HIKMAH THAHARAH

Thaharah atau kesucian merupakan perkara yang penting bahkan diletakkan sebagai landasan dalam
islam, seperti contohnya dalam praktik keseharian shalat , tentu harus melaui ritual wudlu. Allah swt
yang maha suci tentu saja oleh hambaNya yang taat didekati, diibadahi dengan cara-cara yang suci.
Sedangkan iman juga merupakan sesuatu yang suci dan thaharah merupakan bagian yang tidak
terlepaskan dari pada iman tersebut, dalam hadits yang mashur, Rasulullah Saw juga menyampaikan
bahwa “ kebersihan adalah sebagian dari pada iman”. Dan tidak hanya itu, Allah Swt mencintai
orang-orang yang bersih seperti tersebut dalam Qur’an
QS. Al Baqarah : 222
^ggg÷ ¬-¯@O)-_·C4÷©^¯- OUg47©4Ò
4×-)·O+-¯- OUg47© -.- Ep)³
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri
Di dalam kitab sunan Ibnu Majah dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw diperdengarkan oleh
Allah Swt suara yang bersumber dari dua arah kijing, dan suara tersebut berupa rintihan orang yang
tengah mengalami siksa alam kubur, sahabat Nabipun menanyakan apakah kiranya dua orang
tersebut telah melakukan dosa besar ketika hidupnya, Rasulullah Sawpun menjelaskan bahwa yang
satu disiksa karena berbuat adu domba, serta yang lainnya disiksa karena ketika buang air kecil tidak
melakukan istinja, sedemikian pentingnya beristinja sehingga terjadi kisah di atas dan sebenarnya
tidaklah sulit melakukan istinja, karena Islam telah memberikan kemudahan-kemudahan yang
bilamana tidak ditemukan air maka bisa menggunakan benda lain, seperti batu, daun ataupun tisu.
Jadi tidaklah ada alasan lagi untuk tida melakukan istinja.
Thaharah bertujuan untuk menghilangkan hadats atau najis yang merupakan satu syarat dalam
melakukan shalat. Najis atau yang membatalkan wudlu merupakan sesuatu yang keluar dari dua
lubang depan ataupun belakang (dubul, qubul). Dalam keseharian islam mewajibkan setidaknya lima
kali waktu shalat dan rata-rata setiap waktu shalat tersebut melakukan thaharah (wudlu), yang dari
ritual tersebut menjadikan area wudlu tubuh terjaga kebersihannya. Dalam satu penelitian
didapatkan manfaat yang cukup banyak dalam wudlu, misalnya dengan wudlu akan terjaga derajat
keasaman kulit di area wudlu yang memungkinkan tertekannya perkembangbiakan kuman penyakit.
Dengan melakukan wudlu yang benar maka akan memungkinkan titik-titik akupuntur yang ada di
area wudlu terstimulasi sehingga bisa mengaktifkan organ-organ dalam. Dengan menghirupkan air
ke dalam hidung ketika wudlu maka mikroorganisme merugikan di dalamnya akan ditekan
jumlahnya. Bahkan dengan melakukan thaharah (wudlu) mencegah terjadinya kanker kulit.
Terkait dengan thaharah, Rasulullah Saw bahkan hampir seakan-akan mewajibkan untuk bersiwak
atau menggosok gigi setiap kali akan melakukan shalat, tentu saja Rasulullah Saw bukanlah dokter
gigi, namun hikmah yang sekarang terbukti adalah kesehatan gigi dan mulut terkait erat dengan
upaya menjaga kebersihan area tersebut. Dan dengan bersiwak maka akan menekan bau mulut yang
tentunya akan mengganggu konsenterasi atau kekhusukan ketika shalat berjamaah maka intruspeksi
diri dari bau yang tidak sedap dan menjaga kebersihan adalah etika pribadi muslim yang mesti dijaga
kelestariannya.
Thaharah juga merupakan naluri manusia yang normal, apabila terjadi defisit kebersihan diri maka
merupakan indikasi masalah terhadap manusia tersebut baik karena masalah fisik maupun psikisnya.
Bila badan kotor, sebagai manusia normal akan merasa gerah dan akan segera membersihkan diri
dari kotoran yang melekat. Secara psikologis kebersihan diri yang baik akan membuat bahagia atau
ketenteraman, karena kondisi fisik yang bersih akan berpengaruh terhadap jiwanya. Badan yang
segar tentu akan berakibat kondisi kejiwaan menjadi lebih baik dan bersemangat. Itulah mengapa
thaharah menjadi hal yang penting, menjadi satu landasan dari muamalah pada kehidupan secara
keseluruhan serta kehidupan berumah tangga khususnya.
Hikmah beribadah dalam hal ini thaharah merupakan nilai-nilai yang bisa difahami dan manfaat yang
bisa dirasakan oleh orang yang melakukannya. Selain muamalah tersebut adalah kewajiban yang
harus dijalani dan ditentukan tata caranya dan tentu saja menjalankan dengan ikhlas untuk mencari
ridlo Allah Swt, ternyata ada hikmah yang akan diperoleh bagi pelakunya, jadi bisa ditarik satu
kesimpulan bahwa aturan-aturan Allah Swt seperti thaharah ini, sebetulnya adalah untuk
kemaslahatan manusia sebagai hamba-Nya. Demikian juga bahasan thaharah, akan banyak berkaitan
erat dengan keberlangsungan dari pada keluarga sakinah.
Diantara hikmah thaharah bagi keberlangsungan keluarga sakinah adalah
Budaya hidup bersih = budaya hidup Islami.
Sesuai dengan hadis yang telah disebutkan di atas bahwa kebersihan merupakan sebahagian dari
pada iman, bila dipahami dan dilaksanakan maka akan menjadi satu kebiasaan yang bisa
menciptakan satu budaya bersih yang tentu akan berpengaruh pada kesehatan. Seperti diketahui
bahwa kebersihan merupakan poin penting dari pencegahan timbulnya penyakit. Akirnya keluarga
yang terjaga kebersihannya akan terlindung dari datangnya penyakit.
Mencintai kebersihan itu bagian dari pada ketaatannya kepada kesucian Allah
Pada Al-Qur’an, surat Albaqarah 222 menjelaskan akan kecintaan Allah Swt terhadap hamba-Nya
yang bersih, apabila perilaku bersih sudah menjadi budaya maka akan mendatangkan kecintaan
Allah Swt kepada keluarga tersebut.
Keluarga yang hidup bersih penampilannya akan lebih percaya diri dalam pergaulan masyarakat.
Penampilan yang baik tidak identik dengan pakaian atau pendukung penampilan yang serba mahal,
namun dengan keserhanaan namun tidak meninggalkan aspek kebersihan tentu berpengaruh ketika
bergaul dengan masyarakat, bayangkan apa bila kebersihan tidak terjaga, akan membuat orang lain
yang melihat menjadi risih atau bahkan orang lain menjadi malas mendekat yang mungkin karena
maaf-maaf bau yang ditimbulkan.
Keluarga yang hidup bersih nampak lebih cerah, bahagia dan serasi.
Hikmah dari hidup bersih atau hygiene dari seseorang dan keluarga akan memancarkan kecerahan
dan keserasian. Bagaimana halnya apabila pasangan satu keluarga yang salah satunya tidak mau
menjaga kebersihan, tentu akan mengurangi keserasian satu sama lainnya.
Tidak kalah pentingnya dari kebersihan lahiriyah, kebersihan batiniyah juga menjadi hal yang penting
untuk diperhatikan. Kebersihan batiniyah adalah kebersihan dari kotoran batin berupa iri, dengki,
sombong, sum’ah, riya dan lain sebagainya. Tak jarang tanpa terasa dengki menghinggapi pikiran
tatkala orang lain atau tetangga mendapatkan kebahagiaan. Dengki yang bisa berawal dari rasa tidak
senang mana kala orang lain atau tetangga lebih baik dari diri pendengki. Pada stadium berikutnya
dengki bisa berubah pada rasa tidak suka atas kebahagiaan orang lain atau tetangga dan
kebahagiaan itu berharap hilang atau berpindah kepadanya, bahkan stadium yang lebih parah
adalah rasa benci yang berujung ubtuk menghabisi orang lain yang sedang mendapatkan
kebahagiaan, na’udzubillah. Maka perasaan dengki harus diwaspadai untuk segera dihalau bila
pekiran-pikiran tersebut datang menghampiri. Di mata pendengki semua hal adalah jelek tidak ada
yang baik. Rasulullah Saw mengingatkan bahwa dengki akan menghabiskan kebaikan seperti api
menghabiskan kayu bakar. “Jauhilah sifat hasad karena hasad itu akan memakan (pahala) kebaikan
sebagaimana api memakan kayu bakar.” HR. Abu dawud.
Dengan thaharah baik jasmani maupun rohaninya, menjadikan keluarga berjalan dalam naungan
ridlo Allah Swt. Keluarga berkewajiban untuk menjaga serta saling ingat untuk terus berjalan dalam
koridor Ilahiyah, Insyaallah sakinah mawadah wa rahmah terwujudlah adanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful