DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER

DAYA MANUSIA

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN PANGKAT V

ETIKA BIROKRASI

DISUSUN OLEH:
RUDOLF HUTAURUK, SE, MBA

JAKARTA

2009

BAHAN DIKLAT UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V

Modul 1 - 2

MATERI POKOK ETIKA BIROKRASI

OLEH

TIM PUSDIKLAT PEGAWAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

Berdasarkan Surat Tugas Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor ST-91F/PP.2/2008 tanggal 28 Agustus 2008, Sdr. Rudolf Hutauruk, S.E., M.B.A., ditugaskan sebagai penyusun Etika Birokrasi Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V sehingga sesuai dengan perkembangan peraturan perundangundangan yang berlaku. Modul ini adalah merupakan perbaikan dari Modul yang sebelumnya dengan judul yang sama dalam rangka mengakomodasi perkembangan materi Etika Birokrasi. Penunjukan ini sangat beralasan karena yang bersangkutan ditugaskan mengajar dan mengasuh mata pelajaran ini. Pengalaman mengajar yang cukup lama memungkinkan yang bersangkutan memilih materi yang diharapkan memenuhi kebutuhan belajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V. Modul Etika Birokrasi ini pembahasannya disusun dalam 2 (dua) modul yang merupakan kesatuan, yaitu: Modul 1: Etika dan Birokrasi Organisasi Pemerintah; Modul 2: Etika Pegawai Negeri Sipil dalam Pelaksanaan Tugas

Kami menyetujui modul ini digunakan sebagai bahan ajar bagi peserta Diklat Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V, namun mengingat Organisasi Departemen Keuangan sebagai bahan studi senantiasa berkembang, penyempurnaan modul perlu selalu diupayakan agar tetap memenuhi kriteria kemutakhiran dan kualitas. Pada kesempatan ini, kami mengharapkan kepada para pembaca (termasuk peserta Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat Tingkat V) agar bersedia memberikan saran atau kritik demi penyempurnaan modul ini. Setiap saran dan kritik yang membangun akan sangat dihargai. Atas perhatian dan peran semua pihak, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2009 Kepala Pusat ttd. Tony Rooswiyanto NIP 060064640

i

Kemudian. Agar birokrasi pemerintah dapat berjalan sebagaimana diharapkan. maka telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. yakni Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah.Tinjauan Umum Mata Pelajaran Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa sesuai dengan tujuan nasional yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu. Kolusi. maka diperlukan adanya etika birokrasi. maka telah ditetapkan pula Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa yang mengamanatkan agar aparatur pemerintahan memiliki sikap kepedulian yang tinggi dalam melayani masyarakat. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 disebut bahwa salah satu prinsip dalam kepemerintahan yang baik adalah menerapkan dan mengembangkan pelayanan prima. dan Nepotisme. dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil terhadap masyarakat (sebagaimana dimaksudkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan merata. Pada dasarnya dalam kepemerintahan yang baik. . serta didukung sikap dan perilaku yang baik sesuai dengan kode etik Pegawai Negeri Sipil. adil. kolusi. cenderung akan memberikan pelayanan yang tidak jujur. Pegawai Negeri Sipil yang hanya memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya tanpa didukung dengan sikap dan perilaku yang baik.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik). dan diskriminatif. yang berfungsi mengatur sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya. untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi. maka melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ditegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan masyarakat adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tugasnya. tidak ikhlas. untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. pemerintah bertugas untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang dalam praktiknya hal ini dilaksanakan melalui aparatur pemerintah. dan nepotisme melalui proses transformasi budaya dan perilaku pemerintahan.

Pemahaman atas materi Etika Birokrasi mutlak diperlukan oleh peserta diklat (sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dalam birokrasi pemerintah) sebagai sarana yang berperan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan dalam. profesional. prinsip. keberanian moral. b. dan pembagian etika. pengertian tentang moral (yang mencakup kesadaran moral. adil. pelaksanaan etika. kaedah dasar moral. Modul II: ETIKA PNS DALAM PELAKSANAAN TUGAS Membahas tentang etika. Modul I: ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH Membahas tentang definisi. prinsip-prinsip moral yang perlu dihayati. maka diharapkan akan terwujud profil Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar diharapkan dan diidam-idamkan oleh masyarakat. termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket. Di dalam modul I ini dijelaskan juga pengertian tentang birokrasi dan organisasi Pemerintah. jujur. penyelenggaraan negara. dan penegakan kode etik Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalam Modul II ini diuraikan juga peranan etika dalam peningkatan kualitas PNS. nilai-nilai dasar. pemerintahan. dan tidak diskriminatif. maka pembahasannya disusun dalam dua modul yang dipelajari secara berurutan. merata. serta tentang etos dan etiket. dan peranan etika dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada publik. . Berdasarkan pemahaman tersebut dan disertai dengan pengamalan kode etik Pegawai Negeri Sipil (sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Etik PNS). sebagai berikut: a. nilai moral). Untuk memudahkan dalam mempelajari bahan ajar Etika Birokrasi ini. teori-teori. dan pembangunan secara.

MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

2.......8............ 4... 1........................................................... 1................... Etiket ...... 4......................9....... 2.............................. 4.....1.........3................1........................... Asas-azas umum penyelenggaraan negara ......... Pengertian tentang birokrasi ....... Latihan 1 ............................................................................. DAFTAR ISI ............. Etika ..... 2......7................................................................. MORAL.........3........ 2.................... Tujuan Pembelajaran Khusus ... ii ................. Uraian dan contoh ...............7............................ Latihan 3 ........................ 2................ Tugas birokrasi ............................................................................................................................................................4............3 Perwujudan etika organisasi ......................................................... 2........DAFTAR ISI MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH KATA PENGANTAR .. 27 27 27 27 28 30 31 33 35 36 37 TES FORMATIF ...6.................................... Rangkuman ................... Rangkuman ..............2....................... Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral ..6.......... 4................................................................................................ 3............................ 4..................................................................................... Kb 2: ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH ...... ETOS.................... Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat ...................... i ii 1 1 1 1 3 3 3 14 16 17 18 19 20 20 20 22 25 26 3........................ 5.. 3... PENDAHULUAN .. Ciri-ciri pokok birokrasi ........................................................ 3........................ Tujuan Pembelajaran Umum ...............5............ 2.............3....... 3................ 1..2........................................................................... Asas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik .... Kb 1: ETIKA............... Pentingnya etika dalam organisasi .............4............................................................................................. 4................ 4..................... Deskripsi Singkat ..................................1......1.......................................................................5......................2.............. DAN ETIKET ....................................................4 Rangkuman ............................. 4................................... 3..2............. Uraian dan Contoh ................................5 Latihan 2 .. Kb 3: ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN ............. 4.................... 2............ 4....... Uraian dan contoh ...... 1............. Etos....................................

................................. 39 40 41 iii ....................................... UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ............. 7........................ KUNCI TES FORMATIF . 8.......... DAFTAR PUSTAKA ............................6............................................

azas-azas umum penyelenggaraan negara. moral. dan etika birokrasi yang dapat memperlancar pelayanan kepada masyarakat. peserta diklat diharapkan mampu memahami pengertian tentang: etika. yang dituangkan dalam tiga kegiatan belajar (Kb) sebagai berikut: (Kb 1) Etika. nilai moral. sedangkan pada kegiatan belajar 3 akan diuraikan hal-hal. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini peserta diklat dapat: a.2. etos. prinsip etika. Deskripsi singkat Modul 1 membahas tentang definisi/pengertian etika dan birokrasi organisasi pemerintah.1. cara mewujudkan etika birokrasi. birokrasi pemerintahan berikut ciri-cirinya. (termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket). azas-azas umum birokrasi pemerintahan yang baik. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mempelajari modul ini. seperti: pengertian umum tentang birokrasi.3. Dilanjutkan dengan pengertian-pengertian tentang moral. dan cara-cara mewujudkan etika organisasi. azas-azas umum penyelenggaraan negaras. teori-teori etika. moral. keberanian moral. 1 . dan etiket. 1. dan Etiket. ciri-ciri pokok birokrasi. etos. Etos. (Kb 2) Birokrasi organisasi pemerintah. serta terakhir tentang etos dan etiket. dan pembagian etika. moral.MODUL I ETIKA DAN BIROKRASI ORGANISASI PEMERINTAH 1. PENDAHULUAN 1. yang mencakup pengertian tentang Etika. dan etiket. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi pemerintahan. (Kb 3) Etika Birokrasi Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Pada kegiatan belajar 1 akan disampaikan pengertian tentang etika. kesadaran moral. tugas birokrasi. 1. Moral. Dalam kegiatan belajar 2 akan dijelaskan tentang alasan pentingnya etika dalam organisasi. alasan-alasan pentingnya etika dalam organisasi pemerintah. dan etiket. serta birokrasi organisasi pemerintah. serta manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. etos. kaedah dasar moral. Menjelaskan pengertian tentang etika.

b. Menguraikan prinsip-prinsip, teori-teori, pembagian etika, dan macammacam etika, c. Menjelaskan pengertian tentang moral, kesadaran moral, kaedah dasar moral, keberanian moral, dan nilai moral, d. Menguraikan pengertian tentang moralitas, dan norma/kaedah dalam hubungannya dengan moral, e. Menjelaskan pengertian tentang etos, etiket, termasuk persamaan dan perbedaan antara etika dengan etiket, serta perbedaan etika dengan moral, f. Menjelaskan tentang alasan pentingya etika birokrasi dalam suatu organisasi, g. Menguraikan syarat-syarat perwujudan etika birokrasi, h. Menjelaskan pemerintahan, i. Menjelaskan azas-azas umum pemerintahan yang baik, dan azas-azas penyelenggaraan Negara, j. Menjelaskan manfaat etika birokrasi dalam memperlancar pelayanan kepada masyarakat. pengertian umum tentang birokrasi dan organisasi

2

2. Kegiatan Belajar 1

ETIKA, MORAL, ETOS, DAN ETIKET
2.1. Uraian dan contoh Etika memiliki arti secara harfiah sebagai adat-istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Jika ditinjau dari sudut bahasa,maka etika itu dapat diartikan sebagai berikut; • • • • Ethos (Yunani), atau sama dengan watak kesusilaan atau adat, Mores (Latin), atau sama dengan cara hidup atau adat, Susila (Sansekerta), atau aturan hidup yang lebih baik, Akhlak (Arab), atau budi pekerti, atau kelakuan.

Terkait dengan pengertian etika sebagai ethos, maka etika dapat dikatakan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan adat istiadat atau kebiasaan hidup yang dianggap baik oleh kalangan masyarakat tertentu. Ada juga yang mengartikan etika itu sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens:2004). Contoh: seorang bapak (kepala keluarga) membelanjakan gaji bulanannya terlebih dahulu untuk keperluan hobinya (memelihara burung atau lebih jelek lagi main judi) kemudian apabila masih ada sisa baru diserahkan kepada keluarga. Ditinjau dari segi moral, perbuatan tersebut tidak pantas, tidak etis atau immoral karena sebagai kepala keluarga, bapak tersebut mempunyai kewajiban untuk mengutamakan istri dan anak-anak di atas kebutuhannya pribadi. 2.2. Etika a. Definisi etika 1. William Lilie (1957:1-2), dalam Sonny Keraf (2003) Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang bertugas memberikan pertimbangan terhadap perilaku manusia dalam masyarakat tentang baik atau buruk, benar atau salah). ‘The normative science of the conduct of human being living in societies is a science which judge this conduct to be right or wrong, to be good or bad, or in some similar way.” 3

2. William Frankena (1973:5-6), dalam Sonny Keraf (2003) Etika sebagai cabang dari filsafat, yaitu filsafat moral atau pemikiran kefilsafatan tentang moralitas, masalah moral, dan pertimbangan moral. “Ethics is a branch of philosophy; it is a moral philosophy or philosophical thinking about morality, moral problems, and moral judgments.” 3. Encyclopaedia Britannica (1972:752), dalam Sonny Keraf (2003) Etika juga disebut filsafat moral, yaitu studi yang sistematis tentang sifat dasar dari konsep-konsep nilai; baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya, dan merupakan prinsip-prinsip umum yang memungkinkan kita menerapkannya pada sesuatu. “Ethics (from Greek Ethos, Character) is the systematic study of the nature of value concepts, ‘good’, ‘bad’, ‘ought’, ‘right’, ‘wrong’, etc., and of the general principles which justify us in applying them to anything; also called ‘moral philosopy’ (from Latin mores, customs).” 4. Ki Hajar Dewantara (1962:459), dalam Darmodihardjo, dkk (1985) Ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan. Dari empat definisi tersebut dapat dikatakan bahwa Etika adalah: 1) merupakan ilmu pengetahuan (science), akhiran Ika, berarti ilmu 2) berkaitan dengan perilaku manusia 3) bersifat normative (kaidah/aturan yang berlaku) 4) bagian dari filsafat (philosophy), yaitu pengetahuan dan penyidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. b. Pengertian lain dari etika 1. Sistem Nilai Etika sebagai sistem nilai berkaitan dengan kebiasaan yang baik, tata cara hidup yang baik (baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan juga baik bagi masyarakat). Etika sebagai sistem nilai dipahami sebagai nilai yang dipergunakan sebagai pedoman, petunjuk, arah; bagaimana 4

sayang sesama manusia. Prinsip Keindahan (Beauty) Prinsip ini mendasari bahwa kehidupan manusia sesungguhnya merupakan keindahan. tidak sama satu sama lain. ras. yang secara keseluruhan merupakan suatu keindahan dalam kehidupan manusia. berpenampilan menarik. Filsafat moral Sebagai filsafat moral etika mempunyai pengertian yang lebih luas karena filsafat moral (sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas dan mengkaji persoalan benar atau salah secara moral) merupakan penggambaran (refleksi) bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak. etnis. Prinsip Kebaikan (Goodness) Secara umum kebaikan diartikan sebagai sifat atau karakterisasi dari sesuatu yang menimbulkan pujian. sikap. karena etika tersebut memuat berbagai perintah yang harus dipatuhi serta larangan yang tidak boleh dilanggar. berpenampilan indah. contoh. tidak diskriminatif. R. Sebagai contoh. ketentraman. dan lain-lain. 2. Prinsip-prinsip etika Adler melalui bukunya “The Great Ideas”. kebaikan yang diterima umum. baik dalam situasi konkrit maupun situasi khusus. adanya rasa kasih sayang antara sesama. saling berbuat baik. Prinsip Persamaan (Equality) Meskipun manusia terdiri dari beberapa bangsa. Prinsip kebaikan bersifat universal. Etika yang dilandasi persamaan menghapuskan perilaku diskriminatif. c. dan pola pikir yang beragam. namun semua perbedaan tersebut bukan merupakan alasan untuk memperlakukan tidak sama terhadap semua manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai derajat yang sama dalam kehidupan. kedamaian. Jadi manusia harus diperlakukan sama. saling kasih-mengasihi. misalnya: saling menghormati.C (1984) menetapkan Enam Ide Agung (The Six Great Ideas) yang merupakan landasan prinsipil dari etika.manusia harus bersikap dan berperilaku baik. 3. 2. yaitu: 1. saling bertenggang rasa. dan lain-lain. suasana yang kondusif. dalam Salomon. bekerja sama. 5 .

kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Prinsip Kebebasan (Liberty) Secara umum kebebasan dapat diartikan bahwa setiap orang berhak menentukan pilihannya. Kebenaran harus dibuktikan kepada masyarakat agar masyarakat merasa yakin akan kebenaran tersebut. Dengan demikian kebebasan manusia mengandung pengertian. Kita telah mengenal istilah kebenaran dalam pemikiran (truth in mind) dan kebenaran dalam kenyataan ( truth in reality). Prinsip Keadilan (Justice) Secara umum keadilan dapat diartikan bahwa setiap orang menerima apa yang seharusnya diterima. Teori-teori etika Teori etika berikut ini akan memberi jawaban bagaimana kita harus bertindak etis ketika kita menghadapi situasi konkrit. dan kebenaran bagi setiap orang. Keenam Ide Agung dari Adler dikenal sebagai prinsip-prinsip etika. d. sehingga merasa adil karena apa yang diterima sesuai apa yang seharusnya diterima.4. yang mendasari hubungan antar manusia dengan lingkungannya. Kesanggupan untuk mempertanggungjawabkan. Setiap orang bebas melakukan atau tidak melakukan sesuai pilihannya. 5. yaitu : • • • Kemampuan untuk menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. jangan sampai merugikan orang lain atau masyarakat. Tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Teori etika ini terdiri 6 . apa yang baik untuk dirinya. Prinsip Kebenaran (Truth) Kebenaran yang mutlak hanya dapat dibuktikan dengan keyakinan. artinya hak menentukan pilihan dalam hidupnya yang merupakan kebebasan harus dapat dipertanggungjawabkan. kebaikan. 6. akan semakin besar tanggung jawabnya. keadilan. dengan ketentuan jangan melanggar kebebasan orang lain. Syarat-syarat yang memungkinkan manusia melaksanakan kebebasannya dalam menentukan pilihannya beserta konsekuensi atas kebebasannya tersebut. kebebasan. persamaan. Semakin besar kebebasan yang dimiliki. Keadilan ialah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. sehingga etika harus menjamin terciptanya keindahan.

artinya hukum moral itu berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat.dari: etika deontologi. Suatu tindakan yang dianggap baik secara moral menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Oleh karena itu hukum moral telah tertanam dalam hati nurani setiap orang. dia mengikat siapa saja dalam dirinya sendiri. sebagaimana 7 . etika teleologi dan etika keutamaan. menjadi kewajiban kita untuk menghindari atau tidak melakukannya. yang mempunyai kaitan langsung dengan etika sebagai refleksi diungkapkan oleh Sonny Keraf (2003). Immanuel Kant (1734-1804). b) Tindakan yang dilakukan berdasarkan kewajiban tersebut harus didasarkan pada kemauan baik. Secara garis besar ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Menurut etika deontologi. dan karena kita yakin bahwa apa yang kita anggap benar. karena kita mempunyai kewajiban untuk mematuhi apa yang kita anggap benar. Hukum moral menurut Kant adalah bersifat universal karena dianggap sebagai perintah tak bersyarat. etika deontologi sama sekali tidak mempersoalkan apakah akibat dari tindakan tersebut baik atau tidak. Segala tindakan yang bertentangan dengan kewajiban merupakan tindakan yang tidak baik. yaitu : 1) Prinsip universalitas Bertindak atas dasar perintah yang dikehendaki akan menjadi sebuah hukum universal. Sebaliknya suatu tindakan yang buruk secara moral. Ada dua prinsip hukum moral yang bersifat universal dan merupakan perintah tidak bersyarat. kritis. suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Dengan demikian. Etika Deontologi Istilah deontologi berasal dari kata Yunani “deon” yang berarti kewajiban. juga dianggap benar oleh orang lain. sedangkan “logos” berarti pengetahuan. dalam Sonny Keraf (2003). berpendapat bahwa tindakan yang baik atau tindakan yang memiliki nilai moral adalah: a) Tindakan yang dijalankan sesuai dengan kewajiban. bukan karena paksaan.

ditindas atau diperas demi kepentingan lain. tindakan ini dipandang baik secara moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan kesejahteraannya. yaitu egoisme etis dan utilitarianisme. Kita juga tidak boleh membiarkan diri kita diperalat. 8 . karena suatu tindakan yang bernilai moral. ataupun orang lain. Menurut etika deontologi. yang berarti tujuan. bahkan kita tidak boleh memperbudak diri kita demi uang atau kekuasaan karena ini bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. apabila bertujuan atau berakibat buruk. Contoh: Kalau kita melakukan KKN. karena etika teleologi tidak menilai perilaku atas dasar kewajiban. apakah diri kita sendiri. 2. Meskipun suatu tindakan dalam pandangan egoisme etis bersifat egoistis. baik bagi siapa: diri sendiri. atau banyak orang? Untuk menjawab pertanyaan ini. berorientasi kepada tujuan pada dirinya sendiri dan tidak pernah hanya sebagai alat. berarti kita memperalat diri kita demi uang. Sebaliknya. terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. maka tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan. etika teleologi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). manusia mempunyai harkat dan martabat yang luhur dan karena itu tidak boleh diperlakukan secara tidak adil. lakukan apa yang menjadi kewajiban Anda. Etika Teleologi Teleologi berasal dari kata Yunani “telos”. Menurut Kant. a) Egoisme etis menilai bahwa suatu tindakan dianggap baik. diperlakukan secara sewenang-wenang. apabila bertujuan atau berakibat baik bagi dirinya sendiri. Hal yang demikian bertentangan dengan prinsip hormat akan pribadi manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Lebih lanjut pertanyaan mendasar berkaitan dengan tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai baik. tetapi atas dasar tujuan atau akibat dari suatu tindakan. orang lain. suatu tindakan dinilai buruk. Jadi etika teleologi menilai suatu tindakan baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat yang baik. Etika teleologi berbeda dengan etika deontologi.2) Prinsip hormat kepada manusia sebagai tujuan pada dirinya Bertindaklah sedemikian rupa agar kita memperlakukan manusia.

Sebaliknya, suatu tindakan dipandang buruk secara moral, apabila sebagai akibat dari tindakan itu orang menderita atau sengsara. b) Berbeda dengan egoisme etis, utilitarianisme menilai suatu tindakan baik, berdasarkan penilaian apakah perbuatan tersebut akibat yang baik bagi banyak orang. Etika membawa

utilitarianisme

dikembangkan pertama kali oleh Jeremy Bentham (1748 – 1832). Persoalan yang ada pada zaman tersebut adalah bagaimana

mengevaluasi baik-buruknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya, dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian. Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap menguntungkan, tetapi ditolak oleh kelompok lain karena dianggap merugikan. Bagi Bentham ada 3 (tiga) kriteria sebagai dasar obyektif yang dipakai untuk menilai suatu kebijakan publik tersebut baik dan buruk secara moral, yakni sebagai berikut; 1) Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan itu suatu tindakan yang mendatangkan manfaat tertentu. Jika kebijakan publik itu mendatangkan manfaat, maka kebijakan publik itu dianggap baik dan benar secara moral. 2) Kriteria kedua manfaat yang lebih besar atau terbesar, yaitu; suatu kebijakan dianggap baik, apabila memberikan manfaat lebih besar atau terbesar dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya. Atau jika dari semua kebijakan atau tindakan yang tersedia ternyata sama-sama mendatangkan kerugian, maka tindakan yang baik

adalah tindakan yang mendatangkan kerugian yang terkecil. 3) Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang, yaitu: kebijakan publik dinilai baik, jika manfaat terbesar yang dihasilkan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Semakin banyak orang mendapatkan manfaat, semakin baik kebijakan atau tindakan tersebut. Di antara beberapa kebijakan atau tindakan yang sama-sama memberikan manfaat, pilihlah yang manfaatnya terbesar, dan di antara yang manfaat terbesar, pilihlah yang manfaatnya dinikmati paling banyak orang. 9

Tegasnya, prinsip yang dianut oleh utilitarianisme adalah berbuatlah sedemikian rupa agar tindakan itu mendatangkan manfaat yang lebih besar atau terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kita tidak perlu mencari norma dan nilai moral yang menjadi kewajiban kita, yang perlu kita lakukan hanyalah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan kita agar dapat dilihat apakah hal ini bermanfaat atau merugikan. 3. Etika Keutamaan Berbeda dengan dua teori etika tersebut di atas, etika keutamaan tidak mempersoalkan akibat dari suatu tindakan. Etika keutamaan juga tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai universal untuk menilai moral. Etika keutamaan lebih memfokuskan pada pengembangan watak moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari pengalaman hidup, teladan dan contoh hidup yang diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu masyarakat dalam menyikapi persoalan-persoalan hidup. Nilai moral bukan terbentuk atau muncul dalam bentuk adanya

aturan berupa larangan atau perintah, tetapi muncul dalam bentuk teladan moral dari tokoh-tokoh suatu masyarakat tersebut, seperti: kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kemurahan hati, rela berkorban, dan lain-lain di mana tokoh-tokoh besar dengan teladan moral tersebut yang perlu kita jadikan contoh untuk ditiru. Menurut teori etika keutamaan, orang bermoral atau pribadi bermoral ditentukan oleh kenyataan seluruh hidupnya, yaitu: bagaimana dia hidup baik sebagai manusia. Jadi, bukan tindakan satu per satu yang menentukan kualitas moralnya. Pribadi bermoral adalah jika dalam semua situasi yang dihadapi dia mempunyai posisi, kecenderungan, bersikap, dan berperilaku terpuji sepanjang hidupnya. Jadi menurut teori etika keutamaan, yang dicari adalah keutamaan, excellence, kepribadian moral yang menonjol, yaitu: pribadi yang berprinsip, yang mempunyai integritas moral yang tinggi, sebagaimana dipelajarinya dari tokoh-tokoh besar dalam hidupnya. Pribadi yang bermoral adalah orang yang adil sepanjang hidupnya, bukan sekedar melakukan tindakan yang adil dan baik, melainkan selalu adil sepanjang hidupnya dan melakukan hal yang baik. Pribadi yang

bermoral adalah orang yang berhasil mengembangkan sikap yang baik dan 10

bermoral melalui kebiasaan hidup yang baik, artinya dia selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral sepanjang hidupnya. Dia bukan sekedar orang yang melakukan tindakan yang baik, tetapi dia sehari-hari memang orang yang baik. Keunggulan etika keutamaan adalah bahwa moralitas dalam suatu masyarakat dibangun melalui sejarah atau cerita. Melalui sejarah atau cerita disampaikan pesan-pesan moral, nilai-nilai, dan berbagai keutamaan moral agar dapat ditiru dan dihayati oleh semua anggota masyarakat. Orang juga belajar moralitas melalui keteladanan nyata dari tokohtokoh, para pemimpin, orang yang dihormati dalam masyarakat. Keutamaan moral tidak diajarkan melalui indoktrinasi, perintah, larangan, tetapi melalui keteladanan dan contoh nyata, khususnya dalam menentukan sikap dalam situasi yang dilematis. Etika keutamaan sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas, yaitu setiap orang agar mempergunakan akal budinya untuk menafsirkan moral tersebut, sehingga terbuka bagi setiap orang menerapkan moral yang khas bagi dirinya, dan ini akan membuat kehidupan moral akan menjadi kaya karena berbagai penafsiran. Meskipun demikian, etika keutamaan memiliki kelemahan, yaitu ketika berbagai kelompok masyarakat memunculkan berbagai keutamaan moral yang berbeda-beda sesuai dengan pendapat masing-masing. Khususnya dalam masyarakat modern di mana cerita atau dongeng tidak lagi memperoleh tempat, seperti: pada masyarakat yang belum maju, maka moralitas dapat kehilangan relevansinya. Demikian juga, apabila di dalam masyarakat sulit ditemukan tokoh masyarakat yang baik yang bisa dijadikan teladan moral, maka moralitas akan mudah hilang dari masyarakat tersebut. Dalam masyarakat kita sekarang, kita sangat sulit menemukan keteladanan moral dari tokoh-tokoh tertentu. Yang kita dapatkan adalah keteladanan semu, seperti: bagaimana menjadi kaya melalui cara yang tidak halal, atau berbisnis dengan keuntungan besar tetapi dengan cara curang. Namun demikian, ada yang menarik dari etika keutamaan ini, yaitu: menuntut kita untuk membangun watak, karakter, dan kepribadian moral, berdasarkan keteladanan moral. Secara implisit, apabila kita adalah pelayan publik atau bahkan tokoh dan pemimpin publik, maka sangat 11

1. kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak etis. Etika khusus terbagi menjadi 3 (tiga). e. kendati istilah ini sesungguhnya tidak tepat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan aktual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. Etika Khusus Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. yaitu etika individual. etika sosial. dan semacamnya. Maka. Etika khusus lalu dianggap sebagai etika terapan karena aturan normatif yang bersifat umum diterapkan secara khusus sesuai dengan kekhususan dan kekhasan bidang kehidupan dan kegiatan khusus tertentu. 12 . Dengan kata lain.diharapkan agar kita memberikan keteladanan moral yang dapat diandalkan. dan etika lingkungan hidup. Etika Umum Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral. Macam-macam pembagian etika Secara umum etika dapat dibagi menjadi 2 (dua). Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis. dapat dikatakan bahwa etika khusus mencakup penerapan etika umum dalam bidang-bidang khusus. bagaimana manusia mengambil keputusan etis. teori-teori etika. lembaga-lembaga normatif (yang terpenting diantaranya adalah suara hati). 2. Dalam hal ini. norma dan prinsip moral dipandang dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia. yaitu Etika Umum dan Etika Khusus. etika sebagai refleksi kritis rasional meneropong dan merefleksikan kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat.

dan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan hidup secara keseluruhan. Etika lingkungan hidup berbicara mengenai hubungan antara manusia. b) Etika Sosial Etika sosial berbicara mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Pembagian etika-etika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : UMUM ETIKA INDIVIDUAL ETIKA SOSIAL ETIKA KHUSUS ETIKA LINGKUNGAN Sumber: Sonny Keraf (Etika Bisnis. 2006:34) 13 . yang berbicara mengenai perilaku individual tertentu dalam rangka menjaga dan mempertahankan nama baiknya sebagai pribadi individual. Salah satu prinsip yang secara khusus relevan dalam etika individual ini adalah prinsip integritas pribadi. sikap kritis terhadap paham atau ideologi tertentu. termasuk dalam bentuk-bentuk kelembagaan (keluarga. serta menyangkut sikap dan pola prilaku manusia sebagai makhluk sosial dalam interaksinya dengan sesamanya. masyarakat. c) Etika Lingkungan Hidup Etika lingkungan hidup merupakan cabang etika khusus yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan. serta pola perilaku dalam bidang kegiatan masing-masing. negara). Ia menyangkut hubungan individual antara orang yang satu dengan yang lain.a) Etika Individual Etika individual lebih menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai kelompok dengan lingkungan alam yang lebih luas dalam totalitasnya. Etika sosial mempunyai lingkup yang sangat luas.

Beberapa pengertian yang berkaitan dengan moral. adat. Kesadaran moral Disamping pengertian tentang moral. Moralitas dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh seseorang memiliki dorongan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip etika. c.3. a. tata cara hidup yang baik.2. kebiasaan. sebagaimana diuraikan di bawah ini: 1. Moralitas merupakan salah satu instrumen kemasyarakatan apabila suatu kelompok sosial menghendaki adanya penuntun tindakan (action guide) untuk segala pola hidup dan perilaku yang dikenal sebagai pola sikap dan perilaku yang bermoral. perlu juga diketahui pengertian tentang apa yang dimaksudkan dengan kesadaran moral. Moralitas adalah merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. suatu hal yang bersifat rasional. a. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. Perasaaan Wajib Manusia wajib berbuat baik karena merupakan tuntutan nurani sehingga kewajiban itu merupakan suatu keharusan (sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. yang terkait dengan baik buruknya suatu perbuatan. Secara harfiah. Moral berasal dari Bahasa Latin “mos” (jamak: “mores”). dan suatu kebebasan memilih yang dimiliki orang tersebut. Kaedah/Norma Dasar Moral Norma berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘penyiku’ yaitu: alat untuk mengukur sesuatu. Moral Moral adalah kata yang cukup dekat dengan etika. Kesadaran moral bagi seseorang adalah meliputi suatu perasaan wajib. yang berarti. Secara etimologi kata “moral” berarti adat kebiasaan. 2. Kebebasan Manusia bebas untuk taat terhadap kaedah/norma moral. kebiasaan yang baik. sehingga akan menentukan nilai bagi manusia itu sendiri. 3. Norma dalam bahasa Arab disebut ‘kaedah’ yang pada 14 . Rasional Bersifat rasional karena kesadaran moral itu berlaku umum dan terbuka bagi pembenaran atau penyangkalan.

petunjuk hidup sebelum suatu tindakan atau perbuatan dilakukan. yang merupakan keharusan seseorang untuk tidak berbuat. akibatnya tidak baik. sebagaimana diuraikan sebelumnya.hakekatnya merupakan pedoman hidup. tentang bagaimana manusia itu harus bertindak baik dalam kehidupannya. Dalam hubungan ini. dan sesudah perbuatan dilakukan. sebagai suatu sistem mempunyai nilai-nilai tertentu. dan tatacara hidup yang baik dari masing-masing pribadi seseorang sebagai sifat dari perilaku yang baik. kebiasaan dan tatacara hidup yang baik seseorang individu dapat diterapkan oleh orang tersebut dalam bentuk norma/kaedah. ada juga hal lain yang perlu dipahami. dan norma moral. sebagaimana yang diwajibkan. Berkaitan dengan hari nurani Mewujudkan nilai moral merupakan tuntutan hati nurani. kebiasaan yang baik. yakni: keberanian moral. dapat disimpulkan bahwa antara norma/kaedah dan moral terdapat suatu keterikatan. Norma/kaedah berisi dua hal yang mendasar. yang memiliki ciri-ciri yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Berkaitan dengan tanggung jawab Manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya memiliki moral yang tinggi. Nilai Moral Moral. 15 . penuntun. Keberanian moral adalah merupakan tekad untuk tetap mempertahankan sikap. e. Keberanian Moral Disamping kesadaran moral dan kaedah/norma moral. yaitu: moral sebagai adat istiadat. d. norma hukum. yang harus ditaati dan dilaksanakan karena akibatnya baik kalau dilakukan. kriteria untuk menilai apakah suatu perbuatan dilaksanakan sesuai. petunjuk hidup. 2. dan larangan. yang didasarkan pada kebenaran yang diyakini sebagai kewajiban dan tanggung jawab. atau harus dihindari karena kalau dilakukan. mempunyai fungsi sebagai pedoman. Norma/kaedah yang meliputi: sopan santun. dan merupakan ciri watak yang kuat dari seseorang. Seseorang bersalah atau tidak ditentukan oleh apakah seseorang itu bertanggung jawab atau tidak. Norma/kaedah adalah sebagai ukuran. yaitu: kewajiban. moral secara harfiah adalah merupakan adat istiadat. Di sisi lain.

integritas. seperti: rasional. dan tanggung jawab. Pengertian tentang etos Kata yang mirip dengan etika dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari adalah etos. Dalam etos kerja terkandung nilai-nilai positif dari pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. keputusan nalar. Seorang pegawai yang pada awalnya memiliki etos kerja yang tinggi bisa berubah menjadi.4. Etos kerja seorang individu akan sangat dipengaruhi oleh etos kelompok. masyarakat. Perbedaan Moral dengan Etika Moral. yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Pemakaian kata etos sering kita dengar. Etos kerja dalam hubungannya dengan etika Etos kerja merupakan sifat dasar seseorang dan sekelompok orang dalam melakukan sesuatu pekerjaan. seperti: etos kerja. Berbeda dengan etika. dan petunjuk hidup). dan sebagainya. Apabila ada istilah etos kerja. seperti misalnya: jujur itu adalah baik dan bohong itu adalah jelek/tidak baik. kebebasan. b. Lebih jauh etos dipandang sebagai semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral tertentu (Magnis Suseno. tradisi. Dalam bahasa Inggris ‘ethos’ berarti ciri-ciri atau sikap dari individu. seperti: disiplin. 2. kepercayaan. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri atau sikap seseorang atau sekelompok orang terhadap kerja.3. Etos a. dan sebagainya. tidak bertanggung jawab terhadap 16 . etos profesi. adalah suatu sistem nilai (aturan/pranata. alasan logis. seperti: mengapa jujur itu baik? mengapa harus jujur? apakah kita harus selalu jujur dalam segala situasi? apa akibatnya kalau kita tidak jujur? dan sebagainya. transparansi. f. atau budaya terhadap kegiatan tertentu. bersifat mutlak (absolute) dan tidak boleh ditawar-tawar. akan terlihat pada saat seseorang tersebut mengalami hambatan atau tantangan dalam pekerjaannya. yaitu etos orang-orang yang ada disekitarnya. yaitu sesuatu hal yang merupakan refleksi kritis. Bersifat mewajibkan Manusia wajib mewujudkan tindakan-tindakan yang mempunyai nilai moral. dedikasi. Etos adalah suatu kata yang telah diterima dalam bahasa Indonesia. positif atau negatif. tanggungjawab. misalnya: malas. 1993:120). Etos kerja bisa kuat atau lemah.

Sementara perbedaan antara etika dengan etiket. Pemakaian kata etiket.5. watak) sesungguhnya mengacu pada masing-masing pribadi seseorang yang mempunyai kebiasaan. Kaitan antara etiket dan etika adalah keduanya sama-sama menyangkut tentang perilaku manusia. Sebaliknya. • Etiket hanya berlaku jika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. menurut Bertens (2004: 8-11) adalah sebagai berikut: • Etiket menunjukkan cara yang dianggap tepat dan diterima atas suatu tindakan yang harus dilakukan manusia dalam suatu kalangan tertentu. moral mengandung makna berkenaan dengan perilaku baik dan buruk. misalnya. dan sebagainya. jangan mencuri. Makna etika tersebut hampir sama dengan moral yang juga berarti kebiasaan atau adat (Bertens. misalnya. Etiket tidak sama dengan etika. misalnya tampak pada kombinasi etiket pergaulan. dalam budaya tertentu jika menyerahkan sesuatu benda dengan tangan kiri dianggap melanggar etiket. 2.pekerjaannya. 2004:5). Dalam hubungan ini. etiket makan. Etiket Kata lain yang hampir sama dengan etika. dan keduanya bersifat normatif (etika mengacu pada norma moral. sedangkan etiket mengacu pada norma kelaziman). Di sini etika memberi norma moral pada tindakan itu. atau menghindari pekerjaan akibat terpengaruh oleh temanteman kerjanya yang memiliki etos kerja rendah. Sebagai kata sifat. misalnya. etika merupakan moral yang dapat menciptakan suasana khas pada bidang kerja seseorang yang dibentuk oleh sifat dan sikap yang menumbuhkan naluri moralitas. nilai-nilai kehidupan yang hakiki dan memberi inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilai-nilai kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. etika berkaitan dengan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. yaitu etiket. ada aturan etiket yang mengatur kita makan (kita 17 . jangan berbohong. Etos kerja di sini jelas menunjukkan suasana khas yang meliputi bidang kerja seseorang yang terbentuk oleh sifat dan sikap yang dapat dipahami secara moral. jangan korupsi merupakan norma-norma moral. meskipun ada kaitannya. Etika (kebiasaan. akhlak atau watak tertentu. Etiket berasal dari bahasa Inggris ‘etiquette’ yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan santun.

Larangan-larangan korupsi. Etika dalam kehidupan dan prakteknya diartikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma moral yang mendasari perilaku manusia. berlaku kapan saja apakah tindakan itu disaksikan orang lain atau tidak. menyontek. etos. RANGKUMAN Etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral dipandang sebagai pedoman hidup atau petunjuk hidup bagi manusia dan refleksi kritis.dianggap melanggar etiket. 2. Sebaliknya. dan sebagainya. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian. dan sebagainya berlaku pada semua kalangan dan budaya. dan etiket.6. yang terdiri dari: etika umum dan etika khusus. Sedangkan moralitas merupakan kesesuaian sikap dan perilaku seseorang dengan norma-norma yang ada. etika berlaku baik ketika orang atau pihak lain yang menyaksikan maupun tidak. Selain etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral. moralitas. Secara harfiah. 18 . tata cara hidup yang baik. Disamping pengertian tentang etika. atau menyontek. Moral secara etimologi diartikan sebagai adat kebiasaan. tiga teori etika. saya tidak dianggap melanggar etiket walaupun makan dengan cara seperti itu). yakni: etika deontologi. tetapi apabila saya makan sendiri. yang mempunyai kaitan dengan baik atau buruknya suatu perbuatan. Misalnya. Penjelasan mengenai perbedaan antara etika dan etiket di atas menuntut kita agar kita tidak lagi mencampuradukkan atau bahkan menyamakan makna keduanya. korupsi. dan etika keutamaan. istilah moral sama dengan etika yang berarti adat istiadat. serta pembagian etika. etika lebih bersifat universal. juga dikenal adanya prinsip-prinsip etika. Sebaliknya. bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak dalam situasi konkrit. mencuri. • Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Larangan-larangan untuk mencuri. ada juga pengertian-pengertian tentang: moral. Etiket sangat tergantung pada anggapan kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. makan dengan menggunakan tangan atau tersendawa waktu makan. • Etiket bersifat relatif. apabila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja. etika teleologi. di sini manusia mengamati dan menilai perilaku moral.

etos berarti ciri-ciri dari suatu masyarakat atau budaya. etiket menunjukkan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam suatu kalangan tertentu. etos. transparansi. etiket diartikan sebagai suatu hubungan formal atau sopan santun. yakni: a. menurut Adler! 4. dedikasi. Sebutkan teori-teori yang ada tentang etika! 3. tergantung pada anggapan dari suatu kalangan atau budaya yang memberlakukan etiket. dan etiket! 5. Etiket hanya bersifat lahiriah (dalam tindakan). Dari pengertian ini. sedangkan etika berkaitan dengan norma moral. Jelaskan perbedaan pengertian-pengertian tentang. maka ini dimaksudkan sebagai ciri-ciri dari kerja. b. integritas. moral. etika. tanggung jawab. c. Bandingkan perbedaan mendasar antara etika dan etiket. apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak. seperti: disiplin. etiket mempunyai perbedaan yang mendasar bila dibandingkan dengan etika. dan keempat. Berikan contoh! 19 . dan sebagainya. apabila ada istilah etos kerja. sedangkan etika berlaku baik ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan atau tidak. etiket hanya berlaku ketika ada orang atau pihak lain yang menyaksikan suatu tindakan. sebaliknya. khususnya untuk pribadi atau kelompok yang melaksanakan kerja. Jelaskan prinsip-prinsip etika. 2. etiket lebih bersifat relatif. etika lebih bersifat universal karena memberikan pedoman moral untuk semua kalangan atau budaya. sedangkan etika lebih bersifat kepribadian.7. LATIHAN 1 1. Jelaskan tentang pengertian etika sebagai sistem nilai dan etika sebagai filsafat moral! 2. Sementara itu.Di sisi lain.

kejujuran. dan sebagainya dan disetujui bersama agar tertanam dengan emosi yang mendalam dalam setiap jiwa anggota organisasi. etika organisasi adalah pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan maupun filosofi organisasi yang bersangkutan.2. DR. prinsip-prinsip organisasi. Dengan demikian. Tony Rooswiyanto. Uraian dan contoh Etika dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Betapapun besar ataupun kecilnya suatu organisasi. ketulusan. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pedoman para anggota organisasi tersebut.3. 3. Pentingnya etika dalam organisasi Beberapa pendapat yang menjelaskan alasan-alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi oleh Drs. Sementara organisasi diartikan sebagai sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan (Drs. kesabaran.1. sebagai berikut: a. Kegiatan Belajar 2 ETIKA ORGANISASI PEMERINTAH 3.A: 1998). Adapun ketiga alasan tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi adalah sebagai berikut: 1. Etika memungkinkan organisasi memiliki dan menyepakati nilai-nilai moral sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku dari para anggota 20 . etika organisasi dapat juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan. pasti mempunyai nilai-nilai dan normanorma yang menjadi pedoman para anggota dalam berperilaku di organisasinya. peraturan perundang-undangan. sehingga pelaksanaannya akan menjadi efektif dan akhirnya tercipta budaya yang positif dalam berorganisasi. terlebih dahulu harus dibuat dengan memperhatikan prinsippinsip etika. M. MSc (2005:27) dan Prof. Tony Rooswiyanto Menurut Rooswiyanto ada tiga alasan mendasar tentang pentingnya etika dalam kehidupan organisasi. Menurut Salamoen dan Desi Fernanda (2001). Sondang Siagian (1996:11). Sutopo.

sehingga kehidupan organisasi semakin bermakna. sosial. Etika memberikan prinsip yang kokoh dalam berperilaku. di bidang agama. nilai-nilai hidup yang hakiki dan memberikan inspirasi kepada manusia untuk secara bersama-sama menemukan dan menerapkan nilainilai tersebut bagi kesejahteraan dan kedamaian umat manusia. dan kelompok organisasi dan masyarakat luas. juga menyangkut berbagai prinsip yang menjadi landasan bagi perwujudan nilai-nilai tersebut dalam berbagai hubungan yang terjadi antar manusia dan lingkungan hidup karena etika berkaitan dengan sikap dan perilaku. pandangan hidup.organisasi tersebut. Etika di samping menyangkut aplikasi seperangkat nilai-nilai luhur sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. 2. Etika yang dilaksanakan secara efektif akan meningkatkan citra dan reputasi serta melanggengkan eksistensi organisasi. 2. yakni sebagai berikut: 1. suku. sehingga dapat menjamin kehidupan sosial yang tertib karena etika berisi nilai-nilai yang luhur yang disepakati bersama untuk dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai prinsip yang kokoh dalam berperilaku. Etika yang berisi nilai-nilai luhur sebagai landasan moral berperilaku relevan dan sejalan dengan dinamika yang berkembang. 4. di mana nilai-nilai moral yang disepakati bersama harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan karena nilai-nilai moral tersebut bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Etika mendorong tumbuhnya naluri moralitas. 3. 3. Etika menunjukkan kepada manusia nilai hakiki dari kehidupan sesuai keyakinan agama. sehingga memberikan makna dan memperkaya kehidupan seseorang. Etika organisasi berisi nilai-nilai yang bersifat universal yang telah disepakati bersama tersebut. 21 . Sondang Siagian Menurut Siagian ada beberapa alasan mendasar mengapa etika diperlukan dalam organisasi. di mana etika memperlancar interaksi antar manusia. dan budaya dalam kehidupan organisasi bersangkutan. Etika berkaitan langsung dengan sistem nilai manusia. dan sosial. dapat menjembatani konflik moral antara para anggota organisasi yang memiliki latar belakang berbeda. d.

22 . 3) Taat pada tuntutan khas etika birokrasi. Diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. dan kompetensi para anggota organisasi yang bersangkutan.3. yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: a. harapan. sebagai berikut. Etos akan kelihatan dalam cara dan semangat orang melakukan kegiatan itu. 1) Dedikasi Dedikasi terjadi ketika seseorang benar-benar memberikan segenap tenaganya untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya tanpa memandang jenis pekerjaan. Etos Kerja Etos adalah sikap dasar seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Ditunjang oleh moralitas pribadi pegawai bersangkutan. Didukung oleh syarat-syarat sistemik. sedangkan etos kerja adalah sikap dasar seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan pekerjaan. Etos individu sangat ditentukan oleh etos kelompok. Sehingga apabila etika sudah menjadi pedoman. dan kebiasaan kelompoknya b.3. yaitu dalam memutuskan sesuatu tidak akan mengabaikan aturan walaupun akibat pelaksanaan aturan itu berdampak pada teman. maka akan memberikan kesenangan. 2) Jujur. tidak korupsi. dan efektivitas kerja bagi semua yang terlibat dalam organisasi itu. kegembiraan. yaitu: • • • • Adanya etos kerja yang kuat. menurut Suseno SJ. dan hasil kerjanya dilaporkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi tersebut. Cara seseorang menghayati kegiatannya sangat dipengaruhi oleh pandangan. Etos itu kuat atau lemah terlihat apabila menghadapi hambatan dan tantangan. melaksanakan tugas dengan ikhlas. Perwujudan etika organisasi Menurut Franz Magnis Suseno SJ (2002) etika organisasi diharapkan mampu menunjang kualitas. Moralitas pribadi Moralitas pribadi menyangkut kualitas moral masing-masing individu dalam menghadapi pekerjaan. artinya melaksanakan tugas dengan tidak menyalahgunakan wewenangnya. efisiensi.

kegesitan. Tertib kerja Pemimpin harus bisa memimpin. 6) Mengormati hak semua pihak yang bersangkutan. yaitu harus berlaku adil terhadap semua pihak sesuai dengan yang telah ditetapkan. c. Seperlunya dia harus mempelajarinya. Dia juga harus mempunyai ciri-ciri khas seorang pemimpin yang baik. Selalu. kesalahannya tidak dilemparkan kepada orang lain dan berani secara ikhlas memikul risiko. Kepemimpinan moral harus ditampilkan oleh atasan dalam tingkah laku dan tindakan-tindakan kepemimpinannya yang bermutu yang menuntut lima hal sebagai berikut. Dia ahli mengenai pekerjaan yang dipimpin. 5) Minat dan hasrat untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kecakapannya. tanpa kecuali. Gunnar Myrdal (1968) menyebut adanya sebelas kemampuan atau keutamaan yang diharapkan dari seorang pegawai yang baik: efisiensi. kejujuran/tidak korup. menuntut. artinya menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat pada waktunya.4) Bertanggung jawab. bersedia untuk berubah. 23 . dia harus tegas. harus mempunyai wibawa. karena wejangan hanya akan diperhatikan (jika ia sebagai atasan yang mengesankan). kerajinan. kerapihan. sanggup mengenakan sanksi. keputusan diambil secara rasional. Secara konsisten. bukan emosional atau berdasarkan nepotisme/kolusi. bersedia memandang jauh ke depan. mau bekerja sama. dan dia harus dapat menularkan semangat pada bawahannya karena seorang pemimpin harus dapat merangsang motivasi mereka. tepat pada waktunya. 1. Kepemimpinan yang bermutu Kepemimpinan moral tidak bisa diberikan melalui wejangan yang disampaikan oleh atasan dalam perayaan-perayaan tertentu. Dia memastikan bahwa aturan kerja dilaksanakan. memahami secara garis besar maupun detil-detil. kesederhanaan. Kompetensi Pemimpin betul-betul menguasai semua urusan bidangnya. 2.

5. mendorong orang tidak bersemangat. juga sulit untuk mempertahankan etos kerjanya dalam lingkungan yang kurang baik karena lama kelamaan dapat terkena erosi moral. kehadirannya akan mempengaruhi sikap kerja pegawai-pegawainya ke arah positif. Seorang pemimpin yang menjadi panutan bawahannya akan dapat meningkatkan bawahannya untuk menjadi orang yang baik. Dalam konteks etika organisasi ada dua syarat sistemik yang dibutuhkan. Sebaliknya dalam lingkungan yang tidak mendukung. Syarat-syarat sistemik Syarat-syarat sistemik adalah merupakan syarat-syarat mutlak yang bersifat mendukung dan diperlukan dalam rangka mewujudkan suatu etika organisasi. Transparansi Transparansi yaitu keputusan-keputusannya harus jelas bagi semua pihak yang berkepentingan. yaitu: 1. Dalam lingkungan yang positif. bahkan orang yang berwatak baik dapat berubah menjadi tidak baik. Lingkungan kerja dapat mendukung atau sebaliknya dapat merusak moral seseorang. tegas. Bagi orang yang berwatak kuat. Konsistensi Sebagai pemimpin harus melakukan sendiri jabatannya menurut tuntutantuntutan etos kerja yang diharapkan. Menjadi panutan Pemimpin hanya dapat memimpin apabila dia dapat dijadikan teladan oleh para bawahannya karena pemimpin harus menjadi panutan bawahannya. seseorang yang memiliki moral yang baik dihargai dan dihormati. bebas dari pamrih. tetapi di pihak lain dapat merusak watak moral seseorang. 4. Yang dituntut dari seorang pemimpin adalah integritas pribadi. dan bertanggung jawab. Semakin banyak orang 24 . adil. malas. bersih. cakap. Lingkungan kerja yang mendukung Lingkungan kerja di satu pihak dapat mendukung.3. d. korup. komunikatif. Sebagai pemimpin harus menuntut sikap-sikap itu dari para bawahannya secara tegas dan konsekuen. dan bertanggung jawab. sehingga didorong untuk lebih baik lagi. jujur. Seorang pemimpin yang jujur. Etos kerja hanya dapat berkembang dalam lingkungan yang mendukung di mana orang yang memiliki moral yang tinggi didukung dan dihargai.

Kontrol harus dilakukan dari dalam dan sewaktu-waktu kontrol dari luar perlu dilakukan. 25 . Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa untuk mewujudkan etika organisasi secara sukses dalam kehidupan organisasi yang sedang berupaya untuk mencapai tujuannya. dan kompetensi para pegawai karena apabila etika sudah menjadi pedoman. Etika sangat penting dalam kehidupan organisasi karena bermakna untuk mewujudkan tujuan organisasi. yaitu adanya etos kerja yang kuat. baik sebagai individu maupun sebagai kelompok organisasi bersangkutan. serta kontrol yang dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. RANGKUMAN Etika organisasi diartikan sebagai pola sikap dan perilaku yang diharapkan dari setiap individu dan sekelompok anggota organisasi yang secara keseluruhan akan membentuk budaya organisasi yang sejalan dengan tujuan dan filosofi organisasi bersangkutan. 2. diarahkan oleh kepemimpinan yang bermutu. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa etika organisasi berperan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui pola sikap dan perilaku dari anggota organisasi. Kontrol Kontrol rutin dan auditing khusus terhadap pelaksanaan tugas-tugas. akan memberikan kesenangan. maka perlu adanya etos kerja yang kuat dalam organisasi tersebut. etos kelompok sudah merosot. kegembiraan. moralitas pegawai bersangkutan diarahkan. Etika diharapkan menunjang kualitas. didukung moralitas pribadi pegawai. 3. ada empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi. kepemimpinan yang bermutu.yang terkena erosi moral. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lingkungan kerja yang mendukung sangat penting karena dapat mempengaruhi etos kerja seseorang. sehingga sangat sulit dikembalikan lagi.4. efisiensi. dan efektivitas kerja semua pegawai. Menurut Franz Magnis Suseno SJ. didukung lingkungan kerja yang kondusif. dan syarat-syarat sistemik. termasuk kontrol kepemimpinan sangat penting.

3. Sebutkan unsur-unsur moralitas pribadi yang penting! 26 . Uraikan secara garis besar arti dan pentingnya etika! 3. Jelaskan aspek-aspek teknis dan aspek-aspek non teknis untuk mewujudkan tujuan organisasi! 4.5. Jelaskan tentang pengertian etika organisasi! 2. LATIHAN 2 1. Sebutkan empat unsur utama keberhasilan perwujudan etika organisasi! 5.

hanya organisasi birokrasi yang mampu menjawabnya. bahkan Riant Nugroho Dwijowijoto (2004) dalam bukunya “Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil”. Dalam menjawab/melaksanakan urusan/tugas yang begitu banyak tersebut. 4. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarki.1.4.3. anggota-anggota organisasi birokrasi sangat berperan. Dalam prinsip hierarki unit yang besar membawahi dan membina beberapa unit kecil.2. Setiap unit kecil dipimpin oleh seorang pejabat yang diberi hak. yang anggota-anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat. Di dalam masyarakat modern di mana begitu banyak urusan yang terusmenerus dan cenderung tetap. Kegiatan Belajar 3 ETIKA BIROKRASI DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 4. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi itu sendiri sering diterjemahkan sebagai pemerintah. Dalam mencapai tujuan tersebut dilakukan pembagian tugas dan tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh para ahli sesuai spesialisasinya. seorang sosiolog Jerman (Kumorotomo:1996). Ciri-ciri pokok birokrasi Konsep awal yang mendasari gagasan modern tentang birokrasi berasal dari tulisan Max Weber. wewenang. dan pertanggungjawaban untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Uraian dan contoh 4. 27 . Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. yang mengetengahkan ciri-ciri pokok dari birokrasi sebagai berikut: a. Birokrasi melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Pengertian birokrasi Secara epistemologis istilah birokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘Bureau’ yang artinya meja tulis atau tempat bekerjanya para pejabat. b.

sebagian besar rakyat Indonesia sepakat bahwa pada pemerintahan Soekarno berhasil meletakkan dasar Nasionalisme bagi bangsa Indonesia namun gagal dalam merumuskan program-program pembangunan yang menyentuh rakyat banyak. dan masalah yang dihadapi di setiap negara berlain-lainan. tetapi dalam kenyataannya bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi belum dirasakan merata oleh masyarakat dan stabilitas telah memasung demokrasi/partisipasi rakyat. 28 . Pejabat yang melaksanakan tugas-tugasnya dengan semangat pengabdian yang tinggi. Pekerjaan dalam organisasi birokratis didasarkan pada kompetensi teknis dan dilindungi dari pemutusan kerja secara sepihak. sebagai berikut: a. Lepas dari hal tersebut di atas sesungguhnya masih dapat ditemukan asasasas umum pemerintahan yang baik. Dalam konteks negara Indonesia.4. maka kepentingan rakyatlah yang diutamakan karena kepentingan rakyat menempati kedudukan yang paling tinggi. rakyat yang menentukan jalannya negara dan pemerintahan.c. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan negara. kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Prinsip demokrasi Pemerintahan dengan prinsip demokrasi pada dasarnya berasas pada kedaulatan rakyat. Pada masa orde baru rakyat mengalami kemakmuran dengan dilaksanakannya pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. sebagaimana dikemukakan oleh Kumorotomo dalam bukunya ““Etika Administrasi Negara”(1996). d. 4. Pelaksanaan tugas diatur dengan suatu peraturan formal dan aturan tersebut mencakup tentang keseragaman dalam melaksanakan tugas. f. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang baik Asas-asas umum pemerintahan yang baik tidak berlaku secara universal di setiap negara karena adanya perbedaan budaya. banyak pelanggaran hak asasi manusia dan menutup akses keterbukaan. Di dalam sistem pemerintahan yang berasas kedaulatan rakyat. Menganut suatu jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. e. Pengalaman menunjukkan bahwa tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis dilihat dari sudut teknis akan mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi.

Jadi aparat pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan. asalkan dengan kewajiban tersebut rakyat menjadi lebih sejahtera. d. Oleh karena itu aparat birokrasi agar membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menyeimbangkan kebutuhan masyarakat miskin dan masyarakat pedesaan dengan kebutuhan masyarakat kaya dan masyarakat perkotaan. Oleh karena itu. Mengusahakan kesejahteraan umum Suatu kekuasaan negara legitimate. hendaknya setiap aktivitas birokrasi pemerintahan dalam mewujudkan kepentingan rakyat berjiwa demokrasi. Rakyat akan menerima dengan senang kewajiban-kewajiban dari negara yang dibebankan kepada rakyat. dapat dipertanggungjawabkan. Dinamika dan efisiensi Dinamika hendaknya diartikan sebagai kemampuan adaptasi organisasi yang baik sehingga organisasi sanggup mengantisipasi perubahan-perubahan 29 . Oleh karena itu dalam pemerintahan dengan prinsip demokrasi. dan efisien. apabila negara tersebut melalui kegiatan-kegiatannya dapat meningkatkan kesejahteraan umum bagi rakyatnya. dan kesamaan di hadapan hukum.Dasar dari konsep demokrasi menyangkut penilaian tentang nilai manusia. Mewujudkan negara hukum Mewujudkan negara hukum adalah amanat dari konstitusi. Maksud dari perwujudan negara hukum adalah aparatur pemerintah bersama dengan seluruh rakyat akan mewujudkan suatu pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. b. setiap aparat birokrasi pemerintah agar mempunyai komitmen yang tulus untuk memperhatikan kesejahteraan kepada rakyat. martabat manusia. e. Demokrasi mendambakan terciptanya suatu sistem kemasyarakatan yang setiap warga negaranya mempunyai kedudukan yang sama dan adil. Keadilan sosial dan pemerataan Keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan tercapai apabila tidak terjadi ketimpangan distribusi hasil-hasil pembangunan antar kelompok masyarakat kaya dengan miskin dan antar daerah/wilayah geografis antara perkotaan dengan pedesaan. c.

yaitu: 30 . dan POLRI. legislatif. Pejabat Eselon 1 dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil. dan Nepotisme. Kolusi. Komisaris pada BUMN dan BUMD. Ketua. Wakil Ketua. Panitera Pengadilan.yang terjadi dalam masyarakat dan dapat menelorkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Dinamika dalam melaksanakan tugas-tugas negara merupakan prasyarat untuk dapat menciptakan birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang berkembang. Penyelenggara negara yang dimaksud dalam undang-undang tersebut adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif. prosedur layanan. maka pejabat eksekutif di bawahnya termasuk PNS apapun tugas dan jabatannya juga harus melaksanakan asas-asas yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Bupati dan Wakil Bupati Kepala Daerah.5. Ketua. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri. dan Anggota MPR. Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah. dan Hakim Agung pada Mahkamah Agung. tetapi tetap memperhitungkan pemakaian tenaga kerja. 4. Wakil Ketua. Pimpinan Bank Indonesia. dan biaya yang dikeluarkan. Di samping dinamika sebagai ukuran kinerja bagi birokrasi pemerintahan. atau yudikatif. Penyidik. Wakil Ketua. Kolusi. Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Efisiensi dalam hal ini diartikan adalah tetap mengutamakan kepuasan dan kelancaran layanan terhadap publik. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Negara Berdasarkan UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Walikota dan Wakil Walikota. Ketua Muda. Ketua. maka ukuran lain adalah efisiensi. Menteri dan jabatan setingkat Menteri. militer. Direksi. dan Anggota DPR. Ketua. Pejabat-pejabat negara tersebut adalah Presiden dan Wakil Presiden. dinyatakan bahwa penyelenggara negara mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam penyelenggaraan negara untuk mencapai cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Jaksa. dan Nepotisme. serta Ketua dan Hakim pada semua Badan Peradilan. Karena pimpinan tertinggi dalam jabatan eksekutif adalah Presiden.

Asas Profesionalitas. e. Asas Kepastian Hukum. b. Tugas Birokrasi Sesuai dengan pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). Asas Proporsionalitas.6. dan selektif. 31 . adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan. dan rahasia negara. adil. keserasian. 4. kepatutan. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara. dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara.a. Asas Akuntabilitas. dan merata. menyelenggarakan tugas pemerintahan. dan menyelenggarakan tugas pembangunan. Dalam undang-undang tersebut juga ditegaskan bahwa pegawai negeri harus bebas dari pengaruh golongan dan partai politik. c. jujur. jujur. adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif. d. dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. akomodatif. Asas Keterbukaan. f. dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara. adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. adalah asas yang menjadi landasan keteraturan. dan Pegawai Negeri Sipil) sebagai aparat birokrasi adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. Asas Kepentingan Umum. Anggota POLRI. menyelenggarakan tugas negara. adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara. g. adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Oleh karena itu pegawai negeri dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik.

Mengacu pada pengertian “Birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil” – Dwijowijoto (2004) 32 .

pendidikan. di rumah sakit. k. dan sebagainya. akte perkawinan. Pelayanan yang khusus bagi: penyandang cacat. wanita hamil. Pelayanan khusus (ruang perawatan kesehatan VIP. Adapun contoh-contoh dalam setiap kelompok pelayanan adalah: a. dan balita. perbankan. Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat Pelayanan publik dapat dikelompokkan dalam Kelompok Pelayanan Aministratif. kesehatan. Kelompok Pelayanan Administratif Contohnya: Pelayanan pengurusan akte kelahiran. perlu memperhatikan prioritas penyelesaian pengaduan. dan sebagainya. i. pensiun pegawai. bahan bakar gas. bahan bakar minyak. pengangkutan barang. lanjut usia. 4. pengawasan melekat. Kelompok Pelayanan Jasa Contohnya: Pelayanan pengangkutan penumpang. g. Dalam penyelesaian pengaduan masyarakat. Penyelesaian pengaduan dan sengketa. gerbong eksekutif) dengan mempertimbangkan harga dan biaya yang dikeluarkan. sertifikat tanah. telepon. pensiun janda/duda. kenaikan gaji. Pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui: pengawasan masyarakat. listrik. j. h. f. surat izin mengemudi. dan pengawasan fungsional. izin mendirikan bangunan. Kelompok Pelayanan Barang.e. misalnya: punya izin usaha dan selalu berkoordinasi kepada lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemberian pelayanan tersebut. dan sebagainya. akte kematian. Pelayanan berdasar hasil survei indeks kepuasan masyarakat. Setiap unit penyelenggara pelayanan publik agar melakukan evaluasi terhadap kinerja penyelenggaraan pelayanan publik secara berkelanjutan dan hasilnya disampaikan kepada atasan tertinggi dari unit penyelenggara pelayanan publik.7. kenaikan pangkat. c. 33 . sedangkan apabila pengaduan tidak dapat diselesaikan sehingga terjadi sengketa usaha penyelesaiannya melalui jalur hokum. dan Kelompok Pelayanan Jasa. b. Kelompok Pelayanan Barang Contohnya: Pelayanan penyediaan kebutuhan sembilan bahan pokok. Evaluasi kinerja penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan yang dilakukan oleh biro jasa pelayanan dengan status yang jelas.

biaya yang melebihi dari tarif resmi. seperti antara lain: kejujuran. dan nepotisme. kebaikan. etika diartikan sebagai nilai-nilai dan normanorma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. keikhlasan. kesamaan. dan norma moral. efektivitas. Dalam melakukan tugasnya “mengapa norma-norma moral yang menjadi pegangan?” Memang benar bahwa norma terdiri dari norma sopan santun. ramah-tamah. Namum sering kita melihat masyarakat dalam pengurusan hal yang sederhana. keadilan. masih mengalami pelayanan yang kurang baik dengan: alasan yang mengada-ada. Dengan kata lain. sehingga jika norma moral yang menjadi pegangan dengan sendirinya telah melewati norma sopan-santun dan norma hukum. Hal tersebut mencederai makna diadakannya birokrasi. kesabaran. Dalam kegiatan belajar 1. menjunjung tinggi supremasi hukum. norma hukum. menolong. jangan mencuri. Norma-norma moral. kolusi. 2. jangan meminta. Namun norma moral merupakan norma yang tingkatannya paling tinggi. dan sebagainya. dan lain-lain. misalnya: pengurusan surat izin mengemudi. ketertiban. pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk.Begitu banyaknya ruang lingkup pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat pun menantikan pelayanan dari pemerintah yang merupakan haknya sebagai warga negara. dan lain-lain. 34 . kebenaran. pelayanan kesehatan bagi rakyat yang kurang beruntung. seperti antara lain: profesionalisme. Jadi Etika Birokrasi dapat diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam menjalankan tugasnya. Nilai-nilai moral. keharusan. akuntabilitas. kewajiban. aparat pemerintah dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma moral. Sedangkan birokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan dan bahkan dalam praktek birokrasi dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Adapun nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah adalah: 1. waktu penyelesaian yang relatif lama karena pejabatnya tidak ada di tempat. tidak korupsi. melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang baik dan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat birokrasi. transparansi. efisiensi.

RANGKUMAN Birokrasi adalah tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan sebagai sarana bagi pemerintah untuk melaksanakan pelayanan umum sesuai dengan permintaan masyarakat. Pengorganisasian kantor berdasar prinsip hierarkhi. Tipe organisasi administratif yang murni berciri birokratis mampu mencapai tingkat efisiensi yang tertinggi. prinsip-prinsip.8. Birokrasi mempunyai tugas pokok pemerintah yang dilaksanakan oleh aparatnya. Dengan uraian tersebut di atas maka menjadi jelas bahwa Etika Birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. sehingga norma hukum harus menjelmakannya dalam tindakan. Pekerjaan didasarkan pada kompetensi dan menganut jenjang karier berdasar senioritas dan prestasi kerja. dan lain-lain) serta asas-asas. d. Dalam beberapa sebutan/istilah birokrasi sering diterjemahkan sebagai pemerintah. mewujudkan negara hukum. 4. transparansi.Contoh: “Aparat birokrasi mencuri”. e. akuntabilitas. diharapkan pelayanan kepada masyarakat semakin lancar. mengusahakan kesejahteraan umum. b. yang anggotanya disebut aparat birokrasi atau birokrat dan bahkan ada yang menyebut birokrasi dalam praktek dijabarkan sebagai Pegawai Negeri Sipil. kesamaan. c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan reguler dan adanya pembagian tugas dalam mencapai tujuan serta tugas-tugas tersebut dilaksanakan oleh ahlinya. Dengan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma moral (kejujuran. Menurut norma moral “mencuri itu salah”. keikhlasan. Max Weber (Kumorotomo:1996) menyebutkan beberapa ciri pokok dari birokrasi. Asas-asas umum birokrasi pemerintahan yang bersih meliputi prinsip: demokrasi. Pelaksanaan tugas diatur dengan peraturan yang formal dan berlaku seragam. keadilan. dinamika dan efisiensi. standar. f. dan biaya pelayanan yang murah. Tugas Pegawai Negeri (Anggota TNI. efisiensi. keadilan sosial dan pemerataan. profesionalisme. Pelaksanaan tugas dilakukan dengan semangat pengabdian yang tinggi. 35 . yaitu: a. yang disebut Pegawai Negeri.

Apa yang dimaksud dengan asas dengan prinsip demokrasi dalam asasasas umum birokrasi pemerintahan yang baik? 3. dan lainlain). keadilan. dan pola pelayanan yang baik. yang harus dilaksanakan dengan berpegangan pada: asas-asas. Etika birokrasi memperlancar pelayanan kepada masyarakat. Dengan berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma moral (antara lain kejujuran.dan Anggota POLRI yang masing-masing mempunyai tugas yang telah digariskan) adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. profesional. 4. maka yang diuraikan adalah mengenai pelayanan kepada masyarakat.9. keikhlasan. maka Pegawai Negeri Sipil dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lancar dan memuaskan. transparansi. Karena modul ini ditujukan untuk Pegawai Negeri Sipil. akuntabel. dan melaksanakan tugas pembangunan. Sebutkan asas-asas pelayanan publik! 4. melaksanakan tugas negara. LATIHAN 3 1. Sebutkan ciri-ciri pokok dari birokrasi menurut Max Weber! 2. Apa yang dimaksud dengan asas profesionalitas dalam asas-asas umum penyelenggaraan negara menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun1999? 36 . melaksanakan tugas pemerintahan. Etika birokrasi diartikan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil) dalam melaksanakan tugasnya. prinsip-prinsip. standar.

2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 5. BENAR/SALAH 1. 3. 3.6. 2. D A B 39 . B A A B B III. 4.

99 % 80.7. s.d. maka disarankan mengulang materi.d. 100% s. Hitung jumlah jawaban yang benar. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. s. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda. 90.99 % 70. TP = Jumlah jawaban Anda yang benar x 100% Jumlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.d. 40 .99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”).d.

9. “Kebijakan Publik : Formulasi. Rajawali Pers. STIA LAN. 3. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara . Kumorotomo. Mr.A dan Sofia Ayu. Materi Pokok.. No.. Wahyudi “Etika Administrasi Negara” PT.W. Departemen Keuangan. 1984. S. Suseno S. A Sonny. 2000.. Departemen Keuangan.P. Mardojo. M. Myrdal.. Departemen Keuangan.A. 2005. Inspektorat Jenderal. 2006.. ‘Santiaji Pancasila’ kumpulan karangan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 12.. DAFTAR PUSTAKA 1. K. Salamoen. 17. Soeharyo. Mr. Jakarta. DR. Sulandra J. 2004.H.J. Riant Nugroho. “Etika Kepemimpinan Aparatur” Lembaga Administrasi Negara. Jakarta. Franz Magnis “Etika Dasar” Penerbit Kanisius. 4. Jakarta: Balai Pustaka. Rooswiyanto. 20 September 2002. Prof. S. A. penerbit Karunia Esa.. cetakan VIII. Nyoman Dekker. Soeharyo. Gunnar “An Inquiry with the poverty of nations: Asian Drama” New York: Pantheon. Kamus Besar Bahasa Indonesia.P.J. Jakarta. LAN. Puji. 1985. 1968. Drs. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. 8. Siagian.. Pringgodigdo.. 1996.H. M. 2001. 2002. S. Solomon. Prof. Tony “Etika Organisasi Pemerintah” Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Prof.. DR. Elex Media Komputindo. 11.Ed. 1993.C. Jakarta. 2. Juni-Agustus Tahun 2003. 2004. Dwijowijoto. Penerbit Erlangga. 5. Etika Suatu Pengantar... dan Zahar Angga Setiawan. 16.. Handayani. Vol.H. Kuntjoro Purbopranoto.. Majalah Auditor. S.. “Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi” Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. DR Sondang “Etika Bisnis” Jakarta: PT Binaman Pressindo. 13. R. Prof.. 14. Gramedia Pustaka Utama. 10. Darmodihardjo Darji. M. M.8. 2005. Jakarta.SocSc “Etika Organisasi” Prajabatan III. Suseno S... Utomo. Etika dan Hukum Administrasi Publik. Keraf.. “Etika” PT. Desi Fernanda.I. 6. 16 Juli 2003. Drs. Jakarta. Bertens.H. Bandung. Salamoen. Drs.G.. Implementasi. Drs. dan Evaluasi” PT. 2001. 7. 15. Bahan Diklat Ujian Dinas Tk. 4. Makalah. 41 . 8. Jakarta.

Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP-04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 13. Kolusi. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974. sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Zubair. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. PERATURAN-PERATURAN: 1. Tiara Wacana. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. 6.03/2002 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 222/KMK. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. 5. Departemen Keuangan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 382/KMK.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 8. Kolusi.01/2007. 3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 1988. Achmad Kharis.02/2007 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran. 11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pengantar Kuliah Etika. dan Nepotisme. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. dan Nepotisme. 42 . 7.03/2002 tentang Kode Etik Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan 9. Keputusan Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Republik Indonesia Nomor: KEP-23/IJ/2004 tentang Kode Etik Pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.18. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 01/PMK. 10. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. 12.

MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS MATERI POKOK: ETIKA BIROKRASI UJIAN PENYESUAIAN KENAIKAN PANGKAT V OLEH TIM PUSDIKLAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI JAKARTA 2009 .

...........................2............................................. Rangkuman ........... 1...... Kb 1: PEMBINAAN JIWA KORPS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2.................... 4...............5 Rangkuman ..... Uraian dan contoh . Kode etik instansi dan kode etik profesi .. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT........................................... Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil ...............8...................................... 6.......5............... 4............................... 2.......1 Uraian dan contoh ............... Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan .......................................................7....................4.................................................. 3.........2............................... Dasar hukum dan untuk siapakah etika PNS itu? ............... Ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil 2.......... 3....................... 4..................... 4......................................................3 Etika PNS dalsm memberikan pelayanan .......... Beberapa pengertian ............... Prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan dihayati PNS .................3 Tujuan Pembelajaran Khusus ......... Latihan 2 ...... .................DAFTAR ISI MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1............ 3.....1.... Penegakan kode etik PNS ............. i 1 2 2 2 4 4 4 6 7 8 9 10 10 10 11 12 14 16 18 18 29 30 2....... 3...................................................5.................. 4..... KUNCI TES FORMATIF .................. Nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil ..................4........... 4.. 3..6...................................6 Rangkuman .. 3....... 3...................................................2 Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi ...............10.....1........................... Tujuan Pembelajaran Umum ......... Pelaksanaan etika PNS ........................... 4.......9.................. Uraian dan contoh ............................................3............ 2........................................ 3..... 7.................................. Kb 2: ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL .. 1.............................1......... TES FORMATIF ..... PENDAHULUAN ............3........ 31 31 31 33 38 44 45 46 47 52 54 55 5...................................2......... 3.. 8..... 2..... 2......7 Latihan 3 .............. Kb 3: ETIKA PNS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ............ Etika meningkatkan kualitas PNS ...4.......... 4...... 1......................................................................................................................................... 3....................... Deskripsi singkat ......... Etika PNS meningkatkan kualitas pelayanan ......................................... DAFTAR PUSTAKA ..............6 Latihan 1 ........ 3.......................

1. merupakan faktor yang harus melekat pada diri PNS agar dapat mewujudkan pelayanan prima. sikap. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan kepada Pancasila. dan merata. netral. memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Karena pada hakekatnya kode etik bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. namun tidak didukung sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan etika PNS. dan Pemerintah. kompak. yaitu: PNS yang kuat. Negara.MODUL II ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PELAKSANAAN TUGAS 1. dalam hal ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam birokrasi pemerintah. UUD 1945. tidak ikhlas. Apabila PNS melaksanakan dan mengamalkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. maka diharapkan akan meningkatkan kualitas PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. serta tidak diskriminatif kepada masyarakat. PNS yang hanya memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. dapat dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kehormatan Kode Etik. karena pelanggaran kode etik di samping dikenakan sanksi moral. yang akhirnya akan merugikan masyarakat. pemerintah bertugas mewujudkan pelayanaan prima melalui kinerja. cenderung menghasilkan pelayanan yang tidak jujur. berdisiplin. tidak hormat. dan perilaku yang etis dari PNS yang bersangkutan. memiliki kepekaan. Sikap dan perilaku yang etis dari PNS dalam memberikan pelayanan. Deskripsi Singkat Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian aparatur pemerintah. maka oleh Pemerintah telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. 1 . profesional. dan bersatu padu. tanggap. maka PNS wajib melaksanakan etika PNS secara baik dan benar. adil. serta diskriminatif. PENDAHULUAN 1. Dalam kepemerintahan yang baik.

yang akhirnya akan mewujudkan sikap. Sebagai tolok ukur bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta telah menguasai materi ini. Modul ini disusun untuk peserta UPKP V yang terdiri dari tiga kegiatan belajar (Kb). maka pada akhir modul akan diberikan test formatif berikut jawabannya. peserta diklat diharapkan mampu memahami tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. 3. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran.Menjelaskan pengertian pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku yang baik sesuai etika sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima atau dengan kata lain etika PNS berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. dan negara. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kb 3: Etika Pegawai Negeri Sipil Meningkatkan Kualitas Pelayanan. Kb 2: Etika Pegawai Negeri Sipil.Menjelaskan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi PNS. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. bangsa. 1. Pada akhir kegiatan belajar diberikan latihan bagi peserta diklat untuk mengetahui sejauhmana peserta diklat dapat memahami dan menyerap bahan ajar. 1. yaitu: Kb 1: Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 2. 2 .PNS di samping wajib melaksanakan kode etik. Dengan mempelajari bahan ajar ini diharapkan peserta diklat dapat memahami materi diklat sehingga dapat menerapkan kode etik PNS dengan baik dan benar. perilaku yang baik sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam etika PNS. melaksanakan kode etik PNS di dalam pelaksanaan tugas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik dan penerapan kode etik PNS dalam kehidupan sehari-hari.3.Menguraikan tentang tujuan ditetapkannya pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti proses pembelajaran. peserta diklat dapat: 1.2.

yang bersikap disiplin dalam meningkatkan pelayanan. 10.Menjelaskan sikap dan perilaku PNS dalam memberikan pelayanan.Menjelaskan tentang etika mewujudkan PNS. 8. 7. 3 . 9.Menjelaskan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS. Menguraikan peran etika PNS dalam meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat.4.Menjelaskan tentang penegakan kode etik dan menguraikan sanksi pelanggaran kode etik.Menjelaskan kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah.Menjelaskan peran etika dalam meningkatkan kualitas PNS. 5. 6.

Beberapa pengertian a. kebersamaan. Agar PNS memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. kebersamaan. Negara. adil dan merata. diperlukan pemahaman-pemahaman yang baik dan benar atas manfaat pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. kreativitas. dedikasi. kerja sama.1. kreativitas. Uraian dan contoh Dalam rangka mewujudkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mampu melaksanakan tugasnya. maka telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil. tanggung jawab.2. serta tidak diskriminatif. Muatan tentang hal-hal tersebut di atas sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Adapun pemahaman tentang pengertian jiwa korps. kerja sama. ruang lingkup pembinaan jiwa korps. dan Pemerintah. maka diharapkan PNS akan memiliki: jiwa atau rasa kesatuan dan persatuan. 4 . kode etik dan pelanggaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 akan dijelaskan pada uraian sebagai berikut: 1. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. disiplin. sehingga PNS dapat memahami hal tersebut dengan mempelajari materi modul ini. Kegiatan Belajar 1 PEMBINAAN JIWA KORPS DAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL 1.2. setia dan taat kepada Pancasila. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jiwa korps PNS Jiwa Korps PNS adalah rasa kesatuan dan persatuan. tujuan. UUD 1945. dedikasi. disiplin. sehingga dapat diwujudkan PNS yang memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Dengan memahami pengertian tentang jiwa korps tersebut. tanggung jawab.

pengabdian. c. Majelis kehormatan kode etik PNS Majelis kehormatan kode etik PNS yang selanjutnya disingkat Majelis kode etik adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. tingkah laku dan perbuatan PNS. yaitu: mampu memberikan pelayanan yang terbaik. sehingga akan mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. Kode etik PNS adalah merupakan pedoman sikap.a. Pemahaman yang benar tentang pengertian kode etik PNS. sehingga diharapkan PNS tidak akan melakukan pelanggaran yang berakibat dapat dikenakan sanksi atas pelanggaran kode etik termaksud. perlu memahami bahwa pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. diharapkan akan mewujudkan PNS yang bersikap dan berperilaku baik (sebagai wujud dari pengamalan kode etik PNS). Setiap PNS perlu memahami tentang Majelis kehormatan kode etik PNS yang dibentuk untuk tujuan penegakan kode etik. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. adil. a. d. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. Kode etik PNS Kode etik PNS adalah pedoman sikap. pengabdian. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Pembinaan jiwa korps perlu dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan merata. Pelanggaran kode etik PNS 5 . Setiap PNS yang memiliki jiwa korps. Pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. tingkah laku.

b. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. Jadi apabila PNS mengeluarkan ucapan yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik PNS dapat dikategorikan sebagai melakukan pelanggaran kode etik. kesadaran. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. pengertian PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah sama dengan Calon PNS dan PNS yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999). 1. 6 . sehingga PNS tersebut dengan kesadaran yang tinggi berpartisipasi dalam pembinaan jiwa korps yang dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.Pelanggaran adalah segala bentuk ucapan. Tujuan pembinaan jiwa korps PNS Pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. Pegawai negeri sipil (PNS) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999) menyatakan bahwa PNS adalah Calon PNS dan PNS. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. PNS yang baik adalah PNS yang memahami tujuan dari pembinaan jiwa korps sebagaimana tersebut di atas. b. Pejabat yang berwenang Pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk dari masing-masing instansi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Membina karakter/watak.3. Selanjutnya. c.

menyadari tugas dan kewajibannya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dalam birokrasi pemerintah. d. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. yaitu: memberikan pelayanan yang terbaik. diperlukan peserta diklat sebagai PNS agar menyadari kedudukan dan tugasnya dalam birokrasi pemerintah. dan perilaku yang baik dari PNS. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. melalui kinerja. b. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang benar tentang hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. sehingga PNS dapat memberikan pelayanan yang terbaik. adil dan merata.1. tidak diskriminatif. Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS Ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS mencakup: a. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. 7 . Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. dan perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan PNS. sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan negara. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas. dapat disimpulkan bahwa pemahamanpemahaman yang baik dan benar. adil dan merata. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. c. PNS perlu memahami ruang lingkup pembinaan jiwa korps yang mencakup peningkatan etos kerja. dan negara. sikap.4. peningkatan kerja sama antara PNS. yang berkaitan dengan pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS sangat diperlukan agar PNS memiliki rasa bangga sebagai anggota organisasi PNS. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tidak diskriminatif. bangsa. bangsa.

Pengertian tentang jiwa korps PNS adalah pemahaman tentang rasa kesatuan dan persatuan. apabila diikuti pelaksanaan dan penerapan kode etik dengan penuh tanggung jawab. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir jiwa korps dan kode etik. kreativitas. 8 . sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999).5. sedangkan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah Calon PNS dan PNS. Membina karakter/watak. kebersamaan. pengabdian. tingkah laku. disiplin. dan perbuatan PNS di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. memelihara rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan guna mewujudkan kerja sama dan semangat pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keteladanan PNS. kebanggaan dan rasa memiliki organisasi PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun pengertian dari pejabat yang berwenang adalah Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat yang berwenang menghukum atau Pejabat lain yang ditunjuk. 1. Mendorong etos kerja PNS untuk mewujudkan PNS yang bermutu tinggi dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat. di mana pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik. sedangkan yang dimaksud dengan Majelis Kehormatan Kode Etik (Majelis Kode Etik) adalah lembaga non struktural pada instansi pemerintah yang bertugas melakukan penegakan pelaksanaan serta menyelesaikan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh PNS. Yang dimaksud dengan pengertian pelanggaran kode etik adalah segala bentuk ucapan. Rangkuman Pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. diperlukan pembinaan jiwa korps secara terus-menerus dan berkesinambungan. Kode Etik PNS diartikan sebagai pedoman sikap. b. sedangkan pembinaan jiwa korps PNS dimaksudkan untuk meningkatkan perjuangan. kesetiaan dan ketaatan PNS kepada negara kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selanjutnya pembinaan jiwa korps PNS bertujuan untuk: a. dedikasi. kerja sama.Pemahaman yang baik dan benar tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS akan mendorong PNS menyadari bahwa untuk mewujudkan PNS yang diharapkan masyarakat. tanggung jawab.

Sebutkan tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 4. Adapun ruang lingkup pembinaan jiwa korps PNS adalah 1.c. 2. Partisipasi dalam penyusunan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan PNS. dan negara. Peningkatan kerja sama antara PNS untuk memelihara dan memupuk kesetiakawanan dalam rangka meningkatkan jiwa korps PNS. LATIHAN 1 1. Sebutkan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 5. 1. Jelaskan pengertian tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil! 9 . kesadaran. bangsa.6. Jelaskan tentang pengertian jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 2. dan wawasan kebangsaan PNS sehingga dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perlindungan terhadap hak-hak sipil atau kepentingan PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. 4. Jelaskan tentang pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil! 3. dengan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Menumbuhkan dan meningkatkan semangat. Peningkatan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas PNS.

maka PNS perlu memiliki dan menghayati prinsip-prinsip moral dalam memberikan pelayanan. yang selanjutnya disebut sebagai Kode Etik PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. dan terhadap sesama PNS. Pasal 5 ayat (2). bermasyarakat. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Etika PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. Dasar hukum penetapan dan untuk siapakah kode etik PNS itu? a.2. melalui sikap dan perilaku yang baik sebagai pengamalan kode etik PNS. 3. berorganisasi. Dasar Hukum penetapan kode etik PNS 1. melaksanakan dan menerapkan etika PNS dalam bernegara. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. antara lain dinyatakan bahwa PNS wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tersebut. Uraian dan contoh Etika Pegawai Negeri Sipil (PNS). sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. pasal 27 ayat (1). Menurut DR. untuk mewujudkan PNS yang dapat memberikan pelayanan yang terbaik.1. dan Nepotisme. Sonny Keraf (2003) untuk meningkatkan kualitas PNS. 2. Kegiatan Belajar 2 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL 3. 10 . menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Kolusi. 4.3. adil dan merata. sehingga dapat dinyatakan bahwa etika PNS merupakan hal yang mendasar yang harus melekat pada diri PNS. dan pasal 28 UUD 1945. 3. terhadap diri sendiri.

Nilai-nilai dasar bagi PNS PNS di samping wajib melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. Penjelasan pasal 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 menegaskan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS merupakan pedoman tingkah laku dan perbuatan PNS. yang berlaku bagi seluruh PNS tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bekerja. Semangat jiwa korps.3. meliputi: a. h. Profesionalisme. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.5. Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 3. c. dan bermoral tinggi. Adapun nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS tersebut. netralitas. g. Semangat nasionalisme. b. d. Penghormatan terhadap hak asasi manusia Tidak diskriminatif. e. Kode etik PNS berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. wajib dilaksanakan PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 berlaku bagi PNS di seluruh wilayah Indonesia tanpa membedakan di mana PNS yang bersangkutan bertugas. b. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik PNS . 11 . i. Ketaatan terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. juga wajib menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS Sipil yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. f.

Merupakan pedoman sikap. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa nilai-nilai dasar bagi PNS yang diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan wajib dijunjung tinggi PNS adalah sebagai berikut: 1.4. dalam pengertian bertindak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. negara. 3. Menurut DR. bangsa. Sonny Keraf dalam makalahnya “Prinsip-prinsip Moral Birokrasi Pemerintah” (2003) ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati secara nyata. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. maka PNS bertugas untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Profesionalisme Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak secara profesional.Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. dan pemerintah. dan perbuatan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil di seluruh wilayah Indonesia. 12 . berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Prinsip-prinsip moral yang harus dimiliki dan dihayati PNS Sejalan dengan ide tentang kepemerintahan yang baik. Nilai-nilai dasar tersebut berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil tanpa membedakan di mana Pegawai Negeri Sipil bersangkutan bekerja. yaitu: profesionalisme. tingkah laku. bertindak secara adil. 3. bangsa. sesuai dengan aturan hukum dan ketentuan yang berlaku. dan mempunyai komitmen moral yang tinggi untuk membela kepentingan publik. dan pemerintah. integritas moral yang tinggi. Adapun penjelasan dari prinsip-prinsip moral tersebut adalah sebagai berikut: a. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. pelayanan yang amanah sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Dan untuk mewujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang prima ada beberapa prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS tersebut. negara. Nilai-nilai dasar ini wajib dijunjung tinggi karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat. 2. dan jangan lakukan pada orang lain.

d. kebenaran dan kejujuran ini merupakan prinsip paling pokok. PNS harus konsekuen dan konsisten menjalaninya dengan segala konsekuensinya. tetapi memilih pekerjaan tersebut karena didorong oleh keinginan luhur untuk melayani kepentingan publik. tuntutan dan menjaga nama baiknya sebagai seorang PNS. yaitu: yang salah dinyatakan sebagai hal yang salah. PNS harus konsekuen dan konsisten dengan pilihannya. kepentingan publik bagi seorang PNS adalah segala-galanya. Integritas moral yang tinggi Prinsip ini menuntut setiap PNS untuk bertindak sesuai dengan prinsip. dan nepotisme. agar tidak membuat semangat pelayanan publik menurun dan tidak membenarkan kecenderungan untuk melakukan korupsi. bukan untuk memperkaya diri dengan merampas uang rakyat. c. Dia harus melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya demi melayani kepentingan publik. e. Berpihak kepada kebenaran dan kejujuran Prinsip ini menuntut setiap PNS selalu mempunyai sikap jujur dan tegas. Karena itu setiap orang selalu dilayani sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku. jangan menyelewengkan kekuasaan dan kewenangannya dengan merugikan kepentingan publik. yang benar dinyatakan sebagai hal yang benar. kolusi. Bertindak secara adil 13 .Profesionalisme juga menuntut PNS harus juga konsekuen dan konsisten dalam menjalankan profesinya. Seorang PNS memilih profesi tersebut bukan untuk menjadi kaya dan mencari jabatan. karena menjadi PNS adalah panggilan tugas untuk mengabdi kepentingan publik. bangsa dan negara. serta penyalahgunaan kedudukan dan kekuasaannya. Bagi PNS di lingkungan Departemen Keuangan. b. Tanggung jawab terhadap kepentingan publik Prinsip ini menegaskan bahwa sejalan dengan paradigma kepemerintahan yang baik. Kepentingan publik adalah nilai tertinggi yang tidak boleh digantikan dan dikalahkan dengan hal lainnya.

karena Anda sendiri tidak ingin diperlakukan demikian. serta terhadap diri sendiri dan sesama PNS. Jangan lakukan pada orang lain. jenis kelamin. agar kepentingan semua pihak dijamin. harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa PNS dalam birokrasi pemerintah sebagai unsur aparatur negara. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda Prinsip ini juga penting karena PNS harus memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. f. demi mencapai tujuan yang menyimpang dan merugikan kepentingan publik. tanpa diskriminasi atas dasar ras. 3. dalam bermasyarakat. Jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan Prinsip ini penting karena birokrasi kita telah dikenal sebagai “bisa diatur” dalam pengertian segala cara bisa digunakan. suku. agama. PNS harus membantu orang untuk menggunakan cara yang benar demi mencapai tujuan yang baik. keluarga.Prinsip ini memperlakukan semua orang – siapa saja – secara sama tanpa membeda-bedakan. dalam penyelenggaraan pemerintahan. perlu memiliki dan menghayati tujuh prinsip moral tersebut secara nyata agar dapat memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat karena PNS diangkat dan diberi penghasilan oleh rakyat untuk melayani rakyat atau masyarakat. Pelaksanaan etika PNS Dalam pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari. Bertindak adil berarti pelanggaran harus diganjar dengan hukuman yang setimpal tanpa pandang bulu. Jangan memeras dan meminta uang suap atau sogok dari siapa pun untuk pelayanan publik yang Anda berikan. apa lagi ini menyangkut pelayanan publik yang harus dilakukan tanpa pamrih.5. abdi negara. Jangan mempersulit orang lain karena Anda sendiri tidak ingin dipersulit. dan abdi masyarakat. Sebagai PNS harus netral dan hanya membela yang benar. PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara. tidak boleh ada yang diistimewakan dan diberi perlakuan khusus. dan seterusnya. 14 . dalam berorganisasi. yaitu. g.

Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. 4. Mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. 5. terbuka. 3. Etika PNS dalam bernegara 1. serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah. 4. 7. 2. c. Menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. 15 . Menjaga informasi yang bersifat rahasia. 2. 8. Memberikan pelayanan dengan empati. Mewujudkan pola hidup sederhana. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 2. Melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku. Melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang. hormat dan santun. Tanggap. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif. 6. Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja. 3. 9. Patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. Melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas. 5.Adapun butir-butir Etika PNS tersebut adalah sebagai berikut: a. Etika PNS dalam berorganisasi 1. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. 7. 8. jujur. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar. tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. 6. Etika PNS dalam bermasyarakat 1. Membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi. dan akurat. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara.

Etika PNS terhadap diri-sendiri 1. Berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya. 4. Berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. keterampilan. Saling menghormati antara teman sejawat baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. tepat. dan adil serta tidak diskriminatif. maupun antar instansi. Memberikan pelayanan secara cepat. 5. Bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. rapih. Menghargai perbedaan pendapat. Saling menghormati sesama warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan. Memelihara kesehatan jasmani dan rohani. terhadap sesama PNS. 4. 6. 6. sehingga PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dapat melaksanakan tugasnya. Berpenampilan sederhana. Etika PNS terhadap sesama PNS 1. Memiliki daya juang yang tinggi. e. d. kemampuan. Menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. terhadap diri sendiri. 3. 7. 16 . 8. Jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar. maupun golongan. berorganisasi. Tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. bermasyarakat. 5. Berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. dan sopan. 5. dan sikap. kelompok. Menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. 7. 2. Menghindari konflik kepentingan pribadi. 2. Memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. maka dapat disimpulkan bahwa PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS dalam bernegara. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. 3. 4. sebagaimana diharapkan dan menjadi panutan masyarakat dalam pergaulan hidup sehari-hari. instansi. Menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. terbuka.3.

selain dikenakan sanksi moral dapat dikenakan tindakan administratif. Sanksi pelanggaran kode etik PNS yang melakukan pelanggaran kode etik. atau Pernyataan secara terbuka Adapun sanksi pelanggaran kode etik yang berupa tindakan administratif adalah hukuman disiplin yang diatur dalam Peraturan Disiplin PNS. 3. tulisan atau perbuatan PNS yang bertentangan dengan butir-butir pembinaan jiwa korps dan kode etik PNS. Sanksi moral dibuat secara tertulis berupa: a) b) Pernyataan secara tertutup.3.6. c. 17 . Pembentukan Majelis Kode Etik 1. Sanksi pelanggaran kode etik PNS dapat berupa: 1. Majelis Kode Etik mengambil keputusan setelah memeriksa Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran kode etik dan setelah Pegawai Negeri Sipil bersangkutan diberi kesempatan membela diri. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas rekomendasi Majelis Kode Etik. 2. b. Pelanggaran kode etik PNS Segala bentuk ucapan. yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. Jabatan dan pangkat Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dari jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperiksa karena disangka melanggar kode etik. Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian pada setiap instansi yang bersangkutan. 2. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sanksi moral. Untuk menegakkan kode etik maka pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. 4. Penegakan kode etik PNS a.

Keputusan Majelis Kode Etik bersifat final.5. keputusan diambil dengan suara terbanyak. 6. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan apabila tidak tercapai. 18 .

kode etik pengacara. kode etik notaris. maka ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi.3. 2. yaitu: 1. Agar kode etik berfungsi sebagaimana diharapkan. Organisasi profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing-masing. kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja oleh anggota dari organisasi profesi bersangkutan.8. bersikap dan berperilaku bagi suatu profesi tertentu. Kode etik profesi Secara umum dapat diartikan sebagai sekumpulan asas moral bagi suatu profesi tertentu. Kode etik instansi dan kode etik profesi Pada pasal 13 dan pasal 14 dari Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 diatur tentang Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi sebagai berikut: 1. 2. Tujuan utama kode etik Menurut Tony Rooswiyanti (2005:23) ada dua tujuan utama dari kode etik. norma-norma sebagai acuan dasar berpikir. Kode etik bertujuan melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan kelalaian.7. misalnya: kode etik kedokteran. Kode Etik Instansi ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi 3. kode etik PNS. b. Kode etik adalah nilai-nilai moral. dan lain-lain. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan a. 3. maka materi kode etik harus berasal dari 19 . Kode etik melindungi keluhuran profesi dari perilaku-perilaku menyimpang oleh anggota profesi bersangkutan. yaitu: a) Kode etik dibuat oleh profesinya sendiri agar kode etik tersebut dijiwai oleh citacita dan nilai-nilai yang hidup dalam profesi bersangkutan. Agar kode etik dapat berfungsi sebagaimana diharapkan. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menerapkan Kode Etik Instansi.

10. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.01/2007. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. b) Pelaksanaan kode etik harus diawasi terus-menerus.organisasi profesi tersebut. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Kode etik di lingkungan Departemen Keuangan Penyusunan kode etik di lingkungan Departemen Keuangan berpedoman pada ketentuan dan peraturan-peraturan sebagai berikut: 1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. Pemindahan. Dalam kode etik antara lain berisi ketentuan agar setiap anggota profesi saling mengawasi dan melaporkan apabila ada teman seprofesi melanggar kode etik.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. atau dengan kata lain kode etik harus merupakan hasil pemikiran dan pengaturan anggota profesi tersebut. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. c. 2. 4.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 7. 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. 9. dan 20 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 8.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. setiap kasus pelanggaran akan dievaluasi dan diambil tindakan oleh suatu dewan atau komisi khusus untuk itu. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999. Keputusan Presiden Nomor 20/P/2005. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil.

Dalam posisinya yang seperti itu sangat wajar jika perhatian masyarakat terhadap kinerja perpajakan sangat besar.01/2007 tersebut. pengorganisasian. dari mulai perencanaan. maka setiap unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan diminta untuk menyusun kode etik masing-masing unitnya. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Dalam konteks kinerja Direktorat Jenderal Pajak salah satunya tampak pada pencapaian target penerimaan pajak sesuai dengan apa yang telah direncanakan (bahkan melebihi target yang sebelumnya ditetapkan). Sementara itu pelayanan dapat terlihat dari apakah proses pencapaian target. maka pada modul ini dikutip secara garis besar tiga kode etik unit kerja setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri terbesar dan menjadi tumpuan APBN.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan. pengkoordinasian dan pengendalian 21 . Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007. Bagi unit-unit kerja yang telah memiliki peraturan kode etik sebelum diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.11. diminta agar menyesuaikan kembali. Untuk keperluan pembelajaran. sesuai perkembangan yang ada. dan Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran. Oleh karena itu. Pada saat ini. penting bagi DJP untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanannya. sebagai berikut: a) Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah suatu unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang berfungsi memberikan pelayanan di bidang perpajakan. yang disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan di masing-masing unit eselon I tersebut (dengan tetap berpedoman pada peraturan dan ketentuan yang telah ada). yakni: Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.

Sebagaimana diketahui. dan perbuatan yang mengikat Pegawai. larangan. Meningkatkan citra dan kinerja pegawai. termasuk Calon Pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kode etik tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM. Meningkatkan disiplin pegawai. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif. dan sanksi terhadap pelanggaran kode etik. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.3/2007 tersebut diberlakukan untuk semua kantorkantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak baik di tingkat pusat maupun vertikal. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional. c. kualitas pelayanan (kecuali dipengaruhi oleh faktor kompetensi) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah: a. b. Departemen Keuangan. maka disusunlah kode etik pegawai DJP sebagai suatu standar perilaku pegawai. d. etika seperti telah diuraikan sebelumnya dapat menjadi acuan tentang apa yang dapat (etis) atau tidak dapat (tidak etis) dilakukan oleh setiap individu dalam organisasi. 22 . Di dalamnya terurai hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban. e.03/2007 ditetapkan bahwa ketentuan kode etik pada PMK No 1/PMK. Menjamin terpeliharanya tata tertib.atas pelaksanaan pengumpulan dan pemungutan pajak telah berjalan dengan berkualitas. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Pajak merupakan pedoman sikap. Dalam hal ini. tingkah laku.

dan adat istiadat orang lain. yakni sebagai berikut: a. e. e. i. b. c. dan akuntabel. f. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Bersikap. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak. atau pihak lain. berpenampilan. patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya. Mentaati perintah kedinasan. atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya. 23 . Bekerja secara profesional. baik langsung maupun tidak langsung. f. g. Menerima segala pemberian dalam bentuk apapun.Kewajiban: Kewajiban setiap pegawai DJP terkait dengan kode etik ini adalah: a. sesama pegawai. Larangan: Ada beberapa larangan bagi setiap pegawai DJP yang dituangkan dalam peraturan kode etik pegawai DJP. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan. c. h. budaya. transparan. b. Menyalahgunakan fasilitas kantor. kepercayaan. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor. d. yang menyebabkan pegawai yang menerima. Menghormati agama. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik. dari wajib pajak. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak. sesama pegawai. d. dan bertutur kata secara sopan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.

penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai juga merupakan sumber penerimaan yang sangat potensial. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: Segala bentuk ucapan. Oleh karena itu sangat wajar jika dalam kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dari sisi ini. atau perbuatan pegawai yang melanggar ketentuan kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin. Di dalam mendukung upayaupaya tersebut kode etik pegawai memuat norma dasar pribadi dan standar perilaku organisasi. h. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai merupakan pedoman sikap.4/2008 dinyatakan tentang betapa pentingnya meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalisme pegawai. b) Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Selain pajak. baik dalam kehidupan organisasi maupun dalam kehidupan sehari-hari. dapat dipahami pula jika kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.g. Profesionalitas pegawai tidak hanya didukung oleh kompetensi. 24 . Melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan. Untuk mengawasi pelaksanaan kode etik tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membentuk Komisi Kode Etik dan Unit Investigasi Khusus di dalam menjaga citra organisasi. kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak. tingkah laku. dan perbuatan pegawai. yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jendeal Pajak. tulisan. namun satu hal tidak dapat dikesampingkan adalah sejauh mana pegawai mau mentaati dan melaksanakan kode etik yang telah disepakati bersama.

d. Menjamin terpeliharanya tata tertib yang berlaku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. kepercayaan. dan e. c. c. b. b. khususnya PNS di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. mengenai tugas kedinasan maupun yang berlaku secara umum. 25 . dan adat istiadat yang dianut oleh diri sendiri dan orang lain. Menaati dan mematuhi tata tertib disiplin kerja berupa ketentuan jam kerja serta memanfaatkan jam kerja untuk kepentingan kedinasan dan atau organisasi.Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut: Maksud: Pembentukan kode etik di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dimaksudkan untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka mendukung produktivitas kerja dan profesionalitas pegawai. budaya. Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik tersbut adalah: a. Meningkatkan citra dan kinerja PNS. Menaati dan mematuhi segala aturan. d. Menghormati agama. Kewajiban: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib: a. Meningkatkan disiplin pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. baik langsung maupun tidak langsung. Menaati perintah kedinasan. Menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan atua dengan instansi terkait. Menciptakan dan memelihara kondisi kerja antar pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai serta menciptakan perilaku yang profesional bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Menciptakan dan memelihara suasana dan hubungan kerja yang baik. Memberikan contoh dan menjadi panutan yang baik bagi pegawai lainnya dan masyarakat. Bersikap. Mempergunakan dan memelihara barang inventaris milik negara secara baik dan bertanggung jawab. dan atau perubahan data pada sistem informasi milik organisasi. Larangan: Setiap pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilarang : a.e. b. harmonis. i. hadiah. g. f. baik dalam satu unit kerja maupun diluar unit kerja. c. kerusakan. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas memberikan pelayanan kepada pegawai dan masyarakat. Pelanggaran dan sanksi atas pelanggaran kode etik: 26 . Melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terjadinya ganggungan. dan bertutur kata secara sopan dan santun. Menyalahgunakan wewenang yang dimiliki untuk kepentingan di luar kedinasan. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan dapat merusak citra serta martabat organisasi. Menerima pemberian. e. d. berpenampilan. Menjadi anggota dan/atau pengurus dan/atau simpatisan partai politik. f. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. g. Membocorkan informasi yang bersifat rahasia serta menyalahgunakan data dan atau informasi kepabeanan dan cukai. dan sinergis antar pegawai. h. dan atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun secara langsung maupun tidak langsung yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai yang bersangkutan.

Kode Etik di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. termasuk calon pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.Segala bentuk ucapan. c) Kode Etik Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Direktorat Jenderal Anggaran merupakan unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang penganggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 30 Tahun 1980. dan atau tindakan pegawai yang melanggar kode etik dikenakan sanksi moral dan atau sanksi hukuman disiplin berdasarkan PP No. Di dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran merupakan pedoman tertulis yang mencakup norma-norma perilaku yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pegawai. Dalam menjalankan perannya yang sangat strategis tersebut. Kode etik pegawai Direktorat Jenderal Anggaran mengatur antara lain halhal sebagai berikut: Tujuan: Tujuan disusunnya kode etik adalah untuk menjaga citra dan kredibilitas Direktorat Jenderal Anggaran melalui penciptaan tata kerja yang jujur dan transparan sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja serta keharmonisan 27 . tulisan. perilaku.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. sikap. dibutuhkan pegawai yang tidak saja berintegritas dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan tugas pemerintahan yang baik (good governance) tetapi juga pegawai yang menjunjung tinggi norma-norma dan nilai-nilai etika yang bermoral. Komisi Kode Etik Dalam rangka penegakan kode etik dibentuk Komisi Kode Etik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

28 .hubungan antar pribadi baik di dalam maupun di luar lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran.

i. f. Menjadisimpatisan atau anggota atau pengurus partai politik. f. Menindaklanjuti setiap pengaduan dan/atau dugaan pelanggaran Kode Etik. Mentaati ketentuan jam kerja. c. Melakukan kegiatan penelaahan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-l(/L) dan Standar Biaya Khusus dengan Kementerian/Lembaga terkait di luar lingkungan kantor Direktorat Jenderal Anggaran. h. g.Kewajiban: a. kolusi dan nepotisme. Mengamankan keuangan negara dengan prinsip efisiensi dan efektifitas dalam melaksanakan penganggaran. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan pertentangan kepentingan (conflict of interest). d. Melakukan perbuatan korupsi. j. Melakukan penyimpangan prosedur dan/atau menerima hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahul atau 29 . cermat. Menjaga nama baik Korps Pegawai dan institusi Direktorat Jenderal Anggaran. Melakukan tindakan yang dapat berakibat merugikan Stakeholders DJA. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada Sfakeholders DJA menurut bidang tugas masingmasing. b. c. e. Bekerja dengan jujur. Larangan: a. b. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. e. d. tertib. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku khususnya yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Anggaran. bersemangat dan bertanggung jawab. Berpakaian rapi dan sopan. Bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai dan atasan.

uang atau surat-surat berharga milik negara tidak sesuai dengan peruntukannya. k atau pihak lain. i. Membuat. Majelis Kode Etik: Dalam rangka pengawasan pelaksanaan kode etik dibentuk Majelis Kode Etik. yang keanggotaannya terdiri dari: a.patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan pegawai/pejabat yang bersangkutan. 1 (satu) orang Sekretaris merangkap Anggota. Memanfaatkan barang-barang. 1 (satu) orang Ketua merangkap Anggota. h. Sanksi: Pelanggaran terhadap kode etik dikenakan sanksi moral dan atau hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980. 30 . memperdagangkan dan atau mendistribusikan segala bentuk narkotika dan atau minuman keras dan atau obat-obatan psikotropika dan atau barang terlarang lainnya secara ilegal. dan c. Melakukan perbuatan asusila dan berjudi. mengkonsumsi. g. j. b. Sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang Anggota. Memanfaatkan rahasia negara dan/atau rahasia jabatan untuk kepentingan pribadi.

01/2007. yang selanjutnya dikenal sebagai Kode Etik Pegawai Negeri Sipil menyatakan bahwa etika PNS wajib dilaksanakan PNS di seluruh Indonesia tanpa membedakan tempat di mana PNS bertugas. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. integritas moral yang tinggi. apa yang Anda sendiri tidak mau dilakukan pada Anda. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari.3. ada beberapa prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati nyata oleh setiap pejabat publik dan birokrasi pemerintah.01/2007 dan diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. tanggung jawab terhadap kepentingan publik. 31 . bertindak secara adil. yang dalam hal ini termasuk PNS. Untuk mewujudkan PNS Departemen Keuangan yang bersih dan berwibawa secara khusus di lingkungan Departemen Keuangan. Sonny Keraf. maka Menteri Keuangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. maka bagi PNS yang terbukti melanggar kode etik PNS selain dikenakan sanksi moral dapat juga dikenakan tindakan administratif atas rekomendasi Majelis Kode Etik yang dibentuk Pejabat Pembina Kepegawaian instansi di mana PNS tersebut bertugas.9. Dan sebagai tindak lanjut dari peraturan Menteri Keuangan tersebut unit-unit Eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun Kode Etik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. berpihak kepada kebenaran dan kejujuran. Prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati PNS dalam melaksanakan tugasnya terdiri dari tujuh prinsip moral. Menurut DR. seperti: Direktorat Jenderal Pajak. Agar PNS melaksanakan dan menerapkan kode etik secara bertanggung jawab. dan jangan lakukan pada orang lain. Rangkuman Etika Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.01/2007. jangan menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. PNS di samping berkewajiban menjunjung tinggi nilai-nilai dasar bagi PNS juga berkewajiban melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS. dan Direktorat Jenderal Anggaran. yang secara garis besar diuraikan dalam Modul ini. yaitu: prinsip profesionalisme.

Sebutkan nilai-nilai dasar bagi Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil! 4. 5.9.3. LATIHAN 2 1. Jelaskan secara garis besar tentang kode etik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan yang ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi bersangkutan! Uraikan secara garis besar tentang pelanggaran kode etik 32 . Pegawai Negeri Sipil. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2. Sebutkan prinsip-prinsip moral yang perlu dimiliki dan dihayati oleh Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 3.

sopan dan santun. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. maka PNS diwajibkan melaksanakan dan menerapkan kode etik PNS dengan penuh tanggung jawab. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. memberikan pelayanan secara cepat. sehingga dapat diwujudkan PNS yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Kedudukan dan tugas PNS dalam birokrasi pemerintah Kedudukan dan tugas PNS antara lain tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 33 .4. hormat dan santun. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain ditegaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas PNS agar dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Kegiatan belajar 3 ETIKA PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN 4. Selanjutnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 jo Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tersebut di atas ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. serta tidak diskriminatif. adil. Uraian dan contoh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. dan pembangunan. adil dan merata. telah ditetapkan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. tidak diskriminatif. tepat. tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan negara. adil dan merata. di mana PNS sebagai pemberi pelayanan wajib bersikap disiplin. ikhlas.1. pemerintahan. Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.2. 4. menegaskan bahwa Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas memberikan pelayanan secara profesional. ramah.PAN/7/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik. terbuka.

c) Untuk menjamin netralitas. dan 3. jujur. 2) Pegawai Negeri Sipil bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. yaitu: a) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 Tahun 1999 Dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditegaskan bahwa: Pegawai Negeri terdiri dari: 1. dan merata. Pegawai Negeri Sipil (PNS). Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. pemerintahan. adil dan merata dalam penyelenggaraan negara. Selanjutnya dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 diatur tentang kedudukan dan tugas PNS. 34 . PNS Daerah. b) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.tentang Pokok-pokok Kepegawaian.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. 3) Pegawai Negeri Sipil harus netral dari pengaruh golongan atau partai politik agar tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. • • PNS Pusat. adil. 2. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Anggota Tentara Nasional Indonesia. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Pegawai Negeri Sipil dilarang menjadi anggota dan atau pengurus partai politik Jadi kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil yang diatur dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. dan pembangunan. Adapun kedudukan dan tugas PNS yang diatur dalam peraturan perundang-undangan tersebut di atas adalah sebagai berikut: a.

Sikap dan perilaku PNS yang diharapkan antara lain tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut di bawah ini.b. dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan. dan nepotisme. yaitu: a. dan merata. produktif. ramah. sopan dan santun. dan bebas korupsi. Karena PNS 35 . aparatur pemerintah. Kolusi. 4. adil. dapat dinyatakan bahwa kedudukan Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah adalah sebagai aparatur pemerintah.PAN/7/2003 adalah sebagai berikut: 1.3. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M. Memperhatikan peraturan perundang-undangan tersebut di atas. d. Etika PNS dalam memberikan pelayanan Untuk dapat mewujudkan pelayanan prima. Pegawai Negeri Sipil sebagai pemberi pelayanan publik wajib bersikap disiplin. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PP Nomor 42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa kedudukan PNS adalah sebagai berikut: 1. Pegawai Negeri Sipil bertugas memberikan pelayanan yang terbaik. 2. Pegawai Negeri Sipil sebagai unsur aparatur negara. PNS harus bersikap dan berperilaku baik sesuai dengan etika dalam memberikan pelayanan agar dapat mewujudkan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 2.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Adapun kedudukan dan tugas PNS dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/ M. dan abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan prima atau berkualitas. dan Nepotisme mengamanatkan agar penyelenggara negara yaitu aparatur negara melaksanakan tugas dan fungsinya melayani masyarakat secara profesional. sebagai abdi masyarakat yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyakarat. kolusi. transparan. ikhlas.

di mana pelayanan dimaksud berorientasi kepada kebutuhan dan kepuasan masyarakat. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/ M. merata. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian. tepat. sopan santun. dan tidak diskriminatif.PAN/7/2003 tersebut diatur: Asas Pelayanan Publik dan Prinsip Pelayanan Publik yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah. maka diharapkan PNS mengacu kepada amanat Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999 tersebut. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan serta memberikan pelayanan secara cepat. serta tidak diskriminatif. ramah. hormat dan santun. adil dan merata.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat bertugas memberikan pelayanan yang berkualitas (prima) yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. yang mengamanatkan agar aparatur pemerintah memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. maka dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.sebagai unsur aparatur negara. tidak diskriminatif kepada masyarakat. terbuka. 36 . tidak diskriminatif. ikhlas. d. Dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 dinyatakan bahwa PNS sebagai unsur aparatur negara bertugas untuk memberikan pelayanan secara profesional. PNS dalam memberikan pelayanan wajib bersikap disiplin. dan adil. Selanjutnya untuk mewujudkan pelayanan prima. c. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. di mana etika PNS dalam memberikan pelayanan adalah memberikan pelayanan dengan empati. e. sehingga mewujudkan pelayanan yang amanah. b. Jadi sikap dan perilaku yang diharapkan adalah positif agar dapat memberikan pelayanan yang adil. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Pemerintahan.

Prinsip Pelayanan Publik a. gender. dan harapan masyarakat. golongan.Adapun Asas dan Prinsip Pelayanan Publik sebagai berikut: 1. Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak. e. 2. ras. dan mudah dilaksanakan. d. Kejelasan 1) Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik. mudah dipahami. Kesamaan Hak Tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku. b. dan status ekonomi. kebutuhan. b. Transparansi Bersifat terbuka. 37 . Kesederhanaan Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit. 2) Unit kerja/pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/ sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik. c. mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti. agama. Akuntabilitas Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Partisipatif Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pubik dengan memperhatikan aspirasi. f. Kondisional Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Asas Pelayanan Publik a. 3) Rincian biaya pelayanan publik dan tatacara pembayaran.

dan Keramahan Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. Keamanan Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan kepastian hukum. rapi. Kelengkapan sarana dan prasarana Tersedianya sarana dan prasarana kerja. g. mudah dijangkau oleh masyarakat. Akurasi Produk pelayanan publik diterima dengan benar. bersih. d. tempat ibadah. tepat. Kesopanan. dan sah. 38 dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan . informatika. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa berdasarkan Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1999. Tanggung jawab Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik. disediakan ruang tunggu yang nyaman. dan lainlain. lingkungan yang indah dan sehat serta dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan. Kemudahan Akses Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai. i. toilet. Kedisiplinan. serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. Kepastian waktu Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. j. f. e.c. ramah. sopan dan santun. seperti parkir. peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika). teratur. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001. Kenyamanan Lingkungan pelayanan harus tertib. h.

serta memberikan pelayanan dengan ikhlas. hormat dan santun. dan Nepotisme. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan adil.Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999. 5) Memberikan pelayanan secara cepat. dan bebas Korupsi. serta tidak diskriminatif. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. transparan. Oleh karena itu setiap penyelenggara pelayanan secara berkala melakukan survei indeks kepuasan masyarakat. Kolusi. atau dengan kata lain sikap dan perilaku positif dari pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk 39 .PAN/7/2003. tidak diskriminatif. tepat. maka sikap dan perilaku positif Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan dalam melayani masyarakat adalah sebagai berikut: 1) 2) Memberikan pelayanan secara adil dan merata. Memberikan pelayanan produktif. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa sikap dan perilaku positif dari Pegawai Negeri Sipil yang diharapkan sebagai pemberi pelayanan yang tercermin dalam peraturan perundang-undangan tersebut sangat berperan untuk mewujudkan pelayanan prima. bersih. Memberikan pelayanan dengan empati. Sikap dan perilaku positif sangat penting untuk meningkatkan pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. 6) Memberikan pelayanan sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Pegawai Negeri Sipil perlu memahami dan melaksanakan dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas pelayanan karena ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima pelayanan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diharapkan. yang berorientasi pada kepuasan dan kebutuhan masyarakat di mana pemberi pelayanan harus bersikap disiplin. 3) 4) Memiliki rasa kepedulian yang tinggi dalam memberikan pelayanan. ramah. terbuka. sopan dan santun.

dan merata. dan berakhlak mulia serta berkepribadian Indonesia dalam kehidupan berbangsa. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps PNS dalam pengamalan kode etik PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS. adil. bersikap. Pegawai Negeri Sipil yang patuh dan setia kepada Pancasila. rasa malu. dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila. sportivitas. Pokok-pokok etika kehidupan berbangsa mengedepankan kejujuran. UUD 1945. karena kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh semangat pengabdian dari PNS dalam birokrasi yang bertugas memberikan pelayanan. dan Pemerintah. pemerintah.4. Untuk mewujudkan PNS yang berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugasnya. kemandirian. termasuk PNS dalam kehidupan berbangsa. tanggung jawab. bersikap. disiplin. b. khususnya yang bersifat universal dan nilai-nilai luhur budaya yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir. 40 . keteladanan. menjaga kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. Etika kehidupan berbangsa yang bersumber dari ajaran agama. yaitu: a. UUD 1945. Negara. amanah. bertaqwa. 4. Etika meningkatkan kualitas PNS a. yang selanjutnya dikenal sebagai pelayanan prima. etos kerja. sehingga PNS mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Pemerintah. dan seluruh rakyat Indonesia. maka perlu ditingkatkan kualitas PNS sebagaimana diharapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. sikap toleransi. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa Etika kehidupan berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 menjadi acuan dasar berpikir. dan berperilaku untuk meningkatkan kualitas manusia beriman. dan Negara. dan berperilaku bagi negara.mewujudkan pelayanan yang berkualitas. Adapun maksud dan tujuan ditetapkan etika kehidupan berbangsa adalah untuk membantu peyadaran tentang arti dan pentingnya etika dan moral dalam kehidupan berbangsa.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas. g. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. c. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang secara keseluruhan terdiri dari 37 butir. bermasyarakat. mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari. kompak. Pegawai Negeri Sipil yang profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi. taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. berorganisasi. tanggap dalam melaksanakan tugasnya. dan bersatu padu. Kedisiplinan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan organisasi karena untuk membangun disiplin diperlukan adanya suatu kesadaran dalam diri masing-masing individu karena disiplin merupakan sikap mental seseorang terhadap nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai acuan dasar bersikap dan berperilaku. terhadap diri sendiri. antara lain ditegaskan bahwa pembinaan jiwa korps dan 41 . f. Untuk mewujudkan PNS yang berkualitas sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan g.b. dan terhadap sesama PNS secara utuh dan bertanggung jawab. Pegawai Negeri Sipil yang kuat. Pegawai Negeri Sipil yang netral. diharapkan dapat meningkatkan kualitas PNS dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari. dapat dinyatakan bahwa pada hakekatnya etika bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. maka setiap PNS wajib melaksanakan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam etika bernegara. Etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin Secara umum disiplin adalah sikap mental yang patuh. sebagaimana termaksud dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 yang mengatur tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 yang mengatur tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS. e. d. Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya. c.

tertib. Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. patuh. Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil. atau pihak lain. dan tanggung jawab. 42 . persatuan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil. v. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. cermat. vi. Undang-Undang Dasar 1945. Mengangkat dan mentaati sumpah/janji Pegawai Negeri Sipil dan sumpah/janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kesadaran. iii. Menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan sebaik-baiknya. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. antara lain sebagai berikut: 1) PP No 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS PNS yang beretika akan bersikap disiplin dan senantiasa mematuhi peraturan disiplin yang terdiri dari 26 kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan PNS dan 18 butir berupa larangan yang tidak boleh dilanggar oleh PNS. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat negara. taat. Adapun peraturan perundang-undangan yang wajib ditaati. Adapun kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan Pegawai Negeri Sipil dan larangan yang tidak dapat dilanggar Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut: a) Kewajiban PNS yang harus ditaati dan dilaksanakan terdiri dari 26 butir: i. Memelihara dan meningkatkan keutuhan. dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. vii. Mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan golongan atau sendiri. viii.pengamalan kode etik PNS mewujudkan PNS yang bersikap disiplin karena PNS yang bersikap disiplin akan berperilaku rajin. bertanggung jawab. dan bersemangat untuk kepentingan negara. Negara dan Pemerintah. Melaksanakan tugas kedinasan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. iv. ii. Bekerja dengan jujur. kekompakan. diri sendiri. ix.

xviii. xv. xxiii. keuangan. Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat. xiii. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerja. Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan Negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. Menjadi teladan sebagai Warga Negara yang baik dalam masyarakat. Mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. xxv. tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya. xx. Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. b) Larangan bagi PNS terdiri dari 18 butir. sesama Pegawai Negeri Sipil. xxvi. Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat Negara. dan Pegawai Negeri Sipil. dan terhadap atasan. Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. ii. yakni: i. xvi.x. xxii. Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. Bertindak dan bersikap tegas. xiv. xxiv. xvii. Mentaati ketentuan jam kerja. Menyalahgunakan wewenang. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. 43 . xii. Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. dan materiil. xix. Pemerintah. Hormat-menghormati antara sesama Warga Negara yang memeluk agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berlainan. xi. xxi. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya.

vii. golongan atau pihak lain. bawahan atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. x. uang atau surat-surat berharga milik negara. ix. Bertindak selaku perantara bagi sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapat pekerjaan atau pesanan dari kantor/instansi Pemerintah. membeli. v. golongan atau pihak lain xiv. menyewakan atau meminjamkan barang-barang.iii. iv. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan. Melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerja. dari siapapun yang patut diketahui atau patut diduga bahwa pemberian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat Pegawai Negeri Sipil. Bertindak sewenang-wenang terhadap bawahannya. teman sejawat. xv. kecuali untuk kepentingan jabatan. viii. Melakukan suatu tindakan atau sengaja tidak melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang dilayaninya. Memiliki. yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. Melakukan kegiatan bersama dengan atasan. xi. atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. dokumen. Menyalahgunakan barang-barang. Menerima hadiah atau sesuatu pemberian berupa apa saja. vi. Memiliki saham dalam suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat pemilikan itu 44 . xiii. menjual. xii. menggadaikan. Tanpa izin pemerintah menjadi Pegawai atau bekerja untuk negara asing. Membocorkan dan atau memanfaatkan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi. xvi. xvii. xviii. dan tanggung jawab. pada saat pengangkatannya menjadi PNS mengucapkan sumpah/janji yang merupakan pedoman bagi setiap PNS dalam bertindak sebagai penunjang fungsinya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. akan menaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian. dan martabat Pegawai Negeri Sipil. dan bersemangat untuk kepentingan negara”. atau komisaris perusahaan swasta. dan Pemerintah. saya bersumpah/berjanji: “Bahwa saya. akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara.sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. Bahwa saya. serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri. Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut: Demi Allah. akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila. bagi yang berpangkat Pembina golongan IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. menjadi direksi. Negara. Bahwa saya. untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Undang-Undang Dasar 1945. akan bekerja dengan jujur. seseorang atau golongan. 45 . Pemerintah. cermat. 2) PP Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah dan Janji PNS Setiap calon PNS. Melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi maupun sambilan. akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. kesadaran. pimpinan. golongan atau pihak lain. Memiliki saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. Bahwa saya. tertib. Bahwa saya.

dan terhadap sesama PNS dengan baik dan benar. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang merupakan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai PNS. taat. secara etika sumpah/janji tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan. yaitu selalu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Etika PNS dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. maka pengamalan etika PNS tersebut akan meningkatkan kualitas PNS sebagaimana telah diuraikan pada butir 4. dan selalu berusaha tidak melakukan pelanggaran. terhadap diri sendiri. atau dengan kata lain PNS yang bersikap disiplin akan selalu berusaha tidak dikenakan hukuman disiplin karena selalu bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat. Selanjutnya peningkatan kualitas PNS akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas karena PNS yang berkualitas adalah PNS yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam bidang tugasnya. 4.3 telah diuraikan bahwa pada hakekatnya pengamalan kode etik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas PNS agar PNS yang berkualitas tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.5. Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS yang tertuang dalam kode etik PNS yang meliputi: etika bernegara. rajin. dan lain-lain. patuh dan setia kepada Pancasila. yaitu: 46 .3. dan Pemerintah. UUD 1945.Pada saat PNS mengucapkan sumpah/janji tersebut. dan selalu akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat yang merupakan tanggung jawabnya. karena PNS yang bersikap disiplin akan bersikap dan berperilaku baik dalam pelaksanaan tugasnya. bermasyarakat. dan patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Negara. Etika PNS meningkatkan kualias pelayanan Dalam butir 4. bersikap dan berperilaku baik. Berdasarkan hal-hal tersebut dapat dinyatakan bahwa etika mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. berorganisasi.

yang sangat berperan dalam mewujudkan PNS yang berkualitas agar dapat melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang terbaik. dan merata sebagaimana termaksud dalam 47 . maka dapat dinyatakan bahwa: • Apabila setiap PNS mengamalkan butir-butir etika PNS dalam kode etik PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 dan mengacu pada pokokpokok Etika Kehidupan Berbangsa yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001.2 bahwa etika PNS meningkatkan kualitas PNS. Memberikan pelayanan secara cepat. kompak dan bersatu padu. 4. serta penuh kesetiaan pada Pancasila. di samping bersikap dan berperilaku baik.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.a. Rangkuman Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional. Etika PNS juga berfungsi untuk mewujudkan PNS yang bersikap disiplin. terbuka. profesional. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan.6. dapat dinyatakan bahwa etika meningkatkan kualitas PNS. netral. UUD 1945. adil. hormat dan santun. dan bertanggung jawab melaksanakan tugasnya. maka akan dapat diwujudkan PNS yang berkualitas. Negara. PNS perlu memahami dengan baik dan benar asas dan prinsip pelayanan publik yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP. memiliki kepekaan. tanggap dan memiliki kesetiakwanan yang tinggi. b. Sebagaimana telah diuraikan pada butir 4.M. diperlukan PNS yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna. tepat. yang akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan PNS kepada masyarakat. berdisiplin. Memberikan pelayanan dengan empati. serta tidak diskriminatif. dan adil. Dasar pertimbangan ditetapkan Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah untuk mewujudkan PNS yang kuat. dan Pemerintah. Selanjutnya untuk meningkatkan pelayanan. • Pelayanan yang dilaksanakan oleh PNS yang berkualitas diharapkan akan menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas.

tepat. terbuka.01/2007. Jelaskan tentang sikap dan perilaku Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pedayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. dan adil. Latihan 3 1. memberikan pelayanan secara cepat. serta tidak diskriminatif. Uraikan secara garis besar bahwa ditetapkannya kode etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil! 3.7. 4. Jelaskan bahwa etika Pegawai Negeri Sipil mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin! 5. tanpa pamrih dan tanpa unsur paksaan. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Etika PNS yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah memberikan pelayanan dengan empati. dengan tetap berpedoman pada peraturan perundangundangan yang berlaku. maka semua unit kerja tingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan telah menyusun kode etik unit kerjanya masing-masing sesuai dengan karakteristik pekerjaannya. Jelaskan tentang kedudukan dan tugas Pegawai Negeri Sipil dalam birokrasi pemerintah! 2.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. Uraikan secara garis besar bahwa etika Pegawai Negeri Sipil meningkatkan kualitas pelayanan! 48 . Untuk mewujudkan PNS yang bersih dan berwibawa di lingkungan Departemen Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. yang kemudian diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PKM. hormat dan santun. Dengan melaksanakan butir-butir etika PNS dalam memberikan pelayanan.PAN/7/2003! 4.

A Berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja tertuang dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara. B . 9.A Profesionalisme dalam bidang tugas merupakan faktor yang paling utama untuk meningkatkan pelayanan.A Kode etik Pegawai Negeri Sipil hanya berlaku untuk Pegawai Negeri Sipil Pusat. B . 6. 1. B .A B . 49 .A Etika Pegawai Negeri Sipil tidak mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bersikap disiplin.A Etika Pegawai Negeri Sipil bertujuan untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang mampu memberikan pelayanan yang terbaik.A Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi. B . TES FORMATIF I. B . 8. 10. B . Kode etik Pegawai Negeri Sipil tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 5. 7. dan merata. B .A Etika Pegawai Negeri Sipil kurang berperan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.5. adil. BENAR/SALAH Lingkarilah B apabila pernyataan di bawah ini Benar dan A apabila pernyataan Salah.A Untuk menegakkan kode etik di bentuk Majelis Kode Etik. B . B . 3. 4. merupakan ruang lingkup pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil. 2.A Pembinaan jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil.

Memiliki daya juang yang tinggi 4. Sanksi moral dan tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku d. Dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat 2. Kode etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman. Memiliki kompentensi dalam pelaksanaan tugas Akuntabel dalam melaksanakan tugas Menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kode etik Pegawai Negeri Sipil memberikan pelayanan: a. adil. Tindakan administratif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. sikap. d. c. Pelanggaran kode etik Pegawai Negeri Sipil dapat dikenakan: a.II. Dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari d. Dalam melaksanakan tugasnya b. Dalam pergaulan hidup sehari-hari c. dan . PILIHAN BERGANDA Pilih satu jawaban yang paling benar. 1. hormat dan santun. Memberikan pelayanan yang produktif dan transparan 50 Memberikan pelayanan secara profesional dan ikhlas Memberikan pelayanan yang bebas Korupsi. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil: a. Sanksi moral b. Kolusi. tidak diskriminatif d. tingkah laku. Butir-butir yang terkandung dalam etika Pegawai Negeri Sipil dalam berorganisasi antara lain tersebut di bawah ini: a. Memberikan pelayanan dengan empati. Sanksi pidana dan perdata 3. Nepotisme c. b. b.

Pengertian dari jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 adalah: 1) Rasa kesatuan dan persatuan 2) Rasa kebersamaan. ASOSIASI PILIHAN GANDA PILIHLAH: A.5. Transparan c. dan 3) benar B. bila pernyataan 1). bila semua pernyataan benar 1. Etika pemerintahan yang tertuang dalam Ketetapan MPR Nomor VI /MPR/2001 mengamanatkan agar Pegawai Negeri Sipil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat: a. disiplin. kreativitas 4) Rasa kebanggaan dan rasa memiliki organsasi Pegawai Negeri Sipil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. kerja sama. Kolusi. dan Nepotisme b. dan bermoral tinggi 4) Ketaatan Pegawai Negeri Sipil kepada Negara dan Pemerintah 51 . tanggung jawab 3) Rasa dedikasi. Nilai-nilai dasar Pegawai Negeri Sipil yang wajib dijunjung tinggi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas 3) Profesionalisme. Bebas Korupsi. Profesional d. bila pernyataan 1) dan 3) benar C. 2). netralitas. Memiliki kepedulian yang tinggi III. bila pernyataan 2) dan 4) benar D.

membina rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan 2) Membina peningkatan kerja sama antara Pegawai Negeri Sipil 3) Mendorong etos kerja Pegawai Negeri Sipil untuk mewujudkan Pegawai Negeri Sipil yang bermutu tinggi 4) Meningkatkan produktivitas kerja 4. dan Nepotisme 3) Intregritas moral yang tinggi 52 . Menurut DR. Tujuan pembinaan jiwa korps Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 antara lain tersebut di bawah ini: 1) Membina karakter. prinsip-prinsip normal yang perlu dimiliki dan dihayati Pegawai Negeri Sipil antara lain tersebut di bawah ini: 1) Profesionalisme 2) Bersih dan bebas Korupsi. Kolusi. Asas Pelayanan Publik yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Etika Pegawai Negeri Sipil wajib dilaksanakan dan diterapkan Pegawai Negeri Sipil meliputi. Sonny Keraf. 1) Etika bernegara 2) Etika berorganisasi 3) Etika bermasyarakat 4) Etika terhadap diri sendiri dan etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil 6.3. watak.PAN/7/2003 yang bertujuan meningkatkan pelayanan antara lain tersebut di bawah ini : 1) Produktif 2) Transparansi 3) Tanggap 4) Akuntabilitas 5.

tanggap 3) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kesetiakawanan yang tinggi 4) Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin serta sadar akan tanggung jawabnya 53 . yaitu: 1) Memberikan pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat 2) Memberikan pelayanan yang sesuai harapan masyarakat 3) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kebutuhan masyarakat 4) Memberikan pelayanan yang berorentasi pada kepuasan masyarakat 10. Kualitas pelayanan Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat yang tertuang dalan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah: 1) Profesional 2) Adil dan merata 3) Tidak diskriminatif 4) Transparan 8.4) Produktif dan disiplin 7. Etika Pegawai Negeri Sipil dalam bernegara antara lain tersebut di bawah ini: 1) Mengangkat harkat dan martabat bangsa 2) Memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas 3) Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa 4) Membangan etos kerja 9.PAN/7/2003. Sikap dan perilaku yang positif diperlukan dalam memberikan pelayanan sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. kompak. dan bersatu padu 2) Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kepekaan. Pembinaan jiwa korps dan kode etik Pegawai Negeri Sipil menunjukkan: 1) Pegawai Negeri Sipil yang kuat.

4. 3. B A B B B A A A A 10. A II. 7.6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF I. 6. 2. ASOSIASI PILIHAN BERGANDA 1. 7. 8. 5. 4. C C A C D III. 3. 2. 5. D B 6. BENAR/SALAH 1. 9. PILIHAN BERGANDA 1. 2. B A 54 .

B D D 55 . B C D 8. 5. 4. 9.3. 10.

99 % 70.99 % 80. 100% s. TP = J umlah jawaban Anda yang benar x 100% J umlah keseluruhan soal Apabila TP Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai : 91 % 81 % 71 % 61 % s.7.d. kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui sampai sejauhmana Tingkat Pemahaman (TP) Anda.d.99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang Bila TP belum mencapai 81 % ke atas (kategori ”Baik”). s. Hitung jumlah jawaban yang benar. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang pada bagian akhir dari modul ini. 90. maka disarankan mengulang materi.d. 56 .d. s.

. Etika Organisasi.Soc. Drs. Kamus Besar Bahasa Indonesia.T. 3.. Supriyadi. Balai Pustaka. DR. Pendidikan Pancasila.W.. P. dalam jurnal “Good Governance” terbitan Program Magister STIA-LAN. Tim Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. ‘Prinsip-prinsip moral birokrasi pemerintah..S... 16 Juli 2003.. Prof .. Franz Magnis ”Sekitar Etika Birokrasi” Makalah pada Seminar Pengembangan Widyaiswara .. M. dalam jurnal ilmiah “Good Governance”.P. Franz Magnis.M. M.A dan Sofia Ayu.C.. 57 .A. 1 Maret 2003. cetakan VIII... 9. 6. 8. Prajabatan III. Winarty.’ Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. Keraf. 1990 16. Army. Mr. S.J. Etika Organisasi. S.Ec. Tony. DR.. 4. Dipl. Drs.. Penerbit Kanisius. Salamoen. Jakarta. 1984. Pradya Paramita. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 1 April 2002. Sonny. 16 Juli 2003. Yogyakarta. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai. Penerbit Erlangga. Etika Organisasi Pemerintah. 13.. 1998. Hardijanto. Drs. Kansil.. Budaya Kerja dan Disiplin. Jakarta. R.. C..H. Nyoman Dekker. DR. Etika Suatu Pengantar. Prajabatan III. 15. Jakarta.G. kumpulan karangan. Etika Dasar. 11. Tantangan dalam Mengembangkan dan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Bagi Birokrasi Pemerintahan.T. 2005. SC. 10.. S. penerbit Karunia Esa. Suseno S. 7.P. Drs. 14. Solomon. 1 Maret 2003. Jakarta. Jakarta.T. Salamoen.. Soeharyo. 17. Prof.. Kansil.. Santiaji Pancasila.. Etika Kepemimpinan Aparatur. Rooswiyanto. Prof.8.. Keraf. Prof.H. 12. Drs. M. Peningkatan Kualitas PNS dalam Kepemerintahan yang Baik.S. Drs.T.. Mardojo.H. LAN. A. Makalah yang disampaikan dalam Top Management Seminar. 1993. Departemen Keuangan. Tjiptoherjanto.H... Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Desi Fernanda. 2002. Soeharyo. Pancasila dan UUD 1945 Bagian I.. 2001. Gering. S. Drs. P. Sulandra J. Pringgodigdo. 20 September 2002. A. Pemberdayaan Sumber Daya Aparatur dalam Rangka Peningkatan Kinerja Organisasi Publik. Bahan Diklat Prajabatan Golongan I dan II. Lembaga Administrasi Negara. Kuntjoro Purbopranoto. 5. Pradya Paramita. Prof. Drs.. C. LAN.. Mr. 2001. Mei 2002. S. 2. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BAPPENAS. Sonny. DAFTAR PUSTAKA 1. dalam jurnal terbitan Program Magister STIA –LAN. 1985. 2002. S.J. Darmodihardjo Darji.. 18... Triguno. LLM. Prijono. Menumbuhkan dan Mengembangkan Etika Birokrasi..H. M. A.Ed. Suseno S.H. Pancasila dan UUD 1945 Bagian II. terbitan Program Magister STIA-LAN. M...

8. 2. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa.3/2007 tentang Pemberlakuan Kode Etik Direktorat Jenderal Pajak untuk seluruh pegawai di unit kerja Direktorat Jenderal Pajak. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS. Pemindahan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK. 16.01/2007. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK. 7. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M. Kolusi.4/2008 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PM. 4.01/2007 tentang Majelis Kode Etik. 15. dan Nepotisme.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Peraturan Pokok-pokok Kepegawaian. 3.PERATURAN-PERATURAN: 1. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN 1999-2004. 12. 19. 10. dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. 58 . 5. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin PNS. 11. UUD 1945 yang telah diamandemen keempat.2/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Anggaran. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. 13. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PM. 14.3/2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak. 9. 17. Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PM. 6.

21.20. 59 . 23. 22.01/2003 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Peningkatan Efisiensi dan Disiplin Kerja Aparatur Negara di lingkungan Departemen Keuangan.01/2007 tentang Pendelegasian Wewenang kepada Para Pejabat di lingkungan Departemen Keuangan untuk memberikan Sanksi Moral Atas Pelanggaran Kode Etik PNS di lingkungan Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 293/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 220/PMK.01/2007 tentang Kode Etik Pegawai Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan.01/2007 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KM. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful