8. Efektivitas Tiga Jenis Intervensi Dalam Proses Rehabilitasi Gizi Balita
Jenis Intervensi Pos Gizi Balita ditangani yang Hasil yang diperoleh Status Gizi Awal Status Gizi Akhir 239 gizi buruk 194 gizi buruk 235 gizi kurang 202 gizi kurang 76 gizi baik Keterangan M – K : 54 (11,4%) M – H : 8 (2%) K – H : 68 (14%) K – M : 17 (4%) Stabil : 327 (68%) Perubahan sebesar 11% Kesuksesan sebesar 20%;

474*) anak gizi buruk dan kurang

Klinik Gizi Perawatan di RS

208 anak gizi buruk 20 anak gizi buruk disertai komplikasi penyakit

208 gizi buruk 20 gizi buruk

185 gizi buruk 23 gizi kurang 6 anak menjadi gizi baik; 7 meninggal dunia, 6 tidak ada perubahan, 1 anak membaik dlm kondisi gizi kurang

7.

Beberapa kendala yang ditemui di dalam implementasi ketiga pendekatan penanganan masalah gizi tersebut adalah a. Untuk di pos gizi: kemiskinan akut yang dialami oleh keluarga penderita gizi buruk tidak memungkinkan mereka untuk menyediakan makanan bergizi yang diperlukan oleh penderita. Proses dan mekanisme dukungan dari masyarat sekitar belum sepenuhnya terbentuk. b. Untuk Klinik Gizi: sistem, mekanisme, dan ketenagaan untuk melakukan pemantauan pemberian formula75 dan/atau 100 di rumah penderita masih belum disiapkan dengan baik. Lemahnya monitoring menyebabkan tingkat kelulusan peserta belum maksimal; c. Untuk Fasilitasi di Rumah Sakit: Angka pulang paksa cukup tinggi di atas 30% yang tidak disertai dengan komitmen untuk tetap melakukan perawatan lanjutan di klinik gizi. Hal ini juga menyebabkan kematian anak tidak dapat dihindari.

SARAN Ketiga pendekatan di dalam penanggulangan masalah gizi tersebut perlu terus dilanjutkan dengan lebih banyak melibatkan berbagai pihak. Aparat desa dan para tokoh sudah saatnya ditingkatkan peran sertanya. Keterlibatan mereka yang selama ini sebatas pendukung harus segera dikonkritkan menjadi pelaku utama di dalam sebuah Komite Kesehatan Desa (KKD) Sementara itu, desain masing-masing jenis intervensi pendekatan perlu disempurnakan, di antaranya: 1. Pos Gizi: Perlu dicarikan jalan bagaimana menggabungkan kekuatan dan motivasi kader dengan kendala ketersediaan makanan bergizi di tingkat peserta. Selain itu, perlu juga didesain satu perangkat monitoring perubahan perilaku yang sederhana tetapi efektif serta datanya dapat dipertanggunggungjawabkan dengan baik. 2. Klinik Gizi: Perlu disepakati model, metode, dan sumberdaya monitoring yang tepat dan cukup ke rumah-rumah peserta klinik gizi agar dapat dipantau dengan baik apakah penderita benar-benar diberi asupan formula secara benar, taat azas, dan tepat waktu oleh ibu/pengasuh. Selain itu, dalam melakukan monitoring dapat juga sekaligus dilakukan mentoring tentang 4 perilaku ideal 19

para ibu/pengasuh dalam membesarkan anak-anaknya seperti yang dilakukan di pos gizi. Selebihnya, bagi anak yang sudah mulai melewati tahap stabilisasi dapat diikutkan pada pos gizi untuk memperkuat jalannya proses rehabilitasi yang sedang dijalani di Klinik Gizi. Namun, bila kondisi anak mendukung, proses rehabilitasi tersebut dapat dilakukan di pos gizi saja atas rekomendasi dan arahan dari dari klinik gizi. 3. Perawatan di Rumah Sakit: Sistem dan mekanisme seleksi kepesertaan di tingkat pos gizi dan klinik gizi telah berjalan dengan baik. Namun demikian, perlu dikembangkan sistem peringatan dini yang lebih tepat di tingkat kader kesehatan agar tidak lagi terulang kematian balita karena keterlambatan fasilitasi ke rumah sakit. 4. Dari sisi waktu, upaya menekan laju prevalensi gizi buruk dan kurang tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek. Mencontoh kasus di Vietnam, perlu waktu yang cukup panjang sampai setidaknya 3 (tiga) tahun agar upaya penanggulangan berjalan lebih efektik, efisien, dan berkelanjutan melalui upaya perbaikan terus menerus di dalam setiap jenjang manajemen program (perencanaan, alokasi sumberdaya, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi);

Kader sedang memberi penyuluhan kesehatan di pos gizi

Ibu-ibu membawa balitanya ke Klinik Gizi untuk mendapat pemeriksaan dari dokter specialist

Fasilitasi ke rumah sakit program Askeskin di RSUD

Photo sebagian anak gizi buruk yang disertai infeksi penyakit yang dirawat di rumah sakit

20

REKOMENDASI Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di samping itu, kadang-kadang masing-masing pendekatan juga memiliki sasaran yang berbedabeda. Karenanya, upaya untuk melakukan sinergisme terhadap masing-masing pendekatan merupakan hal yang niscaya. Pemerintah daerah dapat memulai mengadopsi pendekatan positive deviance (PD) sebagai pelengkap dari berbagai pendekatan yang selama ini diprioritaskan, mengingat PD memiliki keunggulan dalam aspek pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, para pegiat LSM hendaknya juga mulai mensinergikan programmnya dengan pendekatan lain seperti teuraphitic feeding (dan/atau klinik gizi) agar balita yang tidak dapat ditangani di pos gizi dapat diselamatkan di klinik gizi.

Catatan: Hasil evaluasi dan rekomendasi program NERP telah didiskusikan secara mendalam dengan dinas kesehatan setempat. Tindak lanjutnya adalah dinas kesehatan kabupaten akan melaksanakan pembukaan NERP di salah satu kecamatan atas anggaran APBD. Untuk mendukung ini, Dinas kesehatan propinsi telah melakukan pelatihan orientasi PD pada bulan Mei 2007 yang diikuti oleh seluruh perwakilan staff gizi dari 6 kabupaten yang ada di popinsi Banten. Islamic Relief dibantu oleh Save the Children, Dinkes Jabar, Dinkes Banten, dan Dinkes Kab. Serang bertindak selaku fasilitator/trainer dalam pelatihan ini.

Suasana orientasi pelatihan positive deviance bagi staff gizi pemerintah setempat

21

Analisis data sekunder

Sosialisasi & Musyawarah Desa Koordinasi dg Puskesmas Pemilihan Kader Training 5 meja Mobilisasi Masy

Musyawarah Desa 2

Wealth Ranking FGD pengasuh Identifikasi Keunikan Diskusi & analisis keunikan Training PPRG

Rujukan Pos Gizi

Penyisiran ke rumah

Baseline survey

Input Data & Analisa Data

Desain Pos Gizi

Program Rendidikan dan Rehabilitasi Gizi (PPRG) di pos Home Visit: monitoring perilaku di rumah

Pemeriksaan Dokter Spesialis

Seleksi balita Gizi Buruk Pelatihan Kader Kesehatan

Pemeriksaan Puskesmas/ Klinik Gizi

Pengurusan Askeskin

P E R A W A T A N M E D I S

K L I N I K

Konseling Gizi Pemberian Formula F75/F100 Perbaikan Asupan Gizi di rumah Monitoring Progress

Dukungan Pemda/Masy

Dukungan transportasi, logistic, moril

Tindak lanjut rehabilitasi di Klinik Gizi/Pos Gizi 22

Tindak lanjut: Ke RS atau Pos Gizi

G I Z I

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->