A. KABINET MASA DEMOKRASI LIBERAL a.

KABINET NATSIR (6 September 1950 – 21 Maret 1951) Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi. Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir Program 1. 2. 3. 4. 5. Hasil :

Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan. Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat. :

Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat. Kendala/ Masalah yang dihadapi :

Upaya memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan).

Timbul masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS. Berakhirnya kekuasaan kabinet :

Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden. b. KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI. Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo Program :

1. Menjamin keamanan dan ketentraman 2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani. 3. Mempercepat persiapan pemilihan umum.

meningkatkan pendidikan rakyat. Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Jawa Tengah. Hasil : Tidak terlalu berarti sebab programnya melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya. dan DPRD). DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden. Hasil : Kendala/ Masalah yang dihadapi : . : Berakhirnya kekuasaan kabinet Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante. dan pemulihan keamanan. 2. Wilopo Program : 1. Masalah Irian barat belum juga teratasi. Tindakan Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif karena lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan Indonesia ke dalam blok barat. seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman Kendala/ Masalah yang dihadapi  : Adanya Pertukaran Nota Keuangan antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan Duta Besar Amerika Serikat Merle Cochran. Mengenai pemberian bantuan ekonomi dan militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA). serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif. meningkatkan kemakmuran rakyat. Sulawesi Selatan.4. Dipimpin Oleh : Mr. Hubungan Sukiman dengan militer kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah menghadapi pemberontakan di Jawa Barat. Dimana dalam MSA terdapat pembatasan kebebasan politik luar negeri RI karena RI diwajibkan memperhatiakan kepentingan Amerika. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya. DPR. KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam biangnya.    Adanya krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah. Program luar negeri : Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda. c.

Semua itu disebabkan karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke daerah yang tidak seimbang. Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A. Akibatnya terjadi bentrokan senjata dan beberapa petani terbunuh. KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955) Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan NU. Terjadi defisit kas negara karena penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih setelah terjadi penurunana hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport beras. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden. Konflik semakin diperparah dengan adanya surat yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto dalam memulihkan keamanana di Sulawesi Selatan. Sementara itu TNI-AD yang dipimpin Nasution menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen dibubarkan.H Nasution yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno sehingga ia mengirim petisi mengenai penggantian KSAD kepada menteri pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan parlemen sehingga menimbulkan perdebatan dalam parlemen. Tanah perkebunan di Deli yang telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah digarap oleh para petani di Sumatera Utara dan dianggap miliknya. Para petani tidak mau pergi sebab telah dihasut oleh PKI.  Keadaan ini menyebabkan muncul demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen.  Munculnya peristiwa Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Berakhirnya kekuasaan kabinet : Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Munculnya gerakan sparatisme dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa. Sesuai dengan perjanjian KMB pemerintah mengizinkan pengusaha asing untuk kembali ke Indonesia dan memiliki tanah-tanah perkebunan. Ali Sastroamijoyo . Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil sehingga muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan membahayakan kedudukannya. d. Inti peristiwa ini adalah gerakan sejumlah perwira angkatan darat guna menekan Sukarno agar membubarkan kabinet. Dipimpin Oleh : Mr. Sehingga pada tanggal 16 Maret 1953 muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para petani liar Indonesia yang dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin tersebut. Muncullah mosi tidak percaya dan menuntut diadakan reformasi dan reorganisasi angkatan perang dan mengecam kebijakan KSAD. Intinya peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian dengan para petani liar mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Tetapi saran tersebut ditolak.   Adanya kondisi krisis ekonomi yang disebabkan karena jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia sementara kebutuhan impor terus meningkat. Terjadi peristiwa 17 Oktober 1952.

Sulawesi Selatan. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk. 2.Program 1. Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Masalah TNI –AD yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952. e. dan Aceh. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru 3. Munculnya konflik antara PNI dan NU yang menyebabkkan. Bambang Sugeng sebagai Kepala Staf AD mengajukan permohonan berhenti dan disetujui oleh kabinet. Mengembalikan kewibawaan pemerintah. Masalah desentralisasi. 3. Penyelesaian Pertikaian politik : Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955. Bahkan ketika terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak seorangpun panglima tinggi yang hadir meskipun mereka berada di Jakarta. 4. yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah. Sebagai gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo tetapi panglima AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya dianggap tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD. 2. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB. pemberantasan korupsi 4. dan inflasi yang menunjukkan gejala membahayakan. Pembebasan Irian Barat secepatnya. maraknya korupsi. Perjuangan pengembalian Irian Barat . Hasil   : Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu. seperti DI/TII di Jawa Barat. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. : Kendala/ Masalah yang dihadapi   Menghadapi masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan. inflasi. Wakil KSAD-pun menolak melakukan serah terima dengan KSAD baru. NU memutuskan untuk menarik kembali menteri-mentrinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya.    Berakhirnya kekuasaan kabinet : Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956) Dipimpin Oleh Program : Burhanuddin Harahap : 1. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh TNI-AD.

Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin. NU. Selain itu program pokoknya adalah. Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi. Akan dibentuk kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula. Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak. .  Pembatalan KMB. sebagai berikut. dan NU. Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955.     Kendala/ Masalah yang dihadapi : Banyaknya mutasi dalam lingkungan pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan. 2. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai. 3. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. 5. Masyumi. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni IndonesiaBelanda. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat.5. Hasil  : Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). f. yaitu PNI. Perjuangan pengembalian Irian Barat Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD. KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957) Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI. dan PKI. Masyumi. Pemberantasan korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer. Menyehatkan perimbangan keuangan negara. Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo Program : Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang. 4. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. 1. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh.

Melaksanakan keputusan KAA. Pembatalan KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal pengusaha Belanda di Indonesia. Banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat ekonominya.  Pemulihan keamanan dan ketertiban. programnya yaitu :    Membentuk Dewan Nasional Normalisasi keadaan Republik Indonesia Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB . Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan. Kendala/ Masalah yang dihadapi   : Berkobarnya semangat anti Cina di masyarakat. Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950. Memuncaknya krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan pembangunan di daerahnya. g. Muncul pergolakan/kekacauan di daerah yang semakin menguat dan mengarah pada gerakan sparatisme dengan pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di Sumatera Tengah. sedangkan PNI berpendapat bahwa mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi dan parlementer. Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Muncullah peraturan yang dapat melindungi pengusaha nasional. Serta terjadinya perebutan kekuasaan antara partai politik. Dewan Gajah di Sumatera Utara. Dipimpin Oleh : Ir. hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB. Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah. KABINET DJUANDA ( 9 April 1957. Juanda Program : Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya. Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI. pembangunan lima tahun. dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara. menjalankan politik luar negeri bebas aktif.5 Juli 1959) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam bidangnya. Hasil : Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment. :    Berakhirnya kekuasaan kabinet Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden.

Terjadi peristiwa Cikini. Hasil  : Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin. . Peristiwa ini menyebabkan keadaan negara semakin memburuk karena mengancam kesatuan negara.  Perjuangan pengembalian Irian Jaya Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan Semua itu dilakukan untuk menghadapi pergolakan yang terjadi di daerah. Musyawarah ini membahas masalah pembangunan nasional dan daerah. yang mengatur mengenai laut pedalaman dan laut teritorial. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya. dan pembagian wilayah RI. Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah. Hal ini menyebabkan hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat. :    Kendala/ Masalah yang dihadapi Kegagalan Menghadapi pergolakan di daerah sebab pergolakan di daerah semakin meningkat. Munculnya pemberontakan seperti PRRI/Permesta. Melalui deklarasi ini menunjukkan telah terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk sehingga program pemerintah sulit dilaksanakan. pembangunan angkatan perang. yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah tempat putra-purinya bersekolah pada tanggal 30 November 1957. Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak berhasil dengan baik. Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin. menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk. perjuangan pengembalian Irian Barat.

Juni 1954 kekuatan mereka bisa dipatahkan. sisanya bergabung dengan DI/TII. Peristiwa ini menyebabkan kabinet Ali-Wongso jatuh. Desakan ini jugas dilakukan oleh rakyat dengan mengadakan demonstrasi ke gedung parlemen dan Istana Merdeka. Simatupang. Untuk menghadapi mereka. Ia berhasil ditembak oleh pasukan Divisi Siliwangi pada bulan Februari 1965. Setelah kembali ke Sulawesi bergabung dengan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan pada tahun 1950 menuntut agar pasukannya masuk APRIS. Karena dianggap bahwa pemerintah belum mampu menyelesaiakan persolan tersebut. bekas KSAD yang lama. tetapi akan berusaha segera mempercepat pemilu. Peristiwa 17 Oktober 1952 Peristiwa ini bersumber pada kericuhan yang terjadi di lingkungan Angkatan Darat. kembali diangkat menjadi KSAD (7 November 1955). tetapi saat pelantikan. A. d. yang setelah intinya dapat ditumpas. A. seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang pernah menjabat gubernur Militer Daerah Aceh tahun 1947. Pemberontakan Kahar Muzakar Kahar Muzakar adalah putra Sulawesi yang pada zaman perang kemerdekaan berjuang di Jawa. A. dan Pekalongan yang dihadapi pemerintah dengan operasi-operasi militer. Pemberontakan di Jawa Tengah Pengaruh DI meluas di Jawa Tengah. Presiden menolak tuntutan ini dewngan alasan tidak ingin menjadi seorang diktator. pimpinan KSAD dipegang oleh Wakil KSAD yaitu Kol. Panglima Kodam I/Iskandar Muda. Manai Sophian selaku anggota parlemen mengajukan mosi agar pemerintah segera membentuk panitia untuk mempelajari masalahnya dan mengajukan pemecahannya. Sebagian dari mereka mengadakan gerilya di Merbabu-Merapi Complex (MMC). Kol. Kemudian pemerintah mengangkat Kol. Bambang Sugeng mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah pemerintah mengadakan operasi. Sementara belum terpilih KSAD yang baru. yaitu Kol. Bambang Utoyo sebagai KSAD yang baru. Jasin mengambil prakarsa mengadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang berhasil mengembalikan Daud Beureueh ke masyarakat (Desember 1962). tetapi pada saat pelantikannya. Zulkifli Lubis. mereka menyingkir ke hutan. Bambang Sugeng. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden untuk membubarkan Parlemen. Kahar akan diberikan pangkat letkol. sedangkan sisanya dimasukkan ke dalam Corps Cadangan Nasional. A. c. b. . Selama empat belas tahun memberontak. Nasution. Di Kebumen pemberontakan dilakukan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) di bawah pimpinan Kyai Somalangu. Peristiwa 27 Juni 1955 Peristiwa ini merupakan lanjutan peristiwa sebelumnya. sehingga Batalyon 426 di Kudus dan Magelang juga memberontak dan bergabung dengan DI/TII (Desember 1951). e. Kemudian pada masa Kabinet Burhanudin Harahap. yaitu di daerah Brebes. Pemberontakan di Aceh Pengikut DI di Aceh memproklamirkan daerahnya sebagai bagian dari NII pada tanggal 20 September 1953. pemerintah membentuk pasukan khusus yang diberi namaBanteng Raiders. Di lingkunganAngkatan Darat juga terjadi perembesan pemberontakan ini. Nasution selaku KSAD. diikuti oleh Mayjen T. Pemimpinnya adalah Daud Beureueh. Tuntutannya ditolak tetapi kepada anggotanya yang memenuhi syarat diperbolehkan masuk. Tegal. Bambang Supeno tidak menyetujui kebijaksanaan Kol. M. Ia mengajukan surat kepada Mentri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada parlemen berisi soal tersebut dan meminta agar Kol.H. Nasution diganti.a. tanggal 17 Agustus 1951.H. 27 Juni 1955.B.H.H. Nasution akhirnya mengundurkan diri. Jabatan ini akhirnya digantikan oleh Kol. namun akhirnya berhasi dilumpuhkan setelah salah seorang anak buahnya. Januari 1952 menyatakan diri ikut sebagai bagian anggota Kartosuwiryo. Kol. Pada mulanya mereka dapat menguasai sebagian besar daerah Aceh termasuk kota-kotanya. ia bersama anak buahnya melarikan diri ke hutan dan mengacau. Hal ini dianggap usaha campur tangan parlemen terhadap tubuh Angkatan Darat. tidak ada satupun perwira AD yang hadir. yaitu Bahar Matiliu menyerahkan diri. Kol.

segerombolan prajurit pasukan kehormatan maju dan menolak pelantikan tersebut. Dewan-dewan Daerah Diawali dengan pembentukan Bewan Banteng oleh Kol (pensiun) Ismail Lengah di Padang (20 November 1956). Tindakan tersebut diikuti oleh daerah-daerah lain seperti pembentukan Dewan Gajah di Sumatra Utara (Kol. Larangan KSAD agar tentara tidak berpolitik tidak dihiraukan.V. Barlian). Usaha tersebut sia-sia. Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX agar membentuk zaken kabinet dan agar Presiden kembali sebagai Presiden Konstitusional. Pelakunya Letnan Udara II D. dengan tujuan agar pemerintah mau berunding dengan PRRI dan Permesta. Dewan Garuda di Sumatra Selatan (Kol. beserta para tokoh Masyumi dan dewan daerah mengadakan rapat di Sungai Dareh. tetapi menimbulkan banyak korban. Dilakukan Maukar bersama kelompoknya.Peristiwa di Angkatan Perang yang bersifat liberal juga terjadi pada tanggal 14 Desember 1955. Manguni. Usaha tersebut gagal. Para pelaku dapat ditangkap. Yaitu ketika Komodor Udara Hubertus Suyono dilantik menjadi Staf Angkatan Udara di Pangkalan Udara Cililitan (Halim Perdanakusuma). Akhirnya operasi militerpun dilancarkan (17 Desember 1957). dan dijatuhi hukuman mati. Mereka malah mengambil alaih pemerintahan daerah Sumatra Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyodiharjo (20 Desember 1956). Moh. Kemudian terjadi lagi. Keesokan harinya pada saat rapat akbar di Padang. Samual). Maukar dengan mempergunakan pesawat Mig 17. g. Komandan Resimen IV Tentara Teritorium (TT) I di Padang.A. padahal daerah-daerah tersebut telah memberikan devisa bagi negara.J. Mereka mengajukan tuntutan kepada pemerintah pusat tentang otonomi daerah. Hal tersebut diikuti oleh Sulawesi Utara di bawah pimpinan Letkol D. Kemudian mereka meninggalkan barisdan diikuti oleh pasukan pembawa panji-panji Angkatan Udara. Namun usaha tersebut tidak berhasil. Pemberontakan PRRI dan Permesta Akhmad Husein. f. M. Usaha kedua terjadi pada saat Idhul Adha di halaman Istana Jakarta. Istana Merdeka dan Bogor ditembakinya dari udara (9 Maret 1960). h. sehingga upacara batal. Ultimatum tersebut ditolak oleh Pemerintah. Pemerintah berusaha mengatasi masalah tersebut dengan mengadakan perundingan dan janji pemerataan pembangunan. Somba yang membentuk Gerakan Piagam Perjuangan Semerta (Permesta). . Peristiwa-peristiwa ini dilatarbelakangi oleh karena pembangunan yang tidak merata. Pemberontakan ini ditumpas dengaan operasi militer selama beberapa tahun. Sumatra Barat (9 Januari 1958).N. Akhmad Husein mengultimatum pemerintah agar Kabinet Juanda dalam waktu 5×24 jam menyerahkan mandat kepada Drs. H. dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara (Letkol. Usaha Pembunuhan terhadap Kepala Negara Rasa tidak puas golongan ekstrim kanan memuncak dan dilampiaskan dalam bentuk usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di Perguruan Cikini Jakarta (30 November 1957). dengan ketuanya Ahmad Husein. Simbolon). Akhirnya Husein membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berikut pembentukan kabinetnya dengan Syafrudin Prawiranegara sebaga Perdana Mentri (15 Februari 1958).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful