P. 1
39019178-etika-birokrasi

39019178-etika-birokrasi

|Views: 64|Likes:
Published by Wawan Bradeswara

More info:

Published by: Wawan Bradeswara on Jan 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2013

pdf

text

original

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. tidak ikhlas. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan Nepotisme. . cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. maka diperlukan adanya etika birokrasi. Kemudian. Kolusi. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. dan merata. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan diskriminatif. Oleh sebab itu. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. kolusi. adil. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik).Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.

dan pembangunan secara. pelaksanaan etika. sebagai berikut: a. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). penyelenggaraan negara. dan pembagian etika. pemerintahan. kaedah dasar moral. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. prinsip. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. keberanian moral. profesional. nilai moral). termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. .Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. jujur. merata. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. b. Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. dan tidak diskriminatif. teori-teori. serta tentang etos dan etiket. adil. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. nilai-nilai dasar.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

.. 2.................. Latihan 3 ........................4............ Latihan 1 ................................ Tujuan Pembelajaran Khusus ............. 4.......5........ Tujuan Pembelajaran Umum .........................................................................................3........................... Deskripsi Singkat ......... Etos......................... 3............................................... 2......5 Latihan 2 ........ 4.. 2............ Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ....................................3 Perwujudan etika organisasi ................1.... Pentingnya etika dalam organisasi ................... DAFTAR ISI ................................................. 3... PENDAHULUAN ..................................... 5................................2...2................................................6....... Rangkuman ................ 4...... 2......... 4............. Ciri-ciri pokok birokrasi ........ Pengertian tentang birokrasi ..................................... 3.............................................................................. 1................ 1............ Uraian dan Contoh ........................3...................... 4............ 4................................................ 4................................... ETOS........................ 4......................... 4...........................................9. MORAL..................................................................1........ Tugas birokrasi .........................1....................... 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ...... 2......................................... 2........................................ Etiket ................................... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ................................. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN .......................................DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR ......................6.. 2..... Etika ........4..................3........................ Uraian dan contoh ......... Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ..........................7...... 1.2.........................8..................................................... 3................. 3.........1.............................................................................................................. i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3.............................7......... 2................................................................. Kb 1: ETIKA..5............ Rangkuman ......................4 Rangkuman ..................... DAN ETIKET .......................... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ........... 4................ Asas-azas umum penyelenggaraan negara ................ ii ................. Uraian dan contoh .....................2......... 1........................

................................ 7....... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ..6........................ 8................ 39 40 41 iii . DAFTAR PUSTAKA ............ KUNCI TES FORMATIF ..................................................................................................

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. moral. keberanian moral.2. PENDAHULUAN 1. 1. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. serta birokrasi organisasi pemerintah. cara mewujudkan etika birokrasi. dan etiket. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. tugas birokrasi. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. dan pembagian etika. teori-teori etika. etos. etos. yang mencakup pengertian tentang Etika. kesadaran moral. dan etiket. 1 . dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. Moral. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. moral. dan Etiket.3. prinsip etika.1. Menjelaskan pengertian tentang etika. dan etiket. Etos. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. etos. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. serta terakhir tentang etos dan etiket. azas-azas umum penyelenggaraan negara. moral. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. ciri-ciri pokok birokrasi. 1. nilai moral. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. kaedah dasar moral. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

dalam Salomon. saling bertenggang rasa. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. suasana yang kondusif. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. dan pola pikir yang beragam. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. tidak sama satu sama lain. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. R. sayang sesama manusia. kedamaian. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. Prinsip kebaikan bersifat universal. ras. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. tidak diskriminatif. dan lain-lain. 3. misalnya: saling menghormati. etnis. contoh. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. kebaikan yang diterima umum. Sebagai contoh. 5 . 2. berpenampilan menarik. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. saling kasih-mengasihi. saling berbuat baik. dan lain-lain.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. adanya rasa kasih sayang antara sesama. Jadi manusia harus diperlakukan sama. c. bekerja sama. ketentraman. berpenampilan indah. yaitu: 1. 2. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. sikap.

yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. dan kebenaran bagi setiap orang. persamaan. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya.4. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). d. kebebasan. akan semakin besar tanggung jawabnya. apa yang baik untuk dirinya. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. kebaikan. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. Teori etika ini terdiri 6 . keadilan. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. 5. 6. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut.

etika teleologi dan etika keutamaan. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. bukan karena paksaan. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Immanuel Kant (1734-1804). suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. sebagaimana 7 . Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar.dari: etika deontologi. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. juga dianggap benar oleh orang lain. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. Dengan demikian. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. dalam Sonny Keraf (2003). Menurut etika deontologi. kritis. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral.

2. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. apakah diri kita sendiri. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. orang lain. karena suatu tindakan yang bernilai moral. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. baik bagi siapa: diri sendiri. yang berarti tujuan. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. suatu tindakan dinilai buruk. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Menurut Kant. diperlakukan secara sewenang-wenang. Sebaliknya. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. 8 . ditindas atau diperas demi kepentingan lain. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. berarti kita memperalat diri kita demi uang. apabila bertujuan atau berakibat buruk. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. Menurut etika deontologi. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. ataupun orang lain. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

Maka. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. Dalam hal ini. 1. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. teori-teori etika. yaitu etika individual.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. dan etika lingkungan hidup. e. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. dan semacamnya. Dengan kata lain. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). 12 . 2. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. etika sosial. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). yaitu Etika Umum dan Etika Khusus.

yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. masyarakat. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. negara).a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. 2006:34) 13 . Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia.

Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. 2. yang berarti. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. adat. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. tata cara hidup yang baik.2. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. a. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. 3. Secara harfiah. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. kebiasaan yang baik. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. c. kebiasaan. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan.3. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . a. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. suatu hal yang bersifat rasional.

tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. akibatnya tidak baik.hakekatnya merupakan pedoman hidup. yaitu: kewajiban. sebagaimana yang diwajibkan. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. Nilai Moral Moral. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. penuntun. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. e. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. sebagaimana diuraikan sebelumnya. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. Dalam hubungan ini. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. Di sisi lain. d. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. norma hukum. yaitu: moral sebagai adat istiadat. ada juga hal lain yang perlu dipahami. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. dan sesudah perbuatan dilakukan. petunjuk hidup. 2. dan larangan. mempunyai fungsi sebagai pedoman. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. 15 . dan norma moral. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. yakni: keberanian moral. kebiasaan yang baik.

misalnya: malas. 1993:120). Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. integritas. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Berbeda dengan etika. 2. keputusan nalar. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. Pemakaian kata etos sering kita dengar. seperti: disiplin. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. Etos kerja bisa kuat atau lemah. tanggungjawab. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. seperti: rasional. alasan logis. dan petunjuk hidup). bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. seperti: etos kerja. Perbedaan Moral dengan Etika Moral.3. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. kebebasan. tradisi. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. transparansi. dan sebagainya. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. kepercayaan. etos profesi. masyarakat. dan tanggung jawab.4. dan sebagainya. f. Apabila ada istilah etos kerja. b. positif atau negatif. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. Etos a. dedikasi.

dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. akhlak atau watak tertentu. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. jangan mencuri. Sebaliknya. misalnya. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika.pekerjaannya. meskipun ada kaitannya. jangan berbohong.5. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. Sebagai kata sifat. dan sebagainya. Etika (kebiasaan. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. misalnya. yaitu etiket. Dalam hubungan ini. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. 2004:5). etiket makan. Etiket tidak sama dengan etika. misalnya. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. 2. Pemakaian kata etiket. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia.

korupsi.dianggap melanggar etiket. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. Sebaliknya. Secara harfiah. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. • Etiket bersifat relatif. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. dan etiket. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. Sebaliknya. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. mencuri. Disamping pengertian tentang etika. tata cara hidup yang baik. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. dan sebagainya. Misalnya. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. serta pembagian etika. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. menyontek. yakni: etika deontologi. etos. dan etika keutamaan. 18 .6. tiga teori etika. etika lebih bersifat universal. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). etika teleologi. Larangan-larangan untuk mencuri. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. 2. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. atau menyontek. moralitas. Larangan-larangan korupsi. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. tetapi apabila saya makan sendiri.

LATIHAN 1 1. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. transparansi. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. Jelaskan prinsip-prinsip etika. b. dedikasi. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. etika. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. sebaliknya. menurut Adler! 4. 2. seperti: disiplin. moral. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. c. dan sebagainya. tanggung jawab. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. Sementara itu. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. dan etiket! 5.Di sisi lain. yakni: a. Dari pengertian ini. integritas.7. etos. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. apabila ada istilah etos kerja. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. dan keempat. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. Berikan contoh! 19 . sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. etiket lebih bersifat relatif.

Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. ketulusan. sebagai berikut: a. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. prinsip-prinsip organisasi. Tony Rooswiyanto. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan.2. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Sondang Siagian (1996:11). Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . M. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi.3. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. MSc (2005:27) dan Prof.A: 1998). peraturan perundang-undangan. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. 3. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. DR. kejujuran.1. Dengan demikian. kesabaran. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. Sutopo.

Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. suku. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 3. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. di bidang agama. yakni sebagai berikut: 1. 2. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. pandangan hidup. dan sosial. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. sosial. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. d. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan.organisasi tersebut. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. 3. 21 . dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. 2. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. 4.

Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. 22 . Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. sebagai berikut.3. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. menurut Suseno SJ. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya.3. tidak korupsi. maka akan memberikan kesenangan. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. harapan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. kegembiraan. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. efisiensi. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. melaksanakan tugas dengan ikhlas. 2) Jujur. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. dan kebiasaan kelompoknya b.

harus mempunyai wibawa. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. kesederhanaan. 2. sanggup mengenakan sanksi. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. kerapihan. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. Selalu. menuntut. memahami secara garis besar maupun detil-detil. kejujuran/tidak korup. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. 23 . tanpa kecuali.4) Bertanggung jawab. Seperlunya dia harus mempelajarinya. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. bersedia memandang jauh ke depan. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. kegesitan. c. kerajinan. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. mau bekerja sama. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. keputusan diambil secara rasional. Secara konsisten. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. bersedia untuk berubah. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). 1. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. dia harus tegas. tepat pada waktunya.

Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. komunikatif. cakap. korup. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. jujur. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. adil. Dalam lingkungan yang positif. dan bertanggung jawab. dan bertanggung jawab. bersih. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. Semakin banyak orang 24 . 4.3. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. bebas dari pamrih. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. yaitu: 1. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. mendorong orang tidak bersemangat. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. Bagi orang yang berwatak kuat. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. malas. d. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Seorang pemimpin yang jujur. tegas. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. 5.

baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. Etika diharapkan menunjang kualitas. didukung moralitas pribadi pegawai. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. 2. didukung lingkungan kerja yang kondusif. efisiensi. kegembiraan. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. etos kelompok sudah merosot. 3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya.4. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. dan efektivitas kerja semua pegawai. kepemimpinan yang bermutu.yang terkena erosi moral. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. dan syarat-syarat sistemik. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. 25 . RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. akan memberikan kesenangan. yaitu adanya etos kerja yang kuat. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi.

Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4.3. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2.5. LATIHAN 2 1. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.4. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. b. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. Uraian dan contoh 4. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat.1. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. 4. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. 27 . Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi.3. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. wewenang. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat.2. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat.

4. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Dalam konteks negara Indonesia. sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. 28 . banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. f. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi.c. 4. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. sebagai berikut: a. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. d. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). e. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi.

hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. b. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. e. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. d. martabat manusia. c. dan efisien. dan kesamaan di hadapan hukum. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan.

Kolusi. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. Komisaris pada BUMN dan BUMD. atau yudikatif. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dan POLRI. dan Nepotisme. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Jaksa. dan Anggota DPR. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Direksi. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Wakil Ketua. prosedur layanan. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. Ketua. Ketua. Panitera Pengadilan. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Ketua. militer. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. legislatif. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Penyidik. Kolusi. dan Nepotisme. Pimpinan Bank Indonesia. Ketua Muda. yaitu: 30 .5. 4. Wakil Ketua. maka ukuran lain adalah efisiensi. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. dan biaya yang dikeluarkan. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. Ketua. Walikota dan Wakil Walikota. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. dan Anggota MPR. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Wakil Ketua.

6. Asas Kepastian Hukum. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. menyelenggarakan tugas negara. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. Asas Keterbukaan. Anggota POLRI. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Asas Kepentingan Umum. b. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. jujur. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. jujur. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. keserasian. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. Asas Akuntabilitas. dan merata. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). akomodatif. kepatutan. adil. Asas Profesionalitas. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. g. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. dan rahasia negara. dan selektif.a. f. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. d. menyelenggarakan tugas pemerintahan. 31 . c. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Asas Proporsionalitas. e. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. 4. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

pengawasan melekat. dan pengawasan fungsional. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. b. c. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. perbankan. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. 4. j. dan sebagainya. h. telepon. listrik. k. dan sebagainya. kenaikan pangkat. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. bahan bakar gas. bahan bakar minyak. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. i.7. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. pengangkutan barang. g. kesehatan. pensiun janda/duda. akte perkawinan. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. pensiun pegawai. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. izin mendirikan bangunan. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. dan balita. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. lanjut usia. 33 . wanita hamil. dan Kelompok Pelayanan Jasa. kenaikan gaji. pendidikan. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. sertifikat tanah. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. f. di rumah sakit. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. akte kematian. Kelompok Pelayanan Barang. dan sebagainya.e. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. surat izin mengemudi.

menjunjung tinggi supremasi hukum. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. jangan mencuri. tidak korupsi. keharusan. kesamaan. akuntabilitas. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). keikhlasan. norma hukum. menolong. jangan meminta. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. dan lain-lain. dan lain-lain. kebaikan. dan norma moral. kebenaran. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. ketertiban. dan nepotisme. kolusi. transparansi. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dengan kata lain. seperti antara lain: profesionalisme. kewajiban. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. dan sebagainya. keadilan. efektivitas. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. Dalam kegiatan belajar 1. Norma-norma moral. biaya yang melebihi dari tarif resmi. ramah-tamah. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. 34 . pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Nilai-nilai moral. seperti antara lain: kejujuran. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. kesabaran. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. efisiensi. 2. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat.

c. 35 . prinsip-prinsip. f. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. keadilan sosial dan pemerataan. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. yaitu: a. dinamika dan efisiensi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. transparansi. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. dan biaya pelayanan yang murah. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. keikhlasan. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. yang disebut Pegawai Negeri. efisiensi. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. profesionalisme. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. d. mewujudkan negara hukum. mengusahakan kesejahteraan umum. dan lain-lain) serta asas-asas. e. b. keadilan. kesamaan.8. 4. standar. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. akuntabilitas. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar.

keikhlasan. prinsip-prinsip. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. melaksanakan tugas negara. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. standar. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. transparansi. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. dan pola pelayanan yang baik. dan lainlain). Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. melaksanakan tugas pemerintahan.9. 4. akuntabel. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. dan melaksanakan tugas pembangunan. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. profesional. LATIHAN 3 1. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. keadilan.

3. 2. 3. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 2. 5. BENAR/SALAH 1.6. B A A B B III. D A B 39 . 4.

99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).7.d. s. 90.d.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. 100% s. Hitung jumlah jawaban yang benar. 40 . UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.99 % 70.d. maka disarankan mengulang materi.99 % 80. s.

DAFTAR PUSTAKA 1. 1984. A. S. Salamoen. Suseno S. 16 Juli 2003. 20 September 2002. Utomo. Departemen Keuangan. 15. STIA LAN. 9. Darmodihardjo Darji. 11. Pringgodigdo. Desi Fernanda. 8. dan Zahar Angga Setiawan. Departemen Keuangan. 16. Inspektorat Jenderal. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Jakarta. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Bandung. Siagian. 1968. Drs. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Nyoman Dekker.. Drs. Juni-Agustus Tahun 2003. Mr... S. K. 2001.. Suseno S. M. 17.I... Prof. Departemen Keuangan..J. Elex Media Komputindo.W. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. LAN. 2001. 2005. 1985. Bertens. Prof. 5. 2004. R.. M. Solomon.. 2002.. Jakarta. 4.. Majalah Auditor.. 8. 1993. Kuntjoro Purbopranoto. Soeharyo. 1996. S. Keraf.. Salamoen. Vol. Jakarta. “Etika” PT. 7.. Rajawali Pers. Jakarta: Balai Pustaka.H.. 2005. Jakarta.. cetakan VIII.A dan Sofia Ayu. Drs. 2000. 12. Etika Suatu Pengantar. penerbit Karunia Esa. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . “Kebijakan Publik : Formulasi. Prof. DR.8. Dwijowijoto.. A Sonny. Materi Pokok. Mr.G..P. Makalah. 2004. DR. No. Soeharyo. Puji. dan Evaluasi” PT.Ed. 14. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. Drs. S. Kumorotomo. Riant Nugroho.C.H.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. 13. Implementasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.J. 2006. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Myrdal.. Etika dan Hukum Administrasi Publik. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. Handayani. 3. Jakarta. 4.H. Mardojo. 2. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Rooswiyanto.A. 10. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. Sulandra J. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 6. 41 . Penerbit Erlangga.P. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. Prof. M. M. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk.H. Jakarta..

Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Kolusi. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. 3. Tiara Wacana. Zubair. 7.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 42 .PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. dan Nepotisme. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 13. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. 1988.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Pengantar Kuliah Etika. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Achmad Kharis. 5. 4.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 8. 6. Departemen Keuangan Republik Indonesia. 11. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. dan Nepotisme. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. PERATURAN-PERATURAN: 1. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK.01/2007. 10. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. 2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.18. 12.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

......... ........ 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5.......................... Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil .9............DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1.........................4... 3......... 2.......1 Uraian dan contoh ......6 Latihan 1 ........... Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN .............................................. Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ...........3............. Rangkuman ..................... 4............. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ...... PENDAHULUAN .....5...4.......... 4.. 3.....6.. Etika meningkatkan kualitas PNS ..............4..................................1.... Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ....8.............................. Penegakan kode etik PNS ........ 3................................................. 7..................... Uraian dan contoh ................................................................. 4....... KUNCI TES FORMATIF .............................................................. 8............................ 4.. 4.......... 3.......................... 1.........1............. 4.2.. Tujuan Pembelajaran Umum ..2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi .............2......... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2........ Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ............................................................3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan ...... DAFTAR PUSTAKA .................................. 3........................................................................................6 Rangkuman ........ 2.....................................................3 Tujuan Pembelajaran Khusus . Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ......................... Deskripsi singkat ....................................2................................10..................................... TES FORMATIF ......................... Beberapa pengertian ......................................7............. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil . 3................... Kode etik instansi dan kode etik profesi ................ 1................ 2..................... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2....5 Rangkuman ..... 3................................. Uraian dan contoh ......................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT.......................................................7 Latihan 3 ........................... 1.... 3.................... i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2.................. 2....................................................... 3......................................1.......5.... 4....... Latihan 2 .........3............ 3...................................... 3................. 4...... 6. Pelaksanaan etika PNS .......

pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan.1. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Negara. Dalam kepemerintahan yang baik. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. tidak ikhlas. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. 1 . bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. dan bersatu padu. berdisiplin. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. tidak hormat. dan merata. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. dan Pemerintah. tanggap. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. netral. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. PENDAHULUAN 1. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. profesional. yaitu: PNS yang kuat. UUD 1945. adil. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. memiliki kepekaan. serta diskriminatif. kompak. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. sikap. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima.

2.3. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. 3. 2 . yang akhirnya akan mewujudkan sikap. 1. peserta diklat dapat: 1. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. dan negara.2. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. bangsa. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 1. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.

7.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan. 5. yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. 10. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 9. 8.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 6.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. 3 .4.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.

dan Pemerintah. dedikasi. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 4 . UUD 1945. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kreativitas. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tanggung jawab. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik.2. disiplin. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. kebersamaan. setia dan taat kepada Pancasila. tanggung jawab. dedikasi. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. Negara. tujuan. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Beberapa pengertian a.1. kerja sama. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. kerja sama. kebersamaan. serta tidak diskriminatif. adil dan merata. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps.2. disiplin. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. kreativitas.

Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Pelanggaran kode etik PNS 5 . sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. d. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. adil. pengabdian. pengabdian. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. tingkah laku dan perbuatan PNS. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. c. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. dan merata. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. a. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan.a. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. tingkah laku. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap.

tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 6 . sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. b. Membina karakter/watak.3. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. c. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. Selanjutnya. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. 1. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. c. kesadaran. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. b. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).

Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. tidak diskriminatif. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.1. bangsa. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. dan perilaku yang baik dari PNS. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. sikap. dan negara. melalui kinerja. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. bangsa. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. d. dan negara. tidak diskriminatif. adil dan merata.4. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. peningkatan kerja sama antara PNS. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. 7 . sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. c. b. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. adil dan merata. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

pengabdian. tingkah laku. disiplin. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan.5. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. kerja sama. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. b. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. Membina karakter/watak. 1. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. tanggung jawab. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. kreativitas. dedikasi. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. kebersamaan. 8 . diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat.

Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. bangsa. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. LATIHAN 1 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. 4. kesadaran. 1. dan negara.c. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat.6. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. 3. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. 2.

3. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. bermasyarakat. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.1. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. 2. terhadap diri sendiri. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. 10 . maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. Pasal 5 ayat (2).3. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. Kolusi. 4. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. dan Nepotisme. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.2. berorganisasi. pasal 27 ayat (1). adil dan merata. dan terhadap sesama PNS. 3. dan pasal 28 UUD 1945. Menurut DR.

Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. b. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. 3. meliputi: a. dan bermoral tinggi. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 11 . b. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semangat jiwa korps. Semangat nasionalisme. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. netralitas. i.5. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja.3. d. c. Profesionalisme. g. e. f. h. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS .

negara. 2. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. integritas moral yang tinggi.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. 12 . bertindak secara adil. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. dan pemerintah.4. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. dan jangan lakukan pada orang lain. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. dan pemerintah. negara. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. bangsa. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. tingkah laku. bangsa. 3. 3. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. yaitu: profesionalisme. Menurut DR. Merupakan pedoman sikap. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1.

agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. e. d. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. kolusi. bangsa dan negara. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. c. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. dan nepotisme.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. Bertindak secara adil 13 . Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. b. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS.

PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. jenis kelamin. suku.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. Jangan lakukan pada orang lain. dalam bermasyarakat. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. yaitu. dalam berorganisasi. g. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. 14 . keluarga. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. agama. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. dan abdi masyarakat. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. f. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. abdi negara. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik.5. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. dalam penyelenggaraan pemerintahan. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. dan seterusnya. tanpa diskriminasi atas dasar ras. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. 3. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. agar kepentingan semua pihak dijamin.

tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. Tanggap. 7. dan akurat. 15 . 2. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. hormat dan santun. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. 5. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 9. Memberikan pelayanan dengan empati. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. b. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. 5. 6. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. 8. 2. terbuka. 3. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 6. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. 4. 8. jujur. 2. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. 3. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. Mewujudkan pola hidup sederhana. c. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 4. Etika PNS dalam bernegara 1.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. 7.

Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. berorganisasi. maupun golongan. dan sopan. 8. Memiliki daya juang yang tinggi. 2. dan adil serta tidak diskriminatif. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. 5. 6. 5. 5. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Berpenampilan sederhana. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. terhadap diri sendiri. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. terbuka. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. terhadap sesama PNS. kemampuan. Menghindari konflik kepentingan pribadi.3. instansi. dan sikap. tepat. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Memberikan pelayanan secara cepat. bermasyarakat. d. 4. rapih. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. e. 3. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. 4. 3. kelompok. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Menghargai perbedaan pendapat. 6. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. 7. maupun antar instansi. 16 . Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. 4. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. 2. keterampilan. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. 7.

c. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. Sanksi moral. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. 2. 4. 17 . b. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Penegakan kode etik PNS a. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. 3. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. 2.3. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif.6.

Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. 6. keputusan diambil dengan suara terbanyak. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final. 18 .5.

norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Kode etik adalah nilai-nilai moral. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. kode etik notaris. dan lain-lain. kode etik pengacara. misalnya: kode etik kedokteran.7. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. 2. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. 2. 3. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. kode etik PNS. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. yaitu: 1. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi.8. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan.3. b.

dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 8. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. 5. Pemindahan. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil.01/2007. 7. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.organisasi profesi tersebut.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 6. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 10. 4. dan 20 . Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. 9.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. c.

sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. diminta agar menyesuaikan kembali. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan).11. dari mulai perencanaan. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). pengkoordinasian dan pengendalian 21 . maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tersebut. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. sesuai perkembangan yang ada. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2007.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Oleh karena itu. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. Pada saat ini.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. pengorganisasian. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. Untuk keperluan pembelajaran. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. larangan. e. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. d.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. tingkah laku. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. Meningkatkan disiplin pegawai. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Departemen Keuangan. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. c. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. Dalam hal ini. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. b.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. Sebagaimana diketahui. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Menjamin terpeliharanya tata tertib. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. 22 . kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan.

23 . yang menyebabkan pegawai yang menerima. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. Bersikap. budaya. c. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. dan bertutur kata secara sopan. b. e. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. g. berpenampilan. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. h. d. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. Menyalahgunakan fasilitas kantor. dan adat istiadat orang lain. Mentaati perintah kedinasan. f. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. dari wajib pajak. b. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. c. d. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. Bekerja secara profesional. atau pihak lain. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. dan akuntabel. sesama pegawai. i. kepercayaan. Menghormati agama. e. sesama pegawai. baik langsung maupun tidak langsung. transparan. yakni sebagai berikut: a. f.

yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. h. dan perbuatan pegawai. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak.g. Dari sisi ini.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. 24 . Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. tulisan. tingkah laku. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi.

budaya. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menghormati agama. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Menaati dan mematuhi segala aturan. c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. c. dan e. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 25 .Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. b. kepercayaan. d. d. b. Menaati perintah kedinasan. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. baik langsung maupun tidak langsung. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. g. i. harmonis. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. f. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Menerima pemberian. hadiah. h.e. c. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. Bersikap. berpenampilan. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. dan bertutur kata secara sopan dan santun. b. g. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. dan sinergis antar pegawai. f. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. kerusakan. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. e. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan. d.

Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sikap. 30 Tahun 1980. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. tulisan. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No.Segala bentuk ucapan. perilaku. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM.

hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 28 .

tertib. cermat. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Berpakaian rapi dan sopan. f. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Melakukan perbuatan korupsi. g. h. Bekerja dengan jujur. Mentaati ketentuan jam kerja. d. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). c. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. kolusi dan nepotisme. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . d.Kewajiban: a. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. e. e. bersemangat dan bertanggung jawab. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. f. j. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. b. c. b. i. Larangan: a.

h. yang keanggotaannya terdiri dari: a. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. 30 . mengkonsumsi.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. j. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. dan c. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. Memanfaatkan barang-barang. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. g. k atau pihak lain. b. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. i. Membuat. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya.

baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 31 . tanggung jawab terhadap kepentingan publik. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. dan jangan lakukan pada orang lain. Sonny Keraf.9.3. yaitu: prinsip profesionalisme. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. Menurut DR. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. bertindak secara adil. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas.01/2007. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. yang dalam hal ini termasuk PNS.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. integritas moral yang tinggi. dan Direktorat Jenderal Anggaran. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran.01/2007.

Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. 5. Pegawai Negeri Sipil.3. LATIHAN 2 1. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .9.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. serta tidak diskriminatif. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. 4. terbuka. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. ikhlas. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. adil. dan pembangunan. sopan dan santun. hormat dan santun. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.1. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tidak diskriminatif. tepat. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. pemerintahan.4. adil dan merata. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional.2. adil dan merata. ramah. memberikan pelayanan secara cepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.

dan pembangunan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. pemerintahan. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. Pegawai Negeri Sipil (PNS). dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. adil. • • PNS Pusat. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2. c) Untuk menjamin netralitas. dan merata. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. PNS Daerah. dan 3. 34 . adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. jujur. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara.

kolusi. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. aparatur pemerintah. sopan dan santun. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. 2. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. adil. ikhlas. Kolusi. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. transparan. yaitu: a. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. 4. ramah. dan merata. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan nepotisme.b.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. 2. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. produktif. d. dan bebas korupsi. Karena PNS 35 . dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1.3.

maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. terbuka. tidak diskriminatif kepada masyarakat.sebagai unsur aparatur negara. ramah. b. ikhlas. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. adil dan merata. e.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. serta tidak diskriminatif. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. sopan santun. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. 36 . Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. tepat. d. dan tidak diskriminatif. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. tidak diskriminatif. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. merata. dan adil. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. hormat dan santun.

3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. gender. agama. b. dan mudah dilaksanakan. 2. ras. kebutuhan. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. b. Prinsip Pelayanan Publik a. 37 . Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. e. dan harapan masyarakat. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. Asas Pelayanan Publik a. d. Transparansi Bersifat terbuka. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. dan status ekonomi.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. golongan. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. f. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. mudah dipahami. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. c. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.

sopan dan santun. dan sah. Kesopanan. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. ramah. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. f. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. mudah dijangkau oleh masyarakat. i. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . e. d. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. tepat. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. disediakan ruang tunggu yang nyaman. Kedisiplinan. toilet. seperti parkir. h. dan lainlain. j. bersih. rapi. teratur. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika).c. tempat ibadah. informatika. g. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. hormat dan santun. tepat. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. dan Nepotisme. dan bebas Korupsi. serta tidak diskriminatif. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 . Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. dan adil. bersih. terbuka. tidak diskriminatif. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. Kolusi. Memberikan pelayanan dengan empati. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan.PAN/7/2003. Memberikan pelayanan produktif. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. sopan dan santun. ramah. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. transparan. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.

rasa malu. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. 40 . disiplin. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. dan merata. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. sikap toleransi. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. UUD 1945. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. bersikap. pemerintah. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. b. 4. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. yaitu: a. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. UUD 1945. amanah. dan seluruh rakyat Indonesia. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. bertaqwa. dan Pemerintah. dan Negara. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. dan berperilaku bagi negara. Pemerintah. sportivitas. keteladanan. etos kerja.4. adil. tanggung jawab. Negara. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. bersikap. Etika meningkatkan kualitas PNS a. kemandirian. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran.

Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.b. g. c. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. dan bersatu padu. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. bermasyarakat. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. e. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. berorganisasi. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. f. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. terhadap diri sendiri. c. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. kompak. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. d. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pegawai Negeri Sipil yang netral.

patuh. kesadaran. vi. Undang-Undang Dasar 1945. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. iv. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. tertib. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. v.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. taat. dan tanggung jawab. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. Bekerja dengan jujur. bertanggung jawab. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. iii. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. viii. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. Negara dan Pemerintah. 42 . Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. kekompakan. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. atau pihak lain. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. vii. cermat. diri sendiri. dan bersemangat untuk kepentingan negara. ix. ii. Memelihara dan meningkatkan keutuhan.

Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. xii. Menyalahgunakan wewenang. sesama Pegawai Negeri Sipil. xxiv. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. 43 . xiv. ii. xix. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir.x. xvii. xv. xxii. xxv. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. xxvi. xiii. xxiii. xviii. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Mentaati ketentuan jam kerja. dan terhadap atasan. keuangan. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. xx. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Pemerintah. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. xvi. xxi. dan Pegawai Negeri Sipil. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Bertindak dan bersikap tegas. dan materiil. yakni: i. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. xi. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku.

membeli. vi. ix. Menyalahgunakan barang-barang. menggadaikan. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. menjual. Memiliki. kecuali untuk kepentingan jabatan. xi. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. xii. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. teman sejawat. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. dokumen. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara.iii. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. viii. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. xv. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. golongan atau pihak lain xiv. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. vii. x. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. uang atau surat-surat berharga milik negara. xiii. v. iv. golongan atau pihak lain.

45 . akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. seseorang atau golongan. xvi. Bahwa saya. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. dan tanggung jawab. dan Pemerintah. Bahwa saya. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. cermat. Bahwa saya. golongan atau pihak lain. akan bekerja dengan jujur. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. Bahwa saya. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. Negara. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. xvii. pimpinan. kesadaran. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. Pemerintah. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. Undang-Undang Dasar 1945. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. xviii. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. menjadi direksi. atau komisaris perusahaan swasta. tertib.

taat. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Negara.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. terhadap diri sendiri. rajin. yaitu: 46 . berorganisasi. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. UUD 1945.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. patuh dan setia kepada Pancasila. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. dan lain-lain. dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. bermasyarakat. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS.5. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.3. bersikap dan berperilaku baik. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. 4. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. dan Pemerintah.

terbuka. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. profesional. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.6. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. adil. kompak dan bersatu padu.a. Memberikan pelayanan secara cepat. b. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. tepat. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Memberikan pelayanan dengan empati. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. Negara. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . serta tidak diskriminatif.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. memiliki kepekaan. dan adil. di samping bersikap dan berperilaku baik. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. netral. 4. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. dan Pemerintah. UUD 1945.M. berdisiplin. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. hormat dan santun. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik.

dan adil. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . memberikan pelayanan secara cepat. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM.01/2007 tentang Majelis Kode Etik.01/2007. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.PAN/7/2003! 4. hormat dan santun. tepat. Latihan 3 1.7. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. terbuka. 4. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. serta tidak diskriminatif.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya.

BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah. B . 6. 2. B . B . 1.A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. dan merata. 4. B .A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan. TES FORMATIF I.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. 7. 3. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. B . 9.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. 10. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. adil. B .5.A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara.A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. B . 49 . 8. B . B .A B .A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.

Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Sanksi moral b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Memberikan pelayanan dengan empati. 1. b. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Sanksi pidana dan perdata 3. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. hormat dan santun. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. adil. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. sikap. tingkah laku. Dalam melaksanakan tugasnya b. b.II. Nepotisme c. dan . Kolusi. Memiliki daya juang yang tinggi 4. tidak diskriminatif d. c. d. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bebas Korupsi. disiplin. Kolusi. Memiliki kepedulian yang tinggi III. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 .5. dan 3) benar B. kerja sama. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. bila semua pernyataan benar 1. netralitas. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. dan Nepotisme b. Profesional d. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. 2). kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Transparan c. bila pernyataan 1). ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A.

Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . watak. Kolusi. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Menurut DR. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Sonny Keraf.3. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter.

tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . kompak. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10.PAN/7/2003.4) Produktif dan disiplin 7. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.

5.6. 8. 6. 5. 2. 9. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. B A B B B A A A A 10. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 7. 4. A II. 7. 2. PILIHAN BERGANDA 1. 3. 3. B A 54 . BENAR/SALAH 1. C C A C D III. 4. D B 6. 2.

10. 4. 9.3. 5. B C D 8. B D D 55 .

maka disarankan mengulang materi.d.d.d. s. 100% s. 90. Hitung jumlah jawaban yang benar. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.7.d. s.99 % 70.99 % 80. 56 .99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).

Jakarta. S.H. Darmodihardjo Darji. A. Kamus Besar Bahasa Indonesia.C. Soeharyo. R. M. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”.. 1998. Salamoen. P. Triguno. 2005. Pradya Paramita. Supriyadi.. Hardijanto. 20 September 2002. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan. Winarty.. Kansil. Jakarta. Suseno S. Drs. Prajabatan III. DR..P. Yogyakarta. A. M. Penerbit Erlangga... Desi Fernanda. 8. 1 Maret 2003. P. C. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS.. Tony. 57 . 9. Keraf. Prajabatan III. C.H. 11.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar..S. Dipl. 1 Maret 2003. Mei 2002.. Kuntjoro Purbopranoto. M.. DR. M. Franz Magnis.. 1993. Prof. 1985. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Nyoman Dekker. Balai Pustaka. S. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi. 7. Pradya Paramita. Prof...H.Ec.. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. kumpulan karangan.T. 2001. 10. Drs.A dan Sofia Ayu. Drs. Sonny.. DR..P.H.8..S.T. S. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. Prof . 4. 6. Army. S. M.A. 18. Pringgodigdo.. Suseno S. Etika Suatu Pengantar.M. 1984.H. Prijono. 12... 17. Jakarta. Gering. cetakan VIII.J. 5. Jakarta. Drs. penerbit Karunia Esa.. Prof... Kansil. Prof.. Soeharyo. 13. Sonny. 1 April 2002.G. 1990 16. 3.. Santiaji Pancasila.. LAN. 2002. Rooswiyanto. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.J. Etika Organisasi. Budaya Kerja dan Disiplin. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. S. 2001.T. Mardojo. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah. Penerbit Kanisius. Mr... Jakarta. Drs. 16 Juli 2003.. 14. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Tjiptoherjanto. Keraf.. Lembaga Administrasi Negara.. Etika Organisasi. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. LLM. A. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II.H... Etika Dasar. Drs. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Solomon. SC. Etika Organisasi Pemerintah. Drs. S.T. DAFTAR PUSTAKA 1. LAN. 2.. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. 16 Juli 2003. 15.W. Salamoen. Etika Kepemimpinan Aparatur. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Sulandra J.Soc. terbitan Program Magister STIA-LAN. Mr.Ed.. Drs. Departemen Keuangan.. Pendidikan Pancasila. 2002.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 3. 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. 19. dan Nepotisme. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. 58 .3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. 18.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 13. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Kolusi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 12. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Pemindahan. 17. 14.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 5. 2.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 8. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi.01/2007. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 16. 15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 10.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak.PERATURAN-PERATURAN: 1. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. 7. 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan. 9. 4.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. 23. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.20.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 21. 22.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->