BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dilalui jalur khatulistiwa dan tentu beriklim tropis sehingga mempunyai ragam jenis flora dan fauna yang cukup banyak. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa negara Indonesia sumber daya alam yang melimpah, daratan yang terbentang hutan yang luas, serta laut yang terhampar lebar. Iklim tropis dan kesuburan tanah Indonesia berimplikasi kepada flora khas, yang hanya terdapat di Indonesia. Salah satu contohnya adalah jengkol, petai, kumis kucing serta tanaman lain yang endemik Indonesia. Jengkol termasuk tanaman endemik Indonesia yang banyak diolah menjadi bahan pangan yang terkenal dengan baunya yang menyengat. Dan banyak yang mengangap rendah kandungan jengkol karna tidak mengatahui kandungan zat aktif dalam jengkol, serta minimnya penelitian tentang kandungan zat aktif pada jengkol. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang maka perlunya mengetahui kandungan senyawa aktif, maka hal ini perlu untuk diteliti. 1.3 Hipotesis Jengkol banyak mengandung kandungan zat aktif karena mempunyai bau yang menyengat yang sama halnya dengan tanaman yang mempunyai bau khas berfungsi sebagai perlindungan diri dan atau penarik mangsa. 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum Kimia Bahan Alam, serta untuk melatih dan membudayakan penelitian sejak dini di lingkungan prodi kimia. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini untuk memberikan informasi kepada masyarakat umumnya , serta mencari kandungan yang bermanfaat sebagai obat suatu penyakit atau solusi dari suatu masalah yang ada.

Kimia Bahan Alam

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jengkol Jengkol merupakan tanaman khas Asia Tenggara yang umumnya bijinya diolah menjadi makanan. Tanaman jengkol termasuk tanaman endemik Indonesia dari berbagai tanaman endemik yang ada. Ciri khas yang jengkol adalah baunya yang cukup menyengat hidung sama halnya dengan buah durian. Di Indonesia setiap daerah mengenal jengkol dengan berbagai nama yang berbeda-beda, hal ini karena keragaman suku, serta budaya Indonesia. 2.1.1 Nama lain dan taksonomi jengkol Jengkol di beberapa daerah di Indonesia dikenal dengan nama jengkol (jawa dan betawi), kicaang, jengkol (sunda), blandingan (bali), jering, jiring (melayu), jaring (banjar), jaawi, jaring (lampung) dan lubi (sulawesi). Sedangkan dalam bahasa latin (nama ilmiah) tanaman ini dinamkan Archidendron pauciflorum. Adapun secara taksonomi diuraikan sebagai berikut: Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2.1.2 : Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Fabales : Fabaceae : Archidendron : Archidendron pauciflorum

Anatomi dan persebaran Tanaman jengkol berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 10-26

meter. Jengkol termasuk tanaman polong-polongan, buahnya berupa polong dan bentuknya gepeng berbelit, berwarna lembayung tua. Biji buah berkulit ari tipis dengan warna coklat mengkilat. Setelah tua bentuk buanhya menjadi cembung dan ditempat yang mengandung biji ukurannya membesar. Pada setiap polong dapat berisi 5-7 biji jengkol. Jengkol adalah tumbuhan khass wilayah Asia Tenggara yakni Indonesia, Malaysia, serta Thailand. Tumbuhan ini cocok di daerah khatulistiwa karena jengkol baik di daerah dengan musim kemarau yang sedang sampai keras. 2.1.3 Kegunaan dan manfaat Jengkol umumnya banyak digemari untuk digunakan sebagai bahan pangan di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Mentah maupun melalui proses
Kimia Bahan Alam

2

pengolahan jengkol dapat dimakan menjadi lalapan, semur jengkol, hingga dijadikan kripik. Jengkol memiliki khasiat mencegah diabetes dan baik untuk kesehatan jantung. Berdasarkan penelitian Soemitro (1987) senyawa akti dalam kulit halus buah cenderung menunjukkan efek penurunan kadar gula darah yang besar sehingga baik untuk penderita diabetes. 2.1.4 Kandungan zat aktif dan gizi Dari kandungan gizinya jengkol meruapakn tanaman yang tidak dapat dianggap rendah. Vitamin dapat sebagai sistem imun (kekebalan), fosfor dan kalsium berguna dalam pertumbuhan tulang, serta kandungan zat besi dapat mencegah penyakit animia. Adapun kandungan lainnya yang terdapat dalam jengkol seperti alkoloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanin dan saponin dalam jumlah yang tidak cukup besar serta asam jengkolat. Kandungan gizi biji jengkol dalam 100 gram biji jengkol Komposisi Gizi per 100 gram Biji Jengkol Zat Gizi Energi (kkal) Protein (gr) Karbohidrat (gr) Vitamin A (SI) Vitamin B (mg) Vitamin C (mg) Fosfor (mg) Kalsium (mg) Besi (mg) Air (mg)
Tabel 1

Kadar 133 23,3 20,7 240 0,7 80 166,7 140 4,7 49,5

2.2 Distilasi Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari dua macam atau lebih, yang berdasarkan perbedaan titik uapnya dan tekanan uap dari masing-masing zat tersebut (Guanther, 1987). Terdapat tiga jenis penyulingan air sederhana antara lain penyulingan air (water distillation), penyulingan dengan uap dan air (water and steam distillation) dan penyulingan dengan uap langsung (steam distillation). Proses distilasi banyak dignakan dalam bahan alam untuk mendapatkan kandungan minyak atsiri.

Kimia Bahan Alam

3

2.3 Ekstraksi Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu komponen yang diinginkan dalam suatu campuran, biasanya digunakan pelarut tetapi juga dapat dengan cara mekanis (pemerasan). Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan kelarutan yang berbeda dari komponen-koomponen yang terdapat di dalam campuran (Bernasconi, et.al, 1987). Menurut Lenny (2006), secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh bagian tumbuhan, seperti bunga, buah, daun, kulit batang, dan akar dapat menggunakan maserasi metanol. Beberapa metode ekstraksi senyawa organik bahan alam yang umum digunakan pada penelitian adalah sebagai berikut : 2.3.1 Maserasi Maserasi merupakan proses ekstraksi yang cukup terkenal, sebelum dikenalnya proses menggunakan pelarut yang bersifat volatil. Menurut Guenther (1987), maserasi adalah proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang digunakann pada temperatur ruang. Adapun proses maserasi senyawa bahan alam dapat dilihat pada gamba 2.3.2 Sokletasi Menurut Sudjadi (1986), sokletasi merupakan metode penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk sampel ditempatkan dalam selongsong berupa kertas saring sedemikian rupa, cairan pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam selongsong menyari zat aktif di dalam sampel dan jika pelarut telah mencapai permukaan sifon, maka seluruh cairan akan tturun kembali ke labu bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi. Proses ini akan berlangsung terus menerus secara otomatis sampai ekstraksi sempurna. Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di kertas selongsong tidak berwarna, tidak tampak noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. 2.3.3 Perkolasi Perkolasi merupakan melewatkan pelrut organik pada sampel sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama-sama pelarut. Pada prinsipnya, serbuk sampel ditempatkan dalam suatu bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Kemudian cairan pelarut dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut sehingga akan melarutkan zat aktif (Lestari, 2008)

Kimia Bahan Alam

4

ddan linalol(4) dalam minyak mawar (Rosa gallica) limonen (5) dalam minyak jeruk (Citrus aurantifolia).2.4 Minyak Atsiri Minyak atsiri bukanlah senyawa murni. Kandungan senyawa monoterpen dalam minyak atsiri diantaranya adalah geraniol(1) dan sistronelal(2) dalam minyak sereh (Andropogon nardus).hasil penyulingan terfraksi minyak atsiri. Terdapat tiga jenis penyulingan air yang sederhana antara lain penyulingan air (water distillation).terdiri dari senyawa-senyawa terpenoid yang mengandung 10atom karbon. OH CH2OH COH CH2OH 1 2 3 4 5 O OH Gambar 2 (struktur minyak atsiri) 6 7 Kimia Bahan Alam 5 . hidrogen .1987).nerol(3) dalam minyak neroli (Nerolia sp).1986) Fraksi yang paling mudah menguap .berdasarkan perbedaan titik uapnya dan tekanan uap dari masing-masing zat tersebut(Guenther.penyelidikan kimia menunjukkan bahwa sebagian besar komponen minyak atsiri adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan hidrogen.karvon (6) dalam minyak adas (Funculum vulgarae) dan minyak jintan (Cuminum cyminum ) dan mentol(7) dalam minyak kayu putih (Melalauca leucadendron) Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari dua macam atau lebih .dikenal sebagai kelompok monoterpen dan 15 atom karbon yang dikenal dengan kelompok senyawa seskuiterpen.penyulingan dengan uap dan air (water and steam distillation) dan penyulingan dengan uap langsung(steam distillation) .atau karbon. akan tetapi campuran senyawa organik yang kadangkala terdiri dari 25 senyawa atau komponen yang berlainan.dan oksigen yang tidak bersifat aromatik .senyawa ini secara umum disebut terpenoid( achmad.

Phyto adalah tumbuhan dan chemical adalah zat kimia.2.2.5 Uji Senyawa Bahan Alam 2. Jika e adalah sudut sinar pantul dan i adalah sudut sinar datang maka menurut hukum pembiasan Sin i = N Sin e n Dimana n adalah indeks bias media kurang padat dan N adalah indeks bias media lebih padat(Guenther. 2. saponin.696-1. vitamin. Uji Sifat Fisik Minyak Atsiri Indeks bias adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan sinus datang dengan sinus sudut bias yang emlewati suatu media (Hermanto.3 Kelarutan dalm etanol Kelarutan sampel dalam etanol absolut atau etanol yang diencerkan yang menimbulkan kekeruhan dan dinyatakan sebagai larut sebagian atau larut seluruhnya . Senyawa fitokimia tidak termasuk ke dalam zat gizi karena bukan karboohidrat.5. steroid. aroma atau warna pada tumbuhan itu.1987) 2.2.5. protein.1 Indeks bias Kimia Bahan Alam 6 .2.2004). terpenoid. kuinon.2. Jika cahaya melewati media kurang padat ke media lebih padat maka sinar akan membelokkan atau membias dari garis normal.000 jenis fitokimia yang ditemukan dan sekitar 10. fitokimia terdiri dari alkoloid.000 terkandung dalam makanan (Arnelia. Uji Fitokimia Fitokimia berasal dari kata phytochemical.188 pada suhu 15C.5.Nilai massa jenis minyak atsiri pada suhu 15oC/15oC didefinisikan sebagai perbandingan antara berat minyak pada suhu 15o C dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada suhu 15oC(Guenther. Dengan demikian fitokimia merupakan zat kimia alami yang terdapat di dalam tumbuhan dan dapat memberikan rasa. mineral maupun air.1.2 Massa jenis Nilai massa jenis minyak atsiri berkisar antara 0. flavonoid.Hal ini menunjukkan bahwa sampel tersebut membentuk larutan yang bening dan cerah.1987) 2.5.5. lemak.2006). Sehingga saat ini sudah sekitar 30. dan tanin. Secara garis besar. 2.

Vitamin C merupakan suatu senyawa asam L-askorbat dan memiliki fungsi yang beragam. Selain sebagai antioksidan.3. b) Antioksidan golongan amin Antioksidan yang mengandung gugus amino atau diamino yang terikat pada cincin benzena biasanya mempunyai potensi tinggi sebagai antioksidan. Senyawa golongan ini juga stabil terhadap panas serta Kimia Bahan Alam 7 . pengikat logam. Antioksidan berdasarkan gugus fungsinya dibagi atas tiga golongan yaitu golongan fenol. katekol. dan penangkap oksigen. resorsinol. dan melindungi tubuh dari kerusakan sel yang dapat menyebabkan penyakit kanker (Tuminah 2000). Vitamin E berfungsi untuk memproteksi sel-sel membrane dari proses oksidasi. memperlambat dan mencegah terjadinya reaksi oksidasi. Antioksidan pada umumnya mengandung struktur inti yang sama. Vitamin lainnya yang memiliki fungsi antioksidan adalah vitamin E. Mekanisme kerja antioksidan yaitu : a. gosipol. Winarno (1992) menyatakan antioksidan adalah senyawa yang dapat menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Uji Antioksidan Antioksidan adalah senyawa yang dapat menunda. ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil dibanding radikal bebas b. dan amino-fenol. Adapun penggolongan antioksidan tersebut menurut Ketaren (2008) sebagai berikut: a) Antioksidan golongan fenol Antioksidan yang termasuk dalam golongan ini biasanya mempunyai intensitas warna yang rendah atau kadang-kadang tidak berwarna.2. amin. vitamin C juga memiliki fungsi sebagai proantioksidan. dan eugenol. Memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai makanisme diluar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih stabil.5. Contoh antioksidan lainnya adalah vitamin C. namun beracun dan umumnya menghasilkan warna yang intensif jika dioksidasi atau bereaksi dengan ion logam. Beberapa contoh antioksidan yang termasuk golongan ini antara lain hidrokuinon. Pemberi atom hidrogen (antioksidan primer) senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke radikal lipida (R*. membantu memperlambat penuaan. pereduksi. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan memiliki sifat antioksidan yang cukup kuat. Antioksidan golongan fenol meliputi sebagian besar antioksidan yang dihasilkan oleh alam dan sejumlah kecil antioksidan sintetis. yaitu mengandung cincin benzena tidak jenuh disertai gugusan hidroksi atau gugusan amino (Ketaren 2008).

seperti melalui pengikatan ion-ion logam. tujuan antioksidan sekunder adalah mencegah terjadinya radikal yang paling berbahaya yaitu radikal hidroksil. Mekanisme antioksidan dalam menghambat oksidasi atau menghentikan reaksi berantai pada radikal bebas dari lemak yang teroksidasi.N difenil p-fenilenediamin. b) Pelepasan elektron dari antioksidan. difenilguanidin. Beberapa contoh antioksidan golongan ini adalah N. Penambahan antioksidan (AH) primer dengan konsentrasi rendah pada lipida dapat menghambat atau mencegah autooksidasi lemak dan minyak. Antioksidan yang mempunyai fungsi sebagai pemberi atau pelepas atom hidrogen sering disebut sebagai antioksidan primer.ekstraksi dengan kaustik. dan penguraian hidroperoksida menjadi produk-produk non radikal. Pada dasarnya. berdasarkan mekanisme kerjanya. Contoh antioksidan golongan ini yaitu N-butil-p-amino-fenol dan Nsikloheksil-p-amino-fenol. Jenis antioksidan sangat beragam. d) Pembentukan senyawa kompleks antara lemak dan cincin aromatik dari antioksidan. Antioksidan primer dapat bereaksi dengan radikal lipid dan mengubahnya menjadi bentuk yang lebih stabil. c) Antioksidan golongan amino-fenol Antioksidan golongan ini biasanya mengandung gugus fenolat dan amino yang merupakan gugus fungsional penyebab aktivitas antioksidan. Golongan ini banyak digunakan dalam industry petroleum untuk mencegah terbentuknya gum dalam gasolin. Adapun antioksidan sekunder adalah antioksidan pencegah yang berfungsi menurunkan kecepatan inisiasi dengan berbagai mekanisme. Penambahan tersebut dapat menghalangi reaksi oksidasi pada tahap inisiasi dan propagasi. dan difenil amin. antioksidan digolongkan menjadi antioksidan primer (chain breaking antioxidant) dan antioksidan sekunder (preventive antioxidant). Sebuah senyawa dapat disebut sebagai antioksidan primer apabila senyawa tersebut dapat mendonorkan atom hidrogennya dengan cepat ke radikal lipid dan radikal antioksidan yang dihasilkan lebih stabil dari radikal lipid atau dapat diubah menjadi produk lain yang lebih stabil. Menurut Gordon (1990). c) Adisi lemak ke dalam cincin aromatic pada antioksidan. difenilhidrazin. dapat disebabkan oleh empat macam mekanisme reaksi (Ketaren 2008) yaitu: a) Pelepasan hidrogen dari antioksidan. Rasikal-radikal antioksidan (A*) yang terbentuk pada reaksi tersebut relatif stabil dan tidak mempunyai cukup energi untuk dapat bereaksi dengan molekul lipida lain membentuk radikal lipid baru. Radikal-radikal antioksidan dapat saling bereaksi membentuk produk non radikal Kimia Bahan Alam 8 . penangkapan oksigen.

DPPH digunakan sebagai model radikal bebas. penghambatan kerja enzim. Jika senyawa ini masuk ke dalam tubuh manusia dan tak terkendali dapat menyebabkan kerusakan fungsi sel. Uji Antibakteri Antibakteri adalah zat yang menghambat pertumbuahan bakteri dan digunakan secara khusus untuk mengobati infeksi (Giani. 1995) Kimia Bahan Alam 9 . mekanisme kerja antibakteri dapat terjadi melalui lima cara. Perubahan serapan yang dihasilkan oleh antioksidan oleh reaksi ini menjadi ukuran kemampuan antioksidan dari bahan tersebut (Hatano et al. yaitu penghambatan sintesis dinding sel. Dalam uji ini.5. Simanjuntak et al (2000) mengemukakan bahwa DPPH adalah senyawa radikal yang bebas yang dapat bereaksi dengan atom hidrogen yang berasal dari suatu antioksidan membentuk DPPH tereduksi. perubahan molekul asam nukleat. 2. Pengujian aktivitas antibakteri adalah teknik untuk mengukur berapa besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi mikroorganisme (Dart.1988). Menurut Miller et al.(2000) metode DPPH merupakan salah satu metode untuk menganalisa aktifitas antioksidan yang sederhana dengan menggunakan 1.4. Menurut Suanti (2007).1-diphenyl-2pircylhidrazil (DPPH) sebagai senyawa pendeteksi.1-diphenyl-2-pircrylhydrazine. Reaksi penghambatan radikal bebas oleh antioksidan pada tahap inisisasi dan propagasi dapat dilihat dibawah ini : Inisiasi Propagasi R* AH A* : Radikal lipida : antioksidan : radikal antioksidan yang terbentuk : R* ditambah AH → RH : ROO* ditambah AH → ROOH ROO* : radikal peroksida ROOH : hiperoksida Aktivitas antioksidan dapatt diukur dengan metode DPPH. perubahan permeabilitas. ada zat yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri yang dikenal sebagai bakteriostatik dan yang bersifat membunuh bakteri yang dikenal sebagai bakterisida (Ganiswarna. Berdasarkan sifat toksisitas selektif. 1996). antioksidan dalam zat ini diekstrak akan beraksi dengan DPPH dan mengubahnya menjadi 1.antioksidan (Gordon 1990). dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein. Pada metode DPPH free radical scaverging activity. 2007). metanol digunakan sebagai pelarut.

2. Pada permukaan media pembenihan dibiakkan mikroba secara merata lalu diletakkan pencadang silinder harus benar-benar melekat pada media. 2005). c. langsung dilakukan dengan cara menyemprotkan plat TLC dengan suspensi bakteri atau dengan menyentuh plat Kimia Bahan Alam 10 . kemudian diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. yaitu: a. Kerjanya dengan mengamati daerah yang bening. 2008): 1. Bioautografi Bioautografi merupakan metode untuk mengevaluasi campuran antibakteri yang ebrupa bercak pada kromatogram hasil TLC. yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antibakteri pada permukaan media agar (Jawetz et al. Ada dua metode uji bioautografi yaitu: 1.Pengujian antibakteri dapat dilakukan dengan beberapa metode.. Bioautografi Langsung: Bioautografi TLC pada permukaan media agar. zat antibakteri yang akan diuji dicampurkan dengan medium yang kemudian diinokulasi dengan bakteri uji. Cara silinder plat Cara ini dengan memakai alat pecadang berupa silinder kawat. Metode Dilusi Pada metode ini. Dasar pengamatannya adalah dengan melihat ada atau tidaknya pertumbuahan bakteri. Metoda difusi ini dibagi atas beberapa cara (Pratiwi. Dasar pengamatannya adalah melihat ada tidaknya zona hambat yang terbentuk pada pertumbuhan bakteri uji. b. aktivitas antibakteri ditentukan dengan berdasarkan atas kemampuan berdifusi pada lempengan agar yang telah diinokulasi dengan bakteri. 2. Pada metode ini. dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi antibiotik yang akan di uji. Cara cup plat Cara ini juga sama dengan cara cakram. Cara cakram Cakram kertas yang berisi antibiotik diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Bioautografi Overlay: Bioautografi yang dilakukan dengan cara menuangkann media agar bakteri di atas permukaan plat TLC. Setelah inkubasi. 3. pencadang silinder diangkat dan diukur daerah hambat pertumbuhan bakteri. Metode Difusi Agar Metoda difusi agar adalah suatu prosedur yang bergantung pada difusi senyawa antibakteri ke dalam agar.

sedangkan dari pembenihan kaldu biasanya ditemukan tersendiri atau tersusun sebagai rantai pendek (Karsinah. Koloni pada pembenihan padat berbentuk bulat. Uji Toksisitas Toksisitas dari suatu senyawa secara umum dapat diartikan kepada potensi dari suatu senyawa kimia untuk dapat menyebabkan kerusakan ketika senyawa tersebut mengenai atau masuk kedalam tubuh manusia. aureus dan menyebabkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda khas. aureus dapat menyebabkan pneumonia. 1961).B. bila menggerombol dalam susunannya agak rata karena tertekan. yaitu peradangan dan pembentukan abses (Karsinah. Diameter kuman antara 0. tumbuh paling cepat pada suhu kamar 37oC.5.. 2001). Setiap jaringan atau alat tubuh dapat diinfeksi oleh bakteri S.4. Kimia Bahan Alam 11 . 1991). endokarditis dan infeksi kulit (Jawetz et al. dalam keadaan aerobik atau mikroaerobik. dan bersifat kronis jika senyawa tersebut dapat menimbulkan efek racun dalam jangka waktu yang panjang (karena kontak yang berulang-ulang walaupun dalam jumlah yang sedikit). paling baik membentuk pigmen pada suhu kamar (20oC) dan pada media dengan pH 7. aureus berbentuk sferis.8-1. meningitis. S. dkk. dkk. Suatu senyawa kimia dikatakan bersifat racun akut jika senyawa tersebut dapat menimbulkan efek racun dalam jangka waktu yang singkat.5.1994). S. halus menonjol dan berkilau-kilau membentuk pigmen (Jawetz et al.2-7. 2. Mikrobiologi Staphylococcus aureus Divisi Subdivision Ordo Familia Genus : Protophyta : Schizomycetea : Eubacteriales : Micrococceae : Staphylococcus Classes : Schizomycetes Spesies : Staphylococcus aureus (Salle.1994)..0 mikron.. Staphylococcus aureus mudah tumbuh pada kebanyakan pembenihan bakteriologik. Susunan gerombolan tidak teratur biasanya ditemukan pada sediaaan yang dibuat dari pembenihan padat. Pengetahuan mengenai toksisitas suatu bahan kimia disimpulkan dengan mempelajari efek-efek dari pemaparan bahan kimia terhadap hewan percobaan. pemaparan bahan kimia terhadap organism tingkat rendah seperti bakteri dan kultur sel-sel dari mamalia di laboratorium dan pemaparan bahan kimia terhadap manusia..

antioksidan total). karatenoid. Radikal bebas yang dihasilkan secara terus menerus selama proses metabolisme normal. Uji toksisitas dengan metode BSLT ini memiliki spectrum aktifitas farmakologi yang luas.Untuk skrining dan fraksionasi fisiologi aktif dari ekstrak tanaman dapat di lakukan uji standar toksisitas akut (jangka pendek).1-difenil-2-pikrilhidrazil). DPPH berperan sebagai radikal bebas yang diredam oleh antioksidan dari bahan uji. BSLT merupakan salah satu cara yang cepat dan murah untuk uji aktifitas farmakologi dari ekstrak tanaman dengan menggunakan hewan laut yaitu larva udang Artemia salina Leach. dianggap sebagai penyebab terjadinya kerusakan fungsi sel-sel tubuh yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya penyakit degeneratif. Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Uji ini mengamati mortalitas larva udang yang di sebabkan oleh senyawa uji. metode Tiosianat.1. prosedurnya sederhana. cepat dan tidak membutuhkan banyak reagen seperti halnya uji lain (xantin-xantin oksidase. Dengan alas an-alasan tersebut. oleh karena itu daya bunuh in vivo dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan untuk menapis ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan juga memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. maka uji ini sangat tepat digunakan dalam penelitian bahan alam. Peranan antioksidan sangat penting dalam meredam efek radikal bebas yang berkaitan erat dengan terjadinya penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi. fenol. Pengukuran antioksidan secara ‘Efek peredaman radikal bebas DPPH’ merupakan metode pengukuran antioksidan yang sederhana. cepat dan tidak membutuhkan biaya yang besar. jantung koroner. Hasil pengukuran menunjukkan kemampuan antioksidan sampel secara umum tidak berdasar jenis radikal yang dihambat. Disamping itu metode ini sering dikaitkan dengan metode penapiasan senyawa antikanker. Sebahagian besar antioksidan alami berasal dari tanaman. diabetes dan kanker yang didasari oleh proses biokimiawi dalam tubuh. Untuk mengetahui toksisitas ekstrak daun dalam penelitian ini digunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun sebagai antioksidan digunakan metode DPPH (-1. antara lain berupa senyawaan tokoferol. Suatu metode yang digunakan secara luas dalam penelitian bahan alam untuk maksud tersebut adalah adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Salah satu organisme yang sesuai untuk hewan uji adalah brine shrimp (udang laut). Senyawa yang aktif akan menghasilkan mortalitas yang tinggi. asam askorbat. Pada metode ini. dan flavonoid. dimana DPPH akan bereaksi dengan antioksidan tersebut membentuk 1. Reaksi radikal bebas secara umum dapat dihambat oleh antioksidan tertentu baik alami maupun sintetis.-difenil-2Kimia Bahan Alam 12 . serta hasilnya dapat di percaya.

akumulasi mati untuk konsentrasi 100 ppm = angka mati pada konsentrasi 10 ppm ditambah angka mati pada konsentrasi 100 ppm. Larutan dibiarkan selama 24 jam. disiapkan bejana untuk penetasan telur udang. Grafik dibuat dengan log konsentrasi Kimia Bahan Alam 13 . Uji Toksisitas dengan Metode BSLT. akumulasi mati untuk konsentrasi 200 ppm = angka mati pada konsentrasi 10 ppm ditambah angka mati pada konsentrasi 100 ppm ditambah angka mati pada konsentrasi 200 ppm. Di tambahkan larutan sampel yang akan diuji masing-masing sebanyak 100 μL. Penetasan Larva Udang. kemudian dihitung jumlah larva yang mati dan masih hidup dari tiap lubang.pikril hidrazin. sedangkan di ruang sebelahnya diberi air laut. Reaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan warna yang dapat diukur dengan spektrofotometer sinar tampak pada λ515 nm. Prosedur Uji Toksisitas dengan Metode BSLT. Angka mati dihitung dengan menjumlahkan larva yang mati dalam setiap konsentrasi. sehingga aktivitas peredaman radikal bebas oleh sampel dapat ditentukan. Diambil larva udang yang akan diuji dengan pipet. kemudian dimasukkan ke dalam wadah uji. Untuk kontrol dilakukan tanpa penambahan sampel. akumulasi hidup untuk konsentrasi 200 ppm = angka hidup pada konsentrasi 1000 ppm ditambah angka hidup pada konsentrasi 500 ppm ditambah angka hidup pada konsentrasi 200 ppm. Di satu ruang dalam bejana tersebut diletakkan lampu untuk menghangatkan suhu dalam penetasan. akumulasi hidup untuk konsentrasi 500 ppm = angka hidup pada konsentrasi 1000 ppm ditambah angka hidup pada konsentrasi 500 ppm. dan lampu dinyalakan selama 48 jam untuk menetaskan telur. Untuk setiap konsentrasi dilakukan 2 kali pengulangan (duplo). Sebanyak 100 μL air laut yang mengandung larva udang sebanyak 10-12 ekor dipipet. Metode Meyer et al. Kedalam air laut dimasukkan ditambah 50-100 mg telur udang untuk ditetaskan. Perhitungan akumulasi mati tiap konsentrasi dilakukan dengan cara berikut: akumulasi mati untuk konsentrasi 10 ppm = angka mati pada konsentrasi tersebut. Perhitungan akumulasi hidup tiap konsentrasi dilakukan dengan cara berikut: akumulasi hidup untuk konsentrasi 1000 ppm = angka hidup pada konsentrasi 1000 ppm. dengan konsentrasi 10. Akumulasi angka hidup dihitung sampai konsentrasi 10 ppm. 100. Selanjutnya dihitung mortalitas dengan cara: akumulasi mati dibagi jumlah akumulasi hidup dan mati (total) dikali 100%. Angka hidup dihitung dengan menjumlahkan larva yang hidup dalam setiap konsentrasi . Akumulasi angka mati dihitung sampai konsentrasi 1000 ppm. digunakan untuk mempelajari toksisitas sampel secara umum dengan menggunakan telur udang (Artemia salina Leach). Larutan diaduk sampai homogen. Pada bagian telur ditutup dengan aluminium foil. 200. 500 dan 1000 ppm.

Nilai LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan kematian 50% yang diperoleh dengan memakai persamaan regresi linier y = a ditambah bx. 2007). Nilai Rf diperoleh dari jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk pada plat atau lempengan. 2. dapat digunakan untuk memisahkan senyawasenyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. Pengukuran ini didasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh oleh bercak warna masing-masing. Pelarut untuk eluen disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. bahan sangat sedikit baik penyerap maupun cuplikannya.6. dan isolasi senyawa murni skala kecil. Silika gel dapat bereaksi dengan pereaksi yang reaktif seperti asam sulfat. TLC juga dapat berguna untuk mencari eluen pada kromatografi kolom. maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan (Carlk. identifikasi senyawa secara kromatografi. Suatu zat dikatakan aktif atau toksik bila nilai LC50 < 1000 ppm untuk ektrak dan < 30 ppm untuk suatu senyawa. Adapun contoh TLC dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 2 (TLC) Keuntungan menggunakan TLC adalah analisis cepat. Kimia Bahan Alam 14 . Proses isolasi terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponenkomponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen.5.sebagai sumbu x terhadap mortalitas sebagai sumbu y. yaitu fase diam (silika gel atau alumunia) dan fase gerak (pelarut). Hal ini berguna untuk memudahkan identifikasi senyawasenyawa yang muncul. Oleh karena daya adsorben terhadap komponen kimia tidak sama. Identifikasi Bahan Alam dengan TLC Thin Layer Chromatography (TLC) atau kromatografi lapis tipis (KLT) adalah proses pemisahan campuran senyawa berdasarkan perbedaan dua fase.

3.1.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di laboratorium kimia. etanol 96%. AgNO3 0. labu distilasi di pasang.0002 N.2. Prisma Kimia Bahan Alam 15 . kertas saring. NaOH 2 N. Distilasi dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan kadar minyak atsiri dinyatakan dalam persentase volume/bobot dengan rumus V/M x 100% dimana V adalah volume minyak (ml) dan M adalah bobot sampel 3. Uji Indeks Bias Prisma refraktometer dibersihkan dengan etanol sebelum digunakan. Labu dipanaskan sampai mendidih selama lebih kurang 3 jam. metanol. serbuk Mg. HCl2%. termometer.1 N. NaCl 0.2 Bahan Bahan yang diperlukan pada praktikum ini adalah aquadest. HNO3 25%. Uji Sifat Fisik Minyak Atsiri a. plat hasil TLC. Dilakukan pada dari tanggal 06-27 September 2012. tabung reaksi. Kemudian sampel diteteskan pada prisma yang kering dan bersih. reagen Mayer. labu Erlenmeyer.3. 3. Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu. pipet tetes. reagen Liebermen-Buchard. reagen Dragendorff. labu sesekali diaduk dan distilasi dihentikan bila air di dalam labu tinggal sedikit (jangan sampai kering). Refraktor Abbe. kira kira 250 ml dan diaduk dengan sempurna. DPPH.3 Cara Kerja 3. piknometer.2. Ke dalam sampel ditambahkan aquadest sampai seluruh sampel terndam. dan pipet volume.3. Rotary Evaporator.2. Ekstraktor Soklet. sampel tanaman. Dibaca volume minyak atsiri dalam penampung (labu erlenmeyer).BAB III METODE PENELITIAN 3.2 Alat dan Bahan 3. FeCl3 1%. Distilasi Sampel tanaman yang telah kering dan halus. Saat dipanaskan. Setelah itu sampel dipindahkan ke dalam labu distilasi 500 ml. penangas listrik. 3. kemudian ditimbang sebanyak 50 gram dalam gelas piala. timbangan analitik.1 Alat Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah satu set alat destilasi. gelas ukur 10 ml.

Larutan pembanding tersebut merupakan 0.ditimbang sebanyak 150 gram.Cairan hasil penyaringan (2/3 volume ekstrak) dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak yang kental(T=40-65oC) Kimia Bahan Alam 16 . Setelah itu.0004 (t-25).Setelah itu pelarut metanol dimasukkan kedalam 500mL distilation flask . c.1 N ke dalam NaCl 0. b.setelah itu dimaserasi dengan pelarut metanol dan didiamkan selama 3x24 jam. Kemudian Akuades diisikan sampai batas tera.Cairan hasil penyaringan (2/3 volume ekstrak) dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak yang kental(T=40-65oC) b. Kemudian 1 mL minyak ditempatkan ke dalam gelas ukur 10 mL dan ditambahkan tetes demi setetes etanol 96%.5 mL AgNO3 0. Uji Kelarutan dalam Etanol Uji kelarutan dalam etanol menggunakan etanol 96% dan larutan pembanding. Bila tidak bening dibandingkan kekeruhannya dengan dengan larutan pembanding. Dibaca nilai yang tertera pada layar bagian bawah dan dicatat suhunya ( Indeks bisa 25 oC = n ditambah 0. larutan dikocok sampai diperoleh larutan bening.3. Maserasi Sampel tanaman yang sudah kering dan halus.3. ditimbang dengan teliti. Ekstraksi Senyawa Bahan Alam a.dirapatkan dan tunggu sampai suhu sampel tetap.Hasil maserasi sampel kemudian disaring dengan kertas saring sambil ditambah pelarut sampai hasil cairan penyaringan menjadi jernih. Piknometer dicelupkan ke dalam penanggas air pada suhu 20 oc dan ditutup. Dengan mengatur slide akan diperoleh garis batas antara bidang yang gelap dan terang kemudian Sampel diteteskan pada prisma yang kering dan bersih. ditimbang dengan teliti ( massa jenis pada suhu 25 oc = d ditambah 0. Sokeltasi Sampel tanaman yang sudah kering dan halus.ditimbang sebanyak 20 gram dan ditempatkan pada selongsong berupa kertas saring. Uji Masa Jenis Piknometer dibersihkan dengan etanol dan eter setelah kering piknometer ditimbang dengan teliti. lalu piknometer dicelupkan pada penanggas air suhu 20 o c dan ditutup.Setelah itu sampel diekstraksi selama beberapa jam.0002 N dan satu tetes HNO3 (25%).0008 (t-25) ). 3. Piknometer dikosongkan lalu dicuci dengan etanol dan eter setelah kering piknometer diisikan sampel sampai batas tera.

Kemudian ditambahkan sedikit serbuk Mg ke dalam tabung tersebut dan 1 ml HCl 2 % (positif jika timbul busa dan berwarna bening-oranye). Kemudian Ditambahkan beberapa tetes Reagen Liberman-Burchard ke dalam tabung tersebut (positif jika triterpenoid membentuk cincin kecoklatan atau violet dan steroid berwarna hijau). f. 800. d. Setelah itu. Kemudian Ditambahkan NaOH 2N ke dalam tabung reaksi tersebut dan dikocok (hasil positif berwarna merah).5 ml HCl 2 % ke dalam tabung tersebut. 400. c. Cairan yang diperoleh disaring dan didiamkan sampai agak dingin. Larutan sampel dibuat berbagai konsentrasi (50.4. Pada tabung pertama ditambahkan 2-3 tetes Reagen Dragendorff. Kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 5 ml ke dalam tabung tersebut. Uji aktivitas “DPPH free radical scavenger” Ekstrak hasil pemekatan ditimbang 1 gr dan dilarutkan dalam 20 mL metanol (2000 ppm). Uji Alkaloid Ekstrak tanaman sebanyak 4 ml dimasukan ke dalam tabung reaksi. Uji Triterpenoid dan Steroid Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukan ke dalam tabung reaksi. Uji Flavonoid Ekstrak tanaman dimasukan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 ml. dan 1600 ppm). Kemudian Ditambahkan 2-3 tetes FeCl3 1 % ke dalam tabung tersebut dan dikocok (hasil positif berwarna hijau kehitaman atau biru tinta).3. Uji Kuinon Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi. (hasil positif menghasilkan endapan jingga) dan tabung kedua ditambahkan 2-3 tetes Reagen Mayer (hasil positif menghasilkan endapan kuning). Uji Antioksidan a.5. Uji Tanin Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi.3. Setelah itu.3. Masing-masing sampel dipipet 2 mL dan Kimia Bahan Alam 17 . 3. dipanaskan dalam penangas air selama 5 menit. Setelah itu dikocok dengan kuat sampai timbul busa (hasil positif jika busa stabil selama 10 menit). e. Kemudian ditambahkan 0. Uji Fitokimia a. b. Uji Saponin Sampel tanaman yang telah kering dan halus ditimbang sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. divortex dan dibagi ke dalam dua tabung. 100. 200.

50%. Tiap konsentrasi dibuat duplo. dan dituangkan ke dalam cawan petri. Uji aktivitas DPPH secara Bioautografi Hasil analisa KLC sampel ekstrak/distilat disemprotkan dengan 0. 50%. Bakteri dibiakkan. Uji Antibakteri Uji antimikroba dengan metode Difusi Agar Ekstrak sampel jengkol yang telah dipekatkan ditimbang sebanyak 2 gram. Kemudian ditambahkan 2 mL DPPH 0.3. Bagian kotak yang berisi telur udang ditutup dengan Kimia Bahan Alam 18 .5% secara perlahan sampai setengah dari volume total. Penetasan telur Artemia salina Leach Telur udang ditempatkan pada wadah penetasan yang terbuat dari plastik dan telah disekat pada bagian tengahnya dengan steroform. dan 100%). Setelah diinkubasi. Setelah agar membeku. dan 100% dengan aquades. NB yang telah berumur fase midblock. Disiapkan suspensi bakteri Steptococcus Aureus (Staphylococcus Aureus). Uji Toksisitas a.002% (lakukan dalam ruang gelap).dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian dibuat konsentrasi sampel menjadi 25%. 3. dimasukkan kertas cakram (diameter 1 cm) yang telah dibasahi ekstrak jengkol dengan berbagai konsentrasi (25%. Dan nilai inhibisi yang mewakili oleh IC50 dihitung dengan rumus : 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑖𝑛�𝑖𝑏𝑖𝑠𝑖 � 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 −𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 𝑥100% b. 75%. divortex. diinkubasi dengan cara terbalik selama 3 hari pada suhu 37oC. 3.1 mL kemudian dimasukkan ke dalam 10 mL Nutrient Agar yang etlah dicairkan. kemudian diberi larutan garam 3.002 % DPPH yang dilarutkan dengan metanol.7. diambil 0. Larutan sampel dikocok sampai homogen dan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 30 menit. lalu diukur dengan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang DPPH = 517 nm. 75%. Daerah hambatan yang terbentuk sebagai daerah bening di sekitar kertas cakram diukur dan dibandingkan dengan antibiotic. Hasil positif menunjukkan adanya perubahan warna ungu menjadi jingga.3.6. diamati diameter daerah hambatan di sekitar kertas cakram.

Setelah itu ditambahkan 10 ekor larva Artemina salina Leach.5 cm dari dasar. Larutan dibiarkan selama 24 jam dibawah cahaya lampu neon 18 watt. Setelah 48 jam. sebanyak 5 ml eluen dengan perbandingan tertentu dimasukkan ke dalam chamber. spot dikeringudarakan kemudian dielusi dengan pelarut dengan perbandingan tertentu. Setelah itu. Untuk mengetahui senyawa yang terdapat pada masing-masing spot di plat TLC. maka dapat disemprotkan cerium sulfat. amoniak. dimasukkan plat TLC yang telah diberi spot kemudian wadah ditutup. Setiap konsentrasi dibuat 2 kali pengulangan. 100. FeCl3. Setalah 24 ja. 3. dibiarkan sampai pelarut pada garis akhir. Setelah itu. dan 1000 ppm.1 gram ekstrak dilarutkan dalam 50 mL aquadest (2000 ppm). Kimia Bahan Alam 19 . Lieberman-Burchard. Grafik dibuat dengan log konsentrasi sebagai sumbu x terhadap mortalitas sebagai sumbu y. Selanjutnya. Suatu zat dikatakan aktif atau toksik bila nilai LC50<1000 ppm unutk ekstrak dan <30 ppm untuk suatu senyawa. sedangkan bagian kotak yang tidak ditutup ditempatkan di bawah sinar lampu neon 18 watt atau sinar UV. Mortalitas dihitung dengan cara : akumulasi mati dibagi jumlah akumulasi hidup dan mati (total) dikali 100%.3. Lalu. Setalah itu larutan sampel dibuat dengan konsentrasi 10. b.larva siap digunakan untuk uji toksisitas.aluminium foil. 500. Setelah itu plat TLC dikeringudarakan dan diamati spot pada plat TLC di bawah sinar UV. Nilai LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan kematian 50% yang diperoleh dengan memakai persamaan regresi linear y = a ditambah bx. dan Dragendoff. Masing-masing larutan sampel dipipet sebanyak 100 µL dan dimasukkan ke dalam botol vial.8. 200. Identifikasi Senyawa Bahan Alam Sampel ekstrak/minyak atsiri ditotolkan pada plat TLC silika gel GF254 dengan bantuan mikropipet garis start berjarak 1. larva udang yang mati dari masing-masing botol vial dihitung dan dicari nilai LC50. Uji Toksisitas Sebanyak 0.

dan uji kelarutan dengan alcohol. Uji Sifat Fisik Minyak Atsiri Karakteristik Massa Jenis (25oC) Indeks Bias (25oC) Kelarutan dalam alkohol Hasil Uji Destilat Jengkol 0. nilai Kimia Bahan Alam 20 .90-0. hasil ini tidak sesuai dengan Standar Internasional (ISO.801 gr/cm3 1.3.33 .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3. 3.94 gr/cm3 .3.1. Hasil uji menunjukkan bahwa massa jenis minyak jengkol sebesar 0. 1991).46-1. Distilasi jengkol untuk mengambil minyak atsiri pada jengkol dengan pemisahan perbedaan titik didihnya. Pengujian sifat fisik pada hasil destilasi ini ditentukan dengan tujuan untuk mengetahui mutu atau kualitas minyak atsiri yang dikandung jengkol. Sedangkan dalam pengukuran massa jenis minyak atsiri yang dikandung jengkol.47 Larutan jernih 1: 1-4 *) ISO. maka distilasi diatur suhunya dibawah titik didih air (100oC).33 Larutan jernih 1:2 Standar Internasional Minyak Atsiri *) 0. Dalam pengukuran indeks bias minyak atsiri dengan refraktometer. Dengan menggunakan pelarut aquadest.1.801 gr/cm3 . prinsip dasarnya yaitu perbandingan antara sinus sudut jatuh dan sinus bias jika seberkas cahaya dengan panjang gelombang tertentu jatuh dari udara ke minyak dengan sudut tertentu yang dipertahankan pada suhu tetap. Namun berdasarkan literature Buku Petunjuk Praktikum Kimia Bahan Alam. maka nilai jual minyak tersebut akan jauh lebih murah. tidak memenuhi Standar Internasional (ISO. 1991 tabel 2 Destilat jengkol yang diduga mengandung minyak atsiri diuji secara fisik dengan karakterisasi berupa massa jenis. Distilasi Hasil distilasi prosentase 𝑉�𝑀 x100% jengkol adalah 25 𝑚𝐿�50 𝑔𝑟 x 100% = 50%. prinsip dasarnya yaitu perbandingan antara kerapatan minyak pada suhu 15oC terhadap kerapatan air pada suhu yang sama. Penentuan indeks bias ini dimaksudkan untuk menentukan kemurnian minyak. Untuk memastikan bahwa cairan yang didapat itu adalah minyak atsiri maka perlu diuji melalui uji fisik minyak atsiri yang telah ditentukan.94 gr/cm3 1.90-0. Hasil uji menunjukkan bahwa indeks bias minyak jengkol sebesar 1. 1991) yang menyatakan bahwa massa jenis minyak atsiri pada 25oC sebesar 0. indeks bias. Bila tidak memenuhi persyaratan mutu. Uap yang dihasilkan akan terkondensasi sehingga mendapatkan cairan yang diduga sebagai minyak atsiri.

2. Namun jika dibandingkan semua data yang didapat secara keseluruhan. Uji Fitokimia Hasil Percobaan Maserasi ditambah (endapan jingga) ditambah (endapan kuning) 2.(bening) ditambah (berbusa) - Kimia Bahan Alam 21 . Dari uji sifat fisik kelarutan dalam etanol ini didapat kesimpulan bahwa kelarutan minyak jengkol dalam alcohol sesuai Standar Internasional (ISO. 5. 1991). Pada pengujian kelarutan dalam etanol ditentukan dengan mengamati daya larut minyak dalam alcohol. soklatasi dan perkolasi. 4. 6. Sehingga hasil uji dapat disimpulkan belum memenuhi mutu minyak atsiri Standar Internasional. Hasil dari ekstraksi diuji kandungannya dengan menggunakan uji fitokimia. 3. 3. Sampel minyak jengkol dengan dalam etanol yang diencerkan dapat menimbulkan kekeruhan.3. Ekstraksi Senyawa Bahan Alam Ektraksi terdapat beberapa metode maserasi.3. Ekstrakasi menggunakan beberapa metode yang paling nudah dan sederhana adalah dengan metode maserasi atau perendaman sampel dalam pelarut.188 pada suhu 15 oC. Triterpenoid/ Steroid Flavonoid Tanin Quinon Saponin Tabel 3 No 1. 3. minyak jengkol belum memenuhi mutu minyak atsiri yang sesuai Standar Internasional (ISO. hal ini menunjukkan bahwa sampel tersebut membentuk larutan yang bening dan cerah dengan perbandingan larutan jernih 1:2. Adapun fungsi ekstraksi adalah untuk mengambil senyawa yang bermanfaat.3. Pengambilan sari dari sampel disesuaikan dengan kelarutan pada pelarut organik. 1991). Pada percobaan ini hanya menggunakan metode maserasi dan soklatasi. Dan metode sokletasi dengan cara penyarian dengan cairan kondensasi dari pelarut organik.massa jenis minyak atsiri berkisar antara 0.696-1. Alkoloid Uji Fitokimia Sokletasi - Dregenduf Mayer ditambah (busa bening orenge) ditambah (hijau kehitaman) .

Pada uji alkaloid dengan pereaksi Dragendorff. Diperkirakan endapan tersebut adalah kompleks kaliumalkaloid. Jika kalium iodida yang ditambahkan berlebih maka akan terbentuk kalium tetraiodomerkurat(II) (Svehla. nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan K+ yang merupakan ion logam. Bi3++ H2O →BiO+ + 2H+ Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff.Rendemen = 3% Pada percobaan ini praktikan menguji fitokimia dari buah jengkol yang diekstraksi dengan cara maserasi. 1990). Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodida membentuk endapan hitam Bismut(III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium iodida berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat (Svehla.bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiOditambah). Kimia Bahan Alam 22 . Reaksi pada uji Dragendorff ditunjukkan reaksi dibawah ini : Selain menggunakan pereaksi dragendoff untuk uji alkaloid dapat digunakan pereaksi mayer. Berdasarkan hasil percobaan didapat bahwa pada uji alkaloid dengan pereaksi dragendoff. 1990). didapat hasil yang positif dimana terdapat endapan jingga. larutan merkurium(II) klorida ditambah kalium iodida akan bereaksi membentuk endapan merah merkurium(II) iodida. Endapan tersebut adalah kaliumalkaloid. maka larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri. Berdasarkan hasil percobaan didapat hasil positif dengan ditandai terbentuknya endapan kuning. Pada pembuatan pereaksi Mayer.

Alkaloid mengandung atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas sehingga dapat digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan ion logam (McMurry. Perkiraan reaksi yang terjadi pada uji mayer sebagai berikut : Untuk uji fitokimia selanjutnya yaitu menguji adanya senyawa flavonoid. diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat(II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Uji ini memberikan hasil yang positif yaitu terbentuknya warna bening orange. Ini membuktikan bahwa terdapat flavanoid. Adapun reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : Kimia Bahan Alam 23 . uji ini disebut uji wilstater. 2004). Adapun warna yang dihasilkan disebabkan karena terbentuknya garam flavilium. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer. Untuk uji Tanin yaitu ekstrak yang ditambahkan dengan FeCl 1 % berdasarkan hasil percobaan memberikan hasil yang positif yaitu membentuk warna hijau kehitaman. Pada uji ini menggunakan sedikit serbuk Mg dan HCl 2%.

Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose. 5)Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya. Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan.Untuk uji kuinon berdasarkan hasil percobaan didapatkan hasil negatif. 3) Menghemolisa eritrosit. Hasil positif ditandai dengan warna merah akan tetapi berdasarkan percobaan tidak berwarna merah. Pada uji saponin berdasarkan hasil percobaan menunjukkan hasil positif. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (surface tension). Adapun Sifat-sifat Saponin adalah: 1) Mempunyai rasa pahit . 6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi. Ini ditandai dengan timbulnya busa yang stabil. 7) Berat molekul relatif tinggi. Ini menandakan bahwa pada jengkol tidak terdapat senyawa kuinon. dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati. Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai Sapotoksin. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Adapun struktur dari saponin adalah sebagai berikut : Kimia Bahan Alam 24 . Saponin memiliki karakteristik berupa buih. pentose dan saccharic acid). 2)Dalam larutan air membentuk busa yang stabil. 4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi.

Untuk uji triterpenoid dan steroid .hal ini dikarenakan kertas saring yang digantungkan dalam selongsong tidak seluruhnya berbentuk serbuk.cairan penyari atau pelarut dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan dikondesasikan oleh kondensor menjadi molekul-molekul cairan penyari yang jatuh kedalam selongsong menyari zat aktif didalam sampel dan jika pelarut telah mencapai permukaan sifon.uji tannin.sedangkan pada uji flavonod terdapat hasil yang positif dikarenakan adanya factor penambaham mg dan Hcl sehingga fungsi kedua zat tersebut mampu berinteraksi dengan larutan hasil sokletasi walaupun hanya sedikit dengan demikian hasil positif didapat oleh uji flavonoid. berdasarkan hasil percobaan didapatkan hasil yang negatif. Pada uji fitokimia buah jengkol yang telah disokletasi terdapat hasil yang negative pada ujibtroterpenoid dan steroid.maka seluruh cairan akan turun kembali kelabu las bulat melalui pipa kapiler hinga terjadi sirkulasi. Ini menandakan bahwa tidak terdapat senyawa tripernoid ataupun steroid pada buah jengkol. Tetapi terdapat hasil yang berbeda pada uji fitokimia hasil sokletasi. Kimia Bahan Alam 25 . Ini terjadi karena tidak terbentuknya cincin kecoklatan atau violet dan juga untuk uji steroid tidak berwarna hijau melainkan warna kuning bening pudar.uji kuinon.namun positif pada uji flavonoid.sehingga uap alcohol yang masuk kedalam kertas saring tersebut tidak mampu mengikat zat yang berada di dalam buah jengkol secara sempurna karena luas permukaan pada buah jengkol besar dan interaksi antara keduanya sangat kecil . Sokletasi merupakan penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk sampel ditempatkan dalam selongsong berupa kertas saring sedemikian rupa.

Antioksidan alami antara lain tokoferol.150x ditambah 18. Adapun senyawa antioksidan alami adalah senyawa antioksidan yang diperoleh dari hasil ekstraksi bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan. karoten. Uji Antioksidan Konsentrasi 25 50 100 200 400 y = 0.207 26. fosfatida.09 0. gosipol. sesamol.3. Metode DPPH merupakan salah satu metode untuk menganalisa aktifitas antioksidan yang sederhana dengan menggunakan 1.152 46.1-diphenyl-2-pircylhidrazil (DPPH) sebagai senyawa pendeteksi. Antioksidan alami yang paling banyak ditemukan dalam minyak Kimia Bahan Alam Absorbansi Innhibisi 0. Hasil ini didapatkan dari uji absorbansi dengan membandingkan antioksidan lainya yakni asam askorbat (vitamin C).49 Tabel 4 26 .4.8 ppm. Pada ekstrak jengkol pada uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa flavonoid.5 0.223 26. dan asam askorbat yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan.8 ppm Pada uji aktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH. 3.0555 80.Senyawa yang terikat mg inilah yang mampu mengidentifikasi adanya flavonoid atau tidak dalam larutan jengkol tersebut. lesitin. maka senyawa flavonoid ini yang berperan penting dalam antioksidan dalam jengkol.8 0.23 IC50 (ekstrak jengkol) = 211.9 0. Hasil pemekatan ekstrak jengkol menunjukkan uji positif pada kisaran 200-400 ppm atau lebih tepatnya pada 211.2035 27.

nabati adalah tokoferol yangmempunyai keaktifan vitamin E dan terdapat dalam bentuk α. dan genistein. Kimia Bahan Alam 27 .+ 3. γ.buah.2 cm 1.2 cm 1. Uji antibakteri dilakukan untuk mengukur berapa besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dapat memberikan efek bagi mikroorganisme (Dart. Flavonoid dapat berperan sebagaiantioksidan dalam tubuh manusia. dan daun tanaman. Contoh flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan adalah quercetin. β. Uji Antibakteri Konsentrasi 25% 50% 75% 100% Zona hambat/ bening 1. δ-tokoferol . 1996). Metode yang digunakan dalam pengujian antibakteri ini adalah metode difusi agar. Ada tiga tahap reaksi antara DPPH dengan zat antioksidan yang dapat dicontohkan dengan reaksi antara DPPH dengan senyawa monofenolar (antioksidan).2 cm 1. Tahap berikutnya meliputi dimerisasi antara radikal fenoksil yang akan mentransfer radikal hidrogen dan akan beraksi lkembali dengan radikal DPPH.3. Pada metode ini. kemudian memberikan atom hidrogen unutk mereduksi DPPH. Senyawa ini tidak terlalu beracun dibanding alkaloid sehinggaflavonoid dapat dikonsumsi dalam jumlah besar. O2N Ph NO2 N Ph O2N N Ph O2N Ph N N O2N NO2 R. Tahap pertama meliputi delokalisasi satu elektron pada gugus yang tersubtitusi oleh senyawa tersebut. Tahap terakhir adalah pembentukan kompleks antara radikal aril dengan radikal DPPH. Flavonoid dalam tanaman berfungsi sebagai pigmen yang memberikan warna pada bunga. isoxanthohumol. xanthohumol.2 cm Tabel 5 Pada pengujian antibakteri ini dilakukan dengan tujuan dapat mengetahui aktivitas antibakteri pada ekstrak sampel jengkol.. aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan atas kemampuan berdifusi pada lempengan agar yang telah diinokulasi dengan bakteri.5. contohnya adalah antosianin. Pembentukan dimer maupun kompleks antara zat antiksidan dengan DPPH bergantung pada kestabilan dan potensial reaksi dari struktur molekulnya. Dasar pengamatannya adalah dengan melihat ada tidaknya zona hambat yang terbentuk pada pertumbuhan bakteri uji. Menambahkan senyawa kimia lainnya yang tergolong antioksidan dan berasal dari tumbuhan adalah golongan flavonoid dan polifenol.

Bahan obat disini bisa dikatakan sebagai antibakteri. 2007). terpenoid yang dikandung jengkol juga memungkinkan sebagai antibakteri.6.41 77 49. dimana zona hambat/bening yang dihasilkan tiap konsentrasi sama. flavonoid. Selain flavonoid.3. yakni 1. Karena kandungan zat-zat tersebut di atas. steroid. fosfor. maka jengkol memberikan petunjuk dan peluang sebagai bahan obat. Antibakteri adalah zat yang menghambat pertumbuhan bakteri dan digunakan secara khusus untuk mengobati infeksi (Giani. Kemungkinan lain adalah flavonoid berperan secara langsung dengan mengganggu fungsi sel mikroorganisme dan penghambatan siklus sel mikroba. asam jengkolat. Naim. virus dan protozoa. Kemungkinan ini diperkuat oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman jengkol banyak mengandung zat. Hal ini terjadi karena beberapa factor.2 cm. terpenoid. 50%.Dari hasil pengamatan didapat data zona hambat/bening ekstrak sampel jengkol pada konsentrasi 25%. Rusaknya porin yang merupakan pintu keluar masuknya substansi. alkaloid. saponin. 2003). dan 100% adalah 1. (2009). akan mengurangi permeabilitas dinding sel bakteri yang akan mengakibatkan sel bakteri akan kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhan bakteri terhambat atau mati (Gunawan. Dari hasil pengamatan terdapat keganjilan data.. Padahal semakin tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona yang terbentuk (Dwidjoseputro.. Mekanisme penghambatan pertumbuhan bakteri oleh senyawa terpenoid diduga senyawa terpenoid akan bereaksi dengan porin (protein transmembran) pada membran luar dinding sel bakteri membentuk ikatan polimer yang kuat sehingga mengakibatkan rusaknya porin. (2004) menyatakan bahwa terpen atau terpenoid aktif terhadap bakteri. Menurut Fatmawaty et al. 1994). tannin dan glikosida. R. mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri yaitu dengan membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut dan dengan dinding mikroba. Kandungan kimia dalam jengkol yang diduga bersifat antibakteri adalah flavonoid. seperti yang telah dimanfaatkan orang pada masa lalu (Pitojo. 3.2cm. antara lain adalah sebagai berikut : protein. kalsium.99 Tabel 6 Uji BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) merupakan uji toksisitas yang digunakan sebagai uji permulaan untuk mengetahui aktivitas dari suatu zat atau senyawa yang Kimia Bahan Alam 28 . Hal ini menunjukkan bahwa jengkol diduga mengandung antibakteri. diantaranya terjadi kesalahan dalam penimbangan dan pengenceran sehingga konsentrasi yang dihasilkan tidak sesuai. 75%. Uji Toksisitas Ekstrak Jengkol Daun jeruk Daun Binahong Daun Kelengkeng LC50 (ppm) 1. minyak atsiri. vitamin A dan B1. 2008). karbohidrat.

maka hal ini menunjukkan bahwa uji toksisitas ini merupakan senyawa jengkol bukan ekstrak karena <30 ppm. membran sel. 100. Adapun hasil percobaannya sebagai berikut : Etil asetat + kloroform (1:1) (gambar 1) Gambar 3 Rf : 4/4. ekstrak daun kelengkeng 49.5 = 0.3. fungsi ribasom dan asm folat. Pada hakikatnya uji toksisitas adalah untuk mengetahui kadar toksik (racun) suatu senyawa pada suatu bakteri atau mikrorganisme yang mengganggu proses metabolisme ataupun mengganggu kesehatan.99 ppm yang masuk dalam kriteria isolat.Adapun ekstrak yang digunakan adalah ekstrak buah jengkol yang dibuat larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu mulai dari 1000. Pada praktikum kali ini larva udang yang digunakan adalah jenis Artemia salina yang telah berumur 48 jam dan proses pembenihan telur udang yang digunakan adalah sebanyak 0. Dibandingkan dengan ekstrak daun jeruk 77 ppm. yakni menghambat sintesis dinding sel. dan 10 ppm.masing ekstrak tersebut dengan berbagai konsentrasi. 200.5 gram dan dimasukkan dalam air garam dengan kadar 38% (38 gram dalam 1liter air) hal ini dilakukan sebagai simulasi dari habitat asli udang yaitu air laut. Toksisitas juga ditentukan oleh struktur senyawa dan zat aktif yang terdapat pada bahan alam. Untuk itu praktikan melakukan beberapa percobaan dengan beberapa komposisi eluen dan perbandingan tertentu. Ekstrak jengkol yang didapatkan masih banyak terdapat campuran. 3. Percobaan ini berdasarkan pada perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang mengikuti kepolaran eluen.terkandung dalam suatu ekstrak atau suatu isolat murni. 500. Senyawa yang mengandung struktur fenolik atau struktur yang mampu mendonorkan atom hidrogen.Mekanisme senyawa toksik terdapat berbagai mekanisme penghambatan.89 Kimia Bahan Alam 29 . belum mendapatkan isolat murni. Identifikasi Senyawa Bahan Alam Pada percobaan ini praktikan melakukan percobaan dengan menggunakan teknik TLC. Pada ekstrak jengkol didapatkan LC50 1. sintesis asam nukleat. Hal ini bertujuan untuk mengetahui LC50 dari masing .41 ppm.7.

Untuk komposisi eluen yang lain yaitu N-Heksan + etanol (1 : 1) memiliki nilai Rf sebesar 0.89.44 Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat diamati bahwa dari berbagai komposisi pelarut yang digunakan menghasilkan nilai Rf yang berbeda.Kloroform + aseton (1:1) (gambar 2) Gambar 4 Rf : 1/4.22 N. Pada percobaan teramati bahwa pemisahan terbaik pada ekstrak buah jengkol adalah dengan menggunakan eluen etil asetat dengan kloroform (1 : 1) dengan nilai Rf sebesar 0. Ekstrak jengkol tidak terdapat spot yang dapat dibedakan karena tidak terbentuk spot dan warna.22.5 = 0. dan kloroform + aseton (1 :1) nilai Rf sebesar 0. Sehingga tidak terdapat spot yang terbentuk.5 = 0. Kimia Bahan Alam 30 . dan kemungkinan lainnya adalah belum menemukan eluen yang optimal mampu memisahkan senyawa pada ekstrak jengkol di TLC.44.Heksan + Etanol (1:1) Gambar 5 Rf : 2/4. Hal ini dikarenakan ekstrak jengkol kurang pekat dan belum murni. Ini dikarenakan pelarut memiliki daya serap dan daya partisi yang berbeda sehingga kemampuan untuk memisahkan komponen-komponen kimia akan berbeda mengikuti kepolaran dari jenis eluennya.

Uji fitokimia dapat disimpulkan bahwa jengkol mengandung senyawasenyawa sebagai berikut Jengkol mengandung senyawa alkoloid Jengkol mengandung senyawa flavonoid Jengkol mengandung senyawa tanin Jengkol mengandung senyawa saponin b. c.2. Hasil uji fisik minyak atsiri dari jengkol masih belum memenuhi standar internasional tentang minyak atsiri.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Saran Dalam melakukan penelitian ini. Massa jenis yang dihasilkan 0. Oleh karena itu. kami membutuhkan saran dan kritikan untuk masukan dan penyempurnaan paper ini. Identifikasi senyawa bahan alam dengan menggunakan TLC tidak terbentuk spot 5. Toksisitas ekstrak jengkol sebesar 1. kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam pembuatan paper ini.329.801 gr/ml dan uji indeks bias 1. Uji antioksidan menunjjukkan bahwa IC50 jengkol 211.1. Kami mengharapkan paper ini bermanfaat bagi pembaca. Tak ada gading yang tak retak Kimia Bahan Alam 31 . Dan yang terpenting adalah kekurangan kemampuan kami dalam mengisolasi bahan alam karena masih minimnya pengettahuan kami . d.41 ppm f. masih jauhh dibandingkan dengan antioksidan dari vitamin C. Ekstrak jengkol kurang begitu optimal sebagai antibakteri e.8 ppm. Kesimpulan Dari hasil percobaan-percobaan maka : a.

Penerbit: Kanisius. Yogyakarta Sukandar.com. Pertanian. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi.. Dwidjoseputro. Petunjuk Praktikum Kimia Bahan Alam . Fessenden & fessenden. 1990. Harold. R. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga Gunawan. Dr.. Jengkol: Budidaya dan Pemanfaatannya. hal.. 31-39 Hart. Kimia Organik Bahan Alam. 18..DAFTAR PUSTAKA Arifin A. 2004. 13. Senyawa antibakteri dari tanaman. Jurnal Kimia. Pitojo. 1982. Jakarta : Karunika Universitas Terbuka. Dede dan Eka R A. Jakarta. 1994. Vol II (22).kompas. Prof. Moniitoring & Evaluasi Jenis Tanaman Rimba Eksotik. 2003. Jakarta: Erlangga KPH KENDAL. D. 1986. Kendal Naim. Jakarta : Kimia FST UIN Syarif Hidayatullah Kimia Bahan Alam 32 . Djambatan. 2012.2011. S. dkk. Kimia Organik Jilid II. Antibakteri pada herba Meniran (Phylanthus niruri Linn). http://www. Sjamsul. 17.

3308 >> Uji Massa Jenis G1 (piknometer kosong) = 23.805 ditambah 0.0008 ( 30-25) = 0.0004 (T-25) = 1. Uji Sifat Fisik Minyak Atsiri dan Rendemen a.7oC Indeks bias pada 25oC = Nsampel ditambah 0. Larutan jernih 1: 2.329 Suhu= 29.7-25) = 1.801 gr/cm3 >> Uji Kelarutan dengan alcohol Kekeruhan sampel lebih keruh dibanding dengan larutan pembanding.2203 gram G3 (piknometerditambahsampel)= 43.0008 (T-25) = 0.7135 gram G2 (piknometerditambahaquades)= 48.329ditambah 0.LAMPIRAN Hasil Perhitungan Percobaan 1. Uji Sifat Fisik Minyak Atsiri >> Indeks bias Nsampel= 1.805 Massa jenis= dditambah 0. Rendemen % 𝒓𝒆𝒏𝒅𝒆𝒎𝒆𝒏 � 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍 𝒑𝒆𝒎𝒆𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝒂𝒘𝒂𝒍 𝟑 𝒈𝒓 % 𝒓𝒆𝒏𝒅𝒆𝒎𝒆𝒏 � 𝒙 𝟏𝟎𝟎% 𝟏𝟎𝟎 𝒎𝒍 % 𝒓𝒆𝒏𝒅𝒆𝒎𝒆𝒏 � 𝟑 % Kimia Bahan Alam 33 . b.0004 ( 29.4310 gram d= G3-G1/ G2-G1 = 0.

33% 27 𝑥100% = 200ppm = 27𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ8 90.971 innhibisi Linear (innhibisi) IC50 (x) maka y = 0.150x ditambah 18. IC50 jengkol uji antioksidan Innhibisi 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 100 200 300 400 500 Konsentrasi (ppm) y = 0.23 R² = 0. 𝟖 𝒑𝒑𝒎 Akumulasi Mati Botol Sampel Konsentrasi (ppm) A B 10 9 3 100 18 11 200 27 20 500 33 29 1000 40 39 3 𝑥100% 3𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ11 𝟓𝟎 − 𝟏𝟖.36% 100 ppm = 66. Uji Toksisitas 𝑿 = 𝟐𝟏𝟏.23 𝑿 = Inhibisi (%) 3.150x + 18.01% 33 𝑥100% = 500ppm= 33𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ27 96.67% 40 𝑥100% 1000ppm= 40𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ3 =100% 29 𝑥100% 1𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ29 20 𝑥100% 2𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ20 11 𝑥100% 11𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ4 = = = = 39 𝑥100% 0𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ39 Kimia Bahan Alam 34 .14% 500 ppm = 82. 𝟏𝟓𝟎 Akumulasi Hidup Botol Sampel Kosentrasi (ppm) A B 10 10 11 100 9 4 200 8 2 500 7 1 1000 3 0 Prosentase Mortalitas udang Mati Sampel A 10 ppm = 47.5% 1000ppm= =93. 𝟐𝟑 𝟎.2.43% 18 𝑥100% = 100ppm = 18𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ9 73.03% 9 𝑥100% 9𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ10 Sampel B = 10 ppm = 21.66% 200 ppm = 77.

386 R² = 0.67 = 89.386 = 31.51 % 2 LC 50 Jengkol 120 % Mortalitas Mati 100 80 60 40 20 0 0 1 2 log konsentrasi 3 4 y = 31.55x + 5.55 Ekstrak Jengkol Daun jeruk Daun Binahong Daun Kelengkeng 4.43% = 34.2 cm Kimia Bahan Alam 35 .977 Series1 Linear (Series1) y = 31.36% 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ 21. Uji Anti Bakteri Konsentrasi 25% 50% 75% 100% Zona hambat/ bening 1.03%𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ100% = 96.2 cm 1.41 ppm LC50 (ppm) 1.96 % 2 77.41 77 49.33% = 69.01% = 83.66%𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ73.2 cm 1.57 % 2 82.5%𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ96.Rata-rata akumulasi mati 10 ppm = 100 ppm = 200 ppm = 500 ppm = 1000 ppm= Kurva Mortalitas dengan log konsentrasi 47.386 LC50 = 1.14%𝑑𝑖𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ90.55x ditambah 5.2 cm 1.58 % 2 93.99 50−5.39 % 2 66.

Heksan + Etanol (1:1) Gambar 5 Rf : 2/4.89 Kloroform + aseton (1:1) (gambar 2) Gambar 4 Rf : 1/4.5 = 0.44 Kimia Bahan Alam 36 .5 = 0.5 = 0. Identifikasi Senyawa Bahan Alam Etil asetat + kloroform (1:1) (gambar 1) Gambar 3 Rf : 4/4.22 N.5.

LAMPIRAN 2 Prosedur Kerja a. Maserasi b. Sokletasi Kimia Bahan Alam 37 .

Labu dipanaskan sampai mendidih selama lebih kurang 3 jam. Kimia Bahan Alam 38 . Distilasi dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan kadar minyak atsiri dinyatakan dalam persentase volume/bobot dengan rumus V/M x 100% dimana V adalah volume minyak (ml) dan M adalah bobot sampel. Setelah itu. kemudian ditimbang sebanyak 50 gram dalam gelas piala. Tabung pertama ditambahkan 2-3 tetes Reagen Dragendorff. Ditambahkan 0. divortex dan dibagi ke dalam dua tabung.5 ml HCl 2 % ke dalam tabung tersebut. (hasil positif endapan jingga) dan tabung kedua ditambahkan 2-3 tetes Reagen Mayer (hasil positif endapan kuning).3 Uji-uji 3.3. Dibaca volume minyak atsiri dalam penampung (labu erlenmeyer).1 Uji Fitokimia g.3. Saat dipanaskan. Setelah itu sampel dipindahkan ke dalam labu distilasi 500 ml. labu distilasi di pasang. Ke dalam sampel ditambahkan aquadest sampai seluruh sampel terndam. Setelah itu. labu sesekali diaduk dan distilasi dihentikan bila air di dalam labu tinggal sedikit (jangan sampai kering).3. Uji Alkaloid Ekstrak tanaman sebanyak 4 ml dimasukan ke dalam tabung reaksi.Distilasi Sampel tanaman y an g telah kering d an halus. 3. kira kira 250 ml dan diaduk dengan sempurna.

Uji Kuinon Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan sedikit serbuk Mg ke dalam tabung tersebut dan 1 ml HCl 2 % (positif jika timbul busa dan berwarna bening-oranye). Ditambahkan beberapa tetes Reagen Liberman-Burchard ke dalam tabung tersebut (positif jika triterpenoid membentuk cincin kecoklatan atau violet dan steroid berwarna hijau). Kimia Bahan Alam 39 .h. Uji Triterpenoid dan Steroid Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukan ke dalam tabung reaksi. k. j. Uji Tanin Ekstrak tanaman sebanyak 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan NaOH 2N ke dalam tabung reaksi tersebut dan dikocok (positif berwarna merah). i. Ditambahkan 2-3 tetes FeCl3 1 % ke dalam tabung tersebut dan dikocok (positif berwarna hijau kehitaman atau biru tinta). Uji Flavonoid Ekstrak tanaman dimasukan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 ml.

Setelah itu. 3. Uji Indeks Bias Prisma refraktometer dibersihkan dengan etanol Sampel diteteskan pada prisma yang kering dan bersih Prisma dirapatkan dan tunggu sampai suhu sampel tetap Dibaca nilai yang tertera pada layar bagian bawah dan dicatat suhunya ( o Indeks bisa 25 C = n ditambah 0.l. Cairan yang diperoleh disaring dan didiamkan sampai agak dingin. dipanaskan dalam penangas air selama 5 menit. Setelah itu dikocok dengan kuat sampai timbul busa (positif jika busa stabil selama 10 menit).3. Ditambahkan aquadest sebanyak 5 ml ke dalam tabung tersebut.3. Uji Saponin Sampel tanaman yang telah kering dan halus ditimbang sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.2 Uji Fisik a.0004 (t-25) Sampel diteteskan pada prisma yang kering dan bersih Denganmengatur slide akan diperoleh garis batas antara bidang yang gelap dan terang Kimia Bahan Alam 40 .

5 mL AgNO3 0.b.0002 N dan satu tetes HNO3 (25%) 1 mL minyak ditempatkan ke dalam gelas ukur 10 mL dan ditambahkan tetes demi setetes etanol 96% Uji kelarutan dalam etanol menggunakan etanol 96% dan larutan pembanding Bila tidak bening dibandingkan kekeruhannya dengan dengan larutan pembanding Dikocok sampai diperoleh larutan bening.0008 (t-25) ) c. Kimia Bahan Alam 41 . lalu piknometer dicelupkan pada penanggas air o suhu 20 c dan ditutup Setelah kering piknometer diisikan sampel sampai batas tera Piknometer dikosongkan lalu dicuci dengan etanol dan eter Ditimbang dengan teliti Piknometer dicelupkan ke dalam penanggas air o pada suhu 20 c dan ditutup Ditimbang dengan teliti ( massa jenis pada o suhu 25 c = d ditambah 0. Uji kelarutan dalam Etanol Larutan pembanding merupakan 0.1 N ke dalam NaCl 0. Uji Masa Jenis Piknometer dibersihkan dengan etanol dan eter Setelah kering piknometer ditimbang dengan teliti Akuades diisikan sampai batas tera.

Uji aktivitas “DPPH free radical scavenger” Ekstrak hasil pemekatan ditimbang 1 gr dan dilarutkan dalam 20 mL metanol (2000 ppm) Larutan sampel dibuat berbagai konsentrasi (50. Diukur dengan spektofotometer UVVis (panjang gelombang DPPH = 517 nm) Larutan sampel dikocok sampai homogen dan diinkubasi pada suhu o 37 C selama 30 menit Ditambahkan 2 mL DPPH 0.3.2 Uji Antioksidan a. 100.002% (lakukan dalam ruang gelap).3. Uji aktivitas DPPH secara Bioautografi Hasil analisa KLC sampel ekstrak/distilat Disemprotkan dengan 0. 200.3.002 % DPPH yang dilarutkan dengan metanol Hasil positif menunjukkan adanya perubahan warna ungu menjadi jingga Kimia Bahan Alam 42 . 800. dan 1600 ppm) Masing-masing sampel dipipet 2 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Tiap konsentrasi dibuat duplo Nilai inhibisi yang mewakili oleh IC50 dihitung dengan rumus : 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 −𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑖𝑛�𝑖𝑏𝑖𝑠𝑖 � 𝑥100% b. 400.

Kimia Bahan Alam 43 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful