P. 1
Menyemai Kader Pemimpin Menuai Kemajuan Bangsa

Menyemai Kader Pemimpin Menuai Kemajuan Bangsa

|Views: 1|Likes:
Published by Aki-aki Gaul

More info:

Published by: Aki-aki Gaul on Feb 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

MENYEMAI KADER PEMIMPIN MENUAI KEMAJUAN BANGSA1 Dr. H. Shobah Surur Syamsi, M.A.

2

‫وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم َليتقوا‬ ُ ّ َ ْ ‫َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ َ ْ َ َ ُ ِ ْ َ ْ ِ ِ ْ ُ ّ ّ ً ِ َ ً َ ُ ََ ْ ِ ْ ف‬ ﴾٩﴿ : ‫اللـه وليقولوا قول سديدا ، النساء‬ ً ِ َ ً ْ َ ُ ُ ََْ َ ّ
" Hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang meninggalkan dibelakang mereka generasi yang lemah, dimana mereka khawatir akan kesejahteraan mereka (masa depan mereka). Oleh karena itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar ". Q.S. Al-Nisâ'/4: 9 Islam mengajarkan kepada kita agar memperhatikan masa depan generasi muda. Kita harus waspada jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah. Kita terus berupaya menjadikan mereka generasi kuat secara mental, ilmu, ekonomi, dan peran sosial politik. Kita bangun mereka agar mampu bersaing dalam percaturan global sehingga kita menjadi khair ummah (sebaik-baik umat) yang tampil berperan aktif untuk kejayaan umat manusia (Q.S. Ali Imran/3: 104, 110). Dalam sebuah pepatah Arab disebutkan: ‫إن في يد الشبان أمر المة وفي إقــدامها حياتهــا‬ (Inna fî yadi al-syubbân amr al-ummah, wa fî iqdâmihâ hayâtahâ) (Sesungguhnya pada tangan para pemuda terletak urusan umat ini, dan pada kemajuan mereka terletak hidupnya umat ini). Kita harus waspada jangan sampai generasi muda tergerus oleh dekadensi moral, hura-hura, gaya hidup hedonisme, dan hilangnya semangat berjuang. Kita harus mempersiapkan mereka untuk menyongsong hari esoknya. Merekalah generasi yang akan melanjutkan estafet kehidupan pada masa yang akan datang. Mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa. Bila mereka baik, baiklah kehidupan umat dan bangsa di masa yang akan datang, tapi bila mereka buruk, buruk pula masa depan bangsa ini. Pada pundak mereka terletakkan kata kunci baik dan buruk serta hancur dan tidaknya peradaban masa depan. Maka pembinaan kepada mereka harus dilakukan dengan serius, terprogram, dan berkesinambungan. Dalam rangka membangun masa depan generasi, dengan khusyu' Nabi Zakaria berdo'a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (Q.S. Ali Imrân/3: 38). Allah mengabulkan do'a itu dengan memberinya seorang putra bernama Yahya, kader terbaik yang
Makalah disampaikan penulis dalam Seminar Nasional Mahasiswa di 5 (lima) perguruan tinggi pilihan di wilayah Jabodetabek, dengan tema: Membentuk Pemimpin dan Umat Berkarakter Qur'ani, di Kampus Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), yang diselenggarakan oleh Panitia 12th Islamic Book Fair 1434/2013, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, pada hari Jumat, 11 Januari 2013. 2 Penulis adalah dosen tetap ilmu-ilmu keislaman di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pengurus Takmir Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, dan anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Jakarta.
1

1

’Udhma memliki pendapat demikian. Ibn Taimiyah dalam al. sebagai ungkapan betapa Islam memberikan petunjuk lengkap bagi kehidupan manusia secara individu. Ali Imrân/3: 39). berbangsa dan bernegara. Itulah maka Ibn Taimiyah menyebutkan: ”sittûn sanah min imâm jâir ashlah min lailah bilâ sulthân (enam puluh tahun di bawah pemimpin congkak. kekuasaan tanpa negara yang bersifat memaksa. h. ketertiban agama wajib bagi keberhasilan di akhirat.Siyasah al-Syar’iyah. maka urusan manusia dapat dilaksanakan dengan baik.membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah. Yusuf Qardlawy dalam Fiqh al-Daulah dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam alKhilafah au al-Imamah al. bermasyarakat. dan tanpa adanya agama negara pasti menjadi tiranik. lebih baik daripada semalam tanpa pemimpin)” (Ibn Taimiyyah. disebutkan di dalam al-Quran berjuang dengan gigih dengan do'a dan usaha menyiapkan generasi yang akan melanjutkan dan meneruskan penerang api kebenaran. Para pemikir politik klasik seperti Abu al-Hasan al-Mawardi dalam al-Ahkam alSulthaniyah. Dalam pandangan Ibn Taimiyyah. Kekosongan pemimpin akan mendatangkan kekacauan bagi bangsa dan negara. Kekuasaan tanpa agama. akan merusak kondisi dan tatanan hidup manusia. menjadi ikutan. Nabi Ya’qub. Mayoritas ulama klasik menyatakan bahwa al-Islâm huwa al-dîn wa al-daulah (Islam adalah agama dan negara). Jadi wajib adanya imam merupakan kewajiban agama yang tidak ada jalan untuk meninggalkanya. Dengan adanya kepemimpinan yang benar. al-Siyâsah al-Syar'iyyah.S. Demikian pula Nabi Ibrahim. mereka berdoa kepada Allah agar dikaruniai generasi masa depan yang mampu menjawab problematika kehidupannya serta mampu berkiprah sesuai dengan jamannya. menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh. 139). dan lainnya. agama akan berada dalam kondisi bahaya. Kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai instrumen yang sangat penting. 1111 M) melukiskan hubungan antara agama dan kekuasaan politik sebagai berikut: ”Sultan (kekuasaan politik) adalah wajib untuk ketertiban dunia. (Q. Rasulullah diutus untuk tujuan di atas. ketertiban dunia wajib bagi ketertiban agama. atau agama tanpa kekuasaan. Al-Ghazali (w. Dengan berlinang air mata. Mewariskan Generasi Kuat Nasehat Rasulullah SAW yang diberikan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash 2 . Untuk kepentingan itu maka para ulama sepakat bahwa mengangkat pemimpin bagi kaum muslim adalah wajib syar’i.

Lalu Sa’ad hendak memberikan sepertiga hartanya. m e n j a g a h a r t a b e n d a yang dititipkan kepadanya.patut kita jadikan teladan dalam upaya membangun generasi kader bangsa yang kuat. 1983: 274-275). Sa’ad ditimpa sakit. Dalam nasehatnya. Mereka harus b e r u p a y a m e m e l i h a r a a n a k y a t i m d e n g a n b a i k . Q. maka Rasulullah SAW bersabda: ‫الثلث ؟ والثلث كثير ، إنك أن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة يتكففون‬ . baik bagi wali pengasuh anak maupun kekuasaan negara yang akan menjadi pengawas keamanan umum. 3 . menjelaskan agar kita terus berupaya semasa hidup supaya jangan sampai anak dan cucu kita kelak hidup terlantar. Peringatan Allah sangat keras: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta benda anak-anak yatim dengan aniaya. Pada suatu hari. namun beliau tetap melarangnya. akan lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan melarat yang menengadahkan tangan meminta-minta kepada sesame manusia”. dengan cara merampas hak-hak mereka. (Hamka: Tafsir AlAzhar. Mereka diperingatkan jangan sampai menelantarkan masa depan mereka. terlantar. Sa’ad adalah salah seorang dari shahabat Rasulullah yang kaya raya. Mereka akan membangun bangsanya agar mencapai kemajuan dan kejayaan. Sesungguhnya jika engkau tinggalkan pewaris-pewaris engkau itu dalam keadaan mampu. Pemimpin Ideal Generasi yang kuat akan menghasilkan pemimpin-pemimpin ideal. Orang kaya secara kayanya. dia berkonsultasi kepada Rasulullah SAW. Saat itu terpikir sebelum meninggal untuk memberikan seluruh harta bendanya untuk kepentingan umum. Biarlah ada harta peninggalan kita yang akan mereka jadikan bekal penyambung hidup. Rasulullah melarangnya. ‫الناس‬ “Sepertiga? Dan sepertiga itupun sudah banyak !. orang miskin secara miskinnya. H. sesungguhnya mereka itu menelan api ke dalam perut mereka”. Al-Nisa’/4: 10.R. Rasulullah SAW mewanti-wanti agar jangan sampai kita tinggalkan anak-anak dalam keadaan lemah. Buya Hamka. maka Sa’ad ingin memberikan separuh hartanya. dan melarat. Jangan karena ingin berbuat baik untuk kepentingan umum. kata Buya. serta membina akhlak anak yatim dengan memberikan keteladanan perbuatan dan perkataan yang baik serta membiasakan berakhlak mulia. Sebelum melaksankn niatnya. ahli waris terlantar. Jangan sampai anak-anak yatim itu nantinya meminta-minta karena jatuh miskin. agar memperhatikan nasib mereka jangan sampai terlantar. Ayat di atas. dalam Tafsirnya tentang surat Al-Nisa’/4: 9 di atas. baik secara materi. maupun mental mereka. juga menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat muslimin.S. Bukhari dan Muslim.

hidayah. menjadi pembangkit semangat serta meningkatkan kemauan di tengah-tengah mereka. ”Pemimpin adalah seorang yang mampu memberi manfaat bagi orang-orang yang dipimpinya”. 4) sehat anggota badan tidak cacat. memberi contoh dalam ucapan dan perbuatan. para pemimpin itu harus memenuhi berbagai kriteria. daya penyampaian yang baik. 5) wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengelola kepentingan umum. 3) sehat inderawi. keturunan Quraisy. berjiwa besar. sehat mendengaran dan penglihatan. pendengaran. menghindari hal-hal yang dilarang dalam hal makanan dan minuman. memiliki pendukung yang setia. Persyaratan itu adalah: dewasa. dengan cara mempersatukan semua persyaratan tersebut dengan al-aql al-fa'âl (akal pikiran aktif). cerdas dan intelegensia tinggi. adil. penglihatan.Mereka itu. sebagaimana disebutkan dalam surat al-Maidah: 42 adalah. Mereka itu berani tampil ke depan. 6) berani dalam melindungi rakyat dan menentang musuh. akal yang sehat. berilmu dan wara'. merdeka. kekuasaan yang nyata. kuat mentalnya dan mampu mengendalikan emosi. yaitu: berasal dari keturunan raja. cinta ilmu dan senang mengajar. memiliki ekonomi yang kuat. Dalam pandangan para ulama klasik. yakni adanya daya pikir dan perencanaan yang kuat. Al-Mawardi (995-1059) memberikan 7 syarat yang harus dimiliki bagi kepala negara. Ibn Abî Rabî' mencantumkan ada enam syarat yang harus dipenuhi oleh seorang yang hendak menjadi kepala negara. yakni tidak berbuat hal-hal yang terlarang. Al-Farabî (870-950) menjelaskan bahwa seorang pemimpin negara yang diangkat harus memiliki dua belas syarat. dan berani menegakkan kebenaran. yaitu: 1) adil. tabah dalam menghadapi tantangan. 7) berasal dari keturunan Quraisy. mempunyai daya nalar yang baik. daya ingat yang kuat. laki-laki. zuhud. Persyaratan itu harus dilengkapi dengan kemampuan mencapai al-sa'âdah al-qushwâ (kebahagiaan tertinggi). 2) mempunyai ilmu luas hingga mampu melakukan ijtihâd. dan lisan. yaitu: mempunyai anggota badan yang sempurna. mempunyai pendirian yang teguh. Namun Ibn Taimiyyah memandang lebih sederhana tentang kualifikasi calon pemimpin. Al-Ghazâlî (1058-1111) memberikan sepuluh persyaratan yang harus dipenuhi seorang kepala negara. Ibn Taimiyyah ingin berpikir 4 . memiliki kemauan yang keras. suka berderma. yakni adanya perangkat yang memadai seperti adanya alat negara. Karena dianggap kualifikasi-kualifikasi seperti yang disebut para ulama sebelumnya terlalu sulit untuk diwujudkan. mengikuti dan mengarahkan aspirasi serta tindakan yang dipimpin.

R. dan dia tidak membai’at. tapi harus dipilih dan disepakati oleh mayoritas rakyat. Sedangkan Abû Dzarr adalah sosok pribadi yang sangat taat. Khâlid Ibn Walîd dan Abû Dzarr mempunyai karakter yang berbeda. hanya sayang. maka tunggu saja saat kehancurannya”. Kepemimpinan tidak dipilih atas dasar asal usul (primordial). Beliau menjawab: “Bila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. dan sesuai) dalam mengemban amanah itu. Rasulullah SAW. dipercaya. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu pilih adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. janganlah kamu meminta jabatan. al-Bukhârî). disebutkan dalam al-Quran pada kisah anak perempuan Nabi Syu’aib yang meminta ayahnya untuk memilih Musa sebagai pendamping hidupnya: ”Wahai ayahku pilihlah dia. maka dirimu akan terbebani karenanya”. Tentang pemimpin yang kuat dan amanah. niscya kamu akan diberi pertolongan untuk melaksanakannya. harus dapat menyampaikan amanat itu kepada pemiliknya. kriteria utama seorang pemimpin adalah amânah (kejujuran) dan quwwah (kekuatan.praktis dan realistis dalam hal ini. Bagi Ibn Taimiyyah.S. (H. dan dapat mengemban amanah tersebut. maka orang itu tidak dibai’at. Hanya yang paling tepat dan sesuai dengan bidangnya yang dipilih menjadi pemimpin. al-Qashash/28: 26. Q. Namun demikian yang selalu ditugaskan Nabi untuk maju memimpin setiap pertempuran adalah Khâlid. Muslim). Pemimpin sebuah negara. keluarga (nepotisme). Membangun Generasi Qurani 5 . Mereka itu sah untuk dibunuh”. Itulah pemimpin amîn (jujur. maka tunggu saat kehancurannya". Umar Ibn Khatthab berkata: “Siapa yang membai’at seseorang tanpa musyawarah dari kaum muslimin. Bila kamu memegang jabatan tanpa kamu minta.R. yang bisa memegang amanat) yang dapat menegakkan keadilan. al-Nisâ/4: 58). pemimpin tidak sekedar dipilih kemudian dilantik (dibai’at). Pemimpin yang jujur itu hendaklah dipilih dari orang yang dianggap paling alashlah (paling tepat. Khâlid adalah sosok pribadi yang kuat tapi terkadang tidak sepenuhnya mentaati perintah Rasulullah. (Q.S. Dua sosok sahabat. (H. berkata kepada ‘Abd al-Rahman Ibn Sumrah: “Wahai ‘Abd al-Rahman. Pemimpin hendaknya dipilih karena lejujuran. atau pemimpin-pemimpin lain yang lebih rendah tingkatannya. Rasulullah bersabda: “Bila amanat telah lenyap. atau untuk kepentingan suatu golongan tertentu. badannya lemah. Baginya. Kapan amanat itu lenyap?. dan memegang teguh amanat. kemampuan). Namun bila jabatan itu diberikan kepadamu karena kamu minta. Kekuasaan adalah sebuah amânah yang harus ditegakkan.

dan martabat.S.S. keluarga. iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în (hanya kepada Engkau kami menyembah. terlibat narkoba dan sebagainya dapat menciptakan neraka dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Allah memerintahkan agar kita baik sebagai kepala keluarga. dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Oleh karena itu. Penanaman aqidah menjadi sangat penting untuk menciptakan pribadi muslim yang teguh iman. supaya generasi muda memiliki perilaku qurani. Maka alQuran memerintahkan kepada kita untuk memelihara diri dan keturunan dari siksa api neraka: "Hai orang-orang yang beriman. Penegasan Lukmanul Hakim kepada anaknya. Pembinaan agar terhindar dari siksaan api neraka ini tidak hanya semata-mata diartikan api neraka yang ada di akhirat nanti. alTahrîm/66: 6). berkewajiban melindungi generasi dari kehancuran. meminum minuman keras. menipu. guru. menjadikan setiap muslim menjadi kehidupan dengan mantap. Al-Quran memberikan dasar pendidikan qurani. tunduk dan patuh kepada Allah. dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan) (Q. melainkan termasuk pula berbagai masalah dan bencana yang menyedihkan. keras. membunuh.Kader bangsa calon-calon pemimpin harus dididik menjadi manusia yang memiliki aqidah kuat. al-Fâtihah/1: 4). al-Taghâbun/64: 14). dan pemimpin. penjaganya malaikat-malaikat yang kasar.S. Tauhid yang teguh. Sikap itu menumbuhkan perilaku totalitas ubudiyyah hanya kepada Allah. peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. innasyirka lazulmun ’azîm (jangan menyekutukan Allah. merampok. betapa peran penting pendidikan agama. tidak mudah digoyang oleh berbagai keyakinan. sebagaimana disinyalir dalam al-Quran Surat Luqmân/31: 13: Lâ tusyrik billâh. Mereka akan menjadi fitnah bahkan musuh yang berbahaya bagi kita. dan merusak citra. (Q. berzina. merugikan. dan ajaran. da'i. Kita w a j i b m e m b e r i k a n p e n g gajaran dan pendidikan untuk mewujudkan kebahagiaan. Allah berfirman: Hai orang-orang mukmin. maupun negara. lembaga. untuk mengembangkan pendidikan generasi muda agar membangun kemajuan di masa depan. trend. hidup mati 6 . sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kita secara pribadi. dengan pertama kali menanamkan nilai keimanan kepada peserta didik. (Q. Anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan dengan baik sehingga terlibat dalam berbagai aksi kejahatan dan perbuatan tercela seperti: mencuri. Sesungguhnya menyekutukan Allah itu benar-benar tindak zalim yang besar).

maupun secara horizontal dalam bentuk saling ingat mengingatkan.S. Luqmân/31: 14-15). Begitu pula ketaatan kepada kedua orangtua. Itulah makna ketaatan kepada ulil amri (pemegang otoritas kekuasaan) sebagaimana disebut dalam Q. hingga yang bersifat duniawi pun sesungguhnya dalam rangka pengabdian kepada-Nya. tidak sombong dan congkak ketika berhasil mendapatkan prestasi tertentu. Struktur ketaatan itu dimulai dari ketaatan kepada Allah. Namun ketaatan kepada manusia itu hanya berlaku ketika mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya. tidak untuk mendapatkan sanjungan atau pujaan dari orang.S. Bila sebiji sawi itu adalah kebaikan maka akan dibalas dengan kebaikan. Al-Quran juga menanamkan nilai pengabdian kepada Allah secara vertikal dalam bentuk komunikasi langsung berupa shalat. Al-Quran kemudian memberikan nilai ketaatan sebagai hal penting dalam menjalani kehidupan. Undang-undang dan aturan-aturan tanpa ketaatan menjadi sia-sia belaka. al-Nisâ’/4: 59. mengikuti aturan dan hukumnya menjadi mutlak tak terbantahkan.hanya untuk Allah. atau di dalam bumi. Ketaatan kepada manusia menjadi penting karena setiap orang membutuhkan orang lain dan di dalam berhubungan itu ada komitmen dan aturan yang harus ditaati. menginjak yang lemah. hidupku. sang anak tidak lagi berkewajiban mentaatinya. Tumbuh sikap keikhlasan berbuat semata untuk Allah. Seringkali manusia itu sudah mencapai tingkat keberhasilan lantas sombong. Luqmân/31: 18). sebagai penerima ajaran dari Allah dan yang menjelaskan makna-maknanya kepada seluruh ummat manusia. tapi bila itu adalah kejelekan maka akan dibalas dengan kejelekan pula. Penanaman nilai itu menjadi sangat penting agar tidak terjadi kecurangan-kecurangan dalam perilaku kehidupan karena hakekatnya tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah. Al-Quran menanamkan nilai kejujuran. dan berada di dalam batu. ibadahku. (Q. merendahkan orang di 7 . Al-Quran juga menanamkan nilai kewajaran. (Q. menjadi mutlak ketika mereka taat kepada Allah. niscaya Allah mendatangkannya (membalas) perbuatan itu.S. Namun ketika orangtua mengajak untuk menyekutukan Allah. Diikuti kemudian ketaatan kepada Rasulullah Muhammad SAW.S. Jadi semua aktifitas seorang muslim diarahkan kepada kesadaran akan pengabdian kepada Allah. Maka Syariah-Nya wajib dijalankan dan ditegakkan oleh siapa saja yang mengakui Allah sebagai Tuhannya. membusungkan dada. Luqman/31: 17). menegur yang bersalah. Nilai itu ditanamkan sedemikian rupa oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya dengan membuat perumpamaan bahwa jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi. memerintah kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar. (Q. Dilukiskan dalam pendidikan Lukmanul Hakim kepada anaknya sebagai ”Wa lâ tusha’ir khaddaka linnâs wa lâ tamsyî fi al-ardhi marahâ (jangan kamu memalingkan muka dan jangan berjalan di muka bumi dengan congkak) (Q.S. ”Sesungguhnya shalatku. dan matiku adalah semata untuk mengabdi kepada Tuhan sekalian alam”.S. al-An’âm/6: 162). Luqmân/31: 26). di langit. (Q.

Jangan pernah bermimpi memiliki pemimpin yang kuat bila generasi muda lemah pendidikan dan lemah mental. yaitu pendidikan berdasarkan taqwa kepada Allah (fal yattaqullâh) dan dengan kata-kata yang benar (wal yaqulu qawlan sadidâ). Maka Allah mewanti-wanti kita agar benar dalam mendidik. Luqmân/31: 19). seperti bunyi ujung dari ayat 9 surat al-Nisâ' itu. Dalam membangun kader pemimpin bangsa. berlandaskan nilai qurani. Jangan pernah berharap bangsa ini maju bila para pemimpinnya lemah.S. Kewajaran itu dilukiskan agar sederhana ketika berjalan dan lembut ketika berbicara. tapi akan menghancurkan bangsa secara keseluruhan.bawahnya. Pendidikan nilai kewajaran menciptakan seorang semakin merunduk ketika ilmunya banyak. 8 . Karena suara keras itu suara binatang semacam keledai. tapi mereka harus diberi bekal pendidikan yang tinggi. tidak cukup hanya mewariskan kekayaan materi untuk masa depan mereka. (Q. Warisan kekayaan yang ditinggalkan nenek moyang tanpa bekal ilmu dan nilai qurani.. agar mereka mampu mengelola kekayaan untuk menghantarkan mereka menuju kejayaan. dan semakin mengulurkan tangan pertolongan ketika kekuasaannya bertambah. bukan saja akan menyesatkan mereka. semakin dermawan ketika tambah harta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->