DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

maka diperlukan adanya etika birokrasi. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. dan merata. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Kemudian. kolusi. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. adil. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. tidak ikhlas. dan Nepotisme. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. Kolusi. dan diskriminatif. . dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Oleh sebab itu. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah.

Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. dan tidak diskriminatif. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. pelaksanaan etika. . nilai moral). pemerintahan. penyelenggaraan negara. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). b. keberanian moral. dan pembagian etika. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). nilai-nilai dasar. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. sebagai berikut: a. profesional.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. merata. prinsip. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. dan pembangunan secara. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. kaedah dasar moral. adil. jujur. serta tentang etos dan etiket. teori-teori. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...................... 1.................................... 4............. Latihan 1 ..............3....... 4...................................................6... 2........... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ................................................... 3.......5....... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral . 4..... ii ......................7.... Deskripsi Singkat ..................9................................... Uraian dan contoh .......................................... 4....................7.............. 3.....1......... Etos.......................................................2...... 4.......... Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..........................3............................................. 3.............. 2......... Etika .. Tujuan Pembelajaran Umum ................. 2............5............ Kb 1: ETIKA......................................6............. Latihan 3 ................................................ Tujuan Pembelajaran Khusus .................1........................2........... ETOS..................................... 2...3.........................................3 Perwujudan etika organisasi .................................................... Ciri-ciri pokok birokrasi ............ Asas-azas umum penyelenggaraan negara .............................................................................. 1.............. 2.................... Pentingnya etika dalam organisasi ........................ 2........................................................................... 2....... DAN ETIKET .......................... 4....8............ 3... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ...........................2................................................... 4.......................1.................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR ....... 1..................... Rangkuman ..... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ..........................1........................................................................................................................ Uraian dan Contoh ..................................5 Latihan 2 ....................................................... 4......................... 2.............4 Rangkuman .................................. 1............................ MORAL............. Pengertian tentang birokrasi .................... Etiket .......................4..................2.. 5.................... Tugas birokrasi ........ 4............................................................... 4... PENDAHULUAN ..... Rangkuman .... DAFTAR ISI ...................4....................... 3........... Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN .......................... Uraian dan contoh .................................................................. i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3.

.... 8...................................................... 39 40 41 iii ..................................... KUNCI TES FORMATIF .6.............. 7................................. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ............ DAFTAR PUSTAKA .....................................

keberanian moral. cara mewujudkan etika birokrasi. dan Etiket. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. azas-azas umum penyelenggaraan negara. moral. kesadaran moral. moral. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika.3. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. etos. serta birokrasi organisasi pemerintah. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. Moral. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. Menjelaskan pengertian tentang etika. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. PENDAHULUAN 1. dan etiket. ciri-ciri pokok birokrasi. dan etiket.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. teori-teori etika. 1 . (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. kaedah dasar moral. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. prinsip etika. 1. yang mencakup pengertian tentang Etika. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. etos. moral. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. nilai moral. tugas birokrasi. dan pembagian etika. 1. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya.2. dan etiket.1. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Etos. serta terakhir tentang etos dan etiket. etos. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

5 . karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. kebaikan yang diterima umum. 2. berpenampilan menarik. ketentraman. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. Prinsip kebaikan bersifat universal. kedamaian. adanya rasa kasih sayang antara sesama.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. Sebagai contoh. dalam Salomon. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. 2. saling berbuat baik. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. tidak diskriminatif. berpenampilan indah. dan lain-lain. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. suasana yang kondusif. misalnya: saling menghormati. dan lain-lain. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. saling kasih-mengasihi. tidak sama satu sama lain. R. dan pola pikir yang beragam. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. bekerja sama. sayang sesama manusia. Jadi manusia harus diperlakukan sama.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. sikap. c. ras. saling bertenggang rasa. contoh. yaitu: 1. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. 3. etnis.

jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. apa yang baik untuk dirinya. dan kebenaran bagi setiap orang. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Semakin besar kebebasan yang dimiliki. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima.4. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. kebebasan. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. akan semakin besar tanggung jawabnya. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. Teori etika ini terdiri 6 . kebaikan. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. 5. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. keadilan. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. persamaan. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. 6. d. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab.

Menurut etika deontologi. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. kritis. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. etika teleologi dan etika keutamaan. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. bukan karena paksaan. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. juga dianggap benar oleh orang lain. sebagaimana 7 . Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Dengan demikian. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat.dari: etika deontologi. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. Immanuel Kant (1734-1804). Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. dalam Sonny Keraf (2003). etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral.

maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. baik bagi siapa: diri sendiri. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. apakah diri kita sendiri. 2. Menurut Kant. 8 . apabila bertujuan atau berakibat buruk. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Sebaliknya.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. diperlakukan secara sewenang-wenang. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. suatu tindakan dinilai buruk. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. karena suatu tindakan yang bernilai moral. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. Menurut etika deontologi. ataupun orang lain. orang lain. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. berarti kita memperalat diri kita demi uang. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). ditindas atau diperas demi kepentingan lain. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. yang berarti tujuan.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

12 . Dalam hal ini. 2. dan etika lingkungan hidup. teori-teori etika.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. 1. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. Dengan kata lain. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. yaitu etika individual. dan semacamnya. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Maka. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. etika sosial. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. e. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati).

yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. negara). Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. masyarakat. 2006:34) 13 .a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan.

Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. 3. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. a. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . adat.2. Secara harfiah. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. tata cara hidup yang baik. kebiasaan. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). a. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. yang berarti. 2.3. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. kebiasaan yang baik. suatu hal yang bersifat rasional. c.

dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. sebagaimana yang diwajibkan. akibatnya tidak baik. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. yaitu: kewajiban. dan norma moral. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. Nilai Moral Moral. sebagaimana diuraikan sebelumnya. 15 . Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. penuntun. kebiasaan yang baik. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. dan larangan. Dalam hubungan ini. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. ada juga hal lain yang perlu dipahami. petunjuk hidup. yaitu: moral sebagai adat istiadat. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. 2. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. mempunyai fungsi sebagai pedoman.hakekatnya merupakan pedoman hidup. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. e. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. Di sisi lain. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. norma hukum. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. yakni: keberanian moral. dan sesudah perbuatan dilakukan. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. d.

1993:120). transparansi. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik.4. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. dan sebagainya. f. seperti: disiplin. b. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Etos a. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. tradisi. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. alasan logis. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. kepercayaan. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . Pemakaian kata etos sering kita dengar. masyarakat. etos profesi. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Berbeda dengan etika. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. dan sebagainya. keputusan nalar. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. seperti: rasional. positif atau negatif. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. dedikasi. Etos kerja bisa kuat atau lemah. Apabila ada istilah etos kerja. misalnya: malas. tanggungjawab. dan petunjuk hidup). Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. 2. integritas. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja.3. dan tanggung jawab. seperti: etos kerja. kebebasan. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi.

misalnya.pekerjaannya. Sebaliknya. Etika (kebiasaan. Dalam hubungan ini. 2. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. dan sebagainya. etiket makan. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun.5. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Etiket tidak sama dengan etika. Pemakaian kata etiket. akhlak atau watak tertentu. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. jangan mencuri. yaitu etiket. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. meskipun ada kaitannya. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. misalnya. 2004:5). Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Sebagai kata sifat. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. misalnya. jangan berbohong. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket.

menyontek. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. tetapi apabila saya makan sendiri. • Etiket bersifat relatif. etos. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. mencuri. etika lebih bersifat universal.dianggap melanggar etiket. 18 . korupsi. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. Sebaliknya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. tiga teori etika. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. moralitas. Larangan-larangan untuk mencuri. Disamping pengertian tentang etika. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. dan sebagainya. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. dan etika keutamaan. Larangan-larangan korupsi. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. serta pembagian etika. tata cara hidup yang baik. atau menyontek. 2. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. Misalnya. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. Secara harfiah. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis.6. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. yakni: etika deontologi. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. dan etiket. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. etika teleologi. Sebaliknya.

etiket lebih bersifat relatif. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. dan keempat. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Dari pengertian ini. 2. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. dan sebagainya. integritas. menurut Adler! 4. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. Jelaskan prinsip-prinsip etika. dan etiket! 5. yakni: a. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. Berikan contoh! 19 . b. apabila ada istilah etos kerja. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak.Di sisi lain. etika.7. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Sementara itu. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. LATIHAN 1 1. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. c. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. sebaliknya. seperti: disiplin. tanggung jawab. transparansi. etos. dedikasi. moral.

kesabaran. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. kejujuran. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. Tony Rooswiyanto. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. 3.3. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. peraturan perundang-undangan.A: 1998). Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. sebagai berikut: a. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika.2. ketulusan. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. DR. Dengan demikian. Sutopo. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Sondang Siagian (1996:11). MSc (2005:27) dan Prof. prinsip-prinsip organisasi. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya.1. M.

2. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. yakni sebagai berikut: 1. suku. 3. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. 21 . Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. sosial.organisasi tersebut. d. pandangan hidup. dan sosial. 3. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. 2. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. 4. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. di bidang agama. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia.

3. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. harapan. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. kegembiraan. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. sebagai berikut. 2) Jujur. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. menurut Suseno SJ. dan kebiasaan kelompoknya b. melaksanakan tugas dengan ikhlas. maka akan memberikan kesenangan. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. tidak korupsi. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan.3. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. 22 . efisiensi. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a.

kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. memahami secara garis besar maupun detil-detil. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Secara konsisten. dia harus tegas. 2. kerajinan. Seperlunya dia harus mempelajarinya. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. keputusan diambil secara rasional. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. kesederhanaan. bersedia untuk berubah. mau bekerja sama. kegesitan. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. sanggup mengenakan sanksi. Selalu. c.4) Bertanggung jawab. tepat pada waktunya. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. harus mempunyai wibawa. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). kerapihan. menuntut. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. 23 . Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. bersedia memandang jauh ke depan. kejujuran/tidak korup. tanpa kecuali. 1.

Bagi orang yang berwatak kuat. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi.3. Dalam lingkungan yang positif. yaitu: 1. korup. bersih. tegas. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. komunikatif. mendorong orang tidak bersemangat. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. cakap. d. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Semakin banyak orang 24 . jujur. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. dan bertanggung jawab. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. malas. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. adil. 4. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. dan bertanggung jawab. 5. bebas dari pamrih. Seorang pemimpin yang jujur. sehingga didorong untuk lebih baik lagi.

baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. dan efektivitas kerja semua pegawai. 2. dan syarat-syarat sistemik.4. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. 25 . Menurut Franz Magnis Suseno SJ. yaitu adanya etos kerja yang kuat. kepemimpinan yang bermutu. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. kegembiraan. etos kelompok sudah merosot. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. didukung lingkungan kerja yang kondusif. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. 3. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. efisiensi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi.yang terkena erosi moral. didukung moralitas pribadi pegawai. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. akan memberikan kesenangan. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Etika diharapkan menunjang kualitas. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan.

5. LATIHAN 2 1. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.3. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .

anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. wewenang.4. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. 4. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap.2. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. b. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut.3. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Uraian dan contoh 4.1. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. 27 . yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.

Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Dalam konteks negara Indonesia. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. 4. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas.c. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah.4. e. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. sebagai berikut: a. 28 . f. d. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja.

Oleh karena itu. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. dapat dipertanggungjawabkan. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. dan efisien. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan kesamaan di hadapan hukum. d. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. e. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. martabat manusia. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. b. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. c. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 .

Walikota dan Wakil Walikota. dan Nepotisme. atau yudikatif. Direksi. Penyidik. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Ketua.5. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Wakil Ketua. Panitera Pengadilan. dan POLRI. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Kolusi. Ketua. 4. dan biaya yang dikeluarkan. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. Ketua.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Pimpinan Bank Indonesia. militer. yaitu: 30 . Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. dan Anggota DPR. legislatif. dan Anggota MPR. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Wakil Ketua. dan Nepotisme. maka ukuran lain adalah efisiensi. Wakil Ketua. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Jaksa. Kolusi. Ketua Muda. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Ketua. prosedur layanan. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil.

dan menyelenggarakan tugas pembangunan. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). f. jujur. dan selektif. dan merata. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. Asas Kepentingan Umum. 4. menyelenggarakan tugas pemerintahan. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. dan rahasia negara. akomodatif. menyelenggarakan tugas negara. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.a. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif.6. d. keserasian. adil. b. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Asas Kepastian Hukum. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. g. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. c. 31 . tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. jujur. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. Asas Proporsionalitas. Asas Keterbukaan. kepatutan. Asas Akuntabilitas. Asas Profesionalitas. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. Anggota POLRI. e.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

b. surat izin mengemudi. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. dan Kelompok Pelayanan Jasa. pensiun janda/duda. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. kenaikan pangkat. bahan bakar minyak. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. izin mendirikan bangunan. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. dan balita. lanjut usia. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. perbankan. dan sebagainya. pensiun pegawai. pengangkutan barang. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. wanita hamil. kesehatan. k. akte kematian. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. pendidikan. bahan bakar gas. listrik. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. telepon.7. kenaikan gaji.e. h. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. pengawasan melekat. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. sertifikat tanah. akte perkawinan. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. j. i. g. dan sebagainya. dan sebagainya. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. dan pengawasan fungsional. di rumah sakit. 4. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. 33 . f. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. c. Kelompok Pelayanan Barang. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan.

tidak korupsi. dan lain-lain. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. jangan meminta. dan norma moral. seperti antara lain: profesionalisme. efektivitas. menjunjung tinggi supremasi hukum. Norma-norma moral. dan nepotisme. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. keadilan. efisiensi. kesabaran. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. seperti antara lain: kejujuran. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. norma hukum. 34 . Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). keikhlasan. ramah-tamah. kolusi. dan sebagainya.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. jangan mencuri. biaya yang melebihi dari tarif resmi. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. Dengan kata lain. menolong. Nilai-nilai moral. ketertiban. akuntabilitas. transparansi. kesamaan. 2. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. kebenaran. dan lain-lain. Dalam kegiatan belajar 1. keharusan. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. kebaikan. kewajiban.

Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. efisiensi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. 4. akuntabilitas. transparansi. c. mengusahakan kesejahteraan umum. mewujudkan negara hukum. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. keikhlasan. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. profesionalisme. dan biaya pelayanan yang murah. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. dinamika dan efisiensi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. yang disebut Pegawai Negeri. d. f. keadilan. standar. 35 . Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. prinsip-prinsip. dan lain-lain) serta asas-asas.8. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. kesamaan. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. yaitu: a. keadilan sosial dan pemerataan. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. e.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. b. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja.

prinsip-prinsip. keikhlasan. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. LATIHAN 3 1. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. dan lainlain). keadilan. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran.9. standar. profesional. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. 4. dan melaksanakan tugas pembangunan. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. dan pola pelayanan yang baik. melaksanakan tugas negara. melaksanakan tugas pemerintahan. transparansi. akuntabel.

2. BENAR/SALAH 1.6. B A A B B III. 2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 3. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 4. D A B 39 . 3. 5.

7.99 % 70.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). s. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d.d. maka disarankan mengulang materi. s. 40 . 90. Hitung jumlah jawaban yang benar. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.99 % 80.d. 100% s.d.

Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. Dwijowijoto. Etika dan Hukum Administrasi Publik. Kamus Besar Bahasa Indonesia. dan Zahar Angga Setiawan. Jakarta: Balai Pustaka.C. 12. S. Riant Nugroho. 1993. 20 September 2002. Kuntjoro Purbopranoto. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. Drs. Departemen Keuangan. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. 1996. 4. Suseno S. S.. Jakarta. 2001..I. 15. Drs. Materi Pokok. 1984. Rooswiyanto.Ed. Jakarta. Myrdal. Sulandra J. Implementasi. Mardojo. 2006.A dan Sofia Ayu... Rajawali Pers. Majalah Auditor. Soeharyo. Vol. 3. 2001. Darmodihardjo Darji..H. S. 2004. DR. DAFTAR PUSTAKA 1. S. 2002. Kumorotomo. Siagian. 2005. 1985. Jakarta. Prof. 2000. 16 Juli 2003.G.W.. 6...H. Prof. Jakarta.8.A. 14. dan Evaluasi” PT. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai... Gramedia Pustaka Utama. Desi Fernanda. Drs. Prof. Puji.P. Handayani. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.P. 16. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .. M. Soeharyo. Jakarta. 2004. “Etika” PT. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 41 .J. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Solomon.. A.H. Juni-Agustus Tahun 2003. “Kebijakan Publik : Formulasi. 9. M. Jakarta. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. 8. No.. STIA LAN.. M. Pringgodigdo.. 10. Departemen Keuangan. 5.. 8. Nyoman Dekker. Penerbit Erlangga. Etika Suatu Pengantar. 4. A Sonny. Bertens. Departemen Keuangan. 7. 13. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. R. 1968.. 2. Jakarta. 11.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. 2005. Mr. Bandung. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Keraf. Drs.J. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. cetakan VIII. Suseno S.. Makalah.H. Utomo.. LAN. 17. penerbit Karunia Esa. Prof. Mr. M. Elex Media Komputindo. Inspektorat Jenderal. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Salamoen. K. Salamoen.. DR.

03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. dan Nepotisme. Pengantar Kuliah Etika.01/2007.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. Zubair. 1988. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 7. 3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. PERATURAN-PERATURAN: 1. 6. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. 13. 42 .PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 10. Kolusi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. 8.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 2. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Departemen Keuangan Republik Indonesia. 4. 5. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 12. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 11. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. dan Nepotisme.18. Achmad Kharis.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Tiara Wacana.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

.................... Kode etik instansi dan kode etik profesi .................................3............................ 2................ 8.....................2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ...........DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1............. Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ......................................... 4................ 4.................. 6........................................... Etika meningkatkan kualitas PNS .............. 7......3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ............ TES FORMATIF ........... 4..... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil .6 Rangkuman ............................................................5...........4.... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ....... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ......... 3........ UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT............5............. 3................................................................ Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ........................... Uraian dan contoh ....................... 1................................................ 3..... 2......................... i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2................................ 1............... Uraian dan contoh ............ Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2.......... 4.... 3......................2...............6.............. ......... 3...8.................... 3.................................................... Pelaksanaan etika PNS .....................................4..... 3.......................1 Uraian dan contoh ............................................................................. Rangkuman ........1........... DAFTAR PUSTAKA .................... Tujuan Pembelajaran Umum ................. 4........ Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ................2.. 3.................. 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5...........3 Tujuan Pembelajaran Khusus ............................................................... 4............9............. Penegakan kode etik PNS .. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan .....10.. Deskripsi singkat .................................7 Latihan 3 ........7............................. KUNCI TES FORMATIF ................................ 4.........................4................ 1.........5 Rangkuman ............. Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ........2..... 2.......................... 3..........1........................ 2. 3................... PENDAHULUAN ........................1............................. Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2........ Beberapa pengertian ....... Latihan 2 ...6 Latihan 1 ....................................3................. 3....... 4........................

cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. UUD 1945. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 1 . maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. tidak ikhlas. dan Pemerintah. PENDAHULUAN 1. Dalam kepemerintahan yang baik. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. memiliki kepekaan. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. berdisiplin. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. profesional.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. netral. kompak. tanggap.1. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. serta diskriminatif. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. tidak hormat. adil. Negara. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. dan bersatu padu. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. sikap. yaitu: PNS yang kuat. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. dan merata.

Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. dan negara. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. yang akhirnya akan mewujudkan sikap.3. 2 . 1. 2. 3. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. 1. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari.2. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). bangsa. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. peserta diklat dapat: 1. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.

5. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.4. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 3 . 10.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. 7.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 8. 6.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 9.

Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. dan Pemerintah.1. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. disiplin. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut.2. kerja sama. serta tidak diskriminatif. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. 4 . kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kreativitas. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tujuan. UUD 1945. kerja sama. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. dedikasi. tanggung jawab. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. tanggung jawab. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. setia dan taat kepada Pancasila. kebersamaan. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. adil dan merata. Beberapa pengertian a. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. kreativitas. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1.2. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. Negara. kebersamaan. disiplin. dedikasi. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.

dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. c. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. d. tingkah laku. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. a.a. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. adil. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan merata. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Pelanggaran kode etik PNS 5 . pengabdian. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. tingkah laku dan perbuatan PNS. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. pengabdian. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik.

b. 1.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. c. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. c. kesadaran. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. 6 .3. Selanjutnya. b. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Membina karakter/watak. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS.

yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. bangsa. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. tidak diskriminatif. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan perilaku yang baik dari PNS. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. 7 . Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. tidak diskriminatif. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. d. melalui kinerja. dan negara.4. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. adil dan merata. peningkatan kerja sama antara PNS. sikap. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS.1. bangsa. dan negara. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. c. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. b. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. adil dan merata.

sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. disiplin. kerja sama. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Membina karakter/watak. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. b. 8 . Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. 1. tingkah laku. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. kebersamaan. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. pengabdian. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.5. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. kreativitas. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. dedikasi. tanggung jawab. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).

c. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. bangsa.6. 2. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 4. LATIHAN 1 1. 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. kesadaran. dan negara. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. 3. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.

dan Nepotisme. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. 4. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dan pasal 28 UUD 1945. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. adil dan merata. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. 3. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. berorganisasi. Pasal 5 ayat (2). 2. Kolusi. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS.3. 3. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. terhadap diri sendiri. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. 10 . Menurut DR. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1.2. dan terhadap sesama PNS. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. pasal 27 ayat (1). Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.1. bermasyarakat. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

dan bermoral tinggi. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. b. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. b. 3. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. netralitas. 11 . yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. Profesionalisme. d. c. f. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Semangat nasionalisme. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.5. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS.3. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. Semangat jiwa korps. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. meliputi: a. h. e. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. g. i.

dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. 3. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. Menurut DR. dan pemerintah. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.4.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. 12 . bangsa. dan pemerintah. tingkah laku. 3. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. dan jangan lakukan pada orang lain. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. Merupakan pedoman sikap. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. bangsa. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. 2. negara. negara. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. yaitu: profesionalisme. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. integritas moral yang tinggi. bertindak secara adil. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. kolusi. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. e. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. c. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. b. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. bangsa dan negara. d. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Bertindak secara adil 13 . PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. dan nepotisme.

yaitu. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. g. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. dalam bermasyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. suku. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. agar kepentingan semua pihak dijamin. abdi negara. agama. tanpa diskriminasi atas dasar ras. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. dan abdi masyarakat. dan seterusnya. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. 3. dalam penyelenggaraan pemerintahan. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. f. Jangan lakukan pada orang lain. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. 14 . keluarga.5. dalam berorganisasi. jenis kelamin.

Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. jujur. 5. 9. 6. 7. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. terbuka. 4. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. 3. hormat dan santun. Etika PNS dalam bernegara 1. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. 2. 3. c. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. 4. 8. 5. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 7.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Tanggap. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. 15 . Menjaga informasi yang bersifat rahasia. dan akurat. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 8. b. 2. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. Mewujudkan pola hidup sederhana. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 2. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Memberikan pelayanan dengan empati. 6. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif.

terhadap sesama PNS. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. Berpenampilan sederhana. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 7. Menghargai perbedaan pendapat. 5. 6. keterampilan. 4. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. 4. maupun antar instansi. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. 3. 2. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. maupun golongan. 6. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. Memiliki daya juang yang tinggi. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. 5. 8. rapih. 7. d. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. 2. bermasyarakat. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. tepat. kelompok. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. berorganisasi. 3. 5. Memberikan pelayanan secara cepat.3. dan sikap. Menghindari konflik kepentingan pribadi. instansi. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. e. dan sopan. 16 . 4. kemampuan. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. terhadap diri sendiri. dan adil serta tidak diskriminatif. terbuka. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani.

yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.3. 2. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. 2. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. c. 17 . Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.6. 4. Penegakan kode etik PNS a. b. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. 3. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Sanksi moral. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik.

18 . Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. keputusan diambil dengan suara terbanyak. 6.5.

Kode etik adalah nilai-nilai moral. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. kode etik PNS. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. dan lain-lain. 3. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. 2. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. maka materi kode etik harus berasal dari 19 .8. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3.3. 2.7. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. kode etik pengacara. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. misalnya: kode etik kedokteran. b. kode etik notaris. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. yaitu: 1. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 7. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 8. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.organisasi profesi tersebut. Pemindahan. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. 4. c. 3. 2. 6. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. dan 20 . 5.

Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dari mulai perencanaan. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar.01/2007 tersebut. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . Untuk keperluan pembelajaran. Oleh karena itu. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN.01/2007. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan).01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. Pada saat ini. pengorganisasian. diminta agar menyesuaikan kembali.11.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. sesuai perkembangan yang ada. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan.

Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. b. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. Sebagaimana diketahui. Meningkatkan disiplin pegawai.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. d. Departemen Keuangan. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. Menjamin terpeliharanya tata tertib. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. Dalam hal ini. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. e. 22 . Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. larangan. c. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. tingkah laku. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik.

yang menyebabkan pegawai yang menerima. sesama pegawai. Menyalahgunakan fasilitas kantor. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. dan adat istiadat orang lain. g.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. f. Mentaati perintah kedinasan. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. Bersikap. Bekerja secara profesional. berpenampilan. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. budaya. sesama pegawai. h. b. dan bertutur kata secara sopan. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. b. i. e. c. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. c. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. f. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. dan akuntabel. transparan. kepercayaan. 23 . Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. atau pihak lain. yakni sebagai berikut: a. d. d. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. e. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. dari wajib pajak. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Menghormati agama. baik langsung maupun tidak langsung.

dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. dan perbuatan pegawai. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. tulisan. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari.g. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. h. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Dari sisi ini. 24 . tingkah laku. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi.

b. baik langsung maupun tidak langsung. kepercayaan. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. Menghormati agama. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. dan e. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menaati perintah kedinasan. Menaati dan mematuhi segala aturan. budaya. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. d. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. 25 . dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. c. d. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. b.

b. f. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. harmonis. Menerima pemberian. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. g. e. kerusakan. h. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. c. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing.e. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. berpenampilan. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. d. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. i. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Bersikap. f. g. dan sinergis antar pegawai. hadiah.

tulisan. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. sikap. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.Segala bentuk ucapan. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. perilaku. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . 30 Tahun 1980.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. Berpakaian rapi dan sopan. g. f. Larangan: a. e. c. e. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. j. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. i. tertib. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. f. bersemangat dan bertanggung jawab. Mentaati ketentuan jam kerja. Bekerja dengan jujur. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik.Kewajiban: a. kolusi dan nepotisme. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. b. d. h. cermat. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. b. c. d. Melakukan perbuatan korupsi.

dan c. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. Memanfaatkan barang-barang. mengkonsumsi. 30 . Membuat. yang keanggotaannya terdiri dari: a. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. h. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. k atau pihak lain. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. i. b. g. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. j. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota.

31 . jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan.9. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. yaitu: prinsip profesionalisme.3.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. dan Direktorat Jenderal Anggaran. dan jangan lakukan pada orang lain. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Sonny Keraf.01/2007. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. integritas moral yang tinggi. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. yang dalam hal ini termasuk PNS. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. bertindak secara adil. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.01/2007. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menurut DR.

5.3. Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .9. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. LATIHAN 2 1. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3.

PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. hormat dan santun. adil. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. serta tidak diskriminatif.4. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. tidak diskriminatif. pemerintahan. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. adil dan merata. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin.1. 4. adil dan merata. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional.2. memberikan pelayanan secara cepat. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. ikhlas. tepat. sopan dan santun. terbuka. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. dan pembangunan. ramah. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab.

pemerintahan. 2. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan merata. 34 . adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PNS Daerah. Pegawai Negeri Sipil (PNS).PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. • • PNS Pusat. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. jujur. dan 3. adil. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. dan pembangunan. c) Untuk menjamin netralitas. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Anggota Tentara Nasional Indonesia. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.

Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. yaitu: a. ikhlas.3. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. 2.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. sopan dan santun. kolusi. dan merata. d. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Kolusi. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. adil. aparatur pemerintah. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. Karena PNS 35 . Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. transparan. 4. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1.b. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. ramah. dan nepotisme. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. dan bebas korupsi. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. 2. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. produktif.

serta tidak diskriminatif. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. terbuka. sopan santun. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. ikhlas. e. d. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. tidak diskriminatif kepada masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. b. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. ramah. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. c. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan adil. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. tidak diskriminatif. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. tepat. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. hormat dan santun. merata. adil dan merata.sebagai unsur aparatur negara. dan tidak diskriminatif. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. 36 .

b. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. f. dan mudah dilaksanakan. b. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. agama. ras. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. c. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. e. 37 . Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. Transparansi Bersifat terbuka. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. gender. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. Asas Pelayanan Publik a. Prinsip Pelayanan Publik a. d. kebutuhan. golongan. dan status ekonomi. 2.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. dan harapan masyarakat. mudah dipahami.

dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. rapi. toilet. disediakan ruang tunggu yang nyaman. j. tempat ibadah. bersih. f. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. dan lainlain. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). tepat. g. Kedisiplinan. h. mudah dijangkau oleh masyarakat. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. ramah. sopan dan santun. Kesopanan. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . e. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. teratur. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. d. i. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.c. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. dan sah. seperti parkir. informatika.

transparan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Memberikan pelayanan produktif. tidak diskriminatif. serta tidak diskriminatif. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. Kolusi. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. ramah. hormat dan santun.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata.PAN/7/2003. dan Nepotisme. dan adil. tepat. dan bebas Korupsi. Memberikan pelayanan dengan empati. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. terbuka. sopan dan santun. bersih.

UUD 1945. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. UUD 1945. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. Etika meningkatkan kualitas PNS a. sikap toleransi. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. sportivitas. tanggung jawab. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. dan Pemerintah. b. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. pemerintah. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. yaitu: a. dan Negara. 4. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. bertaqwa. rasa malu. adil. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. dan merata. dan berperilaku bagi negara. bersikap. etos kerja. disiplin. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. dan seluruh rakyat Indonesia. bersikap. kemandirian. keteladanan. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Negara. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran.4. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Pemerintah. 40 . amanah.

Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. e. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari.b. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. terhadap diri sendiri. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. bermasyarakat. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. g. f. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. d. berorganisasi. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. kompak. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. dan bersatu padu. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. Pegawai Negeri Sipil yang netral. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.

Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. ii. v. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. atau pihak lain. Bekerja dengan jujur. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. cermat. kesadaran. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. dan tanggung jawab. Negara dan Pemerintah. Undang-Undang Dasar 1945. dan bersemangat untuk kepentingan negara. bertanggung jawab. iv. tertib. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. vi. vii. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. ix.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. diri sendiri. kekompakan. 42 . Memelihara dan meningkatkan keutuhan. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. taat. viii. iii. patuh.

Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. xxvi. yakni: i. Mentaati ketentuan jam kerja. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. xxi. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xviii. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. xiv. xv. Menyalahgunakan wewenang. xi. keuangan. xxiv. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. sesama Pegawai Negeri Sipil. 43 . xiii. xxiii. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya.x. xvi. xvii. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. Bertindak dan bersikap tegas. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. dan materiil. dan Pegawai Negeri Sipil. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. xii. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. xxii. ii. xix. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. Pemerintah. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. dan terhadap atasan. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. xxv. xx.

membeli. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Memiliki. x.iii. vii. xii. uang atau surat-surat berharga milik negara. xv. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. menjual. ix. xi. teman sejawat. xiii. kecuali untuk kepentingan jabatan. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. dokumen. vi. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. golongan atau pihak lain. iv. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. Menyalahgunakan barang-barang. menggadaikan. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. golongan atau pihak lain xiv. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. viii. v. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 .

45 . akan bekerja dengan jujur. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. Bahwa saya. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Bahwa saya. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. Bahwa saya. pimpinan. Bahwa saya. kesadaran. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. menjadi direksi. Undang-Undang Dasar 1945. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. xvii. golongan atau pihak lain. Pemerintah. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. cermat.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. Negara. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. tertib. dan tanggung jawab. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. xvi. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. seseorang atau golongan. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. xviii. dan Pemerintah. atau komisaris perusahaan swasta.

4. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. terhadap diri sendiri. bersikap dan berperilaku baik. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. berorganisasi.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. rajin. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. dan Pemerintah.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. patuh dan setia kepada Pancasila. taat. UUD 1945.5. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. bermasyarakat. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4.3. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Negara. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. yaitu: 46 . dan lain-lain. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan.

diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. dan adil. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. Memberikan pelayanan secara cepat. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. adil. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. berdisiplin. Memberikan pelayanan dengan empati. 4.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. profesional. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. b. di samping bersikap dan berperilaku baik. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. memiliki kepekaan. dan Pemerintah. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. Negara. tepat. UUD 1945. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. terbuka. hormat dan santun. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi.6. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . netral. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. serta tidak diskriminatif.a.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. kompak dan bersatu padu.M.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. dan adil. serta tidak diskriminatif. hormat dan santun.7.01/2007. memberikan pelayanan secara cepat.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.PAN/7/2003! 4. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Latihan 3 1. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. terbuka. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 4. tepat.

B . 1. 49 . B . B .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. 6.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. 10. B . merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. 3.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. 2.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. TES FORMATIF I. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. dan merata. adil. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik.5. 9.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. B . 4. B . 7.A B . B . BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. 8.

dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. adil. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Nepotisme c. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. dan . Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. tidak diskriminatif d. Memberikan pelayanan dengan empati.II. hormat dan santun. d. b. Kolusi. Dalam melaksanakan tugasnya b. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. tingkah laku. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Sanksi moral b. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. sikap. Memiliki daya juang yang tinggi 4. Sanksi pidana dan perdata 3. 1. b. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. c.

Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. Profesional d. Kolusi. Memiliki kepedulian yang tinggi III. dan 3) benar B. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi.5. kerja sama. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . bila pernyataan 1) dan 3) benar C. bila semua pernyataan benar 1. Transparan c. Bebas Korupsi. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. 2). bila pernyataan 1). disiplin. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. dan Nepotisme b. netralitas. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan.

Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 .PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. Menurut DR. Kolusi. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Sonny Keraf. watak.3. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter.

Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. kompak. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 .PAN/7/2003.4) Produktif dan disiplin 7.

7. 7. B A B B B A A A A 10. 5.6. C C A C D III. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2. 5. 2. D B 6. BENAR/SALAH 1. 8. 4. 3. B A 54 . A II. 6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 3. 4. 9. 2. PILIHAN BERGANDA 1.

3. 5. B C D 8. 10. 9. B D D 55 . 4.

TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d. maka disarankan mengulang materi. s.99 % 70.7.d.99 % 80.d. Hitung jumlah jawaban yang benar. 100% s.d.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. 56 . s. 90.

T.. 2001.H. Keraf. Drs. 12. Prof . Hardijanto.M. terbitan Program Magister STIA-LAN. LAN. 16 Juli 2003.S.Ed. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. SC. 8.. 10. 18.A dan Sofia Ayu. Kuntjoro Purbopranoto..H. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.. Drs. 13.J. A. Drs. Supriyadi. Sonny. 6. 1985. Dipl. Drs. Kansil. S. Franz Magnis.. Budaya Kerja dan Disiplin. Prajabatan III.. Gering... Winarty.P. DR.H.. 2001. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Etika Organisasi. Etika Suatu Pengantar. 14. 3. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. Etika Organisasi Pemerintah.. Mr.G. Prof. S.. Prijono. Rooswiyanto. penerbit Karunia Esa.H.Ec.T. S. Santiaji Pancasila. DR.. DR... M.. kumpulan karangan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS..Soc. 1 Maret 2003.A.. Salamoen. 7. 15. DAFTAR PUSTAKA 1. Pradya Paramita. Suseno S. Soeharyo.J. Etika Organisasi. Salamoen. 2002. Suseno S. Penerbit Kanisius. Drs. Drs.. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik... Kamus Besar Bahasa Indonesia..T.. Departemen Keuangan. 17. 4. Jakarta. M. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. M. Desi Fernanda. Jakarta. M. Pendidikan Pancasila. M. Prof. 57 . C. Prof. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . 20 September 2002. 5.. Mr. LLM. Drs. Jakarta. Jakarta. 9.. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. Prof. Jakarta. Mardojo. R. A. Tony.S. Lembaga Administrasi Negara. 1998. Penerbit Erlangga.C. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Kansil. Balai Pustaka. A. Soeharyo. 1993.. Tjiptoherjanto. 1990 16. S. Keraf. P.. 1 April 2002.P. Drs. Pradya Paramita....8. Triguno. Prajabatan III.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar.T. 11. cetakan VIII. 2. 1984. Etika Kepemimpinan Aparatur.. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. 16 Juli 2003. 2005... Yogyakarta.H.. P. LAN. Sonny. 1 Maret 2003. Army. S. S. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. C. Pringgodigdo.W. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Nyoman Dekker. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”.. Solomon.H. 2002. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. Darmodihardjo Darji.. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN.. Etika Dasar. Mei 2002. Sulandra J. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 19. 2. 14. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 6. 17.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.PERATURAN-PERATURAN: 1. 11.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 10.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. 18. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. 9.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. dan Nepotisme. 58 . 16. 8.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Pemindahan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak.01/2007. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 5. 7. 13. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 3.

59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 21. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 22.20. 23.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful