P. 1
sejarah ( biah )

sejarah ( biah )

|Views: 5|Likes:
Published by Rudi Anto

More info:

Published by: Rudi Anto on Feb 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2014

pdf

text

original

A. KABINET MASA DEMOKRASI LIBERAL a.

KABINET NATSIR (6 September 1950 – 21 Maret 1951) Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi. Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir Program 1. 2. 3. 4. 5. Hasil :

Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan. Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat. :

Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat. Kendala/ Masalah yang dihadapi :

Upaya memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan).

Timbul masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS. Berakhirnya kekuasaan kabinet :

Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden. b. KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI. Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo Program :

1. Menjamin keamanan dan ketentraman 2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani. 3. Mempercepat persiapan pemilihan umum.

DPR.    Adanya krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah. seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman Kendala/ Masalah yang dihadapi  : Adanya Pertukaran Nota Keuangan antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan Duta Besar Amerika Serikat Merle Cochran. 2. Jawa Tengah. Dimana dalam MSA terdapat pembatasan kebebasan politik luar negeri RI karena RI diwajibkan memperhatiakan kepentingan Amerika. dan pemulihan keamanan.4. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden. Mengenai pemberian bantuan ekonomi dan militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA). meningkatkan kemakmuran rakyat. Dipimpin Oleh : Mr. serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif. Masalah Irian barat belum juga teratasi. Hasil : Tidak terlalu berarti sebab programnya melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya. Wilopo Program : 1. KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam biangnya. dan DPRD). Hasil : Kendala/ Masalah yang dihadapi : . : Berakhirnya kekuasaan kabinet Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. Tindakan Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif karena lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan Indonesia ke dalam blok barat. Sulawesi Selatan. Program luar negeri : Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda. Hubungan Sukiman dengan militer kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah menghadapi pemberontakan di Jawa Barat. c. meningkatkan pendidikan rakyat. Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante. Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

 Munculnya peristiwa Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli).   Adanya kondisi krisis ekonomi yang disebabkan karena jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia sementara kebutuhan impor terus meningkat. Inti peristiwa ini adalah gerakan sejumlah perwira angkatan darat guna menekan Sukarno agar membubarkan kabinet. Tanah perkebunan di Deli yang telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah digarap oleh para petani di Sumatera Utara dan dianggap miliknya. Semua itu disebabkan karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke daerah yang tidak seimbang. Tetapi saran tersebut ditolak. d. Sesuai dengan perjanjian KMB pemerintah mengizinkan pengusaha asing untuk kembali ke Indonesia dan memiliki tanah-tanah perkebunan. Akibatnya terjadi bentrokan senjata dan beberapa petani terbunuh.H Nasution yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno sehingga ia mengirim petisi mengenai penggantian KSAD kepada menteri pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan parlemen sehingga menimbulkan perdebatan dalam parlemen.  Keadaan ini menyebabkan muncul demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen. Dipimpin Oleh : Mr. Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil sehingga muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan membahayakan kedudukannya. Terjadi peristiwa 17 Oktober 1952. Muncullah mosi tidak percaya dan menuntut diadakan reformasi dan reorganisasi angkatan perang dan mengecam kebijakan KSAD. Terjadi defisit kas negara karena penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih setelah terjadi penurunana hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport beras. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden. Intinya peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian dengan para petani liar mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A. Konflik semakin diperparah dengan adanya surat yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto dalam memulihkan keamanana di Sulawesi Selatan. Ali Sastroamijoyo . Sehingga pada tanggal 16 Maret 1953 muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para petani liar Indonesia yang dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin tersebut. Sementara itu TNI-AD yang dipimpin Nasution menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen dibubarkan. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955) Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan NU. Para petani tidak mau pergi sebab telah dihasut oleh PKI. Munculnya gerakan sparatisme dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa.

Keadaan ekonomi yang semakin memburuk. Mengembalikan kewibawaan pemerintah. 4. inflasi. Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru 3. seperti DI/TII di Jawa Barat. Sulawesi Selatan. 2. Masalah TNI –AD yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952. dan Aceh. 2. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB. Bambang Sugeng sebagai Kepala Staf AD mengajukan permohonan berhenti dan disetujui oleh kabinet. Bahkan ketika terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak seorangpun panglima tinggi yang hadir meskipun mereka berada di Jakarta. 3. Munculnya konflik antara PNI dan NU yang menyebabkkan. Penyelesaian Pertikaian politik : Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955.    Berakhirnya kekuasaan kabinet : Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden. Hasil   : Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956) Dipimpin Oleh Program : Burhanuddin Harahap : 1. : Kendala/ Masalah yang dihadapi   Menghadapi masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan. e. yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah. Perjuangan pengembalian Irian Barat . Pembebasan Irian Barat secepatnya. pemberantasan korupsi 4.Program 1. Sebagai gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo tetapi panglima AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya dianggap tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh TNI-AD. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. dan inflasi yang menunjukkan gejala membahayakan. Wakil KSAD-pun menolak melakukan serah terima dengan KSAD baru. NU memutuskan untuk menarik kembali menteri-mentrinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya. Masalah desentralisasi. maraknya korupsi.

Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak. 4.5. 5. Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo Program : Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang. 3. .     Kendala/ Masalah yang dihadapi : Banyaknya mutasi dalam lingkungan pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan. Pemberantasan korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer. f. Menyehatkan perimbangan keuangan negara. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Hasil  : Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). Akan dibentuk kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat. yaitu PNI. Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955. 1. 2. Perjuangan pengembalian Irian Barat Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. dan PKI. Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin. Masyumi. dan NU. Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni IndonesiaBelanda. NU.  Pembatalan KMB. KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957) Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI. sebagai berikut. Masyumi. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Selain itu program pokoknya adalah.

Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950. menjalankan politik luar negeri bebas aktif. KABINET DJUANDA ( 9 April 1957. Hasil : Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment. Dewan Gajah di Sumatera Utara. Melaksanakan keputusan KAA. Memuncaknya krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan pembangunan di daerahnya. pembangunan lima tahun. Banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat ekonominya. Kendala/ Masalah yang dihadapi   : Berkobarnya semangat anti Cina di masyarakat. Dipimpin Oleh : Ir. programnya yaitu :    Membentuk Dewan Nasional Normalisasi keadaan Republik Indonesia Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB . Serta terjadinya perebutan kekuasaan antara partai politik. :    Berakhirnya kekuasaan kabinet Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden. hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB. Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Muncullah peraturan yang dapat melindungi pengusaha nasional. Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI. sedangkan PNI berpendapat bahwa mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi dan parlementer. Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah. Juanda Program : Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya. g. dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara. Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan. Pembatalan KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal pengusaha Belanda di Indonesia. Muncul pergolakan/kekacauan di daerah yang semakin menguat dan mengarah pada gerakan sparatisme dengan pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di Sumatera Tengah.  Pemulihan keamanan dan ketertiban.5 Juli 1959) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam bidangnya.

yang mengatur mengenai laut pedalaman dan laut teritorial. :    Kendala/ Masalah yang dihadapi Kegagalan Menghadapi pergolakan di daerah sebab pergolakan di daerah semakin meningkat. Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah. Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin.  Perjuangan pengembalian Irian Jaya Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan Semua itu dilakukan untuk menghadapi pergolakan yang terjadi di daerah. pembangunan angkatan perang. Musyawarah ini membahas masalah pembangunan nasional dan daerah. Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak berhasil dengan baik. perjuangan pengembalian Irian Barat. Munculnya pemberontakan seperti PRRI/Permesta. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya. . yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah tempat putra-purinya bersekolah pada tanggal 30 November 1957. Terjadi peristiwa Cikini. Hal ini menyebabkan hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat. menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk. Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk sehingga program pemerintah sulit dilaksanakan. Peristiwa ini menyebabkan keadaan negara semakin memburuk karena mengancam kesatuan negara. Hasil  : Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda. Melalui deklarasi ini menunjukkan telah terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin. dan pembagian wilayah RI.

tetapi akan berusaha segera mempercepat pemilu. mereka menyingkir ke hutan. Untuk menghadapi mereka. Jabatan ini akhirnya digantikan oleh Kol. Bambang Supeno tidak menyetujui kebijaksanaan Kol. Ia mengajukan surat kepada Mentri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada parlemen berisi soal tersebut dan meminta agar Kol. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden untuk membubarkan Parlemen. Peristiwa 17 Oktober 1952 Peristiwa ini bersumber pada kericuhan yang terjadi di lingkungan Angkatan Darat. Pada mulanya mereka dapat menguasai sebagian besar daerah Aceh termasuk kota-kotanya. A. Manai Sophian selaku anggota parlemen mengajukan mosi agar pemerintah segera membentuk panitia untuk mempelajari masalahnya dan mengajukan pemecahannya. A. b. namun akhirnya berhasi dilumpuhkan setelah salah seorang anak buahnya. Kol. pimpinan KSAD dipegang oleh Wakil KSAD yaitu Kol. Karena dianggap bahwa pemerintah belum mampu menyelesaiakan persolan tersebut. Tuntutannya ditolak tetapi kepada anggotanya yang memenuhi syarat diperbolehkan masuk. tetapi pada saat pelantikannya. Nasution akhirnya mengundurkan diri. Ia berhasil ditembak oleh pasukan Divisi Siliwangi pada bulan Februari 1965. 27 Juni 1955. Setelah pemerintah mengadakan operasi. Kol. Sebagian dari mereka mengadakan gerilya di Merbabu-Merapi Complex (MMC). yang setelah intinya dapat ditumpas. Pemberontakan di Aceh Pengikut DI di Aceh memproklamirkan daerahnya sebagai bagian dari NII pada tanggal 20 September 1953. sisanya bergabung dengan DI/TII. Pemimpinnya adalah Daud Beureueh. Panglima Kodam I/Iskandar Muda. Pemberontakan Kahar Muzakar Kahar Muzakar adalah putra Sulawesi yang pada zaman perang kemerdekaan berjuang di Jawa. Desakan ini jugas dilakukan oleh rakyat dengan mengadakan demonstrasi ke gedung parlemen dan Istana Merdeka. M. Jasin mengambil prakarsa mengadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang berhasil mengembalikan Daud Beureueh ke masyarakat (Desember 1962). tidak ada satupun perwira AD yang hadir. A.H. Bambang Utoyo sebagai KSAD yang baru. c. yaitu Kol. ia bersama anak buahnya melarikan diri ke hutan dan mengacau. Sementara belum terpilih KSAD yang baru. Peristiwa ini menyebabkan kabinet Ali-Wongso jatuh. Presiden menolak tuntutan ini dewngan alasan tidak ingin menjadi seorang diktator. Kemudian pemerintah mengangkat Kol. Kahar akan diberikan pangkat letkol. sehingga Batalyon 426 di Kudus dan Magelang juga memberontak dan bergabung dengan DI/TII (Desember 1951). Simatupang. dan Pekalongan yang dihadapi pemerintah dengan operasi-operasi militer. Pemberontakan di Jawa Tengah Pengaruh DI meluas di Jawa Tengah. e. Nasution selaku KSAD. Kol. yaitu Bahar Matiliu menyerahkan diri. seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang pernah menjabat gubernur Militer Daerah Aceh tahun 1947. sedangkan sisanya dimasukkan ke dalam Corps Cadangan Nasional. A. Setelah kembali ke Sulawesi bergabung dengan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan pada tahun 1950 menuntut agar pasukannya masuk APRIS.a. yaitu di daerah Brebes. Hal ini dianggap usaha campur tangan parlemen terhadap tubuh Angkatan Darat. Selama empat belas tahun memberontak.B. Nasution diganti.H. tanggal 17 Agustus 1951.H. Tegal. bekas KSAD yang lama. Peristiwa 27 Juni 1955 Peristiwa ini merupakan lanjutan peristiwa sebelumnya. Bambang Sugeng mengundurkan diri dari jabatannya. Kemudian pada masa Kabinet Burhanudin Harahap. Zulkifli Lubis. Nasution. diikuti oleh Mayjen T. pemerintah membentuk pasukan khusus yang diberi namaBanteng Raiders. d. Juni 1954 kekuatan mereka bisa dipatahkan. Di lingkunganAngkatan Darat juga terjadi perembesan pemberontakan ini. tetapi saat pelantikan. Januari 1952 menyatakan diri ikut sebagai bagian anggota Kartosuwiryo. kembali diangkat menjadi KSAD (7 November 1955).H. Bambang Sugeng. Di Kebumen pemberontakan dilakukan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) di bawah pimpinan Kyai Somalangu. .

Barlian). dan dijatuhi hukuman mati.V. Yaitu ketika Komodor Udara Hubertus Suyono dilantik menjadi Staf Angkatan Udara di Pangkalan Udara Cililitan (Halim Perdanakusuma). Usaha tersebut sia-sia. padahal daerah-daerah tersebut telah memberikan devisa bagi negara. Mereka malah mengambil alaih pemerintahan daerah Sumatra Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyodiharjo (20 Desember 1956). Samual).J. Kemudian terjadi lagi. Pemberontakan PRRI dan Permesta Akhmad Husein. Akhirnya operasi militerpun dilancarkan (17 Desember 1957). dengan ketuanya Ahmad Husein. Somba yang membentuk Gerakan Piagam Perjuangan Semerta (Permesta). dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara (Letkol. Larangan KSAD agar tentara tidak berpolitik tidak dihiraukan. beserta para tokoh Masyumi dan dewan daerah mengadakan rapat di Sungai Dareh. Akhirnya Husein membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berikut pembentukan kabinetnya dengan Syafrudin Prawiranegara sebaga Perdana Mentri (15 Februari 1958). Hal tersebut diikuti oleh Sulawesi Utara di bawah pimpinan Letkol D. Istana Merdeka dan Bogor ditembakinya dari udara (9 Maret 1960). Usaha tersebut gagal. dengan tujuan agar pemerintah mau berunding dengan PRRI dan Permesta. Ultimatum tersebut ditolak oleh Pemerintah. segerombolan prajurit pasukan kehormatan maju dan menolak pelantikan tersebut. Pemerintah berusaha mengatasi masalah tersebut dengan mengadakan perundingan dan janji pemerataan pembangunan. Mereka mengajukan tuntutan kepada pemerintah pusat tentang otonomi daerah.Peristiwa di Angkatan Perang yang bersifat liberal juga terjadi pada tanggal 14 Desember 1955. . g. Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX agar membentuk zaken kabinet dan agar Presiden kembali sebagai Presiden Konstitusional. Akhmad Husein mengultimatum pemerintah agar Kabinet Juanda dalam waktu 5×24 jam menyerahkan mandat kepada Drs. H. Pemberontakan ini ditumpas dengaan operasi militer selama beberapa tahun.A. sehingga upacara batal. Manguni. Kemudian mereka meninggalkan barisdan diikuti oleh pasukan pembawa panji-panji Angkatan Udara. Simbolon). Usaha kedua terjadi pada saat Idhul Adha di halaman Istana Jakarta. Sumatra Barat (9 Januari 1958). Dilakukan Maukar bersama kelompoknya.N. Dewan-dewan Daerah Diawali dengan pembentukan Bewan Banteng oleh Kol (pensiun) Ismail Lengah di Padang (20 November 1956). f. M. Moh. tetapi menimbulkan banyak korban. Namun usaha tersebut tidak berhasil. h. Keesokan harinya pada saat rapat akbar di Padang. Tindakan tersebut diikuti oleh daerah-daerah lain seperti pembentukan Dewan Gajah di Sumatra Utara (Kol. Komandan Resimen IV Tentara Teritorium (TT) I di Padang. Pelakunya Letnan Udara II D. Dewan Garuda di Sumatra Selatan (Kol. Usaha Pembunuhan terhadap Kepala Negara Rasa tidak puas golongan ekstrim kanan memuncak dan dilampiaskan dalam bentuk usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di Perguruan Cikini Jakarta (30 November 1957). Peristiwa-peristiwa ini dilatarbelakangi oleh karena pembangunan yang tidak merata. Para pelaku dapat ditangkap. Maukar dengan mempergunakan pesawat Mig 17.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->