1 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Banyaknya tuntutan perusahaan yang menginginkan lulusan sarjana siap pakai menuntut para mahasiswa untuk mencari pengalaman tentang dunia kerja sebelum lulus. Hal ini menjadi titik tolak bagi program studi Teknik Mesin Universitas Indonesia untuk mengadakan mata kuliah Kerja Praktek yang merupakan salah satu syarat wajib kelulusan. Keadaan lapangan menunjukkan bahwa kemampuan intelejensi yang bagus disertai pengalaman dan keterampilan yang cukup akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mahasiswa juga diharapkan mengikuti akan perkembangann teknologi yang semakin pesat dalam dunia industri. 1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek Melalui Kerja Praktek yang diadakan ini mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan serta mempelajari situasi pekerjaan kelak. Yang menjadi masalah adalah adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri, antara kualitas yang ditawarkan dengan persyaratan yang dibutuhkan tidak sesuai. Untuk itu perlu adanya jembatan antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Dunia pendidikan lebih memfokuskan kepada masalah akademis, sedangkan dunia industri lebih memfokuskan pada pengalaman dan keterampilan kerja. Salah satu model yang dianggap dapat menjembatani kesenjangan itu adalah program link and match atau system kerja praktek yang dikenalkan saat ini. Model ini menawarkan keuntungan pada kedua belah pihak, dimana dunia pendidikan mendapatkan informasi tentang kondisi yang ada pada dunia kerja, sehingga dunia pendidikan dapat menerapkan system yang dapat menunjang ke arah dunia kerja dan pendidikan yang dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Sebaliknya dunia kerja mendapat informasi pemecahan-pemecahan masalah yang dihadapi perusahaan dan perusahaan tersebut tidak perlu lagi mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk melakukan training. Apabila diadakan training maka waktu training tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama karena tenaga kerja yang akan detraining sudah mengenal dunia kerja, sehingga lebih mudah mensosialisasikan ilmu yang dimilikinya.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

2 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah : 1. Memperkenalkan kondisi dan situasi dunia kerja kepada mahasiswa sehingga mahasiswa memiliki pengalaman dan dapat beradaptasi dengan cepat. 2. Mahasiswa dapat melihat sendiri aplikasi dari ilmu pengetahuan dan dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. 3. Menjembatani keinginan antara dunia pendidikan dan dunia industri sehingga dapat tercipta sumber daya manusia yang berkualitas lebih baik. 4. Mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi dalam perusahaan yang berkaitan dengan ilmu keteknikan sehingga dapat dijadikan topik dalam membuat tugas akhir 5. Memenuhi mata kuliah kerja praktek di Teknik Mesin Universitas Indonesia. 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan British Petroleum merupakan perusahaan minyak dan gas bumi yang berkantor pusat di London,Inggris. British Petroleum telah beroperasi di Indonesia lebih dari 35 tahun, dan kini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, dengan investasi kumulatif lebih dari USD 5 Milyar.Pada Maret 2005 British Petroleum Indonesia mengakuisisi asset LNG Tanguh yang ada di Papua.Pada laporan ini penulis menitikberatkan pada 1.4 Metodologi Penulisan Dalam pelaksanaan kerja praktek ini metode yang digunakan adalah: 1. Orientasi lapangan Pengenalan profil dan produksi Pertamina UP-VI Balongan diperoleh dari penjelasan pembimbing kerja praktek, pengawas, operator, staff, dan teknisi di UP-VI Balongan, dalam hal ini penulis diorientasikan pada unit ARHDM. 2. Pengumpulan dasar teori Dasar teori dengan jalan studi literature dari buku-buku yang berhubungan dengan tema. Di samping itu penjelasan dari pembimbing kerja praktek mengenai dasar teori yang berkaitan dengan kasus yang dianalisa. 3. Diskusi Diskusi dilakukan dengan pembimbing, teman kerja praktek untuk memperoleh pengetahuan tentang analisa yang dilakukan. 4. Analisis permasalahan
Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

3 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Analisis dilakukan dengan arahan pembimbing sehingga analisis dapat diambil

kesimpulan dan saran perbaikan yang sesuai dengan disiplin ilmu teknik mesin. 1.5 Sistematika Pembahasan Laporan ini dibahas dan disusun secara berurutan untuk memberikan gambaran umum tentang PT. Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan serta analisa efisiensi dan pemeliharaan Pompa tipe sentrifugal 13-P-101 A. Adapun sistematika pembahasan yang digunakan adalah: I. BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang penulisan laporan, maksud dan tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
II.

BAB II GAMBARAN UMUM PT. PERTAMINA UP-VI BALONGAN Memberikan penjelasan secara umum tentang profil perusahaan. BAB III PROSES PRODUKSI Memberikan penjelasan penjelasan mengenai proses pengolahan minyak pada masing-masing unit.

III.

IV.

BAB IV UTILITY Memberikan penjelasan mengenai sarana penunjang yang terdapat di wilayah Pertamina RU-VI Balongan.

V.

BAB V LANDASAN TEORI POMPA DAN MAINTENANCE Bab ini berisi tentang dasar-dasar teori mengenai pompa dan maintenance. BAB VI PERAWATAN POMPA 13-P-101 A Bab ini berisi tentang proses perawatan, spesifikasi, dan proses over haul pompa.

VI.

VII.

BAB VII PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari pelaksanaan kerja praktek beserta pembuatan laporannya.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

Ibnu Soetowo. Stanvac dan maskapai-maskapai lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. 27/1968 PN PERMINA diubah menjadi PN PERTAMINA. Sebagai sumber devisa negara 3. Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1885 dan berhasil menemukan sumber minyak yang pertama di Indonesia. No. Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber minyak bumi di Kruka (Jawa Timur) tahun 1887. pada saat itu tumbuh tekad untuk melaksanakan kemandirian bangsa Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Sebagai landasan kerja baru lahirlah UU. Menyediakan dan menjamin pemenuhan BBM (Bahan Bakar Minyak) 2.4 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB II GAMBARAN UMUM PT. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilko Jan Zijkler yang melakukan pengeboran di Telaga Tiga. PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA. Tarakan tahun 1905 dan di Talang Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun 1921. Pamusian. No. Kemudian dengan PP. Namun usaha tersebut mengalami kegagalan. 198/1961. Setelah Kemerdekaan Indonesia. No. PT TMSU diubah menjadi PT PERMINA. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksana alih teknologi dan pengetahuan Ketika PERTAMINA membeli kilang minyak SEI Gerong dari PT STANVAC tahun 1970. Penemuan-penemuan dari penghasil minyak lain mendorong keinginan maskapai perusahaan asing seperti Royal Deutche Company. Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN 2. yang merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengolah semua bentuk kegiatan di bidang Industri dan Perminyakan di Indonesia dengan tiga tugas utama : 1. Caltex. terjadi beberapa perubahan pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia. Sejak saat itulah PN PERTAMINA diubah menjadi PERTAMINA. Pada tanggal 10 Desember 1957 atas perintah Mayjend Dr. Sheel.1 SEJARAH SINGKAT PERTAMINA Usaha pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink pada tahun 1871 di Cibodas dekat Majalengka (Jawa Barat). Cepu (Jawa Tengah) pada tahun 1901. 8/1971 pada tanggal 15 September 1971. Ledok.

Hingga sekarang PERTAMINA telah mempunyai tujuh buah kilang. yaitu : Tabel 2. 2. 2004 BBM dalam menunjang dan penyaluran pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi. Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri adalah konsumsi minyak yang meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai dampak pesatnya kegiatan pembangunan. terjamin. pengadaan. tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah PERTAMINA.000 BPSD 125.700 BPSD Sumber : PERTAMINA. Seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam tubuh PERTAMINA maka pada tanggal 17 September 2003 kembali berubah menjadi PT. dalam pembangunan kilang-kilang baru dan memperluas kilang-kilang lama diterapkan teknologi baru yang berwawasan lingkungan. suplai yang berkesinambungan. Oleh karena itu. pertimbangan ekomomi. dan keluwesan pengadaan. kilang-kilang minyak yang dioperasikan menggunakan teknologi yang cukup tertinggal dan tidak efisien. Di samping itu. PERTAMINA (Persero).000 BPSD 253.2 LOGO PERTAMINA Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dalam mengoperasikan kilangkilang dalam negeri.000 BPSD 996.000 BPSD 170. Pemenuhan kebutuhan BBM merupakan tugas yang cukup berat karena peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki PERTAMINA tidak berjalan seiring dengan lonjakan konsumsi BBM yang dibutuhkan masyarakat.000 BPSD 133.5 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dibidang energi dengan mengoperasikan kilang minyak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.000 BPSD 10. yaitu kepastian dalam pengadaan.700 BPSD 300. dan ekonomis.1 Nama Kilang PERTAMINA dan Kapasitasnya Nama Kilang UP-I PANGKALAN BRANDAN UP-II DUMAI DAN SUNGAI PAKNING UP-III PLAJU DAN SUNGAI GERONG UP-IV CILACAP UP-V BALIKPAPAN UP-VI BALONGAN UP-VII KASIM-SORONG Total Keterangan : BPSD = Barrel Per Stream Day Sasaran utama pengadaan Kapasitas 5.

mendorong perubahan Corporate Culture bagi seluruh pekerja.3 SEJARAH PT. b. c. Adapun pertimbangan penggantian logo yaitu untuk dapat membangun semangat/spirit baru. Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan. PERTAMINA (Persero) pada tahun 2003. Warna-warni yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis. b. Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi Perseroan. dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Gambar 2. antara lain : a. PERTAMINA (Persero) tetapi juga bagi bangsa dan negara. Akan tetapi.6 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi krisis PERTAMINA pada saat itu. Merah : keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam keadaan.1 Logo PERTAMINA (Persero) Elemen logo merupakan representasi huruf P yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah. Perubahan strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan pasca PSO serta semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru di bidang Hulu dan Hilir. tidak saja bagi PT. program tersebut tidak sempat terlaksana karena adanya perubahan kebijakan/pergantian Direksi. dimaksudkan sebagai PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif. Wacana perubahan logo berlangsung sampai dengan terbentuknya PT. mendapatkan image yang lebih baik diantara perusahaan minyak dan gas global serta mendorong daya saing perusahaan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. PERTAMINA (PERSERO) RU VI-BALONGAN Dalam kaitannya dengan upaya mengamankan kebijakan nasional di bidang energi. keberadaan kilang Balongan mempunyai makna yang besar. Warna-warna tersebut yaitu : a. Biru : mencerminkan handal. Pemikiran tersebut dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dan diperkuat melalui Tim Restrukturisasi PERTAMINA tahun 2000 (Tim Citra) termasuk kajian yang mendalam dan komprehensif sampai pada pembuatan TOR dan perhitungan biaya. Di satu pihak hal ini dapat Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 2.

Tersedianya sarana infrastruktur. dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Mei 1995. Dari studi kelayakan yang telah dilakukan. Dekat dengan sumber gas alam yaitu DOH-JBB (Jawa Bagian Barat) dan BP. c. f. Relatif dekat dengan konsumen BBM terbesar. yaitu Jakarta dan Jawa Barat. terutama Jakarta dan sekitarnya. 2.4 TATA LETAK PT. pembangunan kilang Balongan diadakan dengan sasaran antara lain : a. Tersedianya lahan yang dibutuhkan yaitu bekas sawah yang kurang produktif. c. Selaras dengan proyek pipanisasi BBM di Pulau Jawa. di lain pihak hal ini juga dapat mengatasi kendala sulitnya mengekspor beberapa jenis minyakdi dalam negeri dengan mengolahnya di kilang minyak di dalam negeri. Telah tersedianya sarana penunjang yaitu : Depot UPMS III. yaitu : a. PERTAMINA (Persero) untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin hari semakin bertambah. b. Peningkatan nilai tambah dengan memanfaatkan peluang ekspor. Daerah Balongan dipilih sebagai lokasi kilang dan proyek kilang yang dinamakan Proyek EXOR (Export Oriented Refinery) I. e. khususnya untuk DKI Jakarta dan sekitarnya. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Memecahkan kesulitan pemasaran minyak mentah jenis Duri. Terminal DOH-JBB (Jawa Bagian barat). d. Conventional Buoy Mooring (CBM) dan Single Buoy Mooring (SBM). Start Up kilang PT.7 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia meningkatkan kapasitas pengolahan di dalam negeri yang masih sangat dibutuhkan. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dilaksanakan pada bulan Oktober 1994. d. Pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri. b. Keberadaan kilang Balongan ini juga merupakan langkah proaktif PT. Pengembangan daerah. Pemilihan Balongan sebagai lokasi Proyek EXOR I didasari atas berbagai hal.

Air Sumber air yang terdekat terletak di Waduk Salam Darma. Transportasi pasir dari tempat penambangan ke area penimbunan dilakukan dengan kapal yang selanjutnya dipompa ke arah kilang. yang merupakan salah satu daerah kecamatan di Kabupaten Indramayu. Pulau ini berjarak ±70 km arah bujur timur dari pantai Balongan. Sarana kilang : 250 Ha daerah konstruksi kilang 200 Ha daerah penyangga b. PT. Krakatau Steel. kurang lebih 65 km dari Balongan ke arah Subang. Kegiatan penimbunan ini dikerjakan dalam waktu empat bulan. Area kilang terdiri dari : a. Sarana perumahan : 200 Ha Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis. Cemara. diperlukan pengurukan dengan pasir laut yang diambil dari pulau Gosong Tengah. Sejak tahun 1970. Pupuk Kujang.65 MMSCFD disalurkan ke PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan adalah : 1. Indocement. saat ini 50% feed) 2.8 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pabrik PT. dan Palimanan. Dumai (awalnya 20%. Bahan baku Sumber bahan baku yang diolah di PT. Tugu Barat. Kandang Haur Timur. PT. Pengangkutan dilakukan secara Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Semen Cibinong. Kandang Haur Barat. dan lepas pantai. Minyak mentah Duri. Minyak mentah Minas. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Jawa Barat. Untuk penyiapan lahan kilang. PERTAMINA (Persero) RU-VI didirikan di Balongan. Riau (awalnya 80%. Sedangkan produksi minyak buminya sebesar 239. minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Depot UPPDN III sendiri baru dibangun pada tahun 1980 untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar di daerah Cirebon dan sekitarnya. antara lain : a. Rejasari. lokasi ini cukup strategis dengan adanya faktor pendukung. b. yang semula sawah tadah hujan. saat ini 50% feed) 3. Sebanyak 224 buah sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah sumur Jatibarang.

SBM. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan terdiri dari dua golongan yaitu golongan pertama. mengolah bahan baku minyak bumi menjadi produk BBM dan non-BBM. dan logo PT. Fasilitas untuk pembongkaran peralatan dan produk (propylene) maupun pemuatan propylene dan LPG dilakukan dengan fasilitas yang dinamakan jetty facilities. fenol. Visi Menjadi Kilang Unggulan a. Kilang. c. kilang Balongan ini mengolah kembali air buangan dengan sistem wasted water treatment. dipekerjakan untuk proses pengoperasian. sedangkan golongan kedua. 2.9 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pipanisasi dengan pipa berukuran 24 inci dan kecepatan operasi normal 1. heat exchanger (sebagai pendingin) air minum. Marine facilities adalah fasilitas yang berada di tengah laut untuk keperluan bongkar muat crude oil dan produk kilang.5 IDEOLOGI PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan berdekatan dengan jalan raya dan lepas pantai utara yang menghubungkan kota-kota besar sehingga memperlancar distribusi hasil produksi. dimana air keluaran di-recycle ke sistem ini. dan kebutuhan perumahan. Fasilitas ini terdiri dari area putar tangker. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan telah dirumuskan dan disahkan melalui Surat Keputusan General Manajer No. berupa tenaga kerja PT.200 m3. d.100 m3 serta kecepatan maksimum 1. dan jalur pipa minyak. dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan. dipekerjakan pada proses pendirian kilang Balongan yang berupa tenaga kerja local non-skill sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. tanggal 30 November 1999. moto. Tenaga Kerja Tenaga kerja yang dipakai di PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Visi. Kpts092/E6000/99-SO. Transportasi Lokasi kilang PT. Secara spesifik tugas unit ini adalah memperbaiki kualitas effluent parameter NH3. 1. Dalam pemanfaatan air. Air tersebut berfungsi untuk steam boiler. rambu laut. terutama untuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. PERTAMINA (Persero) yang telah berpengalaman dari berbagai kilang di Indonesia. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

yang berteknologi maju dan terpadu secara aman. Mengoperasikan kilang. efisien serta berwawasan lingkungan. Misi a. professional. c. berdaya saing tinggi. Unggulan. handal. Aman : bagi pekerja. peralatan. masuk dalam nominasi kelompok kilang terbaik dunia. unggul dalam segala aspek bisnis misalnya : lebih aman. dan lingkungan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . : mutu dan harga kompetitif : domestik dan internasional : selalu menyempurnakan teknologi proses dan peralatan : terintegrasi penuh antara kilang dan pipa penyalur Terpadu BBM j. efisien. b. keterbukaan. maju. Minyak bumi b. Tepat jumlah c. Teknologi maju i. Pasar h. dan prinsip saling menguntungkan. Tepat waktu e. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan secara professional yang didukung oleh sistem manajemen yang tangguh berdasarkan semangat kebersamaan. mutu. masyarakat. waktu. bermutu internasional. Mengelola aset PT. untuk memroduksi BBM dan non-BBM secara tepat dalam jumlah. 2. andal. Penjelasan dari misi : a. Mengolah minyak bumi. Berdaya saing tinggi g.10 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia b. Tepat mutu d. Berorientasi laba : Crude Oil : jumlah yang optimal : mutu produk yang memenuhi standar : penyerahan produk pada waktu yang diinginkan : dititikberatkan pada pencarian laba disamping misi sosial f. dan berorientsasi pada laba serta berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar. berwawasan lingkungan dan mampu menghasilkan laba sebesar-besarnya.

proaktif. 3. Saling menguntungkan 3. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dibandingkan dengan kilang sejenis. dan visioner : kerja sama yang sinergi : bersih dan transparan : bagi pekerja dan mitra bisnis Meraih keunggulan komparatif dan kompetitif 1. keunggulan dasar yang dimiliki PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan merupakan hasil lomba dan desain original oleh sdr. Keunggulan komparatif. Logo Logo PT. Pekerja Bagian Fasilitas Engineering PT. produk. pekerja. 4. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. keunggulan daya saing terhadap kilang sejenis dalam hal efisiensi. dan inovatif : berani mengambil resiko. Andal tertentu l. Penjelasan dan arti logo PT. H. dan harga. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yaitu : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . yaitu lokasi yang strategis karena dekat dengan pasar BBM dan non-BBM. Manajemen tangguh q. SA. Keunggulan kempetitif. 2. dana : SDM yang berprestasi. menunjukkan upaya maksimum yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme untuk visi PT. Berwawasan lingkungan : memenuhi peraturan perundangan yang berlaku tentang lingkungan hidup n. Motto : peralatan. Semangat kebersamaan r. kompak. Thamrin. Meraih. M. Efisien : produktivitas tinggi m. Nomor Pekerja 284742.11 Laporan Kerja Praktek PTsescara kontinu dalam waktu British Petroleum Indonesia : mampu beroperasi k. mutu. Profesional p. Aset o. Keterbukaan s. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan.

dan produktivitas serta optimasi operasi kilang. Perluasan pasar atau produk (Market-Product Development) dengan melakukan penetrasi pasar. Hijau. yaitu : 1. 2. inovatif. non-BBM. warna logo Pertamina yang berarti loyal kepada visi Pertamina. d. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. dan divertifikasi. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . menunjukkan warna asli reaktor yang berarti bersih. Strategi Dalam mendukung pencapaian visi dan misi telah dirumuskan Sembilan strategi utama PT. Ganbar : konstruksi regenerator dan reaktor di unit RCC (Residue Catalic Cracker) yang menjadi cirri khas dalam proses pengolahan minyak di PT. b. 2. dan dinamis dalam setiap tindakan yang selalu berdasarkan kebenaran. professional. proaktif. berdaya saing tinggi. untuk menurunkan biaya produksi BBM. c. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. pengembangan produk. 3. Biru. bermutu tepat. keamanan. dan Petrokimia pada kualitas tetap. non-BBM. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Lingkaran : fokus ke bisnis inti dan sinergi.12 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. dan Petrokimia (di luar DKI Jakarta dan Jawa Barat). Keunggulan biaya (Cost Leadership) secara keseluruhan dilakukan dengan upaya meningkatkan kehandalan. Untuk biaya survei dan riset pasar mutlak harus dilakukan agar menghasilkan produk yang berorientasi pasar. Putih. bernilai tinggi. warna logo Pertamina yang berarti keagungan visi PT. Dengan demikian produk akan mempunyai daya saing tinggi dan mampu menguasai pasar. sehubungan masih tersedianya peluang pasar BBM. 5. efisiensi. pengembangan pasar. Biru. menunjukkan warna asli regenerator yang berarti selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Warna : a.

dengan pemasok bahan baku (Crude Supplier) dan industry hilir. akuisisi. Pengolahan bahan baku tersebut menghasilkan produk sebagai berikut : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Meningkatkan produk bernilai tinggi (Maximize Propylene dan LPG maupun produk lain. aliansi. dengan menerapkan sistem pengendalian dan pengawasan perusahaan (good corporate governance) yang didukung sistem pelaporan kinerja yang berstandar nasional dan internasioanl. dalam rangka peningkatan laba PT. dengan imbalan yang menarik secara berkesinambungan dan konsisten serta membentuk budaya kerja yang sinergis. 9. Untuk itu pemilihan mode operasi yang sesuai serta jenis minyak yang diolah. masyarakat sekitarnya. Pengintegrasian kilang (Refinery Back-Forward Integration). profitisasi.6 KILANG PT. 4. kesederhanaan dan prinsip saling menguntungkan. lingkungan. 8. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan mempunyai kapasitas 125. terutama British Petroleum Indonesia 3. 7. yaitu : operasi kilang.000 BPSD dengan bahan baku yang terdiri dari minyak mentah Duri 80%. mempunyai motivasi kuat.13 Laporan Kerja Praktek PTHigh Value Product). minyak mentah Minas 20% dan gas alam dari Jatibarang sebagai bahan baku H2 plant sebanyak 18 MMSCFD. mutlak diperlukan. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Kilang PT. kebersamaan. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. dan lain-lain. 6. keterbukaan. financial. Pembangunan hubungan dan kemitraan dengan pihak luar (Good Human Relationship) yang baik berdasarkan prinsip kemanusiaan. Menampilkan citra perusahaan (Company Image) yang baik kepada pihak yang berkepentingan (stakeholder) seperti pekerja. persaingan dan lingkungan kerja yang sehat. pemerintah. Pemberdayaan dan pengembanan pekerja (Employee Empowerment and Development) yag professional dan berbasis kompetensi. sumber daya manusia. 5. 2. komersiansi dan divertasi. Hal tersebut dilakukan dengan memodifikasi dan ekspansi. Pengelolaan organisasi secara efektif (Effective Organization) dan modern. Penerapan sistem manajemen mutu (Quality Management System) secara intensif dan mencakup seluruh kegiatan operasional.

Teknologi proses yang dipilih ditujukan untuk memproduksi premium. LPG.7 PROYEK DAN KONSTRUKSI BALONGAN Proyek kilang PT. fuel oil. kemudian setelah beroperasi namanya menjadi kilang BBM PT. Kegiatan Engineering Procurement and Construction (EPC) dilakukan oleh konsorsium. Sebagai product offtaker (pembeli) adalah British Petroleum (BP).3 Unit-unit dan Sarana di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan No 1 2 Unit Proses CDU ARHDM Kode Kapasitas Unit (BPSD) 11 125.900 27.000 9. Lisensi proses pengolahan dari unit-unit kilang dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2. dan decant oil. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Jenis Produk BBM : Motor Gasoline A Kerosene Automotive Diesel Oil Industrial Diesel Oil Decant Oil & Fuel Oil Non BBM : LPG B Propylene Ref. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.000 Lisensor FW Chevron Kontraktor FW JGC Proses I II Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Foster Welter.000 11. 2004 PT.000 12 & 58. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan semula dinamakan EXOR-I.300 565 545 125 Satuan BPSD BPSD BPSD BPSD BPSD Ton Ton Ton 28.2 Produk PT. Jangka waktu pelaksanaan adalah 51 bulan. yang terdiri dari JGC.000 16. yaitu sejak EPC Agreement ditandatangani pada tanggal 1 September 1990 dan berakhir pada bulan November 1994. dan diatur dalam EPC Agreement. IDF. dan solar sebanyak 72% sedangkan sisanya berupa propylene. kerosene. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI 2.14 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Tabel 2. Fuel Gas Sulfur Kapasitas 58. Bahan pembantu proses yang berupa bahan kimia dan katalis sebagian besar masih diimpor.500 Ton Sumber : PERTAMINA.

Spesifikasi umpan minyak mentah yang masuk ke CDU dapat dilihat pada tabel berikut : Minyak Mentah API Densitas (gr/ml) @150C Minas 35.8 BAHAN BAKU PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan adalah minyak Minas dan Duri dengan perbandingan Duri : Minas = 50% : 50%.000 UOP UOP JGC FW I I 5 16 - UOP FW I 6 Treatment Unit Gasoline 17 22.000 76 MMSCFD - FW FW JGC FW JGC JGC JGC I I II II I I I 27 MT/Day JGC Sumber : PERTAMINA. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN 1.500 MERICH EM MERICH EM UOP UOP UOP FW JGC JGC FW I 7 Treatment Unit Propylene Recovery Catalytic LCO Hidrogen Plant Amine treater Plant Sour Water Stripper Sulphur Plant 18 47. Bahan Baku Utama Minyak mentah yang diolah di PT.000 12.1 0.15 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3 4 GO HTU RCC Unsaturated Gas Concentratio n LPG 13 14 15 32.000 13.000 83.2 0. 2004 2.000 FW I 8 9 10 11 12 13 14 19 20 21 22 23 24 25 7.927 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .8485 Duri 21.

4 7.6 0.4 24 0. Bahan Baku Pendukung Di PT. selain bahan baku utama digunakan juga bahan baku pendukung berupa bahan kimia. 2004 3. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.19 5 0. U n it 1 1 Jenis Cairan Amonia Anti Foulan t Corrosi ve Inhibit or Demuls ifier Wetting Agent Suction Feed Pump dan Unit Desalter Preparasi larutan pada 11-V-114 Memisahkan emulsi Membantu mempercepat Overhead 101 11-VMencegah korosi Aplikasi Overhead 105 Suction A/B) dan 11-CFeed Unit Fungsi Menetralisir HCL Mencegah terjadinya fouling HE pada Pump (11-P-101 Desalter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .5 <1 8 < 0.4 7.4 1 32 1.6 0. dan resin yang dipergunakan pada masing-masing unit beserta aplikasi dan fungsinya.05 11 0.16 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Viskositas (cSt) : @300C @400C @500C Sulphur (%-Weight) Carbon (%-Weight) Titik Tuang (0C) Asphalt (%-Weight) Vanadium (ppm wt) Nickel (ppm wt) Total Asam (mg KOH) Salt (lb/1000 bbl) Water (%-volume) 23. PERTAMINA. katalis.08 2.3 Sumber .8 591 274.6 11.6 2.

E-111 A/B 1 5 . 2 4 Anti Foam DIPA Preparasi larutan dilakukan 23-V-102 Injeksi pada pada Anti Oksida n Aliran produk 18V-102. 1 9 . 106 dan 18V-102.17 Laporan Kerja Praktek PT British pemisahan Indonesia Petroleum Kalgen 15-B-101. 1 8 . 102. 18-V-104 Katalis 18-A-202. 1 7 . 206 Oksidasi Sodium mercaptide Mengikat H2S Anti oksidan Mengikat H2S Mencegah foaming kolom RCC (24C-201) dan kolom NH3 stripper (24C-102) dan aliran Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 15-E104 A/B Injeksi pada air dari cooling water untuk 16-E-103 Mengatasi kesadahan Kurilex Pencegah korosi A/B. 2 0 2 3 . 18-V-104 Kaustik 11-V-101. 1 6 . E-105 A/B. 103. E-104 A/B.

PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Jenis katalis/Resin ICR131KAQ Sulphur absorber Unit Aplikasi 12/13- Fungsi Mengurangi kandungan logam Adsorbsi H2S Memecah rantai hidrokarbon panjang Adsorbsi moisture dari LPG campuran C3 Menghilangkan kandungan metal Menghilangkan COS dari propylene Menjenuhkan senyawa diolefin menjadi monoolefin Adsorbsi moisture dari LPG Hidrogenasi 12.18 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia masuk 23-V-102 Soda 24-V-302.101/10 2/103 22-R-102 A/B 15-R- 14.13 R.5 Jenis Bahan Kimia PT.21 Katalis UOP 15 Molsieve ODG-442 E-315 19 20 Katalis Pru 101/102/ 103/104 19-V104 A/B Propylene Metal Treater Alcoa Selecsorb COS 1/8” 19-V111 11-V112 A/B Katalis SHP H14171 19-R-101 A/B Rock Salt Hydrogenerato 14/21-V101 22-R-101 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 24-V- Menetralisir 303 dan 24-Z-301 kaustik Sumber : PERTAMINA. 2004 Tabel 2.

Resin Kation Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . C-200F 22-V105 A/B 22-V109 A-M 55-A- Karbon Aktif Strong Acid 101 A/BS1 Kation pada 55A-101 A/B-V1. N2. CO2. dan 23 Karbon Aktif Amine Filter 25 Claus Catalyst 55 Resin Anion 23-S101/103 25-R101/102/ 103 ASB-1p & Resi Kation C-249 Lynde Adsorbent tipe LA22LAC-612.19 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleummelepas untuk Indonesia r High temperature Shift Conventer 22 type C12-4 Hydrogen Reformer Catalyst 22-F-101 22-R-103 kandungan sulfur Mengubah CO menjadi CO2 Mengubah gas alam menjadi H2 Menyerap komponen 22-S-102 yang mengakibatkan foaming Menyaring partikel > 10 micron di Lean Mereaksikan gas alam Mereaksikan kation anion Menyerap pengotor HC) Menyaring bahan-bahan organic Menghilangkan kation/anion H2 (CO.

listrik.20 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia anion pada 55A-101 A/B-V2 58-D1/8”.6 Jenis Katalis dan Resin PT. dan sebagainya. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan : 1.9 STRUKTUR ORGANISASI PT. Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai beberapa bidang dan bagian yang ada di PT. Menetapkan bahan-bahan kimia yang dipakai 4. baik dari segi pengadaan. Memonitor perubahan-perubahan kondisi operasi 3. Bagian Proses Engineering Tugas dari bagian proses engineering yaitu : 1. Tujuan dibuatnya struktur organisasi adalah untuk memperjelas dan mempertegas kedudukan suatu bagian dalam menjalankan tugas sehingga akan mempermudah untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. b. ball ceramic Molsieve Adsorbsi moisture dari LPG Adsorbsi moisture. Bagian Fasilitas Engineering Activated Alumina ¼”. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan 2. CO2 Siliporite Bidang engineering dipimpin oleh bagian yang bertanggung jawab terhadap penggunaan fasilitas dalam proses operasi kilang. Memonitor operasi kilang 2. Mengesahkan modifikasi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 101 A/BR1-R2 59-A101 A/BA1 Sumber : PERTAMINA. Bidang Engineering a. pengaturan berbagai peralatan dan menetapkan order kerja ke Office Engineering terhadap penyusunan spesifikasi mekanis. 2004 Tabel 2. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan mempunyai struktur organisasi yang menerangkan hubungan kerja antar bagian yang satu dengan yang lainnya dan juga mengatur hak dan kewajiban masing-masing bagian.

b. Menerima dan menyimpan produk Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Bagian DHC (Distiling Hydrotreating Complex) Bagian ini mengelola dan mengawasi area ARHDM dan GO LCO H2. Bagian RCC Bagian ini mengelola dan mengawasi area CDU (Crude Destillation Unit) dan RCC (Residue Catalytic Cracking). Bagian Instalasi Tangki dan Perkapalan Tugas : a. Pengawas harian pengamatan Masing-masing pengawas memimpin 2 orang pemuka (PWK). Inspeksi pada saat pekerjaan berhenti (equipment shutdown) 3. yaitu : a. Inspeksi dapat dilakukan dengan dua cara. yaitu : a. Menyediakan raw material crude b. e. Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan yang Petroleum Indonesia c. b. Bagian Unit Produksi Bidang ini membawahi 6 bagian. d. Inspeksi NDT (Non Destructive Test/korosi) Tugas umum dari bagian Inspeksi adalah memberikan saran dari hasil pemeriksa terhadap fasilitas produksi jika ada penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan standar. Pengawas jaga pengamatan b. PUT Inspeksi Offsite Utilities yang membawahi inspeksi offsite dan utilities c. yaitu : a. Bagian Laboratorium Bagian ini dipimpin oleh kepala Laboratorium yang membawahi Pengawas Utama (PUT) pengamatan yang juga memipin dua pengawas (PWS). b. PUT Inspeksi Plant yang membawahi inspeksi plant dan kilang. c. Bagian SS produksi. yaitu : a. Bidang Inspeksi Bagian ini berada di bawah bidang reliabilitas yang dipimpin oleh kepala bagian yang membawahi 3 orang Pengawas Utama (PUT).21 Laporan Kerja Praktek PT British terjadi 5. Bagian Proyek Engineering 2. Inspeksi pada saat pekerjaan berjalan (on stream).

Penyediaan air (service water. dan cooling water) 4. Tangki yang digunakan untuk menyimpan produk-produk. Coone-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak berat seperti solar dan minyak residu. Penyediaan uap air yang terdiri dari : 1. baik minyak mentah maupun produk jadi.500 m3. Uap tekanan menengah 3. yaitu : 1. Seksi Perencanaan Rutin Anggaran Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kapasitas tangki berbeda-beda. b. Instrument dan plant air e. Uap tekanan tinggi 2. Bagian Utilities Bagian ini berfungsi menunjang operasi kilang dalam penyediaan : a. Penyediaan bahan bakar d. fire water.000 m3 dan terkecil 2. Kapasitas paling besar 67. Sistem perpipaan 3. Truk tangki dan kapal untuk mengeluarkan produk f. Jadi jumlah tangki yang dimiliki yaitu 50 unit yang terdiri dari 3 jenis : a. Uap tekanan rendah b. Penyediaan tenaga listrik c. 2. Spherical tank untuk menyimpan gas. c. Mendistribusikan produk d. Bidang Jasa Pemeliharaan Kilang Bidang jasa pemeliharaan kilang memilki beberapa bagian yaitu : a. Bagian Perencanaan Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Perencanaan yang memiliki empat seksi. Floating-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak ringan seperti mogasdan kerosin. Mengelola buangan minyak Fasilitas-fasilitas yang terdapat pada bagian ini adalah : 1.22 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia c. Fasilitas loading/unloading 4.

g. Kepala Bagian Eng. yaitu Rotating Equipment. Manajemen PT. Bagian Pemeliharaan II Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan parelatan di unit proses ARHDM dan GO LCO H2. Bagian Pemeliharaan III Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di Utillities.23 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2. Bagian Bengkel Bagian ini dipimpin oleh seorang kepala bengkel yang membawahi satu orang Pengawas Utama (PUT) mekanik dan PUT alat-alat dan las konstruksi. e. f. DAN KESELAMATAN KERJA PERTAMINA telah mengambil suatu kebijakan untuk selalu memprioritaskan aspek Kesehatan Kerja (KK) dan Lindung Lingkungan (LL) dalam semua kegiatan minyak dan gas bumi untuk mendukung pembangunan nasional. Offsite. Dikepalai seorang kepala bagian yang membawahi tiga Pengawas Utama yaitu PUT CDU. Bagian Eng. Listrik dan Insturment. Seksi Administrasi b. KESEHATAN. 2. PUT Inst. Stationary. Seksi Perencanaan Material 4. Pem-JPK Bagian ini bertanggung jawab terhadap Quality Control pada saat pelaksanaan pemeliharaan peralatan kilang. c. d. dan Material. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan mendukung dan ikut berpartisipasi dalam program pencegahan keraguan baik terhadap kesehatan karyawan. Bagian Pengadaan-JPK Bagian ini bertanggung jawab dalam pengadaan. PUT RCC. penerimaan dan penyimpanan material. Pem-JPK membawahi beberapa Pengawas Utama. dan Listrik.10 LINDUNGAN LINGKUNGAN. Seksi Perencanaan Program 3. Kilang LPG Mundu dan Water Intake Facility (WIF) Salamdarma. harta benda Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Bagian Pemeliharaan I Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di unit RCC dan CDU.

2/1951 Mengenai ganti rugi akibat kecelakaan kerja yang dikeluarkan oleh Depnaker. Seksi Keselamatan Kerja mempunyai tugas. Mengawasi keselamatan jalannya operasi kilang. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan untuk mendukung program di atas terdiri atas 5 kegiatan : 1. 3. antara lain : a. Membuat dan menyebarkan bulletin KK dan LL pada karyawan agar wawasan karyawan tentang KK dan LL meningkat. d. antara lain : a. c. terganggunya kegiatan operasi serta keamanan masyarakat yang Indonesia oleh kegiatan perusahaan. Seksi Lindungan Lingkungan mempunyai tugas. Pelaksanaan tugas dari LKKK ini berlandaskan : a. Membuat prosedur emergency agar penanggulangan berjalan dengan baik. Seksi Pelatihan mempunyai tugas. 2. c. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KK dan LL PT. b. 4/1982 Mengenai ketentuan pokok pengolahan dan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). 1/1970 Mengenai keselamatan kerja karyawan yang dikeluarkan oleh Depnaker. Membuat rencana pencegahan. PP No. Mengelola regu kebakaran agar selalu siap bila suatu waktu diperlukan. c. 11/1979 Mengenai persyaratan teknis pada kilang pengolahan untuk keselamatan kerja. antara lain : a. UU no. d. 4. e. c. b. antara lain : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Seksi Penanggulangan Kebakaran mempunyai tugas. PP No. UU No.24 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum diakibatkan perusahaan. UU No. Bertanggung jawab terhadap alat-alat keselamatan kerja. b. b. Bertindak sebagai instruktur safety. Mengadakan pemeriksaan kehandalan alat-alat firing. 29/1986 Mengenai AMDAL yang dikeluarkan oleh KLH. Membuat rencana kerja pencegahan kebakaran. Menyiapkan dan mengadakan pelatihan bagi karyawan dan kontraktor agar lebih menyadari tentang keselamatan kerja.

antara lain : a. Hitam dengan sirip putih (1 bulan dikibarkan). 2. 2. 2. 3. untuk kebakaran yaitu kerugian di bawah US$ 10. Bendera Kecelakaaan 1. kebakaran dan pencemaran. Seksi Rekayasa mempunyai tugas. Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping. Memrogram Rencana Kelola Lingkungan. Papan Informasi Kejadian Papan yang berisi lokasi. untuk kecelakaan ringan. 5. Tempat pemasangannya adalah : 1. 2. kebakaran maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering.000. Bendera Pencemaran 1. Lokasi Kejadian Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .000. Bendera Kebakaran 1. untuk kebakaran yaitu kerugian melebihi US$ 10. 3. Penerapan Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LKKK) dilaksanakan dengan membuat program dengan pedoman A-850/E-6900/99-30 yang meliputi : 1. yaitu tidak menimbulkan hari hilang (first aid accident). untuk pencemaran dimana terjadi klaim penduduk. untuk kecelakaan fatal yaitu menyebabkan kematian. Melakukan evaluasi-evaluasi yang berhubungan langsung dengan LKKK Adapun seksi-seksi tersebut di atas bertujuan untuk mencegah kecelakaan. b. Hitam (1 bulan dikibarkan). Merah strip hitam (1 bulan dikibarkan). tanggal. (1 minggu dikibarkan). meninjau ulang gambar-gambar dan dokumen proyek. Di depan fire station 2. Abu-abu muda (2 minggu dikibarkan). untuk pencemaran dimana tidak terjadi klaim penduduk.25 Laporan Kerja Praktek PT British PetroleumPemantauan Lingkungan dan Rencana Indonesia a. Biru (1 minggu dikibarkan). tingkat keparahan kejadian yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja. 4. Warna kuning (1 minggu dikibarkan). b. untuk kecelakaan kerja yaitu kehilangan hari kerja.

26 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

3. Ada di lemari bendera on call. Jam Kerja

Berdasarkan jam kerja, karyawan dapat dibedakan atas karyawan shift dan karyawan reguler.
1. Jam Kerja Shift

Jam kerja shift dilakukan secara bergilir berlaku bagi karyawan yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja shift diatur sebagai berikut : Day shift Swing shift Night shift : 08.00 – 16.00 WIB : 16.00 – 24.00 WIB : 24.00 – 08.00 WIB

Karyawan shift terbagi atas 4 kelompok yaitu A, B, C, dan D dimana jadwal kerja dari masing-masing kelompok adalah bekerja selama 2 hari berturut-turut pada shift yang sama dan setelah itu bergeser ke jam shift berikutnya untuk 2 hari selanjutnya. Selama 6 hari bekerja berturut-turut, setiap kelompok akan mendapat libur selama 2 hari.
2. Jam Kerja Regular

Jam kerja regular ini berlaku bagi karyawan yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja ini berlaku bagi karyawan tingkat staf ke atas. Jadwal kerja jam regular adalah sebagai berikut : Senin – Kamis Istirahat Jumat Istirahat Sabtu dan Minggu Sistem Penggajian Sistem penggajian di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yang merupakan tanggung jawab bagian administrasi keuangan dibayar untuk 8 jam kerja setiap hari. Selain itu, juga diatur tentang lembur, cuti, uang dinas, bonus, kontrak jasa, dan peringatan karyawan (warning slip). Sistem penggajian dibedakan atas :
1. Karyawan tetap, ikatan kerja, dan honorer

: 07.00 – 16.00 WIB : 12.00 – 13.00 WIB : 07.00 – 15.30 WIB : 11.30 – 13.30 WIB : libur

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

27 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Gaji diberikan setiap akhir bulan berupa gaji pokok ditambah dengan tunjangan-

tunjangan yang ada. Besarnya gaji pokok tersebut selain ditentukan oleh golongan dan jabatan juga berdasarkan tanggung jawab pekerjaan masing-masing. Adapun susunan gaji adalah sebagai berikut :
a. Tunjangan (gaji) pokok b. Tunjangan jabatan struktural c. Tunjangan jabatan fungsional d. Uang lembur e. Biaya transportasi 2. Tenaga harian lepas

Gaji yang diberikan setiap hari Sabtu yang jumlahnya tergantung dari jumlah karyawan yang bekerja pada masing-masing hari. Di samping gaji rutin, karyawan akan mendapatkan bonus keuntungan yang jumlahnya tergantung dari laju produksi. Bagi karyawan yang lembur juga diberikan upah tambahan dengan perhitungan sebagai berikut :
a. Lembur hari biasa

Untuk satu jam pertama besarnya satu setengah kali upah per kerja, untuk dua jam berikutnya dua kali upah per jam.
b. Lembur hari Minggu/libur

Untuk setiap jam besarnya dua kali upah per jam. 2.11 Penanganan Limbah PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan menghasilkan berbagai macam limbah, yang terdiri dari : a.Limbah Cair
b. Limbah Gas c. Limbah Padat

A. Pengolahan Limbah Cair

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

28 Laporan Kerja Praktek PT British umumnya mengandung Limbah industri yang dihasilkan industri minyak bumi Petroleum Indonesia

logam-logam berat maupun senyawa yang berbahaya. Selain lobam berat, limbah , atau air buangan indusri, minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. Dalam setiap kegiatan industri, air buangan yang keluar dari kawasan industri minyak bumi harus diolah terlebih dahulu dalam unit pengolahan limbah, sehingga air buangan yang telah diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Untuk mencapai tujuan tersebut, makan dibangun unit Sewage and Effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ini. Secara garis besar effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RUVI Balongan dibagi menjadi dua, yaitu treatment oily water dan treatment air buangan proses. Treatment oily water dilakukan di rangkaian separator sedangkan treatment air buangan proses dilakukan menggunakan lumpur aktif (activated sludge) yang merupakan campuran dari koloni mikroba aerobik. Desain awal dari unit WWT (Waste Water Treatment) adalah untuk mengolah air buangan yang terbagi menjadi dua sistem pengolahan, yaitu :
1. Dissolved Air Floatation (DAF), untuk menisahkan kandungan padatan dan minyak

dari air yang berasal dari air buangan (oily water) ex process area dan tank area. Pada proses ini yang diolah umumnya mempunyai kandungan minyak dan solid yang tinggi tetapi mempunyai kandungan COD dan BOD yang rendah.
2. Activated Sludge Unit (ASU), untuk mengolah secara kimia, fisika dan biologi air

buangan dari unit proses terutama : Treated Water ex Unit Sour Water Stripper (Unit 24) dan desalter effluent water ex Unit Crude Distillation (Unit 11). Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan ammonia, COD, BOD dan fenol sedangkan kandungan minyak dan solid berasal dari desalter effluent water.
B.

Pengolahan Limbah Gas Limbah gas dari kilang ini diolah di sulfur recovery unit dan sisanya dibakar di

incinerator (untuk gas berupa H2S dan CO) maupun flare (gas hidrokarbon).
C.

Pengolahan Limbah Padat

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

Pada sludge selain mengandung lumpur. Lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang di suatu area. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan baru membangun sarana pendidikan Taman Kanak-kanak. b. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan melakukannya dengan membakar sludge dalam suatu ruang pembakar (incinerator) pada temperature tertentu. 2. PT. Tipe B : untuk tim managemen 2. Sekolah Untuk saat ini. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan menyediakan sarana dan prasarana bagi karyawan dan keluarganya.12 SARANA DAN PRASARANA PT. pasir. Tujuan dibangunnya Taman Kanak-kanak ini adalah agar anak-anak karyawan dapat membaur dan bersosialisasi dengan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Perumahan Perumahan dinas dibangun di sekitar pabrik dengan tipe rumah. Sarana dan prasarana tersebut antara lain : a. Tipe E : untuk karyawan bidang produksi Di samping itu. Tipe D : untuk staf 4. PT. sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindari. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan juga memberikan pinjaman uang bagi karyawan untuk kepemilikan rumah BTN di lokasi Kompleks Sibayak Permai.29 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena akan mencemari lingkungan. Sludge ini juga tidak dapat dibuang ke lingkungan sebab tidak terurai secara alamiah dalam waktu singkat. Pemusnahan hidrokarbon perlu dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan. PT. yaitu : 1. dan air juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-recovery ke dalam proses. Tipe C : untuk jabatan kepala bagian 3. Dalam upaya tersebut.

f. g. yaitu di lokasi pabrik serta rumah sakit di lokasi perumahan. Lapangan tenis Lapangan voli Lapangan bulutangkis Kolam renang Lapangan basket Ruang serba guna h.30 Laporan Kerja Praktek PT kebersamaan dan menghindari British Petroleum Indonesia penduduk di sekitar lokasi pabrik agar tercipta adanya kecemburuan social. Sedangkan bagi karyawan shift disediakan dapur di gedung kontrol dan untuk karyawan yang mendapat tugas malam disediakan makanan ekstra oleh perusahaan. 2. Balai Kesehatan Balai kesehatan dibangun di dua tempat. 6. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ke sekolah. Fasilitas ini dapat digunakan oleh karyawan dan keluarga karyawan secara bersama-sama. Asuransi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kantin Disediakan kantin di lingkungan pabrik bagi karyawan-karyawan reguler. seperti : 1. 3. d. e. Sarana Olahraga dan Rekreasi Sarana olahraga juga disediakan bagi karyawan dan keluarga dimana sarana tersebut terletak di dalam lingkungan perumahan karyawan. 4. c. 5. Sarana Ibadah Masdjid Jati dibangun di tengah Wisma Djati dan di lokasi perumahan juga telah dibangun sarana ibadah berupa masjid dan gereja. Transportasi Sarana transoprtasi telah tersedia untuk mengantar karyawan yang pulang dari kerja shift dan disediakan pula transportasi untuk antar-jemput anak-anak keluarga PT.

31 Laporan Kerja Praktek PT British (ASTEK) dan asuransi Setiap karyawan dijamin oleh Asuransi Tenaga Kerja Petroleum Indonesia jiwa raya. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

Unit yang dibangun oleh proyek EXOR-1 Pertamina ini terdiri dari 2 seksi sebagai berikut. Inlet CDU yang berupa campuran minyak mentah dari Duri dan Minas dipompakan menggunakan P-101 A/B menuju V101 A dan V-101 B dan telah melewati 5 buah Heat Exchanger (HE) yang tersusun seri (E-101 sampai E-105) dimana crude dipanaskan hingga mencapai Temperatur 147oC menggunakan waste heat dari produk-produk yang dihasilkan fraksionator. Sulfur Plant (Unit 25). DTU merupakan unit pertama dalam rangkaian proses pengolahan crude oil menjadi produkproduknya dan juga terdapat beberapa unit treating yang mengolah aliran gas dan air untuk menurunkan kandungan sulfur dan ammonia. Fresh water sebagai washer terlebih dahulu masuk ke V-101 B karena minyak dalam vessel tersebut memiliki kandungan garam yang lebih sedikit karena sudah Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan residu. Sour Water Stripper (Unit24). Amine Treatment Unit (Unit 23). Distillation and Treating Unit (DTU) DTU terdiri dari Distillation and Treating Unit (Unit 11). Campuran minyak dan air akan membentuk emulsi sehingga dibutuhkan senyawa kimia tambahan sebagai demulsifier. Unit 11 : Crude Distillation Unit CDU dibangun untuk mengolah campuran minyak Indonesia sebesar 125000 MBSD (828. dan Caustic Soda (Unit 64). Seksi Crude Distillation Seksi ini dirancang untuk mendistilasi campuran crude oil yang menghasilkan destilat overhead terkondensasi.1.1.1.1.1 m3/jam). Unit washer ini terdiri dari dua vessel.1.1. gas oil.32 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB III PROSES PRODUKSI 3. 3. Washer yang digunakan adalah campuran dari Service Water (SW) dan Stripped Sour Water (SSW). Pada V-101 A dan V-101 B crude dicuci dari garam-garam yang dapat merusak katalis dan reaksi dalam reaktor. Campuran minyak mentah ini terdiri dari 50 % crude oil Duri dan 50 % crude oil Minas. yaitu V-101 A dan V-101 B. 3.

Kadar larutan DIPA yang digunakan adalah 2 kgmol/m3 . Off Gas Absorber Berfungsi mengolah off gas dari CDU. Kapasitasnya 18522 Nm3/jam. Kapasitasnya 39252 Nm3/jam.2. Heavy Gas Oil (HGO). Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Unit ini dapat beroperasi dengan baik pada kapasitas antara 50% . ARHDM. 2. GO HTU.1. Crude oil yang telah bersih dari garam mengalami preheating melalui lima buah HE. Seksi Overhead Fraksinasi dan Stabilizer Seksi ini dirancang untuk destilasi lanjutan kondensat overhead menjadi produk LPG. Light Gas Oil (LGO). yaitu : 1. dengan kapasitas 100 % gas yang keluar dari kedua menara penyerap. kerosene.33 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum diharapkan dicuci dalam V-101 A dengan washer yang berasal dari V-101 B. Proses yang dipakai adalah SHELL ADIP dengan larutan DIPA (Diisopropanolamine) sebagai larutan penyerap. lalu masuk ke dalam main fractinator pada tray 31. sehinnga Indonesia fresh water yang belum jenuh dapat mengikat sisa-sisa garam secara lebih efektif. 3. Residue Catalitic Cracking (RCC) Unsurated Gas untuk mengolah sour gas dari unit RCC dan hasilnya ke fuel gas system. Produk-produk yang dihasilkan dari CDU adalah naphta. 3. dan kerosene.100 % kapasitas desain dengan faktor On Stream 0. Unit ini juga dirancang untuk mengolah campuran wild naphta dari gas oil dan Light Cycle Oil (LCO) Hydrotreater. Hasilnya digunakan untuk fuel gas system dan umpan gas Hydrogen Plant.1. dan Atmospheric Residu. Proses ini diperlukan untuk mencegah terjadinya crack pada furnace akibat temperatur yang terlalu tinggi dan dapat mengurangi jumlah fuel yang digunakan dalam furnace. Unit 23 : Amine Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk mengolah sour gas serta untuk menghilangkan kandungan H2S yang terikat dalam sour gas. Crude yang keluar dari furnace akan mencapai Temperatur 364oC. Naphta. Amine Regenerator yang berfungsi untuk meregenerasi larutan amine yang telah digunakan kedua absorber di atas.1. 3.91. Unit ini terdiri dari tiga bagian utama.2. sehinnga Temperaturnya mencapai 280oC sebelum memasuki furnace.

3.2.1. selanjutnya seluruh spent caustic dinetralkan dengan asam sulfat H2SO4 dan disalurkan ke effluent facility. 1. dan LCO HTU. Unit 24 : Sour Water Stripper Unit (SWS) Unit SWS secara garis besar dibagi menjadi dua seksi. Train no. Seksi ini mempunyai kapasitas 17. 3. Spent Caustic yang diproses dibedakan menjadi dua jenis. ARHDM.3.Gasoline Treater Unit (GTR) . Seksi Spent Caustic berasal dari beberapa unit operasi.1.Propylene Recovery Unit (PRU) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Sedangkan gas yang mempunyai kandungan H2S yang cukup tinggi (sour gas) digunakan sebagai feed di sulfur Plant. Seksi Sour Water Stripper (SWS) Seksi SWS terdiri dari dua train yang perbedaannya didasarkan atas feed berupa air buangan proses yang diolah.1.34 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Spesifikasi produknya adalah kandungan H2S yang keluar dari masing-masing menara maksimal 50 ppm volume. yaitu seksi SWS dan Spent Caustic Treating. 3. Fungsi kedua train di atas adalah menghilangkan H2S dan NH3 yang terdapat pada sisa air hasil proses. Selanjutnya air yang telah diolah tersebut dsalurkan ke Effluent Treatment Facility atau diolah kembali ke CDU dan ARHDM. yaitu : a. Seksi Spent Caustic Treating.LPG Treater Unit (LPGTR) .7 m3 / hari.1 sebesar 67 m3/jam dan train no.2 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari RCC Complex. Ditinjau dari sumbernya.1 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari CDU.3.8 m3/jam. Train no. Kemampuan pengolahannya dirancang untuk train no. Spent Caustic yang rutin (routinous) dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit : . 2.1.3.2 sebesar 65.

Feed AR yang digunakan didapat langsung dari Bottom CDU dengan Temperatur 145oC (Hot AR) atau AR yang berasal daritangki 42-T-104 A/B dengan Temperatur 50oC (cold AR). Atmospheric Residue Hydrodemetallization (Unit ARHDM 12/13) Unit ARHDM merupakan unit yang mengolah Atmospheric Residue (AR) dari CDU menjadi produk yang disiapkan sebagai umpan untuk RCC. terdiri dari dua buah filter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Bahan baku yang digunakan adalah Atmospheric Residue (AR). feed melewati HE hingga mencapai temperatur 273o C dan kemudian menuju filter yang membersihkan crude dari solid containment yang dapat menyebabkan deposit pada permukaan katalis di reaktor pertama untuk mengurangi beban reaktor. 3. Unit ini terdiri dari unit Claus yang berfungsi menghasilkan cairan sulfur dan fasilitas pemuatan atau gudang sulfur padat.4. Pada unit ini terdapat fasilitas pembayaran untuk mengolah gas sisa dari unit claus. Setelah kedua feed digabung dan dipanaskan. Unit 25 : Sulfur Plant Sulfur plant adalah suatu unit untuk mengambil unsur sulfur dari off gas unit amine treatment dan H2S stripper train no. Spent Caustic merupakan regenerasi dari unit-unit : . Seksi feed (umpan) Yaitu pemanasan awal dan penyaringan kotoran pada feed menggunakan filter sebelum dialirkan ke feed surge drum.35 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia . Pada seksi ini terdapat tiga buah filter yang bekerja secara otomatis berdasarkan tekanan.2.Gas Oil Hydrotreater . yaitu modul 12 dan modul 13 yang mempunyai susunan unit yang sama dan terdiri dari tiga buah reaktor.1 Unit SWS.2. Vanadium (V). Unit ARHDM beroperasi dengan kapasitas 58000 BPSD (384 m3/jam). Kapasitas unit ini dirancang untuk menghasilkan sulfur dengan kapasitas 30 ton/hari.1. dan karbon (C) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Unit ARHDM terdiri dari dua modul kembar. unit ini juga berfungsi mengurangi kandungan logam Nikel (Ni). Selain mengolah residu.Cond) b.Light Cycle Oil Hydrotreater 3.Catalytic condensation Unit (Cat. yang juga membakar gas-gas yang banyak mengandung NH3 dari unit SWS. Kedua modul bertemu dalam aliran input fraksionator. 3.1.

masuk ke recycle gas compressor dan sebagian ke Unit Hydrogen Membrane Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .36 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia berukuran 25 mikron. CH4. Feed yang sudah difiltrasi dialirkan menuju Filtered Feed Surged Drum 12-V-501 yang berfungsi sebagai penampung awal feed yang akan dipompakan ke dalam furnace. Untuk mengatur kenaikan temperatur dan untuk mengendalikan kecepatan reaksi maka diinjeksikan cold quench recycle gas. karena residu yang mengandung endapan alumunium akan menyumbat exchanger pada effluents vapor cooling train. yaitu persentase dari Micro Carbon Residue (MCR) dalam minyak. Effluent reaktor kemudian dialirkan ke seksi pendinginan dan pemisahan produk. dimana panas dari HE ini akan ditransfer ke Combine Feed Reactor. masing-masing modul terdiri atas tiga reaktor yang tersusun secara seri dengan spesifikasi yang sama. Kemudian feed dipanaskan kembali di furnace sebelum dialirkan secara parallel ke modul 12 dan 13.3. dan cairan hidrokarbon lainnya. Setelah itu aliran campuran uap akan dialirkan ke Effluent Air Cooler masuk ke Cold High Pressure Separator (CHPS). Seksi Reaksi Pada seksi ini. Uap tersebut selanjutnya didinginkan di Heat Reactor.2.2. gas ringan hidrokarbon. Furnace bekerja berdasarkan Catalyst Average Temperature (CAT) yang ditentukan melalui kinerja katalis yang diharapkan. 3. Temporary filter ini tidak digunakan pada kondisi normal karena dapat mempercepat kenaikan perbedaan tekanan pada reaktor. dan satu buah temporary filter yang merupakan modifikasi dari desain dengan ukuran pori yang lebih besar sehingga flow rate menjadi lebih besar dan filtrasi menjadi tidak sempurna. Fungsi HPPS ini adalah untuk mengambil residue oil dari effluent reactor sebelum didinginkan. dan produk gas oil pada Atmospheric Fractionator. NH3. Recycle gas yang kaya hidrogen serta terpisah dari minyak dan air. 3. selanjutnya reactor effluent feed mengalir ke Hot High Pressure Separator (HHPS). maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat bereaksi. dimana uap yang terpisah dari Hot Liquid dalam HHPS ini banyak mengandung H2. Karena reaksi Hydrotreating adalah eksotermis. Aliran liquid panas dari HHPS mengalir menuju Hot Flow Pressure Separator. kerosene. Seksi Pendinginan dan Pemisahan Produk Pendinginan pertama dilakukan di HE dimana sebagian panasnya diambil oleh combine feed reactor.2. Dengan temperatur 37 oC maka residu sudah memiliki cukup sumber untuk mamisahkan naphta.

Flash Gas dari CLPFD yang kaya akan H2 kemudian dialirkan ke make-up gas compressor untuk dikompresi dan dikembalikan ke unit ARHDM. produk Heavy oil dari HLPS masuk ke fraksionator pada tray 33. 3. Minyak dan air tidak seluruhnya terpisahkan dalam CHPS.5. Cold feed dari CLPS masuk ke fraksionator pada tray 28 (tray di atas flash zone. 3.2. sebagian dikembalikan ke reactor dengan Recycle Gas Compressor dan sebagian aliran (Bleed Stream) ke Membrane Separation Unit.2 meter dan seksi bawah (bottom) yang memiliki 15 tray dengan diameter 3. Flash gas dari modul 12 dan 13 didinginkan melalui exchanger dan air cooler sebelum di-flash Cold Low Pressure Drum (CLPFD). maka minyak dan air dari CHPS tidak seluruhnya dialirkan ke Cold Low Pressure Separator (CLPS).66 meter. Seksi Recycle Gas Aliran gas yang kaya H2 dari CHPS terbagi dua. Produk dari Atmospheric Fractionator adalah : . Sebelum dikirim keluar. Diperoleh dengan Atmospheric Fractionator dibantu dua buah stripper. Jarak antara kedua tray pada kedua seksi dalam kolom adalah 610 mm. naphta dimurnikan di naphta stabilizer dan kerosene dimurnikan dalam clay treater. dan Hydrodemetallized Atmospheric Residue (DMAR).Gas Oil Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . kerosene.37 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Separator untuk dimurnikan.Unstabillized Naphta .2. Liquid ringan di-flash kembali bersama liquid dari CHPS ke CLPS.4. sedangkan minyaknya dipanaskan terlebih dahulu dengan HE kemudian dialirkan ke Atmospheric Fractionator. Liquid dari bottom HHPS kemudian di-flash di dalam Hot Low Pressure Separator (HLPS). Seksi Fraksionasi Seksi ini memisahkan produk ARHDM menjadi naphta. Atmospheric Fractionator terdiri dari dua seksi. yaitu seksi atap (top) yang memiliki 32 tray dengan diameter 3. diesel. Di seksi lanjut (superheated steam) di seksi konveksi pada furnace.Sour Gas . Uap yang kaya H2 dipisahkan untuk recovery dan produk minyak berat digabung dengan produk HLPS modul 13 dialirkan ke fraksionator. Air yang terkumpul di CLPS bottom drum dialirkan ke SWS.

38 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia . Produk gas oil dapat dikirim langsung ke Gas Oil Hydrotreating Unit. Unstabilized Naphta dari Overhead Accumulator dicampur dengan aliran vapor yang sudah dikompresikan. Aliran terbanyak digunakan untuk memanasi feed dingin fraksionator dan selanjutnya memanasi AR yang akan masuk ke Feed Filter. selanjutnya diproses dalam clay treater untuk memperbaiki kestabilan warna sebelum dikirim ke tangki penimbunan. Aliran yang sedikit digunakan untuk memanaskan Kerosene Stripper Reboiler. kemudian vapor dikompresikan pada stage kedua kompresor tersebut. dan net off gas dipisahkan dalam Sour Gas Separator. yaitu : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kompresor ini memiliki dua stage. sour water. Vapor dan liquid ini dialirkan ke overhead accumulator. • Steam Reforming Bertujuan memproses atau merubah gas hidrokarbon yang direaksikan dengan steam menjadi gas hydrogen • Pemurnian Hidrogen Pemurnian hidrogen dicapai melalui dua tahap. dimana outlet kompresor stage 1 didinginkan pada interstage cooler dan kondensat cairan dipisahkan dalam interstage KO drum. sedangkan Unstabilized Naphta dipanaskan sebelum treating di Naphta Stabilizer kemudian didinginkan lalu dikirim ke tangki. Kemudian dipanaskan kembali dengan Bottom Fractionator Stripper Vapor pada kerosene side cut stripper untuk dikembalikan ke fraksionator melalui tray ke-9. Unstabilized Naphta. • Hidrogen dan Desulfurisasi Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan kadar sulfur yang ada dalam feed gas agar memiliki kandungan sulfur seperti yang diijinkan untuk memasuki Reformer.Kerosene .DMAR sebagai RCC feed Overhead vapor dari fraksionator sebagian terkondensasi dalam Fractionator Overhead Air Cooler. lalu ke tangki produk. Kerosene dialirkan dari down comer pada tray ke-10 fraksionator. karena sulfur merupakan racun bagi katalis di Reformer. Bottom Fractionator yang menghasilkan DMAR dipompa dan dibagi menjadi dua aliran. Off Gas dialirkan ke fuel gas treating. Feed untuk Gas Oil Stripper diambil dari tray 24 dan direfluks ke tray 22. Aliran dua fase ini selanjutnya didinginkan dengan cooler. yaitu : 1. Vapor dan air cooler dinaikkan tekanannya dengan off gas compressor. 2.

column fractionators. Aliran yang keluar dari unit PSA ini terdiri dari Hidrogen murni pada tekanan tinggi dan Tail Gas yang mengandung impurities pada tekanan rendah. dan Polygasoline. LPG. feed didinginkan dan kondensat dalam feed gas dipisahkan di Raw Gas KO Drum sebelum masuk ke unit PSA.39 Laporan Kerja Praktek PT British mengubah CO menjadi .High Temperature Shift Converter (HTSC) yang bertujuan Petroleum Indonesia CO2 dengan reaksi: CO + CO2 CO2 + H2 • Pressure Swing Adsorption (PSA) Setelah melalui reaksi di HTSC. dan CO boiler. catalyst cooler. Di unit RCC ini terdapat reaktor. Unit ini didesain untuk memurnikan gas hidrogen secara continue. dan LPG. main blower. Kedua aliran di atas bergabung dan dapat langsung dialirkan ke unit RCC atau didinginkan lebih lanjut sebelum dialirkan ke tangki. Light Cycle Oil. Reaksi cracking ini terjadi di dalam riser reaktor. RCC dirancang untuk mengolah Treated Atmospheric Residue yang berasal dari unit ARHDM dengan kapasitas 29500 BPSD (35. regenerator. Unit RCC Kompleks (Residue Catalytic Cracking Complex) RCC kompleks merupakan gabungan dari beberapa unit di kilang RU-VI Balongan yang berfungsi mengolah residue minyak (reduced cycle) menjadi produk-produk minyak bumi yang bernilai tinggi seperti Gasoline. Berikut adalah uraian proses yang terjadi pada unit RCC ini. Feed hydrocarbon ke unit dipanaskan dengan aliran produk dan di-crack dengan pemanas yang dibawa oleh Regenerated Catalyst di dalam sistem Reaktor. Sebagian aliran bottom fractionators pada down stream digunakan sebagai back wash pada feed filter kemudian bergabung kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki.5 % volume). Decant Oil. Unit ini berfungsi sebagai kilang minyak tingkat lanjut (secondary process) untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan residu dengan cara cracking dengan memakai katalis. Kapasitas yang terpasang adalah 83000 BPSD. Katalis setelah bereaksi dengan feed dipisahkan dari hidrokarbon untuk memperkecil terjadinya cracking sekunder dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Light Cycle Oil (LCO). Unit ini berkaitan erat dengan Unsaturated Gas Plant Unit yang akan mengolah produk puncak Main Column Unit RCC menjadi Stabilized Gasoline. Non Condensable Lean Gas.3. Propylene.5 % volume) dan Untreated Atmospheric Residue yang berasal dari unit CDU dengan desain kapasitas 53000 BPSD (64. 3. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Overhead Vapour Main Column. Decant Oil.

Adanya coke pada katalis mengakibatkan berkurangnya aktifitas katalis.Unit 20 : Catalytic Condensation Unit Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Spent katalis mengalir dari reactor stripper ke dalam upper regenerator. Steam tekanan tinggi diproduksi dalam CO boiler dari hasil pembakaran CO menjadi CO2. Kelebihan udara dalam Lower Regenerator digunakan untuk membakar coke yang tersisa pada katalis dan diarahkan pembakarannya agar menjadi CO2. Adanya catalyst cooler mengambil kelebihan panas dari Boiler Feed Water (BFW) regenerator dan diubah menjadi steam. LEU terdiri dari lima unit dengan tugas maupun produk akhir yang berbeda.Unit 18 : Naphta Treatment Unit .Unit 16 : Unsaturated Gas Plant . Dengan memberikan pamanasan dengan temperatur tinggi dan dengan udara yang cukup.Unit 19 : Propylene Recovery Unit . Vapor Hydrocarbon keluar dari top riser rector ke main column pada seksi fraksinasi. kemudian disirkulasi kembali dari reaktor ke regenerator.40 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumpada katalis kemudian dikirim ke regenerator untuk diregenerasi dan coke yang terdeposit Indonesia dapat aktif kembali untuk mengolah hidrokarbon berikutnya. Aliran katalis dalam sistem Reaktor-Regenerator adalah jantung dari unit RCC. naphta RCC. Hidrokarbon hasil reaksi cracking dialirkan dari reaktor ke column fractionator untuk dipisahkan menjadi Overhead Vapor.Unit 17 : LPG Treatment Unit . 3. Fuel gas yang mengandung CO keluar dari upper regenerator melalui cyclone dimana partikel katalis ikut terambil. Light Cycle Oil (LCO).4. Kelima unit tersebut adalah : . LEU (Light End Unit) LEU merupakan unit lanjutan setelah RCU (Residue Catalytic Unit) yang berfungsi untuk mengolah produk keluaran RCU menjadi produk-produk akhir yang mempunyai nilai jual. dan DCO. coke tersebut dalam upper regenerator diatur agar coke menjadi CO (Partial Combustion) agar panas yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Katalis panas kemudian dialirkan dari lower regenerator ke riser reactor. Karbon dalam bentuk coke ini menempel pada katalis sebagai hasil samping cracking. Overhead vapor kemudian dikirim ke unit 16 (unsaturated gas plant) untuk dipisahkan menjadi Unsaturated LPG. dimana coke yang terbentuk dibakar dengan udara.

Karena proses absorbsi akan terjadi dengan baik pada Temperatur yang rendah. Dalam stripper tersebut. Absorber yang digunakan adalah naphta dari debutanizer. fraksi ringan yang masih terkandung dalam fraksi berat yang masuk akan dikembalikan ke dalam vessel 16 V-104. dan C5+) masuk ke dalam vessel 16 V-101. sementara fraksi berat yang telah di-strip (LPG dan Naphta) akan masuk ke dalam debutanizer 16 C-104. Absorbent yang digunakan adalah LCO. Fraksi ringan keluarannya akan masuk ke dalam unit amina dan ada juga yang menjadi off gas.1. Fraksi berat dari vessel 15 V-106 akan bergabung dengan fraksi ringan dari vessel 16 V-104 dalam absorber 16 C-101 untuk dipisahkan fraksi beratnya. LPG.41 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Unsaturated Gas Plant ini dirancang untuk mengolah 83000 BPSD AR. Untreated LPG. LPG (campuran propilen dan propana). Non Condensable Lean Gas/Off gas. dan non condensable lean gas. etana. Unit 16 : Unsaturated Gas Plant Unit ini berfungsi untuk memisahkan overhead product column RCCU menjadi stabilized naphta. LPG dan naphta akan dipisahkan untuk selanjutnya diolah secara terpisah di unit 17 dan unit 18. kemudian ke HE sampai akhirnya masuk ke dalam vessel 16 V-104. Fraksi ringan dari 15 V-106 akan masuk ke Wet Gas Column (WGC) dua tingkat. Di dalam absorber ini terdapat foul ring yang berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan kontak antara fraksi yang akan di-absorb dengan absorbent. Fraksi ringan dari absorber tersebut dialirkan ke absorber 16 C-102 agar lebih banyak fraksi berat yang terambil. yang sebagian akan dipakai sebagai lift gas sebelum diolah di Amine Unit sebagai off gas. maka naphta yang berfungsi sebagai absorbent akan didinginkan terlebih dahulu oleh chilled water dengan menggunakan Freon. Overhead product dari RCCU. Produk yang dihasilkan adalah Gasoline (RCC Naphta). dan H2S). serta naphta (campuran butana. Unit ini menghasilkan Sweetened Fuel Gas yang dikirim ke Refinery Fuel Gas System untuk diproses lebih lanjut. Fraksi ringannya akan masuk ke dalam absorber 16 C-101 sementara fraksi beratnya akan dipompa masuk ke dalam stripper 16-C 103 setelah melalui HE 16 E-108. sementara fraksi berat akan dipompa masuk ke dalam kolom 16 C-101. Unit ini juga menghasilkan Untreated LPG yang akan diproses lebih lanjut di LPG Treatment Unit (Unit 17) dan naphta yang akan diproses lebih lanjut di Naphta Treatment Unit (Unit 18). butilena. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dalam debutanizer ini.4. Fraksi berat dari absorber akan masuk ke dalam vessel 16 V-104 menuju stripper. yaitu off gas (campuran metana. Proses pada unit ini berlangsung seperti uraian berikut.

2.42 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Sementara itu. Lalu masuk H2S Fiber Film Contractor dimana akan terjadi kontak dengan Caustic (NaOH). dimana NaOH yang telah terpakai akan dibuang. Unit 17 : LPG Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk memurnikan LPG produk Unsaturated Gas Plant dengan cara mengambil senyawa merkaptan dan sulfur organik lainnya lalu mengubahnya menjadi senyawa disulfida. Reaksi yang terjadi adalah : NaOH + H2S Na2S + H2O NaOH yang digunakan adalah 14% wt dan baru akan dibuang jika telah menjadi 7% wt karena sudah tidak dapat diregenerasi.4. LPG yang telah dihilangkan H2S nya dialirkan ke sistem ekstraksi Merkaptan. Sistem Ekstraksi H2S Unsaturated LPG melewati strainer 17 S-101 untuk menghilangkan partikel-partikel padatan yang berukuran lebih besar dari 150 mikron. Produk yang dihasilkan adalah Treated Mixed LPG yang selanjutnya dikirim ke Propylene Recovery Unit (Unit 19).2. Berikut adalah uraian prosesnya : 1. Sistem Ekstraksi Merkaptan LPG yang berasal dari sistem ekstraksi H2S selanjutnya masuk ke dalam sistem ekstraksi merkaptan yang terdiri dari dua tingkat. Pemisahan antara fasa LPG dengan larutan Caustic akan terjadi di separator. Contractor yang digunakan adalah Fiber Film dengan senyawa pengikat merkaptan berupa caustic (NaOH). LPG Treatment Unit dirancang untuk megolah feed dari produk atas Debutanizer pada Unsaturated Gas Plant sebanyak 22500 BPSD. Fiber Film Contractor ini berbentuk serabut yang kuat yang terbentuk dari logam yang tujuannya adalah untuk memperluas permukaan kontak antara untreated LPG dengan NaOH. Reaksi yang terjadi adalah : NaOH + RSSH Na2SR + H2O NaOH yang digunakan dapat diregenerasi dengan oksigen dan katalis di vessel 17 V105 dan reaksinya adalah : Na2SR + O2 + H2O DSO + NaOH DSO yang terbentuk dari reaksi di atas berbentuk seperti minyak dan larut dalam naphta sehingga untuk memisahkan DSO dengan NaOH dapat digunakan Fiber Film Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

3. LPG yang telah tercuci kemudian diproses lebih lanjut di Propylene Recovery Unit. Aliran sirkulasi kurang lebih 20 % volume aliran untreated RCC naphta. Proses yang terjadi pada unit ini adalah sebagai berikut : 1. Unit ini dirancang dapat beroperasi pada penurunan kapasitas hinnga 50 %. LPG tersebut masuk ke bagian puncak contractor dimana terjadi kontak dengan serat-serat logam yang dibasahi oleh sirkulasi air. RCC naphta melewati tahapan ekstraksi merkaptan di puncak 18-A-201/204 kemudian kontak dengan bahan-bahan film yang terbasahi oleh caustic tersirkulasi yang berasal dari pompa recycle caustic 18-P-102 A/B. Sistem Aquafining LPG yang telah bebas dari merkaptan kemudian dicuci dengan air untuk manghilangkan sejumlah kecil entrainment caustic.104 A/B untk menghilangkan padatan yang berukuran kurang dari 5 mikron. NaOH yang telah bersih dari DSO kemudian dapat di-recycle. Oksidasi dan Ekstraksi Untreated RCC naphta masuk ke dalam sistem caustic treating melewati salah satu set basket strainer parallel 18-S-101 A/B untuk menghilangkan padatan yang terikut dan berukuran lebih dari 150 mikron. Unit 18 : Naphta Treatment Unit Unit ini dirancang untuk mengekstraksi H2S dan mengoksidasi merkaptan sulfur dalam untreated naphta. Untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi antara lain Doctor Test Negative.43 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Contractor dengan absorbent berupa naphta.3. Udara proses disaring dengan Air Filter 18-S-102 A/B. Udara untuk oksidasi diinjeksikan di Upstream Fiber Film Contractor 18-A-201/204 melewati Air Sparger 18-M-101/102.4. 3.1% wt. kandungan sulfur sebesar kurang dari 15 ppm wt dan kandungan Na+ (sebagai sodium) maksimum adalah 0. Unit ini dirancang untuk memproses 47500 BPSD untrated RCC naphta yang dihasilkan oleh unit 16 (Unsaturated Gas Plant) dengan maksimum kandungan 5 ppm-wt H2S dan 90 ppm-wt merkaptan. LPG dan larutan air yang disirkulasikan mengalir secara counter current dan melalui Shoud Contactor dimana caustic yang terikat akan diambil. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Treated Naphta. Reaksi yang terjadi adalah : 2RSH + 2NaOH 2NaSR + 2H2O Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

3% wt.44 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemisahan fase RCC naphta dan caustic di fasa Separator 18-V-101/102. Di 18-V-101/102. Konsentrasi katalis teroksidasi dalam sirkulasi caustic pertama kali 200 ppm-wt. Oksidasi senyawa sulfur merkaptida diperoleh dari ekstraksi merkaptan oleh larutan caustic dimana diperlukan di dalam oksidasi katalis.6% wt diganti bila kandungannya menurun menjadi 3. Ekstraksi dan proses oksidasi yang terjadi menghasilkan kelebihan air yang dapat menurunkan konsentrasi NaOH. selanjutnya katalis diinjeksikan per hari sebanyak Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Larutan fresh caustic 6.6% wt. Hidrokarbon dan larutan caustic masuk ke bawah melalui 18-A-201/204. dimana terjadi ekstraksi H2S dan oksidasi merkaptan. penggantian kaustik tidak mengganggu kegiatan operasi unit. Reaksi yang terjadi adalah : 2NaSR + ½ H2O RSSR + 2NaOH 2RSH + ½ O2 RSSR + H2O 2NaOH + H2S Na2S + 2H2O 2Na2S+ 2O2 + H2O Na2S2O3 + 2NaOH Aliran caustic jatuh ke bawah dan melekat pada fiber kemudian mengalir ke fase yang encer di 18-V-101/102 untuk kemudian terkumpul menjadi satu dari larutan caustic yang disimpan. Gabungan aliran parallel ini menjadi satu aliran treated naphta setelah bergabung dengan spent solvent dari sistem regenerator. aliran RCC naphta melewati coalescer pad 18-A-202/205 untuk menghilangkan lebih banyak partikelpartikel caustic dan selanjutnya mengalir keluar separator di bagian ujung.6 % wt dipompa dari header distribusi secara manual melewati 18-S-103/105 (Aqueus Basket Strainer) menuju 18-P-102 A/B dan 104 A/B hingga level operasi normal tercukupi. Merkaptan dan sedikit H2S yang terkandung di RCC naphta diekstraksi oleh caustic soda 6. Aliran RCC naphta berlawanan arah dengan caustic di antara ruang fiber dan pelepasan di atas contractor.9 kg / cm3. 18-A-201/204 dan 18-V-101/102 beroperasi pada tekanan 4. Sekitar 0. Penggantian Caustic Fresh Caustic 6. 2. Spent caustic dibuang melalui line spent caustic sebelum suction dari pompa 18-P-102 A/B. Basket Strainer 18-S-103/105 menghilangkan partikel-partikel yang berukuran > 150 mikron. G dan temperatur 38oC .5 % aliran treated naphta dari 18-V-101/102 digunakan sebagai fresh solvent unit 17. 104 A/B dan terkumpul di penampungan spent caustic. Spent solvent unit 17 kembali ke RCC naphta setelah back pressure control valve menuju tangki naphta.

air dipompa dengan pengaturan manual memakai pompa 18-P-101 (Water Addition Pump) ke 18-V-101/102 melalui pipa suction 18-P-102 A/B dan 104 A/B.4.5 kg/20000 bbls untuk mengganti yang hilang dan yang tidak aktif dengan menggunakan pipa katalis 18-A-203/206 3. Uraian proses secara keseluruhan diawali dari feed yang berasal dari LPG Treatment yang merupakan campuran propana. Air juga mungkin diperlukan di phase separator jika RCC naphta menjadi kuning dan larutan caustic menjadi kekurangan air. Air disimpan di Water Break Tank (18-V104). Jika perlu. Unit 19 : Propylene Recovery Unit Unit ini berfungsi untuk memisahkan Mixed Butane dan memproses LPG C3 dan C4 dari unit 16 untuk mendapatkan produk propylene dengan kemurnian tinggi (minimum 99. Aquafining system di unit RCC LPG Treatment juga dilayani oleh 18-V-104. 3. Setiap pengisian ulang tangki perlu waktu dua hari sekali. Sistem Aquafining Sistem ini berfungsi untuk pencucian entrainment dalam produk RCC LPG dengan air secara kontinyu. memperlambat pembentukan gum. Campuran C4 yang diperoleh dari splitter dimasukkan ke dalam tangki penyimpanan dan ada yang dikirim ke unit 20. Inhibitor digunakan dalam membantu proses “sweetening” naphta. dan campuran C4 dipompakan ke C3/C4 splitter. Sementara campuran propana dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan meninggalkan senyawa alkil dari senyawa anti knocking dalam naphta. dipompa dengan 17-P-105 A/B (Water Metering Pump).4. propylene. Injeksi bahan kimia ini disimpan di tangki inhibitor 18-V-103 dimana dapat menyimpan kurang lebih 0.5 m3. Produk yang dihasilkan pada proses ini terdiri dari : · Propylene dengan kapasitas terpasang 7150 BPSD · Campuran Butana · Propana Proses yang digunakan adalah Selective Hydrogeneration Process (SHP) dengan reaktor Hules. Pompa juga dapat dipakai untuk melayani sistem H2S extraction dan solvent wash di unit 17.45 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 0. Inhibitor diinjeksikan di tempat-tempat sekitar upstream dan downstream dari setiap train treater dengan 18-P-105 A/B dan C (InhibitorInjection Metering Pump).6 %) yang dapat dipakai sebagai bahan baku pada Propylene Unit. 19-C-101.

Dari Metal Treater. Propilen yang keluar reaktor kemudian didinginkan dan dikirim ke tangki penampungan dengan dilengkapi analisa kandungan propana. Produk top kolom ini dipisahkan dari airnya pada Sand Filter. Campuran C3 dari Sand Filter dikeringkan di C3 Feed Driers karena spesifikasinya adalah 25 ppm. Propilen yang terbentuk dipisahkan kandungan COS nya pada COS removal dan dipisahkan dari logam di Metal Treater. uap propilen terbentuk di bagian overhead dan propana pada bagian bottom. UOP Catalytic Condensation merupakan salah satu unit yang dirancang untuk memproses Unsaturated Mixed Butane dari unit-unit LEU. Karena polimerisasi merupakan reaksi eksotermis yang melepas Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . campuran C3 dihilangkan dari kandungan sulfurnya dengan menggunakan caustic MEA. campuran C3 dikirim ke Wash Water Column untuk diraksikan dengan larutan fosfat dengan arah berlawanan (Counter Current).4. Propana selanjutnya dikirim ke tangki penampungan dan sebagian propilen direfluks serta sebagian dikompresikan untuk memanaskan propana di C3 Splitter Flash Drum. Di Solvent Settler. Unit ini berfungsi untuk mengolah campuran butana dari Propylene Recovery Unit (Unit 19) menjadi gasoline dengan angka oktan yang tinggi. butane. Campuran butana bersama aliran rectifier dipompakan ke reaktor sehingga terjadi reaksi polimerisasi menjadi rantai panjang C8 sampai C10. Uraian proses yang terjadi secara keseluruhan diawali dengan feed campuran Butana dari unit 19 (terdiri dari butilena. Unit ini dirancang untuk menghasilkan produk dengan berat molekul yang tinggi menggunakan katalis Solid Phosphorus Acid. Campuran C3 kemudian dipisahkan pada C3 Splitter. Kapasitas yang dimiliki adalah 13000 BPSD dengan tiga reaktor yang paralel.5. Produk yang dihasilkan adalah Polygasoline dan Butana. Air di Water Boot dikirimkan ke Water Degassing Drum dan selanjutnya ke unit Sour Water Stripper (Unit 24). Unit 20 : Catalytic Condensation. Dari Solvent Settler.46 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumdirefluks ke propilen masuk ke dalam C3/C4 Splitter Receiver. propilen dimasukkan ke reaktor SHP untuk mengubah kandungan diena dan asetilen yang ada menjadi Mono Olefin guna memenuhi persyaratan produksi. dimana sebagian campuran C3 Indonesia C3/C4 Splitter dan sebagian lagi dikirim ke Solvent Settler. Keluaran Feed Driers diperiksa kandungan airnya untuk keperluan regenerasi dryer. 3. dan propilena) masuk ke Wash Water Column untuk dicuci dengan larutan fosfat secara counter current. sedangkan produk bottom sebagian di-recycle dan sebagian lagi ditampung di Water Degassing Drum untuk kemudian dikirim ke unit 24.

1. 3.5. Feed untuk gas oil diperoleh dari Crude Distillation Unit (CDU) dan Atmospheric Residue Hydrodemetalization Unit (ARHDM). antara lain adalah nitrogen. temperatur bed katalis dijaga agar lebih kecil dari 20oC. Katalis hydrotreating yang digunakan mengandung oksida Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Produk gas hidrogen dari Hydrogen Plant digunakan untuk memenuhi kebutuhan di ARHDM Unit. HTU (Hydro Treating Unit) 3. Stream Reforming. Kandungan impurities yang dikandung oleh minyak mentah relatif tinggi. Fungsi utama dari unit ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan impurities yang terkandung dalam minyak bumi atau fraksi-fraksinya dengan proses hidrogenasi. dan Pemurnian Hidrogen. yaitu mereaksikan impurities tersebut dengan hidrogen yang dihasilkan dari Hydrogen Plant. Untuk menjaga agar jangan sampai terbentuk coke. Proses dasar Hydrogen Plant mencakup Hidrogenasi & Desulfurisasi. Pabrik ini dirancang dengan feed dari Refinery Off Gas dan Natural Gas. senyawa sulfur organik. dan di Gas Oil Hydrotreater Unit. Hydrogen Plant (Unit 22) Unit 22 ini merupakan unit di RU-VI yang dirancang untuk memproduksi hydrogen dengan kemurnian 99% sebanyak 76 MMSFSD dengan feed dan kapasitas sesuai desain. 3. Setelah dari reaktor. Dari sini.2. sedangkan produk overhead yang berupa butana dicuci dengan caustic dan dikeringkan sebelum masuk ke tangki penampungan. produk bottom berupa polygasoline didinginkan dan dikirim ke tangki penampungan. Make up hydrogen akan dipasok dari hydrogen plant yang telah diolah sebelumnya oleh Steam Methane Reformer dan Pressure Swing Adsorption (PSA) unit.47 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia panas.5. Gas Oil Hydrotreater Unit ini mengolah Gas Oil yang tidak stabil dan korosif (mengandung sulfur dan nitrogen) dengan bantuan katalis dan hidrogen menjadi gas oil yang memenuhi ketentuan pasar dengan kapasitas 32000 BPSD (212 m3/jam). rantai hidrokarbon tersebut masuk ke Flash Rectifier dimana sebagian dikembalikan ke reaktor dan sebagian lagi ke stabilizer. LCO Hydrotreater Unit. sehingga temperatur reaktor akan terus bertambah. dan senyawa-senyawa logam.5.

Air yang terdapat di LCO dari tangki akan terpisah di bottom feed surge drum dan yang tidak ikut terpisah akan tertahan oleh wire mesh blanket agar masuk ke suction feed pompa.5. 2. LCO dari RCCU melalui feed filter untuk menghilangkan partikel padat yang berukuran lebih dari 25 mikron. Karena adanya reaksi eksotermis yang terjadi dalam reaktor. LCO bersamasama dengan recycle gas hydrogen masuk ke Combine Feed Exchanger 21-E-101 A/B. Kapasitas unit LCO HTU ini adalah 15000 BPSD (99. GO HTU ini nikel/molybdenum di dalam base alumina yang berbentuk bulat atau Petroleum Indonesia terdiri dari dua seksi. seperti off gas. Seksi Feed Feed seksi ini adalah Light Cycle Oil dari unit RCC dan storage tank. Untuk memisahkan gas oil hasil reaksi dari produk lain. setelah itu air dialirkan ke Sour Water Header. dan hydrotreated gas oil. Seksi Reaktor Feed dan recycle gas dipanaskan terlebih dahulu oleh effluent reactor di dalam Combined Feed Exchanger 21-E-101 A/B. Aliran proses pada unit 21 ini adalah sebagai berikut : 1. Seksi fraksionasi. Untuk proses reaksi dengan katalis dan hidrogen. Sebelum keluar. 2. Seksi reaktor. kemudian campuran LCO dan hydrogen bergabung dan langsung ke charge heater 21-F-101 dan dipanaskan sampai temperatur reaksi. 3.48 Laporan Kerja Praktek PT British extrudate. yaitu : 1. Light Cycle Hydrotreating Unit (Unit 21) LCO HTU merupakan unit yang mengolah Light Cycle Oil dari RCC unit.3. Unit ini akan menghilangkan sulfur dan nitrogen dari feed tanpa perubahan boiling range yang berarti agar produk yang dihasilkan memenuhi syarat dan spesifikasi pemasaran. maka temperatur feed yang keluar reaktor akan lebih tinggi dari feed yang masuk reaktor. dimana masih mengandung banyak senyawa organik seperti sulfur dan nitrogen.4 m3/jam)dengan menggunakan katalis UOP S-19 M. Feed kemudian masuk ke bagian atas reaktor 21-R-101 dan didistribusikan secara merata di atas permukaan bed katalis melalui inlet dari vapor/liquid tray. kemudian masuk ke feed surge drum 21-V-101 dan LCO dari tangki langsung masuk ke feed surge drum 21-V-101. air diinjeksikan Ke effluent reactor untuk melarutkan garam amonium yang terbentuk dari penggabungan H2S dan NH3 di dalam Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . wild naphta.

dan hydrotreated light cycle oil. Seksi ini berfungsi memisahkan LCO hasil reaksi dari produk lain seperti off gas. selanjutnya dipisahkan dengan fraksionasi. - Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . karena amonium dapat meracuni katalis bila terakumulasi cukup banyak di recycle gas. air. Hydrotreated Light Cycle Oil dipakai untuk blending produk tanpa harus diolah lagi. Tekanan di reaktor dikontrol oleh hidrogen yang diimpor dari H2 plant dengan dinaikkan tekanannya menggunakan Make-Up Compressor 2 Stage dan H2 dimasukkan ke Discharge Recycle Gas Compressor.49 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia reaktor.Feed Stock LCO diperoleh dari RCC kompleks. Seksi Kompresor Seksi ini terdiri dari dua bagian. Wild Naphta dikirim ke unit CDU atau RCC untuk proses lebih lanjut. Hidrokarbon yang terkumpul dalam separator. dan gas terlepas serta akan terpisah dengan sendirinya. 3. produk hydrotreated LCO masuk ke Coalescer untuk memisahkannya dari air dan dikeringkan ke dalam bejana yang berisikan garam sebelum dikirim ke tangki penyimpanan. Off gas dikirim ke Refinery Fuel Gas System. Effluent LCO yang keluar reactor kemudian masuk ke dalam separator melalui distributor inlet dimana hidrokarbon cair.Make-up hidrogen akan disuplai dari hydrogen plant unit. Aliran Make-Up gas hydrogen masuk ke seksi reaktor untuk mempertahankan tekanan di High Pressure Separator. Make-Up gas H2 dan recycle gas bersama-sama menuju ke Combined Feed Exchanger 21-E-101 A/B dan sebagai quench Reaktor 21-R-101 di antara dua bed katalis. yaitu Make-Up Compressor dan Recycle Gas Compressor. . wild naphta. Produk LCO HTU berupa : - LCO yang telah diolah langsung ditampung di tangki untuk siap dipasarkan. -Katalis Hydrotreating UOP mengandung oksida nikel/molybdenum (S-12) dan cobalt/molybdenum (S-19 M) di dalam base alumina dan dibuat berbentuk bulat atau extrude. 4. Distribusi feed dan produk yang diolah dari unit LCO HTU ini meliputi : .

maka air sungai diambil dari Sungai Cipunegara dan Sungai Tarum Timur.1.50 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB IV SARANA PENUNJANG (UTILITY) 4. Air sungai diambil dari buangan Proyek Jatiluhur pada saluran utama sebelah timur (eastern main canal). Saat ini rata-rata kebutuhan air untuk Balongan kurang lebih 900 ton/jam sehingga Salam Darma tidak perlu selalu berproduksi dengan kapasitas 100%.1.1.5 m.000 ton/jam. Apabila kanal dalam perbaikan.1 Tabel 4. Kabupaten Subang. Kebutuhan listrik untuk Salam Darma saat ini disuplai oleh tiga unit generator (53-G301 A/B) dengan kapasitas 53-G-301 A/B adalah 578 kW dan 53-G-301 C adalah 360 kW. 65 km dari Refinery EXOR-1 Balongan. Namun pada kondisi operasi normal cukup satu unit yang beroperasi karena pada load 100% hanya membutuhkan listrik sebesar kurang lebih 300 kW. Adapun kondisi operasinya pada tabel 4. Water Intake Facility (Unit 53) Water Intake Facility berlokasi di desa Alam Darma.1. 4. Raw Water System Raw Water ditransfer dari raw water intake facility (Salam Darma) melalui pipa dan ditampung di tangki raw water yang kapasitasnya 60 jam kebutuhan kilang. dengan elevasi 19. Kecamatan Compreng.1. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Penyediaan Air 4.1 Kondisi Operasi Pengambilan Air dari Sungai Cipunegara Water Intake Facility Salam Darma (Unit 53) berfungsi untuk permunian air (treating water) dengan kapasitas 1.1.

kerusakan peralatan mekanik. House Station 6. Potable Water adalah air yang disediakan untuk keperluan para karyawan PERTAMINA RU-VI Balongan. Pola operasi : a. Make up untuk Demineralized Water 4.1. Konsumsi demint water menurut desain adalah 192. Unit dimineralisasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan Boiler Feed Water (BFW). Demint Water yang dihasilkan dari unit ini didistribusikan ke Deaerator (Boiler) dan WHB Hydrogen Plant (NNF). instrument. tanpa atap dan berlokasi di area yang tidak berbahaya. dan lain-lain). Akan tetapi dalam actual operasinya kebutuhan demint water bervariasi antara 220 – 270 ton/jam.1. listrik. cations.400 ton/tangki. Demineralized Water Unit (Unit 53) Unit ini berfungsi untuk menjernihkan air yang diambil dari sumber air dengan cara menghilangkan atau meminimalkan impurities (suspended solids. Make up untuk Cooling Water 3. Demint Plant perlu menjalankan 2 train. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .000 ton/tangki. Masalah akan timbul jika salah satu train mengalami masalah (kebocoran resin. Air yang sudah disterilkan dinamakan Demineralized Water (DW). Make up untuk Potable Water 5. disterilkan terlebih dahulu dengan gas chlorine yang selanjutnya dipompakan ke pemakai. 4. Demin Plant terdiri dari dua train dengan kapasitas 230 m3/jam train (4. Sumber air tersebut dapat diambil dari surface water (air sungai dan air laut) dan ground water (mata air dan air sumur). sehingga untuk memenuhi kebutuhan.2. Demineralized plant beroperasi secara kontinyu. Make up untuk Fire Water 2.51 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Raw water system memiliki dua buah tangki penampung dengan kapasitas 66.300 ton/cycle per train) yang dipasang outdoors. anions) yang dapat mengganggu operasi boiler dan peralatan lainnya. Raw water ini digunakan juga sebagai service water yang pemakainya adalah untuk: 1. Demint Plant juga memiliki dua buah tangki atau Demint Water Tank (55-T101 A/B) dengan kapasitas 1.4 ton/jam. Pendingin untuk pompa di offsite Service Water sebelum masuk ke potable water tank.

side stream filter.000 ton/jam dan utilities sebanyak 11. Cooling Water System (Unit 56) Unit ini berfungsi untuk mensuplai air pendingin ke unit-unit proses. d. kapasitas 220 m3/jam. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .000 m3/jam pada tekanan 4.000 – 14. Selama normal operasi.000 – 19. utilities. Fasilitas pengolahan air digabung dengan menara pendingin yang dilengkapi untuk injeksi gas chlorine.5 0C menjadi 33 0C dengan wet ball temperature 21. c. Air buangan regenerasi yang mengandung asam dan basa serta air pembilas dari masing-masing resin dibuang melalui bak penetral (untuk dinetralisasi). sebentar di lokasi.1. side filter / startup coolong water pump. dan dispersant. corrosion inhibitor. e. sesuai dengan Cooling Water Pump yang running adalah lima unit dan satu unit auto standby dengan kapasitas masing-masing 7.000 ton/jam.1.52 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia b. Uraian Proses : Menara pendingin (Cooling Water Tower) dirancang untuk mendinginkan air dari temperature 45. ancillaries. dan mengadakan inspeksi ke lokasi secara periodik. kapasitas 660 m3/jam.9 0C dengan tipe open circulating system (counter flow). Backwash water dari activated carbon filter akan dialirkan ke clean drain. Menara terdiri dari 10 cell dan 10 draft fan beserta masing-masing motornya dan dua buah header supply utama untuk pendistribusian ke onsite dan utility area. Masing-masing train akan beroperasi normal dengan dipindah secara bergantian diantara keduanya selama satu train sedang dalam perbaikan atau sedang regenerasi secara bergantian. dan fasilitas offsite. Cooling water yang dihasilkan didistribusikan ke Process Unit sebanyak 17. Bagian-bagiannya adalah : • Menara pendingin (Cooling Water Tower) • Pompa air pendingin (Cooling Water Pump) Dalam normal operasi. Pada bagian header supply ke utility area. facilities. sebagian air diolah oleh side stream filter. dilengkapi dengan on line conductivity analyzer untuk memonitor mutu air dari air pendingin. Untuk menjaga mutu air. 4. Make up Cooling Water sebesar 400 – 500 ton/jam.5 kg/cm3g.3. operator akan tinggal di Utility Control Room.

Penyediaan Uap 4.2. Fire Water System Fire Water Tank : 1 tangki (66-T-101) Kapasitas : 11. 4. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Jika dilihat dari kebutuhan tersebut sebenarnya cukup hanya dengan tiga boiler yang beroperasi. Boiler (Unit 52) Boiler dirancang untuk memasok kebutuhan steam pada proses yang terdiri dari Stream Drum. water level gauge. economizer. FDF dan dua unit penggerak steam turbine.53 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Dari pengalaman selama ini. analyzer.1. 280 0C) Jumlah pompa : . dan local boiler control (LCP). valve dan sebagainya. Namun selama ini tetap dioperasikan lima unit boiler atau empat unit boiler dengan satu unit boiler hot standby.4 pompa (66-P-101 A/B/C/D) Kapasitas : 115 ton/jam per unit Fuel firing : Fuel Oil dan Fuel Gas Peralatan-peralatan penunjang pada boiler antara lain safety valve. kebutuhan HP steam adalah 250 – 300 ton/jam. juga dirancang agar pengoperasian dan perawatannya lebih mudah dilakukan. Down Comers. Jumlah Fungsi : 5 unit boiler (52-B-101 A/B/C/D) : Penghasil HP steam (43 kg/cm2. salah satu pompa 66-P101 A/B/C/D akan start secara otomatis.1. program maintenance) dan dalam waktu bersamaan ada pompa yang perlu dilakukan cleaning strainer.2.4. Water Wall Tube. dan Bank Tube.1 Jockey Pump (66-P-102) Jockey pump didesain befungsi untuk mempertahankan tekanan system namun jika tekanan system (fire hydrant) turun mencapai 5 kg/cm3. Masalah akan timbul apabila tidak ada pompa yang standby (rusak. 4. hampir setiap hari straining cooling water pumps harus dibersihkan karena banyak serangga yang masuk ke basin cooling water system. Superheater. Saat ini dalam operasi normal. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi (back up) kebutuhan HP steam jika ada unit penghasil HP steam yang bermasalah. Selain itu.1. instrumentasi. Boiler tersebut dirancang khusus untuk perpindahan panas.000 ton .

000 kW = 110.3. 4. 4. Jika STG hanya beroperasi dengan tiga unit maka load ekstraksi dan load letdown (HPS ke MPS) mendekati maksimum terutama pada saat RCC start up yang membutuhkan ekstra MP steam sehingga fleksibilitas suplai MP steam sangat terbatas.3.Initial start up .000 kW sehingga total kapasitas terpasang sebesar 5 x 22. Dilihat dari konsumsi listrik dan desainnya (dengan pertimbangan efisiensi). dua unit STG lainnya tidak bisa meng-cover muatan yang ada sehingga load shedding akan bekerja dan akhirnya sebagian unit akan trip. Hal ini dikarenakan listrik untuk infrastructure (perumahan) baru 0. maka apabila salah satu STG trip.54 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4.000 BPSD. sebenarnya STG hanya cukup beroperasi tiga unit.1.6 MW Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . yaitu : Untuk kehandalan operasi secara keseluruhan dimana jika STG hanya beroperasi tiga unit. Kebutuhan MP steam yang ada pada saat ini lebih tinggi daripada desain (164 ton vs 111.4 MW.500 kVA / 22. Penyediaan Tenaga Listrik (Unit 51) Kilang minyak PERTAMINA EXOR-1 Balongan dirancang dengan kapasitas pengolahan sebesar 125. Namun ada beberapa pertimbangan sehingga STG sebaiknya beroperasi empat unit.Auto start jika terjadi total power failure Kapasitas : 3.2. Steam Turbine Generator Jumlah Fungsi : 5 unit (STG A/B/C/D/E) : Penghasil energi listrik Kapasitas : 22 MW per unit STG Penggerak : Steam (HPS) Turbine Tipe : Extraction (MP Steam) Konsumsi energi listrik menurut desain adalah 53. Emergency Diesel Generator (EDC) Jumlah Fungsi : 1 unit (51-G-102) : .000 kW.5 ton desain). Untuk memenuhi kebutuhan listriknya.3. disediakan / diperoleh dari PLTU yang terdiri dari empat unit Steam Turbine Generator (STG) masingmasing dengan kapasitas 27.5 MW.6 MW vs 3 MW (prediksi). Namun saat ini konsumsi pada top load hanya 49.

4.500 Nm3/jam Pada awal operasinya.55 Laporan Kerja Praktek PT Britishmaka setiap Indonesia Untuk lebih menjamin fungsi EDG bekerja dengan baik. Gas Jumlah storage Kapasitas / storage : 2 unit (2 train) : Max. Masalah akan timbul jika ada compressor yang tidak stand by (rusak. air compressor hanya beroperasi dua unit (sesuai desain). 4. dibutuhkan suplai N2 liquid 32 x 6 ton).2. Penyediaan Udara Tekan 4.5 m3 Masing-masing train dilengkapi dengan 1 tangki produksi dan 1 unit penguap N2 cair. Instrumentasi Air dan Service Air System (Unit 58) Jumlah Air Compressor Jumlah Air Dryer Kapasitas per Dryer : 4 unit (2 turbin + 2 motor) : 2 unit : 4. Nitrogen Plant (Unit 59) Jumlah Kapasitas / train Maks.000 Nm3/jam sehingga kedua train Nitrogen Plant harus beroperasi secara kontinyu. Namun dalam actual operasinya konsumsi gas N2 bervariasi antara 600 – 2.) + 420 Nm3/jam (Gas) : 700 Nm3/jam (Gas) : 2 buah : 41. Petroleum hari Senin dilakukan auto start dan tes operasi tanpa beban maupun dengan beban kurang lebih selama 30 menit. Konsumsi gas N2 sesuai desain adalah 250 Nm3/jam. program maintenance) dan pada saat yang bersamaan ada compressor yang trip.4. Dari pengalaman sebelumnya. Namun sejak awal tahun 1995. air compressor selalu beroperasi dengan tiga unit dan satu unit standby.4. 4. apakah aircompressor di RCC atau air compressor di RCC trip atau ada peningkatan pemakaian instrument air / service air. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Liquid : 100 Nm3/jam (Liq.1.820 Nm3/jam Kapasitas per Compressor : 3. kebutuhan gas N2 yang tinggi adalah pada saat unit-unit proses start up (referensi pada waktu initial start up.

5. 4. Fasilitas Offsite Fasilitas offsite berfungsi untuk mengadakan dan menyediakan feed untuk tiap unit proses serta menampung hasil produksi dari unit-unit proses tersebut. dan gas oil ke tangki penimbunan UPPDN III untuk mengapalkan kelebihan produk gasoline serta memenuhi kebutuhan Depot Balongan dan Plumpang. Fasilitas Unloading Crude Oil b.1. kerosene. antara lain IDF dan Fuel Oil / Decant Oil. • SBM 150000 Dead Weight Ton (DWT) Milik PERTAMINA UEP III yang digunakan untuk loading crude oil hasil produksi PERTAMINA UEP III (2 kali sebulan) dan untuk membongkar crude oil sebagai feed CDU di PERTAMINA UP-VI (6 kali sebulan). baik intermediate product maupun finished product. Unit ini meliputi : a. • SBM 17500 DWT Baru dibangun oleh PERTAMINA RU-VI Balongan dan akan digunakan untuk pengapalan produk minyak hitam. • SBM 35000 DWT Fasilitas milik PERTAMINA UPPDN III yang digunakan untuk pembongkaran produk gasoline. Fasilitas Loading Gasoline c. • CBM 6500 DWT Conventional Buoy Mooring milik PERTAMINA UPPDN III sebagai tempat penyandaran kapal tanker yang membongkar IDF ke tangki penimbunan PERTAMINA UPPDN III. Fasilitas Marine (Unit 41) Merupakan fasilitas penyandaran kapal tanker guna mendatangkan crude oil sebagai feed dan penyaluran hasil produksi dari unit-unit proses di PERTAMINA RU-VI yang berbentuk minyak hitam.5. Fasilitas Loading Gas Oil PERTAMINA RU-VI memiliki empat buah dermaga Single Buoy Mooring (SBM) yang digunakan untuk loading hasil produksi yang berbeda pada setiap SBM dan salah satunya digunakan khusus untuk pembongkaran crude oil yang didatangkan sebagai feed unit proses di PERTAMINA RU-VI Balongan. Juga Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .56 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4. Unit peralatan pada fasilitas offsite PERTAMINA RU-VI ini terbagi dalam beberapa unit yang masing-masing mempunyai fungsi yang saling berkaitan.

Fasilitas Pencampuran (Blending Facility) Fungsi sarana ini adalah untuk mencampur beberapa komponen (umumnya berupa intermediate) menjadi produk jadi yang mempunyai spesifikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku atau sesuai permintaan pasar. seperti residue dan DCO. injeksi bahan kimia. Unit ini dilengkapi beberapa sarana tangki. 2. b. antara lain : a. 4. Atmospheric Residue. Untreated LCO. Minas crude dan untuk menampung hasil produksi seperti premium dan kerosene. dan perpipaan) dan batas areanya masih di dalam kilang. Sphrical Tank yang berfungsi menyimpan LPG. yaitu masing-masing empat buah tangki untuk Duri Crude (42-T-101 A/B/C/D) dan dua buah tangki untuk Minas Crude (42-T-101 A/B). c. naphta. dan Gas Oil. yaitu : 1. pompa. Sedangkan yang lainnya adalah tangki intermediate (umumnya mempunyai kode 42-T-2XX) yang berfungsi sebagai tangki penampung produk setengah jadi ex-unit proses dimana bahan tersebut merupakan komponen untuk mendapatkan produk jadi. DCO merupakan hasil blending dari Raw Decant Oil. produk. metering.2. Tank farm yang berfungsi sebagai penampang umpan. dan Polygasoline.5. Fasilitas Tangki (Unit 42) Yaitu sarana tangki penampung bahan beserta kelengkapannya (blending. DTU dan AHU. Fasilitas Tangki Penampung Tangki penampungan bahan baku (dalam hal ini crude dan feed) untuk unit proses selain DTU berupa enam buah tangki. Cone Roof Tank yang berfungsi untuk menyimpan black product. Tangki penampung terdiri dari beberapa jenis. dan fasilitas blending semuanya dihubungkan dengan rumah pompa sebagai fasilitas penyalur umpan maupun produk melalui system perpipaan. Gasoline (premium) merupakan hasil blending dari butane. b.57 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia direncanakan akan dimanfaatkan untuk pengapalan gas oil dan kerosene hasil produksi dari PERTAMINA RU-VI selama fasilitas pipanisasi belum siap digunakan. Komponen blending untuk masing-masing produk antara lain : a. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Floading Roof Tank yang berfungsi untuk menampung crude ringan seperti Duri. RCC Naphta. Kerosene.

3. Red Dye dan Yellow Dye Red Dye yang ditambahkan berfungsi untuk member warna pada produk premix ON 94. LPG merupakan hasil blending dari blending propane. Black Oil Metering digunakan untuk perhitungan volume Black Oil. sedangkan Yellow Dye ditambahkan untuk memberikan warna kuning pada produk gasoline premium ON 88. mixed LPG ex Unit 20. b. dan British Petroleum Indonesia c.5. Fasilitas tersebut terdiri dari : a. Kerosene dan Gas Oil Metering digunakan untuk perhitungan volume gasoline. d. Crude Oil Metering System digunakan untuk perhitungan volume crude oil yang ditransfer dari kapal menuju tangki penampung. Hasil perhitungan volume tersebut akan dikonversi menjadi perhitungan neraca massa. 4. yaitu DCO dan IDF.58 Laporan Kerja Praktek PT dari HT Gas Oil. Kadar odorant dalam LPG yang diijinkan adalah 50 ml/US gallon. Odorant Ditambahkan dalam produk LPG untuk member bau khas agar jika terjadi kebocoran LPG dapat dideteksi dengan cepat. b. butane. Kerosene. Fasilitas Pengukuran (Metering System) Fasilitas ini digunakan untuk melakukan perhitungan volume bahan yang akan masuk atau keluar kilang Balongan dengan bantuan analisa density dan specific gravity. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Saat ini yellow dye tidak pernah ditambahkan karena sudah sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan sedangakn red dye masih ditambahkan untuk pewarna produk premix 94 seminimal mungkin asalkan warna merah sudah memenuhi spesifikasi. c. 3. d. Industrial Diesel Oil (IDO) merupakan hasil blending HT LCO. Fasilitas Injeksi Bahan Kimia a. 4. Propylene Metering System digunakan untuk perhitungan volume propylene. Pipeline (Unit 43) Merupakan unit perpipaan yang berfungsi untuk penyaluran hasil produksi dari unitunit proses yang ada di PERTAMINA RU-VI menuju semua jalur perpipaan SBM maupun penyaluran ke PERTAMINA UPPDN III baik yang ke Depot Balongan maupun yang melalui fasilitas pipanisasi Jawa untuk Depot Plumpang.

LPG. Natural Gas dari UEP III (NNF) Penggunaan gas bakar di kilang RU-VI adalah untuk keperluan-keperluan sebagai berikut : a.6.7 m3/jam cukup hanya satu yang beroperasi. Fuel Gas System Sistem bahan bakar gas (fuel gas system) dirancang untuk mengumpulkan berbagai sumber gas bakar dan mendistribusikannya ke kilang sebagai bahan bakar dan bahan baku Hydrogen Plant. yaitu sebanyak 20 m3/jam. Sumber Fuel Gas : a. Fuel System Terdapat dua unit bahan bakar.1. Propylene dari ITP (NNF) c. Sistem Bahan Bakar Minyak (Fuel Oil System) 1. yaitu : a.59 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4. 2. Masalah yang sering timbul pada fuel oil pump ini adalah mechanical Kapasitas per tangki : 3.5 MMSCFD kontrak kebutuhan harian RU-VI). Fuel Oil System Sistem bahan bakar minyak (fuel oil system) dirancang untuk mengumpulkan bermacam-macam sumber fuel oil dan didistribusikan ke semua user di dalam refinery. Unit Penunjang (ANCILLARIES COMMON) 4. Gas umpan di Hydrogen Plant b. Jumlah tangki Fuel Oil Pump : 2 buah (62-T-201 A/B) : 3 unit (62-P-301 A/B/C) (2 turbin + 1 motor) Dilihat dari kebutuhan fuel oil.6. sebenarnya fuel oil pump yang mempunyai kapasitas 54. Namun untuk mempertahankan kehandalan suplai fuel oil. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang baik antara RU-VI dengan UEP III karena menyangkut kebutuhan natural gas ke konsumen gas dalam jaringan distribusi natural gas se-Jawa Barat. Sistem Bahan Bakar Gas (Fuel Gas System) b. Refinery off gas b. Gas bakar di unit dan fasilitas proses Pada saat unit-unit prose dari start up. dibutuhkan fuel gas (natural gas) dari UEP III relative tinggi (38 MMSCFD vs 16.000 m3 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dioperasikan dua buah pompa sedangkan satu pompa auto standby.

pada umumnya digunakan di unit sour water stripper (Unit 24). Atmospheric Residue juga digunakan sebagai fuel oil. dan Dimineralized Plant (Unit 55). penyimpan. Gas Oil untuk start up refinery Konsumen fuel oil : a.7. PERTAMINA RU-VI Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Limbah yang dihasilkan tersebut tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan sekitarnya karena akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Konsumsi dan pemakaian caustic soda : 1. Dedicated Superheater di RCC c.6. Kebutuhan ini dipertimbangkan untuk system desain. Pemakaian khusus caustic soda pada unit 14. Sumber-sumber fuel British Petroleum Indonesia seal sering bocor apabila fuel yang dipompakan adalah jenis oil : a. 4. 4. dan 23 hanya sekali dalam satu tahun. Untuk pemakaian pada unit-unit ini caustic soda ditampung di tangki 64-T-101 dengan kapasitas 20 kg/hari. 12. Pengolahan Limbah Dalam operasinya. Decant Oil dari RCC b. Boiler di Utility Facility Prioritas fuel oil : Decant oil akan digunakan sebagai fuel oil pada normal operasi pada saat shut down ARHDM Unit. Hydrogen Plant (Unit 22). Caustic Soda (Unit 64) Sistem caustic soda merupakan salah satu unit di PERTAMINA RU-VI Balongan yang terdiri dari pelarut soda. Atmospheric Residue dari CDU c. 3. Pemakaian caustic soda 10 0Be. kilang RU-VI menghasilkan limbah sebagai buangan yang tidak digunakan. pencair dan penyuplai. digunakan di Gasoline Treatment (Unit 18) dan Catalytic Condensation Unit (Unit 20).60 Laporan Kerja Praktek PT decant oil.2.5 kg/hari. Pemakaian caustic soda 20 0Be. Crude Charge Heater di CDU b. LPG Treatment (Unit 17). Untuk pemakain pada unit-unit ini caustic soda ditampung di tangki 64-T-102 dengan kapasitas 5. Sistem ini dirancang untuk larutan caustic soda 20 0Be dan 10 0Be dalam system tersebut. 2.

keluaran dari unit pengolahan limbah. yaitu Desa Majakerta. Penerapan SML ISO 14001 Kegiatan Lindungan Lingkungan sebelum menerapkan SML ISO 14001 adalah mengikuti ketentuan AMDAL. Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping. Desa Tegal Sembrada. RCC. f. Melakukan audit lingkungan i. UU No. b. Udara ambient sekitar tangki kilang RU-VI dengan radius 2. e. Pelaksanaan penanganan limbah ini berdasarkan pada: a. Sulphur Plant. PPLI Bogor h. PP No. Melakukan pemantauan-pemantaun udara emisi pada stak CDU. Incenerator (unit 63) dengan periode dua kali setahuan pada musim hujan dan kemarau. b. c.61 Laporan Kerja Praktek PT British faktor keselamatan dan Balongan juga memperhatikan faktor lindungan lingkungan selain Petroleum Indonesia kesehatan kerja. 4/1982 Mengenai ketentuan pokok pengolahan dan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). RKL. pengukuran kandungan logam pada pertengahan dan akhir musim hujan. HTU. Limbah padat.000 meter. Memprogram Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. Boiler. Air buangan. dan RPL RU-VI. antara lain : a. Pengolahan limbah padat B3 yang dikirim pada PT. Dalam RU-VI sendiri terdapat Seksi Lindungan Lingkungan yang bertugas : a. Desa Limbangan dengan periode dua kali setahun pada musim hujan dan kemarau. 29/1986 Mengenai ketentuan AMDAL yang dikeluarkan oleh KLH. b. pertengahan dan akhir musim hujan. g. ARHDM. Desa Balongan. Desa Sakaurip. Sumur monitor di dalam kilang pada periode awal. Pengelolaan Good House Keeping Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kualitas air laut radius 200 meter dengan periode satu bulan sekali. d. Hydrogen Plant. Oleh karena itu kilang ini melakukan kegiatan pengolahan limbah sehingga air buangan maupun gas yang keluar dari kawasan industry tersebut telah memenuhi standar yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Pengolahan Limbah Cair Limbah industri yang dihasilkan oleh industri minyak bumi umumnya mengandung logam-logam berat maupun senyawa yang berbahaya. 4. 4. proses. Memelihara kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan RU-VI. Di samping logam berat. Limbah gas. minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. dan kegiatan perusahaan. Limbah padat. 2. 3. air buangan yang keluar dari kawasan industri tersebut harus diolah terlebih dahulu dalam Unit Pengolahan Limbah sehingga air buangan yang telah diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah.1. Limbah dari RU-VI terdiri dari : 1. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibagun sewage dan Effluent Water Treatment Unit di PERTAMINA RU-VI ini. Dalam setiap kegiatan industri.62 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumtidak statis. Kilang RU-VI telah memperoleh pengakuan atas sertifikat SML yang telah diterapkan dan sesuai dengan standar ISO 14001. Tujuan dan sasaran dalam penerapan SML adalah : 1. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Limbah cair. Fungsi : Sewage dan Effluent Treatment Unit dirancang untuk system waste water treatment yang bertujuan untuk memproses buangan seluruh kegiatan dari unit proses dan area pertangkian dalam batas-batas effluent yang ditetapkan untuk air bersih. 3. Menjaga hubungan dengan masyarakat yang lebih baik. Sistem Manajemen Lingkungan (SML) merupakan manajemen yang Indonesia melainkan suatu manajemen yang dinamis sehingga perlu dilakukan adaptasi apabila terjadi perubahan di perusahaan yang mencakup sumber daya. Diperlukan juga penyesuain di luar perusahaan seperti perubahan perundang-undangan dan system peralatan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. limbah atau air buangan dari industri.7. Memperoleh kepercayaan dan kepuasan pelanggan yang lebih baik. 2. Mengurangi pengurangan biaya di setiap kegiatan.

penetrasi. Proses mikrobiologi. dengan menggunakan bahan penolong seperti koagulan. Hasil perubahan tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan pada saat berlangsungnya proses pengolahan limbah. Artinya. Proses dalam unit adalah : 1. dan sebagainya yang dimaksudkan untuk menetralkan zat kimia berbahaya di dalam air limbah. Pada proses ini senyawa yang tidak diinginkan diikat menjadi padat dalam bentuk endapan lumpur yang selanjutnya dikeringkan. Sistem ini terdiri dari seksi penampung effluent water dan unit effluent treatment. Oleh karena itu eksploitasi kemampuan mikroba untuk mengubah Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Minyak yang terkandung di dalam buangan air setelah melalui proses ini diperbolehkan kurang lebih 30 ppm. merupakan proses akhir dan berlangsung lama dan hanya mengolah senyawa yang sangat sedikit mengandung senyawa logam berbahaya karena pada dasarnya proses ini adalah mengolah bahan organic yang berasal dari zat hidup. pengoksidasi. Sebagai pengolahan sekunder.63 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Kapasitas : 600 m3/jam dimana kecepatan effluent didesain untuk penyesuaian kapasitas 180 mm/hari curah hujan di area proses dan utility. 3. senyawa-senyawa tersebut akan berubah menjadi senyawasenyawa lain yang lebih sederhana dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang beberapa metode pengolahan limbah secara biologi dengan segala modifikasinya. Tujuan pengolahan secara biologi terhadap air limbah adalah untuk menggumpalkan dan memisahkan zat padat koloidal yang tidak mengendap serta untuk menstabilkan senyawa-senyawa organic. flokulant.15 mg/l menjadi treated water yang mempunyai kadar BOD 100 mg/l dan COD 150 mg/l dengan menggunakan lumpur aktif (activated sludge) yang merupakan campuran koloni dari mikroba aerobic. Pada proses degradasi. dimana diusahakan agar minyak maupun buangan proses dipisahkan secara fisik. ini dimaksudkan untuk mengolah buangan air proses yang mempunyai kadar BOD 810 mg/l dan COD 1. 2. Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Proses kimia. Proses fisik. pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Konsep yang digunakan dalam proses pengolahan limbah secara biologi adalah eksploitasi kemampuan mikroba dalam mendegradasi senyawa-senyawa polutan dalam air limbah.

BOD. yaitu : 1. Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan minyak dan solid yang tinggi tetapi mempunyai kandungan COD dan BOD yang rendah. COD. udara yang terlarut akan terbesar dalam bentuk gelembung sehingga minyak yang tersuspensi dalam wash water terangkat ke permukaan air. yaitu Oily Water Treatment dan Waste Water Treatment (Unit 63) adalah untuk mengolah air buangan yang terbagi menjadi dua system pengolahan. Secara garis besar effluent water treatment di PERTAMINA RU-VI ini dibagi menjadi dua. Dehidrator dan Incenerator Section a. Air Floatation Section b. Unit penjernihan air buangan terdiri dari : a. Spesifikasi desain air yang keluar dari DAF Unit adalah mempunyai kandungan minyak maksimum 50 ppm dan solid maksimum. 2. Activated Sludge Section c. Campuran dari separator mengalir ke bak DAF Feed Pump dan dipompakan ke bak floatation. Minyak di dalam bak Floatation Oil dipompakan ke dalam tangki recovery oil.64 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum lingkungan senyawa pollutant biasanya dilakukan dengan cara mengoptimumkan kondisi Indonesia untuk pertumbuhan mikroba sehingga tercapai efisiensi yang maksimum. Bila Pressurized Wash Water dihembuskan ke pipa inlet bak floatation pada tekanan atmosfer. udara dari air plant atau DAF Compressor dilarutkan dalam Pressurized Wash Water. Dissolve Air Floatation (DAF) Untuk memisahkan kandungan solid dan minyak dari air yang berasal dari air buangan (oily water) ex process area dan tank area. Air bersih dari bak floatation mengalir ke bak Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dalam pressurized vessel. sebagian campuran dipompakan ke bejana bertekanan (pressurized vessel). dan phenol. Activated Sludge Unit (ASU) Untuk mengolah secara kimia. dan biologi air buangan dari unit proses terutama treated water ex Unit Sour Water Stripper (Unit 24) dan Desalter Effluent Water ex Crude Distillation Unit (Unit 11). Air Floatation Section Air hujan yang bercampur minyak dari unit proses dipisahkan oleh CPI Separator dan air ballast dipisahkan di API Separator. sedangkan kandungan minyak dan solid berasal dari Desalter Effluent Water. fisika. Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan Ammonia. mengalir ke seksi ini secara gravity. Minyak yang mengapung diambil dengan skimmer dan dialirkan ke bak Floatation Oil.

Bila udara dilarutkan dalam air dengan tekanan dan dilepaskan pada tekanan atmosfer maka kecepatan kelarutan udara berkurang. Pada system ini buih dikumpulkan oleh skimmer. Setelah perawatan secara biologi. selanjutnya lumpur tersebut dipisahkan airnya dengan bantuan bahan kimia dan alat mekanis berupa centrifuge (alat yang bekerja dengan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pemisahan permukaan air dari bak sedimentasi mengalir dari atas Impounding Basin. Pemisahan permukaan dari bak clarifier adalah secara overflow ke bak aeration.65 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Impounding Basin.g) minyak dan air. Pada waktu tertentu minyak tidak dapat dipisahkan dari air sehingga diberikan zat pengapung pada minyak untuk mengangkat minyak dengan cepat. Ke dalam bak aerasi ditambahkan nutrient dan dilengkapi dengan aerator untuk mendapatkan lingkungan yang aerob. air tersebut dikembalikan ke bak effluent sedikit demi sedikit untuk dibersihkan dengan normal proses. Minyak yang mempunyai s. Air kotor dari sanitary mengalir secara langsung ke bak sanitary. Unit ini didesain untuk mengapungkan minyak yang tersuspensi.g yang sama dengan air akan tersuspensi dalam air dan tidak akan mengapung atau mengendap. Air yang tersuspensi. c. Prinsipnya adalah senyawa tersebut menurunkan tegangan permukaan dari minyak tersebut. Treatment secara biologi ini mengurangi dan menghilangkan senyawa-senyawa organic (COD dan BOD). Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan yang mengakibatkan udara yang berlebihan dilepas ke atmosfer. tergantung pada perbedaan specific gravity (s. air kotor bersama lumpur dikirim kembali ke bak. minyak dan sulfit yang terdapat dalam air kotor dihilangkan dalam unit ini. Ferri Chlorida (FeCl3) dan caustic soda (NaOH) diinjeksikan ke bak flokulation. air yang terpisah keluar dari bagian tengah tangki melalui pipa air. Apabila kualitas air tersebut ternyata off spec. Air umumnya mengendap atau mengapung. Dehidrator dan Incenerator Section Padatan berupa lumpur yang terkumpul dari Air Floatation Section dan Activated Sludge ditampung dalam sebuah bak penampung. Lumpur yang mengendap dalam bak clarifier dipompakan ke bak thickener. sebagian lumpur dikirim ke bak thickener. b. Pembentukan foam pada saat inicenderung menempel pada minyak dalam air sehingga membuat minyak mengapung ke permukaan sebagai buih. Air proses CPI dan Filtered Dehidrator dicampurkan dalam bak proses effluent dan campuran air ini dipompakan ke pit aeration pada operasi normal dan pada emergency ke pit clarifier melalui rapid mixing pit dan flokulation pit. Activated Sludge Section Aliran proses penjernihan air dengan CPI Separator secara gravity dan aliran sanitary dengan pompa dialirkan ke Activated Sludge Section.

4. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Cairan hasil pemisahan centrifuge dialirkan melalui bak terbuka menuju PEP di seksi ASU sedangkan padatannya disebut cake dan ditampung pada sebuah tempat yang bernama Hopper (cake hopper). Selain mengandung lumpur/pasir dan air. karena pada bagian inilah data-data tentang raw material dan produk akan diperoleh. Proses selanjutnya adalah membakar cake dalam sebuah alat pembakar atau incinerator menjadi gas dan abu pada temperature tinggi (T=8000C). Laboratorium 4.7.7.8. Bagian laboratorium berada di bawah bidang unit produksi dan mempunyai tugas pokok sebagai berikut : a.8. 4. Dengan data-data yang telah diberikan maka proses produksi akan selalu dapat dikontrol dan dijaga standar mutunya. Pengolahan Limbah Padat Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industry minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena akan mencemari lingkungan. sludge juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-recovery ke dalam proses maupun bila dibuang ke lingkungan tidak bisa terurai secara alamiah dalam waktu singkat.2. Kapasitas desain dehydrator mengolah lumpur (sludge) adalah 5. Sebagai control kualitas bahan baku. di PERTAMINA RU-VI Balongan. 4. apakah sudah memenuhi persyaratan sehingga memberikan hasil yang diharapkan.66 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia memisahkan padatan dan cairan dengan memutarnya dengan kecepatan tinggi). perlu dilakukan pemusnahan hidrokarbon untuk menghindari pencemaran lingkungan.3. yakni sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan. Program Kerja Laboratorium Laboratorium berperan penting di kilang. Pengolahan Limbah Gas Limbah gas yang dihasilkan dari kilang RU-VI Balongan agar tidak berbahaya dan merusak lingkungan dibakar dalam flare dan selanjutnya dibuang ke udara.5 m3/jam dan kapasitas pembakaran incinerator adalah 417 kg solid/jam. sludge dibakar dalam suatu ruang pembakar (incenerator) pada temperature tertentu sehingga lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang ke suatu area tanpa mencemari lingkungan. Untuk mengatasi hal tersebut. Dalam usaha tersebut.1.

Sebagai control kualitas produk. Adapun tugas yang dilakukan. dan unit-unit lain. 4. RCC. fuel gas. apakah sudah sesuai dengan standar yang Indonesia c. Utilitas : air. atau ETBE. ITP. Mengadakan penelitian dan pengembangan jenis crude oil lain selain crude oil dari Duri dan Minas yang memungkinkan untuk diolah di PERTAMINA UP-VI Balongan. c. 2. intermediate product. b. dan juga analisis gas stream. dan utilitas termasuk pencobaan katalis. Pemeriksaan di laboratorium meliputi : 1. Melakukan analisis bahan baku. Mengadakan analisis sample serta analisis secara instrument dan kimiawi terhadap contoh minyak sesuai dengan metode tes. c. Mengandung kelancaran operasional semua unit proses. Seksi Teknologi (TEKNO) Seksi TEKNO ini mempunyai tugas antara lain : a. Mengadakan analisis gas masuk dan gas buang dari masing-masing alat (jika diperlukan). b. serta chemical material dengan menggunakan metode tes.67 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumditetapkan. b. termasuk materi kimia yang digunakan di kilang RU-VI Balongan. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . antara lain : a. Intermediate dan finished product. bagian laboratorium dibagi menjadi tiga. serta bahan kimia yang digunakan. dan katalis yang digunakan. Di dalam pelaksanaan tugas. Hydrogen Plant. Crude Oil terutama Crude Oil dari Duri dan Minas. stream/finished product. yaitu : 1. maupun dari tangki. Mengadakan analisis sample dan analisis contoh air secara instrument dan kimiawi agar didapatkan hasil yang akurat. Mengadakan blending terhadap fuel oil yang dihasilkan agar dapat menghasilkan oktan yang besar dengan proses blending yang singkat tanpa penambahan zat kimia lain seperti TEL. Seksi Analitika dan Gas Seksi ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat kimia dari bahan baku. analisa katalis yang digunakan dalam reactor. Mengadakan penelitian terhadap Lindungan Lingkungan (pembersihan air buangan). MTBE. CDU. chemical agent. d. 2. 3. Aliran produk yang dihasilkan dari AHU. dan finished product. Mengadakan evaluasi Crude Oil dari Duri dan Minas yang dipakai sebagai raw material. e.

68 Laporan Kerja Praktek PT British produk gas yang terjadi d. Mengadakan analisis sample gas dari kilang dan utilitas serta Petroleum Indonesia

berupa LPG, propylene.
e. Mengadakan analisis sample non rutin shift sample stream gas, LPG, propylene, fuel

gas, serta hydrogen.
f. Melaksanakan sample dan analisis secara sample non rutin dari kilang dan offsite.

3. Seksi Pengamatan Seksi ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat fisis bahan baku, intermediate product, dan finished product. Sifat-sifat yang diamati adalah : a. Distilasi b. Specific Gravity c. Reid Vapor Pressure d. Flash and Smoke Point e. Contradson Carbon Residue f. Kinematic Viscosity g. Cooper Strip and Silver Strip h. Kandungan air 4. Alat-Alat Laboratorium a. Analitika - Spectrophotometer - Polychromator - Infra Red Spectrophotometer - Spectrofluorophotometer b. Gas Chromatography 5. Prosedur Analitika 4.8.2. Analitika Bahan yang dianalisis setiap hari (routine shift sample) adalah analisis air dan minyak. Adapun prosedur analisis yang digunakan, antara lain :
a. Atomic Absorbtion Spectrophotometric (AAS) yang digunakan untuk menganalisi

logam-logam yang mungkin ada di dalam air. Alat berupa Spectrophotometer yang dilengkapi dengan detector dan hasil dari analisis akan dilihat dalam layar monitor

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

69 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum gelombang computer. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada besarnya daya serap Indonesia

electromagnetic dari sample yang dihasilkan, yaitu sampai dengan 860 A.
b. Polychromator untuk menganalisis semua metal yang ada dalam sampel air maupun

zat organic.
c. Infra Red Spectrophotometer (IRS) untuk menganalisis kandungan minyak dalam

sampel air, juga analisis aromatic minyak berat.
d. Spectrofluorophotometer untuk menganalisis kandungan minyak dalam water slope

yang dihasilkan. 4.8.3. Gas Chromatography Salah satu alat yang digunakan dalam analisis gas adalah gas chromatography yang khusus untuk menganalisis gas CO dan CO2 dengan range 0,01 – 0,05 ppm. Gas chromatography ini menggunakan system multikolom yang dilengkapi dengan beberapa valve dan solenoid valve yang digerakkan secara otomatis oleh program relay. Detektor yang digunakan adalah Flame Ionisation Detector, sedangkan prosedur analisis lain yang digunakan dalam laboratorium, antara lain : a. Titrasi b. Distilasi c. Chromatography d. UOP Standard e. ASTM Standard f. Volumetri g. Viscosimeter h. Potensiometer i. Microcolorimeter j. Gravimetri k. Flash Point Tester

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

70 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

BAB V DASAR TEORI 5.1 Pompa 5.1.1 Pengertian Umum Pompa Pompa adalah suatu peralatan mekanik yang digunakan untuk mengangkat fluida dari suatu tempat yang datarannya rendah ke tempat yang datarannya tinggi dengan penekanan atau pembangkitan beda tekanan. Prinsip kerja pompa adalah mengubah kerja poros menjadi kerja mekanik fluida (energy kinetic menjadi energy tekanan), sehingga tekanan rendah pada sisi hisap (suction) pompa dan tekanan yang tinggi pada sisi keluar (discharge). Agar bisa bekerja pompa membutuhkan atau mengambil daya dari mesin penggerak pompa. Di dalam roda jalan fluida mendapatkan percepatan sedemikian rupa sehingga fluida tersebut mempunyai kecepatan mengalir keluar dari sudu-sudu roda jalan. Kecepatan fluida ini selanjutnya akan berkurang dan berubah menjadi tinggi kenaikan (H) di sudu-sudu pengarah atau rumah spiral pompa. Penggunaan pompa sangat luas berdasarkan kebutuhan tinggi kenaikan dan kapasitas yang berbeda-beda. Kadang pemakai harus memesan pompa khusus terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi kapasitas, tinggi head yang diinginkan, serta jenis fluida yang dipompa. 5.1.2 Klasifikasi Pompa 1. Menurut Prinsip Perubahan Bentuk Energi yang Terjadi pada Fluida • Pompa Perpindahan Positif Pompa perpindahan positif dikenal dengan caranya beroperasi: cairan diambil dari salah satu ujung dan pada ujung lainnya dialirakan secara positif untuk setiap putarannya. Pompa perpindahan positif digunakan secara luas untuk pemompaan selain air, biasanya fluida kental. Pompa perpindahan positif selanjutnya digolongkan berdasarkan cara perpindahannya: Pompa Reciprocating jika perpindahan dilakukan oleh maju mundurna jarum piston. Pompa reciprocating hanya digunakan untuk pemompaan cairan kental dan sumur minyak.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

Pompa yang termasuk jenis ini adalah pompa sentrifugal dan pompa aksial. labe. Pompa-pompa tersebut digunakan untuk layanan khusus dengan kondisi khusus yang ada di lokasi industri. tekanan akan naik ke nilai yang sangat tinggi dimana hal ini dapat merusak pompa. • Pompa Perpindahan non Positif Adalah pompa dengan ruangan kerja yang tidak berubah-ubah saat pompa bekerja.71 Laporan Kerja Praktek PTgaya putaran sebuah Indonesia British Petroleum gear. dan balingbaling dorong. gear luar. sejumlah cairan yang sudah ditetapkan dipompa setelah setiap putarannya. Energy yang diberikan kepada fluida adalah energy kecepatan. Menurut Jenis Impeler • Pompa Sentrifugal Pompa ini mempunyai konstruksi sedemikian rupa sehingga aliran fluida yang keluar dari impeller akan melalui sebuah bidang tegak lurus poros pompa. 2. Impeller dipasang pada satu ujung poros dan pada ujung yang lain dipasang kopling untuk meneruskan daya dari penggerak. Pada seluruh pompa jenis perpindahan positif. sehingga fluida yang berpindah karena adanya perubahan kecepatan yang kemudian diubah lagi menjadi energy dinamis di dalam rumah itu sendiri. Pompa rotary selanjutnya digolongkan sebagai gear dalam. cam Pompa Rotary jika perpindahan dilakukan oleh - atau baling-baling dalam sebuah ruangan bersekat pada casing yang tetap. sebuah paking atau perapat dipasang pada bagian rumah yang ditembus oleh poros untuk mencegah air bocor keluar atau udara masuk ke dalam pompa. dll. sehingga jika pipa pengantarnya tersumbat. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Poros ditumpu oleh dua buah bantalan (bearing).

kecuali bentuk impeller dan diffuser keluarnya. disamping memperbaiki efisiensi pompa juga menambah kokoh rumah. Salah satu ujung poros dimana impeller dipasang.2 aliran pada pompa aksial 3.1 pompa sentrifugal dan bagian-bagiannya • Pompa Aliran Campur Pada pompa aliran campur secara diagramatik aliran yang meninggalkan impeller akan bergerak becampur pada arah aksial dan radial.72 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Gbr 4. • Pompa Difuser Pompa ini adalah sebuah pompa sentrifugal yang dilengkapi dengan sudu diffuser di sekeliling luar impelernya. Bantalan luar terdiri dari sebuah bantalan aksial dan sebuah bantalan radial. Maka konstruksi ini sering dipakai Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . yang pada umumnya berupa bantalan gelinding. Menurut Bentuk Rumah • Pompa Volut Sebuah pompa sentrifugal dimana zat cair dari impeller secara langsung dibawa ke rumah volut. aliran zat cair yang meninggalkan impeller akan bergerak sepanjang permukaan silinder ke luar. Pada ujung yang lain dipasang kopling dengan sebuah bantalan luar di dekatnya. Konstruksi bagian-bagian lain pompa ini adalah sama dengan pompa volut. • Pompa Aliran Aksial Pada pompa aliran aksial. Untuk bantalan dalam dipakai jenis bantalan luncur yang dilumasi gemuk. Gbr 4. Karena sudu-sudu diffuser. Konstruksi pompa ini mirip dengan pompa aliran campur. ditumpu oleh bantalan dalam.

sehingga pompa ini sesuai untuk air limbah. yaitu tidak mempunyai tutup depan. Dengan demikian pompa tidak mudah tersumbat oleh benda asing yang terhisap. 4. Pompa ini juga sering dipakai sebagai pompa bertingkat banyak karena aliran dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dapat dilakukan tanpa menggunakan rumah volut. Menurut Letak Poros • • Pompa Jenis Mendatar Pompa ini mempunyai poros dengan posisi mendatar. Poros pompa yang menggerakkan impeller dipasang sepanjang sumbu pipa kolom dan dihubungkan dengan motor penggerak pada lantai. Rumah pompa semacam ini digantung pada lantai oleh pipa kolom yang menyalurkan zat cair dari pipa ke atas. disini tidak dipergunakan sudu-sudu diffuser melainkan dipakai saluran yang lebar untuk mengalirkan zat cair. Zat cair yang keluar dari impeller pertama dimasukkan ke impeller berikutnya dan seterusnya hingga impeller yang terakhir. • Pompa Aliran Jenis Volut Pompa mempunyai impeller jenis aliran campur dan sebuah rumah volut. Poros ini dipegang dibeberapa tempat sepanjang Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .73 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pada pompa besar dengan head tinggi. Head total pompa ini merupakan jumlahan dari head yang ditimbulkan oleh masing-masing impeller sehingga relative tinggi. Adapun impeller yang dipergunakan disini adalah jenis setengah terbuka. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini. Menurut Jumlah Tingkat • Pompa Satu Tingkat Pompa ini hanya mempunyai satu impeller saja. Pompa Jenis Poros Tegak Pompa ini mempunyai poros dengan posisi tegak. • Pompa Bertingkat Banyak Pompa ini menggunakan beberapa impeller yang dipasang secara berderet (seri) pada satu poros. 5. pompa aliran campur dan pompa aksial sering dibuat dengan poros tegak. Head total yang ditimbulkan hanya berasal dari satu impeller tetapi rendah.

Maksudnya adalah apabila terjadi pemuaian pada rumah karena kenaikan temperature. Menurut Sisi Masuk Impeler • Pompa Isapan Tunggal Pada pompa ini fluida masuk dan sisi impeller konstruksinya sangat sederhana sehingga banyak dipakai. Jadi bagian yang berputar dapat diangkat setelah rumah atas dibuka. 8. dan ditumpu oleh bantalan di luar rumah karena itu poros menjadi lebih panjang. poros dapat diselubungi oleh pipa selubung yang berfungsi juga sebagai penyalur air pelumas. • Pompa Jenis Belahan Radial Rumah pompa jenis ini terbagi oleh sebuah bidang yang tegak lurus poros. 9. Dengan demikian sumbu poros pompa akan tetap segaris dengan sumbu poros motor penggerak. tinggi sumbu poros tidak berubah. Pompa Jenis Khusus Pompa jenis ini diantaranya adalah: • • Pompa dengan motor benam Pompa motor berselebung Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Namun tekanan yang bekerja pada masing-masing sisi impeller tidak sama sehingga akan timbul gaya aksial ke arah sisi isap. 6. Pompa ini mempunyai konstruksi yang relative sederhana serta menguntungkan sebagai bejana bertekanan karena bidang belahan tidak mudah bocor. 7. Pompa Jenis Tumpuan Sumbu Pompa jenis ini mempunyai kaki yang diperpanjang sampai setinggi sumbu poros untuk menumpu rumah. • Pompa Isapan Ganda Pompa ini memasukkan fluida dari kedua sisi impeller. Menurut Belahan Rumah • Pompa Jenis Belahan Mendatar Pompa jenis ini mempunyai rumah yang dapat dibelah menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dan bagian atas oleh bidang mendatar yang melalui sumbu poros.74 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pipa kolom oleh bantalan (yang sering terbuat dari karet). disini poros yang menggerakkan impeller dipasang menembus kedua sisi rumah dan impeller.

kaca.3 impeler pompa • Rumah Pompa Rumah pompa terbuat dari besi tuang. 2. timah hitam. • Bantalan (Bearing) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Impeller terbuka Impeller terbuka adalah impeller yang mempunyai baling-baling yang dipasang pada pusat poros dengan dinding yang relative lebih kecil. Untuk fluida khusus. • Poros (Shaft) Poros berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan putaran dari motor penggerak ke 51mpeller dan juga sebagai dudukan impeller. atau diagonal.1. Rumah pompa ini berfungsi untuk memberikan arah aliran dari impeller dan mengubah kecepatan menjadi tekanan. atau bahan-bahan lain yang sesuai dengan keperluan. Macam-macam impeller antara lain sebagai berikut: 1.75 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • • • Pompa proses Pompa pasir Pompa bebas sumbatan 5. Gbr 4. Rumah pompa merupakan tempat dimana komponenkomponen pompa lainnya terpasang. impeller ini dapat dibuat dari baja tahan karat.3 Bagian-Bagian Utama Pompa • Impeller Impeller biasanya terbuat dari besi cord an bronz. Impeller tertutup Impeller tertutup adalah impeller yang mempunyai selubung atau dinding pada kedua sisinya untuk menutup aliran fluida. Rumah pompa sentrifugal berupa rumah terbelah. impeler.

1. Baling-baling impeller meneruskan energy kinetic ke cairan. Gbr 4.76 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Berfungsi untuk meredam atau menahan beban dari shaft dan bagian-bagian yang berputar dengan bantuan minyak pelumas. Tetapi jika tekanan direndahkan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Cairan meninggalkan impeller pada kecepatan tinggi.4 memperlihatkan bagaimana pompa jenis ini beroperasi: • • • Cairan dipaksa menuju ke sebuah impeller oleh tekanan atmosfer. 5.1.4 Prinsip Kerja Pompa Sentrifugal Pompa sentrifugal merupakan salah satu peralatan yang paling sederhana dalam berbagai proses pabrik. • Perapat (mechanical seal) Berfungsi untuk mencegah kebocoran antara poros dan casing yang akan mengakibatkan pengurangan tekanan pada pompa. karena tekanannya berkuran sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. atau dalam hal jet pump oleh tekanan buatan. Misalnya. Impeller dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal turbin digunakan cincin diffuser stasioner.4 aliran fluida pada pompa sentrifugal 5.5 Kavitasi Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir. Gambar 4. air pada tekanan 1 atmosfer akan mendidih dan menjadi uap jenuh pada temperatur 100 oC. Volute atau cincin diffuser stasioner mengubah energy kinetic menjadi energy tekanan. sehingga menyebabkan cairan berputar.

Jika pompa mengalami kavitasi. Jika pompa mempunyai head total yang berlebihan. yaitu: 1. Karena itu head total pompa harus ditentukan sedemikian hingga sesuai dengan yang diperlukan pada kondisi operasi yang sesungguhnya. Tempat-tempatnya yang bertekanan rendah atau yang berkecepatan tinggi di dalam aliran. 2. maka akan timbul suara berisik dan getaran. sangat rawan terhadap terjadinya kavitasi. Ketinggian letak pompa terhadap permukaan zat cair yang dihisap harus dibuat serendah mungkin agar diambil pipa yang berdiameter satu nomor lebih besar untuk mengurangi agar head isap statis menjadi rendah pula. Namun dalam beberapa hal terjadi sedikit kavitasi yang tidak mempengaruhi performasi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Jika terpaksa dipakai pipa isap panjang. sehingga kemungkinan terjadi kavitasi menjadi lebih besar. Sama sekali tidak dibenarkan untuk memperkecil laju aliran dengan menghambat aliran di sisi isap. Hal ini dapat terjadi pada zat cair yang sedang mengalir di dalam pompa maupun di dalam pipa. sehingga pompa tidak dapat bekerja dengna baik. Permukaan dinding akan termakan sehingga menjadi berlubang-lubang. 3. 4. Jika tekanannya cukup rendah maka temperatur kamarpun akan mendidih. Jika pompa dijalankan terus menerus dalam jangka lama. Pipa isap harus dibuat sependek mungkin. Peristiwa ini disebut erosi kavitasi sebagai akibat dari tumbukan gelembung-gelembung uap yang pecah pada dinding secara terus menerus. Pada pompa misalnya yang mudah mengalami kavitasi akan timbul bila tekanan isap terlalu rendah. Bila head total pompa sangat berfluktuasi makan pada keadaan head terendah harus diadakan pengamanan penuh terhadap terjadinya kavitasi. 5. Selain itu performasi pompa akan menurun secara tiba-tiba. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghindari kavitasi. maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat cair.77 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia maka air akan mendidih pada temperature yang lebih rendah. maka pompa akan bekerja dengan kapasitas aliran yang berlebihan pula. Apabila zat cair mendidih. sebaiknya diambil pipa yang berdiameter satu nomor lebih besar untuk mengurangi kerugian gesek. maka permukaan dinding saluran di sekitar aliran yang berkavitasi akan mengalami kerusakan.

6 Rumus-Rumus Pompa Sentrifugal • Hukum kekekalan Energi/Persamaan Bernoulli Pada suatu aliran di dalam pipa diambil suatu selisih ketinggian z.1.78 Laporan Kerja Praktek PT pertimbangan ekonomis. 5. W = Energi aliran (Nm) m = massa fluida (kg) g = percepatan gravitasi (m/s2) z = perbedaan ketinggian (m) p = perbedaan tekanan (N/m2) ρ = massa jenis fluida (kg/m3) v = kecepatan aliran fluida (m/s) Persamaan di atas dibagi dengan massa (m) dan percepatan gravitasi (g). maka akan didapatkan persamaan Bernoulli: Dimana H adalah head/ketinggian/energy angkat. yang merupakan jarak tinggi fluida di atas dan tinggi fluida di bawah. sehingga berdasarkan persamaan Bernoulli di atas didapatkan persamaan: Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dalam British Petroleum Indonesia sering tidak dapat dihindari sebagai akibat dari hal ini perlu dipilih bahan impeller yang tahan erosi. • Head Head adalah tinggi energy angkat atau dapat dinyatakan sebagai satuan energy pompa per satuan berat fluida. Maka menurut Bernoulli besar energy aliran tersebut adalah: Dimana.

T = Besarnya torsi (Nm) N = putaran poros (rpm) P = daya pada poros (W) • Daya Fluida (Pv) Daya fluida adalah daya pompa yang bisa digunakan dan dipindahkan ke fluida. Daya dapat ditulis dengan persamaan: Dimana. Dimana.79 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Dimana: H P discharge P suction ρ g • = Head (m) = Tekanan sisi buang (N/m2) = Tekanan sisi isap (N/m2) = massa jenis fluida (kg/m3) = percepatan gravitasi (m/s2) Daya Pompa Daya pompa adalah daya yang harus disediakan oleh mesin penggerak pompa (motor/turbin) untuk memindahkan fluida. Pv = daya fluida (kW) Q = kapasitas yang dihasilkan pompa (m3/s) H = Head total (m) ρ = massa jenis fluida (kg/m3) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

dan ekonomis sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.1 Pengertian dan Tujuan Maintenance Falsafah pemeliharaan adalah suatu wawasan dalam pengurusan kegiatan-kegiatan pemeliharaan diberbagai industri pada umumnya termasuk industri migas ataupun petrokimia. 3. 1. Breakdown Maintenance Yaitu cara pemeliharaan yang dilakukan apabila peralatan tersebut rusak atau tidak berfungsi. 2. Tingkat jumlah jam pengoperasian unit / peralatan yang maksimal. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi / jasa dan mendapatkan laba investasi (return of investment) maksimum yang mungkin. Tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan maintenance adalah: 1.2 Strategi Pemeliharaan Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pemeliharaan setiap equipment memerlukan strategi pemeliharaan untuk peralatan-peralatan tersebut. 5. efisien. Metode ini disebut juga sebagai “Failure Based Maintence” atau perawatan berdasarkan kerusakan. Pemeliharaan adalah kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang. dalam rangka mempertahankan atau memperbaiki suatu peralatan sampai suatu kondisi yang bisa diterima. kemudian baru diperbaiki.80 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia g = percepatan gravitasi (m/s ) • Efisiensi Pompa (ηp) 2 Efisiensi adalah perbandingan antara daya fluida dengan daya pompa.2. Untuk manjamin kesiapan operasionalnya diseluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu misalnya unit cadangan. unit pemadaman kebakaran dan seterusnya. Metode ini kurang cocok untuk mesin- Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 4. agar peralatan tersebut berfungsi dengan baik. Untuk menjamin keseluruhan keselamatan pekerja yang menggunakan sarana tersebut.2 Maintenance 5.2. 5.

Ciri-ciri kegiatannya: • • • Sedikit perencanaan Pekerjaan dilakukan secara mendadak Menghasilkan atau berakibat down-time yang berlebihan Pada saat pelaksanaan perbaikin. Kekurangan dari perawatan terjadwal adalah: 1. Preventive Maintenance Yaitu strategi perawatan yang didasarkan atas kondisi aktual mesin itu sendiri. Rentang waktu ditentukan berdasarkan pengalaman atau rekomendasi dari pabrik pembuat mesin yang bersangkutan. rentang waktu yang akurat tidak dapat ditentukan 2. penggunaan man-power menjadi tidak efisien Merupakan perkerjaan yang berskala besar • • 2.81 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia mesin yang memiliki tingkat kritis yang tinggi dan hanya sesuai untuk mesin dan peralatan sederhana. Strategi perawatan ini cukup baik dan dapat mencegah berhentinya mesin yang tidak direncanakan. Macam preventive maintenance: • Schedule Maintenance (Perawatan Terjadwal) Perawatan terjadwal merupakan strategi perawatan dengan tujuan mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut yang dilakukan secara periodic dalam rentan waktu tertentu. Rentang waktu perawatan akan berubah terhadap pola pembebanan mesin 3. maka tindakan perbaikan dapat segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Jika hasil pemantauan menunjukkan gejala kerusakan. • Predictive Maintenance (Perawatan Prediktif) Strategi perawatan ini didasarkan atas intensif dan kontinuitas monitoring terhadap peforma dan kondisi mesin. Strategi perawatan ini disebut juga sebagai perawatan berdasarkan waktu atau time based maintenance. Hasil-hasil pemantauan dan berbagai parameter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Tanpa data-data operasi yang lengkap dan memadai. maka rentang waktu perawatannya menjadi tidak akurat. Karena rekomendasi dari pabrik pembuat tidak berbasis pada beban actual.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . pengujian. akan mengakibatkan proses shut down. Perawatan prediktif disebut juga sebagai perawatan berdasarkan kondisi atau condition based maintenance. peralatan-peralatan jenis ini memerlukan frekuensi monitoring yang tinggi secara periodik. atau keselamatan kilang / karyawan tidak terjamin. juga disebut pematauan kondisi mesin atau machinery condition monitoring. tingkat kesulitan. mempunyai biaya penggantian yang tinggi. Pematauan kondisi mesin dapat diartikan dengan menentukan kondisi mesin dengan cara memeriksa mesin secara rutin. Corrective Maintenance Yaitu cara pemeliharaan yang dilaksanakan dengan mempelajari kerusakan suatu mesin / perawatan untuk menentukan sebab dan upaya supaya tidak terulang kembali. perawatan secara prediktif meruakan strategi perawatan yang paling menguntungkan.82 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia secara rutin akan digunakan untuk menggambarkan pola kencenderungannya.2. kondisi mesin dapat diketahui sehingga kehandalan mesin dan keselamatan kerja terjamin. Penerapan corrective maintenance yang baik perlu adanya dokumen yang memuat tentang teknik menemukan penyebab kerusakan.3 Klasifikasi Peralatan Penggolongan peralatan berdasarkan tingkat kekritisan adalah sebagai berikut: 1. Dalam corrective maintenance telah tercakup kegiatan analisis kerusakan maupun kegiatan inovasi serta improvisasi. 3. Dengan cara pemeriksaan secara rutin. 5. pengurangan produksi. pembuatan. teknik repair. dan pengoperasian peralatan atau bagian perawatan yang dikaji. Vital Machinery Adalah peralatan-peralatan yang dipergunakan untuk proses utama terhadap proses produksi dan keselamatan petugas. Bila peralatan tersebut rusak. Dilihat dari biaya perawatan. dan waktu berhentinya mesin. Berbasis pada pola kecenderungan tersebut maka dapat ditentukan saat terbaik untuk melakukan perawatan pelaksaan perbaikan. perancangan. Oleh karena itu. pemasangan. petunjuk mengambil keputusan jika ada beberapa kemungkinan perbaikin.

2. Apabila peralatan ini rusak. Bila perawatan ini rusak. Pemeliharaan peralatan 5. Training untuk petugas pemeliharaan peralatan • Program pemeliharaan jangka panjang (5 tahun) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Bila peralatan tersebut rusak. 5. • Program pemeliharaan jangka pendek (2 tahun) 1. Support Machinery Adalah peralatan yang dipergunakan dalan suatu proses dan memerlukan periodik monitoring secara rutin. tidak akan berpengaruh terhadap proses produksi dan keselamatan dalam jangka waktu tertentu. Essential Machinery Adalah peralatan-peralatan yang dipergunakan dalam proses produksi dan bersifat essential terhadap proses produksi.83 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2. Mengorganisasikan pemeliharaan 4. 5. Pemeriksaan suku cadang 2. 3. memuaskan dan aman. Persetujuan pelayanan teknis untuk rotating equipment 3. 4. Peralatan-peralatan jenis ini juga memerlukan frekuensi monitoring yang tinggi secara periodic. akan mengakibatkan pengurangan produksi dan mempunyai biaya penggantian yang tinggi. tidak akan berpengaruh terhadap proses produksi dan keselamatan. sehingga kemampuannya berada dalam kondisi yang maksimum dengan biaya pemeliharaan yang optimum dan dapat mencapai umur service yang maksimum.4 Sasaran Pemeliharaan Sasaran dari pemeliharaan adalah memelihara dan memastikan bahwa semua peralatan yang menunjang semua operasi kilang dama keadaan yang baik.2. Operating Machinery Adalah semua peralatan yang tidak termasuk dalam tiga kategori di atas dan tidak memerlukan periodic monitoring secara rutin.5 Program Pemeliharaan PERTAMINA UP-VI Balongan Program pemeliharaan di PERTAMINA UP-VI Balongan meliputi pemeliharaan jangka pendek dan jangka panjang.

pemisah elemen mesin.6 Monitoring Kondisi Monitoring kondisi merupakan kumpulan kegiatan monitoring terhadap parameter tertentu dari rotating equipment untuk menunjang pelaksanaan predictive maintenance. Mengoptimalkan biaya pemeliharaan 5. pematauan visual dapat dilengkapi dengan mikroskop. Kotoran tersebut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Monitoring kondisi bertujuan: 1. dengar. 4. fiberscope. peredam getaran. Memaksimalkan kemampuan dan kehandalan 2. dan lain-lain. Untuk mengetahui secara dini kemungkinan terjadinya suatu kerusakan yang dapat menimbulkan kerusakan berat pada alat. juga berfungsi sebagai pembawa kontaminan atau kotoran yang terdapat di dalam mesin. Pengembangan bengkel 3. pencegah korosi. boroscope. Pemeliharaan yang terpusat dan handal 2. Memastikan bahwa suatu rotating equipment dioperasikan dalam batas-batas desain. fotografi. dan sentuh. Meminimalkan biaya produksi 3. perapat. Untuk mendapatkan gambaran dari kondisi rotating equipment guna menentukan frekuensi pemeliharaan dan over haul.2. pandang. Untuk mengetahui secara dini adanya perubahan dari kondisi rotating equipment. antara lain: • Pemantauan Visual Pemantauan visual diartikan sebagai menaksir atau menentukan kondisi peralatan dengan menggunakan kemampuan panca indera. • Pemantauan Minyak Pelumas Minyak pelumas disamping sebagai pendingin. Telah berkembangnya peralatan pemantau. pencegah gesekan. Metode Pemantauan Kondisi Pompa Secara garis besar ada beberapa metode dalam pemantauan kondisi pompa. meliputi rasa. 3. Pengembangan standar pemeliharaan • Objek pemeliharaan 1. bau. sehingga dapat mendeteksi kondisi mesin dengan lebih tepat.84 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. termografi. 2.

Pada motor pembakaran dalam yang diperlukan pemantauan geometris antara lain pada poros engkol. pemantauan geometris meliputi antara lain leveling. pipa engkol. tekanan. kerataan. Secara operasional. pemantauan geometris meliputi pengukuran ketinggian (leveling) dan pengukuran pengaturan posisi (alignment) Pada mesin perkakas. Kotoran atau kontaminan yang berasal dari luar adalah kotoran yang masuk melalui filter. Tes kuantifair partikel (particle kuantifair test) 4. bahan bakar. Tes bilangan keasaman (TBN test) 6. putaran. hasil-hasil pemantauan dibandingkan dengan parameter-parameter kinerja yang telah distandarkan. Ada beberapa teknik pemantauan minyak pelumas yang dapat dilakukan: 1. Tes kekentalan (viscosity test) 2. kesejajaran. dan run out pada roda penerus dan konsentrisitas roda penerus. konsentrisitas poros penggerak dan poros pompa. ketegaklurusan. dan ketegaklurusan pompa. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pemantauan ini dapat dilakukan pada mesin yang sedang beroperasi. minyak pelumas. torsi. konsentrisitas. Tes gelembung (bubble test) • Pemantauan Kinerja Pemantauan kinerja merupakan teknik monitoring dengan cara mengukur parameter kinerja pompa tersebut. Untuk mengetahui kondisinya. run out. Jika hasil pemantauan lebih kecil dari standar. Tes ferografi (ferrography test) 7. Tes butiran keausan (wear debris test) 5. dan tenaga. debit. dan sebagainya. maka diperlukan analisis dan pemeriksaan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terjadi. Pemantauan geometris pada instalasi pompa sentrifugal antara lain kerataan kopling. • Pemantauan Geometris Pemantauan geometris merupakan teknik pemantauan yang bertujuan untuk mengetahui penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan. antara lain temperatur. dan pada saat perawatan dan perbaikan.85 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dapat berasal dari luar maupun dari dalam pompa itu sendiri yang disebabkan oleh geram akibat gesekan elemen mesin. Tes perhitungan partikel (particle counting test) 3.

digunakan cara perbandingan antara parameter hasil pemantauan secara rutin yang telah tercatat dan dianalisa. Standar mesin ini dibuat berdasarkan percobaan atau data-data pengalaman. kerusakan mesin dapat dideteksi secara dini dan akhirnya kerusakan yang jauh dapat dicegah. kurang kencangnya sambungan. bantalan. Kerusakan-kerusakan seperti ini akan menimbulkan getaran yang cukup besar. Pengambilan base data ini hanya untuk peralatan dengan kategori Vital Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pemantauan Data Pemantauan Kondisi • Base data Base data atau data dasar merupakan data yang harus diambil pada saat running test setelah selesai suatu over haul ataupun pemasangan unit baru. Dengan monitoring getaran yang terjadi. Dalam analisis kooperatif kondisi mesin ditentukan dengan cara membandingkan hasil pemantauan atau hasil pengukutan dengan standar getaran yang diizinkan. roda gigi. Analisis Deskriptif Pada analisis deskriptif dalam menentukan kondisi mesin didasarkan atas deskripsi hasil pengukuran dan pemantauan. Getaran dapat terjadi karena adanya kerusakan pada poros. maupun dari tabel. kurang tepatnya pemasangan transimisi dan juga disebabkan karena ketidakseimbangan elemen mesin yang berputar. 2. grafik. kurang lancarnya pelumasan. baik yang berupa gambar. Analisis Komperatif 3. Box data tersebut akan merupakan referensi dari monitoring kondisi peralatan pada masa yang akan datang.86 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • Pemantauan Getaran (vibrasi) Pemantauan getaran yaitu memeriksa dan mengukur parameter getaran secara rutin dan terus menerus. • Metode Analisis Untuk menentukan kondisi mesin berdasarkan hasil-hasil pengukuran dari metode analisis sebagai berikut: Analisis Kecenderungan 1. Untuk menentukan kondisi mesin berdasarkan analisis kecenderungan.

3. Minor Over Haul Lingkup pekerjaan dari minor over haul adalah melakukan inspeksi secara acak terhadap komponen-komponen tertentu tanpa membuka rumah suatu alat. terutama untuk rotating equipment dengan kategori vital dan essential. Lingkup data yang harus diambil harus mencakup aspek menarik dan aspek termodinamik / hidrolik. Apabila diperlukan untuk menunjang suatu analisa kerusakan. Mendeteksi setiap kemungkinan adanya kerusakan tingkat pertama dan memperbaiki hal tersebut. Pengambilan transient data secara regular hanya dilakukan untuk rotating equipment dengan kategori vital.2.7 Over Haul Tujuan pelaksanaan over haul adalah sebagai berikut: 1. Steady state data ini diambil pada saat commissioning dan running test. 5. • Steady State Data Pengambilan steady state dilakukan secara regular dengan interval tertentu. Memperbaiki efisiensi mesin dengan jalan mengganti bagian-bagian yang sudah aus atau membersihkan komponen yang mengalami kerusakan. maka transient data dapat diambil untuk peralatan dengan kategori vital dan essential. Sebagai contoh antara lain: Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . maka over haul dikelompokkan sebagai berikut: 1. Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan yang ada. 2. • Transient data Pengambilan transient data hanya dilakukan untuk peralatan kategori vital. Melakukan analisis akhir dari mesin 4.87 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dan Essential. 5. Memperbaiki kerusakan pada komponen mesin yang dapat terjadi pada saat mesin tersebut dioperasikan. Untuk mendapatkan data sebagai dasar dalam memperkirakan umur service. Transient data yang diambil pada saat melakukan commissioning untuk peralatan yang baru dipasang atau setelah di over haul meruapakan suatu base data.

artinya bahwa semua lingkup pekerjaan yang tercakup dalam over haul tersebut dapat dilaksanakan pada waktu dan kesempatan yang berbeda. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dalam hal ini dimaksudkan untuk mencapai “complete assessment” terhadap kondisi rotating equipment tersebut. Mayor Over Haul Pemeriksaan secara menyeluruh terhadap komponen-komponen utama dan komponen bantu dari rotating equipment dilakukan pada saat mayor over haul. Modular Over Haul Mayor dan intermediate over haul dapat dilakukan secara modular.88 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • Cek alignment Inspeksi bantalan Pemeriksaan sistem proteksi dan keselamatan kerja • • • • Pemeriksaan dan kalibrasi instrumen. 4. 3. bila dianggap perlu Pemeriksaan sistem control dan governor 2. Intermediate Over Haul Intermediate over haul dilakukan pada saat planned shut down dari mesin. Tambahan pekerjaan yang berbeda dengan minor over haul adalah: • • • Cek dan reset displacement axial Cek run out radial Pengambilan data-data dan test yang diperlukan guna menunjang pelaksanaan mayor over haul yang akan datang.

karena itu perlu dioperasikan dan dipelihara sesuai dengan standarnya atau berdasarkan petunjuk pemeliharaan dari pabrik pembuat. Sedangkan penulis akan menganalisis satu pompa saja.89 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB VI PERAWATAN POMPA 13-P-101 A/B Pemeliharaan dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang diperlukan untuk menjaga atau mempertahankan kualitas suatu fasilitas / alat agar tetap dapat berfungsi dengan baik. dan utility lainnya. • • • Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 6. kompresor. Identik disini artinya adalah memiliki spesifikasi dan fungsi yang sama. dimana unit 13 ini bekerja pada unit ARHDM P menunjukkan peralatan jenis tersebut adalah pompa 101 menunjukkan nomor urut peralatan A/B menunjukkan bahwa peralatan tersebut terdiri dari dua unit. Fasilitas yang dimaksud ialah mesin-mesin produksi serta fasilitas lain yang memerlukan pemeliharaan. Pompa 13-P-101 A merupakan dua buah pompa sentrifugal yang identik.1 Data Teknis Pompa 13-P-101 A Pompa yang akan dibahas disini adalah pompa sentrifugal dengan tipe 13-P-101 A. Tujuan utama dari pemeliharaan ini adalah mendapatkan kinerja pompa yang maksimum handal dan berdaya guna tinggi. dimana pompa ini berfungsi untuk memompa residu dari unit CDU ke reaktor di unit 13. yaitu unit A dan B yang bekerja saling bergantian jika salah satunya mengalami kerusakan. Dalam operasinya harus ada pompa yang berperan sebagai spare atau cadangan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu pompa yang sedang bekerja tersebut rusak. turbin. dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah dan dalam batas-batas aturan safety perusahaan. Arti penomoran 13-P-101 A: • 13 menunjukkan unit tempat pompa tersebut dipasang. Pompa sebagai salah satu mesin yang memainkan peranan penting dalam operasi kilang PERTAMINA. seperti generator. pompa. yakni ARHDM.

6.2 Bagian-Bagian Pompa 13-P-101 Bagian-bagian penting dari pompa 13-P-101 A adalah: 1. 2. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Casing berfungsi untuk memberikan arah aliran dari impeller dan mengubah kecepatan menjadi tekanan. Tipe impeller close serta double suction.90 Laporan Kerja Praktek PT British dan spesifikasi sebagai Secara garis besar Pompa 13-P-101 A memiliki data teknis Petroleum Indonesia berikut: Data Pompa 13-P-101 A Ukuran/Tipe Serial No Tag. No Manufacture Servis Fluida Bearing radial Bearing Thrust Kapasitas normal Kapasitas rata-rata Suction pressure Discharge pressure Efisiensi Motor : 6 IJ 10 : B 55354-01 : 13-P-101 : Pasific-Dresser Pump : Reaktor Feed Pump : Atmospheric Residu : Sleeve : KTB : 231 m3/jam : 254 m3/jam : 40 kg/cm2 : 198 kg/cm2 : 76% : 4350 rpm Spesifikasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran Pump Data Sheet. Impeller Impeller berfungsi untuk memberikan percepatan pada fluida akibat gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh putaran impeller. Casing (rumah pompa) Casing merupakan rumah dari pompa yang terbuat dari special steel (ASTM743-CA6NM) untuk menghindari terjadinya korosi. serta menjadi tempat kedudukan impeller. Bahan impeller untuk pompa ini adalah special steel (SCS1T2).

penurunan tekanan discharge relative terhadap tekanan suction. Mechanical Seal Mechanical seal berfungsi untuk mencegah kebocoran antara poros dan casing yang akan mengakibatkan pengurangan tekanan pada pompa. Berdasar pada factor seperti jam operasi. waktu inspeksi dan servis. Shaftnya terbuat dari bahan special steel (SUS420J2). Perubahan tekanan balancing drum line 4. Kondisi yang harus disiapsiagakan adalah: 1.91 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Shaft (poros pompa) Shaft berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan putaran dari penggerak ke impeller dan juga sebagai dudukan impeller. serta kondisi yang diobservasi saat inspeksi. Peningkatan kebocoran seal 7. atau thrust bearing outlet 6. 6. 4. 6. operator harus siap siaga terhadap kondisi yang dapat merusak kinerja pompa. Penurunan tekanan lube oil pada filter outlet 5.3 Maintenance Walaupun pompa sentrifugal beroperasi dalam jangka waktu yang lama tanpa maintenance. Melonggarnya baut-baut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . umur pompa. 2. Peningkatan suhu lube oil pada oil cooler outlet. Getaran dan kebisingan operasi 3. Bearing Bearing berfungsi untuk meredam atau menahan beban dari shaft dan bagianbagian berputar dengan bantuan minyak pelumas. Coupling Coupling berfungsi untuk meneruskan putaran poros motor penggerak dengan poros pompa. lingkungan. inspeksi periodik dan servis dibutuhkan untuk mempertahankan dan mencatat kuantitas lube oil yang dibutuhkan. Penurunan kapasitas. 5. radial bearing outlet. atau peningkatan konsumsi power untuk operasi pompa.

3.1 Stopping Pada umunya terdapat 2 jenis keadaan saat meberhentikan pompa. penuruan tekanan discharge.014-0. Level fluida pada reservoir Pacloc menurun Inspeksi periodik harus berada dalam keadaan eksternal.36-0. Tutup discharge valve 2. • Cold Shutdown Untuk melindungi part-part dalam pompa dari kekeringan dan keausan maka perlu dilakukan langkah-langkah: 1.41 mm). • Ketebalan bearing housing gasket Ketebalan bearing housing gasket merupakan sesuatu yang critical.92 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 8. Tutup katup fluida dingin 5. dan timbul permasalahan mechanical.016 in (0. Ini harus berkisar 0. part-part harus diganti ketika jam operasi total mereka mencapai batas maksimum jam operasi yang direkomendasikan oleh manufaktur seal tersebut. • Rekomendeasi penggantian lube oil Manufaktur pompa 13-P-101 A merekomendasikan agar lube oil pada pompa harus diinspeksi secara periodik dan penggantian ketika: a. Matikan sumber listrik (motor) 3. yaitu cold shutdown dan hot shutdown. Tutup semua vent valves 6. Matikan pompa lube oil 4. terindikasi terkontaminasi dari kotoran dan zat kimia asing b. Buka semua saluran pipa dan pastikan semua fluida dingin keluar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Oli menjadi seperti susu atau mengelmusi c. yaitu pompa tidak boleh terbuka sekecil apapun supaya tidak ada penurunan kapasitas. • Penggantian seal periodik Untuk menghindari perawatan yang tidak terencena pada mechanical seal. Warna oli menggelap. Ditemukan partikel-partikel asing di oil 6.

Cut Power 3.2 Pelaksanaan Pemeliharaan Pompa 13-P-101 A Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas dalam kegiatan di unit ARHDM maka diperlukan pemeliharaan peralatan yang meliputi stationery equipment dan rotating equipment di unit tersebut termasuk juga pompa 13-P-101 A. Katup dengan vent line terbuka c. Katup pembuangan tertutup 6. • Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Biarkan katup tersebut dalam keadaan: a. Setelah putaran berhenti. Biarkan katup dalam aliran minimum 7. Tujuan utama dari pemeliharaan peralatan antara lain: • Untuk mempertahankan kondisi operasi pompa agar berfungsi dan bekerja secara optimal sesuai dengan karakteristik performance-nya. Biarkan semua katup pipa pada laju minimum 8. harus dilakukan: 1. Sebagai tindakan sedini mungkin terhadap kemungkinan-kemungkinan gangguan operasi pompa. Untuk meyakinkan bahwa pompa dapat langsung bekerja tanpa penundaan akibat warm up. Biarkan katup suction terbuka 9. kecuali system drain valve. Biarkan semua katub pada sistem Pacloc terbuka.93 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 7. buka kembali katup discharge dan lihat apakah katub tersebut tertutup rapat dengan cara mengamati reverse rotation 5. Pertahankan oil flow pada lube oil pump 8. biarkan dalam keadaan tertutup • Hot Shutdown Ketika temperatur dari aliran di bawah 150F (66 oC) dan pompa kedua dalam keadaan hot standby.3. Lihat apakah valves dengan keadaan laju aliran minimum dalam keadaan terbuka dan katub discharge tetutup 2. Katup dengan fluida dingin terbuka b. pompa yang hot standby harus disiapkan sekali tiap 2 minggu selama 1 sampai 2 jam untuk pengetesan operasi. Pastikan katup aliran yang ingin dipanasi dalam keadaan terbuka 6. Lihat apakah katup suction masih terbuka 4.

yaitu: • • • • Pengecekan keausan yang tejadi Pengecekan clearance wearing ring Pengecekan casing dan stuffing box Pengecekan poros dan impeller Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pemeliharaan Berkala Pemeliharaan berkala adalah pemeliharaan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka waktu tertentu. dan noise. Pemeliharaan bulanan Pemeliharaan yang dilakukan tiap bulan. Pemeliharaan mingguan Pemeliharaan yang dilakukan tiap satu minggu.94 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. 2. yaitu: a. Pemeliharaan tahunan Pemeliharaan yang dilakukan tiap satu tahun. misalnya: pengecekan lube oil. temperatur. yaitu: • Pengecekan packing Pengecekan shaft sleave Pengecekan alignment pompa dengan penggeraknya • • e. yaitu: • • Penggantian minyak pelumas Penggantian grease (gemuk) d. Pemeliharaan Harian Pemeliharaan yang berupa kegiatan pemeriksaan terhadap parameter-parameter kondisi operasi pompa yang dilakukan rutin setiap hari. yaitu: • Pengecekan vibrasi b. Pemeliharaan enam bulanan Pemeliharaan yang dilakukan tiap enam bulan. kebocoran. Pemeliharaan tiga bulanan Pemeliharaan yang dilakuan tiap tiga bulan. yaitu: • Pengecekan temperatur bantalan atau bearing • Pengecekan sistem pelumasan c.

4 Trouble Shooting Pompa 13-P-101 A Tabel 6. dll) • Buka penuh suction valve dan periksa liquid level • Periksa suction line dari kebocoran • Impeller atau suction line tertutup • Periksa dan bersihkan 3 power supply • Periksa arah putaran pompa vent pompa oleh • Periksa dan bersihkan kotoran tersebut • Adanya udara atau vapor di dalam • Periksa suction line dari kebocoran dan • Bearing atau rotating element lainnya • Periksa dan ganti bagian-bagian yang • Specific gravity atau viskositas fluida • Periksa apakah spesifikasi liquid tersebut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .95 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • • Penggantian mechanical seal Penggantian bearing 6. shaft level.1 trouble shooting pompa 13-P-101 A No Penyebab 1 Kapasitas dan tekanan Disharge pompa kurang atau tidak ada sama sekali Tindakan • Suction pressure atau putaran pompa • Buka penuh suction valve dan check terlalu rendah • Putaran pompa terbalik liquid • Impeller • Suction 2 tertutup line sebagian kotoran-kotoran banyak mengandung • Periksa strainer pompa dan bersihkab kotoran Pompa tidak mau menghisap disaatn start • Liquid supply tidak cukup • Adanya udara pada suction line kotoran Penggerak pompa (motor) overload • Pengikatan packing atau spring tension • Kurangi mechanical seal terlalu kuat rusak terlalu tinggi • Adanya rotating gesekan elemen abnormal dengan stationery pengangkatan packing atau spring tension mechanical seal rusak sesuai dengan desain pompa antara • Periksa penyebab dai gesekan tersebut (shaft run out. alignment.

Berikut ini langkah-langkah over haul dan pemasangan kembali. sehingga jika dioperasikan kembali.96 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia element lainnya Vibrasi pompa • Adanya udara atau gas di dalam liquid • Mis-alignment • Bearing rusak • Rotating element unbalance 5 manual • Low voltage atau elektrikal trouble • Periksa apakah sudah sesuai dengan 4 • Vent. Dalam melakukan pembongkaran sebaiknya harus mengetahui konstruksi pompa dan lain-lain dengan mempelajari gambar pompa dan gambar petunjuk lain yang berhubungan dengan pompa tersebut. Pompa dan periksa kebocoran pada suction line • Realignment kembali • Periksa dan ganti baru • Periksa dengan balancing machine • Baut-baut pengikat pondasi kurang kuat • Periksa dan ikat kembali Bearing panas dan cepat rusak • Oil level tidak tepat • Spesifikasi pelumas salah • Pelumas tercampur air dan lain-lain • Temperatur pelumas terlalu tinggi • Oil ring tidak berfungsi • Axial thrust terlalu besar • Stel kembali oil level • Ganti pelumas yang sesuai dengan rekomendasi manufakturnya • Ganti pelumas dan periksa penyebabnya • Periksa/pasang bearing housing • Periksa kondisi dari oil ring dan check apakah oil ring dapat bergerak bebas • Periksa clearance dari wearing ring atau cooling sistem pada balancing device 6. pompa tersebut performancenya dapat mendekati dengan performance desainnya. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .5 Over Haul Pompa 13-P-101 A Over haul adalah kegiatan pemeliharaan dengan melakukan pengecekan-pengecekan menyeluruh dan melakukan perbaikan serta penggantian komponen-komponen pompa dengan melakukan pembongkaran.

Tarik keluar casing cover dan rumah bantalan berikut komponen-komponen yang berputar yang merupakan satu kesatuan 3. Tarik shaft pompa dari casing cover 12. maka dilakukan pembersihan semua komponen lalu dilanjutkan dengan pengecekan komponen. Buka baut-baut mechanical seal 8.5. Buka baut pengikat pada saluran isap dan tekan 7. Buka pelindung kopling dan lepaskan kopling 5. Tutup semua saluran baik isap maupun tekan 2.2 Pembongkaran Pompa 1. Lepaskan lock washer impeller 5. Pengecekan visual Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Lepaskan oil ring dan oil thrower 13. Lepaskan penggeraknya 6. Pengecekan dapat dilakukan dengan cara antara lain: 1. Turunkan pompa dari pondasi ke tempat yang aman 6.3 Pemeriksaan Komponen Pompa Setelah pembongkaran selesai. Buka baut pondasi 8. Lepaskan impeller 7.1 Persiapan Pembongkaran 1. Matikan power source ke penggerak 4.5. Lepas semua mur pada casing cover 2. Lepaskan washer impeller 6. Lepaskan fliger inboard dan end cover inboard 11. Lepaskan wearing casing dan wearing impeller 4. Kosongkan pompa dari fluidanya 3. Lepaskan mechanical seal 9. Lepaskan bantalan radial dan bantalan aksial 6.97 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 6. Lepaskan fliger outboard dan end cover outboard 10.5.

atau goresan • Memeriksa kondisi gasket 4 dan “O” ring Poros dan key • Memeriksa kondisi (spi) pada bearing) • Melakukan run out pada poros • Memeriksa kondisi keyway 5 6 Shaft sleeve Mechanical Seal dari distorsi • Memeriksa apakah terjadi keausan pada permukaan • Memeriksa apakah terdapat goresan dan keretakan pada bagian-bagian yang • Ganti jika keausan dapat terlihat jelas secara visual • Gunakan lagi atau ganti dengan yang baru • Ganti “O” ring. ganti dengan yang baru • Lakukan balancing setelah selesai • Jika clearance max.98 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2. Pengecekan dengan cara pengukuran dimensi Komponen-komponen yang diperiksa antara lain: Tabel 6. erosi. keretakan. cara pengelasan • Jika tidak dapat diperbaiki. maka ganti dengan yang baru erosi. keretakan. goresan • Memeriksa kondisi impeller dan 2 Wearing ring diffuser bore dan keyway • Memeriksa dari erosi dan korosi 3 Casing • Mengukur clearancenya dan • Memeriksa apakah terjadi korosi.2 Komponen Pompa 13-P-101 A yang diperiksa No Komponen Pemeriksaan Tindakan 1 Impeller dan • Memeriksa kondisi impeller • Jika bisa diperbaiki dengan Diffuser dan diffuser apakah terjadi korosi. sudah maka melebihi wearing harus diganti • Bagian-bagian yang aus dapat diperbaiki dengan cara pengelasan Stuffing box (impeller. dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . shaft. “V” ring. Pengecekan dengan menggunakan cairan penetrasi 3. beberapa key bagian • Jika poros bengkok atau terdistorsi. sleeve.

dengan memperhatikan dan mempelajari gambar konstruksi pompa dengan cermat Pompa kemudian diuji coba dengan cara memutar poros pompa. “V” ring dan gasket • Memeriksa retainer dan balls dari kerusakan • Memeriksa apakah terjadi play dan suara-suara yang tidak normal saat diputar dengan tangan • Memeriksa penampung oli dan water jacket • Memeriksa kondisi dudukan bearing 8 Bearing housing • Bersihkan penampung baik • Bersihkan dan oli kerak bilas dengan dan 9 Run out dari • Melakukan run out pada rotating parts poros dan impeller wearing ring endapan dalam air • Jika melebihi batas yang diijinkan.6. 6. Langkah-langkah dalam melakukan alignment: • Lakukan pre-alignment 1.6 Perakitan Pompa Untuk melakukan perakitan pompa cukup dengan membalik langkah-langkah pembongkaran pompa. Mengecek kelenturan dan stang dial indicator Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .99 Laporan Kerja Praktek PT British gasket dan Petroleum Indonesia bergesekan • Memeriksa 7 Bearing kondisi “O” • Ganti yang sesuai dengan kondisi aslinya ring. maka perbaiki atau ganti dengan yang baru 6. maka pada saat pemasangan pompa ke penggerak harus dilakukan alignment. Apabila poros dapat berputar dengan lancer dan baik maka pompa siap dipasang pada penggeraknya. Mengecek soft foot penggerak 2.1 Pemasangan Pompa ke Penggerak Untuk melakukan kelurusan antara poros pompa dan poros penggerak.

maka pompa dapat dijalankan 6. 270 o.3 Hasil Laporan Inspeksi No Hasil Inspeksi 1 Impeller 1st stage – 10th stage Terkikis tolerance impeller 2 ring dan out pada dan of OD OD Gambar Rekomendasi Perbaikan Ganti impeller ring dengan yang baru dan perbaiki impeller hub dengan welding impeller hub area Suction spacer Erosi pada daerah yang terindikasi Intermedate (diffuser 2-9) Erosi pada daerah yang terindikasi. bagian magnetic base half coupling penggerak dan jarum sensor dial indicator pada half coupling pompa 8. dapat kita simpulkan jumlah shim kaki depan dan belakang dari penggerak perlu ditambah atau dikurangi dan juga bisa disimpulkan apakah letak penggerak kurang geser ke kanan atau ke kiri 10. Memasang dial indikator. Mengusahakan jumlah shim awal tidak terlalu banyak 7. 180 o.7 Studi Kasus Over Haul pompa 13-P-101 Tabel 6.100 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Mengukur jarak kopling 5. dan 360o 9. pasang coupling spacer 12. Setelah alignment sudah tepat dan benar.05 mm 11. Setelah semuanya selesai. Dari pembacaan tersebut. yaitu 0. Scoring pada ID case wear Perbaiki pada area yang mengalami kerusakan dengan welding Perbaiki pada area yang mengalami kerusakan dengan welding. Menghitung thermal growth 6. Mengecek pondasi penggerak 4. Lakukan langkah di atas hingga seluruh penunjukan dial indicator berada pada toleransi alignment. Membaca penunjuk jarum indikator dengan memutar poros sesuai dengan arah putaran dengan tahapan 90 o. Ganti case wear ring dan case hub dengan 3 Cover Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

Gesekan yang terjadi cukup besar karena pada residu terkandung juga bahan-bahan logam atau material sepert nikel. ring dan out of tolerance pada ID case wear ring dan 4 ID case hub ring Discharge spacer Scoring dan out of tolerance pada case wear 5 ring dan case hub ring Pump Shaft Out of tolerance dan goresan pada daeran yang 6 terindikasi Balance Drum Out of tolerance pada OD 7 8 balance drum Impeller Key Tergores Balance Key Rusak pada daerah yang terindikasi 6. dll. Kerusakan yang terjadi sama pada setiap bagian (cth: kerusakan pada impeller atau diffuser). 5. 6. 3. penulis mengambil sebuah hipotesis bahwa korosi sudah dapat terdeteksi ketika pompa sudah beroperasi selama 1 tahun. Melihat tingkat korosi yang terjadi dan rekomendasi perbaikannya. Kerusakan yang paling banyak terjadi adalah akibat dari gesekan yang berlebihan. Korosi (erosi) atau terkikisnya sebuah area pada part pompa disebakan akibat gesekan antara part pompa (logam) dengan fluida yang mengalir yaitu residu dari unit CDU. 2. sulfur. Sesuai data yang didapat bahwa korosi ditemukan saat pompa sudah bekerja selama 3 tahun. 4. yakni saat proses over haul dilakukan.1 Analisa Kerusakan Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Dari data hasil over haul pompa 13-P-101 A dapat dianalisis: 1. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .7.101 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia yang baru.

102 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 6. Penggunaan daya penggerak pompa (motor) harus stabil. Pemilihan material logam yang lebih kuat dan tahan korosi terhadap fluida khusus seperti residu. Karena jika berfluktuasi akan mengakibat korosi yang lebih cepat. penggunaannya dapat digilir setiap 1 minggu hingga 1 bulan sekali. yaitu: 1.7. 3.2 Rekomendasi Penulis terhadap pengaruh gesekan antara fluida terhadap logam pada part pompa. agar fluida yang diisap laju alirannya selalu konstan. PT PERTAMINA UP-VI Balongan bisa merekomendasikan kepada manufaktur pompa. Karena terdapat 2 unit pompa. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 2. yaitu 13-P-101 A/B.

Beberapa hal yang kami temukan selama kerja praktek mengenai perawatan dan pemeliharaan pompa 13-P-101 A. Dalam usaha peningkatan standar pemeliharaan dan keefektifan pemeliharaan. serta noise. standar kerja. penulis memberi saran agar: 1.1 Kesimpulan Proses produksi yang berlangsung selama 24 jam tanpa henti di PERTAMINA UP-VI Balongan diperlukan equipment-equipment yang terjaga kehandalannya. hal ini dapat diwujudkan dalam peningkatan kualitas peralatan. guna menunjang kelangsungan produksi dan keselamatan kerja diperlukan suatu sistem perawatan / pemeliharaan yang baik. Oleh karena itu. 3. maka dilakukan pemeliharaan secara terencana. Penggunaan spare part yang sesuai dengan literature yang diberikan pabrik pembuat mesin diharapkan dapat mengoptimalkan jam operasi mesin Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Diperlukan suatu sistem kerja yang lebih baik.2 Saran Dari hasil observasi penulis selama melakukan kerja praktek. keadaan lube oil. 2. dan mechanical seal 7. dalam hal ini pompa 13-P-101 A dilakukan pemeliharaan terencana (Preventive Maintenance). Perawatan yang terencana yang baik mutlak diperlukan dalam menjaga kondisi operasi suatu alat / mesin. Kerusakan komponen pompa yang sering terjadi ialah wearing ring. dapat kami simpulkan bahwa: 1. dan sumber daya manusia 3. temperatur. Pemeliharaan terencana dilakukan untuk mencegah menurunnya fungsi fasilitas produksi. bearing. tekanan. Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan guna menghindari kerusakan yang lebih fatal ialah dengan menggunakan vibrasi monitoring. Kegiatannya meliputi pemeriksaan vibrasi.103 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB VII PENUTUP 7. Diperlukan peningkatan kuantitas literatur pada setiap unit kerja untuk menunjang proses perawatan 2.

104 Laporan Kerja Praktek PTgaya radial sehingga beban yang British Petroleum Indonesia 4. Alignment yang presisi diharapkan dapat mengurangi diterima bearing tidak terlalu besar serta diharapkan gesekan yang dialami wearing ring dapat tereliminasi. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

Laporan Kerja Praktek. Data-data dari hasil pengamatan selama kerja praktek berlangsung. Lenny. pemeliharaan I PERTAMINA UP-VI Balongan. Manual book.2009 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Politeknik Negeri Bandung. Universitas Diponegoro. “12/13-P-101 A/B Pump” Trilestari. “Sistem Pemeliharaan Pompa 12-P-505 B”. “12/13-P-101 A/B Pump” Pump Spesification Sheet. Laporan Kerja Praktek. “Analisis Performance pada Pompa 12-P-101 A”.2004 Data perawatan dan perbaikan. Laporan Kerja Praktek. dkk. Panca Alloy.2009 Budiawan. Adhie.105 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia DAFTAR PUSTAKA Atma. Universitas Pendidikan Indonesia. “Analisa Penurunan Kinerja Pompa Diaphragm 22-P-106 A”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful