P. 1
surat keterangan kematian

surat keterangan kematian

5.0

|Views: 477|Likes:
Published by Nastasya Febriyani
berhubungan dengan surat keterangan kematian
berhubungan dengan surat keterangan kematian

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Nastasya Febriyani on Jan 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2014

pdf

text

original

Surat Keterangan Kematian

Surat kematian ialah surat yang berisi pernyataan bahwa seseorang telah dinyatakan meninggal dunia menurut pemeriksaan medis. Tidak kalah pentingnya dengan surat atau akte kelahiran, surat keterangan kematian juga memiliki banyak kegunaan. Kegunaan surat keterangan kematian : -Pemakaman -Pensiun -Asuransi -Warisan -Hutang piutang -Hukum -Statistik Manfaat statistik penyebab kematian : -Tren dan diferensial penyakit -Perencanaan program intervensi -Monitoring -Evaluasi program -Penelitian epidemiologi -Penelitian biomedis dan sosiomedis Surat Keterangan Kematian memuat : identitas, saat kematian, dan sebab kematian. Surat keterangan kematian => pelaporan dan pencatatan => statistik => perencanaan. Peran dokter dalam hal ini ialah : -Menentukan seseorang telah meninggal dunia (berhenti secara permanen: sirkulasi, respirasi dan neurologi) -Menuliskan sebab kematian, jika diperlukan => otopsi -Jika jenazah tidak dikenal => membantu identifikasi Perkembangan Statistik Kematian di Indonesia sendiri masih memprihatinkan, dikarenakan : Sebagian besar kejadian kematian di rumah (>60%) Tidak ada catatan medis/tidak memadai Tidak ada laporan ke dinkes kabupaten, ke propinsi, dan ke pusat Laporan tidak terstandardisasi dengan baik (ICD 10) Laporan tidak memadai untuk tingkat nasional Antisipasi DepKes untuk hal tersebut: -Survei mortalitas-AV secara berkala: 1981-2007 Referensi : Materi kuliah mengenai “Surat Keterangan Kematian” yang disampaikan oleh dr. Yudha Nurhantari

Drowning
anton, olin, ida, rahma indria, ria
Home
     

Home Perkiraan durasi Cedera Mati Tenggelam Perubahan laboratorium Diatom

KEMATIAN KARENA TENGGELAM
Selama 5 dekade terakhir, gambaran mekanisme tenggelam telah mengalami perubahan besar. Hingga perang dunia ke II, gambaran klasik tenggelam adalah karena kekurangan O2. Melalui penelitian yang dilakukan Swann dan lainnya, dapat disimpulkan bahwa dalam tubuh binatang, ketidakseimbangan antara cairan dan elektrolit memegang peranan besar dalam menyebabkan terjadinya kegagalan miokard akut. Antara manusia dan binatang juga ditemukan perbedaan mekanisme.

TENGGELAM DALAM AIR TAWAR
Pada keadaan ini terjadi absorbsi cairan masif ke dalam membran alveolus, dimana dalam

waktu 3 menit dapat mencapai 70 % dari vol darah sebenarnya. Karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi dalam darah, maka akan terjadi hemodilusi darah, air masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan pecahnya sel darah merah (hemolisis). Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh berusaha mengkompensasinya dengan melepaskan ion Kalium dari serabut otot jantung sehingga kadar ion dalam plasma meningkat, akibatnya terjadi perubahan keseimbangan ion K⁺ dan Ca⁺⁺ dalam serabut otot jantung dan mendorong terjadinya fibrilasi ventrikel an penurunan tekanan darah, yang kemudian menimbulkan kematian akibat anoksia otak. Kematian dapat terjadi dalam waktu 4-5 menit.

TENGGELAM DALAM AIR ASIN
Konsentrasi elektrolit dalam air asin lebih tinggi dibandingkan dalam darah, sehingga air

akan ditarik dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru, hal ini dapat mengakibatkan

terjadinya odem pulmonal, hemokonsentrasi, hipovolemi, dan kenaikan kadar magnesium dalam darah. Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi lambat dan menyebabkan terjadinya payah jantung. Kematian dapat terjadi dalam waktu 8-12 menit setelah tenggelam.

TANDA –TANDA YANG DITEMUKAN PADA OTOPSI

Saat otopsi banyak keterlambatan, baik saat diangkatnya tubuh dari air dan dimulainya pemeriksaan pasca mati.

BUIH/ BUSA PADA SALURAN PERNAFASAN
Tanda-tanda positif dari tenggelam, berbeda dengan pembenaman, yang sangat sedikit dan

tidak spesifik pastinya. Yang paling bermanfaat adalah dengan ditemukannya cairan busa pada saluran pernafasan, dimana pada tubuh yang masih segar, akan terlihat menetes pada mulut dan lubang hidung. Busa tersebut merupakan cairan edema dari paru-paru, yang mengandung campuran eksudat protein dan surfaktan dengan air yang masuk. Biasanya busa berwarna putih, tetapi dapat juga berwarna merah muda atau merah, karena adanya sedikit campuran darah akibat perdarahan intra pulmonal. Gambaran ini hampir mirip dengan edem akibat gagal jantung kiri yang sering terlihat pada kematian akibat penyakit jantung, seperti hipertensi. Buih dapat meluas sampai trakea, bronkus utama dan alveoli. Paru-paru sendiri pastinya akan terisi air dan cairan busa akan menetes dari bronkus ketika paru-paru di tekan dan dari potongan permukaan paru ketika dipotong dengan pisau. Copeland (1985) mengemukakan bahwa berat paru-paru orang mati bukan tenggelam dengan mati tenggelam dalam air asin atau air tawar adalah tidak ada perbedaan yang signifikan. Sekitar 10-20% tidak diragukan mati tenggelam pada kasus dengan paru-paru yang kering dengan tidak ada pertambahan berat. Pada umumnya berat paru-paru yang tenggelam adalah sekitar 600700 gram, paru-paru tidak tenggelam adalah 370-540 gram. Kingsholm menemukan bahwa 7% dari kasus tenggelam dengan paru-paru yang kering dengan kombinasi berat paru-paru kurang dari berat diatas dalam kilogram. Untuk diingat rata-rata berat paru keduanya 1411 gram bandingkan dengan 994 sebagai control.

Jika badan dalam air kurang dari 24 jam setelah itu berat paru-paru menurun tetapi transudat pleural naik. Kombinasi dari berat paru-paru dan transudat lebih dari 75% pada kasus berkisar antara 1000-2200 gram diatas 30 hari.

OVERINFLASI PADA PARU-PARU

Bagian dari seluruh paru-paru yang berisi air dapat terjadi overinflasi, memasuki rongga torak ketika sternum dibuka. Normalnya bare area lebih dari jantung yang tertutupi dan paru-paru yang menonjol keatas bertemu di midline untuk menghilangkan mediastinum anterior. Teksturnya lebih pucat dan berkrepitasi. Bagian superfisialnya mirip dengan asma, nama lain untuk kondisi ini adalah emfisema aquosum. Pre-existing emfisema yang sebenarnya sebagian berupa distensi dari tenggelam, tetapi sekarang bulla jarang ada. Cairan edem dalam bronkus yang kolpas, ini normal pada kematian,menyokong paru pada posisi inspirasi. Sekarang sering dari elemen distensi yang berlebihan disebabkan oleh valvular action dari obstruksi bronchial, lagi-lagi sama dengan asma. Pada tenggelam dapat cukup membentuk tanda pada permukaan lateral dari paru-paru dengan tekanan pada iga, dapat dilihat dan diraba cekungan setelah membuka organ dalam torax. Ini adalah satu dari ciri positif dari kasus tenggelam untuk menuntun otopsi. Terdapat beberapa area perdarahan intrapulmoner yang memberikan warna merah pada cairan edem. Area itu kadang luas dan intensif, edema generalisata dan distensi ada untuk meminimalkan tonjolan, beberapa dapat berada dekat lapisan pleural dan dapat lebih terlihat mengaburkan benjolan pada eksterior paru-paru. Bagian yang kabur hasil dari penyebaran hemolisis. Dalam kasus tenggelam kadang tanpa perdarahan petekie subpleural, berpisah dengan beberapa bintik non spesifik yang dapat ditemukan pada fissura dan sekitar hillum, yang sebenarnya setiap otopsi tidak tau apa sebab kematiannya.

ORGAN LAIN DALAM KASUS TENGGELAM

Tidak ada yang dapat dipercaya pada perubahan pada tenggelam pada saat otopsi. Jantung dan vena besar kadang dilatasi dan berisi cairan darah, spesifik pada sisi kanan. Sebab ini adalah subyektif dan tidak spesifik, pada penelitian jarang digunakan. Banyak ahli patologi mempunyai pendapat bahwa sisa darah lebih cair dalam kasus tenggelam, dan ahli patologi meneliti ini dan menyatakan terjadi hemodilusi pada tenggelam dalam air tawar. Secara umum tanda otopsi subyektif dan tidak dapat dipercaya. Perut dapat berisi air atau benda asing dalam air seperti lumpur, pasir atau rumput. Tetapi ini bukan tanda pasti. Banyak kasus tenggelam menunjukan perut tidak berisi air, banyak kasus dengan kematian badan terbenam dalam air menampakkan air berlebih dalam perut. Batasannya sifat esofagus dan sfingter kardiak tidak dalam proses tenggelam, sama dengan adanya benda asing dalam trakea. Perdarahan dalam telinga tengah tanda positif dari tenggelam tetapi penulis meneliti, hasilnya total tidak dapat dipercaya.Itu dapat terjadi pada kematian bukan tenggelam atau kasus tenggelam tapi tidak ada perdarahan. Ini karena tekanan hidrostatik dalam telinga. Tetapi kadang ini tidak serasi dengan penelitian banyak ahli patologi (niles).

Pemeriksaan Kasus Tenggelam
Posted on by admin| Leave a comment [Translate]

a. Pemeriksaan Destruksi Asam Terhadap Paru-paru dan Organ Lain Cara pemeriksaan: o Ambil 100 g jaringan perifer paru, potong-potong hingga kecil, lalu masukkan dalam labu Kjeldahl. o Tambahkan asam sulfat pekat kira-kira sebanyak seluruh jaringan paru. Pada permukaan didesakkan gumpalan kertas agar seluruh jaringan paru-paru terendam dan diamkan sampai jaringan hancur (biasanya, antara ½ sampai 1 hari). o Panaskan dalam lemari asam sampai mendidih lalu teteskan asam nitrat pekat sampai cairan menjadi jernih. o Cairan didinginkan kemudian disentrifugasi. o Sedimen yang terjadi diambil ditambahkan dengan akuades kemudian disentrifugasi kembali.

o Hasilnya diperiksa dengan mikroskop. Hasil. Pemeriksaan dikatakan positif bila pada jaringan paru ditemukan diatom cukup banyak 4-5/LPB atau 10-20 persatu sediaan. Adanya diatom sebanyak 1/LPB pada bahan sumsum tulang panjang dikatakan positif.

b. Pemeriksaan Getah Paru Cara pemeriksaan: o Paru-paru dilepaskan satu persatu secara tersendiri dengan memotong hilus. Paru-paru yang sudah dilepas tidak boleh diletakkan tetapi langsung disiram dengan dengan air bersih (bebas diatom dan alga). o Iris bagian perifer sedalam _+ 1 cm, masing-masing 2 lapisan pada satu sisi paru. o Cairan paru diambil dari dinding irisan dengan cara menyeka dinding irisan dengan punggung pisau yang bersih. o Cairan tersebut diletakkan pada gelas obyek. o Tutup dengan kaca penutup dan diperiksa dengan mikroskop. Hasil o Dicari apakah terdapat diatom, ganggang, atau plankton lainnya.

Adanya salah satu saja dari plankton-plankton tersebut menunjukkan adanya cairan yang masuk ke alveoli paru

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->