LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA NEONATUS

OLEH SULISTIANI NIA207003

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 2007

ASFIKSIA NEONATUS
I. PENDAHULUAN A. PENGERTIAN Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis (Rusepno dkk, 1985). Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000). Asfiksia neonatus merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi baru lahir. Penilaian statistic dan pengalaman klinis atau patologi anatomis menunjukkan bahwa keadaan ini merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh Drage dan Barendes (1966) yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi hipoksia berat pada bayi baru lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi (Rusepno, 1985).

B. ETIOLOGI Penyebab asfiksia neonatus biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya diabetes militus, preeklampsia berat atau eklampsia, eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan (< 34 minggu), kelahiran lewat waktu, plasenta previa, solusio plasentae, korioamniotik,

Penyakit infeksi akut b. Penyakit infeksi kronik c. 2. Anemia berat f. • Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus). diabetes hioertensi ynag diinduksi oleh kehamilan. o Paralisis pusat pernafasan • • 1. persentasi janin abnormal. Penyebab asfiksia Stright (2004) Faktor ibu. • Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul. Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah : 1. gawat janin serta pemberian obat anestesi atau narkotik sebelum kelahiran. Keracunan oleh obat-obat bius d. . meliputi amnionitis. rigid serviks dan atonia/ insersi uteri) • Ruptur uteri yang memberat. • Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta. Uraemia dan toksemia gravidarum e. Cacat bawaan g. anemia. Faktor uterus. • Partus lama (CPD. • Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya. kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke uri.hidramnion dan oligohidramnion. obat-obatan iinfeksi. • Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta. disfungsi uteri. meliputi persalinan lama. Trauma 2. Trauma dari luar seperti oleh tindakan forseps Trauma dari dalam : akibat obet bius. Asfiksia dalam persalinan o Kekurangan O2. Asfiksia dalam kehamilan a.

2. meliputi disproporsi sefalopelvis. ANATOMI FISIOLOGI Pernafasan (respirasi) merupakan pristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 (oksigen ) kedalam tubuh serta menghembuskan CO2(karbondioksida) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. kesulitan kelahiran. meliputi plasenta previa. Adapun guna pernafasan banyak sekali diantaranya : Mengambil O2 yang kemudian dibawa keseluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran. 4. kelainan kongenital. 5.3. Faktor janin. Faktor plasenta. lilitan tali pusat. 2006 ) Sistem respirasi terdiri dari : . ( Syaifuddin. TANDA DAN GEJALA 1. C. Faktor umbilikal. insufisiensi plasenta. asfiksia neonatus dibagi menjadi : 1. Asfiksia berat : skor Apgar 1-3 D. 4. mengeluarkan CO2 sebagai sisa dari pembakaran karena tidak digunakan lagi oleh tubuh dan menghangatkan dan melembabkan udara. meliputi prolaps tali pusat. 3. Asfiksia ringan : skor Apgar 4-6 2. Distres pernafasan (apnu atau megap-megap) Detak jantung < 100 x/menit Refleks/respons bayi lemah Tonus otot menurun Warna kulit biru atau pucat Berdasarkan skor Apgar menit pertama. solusio plasenta.

tertutup pada bagian luar dengan kulit dan bagian dalam dengan membran mukosa. debu dan kotoran. lapisan tegah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan. .Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara. Hidung luar terdiri dari tulang rawan dan os nasal di bagian atas. yang terdiri dari 2 kavum nasi. Adapun fungsi dari nasal ini sebagai saluran udara pernafasan.Saluran nafas bagian atas Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan. Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas. Merupakan saluran udara yang pertama. keatas rongga hidung berhubungan dengan sinus para nasalis. dapat menghangatkan udara oleh mukosa serta membunuh kuman yang masuk bersamaan dengan udara pernafasan oleh leucosit yang terdapat dalam selaput lendir ( mukosa) atau hidung. Bagian luar terdiri dari kulit. dipisahkan oleh septum nasi. disarung dan dilembabkan Saluran nafas bagian bawah Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas kealveoli Saluran Nafas Bagian Atas Rongga hidung Hidung terdiri dari hidung luar dan cavum nasi di belakang hidung luar. penyaring udara pernafasan yang dilakukan bulu-bulu hidung.

Terdapat dibawah dasar tengkorak. terdapat pangkal lidah) Laringofaring (terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan) Bagian anterior menuju laring. Trakhea Trachea merupakan lanjutan dari laring. Permukaan mukosa ini selalu basa oleh karena adanya kelenjar mukosa. Laring ini dibentuk oleh tulang rawan yang dihubungkan oleh jaringan ikat. Mulai dari bawah laring segitiga vetebra tirakalis lima dan akan bercabang menjadi bronchus kiri dan kanan. Rongga faring terdiri atas 3 bagian. dibentuk oleh cincin tulang rawan yang berbentuk huruf C. Trachea berfungsi untuk menyaring debu-debu yang halus dari udara pernafasan.Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan nafas dan pencernaan.2 cm. dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan vertebra cervicalis. Trachea juga dilapisi oleh selaput lendir (mukosa) yang mempunyai epitel torak yang berbulu getar. Bagian posterior menuju esophagus Saluran Nafas Bagian Bawah Laring Laring merupakan lanjutan dari pharing yang terletak didepan esophagus. pada laring terdapat selaput pita suara. yaitu : Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius) Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring. Bentuknya seperti kotak segi tiga dengan sebelah samping mendatar dan didepan menonjol. Diantara tulang rawan dihubungkan oleh jaringan ikat dan otot polos yang panjangnya 11. lebarnya ± 2cm. . Keatas berhubungan dengan rongga hidung dengan perantaraan lubang (Koana) kedepan berhubungan dengan rongga mulut.

. Paru – paru ( pulmo ) Paru-paru ( pulmo ) terletak dalam rongga dada yang terdiri dari paru kiri dan kanan. Bronchiolus akan bercabang lagi menjadi Bronchiolus terminalis yang struktunya sama dengan Bronchiolus dan letaknya lebih dalam di jaringan paru-paru. sebelah bawah berkontak dengan diafragma dan sebelah medial adalah tempat masuk bronchus kiri. Pembuluh darah besar trachea bronchus dan esophagus. Bronchiolus suda memasuki lobus paru-paru sedangkan bronchus masih diluar paru-paru. Diujungnya baru terdapat rongga udara yaitu alveolus dan dinding dari alveolus merupakan jaringan paru-paru. Bronchiolus Bronchiolus merupakan cabang dari bronchus yang mana struktur sama dengan brochus hanya saja ukuran dan letaknya berbeda.Bronchus Bronchus merupakan cabang trachea sehingga vetebra thorakalis lima yaitu terdiri dari bronchus kiri dan brochus kanan. Bronchus ini dibentuk oleh cincin tulang rawan yang ukurannya lebih kecil dari trachea yang dilapisi oleh selaput lendir. Disebelah depan. kanan dan tempat masuk pembuluh darah arteri dan vena pulmonalis. Bentuk dari paru ini seperti kubah ( segitiga ) yang puncaknya disebut apek pulmonum dan alasnya disebut basis pulmonal. horizontal dan lebih panjang sedangkan brochus kanan lebih besar. dibelakang dan lateral Paru-paru berkontak dengan dinding dada. Perbedaan bronchus kiri dan bronchus kanan adalah : bronchus kiri lebih kecil. diantara paru kiri dan kanan terdapat jantung. vertikal dan lebih pendek.

bagian yang menutupi diafragmatika dan bagian yang terletak di leher adalah peleura servicalis. Didalam paruparu terdapat kantong-kantong udara ( alviolus ). Jumlah alviolus ini ± 700 juta banyaknya dengan diameter 100 micron.1995 ). Ruang atau rongga pleura itu itu hanyalah ruang yang tidak nyata. Setiap paru-paru dilapisi oleh membran serosa rangkap dua yaitu pleura. membran ini kemudian dilipat kembali sebelah tampuk paru-paru dan membentuk pleura parietalis dan melapisi bagian dalam diding dada.( Sylvia A. tetapi dalam keadaan tidak normal udara atau cairan akan memisahkan kedua pleura dan ruangan diantaranya akan menjadi lebih jelas . Luasnya permukaan dari seluruh membran respirasi ini kalau direntang adalah 90 m2 atau ± 100 kali luas tubuh. Diantara kedua lapiasan pleura ini terdapat eksudat untuk melicinkan permukaannya dan menghindari gesekan antara paruparu dan dan dinding dada sewaktu bernafas. Dalam keadaan normal kedua lapisan ini satu dengan yang lain erat bersentuhan. akan tetapi hanya 70 m2 yang dipergunakan untuk pernafasan selebihnya tidak mengembang. Pleura ini diperkuat oleh membran oleh membran yang kuat yang disebut dengan membran supra renalis ( fasia gison ) dan diatas membran ini terletak arteri subklavia. masuk kedalam fisura dan memisahkan lobus satu dengan yang lainnya.Jaringan paru-paru ini bersifat elastis sehingga dapat mengembang dan mengempis pada waktu bernafas. alviolus ini mempunyai dinding yang tipis sekali dan pada dindingnya terdapat kapiler –kapiler pembuluh darah yang halus sekali dimana terjadi difusi oksigen dan CO2. Selaput ini merupakan jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan yaitu pleura viseral yang langsung melengket pada dinding paru-paru. Pleura yang melapisi iga-iga adalah pleura kostalis.

Alvioli memisahkan oksigen dari darah. PATOFISIOLOGI Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. E. Sementara itu karbondioksida sebagai sisa metabolisme dalam tubuh akan dipisahkan dari pembuluh darah yang telah mengumpulkan karbondioksida itu dari seluruh tubuh kedalam saluran nafas. Pernafasan dalam ( eksternal ) ialah : Proses transport O2 dari paruparu ke jaringan dan transport CO2 dari jaringan ke paru-paru.Pernafasan paru-paru merupakan pertukaran oksigen dengan karbon dioksida yang terjadi pada paru-paru. oksigen diambil melalui mulut dan hidung pada saat pernafasan dimana oksingen masuk melalui trachea sampai ke alvioli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar. .1995 ). Proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar terjadi primary gasping yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan teratur. Pernafasan melalui paru-paru ( ekternal ). Oksigen menembus membran diambil oleh sel darah merah dibawah ke jantung dan dari jantung dipompakan keseluruh tubuh. Pernafasan menyangkut dua proses : Pernafasan luar ( eksternal ) adalah : Absorbsi O2 dari luar masuk kedalam paru-paru dan pembungan CO2 dari paru-paru keluar. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transient). Sifat asfiksia ini tidak mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya. Adapu tujuan pernafasan adalah memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan mengelurkan sisa pembakaran berupa karbondioksida dari jaringan.( Sylvia A.

Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung . akan terjadi asfiksia yang berat. Pada tingkat pertama gangguan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (secondary apnoea). Asam organik yang terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan timbulnya asidosis metabolik. dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme anaerobic yang berupa glikolisis glikogen tubuh. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya : 1. sehingga sumber glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversible atau tidak bergantung pada berat dan lamanya asfiksia. Bila gangguan berlanjut. Selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat. Disamping terjadi perubahan klinis akan terjadi gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Keadaan ini akan mempengaruhi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Secara klinis asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (primary apnoea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung.Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama kehamilan/persalinan. Pada tingkat ini di samping bradikardi ditemukan pula penurunan tekanan darah.

7. 6. 5. Keadaan ini akan berakibat buruk terhadap sel otak dan otak akan mengalami kerusakan dan dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi.2. 4. Edema otak Perdarahan otak Anuria atau oliguria hiperbilirubinemia Enterokolitis nekrotikans Kejang Koma Pneumothorax oleh karena tindakan bag and mask . 3. 2. KEMUNGKINAN KOMPLIKASI YANG MUNCUL Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain : 1. F. 8. Terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan 3. Pengisian udara alveolus yang kurang adkuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah keparu dan system sirkulasi tubuh lain akan mengalami gangguan.

PATHWAY KEPERAWATAN Faktor ibu Faktor plasenta Faktor janin/ neonatus ASFIKSIA NEONATUS Gangguan fungsi sel Gangguan metabolisme & perubahan asam basa Metabolisme anaerobik Primary apnu Asidosis respiratorik Secondary apnu Glikogen tubuh pada jantung & hati berkurang Ggn perfusi ventilasi Bradikardi & penurunan tekanan darah Asidosis metabolic Gangguan kardiovaskular Kerusakan sel otak Resiko cedera Kerusakan pertukaran gas Pola nafas tidak efektif H. PEMERIKSAAN KHUSUS DAN PENUNJANG Pemeriksaan pada bayi dengan asfiksia adalah antara lain : .G.

1-0. c. c. berikan natrium bikarbonat 2 mEq/kgBB perlahan-lahan. Injeksi Adrenalin 1 : 10. Pada asfiksia berat akan terjadi syok kardiogenik. Pemberian natrium bikarbonat setelah terjadi ventilasi yang efektif karena dapat meningkatkan CO2 darah dan akan menimbulkan asidosis respiratorik. 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Diagnostik Laboratorium darah Radiology Fungsi lumbal dll I. darah) b. Pada keadaan ini diberikan dopamine atau debutamin per infuse 5-20 ug/kgBB/menit yang sebelumnya telah diberikan volume ekspander. Jika hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan asidosis metabolic. a.9%.1. b. Penatalaksanaan Penatalaksanaan bayi asfiksia : . TERAPI DAN PENATALAKSANAAN 1. d. Ringer laktat atau intravena/intratrakeal dan dapat diulang 3-5 menit. a.000 dosis 0.3 ml/kgBB Terapi Cairan infuse 10 ml/kgBB (NaCl 0. 2.

. Faktor aseptik dan antiseptik dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi.   Langkah resusitasi mengikuti prinsip ABC : Pertahankan jalan nafas bebas Bangkitkan nafas spontan dengan stimulasi taktil atau tekanan positif menggunakan bag and mask atau melalui pipa endotrkeal  Pertahankan sirkulasi jika perlu dengan kompresi dada dan obat-obatan. Resusitasi diberikan secepat mungkin tanpa menunggu penghitunga Apgar skor.  Intubasi endotrakeal dilakukan oleh tenaga terlatih pada bayi yang tidak respons terhadap bantuan nafas dengan bag and mask atau pada bayi dengan asfiksia berat.a. b.  Bila dalam 30 detik denyut nadi masih < 80x/menit. b. Tindakan lain meliputi : a. Pengisapan cairan lambung untuk menghindari adanya regurgitasi dan aspirasi.  Pada asfiksia ringan berikan bantuan nafas dengan oksigen 100% melalui bag and mask selama 15-30 detik. lakukan kompresi dada dengan dua jari pada 1/3 bawah sternum sebanyak 120 x/menit.

• Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. ASUHAN KEPERWATAN PADA BAYI DENGAN ASFIKSIA PENGKAJIAN 1. • Tali pusat putih dan bergelatin. • Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan. Cara ini dianggap memperlihatkan hasil yang sama dengan ventilasi tekanan positif. Sirkulasi darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik). Oksigen Hiperbarik. edema. • Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding. mengandung 2 arteri dan 1 vena. 3. hematoma). Neurosensori • Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas. 2. Tekanan . Eliminasi Makanan/ cairan • Dapat berkemih saat lahir. Yaitu bayi diletakkan dalam ruangan tertutup yang berisi oksigen dengan tekanan oksigen yang tinggi. • Bunyi jantung. • Berat badan : 2500-4000 gram • Panjang badan : 44-45 cm • Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi) 4. lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV. 40 sampai 45 mmHg (diastolik).c.

24 menunjukkan status parasidosis. pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat. kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol...• Menangis kuat...5º C sampai 37. nevi telengiektasis (kelopak mata. antara alis mata. atau perubahan warna herlequin. • Kulit : lembut. nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik. warna merah muda atau kemerahan. Tes combs langsung pada daerah tali pusat... Keamanan distribusi tergantung pada usia gestasi). petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal).. Pernafasan • Skor APGAR : 1 menit. umum terjadi. 6. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal) PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK • • • PH tali pusat : tingkat 7.. bercak portwine... • Rentang dari 30-60 permenit.20 sampai 7. atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. menunjukkan kondisi hemolitik. PRIORITAS KEPERAWATAN • Suhu rentang dari 36. Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%. skor optimal harus antara 7-10.5º C. pola periodik dapat terlihat. Ada verniks (jumlah dan . sehat. mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps).5 menit.. • Bunyi nafas bilateral. fleksibel. hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang) 5. Menentukan adanya kompleks antigen-antibodi pada membran sel darah merah. tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna.

3. PERENCANAAN KEPERAWATAN (TUJUAN. Tidak sesak nafas b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/hiperventilasi. DP I Setelah dilakukan tindakan keperawatan kerusakan pertukaran gas dapat teratasi NOC : a. PaCO2. Memberikan lingkungan termonetral dan mempertahankan suhu tubuh. Fungsi paru dalam batas normal c. Status Respiratorius : Pertukaran Gas b. Status Respiratorius : Ventilasi Kriteria hasil : a. MASALAH KEPERAWATAN (DIAGNOSA KEPERAWATAN) DAN MASALAH KOLABORASI 1. 2. Mencegah cidera atau komplikasi. INTERVENSI DAN RASIONALISASI) 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi lender. pH arteri dan saturasi O2 dalam batas normal . Meningkatkan kedekatan orang tua-bayi. PaO2. KRITERIA HASIL. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi.• • • • Meningkatkan upaya kardiovaskuler efektif.

4) Observasi terhadap sianosis. R : Perubahan pola nafas menunjukkan status respiratorius yang tidak normal. R : Cianosis menandakan pasien mengalami kekuranga oksigen yang akan dapat mengakibatkan terjadinya hipoksemia. Manajemen jalan nafas : 1) Pertahankan kepatanan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lendir R : Pengisapan lendir dilakukan untuk membebaskan jalan nafas (airway). R : Penurunan saturasi O2 menunjukkan adanya hipoksia. 2) Pantau saturasi O2 dengan oksimetri. 3) Pantau hasil analisa gas darah R : Untuk mengetahui adanya asidosis respiratorikm atau asidosis metabolik. Manajemen asam-basa : 1) Kaji bunyi paru. frekuensi nafas. b. kedalaman nafas dan produksi sputum.NIC : a. 2) Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan 3) Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi .

Status tanda vital : suhu. Status respirasi : Ventilasi b. NOC : a.4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alat bantu nafas 5) 6) 2. Ekspansi dada simetris c. respirasi dan tekanan darah. DP II Setelah dilakukan tindakan keperawatan pola nafas menjadi efektif. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif b. Tidak ada bunyi nafas tambahan d. 2) Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan . Manajemen jalan nafas : 1) Pertahankan kepatanan jalan nafas dengan melakukan Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu Berikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan pengisapan lendir R : Pengisapan lendir dilakukan untuk membebaskan jalan nafas (airway). Kriteria hasil : a. nadi. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal NIC : a.

Status respirasi : Pasien tidak sesak nafas . .Batuk berkurang . nadi. Atur posisi tidur setengah duduk atau duduk dan lakukan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai instruksi R : Posisi duduk akan memindahkan organ-organ abdomen menjauh dari paru-paru sehingga memungkinkan ekspansi lebih luas.Produksi sputum berkurang Intervensi : 1. NOC : a. DP III Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam bersihan jalan nafas menjadi efektif.Pasien dapat melakukan batuk efektif . Pemantauan jalan nafas : 1) Pantau tanda-tanda vital meliputi tekanan darah.3) Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi 4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alat bantu nafas 5) 6) Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu Berikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan b. 3. respirasi dan suhu tubuh.

dan asap menyebabkan vasokonstriksi yang meningkatkan beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen. 3.2. R : Tindakan ini untuk membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk pasien . Auskultasi paru sebelum dan sesudah pasien batuk. suhu yang ekstrim. R : Pernafasan diafragma menurunkan frekuensi pernafsan dan meningkatkan ventilasi alveolar. seperti asap rokok. dan asap. Motivasi pasien untuk menghindari iritan. R : Merokok. Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernafasan diafragmatik dan batuk efektif. 4. suhu ekstrim.

R dkk (1985). Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan criteria hasil NOC. Edisi 7. (2000). Panduan diagnosa keperawatan nanda. Edisi ketiga. Jakarta : Infomedika. Buku kuliah ilmu kesehatan anak. Jilid II. (2005). B. Edisi 8. Buku saku diagnosa keperwatan. Jilid 3. Jakarta : Media Aesculapius Santosa. Jakarta : EGC Hassan.DAFTAR PUSTAKA Carpenito (2001). Jakarta: Prima Medika Wilkinson (2007. Kapita selekta kedokteran. Mansjoer. Jakarta : EGC . A. definisi & klasifikasi. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.