efusi pleura

g.

1)

Pemeriksaan fisik Status Kesehatan Umum

Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien. 2) Sistem Respirasi

Inspeksi pada pasien efusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung, iga mendatar, ruang antar iga melebar, pergerakan pernafasan menurun. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. RR cenderung meningkat dan pasien biasanya dyspneu. Fremitus tokal menurun terutama untuk efusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura, maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. Garis ini paling jelas di bagian depan dada, kurang jelas di punggung. Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis, dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru, mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau, yang disebut egofoni (Alsagaf H, Ida Bagus, Widjaya Adjis, Mukty Abdol, 1994,79). h. Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium 1. Pemeriksaan Radiologi

Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang dari 300 cc tidak bisa terlihat. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpukkan kostofrenikus. Pada effusi pleura sub pulmonal, meski cairan pleura lebih dari 300 cc, frenicocostalis tampak tumpul, diafragma kelihatan meninggi. Untuk memastikan dilakukan dengan foto thorax lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus) ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit (Hood Alsagaff, 1990, 786-787). 2. Biopsi Pleura

Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi jalur percutaneus. Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura) (Soeparman, 1990, 788). i. Pemeriksaan Laboratorium

016 Positif Disamping pemeriksaan tersebut diatas. kuning-kehijauan : putih seperti susu : kental dan keruh : berbau busuk : sangat kental dan berdarah c. Pemeriksaan Biokimia Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut : Transudat Eksudat <3 < 0. b. - Analisa cairan pleura Transudat Eksudat Hilothorax Empiema Empiema anaerob Mesotelioma : jernih. arthritis reumatoid dan neoplasma Kadar amilase.Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain : a.6 < 1. 787). Perhitungan sel dan sitologi . 1990.6 > 200 > 0. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi.5 Kadar protein dalam effusi 9/dl Kadar protein dalam effusi Kadar protein dalam serum Kadar LDH dalam effusi (1-U) Kadar LDH dalam effusi Kadar LDH dalam serum Berat jenis cairan effusi Rivalta < 200 < 0. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona (Soeparman.016 Negatif > 1. kekuningan : kuning.5 >3 > 0. secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura : Kadar pH dan glukosa.

148) d. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme obstruksi. poliatritis nodosa. Eosinofil meningkat : emboli paru. klebsiecla. Sitologi : Hanya 50 .60 % kasus. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 % (Soeparman. enterobacter. Bila erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru. . trauma dada dan keganasan. 2.kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar-kapiler. E-coli. parasit dan jamur Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak kemorogis. sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni. preamonitas atau atelektasis (Alsagaff Hood. Analisa Data Setelah semua data dikumpulkan. TB paru : tuberculosis. pseudomonas.Leukosit 25. Bakteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis. 1998: 788). Selanjutnya masalah tersebut dirumuskan dalam diagnosa keperawatan. 1995 : 147. limfoma. kemudian dikelompokkan dan dianalisa sehingga dapat ditemukan adanya masalah yang muncul pada penderita effusi pleura. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura 2. keganasan. infark paru. pankreatilis. DIAGNOSA KEPERAWATAN Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan efusi pleura antara lain : Diagnosa keperawatan pre-op 1. Misotel banyak : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan.000 (mm3):empiema Banyak Netrofil Banyak Limfosit : pneumonia.

7. akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. 3. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. 5. 4. patofisiologis efusi pleural.3. Diagnosa keperawatan post-op 1. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. 5. akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. 3. 3. . 6. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura 2. PERENCANAAN Menyusun prioritas : Diagnosa keperawatan pre-op 1. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi. 4. Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar-kapiler. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan 8. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD)) Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. 2.

Diagnosa keperawatan post-op 1.6. selama 3x24 jam diharapkan pasien mampu Intervensi : a. Kaji kualitas. 2. dibuat rencana tindakan untuk mengurangi.(Budianna Keliat. 16) Pre-op 1. b. Identifikasi faktor penyebab. . kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. 3. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. 1994. Rasional : Dengan mengkaji kualitas. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan. frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. menghilangkan dan mencegah masalah klien. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD)) Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. Bunyi nafas terdengar jelas. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan mempertahankan fungsi paru secara normal Kriteria hasil : · · · Irama. Rasional : Dengan mengidentifikasikan penyebab. Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan. laporkan setiap perubahan yang terjadi. frekuensi dan kedalaman pernafasan. frekuensi dan kedalaman pernafasan. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.

dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.kapiler. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru. Kriteria hasil: Akral hangat Tidak ada tanda sianosis Tidak ada hipoksia jaringan Saturasi oksigen perifer 90% Tidak ada gejala disstres pernafasan Intervensi : . Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pertukaran gas dalam alveoli adekuat. Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman. d. RR dan respon pasien). Gangguan pertukaran gas berhubungan perubahan membran alveolar. tekanan darah. Observasi tanda-tanda vital (suhu. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thorax. Rasional : Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. nadi. g. 2. Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam. dalam posisi duduk. Rasional : Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. Rasional : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. Rasional : Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. f.c. Rasional : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. e. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif. Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.

Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil. Kaji status mental Rasional : Gelisah. sianosis. perubahan tingkat kesadran. c. pucat. Kolaborasi a. . cacat hipotensi. Rasional : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medic segera. d. cacat adanya sianosis ferifer (kuku) atau sianosis sentral (sirkumoral). kedalaman. membrane mukosa. Awasi frekuensi jantung/irama Rasional : Takikardi biasanya ada sebagai akibat demam tetapi dapat sebagai respons terhadap hipoksemia. dipsnea berat. dan somnolen dapat menunjukkan hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral. membrane mukosa. mudah terangsang. Rasional : Demam tinggi (umumnya pada pneumonia bacterial dan influenza) sangat meningkatkan kebutuhan metabolic dan kebutuhan oksigen dan menggagu oksigenasi metabolic. sesuai indikasi. Observasi penyimpangan kondisi. Namun sianosis daun telinga. f. Observasi warna kulit. Rasional : Sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi atau rsepon tubuh terhadap demam/menggigil. bingung. e. Rasional : Manifestasi distress pernafasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.a. banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah. dan kuku. gelisah. dan kulit sekitar mulut (membrane hangat) menunjukkan hipoksemia sistemik. Awasi suhu tubuh. Kaji frekuensi. dan kemudahan bernafas. Berikan terapi oksigen dengan benar. b.

dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut Rasional : Membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri. Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang . Nyeri dada berhubungan dengan peradangan pada rongga pleura. Berikan analgetik sesuai indikasi Rasional : Untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri. Bantu klien melakukan tehnik relaksasi Rasional : Membantu mengurangi rasa nyeri. Rasional : Mengevaluasi proses penyakit dan memudahkan terapi paru. Awasi Analisa Gas Darah. b. waktu. Intervensi : a. c. 3. Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri dada klien hilang. . Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien. b. atau dapat dikontrol serta tampak rileks. Observasi karakteristik.Rasional : Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg. hilang. lokasi. nadi oksimetri.

Rasional : Dengan mengobservasi tanda-tanda vital klien perawat dapat mengetahui keadaan umum klien. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh secara mendadak ditandai dengan demam. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi peningkatan suhu tubuh. Observasi tanda-tanda vital. Berikan minum per oral Rasional : Klien dengan hipertermi akan memproduksi keringat yang berlebih yang dapat mengakibatkan tubuh kehilangan cairan yang banyak. Intervensi : Mandiri a. Kolaborasi : . Kriteria hasil : Hipertermi/peningkatan suhu tubuh dapat teratasi dengan proses infeksi hilang. d. b. Pemberian kompres hangat pada pasien Rasional : Dengan pemberian kompres hangat dapat menurunkan demam pasieen. c. serta dapat memantau suhu tubuh klien. Ganti pakaian yang basah oleh keringat Rasional : Klien dengan hipertermi akan mengalami produksi keringat yang berlebihan sehingga menyebabkan pakaian basah. Pakaian basah diganti untuk mencegah pasien kedinginan dan untuk menjaga kebersihan serta mencegah perkembangan jamur dan bakteri. sehingga dengan memberikan minum peroral dapat menggantikan cairan yang hilang serta menurunkan suhu tubuh.4.

menyusun tujuan berat badan. Rasional : Obat tersebut digunakan untuk menurunkan demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus. Berikan obat penurun panas. . Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional: Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori. dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. dan dapat meningkatkan dispnea. Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan disfragma. c. b. Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Intervensi : a. Berikan makan porsi kecil tapi sering.5-400C pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak.a. b. 5. akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. misalnya antipiretik. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan. Berikan selimut pendingin Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39.

. Rasional : Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. 6. Rasional : Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas.d. f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelelahan/kelemahan. Rasional : Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya. Sajikan makanan semenarik mungkin. Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi. meningkatkan istirahat. e. Auskultasi suara bising usus. Intervensi : a. ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. Catat laporan dipsnea. agama. Rasional : Menentukan stress dan rangsangan berlebihan. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan klien dapat melakukan aktivitas dengan baik Kriteria hasil : · Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dipsnea dan kelemahan berlebihan · Tanda-tanda vital dalam rentang normal. kebiasaannya. peningkatan kelemahan/ kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan sesudah aktivitas. Dorong pengguanaa manajemen stress dan pengalih yang tepat. b.

Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang . atau dapat dikontrol serta tampak rileks dan tidur/istirahat dengan baik. Kaji pernyataan verbal dan nonverbal nyeri pasien. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan. Rasional : Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi.c. Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen. atau menunduk ke depan meja dan bantal. menusuk. Tentukan karakteristik nyeri. Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri. Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic.sakit. d. . Intervensi : a. b. Penggunan skala nyeri dapat membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefektifan analdesik. Post-op 1. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. Tanyakan pasien tentang nyeri. menghemat energy untuk penyembuhan. tidur di kursi. misalnya terusmenerus. Buat rentang ibtensitas pada skala 0-10. Nyeri berhubungan dengan faktor-fakor fisik (pemasangan water seat drainase (WSD) Tujuan : Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang . Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istiraha dan/ tidur. e. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. meningkatkan control nyeri. hilang. terbakar.

perawat harus mengobservasi tanda fisiologis dan psikologis nyeri dan memberilan obat berdasarkan aturan. Boila pasien tidak mampu memberi masukan. Dorong pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri. c. Rasional : Persepsi nyeri dan hilangnya nyeri adalah subjektif dan pengontrolan nyeri yang terbaik merupakan keleluasaan pasien. Intervensi : a. Kriteria hasil : Tidak terjadi infeksi. Evaluasi keefektifan pemberian obat. 2. Ansietas berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Risiko infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD dan terapi torakosintesis. Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Rasional : Manghindari infeksi b.Rasional: Kesesuaian antara petunjuk verbal/nonverbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri. Tujuan : Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi/ adanya gejala –gejala infeksi.Dorong teknik mencuci tangan dengan baik Rasional : Mencegah infeksi nosokomial saat pemasangan WSD 3. .ganti obat atau waktu sesuai ketepatan.

Rasional : Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik d. dkk. Kriteria hasil : Pasien mampu bernafas secara normal. perasaan yang mengganggu dapat diketahui. Rasional : Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik. b. Rasional : Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan.Tujuan: Setelah diberi askep 2 x 24 jam diharapkan pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan. pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. 1989). e. Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya. 4. Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasienJelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya. Rasional : Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktifsangat bermanfaat dalam mengatasi stress. Intervensi : a. Pre-op . Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. Rasional : pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. Bantu dalam menggala sumber koping yang ada. Midar H. c. EVALUASI Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (US.

2002. Kapita Selekta Kedokteran. Aru W.1. Ilmu Penyakit Dalam. Kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh. 2. Tidak adanya nyeri. 2000. dapat melakukan aktivitas dengan baik. Sylvia A. mendemonstrasikan penurunan tanda fisiologis intoleransi. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. 1995. sianosis tidak ada dan tidak ada gejala hipoksia dan tidak adanya sesak. Jakarta. Post-op 1. tidak gelisah. Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas. 5. Price. Purnawan J. 3. . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sudoyo. & Brunner. dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Suddart. Tercapainya ketidakefektifan pola pernafasan (pola nafas normal). Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. tak adanya dipsnea dan kelemahan berlebihan. FKUI. Philadelphia: Doengoes. Tercapai ventilasi yang adekuat dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tidak adanya gejala disstres pernapasan. 2006. Hipertermi dapat teratasi. tidak adanya penumpukkan cairan dalam rongga pleura. Ed2. ( 1995 ). Clinical Manual of Pediatric Nursing. Ed4. 4. demam tidak ada. Media Aesculapius. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Wong and Whaley. Rencana Asuhan Keperawatan. 3. Tidak adanya nyeri. Infeksi tidak terjadi Ansietas dapat teratasi. Marilynn E.1982. 6. 2.

EGC. Edisi Revisi. Wim de Jong. .Syamsuhidayat. Jakarta. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful