BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Aorta adalah pembuluh darah besar (main trunk) dari pembuluh darah cabangnya yang berfungsi membawa darah teroksigenasi ke berbagai jaringan di tubuh untuk kebutuhan nutrisinya. Secara umum, aorta memiliki dinding tebal yang tersusun oleh tiga lapisan otot yang mampu menahan perubahan tekanan yang dihasilkan pada setiap jantung berdenyut. Ketidakmampuan lapisan dinding aorta menahan tekanan yang tinggi sehingga timbulnya robekan pada lapisan tersebut menimbulkan suatu keadaan yang disebut diseksi aorta. 1 Diseksi aorta ditandai oleh robekan lapisan intima dinding aorta yang diawali oleh suatu proses degenerasi atau disertai nekrosis kistik dari lapisan tunika media. Darah akan mengalir melalui robekan yang memisahkan lapisan intima dengan lapisan media atau lapisan adventisia, yang kemudian membentuk ruang palsu (false lumen). 1 Mengacu kepada berbagai kelainan pada aorta, diseksi aorta merupakan komplikasi serius paling banyak dengan frekuensi dua kali lebih sering menyebabkan ruptur dinding aorta. Prevalensi diseksi aorta kurang dari 1 % pada temuan autopsi. Di Amerika Serikat, bukti diseksi aorta ditemukan pada 1-3 % dari semua otopsi (1 dari 350 kadaver). Mortalitas diseksi aorta tinggi pada 7 hari pertama, banyak pasien meninggal sebelum sampai ke IGD atau sebelum diagnosis dibuat di IGD.

1

Di Amerika Serikat, aneurisma aorta berada di urutan ke-13 sebagai penyebab kematian. Hampir 15.000 individu meninggal setiap tahunnya karena ruptur aneurisma aorta. Berdasarkan studi otopsi, diperkirakan 1-2% populasi ditemukan aneurisma pada aortanya, frekuensi ini meningkat hingga 10% pada kelompok yang lebih tua. Kebanyakan aneurisma aorta tidak terdeteksi hingga mengalami ruptur, dan angka kematian akibat ruptur aneurisma sangat tinggi yaitu 90%.1

1.2

Rumusan Masalah Referat ini dibatasi pada pembahasan anatomi aorta, definisi dan klasifikasi, epidemiologi, etiologi dan faktor risiko, patogenesis, teknik otopsi, dan temuan otopsi pada aorta disekan.

1.3

Tujuan Penulisan Referat ini disusun untuk lebih memahami tentang anatomi aorta, definisi dan klasifikasi, epidemiologi, etiologi dan faktor risiko, patogenesis, teknik otopsi, dan temuan otopsi pada aorta disekan serta sebagai pemenuhan sesi pembelajaran kepaniteraan klinik dokter muda Bagian Ilmu Forensik RSUP DR M. Djamil Padang.

1.4

Metode Penulisan Referat ini disusun dengan metode tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi dan Fisiologi Aorta
Aorta adalah pembuluh darah besar (main trunk) dari segenap pembuluh darah cabangnya yang berfungsi membawa darah teroksigenasi ke berbagai jaringan di tubuh untuk kebutuhan nutrisinya. Aorta berada sebagai bagian atas dari ventrikel, dengan diameter sekitar 3 cm, dan setelah naik (ascending), aorta melengkung (arch) ke belakang dan ke sisi kiri, tepat pada pangkal paru kiri, kemudian turun (descending) dalam toraks pada sisi kiri kolumna vertebralis, masuk rongga abdomen lewat hiatus diafragmatikus, dan berakhir, dengan diameter mulai berkurang (1,75 cm), setingkat dengan vertebra lumbalis ke-4, aorta bercabang menjadi arteri iliaka komunis dekstra dan sinistra. Dari uraian di atas maka aorta dapat dipisahkan menjadi beberapa bagian: aorta ascenden, arcus aorta, dan aorta descenden.1,2

1.

Aorta Ascendens Aorta ascenden memiliki panjang sekitar 5 cm, menyusun bagian atas dari basis ventrikel kiri, setinggi batas bawah kartilago kosta ke-3 di belakang kiri pertengahan sternum; aorta melintas ke atas secara oblik, ke depan, dan ke kanan, searah aksis jantung, setinggi batas atas dari kartilago kosta ke-2. Pada pangkal asalnya, berlawanan dengan segmen valvula aortikus, terdapat tiga dilatasi kecil disebut sinus aortikus. Saat pertemuan aorta ascenden dengan arcus aorta kaliber pembuluh darah meningkat, karena bulging dinding kanannya. Segmen dilatasi ini disebut bulbus aortikus, dan pada potongan transversal menunjukkan bentuk yang oval. Aorta ascenden terdapat dalam perikardium.2

3

di posterior aorta bersandar pada atrium sinistra dan arteri pulmonaris dekstra. pleura kanan. pada sisi kiri dengan arteri pulmonaris.Batas-batas. Aorta ascenden dilindungi oleh trunkus arteria pulmonalis dan aurikula dekstra dan lebih tinggi lagi terpisah dari sternum oleh perikardium. jaringan ikat longgar. Pada sisi kanan. aorta berdekatan dengan vena cava superior dan atrium dekstra. margo anterior dari pulmo dekstra. dan sisa dari jaringan timus.2 Gambar 1: Arcus aorta dan cabang-cabangnya Gambar 2: Skema cabang-cabang arcus aorta 4 .

dan berjalan ke atas. dan ke kiri di depan trachea. dan duktus torasikus. Saat pembuluh melintas ke belakang sisi kirinya bersentuhan dengan pulmo sinistra dan pleura. Sehingga terbentuk dua kurvatura: aorta yang melengkung ke atas serta yang melengkung ke depan dan ke kiri. yang melingkar di bawah pembuluh dan melintas ke atas pada sisi kanan. Arcus Aorta Arcus aorta dimulai setinggi batas atas artikulasi sternokostalis ke-2 pada sisi kanannya. esofagus. ke belakang. 2 Batas-batas. yang muncul 5 . Di atas adalah arteri inominata. trachea berada di belakang kanan dari pembuluh.Cabang-cabang. Pada sisi kanan terdapat pleksus kardiakus profunda. cabang nervus kardiakus superior dari trunkus simpatikus sinistra. Arcus aorta dilindungi oleh pleura di anterior dan margo anterior dari pulmo. Satu-satunya cabang dari aorta ascenden adalah arteria coronaria yang mensuplai jantung. Batas atasnya kira-kira 2. Vena interkostalis melintas oblik ke atas dan ke depan pada sisi kiri arcus. kardiakus superior cabang nervus vagus sinistra. pada batas bawahnya dan kemudian berlanjut menjadi aorta descenden. 2. dan arteri subklavia sinistra.5 cm di bawah batas superior manubrium sterni. di antara nervus frenikus dan vagus. nervus rekuren sinistra. dan trunkus vagus sinistra. kemudian mengarah ke belakang pada sisi kiri trachea dan akhirnya turun lewat sisi kiri tubuh pada setinggi vertebra thoracic ke-4. karotis komunis sinistra. Melintas ke bawah pada sisi kiri bagian tersebut pada arcus terdapat 4 nervus: nervus frenikus sinistra. Saat nervus terakhir tadi melintasi arcus ia memberikan cabang rekuren. muncul dekat commencement aorta tepat di atas pangkal valvula semilunaris.

a. ligamentum arteriosum. 2 3. saat melewati dua rongga besar tubuh. Di bawah adalah bifurkasio arteri pulmonalis. Dalam perjalanannya ia terdapat di sisi kiri kolumna vertebralis. saat terminasinya berada tepat di depan kolumna vertebralis. Dimulai pada batas bawah dari vertebra thoracic ke IV yang merupakan lanjutan dari arcus aorta. carotis comunis sinistra. 2 6 . dan berakhir di depan batas bawah dari vertebra thoracic ke XII pada hiatus aorticus diafragma. bagian superfisial dari pleksus kardiakus.2 Di antara awal arteri subclavia dan perlekatan ductus arteriosus. dan nervus rekuren sinistra. Ligamentum arteriosum menghubungkan arteri pulmonari sinistra dengan arcus aorta. 2 Cabang-cabang Arcus Aorta mempercabangkan 3 buah pembuluh darah: arteri innominata.dari lengkungan arcus dan bersilangan berdekatan di pangkalnya dengan vena inominata sinistra. ia mendekati garis tengah saat turun. yang pada saat diatas ductus arteriosus pembuluh membentuk dilatasi yang disebut aortic spindle. Aorta thoracalis Aorta thoracalis terdapat dalam cavum mediatinum posterior. lumen aorta bayi sedikit menyempit. dan. bronkus sinistra. membentuk bangunan yang disebut sebagai isthmus aorticus. thoracica dan abdominalis. Aorta desenden Aorta desenden dibagi menjadi dua bagian. dan subclavia sinistra.

berbatasan dengan pangkal pulmo sinistra. Arteri brochialis (aa. Tiap-tiap pembuluh 7 . bagian inferior terdapat tepat dibawah bronchus sinistra. Arteri bronchialis sinistra terdapat dua buah. sisi kiri. dengan pleurae dan pulmo sinistra. esophagus. Cabang pericardial (rami pericardiaci)—terdiri dari beberapa pembuluh kecil yang terdistribusi pada permukaan posterior pericardium. Terdapat aturan baku bahwa hanya satu arteri bronchialis dekstra yang berasal dari aorta intercostalis pertama. posterior. 2 Aorta Thoracalis mempercabangkan antara lain:2 1. sisi kanan. dari atas kebawah. dilihat dari sisi kiri Batas-batas—anterior. bronchiales)—bervariasi jumlah. dan berasal dari aorta thoracalis. dengan vena azigos dan ductus thoracicus. Bagian superior arteri bronchialis sinistra muncul berlawanan dengan vertebra thoracic ke V.Gambar 3: Aorta thoracalis. dan asalnya. 2. dan diafragma. pericardium. dengan kolumna vertebralis dan vena hemiazigos. ukuran. atau dari arteri bronchialis sinistra superior.

bercabang disepanjang tube bronchus. Ramus anterior—tiap pembuluhnya ditemani dengan vena dan nervus. Tiap arteri dibagi menjadi ramus anterior dan posterior. beranastomosis juga dibagian atas dengan cabang esophageal dari arteri thyroidea inferior dan dibagian bawah dengan arteri phrenica inferior sinistra dan arteri gastrica inferior. Kecuali pada bagian atas dimana nervus terdapat diatas arteri. æsophageæ)—terdapat empat atau lima jumlahnya. Mereka berasal dari bagian belakang aorta. memvaskularisasinya. arteri intercostalis dekstra lebih panjang dibanding yang sinistra sesuai dengan posisi aorta yang disebelah kiri vertebra. membentuk rantai anastomosis disepanjang tube. 4. Dua arteri intercostalis bagian bawah berlanjut ke anterior dari spatium intercostalis ke dinding abdomen. dan lumbalis. dan turun oblik ke bawah menuju esophagus. 3. serta beranastomosis dengan arteri subcostalis. epigastrica superior. berasal dari bagian depan aorta. Arteri intercostalis (aa. Juga pada jaringan jaringan longgar pulmo.berjalan di bagian belakang masing-masing bronchus. 8 . 6. yang pertama terdapat diatas dan yang terakhir terdapat di bawah arteri. Arteri intercostalis aorta yang pertama beranastomosis dengan cabang intercostal dari truncus costocervicalis. Cabang mediastinal (rami mediastinales)—adalah sejumlah pembuluh kecil yang mensuplai kelenjar limfe dan jaringan ikat longgar pada mediatinumk posterior. dan esophagus. Arteri esophageal (aa. 5. intercostales)—terdapat sembilan pasang arteri intercostalis aorta. limfonodi bronchialis.

8. kemudian bergabung dengan aponeurosis posterior dari m. ditemani dengan nervus thoracicus ke XII. berakhir pada korpus vertebra lumbalis ke IV. intercostalis inferior. dan melintas didepan otot tersebut dan m. di depan batas bawah dari korpus vertebrae thoracic terakhir dan turun didepan kolumna vertebralis. dan beranastomosis dengan arteri musculophrenicus dan pericardiophrenicus. Transversus abdominis. kemudian terbagi menjadi dua arteri iliaca comunis. Masing-masingnya melintasi batas bawah dari costae ke XII dibelakang ginjal dan didepan m. b.7. Cabang phrenicus superior Merupakan pembuluh kecil yang berasal dari bagian bawah aorta thoracica. Menyusun pasangan terbawah cabang yang berasal dari aorta thoracica serta susunan terakhir dari arteri intercostalis. beranastomosis dengan arteri epigastrica superior. Tiap arteri subcostalis memberi cabang posterior yang mirip distribusinya dengan ramus posterior arteri intercostalis. terdistribusi ke bagian posterior dari permukaan atas diafragma. Quadratus lumborum. 2 9 . Aorta semakin berkurang ukurannya dengan semakin banyak ia mempercabangkan pembuluh darah. Aorta Abdominalis Aorta abdominalis dimulai pada hiatus aortikus diafragma. sedikit ke kiri dari garis tengah tubuh. Arteri subcostalis—diberi nama demikian karena ia berada dibawah costae terakhir. dan lumbalis. Obliquus internus.

ganglion celiaca sinistra. dibawah vena lienalis. di belakang cabang dari arteri celiaca dan plexus celiaca. vena cava inferior bersentuhan dengan aorta dibawahnya. Pada sisi kanan terdapat vena azygos. bagian ascending dari duodenumdan sedikit bagian intestinum. 2 10 . vena ranalis sinistra. pleksus mesenterium dan pleksus aortikus. cisterna chyli. anterior. Pada sisi kiri adalah crus sinistra diafragma. bagian inferior dari duodenum. oleh omentum minus dan gaster. crus dekstra diafragma yang memisahkan aorta dari bagian atas vena cava inferior dan dari ganglion celiaca dekstra. Posterior dipisahkan dari vertebrae lumbalis dan fibrokartilago intervertebrae oleh ligamentum longitudinalis anterior dan vena lumbalis sinistra.Gambar 4: Aorta abdominalis dan cabang-cabangnya Batas-batas Aorta Abdominalis dibatasi. ductus thoraksikus. pankreas.

Terminal Branches. Lumbars. arteri gastrica sinistra. sementara arteri suprarenalis.Cabang-cabang—dapat dibagi menjadi tiga kelompok: viseral. Superior Mesenteric. 11 . Middle Suprarenals. Inferior Mesenteric. Dari cabang viseral. Cabang terminal berpasangan. arteri sacralis media tidak berpasangan. Celiac. Parietal Branches. Middle Sacral. Renals. spermatika interna. 5)—mempercabangkan tiga cabang besar. Internal Spermatics. Arteri celiaca (a. renalis. arteri celiaca dan arteri mesenterika superior dan inferior tidak berpasangan. 1. parietal. Visceral Branches. Inferior Phrenics. hepatica. juga terkadang arteri phrenica inferior. cæliaca. dan ovarian adalah berpasangan. Ovarian (in the female). Dari cabang parietal. dan terminal. arteri phrenica inferior dan lumbalis adalah berpasangan. dan splenica. celiac axis) (gb. Common Iliacs.

Arteri mesenterika inferior (gb.Gambar 5: Arteri celiaca dan cabang-cabangnya 2. sigmoidea.2 Gambar 6: Arteri mesenterika superior dan cabang-cabangnya 3. dan hemorrhoidalis superior. colica dekstra. Arteri mesenterika superior Mempercabangkan arteri pancreaticoduodenalis inferior. Gambar 7: Arteri mesenterika inferior dan cabang-cabangnya 12 . ileocolica. 7)—mempercabangkan arteri colica sinistra. intestinalis.

Melewati bagian lateral dan sedikit keatas. tiap arteri bercabang menjadi empat atau lima cabang kecil. Cremaster. Sisi kanan lebih panjang daripada sisi kiri. bagian belakang tunica albuginea. melintasi crura diafragmatika. suprarenal arteries)—adalah dua pembuluh darah kecil yang muncul dari kedua sisi aorta. sisi kiri lebih tinggi daripada sisi kanan. sehinga membentuk sudut hampir tegak lurus dengan aorta.4. dimana kemudian beranastomosis dengan cabang suprarenal dari arteri phrenica inferior dan arteri renalis. Sebelum mencapai hilus renalis. spermatic arteries) terdistribusi ke testis. yang muncul dari tiap sisi aorta. Arteri renalis (aa. testis. ureter. 13 . Tiap-tiapnya melintas turun oblik dan lateral dibelakang peritoneum. Ia memvaskularisasi ductus deferens. renales) (gb. ke glandula suprarenalis. tepat dibawah arteri mesenterika superior. 5. kemudian melewatinya dan merupakan salah satu penyusun corda spermatica disepanjang canalis inguinalis menuju skrotum. Arteri spermatica internus (aa. berlawanan dengan arteri mesenterika superior. Tiap arteri juga mempercabangkan suprarenalis superior. dan m. epididimys. middle capsular arteries. 4)—adalah dua pembuluh besar. Spermaticæ internæ. suprarenales media. Adalah dua arteri yang panjang berasal dari aorta bagian depan sedikit dibawah arteri renalis. Psoas major. 6. Tiap-tiapnya menyilang oblik diatas ureter dan bagian bawah arteri iliaca eksternus untuk mencapai anulus inguinalis. Arteri suprarenalis media (aa. bersandar pada m. Tiap-tiapnya melintasi crus diafragma.

Cabang-cabang—pada sela antara processus transversus tiap arteri lumbalis mepercabangkan ramus posterior yang terdistribusi ke otot dan kulit punggung. Tiap-tiap pembuluh subcostal memberi cabang suprarenalis superior menuju kelenjar suprarenal. iliaca circumflexi profunda. Kadang juga terdapa tpasangan ke V yang berukuran kecil yang berasal dari arteri sacralis media. Mendekati bagian belakang tendo central diafragma tiap pembuluh terbagi menjadi cabang medial dan lateral. Arteri lumbalis (aa. memvaskularisasi ovarium. Ia dapat berasal terpisah dari bagian depan aorta. Mereka biasanya berjumlah empat pada tiap sisi. ia juga memberi cabang ke vena cava inferior dan esophagus. tetapi jarang muncul terpisah dari aorta. Arteri phrenica inferior (aa. Cabang medial melintas kedepan dan beranastomosis dengan sesamanya disisi yang berlawanan.7. ia 14 . Ovaricæ)—adalah arteri pada wanita yang serupa dengan arteri spermatica internus pada pria. berlawanan dengan vertebra lumbalis ke IV. Phrenicæ inferiores) adalah dua pembuluh darah kecil yang memvaskularisasi diafragma. dan epigastrica inferior. 9. dan berasaldari bagian belakang aorta. dan beranastomosis dengan arteri intercostalis bawah. Lumbales)—merupakan satu seri denga arteri intercostalsi. Cabang lateral melintas pada sisi thorax. subcostalis. iliolumbalis. dan dengan arteri musculophrenicus. Spleen dan liver juga menerima beberapa cabangnya. Arteri ovaria (aa. Asal dan jalurnya sama dengan arteri spermatica interna. Mereka beranastomosis dengan arteri intercostalis inferior. 8. terkadang salah satunya berasal dari aorta dan yang lain dari arteri renalis. dan dengan arteri musculophrenicus dan pericardiophrenicus.

Dari situ ia melintas ke permukaan belakang rectum. dan berakhir pada glomus coccygeum (coccygeal gland). Gambar 8: Arteri pada pelvis 15 . Sacralis media) adalah pembuluh kecil. yang muncul dari belakang aorta. Ia turun pada garis tengah didepan vertebra lumbalis ke IV dan V. sacrum dan coccyx.kemudian menjadi cabang spinal yang memasuki canalis vertebralis dan terdistribusi sama dengan cabang spinal ramus posterior arteri intercostalis. 10. sedikit diatas bifurcatio. Arteri sacralis media (a. Cabang muscular dibentuk dari tiap arteri lumbalis dan dari ramus posterior dari otot tetangganya.

2.3 16 .Aorta memiliki dinding yang tebal. tunika media. Tunika intima adalah lapisan yang paling dalam yang berkontak dengan darah. aorta.2 Definisi dan Klasifikasi Aorta Disekan Kata aneurisma berasal dari bahasa yunani “aneurysma” berarti pelebaran. 9). Berdekatan dengan lapisan ini adalah tunica media. Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi membesar secara keluar. dan tunika adventisia di lapisan paling luar. tersusun oleh jaringan ikat (gb. dengan tiga lapisan otot yang memungkinkan pembuluh darah ini tahan terhadap tekanan tinggi yang dihasilkan ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Ketiga lapisan tersebut adalah tunika intima. Lapisan ini dibentuk terutama oleh sel endothelial. dan tunika adventisia. tunika media di lapisan tengah. lapisan media terutama dibentuk oleh sel otot polos dan and jaringan Lapisan paling luar disebut tunica adventitia atau adventitia. darah. Lapisan arteri yang kontak langsung dengan darah adalah tunica intima. disebut juga elastik. sering disebut intima. abnormal atau mengembang (over-inflated) seperti balon yang menonjol Pelebaran yang terjadi adalah lokal dan lebih dari 50% diameter pembuluh Aneurisma sering terjadi pada arteri di basis otak (circulus Willisi) dan di Aneurisma adalah keadaan yang berbahaya karena dapat ruptur dan menyebabkan kematian kapan saja.

Hal tersebut dapat terjadi jika dinding aorta menjadi lemah karena deposit lemak (plak) pada atherosclerosis. Aorta dapat mengalami aneurisma. dan biasanya terjadi pada abdomen dibawah ginjal (abdominal aneurysm). kiri: perbesaran kuat) Aneurisma aorta adalah aneurisma yang melibatkan aorta. melengkung (arcus). Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa aorta adalah pembuluh darah besar utama yang berasal dari jantung yang mensuplai darah ke abdomen.4 Beberapa lokasi yang sering terjadi aneurisma antara lain:5. Aneurisma juga dapat terjadi sebagai penyakit yang diturunkan seperti Marfan syndrome. tetapi dapat juga terjadi di rongga thorak (thoracic aneurysm). 10) 17 . dan descenden lewat rongga thorak hingga mencapai diafragma (pemisah antara rongga thorak dan abdomen). pelvis. aorta mulai disebut sebagai aorta abdominalis setelah ia melewati diafragma dam berlanjut turun ke abdomen yang terpisah menjadi dua arteri iliaca yang turun ke tungkai bawah. ascenden.Aorta (abdominal aortic aneurysm dan thoracic aortic aneurysm) (gb. dan tungkai bawah.Gambar 9: Histologi aorta (kanan: perbesaran lemah.6 . Aorta disebut sebagai aorta thoracica saat ia meninggalkan jantung.

.5. dilatasi simetris dan melibatkan seluruh lingkar arteri. 10) .6 18 .Otak (cerebral aneurysm) (gb. aneurisma fusiformis menyerupai kumparan.Usus (mesenteric artery aneurysm) .Splenic artery aneurysm Gambar 10: Aneurisma aorta abdominalis dan Berry aneurisma pada sirkulus Willisi Aneurisma dapat digolongkan berdasarkan bentuknya: sakular dan fusiform.Tungkai bawah (popliteal artery aneurysm) . aneurisma hanya melibatkan sebagian dari lingkar arteri dimana aneurisma berbentuk seperti kantong yang menonjol dan berhubungan dengan dinding arteri melalui suatu leher yang sempit. Aneurisma sakular menyerupai kantong (sack) kecil.

tipe II – disekan hanya melibatkan aorta ascenden. Klasifikasi DeBakey membagi diseksi aorta menjadi tiga tipe.Gambar 11. Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa perdarahan intramural. tetapi angka kematian masih tinggi pada diseksi aorta. 7 Klasifikasi Stanford membagi diseksi aorta ke dalam dua tipe yaitu: tipe A – disekan meliputi aorta ascenden dan desenden. Meskipun terdapat kemajuan dalam modalitas diagnostik dan terapi. kebanyakan pasien meninggal sebelum dibawa atau sebelum diagnosis dibuat di IGD. Pasien dengan diseksi aorta kronis (> 2 minggu) memiliki prognosis yang lebih baik.Tipe aneurisma Diseksi aorta didefinisikan sebagai pemisahan lapisan dalam dinding aorta. Robekan lapisan intima mengalami penyebaran darah diseksi (proksimal atau distal) sekunder darah yang memasuki ruang intima-media. Sebuah diseksi aorta akut (<2 minggu) dikaitkan dengan morbiditas dan tingkat kematian yang tinggi. hematoma intramural dan ulkus aortic merupakan tanda- 19 . yaitu: tipe I – disekan melibatkan seluruh bagian aorta. Kematian tertinggi terjadi dalam 7 hari pertama. tipe III – disekan hanya melibatkan aorta descenden. tipe B disekan hanya terjadi di aorta desenden.

tanda yang menyertai suatu proses disekan.7 Gambar 12. Pasien yang mengalami komplikasi iskemik pada organ ginjal atau visceral hingga. Pasien dengan diseksi aorta tipe B tanpa komplikasi. Klasifikasi diseksi aorta7 2. angka mortalitasnya 10% dalam 30 hari.7 Diseksi aorta akut tipe B klasifikasi Stanford memiliki tingkat mortalitas yang lebih rendah dibanding tipe A.3 Epidemiologi Aorta Disekan 20 . Klasifikasi terkini membagi diseksi aorta kedalam lima tipe. Berbagai jenis klasifikasi ini dilukiskan dalam gambar 12.

sekitar 2. sekitar 33% pasien meninggal pada 24 jam pertama.8 Diseksi aorta sering terjadi pada orang berkulit hitam dari pada berkulit putih dan kurang umum pada orang Asia dibandingakan dengan orang kulit putih.4 Etiologi dan Faktor Risiko Aorta Disekan 21 . Angka kematian pasien dengan diseksi aorta adalah 1-2% per jam dalam 24-48 jam. Frekuensi sebenarnya sangat sulit diperkirakan dan perkiraan kebanyakan berdasarkan bukti otopsi. Lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan. Bila tidak ditatalaksana. Hampir 75% diseksi aorta terjadi pada usia 40-70 tahun.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya di Amerika Serikat.000 pasien yang dirawat rumah sakit.8 Diseksi aorta merupakan kelainan aorta yang berbahaya. diseksi aorta merupakan penyakit yang jarang. Diseksi aorta terjadi 1/10. biasanya pada dekade ketiga dan keempat kehidupan. Pasien dengan sindrom Marfan menunjukkan gejala yang lebih cepat. Insiden diseksi aorta berkisar 5-30 kasus/1 juta orang/tahun. Bukti diseksi aorta ditemukan pada 1-3 % dari semua otopsi (1 dari 350 kadaver). dengan frekuensi 2-3 kali lebih sering dibanding ruptur aorta abdominal. dengan puncak pada usia 50-65 tahun. dan 50% meninggal setelah 48 jam.1 2. dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 2-3:1.Di Amerika Serikat. Kematian setelah 2 minggu mencapai 75% pada pasien dengan diseksi aorta asenden yang tidak terdiagnosis.

9 1. Gangguan jaringan penyambung metabolisme (homosistinuria. terutama pada pasien dengan sindrom Marfan. 4. 9. Diperkirakan 50% dari semua kasus diseksi aorta terjadi pada wanita hamil 22 . 5. 3. Kehamilan juga dapat menjadi faktor risiko diseksi aorta. 8.8 Kelainan aorta dapat disebabkan oleh beberapa kelainan herediter berikut:8. gangguan jaringan penyambung. serta pada orang. Hipertensi atau aliran darah berdenyut dapat menyebarkan diseksi tersebut. Gangguan Hipertensi merupakan faktor predisposisi penting pada diseksi aorta. 6. 2. hiperkolesteromia) 12. 7. Sindrom Marfan Sindrom Ehlers-Danlos Annuloaortic ectasia Diseksi aorta familial Penyakit polikistik ginjal Sindrom Turner Sindrom Noonan Osteogenesis imperfekta Stenosis katup bikuspid aorta 10.orang dengan riwayat pembedahan toraks.Diseksi aorta dapat diakibatkan oleh baik faktor kelainan kongenital maupun kelainan didapat. Diseksi aorta lebih umum terjadi pada pasien dengan hipertensi. stenosis aorta kongenital atau stenosis katup bikuspid. Pasien dengan diseksi aorta 70% memiliki tekanan darah tinggi. Koarktasio 11.

7 Hipertensi memegang peranan penting dalam terbentuknya aneurisma karena terjadinya perlemahan dinding aorta. 10 Aneurisma terjadi karena pembuluh darah kekurangan elastin. trauma dada deselerasi 3. Daerah yang paling sering terkena adalah aorta abdominalis dan torakal. penggunaan kokain Diseksi aorta iatrogenik dapat terjadi melalui beberapa prosedur kardiologi berikut : 8 1. 23 . Pembedahan Coronary artery bypass graft 3. terutama tunika media.8 Keadaan lain yang dapat menyebabkan diseksi aorta meliputi: 8 1. Penggatian katup aorta dan katup mitral 2.5 Patogenesis Setiap mekanisme yang menyebabkan kelemahan pada lapisan media dinding dilatasi aorta aorta yang diikuti dengan peningkatan wall stress akan menyebabkan aneurismatik dan selanjutnya dapat terjadi pendarahan intramural. Kebanyakan kasus terjadi pada trimester ketiga atau pada periode awal postpartum. diseksi hingga ruptur dinding aorta. percutaneous transluminal coronary angioplasty) 2.dengan usia kurang dari 40 tahun. Penggunaan kateter perkutaneus (seperti kateterisasi jantung. dan matriks ekstraseluler yang menyebabkan melemahnya dinding aorta. aortitis Sifilis 2. kolagen.

Tegangan atau tekanan pada dinding berkaitan langsung dengan radius pembuluh darah dan tekanan intraarteri.Kekurangan komponen tersebut bisa disebabkan oleh faktor inflamasi (aterosklerosis). dan sel-sel radang.3 Aneurisma akan mengakibatkan darah yang mengalir pada daerah tersebut mengalami turbulensi. sebagian besar 24 .3 Apapun penyebabnya. faktor lain yang berperan terjadinya aneurisma adalah plasminogen aktivator. dan katepsin. Selain itu. tekanan dinding juga meningkat sehingga menyebabkan dilatasi dinding pembuluh darah. Lama kelamaan trombus berlapis tersebut akan membentuk saluran yang sama besar dengan saluran aorta bagian proksimal dan distal. memperlemah tunika media dan menjadi faktor predisposisi terbentuknya aneurisma. Dengan melebar dan bertambahnya radius pembuluh darah. sehingga persediaannya menjadi berkurang. perkembangan aneurisma akan selalu progresif. fibrin.3 Selain itu. Akibatnya. dinding aneurisma akan dilapisi trombus. Keadaan itu menyebabkan deposit trombosit. Sel radang pada dinding pembuluh darah yang mengalami aterosklerosis mengeluarkan matriks metalloproteinase. Matriks metalloproteinase akan menghancurkan elastin dan kolagen. Aliran turbulen pada daerah bifurkasio dapat ikut meningkatkan insiden aneurisma di tempat-tempat tertentu. interaksi dari banyak faktor lain dapat menjadi predisposisi pembentukan aneurisma pada dinding aorta. Sehingga angka kejadian ruptur aneurisma juga meningkat seiring meningkatnya ukuran aneurisma. Selain matriks metalloproteinase. serin elastase. Suplai darah ke pembuluh darah melalui vasa vasorum diduga dapat terganggu pada usia lanjut.

kelainan bawaan pada jantung dan pembuluh darah (koartasio aorta.3 Diseksi aorta merupakan terjadinya robekan yang memisahkan bagian dinding aorta. tamponade atau regurgitasi katup aorta.individu yang mengalami aneurisma juga menderita hipertensi sehingga menambah tekanan dinding dan pembesaran aneurisma. kadang melibatkan cabang-cabang utama dan menyebabkan beberapa komplikasi berupa sindroma malperfusi. patent ductus arteriosus dan kelainan pada katup aorta). Darah akan mengalir melalui robekan yang memisahkan lapisan intima dengan lapisan media atau lapisan andventisia. cedera. yang merupakan komponen struktural dari ligamentum suspensori lensa dan berfungsi sebagai substrat untuk elastin dalam 25 . yang kemudian membentuk ruang (hematom) menyebabkan penekanan pada muara cabang-cabang aorta atau menimbulkan penekanan pada struktur di sekitar hematoma tersebut. yang mengkode untuk fibrillin glikoprotein.7 Penyebab lainnya adalah penyakit jaringan ikat turunan (sindroma Marfan dan sindroma Ehlers-Danlos). Robekan awal pada intima biasa terjadi di daerah aortic root atau isthmus aorta dan dapat menimbulkan robekan luas yang mengenai daerah sepanjang aorta. suatu diseksi bisa terjadi ketika dokter memasukkan selang ke dalam suatu arteri (misalnya pada aortografi atau angiografi) atau ketika melakukan pembedahan jantung dan pembuluh darah. 11 Diseksi aorta akan membentuk sirkulasi antegrad maupun retrograd melalui celah robekan intima tersebut. Meskipun jarang. arteriolosklerosis.8 Sindrom Marfan hasil dari mutasi pada gen-1 fibrillin (FBN1) pada kromosom 15. Fibrillin adalah sebuah blok bangunan utama mikrofibril. terutama intima dan media dengan adventitia.

8 Sindrom Ehler. Terdapat aktivitas berlebihan dari enzim proteolitik yang memicu terjadinya kerusakan pada struktur matriks protein seperti elastin dan kolagen aorta sehingga timbullah aneurisma. kerusakan jaringan elastis perlu diidentifikasi pada pemeriksaan histologi. Jika aneurisma mengembang secara cepat.Danlos tipe IV merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh defisiensi kolagen tipe III.5 kali lebih besar dibanding diameter normal. maka terjadi robekan (ruptur aneurisma) atau kebocoran darah di sepanjang dinding pembuluh darah (diseksi aorta). Risiko terjadinya ruptur tergantung kepada ukuran aneurisma. Kelainan melibatkan mikrofibril melemahkan dinding aorta sehingga terjadi dilatasi aorta atau diseksi aorta.8 Gambar 13. Aneurisma berukuran kurang dari 4 26 .6 Temuan Otopsi Pada Aorta Disekan Pada aneurisma aorta ditemukan dilatasi lokal permanen dengan diameter aorta minimal 1.aorta dan jaringan ikat lainnya. dan individu dengan penyakit ini dapat memiliki risiko terbentuknya aneurisma di bagian manapun dari aorta. Proses disekan pada dinding aorta 7 2. Diameter normal aorta asenden sekitar 3 cm dan panjangnya 5 cm.

Area ini terisi dengan matriks ekstraseluler amorfous jaringan ikat tetapi bukan kista yang sebenarnya. membelah kedua lapisan tersebut secara longitudinal dan darah tersebut membentuk lumen baru (false lumen) pada dinding aorta.12 Gambar 14. Diseksi aorta thoracalis13 Temuan histologi berupa fragmentasi jaringan elastic serta pemisahan fibromuskular dan elemen elastic tunika media oleh sebuah ruangan kecil yang pada kondisi normal tidak ditemukan. darah mengadakan penetrasi ke lapisan media. Pada otopsi juga dapat ditemukan tanda tamponade jantung berupa akumulasi darah dalam sakus perikardial. 12 27 .cm berisiko 0-2% mengalami ruptur. 12 Pada diseksi aorta ditemukan kerusakan dimulai pada lapisan intima dan dapat mencapai lapisan media. sedangkan aneurisma ukuran lebih dari 5 cm berisiko 22% mengalami ruptur.

Dengan pewarnaan Gomori juga memperlihatkan susunan jaringan ikat yang kacau. Pewarnaan Weigert menunjukkan kerusakan serat elastic pada kumpulan substansi amorf. penurunan jumlah serat kolagen dan kehilangan inti pada lapisan media.13 Pewarnaan Van Gieson memperlihatkan fragmentasi. Juga dapat ditemukan serabut otot polos tersusun tidak beraturan fokal pada dinding aorta. Temuan kolateral mikroskopik lainnya berupa gambaran lipomatosis jantung dan ateromatosis insipient dari cabang arteri koronaria mayor (disertai sel 28 .Gambar 15. Pewarnaan Alcian blue memberikan gambaran akumulasi asam mukopolisakarida (mukoid atau degenarasi miksoid) antara lembaran elastic lapisan media yang kacau. hemoperikardium karena pecahnya aneurisma aorta12 Hasil temuan histopatologi berupa diseksi luas pada dinding aorta ascenden dan descenden (terbatas pada bagian dua pertiga dalam lapisan media dan adventisia). disertai infiltrate perdarahan masif di tunika media. sedangkan pada pewarnaan PAS dan PAS dengan diastase menunjukkan hasil yang negatif.

Hal ini ditemukan pada sindrom Marfan dan bukan sindrom Marfan. tapi hal ini kemungkinan berupa kerusakan iskemik sekunder berhubungan dengan robekan pada vasa vasorum. 13 Penyebab degenerasi miksoid masih belum diketahui. Area degenerasi medial kistik dapat ditemukan 60% kasus pada otopsi . mengakibatkan kelemahan pada dinding aorta.13 29 .13 Lesi ini juga dikenal sebagai nekrosis medial kistik dan mungkin berhubungan dengan hiperplasia intimal jinak. Tidak ditemukan perubahan histology pada organ lain. terutama pada aorta ascenden dan aorta torakal. yang diikuti oleh nontraumatik. diseksi dinding spontan. termasuk beberapa reaksi turbulensi hemodinamik.busa pada lapisan intima arterial). terutama pada wanita muda. berkaitan dengan aneurisma dinding pembuluh darah. yang kemungkina nmenimbulkan rupture sewaktu-waktu.13 Temuan asam mukopolisakarida pada lapisan media aorta disertai serat elastic yang hilang dan terfragmentasi. Lokasi lain meliputi arteri koronaria sirkumfleksi dan arteri karotis. sebagai sebuah substrat dari sindrom koroner akut pada penyalahgunaan kokain.

40x )13 30 . susunan jaringan ikat yang kacau ( Gomori.Gambar 16. Diseksi aorta dengan infiltrat hemoragik diantara tunika media dan adventisia ( HE 5x)13 Gambar 17.

Gambar 18. kerusakan serat elastic ( Weigert. 20 x)13 31 .

Terdapat aktivitas berlebihan dari enzim proteolitik yang memicu terjadinya kerusakan pada struktur matriks protein seperti elastin dan kolagen aorta sehingga timbullah aneurisma. bukti diseksi aorta ditemukan pada 1-3 % dari semua otopsi (1 dari 350 kadaver). terdiri atas Stanford tipe A dan Stanford tipe B. Ketidakmampuan lapisan dinding aorta menahan tekanan yang tinggi sehingga timbulnya robekan pada lapisan tersebut menimbulkan suatu keadaan yang disebut diseksi aorta. Pada otopsi juga dapat ditemukan tanda tamponade jantung berupa akumulasi darah dalam sakus perikardial.BAB III KESIMPULAN Aorta adalah pembuluh darah besar yang tersusun oleh tiga lapisan otot yang mampu menahan perubahan tekanan yang dihasilkan pada setiap jantung berdenyut. Hasil temuan histopatologi berupa diseksi luas pada dinding aorta terbatas pada bagian dua pertiga dalam lapisan media dan adventisia). Mortalitas diseksi aorta tinggi pada 7 hari pertama. Terdapat perbedaan dalam pengklasifikasian diseksi aorta tetapi klasifikasi Stanford yang paling sering digunakan. disertai infiltrat 32 . Di Amerika serikat.5 kali lebih besar dibanding diameter normal. banyak pasien meninggal sebelum sampai ke IGD atau sebelum diagnosis dibuat di IGD. Pada diseksi aorta ditemukan kerusakan dimulai pada lapisan intima dan dapat mencapai lapisan media sehingga memisahkan kedua lapisan ini dan membentuk lumen baru. Pada otopsi untuk kasus aneurisma aorta ditemukan dilatasi lokal permanen dengan diameter aorta minimal 1.

33 .perdarahan masif di tunika media. Juga dapat ditemukan serabut otot polos tersusun tidak beraturan fokal pada dinding aorta. Gambaran histopatologi ini dapat dilihat dengan berbagai pewarnaan.

et al. Diakses dari http://www.html-index (Accessed : 28 Juli 2008) 4.com pada tanggal 30 Maret 2012.DAFTAR PUSTAKA 1.Textbook of Heart Disease. McGraw- HillCompanies. Wahyudi.2002.nlm.html.com pada tanggal 30 Maret 2012. Braunwald Eugene. 2nd ed. 10. John M et al. Aneurisma Aorta Torako-Abdominal.USA. Anonim (2008-last update). (Website Bedah Toraks Kardiovaskular Indonesia). Fikar. Jurnal Kardiologi Indonesia.1996.gov/pubmed pada tanggal 30 Maret 2012.medscape. Wiesenfarth. Etiologic factors of acute aortic dissection in children and young adults. Diakses dari http://emedicine. 2007. Emergent Management of Acute Aortic Dissection.php?/e-Education/Vaskular/AneurismaAorta-Torako-Abdominal. Eric J.medscape. Anatomy of the human Body. P & Ricotta.com/index. In SabistonTextbook of Surgery. Aneurysmal Vascular Disease. Diakses dari http://www.nih. Mary et al. 2011.bedahtkv. Penyakit Jantung Hipertensif. Jurnal Kardiologi Indonesia.2007 6. 7. Endovascular Stent Graft pada Diseksi Aorta Tipe B.18 th ed. 34 . Aorta Dissection.com/107/142. Mancini.Textbook of Cardiovascular Medicine. 2. The Aorta. 9. Gloviczki.ncbi. 8. Diakses dari http://www.bartleby. Santoso. Topol. H. 3. FKUI. JJ. Philadelphia 5. Dendi. Available : http://www. 5th ed. 2000. 2011. Diakses tanggal 30 Maret 2012. Gray.

Kumar.11. Rachman. nic. Spontaneus Aortic Dissection due to Cystic Medial Degeneration Report of a Sudden Death Case and Literature Riview. Akibat Lanjut Hipertensi Dalam Bidang Kardiologi. Jurnal Kardiologi Indonesia.pdf pada tanggal 30 maret 2012. Silvia et al. FKUI. Romanian Society of Legal Medicine. 12. 35 . 13. Otte J.4p339. Diakses dari http:// medind. 2009. Pannag S et al. Fatal Traumatic Rupture of Ascending Aortic Aneurysm Having Idiopathic Cystic Medial Necrosis: An Autopsy Case.in/jal/t10/i4/jalt10. Dermengiu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful