DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan merata. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. adil. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan Nepotisme. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. tidak ikhlas. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. Oleh sebab itu. . dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. maka diperlukan adanya etika birokrasi. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. dan diskriminatif. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Kemudian. kolusi. Kolusi.

. sebagai berikut: a. nilai-nilai dasar. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. dan tidak diskriminatif. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. teori-teori. pemerintahan. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. penyelenggaraan negara. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. kaedah dasar moral. keberanian moral. b. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. adil. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. profesional. serta tentang etos dan etiket. pelaksanaan etika. prinsip. jujur. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. dan pembagian etika. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral.Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. nilai moral). merata. dan pembangunan secara.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...........................1.......7. Asas-azas umum penyelenggaraan negara ............................................................... 4............................. Tujuan Pembelajaran Umum ....................1............................................ 3.....................1.......... 2....................................................2....................................3.. Tujuan Pembelajaran Khusus ............................... Kb 1: ETIKA........ 4.... 4..... 4..............8.....................5 Latihan 2 .... 4......................... 2..............7...................................... 3.........................5.................... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ....................1...................3............ Uraian dan contoh ......3 Perwujudan etika organisasi ... 3...............................................................9...4............................. PENDAHULUAN ....................................................... Pentingnya etika dalam organisasi ..... 2........... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ...................... Uraian dan contoh ................... MORAL...............6....4.............................................................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR . Deskripsi Singkat ............. 4........ 1.. ETOS. Etiket .....3................................................................................... 4.......................... 1............. 2............................................................................................................................ 2.......5............... 5............ 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ........................ 3.. Rangkuman ... Rangkuman ............................... Latihan 3 ....... 2............. 1............................................................................................................................... Etika .............................. Uraian dan Contoh .................... DAFTAR ISI ...... Tugas birokrasi ............... Ciri-ciri pokok birokrasi ....................2................................................................................ 4.... ii ..............................2................................. 4... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3................. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..................................................................................... 3....... 4.............. Pengertian tentang birokrasi ....2. DAN ETIKET .................................................4 Rangkuman ................ Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ............... Latihan 1 .......... Etos.............6............... Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ................................ 1................................................................. 2... 2...

.................................. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ................................. 39 40 41 iii ........... DAFTAR PUSTAKA ................ 7...... 8........................................................... KUNCI TES FORMATIF .............6....................

1 . keberanian moral. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. moral. cara mewujudkan etika birokrasi. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. Menjelaskan pengertian tentang etika. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). azas-azas umum penyelenggaraan negara. teori-teori etika. serta birokrasi organisasi pemerintah.1. prinsip etika. etos. kaedah dasar moral. Moral. 1. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat.2. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. etos. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. etos. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. Etos. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. nilai moral. tugas birokrasi. moral. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. serta terakhir tentang etos dan etiket. dan Etiket. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. ciri-ciri pokok birokrasi. yang mencakup pengertian tentang Etika. moral. dan etiket. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. dan etiket. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. 1.3. dan etiket. dan pembagian etika. PENDAHULUAN 1. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. kesadaran moral. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

berpenampilan menarik. contoh. etnis. saling berbuat baik. kedamaian. dan pola pikir yang beragam. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. saling kasih-mengasihi. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. R. 5 . yaitu: 1. ketentraman. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. Sebagai contoh. kebaikan yang diterima umum. suasana yang kondusif. sikap. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. misalnya: saling menghormati. Prinsip kebaikan bersifat universal. berpenampilan indah. tidak diskriminatif.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. 2. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. dalam Salomon. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. saling bertenggang rasa. tidak sama satu sama lain. adanya rasa kasih sayang antara sesama. sayang sesama manusia. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. 2. c. Jadi manusia harus diperlakukan sama. bekerja sama. 3. dan lain-lain. ras. dan lain-lain. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”.

dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. apa yang baik untuk dirinya. 5. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). kebaikan. d. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Teori etika ini terdiri 6 . Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. akan semakin besar tanggung jawabnya. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. dan kebenaran bagi setiap orang. persamaan. kebebasan. keadilan. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika.4. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. 6. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab.

yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. sebagaimana 7 . artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. juga dianggap benar oleh orang lain. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. etika teleologi dan etika keutamaan. kritis. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. Immanuel Kant (1734-1804). berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. dalam Sonny Keraf (2003). suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Dengan demikian. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. Menurut etika deontologi. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban.dari: etika deontologi. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). sedangkan “logos” berarti pengetahuan. bukan karena paksaan. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri.

tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. baik bagi siapa: diri sendiri. suatu tindakan dinilai buruk. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. ataupun orang lain. apakah diri kita sendiri. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. apabila bertujuan atau berakibat buruk. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. Menurut Kant. 8 . apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. yang berarti tujuan. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Sebaliknya. diperlakukan secara sewenang-wenang.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. orang lain. karena suatu tindakan yang bernilai moral. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. ditindas atau diperas demi kepentingan lain. 2. berarti kita memperalat diri kita demi uang. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. Menurut etika deontologi. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

dan etika lingkungan hidup. 2. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). e. teori-teori etika. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. yaitu etika individual. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. etika sosial. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Maka. dan semacamnya. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). Dengan kata lain. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. 12 . Dalam hal ini. 1. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus.

Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. negara). 2006:34) 13 . b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. masyarakat. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas.

a. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. c. a. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. suatu hal yang bersifat rasional. yang berarti.2. Secara harfiah. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. kebiasaan. 2. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan.3. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. tata cara hidup yang baik. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. 3. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. kebiasaan yang baik. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. adat. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu.

sebagaimana yang diwajibkan. Nilai Moral Moral. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. e. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. akibatnya tidak baik. yaitu: moral sebagai adat istiadat. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. Di sisi lain. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. yaitu: kewajiban. ada juga hal lain yang perlu dipahami. kebiasaan yang baik. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. mempunyai fungsi sebagai pedoman. dan sesudah perbuatan dilakukan. sebagaimana diuraikan sebelumnya.hakekatnya merupakan pedoman hidup. dan norma moral. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. 2. penuntun. 15 . petunjuk hidup. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. dan larangan. norma hukum. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. Dalam hubungan ini. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. d. yakni: keberanian moral.

yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Pemakaian kata etos sering kita dengar. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. b. alasan logis. dan tanggung jawab. integritas. kepercayaan. seperti: rasional.3. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. keputusan nalar. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. etos profesi. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. Apabila ada istilah etos kerja. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan etika. tradisi. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. Etos a. dedikasi. seperti: disiplin. masyarakat. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. dan sebagainya. f. dan sebagainya. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. 2. 1993:120). Etos kerja bisa kuat atau lemah. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. misalnya: malas. transparansi. kebebasan. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. seperti: etos kerja. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. tanggungjawab.4. dan petunjuk hidup). maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. positif atau negatif.

moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk.pekerjaannya. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. misalnya. jangan mencuri. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. akhlak atau watak tertentu. 2004:5). atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. meskipun ada kaitannya. etiket makan. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Sebaliknya. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. Dalam hubungan ini. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. misalnya. Etiket tidak sama dengan etika. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. Etika (kebiasaan. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. Sebagai kata sifat. misalnya. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. Pemakaian kata etiket. 2. jangan berbohong. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak.5. yaitu etiket. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. dan sebagainya. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia.

dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral.6. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. tiga teori etika. yakni: etika deontologi. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. moralitas. 18 . Secara harfiah. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. dan sebagainya. Larangan-larangan untuk mencuri. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. dan etiket. atau menyontek. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. korupsi. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. • Etiket bersifat relatif. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. etika teleologi. Misalnya. Larangan-larangan korupsi. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. etika lebih bersifat universal. serta pembagian etika. tata cara hidup yang baik. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Sebaliknya. 2. dan etika keutamaan. Sebaliknya. menyontek. tetapi apabila saya makan sendiri.dianggap melanggar etiket. Disamping pengertian tentang etika. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. etos. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. mencuri. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak.

Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. integritas. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). dan keempat. dedikasi.Di sisi lain. Dari pengertian ini. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. etika. moral. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. dan etiket! 5. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. sebaliknya. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. etiket lebih bersifat relatif. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. tanggung jawab. seperti: disiplin. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. etos. Berikan contoh! 19 . dan sebagainya. apabila ada istilah etos kerja. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. Jelaskan prinsip-prinsip etika. c. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. b. transparansi. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. 2. LATIHAN 1 1. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. yakni: a. Sementara itu. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya.7. menurut Adler! 4.

Sutopo. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). DR. prinsip-prinsip organisasi. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. ketulusan. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3.1. sebagai berikut: a. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. kesabaran. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. kejujuran. M. Sondang Siagian (1996:11). Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. 3. MSc (2005:27) dan Prof. peraturan perundang-undangan. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 .3. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi.A: 1998).2. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. Dengan demikian. Tony Rooswiyanto. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs.

Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. dan sosial. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. 2. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. 2. d. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku.organisasi tersebut. di bidang agama. yakni sebagai berikut: 1. sosial. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. 21 . sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. 3. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. suku. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. pandangan hidup. 3. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. 4.

yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. dan kebiasaan kelompoknya b.3. maka akan memberikan kesenangan. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. harapan. sebagai berikut.3. melaksanakan tugas dengan ikhlas. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. tidak korupsi. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. 22 . 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. efisiensi. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. kegembiraan. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. 2) Jujur. menurut Suseno SJ.

kejujuran/tidak korup. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. tanpa kecuali. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. 1. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. kesederhanaan. Secara konsisten. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Selalu. 2. bersedia untuk berubah. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. dia harus tegas. menuntut. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. kegesitan. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. 23 . sanggup mengenakan sanksi. kerajinan. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. kerapihan. c. mau bekerja sama.4) Bertanggung jawab. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). memahami secara garis besar maupun detil-detil. harus mempunyai wibawa. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. Seperlunya dia harus mempelajarinya. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. bersedia memandang jauh ke depan. tepat pada waktunya. keputusan diambil secara rasional. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya.

sehingga didorong untuk lebih baik lagi. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. komunikatif. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. dan bertanggung jawab. bersih. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. 5. bebas dari pamrih. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik.3. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. tegas. korup. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. Bagi orang yang berwatak kuat. Seorang pemimpin yang jujur. cakap. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. yaitu: 1. Dalam lingkungan yang positif. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Semakin banyak orang 24 . 4. malas. adil. mendorong orang tidak bersemangat. jujur. d. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. dan bertanggung jawab.

RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. dan efektivitas kerja semua pegawai. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. kegembiraan. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu.4. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. 2. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. 25 . didukung lingkungan kerja yang kondusif. dan syarat-syarat sistemik. efisiensi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. kepemimpinan yang bermutu. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. etos kelompok sudah merosot. didukung moralitas pribadi pegawai. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. Etika diharapkan menunjang kualitas. 3. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. akan memberikan kesenangan. yaitu adanya etos kerja yang kuat.yang terkena erosi moral. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi.

Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2.5. LATIHAN 2 1.3. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.

hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). 4.4.2. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. 27 . b. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.3. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. wewenang.1. Uraian dan contoh 4. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4.

Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja.c. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. 28 . d. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. f. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Dalam konteks negara Indonesia. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. e. sebagai berikut: a.4. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. 4. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan.

Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. dan efisien. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. c. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. d. b. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. martabat manusia. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. dapat dipertanggungjawabkan. e. Oleh karena itu. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. dan kesamaan di hadapan hukum.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya.

yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. dan Nepotisme. Ketua. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. maka ukuran lain adalah efisiensi. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Jaksa. Kolusi. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Walikota dan Wakil Walikota. Panitera Pengadilan. Kolusi. Ketua Muda. prosedur layanan. yaitu: 30 . Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. dan biaya yang dikeluarkan. dan Anggota MPR. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. atau yudikatif. dan Nepotisme. Ketua. Penyidik.5. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Wakil Ketua. Wakil Ketua. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Ketua. Komisaris pada BUMN dan BUMD. legislatif. Wakil Ketua. Ketua. dan POLRI. dan Anggota DPR. Pimpinan Bank Indonesia. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Direksi. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. militer. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. 4.

adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.a. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. f. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. g. dan rahasia negara. c. d. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. Asas Profesionalitas. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. b. e. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. jujur. Asas Keterbukaan. dan merata. keserasian.6. Asas Kepentingan Umum. Asas Proporsionalitas. Asas Akuntabilitas. dan selektif. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. akomodatif. menyelenggarakan tugas pemerintahan. Asas Kepastian Hukum. kepatutan. adil. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. Anggota POLRI. menyelenggarakan tugas negara. jujur. 31 . dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. 4.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

di rumah sakit. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. kenaikan gaji. dan Kelompok Pelayanan Jasa. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. pensiun pegawai. telepon. dan balita. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. bahan bakar minyak. listrik. c. pensiun janda/duda. surat izin mengemudi. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. akte kematian. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. kesehatan. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. b.7. g. f. lanjut usia. bahan bakar gas. dan sebagainya. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. perbankan. Kelompok Pelayanan Barang. pengawasan melekat. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. dan sebagainya. sertifikat tanah. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. j. akte perkawinan. i. k. dan pengawasan fungsional. pendidikan. izin mendirikan bangunan.e. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. 4. 33 . wanita hamil. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. h. kenaikan pangkat. dan sebagainya. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. pengangkutan barang.

masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. Norma-norma moral. seperti antara lain: profesionalisme. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. dan sebagainya. kesabaran. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. efektivitas. menolong. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. kebenaran. dan lain-lain. biaya yang melebihi dari tarif resmi. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. kebaikan. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. jangan mencuri. kolusi. keikhlasan. keharusan. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. 34 . seperti antara lain: kejujuran. norma hukum. 2. kewajiban. dan nepotisme. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). akuntabilitas. efisiensi. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. menjunjung tinggi supremasi hukum. keadilan. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. kesamaan. ketertiban. dan norma moral. Dengan kata lain. jangan meminta. Dalam kegiatan belajar 1. transparansi. dan lain-lain. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. Nilai-nilai moral. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. tidak korupsi. ramah-tamah.

prinsip-prinsip. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. e. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. c. keadilan sosial dan pemerataan. keadilan. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. dinamika dan efisiensi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi.8. transparansi. mewujudkan negara hukum. 35 . Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. b. d.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. f. mengusahakan kesejahteraan umum. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. kesamaan. keikhlasan. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. dan biaya pelayanan yang murah. yang disebut Pegawai Negeri. standar. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. profesionalisme. yaitu: a. efisiensi. 4. dan lain-lain) serta asas-asas. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. akuntabilitas.

melaksanakan tugas negara. akuntabel. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. melaksanakan tugas pemerintahan. keadilan.9. LATIHAN 3 1. keikhlasan. standar. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan lainlain). Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . dan pola pelayanan yang baik. dan melaksanakan tugas pembangunan. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. profesional. prinsip-prinsip. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. 4. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. transparansi. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya.

3. BENAR/SALAH 1.6. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2. B A A B B III. 2. 4. 5. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. D A B 39 . 3.

Hitung jumlah jawaban yang benar. 40 . kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). maka disarankan mengulang materi. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d.d. 90.99 % 80.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. s.7.d. s.99 % 70. 100% s.

3. Etika dan Hukum Administrasi Publik. Jakarta. Sulandra J. 9. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius.A. 1984. Suseno S. Salamoen. A Sonny.. 16. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Ed.. 8. Utomo.. S. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. M. Jakarta. Mr. Pringgodigdo. Drs. 17. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk.H. Implementasi.C.. 2004. Jakarta. Penerbit Erlangga. 1985. No. 12. 4.I. Prof.. S. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Keraf. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Myrdal. Jakarta: Balai Pustaka.. R. Desi Fernanda. 11. penerbit Karunia Esa. 1968.. Departemen Keuangan. Majalah Auditor. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. 2000. Darmodihardjo Darji. Makalah. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.P. 5. Bertens. 2002.. S. dan Evaluasi” PT. DR. M.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Puji. cetakan VIII. Soeharyo. DR. Bandung.H. 20 September 2002. Riant Nugroho.W. 1993. Soeharyo.8.J. 41 . 14. Prof. 13. S. 2001. Mr. Nyoman Dekker. Drs. 1996. Juni-Agustus Tahun 2003. 7. Siagian. 4. “Kebijakan Publik : Formulasi.. Prof. 2005. Inspektorat Jenderal. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. A. Etika Suatu Pengantar.A dan Sofia Ayu.H. dan Zahar Angga Setiawan.G. M. LAN. Vol. STIA LAN. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. Mardojo. Jakarta. 6. Departemen Keuangan. Dwijowijoto. Jakarta.. Drs..... Departemen Keuangan.P... “Etika” PT. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Salamoen. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. 2006.. 15. 2001. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. Rajawali Pers.. Elex Media Komputindo. Drs. Handayani. 10. Rooswiyanto. Materi Pokok.. 2004. 8.H. Solomon. Jakarta. M. 16 Juli 2003. 2. K. Suseno S. Prof. Kuntjoro Purbopranoto.J. Kumorotomo.. 2005.

Departemen Keuangan Republik Indonesia. 13.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 5. 10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. dan Nepotisme. 6. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 3. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. 12. dan Nepotisme. 1988. Achmad Kharis. 11. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. 7. 4. 2. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Kolusi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 8.01/2007. Pengantar Kuliah Etika. 42 .02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. Tiara Wacana. PERATURAN-PERATURAN: 1. Zubair.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...5................... 4.. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ............................5 Rangkuman .......... 6...............6............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ... 3.......................... 3................................... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil .......... 3....................7 Latihan 3 ......6 Latihan 1 ....3...1.................... 3................ 4........................................... 1....................... 4..................... TES FORMATIF . Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ......................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1................................................................ Pelaksanaan etika PNS ......... KUNCI TES FORMATIF ... Uraian dan contoh .................... Beberapa pengertian .... 3.8....................................................... Tujuan Pembelajaran Umum .... 3......... 4....10.......4.............2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ........... 4................. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ......................................................... Rangkuman .............................. Kode etik instansi dan kode etik profesi .................... ...2.............. 1. PENDAHULUAN ........................ Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ........ 3.......... 4.7.. 2................. Etika meningkatkan kualitas PNS ...... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ....................4............ Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ............... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2................ Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ....................... Penegakan kode etik PNS .................................. 3.......................... 4. i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2........6 Rangkuman .... 2..........2............................................................................................................ 3.............9..........................................................................2...........1................ 1...................5. Latihan 2 ..... Deskripsi singkat ........3....................4............... 3.. 2..................................1......... 7.........................1 Uraian dan contoh ...... 8................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.......... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2........................ 2............3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ............. 3......... Uraian dan contoh .....................................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ......................... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5................................... 4.........................................

maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.1. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. berdisiplin. dan Pemerintah. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. tidak ikhlas. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. netral. tanggap. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. kompak. memiliki kepekaan. dan bersatu padu. serta diskriminatif. adil. UUD 1945. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. PENDAHULUAN 1. 1 . Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. profesional. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. tidak hormat. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. Negara. Dalam kepemerintahan yang baik. yaitu: PNS yang kuat. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. sikap. dan merata. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja.

1. 2 . yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. bangsa. 3.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.2. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. dan negara. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. peserta diklat dapat: 1. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. 1. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. 2.3. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS.

10. 5. 6.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 7. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik.4. 9. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 3 .Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 8.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.

Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. kreativitas. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kebersamaan. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kerja sama. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. tujuan. tanggung jawab. kreativitas. tanggung jawab. setia dan taat kepada Pancasila. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. kebersamaan. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kerja sama.2. disiplin. disiplin.2. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Negara. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. adil dan merata. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4 . kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. dedikasi. dedikasi. ruang lingkup pembinaan jiwa korps.1. dan Pemerintah. UUD 1945. Beberapa pengertian a. serta tidak diskriminatif.

Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pelanggaran kode etik PNS 5 . Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. pengabdian. c. dan merata. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. d. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). pengabdian. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. a. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. tingkah laku. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. tingkah laku dan perbuatan PNS. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. adil.a. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan.

Membina karakter/watak. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Selanjutnya. b.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. kesadaran. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. 1. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. c. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. c.3. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. 6 . pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. b. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

tidak diskriminatif. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. tidak diskriminatif. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 7 . yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. bangsa. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. b. peningkatan kerja sama antara PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. adil dan merata. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. dan negara. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. bangsa. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. d. melalui kinerja. dan perilaku yang baik dari PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. c. dan negara. sikap.1. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. adil dan merata. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS.4. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja.

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. kreativitas. pengabdian. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. kerja sama. dedikasi. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. b. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. 8 . tanggung jawab. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. tingkah laku. Membina karakter/watak. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kebersamaan.5. disiplin. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 1.

Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. 3. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 1. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. bangsa. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. dan negara. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. kesadaran. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. LATIHAN 1 1. 2. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 .6. 4. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat.c.

3. terhadap diri sendiri.1.3. 2. dan Nepotisme. bermasyarakat. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. adil dan merata. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. 10 . Menurut DR. 4. dan pasal 28 UUD 1945. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. Pasal 5 ayat (2). sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. 3. berorganisasi. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Kolusi. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. pasal 27 ayat (1). menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dan terhadap sesama PNS. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara.

Profesionalisme. Semangat nasionalisme. f. e. 11 . Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. b. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. netralitas. i. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. g. Semangat jiwa korps. 3. b. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan bermoral tinggi. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS.5. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. c. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. h. d. meliputi: a. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut.3.

Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. dan pemerintah. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan jangan lakukan pada orang lain. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. bertindak secara adil. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. 3. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. 2. Menurut DR. 12 . dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. negara. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik.4. negara.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. bangsa. integritas moral yang tinggi. 3. Merupakan pedoman sikap. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. yaitu: profesionalisme. dan pemerintah. bangsa. tingkah laku. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

e. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. Bertindak secara adil 13 . agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. d. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. b. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. bangsa dan negara. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. kolusi. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. c. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. dan nepotisme. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. dalam penyelenggaraan pemerintahan. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. tanpa diskriminasi atas dasar ras.5. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. 14 . f. dan abdi masyarakat. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. g. abdi negara. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. dalam bermasyarakat. yaitu. agama. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. dan seterusnya. dalam berorganisasi. 3. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. Jangan lakukan pada orang lain. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. jenis kelamin. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. suku.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. keluarga. agar kepentingan semua pihak dijamin.

c. 8. 3. 2. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. 4. 8. Tanggap. 5. 5. 6. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Etika PNS dalam bermasyarakat 1.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Memberikan pelayanan dengan empati. hormat dan santun. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Etika PNS dalam bernegara 1. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Mewujudkan pola hidup sederhana. 2. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 9. 7. 4. dan akurat. terbuka. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 3. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 15 . b. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 7. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. jujur. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 6. 2.

4. terhadap diri sendiri. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. dan adil serta tidak diskriminatif. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. maupun golongan. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. 2. 4. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Menghindari konflik kepentingan pribadi. kemampuan. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. kelompok. berorganisasi. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. Memiliki daya juang yang tinggi. instansi. 5. d. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. dan sopan. dan sikap. 5. bermasyarakat. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. 8. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. 16 . Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Berpenampilan sederhana.3. terhadap sesama PNS. 7. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. maupun antar instansi. terbuka. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. 2. 5. 6. 6. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Memberikan pelayanan secara cepat. e. rapih. 7. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. 4. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. 3. tepat. keterampilan. 3. Menghargai perbedaan pendapat.

17 . Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. c. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. Sanksi moral. b. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. 4. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. 2. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Penegakan kode etik PNS a. 3.3. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.6. 2. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1.

6.5. keputusan diambil dengan suara terbanyak. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. 18 . Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai.

Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. misalnya: kode etik kedokteran. kode etik pengacara. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. dan lain-lain.3. Kode etik adalah nilai-nilai moral. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. 2. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. 2. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi.7. 3. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. kode etik PNS. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . kode etik notaris. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a.8. yaitu: 1. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. b.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan.organisasi profesi tersebut. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 10. 7. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. 9. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 5. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 4.01/2007. c. Pemindahan. 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 8. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. 2. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 3. dan 20 . sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.

pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. sesuai perkembangan yang ada.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . dari mulai perencanaan. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. pengorganisasian.01/2007 tersebut. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. diminta agar menyesuaikan kembali. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran.01/2007.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Oleh karena itu. Pada saat ini.11. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. Untuk keperluan pembelajaran. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan).

d. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Sebagaimana diketahui. 22 .3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Departemen Keuangan. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. larangan.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. Dalam hal ini. b. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. e. Menjamin terpeliharanya tata tertib. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Meningkatkan disiplin pegawai. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. c. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. tingkah laku.

budaya. baik langsung maupun tidak langsung. dan akuntabel. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. yakni sebagai berikut: a. dan bertutur kata secara sopan. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. c. f. i. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. dan adat istiadat orang lain. transparan. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. Bersikap.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. Bekerja secara profesional. dari wajib pajak. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. e. atau pihak lain. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. d. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. b. sesama pegawai. berpenampilan. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. kepercayaan. sesama pegawai. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. c. g. 23 . Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. f. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. Menyalahgunakan fasilitas kantor. h. Mentaati perintah kedinasan. d. Menghormati agama. e. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. yang menyebabkan pegawai yang menerima. b.

Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. h. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. tulisan. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. tingkah laku. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin.g. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. 24 . Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. Dari sisi ini. dan perbuatan pegawai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan.

Menaati dan mematuhi segala aturan. kepercayaan. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. d. c. dan e. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. b.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menghormati agama. Menaati perintah kedinasan. budaya. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. d. baik langsung maupun tidak langsung. 25 . c. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. b.

Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. g. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. Bersikap. dan sinergis antar pegawai. dan bertutur kata secara sopan dan santun. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. b. h. kerusakan. c. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. i. harmonis. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. f. e. berpenampilan.e. f. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. Menerima pemberian. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. g. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. hadiah. d.

tulisan. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut.Segala bentuk ucapan. 30 Tahun 1980. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . perilaku. sikap.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

d. f. e. c. cermat. i. c. e. b. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. kolusi dan nepotisme. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Berpakaian rapi dan sopan. b. h. j. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Melakukan perbuatan korupsi. g. Mentaati ketentuan jam kerja. Bekerja dengan jujur. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). d. f. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik.Kewajiban: a. tertib. Larangan: a. bersemangat dan bertanggung jawab.

h. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. 30 . mengkonsumsi.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. yang keanggotaannya terdiri dari: a. b. dan c. Memanfaatkan barang-barang. g. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. j. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. i. Membuat. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. k atau pihak lain. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. 31 . maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.3. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.9. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab.01/2007. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. dan jangan lakukan pada orang lain. bertindak secara adil. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. Menurut DR. yang dalam hal ini termasuk PNS. Sonny Keraf. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan Direktorat Jenderal Anggaran.01/2007. yaitu: prinsip profesionalisme. integritas moral yang tinggi. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.

Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3.9. LATIHAN 2 1. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 . Pegawai Negeri Sipil. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4.3. 5.

serta tidak diskriminatif. memberikan pelayanan secara cepat. adil dan merata.1. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. tidak diskriminatif. 4. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati.2. ikhlas. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. tepat. terbuka. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . hormat dan santun. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. adil. adil dan merata.4. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan pembangunan. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. sopan dan santun. pemerintahan. ramah.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. PNS Daerah. dan 3. • • PNS Pusat. 34 . Anggota Tentara Nasional Indonesia. dan pembangunan.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. adil. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. jujur. c) Untuk menjamin netralitas. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 2. pemerintahan. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Pegawai Negeri Sipil (PNS). dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. dan merata.

d. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. kolusi. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. dan nepotisme. sopan dan santun. dan merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. yaitu: a. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. 4. Kolusi. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. aparatur pemerintah. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. transparan. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. dan bebas korupsi. adil. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. 2. ikhlas. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.3. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara.b. 2. produktif. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Karena PNS 35 . ramah.

tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. e. serta tidak diskriminatif. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. 36 . tepat. ramah. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan adil. d. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.sebagai unsur aparatur negara. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. terbuka. tidak diskriminatif kepada masyarakat. c. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. sopan santun. ikhlas. b. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. dan tidak diskriminatif. tidak diskriminatif. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. hormat dan santun. adil dan merata.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah.

dan harapan masyarakat. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. Prinsip Pelayanan Publik a. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. 37 . Transparansi Bersifat terbuka. kebutuhan. agama. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. f. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. golongan. c. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. d. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. e. b.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. dan mudah dilaksanakan. ras. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. b. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. 2. mudah dipahami. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. gender. dan status ekonomi. Asas Pelayanan Publik a.

g. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. tempat ibadah. toilet. disediakan ruang tunggu yang nyaman. seperti parkir. e. Kesopanan. h. f. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). rapi. informatika. teratur. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. Kedisiplinan. mudah dijangkau oleh masyarakat. dan lainlain. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. ramah. bersih.c. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. dan sah. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. d. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . tepat. j. sopan dan santun. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. i. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja.

atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. sopan dan santun. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. dan Nepotisme.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. terbuka. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.PAN/7/2003. tidak diskriminatif. serta tidak diskriminatif. ramah. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. Kolusi. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. dan bebas Korupsi. Memberikan pelayanan dengan empati. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. bersih. Memberikan pelayanan produktif. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. hormat dan santun. transparan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. tepat. dan adil.

termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. bersikap. tanggung jawab. rasa malu. Etika meningkatkan kualitas PNS a. 40 .4. kemandirian. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. dan Negara. Negara. bersikap. b. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. amanah. dan berperilaku bagi negara. dan seluruh rakyat Indonesia. dan merata. bertaqwa. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. sportivitas. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. etos kerja.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. keteladanan. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. UUD 1945. pemerintah. disiplin. yaitu: a. Pemerintah. adil. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. UUD 1945. 4. dan Pemerintah. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. sikap toleransi. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama.

Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. dan bersatu padu. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. kompak. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. bermasyarakat.b. c. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Pegawai Negeri Sipil yang netral. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. terhadap diri sendiri. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. d. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. berorganisasi. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. f. g. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. e.

Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. vi. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. ii. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. bertanggung jawab. patuh. taat. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bekerja dengan jujur. kesadaran. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. v. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. dan tanggung jawab. viii. vii. ix. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. Negara dan Pemerintah. cermat. tertib. iii. Undang-Undang Dasar 1945. kekompakan. atau pihak lain. diri sendiri. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. iv. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. 42 . dan bersemangat untuk kepentingan negara. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya.

43 . xiii. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. sesama Pegawai Negeri Sipil. xvi. Pemerintah. xv. dan materiil. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. xi. xxv. xxvi. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. xii. xxii. Menyalahgunakan wewenang. xxi. xix. Bertindak dan bersikap tegas. xxiv. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. keuangan. yakni: i. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik.x. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. xvii. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Mentaati ketentuan jam kerja. ii. dan Pegawai Negeri Sipil. xx. xxiii. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. dan terhadap atasan. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. xviii. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. xiv. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan.

Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. dokumen. xii. xv. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. vi. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. menjual. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. golongan atau pihak lain xiv. membeli. xiii. Menyalahgunakan barang-barang. Memiliki. menggadaikan. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. kecuali untuk kepentingan jabatan. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. v. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. uang atau surat-surat berharga milik negara.iii. ix. golongan atau pihak lain. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . xi. teman sejawat. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. iv. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. vii. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. x. viii.

pimpinan. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bahwa saya. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. 45 . golongan atau pihak lain. Negara. akan bekerja dengan jujur. xvi. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. dan tanggung jawab. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. atau komisaris perusahaan swasta. xvii. dan Pemerintah. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. Bahwa saya. menjadi direksi. Bahwa saya. Bahwa saya. xviii. Pemerintah. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. Undang-Undang Dasar 1945. kesadaran. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. seseorang atau golongan. cermat. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. tertib.

dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. patuh dan setia kepada Pancasila. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. yaitu: 46 . Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4.3. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. taat. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. berorganisasi. rajin. dan lain-lain. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. UUD 1945.5. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. bermasyarakat. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. Negara. bersikap dan berperilaku baik. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. dan Pemerintah. 4.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. terhadap diri sendiri.

maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. 4. UUD 1945.M. Memberikan pelayanan secara cepat. adil. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. kompak dan bersatu padu. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. Memberikan pelayanan dengan empati. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. b. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. tepat. dan adil. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.6. profesional. hormat dan santun. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. netral. di samping bersikap dan berperilaku baik. dan Pemerintah. terbuka. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. berdisiplin.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS.a. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. serta tidak diskriminatif. Negara. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. memiliki kepekaan.

Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. Latihan 3 1. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 .7. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. serta tidak diskriminatif. 4. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. terbuka. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5.PAN/7/2003! 4.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. hormat dan santun. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. memberikan pelayanan secara cepat. dan adil.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007. tepat. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.

A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil.A B . 4. TES FORMATIF I.A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. B .A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. 9. B . 1.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. 8. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5.5. 7. B . 2. dan merata. 10. B . 49 . B . 6. 3.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. B . B . B . adil.A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. B .A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik.

II. Sanksi pidana dan perdata 3. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. 1. Memiliki daya juang yang tinggi 4. hormat dan santun. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. b. b. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. tingkah laku. Sanksi moral b. Dalam melaksanakan tugasnya b. Kolusi. sikap. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. d. c. adil. tidak diskriminatif d. dan . Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Nepotisme c. Memberikan pelayanan dengan empati.

Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. bila semua pernyataan benar 1. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. kerja sama. Kolusi. Profesional d. disiplin. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. netralitas. Memiliki kepedulian yang tinggi III. dan Nepotisme b. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . 2). dan 3) benar B. Bebas Korupsi. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. bila pernyataan 1). Transparan c.5.

3. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. watak. Menurut DR. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Kolusi. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. Sonny Keraf.

kompak. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.4) Produktif dan disiplin 7. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 .

9. C C A C D III. 2. 8. 7. 3. 4. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 5. 6. 2. 5. BENAR/SALAH 1. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. D B 6. PILIHAN BERGANDA 1.6. B A B B B A A A A 10. 4. 7. B A 54 . A II. 3. 2.

B D D 55 . 5. 9. 10. 4.3. B C D 8.

99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. Hitung jumlah jawaban yang benar.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.d. s. 100% s. 56 . s. maka disarankan mengulang materi.d.d.7.99 % 70.99 % 80. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. 90.

S. Winarty. 10.. SC. 8. terbitan Program Magister STIA-LAN. Sonny. Jakarta. Army. Etika Kepemimpinan Aparatur. 15. Tjiptoherjanto. S. 1993. Drs. 1 Maret 2003. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.. Jakarta. S. Kansil.H. Rooswiyanto.. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. 3.T. Etika Organisasi. 4.T. Sonny. 18. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN.Soc. Triguno. M. cetakan VIII. 2001. S.8.S. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. 2001. 9.H. Drs. Penerbit Erlangga..A. Dipl. Etika Organisasi Pemerintah.T. C. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah.. 6.. Pradya Paramita. Etika Suatu Pengantar.. Drs. Desi Fernanda. Jakarta. Prof. 2002. Drs.. 11.. Drs.G.. Hardijanto. LAN. DR. Lembaga Administrasi Negara..C. M. Etika Organisasi.M. Prijono. P. Soeharyo. Budaya Kerja dan Disiplin... 1985. 1990 16. Franz Magnis. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. Drs.. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 16 Juli 2003. 1984. Keraf. LAN. 13. A.T. A. Santiaji Pancasila. 17.A dan Sofia Ayu. 14.H. DAFTAR PUSTAKA 1. 5. Mr.P.. Suseno S.. Prajabatan III. Mardojo. Kuntjoro Purbopranoto. Drs. S.. Salamoen. 20 September 2002. Yogyakarta. Nyoman Dekker.. Jakarta. Keraf. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.... 1998. kumpulan karangan. 1 April 2002. Suseno S. Prof. 7. Tony. 2002. Mr.P.. Kansil. 2. Prof. Soeharyo. A. Balai Pustaka.W. Departemen Keuangan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Penerbit Kanisius. LLM.. Solomon.. Pradya Paramita. Prof ... M. DR. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. DR. Sulandra J.J. 12. S. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.H... Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. 16 Juli 2003.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. R. Drs. 57 ..H. Prof. penerbit Karunia Esa. Darmodihardjo Darji. Gering. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Pringgodigdo. M...J.. Pendidikan Pancasila.. 2005. Etika Dasar.Ed. Supriyadi. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. Jakarta. P.. C. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . 1 Maret 2003. Mei 2002. Prajabatan III..Ec. Salamoen. M. S.H.

6. 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 2. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. 9.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 4.01/2007. 17.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian.PERATURAN-PERATURAN: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. Kolusi. 19. 16. 13. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 58 . sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Pemindahan. 7. 18. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. 12. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 15.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 14. 3. 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. dan Nepotisme. 8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.

01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.20. 23. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 22. 21. 59 .