P. 1
Upaya Meningkatkan Kemampuan Percakapan Bahasa Arab Menggunakan Teknik Role Play (Ptk)

Upaya Meningkatkan Kemampuan Percakapan Bahasa Arab Menggunakan Teknik Role Play (Ptk)

2.67

|Views: 4,113|Likes:
Published by dwi

More info:

Categories:Types, Research
Published by: dwi on Feb 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/07/2015

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting dalam kehidupan manusia secara kronologis fungsi bahasa adalah untuk menyatakan ekspresi diri, alat komunikasi, alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial dan sebagai alat untuk kontrol sosial. Dengan bahasa, seseorang akan melakukan

komunikasi, baik ketika ia akan menyampaikan sesuatu yang ada dalam benaknya maupun menerima kabar dari orang lain. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesama. Bahasa memiliki sifat yang universal sehingga bisa digunakan oleh siapapun tanpa melihat ras, suku, status sosial, hingga antar bangsa atau benua. Brown mengemukakan bahwa bahasa juga dipergunakan sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan sesama manusia.1 Bahasa Arab sebagai bahasa asing di Indonesia menduduki posisi yang strategis terutama bagi umat Islam Indonesia. Hal ini bukan saja karena Bahasa Arab digunakan dalam ritual keagamaan seperti shalat, khutbah, kegiatan berdoa

1

Tarigan, DJ dan tarigan, HG, Teknik Pengajaran Ketrampilan Berbahasa. (Bandung, Angkasa, 1989). Halm. 6

1

2

dan lain-lain. Tetapi juga menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa pergaulan internasional.2 Bahasa Arab memiliki kaitan yang sangat erat dengan agama islam, karena semua ajaran islam terhimpun dalam al-Qur‟an dan dilengkapi dengan penjelasan al-Hadits. Untuk dapat mengkaji dan mendalami ajaran islam,harus mempelajari al-Qur‟an dan al-Hadits, dan agar dapat mempelajari al-Qur‟an dan al-Hadits dibutuhkan kemampuan berbahasa Arab yang baik. Tujuan pembelajaran bahasa Arab secara umum adalah agar siswa mampu menguasai empat keterampilan (skills) bahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan keterampilan menulis. membaca, keterampilan keterampilan berPercakapan, berPercakapan dan perlu

Pembelajaran

mendapatkan perhatian karena keterampilan berPercakapan tidak bisa diperoleh secara otomatis, melainkan harus belajar dan berlatih. Untuk melatih keterampilan berPercakapan siswa perlu adanya metode yang sesuai. Selama ini, para guru lebih sering memberikan materi pelajaran mengenai kajian tata bahasa saja dibandingkan dengan keterampilan berPercakapan. Padahal, belajar bahasa Arab dituntut untuk mampu berPercakapan dengan bahasa Arab. Selama pembelajaran di kelas para guru selalu monoton dan seringkali siswa kurang semangat terutama pelajaran bahasa Arab. Kenyataan yang dihadapi bahwa sesunguhnya kondisi pengajaran Bahasa Arab di sekolah-sekolah di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai kendala
2

Abdul Munip, Problematika Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia dalam Al-Arabiyah Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol 1 No. 2 Januari 2005, halm. 1

3

dan tantangan. Kendala atau tantangan tersebut paling tidak dapat terlihat salah satunya dari segi edukatif. Pengajaran Bahasa Arab masih kurang ditopang oleh faktor-faktor pendidikan yang memadai. Faktor-faktor disini diantaranya faktor kurikulum (termasuk didalamnya orientasi dan tujuan, materi dan metodologi pengajaran serta sistem evaluasi), tenaga edukatif, sarana dan prasarana. Namun demikian, kurikulum yang selama ini diformat oleh para pemegang kebijakan pendidikan Bahasa Arab seringkali dinilai kurang produktif dengan materi tidak terorentasi dengan kompetensi akhir yang harus dmiliki peserta didik. Syaratnya materi yang harus dipasok ke dalam sel-sel otak peserta didik, memotivasi para pengajar hanya bertugas sebagai penyampai pokok bahasan sehingga daya kreasi pengajar tumpul dalam pengayaan strategi pengajaran. Sehingga pembelajaran Bahasa Arab yang diselenggarakan pada gilirannya kemudian hanya berpola untuk memindahkan isi (content

transsmission) dari pengajar ke peserta didik. Hal ini tentu membuat proses belajar mengajar bersifat monoton, satu arah dari pengajar ke peserta didik (one way communication), tidak diarahkan ke partisipatori total peserta didik sehingga pola pengajaran menjadi monolog dan menjemukan. BerPercakapan adalah aktifitas yang dilakukan manusia dalam

berkomunikasi dengan orang lain. Ketika seseorang berPercakapan maka dia berinteraksi dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan ide atau perasaan mereka. Kebanyakan peserta didik merasa malu dan takut ketika mereka

4

mencoba untuk berPercakapan bahasa Arab, mereka tidak percaya diri dan ada perasaan khawatir akan menjadi bahan tertawaan bagi teman-temannya. Maka berdasarkan permasalahan di atas penulis bermaksud melakukan penelitian kapada Siswa kelas V di ......................... ......................... Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan teknik bermain peran yang merupakan pembelajaran yang santai dan menyenangkan. Siswa dihadapkan pada suatu kondisi kelas berbahasa yang komunikatif dengan materi yang kontekstual atau teralami oleh siswa.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia masih belum efektif. 2. Kurikulum pembelajaran bahasa Arab di Indonesia masih belum maksimal 3. Bahasa Arab yang diselenggarakan hanya berpola untuk memindahkan isi (content transsmission) dari pengajar ke peserta didik 4. Proses belajar mengajar bersifat monoton, satu arah dari pengajar ke peserta didik (one way communication). 5. Rasa Percaya diri peserta didik dalam percakapan bahasa Arab masih kurang.

C. Rumusan Masalah

5

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, Rumusan masalah penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimanakah proses pembelajaran Bahasa Arab dengan menggunakan teknik bermain peran pada siswa kelas V .........................? 2. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berPercakapan bahasa Arab siswa kelas V .........................? 3. Bagaimanakah langkah-langkah guru dalam meningkatkan kemampuan berPercakapan Bahasa Arab siswa kelas V .........................?

D. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah: a) Untuk mengetahui pembelajaran dengan teknik bermain peran dalam meningkatkan kemampuan berPercakapan bahasa Arab pada siswa kelas V ......................... Kec. Setu Kota Tangerang Selatan. b) Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berPercakapan Bahasa

Arab siswa kelas V ......................... dengan menggunakan teknik bermain peran c) Untuk mengetahui langkah-langkah guru dalam meningkatkan

kemampuan berPercakapan Bahasa Arab siswa kelas V ......................... 2. Manfaat penelitian a. Bagi siswa

6

1) Siswa mampu menggunakan bahasa Arab dengan aktif dalam percakapan sehari-hari 2) Siswa mampu memahami bahasa Arab dengan cepat dengan menggunakan Teknik bermain peran. b. Bagi guru 1) Meningkatkan daya kreasi guru dalam mengadakan pengayaan teknik pengajaran khususnya bahasa Arab 2) Memberikan motivasi guru untuk membina dan mengembangkan ketrampilan bahasa Arab c. Bagi sekolah Dari hasil penelitian ini dapat memberikan inspirasi dan masukan untuk meningkatkan dan pengembangan bahasa Arab di ..........................

E. SistematikaPenulisan Untuk mengetahui gambaran dari skripsi maka disusun sistematika sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN, pada Bab I memuat tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA, pada Bab II memuat tentang pengertian , berPercakapan, pengertian bermain peran, penerapan pembelajaran

7

berPercakapan bahasa Arab dengan menggunakan teknik bermain peran, pengertian penelitian tindakan kelas, BAB III METODE PENELITIAN, bab ini di bahas tentang metode penelitian, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, metode analisis data, tahap-tahap penelitian dan sistematika pembahasan. BAB IV HASIL PENELITIAN, dalam bab ini menyajikan langkah-langkah dan teknik bermain peran yang diuraikan pada siklus 1, siklus 2 dan seterusnya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, dalam bab ini Bab ini merupakan penutup, berisi tentang kesimpulan dari proses penelitian dan saran atau rekomendasi serta pemanfaatan penelitian akhir ini.

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian BerPercakapan BerPercakapan ialah bentuk komunikasi dengan menggunakan media bahasa, berPercakapan merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran- ujaran. Ujaran-ujaran yang muncul merupakan perwujudan dari gagasan, pikiran, perasaan menjadi wujud ujaran. BerPercakapan merupakan ekspresi diri, kemampuan mental motorik, proses simbolik yang terjadi dalam konteks ruang dan waktu serta keterampilan berbahasa yang produktif. Di sini perlu disadari bahwa “Bahasa berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena tanpa bahasa maka segala jenis kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh”3 BerPercakapan adalah salah satu kemampuan khusus manusia. Oleh karena itu, pemPercakapan seumur dengan bangsa manusia mengatakan “bahwa bahasa dan pemPercakapanan itu muncul, ketika manusia mengungkapkan dan menyampaikan pikiran kepada manusia lain”.4
3 4

Keraf, Gorys, Komposisi.(Jakarta, Ikrar Mandiri 1991). Halm. 1 Henrikus, Dori Wuwur, Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi (Jakarta, Ladero 1990). Halm. 14

9

Beberapa prinsip umum berPercakapan menurut Tarigan5, yaitu membutuhkan paling sedikit dua orang dan mempergunakan studi linguistik yang dipahami bersama dan merupakan suatu pertukaran peran antara pemPercakapan dan pendengar. Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka jelas berPercakapan adalah suatu kegiatan manusia dalam mengungkapakan pikiran dan perasaannnya dalam suatu aktifitas sosial yang dilakukan paling sedikit oleh dua orang sehingga terbentuklah suatu komunikasi dua arah.

B. Percakapan Percakapan / diskusi adalah dialog antara dua orang atau lebih. Membangun komunikasi melalui bahasa lisan (melalui telepon, misalnya) dan tulisan (di chat room). Percakapan ini bersifat interaktif yaitu komunikasi secara spontan antara dua atau lebih orang . Dalam sebuah percakapan, kedua komunikan dan komunikator berinteraksi saling memberikan kontribusi dalam sebuah komunikasi lisan maupun tulisan, tidak seperti monolog. Diskusi atau percakapan sama halnya dengan berPercakapan dengan dua orang atau lebih. Tetapi di saat yang sama, masing-masing komunikator dan komunikan memiliki giliran dan kesempatan untuk berPercakapan dan yang lainnya mendengar. Percakapan dapat berputar di sekitar satu subyek atau banyak dan dikondisikan oleh konteks. Dalam situasi informal, percakapan dapat bervariasi
5

Tarigan, DJ dan tarigan, HG, Teknik Pengajaran Ketrampilan Berbahasa. (Bandung, Angkasa, 1989). Halm. 6

10

tanpa harus ada pengaturan yang membebani sebuah diskusi. Komunikator dan komunikan saling berdialog dan dapat mengekspresikan pandangan mereka saat berdiskusi. Ada dua macam bentuk percakapan atau diskusi yakni 1. Terstruktur yaitu percakapan yang telah dipersiapkan menggunakan teks, penghapalan dan lain-lain. 2. Tidak terstruktur atau spontan: percakapan ini sering dilakukakn dalam kegiatan sehari-hari tanpa ada bantuan apapun, dan juga tidak mengikuti aturan apapun.

Jenis lainnya : 1. Percakapan yang bersifat interaktif membutuhkan kontribusi percakapan yakni respon reaksi terhadap apa yang sebelumnya telah dikatakan. 2. Percakapan yang bersifat spontan merupakan percakapan yang biasa tanpa aturan tetapi dilakukan sampai batas tertentu, dan dalam beberapa cara, tak terduga. Namun, terdapat ruang lingkup spontanitas yang mengharuskan mengkuti aturan demi tujuan kebijaksanaan,misalnya diskusi dan perdebatan. 3. Percakapan mengikuti aturan etiket karena percakapan adalah interaksi sosial, dan karena bergantung pada konvensi sosial. Maka percakapan pun harus mengikuti aturan-aturan yang diberlakukan seperti tidak saling sindir menyindir, konten percakapan yang bersifat SARA, adu domba dan lain-lain yang dapat mengganggu percakapan tersebut.

11

4. Percakapan merupakan bentuk ideal suatu komunikasi, tergantung pada maksud komunikator dan komunikan tersebut. Percakapan mungkin ideal ketika, misalnya, masing-masing pihak menginginkan pertukaran relatif sama informasinya, atau ketika salah satu pihak menginginkan untuk mempertanyakan lain. Di sisi lain, jika komunikasi itu terjalin baik maka tinjauan informasi dalam bentuk tulisan pun harus dilakukan agar mendapatkan percakapan yang berkualitas.6

Jenis percakapan dapat dilakukan dengan cara yang berbeda yang dilakukan berdasarkan 3 hal yaitu : Situasi, keterlibatan pelaku, dan alur pemPercakapanan Berdasarkan situasi berPercakapan dapat dikelompokan kedalam dua jenis yaitu : a. Percakapan formal yaitu percakapan yang terikat pada aturan aturan baik aturan tata krama maupun kebahasaan. b. Percakapan nonformal yaitu percakapan yang tidak terlalu terikat pada aturan-aturan. Percakapan sebagai suatu ketrampilan berbahasa menurut Tarigan mempunyai lima peranan sebagai berikut : 1. Menghibur BerPercakapan untuk menghibur dilakukan dengan cara pemPercakapanan menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara seperti humor,

6

http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2306378-pengertian-percakapandiskusi/#ixzz2Hmg3lQfA

12

spontanitas, menggairahkan sehingga pemPercakapanan santai dan penuh canda. 2. Menginformasikan BerPercakapan untuk (1) menjelaskan suatu proses, (2) menguraikan, menafsirkan atau menginterprestasikan sesuatu, (3) memberi, menyebarkan pengetahuan, (4) menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antar benda, hal atau peristiwa. 3. Menstimulasi BerPercakapan untuk menstimulasi atau pemPercakapanan berupa untuk membangkitkan inspirasi, kemauan, atau minat pendengarnya untuk melaksanakan sesuatu. 4. Meyakinkan BerPercakapan untuk meyakinkan, menuntut pembeicara untuk bisa meyakinkan suatu hal. Diharapkan sikap pendengar dapat berubah. 5. Menggerakan BerPercakapan untuk menggerakan menuntuk penyimak agar bisa berbuat, bertindak atau berinteraksi seperti yang dikehendaki pemPercakapan yang merupakan kelanjutan, pertumbuhan atau perkembangan berPercakapan untuk meyakinkan. 7

7

Tarigan H. G, BerPercakapan Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, (Bandung, Angkasa 1981). Halm.

13

Ketrampilan dalam melakukan percakapan melibatkan tiga bidang pengetahuan, yaitu: a. Mekanik (pengucapan, tata bahasa, dan kosakata); penggunaan katakata yang sesuai dengan susunan dan pengucapan yang benar. b. Fungsi (transaksi dan interaksi); mengetahui kapan pesan yang jelas diperlukan (transaksi atau pertukaran informasi) dan kapan

pemahaman yang tepat tidak diperlukan (interaksi atau membangun hubungan). c. Norma dan aturan sosial budaya; pemahaman tentang siapa yang berPercakapan kepada siapa, dalam situasi yang bagaimana, tentang apa, dan untuk apa.

Berikut ini model-model latihan berPercakapan yang digunakan dalam melatih ketrampilan kalam anak didik yaitu;

1. Latihan asosiasi dan identifikasi. Dimaksudkan untuk melatih spontanitas siswa dan kecepatannya dalam mengidentifikasi dan mengasosiasikan makna ujaran yang didengarnya. 2. Latihan Pola kalimat Latihan Mekanis. Latihan ini bertujuan menanamkan kebiasaan dengan memberikan stimulus untuk mendapatkan respon yang benar. Ada bermacam-macam latihan mekanis diantaranya adalah: 1) Pengulangan sederhana.

14

2) Penggantian sederhana. 3) Penggantian berganda 4) Tranformasi penggabungan kalimat dengan penambahan qowa‟id 5) Latihan Bermakna. Alat peraga: baik berupa benda-benda alamiah maupun gambar-gambar yang dipakai untuk memberikan makna pada kalimat-kalimat yang dilatihkan. Situasi kelas: benda-benda yang ada didalam kelas dapat dimanfaatkan untuk pemberian makna. 6) Latihan komunikatif. Latihan ini menumbuhkan daya kreasi siswa dan merupakan latihan yang sebenarnya. 7) Latihan percakapan, model-model latihan percakapan itu adalah sebagai berikut: a. Tanya Jawab. b. Menghafalkan Dialog. Guru memberikan suatu model dialog secara tertulis untuk dihafalkan oleh siswa di rumah masing-masing. Pada minggu berikutnya siswa diminta secara berpasangan untuk tampil di depan kelas untuk memperagakan dialog tersebut. c. Percakapan Terpimpin. Guru menentukan situasi atau konteksnya, siswa diharapkan mengembangkan lawan

imajinasinya sendiri dalam percakapan dengan

15

Percakapannya sesuai dengan konteks atau situasi yang telah ditentukan. d. Percakapan Bebas. Guru siswa hanya diberi menentukan kesempatan topik untuk

pemPercakapanan,

melakukan percakapan mengenai topik tersebut secara bebas. e. Bercerita f. Diskusi, ada beberapa model diskusi yang bisa dilakukan di kelas kaitannya dengan latihan berPercakapan, yaitu: 1) Diskusi kelas dengan dua kelompok berhadapan. 2) Diskusi kelas bebas. Guru menetapkan topik, siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan

pendapatnya tentang masalah yang menjadi topik pemPercakapanan tersebut secara bebas. 3) Diskusi kelompok. 4) Diskusi panel. d. Wawancara. e. Drama f. Berpidato

C. BerPercakapan Bahasa Arab

16

Bahasa merupakan realitas yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tumbuh dan berkembangnya manusia pengguna bahsa itu. Realitas bahasa dalam kehidupan ini semakin menambah eksistensi manusia sebagai mahluk berbudaya dan beragama. Kekuatan eksistensi manusia sebagai mahluk yang berbudaya dan beragama antara laian ditunjukan dengan kemampuannya menghasilkan suatu karya-karya besar. Bahasa didefinisikan oleh para ahli dengan beragam pengertian, diantaranya adalah: 1. Al Khuli, menyatakan bahasa adalah sistem suara yang terdiri dari simbolsimbol arbiter (manasuka) yang dipergunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk bertukar pikiran.8 2. May Finachiaro menyatakan, bahasa adalah sistem arbiter yang terdiri dari simbol-simbol suara yang digunakan oleh manusia dalam mentransfer budaya kepada yang lainnya atau mereka yang telah mempelajari budaya dalam berkomunikasi.9 Dari definisi diatas disimpukan bahwa bahasa adalah suatu cara berkomunikasi yang dituangkan melalui simbol suara atau sistem arbiter dalam menyampaikan suatu maksud dan tujuan dan memiliki karakter tersendiri sesuai dengan kultur dan budaya si pemakai bahasa.

8

Ali Al-Khuli, Muhammad. A Dictionary of Theoritical Linguistics. (Libanon. Libanon Library 1982). Halm. 148 9 Finocchiaro, M. English as a Second Language: From Theory to Practice. (New York: Regents Publishing Co,. Inc. 1972). Halm. 3

17

Ketrampilan berbahasa pada umum dapat dikatagorikan ke dalam empat komponen, yaitu: Ketrampilan menyimah (maharah al istima/ listening skills), berPercakapan (maharah al kalam/ speaking skills), membaca maharah al qira’at/ reading skills). Ketrampilan mendengar dan membaca merupakan ketrampilan reseptif (receptive skills) yaitu ketrampilan menerima bahasa. Sedangkan ketrampilan berPercakapan dan menulis merupakan ketrampilan produktif (productive skills), yaitu ketrampilan yang menghasilkan bahasa. Keterampilan berPercakapan (Maharah al Kalam) adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan, atau perasaan kepada mitra Percakapan. Dalam makna yang lebih luas, berPercakapan merupakan suatu sistem tandatanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otottubuh manusia untuk menyampaikan pikiran dalam rangka memenuhi kebutuhannya. 10 Secara umum keterampilan berPercakapan bertujuan agar para pelajar mampu berkomunikasi lisan secara baik dan wajar dengan bahasa yang mereka pelajari. Secara baik dan wajar mengandung arti menyampaikan pesan kepada orang lain dalam cara yang secara sosial dapat diterima. Maharah al Kalam yaitu cara menyajikan bahasa pelajaran bahasa Arab melalui percakapan, dalam percakapan itu dapat terjadi antara guru dan murid dan antara

10

Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung, Rosdakarya, 2011) . Halam. 135-136

PT Remaja

18

murid dengan murid sambil menambah dan terus memperkaya pembendaharaan kata-kata yang semakin banyak. Pengajaran maharah al kalam ini bertjuan untuk melatih lidah anak didik agar terbiasa dan fasih bercakap-cakap dalam bahasa Arab, dan trampil berPercakapan dalam bahasa Arab mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan dunia internasional, ketiga mampu menerjemahkan percakapan orang lain lewat telepon, radio, tv, tape recorder dan lain-lain, keempat menumbuhkan rasa cinta dan menyenangi bahasa Arab dan Al Quran sehingga timbul kemauan untuk belajar dan mendalaminya. Untuk meningkatkan pembelajaran bahasa Arab maka di butuhkan sebuah motivasi. Yang mana motivasi merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menuntun siswa menggapai sukses orang yang tidak memiliki motivasi belajar dalam dirinya maka hadirnya guru profesional sangat diperlukan.11 Dari definisi motivasi itu sendiri, motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan. Misalnya kebutuhan seseorang akan makanan menuntut seseorang terdorong untuk bekerja. Kebutuhan akan pengakuan sosial mendorong seseorang untuk melakukan berbagai upaya kegiatan sosial. Motivasi terbentuk oleh tenagatenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu. Terhadap tenaga-

11

Sitikno Sobri, Belajar dan Pembelajaran, (Rosda Karya, Bandung 1995). Hlm. 175

19

tenaga tersebut para ahli memberikan istilah yang berbeda, seperti desakan atau drive, motif atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish.12

D. Pengertian Bermain Peran Bermain Peran adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).13 Sudjana mengemukan bahwa teknik bermain peran adalah suatu teknik kegiatan belajar yang menekankan pada kemampuan penampilan warga belajar

12 13

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran. (Rosda Karya, Bandung 1995). Hlm. 152 http://weblogask.blogspot.com/2012/08/model-pembelajaran-role-playing-dan.html

20

untuk memerankan suatu status atau fungsi pihak-pihak lain yang terdapat pada dunia kehidupan.14 Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. Prinsip dasar pembelajaran bermain peran, prinsip dasar dalam pembelajaran bermain sebagai berikut: a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota adalah tim. c. Kelompok mempunyai tujuan yang sama. d. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. e. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
14

Sudjana. D. Metode dan Teknik Kegiatan Belajar Partisipasi, (Bandung, Rosdakarya, 1983). Halm. 78-79

21

f. Setiap

anggota

kelompok

(siswa)

berbagi

kepemimpinan

dan

membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. g. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok bermain

Terdapat lima karakteristik bermain peran, yaitu:

1. Merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai yang positif bagi anak. 2. Didasari motivasi yang muncul dari dalam. Jadi anak melakukan kegiatan itu atas kemauannya sendiri. 3. Sifatnya spontan dan sukarela, bukan merupakan kewajiban. Anak merasa bebas memilih apa saja yang ingin dijadikan alternatif bagi kegiatan bermainnya. 4. Senantiasa melibatkan peran aktif dari anak, baik secara fisik maupun mental. 5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kemampuan kreatif, memecahkan masalah, kemampian berbahasa, kemampuan memperoleh teman sebanyak mungkin dan sebagainya.

22

Bermain merupakan bagian terbesar dalam kehidupan anak-anak untuk dapat belajar mengenal dan mengembangkan keterampilan sosial dan fisik, mengatasi situasi dalam kondisi sedang terjadi konflik. Secara umum bermain sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan dan dalam suasana riang gembira. Dengan bermain berkelompok anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan yang dimilikinya sehingga dapat membantu pembentukkan konsep diri yang positif, pengelolaan emosi yang baik, memiliki rasa empati yang tinggi, memiliki kendali diri yang bagus, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Bermain peran (role playing) merupakan sebuah permainan di mana para pemain memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan berkolaborasi untuk merajut sebuah cerita bersama. Para pemain memilih aksi tokoh-tokoh mereka berdasarkan karakteristik tokoh tersebut, dan keberhasilan aksi mereka tergantung dari sistem peraturan permainan yang telah ditetapkan dan ditentukan, asalkan tetap mengikuti peraturan yang ditetapkan, para pemain bisa berimprovisasi membentuk arah dan hasil akhir permaian. Oktaviani (2008) menyatakan lima pengertian bermain di antaranya:

1. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak. 2. Bermain tidak memiliki tujuan ekstrinsik namun motivasinya lebih bersifat intrinsik.

23

3. Bersifat spontan dan sukarela tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak. 4. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak. 5. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti misalnya: kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial, dan sebagainya.

Bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang di gunakan unutk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandangan dan cara berfikir orang lain.15 Santrock menyatakan bermain peran (role play) ialah suatu kegiatan yang menyenangkan. Secara lebih lanjut bermain peran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan.16 Role playing merupakan suatu metode bimbingan dan konseling kelompok yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok. Di dalam kelas, suatu masalah diperagakan secara singkat sehingga siswa dapat mengenali karakter tokoh seperti apa yang siswa peragakan tersebut atau yang menjadi lawan mainnya memiliki atau kebagian peran seperti apa. Santrock juga menyatakan bermain peran memungkinkan anak mengatasi frustrasi dan merupakan suatu

15

16

Depdikbud (1999). Penelitian Tindakan Kelas , Jakarta : Depdikbud. Halm. 171 Santrock. W. Jhon, Adolescence, (Mc Graw-Hill Education, London 1995), Halm. 272

24

medium bagi ahli terapi untuk menganalisis konflik-konflik anak dan cara-cara mereka mengatasinya. Ginnot menyatakan bermain peran diyakini sebagai
17

sarana Terapi

perkembangan potensi juga dapat dijadikan sebagai media terapi.

bermain peran khususnya merupakan pendekatan yang sesuai untuk melakukan konseling dengan anak karena bermain adalah hal yang alami bagi anak. Melalui manipulasi mainan, anak dapat menunjukkan bagaimana perasaan mengenai dirinya, orang-orang yang penting serta peristiwa dalam hidupnya secara lebih memadai daripada melalui kata-kata. Ginnot menegaskan bahwa bermain peran merupakan seperangkat prosedur yang digunakan untuk melakukan konseling dengan anak melalui penggunaan secara sistematis dari metode bermain, permainan, dan alat permainan.18 Proses belajar dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan siswa mampu menghayati tokoh yang dikehendaki, keberhasilan siswa dalam menghayati peran itu akan menetukan apakah proses pemahaman, penghargaan dan identifikasi diri terhadap nilai berkembang.19 Kenneth (Sumber Lead Sabda) menyatakan bahwa teknik bermain peran (role playing) merupakan teknik psikoterapi tahun 1930-an. Role playing yang

18 19

http://www.psychologymania.com/2012/06/pengertian-bermain-peran-role-play.html Hasan S.N (1996) Pendidikan ilmu-ilmu sosial buku 1 dan 2, Bandung, Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Halm. 266

25

dapat membawa perubahan perilaku yang tidak baik menjadi baik dan terarah. Mulyasa menyatakan empat asumsi yang mendasari teknik bermain peran (role playing) dapat mengembangkan perilaku yang baik dan nilai-nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya.20 Dari asumsi tersebut sebagai antara lain:

1. Bermain peran dilaksanakan berdasarkan pengalaman siswa dan isi dari pelaksanaan teknik ini yaitu pada situasi “disini pada saat ini”. 2. Bermain peran memungkinkan siswa untuk mengungkapkan

perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaannya untuk mengurangi beban emosional. 3. Teknik bermain peran ini berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, para siswa dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, siswa belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara lebih optimal lagi.
20

http://www.majalahpendidikan.com/2011/10/ketrampilan-berPercakapan-kalambahasa-arab.html

26

4. Teknik bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, siswa dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu

dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.

Menurut E. Mulyasa terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut: 1. Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi „‟di sini pada saat ini‟‟. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain. 2. Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban

27

emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan

keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. 3. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaauntuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi

28

peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berPercakapan mengenai masalah yang sedang dihadapi. 4. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.21 Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata.

21

Dr. E Mulyasa, M. Pd. Menjadi Guru Profesional, (Bandung, Rosda Karya 2004), halm. 141

29

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif, dan spiral, bertujuan untuk melakukan perbaikan –perbaikan terhadap sistim, cara kerja, proses, isi, dan kompetensi atau situasi pembelajaran. PTK yaitu suatu kegiatan menguji cobakan suatu ide dalam praktik atau situasi nyata dalam harapan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

30

B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di ......................... Ds. Keranggang Kota Tangerang Selatan, adapun waktu pelaksanaan penelitian sejak bulan Juli 2012 sampai dengan September 2012 pada kegiatan semester I Tahun Pelajaran 2012/2013.

C. Subyek Penelitian Dalam Penelitian tindakan kelas ini peneliti akan memfokuskan pada siswa kelas V A yang berjumlah 40 siswa di .......................... Adapun Penelitian Tindakan Kelas ini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi yang akan menjadi dasar pijakan untuk langkah berikutnya.

D. Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu jenis penelitian yang dapat dilakukan oleh guru atau pengajar sebagai praktisi dan pengelola program pendidikan. Seperti yang dikutip dari Stenhouse dan Hopkin pada buku Kasihana dan I Wayan Sukarnyana, penelitian tindakan kelas membuat guru dapat meneliti dan mengkaji sendiri kegiatan praktik pengajaran sehari-hari yang dilakukan di kelas, sehingga permasalahan yang dihadapi benar-benar permasalahan yang

sebenarnya dan aktual. Dengan demikian guru dapat langsung berbuat sesuatu

31

untuk memperbaiki praktik-praktik pengajaran yang kurang berhasil agar menjadi lebih baik. Dengan melakukan penelitianberarti guru dilatih untuk lebih dapat mengendalikan kehidupan profesinya serta terlibat dalam kegiatan akademik untuk mengembangkan profesi melalui latihan-latihan pengambilan keputusan secara profesional.22 PTK memiliki karakteristik yang berbeda dengan penelitian formal, PTK merupakan: (a) an inquiry on practice from within, (b) a collaborative effort between school teachers and teacher educators, dan (c) a reflective practive made public. PTK iti bersipat practice driven dan action driven, hal ini berarti PTK bertujuan memperbaiki pengajaran secara praktis dan secara langsung. Empat aspek pokok dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut: 1. Penyusunan rencana Rencana penelitian tindakan kelas merupakan tindakan yang tersusun dan harus memiliki pandangan jauh ke depan, yakni untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasil belajar siswa. 2. Tindakan Pengertian tindakan dalam penelitian tindakan kelas adalah tindakan guru sebagai penelitian yang dilakukan secara sadar dan terkendali dan yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. 3. Observasi
22

Kasbolah, Sukarnyana, Penelitian Tindakan Kelas, (UNJ, Malang 2006), hlm. 5

32

Observasi atau pengamatan dilakukan oleh guru sebagai peneliti memperoleh gambaran secara cermat tentang tindakan yang sedang dilakukan dan kemudian mendokumentasikan pengaruh atau dampak dari tindakan tersebut. 4. Refleksi Refleksi adalah mengingat, merenung, mencermati dan menganalisis kembali suatu kegiatan atau tindakan yang telah dilakukan sebagaimana yang telah dicatat dalam observasi.

E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melalui: 1. Data langsung Data yang diperoleh melalui hasil pengamatan langsung di lapangan diantaranya: 1) Test tertulis atau performance 2) Pengamatan tindakan di dalam kelas yang dilakukan oleh kolaborator 2. Data tidak langsung Data yang diperoleh melalui dokumentasi atau wawancara, diantaranya melalui: 1) Kuesioner 2) Arsip atau dokumentasi

33

F. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Penelitian tindakan kelas memiliki tahapan kegiatan yang terdiri dari dua siklus atau lebih tergantung dalam implementasinya. Setiap tahapan dirancang dengan melalui tahapan: refleksi, perencanaan/persiapan, tindakan, dan analisis.

1. Refleksi awal Dalam refleksi awal, dari pengalaman belajar ditentukan kelemahan dan kekuatan. Dalam refleksi awal ditemukan masalah bahwa : a. Pembelajaran belum menggunakan metode yang bervariasi dan cenderung hanya menggunakan metode ceramah. b. Siswa kurang aktif dalam kegiatan percakapan bahasa Arab.

2. Perencanaan Berdasarkan hasil refleksi awal, disusun perencanaan tentang tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Langkah dilakukan adalah: a. Membuat rencana pembelajaran menggunakan metode dan teknik yang bervariatif b. Membuat lembar observasi (pengamatan) sebagai pedoman atas proses pembelajaran. 3. Tindakan Tindakan adalah sesuatu pelaksanaan atasrencana yang telah disiapkan. Pada saat tindakan dilaksanakan, dilakukan observasi terhadap proses belajar

34

mengajar untuk mengetahui perubahan yang terjadi akibat dari tindakan yang dilakukan. 4. Observasi Pengamatan yang dilakukan saat melaksanakan proses tindakan di dalam kelas sejak dari awal pengajaran hingga akhir pembelajaran. 5. Refleksi Pada kegiatan ini dilakukan refleksi dan analisis didasarkan pada hasil pengamatan. Hasil analisis berupa masukan yang akan digunakan untuk perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus berikutnya. Untuk memperjelas alur penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Kelas

35

G. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh akan dianalisis dengan analisis kualitatif menggunakan model interaktif yang meliputi tahap reduksi data, sajian data, penarikan simpulan dan verifikasi penelitian. Keempat komponen analisis tersebut (reduksi, sajian, penarikan kesimpulan dan verifikasi) dilakukan secara simultan sejak proses pengumpulan data dilakukan. Teknik analisis lain yang digunakan adalah analisis statistik sederhana yaitu teknik analisis deskriptif persentase. Teknik analisis ini digunakan untuk

36

mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa sesudah diberi pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat.

BAB IV HASIL PENELITIAN

37

A. Penerapan

Pembelajaran

BerPercakapan

Bahasa

Arab

Dengan

Menggunakan Teknik Bermain Peran Melalui role playing, siswa diharapkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan seluruh pikiran dan minatnya dan juga perilakunya yang negatif menjadi positif, emosinya yang meledak-ledak menjadi halus dan tidak emosian, siswa yang tidak dapat berempati menjadi dapat bersikap empati, yang kurang bertanggung jawab menjadi bisa lebih bertanggung jawab, siswa yang kendali dirinya lemah dapat menjadi terkendali, siswa yang interpersonal skill nya rendah bisa menjadi bagus. Mata pelajaran Bahasa Arab merupakan suatu mata pelajaran yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan serta menumbuhkan sikap positif terhadap Bahasa Arab baik reseptif maupun produktif. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pemPercakapanan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan produktif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis. Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur‟an dan Hadits, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik. Untuk itu, bahasa Arab di Madrasah dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa, yang mencakup empat keterampilan berbahasa yang diajarkan secara integral, yaitu menyimak, berPercakapan,

38

membaca, dan menulis. Meskipun begitu, pada tingkat pendidikan dasar (elementary) dititikberatkan pada kecakapan menyimak dan berPercakapan sebagai landasan berbahasa. Pada tingkat pendidikan menengah (intermediate), keempat kecakapan berbahasa diajarkan secara seimbang. Sedangkan pada tingkat pendidikan lanjut (advanced) dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis, sehingga peserta didik diharapkan mampu mengakses berbagai referensi berbahasa Arab. Mata pelajaran Bahasa Arab memiliki tujuan sebagai berikut : 1. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, yakni menyimak ( istima‟), berPercakapan (kalam), membaca (qira‟ah), dan menulis (kitabah). 2. Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar, khususnya dalam mengkaji sumber-sumber ajaran Islam. 3. Mengembangkan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian peserta didik diharapkan memiliki wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya Dengan menggunakan teknik bermain peran dalam percakapan bahasa Arab, diharapkan siswa akan mampu berpartisipasi dan meningkatkan rasa

39

percaya diri mereka ketika memulai suatu percakapan sederhana dengan memerankan seseorang atau tokoh.

B. Gambaran Umum ......................... Kota Tangerang Selatan ......................... adalah sebuah lembaga pendidikan dasar dibawah Kementrian Agama yang sederajat dengan tingkat SD, stuktur kepemimpinan dipimpin oleh Bapak ........................., S. Pd.I Sekolah ini beralamat Desa Keranggan, Kecamatan setu Kota Tangerang Selatan. Berdiri dan beroperasi sejak tahun 1984, dengan SK Pendirian No. 642.2/710-Pendas 20/6/1984. Tgl/Bln/Thn :

C. Kondisi Sekolah Sekolah ini memiliki 5 Ruang Kelas, 1 Ruang Guru dan Kepala Sekolah, 1 ruang Lab Komputer dan perpustakaan serta 1 Ruang mushola. Adapun rombongan belajar dan prestasi yang telah diraih tergambar pada masing-masing tabel di bawah ini:

Tabel 4.1 Rombongan Belajar Dan Peserta Menurut Tingkat Dan Jenis Kelamin Tahun 2011/2012

40

Tingkat I RB 2 L 44 P 31

Tingkat II RB 2 L 39 P 43

Tingkat III RB 2 L 43 P 35

Tingkat IV RB 2 L 39 P 38

Tingkat V RB 2 L 30 P 25

Tingkat VI RB 2 L 26 P

Jumlah

419 26

Sumber di ambil dari Data Daftar I ......................... Tahun 2011/2012

Berdasarkan tabel di atas Jumlah siswa di ......................... adalah 419 siswa, dengan jumlah rombel pada masing-masing tingkat 12 kelas. Untuk Tingkat I jumlah siswa sebanyak 75 siswa, Tingkat II 82 siswa, Tingkat III 78 siswa, Tingkat IV 77 siswa, Tingkat V 55 siswa, dan Tingkat VI 52 siswa. Sejak berdirinya sekolah ini, telah mengukir prestasi di berbagai bidang, baik edukatif, religi, olah raga, juga ketrampilan yang diuraikan pada tabel di bawah ini. Tabel 4.2 Jenis Prestasi yang Diraih
No.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Tahun
1988 1988 1988 1988 1995 1995 1997 1996 1998 1997 1993 1995 1993 1998 1993

JenisPrestasi/Penghargaan
Juara II Bulutangkis SD/MI Putri Juara III Atletik Juara II Sepak Bola Juara III Atletik Juara III CerdasCermat Juara I CerdasCermat Juara III Lombid IPS PKn JuaraUmum II PacuPrestasi Juaraharapan II Lomba MTQ Juara II Menulis Juara II Melukis Juara II Tarik Tambang Juara III Gerakjalan Putra Juaraharapan III Kaligrafi Juara I SKJ Putra

Lembaga yang memberi
Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong KepalaDesaMuncul KepalaDesaMuncul Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong Depag. KecSerpong Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong KepalaDesaMuncul Din. PendidikanKec. Serpong SDI Al Azhar BSD Din. PendidikanKec. Serpong

41

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32.

2006 2007 2007 2007 2007 2007 2008 2008 2009 2007 2009 2009 2010 2010 2010 2011 2012

Turnamen Futsal Juara I Turnamen Futsal Juara II Juara II BuluTangkisPutri Juara III Futsal Juara II CeradasCermat Juara I IPS Terpadu Har I Baca TeksSumpahPemuda Juara Haran II Lukis Juara II KompetensiKratifitas Juara II Pidato Juaraharapan II SiswatekadanPutri Juara III LombaKetrampilan Juara I Adzan Putra Juara II CerdasCermatPutri Juara III Fut Sal Juara III Ketrampilan Juara II Adzan

Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong Din. PendidikanKec. Serpong YayasanSDICikalHarapan Din. PendidikanKec. Cisauk Din. PendidikanKecamatanCisauk Din. PendidikanKec. Cisauk Din. PendidikanKec. Setu Din. PendidikanKec. Cisauk Din. PendidikanKec. Setu Din. Pendidikan Kota Tangerang Selatan MI Al Shifakec. Setu MI Al ShifaKec. Setu Din. UPT PendidikanKec. Setu Din. Pendidikan Tangerang Selatan Yayasan Al Amanah

Sumber di ambil dari Data Prestasi ......................... Tahun 2011/2012

D. Keadaan Guru Jumlah guru di ......................... sebanyak 19 orang, yang terdiri dari 12 guru kelas, 1 guru Penjas, 2 Guru Agama, 2 Guru Mulok, 1 orang Guru Bahasa Inggris dan 1 orang Guru Ketrampilan. Adapun latar belakang pendidikan serta tupoksi masing-masing guru dijelaskan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 Keadaan Guru No. Nama Guru-Guru L/P Ijazah/tahun Jabatan

42

Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19.

Tempat Dan Tanggal Lahir ........................., S. Pd Marfuah, S. Pd. I Supriyati, S. Pd Encih Kuriasih, S. Pd Nurmayani, A. Ma Ratna Wijiastutik, S. Pd Ice Rusmiati, S.TH.I Anih,A.Ma Euis Susilawati, S. Pd. I Nurhanah,A.Ma. Siti Hapsah, S. Pd. I Yahyudin Maulana A Nur Dwi Yanti, S. Pd Hartati, S.Pd Sri Rahayu, S.Hi Karmila, S. Pd. I Alfi Zaenab, S. Ag Siti Rohmah, S. Pd Ujang Sopyan, S. Pd L P P P P P P P P P P L P P P P P P L

Yang dimiliki sekarang S1‟06 S1‟06 S1‟06 S1‟06 S1‟06 S1‟06 S1‟06 D2‟05 D2‟04 D2‟02 D2‟07 D2‟07 S1‟11 S1.09 S1‟09 S2‟12 S1‟00 S1‟10 S1‟10

Kepala Sekolah Guru Kelas Guru Kelas Guru Kelas Guru Kelas Guru Kelas Gr.B. Inggris Gr. KTK Gr. Agama Guru Kelas Guru Kelas Guru Penjas Gr.SBK & TIK Guru B. Inggris Guru Kelas Guru Kelas Guru Kelas Guru Kelas Guru Agama

Sumber di ambil dari Data Daftar I ......................... Tahun 2011/2012

E. Hasil Penelitian Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih satu semester, yaitu pada semester genap. Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan

menggunakan tiga siklus, yaitu siklus I, siklus II, dan siklus III.

Siklus I Minggu ke-2 dan ke-3 Bulan Juli 2012

43

Pada siklus I, materi pembelajaran yang disampaikan adalah mengenal , pelaksanan pembelajaran berlangsung di Kelas V A pada jam pelajaran pertama. Pada prinsipnya proses pembelajaran mengarah kepada pendekatan keterampilan dalam pelafalan. Pembelajaran disusun untuk merangsang adanya respon belajar siswa . a. Perencanan (Planning) 1. Menganalisis bermain peran 2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan menggunakan teknik bermain peran 3. Merancang model pembelajaran melalui berupa teks percakapan sederhana 4. Mendiskusikan penerapaan teknik bermain peran 5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi dan tes akhir) 6. Menyusun kelompok belajar peserta didik 7. Merencanakan tugas kelompok penggunaan alat peraga Silabus/Kurikulum Pembelajaran dengan teknik

b. Tindakan (Action) Tindakan yang dilakukan pada siklus I ini berupa pelaksanaan dari rencana yang telah disiapkan. Sementara tindakan dilaksanakan,

dilakukan observasi bersama observer terhadap proses yang terjadi akibat

44

dari tindakan yang dilakukan. Di samping itu dilakuan pula pencatatan data, gagasan kesan-kesan yang muncul dalam penelitian.

c. Mengamati (Observation) 1. Berdasarkan pengamatan memperlihatkan bahwa selama proses belajar mengajar berlangsung, guru memberikan perintah sederhana secara tertulis/lisan dengan menggunakan ungkapan komunikatif, kosa-kata dan struktur kalimat yang tepat. Secara keseluruhan guru mengampu tidak mengalami hambatan dalam pelaksanaan

pembelajaran. 2. Pada Siklus pertama memperlihatkan bahwa keaktifan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran sudah meningkat. Banyak muncul pertanyaan dari siswa di samping guru juga memberikan pertanyaan kepada siswa. Hanya saja, secara kuantitas, frekuensi pertanyaan masih perlu ditambah agar distribusinya merata, prinsip pemindahan giliran pertanyaan dapat sesuai porsinya. 3. Analisis terhadap aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi pembelajaran menunjukkan bahwa siswa terlihat antusias dalam pembelajaran yang dilakukan. 4. Pada akhir pelaksanaan tindakan pada siklus pertama, peneliti melakukan post tes. Hasil dari post tes menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sesudah diberi pembelajaran dengan menggunakan

45

media alat peraga kalimat-kalimat yang merespon suatu jawaban sederhana menunjukkan peningkatan. Nilai rekapitulasi nilai siklus I dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.4 Tabel Perolehan Nilai 40 Siswa Pada Siklus I
Perolehan Nilai Nilai Nilai Awal Akhir 50 55 52 60 60 60 50 60 60 60 60 60 60 60 60 55 50 60 50 66 50 66 60 70 70 50 50 70 56 68 65 66 58 65 65 68 67 67 63 62 64 68 55 60 55 70 58 70 65 73 73 55 58 73 Ratarata 53 54 64 63 63 54 63 63 64 64 64 62 61 62 62 53 60 53 68 54 68 63 72 72 53 54 72 Tuntas/Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

Nama Siswa Agip Adi Putra Fajar Ramadhan Fitri Handayani Nanda Septiana Abdul Hapid Abdurrajab Suhendra Ahamad Abdul Rizqi Alfiani Dwi Yanti Annisa Jilan Khairana Bagas Wiranto Bunga Della Aurella Didi Riyadi Dodi Prio Wibowo Fathia Nehla Amalina Fiqi Nurhadad Ibnu Hapiz Kamil Maharani Syaidina Muhammad Kaisa Muhammad Rafly Naila Zahro Natswa Fadilatulaila Nuraeni Safitri Nuramalia Rizkina Nurhikmal Nuri Aprilia Utami Pilyat Wahyuningtias Qaisya Az Zahra

Jum 105 108 128 125 126 108 125 125 128 127 127 123 122 124 123 105 120 105 136 108 136 125 143 143 105 108 143

46

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Rifaldi Rahmadan Rizki Maulana Rizki Fathurozi Sabrina Yuliana Pasha Septia Aura Nursabitha Shelly Shelomita Siti Fatimah Az Zahra Siti Nurhaliza Sulsiah Badru Aeni Syfa Fauziah Wirda Akila Isnaeni Yunita Pebi Zaki Fajar Akbar

60 66 60 68 50 68 60 68 50 50 55 50 60

65 70 68 72 57 70 66 73 56 58 60 55 68

125 136 128 140 107 138 126 141 106 108 115 105 128

63 68 64 70 54 69 63 71 53 54 58 53 64 61,30

Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas

Rata-rata 58,60 64,00 122,6 Sumber di ambil dari Daftar Nilai Hasil Penelitian Siklus 1

Data di atas menunjukan belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan masih berada di bawah angka prinsip belajar tuntas. Oleh karena itu perlu dilakukan siklus kedua.

d. Refleksi (Reflection) 1. Untuk mengatasi hambatan kinerja pada siklus ini, maka diadakan refleksi yang berupa renungan terhadap pengalaman mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan selama kegiatan pada siklus I. Dalam refleksi terhadap tindakan pada siklus I, didapatkan hasil sebagai berikut : (1) masih ada beberapa siswa yang pasif. Oleh karena itu peneliti memotivasi bahwa semua kegiatannya akan dinilai, (2) media alat peraga yang digunakan ada yang kurang jelas

47

tulisannya sehingga perlu diperbaiki, dan (3) secara garis besar, pelaksanaan siklus I telah berlangsung dengan baik.

Siklus II Minggu ke-1 dan ke-2 Bulan Agustus Pelaksanaan siklus II didasarkan atas hasil refleksi pada siklus I. Jika hasil dari pengamatan ternyata bobot kualitatifnya masih kurang atau cukup, maka perlu ada tindakan lanjutan dari guru yang didasarkan atas diskusi kolaboratif antara peneliti dan guru agar pada siklus berikutnya ada peningkatan bobot kualitatifnya. a. Perencanaan (Planning) Hasil refleksi pada siklus I menjadi bahan bagi penyusunan perencanaan pada siklus II. Pada siklus II, materi pembelajaran yang disampaikan َْ ِ masih pokok bahasan dialog sederhana Disediakan dialog tentang ‫ا َْلمهنة‬ dan gambar beberapa profesi, siswa dapat menentukan jawabannya dengan bantuan gambar. Proses pembelajaran yang dikembangkan pada pelaksanaan tindakan pada siklus II masih mengarah kepada pendekatan keterampilan dengan menggunakan metode demonstrasi.

b. Tindakan (Action) 1. Tindakan yang dilakukan pada siklus II ini berupa pelaksanaan dari rencana yang telah disiapkan. Pada saat tindakan dilakukan juga dilakukan pencatatan data, gagasan kesan-kesan yang muncul dalam

48

penelitian. Berdasarkan pengamatan pada siklus II memperlihatkan bahwa selama berani dalam proses belajar mengajar berlangsung, siswa mulai menampilkan suatu dialog sederhana dengan

َْ ِْ menggunakan kata ‫. اَلمهنة‬ 2. Dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan sebelumnya memperlihatkan bahwa keaktifan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran semakin meningkat. Banyak muncul gagasan dari

siswa di untuk menampilkan suatu percakapan bahasa Arab dengan tema yang berbeda. Analisis terhadap aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat tentang hal-hal yang berkaitan dengan materi pembelajaran menunjukkan bahwa siswa terlihat antusias dalam pembelajaran yang dilakukan. 3. Pada akhir pelaksanaan tindakan pada siklus II, peneliti melakukan post tes. Hasil dari post tes menunjukkan bahwa hasil belajar siswa sesudah diberi pembelajaran pada siklus II dengan menggunakan media gambar menunjukkan peningkatan. Nilai rekapitulasi siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 4.5 Pabel Perolehan Nilai 40 Siswa Pada Siklus II
Perolehan nilai Nilai Nilai Awal Akhir 60 60 63 60 Tuntas/Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas

No. 1 2

Nama Siswa Agip Adi Putra Fajar Ramadhan

Jum 120 123

Rata-rata 60 62

49

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Fitri Handayani Nanda Septiana Abdul Hapid Abdurrajab Suhendra Ahamad Abdul Rizqi Alfiani Dwi Yanti Annisa Jilan Khairana Bagas Wiranto Bunga Della Aurella Didi Riyadi Dodi Prio Wibowo Fathia Nehla Amalina Fiqi Nurhadad Ibnu Hapiz Kamil Maharani Syaidina Muhammad Kaisa Muhammad Rafly Naila Zahro Natswa Fadilatulaila Nuraeni Safitri Nuramalia Rizkina Nurhikmal Nuri Aprilia Utami Pilyat Wahyuningtias Qaisya Az Zahra Rifaldi Rahmadan Rizki Maulana Rizki Fathurozi Sabrina Yuliana Pasha Septia Aura Nursabitha Shelly Shelomita Siti Fatimah Az Zahra Siti Nurhaliza Sulsiah Badru Aeni Syfa Fauziah Wirda Akila Isnaeni Yunita Pebi Zaki Fajar Akbar Rata-rata

68 68 66 63 65 65 68 67 67 63 62 64 68 60 63 68 73 60 70 65 73 73 65 63 73 65 70 68 72 60 70 66 73 60 60 60 60 68 65,88

70 70 70 68 73 70 73 70 72 73 72 70 75 71 68 70 75 68 73 70 75 74 69 68 75 68 72 70 75 68 73 69 75 65 65 65 68 69 70,10

138 138 136 131 138 135 141 137 139 136 134 134 143 131 131 138 148 128 143 135 148 147 134 131 148 133 142 138 147 128 143 135 148 125 125 125 128 137 135,975

69 69 68 66 69 68 71 69 70 68 67 67 72 66 66 69 74 64 72 68 74 74 67 66 74 67 71 69 74 64 72 68 74 63 63 63 64 69 67,99

Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas

50

Data diatas menunjukan peningkatan belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan masih berada di bawah angka prinsip belajar tuntas. Oleh karena itu perlu dilakukan siklus ketiga.

c. Refleksi (Reflection) Sama halnya pada siklus I maka diadakan refleksi yang berupa renungan terhadap pengalaman mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan selama kegiatan pada siklus II. Dalam refleksi terhadap tindakan pada siklus II, didapatkan hasil sebagai berikut : (1) pada tugas mandiri beberapa siswa masih kurang percaya diri. Oleh karena itu peneliti akan mencoba dengan tugas berkelompok, (2) media gambar serta buku terjemahan bahasa arab beberapa anak masih ada yang belum memiliki, dan (3) proses, pelaksanaan siklus II telah berlangsung dengan baik.

Siklus III Minggu ke-1 dan ke-2 Bulan September 2012 Pada siklus ke III, berdasarkan jumlah siswa yang belum memenuhi kriteria belajar tuntas maka peneliti melakukan pendekatan. Menanyakan beberapa hal mengenai kesulitan yang dihadapai mereka. Dari hasil pendekatan maka peneliti dapat mencarikan solusi agar mereka dapat mengikuti kegiatan pembelajaran percakapan Bahasa Arab dengan baik.

51

Selain itu peneliti mengadakan refleksi diri bekerja sama dengan kolaborator dalam hal ini guru kelas V, untuk mendiskusikan kelemahan-kelemahan apa yang ditemukan disaat peneliti melakukan proses pengajaran di dalam kelas. Pada siklus III, materi pembelajaran yang disampaikan masih pokok َْ ِْ bahasan pengenalan kalimat ‫ .اَلمهنة‬Proses pembelajaran yang dikembangkan pada pelaksanaan tindakan pada siklus III masih mengarah kepada pendekatan keterampilan dengan menggunakan metode demonstrasi.

Tindakan yang dilakukan pada siklus III ini berupa pelaksanaan dari rencana yang telah disiapkan. Pada saat tindakan dilakukan juga dilakukan pencatatan data, gagasan kesan-kesan yang muncul dalam penelitian. Pada siklus III peneliti melakukan kegiatan pembelajaran secara kelompok, kemudian peneliti menyediakan dialog sederhana yang dibacakan di depan kelas yang selanjutnya siswa menampilkan kemampuan mereka dalam bermain peran dengan percakapan sederhana yang telah mereka siapkan secara berkelompok. Penulis berharap agar siswa yang melakukan tugas secara kelompok dapat menimbulkan percaya diri dan keberanian untuk berdiskusi dengan partnernya. Hasil yang tampak siswa lebih bersemangat dan ketika pembelajaran selesai peneliti dapat memperoleh hasil tugas mandiri dari siswa yang mengalami peningkatan sehingga mencapai kriteria belajar tuntas. Nilai rekapitulasi siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

52

Tabel 4.6 Pabel Perolehan Nilai 40 Siswa Pada Siklus III
Bentuk Tes Nilai Nilai Awal Akhir 60 68 60 70 70 70 68 73 70 73 70 72 73 72 70 75 71 68 70 75 68 73 70 75 74 69 68 75 68 72 70 75 68 73 70 73 73 75 70 75 73 75 73 75 75 75 73 78 73 70 72 78 70 75 73 78 76 70 70 78 70 75 73 78 70 75 Tuntas/Blm Tuntas Blm Tuntas Blm Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Nama Siswa Agip Adi Putra Fajar Ramadhan Fitri Handayani Nanda Septiana Abdul Hapid Abdurrajab Suhendra Ahamad Abdul Rizqi Alfiani Dwi Yanti Annisa Jilan Khairana Bagas Wiranto Bunga Della Aurella Didi Riyadi Dodi Prio Wibowo Fathia Nehla Amalina Fiqi Nurhadad Ibnu Hapiz Kamil Maharani Syaidina Muhammad Kaisa Muhammad Rafly Naila Zahro Natswa Fadilatulaila Nuraeni Safitri Nuramalia Rizkina Nurhikmal Nuri Aprilia Utami Pilyat Wahyuningtias Qaisya Az Zahra Rifaldi Rahmadan Rizki Maulana Rizki Fathurozi Sabrina Yuliana Pasha Septia Aura Nursabitha Shelly Shelomita

Jum 128 130 143 143 145 138 148 143 148 143 147 148 147 143 153 144 138 142 153 138 148 143 153 150 139 138 153 138 147 143 153 138 148

Rata-rata 64 65 72 72 73 69 74 72 74 72 74 74 74 72 77 72 69 71 77 69 74 72 77 75 70 69 77 69 74 72 77 69 74

53

34 35 36 37 38 39 40

Siti Fatimah Az Zahra Siti Nurhaliza Sulsiah Badru Aeni Syfa Fauziah Wirda Akila Isnaeni Yunita Pebi Zaki Fajar Akbar Rata-rata

69 75 65 65 65 68 69 70,10

70 78 70 70 70 70 70 73,08

139 153 135 135 135 138 139 143,175

70 77 68 68 68 69 70 71,59

Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Data di atas menunnukan bahwa peningkatan ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan yang dituangkan dalam hipotesis, dan sesuai dengan prinsip belajar tuntas. Oleh karena itu peneliti merasa tidak perlu untuk melakukan siklus selanjutnya, dan penelitian dianggap telah berhasil.

F. Analisis Data Hasil pengamatan pada siklus I dengan lembar observasi yang digunakan oleh peneliti untuk menganalisis siswa selama proses pembelajaran pada Siklus I menunjukkan perubahan ke arah yang positif. Hal-hal yang mendukung terjadinya peningkatan kualitas pembelajaran sejarah berdasarkan kejadian selama proses pembelajaran diantaranya dapat diketahui melalui pendapat dari siswa. Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan sebelum diberi pembelajaran dengan metode dan pendekatan yang digunakan guru secara lebih variatif akan mendorong siswa untuk belajar secara aktif, sehingga penyajian materi pelajaran oleh guru akan lebih menarik.

54

Pada siklus I sebelum diberi pembelajaran, hasil belajar siswa menunjukkan dari 40 orang siswa kelas V, 35 orang (87.5%) siswa mendapatkan nilai di bawah 68 dan hanya 5 orang siswa (12.5%) yang mendapat diatas 68. Sesudah pembelajaran dilakukan hasilnya menjadi 9 orang (22.5%) siswa mencapai nilai minimal ketuntasan, dan 31 orang (77.5%) siswa belum mencapai nilai ketuntasan. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 61.3 . Pembelajaran yang sebelumnya bersifat abstrak dan teoretis, sehingga siswa tidak aktif dalam pembelajaran dan menimbulkan kebosanan terhadap pembelajaran yang dilakukan berubah menjadi menarik. Pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga juga mengikis kesan verbalisme dalam pembelajaran percakapan Bahasa Arab. Guru cenderung lebih mengurangi komunikasi satu arah, sehingga peran aktif siswa dalam pembelajaran menjadi lebih meningkat. Untuk lebih meningkatkan hasil yang maksimal dalam suatu proses pembelajaran, serta mengetahui tingkat kemampuan anak secara maksimal pula diadakan siklus II. Sesudah siklus II dilakukan hasilnya menjadi 24 orang (60%) siswa mencapai nilai 68 dan 16 orang (40%) siswa belum mencapai nilai 68. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 67.9. Pada Siklus III hasil belajar siswa sesudah diberi pembelajaran pada siklus III dengan menggunakan media alat peraga menunjukkan peningkatan.

55

Sesudah siklus III dilakukan hasilnya menjadi 38 orang (95%) siswa mencapai nilai 68 dan 2 orang (5%) siswa belum mencapai nilai 68. Secara keseluruhan rata-rata kelas menjadi 71.58. Peningkatan hasil belajar siswa sesudah siklus III dilakukan disebabkan semakin baiknya media yang digunakan. Hal ini membuktikan bahwa keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Dibawah ini merupakan deskripsi peningkatan pada proses pembelajaran percakapan bahasa Arab setiap siklus, yang menjelaskan bahwa dengan bervariasi potensi yang tersedia melahirkan media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah.

Gambar 4.1

Rekapitulasi Nilai
75.00 70.00 65.00 60.00 55.00 Siklus I Siklus II Siklus III Rekapitulasi

56

Gambar 4.2 Rekapitulasi Nilai Siklus I Sampai Dengan Siklus III

80.00 60.00 Nilai 40.00 20.00 0.00 Nilai Awal Nilai Akhir Siklus I 58.60 64.00 Siklus II 65.88 70.10 Siklus III 70.10 73.08

Pada gambar di atas tampak peningkatan pada masing-masing penilaian yang dilakukan oleh peneliti.

57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh temuan-temuan sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran Bahasa Arab merupakan rangkaian kegiatan pemberian materi belajar Bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan, strategi, metode teknik dalam hal ini menggunakan teknik bermain peran pada penyampaian materi belajar kepada peserta didik sehingga tercapai tujuan pendidikan bagi peserta didik tersebut. Pada proses pembelajaran Bahasa Arab dengan menggunakan teknik bermain peran pada siswa kelas V ......................... terjadi peningkatan motivasi dan kemampuan siswa dalam belajar berPercakapan Bahasa Arab, berdasarkan data penelitian nilai hasil dari masing-masing silkus menampakan peningkatan yang signifikan. Pada Siklus I nilai rekap keseluruhan 61.3 dan di akhir siklus mencapai 71.58. 2. Adapun cara meningkatkan kemampuan berPercakapan bahasa Arab siswa kelas V ......................... dengan menggunakan teknik bermain peran cukup diterima dengan antusias oleh para siswa kelas V, kegiatan ini ditunjang

58

pula oleh media pembelajaran berupa teks percakapan sederhana dan gambar. 3. Langkah-langkah dalam meningkatkan kemampuan berPercakapan Bahasa Arab siswa kelas V ......................... yaitu, pertama guru memperkenalkan makna akan percakapan Bahasa Arab yang kemudian siswa diperkenalkan apa yang dimaksud teknik bermain peran, tujuan teknik bermain peran yang akan diterapkan di dalam kelas dan materi apa yang akan disampaikan dengan menerapkan teknik bermain peran kepada siswa kelas V .......................... Hasil yang tampak siswa lebih bersemangat dan ketika pembelajaran selesai peneliti dapat memperoleh hasil tugas mandiri dari siswa yang mengalami peningkatan sehingga mencapai kriteria belajar tuntas. Peningkatan ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan yang dituangkan dalam hipotesis, dan sesuai dengan prinsip belajar tuntas. Oleh karena itu peneliti merasa tidak perlu untuk melakukan siklus selanjutnya, dan penelitian dianggap telah berhasil.

B. Saran Berdasarkan kesimpulan yang telah dilakukan maka saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini yaitu: 1. Bagi Sekolah

59

Hendaknya lembaga pendidikan khususnya ......................... dalam meningkatkan prestasi belajar siswa lebih menitikberatkan pada vasriasi metode dan teknik dalam proses pembelajaran percakapan bahasa Arab. Sehingga siswa tidak akan merasa jenuh selama proses pembelajaran.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian-penelitian lebih lanjut, hendaknya menambah variasi lain yang dapat meningkatkan pembelajaran percakapan bahasa Arab dalam bentuk teknik yang menarik dan bervariasi.

60

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran. (Rosda Karya, Bandung 1995). Abdul Munip, Problematika Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia dalam AlArabiyah Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, Vol 1 No. 2 Januari 2005 Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2011). Ali Al-Khuli, Muhammad. A Dictionary of Theoritical Linguistics. (Libanon. Libanon Library 1982). Depdikbud (1999). Penelitian Tindakan Kelas , Jakarta : Depdikbud. Dr. E Mulyasa, M. Pd. Menjadi Guru Profesional, (Bandung, Rosda Karya 2004) Finocchiaro, M. English as a Second Language: From Theory to Practice. (New York: Regents Publishing Co,. Inc. 1972) Hasan S.N (1996) Pendidikan ilmu-ilmu sosial buku 1 dan 2, Bandung, Jurusan Pendidikan Sejarah UPI Henrikus, Dori Wuwur, Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, PT

Berargumentasi, Bernegosiasi (Jakarta, Ladero 1990). http://www.psychologymania.com/2012/06/pengertian-bermain-peran-roleplay.html
http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2306378-pengertian-percakapandiskusi/#ixzz2Hmg3lQfA

61

Kasbolah, Sukarnyana, Penelitian Tindakan Kelas, (Universitas Negeri Jakarta, Jakarta 2006), Keraf, Gorys, Komposisi.(Jakarta, Ikrar Mandiri 1991). Santrock. W. Jhon, Adolescence, (Mc Graw-Hill Education, London 1995), Sitikno Sobri, Belajar dan Pembelajara, (Bandung, Propect 2008). Sudjana. D. Metode dan Teknik Kegiatan Belajar Partisipasi, (Bandung, Rosdakarya, 1983) Tarigan, DJ dan tarigan, HG, Teknik Pengajaran Ketrampilan Berbahasa. (Bandung, Angkasa, 1989). Tarigan H. G, BerPercakapan Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, (Bandung, Angkasa 1981).

62

Lampiran 1

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Mata Pelajaran Kelas/Semester Pertemuan Alokasi Waktu Standar Kompetensi : Bahasa Arab : 5/1 (Lima/Satu) :6 : 2 x 35 ( Menit ) : Memahami informasi lisan melalui kegiatan berPercakapan dalam bentuk paparan atau dialog tentang )2( ‫تعارف‬ : Mengidentifikasi bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang )2( ‫تعارف‬

Kompetensi Dasar

Indikator

:  Melafalkan bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang )2( ‫تعارف‬  Menghafalkan makna kata, kalimat tentang )2( ‫تعارف‬

I.

Tujuan pembelajaran :  Siswa melafalkan bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang )2( ‫تعارف‬  Siswa dapat menghafalkan makna kata, kalimat tentang )2( ‫تعارف‬ Majeri ajar : Huruf Hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang )2( ‫تعارف‬ Metode pembelajaran :  Mendengar dan menirukan (‫)الطريقة السوعية الشفوية‬  Tanya jawab (‫)طريقة السؤال والجواب‬ Life skills : Self Study skill, Co-coperation, Communication Skills, Problem solving, Having knowledge, Believing in oneselfe Nilai Multi Cultural : Kerja sama, percaya diri, toleransi, kesetaraan, kasih sayang, tanggun jawab Alat/Bahan/Sumber Belajar : Buku Ajar Bahasa Arab Hal 2 - 6,

II. III.

IV.

V. VI.

63

VII. Langkah-langkah Pembelajaran : KEGIATAN TAHAPAN PEMBELAJARAN Introduction  Guru masuk ke dalam kelas (Perkenalan) sambil mengucapkan salam  Guru berusaha menciptakan suasana kelas yang kondusip  Guru memeriksa kehadiran siswa  Guru mengajak siswa untuk mengucapkan basmalah sebelum memeulai pelajaran Connection  Guru menyampaikan bahwa (Menghubungkan) kegiatan pembelajaran hari ini adalah berhubungan dengan )2( ‫تعارف‬ Application (Menerapkan)

TM TTS KM WAKTU V 01

V

V

01

 Siswa mengamati (kata, kalimat) yang terdapat dalam buku  Mendengar dan menirukan ucapan guru  Mencari informasi tentang arti kata  Mencatat kata dan arti-arti kata yang telah diketahui  Menjawab pertanyaan tentang arti kata yang telah dipelajari  Guru menyempurnakan jawaban siswa Reflection  Guru menyimpulkan materi V (Merefleksikan) yang telah dipelajari Extension  Guru memberi tugas kepada (Mengembangkan) siswa untuk menulis kosa kata yang telah dipelajari dan artinya  Guru memohon maaf apabila selama mengajar terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati siswa

01

01 01

64

Guru dan siswa bersamasama mengahiri pelajaran dengan mengucapkan Alhamdulillah Keterangan: TM= Tatap Muka, TTS= Tugas tersetruktur, KM= Kegiatan Mandiri VIII. Penilaian :  Teknik Penilaian : (Tes, Penugasan, Penilaian diri)  Aspek yang dinilai : (pengetahuan, praktik, sikap)  Bentuk Penilaian : Performance : (Keterampilan berPercakapan, membaca) Tulisan: Isian   KKM Skor Penilaian : 68 : Bobot Nilai pada masing-masing soal 20

Nilai Total Mengetahui, Kepala Sekolah

: 100

Peneliti

........................., S. Pd. I

Masitoh

65

Lampiran 2 Teks Percakapan Atta`aaruf nnlanPereP

Khalid : Assalaamu „alaikum Abdullah : Wa‟alaikum salaam Khalid : Kayfa haaluka ? Khalid : Apa Kabar ? Abdullah : Bikhair Alhamdulillah Abdullah : Alhamdulillah baik-baik saja Khalid : Masmuka ? Khalid : Siapa namamu ? Abdullah : Ismii „Abdullaah, Wanta ? Abdullah : Nama saya Abdullah, dan nama kamu ? Khalid : Ana Khaalid Khalid : Saya Khalid Abdullah : Ahlan yaa khaalid Abdullah : Salam perkenalan denganmu hei khalid Khalid : Ma asalamah Khalid : Sampai jumpa

ُ ْ َ ُ َّ ٌ َ ‫خالِد ׃ اَلسالَ م علَيكن‬ َّ ُ ُ ْ َ َ ّ ُ ْ َ ‫عبد للا ׃ وعلَيكوالسالَم‬ ‫خالِد׃ كيفَحالُك؟‬ َ َ َْ ٌ َ َُّْ ْ ّ َُْ َ ‫عبدللا ׃ بِخيْر٬الحود ِِل‬ ‫خالِد׃ هاإِسوك؟‬ َ ُ ْ َ ٌ َ ّ َُْ َ ْ َ ّ َُْ ْ ِْ ‫عبدللا ׃ إِسوي عبد للا ٬ و أَنت ؟‬ ٌ َ ٌ َ ‫خالِد׃ أَنا خالِد‬ ّ َُْ ْ ٌ ‫عبد للا ׃ أَهأليَاخالِد‬
‫خَ الِد׃ هع السالَ هة‬ ِ َ َّ َ َ ٌ

66

Lembar Kerja Siswa! Lengkapi kalimat pada percakapan di bawah ini! 1.

ُ ْ َ ُ َّ ٌ َ ‫خالِد ׃ اَلسالَ م علَيكن‬ ّ َُْ ............................‫عبد للا ׃‬ ٌ َ .............................‫خالِد׃‬ َُّْ ْ ّ َُْ َ ‫عبدللا ׃ بِخيْر٬الحود ِِل‬

2.

3.

‫خالِد׃ هاإِسوك؟‬ َ ُ ْ َ ٌ َ ّ َُْ َ ْ َ ‫عبدللا .................................. ٬ و أَنت ؟‬

4.

ٌ َ ....................................‫خالِد׃‬ ّ َُْ ْ ٌ ‫عبد للا ׃ أَهأليَاخالِد‬

5. Terjemahkan percakapan di atas dalam bahasa Indonesia!

67

Lampiran 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Mata Pelajaran Kelas/Semester Pertemuan Alokasi Waktu Standar Kompetensi : Bahasa Arab : 5/1 (Lima/Satu) :6 : 2 x 35 ( Menit ) : Memahami informasi lisan melalui kegiatan berPercakapan dalam bentuk paparan atau dialog tentang ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ : Mengidentifikasi bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ

Kompetensi Dasar

Indikator

:  Melafalkan bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ  Menghafalkan makna kata, kalimat tentang ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ

I.

Tujuan pembelajaran :  Siswa melafalkan bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ  Siswa dapat menghafalkan makna kata, kalimat tentang
َْ ِْ ‫اَلمهنة‬

II. III.

Majeri ajar

: Huruf Hijaiyah dan ujaran (kata, kalimat) tentang
َْ ِْ ‫اَلمهنة‬

IV.

V. VI.

Metode pembelajaran :  Mendengar dan menirukan (‫)الطريقة السوعية الشفوية‬  Tanya jawab (‫)طريقة السؤال والجواب‬ Life skills : Self Study skill, Co-coperation, Communication Skills, Problem solving, Having knowledge, Believing in oneselfe Nilai Multi Cultural : Kerja sama, percaya diri, toleransi, kesetaraan, kasih sayang, tanggun jawab Alat/Bahan/Sumber Belajar : Buku Ajar Bahasa Arab Hal 2 - 6,

68

VII. Langkah-langkah Pembelajaran : KEGIATAN TAHAPAN PEMBELAJARAN Introduction  Guru masuk ke dalam kelas (Perkenalan) sambil mengucapkan salam  Guru berusaha menciptakan suasana kelas yang kondusip  Guru memeriksa kehadiran siswa  Guru mengajak siswa untuk mengucapkan basmalah sebelum memeulai pelajaran Connection  Guru menyampaikan bahwa (Menghubungkan) kegiatan pembelajaran hari ini adalah berhubungan dengan ‫اَ ْلمه َنة‬ ْ ِ Application (Menerapkan)

TM TTS KM WAKTU V 01

V

V

01

 Siswa mengamati (kata, kalimat) yang terdapat dalam buku  Mendengar dan menirukan ucapan guru  Mencari informasi tentang arti kata  Mencatat kata dan arti-arti kata yang telah diketahui  Menjawab pertanyaan tentang arti kata yang telah dipelajari  Guru menyempurnakan jawaban siswa Reflection  Guru menyimpulkan materi V (Merefleksikan) yang telah dipelajari Extension  Guru memberi tugas kepada (Mengembangkan) siswa untuk menulis kosa kata yang telah dipelajari dan artinya  Guru memohon maaf apabila selama mengajar terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati siswa

01

01 01

69

Guru dan siswa bersamasama mengahiri pelajaran dengan mengucapkan Alhamdulillah Keterangan: TM= Tatap Muka, TTS= Tugas tersetruktur, KM= Kegiatan Mandiri VIII. Penilaian :  Teknik Penilaian : (Tes, Penugasan, Penilaian diri)  Aspek yang dinilai : (pengetahuan, praktik, sikap)  Bentuk Penilaian : Performance : (Keterampilan berPercakapan, membaca) Tulisan: Isian   KKM Skor Penilaian : 68 : Bobot Nilai pada masing-masing soal 20

Nilai Total Mengetahui, Kepala Sekolah

: 100

Peneliti

........................., S. Pd. I

Masitoh

‫07‬

‫4 ‪Lampiran‬‬ ‫‪Profesi‬‬

‫السالَم علَيكن :نَدَي‬ ‫َّ ُ َ ْ ُ ْ‬ ‫وعلَيكن السالَم :هدَي‬ ‫َ َ ْ ُ ُ َّ ُ ُ‬ ‫هذه أُختِي، هي طَبِيبَة :نَدَي‬ ‫َِِ ْ ْ ِ َ ْ‬ ‫‪Ini saudariku, dia seorang dokter‬‬ ‫السالَم علَيكن :أَحود‬ ‫َّ ُ َ ْ ُ ْ ْ َ‬ ‫وعلَيكن السالَم :بَدْر‬ ‫َ َ ْ ُ ُ َّ ُ‬ ‫هذا أَخي، هُى هدَرس :أَحود‬ ‫َ ُ ِّ‬ ‫ََ ِ ْ‬ ‫ْ َ‬ ‫‪Ini saudaraku, dia seorang guru‬‬ ‫أَهالً وسهالً :بَدْر‬ ‫ْ َ َ ْ‬ ‫هذا صديقِي، هُى ههندس :أَحود‬ ‫َ ُ َِْ‬ ‫ََ َِْ ْ‬ ‫ْ َ‬ ‫‪Ini temanku, dia seorang insinyur‬‬ ‫أَهالً وسهالً :هدَي‬ ‫ُ‬ ‫ْ َ َ ْ‬ ‫هع السالَهة :نَدَي‬ ‫َ َ َّ َ‬ ‫‪Selamat jalan‬‬ ‫هع السالَهة :هدَي‬ ‫ُ‬ ‫َ َ َّ َ‬

71

Lampiran Gambar Profesi

72

Lampiran 6

PHOTO SUASANA KEGIATAN PEMBELAJARAN

73

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->