P. 1
Hubungan Internasional Dan Organisasi Internasional

Hubungan Internasional Dan Organisasi Internasional

|Views: 320|Likes:
Hubungan Internasional Dan Organisasi Internasional Beserta Permasalahan Internasional
Hubungan Internasional Dan Organisasi Internasional Beserta Permasalahan Internasional

More info:

Published by: 'Rizqia Azaria Asybary on Feb 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2013

pdf

text

original

Sections

HUBUNGAN INTERNASIONAL

Makalah

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Kewarganegaraan XI IPS 2

Disusun Oleh : ( Kelompok 4 ) Muhammad Latif Nadillah Nisti Yana Yuli Nur Atika Wahyuni Rizqia Azaria

KEMENTERIAN AGAMA MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 MARTAPURA Jurusan IPS 2013
Hubungan Internasional Page 1

KATAPEANTAR

ِِ‫بِسْم َِِّالرَّحْ منِِِالرَّحيم‬ ِ ِ‫َِِِللا‬ َ
Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Berkat limpahan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah Hubungan Internasional. Makalah ini kami buat untuk memberikan arahan dan tuntunan untuk membuat sebuah karya tulis dengan baik. Teks dalam makalah ini yang dijadikan sarana pembelajaran adalah teks yang otentik yakni bahan-bahan yang bersumber dari berbagai buku, majalah, koran, dan media lainnya. Pilihan bahan pun dilakukan seselektif mungkin dengan memperhatikan perkembangan kognitif, kejiwaan, dan persoalan yang aktual. Secara khusus, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada ibu H. Mulhimah selaku guru pembimbing yang telah memberikan arahan dalam menyusun makalah ini dan mau mencermati, mengkritik dan menelaah makalah ini sehingga tersusun dengan baik dan benar, selain itu kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu terjadinya makalah ini. Banyak sekali saran yang kami jadikan bahan untuk menyempurnakan makalah ini antaralain :  Kebenaran,dan isi makalah  Kontekstual materi  Kebahasaan, keterbacaan, dan kemudahan materi untuk dipahami pembaca  Performance fisik buku. Kami menyadari pada makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu,kami senantiasa mengharapkan masukan saran atau pun kritik yang bersifat konstruktif dari pembaca demi memyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bisa menjadi pembelajaran untuk kami penulis dan untuk kita semua.

Hubungan Internasional

Page 2

DAFTAR ISI
Halaman Judul ………...………………………………………………………………….. KATA PENGANTAR ….…………………………………………………………………. DAFTAR ISI .…………………………………………………………………………….... BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………… A. Latar Belakang …………………………………………………………….. B. Pembatasan Masalah …………………………………………………….. C. Rumusan masalah ………………………………………………………... D. Tujuan Penulisan …………………………………………………………. E. Metode Penulisan ………………………………………………………… BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………….. A. Hubungan Internasional …………………………………………………… 1) Pengertian Hubungan Internasional …………………………………. 2) Arti Penting Hubungan Internasional ……………………………….. 3) Sarana-sarana Hubungan Internasional ……………………………… B. Tahap - Tahap Perjanjian Internasional …………………………………… 1) Makna Perjanjian Internasional ……………………………………… 2) Istilah-istilah Perjanjian Internasional ……………………………... 3) 4) 5) Macam-Mcam Perjanjian Internasional ……………………………. Struktur Perjanjian Internasional ……………………………………. Tahap-Tahap Pembuatan Perjanjian Internasional …………………. 1 2 3 5 5 5 6 6 6 7 7 7 8 9 10 10 11 12 13 13 14 14 16 17 17 19

C. Fungsi Perwakilan Diplomatik ……………………………………………… 1) Perwakilan Diplomatik ……………………………………………….. 2) Perwakilan Konsuler ………………………………………………….. D. Organisasi Internasional …………………………………………………… 1) ASEAN (Association of Suuth East Asian Nation) ………………….. 2) Konderensi Asia-Afrika (KAA) ……………………………………….

3) PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) …………………………………… 20 E. Manfaat Kerjasama dan Perjanjian Internasional …………………………… 25 1) Bentuk-bentuk Kerjasama dan Perjanjian Indonesia dengan Negara lain…………………………………………………………………………25 2) Hasil-hasil Kerjasama dan Perjanjian Internasional yang Bermanfaat bagi Indonesia ……………………………………………………………….. 26 F. Permasalahan Internasional Tentang Penyelesaian Masalah Papua Barat…………………………………………………………………………… 26

Hubungan Internasional

Page 3

1) Penyelesaian Kasus Secara Internasional ……………………………….. 26 2) Masalah Papua Barat Harus Diselesaian Melalui Proses Hukum di Mahkama Internasional………………………………………………………………. 27 3) Fokus Perjuangan di Internasional dan Ke Internasional……………………………………………………………… 33 4) Catatan-Catatan Penting…………………………………………………… 37 BAB III PENUTUP ………………………………………………………………………… 40 A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 40 B. Saran …………………………………………………………………………... 40 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………...41

Hubungan Internasional

Page 4

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Hubungan Internasional, adalah cabang dari ilmu politik, merupakan suatu studi tentang persoalan-persoalan luar negeri dan isu-isu globaldi antara negara-negara dalam sistem internasional, termasuk peran negara-negara, organisasi-organisasi antarpemerintah, organisasiorganisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, dan perusahaan-perusahaan multinasional. Sedangkan menurut Encyclopeadia Americana, dijelaskan bahwa hubungan internasional adalah hubungan antarnegara atau antar individu dari negara-negara yang berbeda-beda, baik berupa hubungan politik, budaya, ekonomi, ataupun petahanan dan keamanan. Hubungan internasional dapat berwujud dalam berbagai bentuk sebagai berikut : a. Hubungan individu yaitu hubungan antar pribadi atau perorangan antara warga negara suatu negara dengan warga negara dari negara lain. Misalnya: turis, pelajar, mahasiswa, sarjana. b. Hubungan antar kelompok yaitu hubungan antara kelompok-kelompok tertentu dari suatu negara dengan kelompok-kelompok tertentu dari Negara lain. Misalnya: hubungan antar lembaga swadaya masyarakat. c. Hubungan antarnegara yaitu hubungan antara negara yang satu dengan negara lainnya dalam pergaulan internasional. Hubungan internasional sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup suatu negara. Selain itu, juga untuk menjamin perdamaian serta kesejahteraan hidup rakyatnya. Dalam melakukan hubungan atau kerja sama harus didasari sikap saling menghormati dan saling menguntungkan. Adapun tujuan hubungan internasional antara lain : a. Memacu pertumbuhan ekonomi setiap negara. b. Menciptakan saling pengertian antarbangsa dalam membina dan menegakkan perdamaian dunia. c. Menciptakan keadilan dan kesejahteraan social bagi seluruh rakyatnya. B. Pembatasan Masalah Masalah-masalah yang kita hadapi di dunia ini sangat kompleks karena mencakup seluruh aspek kehidupan. Berbagai permasalahan tersebut tidak hanya mencakupperhatian di negara sendiri dan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi juga menimpa suatu negara lainnya. Hal itu akan selalu melibatkan banyak negara untuk merasa perlu bertindak dan membantu memecahkannya karena mereka anggap permasalahan itu sudah menjadi bagian dari masalah global.

Hubungan Internasional

Page 5

Sebagai contoh ialah masalah lingkungan, yaitu kebakaran hutan yang pernah terjadi di Indonesia menyebabkan asap sangat tebal dan mengganggu kesehatan, tidak hanya Indonesia yang terkena dampaknya, tetapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina,Thailand. Bahkan Jepang pun turut serta merasa akibatnya. Mereka dengan penuh kesadaran dan kepedulian membantu Indonesia dalam memadamkan kebakaran hutan di Indonesia (Majalah Tempo). Fenomena sosial menunjukkan bahwa masalah sosialakan selalu senantiasa muncul dan tidak akan pernah berhenti dari muka bumi. Halini berarti masalah global akan selalu timbul seiring dengan perkembangan dunia. Dengan tekad kebersamaan melalui kerjasama internasional akan menumbuhkan semangat moral kepada suatu bangsa atau negara yang bersangkutan untuk bangkit membangun negara atau bangsanya masing-masing. C. Rumusan masalah 1. Apa pentingnya hubungan internasional bagi suatu negara? 2. Apa pentingnya perjanjian internasional bagi suatu negara? 3. Apa manfaat bagi Indonesia dalam melakukan hubungan internasional dan perjanjian internasional? 4. Bagaimana peran Indonesia dalam dunia Internasional? 5. Permasalahan Internasional? D. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pentingnya hubungan internasional bagi suatu negara. 2. Mengetahui fungsi dan jenis perjanjian internasional suatu negara. 3. Mengetahui manfaat bagi Indonesia dalam melakukan hubungan dan perjanjian internasional 4. Mengetahui peran Indonesia dalam dunia internasional. 5. Mengetahui masalah internasional. E. Metode Penulisan Pada penyusunan makalah ini kami menggunakan beberapa metode, yaitu pengumpulan data dari berbagai media yang ada yakni media cetak (buku dan surat kabar) dan media elektronik (internet).

Hubungan Internasional

Page 6

BAB II PEMBAHASAN
A. Hubungan Internasional 1) Pengertian Hubungan Internasional Menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri RI, hubungan internasional adalah hubungan antarbangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan oleh suatu Negara untuk mencapai kepentingan nasional Negara tersebut Encyclopaedia Americana dijelaskan bahwa hubungan internasional adalah hubungan antarnegara atau antarindividu dari Negara-negara yang berbeda-beda, baik berupa hubungan politik, budaya, ekonomi, ataupun hankam (pertahanan dan keamanan). Pengertian hubungan internasional menurut beberapa ahli mengungkapkan pendapat mereka. a. Charles A. Mc. Clelland Hubungan internasional adalah studi tentang keadaan-keadaan relevan yang mengelilingi interaksi. b. Tygve Nathiessen Hubungan internasional merupakan bagian dari ilmu politik dan karena itu komponen-komponen hubungan internasional meliputi politik internasional, organisasi dan administrasi internasional, dan hukum internasional c. Warsito Sunaryo Hubungan internasional merupakan studi tentang interaksi antara jenis kesatuankesatuan sosial tertentu, termasuk studi tentang keadaan relevan yang mengelilingi interaksi. Yang dimaksud dengan kesatuan-kesatuan sosial tertentu bisa diartikan sebagai; Negara, bangsa maupun organisasi Negara sepanjang hubungan bersifat internasional. Hubungan internasional dapat berwujud dalam berbagai bentuk sebagai berikut : a. Hubungan Individual yaitu hubungan antarpribadi atau perorangan (interpersonal) antar warga negara suatu Negara dengan warga negaradari Negara lain. b. Hubungan antar kelompok yaitu hubungan antar kelompok-kelompok tertentu (intergroup relation) dari suatu Negara dengan kelompok-kelompok tertentu dari Negaralain. c. Hubungan antarnegara yaitu hubungan antar Negara yang satu dengan Negara lainnya dalam pergaulan internasional.

Hubungan Internasional

Page 7

Tujuan kerja sama Internasional untuk : a. Memacu pertumbuhan ekonomi setiap Negara, b. Menciptakan saling pengertian antarbangsa dalam membina danmenegakkan perdamaian dunia,dan c. Menciptakan keadilan dan kesejahteraan social bagi seluruh rakyatnya. 2) Arti Penting Hubungan Internasional a. Memelihara dan menciptakan hidup berdampingan secara damai dan adil dengan bangsa lain. b. Secara internal adanya kekhawatiran terancam kelangsungan hidupnya terhadap berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negri. c. Untuk membangun komunikasi lintas bangsa guna mewujudkan kerjasama yang baik yang muaranya untuk memenuhi kebutuhan kepentingan nasional Negara masingmasing. d. Untuk mewujudkan tatanan dunia baru yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan dan perdamaian masyarakat dunia. e. Mencegah dan menyelesaikan konflik, perselisihan, permusuhan, atau persengketaan yang mengancam perdamaian dunia sebagai akibat adanya kepentingan nasional yang berada dia antar bangsa dan Negara didunia. f. Berpartisipasi dalam rangka ikut melaksanka ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social. Dalam menjalin hubungan antarnegara,sangat ditentukan oleh dua hal yaitu ; Kekuasaan yang berasal dari 3 sumber yaitu : 1. Sumber daya yang terdiri dari :  Geografi  Sumber daya alam  Penduduk 2. Sosio-psikologis terdiri dari :  Citra  Sikap dan harapan penduduk  Kualitas kepemimpinan 3. Kapasitas industry dan kesiapsiagaan militer :  Militer  Ekonomi  Politik  Ekologi Keamanan (security) dari Negara yang bersangkutan.

Hubungan Internasional

Page 8

3) Sarana-sarana Hubungan Internasional Yang dimaksud sarana-sarana di sini adalah berbagai pedoman-pedoman yang digunakan sebagai dasar berpijak yang dipatuhi masyarakat internasional baik tertulis maupun tidak tertulis dalam rangka menjalin hubungan internasional. Menurut J.Frankel sarana-sarana untuk menyelenggarakan hubungan internasional adalah diplomasi, propaganda, ekonomi, dan militer. a. Diplomasi Diplomasi yaitu proses komunikasi antar pelaku politik internasional dan instrument untuk mencapai tujuan kebujakan politik luar negeri suatu negara. petugaspetugas yang mewakili suatu Negara di negara lain dan berkedudukan diperwakilan diplomatik disebut diplomat. Diplomat turut bertanggung jawab dan berperan dalam mencapaitujuan diplomasi yaitu : 1) Membina, menjaga dan menyelenggarakan hubungan yang lancar dengan Negara dan pemerintahan lain. 2) Mengumpulkan dan menyampaikan informasi yang berguna. 3) Menjaga agar kepentingannegara sendiri tidak dirugikan dalam percaturan politik internasional. 4) Mempersentasekan bangsa dan Negara sendiri diluar negri 5) Melindung para warga Negara sendiri diluar negeri. Tugas diplomat dapat dibagi dalam empat fase pokok dari diplomasi yaitu sebagai berikut. 1) 2) 3) 4) 5) Perwakilan (Representation). Perundingan (Negotiation). Laporan (Reporting). Perlindungan Kepentingan Bangsa, Negara, dan Warga Negaranya di Luar Negeri. Propaganda. Propaganda adalah usaha sistematis yang digunakan untuk memengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan suatu kelompok dari kepentingan masyarakat umum. b. Propaganda Propaganda adalah usaha sistematis yang digunakan untuk mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakan suatu kelopik demi kepentingan masyarakat. c. Ekonomi Sarana ekonomi umum digunakan dalam hubungan internasional baik dimasa-masa perang atau damai.Negara pun akan mendapat keuntungan dari barang-barang yang dijual Negara lain.

Hubungan Internasional

Page 9

d. Kekuatan Militer dan Perang Kekuatan militer yang dimiliki suatu Negara sangat berpengaruh teradap hubungan internasional. Karena dengan kekuatan militer yang penuh akan menambah kepercayaan diri bagi suatu Negara untuk melakukan hubungan internasional. Sarana-sarana tersebut juga meliputi : a. Asas-asas hubungan internasional Menurut Hugo de Groot ada tiga asas dalm hubungan internasional yaitu : 1) Asas territorial yaitu Negara melaksanakan hukum bagi semua orangdan semua barang yang ada diwilayahnya. 2) Asas kebangsaaan yaitu setiap warga Negara dimanapun dia beradatetap mendapat perlakuan hokum dari negaranya. 3) Asas kepentingan umum yaitu demi untuk memelihara kepentinganumum,Negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan umum. b. Faktor-faktor penentu dalam Hubungan Internasional Faktor yang ikut menentukan seberapa besar keharusan Negara dalam mengadakan hubungan internasonal adalah sebagai berikut : 1) Kekuatan nasional 2) Jumlah penduduk 3) Sumber daya 4) Letak geografis B. Tahap - Tahap Perjanjian Internasional 1) Makna Perjanjian Internasional Perjanjian yang dibuat oleh Negara senagai salah satu subjek hukum internasional, yang diatur oleh hukum internasional yang berisikan ikatan-ikatanyang mempunyai akibatakibat hukum. Beberapa pengertian perjanjian internasional antara lain sebagai berikut. a. G. Schwarzenberger Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara subjek-subjek hukum internasional yang menimbulkan kewajiban-kewajiban yang mengikat dalam hukum internasional, dapat berbentuk bilateral maupun multilateral. b. Michel Virally Sebuah perjanjian merupakan perjanjian internasional bila melibatkan dua atau lebih Negara atau subjek internasional dan diatur oleh hukum internasional. c. Mochtar Kusumaatmadja Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu.

Hubungan Internasional

Page 10

d. UU No. 24 Thun 2000 tentang Perjanjian Internasional Perjanjian internasional yaitu perjanjian dalam bentuk dan nama tertentu diatur dalam hokum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang public. Menurut fungsinya perjanjian internasional dibagi menjadi dua yaitu : a. Perjanjian yang membentuk hokum (law making treaties) yaitu perjanjian yang bisa menimbulkan ketentuan/kaidah-kaidah hokum bagi masyarakat internasional b. Perjanjian yang bersifat khusus (treaty contract) yaitu perjanjianyang menimbulkan hak dan kewajiban bagi pihak yang melaksankan perundingan saja. 2) Istilah-istilah Perjanjian Internasional 1. Traktat (treaty) yaitu persetujuan yang dilakukan oleh dua Negara atau lebih yang mengadakan hubungan antar mereka. 2. Konvensi (convention) yaitu persetujuan resmi yang bersifat multilateral atau persetujuan yang diterima oleh organ dari suatuorganisasi internasional. 3. Deklarasi (declaration) yaitu pernyataan mengenai suatu masalah dalam bidang polik, ekonomi, ataupun hukum. 4. Piagam (statue) yaitu himpunan-himpunan peraturan yang ditetapkanoleh persetujuan internasional, baik tentang pekerjaan kesatuan-kesatuan tertentu maupun ruang lingkup hak, kewajiban, tugas, wewenang, dan tanggung jawab lembaga-lembaga internasional. 5. Pakta (pact) yaitu traktat dalam pengertian sempit yang padaumumnya berisi materi polotis. 6. Persetujuan (agreement) yaitu suatu pejanjian internasional yang lebih bersifat teknis administratif. 7. Protocol (protocol) yaitu persetujuan yang isinya melengkapi (suplemen) suatu konvensi dan pada umumnya dibuat oleh kepala Negara. 8. Perikatan (arrangement) yaitu suatu perjanjian yang biasanyadigunakan untuk transaksi-transaksi yang bersifat sementara dan tidak seformal traktat dan konvensi. 9. Modus Vivendi yaitu dokumen untuk mencatat persetujuan yang bersifat sementara. 10. Charter yaitu istilah yang digunakan dalam perjanjian internasional untuk pendirian badan yang melakukan fungsi administratif. 11. Pertukaran nota (exchange of notes) yaitu metode tak resmi,yangsering digunakan dalam praktik perjanjian internasional. 12. Proses verbal yaitu catatan-catatan atau ringkasan ±ringkasan atau kesimpulankesimpulan konferensi diplomatik atau catatan-catatansuatu permukafan. 13. Covenant merupakan anggaran dasar dari PBB

Hubungan Internasional

Page 11

14. Ketentuan umum (general act) yaitu traktat yang dapat bersifat resmidan tidak resmi. 15. Kompromis yaitu tambahan atas persetujuan yang telah ada. 16. Ketentuan penutup (final act) yaitu ringkasan hasil-hasil konferensin yang menyebutkan Negara-negara peserta,utusan-utusan dari Negarayang turut berunding. 3) Macam – Macam Perjanjian Internasional a. Berdasarkan jumlah peserta 1. Perjanjian bilateral 2. Perjanjian multilaterl b. Berdasarkan strukturnya 1. Perjanjian bilateral 2. Perjanjian multilaterl c. Berdasarkan subyeknya 1. Perjanjian antarnegara 2. Perjanjian internasional antarnegara 3. Perjanjian antarsesama subjek hokum internasional d. Berdasarkan cara berlakunya 1. Perjanjian internasinal yang bersifat self executing 2. Perjanjian internasinal yang bersifat non self executing e. Berdasarkan isinya 1. Segi politis 2. Segi ekonomi 3. Segi hokum 4. Segi batas wilayah 5. Segi kesehatan f. Berdasarkan proses/tahapan pembentukannya 1. Perjanjian bersifat penting 2. Perjanjian bersifat sederhana Wisnu Situni mengungkapkan pendapatnya : a. Perjanjian internasional tertulis b. Perjanjian internasional lisan, Adapun macam-macam perjanjian internasional tidak tertulis, antara lain : 1. Perjanjian internasional lisan 2. Deklarasi unilateral atau deklarasi sepihak 3. Persetujuan diam-diam 4) Struktur Perjanjian Internasional a. Judul

Hubungan Internasional

Page 12

b. c. d. e. f.

Preambule Klausula substantive Klausula formal Pembuktian formal Tanda tangan delegasi

5) Tahap – Tahap Pembuatan Perjanjian Internasional Menurut UU No. 24 Tahun 2000, tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional adalah sebagai berikut. a. Penjajakan
Pada tahap ini dilakukan oleh pihak-pihak yang berunding mengenal kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian.

b.

Perundingan (Negotiation) Pada tahap ini dilakukan pembahasan isi perjanjian dan masala h - m a s a lah teknis yang akan disepakati dalam perjanjian internasional. Perumusan Naskah Perjanjian Tahap ini merupakan tahap dimana rancangan suatu perjanjian internasional dirumuskan. Penerimaan Naskah Perjanjian (Adoption of the Text) Penerimaan naskah perjanjian merupakn tindakn untuk menyetujui garis-garis besar isi perjanjian, misalnya persetujuan mengenai topik-topik atau bab-bab yang akan diatur dalam perjanjian. Penandatanganan (Signature) Penandatanganan ini merupakan tahapan-tahapan untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian internasional ya n g t elah disepakati. Pengesahan Naskah Perjanjian (Authentication of the Text) Pengeshan adalah pembuatan hokum untuk mengikatkan diri pada suatu perjanjian internasional dalam bentuk retifikasi, aksesi, penerimaan, dan persetujuan. Dalam Konvensi Wina Tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional

c.

d.

e.

f.

disebutkan bahwa pembuatan perjanjian internasional baik bilateral maupun multilateral dilakukan tahap-tahap sebagai berikut. a. Perundingan (Negotiation) Perundingan merupakan tahap awal dalam perjanjian antar pihak/ Negara tentang objek tertentu. b. Penandatanganan (Signature) Pada umumnya penandatangan lilakukan oleh para menteri luar negri (Menlu) atau kepala pemerintahan. c. Pengesahan (Ratification)

Hubungan Internasional

Page 13

Suatu Negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarata pabila telah disahkan oleh badan berwenang (treaty making powers) dinegaranya. Ratifikasi perjanjian internasional dapat dibedakan sebagai berikut. 1) Ratifikasi oleh badan eksekutif, biasa dilakukan raja-raja absolute dan pemerintahan otoriter. 2) Ratifikasi oleh badan legislatif. 3) Ratifikasi campuran (DPR dan pemerintah), paling banyak digunakan karena peranan legisatif dan eksekutif sama-sama menentukan dalam proses ratifikasi suatu perjanjian. C. Fungsi Perwakilan Diplomatik Tujuan diplomasi : 1. Membina, menjaga dan menyelenggarakan hubungan yang lancer dengan Negara dan pemerintahan lain. 2. Mengumpulkan dan menyampaikan informasi yang berguna 3. Menjaga agar kepentingan negara sendiri tidak dirugikan dalam pencaturan politik internasional 4. Mempersentasikan bangsa dan negara sendiri di luar negeri 5. Melindungi para warga Negara sendiri di luar negeri Diplomat mempunyai tiga fungsi dasar, yaitu : 1. Sebagai Lambang 2. Sebagai Perwakilan Diplomatik 3. Sebagai Wakil Yuridis yang Sah Menurut Hukum dan Hubungan Internasional 1) Perwakilan Diplomatik Perwakilan diplomatik adalah lembaga kenegaraan diluar negeri yang bertugas dalam membina hubungan politik dengan Negara lain. Ketentuan mengenai perwakilan diplomatik diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 13 yaitu sebagai berikut : 1. Presiden mengangkat duta dan konsul. 2. Presiden menerima duta Negara lain. 3. Dalam mengangkat duta,presiden memperhatikan pertimbangan DPR. Tugas dan fungsi perwakilan diplomatik.  Menurut Kongres Wina Tahun 1961, perwakilan diplomatik memiliki fungsi sebagai berikut. 1. Mewakili Negara pengirim di dalam Negara penerima 2. Melindungi kepentingan Negara pengirim dan warga negaranya di Negara penerima dalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum internasional

Hubungan Internasional

Page 14

3. Mengadakan persetujuan dengan pemerintah Negara penerima 4. Memberikan keterangan tentang kondisi dan perkembangan Negara penerima, sesuai dengan undang-undang dan melaporkan kepada pemerintah Negara pengirim 5. Memlihara hubungan persahabatan antara kedua Negara.  Adapun fungsi diplomatik dalam arti politis adalah sebagai berikut. 1. Mempertahankan kebebasan Negara terhadap imperialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya dengan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 2. Mengabdi kepada kepentingan nasional dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur. 3. Menciptakan persahabatan yang baik dengan semua Negara guna menjamin pelaksanaan tugas Negara diplomatic.  Seorang perwakilan diplomatik mempunyai tugas umum yang mencakup hal-hal sebagai berikut. 1. Representasi, yaitu selain untuk mewakili pemerintah negarnya ia juga dapat melakukan protes, mengadakan penyelidikan pertanyaan dengan pemerintah Negara penerima dan mewakili kebijakan politik pemerintah negaranya 2. Negosiasi, yaitu untuk mengadakan perundingan atau pembicaraan baik dengan Negara di mana ia diakreditasi maupun dengan Negara lain 3. Observasi, yaitu unntuk menelaah dengan teliti setiap kejadian atau peristiwa di Negara penerima yang mungkin dapat memengaruhi kepentingan negaranya. 4. Proteksi, yaitu untuk melindungi pribadi, harta benda, dan kepentingan-kepentingan warga negaranya yang berada di luar negeri. 5. Relationship, yaitu untuk meningkatkan hubungan persahabatan antarnegara pengirim dengan Negara penerima, baik di bidang ekonomi, kebudayaan maupun ilmu pengetahuan dan teknologi Perangkat-perangkat Perwakilan Diplomatik Pelaksanaan peranan perwakilan diplomatic guna membina hubungan dengan Negara lain, berdasarkan Kongres Wina Tahun 1815 dan Kongres Aux La Chapella Tahun 1818 (Kongres Achen) dilakukan oleh perangkat-perangkat sebagai berikut. a. Duta Besar Berkuasa Penuh (Ambassador) Adalah tingkatan tertinggi dalam perwakilandiplomatik.mempunyai kekuasaan penuh dan luar biasa, ditempatkan pada Negara yang banyak hubungan timbale balik. b. Duta (Gerzant) Adalah kepangkatan yang setingkat lebih rendah dari duta besar,menyangkut kedua Negara harus dikonsoltasikan dengan pemerintah negaranya.

Hubungan Internasional

Page 15

c. Menteri Residen (Minister Resident) Adalah mereka yang tidak dianggap sebagai wakil kepala Negara, hanya ditempatkan untuk mengurus urusan-urusannegaranya. d. Kuasa Usaha (Charge de affaires) Kuasa usaha yang tidak diperbantukan kepada kepala Negara dapat dibedakan atas: 1) Kuasa usaha tetap yang menjabat kepala dari suatu perwakilan. 2) Kuasa usaha sementara yang melakukan pekerjaan dari kepala perwakilan ketika pejabat ini belum atau tidak ada di tempat e. Atase-Atase Atase terdiri atas dua bagian yakni sebagai berikut. 1) Atase Pertahanan 2) Atase Teknis Dalam arti luas, diplomasi meliputi seluruh kegiatan politik luar negeri yang berperan sebagai berikut. 1. Menetukan tujuan dengan menggunakan semua daya dan tenaga dalam mencapai tujuan tersebut 2. Menyesuaikan kepentingan bangsa lain dengan kepentingan nasional sesuai dengan tenaga dan daya yang ada. 3. Menentukan apakah tujuan nasional sejalan atau berbeda dengan kepentingan Negara lain. 4. Menggunakan sarana dan kesempatan ayng ada dengan sebaik-baiknya. 2) Perwakilan Konsuler Korps perwakilan konsuler bekerja pada kantor-kantor konsulat yang berupa: 1. Kantor konsulat jenderal (consulate general) 2. Kantor konsulat (consulate) 3. Kantor wakil konsulat (vice consulate), dan 4. Kantor perwakilan konsuler (consuler agency) Golongan kepala-kepala kantor konsuler. a. Konsul Jenderal
Konsul jenderal mengepalai kantor konsulat jenderal yang dapatmembawahi beberapa konsuler.

b. Konsul Konsul mengepalai kantor konsulat yang membawahi suatu daerak kekonsulan. c. Konsul Muda Konsul muda mengepalai kantor wakil konsulat yang ada di dalam suatu daerah kekonsulan. d. Agen Konsul

Hubungan Internasional

Page 16

Agen konsul diangkat oleh konsul jenderal atau oleh konsul dan ditugaskan menandatangani beberapa haltertentu yang berhubungandengan kekonsulan biasanya ditempatkan dikota-kota yang termasuk kekonsulan. Perwakilan konsuler menjalankan fungsi sebagai berikut. Melaksanakan usaha peningkatan hubungan dengan Negara penerima di bidang perekonomian, perdagangan, perhubungan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan Melindungi kepentingan nasional Negara dan warga Negara yang berada dalam wilayah kerjanya. Melaksanakan pengamatan, penilaian, dan pelaporan. Menyelenggarakan bimbingan dan pengawasan terhadap warga Negara di wilayah

1. 2. 3. 4.

kerjanya. 5. Menyelenggarakan urusan pengamanan, penerangan, konsuler, protocol, komunikasi, dan persandian. 6. Melaksanakan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan,perlengkapan, dan urusan rumah tangga perwakilan konsuler D. Organisasi Internasional 1) ASEAN (Association of Suuth East Asian Nation) a. Latar Belakang 1. Persamaan bidang kebudayaan, bahasa, tata karma, dan pola kehidupan. 2. Persamaan senasib akibat ditindas bangsa penjajah 3. Persamaan letak geografis yang strategis dalam pencaturan politik dan ekonomi masyarakat 4. Berakhirnya konfrontasi yang timbul di Asia Tenggara, yaitu antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina b. Dasar atau Prinsip Utama ASEAN 1. Saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap Negara. 2. Mengakuo hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang bebas dari campur tangan luar, subversi dan intervensi dari luar. 3. Tidak saling turut campur urusan dalam Negara masing-masing 4. Penyelesaian perbedaan atau pertengkaran dan persengketaan secara damai 5. Tidak mempergunakan ancaman (menolak penggunaan kekuatan) militer 6. Menjalankan kerja sama secara efektif antara anggora c. Tujuan 1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan kebudayaan

Hubungan Internasional

Page 17

2. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional 3. Meningkatkan kerja sama yang aktif 4. Saling memberikan bantuan 5. Bekerja sama dengan lebih efektif 6. Memelihara kerja sama yang erat dan berguna d. Peranan 1. ASEAN Regional Forum (ARF) 2. ASEAN Mempelopori Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC) 3. Peranan ASEAN dalam Masalah di Asia Timur 4. Menyelesaikan Persoalan ASEAN Vegetable Oil Club (AVOC) e. Penyelenggaraan KTT ASEAN 1. KTT ASEAN I di Bali, tahun 1976 (Indonesia) 2. KTT ASEAN II di Kuala Lumpur, tahun 1977 (Malaysia) 3. KTT ASEAN III di Manila, tahun 1987 (Filipina), dan masih banyak lagi. f. Struktur Organisasi ASEAN 1. ASEAN Summit, yaitu pertemuan para kepala pemerintahan se ASEAN. Konferensi Tingkat Tinggi ini merupakan lembaga pembuat keputusan tertinggi dalam ASEAN. Didahului dengan pertemuan para menteri ekonomi dan menteri luar negeri ASEAN. 2. ASEAN Miniterial Meeting (AMM), yaitu siding para menteri luar negeri ASEAN yang merumuskan garis kebijakan dan koordinasi kegiatan ASEAN. 3. ASEAN Economic Ministers (AEM) adalah siding para menteri ekonomi untuk meneruskan kebijakan yang telah dirumuskan. Sidang ini 2 kali setahun. 4. ASEAN Finance Meeting (AFMM) adalah siding para menteri keuangan ASEAN merumuska kebijakan ASEAN di bidang keuangan. 5. Other ASEAN Ministerial Meeting (OAMM) yaitu siding para menteri non ekonomi merumuskan kebojakan selain ekonomi seperti pendidikan, keshatan penerangan, sosbud, teknologi, ilmu pengetahuan, perburuhan. 6. ASEAN Standing Committee (ASC) komisi tetap ASEAN dipimpin oleh menteri luar negeri dari Negara yang mendapat giliran manjadi Ketua yaitu tuan rumah dari siding tahunan para menteri luar negeri ASEAN. 7. ASEAN Secretariat yaitu sekretaris ASEAN yang berfungsi untuk memprakarsai, member nasehat dan pertimbangan dan mengkoordinasikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan ASEAN. 2) Konderensi Asia – Afrika (KAA) a. Latar Belakang Penyelenggaraan Konferensi Asia – Afrika (KAA) 1. Kedua benua saling berdekatan letaknya dan saling melengkapi di dalam berbagai bidang kehidupan

Hubungan Internasional

Page 18

2. Kedua benua mempunyai persamaan dalam bidang kebudayaan, kedua benua dipertalikan oleh adanya hubungan keturunan agama, dasar-dasar falsafah, budi pekerti, dan bahasa orang Timur. 3. Kedua Negara memiliki persamaan nasib sebagai korban penjajagan bangsa Barat b. Tujuan Konferensi Asia – Afrika (KAA) 1. Memajukan kerja sama antarbangsa Asia-Afrika untuk mengembangkan kepentingan bersama, persahabatan dan berhubungan bertetangga baik. 2. Mempertimbangkan masalah-masalah khusus bangsa di Asia-Afrika 3. Mempertimbangkan masalah-masalah sosial, ekonomi dan kebudayaan Negara anggota. 4. Meninjau kedudukan Asia dan rakyatnya di dunia ini c. Penyelenggaraan Konferensi Asia – Afrika (KAA) di Bandung Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan pada tanggal 18 – 25 April 1955 di Bandung. KAA memuat pokok-pokok pembicaraan yang mencerminkan masala-masalah internasional yang hangat pada waktu itu. Masalah-masalah tersebut antara lain : 1. Kerja Sama Ekonomi 2. Kerja Sama di Bidang Kebudayaan 3. Hak-Hak Asasi Manusia 4. Masalah Bangsa yang Belum Merdeka (Terjajah) 5. Masalah Perdamaian Dunia dan Kerja Sama Internasional d. Hasil Koferensi Asia-Afrika Konferensi Asia-Afrika menghasilkan keputusan yang ikenal engan Dasasila Bandung. Beberapa isi Dasasila Bandung adalah : 1. Menghormati hak dasar manusia sebagaimana tercantum dalam piagam PBB 2. Menghormati kedaulatan dan integritas territorial semua Negara 3. Mengakui persamaan semua bangsa, baik besar maupun kecil 4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan masalah dalam Negara-negara lain 5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendiri maupun secara kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB 3) PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) a. Latar Belakang PBB Berdirinya PBB adalah ketika pada tanggal 10 Januari 1920 dibentuklah satu organisasi internasional yang iberi nama Liga Bangsa-bangsa (League of Nation), atas usul Presiden AS, Woodrow Wilson. Tujuannya adalah mempertahankan perdamaian internasional dan meningkatkan kerja sama internasional. Tujuan PBB.

b.

Hubungan Internasional

Page 19

c.

1) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional. 2) Mengembangkan hubungan-hubungan persaudaraan antara bangsa-bangsa. 3) Menciptakan kerjasama dalam memecahkan masalah usaha internasional dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan hak asasi. 4) Menjadikan PBB sebagi pusat usaha dalam mewujudkan tujuan bersama cita-cita di atas. Prinsip-Prinsip PBB 1. Negara anggota memiliki kedaulatan sederajat. 2. Negara anggota mematuhi piagam PBB 3. Negara-negara menyelesaikan perselisihan dengan cara damai

4. Negara-negara menghindari penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan. 5. Negara anggota membantu PBB d. Struktur Organisasi PBB 1. Majelis Umum

2.

Tugas dan kekuasaan Majelis Umum sangat luas, yaitu sebagai berikut : 1) Berhubungan dengan perdamaian dan keamanan internasional, 2) Berhubungan dengan kerja sama ekonomi, kebudayaan, pendidikan, kesehatan dan perikemanusiaan, 3) Berhubungan dengan perwakilan internasional termasuk daerah yang belum mempunyai pemerintahan sendiri yang bukan daerah strategis, 4) Berhubungan dengan keuangan, 5) Penetapan keanggotaan, 6) Mengadakan perubahan piagam, 7) Memilih anggota tidak tetap Dewan Keamanan, Ekonomi, dan Sosial, Dewan Perwalian, Hakim Mahkamah Internasional, dan sebagainya. Dewan Keamanan (Security Council) Dewan Keamanan PBB adalah badan terkuat di PBB. Tugasnya adalah menjaga perdamaian dan keamanan antar negara. Sedangkan badan PBB lainnya hanya dapat memberikan rekomendasi kepada para anggota. Dewan Keamanan mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan para anggota di bawah Piagam PBB. Dewan Keamanan mengadakan pertemuan pertamanya pada 17 Januari 1946 di Church House, London dan keputusan yang mereka tetapkan disebut Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dewan Keamanan terdiri dari lima anggota tetap yang mempunyai hak veto, yakni: Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Prancis, dan Cina, ditambah dengan 10 anggota tidak tetap yang dipilih untuk masa 2 tahun oleh Majelis Umum. Hak

Hubungan Internasional

Page 20

veto adalah hak untuk membatalkan keputusan atau resolusi yang diajukan oleh PBB atau Dewan Keamanan PBB. Hak veto sampai dengan sekarang, hanya dimiliki negara-negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dewan keamanan diberi hak dan wewenang untuk menentukan suatu hal atau masalah yang dianggap mengganggu perdamaian, mengancam perdamaian, atau tindakan agresif. Selanjutnya, sebagai tambahan, ada suatu komite staf militer dari negara anggota tetap dan dimaksudkan agar dapat mempersiapkan tindakan segera apabila terdapat ancaman perdamaian. Dewan Keamanan diberikan wewenang untuk melakukan tindakan segera guna menjaga ketertiban dan keamanan dunia. 3. Dewan Ekonomi dan Sosial (Economic and Social Council atau ECOSOC) ECOSOC (Dewan Ekonomi dan Sosial) beranggotakan 18 negara, kemudian dengan amandemen tahun 1963 yang mulai berlaku tahun 1965 bertambah menjadi 27 negara. Berdasarkan amandemen tahun 1971, yang berlaku tahun 1975, jumlah anggota berubah lagi menjadi 54 negara. Dewan Ekonomi dan Sosial dipilih oleh Sidang Umum untuk masa 3 (tiga) tahun dan bersidang sedikitnya tiga kali dalam setahun. Tugas ECOSOC adalah sebagai berikut. 1) Bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan sosial yang digariskan oleh PBB. 2) Mengembangkan ekonomi, sosial dan budaya. 3) Memupuk hak asasi manusia. 4) Mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dari bidang khusus dengan berkonsultasi dan menyampaikannya pada sudang umum kepada mereka dan anggota PBB. Dewan Perwalian (Trusteeship Council) Dewan Perwalian atau Trusteeship Council , merupakan lembaga PBB yang dibentuk dalam rangka untuk mendorong, membantu mengusahakan kemajuan penduduk Daerah perwalian untuk mencapai kemerdekannya. Kompoisis Dewan Perwalian terdiri dari : 1) Anggota yang menguasai daerah perwalian, 2) Anggota tetap Dewan Keamanan, 3) Sejumlah anggota yang dipilih untuk selama 3 tahun oleh Sidang Umum. Fungsi Dewan Perwalian adalah: 1) Mengusahakan kemajuan penduduk daerah perwalian dalam negara untuk mencapai kemerdekaan sendiri,

4.

Hubungan Internasional

Page 21

5.

2) Memberikan dorongan untuk menghormati hak-hak manusia, 3) Melaporkan hasil pengawasan kepada Sidang Umum PBB. Piagam PBB menyebutkan bahwa kolonialisasi harus dihapuskan. Oleh sebab itu, daerah yang belum merdeka diusahakan oleh Dewan Perwalian untuk mendapatkan kemerdekaannya. Pada umumnya sekarang daerah-daerah perwalian itu sudah merdeka. Mahkamah Internasional (International Court of Justice) Mahkamah Internasional ialah badan perlengkapan PBB yang berkedudukan di Den Haag(negara Belanda). Anggotanya terdiri atas ahli hukum dari berbagai negara anggota PBB. Masa jabatan mereka adalah 9 tahun, sedangkan tugasnya adalah memberikan saran dan pendapat kepada Dewan Keamanan dan Majelis Umum bila diminta. Mahkamah Agung Internasional merupakan Mahkamah pengadilan tertinggi di seluruh dunia. Mahkamah Internasional terdiri atas 15 orang hakim yang dipilih dari 15 orang hakim yang dipilih dari 15 negara berdasarkan kecakapannya dalam hukum. Semua anggota PBB adalah Piagam Mahkamah Internasional. Negara-negara bukan anggota PBB juga menjadi peserta Piagam Mahkamah Internasional menurut ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Majelis Umum atas usul Dewan Keamanan. Negara-negara yang menyetujui Mahkamah Internasional setiap waktu dapat menanyakan bahwa mereka dengan sendirinya akan tunduk kepada keputusan-keputusan Mahkamah Internasional, termasuk dalam hubungan mereka dengan salah satu negara, asalkan negara yang terakhir ini menyatakan akan tunduk juga. Mahkamah Internasional dalam mengadili suatu perkara berpedoman pada perjanjian-perjanjian internasional (traktat-traktat dan kebiasaan-kebiasaan internasional) sebagi sumber-sumber hukum. Keputusan Mahkamah Internasional merupakan keputusan terakhir walaupun dapat dimintakan banding. Di samping pengadilan Mahkamah Internasional, terdapat juga pengadilan arbitrasi internasional. Arbitrasi hanya untuk perselisihan hukum, dan keputusan para arbitet tidak perlu berdasarkan peraturan-peraturan hukum. Tugas pokok Mahkamah Internasional adalah mencakup hal-hal berikut : 1) Memeriksa perselisihan atau sengketa antara negara-negara anggota PBB yang diserahkan kepada Mahkamah Internasional. 2) Memberi pendapat kepada Majelis Umum tentang penyelesaian sengketa antara negara-negara anggota PBB.

Hubungan Internasional

Page 22

6.

3) Menganjurkan Dewan Keamanan PBB untuk bertindak terhadap salah satu pihak yang menghiraukan keputusan Mahkamah Internasional. 4) Memberi nasihat tentang persoalan hukum kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan. Sekretariat Sekretariat PBB adalah salah satu badan utama dari PBB dan dikepalai oleh seorang Sekretaris Jendral PBB, dibantu oleh seorang staff pembantu pemerintah sedunia. Badan ini menyediakan penelitian, informasi, dan fasilitas yang dibutuhkan oleh PBB untuk rapat-rapatnya. Badan ini juga membawa tugas seperti yang diatur oleh Dewan Keamanan PBB, Sidang Umum PBB, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB dan badan PBB lainnya. Piagam PBB menyediakanpara staff dipilih berdasarkan aplikasi standar efisiensi, kompeten, dan integritas tertinggi, dikarenakan kepentingan mengambil dari tempat geografi yang luas. Tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai sekretaeis jendral PBB adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Trigve Lie dari Norwegia (1946-1953) Dag Hammarskjold dari Swedia (1953-1961) U Than dari Myanmar (1961-1971) Kurt Waldheim dari Austria (1972-1981) Javier Perez de Cuellar dari Peru (1982-1991) Butros-Butros Ghalia dari Mesir (1991-1996) Kofi Anan dari Ghana (1997-2006) Ban Ki-Moon dari Korea Selatan, mulai menjabat di tahun 2007

Badan Khusus PBB (Specialized Agencies) : 1. ILO (International Labour Organizatiaon) yaitu Organisai buruh internasional didirikan pada tanggal 11 April 1919 bermarkas di Jenewa, Swiss. Bertujuan memelihara perdamaian abadi dengan memajukan keadilan ekonomi, social dan memperbaiki syarat perburuhan dan tingkat kehidupannya. FAO ( Food and agriculture Organization) yaitu organisasi bahan makanan dan pertanian PBB didirikan pada tanggal 16 Oktober 1945 bermarkas di Roma, Italia. Badan ini bertujuan meningkatkan perdamaian dan effisiensi produksi dan distribusi hasil makanan dan pertanian, hutan, perbaiki hidup penduduk desa. UNESCO (United Nations educational Scintific and Cultural Organization) , yaitu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan yang didirikan pada tanggal 4 November 1946 bermarkas di Paris, Prancis. Badan ini bertujuan member sumbangan

2.

3.

Hubungan Internasional

Page 23

4.

5.

6.

kearah perdamaian dan keamanan dengan memajukan kerjasama antar bangsa-bangsa melalui pendidikan, pengetahuan. WHO (World Health Organization) yaitu organisasi kesehatan Dunia yang didirikan pada tanggal 7 April 1948 bermarkas di Jenewa , Swiss, bertujuan mencapai tingkat kesehatan yang tertinggi bagi semua rakyat di dunia. IBRD ( International Bank of Reconstruction and development) yaitu bang pembangunan dan perkembangan internasional yang didirikan pada tanggal 27 Desember 1945 bertyujuan membantu pembangunan dan perkembangan daerah-daerah milik anggota PBB untuk memudahkan penanaman modal untuk tujuan produktif. IMF (International Monetary Fund) yaitu dana moneter internasional didirikan pada

tanggal 27 desember 1945 bermarkas diWashington, Amerika Serikat. Bertujuan memajukan kerjasama moneter internasional dan perluasan perdagangan internasional, stabilitas pertukaran uang, membantu menetapkan system pembayaran multilateral terhadap transaksi yang sedangberjalan. 7. ICAO (International Civil Aviation Organization) yaitu organisasi penerbangan sipil internasional. 8. UPU (Universal Postal Union) yaitu persatuan pos sedunia. 9. ITU (International Telecommunication union yaitu persatuan telekomunikasi internasional. 10. ITO (International Trade Organization) yaitu organisasi perdagangan internasional dan peraetujuan mengenai bea dan cukai dan perdagangan. 11. WTO (Word Trade Organization) Organisasi perdagangan Dunia.(Bukan Badan PBB) E. Manfaat Kerjasama dan Perjanjian Internasional 1) Bentuk-bentuk Kerjasama dan Perjanjian Indonesia dengan Negara lain Indonesia telah banyak menjalin kerjasama dengan Negara lain seperti : 1. Indonesia denganMalaysia dibidang ketenagakerjaan (TKI) 2. Indonesia dengan negara-negara asia tenggara dalam pembentukan ASEAN 3. Indonesia dan negara-negara Asia-Afrika dalam pembentukanGerakan Non-Blok (GNB) 4. Indonesia dengan negara penghasil minyak dalam pembentukanorganisasi OPEC. Sedangkan dibidang perjanjian internasional, Indonesia memiliki beberapa perjanjian seperti : 1. Perjanjian antara Indonesia dan Belanda dalam penyelesaian masalah irian barat dengan nama Piagam New York ( dibidang politik ). 2. Perjanjian antara Indonesia dan Australia mengenai batas-batas wilayah antara Indonesia dan Papua Nugini yangditandatangani di Jakarta pada tanggal 12 Februari 1973. 3. Perjanjian antara Indonesia dan Cina tentang masalah Dwi kewarganegaraaan.

Hubungan Internasional

Page 24

4. Perjanjian antara Indonesia dan Singapura mengenai batas wilayah aut teritorial di selat Malaka pada tanggal 17 Maret1970. 2) Hasil-hasil Kerjasama dan Perjanjian Internasional yang Bermanfaat bagi Indonesia Hasil-hasil dari kerjasama dan perjanjian internasional yang bermanfaat bagi indonesia terbagi menjadi beberapa kategori yakni : a. Aspek Ideologi 1. Indonesia mengetahui ideologi yang dianut oleh Negara lain dan membandingaknnya dengan ideologi pancasila sehingga menimbulkan kebanggan terhadap ideolog pancasila. 2. Dapat menghindari pengaruh negatif dari ideologi Negara lain dan mengambil nilai positif dari ideologi Negara lain. 3. Memperoleh kesempatan untuk menunukkan keunggulan ideologi pancasila kepada nagara lain. b. Aspek Politik 1. Mengetahui perkembangan politik di negara-negara lain. 2. Bisa mencontoh kebiasaan kehidupan politik di negara-negara lain 3. Dapat mempererat hubungan diplomatik dengan Negara lain. c. Aspek Ekonomi 1. Menarik minat Negara lain untuk menanamkan modalnya atau berinvestasi di Indonesia. 2. Dapat menikmati barang-barang produksi Negara lain yang berguna bagi indonesia. 3. Terbukanya peluang untuk mengekspor hasil dalam negeri kenegaralain. d. Aspek Sosial Budaya 1. Terbukanya kesempatan untk mengadakan pertukaran pelajar danmahasiswa. 2. Bisa mendatangkan tenaga ahli untuk bidang tertentu dimana negarakita memiliki kekurangan untuk tenagah ahli bidang tersebut. 3. Dapat saling memperkenalkan budaya masing-masing yangdiwujudkan dengan dilakukannya misi pertukaran kebudayaan. e. Aspek Pertahanan dan Keamanan 1. Dapat menghindari konflik dengan negaralain. 2. Terbukanya kesempatan untuk ikut serta dalam misi perwujudanketertiban dunia. 3. Terciptanya stabilitas keamanan dalam negeri terutama ancamanagresi dari Negara lain.

Hubungan Internasional

Page 25

F.

Permasalahan Internasional Tentang Penyelesaian Masalah Papua Barat Konflik politik di Papua Barat tentang keabsaan wilayah terus dipertengtangkan. dipertanyakan, diperbincangkan atau dikaji serta diselesaian sesuai mekanisme hukum internasional agar diperoleh kebenarannya dan diterima oleh orang Papua Barat dan Indonesia A. Penyelesaian Kasus Secara Internasional (Sebuah Pendekatan dalam Kasus Papua Barat) Masalah utama bangsa Papua Barat adalah status politik wilayah Papua Barat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang belum final, karena proses memasukan wilayah Papua Barat dalam NKRI itu dilakukan dengan penuh pelanggaran terhadap standarstandar, prinsip-prinsip hukum dan HAM internasional oleh Amerika Serikat, Belanda, Indonesia dan PBB sendiri demi kepentingan ekonomi politik mereka. Karena proses itu merupakan hasil kongkalingkong (persekongkolan) pihak-pihak internasional, maka masalah konflik politik tentang status politik wilayah Papua Barat harus diselesaikan di tingkat internasional. Ada 2 cara yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan sengketa internasional, yaitu secara damai atau bersahabat dan secara paksa atau kekerasan. Cara penyelesaian secara damai ada dua, yaitu secara politik dan hukum. Secara politik meliputi negosiasi, jasa-jasa baik (good office), mediasi, konsiliasi (conciliation), penyelidikan (inquiry), dan penyelesaian dibawah naungan PBB2. Sedangkan secara hukum dilakukan melalui lembaga peradilan internasional yang telah dibentuk (Mahkama Internasional). Untuk penyelesaian sengketa secara paksa atau kekerasan, bisa berupa perang atau tindakan bersenjata non perang, retorsi (retortion), tindakan-tindakan pembalasann (repraisal), blockade secara damai (pacific blockade) dan intervensi. Setelah perang dunia ke-II PBB menyeruhkan agar segala persoalan harus diselesaikan secara damai3. Penyelesaian damai dilakukan melalui badan Arbitrase dan organ PBB yaitu Mahkama Internasional.
1.

Secara Arbitrase berarti penyelesaian sengketa politik melalui pihak ketiga. Hal ini sesuai kesepakatan wilayah yang bertikai. Dalam sejarah kasus Papua Barat, cara arbitrase ini dilakukan secara sepihak oleh Belanda dan Indonesia yang menunjuk Amerika Serikat yang pada saat itu sedang memiliki nafsu kepentingan ekonomi (Freeport) untuk menjadi arbitrator (pihak ketiga). Perjanjian itu adalah New York Agreement. Perjanjian ini sepihak karena tidak melibatkan orang Papua Barat dan perjanjian itu tidak dilaksanakan sesuai kesepakatan. Untuk menyelesaian persoalan Papua Barat, pihak Indonesia dan Papua Barat harus sepakat untuk menyerahkan penyelesaian status politik Papua Barat kepada pihak ketiga yang ditentukan bersama.

Hubungan Internasional

Page 26

2. Melalui Mahkama Internasional (International Court of Justice/ICJ)4. Karena ICJ adalah

organ PBB, maka dalam penyelesaian kasusnya, harus melalui lembaga-lembaga Internasional PBB seperti Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB dan organisasi non pemerintahan atau lembaga hukum internasional lainnya yang kapasitasnya diakui oleh PBB. Secara umum juridiksi yang dimiliki ICJ dapat dibagi menjadi 2: a. Juridiksi atas kasus yang berdasarkan atas telah terjadinya sengketa, yaitu juridiksi mahkama untuk mengadili suatu sengketa yang diserahkan kepadanya adalah sengketa yang berhubungan dengan diterapkannya aturan-aturan atau prinsip-prinsip hukum Internasional terhadap para pihak. b. Juridiksi untuk memberikan advisory opinion, yaitu juridiksi ICJ dalam memberikan pendapat hukumnya atas persoalan hukum berdasarkan organ-organ yang memiliki kewenangan untuk itu. Dalam kasus Papua Barat, proses penyelesaian sengketa politik wilayah Papua Barat pada masa lalu hingga pada PEPERA 1969 itu tidak dilakukan sesuai prinsip-prinsip dan aturan-aturan hukum internasional5. Maka, Negara-negara anggotan PBB bisa mendesak Majelis Umum PBB di setiap pertemuannya agar meminta ICJ memberikan pendapat hukumnya atas status hukum Papua Barat. B. Masalah Papua Barat Harus Diselesaian Melalui Proses Hukum di Mahkama Internasional 1. Alasan Pembenaran Untuk menyelesaikan melalui proses hukum, kita harus mengetahui terlebih dahulu hal-hal apa saja yang membenarkan bahwa masalah Papua Barat harus diselesaikan di Mahkama Internasional (International Court of Justice/ICJ). a. Papua Barat Pernah dan Masih Menjadi Sengketa Internasional Papua Barat dalam proses sejarahnya pernah menjadi wilayah yang dipersengketakan dan dalam prosesnya banyak kejanggalan seperti: 1) Dalam pelaksanaanya Indonesia tidak mematuhi hak dan kewajiban untuk melaksanakan berbagai perjanjian salah satunya perjanjian New York Agreement itu; 2) Terjadi perbedaan penafsiran mengenai isi perjanjian internasional seperti Roma Agreement dan New York Agreement tahun 1962; 3) Wilayah Papua Barat telah menjadi perebutan sumber-sumber ekonomi. Contoh nyata adalah kongkalingkong Indonesian dan Amerika Serikat dalam perjanjian kontrak karya Freeport Mc MoRaNd tahun 1967;

Hubungan Internasional

Page 27

4) Papua Barat telah menjadi wilayah perebutan pengaruh ekonomi, politik atau keamanan regional dan internasional; 5) Papua Barat yang telah berdaulat tahun 1961 telah diintervensi kedaulatannya dengan maksud menguasai dan menjajah oleh Indonesia dengan dikeluarkannya Trikora; 6) Poin 5 merupakan bukti penghinaan terhadap harga diri bangsa. Hal inilah yang masih menjadi perselisihan orang Papua dan harus menjadi perselisihan internasional. Dan itu merupakan sebab-sebab mengapa suatu wilayah disebut sebagai wilayah yang dipersengketakan. b. Kasus Papua Barat Termasuk dalam Kategori Hukum Internasional Hal-hal yang menyebabkan kasus Papua Barat sesuai dengan pandangan Sistem Hukum dan Peradilan Internasional adalah: 1) Kasus Papua Barat dalam Asas hukum Internasional Menurut resolusi majelis umum PBB No. 2625 tahun 1970, ada tujuh asas. Poin-poin yang mendukung penyelesaian konflik Papua Barat adalah a) Setiap Negara harus menyelesaian masalah Internasional dengan cara damai. Masalah Papua Barat adalah masalah internasional dan setiap pihak yang sedang mempermasalahkan Papua Barat harus diselesaian secara damai;
b) Asas persamaan hak dan penentuan nasip sendiri, kemerdekaan dan perwujudan

kedaulatan suatu Negara ditentukan oleh rakyat. Rakyat Papua Barat punya hak dalam penentuan nasip sendiri, kemerdekaan dan perwujudan kedaulatan suatu Negara sesuai dengan kemerdekaan 1 Desember 1961. 2) Kasus Papua Barat sebagai Subjek Hukum Internasional Subjek hukum internasional adalah pihak-pihak yang membawa hak dan kewajiban hukum dalam pergaulan internasional. Menurut Starke, yang menjadi subjek hukum Internasional adalah Negara, Individu, Organisasi Internasional, tahta suci dan Pemberontak dan pihak yang bersengketa. Dalam keadaan tertentu pemberontak dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak yang bersengketa dan mendapat pengakuan sebagai gerakan pembebasan dalam menuntut hak kemerdekaannya. Contoh PLO (Palestine Liberalism Organization). c. Kasus Papua Barat Sesuai Dengan Sumber-Sumber Hukum Internasional Sumber hukum internasional adalah sumber-sumber yang digunakan oleh mahkama internasional dalam memutuskan masalah-masalah hubungan internasional. Sumber hukum internasional dibedakan menjadi dua:

Hubungan Internasional

Page 28

1) Sumber hukum dalam arti Material dalam aliran naturalis berpendapat sumber hukum Internasional didasarkan pada hukum alam yang berasal dari Tuhan, dan aliran positivism berpendapat hukum Internasional berdasarkan pada persetujuanpersetujuan bersama dari Negara-negara ditamba dengan asas pacta sunt servanda; 2) Sumber hukum dalam arti Formal adalah sumber hukum dari mana kita mendapatkan atau menemukan ketentuan-ketentuan hukum internasional yang dipergunakan oleh Mahkama Internasional, didalam pasal 38 Piagam Mahkama Internasional yang menyebutkan sumber-sumber hukum Internasional terjadi dari: Perjanjian Internasional (traktak), Kebiasaan-kebiasaan Internasional yang terbukti dalam praktek umum dan diterima sebagai hukum, asas-asas umum hukum yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab, keputusan-kepuptusan hakim dan ajaran-ajaran para ahli hukum internasional dari berbagai Negara sebagai alat tambahan untuk menentukan hukum dan pendapat para ahli hukum yang terkemuka. 2. Mahkama Internasional (ICJ) Dalam Menyelesaian Masalah Papua Barat Mahkama Internasional atau International Court of Justice (ICJ) adalah badan kehakiman PBB yang berkedudukan di Den Haag, Belanda. Didirikan pada tahun 1946. Terdiri dari 15 hakim, dua merangkap ketua dan wakil ketua, masa jabatan 9 tahun. Mereka direkrut dari warga Negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB seperti China, Rusia, Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. Mahkama Internasional berfungsi untuk menyelesaian kasus-kasus internaasional sesuai dengan pertimbanga-pertimbangan hukum Internasional yang menjadi dasar pertimbangannya. Ada dua fungsi Mahkama dalam menyelesaian suatu kasus, yaitu memutuskan Perkara-perkara pertikaian (contentious case) dan memberikan opini-opini yang bersifat nasehat. Dalam menyelesaian kasus Papua Barat yaitu: a) Bila Orang Papua Barat dengan segala kekuatannya menjadikan wilayah Papua Barat sebagai wilayah yang sedang bertikai maka Mahkama Internasional dapat memutuskan pertikaian itu sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang bertikai, dan terlebih atas desakan Negara-negara dan lembaga-lembaga internasional. b) Negara-negara Anggota PBB mendesak Badan-badan PBB seperti Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB agar meminta Mahkama Internasional memberikan opini-opini yang bersifat nasehat (advisory opinion) tentang status hukum Papua Barat. Hal ini karena ada fakta-fakta baru dalam proses memasukan Papua Barat kedalam NKRI yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dan standar-standar hukum internasional.

Hubungan Internasional

Page 29

3. Mekanisme Penyelesaian di Mahkama Internasional Bila Persolan Papua Barat Harus diselesaikan untuk mengambil keputusan final dari Mahkama Internasional, maka bagaimana cara kerja lembaga ini? Dua pihak yang berperkara, yaitu Indonesia dan Papua Barat masing-masing menunjuk lebih dahulu seorang hakim untuk mewakilinya sehingga ditambah 15 hakim tetap Mahkama Internasional keseluruhannya menjadi 17 hakim. Dua belah pihak harus memaparkan apa yang menjadi inti permasalahan dalam kasus status hukum Papua Barat. Dalam memaparkan inti kasus dari masing-masing pihak, pertama-tama persidangan mengadakan tiga putaran permohonan tertulis dari kedua pihak. Hal ini karena masing-masing akan mempresentasikan hasil kajian sejarah dan argumentasi hukum. Setelah persidangan mencatat semua, persidangan masuk kedalam tahap selanjutnya yaitu mendengarkan argumentasi lisan dari pihak-pihak yang bertikai. Ini bisa mencapai waktu berhari-hari. Setelah para penasehat hukum pulang, para hakim mengadakan musyawarah. Tahap musyawarah ini bisa mencapai waktu 3-4 bulan. Dalam musyawarah, para hakim menyusun tanggapan pertama mereka serta mendiskusikannya. Lalu persidangan membuat Komisi Rancangan (Drafting Committee). Komisi ini menyusun secara berurutan setiap naskah pendapat para hakim dan menjadi bahan diskusi ataupun amandemen (perubahan) dalam rapat pleno para hakim. Dan akhirnya muncul sebuah pendapat yang mendapat dukungan mayoritas hakim di persidangan. Sementara jika ada hakim yang tidak sepakat dengan pendapat itu, bisa membuat disseting opinion. Kemudian pendapat akhir Mahkama Internasional dibacakan dalam persidangan terbuka, di depan para penasehat hukum pihak yang bertikai (pihak yang memperkarakan). 4. Pentingnya Pengacara Internasional bagi Papua Barat (ILWP sebagai Solusi) Pengacara internasional atau Penasehat Hukum Internasional adalah para pakar hukum internasional yang melakukan pembelaan hukum terhadap kasus-kasus yang bertentangan dengan atau melanggar hukum Internasional. Pengacara Internasional biasanya diakui secara internasional karena kontribusinya dalam membawa kasus-kasus

Hubungan Internasional

Page 30

internasional ke lembaga Internasional sesuai dengan piagam-piagam PBB, standarstandar serta prinsip-prinsip hukum internasional. Karena kasus Papua Barat adalah kasus yang berkaitan dengan proses hukum internasional, maka penyelesaiannya harus melalui jalur hukum internasional. Dengan demikian, pengacara internasional bagi bangsa Papua Barat adalah suatu keharusan. Tugas-tugas pengacara internasional adalah melakukan penyelidikan atas masalah Papua Barat dan mengkajinya sesuai hukum internasional. Pengacara internasional atas kajian itu terus mendesak pentingnya penyelesaian masalah Papua Barat melalui pengadilan internasional dengan cara memaksa semua pihak-pihak internasional dan lembaga internasional untuk menyelesaikan persoalan Papua Barat melalui jalur hukum sesuai mekanisme internasional. Tidak sampai disitu, pengacara internasional kemudian hari ditunjuk oleh pihak Papua Barat untuk membela kasus Papua Barat selama proses peradilan internasional berlangsung, yaitu mempresentasikan kajian hukum tentang status Papua Barat didepan Hakim Mahkama Internasional. Sebaliknya, Indonesia melalui pengacara Internasionalnya juga akan mempresentasikan materi untuk membenarkan bahwa status hukum Papua Barat dalam NKRI itu sah menurut kajian hukum internasional. Indonesia kini memperkuat status hukum Papua Barat melalui resolusi Majelis Umum PBB no 2504 tahun 1971. Di Mahkama Internasional nanti, pihak Indonesia harus bisa menjelaskan apakah proses memasukan Papua Barat kedalam NKRI sejak tahun 1960 hingga 1969 itu sudah sah sesuai standar-standar, prinsip-prinsip hukum internasiona dalam menyelesaikan masalah Papua Barat. Saat ini telah dibentuk Internasional Lawyers for West Papua [ILWP] yang diketuai oleh Mrs. Melinda Jankie dan terus menghimpun anggota-anggota pengacara internasional lain di berbagai belahan dunia. 5. Materi Papua Barat di Mahkama Internasional Bila proses memasukan Papua Barat kedalam NKRI sejak tanggal 1 Desember 1961 hingga 1969 itu dianggap sah, maka pertanyaan-pertanyaan yang harus dijelaskan oleh Mahkama Internasional sesuai pokok-pokok yang dibicarakan dalam Sidang Mahkama Internasional dengan menghadirkan Belanda, Amerika Serika dan Indonesia adalah: 1) Menanyakan Belanda dan PBB apakah Kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 yang dilakukan secara defakto itu sesuai dengan mandat resolusi PBB 1514 dan atau 1541 sehingga Belanda sebagai Negara yang menduduki wilayah Papua Barat itu telah berkewajiban memerdekakan wilayah Papua Barat dan deklarasi kemerdekaan itu juga

Hubungan Internasional

Page 31

merupakan hasil kongres Papua Barat yang memilih wakil resmi rakyat Papua Barat, Dewan Nieuw Guinea Raad. Bukankah ini adalah proses dekolonisasi, atau bagian dari semangat pembentukan komisi dekolonisasi PBB?. 2) Bila kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 sah sesuai semangat itu, maka invasi militer Indonesia di Papua Barat atas mandat trikora 19 Desember 1961 adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan resolusi-resolusi, prinsip-prinsip hukum dan HAM PBB. 3) Jika itu sesuai dengan semangat dekolonisasi PBB yang disahkan dalam resolusi Majelis Umum PBB No 1514 dan atau 1541 tahun 1960, maka harus dipertanyakan mengapa PBB mengabaikan resolusi itu lalu secara sepihak PBB melalui UNTEA menyerahkan wilayah administrasi Papua Barat ke tangan Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 sebagai suatu tindakan yang bertentangan dengan semangat memerdekakan wilayah jajahan sesuai mandat dekolonisasi PBB. 4) Bila proses mengalihkan kekuasaan dari tangan Belanda ke PBB dan selanjutnya ke tangan Indonesia itu sudah sesuai dengan standar-standar, prinsip-prinsip HAM dan Hukum PBB, maka mengapa Perjanjanjian New York 15 Agustus 1962 yang membicarakan status tanah dan nasib bangsa Papua Barat, namun di dalam prosesnya tidak pernah melibatkan wakil-wakil resmi bangsa Papua Barat. 5) Bila keputusan New York Agreement itu disepakati secara sah, maka mengapa pada tahun 1967 Amerika Serikat dan Indonesia menandatangani kontrak karya PT. Freeport Mc Morand yang berada di Timika, Papua Barat sebelum status Papua Barat disahkan melalui referendum (PEPERA) tahun 1969 sesuai kesepakatan New York Agreement. 6) Bila keputusan New York Agreement itu sah dan di terima oleh semua pihak, termasuk rakyat Papua Barat, mengapa pelaksanaan PEPERA 1969 itu tidak dilakukan sesuai dengan Pasal XVIII ayat (d) New York Agreement yang mengatur bahwa “The eligibility of all adults, male and female, not foreign nationals to participate in the act of self determination to be carried out in accordance whit international practice…”. Aturan ini berarti penentuan nasib sendiri harus dilakukan oleh setiap orang dewasa Papua pria dan wanita yang merupakan penduduk Papua pada saat penandatanganan New York Agreement. Namun hal ini tidak dilaksanakan. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 dilaksanakan dengan cara lokal Indonesia, yaitu musyawarah oleh 1025 orang dari total 600.000 orang dewasa laki-laki dan perempuan. Sedangkan dari 1025 orang yang dipilih untuk memilih, hanya 175 orang saja yang menyampaikan

Hubungan Internasional

Page 32

atau membaca teks yang telah disiapkan oleh pemerintah Indonesia. Selain itu masyarakat Papua Barat yang ada di luar negeri, yang pada saat penandatangan New York Agreement tidak diberi kesempatan untuk terlibat dalam penentuan nasib sendiri itu. Selain itu, teror, intimidasi dan pembunuhan dilakukan oleh militer sebelum dan sesaat PEPERA 1969 untuk memenangkan PEPERA 1969 secara sepihak oleh pemerintah dan militer Indonesia. Itulah serangkaian proses yang tidak dijalankan oleh pihak-pihak internasional sesuai dengan standar-standar-standar, prinsip-prinsip hukum dan HAM Internasional. Proses inilah yang harus digugat kembali. Lembaga-lembaga Internasional seperti Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB dan Negara-negara angggota PBB dapat meminta advisory opinion atau penjelasan berupa nasihat tentang prose itu dari Mahkama Internasional. 6. Kemungkinan Resolusi PBB a) Pengakuan Kemerdekaan Papua Barat: Pengakuan bagi kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 dianggap sah oleh Mahkama Internasional bila ternyata ditemukan fakta persidangan bahwa Kemerdekaan Papua Barat 1 Desember 1961 telah sesuai dengan resolusi 1514 dan atau 1541 sehingga Belanda telah sesuai dan berkewajiban memerdekakan Papua Barat, maka pengakuan secara de jure bisa saja diberikan. b) Referendum Majelis Umum dapat memberikan keputusan untuk diadakannya referendum di Papua Barat karena Pepera 1969 yang melahirkan Resolusi Majelis Umum PBB 2504 tahun 1971 itu tidak kuat hukum (weak law) karena Indonesia dan PBB (UNTEA) tidak dilakukan sesuai dengan Perjanjian New York Agreement atau kesemua proses itu melanggar standar-standar, prinsip-prinsip hukum dan HAM Internasional. C. Fokus Perjuangan di Internasional dan Ke Internasional Konflik politik di Papua Barat tentang keabsaan wilayah terus dipertengtangkan. dipertanyakan, diperbincangkan atau dikaji serta diselesaian sesuai mekanisme hukum internasional agar diperoleh kebenarannya dan diterima oleh orang Papua Barat dan Indonesia. Untuk itulah, maka tugas utama perjuangan di internasional saat ini adalah menggalang solidaritas internasional, mendesak Negara-negara anggota PBB agar membuat mosi (sikap) di Majelis Umum PBB, selanjutnya Majelis Umum PBB merekomendasikan Pengadilan Internasional (International Court of Justice) menjelaskan apakah proses memasukan Papua Barat kedalam NKRI sejak tahun 1960 hingga 1969 itu sudah sah sesuai

Hubungan Internasional

Page 33

standar-standar, prinsip-prinsip hukum internasiona dalam menyelesaikan masalah Papua Barat atau bila tidak maka masalah Papua Barat harus diselesaian kembali melalui mekanisme internasional. Untuk menggugat proses yang cacat itu, maka dibutuhkan tahapan strategis yang secara konsen diperjuangan di tingkat Internasional. Tahapan itu harus didorong melaui proses politik maupun hukum di tingkat internasional. Paling tidak ada jalur-jalur strategis yang sedang ditempuh seperti: 1. IPWP dan ILWP a) IPWP (Internasional Parliamentarians for West Papua) atau Parkumpulan ParlemenParlemen untuk Papua Barat. IPWP diluncurkan di London 15 Oktober 2008, yang kemudian dideklarasikan pada 1 Desember 2008 di gedung Parlemen Kerajaan Inggris di London, yang diketuai oleh Andrew Smith, saat ini IPWP telah terbentuk di Vanuatu, PNG, Uni Eropa, Republik Ceko, schotland dan anggota Parlement negaranegara lain yang secara pribadi ikut menandatangani untuk menjadi anggota IPWP. Anggota IPWP kini mencapai 68 orang6. b) Internasional Lawyers for West Papua (ILWP)7 atau Perkumpulan Pengacarapengacara Internasional untuk Papua Barat. ILWP diluncurkan di Brussels pada tanggal 3 April 2009 dan diketuai oleh Mrs. Melinda Jankie. Melinda Jankie adalah seorang pengacara Internasional. Anggota ILWP terus terhimpun, dan sedang menyiapkan kajian hukum yang selanjutnya mendorong ke Majelis Umum PBB dan Internasional Court of Justice (Pengadilan Internasional) sebagai tempat penyelesaian seluruh proses sejarah yang cacat itu. 2. MSG dan PIF melalui kawasan Pasific Selain dua lembaga internasional bagi bangsa Papua Barat itu, tahapan poloitik yang sudah dan terus dilakukan yaitu melalui loby politik di kawasan pasifik, seperti: a). MSG (Melanesian Spearhead Groups) adalah sebuah group antar Negara-negara Melanesia. Pertemuan MSG biasanya dilakukan setahun sekali. Dalam pertemuan itu Negara-negara Melanesia membicarakan isu-isu penting serta kesepakatan kerja antar Negara-negara Melanesia ini. Sampai sekarang Papua Barat belum masuk kedalam anggota MSG karena terus diblokade oleh PNG melalui Michael Somare, sekalipun sudah dilakukan berbagai upaya agar masalah Papua Barat dibicarakan atau paling tidak ada delegasi Papua Barat untuk ikut MSG. Negara Vanuatu yang mendukung hak penentuan nasip sendiri bagi bangsa Papua Barat terus berupaya namun kandas

Hubungan Internasional

Page 34

terus menerus. Saat ini upaya terus dilakukan oleh para diplomat Papua Barat di Fiji, PNG, Vanuatu agar Papua Barat bisa menjadi anggota MSG. b). PIF (Pasific Islands Forum) atau Forum Pulau-pulau (negara-negara) pasifik adalah sebuah forum Negara-negara di wilayah pasifik yang pertemuannya dilakukan setahun sekali. Forum ini mengagendakan dan membicarakan masalah-masalah atau isu-isu regional (kawasan ) pacific. Sejak Belanda masih berada di Papua Barat, delegasi bangsa Papua Barat selalu diikutkan dalam forum ini, namun kini Papua Barat sudah tidak sebagai anggota PIF sejak penjajah Indonesia dan kepentingan kapitalisme mengambil peran penting dalam memblokade isu-isu Papua Barat. Berbagai upaya terus didorong agar kemudian ada delegasi Papua Barat atau paling tidak isu Papua Barat diangkat didalam setiap pertemuan itu. 3. Dialog atau Perundingan oleh Mediator Dialog atau perundingan bisa dilakukan tanpa intervensi dari luar. Dalam proses ini kedua bela pihak yang bertikai bisa mengambil kemauan bersama untuk dialog. Hasil dialog tidak mengikat dan final. Tapi juga pihak yang merasa menguntungkannya, bisa menyatakannya sebagai keputusan yang final. Dalam hasil dialog kedua pihak yang bertikai bisa menyepakati untuk menyelesaian masalah status hukum Papua Barat di Mahkama Internasional, atau bisa saja mengambil keputusan bersama untuk melakukan referendum secara damai. Dalam pendekatan Papua Barat, Apakah dialog dengan Jakarta bisa menghasilkan kesepakatan Jakarta dan Papua Barat untuk membawa persoalan status politik Papua Barat untuk diselesaikan di Mahkama Internasional atau referendum? Pertanyaan ini yang harus dijawab. a) Indonesia sangat mengerti gelagat politik Papua Merdeka bila terjadi dialog. Saat ini Jakarta tahu bahwa dialog yang mempersoalkan status politik pada ujungnya akan menguntungkan orang Papua Barat yang secara dominan ingin Merdeka, maka Indonesia akan hati-hati dalam menyikapi wacana dialog. Terlepas dari siapa yang harus jadi mediator. b) Bila Indonesia harus menerima dialog, sangat dimungkinkan status politik Papua Barat tidak ikut didialogkan. Barangkali pihak Jakarta akan lebih menerima dialog bila itu membicarakan tentang perbaikan Otonomi Khusus (Review Otsus), isu HAM dan Penegakan Hukum dalam NKRI. c) Tapi bila tuntutan Papua Merdeka dibicarakan, maka Indonesia akan punya alasan bahwa Otsus adalah jawaban dari tuntutan Papua merdeka, sehingga bisa saja

Hubungan Internasional

Page 35

Tuntutan Papua Merdeka direduksi ke perbaikan Otsus. Hal ini selalu menjadi alasan Jakarta, kalau rakyat demonstrasi tuntut Papua Merdeka atau TPN OPM buat aksi, maka mereka dengan mudah mengatakan “itu karena mereka tidak puas”, “ itu luapan kekecewaan pembanguan”, dan berbagai alasan lainya. d) Dialog dengan isu penyelesaian status politik Papua Barat hanya bisa terjadi kalau ada desakan kuat dari rakyat Papua Barat dan pihak Internasional. e) Dalam dialog sangat tidak mungkin dibicarakan dan disetujui mengenai penyelesaian masalah Papua Barat melalui solusi referendum. Hal itu kemungkinan bisa terjadi bila Papua Barat dalam kondisi emergency secara fisik seperti Timor Leste saat itu dan lebih utama kuatnya intervensi Internasional. Contoh kasus Sahara Barat, sekalipun disana terjadi krisis kemanusiaan yang krusial akibat pertikaian Sahara Barat yang ingin Merdeka dan Maroko yang masih ingin menjajah, namun pemerintah Maroko tidak ingin menggelar referendum karena khawatir sikap rakyat Sahara Barat yang akan memilih opsi merdeka. f) Dalam kondisi itu, dialog atau perundingan justru akan dipakai oleh Jakarta untuk menghalau proses perjuangan di Internasional. Hal yang sama dilakukan Jakarta terhadap GAM di Aceh. Masalah GAM yang pada saat itu sedang memaksa internasional justru direduksi (dipersempit) ke persoalan Tsunami dan korban kemanusiaan yang terjadi, sehingga resolusi dialog di Helsinki tidak banyak menguntungkan bagi perjuangan politik GAM kedepan, yang terjadi adalah solusi Otsus diterima dan rekonsiliasi di Aceh dalam kerangka NKRI menjadi pil pahit yang tidak menguntungkan pihak GAM untuk penentuan nasip sendiri (Kemerdekaan secara politik). Dari beberapa jalur yang ditempuh diatas, maka sebenarnya tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika orang Papua Barat dan pejuang Papua Barat tidak dapat membaca dan memetahkan solusi-solusi itu agar dapat memandang solusi itu secara rasional (masuk akal), tanpa saling menyalahkan antara satu kubu perjuangan dan kubu yang lainya. Yang rasional adalah perjuangan Papua Merdeka membutuhkan kekuatan internal Papua Barat dan terutama Internasional yang saling mendukung. Untuk mendorong perjuangan di tingkat Internasional dengan strategis, maka strategi Internasional lewat MSG dan PIF harus diperjuangkan terus menerus, karena bila isuisu Papua Barat menjadi topik penting dalam pertemuan-pertemuan regional, maka bukan tidak mungkin persoalan Papua Barat menjadi issue

Hubungan Internasional

Page 36

D. Catatan-Catatan Penting Hal-hal yang menjadi pertimbangan suatu Negara dalam mendukung kemerdekaan bangsa Papua Barat 1. Sangat kecil kemungkinan bagi sebuah Negara secara resmi mendukung kemerdekaan bangsa Papua Barat, terlepas dari dan untuk kepentingan apapun Negara tersebut di Papua Barat. Hal ini karena setiap Negara sesuai kode etik internasional saling menghargai dan menghormati integritas dan kedaulatan Negara lain. Intervensi Negara lain secara diplomatis dilakukan melalui jalur yang legal. Jalur legal adalah bahwa suatu Negara tidak mendukung secara langsung tetapi mendukung penyelesaian konflik suatu wilayah yang kesalahannya melibatkan pihak Internasional, lembaga internasional seperti PBB. Oleh karena itu, bila suatu Negara mau konsen terhadap persoalan Papua Barat maka dia harus menempu jalur yang legal, dimana Negara-negara itu sebagai anggota PBB berhak mempersoalkan konflik Papua Barat dengan mempertentangkan atau memaksa PBB mereview proses memasukan Papua Barat kedalam Indonesia yang tidak sesuai dengan standar-standar, prinsip-prinsip Hukum dan HAM PBB di Pertemuan tahunan PBB. 2. Intervensi suatu Negara di Negara yang sedang terjadi konflik dilakukan bila suatu wilayah yang sedang bertikai itu dalam kondisi konflik dan sangat darurat, yaitu kondisi yang memaksa pihak-pihak internasional intervensi demi penegakan prinsip-prinsip, standar-standar hukum dan ham internasional. Hal inipun terjadi atas restu PBB, karena Indonesia adalah anggota PBB. 3. Saat ini Komisi Dekolonisasi PBB masih melakukan tugas sesuai resolusi 1514 untuk memerdekakan wilayah-wilayah yang belum berpemerintahan atau masih dijajah. Ada sekitar 16 wilayah yang menjadi tugas komisi ini. Komisi ini diketuai oleh Marty Natalegawa yang kini menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia. Sepertinya tidak strategis bila kasus Papua Barat dibawa lewat komisi ini. 4. Orang Papua Barat sebagai warga pribumi Papua Barat berhak untuk menentukan nasip mereka sendiri. Hal ini didukung oleh deklarasi Komisi Indigenous People di PBB, dimana Indonesia merupakan salah satu Negara yang ikut menandatangani dan meratifikainya. Komisi ini turut memperkuat dukungan Negara-negara anggota PBB. Ini juga menjadi alasan penting bagi jaringan Papua Merdeka diluar negeri untuk terus mengkompanyekan dan mendesak pihak internasional dalam hal ini PBB mengakomodir suatu mekanisme bagi hak penentuan nasip sendiri bangsa pribumi Papua Barat. 5. Proses internasionalisasi persoalan status politik Papua Barat akan semakin menuju pada target seperti yang tergambar diatas bila status politik Papua Barat terus menjadi masalah

Hubungan Internasional

Page 37

yang dipertentangkan di Papua Barat melalui aksi-aksi dengan metode apapun. Artinya, Papua Barat harus dalam kondisi yang emergency (darurat) agar menjadi perhatian internasional, serta mendorongnya ke tahapan penyelesaian. Ini adalah tugas mendesak rakyat Papua Barat yang berada di Wilayah ini. Tapi bila sebaliknya, orang Papua Barat lebih banyak bicara Kesejahteraan, Otsus, Pembangunan dan topic-topik lain selain topik pertentangan status politik, maka dunia internasional justru akan memihak Jakarta agar melakukan dialog dan mendorong perbaikan di segala bidang di Papua Barat. Lalu Jakarta akan bilang, persoalan Papua Barat adalah persoalan dalam negeri dan harus diselesaikan didalam negeri, maka target politik perjuangan Papua di tingkat internasional akan meleset. 6. Indonesia dan Amerika Serikat yang masing-masing sedang menindas dan mengeksploitasi wilayah Papua Barat akan terus mengaburkan (menghilangkan) isu perjuangan bangsa Papua yang sedang dilakukan atas kebenaran sejarah ini dengan cara menstigmanisasi pejuang dan jalur perjuangan yang sedang ditempuh sebagai teroris, separatis, Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) dll. Hal ini dilakukan oleh mereka untuk terus menutupi kesalahan mereka sebagai akar persoalan Papua Barat dan agar kepentingan ekonomi politik kedua Negara terus berlangsung di Papua Barat - kawasan yang bisa didorong ke PBB melalui forum-forum dan Negara-negara anggota PBB yang ada di kawasan pasifik. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para diplomat kita di pasifik dan di Eropa melalui IPWP terus menggalang solidarias internasional dengan cara mempengaruhi Negara-negara anggota PBB dan lebih penting lagi Negara pemegang hak veto melalui kompanye, loby ke tingkat Parlement (tingkat DPR) di Negara-negara. Parlemen adalah wakil resmi masyarakat internasional yang ada di setiap Negara, sehingga dukungan tingkat parlemen terhadap penyelesaian Papua Barat merupakan suara rakyat atau suara komunitas Internasional yang mau tidak dapat memaksa pemerintahan di Negara-negara mereka untuk mengambil kebijakan, terlepas dari kepentingan ekonomi politik Negara tersebut terhadap Papua Barat. Semua jaringan Papua Merdeka yang ada di setiap Negara harus menggalang (loby) ke parlement dari Negara tersebut untuk tergabung ke IPWP agar membentuk kekuatan bersama mendorong penyelesaian Papua Barat. Kekuatan internasional dapat mendorong Jakarta untuk mengambil kemauan-kemauan politik dalam penyelesaian masalah Papua Barat secara damai. Contoh: Kongresman AS yang terus memaksa kebijakan luar negeri

Hubungan Internasional

Page 38

AS melalui draf (bill) oleh DPR AS Urusan wilayah Asia dan Pasifik Eny Faleomavaega dan Donal Pyne untuk membentuk komisi khusus dalam penyelesaian masalah Papua Barat. Inilah tugas-tugas yang harus dicontohi parlement-parlement internasional yang tergabung dalam IPWP agar mendorong negaranya membuat kebijakan-kebijakan luar negeri khususnya terhadap penyelesaian masalah Papua Barat melalui mekanisme internasional. Berikut ini tahapan dan tugas-tugas yang sedang didorong di tingkat Internasional secara umum dalam penyelesaian status politik Papua Barat. - kawasan yang bisa didorong ke PBB melalui forum-forum dan Negara-negara anggota PBB yang ada di kawasan pasifik. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana para diplomat kita di pasifik dan di Eropa melalui IPWP terus menggalang solidarias internasional dengan cara mempengaruhi Negara-negara anggota PBB dan lebih penting lagi Negara pemegang hak veto melalui kompanye, loby ke tingkat Parlement (tingkat DPR) di Negara-negara. Parlemen adalah wakil resmi masyarakat internasional yang ada di setiap Negara, sehingga dukungan tingkat parlemen terhadap penyelesaian Papua Barat merupakan suara rakyat atau suara komunitas Internasional yang mau tidak dapat memaksa pemerintahan di Negara-negara mereka untuk mengambil kebijakan, terlepas dari kepentingan ekonomi politik Negara tersebut terhadap Papua Barat. Semua jaringan Papua Merdeka yang ada di setiap Negara harus menggalang (loby) ke parlement dari Negara tersebut untuk tergabung ke IPWP agar membentuk kekuatan bersama mendorong penyelesaian Papua Barat. Kekuatan internasional dapat mendorong Jakarta untuk mengambil kemauan-kemauan politik dalam penyelesaian masalah Papua Barat secara damai. Contoh: Kongresman AS yang terus memaksa kebijakan luar negeri AS melalui draf (bill) oleh DPR AS Urusan wilayah Asia dan Pasifik Eny Faleomavaega dan Donal Pyne untuk membentuk komisi khusus dalam penyelesaian masalah Papua Barat. Inilah tugas-tugas yang harus dicontohi parlement-parlement internasional yang tergabung dalam IPWP agar mendorong negaranya membuat kebijakan-kebijakan luar negeri khususnya terhadap penyelesaian masalah Papua Barat melalui mekanisme internasional. Berikut ini tahapan dan tugas-tugas yang sedang didorong di tingkat Internasional secara umum dalam penyelesaian status politik Papua Barat.

Hubungan Internasional

Page 39

BAB III PENUTUP
Demikianlah hasil penyusunan makalah oleh kelompok 4 XI IPS 2 mengenai topik “Hubungan Internasional”. Semoga dapatmemberikan manfaat kepada para pembaca dan khususnya penyusun. A. Kesimpulan Dari hasil penyusunan makalah ini, dapat di simpulkan bahwa hubungandan kerja sama internasional penting untuk menumbuhkan rasa persahabatandan saling pengertian di dunia, memlihara dan menciptakan hidup berdampingan secara damai dan adil dengan bangsa lain, mencegah dan menyelesaikan konflik, perselisihan, permusuhan, atau sengketa yang mengancam perdamaian dunia, mengembangkan cara-cara penyelesaian masalah secara damai melalui perundingan dan diplomasi, membangun partisipasi dalam rangka ikut melaksanakan ketertiban dunia, serta menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara di tengah bangsa- bangsa lain. B. Saran Setelah menyusun makalah ini, penyusun mempunyai beberapa saranyaitu sebagai berikut : 1. Kepada para pembaca yang mempelajari makalah ini dan ingin lebih memperluas pengetahuan tentang hubungan internasional, silahkan mencari referensi-referensi demi pemenuhan bahan ajaran. 2. Kepada para pembaca sebaiknya memahami topik ini dengan sepenuhnya demi menjadi 3. warga Indonesia berhati nasionalis dan mencintai sertamelindungi Indonesia di mata dunia. Saran khusus buat Kementrian Luar Negeri Indonesia di bawah pimpinan Bapak Marty Natalegawa agar senantiasa melaksanakan tugas danfungsinya dengan sebaik-baiknya mengingat saat ini permasalahan yangterjadi dilingkungan internasional sangat rawan terjadi ataupunmerambah ke dalam bumi pertiwi Indonesia. Kepada rakyat Indonesia agar menyikapi revolusi-revolusi yang terjadiakhir-akhir ini di dunia seperti di Tunisia, Yaman, Libya, ataupun Mesir agar di sikapi secara kritis dan mengambilsisi positifnya.

4.

Hubungan Internasional

Page 40

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, Suardi, dkk. 2004. Kewarganegaraan 2 untuk SMA kelas XI. Cetakan Pertama. Jakarta : Yudhistira Wahyu, Nur. 2007. Kewarganegaraan 2. Cetakan Pertama . Jakarta : Yudhistira www.wikipedia.com
https://ahmadmuhli.wordpress.com/2010/08/31/artikel-bagus/comment-page-1/ http://wayangracias.blogspot.com/2012/04/peranan-organisasi-internasional-asean.html http://salman-arif.blogspot.com/2010/04/teori-hubungan-internasional.html http://www.scribd.com/doc/54586440/Hubungan-Internasional-Duta-Asrama http://www.umaginews.com/2012/02/penyelesaian-masalah-papua-barat-suatu.html http://www.scribd.com/doc/80350201/Makalah-Hubungan-Internasional#download

Hubungan Internasional

Page 41

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->