P. 1
Perundangan Otonomi Daerah Bidang Pertambangan Umum

Perundangan Otonomi Daerah Bidang Pertambangan Umum

|Views: 13|Likes:
Published by david budi saputra

More info:

Published by: david budi saputra on Feb 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

PERUNDANGAN OTONOMI DAERAH BIDANG PERTAMBANGAN UMUM (Pra Undang-undang Minerba Nomor 04 tahun 2009

)

Indonesia memasuki era baru pemerintahan, dari Pemerintahan sentralistik (terpusat)
menjadi Pemerintahan desentralistik (daerah otonom) atau lebih memasyarakat disebut era otonomi daerah. Tonggak ini dimulai 1 (satu) tahun paska Repormasi pada tahun 1999 dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, dengan beberapa kali perubahan antara lain Undang-undang nomor 32 Tahun 2004. Secara garis besar perundangan terkait otonomi daerah dapat diurut menurut kronologis sebagai berikut : 1. Undang-undang nomor 22 tahun 1999, tentang otonomi daerah 2. Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000, tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom 3. Undang-undang nomor 32 tahun 2004, tentang pemerintahan daerah 4. Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 2001, tentang pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah.

Otonomi

daerah dijabarkan sebagai hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Undang-undang otonomi diantaranya mengatur pembagian kewenangan urusan pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Kegiatan pemanfaatan sumber daya alam tak terbarukan digolongkan atas kegiatan minyak dan
gas bumi, panas bumi serta kegiatan pertambangan umum (mineral & batubara). Kegiatan usaha pertambangan umum termasuk salah satu bidang urusan pemerintahan yang diotonomikan seperti yang termuat dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 25 tahun 2000 diatas dan dipertegas dalam PP nomor 75 tahun 2001, tentang perubahan kedua atas PP nomor 32 tahun 1969 tentang pelaksanaan undang-undang nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan.

Pembagian kewenangan atas pengelolaan kegiatan pertambangan umum disebutkan pada pasal
1 ayat 2 : 1. Bupati/Walikota apabila wilayah kuasa pertambangannya terletak dalam wilayah Kabupaten/Kota dan/atau di wilayah laut sampai 4 (empat) mil laut. 2. Gubernur apabila wilayah kuasa pertambangannya terletak dalam beberapa wilayah Kabupaten/Kota dan tidak dilakukan kerja sama antar Kabupaten/Kota maupun antara Kabupaten/Kota dengan Propinsi, dan/atau di wilayah laut yang terletak antara 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil laut.

3. lingkungan dan konservasi Pengelolaan informasi pertambangan Pengevaluasian dan pelaporan kegiatan Penyelenggaraan tugas pemerintah diatas menjadi pedoman bagi setiap tingkat pemerintah dalam melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan kewenangannya. tentang perubahan kedua atas PP nomor 32 tahun 1969 tentang pelaksanaan undang-undang nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuanketentuan pokok pertambangan. produksi. meliputi :       Pengaturan Pemrosesan perijinan Pembinaan usaha Pengawasan eksplorasi.E/31/DJB/2009. tentang pertambangan mineral dan batubara sebagai pengganti undang-undang nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan. 3. Penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum seperti yang diatur dalam Kepmen ESDM 1453. Demikian gambaran tentang kegiatan usaha bidang pertambangan umum di Indonesia pada era Otonomi Daerah Pra undang-undang nomor 04 tahun 2009.K/29/MEM/2000. tentang pedoman teknis penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. . Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000. keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Batubara dan Panas Bumi nomor 03. Peraturan Pemerintah nomor 75 tahun 2001.K/29/MEM/2000. tentang tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nomor 1453. tentang perijinan pertambangan mineral dan batubara sebelum terbitnya peraturan pemerintah sebagai pelaksanaan undang-undang nomor 04 tahun 2009. 2. Pada saat ini segala perijinan kegiatan usaha pertambangan umum telah dibekukan didasarkan pada surat edaran Direktur Jenderal Mineral. Menteri apabila wilayah kuasa pertambangannya terletak dalam beberapa wilayah propinsi dan tidak dilakukan kerjasama antara propinsi dan/atau di wilayah laut yang terletak di luar 12 (dua belas) mil laut. Urutan perundangan otonomi daerah secara kronologis dalam bidang kegiatan usaha pertambangan umum : 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->