P. 1
Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar

Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar

|Views: 96|Likes:
Published by Wildan Luthfi
Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar
Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Wildan Luthfi on Feb 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

“Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar”

Disusun oleh : Nama : Wahidin September 13, 2008

Direvisi oleh : Nama : 1. Fausiah Hajar 2. Hariyanti
SMA NEGERI 12 MAKASSAR

KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, hidayah, dan karunianya penyusun dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan baik. Penyusun sungguh menyadari bahwa dalam penyusunan karya ilmiah ini telah banyak pihak yang dengan tulus dan ikhlas memberikan bantuannya, motivasi dan berbagai masukannya. Untuk itu pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terimah kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dan setulus-tulusnya kepada mereka yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Sebesar apapun usaha penyusun untuk menyajikan karya imiah ini pasti terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun meminta kritik dan saran dari para pembaca dan pemakai karya ilmiah ini demi kesempurnan edisi-edisi berikutnya. Aminn

Makassar, 2011

Perevisi

HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah hasil revisi ulang yang berjudul “Dampak Tayangan Televisi terhadap perkembangan psikologi pelajar”. Disusun oleh : Nama : Wahidin Direvisi oleh : Nama : 1. Fausiah Hajar 2. Hariyanti Kelas : XII IPA 2

Telah disahkan dan disetujui oleh :

Mengetahui, Kepala sekolah Guru Bidang Studi

Drs. Abbas Pandi NIP :

Dra. Herlina Sulaiman NIP :

Daftar isi
Halaman judul.........................................................................................................................1 Kata pengantar........................................................................................................................2 Lembar Pengesahan.................................................................................................................3 Daftar isi..................................................................................................................................4 BAB. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang....................................................................................................................5 B. Rumusan Masalah..............................................................................................................6 C. Tujuan Penelitian ...............................................................................................................6 D. Manfaat Penelitian..............................................................................................................6 BAB. II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka....................................................................................................................7 B. Kerangka Pikir..................................................................................................................18 BAB. III. METODE PENELITIAN A. Materi Penelitian..............................................................................................................19 B. Metode Penelitian............................................................................................................19 C. Metode pengambilan Sampel...........................................................................................19 D. Teknik Pengumpulan Data................................................................................................19 E. Populasi dan Sampel.........................................................................................................20 F. Waktu dan Lokasi Penelitian.............................................................................................20 G. Teknik Analisis dan Pengolahan Data................................................................................20 BAB. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil.................................................................................................................................21 B. Pembahasan....................................................................................................................25 BAB.V.PENUTUP A. Kesimpulan.......................................................................................................................28 B. Saran...............................................................................................................................28 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................30 LAMPIRAN............................................................................................................................31 BIODATA PENULIS............................................................................................................32

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar anak. Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya terutama anak-anak untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih suka berlama-lama di depan televisi daripada belajar, atau bahkan banyak anak yang hampir lupa akan waktu makannya karena televisi. Ini merupakan suatu masalah yang terjadi di lingkungan kita sekarang, dan perlu diperhatikan khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya. Sebagian besar tayangan televisi adalah sinetron dimana terkandung begitu banyak adegan-adegan kekerasan baik fisik maupun mental, bahkan pada sebuah penelitian dikatakan selama masa sekolah, anak-anak menyaksikan 87.000 tindakan kekerasan dalam televisi. Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tersebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Dalam karya ilmiah ini akan dibahas lebih banyak "pengaruh negatif menonton televisi terhadap psikologis dan perilaku anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari"

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian tersebut, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : Apa dampak negatif dari menonton televisi terhadap akhlak anak ? Apa sajakah perilaku anak yang ditimbulkan dari kebiasaan menonton Televisi ? Bagaimana peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif menonton televisi terhadap anak?

C. Tujuan Penulisan
Adapun penulisan karya ilmiah ini bertujuan sebagai berikut : 1. Mengetahui pengaruh negatif dari kebiasaan menonton televisi tersebut terhadap akhlak anak. 2. Mengetahui penyebab kebiasaan menonton televisi pada anak. 3. Mengetahui peran orang tua dalam mengatasi dampak negative menonton televisi. 4. Mengetahui tindakan orang tua dalam mencegah munculnya dampak negative dari menonton televisi

D. Manfaat Penelitian
Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi saya sendiri selaku penulis serta bagi para pembacanya, adapun harapan itu agar karya ilmiah ini dapat ditujukan kepada setiap orang tua agar lebih berhati-hati terhadap acara- acara yang disiarkan ditelevisi dan bisa mengantisipasi dampak-dampak yang bisa ditimbulkan dari acara-acara televisi, serta orang tua lebih selektif dalam memilih acara-acara televisi yang cocok untuk perkembangan anaknya dan acara yang mana tidak cocok untuk perkembangan anaknya. Sehingga fungsi televisi sebagai sarana informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru, dapat berjalan sebagaimana mestinya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Pustaka
a. Gambaran Umum Tayangan Televisi 1. Pengertian Televisi Televisi berasal dari kata tele dan visie, tele artinya jauh dan visie artinya penglihatan, jadi televisi adalah penglihatan jarak jauh atau penyiaran gambar-gambar melalui gelombang radio. (Kamus Internasional Populer: 1961 Sedangkan menurut KBBI (2001:919) televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya. Televisi sama halnya dengan media massa lainnya yang mudah kita jumpai dan dimiliki oleh manusia dimana-mana, seperti media massa surat kabar, radio, atau komputer. Televisi sebagai sarana penghubung yang dapat memancarkan rekaman dari stasiun pemancar televisi kepada para penonton atau pemirsanya di rumah, rekaman-rekaman tersebut dapat berupa pendidikan, berita, hiburan, dan lain-lain. Yang dimaksud dengan televisi adalah sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan gambar hidup bersama suara melalui kabel.Sistem ini menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam gelombang elektrik dan mengkonversikannya kembali ke dalam cahaya yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar Dewasa ini televisi dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan dengan mudah dapat dijangkau melalui siaran dari udara ke udara dan dapat dihubungkan melalui satelit. A pa yang kita saksikan pada layar televisi, semuanya merupakan unsur gambar dan suara. Jadi ada dua unsur yang melengkapinya yaitu unsur gambar dan unsur suara. R ekaman suara dengan gambar yang dilakukan di stasiun televisi berubah menjadi getaran-getaran listrik, getarangetaran listrik ini diberikan pada pemancar, pemancar mengubah getaran getaran-getaran listrik tersebut menjadi gelombang elektromagnetik, gelombang elektromagnetik ini ditangkap oleh satelit. Melalui satelit inilah gelombang elektromagnetik dipancarkan sehingga masyarakat dapat menyaksikan siaran televisi. 2. Tujuan dan Fungsi Televisi a. Tujuan Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 43, bahwa penyiaran bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat

Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan membangun masyarakat adil dan makmur. Jadi sangat jelas tujuan secara umum adanya televisi di Indonesia sudah diatur dalam undang-undang penyiaran ini. Sedangkan tujuan secara khususnya dimiliki oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Dari uraian di atas penulis dapat mengklarifikasikan mengenai tujuan secara umum adanya televisi atau penyiaran di Indonesia, adalah sebagai berikut: 1. Menumbuhkan dan mengembangkan mental masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan 3. Mengembangkan masyarakat adil dan makmur b. Fungsi Pada dasarnya televisi sebagai alat atau media massa elektronik yang dipergunakan oleh pemilik atau pemanfaat untuk memperoleh sejumlah informasi, hiburan, pendidikan dan sebagainya. Sesuai dengan undang-undang penyiaran nomor 24 tahun 1997, BAB II pasal 54 berbunyi ³Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideology, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.´ Banyak acara yang disajikan oleh stasiun televisi di antaranya, mengenai sajian kebudayaan bangsa Indonesia, sehingga hal ini dapat menarik minat penontonnya untuk lebih mencintai kebudayaan bangsa sendiri, sebagai salah satu warisan bangsa yang perlu dilestarikan. Dari uraian di atas mengenai fungsi televisi secara umum menurut undang-undang penyiaran, dapat kita deskripsikan bahwa fungsi televisi sangat baik karena memiliki fungsi sebagai berikut: Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu : a. Fungsi rekreatif Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan. b. Fungsi edukatif Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada pemirsanya lewat tayangan yang ditampilkan. c. Fungsi informatif Televisi dapat mengerutkan dunia dan menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di daerah lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan.

3. Manfaat danKerugian Televisi a. Manfaat Televisi Televisi memang tidak dapat difungsikan mempunyai manfaat dan unsur positif yang berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat kognitif afektif maupun psikomotor (Mansur,1993:28)5. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan televisi Manfaat yang bersifat kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau informasi dan keterampilan. Acara-acara yang bersifat kognitif di antaranya berita, dialog, wawancara dan sebagainya. Manfaat yang kedua adalah manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan emosi.Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat afektif ini adalah acara-acara yang mendorong pada pemirsa agar memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama manusia dan sebagainya. Adapun manfaat yang ketiga adalah manfaat yang bersifat psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang positif. Acara ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara yang lainnya dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia ataupun merusak akhlak pada anak. Televisi menarik minat baik terhadap orang dewasa khususnya pada anak-anak yang senang melihat televisi karena tayangan atau acara-acaranya yang menarik dan cara penyajiannya yang menyenangkan. b. Kerugian Televisi Kerugian yang dimunculkan televisi memang tidak sedikit, baik yang disebabkan karena terapan kesannya, maupun kehadirannya sebagai media fisik terutama bagi pengguna televisi tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbagai acara yang disajikan. Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa kerugian itu sebagai berikut: 1. Menyia-nyiakan waktu Mengingat waktu itu terbatas, juga umur kita, maka menonton televisi ndapat dikategorikan menyia-nyiakan waktu dan umur, bila acara yang ditontonnya terus-menerus bersifat hiburan di dalamnya (ditinjau secara hakiki) merusak aqidah kita ini mesti disadari karena kita diciptakan bukan untuk hiburan tapi justru untuk beribadah. 2. Melalaikan tugas dan kewajiban Kenyataan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, juga sudah menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa menonton televisi dengan acaranya yang memikat dan menarik sering kali membawa kita pada kelalaian. Televisi bukan hanya membuat kita terobsesi oleh acaranya, namun pula menyeret kita dalam kelalaian tugas dan kewajiban kita sehari-hari. Misalnya banyak orang yang malas untuk sholat ke mesjid karena mereka terbius oleh acara atau tayangan televisi. 3. Menumbuhkan sikap hidup konsumtif Ajaran sikap dan pola konsumtif biasanya terkemas dalam bentuk iklan dimana banyak iklan yang berpenampilan buruk yang sama sekali tidak mendidik masyarakat kearah yang lebih baik dan positif. 4. Mengganggu kesehatan Terlalu sering dan terlalu lama memaku diri di hadapan televisi untuk menikmati berbagai macam acara yang ditayangkan cepat atau lambat menimbulkan gangguan kesehatan pada pemirsa. Misalnya kesehatan mata baik yang disebabkan karena radiasi yang bersumber

dari layar televisi maupun yang disebabkan karena kepenatan atau kelelahan akibat nonton terus menerus. 5. Alat transportasi kejahatan dan kebejatan moral Sudah merupakan fitrah, bahwa manusia memiliki sifat meniru, sehingga manusia yang satu akan cenderung untuk mengikuti manusia yang laian, baik dalam sifat, sikap maupun tindakannya. Dalam hal adanya berbagai sajian program dan cara yang disiarkan di televisi misalnya, film, sinetron, music, drama dan lain sebagainya yang paling dikhawatirkan adalah jika tontonan tersebut merupakan adegan dari kebejatan moral contohnya, pembunuhan, pemerkosaan, pornografi yang tentu saja sedikit atau banyak akan ditiru oleh para pemirsa sesuai fitrahnya. 6. Memutuskan silaturahmi Dengan kehadiran televisi di hamper setiap rumah tangga, banyak orang yang merasa cukup memiliki teman atau sahabat yang setia, melalui kenikmatan yang didapat dari berbagai acara teleisi yang disajikan di tempat tinggalnya. Akibatnya mereka tidak lagi merasa membutuhkan teman, kawan, sahabat untuk misalnya : saling berbagi suka dan duka, saling bertukar pikiran dan berbagai keperluan lainnya sebagaimana layaknya hidup dan kehidupan suatu masyarakat yang islami 7. Mempengaruhi dan menurunkan prestasi belajar anak Dalam hal penyebab kemunduran prestasi belajar anak generasi muda dewasa ini, indikasinya adalah kehadiran televisi di tempat tinggal mereka. Lantaran berbagai macam acara hiburan yang ditayangkan dalam televisi yang memikat dan menggiurkan para pelajar. Ternyata mampu meporak-porandakan jadwal waktu belajar mereka untuk disiplin waktu belajar, karena mereka sudah terbius oleh pengaruh hingar binger kenikmatan yang ditawarkan oleh berbagai macam hiburan televisi. b. Gambaran Umum Akhlak Anak 1. Pengertian Akhlak Perkataan akhlak dari bahasa arab, jamak dari khuluk, secara lugowi diartikan tingkah laku untuk kepribadian. A khlak diartikan budi pekerti, perangi, tingkah laku, atau tabiat. Untuk mendapatkan definisi yang jelas di bawah ini penulis akan kemukakan beberapa pendapat diantaranya: a. Al-Ghozali (Umary, 1966: 40)7 Mengemukakan bahwa akhlak ialah yang tertanam dalam jiwa dan dari padanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan. b. Ahmad Amin (Umary, 1966:41)8 Mengemukakan bahwa akhlak yang dibiasakan, artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. c. Ibnu Maskawaih Mengemukakakn bahwa akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melakukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Dari definisi-definisi di atas memberikan suatu gambaran, bahwa tingkah laku merupakan bentuk kepribadian dari seseorang tanpa dibuat- buat tanpa ada dorongan dari luar. Kalau pun

adanya dorongan dari luar sehingga seseorang menampakan pribadinya dengan bentuk tingkah laku yang baik, namun suatu waktu tanpa di pasti akan terlihat tingkah laku yang sebenarnya. 2. Macam-macam akhlak a. Akhlak terpuji Yang termasuk akhlak terpuji di antaranya adalah sebagai berikut : 1. Jujur Sesuatu yang di percayakan kepeda seorang baik harta, ilmu, rahasia dan sebaginya yang wajib dipelihara atau disampaikan kepada yang berhak menerimanya. 2. Pemaaf Manusia tidak sunyi dari khilaf dan salah. Maka apabila oaring berbuat sesuatu kepada diri kita yang mungkin karena khilaf atau salah maka maafkanlah sebagai rahmat Allah SWT dan jaganlah mendendam. 3. Bertolong-menolong Bertolong-menolong adalah cirri kehalusan budi, kesucian jiwa, ketinggian akhlak dan membuahkan cinta antara sesame manusia. Memberikan pertolongan jangan karena mangharapkan imbalan tetapi berikan dengan keikhlasan sebagai penunaian tugas kemnusiaan guna mencari keridhoan Tuhan. b. Akhlak tercela Yang termasuk akhlak tercela di antaranya sebagai berikut : 1. Dengki Ialah membenci nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang lain dengan keinginan agar nikmat orang lain terhapus. 2. Dusta Dusta ialah memberikan sesuatu yang berlainan dengan kejadian yang sebenarnya. Orang yang berdusta menunjukan kelemahan dirinya dan dusta adalah salah satu dari pada tanda munafik. 3. Aniaya Aniaya adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya dan mengurangi hak yang seharusnya diberikan. 3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi akhlak anak Pertama seseorang mempunyai tingkah laku atau akhlak, karena adanya pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung (Atjeh, 1963:103)9. Oleh karena itu ada dua faktor yang mempengaruhi akhlak anak yaitu: 1. Faktor keturunan/keluarga. 1. Faktor keturunan/keluarga Faktor keturunan/keluarga merupakan pendidikan yang utama bagi pembentukan akhlak anaknya. Yang dilakukan oleh orang tuanya biasanya si anak mengikutinya. Oleh karena

itu peran orang tua sangat mempengaruhi watak dan karakter anak-anaknya. Pepatah mengatakan ³Guru kencing berdiri murid kencing berlari.´ Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci atau fitrah tergantung kedua orang tuanya mau dijadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi. Didikan dan bimbingan dalam keluarga secara langsung banyak memberikan bekas bagi penghuni rumah itu sendiri dalam tindak tanduknya. Dan secara tidak langsung gerak langkah dari orang dewasa (baik ayah maupun ibu) terutama sekali oleh seorang anak yang masih memerlukan bimbingan dan perkembangan kematangan hidupnya. 2. Faktor lingkungan/pergaulan Faktor yang mempengaruhi akhlak seseorang di samping factor keturunan dan juga faktor lingkungan, dari faktor kedua ini faktor pergaulan/lingkunganlah yang sangat kuat pengaruhnya atau sangat dominan pengaruhnya dalam pembentukan karakter atau akhlak. Seperti orang tua dahulu bilang siapa yang bergaul dengan jualan minyak wangi maka akan dapat wanginya dan siapa yang bergaul dengan tukang las maka akan terkena percikan apinya. Nabi Muhammad SAW menggambarkan bahwa teman itu bagaikan barang tambalan. ³Teman itu bagaikan barang tambalan pada pakaianmu, maka lihatlah dengan apa kamu menambalnya. Maksud hadits di atas, seseorang harus mampu dengan mempergunakan akalnya di dalam mencari teman yang senantiasa memberikan suatu kebaikan pada kita dalam hidup dan kehidupan. Menurut seorang penyair Islam yang bernama Syaufi dalam bait syairnya; Siapa yang berteman dengan orang mulia dia akan ikut mulia, siapa yang berteman dengan orang hina tidak akan ikut mulia. Tidakkah engkau lihat kata syufi betapa kulit kambing yang hina dicium orang ketika kambing berteman dengan al-quran) jadi kantong (Quran) tapi kulit kambing yang berteman dengan kayu (dijadikan bedug) tiap waktu sholat orang memukulnya. 1. Dilihat dari segi akhlak dan perilaku anak a) Mendorong anak menjadi konsumtif. Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama. orang tua yang penulis wawancarai mengatakan bahwa anak mereka menjadi lebih konsumtif setelah melihat iklan di televisi. Mereka sering mengatakan Ma, aku mau mainan itu yang ada di TV. Hal tersebut menunjukan bahwa televisi bereperan besar dalam mendorong anak menjadi konsumtif b) Mengurangi semangat belajar Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. nak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu nya dengan menonton televisi akan sangat sulit saat diajak beralih untuk belajar. Mereka akan lebih senang menyaksikan acara favorit nya dibandingkan harus membuka buku dan mengerjakan tugas. orang tua menyatakan bahwa anak mereka menjadi tidak semangat belajar setelah menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai kebiasaan

Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar. nak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu nya dengan menonton televisi akan sangat sulit saat diajak beralih untuk belajar. Mereka akan lebih senang menyaksikan acara favorit nya dibandingkan harus membuka buku dan mengerjakan tugas. orang tua menyatakan bahwa anak mereka menjadi tidak semangat belajar setelah menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai kebiasaan c) Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya terpotong atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang berbagi cerita antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda. Sekitar orang tua setuju dengan hasil penelitian tersebut. d) Menonjolkan perilaku imitatif Dwyer menyimpulkan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan ± pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dilayar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di TV setelah 3 jam kemudian dan 65% setelah 3 hari kemudian. Dengan demikian terutama bagi anak- anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Salah satu ibu koresponden menyatakan bahwa anaknya merupakan salah satu korban televisi dimana anak dari ibu tersebut sering menirukan apa yang ia lihat di televisi. Seperti yang kita ketahui bahwa sinetron UFO yang mengemas cerita manusia planet, cukup menarik perhatian anak-anak. Anak dari ibu koresponden ini juga merupakan salah satu pemirsa setia sinetron tersebut. Dikesehariannya anak tersebut sering bercakap- cakap dengan bahasa yang digunakan oleh manusia planet dalam sinetron tersebut seperti ³bleketek bleketek brokotok brokotok´. Kasus lain juga dapat kita lihat pada peristiwa tewas nya seorang anak akibat loncat dari lantai 4 bangunan rumahnya setelah menyaksikan filmSupe r m an di televisi. Hal tersebut menunjukan bahwa dampak negatif yang cukup besar yang ditimbulkan oleh menonton televisi adalah menonjolkan perilaku imitatif dari anak itu sendiri. orang tua yang menjadi koresponden menyatakan bahwa anaknya menjadi lebih imitatif akibat kebiasaan menonton televisi. 2. Dilihat dari segi kesehatan fisik a) Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan).

Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Sekitar orang tua dari data wawancara menyatakan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan. b) Memperbesar kemungkinan terjangkit penyakit rabun. Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar anak tidak mau beranjak dari depan televisi apabila ia sudah jatuh hati dengan acara yang disiarkan. Selain itu, jarak pandang mereka dengan televisi juga biasanya tidak sesuai dengan jarak pandang yang baik. Hal ini tentu saja terjadi berulang- ulang dan terus-menerus apabila si anak telah menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai kebiasaan. orang tua menyatakan bahwa anak mereka yang pada awal nya memiliki kondisi mata yang sehat menjadi harus menggunakan kacamata setelah terbiasa menonton televisi setiap hari. Hal ini tentu saja dikarenakan oleh factor jarak pandang yang tidak sesuai dan radiasi dari televisi itu sendiri yang bisa menyebabkan penyakit mata seperti rabun jauh ataupun rabun dekat.

B. KERANGKA PIKIR BAB III METODE PENELITIAN A. Materi Penelitian
Materi penelitian adalah Pengaruh tayangan televisi terhadap akhlak anak di usia dini.

B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Deskriptif adalah salah satu metode penelitian dengan cara observasi dan memberikan fakta secara actual dan kontektual. Data yang diperoleh hanya berlaku bagi tempat waktu dan kondisi penelitian.

C. Metode Pengambilan Sampel
Sampel yang kita ambil adalah tayangan televisi. Tayangan televisi yang dimaksud adalah dampak tayangan televisi terhadap pengembangan psikolog pelajar.

D. Teknik Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam karya tulis ini dilakukan dengan teknik studi pustaka , angket dan wawancara. Data dalam karya tulis ini adalah informasi dai hasil telaah dokumen kepustakaan, seperti buku- buku, jurnal dan sebagainya. Selain itu didukung juga dengan sumber-sumber dari internet yang sesuai dengan penulisan yang dibahas. Angket dan wawancara juga dilakukan untuk mendukung data yang didapat dari studi pustaka.

E. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 5 dan orang tua murid di Sekolah Dasar Negeri Utan Kayu Selatan 13. Sampel penelitian adalah sebagian siswa

F. Waktu dan Lokasi Penelitian
SDN UtanKayu Selatan 13, pagi. Kepada murid siswa kelas 5 dan orang tua murid.

G. Teknik Analisis dan Pengolahan Data
Analisis data dalam karya tulis ini dilakukan dengan cara menguji, menyesuaikan dan mengkategorikan data dengan teori yang ada dalam telaah pustaka dengan data dari angket dan wawancara. Dalam hal ini fase-fase perkembangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dikaitkan dengan media televisi. Setelah semua terkategori dengan baik atau terkumpul dengan baik, maka ditarik suatu simpulan dan dijadikan alternatif pemecahan masalah. Dalam karya tulis ini data diolah dengan cara menyajikan dan menganalisis data kemudian diambil kesimpulan. Dalam hal ini, data dari internet yang berupa pengaruh televisi terhadap perkembangan anak dipilih sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, data-data yang dapat digunakan dianalisis berdasarkan teori-teori yang ada, kemudian ditarik suatu kesimpulan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL
Televisi merupakan media elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar anak. Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya terutama anak-anak untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih suka berlama-lama di depan televisi daripada belajar, atau bahkan banyak anak yang hampir lupa akan waktu makannya karena televisi. Ini merupakan suatu masalah yang terjadi di lingkungan kita sekarang, dan perlu diperhatikan khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya. Dari latar belakang itu kami memasukkan rumusan masalah dalam penulisan hasil ini yaitu Apa dampak negatif dari menonton televisi terhadap akhlak anak ? Apa sajakah perilaku anak yang ditimbulkan dari kebiasaan menonton Televisi ? Bagaimana peran orang tua dalam mengatasi dampak negatif menonton televisi terhadap anak ? Dari rumusan masalah tersebut kami dapat menjawab rumusan masalah pertama bahwa Kerugian yang dimunculkan televisi memang tidak sedikit, baik yang disebabkan karena terapan kesannya, maupun kehadirannya sebagai media fisik terutama bagi pengguna televisi tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih berbagai acara yang disajikan. Dalam konteks semacam ini maka kita dapat melihat beberapa kerugian itu yaitu menyita waktu,melalaikan tugas dan kewajiban,menumbuhkan sikap hidup konsumtif,menganggu kesehatan dan berbagai hal yang merugikan kita. Selanjutnya rumusan ,masalah kedua yaitu mendorong anak menjadi konsumtif,mengurangi semangat belajar, Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga, Menonjolkan perilaku imitative dan berbagai contoh yang bersifat negative. Dan rumusan masalah terakhir adalah : 1. Mengatasi dampak negative menonton televisi pada anak a. Pengawasan tayangan televisi yang baik untuk anak Orang tua harus dapat memilih acara yang sesuai dengan usia anak. Jangan biarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak. Maksudnya tidak ada unsur kekerasan atau hal lain yang tidak sesuai dengan usia mereka. Selain itu juga orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton televisi. Tujuannya adalah agar acara televisi yang ditonton oleh anak dapat terkontrol dan orangtua dapat memperhatikan apakah acara tersebut layak ditonton atau tidak. Orangtua juga dapat mengajak anak membahas apa yang ada di televisi dan membuatnya mengerti bahwa apa yang

ada di televisi tidak tentu sama dengan kehidupan yang sebenarnya.Orang tua juga harus mengetahui acara favorit anak dan bantu anak memahami pantas tidaknya cara tersebut mereka tonton , ajak mereka menilai karakter dalam acar tersebut secara bijaksana dan positif. Orangtua sebaiknya tidak meletakkan televisi di kamar anak. Selain untuk mempermudah orangtua mengontrol tontonan anak, juga tidak membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan di kamar seperti tidur dan belajar menjadi terganggudan beralih ke televisi. b. Pengontrolan waktu menonton televisi yang tepat Orang tua baiknya memberi kesepakatan dengan jadwal kepada anak tentang mana acara yang boleh ditonton atau tidak, kapan boleh menonton, waktu beribadah, waktu belajar, waktu tidur, bahkan waktu membantu orang tua di rumah dan berikan sanksi bila melanggar. Periksalah jadwal acara televisi, sehingga orangtua dapat mengatur acara apa yang akan ditonton bersama anak. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara tersebut orangtua akan tahu garis besar isi acara tersebut sehingga dapat menentukan pantas tidak acara tersebut disaksikan. Orangtua juga harus membiasakan anak tidak menonton televisi di hari-hari sekolah. Ini dimaksudkan untuk menghindari kurangnya waktu belajar anak karena terlalu banyak menonton acara televisi. Di sini orangtua harus member contoh dengan tidak banyak menonton televisi. Jika anak melihat orangtuanya sering menonton televisi sedangkan ia tidak diperkenankan tentu anak akan menganggap itu tidak adil. c. Pemilihan kegiatan alternatif lain yang baik untuk anak Orang tua dapat mengajak anak untuk melekukan banyak aktivitas lain selain hanya menonton televisi. Orangtua dapat mengajak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Orang tua juga dapat memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi baru. Kegiatan alternatif tersebut antara lain : 1) Pergi ke perpustakaan atau ke toko buku terdekat Membiasakan anak membaca buku merupakan hal yang baik. Bila sempat, sisakan waktu setiap hari, jika tidak, beberapa kali setiap minggu untuk membacakan cerita kepada anak atau biarkan sekali-kali anak yang membacakan cerita. Jangan lupa untuk membahas kembali apa yang telah dibaca. Tanyakan kepada mereka tentang ceritanya, bantu mereka menemukan kosakata baru dan ajak anak untuk membaca beragam macam bacaan. Sediakan sebanyak mungkin buku yang pantas di sekitar rumah dan minta kerjasama keluarga untuk menjadikan buku sebagai hadiah ulangtahun, liburan atau lebaran. 2) Bercocok tanam Kebiasaan menonton televisi menjauhkan kita dari alam. Padahal banyak hal yang bisa diajarkan oleh alam, dan yang tidak bisadidapatkan dari menonton televisi. Dengan mengajak anak bercocok tanam. 2. Timbulnya kebiasaan menonton televisi antara lain :

1. Faktor Internal Timbulnya kebiasaan menonton televisi sebenarnya bisa saja dating dari dalam anak itu sendiri. Menurut data angket, factor internal penyebab timbulnya kebiasaan yang terbesar adalah iseng dan rasa ingin tahu dari anak itu sendiri. Iseng dan rasa ingin tahu sebenarnya saling berkaitan erat dalam penyebab timbulnya kebiasaan menonton televisi pada anak. R asa ingin tahu yang besar yang memang lazim terdapat pada anak-anak mendorong mereka untuk melihat dan menyaksikan apa yang ada dalam acara-acara televisi yang di siarkan. Mereka penasaran mengenai tokoh ataupun cerita yang ada di dalamnya. Kemudian alasan iseng sebagai penyebab timbulnya kebiasaan juga sering digunakan. Anakanak pada awalnya hanya ingin mencoba hal baru yang belum pernah mereka coba sebelumnya, dalam hal ini menonton televisi. Saat di waktu luang dimana tidak ada yang ingin mereka kerjakan, mereka iseng menyalakan televisi, mencari saluran televisi yang menurut mereka menarik dan kemudian menyaksikannya. Dari awal iseng tersebut kemudian berkembang menjadi kebiasaan yang tanpa disadari sudah menjadi bagian dari kegiatan mereka sehari-hari. 2. Faktor Eksternal Selain faktor yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri, tentu saja faktor yang berasal dari luar atau eksternal juga berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan. Menurut data yang bersumber dari angket, faktor eksternal yang cukup berpengaruh diantaranya adalah kebiasaan orang tua, teman, waktu luang dan acara televisi yang ditayangkan. Kebiasaan menonton televisi pada orang tua tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut menyumbang banyak dalam membentuk kebiasaan anak yang sama. Sebagian besar anak berdasarkan data angket menyatakan bahwa awal mula mereka menonton televisi dikarenakan orang tua mereka menjadikan kegiatan menonton televisi sebagai hobi. Beberapa anak yang diwawancarai juga menyatakan bahwa orang tua mereka hanya menasihati untuk tidak terlalu sering menonton televisi namun orang tua mereka tetap menjadikan menonton televisi sebagai kebiasaan. Faktor teman juga membentuk kebiasaan tidak jauh berbeda dengan faktor sebelumnya yaitu orang tua. Teman seringkali mempengaruhi anak untuk menonton televisi dengan mensugestikan acara-acara yang menurut teman tersebut tergolong acara yang menarik. Untuk anak usia dini mereka juga masih sering saling mengajak satu sama lain untuk menonton televisi bersama-sama sepulang sekolah. Dapat kita dilihat juga dari angket bahwa waktu luang dan acara televisi cukup menyumbang dalam pembantukan kebiasaan. A pabila ada waktu luang, anak cenderungmencari kegiatan yang bisa dia lakukan dan saat melihat ada acara televisi yang menarik maka ia langsung memilih menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

B. PEMBAHASAN
1. Sejumlah pengaruh tayangan televisi terhadap akhlak anak

Televisi dapat juga disebut sebagai sebuah keajaiban dalam dunia walaupun hanya berbentuk sebuah kotak elektronik yang sederhana yang mampu secara efektif berperan sebagai media massa dalam berbagai informasi dengan gambar hidup, berwarna-warni dan bergerak. Sehingga dapat memikat, membius, dan menggiring seluruh perhatian para pemirsanya itulah sebabnya, sebagian besar pemersa menganggap bahwa informasi apa saja yang ditayangkan televisi adalah bena, apa saja yang disajikan televisi adalah baik. Sehingga mereka memutuskan bahwa televisi merupakan satu-satunya sumber dan pusat informasi yang benar, baik dan akurat, bahkan televisi dianggap sebagai guru yang wajib dituruti dan diikuti, alat yang efisien untuk mengenal mempelajari dan mendapatkan berbagai hal dalam hidup dan kehidupan ini ketimbang berbagai buku bacaan yang dianggap menyita waktu. Dari sekian banyak program acara yang disajikan televisi, kebanyakan dapat mempengaruhi sikap penontonnya setelah atau pada waktu melihat tayangan televisi. Banyak fakta yang kita jumpai dari informasi yang disampaikan televisi, baik fakta positif maupun fakta negative. Sehingga hal baik secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi akhlak penontonnya ke arah positif atau kea rah negative. Sehingga ada dua pengaruh tayangan televisi terhadap akhlak anak yaitu : a. Pengaruh yang bersifat positif Televisi dapat memberikan pengaruh yang positif bagi para pemirsa yang menyaksikan program acara atau tayangan televisi. Adapun yang bersifat positif sebagai berikut : 1) Adanya sinetron yang bernafaskan keagamaan seperti : rahasia ilahi, kuasa ilahi, dan lain sebagainya. 2) Adanya acara atau tayangan yang bernuansakan pendidikan atau pengetahuan seperti cerdas cermat, berita dan lain sebgainya. b. Pengaruh yang bersifat negative Tayangan televisi tidak hanya memberikan pengaruh yang positif saja tetpai acara televisi lebih banyak memberikan pengaruh yang negative kepada sikap para pemirsanya satelah atau pada waktu melihat tayangan televisi, sehingga akan mempengaruhi akhlak penonton kea rah negative. Adapun pengaruhnya tayangan televisi yang bersifat negative sebagai berikut : a. b. c. d. Sering menonton televisi akan melalaikan tugas dan kewajiban bagi para pemirsa. Sering menonton televisi akan mempengarui dan menurunkan prestasi belajar murid. Anak-anak cenderung lebih menyukai tayangan yang bernuansakan kekerasan. Setelah menonton tayanagn televisi mereka suka meniru apa yang telah mereka tonton.

2. Mengapa tayangan televisi berpengaruh terhadap akhlak anak Manusia memanfaatkan televisi sebgai alat bantu yang paling efisien dan efektif. Dimana kesemuanya ini dapat terwujud melalui berbagai program dan tayangan televisi yang dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan material.

Kebanyakan kegiatan menonton televisi cenderung terencana dan bersifat tak sadar, tiap kali banyak orang mempunyai waktu luang, mereka tiba-tiba saja duduk dihadapan televisinya tanpa diundang banyak niat dan rencana yang tiba-tiba saja dibatalkan, lantaran tergoda, terpanggil, tergelitik untuk menikmati acara tertentu yang disiarkan oleh televisi. Televisi dengan mudah bias melahap sebagian besar waktu anak waktu yang dilewatkan di depan layar televisi berarti waktu yang tidak dimanfaatkan oleh anak untuk belajar membaca menggambar atau membantu pekerjaan rumah tangga. Apabila tayangan televisi menyajikan acara hiburan atau acara bernuansa kekerasan maka itu anak-anak cenderung menyukai dan menggemari tayangan tersebut karena apa yang di lihat, di tonton di tayangan televisi biasanya anak-anak cenderung akan menirunya tanpa disaring, di filter dan tanpa dibarengi dengan sikap selektif dalam memilih acara yang disajikan, sehingga takut akan merusak akhlak anak terhadap pengaruh yang oleh ditayangkan oleh televisi. Oleh karena itu peran pendamping dan bimbingan oleh orang tua kepada anaknya yang sedang menonton atau menikmati tayangan yang disajikan oleh pesawat televisi di rumah karena setiap harinya banyak anak-anak menghabiskan waktu di depan pesawta televisi sehingga banyak tayanagn atau program acara yang dinikmatinya tanpa banyak memikirkan apakah layak di tonton oleh anak-anak atau dapoat merusak akhlak anaknya

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian sebagaimana telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya : 1. Kebiasaan menonton televisi pada anak usia dini merupakan kebiasaan yang dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara lain faktor internal meliputi rasa ingin tahu dan iseng, serta faktor eksternal meliputi orang tua, teman dan acara televisi itu sendiri. 2. Disamping memberikan dampak positif, televisi juga dapat memberikan dampak negatif bagi pemirsannya khususnya anak-anak. Bahkan apabila dikaji lebih jauh, dampak negatifnya jauh lebih besar dibandingan dampak positifnya. Dampak negatif tersebut antara lain , mendorong anak menjadi berperilaku konsumtif, mengurangi semangat belajar, merenggangkan hubungan antara anak dengan orang tua dan menonjolkan peilaku imitatif. 3. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi tayangan dan jam menonton televisi yang baik untuk anak, memilihkan kegiatan alternatif untuk anak selain menonton televisi dan membina hubungan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua di rumah.

B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan berdasarkan uraian diatas yaitu : 1. Setiap Orangtua harus bisa mengontrol tontonan anaknya. Disamping itu orang tua juga harus bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televise untuk memberikan saran ataupun kritikan bahkan menentang acara televisi yang bisa berdampak negatif bagi pemirsannya. 2. Bagi Pemerintah harus melakukan penyaringan terhadap setiap acara televisi, serta harus adanya standarisasi film yang layang untuk di tayangkan atau tidak layak. 3. Bagi pihak yang berwajib hendaknya menggiatkan peraturan yang telah ada dalam melindungi anak-anak dari kekeliruan dan kesalahan persepsi tentang tayangan yang tidak sesuai mereka tonton 4. Bagi pihak penyiar televisi, seharusnya tidak hanya mementingkan keuntungan tetapi harus mempertimbngkan dampaka dari acra tersebut. Pihak penyiar juga harus mengatur acara televisi agar fungsi dari televise sebagai sarana informatif, edukatif, rekreatif dan sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman baik yang lama maupun yang baru, dapat berjalan sebagaimana fungsinya.

DAFTAR PUSTAKA
Mansur, awadl, Dr. (1993). Manfaat Dan Mudarat Televisi, Fikahati Anska, Jakarta Chen, Milton. (2005). Mendampingi Anak Menonton Telivisi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. (1997). Undang–Undang Penyiaran No. 24 Tahun 1997, Sinar Gratika, Jakarta Amin, Ahmad, (1968). Ilmu Akhlak, Bulan Bintang, Jakarta. Bakar Atjeh, Abu (1963). Mutiara Akhlak 1, Bulan Bintang, Jakarta. Umary, Barmawie, Drs. (1966), Materia akhlak, Cv. Ramadani, Yogyakarta .

BIODATA PENULIS

Ø Nama : Wahidin
BIODATA PEREVISI

Ø Nama : Fausiah Hajar Alamat : Jalan Urip Sumoharjo km.7 WRB Cita-cita : Dokter Pesan : Jagalah KIR ini agar dapat bermanfaat bagi pembaca di masa yang akan dating . Ø Nama : Hariyanti Alamat : Toddopuli 22 Cita-cita : Pramugari Pesan : semoga karya ilmiah ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pembuatan KIR bagi adik-adik sekalian

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->