1.

LATAR BELAKANG 1.1. Otonomi Daerah Pembangunan Bangsa Indonesia selama ini diarahkan untuk

membangun melakukan bertahap fisik

tingkat berbagai berupaya

kesejahteraan pembangunan

rakyat yang

Indonesia sekaligus

dengan secara

fisik

mengurangi tingkat kemiskinan. Pembangunan tersebar di seluruh daerah diharapkan

yang

dilakukan

dapat membawa perubahan pada tingkat kesejahteraan masyarakat secara merata. Pembangunan fisik berupa gedung-gedung

perkantoran dan pemukiman penduduk, sarana transportasi, tempat ibadah, maupun tempat untuk kegiatan sosial masyarakat yang diarahkan berbagai sesuai Untuk untuk bidang memenuhi terus kebutuhan kegiatan masyarakat yang di

mengalami

perkembangan daerah

dinamis

dengan

gerak

roda

perekonomian

masing-masing. tersebut, yang

mendukung telah

keberhasilan menempuh

pembangunan kebijakan

nasional

pemerintah

Otonomi

Daerah

ditujukan agar hasil-hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata dan adil. Selama lima tahun terakhir ini telah terjadi perubahan mendasar pada penyelenggaraan pemerintahan baik di Pusat maupun Daerah. Perubahan tersebut mencakup antara lain : system

pemerintahan dari sentralistik ke desentralistik (Undang-Undang No. 22 tahun 1999), struktur organisasi pemerintahan di pusat

1

maupun di daerah (Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001), perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah (Undang-Undang No. 25 tahun 1999), beserta perubahan instrument dalam dan kebijakan Peraturan Peraturan

pemerintah Pemerintah

yang (PP),

menyertainya Keputusan

(dituangkan

Presiden

(Kepres)

daerah (Perda) untuk mengatur tata cara pelimpahan kewenangan pemerintah daerah dan pusat ke pemerintah daerah dalam keuangan Semuanya rangka dan itu otonomi anggaran membawa

transformasi dan belanja

pengelolaan daerah (APBD).

pendapatan

perubahan nyata dan cepat (baca progresif) pada system hukum, kelembagaan, penyelengaraan pemerintahan daerah, dan manajemen keuangan dan pelayanan masyarakat yang menjadi tugas dan fungsi utama pemerintah daerah yang berlaku selama ini. Transformasi pusat ke kekuasaan daerah, dan kewenangan yang dari pemerintah oleh

pemerintah

seperti

diamanatkan

undang-undang dalam rangka pemberdayaan dan kemandirian daerah untuk melayani ini kebutuhan masyarakatnya, sasaran yang selama dua tahun karena

terakhir

belum

mencapai

diinginkan

belum siapnya infrastruktur, kelembagaan dan sumber daya daerah serta masih belum mantapnya konsep dan menyatunya persepsi

pada tataran pelaksanaan. Landasan hukum dan perangkat aturan yang ada dalam membagi hak dan kewajiban masing-masing pihak seolah-olah tingkat tumpul menghadapi Perbedaan berbagai persepsi macam dan aspirasi sudut dan

kepentingan.

pandang
2

antara perencanaan di pemerintah pusat dan aparat daerah, dan antara legislatif dan executif baik di tingkat pusat maupun daerah masih lebar dan menjadi kendala utama belum lancarnya program/upaya transformasi tersebut. Otonomi daerah yang dilaksanakan sejak 1 Januari 2001

memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan dan

pembangunan di daerahnya masing-masing dalam melayani kebutuhan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Untuk mendukung

pelaksanaan Otonomi Daerah tersebut, kepada Pemerintahan Daerah diberikan kewenangan untuk mendayagunakan potensi keuangan

daerah sendiri serta sumber keuangan lain seperti perimbangan keuangan Pusat dan daerah yang berupa Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Selama pendapatan (fiskal beberapa utama tahun terakhir, Daerah. DAU merupakan kesenjangan DAU sumber fiskal

Pemerintah

Azas

gap)

yang

mendasari

penghitungan

memerlukan

dukungan data yang valid, akurat dan terkini sehingga pembagian DAU ke daerah menjadi adil, proporsional dan merata. Selain dari pada itu, kebutuhan dukungan data dan informasi statistik yang lengkap juga tidak hanya diperlukan oleh Lembaga untuk Eksekutif mengukur

tetapi

Legeslatif

khususnya

diperlukan

3

Indeks Kemahalan Konstruksi juga berguna dalam mendapatkan standarisasi harga barang dan jasa yang digunakan dalam kegiatan pembangunan. fiscal juga antara pusat alat dan daerah (vertical kemampuan Lebih dari 4 tetapi sebagai pemerataan fiscal antar daerah (horizontal fiscal equization). maka pada saat ini sangat diperlukan tersedianya data jumlah penduduk. . Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai instrument kebijakan fiscal pemerintah mempunyai peran yang sangat strategis dalam proses otonomi daerah. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai salah satu informasi yang dibutuhkan pemerintah daerah adalah informasi yang memuat berbagai harga barang dan jasa khususnya di bidang konstruksi. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).2. DAU diharapkan dapat menjembatani tidak hanya fiscal kesenjangan gap). Selain sebagai salah satu komponen/variabel dasar dalam menghitungan Dana Alokasi Umum (DAU). baik sebagai indikator input. 1. indukator proses ataupun indikator output. Indeks Pembangunan Manusia (IPM). dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tingkat Kabupaten.kinerja Eksekutif. Sehubungan dengan keperluan itu. Selain itu perkembangan harga barang dan jasa yang diikuti dari waktu ke waktu dapat dijadikan sebagai indikator pembangunan.

104 tahun 2000 direalisasikan untuk pertama kalinya dengan Keppres No. 104 dalam mengalokasikan DAU dengan sendirinya hanya 20 %. untuk pertama kalinya menggunakan konsep DAU sesuai dengan UU No.itu DAU merupakan instrument kebijakan pemerintah dengan persetujuan legeslatif yang dipakai untuk menstabilkan keamanan dari pergolakan daerah yang dipicu oleh rasa ketidakadilan ekonomi dan social (economic and social injustice) masyarakat daerah. 181 tahun 2000. Jumlah (80 DAU %) yang dialokasikan atas ke daerah-daerah penyeimbang sebagian besar didasarkan factor (balancing factor) yakni jumlah subsidi daerah otonom (SDO) yang selama ini merupakan sumber anggaran rutin daerah dan dana pembangunan daerah (Inpres) yang merupakan anggaran pembangunan daerah. Formula DAU atas dasar PP No. 25 tahun 1999 dimana DAU merupakan bagian dari dana perimbangan sebagai sumber pembiayaan daerah untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah. yang kesenjangan kemampuan fiscal surplus dan daerah yang defisit akan ditutup dengan DAU. 5 . Kesenjangan fiscal antara pusat dan daerah yang selama ini menjadi isu sensitive sehubungan dengan ketidakseimbangan pembagian hasil sumber daya alam akan diperbaiki dengan system pembagian Sedangkan bagi hasil sumber daya alam yang antara lebih daerah adil. Otonomi daerah yang dimulai 1 Januari 2001. Peranan formula sesuai dengan PP No.

Jadi pemerintah daerah terlebih dahulu membiayai kebutuhan daerahnya dengan menggunakan pendapatan asli daerah (PAD).2. dengan Oleh harus Pusat-daerah proporsional memperhatikan karena itu daerah adil demokratis. Apabila masih terdapat kekurangan sebaiknya daerah terlebih dahulu merevisi APBD nya dengan cara menyusun kembali daftar skala prioritas sasaran yang akan dicapai pada tahun anggaran yang akan 6 .1. a. Konsep dan Variabel DAU Konsep DAU UU No. potensi. 25 Tahun 1999 yang dijadikan dasar dalam merumuskan dana perimbangan dan menyatakan antar bahwa pembagian diberikan dan dan keuangan secara antara merata. Dana perimbangan akan diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk menutupi seluruh atau sebagian kekurangan pembiayaan kebutuhan daerah. peranan formula DAU terus ditingkatkan dan peranan dana perimbangan dikurangi untuk meningkatkan penerimaan kapasitas asli fiskal daerah (PAD) dalam mengoptimalkan mengurangi daerah sekaligus ketergantungan daerah akan DAU.Sejak tahun 2002 hingga saat ini. sedangkan pemerintah pusat hanya membantu meringankan beban tersebut. (DAU) kondisi kebutuhan Umum dalam perumusan Dana Alokasi memenuhi kaidah-kaidah tersebut. transparan daerah. 1.

memproporsikan rumusan tersebut memungkinkan adanya daerah yang tidak menerima DAU dikarenakan daerah tersebut memiliki selisih sama dengan 7 . kondisi penduduk. pada kenyataannya. yang dalam hasil daerah Selisih besaran kedua kebutuhan besaran fiscal (fiscal (fiscal gap) bobot Secara need) dari tersebutlah daerah matematis nantinya akan digunakan dana alokasi sebagai umum. Kebutuhan anggaran daerah ini diperbesar lagi dengan adanya perasaan tertinggal. dan keinginan untuk memanfaatkan peluang yang terbuka dengan adanya program otonomi daerah. ketidak adilan. Berdasarkan hal tersebut maka dipilihlah variable-variabel yang mencerminkan dan besaran potensi fiscal (fiscal capacity) daerah. ekonominya tetapi ada tinggi juga sebagai sumber pendapatan memiliki daerah yang tidak keduanya dan bergantung kepada transfer dana dari pemerintah pusat. Dilain pihak kebutuhan berjalan (fiscal need) daerah juga berbeda ditinjau dari pelayanan public. Kemampuan fiscal (fiscal capacity) daerah untuk menghimpun pendapatan. ada daerah yang pajak intensitas daerah. sangat bervariasi tergantung kepada kondisi daerah masing-masing.berjalan agar supaya dana tersebut dapat mencukupi kebutuhan daerah. Ada daerah yang mempunyai sumber daya alam sebagai sumber pendapatan langsung. kondisi wilayah.

Skema kerangka piker DAU adalah sebagai berikut : Diagram 1 : Kerangka Pikir DAU POTENSI PENERIMAAN Potensi Industri Potensi SDA Potensi SDM PDRB VARIABEL POTENSI PDRB Industri dan Jasa Bagi Hasil SDA. Variabel Yang Digunakan 8 . BPHTB Pph orang pribadi AMANAT UU 25/1999 Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah MODEL DAU KEBUTUHAN FISKAL Jumlah Penduduk Luas Wilayah Keadaan Geografi Penduduk Miskin VARIABEL KEBUTUHAN Jumlah Penduduk Luas Wilayah Kepadatan Penduduk Indeks Harga Bangunan Proverty Gap atau Jarak Kemidskinan Penduduk Miskin b. Jumlah DAU yang disediakan oleh pemerintah pusat adalah sebesar 25 % dari penerimaan dalam negeri di APBN pada tahun bersangkutan dengan rincian 10 % untuk pemerintah propinsi dan 90 % untuk pemerintah kabupaten/kota. Namun untuk sementara waktu hal tersebut dihindari dengan memakai factor penyeimbang (balancing factor) yang merupakan alokasi minimal berupa lumpsum dan belanja pegawai.nol atau negative. PBB.

1. Variabel-variabel yang digunakan disini juga diharapkan mampu untuk mengakomodir kebutuhan- kebutuhan tersebut secara umum. sehingga dapat terbentuk suatu rumusan yang sederhana dan mudah dihitung oleh daerah dengan data yang mudah didapatkan. Pelayanan tersebut dapat meliputi beberapa aspek. kesehatan. Variabel Kebutuhan Fiskal Variabel kebutuhan fiscal suatu daerah hendaknya dapat mengakomodir pembiayaan kebutuhan suatu daerah dan yang digunakan untuk program-program daerah pembangunan fasilitas daerah seperti fasilitas pendidikan. Tidak ada seorangpun yang dapat menjamin bahwa variable-variabel yang digunakan sudah 100 % benar. maka dibuatlah indeks penduduk. infrastruktur dan kebutuhan pokok lainnya. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk suatu daerah mencerminkan kebutuhan pelayanan yang diperlukan. transportasi dan lainnya. Untuk membedakan kebutuhan satu daerah dengan daerah lain berdasarkan jumlah penduduk. seperti pendidikan. kesehatan. Hanya saja perlu dilakukan uji variable (specification test) lebih lanjut apakah variable-variabel tersebut signifikan mewakili besaran kebutuhan fiscal daerah. 2. Indeks penduduk dihitung dengan cara : 9 .

seperti hutan. maka digunakan luas daerah yang memiliki yang memenuhi kewajaran. dan pertanian. Luas Wilayah Daerah dengan yang cakupan wilayah maka yang luas membutuhkan suatu indeks pembiayaan lebih besar. dibentuklah untuk membedakan besaran luas wilayah tersebut. Padahal disisi lain luas wilayah tersebut juga merupakan potensi yang besar dalam sisi penerimaan. perkebunan. Data luas wilayah menggunakan dua sumber yaitu yang bersumber dari Badan Pusat Statistik serta Depdagri dan Otda.P IPi = i p IPi Pi P n = = = = dimana P= ∑P i =1 n i n Indeks Penduduk daerah i Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota ke-i Jumlah Penduduk Rata-rata Jumlah Kabupaten/Kota 3. Apabila terdapat perbedaan luas daerah yang cukup besar. Indeks Wilayah tingkat densitas tersebut adalah : Indeks Wilayah I = Luas Daerah i Rata-rata Luas Daerah Secara Nasional 10 . Hal tersebut yang dijadikan alasan oleh penyusun untuk digunakannya variable luas wilayah.

Indikator Kemiskinan Pembangunan daerah dilaksanakan bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur secara merata. Poverty gap memberikan gambaran sebaran pendapatan penduduk 11 . Kepadatan Penduduk (Densitas) Tingkat menggunakan kepadatan juga penduduk (densitas) dengan dapat luas dihitung wilayah jumlah dibagi kabupaten/kota.4. Untuk melihat perbedaan tingkat kemiskinan antar daerah digunakan poverty gap sebagai ukuran. 5. Maka makin banyak jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan dibutuhkan dana yang lebih besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal tersebutlah yang mendasari digunakannya variabel dasar untuk membentuk density telah digunakan dan diharapkan tidak menjadikan variabel yang tumpang tindih. sehingga indeksnya adalah : Indeks Density I = Density Daerah i Rata-rata Density Nasional Wilayah yang luas dengan penduduk yang sedikit memiliki masalah yang lebih ringan dibanding dengan wilayah yang lebih padat. Sedangkan rata-rata densitas Indonesia didapat dari jumlah penduduk Indonesia dibagi dengan Luas wilayah Indonesia.

dan Income Gap. Makin besar poverty gap-nya. Rumusan poverty gap adalah sebagai berikut : PGi = 1 q Z − Yj  ∑  n j =1  Z  dimana : PGi = Poverty Gap daerah ke i yj = Pendapatan penduduk ke j Z = Poverty line (batas kemiskinan) n = Jumlah penduduk suatu daerah ke i q = Jumlah penduduk miskin suatu daerah ke i Untuk mendapatkan Indeks Poverty Gap. Head Count Index Daerah i = Penduduk Miskin Daerah Ke i Jumlah Penduduk daerah ke i X 100% Income Gap Daerah i = Proverty Gap daerah Ke i Head Count Index Daerah Ke i Indeks Proverty Gap = Income Gap daerah Ke i Rata-rata Income Gap Seluruh Indonesia 12 .miskin dari garis kemiskinan. maka tingkat kemiskinannya semakin tinggi begitu juga sebaliknya apabila poverty gap-nya makin kecil maka tingkat kemiskinannya makin rendah bahkan apabila proverty gap tidak dapat dihitung karena q = 0 maka suatu daerah dapat dinyatakan tidak memiliki penduduk miskin. itu barulah dapat dihitung Indeksnya. terlebih dahulu Setelah kita harus mencari Head Cout Index.

3. Sedangkan indeks kemahalan perbandingan konstruksi tingkat kabupaten/kota kemahalan didapatkan dari konstruksi kabupaten/kota terhadap kemahalan rata-rata nasional. Hal inilah yang mendasari untuk digunakannya Indeks Harga Bangunan sebagai pembeda kebutuhan suatu daerah dilihat dari sektor konstruksi. sedangkan untuk data 13 . Indeks Kemahalan Konstruksi Untuk meningkatkan pelayanan pemerintah sangat dibutuhkan sarana dan prasarana berupa bangunan gedung. jalan. Bagi Hasil PAD Daya Alam (BHSDA).6. Bagian Perolehan Sumber Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). estimasi merupakan hasil kali dari pendapatan asli daerah ratarata dengan indeks industri dan jasa. Pembangunan ini semua merupakan tanggung Indonesia jawab pemerintah daerah. dan Pajak Penghasilan (Pph). Formula indeks yang digunakan adalah indeks Laspeyres yaitu indeks harga yang ditimbang dengan kuantitas pada tahun dasar. IKK Daerah i = Indeks kemahalan konstruksi daerah Ke-i Rata-rata Indeks Kemahalan Konstruksi Daerah 1. irigasi dan lain sebagainya. Variabel Potensi Daerah Yang menjadi komponen dari potensi daerah adalah Pendapatan Asli daerah (PAD). Kondisi geografis untuk negara menyebabkan perbedaan pembiayaan membangun fasilitas-fasilitas tersebut. jembatan. Pajak Bumi Bangunan (PBB).

Untuk perumusan PAD-nya dapat dituliskan sebagai berikut : PAD rata-rata = PAD Seluruh Indonesia Jumlah daerah (PDRB Industri dan Jasa)i Rata-rata PDRB Industri Jasa Nasional Indeks Industri dan Jasa Ke I = PÂD = PAD rata-rata X Indeks Industri dan Jasa ke i = β0 + β1 PDRB Jasa Sehingga Potensi Penerimaan = PÂD + PBB + BPHTB + BHSDA + Pph 2. Untuk menghindarinya. Apabila data PAD ini lebih kecil dari seharusnya. Permasalahan Mengingat daerah dalam begitu rangka yang strategisnya memperbaiki ini peranan system program otonomi penyelenggaraan dan untuk pemerintahan dianggap selama hak terpusat dan (sentralistik) daerah mengabaikan aspirasi 14 . Variabel PAD belum mencerminkan kapasitas fiskal daerah yang sebenarnya karena besarannya sangat tergantung dari kemampuan daerah mengumpulkan pajak dan retribusi. maka digunakan variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor Industri dan Jasa. maka perkiraan penerimaan daerah akan underestimate dan mengakibatkan ketergantungan daerah akan PAD semakin besar.lainnya tersedia di Departemen Keuangan.

maka keberhasilan formulasi tergantung kemampuan sebagai solusi instrument kebijakan pemerintah. 2. mengakomodir berbagai kepentingan dan aspirasi daerah. oleh visi UU otonomi yang dan kemandirian normative fiscal (seperti bersifat kemandirian. data/informasi yang tersedia.menyelenggarakan program DAU. Tolak ukur keberhasilan rumus perhitungan DAU ditentukan oleh sejauh mana tingkat pemeratan itu tercapai (koefesien variasi yang bersifat kuantitatif sebagai instrument 15 .1. formula. Kecanggihan Formula Misi utama DAU adalah pemerataan kemampuan fiscal antar daerah dan keseimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. 2. Beberapa masalah dan kendala yang DAU merupakan sebagai potensi pengemban penyebab amanat ketidakberhasilan formula kemandirian dan pemerataan seperti dikehendaki oleh UU Otonomi Daerah dan UU Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah dapat bersumber pada : konsep. Masalah Konseptual (Conseptual Problems) Masalah konseptual (conceptual problem) dalam menyusun DAU terletak pada bagaimana yang : menterjemahkan diamanatkan demokrasi. pemerataan dan keadilan) ke dalam variable-variable operasional kebijakan. partisipasi masyarakat.2. variabel yang dipakai. otonomi rumahtangganya daerah sagat dan sendiri. dan teknis pelaksanaannya.

Ketetapan Variabel Tingkat keragaman antar daerah dan pusat dengan daerah di Indonesia geografis sangat dan tinggi baik dari aspek ekonomi. 2.dan indeks Williamson yang kecil). lebih Survei kecil dan (kabupaten/kota) sistem pengumpulan data statistik yang selama ini berorientasi pada skala makro dan agregatif harus diubah orientasinya menjadi skala kecil dengan jangkauan meluas dan rinci. tetapi juga mencerminkan konsep dan sasaran strategis otonomi yang akan dicapai.3.4. 2. Lebih dari itu. Variabel yang terpilih seharusnya tidak hanya didasarkan kepada aspek teknis kepraktisan semata. sosial. 16 . Ketersediaan Data Formulasi DAU memerlukan berbagai jenis data yang terkini dan lengkap pada yang tingkat belum wilayah semuanya yang tersedia. sulit sumber daya manusia menyebabkan sangat untuk memilih variabel yang tepat memenuhi aspek tersebut dalam formula DAU. Selain itu perlu ditingkatkan sistem pengumpulan data sektoral yang berasal dari instansi atau lembaga teknis. kempuhan rumus DAU tersebut juga diukur dengan kemampuannya menjamin terwujudnya prinsip keadilan antar daerah.

Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) adalah angka indeks yang menggambarkan perbandingan Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK) suatu kabupaten/kota atau propinsi terhadap Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK) kabupaten/kota atau propinsi lain. yaitu indeks yang menggambarkan perbandingan harga untuk lokasi yang berbeda pada 17 .5. yaitu biaya yang dibutuhkan untuk membangun 1 (satu) unit bangunan per satuan ukuran luas di suatu kabupaten/kota atau propinsi.1. peraturan. Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK) diperoleh melalui pendekatan terhadap harga sejumlah jenis barang/bahan bangunan dan harga sewa alat berat yang mempunyai nilai atau andil cukup besar dalam bangunan tersebut. Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK) 3. Teknis Pelaksanaan DAU melibatkan berbagai pihak dari mulai perencanaan. Pengertian dan Definisi Tingkat Kemahalan Konstruksi Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK) merupakan cerminan dari suatu nilai bangunan/konstruksi.2. hukum. fungsi dan tujuan DAU. serta pelaksanaan baik di pusat maupun daerah sehingga keberhasilannya sangat ditentukan oleh sejauh mana persamaan persepsi dari pihak yang terkait tentang arti. Sesuai dengan pengertiannya. 3. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dapat dikategorikan sebagai indes spasial.

proyek oleh tim pembahas anggaran yang kewajaran proyek. Hal inilah yang mendasari untuk digunakannya Indeks Kemahalan Konstruksi sebagai pembeda kebutuhan suatu daerah dilihat dari sektor konstruksi. Tingkat kemampuan proses 18 perusahaannya saat dapat dipakai dalam .periode waktu tertentu. sehingga dapat ditentukan/dinilai anggaran itu. Selain Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dihasilkan dapat membantu pihak-pihak swasta. Maksud dan Tujuan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data-data yang akan digunakan untuk penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi yang merupakan salah satu komponen/variabel dalam penghitungan Dana Alokasi Umum. harga tersebut menggambarkan perkembangan harga di suatu lokasi pada periode tertentu terhadap harga tahun dasar. 3. Publikasi ini juga berguna sebagai standarisasi harga khususnya barang dan jasa yang digunakan dalam kegiatan suatu konstruksi. IKK berbeda dengan pengertian indeks periodikal.2. dalam hal ini pengusaha untuk menilai kemampuan perusahaannya pada saat ini dibanding pada waktu pada perusahaan ini berdiri. Kondisi geografis negara Indonesia yang sangat beragam menyebabkan perbedaan pembiayaan untuk membangun fasilitas-fasilitas tersebut. seperti Indeks Konsumen Harga Perdagangan dimana Besar kedua (IHPB) indeks atau Indeks Harga (IHK).

Harga bahan bangunan/konstruksi yang terdiri dari bahan-bahan bangunan dari kayu gergajian/lapis.pelelangan bangunan.3. seperti: pasir dan batu kali. Harga sewa alat-alat berat Misalkan harga sewa satu dan lain sebagainya. dengan seng berbagi kualitas. seperti: kayu meranti dengan berbagai ukuran. suatu proyek khususnya proyek-proyek konstruksi 3. barang-barang barang. b. Secara garis besar jenis data yang dikumpulkan meliputi: a. c.barang dari kaca. sehingga data yang dihasilkan hanya sampai level Kota Tanjungpinang saja. seperti: dari semen. dan lain sebagainya. serta barang-barang hasil industri keramik. gelombang. plastik. Harga upah jasa konstruksi 19 . Ruang Lingkup dan Sumber Data IKK yang akan dihitung adalah IKK Kota Tanjungpinang pada tahun 2006. barang-barang hasil pertambangan/penggalian. Sumber data yang digunakan dalam penghitungan IKK adalah data yang berasal dari Survei Harga Perdagangan Besar Bahan Bangunan/Konstruksi dan harga sewa alat berat dengan menggunakan daftar HPB-K yang dilakukan di Kota Tanjungpinang pada tahun 2006. unit dump truck.

pedagang yaitu perdagangan pedagang besar/distributor produsen.Misalnya upah seorang mandor konstruksi dalam orang hari. triwulan ketiga (dilaksanakan Bulan Agustus) dan triwulan keempat (dilaksanakan Bulan November). triwulan kedua (dilaksanakan Bulan Mei). triwulan (dilaksanakan Februari). dan kategori lainnya. pedagang eceran. Kegiatan pengumpulan yaitu data ini dilakukan pertama dalam empat tahap Bulan triwulanan. campuran. Data harga ini dikumpulkan melalui Survei Harga Perdagangan Besar Barang-barang konstruksi dengan menggunakan 20 . Sedangkan Diagram Timbang umum diperoleh dari data realisasi APBD Kota Tanjungpinang. dan lain sebaginya.4. Data lain yang digunakan adalah Diagram Timbang (DT) yang terdiri dari DT kelompok jenis bangunan dan DT umum. Diagram Timbang biaya kelompok yang jenis bangunan dari disusun studi dari data analisis kemahalan diperoleh hasil tingkat konstruksi serta tabel input output. 3. (harga besar). seperti: kontraktor dan instansi terkait lainnya (khususnya untuk mengumpulkan data harga sewa alat-alat berat dan upah pekerja/jasa konstruksi). Kegiatan Pengumpulan Data Data harga bahan bangunan/konstruksi. sewa alat-alat berat dan upah jasa konstruksi yang dikumpulkan adalah harga-harga pada berbagai jual kategori.

Sementara itu. dan pelabuhan. Data ini diperoleh dari pemerintah Kota Tanjungpinang berdasarkan realisasi APBD.daftar HPB-K. Metode Penghitungan Pada Kemahalan bangunan. Indeks jenis pada Indeks Konstruksi terdiri Baku menurut kelompok. Klasifikasi tahun 2004 dan (IKK) 5 tahun-tahun dihitung (lima) Usaha sebelumnya. Pekerjaan umum untuk jalan. 21 . 3. yaitu angka tertimbang dari kelima IKK kelompok jenis bangunan.5. 2. Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal. dari Lapangan Indonesia Kemahalan Konstruksi (IKK) yang digunakan dalam penghitungan DAU adalah IKK umum. data yang digunakan (IKK) tahun untuk 2007 penghitungan Indeks kemahalan Konstruksi adalah hasil survei HPB-K triwulan II dengan periode pencacahan bulan Mei 2006. Kelima kelompok jenis bangunan tersebut adalah: 1. kelompok mengacu (KBLI). Data Lain yang dikumpulkan adalah perkiraan persentase pengeluaran masing-masing kegiatan kelompok pembangunan jenis fisik gedung/konstruksi total nilai bangunan terhadap pengeluaran kegiatan pembangunan tersebut. jembatan. Data Harga yang dikumpulkan terdiri dari 60 jenis barang yang mencakup sekitar 145 kualitas serta harga sewa 4 macam alat berat dan 9 upak tukang dan mandor.

Bangunan lainnya. Bangunan. rumah susun. dan pesawat terbang. terminal/stasiun. 4. pendidikan. landasan pekerjaan umum untuk jalan. jembatan. drainase jalan. Bangunan jalan dan jembatan kereta meliputi: pembangunan jalan dan jembatan kereta. tempat ibadah. kesehatan. yang dipakai pada tahun 2004 dan tahun-tahun sebelumnya: 1.3. Bangunan pekerjaan umum untuk pertanian (prasarana pertanian). Bangunan pelabuhan: a. b. jembatan dan landasan meliputi: pembangunan jalan. Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal: a. 5. Sebagai gambaran lebih jelas. jembatan. gas. industri. dan perumahan dinas. meliputi rumah yang dibangun sendiri. Bangunan untuk instalasi listrik. Konstruksi gedung bukan tempat tinggal. meliputi konstruksi gedung perkantoran. b. 2. 22 . marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas. Konstruksi gedung tempat tinggal. tempat hiburan. air minum dan komunikasi. berikut dijabarkan klasifikasi masing-masing jenis bangunan tersebut. real estate. dan bangunan monumental lainnya. pagar/tembok.

krib. Bangunan pengairan meliputi: pembangunan waduk (reservoir). check dam. 4. air minum. sipon dan drainase. Konstruksi sinyal dan telekomunikasi kereta api meliputi: pembangunan Konstruksi sinyal dan telekomunikasi kereta api. tanggul pengendalian banjir. bangunan pemancar/penerima radar. Konstruksi telekomunikasi udara meliputi konstruksi bangunan telekomunikasi dan navigasi udara. bendungan (weir). dan bangunan penggilingan dan bangunan komunikasi: a. Konstruksi sentral telekomunikasi 23 . jaringan irigasi. dan viaduk. Bangunan untuk instalasi listrik. Bangunan pekerjaan umum untuk pertanian (prasarana pertanian): a.3. tanggur laut. transmisi dan transmisi tegangan tinggi. irigasi. Bangunan tempat proses hasil pertanian meliputi: pengeringan. Bangunan elektrikal meliputi: pembangkit tenaga listrik. pintu air. gas. d. dan bangunan antena. b. c. embung. talang. b.

instalasi listrik kereta instalasi lapangan udara. lapangan parkir. Instalasi jaringan pipa meliputi: jaringan pipa. Instalasi air meliputi: instalasi air bersih dan air limbah serta saluran drainase pada gedung.meliputi konstruksi bangunan menara sentral pemancar radar telepon/telegraf. pembangunan lapangan olahraga. i. 24 . Bangunan lainnya meliputi: bangunan sipil. h. 5. dan bangunan stasiun bumi kecil/stasiun satelit. Instalasi listrik jalan meliputi: listrik instalasi jalan listrik api. dan jaringan minyak. g. e. jalan dan raya. microwave. Instalasi listrik meliputi: pemasangan instalasi jaringan listrik tegangan lemah dan pemasangan instalasi listrik pada gedung bukan tempat tinggal. jaringan air. dan sarana lingkungan pemukiman. f. Instalasi gas meliputi: pemasangan gas pada gedung tempat tinggal dan pemasangan instalasi gas pada gedung bukan tempat tinggal.

diwaliki oleh bangunan jaringan irigasi 4. gas. jembatan. air minum dan komunikasi. diwaliki oleh pembangunan jalan 3. Kelompok jenis bangunan yang tidak diikutsertakan adalah bangunan untuk instalasi listrik. diwaliki oleh pembangunan lapangan parkir. Pekerjaan umum untuk jalan. gas. Bangunan pekerjaan umum untuk pertanian (prasarana pertanian).Untuk keseragaman dalam penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) yang dipakai pada tahun 2004 dan tahun-tahun sebelumnya. setiap kelompok jenis bangunan kontruksi diwakili oleh satu unit bangunan/konstruksi yang mempunyai nilai termahal atau andil yang paling besar di masing-masing daerah. yaitu: 1. sedangkan kelompok jenis bangunan pekerjaan umum 25 . air minum dan komunikasi. mulai tahun 2005 Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dihitung hanya menurut 3 (tiga) kelompok jenis bangunan. Bangunan untuk instalasi listrik. Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal. Bangunan lainnya. diwaliki oleh bangunan tempat tinggal 2. Berbeda dari Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) tahun 2004 dan tahun-tahun sebelumnya. dan pelabuhan. diwaliki oleh instalasi listrik jalan raya 5.

Bangunan lainnya 3. dinilai relevan lagi digunakan untuk daerah perkotaan. Kelompok jenis listrik. jembatan dan pelabuhan. kelompok jenis dikarenakan bangunan Sedangkan kualitas tersebut barang-barang sangat beragam kabupaten/kota. Perubahan pengelompokan jenis bangunan ini dilakukan agar Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) antar kabupaten/kota yang dihasilkan lebih mempunyai keterbandingan/comparable. gas. Berikut ini. umum untuk kelompok jenis bangunan pekerjaan tidak pertanian (prasarana pertanian). air minum dan komunikasi tidak dalam antar diikutsertakan.untuk pertanian (prasarana pertanian) digabung dengan kelompok jenis bangunan lainnya. Paket Komoditas Paket komoditas yang digunakan dalam penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) tahun 2006 terdiri dari 18 jenis barang/bahan bangunan dan 4 sewa alat-alat berat. Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal. c. Jenis barang/bahan bangunan dan sewa alat-alat berat tersebut dipilih 26 .6. b. Pekerjaan umum untuk jalan. 3 (tiga) kelompok jenis bangunan yang digunakan dalam penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) tahun 2005 yang juga digunakan pada saat penghitungan IKK tahun 2006: a.

besi beton. 27 . semen. yaitu: pasir pasang. pipa PVC. air minum ini dan komunikasi sedikit bila Jumlah jenis barang/bahan dengan paket bangunan lebih dibandingkan komoditas Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) tahun 2004 yang terdiri dari 23 jenis barang/bahan bangunan dan 3 sewa alatalat berat. kayu balok. aspal. sewa alat berat hidrolik excavator.dari sekitar 60 jenis barang/bahan bangunan dan 4 sewa alatalat berat yang terdapat dalam daftar HPB-K. cat kayu/besi. batu bata. seng plat. kayu lapis. batu split. gas. lantai keramik. jenis barang yang tidak termasuk dalam paket komoditas IKK 2006 adalah barangbarang yang digunakan pada kelompok jenis bangunan listrik. Delapan belas jenis barang/bahan bangunan dan empat sewa alat-alat berat yang menjadi paket komoditas penghitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) tahun 2005 tersebut. kayu papan. sirtu. kaca. bulldozer dan three wheel roller (mesin gilas) dan Dump Truck. Ke 18 jenis barang/bahan bangunan dan 4 sewa alat-alat berat tersebut dipilih karena mempunyai nilai atau andil cukup besar dan data harga barang-barang tersebut comparable atau mempunyai keterbandingan antar kabupaten/kota di seluruh Indonesia. batu kali. seng gelombang. cat tembok.

Tingkat Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi Kelompok Jenis Bangunan Kabupaten/Kota: TKK kj = ∑ H i.3. Sedangkan Diagram Timbang (DT) umum disusun berdasarkan data realisasi APBD dan pengeluaran belanja pembangunan dan rutin yang diperoleh dari Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. Diagram Timbang (DT) kelompok jenis bangunan disusun berdasarkan besarnya volume masing-masing jenis bahan bangunan untuk membangun satu unit bangunan per satuan ukuran luas. Penimbang atau Bobot Diagram Timbang (DT) atau bobot terdiri dari Diagram Timbang (DT) kelompok jenis bangunan dan Diagram Timbang (DT) umum. yang dalam hal ini berarti pihak Pemerintah Kota Tanjungpinang atau DT disusun berdasarkan perkiraan persentase pengeluaran pembangunan fisik yang ada di masing-masing kabupaten/kota dan dirinci menurut 3(tiga) kelompok jenis bangunan/konstruksi.7. 3.Qij i =1 m Keterangan: TKKkj = tingkat kemahalan harga bangunan/konstruksi kabupaten/kota k kelompok jenis bangunan j Hi = harga bahan bangunan i 28 . Tingkat Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi (TKK) a.8.

Indeks Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi kelompok Jenis Bangunan Kabupaten/Kota: 29 .9. Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) a. Tingkat Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi Kelompok Jenis Bangunan Rata-rata Nasional: TKK nj = ∑ TKK k =1 n kj n Keterangan: TKKnj = tingkat kemahalan harga bangunan/konstruksi rata-rata nasional kelompok jenis bangunan j n = jumlah kabupaten/kota di seluruh Indonesia (n=434 ) 3.Qij = kuantitas/volume bahan bangunan i kelompok jenis bangunan j = i j k m diagram timbang kelompok jenis bangunan j = jenis barang/bahan bangunan = kelompok jenis bangunan = kabupaten/kota = jumlah jenis barang/bahan bangunan dan sewa alat berat (m=22) b.

30 .5092. Indeks Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi Umum Kab./Kota: IKK uk = ∑ IKK kj * Q j j =1 p Keterangan: IKKuk = indeks kemahalan harga bangunan/konstruksi umum kabupaten/kota k Qj p u I = Diagram timbang IKK umum kabupaten/kota = jumlah kelompok jenis bangunan (p=3) = umum = Suatu Konstanta harga yang menggambarkan yang perkembangan barang-barang digunakan di sektor konstruksi di Indonesia (IHPB sektor konstruksi) februari 2004 – Mei 2006 yaitu sebesar 1.IKK kj = TKK kj TKK nj x100 Keterangan: IKKkj = indeks kemahalan harga bangunan/konstruksi kabupaten/kota k kelompok jenis bangunan j b.

Persiapan Kegiatan Pengumpulan Data Pengolahan dan Tabulasi Analisa Data Penyusunan Draf Publikasi Perbaikan Draf Penggandaan Publikasi 1 september -10 September 2008 20 September – 27 Sepember 2008 28 – 31 September 2008 1-7 Oktober 2008 8 – 22 oktober 2008 23 – 25 ktober 2008 26 Oktober – 14 November 2008 6.1. 2.b. 4. NO. No 1 2 TENAGA AHLI DAN TENAGA PENDUKUNG YANG DI BUTUHKAN Tenaga Ahli Team Leader (Ahli Perencanaan Kota) Ahli Ekonomi Pendidikan S1/S2 Teknik Sipil S1 Ekonomi Jumlah Personil 1 Orang 1 Orang Pengalaman Minimum 3 Tahun Minimum 3 Tahun Pengalaman Minimum 3 Tahun Minimum 3 Tahun Minimum 3 Tahun No 1 2 3 Tenaga Pendukung Estimator Administrasi Kantor Surveyor Pendidikan D3 SMA SMEA Jumlah Personil 1 Orang 1 Orang 1 Orang 5. Rencana Kerja Lengkap 6. Indeks Kemahalan Konstruksi dengan (IKK) cara tahun 2007 data penyesuaian diperoleh mengalikan IKK tahun 2006 dengan perkembangan IHPB konstruksi bulan Februari tahun 2004 ke bulan Mei tahun 2006. 4. 1 Rencana dan Jadwal pekerjaan KEGIATAN 2 JADWAL WAKTU 3 1. 6. Persiapan Kegiatan 31 . 7. 5. 3.

Pengumpulan Data Sekunder Data Sekunder ialah data yang diperoleh dalam bentuk jadi dan telah diolah oleh pihak lain. Kegiatan ini dilakukan dengan 32 .2. b. Pengumpulan Data a. Asal Bahanbahan Kontruksi dan tempat bongkar muat bahan kontruksi. pengumpulan bahan dilakukan dengan cara pengumpulan bahan referensi penyusunan dari internet. pengumpulan publikasi yang menunjang seperti publikasi dari Bapekko Kota Tanjungpinang. dinas Kimpraswil Kota Tanjungpinang dsb. Data Primer yang dikumpulkan adalah data Harga Bahan Kontruksi dari 18 Pedagang bahan kontruksi hal yang ini ada untuk di seluruh Kota Tanjungpinang. yang biasanya dalam bentuk publikasi. BPS Kota Tanjungpinang. BPS Pusat Jakarta. BPS Propinsi Kepulauan Riau. 6. mendapatkan gambaran mengenai perbedaan harga bahan kontruksi di masingmasing kelurahan sebagai akibat biaya transportasi yang berbeda di masing-masing Kelurahan.Persiapan kegiatan meliputi kegiatan pengumpulan bahan penyusunan publikasi. Pengumpulan Data Primer Data Primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perorangan langsung dari objeknya.

dan sebagainya. Analisis Data Analisis yang digunakan adalah analisis deskriftip. Publikasi Kegiatan Percepatan Penyediaan Data Statistik Dalam Rangka Kebijakan Dana Perimbangan Tahun 2008 dikeluarkan Oleh BPS Jakarta.3. hal ini dilakukan agar memudahkan dalam proses analisis data.mengumpulkan penyusunan publikasi publikasi yang IKK ada hbungannya dengan kota Tanjungpinang diantaranya yaitu Publikasi Tanjungpinang Dalam Angka dari Bapekko Kota Tanjungpinang. hasilnya kemudian disusun menjadi suatu publikasi. Pengolahan Dan Tabulasi Data primer atau sekunder yang sudah dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan dan di tabulasikan.4. 6. setelah di olah kemudian data disajikan kedalam bentuk tabel ataupun grafik. 6.5. Penyusunan Draft Publikasi Setelah datanya diolah dan dianalisis. 6. Publikasi IKK yang dikeluarkan BPS Propinsi Kepulauan Riau. 33 . yaitu analisis yang sifatnya memberikan gambaran terhadap persoalan tentang konstruksi yang ada dan analisis SWOT untuk penentuan kebijakan yang mungkin diambil dalam hal kontruksi di Kota Tanjungpinang.

....................................................1.........3.............................. Konsep dan Variabel DAU ...6..................................................................................................................Otonomi Daerah...........1......7.....1 1.. Penggandaan publikasi 7..................................6 1..........................1 1........................................................ akan dilakukan analisis deskriftip sesuai dengan data yang sebenarnya dan akan dilakukan analisis mengenai kebijakan dalam bidang kontruksi untk menjawab semua permasalahan yang ada yang berkaitan dengan bidang konstruksi....... Perbaikan Draft Hal ini dilakukan untuk memperbaiki dan menambah hal-hal yang dianggap penting dalam penyusunan draft akhir publikasi ikk 6....2..13 34 .......................LATAR BELAKANG...........2. Rancangan Untuk tahap pengembangan Untuk tahap pengembangan................................................. DAFTAR ISI 1.........................Variabel Potensi Daerah......6......4 1..Dana Alokasi Umum (DAU)...........

................5............................33 6.............................................................................................15 2....................................7.......................................................................Rencana dan Jadwal pekerjaan.......................................5.................................................17 3..........15 2.................Persiapan Kegiatan............................................................................31 6................................21 3..............................................6..Rancangan Untuk tahap pengembangan....................31 5.................................................................9..................18 3..............2........Pengertian dan Definisi Tingkat Kemahalan Konstruksi ................Penggandaan publikasi....................33 6..............8............................17 3........................................29 4.................................20 3...................................................................................................................................4..............................................16 2........................Tingkat Kemahalan Harga Bangunan/Konstruksi (TKK)..................34 35 ...............Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK)....................................................................................16 2...........33 6....................34 6...........................Ruang Lingkup dan Sumber Data ........................................3..............................................Tingkat Kemahalan Konstruksi (TKK)...................................Ketersediaan Data.....................................Maksud dan Tujuan.............................................................................................................Paket Komoditas...........6............................Teknis Pelaksanaan......................................19 3.........Pengumpulan Data.Perbaikan Draft...............................31 6......Permasalahan......5.......Kecanggihan Formula....Ketetapan Variabel..................Pengolahan Dan Tabulasi ....................................Rencana Kerja Lengkap.............................1.17 3.........3..Penimbang atau Bobot.2...............................................................31 6......................................Kegiatan Pengumpulan Data ................................................................2..............................1......7.......Analisis Data.................TENAGA AHLI DAN TENAGA PENDUKUNG YANG DI BUTUHKAN.........................................................................28 3...........................................................................................................................................32 6.........................................................14 2..28 3.....................1...Masalah Konseptual (Conseptual Problems)........................................................4......3.4.....................2....Penyusunan Draft Publikasi.............................26 3.34 7....................................Metode Penghitungan..........................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful