P. 1
Budaya Politik Di Indonesia

Budaya Politik Di Indonesia

|Views: 56|Likes:
Published by Yoez Poetra

More info:

Published by: Yoez Poetra on Feb 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2013

pdf

text

original

BUDAYA POLITIK DI INDONESIA

OLEH
NAMA : MAS.AN KELAS : XI TEI

CIRI-CIRI BUDAYA POLITIK 1. Memberi penekanan pada perilaku berupa sikap,pandangan,ataupun kepercayaan 2. Orientasinya terhdap sistem politk 3. Menggambarkan masyarakat dalam suatu negara 4. Budaya poltik menyangkut masalah legitimasi 5. Budaya politik menyangkut perilaku aparat negara 6. Budaya politik menyangkut proses pembuatan kebijakan pemerintah. MACAM-MACAM BUDAYA POLITIK 1. Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan

maka hal itu dapat men ciptakan ketegangan dan menumbuhkan konflik. Budaya politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi. Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut : a. malah hanya berusaha memelihara kemurnian tradisi. Berdasarkan Orientasi Politiknya Realitas yang ditemukan dalam budaya politik. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap ”militan” atau sifat ”tolerasi”. maka yang dicari adalah kambing hitamnya. bukan disebabkan oleh peraturan yang salah. Budaya Politik Militan Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari alternatif yang terbaik. dan masalah yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi. dan bersedia menilai kembali tradisi berdasarkan perkembangan masa kini. Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang lain. Pola pikir demikian hanya memberikan perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan). Tipe absolut dari budaya politik sering menganggap perubahan sebagai suatu yang membahayakan. tetapi bukan curiga terhadap orang. Maka. tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan menantang. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari kepercayaan. Kesemuanya itu menutup jalan bagi pertumbuhan kerja sama. b. yaitu tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. a. Bila terjadi kriris. Tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan. Jika pernyataan umum dari pimpinan masyarakat bernada sangat militan. Budaya Politik terbagi atas : a. yang disebabkan faktor kognitif (misalnya tingkat pendidikan relatif rendah). Budaya politik parokial (parochial political culture). jarang bersifat kritis terhadap tradisi. 1. maka setiap sistem politik akan memiliki budaya politik yang berbeda. Budaya Politik Toleransi Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang harus dinilai. Ia dapat melepaskan ikatan tradisi. ternyata memiliki beberapa variasi. . Perubahan dianggap sebagai penyimpangan.Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang berbeda-beda. kritis terhadap diri sendiri. bukan kebaikan. Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat. Tiap perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang berbahaya yang harus dikendalikan. b. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia menerima apa saja yang dianggap berharga. Sikap netral atau kritis terhadap ide orang. Berdasarkan sikap terhadap tradisi dan perubahan. Perubahan mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakter-karakter dalam budaya politik. berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu membuka pintu untuk bekerja sama. menuntut kerja sama yang luas untuk memper padukan modal dan keterampilan. tradisi selalu dipertahankan dengan segala kebaikan dan keburukan. dianggap selalu sempurna dan tak dapat diubah lagi. Pernyataan dengan jiwa tolerasi hampir selalu mengundang kerja sama. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak memungkinkan pertumbuhan unsur baru. Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang.

Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem politik secara komprehensif dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif (aspekinput dan output sistem politik) c. dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati satu. Masyarakat berperan sebagai aktivis. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek umum. output. Subyek/Kaula a. tidak menutup kemungkinan bahwa terbentuknya budaya politik merupakan gabungan dari ketiga klasifikasi tersebut di atas. Parokialisme murni berlangsung dalam sistem tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi politik berada pada jenjang sangat minim. Partisipan a. yaitu masyarakat bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi masih bersifat pasif. No Budaya Politik Uraian / Keterangan 1. Budaya politik partisipan (participant political culture). obyek-obyek output. Hubungannya terhadap sistem plitik secara umum. Tentang klasifikasi budaya politik di dalam masyarakat lebih lanjut adalah sebagai berikut. Orientasi parokial menyatakan alpanya harapan-harapan akan perubahan yang komparatif yang diinisiasikan oleh sistem politik. c. Dalam kehidupan masyarakat. b. e. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam masyarakat. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki kemauan untuk . tetapi frekuensi orientasi terhadap obyek-obyek input secara khusus. Budaya politik kaula (subyek political culture). dan terhadap pribadi sebagai partisipan yang aktif mendekati nol. 3. obyek-obyek input. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah c. administratif secara esensial merupakan hubungan yang pasif. Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek output dari sistem itu. f. c. Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari sistem politik. dan terhadap output. d. d. Kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. Parokial a. Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak terdapat struktur input yang terdiferensiansikan. Frekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek umum. e. Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif. Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek politik d. dan pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol. b. b. Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif daripada kognitif. obyek-obyek input. 2.b. yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi.

yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi politik. yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik. Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh suburnya demokrasi. hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan kewarganegaraan baru.subject culture) b. mereka lebih mengidentifikasikan dirinya pada perasaan lokalitas. Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture) PENERTIAN SOSIALISASI POLITIK . Oleh karena itu dalam konteks politik. Perasaan berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan kontak dengan pejabat lokal. pengetahuannya sedikit tentang sistem politik. agar terciptanya mekanisme kontrol terhadap berjalannya sistem politik. pariokal atau subyek. sehingga sangat sukar untuk mengharapkan artisipasi politik yang tinggi. Mereka tidak memiliki perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik. Mereka akan merasa tidak nyaman bila membicarakan masalah-masalah politik. dan tingkat efficacy atau keberdayaan. karena masing-masing warga negaranya tidak aktif. dan Amerika Latin. Namun dalam kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki budaya politik murni partisipan. Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik. Oleh karena itu terdapat kesulitan untuk mencoba membangun demokrasi dalam budaya politik parokial. dan jarang membicarakan masalah-masalah politik. Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan warga negara dengan pemerintah. Budaya politik subyek-parokial (the parochial. Tidak terdapat kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. Mereka memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam beberapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri dalam kelompok-kelompok protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan yang tidak fair. yang didalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa mereka adalah warga negara dari suatu negara. ketiganya menurut Almond dan Verbatervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik. karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan politik yang ditunjukan oleh warga negara. Melainkan terdapat variasi campuran di antara ketiga tipe-tipe tersebut. Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture) c. ketika berhadapan dengan institusiinstitusi politik. Asia. Mereka tetap mengikuti berita-berita politik. Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya politikpartisipan. tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi masyarakat secara politik. Oleh karena itu mereka merasa perlu untuk terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya keterlibatan dalam politik. Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling rendah. tetapi tidak bangga terhadap sistem politik negaranya dan perasaan komitmen emosionalnya kecil terhadap negara. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki pemahaman yang sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian terhadap sistem politik. yaitu : a. Demokrasi sulit untuk berkembang dalam masyarakat dengan budaya politik subyek. karena adanya saling percaya (trust) antar warga negara. tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih pasif. Budaya politik ini bisa dtemukan dalam masyarakat suku-suku di negara-negara belum maju. seperti di Afrika.mendiskusikan hal tersebut. Selain itu mereka juga memiliki kompetensi politik dan keberdayaan politik yang rendah. Selain itu warga negara berperan sebagai individu yang aktif dalam masyarakat secara sukarela.

Irvin L. Mereka mempunyai dasar penghidupan yang sama dan ditandai ciri karakteristik oleh permusuhan berdarah. B. proses sosialisasi terdapat banyak perbedaan. Almond Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk. C. siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Akan tetapi. merupakan proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat. dituntut untuk mengembangkan tingkah laku aktualnya yang dibatasi di dalam satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya. Child Sosialisasi politik adalah segenap proses dengan mana individu. Di mulai dari keluarga inilah antara orang tua dengan anak. Oleh Mochtar Mas’oed disebut dengan transmisi kebudayaan. Gabriel A. sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak. yang dilahirkan dengan banyak sekali jajaran potensi tingkah laku. dengan siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki beberapa jenis relasi-relasi umum. dalam From Generation to Ganeration Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia lain. Partai politik harus mampu men-ciptakan “image” memperjuangkan kepentingan umum. dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya. Menurut Robert Le Vine yang telah menyelidiki sosialisasi di kalangan dua suku bangsa di Kenya Barat Daya: kedua suku bangsa tersebut merupakan kelompokkelompok yang tidak tersentralisasi dan sifatnya patriarkis. 3) Partai Politik Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran sebagai sosialisasi politik. sering terjadi “obrolan” politik ringan tentang segala hal. Eisentadt. otoriter. merupakan salah satu dari fungsi-fungsi input sistem politik yang berlaku di negara-negara manapun juga baik yang menganut sistem politik demokratis. E. mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. Khusus pada masyarakat primitif. agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa dapat memenangkan pemilu. D. 2) Sekolah Di sekolah melalui pelajaran civics education (pendidikan kewarganegaraan). Denis Kavanagh Sosialisasi politik merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari dan menumbuhkan pandangannya tentang politik. diktator dan sebagainya. Ini berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpati-sannya secara periodik maupun pada saat kampanye. siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar dari sudut pandang akademis. Sosialisasi Politik. antara lain : 1) Keluarga (family) Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. F. Dengan demikian.A. ALAT-ALAT PERANTARA SOSIALISASI POLITIK. S. suku Neuer pada dasarnya bersifat egaliter (percaya semua orang sama . Adapun sarana alat yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik. Sosialisasi politik.N.

Budaya Politik Nasional itu sendiri. menurut atau memberi perintah tanpa . Menurut Rusadi. Budaya yang berasal dari kata ‘buddhayah’ yang berarti akal. Budaya politik yang berlaku dalam sistem perpolitikan Indonesia relatif konstan. Contohnya ialah jikalau seseorang telah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku politik yang hanya tahu menerima. akan tetapi masih belum matang. yaitu sebagai berikut : a. Walaupun sistem politiknya sudah beberapa kali mengalami perubahan ditinjau dari pelembagaan formal. budaya politik nasional pada dasarnya sudah ada. b. atau menggunakan akal budi tersebut. budaya politik Indonesia hingga dewasa ini belum banyak mengalami perubahann pergeseran dan perpindahan yang berarti. Anak dari masing-masing suku didorong dalam menghayati tradisi mereka masing-masing. a. Dalam pembentukan budaya politik budaya politik nasional. Lebih jauh lagi pertumbuhan politik nasional dapat dibagi dalam beberapa tahap. Berlakunya politik nasional yang sedang berada dalam proses pembentukannya. Unsur subbudaya politik yang berbentuk budaya politik asal. Pada tahap ini. Bila melihat budaya dalam konteks politik hal ini menyangkut dengan sistem politik yang dianut suatu negara beserta segala unsur (pola bersikap & pola bertingkah laku) yang terdapat didalamnya. b. c. BUDAYA POLITIK YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT INDONESIA Masyarakat Indonesia sangat heterogen. sedangkan suku Gusii bersifat otoriter dan agresif. Sikap & tingkah laku politik seseorang menjadi suatu obyek penanda gejalagejala politik yang akan terjadi pada orang tersebut dan orang-orang yang berada di bawah politiknya. Misalnya sistem politik demokrasi liberal ke sistem politik demokrasi terpimpin dan ke sistem politik demokrasi pancasila. Budaya politik nasional yang sudah mapan yaitu budaya politik yang telah diakui keberadaannya secara nasional. Heterogenitas bangsa Indonesia tidak dalam arti budaya saja melainkan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap budaya politik bangsanya.derajatnya) dan pasif. Di era reformasi sekarang ini sistem politik Indonesia mengalami perkembangan yang cukup bagus dan lebih demokratis dalam melibatkan partisipan dalam berbagai macam kegiatan politik seperti pemilu langsung untuk memilih wakil rakyat. Bentuk budaya politik Indonesia merupakan subbudaya atau budaya subnasional yang dibawa oleh pelaku-pelaku politik hingga terjadi Interaksi. c. PERKEMBANGAN BUDAYA POLITIK DI INDONESIA. kerja sama dan persaingan antar-subbudaya politik itu. Anaka rupa subbudaya politik yang berasal dari luar lingkungan tempat budaya politik asal itu berada. atau dapat juga didefinisikan secara terpisah yaitu dengan dua buah kata ‘budi’ dan ‘daya’ yang apabila digabungkan menghasilkan sintesa arti mendayakan budi. terdapat beberapa unsur yang berpengaruh. Budaya politik nasional yang tengah mengalami proses pematangan. Interaksi dan pertemuan-pertemuan antar subbudaya itu melatarbelakangi tingkah laku para aktor politik yang terlibat dalam pentas panggung politik nasional.

sebab peranan mereka biasanya amat menentukan walau tindakan politik mereka tidak selalu sejurus dengan iklim politik lingkungannya. Golongan elit strategis biasanya secara sadar memakai cara-cara yang tidak demokratis guna menyearahkan masyarakatnya untuk menuju tujuan yang dianut oleh golongan ini. Mengapa? Dikarenakan oleh karena golongan elite yang mempunyai rasa idealisme yang tinggi. kalaulah tidak selalu. Golongan elit yang strategis seperti para pemegang kekuasaan biasanya menjadi objek pengamatan tingkah laku ini. Idealisme diakui memanglah penting. namun pada aplikasinya banyak anakanak yang pada jenjang pendidikan dasar putus sekolah dengan berbagai alasan. Demokrasi dianggap merupakan sistem yang cocok di Indonesia karena kemajemukan masyarakat di Indonesia. walaupun mungkin terjadi kemajuan pada beberapa bidang seperti bidang ekonomi dan yang lainnya. Contohnya. Dapat diperkirakan orang itu akan merasa aneh. Kemerosotan demokratisasi biasanya terjadi disini. mempertanyakan sesuatu keputusan atau kebijaksanaan politik. Tetapi bersikap berlebihan atas idealisme itu akan menciptakan suatu ideologi yang sempit yang biasanya akan menciptakan suatu sikap dan tingkahlaku politik yang egois dan mau menang sendiri. seorang kepala pemerintahan yang mencanangkan program wajib belajar 9 tahun demi meningkatkan mutu pendidikan. Demokrasi biasanya mampu menjadi jalan penengah bagi atas polemik ini. Oleh karena itu Demokrasi yang dilakukan dengan musyawarah mufakat berusaha untuk mencapai obyektifitas dalam berbagai . Akan tetapi kadar idealisme yang tinggi itu sering tidak dilandasi oleh pengetahuan yang mantap tentang realita hidup masyarakat. Namun dari sinilah masalah-masalah biasanya bersumber. Sedangkan masyarakat yang hidup di dalam realita ini terbentur oleh tembok kenyataan hidup yang berbeda dengan idealisme yang diterapkan oleh golongan elit tersebut. Kebudayaan politik Indonesia pada dasarnya bersumber pada pola sikap dan tingkah laku politik yang majemuk. yang sering. seperti tidak memiliki biaya. canggung atau frustasi bilamana ia berada dalam lingkungan masyarakatnya yang kritis.mempersoalkan atau memberi kesempatan buat mempertanyakan apa yang terkandung dalan perintah itu. Hal ini berarti idealisme itu tidak diimplikasikan secara riil dan materiil ke dalam masyarakat yang terlibat dibawah politiknya. Indonesia sendiri mulai menganut sistem demokrasi ini sejak awal kemerdekaannya yang dicetuskan di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Maka disini diperlukanlah suatu proses yang dinamakan sosialisasi. generasi tersebut terus berkembang. sehingga tanpa menghilangkan nilai-nilai esensi yang ada. Kenyataan tersebutlah yang hendak kita rubah dengan nilai-nilai idealisme pancasila. . Yang menjadi persoalan kini ialah bagaimana dapat menjadikan individuindividu yang berada di masyarakat Indonesia untuk mempunyai ciri “dinamika dalam kestabilan” yakni menjadi manusia yang ideal yang diinginkan oleh Pancasila. Misalkan kepada suatu generasi diwariskan suatu undang-undang.bidang yang secara khusus adalah politik. Sejauh ini kita sudah mengetahui adanya perbedaan atau kesenjangan antara corak-corak sikap dan tingkah laku politik yang tampak berlaku dalam masyarakat dengan corak sikap dan tingkahlaku politik yang dikehendaki oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instant terjadinya pembudayaan. Kedua cirak ini tersintesa sehingga menciptakan suasana politik yang otoriter/totaliter. Corak kedua terdapat pada anggota masyarakat biasa. yakni kecenderungan untuk memaksakan subyektifisme mereka agar menjadi obyektifisme. Dari penanaman-penanaman nilai ini akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan yang berideologikan Pancasila. diharapkan dengan dinamika yang ada dalam masyarakat tersebut dapat menjadikan Undang-Undang tersebut bersifat luwes dan fleksibel. Corak pertama terdapat pada golongan elite strategis. Esensi manusia ideal tersebut harus dikaitkan pada konsep “dinamika dalam kestabilan”. Kita tahu bahwa manusia Indonesia sekarang ini masih belum mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dalam sikap dan tingkah lakunya seharihari. sikap seperti ini biasanya melahirkan sikap mental yang otoriter/totaliter. Kondisi obyektif tersebut berperan untuk menciptakan iklim pemerintahan yang kondusif di Indonesia. Arti kata dinamik disini berarti berkembang untuk menjadi lebih baik. sosialisasi Pancasila. Sosalisasi ini jikalau berjalan progressif dan berhasil maka kita akan meimplikasikan nilai-nilai Pancasila kedalam berbagai bidang kehidupan. Proses kelahiran ini akan memakan waktu yang cukup lama. Walaupun demikian. corak ini bersifat emosional-primordial. untuk mencapai manusia yang paling tidak mendekati kesempurnaan dalam konteks Pancasila. perilaku politik manusia di Indonesia masih memiliki corak-corak yang menjadikannya sulit untuk menerapkan Demokrasi yang murni. Dinamika dan kemerdekaan berpikir tersebut diharapkan mampu untuk memperkokoh persatuan dan memupuk pertumbuhan.

independen. Pembudayaan tidak berlangsung secara instan dalam diri seseorang namun melalui suatu proses yang tentunya membutuhkan tahapan-tahapan yang adalah pengenalan-pemahamanpenilaian-penghayatan-pengamalan. Emosional psikologis. Rasio. namun hal tersebutlah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia. Faktor kronologis ini berlangsung berbeda untuk setiap kelompok usia.dan Bebas) . faktor yang berasal dari hatinya 2. Sekarang ini bangsa kita memerlukan suatu transformasi budaya sehingga membentuk budaya yang memberikan ciri Ideal kepada setiap Individu yakni berciri seperti manusia yang lebih Pancasilais. Melepaskan kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan yang lama merupakan suatu hal yang berat. Transformasi iu memerlukan tahapan-tahapan pemahaman dan penghayatan yang mendalam yang terkandung di dalam nilai-nilai yang menuntut perubahan atau pembaharuan. Keberhasilan atau kegagalan pembudayaan dan beserta segala prosesnya akan menentukan jalannya perkembangan politik yang ditempuh oleh bangsa Indonesia di masa depan. faktor yang berasal dari otaknya Jikalau kedua faktor tersebut dalam diri seseorang kompatibel dengan nilainilai Pancasila maka pada saat itu terjadilah pembudayaan Pancasila itu dengan sendirinya. semakin tinggi tingkat ekonomi/sejahtera masyarakat maka partisipasi masyarakat pun semakin besar (3) Reformasi politik/political will (semangat merevisi dan mengadopsi system politik yang lebih baik) (4) Supremasi hukum (adanya penegakan hukum yang adil. Tentu saja tidak hanya kedua faktor tersebut.Dua faktor yang memungkinkan keberhasilan proses pembudayaan nilai-nilai dalam diri seseorang yaitu sampai nilai-nilai itu berhasil tertanam di dalam dirinya dengan baik. FAKTOR PENYEBAB BERKEMBANGNYA BUDAYA POLITIK DI INDONESIA (1) Tingkat pendidikan masyarakat sebagai kunc utama perkembangan budaya politik masyarakat (2) Tingkat ekonomi masyarakat. Kedua faktor itu adalah: 1. Segi lain pula yang patut diperhaikan dalam proses pembudayaan adalah masalah waktu.

bebas.(5) Media komunikasi yang independen (berfungsi sebagai control sosial.dan mandiri) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->