1 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Banyaknya tuntutan perusahaan yang menginginkan lulusan sarjana siap pakai menuntut para mahasiswa untuk mencari pengalaman tentang dunia kerja sebelum lulus. Hal ini menjadi titik tolak bagi program studi Teknik Mesin Universitas Indonesia untuk mengadakan mata kuliah Kerja Praktek yang merupakan salah satu syarat wajib kelulusan. Keadaan lapangan menunjukkan bahwa kemampuan intelejensi yang bagus disertai pengalaman dan keterampilan yang cukup akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mahasiswa juga diharapkan mengikuti akan perkembangann teknologi yang semakin pesat dalam dunia industri. 1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek Melalui Kerja Praktek yang diadakan ini mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan serta mempelajari situasi pekerjaan kelak. Yang menjadi masalah adalah adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri, antara kualitas yang ditawarkan dengan persyaratan yang dibutuhkan tidak sesuai. Untuk itu perlu adanya jembatan antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Dunia pendidikan lebih memfokuskan kepada masalah akademis, sedangkan dunia industri lebih memfokuskan pada pengalaman dan keterampilan kerja. Salah satu model yang dianggap dapat menjembatani kesenjangan itu adalah program link and match atau system kerja praktek yang dikenalkan saat ini. Model ini menawarkan keuntungan pada kedua belah pihak, dimana dunia pendidikan mendapatkan informasi tentang kondisi yang ada pada dunia kerja, sehingga dunia pendidikan dapat menerapkan system yang dapat menunjang ke arah dunia kerja dan pendidikan yang dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Sebaliknya dunia kerja mendapat informasi pemecahan-pemecahan masalah yang dihadapi perusahaan dan perusahaan tersebut tidak perlu lagi mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk melakukan training. Apabila diadakan training maka waktu training tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama karena tenaga kerja yang akan detraining sudah mengenal dunia kerja, sehingga lebih mudah mensosialisasikan ilmu yang dimilikinya.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

2 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah : 1. Memperkenalkan kondisi dan situasi dunia kerja kepada mahasiswa sehingga mahasiswa memiliki pengalaman dan dapat beradaptasi dengan cepat. 2. Mahasiswa dapat melihat sendiri aplikasi dari ilmu pengetahuan dan dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. 3. Menjembatani keinginan antara dunia pendidikan dan dunia industri sehingga dapat tercipta sumber daya manusia yang berkualitas lebih baik. 4. Mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi dalam perusahaan yang berkaitan dengan ilmu keteknikan sehingga dapat dijadikan topik dalam membuat tugas akhir 5. Memenuhi mata kuliah kerja praktek di Teknik Mesin Universitas Indonesia. 1.3 Ruang Lingkup Pembahasan British Petroleum merupakan perusahaan minyak dan gas bumi yang berkantor pusat di London,Inggris. British Petroleum telah beroperasi di Indonesia lebih dari 35 tahun, dan kini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, dengan investasi kumulatif lebih dari USD 5 Milyar.Pada Maret 2005 British Petroleum Indonesia mengakuisisi asset LNG Tanguh yang ada di Papua.Pada laporan ini penulis menitikberatkan pada 1.4 Metodologi Penulisan Dalam pelaksanaan kerja praktek ini metode yang digunakan adalah: 1. Orientasi lapangan Pengenalan profil dan produksi Pertamina UP-VI Balongan diperoleh dari penjelasan pembimbing kerja praktek, pengawas, operator, staff, dan teknisi di UP-VI Balongan, dalam hal ini penulis diorientasikan pada unit ARHDM. 2. Pengumpulan dasar teori Dasar teori dengan jalan studi literature dari buku-buku yang berhubungan dengan tema. Di samping itu penjelasan dari pembimbing kerja praktek mengenai dasar teori yang berkaitan dengan kasus yang dianalisa. 3. Diskusi Diskusi dilakukan dengan pembimbing, teman kerja praktek untuk memperoleh pengetahuan tentang analisa yang dilakukan. 4. Analisis permasalahan
Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

3 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Analisis dilakukan dengan arahan pembimbing sehingga analisis dapat diambil

kesimpulan dan saran perbaikan yang sesuai dengan disiplin ilmu teknik mesin. 1.5 Sistematika Pembahasan Laporan ini dibahas dan disusun secara berurutan untuk memberikan gambaran umum tentang PT. Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan serta analisa efisiensi dan pemeliharaan Pompa tipe sentrifugal 13-P-101 A. Adapun sistematika pembahasan yang digunakan adalah: I. BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang penulisan laporan, maksud dan tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
II.

BAB II GAMBARAN UMUM PT. PERTAMINA UP-VI BALONGAN Memberikan penjelasan secara umum tentang profil perusahaan. BAB III PROSES PRODUKSI Memberikan penjelasan penjelasan mengenai proses pengolahan minyak pada masing-masing unit.

III.

IV.

BAB IV UTILITY Memberikan penjelasan mengenai sarana penunjang yang terdapat di wilayah Pertamina RU-VI Balongan.

V.

BAB V LANDASAN TEORI POMPA DAN MAINTENANCE Bab ini berisi tentang dasar-dasar teori mengenai pompa dan maintenance. BAB VI PERAWATAN POMPA 13-P-101 A Bab ini berisi tentang proses perawatan, spesifikasi, dan proses over haul pompa.

VI.

VII.

BAB VII PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari pelaksanaan kerja praktek beserta pembuatan laporannya.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber minyak bumi di Kruka (Jawa Timur) tahun 1887. Ledok. Ibnu Soetowo. Pada tanggal 10 Desember 1957 atas perintah Mayjend Dr. Cepu (Jawa Tengah) pada tahun 1901. Sejak saat itulah PN PERTAMINA diubah menjadi PERTAMINA. PT TMSU diubah menjadi PT PERMINA. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN 2.1 SEJARAH SINGKAT PERTAMINA Usaha pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink pada tahun 1871 di Cibodas dekat Majalengka (Jawa Barat). Namun usaha tersebut mengalami kegagalan. No. 198/1961. Kemudian dengan PP. pada saat itu tumbuh tekad untuk melaksanakan kemandirian bangsa Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Tarakan tahun 1905 dan di Talang Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun 1921.4 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB II GAMBARAN UMUM PT. yang merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengolah semua bentuk kegiatan di bidang Industri dan Perminyakan di Indonesia dengan tiga tugas utama : 1. Pamusian. Setelah Kemerdekaan Indonesia. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksana alih teknologi dan pengetahuan Ketika PERTAMINA membeli kilang minyak SEI Gerong dari PT STANVAC tahun 1970. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilko Jan Zijkler yang melakukan pengeboran di Telaga Tiga. Sebagai landasan kerja baru lahirlah UU. terjadi beberapa perubahan pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia. Stanvac dan maskapai-maskapai lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Caltex. PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA. No. 8/1971 pada tanggal 15 September 1971. Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP. Sheel. Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1885 dan berhasil menemukan sumber minyak yang pertama di Indonesia. 27/1968 PN PERMINA diubah menjadi PN PERTAMINA. Menyediakan dan menjamin pemenuhan BBM (Bahan Bakar Minyak) 2. No. Sebagai sumber devisa negara 3. Penemuan-penemuan dari penghasil minyak lain mendorong keinginan maskapai perusahaan asing seperti Royal Deutche Company.

1 Nama Kilang PERTAMINA dan Kapasitasnya Nama Kilang UP-I PANGKALAN BRANDAN UP-II DUMAI DAN SUNGAI PAKNING UP-III PLAJU DAN SUNGAI GERONG UP-IV CILACAP UP-V BALIKPAPAN UP-VI BALONGAN UP-VII KASIM-SORONG Total Keterangan : BPSD = Barrel Per Stream Day Sasaran utama pengadaan Kapasitas 5. Hingga sekarang PERTAMINA telah mempunyai tujuh buah kilang.700 BPSD 300. yaitu : Tabel 2. Dalam mengoperasikan kilangkilang dalam negeri. dalam pembangunan kilang-kilang baru dan memperluas kilang-kilang lama diterapkan teknologi baru yang berwawasan lingkungan. Pemenuhan kebutuhan BBM merupakan tugas yang cukup berat karena peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki PERTAMINA tidak berjalan seiring dengan lonjakan konsumsi BBM yang dibutuhkan masyarakat. kilang-kilang minyak yang dioperasikan menggunakan teknologi yang cukup tertinggal dan tidak efisien. tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah PERTAMINA.000 BPSD 125.2 LOGO PERTAMINA Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . PERTAMINA (Persero).000 BPSD 133. dan ekonomis. Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri adalah konsumsi minyak yang meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai dampak pesatnya kegiatan pembangunan.5 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dibidang energi dengan mengoperasikan kilang minyak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.000 BPSD 170.700 BPSD Sumber : PERTAMINA. Di samping itu. pengadaan. yaitu kepastian dalam pengadaan. dan keluwesan pengadaan.000 BPSD 10. 2004 BBM dalam menunjang dan penyaluran pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi. Oleh karena itu. pertimbangan ekomomi. suplai yang berkesinambungan. terjamin. Seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam tubuh PERTAMINA maka pada tanggal 17 September 2003 kembali berubah menjadi PT. 2.000 BPSD 996.000 BPSD 253.

b. antara lain : a. Warna-warni yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis. Adapun pertimbangan penggantian logo yaitu untuk dapat membangun semangat/spirit baru. Wacana perubahan logo berlangsung sampai dengan terbentuknya PT. b. keberadaan kilang Balongan mempunyai makna yang besar. Merah : keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam keadaan.1 Logo PERTAMINA (Persero) Elemen logo merupakan representasi huruf P yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah. mendorong perubahan Corporate Culture bagi seluruh pekerja. c. Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan. Warna-warna tersebut yaitu : a. dapat dipercaya dan bertanggung jawab. PERTAMINA (PERSERO) RU VI-BALONGAN Dalam kaitannya dengan upaya mengamankan kebijakan nasional di bidang energi. Akan tetapi. Di satu pihak hal ini dapat Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dimaksudkan sebagai PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif. program tersebut tidak sempat terlaksana karena adanya perubahan kebijakan/pergantian Direksi.3 SEJARAH PT. PERTAMINA (Persero) tetapi juga bagi bangsa dan negara. tidak saja bagi PT. 2. PERTAMINA (Persero) pada tahun 2003. Gambar 2.6 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi krisis PERTAMINA pada saat itu. Perubahan strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan pasca PSO serta semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru di bidang Hulu dan Hilir. mendapatkan image yang lebih baik diantara perusahaan minyak dan gas global serta mendorong daya saing perusahaan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Pemikiran tersebut dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dan diperkuat melalui Tim Restrukturisasi PERTAMINA tahun 2000 (Tim Citra) termasuk kajian yang mendalam dan komprehensif sampai pada pembuatan TOR dan perhitungan biaya. Biru : mencerminkan handal. Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi Perseroan.

e. yaitu Jakarta dan Jawa Barat. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dilaksanakan pada bulan Oktober 1994. PERTAMINA (Persero) untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin hari semakin bertambah. Dari studi kelayakan yang telah dilakukan. f. yaitu : a. d. Start Up kilang PT. di lain pihak hal ini juga dapat mengatasi kendala sulitnya mengekspor beberapa jenis minyakdi dalam negeri dengan mengolahnya di kilang minyak di dalam negeri. Pemilihan Balongan sebagai lokasi Proyek EXOR I didasari atas berbagai hal. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . pembangunan kilang Balongan diadakan dengan sasaran antara lain : a. dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Mei 1995. Conventional Buoy Mooring (CBM) dan Single Buoy Mooring (SBM). Keberadaan kilang Balongan ini juga merupakan langkah proaktif PT. Tersedianya lahan yang dibutuhkan yaitu bekas sawah yang kurang produktif.7 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia meningkatkan kapasitas pengolahan di dalam negeri yang masih sangat dibutuhkan. b. Telah tersedianya sarana penunjang yaitu : Depot UPMS III. Selaras dengan proyek pipanisasi BBM di Pulau Jawa. d. 2. c. khususnya untuk DKI Jakarta dan sekitarnya. c. Terminal DOH-JBB (Jawa Bagian barat).4 TATA LETAK PT. Pengembangan daerah. Pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri. Relatif dekat dengan konsumen BBM terbesar. b. Memecahkan kesulitan pemasaran minyak mentah jenis Duri. terutama Jakarta dan sekitarnya. Peningkatan nilai tambah dengan memanfaatkan peluang ekspor. Dekat dengan sumber gas alam yaitu DOH-JBB (Jawa Bagian Barat) dan BP. Tersedianya sarana infrastruktur. Daerah Balongan dipilih sebagai lokasi kilang dan proyek kilang yang dinamakan Proyek EXOR (Export Oriented Refinery) I.

dan Palimanan. Kandang Haur Timur. Krakatau Steel. Bahan baku Sumber bahan baku yang diolah di PT. Area kilang terdiri dari : a. Tugu Barat. Semen Cibinong. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). lokasi ini cukup strategis dengan adanya faktor pendukung. PERTAMINA (Persero) RU-VI didirikan di Balongan. Air Sumber air yang terdekat terletak di Waduk Salam Darma. Indocement. antara lain : a.65 MMSCFD disalurkan ke PT. diperlukan pengurukan dengan pasir laut yang diambil dari pulau Gosong Tengah. PT. minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Untuk penyiapan lahan kilang. Minyak mentah Minas.8 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pabrik PT. Kegiatan penimbunan ini dikerjakan dalam waktu empat bulan. b. yang semula sawah tadah hujan. Sebanyak 224 buah sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah sumur Jatibarang. yang merupakan salah satu daerah kecamatan di Kabupaten Indramayu. Transportasi pasir dari tempat penambangan ke area penimbunan dilakukan dengan kapal yang selanjutnya dipompa ke arah kilang. saat ini 50% feed) 2. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan adalah : 1. Cemara. saat ini 50% feed) 3. PT. Dumai (awalnya 20%. Riau (awalnya 80%. Minyak mentah Duri. Pengangkutan dilakukan secara Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pupuk Kujang. Pulau ini berjarak ±70 km arah bujur timur dari pantai Balongan. Sarana kilang : 250 Ha daerah konstruksi kilang 200 Ha daerah penyangga b. Depot UPPDN III sendiri baru dibangun pada tahun 1980 untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar di daerah Cirebon dan sekitarnya. Kandang Haur Barat. Sedangkan produksi minyak buminya sebesar 239. Sarana perumahan : 200 Ha Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis. kurang lebih 65 km dari Balongan ke arah Subang. Jawa Barat. Sejak tahun 1970. Rejasari. dan lepas pantai.

moto.200 m3. Secara spesifik tugas unit ini adalah memperbaiki kualitas effluent parameter NH3. kilang Balongan ini mengolah kembali air buangan dengan sistem wasted water treatment. d. terutama untuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. mengolah bahan baku minyak bumi menjadi produk BBM dan non-BBM. SBM. Dalam pemanfaatan air. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan berdekatan dengan jalan raya dan lepas pantai utara yang menghubungkan kota-kota besar sehingga memperlancar distribusi hasil produksi. PERTAMINA (Persero) yang telah berpengalaman dari berbagai kilang di Indonesia. dan logo PT.5 IDEOLOGI PT. Fasilitas ini terdiri dari area putar tangker. Kilang.100 m3 serta kecepatan maksimum 1. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan terdiri dari dua golongan yaitu golongan pertama. tanggal 30 November 1999. Marine facilities adalah fasilitas yang berada di tengah laut untuk keperluan bongkar muat crude oil dan produk kilang. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan telah dirumuskan dan disahkan melalui Surat Keputusan General Manajer No. dipekerjakan untuk proses pengoperasian. fenol. 2. dimana air keluaran di-recycle ke sistem ini. dipekerjakan pada proses pendirian kilang Balongan yang berupa tenaga kerja local non-skill sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Air tersebut berfungsi untuk steam boiler. rambu laut. dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan. Visi Menjadi Kilang Unggulan a. c. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Visi. heat exchanger (sebagai pendingin) air minum. berupa tenaga kerja PT. sedangkan golongan kedua. Kpts092/E6000/99-SO. 1. Fasilitas untuk pembongkaran peralatan dan produk (propylene) maupun pemuatan propylene dan LPG dilakukan dengan fasilitas yang dinamakan jetty facilities. dan kebutuhan perumahan. Transportasi Lokasi kilang PT. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Tenaga Kerja Tenaga kerja yang dipakai di PT.9 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pipanisasi dengan pipa berukuran 24 inci dan kecepatan operasi normal 1. dan jalur pipa minyak.

maju. Unggulan. efisien serta berwawasan lingkungan. Mengoperasikan kilang. b. 2. professional. c. Minyak bumi b. untuk memroduksi BBM dan non-BBM secara tepat dalam jumlah. : mutu dan harga kompetitif : domestik dan internasional : selalu menyempurnakan teknologi proses dan peralatan : terintegrasi penuh antara kilang dan pipa penyalur Terpadu BBM j. Tepat waktu e. efisien. Teknologi maju i. andal. Penjelasan dari misi : a. yang berteknologi maju dan terpadu secara aman. Tepat mutu d. Tepat jumlah c. Mengelola aset PT. dan lingkungan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . unggul dalam segala aspek bisnis misalnya : lebih aman. Aman : bagi pekerja. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan secara professional yang didukung oleh sistem manajemen yang tangguh berdasarkan semangat kebersamaan. Pasar h. Berdaya saing tinggi g. peralatan. dan prinsip saling menguntungkan.10 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia b. berdaya saing tinggi. masuk dalam nominasi kelompok kilang terbaik dunia. berwawasan lingkungan dan mampu menghasilkan laba sebesar-besarnya. keterbukaan. bermutu internasional. dan berorientsasi pada laba serta berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Misi a. waktu. handal. masyarakat. mutu. Berorientasi laba : Crude Oil : jumlah yang optimal : mutu produk yang memenuhi standar : penyerahan produk pada waktu yang diinginkan : dititikberatkan pada pencarian laba disamping misi sosial f. Mengolah minyak bumi.

PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dibandingkan dengan kilang sejenis. M. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan. mutu. produk. 4. Berwawasan lingkungan : memenuhi peraturan perundangan yang berlaku tentang lingkungan hidup n. Semangat kebersamaan r. Pekerja Bagian Fasilitas Engineering PT. keunggulan daya saing terhadap kilang sejenis dalam hal efisiensi. menunjukkan upaya maksimum yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme untuk visi PT. Andal tertentu l. Aset o. kompak. Manajemen tangguh q. Profesional p. Efisien : produktivitas tinggi m. dan harga. Keunggulan kempetitif. keunggulan dasar yang dimiliki PT. Keterbukaan s. Saling menguntungkan 3. Motto : peralatan. Meraih. dana : SDM yang berprestasi. Keunggulan komparatif. SA. pekerja. yaitu lokasi yang strategis karena dekat dengan pasar BBM dan non-BBM. Logo Logo PT. dan inovatif : berani mengambil resiko. 2.11 Laporan Kerja Praktek PTsescara kontinu dalam waktu British Petroleum Indonesia : mampu beroperasi k. Thamrin. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yaitu : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . proaktif. 3. dan visioner : kerja sama yang sinergi : bersih dan transparan : bagi pekerja dan mitra bisnis Meraih keunggulan komparatif dan kompetitif 1. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan merupakan hasil lomba dan desain original oleh sdr. Nomor Pekerja 284742. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Penjelasan dan arti logo PT. H.

untuk menurunkan biaya produksi BBM. Putih. Perluasan pasar atau produk (Market-Product Development) dengan melakukan penetrasi pasar. Strategi Dalam mendukung pencapaian visi dan misi telah dirumuskan Sembilan strategi utama PT. efisiensi. 2. Biru. professional. Biru. non-BBM. dan dinamis dalam setiap tindakan yang selalu berdasarkan kebenaran. pengembangan pasar. pengembangan produk. Hijau. bernilai tinggi. 5. b. dan Petrokimia pada kualitas tetap. dan produktivitas serta optimasi operasi kilang. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . warna logo Pertamina yang berarti keagungan visi PT. dan divertifikasi. berdaya saing tinggi. menunjukkan warna asli reaktor yang berarti bersih. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Lingkaran : fokus ke bisnis inti dan sinergi. inovatif. 2. Warna : a. Keunggulan biaya (Cost Leadership) secara keseluruhan dilakukan dengan upaya meningkatkan kehandalan. yaitu : 1. keamanan. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. c. non-BBM. bermutu tepat. 3. proaktif. dan Petrokimia (di luar DKI Jakarta dan Jawa Barat). PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. sehubungan masih tersedianya peluang pasar BBM. menunjukkan warna asli regenerator yang berarti selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup. warna logo Pertamina yang berarti loyal kepada visi Pertamina. Dengan demikian produk akan mempunyai daya saing tinggi dan mampu menguasai pasar.12 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. Ganbar : konstruksi regenerator dan reaktor di unit RCC (Residue Catalic Cracker) yang menjadi cirri khas dalam proses pengolahan minyak di PT. Untuk biaya survei dan riset pasar mutlak harus dilakukan agar menghasilkan produk yang berorientasi pasar. d.

Pemberdayaan dan pengembanan pekerja (Employee Empowerment and Development) yag professional dan berbasis kompetensi.6 KILANG PT. keterbukaan. persaingan dan lingkungan kerja yang sehat. 5. dengan imbalan yang menarik secara berkesinambungan dan konsisten serta membentuk budaya kerja yang sinergis. Meningkatkan produk bernilai tinggi (Maximize Propylene dan LPG maupun produk lain. 4. kebersamaan. profitisasi. 9. Pembangunan hubungan dan kemitraan dengan pihak luar (Good Human Relationship) yang baik berdasarkan prinsip kemanusiaan. dengan pemasok bahan baku (Crude Supplier) dan industry hilir. 7. minyak mentah Minas 20% dan gas alam dari Jatibarang sebagai bahan baku H2 plant sebanyak 18 MMSCFD.13 Laporan Kerja Praktek PTHigh Value Product). PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN Kilang PT. financial. akuisisi.000 BPSD dengan bahan baku yang terdiri dari minyak mentah Duri 80%. dalam rangka peningkatan laba PT. Pengolahan bahan baku tersebut menghasilkan produk sebagai berikut : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dengan menerapkan sistem pengendalian dan pengawasan perusahaan (good corporate governance) yang didukung sistem pelaporan kinerja yang berstandar nasional dan internasioanl. kesederhanaan dan prinsip saling menguntungkan. Pengintegrasian kilang (Refinery Back-Forward Integration). Penerapan sistem manajemen mutu (Quality Management System) secara intensif dan mencakup seluruh kegiatan operasional. terutama British Petroleum Indonesia 3. dan lain-lain. Menampilkan citra perusahaan (Company Image) yang baik kepada pihak yang berkepentingan (stakeholder) seperti pekerja. aliansi. 8. yaitu : operasi kilang. masyarakat sekitarnya. pemerintah. komersiansi dan divertasi. 6. Pengelolaan organisasi secara efektif (Effective Organization) dan modern. mutlak diperlukan. 2. sumber daya manusia. lingkungan. mempunyai motivasi kuat. Untuk itu pemilihan mode operasi yang sesuai serta jenis minyak yang diolah. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan mempunyai kapasitas 125. Hal tersebut dilakukan dengan memodifikasi dan ekspansi. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.

000 12 & 58.2 Produk PT. yang terdiri dari JGC. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. yaitu sejak EPC Agreement ditandatangani pada tanggal 1 September 1990 dan berakhir pada bulan November 1994. Kegiatan Engineering Procurement and Construction (EPC) dilakukan oleh konsorsium.000 16. fuel oil. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI 2. Fuel Gas Sulfur Kapasitas 58. Lisensi proses pengolahan dari unit-unit kilang dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan semula dinamakan EXOR-I. 2004 PT. Teknologi proses yang dipilih ditujukan untuk memproduksi premium. Jangka waktu pelaksanaan adalah 51 bulan. kemudian setelah beroperasi namanya menjadi kilang BBM PT. IDF. dan diatur dalam EPC Agreement.7 PROYEK DAN KONSTRUKSI BALONGAN Proyek kilang PT. LPG. dan decant oil.300 565 545 125 Satuan BPSD BPSD BPSD BPSD BPSD Ton Ton Ton 28.900 27. Foster Welter.14 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Tabel 2.000 11.3 Unit-unit dan Sarana di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan No 1 2 Unit Proses CDU ARHDM Kode Kapasitas Unit (BPSD) 11 125.000 Lisensor FW Chevron Kontraktor FW JGC Proses I II Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . kerosene. Bahan pembantu proses yang berupa bahan kimia dan katalis sebagian besar masih diimpor. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Jenis Produk BBM : Motor Gasoline A Kerosene Automotive Diesel Oil Industrial Diesel Oil Decant Oil & Fuel Oil Non BBM : LPG B Propylene Ref.500 Ton Sumber : PERTAMINA.000 9. Sebagai product offtaker (pembeli) adalah British Petroleum (BP). dan solar sebanyak 72% sedangkan sisanya berupa propylene.

2004 2. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN 1.1 0. Bahan Baku Utama Minyak mentah yang diolah di PT.000 FW I 8 9 10 11 12 13 14 19 20 21 22 23 24 25 7.000 13. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan adalah minyak Minas dan Duri dengan perbandingan Duri : Minas = 50% : 50%.500 MERICH EM MERICH EM UOP UOP UOP FW JGC JGC FW I 7 Treatment Unit Propylene Recovery Catalytic LCO Hidrogen Plant Amine treater Plant Sour Water Stripper Sulphur Plant 18 47.000 12.2 0.000 83.000 UOP UOP JGC FW I I 5 16 - UOP FW I 6 Treatment Unit Gasoline 17 22.15 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3 4 GO HTU RCC Unsaturated Gas Concentratio n LPG 13 14 15 32. Spesifikasi umpan minyak mentah yang masuk ke CDU dapat dilihat pada tabel berikut : Minyak Mentah API Densitas (gr/ml) @150C Minas 35.8485 Duri 21.8 BAHAN BAKU PT.927 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .000 76 MMSCFD - FW FW JGC FW JGC JGC JGC I I II II I I I 27 MT/Day JGC Sumber : PERTAMINA.

16 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Viskositas (cSt) : @300C @400C @500C Sulphur (%-Weight) Carbon (%-Weight) Titik Tuang (0C) Asphalt (%-Weight) Vanadium (ppm wt) Nickel (ppm wt) Total Asam (mg KOH) Salt (lb/1000 bbl) Water (%-volume) 23. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.8 591 274.6 11. katalis.3 Sumber .5 <1 8 < 0. selain bahan baku utama digunakan juga bahan baku pendukung berupa bahan kimia.4 24 0. U n it 1 1 Jenis Cairan Amonia Anti Foulan t Corrosi ve Inhibit or Demuls ifier Wetting Agent Suction Feed Pump dan Unit Desalter Preparasi larutan pada 11-V-114 Memisahkan emulsi Membantu mempercepat Overhead 101 11-VMencegah korosi Aplikasi Overhead 105 Suction A/B) dan 11-CFeed Unit Fungsi Menetralisir HCL Mencegah terjadinya fouling HE pada Pump (11-P-101 Desalter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .6 0.08 2.05 11 0.4 7.4 1 32 1.6 0. dan resin yang dipergunakan pada masing-masing unit beserta aplikasi dan fungsinya.6 2. Bahan Baku Pendukung Di PT.4 7. 2004 3. PERTAMINA.19 5 0.

17 Laporan Kerja Praktek PT British pemisahan Indonesia Petroleum Kalgen 15-B-101. 18-V-104 Kaustik 11-V-101. 1 8 . E-104 A/B. E-111 A/B 1 5 . E-105 A/B. 1 9 . 206 Oksidasi Sodium mercaptide Mengikat H2S Anti oksidan Mengikat H2S Mencegah foaming kolom RCC (24C-201) dan kolom NH3 stripper (24C-102) dan aliran Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 2 4 Anti Foam DIPA Preparasi larutan dilakukan 23-V-102 Injeksi pada pada Anti Oksida n Aliran produk 18V-102. 106 dan 18V-102. 103. 1 6 . 102. 15-E104 A/B Injeksi pada air dari cooling water untuk 16-E-103 Mengatasi kesadahan Kurilex Pencegah korosi A/B. 18-V-104 Katalis 18-A-202. 1 7 . 2 0 2 3 .

2004 Tabel 2.101/10 2/103 22-R-102 A/B 15-R- 14. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan Jenis katalis/Resin ICR131KAQ Sulphur absorber Unit Aplikasi 12/13- Fungsi Mengurangi kandungan logam Adsorbsi H2S Memecah rantai hidrokarbon panjang Adsorbsi moisture dari LPG campuran C3 Menghilangkan kandungan metal Menghilangkan COS dari propylene Menjenuhkan senyawa diolefin menjadi monoolefin Adsorbsi moisture dari LPG Hidrogenasi 12. 24-V- Menetralisir 303 dan 24-Z-301 kaustik Sumber : PERTAMINA.13 R.5 Jenis Bahan Kimia PT.18 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia masuk 23-V-102 Soda 24-V-302.21 Katalis UOP 15 Molsieve ODG-442 E-315 19 20 Katalis Pru 101/102/ 103/104 19-V104 A/B Propylene Metal Treater Alcoa Selecsorb COS 1/8” 19-V111 11-V112 A/B Katalis SHP H14171 19-R-101 A/B Rock Salt Hydrogenerato 14/21-V101 22-R-101 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

N2. CO2. C-200F 22-V105 A/B 22-V109 A-M 55-A- Karbon Aktif Strong Acid 101 A/BS1 Kation pada 55A-101 A/B-V1.19 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleummelepas untuk Indonesia r High temperature Shift Conventer 22 type C12-4 Hydrogen Reformer Catalyst 22-F-101 22-R-103 kandungan sulfur Mengubah CO menjadi CO2 Mengubah gas alam menjadi H2 Menyerap komponen 22-S-102 yang mengakibatkan foaming Menyaring partikel > 10 micron di Lean Mereaksikan gas alam Mereaksikan kation anion Menyerap pengotor HC) Menyaring bahan-bahan organic Menghilangkan kation/anion H2 (CO. Resin Kation Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan 23 Karbon Aktif Amine Filter 25 Claus Catalyst 55 Resin Anion 23-S101/103 25-R101/102/ 103 ASB-1p & Resi Kation C-249 Lynde Adsorbent tipe LA22LAC-612.

9 STRUKTUR ORGANISASI PT. Bidang Engineering a. Memonitor perubahan-perubahan kondisi operasi 3. Memonitor operasi kilang 2. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan 2. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan : 1.6 Jenis Katalis dan Resin PT. Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai beberapa bidang dan bagian yang ada di PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan mempunyai struktur organisasi yang menerangkan hubungan kerja antar bagian yang satu dengan yang lainnya dan juga mengatur hak dan kewajiban masing-masing bagian. Bagian Fasilitas Engineering Activated Alumina ¼”.20 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia anion pada 55A-101 A/B-V2 58-D1/8”. Mengesahkan modifikasi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . ball ceramic Molsieve Adsorbsi moisture dari LPG Adsorbsi moisture. CO2 Siliporite Bidang engineering dipimpin oleh bagian yang bertanggung jawab terhadap penggunaan fasilitas dalam proses operasi kilang. Menetapkan bahan-bahan kimia yang dipakai 4. pengaturan berbagai peralatan dan menetapkan order kerja ke Office Engineering terhadap penyusunan spesifikasi mekanis. 2004 Tabel 2. 101 A/BR1-R2 59-A101 A/BA1 Sumber : PERTAMINA. b. Bagian Proses Engineering Tugas dari bagian proses engineering yaitu : 1. dan sebagainya. listrik. Tujuan dibuatnya struktur organisasi adalah untuk memperjelas dan mempertegas kedudukan suatu bagian dalam menjalankan tugas sehingga akan mempermudah untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. baik dari segi pengadaan.

Inspeksi pada saat pekerjaan berjalan (on stream). Bagian RCC Bagian ini mengelola dan mengawasi area CDU (Crude Destillation Unit) dan RCC (Residue Catalytic Cracking). Bagian Unit Produksi Bidang ini membawahi 6 bagian. Bidang Inspeksi Bagian ini berada di bawah bidang reliabilitas yang dipimpin oleh kepala bagian yang membawahi 3 orang Pengawas Utama (PUT). yaitu : a. c. Inspeksi dapat dilakukan dengan dua cara. e. Pengawas harian pengamatan Masing-masing pengawas memimpin 2 orang pemuka (PWK). Inspeksi NDT (Non Destructive Test/korosi) Tugas umum dari bagian Inspeksi adalah memberikan saran dari hasil pemeriksa terhadap fasilitas produksi jika ada penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan standar. yaitu : a. Menyediakan raw material crude b. Inspeksi pada saat pekerjaan berhenti (equipment shutdown) 3. Menerima dan menyimpan produk Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Bagian DHC (Distiling Hydrotreating Complex) Bagian ini mengelola dan mengawasi area ARHDM dan GO LCO H2. yaitu : a. b. Pengawas jaga pengamatan b. yaitu : a. PUT Inspeksi Plant yang membawahi inspeksi plant dan kilang. Bagian Laboratorium Bagian ini dipimpin oleh kepala Laboratorium yang membawahi Pengawas Utama (PUT) pengamatan yang juga memipin dua pengawas (PWS). Bagian Proyek Engineering 2. Bagian SS produksi. d. b.21 Laporan Kerja Praktek PT British terjadi 5. Bagian Instalasi Tangki dan Perkapalan Tugas : a. PUT Inspeksi Offsite Utilities yang membawahi inspeksi offsite dan utilities c. b. Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan yang Petroleum Indonesia c.

Jadi jumlah tangki yang dimiliki yaitu 50 unit yang terdiri dari 3 jenis : a. Uap tekanan menengah 3. b. Penyediaan bahan bakar d. Penyediaan tenaga listrik c. yaitu : 1. Kapasitas paling besar 67. c.000 m3 dan terkecil 2. Uap tekanan rendah b.500 m3. Spherical tank untuk menyimpan gas. Penyediaan uap air yang terdiri dari : 1. Tangki yang digunakan untuk menyimpan produk-produk. dan cooling water) 4. fire water. Mengelola buangan minyak Fasilitas-fasilitas yang terdapat pada bagian ini adalah : 1. Sistem perpipaan 3. 2. Instrument dan plant air e. Seksi Perencanaan Rutin Anggaran Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Truk tangki dan kapal untuk mengeluarkan produk f. Mendistribusikan produk d. Uap tekanan tinggi 2.22 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia c. Bagian Utilities Bagian ini berfungsi menunjang operasi kilang dalam penyediaan : a. Penyediaan air (service water. Coone-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak berat seperti solar dan minyak residu. Bidang Jasa Pemeliharaan Kilang Bidang jasa pemeliharaan kilang memilki beberapa bagian yaitu : a. Floating-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak ringan seperti mogasdan kerosin. baik minyak mentah maupun produk jadi. Fasilitas loading/unloading 4. Bagian Perencanaan Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Perencanaan yang memiliki empat seksi. Kapasitas tangki berbeda-beda.

Bagian Pemeliharaan III Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di Utillities. Dikepalai seorang kepala bagian yang membawahi tiga Pengawas Utama yaitu PUT CDU. Seksi Administrasi b. Offsite. PUT RCC. Bagian Eng. Kepala Bagian Eng. d.10 LINDUNGAN LINGKUNGAN. Seksi Perencanaan Material 4. Bagian Pengadaan-JPK Bagian ini bertanggung jawab dalam pengadaan. Pem-JPK membawahi beberapa Pengawas Utama. Bagian Bengkel Bagian ini dipimpin oleh seorang kepala bengkel yang membawahi satu orang Pengawas Utama (PUT) mekanik dan PUT alat-alat dan las konstruksi. Kilang LPG Mundu dan Water Intake Facility (WIF) Salamdarma. Listrik dan Insturment. 2. penerimaan dan penyimpanan material. Bagian Pemeliharaan I Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di unit RCC dan CDU. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan mendukung dan ikut berpartisipasi dalam program pencegahan keraguan baik terhadap kesehatan karyawan. KESEHATAN. dan Listrik. Pem-JPK Bagian ini bertanggung jawab terhadap Quality Control pada saat pelaksanaan pemeliharaan peralatan kilang. e. yaitu Rotating Equipment. c. Stationary. g. harta benda Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan Material. DAN KESELAMATAN KERJA PERTAMINA telah mengambil suatu kebijakan untuk selalu memprioritaskan aspek Kesehatan Kerja (KK) dan Lindung Lingkungan (LL) dalam semua kegiatan minyak dan gas bumi untuk mendukung pembangunan nasional.23 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2. f. Bagian Pemeliharaan II Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan parelatan di unit proses ARHDM dan GO LCO H2. PUT Inst. Manajemen PT. Seksi Perencanaan Program 3.

Seksi Lindungan Lingkungan mempunyai tugas. UU No. 29/1986 Mengenai AMDAL yang dikeluarkan oleh KLH. c. antara lain : a. 4. b. 4/1982 Mengenai ketentuan pokok pengolahan dan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). antara lain : a. c. d. Seksi Keselamatan Kerja mempunyai tugas. Seksi Pelatihan mempunyai tugas. Membuat dan menyebarkan bulletin KK dan LL pada karyawan agar wawasan karyawan tentang KK dan LL meningkat. Membuat rencana pencegahan. Mengadakan pemeriksaan kehandalan alat-alat firing. antara lain : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . UU no. PP No. 11/1979 Mengenai persyaratan teknis pada kilang pengolahan untuk keselamatan kerja. 2/1951 Mengenai ganti rugi akibat kecelakaan kerja yang dikeluarkan oleh Depnaker. antara lain : a. terganggunya kegiatan operasi serta keamanan masyarakat yang Indonesia oleh kegiatan perusahaan. Bertindak sebagai instruktur safety. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan untuk mendukung program di atas terdiri atas 5 kegiatan : 1. PP No. c. b. 2. 3. Mengelola regu kebakaran agar selalu siap bila suatu waktu diperlukan. Mengawasi keselamatan jalannya operasi kilang. Bertanggung jawab terhadap alat-alat keselamatan kerja. Membuat rencana kerja pencegahan kebakaran. e. Membuat prosedur emergency agar penanggulangan berjalan dengan baik. b. 1/1970 Mengenai keselamatan kerja karyawan yang dikeluarkan oleh Depnaker. UU No. Pelaksanaan tugas dari LKKK ini berlandaskan : a. Menyiapkan dan mengadakan pelatihan bagi karyawan dan kontraktor agar lebih menyadari tentang keselamatan kerja. c. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KK dan LL PT. d.24 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum diakibatkan perusahaan. b. Seksi Penanggulangan Kebakaran mempunyai tugas.

2. antara lain : a.25 Laporan Kerja Praktek PT British PetroleumPemantauan Lingkungan dan Rencana Indonesia a. (1 minggu dikibarkan). Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping. Memrogram Rencana Kelola Lingkungan. Papan Informasi Kejadian Papan yang berisi lokasi. Hitam (1 bulan dikibarkan). Penerapan Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LKKK) dilaksanakan dengan membuat program dengan pedoman A-850/E-6900/99-30 yang meliputi : 1. untuk kebakaran yaitu kerugian di bawah US$ 10. b. Bendera Pencemaran 1. 2. untuk pencemaran dimana tidak terjadi klaim penduduk. Seksi Rekayasa mempunyai tugas. 3. Abu-abu muda (2 minggu dikibarkan). untuk kebakaran yaitu kerugian melebihi US$ 10. 2. 4. untuk kecelakaan ringan. Melakukan evaluasi-evaluasi yang berhubungan langsung dengan LKKK Adapun seksi-seksi tersebut di atas bertujuan untuk mencegah kecelakaan. 5. Merah strip hitam (1 bulan dikibarkan). Bendera Kecelakaaan 1. Di depan fire station 2. untuk kecelakaan fatal yaitu menyebabkan kematian. untuk pencemaran dimana terjadi klaim penduduk. tingkat keparahan kejadian yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja. 3. kebakaran dan pencemaran. yaitu tidak menimbulkan hari hilang (first aid accident). Warna kuning (1 minggu dikibarkan).000. 2. Hitam dengan sirip putih (1 bulan dikibarkan). tanggal. meninjau ulang gambar-gambar dan dokumen proyek. Tempat pemasangannya adalah : 1. b. Bendera Kebakaran 1. untuk kecelakaan kerja yaitu kehilangan hari kerja.000. kebakaran maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering. Lokasi Kejadian Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Biru (1 minggu dikibarkan).

26 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

3. Ada di lemari bendera on call. Jam Kerja

Berdasarkan jam kerja, karyawan dapat dibedakan atas karyawan shift dan karyawan reguler.
1. Jam Kerja Shift

Jam kerja shift dilakukan secara bergilir berlaku bagi karyawan yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja shift diatur sebagai berikut : Day shift Swing shift Night shift : 08.00 – 16.00 WIB : 16.00 – 24.00 WIB : 24.00 – 08.00 WIB

Karyawan shift terbagi atas 4 kelompok yaitu A, B, C, dan D dimana jadwal kerja dari masing-masing kelompok adalah bekerja selama 2 hari berturut-turut pada shift yang sama dan setelah itu bergeser ke jam shift berikutnya untuk 2 hari selanjutnya. Selama 6 hari bekerja berturut-turut, setiap kelompok akan mendapat libur selama 2 hari.
2. Jam Kerja Regular

Jam kerja regular ini berlaku bagi karyawan yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja ini berlaku bagi karyawan tingkat staf ke atas. Jadwal kerja jam regular adalah sebagai berikut : Senin – Kamis Istirahat Jumat Istirahat Sabtu dan Minggu Sistem Penggajian Sistem penggajian di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yang merupakan tanggung jawab bagian administrasi keuangan dibayar untuk 8 jam kerja setiap hari. Selain itu, juga diatur tentang lembur, cuti, uang dinas, bonus, kontrak jasa, dan peringatan karyawan (warning slip). Sistem penggajian dibedakan atas :
1. Karyawan tetap, ikatan kerja, dan honorer

: 07.00 – 16.00 WIB : 12.00 – 13.00 WIB : 07.00 – 15.30 WIB : 11.30 – 13.30 WIB : libur

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

27 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Gaji diberikan setiap akhir bulan berupa gaji pokok ditambah dengan tunjangan-

tunjangan yang ada. Besarnya gaji pokok tersebut selain ditentukan oleh golongan dan jabatan juga berdasarkan tanggung jawab pekerjaan masing-masing. Adapun susunan gaji adalah sebagai berikut :
a. Tunjangan (gaji) pokok b. Tunjangan jabatan struktural c. Tunjangan jabatan fungsional d. Uang lembur e. Biaya transportasi 2. Tenaga harian lepas

Gaji yang diberikan setiap hari Sabtu yang jumlahnya tergantung dari jumlah karyawan yang bekerja pada masing-masing hari. Di samping gaji rutin, karyawan akan mendapatkan bonus keuntungan yang jumlahnya tergantung dari laju produksi. Bagi karyawan yang lembur juga diberikan upah tambahan dengan perhitungan sebagai berikut :
a. Lembur hari biasa

Untuk satu jam pertama besarnya satu setengah kali upah per kerja, untuk dua jam berikutnya dua kali upah per jam.
b. Lembur hari Minggu/libur

Untuk setiap jam besarnya dua kali upah per jam. 2.11 Penanganan Limbah PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan menghasilkan berbagai macam limbah, yang terdiri dari : a.Limbah Cair
b. Limbah Gas c. Limbah Padat

A. Pengolahan Limbah Cair

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

28 Laporan Kerja Praktek PT British umumnya mengandung Limbah industri yang dihasilkan industri minyak bumi Petroleum Indonesia

logam-logam berat maupun senyawa yang berbahaya. Selain lobam berat, limbah , atau air buangan indusri, minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. Dalam setiap kegiatan industri, air buangan yang keluar dari kawasan industri minyak bumi harus diolah terlebih dahulu dalam unit pengolahan limbah, sehingga air buangan yang telah diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Untuk mencapai tujuan tersebut, makan dibangun unit Sewage and Effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ini. Secara garis besar effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RUVI Balongan dibagi menjadi dua, yaitu treatment oily water dan treatment air buangan proses. Treatment oily water dilakukan di rangkaian separator sedangkan treatment air buangan proses dilakukan menggunakan lumpur aktif (activated sludge) yang merupakan campuran dari koloni mikroba aerobik. Desain awal dari unit WWT (Waste Water Treatment) adalah untuk mengolah air buangan yang terbagi menjadi dua sistem pengolahan, yaitu :
1. Dissolved Air Floatation (DAF), untuk menisahkan kandungan padatan dan minyak

dari air yang berasal dari air buangan (oily water) ex process area dan tank area. Pada proses ini yang diolah umumnya mempunyai kandungan minyak dan solid yang tinggi tetapi mempunyai kandungan COD dan BOD yang rendah.
2. Activated Sludge Unit (ASU), untuk mengolah secara kimia, fisika dan biologi air

buangan dari unit proses terutama : Treated Water ex Unit Sour Water Stripper (Unit 24) dan desalter effluent water ex Unit Crude Distillation (Unit 11). Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan ammonia, COD, BOD dan fenol sedangkan kandungan minyak dan solid berasal dari desalter effluent water.
B.

Pengolahan Limbah Gas Limbah gas dari kilang ini diolah di sulfur recovery unit dan sisanya dibakar di

incinerator (untuk gas berupa H2S dan CO) maupun flare (gas hidrokarbon).
C.

Pengolahan Limbah Padat

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan menyediakan sarana dan prasarana bagi karyawan dan keluarganya. Tipe D : untuk staf 4. Tipe B : untuk tim managemen 2. yaitu : 1.29 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena akan mencemari lingkungan. PT. Lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang di suatu area. PT. Tujuan dibangunnya Taman Kanak-kanak ini adalah agar anak-anak karyawan dapat membaur dan bersosialisasi dengan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . pasir. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan melakukannya dengan membakar sludge dalam suatu ruang pembakar (incinerator) pada temperature tertentu. b. dan air juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-recovery ke dalam proses. Sludge ini juga tidak dapat dibuang ke lingkungan sebab tidak terurai secara alamiah dalam waktu singkat. PT. Sarana dan prasarana tersebut antara lain : a. Tipe C : untuk jabatan kepala bagian 3. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan baru membangun sarana pendidikan Taman Kanak-kanak. Perumahan Perumahan dinas dibangun di sekitar pabrik dengan tipe rumah. Dalam upaya tersebut. Pemusnahan hidrokarbon perlu dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan. sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindari. Tipe E : untuk karyawan bidang produksi Di samping itu. 2.12 SARANA DAN PRASARANA PT. Pada sludge selain mengandung lumpur. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan juga memberikan pinjaman uang bagi karyawan untuk kepemilikan rumah BTN di lokasi Kompleks Sibayak Permai. Sekolah Untuk saat ini.

6. Sedangkan bagi karyawan shift disediakan dapur di gedung kontrol dan untuk karyawan yang mendapat tugas malam disediakan makanan ekstra oleh perusahaan. 5. Lapangan tenis Lapangan voli Lapangan bulutangkis Kolam renang Lapangan basket Ruang serba guna h. f. 3. yaitu di lokasi pabrik serta rumah sakit di lokasi perumahan. Kantin Disediakan kantin di lingkungan pabrik bagi karyawan-karyawan reguler. Balai Kesehatan Balai kesehatan dibangun di dua tempat. Fasilitas ini dapat digunakan oleh karyawan dan keluarga karyawan secara bersama-sama. g. Sarana Olahraga dan Rekreasi Sarana olahraga juga disediakan bagi karyawan dan keluarga dimana sarana tersebut terletak di dalam lingkungan perumahan karyawan. Sarana Ibadah Masdjid Jati dibangun di tengah Wisma Djati dan di lokasi perumahan juga telah dibangun sarana ibadah berupa masjid dan gereja. c. e. 2. d. seperti : 1. 4.30 Laporan Kerja Praktek PT kebersamaan dan menghindari British Petroleum Indonesia penduduk di sekitar lokasi pabrik agar tercipta adanya kecemburuan social. Transportasi Sarana transoprtasi telah tersedia untuk mengantar karyawan yang pulang dari kerja shift dan disediakan pula transportasi untuk antar-jemput anak-anak keluarga PT. Asuransi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ke sekolah.

31 Laporan Kerja Praktek PT British (ASTEK) dan asuransi Setiap karyawan dijamin oleh Asuransi Tenaga Kerja Petroleum Indonesia jiwa raya. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

3. Pada V-101 A dan V-101 B crude dicuci dari garam-garam yang dapat merusak katalis dan reaksi dalam reaktor. Sour Water Stripper (Unit24). Unit 11 : Crude Distillation Unit CDU dibangun untuk mengolah campuran minyak Indonesia sebesar 125000 MBSD (828. Unit washer ini terdiri dari dua vessel.1. Washer yang digunakan adalah campuran dari Service Water (SW) dan Stripped Sour Water (SSW).1.1. Inlet CDU yang berupa campuran minyak mentah dari Duri dan Minas dipompakan menggunakan P-101 A/B menuju V101 A dan V-101 B dan telah melewati 5 buah Heat Exchanger (HE) yang tersusun seri (E-101 sampai E-105) dimana crude dipanaskan hingga mencapai Temperatur 147oC menggunakan waste heat dari produk-produk yang dihasilkan fraksionator. Unit yang dibangun oleh proyek EXOR-1 Pertamina ini terdiri dari 2 seksi sebagai berikut. Seksi Crude Distillation Seksi ini dirancang untuk mendistilasi campuran crude oil yang menghasilkan destilat overhead terkondensasi. Campuran minyak dan air akan membentuk emulsi sehingga dibutuhkan senyawa kimia tambahan sebagai demulsifier.32 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB III PROSES PRODUKSI 3. Campuran minyak mentah ini terdiri dari 50 % crude oil Duri dan 50 % crude oil Minas. gas oil. Fresh water sebagai washer terlebih dahulu masuk ke V-101 B karena minyak dalam vessel tersebut memiliki kandungan garam yang lebih sedikit karena sudah Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan Caustic Soda (Unit 64). dan residu. yaitu V-101 A dan V-101 B. Amine Treatment Unit (Unit 23).1.1 m3/jam). Sulfur Plant (Unit 25).1.1. DTU merupakan unit pertama dalam rangkaian proses pengolahan crude oil menjadi produkproduknya dan juga terdapat beberapa unit treating yang mengolah aliran gas dan air untuk menurunkan kandungan sulfur dan ammonia. 3. Distillation and Treating Unit (DTU) DTU terdiri dari Distillation and Treating Unit (Unit 11).

1.33 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum diharapkan dicuci dalam V-101 A dengan washer yang berasal dari V-101 B. dengan kapasitas 100 % gas yang keluar dari kedua menara penyerap.91. Seksi Overhead Fraksinasi dan Stabilizer Seksi ini dirancang untuk destilasi lanjutan kondensat overhead menjadi produk LPG. sehinnga Temperaturnya mencapai 280oC sebelum memasuki furnace. Unit ini juga dirancang untuk mengolah campuran wild naphta dari gas oil dan Light Cycle Oil (LCO) Hydrotreater. 3. ARHDM.2.1. Unit ini terdiri dari tiga bagian utama. Light Gas Oil (LGO). Crude oil yang telah bersih dari garam mengalami preheating melalui lima buah HE. 3.1. Naphta. dan kerosene. kerosene. GO HTU. sehinnga Indonesia fresh water yang belum jenuh dapat mengikat sisa-sisa garam secara lebih efektif. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 3. 2. Kapasitasnya 18522 Nm3/jam. Proses yang dipakai adalah SHELL ADIP dengan larutan DIPA (Diisopropanolamine) sebagai larutan penyerap. Proses ini diperlukan untuk mencegah terjadinya crack pada furnace akibat temperatur yang terlalu tinggi dan dapat mengurangi jumlah fuel yang digunakan dalam furnace. Hasilnya digunakan untuk fuel gas system dan umpan gas Hydrogen Plant. Amine Regenerator yang berfungsi untuk meregenerasi larutan amine yang telah digunakan kedua absorber di atas. Unit ini dapat beroperasi dengan baik pada kapasitas antara 50% . Unit 23 : Amine Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk mengolah sour gas serta untuk menghilangkan kandungan H2S yang terikat dalam sour gas. yaitu : 1.2. dan Atmospheric Residu. Residue Catalitic Cracking (RCC) Unsurated Gas untuk mengolah sour gas dari unit RCC dan hasilnya ke fuel gas system. lalu masuk ke dalam main fractinator pada tray 31. Kadar larutan DIPA yang digunakan adalah 2 kgmol/m3 . Heavy Gas Oil (HGO).100 % kapasitas desain dengan faktor On Stream 0. Kapasitasnya 39252 Nm3/jam. Crude yang keluar dari furnace akan mencapai Temperatur 364oC. Off Gas Absorber Berfungsi mengolah off gas dari CDU. Produk-produk yang dihasilkan dari CDU adalah naphta.

Unit 24 : Sour Water Stripper Unit (SWS) Unit SWS secara garis besar dibagi menjadi dua seksi.LPG Treater Unit (LPGTR) . 3. Selanjutnya air yang telah diolah tersebut dsalurkan ke Effluent Treatment Facility atau diolah kembali ke CDU dan ARHDM. 3. Seksi ini mempunyai kapasitas 17.2 sebesar 65.3. Seksi Sour Water Stripper (SWS) Seksi SWS terdiri dari dua train yang perbedaannya didasarkan atas feed berupa air buangan proses yang diolah. Fungsi kedua train di atas adalah menghilangkan H2S dan NH3 yang terdapat pada sisa air hasil proses. Seksi Spent Caustic berasal dari beberapa unit operasi.1. dan LCO HTU.3.2 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari RCC Complex. Sedangkan gas yang mempunyai kandungan H2S yang cukup tinggi (sour gas) digunakan sebagai feed di sulfur Plant. yaitu seksi SWS dan Spent Caustic Treating.Propylene Recovery Unit (PRU) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . selanjutnya seluruh spent caustic dinetralkan dengan asam sulfat H2SO4 dan disalurkan ke effluent facility. 1.1. ARHDM.1 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari CDU.1 sebesar 67 m3/jam dan train no. yaitu : a.8 m3/jam.2. Spent Caustic yang diproses dibedakan menjadi dua jenis.1.1. Train no.34 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Spesifikasi produknya adalah kandungan H2S yang keluar dari masing-masing menara maksimal 50 ppm volume. Seksi Spent Caustic Treating.Gasoline Treater Unit (GTR) . Ditinjau dari sumbernya. 2. Spent Caustic yang rutin (routinous) dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit : .7 m3 / hari.3. 3. Train no. Kemampuan pengolahannya dirancang untuk train no.

1 Unit SWS. terdiri dari dua buah filter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .1. 3. feed melewati HE hingga mencapai temperatur 273o C dan kemudian menuju filter yang membersihkan crude dari solid containment yang dapat menyebabkan deposit pada permukaan katalis di reaktor pertama untuk mengurangi beban reaktor. Vanadium (V). Pada seksi ini terdapat tiga buah filter yang bekerja secara otomatis berdasarkan tekanan. Selain mengolah residu. 3.2. yaitu modul 12 dan modul 13 yang mempunyai susunan unit yang sama dan terdiri dari tiga buah reaktor. Setelah kedua feed digabung dan dipanaskan. yang juga membakar gas-gas yang banyak mengandung NH3 dari unit SWS.4.Gas Oil Hydrotreater .Catalytic condensation Unit (Cat.2. Kapasitas unit ini dirancang untuk menghasilkan sulfur dengan kapasitas 30 ton/hari. Atmospheric Residue Hydrodemetallization (Unit ARHDM 12/13) Unit ARHDM merupakan unit yang mengolah Atmospheric Residue (AR) dari CDU menjadi produk yang disiapkan sebagai umpan untuk RCC.Cond) b. Bahan baku yang digunakan adalah Atmospheric Residue (AR). Unit 25 : Sulfur Plant Sulfur plant adalah suatu unit untuk mengambil unsur sulfur dari off gas unit amine treatment dan H2S stripper train no.35 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia . Unit ARHDM beroperasi dengan kapasitas 58000 BPSD (384 m3/jam). dan karbon (C) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Unit ARHDM terdiri dari dua modul kembar.Light Cycle Oil Hydrotreater 3.1. Seksi feed (umpan) Yaitu pemanasan awal dan penyaringan kotoran pada feed menggunakan filter sebelum dialirkan ke feed surge drum. Unit ini terdiri dari unit Claus yang berfungsi menghasilkan cairan sulfur dan fasilitas pemuatan atau gudang sulfur padat. Spent Caustic merupakan regenerasi dari unit-unit : . Kedua modul bertemu dalam aliran input fraksionator. Feed AR yang digunakan didapat langsung dari Bottom CDU dengan Temperatur 145oC (Hot AR) atau AR yang berasal daritangki 42-T-104 A/B dengan Temperatur 50oC (cold AR). unit ini juga berfungsi mengurangi kandungan logam Nikel (Ni). Pada unit ini terdapat fasilitas pembayaran untuk mengolah gas sisa dari unit claus.

karena residu yang mengandung endapan alumunium akan menyumbat exchanger pada effluents vapor cooling train.2. Recycle gas yang kaya hidrogen serta terpisah dari minyak dan air.2. Furnace bekerja berdasarkan Catalyst Average Temperature (CAT) yang ditentukan melalui kinerja katalis yang diharapkan. Feed yang sudah difiltrasi dialirkan menuju Filtered Feed Surged Drum 12-V-501 yang berfungsi sebagai penampung awal feed yang akan dipompakan ke dalam furnace. dan cairan hidrokarbon lainnya.36 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia berukuran 25 mikron. selanjutnya reactor effluent feed mengalir ke Hot High Pressure Separator (HHPS). Dengan temperatur 37 oC maka residu sudah memiliki cukup sumber untuk mamisahkan naphta. Kemudian feed dipanaskan kembali di furnace sebelum dialirkan secara parallel ke modul 12 dan 13.3. masing-masing modul terdiri atas tiga reaktor yang tersusun secara seri dengan spesifikasi yang sama. Fungsi HPPS ini adalah untuk mengambil residue oil dari effluent reactor sebelum didinginkan.2. dimana panas dari HE ini akan ditransfer ke Combine Feed Reactor. Effluent reaktor kemudian dialirkan ke seksi pendinginan dan pemisahan produk. masuk ke recycle gas compressor dan sebagian ke Unit Hydrogen Membrane Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . gas ringan hidrokarbon. Karena reaksi Hydrotreating adalah eksotermis. Aliran liquid panas dari HHPS mengalir menuju Hot Flow Pressure Separator. Uap tersebut selanjutnya didinginkan di Heat Reactor. Untuk mengatur kenaikan temperatur dan untuk mengendalikan kecepatan reaksi maka diinjeksikan cold quench recycle gas. dan produk gas oil pada Atmospheric Fractionator. Setelah itu aliran campuran uap akan dialirkan ke Effluent Air Cooler masuk ke Cold High Pressure Separator (CHPS). dan satu buah temporary filter yang merupakan modifikasi dari desain dengan ukuran pori yang lebih besar sehingga flow rate menjadi lebih besar dan filtrasi menjadi tidak sempurna. yaitu persentase dari Micro Carbon Residue (MCR) dalam minyak. CH4. maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat bereaksi. Temporary filter ini tidak digunakan pada kondisi normal karena dapat mempercepat kenaikan perbedaan tekanan pada reaktor. kerosene. NH3. Seksi Reaksi Pada seksi ini. 3. Seksi Pendinginan dan Pemisahan Produk Pendinginan pertama dilakukan di HE dimana sebagian panasnya diambil oleh combine feed reactor. 3. dimana uap yang terpisah dari Hot Liquid dalam HHPS ini banyak mengandung H2.

66 meter. Uap yang kaya H2 dipisahkan untuk recovery dan produk minyak berat digabung dengan produk HLPS modul 13 dialirkan ke fraksionator.Unstabillized Naphta .5. 3. Seksi Fraksionasi Seksi ini memisahkan produk ARHDM menjadi naphta. Minyak dan air tidak seluruhnya terpisahkan dalam CHPS. Atmospheric Fractionator terdiri dari dua seksi. Produk dari Atmospheric Fractionator adalah : . Flash Gas dari CLPFD yang kaya akan H2 kemudian dialirkan ke make-up gas compressor untuk dikompresi dan dikembalikan ke unit ARHDM. kerosene. diesel. sebagian dikembalikan ke reactor dengan Recycle Gas Compressor dan sebagian aliran (Bleed Stream) ke Membrane Separation Unit. 3.Gas Oil Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .2 meter dan seksi bawah (bottom) yang memiliki 15 tray dengan diameter 3. Flash gas dari modul 12 dan 13 didinginkan melalui exchanger dan air cooler sebelum di-flash Cold Low Pressure Drum (CLPFD).2.37 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Separator untuk dimurnikan. Liquid ringan di-flash kembali bersama liquid dari CHPS ke CLPS. Air yang terkumpul di CLPS bottom drum dialirkan ke SWS. naphta dimurnikan di naphta stabilizer dan kerosene dimurnikan dalam clay treater. sedangkan minyaknya dipanaskan terlebih dahulu dengan HE kemudian dialirkan ke Atmospheric Fractionator. dan Hydrodemetallized Atmospheric Residue (DMAR). Di seksi lanjut (superheated steam) di seksi konveksi pada furnace.2. Jarak antara kedua tray pada kedua seksi dalam kolom adalah 610 mm. Cold feed dari CLPS masuk ke fraksionator pada tray 28 (tray di atas flash zone.4. Sebelum dikirim keluar. yaitu seksi atap (top) yang memiliki 32 tray dengan diameter 3. Diperoleh dengan Atmospheric Fractionator dibantu dua buah stripper. Liquid dari bottom HHPS kemudian di-flash di dalam Hot Low Pressure Separator (HLPS). Seksi Recycle Gas Aliran gas yang kaya H2 dari CHPS terbagi dua. produk Heavy oil dari HLPS masuk ke fraksionator pada tray 33.Sour Gas . maka minyak dan air dari CHPS tidak seluruhnya dialirkan ke Cold Low Pressure Separator (CLPS).

Produk gas oil dapat dikirim langsung ke Gas Oil Hydrotreating Unit. • Hidrogen dan Desulfurisasi Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan kadar sulfur yang ada dalam feed gas agar memiliki kandungan sulfur seperti yang diijinkan untuk memasuki Reformer. Bottom Fractionator yang menghasilkan DMAR dipompa dan dibagi menjadi dua aliran. Aliran terbanyak digunakan untuk memanasi feed dingin fraksionator dan selanjutnya memanasi AR yang akan masuk ke Feed Filter.Kerosene . Aliran yang sedikit digunakan untuk memanaskan Kerosene Stripper Reboiler. Aliran dua fase ini selanjutnya didinginkan dengan cooler. karena sulfur merupakan racun bagi katalis di Reformer. Unstabilized Naphta. • Steam Reforming Bertujuan memproses atau merubah gas hidrokarbon yang direaksikan dengan steam menjadi gas hydrogen • Pemurnian Hidrogen Pemurnian hidrogen dicapai melalui dua tahap. lalu ke tangki produk. sour water. Vapor dan air cooler dinaikkan tekanannya dengan off gas compressor. Off Gas dialirkan ke fuel gas treating. dimana outlet kompresor stage 1 didinginkan pada interstage cooler dan kondensat cairan dipisahkan dalam interstage KO drum. Unstabilized Naphta dari Overhead Accumulator dicampur dengan aliran vapor yang sudah dikompresikan. Vapor dan liquid ini dialirkan ke overhead accumulator.38 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia . sedangkan Unstabilized Naphta dipanaskan sebelum treating di Naphta Stabilizer kemudian didinginkan lalu dikirim ke tangki. 2. kemudian vapor dikompresikan pada stage kedua kompresor tersebut. Feed untuk Gas Oil Stripper diambil dari tray 24 dan direfluks ke tray 22. yaitu : Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kerosene dialirkan dari down comer pada tray ke-10 fraksionator. yaitu : 1. dan net off gas dipisahkan dalam Sour Gas Separator. selanjutnya diproses dalam clay treater untuk memperbaiki kestabilan warna sebelum dikirim ke tangki penimbunan.DMAR sebagai RCC feed Overhead vapor dari fraksionator sebagian terkondensasi dalam Fractionator Overhead Air Cooler. Kompresor ini memiliki dua stage. Kemudian dipanaskan kembali dengan Bottom Fractionator Stripper Vapor pada kerosene side cut stripper untuk dikembalikan ke fraksionator melalui tray ke-9.

High Temperature Shift Converter (HTSC) yang bertujuan Petroleum Indonesia CO2 dengan reaksi: CO + CO2 CO2 + H2 • Pressure Swing Adsorption (PSA) Setelah melalui reaksi di HTSC. Propylene. Light Cycle Oil (LCO). feed didinginkan dan kondensat dalam feed gas dipisahkan di Raw Gas KO Drum sebelum masuk ke unit PSA. Unit RCC Kompleks (Residue Catalytic Cracking Complex) RCC kompleks merupakan gabungan dari beberapa unit di kilang RU-VI Balongan yang berfungsi mengolah residue minyak (reduced cycle) menjadi produk-produk minyak bumi yang bernilai tinggi seperti Gasoline. Kapasitas yang terpasang adalah 83000 BPSD.5 % volume). column fractionators. dan LPG. Katalis setelah bereaksi dengan feed dipisahkan dari hidrokarbon untuk memperkecil terjadinya cracking sekunder dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Aliran yang keluar dari unit PSA ini terdiri dari Hidrogen murni pada tekanan tinggi dan Tail Gas yang mengandung impurities pada tekanan rendah. dan CO boiler. Decant Oil. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Overhead Vapour Main Column. LPG. Decant Oil. 3. Unit ini berfungsi sebagai kilang minyak tingkat lanjut (secondary process) untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan residu dengan cara cracking dengan memakai katalis.39 Laporan Kerja Praktek PT British mengubah CO menjadi . Unit ini didesain untuk memurnikan gas hidrogen secara continue. main blower. Berikut adalah uraian proses yang terjadi pada unit RCC ini. Feed hydrocarbon ke unit dipanaskan dengan aliran produk dan di-crack dengan pemanas yang dibawa oleh Regenerated Catalyst di dalam sistem Reaktor. Sebagian aliran bottom fractionators pada down stream digunakan sebagai back wash pada feed filter kemudian bergabung kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki. Kedua aliran di atas bergabung dan dapat langsung dialirkan ke unit RCC atau didinginkan lebih lanjut sebelum dialirkan ke tangki. Light Cycle Oil.5 % volume) dan Untreated Atmospheric Residue yang berasal dari unit CDU dengan desain kapasitas 53000 BPSD (64. regenerator. Non Condensable Lean Gas.3. dan Polygasoline. catalyst cooler. RCC dirancang untuk mengolah Treated Atmospheric Residue yang berasal dari unit ARHDM dengan kapasitas 29500 BPSD (35. Reaksi cracking ini terjadi di dalam riser reaktor. Unit ini berkaitan erat dengan Unsaturated Gas Plant Unit yang akan mengolah produk puncak Main Column Unit RCC menjadi Stabilized Gasoline. Di unit RCC ini terdapat reaktor.

3. Aliran katalis dalam sistem Reaktor-Regenerator adalah jantung dari unit RCC.Unit 17 : LPG Treatment Unit . Light Cycle Oil (LCO).Unit 18 : Naphta Treatment Unit . LEU (Light End Unit) LEU merupakan unit lanjutan setelah RCU (Residue Catalytic Unit) yang berfungsi untuk mengolah produk keluaran RCU menjadi produk-produk akhir yang mempunyai nilai jual.40 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumpada katalis kemudian dikirim ke regenerator untuk diregenerasi dan coke yang terdeposit Indonesia dapat aktif kembali untuk mengolah hidrokarbon berikutnya. dimana coke yang terbentuk dibakar dengan udara. Karbon dalam bentuk coke ini menempel pada katalis sebagai hasil samping cracking. Spent katalis mengalir dari reactor stripper ke dalam upper regenerator. Kelima unit tersebut adalah : . dan DCO.Unit 19 : Propylene Recovery Unit . Fuel gas yang mengandung CO keluar dari upper regenerator melalui cyclone dimana partikel katalis ikut terambil. Adanya catalyst cooler mengambil kelebihan panas dari Boiler Feed Water (BFW) regenerator dan diubah menjadi steam. Hidrokarbon hasil reaksi cracking dialirkan dari reaktor ke column fractionator untuk dipisahkan menjadi Overhead Vapor. kemudian disirkulasi kembali dari reaktor ke regenerator. coke tersebut dalam upper regenerator diatur agar coke menjadi CO (Partial Combustion) agar panas yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Vapor Hydrocarbon keluar dari top riser rector ke main column pada seksi fraksinasi. Katalis panas kemudian dialirkan dari lower regenerator ke riser reactor. LEU terdiri dari lima unit dengan tugas maupun produk akhir yang berbeda.Unit 20 : Catalytic Condensation Unit Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Kelebihan udara dalam Lower Regenerator digunakan untuk membakar coke yang tersisa pada katalis dan diarahkan pembakarannya agar menjadi CO2. Dengan memberikan pamanasan dengan temperatur tinggi dan dengan udara yang cukup. Overhead vapor kemudian dikirim ke unit 16 (unsaturated gas plant) untuk dipisahkan menjadi Unsaturated LPG. naphta RCC.4. Adanya coke pada katalis mengakibatkan berkurangnya aktifitas katalis.Unit 16 : Unsaturated Gas Plant . Steam tekanan tinggi diproduksi dalam CO boiler dari hasil pembakaran CO menjadi CO2.

dan H2S). Dalam debutanizer ini. Fraksi ringannya akan masuk ke dalam absorber 16 C-101 sementara fraksi beratnya akan dipompa masuk ke dalam stripper 16-C 103 setelah melalui HE 16 E-108. Fraksi ringan keluarannya akan masuk ke dalam unit amina dan ada juga yang menjadi off gas. dan non condensable lean gas. LPG dan naphta akan dipisahkan untuk selanjutnya diolah secara terpisah di unit 17 dan unit 18. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Proses pada unit ini berlangsung seperti uraian berikut. Absorber yang digunakan adalah naphta dari debutanizer.4.41 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. LPG (campuran propilen dan propana). dan C5+) masuk ke dalam vessel 16 V-101. Fraksi berat dari vessel 15 V-106 akan bergabung dengan fraksi ringan dari vessel 16 V-104 dalam absorber 16 C-101 untuk dipisahkan fraksi beratnya. Karena proses absorbsi akan terjadi dengan baik pada Temperatur yang rendah. Unsaturated Gas Plant ini dirancang untuk mengolah 83000 BPSD AR. Unit ini juga menghasilkan Untreated LPG yang akan diproses lebih lanjut di LPG Treatment Unit (Unit 17) dan naphta yang akan diproses lebih lanjut di Naphta Treatment Unit (Unit 18). maka naphta yang berfungsi sebagai absorbent akan didinginkan terlebih dahulu oleh chilled water dengan menggunakan Freon. Non Condensable Lean Gas/Off gas. Absorbent yang digunakan adalah LCO. serta naphta (campuran butana.1. yaitu off gas (campuran metana. kemudian ke HE sampai akhirnya masuk ke dalam vessel 16 V-104. etana. fraksi ringan yang masih terkandung dalam fraksi berat yang masuk akan dikembalikan ke dalam vessel 16 V-104. yang sebagian akan dipakai sebagai lift gas sebelum diolah di Amine Unit sebagai off gas. Fraksi berat dari absorber akan masuk ke dalam vessel 16 V-104 menuju stripper. sementara fraksi berat akan dipompa masuk ke dalam kolom 16 C-101. LPG. Produk yang dihasilkan adalah Gasoline (RCC Naphta). Unit ini menghasilkan Sweetened Fuel Gas yang dikirim ke Refinery Fuel Gas System untuk diproses lebih lanjut. Untreated LPG. Unit 16 : Unsaturated Gas Plant Unit ini berfungsi untuk memisahkan overhead product column RCCU menjadi stabilized naphta. sementara fraksi berat yang telah di-strip (LPG dan Naphta) akan masuk ke dalam debutanizer 16 C-104. Fraksi ringan dari 15 V-106 akan masuk ke Wet Gas Column (WGC) dua tingkat. Overhead product dari RCCU. Di dalam absorber ini terdapat foul ring yang berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan kontak antara fraksi yang akan di-absorb dengan absorbent. Fraksi ringan dari absorber tersebut dialirkan ke absorber 16 C-102 agar lebih banyak fraksi berat yang terambil. butilena. Dalam stripper tersebut.

LPG Treatment Unit dirancang untuk megolah feed dari produk atas Debutanizer pada Unsaturated Gas Plant sebanyak 22500 BPSD.42 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3.4. Reaksi yang terjadi adalah : NaOH + RSSH Na2SR + H2O NaOH yang digunakan dapat diregenerasi dengan oksigen dan katalis di vessel 17 V105 dan reaksinya adalah : Na2SR + O2 + H2O DSO + NaOH DSO yang terbentuk dari reaksi di atas berbentuk seperti minyak dan larut dalam naphta sehingga untuk memisahkan DSO dengan NaOH dapat digunakan Fiber Film Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Contractor yang digunakan adalah Fiber Film dengan senyawa pengikat merkaptan berupa caustic (NaOH). Pemisahan antara fasa LPG dengan larutan Caustic akan terjadi di separator. Unit 17 : LPG Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk memurnikan LPG produk Unsaturated Gas Plant dengan cara mengambil senyawa merkaptan dan sulfur organik lainnya lalu mengubahnya menjadi senyawa disulfida. 2.2. dimana NaOH yang telah terpakai akan dibuang. Sistem Ekstraksi Merkaptan LPG yang berasal dari sistem ekstraksi H2S selanjutnya masuk ke dalam sistem ekstraksi merkaptan yang terdiri dari dua tingkat. Fiber Film Contractor ini berbentuk serabut yang kuat yang terbentuk dari logam yang tujuannya adalah untuk memperluas permukaan kontak antara untreated LPG dengan NaOH. Produk yang dihasilkan adalah Treated Mixed LPG yang selanjutnya dikirim ke Propylene Recovery Unit (Unit 19). Berikut adalah uraian prosesnya : 1. Sementara itu. Lalu masuk H2S Fiber Film Contractor dimana akan terjadi kontak dengan Caustic (NaOH). Sistem Ekstraksi H2S Unsaturated LPG melewati strainer 17 S-101 untuk menghilangkan partikel-partikel padatan yang berukuran lebih besar dari 150 mikron. Reaksi yang terjadi adalah : NaOH + H2S Na2S + H2O NaOH yang digunakan adalah 14% wt dan baru akan dibuang jika telah menjadi 7% wt karena sudah tidak dapat diregenerasi. LPG yang telah dihilangkan H2S nya dialirkan ke sistem ekstraksi Merkaptan.

4.3. LPG tersebut masuk ke bagian puncak contractor dimana terjadi kontak dengan serat-serat logam yang dibasahi oleh sirkulasi air. Udara proses disaring dengan Air Filter 18-S-102 A/B. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Treated Naphta. 3. Reaksi yang terjadi adalah : 2RSH + 2NaOH 2NaSR + 2H2O Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi antara lain Doctor Test Negative. 3. Unit 18 : Naphta Treatment Unit Unit ini dirancang untuk mengekstraksi H2S dan mengoksidasi merkaptan sulfur dalam untreated naphta. Proses yang terjadi pada unit ini adalah sebagai berikut : 1. NaOH yang telah bersih dari DSO kemudian dapat di-recycle. Unit ini dirancang untuk memproses 47500 BPSD untrated RCC naphta yang dihasilkan oleh unit 16 (Unsaturated Gas Plant) dengan maksimum kandungan 5 ppm-wt H2S dan 90 ppm-wt merkaptan. LPG yang telah tercuci kemudian diproses lebih lanjut di Propylene Recovery Unit. Unit ini dirancang dapat beroperasi pada penurunan kapasitas hinnga 50 %. kandungan sulfur sebesar kurang dari 15 ppm wt dan kandungan Na+ (sebagai sodium) maksimum adalah 0.104 A/B untk menghilangkan padatan yang berukuran kurang dari 5 mikron.43 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Contractor dengan absorbent berupa naphta. RCC naphta melewati tahapan ekstraksi merkaptan di puncak 18-A-201/204 kemudian kontak dengan bahan-bahan film yang terbasahi oleh caustic tersirkulasi yang berasal dari pompa recycle caustic 18-P-102 A/B. Oksidasi dan Ekstraksi Untreated RCC naphta masuk ke dalam sistem caustic treating melewati salah satu set basket strainer parallel 18-S-101 A/B untuk menghilangkan padatan yang terikut dan berukuran lebih dari 150 mikron. Udara untuk oksidasi diinjeksikan di Upstream Fiber Film Contractor 18-A-201/204 melewati Air Sparger 18-M-101/102. Sistem Aquafining LPG yang telah bebas dari merkaptan kemudian dicuci dengan air untuk manghilangkan sejumlah kecil entrainment caustic. Aliran sirkulasi kurang lebih 20 % volume aliran untreated RCC naphta.1% wt. LPG dan larutan air yang disirkulasikan mengalir secara counter current dan melalui Shoud Contactor dimana caustic yang terikat akan diambil.

44 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemisahan fase RCC naphta dan caustic di fasa Separator 18-V-101/102. dimana terjadi ekstraksi H2S dan oksidasi merkaptan. Penggantian Caustic Fresh Caustic 6. Ekstraksi dan proses oksidasi yang terjadi menghasilkan kelebihan air yang dapat menurunkan konsentrasi NaOH.6 % wt dipompa dari header distribusi secara manual melewati 18-S-103/105 (Aqueus Basket Strainer) menuju 18-P-102 A/B dan 104 A/B hingga level operasi normal tercukupi. 2.5 % aliran treated naphta dari 18-V-101/102 digunakan sebagai fresh solvent unit 17. aliran RCC naphta melewati coalescer pad 18-A-202/205 untuk menghilangkan lebih banyak partikelpartikel caustic dan selanjutnya mengalir keluar separator di bagian ujung. Sekitar 0. selanjutnya katalis diinjeksikan per hari sebanyak Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Merkaptan dan sedikit H2S yang terkandung di RCC naphta diekstraksi oleh caustic soda 6. penggantian kaustik tidak mengganggu kegiatan operasi unit. Aliran RCC naphta berlawanan arah dengan caustic di antara ruang fiber dan pelepasan di atas contractor.3% wt. Hidrokarbon dan larutan caustic masuk ke bawah melalui 18-A-201/204. Konsentrasi katalis teroksidasi dalam sirkulasi caustic pertama kali 200 ppm-wt. 18-A-201/204 dan 18-V-101/102 beroperasi pada tekanan 4. Reaksi yang terjadi adalah : 2NaSR + ½ H2O RSSR + 2NaOH 2RSH + ½ O2 RSSR + H2O 2NaOH + H2S Na2S + 2H2O 2Na2S+ 2O2 + H2O Na2S2O3 + 2NaOH Aliran caustic jatuh ke bawah dan melekat pada fiber kemudian mengalir ke fase yang encer di 18-V-101/102 untuk kemudian terkumpul menjadi satu dari larutan caustic yang disimpan. 104 A/B dan terkumpul di penampungan spent caustic. G dan temperatur 38oC . Spent solvent unit 17 kembali ke RCC naphta setelah back pressure control valve menuju tangki naphta. Spent caustic dibuang melalui line spent caustic sebelum suction dari pompa 18-P-102 A/B. Di 18-V-101/102.6% wt.9 kg / cm3. Oksidasi senyawa sulfur merkaptida diperoleh dari ekstraksi merkaptan oleh larutan caustic dimana diperlukan di dalam oksidasi katalis. Gabungan aliran parallel ini menjadi satu aliran treated naphta setelah bergabung dengan spent solvent dari sistem regenerator.6% wt diganti bila kandungannya menurun menjadi 3. Basket Strainer 18-S-103/105 menghilangkan partikel-partikel yang berukuran > 150 mikron. Larutan fresh caustic 6.

Inhibitor digunakan dalam membantu proses “sweetening” naphta.4. Sementara campuran propana dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . memperlambat pembentukan gum. Aquafining system di unit RCC LPG Treatment juga dilayani oleh 18-V-104. dipompa dengan 17-P-105 A/B (Water Metering Pump). propylene. 3. Unit 19 : Propylene Recovery Unit Unit ini berfungsi untuk memisahkan Mixed Butane dan memproses LPG C3 dan C4 dari unit 16 untuk mendapatkan produk propylene dengan kemurnian tinggi (minimum 99. Sistem Aquafining Sistem ini berfungsi untuk pencucian entrainment dalam produk RCC LPG dengan air secara kontinyu. Uraian proses secara keseluruhan diawali dari feed yang berasal dari LPG Treatment yang merupakan campuran propana. dan meninggalkan senyawa alkil dari senyawa anti knocking dalam naphta. Air disimpan di Water Break Tank (18-V104). Jika perlu. Pompa juga dapat dipakai untuk melayani sistem H2S extraction dan solvent wash di unit 17.5 m3.5 kg/20000 bbls untuk mengganti yang hilang dan yang tidak aktif dengan menggunakan pipa katalis 18-A-203/206 3. Air juga mungkin diperlukan di phase separator jika RCC naphta menjadi kuning dan larutan caustic menjadi kekurangan air. Inhibitor diinjeksikan di tempat-tempat sekitar upstream dan downstream dari setiap train treater dengan 18-P-105 A/B dan C (InhibitorInjection Metering Pump). Injeksi bahan kimia ini disimpan di tangki inhibitor 18-V-103 dimana dapat menyimpan kurang lebih 0.4. Campuran C4 yang diperoleh dari splitter dimasukkan ke dalam tangki penyimpanan dan ada yang dikirim ke unit 20. Setiap pengisian ulang tangki perlu waktu dua hari sekali. dan campuran C4 dipompakan ke C3/C4 splitter. air dipompa dengan pengaturan manual memakai pompa 18-P-101 (Water Addition Pump) ke 18-V-101/102 melalui pipa suction 18-P-102 A/B dan 104 A/B. Produk yang dihasilkan pada proses ini terdiri dari : · Propylene dengan kapasitas terpasang 7150 BPSD · Campuran Butana · Propana Proses yang digunakan adalah Selective Hydrogeneration Process (SHP) dengan reaktor Hules. 19-C-101.45 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 0.6 %) yang dapat dipakai sebagai bahan baku pada Propylene Unit.

Keluaran Feed Driers diperiksa kandungan airnya untuk keperluan regenerasi dryer. Unit ini dirancang untuk menghasilkan produk dengan berat molekul yang tinggi menggunakan katalis Solid Phosphorus Acid. Karena polimerisasi merupakan reaksi eksotermis yang melepas Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . campuran C3 dikirim ke Wash Water Column untuk diraksikan dengan larutan fosfat dengan arah berlawanan (Counter Current).5. sedangkan produk bottom sebagian di-recycle dan sebagian lagi ditampung di Water Degassing Drum untuk kemudian dikirim ke unit 24. dan propilena) masuk ke Wash Water Column untuk dicuci dengan larutan fosfat secara counter current. Produk top kolom ini dipisahkan dari airnya pada Sand Filter. Air di Water Boot dikirimkan ke Water Degassing Drum dan selanjutnya ke unit Sour Water Stripper (Unit 24). Campuran C3 dari Sand Filter dikeringkan di C3 Feed Driers karena spesifikasinya adalah 25 ppm. propilen dimasukkan ke reaktor SHP untuk mengubah kandungan diena dan asetilen yang ada menjadi Mono Olefin guna memenuhi persyaratan produksi. Propilen yang terbentuk dipisahkan kandungan COS nya pada COS removal dan dipisahkan dari logam di Metal Treater. dimana sebagian campuran C3 Indonesia C3/C4 Splitter dan sebagian lagi dikirim ke Solvent Settler. Dari Metal Treater. campuran C3 dihilangkan dari kandungan sulfurnya dengan menggunakan caustic MEA. Unit 20 : Catalytic Condensation. butane. Unit ini berfungsi untuk mengolah campuran butana dari Propylene Recovery Unit (Unit 19) menjadi gasoline dengan angka oktan yang tinggi. Produk yang dihasilkan adalah Polygasoline dan Butana. uap propilen terbentuk di bagian overhead dan propana pada bagian bottom. Dari Solvent Settler. UOP Catalytic Condensation merupakan salah satu unit yang dirancang untuk memproses Unsaturated Mixed Butane dari unit-unit LEU. Uraian proses yang terjadi secara keseluruhan diawali dengan feed campuran Butana dari unit 19 (terdiri dari butilena. 3.4.46 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumdirefluks ke propilen masuk ke dalam C3/C4 Splitter Receiver. Propilen yang keluar reaktor kemudian didinginkan dan dikirim ke tangki penampungan dengan dilengkapi analisa kandungan propana. Campuran butana bersama aliran rectifier dipompakan ke reaktor sehingga terjadi reaksi polimerisasi menjadi rantai panjang C8 sampai C10. Kapasitas yang dimiliki adalah 13000 BPSD dengan tiga reaktor yang paralel. Propana selanjutnya dikirim ke tangki penampungan dan sebagian propilen direfluks serta sebagian dikompresikan untuk memanaskan propana di C3 Splitter Flash Drum. Campuran C3 kemudian dipisahkan pada C3 Splitter. Di Solvent Settler.

antara lain adalah nitrogen. Setelah dari reaktor. Produk gas hidrogen dari Hydrogen Plant digunakan untuk memenuhi kebutuhan di ARHDM Unit. HTU (Hydro Treating Unit) 3.47 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia panas.5. Dari sini. Proses dasar Hydrogen Plant mencakup Hidrogenasi & Desulfurisasi. Kandungan impurities yang dikandung oleh minyak mentah relatif tinggi. Stream Reforming. Untuk menjaga agar jangan sampai terbentuk coke. Katalis hydrotreating yang digunakan mengandung oksida Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Make up hydrogen akan dipasok dari hydrogen plant yang telah diolah sebelumnya oleh Steam Methane Reformer dan Pressure Swing Adsorption (PSA) unit. senyawa sulfur organik. 3. sehingga temperatur reaktor akan terus bertambah.1. dan di Gas Oil Hydrotreater Unit. Gas Oil Hydrotreater Unit ini mengolah Gas Oil yang tidak stabil dan korosif (mengandung sulfur dan nitrogen) dengan bantuan katalis dan hidrogen menjadi gas oil yang memenuhi ketentuan pasar dengan kapasitas 32000 BPSD (212 m3/jam). Hydrogen Plant (Unit 22) Unit 22 ini merupakan unit di RU-VI yang dirancang untuk memproduksi hydrogen dengan kemurnian 99% sebanyak 76 MMSFSD dengan feed dan kapasitas sesuai desain. yaitu mereaksikan impurities tersebut dengan hidrogen yang dihasilkan dari Hydrogen Plant. dan Pemurnian Hidrogen. temperatur bed katalis dijaga agar lebih kecil dari 20oC.2. sedangkan produk overhead yang berupa butana dicuci dengan caustic dan dikeringkan sebelum masuk ke tangki penampungan. rantai hidrokarbon tersebut masuk ke Flash Rectifier dimana sebagian dikembalikan ke reaktor dan sebagian lagi ke stabilizer. LCO Hydrotreater Unit. Feed untuk gas oil diperoleh dari Crude Distillation Unit (CDU) dan Atmospheric Residue Hydrodemetalization Unit (ARHDM). 3. dan senyawa-senyawa logam. produk bottom berupa polygasoline didinginkan dan dikirim ke tangki penampungan.5. Fungsi utama dari unit ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan impurities yang terkandung dalam minyak bumi atau fraksi-fraksinya dengan proses hidrogenasi. Pabrik ini dirancang dengan feed dari Refinery Off Gas dan Natural Gas.5.

wild naphta. Seksi Feed Feed seksi ini adalah Light Cycle Oil dari unit RCC dan storage tank. dan hydrotreated gas oil. Karena adanya reaksi eksotermis yang terjadi dalam reaktor. kemudian masuk ke feed surge drum 21-V-101 dan LCO dari tangki langsung masuk ke feed surge drum 21-V-101.5.4 m3/jam)dengan menggunakan katalis UOP S-19 M. Light Cycle Hydrotreating Unit (Unit 21) LCO HTU merupakan unit yang mengolah Light Cycle Oil dari RCC unit. Seksi Reaktor Feed dan recycle gas dipanaskan terlebih dahulu oleh effluent reactor di dalam Combined Feed Exchanger 21-E-101 A/B.3. 2. Kapasitas unit LCO HTU ini adalah 15000 BPSD (99. 2. 3. Feed kemudian masuk ke bagian atas reaktor 21-R-101 dan didistribusikan secara merata di atas permukaan bed katalis melalui inlet dari vapor/liquid tray. yaitu : 1.48 Laporan Kerja Praktek PT British extrudate. Untuk memisahkan gas oil hasil reaksi dari produk lain. LCO bersamasama dengan recycle gas hydrogen masuk ke Combine Feed Exchanger 21-E-101 A/B. maka temperatur feed yang keluar reaktor akan lebih tinggi dari feed yang masuk reaktor. Aliran proses pada unit 21 ini adalah sebagai berikut : 1. Seksi fraksionasi. Seksi reaktor. GO HTU ini nikel/molybdenum di dalam base alumina yang berbentuk bulat atau Petroleum Indonesia terdiri dari dua seksi. Unit ini akan menghilangkan sulfur dan nitrogen dari feed tanpa perubahan boiling range yang berarti agar produk yang dihasilkan memenuhi syarat dan spesifikasi pemasaran. LCO dari RCCU melalui feed filter untuk menghilangkan partikel padat yang berukuran lebih dari 25 mikron. air diinjeksikan Ke effluent reactor untuk melarutkan garam amonium yang terbentuk dari penggabungan H2S dan NH3 di dalam Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dimana masih mengandung banyak senyawa organik seperti sulfur dan nitrogen. setelah itu air dialirkan ke Sour Water Header. Air yang terdapat di LCO dari tangki akan terpisah di bottom feed surge drum dan yang tidak ikut terpisah akan tertahan oleh wire mesh blanket agar masuk ke suction feed pompa. Sebelum keluar. kemudian campuran LCO dan hydrogen bergabung dan langsung ke charge heater 21-F-101 dan dipanaskan sampai temperatur reaksi. seperti off gas. Untuk proses reaksi dengan katalis dan hidrogen.

dan gas terlepas serta akan terpisah dengan sendirinya. Hidrokarbon yang terkumpul dalam separator. karena amonium dapat meracuni katalis bila terakumulasi cukup banyak di recycle gas. Seksi ini berfungsi memisahkan LCO hasil reaksi dari produk lain seperti off gas. Hydrotreated Light Cycle Oil dipakai untuk blending produk tanpa harus diolah lagi. -Katalis Hydrotreating UOP mengandung oksida nikel/molybdenum (S-12) dan cobalt/molybdenum (S-19 M) di dalam base alumina dan dibuat berbentuk bulat atau extrude. Distribusi feed dan produk yang diolah dari unit LCO HTU ini meliputi : . dan hydrotreated light cycle oil. Off gas dikirim ke Refinery Fuel Gas System. produk hydrotreated LCO masuk ke Coalescer untuk memisahkannya dari air dan dikeringkan ke dalam bejana yang berisikan garam sebelum dikirim ke tangki penyimpanan. Produk LCO HTU berupa : - LCO yang telah diolah langsung ditampung di tangki untuk siap dipasarkan. 4. air. Seksi Kompresor Seksi ini terdiri dari dua bagian. Wild Naphta dikirim ke unit CDU atau RCC untuk proses lebih lanjut. 3. Effluent LCO yang keluar reactor kemudian masuk ke dalam separator melalui distributor inlet dimana hidrokarbon cair.Feed Stock LCO diperoleh dari RCC kompleks. yaitu Make-Up Compressor dan Recycle Gas Compressor. Make-Up gas H2 dan recycle gas bersama-sama menuju ke Combined Feed Exchanger 21-E-101 A/B dan sebagai quench Reaktor 21-R-101 di antara dua bed katalis. - Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .49 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia reaktor. Aliran Make-Up gas hydrogen masuk ke seksi reaktor untuk mempertahankan tekanan di High Pressure Separator.Make-up hidrogen akan disuplai dari hydrogen plant unit. wild naphta. Tekanan di reaktor dikontrol oleh hidrogen yang diimpor dari H2 plant dengan dinaikkan tekanannya menggunakan Make-Up Compressor 2 Stage dan H2 dimasukkan ke Discharge Recycle Gas Compressor. . selanjutnya dipisahkan dengan fraksionasi.

1.1.1.5 m. Air sungai diambil dari buangan Proyek Jatiluhur pada saluran utama sebelah timur (eastern main canal). Penyediaan Air 4. Adapun kondisi operasinya pada tabel 4. 65 km dari Refinery EXOR-1 Balongan.1 Kondisi Operasi Pengambilan Air dari Sungai Cipunegara Water Intake Facility Salam Darma (Unit 53) berfungsi untuk permunian air (treating water) dengan kapasitas 1.1. Apabila kanal dalam perbaikan. 4. Kecamatan Compreng. Kebutuhan listrik untuk Salam Darma saat ini disuplai oleh tiga unit generator (53-G301 A/B) dengan kapasitas 53-G-301 A/B adalah 578 kW dan 53-G-301 C adalah 360 kW. Kabupaten Subang. Saat ini rata-rata kebutuhan air untuk Balongan kurang lebih 900 ton/jam sehingga Salam Darma tidak perlu selalu berproduksi dengan kapasitas 100%. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dengan elevasi 19. Namun pada kondisi operasi normal cukup satu unit yang beroperasi karena pada load 100% hanya membutuhkan listrik sebesar kurang lebih 300 kW. maka air sungai diambil dari Sungai Cipunegara dan Sungai Tarum Timur.50 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB IV SARANA PENUNJANG (UTILITY) 4.1. Raw Water System Raw Water ditransfer dari raw water intake facility (Salam Darma) melalui pipa dan ditampung di tangki raw water yang kapasitasnya 60 jam kebutuhan kilang.1 Tabel 4. Water Intake Facility (Unit 53) Water Intake Facility berlokasi di desa Alam Darma.1.000 ton/jam.

sehingga untuk memenuhi kebutuhan.4 ton/jam. Pola operasi : a. Konsumsi demint water menurut desain adalah 192.2. Pendingin untuk pompa di offsite Service Water sebelum masuk ke potable water tank. dan lain-lain). Demint Plant juga memiliki dua buah tangki atau Demint Water Tank (55-T101 A/B) dengan kapasitas 1. Raw water ini digunakan juga sebagai service water yang pemakainya adalah untuk: 1. Potable Water adalah air yang disediakan untuk keperluan para karyawan PERTAMINA RU-VI Balongan. 4. Demineralized Water Unit (Unit 53) Unit ini berfungsi untuk menjernihkan air yang diambil dari sumber air dengan cara menghilangkan atau meminimalkan impurities (suspended solids.000 ton/tangki.1. Make up untuk Potable Water 5. Make up untuk Demineralized Water 4. Unit dimineralisasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan Boiler Feed Water (BFW). Masalah akan timbul jika salah satu train mengalami masalah (kebocoran resin. listrik. Make up untuk Fire Water 2.51 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Raw water system memiliki dua buah tangki penampung dengan kapasitas 66. cations.400 ton/tangki. Make up untuk Cooling Water 3. disterilkan terlebih dahulu dengan gas chlorine yang selanjutnya dipompakan ke pemakai. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Demint Plant perlu menjalankan 2 train. Demin Plant terdiri dari dua train dengan kapasitas 230 m3/jam train (4. Sumber air tersebut dapat diambil dari surface water (air sungai dan air laut) dan ground water (mata air dan air sumur). Akan tetapi dalam actual operasinya kebutuhan demint water bervariasi antara 220 – 270 ton/jam. Demint Water yang dihasilkan dari unit ini didistribusikan ke Deaerator (Boiler) dan WHB Hydrogen Plant (NNF). tanpa atap dan berlokasi di area yang tidak berbahaya. Demineralized plant beroperasi secara kontinyu. instrument.1.300 ton/cycle per train) yang dipasang outdoors. Air yang sudah disterilkan dinamakan Demineralized Water (DW). House Station 6. anions) yang dapat mengganggu operasi boiler dan peralatan lainnya. kerusakan peralatan mekanik.

d. c. Bagian-bagiannya adalah : • Menara pendingin (Cooling Water Tower) • Pompa air pendingin (Cooling Water Pump) Dalam normal operasi. sesuai dengan Cooling Water Pump yang running adalah lima unit dan satu unit auto standby dengan kapasitas masing-masing 7. dilengkapi dengan on line conductivity analyzer untuk memonitor mutu air dari air pendingin. Selama normal operasi.1. sebentar di lokasi.000 ton/jam.52 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia b. ancillaries. utilities. side filter / startup coolong water pump. Cooling Water System (Unit 56) Unit ini berfungsi untuk mensuplai air pendingin ke unit-unit proses.000 – 14.9 0C dengan tipe open circulating system (counter flow). Untuk menjaga mutu air. Fasilitas pengolahan air digabung dengan menara pendingin yang dilengkapi untuk injeksi gas chlorine.1.5 0C menjadi 33 0C dengan wet ball temperature 21. Menara terdiri dari 10 cell dan 10 draft fan beserta masing-masing motornya dan dua buah header supply utama untuk pendistribusian ke onsite dan utility area.3.5 kg/cm3g. 4. sebagian air diolah oleh side stream filter. Masing-masing train akan beroperasi normal dengan dipindah secara bergantian diantara keduanya selama satu train sedang dalam perbaikan atau sedang regenerasi secara bergantian. kapasitas 220 m3/jam.000 ton/jam dan utilities sebanyak 11. dan dispersant.000 m3/jam pada tekanan 4. Backwash water dari activated carbon filter akan dialirkan ke clean drain. Make up Cooling Water sebesar 400 – 500 ton/jam. e. side stream filter. Pada bagian header supply ke utility area. corrosion inhibitor. facilities. Uraian Proses : Menara pendingin (Cooling Water Tower) dirancang untuk mendinginkan air dari temperature 45.000 – 19. dan fasilitas offsite. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . operator akan tinggal di Utility Control Room. Cooling water yang dihasilkan didistribusikan ke Process Unit sebanyak 17. kapasitas 660 m3/jam. dan mengadakan inspeksi ke lokasi secara periodik. Air buangan regenerasi yang mengandung asam dan basa serta air pembilas dari masing-masing resin dibuang melalui bak penetral (untuk dinetralisasi).

1 Jockey Pump (66-P-102) Jockey pump didesain befungsi untuk mempertahankan tekanan system namun jika tekanan system (fire hydrant) turun mencapai 5 kg/cm3. Penyediaan Uap 4. Superheater. analyzer.53 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Dari pengalaman selama ini. salah satu pompa 66-P101 A/B/C/D akan start secara otomatis. Masalah akan timbul apabila tidak ada pompa yang standby (rusak.1.2. Water Wall Tube. 4. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Fire Water System Fire Water Tank : 1 tangki (66-T-101) Kapasitas : 11.1. Boiler (Unit 52) Boiler dirancang untuk memasok kebutuhan steam pada proses yang terdiri dari Stream Drum.1.000 ton . Selain itu. Down Comers. Saat ini dalam operasi normal. program maintenance) dan dalam waktu bersamaan ada pompa yang perlu dilakukan cleaning strainer. water level gauge. 280 0C) Jumlah pompa : .4 pompa (66-P-101 A/B/C/D) Kapasitas : 115 ton/jam per unit Fuel firing : Fuel Oil dan Fuel Gas Peralatan-peralatan penunjang pada boiler antara lain safety valve. dan Bank Tube. Jumlah Fungsi : 5 unit boiler (52-B-101 A/B/C/D) : Penghasil HP steam (43 kg/cm2. kebutuhan HP steam adalah 250 – 300 ton/jam. hampir setiap hari straining cooling water pumps harus dibersihkan karena banyak serangga yang masuk ke basin cooling water system. juga dirancang agar pengoperasian dan perawatannya lebih mudah dilakukan.2. FDF dan dua unit penggerak steam turbine. economizer. Boiler tersebut dirancang khusus untuk perpindahan panas. 4. instrumentasi. valve dan sebagainya. Jika dilihat dari kebutuhan tersebut sebenarnya cukup hanya dengan tiga boiler yang beroperasi. dan local boiler control (LCP). Namun selama ini tetap dioperasikan lima unit boiler atau empat unit boiler dengan satu unit boiler hot standby.4. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi (back up) kebutuhan HP steam jika ada unit penghasil HP steam yang bermasalah.

2.1. yaitu : Untuk kehandalan operasi secara keseluruhan dimana jika STG hanya beroperasi tiga unit. maka apabila salah satu STG trip.3. Namun ada beberapa pertimbangan sehingga STG sebaiknya beroperasi empat unit.3.6 MW vs 3 MW (prediksi).Auto start jika terjadi total power failure Kapasitas : 3. Emergency Diesel Generator (EDC) Jumlah Fungsi : 1 unit (51-G-102) : .500 kVA / 22. Namun saat ini konsumsi pada top load hanya 49.000 kW sehingga total kapasitas terpasang sebesar 5 x 22.4 MW. Hal ini dikarenakan listrik untuk infrastructure (perumahan) baru 0. 4. 4.000 kW = 110. disediakan / diperoleh dari PLTU yang terdiri dari empat unit Steam Turbine Generator (STG) masingmasing dengan kapasitas 27.5 MW.6 MW Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .3. Kebutuhan MP steam yang ada pada saat ini lebih tinggi daripada desain (164 ton vs 111.54 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4. dua unit STG lainnya tidak bisa meng-cover muatan yang ada sehingga load shedding akan bekerja dan akhirnya sebagian unit akan trip. sebenarnya STG hanya cukup beroperasi tiga unit. Penyediaan Tenaga Listrik (Unit 51) Kilang minyak PERTAMINA EXOR-1 Balongan dirancang dengan kapasitas pengolahan sebesar 125.Initial start up .000 kW. Untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Dilihat dari konsumsi listrik dan desainnya (dengan pertimbangan efisiensi). Jika STG hanya beroperasi dengan tiga unit maka load ekstraksi dan load letdown (HPS ke MPS) mendekati maksimum terutama pada saat RCC start up yang membutuhkan ekstra MP steam sehingga fleksibilitas suplai MP steam sangat terbatas.000 BPSD. Steam Turbine Generator Jumlah Fungsi : 5 unit (STG A/B/C/D/E) : Penghasil energi listrik Kapasitas : 22 MW per unit STG Penggerak : Steam (HPS) Turbine Tipe : Extraction (MP Steam) Konsumsi energi listrik menurut desain adalah 53.5 ton desain).

Namun sejak awal tahun 1995. Dari pengalaman sebelumnya.) + 420 Nm3/jam (Gas) : 700 Nm3/jam (Gas) : 2 buah : 41. Namun dalam actual operasinya konsumsi gas N2 bervariasi antara 600 – 2. Petroleum hari Senin dilakukan auto start dan tes operasi tanpa beban maupun dengan beban kurang lebih selama 30 menit.4. apakah aircompressor di RCC atau air compressor di RCC trip atau ada peningkatan pemakaian instrument air / service air. air compressor hanya beroperasi dua unit (sesuai desain). Konsumsi gas N2 sesuai desain adalah 250 Nm3/jam.55 Laporan Kerja Praktek PT Britishmaka setiap Indonesia Untuk lebih menjamin fungsi EDG bekerja dengan baik. 4. Masalah akan timbul jika ada compressor yang tidak stand by (rusak.4.1. 4. air compressor selalu beroperasi dengan tiga unit dan satu unit standby.500 Nm3/jam Pada awal operasinya. Gas Jumlah storage Kapasitas / storage : 2 unit (2 train) : Max.4. kebutuhan gas N2 yang tinggi adalah pada saat unit-unit proses start up (referensi pada waktu initial start up.000 Nm3/jam sehingga kedua train Nitrogen Plant harus beroperasi secara kontinyu. Instrumentasi Air dan Service Air System (Unit 58) Jumlah Air Compressor Jumlah Air Dryer Kapasitas per Dryer : 4 unit (2 turbin + 2 motor) : 2 unit : 4.820 Nm3/jam Kapasitas per Compressor : 3.2. Nitrogen Plant (Unit 59) Jumlah Kapasitas / train Maks. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .5 m3 Masing-masing train dilengkapi dengan 1 tangki produksi dan 1 unit penguap N2 cair. program maintenance) dan pada saat yang bersamaan ada compressor yang trip. Penyediaan Udara Tekan 4. dibutuhkan suplai N2 liquid 32 x 6 ton). Liquid : 100 Nm3/jam (Liq.

56 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4.1. Fasilitas Unloading Crude Oil b. • SBM 150000 Dead Weight Ton (DWT) Milik PERTAMINA UEP III yang digunakan untuk loading crude oil hasil produksi PERTAMINA UEP III (2 kali sebulan) dan untuk membongkar crude oil sebagai feed CDU di PERTAMINA UP-VI (6 kali sebulan). Fasilitas Marine (Unit 41) Merupakan fasilitas penyandaran kapal tanker guna mendatangkan crude oil sebagai feed dan penyaluran hasil produksi dari unit-unit proses di PERTAMINA RU-VI yang berbentuk minyak hitam. Juga Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Fasilitas Loading Gas Oil PERTAMINA RU-VI memiliki empat buah dermaga Single Buoy Mooring (SBM) yang digunakan untuk loading hasil produksi yang berbeda pada setiap SBM dan salah satunya digunakan khusus untuk pembongkaran crude oil yang didatangkan sebagai feed unit proses di PERTAMINA RU-VI Balongan.5. • SBM 35000 DWT Fasilitas milik PERTAMINA UPPDN III yang digunakan untuk pembongkaran produk gasoline. kerosene. • SBM 17500 DWT Baru dibangun oleh PERTAMINA RU-VI Balongan dan akan digunakan untuk pengapalan produk minyak hitam. Fasilitas Offsite Fasilitas offsite berfungsi untuk mengadakan dan menyediakan feed untuk tiap unit proses serta menampung hasil produksi dari unit-unit proses tersebut. dan gas oil ke tangki penimbunan UPPDN III untuk mengapalkan kelebihan produk gasoline serta memenuhi kebutuhan Depot Balongan dan Plumpang. • CBM 6500 DWT Conventional Buoy Mooring milik PERTAMINA UPPDN III sebagai tempat penyandaran kapal tanker yang membongkar IDF ke tangki penimbunan PERTAMINA UPPDN III. Fasilitas Loading Gasoline c. antara lain IDF dan Fuel Oil / Decant Oil. Unit peralatan pada fasilitas offsite PERTAMINA RU-VI ini terbagi dalam beberapa unit yang masing-masing mempunyai fungsi yang saling berkaitan. baik intermediate product maupun finished product. Unit ini meliputi : a.5. 4.

5. c. Tank farm yang berfungsi sebagai penampang umpan. Kerosene. Sphrical Tank yang berfungsi menyimpan LPG. Fasilitas Tangki (Unit 42) Yaitu sarana tangki penampung bahan beserta kelengkapannya (blending. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .2. b. Sedangkan yang lainnya adalah tangki intermediate (umumnya mempunyai kode 42-T-2XX) yang berfungsi sebagai tangki penampung produk setengah jadi ex-unit proses dimana bahan tersebut merupakan komponen untuk mendapatkan produk jadi. produk. Fasilitas Pencampuran (Blending Facility) Fungsi sarana ini adalah untuk mencampur beberapa komponen (umumnya berupa intermediate) menjadi produk jadi yang mempunyai spesifikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku atau sesuai permintaan pasar. Tangki penampung terdiri dari beberapa jenis. dan perpipaan) dan batas areanya masih di dalam kilang. Fasilitas Tangki Penampung Tangki penampungan bahan baku (dalam hal ini crude dan feed) untuk unit proses selain DTU berupa enam buah tangki. Unit ini dilengkapi beberapa sarana tangki. DTU dan AHU. Floading Roof Tank yang berfungsi untuk menampung crude ringan seperti Duri. Cone Roof Tank yang berfungsi untuk menyimpan black product. injeksi bahan kimia. 2. Komponen blending untuk masing-masing produk antara lain : a. Untreated LCO. antara lain : a. pompa. naphta. 4. DCO merupakan hasil blending dari Raw Decant Oil. metering.57 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia direncanakan akan dimanfaatkan untuk pengapalan gas oil dan kerosene hasil produksi dari PERTAMINA RU-VI selama fasilitas pipanisasi belum siap digunakan. yaitu masing-masing empat buah tangki untuk Duri Crude (42-T-101 A/B/C/D) dan dua buah tangki untuk Minas Crude (42-T-101 A/B). b. dan Gas Oil. RCC Naphta. Atmospheric Residue. dan fasilitas blending semuanya dihubungkan dengan rumah pompa sebagai fasilitas penyalur umpan maupun produk melalui system perpipaan. dan Polygasoline. yaitu : 1. Gasoline (premium) merupakan hasil blending dari butane. seperti residue dan DCO. Minas crude dan untuk menampung hasil produksi seperti premium dan kerosene.

LPG merupakan hasil blending dari blending propane. Pipeline (Unit 43) Merupakan unit perpipaan yang berfungsi untuk penyaluran hasil produksi dari unitunit proses yang ada di PERTAMINA RU-VI menuju semua jalur perpipaan SBM maupun penyaluran ke PERTAMINA UPPDN III baik yang ke Depot Balongan maupun yang melalui fasilitas pipanisasi Jawa untuk Depot Plumpang. mixed LPG ex Unit 20.3. Kerosene. Industrial Diesel Oil (IDO) merupakan hasil blending HT LCO. Propylene Metering System digunakan untuk perhitungan volume propylene. Saat ini yellow dye tidak pernah ditambahkan karena sudah sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan sedangakn red dye masih ditambahkan untuk pewarna produk premix 94 seminimal mungkin asalkan warna merah sudah memenuhi spesifikasi. Hasil perhitungan volume tersebut akan dikonversi menjadi perhitungan neraca massa. 3. dan British Petroleum Indonesia c. yaitu DCO dan IDF. Crude Oil Metering System digunakan untuk perhitungan volume crude oil yang ditransfer dari kapal menuju tangki penampung. Red Dye dan Yellow Dye Red Dye yang ditambahkan berfungsi untuk member warna pada produk premix ON 94. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 4. Fasilitas tersebut terdiri dari : a. butane. Odorant Ditambahkan dalam produk LPG untuk member bau khas agar jika terjadi kebocoran LPG dapat dideteksi dengan cepat. Black Oil Metering digunakan untuk perhitungan volume Black Oil.58 Laporan Kerja Praktek PT dari HT Gas Oil. Kadar odorant dalam LPG yang diijinkan adalah 50 ml/US gallon.5. Kerosene dan Gas Oil Metering digunakan untuk perhitungan volume gasoline. d. 4. d. Fasilitas Injeksi Bahan Kimia a. b. c. sedangkan Yellow Dye ditambahkan untuk memberikan warna kuning pada produk gasoline premium ON 88. Fasilitas Pengukuran (Metering System) Fasilitas ini digunakan untuk melakukan perhitungan volume bahan yang akan masuk atau keluar kilang Balongan dengan bantuan analisa density dan specific gravity. b.

Natural Gas dari UEP III (NNF) Penggunaan gas bakar di kilang RU-VI adalah untuk keperluan-keperluan sebagai berikut : a. Namun untuk mempertahankan kehandalan suplai fuel oil. Propylene dari ITP (NNF) c. dibutuhkan fuel gas (natural gas) dari UEP III relative tinggi (38 MMSCFD vs 16.59 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4. Fuel Oil System Sistem bahan bakar minyak (fuel oil system) dirancang untuk mengumpulkan bermacam-macam sumber fuel oil dan didistribusikan ke semua user di dalam refinery.6. Sistem Bahan Bakar Minyak (Fuel Oil System) 1. Refinery off gas b.5 MMSCFD kontrak kebutuhan harian RU-VI).1. Gas bakar di unit dan fasilitas proses Pada saat unit-unit prose dari start up. Fuel System Terdapat dua unit bahan bakar. Jumlah tangki Fuel Oil Pump : 2 buah (62-T-201 A/B) : 3 unit (62-P-301 A/B/C) (2 turbin + 1 motor) Dilihat dari kebutuhan fuel oil.7 m3/jam cukup hanya satu yang beroperasi. sebenarnya fuel oil pump yang mempunyai kapasitas 54. Gas umpan di Hydrogen Plant b. Fuel Gas System Sistem bahan bakar gas (fuel gas system) dirancang untuk mengumpulkan berbagai sumber gas bakar dan mendistribusikannya ke kilang sebagai bahan bakar dan bahan baku Hydrogen Plant. dioperasikan dua buah pompa sedangkan satu pompa auto standby. Sumber Fuel Gas : a. Sistem Bahan Bakar Gas (Fuel Gas System) b. Masalah yang sering timbul pada fuel oil pump ini adalah mechanical Kapasitas per tangki : 3. Unit Penunjang (ANCILLARIES COMMON) 4.6. yaitu : a.000 m3 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . yaitu sebanyak 20 m3/jam. LPG. 2. Untuk itu dibutuhkan komunikasi yang baik antara RU-VI dengan UEP III karena menyangkut kebutuhan natural gas ke konsumen gas dalam jaringan distribusi natural gas se-Jawa Barat.

Gas Oil untuk start up refinery Konsumen fuel oil : a.60 Laporan Kerja Praktek PT decant oil. Pemakaian caustic soda 10 0Be. Pemakaian caustic soda 20 0Be. pencair dan penyuplai. Atmospheric Residue juga digunakan sebagai fuel oil. penyimpan. Untuk pemakain pada unit-unit ini caustic soda ditampung di tangki 64-T-102 dengan kapasitas 5. digunakan di Gasoline Treatment (Unit 18) dan Catalytic Condensation Unit (Unit 20). Konsumsi dan pemakaian caustic soda : 1. Pemakaian khusus caustic soda pada unit 14. Sistem ini dirancang untuk larutan caustic soda 20 0Be dan 10 0Be dalam system tersebut. 2. dan 23 hanya sekali dalam satu tahun.5 kg/hari. Kebutuhan ini dipertimbangkan untuk system desain. Atmospheric Residue dari CDU c. PERTAMINA RU-VI Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Sumber-sumber fuel British Petroleum Indonesia seal sering bocor apabila fuel yang dipompakan adalah jenis oil : a. 4.2. Caustic Soda (Unit 64) Sistem caustic soda merupakan salah satu unit di PERTAMINA RU-VI Balongan yang terdiri dari pelarut soda. dan Dimineralized Plant (Unit 55). Untuk pemakaian pada unit-unit ini caustic soda ditampung di tangki 64-T-101 dengan kapasitas 20 kg/hari. Limbah yang dihasilkan tersebut tidak boleh langsung dibuang ke lingkungan sekitarnya karena akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Decant Oil dari RCC b. Crude Charge Heater di CDU b.7. Hydrogen Plant (Unit 22). LPG Treatment (Unit 17). 3. pada umumnya digunakan di unit sour water stripper (Unit 24). kilang RU-VI menghasilkan limbah sebagai buangan yang tidak digunakan. Boiler di Utility Facility Prioritas fuel oil : Decant oil akan digunakan sebagai fuel oil pada normal operasi pada saat shut down ARHDM Unit. 12.6. 4. Dedicated Superheater di RCC c. Pengolahan Limbah Dalam operasinya.

d. Sumur monitor di dalam kilang pada periode awal. e. 4/1982 Mengenai ketentuan pokok pengolahan dan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). c. Dalam RU-VI sendiri terdapat Seksi Lindungan Lingkungan yang bertugas : a. b. Melakukan audit lingkungan i. Desa Limbangan dengan periode dua kali setahun pada musim hujan dan kemarau. Kualitas air laut radius 200 meter dengan periode satu bulan sekali. Memprogram Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan. Air buangan. ARHDM. Limbah padat. Melakukan pemantauan-pemantaun udara emisi pada stak CDU. Pelaksanaan penanganan limbah ini berdasarkan pada: a. f. pengukuran kandungan logam pada pertengahan dan akhir musim hujan. Incenerator (unit 63) dengan periode dua kali setahuan pada musim hujan dan kemarau. Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping. Desa Balongan. 29/1986 Mengenai ketentuan AMDAL yang dikeluarkan oleh KLH. Desa Tegal Sembrada. RKL. Boiler. Udara ambient sekitar tangki kilang RU-VI dengan radius 2.000 meter. PPLI Bogor h. keluaran dari unit pengolahan limbah. yaitu Desa Majakerta. pertengahan dan akhir musim hujan. Desa Sakaurip. dan RPL RU-VI. b. Pengolahan limbah padat B3 yang dikirim pada PT. Sulphur Plant. b. Hydrogen Plant. HTU. RCC.61 Laporan Kerja Praktek PT British faktor keselamatan dan Balongan juga memperhatikan faktor lindungan lingkungan selain Petroleum Indonesia kesehatan kerja. Pengelolaan Good House Keeping Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . PP No. UU No. Penerapan SML ISO 14001 Kegiatan Lindungan Lingkungan sebelum menerapkan SML ISO 14001 adalah mengikuti ketentuan AMDAL. g. Oleh karena itu kilang ini melakukan kegiatan pengolahan limbah sehingga air buangan maupun gas yang keluar dari kawasan industry tersebut telah memenuhi standar yang telah ditentukan oleh pemerintah. antara lain : a.

Dalam setiap kegiatan industri. Limbah gas. Fungsi : Sewage dan Effluent Treatment Unit dirancang untuk system waste water treatment yang bertujuan untuk memproses buangan seluruh kegiatan dari unit proses dan area pertangkian dalam batas-batas effluent yang ditetapkan untuk air bersih. 2. 3. limbah atau air buangan dari industri.7. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dibagun sewage dan Effluent Water Treatment Unit di PERTAMINA RU-VI ini. 3. Memelihara kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan RU-VI. Mengurangi pengurangan biaya di setiap kegiatan. 2. Limbah padat. Memperoleh kepercayaan dan kepuasan pelanggan yang lebih baik. Sistem Manajemen Lingkungan (SML) merupakan manajemen yang Indonesia melainkan suatu manajemen yang dinamis sehingga perlu dilakukan adaptasi apabila terjadi perubahan di perusahaan yang mencakup sumber daya. Di samping logam berat.1. Diperlukan juga penyesuain di luar perusahaan seperti perubahan perundang-undangan dan system peralatan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi. Kilang RU-VI telah memperoleh pengakuan atas sertifikat SML yang telah diterapkan dan sesuai dengan standar ISO 14001. 4. Limbah cair. air buangan yang keluar dari kawasan industri tersebut harus diolah terlebih dahulu dalam Unit Pengolahan Limbah sehingga air buangan yang telah diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah. proses. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pengolahan Limbah Cair Limbah industri yang dihasilkan oleh industri minyak bumi umumnya mengandung logam-logam berat maupun senyawa yang berbahaya.62 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumtidak statis. Tujuan dan sasaran dalam penerapan SML adalah : 1. 4. Limbah dari RU-VI terdiri dari : 1. minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. dan kegiatan perusahaan. Menjaga hubungan dengan masyarakat yang lebih baik.

pengoksidasi. Konsep yang digunakan dalam proses pengolahan limbah secara biologi adalah eksploitasi kemampuan mikroba dalam mendegradasi senyawa-senyawa polutan dalam air limbah. penetrasi. Sebagai pengolahan sekunder. Pada proses degradasi. dimana diusahakan agar minyak maupun buangan proses dipisahkan secara fisik. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang beberapa metode pengolahan limbah secara biologi dengan segala modifikasinya. 2. flokulant. Proses fisik. Proses mikrobiologi. Oleh karena itu eksploitasi kemampuan mikroba untuk mengubah Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dan sebagainya yang dimaksudkan untuk menetralkan zat kimia berbahaya di dalam air limbah. senyawa-senyawa tersebut akan berubah menjadi senyawasenyawa lain yang lebih sederhana dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Pada proses ini senyawa yang tidak diinginkan diikat menjadi padat dalam bentuk endapan lumpur yang selanjutnya dikeringkan. 3. Sistem ini terdiri dari seksi penampung effluent water dan unit effluent treatment. pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Tujuan pengolahan secara biologi terhadap air limbah adalah untuk menggumpalkan dan memisahkan zat padat koloidal yang tidak mengendap serta untuk menstabilkan senyawa-senyawa organic.63 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Kapasitas : 600 m3/jam dimana kecepatan effluent didesain untuk penyesuaian kapasitas 180 mm/hari curah hujan di area proses dan utility. ini dimaksudkan untuk mengolah buangan air proses yang mempunyai kadar BOD 810 mg/l dan COD 1. Hasil perubahan tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan pada saat berlangsungnya proses pengolahan limbah. Artinya. Proses dalam unit adalah : 1. Proses kimia. dengan menggunakan bahan penolong seperti koagulan. Minyak yang terkandung di dalam buangan air setelah melalui proses ini diperbolehkan kurang lebih 30 ppm.15 mg/l menjadi treated water yang mempunyai kadar BOD 100 mg/l dan COD 150 mg/l dengan menggunakan lumpur aktif (activated sludge) yang merupakan campuran koloni dari mikroba aerobic. merupakan proses akhir dan berlangsung lama dan hanya mengolah senyawa yang sangat sedikit mengandung senyawa logam berbahaya karena pada dasarnya proses ini adalah mengolah bahan organic yang berasal dari zat hidup.

Dissolve Air Floatation (DAF) Untuk memisahkan kandungan solid dan minyak dari air yang berasal dari air buangan (oily water) ex process area dan tank area. Campuran dari separator mengalir ke bak DAF Feed Pump dan dipompakan ke bak floatation. udara dari air plant atau DAF Compressor dilarutkan dalam Pressurized Wash Water. Spesifikasi desain air yang keluar dari DAF Unit adalah mempunyai kandungan minyak maksimum 50 ppm dan solid maksimum. COD. yaitu Oily Water Treatment dan Waste Water Treatment (Unit 63) adalah untuk mengolah air buangan yang terbagi menjadi dua system pengolahan. 2. yaitu : 1. Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan Ammonia. Bila Pressurized Wash Water dihembuskan ke pipa inlet bak floatation pada tekanan atmosfer. udara yang terlarut akan terbesar dalam bentuk gelembung sehingga minyak yang tersuspensi dalam wash water terangkat ke permukaan air. Minyak yang mengapung diambil dengan skimmer dan dialirkan ke bak Floatation Oil. Activated Sludge Section c. Air Floatation Section b. Activated Sludge Unit (ASU) Untuk mengolah secara kimia. dan phenol. BOD. Secara garis besar effluent water treatment di PERTAMINA RU-VI ini dibagi menjadi dua. Dehidrator dan Incenerator Section a. Air Floatation Section Air hujan yang bercampur minyak dari unit proses dipisahkan oleh CPI Separator dan air ballast dipisahkan di API Separator. mengalir ke seksi ini secara gravity. Dalam pressurized vessel. Air bersih dari bak floatation mengalir ke bak Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan minyak dan solid yang tinggi tetapi mempunyai kandungan COD dan BOD yang rendah.64 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum lingkungan senyawa pollutant biasanya dilakukan dengan cara mengoptimumkan kondisi Indonesia untuk pertumbuhan mikroba sehingga tercapai efisiensi yang maksimum. Minyak di dalam bak Floatation Oil dipompakan ke dalam tangki recovery oil. fisika. Unit penjernihan air buangan terdiri dari : a. dan biologi air buangan dari unit proses terutama treated water ex Unit Sour Water Stripper (Unit 24) dan Desalter Effluent Water ex Crude Distillation Unit (Unit 11). sedangkan kandungan minyak dan solid berasal dari Desalter Effluent Water. sebagian campuran dipompakan ke bejana bertekanan (pressurized vessel).

air yang terpisah keluar dari bagian tengah tangki melalui pipa air. Ke dalam bak aerasi ditambahkan nutrient dan dilengkapi dengan aerator untuk mendapatkan lingkungan yang aerob.65 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Impounding Basin. Air umumnya mengendap atau mengapung. tergantung pada perbedaan specific gravity (s. Pembentukan foam pada saat inicenderung menempel pada minyak dalam air sehingga membuat minyak mengapung ke permukaan sebagai buih. Pada waktu tertentu minyak tidak dapat dipisahkan dari air sehingga diberikan zat pengapung pada minyak untuk mengangkat minyak dengan cepat. Air yang tersuspensi. air kotor bersama lumpur dikirim kembali ke bak. Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan yang mengakibatkan udara yang berlebihan dilepas ke atmosfer.g yang sama dengan air akan tersuspensi dalam air dan tidak akan mengapung atau mengendap. b. Treatment secara biologi ini mengurangi dan menghilangkan senyawa-senyawa organic (COD dan BOD). Lumpur yang mengendap dalam bak clarifier dipompakan ke bak thickener. sebagian lumpur dikirim ke bak thickener. Activated Sludge Section Aliran proses penjernihan air dengan CPI Separator secara gravity dan aliran sanitary dengan pompa dialirkan ke Activated Sludge Section. Pemisahan permukaan air dari bak sedimentasi mengalir dari atas Impounding Basin. Pada system ini buih dikumpulkan oleh skimmer. Apabila kualitas air tersebut ternyata off spec. minyak dan sulfit yang terdapat dalam air kotor dihilangkan dalam unit ini. Dehidrator dan Incenerator Section Padatan berupa lumpur yang terkumpul dari Air Floatation Section dan Activated Sludge ditampung dalam sebuah bak penampung. Air proses CPI dan Filtered Dehidrator dicampurkan dalam bak proses effluent dan campuran air ini dipompakan ke pit aeration pada operasi normal dan pada emergency ke pit clarifier melalui rapid mixing pit dan flokulation pit. Minyak yang mempunyai s. Unit ini didesain untuk mengapungkan minyak yang tersuspensi. Ferri Chlorida (FeCl3) dan caustic soda (NaOH) diinjeksikan ke bak flokulation. Bila udara dilarutkan dalam air dengan tekanan dan dilepaskan pada tekanan atmosfer maka kecepatan kelarutan udara berkurang. air tersebut dikembalikan ke bak effluent sedikit demi sedikit untuk dibersihkan dengan normal proses. Setelah perawatan secara biologi. selanjutnya lumpur tersebut dipisahkan airnya dengan bantuan bahan kimia dan alat mekanis berupa centrifuge (alat yang bekerja dengan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Prinsipnya adalah senyawa tersebut menurunkan tegangan permukaan dari minyak tersebut. c. Pemisahan permukaan dari bak clarifier adalah secara overflow ke bak aeration. Air kotor dari sanitary mengalir secara langsung ke bak sanitary.g) minyak dan air.

yakni sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan. sludge juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-recovery ke dalam proses maupun bila dibuang ke lingkungan tidak bisa terurai secara alamiah dalam waktu singkat. 4. 4. Pengolahan Limbah Gas Limbah gas yang dihasilkan dari kilang RU-VI Balongan agar tidak berbahaya dan merusak lingkungan dibakar dalam flare dan selanjutnya dibuang ke udara. di PERTAMINA RU-VI Balongan. Bagian laboratorium berada di bawah bidang unit produksi dan mempunyai tugas pokok sebagai berikut : a. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .3.1. Selain mengandung lumpur/pasir dan air. Proses selanjutnya adalah membakar cake dalam sebuah alat pembakar atau incinerator menjadi gas dan abu pada temperature tinggi (T=8000C).7. Kapasitas desain dehydrator mengolah lumpur (sludge) adalah 5.7.8.2. Untuk mengatasi hal tersebut. sludge dibakar dalam suatu ruang pembakar (incenerator) pada temperature tertentu sehingga lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang ke suatu area tanpa mencemari lingkungan. 4. Cairan hasil pemisahan centrifuge dialirkan melalui bak terbuka menuju PEP di seksi ASU sedangkan padatannya disebut cake dan ditampung pada sebuah tempat yang bernama Hopper (cake hopper). Program Kerja Laboratorium Laboratorium berperan penting di kilang.66 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia memisahkan padatan dan cairan dengan memutarnya dengan kecepatan tinggi).5 m3/jam dan kapasitas pembakaran incinerator adalah 417 kg solid/jam. karena pada bagian inilah data-data tentang raw material dan produk akan diperoleh. Pengolahan Limbah Padat Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industry minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena akan mencemari lingkungan. perlu dilakukan pemusnahan hidrokarbon untuk menghindari pencemaran lingkungan. Dengan data-data yang telah diberikan maka proses produksi akan selalu dapat dikontrol dan dijaga standar mutunya. Dalam usaha tersebut. Laboratorium 4. Sebagai control kualitas bahan baku. apakah sudah memenuhi persyaratan sehingga memberikan hasil yang diharapkan.8.

termasuk materi kimia yang digunakan di kilang RU-VI Balongan. 3. Seksi Analitika dan Gas Seksi ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat kimia dari bahan baku. serta bahan kimia yang digunakan. chemical agent. analisa katalis yang digunakan dalam reactor. Mengadakan penelitian dan pengembangan jenis crude oil lain selain crude oil dari Duri dan Minas yang memungkinkan untuk diolah di PERTAMINA UP-VI Balongan.67 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleumditetapkan. Di dalam pelaksanaan tugas. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . RCC. 2. Utilitas : air. Mengadakan analisis gas masuk dan gas buang dari masing-masing alat (jika diperlukan). bagian laboratorium dibagi menjadi tiga. dan juga analisis gas stream. dan finished product. dan utilitas termasuk pencobaan katalis. Mengadakan analisis sample dan analisis contoh air secara instrument dan kimiawi agar didapatkan hasil yang akurat. Sebagai control kualitas produk. dan katalis yang digunakan. atau ETBE. 2. fuel gas. MTBE. Seksi Teknologi (TEKNO) Seksi TEKNO ini mempunyai tugas antara lain : a. Mengandung kelancaran operasional semua unit proses. Mengadakan analisis sample serta analisis secara instrument dan kimiawi terhadap contoh minyak sesuai dengan metode tes. Intermediate dan finished product. Aliran produk yang dihasilkan dari AHU. b. d. b. Mengadakan evaluasi Crude Oil dari Duri dan Minas yang dipakai sebagai raw material. e. yaitu : 1. Melakukan analisis bahan baku. intermediate product. c. Mengadakan blending terhadap fuel oil yang dihasilkan agar dapat menghasilkan oktan yang besar dengan proses blending yang singkat tanpa penambahan zat kimia lain seperti TEL. dan unit-unit lain. ITP. stream/finished product. Hydrogen Plant. Mengadakan penelitian terhadap Lindungan Lingkungan (pembersihan air buangan). 4. b. apakah sudah sesuai dengan standar yang Indonesia c. c. CDU. Pemeriksaan di laboratorium meliputi : 1. serta chemical material dengan menggunakan metode tes. Adapun tugas yang dilakukan. antara lain : a. maupun dari tangki. Crude Oil terutama Crude Oil dari Duri dan Minas.

68 Laporan Kerja Praktek PT British produk gas yang terjadi d. Mengadakan analisis sample gas dari kilang dan utilitas serta Petroleum Indonesia

berupa LPG, propylene.
e. Mengadakan analisis sample non rutin shift sample stream gas, LPG, propylene, fuel

gas, serta hydrogen.
f. Melaksanakan sample dan analisis secara sample non rutin dari kilang dan offsite.

3. Seksi Pengamatan Seksi ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat fisis bahan baku, intermediate product, dan finished product. Sifat-sifat yang diamati adalah : a. Distilasi b. Specific Gravity c. Reid Vapor Pressure d. Flash and Smoke Point e. Contradson Carbon Residue f. Kinematic Viscosity g. Cooper Strip and Silver Strip h. Kandungan air 4. Alat-Alat Laboratorium a. Analitika - Spectrophotometer - Polychromator - Infra Red Spectrophotometer - Spectrofluorophotometer b. Gas Chromatography 5. Prosedur Analitika 4.8.2. Analitika Bahan yang dianalisis setiap hari (routine shift sample) adalah analisis air dan minyak. Adapun prosedur analisis yang digunakan, antara lain :
a. Atomic Absorbtion Spectrophotometric (AAS) yang digunakan untuk menganalisi

logam-logam yang mungkin ada di dalam air. Alat berupa Spectrophotometer yang dilengkapi dengan detector dan hasil dari analisis akan dilihat dalam layar monitor

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

69 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum gelombang computer. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada besarnya daya serap Indonesia

electromagnetic dari sample yang dihasilkan, yaitu sampai dengan 860 A.
b. Polychromator untuk menganalisis semua metal yang ada dalam sampel air maupun

zat organic.
c. Infra Red Spectrophotometer (IRS) untuk menganalisis kandungan minyak dalam

sampel air, juga analisis aromatic minyak berat.
d. Spectrofluorophotometer untuk menganalisis kandungan minyak dalam water slope

yang dihasilkan. 4.8.3. Gas Chromatography Salah satu alat yang digunakan dalam analisis gas adalah gas chromatography yang khusus untuk menganalisis gas CO dan CO2 dengan range 0,01 – 0,05 ppm. Gas chromatography ini menggunakan system multikolom yang dilengkapi dengan beberapa valve dan solenoid valve yang digerakkan secara otomatis oleh program relay. Detektor yang digunakan adalah Flame Ionisation Detector, sedangkan prosedur analisis lain yang digunakan dalam laboratorium, antara lain : a. Titrasi b. Distilasi c. Chromatography d. UOP Standard e. ASTM Standard f. Volumetri g. Viscosimeter h. Potensiometer i. Microcolorimeter j. Gravimetri k. Flash Point Tester

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

70 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

BAB V DASAR TEORI 5.1 Pompa 5.1.1 Pengertian Umum Pompa Pompa adalah suatu peralatan mekanik yang digunakan untuk mengangkat fluida dari suatu tempat yang datarannya rendah ke tempat yang datarannya tinggi dengan penekanan atau pembangkitan beda tekanan. Prinsip kerja pompa adalah mengubah kerja poros menjadi kerja mekanik fluida (energy kinetic menjadi energy tekanan), sehingga tekanan rendah pada sisi hisap (suction) pompa dan tekanan yang tinggi pada sisi keluar (discharge). Agar bisa bekerja pompa membutuhkan atau mengambil daya dari mesin penggerak pompa. Di dalam roda jalan fluida mendapatkan percepatan sedemikian rupa sehingga fluida tersebut mempunyai kecepatan mengalir keluar dari sudu-sudu roda jalan. Kecepatan fluida ini selanjutnya akan berkurang dan berubah menjadi tinggi kenaikan (H) di sudu-sudu pengarah atau rumah spiral pompa. Penggunaan pompa sangat luas berdasarkan kebutuhan tinggi kenaikan dan kapasitas yang berbeda-beda. Kadang pemakai harus memesan pompa khusus terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi kapasitas, tinggi head yang diinginkan, serta jenis fluida yang dipompa. 5.1.2 Klasifikasi Pompa 1. Menurut Prinsip Perubahan Bentuk Energi yang Terjadi pada Fluida • Pompa Perpindahan Positif Pompa perpindahan positif dikenal dengan caranya beroperasi: cairan diambil dari salah satu ujung dan pada ujung lainnya dialirakan secara positif untuk setiap putarannya. Pompa perpindahan positif digunakan secara luas untuk pemompaan selain air, biasanya fluida kental. Pompa perpindahan positif selanjutnya digolongkan berdasarkan cara perpindahannya: Pompa Reciprocating jika perpindahan dilakukan oleh maju mundurna jarum piston. Pompa reciprocating hanya digunakan untuk pemompaan cairan kental dan sumur minyak.

Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

Menurut Jenis Impeler • Pompa Sentrifugal Pompa ini mempunyai konstruksi sedemikian rupa sehingga aliran fluida yang keluar dari impeller akan melalui sebuah bidang tegak lurus poros pompa. gear luar. labe. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Poros ditumpu oleh dua buah bantalan (bearing). Pompa rotary selanjutnya digolongkan sebagai gear dalam.71 Laporan Kerja Praktek PTgaya putaran sebuah Indonesia British Petroleum gear. sebuah paking atau perapat dipasang pada bagian rumah yang ditembus oleh poros untuk mencegah air bocor keluar atau udara masuk ke dalam pompa. Energy yang diberikan kepada fluida adalah energy kecepatan. Pada seluruh pompa jenis perpindahan positif. sehingga jika pipa pengantarnya tersumbat. 2. Pompa-pompa tersebut digunakan untuk layanan khusus dengan kondisi khusus yang ada di lokasi industri. cam Pompa Rotary jika perpindahan dilakukan oleh - atau baling-baling dalam sebuah ruangan bersekat pada casing yang tetap. Impeller dipasang pada satu ujung poros dan pada ujung yang lain dipasang kopling untuk meneruskan daya dari penggerak. sejumlah cairan yang sudah ditetapkan dipompa setelah setiap putarannya. dan balingbaling dorong. • Pompa Perpindahan non Positif Adalah pompa dengan ruangan kerja yang tidak berubah-ubah saat pompa bekerja. dll. Pompa yang termasuk jenis ini adalah pompa sentrifugal dan pompa aksial. sehingga fluida yang berpindah karena adanya perubahan kecepatan yang kemudian diubah lagi menjadi energy dinamis di dalam rumah itu sendiri. tekanan akan naik ke nilai yang sangat tinggi dimana hal ini dapat merusak pompa.

1 pompa sentrifugal dan bagian-bagiannya • Pompa Aliran Campur Pada pompa aliran campur secara diagramatik aliran yang meninggalkan impeller akan bergerak becampur pada arah aksial dan radial. kecuali bentuk impeller dan diffuser keluarnya. Menurut Bentuk Rumah • Pompa Volut Sebuah pompa sentrifugal dimana zat cair dari impeller secara langsung dibawa ke rumah volut. aliran zat cair yang meninggalkan impeller akan bergerak sepanjang permukaan silinder ke luar.72 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Gbr 4. ditumpu oleh bantalan dalam. Konstruksi pompa ini mirip dengan pompa aliran campur. • Pompa Difuser Pompa ini adalah sebuah pompa sentrifugal yang dilengkapi dengan sudu diffuser di sekeliling luar impelernya. Bantalan luar terdiri dari sebuah bantalan aksial dan sebuah bantalan radial. Karena sudu-sudu diffuser. Gbr 4. Salah satu ujung poros dimana impeller dipasang. • Pompa Aliran Aksial Pada pompa aliran aksial.2 aliran pada pompa aksial 3. yang pada umumnya berupa bantalan gelinding. Untuk bantalan dalam dipakai jenis bantalan luncur yang dilumasi gemuk. Konstruksi bagian-bagian lain pompa ini adalah sama dengan pompa volut. disamping memperbaiki efisiensi pompa juga menambah kokoh rumah. Pada ujung yang lain dipasang kopling dengan sebuah bantalan luar di dekatnya. Maka konstruksi ini sering dipakai Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

yaitu tidak mempunyai tutup depan. Adapun impeller yang dipergunakan disini adalah jenis setengah terbuka. • Pompa Aliran Jenis Volut Pompa mempunyai impeller jenis aliran campur dan sebuah rumah volut. Head total pompa ini merupakan jumlahan dari head yang ditimbulkan oleh masing-masing impeller sehingga relative tinggi. Poros ini dipegang dibeberapa tempat sepanjang Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pompa ini juga sering dipakai sebagai pompa bertingkat banyak karena aliran dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dapat dilakukan tanpa menggunakan rumah volut. pompa aliran campur dan pompa aksial sering dibuat dengan poros tegak. sehingga pompa ini sesuai untuk air limbah. Menurut Letak Poros • • Pompa Jenis Mendatar Pompa ini mempunyai poros dengan posisi mendatar. disini tidak dipergunakan sudu-sudu diffuser melainkan dipakai saluran yang lebar untuk mengalirkan zat cair. 4. Dengan demikian pompa tidak mudah tersumbat oleh benda asing yang terhisap. 5. • Pompa Bertingkat Banyak Pompa ini menggunakan beberapa impeller yang dipasang secara berderet (seri) pada satu poros. Pompa Jenis Poros Tegak Pompa ini mempunyai poros dengan posisi tegak. Poros pompa yang menggerakkan impeller dipasang sepanjang sumbu pipa kolom dan dihubungkan dengan motor penggerak pada lantai. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini. Menurut Jumlah Tingkat • Pompa Satu Tingkat Pompa ini hanya mempunyai satu impeller saja. Rumah pompa semacam ini digantung pada lantai oleh pipa kolom yang menyalurkan zat cair dari pipa ke atas.73 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pada pompa besar dengan head tinggi. Zat cair yang keluar dari impeller pertama dimasukkan ke impeller berikutnya dan seterusnya hingga impeller yang terakhir. Head total yang ditimbulkan hanya berasal dari satu impeller tetapi rendah.

poros dapat diselubungi oleh pipa selubung yang berfungsi juga sebagai penyalur air pelumas. disini poros yang menggerakkan impeller dipasang menembus kedua sisi rumah dan impeller. Maksudnya adalah apabila terjadi pemuaian pada rumah karena kenaikan temperature. Pompa ini mempunyai konstruksi yang relative sederhana serta menguntungkan sebagai bejana bertekanan karena bidang belahan tidak mudah bocor. dan ditumpu oleh bantalan di luar rumah karena itu poros menjadi lebih panjang. Dengan demikian sumbu poros pompa akan tetap segaris dengan sumbu poros motor penggerak. Pompa Jenis Tumpuan Sumbu Pompa jenis ini mempunyai kaki yang diperpanjang sampai setinggi sumbu poros untuk menumpu rumah. Namun tekanan yang bekerja pada masing-masing sisi impeller tidak sama sehingga akan timbul gaya aksial ke arah sisi isap. Menurut Sisi Masuk Impeler • Pompa Isapan Tunggal Pada pompa ini fluida masuk dan sisi impeller konstruksinya sangat sederhana sehingga banyak dipakai. Pompa Jenis Khusus Pompa jenis ini diantaranya adalah: • • Pompa dengan motor benam Pompa motor berselebung Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . • Pompa Isapan Ganda Pompa ini memasukkan fluida dari kedua sisi impeller. tinggi sumbu poros tidak berubah. Jadi bagian yang berputar dapat diangkat setelah rumah atas dibuka. 9.74 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia pipa kolom oleh bantalan (yang sering terbuat dari karet). 6. Menurut Belahan Rumah • Pompa Jenis Belahan Mendatar Pompa jenis ini mempunyai rumah yang dapat dibelah menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dan bagian atas oleh bidang mendatar yang melalui sumbu poros. 7. 8. • Pompa Jenis Belahan Radial Rumah pompa jenis ini terbagi oleh sebuah bidang yang tegak lurus poros.

• Bantalan (Bearing) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Gbr 4.1. kaca. Macam-macam impeller antara lain sebagai berikut: 1. impeller ini dapat dibuat dari baja tahan karat. Rumah pompa ini berfungsi untuk memberikan arah aliran dari impeller dan mengubah kecepatan menjadi tekanan. • Poros (Shaft) Poros berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan putaran dari motor penggerak ke 51mpeller dan juga sebagai dudukan impeller.3 impeler pompa • Rumah Pompa Rumah pompa terbuat dari besi tuang. 2.3 Bagian-Bagian Utama Pompa • Impeller Impeller biasanya terbuat dari besi cord an bronz. Impeller terbuka Impeller terbuka adalah impeller yang mempunyai baling-baling yang dipasang pada pusat poros dengan dinding yang relative lebih kecil. Untuk fluida khusus. Impeller tertutup Impeller tertutup adalah impeller yang mempunyai selubung atau dinding pada kedua sisinya untuk menutup aliran fluida. Rumah pompa sentrifugal berupa rumah terbelah.75 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • • • Pompa proses Pompa pasir Pompa bebas sumbatan 5. atau bahan-bahan lain yang sesuai dengan keperluan. atau diagonal. timah hitam. Rumah pompa merupakan tempat dimana komponenkomponen pompa lainnya terpasang. impeler.

sehingga menyebabkan cairan berputar. Baling-baling impeller meneruskan energy kinetic ke cairan. atau dalam hal jet pump oleh tekanan buatan.5 Kavitasi Kavitasi adalah gejala menguapnya zat cair yang sedang mengalir. 5.1. • Perapat (mechanical seal) Berfungsi untuk mencegah kebocoran antara poros dan casing yang akan mengakibatkan pengurangan tekanan pada pompa. Cairan meninggalkan impeller pada kecepatan tinggi. Tetapi jika tekanan direndahkan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . karena tekanannya berkuran sampai dibawah tekanan uap jenuhnya. air pada tekanan 1 atmosfer akan mendidih dan menjadi uap jenuh pada temperatur 100 oC.76 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Berfungsi untuk meredam atau menahan beban dari shaft dan bagian-bagian yang berputar dengan bantuan minyak pelumas. Gbr 4.4 Prinsip Kerja Pompa Sentrifugal Pompa sentrifugal merupakan salah satu peralatan yang paling sederhana dalam berbagai proses pabrik. Misalnya. Gambar 4.1. Volute atau cincin diffuser stasioner mengubah energy kinetic menjadi energy tekanan. Impeller dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal turbin digunakan cincin diffuser stasioner.4 aliran fluida pada pompa sentrifugal 5.4 memperlihatkan bagaimana pompa jenis ini beroperasi: • • • Cairan dipaksa menuju ke sebuah impeller oleh tekanan atmosfer.

Jika tekanannya cukup rendah maka temperatur kamarpun akan mendidih. maka pompa akan bekerja dengan kapasitas aliran yang berlebihan pula. Selain itu performasi pompa akan menurun secara tiba-tiba. Bila head total pompa sangat berfluktuasi makan pada keadaan head terendah harus diadakan pengamanan penuh terhadap terjadinya kavitasi. Tempat-tempatnya yang bertekanan rendah atau yang berkecepatan tinggi di dalam aliran. yaitu: 1. sebaiknya diambil pipa yang berdiameter satu nomor lebih besar untuk mengurangi kerugian gesek. Karena itu head total pompa harus ditentukan sedemikian hingga sesuai dengan yang diperlukan pada kondisi operasi yang sesungguhnya.77 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia maka air akan mendidih pada temperature yang lebih rendah. Jika pompa dijalankan terus menerus dalam jangka lama. Jika terpaksa dipakai pipa isap panjang. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghindari kavitasi. sangat rawan terhadap terjadinya kavitasi. Peristiwa ini disebut erosi kavitasi sebagai akibat dari tumbukan gelembung-gelembung uap yang pecah pada dinding secara terus menerus. maka akan timbul suara berisik dan getaran. Permukaan dinding akan termakan sehingga menjadi berlubang-lubang. Hal ini dapat terjadi pada zat cair yang sedang mengalir di dalam pompa maupun di dalam pipa. Sama sekali tidak dibenarkan untuk memperkecil laju aliran dengan menghambat aliran di sisi isap. 2. Namun dalam beberapa hal terjadi sedikit kavitasi yang tidak mempengaruhi performasi Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . maka akan timbul gelembung-gelembung uap zat cair. Pipa isap harus dibuat sependek mungkin. 3. maka permukaan dinding saluran di sekitar aliran yang berkavitasi akan mengalami kerusakan. Jika pompa mengalami kavitasi. Apabila zat cair mendidih. Pada pompa misalnya yang mudah mengalami kavitasi akan timbul bila tekanan isap terlalu rendah. Jika pompa mempunyai head total yang berlebihan. 5. sehingga kemungkinan terjadi kavitasi menjadi lebih besar. sehingga pompa tidak dapat bekerja dengna baik. Ketinggian letak pompa terhadap permukaan zat cair yang dihisap harus dibuat serendah mungkin agar diambil pipa yang berdiameter satu nomor lebih besar untuk mengurangi agar head isap statis menjadi rendah pula. 4.

yang merupakan jarak tinggi fluida di atas dan tinggi fluida di bawah. Dalam British Petroleum Indonesia sering tidak dapat dihindari sebagai akibat dari hal ini perlu dipilih bahan impeller yang tahan erosi. W = Energi aliran (Nm) m = massa fluida (kg) g = percepatan gravitasi (m/s2) z = perbedaan ketinggian (m) p = perbedaan tekanan (N/m2) ρ = massa jenis fluida (kg/m3) v = kecepatan aliran fluida (m/s) Persamaan di atas dibagi dengan massa (m) dan percepatan gravitasi (g).6 Rumus-Rumus Pompa Sentrifugal • Hukum kekekalan Energi/Persamaan Bernoulli Pada suatu aliran di dalam pipa diambil suatu selisih ketinggian z. 5. • Head Head adalah tinggi energy angkat atau dapat dinyatakan sebagai satuan energy pompa per satuan berat fluida.78 Laporan Kerja Praktek PT pertimbangan ekonomis. maka akan didapatkan persamaan Bernoulli: Dimana H adalah head/ketinggian/energy angkat. Maka menurut Bernoulli besar energy aliran tersebut adalah: Dimana.1. sehingga berdasarkan persamaan Bernoulli di atas didapatkan persamaan: Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

79 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Dimana: H P discharge P suction ρ g • = Head (m) = Tekanan sisi buang (N/m2) = Tekanan sisi isap (N/m2) = massa jenis fluida (kg/m3) = percepatan gravitasi (m/s2) Daya Pompa Daya pompa adalah daya yang harus disediakan oleh mesin penggerak pompa (motor/turbin) untuk memindahkan fluida. Daya dapat ditulis dengan persamaan: Dimana. T = Besarnya torsi (Nm) N = putaran poros (rpm) P = daya pada poros (W) • Daya Fluida (Pv) Daya fluida adalah daya pompa yang bisa digunakan dan dipindahkan ke fluida. Pv = daya fluida (kW) Q = kapasitas yang dihasilkan pompa (m3/s) H = Head total (m) ρ = massa jenis fluida (kg/m3) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Dimana.

1. Tingkat jumlah jam pengoperasian unit / peralatan yang maksimal.1 Pengertian dan Tujuan Maintenance Falsafah pemeliharaan adalah suatu wawasan dalam pengurusan kegiatan-kegiatan pemeliharaan diberbagai industri pada umumnya termasuk industri migas ataupun petrokimia.2 Maintenance 5. dan ekonomis sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Metode ini kurang cocok untuk mesin- Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . 5. agar peralatan tersebut berfungsi dengan baik. efisien. Tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan maintenance adalah: 1.2 Strategi Pemeliharaan Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pemeliharaan setiap equipment memerlukan strategi pemeliharaan untuk peralatan-peralatan tersebut. 5. unit pemadaman kebakaran dan seterusnya. Pemeliharaan adalah kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang. Metode ini disebut juga sebagai “Failure Based Maintence” atau perawatan berdasarkan kerusakan.2. 2.80 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia g = percepatan gravitasi (m/s ) • Efisiensi Pompa (ηp) 2 Efisiensi adalah perbandingan antara daya fluida dengan daya pompa. Untuk menjamin keseluruhan keselamatan pekerja yang menggunakan sarana tersebut. dalam rangka mempertahankan atau memperbaiki suatu peralatan sampai suatu kondisi yang bisa diterima. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi / jasa dan mendapatkan laba investasi (return of investment) maksimum yang mungkin.2. kemudian baru diperbaiki. 4. Untuk manjamin kesiapan operasionalnya diseluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu misalnya unit cadangan. Breakdown Maintenance Yaitu cara pemeliharaan yang dilakukan apabila peralatan tersebut rusak atau tidak berfungsi. 3.

Rentang waktu ditentukan berdasarkan pengalaman atau rekomendasi dari pabrik pembuat mesin yang bersangkutan. Hasil-hasil pemantauan dan berbagai parameter Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Ciri-ciri kegiatannya: • • • Sedikit perencanaan Pekerjaan dilakukan secara mendadak Menghasilkan atau berakibat down-time yang berlebihan Pada saat pelaksanaan perbaikin. penggunaan man-power menjadi tidak efisien Merupakan perkerjaan yang berskala besar • • 2. maka rentang waktu perawatannya menjadi tidak akurat. Kekurangan dari perawatan terjadwal adalah: 1. maka tindakan perbaikan dapat segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Strategi perawatan ini cukup baik dan dapat mencegah berhentinya mesin yang tidak direncanakan. Karena rekomendasi dari pabrik pembuat tidak berbasis pada beban actual. Macam preventive maintenance: • Schedule Maintenance (Perawatan Terjadwal) Perawatan terjadwal merupakan strategi perawatan dengan tujuan mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut yang dilakukan secara periodic dalam rentan waktu tertentu.81 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia mesin yang memiliki tingkat kritis yang tinggi dan hanya sesuai untuk mesin dan peralatan sederhana. Rentang waktu perawatan akan berubah terhadap pola pembebanan mesin 3. Strategi perawatan ini disebut juga sebagai perawatan berdasarkan waktu atau time based maintenance. Jika hasil pemantauan menunjukkan gejala kerusakan. Preventive Maintenance Yaitu strategi perawatan yang didasarkan atas kondisi aktual mesin itu sendiri. rentang waktu yang akurat tidak dapat ditentukan 2. Tanpa data-data operasi yang lengkap dan memadai. • Predictive Maintenance (Perawatan Prediktif) Strategi perawatan ini didasarkan atas intensif dan kontinuitas monitoring terhadap peforma dan kondisi mesin.

2. kondisi mesin dapat diketahui sehingga kehandalan mesin dan keselamatan kerja terjamin.3 Klasifikasi Peralatan Penggolongan peralatan berdasarkan tingkat kekritisan adalah sebagai berikut: 1. atau keselamatan kilang / karyawan tidak terjamin. Oleh karena itu. Dengan cara pemeriksaan secara rutin. Corrective Maintenance Yaitu cara pemeliharaan yang dilaksanakan dengan mempelajari kerusakan suatu mesin / perawatan untuk menentukan sebab dan upaya supaya tidak terulang kembali. Vital Machinery Adalah peralatan-peralatan yang dipergunakan untuk proses utama terhadap proses produksi dan keselamatan petugas. Berbasis pada pola kecenderungan tersebut maka dapat ditentukan saat terbaik untuk melakukan perawatan pelaksaan perbaikan. perawatan secara prediktif meruakan strategi perawatan yang paling menguntungkan. pengurangan produksi. Dilihat dari biaya perawatan. akan mengakibatkan proses shut down. Pematauan kondisi mesin dapat diartikan dengan menentukan kondisi mesin dengan cara memeriksa mesin secara rutin. teknik repair. Penerapan corrective maintenance yang baik perlu adanya dokumen yang memuat tentang teknik menemukan penyebab kerusakan. dan waktu berhentinya mesin. Dalam corrective maintenance telah tercakup kegiatan analisis kerusakan maupun kegiatan inovasi serta improvisasi. pemasangan. pengujian. Perawatan prediktif disebut juga sebagai perawatan berdasarkan kondisi atau condition based maintenance. perancangan. mempunyai biaya penggantian yang tinggi. Bila peralatan tersebut rusak. dan pengoperasian peralatan atau bagian perawatan yang dikaji. pembuatan. 3. tingkat kesulitan. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . peralatan-peralatan jenis ini memerlukan frekuensi monitoring yang tinggi secara periodik.82 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia secara rutin akan digunakan untuk menggambarkan pola kencenderungannya. 5. petunjuk mengambil keputusan jika ada beberapa kemungkinan perbaikin. juga disebut pematauan kondisi mesin atau machinery condition monitoring.

5 Program Pemeliharaan PERTAMINA UP-VI Balongan Program pemeliharaan di PERTAMINA UP-VI Balongan meliputi pemeliharaan jangka pendek dan jangka panjang. tidak akan berpengaruh terhadap proses produksi dan keselamatan dalam jangka waktu tertentu. Training untuk petugas pemeliharaan peralatan • Program pemeliharaan jangka panjang (5 tahun) Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . tidak akan berpengaruh terhadap proses produksi dan keselamatan. Pemeliharaan peralatan 5. 5.2. 3. Support Machinery Adalah peralatan yang dipergunakan dalan suatu proses dan memerlukan periodik monitoring secara rutin.4 Sasaran Pemeliharaan Sasaran dari pemeliharaan adalah memelihara dan memastikan bahwa semua peralatan yang menunjang semua operasi kilang dama keadaan yang baik. Operating Machinery Adalah semua peralatan yang tidak termasuk dalam tiga kategori di atas dan tidak memerlukan periodic monitoring secara rutin. Peralatan-peralatan jenis ini juga memerlukan frekuensi monitoring yang tinggi secara periodic. akan mengakibatkan pengurangan produksi dan mempunyai biaya penggantian yang tinggi. 4. Pemeriksaan suku cadang 2.83 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2.2. Essential Machinery Adalah peralatan-peralatan yang dipergunakan dalam proses produksi dan bersifat essential terhadap proses produksi. Apabila peralatan ini rusak. 5. Bila perawatan ini rusak. sehingga kemampuannya berada dalam kondisi yang maksimum dengan biaya pemeliharaan yang optimum dan dapat mencapai umur service yang maksimum. memuaskan dan aman. Bila peralatan tersebut rusak. Mengorganisasikan pemeliharaan 4. • Program pemeliharaan jangka pendek (2 tahun) 1. Persetujuan pelayanan teknis untuk rotating equipment 3.

dan lain-lain.84 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. dengar. termografi. Memastikan bahwa suatu rotating equipment dioperasikan dalam batas-batas desain. Mengoptimalkan biaya pemeliharaan 5. Meminimalkan biaya produksi 3. Pemeliharaan yang terpusat dan handal 2. Kotoran tersebut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Monitoring kondisi bertujuan: 1. pandang. sehingga dapat mendeteksi kondisi mesin dengan lebih tepat. fotografi. pencegah gesekan. Untuk mengetahui secara dini adanya perubahan dari kondisi rotating equipment. peredam getaran. antara lain: • Pemantauan Visual Pemantauan visual diartikan sebagai menaksir atau menentukan kondisi peralatan dengan menggunakan kemampuan panca indera. fiberscope. juga berfungsi sebagai pembawa kontaminan atau kotoran yang terdapat di dalam mesin. 4. Memaksimalkan kemampuan dan kehandalan 2.2. • Pemantauan Minyak Pelumas Minyak pelumas disamping sebagai pendingin. Pengembangan bengkel 3. meliputi rasa. 3. dan sentuh. pematauan visual dapat dilengkapi dengan mikroskop. Untuk mendapatkan gambaran dari kondisi rotating equipment guna menentukan frekuensi pemeliharaan dan over haul. Telah berkembangnya peralatan pemantau. perapat.6 Monitoring Kondisi Monitoring kondisi merupakan kumpulan kegiatan monitoring terhadap parameter tertentu dari rotating equipment untuk menunjang pelaksanaan predictive maintenance. Pengembangan standar pemeliharaan • Objek pemeliharaan 1. pencegah korosi. boroscope. pemisah elemen mesin. Metode Pemantauan Kondisi Pompa Secara garis besar ada beberapa metode dalam pemantauan kondisi pompa. Untuk mengetahui secara dini kemungkinan terjadinya suatu kerusakan yang dapat menimbulkan kerusakan berat pada alat. 2. bau.

Tes kuantifair partikel (particle kuantifair test) 4. pipa engkol.85 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dapat berasal dari luar maupun dari dalam pompa itu sendiri yang disebabkan oleh geram akibat gesekan elemen mesin. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . run out. Pemantauan ini dapat dilakukan pada mesin yang sedang beroperasi. konsentrisitas poros penggerak dan poros pompa. Tes butiran keausan (wear debris test) 5. Pada motor pembakaran dalam yang diperlukan pemantauan geometris antara lain pada poros engkol. minyak pelumas. ketegaklurusan. Tes bilangan keasaman (TBN test) 6. pemantauan geometris meliputi antara lain leveling. Ada beberapa teknik pemantauan minyak pelumas yang dapat dilakukan: 1. Tes perhitungan partikel (particle counting test) 3. Tes ferografi (ferrography test) 7. Pemantauan geometris pada instalasi pompa sentrifugal antara lain kerataan kopling. dan sebagainya. Kotoran atau kontaminan yang berasal dari luar adalah kotoran yang masuk melalui filter. Tes gelembung (bubble test) • Pemantauan Kinerja Pemantauan kinerja merupakan teknik monitoring dengan cara mengukur parameter kinerja pompa tersebut. dan tenaga. Secara operasional. antara lain temperatur. hasil-hasil pemantauan dibandingkan dengan parameter-parameter kinerja yang telah distandarkan. putaran. Jika hasil pemantauan lebih kecil dari standar. pemantauan geometris meliputi pengukuran ketinggian (leveling) dan pengukuran pengaturan posisi (alignment) Pada mesin perkakas. • Pemantauan Geometris Pemantauan geometris merupakan teknik pemantauan yang bertujuan untuk mengetahui penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan. Tes kekentalan (viscosity test) 2. dan pada saat perawatan dan perbaikan. tekanan. maka diperlukan analisis dan pemeriksaan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terjadi. dan ketegaklurusan pompa. Untuk mengetahui kondisinya. torsi. debit. kerataan. kesejajaran. konsentrisitas. bahan bakar. dan run out pada roda penerus dan konsentrisitas roda penerus.

Dengan monitoring getaran yang terjadi. Pengambilan base data ini hanya untuk peralatan dengan kategori Vital Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . baik yang berupa gambar. kurang lancarnya pelumasan. maupun dari tabel. Pemantauan Data Pemantauan Kondisi • Base data Base data atau data dasar merupakan data yang harus diambil pada saat running test setelah selesai suatu over haul ataupun pemasangan unit baru. Getaran dapat terjadi karena adanya kerusakan pada poros. Dalam analisis kooperatif kondisi mesin ditentukan dengan cara membandingkan hasil pemantauan atau hasil pengukutan dengan standar getaran yang diizinkan. Box data tersebut akan merupakan referensi dari monitoring kondisi peralatan pada masa yang akan datang. 2. Kerusakan-kerusakan seperti ini akan menimbulkan getaran yang cukup besar. digunakan cara perbandingan antara parameter hasil pemantauan secara rutin yang telah tercatat dan dianalisa. kurang kencangnya sambungan. Analisis Deskriptif Pada analisis deskriptif dalam menentukan kondisi mesin didasarkan atas deskripsi hasil pengukuran dan pemantauan. Analisis Komperatif 3. Standar mesin ini dibuat berdasarkan percobaan atau data-data pengalaman.86 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • Pemantauan Getaran (vibrasi) Pemantauan getaran yaitu memeriksa dan mengukur parameter getaran secara rutin dan terus menerus. kurang tepatnya pemasangan transimisi dan juga disebabkan karena ketidakseimbangan elemen mesin yang berputar. kerusakan mesin dapat dideteksi secara dini dan akhirnya kerusakan yang jauh dapat dicegah. • Metode Analisis Untuk menentukan kondisi mesin berdasarkan hasil-hasil pengukuran dari metode analisis sebagai berikut: Analisis Kecenderungan 1. roda gigi. grafik. Untuk menentukan kondisi mesin berdasarkan analisis kecenderungan. bantalan.

Melakukan analisis akhir dari mesin 4. Apabila diperlukan untuk menunjang suatu analisa kerusakan. 3. Memperbaiki efisiensi mesin dengan jalan mengganti bagian-bagian yang sudah aus atau membersihkan komponen yang mengalami kerusakan.7 Over Haul Tujuan pelaksanaan over haul adalah sebagai berikut: 1. Untuk mendapatkan data sebagai dasar dalam memperkirakan umur service. Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan yang ada. Sebagai contoh antara lain: Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . maka transient data dapat diambil untuk peralatan dengan kategori vital dan essential. • Transient data Pengambilan transient data hanya dilakukan untuk peralatan kategori vital. 2. Memperbaiki kerusakan pada komponen mesin yang dapat terjadi pada saat mesin tersebut dioperasikan. 5. Transient data yang diambil pada saat melakukan commissioning untuk peralatan yang baru dipasang atau setelah di over haul meruapakan suatu base data. 5. • Steady State Data Pengambilan steady state dilakukan secara regular dengan interval tertentu. terutama untuk rotating equipment dengan kategori vital dan essential. Lingkup data yang harus diambil harus mencakup aspek menarik dan aspek termodinamik / hidrolik. Steady state data ini diambil pada saat commissioning dan running test.87 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dan Essential. maka over haul dikelompokkan sebagai berikut: 1. Minor Over Haul Lingkup pekerjaan dari minor over haul adalah melakukan inspeksi secara acak terhadap komponen-komponen tertentu tanpa membuka rumah suatu alat.2. Mendeteksi setiap kemungkinan adanya kerusakan tingkat pertama dan memperbaiki hal tersebut. Pengambilan transient data secara regular hanya dilakukan untuk rotating equipment dengan kategori vital.

Intermediate Over Haul Intermediate over haul dilakukan pada saat planned shut down dari mesin. 4. Mayor Over Haul Pemeriksaan secara menyeluruh terhadap komponen-komponen utama dan komponen bantu dari rotating equipment dilakukan pada saat mayor over haul.88 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • Cek alignment Inspeksi bantalan Pemeriksaan sistem proteksi dan keselamatan kerja • • • • Pemeriksaan dan kalibrasi instrumen. artinya bahwa semua lingkup pekerjaan yang tercakup dalam over haul tersebut dapat dilaksanakan pada waktu dan kesempatan yang berbeda. Tambahan pekerjaan yang berbeda dengan minor over haul adalah: • • • Cek dan reset displacement axial Cek run out radial Pengambilan data-data dan test yang diperlukan guna menunjang pelaksanaan mayor over haul yang akan datang. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Modular Over Haul Mayor dan intermediate over haul dapat dilakukan secara modular. 3. Dalam hal ini dimaksudkan untuk mencapai “complete assessment” terhadap kondisi rotating equipment tersebut. bila dianggap perlu Pemeriksaan sistem control dan governor 2.

yakni ARHDM. Dalam operasinya harus ada pompa yang berperan sebagai spare atau cadangan untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu pompa yang sedang bekerja tersebut rusak. • • • Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dimana pompa ini berfungsi untuk memompa residu dari unit CDU ke reaktor di unit 13. dan utility lainnya. yaitu unit A dan B yang bekerja saling bergantian jika salah satunya mengalami kerusakan.1 Data Teknis Pompa 13-P-101 A Pompa yang akan dibahas disini adalah pompa sentrifugal dengan tipe 13-P-101 A. seperti generator. 6. Pompa sebagai salah satu mesin yang memainkan peranan penting dalam operasi kilang PERTAMINA. dimana unit 13 ini bekerja pada unit ARHDM P menunjukkan peralatan jenis tersebut adalah pompa 101 menunjukkan nomor urut peralatan A/B menunjukkan bahwa peralatan tersebut terdiri dari dua unit. Sedangkan penulis akan menganalisis satu pompa saja. Fasilitas yang dimaksud ialah mesin-mesin produksi serta fasilitas lain yang memerlukan pemeliharaan. Pompa 13-P-101 A merupakan dua buah pompa sentrifugal yang identik. dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah dan dalam batas-batas aturan safety perusahaan. kompresor. Tujuan utama dari pemeliharaan ini adalah mendapatkan kinerja pompa yang maksimum handal dan berdaya guna tinggi.89 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB VI PERAWATAN POMPA 13-P-101 A/B Pemeliharaan dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang diperlukan untuk menjaga atau mempertahankan kualitas suatu fasilitas / alat agar tetap dapat berfungsi dengan baik. karena itu perlu dioperasikan dan dipelihara sesuai dengan standarnya atau berdasarkan petunjuk pemeliharaan dari pabrik pembuat. turbin. Arti penomoran 13-P-101 A: • 13 menunjukkan unit tempat pompa tersebut dipasang. pompa. Identik disini artinya adalah memiliki spesifikasi dan fungsi yang sama.

6. Casing (rumah pompa) Casing merupakan rumah dari pompa yang terbuat dari special steel (ASTM743-CA6NM) untuk menghindari terjadinya korosi. Bahan impeller untuk pompa ini adalah special steel (SCS1T2). serta menjadi tempat kedudukan impeller.2 Bagian-Bagian Pompa 13-P-101 Bagian-bagian penting dari pompa 13-P-101 A adalah: 1.90 Laporan Kerja Praktek PT British dan spesifikasi sebagai Secara garis besar Pompa 13-P-101 A memiliki data teknis Petroleum Indonesia berikut: Data Pompa 13-P-101 A Ukuran/Tipe Serial No Tag. No Manufacture Servis Fluida Bearing radial Bearing Thrust Kapasitas normal Kapasitas rata-rata Suction pressure Discharge pressure Efisiensi Motor : 6 IJ 10 : B 55354-01 : 13-P-101 : Pasific-Dresser Pump : Reaktor Feed Pump : Atmospheric Residu : Sleeve : KTB : 231 m3/jam : 254 m3/jam : 40 kg/cm2 : 198 kg/cm2 : 76% : 4350 rpm Spesifikasi secara lengkap dapat dilihat pada lampiran Pump Data Sheet. Casing berfungsi untuk memberikan arah aliran dari impeller dan mengubah kecepatan menjadi tekanan. 2. Impeller Impeller berfungsi untuk memberikan percepatan pada fluida akibat gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh putaran impeller. Tipe impeller close serta double suction. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

radial bearing outlet. serta kondisi yang diobservasi saat inspeksi. Melonggarnya baut-baut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . atau peningkatan konsumsi power untuk operasi pompa. Shaft (poros pompa) Shaft berfungsi untuk menghubungkan atau meneruskan putaran dari penggerak ke impeller dan juga sebagai dudukan impeller. atau thrust bearing outlet 6. Mechanical Seal Mechanical seal berfungsi untuk mencegah kebocoran antara poros dan casing yang akan mengakibatkan pengurangan tekanan pada pompa. Penurunan kapasitas. Shaftnya terbuat dari bahan special steel (SUS420J2). Bearing Bearing berfungsi untuk meredam atau menahan beban dari shaft dan bagianbagian berputar dengan bantuan minyak pelumas.91 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. inspeksi periodik dan servis dibutuhkan untuk mempertahankan dan mencatat kuantitas lube oil yang dibutuhkan. 6. 6.3 Maintenance Walaupun pompa sentrifugal beroperasi dalam jangka waktu yang lama tanpa maintenance. Coupling Coupling berfungsi untuk meneruskan putaran poros motor penggerak dengan poros pompa. penurunan tekanan discharge relative terhadap tekanan suction. Peningkatan kebocoran seal 7. Berdasar pada factor seperti jam operasi. waktu inspeksi dan servis. umur pompa. Getaran dan kebisingan operasi 3. Penurunan tekanan lube oil pada filter outlet 5. lingkungan. Kondisi yang harus disiapsiagakan adalah: 1. Peningkatan suhu lube oil pada oil cooler outlet. 5. Perubahan tekanan balancing drum line 4. 4. 2. operator harus siap siaga terhadap kondisi yang dapat merusak kinerja pompa.

• Penggantian seal periodik Untuk menghindari perawatan yang tidak terencena pada mechanical seal. Warna oli menggelap. Ditemukan partikel-partikel asing di oil 6. Buka semua saluran pipa dan pastikan semua fluida dingin keluar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .92 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 8. • Ketebalan bearing housing gasket Ketebalan bearing housing gasket merupakan sesuatu yang critical. part-part harus diganti ketika jam operasi total mereka mencapai batas maksimum jam operasi yang direkomendasikan oleh manufaktur seal tersebut.36-0. yaitu cold shutdown dan hot shutdown. Matikan pompa lube oil 4. dan timbul permasalahan mechanical.1 Stopping Pada umunya terdapat 2 jenis keadaan saat meberhentikan pompa. • Rekomendeasi penggantian lube oil Manufaktur pompa 13-P-101 A merekomendasikan agar lube oil pada pompa harus diinspeksi secara periodik dan penggantian ketika: a.014-0. yaitu pompa tidak boleh terbuka sekecil apapun supaya tidak ada penurunan kapasitas. Tutup discharge valve 2. Tutup katup fluida dingin 5. • Cold Shutdown Untuk melindungi part-part dalam pompa dari kekeringan dan keausan maka perlu dilakukan langkah-langkah: 1.3. penuruan tekanan discharge. Oli menjadi seperti susu atau mengelmusi c.41 mm).016 in (0. terindikasi terkontaminasi dari kotoran dan zat kimia asing b. Matikan sumber listrik (motor) 3. Level fluida pada reservoir Pacloc menurun Inspeksi periodik harus berada dalam keadaan eksternal. Tutup semua vent valves 6. Ini harus berkisar 0.

Katup dengan vent line terbuka c.3. Katup pembuangan tertutup 6. biarkan dalam keadaan tertutup • Hot Shutdown Ketika temperatur dari aliran di bawah 150F (66 oC) dan pompa kedua dalam keadaan hot standby. Lihat apakah katup suction masih terbuka 4. Biarkan semua katup pipa pada laju minimum 8. Pertahankan oil flow pada lube oil pump 8. Biarkan semua katub pada sistem Pacloc terbuka. buka kembali katup discharge dan lihat apakah katub tersebut tertutup rapat dengan cara mengamati reverse rotation 5. Sebagai tindakan sedini mungkin terhadap kemungkinan-kemungkinan gangguan operasi pompa. kecuali system drain valve.93 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 7. Setelah putaran berhenti. Lihat apakah valves dengan keadaan laju aliran minimum dalam keadaan terbuka dan katub discharge tetutup 2. Biarkan katup suction terbuka 9. Biarkan katup tersebut dalam keadaan: a. Untuk meyakinkan bahwa pompa dapat langsung bekerja tanpa penundaan akibat warm up. Pastikan katup aliran yang ingin dipanasi dalam keadaan terbuka 6. harus dilakukan: 1. • Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Cut Power 3. Katup dengan fluida dingin terbuka b. pompa yang hot standby harus disiapkan sekali tiap 2 minggu selama 1 sampai 2 jam untuk pengetesan operasi. Biarkan katup dalam aliran minimum 7. Tujuan utama dari pemeliharaan peralatan antara lain: • Untuk mempertahankan kondisi operasi pompa agar berfungsi dan bekerja secara optimal sesuai dengan karakteristik performance-nya.2 Pelaksanaan Pemeliharaan Pompa 13-P-101 A Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas dalam kegiatan di unit ARHDM maka diperlukan pemeliharaan peralatan yang meliputi stationery equipment dan rotating equipment di unit tersebut termasuk juga pompa 13-P-101 A.

yaitu: a. yaitu: • • Penggantian minyak pelumas Penggantian grease (gemuk) d. Pemeliharaan enam bulanan Pemeliharaan yang dilakukan tiap enam bulan. yaitu: • Pengecekan packing Pengecekan shaft sleave Pengecekan alignment pompa dengan penggeraknya • • e. yaitu: • Pengecekan temperatur bantalan atau bearing • Pengecekan sistem pelumasan c. Pemeliharaan tiga bulanan Pemeliharaan yang dilakuan tiap tiga bulan. misalnya: pengecekan lube oil. dan noise. 2. yaitu: • • • • Pengecekan keausan yang tejadi Pengecekan clearance wearing ring Pengecekan casing dan stuffing box Pengecekan poros dan impeller Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Pemeliharaan bulanan Pemeliharaan yang dilakukan tiap bulan. Pemeliharaan Harian Pemeliharaan yang berupa kegiatan pemeriksaan terhadap parameter-parameter kondisi operasi pompa yang dilakukan rutin setiap hari. Pemeliharaan tahunan Pemeliharaan yang dilakukan tiap satu tahun. yaitu: • Pengecekan vibrasi b. Pemeliharaan mingguan Pemeliharaan yang dilakukan tiap satu minggu. Pemeliharaan Berkala Pemeliharaan berkala adalah pemeliharaan yang dilakukan secara periodic atau dalam jangka waktu tertentu. temperatur.94 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1. kebocoran.

dll) • Buka penuh suction valve dan periksa liquid level • Periksa suction line dari kebocoran • Impeller atau suction line tertutup • Periksa dan bersihkan 3 power supply • Periksa arah putaran pompa vent pompa oleh • Periksa dan bersihkan kotoran tersebut • Adanya udara atau vapor di dalam • Periksa suction line dari kebocoran dan • Bearing atau rotating element lainnya • Periksa dan ganti bagian-bagian yang • Specific gravity atau viskositas fluida • Periksa apakah spesifikasi liquid tersebut Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .4 Trouble Shooting Pompa 13-P-101 A Tabel 6.95 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia • • Penggantian mechanical seal Penggantian bearing 6.1 trouble shooting pompa 13-P-101 A No Penyebab 1 Kapasitas dan tekanan Disharge pompa kurang atau tidak ada sama sekali Tindakan • Suction pressure atau putaran pompa • Buka penuh suction valve dan check terlalu rendah • Putaran pompa terbalik liquid • Impeller • Suction 2 tertutup line sebagian kotoran-kotoran banyak mengandung • Periksa strainer pompa dan bersihkab kotoran Pompa tidak mau menghisap disaatn start • Liquid supply tidak cukup • Adanya udara pada suction line kotoran Penggerak pompa (motor) overload • Pengikatan packing atau spring tension • Kurangi mechanical seal terlalu kuat rusak terlalu tinggi • Adanya rotating gesekan elemen abnormal dengan stationery pengangkatan packing atau spring tension mechanical seal rusak sesuai dengan desain pompa antara • Periksa penyebab dai gesekan tersebut (shaft run out. alignment. shaft level.

Dalam melakukan pembongkaran sebaiknya harus mengetahui konstruksi pompa dan lain-lain dengan mempelajari gambar pompa dan gambar petunjuk lain yang berhubungan dengan pompa tersebut. sehingga jika dioperasikan kembali.5 Over Haul Pompa 13-P-101 A Over haul adalah kegiatan pemeliharaan dengan melakukan pengecekan-pengecekan menyeluruh dan melakukan perbaikan serta penggantian komponen-komponen pompa dengan melakukan pembongkaran. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Berikut ini langkah-langkah over haul dan pemasangan kembali.96 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia element lainnya Vibrasi pompa • Adanya udara atau gas di dalam liquid • Mis-alignment • Bearing rusak • Rotating element unbalance 5 manual • Low voltage atau elektrikal trouble • Periksa apakah sudah sesuai dengan 4 • Vent. Pompa dan periksa kebocoran pada suction line • Realignment kembali • Periksa dan ganti baru • Periksa dengan balancing machine • Baut-baut pengikat pondasi kurang kuat • Periksa dan ikat kembali Bearing panas dan cepat rusak • Oil level tidak tepat • Spesifikasi pelumas salah • Pelumas tercampur air dan lain-lain • Temperatur pelumas terlalu tinggi • Oil ring tidak berfungsi • Axial thrust terlalu besar • Stel kembali oil level • Ganti pelumas yang sesuai dengan rekomendasi manufakturnya • Ganti pelumas dan periksa penyebabnya • Periksa/pasang bearing housing • Periksa kondisi dari oil ring dan check apakah oil ring dapat bergerak bebas • Periksa clearance dari wearing ring atau cooling sistem pada balancing device 6. pompa tersebut performancenya dapat mendekati dengan performance desainnya.

Lepaskan fliger outboard dan end cover outboard 10.97 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 6. Tutup semua saluran baik isap maupun tekan 2. Tarik shaft pompa dari casing cover 12. Lepaskan washer impeller 6. Buka pelindung kopling dan lepaskan kopling 5.1 Persiapan Pembongkaran 1. Buka baut pondasi 8.5. Lepas semua mur pada casing cover 2. Matikan power source ke penggerak 4. Lepaskan impeller 7. Lepaskan penggeraknya 6.5. Turunkan pompa dari pondasi ke tempat yang aman 6. maka dilakukan pembersihan semua komponen lalu dilanjutkan dengan pengecekan komponen. Lepaskan wearing casing dan wearing impeller 4.2 Pembongkaran Pompa 1. Tarik keluar casing cover dan rumah bantalan berikut komponen-komponen yang berputar yang merupakan satu kesatuan 3.5. Lepaskan fliger inboard dan end cover inboard 11. Lepaskan bantalan radial dan bantalan aksial 6. Lepaskan oil ring dan oil thrower 13. Pengecekan dapat dilakukan dengan cara antara lain: 1. Kosongkan pompa dari fluidanya 3. Pengecekan visual Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .3 Pemeriksaan Komponen Pompa Setelah pembongkaran selesai. Buka baut-baut mechanical seal 8. Lepaskan lock washer impeller 5. Lepaskan mechanical seal 9. Buka baut pengikat pada saluran isap dan tekan 7.

2 Komponen Pompa 13-P-101 A yang diperiksa No Komponen Pemeriksaan Tindakan 1 Impeller dan • Memeriksa kondisi impeller • Jika bisa diperbaiki dengan Diffuser dan diffuser apakah terjadi korosi. ganti dengan yang baru • Lakukan balancing setelah selesai • Jika clearance max. beberapa key bagian • Jika poros bengkok atau terdistorsi. “V” ring. Pengecekan dengan menggunakan cairan penetrasi 3. cara pengelasan • Jika tidak dapat diperbaiki. atau goresan • Memeriksa kondisi gasket 4 dan “O” ring Poros dan key • Memeriksa kondisi (spi) pada bearing) • Melakukan run out pada poros • Memeriksa kondisi keyway 5 6 Shaft sleeve Mechanical Seal dari distorsi • Memeriksa apakah terjadi keausan pada permukaan • Memeriksa apakah terdapat goresan dan keretakan pada bagian-bagian yang • Ganti jika keausan dapat terlihat jelas secara visual • Gunakan lagi atau ganti dengan yang baru • Ganti “O” ring. shaft. dan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . maka ganti dengan yang baru erosi. keretakan. goresan • Memeriksa kondisi impeller dan 2 Wearing ring diffuser bore dan keyway • Memeriksa dari erosi dan korosi 3 Casing • Mengukur clearancenya dan • Memeriksa apakah terjadi korosi. keretakan. Pengecekan dengan cara pengukuran dimensi Komponen-komponen yang diperiksa antara lain: Tabel 6. erosi. sleeve.98 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2. sudah maka melebihi wearing harus diganti • Bagian-bagian yang aus dapat diperbaiki dengan cara pengelasan Stuffing box (impeller.

Mengecek kelenturan dan stang dial indicator Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Apabila poros dapat berputar dengan lancer dan baik maka pompa siap dipasang pada penggeraknya. maka perbaiki atau ganti dengan yang baru 6.6 Perakitan Pompa Untuk melakukan perakitan pompa cukup dengan membalik langkah-langkah pembongkaran pompa. Langkah-langkah dalam melakukan alignment: • Lakukan pre-alignment 1. dengan memperhatikan dan mempelajari gambar konstruksi pompa dengan cermat Pompa kemudian diuji coba dengan cara memutar poros pompa. “V” ring dan gasket • Memeriksa retainer dan balls dari kerusakan • Memeriksa apakah terjadi play dan suara-suara yang tidak normal saat diputar dengan tangan • Memeriksa penampung oli dan water jacket • Memeriksa kondisi dudukan bearing 8 Bearing housing • Bersihkan penampung baik • Bersihkan dan oli kerak bilas dengan dan 9 Run out dari • Melakukan run out pada rotating parts poros dan impeller wearing ring endapan dalam air • Jika melebihi batas yang diijinkan. maka pada saat pemasangan pompa ke penggerak harus dilakukan alignment.6.99 Laporan Kerja Praktek PT British gasket dan Petroleum Indonesia bergesekan • Memeriksa 7 Bearing kondisi “O” • Ganti yang sesuai dengan kondisi aslinya ring.1 Pemasangan Pompa ke Penggerak Untuk melakukan kelurusan antara poros pompa dan poros penggerak. 6. Mengecek soft foot penggerak 2.

dan 360o 9.7 Studi Kasus Over Haul pompa 13-P-101 Tabel 6. Mengecek pondasi penggerak 4. pasang coupling spacer 12. bagian magnetic base half coupling penggerak dan jarum sensor dial indicator pada half coupling pompa 8. Lakukan langkah di atas hingga seluruh penunjukan dial indicator berada pada toleransi alignment. yaitu 0. 180 o. Ganti case wear ring dan case hub dengan 3 Cover Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Membaca penunjuk jarum indikator dengan memutar poros sesuai dengan arah putaran dengan tahapan 90 o.3 Hasil Laporan Inspeksi No Hasil Inspeksi 1 Impeller 1st stage – 10th stage Terkikis tolerance impeller 2 ring dan out pada dan of OD OD Gambar Rekomendasi Perbaikan Ganti impeller ring dengan yang baru dan perbaiki impeller hub dengan welding impeller hub area Suction spacer Erosi pada daerah yang terindikasi Intermedate (diffuser 2-9) Erosi pada daerah yang terindikasi. Setelah alignment sudah tepat dan benar. dapat kita simpulkan jumlah shim kaki depan dan belakang dari penggerak perlu ditambah atau dikurangi dan juga bisa disimpulkan apakah letak penggerak kurang geser ke kanan atau ke kiri 10. 270 o. Mengusahakan jumlah shim awal tidak terlalu banyak 7. Mengukur jarak kopling 5.100 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3.05 mm 11. Memasang dial indikator. Scoring pada ID case wear Perbaiki pada area yang mengalami kerusakan dengan welding Perbaiki pada area yang mengalami kerusakan dengan welding. Dari pembacaan tersebut. Menghitung thermal growth 6. Setelah semuanya selesai. maka pompa dapat dijalankan 6.

3.101 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia yang baru. 2. 6. Korosi (erosi) atau terkikisnya sebuah area pada part pompa disebakan akibat gesekan antara part pompa (logam) dengan fluida yang mengalir yaitu residu dari unit CDU. Kerusakan yang terjadi sama pada setiap bagian (cth: kerusakan pada impeller atau diffuser).7. yakni saat proses over haul dilakukan. Gesekan yang terjadi cukup besar karena pada residu terkandung juga bahan-bahan logam atau material sepert nikel. 4. Sesuai data yang didapat bahwa korosi ditemukan saat pompa sudah bekerja selama 3 tahun. Melihat tingkat korosi yang terjadi dan rekomendasi perbaikannya. ring dan out of tolerance pada ID case wear ring dan 4 ID case hub ring Discharge spacer Scoring dan out of tolerance pada case wear 5 ring dan case hub ring Pump Shaft Out of tolerance dan goresan pada daeran yang 6 terindikasi Balance Drum Out of tolerance pada OD 7 8 balance drum Impeller Key Tergores Balance Key Rusak pada daerah yang terindikasi 6. Kerusakan yang paling banyak terjadi adalah akibat dari gesekan yang berlebihan. 5. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . dll. sulfur. penulis mengambil sebuah hipotesis bahwa korosi sudah dapat terdeteksi ketika pompa sudah beroperasi selama 1 tahun.1 Analisa Kerusakan Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Ganti dengan yang baru Dari data hasil over haul pompa 13-P-101 A dapat dianalisis: 1.

agar fluida yang diisap laju alirannya selalu konstan.102 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 6. PT PERTAMINA UP-VI Balongan bisa merekomendasikan kepada manufaktur pompa. 2. Karena jika berfluktuasi akan mengakibat korosi yang lebih cepat. Pemilihan material logam yang lebih kuat dan tahan korosi terhadap fluida khusus seperti residu.7. penggunaannya dapat digilir setiap 1 minggu hingga 1 bulan sekali. 3. Karena terdapat 2 unit pompa.2 Rekomendasi Penulis terhadap pengaruh gesekan antara fluida terhadap logam pada part pompa. yaitu: 1. yaitu 13-P-101 A/B. Penggunaan daya penggerak pompa (motor) harus stabil. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .

standar kerja. Pemeliharaan terencana dilakukan untuk mencegah menurunnya fungsi fasilitas produksi. guna menunjang kelangsungan produksi dan keselamatan kerja diperlukan suatu sistem perawatan / pemeliharaan yang baik. serta noise. Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan guna menghindari kerusakan yang lebih fatal ialah dengan menggunakan vibrasi monitoring. Kegiatannya meliputi pemeriksaan vibrasi. Beberapa hal yang kami temukan selama kerja praktek mengenai perawatan dan pemeliharaan pompa 13-P-101 A. Penggunaan spare part yang sesuai dengan literature yang diberikan pabrik pembuat mesin diharapkan dapat mengoptimalkan jam operasi mesin Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Perawatan yang terencana yang baik mutlak diperlukan dalam menjaga kondisi operasi suatu alat / mesin. Kerusakan komponen pompa yang sering terjadi ialah wearing ring. Dalam usaha peningkatan standar pemeliharaan dan keefektifan pemeliharaan. tekanan. bearing. dan mechanical seal 7. Diperlukan peningkatan kuantitas literatur pada setiap unit kerja untuk menunjang proses perawatan 2. 3. maka dilakukan pemeliharaan secara terencana. Oleh karena itu. temperatur. penulis memberi saran agar: 1.103 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan Proses produksi yang berlangsung selama 24 jam tanpa henti di PERTAMINA UP-VI Balongan diperlukan equipment-equipment yang terjaga kehandalannya. Diperlukan suatu sistem kerja yang lebih baik. keadaan lube oil. dan sumber daya manusia 3. dalam hal ini pompa 13-P-101 A dilakukan pemeliharaan terencana (Preventive Maintenance). hal ini dapat diwujudkan dalam peningkatan kualitas peralatan.2 Saran Dari hasil observasi penulis selama melakukan kerja praktek. 2. dapat kami simpulkan bahwa: 1.

Alignment yang presisi diharapkan dapat mengurangi diterima bearing tidak terlalu besar serta diharapkan gesekan yang dialami wearing ring dapat tereliminasi. Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia .104 Laporan Kerja Praktek PTgaya radial sehingga beban yang British Petroleum Indonesia 4.

Laporan Kerja Praktek. Universitas Diponegoro.2009 Budiawan. Universitas Pendidikan Indonesia. Panca Alloy. pemeliharaan I PERTAMINA UP-VI Balongan. Laporan Kerja Praktek. “Sistem Pemeliharaan Pompa 12-P-505 B”. Adhie. “Analisis Performance pada Pompa 12-P-101 A”.105 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia DAFTAR PUSTAKA Atma. “12/13-P-101 A/B Pump” Trilestari. Politeknik Negeri Bandung.2009 Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia . Data-data dari hasil pengamatan selama kerja praktek berlangsung. dkk. “12/13-P-101 A/B Pump” Pump Spesification Sheet. Lenny. Laporan Kerja Praktek. “Analisa Penurunan Kinerja Pompa Diaphragm 22-P-106 A”. Manual book.2004 Data perawatan dan perbaikan.