P. 1
hubungan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya

hubungan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya

|Views: 3,738|Likes:
Published by guntherrem248
sejarah memiliki hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, secara lebih rinci dijelaskan dalam essay ini.
sejarah memiliki hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, secara lebih rinci dijelaskan dalam essay ini.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: guntherrem248 on Feb 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2014

pdf

text

original

1

2

Hubungan Sejarah dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lain
Didi Pramono Mahasiswa Prodi Pendidikan IPS Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang dapat dihubungi melalui e-mail ddpramono248@gmail.com

Gambaran Umum Sejarah sebagai sebuah ilmu memiliki keterkaitan yang erat dengan ilmu-ilmu sosial lain. Sebelum lebih jauh membahas tentang hubungan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, perlu dipahami terlebih dulu gambaran umum kedudukan dan konsep-konsep ilmu-ilmu sosial lainnya. Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan simbiosis mutualisme antara sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lain. Antropologi:
kebudayaan, elemen kebudayaan, komplek kebudayaan, enkulturasi, daerah kebudayaan, akulturasi, tradisi, etnosentrisme, relativisme budaya

Ilmu Politik:
kontrol sosial, negara, kekuasaan, legitimasi, otoritas, kelompok kepentingan, sosialisasi politik, kebudayaan politik, sistem politik

Sosiologi:
sosialisasi, peran, norma, sanksi, status, institusi, komunitas, masyarakat, interaksi saling ketergantungan

Sejarah:
perubahan, peristiwa, sebab-akibat, isme-isme (nasionalisme, dsb.), kemerdekaan/kebebasan, kolonialisme, revolusi, fasisme, komunisme, peradaban, perbudakan, waktu, feminisme, liberalisme, konservatisme

Geografi:
lokasi, region, interaksi spasial, pola spasial kota, struktur intern kota, persepsi lingkungan

Ekonomi:
kelangkaan, produksi, distribusi, konsumsi, barang & jasa, pembagian kerja, jualbeli, arus perputaran, uang, kebutuhan, pendapatan

Psikologi:
konsep diri, motivasi, persepsi, frustasi, sikap

Gambar 1. Skema Posisi Ilmu Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya Adaptasi dari James A. Bank, Teaching Strategies for the Social Studies: Inquiry, Valuing, and Decision Making. Menlo Park, California: Addison Wesley Publishing Company, 1977, hal. 89. Gambar 1. Menggambarkan dengan cukup jelas konsep-konsep ilmu sosial. Sejarah sebagai salah satu ilmu sosial memiliki posisi dan peran yang strategis, di mana analisis sejarah dapat dimasukkan ke dalam bidang kajian ilmu-ilmu sosial lainnya. Bagian awal tulisan ini akan menjelaskan konsep-konsep sejarah, kemudian akan dijelaskan hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

A. Konsep-Konsep Ilmu Sejarah 1. Perubahan Sejarah pada hakikatnya adalah perubahan. Perubahan merupakan suatu keniscayaan. Orang mengatakan “Tidak ada di dunia ini yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri yang abadi”. Bahkan, seorang futuris ternama Amerika Serikat Alvin

Toffler (1981) mengemukakan bahwa perubahan tidak sekadar penting dalam kehidupan, tetapi perubah-an itu sendiri adalah kehidupan. Seprimitif apapun suatu masyarakat, pasti akan mengalami perubahan.

3

2. Peristiwa Konsep peristiwa memiliki arti sebagai suatu kejadian yang menarik maupun luar biasa karena memilki keunikan. Dalam penelitian sejarah, peristiwa selalu menjadi objek kajian, mengingat salah satu karakteristik ilmu sejarah adalah mencari keunikan-keunikan yang terjadi pada peristiwa tertentu, dengan penekanan pada taradisi-tradisi relativisme. 3. Sebab-Akibat Istilah sebab merujuk kepada pengertian faktor-faktor determinan fenomena pendahulu yang mendorong terjadinya sesuatu perbuatan, perubahan, maupun peristiwa berikutnya, sekaligus sebagai suatu kondisi yang mendahului peristiwa. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang menjadikan kesudahan atau hasil suatu perbuatan maupun dampak dan peristiwa. 4. Nasionalisme Konsep nasionalisme, secara sederhana memiliki arti rasa kebangsaan, di mana kepentingan negara dan bangsa mendapat perhatian besar dalam kehidupan bernegara. 5. Kemerdekaan/Kebebasan Konsep kemerdekaan atau kebebasan adalah nilai utama dalam kehidupan politik bagi setiap negara dan bangsa maupun umat manusia yang senantiasa ingin diwujudkan. Pergerakan perjuangan untuk merdeka selalu akan menciptakan peristiwa, yang akan menjadi konsep penting dalam sejarah. 6. Kolonialisme Konsep kolonialisme merujuk kepada bagian imperialisme dalam ekspansi bangsa-bangsa Eropa Barat ke berbagai wilayah lainnya di dunia sejak abad ke-15 dan 16.Pada puncak perkembangannya, kolonialisme merajalela pada abad ke-19. Di mana hampir setiap Negara Eropa memilki daerah jajahan di Asia, Afrika,dan Amerika. Agenda besar ini pelak merupakan bahan kajian sejarah yang amat berharga. 7. Revolusi Konsep Revolusi menunjuk pada suatu pengertian tentang perubahan sosial politik yang radikal, berlangsung cepat, dan besar-besaran.Revolusi terjadi ketika berbagai kesulitan perang dan krisis keuangan negara berhasil diatasi, namun memiliki institusi-institusi yang rentan terhadap revolusi. Skocpol yang mengidentifikasi tiga ciri kelembagaan yang

menyebabkan kerentanan revolusi tersebut, yaitu: a) Lembaga militer negara sangat inferior terhadap militer dari negaranegara pesaingnya; b) Elite yang otonom mampu menentang atau menghadang implementasi kebijaksanaan yang dijalankan pemerintahan pusat; c) Kaum petani memiliki organisasi pedesaan yang otonom. Pergerakan masyarakat untuk melakukan revolusi inilah yang kelak akan menjadi sejarah suatu bangsa. 8. Fasisme Konsep fasisme atau facism adalah nama pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat memiliki rasa nasionalis yang sempit, rasialis, militeristis, dan imperialis (Ebestein dan Fogelmen, 1990: 114). Isme-isme ini amat penting dicatat sebagai sejarah, karena keberadaannya telah memberi dampak besar bagi kehidupan suatu bangsa. 9. Komunisme Pada dasarnya, konsep dari istilah komunisme merujuk kepada setiap pengaturan sosial yang didasarkan pada kepemilikan, produksi, konsumsi, dan swapemerintahan yang diatur secara komunal atau bersama-sama (Meyer, 2000: 143). Isme-isme ini amat penting dicatat sebagai sejarah, karena keberadaannya telah memberi dampak besar bagi kehidupan suatu bangsa. 10. Peradaban Konsep peradaban atau civilization merupakan konsep yang merujuk pada suatu entitas kultural seluruh pandangan hidup manusia yang mencakup nilai, norma, institusi, dan pola pikir terpenting dari suatu masyarakat yang terwariskan dari generasi ke generasi (Bozeman dalam Huntington, 1998: 41). Selain itu, peradaban menunjuk kepada suatu corak maupun tingkatan moral yang menyangkut penilaian terhadap totalitas kebudayaan. Jadi, peradaban jauh melebihi luasnya dari suatu kebudayaan yang saling memengaruhi. 11. Perbudakan Pada hakikatnya, konsep perbudakan adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu kondisi di mana seseorang maupun kelompok tidak memiliki kedudukan dan peranan sebagai manusia

4

yang memiliki hak asasi sebagai manusia yang layak.Perbudakan telah menjadi sejarah kelam kemanusiaan. Perbudakan menjadi isu penting sejarah dengan harapan tidak ada lagi praktik perbudakan saat ini. 12. Waktu Konsep waktu dalam hal ini (hari, tanggal, bulan, tahun, windu, dan abad) merupakan konsep esensial dalam sejarah. Begitu pentingnya mengenai waktu yang digunakan baik pada riset historis dan empiris dalam perspektif kronologis, fungsionalis, strukturalis, maupun simbolis. Secara alter-natif, ilmu-wan atau sejarawan dapat menggunakan penempatan subjektif dari saat kemarin, sekarang, dan akan datang. Mengenai pentingnya pemahaman tentang waktu, menurut Sztompka (2004:58-59) terdapat enam fungsi waktu, yaitu (a) sebagai penyelaras tindakan; (b) sebagai koordinasi; (c) sebagai bagian dalam tahapan atau rentetan peristiwa; (d) menempati ketepatan; (e) menentukan ukuran; (f) untuk membedakan suatu masa tertentu dengan lainnya. 13. Feminisme Istilah feminisme adalah nama suatu gerakan emansipasi wanita dari subordinasi pria. Menurut Maggie Humm (2000:354), semua gerakan feminis mengandung tiga unsur asumsi pokok. Pertama, gender adalah suatu konstruksi yang menekan kaum wanita sehingga cenderung menguntungkan pria. Kedua, konsep patriarki-dominasi kaum pria dalam lembaga-lembaga sosial melandasi konstruk tersebut. Ketiga, pengalaman dan pengetahuan kaum wanita harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakat nonseksis di masa mendatang. Isme-isme ini amat penting dicatat sebagai sejarah, karena keberadaannya telah memberi dampak besar bagi kehidupan suatu bangsa. 14. Liberalisme Konsep liberalisme mengacu kepada sebuah doktrin yang maknanya hanya dapat diungkapkan melalui penggunaan kata-kata sifat yang menggambarkan nuansa-nuansa khusus. Isme-isme ini amat penting dicatat sebagai sejarah, karena keberadaannya telah memberi dampak besar bagi kehidupan suatu bangsa. 15. Konservatisme Istilah konservatisme merujuk kepada doktrin yang meyakini bahwa realitas

suatu masyarakat dapat ditemukan pada perkembangan sejarahnya. Oleh karena itu, pemerintah membatasi diri dalam campur tangan terhadap perilaku kehidupan masyarakatnya, dalam arti tidak boleh melupakan akar-akar sejarahnya (Minogue, 2000: 1666). Ismeisme ini amat penting dicatat sebagai sejarah, karena keberadaannya telah memberi dampak besar bagi kehidupan suatu bangsa. B. Hubungan Sejarah dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya Sejarah sebagai bagian dari ilmu sosial memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Sebagaimana banyak dibicarakan oleh para akademisi, kini berkembang konsep rapproachment (proses saling mendekatkan antardisiplin ilmu sosial). Proses ini dilakukan dengan alasan bahwa ilmu-ilmu sosial dapat menyediakan teori dan konsep sebagai alat analitis yang relevan untuk menganalisis sejarah. Alat-alat analitis ilmu-ilmu sosial dipinjam karena sejarah konvensional terlalu miskin dan tidak memiliki teori. Namun konsep sejarah sebagai sistem akan menjelaskan relevansi metodologi dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Rapproachement antara ilmu sosial dan sejarah terutama terwujud pada perubahan metodologi. Pembaruan metodologi tahap pertama terjadi karena pengaruh ilmu diplomatik sejak Mabillon, sedangkan pembaruan tahap kedua terjadi karena pengaruh ilmu sosial. Implikasi besar dari perkembangan itu ialah bahwa setiap research design memerlukan kerangka referensi yang bulat, yaitu memuat alat-alat analitis yang akan meningkatkan kemampuan untuk menggarap data. Oleh karena itu, pengkajian sejarah memerlukan teori dan metodologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah maupun ilmu sosial lainnya dapat saling mendekatkan secara metodologi untuk mengkaji dan memecahkan suatu permasalahan tertentu karena subjek dan objek yang dikaji sama yakni manusia dan kehidupannya, perluasan secara horizontal maupun vertikal sejarah yang harus dikaji dan diteliti menuntut pula peningkatan dan penyempurnaan metodologi sejarah sehingga menghasilkan historiagrafi yang bervariasi dalam beberapa tema, penggunaan konsepkonsep ilmu sosial membuat banyak pertanyaan untuk penelitian yang diajukan,

5

pada saatnya dapat diberikan jawabanjawaban melalui berbagai bantuan disiplin ilmu. Dilihat dari sasaran objeknya, maka studi sejarah dengan studi ilmu sosial lainnya tidaklah banyak berbeda. Mengenai masalah deskripsi dan analisis, bagi sejarah ataupun sosiologi dan juga ilmu-ilmu lain, dikotomi itu adalah membantu. Analisis menghendaki suatu deskripsi, demikian pula deskripsi yang memadai adalah deskripsi yang rumit, yang tergantung pada cukupnya sebab-sebab yang ada di dalamnya (Kartodirdjo, 1970: 61-68). Perkembangan penelitian dan penulisan sejarah modern telah membiasakan sejarawan mengenal dan menggunakan sejumlah konsep, baik yang dikenal dari dalam diri sejarah sendiri maupun diangkat dari ilmuilmu sosial. Pendekatan interdisiplin atau multidimensional maksudnya adalah dalam menganalisis berbagai peristiwa atau fenomena sejarah masa lalu, sejarah menggunakan konsep-konsep dari berbagai ilmu sosial tertentu yang relevan dengan pokok kajiannya. Penggunaan berbagai konsep disiplin ilmu sosial ini akan memungkinkan suatu masalah dapat dilihat dari berbagai dimensi sehingga pemahaman tentang masalah itu, baik keluasannya maupun kedalamannya, akan semakin jelas. Dari berbagai kutipan tulisan tersebut nampak bahwa hubungan sejarah dan ilmuilmu sosial lainnya saling terkait dan saling membutuhkan. Sejarah membutuhkan konsep dan teori dari ilmu-ilmu sosial lain dalam bingkai pendekatan multidisipliner, guna memahami fakta sejarah secara komprehensif. Demikian juga ilmu-ilmu sosial lain, membutuhkan analisis historis untuk memahami fenomena masa silam guna menarik generalisasi atas fenomena kekinian. Secara khusus, hubungan sejarah dengan beberapa ilmu sosial akan dijelaskan berikut ini, 1. Hubungan Sejarah dengan Antropologi Terdapat kesamaan antara sejarah dan antropologi, persamaan terletak pada penempatan manusia sebagai subjek dan objek kajiannya. Selain itu, antropologi juga mengkaji objek yang juga merupakan produk historis, yakni artifact, sosiofact, dan mentifact. Disamping persamaan tersebut, terdapat perbedaan antara keduanya. sejarah lebih

membatasi diri pada penggambaran suatu peristiwa sebagai proses di masa lampau dalam bentuk cerita secara “einmalig” (sekali terjadi). Konsep ini jelas tidak termasuk bidang kajian antropologi. Namun jika suatu penggambaran sejarah menampil-kan suatu masyarakat di masa lampau dengan dilengkapi penjelasan tujuh unsur kebudayaan maka dalam hal ini ada persamaan bahkan tumpang tindih antara sejarah dan antropologi (Kartodirdjo, 1992: 153). 2. Hubungan Sejarah dengan Sosiologi Saat ini berkembang disiplin ilmu Sociological History, merujuk pada analisis sejarah yang menggunakan pendekatan sosiologis. Konsep ini justru banyak digunakan oleh para sosiolog untuk menyusun tulisan tentang fenomena sosial yang terjadi. Pareto, Durkheim, dan Weber termasuk sosiolog yang memanfaatkan analisis sejarah dalam tulisannya. Pareto dalam bukunya yang berjudul Treatise on General Sociology (1916), Durkheim dalam jurnal berjudul Anne Sociologique, Weber dalam bukunya yang berjudul The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism (1904-1905). Dapat dijelaskan juga bahwa sosiologi juga sangat membutuhkan analisis sejarah, terutama untuk menganalisis perubahan sosial. Bagaimanapun juga fakta yang ada saat ini merupakan hasil dari proses sosial yang terjadi di masa lampau. 3. Hubungan Sejarah dengan Ekonomi Perkembangan ekonomi dunia selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Di zaman purba kita ketahui ada tahap berburu dan meramu, kemudian kehidupan bercocok tanam, hingga kini sistem ekonomi dunia yang sangat kompleks. Singkatnya, tema besar ekonomi dunia meliputi: a) proses perkembangan ekonomi (economic development) dari sistem agraris ke sistem industrial, termasuk organisasi pertanian, pola perdagangan, lembaga-lembaga keuangan, kebijaksanaan komersial, dan pemikiran ekonomi; b) pertumbuhan akumulasi modal mencakup peranan pertanian, pertumbuhan penduduk, peranan perdagangan internasional; c) proses industrialisasi beserta soal-soal perubahan sosialnya; d) sejarah ekonomi yang bertalian erat dengan permasalahan ekonomi, se-

6

perti kenaikan harga, konjunktur produksi agraris, ekspansi perdagangan, dan sebagainya; e) sejarah ekonomi kuantitatif yang mencakup antara lainGross National Product (GNP) per capita income. Sementara itu perlu diketahui bahwa berbagai tema tersebut di atas memerlukan pula suatu metodologi yang menuntut kerangka konseptual yang lebih luas serta tidak terbatas pada pendekatan menurut konsep dan teori ekonomi saja. Dengan demikian jelas bahwa kompleksitas sistem ekonomi dengan sendirinya menuntut pula pendekatan ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, ilmu politik, dan lain sebagainya. 4. Hubungan Sejarah dengan Psikologi Sejarawan, bagaimanapun juga merupakan individu yang tidak dapat terlepas dari faktor-faktor psikologis. Kondisi ini cukup memberi pengaruh dalam tulisantulisan yang dihasilkan. Disamping faktorfaktor eksternal yang sifatnya sosiologis. Pada tahun 1940-an ada usaha kembali untuk mendekatkan disiplin sejarah dengan psikologi terutama sintesis pandangan Marx dan Freud oleh Erich Fromm, dan kajian kolektif tentang ‘kepribadian otoriter’ yang dipimpin oleh Theodor Adorno (Fromm, 1942; Adorno: 1950). Relevansi kedua disiplin itu bagi sejarah sangat penting, karena bertolak dari asumsi “jika kepribadian dasar berbeda-beda antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya, pastilah ia berbedabeda pula antara satu periode dan periode lainnya”. Pendekatan psikologis paling tidak dapat dilakukan melalui tiga cara: Pertama, sejarawan terbebas dari asumsi yang hanya berdasarkan akal sehat tentang sifat manusia (Burke, 2001: 172-174); Kedua, teori para ahli psikologi memberikan sumbangan terhadap proses kritik sumber. Agar otobiografi atau buku harian dapat digunakan secara tepat sebagai bukti sejarah, perlu dipertimbangkan usia sang penulis, posisinya dalam siklus kehidupan, maupun catatan mimpimimpinya (Erikson, 1968: 701-702); Ketiga, ada sumbangan dari para ahli psikologi bagi sejarah, yakni para ahli psikologi telah banyak memberi perhatian pada ‘psikologi pengikut’ di samping pada ‘psikologi pemimpin’.

5. Hubungan Sejarah dengan Geografi Setiap peristiwa sejarah senantiasa memiliki lingkup temporal dan spasial (waktu dan ruang), di mana kedua-duanya merupakan faktor yang membatasi fenomena sejarah tertentu sebagai unit (kesatuan), apakah itu perang, riwayat hidup, kerajaan dan lain sebagainya (Kartodirdjo, 1992: 130). Implikasinya, kini berkembang Para sejarawan kini bisa mempertimbangkan teori daerah pusat (centralplace theory), atau teori difusi inovasi ruang (spatial diffusion of innovations), maupun teori ruang sosial (social space) (Hagerstrand: 1953: Buttimer: 1969). 6. Hubungan Sejarah dengan Ilmu Politik Catatan sejarah di berbagai tempat peradaban tertentu tidak dapat terlepas dari politik, dan bahkan dapat dikatakan bahwa sejarah pastilah seputar kehidupan politik suatu peradaban tertentu. “politik adalah sejarah masa kini, dan sejarah adalah politik masa lampau”. Dalam hal ini menunjukkan bahwa sejarah sering diidentikan dengan politik, sejauh keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para aktor dalam interaksinya serta peranannya dalam usaha memperoleh “apa”, “kapan”, dan “bagaimana” (Kartodirdjo, 1992: 148149). Sejarah dan ilmu-ilmu sosial memang memiliki hubungan yang amat erat. Namun, keterkaitan ini perlu digarisbawahi bahwa terdapat aspek-aspek yang membedakan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Perhatikan tabel berikut ini. Sejarah Ilmu-Ilmu Sosial temporal-spasial atemporal-aspasial diakronik sinkronik ideografik nomotetik partikularistik generalistik Tabel. 1. Perbedaan Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Sumber: Ismaun. 1993. Pengantar Ilmu Sejarah. Bandung: B3PTKSM. Kajian sejarah terikat pada waktu (temporal), terutama pada kelampauan. Karakteristik inilah yang membedakan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, sehingga sering dikatakan bahwa sejarah adalah kajian yang berkaitan dengan manusia dan masyarakat pada masa lalu. Sedangkan ilmu-ilmu sosial lainnya adalah kajian tentang manusia dan

7

masyarakat manusia kekinian. Tidak jarang kajian ilmu-ilmu sosial digunakan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Lebih spesifik, dalam kajian sejarah terdapat makna proses dan perspektif sejarah. Kajian sejarah juga terikat pada tempat (spasial). Suatu peristiwa yang berhubungan dengan manusia atau masyarakat pasti terjadi di suatu tempat tertentu. Berbeda dengan sejarah, ilmu-ilmu sosial lainnya bukan tidak memperhatikan masa lalu atau tempat tertentu, hanya saja hal-hal tersebut tidak terlalu dihiraukan. Suatu peristiwa dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Sejarah menggunakan perspektif diakronik dan ilmu-ilmu sosial lainnya berperspektif sinkronik. Hal ini dapat diumpamakan dengan sebuah penampang batang kayu. Diakronik adalah penampang bujur vertikal, maka sinkronik adalah penampang bujur horizontal. Maksudnya, sejarah mencoba melihat fenomena sosial secara berurutan berdasarkan kronologis waktu. Sebaliknya ilmu-ilmu sosial lainnya mencoba melihat fenomena sosial yang hampir sama di tempat dan wakktu yang berbeda sehingga terlihat sebagai garis horizontal. Implikasinya, fenomena sosial dapat dipahami sebagai fakta yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Sehingga generalisasi dapat dilakukan berdasarkan persamaan fenomenafenomena sosial yang terjadi di tempat dan waktu yang berbeda. Perlu dicatat bahwa tujuan ilmu sosial adalah berusaha menarik generalisasi atas fenomena-fenomena sosial. Karakter khas sejarah berikutnya adalah ideografik, atau kata lainnya adalah partikularistik, kekhasan (singularizing, specific, particular). Sejarah melukiskan dan menafsirkan suatu peristiwa yang hanya satu kali saja terjadi (FR. Ankersmit, 1984: 251-252). Sebaliknya, kajian ilmu-ilmu sosial akan menekankan pada fenomena yang sama di semua negara sehingga dapat ditarik suatu generalisasi yang dapat berlaku umum. Maka dari itu kajian ilmu-ilmu sosial disebut kajian nomotetik, atau generalistik, keumuman (generalizing, universal, general).

Simpulan Simpulan yang dapat ditarik dari ulasan tentang hubungan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya adalah terdapat hubungan yang cukup erat dan saling melengkapi. Sejarah mengembangkan raproachment sebagai wujud kebutuhan sejarah akan keberadaan ilmu-ilmu sosial lain, utamanya dalam metodologinya. Pergerakan ini sebagai upaya mengembangkan sejarah sebagai ilmu yang dapat bermanfaat bagi kemanusiaan. Ilmu-ilmu sosial juga sangat membutuhkan analisis historis untuk mencoba memahami fenomena kekinian, karena bagaimanapun juga fenomena kekinian tidak dapat terlepas dari masa sebelumnya. Bahkan fenomena kekinian merupakan hasil proses fenomena sebelumnya. Diluar itu semua, sejarah memiliki karakteristik khas yang membedakannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Karakteristik tersebut diantaranya temporal-spasial, diakronik, ideografik, dan partikularistik. Daftar Pustaka Indera. 2007. Integrasi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pemikiran Furnand Braudel. Jurnal. Ragam Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007. Indriyanto. Multidimensional Approach dalam Penulisan Sejarah. Tidak diterbitkan. Ismaun. 1993. Pengantar Ilmu Sejarah. Bandung: B3PTKSM. Kuntowijoyo. 1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya Permadi, Tedi. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah Karya Sartono Kartodirdjo. Resume. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS-UPI. Sartono Kartodirdjo. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Supardan, Dadang. 2007. Pengantar Ilmu Sosial. Bandung: PT Bumi Aksara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->