P. 1
gawat janin

gawat janin

|Views: 97|Likes:
Published by Ponco Rosso
bahan bacaan
bahan bacaan

More info:

Published by: Ponco Rosso on Feb 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2015

pdf

text

original

GAWAT JANIN

Gulardi H. Wiknjosastro
Gawat Janin atau secara umum disebut fetal distress perlu dibahas dan dirumuskan dengan kompromi, karena sampai saat ini belum ada kesepakatan. Ada yang berpendapat bahwa gawat janin memang benar terjadi berkaitan dengan asfiksia. Asfiksia baru dapat ditentukan bila terdapat gejala nerologik atau skor Apgar kurang dari 3.1 Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bayi karena sudah dalam kondisi yang buruk mengingat adanya gejala kejang atau koma. Kesalahan terjadi pada anggapan bahwa mesin kardiotokografi dapat mendeteksi semua kelainan pada kondisi janin, yang benar ialah ada beberapa janin yang telah mengalami kerusakan sebelum datang ke rumah sakit. Parer dan King (2000) telah membuat tinjauan dan menemukan bahwa mesin kardiotokografi tak mampu memenuhi harapan, sedangkan Symonds (1994) mendapatkan bahwa 70% dari tuntutan yang berkaitan dengan kelumpuhan otak berkaitan dengan hasil kardiotokografi.2 Saya berpendapat bahwa gawat janin dapat ditentukan dengan adanya hipoksia yang mengancam fungsi normal syaraf yang dapat dilihat secara klinik dalam bentuk ensefalopati. Definisi Gawat janin ialah kondisi hipoksia yang bila tidak dilakukan penyelamatan akan berakibat buruk. Hipoksia ialah keadaan jaringan yang kurang oksigen, sedangkan hipoksemia ialah kadar oksigen darah yang kurang. Asidemia ialah keadaan lanjut dari hipoksemia yang dapat disebabkan menurunnya fungsi respirasi atau akumulasi asam. Asfiksia atau Hipoksia dapat ditentukan dengan beberapa indicator yaitu : a. pH darah tali pusat < 7.14 intrapartum atau < 7.20 dalam kehamilan b. BD = 12 mmol c. Skor Apgar < 3 d. Kegagalan multiorgan Keasaman darah ditentukan oleh keseimbangan kadar hidrogen dan bikarbonat. Skor Apgar memang agak sukar dikaitkan dengan hipoksia karena yang tumpang tindih dan telah dibuktikan tidak berhubungan dengan kelangsungan hidup perinatal. Oleh karena itu pada setiap diagnosis gawat janin atau asfiksia, sebaiknya dibuktikan dengan hasil pH darah tali pusat. International cerebral palsy Task Force menentukan kelumpuhan otak (cerebral palsy) berkaitan dengan kejadian akut intrapartum, harus memenuhi criteria : 1. asidosis metabolic – pH arteri umbilical < 7.0 dan defisit basa =12 mmol/L 2. ensefalopati sedang/berat , pada bayi usia >34 minggu 3. kelumpuhan otak (cerebral palsy) jenis qaudriplegik spastik 4. tak ditemukan penyebab: trauma, kelainan pembekuan darah, infeksi dan genetic.

preeklampsia) Gejala pada yang akut mungkin mudah diketahui. Sedangkan kondisi kronik berkaitan dengan fungsi plasenta yang menurun atau janin sendiri yang sakit (infeksi. Perdarahan kronik (vasa previa) dsb.(Ayres de Campos dkk. kompresi tali pusat. normal 120-160 dpm) menentukan kondisi janin rata rata. tak mengikuti his namun bradikardia dapat terjadi akibat kompresi tali pusat . Frekuensi dasar (ditentukan dalam denyut per menit . akselerasi. Umumnya deteksi gawat janin dilakukan dengan pengukuran denyut jantung baik secara fetoskop atau kardiotokografi. solusio plasenta. Istilah gawat janin atas dasar gambaran KTG saja sebenarnya sering menyesatkan oleh karena itu diambil kesepakatan dalam interpretasi gambaran yang normal sebagai : baik (reassuring) atau sebaliknya tak pasti (non reassuring) artinya ketidak pastian akan kondisi bayi. anemia (misalnya :Thalassemia). Dari hasil perekaman tersebut dapat dilihat pola : a. Khusus mengenai pertumbuhan janin terhambat pengamatan serial hendaknya dapat dilakukan secara rutin. postterm. dan plasenta previa. Pola deselerasi : a.. Namun terbukti bahwa pengawasan kontinu hampir tak berbeda dengan pengawasan itermiten. Kelainan jantung. namun pada kondisi kronik maka penolong harus cermat. sementara dengan kardiotokograf gambaran deselerasi atau bradikardia dapat dianalisa lebih cermat. Pemeriksaan jantung secara elektronik Pemeriksaan jantung secara elektronik dimungkinkan dengan adanya perekaman dari impuls jantung yang kini digunakan yaitu Doppler. vasa previa. Postterm. Deselerasi variable.3 Gawat janin dapat terjadi : mendadak (akut) atau kronik Kejadian akut berkaitan dengan . misalnya dengan pemeriksaan tinggi fundus atau pengukuran biometri serta jumlah cairan amnion. Gawat janin kronik dapat terjadi pada Preeklampsia. Variabilitas yaitu lebar amplitudo dari denyut tertinggi sampai denyut terendah dari FDJJ. Ketidak pastian terjadi karena pola perubahan denyut terjadi karena proses fisiologik (akibat reaksi reseptor kimia atau tekanan). Deselerasi dini. Deselerasi yaitu penurunan dari FDJJ d. yaitu penurunan DJJ atau bradikardia sesaat pada waktu his b. Bradikardia berat terjadi bila denyut jantung kurang dari 100 dpm Secara intermiten dengan fetoskop dapatlah dihitung denyut jantung diluar his selama 1 menit. dan dianggap gawat bila terjadi bradikardia cukup lama (> 60 detik).Gejala Banyak sekali memang gambaran KTG yang menunjukkan gawat janin namun ternyata setelah lahir bayi tidak mengalami depresi berat. yaitu peningkatan temporer dari FDJJ c. yaitu rata rata denyut jantung b. 1999). frekuensi dasar jantung janin (FDJJ). Para akhli dapat sepakat pada 62% dari hasil KTG dengan gambaran baik namun hanya 25% sepakat pada gambaran yang tidak meyakinkan –non assuring. kelainan kromosom. Pertumbuhan janin terhambat.

Phelan dan Lewis. deselerasi berulang. Kompresi tali pusat Insufisiensi Plasenta PASOKAN OKSIGEN < Bradikardia Gerakan < Kompensasi Arus darah ke Otak > Dekompensasi Ensefalopati /Mati Gambar .5. 1981. untuk kemudian membuat pemeriksan khusus dalam membuktikan kebenaran analisa tersebut.atau dilakukan setelah ada his disebut sebagai stress test. Patut diwaspadai dalam interpretasi gambaran deselerasi variabel. dan pola sinusoidal. Bila pasokan oksigen dan nutrisi berkurang . hipertensi. Kelainan pasokan plasenta : solutio plasenta. plasenta previa. maka janin akan mengalami retardasi organ bahkan risiko asidosis dan kematian. Deselerasi lambat .6.TTT.Meis dkk. penyakit jantung. Saturasi oksigen ibu berkurang :hipoventilasi. Hal ini bila ditemukan dengan adanya akselerasi (artinya reaktif) . prolapsus tali pusat. karena dapat timbul akibat gerakan janin. 1986). postterm. Keduanya mempunyai kepentingan dalam deteksi adanya kegawatan. hendaknya kita dapat menganalisa kondisi janin dan ibu. Skema patofisiologi hipoksia dan asidosis janin . isufisiensi plasenta 2. Bermula dari upaya redistribusi aliran darah yang akan ditujukan pada organpenting seperti otak dan jantung dengqan mengorbankan visera (hepar dan ginjal) Hal ini tampak dari volume cairan amnion yang berkurang (oligohidramnion). hipoksia. Pemeriksaan dengan KTG dilakukan sebelum partus atau disebut NST (non stress test) –tes tanpa tekanan . 3. yang bila ditemukan dengan KTG dirumuskan sebagai : TIDAK MEYAKINKAN (non-assuring) yaitu : variabilitas menurun.7 Kini terbukti bahwa pemeriksaan KTG pada saat pasien masuk rumah sakit tak banyak manfaatnya pada pasien risiko rendah. kontraksi hipertonik.c. mungkin karena tekanan pada tali pusat. Kelainan arus darah plasenta : hipotensi ibu. Kondisi klinik yang berkaitan dengan hipoksia ialah : 1. 1978. Bradikardia yang terjadi merupakan mekanisme dari jantung dalam bereaksi dari baroreseptor akibat tekanan (misalnya hipertensi pada kompresi tali pusat) atau reaksi kemoreseptor akibat asidemia. pertumbuhan janin terhambat. tidaklah merupakan gejala serius (Timor Tritsch dkk . yaitu bradikardia akibat insufiensi plasenta. bradikardia. lilitan tali pusat. Patofisiologi Mengapa terjadi gawat janin.

Gerakan janin dapat dilihat dari gerakan badan (dirasakan subyektif atau dilihat dengan USG) atau gerakan nafas (dilihat dengan USG) .8 Penanganan Penanganan gawat janin atau pola KTG yang tak meyakinkan. Apabila iskemia menjadi parah maka akan timbul nekrosis dan tekanan intrakranial meninggi. ialah : a. Kondisi klinik akan dikenal sebagai Ensefalopati hipoksik iskemik (EHI). mengatasi hipotensi pada ibu c. memeriksa dalam untuk memeriksa kemungkinan prolaps tali pusat e. Juga pemeriksaan lain seperti : suhu. jumlah cairan amnion ( ukur dengan indeks cairan amnion) maka kita akan menduga adanya redistribusi darah sehingga visera dan ginjal mengalami kekurangan pasokan dan jumlah urin berkurang – cairan amnion berkurang-. necrotizing enterocilitis. ureum.Bila asfiksia berlangsung lanjut dan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan oksigenisasi organ vital menjadi gagal. Jadi dapat dipastikan bahwa hipoksia intrauterine mungkin berlanjut pada neonatus menjadi ensefalopati dan mungkin berupa quadriplegia spastik. akan terjadi ‘insufisiensi plasenta’. dan pemantauan cairan masuk/keluar. menyiapkan petugas kamar operasi untuk seksio g. Resusitasi harus dilakukan menurut standar. gula darah. biometri janin : hasil biometri yang menunjukkan pertumbuhan terhambat berarti pasokan nutrisi dan oksigen berkurang b. tubular necrosis. menghentikan takisistolik atau akibat infus oksitosin d. upaya yang dapat dilakukan ialah dengan pemeriksaan berikut : a. Disamping itu pemeriksaan gas darah serial dilakukan untuk kemungkinan koreksi asidosis. elektrolit. Bila terjadi EHI maka diagnosis kelainan otak harus dilakukan dengan CT scan atau ultrasonografi. misalnya pada kasus dengan preeklampsia.1996). kemudian melahirkan bayi dengan segera. pemberian oksigen pada ibu f. merubah posisi tidur ibu menjadi miring b. pada gilirannya bagian nekrosis akan menjadi daerah ulegyria (kerusakan pada white matter) atau timbul porensefali (kistik). Di bagian grey matter mungkin timbul parut yang dapat fikal atau difus (Marin-Padilla. Fungsi Dinamik Janin Plasenta Fungsi plasenta sering kali sukar ditentukan. Gerakan janin berkurang karena konservasi energi yang sangat terbatas. c. terjadi disfungsi berupa kegagalan paru. kreatinin. maka pada gilirannya otak akan terkena berupa edema otak dan iskemia multifokal. persiapan untuk resusitasi Tujuan penanganan ialah menghilangkan penyebab hipoksia. Pada daerah visera awalnya akan terjadi kekurangan darah .

Gerakan nafas merupakan petanda yang lebih sensitive (perhatikan gerakan diafragma atau perut janin dalam 10 menit). Gambaran silent ini diajukan oleh Hammacher dkk (1968)9: yaitu tidak adanya akselerasi dan variabilitas < 5 dpm. dkk (1986) adalah yang pertama menggunakan multimodal evaluasi terhadap : 5 parameter yaitu. namun pada kasus risiko tinggi akan memberi informasi penting. dan lebih parah bila lingkar kepala tak bertambah. gerakan nafas.1995). Rochard dkk (1976) menemukan kasus kasus yang non reaktif disertai gambaran yang ‘silent’.9 Janin reaktif bila ditemukan 2 kali akselerasi (> 15 dpm). Bila ditemukan skor > 6 maka risiko kecil sekali untuk kematian perinatal.11 Dari 245 janin seperti tersebut terjadi 28% kematian perinatal. Untuk membedakan apakah gambaran ‘silent’ adalah kondisi tidur sebaiknya kita berikan rangsangan akustik dengan getaran bunyi 100 dB. tonus janin dan volume cairan amnion (kualitatif). 1994). Dengan KTG dapat dipantau adanya lonjakan seperti paku pada tokogram.d. bahkan dapat sampai negatif. atau < 2 kali/4 jam) perlu dipertegas dengan USG atau KTG. Gerakan janin yang mulai berkurang (< 10/12 jam. atau sebaliknya. namun dengan nilai dibawah itu tes dilakukan berulang dan risiko sangat besar bila skor < 4. Pengukuran arus darah arteri umbilikal dengan Doppler USG yang mengukur adanya arus diastolic yang cukup.10. Velosimetri Doppler arteri umbikal Meskipun diketahui bahwa studi arus darah arteri umbilical pada kelompok risiko rendah tidak berguna. bahkan lebih dari 90% membutuhkan perawatan intensif neonatal (Karsdorp dkk.variabilitas < 6 dpm. Pengukuran arus darah kini dapat menduga lebih awal adanya insufisiensi plasenta. Bersama dengan deselerasi lambat. 1980). 1991. rekatifitas DJJ. Bila ditemukan variabilitas yang rendah (< 5 dpm) ini berarti ada hipoksia otak yang berat sehingga tak ada rangsang simpatik. semakin parah semakin kecil arus diastolic. Jumlah cairan amnion yang kurang dari indeks 5 cm. Setiap parameter diberi skor 2 bila baik dan 0 bila dianggap abnormal. janin dengan arus yang hilang atau terbalik (reversed end diastolic flow-REDV) mempunyai risiko kematian perinatal (Trudinger dkk. namun sebaiknya janin dibangunkan dengan akustik.Donner dkk. Janin yang mengalami pertumbuhan terhambat sudah dapat diduga bila lingkar abdomen tak bertambah . gerakan badan.12 . karena biasanya bila kita lahirkan janin tersebut mungkin sudah terjadi kelumpuhan otak ( Visser dkk. Arus darah yang hilang (absent of end diastolic flow) bahkan bisa negatif/berbalik merupakan tanda yang parah Manning. Gerakan akibat janin bangun yang disertai dengan akselerasi akan memberikan keyakinan hasil : reaktif. merupakan petanda yang serius. Beberapa laporan penelitian observasi telah mengungkapkan hubungan antara penurunan velositas diastolic arteri umbilical dengan peningkatan resistensi plasenta. ketiga gejala diatas disebut sebagai janin kardiotokografi terminal.dapat mengalami risiko kematian perinatal 40%.

Pemeriksaan KTG dilakukan saat janin dibangunkan (akustik 100 dB) sehingga dapt dilihat adanya akselerasi saat itu (table 1) Tabel 1. ICA < 5 merupakan gejala yang penting mengingat risiko asidosis dan ensefalopati hipoksis iskemik (Wibowo dan Samad. gerak nafas dan arus darah a. Amnion > = 10 cm < 10 cm Kurangi 2 nilai pada PJT dan Deselersai Total Bila didapatkan skor < 6 maka risiko untuk asidosis menjadi besar (RR= ) sedangkan hasil > 6 menunjukkan hasil relatif baik. 1999).Fungsi dinamik janin plasenta (FDJP) yaitu penilaian biofisik komprehensif menggunakan KTG.13 Kehamilan risikio tinggi FDJP Skor < 6 Terminasi Skor 6 Kehamilan < 35 mgg Observasi/ Ulangi tes > 35 minggu Analisa Patologi Terminasi Upaya non invasive berupa tes Fungsi Dinamik Janin Plasenta mampu untuk menilai kondisi janin dan plasenta .13 . USG dalam menilai kondisi kehamilan risiko tinggi. umbilical. Fungsi dinamik janin plasenta Skor 2 0 Reaktivitas DJJ >= 2 <2 Akselerasi – Stimulasi >= 2 <2 Rasio SDAU <3 >=3 Gerak Nafas – Stimulasi >= 2 episode < 2 episode Indeks C. dan untuk menghindari cacat pada syaraf (ensefalopati hipoksik) kita wajib melahirkan janin pada waktu optimal sekalipun masih preterm. Pemeriksaan ini hanya membutuhkan 20 menit atau kurang. karena pemeriksaan KTG hanya 10 menit setelah rangsang akustik dan pemeriksaan USG menilai : indeks cairan amnion.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->