P. 1
Skripsi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Motivasi BAB. I-III

Skripsi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Motivasi BAB. I-III

4.87

|Views: 43,914|Likes:
Published by ainuddinaja
Ini adalah skripsi saya yang membahas Manajemen Sumber Daya Manusia aspek Gaya Kepemimpinan dan Motivasi. Alhamdulillah sudah lulus ujian konfrehensif. Yang mau lebih lengkap mengenai data-data terkait penulisan skripsi, konsultasi, olah data, dan sebagainya, khusunya dibidang Manajemen, silahkan kunjungi website saya di http://ainudd.in/. Mudah mudahan saya bisa membantu Anda.
Ini adalah skripsi saya yang membahas Manajemen Sumber Daya Manusia aspek Gaya Kepemimpinan dan Motivasi. Alhamdulillah sudah lulus ujian konfrehensif. Yang mau lebih lengkap mengenai data-data terkait penulisan skripsi, konsultasi, olah data, dan sebagainya, khusunya dibidang Manajemen, silahkan kunjungi website saya di http://ainudd.in/. Mudah mudahan saya bisa membantu Anda.

More info:

Published by: ainuddinaja on Feb 15, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2014

pdf

Gaya kepemimpinan menurut Yayat M. Herujito adalah leadership styles.
Maksudnya, cara yang diambil seseorang dalam rangka mempraktekkan
kepemimpinanannya. Gaya kepemimpinan bukan bakat. Oleh karena itu, gaya
kepemimpinan dapat dipelajari dan dipraktekkan dan dalam penerapannya harus
disesuaikan dengan situasi yang dihadapi (Yayat M. Herujito, 2004; 188)

Gaya kepemimpinan yang terdapat dalam setiap organisasi dipandang sebagai
suatu proses kunci bagi keberhasilan organisasi yang bersangkutan. Gaya
kepemimpinan merupakan perilaku pimpinan terhadap pengikutnya, atau cara

yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. (Trimo,
1995; vii). Sedangkan Hersey mengatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah
pola-pola perilaku konsisten yang diterapkan dalam bekerja. (Hersey, 1992; 150).

Terdapat perbedaan pola perilaku yang diterapkan oleh seorang manajer dengan
manajer lain dalam mempengaruhi perilaku anggotanya. Mintogoro mengatakan
bahwa secara umum gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang manajer
adalah gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan otokratis dan, gaya
kepemimpinan laissez faire. Masing-masing gaya kepemimpinan tersebut
mempunyai ciri tertentu.

Ciri gaya kepemimpinan demokratis yaitu: (1) keputusan dibuat bersama antara
manajer dan kelompok; (2) terbuka terhadap kritik; (3) mempunyai rasa tanggung
jawab terhadap perkembangan anggota kelompok; dan (4) menerima saran-saran,
ide yang postitif dari anggota kelompok.
Ciri gaya kepemimpinan otokratis yaitu: (1) memusatkan semua proses
pengambilan keputusan pada manajer; (2) kurang mempercayai anggotanya; (3)
memberikan perintah pada bawahan/anggota tanpa ada penjelasan dan tidak
memberikan kesempatan kepada anggota untuk bertanya.

Ciri gaya kepemimpinan laissez faire yaitu: (1) menyerahkan proses pengambilan
keputusan kepada setiap individu dalam organisasi; (2) tidak mempunyai rasa
percaya diri sebagai seorang pemimpin; (3) tidak menetapkan tujuan untuk
kelompoknya. (Mintogoro 1997; 118)

Menurut Suradinata, untuk mengetahui lebih dalam tentang gaya kepemimpinan,
terlebih dahulu perlu diketahui perbedaan antara pemimpin dan kepemimpinan.
Pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik
pada suatu organisasi maupun keluarga. Sedangkan kepemimpinan adalah
kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi

pikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain, untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. (Suradinata, 1997; 11)

Ada tiga penekanan gaya kepemimpinan dalam mengelola organisasi, yaitu : (1)
kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang situasional dalam
menerapkan berbagai macam gaya kepemimpinan seperti gaya otokratik,
paternalistik, laissez faire, demokratik dan kharismatik; (2) gaya
kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh tingkat kedewasaan atau kematangan
para anggota organisasi; (3) peranan apa yang diharapkan dapat dimainkan oleh
para pemimpin dalam organisasi. (Siagian, 1995; 24)

Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin dalam suatu
organisasi akan mempengaruhi kinerja anggotanya. Gaya kepemimpinan dan
situasi yang berlaku mempengaruhi hasil yang akan dicapai oleh para anggotanya.
Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin dalam suatu
organisasi dapat menciptakan integrasi yang serasi, mendorong gairah kerja
anggota untuk mencapai sasaran yang maksimal, menumbuhkan kepercayaan, dan
partisipasi serta loyalitas.

Senada dengan itu, Handoko mengatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat
mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan
tingkat prestasi suatu organisasi. (Handoko 1997:293).

Secara rinci Siagian (1994; 27) membagi lima gaya kepemimpinan yang secara
luas dikenal dewasa ini, yaitu :

1.

Gaya otokratik adalah gaya kepemimpinan dari pemimpin yang menonjolkan
“keakuannya” antara lain dalam bentuk :
1. kecenderungan memperlakukan para bawahan sama dengan alat-alat lain
dalam organisasi,

2. pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para
bawahan,
3. mengabaikan peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

2.

Gaya paternalistik adalah gaya kepemimpinan dari pemimpin yang bersifat
tradisional, umumnya di masyarakat yang agraris. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor, seperti:
1) kuatnya ikatan primordial,
2) sistem kekeluargaan,
3) kehidupan masyarakat yang komunalistik,
4) peranan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakat,
5) masih dimungkinkannya hubungan pribadi yang intim antara seorang
anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya.

3.

Gaya kharismatik adalah gaya kepemimpinan dari pemimpin yang dikagumi
oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat
menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi.

4. Gaya laissez faire adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin
yang melihat peranannya sebagai “polisi lalu lintas” dengan membiarkan
organisasi berjalan menurut temponya sendiri tanpa banyak mencampuri
bagaimana organisasi harus dijalankan dan digerakkan, sebab sudah
menganggap para anggota organisasi mengetahui dan cukup dewasa untuk taat
kepada peraturan permainan yang berlaku.

5. Gaya demokratik adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin
yang memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai
unsur dan komponen organisasi sehingga bergerak sebagai suatu totalitas.
Ada 10 karakteristik utama pemimpin yang menerapkan gaya demokratik,
yaitu :

1. Memperlakukan organisasi sebagai suatu totalitas dengan menempatkan
semua satuan organisasi pada peranan dan proporsi yang tepat;
2. Mempunyai persepsi yang holistik mengenai organisasi yang dipimpinnya;
3. Menggunakan pendekatan yang integralistik;
4. Menempatkan kepentingan organisasi diatas kepentingan pribadi atau
golongan;
5. Menganut filsafat manajemen yang mengakui dan menjunjung tinggi
harkat dan martabat para bawahan;
6. Memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk berperan serta dalam
proses pengambilan keputusan;
7. Terbuka terhadap ide, pandangan dan saran orang lain termasuk para
bawahannya;
8. Memiliki perilaku keteladanan;
9. Bersifat rasional dan obyektif;
10. Selalu berusaha menumbuhkan dan memelihara iklim kerja yang kondusif
bagi inovasi dan kreativitas bawahan.

2. 5. Pengertian Motivasi

Produktivitas pegawai menjadi pusat perhatian dalam upayanya untuk
meningkatkan kinerja yang mempengaruhi efesiensi sdan efektivitas organisasi.
Analisis yang lebih mengkonsentrasikan pada kinerja akan lebih memberikan
penekanan pada dua factor utama yaitu: 1) motivasi dari pegawai, 2) kemampuan
dari pegawai untuk bekerja.

Untuk menghindari kerancuan pengertian, maka terlebih dahulu diberikan
beberapa pengertian yang berkaitan dengan motivasi, yaitu (Manullang, 1996;
146):

1. Motif

Istilah motif sama artinya dengan kata motive, motip, dorongan, alasan
dan driving force. Motif adalah tenaga pendorong yang mendorong
manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang

menyebabkan manusia bertindak. Menurut The Liang Gie (1993; 104)
motif atau dorongan batin yaitu suatu dorongan yang menjadi pangkal
seseorang melakukan sesuatu atau bekerja

2. Motivasi

Motivasi atau motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau
hal yang menimbulkan dorongan. Motivasi dapat juga diartikan sebagai
faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Oleh
The Liang Gie motivating atau pendorong kegiatan diartikan sebagai
pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pimpinan dalam memberikan
inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain, dalam hal ini
pegawainya untuk mengambil tindakan tindakan.
3. Motivasi kerja

Berawal dari pengertian motivasi, maka yang dimaksud motivasi kerja
yaitu sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja atau
dengan kata lain pendorong semangat kerja. Faktor faktor yang
mempengaruhi motivasi kerja antara lain: atasan, rekan, sarana fisik,
kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa, uang dan non uang, jenis
pekerjaan, tantangan, situasi dan gaya kepemimpinan.

4. Insentif

Istilah insentif (incentive) dapat diganti dengan kata alat motivasi, sarana
motivasi, sarana penimbulan motif atau sarana yang menmbulkan
dorongan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->