EVALUASI BIMBINGAN KONSELING

LAPORAN HASIL EVALUASI SUPERVISI BK DI SMP N 3 SERIRIT
DAN SMA N 1 KUBUTAMBAHAN

Laporan Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Evaluasi Bimbingan Konseling

Dosen Pengampu : Kadek Suranata, S.Pd., M.Pd., Kons.









Disusun Oleh :
I Wayan Handika ( 1011011088 )
I Made Sumadiyasa ( 1011011103 )
Putu Aryawan ( 1011011116 )
I Kadek Jeri Sastrawan ( 1011011122 )




JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2012

LEMBAR PENGESAHAN
Memang benar, mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Pendidikan
Ganesha, telah melakukan observasi pengumpulan data mengenai pengisian
instrument oleh guru BK dalam membantu mahasiswa dalam mata kuliah
Evaluasi Supervisi Bimbingan Konseling.
Ketua Kelompok
Ma a Pelapor,
Yt M
NIM. 011011116
Singaraja, Desember 2012
prY'-'
Nyoman rmaja, S.Pd
NIP: 19650920 199002 1 002
LEMBAR PERNYATAAN GURU BK
Tujuan
Identitas (*Harap diisi)
Nama
NIP
Jabatan
Sekolah
Semua yang berkaitan dengan isi instrument yang
akan Bapak/Ibu isi, tidak ada kaitannya dengan
jabatan, pangkat, gaJl, dan lain-lain yang
bersangkutan dengan kinerja Bapak/Ibu dan juga
sekolah. Jadi diharapkan Bapak/Ibu untuk mengisi
instrument dengan apa adanya sesuai dengan situasi
dan kondisi Bapak/ Ibu sekarang.
: NtOW\CMJ Ar'(V)dc. ~ - p ~
: lq bS e>CfJ.O l'?CfcY o rP. f 00;2.
: GUrLI ~ K .f(l?p Ne.jer-/ 2> Sel""l f'-l t
r •
: 5 rnp NBf!pN :3 Ser-tr-rf-
Desember 2012
3 Seririt
LEMBARPENGESAHAN
Memang benar, mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Pendidikan
Ganesha, telah melakukan observasi pengumpulan data mengenai pengisian
instrument oleh guru BK dalam membantu mahasiswa dalam mata kuliah
Evaluasi Supervisi Bimbingan Konseling.
Putu
NIM. 1 11 0 11116

Singaraja, Desember 2012
Guru BK Kubutambahan
Drs. I Ketut Seken
NIP: 1964070520021210
Mengetahui,
ubutambahan
S.Pd.,M.Pd
724 199203 1 007
LEMBAR PERNY AT AAN GURU BK
Tujuan
Identitas (*Harap diisi)
Nama
NIP
Jabatan
Sekolah
Semua yang berkaitan dengan isi instrument yang
akan Bapak/Ibu isi, tidak ada kaitannya dengan
jabatan, pangkat, gaJI, dan lain-lain yang
bersangkutan dengan kinerja Bapak/Ibu dan juga
sekolah. Jadi diharapkan Bapak/Ibu untuk mengisi
instrument dengan apa adanya sesuai dengan situasi
dan kondisi Bapak/ Ibu sekarang.
Singaraja, Desember 2012
Guru BK SM N 1 Kubutambahan
Drs. Ketut Seken
NIP: 1964070520021210
i i

KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat rahmat beliaulah kami dapat menyelesaikan laporan ini.
Terselesaikannya laporan ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari
pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses
penyusunan dan pembuatan makalah ini. Rasa terimakasih kami sampaikan
kepada Bapak dosen pembimbing Kadek Suranata, S.Pd., M.Pd., Kons. yang telah
bersedia menuntun dan membantu kami dalam pembuatan laporan ini serta
narasumber dan pihak-pihak lainnya yang turut serta membantu demi
terselesaikannya laporan ini sesuai dengan apa yang telah diharapkan sebelumnya.
Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari
bahwa apa yang kami sampaikan dalam laporan ini masih jauh dari kesempurnaan
baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di
dalamnya. Maka dari itu kami selaku penulis dan penyusun laporan ini sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang kami banggakan yang
bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih
menyempurnakan lagi laporan yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang
kami sajikan dalam laporan ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang sedianya
dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para calon konselor pada
khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan
Bangsa Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Singaraja, 23 Desember 2012


Penulis,

i i

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.1. Latar Belakang Masalah.................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................ 1
1.3. Manfaat............................................................................................ 2
BAB II KAJIAN TEORI.......................................................................... 3
A. Pengertian Evaluasi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling 3
B. Jenis-jenis Evaluasi .............................................................................. 4
C. Model Evaluasi Yang Menjadi Landasan Evaluasi Program Bimbingan
Konseling ............................................................................................. 6
D. Lahirnya Instrumen Evaluasi Bimbingan Konseling CIPP ................. 12
E. Kisi-Kisi .............................................................................................. 13
BAB III INSTRUMEN .............................................................................. 29
3.1. Sasaran .............................................................................................. 22
3.2. Prosedur Mekanisme Audit .............................................................. 31
3.3. Prosedur Analisis Data Instrumen dan Kriteria Keberhasilan .......... 32
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................... 36
4.1. Hasil Instrumen ................................................................................ 36
4.2. Analisis Instrumen dengan CIPP ..................................................... 42
4.3. Perbandingan kualitas pelayanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan
model evaluasi CIPP di SMP N 3 Seririt dan SMA N 1 Kubutambahan
........................................................................................................... 49
4.4. Rekomendasi dan Tindak Lanjut ..................................................... 50
BAB V PENUTUP .................................................................................... 53
i i i

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 54
LAMPIRAN

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Sebagai suatu sistem, program layanan bimbingan dan konseling tentunya
meliputi beberapa hal di antaranya yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi.
Dalam hal ini ketiga hal tersebut senantiasa saling berkaitan dan
berkesinambungan.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa suatu hasil senantiasa dipengaruhi
oleh perencanaan, begitu pun pelaksanaan juga memiliki peran yang sangat
dominan. Selain itu, kedua hal tersebut akan terlihat manakala proses evaluasi
berjalan dengan baik. Dengan demikian, evaluasi dari pelaksanaan program
layanan bimbingan ini hendaknya dipersiapkan dengan seksama.
Paparan tersebut menunjukkan bahwa begitu pentingnya peranan evaluasi
pada pelaksanaan layanan bimbingan. Hal tersebut pula yang menjadi latar
belakang dari tersusunnya laporan evaluasi supervisi layanan bimbingan
konseling ini yang akan kami paparkan pada pembahasan berikut.
1.2. Rumusan Masalah
Penulisan laporan ini didasarkan pada suatu permasalahan mengenai
evaluasi pelaksanaan program layanan bimbingan konseling. Adapun rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut ini.
1. Bagaimana kualitas program bimbingan konseling di SMP Negeri 3 Seririt
jika ditinjau dari model evaluasi CIPP ?
2. Bagaimana kualitas program bimbingan konseling di SMA Negeri 1
Kubutambahan jika ditinjau dari model evaluasi CIPP ?


2

1.3. Manfaat
1. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah evaluasi bimbingan
konseling.
2. Untuk mengetahui kualitas program bimbingan konseling di SMP
Negeri 3 Seririt jika ditinjau dari model evaluasi CIPP ?
3. Untuk mengetahui kualitas program bimbingan konseling di SMA
Negeri 1 Kubutambahan jika ditinjau dari model evaluasi CIPP















3

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Evaluasi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu Evaluation. Dalam buku
“Essentials of Educational Evaluation”, Edwind Wand dan Gerald W. Brown,
mengatakan bahwa : “Evaluation rafer to the act or prosses to determining the
value of something”. Jadi menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu
tindakan atau suatu proses utnuk menentukan nilai dari pada sesuatu. Sesuai
dengan pendapat tersebut maka evaluasi pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
segala sesuatu dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang
diharapkan oleh Departemen Pendidikan, telah dijabarkan dalam pedoman khusus
Bimbingan dan Penyuluhan, kurikulum 1975 buku IIIc.
Perlu dijelaskan disini bahwa evaluasi tidak sama artinya dengan
pengukuran (measurement). Pengertian pengukuran (measurement) Wand dan
Brown mengatakan : “Measurement means the art or prosses of exestaining the
extent or quantity of something”. Jadi pengukuran adalah suatu tindakan atau
proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari pada sesuatu.
Dari definisi evaluasi atau penilaian dan pengukuran (measurement) yang disebut
diatas, maka dapat diketahui perbedaannya dengan jelas antara arti penilaian dan
pengukuran. Sehingga pengukuran akan memberikan jawaban terhadap
pertanyaan “How Much”, sedangkan penilaian akan memberikan jawaban dari
pertanyaan “What Value”.
Walaupun ada perbedaan antara pengukuran dan penilaian, namun keduanya
tidak dapat dipisahkan. Karena antara pengukuran dan penilaian terdapat
hubungan yang sangat erat. Penilaian yang tepat terhadap sesuatu terlebih dahulu
harus didasarkan atas hasil pengukuran-pengukuran. Pada akhir pelaksanaan

4

program Bimbingan dan Konseling selalu tercantum suatu kegiatan yang telah
dilaksanakan sesuai dengan rencana tertentu.
Pendapat “Good” yang dikutip oleh I.Jumhur dan Moch. Surya (1975 :154),
tentang evaluasi adalah : “Proses menentukan atau mempertimbangkan nilai atau
jumlah sesuatu melaluipenilaian yang dilakukan dengan seksama”.
Sejalan dengan rumusan diatas, Arthur Jones memberikan batasan tentang
evaluasi adalah sebagai berikut : “Proses yang menunjukkan kepada kita sampai
berapa jauh tujuan – tujuan program sekolah dapat dilaksanakan”.
Lebih jauh Moch. Surya mengemukakan menilai bimbingan pada
hakekatnya mengetahui secara pasti tentang bagaimana organisasi dan
administrasi program itu, bagaimana guru-guru dan petugas-petugas bimbingan
lainnya dapat berpartisipasi bagaimana pelaksanaan konseling dan bagaimana
catatan-catatan kumulatif dapat dikumpulkan. Uraian tersebut merupakan
penjabaran dari proses kegiatan Bimbingan dan Konseling, yang akhirnya perlu
pula diketahui bagaimana hasil dari pelaksanaan kegiatan itu. Dengan kata lain
bahwa penilaian yang dilakukan terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling
ditujukan untuk menilai bagaimana kesesuaian program, bagaimana pelaksanaan
yang dilakukan oleh para petugas Bimbingan, dan bagaimana pula hasil yang
diperoleh dari pelaksanaan program tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa evaluasi terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling, mengandung tiga
aspek penilaian, yaitu:
A. Penilaian terhadap program Bimbingan dan Konseling.
B. Penilaian terhadap proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
C. Penilaian terhadap hasil (Product) dari pelaksanaan kegiatan pelayanan
Bimbingan dan Konseling.
B. Jenis- Jenis Evaluasi
Pada buku inidisajikan model evaluasi menurut Kaufan dan Thomas yang
membedakan model evluasi program menjadi delapan, yaitu:

5

1. Goal Oriented Eavaluation Model
Objek pengamatan model ini adalah tujuan dari program. Evaluasi
dilaksanakan berkesinambungan, terus-menerus untuk mengetahui
ketercapaian pelaksanaan program.
2. Goal Free Eavaluation Model
Dalam melaksanakan evaluasi tidak memperhatikan tujuan khusus
program, melainkan bagaimana terlaksananya program dan mencatat hal-
hal yang positif maupun negatif.
3. Formatif Summatif Evaluation Model
Model evaluasi ini dilaksanakan ketika program masih berjalan
(evaluasi formatif) dan ketika program sudah selesai (evaluasi sumatif).
4. Countenance Evaluation Model
Model ini juga disebut model evaluasi pertimbangan. Maksudnya
evaluator mempertimbangkan program dengan memperbandingkan
kondisi hasil evaluasi program dengan yang terjadi di program lain,
dengan objek ssaran yang sama dan membandingkan kondisi hasil
pelaksanaan program dengan standar yang ditentukan oleh program
tersebut.
5. Responsif Evaluation Model
Model ini tidak dijelaskan dalam buku ini karena model ini kurang
populer.
6. SSE-UCLA Evaluation Model
Model ini meliputi empat tahap, yaitu
a. Needs assessment, memusatkan pada penentuan masalah hal-hal yang
perlu dipetimbangkan dalam program, kebutuhan uang dibutuhkan
oleh program, dan tujuan yang dapat dicapai.
b. Program planning, perencanaan program dievaluasi untuk
mengetahui program disusun sesuai analisis kebutuhan atau tidak.

6

c. Formative evaluation, evaluasi dilakukan pada saat program
berjalan.
d. Summative program, evaluasi untuk mengetahui hasil dan dampak
dari program serta untuk mengetahui ketercapaian program.
7. CIPP Evaluation Model ( Context Input Process Product )
a. Evaluasi Konteks
Evaluasi konteks adalah evaluasi terhadap kebutuhan, tujuan
pernenuhan dan karakteristik individu yang menangani. Seorang
evaluator harus sanggup menentukan prioritas kebutuhan dan memilih
tujuan yang paling menunjang kesuksesan program.
b. Evaluasi Masukan
Evaluasi masukan mempertimbangkan kemampuan awal atau
kondisi awal yang dimiliki oleh institusi untuk melaksanakan sebuah
program.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi proses diarahkan pada sejauh mana program
dilakukan dan sudah terlaksana sesuai dengan rencana.
d. Evaluasi Hasil
Ini merupakan tahap akhir evaluasi dan akan diketahui
ketercapaian tujuan, kesesuaian proses dengan pencapaian tujuan, dan
ketepatan tindakan yang diberikan, dan dampak dari program.
8. Discrepancy Model
Model ini ditekankan untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi pada
setiap komponen program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam
program dengan penampilan aktual dari program tersebut.
C. Model Evaluasi Yang Menjadi Landasan Evaluasi Program Bimbingan
Konseling.
Terdapat banyak model evaluasi program yang digunakan para ahli. Salah
satunya adalah model CIPP ( Context – input – process – product). Model ini

7

dikembangkan oleh Stufflebeam , model CIPP oleh Stufflebeam 1971 (dari Ward
Mitchell Cates, 1990) . Model CIPP (1971) melihat kepada empat dimensi yaitu
dimensi Konteks, dimensi Input, dimensi Proses dan dimensi Produk.
Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat
pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional
sebuah program. Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi
yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi yaitu tahap konteks, masukan,
proses, dan produk. Untuk memahami hubungan model CIPP dengan pembuat
keputusan dan akuntabilitas dapat diamati pada visualisasi sebagai berikut :
Tipe Evaluasi Konteks Input Proses Produk
Pembuat
Keputusan
Obyektif Solusi strategi
desain prosedur
Implementasi Dihentikan
Dilanjutkan
Dimidifikasi
Program Ulang
Akuntabilitas Rekaman
Obyektif
Rekaman
pilihan strategi
desain dan
desain
Rekaman
Proses Akutual
Rekaman
pencapaian dan
keputusan ulang
· Evalusi Konteks
Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang
bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan
(Baline R. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang
dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran
dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan serta tujuan (goal).
Evaluasi konteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan
lingkungan program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi
tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam
menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi

8

peluang dan menilai kebutuhan (1983). Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai
suatu kesenjangan ( discrepancy view ) kondisi nyata ( reality ) dengan kondisi
yang diharapkan ( ideality ). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan
dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang
akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberikan informasi bagi
pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan on going.
Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu program.
Analisis ini akan membantu dalam merencanakan keputusan, menentapkan
kebutuhan dan merumuskan tujuan program secara lebih terarah dan
demokratis. Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang
selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang (
Isaac and Michael:1981)
· Evaluasi Input
Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan
menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan
sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Evaluasi input
meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan
sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif strategi yang harus
dipertimbangkan untuk mencapai suatu program. Mengidentifikasi dan menilai
kapabilitas sistem, alternatif strategi program, desain prosedur untuk strategi
implementasi, pembiayaan dan penjadwalan. Evaluasi masukan bermanfaat
untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan
rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan
untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada.
Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana rencana penggunaan sumber-
sumber yang ada sebagai upaya memperoleh rencana program yang efektif dan
efisien.


9

· Evaluasi Proses
Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan
yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Ketika sebuah program telah
disetujui dan dimulai, maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan
umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam
melaksanakan program tersebut
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan
dalam praktik implementasi kegiatan. Termasuk mengidentifikasi
permasalahan prosedur baik tatalaksana kejadian dan aktifitas. Setiap aktivitas
dimonitor perubahan-perubahan yang terjadi secara jujur dan
cermat. Pencatatan aktivitas harian demikian penting karena berguna bagi
pengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan.
Disamping itu catatan akan berguna untuk menentukan kekuatan dan
kelemahan atau program ketika dikaitkan dengan keluaran yang
ditemukan. Tujuan utama evaluasi proses seperti yang dikemukakan oleh
Worthen and Sanders(1973), yaitu :
a. Mengetahui kelemahan selama pelaksanaan termasuk hal-hal yang baik
untuk dipertahankan,
b. Memperoleh informasi mengenai keputusan yang ditetapkan, dan
c. Memelihara catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat
implementasi dilaksanakan.
· Evaluasi Produk
Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model
CIPP. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-
capaian program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang
terjadi pada input.

10

Evaluasi produk merupakan kumpulan deskripsi dan “judgement outcomes”
dalam hubungannya dengan konteks, input, dan proses, kemudian di
interprestasikan harga dan jasa yang diberikan ( Stuflebeam and Shinkfield :
1986). Evaluasi produk adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian
tujuan. Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-
keputuasan untuk perbaikan dan aktualisasi. Aktivitas evauasi produk adalah
mengukur dan menafsirkan hasil yang telah dicapai. Pengukuran dkembangkan
dan di administrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan
menjadi bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sesuai standar
kelayakan. Apakah program itu akan dilanjutkan, dimodifikasi kembali atau
bahkan akan dihentikan
Secara garis besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan
tujuan operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai,
membandingkannya antara kenyataan lapangan dengan rumusan tujuan, dan
menyusun penafsiran secara rasional.
Analisis produk ini diperlukan pembanding antara tujuan, yang ditetapkan
dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat
berupa skor tes, perentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan
sebaginya yang dapat ditelusuri kaitanya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci.
Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.
Keputusan-keputusan yang diambil dari penilaian implementasi pada setiap
tahapan evaluasi program diklasifikasikan dalam tiga katagori yaitu rendah,
moderat, dan tinggi.
Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang
keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu :
1. Evaluasi konteks melayani keputusan perencanaan, yaitu membantu
merencanakan pilihan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan
dicapai dan merumuskan tujuan program.

11

2. Evaluasi masukan untuk keputusan strukturisasi yaitu menolong mengatur
keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif
yang diambil, rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, serta
prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
3. Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu
keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan.
4. Evaluasi produk untuk melayani daur ulang keputusan. Keunggulan model
CIPP merupakan system kerja yang dinamis.
Keempat macam evaluasi tersebut divisualisasikan sebagi berikut :
Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu
contoh model evaluasi ini. Model CIPP merupakan salah satu model yang
paling sering dipakai oleh evaluator. Model ini terdiri dari 4 komponen
evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari
Context, Input, Process dan Product. Bentuk pendekatan dalam melakukan
evaluasi yang sering digunakan yaitu pendekatan eksperimental, pendekatan
yang berorientasi pada tujuan, yang berfokus pada keputusan, berorientasi pada
pemakai dan pendekatan yang responsive yang berorientasi terhadap target
keberhasilan dalam evaluasi.
Model CIPP yang dikembangkan oleh Stuflebeam and Shinkfield ( 1986 ),
yang memfokuskan kepada empat komponen evaluasi yaitu; komponen
konteks, komponen input, komponen proses dan komponen produk perlu
ditinjau dan di evaluasi sampai sejauhmana efektivitasnya.
Efektifitas dipahami sebagai rangkaian proses dan produk untuk
melakukan hal-hal yang tepat atau menyelesaikan sesuatu dengan pas (
Stonner, Freeman, dan Gilbert : 1995 ). Secara operasional, efektivitas
dipahami sebagai suatu kondisi yang menampilkan tingkatan keberhasilan
suatu program sesuai standar yang sudah ditetapkan ( Koontz dan Weilirch :
1988 ). Cara untuk mengetahui tingkatan efektivitas dilakukan dengan

12

mengukur komponen konteks, input, proses dan produk kemudian
dibandingkan dengan standar objektif yang ditetapkan. Efektivitas
dikategorikan pada tingkatan rendah, moderat dan tinggi.
Atas dasar masalah penelitian dan landasan teori serta deskripsi program,
maka dibangun suatu kerangka acuan yang melibatkan empat komponen
evaluasi model CIPP. Keempat komponen evaluasi memiliki cakupan
konseptual yang merupakan sumber rujukan pengembangan ke arah indikator
penelitian.
Untuk itulah penulis pada kesempatan ini mencoba melakukan evaluasi di
dua sekolah yaitu SMP N 3 Seririt dan SMA N 1 Kubutambahan dengan
menggunakan model evaluasi CIPP yang akan lebih lengkap dijelaskan pada
pembahsan berikutnya.
D. Lahirnya Instrumen Evaluasi Bimbingan Konseling CIPP
Instrument merupakan salah satu sarana bagi instasi yang ingin mengadakan
suatu pengukuran, penilaian terhadap suatu kegiatan,hal ini yang mendasari
kegiatan menempuh mata kuliah evaluasi supervise bimbingan konseling,yang
dalam pelaksanaan perkuliahannya tidak hanya menuntut mahasiswanya memiliki
pemahaman tentang pengertian,penyusunan,pelaksanaan keberhasilan dalam suatu
kegiatan program bimbingan konseling secara teori,namun kami dituntut terjun
secara langsung untuk mengamati keberhasilan dari suatu program layanan
bimbingan konseling. sehingga kami mendapatkan pengetahuan lebih mengenai
pelaksanaan,hambatan serta keberhasilan dari program yang akan diberikan . lebih
dari pada itu kami sebagai calon guru bk disekolah mulai dari sekarang telah
disiapkan untuk menyusun program bimbingan konseling yang akan kami
terapkan nanti pada sekolah tempat kami bertugas.sebelum itu, kami diharapkan
mampu melakukan penilaian atau evaluasi terhadap program bimbingan konseling
yang telah ada disekolah-sekolah yang telah ditetapkan,sehingga kami diharuskan
menyusun suatu instrument yang akan kami gunakan untuk mengadakan evaluasi.

13

penyusunan instrument diawali dengan mengumpulkan materi tentang model
evaluasi,sehingga ditetapkan satu model untuk melaksanakan evaluasi
dilanjutkan dengan membentuk suatu kelompok untuk menyusun masing-masing
instrument,kelompok tersebut di pecah kedalam empat sub materi yakni,
contens,inputs,proses,produk,setelah instrument tersusun sesuai bagian yang
ada,intrumen tersebut digabung dan diserahkan kepada dosen pembimbing mata
kuliah untuk direvisi,setelah intrumen dinyatakan lulus uji oleh dosen
pembimbing mata kuliah,keseluruhan instrument ini dikembalikan kepada
masing-masing kelompok sehingga kami mahasiswa siap untuk melaksanakan
evaluasi program bimbingan konseling ke 2 sekolah yang telah ditetapkan oleh
masing-masing kelompok.
E. KISI-KISI
· Manajemen dan dukungan sistem
No Komponen
Sub
Komponen
Aspek Item Jumlah
1 Manajemen 1. Konselor o Berusaha menciptakan suasana
dan hubungan yang kondusif
o Berusaha menjaga sikap objektif
terhadap klien
o Mengubah kembali prilaku salah
sesuai keyakinan irasioanal,
gangguan emosi, dan
menyalahkan diri sendiri
o Memberikan pemahaman tentang
prilaku baru yang diperlukan
klien dalam kehidupan sehari-hari
o Menjadi model atau contoh sosok
yang memiliki sikap sehat dan
normal














14

o Menyadari kesalahan yang pernah
dibuat dan resiko yang dihadapi
o Dapat dipercaya dan mampu
menjaga kerahasiaan
o Memiliki orientasi diri dan
profesi yang berkembang
o Iklas dalam menjalankan
profesinya
2. Konseli o Pribadi
o Sosial
o Belajar
o Karir




2 Dukungan
Sistem
1. Kepala
Sekolah





o Mengadakan pengawasan
o Mempertanggungjawabkan
Pelaksanaan Program BK
o Mengadakan hubungan baik
dengan pihak-pihak yang
berkaitan dengan pelayanan BK



2. Wali
Kelas
o Mensosialisasikan keberadaan
layanan BK
o Mengidentifikasi siswa yang
memerlukan layanan BK


3. Guru
mata
pelajaran
o Memantau perkembangan dan
kemajuan siswa terutama yang
telah mendapatkan layanan BK




4. Staf
Adminis
trasi
o Membantu mengadministrasikan
seluruh kegiatan BK

5. OSIS o Bekerjasama dengan konselor

15


· Personil
dalam kegiatan BK
6. Orang
tua
o Bekerjasama dengan konselor
dalam menangani permasalahan
siswa

No. Komponen Aspek Sub Aspek indikator
1 Personil · Kualifikasi
Akademik










· Kompetensi
Konselor
1. Sarjana Pendidikan
(S.1)


2. Berpendidikan
Profesi Konselor
(PPK)





1. Kompetensi
Paedagogik









a. Menyelesaikan pendidikan
akademik S.1
b. Mengambil program studi BK

a) Menyelesaikan PPK pada
LPTK terakreditasi
b) Memperoleh sertifikasi
profesi BK
c) Memperoleh gelar profesi BK



a. Menguasai konselor dan
praksis pendidikan
b. Mengaplikasikan
perkembangan fisiologis,
psikologis serta perilaku
konseli
c. Menguasai esensi pelayanan
BK dalam jalur jenis dan
jenjang satuan pendidikan



16

2. Kompetensi
Kepribadian







3. Kompetensi Sosial







4. Kompetensi
Profesional
a) Menghargai dan
menjunjung tinggi nilai-
nilai kemanusiaan
individualitas dan
kebebasan
b) Menjunjung integritas dan
stabilitas kepribadian
yang kuat

a. Mengimplementasikan
kaloborasi intern tempat
bekerja
b. Berperan dalam organisasi
dan kegiatan profesi BK
c. Mengimplementasikan
kaloborasi antar profesi

a) Menguasai dan praksis
assessmen untuk
memahami kondisi
kebutuhan dan masalah
konseli
b) Menguasai kerangka
teoritik dan praksis BK
c) Merancang program BK
d) Mengimplementasikan
program BK yang
komperhensif
e) Menilai proses dan hasil
kegiatan BK
f) Memiliki kesadaran dan

17


· Komponen Evaluasi Bimbingan Konseling Mengenai Data Siswa
A. Kisi-kisi Intrumen
Komponen Aspek Sub Aspek
Indikator
Upaya yang
Dilakukan
Item Jumlah
Data Siswa 1. Jenis Data 1. Belajar







2. Sosial

3. Pribadi


4. Karir
- Angket
- Tes IQ
- Koordinasi Guru
BK dengan Guru
Mata Pelajaran
- Melihat nilai raport


- Sosiometri

- Tes Kepribadian
(Johari Window)

- Tes Minat

- Tes Bakat
1,2,3
4,5,6
7,8,9


10,11


12,13,14,
15
16,17,18,
19

24,25,26,
27
20,21,22,
23

3
3
3


2


4

4


4

4

komitmen terhadap etika
professional
g) Menguasai konsep dan
praksis penilaian dalam
BK

18

2. Penyimpanan 1. Komputer
2. Lemari
- Kelayakan
- Aman
- Bersih
- Ukuran
28,29
30
31
32
2
1
1
1
3. Frekuensi
Penyaringan
Data Siswa
1. Waktu



2. Jumlah
- Lama
penyelenggaraan

- Banyak
penyelenggaraan
33


34
1


1
4. Sarana dan
Prasarana
1. Ruang






2. Peralatan

- Ruang yang
tersedia
- Fungsi ruangan
- Ukuran ruanga

- Jenis-jenis
peralatan
- Fungsi peralatan
35,

36,37
38,39

40,41

42
1

2
2

2

1
5. Pihak lain 1. Guru mata
pelajaran

2. Petugas
TU

3. Kepala
Sekolah
- Absen
- Nilai

- Administrasi siswa


- Pengesahan


43,44
45,46

47,48


49,50
2
2

2


2





19

B. Kisi-kisi Program
NO ASPEK SUB ASPEK INDIKATOR ITEM JUMLAH
1 Program
Layanan BK
1. Tahunan a. Layanan Dasar
b. Layanan
Responsif
c. Perencanaan
Individual
d. Dukungan sistem
1
2

3

4
4
2. Semesteran a. Layanan Dasar
b. Layanan
Responsif
c. Perencanaan
Individual
d. Dukungan sistem
1
2

3

4
4
3. Bulanan a. Layanan Dasar
b. Layanan
Responsif
c. Perencanaan
Individual
d. Dukungan sistem
1
2

3

4
4
4. Mingguan a. Layanan Dasar
b. Layanan
Responsif
c. Perencanaan
Individual
d. Dukungan sistem
1
2

3

4
4
5. Harian a. Layanan Dasar
b. Layanan
Responsif
c. Perencanaan
1
2

3
4

20

Individual
d. Dukungan sistem

4
16
C. Kisi-Kisi Standar Sarana Dan Prasarana
No Komponen Sub. Komponen Item Jumlah
1 Sarana dan Prasarana a. Ruangan BK 1, 2, 3, 4, 5,
6, 7
7 butir
b. Alat Pengumpul
Data
· Teknis non tes
· Teknis tes


1, 2, 3, 4
1, 2, 3, 4, 5
9 butir
c. Perlengkapan
Administrasi
1, 2, 3, 4, 5,
6,
6 butir
d. Media BK 1, 2, 3 3 butir
e. Alat Bantu Olah
Data (Program)
1, 2, 3, 3 butir

D. Koponen Evaluasi Bimbingan Konseling Mengenai Penilaian Hasil
Layanan
Dimensi Aspek
Sub
Aspek
Indikator Item Jumlah
Penyimpanan Dokumentasi
Data Siswa
Belajar · Nilai Hasil Pembelajaran 4,5,6,9,10,17,
18, 19,20,21,
22, 27, 33,
34, 35, 36,
37,
17
Sosial · Sosiometri
Pribadi · Buku Catatan Kasus
Karir · Data Kelanjutan Studi
· Data Tes Minat
· Data Tes Bakat


21

Frekuensi Program
Harian,
Mingguan,
Bulanan,
Semesteran,
Tahunan
Belajar · Jumlah Program Yang
Direncanakan
1,2,3,7,8, 5
Sosial
Pribadi
Karir
Laporan Program
Harian,
Mingguan,
Bulanan,
Semesteran,
Tahunan
Belajar · Laiseg,Laijapen,Laijapan
· Rekomendasi dan Tindak
Lanjut
11,12,13,14,
15,16, 23, 24,
25, 26, 28,
29, 30, 31,
32, 38, 39,
40,41, 42
21
Sosial
Pribadi
Karir
JUMLAH 42












22

BAB III
INSTRUMEN

3.1 Sasaran
Adapun sekolah yang menjadi objek evaluasi pada laporan ini yaitu dari
dua sekolah yang berbeda yakni SMP Negeri 3 Seririt dan SMA Negeri 1
Kubutambahan. Adapun gambaran awal dari kedua sekolah tersebut yaitu
sebagai berikut :
· Gambaran Umum SMP Negeri 3 Seririt
1. Nama Sekolah : SMP Negeri 3 Seririt
2. Alamat : Desa Bestala, Kec. Seririt, Kab. Buleleng
3. Status Sekolah : Terakreditasi Tipe-A
4. Luas Tanah : 11.000 m
2

5. Jumlah ruang kelas : 13 dengan luas 819,00 m
2

6. Ukuran Rerata ruang kelas : 9 x 7 m
2
7. Luas bangunan : 1.519,26 m
2

· Lingkungan Sekolah
¯ Jenis bangunan sekitar sekolah
v Utara : Jalan Raya
v Selatan : Perkebunan Penduduk
v Timur : Sungai Mendaum dan Pemukiman Penduduk
v Barat : Perkebunan penduduk

v Kondisi lingkungan sekolah
Kondisi lingkungan SMP N 3 Seririt sangatlah mendukung dalam
pelaksanaan proses pembelajaran. Lingkungan yang sejuk dan asri
dengan taman di depan masing-masing kelas serta pepohonan yang
rindang di halaman sekolah sangat menunjang terjadinya proses

23

pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Keasrian serta
kebersihan lingkungan SMP N 3 Seririt ini dibuktikan dengan
terpilihnya sekolah ini untuk mewakili kabupaten Buleleng dalam
mengikuti Lomba UKS di tingkat provinsi sehingga mendapat juara
harapan III.
Lingkungan yang sejuk dan bersih turut pula menambah motivasi
serta ketenangan siswa dalam belajar. Selain kondisi lingkungannya
yang begitu mendukung posisi strategis dari sekolah ini pun yaitu
berada di daerah pedesaan yang jauh dari kebisingan turut pula
mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang efektif, inovatif
dan menyenangkan.

¯ Ruang Bimbingan Konseling
Menurut keterangan guru BK yang kami wawancarai pada saat itu
dijelaskan Ruang BK di SMP N 3 Seririt dikelola langsung oleh guru
BK. Di ruang BK inilah guru BK melakukan bimbingan konseling dan
memberi pelayanan pada siswa. Pemanfaatan ruang bimbingan dan
konseling di SMP N 3 Seririt, sudah dirasa cukup maksimal.
Walaupun dengan keadaan ruangan yang belum dikatakan mencapai
standar (tidak ada ruang konseling) tapi pemanfaatannya menurut
keterangan guru BK sudah maksimal
SMP N 3 Seririt memiliki dua orang guru BK di tambah satu orang
dari guru mata pelajaran IPS yang karena umur ikut pula bertugas di
BK. Masing- masing guru BK telah memiliki anak asuh tersendiri.
Untuk Bapak Nyoman Armaja, S.Pd karena menjabat sebagai Wakil
Kepala Sekolah beban siswa asuhnya sebanyak 92 siswa dari kelas
VIII (A,B,C,D). Sedangkan untuk Bapak Putu Sarjana beban siswa
asuhnya yaitu 162 siwa dari kelas IX (A,B,C,D) ditambah dengan
siswa kelas VII C dan VII D. Kemudian untuk Bapak Made Budiyasa,

24

karena umur yang terlanjur tua diberikan beban siswa asuh sebanyak
50 siswa dari kelas VII A dan VII B. Demikaianlah pengeolaan
penanganan siswa di SMP N 3 Seririt.

· Gambaran Umum SMA Negeri 1 Kubutambahan
¯ Sejarah terbentuknya SMA N 1 Kubutambahan
Pertimbangan Pemerintah Desa, tokoh – tokoh masyarakat dan
masyarakat Tamblang :
v Letak desa Tamblang yang demikian strategis, berada diantara desa
Tajun, Tunjung, Depeha, Bulian, Pakisan, Bila kawanan, Bila
kanginan, dan Bengkala.
v Mengingat kebutuhan/keinginan masyarakat desa-desa tersebut
diatas akan adanya SMA Negeri sangat didambakan karena out put
keluaran siswa dari SMP 1 di Kubutambahan,SMP 2 di Tamblang,
SMP 3 di Tajun, SMP 4 di Pakisan demikian banyak,tidak akan
memadai nantinya SMA Swasta seperti SMA Bina Putra Tamblang
dan SMA Sidhi Karya Kubutambahan untuk menampung karena
fasilitas operasionalnya terbatas.

Usulan kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng
v Upaya yang dilakukan adalah sejak tahun 1991 dalam Musyawarah
Pembangunan Desa ( MUSBANGDES ), desa Tamblang
pengadaan SMA Negeri selalu termuat dalam usulan skala prioritas
program pembangunan desa tamblang usulannya setiap tahun
kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng
v Tahun 2001 baru mendapat respon dari Pemerintah Kabupaten
Buleleng dibahas juga dalam sidang DPRD Kabupaten Buleleng
akhirnya lewat Dinas Kabupaten Buleleng menugaskan dan
menunjukkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan kecamatan

25

Kubutambahan ( Drs. I ketut Senadia ) sebagai koordinator
kemudian menunjuk Kepala SMA Bina Putra Tamblang sebagai
wakil koordinator (Drs. I Ketut Indrayasa) Penerimaan siswa baru
dan operasionalnya SMA Negeri 1 Kubutambahan di Tamblang.

Persiapan Pengadaan SMA Negeri 1 Kubutambahan
v Koordinator besama wakil koordinaor mengadakan koordinasi
dengan Ketua LKMD Kepala Desa, Kepala Dusun se wilayah Desa
Tamblang, tokoh-tokoh masyarakat dan Kepala SMa Bina Putra
Tamblang( Drs. I Kettut Indrayasa ) dalam rapat tingkat desa.
v Koordinasi/rapat tingkat desa menghasilkan dibentuknya
Kepanitiaan desa Pengadaan SMA Negeri 1 Kubutambahan yang
terdiri dari ; Ketua LKMD ( Nyoman triyasa ),Kepala Desa (I Ketut
Suwirya ),Kepala dusun sewilayah desa tamblang, Made Suwita,
Mangku Nyoman Muliarta, Made Widiarsa, I ketut Suka, Made
Mesten, Nyoman Artama.
v Kepanitiaan tersebut diatas adapun programnya adalah :
1. Pengadaan tanah/lokasi SMA negeri 1 Kubutambahan.
2. Penataan/perataan tanah karena tanah ltegalan
3. Pengadaan jalan dari tarah selatan enuju lokasi SMA Negeri 1
Kubutambahan 500 m
4. Pengadaan jalan dari arah barat menuju lokasi SMA Negei 1
kubutambahan 150 m
5. Pengadaan gedung/ruang kegiatan belajar 1 Unit/4 RKB

v Program 1/ pengadaan tanah dapat diadakan bersumber dari
sumbangan dari Bapak Made Suwita tanah tegalan seluas 60 are
dan 20 are dari sumbangan anggota komite/orang tua siswa baru
tahun pelajaran 2001/2002, 2002/2003 dan 2003/2004, luas tanah
seluruhnya 80 are dengan kondisi berup tanah tegalan

26

v Program 2/penataan/perataan tanah dengan swadaya masyarakat
Tamblang dengan bergotong royong
v Program 3/pengadaan jalan dari arah selatan menuju lokasi 500 m
swadaya masyarakat
v Program 4/pengadaan jalan dari arah barat menuju lokasi 150 m
swadaya masyarakat
v Program 5/pengadaan gedung/RKb 1 Unit/4 Ruuang belajar
bersumber dari APBD Pemerintah Kabupaten Buleleng di
bangunmulai 1 Agustus 2001.
Persiapan dan pelaksanaan kegiatan operasional SMA Negeri 1
Kubutambahan
Ø Tahun Pelajaran 2001/2002 mulai menerima siswa baru.
Ø Koordinator/Kepala Cabang Dinaspendidikan Kecamatan
Kubutambahan ( Drs. I Ketut Senadia), menunjuk Kepala SMA
Bina Putra Tamblang ( Drs. I Ketut Indrayasa ) sebagai wakil
koordinator/pelaksana harian berkoordinasi untuk persiapan
operasional, menghasilkan keputusan staf opersional SMA Negeri
1 Kubutambahan
Ø Kepala sekolah :- koordinator ( Kepala Cabang Dinas Pendidikan
Keca. Kubutambahan ) : I Wayan Suarsina, S.Pd.,M.Pd
Ø Staf pelaksana/ : koordinator TU ( Guru SMA Bina Putra
Tamblang )
Ø TataUsaha : I Nyoman Sasdiawan
Ø Tata usaha / TU ( TU SMA Bina Putra Tamblang ) Made Padmi
Ø Staf Pengajar/Guru terdiri dari : Guru PNS/pindahan, yang misbar
dari SMP, SD yang layak,SMA bina Putra Tamblang.
- Drs. I Ketut Indrayasa - Drs. I Made Sewa
- I Nyoman Restan, S.Pd. - Drs. I Putu Dana
- I Nengah Supatra, S.Pd - I made Suparja.BA.

27

- I Ketut Subudi, S.Pd - Luh Manik Sari, S.pd
- Drs. I Made gunayasa. - I Gst. Nyoman Suteja, S.Pd
- Luh Sandiwi,S.Pd. - Drs. Nyoman wiriawan
- Pt santi Arsan,S.Pd - Drs. Kt.Sudarman
- I Ketut Budastra, S.Pd - Pt. Budiarsa, S.Pd
- I Made Sardana, S.Pd.
Ø Tempat operasional : Pinjam gedung di SMA Bina Putra Tamblang
Ø Waktu Belajar : Sore
Ø Pada tanggal 16 Juli 2006 PENERIMAAN SISWA BARU
Ø Jumblah Siswa yang di terima 148 siswa,menjadi 4 kelas berasal
dari Desa Tajun, Tunjung, Depeha, Bulian, Bontihing, Pakisan,
Bila Kawanan, Bila Kanginan, Bengkala, Bukti, Air Sanih,
Kubutambahan, dan Bungkulan.
Ø Koordinator, wakil koordinator, koordinator Tata Usaha
merumuskan program kerja dan RAPBS Tahun Pelajaran
2001/2002.
Ø Tanggal 22 Juli 2001 diadakan rapat pleno dihadiri oleh
koordinator,wakil koordinator ,ketua LKMD, kepala desa, tokoh-
tokoh masyarakat, aggota komite/orang tua siswa, acara
PEMBENTUKAN KOMITE SEKOLAH yang Pertama dengan
komposisi sebagai berikut :

1 Pembina : Koordinator dan wakil koordinator
2 Ketua : Kepala Desa/I Ketut Suwirya
3 Wakil Ketua : Nyoman Sriwirawan
4 Sekretaris I : I Made Permana

28

5 Sekretaris II : Drs. I Ketut Sudirman
6 Bendahara I : I Gede Gunasa
7 Bendahara II : I Nyoman Sasdiawan
Badan Pemeriksa/BP 3?Komite Sekolah
1 Ketua : Mangku Nyoman Muliarta
2 Wakil Ketua : Made Sukraki
3 Sekretaris : Made Wisuda
4 Anggota : Made Widiarsa
5 Anggota : I Ketut Resdipa
Pengurus tersebut diatas langsung melaksanakan tugas sebagai berikut :
1 Menyusun program kerja
2 Membahas rumusan RAPBS yang di rumuskan
3 Pengesahan program kerja dn RAPBS diantaraya memuat :
· Sumbangan pembangunan/sarana prasarana Rp.50.000
· Iuran bulanan/SPP Rp.12.000
· Sumbangan pengadaan tanah Rp.50.000
Ø Bulan Agustus 2001 pembangunan gedung/RKB tahap 1 mulai
dibangun 1 unit/4 ruang kelas
Ø Tahun Pelajaran 2002/2003 sudah mulai menempati gedung baru,
namun kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan pagi dan
sore, karena belum terpenuhi ruang belajar sebab 1 ruang di pakai
untuk kantor.
Ø Tanggal 2 Sepember 2003 keluar SK Bupati Nomor 478 tahun
2003 tentang penetapan SMA Negeri 1 Kubutambahan.

29

Ø Tanggal 22 Oktober 2001 keluar SK. Bupati Nomor
821.2/2421/BKD tentang SK. Pengangkatan Drs. I KETUT
INDRAYASA sbagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 1
Kubutamahan.
Ø Tanggal 8 September 2003 dari Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah Direktorat
Pendidikan Menengah umum tentang petikan NIS dan NSS SMA
negeri 1 Kubutambahan
· NOMOR INDUK SEKOLAH : 30.009.0
· NOMOR STATISTIK SEKOLAH : 301220108500
Demikianlah sejarah singkat berdirinya SMA Negeri 1
Kubutambahan kami susun, atas asung kerta wara nugraha Ida Sang
Hyang Widhi Wasa, semoga ada manfaatnya untuk lembaga dan
semua pihak yang memerlukannya dan semoga SMA Negeri 1
Kubutambahan tetap ajeg dan lestari sepanjang masa.
¯ Ruang Bimbingan Konseling SMA N 1 Kubutambahan
Berbagai masalah yang dihadapi siswa, dimulai dari siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar, kesulitan dalam menentukan
jurusan, kesulitan dalam menentukan sekolah ke perguruan tinggi oleh
siswa kelas XII, masalah keluarga, masalah ekonomi, masalah remaja
seperti masalah cinta, perkelahian antar siswa, dan semua masalah
yang dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar, berusaha
untuk diatasi oleh guru BK di dalam membantu siswa. Penanganannya
dapat berupa dengan memberikan nasehat, bimbingan, dan
pengarahan kepada siswa tersebut. Dan peran seorang guru BK
(Bimbingan Konseling) sangatlah membantu siswa dalam mengatasi
hal tersebut. SMA Negeri 1 Kubutambahan memiliki satu ruang BK (
Bimbingan Konseling ) dengan 3 orang tenaga BK, yaitu :


30

1. Drs. I Ketut Seken (Selaku Koordinator)
2. Dra. Gusti Ayu Sri Agung
3. Dra. Ni Made Wati
Guru BK pun memiliki beberapa tugas-tugas seperti :
1. Melakukan pendataan pada kartu pribadi tentang pribadi setiap
siswa,
2. Menyusun pelaksanaan bimbingan penyuluhan karier,
3. Menyusun penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru,
4. Memberikan pelayanan bimbingan penyuluhan dan bimbingan
karier kepada siswa agar siswa lebih berprestasi dalam belajar,
5. Membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar mengajar dengan berkonsultasi
kepada wali kelas,
6. Membantu wali kelas dalam memecahkan masalah pelanggaran
yang dilakukan oleh siswa,
7. Membantu siswa dengan memberikan saran serta pertimbangan
kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan
pendidikan dan lapangan pekerjaan yang sesuai,
8. Melakukan penilaian pelaksanaan bimbingan penyuluhan atau
bimbingan karier kepada siswa,
9. Melakukan penyusunan laporan penilaian bimbingan
penyuluhan/bimbingan karier secara berkala,
10. Dan mempertanggungjawabkan tugasnya kepada kesiswaan.
Adapun fasilitas penunjang yang terdapat di ruang BK SMA
Negeri 1 Kubutambahan yaitu, 1 buah Komputer, 1 buah Printer, Rak
untuk menaruh arsip-arsip, kotak BK, papan struktur organisasi, meja
dan kursi untuk masing-masing petugas BK, dan papan mekanisme
penanganan BK

31

Pihak sekolah sudah berusaha menambah fasilitas yang terdapat
di ruang BK dengan menggunakan dana komite. Namun hal tersebut
belum berjalan dengan maksimal karena anggaran dana yang minim.
Adapun beberapa asas – asas yang harus ditaati dalam
pelaksanakan BK ( Bimbingan dan Konseling ) yang dilaksanakan
oleh guru BK yaitu: Kerahasiaan, Kesukarelaan, Keterbukaan,
Kegiatan, Kemandirian, Kekinian, Kedinamisan, Keterpaduan,
Kenormatifan, Keahlian, Alih Tangan, Tut Wuri Handayani. Pada
umumnya mencakup empat bidang yaitu Bimbingan Konseling
Pribadi, Bimbingan Konseling Sosial, Bimbingan Konseling Belajar,
dan Bimbingan Konseling Karier.
3.2 Prosedur Mekanisme Audit
Prosedur mekanisme audit di SMP Negeri 3 Seririt
· Tanggal 28 November 2012 bertemu dengan kepala sekolah dan
menyerahkan surat pengantar ke sekolah
· Tanggal 30 November 2012 bertemu dengan kepala sekolah serta
menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kesan yang sekaligus
melakukan audit pertama dengan guru BK
· Tanggal 6 Desember 2012 melakukan audit ke-2 yang sekaligus meminta
tandatangan pernyataan dari guru BK dan lembar pengasahan dari guru
BK dan kepala sekolah.
Prosedur mekanisme audit di SMA N 1 Kubutambahan
· Tanggal 29 November 2012 bertemu dengan kepala sekolah dan
menyerahkan surat pengantar ke sekolah
· Tanggal 1 November 2012 bertemu dengan kepala sekolah serta
menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kesan yang sekaligus
melakukan audit pertama dengan guru BK

32

· Tanggal 8 Desember 2012 melakukan audit ke-2 yang sekaligus meminta
tandatangan pernyataan dari guru BK dan lembar pengasahan dari guru
BK dan kepala sekolah.

3.3 Prosedur Analisis Data Instrumen dan Kriteria Keberhasilan
¯ Adapun didalam intrumen yang nantinya diberikan kepada guru BK proses
analisisnya adalah sebagai berikut :
1. Pada pernyataan positif (+)kalau responden menjawab dengan pilihan
“Ya” maka mendapat nilai 1 (satu), sebaliknya bila menjawab dengan
pilihan “Tidak” maka mendapat nilai 0 (nol).
2. Pada pernyataan Negative (-) kalau responden menjawab dengan
pilihan “Ya” maka mendapat nilai 0 (nol), sebaliknya bila menjawab
dengan pilihan “Tidak” maka mendapat nilai 1 (satu).
3. Hasil penilaian tiap poin pernyataan kemudian dijumlahkan, di bagi
banyaknya butir (138 Butir) dan dikali 100.

100
:
∑ ∶ ℎ ℎ
N : Jumlah Pernyataan
4. Kemudian untuk menentukan standar keberhasilan program,
dilakukan dengan menyesuaikan hasil penilaian dengan standar
kriteria keberhasilan program.
Standar Kriteria Keberhasilan Program
85-100 = Amat Baik (A)
70-84 = Baik (B)
55-69 = Cukup Baik (C)

33

40-54 = Kurang Baik (D)
0-39 = Sangat Tidak Baik (E)
¯ Proses audit dan perkiraan kriteria keberhasilan dari audit pertama ke audit
kedua.
v SMP Negeri 3 Seririt
Audit pertama di SMP N 3 Seririt dilakukan pada tanggal 28 November
2012. Kami berempat berangkat ke Desa Bestala bersama-sama untuk
melakukan evaluasi supervisi program layanan Bimbingan Konseling
kepada guru BK disana. Pada pertemuan pertama kami diterima di ruang
tamu kepala sekolah untuk melakukan pertemuan awal dengan kepala
sekolah dan guru BK sekaligus menceritakan maksud dan tujuan
kedatangan kita kesana. Yang pada kesempatan itu pula kami
menyerahkan surat pengantar dari fakultas sebagai surat resmi bagian dari
lembaga formal. Dan mereka berbaik hati, kami diterima untuk melakukan
praktik pada saat itu pula. Setelah selesai melakukan perbincangan awal
dengan kepala sekolah kami langsung diajak oleh guru BK yang pada saat
itu Nyoman Armaja, SPd. Selaku koordinator BK disana menuju ke ruang
BK. Menurut keterangan bapak Armaja, di SMP Negeri 3 Seririt terdapat
tiga orang guru BK namun kebetulan pada saat itu yang kami temui hanya
pak Armaja jadi proses audit dilakukan hanya dengan bapak nyoman
Armaja S.Pd. Pada awal pertama proses audit ini banyak hal yang sempat
menjadi perdebatan seperti ada beberapa dokuman yang belum ada
dokumentasinya tapi menurutnya sudah pernah dilakukan seperti
bimbingan kelopok, konseling kelompok serta layanan orientasi bagi siswa
baru. Dan juga ada beberapa dokumen yang dikatakan masih tersimpan
dirumah seperti arsip pribadi pak armaja yaitu ijazah S1-BK nya.
Kemudian keputusannya pada saa itu karena masih banyak dokumen yang
masih dijanjikan begitu pula dengan intrumen yang masih banyak
dikosongkan oleh beliau akan dilakukan audit ke-2. Menurutnya selain

34

karena dokumennya yang masih dirumah, ada pula beberapa poin yang
katanya perlu terlebih dahulu dikonsultasikan dengan guru BK yang
lainnya sebelum diisi. Dengan alasan tersebut dari guru BK kami
mempersilahkan beliau untuk membawa terlebih dahulu instrumen itu
untuk dikoordinasikan dengan guru BK yang lain dan kami sepakat untuk
melakukan audit ke-2 pada tanggal 6 Desember 2012.
Kedatangan pada audit ke-2 ke SMP Negeri 3 Seririt ini, kami langsung
bertemu dengan guru BK disana yaitu bapak Nyoman Armaja dan bapak
Putu Sarjana. Proses audit kali ini berlangsung dengan lancar karena sudah
semua poin instrumen telah di isi. Hanya saja pada saat itu beliau hanya
memperkuatnya dengan bukti-bukti autentik yang ada. Walaupun menurut
keterangan beliau ada beberapa dokumen yang katanya sudah hilang atau
lupa tempat penyimpanannya. Sampai pada akhir proses audit kami
meminta lembar pengesahan dan pernyataan dari guru BK yang
bersangkutan untuk memperkuat bahwa kami telah melakukan proses audit
di SMP Negeri 3 Seririt.

v SMA Negeri 1 Kubutambahan
Audit pertama di SMA N Kubutambahan dilakukan pada tanggal 29
November 2012. Kami berempat berangkat ke desa Tamblang bersama-
sama untuk melakukan evaluasi supervisi program layanan bimbingan
konseling kepada guru BK disana. Pada pertemuan pertama kami diterima
di ruang tamu kepala sekolah untuk melakukan pertemuan awal dengan
kepala sekolah dan guru bk sekaligus menyerahkan surat pengantar dari
fakultas sebagai surat resmi bagian dari lembaga formal.
Kemudian pada tanggal 1 Desember 2012 kami diterima untuk melakukan
praktik . Selesai kami melakukan bincang-bincang dengan kepala sekolah
dan guru BK kami langsung diajak ke ruangan BK SMA N 1
Kubutambahan. Di ruangan BK kami memberikan instrument yang telah

35

kami susun sebelumnya kepada guru BK. Kami menjelaskan apa saja
tujuan dan maksud kami melakukan observasi sekaligus menyampaikan
bahwa evaluasi yang kami lakukan tidak berpengaruh terhadap jabatan,
pangkat, gaji, dan lain-lain yang bersangkutan dengan kinerja Bapak/Ibu
dan juga sekolah.
Sambil menunggu guru BK mengisi instrument sesekali kami menanyakan
data-data yang ada di ruang BK seperti program harian, mingguan,
bulanan, semesteran dan tahunan, data pribadi siswa, buku kasus, RPBK,
dll. Dan pada kesempatan itu program yang kami tanyakan dapat
diperlihatkan berkasnya. Namun program yang disusun hanya sekali saja
namun digunakan terus menerus tampa ada proses peremajaan atau revisi
ulang. Selain itu kami juga menayankan dokumen-dokumen proses
konseling yang dilakukan dan kualifikasi guru BK seperti sertifikat S1 BK.
Pada kesempatan itu guru BK mengatakan bahwa dokumen dan sertifikat
yang dimiliki masig ada dirumah. Dengan kondisi seperti maka kami
sepakat untuk melakukan Audit ke-2 demi keakuratan data.
Pada audit kedua kami tidak menemukan kendala yang berarti karena
dokumen yang kami inginkan dapat diperlihatkan walaupu masih ada
beberapa dokumen yang sudah hilang. Sampai pada akhir proses audit
kami meminta lembar pengesahan dan pernyataan dari guru bk yang
bersangkutan untuk memperkuat bahwa kami telah melakukan proses audit
di SMA N 1 Kubutambahan.






36

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Instrumen
A. Hasil Penyebaran Instrumen
Hasil instrumen yang telah diberikan kepada guru Bimbingan
Konseling di SMP N 3 Seririt (Terlampir)
Hasil instrumen yang telah diberikan kepada guru Bimbingan
Konseling di SMA N 1 Kubutambahan (Terlampir)

37

B. Hasil Analisis Instrumen
¯ SMP Negeri 3 Seririt

NO ASPEK
NO BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7
2
8
2
9
3
0
3
1
3
2
JML
1 Manajeme
n dan
Dukungan
Sistem
1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1
17
2 Standar
Dukungan
Sistem
0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0
17
3 Personil
BK
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
14
4 Data
Siswa
1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1
21
5 Evaluasi 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 14

38

Hasil
Layanan
BK
6 Standar
Sarana
dan
Prasarana
0 1 0 0 0 0 0
1
7 Insrumen
Alat
Pengumpu
lan Data
1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1
12
Jumlah 96

Formula :
96
139
100 = 69,06

Jika dilihat dari level pencapaian keseluruhan yaitu 69,06 dan jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasilan maka SMP N 3
Seririt berada pada level B (baik).

40

¯ SMA Negeri 1 Kubutambahan


ASPEK NO BUTIR
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1
7
1
8
1
9
2
0
2
1
2
2
2
3
2
4
2
5
2
6
2
7
2
8
2
9
3
0
3
1
3
2
JML
1 Manajeme
n dan
Dukungan
Sistem
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1
17
2 Standar
Dukungan
Sistem
0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1
18
3 Personil
BK
1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
13
4 Data
Siswa
1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1
16
5 Evaluasi
Hasil
Layanan
1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
14

41

BK
6 Standar
sarana dan
prasarana
0 0 0 0 0 0 1
1
7 Instrument
alat
pengumpu
lan data
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0
17
Jumlah 96

Formula :
96
139
100 = 69,06
Jika dilihat dari level pencapaian keseluruhan yaitu 69,06 dan jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasilan maka SMA N 1
Kubutambahan berada pada level B (baik).

42

4.2 Analisis Instrumen dengan CIPP
a. Analisis Instrumen dengan CIPP di SMP N 3 Seririt

No Komponen Aspek
Pencapaian
Ideal Skor
Persentase
(%)
1 Content a. Instrumen
Alat
Pengumpulan
Data
b. Sarana dan
Prasarana
c. Personil BK
19



7

14
12



1

14
63,15%



14,28%

100%
Jumlah 40 27 67,5%
2 Input a. Data Siswa
b. Standar
Dukungan
Sistem
32
27
21
17
65,62%
62,96%

Jumlah 59 38 64,40%
3 Process a. Manajemen
dan
Dukungan
Sistem
22 17 77,27%
Jumlah 22 17 77,27%
4 Product a. Evaluasi
Hasil
Layanan BK
16 14 87,50%
Jumlah 16 14 87,50




43

· Contens
Jika dilihat dari persentase pencapaian Content di SMP N 3 Seririt di atas
menunjukan pada level 67,5% dan jika dilihat dari kriteria keberhasilan hal
ini menunjukan bahwa SMP N 3 Seririt berada pada level C (cukup baik).
kemudian jika dilihat secara lebih rinci ternyata mengalami kekurangan yang
paling menonjol yaitu pada aspek Sarana dan Prasarana yang menunjukan
pada persentase 14,28 %. Seperti yang terdapat dalam intrument yang
mengalami kekurangan pada sarana dan prasarananya yaitu :
1. Tidak adanya ruang kerja BK seperti Komputer, meja kerja, internet,
lemari yang memadai.
2. Tidak terdapatnya ruang konseling individu yang aman dan nyaman
bagi klien.
3. Tidak terdapatnya ruangan konseling kelompok yang aman dan nyaman
bagi klien.
4. Tidak terdapatnya ruangan diblio yang fasilitasnya seperti daftar buku (
katalog, rak buku, ruang baca, buku daftar pengunjung, dan internet.
5. Tidak terdapatnya ruangan relaksasi atau disensitisasi/ sensitisasi yang
bersih, sehat, nyaman dan nyaman.
6. Tidak terdapatnya ruang tamu yang berisi kursi dan meja tamu, buku
tamu, jam dinding, tulisan atau gambar.
Jika dilihat dari aspek instrumen alat pengumpul datanya yang menunjukan
persentase pencapaian pada level 63,15% dan di identifikasi kekurangannya
dari instrumen yang telah disebarkan yaitu,
1. Tidak melaksanakan tes intelegensi dalam pengumpulan data.
2. Tidak melaksanakn tes bakat dalam pengumpulan data.
3. Tidak melaksanakan tes minat dalam pengumpulan data.
4. Tidak melaksanakan tes kepribadian dalam pengumpulan data.
5. Tidak memiliki jadwal piket guru pembimbing.
6. Tidak terdapat media audio seperti radio, perekam pita magnetik,
laboratorium bimbingan dan konseling.


44

· Input
Jika dilihat dari evaluasi input SMP Negeri 3 Seririt berada pada level
64,40% hal ini jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasiln berada
pada nilai C ( Cukup Baik ). Ternyata kekurangannya berada pada aspek data
siswa yaitu:
1. Belum pernah mengadakan tes IQ
2. Kurangnya kordinasi dengan guru mata pelajaran dalam membahas
masalah siswa.
3. Tidak pernah melaksanakan tes bakat
4. Tidak pernah melaksanakan tes minat
5. Tidak memiliki ukuran yang ideal untuk setiap alat penyimpanan data
siswa.
6. Aministrasi siswa belum memenuhi syarat kelengkapan.

Dan kekurangan pada aspek standar dukung sistem yaitu :
1. Belum menempuh PPK ( Pendidikan Profesi Konselor ).
2. Belum mengetahui perkembangan terupdate tentang program layanan
BK.
3. Pelaksanaan program tidak melibatkan semua pihak sekolah yang
terkait.
4. Program layanan banyak tidak sesuai dengan jadwal penyelenggaran.
5. Keberdaan Osis belum mampu mendukung penyelegaraan program BK
disekolah.
· Process
Jika dilihat dari evaluasi proses SMP Negeri 3 Seririt berada pada level
77,27 % ini jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasiln berada
pada nilai B ( Baik ). Ternyata kekurangannya berada pada aspek manajemen
dan dukungan sistem yaitu:
1. Wali kelas belum mensosialisasikan keberadaan layanan BK pada
siswa.

45

2. Wali kelas belum mampu mengidentifikasi siswa yang memerlukan
layanan bimbingan konseling.
3. Guru mata pelajaran belum mampu memantau perkmbangan dan
kemajuan siswa terutama yang telah mendapatkan layanan BK.
4. Staf administrasi sekolah belum membantu dalam meadministrasikan
seluruh kegiatan BK.
· Pruduct
Jika dilihat dari evaluasi Products SMP Negeri 3 Seririt berada pada level
87,50 % hal ini jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasiln berada
pada nilai A ( Amat Baik ) namun masih memiliki kekurangan pada aspek
hasil layanan BK yaitu:
1. Tidak menjalankan dukungan sistem secara optimal.
2. Tidak banyak mengunakan instrumen dalam melaksanakan layanan
individual.

¯ Analisis Instrumen dengan CIPP di SMA N 1 Kubutambahan
No Komponen Aspek
Pencapaian
Ideal Skor
Persentase
(%)
1 Content d. Instrumen
Alat
Pengumpulan
Data
e. Sarana dan
Prasarana
f. Personil BK
19



7

14
17



1

13
89,47%



14,28%

92,85%
Jumlah 40 31 77,50%
2 Input c. Data Siswa
d. Standar
Dukungan
32
27
16
18
50,00%
66,66%

46



· Contens
Jika dilihat dari persentase pencapaian Content di SMA N 1
Kubutambahan di atas menunjukan pada level 77,50% dan jika dilihat dari
kriteria keberhasilan hal ini menunjukan bahwa SMA N 1 Kubutambahan
berada pada level B ( baik). kemudian jika dilihat secara lebih rinci ternyata
mengalami kekurangan yang paling menonjol yaitu pada aspek Sarana dan
Prasarana yang menunjukan pada persentase 14,28 %. Seperti yang terdapat
dalam intrument yang mengalami kekurangan pada sarana dan prasarananya
yaitu :
1. Tida menjalankan dukungan sistem di sekolah.
2. Dalam melakukan kegiatan tidak dikoordinasikan secara sistematik.
3. Tidak menyertakan layanan responsif dalam program semesteran di
sekolah.
Jika dilihat dari aspek instrumen alat pengumpul datanya yang
menunjukan persentase pencapaian pada level 89,47% dan di identifikasi
kekurangannya dari instrumen yang telah disebarkan yaitu :
Sistem
Jumlah 59 34 57,62%
3 Process b. Manajemen
dan
Dukungan
Sistem
22 17 77,27%
Jumlah 22 17 77,27%
4 Product a. Evaluasi
Hasil
Layanan BK
16 14 87,50%
Jumlah 16 14 87,50%

47

1. Tidak terdapat media audio seperti radio, perekam pita magnetik,
laoratoriaun BK, yang membantu dalam proses Bimbingan dan
Konseling.
2. Tidak menggunakan komputer di dalam pelayanan Bimbingan dan
Konseling.
Jika dilihat dari aspek personil BK yang menunjukan persentase
pencapaian pada level 92,85% dan di identifikasi kekurangannya dari
instrumen yang telah disebarkan yaitu :
1. Belum pernah mengikuti sertifikasi profesi BK.

· Input
Jika dilihat dari evaluasi input SMA Negeri 1 Kubutambahan berada
pada level 57,62% hal ini jika dibandingkan dengan standar kriteria
keberhasiln berada pada nilai C ( Cukup Baik ). Ternyata kekurangannya
berada pada aspek data siswa yaitu :
1. Tidak digunakannya tes IQ untuk mengukur keerdasan siswa.
2. Tidak banyak berkoordnasi dengan guru mata pelajaran dalam membahas
masalah belajar siswa.
3. Tidak memiliki komputer yang memnuhi syarat kelayakan sebagai
tempat penyimpanan data siswa.
4. Tidak memiliki ukuran ideal setiap alat penyimpanan data siswa.
5. Jarang menyelenggarakan pengumpulan data siswa.
6. Tidak terdapat ruangan yang ideal sebagai tempat penyimpanan data
siswa.
7. Ruangan peyimpanan data tidak bisa difungsikan secara efektif.
8. Ruangan belajar siswa belum memnuhi syarat sebagai tempat belajar.
9. Banyak peralatan BK yang tidak dapat difungsikan dengan baik.
10. Tidak banyak memiliki alat yang digunakan untuk kegiatan belajar siswa.
Dan kekurangan pada aspek standar dukung sistem yaitu :
1. Belum menempuh program pendidikan konselor ( PPK ).

48

2. Belum mengetahui perkembangan terupdate tentang program pelayanan
BK.
3. Banyak program layanan BK yang terselenggara tidak sesuai dengan
jadwal yang direncanakan.
4. Keberadaan OSIS belum mampu mendukung penyelenggaraan program
BK di sekolah.
· Process
Jika dilihat dari evaluasi proses SMA Negeri 1 Kubutambahan berada
pada level 77,27% ini jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasiln
berada pada nilai B ( Baik ). Ternyata kekurangannya berada pada aspek
manajemen dan dukungan sistem yaitu:
1. Belum banyak berkordinasi dengan Kepala Sekolah terkait dengan
program layanan BK.
2. Wali kelas belum mensosialisasikan keberadaan layanan BK.
3. Wali kelas belum mengidentidikasi siswa yang memerlukan layanan
BK.
4. Banyak guru mata pelajaran yang belum mampu memantau
perkembangan dan kemajuan siswa terutama yang telah mendapatkan
layanan BK.
5. OSIS di sekolah belum bekerja sama dengan konselor dalam
menangani masalah siswa di sekolah.

· Pruduct
Jika dilihat dari evaluasi Products SMA N 1 Kubutambahan berada pada
level 87,50 % hal ini jika dibandingkan dengan standar kriteria keberhasiln
berada pada nilai A ( Amat Baik ) namun masih memiliki kekurangan pada
aspek hasil layanan BK yaitu:
1. Tidak menjalankan dukungan sistem di sekolah
2. Tidak tidak menyertakan layanan responsif dalam penyusunan
program semesteran.


49

4.3 Perbandingan kualitas pelayanan Bimbingan dan Konseling
berdasarkan model evaluasi CIPP di SMP N 3 Seririt dan SMA N 1
Kubutambahan.
Berdasarkan analisis evaluasi CIPP secara umum didapatkan hasil di
SMP N 3 Seririt dan SMA N 1 Kubutambahan berada pada level 69,06
dengan kriteria keberhasilan baik (B). Hal ini mengindikasikan bahwa
diantara kedua sekolah tersebut tidak ada perbedaan-perbedaan yang
singnifikan terhadap atribut dan pelaksanaan bimbingan konseling disana.
Namun ketika diteliti secara mendalam, dianalisis dari aspek-aspek sesuai
dengan evaluasi program CIPP terdapat banyak perbedaan-perbedaan
didalamnya seperti halnya SMP N 3 Seririt keberadaan instrument alat
pengumpul data hanya menunjukan pada persentase 63,15% sedangkan di
SMA N 1 Kubutambahan persentasenya lebih besar yaitu 89,47%. Hal ini
secara sepihak dapat dikatakan bahwa keberadaan sekolah berpengaruh pada
kuantitas alat pengumpul data yang ada disamping didukung pula oleh
manajemen sekolah yang baik. Selain instrument alat pengumpul data
perbedaan juga terjadi pada aspek standar dukungan system di SMP n 3
Seririt menunjukan angka 62,96% sedangkan di SMA N 1 Kubutambahan
66,66% .
Jadi aspek-aspek diataslah yang kiranya bisa dianalisis perbedaanya
secara signifikan. Sedangkan pada aspek-aspek yang lain dianalisis menjadi
sebuah persamaan walaupun ada perbedaan sedikit tapi itu dianggap sebagai
persentase kesalahan evaluasi. Jika dilihat secara umum keberadaan BK saat
ini banyak mengalami kekurangan. Dari sisi personil memang bisa dicermati
persentasenya cukup besar, tetapi hal itu tidak didukung oleh aspek-aspek
pendukung lainnya dalam pemaksimalan hasil kerja pelayanan Bimbingan
Konseling. Diantaranya keberadaan sarana dan prasarana yang ada di dua
sekolah tersebut cukup memperihatinkan yang menunjukan persentase pada
14,28%. Hal ini berarti saat ini perlu mendapat perhatian yang lebih dari
pihak-pihak yang terkait.


50

4.4 Rekomendasi dan tindak lanjut
Adapun dari hasil evaluasi dan analisis yang telah dilakukan di SMP N 3
Seririt dan SMA N 1 Kubutambahan didapatkan rekomendasi dan tindak lanjut
sebagai berikut:
Tabel 1. Rrekomendasi dan tindak lanjut SMP N 3 Seririt
No Aspek Rekomendasi Audit
1 Manajemen dan
Dukungan Sistem
- Lebih banyak berkoordinasi dengan wali kelas, guru bidang
studi dan staf administrasi terkait dengan keberadaan
layanan BK di sekolah
- Melibatkan OSIS sebagai bagian dari pelaksanaan
pelayanan BK

2 Standar Dukungan
Sistem
- Untuk menunjang profesionalisme guru BK perlu didukung
dengan menempuh pendidikan profesi konselor (PPK).
- Untuk peremajaan pengetahuan tentang perkembangan ilmu
BK maka perlu diperbanyak keterlibatan dalam forum
seminar,workshop maupun pelatihan-pelatihan guru
pembimbing.
- Perlu diperbanyak lagi sosialisasi dengan orang tua terkait
dengan keberadaan layanan BK
- Dalam pembuatan program harus direncanakan dengan
teliti engan mempertimbangkan aspek-aspek kondisi
dilapangan sehingga penyimpangan waktu dapat
diminimalisir.

3 Personil BK - Melanjutkan studi PPK

4 Data Siswa - Setiap siswa dilakukan tes IQ, keperibadian, minat, bakat
dan bekerjasama dengan pihat yang mempunyai lisensi
dalam bidang tersebut.

51

5 Evaluasi Hasil
Layanan BK
- Bekerjasama dengan pihak-pihak lain untuk melakukan
layanan responsive yang optimal.
6 Standar Sarana dan
Prasarana
- Modifikasi keberadaan ruang BK senyaman munkin dan
didukung dengan fasilitas seperti ruang konseling individu,
ruang tamu, ruang biblio konseling, computer, lemari,
internet sesuai dengan standar yang ada.
7 Instrument Alat
Pengumpulan Data
- Dalam proses pengumpulan data sebaiknya melibatkan
instrument data dari tes kepribadian, IQ, minat dan bakat.

Tabel 2. Rekomendasi dan tindak lanjut SMA N 1 Kubutambahan
No Aspek Rekomendasi Audit
1 Manajemen dan
Dukungan Sistem
- Lebih banyak berkoordinasi dengan wali kelas, guru bidang
studi, OSIS dan staf administrasi terkait dengan keberadaan
layanan BK di sekolah


2 Standar Dukungan
Sistem
- Untuk menunjang profesionalisme guru BK perlu didukung
dengan menempuh pendidikan profesi konselor (PPK).
- Untuk peremajaan pengetahuan tentang perkembangan ilmu
BK maka perlu diperbanyak keterlibatan dalam forum
seminar,workshop maupun pelatihan-pelatihan guru
pembimbing.
3 Personil BK - Melanjutkan studi PPK
- Mengikuti sertifikasi BK

4 Data Siswa - Sebaiknya setiap memiliki data yang selalu diupdate setiap
tahunnya.
- Keberadaan ruangan, lemari, dan computer sebagai penunjang
data data siswa perlu dilakukan perbaikan.
5 Evaluasi Hasil - Bekerjasama dengan pihak-pihak lain untuk melakukan

52

Layanan BK layanan responsive yang optimal.
6 Standar Sarana dan
Prasarana
- Modifikasi keberadaan ruang BK senyaman munkin dan
didukung dengan fasilitas seperti ruang konseling individu,
ruang tamu, ruang biblio konseling, computer, lemari, internet
sesuai dengan standar yang ada.
7 Instrument Alat
Pengumpulan Data
- Dalam proses pengumpulan data sebaiknya melibatkan
instrument data dari tes kepribadian, IQ, minat dan bakat.

























53

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari analisis yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa
kualitas program Bimbingan dan Konseling di SMP N 3 Seririt dan SMA N
1 Kubutambahan jika ditinjau dari model evaluasi CIPP berada pada level
69,06 dengan kriteria keberhasilan yaitu baik (B). jika dilihat secara umum
memang nilai yang ditunjukkan sama namun ketika diteliti lebih rinci
banyak terdapat perbedaan-perbedaan dari aspek-aspek evaluasi CIPP.
Perbedaan yang paling signifikan terjadi pada aspek instrumen alat
pengumpul data dengan perbandingan 63,15% di SMP N 3 Seririt dan
89,47% di SMA N 1 Kubutambahan. Hal ini ada kemungkinan faktor
keberadaan dan manajemen sekolah yang memiliki peranan penting dalam
menunjang keberadaan instrumen alat pengumpul data ini.
5.2. Saran
Adapun saran yang bisa dianjurkan pada kedua sekolah yang
bersangkutan, evaluasi yang kami lakukan ini bukan merupakan alat untuk
menemukan kekurangan layanan BK di sekolah saja, tapi lebih dari itu agar
hasil yang kami dapatkan ini bisa dijadikan sebagai acuan dalam
peningkatan mutu dan kualitas layanan BK itu sendiri.
Kemudian diharapkan setiap sekolah bukan menjadi sebuah institusi
yang berdiri sendiri melainkan diharapkan menjadi institusi yang mampu
berkolaborasi dengan lembaga-lembaga lainnya baik itu lembaga sejawat
maupun lembaga yang berbeda. Kerja sama ini penting sebagai bahan
evaluasi diri dan juga peningkatan kualitas layanan BK.




54

Daftar Pustaka
Sudrajat, Akhmad. 2010. Konsep Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling.
Diambil pada 12 Desember 2012 dari http://akhmadsudrajat.
wordpress.com/2010/02/03/evaluasi-program-bimbingan-dan-konseling-
di-sekolah/
Admin. 2010. Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Diambil
pada 12 Desember 2012 dari http://www.duniaedukasi.net/
2010/05/evaluasi-program-bimbingan-dan.html


Identitas Pengisi

Nama : Drs. I Ketut Seken
NIP : 1964070520021210
Jabatan : Guru Bimbingan Konseling
Nama Sekolah : SMA N 1 Kubutambahan


















Identitas Pengisi

Nama : Nyoman Armaja, S.Pd
NIP : 19650920 199002 1 002
Jabatan : Guru Bimbingan Konseling
Nama Sekolah : SMP N 3 Seririt





















Gerbang Sekolah SMA N 1 Kubutambahan




















Wawasan Wiyata Mandala SMA N 1 Kubutambahan






















Ruang BK Di SMA N 1 Kubutambahan




















Tampilan Depan SMP Negeri 3 Seririt






















Gerbang SMP N 3 Seririt



















Suasana Awal Pertemuan























Proses Pelaksanaan Evaluasi



















Struktur Organisasi BK SMP N 3 Seririt























Mekanisme Penanganan Siswa Bermasalah



















Pola 17 BK SMP N 3 Seririt

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful