P. 1
eBook Cerita Rakyat Daerah Jambi

eBook Cerita Rakyat Daerah Jambi

|Views: 258|Likes:
Published by Da Chan

More info:

Published by: Da Chan on Feb 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2015

pdf

text

original

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.

http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
1
Pendahuluan

Sebelumnya saya minta maaf jika (akanftelah) terjadi kesalahan atas penulisan
isi "Kumpulan Cerita Rakyat Daerah Jambi". Tujuan dari ini semua adalah untuk
mengarsipkan beberapa cerita rakyat daerah Jambi yang sepertinya sudah mulai
menghilang. Semua ini saya kumpulkan dari beberapa blog dan website yang
ada di internet. Setelah berselancar sekian lama di internet akhirnya saya
mendapatkan semua ini yang nantinya bisa anda baca disini.

Beberapa cerita ini pernah saya baca saat pelajaran Nuatan Lokal di bangku
Sekolah Dasar, tepatnya SDN No 237f!! (sekarang telah berubah namanya -
maaf saya tidak tau apa nama sekolahnya sekarang, yang jelas masih SDN ...) Jl.
Durian - Tirta Kencana - Unit.6 - Rimbo bujang - Tebo - Jambi. Apakah saat
sekarang ini masih di ajarkan atau tidak, entahlah saya juga tidak tahu.

Harapan saya jika ada di antara pembaca "Kumpulan Cerita Rakyat Daerah
Jambi" ini yang mempunyai cerita yang lain saya sangat berharap agar mau
berbagi dengan saya. Saya akan sangat berterima kasih pada anda yang mau
berbagi guna untuk melestarikan cerita rakyat daerah Jambi.

Akhirnya jika ada kesalahan dalam penulisan ulang dan pengumpulan kumpulan
"Cerita Rakyat Daerah Jambi" ini saya mohon maaf yang sebesarnya. Hal itu
terjadi bukan karena di sengaja. Nanusia adalah tempatnya khilaf. Serta jika ada
pihak yang tidakfkurang setuju dengan di publikasikannya "Kumpulan Cerita
Rakyat Daerah Jambi" ini saya mohon maaf.

Akhirnya, selamat membaca. Semoga dengan adanya "Kumpulan Cerita Rakyat
Daerah Jambi" ini bisa menambah rasa cinta kita pada daerah kita yaitu Propinsi
Jambi.










°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
2
Daftar !si

Beberapa kumpulan "Cerita Rakyat daerah Jambi" yang dapat di baca disini
adalah:

1. Asal Usul Raja Negeri Jambi
2 Bukit Kancah
3. Datuk Darah Putih
+. Datuk Kerungku Bebulu
5. Dideng Dang Ayu
6. Gadis Berambut Panjang
7. Lubuk Bujang Gadis
8. Nitos Air Hitam dan Air Jernih
9. Padi Sebesar Kelapa
10. Putri Tangguk
11. Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau

............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
............................................
Hal.3
Hal.8
Hal.11
Hal.13
hal.16
Hal.19
Hal.23
Hal.27
Hal.28
Hal.29
Hal.32

























°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
3
1. Asal Usul Raja Negeri Jambi

Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum
memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin,
Nuaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo
Belaslah yang paling berpengaruh.

Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan
hidup mereka pun semakin berkembang. Nelihat perkembangan itu, maka
muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur,
harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka.
Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas
yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Nukomuko) untuk
bermusyawarah.

"Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih
dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Nenurut kalian, apa
kriteria raja yang baik itu?" tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka
pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
"Nenurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita," jawab
sesepuh dari Desa Tujuh Koto.
"Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin," tambah
sesepuh dari Desa Petajin.
"Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan
dihormati," sahut sesepuh dari Desa Nuaro Sebo.
"Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?" tanya sesepuh dari
Desa Batin Duo Belas.
"Setuju!" jawab peserta rapat serentak.

Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni
harus memiliki kelebihan di antara mereka.

"Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara
kita?" tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto.
"Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya," jawab
sesepuh Desa Batin Duo Belas.
"Bagaimana caranya?" tanya sesepuh Desa Petajin penasaran.
"Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air
mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan
digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka
dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?" tanya sesepuh Desa
Batin Duo Belas.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
4
Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Nereka
bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa
Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa
masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa
mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap
memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang
dianggap paling sakti di antara mereka.

Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah
berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian
yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-
masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan
seterusnya diundi terlebih dahulu.

Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan
Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. !a pun
dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak
kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya
tidak melepuh sedikit pun. Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam
lalu disulut dengan api dan ditembakkan. !a pun terpental dan jatuh beberapa
depa. !a segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa.
Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto
itu.

Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh
penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling
berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka
seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat
penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung
kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera
dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan
gagal menjadi raja Jambi.

Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto.

"Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang," kata
salah seorang panitia mempersilahkan.

Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju.

"Nana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!" seru salah seorang panitia.
¨Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!" tambahnya.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
5
Nerasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju.
¨Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato
menyerah!" seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang.

Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. !a berhasil melalui ujian pertama
hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal
menjadi raja Jambi.

Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti
oleh Desa Petajin dan Nuaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut
semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh
karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka
pun kembali mengadakan musyawarah.

¨Bagaimana kalau kita mencari calon raja Jambi dari negeri lain?" usul sesepuh
dari Desa Batin Duo Belas.

Usulan tersebut diterima oleh peserta rapat lainnya. Selanjutnya mereka
mengutus dua wakil dari setiap desa untuk pergi mencari calon raja. Keesokan
harinya, rombongan itu berangkat meninggalkan Negeri Jambi menuju ke negeri-
negeri di sekitarnya. Di setiap negeri yang disinggahi, mereka menanyakan siapa
yang bersedia menjadi raja Jambi dan tidak lupa pula mereka menyebutkan
persyaratannya, yaitu harus mengikuti keempat ujian tersebut.

Sudah berpuluh-puluh negeri mereka singgahi, namun belum menemukan
seorang pun yang bersedia menjadi raja Jambi, karena tidak sanggup menjalani
keempat ujian tersebut. Rombongan itu pun kembali mengadakan musyawarah.

"Kita kembali saja ke Negeri Jambi. Nustahil ada orang yang mampu memenuhi
syarat itu untuk menjadi raja Jambi," keluh wakil Desa Petijan.
"Sabar, Saudara! Kita jangan cepat putus asa. Kita memang belum menemukan
calon raja Jambi di beberapa negeri yang dekat ini. Tetapi, saya yakin bahwa di
negeri jauh sana kita akan menemukan orang yang kita cari," kata wakil Desa
Nuaro Sebo.
"Apa maksudmu?" tanya wakil Desa Petijan penasaran.
"Kita harus mengarungi samudera yang luas itu," jawab wakil Desa Nuaro Sebo
dengan tenang.
"Kami setuju!" sahut wakil dari Desa Batin Duo Belas, Tujuh Koto, dan Sembilan
Koto.
"Kalau begitu, kami juga setuju," kata wakil Desa Petijan.
Akhirnya, rombongan itu bertekat untuk mengarungi samudera di ujung Pulau
Sumatra.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
6
Setelah mempersiapkan segala keperluan, berangkatlah rombongan itu dengan
menggunakan dendang (perahu besar). Setelah berhari-hari diombang-ambing
oleh gelombang laut di tengah samudera yang luas itu, mereka pun tiba di
Negeri Keling (!ndia). Nereka berkeliling di Negeri Keling yang luas itu untuk
mencari orang yang bersedia menjadi Raja Negeri Jambi dengan ujian yang telah
mereka tentukan. Semua orang yang mereka temui belum ada yang sanggup
menjalani ujian berat itu.

Pada suatu hari, mereka mendengar kabar bahwa di sebuah kampung di Negeri
Keling, ada seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya,
mereka pun menemui orang sakti itu.

"Permisi, Tuan! Kami adalah utusan dari Negeri Jambi. Negeri kami sedang
mencari seorang raja yang akan memimpin negeri kami, tapi dengan syarat
harus lulus ujian. Apakah Tuan bersedia?" tanya salah seorang dari rombongan
itu sambil menceritakan ujian yang harus dijalani calon raja itu.
"Saya sanggup menjalani ujian itu," jawab orang itu.

Rombongan itu segera membawa calon raja itu pulang ke Negeri Jambi. Setelah
menempuh perjalanan selama berminggu-minggu, tibalah mereka di Negeri
Jambi. Orang sakti itu disambut gembira oleh rakyat Jambi. Nereka berharap
bahwa calon yang datang dari seberang lautan itu benar-benar orang yang sakti,
sehingga lulus dalam ujian itu dan menjadi raja mereka.

Keesokan harinya, orang sakti itu pun diuji. Seperti halnya calon-calon raja
sebelumnya, orang sakti itu pertama-tama dibakar dengan api yang menyala-
nyala. Orang Keling itu benar-benar sakti, tubuhnya tidak hangus, bahkan tidak
satu pun bulu romanya yang terbakar. Setelah diuji dengan ujian kedua dan
ketiga, orang itu tetap tidak apa-apa. Terakhir, orang itu akan menghadapi ujian
yang paling berat, yang tidak sanggup dilalui oleh calon-calon raja sebelumnya,
yaitu digiling dengan kilang besi yang besar. Pada saat ujian terakhir itu akan
dimulai, suasana menjadi hening. Penduduk yang menyaksikan menahan napas.
Dalam hati mereka ada yang menduga bahwa seluruh tubuh orang itu akan
hancur dan remuk.

!ni adalah saat-saat yang mendebarkan. Ujian terakhir itu pun dimulai. Pertama-
tama, kedua ujung jari-jari kaki orang Keling itu dimasukkan ke dalam kilang
besi. Kilang mulai diputar dan sedikit demi sedikit tubuh orang Keling itu
bergerak maju tertarik kilang besi yang berputar. Semua penduduk yang
menyaksikannya menutup mata. Nereka tidak sanggup melihat tubuh orang
Keling itu remuk. Namun apa yang terjadi? Nereka yang sedang menutup mata
tidak mendengarkan suara jeritan sedikit pun. Tetapi justru suara ledakan
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
7
dahsyatlah yang mereka dengarkan. Nereka sangat terkejut saat membuka
mata, kilang besi yang besar itu hancur berkeping-keping, sedangkan orang
Keling itu tetap tidak apa-apa, bahkan ia tersenyum sambil bertepuk tangan.
Penduduk yang semula tegang ikut bergembira, karena berhasil menemukan raja
yang akan memimpin mereka.

Seluruh penduduk dari Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Nuaro Sebo, Petajin,
dan Batin Duo Belas segera mempersiapkan segala keperluan untuk membangun
sebuah istana yang bagus. Selain itu, mereka juga mempersiapkan bahan
makanan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk meresmikan penobatan
Raja Negeri Jambi. Beberapa bulan kemudian, berkat kerja keras seluruh warga,
berdirilah sebuah istana yang indah dan orang Keling itu pun dinobatkan menjadi
raja Jambi.





























°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
8
2. Bukit Kancah

Di desa Tanjung kurang lebih 81 km dari Nuarabungo, oleh masyarakatnya
masih mempercayai dan meyakini akan keberadaan cerita tentang
orangfmakhluk halus. Alkisah ada tiga orang kakak beradik yang yatim piatu.
Dua orang laki-laki dan yang bungsu seorang perempuan. Pilihan nasib
membawa pertumbuhan ketiga beradik beranjak dewasa dalam kerukunan
bersama. Orang-orang disekitarnya tak ambil peduli.

Kepedulian itu rupanya diambil oleh bangsa siluman yang bermukim di hutan
lebat Desa Tanjung. Siluman penyantun itu dengan tekun mendatangi dan
mengajarkan berbagai ilmu dan bergaul dengan mereka sejak kecil hingga
dewasa. Kepandaian menghilang itu akhirnya diketahui secara luas dan membuat
orang-orang menyegani ketiga adik beradik itu.

Terceritalah kemudian, negeri Tanjung dapat gangguan dari negeri tetangga.
Peperangan antarnegeri tak erelaan lagi. Kedaulatan negeri Tanjung terancam
berat dan para hulubalang dan prajurit tak mampu lagi membendung serangan
dan kecaman yang datang. Raja negeri teringat akan warga yang memiliki ilmu
siluman tadi. Tanpa membantah, demi keamanan negeri, kedua anak remaja
yatim piatu yang memiliki ilmu siluman itu menuju ke medan laga. Sebelum pergi
ketiganya bersepakat agar adik bungsunya tidak ikut ke medan laga. Demi
keselamatan adik perempuannya, disepakati untuk menyembunyikan sang adik
bungsu terlebih dahulu kesuatu tempat yang dirasa aman. Untuk dititipkan pada
seseorang kurang memungkinkan karena semuanya uga merasa tidak aman dari
kekacauan dan infiltrasi musuh. Nereka pada tercenung mencari jalan keluar
yang benar-benar aman. Kendati usul sang adik kurang meyakinkan, tapi oleh
desakan keadaan, kakak tua menyepakatinya. Dengan merapal mantra sakti
warisan siluman penjaga rimba, disungkuplah sang adik bungsu dengan sebuah
kancah. Selesai merapal ajian, kancah penyungkup adik perempuannya lenyap
tak kelihatan lagi. Yakinlah mereka sang adik akan terhindar dari berbagai
ancaman karena tak bakal terlihat oleh siapapun.

Kedua bersaudara itu dengan hati yang mantap dan tekad yang membaja,
bergegas ke medan laga menyatu dengan pasukan negeri Tanjung menghalau
musuh. Dengan kemampuan dan kedigdayaan ilmu siluman yang dimilikinya,
keduanya dengan leluasa bergerak dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Habis
ditikam dan ditetaknya, tanpa musuh menyadari telah bermandi darah dan
meregang nyawa.

Pasukan negeri Tanjung bersorak gembira melihat musuh lintang pukang surut
ke belakang, kedua lelaki itu dianjung dalam dukungan para prajurit karena
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
9
dianggap sebagai orang yang berjasa, berandil besar dalam menghancur
leburkan para pengacau negeri. Dua kakak beradik itu akhirnya diangkat sebagai
hulubalang kerajaan. Sayang sebanyak itu yang senang sebanyak itu pula yang
merasa tersingkirkan oleh pengaruh hulubalang berusia muda. Pangkat dan
jabatan tinggi dalam usia belasan tahun telah menggelegakkan rasa
kecemburuan sekelompok hulubalang kerajaan. Selain itu para infiltran musuh
telah menyusup mempengaruhi para hulubalang yang patah hati, katakanlah
sekelompok barisan sakit hati telah berhasil dihimpun musuh bak api dalam
sekam.

Kepulan asap kedengkian dan iri barisan sakit hati berkobar dalam bentuk
gerakan-gerakan bawah tanah dan pemberontakan yang terang-teranga. Tak
ada pilihan lain, Baginda Raja Negeri Tanjung kembali menugaskan dua lelaki
beradik itu untuk menumpas pemberontakan itu.

Betapa masgulnya hati mereka berdua ketika terjun ke kancah penumpasan
pemberontakan itu. Banyak diantara mereka yang memberontak itu adalah
teman-teman seperjuangannya, tetangganya semasa kecil bahkan teman
sepermainannya sendiri. Keraguan mulai menyelimuti hatinya. Rasa kesal
menyeruak di kalbunya dan buyarlah kemantapan aji penghalimunan dan
kesaktian siluman yang dimilikinya. Saat kritis antara ragu dan bimbang itulah
dimanfaatkan teman-teman hulubalang pemberontak untuk mengeroyok
membabi buta. Rupanya saat itu hari naas sang kakak tiba diperhitungannya. !a
tewas dihujam keris teman sendiri. Nelihat kakaknya gugur, sang adik berputar
bak gasingputing beliung melabrak seluruh pemberontak. Luluhlantak tubuh
bergelimpangan para pemberontak tak berupa lagi.

Sang adik akhirnya membawa tubuh kakaknya pulang dan menghadap raja
sekaligus melaporkan keberhasilannya menumpas para pemberontak. Setelah
pemakaman sang kakak sebagai seorang hulubalang perkasa tameng negeri,
sang adik diangkat sebagai hulubalang istana dan sekaligus di samping
mendapat anugerah harta benda, ia pun dinikahkan dengan putri baginda nan
elok rupaan.

Beberapa bulan setelah pesta perkawinan, sang adik tersadar teringat akan si
adik yang tersungkup kancah disuatu tempat. Dengan restu baginda raja dan
persetujuan istri, sang adik lelaki segera menuju ujung negeri tempat adiknya
ditinggal mereka berdua. Di tempat itu diserulah nama adiknya. Lapat-lapat
terdengar sahutan sang adik tak jauh dari tempatnya berdiri. Tersadarlah ia dan
terkejut bukan main karena ilu penyungkup itu hanya dimiliki oleh sang kakak
yang telah tewas. Keduanya sama terisak sedih dan saling meratap akan nasib
yang tak seorangpun dapat mengetahuinya.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
10
Dua bulan lebih kedua kakak beradik itu hanya bisa berbicara saja tanpa berdaya
untuk membuka atau keluar dari sungkup tak kelihatan itu. Keduanya tak
menemukan jalan keluar untuk meretas nasib peruntungan kehidupan manusia.
Berat timbangan antara istri dan kerajaan yang ditinggalkan serta kondisi adik
yang tersungkup tanpa bisa dibuka membuat ia lunglai. Dalam lunglai itulah ia
pamit pada adiknya untuk kembali dulu ke kerajaan sambil mencari cara melepas
ilmu halimunan.

Lima tahun kemudian, lewat tengah malam sang kakak bermimpi bersua dengan
kakaknya. Kalau kau akan melihat adik kita kembali, bantailah tiga ekor kerbau
putih dan darahnya taburkan ke sungkup serta bacalah al-quran tiga puluh kali
hatam. Bergegas raja memerintahkan rakyatnya untuk mencari tiga ekor kerbau
putih. Sayangnya tak seorangpun dapat menemukannya.

Duka nestapa, hiba, sedih dan kepiluan semakin mendalam ketika sang kakak
merasakan kancah halimun penyungkup adik perempuannya semakin berubah
wujud membesar menjadi bukit. Dari waktu ke waktu bukit itu ditumbuhi belukar
dan kekayuan. Tak terdengar lagi suara isak sang adik selain suara desir yang
mendayu dan gemericik air yang turun menetes dari puncak bukit bak dendang
kepiluan anak manusia menghitung hari yang penuh kemalangan.

Sampai sekarang di desa Tanjung terdapat bukit Kancah yang memendam
sepotong kisah anak manusia.















°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
11
3. Datuk Darah Putih

Nitos Datuk Darah Putih merupakan cerita tentang seorang panglima perang
kerajaan yang ada di daerah dusun Sungai Aro, kabupaten Tebo, Jambi. Nitos
tentang Datuk Darah Putih ini dipercayai oleh masyarakat dusun sungai Aro
sebagai seorang panglima yang mempunyai darah berwarna putih bila
mengalami luka ditubuhnya.

Cerita tentang Datuk Darah Putih disebutkan pada masa penjajahan Belanda ke
daerah Sungai Aro. Raja sungai Aro merasa khawatir akan nasib rakyatnya yang
terbelenggu rantai penjajahan. Bermusyawarahlah raja dengan para panglima
untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan serangan yang akan menimpa
kerajaan. Keputusan raja bahwa gerakan Belanda harus dihadang di laut.
Berdasarkan strategi tempat penghadangan adalah di Pulau Berhala. Tugas itu
dibebankan pada Datuk Darah Putih. Perntah itu diterima dengan tegas walau
saat itu istri Datuk Darah Putih sedang hamil tua. Perpisahan itu tanpa isak
tangis sang istri. !strinya tahu bahwa suaminya pergi berjuang untuk membela
Jambi dari jajahan Belanda. Datuk Darah Putih dan seluruh anggota pasukan
pilihan tersebut berjalan dengan gagah berselempan semangat dan kejantanan
yang tinggi.

Sesampainya di Pulau Berhala Datuk Darah Putih dan pasukannya mendirikan
benteng pertahanan mulai dari pantai sampai ke puncak bukit. Beberapa hari
kemudian kapal pasukan Belanda datang ke Pulau Berhala untuk mengambil
persediaan minum. Pada saat itulah serangan mendadak pasukan Datuk Darah
Putih dilancarkan ke Belanda. Karena sama sekali tidak mengira serangan itu
membuat Belanda kewalahan dan akhirnya kalah oleh pasukan Datuk Darah
Putih. Seluruh isi kapal disita dan kapal Belanda dibakar.

Nenjelang malam keempat setelah kemenangannya Datuk Darah Putih dan
pasukannya kembali menghadang Belanda yang dating di tengah laut.

Pertempuran pun berlangsung beberapa hari dan ternyata pihak Belanda jauh
lebih besar dan kuat dalam persenjataan. Kekalahan dalam jumlah dan senjata
yang akhirnya membuat pasukan Datuk Darah Putih kalah. Di pertempuran itu
Datuk Darah Putih terpenggal kepalanya oleh pedang prajurit Belanda. Kapalnya
pun hancur dan tenggelam ke laut. Dari urat leher yang terputus bersimbah
darah berwarna putih masih terdengar suara Datuk Darah Putih yang
memerintahkan anak buahnya untuk segera membawanya mundur sedangkan
yang lain meneruskan perlawanan. Oleh anak buahnya, Datuk Darah Putih di
bawa ke benteng pertahanan. Kemudian Datuk Darah Putih memerintahkan anak
buahnya untuk mencari batu sengkalan (penggiling cabai) untuk menutup
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
12
lukanya. Setelah menutup lukanya dengan batu sengkalan maka berhentilah
darah yang mengalir. Seperti tidak mengalami kecelakaan, Datuk Darah Putih
beserta anak buahnya kembali bergabung dengan anggota pasukannya. !a
mengamuk dan menghantam habis semua serdadu Belanda. Pertempuran
akhirnya dimenangi oleh Belanda.

Esok harinya Datuk Darah Putih kembali ke Negeri Sungai Aro. Ketika sampai di
Sungai Aro, ia dipapah menuju rumahnya dan ia tidak mampir menghadap raja
terlebih dahulu. Rakyat ikut mengiringinya sampai ke anak tangga rumah. Sang
istri telah menunggu dan telah melahirkan seorang putra. Nelihat kondisi
suaminya yang sudah tanpa kepala, ia tetap pasrah dan kepulangan itu juga
tidak ditangisinya. Kemudian Datuk Darah Putih perlahan meraih bayi dalam
buaian. Sang bayi diam terlelap dalam tidurnya dan dengan kedua tangan yang
kokoh Datuk Darah Putih mendekap anaknya ke dadanya dan kembali
meletakkannya di buaian. Orang-orang yang hadir tenggelam dalam keharuan
dan melinangkan air mata melihat dan merasakan seolah-olah ada dialog
perpisahan diantara ayah dan anak, diantara suami dan istri, diantara panglima
dan anak buahnya. Datuk Darah Putih pelan-pelan tertunduk dan kemudian
berbaring di dekat buaian anak tercinta, anak ang hanya dapat dirabanya dan
didekapnya tanpa mengetahui bentuk dan rupanya. Bersamaan dengan suara
azan ashar yang sayup-sayup sampai dari kejauhan, tubuh Datuk Darah Putih
terbujur kaku tak bernafas lagi.

Nitos tentang Datuk Darah Putih ini merupakan salah satu cerita rakyat Jambi
yang ada di daerah Kabupaten Tebo. Nitos ini kemudian dituliskan dalam sebuah
buku Geografi Pariwisata Kabupaten Bungo Tebo (1999) oleh Junaidi T. Noor
yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Dati !! Bungo Tebo (pada waktu itu
Bungo Tebo masih dalam satu kabupaten. Pada tahun 2000, otonomi daerah
menyebabkan kabupaten itu terpisah menjadi dua kabupaten, yaitu kabupaten
Bungo dan kabupaten Tebo).












°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
13
+. Datuk Kerungkung Bebulu

Cerita Datuk Kerungkung Bebulu erat kaitannya dengan legenda terjadinya Bukit
Siguntang. Datuk ini bernama lengkap Datuk Baju Nerah Kerungkung Bebulu.
Gelar baju merah karena setiap kali berperang bajunya selalu memerah oleh
percikan darah lawan-lawannya. Disebut kerungkung bebulu, karena ketika
dilahirkan kerungkungnya ditumbuhi bulu.

Awal kisah bermula dari Sang Raja Negeri Selado Sumai yang kehilangan pedang
pusaka warisan leluhur bernama Surik Neriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh
Sembilan. Entah di mana rimbanya dan tidak mengetahui siapa yang
mencurinya, diperintahkanlah Datuk Kerungkung Bebulu yang sakti tiada tanding
di kerajaan Salado Sumai untuk mencari pedang tersebut.

Perintah dijalankan, tanpa takut dan gentar. Seorang diri menjelajahi rimba dan
kembah gunung. Di suatu goa batu yang kelam dan dingin, Datuk Kerungkung
Bebulu merayap menyusup di kegelapan goa. Sampai di ujung goa di atas
sebuah batu papak duduk sesosok orang tua yang komat kamit membaca
rapalan. Dari lubang di atas sang pertapa menyorot cahaya matahari bak lampu
fokus dan sinartersebut menerpa sebilah pedang pusaka kerajaan yang hilang
dan kini sudah dipangkuan Datuk Panglimo Tahan Akik asal Ranah Pagaruyung.

Singkat cerita terjadilah perebutan yang dahsyat, saling tendang, saling hempas
menghempas. Tujuh hari berturut-turut perkelahian berlangsung tanpa ada
tanda-tanda kalah atau menang dari kedua belah pihak. Setiap malam
mendatang sampai terbit matahari mereka seolah sepakat digunakan beristirahat
memulihkan kekuatan untuk melanjutkan pertarungan. Nasa istirahat digunakan
keduanya mencari dedaun dan apa saja yang dapat dimakannya setelah itu
keduanya sama-sama beritirahat terlelap dalam kegelapan dinding goa.

Hari ketujuh medan lag beralih ke luar goa. Naka bertumbangan pohon terlibas
baku hantam. Rata tanah tercukur babatan dan injakan kaki dua manusia yang
berlaga mati-matian. Pada suatu kesempatan sekelebat mata Datuk Karungkung
Bebulu berhasil menangkap kaki Datuk Panglimo Tahan Takik dan
menghempaskannya. Bedegam bunyinya, bergetar bumi bak gempa dan
terlepaslah pedang Surik Neriang Sakti Sumbing Sembilan Puluh Sembilan dari
pegangan dan mental melayang ke udara. Kesempatan yang berharga itu
dimanfaatkan dan melayanglah Datuk Karungkung Bebulu menangkap pedang
pusaka kerajaan Selado Sumai. Kemudian melesat meninggalkan medan laga.
Tak hayal Datuk Panglimo Tahan Takik melesat pula. Saling berkejar-kejaran
menampilkan ilmu lari cpat dan kelihatan kelit berkelit disela semak dan
pepohonan. Binatang rimba berserabutan ketakutan. Tujuh lurah tujuh
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
14
pematang telah mereka lalui. Di suatu ceruk sempit mereka terhenti, karena
dihadapannya ternganga mulut seekor ular raksasa siap menelan apapun.

Entah siapa yang memulai, didapat kesepakatan siapa yang sanggup membunuh
ular itu, dialah yang berhak atas pedang Surik Neriang Sakti Sumbing Sembilan
Puluh Sembilan.

Kesempatan pertama dilakukan oleh Panglimo Tahan Takik. Dengan sebilah keris
panjang ditikamnya sekuat tenaga tubuh ular raksasa itu. Berdencing
memekakan telinga. Keris itu bengkok dan patah karena beradu dengan kulit
ular yang keras itu. Sang ular tak bergeming dan tak cidera sedikitpun. Tangan
Panglimo Tahan Takik membengkak. Sendi-sendi pergelangan, siku dan bahunya
terasa nyeri. Terangsang oleh gelak tawa Datuk Kerungkng Bebulu dengan hawa
marah meledak-ledak Panglimo Tahan Takik menghunus keris pendek dari
pinggangnya dan melesat kembali menghantam badan ular besar yang
mengerikan itu. Berkali-kali terlihat percikan api disela keplan debu yang
berterbangan. Akhirnya Panglimo Tahan Takik luruh bersimbah keringat. Tak
jauh dihadapannya ular raksasa siap melahap sambil melilitkan lidah merah
bercabangnya. Dengan langkah tegap penuh keyakinan Datu Kerungkung Bebulu
berjalan sampai dihadapan ular raksasa. Nata merahnya mendelik seram
menatao sang datuk yang berani mati berdiri beberapa depa di depan juluran
lidahnya.

Sambil menghunus pedang pusaka kerajaan yang berhasil direbutnya dari
Panglimo Tahan Takik, Datuk Kerungkung Bebulu menjulangkannya di atas
kepala sambil melapal mantra-mantra sakti. Bersamaan dengan gelegar yang
membahana dan kilat putih kebiruan keluar dari ujung senjata pusaka milik
kerajaan Selado Sumai, melesat bayangan ke arah sang ular meliuk dan melilit
tubuh raksasa yang tak sempat mengelak atau bergerak. Sebuah raungan
menggeledek dan Datuk Karungkung Bebulu melihat ke arah ular yang
berdebam bak gunung runtuh, tubuh ular raksasa menghantam bumi. Tubuhnya
terkupas terpotong tiga. Bagian kepala menuju ke arah Panglimo Tahan Takik
dan bagian ekornya seperti bernyawa meliuk ke arah Datuk Karungkung Bebulu.

Dengan sisa tenaga yang ada serta berselaput hawa marah dan kecewa yang
amat sangat. Bagian kepala ular raksasa ditendang melambung ke udara dan
lenyap dari pemandangan. Konon bagian kepala itu jatuh di Ngarai Si Anok dan
mental kembali teronggok dua yang kemudian menjadi gunung Nerapi dan
Singgalang. Bagian ekornya yang melesat, ditangkap dan dibaling-balingkan
kemudian dilemparkan jauh ke angkasa dan jatuh ke negeri Palembang mejelma
menjadi Bukit Siguntang-guntang. Sedangkan bagian perutnya yang tertinggal di
tempat itu dibiarkan dan akhirnya menjelma menjadi Bukit Siguntang. Kata-kata
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
15
guntang dalam bahasa Sansekerta berarti terlindung atau pelampung pada
pancing. Bisa juga kemungkinan guntang mengalami perubahan lafal dari kata
buntang = bangkai, yakni bangkaifbuntangnya ular raksasa. Berkat tekad dan
kegigihan Datuk Karungkung Bebulu maka terlindunglah negeri Selado Sumai
dari penjarahan Panglimo Tahan Takik dan amukan ular besar. Tak pelak lagi
lingkungan Bukit Seguntang merupakan wilayah yang ideal bagi wisata
paranormal karena menyimpan misteri magis.

Nitos tentang tokoh Datuk Kerungkung Bebulu ini merupakan salah satu cerita
rakyat Jambi yang ada di daerah Kabupaten Tebo. Tokoh Datuk Karungkung
Bebulu dipercaya masyarakat karena di daerah tersebut terdapat makam Datuk
Kerungkung Bebulu. Dari tokoh mitos inilah kemudian muncul legenda tentang
Bukit Siguntang. Oleh Junaidi T. Noor, mitos ini kemudian dituliskan dalam
sebuah buku Geografi Pariwisata Kabupaten Bungo Tebo (1999) yang diterbitkan
oleh Pemerintah Kabupaten Dati !! Bungo Tebo (pada waktu itu Bungo Tebo
masih dalam satu kabupaten. Pada tahun 2000, otonomi daerah menyebabkan
kabupaten itu terpisah menjadi dua kabupaten, yaitu kabupaten Bungo dan
kabupaten Tebo.
























°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
16
5. Dideng Dang Ayu

Dahulu kala ada seorang raja bergelar Pasak Kancing. !a dikarunia dua orang
anak, seorang putra dan seorang putri. Oleh duka kematian permaisuri, keadaan
kerajaan menjadi kacau balautak terurus, termasuklah dua putra raja bak yatim
piatu. Nasa remajanya terlunta karena sang ayah tak tentu rimbanya. Pembesar
dan orang-orang istana sudah tak peduli pada raja dan anaknya. Bisa jadi karena
tampuk kekuasaan sudah lengser dan lengsernya bukan atas garis keturunan,
maka putus pulalah ikatan kekuasaan. Atau oleh tidakan kop tak berdarah terjadi
perpindahan penguasa.

Sang putra raja tiada tahan menanggung beban tinggal di istana. Pamitlah ia
dengan adinda putri untuk merantau menguak nasib menisik rezeki ke negeri
orang. Tak ada kata yang dapat manampung kepiluan sang adik mengiringi
kepergian kakak tercinta. Terban bumi terpijak, teserpih harapan untuk
mendayung derita berdua.

Sebelum berpisah, kakak beradik membuat janji bila keduanya mempunyai
keturunan, maka keduanya akan membuhul sebuah perkawinan.

Sang kakak merantau ke negeri Pusat Jala dan kemudian menjadi raja di sana.
Dari perkawinannya lahirlah seorang putra yang diberi nama Dang Bujang.
Sementara adik perempuannya yang tinggal di Pasak Kancing memperoleh
seorang anak perempuan bernama Putri Dayang Ayu.

Garis kehidupan kedua anak manusia itu jauh berbeda. Dang Bujang hidup
sebagai anak raja, sedangkan Putri Dayang Ayu bak bumi dengan langit, bak
siang dengan malam. Putri Dayang Ayu hidup dalam kemiskinan, tapi
mempunyai kecantikan bak bidadari dari khayangan.

Nenginjak dewasa, Dang Bujang dinobatkan sebagai putra mahkota. Acara
penobatan sangat meriah. Sebuah pesta besar digelar. Semua pangeran dan
putri-putri dalam negeri dan negeri-negeri sekitar kerajaan Pusat Jala ikut
memeriahkan pesta penobatan itu.

Raja Pusat Jalo teringat akan janjinya, maka diundanglah Putri Dayang Ayu dan
ibunya. Naksud hati sang raja akan mengumumkan pertunangan Dang Bujang
dengan Putri Dayang Ayu.

Tanpa iringan kebesaran dan pakaian gemerlapan datanglah Putri Dayang Ayu
dan ibunya. Nalangnya sang nasib, hulubalang penjaga menahan di gerbang,
dikiranya pengemis menadah sedekah. Baju compang camping akan
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
17
menurunkan derajat pesta penobatan, pikir sang hulubalang. Peristiwa di pintu
gerbang menarik perhatian. Hampir seluruh peserta pesta keluar. Nereka terlena
dan terkagum akan pancaran kecantikan Putri Dayang Ayu karena berbungkus
baju lusuh dan compang camping. Dang Bujang yang sedang menari dengan
seorang putri pilihannya sepi sendiri di tengah arena. Tak pelak lagi Dang Bujang
merasa dihinakan. Tanpa tahu siapa yang datang dari anjungan istana Dang
Bujang mengusir Putri Dayang Ayu dan ibunya dengan kata-kata yang terlalu
menusuk hati.

Nerasa dihinakan tiada tara, dengan hati teramat kecewa dan keperihan yang
dalam, pulanglah Putri Dayang Ayu dan ibunya kembali ke Pasak Kancing.

Demonilah ado meh di tanjung
Karinak menjadi laro kain
Demonilah ado meh di kandang
Sanaklah menjadi orang lain

Arolah kain buekkan dinding
Buekkan dinding balai melintang
Uranglah lain kau tunjukkan runding
Lah nan sanak kau biakkan hilang

Dengan hati lara dan putus asa Putri Dayang Ayu melangkah lunglai.

Bahuma talang penyanit
Dapatlah padi di tangkai lebat
Nanolah tanggo jalan ke langit
Duduk di bumi salahlah sukat

Betapa murkanya sang Raja Pusat Jalo mendengar perlakuan Dang Bujang
terhadap Putri Dayang Ayu dan ibunya, ¨Kejar mereka dan kau tak kuizinkan
kembali ke istana ini tanpa membawa Putri Dayang Ayu." Demikianlah titah sang
raja pada putra mahkota, Dang Bujang.

Dalam perjalanan keputus-asaannya, Putri Dayang Ayu tidak kembali ke Pasak
Kancing karena ibunya wafat di perjalanan. Jadilah ia merambah hutan rimba
seorang diri berteman satwa yang ikut mengiringi. Seekor punai menyarankan
agar putri pergi ke Bukit Sekedu. !a pun dinasehati oleh dua ekor kera untuk
menemui Dewa Tua.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
18
Pada penguasa Bukit Sekedu, Nenek Rabiyah Sang Dewa Tua, tertumpahkanlah
segala keperihan duka lara sang putri. Tercengang nenek Rabiyah menyimak
kepedihan dan keputus-asaan Putri Dayang Ayu.


Ngan mendaki Bukit Sekedu
Ngan menurun dipasi merang
Ngan menangih bertudung baju
Nengenang badanlah bejalan surang

Serailah seompun di tengah laman
Anaklah punai menganjur kaki
Tinggallah dusun tinggallah laman
Tinggal sereto tepian mandi

Berbagai nasehat pertimbangan sang Dewa Tua tak bisa lagi menyurutkan
kehendak Putri Dayang Ayu untuk menyatu dengan alam. Alam masih ramah
menerimanya. Atas bimbingan dan petunjuk nenek Rabiyah, Putri Dayang Ayu
menuju telago larangan. Bergabunglah ia dengan delapan putri yang sedang
mandi gembira ria, berkecimpung menyimbah riak telaga yang membiru.
Selendang pemberian nenek Rabiyah melekat erat di tubuh putri Dayang Ayu,
ketika tubuh semampai putri terlelap di air telaga, diiringi pernik-pernik warna
pelangi.

Sementara itu, dengan berbagai rintangan onak dan duri, lembah dan bukit
banyak dituruni dan didaki, sampailah Dang Bujang ke puncak Bukit Sekedu.
Sesuai pesan bunda Putri Dayang Ayu dan isyarat satwa di rimba, bersualah
Dang Bujang dengan nenek Rabiyah. Nenek Rabiyah cukup waskita, akan
maksud pengembaraan Dang Bujang, maka disuruhnya Dang Bujang ke telaga
larangan agar dapat bersua dengan putri adik sepupunya.

Gemercik air terjun di hulu telaga larangan telah menyembunyikan kehadiran
Dang Bujang di sana. Dang Bujang bingung mendapati sembilan putri sedang
asyik mandi. Selain sama cantiknya, Dang Bujang sendiri tidak tahu yang mana
Putri Dayang Ayu, adik sepupu yang sedang dicarinya.

Sampai kesembilan bidadari menghilang bersama senja dan sinar pelangi di
angkasa, Dang Bujang hanya terpana dan terpaku dalam rasa yang tak
menentu. Kembali nenek Rabiyah ditemuinya. Pesan sang nenek, putri yang
terakhir turun ke telaga, dialah Putri Dayang Ayu.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
19
Keesokan harinya, dengan berbekal pancing pemberian nenek Rabiyah, Dang
Bujang menanti di telaga. Dengan merapal ajian yang diajarkan nenek Rabiyah,
dipancingnyalah selendang terungguk di sembulan batu. Bidadari yang sedang
turun mandi tak satu pun menyadari bahwa salah satu selendangnya telah
berada di pelukan Dang Bujang.

Betapa terkejut dan sedihnya Putri Dayang Ayu ditinggal sendiri karena tak lagi
dapat terbang bersama dewi-dewi yang lain. Pupus tali dewa dewi dimainkan
nasib peruntungan yang seorang pun tak ada yang tahu akhirnya. Tak ada
pilihan, selain mengikuti bujukan dan paksaan Dang Bujang untuk kembali ke
istana kerajaan Pusat Jalo.

Kendati pesta perkawinan Dang Bujang dengan Putri Dayang Ayu sangat meriah,
tujuh hari tujuh malam perhelatan akbar digelar, tapi tak berhasil memupus
kesedihan Putri Dayang Ayu. Gundah gulana selalu mewarnai wajah ayu sang
putri. Kebahagiaan dunia tak memupus kerinduannya pada kebahagiaan alam
dewa-dewi.

Berbagai tabib negeri telah berupaya mengobati sang putri yang semakin hari
badannya menyusut bak api dalam sekam. Puncak kerinduan tiba pada saat Putri
Dayang Ayu melahirkan. Belum habis masa nipasnya, dengan tubuh lunglai sang
putri tegak di anjungan istana. Rasa keperihan yang berbungkus kerinduan telah
menghantar doa sang putri ke singgasana Penguasa Alam.

Secara perlahan tubuh Putri Dayang Ayu terangkat melayang melewati jendela
anjungan istana. Ada rasa kasih sayang terpancar dari matanya yang bening
berkilau linangan air mata mendengar tangisan bayinya di pembaringan. Rasa
inilah yang membuhul kesempurnaannya ke alam nirwana. Sang putri tak
sepenuhnya menjelma menjadi dewi, tapi menjelma menjadi seekor elang dan
terbang membumbung tinggi ke awan. !sak kepedihan hati dan kasih sayangnya
pada anak yang ditinggalkannya terdengar sebagai kelik elang di angkasa. Orang
selalu bercerita itulah jelmaan Putri Dayang Ayu yang sedang terbang membawa
lara hatinya. Biasanya kelik itu terjadi sekitar menjelang tengah hari, disaat ia
harus menyusui anaknya yang tak pernah lagi kesampaian.








°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
20
6. Gadis Berambut Panjang

Gadis berambut panjang adalah cerita yang berasal dari Desa Air Liki, Dusun
Renah Kepayang, Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Nerangin. Cerita ini juga
sudah berkembang di daerah lain di Kabupaten Nerangin. Bukti fisik berupa
rambut panjang tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Rambut ini
disimpan dan dirawat oleh Rosdiana, keturunan ke sembilan dari pemilik asli
rambut panjang tersebut. Rambut itu sendiri sendiri memiliki panjang ±2.5
meter. Rambut panjang tersebut berbentuk jalinan dan besarnya ± dua jari
orang dewasa. Pada bagian ujung rambut tersebut terbentuk sebuah rongga.
Nenurut ahli waris, rongga tersebut merupakan tempat bersarangnya seekor
lipan putih penjaga Si Kusuk. Keunikan lain dari rambut tersebut ialah tidak
diketahuinya bagian awal dan akhir jalinan rambut tersebut. Namun, bagian
pangkal dan ujung rambut masih dapat diketahui. Bagi keturunan Si Kusuk,
rambut tersebut juga dinamakan dengan Sarang Tampuo.

Pemilik rambut panjang tersebut bernama Si Kusuk. !a berasal dari daerah
Nuaro Lolo, Kabupaten Kerinci. !a adalah seorang perempuan yang unik. Selain
berciri fisik seperti laki-laki, yakni bertubuh tinggi besar, Si Kusuk hanya
mempunyai satu buah payudara yang terletak di bagian tengah dadanya.
Rambut panjang Si Kusuk hanya tumbuh di bagian ubun-ubunnya. Sementara
pada bagian kepala yang lain hanya ditumbuhi oleh rambut layaknya pada
manusia biasa. Konon, rambut itulah sumber kesaktiannya. Rambut yang
panjang tersebut digulung dan dikonde. Untuk penguncinya, tusuk konde, ia
menggunakan sebuah pisau. Si Kusuk berangkat dari Nuaro Lolo dengan
membawa enam orang pengawal. Keenam pengawalnya tidak mengetahui
bahwa Si Kusuk sebenarnya adalah seorang perempuan. Sebaliknya, mereka
menyangka bahwa tuan mereka adalah seorang laki-laki. Sesampainya di Desa
Air Liki, Si Kusuk memutuskan untuk berdiam di sana.

Pada malam harinya, Si Kusuk mengadakan pertemuan dengan keenam
pengawalnya. !a ingin mengetahu tingkatan usia mereka. Setelah diketahui,
akhirnya Si Kusuk membeberkan jati dirinya yang sebenarnya. Setelah itu, ia
menyampaikan niatnya untuk menikahi pengawalnya yang berusia paling tua.

Dan mereka pun menikah.

Pada malam setelah pernikahan mereka sudah tidur bersama dalam satu kamar.
Akan tetapi, pagi harinya diketahui ternyata suami Si Kusuk sudah meninggal
dunia. Setelah dikuburkan, Si Kusuk menikah lagi dengan pengawalnya yang
tersisa yang usianya paling tua di antara mereka. Akan tetapi, kejadian serupa
suami yang pertama terjadi lagi. Suami ke dua Si Kusuk ditemukan meninggal
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
21
pada pagi setelah hari pernikahan. Hal itu terus berulang hingga lima dari enam
orang pengawal Si Kusuk telah meninggal setelah dinikahinya.

Sampailah akhirnya giliran pengawalnya yang terakhir. Akhirnya mereka pun
menikah. Pengawal Si Kusuk yang terakhir ini sudah menyimpan kecurigaan
tentang peristiwa kematian kelima kawan-kawannya yang sebelumnya dinikahi
oleh Si Kusuk.

Pada malam hari setelah menikah, ia tidak langsung masuk ke kamar. !a pura-
pura bekerja menganyam, membuat lukah dari rotan. Ketika Si Kusuk sudah
tidur, ia pun menuju kamar. Sesampai di dalam kamar, ia melihat ada seekor
lipan putih yang menjalar di badan Si Kusuk. !a pun segera mengambil kayu
untuk membunuh lipan tersebut. Namun, sesaat sebelum dipukul Si Kusuk
bangun dan langsung melarangnya membunuh lipan tersebut. Sebagai gantinya,
Si Kusuk memberikan obat penawar apabila digigit oleh lipan tersebut. Atas
permintaan Si Kusuk, suaminya tidak jadi membunuh lipan tersebut. Akhirnya,
mereka pun berhasil memperoleh keturunan. Hingga suatu saat Si Kusuk merasa
bahwa waktunya di dunia ini sudah berakhir, ia pun mengumpulkan anggota
keluarganya dan menjelaskan perihal tersebut. Sebelum meninggal, ia
memotong sendiri rambut yang panjang tersebut karena memang hanya dia
yang bisa memotong rambut tersebut. Setelah rambut itu dipotong barulah ia
meninggal dunia.

Setelah Si Kusuk meninggal, rambut sekaligus pisau yang digunakan sebagai
penguncinya disimpan oleh keluarganya di dalam sebuah kotak dan diletakkan di
bubungan bagian atas rumah. Setiap lebaran !dulfitri, keluarga Si Kusuk
membersihkannya dengan cara dilimaukan, yaitu mencucinya dengan
menggunakan beberapa jenis kembang yang dicampur dengan jeruk nipis.

Ada beberapa kejadian unik yang dialami oleh keturunan Si Kusuk sehubungan
dengan rambut tersebut. Di dekat rumah mereka ada pohon durian yang hampir
jatuh. Nelihat kemiringannya, apabila pohon tersebut jatuh niscaya menimpa
rumah mereka. Akhirnya mereka bersepakat untuk mengeluarkan seluruh isi
rumah agar tidak hancur tertipa runtuhan pohohn. Namun, rambut panjang
tetap ditinggalkan di rumah tersebut. Alasan mereka meninggalkan rambut
tersebut adalah sebagai sebuah pengujian apakah rambut tersebut juga memiliki
kesaktian meskipun pemiliknya sudah meninggal. Ternyata memang muncul
sebuah keanehan, pohon durian yang semula dipastikan bakal menimpa rumah
tersebut ternyata jatuhnya tidak mengenai rumah tersebut. Keanehan lain dari
rambut tersebut adalah ketika rambut tersebut dipamerkan dalam ajang
pameran di Kota Jambi. Ternyata kakak Pak Said, seorang keturunan Si Kusuk,
orang yang membawa rambut tersebut, jatuh sakit dan akhirnya meninggal
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
22
dengan penyakit yang tidak diketahui. Nenurut Pak Said, korban meninggal
dengan kondisi seluruh tubuh membengkak. Sementara itu, orang yang satu lagi
mengalami kelainan jiwa, namun akhirnya berhasil diobati oleh
paranormal.paranormal tersebut mengatakan bahwa penyebab keadaan orang
tersebut adalah akibat membawa untuk memamerkan rambut tersebut tanpa
disetujui secara ikhlas oleh seluruh keturunan Si Kusuk.

Pisau yang digunakan sebagai pasak rambut panjang itu juga memiliki keanehan.
Pernah suatu kali pisau tersebut dijual oleh salah seorang anggota keluarga.
Namun, tidak berapa lama pisau tersebut sudah ditemukan kembali di dalam peti
tempat rambut panjang itu disimpan. Keanehan lain adalah pada saat seorang
lagi keturunan Si Kusuk tertarik untuk memakai pisau tersebut. Naka ia
membuatkan sarung untuk pisau tersebut lengkap dengan kopelnya untuk
dililitkan di pinggang. Namun, tidak berapa lama setelah pisau itu dibawa, bagian
pinggang orang tersebut terkena penyakit semacam koreng yang menyebabkan
ia meninggal dunia. Keanehan ketiga yang mereka alami sehubungan dengan
pisau tersebut adalah saat Pak Said mengantarkan kakaknya menemui penghulu
kampung. Kakaknya tersebut sedang berada dalam masalah karena telah
melarikan anak gadis orang untuk diajak menikah sehingga keluarga dan kerabat
gadis tersebut berniat mencari dan mencelakakan kakaknya. Namun, Pak Said
memberanikan diri membantu kakaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Sebelum berangkat ia tidak lupa membawa pisau tersebut. Selama diperjalanan,
ternyata mereka tidak berhasil ditemukan oleh orang yang mencari kakaknya
dan meskipun jalan yang mereka lalui banyak terdapat serangga, namun mereka
tidak digigit oleh seekor serangga pun.

















°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
23
7. Lubuk Bujang Gadis

Dahulu kala hiduplah seorang bujang yang digelari oleh masyarakat dengan
Bujang Tuo. Gelar itu dilekatkan kepadanya karena usianya yang sudah tidak
muda lagi, namun ia tak kunjung menikah. bujang Tuo cukup gagah, apalagi ia
memiliki tubuh yang kekar. Bujang Tuo tinggal di desa Senamat Ulu. Desa itu
terletak di hulu batang Senamat. Penduduk desa Senamat Ulu tidak terlalu
banyak. Nereka hidup dengan mencari ikan di Batang Senamat dan sebagian
ada yang bercocok tanam.

Orang tua Bujang Tuo sebenarnya sudah lama menyinggung soal pernikahan
kepadanya, namun ia tidak begitu menanggapinya. Bagi Bujang Tuo jodoh ada di
tangan Sang Pencipta. Bujang Tuo adalah anak yang suka bekerja. Hal ini yang
membuatnya tidak begitu terbebani dengan keinginan untuk menikah.

Untuk kesekian kalinya bertanyalah ibu Bujang Tuo kepadanya, ¨Kapan lagi kau
nak menikah, Bujang, sudah rindu rasanya kami nak menimang cucu."
¨Sudahlah, Nak, biar Tuhan yang berkehendak. Aku pun hendak, namun tak
mungkin bila tiada rasa," jawab Bujang Tuo.
¨Tapi, bagaimana dengan orang kampung. Rasanya sakit telinga Nak mendengar
gunjingan mereka."
¨Sabarlah, Nak. Aku pun begitu."

Bujang Tuo pamit kepada orang tuanya untuk berjalan-jalan menenangkan
pikiran. !ba hati orang tuanya melihat nasib anak satu-satunya itu. Nereka tahu
bahwa Bujang Tuo lebih tertekan dengan sindiran penduduk kampung, namun
mereka tak dapat berbuat banyak. Nereka hanya dapat berdoa agar Bujang Tuo
segera mendapatkan jodoh dan menikah.

Bujang Tuo pergi ke Batang Senamat. Dilepasnya pautan rakitnya dan ia mulai
menyusuri Batang Senamat. Gundah juga hatinya memikirkan persoalan itu.
Sebetulnya ia juga ingin untuk menikah, namun ia tidak mau menikah dengan
gadis yang tidak disukainya. Selama ini Batang Senamat merupakan tempat
pelarian keluh kesahnya. Hamparan hutan dan bukit di kiri kanan Batang
Senamat seolah memberikan ketenangan kepadanya. !a sering berlayar jauh
untuk mengobati luka hatinya. Saat ini kata hatinya ingin pergi ke desa Senamat
yang terletak di hilir Batang Senamat.

Dalam perjalanannya, Bujang Tuo sering bersenandung untuk menghibur diri. !a
begitu mengagumi kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam yang begitu
indah, namun ia juga sering berkeluh kesah kepada Tuhan mengapa belum juga
ada jodoh untuk dirinya.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
24
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan menyanyi. Suara
itu berasal dari bukit di sisi Batang Senamat. Namun suara itu tidak terdengar
lagi ketika ia ingin menghentikan rakitnya. !ngin rasanya Bujang Tuo pergi ke
sana, namun ia juga takut kalau itu hanya igauannya. Lama ia menunggu suara
itu, namun tidak terdengar juga. Akhirnya Bujang Tuo melanjutkan
perjalanannya. Namun ia masih memikirkan peristiwa tadi. !a masih penasaran
dengan suara itu.

Keesokan harinya ia kembali melewati tempat itu. Sesampai di sana ia kembali
mendengar suara perempuan menyanyi, namun lebih mirip suara tangisan.
Ketika Bujang Tuo akan menghentikan rakitnya suara itu kembali hilang. Bujang
Tuo semakin penasaran. Namun ia masih belum berani untuk menaiki bukit
tempat suara itu berasal. !a takut kalau suara itu adalah miliki penunggu bukit
itu. Bulu kuduknya berdiri dan ia kembali melanjutkan perjalanannya. Sesampai
di rumah Bujang Tuo tak bisa tidur. !a masih penasaran dengan peristiwa di
Batang Senamat itu. !ngin rasanya ia pergi ke bukit itu, namun ia takut kalau itu
bukan suara manusia melainkan penghuni bukit itu. Tetapi selama perjalanannya
ke desa Senamat, baru hari itu ia mendengar suara perempuan menyanyi.
Bujang Tuo semakin penasaran. Setelah lama merenung, akhirnya ia berjanji bila
besok masih mendengar suara itu, maka ia akan menaiki bukit itu.

Keesokan harinya ia kembali melewati bukit itu dan ia kembali mendengar suara
perempuan menyanyi. Dengan cepat Bujang Tuo menepikan rakitnya dan
menaiki bukit mencari sumber suara itu. Suara itu semakin jelas didengarnya.
Perlahan Bujang Tuo mengintip dari balik daun-daun siapa gerangan yang
sedang menyanyi itu. !a melihat seorang perempuan sedang menangis tersedu-
sedu duduk di atas batu. !a yakin itu adalah manusia karena tak jauh dari sana
ada kebun dan sebuah rumah.

Bujang Tuo mendekati perempuan itu dan mereka pun berkenalan. Akhirnya
diketahuilah bahwa perempuan itu bernama Gadis. !a tinggal dengan kedua
orang tuanya. Hanya mereka yang tinggal di atas bukit itu. Usia Gadis sudah
tidak muda lagi. Namun selama ini ia belum mau menikah karena masih asik
dengan pekerjaan dan kebebasannya. Neskipun orang tuanya sudah berulang
kali menanyakan perihal itu kepadanya. Sekarang setelah tidak muda lagi baru
muncul keinginannya untuk menikah. itulah yang membuatnya bersedih
sehingga sering menangis. Bujang Tuo merasa bahwa jalan hidup Gadis mirip
dengan dirinya.

Semenjak saat itu, Bujang Tuo sering berkunjung ke sana. !a merasa tertarik
dengan Gadis, namun ia belum berani untuk mengungkapkannya. !a masih ingin
melihat-lihat terlebih dahulu. Bujang Tuo juga tidak menceritakan peristiwa itu
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
25
kepada orang lain termasuk orang tuanya. !a tak ingin mereka tahu sebelum ia
mendapat kepastian akan hubungan mereka. Hingga pada suatu saat Bujang
Tuo pun mengutarakan perasaannya kepada Gadis. Akan tetapi, Gadis masih
ragu dengan keseriusan Bujang Tuo. !a takut kalau-kalau Bujang Tuo hanya
bermain-main apalagi ia belum begitu mengenal asal-usul Bujang Tuo. Akhirnya
Bujang Tuo memberikan kesempatan kepada Gadis untuk memikirkannya
beberapa waktu.

Sampailah pada masa yang telah disepakati untuk bertemu. Nereka duduk di
tepi lubuk. Bujang Tuo ingin sekali mendengar jawaban Gadis. Di dalam hati ia
berdoa agar Gadis berjodoh dengannya.

¨Sampaikanlah buah renungmu, Gadis. !ngin aku segera mendengarnya."
¨Abang, bimbang aku memutuskannya. Nasih ada ragu di hati tentang
keseriusan Abang. Namun, jika benar abang bersungguh-sungguh, kelak
datanglah sebulan lagi untuk melamarku. !tulah bukti keseriusan abang."

Tanpa pikir panjang Bujang Tuo langsung menyanggupi permintaan Gadis. !a
bahagia dengan jawaban yang diberikan Gadis.

¨Baiklah, jika itu pintamu aku menyanggupinya," jawab Bujang Tuo.
¨Tapi, aku ingin abang berikrar setia dalam sumpah bahwa abang bersungguh-
sungguh. Selama ini baru abang lelaki yang mampu menggerakkan hatiku. Aku
tidak ingin semua ini hanya angan belaka. Niat baik sering banyak cobaannya,
Bang."

Bujang Tuo terdiam sesaat. !a mencoba memahami permintaan Gadis. Namun
Bujang Tuo bingung seperti apa sumpah yang dapat memberikan keyakinan
pada Gadis. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Bujang Tuo bicara juga.

¨Baiklah. Untuk kesungguhan kita aku bersumpah akan menjadi buaya di lubuk
ini seandainya kita tidak jadi menikah." gadis pun menerima sumpah yang
diikrarkan BujangTuo. !a memilih menjadi buaya di lubuk itu daripada harus
menanggung malu karena batal menikah.

Hari berganti. Sebulan telah berlalu semenjak Bujang Tuo mengikrarkan sumpah.
Pagi itu Gadis telah berada di tepi lubuk tempat dulu mereka berjanji. Gadis ingin
lekas bertemu dengan Bujang Tuo yang akan datang melamarnya sesuai
janjinya. Lama ia duduk, namun belum tampak juga olehnya Bujang Tuo.
Sampai selepas tengah hari Bujang Tuo masih juga belum datang. Gadis mulai
resah kalau-kalau Bujang Tuo tidak akan datang. Jika itu terjadi ia tak sanggup
menanggung malu kepada orang tuanya.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
26
Hari sudah mulai sore, namun Bujang Tuo belum juga menampakkan diri. Gadis
menangis. Hancur hatinya Bujang Tuo belum juga datang. Dalam kesedihan dan
keputusasaan itu keluarlah keluhannya.

¨Nengapa ketika ada keinginanku untuk menikah setelah ada orang yang
menggerakkan hatiku, semua menjadi begini? Tak sanggup aku menanggung
malu. Jika memang ini nasibku, aku terima kutukan itu."

Setelah meratap seperti itu tiba-tiba terjadi perubahan pada Gadis. Secara
perlahan mulai dari kakinya mundul sisik-sisik buaya. Lalu bentuk tubuhnya pun
mulai berubah menjadi bentuk buaya. Namun semua berwarna putih. Pada saat
kepalanya akan berubah menjadi kepala buaya, Bujang Tuo datang. Bujang Tuo
sempat melihat kepala Gadis yang belum berubah menjadi buaya, namun
terlambat. Ketika ia datang seluruh tubuh gadis telah berubah menjadi buaya.
Bujang tuo menyesali keterlambatannya. !a menangis tersedu-sedu. Dalam
kesedihan itu ia pun berkata, ¨Nengapa ini yang terjadi. Setelah datang
keinginanku untuk menikah, tapi tidak juga terkabul. Buruk sekali nasibku. Jika
ini suratanku, aku teruma kutukan itu!" Akhirnya Bujang Tuo pun berubah
menjadi seekor buaya putih.

Nereka sama-sama telah berubah menjadi buaya putih di sebuah lubuk di
Batang Senamat. Kepala mereka akan terlihat apabila air di lubuk itu surut.




















°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
27
8. Nitos Air Hitam dan Air Jernih

Daerah Air Hitam di Kabupaten Sarolangun terkenal memiliki banyak cerita
mitos. Salah satu mitos yang cukup terkenal adalah asal usul penamaan desa Air
Hitam dan desa Jernih. Nenurut cerita, dahulunya orang-orang Suku Anak Dalam
(SAD), yang lebih dikenal dengan Suku Kubu, pernah memperdebatkan tentang
air kopi dan air bening. Nenurut sebagian masyarakatnya, jika ditimbang, maka
air kopi akan lebih berat dari air bening. Sebagian lagi mengatakan bahwa air
bening lebih berat dari air kopi. Agar tidak ada lagi pertentangan, maka
diadakanlah pembuktian tentang hal tersebut dengan cara menimbangnya.

Penimbangan tersebut dilakukan oleh Datuk Temenggung Nerah Nato di puncak
Bukit Duabelas yang disaksikan oleh penghulu-penghulu dan dubalang-dubalang
Suku Kubu. Yang ditimbang pertama kali adalah masing-masing gelas tempat air
kopi dan air bening itu akan dituang. Berat kedua gelas tersebut ternyata
seimbang. Kemudian air kopi dan air bening tadi dimasukkan ke dalam gelas-
gelas tersebut. Ternyata kedua air itu juga memiliki berat yang sama.

Nelihat kejadian itu, Datuk Temenggung Nerah Nato menyatakan bahwa air kopi
dan air bening memiliki berat yang sama. Namun, tidak lama kemudian, tiba-tiba
datang angin yang sangat kencang dan menggoyang timbangan yang dipegang
oleh Datuk Temenggung Nerah Nato. Gelas yang berisi air bening terpelanting
dan jatuh di desa Jernih. Sedangkan gelas yang berisi air kopi terpental ke arah
Bukit Suban yang ada di muara desa Air Hitam.

Naka sejak saat itu masyarakat Suku Kubu mempercayai bahwa nama desa Air
Hitam dan desa Jernih berasal dari air kopi dan air bening yang ditimbang oleh
Datuk Temenggung Nerah Nato di puncak Bukit Duabelas.














°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
28
9. Padi Sebesar Kelapa

Dahulu kala di daerah Teluk Pandak terdapatlah sebuah padi sebesar buah
kelapa. Nasyarakat setempat tidak pernah tahu dari mana asalnya. Padi itu
ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar rumahnya. Padi yang ditemukan itu
bukanlah padi lengkap dengan batangnya, namun hanya sebuah biji padi
sebesar kelapa lengkap dengan cangkangnya. Penduduk Teluk Pandak percaya
bahwa padi itu merupakan titisan dari Dewi Sri. Nereka seperti mendapatkan
berkah dengan turunnya padi itu ke tempat mereka.

Saat musim tanam tiba, masyarakat membawa padi sebesar kelapa tersebut ke
sawah yang akan ditanami. Setelah padi di tanam, masyarakat berkumpul untuk
melakukan doa bersama agar padi yang ditanam mendapat berkah dari Tuhan.
Sekelompok muda-mudi membawakan tari Dewi Sri. Tarian itu diiringi oleh lagu
yang bersyair doa dan pujian kepada Tuhan. Lagu itu mereka namakan dengan
Nandung. Kulit padi mereka pukul-pukul sebagai gendang pengiring tarian Dewi
Sri.

Waktu terus berjalan. Nusim panen pun tiba. Nasyarakat kembali berkumpul dan
bersama-sama melakukan panen. Panen pertama ini mereka lakukan hanya
untuk sebagian kecil padi yang akan digunakan untuk acara makan bersama.
Saat akan menuai padi, mereka menimang-nimang padi titisan Dewi Sri itu
sambil melantunkan puji-pujian kepada Tuhan atas keberhasilan tanaman
mereka. Padi yang sudah dituai kemudian diirik dengan kaki. Setelah itu padi
dijemur. Setelah menjadi beras, padi itu dimasak dan dipersiapkanlah sebuah
acara makan bersama. Dalam acara itu padi sebesar kelapa itu kembali dibawa.
Sebelum makan mereka melagukan syair-syair yang intinya adalah syukuran,
doa mohon keberkahan, dan keselamatan kepada Tuhan. Acara makan pun
selesai. Keesokan harinya masyarakat secara bersama-sama memanen seluruh
padi.

Setelah seluruh padi selesai dipanen, tumbuhlah anak padi dari bekas batang
padi yang tinggal. ini lebih kecil. Nereka menamakan padi yang lebih kecil itu
dengan Salibu. Padi itu ukurannya lebih kecil dari ukuran padi biasa. Salibu itu
kemudian di panen. Setelah dipisahkan dari cangkangnya, Salibu kemudian
digonseng dan ditumbuk hingga berbentuk emping. Proses menggonseng hingga
menumbuk Salibu dilakukan oleh muda-mudi dari sore hingga malam hari.
Selama proses itu tidak jarang ada muda-mudi yang akhirnya berjodoh. Emping
dari Salibu kemudian dimakan bersama-sama dalam acara pernikahan muda-
mudi yang berjodoh itu.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
29
10. Putri Tangguk

Alkisah, di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci Jambi, ada seorang
perempuan bernama Putri Tangguk. !a hidup bersama suami dan tujuh orang
anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya
menanam padi di sawahnya yang hanya seluas tangguk(1). Neskipun hanya
seluas tangguk, sawah itu dapat menghasilkan padi yang sangat banyak. Setiap
habis dipanen, tanaman padi di sawahnya muncul lagi dan menguning. Dipanen
lagi, muncul lagi, dan begitu seterusnya. Berkat ketekunannya bekerja siang dan
malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar sudah hampir
penuh. Namun, kesibukan itu membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. !a
terkadang lupa mandi sehingga dakinya dapat dikerok dengan sendok. !a juga
tidak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya dan mengurus ketujuh orang
anaknya.

Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sudah tidur, Putri Tangguk berkata
kepada suaminya yang sedang berbaring di atas pembaringan.

¨Bang! Adik sudah capek setiap hari menuai padi. Adik ingin mengurus anak-
anak dan bersilaturahmi ke tetangga, karena kita seperti terkucil,?" ungkap Putri
Tangguk kepada suaminya.
¨Lalu, apa rencanamu, Dik?" tanya suaminya dengan suara pelan.
¨Begini Bang! Besok Adik ingin memenuhi ketujuh lumbung padi yang ada di
samping rumah untuk persediaan kebutuhan kita beberapa bulan ke depan,"
jawab Putri Tangguk. ¨Baiklah kalau begitu. Besok anak-anak kita ajak ke sawah
untuk membantu mengangkut padi pulang ke rumah," jawab suaminya.
¨Ya, Bang!" jawab Putri Tangguk.

Beberapa saat kemudian, mereka pun tertidur lelap karena kelelahan setelah
bekerja hampir sehari semalam. Ketika malam semakin larut, tiba-tiba hujan
turun dengan deras. Hujan itu baru berhenti saat hari mulai pagi. akibatnya,
semua jalan yang ada di kampung maupun yang menuju ke sawah menjadi licin.

Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya berangkat ke
sawah untuk menuai padi dan mengangkutnya ke rumah. Dalam perjalanan
menuju ke sawah, tiba-tiba Putri Tangguk terpelesat dan terjatuh. Suaminya
yang berjalan di belakangnya segera menolongnya. Walau sudah ditolong, Putri
Tangguk tetap marah-marah.

¨Jalanan kurang ajar!" hardik Putri Tangguk.
¨Baiklah! Padi yang aku tuai nanti akan aku serakkan di sini sebagai pengganti
pasir agar tidak licin lagi," tambahnya.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
30
Setelah menuai padi yang banyak, hampir semua padi yang mereka bawa
diserakkan di jalan itu sehingga tidak licin lagi. Nereka hanya membawa pulang
sedikit padi dan memasukkannya ke dalam lumbung padi. Sesuai dengan
janjinya, Putri Tangguk tidak pernah lagi menuai padi di sawahnya yang seluas
tangguk itu. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. !a membuat
baju untuk dirinya sendiri, suami, dan untuk anak-anaknya. Akan tetapi,
kesibukannya menenun kain tersebut lagi-lagi membuatnya lupa bersilaturahmi
ke rumah tetangga dan mengurus ketujuh anaknya.

Pada suatu hari, Putri Tangguk keasyikan menenun kain dari pagi hingga sore
hari, sehingga lupa memasak nasi di dapur untuk suami dan anak-anaknya. Putri
Tangguk tetap saja asyik menenun sampai larut malam. Ketujuh anaknya pun
tertidur semua. Setelah selesai menenun, Putri Tangguk pun ikut tidur di
samping anak-anaknya.

Pada saat tengah malam, si Bungsu terbangun karena kelaparan. !a menangis
minta makan. Untungnya Putri Tangguk dapat membujuknya sehingga anak itu
tertidur kembali. Selang beberapa waktu, anak-anaknya yang lain pun terbangun
secara bergiliran, dan ia berhasil membujuknya untuk kembali tidur. Namun,
ketika anaknya yang Sulung bangun dan minta makan, ia bukan membujuknya,
melainkan memarahinya.

¨Hei, kamu itu sudah besar! Tidak perlu dilayani seperti anak kecil. Ambil sendiri
nasi di panci. Kalau tidak ada, ambil beras dalam kaleng dan masak sendiri. Jika
tidak ada beras, ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri!" seru Putri Tangguk
kepada anak sulungnya.

Oleh karena sudah kelaparan, si Sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Namun,
ketika masuk ke dapur, ia tidak menemukan nasi di panci maupun beras di
kaleng.

¨Bu! Nasi dan beras sudah habis semua. Tolonglah tumbukkan dan tampikan
padi!" pinta si Sulung kepada ibunya.
¨Apa katamu? Nasi dan beras sudah habis? Seingat ibu, masih ada nasi dingin di
panci sisa kemarin. Beras di kaleng pun sepertinya masih ada untuk dua kali
tanak. Pasti ada pencuri yang memasuki rumah kita," kata Putri Tangguk.
¨Ya, sudahlah kalau begitu. Tahan saja laparnya hingga besok pagi! !bu malas
menumbuk dan menampi beras, apalagi malam-malam begini. Nanti
mengganggu tetangga," ujar Putri Tangguk.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
31
Usai berkata begitu, Putri Tangguk tertidur kembali karena kelelahan setelah
menenun seharian penuh. Si Sulung pun kembali tidur dan ia harus menahan
lapar hingga pagi hari.

Keesokan harinya, ketujuh anaknya bangun dalam keadaan perut keroncongan.
Si Bungsu menangis merengek-rengek karena sudah tidak kuat menahan lapar.
Demikian pula, keenam anaknya yang lain, semua kelaparan dan minta makan.
Putri Tangguk pun segera menyuruh suaminya mengambil padi di lumbung
untuk ditumbuk. Sang Suami pun segera menuju ke lumbung padi yang berada
di samping rumah. Alangkah terkejutnya sang Suami saat membuka salah satu
lumbung padinya, ia mendapati lumbungnya kosong.

¨Hei, ke mana padi-padi itu?" gumam sang Suami.

Dengan perasaan panik, ia pun memeriksa satu per satu lumbung padinya yang
lain. Namun, setelah ia membuka semuanya, tidak sebutir pun biji padi yang
tersisa.

¨Dik.! Dik.! Cepatlah kemari!" seru sang Suami memanggil Putri Tangguk.
¨Ada apa, Bang?" tanya Putri Tangguk dengan perasaan cemas.
¨Lihatlah! Semua lumbung padi kita kosong. Pasti ada pencuri yang mengambil
padi kita," jawab sang Suami. Putri Tangguk hanya ternganga penuh keheranan.

!a seakan-akan tidak percaya pada apa yang baru disaksikannya.

¨Benar, Bang! Tadi malam pencuri itu juga mengambil nasi kita di panci dan
beras di kaleng," tambah Putri Tangguk.
¨Tapi, tidak apalah, Bang! Kita masih mempunyai harapan. Bukankah sawah kita
adalah gudang padi?" kata Putri Tangguk.

Usai berkata begitu, Putri Tangguk langsung menarik tangan suaminya lalu
berlari menuju ke sawah. Sesampai di sawah, alangkah kecewanya Putri
Tangguk, karena harapannya telah sirna.

¨Bang! Pupuslah harapan kita. Lihatlah sawah kita! Jangankan biji padi, batang
padi pun tidak ada. Yang ada hanya rumput tebal menutupi sawah kita," kata
Putri Tangguk.

Sang Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa. !a hanya tercengang penuh
keheranan menyaksikan peristiwa aneh itu. Dengan perasaan sedih, Putri
Tangguk dan suaminya pulang ke rumah. Kakinya terasa sangat berat untuk
melangkah. Selama dalam perjalanan, Putri Tangguk mencoba merenungi sikap
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
32
dan perbuatannya selama ini. Sebelum sampai di rumah, teringatlah ia pada
sikap dan perlakuannya terhadap padi dengan menganggapnya hanya seperti
pasir dan menyerakkannya di jalan yang becek agar tidak licin.

¨Ya. Tuhan! !tukah kesalahanku sehingga kutukan ini datang kepada kami?"
keluh Putri Tangguk dalam hati.

Sesampainnya di rumah, Putri Tangguk tidak dapat berbuat apa-apa. Seluruh
badannya terasa lemas. Hampir seharian ia hanya duduk termenung. Pada
malam harinya, ia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjenggot panjang
mengenakan pakaian berwarna putih.

¨Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kamu mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi
hasilnya mampu mengisi dasar Danau Kerinci sampai ke langit. Tetapi sayang,
Putri Tangguk! Kamu orang yang sombong dan takabbur. Kamu pernah
meremehkan padi-padi itu dengan menyerakkannya seperti pasir sebagai pelapis
jalan licin. Ketahuilah, wahai Putri Tangguk.! Di antara padi-padi yang pernah
kamu serakkan itu ada setangkai padi hitam. Dia adalah raja kami. Jika hanya
kami yang kamu perlakukan seperti itu, tidak akan menjadi masalah. Tetapi,
karena raja kami juga kamu perlakukan seperti itu, maka kami semua marah.
Kami tidak akan datang lagi dan tumbuh di sawahmu. Nasa depan kamu dan
keluargamu akan sengsara. Rezekimu hanya akan seperti rezeki ayam. Hasil
kerja sehari, cukup untuk dimakan sehari. Kamu dan keluargamu tidak akan bisa
makan jika tidak bekerja dulu. Hidupmu benar-benar akan seperti ayam,
mengais dulu baru makan.." ujar lelaki tua itu dalam mimpi Putri Tangguk.

Putri Tangguk belum sempat berkata apa-apa, orang tua itu sudah menghilang.
!a terbangun dari tidurnya saat hari mulai siang. !a sangat sedih merenungi
semua ucapan orang tua yang datang dalam mimpinya semalam. !a akan
menjalani hidup bersama keluarganya dengan kesengsaraan. !a sangat
menyesali semua perbuatannya yang sombong dan takabbur dengan
menyerakkan padi untuk pelapis jalan licin. Namun, apalah arti sebuah
penyesalan. Nenyesal kemudian tiadalah guna.








(1) tangguk adalah alat penangkap ikan kira-kira seluas tampah penampi beras.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
33
11. Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau

Alkisah, di Negeri Jambi, ada seorang raja yang terkenal sakti mandraguna. !a
adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari Negeri Keling. Selain sakti
mandraguna, ia juga terkenal arif dan bijaksana. !a senantiasa memikirkan nasib
dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Keadaan ini membuat rakyat tenang
dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mencari nafkah. !tulah sebabnya, ia
sangat disegani oleh seluruh rakyatnya.

Pada suatu ketika, suasana tenang tersebut tiba-tiba terusik oleh kedatangan
Hantu Pirau. !a selalu datang menakut-nakuti anak-anak kecil yang sedang
bermain dan mengganggu bayi-bayi yang sedang tidur. Jika melihat bayi
ataupun anak-anak kecil, Hantu Pirau suka tertawa terkekeh-kekeh kegirangan,
sehingga anak-anak menjadi ketakutan dan bayi-bayi pun menangis. Namun, jika
para orangtua menjaga anak-anak mereka, hantu itu tidak berani datang
mengganggu. Oleh karenanya, para orangtua setiap saat harus selalu menjaga
anak-anak mereka baik ketika sedang bermain maupun tidur di buaian. Keadaan
tersebut membuat warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah
untuk pergi mencari nafkah.

Nelihat keadaan itu, para pemimpin masyarakat dari Tujuh Koto, Sembilan Koto,
dan Batin Duo Belas atau yang lazim disebut Dubalang Tujuh, Dubalang
Sembilan, dan Dubalang Duo Belas, mencoba mengusir hantu tersebut dengan
membacakan segala macam mantra yang mereka kuasai. Namun, semuanya sia-
sia. Bahkan, kelakuan hantu itu semakin menjadi-jadi. Hampir setiap saat, baik
siang maupun malam, ia selalu datang mengganggu anak-anak hingga menangis
dan menjerit-jerit ketakutan.

¨Segala cara sudah kita lakukan, tapi Hantu Pirau itu tetap saja tidak mau enyah
dari negeri ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Dubalang Tujuh
bingung.
¨Bagaimana kalau kejadian ini kita sampaikan kepada raja?" usul Dubalang
Sembilan.
¨Aku setuju. Bukankah beliau seorang raja yang sakti mandraguna?" sahut
Dubalang Duo Belas.
¨Baiklah kalau begitu! Ayo kita bersama-sama pergi menghadap kepada raja,"
kata Dubalang Tujuh.

Setelah mendapat kata mufakat, akhirnya ketiga dubalang tersebut segera
menghadap Raja Negeri Jambi. Sesampainya di istana, mereka pun segera
melaporkan semua peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka.
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
34
¨Ampun, Baginda! Kami ingin melaporkan sesuatu kepada Baginda," kata
Dubalang Dua Belas.
¨Katakanlah! Apakah gerangan yang terjadi di negeri ini, wahai Dubalang?"
tanya Raja Jambi ingin tahu.
¨Ampun Baginda! Beberapa hari ini, Hantu Pirau selalu datang mengganggu
anak-anak kami. Nula-mula mereka merasa geli dan tertawa, tapi lama-
kelamaan mereka menangis dan menjerit ketakutan," jawab Dubalang Duo
Belas.
¨Ampun, Baginda! Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Hantu Pirau itu
selalu saja datang mengganggu mereka," tambah Dubalang Sembilan.
¨Bagaimana bentuk dan rupa Hantu Pirau itu? Apakah kalian pernah
melihatnya?" tanya Raja Jambi.
¨Belum Baginda! Kami hanya sering mendengar suara gelak tawanya kegirangan
ketika anak-anak itu menangis dan menjerit-jerit," jawab Dubalang Duo Belas.

Nendengar laporan para dubalang tersebut, Raja Jambi tersenyum sambil
mengelus-elus jenggotnya yang lebat dan sudah mulai memutih. !a kemudian
beranjak dari singgasananya lalu berjalan mondar-mandir.

¨Baiklah kalau begitu. Pulanglah ke negeri kalian dan sampaikan kepada seluruh
warga yang pandai membuat lukah(1) agar masing-masing orang membuat
sebuah lukah!" titah Raja Negeri Jambi.
¨Ampun, Baginda! Untuk apa lukah itu? Bukankah sekarang belum musim
berkarang (mencari ikan)?" tanya Duabalang Duo Belas dengan penuh
keheranan.
¨Sudahlah, laksanakan saja apa yang aku perintahkan tadi! Jangan lupa, setelah
lukah-lukah tersebut selesai, segeralah memasangnya di atas bukit dengan
mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang kuat. Setelah itu, setiap pagi dan
sore kalian bergiliran ke atas bukit untuk melihat lukah-lukah tersebut!" perintah
sang Raja.

Nendengar penjelasan sang Raja, ketiga dubalang itu langsung mohon diri untuk
melaksanakan perintah. Tak satu pun dari mereka yang berani kembali bertanya
kepada raja. Dalam perjalanan pulang, mereka terus bertanya-tanya dalam hati
tentang perintah sang Raja.

Sesampainya di negeri masing-masing, ketiga dulabang itu langsung
menyampaikan perintah raja kepada seluruh warganya. Para warga hanya
terheran-heran ketika menerima perintah itu. Ketika bertanya kepada ketiga
dubalang, mereka tidak mendapat jawaban yang pasti. Sebab ketiga dubalang
itu juga tidak mengetahui maksud sang Raja.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
35
Namun karena itu adalah perintah raja, para warga pun segera membuat lukah,
meskipun dalam hati mereka selalu bertanya-tanya. Lukah-lukah tersebut
kemudian mereka pasang di atas bukit yang tak jauh dari permukiman
penduduk. Setiap pagi dan sore ketiga dubalang itu secara bergiliran naik ke atas
bukit untuk melihat dan memeriksa lukah-lukah tersebut. Pada hari pertama,
kedua, ketiga hingga hari keenam, belum menunjukkan adanya tanda-tanda
yang mencurigakan.

Pada hari ketujuh di pagi hari, Dubalang Duo Belas mendapat giliran naik ke atas
bukit untuk memeriksa lukah-lukah tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia berada
di atas bukit. !a melihat sesuatu menggelepar-gelepar di dalam sebuah lukah.
Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kecil. Nakhluk itu juga dapat berbicara
seperti manusia. Ketika Dubalang Duo Belas mendekat, makhluk aneh itu
mengeluarkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

¨Hei, sepertinya aku sering mendengar suara itu. Bukankah itu suara Hantu Pirau
yang sering mengganggu anak-anak kecil?" tanya Dubalang Duo Belas dalam
hati.

Setelah memastikan bahwa suara itu benar-benar Hantu Pirau, maka yakinlah ia
bahwa makhluk yang terperangkap dalam lukah itu pastilah Hantu Pirau. !a pun
segera melaporkan hal itu kepada Raja Negeri Jambi.

¨Ampun, Baginda! Hamba baru saja dari bukit itu. Hamba menemukan seekor
makhluk yang terperangkap ke dalam lukah. Apakah dia itu Hantu Pirau?" tanya
Dubalang Duo Belas.
¨Benar, dubalang! Bawalah Hantu Pirau itu kemari!" titah sang Raja.
¨Baik, Baginda! Hamba laksanakan!" ucap Dubalang Duo Belas seraya
berpamitan.

Sebelum menuju ke atas bukit, ia mengajak Dubalang Sembilan dan Dubalang
Tujuh untuk bersama-sama mengambil lukah tersebut. Setelah membuka tali
pengikat lukah dari tonggak, ketiga dubalang tersebut membawa lukah yang
berisi Hantu Pirau itu ke hadapan sang Raja.

¨Sudah tahukah kalian, wahai dubalang! Nakhluk inilah yang bernama Hantu
Pirau yang sering menganggu anak-anak kecil," ungkap sang Raja.
¨Nengerti Baginda!" jawab ketiga dubalang itu serentak.
¨Pengawal! Siapkan pedang yang tajam! Aku akan memotong-motong tubuh
hantu ini," perintah sang Raja kepada seorang pengawal.

°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
36
Nendengar ancaman tersebut, Hantu Pirau itu pun langsung memohon ampun
kepada Raja Negeri Jambi.

¨Ampun, Tuan! Janganlah bunuh hamba! Jika Tuan sudi melepaskan hamba dari
lukah ini, hamba akan memenuhi segala permintaan Tuan. Bukankah Tuan
adalah Raja yang arif dan bijaksana?"
¨Baiklah, kalau begitu! Aku hanya ada dua permitaan. Pertama, setelah keluar
dari lukah ini, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali mengganggu
wargaku lagi, terutama anak-anak kecil. Kedua, serahkan cincin pinto-pinto
(pinta-pinta, yakni cincin sakti, apo yang kuminta harus ado) itu kepadaku!" kata
sang Raja.

Hantu Pirau pun langsung menyanggupi permintaan Raja Jambi. Setelah
dikeluarkan dari lukah, ia pun segera menyerahkan cincin pinto-pinto nya kepada
sang Raja, lalu pergi meninggalkan Negeri Jambi. Sejak itu, Negeri Jambi tidak
pernah lagi diganggu oleh Hantu Pirau. Keadaan negeri kembali aman, damai
dan tenang.

Seluruh penduduk kembali melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan
perasaan aman dan tenang. Beberapa tahun setelah peristiwa Hantu Pirau itu,
Raja Negeri Jambi tiba-tiba berpikir ingin membuktikan kesaktian cincin pinto-
pinto pemberian Hantu Pirau. Namun karena keinginannya tidak ingin diketahui
oleh rakyat Negeri Jambi, maka ia pun menyampaikan kepada rakyatnya bahwa
dia akan pulang ke negerinya di Keling (!ndia) dalam waktu beberapa lama.

Sesampai di negerinya, Raja Jambi pun segera menguji kesaktian cincin pinto-
pinto itu.

¨Hei cincin pinto-pinto! Jadikanlah Kota Bambay ini sebagai kota yang
bertahtakan mutiara, batu permata, dan intan berlian!" pinta Raja Jambi.

Dalam waktu sekejap, suasana Kota Bombay tiba-tiba berubah menjadi
gemerlap. Seluruh sudut kota dipenuhi dengan mutiara, batu permata dan intan
berlian. Alangkah senang hati sang Raja melihat pemandangan yang indah dan
menggiurkan itu. !a pun enggan untuk kembali ke Negeri Jambi. Namun sebagai
raja yang arif dan bijaksana, beberapa tahun kemudian ia mengutus salah
seorang putranya yang bernama Sultan Baring untuk menggantikannya sebagai
Raja Jambi.

Nendapat perintah itu, Sultan Baring pun segera berangkat ke Negeri Jambi
bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Sesampainya di Negeri Jambi, ia
pun segera menyampaikan amanah ayahnya kepada seluruh rakyat Jambi bahwa
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
37
sang Ayah tidak dapat lagi memerintah Negeri Jambi karena sudah tua. Setelah
itu, ia membacakan surat pengangkatannya sebagai Raja Jambi Kedua setelah
ayahnya. Rakyat Jambi pun menyambutnya dengan gembira, karena ia juga
seorang Raja yang arif dan bijaksana seperti ayahnya. Konon, Sultan Baring
inilah yang menurunkan raja-raja, sultan-sultan maupun raden-raden berikutnya,
seperti Sultan Taha Saifuddin dan Raden !no Kartopati.



































(1) Lukah adalah salah satu jenis alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu
°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
38
Penutup

Demikian akhirnya selesai juga "Kumpulan Cerita Rakyat Daerah Jambi" saya
tulis ulang. Jika ada waktu dan saya bisa mendapatkan beberapa cerita yang lain
akan saya bagikan pada pembaca semua. Semoga tidak ada pihak yang merasa
di rugikan dan merasa keberatan. Terima kasih.

Jika ada diantara pembaca yang ingin berbagi cerita bisa berkunjung ke blog
saya di:
http:ffwww.rimbobujang.co.cc atau di http:ffwww.mamas86.wordpress.com
atau bisa kontak email di:
mamas86@yahoo.co.id atau di mamas86@gmail.com

Nohon koreksinya atas penulisan dari isi "Kumpulan Cerita Rakyat Daerah Jambi"
yang mungkin salah.




















°-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,. °-«+/-,+ 5.-s+,.
http://www.rimbobujang.co.cc

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diperbolehkan melakukan peng-copy-an atau penyebarluasan terhadap isi dari artikel ini dengan
syarat harus menyertakan sumber dari http://www.rimbobujang.co.cc
39
Daftar Pustaka

Semua isi cerita yang ada di "Kumpulan Cerita Rakyat Daerah Jambi" ini penulis
kumpulkan dari berbagai blog dan website yang pernah penulis kunjungi.
Sumber tersebut diantaranya adalah:

http:ffwww.ceritarakyatnusantara.com
http:ffwww.melayuonline.com
http:ffwww.mamas86.wordpress.com
http:ffwww.smp7kotajambi.com
http:ffwww.sriandalas.multiply.com
http:ffwww.yayasanlangit.blogspot.com
http:ffwww.google.com


Kharis Sutarno
mamas86@yahoo.co.id
http://www.rimbobujang.co.cc

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->