DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). Kolusi. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. . dan Nepotisme. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. kolusi. dan merata. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. maka diperlukan adanya etika birokrasi. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. adil. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. Oleh sebab itu. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. tidak ikhlas. Kemudian. dan diskriminatif. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya.

kaedah dasar moral. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). penyelenggaraan negara. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. profesional. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). nilai-nilai dasar. keberanian moral. dan pembangunan secara. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. teori-teori. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. prinsip. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. pelaksanaan etika. Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. b. jujur. serta tentang etos dan etiket. pemerintahan. dan tidak diskriminatif. adil. dan pembagian etika. merata. sebagai berikut: a. nilai moral). .Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

.............................6................. 2..........DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR . 2..4.......5. DAN ETIKET ................................... Asas-azas umum penyelenggaraan negara ...........................................3................... Deskripsi Singkat .2... 1.....6.............................................. Uraian dan Contoh ............... 5.... 4............... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ................. 4... 2.............................................. 3.................... 4. 1.................................................................................................... Ciri-ciri pokok birokrasi ................................................................................................................................. 4. Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ...............2................................................... 4..................1................ Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ............. 1..... Etiket ..... 4.................... 3...................9...... ETOS.................... PENDAHULUAN ....4 Rangkuman ... 2............... 2................ Pengertian tentang birokrasi ...............................................................1..... 4......... Etika ...................................2..... 3...............3 Perwujudan etika organisasi ........................ 2........3.............. 3................7..............1......... DAFTAR ISI ............................ 2...........3........................... Kb 1: ETIKA. Rangkuman ...... 2......................2..............5.......................................5 Latihan 2 ................................... Uraian dan contoh ..... Tugas birokrasi ............................... Rangkuman ..................... Tujuan Pembelajaran Khusus ....................................... Tujuan Pembelajaran Umum .................................. Etos...................................... 3.............. MORAL.... Pentingnya etika dalam organisasi ................................................ i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3......... Latihan 1 ........... ii .1. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN .......... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ....................................................................... 4.......................................................... 1.......................................... 4..................................... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ......................................................................................7........ Uraian dan contoh .................................. Latihan 3 ...........................................................................8............................................ 4...............4...........................................

.......... 8.................................................. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT . 7............. DAFTAR PUSTAKA ......................................... 39 40 41 iii ...............................................6.................... KUNCI TES FORMATIF ..........

azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. 1. kaedah dasar moral.2. ciri-ciri pokok birokrasi. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Menjelaskan pengertian tentang etika. dan etiket. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. serta terakhir tentang etos dan etiket. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. dan etiket. etos. dan etiket. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. dan pembagian etika. nilai moral. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. prinsip etika. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. tugas birokrasi. serta birokrasi organisasi pemerintah.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1.3. 1.1. etos. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. dan Etiket. keberanian moral. Etos. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. kesadaran moral. moral. azas-azas umum penyelenggaraan negara. moral. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. teori-teori etika. 1 . (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. etos. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. yang mencakup pengertian tentang Etika. cara mewujudkan etika birokrasi. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. moral. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Moral. PENDAHULUAN 1.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

Prinsip kebaikan bersifat universal. 5 . c. 3. saling berbuat baik. kebaikan yang diterima umum. dan lain-lain. ras. 2. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. adanya rasa kasih sayang antara sesama. ketentraman. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. saling bertenggang rasa. Jadi manusia harus diperlakukan sama. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. dan pola pikir yang beragam. R. tidak diskriminatif.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. tidak sama satu sama lain. berpenampilan menarik. Sebagai contoh. etnis. dalam Salomon. saling kasih-mengasihi. bekerja sama. misalnya: saling menghormati. suasana yang kondusif. sikap. kedamaian. berpenampilan indah. dan lain-lain. yaitu: 1. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. sayang sesama manusia. contoh. 2.

akan semakin besar tanggung jawabnya. Semakin besar kebebasan yang dimiliki.4. keadilan. persamaan. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Teori etika ini terdiri 6 . dan kebenaran bagi setiap orang. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. d. 6. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. kebaikan. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). kebebasan. apa yang baik untuk dirinya. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. 5. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. kritis. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik.dari: etika deontologi. sebagaimana 7 . artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. juga dianggap benar oleh orang lain. Immanuel Kant (1734-1804). Dengan demikian. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. etika teleologi dan etika keutamaan. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. bukan karena paksaan. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. dalam Sonny Keraf (2003). yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. Menurut etika deontologi.

ataupun orang lain. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. suatu tindakan dinilai buruk. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. karena suatu tindakan yang bernilai moral. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. diperlakukan secara sewenang-wenang. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. 2. yang berarti tujuan. Menurut etika deontologi. 8 . ditindas atau diperas demi kepentingan lain. orang lain. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. baik bagi siapa: diri sendiri. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. Sebaliknya. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. apabila bertujuan atau berakibat buruk.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. berarti kita memperalat diri kita demi uang. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. apakah diri kita sendiri. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Menurut Kant. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. 12 . lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). e. 1. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. teori-teori etika. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. Dengan kata lain. yaitu etika individual. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). 2. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). bagaimana manusia mengambil keputusan etis. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. dan semacamnya. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Dalam hal ini. dan etika lingkungan hidup. Maka. etika sosial.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan.

Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. masyarakat. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. 2006:34) 13 . yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. negara).a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia.

istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. 3. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. kebiasaan. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. tata cara hidup yang baik. 2. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. c. suatu hal yang bersifat rasional. a. yang berarti. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Secara harfiah. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. kebiasaan yang baik. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”).2. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. adat. a. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut.3. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika.

yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. d. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. mempunyai fungsi sebagai pedoman. petunjuk hidup. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. Dalam hubungan ini. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan.hakekatnya merupakan pedoman hidup. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. e. 15 . Nilai Moral Moral. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. dan sesudah perbuatan dilakukan. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. yaitu: kewajiban. norma hukum. yakni: keberanian moral. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. penuntun. 2. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. sebagaimana diuraikan sebelumnya. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. ada juga hal lain yang perlu dipahami. akibatnya tidak baik. dan larangan. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. yaitu: moral sebagai adat istiadat. sebagaimana yang diwajibkan. dan norma moral. kebiasaan yang baik. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. Di sisi lain.

kepercayaan. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. f. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. etos profesi. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis.3. 1993:120). positif atau negatif. dan sebagainya. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. kebebasan. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. b. dan petunjuk hidup). Etos kerja bisa kuat atau lemah. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. dan sebagainya.4. dan tanggung jawab. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Etos a. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. Apabila ada istilah etos kerja. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. Pemakaian kata etos sering kita dengar. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. alasan logis. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . 2. seperti: etos kerja. transparansi. seperti: disiplin. tradisi. seperti: rasional. dedikasi. integritas. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan etika. masyarakat. misalnya: malas. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. tanggungjawab. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. keputusan nalar.

nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. misalnya. dan sebagainya. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Sebaliknya. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. yaitu etiket. jangan mencuri. 2004:5). meskipun ada kaitannya. Etika (kebiasaan. Dalam hubungan ini. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. etiket makan. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. misalnya. jangan korupsi merupakan norma-norma moral.5. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. misalnya. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. Etiket tidak sama dengan etika. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. Pemakaian kata etiket. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. akhlak atau watak tertentu. Sebagai kata sifat. jangan berbohong. 2. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas.pekerjaannya. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 .

sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etos. etika teleologi. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. mencuri. Disamping pengertian tentang etika. yakni: etika deontologi. 2. tata cara hidup yang baik. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. serta pembagian etika. Sebaliknya. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. dan etiket. Secara harfiah. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. Sebaliknya. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. korupsi. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. Larangan-larangan korupsi. 18 . tetapi apabila saya makan sendiri. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket.6. tiga teori etika.dianggap melanggar etiket. moralitas. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. • Etiket bersifat relatif. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. menyontek. dan sebagainya. Misalnya. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. etika lebih bersifat universal. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. atau menyontek. dan etika keutamaan. Larangan-larangan untuk mencuri.

Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. transparansi. yakni: a. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. Dari pengertian ini. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. integritas. 2. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. sebaliknya. menurut Adler! 4. b. seperti: disiplin.7. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. LATIHAN 1 1. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. apabila ada istilah etos kerja. Sementara itu. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Berikan contoh! 19 . tanggung jawab. etiket lebih bersifat relatif. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. c. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Jelaskan prinsip-prinsip etika.Di sisi lain. dan keempat. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. etika. dedikasi. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. dan sebagainya. moral. dan etiket! 5. etos.

Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. sebagai berikut: a. 3. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs.1. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Tony Rooswiyanto. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . Dengan demikian. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. M.3. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. Sutopo. kesabaran. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. prinsip-prinsip organisasi. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. peraturan perundang-undangan. MSc (2005:27) dan Prof. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. Sondang Siagian (1996:11). etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. DR. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi.A: 1998).2. kejujuran. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. ketulusan.

pandangan hidup. 2. 4. sosial. yakni sebagai berikut: 1. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 2. 3. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. dan sosial.organisasi tersebut. 3. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. 21 . Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. di bidang agama. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. d. suku. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku.

2) Jujur. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. sebagai berikut. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. dan kebiasaan kelompoknya b. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. melaksanakan tugas dengan ikhlas. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. tidak korupsi. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. harapan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya.3. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu.3. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. menurut Suseno SJ. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. 22 . maka akan memberikan kesenangan. kegembiraan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. efisiensi.

Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. dia harus tegas.4) Bertanggung jawab. kerajinan. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. menuntut. keputusan diambil secara rasional. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). kejujuran/tidak korup. c. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. 1. Seperlunya dia harus mempelajarinya. harus mempunyai wibawa. kegesitan. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. tepat pada waktunya. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. Selalu. memahami secara garis besar maupun detil-detil. Secara konsisten. bersedia untuk berubah. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. 2. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. bersedia memandang jauh ke depan. kerapihan. 23 . sanggup mengenakan sanksi. tanpa kecuali. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. mau bekerja sama. kesederhanaan.

komunikatif. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. Dalam lingkungan yang positif. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. malas. Bagi orang yang berwatak kuat. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. adil. Seorang pemimpin yang jujur. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik.3. Semakin banyak orang 24 . 4. bebas dari pamrih. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. cakap. jujur. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. korup. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. dan bertanggung jawab. dan bertanggung jawab. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. d. mendorong orang tidak bersemangat. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. bersih. yaitu: 1. tegas. 5. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. 2. efisiensi.yang terkena erosi moral. kepemimpinan yang bermutu. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi.4. dan efektivitas kerja semua pegawai. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. akan memberikan kesenangan. Etika diharapkan menunjang kualitas. 25 . Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. dan syarat-syarat sistemik. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. kegembiraan. yaitu adanya etos kerja yang kuat. didukung moralitas pribadi pegawai. etos kelompok sudah merosot. 3. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. didukung lingkungan kerja yang kondusif. Menurut Franz Magnis Suseno SJ.

LATIHAN 2 1.3. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3.5. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. wewenang. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4.2. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. b. 4.4. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya.1. 27 . seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Uraian dan contoh 4. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber.3.

rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Dalam konteks negara Indonesia. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. 28 . dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. d. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). e. 4. f. sebagai berikut: a.4. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya.c. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak.

setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Oleh karena itu. dan efisien. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. dapat dipertanggungjawabkan. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. e. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. c. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. b. d. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . martabat manusia. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan kesamaan di hadapan hukum.

dan POLRI. Wakil Ketua.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Ketua. legislatif. yaitu: 30 . Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. dan Nepotisme. Direksi.5. Kolusi. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. atau yudikatif. Walikota dan Wakil Walikota. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Jaksa. dan biaya yang dikeluarkan. dan Anggota MPR. dan Anggota DPR. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. dan Nepotisme. Panitera Pengadilan. Penyidik. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. militer. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Pimpinan Bank Indonesia. Ketua. Kolusi. prosedur layanan. Ketua. 4. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Wakil Ketua. Ketua Muda. Wakil Ketua. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Ketua. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. maka ukuran lain adalah efisiensi.

menyelenggarakan tugas negara. 31 . dan selektif. g. keserasian. dan rahasia negara. b. menyelenggarakan tugas pemerintahan. Asas Kepastian Hukum. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. jujur. Asas Profesionalitas. e. Anggota POLRI. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. adil. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Asas Akuntabilitas. dan merata. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Asas Kepentingan Umum. Asas Keterbukaan. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. Asas Proporsionalitas. jujur. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). 4. akomodatif. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. f. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. d. kepatutan. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan.6.a. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. c.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

dan sebagainya. i.7. surat izin mengemudi. kenaikan pangkat. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. pendidikan. dan Kelompok Pelayanan Jasa. pengangkutan barang. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. Kelompok Pelayanan Barang. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. dan balita. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. listrik. pengawasan melekat.e. kenaikan gaji. lanjut usia. c. pensiun pegawai. b. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. bahan bakar minyak. wanita hamil. h. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. sertifikat tanah. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. akte perkawinan. g. k. dan pengawasan fungsional. di rumah sakit. 4. izin mendirikan bangunan. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. telepon. bahan bakar gas. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. j. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. pensiun janda/duda. kesehatan. f. dan sebagainya. perbankan. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. akte kematian. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. 33 . dan sebagainya.

34 . 2. Norma-norma moral. keharusan. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. dan norma moral. tidak korupsi. Dengan kata lain. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. kesabaran. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. kebaikan. kolusi. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. efisiensi. Nilai-nilai moral. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. jangan mencuri. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. dan nepotisme. menjunjung tinggi supremasi hukum. seperti antara lain: profesionalisme. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Dalam kegiatan belajar 1. kewajiban. ketertiban. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. dan lain-lain. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. menolong. keadilan. keikhlasan. efektivitas. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. dan sebagainya.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. biaya yang melebihi dari tarif resmi. kesamaan. transparansi. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. ramah-tamah. norma hukum. dan lain-lain. akuntabilitas. jangan meminta. kebenaran. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. seperti antara lain: kejujuran.

diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. keadilan. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. dan biaya pelayanan yang murah. keadilan sosial dan pemerataan. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. prinsip-prinsip. standar. kesamaan. mengusahakan kesejahteraan umum. dan lain-lain) serta asas-asas. yang disebut Pegawai Negeri. c. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. dinamika dan efisiensi. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. b. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. keikhlasan. 35 . efisiensi. yaitu: a. mewujudkan negara hukum. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. transparansi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. d. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. akuntabilitas. profesionalisme.8. f. e. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. 4. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam.

melaksanakan tugas pemerintahan. standar. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 .dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. transparansi. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat.9. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. dan lainlain). akuntabel. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. profesional. prinsip-prinsip. keikhlasan. keadilan. LATIHAN 3 1. dan melaksanakan tugas pembangunan. melaksanakan tugas negara. 4. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan pola pelayanan yang baik.

2. 2.6. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 3. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. B A A B B III. 3. D A B 39 . BENAR/SALAH 1. 5. 4.

99 % 80. s. maka disarankan mengulang materi. Hitung jumlah jawaban yang benar.d. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d. 40 . UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. 100% s. s. 90.d.99 % 70.7.

Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. LAN. Drs. Rajawali Pers.. Soeharyo. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon.H. Rooswiyanto. 2002.. Kumorotomo. M. Desi Fernanda. Departemen Keuangan. 15. Suseno S.Ed. Bertens. 1968.H. Jakarta.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Implementasi. 2001. cetakan VIII. Jakarta. 4. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .. “Etika” PT.A.. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 12. 20 September 2002. M.C.. Etika Suatu Pengantar. 2005. Bandung.. Prof. 5. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara.. Makalah. 1996. M. Siagian. penerbit Karunia Esa. A. Drs. Vol.. 8. 14. 1984. M. Pringgodigdo. 13. 8. Kuntjoro Purbopranoto. S. 1993.... Soeharyo.. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 9. 10. 4.. Handayani. S.. 16 Juli 2003.H. 7. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Departemen Keuangan. Dwijowijoto. Keraf. 2004. Jakarta. 2001. Etika dan Hukum Administrasi Publik.H.. 17.I. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. Jakarta: Balai Pustaka. Mr. 2005. Departemen Keuangan. Majalah Auditor.. Sulandra J.P. dan Zahar Angga Setiawan.. Juni-Agustus Tahun 2003. STIA LAN. DAFTAR PUSTAKA 1.G. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. 2000. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Myrdal. Darmodihardjo Darji. Materi Pokok. Riant Nugroho. “Kebijakan Publik : Formulasi. Salamoen. Prof. 2004. S. Prof. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.. DR. Mr. K. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Suseno S. R. dan Evaluasi” PT. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. 1985..P. S. A Sonny.8. Jakarta. Penerbit Erlangga.. Salamoen. 2.W. 6. Utomo. 2006. Jakarta. Drs. Mardojo. No. DR. 11. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. Jakarta. Jakarta. 41 . 3. Inspektorat Jenderal. Solomon.A dan Sofia Ayu. Prof. Elex Media Komputindo.J. Drs.J. Gramedia Pustaka Utama. Nyoman Dekker. 16. Puji.

Kolusi. 10. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Kolusi. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. PERATURAN-PERATURAN: 1. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 3.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 8. 4. 5. Zubair. Achmad Kharis. 13. 11.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Pengantar Kuliah Etika. 2. Tiara Wacana. Departemen Keuangan Republik Indonesia. dan Nepotisme. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. dan Nepotisme.18.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 42 . 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 12. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. 7. 1988. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...............10..........................4.. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ................. KUNCI TES FORMATIF .................... DAFTAR PUSTAKA .............1...6 Rangkuman .........................9.................. 8..........................................................................1 Uraian dan contoh ..3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ............................ 4...................5.... 2.... 4..... 7................................................................... 4............... 3......... 3............. Beberapa pengertian ............2................................................8................ 1...................... 3.. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN . i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2................................................................ Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ..................................6...... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2...7 Latihan 3 ... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ............ ......5...... Tujuan Pembelajaran Umum ........................ UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.......... Uraian dan contoh .... Uraian dan contoh ....6 Latihan 1 ...................................................... Penegakan kode etik PNS ..3.............. 3................................................ 3............. Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ....... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2.... 1...... 3......................................2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ................7.......... 6........ PENDAHULUAN .................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ......... 2..1.................................................... 2....... TES FORMATIF ................. Pelaksanaan etika PNS .............. 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5.................. 4........ 3.... Rangkuman ....................................... 2......................................... Etika meningkatkan kualitas PNS .................3...................................... Latihan 2 ...................................................... 3... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ............... 3................2............................ 1........................................5 Rangkuman ..............2..... 3.................. Kode etik instansi dan kode etik profesi ...................................... 4..1.................. 4....... Deskripsi singkat .....................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1............................... 4............................................................. Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ....................4..........4... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ............ 3.................... 4.

maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. memiliki kepekaan. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan merata. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. sikap. kompak. netral. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. adil. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. serta diskriminatif. Dalam kepemerintahan yang baik. dan bersatu padu. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. Negara. 1 . tidak hormat. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan.1. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. berdisiplin. dan Pemerintah. yaitu: PNS yang kuat. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. UUD 1945. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. profesional. tanggap. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. PENDAHULUAN 1. tidak ikhlas.

maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. bangsa. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. 2.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. dan negara. 1. 1. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. 3. peserta diklat dapat: 1. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 2 .3. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.2.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb).

8. 9. 6. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 10. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan.4.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. 5. 7. 3 .

Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. UUD 1945. tanggung jawab. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kebersamaan. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. kebersamaan. Negara. 4 . kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1.2. serta tidak diskriminatif. dedikasi. tujuan. setia dan taat kepada Pancasila.1. kreativitas. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. disiplin. kreativitas. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. dan Pemerintah. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya.2. tanggung jawab. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. disiplin. dedikasi. kerja sama. Beberapa pengertian a. kerja sama. adil dan merata. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps.

dan merata. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Pelanggaran kode etik PNS 5 . Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). c. tingkah laku dan perbuatan PNS. adil. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. pengabdian. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. pengabdian. a.a. d. tingkah laku. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS.

PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. b.3. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. b. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. c. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya. c. 6 . 1. Membina karakter/watak. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. kesadaran. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. b. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. c. d. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. dan perilaku yang baik dari PNS. bangsa. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.1. melalui kinerja. 7 . dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. sikap. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. bangsa. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. dan negara. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja.4. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. dan negara. adil dan merata. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. tidak diskriminatif. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. peningkatan kerja sama antara PNS. adil dan merata. tidak diskriminatif.

dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. b. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. 1. kreativitas. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. 8 . kebersamaan. tingkah laku. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. dedikasi. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tanggung jawab.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. disiplin. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. pengabdian.5. kerja sama. Membina karakter/watak.

kesadaran. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. 3. bangsa.c.6. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. 4. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. LATIHAN 1 1. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. dan negara. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 2.

melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. bermasyarakat. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. 4. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. dan Nepotisme. Kolusi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan pasal 28 UUD 1945. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. terhadap diri sendiri. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. adil dan merata. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1.2. berorganisasi. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. Menurut DR. 3. Pasal 5 ayat (2). Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a.1. pasal 27 ayat (1). Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). 10 . 3. dan terhadap sesama PNS. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.3. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3.

Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Semangat nasionalisme. 11 . Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. h. meliputi: a. f. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . i. Profesionalisme. 3. d. c. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.5. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. netralitas. g. b. e. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Semangat jiwa korps. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. b. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. dan bermoral tinggi. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS.3.

integritas moral yang tinggi. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. 3. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. 12 . negara. negara.4. Merupakan pedoman sikap. 3. tingkah laku. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. bertindak secara adil. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. yaitu: profesionalisme. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. dan pemerintah.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. dan jangan lakukan pada orang lain. Menurut DR. 2. bangsa. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. dan pemerintah. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. bangsa. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda.

yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. c.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. b. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. e. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. d. bangsa dan negara. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. dan nepotisme. kolusi. Bertindak secara adil 13 . jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok.

g. agar kepentingan semua pihak dijamin. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. Jangan lakukan pada orang lain. suku. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. yaitu. 14 . f. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. agama. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. jenis kelamin. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar.5. dalam berorganisasi. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. keluarga. abdi negara. dan seterusnya. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. dan abdi masyarakat. tanpa diskriminasi atas dasar ras. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. dalam penyelenggaraan pemerintahan.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. dalam bermasyarakat. 3. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari.

2. 8. 4. dan akurat. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 6. 7. terbuka. Memberikan pelayanan dengan empati. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. 9. 8. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 5. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. 15 .Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. 6. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. Mewujudkan pola hidup sederhana. Etika PNS dalam berorganisasi 1. Etika PNS dalam bernegara 1. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. jujur. 3. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. b. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. 7. Tanggap. 4. 3. 2. c. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. hormat dan santun. 5.

Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. berorganisasi. 5. d. Menghargai perbedaan pendapat. Berpenampilan sederhana. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. terhadap sesama PNS. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. 3. kelompok. 6. maupun golongan. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. dan adil serta tidak diskriminatif. 4. 5. rapih. 5. keterampilan. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. 2. 16 . tepat. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara.3. Memberikan pelayanan secara cepat. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. dan sopan. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. dan sikap. kemampuan. terbuka. 4. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Menghindari konflik kepentingan pribadi. 8. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. 6. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. Memiliki daya juang yang tinggi. terhadap diri sendiri. maupun antar instansi. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. e. 4. 7. 3. bermasyarakat. 7. 2. instansi. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya.

b. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. 3. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Sanksi moral. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan.6. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik.3. 4. 2. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. 2. c. Penegakan kode etik PNS a. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. 17 . Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1.

5. keputusan diambil dengan suara terbanyak. 6. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. 18 .

7. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. 2. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. kode etik pengacara. Kode etik adalah nilai-nilai moral. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. misalnya: kode etik kedokteran. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3.8. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. 2. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. kode etik PNS. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. kode etik notaris. b. yaitu: 1. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. 3. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. dan lain-lain. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan.3.

sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 6.organisasi profesi tersebut. 10. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. dan 20 . Pemindahan. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 7. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu.01/2007.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 2. 9. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 3. 8. c.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 5.

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. Untuk keperluan pembelajaran. Pada saat ini. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). pengorganisasian. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. sesuai perkembangan yang ada.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.01/2007. diminta agar menyesuaikan kembali. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya.01/2007 tersebut. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan.11. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Oleh karena itu. dari mulai perencanaan.

Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Dalam hal ini.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Sebagaimana diketahui. d. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Departemen Keuangan. Meningkatkan disiplin pegawai. b. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. e. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. larangan. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. c.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Menjamin terpeliharanya tata tertib. 22 . tingkah laku. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.

Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. sesama pegawai. c. b. Bersikap. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. Menghormati agama. e. h. d. budaya. i. yang menyebabkan pegawai yang menerima. b. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. dari wajib pajak. f. sesama pegawai. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. berpenampilan. e. Bekerja secara profesional. g. transparan. dan adat istiadat orang lain. baik langsung maupun tidak langsung. c. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. 23 . Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. dan bertutur kata secara sopan. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Menyalahgunakan fasilitas kantor. dan akuntabel. d. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. kepercayaan. f. atau pihak lain. Mentaati perintah kedinasan. yakni sebagai berikut: a.

dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. tingkah laku. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. tulisan. 24 . h. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. dan perbuatan pegawai. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dari sisi ini. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan.g. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai.

Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. baik langsung maupun tidak langsung. Menaati perintah kedinasan. b. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. kepercayaan. budaya. Menaati dan mematuhi segala aturan. c. b. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. d. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. 25 . Meningkatkan citra dan kinerja PNS. c. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menghormati agama. dan e. d. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

hadiah. c. i. g. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. kerusakan. dan bertutur kata secara sopan dan santun. g. f. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. b. d.e. f. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. berpenampilan. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. dan sinergis antar pegawai. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. Menerima pemberian. e. h. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Bersikap. harmonis. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik.

Segala bentuk ucapan. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. perilaku. tulisan. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 .2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 30 Tahun 1980. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sikap.

hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 28 .

Mentaati ketentuan jam kerja. Larangan: a. j. b. Bekerja dengan jujur. g. bersemangat dan bertanggung jawab. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. d. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. tertib. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Berpakaian rapi dan sopan. d. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran.Kewajiban: a. h. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). c. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. f. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. cermat. e. f. i. e. Melakukan perbuatan korupsi. b. kolusi dan nepotisme. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. c. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing.

Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. j. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. yang keanggotaannya terdiri dari: a. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. 30 . k atau pihak lain. mengkonsumsi. Memanfaatkan barang-barang. h. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. dan c. i.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. Membuat. b. g. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.

Sonny Keraf. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. yaitu: prinsip profesionalisme.9. 31 . ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. bertindak secara adil. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan jangan lakukan pada orang lain. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. integritas moral yang tinggi. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM.01/2007. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. dan Direktorat Jenderal Anggaran. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. Menurut DR. yang dalam hal ini termasuk PNS.3.01/2007.

5. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. LATIHAN 2 1.3.9. Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .

dan pembangunan. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. ramah. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. adil dan merata. adil dan merata. 4.4. serta tidak diskriminatif. terbuka. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. pemerintahan. tepat.2. tidak diskriminatif. adil. hormat dan santun.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. memberikan pelayanan secara cepat. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. ikhlas. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati.1. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. sopan dan santun. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

adil. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PNS Daerah. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. c) Untuk menjamin netralitas. 34 . • • PNS Pusat. pemerintahan. dan 3. Anggota Tentara Nasional Indonesia. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 2. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. dan merata. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan pembangunan. Pegawai Negeri Sipil (PNS). jujur.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

yaitu: a.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. produktif.b. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. d.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. aparatur pemerintah. ikhlas. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. transparan. 2. kolusi. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. 2. Karena PNS 35 . adil. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan nepotisme. ramah. Kolusi. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. sopan dan santun. dan merata. dan bebas korupsi. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. 4.3.

hormat dan santun. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. c. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. adil dan merata. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat.sebagai unsur aparatur negara. serta tidak diskriminatif. b. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. e. sopan santun. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan adil. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. ikhlas. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. d. dan tidak diskriminatif. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. merata. tepat. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. tidak diskriminatif kepada masyarakat.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. ramah. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. 36 . Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. tidak diskriminatif. terbuka.

dan harapan masyarakat. 2. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. kebutuhan. dan status ekonomi. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. dan mudah dilaksanakan. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. f. b.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. c. Prinsip Pelayanan Publik a. agama. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. d. e. golongan. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. Transparansi Bersifat terbuka. Asas Pelayanan Publik a. ras. gender. 37 . b. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. mudah dipahami. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi.

lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. Kedisiplinan. ramah. toilet. bersih.c. h. dan sah. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . e. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. teratur. informatika. sopan dan santun. j. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. seperti parkir. disediakan ruang tunggu yang nyaman. d. tepat. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. mudah dijangkau oleh masyarakat. Kesopanan. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. dan lainlain. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. f. i. rapi. tempat ibadah. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. g.

Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. dan bebas Korupsi. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . tepat. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. hormat dan santun. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Memberikan pelayanan dengan empati. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. serta tidak diskriminatif. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. tidak diskriminatif. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. sopan dan santun. Memberikan pelayanan produktif. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.PAN/7/2003. ramah. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. bersih. transparan. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. dan adil. dan Nepotisme.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. terbuka. Kolusi. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin.

Etika meningkatkan kualitas PNS a. Negara. keteladanan. Pemerintah. bertaqwa. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. dan seluruh rakyat Indonesia. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. sportivitas. dan berperilaku bagi negara. yaitu: a. disiplin. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. 4. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. amanah. bersikap. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. rasa malu. UUD 1945. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. kemandirian. etos kerja. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. b. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. dan Negara. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman.4. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. dan merata. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. bersikap.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. sikap toleransi. adil. pemerintah. 40 . Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. tanggung jawab. UUD 1945. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. dan Pemerintah.

Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . Pegawai Negeri Sipil yang netral. dan bersatu padu. kompak. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. terhadap diri sendiri. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. berorganisasi. bermasyarakat. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. g. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. d. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. c. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. c. f.b. e. tanggap dalam melaksanakan tugasnya.

atau pihak lain. taat. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. iv. Bekerja dengan jujur. vi. cermat. kesadaran. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. diri sendiri. kekompakan. vii. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. bertanggung jawab. tertib. ix. 42 . Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Undang-Undang Dasar 1945. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. dan tanggung jawab. patuh.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. dan bersemangat untuk kepentingan negara. v. ii. Negara dan Pemerintah. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. iii. viii. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian.

Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. xviii. xix. dan materiil. xvi. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. xxv. xiii. xiv. Menyalahgunakan wewenang. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. 43 . Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Mentaati ketentuan jam kerja.x. xxii. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xvii. xx. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. xxi. Bertindak dan bersikap tegas. xxiii. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. dan Pegawai Negeri Sipil. sesama Pegawai Negeri Sipil. dan terhadap atasan. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. yakni: i. xxiv. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. xi. Pemerintah. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. keuangan. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xxvi. xii. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. xv. ii.

iv. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. v. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. menggadaikan. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. xiii. xi. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. x. vii. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . teman sejawat. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. golongan atau pihak lain. viii. ix. xv. vi. uang atau surat-surat berharga milik negara. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. kecuali untuk kepentingan jabatan. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. menjual. golongan atau pihak lain xiv. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. Memiliki. membeli. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi.iii. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. dokumen. xii. Menyalahgunakan barang-barang. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah.

akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. xvii. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. seseorang atau golongan. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. kesadaran. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. akan bekerja dengan jujur. Bahwa saya. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. Bahwa saya. dan Pemerintah. xviii. dan tanggung jawab. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. Bahwa saya. Undang-Undang Dasar 1945. tertib. cermat. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Pemerintah. golongan atau pihak lain. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. atau komisaris perusahaan swasta. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. menjadi direksi. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. pimpinan. xvi. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. Negara. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Bahwa saya. 45 .

Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. Negara. bermasyarakat. 4. UUD 1945. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. dan lain-lain.5. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. bersikap dan berperilaku baik. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. rajin. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. berorganisasi. taat. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. dan Pemerintah. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya.3. terhadap diri sendiri. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. patuh dan setia kepada Pancasila. yaitu: 46 .

Memberikan pelayanan secara cepat. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . memiliki kepekaan. terbuka. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. profesional. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. b.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.6. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS.M. UUD 1945.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Memberikan pelayanan dengan empati. adil. di samping bersikap dan berperilaku baik. hormat dan santun. 4. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. netral. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. tepat. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. dan Pemerintah. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas.a. Negara. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. berdisiplin. serta tidak diskriminatif. dan adil. kompak dan bersatu padu.

4. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya.PAN/7/2003! 4. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku.7. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. terbuka. hormat dan santun. Latihan 3 1. serta tidak diskriminatif. dan adil. tepat.01/2007. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. memberikan pelayanan secara cepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.

A B . B . dan merata.5. 6. 49 . 8. 3. 10. 4. 2. B . merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. 1.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. 9. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. B . TES FORMATIF I. 7.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. B . B . B . B . adil.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik.A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. B .

1. sikap. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Kolusi. Memiliki daya juang yang tinggi 4. tingkah laku. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. adil. c. Dalam melaksanakan tugasnya b. b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. b. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. tidak diskriminatif d. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Sanksi moral b. Memberikan pelayanan dengan empati. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. dan . Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. hormat dan santun.II. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Nepotisme c. Sanksi pidana dan perdata 3.

Transparan c. bila pernyataan 1). Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. bila semua pernyataan benar 1.5. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. netralitas. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Bebas Korupsi. Kolusi. dan 3) benar B. Memiliki kepedulian yang tinggi III. kerja sama. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. dan Nepotisme b. Profesional d. 2). bila pernyataan 2) dan 4) benar D. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. disiplin.

Kolusi.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. watak. Sonny Keraf.3. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Menurut DR. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4.

4) Produktif dan disiplin 7. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat. kompak. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8.PAN/7/2003. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9.

5. A II. 7. B A 54 . 7.6. PILIHAN BERGANDA 1. 6. 8. 2. 4. D B 6. 9. BENAR/SALAH 1. B A B B B A A A A 10. 3. 3. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 2. C C A C D III. 4. 5. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2.

9.3. B C D 8. 5. 4. 10. B D D 55 .

90.7.d. 100% s. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. s.d.d.d. 56 .99 % 70.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). Hitung jumlah jawaban yang benar. maka disarankan mengulang materi.99 % 80.

Etika Kepemimpinan Aparatur. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sonny. Prof.T. Winarty. Keraf. 17. Yogyakarta..Ed. DR. Nyoman Dekker. Prof. S.Soc. Etika Organisasi Pemerintah.Ec. M.. M. Salamoen. 10.H. terbitan Program Magister STIA-LAN. P.S. Drs.. DAFTAR PUSTAKA 1. Soeharyo. 12. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I. Kansil. Kuntjoro Purbopranoto. Suseno S. Pradya Paramita.H.. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. Jakarta. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 1990 16.. LLM. Suseno S.. penerbit Karunia Esa. 5.T.T. Hardijanto. Etika Organisasi. C. 2001. Tjiptoherjanto. 1 Maret 2003. SC.. S. 57 . Mardojo. A.J. Budaya Kerja dan Disiplin.M. Gering. Balai Pustaka. S. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.S. Departemen Keuangan.... 11. S. 1985. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. cetakan VIII. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Keraf.A dan Sofia Ayu. 2.C. P. 1993. Salamoen. 16 Juli 2003. S. 1984. Mr. Pringgodigdo. Drs. Prof. Prijono. Drs. Etika Organisasi. Drs. Tony. Etika Suatu Pengantar. Franz Magnis. Drs. S. Jakarta. Prajabatan III.. 13. Prof . M. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .. Jakarta. Darmodihardjo Darji. Triguno. Soeharyo. A. Jakarta. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. 18.H. Sulandra J..A. 4.H. 14. Prof..... Pradya Paramita. LAN. DR.G. A.. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Sonny. 2001.T. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. 15. DR.8.P.. Drs...H. Lembaga Administrasi Negara. Drs. Penerbit Kanisius. Mei 2002. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. Rooswiyanto. Dipl. Kansil.W. Santiaji Pancasila. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. Mr. Pendidikan Pancasila. Penerbit Erlangga. Etika Dasar. Desi Fernanda.. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. 6. Kamus Besar Bahasa Indonesia.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Drs. Solomon.. 2002. 2002. M.. 16 Juli 2003. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan.. Supriyadi. 20 September 2002.. R.P.J. M.. kumpulan karangan. Army. 3. 1 April 2002. 9. 8. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. 2005. 7.. C.... LAN. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.H.. 1 Maret 2003. Jakarta.. Prajabatan III. 1998....

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 18. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. 10.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 12.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. 5. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 15. 19. 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 58 . 6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. 14. Pemindahan. 17. 13. 8. 11. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.PERATURAN-PERATURAN: 1.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. dan Nepotisme.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. 2. 3. 4. 7.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kolusi. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.01/2007.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.20. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 23.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 59 .01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 21. 22.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful