PROPOSAL PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA JAMINAN KESEHATAN DENGAN MOTIVASI PASIEN UNTUK BEROBAT DI PUSKESMAS KELURAHAN KUNINGAN BARAT

PADA TAHUN 2012

Pembimbing : dr. Rina K. Kusumaratna, Msc, PhD dr. Chitra Rasjmi Cara

Penyusun : Juan Setiaji (030.05.xxx) Ahmad Nabieh (030.06.xxx) Aji Mustika Ningrum (030.07.015) Febriani Valentina (030.07.xxx)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS KECAMATAN MAMPANG PERIODE 12 NOVEMBER 2012 – 19 JANUARI 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhahn Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan, sehingga penyususn dapat menyelesaikan Proposal Penelitian yang berjudul “ Hubungan antara Jaminan Kesehatan dengan Motivasi Pasien Untuk Berobat di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat Pada Tahun 2012”, guna memenuhi salah satu prasyarat dalam menempuh kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta di Puskesmas Kecamatan Mampang. Melalui proposal penelitian ini, penyusun ingin memberikan gambaran tentang rencana penelitian yang akan penulis laksanakan. Sehingga diharapkan penelitian dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Penulisan proposal penelitian ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari pihak lain. Atas bantuan, bimbingan, dan dukungan dari pembimbing, maka penyusun mengucapkan terimakasih kepada dr. Rina Kusumaratna, M.Kes, selaku pembimbing kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Tak lupa penyusun ucapkan terimakasih kepada dokter dan seluruh jajaran pegawai di Puskesmas Kecamatan Mampang. Tak ada gading yang tak retak, demikian pula proposal penelitian ini. Penyusun menyadari bahwa proposal penelitian yang disusun juga tidak luput dari kekurangan karena kemampuan dan pangalaman penyusun yang masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan proposal penelitian ini. Akhir kata, penyusun berharap proposal penelitian ini dapat member manfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca. Jakarta, Desember 2012 Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Peran serta masyarakat adalah syarat mutlak bagi keberhasilan ,kelangsungan dan kemandirian pembangunan , termasuk pembangunan di bidang kesehatan. Peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan diwujudkan antara lain dengan menjalankan cara “hidup sehat” penyelenggara berbagai upaya/pelayanan kesehatan dan dalam membiayai pemeliharaan kesehatan. Peran serta masyarakat (termasuk swasta) dalam pembiayaan pemeliharaan kesehatan terlaksana antara lain dengan bentuk (1) Pengeluaran biaya langsung untuk kesehatan ,(2) Dana sehat yakni pengumpulan dana masyarakat untuk kesehatan berlandaskan semangat gotong royong berazaskan usaha bersama dan kekeluargaan yang telah dikenal sejak tahun 1970-an di banyak desa,(3) Jaminan kesehatan sosial di bidang kesehatan antara lain program PT.Askes dan program JPK Jamsostek serta PT. Jasa Raharja yang pendanaannya berasal dari iuran wajib para peserta berdasarkan Undang-undang, dan (4) berbagai bentuk pembiayan ksehatan pra -upaya swasta, yang sedang berkembang di Indonesia. Sistem pembiayaan kesehatan untuk pelayanan kesehatan memiliki dampak terhadap seberapa adilkah beban pembayaran didistribusikan diantara masyarakat. Dapatkah kaum kaya dan mereka yang sehat mensubsidi mereka yang miskin dan sakit?. Dalam rangka menjamin keadilan dan perlindungan terhadap resiko finansial harus terdapat sistem pembayaran praupaya (Prepayment) yang cukup kuat. Si miskin harus disubsidi melalui subsidi silang dari kelompok resiko rendah kepada kelompok resiko tinggi, fragmentasi pengelolaan dana harus di hindari dan harus terdapat sistem alokasi atau pembayaran yang strategis. Jaminan kesehatan kesehatan sosial adalah suatu sistem manajemen resiko sosial seperti risiko kehilangan pendapatan atau biaya kebutuhan medis karena sakit yang risiko tersebut dipadukan (pooled) atau dipindahkan dari individu ke kelompok dengan kepesertaannya yang bersifat wajib. Peran masyarakat yang cukup besar dalam pembiayaan kesehatan ini masih perlu di dorong agar dikelola dengan lebih efektif dan efisien, karena ¾ nya masih berupa pengeluaran biaya langsung yang tidak terencana dan masih merupakan beban perorangan yang belum diringankan dengan usaha bersama dan kekeluargaan.

Pemberdayaan masyarakat dalam berbagai bentuk telah menjadi paradigma baru dalam pembangunan masyarakat. Tentu saja pemberdayaan ini secara langsung melibatkan partisipasi masyarakat. Program dan konsep-konsep digulirkan oleh pemerintah, terutama pemerintah pusat untuk mengajak segenap masyarakat membangun wilayahnya masingmasing. Di bidang kesehatan, salah satu bentuknya yaitu dengan desa siaga.

1.2 Perumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : ”Bagaimana motivasi masyarakat untuk berobat dengan adanya jaminan kesehatan di Indonesia?”

1.3 Tujuan Penelitian Umum: Untuk mengetahui sejauh mana Jaminan Kesehatan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk datang berobat di Puskesmas. Khusus: 1. Mendeskripsikan motivasi pasien untuk sembuh dengan berobat di Puskesmas. 2. Mendeskripsikan kepuasan pasien terhadap penggunaan Jaminan Kesehatan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat. 3. Menganalisis hubungan antara Jaminan Kesehatan dengan motivasi pasien berobat ke Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat pada tahun 2012.

1.4 Hipotesis - Terdapat hubungan antara jaminan kesehatan dengan motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas - Terdapat hubungan antara faktor sosial budaya dengan motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas - Terdapat hubungan antara angka morbiditas dengan motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas - Terdapat hubungan antara faktor pendidikan dengan motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas - Terdapat hubungan antara akses pelayanan kesehatan dengan motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas

1.5 Manfaat - Bagi Instalasi/Profesi Kesehatan Institusi yang terkait dapat melakukan upaya peninjauan kembali terhadap program yang sudah ada. - Bagi Pengembangan Penelitian Untuk meningkatkan wawasan tentang jaminan kesehatan di Indonesia dan mengetahui bagaimana motivasi pasien yang datang ke Puskesmas. - Bagi Pelayanan Masyarakat a. Sebagai bahan masukan bagi petugas pelayanan kesehatan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat untuk melakukan usaha peningkatan pelayanan masyarakat berkaitan dengan Jaminan kesehatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kelurahan Kuningan Barat. b. Sebagai referensi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan jaminan kesehatan, khususnya di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat. c. Diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi pengelolaan Jaminan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan serta motivasi bagi para peserta jaminan kesehatan yang datang ke Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat tentang penggunaan program Jaminan kesehatan.

Motivasi adalah penentu ( determinan ) perilaku. yang berarti rangsangan. dengan kata lain motivasi adalah konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku. Motivasi atau upaya untuk memenuhi kebutuhan pada seseorang dapat dipakai sebagai alat untuk menggairahkan seseorang untuk giat melakukan kewajibannya tanpa harus diperintah atau diawasi. Ciri motivasi dalam perilaku : a. Motif merupakan suatu pengertian yang melengkapi semua penggerak alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu.1 Definisi motivasi Motivasi berasal dari kata motif ( motive ). Motivasi juga merupakan upaya untuk menimbulkan rangsangan atau dorongan tenaga tertentu pada seseorang agar mau berbuat dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Irwanto. Penggerak perilaku menggejala dalam bentuk tanggapan-tanggapan yang bervariasi. walaupun maksud itu tidak senantiasa disadari manusia (Swanburg Russel.2 Motivasi dalam Perilaku Menurut Efendi Usman (1993).1. yang dimiliki seseorang sehingga orang tersebut memperlihatkan perilaku tertentu. Motivasi tidak hanya merangsang suatu perilaku tertentu saja tetapi menstimulasi berbagai kecenderungan berperilaku yang memungkinkan tanggapan yang berbedabeda. 2000).1. (Dirgahunarso Singgih. 1991). dorongan dan ataupun pembangkit tenaga. .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Pengarahan ( direksi). 1992) Motivasi sering disebut sebagai penggerak perilaku ( the energizer of behavior ). Semua tingkah laku manusia pada dasarnya mempunyai motif termasuk tingkah laku secara reflek dan yang berlangsung secara otomatis mempunyai maksud tertentu. Konstruk teoritis ini meliputi aspek-aspek pengaturan (regulasi). serta tujuan (insentif global ) dari perilaku (Efendi Usman. 1993) 2.1 MOTIVASI 2.

sampai timbulnya ketegangan lagi karena munculnya kebutuhan baru.b. maka ketegangan akan melemah. 2. e. 1) Sifat kepribadian adalah corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap rangsangan dari dalam diri maupun lingkungan. Bila determinan yang menimbulkan kebutuhan itu tidak ada lagi maka daur tidak terjadi(Daniellle Gales & Carrette. Penguatan positif ( positive reinforcement ). Inilah yang disebut daur motivasi. menyebabkan suatu perilaku tertentu cenderung diulangi. pendidikan dan cita-cita. hal ini mendorong perilaku untuk memenuhi kebutuhan tersebut (perilaku instrumental). Kekuatan dan efisiensi perilaku mempunyai hubungan yang bervariasi dengan kekuatan determinan. Determinan ini akan menstimulasi timbulnya suatu keadaan (bio) psikologis tertentu yang dalam tubuh disebut kebutuhan. Rangsang yang lemah mungkin menimbulkan reaksi yang hebat atau sebaliknya. pikologis.3 Faktor-faktor terjadinya motivasi a. sikap. Motivasi mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu. dan nasihat. sehingga corak dan cara kebiasaannya itu merupakan kesatuan fungsional yang khas pada manusia itu. c. Faktor Internal Segala sesuatu dari dalam individu seperti kepribadian. sehingga orang yang mempunyai intelegensi tinggi akan mudah menyerap informasi. dimana seseorang akan melakukan kegiatan jika sikapnya mendukung terhadap obyek tersebut. 2) Intelegensi atau pengetahuan merupakan seluruh kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. d. Kekuatan perilaku akan melemah bila akibat dari perbuatan itu bersifat tidak baik. 2002). Bila kebutuhan sudah dipenuhi. sebaliknya seseorang tidak melakukan kegiatan jika sikapnya tidak . 3) Sikap merupakan perasaan mendukung atau tidak mendukung pada suatu objek. baik biologis. pengalaman.1. sehingga orang yang berkepribadian pemalu akan mempunyai motivasi berbeda dengan orang yang memiliki kepribadian keras. Kebutuhan menciptakan suatu keadaan ketengangan (tension). saran. maupun yang berasal dari lingkungan. Perilaku terjadi karena suatu determinan tertentu.

agama. dimana saudara merupakan orang terdekat yang akan secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada motivasi untuk berperilaku.Tindakan . biologis. Faktor Eksternal Faktor eksternal meliputi lingkungan. Cita-cita merupakan sesuatu yang ingin dicapai dengan adanya cita – cita maka seseorang akan termotivasi mencapai tujuan. manusia akan mempunyai pengetahuan. b. sosial. pendidikan. Hasil dari proses belajar mengajar adalah terbentuknya seperangkat tingkah laku. 2) Pendidikan merupakan proses kegiatan pada dasarnya melibatkan tingkah laku individu maupun kelompok. ekonomi. 3) Agama merupakan keyakinan hidup seseorang sesuai dengan norma atau ajaran agamanya. 6) Orang Tua yang dianggap sudah pengalaman dalam banyak hal. sehingga seseorang akan termotivasi untuk mentaati saran. 5) Kebudayaan merupakan keseluruhan kegiatan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar. sehingga apapun nasihat atau saran dari orang tua akan dilaksanakan. Dengan belajar baik secara formal maupun informal. kegiatan dan aktivitas. 4) Sosial ekonomi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. orang tua. atau anjuran petugas kesehatan karena mereka berkeyakinan bahwa hal itu baik dan sesuai dengan norma yang diyakininya. Inti kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar.mendukung. maupun lingkungan sosial yang ada sekitarnya dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang sehingga dorongan dan pengaruh lingkungan akan dapat meningkatkan motivasi individu untuk melakukan sesuatu. 1) Pengaruh lingkungan baik fisik. Sehingga seseorang dengan tingkat sosial ekonomi tinggi akan mempunyai motivasi yang berbeda dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Orang dengan kebudayaan Sunda yang terkenal dengan kehalusannya akan berbeda dengan kebudayaan Batak. Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai norma dan nilai yang diajarkan. dengan pengetahuan yang diperoleh seseorang akan mengetahui manfaat dari saran atau nasihat sehingga akan termotivasi dalam usaha meningkatkan status kesehatan. 7) Saudara. sehingga motivasi dari budaya yang berbeda akan berbeda pula. dan saudara. kebudayaan. Keadaan ekonomi keluarga mampu mencukupi dan menyediakan fasilitas serta kebutuhan untuk keluarganya.

2003) : a. Materil insentif.4 Fungsi Motivasi Fungsi Motivasi adalah sebagai berikut (Sabur. Non-materil insentif. Menyeleksi perbuatan. 2. yaitu alat motivasi yang diberikan bukan berupa benda atau barang tetapi hanya berupa kepuasan rohani saja. yakni sebagai penggerak atau motor yang melepas energi. 2.yang didorong oleh motif-motif instrinsik lebih baik daripada yang didorong oleh motif ekstrinsik (Notoatmodjo. yaitu alat motivasi yang diberikan berupa uang atau barang yang mempunyai nilai atau yang bersifat ekonomis.5 Lingkaran Motivasi Menurut Sabur (2003) berdasarkan pendapat Dirgagunasa karena dilatarbelakangi adanya motif maka tingkah laku tersebut disebut tingkah laku bermotivasi. yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang untuk mencapai tujuan dengan mengeliminasi perbuatan-perbuatan yang tidak mengandung manfaat bagi tujuan tersebut. 2003). c.1. 2. yakni kearah tujuan yang ingin dicapai. Lingkaran motivasi terdiri dari : . yaitu : 1. b. Alat untuk membentuk motivasi dibagi atas dua macam. Tingkah laku bermotivasi itu sendiri dapat dirumuskan sebagai tingkah laku yang dilator belakangi karena adanya suatu kebutuhan. Mendorong manusia untuk berbuat. Menentukan arah perbuatan.1.

Kemudian secara . Kebutuhan aktualisasi diri. minum. yaitu :   Kebutuhan fisiologis.    Kebutuhan sosial. bahwa perilaku manusia didasari oleh tiga kebutuhan yaitu. karena itu tujuan dari perilaku tidak hanya satu. kecelakaan. akan tetapi juga ditentukan oleh faktor lingkungan baik terkait dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. emosi. kemampuan. Pada dasarnya perilaku manusia bersifat majemuk. perasaan.Menurut Supardi (2002) berdasakan pendapat Mc. kebutuhan dibagi berdasarkan tingkat kebutuhan manusia. Jika tujuannya menarik. individu akan lebih aktif lagi berperilaku.1. Perilaku individu tidak hanya ditentukan oleh faktor individu (segala sesuatu yang terkait langsung dengan diri individu seperti: pola kepribadian. Sebab. adalah kebutuhan akan keamanan dari ancaman yakni merasa aman dari ancaman. Tujuan juga menentukan seberapa aktif individu akan berperilaku. 2003). dan keselamatan dalam melakukan aktivitas. 2. selain ditentukan oleh motif dasar. Perilaku terjadi baik secara sadar maupun tidak sadar (Sabur. ketrampilan untuk mencapai prestise. adalah kebutuhan berteman. ada juga tujuan lain atau tujuan sekunder (secondary goal). sandang). sikap. Kebutuhan keamanan dan keselamatan. Berdasarkan pendapat Maslow. adalah kebutuhan primer yang harus terpenuhi (kebutuhan makan. adalah pengakuan serta penghargaan dan prestise dari orang lain. dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok. Unsur kedua dari lingkaran motivasi adalah perilaku yang dipergunakan sebagai cara atau alat agar suatu tujuan bisa tercapai. dan kebutuhan untuk berafiliasi (n-affiliation). Clelland. perilaku juga ditentukan oleh keadaan dari tujuan. kebutuhan untuk berkuasa (n-power). kebutuhan untuk berprestasi (n-achievement). Selain tujuan pokok (primary goal). dicintai. Unsur ketiga dari lingkaran motivasi adalah tujuan yang berfungsi untuk memotivasi perilaku. Kebutuhan akan penghargaan diri. seorang pakar psikologi sosial. pengetahuan dan lain-lain).6 Health Seeking Behavior Kurt Lewin (dalam Brehm & Kassin: 1999). adalah kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kecakapan. menekankan bahwa perilaku secara umum adalah suatu fungsi dari person/individu dan environment/lingkungan. seks.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan Sedangkan faktor-faktor di balik perilaku kesehatan dapat dijabarkan sebagai berikut : Gambar 2. Blum (dalam Notoatmojo & Solita.lebih spesifik Hendrik L. Faktor-Faktor Dibalik Perilaku Kesehatan (Sumber : Notoatmojo & Solita: 1995) . 1995) menggambarkan keterkaitan aspek-aspek di dalam perilaku kesehatan seperti tampak dalam gambar di bawah ini: Gambar 1.

Lebih lanjut tentang persepsi sakit. 1996). menurut perilaku kesehatan individu bisa dibagi menjadi tiga. Secara objektif seseorang terkena penyakit (disease). 2. Notoatmojo (1993) menjabarkan tentang batasan kedua pengertian illness dan disease. 2. benda asing atau luka. salah satu organ tubuhnya terganggu fungsinya namun dia tidak merasa sakit. seseorang bisa sakit secara psikologis dan berdampak pada fisiologisnya atau yang dirasakan individu adalah sakit secara fisiologis dan berpengaruh pula pada kondisi psikologisnya. Individu mempersepsikan sakitnya sebagai sebuah penyakit yang disebabkan karena halhal medis dan non medis. tetapi dari pemeriksaan klinis tidak diperoleh bukti bahwa dia sakit.1. penyebab sakit adalah persepsi dari individu yang sakit dan persepsi ini terjadi sebagai hasil pembelajaran dari lingkungannya. 1.6 Penyakit Disease adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme. maka health behavior/perilaku kesehatan adalah suatu respon rasional atas penyebab penyakit yang dipersepsikan. Dalam kedua istilah tersebut nampak adanya perbedaan konsep sehat dan sakit yang kemudian akan menimbulkan permasalahan konsep sehat – sakit di dalam masyarakat. Jadi menurut Foster & Anderson (1996). Dalam psikologi. Illness adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan dengan pengalaman yang langsung dialaminya. Atau sebaliknya. Selanjutnya. Oleh karena itu persepsi seseorang tentang disease akan menentukan perilaku illness-nya. kedua tokoh tersebut membedakan antara rasa sakit (illness) dan penyakit (disease). sehingga dia mencari suatu cara untuk mendapatkan kesembuhan dari sakitnya (Foster & Anderson. Hal ini merupakan fenomena subjektif yang ditandai dengan perasaan tidak enak (feeling unwell). Individu mempersepsikan sakitnya sebagai sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri/virus. Sehingga. 1993) Sedangkan perubahan suatu perilaku khususnya tentang .Terkait dengan perilaku kesehatan. istilah perbedaan antara sakit secara fisik maupun sakit secara psikologis ini lebih dikenal dengan istilah psychofisiology dimana kondisi kedua faktor fisiologis dan psikologis dalam diri individu mempunyai peranan yang sama-sama penting. (Davison. merasakan sesuatu (illness) dalam tubuhnya. Individu mempersepsikan sakitnya sebagai sebuah penyakit yang disebabkan karena halhal non medis 3. seseorang merasa sakit. dalam menelaah tentang persepsi sakit ini.

TF (thought and feeling) terpilah dalam bentuk a.health seeking behavior dapat terjadi jika komponen dari perilaku juga berubah. Fenomena tersebut diatas yang secara umum dapat kita telaah sebagai suatu pengobatan yang secara garis besar dibagi dalam dua tempat pengobatan yaitu medis dan non-medis. sama-sama terus berkembang. resources. karena keempat faktor itu (thought and feeling. 3. Kedua jenis pengobatan baik medis maupun non-medis. R (resources) yakni sumber-sumber daya yang dimiliki oleh individu yang bisa berupa fasilitas-fasilitas. dan culture) akan menjadi bahan pertimbangan seseorang dalam menentukan health seeking behaviornya. dimana dalam perubahannya menurut teori WHO (dalam Notoatmojo & Sarwono. C). waktu. 1995) akan mencakup : Behavior = f (TF. Beberapa sebab dan alasan pemilihan pengobatan atas sakit yang diderita dan dirasakan adalah (Foster & Anderson: 1996) : .1. uang. Pengetahuan b. 2. Pengobatan non-medis semakin beragam di samping pelayanan medis yang semakin hari juga ditingkatkan mutu dan kecanggihan teknologinya. 4. Sikap 2. personal references. PR (personal references) yakni pengaruh yang diberikan oleh orang-orang yang dianggap penting oleh individu. R.7 Pengobatan Munculnya fenomena pengobatan dalam masyarakat sebagai perilaku kesehatan masyarakat adalah suatu respon rasional masyarakat yang sedang berperanan sakit dalam rangka mencari kesembuhan akan penyakitnya. Kepercayaan c. Keempat faktor diatas memegang peranan yang sama-sama penting dalam menentukan health seeking behavior. C (culture) yakni kebudayaan atau pola hidup masyarakat. PR. tenaga dan sebagainya. dimana: 1.

Konsep sehat adalah jika kondisi fisik/biologisnya masih mampu melakukan aktivitas dan gerakan yang normal seperti biasanya berarti dalam kondisi sehat. nilai dan norma sebagian besar masyarakat kita yang meyakini dan mempersepsikan penyebab sakit individu selain sebab medis dimungkinkan adanya sebabsebab non-medis. biaya. 3. 5. 6. Karena itu. Oleh sebab itu. dimana dalam pelayanan medis pasien tidak menemukan ketenangan dan keamanan psikologis. 8. membuat mereka lebih menyukai pengobatan pada sakitnya ke tempat pengobatan yang tidak membutuhkan biaya tinggi. Status sosial masyarakat yang mempersepsikan sakit bahwa pengobatan non medis lebih sedikit membutuhkan tenaga. oleh karena itu dia berusaha mencari alternatif pengobatan lain yang mempercepat proses penyembuhannya ataupun hanya memperingan rasa sakitnya (illness). 4. perilaku mencari dan memelihara kesehatan pada ahli non medis tersebut sudah mendapatkan pembenaran dan bahkan terkadang lingkungan di sekitar individu yang sedang berperanan sakit mereferensikan si sakit pada pengobatan alternatif/non-medis. Misal: para ahli medis hanya menangani pasien secara medis tanpa memberikan kekuatan psikologis agar pasien mampu menerima peranan sakitnya dengan sabar sehingga rasa sakitnya dapat dikurangi . Budaya. Status ekonomi sebagian besar masyarakat yang masih rendah. 7. dan ingin segera mengakhirinya. dan waktu. 2. Proses pengobatan yang terlalu lama daripada pelayanan medis. Tidak ada satu . perilaku kesehatan masing-masing individu pun akan mengalami perbedaan. berbagai cara akan dijalani oleh si sakit dalam rangka mencari kesembuhan maupun meringankan beban sakitnya.1. Persepsi tentang illness dan disease setiap individu selalu saja berbeda. sehingga peluang ini diisi oleh para ahli non-medis. akan menyebabkan si penderita bosan menerima peran sebagai pasien. Menerima peranan sakit adalah suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Dalam fenomena sosial sebagian masyarakat. sedangkan konsep sakit adalah jika kondisi tubuh sudah tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tingkat pendidikan yang masih rendah serta kurangnya informasi kesehatan yang diterima menyebabkan sebagaian besar masyarakat kurang menyadari akan pentingnya kesehatan. Pelayanan medis yang kurang memperhatikan aspek psikologis pasien.

b) Ada biaya. Oleh karena itu. maka penelitian ini juga ingin melihat interdependensi tersebut pada pasien poli perawatan paliatif.perilaku kesehatan individu yang sama dalam mencari alternatif penyembuhan. Personal references 3. Melihat pada interdepensi antar aspek dalam health seeking behavior. karena memang setiap individu memiliki karakteristik perilaku sendiri-sendiri.2. Thought and feeling 2. c) Pelayanan medik tersebut didas arkan pada bencana yang mungkin terjadi yaitu sakit.1 Definisi Health Insurance : The payment for the excepted costs of a group resulting from medical utilization based on the except ed expense incurred by the gro up. Culture 2. yang diharapkan harus dikeluarkan karena penggunaan pelayanan medik. yang dalam istilah ekonomi ada suatu transaksi dengan pengeluaran sejumlah uang yang disebut premi. Resources 4. tidak teratur dan mungkin jarang terjadi. 1997). Kejadian sakit yang mengakibatkan bencana ekonomi bagi pasien atau keluarganya biasa disebut catastrophic illness (Murti B. apakah seseorang memilih pengobatan ke tempat pengobatan medis ataukah seseorang memilih pengobatan non-medis. 2000).2 JAMINAN KESEHATAN 2. tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh pada health seeking behavior ditinjau dari : 1. Tetapi bila peristiwa tersebut benar-benar terjadi. d) Keadaan sakit merupakan sesuatu yang tidak pasti (uncertainty). The payment can be based on community or experience rating (Jacobs P. implikasi biaya pengobatan dapat demikian besar dan membebani ekonomi rumah tangga. . Definisi di atas ada beberapa kata kunci yaitu : a) Ada pembayaran. Berbagai pertimbangan diatas akan menentukan perilaku pengobatannya.

 Pegawai Tidak Tetap (Dokter/Dokter Gigi/Bidan – PTT.2. TNI/Polri. 69 tahun 1991.  Jumlah anak yang ditanggung maksimal 2 (dua) anak sesuai dengan urutan tanggal lahir. dan tidak atau belum pernah kawin. tentang Penempatan Tenaga Medis Melalui Masa Bakti Dan Cara Lain). dan termasuk dalam daftar penerima pensiun/carik Dapem). Pejabat Negara. Asuransi Kesehatan Sosial Program Asuransi Kesehatan Sosial merupakan penugasan Pemerintah kepada PT Askes (Persero) melalui Peraturan Pemerintah No. Pensiunan PNS di lingkungan Kementrian Pertahanan. termasuk dalam daftar penerima pensiun/carik Dapem. belum berumur 21 tahun atau telah berumur 21 tahun sampai 25 tahun bagi anak yang masih melanjutkan pendidikan formal. Veteran ( Tuvet dan Non Tuvet) dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarga*) yang di tangggung. Pensiunan Pejabat Negara). tidak mempunyai penghasilan sendiri serta masih menjadi tanggungan peserta.  Anak (anak kandung / anak tiri / anak angkat) yang sah dari peserta yang mendapat tunjangan anak. termasuk didalamnya anak angkat maksimal satu orang. melalui SK Menkes nomor 1540/MENKES/SK/XII/2002. Calon PNS. TNI/Polri).  Peserta program Askes Sosial adalah :  Pegawai Negeri Sipil dan Calon Pegawai Negeri Sipil (tidak termasuk PNS dan Calon PNS di Kementrian pertahanan.  Pegawai dan Penerima pensiun PT. yang tercantum dalam daftar gaji/slip gaji.2. Kereta Api Indonesia (Persero) beserta anggota keluarganya*) *) Anggota Keluarga adalah :  Isteri / suami yang sah dari peserta yang mendapat tunjangan istri/suami (Daftar isteri / suami yang sah yang tercantum dalam daftar gaji / slip gaji. Penerima Pensiun (Pensiunan PNS.2 Jenis Asuransi Kesehatan Di Indonesia a. .

Paru. Klinik 24 Jam  1. 2. hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak. Jiwa. Pemberi Pelayanan Kesehatan Lanjutan. Membayar iuran sesuai dengan ketentuan pemerintah yang berlaku.1. Poliklinik Milik Institusi 4. Orthopedi. kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor PT Askes (Persero). Rumah Sakit TNI/POLRI Rumah Sakit Swasta . kewajiban serta tata cara pelayanan kesehatan  Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan PT Askes (Persero). yaitu : 1. Infeksi. Hak Peserta Askes Sosial   Memperoleh Kartu Peserta. 3. 4. Mata. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) PT ASKES (Persero)  Pemberi Pelayanan Kesehatan Dasar . Kanker dll) 3.  Menyampaikan keluhan/pengaduan. 2. Memperoleh penjelasan/informasi tentang hak. yaitu: Rumah Sakit Umum Pemerintah. Kusta. sesuai dengan hak dan ketentuan yang berlaku. Melaporkan dan mengembalikan Kartu Peserta yang telah meninggal dunia ke Kantor PT Askes (Persero). Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak. Puskesmas 2. Kewajiban Peserta Askes Sosial      Mengurus Kartu Peserta dan melaporkan perubahan data peserta. Dokter Keluarga / Dokter Gigi Keluarga 3. RS Khusus Pemerintah (Jantung. Mengetahui dan mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

Tindakan medis kecil/sederhana. Elektromedik dan pemeriksaan alat kesehatan canggih sesuai ketentuan PT Askes (Persero). Laboratorium Kesehatan 10. Rawat Jalan   Konsultasi. dll). 8. Pelayanan Rawat Inap di Puskesmas Perawatan/Puskesmas dengan Tempat Tidur. Pemeriksaan penunjang diagnostik sederhana Pengobatan efek samping kontrasepsi Pemberian obat pelayanan dasar dan bahan kesehatan habis pakai. Pelayanan imunisasi dasar. 9. penyuluhan.5.   Tindakan medis poliklinik dan rehabilitasi medis Pelayanan obat sesuai Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh PT Askes (Persero) b. Pemeriksaan dan pengobatan gigi. Rontgen/ Radiodiagnostik. Pemeriksaan kehamilan dan persalinan sampai anak kedua hidup.          Jenis Pelayanan Kesehatan Yang Dijamin Peserta Askes Sosial Pelayanan Kesehatan Dasar : Konsultasi. Mata. Pelayanan Kesehatan Lanjutan : a. Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD)/PMI Apotek / Instalasi Farmasi RS Optikal Balai Pengobatan Khusus (Paru. 2. Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya yang bekerja sama dengan PT Askes (Persero)  1. Indera. pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis Pemeriksaan Penunjang Diagnostik : Laboratorium. 6. Rawat Inap . pemeriksaan medis dan pengobatan. 7.

Pelayanan rehabilitasi medis.HCU. Alat Kesehatan diberikan untuk Peserta dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pelayanan obat sesuai Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh PT Askes (Persero) 3. Kaki / tangan tiruan e. Pelayanan Transfusi Darah dan Cuci Darah. Alat Bantu Dengar (1 kali /2 tahun) d. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik : Laboratorium.   Rawat Inap di ruang perawatan sesuai hak Peserta. gangguan kehamilan dan persalinan sampai anak kedua hidup. Perawatan intensif (ICU. Rontgen/ Radiodiagnostik. pengobatan oleh dokter spesialis. Pemeriksaan. PICU). ICCU. Pemeriksaan kehamilan. 4. Mesh (alat yang dipasang setelah operasi hernia) . Kacamata ( 1 kali /2 tahun) b. 6. Implant (alat kesehatan yang ditanam dalam tubuh) antara lain:    IOL (lensa tanam di mata). Pelayanan Canggih sesuai ketentuan PT Askes (Persero) 7.     Tindakan medis operatif. 5. Pen & Screw (alat penyambung tulang). Elektromedik dan pemeriksaan alat kesehatan canggih sesuai ketentuan PT Askes (Persero). Gigi Tiruan (1 kali /2 tahun) c. Cangkok (transplantasi) Organ. NICU.

Campak) dan bagi ibu hamil (TT) yang dilakukan di Puskesmas 6. alkohol dan atau zat adiktif lainnya. 7. korset dan elastic bandage. kecuali dalam keadaan gawat darurat (emergency) dan kasus persalinan. Semua jenis pelayanan imunisasi diluar “imunisasi dasar” bagi bayi dan balita (DPT. membersihkan karang gigi (scalling gigi) dan pelayanan kesehatan gigi untuk kosmetik. Gangguan kesehatan/penyakit akibat usaha bunuh diri atau dengan sengaja menyakiti diri sendiri. 2. tongkat penyangga. masa nifas pada anak ketiga dan seterusnya. vitamin. 1. 8. 3. toilettries. Kursi roda. Usaha meratakan gigi (Orthodontie). 12. 13. Sirkumsisi tanpa indikasi medis. 9. Polio. 11. Kosmetik. 14. Obat-obatan diluar ketentuan PT Askes (Persero). Pemeriksaan kehamilan. 5. Lain-lain:       Biaya perjalanan/transportasi Biaya sewa ambulans Biaya pengurusan jenazah Biaya fotocopy Biaya telekomunikasi Biaya kartu berobat . Pelayanan Yang Tidak Dijamin Oleh PT ASKES (Persero) Pelayanan kesehatan yang tidak mengikuti tata cara pelayanan yang ditetapkan PT Askes (Persero)/Pelayanan kesehatan tanpa indikasi medis. Seluruh rangkaian pemeriksaan dalam usaha ingin mempunyai anak. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri. susu. makanan bayi. BCG. 10. tindakan persalinan. Gangguan kesehatan/penyakit akibat ketergantungan obat. termasuk alat dan obat-obatnya. 4. obat gosok. Bedah plastik kosmetik. termasuk obat-obatan. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas yang bukan jaringan pelayanan kesehatan PT Askes (Persero). gangguan kehamilan.

Jamkesmas Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/ 1992 tentang kesehatan. pengetahuan terhadap kesehatan dan pendidikan yang umumnya masih rendah. keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya. menetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Tujuan Dan Sasaran Tujuan Penyelenggaraan JAMKESMAS  Tujuan Umum : Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.  Tujuan Khusus: a. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin. Masyarakat miskin biasanya rentan terhadap penyakit dan mudah terjadi penularan penyakit karena berbagai kondisi seperti kurangnya kebersihan lingkungan dan perumahan yang saling berhimpitan. Biaya administrasi b. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel Sasaran Penyelenggaraan JAMKESMAS . JAMKESMAS adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin c. dan negara bertanggungjawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit b. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal. Karena itu setiap individu. Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. perilaku hidup bersih masyarakat yang belum membudaya.

Data peserta yang telah ditetapkan Pemda. kemudian dilakukan entry oleh PT Askes (Persero) untuk menjadi database kepesertaan di Kabupaten/Kota. jenis kelamin d. nomor kartu. Administrasi Kepesertaan Administrasi kepesertaan meliputi: registrasi. tempat dan tanggal lahir/umur e. tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya. penerbitan dan pendistribusian Kartu sampai ke Peserta sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Askes (Persero) dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. d. 2. Transparan dan akuntabel.Sasaran program adalah masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76. b. alamat 3. . Kebijakan Operasional Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat miskin mengacu pada prinsipprinsip: a. Ketentuan Umum Peserta Program JAMKESMAS adalah setiap orang miskin dan tidak mampu selanjutnya disebut peserta JAMKESMAS. Pelayanan Terstruktur. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang ’cost effective’ dan rasional. berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas.4 juta jiwa. yang terdaftar dan memiliki kartu dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata peningkatan derajat kesehatan masyarakat miskin. nama peserta. c. Entry data setiap peserta meliputi antara lain : a. b. c. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan didistribusikan sampai ke peserta.

POS ke Puskesmas dan KPPN melalui BANK ke Rumah Sakit/BBKPM/BKMM/BKPM/BP4/BKIM . PT Askes (Persero) menyerahkan Kartu peserta kepada yang berhak. 5.I. PT Askes (Persero) melaporkan hasil pendistribusian kartu peserta kepada Bupati/Walikota. 3. Departemen Kesehatan R.4. mengacu kepada penetapan Bupati/Walikota dengan tanda terima yang ditanda tangani/cap jempol peserta atau anggota keluarga peserta. Pendanaan Program JAMKESMAS merupakan dana bantuan sosial. berdasarkan klaim. 2. Pembayaran ke PPK disalurkan langsung dari kas Negara melalui PT. Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/ Kota serta Rumah Sakit setempat Alur Registrasi Dan Distribusi Kartu Peserta SASARAN NASIONAL SASARAN KUOTA KABUPATEN/KOTA KABUPAT PENETAPAN SK BUPATI/WALIKOTA BERDASARKAN KUOTA ENTRY DATA BASE KEPESERTAAN SINKRONISASI DATA BPS KAB/KOTA TERBIT PESERTA DISTRIBUSI KARTU Tata Laksana Pendanaan Ketentuan Umum 1. Khusus untuk BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM pembayaran paket disetarakan dengan tariff paket pelayanan rawat jalan dan atau rawat inap Rumah Sakit. Gubernur. Pembayaran ke Rumah Sakit dalam bentuk paket.

Rumah Sakit Khusus d. 2. f. c. Dana manajemen operasional: a. Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM). Biaya transportasi rujukan dan rujukan balik pasien maskin dari RS Kabupaten/ Kota ke RS yang dirujuk. Pendamping pasien rawat inap. d. Advokasi. Administrasi kepesertaan. 6. Monitoring dan Evaluasi Kabupaten/Kota. Dana program dialokasikan untuk membiayai kegiatan pelayanan kesehatan dan manajemen operasional program JAMKESMAS dengan rincian sebagai berikut : 1. e. b. Masyarakat miskin yang tidak masuk dalam pertanggungan kepesertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS). Selisih harga diluar jenis paket dan tarif pelayanan kesehatan tahun 2008 3.4. Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM). c. Dana Pelayanan Kesehatan masyarakat miskin di: a. Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4). Puskesmas dan jaringannya. Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM). g. Rekruitmen dan Pelatihan. Pemerintah daerah berkontribusi dalam menunjang dan melengkapi pembiayaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di daerah masing-masing meliputi antara lain : 1. Menanggulangi kekurangan dana operasional Puskesmas. Rumah Sakit. 2. Penanggungan biaya transportasi pendamping pasien rujukan. Propinsi dan Pusat. . Sumber Dan Alokasi Dana Program Sumber Dana berasal dari APBN sektor Kesehatan Tahun Anggaran 2008 untuk dan kontribusi APBD. b. e. h. Sedangkan biaya transportasi rujukkan dari puskesmas ke RS/BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM ditanggung oleh biaya operasional Puskesmas. Balai Kesehatan Indra Masyarakat (BKIM). Koordinasi Pelaksanaan dan Pembinaan program. 5. Sosialisasi. Peserta tidak boleh dikenakan iur biaya dengan alasan apapun. 4.

Terselenggaranya pengendalian rujukan kasus c. Tujuan Khusus a. Jamkesda JAMKESDA adalah program jaminan bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan yang diberikan Pemerintah Daerah kepada masyarakat yang berdomisili didaerah tersebut.f. Perencanaan dan pengembangan program. 2. Terkendalinya biaya dan mutu dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan d. Tujuan 1. . Sasaran Program Jamkesda adalah seluruh masyarakat yang tinggal didaerah tersebut yang belum memiliki jaminan kesehatan berupa Jamkesmas. Jamsostek dan asuransi swasta). Terselenggaranya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit serta Puskesmas dan jaringannya termasuk pertolongan persalinan b. Tujuan Umum Penyelenggaraan Jamkesda Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat.Terselenggaranya manajemen pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel Sasaran Seluruh penduduk yang tinggal didaerah yang menyelenggarakan Jamkesdan tersebut. Kajian dan survey. h. tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya (Askes sosial / komersial. g. ASKES dan asuransi kesehatan lainnya. investasi dan operasional. c. Pembayaran honor.

. Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) adalah salah satu bentuk perlindungan social untuk menjamin seluruh penduduknya agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak (dalam hal ini kebutuhan akan hidup sehat). mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security. 2. Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. 3. yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor formal. Jamsostek Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medic yang cost effective dan rasional.Kebijakan Operasional 1. Pelayanan terstruktur. Sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan Negara. Jaminan Kematian (JKM). yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Sampai saat ini. Penyelenggaraan Jamkesda mengacu pada prinsip-prinsip : a. berjenjang dengan portabilitas dan ekuitas d. Transparan dan akuntabel d. PT Jamsostek (Persero) memberikan perlindungan 4 (empat) program. Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal. c. Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Indonesia seperti halnya berbagai Negara berkembang lainnya. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan semata-mata untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat b.

Klinik. Manfaat JPK bagi perusahaan yakni perusahaan dapat memiliki tenaga kerja yang sehat.000.000. dapat konsentrasi dalam bekerja sehingga lebih produktif.Dengan penyelenggaraan yang makin maju. program Jamsostek tidak hanya bermanfaat kepada pekerja dan pengusaha tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian bagi kesejahteraan masyarakat dan perkembangan masa depan bangsa. Balai Pengobatan atau Dokter praktek solo 2. Cakupan Program Program JPK memberikan manfaat paripurna meliputi seluruh kebutuhan medis yang diselenggarakan di setiap jenjang PPK dengan rincian cakupan pelayanan sebagai berikut: 1. dan pengobatan. Jumlah Iuran Yang Harus Dibayarkan Iuran JPK dibayar oleh perusahaan dengan perhitungan sebagai berikut:   Tiga persen (3%) dari upah tenaga kerja (maks Rp 1 juta ) untuk tenaga kerja lajang Enam persen (6%) dari upah tenaga kerja (maks Rp 1 juta ) untuk tenaga kerja berkeluarga  Dasar perhitungan persentase iuran dari upah setinggi-tingginya Rp 1. JPK adalah program Jamsostek yang membantu tenaga kerja dan keluarganya mengatasi masalah kesehatan. adalah pemeriksaan dan pengobatan yang dilakukan oleh dokter spesialis atas dasar rujukan dari dokter PPK I sesuai dengan indikasi medis . Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama. rumah sakit. adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter umum atau dokter gigi di Puskesmas. Setiap tenaga kerja yang telah mengikuti program JPK akan diberikan KPK (Kartu Pemeliharaan Kesehatan) sebagai bukti diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mulai dari pencegahan. kebutuhan alat bantu peningkatan fungsi organ tubuh. pelayanan di klinik kesehatan. Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pemeliharaan kesehatan adalah hak tenaga kerja. secara efektif dan efisien. Pelayanan Rawat Jalan tingkat II (lanjutan).

Merupakan suatu keadaan dimana peserta membutuhkan pertolongan segera. Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit. JAMSOSTEK (Persero) setempat.3. . Peserta berhak mengganti fasilitas kesehatan rawat jalan Tingkat I bila dalam Kartu Pemeliharaan Kesehatan pilihan fasilitas kesehatan tidak sesuai lagi dan hanya diizinkan setelah 6 (enam) bulan memilih fasilitas kesehatan rawat jalan Tingkat I. kecuali pelayanan khusus seperti kacamata. Bagi Tenaga Kerja berkeluarga peserta tanggungan yang diikutkan terdiri dari suami/istri beserta 3 orang anak dengan usia maksimum 21 tahun dan belum menikah 3. alat Bantu gerak tangan dan kaki hanya diberikan kepada tenaga kerja dan tidak diberikan kepada anggota keluarganya 2. gigi palsu. Pelayanan Persalinan. yang bila tidak dilakukan dapat membahayakan jiwa. kecuali pindah domisili. Pelayanan Khusus. 6. Emergensi. alat bantu dengar. Hak-hak Peserta Program JPK: 1. Memilih fasilitas kesehatan diutamakan dalam wilayah yang sesuai atau mendekati dengan tempat tinggal 4. atau manfaat yang diberikan untuk mengembalikan fungsi tubuh 6. Dalam keadaan Emergensi peserta dapat langsung meminta pertolongan pada Pelaksana Pelayanan Kesehatan (PPK) yang ditunjuk oleh PT Jamsostek (Persero) ataupun tidak. Memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan menyeluruh. 5. adalah pelayanan rehabilitasi. adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta yang memerlukan perawatan di ruang rawat inap Rumah Sakit 4. adalah pertolongan persalinan yang diberikan kepada tenaga kerja wanita berkeluarga atau istri tenaga kerja peserta program JPK maksimum sampai dengan persalinan ke 3 (tiga). sesuai kebutuhan dengan standar pelayanan yang ditetapkan. Peserta berhak menuliskan atau melaporkan keluhan bila tidak puas terhadap penyelenggaraan JPK dengan memakai formulir JPK yang disediakan diperusahaan tempat tenaga kerja bekerja. atau PT. mata palsu. 5.

antara lain mengisi formulir Daftar Susunan Keluarga (Formulir Jamsostek 1a) 2. anak sudah menikah dan atau anak berusia 21 tahun. tinju. menyelam. Kewajiban Peserta Program JPK 1. Segera melaporkan kepada Kantor PT JAMSOSTEK (Persero) apabila Kartu Pemeliharaan Kesehatan (KPK) milik peserta hilang/rusak untuk mendapatkan penggantian dengan membawa surat keterangan dari perusahaan atau bilamana masa berlaku kartu sudah habis 7. arum jeram Tenaga kerja yang pada permulaan kepesertaannya sudah mempunyai 3 (tiga) anak atau lebih. Menandatangani Kartu Pemeliharaan Kesehatan (KPK) 3. peperangan dan lain-lain Cidera yang diakibatkan oleh perbuatan sendiri. Peserta      Dalam hal tidak mentaati ketentuan yang berlaku yang telah ditetapkan oleh Badan Penyelenggara Akibat langsung bencana alam. tindakan melawan hukum Olah raga tertentu yang membahayakan seperti: terbang layang. Segera melaporkan kepada PT JAMSOSTEK (Persero) bilamana terjadi perubahan anggota keluarga misalnya: status lajang menjadi kawin. balap mobil/motor. Memiliki Kartu Pemeliharaan Kesehatan (KPK) sebagai bukti diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan 4. Menyelesaikan Prosedur administrasi. mendaki gunung. penambahan anak. Tenaga kerja/istri tenaga kerja berhak atas pertolongan persalinan kesatu. 8. Begitu pula sebaliknya apabila status dari berkeluarga menjadi lajang 6.7. tidak berhak mendapatkan pertolongan persalinan . panjat tebing. Bila tidak menjadi peserta lagi maka KPK dikembalikan ke perusahaan Hal-hal yang tidak menjadi tanggung jawab badan penyelenggara (PT Jamsostek (Persero)) 1. tidak berhak lagi untuk mendapatkan pertolongan persalinan. kedua dan ketiga. Tenaga kerja yang sudah mempunyai 3 orang anak sebelum menjadi peserta program JPK. Mengikuti prosedur pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan 5. misalnya percobaan bunuh diri.

antara lain: MRI (Magnetic Resonance Immaging). TORCH (Toxoplasma. thalasemia. DSA (Digital Substraction Arteriography). cretinism. prothesa anggota gerak) hilang/rusak sebelum waktunya tidak diganti  Khusus akibat kecelakaan kerja tidak menjadi tanggung jawab Penyelenggara JPK  Haemodialisa termasuk tindakan penyambungan pembuluh darah untuk hemodialisa  Operasi jantung berserta tindakan-tindakan termasuk pemasangan dan pengadaan alat pacu jantung. prothesa mata. CMV. seperti: debil. Pelayanan Kesehatan  Pelayanan kesehatan diluar fasilitas yang ditunjuk oleh Badan Penyelenggara JPK. retardasi mental. embesil. Herpes) . alat bantu dengar. Rubella. perawatan di luar negeri Penyakit yang disebabkan oleh penggunaan alkohol/narkotik Penyakit Kanker (terhitung sejak tegaknya diagnosa) Penyakit atau cidera yang timbul dari atau berhubungan dengan tugas pekerjaan (Occupational diseases/accident)    Sexual transmited diseases termasuk AIDS RELATED COMPLEX Pengguguran kandungan tanpa indikasi medis termasuk kesengajaan Kelainan congential/herediter/bawaan yang memerlukan pengobatan seumur hidup. gigi palsu. kateterisasi jantung termasuk obat-obatan    Katerisasi jantung sebagai tindakan Therapeutik (pengobatan) Transpalantasi organ tubuh misalnya transplantasi sumsum tulang Pemeriksaan-pemeriksaan dengan menggunakan peralatan canggih/baru yang belum termasuk dalam daftar JPK. ditanggung maksimal 7 hari perawatan sesuai standar rawat inap yang telah ditetapkan       Imunisasi kecuali Imunisasi dasar pada bayi General Check Up/Check Up/Regular Check Up (termasuk papsmear) Pemeriksaan.2. haemophilia. mongoloid. autis  Pelayanan untuk Persalinan ke 4 (empat) dan seterusnya termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengan proses kehamilan pada persalinan tersebut  Pelayanan khusus (Kacamata. pengobatan. kecuali kasus emergensi dan bila harus rawat inap.

PICU) pada penyakit tertentu sehingga memerlukan perawatan khusus lebih dari 20 hari/kasus/tahun   Biaya tindakan medik super spesialistik Batas waktu pengajuan klaim paling lama 3 (tiga) bulan setelah perusahaan melunasi tunggakan iuran. Pembiayaan :   Biaya perjalanan dari dan ke tempat berobat Biaya perjalanan untuk mengurus kelengkapan administrasi kepesertaan. Obat-obatan:   Semua obat/vitamin yang tidak ada kaitannya dengan penyakit Obat-obatan kosmetik untuk kecantikan termasuk operasi keloid yang bukan atas indikasi medis     Obat-obatan berupa makanan seperti susu untuk bayi dan sebagainya Obat-obatan gosok sepeti kayu putih dan sejenisnya Obat-obatan lain seperti: verban. Pemeriksaan dan tindakan untuk mendapatkan kesuburan termasuk bayi tabung 3. ICCU. jaminan rawat dan klaim  Biaya perjalanan untuk memperoleh perawatan/pengobatan di Rumah sakit yang ditunjuk. pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. HCB. . gause stril Pengobatan untuk mendapatkan kesuburan termasuk bayi tabung dan obatobatan kanker 4. Jampersal Untuk menjamin terpenuhinya hak hidup sehat bagi seluruh penduduk termasuk penduduk miskin dan tidak mampu. plester. ICU.  Biaya perawatan emergensi lebih dari 7 (hari) diluar fasilitas yang sudah ditunjuk oleh Badan Penyelenggara JPK  Biaya Perawatan dan obat untuk penyakit lebih dari 60 hari/kasus/tahun sudah termasuk perawatan khusus (ICU. selebihnya akan ditolak e. HCU.

trauma obstetric 5%. AKB 34 per 1000 kelahiran hidup.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 KH. partus macet 5%. infeksi (11%).000 kelahiran hidup.3%. persalinan oleh tenaga kesehatan pada kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69.Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. persalinan dan pemeriksaan masa nifas (postnatal) bagi seluruh ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan serta bayi yg dilahirkannya pada fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan program. Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. dan pelayanan bayi baru lahir. yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan (28%). terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan. Dengan demikian kehadiran Jaminan Persalinan diharapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5. . emboli 3%. Jaminan Persalinan dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan finansial bagi ibu hamil untuk mendapatkan jaminan persalinan. Pengertian Jaminan Persalinan adalah program pemeriksaan kehamilan (antenatal). dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. eklamsia (24%). AKI 228 per 100. komplikasi pueperium 8%. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007.4%. di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan. Menurut hasil Riskesdas 2010. yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan. abortus 5%. diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015. Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 kelahiran hidup. Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat). Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan adalah keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya sehingga diperlukan kebijakan terobosan untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan melalui kebijakan yang disebut Jaminan Persalinan. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55. dan lain-lain 11% (SKRT 2001).

dan bayi dengan risiko tinggi dan komplikasi. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang setara. Pelayanan persalinan tingkat pertama Pelayanan persalinan tingkat pertama adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan berwenang memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (RISTI) dan penyulit 2. Pelayanan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED serta jaringannya termasuk Polindes dan Poskesdes. 3. Ruang lingkup pelayanan jaminan persalinan terdiri dari: A. persalinan. Penanganan komplikasi pada kehamilan. nifas. Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi: 1. Pelayanan bayi baru lahir 5. termasuk KB pasca persalinan 4. Pemeriksaan kehamilan 2. pertolongan persalinan. Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik. pelayanan bayi baru lahir. Pertolongan persalinan normal 3. bersalin. Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi: 1.Pelayanan persalinan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang berdasarkan rujukan. kecuali pada kondisi kedaruratan. Sasaran Merupakan sasaran tambahan dari program Jamkesmas . Pelayanan nifas. di rumah sakit pemerintah dan swasta yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dilaksanakan berdasarkan rujukan. persalinan. termasuk pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan. terdiri dari pelayanan kebidanan dan neonatus kepada ibu hamil. nifas dan bayi baru lahir) tingkat pertama. Pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama. pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan. fasilitas kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota. nifas dan bayi baru lahir B.

Penanganan Komplikasi Kebidanan dan Neonatus di Faskes PONEK d. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (risti) dan penyulit. Pertolongan persalinan normal. Manfaat Jaminan Persalinan Ruang lingkup pelayanan dalam Jaminan persalinan tingkat pertama meliputi: a. c. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan dengan frekuensi 4 kali selama hamil. Penanganan komplikasi kebidanan di Puskesmas PONED sampai proses rujukan ke Rumah Sakit Ruang lingkup pelayanan dalam Jaminan persalinan tingkat lanjutan meliputi: a. Perkiraan jumlah sasaran adalah 60% dari estimasi proyeksi jumlah persalinan. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.a. Faskes PONEK adalah Faskes yang mampu memberi pelayanan Obstetri (kebidanan) dan Neonatus Emergensi Komprehensif e. Motivasi KB (Kontap) bagi ibu yang memanfaatkan program ini. b. b. Pelayanan Nifas (PNC) sesuai standar e. Khusus: . Sasaran adalah seluruh ibu hamil yang belum mempunyai jaminan kesehatan/persalinan yang melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) persalinan. dan pemeriksaan masa nifas (PNC) bagi ibu dan bayi yang dilahirkannya b. c. Pertolongan persalinan dengan penyulit pervaginam yang dapat dilakukan di Puskesmas PONED d. persalinan. dan pelayanan nifas dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (postnatal) yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan menghilangkan hambatan finansial dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. komplikasi kebidanan dan neonatus g. Deteksi dini faktor risiko. Pelayanan neonatus dan penatalaksanaan rujukan neonatus dengan komplikasi sesuai standar pelayanan f. Tujuan: Umum : Meningkatnya akses pemeriksaan kehamilan (antenatal).

Peserta program Jaminan Persalinan adalah seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan persalinan. Pembayaran atas pelayanan jaminan persalinan dilakukan dengan cara klaim oleh fasilitas kesehatan. 2. Peserta Jaminan Persalinan dapat memanfaatkan pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) di kelas III yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK Kabupaten/Kota. 4. .  Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. efektif.Kepesertaan Jaminan Persalinan merupakan perluasan kepesertaan dari Jamkesmas. Memberikan kemudahan akses pemeriksaan kehamilan (antenatal). dan bayi baru lahir yang dilahirkannya (post natal) ke tenaga kesehatan  Mendorong peningkatan pemeriksaan kehamilan (antenatal). 8. 6. Pada daerah lintas batas. dan kabupaten/kota) menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan Jamkesmas. dimana yang bersangkutan dikeluarkan ijin prakteknya. provinsi. dan Kebijakan Operasional 1. yang terintegrasi dan dikelola mengikuti tata kelola dan manajemen Jamkesmas 3. Klinik Bersalin. transparan. 7. pelayanan nifas ibu dan bayi baru lahir (post natal) ke tenaga kesehatan. tetap melakukan klaim kepada Tim Pengelola/Dinas Kesehatan setempat dan bukan pada daerah asal ibu hamil tersebut. fasilitas kesehatan yang melayani ibu hamil/persalinan dari luar wilayahnya. dan pelayanan nifas ibu. Pengelolaan Jaminan Persalinan dilakukan pada setiap jenjang pemerintahan (pusat. 5. persalinan. Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini melakukan perjanjian kerjasama (PKS) dengan Tim Pengelola setempat. Untuk persalinan tingkat pertama di fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan Jaringannya) dan fasilitas kesehatan swasta yang bekerjasama dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota. dan akuntabel . Pelaksanaan pelayanan Jaminan Persalinan mengacu pada standar pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). persalinan. Fasilitas kesehatan seperti Bidan Praktik.

termasuk pelayanan bayi baru lahir dan KB pasca persalinan. Pertanggungjawaban klaim pelayanan Jaminan Persalinan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Tim Pengelola Kabupaten/Kota dilengkapi: 1.9. 2. Fotokopi/tembusan surat rujukan. Tim Pengelola Pusat dapat melakukan realokasi dana antar kabupaten/kota. Pelayanan Jaminan Persalinan diselenggarakan dengan prinsip Portabilitas. Fotokopi identitas diri (KTP atau identitas lainnya) dari ibu hamil/yang melahirkan. Apabila tidak terdapat buku KIA pada daerah setempat dapat digunakan bukti-bukti yang syah yang ditandatangani ibu hamil/bersalin dan petugas yang menangani. Bukti penunjang klaim . disesuaikan dengan penyerapan dan kebutuhan daerah serta disesuaikan dengan ketersediaan dana yang ada secara nasional. pelayanan nifas. Tim Pengelola Kabupaten/Kota menghubungi Pusat (Direktorat Kesehatan Ibu) terkait ketersediaan buku KIA tersebut. termasuk keterangan tindakan pra rujukan yang telah dilakukan di tandatangani oleh ibu hamil/ibu bersalin. 4. Pelayanan terstruktur berjenjang berdasarkan rujukan dengan demikian jaminan persalinan tidak mengenal batas wilayah (lihat angka 7 dan 8). Fotokopi lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan untuk Pemeriksaan kehamilan. Partograf yang ditandatangani oleh tenaga kesehatan penolong persalinan untuk Pertolongan persalinan. 10. 3.

misalnya ANC saja. c) Besaran biaya untuk pelayanan persalinan tingkat lanjutan menggunakan tarif paket Indonesia Case Base Group (INA-CBGs) Fasilitas Pelayanan Kesehatan  Faskes Pemerintah dan Swasta yang melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan program  Faskes Pemeriksaan kehamilan tanpa penyulit.Keterangan : a) Klaim persalinan ini tidak harus dalam paket (menyeluruh) tetapi dapat dilakukan klaim terpisah. kehamilan non-risiko persalinan normal. b) Apabila diduga/diperkirakan adanya risiko persalinan sebaiknya pasien sudah dipersiapkan jauh hari untuk dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih baik dan mampu seperti Rumah Sakit. persalinan saja atau PNC saja. . dan PNC dilakukan di:       Puskesmas Puskesmas Rawat Inap Polindes/Poskesdes Dokter praktik swasta dan Bidan praktik swasta Rumah Bersalin Swasta Klinik Swasta tinggi.

Perkiraan besaran penyaluran dana pelayanan kesehatan dilakukan berdasarkan kebutuhan RS yang diperhitungan dari laporan pertanggungjawaban dana PPK Lanjutan Bagan penyaluran Dana Jamkesmas dan Jaminan Persalinan di Fasilitas Kesehatan Tk. Asuransi komersial merupakan suatu lembaga ataupun perusahaan yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan. dalam arti asuransi jenis ini tidak mewajibkan pesertanya untuk membayar premi. Dana Jamkesmas dan Jaminan Persalinan untuk Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan disalurkan langsung dari Kementerian Kesehatan melalui KPPN ke rekening Fasilitas Kesehatan Pemberi Pelayanan Kesehatan secara bertahap sesuai kebutuhan. Faskes untuk persalinan dengan penyulit. 2. Peserta juga dapat memilih kapan mereka mau mengikuti jenis asuransi ini. Penyaluran Dana Pelayanan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI yang mencantumkan nama PPK Lanjutan dan besaran dana luncuran yang diterima. Asuransi Komersial Asuransi komersial merupakan jenis asuransi yang diikuti dengan membayar premi secara sukarela. . I seperti pada bagan berikut:. emergensi. dan juga mereka dapat memilih jenis program yang ditawarkan oleh asuransi komersial. f. dan komplikasi dilakukan di  Puskesmas dengan fasilitas PONED  Rumah sakit Penyaluran Dana Ke Rumah Sakit 1. 3.

• Sumber dana dari perorangan Sumber dana JPP bisa didapatkan dari : • Pasien ataupun keluarga pasien • Majikan atau perusahaan tempat pasien bekerja • Lembaga donor ( Peduli RCTI. melalui deductible dan co insurance sebagian pengeluaran asuransi kesehatan mereka . Tujuan : Membatasi penggantian pengeluaran-pengeluaran kecil yang dapat ditanggung sendiri sehingga premi bisa ditekan lebih rendah • Coinsurance Perjanjian antara perusahaan asuransi dengan pemegang asuransi untuk menanggung persentase tertentu. Pundi amal SCTV) Beberapa metode pembayaran yang dilakukan oleh asuransi sesuai dengan perjanjian dengan peserta : • Deductible Jumlah pengeluaran yang tercakup yang harus diajukan & dibayarkan oleh pemegang asuransi sebelum manfaat bisa diperoleh (biasanya memakai nominal Rupiah). • Penagihan berdasar pelayanan yang diberikan. • Cara pembayaran tradisional.Sistem Pembayaran Asuransi : • Sesuai jasa per pelayanan (JPP)/ Fee for service • Tarif diskon Jasa per pelayanan (JPP) : • Biaya ditetapkan setelah pelayanan diberikan • Fasilitas Kesehatan Menetapkan tarif pelayanan. kerugian yang ditanggung setelah deductible dibayar (biasanya berupa prosentase) • Co payment Perjanjian dimana pemegang asuransi membayar jumlah tertentu untuk pelayanan tertentu Contoh : Muangthai per kasus membayar 30 bath • Cash sharing (pembagian biaya) Ketentuan polis yang membutuhkan pemegang asuransi untuk membayar.

pembedahan usus buntu. Pengelolaan klaim di pelayanan kesehatan • Transaksi yang sudah di entry oleh petugas rumah sakit harus di verifikasi setiap hari yang diketahui bersama antara petugas asuransi dan petugas rumah sakit di bagian administrasi.Pembayaran juga dapat dilakukan oleh pasien secara perkasus yang dialami oleh pasien seperti melahirkan dengan menggunakan seksio caessaria. ataupun sunat (khitan). • Verifikasi : – – – – – Kesesuaian data yang dimasukkan dengan bukti pendukung Kesesuaian data yang dimasukkan dengan tarif dasar pelayanan kesehatan Kesesuaian antara diagnose dan permintaan pelayanan Kesesuaian antara catatan medis Kesesuaian permintaan pelayanan dengan diagnose serta indikasi medis dengan kewajaran pemeriksaan penunjang • Jika ada yang tidak sesuai : Buat catatan ketidaksesuaian Lapor ke atasan Konfirmasi dengan pihak penyedia asuransi dan membuat solusi bersama Cara pasien melakukan klaim : • Surat pengantar tagihan – – Tanda tangan yang berhak mengajukan klaim Rekapitulasi tagihan • Dokumen penunjang klaim seperti : tanda pengenal dan surat polis asuransi .

Cara kerja pembiayaan pelayanan kesehatan Prosedur pelayanan Peserta Pelayanan kesehatan PPK Cakupan Premi asuransi Pembayaran Klaim Pembayar .

4 Kerangka Teori Peningkatan angka kesakitan Peningkatan mutu pelayanan kesehatan Stres tenaga kesehatan Gambar 3.1 Kerangka Teori Penelitian .2.

2 Kerangka Konsep Penelitian 3.2 Variabel Penelitian 3.1 Kerangka Konsep Gambar 3.2 Variabel Bebas  Akses Pelayanan Kesehatan  Morbiditas  Tingkat Pendidikan  Sosial Budaya o Agama o Dukungan Keluarga  Jaminan Kesehatan o Jamkesda o Jamkesmas o Askes o SKTM .1 Variabel Tergantung Motivasi Pasien Datang Berobat 3.BAB III KERANGKA KONSEP.2. VARIABLE DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.2.

Tinggi (Akademik. dorongan ataupun pembangkit tenaga. dimiliki seseorang sehingga orang tersebut memperlihatkan perilaku tertentu.SMA) 3. Jaminan Kesehatan Ordinal UU No. Motivasi Rangsangan.3. yang (Edward Personal Preference Schedule) Cara Ukur : Wawancara Variabel Bebas Bil Variabel Definisi Alat Ukur dan Cara Ukur 1. 20 tahun 2003 Hasil Ukur Skala Ukur Kepustakaan - Jaminan Kesehatan Suatu pembayaran yang diselenggarakan . 1958. Tingkat Pendidikan Jenjang atau tingkatan pendidikan formal terakhir yang pernah ditempuh oleh responden Cara Ukur : Wawancara Alat Ukur : Kuesioner 1 = Rendah (SD) 2 = Sedang (SMP.3 Definisi Operasional Variabel Tergantung Bil Variabel Definisi Alat Ukur dan Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Kepustakaan 1. dan Alat Ukur : Kuesioner EPPS Journal of applied 1= Kurang/Rendah Ordinal 2 = Sedang 3= Kuat/Tinggi psychology. Perguruan Tinggi) 2.

atau masyarakat Alat Ukur : Kuesioner 1 = Mudah 2 = Sulit Nominal Cara Ukur : Wawancara 4.Masyarakat Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESD A) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTE K) Asuransi Kesehatan (ASKES) Surat Keterangan Tak Mampu (SKTM) secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas Peraturan Pemerintah Nomor 38 1 = Memiliki 2 = Tidak Alat Ukur : Kuesioner memiliki Nominal tahun 2007 Pembagian Peran Undang-Undang Cara Ukur : Wawancara Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/ 1992 Peraturan Pemerintah No. Morbiditas Penyakit Derajat atau tingkat Alat Ukur : 1 = Ringan . Mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Akses Pelayanan Kesehatan Suatu sistem jaringan yang menghubungkan kepada suatu upaya yang diselenggarakan yang diselenggarakan secara bersama-sama dalam suatu orga nisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. 69 tahun 1991 3. kelompok. keluarga.

Sosial Budaya diciptakan oleh manusia dengan pemikiran dan dinuraninya untuk dan atau dalam kehidupan bermasyarakat Cara Ukur : Wawancara Alat Ukur : Kuesioner 1 = Berpengaruh 2 = Tidak Berpengaruh Nominal Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 .dari suatu penyakit yang dideritai oleh responden Kuesioner 2 = Sedang 3 = Berat Cara Ukur : Wawancara Segala hal yang 5.

Rumus populasi infinit : No = Zα2 x P x Q d2 Zα = Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1.1 Populasi Terjangkau Populasi terjangkau penelitian ini adalah seluruh peserta Jaminan Kesehatan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat pada periode 1 Januari 2012 – 30 November 2012 sebanyak 11. 4.051 orang yang terdaftar di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat dengan subjek penelitian adalah seluruh peserta Jaminan Kesehatan yang berobat dengan menggunakan Jaminan Kesehatan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat sejak 1 Januari 2012 – 30 November 2012 sebanyak 2.96 P = Prevalensi pasien yang berobat ke Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat menggunakan Jaminan Kesehatan pada tahun 2012 = 21.3 Populasi dan sample penelitian 4.3 Sampel Penelitian Besar sampel pasien dengan Jaminan Kesehatan yang berobat pada tahun 2012 Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus.2 Lokasi dan waktu penelitian Penelitian dilakukan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat pada periode 1 Januari 2012 – 30 November 2012.1 Jenis Penelitian Penelitian adalah observasi cross sectional dengan pendekatan analitik dengan menentukan hubungan antara jaminan kesehatan dengan motivasi pasien untuk berobat pada masyarakat di Kelurahan Kuningan Barat pada tahun 2012.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.7 % .3. 4.400 orang. 4.3.

09 (1+ (261. yaitu : (1) Responden tidak bersedia untuk diteliti (2) Responden tidak dapat membaca dan menulis (3) Responden tidak sehat secara mental .6527301 = 261.05 N0 = (1. yaitu : (1) Peserta berobat yang memiliki jaminan kesehatan (2) Peserta yang kooperatif (3) Peserta yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian (4) Tidak ada kelainan jiwa Kriteria eksklusi : adalah karakteristik sampel yang tidak layak untuk diteliti.Q = Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami yang diteliti = 1-21.025 Rumus populasi finit: n= n0 (1 + n0/N) n = Besar sample yang dibutuhkan untuk populasi finit n0 = Besar sample dari populasi yang infinit N = Besar sampel populasi finit (pasien yang berobat ke Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat menggunakan Jaminan Kesehatan pada periode 1 Januari 2012 – 30 November 2012) n= 261.3.09 = 235.09/2400)) = 261.217) (0.55 1.217 x (1-0.96)2 x 0.2 Kriteria Sampel Kriteria Inklusi : adalah sampel yang dapat dimasukkan atau yang layak untuk diteliti.3% d = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p> 10% adalah 0.09 0.05)2 = 0.108 4.7% = 78.

Kuisioner EPPS ( Edward’s Personal Preference Schedule ) Untuk mengetahui tingkat motivasi pasien untuk berobat Untuk mendapatkan data identitas peserta secara umum . Kuesioner Penelitian Untuk menilai sarana dan prasarana pelayanan Jaminan Kesehatan di Puskesmas Kecamatan Mampang 4.4 Instrumen Penelitian No. Modifikasi kuesioner dari thesis masubdhai.4. Kuesioner Penelitian Untuk menilai tingkat pengetahuan peserta tentang Jaminan Kesehatan di Kecamatan Mampang 3. 1. Bracresearch Organisation 5. Instrumen Data Puskesmas Fungsi Instrumen Untuk mengetahui jumlah pengguna Jaminan Kesehatan 2.

5 Alur Pelaksanaan Penelitian dan Pengambilan Data Proposal disetujui Peneliti mendapatkan data yaitu populasi daftar pasien yang berobat dengan Jaminan Kesehatan Peneliti turun ke lapangan Pengumpulan sampel Peneliti melakukan wawancara. penyebaran kuesioner.4.0 . mengumpulkan data peserta Jaminan Kesehatan Peneliti mengumpulkan data Peneliti mengolah data dalam bentuk tabular dengan menggunakan Microsoft Word 2007. SPSS Statistic 17.

Data Sekunder Data yang didapat dari Puskesmas Mampang yang berhubungan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan Jaminan Kesehatan.6.6 Rencana Pengelolaan dan Analisis Data 4.Data Primer Data yang diperoleh dengan cara langsung yaitu berupa wawancara dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner yang sedang berobat di Puskesmas kecamatan mampang. dianalisis dangan menggunakan program SPSS Statistics 17.6.0. 4. pemindahan data ke computer dan tabulasi.Analisis Univariat . Data yang terkumpul dari hasil kuesioner diolah. Daftar pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan variabel yang diteliti.1 Data Entri Data yang telah berhasil diperoleh dan diolah secara elektronik setelah melalui proses penyuntingan. 4. majalah atau jurnal berupa data yang berhubungan dengan faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan jaminan Kesehatan.2 Analisis Data . Data Tersier Data yang diperoleh dari buku.

5 Informed Consent Setiap objek yang diikutsertakan dalam penelitian diminta persetujuan informed consent terlebih dahulu.3 Teknik Sampling Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh peserta Jaminan Kesehatan di Puskesmas Kelurahan Kuningan Barat yang memenuhi kriteria inklusi penelitian.9. Semua analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17. 4.Analisis Bivariat Untuk menganalisa tentang faktor. Pengambilan sampel menggunakan metode stratified random sampling. .faktor yang mempengaruhi motivasi pasien untuk berobat ke Puskesmas Mampang dengan penggunaan Jaminan Kesehatan digunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan sebesar p<0.Dilakukan secara deskriptif masing-masing variabel dengan analisis pada distribusi frekuensi. Apabila subjek setuju untuk ikut serta dalam penelitian. .0. 4. 3.4 Penyajian Data Data yang telah terkumpul lalu diolah dan akan disajikan dalam bentuk : Tabular : penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabung Tekstular : penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat Grafik : penyajian data hasil penelitian akan menggunakan diagram batang yang menggambarkan sifat-sifat yang dimiliki. sunjek menandatangani informed consent.6.05.6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful