P. 1
efusi pleura

efusi pleura

|Views: 23|Likes:
Published by atria geeanilla
pemfis
pemfis

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: atria geeanilla on Feb 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2013

pdf

text

original

g.

1)

Pemeriksaan fisik Status Kesehatan Umum

Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. 2) Sistem Respirasi

Inspeksi pada pasien efusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung, iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan pernafasan menurun. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. RR cenderung meningkat dan pasien biasanya dyspneu. Fremitus tokal menurun terutama untuk efusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. Garis ini paling jelas di bagian depan dada, kurang jelas di punggung. Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru, mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau, yang disebut egofoni (Alsagaf H, Ida Bagus, Widjaya Adjis, Mukty Abdol, 1994,79). h. Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium 1. Pemeriksaan Radiologi

Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang dari 300 cc tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpukkan kostofrenikus. Pada effusi pleura sub pulmonal, meski cairan pleura lebih dari 300 cc, frenicocostalis tampak tumpul, diafragma kelihatan meninggi. Untuk memastikan dilakukan dengan foto thorax lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus) ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit (Hood Alsagaff, 1990, 786-787). 2. Biopsi Pleura

Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura) (Soeparman, 1990, 788). i. Pemeriksaan Laboratorium

6 < 1. kekuningan : kuning.6 > 200 > 0. b. arthritis reumatoid dan neoplasma Kadar amilase. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona (Soeparman. Perhitungan sel dan sitologi . secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura : Kadar pH dan glukosa. - Analisa cairan pleura Transudat Eksudat Hilothorax Empiema Empiema anaerob Mesotelioma : jernih. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi.5 >3 > 0. 787). kuning-kehijauan : putih seperti susu : kental dan keruh : berbau busuk : sangat kental dan berdarah c.Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain : a.016 Negatif > 1.5 Kadar protein dalam effusi 9/dl Kadar protein dalam effusi Kadar protein dalam serum Kadar LDH dalam effusi (1-U) Kadar LDH dalam effusi Kadar LDH dalam serum Berat jenis cairan effusi Rivalta < 200 < 0.016 Positif Disamping pemeriksaan tersebut diatas. 1990. Pemeriksaan Biokimia Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut : Transudat Eksudat <3 < 0.

sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. limfoma. Bila erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru. Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam diagnosa keperawatan. infark paru. enterobacter. DIAGNOSA KEPERAWATAN Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan efusi pleura antara lain : Diagnosa keperawatan pre-op 1. Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar-kapiler. trauma dada dan keganasan. Eosinofil meningkat : emboli paru. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 % (Soeparman.000 (mm3):empiema Banyak Netrofil Banyak Limfosit : pneumonia. kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada penderita effusi pleura. Bakteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis.60 % kasus. 1995 : 147. poliatritis nodosa. preamonitas atau atelektasis (Alsagaff Hood. pankreatilis.Leukosit 25. keganasan. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura 2. . E-coli. parasit dan jamur Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak kemorogis. 2. Sitologi : Hanya 50 .kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. Misotel banyak : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan. Analisa Data Setelah semua data dikumpulkan. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme obstruksi.148) d. klebsiecla. 1998: 788). pseudomonas. TB paru : tuberculosis.

5. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD)) Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. 4.3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. 5. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Diagnosa keperawatan post-op 1. Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar-kapiler. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 4. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan 8. 3. Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi. . PERENCANAAN Menyusun prioritas : Diagnosa keperawatan pre-op 1. 3. akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. 2. patofisiologis efusi pleural. 7. 6.

6. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura. 2. frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD)) Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan. dibuat rencana tindakan untuk mengurangi. kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. 3. Diagnosa keperawatan post-op 1. Rasional : Dengan mengidentifikasikan penyebab. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan mempertahankan fungsi paru secara normal Kriteria hasil : · · · Irama. Rasional : Dengan mengkaji kualitas. 1994. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. b. Kaji kualitas. kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. selama 3x24 jam diharapkan pasien mampu Intervensi : a. menghilangkan dan mencegah masalah klien. laporkan setiap perubahan yang terjadi. . Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan.(Budianna Keliat. Identifikasi faktor penyebab. frekuensi dan kedalaman pernafasan. Bunyi nafas terdengar jelas. 16) Pre-op 1. frekuensi dan kedalaman pernafasan.

RR dan respon pasien). Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru. Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pertukaran gas dalam alveoli adekuat. d.c. f. tekanan darah. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman. 2. Kriteria hasil: Akral hangat Tidak ada tanda sianosis Tidak ada hipoksia jaringan Saturasi oksigen perifer 90% Tidak ada gejala disstres pernafasan Intervensi : . nadi. Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar. Observasi tanda-tanda vital (suhu. g.kapiler. Rasional : Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thorax. e. dalam posisi duduk. Rasional : Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. Rasional : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif. dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam. Rasional : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Rasional : Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif.

bingung. dan somnolen dapat menunjukkan hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral. sianosis. Rasional : Manifestasi distress pernafasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. sesuai indikasi. pucat. Awasi suhu tubuh. mudah terangsang. Rasional : Demam tinggi (umumnya pada pneumonia bacterial dan influenza) sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigen dan menggagu oksigenasi metabolic. banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah. Awasi frekuensi jantung/irama Rasional : Takikardi biasanya ada sebagai akibat demam tetapi dapat sebagai respons terhadap hipoksemia. Observasi warna kulit. Namun sianosis daun telinga. Rasional : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medic segera. cacat adanya sianosis ferifer (kuku) atau sianosis sentral (sirkumoral). e. perubahan tingkat kesadran. dan kemudahan bernafas. Observasi penyimpangan kondisi. membrane mukosa. membrane mukosa. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil. gelisah. f. dan kulit sekitar mulut (membrane hangat) menunjukkan hipoksemia sistemik. Kaji frekuensi. c. dan kuku. b. Rasional : Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi atau rsepon tubuh terhadap demam/menggigil. d. Kaji status mental Rasional : Gelisah. cacat hipotensi. Kolaborasi a.a. Berikan terapi oksigen dengan benar. . dipsnea berat. kedalaman.

b. Intervensi : a. atau dapat dikontrol serta tampak rileks. 3. b. hilang. Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang . Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. . Berikan analgetik sesuai indikasi Rasional : Untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri. Bantu klien melakukan tehnik relaksasi Rasional : Membantu mengurangi rasa nyeri. c. Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien. Observasi karakteristik. waktu. lokasi. nadi oksimetri.Rasional : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg. Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dada klien hilang. dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut Rasional : Membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri. Rasional : Mengevaluasi proses penyakit dan memudahkan terapi paru. Awasi Analisa Gas Darah.

Ganti pakaian yang basah oleh keringat Rasional : Klien dengan hipertermi akan mengalami produksi keringat yang berlebihan sehingga menyebabkan pakaian basah. c. serta dapat memantau suhu tubuh klien. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. Kolaborasi : . Pemberian kompres hangat pada pasien Rasional : Dengan pemberian kompres hangat dapat menurunkan demam pasieen. Observasi tanda-tanda vital. Intervensi : Mandiri a. b. d. sehingga dengan memberikan minum peroral dapat menggantikan cairan yang hilang serta menurunkan suhu tubuh.4. Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda vital klien perawat dapat mengetahui keadaan umum klien. Berikan minum per oral Rasional : Klien dengan hipertermi akan memproduksi keringat yang berlebih yang dapat mengakibatkan tubuh kehilangan cairan yang banyak. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. Pakaian basah diganti untuk mencegah pasien kedinginan dan untuk menjaga kebersihan serta mencegah perkembangan jamur dan bakteri. Kriteria hasil : Hipertermi/peningkatan suhu tubuh dapat teratasi dengan proses infeksi hilang.

akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen.a. b. Berikan selimut pendingin Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39. Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional: Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori. Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan disfragma. 5. . Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total. dan dapat meningkatkan dispnea. Intervensi : a. menyusun tujuan berat badan. b.5-400C pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak. Berikan makan porsi kecil tapi sering. misalnya antipiretik. dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. c. Rasional : Obat tersebut digunakan untuk menurunkan demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan. Berikan obat penurun panas. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

d. Sajikan makanan semenarik mungkin. kebiasaannya. e. Rasional : Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Rasional : Menentukan stress dan rangsangan berlebihan. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien dapat melakukan aktivitas dengan baik Kriteria hasil : · Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dipsnea dan kelemahan berlebihan · Tanda-tanda vital dalam rentang normal. meningkatkan istirahat. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. Rasional : Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya. agama. b. 6. peningkatan kelemahan/ kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan sesudah aktivitas. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. f. . Catat laporan dipsnea. Auskultasi suara bising usus. Dorong pengguanaa manajemen stress dan pengalih yang tepat. Rasional : Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan. Intervensi : a. Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi. Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.

Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istiraha dan/ tidur. Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi. menusuk. atau menunduk ke depan meja dan bantal. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. atau dapat dikontrol serta tampak rileks dan tidur/istirahat dengan baik. misalnya terusmenerus. terbakar. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. . b. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD) Tujuan : Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang . menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan.sakit. Kaji pernyataan verbal dan nonverbal nyeri pasien. tidur di kursi. Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang . Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic. e. Buat rentang ibtensitas pada skala 0-10. Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri. Post-op 1. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. Penggunan skala nyeri dapat membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefektifan analdesik. d. Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen.c. meningkatkan control nyeri. Intervensi : a. Tentukan karakteristik nyeri. Tanyakan pasien tentang nyeri. hilang.

Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. perawat harus mengobservasi tanda fisiologis dan psikologis nyeri dan memberilan obat berdasarkan aturan. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Tujuan : Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi/ adanya gejala –gejala infeksi. Kriteria hasil : Tidak terjadi infeksi. c.ganti obat atau waktu sesuai ketepatan. Boila pasien tidak mampu memberi masukan. Dorong pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri.Dorong teknik mencuci tangan dengan baik Rasional : Mencegah infeksi nosokomial saat pemasangan WSD 3. 2.Rasional: Kesesuaian antara petunjuk verbal/nonverbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri. . Intervensi : a. Evaluasi keefektifan pemberian obat. Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Rasional : Manghindari infeksi b. Rasional : Persepsi nyeri dan hilangnya nyeri adalah subjektif dan pengontrolan nyeri yang terbaik merupakan keleluasaan pasien.

Pre-op . Rasional : Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik. Kriteria hasil : Pasien mampu bernafas secara normal. pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. Rasional : Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. b. 4. e. Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya. EVALUASI Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US. perasaan yang mengganggu dapat diketahui. Rasional : Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktifsangat bermanfaat dalam mengatasi stress. 1989). Intervensi : a. Bantu dalam menggala sumber koping yang ada. Midar H. c. Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasienJelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya.Tujuan: Setelah diberi askep 2 x 24 jam diharapkan pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan. Rasional : Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik d. Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Rasional : pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. dkk.

tak adanya dipsnea dan kelemahan berlebihan. 1995. EGC. 2. Media Aesculapius. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas. 5.1. DAFTAR PUSTAKA Wong and Whaley. 2006. Hipertermi dapat teratasi. Ed2. Clinical Manual of Pediatric Nursing. 3. Price. Infeksi tidak terjadi Ansietas dapat teratasi. 4. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. Tidak adanya nyeri. Rencana Asuhan Keperawatan. Purnawan J.1982. Tercapai ventilasi yang adekuat dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak adanya gejala disstres pernapasan. 2000. FKUI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Suddart. ( 1995 ). Ed4. Kapita Selekta Kedokteran. demam tidak ada. 3. & Brunner. tidak gelisah. Sylvia A. . Post-op 1. 2. Marilynn E. dapat melakukan aktivitas dengan baik. sianosis tidak ada dan tidak ada gejala hipoksia dan tidak adanya sesak. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Philadelphia: Doengoes. 6. Jakarta. Tidak adanya nyeri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sudoyo. Kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ilmu Penyakit Dalam. mendemonstrasikan penurunan tanda fisiologis intoleransi. 2002. Tercapainya ketidakefektifan pola pernafasan (pola nafas normal). dkk. Aru W. tidak adanya penumpukkan cairan dalam rongga pleura.

Syamsuhidayat. Jakarta. Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Edisi Revisi. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->