A. KABINET MASA DEMOKRASI LIBERAL a.

KABINET NATSIR (6 September 1950 – 21 Maret 1951) Merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi. Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir Program 1. 2. 3. 4. 5. Hasil :

Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan. Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat. :

Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat. Kendala/ Masalah yang dihadapi :

Upaya memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan).

Timbul masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS. Berakhirnya kekuasaan kabinet :

Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden. b. KABINET SUKIMAN (27 April 1951 – 3 April 1952)Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI. Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo Program :

1. Menjamin keamanan dan ketentraman 2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani. 3. Mempercepat persiapan pemilihan umum.

Wilopo Program : 1. DPR. Mengenai pemberian bantuan ekonomi dan militer dari pemerintah Amerika kepada Indonesia berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA). Hasil : Tidak terlalu berarti sebab programnya melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya. meningkatkan pendidikan rakyat. dan pemulihan keamanan. Tindakan Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif karena lebih condong ke blok barat bahkan dinilai telah memasukkan Indonesia ke dalam blok barat.4. c. KABINET WILOPO (3 April 1952 – 3 Juni 1953) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam biangnya. Dipimpin Oleh : Mr. Program luar negeri : Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda. Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Masalah Irian barat belum juga teratasi. 2. serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus mengembalikan mandatnya kepada presiden. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan.    Adanya krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah. Program dalam negeri : Menyelenggarakan pemilihan umum (konstituante. Dimana dalam MSA terdapat pembatasan kebebasan politik luar negeri RI karena RI diwajibkan memperhatiakan kepentingan Amerika. Hubungan Sukiman dengan militer kurang baik tampak dengan kurang tegasnya tindakan pemerintah menghadapi pemberontakan di Jawa Barat. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya. dan DPRD). Hasil : Kendala/ Masalah yang dihadapi : . meningkatkan kemakmuran rakyat. : Berakhirnya kekuasaan kabinet Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman Kendala/ Masalah yang dihadapi  : Adanya Pertukaran Nota Keuangan antara Mentri Luar Negeri Indonesia Soebardjo dengan Duta Besar Amerika Serikat Merle Cochran.

   Adanya kondisi krisis ekonomi yang disebabkan karena jatuhnya harga barang-barang eksport Indonesia sementara kebutuhan impor terus meningkat. Inti peristiwa ini adalah gerakan sejumlah perwira angkatan darat guna menekan Sukarno agar membubarkan kabinet. Tetapi saran tersebut ditolak. Sehingga pada tanggal 16 Maret 1953 muncullah aksi kekerasan untuk mengusir para petani liar Indonesia yang dianggap telah mengerjakan tanah tanpa izin tersebut. Konflik semakin diperparah dengan adanya surat yang menjelekkan kebijakan Kolonel Gatot Subroto dalam memulihkan keamanana di Sulawesi Selatan. Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A. Akibatnya terjadi bentrokan senjata dan beberapa petani terbunuh. Semua itu disebabkan karena rasa ketidakpuasan akibat alokasi dana dari pusat ke daerah yang tidak seimbang. Muncullah mosi tidak percaya dan menuntut diadakan reformasi dan reorganisasi angkatan perang dan mengecam kebijakan KSAD. Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil sehingga muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan membahayakan kedudukannya. Para petani tidak mau pergi sebab telah dihasut oleh PKI. Sesuai dengan perjanjian KMB pemerintah mengizinkan pengusaha asing untuk kembali ke Indonesia dan memiliki tanah-tanah perkebunan. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Intinya peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian dengan para petani liar mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Ali Sastroamijoyo . KABINET ALI SASTROAMIJOYO I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955) Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan NU.  Munculnya peristiwa Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Dipimpin Oleh : Mr. d. Munculnya gerakan sparatisme dan sikap provinsialisme yang mengancam keutuhan bangsa.H Nasution yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno sehingga ia mengirim petisi mengenai penggantian KSAD kepada menteri pertahanan yang dikirim ke seksi pertahanan parlemen sehingga menimbulkan perdebatan dalam parlemen. Terjadi peristiwa 17 Oktober 1952. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden. Terjadi defisit kas negara karena penerimaan negara yang berkurang banyak terlebih setelah terjadi penurunana hasil panen sehingga membutuhkan biaya besar untuk mengimport beras. Sementara itu TNI-AD yang dipimpin Nasution menghadap presiden dan menyarankan agar parlemen dibubarkan. Tanah perkebunan di Deli yang telah ditinggalkan pemiliknya selama masa Jepang telah digarap oleh para petani di Sumatera Utara dan dianggap miliknya.  Keadaan ini menyebabkan muncul demonstrasi di berbagai daerah menuntut dibubarkannya parlemen.

Sulawesi Selatan. KABINET BURHANUDDIN HARAHAP (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956) Dipimpin Oleh Program : Burhanuddin Harahap : 1.Program 1. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB. Masalah desentralisasi. Masalah TNI –AD yang merupakan kelanjutan dari Peristiwa 17 Oktober 1952. 2. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Penyelesaian Pertikaian politik : Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955. Pembebasan Irian Barat secepatnya. Wakil KSAD-pun menolak melakukan serah terima dengan KSAD baru. inflasi. maraknya korupsi. : Kendala/ Masalah yang dihadapi   Menghadapi masalah keamanan di daerah yang belum juga dapat terselesaikan. seperti DI/TII di Jawa Barat. Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. dan inflasi yang menunjukkan gejala membahayakan. Mengembalikan kewibawaan pemerintah. 4. NU memutuskan untuk menarik kembali menteri-mentrinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya. pemberantasan korupsi 4. Munculnya konflik antara PNI dan NU yang menyebabkkan.    Berakhirnya kekuasaan kabinet : Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden. Perjuangan pengembalian Irian Barat . 2. Hasil   : Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera menyelenggarakan Pemilu. Bahkan ketika terjadi upacara pelantikan pada 27 Juni 1955 tidak seorangpun panglima tinggi yang hadir meskipun mereka berada di Jakarta. e. Sebagai gantinya mentri pertahanan menunjuk Kolonel Bambang Utoyo tetapi panglima AD menolak pemimpin baru tersebut karena proses pengangkatannya dianggap tidak menghiraukan norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD. Bambang Sugeng sebagai Kepala Staf AD mengajukan permohonan berhenti dan disetujui oleh kabinet. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru 3. dan Aceh. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh TNI-AD. yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah. 3.

Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955. Akan dibentuk kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula. KABINET ALI SASTROAMIJOYO II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957) Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI. Selain itu program pokoknya adalah.5. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. 2. sebagai berikut. 5. f. Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo Program : Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang. . Pemberantasan korupsi dengan menangkap para pejabat tinggi yang dilakukan oleh polisi militer. 3. Menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak. Perjuangan pengembalian Irian Barat Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD. dan NU. yaitu PNI.  Pembatalan KMB. 1. Menyehatkan perimbangan keuangan negara. dan PKI. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat.     Kendala/ Masalah yang dihadapi : Banyaknya mutasi dalam lingkungan pemerintahan dianggap menimbulkan ketidaktenangan. 4. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni IndonesiaBelanda. Masyumi. Masyumi. Terbinanya hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet Burhanuddin. Terdapat 70 partai politik yang mendaftar tetapi hanya 27 partai yang lolos seleksi. Hasil  : Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 (memilih anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (memilih konstituante). NU.

Muncul pergolakan/kekacauan di daerah yang semakin menguat dan mengarah pada gerakan sparatisme dengan pembentukan dewan militer seperti Dewan Banteng di Sumatera Tengah. Hasil : Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment. hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB. menjalankan politik luar negeri bebas aktif. :    Berakhirnya kekuasaan kabinet Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu I ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden. pembangunan lima tahun. Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Serta terjadinya perebutan kekuasaan antara partai politik. Pembatalan KMB oleh presiden menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal pengusaha Belanda di Indonesia. Melaksanakan keputusan KAA. Banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya pada orang Cina karena memang merekalah yang kuat ekonominya.5 Juli 1959) Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam bidangnya. programnya yaitu :    Membentuk Dewan Nasional Normalisasi keadaan Republik Indonesia Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB . Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan. KABINET DJUANDA ( 9 April 1957. Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI. Dibentuk karena Kegagalan konstituante dalam menyusun Undang-undang Dasar pengganti UUDS 1950. g.  Pemulihan keamanan dan ketertiban. Masyumi menghendaki agar Ali Sastroamijoyo menyerahkan mandatnya sesuai tuntutan daerah. dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara. Juanda Program : Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya. Memuncaknya krisis di berbagai daerah karena pemerintah pusat dianggap mengabaikan pembangunan di daerahnya. sedangkan PNI berpendapat bahwa mengembalikan mandat berarti meninggalkan asas demokrasi dan parlementer. Kendala/ Masalah yang dihadapi   : Berkobarnya semangat anti Cina di masyarakat. Dipimpin Oleh : Ir. Dewan Gajah di Sumatera Utara. Muncullah peraturan yang dapat melindungi pengusaha nasional.

Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah. pembangunan angkatan perang. Peristiwa ini menyebabkan keadaan negara semakin memburuk karena mengancam kesatuan negara. Terjadi peristiwa Cikini. yang mengatur mengenai laut pedalaman dan laut teritorial. perjuangan pengembalian Irian Barat. Munculnya pemberontakan seperti PRRI/Permesta. yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah tempat putra-purinya bersekolah pada tanggal 30 November 1957. Sebagai titik tolak untuk menegakkan sistem demokrasi terpimpin. menghadapi masalah ekonomi serta keuangan yang sangat buruk. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan kekuatan yang ada dalam masyarakat dengan presiden sebagai ketuanya. Berakhirnya kekuasaan kabinet : Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin. Musyawarah ini membahas masalah pembangunan nasional dan daerah. . Hal ini menyebabkan hubungan pusat dan daerah menjadi terhambat.  Perjuangan pengembalian Irian Jaya Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan Semua itu dilakukan untuk menghadapi pergolakan yang terjadi di daerah. Hasil  : Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda. Melalui deklarasi ini menunjukkan telah terciptanya Kesatuan Wilayah Indonesia dimana lautan dan daratan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak berhasil dengan baik. dan pembagian wilayah RI. :    Kendala/ Masalah yang dihadapi Kegagalan Menghadapi pergolakan di daerah sebab pergolakan di daerah semakin meningkat. Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk sehingga program pemerintah sulit dilaksanakan.

Ia berhasil ditembak oleh pasukan Divisi Siliwangi pada bulan Februari 1965. Manai Sophian selaku anggota parlemen mengajukan mosi agar pemerintah segera membentuk panitia untuk mempelajari masalahnya dan mengajukan pemecahannya. Bambang Sugeng. Kahar akan diberikan pangkat letkol. Pemberontakan di Jawa Tengah Pengaruh DI meluas di Jawa Tengah. 27 Juni 1955. Peristiwa ini menyebabkan kabinet Ali-Wongso jatuh. Nasution diganti. Juni 1954 kekuatan mereka bisa dipatahkan.H. d. Pemberontakan di Aceh Pengikut DI di Aceh memproklamirkan daerahnya sebagai bagian dari NII pada tanggal 20 September 1953. Peristiwa 27 Juni 1955 Peristiwa ini merupakan lanjutan peristiwa sebelumnya. Presiden menolak tuntutan ini dewngan alasan tidak ingin menjadi seorang diktator. mereka menyingkir ke hutan. tetapi pada saat pelantikannya. yaitu Kol. diikuti oleh Mayjen T. sisanya bergabung dengan DI/TII. Nasution selaku KSAD. Jasin mengambil prakarsa mengadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang berhasil mengembalikan Daud Beureueh ke masyarakat (Desember 1962). Untuk menghadapi mereka. Kol. Tuntutannya ditolak tetapi kepada anggotanya yang memenuhi syarat diperbolehkan masuk. Sementara belum terpilih KSAD yang baru. Bambang Supeno tidak menyetujui kebijaksanaan Kol. Jabatan ini akhirnya digantikan oleh Kol. dan Pekalongan yang dihadapi pemerintah dengan operasi-operasi militer. e. Nasution. tanggal 17 Agustus 1951. Pada mulanya mereka dapat menguasai sebagian besar daerah Aceh termasuk kota-kotanya. Zulkifli Lubis. Setelah pemerintah mengadakan operasi. Karena dianggap bahwa pemerintah belum mampu menyelesaiakan persolan tersebut. Bambang Sugeng mengundurkan diri dari jabatannya. Desakan ini jugas dilakukan oleh rakyat dengan mengadakan demonstrasi ke gedung parlemen dan Istana Merdeka. pemerintah membentuk pasukan khusus yang diberi namaBanteng Raiders. Kol. Hal ini dianggap usaha campur tangan parlemen terhadap tubuh Angkatan Darat. yaitu di daerah Brebes.H. sedangkan sisanya dimasukkan ke dalam Corps Cadangan Nasional.H. Kemudian pada masa Kabinet Burhanudin Harahap. Di Kebumen pemberontakan dilakukan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) di bawah pimpinan Kyai Somalangu. tidak ada satupun perwira AD yang hadir.a. yaitu Bahar Matiliu menyerahkan diri. Panglima Kodam I/Iskandar Muda. Pimpinan AD mendesak kepada Presiden untuk membubarkan Parlemen. pimpinan KSAD dipegang oleh Wakil KSAD yaitu Kol. Ia mengajukan surat kepada Mentri Pertahanan dan Presiden dengan tembusan kepada parlemen berisi soal tersebut dan meminta agar Kol. tetapi saat pelantikan. A. tetapi akan berusaha segera mempercepat pemilu. sehingga Batalyon 426 di Kudus dan Magelang juga memberontak dan bergabung dengan DI/TII (Desember 1951). A. Simatupang. A. Kemudian pemerintah mengangkat Kol. Nasution akhirnya mengundurkan diri.H. Pemimpinnya adalah Daud Beureueh. c. yang setelah intinya dapat ditumpas. b. Januari 1952 menyatakan diri ikut sebagai bagian anggota Kartosuwiryo. Sebagian dari mereka mengadakan gerilya di Merbabu-Merapi Complex (MMC).B. A. Pemberontakan Kahar Muzakar Kahar Muzakar adalah putra Sulawesi yang pada zaman perang kemerdekaan berjuang di Jawa. Peristiwa 17 Oktober 1952 Peristiwa ini bersumber pada kericuhan yang terjadi di lingkungan Angkatan Darat. Tegal. Selama empat belas tahun memberontak. Di lingkunganAngkatan Darat juga terjadi perembesan pemberontakan ini. bekas KSAD yang lama. seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang pernah menjabat gubernur Militer Daerah Aceh tahun 1947. ia bersama anak buahnya melarikan diri ke hutan dan mengacau. Kol. Bambang Utoyo sebagai KSAD yang baru. namun akhirnya berhasi dilumpuhkan setelah salah seorang anak buahnya. Setelah kembali ke Sulawesi bergabung dengan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan pada tahun 1950 menuntut agar pasukannya masuk APRIS. . kembali diangkat menjadi KSAD (7 November 1955). M.

g. Usaha kedua terjadi pada saat Idhul Adha di halaman Istana Jakarta. Istana Merdeka dan Bogor ditembakinya dari udara (9 Maret 1960). Dilakukan Maukar bersama kelompoknya. Tindakan tersebut diikuti oleh daerah-daerah lain seperti pembentukan Dewan Gajah di Sumatra Utara (Kol. Pelakunya Letnan Udara II D. Akhmad Husein mengultimatum pemerintah agar Kabinet Juanda dalam waktu 5×24 jam menyerahkan mandat kepada Drs. Keesokan harinya pada saat rapat akbar di Padang. Komandan Resimen IV Tentara Teritorium (TT) I di Padang. Ultimatum tersebut ditolak oleh Pemerintah. H. f. beserta para tokoh Masyumi dan dewan daerah mengadakan rapat di Sungai Dareh. Usaha tersebut sia-sia. Namun usaha tersebut tidak berhasil. Peristiwa-peristiwa ini dilatarbelakangi oleh karena pembangunan yang tidak merata. Dewan-dewan Daerah Diawali dengan pembentukan Bewan Banteng oleh Kol (pensiun) Ismail Lengah di Padang (20 November 1956).A.N. Maukar dengan mempergunakan pesawat Mig 17. Hatta dan Sultan Hamengku Buwono IX agar membentuk zaken kabinet dan agar Presiden kembali sebagai Presiden Konstitusional. h. Simbolon). Dewan Garuda di Sumatra Selatan (Kol. Mereka mengajukan tuntutan kepada pemerintah pusat tentang otonomi daerah. Hal tersebut diikuti oleh Sulawesi Utara di bawah pimpinan Letkol D. Yaitu ketika Komodor Udara Hubertus Suyono dilantik menjadi Staf Angkatan Udara di Pangkalan Udara Cililitan (Halim Perdanakusuma). Mereka malah mengambil alaih pemerintahan daerah Sumatra Tengah dari Gubernur Ruslan Mulyodiharjo (20 Desember 1956). dengan tujuan agar pemerintah mau berunding dengan PRRI dan Permesta. segerombolan prajurit pasukan kehormatan maju dan menolak pelantikan tersebut. Akhirnya Husein membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berikut pembentukan kabinetnya dengan Syafrudin Prawiranegara sebaga Perdana Mentri (15 Februari 1958). Usaha Pembunuhan terhadap Kepala Negara Rasa tidak puas golongan ekstrim kanan memuncak dan dilampiaskan dalam bentuk usaha pembunuhan terhadap Presiden Soekarno di Perguruan Cikini Jakarta (30 November 1957). M. dengan ketuanya Ahmad Husein. Para pelaku dapat ditangkap. Samual). . Pemberontakan ini ditumpas dengaan operasi militer selama beberapa tahun. Somba yang membentuk Gerakan Piagam Perjuangan Semerta (Permesta). Kemudian terjadi lagi. Moh. Manguni. Sumatra Barat (9 Januari 1958). Barlian). Pemberontakan PRRI dan Permesta Akhmad Husein. Pemerintah berusaha mengatasi masalah tersebut dengan mengadakan perundingan dan janji pemerataan pembangunan. Larangan KSAD agar tentara tidak berpolitik tidak dihiraukan. Kemudian mereka meninggalkan barisdan diikuti oleh pasukan pembawa panji-panji Angkatan Udara. dan dijatuhi hukuman mati. Usaha tersebut gagal.Peristiwa di Angkatan Perang yang bersifat liberal juga terjadi pada tanggal 14 Desember 1955. tetapi menimbulkan banyak korban. Akhirnya operasi militerpun dilancarkan (17 Desember 1957). padahal daerah-daerah tersebut telah memberikan devisa bagi negara. dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara (Letkol. sehingga upacara batal.V.J.