ANALISIS SWASEMBADA DAN KEBUTUHAN BERAS DI KECAMATAN BABALAN KABUPATEN LANGKAT

Muhammad Akbar, NIM.308171067 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi 2008, Fakultas Ilmu sosial Universitas Negeri Medan ABSTRAK Penelitian dalam Analisis Swasembada dan Kebutuhan Beras di Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat ini bertujuan untuk mengetahui (1) produksi beras melalui pengelolaan faktor produksi (faktor produksi lahan/tanah, modal, tenaga kerja dan teknologi) di Kecamatan Babalan, (2) pola konsumsi dan kebutuhan beras di Kecamatan Babalan, dan (3) mampu atau tidaknya Kecamatan Babalan berswasembada beras. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani di Kecamatan Babalan yang berjumlah 5947 orang petani padi. Alat pengumpul data yang digunakan adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan studi dokumentasi yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Produksi beras di Kecamatan Babalan dari tahun 20002010 sangat berfluktuasi, dengan produksi beras tertinggi pada tahun 2001 yakni 27.086 ton, dan terendah pada tahun 2002 yakni 16.048 ton, sedangkan hasil proyeksi menunjukkan produksi beras Kecamatan Babalan sampai tahun 2020 terus turun sebesar 12,13%, (2) Pola konsumsi penduduk Kecamatan Babalan yang mendominasi adalah beras dari padi dengan konsumsi mencapai 130 kg/kapita/tahun atau lebih tinggi 29,6 kg dari PPH (Pola Pangan Harapan), yakni 100,4 kg/kapita/tahun, sementara kebutuhan beras pada tahun 2020 akan mencapai angka 10.453,17 ton atau lebih tinggi 2.380,106 ton dari PPH, dan (3) Kecamatan Babalan pada tahun 2000 hingga 2010 ternyata mampu berswasembada bahkan mencapai surplus, bahkan hasil proyeksi menunjukkan pada tahun 2020 Kecamatan Babalan juga tidak hanya mampu berswasembada namun juga mengalami surplus dengan rasio produksi dan konsumsi mencapai 1,62. Kata kunci: produksi, konsumsi dan kebutuhan, swasembada. PENDAHULUAN Manusia dalam segala sisi kehidupannya memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda baik dari sisi kualitas maupun kuantitas termasuk kebutuhan pangan. Pangan adalah salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam takaran tertentu agar seseorang dapat hidup secara layak. Pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi

manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan (BAPPENAS, 2011). ). Salah satu sumber pangan hayati penduduk yang utama, khususnya di Indonesa adalah beras. beras masih merupakan komoditi yang terus menjadi pangan pokok yang berada pada urutan teratas dalam menu konsumsi penduduk Indonesia secara umum. Konsumsi faktual rata-rata beras di Indonesia masih terbilang sangat tinggi daripada konsumsi normatif yang dianjurkan. Konsumsi rata-rata beras nasional yakni 139 kilogram per kapita per tahun melebihi negara tetangga, yaitu Thailand yang hanya mencapai 65 kilogram per kapita per tahun dan Malaysia yang hanya mencapai 75 kilogram per kapita per tahun (Wiryawan, 2011). Tingginya rata-rata konsumsi beras penduduk Indonesia tersebut mengakibatkan Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan pangan beras yang cukup tinggi dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia. Ditambah lagi 95% dari total penduduk Indonesia masih mengutamakan beras sebagai pemuncak menu makanan sehari-hari (Nurmala, 2012). Perencanaan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi bahan makanan pokok seperti beras merupakan suatu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pangan pokok beras tersebut. Perencanaan peningkatan produksi beras tersebut tidaklah semata-mata untuk memenuhi konsumsi penduduk yang sudah terkontaminasi dengan perilaku konsumsi yang boros beras (konsumsi faktual), namun peningkatan produksi beras harus lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan padi-padian masyarakat sesuai dengan nilai normatif yang disarankan untuk dapat hidup secara layak sesuai dengan Misi Ketahanan Pangan Nasional 2015, yakni sebesar 275 gram per kapita per hari atau 100,4 kilogram per kapita per tahun. Nurmalina (2007) memaparkan bahwa pada hasil analisis dinamis menunjukkan pada tahun 2015 akan terjadi defisit ketersediaan beras nasional sebanyak 7,15 juta ton per tahun yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan permintaan beras yang lebih cepat daripada pertumbuhan penyediaannya. Hal ini sepatutnya diantisipasi dengan pengelolaan pertanian padi yang baik melalui pengelolaan faktor-faktor produksinya oleh petani untuk menciptakan

Komparasi keduanya akan menunjukkan suatu rasio keberimbangan antara hasil produksi dan konsumsi yang pada akhirnya akan menggambarkan apakah Kecamatan Babalan merupakan daerah yang sebenarnya mampu untuk berswasembada beras atau tidak.41Km2) adalah Kecamatan yang memiliki potensi pertanian terutama pertanian bahan pangan beras di Kabupaten Langkat. Artinya dalam mencapai status swasembada pangan di suatu daerah khususnya swasembada beras. Penelitian ini diharapkan member manfaat bagi pembaca. Bagi Kecamatan Babalan agar tetap bisa menjadi daerah yang mandiri dalam pemenuhan kebutuhan domestik sesuai dengan peraturan menteri pertanian yang menetapkan kondisi swasembada apabila skor dari rasio antara kebutuhan dan ketersediaan berkisar antara > 1. Kecamatan Babalan yang memiliki luas 7. modal.peningkatan hasil produksi dalam rangka memenuhi pertumbuhan kebutuhan beras akibat pertumbuhan penduduk.00 – 1.14.617 ton beras) dengan luas lahan panen seluas 3660 ha atau masa panen pertama (antarasumut. jumlah panen padi di Kecamatan Babalan mencapai 21.641 Ha (76.14 kali lebih banyak ketersediaannya dibandingkan dengan kebutuhan beras penduduk.456 jiwa (Babalan Dalam Angka 2011). maka daerah tersebut harus memenuhi kebutuhan beras masyarakat dari hasil produksi lokal setidaknya seimbang dengan kebutuhan beras masyarakat atau 1.com). . Pada panen pertama tahun 2010. serta apakah Kecamatan Babalan mampu berswasembada beras. Dengan jumlah panen tersebut diharapkan hasil produksi padi di Babalan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan beras penduduk di Kecamatan Babalan yang pada tahun 2010 tercatat sebanyak 56. pola konsumsi dan kebutuhan beras di Kecamatan Babalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi beras melalui optimalisasi pengelolaan faktor produksi (faktor produksi lahan/tanah. Peningkatan produksi melalui optimalisasi faktor-faktor produksi termasuk teknologi oleh petani dan pemenuhan kebutuhan beras penduduk berdasarkan tingkat kebutuhan normatif berdasarkan pola pangan harapan yang dianjurkan untuk hidup layak merupakan sebuah tantangan bagi Kecamatan Babalan. tenaga kerja dan teknologi) di Kecamatan Babalan.228 ton (11.

dan kebutuhan beras penduduk serta swasembada beras di Kecamatan Babalan. jumlah penduduk. pola konsumsi. Jumlah sampel ditetapkan sebanyak 98 petani berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin dalam Notarianto. dan studi kepustakaan. Proyeksi penduduk. pedoman wawancara. pada analisis akan disajikan dengan tabel-tabel frekuensi. yaitu Y = a + bX……………………………. yang digunakan adalah metode ekstrapolasi/trend. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Kecamatan Babalan. selanjutnya akan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Data-data yang telah dikumpulkan untuk keperluan penelitian. dan studi dokumenter dengan alat pengumpul data masing-masing yakni lembar observasi. Data yang digunakan adalah sata primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi. tenaga kerja dan teknologi di Babalan di Kecamatan akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. tenaga kerja.(3) Pt = Jumlah penduduk pada tahun berikutnya (t) yakni 2010 P0 = Jumlah penduduk pada tahun dasar. dan pemerintah daerah setempat dalam perencanaan pemenuhan pangan beras menuju swasembada. teknologi. modal. Luas lahan. Variabel dalam penelitian ini adalah produksi beras. Untuk mengetahui memproyeksi lahan akan digunakan analisis regresi linier sederhana. modal. Sementara itu. untuk memudahkan analisis akan dilakukan perhitungan yang akan dituangkan dalam bentuk tabel-tabel data frekuensi. lahan/tanah. Kabupaten Langkat dengan populasi adalah seluruh petani padi di Kecamatan Babalan yang berjumlah 5947 orang petani (Satistik Babalan 2010). untuk membahas kemungkinan swasembada juga dianalisis dengan deskriptif kualitatif. a. dengan rumus: Pt = P0 (1 + r) (t-0) Atau sering disingkat Dimana: Pt = P0 (1 + r) n…………. yakni 2000 .masyarakat. Untuk mengetahui bagaimana produksi beras melalui pengelolaan faktor-faktor produksi pertanian padi oleh petani meliputi faktor lahan/tanah. 2010). komunikasi langsung..(2) b.

95 – 1. Produksi tidak lain merupakan hasil akhir atau keluaran (output) dari sebuah proses pemasukan (input) yang menghasilkan suatu barang. Swasembada. teknologi.r = rata-rata proporsi kenaikan penduduk setiap tahun. cukup atau defisit. dan sumberdaya manusia dalam hal ini adalah petani yang melakukan manajemen terhadap pengelolaan faktor-faktor produksi tersebut yang pada akhirnya akan mempenngaruhi kuantitas produksi padi dan berujung pada kuantitas produksi beras lokal.95 (defisit). yakni faktor luas lahan.2% x jumlah produksi GKG penduduk ½ tahunan dibagi 1.00 (cukup) d. Dalam konteks produksi beras di Kecamatan Babalan maupun dalam konteks luas. 85% x 63. 3. c. faktor modal. banyaknya produksi beras suatu daerah umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor.14 (swasembada) c. Skor 3 : apabila rasio > 0. Produksi beras adalah produksi GKG dikonversi ke beras Kebutuhan beras = konsumsi rata-rata perkapita x jumlah Perimbangan = ketersediaan – kebutuhan beras Rasio = ketersediaan : kebutuhan beras. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Produksi Beras Berdasarkan Pengelolaan Faktor Produksi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hasil produksi beras merupakan hasil produksi dari tanaman pangan beras yang dihasilkan oleh pertanian padi yang ada di Kecamatan Babalan. Untuk melihat Kecamatan Babalan mengalami surplus. yaitu.14 (surplus) b.000 Hasil perimbangan diskor : a. Skor 4 : apabila rasio lebih kecil atau sama dengan 0. digunakan perbandingan/rasio ketersediaan produksi berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Tahun 2010. 2. . 2010). Skor 1 : apabila rasio > 1.00 – 1. yaitu jumlah kenaikan/pertambahan penduduk dibagi jumlah penduduk pada tahun dasar (Tarigan. 1. 4. Skor 2 : apabila rasio > 1.

27.672 ton. Naik turunnya jumlah produksi ini tidak lain merupakan dampak dari naik turunnya produksi padi di kalangan petani lokal. 16.721 ton.07 ton/hektar pada masa tanam kedua sehingga dirata-ratakan produksi tanaman pangan beras mencapai 5.58 hektar tiap petani.624 ton. dan 23. Jika dikonversikan ke beras. Hal ini menunjukkan bahwa produksi padi dan beras di Kecamatan Babalan sudah cukup tinggi. sangat memiliki keterkaitan dalam menentukan jumlah produksi beras di Babalan.75 ton beras tiap masa tanam. yakni masih tetap kecilnya luas lahan garapan rata-rata petani yang masih sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan garapan petani di negara-negara seperti India dan Thailand yang umumnya memiliki luas lahan garapan yang cenderung lebih luas begitu juga dengan hasil produksi dan produktifitasnya. Dengan frekuensi tanam sebanyak 2 kali dalam 1 tahun dan rata-rata lahan garapan 0.086 ton.472 ton.918 ton. 17.048 ton. Begitu juga dengan luas panen dan produktifitas rata-rata di Kecamatan Babalan. didapatkan hasil rata-rata produksi (produktifitas) padi sebanyak 5.500 ton. kemudian meningkat lagi pada 2008 dan 2009 sampai pada akhirnya 2010 mengalami trend penurunan kembali. maka tiap hektar lahan di Kecamatan Babalan akan menghasilkan 2. 20.06 ton/hektar pada masa tanam pertama dan 5. namun masalah nasional tetap merambat dalam ranah pertanian lokal. . 25. 2005.760 ton.840 ton. 20. Tercatat dari hasil penelitian jumlah atau kuantitas produksi beras di Kecamatan Babalan sangat berfluktuasi. produksi beras tertinggi berada pada tahun 2001 dan terendah pada tahun 2002.Jumlah Produksi Beras di Kecamatan Babalan Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (tahun 2000-2010) produksi beras di Kecamatan Babalan cenderung berfluktuasi dengan produksi beras mencapai 24.065 ton/hektar. Fluktuatifnya jumlah produksi padi petani juga sangat terkait dengan fluktuatifnya luas lahan panen dan produktifitas tanaman padi tersebut sebagai hasil dari pengelolaan yang dilakukan petani. 21. 18. pada selanjutnya mengalami trend penurunan dan sempat mengalami peningkatan pada tahun 2003. 24.683 ton. 2006 lalu turun kembali pada tahun 2007.

disebut langkah bebas (vrije actie). Daniel (2004) mengungkapkan umur yang ditetapkan untuk seseorang dikatakan pada jenjang usia produktif atau tidak berkisar antara 15-64 tahun. namun yang paling esensial adalah bagaimana melakukan regenerasi untuk melanjutkan kegiatan pertanian padi penghasil beras pada waktu ini dan untuk beberapa puluh tahun mendatang karena kebutuhan akan beras tidak hanya harus dipenuhi untuk saat ini tetapi juga untuk masa-masa mendatang dan oleh karenanya ketersediaan/regenerasi petani yang mampu melakukan kegiatan pertanian yang menghasilkan beras juga wajib diadakan untuk saat ini dan pada waktu-waktu mendatang. yang dimaksud tenaga kerja adalah suatu alat kekuatan fisik dan kekuatan manusia. Hal yang perlu diketahui dalam hal ini adalah bukan bagaimana agar para petani itu bisa mengerjakan pertanian untuk menghasilkan beras dengan usianya. Menurut beberapa pakar ekonomi pertanian. termasuk produksinya. misalnya sport. yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha produksi. Tenaga kerja manusia yang tidak ditujukan pada suatu usaha produksi. tetapi masuk kepada modal yang menggantikan tenaga kerja. Dalam konteks pertanian padi di Kecamatan Babalan. tenaga kerja yang dimaksud adalah penduduk yang melakukan kegiatan pertanian atau yang lebih dikenal denga petani padi. Di Kecamatan Babalan ada sekitar 7 % petani dengan rentang usia yang sudah tidak produktif serta 15% petani akan menjadi petani dengan usia tidak produksi dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. 2004). Tenaga Kerja Dalam ilmu ekonomi. Semakin baik kualitas sumberdaya manusia petani maka makin baik pula penngelolaan pertaniannya. semakin baik pengelolaan pertaniannya maka makin baik pula hasil pertaniannya. Kecenderungan anak . Petani merupakan faktor yang sangat vital dalam menentukan arah dan hasil akhir dalam pertanian.Pengelolaan Faktor Produksi Pertanian Tanaman Pangan Beras di Kecamatan Babalan a. yaitu penduduk yang berada pada rentang umur antara 15-64 tahun (Daniel. Tenaga kerja ternak atau traktor bukan termasuk faktor tenaga kerja. tenaga kerja (man power) adalah penduduk yang berada dalam usia kerja.

Suryana (dalam Sukisti. Memang bukan masalah pendidikan yang menjadi patokan utama untuk petani agar bisa malakukan manajemen yang baik terhadap kegiatan pertaniannya. sedangkan kebutuhan pangan terus meningkat. Masih rendahnya tingkat pendidikan umumnya akan berkorelasi terhadap daya saing daya produktifitas seseorang. belum mengetahui orang-orang yang dapat dijadikan teman untuk ber-usahatani secara komersial sehingga di dalam usahataninya petani belum mampu mencapai tingkat penggunaan sumberdaya secara optimal (Manahanto.muda pada saat sekarang untuk terjun dalam usaha pertanian masih sangat minim sehingga besar tantangannya untuk dapat melakukan produksi pertanian yang optimal di masa mendatang. kurang mengetahui perubahan harga dan keadaan harga yang terjadi. masalah manajemen hanya tinggal peran pemerintah untuk melakukan bimbingan dan pelatihan karena pada hasil lapangan juga dituturkan peran bimbingan dan penyuluhan pertanian masih sangat minim sehingga harus dibenahi kembali untuk meningkatkan pengetahuan petani yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas hasil pertaniannya. Didalam usahatani salah satu peran petani adalah sebagai manajer. b. 2009). Hal ini lah yang juga terjadi di Kecamatan Babalan. Dengan pengalaman petani yang sudah tinggi. kurang mengetahui cara-cara ber-produksi yang akan datang. sehingga petani dituntut untuk mempunyai pengetahuan-pengetahuan. Masalah ini disebabkan oleh beberapa kendala yaitu penyusutan lahan pertanian subur untuk kebutuhan non pertanian. dalam segi tingkat pendidikan khususnya. Akan tetapi petani masih perlu bimbingan dalam pengambilan keputusan sebab pada umumnya petani kurang pengetahuannya dalam cara-cara berproduksi yang baik. Peran petani sebagai manajer bertugas untuk mengambil keputusan tentang apa yang akan dihasilkannya dan bagaimana cara menghasilkannya. untuk dapat melakukan produksi dengan baik petani harus mampu melakukan manajemen terhadap pertaniannya dengan baik. upaya peningkatan produktifitas . 2001) mengemukakan pernyataaan bahwa peningkatan produksi pangan nasional akan makin sulit dimasa yang akan datang. Lahan/Tanah Berkurangnya kuantitas lahan pertanian menjadi ancaman yang serius dalam opemenuhan kebutuhan pangan dimasa mendatang.

Lahan sewaan ini sangat berpotensi besar untuk dijual oleh pemiliknya. dengan demikian semakin terbuka peluang untuk lahan tersebut dibeli dan diolah untuk keperluan di luar keperluan pertanian. maka kemungkinan penurunan luas panen dan hasil produksi di masa yang akan datang semakin tidak terelakkan lagi. Kecamatan Babalan kian waktu kian memiliki lahan pertanian sawah yang mengalami stagnasi bahkan mengalami penyusutan sehingga akan berpengaruh pada stagnasi atau penyusutan luas panen dan hasil panen sehingga pada akhirnya akan mengalami penyusutan ketersediaan produksi beras. Kecenderungan pengalihfungsian lahan swah ke lahan non sawah akan semakin besar di Kecamatan Babalan tatkala 30% lahan merupakan lahan sewaan. Karena yang paling menentukan kuantitas produksi selain luas sawah adalah luas panen. Tabel 1: Proyeksi Perhitungan menggunakan persamaan Regresi Linier Sederhana Y = a + b (X) No. ditambah lagi dengan luas garapan rata-rata yang cenderung relatif semakinl kecil. dan alih fungsi lahan mengakibatkan jumlah petani berlahan sempit makin bertambah.mengalami stagnasi karena belum ada terobosan teknologi baru yang mampu memberikan lonjakan produksi setelah revolusi hijau. maka akan diproyeksikan luas lahan panen di Kecamatan Babalan untuk rentang tahun 20112020. Di Kecamatan Babalan masih terdapat alihfungsi lahan pertanian ke arah non pertanian seperti perkebunan dan perumahan. faktor alihfungsi lahan sangat kuat pengaruhnya terhadap luas lahan panen. Apabila hal ini terjadi. Luas panenlah yang akan menentukan berapa besar produksi beras di suatu daerah. Karena luas panen di Kecamatan Babalan cenderung berfkuktuasi bahkan menurun. Memang tidak bisa disangkal selain faktor tanaman dan fisik lahan. 1 2 3 4 5 6 7 8 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 X -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 Y 9311 10730 6004 6864 6051 7025 7420 6168 X2 1 4 9 16 25 0 25 16 XY -46555 -42920 -18012 -13728 -6051 0 7420 12336 .

Jadi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Luas Panen (Ha) Produksi Beras (Ton) 7064.492.535.516 6.272.6 b = -95.9 10 11 ∑ Rumus: 2008 2009 2010 3 4 5 0 8257 8543 7619 83992 9 4 1 110 24771 34172 38095 -10472 a = 7635.8 17. berdasarkan proyeksi luas lahan panen pada tabel di atas.4 19.012.752. tampak jelas bahwa luas lahan panen .398 17.053.578 Sumber: Hasil Proyeksi Penelitian Jumlah produksi beras tiap hektar yang digunakan untuk perhitungan adalah jumlah produksi rata-rata.231.5 + (-1428) = 6207.409 6.070 6.734 ton/Ha luas panen.6 Berikut adalah hasil proyeksi terhadap luas lahan panen yang sangat mempengaruhi kuantitas produksi beras. Tabel 2: Proyeksi Luas Panen dan Produksi Beras di Kecamatan Babalan Tahun 2011-2020 No.793.683.588.2 17. yakni 2.4 18.969.778.874 18.793 6.962 6.2 19.951 6.132 6.971.493.855 6.6 16.207.314.8 18.2 Y = a + b (X) Y = luas lahan panen X = 2020 -2005 = 15……………2005 jadi acuan karena X = 0 di tahun 2005 Y 2020 = 7635.302.2) (15) Y2020 = 7635.5 + (-95.686 6.6 18.

maka apabila luas panen Kecamatan Babalan berkurang secara otomatis di masa yang akan datang yakni hingga tahun 2020 akan terjadi penyusutan produksi beras. Modal Modal merupakan faktor yang sangat penting dalam melakukan suatu kegiatan usaha. Petani di Kecamatan Babalan umumnya mengeluarkan seluruh modal dengan biaya sendiri.500.untuk penyediaan pupuk. dampaknya akan kelihatan pada masa yang akan datang dengan meningkatnya kualitas dan produktifitas sumberdaya manusia pengelolanya. utuk pestisida. latihan. Modal manusiawi dampaknya tidak kelihatan atau tidak berdampak langsung. dan lain-lain. Sedangkan modal manusiawi adalah biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. yakni modal fisik dan modal manusiawi. tiap orang petani menghabiskan modal sekitar Rp 154. Modal fisik atau modal material. Daniel (2004) menjelaskan dalam pertanian dikenal ada dua jenis modal. modal untuk pupuk. Selain itu. ternak. kesehatan.tanaman pangan beras di Kecamatan Babalan mengalami penurunan atau pengurangan karena pengaruh negatif dari alihfungsi lahan yang masih kerap terjadi. tetapi umumnya dalam bentuk Gabah Kering. Sebagian besar modal fisik yang dikeluarkan oleh petani adalah modal untuk bibit.. yaitu berupa alat-alat pertanian bibit. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh luas lahan sawah yang ada juga mengalami penyusutan sehingga berpengaruh pada luas panen tanaman pangan beras. pupuk.untuk penyediaan bibitnya. dapat dilihat pada tabel bahwa penurunan produksi beras di Kecamatan Babalan terus terjadi sebesar 12. c. Seperti diketahui bahwa luas panen akan sangat berpengaruh terhadap jumlah produksi suatu daerah. dan modal untuk upah tanam padi. untuk modal sewa dibutuhkan 3 kaleng. mengolah tanah dengan mesin jetor hingga tanah siap untuk ditanami tanaman pangan penghasil beras (padi).400. dan lain-lain. rata-rata petani menghabiskan Rp 581.13% sampai pada tahun 2020.900/Ha . dan tidak terkecuali usaha pertanian tanaman pangan beras (padi) yang memerlukan modal material untuk pengadaan saprodi (sarana dan alat produksi padi) dan untuk pengelolaan lahan maupun tanaman. Tiap hektar lahan garapan memerlukan modal sekitar Rp 588. untuk petani yang menyewa lahan/tanah garapan biasanya dikenakan bayaran tidak hanya berbentuk uang.

d. para petani mengeluarkan modal rata-rata Rp 164. 2006).000/Ha) Triyanto (2006) menyatakan bahwa sekitar 70% petani adalah miskin. teknologi merupakan teknik atau cara petani dalam mengelola pertanian tanaman pangan beras (padi) meliputi pemilihan bibit. pemberantasan hama dan gulma. Ketersediaan modal yang terbatas akan membuka peluang untuk memperkecil input dalam malakukan kegiatan produksi. 2004). dan pengairan. sementara untuk herbisida sendiri. masing-masing komoditas pertanian tersebut membutuhkan faktor produksi sesuai dengan sifat genetiknya. masa tanam. Jika modal sebagai input penting produksi kurang. penanaman bibit lokal tidak lagi dilakukan. pemupukan. Ekspektasi petani terhadap hasil dan jangka waktu panen ternyata sudah sangat diperhitungkan oleh sebagian besar petani di Kecamatan Babalan. maka berkurangnya hasil produksi beras di masa mendatang adalah mutlak. Teknologi Dalam proses produksi pertanian dalam rangka mempersiapkan ketersediaan bahan pangan untuk kebutuhan penduduk. Sama halnya seperti Kecamatan Babalan. Petani sudah memiliki orientasi peningkatan hasil panen dengan menanam bibit unggul walaupun dalam satu sisi terkendala masalah . Petani di Kecamatan babalan umumnya sudah malakukan pemilihan bibit yang unggul. banyak petani yang mengeluhkan minimnya modal untuk melakukan kegiatan pertanian tanaman pangan beras (padi) sehingga tidak sedikit yang membeli pupuk dan keperluan produksi seadanya sehingga berpengaruh terhadap hasil produksi yang didapatkan. Banyak atau tidaknya produksi yang dihasilkan tanaman sebagian besar tergantung dari varietas yang ditanam (Sembiring. modal untuk mengolah tanah dan menanam padi mencapai Rp 30. Dalam penelitian ini.untuk menyediakan pestisida.000/rantai (Rp 750.400/Ha untuk menyediakan herbisida. Dengan kata lain teknologi dalam pertanian merupakan cara-cara atau teknik dalam pengelolaan faktor produksi untuk menghasilkan hasil yang maksimal (Daniel. padahal seyogyanya dalam peningkatan produksi dibutuhkan penambahan input sehingga yang terjadi adalah menurunnya hasil karena berkurangnya input sebagai konsekuensi logis dari kekurangan modal oleh petani.

teknologi pengairan untuk usaha pertanian tanaman pangan beras di Kecamatan Babalan masih belum diterapkan dengan baik. bibit varietas unggul tersebut agar dapat menghasilkan produksi yang maksimal harus dilakukan perawatan dan pemupukan yang tepat. seluruh petani telah melakukan upaya untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan hama dengan melakukan penyemprotan pestisida dan herbisida penggagu tanaman. Selain itu masalah hama juga menjadi momok yang menakutkan bagi petani dalam usaha peningkatan produksi tanaman pangan beras. meskipun demikian. Pemupukan yang merata. Penggunaan pupuk yang tepat sangat berpengaruh pada produksi. Tetapi usaha petani setidaknya telah membantu meningkatkan produksi beras lokal dengan menanam bibit unggul yang berkualitas tinggi.modal. Penyemrotan herbisida dan pestisida yang dilakukan petani pada umumnya telah sesuai dengan anjuran dosis penggunaan meskipun masih ada petani yang juga mengira-ngira takaran. ketepatan dalam memilih jenis pupuk saat pemupukan dan jumlah kebutuhan pokok dalam melakukan budidaya padi dapat menajdi tolok ukur keberhasilan peningkatan produksi. Adapun tujuan pemupukan adalah untuk melengkapi makanan atau hara tumbuhan. Hal yang paling mencuat di Kecamatan Babalan untuk dapat meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan beras hampir sama dengan wilayah lain di Indonesia. Secara umum. yakni pengairan. Tidak jarang mengalami gagal panen dikarenakan oleh perubahan iklim. Saluran irigasi belum bisa dibuat meskipun areanya memungkinkan untuk dibuat saluran irigasi karena . Selain pemilihan varietas unggul. Pengairan yang hanya bertumpu pada tadah hujan membuat peluang untuk ketercukupan air menjadi sangat fluktuatif apalagi pada zaman perubahan iklim yang terkadang cenderung ekstrim seperti sekarang. pemupukan yang dilakukan petani di Kecamatan Babalan tidak semuanya sesuai dengan aturan dan takaran karena masalah yang lagi-lagi berputar pada kendala modal yang kurang untuk penyediaan pupuk yang sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan. intensif serta berimbang merupakan langkah yang tepat. Masalah iklim dan pengairan inilah yang menjadikan sistem frekuensi tanam menjadi minim. yakni hanya 2 kali dalam 1 tahun dikarenakan tidak adanya irigasi untuk mengatur perairan sehingga produksi beraspun hanya 2 kali dalam satu tahun. Namun.

8.302. Untuk mengetahui bagaimana konsumsi dan kebutuhan beras di Kecamatan Babalan untuk masa-masa mendatang (hingga tahun 2020).803 ton.75 6.95 7. jumlah atau kuantitas penduduk menjadi indikator yang sangat menentukan berapa jumlah atau kuantitas pangan yang dibutuhkan dan yang dikonsumsi termasuk pangan beras di Kecamatan Babalan.17 8. 7.400.877. maka terlebih dahulu harus diketahui berapa jumlah penduduk di masa yang akan datang dengan memproyeksikan pertambahan jumlah penduduk Kecamatan Babalan. 6. dan 7.320 ton. sampai sekarang dibeberapa wilayah tertentu masih dapat terterapkan dengan nyata.454.44 5.419.656.34 7. Pola Konsumsi dan Kebutuhan Beras di Kecamatan Babalan Kebutuhan beras penduduk di Kecamatan Babalan pada tahun 2000-2010 mencapai 6.074. 6.88 6.529.309.879.546 80409 10. maka selain tingkat konsumsi per kapitanya.55 6.792.073.339.774 ton.521. Terkait masalah konsumsi dan kebutuhan pangan beras di suatu wilayah. 8. 7.Kecamatan Babalan memiliki anak sungai Sei Lepan yang mampu memasok air untuk kebutuhan pertanian tanaman pangan beras.089.610 65035 8.008. Tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah Kebutuhan Beras Penduduk Konsumsi (Ton) berdasarkan PPH (Jiwa) 275gr/kap/hr (Ton) 58488 7. sesuai dengan teori Malthus mengenai pertumbuhan populasi yang mengikuti deret ukur dan pertumbuhan pangan yang sesuai dengan deret hitung.064 Sumber: Hasil Proyeksi Penelitian .22 6. 7. Sangat tidak bisa disangkal bahwa semakin bertambah jumlah penduduk semakin bertambah pula kebutuhannya akan barang dan jasa.160.509.194 ton.845.010 ton.650 ton.260.603.280 ton.638 62775 8.121 72315 9.426 74918 9.393.301 ton.95 7.758.195 60594 7.900 ton.603 ton.550 69802 9.26 7. 8.514 67376 8. 7.453.586 ton.297.872.083.866.177.767 77615 10.764.739. Tabel 3: Proyeksi Jumlah Penduduk dan Konsumsi Beras di Kecamatan Babalan Tahun 2011-2020 No.

makan siang dan makan malam. yang membuat program diversifikasi juga tidak berjalan di Kecamatan Babalan adalah persepsi penduduk terhadap nasi ubi dan nasi jagung yang dianggap sebagai sumber pangan nasi “kampungan/ketinggalan zaman”. Penduduk Kecamatan Babalan pada umumnya memandang nasi jagung dan nasi ubi bukan sebagai sumber keanekaragaman penghasil karbohidrat. Tingginya konsumsi penduduk terhadap beras diakibatkan oleh pola konsumsi masyarakat yang monoton kepada beras. . Selain itu. nasi masih diidentikkan dengan beras padi. Secara umum terjadi peningkatan konsumsi dan kebutuhan terhadap beras. selain dari itu hnya dianggap sebagai selingan atau cemilan. Dari studi dan data yang didapatkan melalui masyarakat dan instansi terkait ternyata program diversifikasi pangan yang bertujuan untul meningkatkan konsumsi pangan selain beras agar tercapai keberagaman dan ketersediaan terhadap pangan ternyata belum dapat berjalan dengan baik di Kecamatan Babalan. Sementara angka kebutuhan beras penduduk yang semestinya atau kebutuhan yang dianjurkan sesuai dengan PPH berdasarkan ketetapan Menteri BAPPENAS untuk mendukung program Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi tahun 2011-2015 dan Lampiran Menteri Pertanian digunakan standar PPH baru untuk kebutuhan padi-padian yakni sebesar 275 gram/kapita/hari atau sebesar 100. selain jumlah penduduk yang mendeterminasi jumlah atau kuantitas konsumsi serta kebutuhan beras. Nasi menurut penduduk adalah berasal dari beras padi. hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah pola konsumsi. namun lebih kepada sisi strata sosial yang salah.4 kg/kapita/tahun. Namun.Data pada tabel bahwa konsumsi beras penduduk mencapai 130 kg / kapita/tahun atau lebih tinggi 29. Hal ini tidak lain yang pertama disebabkan oleh pertambahan penduduk Babalan yang terjadi tiap tahunnya berdasarkan proyeksi yang telah dilakukan. Nasi ubi dan nasi jagung yang merupakan nasi alternatif selain beras dianggap sebagai nasi yang hanya dikonsumsi pada zaman penjajahan.6 kg dari Pola Pangan Harapan (PPH) yang dianjurkan. Pola konsumsi penduduk sangat bergantung pada beras sebagai konsumsi nasi utama untuk sarapan.

516 2.734 9.089. Tabel 4: Proyeksi Perimbangan Produksi dan Konsumsi Beras di Kecamatan Babalan 2011-2020 Konsumsi Beras (Ton) Luas Rata-rata Produksi Lahan Produksi Beras Panen Beras (Ton) (Ha) (Ton/Ha) 7.5 /Permentan/OT.734 8. 2. dapat dilihat pada tabel proyeksi. Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Surplus Dari tabel. 3.54 2.09 1.34 6. .98 1.734 7.160. 2. Swasembada ataupun surplusnya wilayah Kecamatan Babalan sesuai dengan isi Lampiran Peraturan Menteri Pertanian No.962 2.4 18.95 6.855 2.493.588.95 6. Untuk mengetahui Kecamatan Babalan pada tahun 2011-2020 mampu berswasembada atau tidak.874.2 17.30 2.969.140 /12/2010 mengenai Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota. untuk mengetahui apakah kondisi suatu daerah apakah surplus. 2.734 8.686 2.94.132 2.42.98. 2. 2.074.734 8.79 1.778.6 16.734 Sumber: Proyeksi Hasil Penelitian N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Thn 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Rasio 2. tercatat untuk waktu sepuluh tahun yang akan datang.42 2.578 2.88 6.44 7.683.04. 3.053.453.26.070 2.0 17.535.734 10.398. Atau dengan kata lain sesuai dengan lampiran peraturan Menteri Pertanian.012.951 2.739.207.064.752.734 9. tetapi mencapai keadaan surplus beras dengan rasio perimbangan mencapai 3.2 19.62 Ket.302.23.971.793 2.758. Kecamatan Babalan dapat dikatakan swasembada apabila telah memenuhi skor perimbangan yang telah ditentukan.73.492.17 6.73.71 1.603.231.55 6.Kemampuan Swasembada Beras Di Kecamatan Babalan Kecamatan Babalan dapat dikatakan swasembada apabila secara umum mampu memenuhi kebutuhan pangan beras penduduk.33.88 1.75 6.314.409 2.272.76.22 6. Kecamatan Babalan pada tahun 2000 hingga 2010 tidak hanya mencapai swasembada. dan 3.4 19.0 18.734 10.8 18.877. yakni dari tahun 2011 hingga tahun 2020 Kecamatan Babalan masih merupakan Kecamatan yang memiliki rasio ketersediaan beras dengan status surplus. 2.6 18.454.8 17.26 6. 2.400.83.734 9.19 2. dapat diperhatikan bahwa sesuai dengan proyeksi yang dilakukan.793.

472 ton.918 ton. apabila program diversifikasi pangan berjalan baik. yakni faktor produksi lahan/tanah. pola konsumsi penduduk yang sangt monoton untuk makan sehari-hari menjadi suatu hal yang sangat penting diperhatikan oleh Kecamatan Babalan. 18. pemupukan. 20. tidak menutup kemungkinan pada tahun 2030.683 ton. 25. KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan pada hasil penelitian ini.500 ton. Walaupun Kecamatan Babalan pada tahun 2020 masih mampu untuk surplus beras berdasarkan proyeksi yang dilakukan. dan pemenuhan kebutuhan beras penduduk sesuai dengan Pola Pangan Harapan 2011-2015. cukup atau defisit beras digunakan perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan beras yang dirumuskan dalam bentuk rasio perimbangan. maka dapat disimpulkan bahwa (1) Produksi beras di Kecamatan Babalan dari tahun 2000-2010 sangat berfluktuasi. pemberantasan hama. 20. dengan produksi beras mencapai 24. 24. Hal tersebut didasari oleh faktor pengelolaan produksi pertanian tanaman pangan beras memiliki banyak kendala dan memungkinkan memberi pengaruh terhadap kuantitas produksi beras seperti alihfungsi lahan.840 ton. Tingginya konsumsi beras akan membuat permintaan dimasa mendatang akan semakin tinggi pula sesuai dengan pernyataan Tarigan (2010) yang mengatakan bahwa Jumlah penduduk misalnya.swasembada.760 ton. tetapi langkah untuk mempertahankan kondisi surplus di Kecamatan Babalan amatlah berat. tenaga kerja dan teknologi meliputi teknologi pengolahan lahan. 2040 dan seterusnya Kecamatan Babalan mengalami defisit ketersediaan beras. maka Babalan akan tetap bisa menjadi wilayah surplus dan swasembada beras di Kabupaten Langkat.624 ton. 16. Namun. kekurangan modal. pemilihan bibit dan penanaman. Jika hal-hal yang menghambat ini tetap dibiarkan. dan pengelolaan lahan dan tanaman yang masih memiliki kekurangan. dan 23. modal. Produksi beras ini dihasilkan dari pengelolaan faktor produksi perranian tanaman pangan penghasil beras (padi). adalah faktor utama untuk menentukan banyaknya permintaan bahan konsumsi yang perlu disediakan. 21.721 ton. 27. dan . 17. Selain itu. pengairan yang belum optimal.086 ton.048 ton.672 ton.

2. 7.012.98. 7. dan 16.132 ton.95 ton.194 ton. teknologi yang masih minim terutama pengairan. 1.22 ton.774 ton. tenaga kerja masih ada yang dikategorikan tidak produktif lagi. 3.26 ton.297.4 Kg/kapita/hari yang ditetapkan oleh pemerintah. 18. 2.803 ton.30. 7. yakni (1) kepada pemerintah Kecamatan Babalan untuk berusaha mempertahankan posisi surplus beras yang didapatkan dengan melakukan .603 ton.13%. Kecamatan Babalan dinyatakan mampu untuk berswasembada bahkan mencapai surplus.75 ton. 18. 18.42.074. tetapi mencapai keadaan surplus beras dengan rasio perimbangan mencapai 3.793.76. dan 3. Kebutuhan beras penduduk di Kecamatan Babalan pada tahun 2000-2010 mencapai 6.17 ton atau lebih tinggi dari kebutuhan beras berdasarkan PPH.454. (2) pola konsumsi penduduk kecamatan Babalan terkait dengan konsumsi penghasil karbohidrat sangat tergantung dan monoton kepada beras dari padi.09. 8.280 ton.866.656.231.pengairan. 8. dan (3) kecamatan Babalan pada tahun 2000 hingga 2010 tidak hanya mencapai swasembada.877.393.26. 8.160.309.23.88. dan 10. 6. 8. 1. 7. 9. dan 1. 2.453. 6. 9.79.71.845.586 ton. 18.855 ton.010 ton.516 ton. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan. 2.44 ton. maka beberapa saran yang dapat diberikan.400.88 ton. Berdasarkan hasil proyeksi pada tahun 2011 hingga 2010 jumlah penduduk mengalami peningkatan dan kebutuhan beras karena konsumsi juga meningkat.34 ton. 8.053.419.339. 1.492. 2. 2. 8. 2.409 ton. 17.19.739.535. Dengan demikian.578 ton. dengan kata lain produksi beras di Kecamatan Babalan berdasarkan proyeksi dari tahun 2011 hingga 2020 turun sebesar 12.62. 10.962 ton.6 kg dari Pola Pangan Harapan (PPH).73.650 ton.55 ton.42. 7.971.54.686 ton17. 2.793 ton. 3.509.94. dan modal yang umumnya sangat besar. yakni 7. yakni sebesar 275 gr/kapita/hari atau 100. Berdasarkan hasil proyeksi. Faktor-faktor produksi masih belum benar-benar optimal.752.98. 1.603.951 ton.73.04.070 ton. karena lahan terus berkurang. 2.33. 19.177.95 ton. 2. dan 7. produksi beras Kecamatan Babalan tahun 2011-2020 mencapai 19. 17.314. Pada hasil proyeksi menunjukkan pada tahun 2011 hingga 2020 Kecamatan Babalan juga tidk hanya berswasembada namun juga mengalami surplus dengan rasio perimbangan 2. 2.089. 9.900 ton.879.83.272.320 ton. Konsumsi penduduk mencapai 130 kg per kapita per tahun atau lebih tinggi 29.301 ton.758.

(2) kepada pemerintah Kecamatan Babalan agar menerapkan program diversifikasi pangan secara intensif untuk memberagamkan konsumsi penduduk selain beras supaya konsumsi dan permintaan beras di masa mendatang tidak terlalu tinggi serta swasembada ataupun surplus beras tetap terjaga meskipun produksi beras menurun dan jumlah penduduk bertambah.tempo. Prosiding Pekan Serealia Nasional tahun 2010. Kita Impor Beras Terus. Hubungannya Dengan Statys Gizi Dan Prestasi Belajar Pada Pelajar SD Di Daerah Endemik Gaki Desa Kuta Dame Kecamatan Kerajaan Kabupaten Dairi Propinsi Sumatera Utara. online: diakses pada laman: http://www. 2011. Evawany. dan (3) kepada seluruh penduduk Kecamatan Babalan agar melakukan pemberagaman jenis konsumsi penghasil karbohidrat selain beras supaya ketergantungan terhadap beras sebagai konsumsi utama dapat diturunkan. DAFTAR PUSTAKA Afrianto.17 WIB Ariani. Mewa. Luas Panen. 2007. Sejak 32 Tahun Lalu. dkk.htm pada pukul 17. dan Jumlah Konsumsi Beras Terhadap Ketahanan Pangan di Jawa Tengah.perbaikan dalam bidang pertanian padi sebagai penyangga ketersediaan beras daerah Babalan termasuk perbaikan sarana dan prasarana pertanian seperti membangun irigasi.pdf (diunduh pada tanggal 25 Februari 2012 pukul 13. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Skripsi (tidak diterbitkan). 2011. 2010. Denny.undip. Banten: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten. Jakarta: BPS dan Deptan . 2010. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Online) diakses pada laman : http://eprints.. Rata-Rata Produksi.id/22602/1/SKRIPSI_DENNY_AFRIANTO. Analisis Pengaruh Stok Beras. dan meminimalisir alihfungsi lahan sawah menjadi lahan non pertanian serta menjaga produksi agar dapat memenuhi kebutuhan beras penduduk Kecamatan Babalan. Harga Beras. Statistik Daerah Langkat Badan Pusat Statistik. 2004. Babalan Dalam Angka 2010 Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Badan Pusat Statistik. 2010. Buku Pedoman Pengumpulan dan Pengolahan Data Tanaman Pangan.57 WIB) Amang. 2010. Aritonang.co.ac. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Mendukung Swasembada Beras. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi RI Edisi Maret 2011 Badan Pusat Statistik Langkat. Beddu.id/ang/min/03/15/ekbis1. Pola Konsumsi Pangan.

Analisis Ketersediaan Beras Nasional: Suatu Kajian Simulasi Pendekatan Sistem Dinamis.pdf jam 20. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Beras di Sumatera Utara.27 WIB) Ekaputri.20 WIB Bobihoe. 2007.html pada pukul 17. 2. Pengantar Ekonomi Pertanian. Tesis (tidak diterbitkan). 2007.42 pada tanggal 3 april 2012 pukul 20.id/url?sa=t&rct=j&q=pola%20pangan %20harapan%20menurut%20bps%20pusat %202011&source=web&cd=6&ved=0CDsQFjAF&url=http%3A%2F %2Fwww.deptan. 2006. Online: diakses pada laman: http://yuliana-ekaputri. Hayati. Jurnal Pengembangan Inovasi Volume 3. Satuan Kegiatan Usaha (SKU) Budidaya Tanaman Jagung (Materi Pembelajaran siswa SPP dengan Pendekatan Mastery Learning). Jakarta: Pusat Pengembangan Pendidikan Pertanian Badan Pengembangan SDM Pertanian (online).id/ind/images/PDF/bukusaku07. Produksi Beras di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan.net/download/0206101235BUKU_4_MODUL_3_MAN AJEMEN_USAHA_KECIL. 2011. Swasembada Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (Online) diunduh pada laman: http://www. Buku saku (online). Departemen Pertanian.go.co. 2009.com/readonline/59464e4465513138563378394358706a5641 3d3d-1298634pada tanggal 31 Januari 2012.16 WIB) Kementrian Pendidikan Nasional. Maluku: Universitas Iqra-Buru Hessie.go. Moehar. Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.21 WIB Hasyim. 2004. Julistia. diunduh pada laman: http://jambi. 2010. No. Yahun .42 WIB Laba.bappenas.BAPPENAS (Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional).google. Jurnal Ekonomi dan bisnis Islam. Jakarta: Bumi Aksara Departemen Pertanian.pdf pada Tanggal 5 April 2012 pukul 11. (Diunduh pada laman http://www.com/2011/04/swasembada-pangan.go. Yuliana. Inovasi Teknologi Untuk Meningkatkan Produktifitas Tanaman Padi. diakses pada tanggal 27 Maret 2012 pukul 17. Diunduh pada: http://infokursus.id/bpsdm/Webdiktan08/Pusat07/Kurikulum07/SK U_jagung/SKU%20Jagung%20book. Analisis Produksi dan Konsumsi Beras Dalam Negeri serta Implikasinya Terhadap Swasembada Beras di Indonesia. 2011. Modul 3 Manajemen Usaha Kecil. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah.deptan.blogspot.20 WIB. I Wayan.pdf. Bogor: IPB Irawan. (Online) Jurnal Prosiding Multifungsi Pertanian Balai Penelitian Tanah. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015. Daniel.litbang. 2010. 2005. pukul 11. Hasman. Analisis Empiris penggunaan Insektisida Menuju Pertanian Berkelanjutan. Medan: Universitas sumatera Utara Hehamahua. Skripsi (tidak diterbitkan). Rethna.id%2Fget-file-server%2Fnode %2F10655%2F&ei=saVhT5HlBMjQrQenz5yWCA&usg=AFQjCNGic5 abh0qnfhGwKAp9xsAft6Yf9A&cad=rja pada tanggal 15 Maret 2012 pukul 15. 2009. Bogor (diakses pada: http://pdfsb. Direktorat Jendral Pendidikan non Formal dan Informal(online).

Nurmala. Sabarita. Diversifikasi Sebagai Salah Satu Pilar Ketahanan Pangan.140/8/2011 Mengenai Tata Hubungan Kerja Antar Kelembagaan Teknis. dan Penyuluhan Pertanian Dalam Mendukung Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Kabupaten Sragen).Th. Jurnal Wacana Volume.com/readonline/5a564e416551683058585a3141586c6b3496946. Ekologi. Volume 26 No. Notarianto. Orientasi Produktifitas dan Ekonomi Jepang. Jawa Tengah. Mei 2008: halaman 47-79 ( diakses pada: http://pdfsb. Jurnal Agro Ekonomi (Online). 2006. dan Pengembangan. Demografi Umum. 1984. Tati. Jurnal Protein Vol. 2008. Pengantar Ilmu Pertanian.kompasiana. tanggal 31 Januari 2012 pukul 11. 12 No. 45/Permentan/OT. 2011. Analisa Pertambahan Penduduk Dengan Kebutuhan Beras Di Kabupaten Deli Serdang. Ida Bagoes. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mubyarto.2006. Skripsi (tidak diterbitkan). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.74 Persen. Iswadi. 2009. 1991.1 Januari 2009 ISSN. Analisis Efesiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Padi Organik dan Padi Anorganik (studi Kasus: Kecamatan Sambirejo. Penelitian. Skripsi Jurusan Pendidikan Geografi (Tidak Diterbitkan).2. Dipo. J.140/12/2010 Tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota.1. 1411-0199. Jakarta: UI-Press Sembiring.2010: halaman 120-137. Jakarta: LP3ES Mustopa. Diakses pada laman : http://ekonomi. Konversi Gabah Menjadi Beras 62. Jakarta: . Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Analisis Indeks dan Status Keberlanjutan Sistem Ketersediaan Beras Di Beberapa Wilayah Indonesia.No. Semarang: Universitas Diponegoro. 2011. 2006. Medan: FIS UNIMED Simatupang. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. studi Kasus di Kecamatan Nogosari. Maleha. (Online) Artikel Kompas. Boyolali. Jakarta: Djambatan Suhari. Bogor: Prosiding Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Soemarwoto. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Alihfungsi lahan Pertanian di Kabupaten Demak. Pantjar. Malang: PPSUB Mantra. Kajian Konsep Ketahanan Pangan.22 WIB) Peraturan Menteri Pertanian No.38 WIB Sumaryanto. dkk.com/agrobisnis/2011/09/08/konversi-gabahmenjadi-beras-6274-persen-tahukah-anda-darimana-angka-itu-berasal/) pada tanggal 25 Februari 2012 pukul 13. Otto.13. 1986. 2007. 2012. Tahukah Anda Darimana Angka Itu Berasal?. Rita. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 65/Permentan/OT. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Analisis Kritis Terhadap Paradigma dan Kerangka Dasar Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional. Pengantar Ekonomi Pertanian. 2011. Ravianto. Zaenil. ________________________ No. Yogyakarta: Graha Ilmu Nurmalina. dkk. dkk. 2009. Manahanto. Apa yang Harus Dilakukan Indonesia. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi.

Diakses pada laman: http://pdfsb.com/panelNewsBody1/68192?page=195 (Diakses tanggal 01 Februari 2012 Pukul 14. diakses pada laman: http://pdfsb.google.etradinggaleri.pdii. (online) Diakses pada:http://pdfsb.id/url?sa=t&rct=j&q=jurnal %20swasembada %20beras&source=web&cd=25&ved=0CDgQFjAEOBQ&url=http%3A %2F%2Fisjd. dkk. Harga Beras dan Dampaknya Pada Swasembada Beras. pukul 13. Padi.51 WIB) Yogi.pdf&ei=bKdpT6nBJLG5iAeVgbXDCg&usg=AFQjCNHC_Y5SFD FiVqRDyVfeDUOszLUzbA&cad=rja pada pukul 17. April 2007. pukul 09.50 Sumodiningrat. Ekonomi UPN “Veteran” (Online). Revolusi Hijau II: Introduksi Manajemen Dalam Pertanian. Diakses pada laman: http://www. 2010. Robinson. Usahatani Padi Dengan Sistem Tanam Pindah (Tapin) dan Sistem Tabur Benih Langsung (Tabela) Di Desa Srigading Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul Yogyakarta. Diakses pada laman: http://isjd. Tanggal 17 Maret Pada Pukul 12. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Konsumsi Pangan Masyarakat di Kabupaten Tuban. 1.com/readonline/5a6c424364514630583331374148706d5641 3d3d-3694626 pada pukul 11.Makalah disajikan dalam Memperingati Hari Pangan Sedunia tanggal 1 Oktober 2009 (online).14 WIB) .com/readonline/5931524165677430585831384448356d5641 3d3d-246509 pada tanggal 31 januari 2012 pukul 12. Jakarta: Penebar Swadaya Tarigan. 2007.com/readonline/594646486541463957484a364448356a 56413d3d-3434435 (31 januari 2012.go. Skripsi (tidak diterbitkan). 2001. 2006.47 WIB) http://www. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta (online).id/admin/jurnal/5307379384. Jakarta: Bumi Aksara Taufiq. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Menuju Swasembada Pangan.pdf.05 WIB http://www.id%2Fadmin%2Fjurnal%2F21071923_19070640.com/berita-sumut/Kecamatan-babalan-sumut-tanam-4229-hektare-padi/ (diakses pada tanggal 2 Februari 2012 pukul 13. Gunawan. Tesis (Tidak diterbitkan). Semarang: Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro Semarang. 1997.go.com/news/read/2011/12/30/73781/langkat_penghasi l_pangan_terbesar_kedua_di_sumut/#.medanbisnisdaily. Jurnal Ekono Insentif Kopwil4 (online).TyopBMi5XSE (Diakses tanggal 2 Februari 2012. Analisis Produksi Padi Di Jawa Tengah.co. Vol. 2 No.pdii.12 WIB Triyanto. Joko. 2010.lipi. Surabaya: Fak.50 WIB Sukisti. Jakarta: RBI Suparyono. 2007.25 WIB) http://www.antarasumut.lipi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful