P. 1
laporan kp

laporan kp

|Views: 304|Likes:
laporan
laporan

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Azis Nurrochma Wardana on Feb 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2014

pdf

text

original

Sections

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG PLN Sektor Tello adalah salah satu pusat pembangkit tenaga listrik yang ada di Sulawesi Selatan khususnya Makassar yang didirikan pada tahun 1914 dengan penggunaan mesin yang masih terbatas. Pada tahun 1925 didirikan pusat listrik tenaga uap (PLTU) guna memenuhi kebutuhan listrik yang dipusatkan di Sungguminasa dengan kapasitas pembangkit 2 × 1000 KW diusahakan oleh NV NIGM. Kemudian pada tahun 1984 didirikan pusat listrik tenaga diesel yang terletak di jalan gunung latimojong yang diberi nama PLTD Bontoala. Selanjutnya PLTU yang didirikan oleh NV NIGM diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1957 yang diberi nama Perusahaan umum listrik negara (PLN) Makassar dan tahun 1961 dibentuk PLN eksploitasi VI yang dibawahi PLN cabang Makassar dan PLN cabang luar kota yang kemudian berubah menjadi perusahaan umum listrik negara wilayah VIII pada tahun 1973 dan sekarang berubah nama menjadi PLN Sektor Tello. Ditinjau dari penggerakmulanya pembangkit yang ada di Sektor Tello terdiri dari beberapa unit pembangkit masing-masing jenis pembangkit tersebut memiliki keuntungan dan kekurangan, dari segi penghematan bahan bakar maka PLTD menempati urutan pertama disusul dengan PLTU dan

1

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar PLTG sehingga pada saat ini PLTD merupakan pusat listrik yang paling efisien bagi unit pembangkit I Tello. Mencermati situasi perkembangan yang dilayani pembangkit listrik terus meningkat dan seimbang dengan penyediaan daya listrik, maka pemerintah membangun PLTA di bakaru Pinrang dengan kapasitas 2 × 63 MW. Dengan beroperasinya PLTA di bakaru diharapkan penyediaan daya listrik dapat segera dijangkau oleh jaringan PLN. Tegangan transmisi yang diterapkan pada sistem kelistrikan

Makassar adalah 30 KV, 70 KV, 150 KV. Double bus 70 KV ditransmisikan ke gardu induk Panakukang dan Borongloe dan interkoneksikan ke gardu induk Tonasa III melalui gardu induk Tonasa I, gardu induk Mandai, gardu induk Daya. Sedangkan Double bus 150 KV disuplai dari bakaru lewat gardu induk Pangkep kemudian diteruskan ke gardu induk Tello lama. Disamping pembangkit tenaga listrik, PLN unit pembangkit I Tello juga berfungsi sebagai gardu induk yang saling diinterkoneksikan dengan gardu induk lainnya yang berada di kota Makassar dan sekitarnya. B. TUJUAN KERJA PRAKTEK Adapun tujuan kerja praktek : 1. Mengetahui dasar kerja dari pembangkit tenaga diesel. 2. Mensejajarkan antara teori yang didapat diperkuliahan dengan

pelaksanaan dilapangan khususnya menyangkut mesin diesel. 3. Analisa prestasi pada mesin diesel. 2

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar C. TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK Tempat pelaksanaan kerja praktek pada PT. PLN (PERSERO) SULTANBATARA sebagai objek kegiatan kerja praktek pada Unit PLTD Tello. Waktu pelaksanaan kerja praktek dari tanggal 01 September – 01 Okober 2006. D. RUANG LINGKUP Adapun ruang lingkup yang perlu diketahui pada mesin pembangkit listrik tenaga diesel pada PLN Sektor Tello sebagai berikut: 1. Tinjauan umum mesin diesel. 2. Sistem pengoperasian. 3. Sistem perawatan mesin. 4. Dasar kerja mesin diesel E. METODE PENULISAN Penulisan ini dilakukan berdasarkan survei data yang telah diperoleh pada PT. PLN (PERSERO) SULTANBATARA sebagai objek kegiatan kerja praktek pada Unit PLTD Tello. Selain itu, diadakan juga diskusi dengan beberapa pegawai PLTD Tello. Disamping itu pula, penulisan berdasarkan pada studi literatur yang digunakan sebagai bahan kajian dan referensi dalam penyusunan laporan kerja praktek ini.

3

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

BAB II PUSAT LISTRIK TENAGA DIESEL TINJAUAN UMUM PLTD A. Klasifikasi Mesin. Pusat listrik tenaga diesel (PLTD) adalah merupakan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar solar (HSD) yang proses penyalaannya dengan sistem tekanan udara tinggi. Energi mekanis yang dihasilkan oleh mesin diesel ini selanjutnya dikopel langsung dengan generator mengubah energi mekanis menjadi energi listrik. Energi listrik inilah yang disalurkan kepada konsumen. Seperti diketahui bahwa mesin diesel 4 langkah mempunyai proses terjadinya usaha kerja dalam 4 langkah dimana keempat langkah memerlukan langkah piston yang berbeda. Dimulai dari langkah isap, langkah kompresi, langkah expansi (usaha) dan terakhir langkah buang. Siklus ini terjadi berkesinambungan dengan tidak mengubah urutan langkahnya. Untuk lebih jelasnya urutan keempat proses tersebut, maka dibawah ini dijelaskan gerakan torak yang terjadi dalam silinder. 1. Langkah isap Langkah isap adalah pengisian silinder dengan udara segar melalui katup isap dimana pada saat piston bergerak dari titik mati atas (TMA) menuju titik mati bawah yang ditarik oleh batang penggerak (Connecting rod) dimana 4

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar katup isap mulai terbuka pada awal langkah isap sampai piston mencapai titik mati bawah(TMB). Dalam hal ini udara seolah-olah melakukan kerja sebesar (tekanan konstan) W 0−1 = PO (V 1 -V 2 ) 2. Langkah kompresi Pada langkah ini kedua katup (isap dan buang) tertutup, dan piston bergerak ketitik mati atas sehingga udara termampatkan didalam silinder. Akibatnya, volume udara dalam silinder mengecil, disertai peningkatan temperatur dan tekanan (mencapai maksimum). Proses ini terjadi secara adiabatis, jadi ∆ S = 0 dan Q = 0, penyelesaian persamaan menggunakan hukum termodinamika I dan persamaan pendekatan gas mulia, sebagai berikut : Persamaan gas mulia ; PV = RT....................................................................(1) dimana : P = Tekanan gas (Pascal) V = Volume spesifik gas (m /kg) R = Konstante gas universal (0,287 KJ/KgK) T = Temperatur gas (K) Differensial persamaan menjadi : PdV + VdP = R dT .........................................................................................(2) Formulasi hukum termodinamika I : dQ = dU + δ W ..............................................................................................(3) 5
3 ∗

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Diketahui dQ = 0 dan dU = CvdT Maka, dU = - PdV ..........................................................................................(4) Subtitusi persamaan (4) ke (2) : Diketahui, R = Cp – Cv maka, PdV +Vdp = (Cp-Cv) dT  Cp  −1 Cv dT, Maka PdV + VdP =   Cv  Subsitusi menghasilkan : PdV + VdP = (k-1) (-PdV) ~ PdV (1 + (k-1)) + VdP = 0, dp dv (k ) + =0 p v maka, -k dp dv = diintegralkan p v *1 PV * Cp Cv

dan k =

Cp Cv

-k Ln V = Ln P ~ Ln V − k = Ln P Diperoleh : 1 =P → Vk PV
K

=C

Untuk penurunan variabel T dan V diperlihatkan dibawah ini : Substitusi persamaan (1) ke persamaan (4) : Diperoleh,  RT   dV Cv dT = -   V  * 6 1 T

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar dT =T R   dv V 

~ Cv

menjadi,

Cv

dT dv = - (Cv (k-1)) T v dT dv = (1-k) T v

Maka,

Dintegralkan menjadi, Ln T = (1-k) Ln V
(1− K ) Ln T = Ln V

maka diperoleh

T V
(1− K )

= C atau T V ( K −1) = C

Untuk proses 1-2 (langkah kompressi) terdapat ratio kompressi (rv) yang merupakan perbandingan volume spesifik gas pada keadaan 1 dengan keadaan 2, didefinisikan dengan : rv = V1 .........................................................................................................(5) V2

dengan demikian, T2 ( k −1) = (rv) T1 Dari persamaan diatas terlihat bahwa tekanan dan temperatur fluida bertambah besar sesuai dengan kenaikan perbandingan kompressi. 3. Proses pemasukan kalor pada tekanan konstan. Setelah torak mencapai titik mati atas terjadi proses injeksi bahan bakar selang singkat sehingga temperatur campuran mencapai maksimum. Terjadi

7

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar kenaikan volume pada kondisi ini. Keadaan temperatur yang tinggi ini menyebabkan campuran terbakar dengan cepat. Keadaan ini ditunjukkan dengan persamaan melalui hukum termodinamika I : dQ = dU + δW dQ = CvdT + PdV diintegralkan menghasilkan : Q = Cv (T3-T2) + P (V3-V2)

Perubahan entalpi system dirumuskan berdasarkan hukum termodinamika I : H = U + PV maka diperoleh Q = (U3+PV3) – (U2+PV2) = H3 – H2 = Cp (T3-T2) -------qm = Q = Cp (T3-T2) 4. Langkah ekspansi atau langkah kerja Langkah ekspansi terjadi pada saat kedua katup masih tertutup dan piston bergerak dari titik tertentu setelah titik mati atas ke titik mati bawah oleh desakan gas hasil pembakaran setelah proses pembakaran dilakukan melalui batang engkol akan meneruskan daya ke poros engkol sehingga poros engkol berputar. Pada keadaan ini pula volume gas hasil pembakaran bertambah besar sehingga tekanan dan temperatur gas menurun. Proses ini terjadi pada keadaan adiabatik, dengan demikian persamaan yang digunakan adalah pada proses 2 diatas, yaitu pada langkah kompressi dan persamaan (3) diulas kembali : TV ( K −1) = C

8

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar sedangkan persamaan (3) : dQ = dU + δW dQ = 0. maka, pdV = -Cv (T4-T3) = Cv (T3-T4) 5. Proses pengeluaran kalor Proses ini terjadi apabila katup buang mulai terbuka, sampai keadaan piston mendorong gas hasil pembakaran keluar dari system. Perhitungan persamaan ini dibatasi pada keadaan akhir yaitu hingga tekanan dalam ruang pembakaran kurang lebih sama dengan tekanan atmosfer (pada volume spesifik konstan). Menggunakan persamaan (3) untuk menentukan jumlah kalor yang keluar dari system (tak berdaya guna) : dQ = dU + δW , dimana δW = 0 dan dQ = - qk (kalor keluar system). maka : dQ = - dU, diintegralkan menjadi qk = - Cv (T1-T4) atau qk = Cv (T4-T1) Efisiensi thermis siklus, Work.done η th = Qabsortion = qm − qk qm Cp (T3 − T2 ) − Cv (T4 − T1 ) Cp (T3 − T2 ) Cv (T4 − T1 ) Cv (T3 − T2 )

=

=1-

9

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Diagram siklus Motor diesel 4 langkah :

Proses pembangkitan energi pada motor diesel 4 tak sebagai berikut : Langkah Hisap o Katup hisap terbuka dan katup buang tertutup. o Piston bergerak dari titik mati atas (TMA) ke titik mati bawah (TMB). o Udara masuk ke dalam silinder melalui katup hisap (intake valve), tekanan udara masuk 1 bar dengan temperatur 15 – 30 0 C Langkah kompresi o Katup hisap dan katup buang tertutup pada saat piston mencapai TMB.

10

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar o Piston bergerak dari titik mati bawah (TMB) ke titik mati atas (TMA) pergerakan piston ke TMA mengakibatkan tekanan dan temperatur udara di dalam silinder naik karena terjadi kompresi. Dimana tekanan akhir kompresi mencapai 40 bar dan temperatur 550 0 C. Langkah usaha o Pada saat akhir langkah kompresi, bersamaan itu bahan bakar dikabutkan ke dalam silinder dengan menggunakan injektor. Sehingga tekanan dan temperatur makin tinggi di dalam silinder. Pencampuran antara bahan bakar dan udara menyebabkan terjadinya pembakaran, peristiwa ini disebut proses pembakaran. o Katup isap dan katup buang tertutup, kemudian piston akan bergerak dari TMA ke TMB karena adanya dorongan dari gas pembakaran.

Tekanan mencapai 80 bar dengan temperatur 1700 0 C. Langkah buang o Katup hisap tertutup dan katup buang terbuka. o Setelah mencapai TMB, piston akan bergerak kembali ke TMA untuk mengeluarkan gas pembakaran, peristiwa ini disebut langkah buang. Temperatur gas buang berkisar 350 – 400 0 C. Pergerakan translasi piston pada langkah usaha, menyebabkan poros engkol (Crank Shaft) juga berputar. Putaran poros engkol ini juga akan memutar poros generator, sehingga menghasilkan energi listrik. 11

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

B. Data spesifikasi mesin empat langkah Berikut ini adalah data spesifikasi yang terdapat pada PLTD unit pembangkit I Tello 1. MITSUBISHI A.              Mesin Type = Mitsubishi-Man 18 V52/55A = Mitsubishi heavy industries LTD japan = 17.610 =4 = 520 mm = 550 mm = master cyl =11,2 slave CYL = 11,5 = 128 kg/cm = 18 = HSD atau MFO
2

Pabrik pembuat Daya keluaran (PS) Siklus langkah Diameter silinder Panjang langkah Perb. kompressi Tekanan pembakaran Jumlah silinder Bahan bakar Putaran = 428 rpm

Metode injeksi BB Turbocharge

= injeksi tanpa udara = type tekanan statis

12

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar B.          Generator Pabrik pembuat Putaran = 428 rpm = 15.750 kVA = Meidensa electric MFG LTD

Daya keluaran Frekuensi = 50 Hz Tegangan = 6300 V Arus keluaran Phasa =3

= 1.443 A

Faktor daya Type =Jenis

= 0,8 (lagging) medan sendiri motor dengan pendingin

  C.      

Hubungan stator Kelas isolasi Exiter Pabrik pembuat Daya = 130 kVA

= bintang =F

= Meidensa electrik MFG LTD

Tegangan = 100 V Arus Putaran type = 682 A = 428 rpm = F-AA

13

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar    Faktor daya Frekuensi = 71,4 Hz Arus medan = 21,7 A = 90 %

2.

SW diesel A.          B.    Mesin Type = 9 TM = Stork Werkspoor Diesel BV Nederland = 12.400 kW =4 = 620 mm = 660 mm = 9 buah = HSD atau MFO

Pabrik pembuat Daya terpasang Siklus langkah Diameter silinder Panjang langkah Jumlah silinder Bahan bakar putaran = 428 rpm

Generator Pabrik pembuat Putaran = 428 rpm = 15.495 kVA = Cademesa (Spain)

Daya keluaran

14

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar      C.        Frekuensi = 50 Hz Tegangan = 6300 V Arus = 1.420 A = 0,8 (lagging)

Faktor daya Type Exiter Pabrik pembuat Daya = 90 kVA

= WA 242/87/14

= Cademesa (Spain)

Tegangan = 82 V Arus Putaran type = 638 A = 428 rpm = WE 6820 12/14 = 0,96 kVA

Faktor daya

C. Peralatan Tambahan (Alat Bantu) Pada Instalasi Mesin Diesel (PLTD) Injeksi bahan bakar Syarat injeksi bahan bakar : • • • • Penakaran yang teliti dari minyak bahan bakar. Pengaturan waktu yang layak dari injeksi bahan bakar. kecepatan yang sesuai dari injeksi bahan bakar. Pengabutan yang baik dari bahan bakar.

15

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar • Distribusi yang baik dari bahan bakar dalam ruang pembakaran.

Alat injeksi bahan bakar Fuel Injection Pump Fuel Injection Pump berfungsi untuk menginjeksikan bahan bakar dengan tekanan yang tinggi menuju ke injektor. Injektor Injektor berfungsi untuk mengabutkan bahan bakar ke ruang bakar, agar terjadi pengabutan yang sempurna, sehingga dapat berlangsung

pembakaran yang sempurna dalam waktu yang singkat. Pengatur bahan bakar (governor) Berfungsi untuk mengatur jumlah pemakaian bahan bakar, agar kecepatan putaran mesin tetap konstan dalam keadaan beban yang berubah-ubah. Kenyataannya, beban tidak dapat melampaui beban maksimum yang dapat dibawa oleh mesin. Aksi pengaturan tergantung pada dua faktor yaitu : (1) karakteristik prestasi mesin. (2) karakteristik beban yang digerakkan oleh mesin. Turbocharger Turbocharger merupakan jenis supercharger yang digerakkan dengan daya yang dihasilkan oleh mesin itu sendiri, yaitu dengan memanfaatkan

16

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar energi gas buang untuk menggerakkan turbin gas yang selanjutnya menggerakkan kompressor untuk menghisap udara yang lebih banyak. Turbocharger berfungsi untuk : a) Meredam kebisingan yang ditimbulkan oleh gas buang. b) Melindungi lingkungan terhadap gas buang dan asap yang terjadi. c) Mencegah / menghindari percikan api yang kadang-kadang timbul bersamaan dengan keluarnya gas buang. d) Memberikan energi kepada turbin gas buang pada turbocharger. e) Memanfaatkan panas gas buang untuk kepentingan pemanasan. Oil Cooler Oil Cooler berfungsi untuk menurunkan suhu oli di sirkulasi mesin, dalam proses pendingin oli, digunakan air sebagai pendingin dengan sistem aliran yang berlawanan. Lube oil priming pump Ini befungsi sebagai pelumas awal terhadap bagian-bagian mesin start atau putaran awal. Lube oil separator dan fuel separator Berfungsi untuk memisahkan kadar air atau partikel kotoran dari oli dan bahan bakar. Fuel booster pump Berfungsi untuk mendistribusikan bahan bakar dari tangki bahan bakar ke injection pump di setiap silinder. 17

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Coling tower Berfungsi untuk mendinginkan air sirkulasi pendingin dari oil cooler, heat exchanger dan air cooler.

Water Cooler Water Cooler berfungsi untuk mendinginkan air pendingin mesin dalam proses pencampuran air mesin, digunakan air sebagai pendingin

Circulation Water Pump Berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin mesin dengan proses aliran tertutup. Generator Berfungsi untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.

D. Sistem-sistem pada PLTD Pada sistem Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD), ada beberapa sistem yang perlu diperhatikan yaitu : a) Sistem Udara dan Gas buang b) Sistem Starter c) Sistem Pelumasan d) Sistem Air Pendingin 18

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar e) Sistem Bahan Bakar

a). Sistem Udara Dan Gas Buang Udara sangat diperlukan dalam proses pembakaran, dimana udara tersebut diambil langsung dari udara atmosfir. Sistem udara masuk ini berfungsi menyediakan udara bersih yang cukup untuk proses pembakaran bahan bakar didalam silinder. Pada PLTD Unit Pembangkitan I, baik Mitsubishi ataupun SWD, sistem udara masuknya menggunakan sistem TURBOCHARGER yang terdiri dari : a. Turbin. b. Blower / kompressor. c. Intercooler. Gambar berikut ini menunjukkan sistem alliran udara dan gas buang turbocharge

19

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

Gambar 2.5 Sistem Aliran Udara-Gas Buang Turbocharge

Sistem turbocharge memanfaatkan gas buang yang keluar dari silinder untuk memutar turbin yang dikopel langsung dengan poros blower / kompresor. Selanjutnya kompresor tersebut menghisap udara masuk ke silinder. Udara yang dihisap pada temperatur sekitar 30oC dengan tekanan 1 atm (1,033 Kg/cm2) dan akan keluar dari kompresor sekitar 120oC dengan tekanan 1,5 Kg/cm2. Dengan temperatur udara yang tinggi ini (120oC), maka udara tersebut perlu didinginkan, karena temperatur udara yang dibutuhkan dalam proses pembakaran ± 50oC. Udara tersebut didinginkan dengan menggunakan Intercooler sebelum masuk ke silinder. Sistem Intercooler pada PLTD Tello menggunakan air yang sudah melalui proses Chemical Water Treatment. Kemudian masuk ke Intercooler dan disirkulasikan dengan pompa, lalu masuk ke dalam radiator untuk didinginkan kembali. Temperatur air pendingin yang masuk ke Intercooler ± 70oC dan yang keluar ± 80oC. Kemudian udara dari Intercooler masuk ke intake manifold untuk diturunkan tekanannya dan kandungan air di dalam udara dipisahkan dengan cara diembunkan. Udara tersebut masuk ke ruang bakar untuk selanjutnya 20

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar dikompresi. Pada akhir langkah kompresi bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder sehingga terjadi proses pembakaran antara bahan bakar dan udara. Gas hasil pembakaran yang tidak dimanfaatkan menjadi kerja berguna namun masih memiliki energi tinggi (temperatur ± 350 ÷ 500oC dan tekanan ± 0,5 ÷ 2 Kg/Cm2) sebelum dibuang ke exhaust dimanfaatkan untuk memutar turbin pada sistem turbocahrger. Temperatur gas buang pada sisi keluaran turbin yang masih tinggi (300oC s/d 350oC), dimanfaatkan kembali untuk memanaskan air pada boiler menjadi uap untuk dipergunakan sebagai pemanas pada Fuel Oil Steam Heater dan Lub Oil Steam Heater. PLTD Mitsubishi menggunakan 2 turbocharger per unit, sedangkan pada SWD hanya 1 turbocharger per unit. Putaran turbocharger tersebut adalah 14.000 rpm.

b).

Sistem Starter Selain itu PLTD ini menggunakan sistem udara tekan yang berfungsi

untuk start awal. Sistem ini menggunakan sebuah botol angin / tangki udara, dimana udara diambil dari udara sekitar melalui sebuah kompresor. Udara dikompresi masuk kedalam tangki / botol angin. Pada botol angin tersebut dilengkapi valve dan manometer yang berfungsi untuk mengukur tekanan udara di dalam tangki. Pada saat akan start awal, valve / kran dari botol angin dibuka, sehingga udara yang bertekanan tersebut masuk pada sebuah starting valve yang akan terhubung secara otomatis pada saat valve / kran 21

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar botol angin dibuka, lalu masuk ke ruang bakar / silinder. Sebelum masuk ke starting valve, udara tersebut melewati sebuah reducer dan filter. Setelah mesin beroperasi secara normal, maka kran botol angin segera ditutup, karena suplay udara berikutnya menggunakan udara yang masuk dari intake manifold (diambil dari sistem turbocharger). Kalau mesin diesel distart, maka poros engkolnya harus diputar oleh alat dari luar sedemikian rupa sehingga udara didalam silinder ditekan pada TMA sampai suatu tekanan, yang apabila bahan bakar diinjeksikan akan menyala dan menghasilkan langkah daya. Terdapat dua persyaratan penting yang harus dipenuhi untuk menstart : • Kecepatan cukup. Kecepatan menstart tergantung pada jenis

dan ukuran mesin, keadaannya dan suhu udara sekeliling. Apabila kecepatan menstart tidak mencukupi maka akan menurunkan tekanan kompresi dan suhu pada akhir langkah dibawah yang diperlukan untuk menyalakan bahan bakar yang diinjeksikan. • Perbandingan kompresi tepat. Kalau perbandingan kompresi

tidak cukup tinggi maka suhu akhir dari pengisian udara tekan juga akan terlalu rendah untuk penyalaan. Penstater Udara Pada mesin diesel yang digunakan pada PLTD Tello baik itu jenis SWD maupun jenis MITSUBISHI, keduanya menggunakan metode penstater

22

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar udara dalam menjalankan awal mesin, salah satu alasan menggunakan penstater udara untuk mesin besar seperti ini adalah bahwa udara tekan mudah untuk diproduksi, mudah untuk disimpan dan sebagai gas berkelakuan selama ekspansi mirip dengan gas pembakaran dalam silinder. Penstater udara sangat sesuai untuk mesin diesel besar yang memerlukan penggunaan energi besar dalam waktui singkat. Penekanan udara ke dalam tangki dan penggunaan udara dari tangki dapat memberikan energi yang diperlukan sejumlah berapapun yang dikehendaki. Tekanan udara penstater pada suatu mesin diesel biasanya 150 sampai 300 psi, mesin injeksi udara mempunyai kompresor udara tekanan tinggi dan untuk memperkecil ukuran tangki udara, digunakan tekanan udara dari 500 sampai 700 psi. Volume tangki udara yang diperlukan untuk menstart mesin dapat

diambil sebesar 15 sampai 20 kali lipat perpindahan torak total untuk mesin kecil. Udara tekan yang digunakan untuk menstart dapat dikembalikan dalam jangka waktu yang relatif lama setelah mesin distart, oleh sebab itu kompresor udara bisa kecil dan tidak memerlukan banyak daya. Kompresor dapat digerakkan langsung dari mesin atau dari sumber daya terpisah, misalnya motor bakar kecil yang distart dengan tangan atau motor listrik. c). Sistem Bahan Bakar Bahan bakar yang digunakan pada siste PLTD Unit Pembangkit I (SWD dan Mitsubishi) adalah bahan bakar MFO dan HSD. Namun untuk 23

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar menjamin faktor kehandalan peralatan dan pemeliharaan, maka untuk sementara baik Mitsubishi maupun SWD menggunakan HSD sebagai bahan bakar. sistem penyaluran bahan bakar MFO dan HSD menggunakan sistem penyaluran yang sama sebelum masuk kedalam engine. Perbedaannya yaitu pada sistem MFO, bahan bakar dari tangki bulanan, terlebih dahulu melewati setting tank sebelum masuk ke tangki harian (service tank).

Aliran Bahan Bakar Marine Fuel Oil (MFO) MFO dari tangki bulanan dialirkan dengan menggunakan transfer pump ke tangki pengendap. Dimana pada setting tank ini, terdapat level control yang berfungsi untuk mengatur pembukaan katup solenoid dan pompa transfer bahan bakar MFO. Namun sebelum masuk ke transfer pump, MFO tersebut disaring terlebih dahulu. Jika bahan bakar telah masuk setting tank, maka level control akan bekerja, dimana mengontrol isi tangki (90 % dari kapasitas total tangki). Kemudian katup solenoid akan tertutup dan kerja pompa transfer akan berhenti. Setelah itu, MFO akan dibersihkan di dalam purifier. Namun untuk memudahkan proses penjernihan di purifier, maka bahan bakar tersebut dilewatkan pada suatu saringan awal (Strainer), lalu dipanaskan pada suatu Steam Heater (uap diambil dari boiler gas buang) dan Electric Heater hingga mencapai suhu ± 80oC dengan tekanan masuk ke purifier 2 – 3 bar. 24

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Jika aliran bahan bakar telah mencapai suhu yang diinginkan, maka setelah melewati Steam Heater, bahan bakar tersebut tidak dipanaskan lagi pada Electiric Heater. Tetapi jika suhu belum mencapai suhu tersebut, maka bahan bakar MFO dipanaskan lagi oleh Electric Heater. Setelah melewati heater, bahan bakar masuk ke purifier yang di dalamnya terdapat piringan-piringan (disc) yang berputar dengan kecepatan putaran tinggi (sekitar 5500 rpm). Karena tingginya putaran purifier ini menghasilkan gaya sentrifugal, sehingga elemen yang berat akan terlempar lebih jauh dan selanjutnya akan terpisah dengan yang lainnya. Bagian yang berat akan terkumpul di bawah (yang berupa kotoran), sedangkan bagian atas merupakan cairan bahan bakar yang akan dialirkan ke service tank. Purifier ini merupakan alat yang berfungsi memisahkan cairan bahan bakar dengan zat yang lain dengan gaya sentrifugal berdasarkan perbedaan berat jenis cairan yang dipisahkan (berat jenis MFO = 0,945 Kg/It). Setelah bahan bakar diyakinkan bersih, maka bahan bakar tersebut dialirkan ke service tank. Dimana dalam service tank ini, temperatur bahan bakar diharapkan tidak kurang 60oC. Service tank ini juga mempunyai level indicator untuk mengetahui tinggi rendahnya cairan serta memberikan signal maksimum dan minimum level. Selanjutnya MFO menuju Fuel Oil Mixing Tank sebelum masuk ke engine. Sebelum masuk ke Mixing tank, bahan bakar melewati flowmeter (untuk mengukur dan mengamati jumlah aliran bahan bakar) dan Change Over Valve (sebagai katup pemisah aliran antara 25

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar HSD dengan MFO), lalu melewati kembali steam heater dan electric heater hingga mencapai temperatur ± 90oC. Setelah melewati oil mixing tank, bahan bakar tersebut dialirkan melewati Strainer (saringan terakhir) sebelum masuk keruang bakar. Aliran Bahan Bakar High Speed Diesel (HSD) Aliran bahan bakar HSD hampir sama dengan MFO, tetapi sistem aliran bahan bakar MFO harus melewati setting tank dan disaring melalui purifier. Hali ini disebabkan karena MFO cenderung lebih mudah

terkontaminasi dengan unsur-unsur lain seperti tanah, air, timbal (Ti), sulfur (S). Sedangkan HSD cenderung lebih cepat terdeteksi, jika bercampur dengan zat lain. HSD mengalir dari tangki bulanan bulanan menuju tangki harian (service tank), kemudian menuju Change Over Valve melewati Flowmeter. Setelah melewati Flowmeter ini, HSD dipompa ke Fuel Oil Mixing Tank, disalurkan melalui strainer menuju ke mesin. Bahan bakar MFO dan HSD dimasukkan ke mesin dengan menggunakan Fuel Injection Pump dan Injektor. Bahan bakar dipompakan menggunakan Injection Pump dengan tekanan tinggi ke injector, kemudian dikabutkan oleh injector ke silinder sesuai dengan urutan waktunya penyalaan / pembakaran (firing order) masing-masing sillinder. Agar diperoleh pendistribusian daya yang seimbang pada sepanjang bentangan poros, maka penyalaan tidak diurut 1 – 2 – 3 dst, namun dibuat 26

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar berselang-seling. Sedangkan pengaturan jumlah pemakaian bahan bakar diatur oleh Governor, agar putaran mesin tetap konstan, meskipun bebannya berubah-ubah.

Gambar berikut ini menunjukkan sistem aliran bahan bakar pada PLTD Mitsubishi. Gambar 2.6 Sistem Aliran Bahan Bakar Pada PLTD Mitsubishi.

d). Sistem pelumasan

27

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Agar mesin Diesel dapat beroperasi dengan baik, aman, ekonomis dan optimal, maka harus ditunjang dengan sistem pelumasan yang baik . Pelumasan ini berfungsi sebagai pelicin, pendingin, perapat, pembersih, pencegah korosi dan peredam kejut. Adapun syarat pelumasan adalah : a) b) c) d) e) f) Tertutup Bertekanan Dapat disirkulasikan Dapat menjangkau keseluruhan bagian Dapat dibersihkan Dapat didinginkan

Sistem pelumasan pada mesin diesel merupakan hal yang sangat penting karena pada sistem ini, terdapat bagian-bagian yang bergerak translasi ataupun rotasi yang menyebabkan terjadinya gesekan. Sistem pelumasan PLTD Unit Pembangkit I (Mitsubishi dan SWD) pada prinsipnya sama. Tetapi sistem pendingin lub oil Mitsubishi,

menggunakan sistem Oil Cooler, sedangkan pada SWD Diesel didinginkan di dalam udara. Berdasarkan Diagram Lub Oil Steam, pada saat mesin dijalankan maka lub oil sump tank menuju ke mesin dengan melewati lub oil cooler, pelumasan bergerak ke bagian bawah silinder (Karter), kemudian ke lub oil sump tank untuk disirkulasikan kembali, setelah mesin beroperasi sekitar 28

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 90% maka tugas lub oil priming pump digantikan dengan gear lub oil pump. untuk menjaga kualitas lub oil, maka lub oil tersebut disaring pada glacier centrifugal lub oil filter juga dihisap dan dipompa oleh purifier melewati

heater (steam heater dan elektrik heater) lalu masuk ke purifier, clean oil yang dihasilkan masuk kembali kedalam lub oil sump tank. Temperatur lub oil masuk 50 – 63oC, sedangkan temperatur keluar 70 – 90oC dengan tekanan 5 – 8 bar. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemilihan minyak pelumas, antara lain : a) Viscositas (kekentalan), sebagai tahanan fluida untuk mengalir. Makin tinggi viscositas makin sulit untuk megalir (makin kental). b) Pour point (titik tuang), merupakan temperatur terendah dimana pelumas mesin dapat mengalir. c) Flash point (titik nyala), merupakan temperatur minimum pelumas yang dapat menguap pada tekanan atmosfer sehingga dapat menyala bila diletakkan pada api. d) Fire ponit (titik bakar), temperatur minimum dimana uap pelumas cukup banyak dan dapat terbakar. Biasanya fire point pelumas di atas 30oC Flash ponit. e) Demulsibility, sifat kemudahan untuk terpisah dari air. Bagian-bagian terpenting untuk dilumasi antara lain Main Bearing, piston, Crank Shaft, Cam shaft, Rocker Arm dan bagian-bagian lainnya. 29

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Disamping untuk pelumasan mesin, sistem PLTD dilengkapi juga pelumasan untuk turbocharger, dimana prinsip kerjanya sama. Dari data pemeliharaan PLTD diperoleh untuk engine Mitsubishi menggunakan jenis pelumas Shell argina T40 yang diproduksi oleh Shell. Sedangkan untuk SWD menggunakan Salyx, dengan sifat/karakter yang sama dengan argina T40, dimana pelaksanaan penambahan/pergantian berdasarkan kondisi pelumas itu sendiri (hasil pengamatan secara kimia) dan pemeriksaan kualitas pelumas dilakukan secara rutin setiap minggu. Untuk Turbochareger pada Mitsubishi menggunakan Shell argina T40 sedangkan SWD menggunakan Shell turbo T68 dimana penambahan/pergantian setelah sekitar 1000 jam.

30

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

Gambar 2.7 Sistem Pelumasan Pada PLTD Mitsubishi e). Sistem Air Pendingin Pendingin berfungsi untuk menyerap panas supaya temperatur bagian-bagian mesin tertentu tetap stabil sesuai dengan batasan-batasan yang dizinkan. Sistem air pendingin pada PLTD Unit Pembangkitan I, menggunakan air yang disuplai dari PDAM, kemudian masuk ke Chemical Water Tank (setelah mendapat perlakuan/treatment secara kimiawi), sehingga air disalurkan ke engine dalam keadaan bersih dan memenuhi syarat untuk digunakan pada sistem pendinginan ini. Air tersebut menuju ke Priming Cooling Water Expansi Tank untuk dialirkan ke engine melalui pipa saluran Jacket Water Cooler. Di dalam Jacket Water Cooler ini, air pendingin didinginkan oleh air yang diambil dari 31

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar secondary cooling water system. Air di dalam secondary cooling water diambil dari sungai, kemudian masuk ke cooling tower. Setelah itu dipompa dengan menggunakan secondary cooling water pump melalui lub oil cooler, lalu masuk ke water cooler dan kembali ke cooling tower. Didalam water cooler, air dari secondary cooling water masuk melalui pipa-pipa kecil, sehingga antara air pendingin engine dengan air secondary cooling tidak bersentuhan langsung. Temperatur inlet jacket cooling Water 70 s/d 80oC dan temperatur outlet sekitar 85 s/d 95oC dengan tekanan 2,5 – 3,5 bar. Karena air yang masuk ke engine tidak akan sama dengan jumlah air yang keluar (karena adanya penguapan) dan untuk memberikan air pendingin mesin secara kontinu, maka sistem pendinginan dilengkapi primary cooling water expansi tank.

32

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

Gambar 2.8 Sistem Pendinginan E. Standing Operation Procedure (SOP) I. 1. Persiapan Start Angin (air running) Buka kran bahan bakar dan kran mesin jika tidak dibuka pada saat

master kontrol dipanel generator diputar pada posisi stand by semua alat bantu start secara otomatis termasuk pompa bahan bakar sehingga akan terjadi luapan bahan bakar pada saringan utama bahan bakar masuk mesin. 2. 3. 4. Pompa minyak pelumas distart manual. Buka kran injektor cooling water heater. Buka kran indikator cylinder 1 sampai 9. 33

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 5. 6. 7. Putar handle rack bahan bakar posisi stop. Buka kran udara turning gear. Masukkan turning gear, putar turning gear minimum 2 putaran

kemudian dilepas lagi. 8. Buka kran dari botol angin. Tekanan udara start 25 sampai 30

kg/cm2. 9. Jalankan L.O purifier sesuai SOP.

10. Jalankan MFO purifier sesuai SOP bila mesin hendak dioperasikan menggunakan bahan bakar MFO. 11. Putar master kontrol di panel generator ke posisi stand by.

12. Ambil gambar ”STINT” (Start interlock) di panel generator baca apa saja yang belum normal segera atasi dan tunggu sampai normal. 13. Putar master control di panel generator ke posisi start. II. 1. Persiapan start Mesin Kembali posisi master control panel generator ke posisi stand by jika

sebelumnya start angin dari panel generator. 2. 3. 4. Tutup semua kran indikator. Putar handle rack bahan bakar ke posisi operasi. Periksa semua isi tangki-tangki air yang ada, jika kurang ditambah

atau dicek sistem otomatisnya.

34

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 5. Periksa semua tangki minyak pelumas (tangki pelumas mesin dan

CVS) jika kurang ditambah atau dicek sistem otomatisnya. 6. Periksa tangki bahan bakar, jika kurang cek sistem otomatisnya,

saklar pompa transfer bahan bakar pada posisi on dan switch auto manual dalam posisi auto. 7. Periksa air boiler, jika kurang airnya ditambah atau chek sistem

otomatisnya. 8. Periksa level oil turbocharger gelas penduga (T/C) jika kurang

ditambah. 9. Ambil gambar STINT di panel generator baca dan jika semua normal

mesin sudah dapat distart. 10. Mesin distart dengan cara :

a. - Selector switch di panel diesel posisi remote. - Putar master control di panel control generator ke posisi start. - Mesin start, putaran mesin antara 180 – 220 rpm. b. - Selector switch di panel control diesel posisi lokal. - Tekan tombol start engine di panel kontrol diesel. - Mesin start, putaran mesin antara 180 – 220 rpm. c. - Emergency start ditekan, mesin start.

35

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Sangat dianjurkan untuk tidak menggunakan emergency start, karena jika lupa/tidak melepas turning gear maka turning gear akan ikut berputar. III. 1. 2. Masa pemanasan dan pengamatan Masa pemanasan antara 5 – 10 menit. Pemeriksaan kondisi mesin mengenai bunyi ketukan, kelainan suara

dan lain-lain. 3. Pemeriksaan ulang terhadap alat-alat bantu mengenai kemacetan,

bekerja kurang normal, 4. Pemeriksaan terhadap alat-alat ukur mengenai penyimpangan

pengukuran dan lain-lain. 5. IV. 1. ± Nominal 428 rpm (full speed). Persiapan dan proses synchron secara auto Naikkan putaran mesin melalui switch governor, dengan memutar ke

posisi ”raise” sampai putaran nominal 428 rpm (full speed) 2. Masukan saklar exitasi, putar sampai ke tanda sesaat akan

terdengar kontraktor exitasi masuk. Tegangan akan menunjuk 6,3 KV. 3. Masukkan anak kunci synchronuscope dan putar ke kiri, putar

syncronizing switch ke posisi T (test). Test lampu synchronouscope lihat apakah sistem syncron sudah tepat saatnya.,

36

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 4. Putar synchronizing switch ke posisi auto/I, segera susul putar swicth

circuit breaker ke posisi ON. 5. Lihat kondisi synchroscope bila generator sudah paralel segera

bebani ± 25 % dan atur cos θ . Off kembali synchronudcope dan selanjutnya naikkan secara bertahap dan atur cos θ .

V. 1.

Synchron Generator Secara Manual. Naikkan putaran mesin sampai putaran nominal 428 rpm melalui

switch raise governor dipanel generator. 2. Setelah exitasi generator masuk dan tegangan naik diatas 5,5 KV

buat AVR / MVR balancing meter posisi ”0” (nol) volt, dengan cara menaikkan atau menurunkan tegangan lewat ”Voltage adjustment” (auto). 3. Bila posisi AVR / MVR balancing, meter telah mencapai posisi 0 (nol)

volt, pindahkan AVR selector switch keposisi manual. 4. Atur tegangan generator secara manual lewat voltage adjustment

(man) sama dengan tegangan bubar system. 5. 6. Pindahkan ”Synchronizing” switch dari 0 ke posisi M (manual). Putar kunci manual syncronisasi searah jarum jam / kanan dan

tekan. Kemudian balas kekiri untuk mempertahankan lampu indicator manual syncronisasi tetap menyala.

37

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 7. Putar tombol / saklar ”Circuit breaker” ke posisi ”on” (ingat hanya

sebatas on saja), jangan sampai lebih tanda. 8. Setelah posisi meter-meter panel syncronizing menunjukkan : KV + pada posisi sama Slow - fast berputar lewat ”fast” dan tepat. H Z. Masukkan saklar ” Circuit Breaker” dengan menambah putaran ke kanan dari ON. 9. Setelah generator pararel berbeban 1-2 MW putar kembali

syncronizing switch keposisi 0 (dari M ke 0) dan putaran kembali kunci ke posisi semula sampai indicator lampu manual syncronisasi padam. 10. Lihat dan atur balancing meter AVR / MVR posisi tepat ”0” (sangat penting). 11. Segera pindahkan AVR selection ke posisi ”auto” Tegangan generator selanjutnya diatur seperti biasa lewat ”Voltage adjustment” (auto). 12. Setelah paralel tutup kembali kran injektor cooling water heater. VI. 1. Proses Melepas Beban dan Stop Mesin. Beban diturunkan bertahap = 0,5 MW, switch circuit breaker diputar

ke posisi off.

38

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 2. Beban nol. Lepas OCB / PMT generator dengan cara memutar

switch circuit breaker sampai tanda. 3. Melepas exitasi dengan cara memutar switch exitasi ke kiri sampai

tanda. 4. Turunkan putaran mesin sampai signal “high speed setting” padam

atau putaran ± 180 = 220 rpm dan proses pendinginan dengan putaran ini ± 10 menit. 5. 6. Master control switch diputar ke posisi “stop” mesin stop. Buka kran indicator silinder 1 sampai 9 selama proses pendinginan

atau lebih lama agar tidak terjadi pengembunan dalam ruang bakar yang dapat menyebabkan korosi. 7. 8. Alat bantu akan stop sesuai setting masing-masing. Setelah pompa bahan bakar harus ditutup agar tidak ada gravitasi,

karena tidak ada tekanan oli CVS untuk menahan seal pompa injeksi 9. Stop L.O dan MFO purifier sesuai SOP.

39

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

BAB III PEMELIHARAAN MESIN PADA PLTD

A. DEFENISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMELIHARAAN I. Defenisi pemeliharaan

Melakukan segala aktifitas terhadap PLTD, untuk mempertahankan unjuk kerja semula atau mengembalikan kepada kondisi semula secara optimal, agar aset fisik (PLTD) tersebut dapat memenuhi syarat fungsinya sesuai tujuan dan sasarannya. II. Tujuan Pemeliharaan Sebagaimana peralatan pada umumnya, maka peralatan yang beroperasi dalam sistem pembangkit listrik harus dipelihara secara rutin sesuai dengan buku petunjuk pemeliharaan pabrik. 40 Pemeliharaan PLTD

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar dilakukan untuk mempertahankan unjuk kerja yang optimal telah ditetapkan atau mengembalikan pada posisi semula agar PLTD dapat beroperasi dengan efisien, ekonomis dan handal. III. Sasaran pemeliharaan Sasaran pemeliharaan PLTD diarahkan untuk mencapai : a. b. Jam operasi lebih besar dari 6000 jam pertahun. Kapasitas mampu kontinue lebih besar dari 80% dari kapasitas

terpasang. c. Mempertahankan tingkat efsiensi pemakaian bahan bakar dan

pelumas sesuai spesifikasinya. d. e. Biaya pemeliharaan pada batas-batas yang ekonomis. Mempertahankan tingkat keamanan dan keselamatan kerja.

B. METODE PEMELIHARAAN Pemeliharaan unit pembangkit disusun berdasarkan tiga metode pemeliharaan yang terdiri dari :  Time base maintenance.  On condition base maintenance.  Break down maintenance. I. ”TIME BASE MAINTENANCE” Merupakan pemeliharaan yang ditentukan berdasarkan waktu , dapat berupa jam operasi atau hari kalender.

41

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Metode pemeliharaan tipe ini berdasarkan pada pengalaman operasi mesin sebelumnya, serta taksiran umur pakai / keausan komponen mesin, terutama bagian-bagian bergerak (moving parts) antara lain bearings, piston ring, gears dan lain sebagainya. Melalui program ini mesin diberhentikan setelah mencapai suatu jam tertentu. Selanjutnya dapat dilakukan pembongkaran sebagian atau keseluruhannya untuk melakukan inspeksi maupun penggantian suku cadang yang telah melebihi batas ukur yang diizinkan.

II. ”ON CONDITION BASE MAINTENANCE” Merupakan pemeliharaan yang ditentukan berdasarkan hasil pemantauan kondisi dinamakan on condition karena komponen tetap beroperasi pada kondisi dimana mereka memenuhi harapan standar prestasi. Predictive Maintenance termasuk dalam ”on condition Maintenance”. Jumlah pertanda yang diberikan oleh berbagai kegagalan potensial bervariasi dari mikro detik sampai puluhan tahun. Interval lebih lama berarti frekuensi inspeksi lebih rendah artinya lebih banyak waktu untuk mencegah kegagalan fungsi, sehingga usaha keras terus dilakukan untuk mengembangkan teknik-teknik on condition yang dapat memberikan lebih banyak lagi pertanda yang mungkin dari kegagalan fungsi yang besar. Kegiatan on condition merupakan cara yang sangat baik untuk

42

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar mengantisipasi kegagalan fungsi, tetapi kadang-kadang mahal ditinjau intensitas penggunaannya. Predictive maintenance adalah perawatan yang dilakukan untuk mencari tahu sedini mungkin apakah kegagalan potesial sedang terjadi dengan melakukan pemantauan secara berkala terhadap parameter-parameter prestasi mesin yang mencirikan kegagalan potensial tersebut sehingga upaya pencegahannya dapat di temukan mengingat penyebab

kegagalannya telah diketahui. Ciri kegagalan potensial dimaksud bisa bersifat dinamik (vibrasi defleksi), temperatur maupun elektrikal. Diagnosa predictive maintenance yang dilakukan dapat menetapkan kondisi kesehatan mesin yang sebenarnya, sehingga keputusan perawatan mengacu bukan kepada interval waktu yang tetap pada kondisi mesin. III. ”BREAKDOWN MAINTENANCE” (BM) Breakdown maintenance adalah perawatan yang dilakukan hanya apabila peralatannya gagal berfungsi, jadi bersifat menunggu sampai peralatan itu rusak. Perawatan yang ini masuk dalam kategori perawatan tak terencana. Beberapa penyebab timbulnya kerusakan antara lain : a. Kerusakan yang disebabkan oleh salah operasi dan atau salah pemeliharaan kemudian dilakukan ”perbaikan pada sistem” yaitu memperbaiki bagian yang rusak dengan mengganti baru yang sama.

43

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar b. Kerusakan yang disebabkan oleh salah desain dan kemudian dilakukan ”perbaikan sistem” yaitu memperbaiki yang rusak dengan mengganti baru barang / sistem yang telah dimodifikasi. Pemeliharaan cara ini dilakukan dengan mengoperasikan mesin terus sampai terjadinya gangguan / kerusakan atau sampai terjadinya tingkat operasi yang tidak efisien maupun sampai terjadi mutu produksi yang rendah sehingga terpaksa dilakukan tindakan shut down mesin. C. SEBAB-SEBAB DAN PENANGGULANGAN KERUSAKAN PADA PLTD Dalam berbagai jenis pengoperasian yang terdapat pada PLTD Unit pembangkit I Tello sering ditemui kendala-kendala yang terjadi pada saat mesin sedang atau setelah beroperasi dalam jangka waktu tertentu, adapun kendala yang dihadapi antara lain terdapat pada : 1. Turbocharge Mengingat turbocharge bekerja dengan memanfaatkan gas buang mesin dengan suhu tinggi 650oC dan bekerja pula pada putaran tinggi untuk itu diperlukan pemeriksaan dan pembersihan berkala yang kontinu terhadap kemungkinan terjadinya : korosi, erosi, penumpukan deposit yang berlebihan dan kemungkinan masuknya material asing kedalam turbocharge. Beberapa indikasi diperlukannya perawatan tersebut dapat dilihat dari beberapa kelainan antara lain : kenaikan suhu mesin, penurunan boost pressure polusi yang berlebihan pada exhaust gas, getaran yang cukup tinggi dan lain-lain. 44

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Pada umumnya bagian turbocharge yang perlu dilakukan

pemeriksaan yaitu : a. Penurunan diameter dari kompresi wheel yang dikarenakan

menyentuh dinding partition wall sehingga mengakibatkan penurunan udara bilas yang dihasilkan turbocharge. b. Turbine blade menyentuh nozzel ring dan shoroud ring yang

dikarenakan terjadinya unbalance karena penumpukan deposit yang berlebihan dari gas buang pada part tersebut. c. Penurunan diameter sealing strip yang berakibat kebocoran

pada gas buang kedalam intake manifold mesin. Pembersihan Kompresor Wheel. Pembersihan dapat dilakukan dengan jalan menyemprotkan air melalui saluran khusus yang dilengkapi dengan nozzel pada ujungnya. Sistem pembersihan semacam ini umunya telah terpasang pada setiap turbocharge. Semburan air dalam jumlah tertentu tersebut selanjutnya membilas kompressor yang sedang berputar. Pembersihan Sisi Turbin Selama pengoperasian turbine blade nozzel vanes menjadi kotor karena kontaminasi bahan bakar dan minyak pelumas (dalam jumlah yang kecil). Hal semacam ini akan lebih sering dijumpai pada mesin dengan beban yang tidak konstan, dimana putaran mesin naik-turun

45

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar sesuai beban pada mesin yang mempergunakan bahan bakar jenis Heavy Fuel Oil kecenderungan terjadinya kontaminasi lebih besar. Pada mesin empat langkah indikasi terjadinya kontaminasi dapat dilihat pada kenaikan kecepatan dan tekanan udara bilas. Hal tersebut dapat terlihat pada kondisi beban penuh, sehingga ketika turbin blade sangat kotor dapat menimbulkan ledakan kompressor. Dengan demikian pembersihan pada sisi turbin senantiasa

dilaksanakan pada iterval waktu tertentu dimana akan sangat ditentukan dari pembakaran. Metode pelaksanaan pembersihan dapat dilakukan dengan air yang disemprotkan melalui nozzel yang terpasang pada exhaust manifold. Untuk pembersihan cara ini harus dilakukan pada temperatur dan putaran mesin yang serendah mungkin. Namun untuk beberapa kasus tertentu dimana out put dan temperatur mesin tidak mungkin untuk diturunkan dan untuk medapatkan hasil pembersihan yang lebih sempurna dapat dilakukan dengan menyemprotkan bubuk pembersih. 2. Start mula Start mula berfungsi untuk start awal mesin. Kendala yang mungkin dihadapi dalam melakukan start awal kemungkinan disebabkan oleh : • angin start awal. Kurangnya angin yang terdapat pada tabung

46

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar • • Pipa saluran start awal tersumbat. Pilot start kotor. Dari kendala-kendala yang disebutkan di atas maka dapat dilakukan penaggulangan sebagai berikut :  Jalankan kompressor untuk mengisi tabung

angin start awal. Apabila kompressor tidak mampu mengisi tabung kemungkinan terjadi kerusakan pada komponen kompressor.  Pipa saluran terlebih dahulu dilepas

kemudian pipa direndam dalam solar disatu tempat untuk langkah pencucian lalu disemprotkan dengan udara bertekanan 2 bar.  Lepas pilot start lalu rendam dalam solar

disatu tempat kemudian disemprot dengan udara. Lubang klep beserta klep pada pilot start dibersihkan dengan jalan mengamplas dengan menggunakan amplas paling halus.  3. Injection pump Injection pump berfungsi sebagai alat bantu untuk memasukkan bahan kedalam ruang bakar, tanpa adanya injection pump maka bahan bakar tidak bisa disemprotkan kedalam ruang bakar. kendala yang mungkin dihadapi oleh injection pump adalah tidak berfungsinya injection pump yang disebabkan hal-hal sebagai berikut : 47 Pemeriksaan defleksi.

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar • terdapat pada injection pump. • pump dengan injector. • Patahnya pipa saluran bahan Longgarnya baut pengikat injection Tersumbatnya saluran yang

bakar yang disebabkan oleh getaran mesin yang terlalu besar beserta dengan usia pipa itu sendiri. Dan kendala-kendala yang disebutkan di atas maka dapat dilakukan penanggulangan sebagai berikut : 1. Pipa saluran telebih dahulu

dilepas dari injection pomp dan injector, kemudian pipa direndam dalam solar disatu tempat untuk langkah pencucian lalu disemprotkan dengan udara bertekanan 2 bar termasuk lubang pompa injector agar kotoran dan debu hilang lalu dipasang kembali. 2. saluran, bila longgar kencangkan. 3. Bila terjadi kerusakan yang Periksa baut pengikat pipa

tidak bisa diperbaiki lagi maka gantilah dengan spare part yang baru.

48

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

BAB IV PEMBAHASAN

A. ANALISA PERHITUNGAN KEMAMPUAN MESIN

49

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Perhitungan untuk beban 10 Mwatt pada SWD dengan data sebagai berikut dimana putaran mesin konstan : N = 428 rpm Z =9

Tdb = 35oC Twb = 32oC T4 = 435oC

LHVbb = 4210 kj/kg T1 L Rk = 48oC = 660 mm = 11

SF c = 0,269 ltr/kwh=0,226 kg/kwh D = 620 mm

Beban = 10 Mwatt

PSUP = 1,3 Bar = 130 KPa 1. Volume silinder (VL) VL =

πD 2 .L.Z 4.10 −6
3,14(620) 2 .660.9 4.10 − 6

VL VL

=

= 1792,42 Liter = 1,792 m3

2. BHP (Break Horse Power) BHP = 10.000 Kwatt ≈ 10 Mwatt

3. T (Torsi) T = BHP.9549,3 N

50

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 10000.9549,3 428

T

=

= 223114,49 N ≈ 223,114 KN. 4. Spesifik Fuel Combustion / Konsumsi bahan bakar (SFC) SFC FC = 0, 226 kg/Kwatt h = SFC . BHP = 0,266 . 10000 = 2260 kg/h 5. Tekanan Awal Kompresi (Pa) Pa = (0,9 ÷ 0,95) Psup = (0,95) 130 = 123,5 KPa 6. Massa jenis udara teoritis ( ρ teo )

ρ teo =

Psup R.Tsup 130 0,287.321

- R = 0,287 Kj/Kg.K

=

= 1,411 Kg/m3 7. Massa jenis udara aktual ( ρ akt )

ρ akt =

Pa R.Ta 123,5 0,287.321

- R = 0,287 Kj/Kg.K

=

= 1,341 Kg/m3 51

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 8. Laju aliran massa Teoritis ( M teo ) M teo = VL.i.N .ρ teo Z .60 1,792.9.428.1,411 2.60

=

= 81,165 Kg/s 9. Laju aliran massa actual ( M akt ) M akt = VL.i.N .ρ akt Z .60 1,792.9.428.1,341 2.60

=

= 77,139 Kg/s 10. Efisiensi Volumtris (η vol )

η vol = η vol =

M act M teo 77,139 . 100% 81,165

= 95,04 % 11. Perbandingan kompresi ( rk ) rk = 11

12. Temperatur pembakaran ( T3 ) T4 T3 = 1 rk
( k −1)

52

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar 435 1 1 = (1, 4−1) = T3 = 0, 4 T3 11 11 T3 = 1135,13oC = 1135oC

13. Volume ruang bakar ( VS ) rk = V L + VS VS VL VS +1

rk VL VS

=

= rk - 1 1792,42 10

VS =

= 179,242 Liter 14. Efisiensi termis (η th )

η th η th η th

=1-

1 rk
( k −1)

=1-

1 11
(1, 4 −1)

= 1 – 0,383 = 0,62 = 62 %

15. Efisiensi mekanis ()

η mek = e ( 4,75375−( 0,06917 ln . N ))

53

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar

η mek = e ( 4,75375−( 0,06917 ln .428))
= 76,29 % 16. Panas yang hilang akibat gesekan ( Q fr )  100  Q fr = BHP  −1 η   mek   100  Q fr = 10  −1  76,298  = 3,11 Mwatt. 17. Kalor total ( Qtot ) Qtot = Qtot = Fc.LHVbb 3600 2260.42010 3600

= 26.372,94 Kwatt. 18. Persentase BHP % BHP = BHP .100% Qtot 10.000 .100% 26.372,94

% BHP

=

= 37, 91 % 19. Persentase Q fr % Q fr = Q fr Qtot .100% 54

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar % Q fr 3,11 .100% 26,37204

=

= 11,79 %

B. PERHITUNGAN BIAYA OPERASI

55

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Pemakaian HSD x Harga HSD Total Kwh Produksi 53265 x Rp. 5.044 / ltr 215200

Untuk pemakaian bahan bakar HSD =

=

= Rp. 1248 / Kwh Untuk pemakai minyak pelumas = Pemakaian Oli x Harga Oli Total Kwh Produksi 1424 x Rp.11.990 / ltr 215200

=

= Rp. 79,33 / Kwh Untuk pemakaian Air = Pemakaian Air x Harga Air Total Kwh Produksi 30 x Rp.11.663 / m 3 215200

=

= Rp. 1,62 / Kwh Biaya Operasi : = Pemakaian BBM + Pemakaian Minyak Pelumas + Pemakaian Air = Rp. 1248 / Kwh + = Rp. 79,33 / Kwh + = Rp. 1,62 / Kwh = Rp. 1329 / Kwh Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi perjamnya ialah Rp. 1329

Perhitungan Biaya Operasi untuk perhari ialah : Rp.1.329 × Total Kwh Produksi

56

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Rp.1.329 × 215200 = Rp 286.000.800 Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi untuk perharinya ialah Rp. 286.000.800 Perhitungan Biaya Operasi Untuk perbulan : Rp. 286.000.800 × 30 hari = Rp. 8.580.024.000 Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi untuk perbulannya ialah Rp. 8.580.024.000

BAB V PENUTUP 57

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar A. KESIMPULAN Dari hasil perhitungan untuk beban (load) 10 Mwatt pada PLTD SWD dapat disimpulkan bahwa : 1. Konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) untuk menghasilkan

daya dalam setiap jamnya sebesar 0,226 kg/Kwatt h. 2. Kalor pembakaran (Q tot ) yang terjadi selama mesin beroperasi

sebesar 26.372,94 Kwatt. 3. Kalor yang dihasilkan unuk menggerakkan poros (BHP)

sebesar 10 MW. 4. 5. 6. Efisiensi volumetris yang terjadi sebesar 95,04% Efisiensi mekanis yang terjadi sebesar 76,298% Efisiensi thermis yang terjadi sebesar 62%

B. SARAN • Agar supaya bagian pemeliharaan membuat database

untuk kegiatan perbaikan mesin agar apabila suatu saat terjadi kerusakan yang sama,telah mudah untuk melakukan perbaikan,karena telah ada prosedur kerja yang dibuat. • Sebaiknya seluruh pegawai bagian

pemeliharaan,menggunakan pakaian kerja yang seragam,agar kelihatan

58

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar lebih rapi dan dapat dikenal oleh bagian atau unit yang lain,karena memiliki pakaian yang seragam. • Sebaiknya seluruh pegawai lebih memperhatikan

penggunaan alat pelindung diri,terutama untuk alat pelindung telinga,yang biasanya tidak digunakan oleh beberapa pegawai.Agar keselamatan kerja tetap diutamakan. • Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia tidak

sebanding dengan kapasitas trouble, sehingga pemeliharaan secara rutin sering kali diundur.

59

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar PERHITUNGAN BIAYA OPERASI

Untuk pemakaian bahan bakar HSD =

Pemakaian HSD x Harga HSD Total Kwh Produksi 53265 x Rp. 5.044 / ltr 215200

=

= Rp. 1248 / Kwh Untuk pemakai minyak pelumas = Pemakaian Oli x Harga Oli Total Kwh Produksi 1424 x Rp.11.990 / ltr 215200

=

= Rp. 79,33 / Kwh Untuk pemakaian Air = Pemakaian Air x Harga Air Total Kwh Produksi 30 x Rp.11.663 / m 3 215200

=

= Rp. 1,62 / Kwh Biaya Operasi : = Pemakaian BBM + Pemakaian Minyak Pelumas + Pemakaian Air = Rp. 1248 / Kwh + = Rp. 79,33 / Kwh + = Rp. 1,62 / Kwh = Rp. 1329 / Kwh Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi perjamnya ialah Rp. 1329

60

Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar Perhitungan Biaya Operasi untuk perhari ialah : Rp.1.329 × Total Kwh Produksi Rp.1.329 × 215200 = Rp 286.000.800 Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi untuk perharinya ialah Rp. 286.000.800 Perhitungan Biaya Operasi Untuk perbulan : Rp. 286.000.800 × 30 hari = Rp. 8.580.024.000 Jadi diperkirakan bahwa Biaya Operasi untuk perbulannya ialah Rp. 8.580.024.000

61

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->