LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE

Untuk memenuhi laporan profesi di Departemen Medical Ruang 25, RSSA Malang

KELOMPOK IV PSIK A 2008

RIZKA YUNITA 0810723014

KEPANITRAAN KLINIK PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

LAPORAN PENDAHULUAN Nama Mahasiswa NIM : Rizka Yunita : 0810723014

I.

MASALAH KESEHATAN CKD (Chronic Kidney Disease)

II.

DEFINISI Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999). Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Brunner & Suddarth, 2001). Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat, biasanya berlangsung beberapa tahun (Price, 1992). Gagal ginjal kronik merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama dan menetap, yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit.

III. INSIDENSI Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 1 dari 10 penduduk mungkin telah CKD, tetapi jarang terjadi pada dewasa muda. CKD biasanya dialami oleh mereka yang berusia di atas 75 tahun, dimana CKD hadir dalam 1 dari 2 orang. Fakta Tentang Penyakit Ginjal Kronis (CKD) :
• 26.000.000 orang dewasa Amerika CKD dan jutaan orang lain dalam

kategori beresiko.
• Deteksi dini dapat membantu mencegah perkembangan penyakit ginjal

gagal ginjal.

Lupus nefrosklerosis eritematosus benigna. Gangguan vaskular jaringan seperti ikat hipertensi. nefrosklerosis maligna. Penyakit metabolik seperti diabetes mellitus. gangguan jaringan ikat. V. setriktur uretra. dan hiperparatiroidisme. anomali kongenital leher vesika urinaria dan uretra. sistemik. • Kelompok resiko tinggi meliputi diabetes. nefropati obsruktif. 6. 2. seperti poliarteritis nodosa. 7. Gangguan kongenital dan herediter seperti penyakit ginjal polikistik. • Tiga tes sederhana dapat mendeteksi CKD: tekanan darah. serta amiloidosis. gangguan kongenital dan herediter. penyakit metabolik. dan Wilson (2006) diantaranya adalah tubula intestinal. Penyakit 4. albumin urin dan kreatinin serum. Nefropati toksik seperti penyalah gunaan analgetik. dan seklerosis sistemik progresif. 3. 5. penyakit vaskuler hipertensif. dan stenosis arteria renalis. neoplasma. Penyakit infeksi tubulointerstinal seperti pielonefritis kronik dan refluks nefropati. IV. • Laju filtrasi glomerulus (GFR) adalah estimasi terbaik dari fungsi ginjal. dan nefropati timah 8. Penyakit peradangan seperti glomerulonefritis. Beberapa contoh dari golongan penyakit tersebut adalah : 1. penyakit peradangan.• Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian bagi semua orang dengan CKD. Nefropati obstruktif seperti traktus urinarius bagian atas yang terdiri dari batu. fibrosis retroperitoneal. Traktus urinarius bagian bawah yang terdiri dari hipertropi prostat. dan asidosis tubulus ginjal. ETIOLOGI Dibawah ini ada beberapa penyebab CKD menurut Price. hipertensi dan riwayat keluarga penyakit ginjal. KLASIFIKASI Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium : .Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal . gout. nefropati toksik.

Persiapan untuk terapi penggantian ginjal. dan kreatinin serum meningkat.Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.Stadium 2 : insufisiensi ginjal Dimana lebih dari 75 % jaringan telah rusak. CKD dibagi ke dalam 5 tahap yaitu sebagai berikut: Tahap 1 Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1. . Blood Urea Nitrogen (BUN ) meningkat. tidak ada CKD). Tahap 5 Kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. Tahap 2 Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1. Dengan beberapa tanda kerusakan ginjal pada tes lainnya (jika semua tes ginjal lain adalah normal.73m2 atau gagal ginjal terminal. Penurunan moderat dalam fungsi ginjal. Tahap 4 Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1.73 m2 Tahap 3 Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1.73m2.73 m2).73m2. .pada stadium ini. kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik.85 .

sehingga menyebabkan penurunan klirens subtsansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. maka setiap gejala semakin meningkat. Sedangkan terapi penggantian ginjal dapat mempertahankan pasien tanpa batas waktu dan memperpanjang hidup. Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Namun. tanpa apakah ada perkembangan ke tahap 5.VI. PROGNOSIS PENYAKIT Prognosis pasien dengan penyakit ginjal kronis yang dijaga sebagai data epidemiologis menunjukkan bahwa semua penyebab kematian (tingkat kematian secara keseluruhan) meningkat sebagai fungsi ginjal menurun. Penyebab utama kematian pada pasien dengan penyakit ginjal kronis adalah penyakit kardiovaskuler. dapat dideteksi dengan mendapatkan urin 24 jam untuk pemeriksaaan kliren kreatinin. produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekresikan kedalam urin tertimbun dalam darah sehingga terjadi uremia yang mempengarui sistem tubuh. Menurunnya . PATOFISIOLOGI Menurut Smeltzer. intensitas tinggi hemodialisis rumah tampaknya terkait dengan kelangsungan hidup lebih baik dan lebih besar kualitas hidup . Transplantasi ginjal meningkatkan ketahanan hidup pasien dengan tahap 5 CKD signifikan bila dibandingkan dengan lain terapi pilihan. kualitas hidup yang sangat terpengaruh. bila dibandingkan dengan konvensional tiga kali seminggu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Banyak masalah pada ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glomerulus yang berfungsi. hal ini terkait dengan mortalitas jangka pendek meningkat (akibat komplikasi dari operasi). Sehingga menyebabkan gangguan kliren renal. dan Bare (2001) proses terjadinya CKD adalah akibat dari penurunan fungsi renal. Transplantasi samping. VII. Semakin banyak timbunan produk sampah.

Sehingga kadar kreatinin serum akan meningkat selain itu. kadar nitrogen urea darah (NUD) biasanya meningkat. Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi aksis renin angiotensin dan kerjasama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. Natrium dan cairan sering tertahan dalam tubuh yang meningkatkan resiko terjadinya oedema. gagal jantung kongesti. tetapi juga oleh masukan protein dalam diet. Retensi cairan dan natrium tidak terkontol dikarenakan ginjal tidak mampu untuk mengonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal pada penyakit ginjal tahap akhir. angina dan keletian. NUD tidak hanya dipengarui oleh penyakit renal tahap akhir. Eritropoetin yang tidak adekuat dapat memendekkan usia sel darah merah. yang semakin memperburuk status uremik. Pasien lain mempunyai kecenderungan untuk kehilangan garam. Kreatinin serum merupakan indikator paling sensitif dari fungsi renal karena substansi ini diproduksi secara konstan oleh tubuh. Kerusakan ginjal pada CKD juga menyebabkan produksi eritropoetin menurun dan anemia terjadi disertai sesak napas. Asidosis metabolik terjadi akibat ketidakmampuan ginjal mensekresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekresi fosfat dan asam organik lain juga terjadi. defisiensi nutrisi dan kecenderungan untuk mengalami perdarahan terutama dari saluran gastrointestinal sehingga terjadi anemia berat atau sedang. Episode muntah dan diare menyebabkan penipisan air dan natrium. dan Bare (2001) adalah gangguan metabolisme kalsium dan fosfat tubuh yang memiliki hubungan saling timbal balik.filtrasi glomelurus atau akibat tidak berfungsinya glomeluri klirens kreatinin. mencetuskan resiko hipotensi dan hipovolemia. Eritropoitin sendiri adalah subtansi normal yang diproduksi oleh ginjal untuk menstimulasi sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah. Abnormalitas utama yang lain pada CKD menurut Smeltzer. Sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal untuk mensekresi amonia (NH3) dan mengabsorpsi natrium bikarbonat (HCO3). respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit seharihari tidak terjadi. katabolisme dan medikasi seperti steroid. Penurunan LFG menyebabkan peningkatan kadar fosfat serum dan sebaliknya penurunan kadar serum menyebabkan penurunan . jika salah satunya meningkat yang lain menurun. dan hipertensi. Penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) juga berpengaruh pada retensi cairan dan natrium.

tubuh tidak berespon secara normal terhadap peningkatan sekresi parathormon. pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. 4. yang diakibatkan oleh retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin angiotensin aldosteron. selain itu metabolik aktif vitamin D (1. sakit kepala. nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak. tidak mampu berkonsentrasi. 2. menyebabkan perubahan pada tulang dan menyebabkan penyakit tulang. kedutan otot sampai kejang. 1996): a.sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. .25 dihidrokolekalsiferol) yang secara normal dibuat didalam ginjal menurun. Namun pada CKD. Osteodistrofienal terjadi dari perubahan komplek kalsium. Gejala dini : lethargi. mual sampai dengan terjadinya muntah. kelelahan fisik dan mental. dan adanya hipertensi. dan akibatnya kalsium di tulang menurun. Kardiovaskuler : a. Gastrointestinal seperti anoreksia atau kehilangan nafsu makan. VIII. 3. akibat dari cairan yang berlebih. b. mual disertai muntah. dan Bare (2001) diantaranya adalah: 1. Gagal jantung kongestif. berat badan berkurang. fosfat dan keseimbangan parathormon. yaitu penumpukan urea pada lapisan kulit. depresi b. Laju penurunan fungsi ginjal juga berkaitan dengan gangguan yang mendasari ekresi protein dan urin. mudah tersinggung. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia. seiring dengan berkembangnya CKD terjadi penyakit tulang uremik dan sering disebut osteodistrofienal. MANIFESTASI KLINIK Manifestasi klinik gagal ginjal kronik antara lain (Long. Hipertensi. Edema pulmoner. Pasien yang mengekresikan secara signifikan sejumlah protein atau mengalami peningkatan tekanan darah cenderung akan cepat memburuk dari pada mereka yang tidak mengalimi kondisi ini. c. Dermatologi seperti Pruritis. Manifestasi yang terjadi pada gagal ginjal kronis menurut Smeltzer. udem yang disertai lekukan. Neuromuskuler seperti terjadinya perubahan tingkat kesadaran.

ansietas pada penyakit dan kematian. Gangguan Pulmoner Nafas dangkal. d. effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan. kussmaul. 6. Pulmoner seperti adanya sputum kental. Gangguan metabolic glukosa. f. kuku tipis dan rapuh. b. Gangguan muskuloskeletal Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ). suara krekels. ulserasi dan perdarahan mulut. 7. nyeri dada. tremor.5. gatal – gatal akibat toksik. protein dan fomitus usus. Gangguan kardiovaskuler Hipertensi. nafas bau ammonia. Gangguan gastrointestinal Anoreksia. metabolisme nausea. Muskuloskletal seperti terjadinya fraktur karena kekurangan kalsium dan pengeroposan tulang akibat terganggunya hormon dihidroksi kolekalsi feron. gangguan irama jantung dan edema. batuk dengan sputum kental dan riak. . yang berhubungan pada dengan saluran dalam perdarahan gastrointestinal. Psikososial seperti terjadinya penurunan tingkat kepercayaan diri sampai pada harga diri rendah (HDR). pernapasan dangkal. c. kusmaul. burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar. e. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut: a. sampai terjadinya edema pulmonal. gangguan metabolic lemak dan vitamin D. Gangguan Integumen Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom. miopati ( kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas. dan sesak nafas akibat perikarditis. gangguan menstruasi dan aminore. terutama ditelapak kaki ). Gangguan endokrim Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun.

a. ketan. hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik. kecoklatan menunjukkan adanya darah Hb. glokuso. sedimen kotor. hipomagnesemia. Pemeriksaan Laboratorium . sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang. kekeruhan.051 (menetap pada 1. 5) Clearance kreatinin : mungkin agak menurun 6) 7) 8) Natrium : > 40 ME o /% karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi. Urine 1) 2) Volume : biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam (oliguria) / anuria. mungkin disebabkan oleh pus. partikel koloid. lemak. PH. hipokalsemia.010 menunjukkan kerusakan ginjal berat). Osmolalitas : < 350 Mosm / kg menunjukkan kerusakan mubular dan rasio urine / sering 1: 1. hiperkalemia. forfirin. h. mioglobulin. Protein : derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara bulat. 3) 4) Berat jenis : < 1. Warna : secara abnormal urine keruh. bakteri. fosfat lunak. menunjukkan kerusakan glomerulus jika SDM dan fagmen juga ada. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. SDP dan SDM. IX. dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni. asidosis. System hematologi Anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin.g.

dan leukosit Pemeriksaan Radiologi Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan untuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain: • Flat-Plat radiografy/Radiographic Untuk mengetahui keadaan ginjal. IVP biasa digunakan pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma. posisi. thrombosit. Elektrolit Natrium. 3) 4) 2. Intervenous Pyelography (IVP) Untuk mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. dan klasifikasi dari ginjal. anomali kongental. ureter. kalium. calcium dan phosfat Hematologi : Hb. abses / batu ginjal. pembedahan. kelainan prostat. serta obstruksi saluran kencing. peningkatan BUN dapat merupakan indikasi dehidrasi.b. arterovenous fistula. dan vesika urinaria dengan mengidentifikasi bentuk. . ukuran. kegagalan pre renal atau gagal ginjal. • Computer Tomograohy (CT) Scan Untuk • melihat secara jelas struktur anatomi ginjal yang penggunaannya dengan memakai kontras atau tanpa kontras. 2) Kreatinin Produksi katabolisme otot dari pemecahan kreatinin otot dan kreatinin posfat. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus renal arteri stenosis. serta beberapa gangguan bentuk vaskuler. Bila 50 % nefron rusak maka kadar kreatinin meningkat. • Aortorenal Angiography Untuk mengetahui sistem arteri. calculi ginjal. dan kapiler pada ginjal dengan menggunakan kontras. vena. Darah 1) BUN Urea adalah produksi akhir dari metabolism protein. Pada gambaran ini akan terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses infeksi. aneurisma ginjal. Ht.

Uremia akibat peningkatan kadar uream dalam tubuh.• Magnetic Resonance Imaging (MRI) Untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh obstruksi neuropati. . 6. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus glomerulonepritis. dan Hiperfosfatemia. dan masukan diit berlebih. dan perencanaan transplantasi ginjal. mual. Biopsi Ginjal Untuk mendiagnosa kelainan ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu dianalisa. 8. Penyakit tulang serta klasifikasi metabolik akibat retensi fosfat. 7. efusi perikardial. ARF. dan muntah. Prikarditis. Gagal jantung akibat peningkatan kerja jantung yang berlebian. Hiperkalemia. X. 2. ARF. Malnutrisi karena anoreksia. kadar kalsium serum yang rendah. dan tamponad jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat. neprotik sindom. penyakit ginjal bawaan. Hiperkalemi akibat penurunan sekresi asidosis metabolik. proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi ginjal. katabolisme. KOMPLIKASI Komplikasi dari CKD menurut Smeltzer dan Bare (2001) serta Suwitra (2006) antara lain adalah: 1. 9. metabolisme vitamin D yang abnormal dan peningkatan kadar alumunium akibat peningkatan nitrogen dan ion anorganik. 4. 3. 3. Hiperparatiroid. 5. Anemia akibat penurunan eritropoitin. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin angiotensin aldosteron.

Pada ukuran ginjal yang masih normal secara ultrasono grafi. Asupan cairan diatur seimbang antara masukan dan pengeluaran urin serta Insesible Water Loss (IWL). obatobat nefrotoksik. Elektrolit yang harus diawasi dalam asupannya adalah natrium dan kalium. biopsi serta pemeriksaan histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi yang tepat terhadap terapi spesifik. gangguan keseimbangan cairan. Pembatasan kalium dilakukan karena hiperkalemi dapat mengakibatkan aritmia jantung yang fatal. atau peningkatan aktifitas penyakit dasarnya. hipertensi yang tak terkontrol. Faktor-faktor komorbid ini antara lain. Pembatasan cairan dan elektrolit pada penyakit CKD sangat diperlukan. PENATALAKSANAAN Menurut Suwitra (2006) penatalaksanaan untuk CKD secara umum antara lain adalah sebagai berikut : 1. Oleh karena itu pembatasan obat dan makanan yang mengandung kalium (sayuran dan buah) harus . bahan radio kontras.XI. Sebaliknya bila LFG sudah menurun sampai 20–30 % dari normal terapi dari penyakit dasar sudah tidak bermanfaat. infeksi traktus urinarius. 2. Penting sekali untuk mengikuti dan mencatat kecepatan penurunan LFG pada pasien penyakit CKD. Waktu yang tepat dalam penatalaksanaan penyakit dasar CKD adalah sebelum terjadinya penurunan LFG. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya edema dan komplikasi kardiovaskuler. sehingga peningkatan fungsi ginjal tidak terjadi. obstruksi traktus urinarius. Dengan asumsi antara 500-800 ml/hari yang sesuai dengan luas tubuh. hal tersebut untuk mengetahui kondisi komorbid yang dapat memperburuk keadaan pasien.

Jumlah garam disetarakan dengan tekanan darah dan adanya edema. Seperti anemia dilakukan untuk penambahan eritropoitin. Diantaranya protein nilai biologis tinggi. Protein perlu dilakukan pembatasan dengan ketat. 5. tidak seperti karbohidrat. DM.5-5. Penyebab turunnya fungsi ginjal adalah hiperventilasi glomerulus yaitu : a. Selain itu pembatasan protein bertujuan untuk membatasi asupan fosfat karena fosfat dan protein berasal dari sumber yang sama. Protein yang dibatasi antara 0. Hal-hal yang termasuk pencegahan dan terapi penyakit vaskuler adalah pengendalian hipertensi. b. karena protein akan dipecah dan diencerkan melalui ginjal. Hal ini terjadi akibat mekanisme kerjanya sebagai anti hipertensi dan anti proteinuri.5 mEg/lt. 3. agar tidak terjadi hiperfosfatemia.8/kg BB/hr. mulai dilakukan pada LFG < 60 ml/mnt. dislipidemia. dan terapi pada kelebian cairan dan elektrolit.6-0. karena 40-45 % kematian pada penderita CKD disebabkan oleh penyakit komplikasinya pada kardiovaskuler. sedangkan pada natrium dibatasi untuk menghindari terjadinya hipertensi dan edema. Pencegahan dan terapi penyakit kardio faskuler merupakan hal yang penting. Kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/ kg BB/hr dalam pemberian diit.50 gr. yang 0. Menghambat perburukan fungsi ginjal. CKD mengakibatkan berbagai komplikasi yang manifestasinya sesuai dengan derajat / penurunan tranfusi LFG. Selain itu pemakaian obat hipertensi seperti penghambat enzim konverting angiotensin (Angiotensin Converting Enzim / ACE inhibitor) dapat memperlambat perburukan fungsi ginjal. sedangkan diatas batasan tersebut tidak dianjurkan pembatasan protein. hiperfosvatemia.dibatasi dalam jumlah 3. Terapi farmakologi untuk mengurangi hipertensi intraglomerulus. Pemakaian obat anti hipertensi disamping bermanfaat untuk memperkecil resiko komplikasi pada kardiovaskuler juga penting untuk memperlambat perburukan kerusakan nefron dengan cara mengurangi hipertensi intraglomerulus dan hipertrofi glomerulus. 4.350. Pemberian kalsitrol . anemia. Batasan asupan protein.

Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persaratan. . Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan : AV fistule : menggabungkan vena dan arteri lumen: langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke jantung ) . Dengan demikian diharapkan bahwa zat-zat yang tidak diinginkan dari dalam darah akan berpindah ke cairan dialisis dan kalau perlu air juga dapat ditarik kecairan dialisis. Terapi dialisis dan transplantasi dapat dilakukan pada tahap CKD derajat 4-5. Transplantasi ginjal Dengan pencangkokkan ginjal yang sehat ke pembuluh darah pasien CKD maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru. Tindakan dialisis ada dua macam yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis yang merupakan tindakan pengganti fungsi faal ginjal sementara yaitu faal pengeluaran/sekresi. dan persyaratan yang utama adalah bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/mayat yang ditinjau dari segi imunologik . Namun dalam pemakaiannya harus dipertimbangkan karena dapat meningkatkan absorsi fosfat 6. Dasar dialisis adalah adanya darah yang mengalir dibatasi selaput semi permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikian rupa sehingga komposisi elektrolitnya sama dengan darah normal. Terapi dialysis merupakan terapi yang biasanya disebut dengan terapi pengganti ginjal.mengatasi osteodistrasi renal. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD (Continues Ambulatori Peritonial Dialysis) Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. a.Double b.Peritoneal dialysis Biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency. sedangkan fungsi endokrinnya tidak ditanggulangi.

Pasien juga mengungkapkan telah menghindari larangan dari dokter. Aktifitas dan latian. pasien terlihat bingung kenapa kondisinya seprti ini meski segala hal yang telah dilarang telah dihindari. namun ada juga yang mengalami CKD dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal seperti proses pengobatan. Tandanya adalah anoreksia. . dan traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya CKD. mual. d. Pengkajian pola fungsional Gordon a. asupan nutrisi dan air naik atau turun. rematik. Pola nutrisi dan metabolik. Gejalanya adalah pasien tampak lemah. pasien terjadi konstipasi.sama dengan pasien. glomerulo nefritis. Karena kebiasaan kerja dengan duduk / berdiri yang terlalu lama dan lingkungan yang tidak menyediakan cukup air minum / mengandung banyak senyawa / zat logam dan pola makan yang tidak sehat. terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah atau tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu. Pemilihan dari segi imunologik ini terutama dengan pemeriksaan HLA. 3. Tandanya adalah pasien terlihat lesu dan khawatir. Tandanya adalah penurunan BAK. c. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pasien Gejalanya adalah pasien mengungkapkan kalau dirinya saat ini sedang sakit parah. muntah. obstruksi saluran kemih. b. Penderita CKD kebanyakan berusia diantara 30 tahun. CKD dapat terjadi pada siapapun. pekerjaan dan lingkungan juga mempunyai peranan penting sebagai pemicu kejadian CKD. Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum CKD seperti DM. hipertensi. terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6 bulan. penggunaan obat-obatan dan sebagainya. Pola eliminasi Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. 2. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Demografi. hiperparatiroidisme.

b. keletihan saat berhubungan. tertutup. Pengkajian fisik a. aktifitas dibantu. Tandanya pasien tidak kegiatan agama seperti biasanya. penurunan harga diri sampai terjadinya HDR (Harga Diri Rendah). Gejalanya emosi pasien labil. Gejalanya konsep diri pasien tidak terpenuhi. komunikasi tidak jelas. Pola reproduksi Gejalanya penurunan keharmonisan pasien. dan terjadi dispnea. Gejalanya pasien tampak gelisah. Tandanya tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat. dan adanya penurunan kepuasan dalam hubungan. Pola hubungan dengan orang lain. terjadinya perubahan fisik. respirasi riet naik. Tandanya terjadi penurunan libido. e. Gejalanya adalah pasien terliat mengantuk. Tandanya lebih menyendiri. Pola kepercayaan. Pola persepsi dan koknitif. Penampilan / keadaan umum. dapat melakukan . h. citra diri jauh dari keinginan. Kesadaran pasien dari compos mentis sampai coma. dan percaya diri. k.Gejalanya adalah pasien mengatakan lemas dan tampak lemah. Pola mekanisme koping. Tandanya kaki menjadi edema. Pola persepsi diri. Gejalanya penurunan sensori dan rangsang. mudah terpancing emosi. terjadi penurunan sensifitas nyeri. nadi meningkat dan reguler. f. Tandanya adalah aktifitas dibantu. Pola istirahat dan tidur. Lemah. perubahan peran. Tandanya adalah pasien terliat sering menguap. penurunan kualitas hubungan. j. letih dan terdapat kantung mata. Tandanya adalah penurunan kesadaran seperti ngomong nglantur dan tidak dapat berkomunikasi dengan jelas. serta pasien tidak dapat menolong diri sendiri. pasien mengatakan merasa bersalah meninggalkan perintah agama. Tekanan darah naik. g. Tanda-tanda vital. i. Gejalanya pasien sering menghindari pergaulan. 5.

mata kuning / kotor. dan terjadi perikarditis. atau terjadi peningkatan berat badan karena kelebian cairan. Dada Dispnea sampai pada edema pulmonal. kulit bersisik dan mengkilat / uremia. turgor jelek. Kulit. Leher dan tenggorok.c. 3. 2. i. Ekstremitas. B. pergerakan dada tidak simetris. Kelemahan fisik. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah: 1. genetalia kotor. perut buncit. dan Capillary Refil lebih dari 1 detik. dada berdebar-debar. terdapat ulkus. Peningkatan kelenjar tiroid. terdapat pembesaran tiroid pada leher. kulit jadi hitam. terdengar suara tambahan pada paru (rongkhi basah). Gangguan perfusi jaringan renal Kelebihan volume cairan Perubahan nutrisi Perubahan pola nafas Potensial infeksi Resiko terjadi kerusakan integritas kulit Intoleransi aktivitas . 6. terjadi edema. Antropometri. Kelemahan dalam libido. bibir kering dan pecah-pecah. mukosa mulut pucat dan lidah kotor. Terdapat otot bantu napas. Rambut kotor. Genital. pengeroposan tulang. g. e. Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi. h. ejakulasi dini. 4. terdapat pembesaran jantung. f. Turgor jelek. Terjadi peningkatan nyeri. j. terjadi edema. aktifitas pasien dibantu. hidung kotor dan terdapat kotoran hidung. impotensi. Abdomen. 7. 5. terdapat suara tambahan pada jantung. telinga kotor dan terdapat kotoran telinga. mulut bau ureum. Kepala. penurunan pristaltik. d.

Pernapasan kusmaul dihubungkan dengan acidosis. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan ketidakmampuan ginjal mengeskkresi air dan natrium 1) Timbang berat badan pasien setiap hari. Ukur CVP dan PAWP. Kaji status mental. 2) Monitor data laboratorium : Serum Natrium. distensi vena jugularis. respon terhadap pengobatan untuk menentukan Rasional : Dosis obat mungkin berkurang dan intervalnya menjadi lebih lama. Monitor oedema. kejang yang mungkin terjadi dihubungkan dengan rendahnya calsium. Kurang pengetahuan tentang tindakan medis C. BUN dan serum kreatinin. Rasional : Nilai laboratorium merupakan indikasi kegagalan ginjal untuk mengeluarkan sisa metabolit dan kemunduran fungsi sekretori ginjal. Hb. Ukur tekanan darah (posisi duduk dan berdiri). efektivitas obat yang diberikan dan kemungkinan timbulnya efek samping . Hidrogen. bicarbonat. calsium magnesium. refleks hepato jugular. 2. HT. Rasional : Obat – obat nephrotoxic akan memperburuk keadaan ginjal Berikan pengobatan sesuai pesanan / permintaan dokter dan kaji terhadap pengobatan. Potasium. Rasional : Untuk mengidentifikasi status gangguan cairan dan elektrolit. 3) 4) respon Jangan berikan obat – obat Nephrothoxic.8. kaji nadi dan pernapasan (Termasuk bunyi napas) tiap 6-8 jam. 2) Monitor data-data laboratorium : Serum pH. Kalium. Ukur intake dan output tiap 24 jam. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Diagnosa Keperawatan: Gangguan perfusi jaringan renal berhubungan dengan kerusakan nepron sehingga tidak mampu mengeluarkan sisa metabolisme 1) Kaji Perubahan EKG. Monitor obat. Respirasi (Kecepatan dan kedalamannya) Rasional : Tingginya gelombang T. Panjangnya interval PR dan Lebarnya kompleks QRS dihubungkan dengan serum Kalium . Clorida dan bicarbonat.

Kalium dan natrium. 3) Monitor ECG Rasional : Peningkatan atau penurunan Kalium 4) Berikan cairan sesuai indikasi Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya dehidrasi sel. Hipokalemia bisa terjadi akibat pemberian diuretic. 3. Rasional : Kerjasama dengan profesi lain akan meningkatan hasil kerja yang baik. 5) Berikan Diuretic sesuai pesanan dan monitor terhadap responnya. 3) Berikan makanan sesuai diet yang dianjurkan dan modifikasi sesuai kesukaan Klien. dan effect uremia yang mengakibatkan malnutrisi dihubungkan dengan disthrithmia. 2) Monitor intake makanan dan perubahan berat badan . Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembatasan intake (Diit) protein – calori. Rasional : Menghilangkan rasa tidak enak dalam mulut sebelum makan. 1) Kaji terhadap adanya Mual. Kolaborasi denga ahli diet untuk pemberian diit yang tepat bagi pasien. Rasional : Untuk mengevaluasi kemungkinan efek sampingnya.Rasional : Untuk mengidentifikasikan acumulasinya elektrolit. Rasional : Meningkatkan kebuthan Nutrisi klien sesuai diet . Lemak. muntah dan anorexia. Rasional : Keadaan – keadaan seperti ini akan meningkat kehilangan kebutuhan nutrisi. Rasional : Untuk menentukkan diet yang tepat bagi pasien. Rasional : Untuk menentukkan efek dari pengobatan dan observasi tehadap efek samping yang mungkin timbul seperti : Hipokalemia dll. 4) Bantu atau anjurkan pasien untuk melakukan oral hygiene sebelum makan. 5) 6) Berikan antiemetik dan monitor responya. Monitor data laboratorium : Serum protein. . Pasien dengan GGK butuh diit yang tepat untuk perbaikan keadaan dan fungsi ginjalnya.

Excoriations dan infeksi. 11) Kaji terhadap adanya tanda. 14) Pertahankan kebersihan diri.4. Rasional : Uremia mungkin terselubung dan biasanya diikuti dengan peningkatan temperatur seperti dicurigai adanya adanya infeksi. Potensial Infeksi berhubungan dengan penekanan sistim imun akibat uremia. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil Intervensi: 7) 8) 9) 10) Auskultasi bunyi nafas. culture sputum. Rasional : Untuk mendeteksi lebih awal adanya infeksi. 6.tanda infeksi. Rasional : Mencegah terjadinya infeksi. Pruritis. . Status hipermetabolisme infeksi dapat menyebabkan peningkatan serum kalsium. Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek uremia. status nutrisi yang adekuat dan istirahat yang cukup. Urine. Monitor serum Kalium. Rasional : Kebiasaan hidup yang sehat membantu mencegah infeksi. 15) Kaji terhadap kekeringan kulit. 13) Pertahankan tekhnik antiseptik selama perawatan dan patulah selalu universal precaution. catat adanya crakles Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam Atur posisi senyaman mungkin Batasi untuk beraktivitas R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 R: Mencegah terjadinya sesak nafas R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia 5. 12) Monitor temperatur tiap 4 – 6 jam : Monitor data laboratorium : WBC : Darah.

3) 4) Beri (hemodialisa) b. Rasional : Amengurangi pruritis. 17) Monitor Lipatan kulit dan area yang oedema. prognosis dan tindakan medis 8. 20) Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat. Rasional : Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia.area ini sangat mudah terjadinya injuri. penyebab. keletihan Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi Intervensi: 1) 2) 3) 4) Pantau pasien untuk melakukan aktivitas Kaji fektor yang menyebabkan keletihan Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat Pertahankan status nutrisi yang adekuat kondisi. .Rasional : Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsius dan phospat pada lapiran cutaneus. Anjurkan keluarga untuk memberikan support system. 18) Lakukan perawat kulit secara benar. Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang pendidikan kesehatan mengenai pengertian. 16) Kaji terhadap adanya petechie dan purpura. 2) hemodialisa ). Rasional : Area. Kurang pengetahuan tentang Intervensi : 1) akan dialami. 7. Rasional : Untuk mencegah injuri dan infeksi 19) Berikan pengobatan antipruritis sesuai pesanan.d salah interpretasi informasi. Rasional : Untuk mencegah injuri akibat garukan dan infeksi. tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.

Edisi 8. Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan DAFTAR PUSTAKA Long. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Price. (1996). Jakarta. Jakarta : EGC Smeltzer. Edisi 3. Jakarta :EGC Suyono. Jilid I II. (2001).: Balai Penerbit FKUI . Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (2001). B C. Edisi 4. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.5) penkes. Slamet. Suzanne C dan Brenda G Bare. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3.

.

vomitus Perubahan nutrisi infeksi gastritis mual.fatigue . laktat naik . anaerob timb.nyeri sendi suplai O2 ke otak turun syncope (kehilangan kesadaran) kapiler paru naik edema paru gang. cairan COP turun tek. integritas kulit nausea. kapiler naik vol. asam naik as. keseimbangan asam . as. pertukaran gas intoleransi aktivitas payah jantung kiri bendungan atrium kiri naik gangguan perfusi jaringan resiko gangguan nutrisi suplai nutrisi dalam darah turun sekresi eritropoitis turun produksi Hb turun oksihemoglobin turun suplai O2 turun intoleransi aktivitas iritasi / cidera jaringan hematuria anemia sekresi protein terganggu sindrom uremia perpospatemia pruritis gang.melena anemia .hematemesis . lambung naik iritasi lambung perdarahan . interstisial naik edema (kelebihan volume cairan) preload naik beban jantung naik hipertrofi ventrikel kiri aliran darah ginjal turun RAA turun retensi Na & H2O naik kelebihan vol.basa prod. vena pulmonalis suplai O2 jaringan turun metab.PATOFISIOLOGI Infeksi reaksi antigen antibodi vaskuler arteriosklerosis suplai darah ginjal ↓ zat toksik tertimbun ginjal Obstruksi saluran kemih Retensi urin batu besar dan kasar menekan saraf perifer nyeri pinggang GFR turun GGK retensi Na urokrom tertimbun di kulit perubahan warna kulit total CES naik tek. muntah gang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful