P. 1
ASHTO

ASHTO

|Views: 60|Likes:
Published by minthoenaaulu
bina marga &aashto present
bina marga &aashto present

More info:

Published by: minthoenaaulu on Feb 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

PROPOSAL STUDI PERBANDINGAN PERANCANGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR METODE BINA MARGA DAN METODE AASHTO (Studi Kasus

Peningkatan Ruas Jalan Timor Raya Kota Kupang - NTT)

DISUSUN OLEH:

BENYAMIN ENA AULU 11.21.911

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bentuk Konstruksi perkerasan jalan yang lazim pada saat sekarang ini adalah konstruksi perkerasan yang terdiri dari beberapa lapis bahan dengan kualitas yang berbeda, dimana persyratan dasar suatu jalan pada hakikatnya adalah dapat menyediakan lapisan permukaan yang selalu rata, konstruksi yang kuat sehingga dapat menjamin kenyamanan dan keamanan yang tinggi untuk masa pelayanan (umur jalan) yang cukup lama. Oleh karena itu penulis mencoba memberi suatu alternatif perencanaan lentur perkerasan jalan menggunakan Metode AASHTO 1993 yang akan dikomparasi dengan Metode Bina Marga yang mengacu pada Standart Nasional Indonesia (SNI) untuk perencanaan lentur perkerasan jalan. Adapun objek yang diteliti untuk membandingkan hasil perencanaan dari kedua metode tersebut adalah Jalan Ruas Timor Raya KM. 3+900 – KM. 8+000 Kota Kupang – Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, lebar perkerasan 9 meter, jalan ini merupakan jalan lama dimana kondisi jalan tersebut mengalami kerusakan di beberapa ruas yang menghambat arus lalu lintas dan jalan ini merupakan jalan arteri yang menghubungkan Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten TTU dan Kabupaten Bellu.

2. Besar biaya yang diperlukan jika menggunakan metode Bina Marga dan Metode AASHTO. Identifikasi Masalah Dari latar belakang maka diperoleh identifikasi masalah sebagai berikut : 1.B. Perbandingan tebal perkerasan metode Bina Marga dan metode AASHTO. .

Berapakah besar biaya yang diperlukan dari kedua metode tersebut diatas? . Bagaimana perbandingan tebal perkerasan dengan Metode Bina Marga dan AASHTO? 2. Rumusan Masalah Dari identifikasi masalah maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut : 1.C.

Pekerjaan ini tidak termasuk menghitung jembatan yang ada. 8+000 Kota Kupang – Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan adalah metode Bina Marga dan Metode AASHTO 1993. 3. sehingga studi dapat lebih teliti dan lebih mudah diselesaikan. Batasan Masalah Agar penilitian ini tidak terlalu luas dan dapat memberi arahan yang terfokus. maka perlu adanya pembatasan sebagai berikut : 1. 4. Perencanaan ini dengan umur rencana (UR) 10 tahun. Studi ini hanya membahas tebal perkerasan lentur yang dibutuhkan untuk peningkatan Jalan Ruas Timor Raya KM. 2.D. 3+900 – KM. .

E. Untuk mengetahui perbedaan perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya antara Metode AASHTO 1993 dan Metode Bina Marga yang mengacu pada Standart Nasional Indonesia (SNI) untuk perencanaan pekerasan lentur jalan. . TUJUAN STUDI Dari batasan masalah maka dapat diperoleh tujuan studi sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui berapa besar biaya yang diperlukan untuk konstruksi tersebut. 2.

F. 8+000 Kota Kupang – Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2. MANFAAT STUDI Dari studi perencanaan perkerasan lentur ini akan dihasilkan suatu analisa mengenai konstruksi yang sesuai dengan kondisi tanah dasar yang dapat dijadikan bahan kajian / pertimbangan bagi semua pihak yang terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan jalan sehingga dapat diharapkan : 1. Agar penulis dapat mengetahui alternatif lain perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya dengan menggunakan Metode AASHTO 1993 dan Metode Bina Marga yang mengacu pada Standart Nasional Indonesia (SNI) untuk perencanaan pekerasan lentur jalan. 3+900 – KM. . Agar pembaca dapat mengetahui tebal perkerasan jalan pada Ruas Timor Raya KM.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Struktur Perkerasan Lentur .

Survey kondisi permukaan. Perencanaan Tebal Lapis Tambahan (overlay) Perencanaan ini memerlukan data hasil dari Benkelman Beam Test untuk menentukan besarnya lendutan. 2.B. . sehingga sebelum merencanakan tebal lapis tambahan perlu dilakukan terlebih dahulu : 1. Survey kelayakan struktural konstruksi perkerasan.

Dalam Tugas akhir ini akan disajikan 2 metode perencanaan tebal lapis tambahan yaitu metode Analisa Lendutan Bina Marga 01/MN/B/1983 dan Metode AASHTO 1993. seperti : 1. Metode Analisa Komponen Bina Marga SKBI 1987 4. Metode Analisa Lendutan Bina Marga 01/MN/B/1983 3. Dengan memberikan lapisan tambahan. Metode AASHTO (American Association of State Highway And Transportation Officials) Kesemua metode ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan struktural perkerasan dalam menerima beban. lendutan yang terjadi akibat beban lalu lintas dapat berkurang sampai lebih kecil dari lendutan yang diinginkan. Metode HRODI (Hot Rolled Overlay Design For Indonesia) 2.C. Metode-metode Perencanaan Tebal Lapis Tambahan Perencanaan tebal lapis tambahan yang dibutuhkan suatu sistem perkerasan jalan dapat direncanakan dengan mempergunakan beberapa metode. .

D. adalah : 1. Perhitungan Lendutan Balik 3. Metode Bina Marga Langkah-langkah dalam perencanaan tebal lapis tambahan perkerasan lentur jalan dengan menggunakan Metode Bina Marga. Perhitungan Lendutan Balik Yang Di Ijinkan 4. Penentuan Tebal Lapis Tambahan (overlay) . Perhitungan Jumlah Lalu Lintas 2.

Penentuan Tebal Lapis Tambahan (overlay) . Langkahlangkah dalam merencanakan tebal lapisan tambahan metode AASHTO 1993. Perhitungan Jumlah Lalu Lintas 2. Perhitungan Lendutan Maksimum Terkoreksi 3.D. Metode AASHTO 1993 Perencanaan ketebalan lapis tambahan (overlay) metode AASHTO 1993 didasarkan pada hasil analisa komponen dan analisa lendutan pada struktur perkerasan yang ada. sebagai berikut : 1.

BAB III METODOLOGI A. LOKASI STUDI Peta lokasi untuk mengetahui gambaran secara umum posisi rencana peningkatan jalan Ruas Timor Raya yang akan dibangun. Adapun data-data yang yang ada dan yang akan ditangani pada ruas jalan Timor Raya KM 3 + 900 – KM 8 + 000 adalah sebagai berikut :  Panjang Jalan : 4100 M  Lebar Jalan :9M  Lapis Pondasi Bawah : Agregat kelas B 0.065 M  Status Fungsi Jalan : Jalan Arteri .15 M  Lapis Permukaan : HRS 0.20 M  Lapis Pondasi Atas : Agregat kelas A 0.

Lokasi Studi .

 Survey kondisi jalan Survey kondisi jalan diperlukan untuk mengetahui kondisi perkerasan jalan. Metode Pengumpulan Data Data Sekunder  Data Benkelman Beam Data Benkelman Beam.B. 1. diperlukan guna untuk menghitung besarnya nilai lendutan balik yang terjadi sebelum direncanakannya tebal lapisan tambahan. 1. . Data Primer  Data lalu Lintas Data lalu lintas diperlukan untuk merencanakan tebal perkerasan dengan adanya tingkat pertumbuhan rata-rata pertahun. serta mengidentifikasi masalah kerusakan yang terjadi pada ruas jalan Timor Raya.

3. 5. Masalah. Identifikasi lokasi:  Menentukan kelas median jalan. Studi literature. Identifikasi lokasi:  Data Benkelman Beam. 4. 2.  Menentukan titik awal dan titik akhir perencanaan. Menentukan lokasi perencanaan. Metode Langkah Kerja Langkah kerja yang dilakukan dalam perencanaan perkerasan jalan ini adalah: 1.  Data Lalu Lintas .C.

.6. Perhitungan rencana anggaran biaya. Pengolahan data:  Volume lalu lintas. 9. Menetapkan umur rencana Prediksi lalu lintas untuk 10 tahun kedepan. Perhitungan tebal perkerasan. Perhitungan Lendutan Balik 10.  % konfigurasi beban sumbu kendaraan. 12. 13. 14. Menentukan tebal perkerasan:  Jenis lapisan perkerasan. Hasil perhitungan. Kesimpulan.  Koefisien kekuatan relatife. 15. 8. Perhitungan Tebal Lapis Tambahan 11.  Repetisi selama umur rencana 7.

D.  Diagram Alir Diagram Alir Studi .

 Diagram Metode Bina Marga .

 Diagram Metode AASHTO 1993 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->