DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. Oleh sebab itu. maka diperlukan adanya etika birokrasi.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. kolusi. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. dan Nepotisme. Kolusi. dan merata. Kemudian.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan. tidak ikhlas. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. . dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan diskriminatif. adil. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik.

dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. b. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. serta tentang etos dan etiket. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. sebagai berikut: a. nilai-nilai dasar. pelaksanaan etika. profesional. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. pemerintahan. . pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. merata. adil. jujur. penyelenggaraan negara. dan pembagian etika. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. kaedah dasar moral. prinsip. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. teori-teori. dan pembangunan secara. nilai moral). Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS).Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. keberanian moral. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. dan tidak diskriminatif.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

....... 4..................4.................................8...................1........................................................ Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH .................7.......................... Kb 1: ETIKA.6.................................................................................. PENDAHULUAN .............2...............................................................3 Perwujudan etika organisasi ...........3. 4..1.........1................................................................4 Rangkuman ......... 4.....................................4............................. 4............ Asas-azas umum penyelenggaraan negara ..........DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR ..... Uraian dan contoh .................. Tugas birokrasi ...................... Etos..................................................................... 1..............................................1. 2.............................. 2....... Tujuan Pembelajaran Umum .................... Pengertian tentang birokrasi ............ 2.................. Rangkuman .... Latihan 1 ......................................... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3...... Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ...2............ 3............................ DAN ETIKET ............................... 5..9................. MORAL......5... Pentingnya etika dalam organisasi ..............................3................................... ETOS...................................................... 3................................. 4....................... 4.......... 4.........................5 Latihan 2 ............................................ Deskripsi Singkat .......6.......... Tujuan Pembelajaran Khusus ............................ Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ...................... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral .................. 3... Etika ............................... 3...................... 2............................................... Uraian dan contoh ............ 4.......... 2....................................................................................................................2............... Etiket ...........5........................................ Rangkuman ........................ Ciri-ciri pokok birokrasi ........ 2.................................................... 4.................... ii ............................... 3.................................. Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik ...... 1....... 4................. Uraian dan Contoh ...........3...............2............. 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ....................... 1.............. 1.............7..................... DAFTAR ISI ........................... Latihan 3 .............................................................. 2.... 2.......

...... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ................. 7...... DAFTAR PUSTAKA ...........................6......................................................................... 39 40 41 iii ................................................... 8........... KUNCI TES FORMATIF .

tugas birokrasi. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. nilai moral. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat.1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a. etos. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. dan pembagian etika. azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. etos. dan etiket. PENDAHULUAN 1. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. dan Etiket. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. serta birokrasi organisasi pemerintah. azas-azas umum penyelenggaraan negara. moral.3. dan etiket. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. kaedah dasar moral. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. yang mencakup pengertian tentang Etika. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. cara mewujudkan etika birokrasi. Menjelaskan pengertian tentang etika.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. ciri-ciri pokok birokrasi. teori-teori etika. 1. moral. kesadaran moral. prinsip etika.2. dan etiket. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. moral. keberanian moral. 1 . serta terakhir tentang etos dan etiket. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. Moral. Etos. seperti: pengertian umum tentang birokrasi. 1. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. etos.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

etnis. dan lain-lain. dan lain-lain. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. kebaikan yang diterima umum. c. 2. 2. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. tidak diskriminatif. berpenampilan indah. kedamaian. misalnya: saling menghormati. sayang sesama manusia. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. contoh. ketentraman. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. R. yaitu: 1.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. Jadi manusia harus diperlakukan sama. dalam Salomon. tidak sama satu sama lain. saling berbuat baik. Prinsip kebaikan bersifat universal. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. saling bertenggang rasa. ras. Sebagai contoh. sikap. dan pola pikir yang beragam. berpenampilan menarik. bekerja sama. saling kasih-mengasihi. suasana yang kondusif.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika. 5 . baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. adanya rasa kasih sayang antara sesama. 3.

Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. persamaan. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. Teori etika ini terdiri 6 . Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. kebebasan. 5. akan semakin besar tanggung jawabnya. kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. kebaikan. d. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat.4. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. 6. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. dan kebenaran bagi setiap orang. apa yang baik untuk dirinya. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. keadilan.

yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. dalam Sonny Keraf (2003). suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. sebagaimana 7 . etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. etika teleologi dan etika keutamaan. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. bukan karena paksaan. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Immanuel Kant (1734-1804). kritis. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. Dengan demikian. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. Menurut etika deontologi. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. juga dianggap benar oleh orang lain. artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat.dari: etika deontologi. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat.

diperlakukan secara sewenang-wenang. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. baik bagi siapa: diri sendiri. manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. ataupun orang lain. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. karena suatu tindakan yang bernilai moral. 8 . 2. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. apakah diri kita sendiri. Menurut etika deontologi. orang lain. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. Menurut Kant. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. suatu tindakan dinilai buruk. apabila bertujuan atau berakibat buruk. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. yang berarti tujuan. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. Sebaliknya. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. berarti kita memperalat diri kita demi uang. ditindas atau diperas demi kepentingan lain.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

e. yaitu etika individual. etika sosial. Dalam hal ini. 2. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. 12 . Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. Dengan kata lain. 1. Maka.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. teori-teori etika. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). dan semacamnya. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. dan etika lingkungan hidup. bagaimana manusia mengambil keputusan etis.

Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. negara). sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. masyarakat. 2006:34) 13 . Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya.

a. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. adat. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Secara harfiah. kebiasaan yang baik. 3. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. tata cara hidup yang baik. kebiasaan. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 .2. 2. yang berarti. Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. c.3. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. suatu hal yang bersifat rasional. a. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan.

sebagaimana yang diwajibkan. yaitu: kewajiban.hakekatnya merupakan pedoman hidup. sebagaimana diuraikan sebelumnya. dan sesudah perbuatan dilakukan. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. dan larangan. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. e. dan norma moral. ada juga hal lain yang perlu dipahami. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. Nilai Moral Moral. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. d. penuntun. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. kebiasaan yang baik. norma hukum. 2. 15 . yakni: keberanian moral. mempunyai fungsi sebagai pedoman. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. Dalam hubungan ini. Di sisi lain. petunjuk hidup. akibatnya tidak baik. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. yaitu: moral sebagai adat istiadat. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak.

yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. dan tanggung jawab. masyarakat. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. dan petunjuk hidup). akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja. dan sebagainya. dedikasi. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. 2. kepercayaan. misalnya: malas. etos profesi. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi. kebebasan. integritas. alasan logis. Etos a. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. tidak bertanggung jawab terhadap 16 .3. Berbeda dengan etika.4. Etos kerja bisa kuat atau lemah. positif atau negatif. seperti: disiplin. tradisi. tanggungjawab. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. seperti: rasional. 1993:120). Pemakaian kata etos sering kita dengar. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. dan sebagainya. seperti: etos kerja. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. Apabila ada istilah etos kerja. f. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. keputusan nalar. b. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. transparansi.

5. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. yaitu etiket. dan sebagainya. meskipun ada kaitannya. etiket makan. akhlak atau watak tertentu. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. Pemakaian kata etiket. misalnya. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun. jangan berbohong. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral.pekerjaannya. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. Sebagai kata sifat. misalnya. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. 2004:5). Dalam hubungan ini. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Etiket tidak sama dengan etika. 2. jangan mencuri. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. Etika (kebiasaan. Sebaliknya. misalnya. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan.

apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Sebaliknya. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. dan sebagainya. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. tata cara hidup yang baik. • Etiket bersifat relatif. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis. 2. Larangan-larangan korupsi. etika lebih bersifat universal. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. tiga teori etika. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). Larangan-larangan untuk mencuri. Misalnya. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. menyontek. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. mencuri. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. Disamping pengertian tentang etika. atau menyontek. yakni: etika deontologi. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. dan etika keutamaan. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan).dianggap melanggar etiket. etos.6. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. dan etiket. Secara harfiah. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. moralitas. etika teleologi. tetapi apabila saya makan sendiri. serta pembagian etika. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. Sebaliknya. 18 . korupsi.

yakni: a. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). sebaliknya. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. Dari pengertian ini. c. LATIHAN 1 1. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. transparansi. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. 2. apabila ada istilah etos kerja. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. etika. dan sebagainya. dedikasi. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. Sementara itu. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. moral.7. integritas. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu.Di sisi lain. menurut Adler! 4. b. seperti: disiplin. Berikan contoh! 19 . Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. Jelaskan prinsip-prinsip etika. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. dan etiket! 5. etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. dan keempat. etiket lebih bersifat relatif. etos. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. tanggung jawab.

etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. M. Sutopo. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika.2. DR. kejujuran. peraturan perundang-undangan. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs.A: 1998). dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. kesabaran. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.1. 3. Tony Rooswiyanto. Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. Sondang Siagian (1996:11). Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. MSc (2005:27) dan Prof. Dengan demikian. prinsip-prinsip organisasi. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. ketulusan. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut.3. sebagai berikut: a.

di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. 2. 2. 21 . dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. suku. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. yakni sebagai berikut: 1. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. dan sosial. sosial. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. 4. sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. d. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. di bidang agama.organisasi tersebut. 3. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. 3. pandangan hidup. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia.

melaksanakan tugas dengan ikhlas. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. menurut Suseno SJ. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. efisiensi. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. sebagai berikut. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. harapan. maka akan memberikan kesenangan. 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. kegembiraan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. 2) Jujur. tidak korupsi.3. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. 22 .3. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. dan kebiasaan kelompoknya b. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan.

bersedia memandang jauh ke depan. 23 . keputusan diambil secara rasional. tepat pada waktunya. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. sanggup mengenakan sanksi. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. kerapihan. kegesitan. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. Seperlunya dia harus mempelajarinya. menuntut. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. bersedia untuk berubah. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu.4) Bertanggung jawab. Secara konsisten. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya. 2. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. kesederhanaan. kerajinan. kejujuran/tidak korup. Selalu. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). tanpa kecuali. harus mempunyai wibawa. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. memahami secara garis besar maupun detil-detil. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. dia harus tegas. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. c. 1. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. mau bekerja sama.

cakap. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. dan bertanggung jawab.3. jujur. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. bebas dari pamrih. yaitu: 1. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. Bagi orang yang berwatak kuat. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. tegas. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. malas. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. d. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. korup. 4. Seorang pemimpin yang jujur. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung. Semakin banyak orang 24 . bersih. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. dan bertanggung jawab. mendorong orang tidak bersemangat. komunikatif. 5. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai. adil. Dalam lingkungan yang positif.

kegembiraan. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi. 2. dan syarat-syarat sistemik. Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. yaitu adanya etos kerja yang kuat.yang terkena erosi moral. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. 25 . Etika diharapkan menunjang kualitas. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. didukung moralitas pribadi pegawai. didukung lingkungan kerja yang kondusif. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi.4. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. akan memberikan kesenangan. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. 3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. efisiensi. kepemimpinan yang bermutu. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. dan efektivitas kerja semua pegawai. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. etos kelompok sudah merosot. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu.

3. Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5. LATIHAN 2 1. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 .5.

yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki. Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil.1.3. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. wewenang. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. 27 . Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. 4. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”.4. b.2. Uraian dan contoh 4. hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan.

sebagai berikut: a. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan. Dalam konteks negara Indonesia. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. f.c. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. d. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. 4. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. 28 . sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi.4. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. e.

apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 .Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Oleh karena itu. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. c. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. martabat manusia. d. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. e. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. b. Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. dan efisien. dan kesamaan di hadapan hukum. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. dapat dipertanggungjawabkan.

Wakil Ketua. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. dan Nepotisme. Direksi. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. yaitu: 30 . Walikota dan Wakil Walikota. Ketua. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. dan POLRI. dan Nepotisme. prosedur layanan. Ketua. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. Pimpinan Bank Indonesia. Ketua.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. maka ukuran lain adalah efisiensi. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. legislatif. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. militer. Menteri dan jabatan setingkat Menteri.5. Jaksa. dan Anggota DPR. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. dan Anggota MPR. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. Ketua Muda. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. 4. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Kolusi. Kolusi. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. dan biaya yang dikeluarkan. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. Wakil Ketua. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden. atau yudikatif. Ketua. Wakil Ketua. Penyidik. Panitera Pengadilan.

adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. b. jujur. dan merata. e. kepatutan. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. Asas Proporsionalitas. Asas Keterbukaan. dan rahasia negara. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. Asas Akuntabilitas. keserasian. 31 . Asas Kepastian Hukum. Anggota POLRI. menyelenggarakan tugas negara. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.6. dan selektif. adil. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. Asas Kepentingan Umum. 4. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara. c. Asas Profesionalitas. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). jujur. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. menyelenggarakan tugas pemerintahan. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan.a. f. g. akomodatif. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik. d. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

lanjut usia. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. izin mendirikan bangunan.7. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. pensiun janda/duda. dan sebagainya. kesehatan. j. b.e. akte kematian. bahan bakar minyak. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. c. k. pengangkutan barang. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. dan Kelompok Pelayanan Jasa. i. dan balita. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik. 4. dan pengawasan fungsional. sertifikat tanah. di rumah sakit. akte perkawinan. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. kenaikan pangkat. pengawasan melekat. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. surat izin mengemudi. g. f. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. 33 . Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. kenaikan gaji. wanita hamil. bahan bakar gas. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. telepon. dan sebagainya. sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. listrik. perbankan. h. pendidikan. pensiun pegawai. dan sebagainya. Kelompok Pelayanan Barang.

seperti antara lain: kejujuran. 2. Dengan kata lain. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. kesabaran. kewajiban. dan norma moral. kesamaan. biaya yang melebihi dari tarif resmi. dan sebagainya. 34 . Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. kebenaran. keharusan. menjunjung tinggi supremasi hukum. dan lain-lain.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. kebaikan. Dalam kegiatan belajar 1. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. dan lain-lain. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. ketertiban. keikhlasan. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. efektivitas. seperti antara lain: profesionalisme. dan nepotisme. tidak korupsi. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. jangan meminta. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). akuntabilitas. norma hukum. kolusi. transparansi. ramah-tamah. efisiensi. Norma-norma moral. jangan mencuri. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Nilai-nilai moral. menolong. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk. keadilan.

yang disebut Pegawai Negeri. prinsip-prinsip. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. efisiensi. 4. yaitu: a. e. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. 35 . keadilan sosial dan pemerataan. b. f. dan lain-lain) serta asas-asas. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. mengusahakan kesejahteraan umum. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. d. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. mewujudkan negara hukum. standar.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. dinamika dan efisiensi. profesionalisme. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. keikhlasan. c. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. transparansi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. akuntabilitas. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan biaya pelayanan yang murah. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. kesamaan. keadilan.8.

profesional. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. dan melaksanakan tugas pembangunan. keadilan. dan lainlain). Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. transparansi. melaksanakan tugas pemerintahan. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. melaksanakan tugas negara. LATIHAN 3 1. akuntabel. prinsip-prinsip.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. dan pola pelayanan yang baik. Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. keikhlasan. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . 4. standar.9.

3. 2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 5. B A A B B III. 4. 3. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 2.6. BENAR/SALAH 1. D A B 39 .

maka disarankan mengulang materi.d. 100% s.d. s. 90. 40 .d.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d. Hitung jumlah jawaban yang benar.99 % 70. s.99 % 80. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.

‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II.. 9. 14. Myrdal. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Nyoman Dekker. 5.H.P. Salamoen... Sulandra J. 2001.. Drs. Jakarta. 16. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 10. Suseno S. 1996.G. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT. A Sonny. 2. Jakarta.A dan Sofia Ayu. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Mr. dan Zahar Angga Setiawan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Vol. Siagian. 15. Prof. 2004..H. Juni-Agustus Tahun 2003. Riant Nugroho.. 11. Mr. Jakarta. M. DR.. DR. 2000. Makalah. S. Jakarta.. R. Prof. “Kebijakan Publik : Formulasi.J. “Etika” PT. Prof. Inspektorat Jenderal. Keraf. Penerbit Erlangga.H. K. 12. 13. 7. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. 8. DAFTAR PUSTAKA 1. 4. 1984. Salamoen. Drs. 20 September 2002.A. Dwijowijoto. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. cetakan VIII. Materi Pokok. Kuntjoro Purbopranoto. Departemen Keuangan.W. Kumorotomo. Jakarta... 2002. M. Suseno S. Pringgodigdo. M. 1985. Gramedia Pustaka Utama. Departemen Keuangan. Darmodihardjo Darji. S. No. Majalah Auditor. Etika dan Hukum Administrasi Publik.. 2001. Etika Suatu Pengantar. 4. M. Desi Fernanda. 1968. Prof. Rooswiyanto.. Jakarta. Solomon. Jakarta. Mardojo.. Departemen Keuangan. STIA LAN. 2005.. S. Elex Media Komputindo. 17. Drs.H. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. LAN.J. Handayani. 2006.. Bandung. S.. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. Implementasi.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Utomo. 3. 2004.C. Soeharyo. Jakarta: Balai Pustaka. 16 Juli 2003. Soeharyo. A.Ed..P. 8.. penerbit Karunia Esa. Drs. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. Rajawali Pers.. dan Evaluasi” PT. 2005. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon.. Bertens. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.I. 6.8. Puji. 1993. 41 .

7. 12.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Kolusi.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. Pengantar Kuliah Etika. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 42 .02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. 4. PERATURAN-PERATURAN: 1. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. Tiara Wacana. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 11. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. dan Nepotisme. 10. Departemen Keuangan Republik Indonesia.18. 8.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK. 6. 1988. 3. Kolusi.01/2007.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 2. 13. dan Nepotisme. Zubair. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Achmad Kharis. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

........... Deskripsi singkat ........................................... 7................................ Penegakan kode etik PNS ........ Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ............... 3...................7........................ Uraian dan contoh ............3......... 3.. 6............ Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ...... 3........................................................... PENDAHULUAN ..............................3...... Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL ..... 2................... 3.......................................................... ....... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2........................................ 3..........................4..................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT......... 3.................. Uraian dan contoh ............................ 4.........5..................6 Latihan 1 .......................... 1............. Tujuan Pembelajaran Umum ......... DAFTAR PUSTAKA .......3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan .................................................... i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2..2...... TES FORMATIF ................................ 2..1 Uraian dan contoh ......5.... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS ....... Kode etik instansi dan kode etik profesi .................................... 4.................2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ... 4..................................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1.....4........4........2.......................... 2. Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2............................ 2...... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? .............................. Beberapa pengertian ...7 Latihan 3 ..10............................................................................... 3..................... KUNCI TES FORMATIF .............. 1............... Rangkuman .. 4... 4...... Etika meningkatkan kualitas PNS ................................6.............. Pelaksanaan etika PNS ........................ 3............................................................................................................................ 3.......... 4................................ 3.....8. 8.. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN .....................1................. Latihan 2 ................5 Rangkuman ....................... 3............................... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ............... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan ........... 4...............1..9... 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5............. 1................... 4....2......................3 Tujuan Pembelajaran Khusus .............6 Rangkuman .........................................................1...........

dan merata. tidak ikhlas. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. PENDAHULUAN 1. memiliki kepekaan. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. dan bersatu padu. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. netral. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. berdisiplin. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. sikap. tanggap. profesional. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. adil. 1 . Negara. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. yaitu: PNS yang kuat. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. dan Pemerintah. tidak hormat. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. Dalam kepemerintahan yang baik. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. UUD 1945. serta diskriminatif. memiliki kesetiakawanan yang tinggi.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. kompak.1. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS.

2. 3. 1. maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari. 2. bangsa. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. peserta diklat dapat: 1. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. 2 . peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.3. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. dan negara.PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. 1. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS.

yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 6. 7.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. 8. 9. 5.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan.4. 3 .Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah. 10.

serta tidak diskriminatif. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. UUD 1945. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. tujuan. dedikasi. Beberapa pengertian a. disiplin. dan Pemerintah. adil dan merata. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. kerja sama. disiplin. kebersamaan. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. Negara. kebersamaan. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kreativitas. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. setia dan taat kepada Pancasila. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. kerja sama. 4 .2. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. kreativitas. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS.1. tanggung jawab. tanggung jawab. dedikasi.2.

Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap. Pelanggaran kode etik PNS 5 . yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. tingkah laku. a. dan merata. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. d. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. pengabdian. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. pengabdian. Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. adil.a. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). tingkah laku dan perbuatan PNS. c. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat.

b. 1. c.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik.3. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Membina karakter/watak. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. kesadaran. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. c. b. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. 6 .

sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. bangsa. menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. adil dan merata. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. adil dan merata. bangsa. 7 . dan negara. sikap. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. dan negara. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. tidak diskriminatif. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.1. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. dan perilaku yang baik dari PNS. melalui kinerja. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja.4. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. peningkatan kerja sama antara PNS. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. d. tidak diskriminatif. b. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.

dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. disiplin. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. kebersamaan. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik.5. kerja sama.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). Membina karakter/watak. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. 1. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. pengabdian. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. tingkah laku. tanggung jawab. dedikasi. kreativitas. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. b. Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. 8 .

Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4.c. 4. 1. 2. bangsa. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. dan negara. 3. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. kesadaran. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2.6. LATIHAN 1 1. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. 2. adil dan merata. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik. 3. Menurut DR. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. dan Nepotisme. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. dan terhadap sesama PNS. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 5 ayat (2). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. 10 . sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. 4. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan.2. Kolusi. berorganisasi. dan pasal 28 UUD 1945. terhadap diri sendiri. bermasyarakat. 3. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. pasal 27 ayat (1).1. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3.3.

f. g. Semangat jiwa korps. netralitas. b. i. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.3. Semangat nasionalisme. b. 3.5. Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. 11 . Profesionalisme. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. e. meliputi: a. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. d. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . dan bermoral tinggi. c. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. h.

Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. integritas moral yang tinggi. dan pemerintah. 3. tingkah laku. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. Merupakan pedoman sikap. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik.4. bertindak secara adil. bangsa. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. dan pemerintah. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional. negara. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. yaitu: profesionalisme. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. negara. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. dan jangan lakukan pada orang lain. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. 12 . tanggung jawab terhadap kepentingan publik. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. Menurut DR. bangsa. 3. 2. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik.

kolusi. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. bangsa dan negara. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. c. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya. e. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. dan nepotisme. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. d. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. Bertindak secara adil 13 . bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. b. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik.Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik.

serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. agama. 3. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. agar kepentingan semua pihak dijamin. 14 . Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. f. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Jangan lakukan pada orang lain. dalam penyelenggaraan pemerintahan. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. keluarga. suku. abdi negara. dalam berorganisasi. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. dan seterusnya. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. g. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. yaitu. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus.5. jenis kelamin. tanpa diskriminasi atas dasar ras. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. dalam bermasyarakat. dan abdi masyarakat.

Tanggap. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. 3. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Etika PNS dalam berorganisasi 1. 15 . Etika PNS dalam bermasyarakat 1. 5. hormat dan santun. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Etika PNS dalam bernegara 1. 7. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 2. 2. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. jujur. Mewujudkan pola hidup sederhana. Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. 2. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. c. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara. 3. 8. terbuka. 4. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjaga informasi yang bersifat rahasia. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. 9. 4. 8. b. 6. Memberikan pelayanan dengan empati. 6. 7. dan akurat. 5.

e. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. 5. keterampilan. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan.3. maupun antar instansi. dan sopan. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. Memberikan pelayanan secara cepat. rapih. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. Berpenampilan sederhana. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. Menghindari konflik kepentingan pribadi. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. terhadap diri sendiri. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. dan sikap. 6. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. terhadap sesama PNS. Menghargai perbedaan pendapat. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. 7. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. 5. bermasyarakat. maupun golongan. kelompok. 7. 5. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. 2. 3. 4. 2. 8. dan adil serta tidak diskriminatif. 3. 6. tepat. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. d. 4. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. instansi. 16 . 4. kemampuan. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Memiliki daya juang yang tinggi. terbuka. berorganisasi.

17 . Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup. b. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Sanksi moral. 2. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik.3. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik.6. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. c. 4. selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. 3. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. 2. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Penegakan kode etik PNS a.

18 . keputusan diambil dengan suara terbanyak. 6. Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.5. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai.

Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. 3.8. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. 2. 2. Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. kode etik pengacara. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian. dan lain-lain. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Kode etik adalah nilai-nilai moral. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . yaitu: 1. kode etik PNS. misalnya: kode etik kedokteran. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a.7. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik.3. b. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan. kode etik notaris. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3.

01/2007. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. dan 20 . setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. 10.organisasi profesi tersebut. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. c. 7.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Pemindahan. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 9. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. 5.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 8. 6. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil.

sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. diminta agar menyesuaikan kembali. sesuai perkembangan yang ada. Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tersebut. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . pengorganisasian. dari mulai perencanaan. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Oleh karena itu. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Untuk keperluan pembelajaran. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. Pada saat ini. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target.11. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak.01/2007.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.

Departemen Keuangan.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. c. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. tingkah laku. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. Menjamin terpeliharanya tata tertib. d. Sebagaimana diketahui. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK. Meningkatkan disiplin pegawai. 22 . b. Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. larangan. e. dan perbuatan yang mengikat Pegawai.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. Dalam hal ini. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif.

Menghormati agama. atau pihak lain. c. b. transparan. berpenampilan. dan adat istiadat orang lain. yakni sebagai berikut: a. Mentaati perintah kedinasan. Bersikap. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. sesama pegawai. 23 . dan bertutur kata secara sopan. h. e. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. budaya. d. baik langsung maupun tidak langsung. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. f. yang menyebabkan pegawai yang menerima. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas. dari wajib pajak.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. c. e. g. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Bekerja secara profesional. d. kepercayaan. f. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. i. b. Menyalahgunakan fasilitas kantor. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. dan akuntabel. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun. sesama pegawai.

g. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. tingkah laku. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. h. Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. Dari sisi ini. 24 . Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap. penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. tulisan. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. dan perbuatan pegawai. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi.

d. Menaati perintah kedinasan. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. b. baik langsung maupun tidak langsung. kepercayaan. budaya. Menaati dan mematuhi segala aturan. Menghormati agama. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi. d. c. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan e. c. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. b. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. 25 .Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a.

dan sinergis antar pegawai. Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. c. g. kerusakan. b.e. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. e. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. Menerima pemberian. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. berpenampilan. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. harmonis. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. f. i. d. hadiah. Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. f. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. h. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . g. Bersikap. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan.

tulisan. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. perilaku. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.Segala bentuk ucapan. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sikap. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. 30 Tahun 1980.

hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 28 .

i. f. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. c. b. c. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . bersemangat dan bertanggung jawab. f. j. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran.Kewajiban: a. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. kolusi dan nepotisme. d. Larangan: a. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). h. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. Mentaati ketentuan jam kerja. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan. Bekerja dengan jujur. cermat. e. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. tertib. g. b. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. e. d. Berpakaian rapi dan sopan. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Melakukan perbuatan korupsi.

Membuat. 30 . k atau pihak lain. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. h. j. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. b. uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. g. mengkonsumsi. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. yang keanggotaannya terdiri dari: a. dan c. Memanfaatkan barang-barang. i. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan.

Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. Menurut DR. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 31 . yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.01/2007. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. yaitu: prinsip profesionalisme. integritas moral yang tinggi. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. bertindak secara adil.3. dan Direktorat Jenderal Anggaran. dan jangan lakukan pada orang lain. Sonny Keraf. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. yang dalam hal ini termasuk PNS.9. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas.01/2007.

9. LATIHAN 2 1. 5. Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 .3. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Pegawai Negeri Sipil.

tidak diskriminatif. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. adil dan merata. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. dan pembangunan. sopan dan santun. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. terbuka. hormat dan santun.2. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 . Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. serta tidak diskriminatif. adil dan merata. memberikan pelayanan secara cepat.1. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. pemerintahan. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. ikhlas.4. 4. ramah. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. adil. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. tepat.

PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. dan merata. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. pemerintahan. Pegawai Negeri Sipil (PNS). 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan.tentang Pokok-pokok Kepegawaian. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. dan 3. 2. jujur. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. 34 . PNS Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. • • PNS Pusat. dan pembangunan. c) Untuk menjamin netralitas. adil.

Kolusi. aparatur pemerintah. Karena PNS 35 . dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah. 2.3. yaitu: a. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. adil. kolusi. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. 2. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. produktif. 4. dan nepotisme.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1. transparan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. d. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. dan bebas korupsi. dan merata. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. ikhlas. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.b. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. sopan dan santun. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. ramah.

b. ramah. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. tepat. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan. terbuka. dan adil. dan tidak diskriminatif.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. c. ikhlas. sopan santun. adil dan merata. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. tidak diskriminatif. 36 . di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. hormat dan santun. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. tidak diskriminatif kepada masyarakat. d. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. merata. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati.sebagai unsur aparatur negara. e. serta tidak diskriminatif.

d. golongan. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. gender. 37 . Transparansi Bersifat terbuka. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. dan harapan masyarakat. e. b. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. dan mudah dilaksanakan. ras. f. 2. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. dan status ekonomi. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. agama. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. c. Asas Pelayanan Publik a. mudah dipahami. Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. Prinsip Pelayanan Publik a. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran. b. kebutuhan. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.

Kedisiplinan. j. disediakan ruang tunggu yang nyaman. toilet. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. sopan dan santun. tepat. d. rapi. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . seperti parkir. mudah dijangkau oleh masyarakat. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. tempat ibadah. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. Kesopanan. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. bersih. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum.c. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. f. teratur. informatika. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. ramah. e. dan lainlain. i. g. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. h. dan sah.

Memberikan pelayanan produktif. sopan dan santun. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima.PAN/7/2003. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. transparan. serta tidak diskriminatif. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Kolusi. hormat dan santun.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. ramah. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. Memberikan pelayanan dengan empati. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. bersih. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. dan adil. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. tepat. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. tidak diskriminatif. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. dan Nepotisme. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan bebas Korupsi. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. terbuka. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 .

b. kemandirian. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. yaitu: a. tanggung jawab. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa. dan seluruh rakyat Indonesia. dan Negara. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. bersikap. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. pemerintah. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. sikap toleransi. etos kerja. 40 . UUD 1945.4. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. bersikap. disiplin. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. rasa malu. Etika meningkatkan kualitas PNS a. 4. dan berperilaku bagi negara. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. bertaqwa. Negara. sportivitas. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. keteladanan. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. Pemerintah.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. dan Pemerintah. adil. amanah. UUD 1945. dan merata. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa.

taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. Pegawai Negeri Sipil yang netral. bermasyarakat. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan bersatu padu. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. c. kompak. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. c. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku.b. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. d. f. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. g. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. e. berorganisasi. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . tanggap dalam melaksanakan tugasnya. terhadap diri sendiri.

dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. kekompakan. cermat. persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan bersemangat untuk kepentingan negara. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. taat. vii. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. Undang-Undang Dasar 1945. vi. 42 . Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. kesadaran. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. dan tanggung jawab. v. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. Negara dan Pemerintah. ii. atau pihak lain. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. diri sendiri. ix. iv. bertanggung jawab. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. iii. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. Bekerja dengan jujur. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. patuh. tertib. viii.

Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. xiii. xv. ii. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. Menyalahgunakan wewenang. dan terhadap atasan. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. xvii. xxvi. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. xvi. xii. dan Pegawai Negeri Sipil. keuangan. dan materiil. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat.x. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. Pemerintah. xiv. 43 . xxv. yakni: i. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. xx. xi. xxii. xix. xviii. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. sesama Pegawai Negeri Sipil. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Bertindak dan bersikap tegas. xxiv. xxi. Mentaati ketentuan jam kerja. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. xxiii.

Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. x. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. iv. xii. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. vi. vii.iii. teman sejawat. menjual. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. xiii. kecuali untuk kepentingan jabatan. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. Memiliki. xi. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. golongan atau pihak lain xiv. uang atau surat-surat berharga milik negara. ix. menggadaikan. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. dokumen. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi. membeli. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. Menyalahgunakan barang-barang. v. golongan atau pihak lain. viii. menyewakan atau meminjamkan barang-barang. xv.

kesadaran. Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. Bahwa saya.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. 45 . tertib. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. akan bekerja dengan jujur. pimpinan. cermat. Bahwa saya. xvi. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. Undang-Undang Dasar 1945. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. dan Pemerintah. menjadi direksi. atau komisaris perusahaan swasta. Bahwa saya. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. xvii. Bahwa saya. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. Pemerintah. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. dan tanggung jawab. Negara. seseorang atau golongan. xviii. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. golongan atau pihak lain.

rajin.5. bermasyarakat. terhadap diri sendiri. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. Negara. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. yaitu: 46 . dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. dan Pemerintah.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. UUD 1945. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. dan lain-lain. taat. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. 4. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. bersikap dan berperilaku baik. berorganisasi. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. patuh dan setia kepada Pancasila.3. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin.

diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. b. Negara. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS.a. berdisiplin.M. dan adil. netral. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS.6. terbuka. memiliki kepekaan. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . hormat dan santun. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. 4. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. Memberikan pelayanan secara cepat. profesional. serta tidak diskriminatif. kompak dan bersatu padu. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. dan Pemerintah. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. adil.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. Memberikan pelayanan dengan empati. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. di samping bersikap dan berperilaku baik. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. tepat. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. UUD 1945.

4. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. hormat dan santun. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. dan adil. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. terbuka.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. tepat.7.PAN/7/2003! 4. Latihan 3 1. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. memberikan pelayanan secara cepat.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.01/2007. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. serta tidak diskriminatif. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan.

B . 1.A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan.A B . merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. 2.A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. 3. Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. 9. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin. 8. B . B . B . 49 . TES FORMATIF I. B . 6. 7. 4.5. adil. dan merata.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. B . 10.A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. B .

Dalam melaksanakan tugasnya b. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. Sanksi moral b. tingkah laku. Memiliki daya juang yang tinggi 4. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. 1. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. d. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. tidak diskriminatif d. b. dan . Sanksi pidana dan perdata 3. adil. c. Nepotisme c. Memberikan pelayanan dengan empati. b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c.II. Kolusi. hormat dan santun. PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. sikap. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c.

Memiliki kepedulian yang tinggi III. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2.5. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. Kolusi. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. bila semua pernyataan benar 1. kerja sama. dan 3) benar B. netralitas. bila pernyataan 2) dan 4) benar D. tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. disiplin. Profesional d. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A. bila pernyataan 1). 2). bila pernyataan 1) dan 3) benar C. Transparan c. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . dan Nepotisme b. Bebas Korupsi.

dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . watak. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. Sonny Keraf. membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5. Kolusi.3. Menurut DR. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter.

Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.PAN/7/2003. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. kompak.4) Produktif dan disiplin 7. tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 .

B A 54 . C C A C D III.6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 7. 7. 3. 3. B A B B B A A A A 10. 6. 4. 9. D B 6. PILIHAN BERGANDA 1. 2. 5. BENAR/SALAH 1. 5. 8. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 2. 2. A II. 4.

9. B C D 8. 5. 4. 10.3. B D D 55 .

7. 56 . TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s. s.d. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini.d.d.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. s. Hitung jumlah jawaban yang benar.99 % 70. maka disarankan mengulang materi.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). 100% s.99 % 80. 90.

1993. Mardojo. C... Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Rooswiyanto. S. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi.G. Winarty. Soeharyo. Franz Magnis..H. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 10..Ed. 6. Darmodihardjo Darji. Dipl. Nyoman Dekker. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN.. DR. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan... A. Kansil. DAFTAR PUSTAKA 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Mr.. Soeharyo.S. Prijono. 9. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Jakarta.. S. Pendidikan Pancasila.. M. R. kumpulan karangan. S. 1990 16. Yogyakarta. Solomon. Prajabatan III. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik. Drs..J. Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sonny. C. 1 Maret 2003.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. cetakan VIII.A dan Sofia Ayu.. Jakarta.T. M. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I..H. A.. Prof .. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II.8..H. S. Desi Fernanda. 2001. 2005. Supriyadi. Keraf. Lembaga Administrasi Negara. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”. 2. LAN. Army.H.. Tjiptoherjanto. 16 Juli 2003. Pradya Paramita.H.P.. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. M. 3... 1984. Prajabatan III. penerbit Karunia Esa.. Sulandra J. Penerbit Erlangga. Drs. 57 . Etika Organisasi. Kuntjoro Purbopranoto. LAN. M.. 2001.W. Santiaji Pancasila. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . 15. M. 11.. Mei 2002. Drs. Hardijanto. 16 Juli 2003. 13. 8. Sonny. terbitan Program Magister STIA-LAN. 1998.. Kansil. Budaya Kerja dan Disiplin. Pringgodigdo. Etika Dasar.. DR.. Etika Organisasi Pemerintah.. 1985. Drs.M. Prof. Triguno. SC. S.Soc.. Departemen Keuangan. 1 April 2002. S. 18.S. Balai Pustaka. 4.T. 7.. Drs. Drs. 1 Maret 2003. 14. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Penerbit Kanisius. Suseno S..Ec. Salamoen. Pradya Paramita. 2002. 20 September 2002. P. Prof.. Etika Organisasi. 5.. A. Keraf. Prof. Tony. 17. 2002.J. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. DR. Drs. 12. Jakarta. Prof.. Etika Kepemimpinan Aparatur. Suseno S. Mr. P. Drs. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah.C. Salamoen..H.T.A..T. LLM. Jakarta. Etika Suatu Pengantar. Gering. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik..P. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN.

15. 7. 19. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. 9. Kolusi. Pemindahan. 18. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. 13. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. 5.01/2007. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. 14. 8. 10.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. 17. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 58 . Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan.PERATURAN-PERATURAN: 1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. 6.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 11. 16. 4. dan Nepotisme. 12.

01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. 23.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.20. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. 59 . Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK. 21. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. 22.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful