P. 1
Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Sebagai Penyelenggara Pendidikan Nonformal Di Lingkungan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya

Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat Sebagai Penyelenggara Pendidikan Nonformal Di Lingkungan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya

|Views: 823|Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : FHRISDYANTO NUGROHO,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : FHRISDYANTO NUGROHO,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on Feb 08, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2015

pdf

text

original

PENGELOLAAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT SEBAGAI PENYELENGGARA PENDIDIKAN NONFORMAL DI LINGKUNGAN MASYARAKAT RUSUN BANGUNREJO SURABAYA Fhrisdyanto Nugroho

. Irena Yolanita Maureen. S.Pd. M.Sc Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan fd_nugroho@yahoo.co.id

Taman bacaan masyarakat merupakan salah satu instrumen penting untuk menunjang penyelenggara pendidikan nonformal. Taman bacaan masyarakat yang diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat bertujuan untuk memberi kemudahan akses kepada warga masyarakat memperoleh bahan bacaan dan menyelenggarakan pendidikan nonformal. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo adalah salah satu taman bacaan masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan nonformal untuk masyarakat sekitarnya. Untuk memperlihatkan fokus masalah pada penelitian ini maka terdapat rumusan masalah yakni 1)Apakah Taman Bacaan Masyarakat memiliki peran penting dalam mewujudkan pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat? 2)Penunjang dan kendala apa yang dimiliki Taman Bacaan Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan penting taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal dan mengetahui penunjang dan kendala taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam upaya pengelolaan taman bacaan masyrakat dan bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja personil dan organisasi yang terlibat dalam pengelolaan taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan data yang diperoleh melalui metode pengumpulan data yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian kualitatif berupaya untuk menggambarkan kondisi se-natural mungkin dan memperoleh data yang utuh kemudian dianalisis agar dapat menjawab permasalahan yang ada. Hasil analisis data menunjukkan adanya sistem pengelolaan taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya yang memerlukan adanya upaya pengelolaan yakni tentang informasi pengelolaan organisasi dan peningkatan kompetensi pengelola taman bacaan masyarakat. Maka peneliti merumuskan langkah pengelolaan dengan menerapkan fungsi pengelolaan “POAC”. Dengan adanya upaya pengelolaan tersebut memberikan dampak positif pada kegiatan pendidikan nonformal di Rusun Bangunrejo Surabaya yang akhirnya mampu meningkatkan pendidikan masyarakat sekitar. Kata Kunci: taman bacaan masyarakat, pendidikan nonformal, pengelolaan.

PENDAHULUAN
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dilaksanakan oleh pemerintah, golongan/kelompok, dan masyarakat melalui berbagai bentuk pendidikan baik formal, nonformal, maupun informal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi; pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; dan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan nonformal sebagai suatu bentuk upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki peran yang penting karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan formal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang di antaranya karena sesuatu hal tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Di samping itu, pendidikan nonformal juga diselenggarakan bagi warga masyarakat untuk melengkapi pendidikan formal baik berbentuk keterampilan, sikap, maupun pengetahuan (sumber: Naskah Akademik Pengelola TBM). Menyadari pentingnya pendidikan nonformal, UndangUndang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 25 (ayat; 1) menyebutkan bahwa pendidikan

nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Prioritas utama sasaran pendidikan nonformal adalah warga masyarakat yang tidak pernah sekolah atau penyandang buta aksara, putus sekolah dalam dan antar jenjang, penduduk usia produktif yang tidak sekolah dan tidak bekerja, penduduk yang tergolong miskin, serta warga masyarakat lainnya yang membutuhkan pendidikan (sumber: Naskah Akademik Pengelola TBM). Salah satu instrumen penting untuk menunjang pelaksanaan pendidikan nonformal adalah Taman Bacaan Masyarakat (sumber: Naskah Akademik Pengelola TBM). Taman Bacaan Masyarakat yang diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat bertujuan untuk memberi kemudahan akses kepada warga masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan. Menurut Melati Indri Hapsari dalam Jurnal PNFI (2009) Taman Bacaan Masyarakat berperan dalam meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya baca, dan cinta buku bagi warga belajar dan masyarakat. Secara khusus taman bacaan masyarakat dimaksudkan untuk mendukung gerakan pemberantasan buta aksara yang antara lain karena kurangnya sarana yang memungkinkan para aksarawan baru dapat memelihara dan meningkatkan kemampuan baca tulisnya. Lebih lanjut taman bacaan masyarakat juga ditujukan untuk memperluas akses dalam memberikan kesempatan kepada

masyarakat mendapatkan pendidikan.

layanan

Menyadari pentingnya fungsi taman bacaan masyarakat dalam menyediakan koleksi baik berupa bahan bacaan maupun jenis lain yang berguna bagi warga masyarakat maka diperlukan pengelolaan taman bacaan masyarakat yang baik dan memadai. Bahan-bahan bacaan yang tersedia ditaman bacaan masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan bacaan warga masyarakat, seperti taman bacaan masyarakat yang berada dilingkungan masyarakat nelayan memiliki bahan bacaan tentang kelautan, penangkapan ikan, dan pemeliharaan hasil tangkapan lebih banyak dari bahan bacaan lainnya yang berguna untuk perluasan pengetahuan masyarakat (sumber: Naskah Akademik Pengelola TBM). Sedangkan Taman Bacaan Masyarakat di Rusun Bangunrejo Surabaya yang mayoritas penduduknya berdagang maka bahan bacaan yang ada harus berhubungan dengan hal perdagangan dan banyak sekolah di sekitar TBM sehingga pihak yang terkait juga harus menyediakan buku-buku ilmu pengetahuan. Di samping itu, penataan bahan bacaan perlu disusun secara menarik, mudah dijangkau, dan dikelompokkan secara sistematis sehingga mudah untuk penelusuran bahan bacaan yang diperlukan. Penataan bahan bacaan juga diperlukan untuk kepentingan perawatan agar bahan bacaan tersebut dapat lebih tahan lama. Sehubungan hal tersebut, agar koleksi taman bacaan masyarakat dapat dikelola dengan baik diperlukan adanya pengelola yang memiliki kemampuan mengelola taman bacaan masyarakat.

Dengan adanya pengelola taman bacaan masyarakat yang memadai, diharapkan dapat berdayaguna bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf kehidupannya terutama dalam hal pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengelola taman bacaan masyarakat diarahkan pada penguasaan aspek-aspek yang diperlukan untuk pengelolaan taman bacaan masyarakat baik kepribadian, sosial, manajerial, maupun kewirausahaannya (sumber: Naskah Akademik Pengelola TBM). Karena sejauh ini taman bacaan masyarakat yang ada belum dimanfaatkan secara maksimal dan optimal oleh masyarakat karena taman bacaan masyarakat digunakan untuk tempat membaca dan meminjam buku saja oleh masyarakat seperti yang terdapat dalam Naskah Akademik Pengelola TBM dimana 42% memilih menggunakan TBM hanya sebagai tempat membaca dan meminjam buku. Sebagian taman bacaan masyarakat kurang diminati oleh masyarakat lebih karena pengelolaan yang kurang maksimal dan kurangnya motivasi masyarakat untuk mengunjungi taman bacaan masyarakat seperti yang selalu dilaporkan pengelola TBM dalam buku laporan TBM tiap tahunnya menggambarkan seharinya jumlah pengunjung hanya berkisar 20-30 orang/hari (sumber: BARPUS). Dengan pengelolaan yang sesuai diharapkan taman bacaan masyarakat dapat membantu mereka dalam rangka menambah ilmu pengetahuan, pengembangan daya imajinasi dan kreativitas, pencerahan diri, serta pembentukan karakter dengan moralitas yang terpuji sejak dini. Karena dalam perjalanan selanjutnya taman bacaan

masyarakat tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga untuk memotivasi anak dan lingkungan sekitar taman bacaan masyarakat untuk dapat mengembangkan bakat dan minatnya. Seperti yang terlihat di sebuah taman bacaan masyarakat yang berada di Rumah Susun (Rusun) Bangunrejo Surabaya. Karena TBM yang ada di Surabaya belum mengelola TBM dengan optimal dimana terlihat saat melakukan studi pendahuluan untuk kondisi berbagai TBM yang ada di Surabaya. TBM hanya digunakan sebagai tempat membaca dan meminjam buku padahal selain sebagai sarana membaca warga sekitar rusun, taman bacaan masyarakat dapat memberikan motivasi anak tingkat sekolah untuk mengembangkan bakat dan minatnya dengan memberikan bimbingan tugas yang diberikan dari pihak sekolah. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo ini berada di sekitar lingkungan rumah susun yang padat. Sedangkan di sekitar lingkungan taman bacaan masyarakat tersebut terdapat beberapa sekolah dari tingkat dasar sampai menengah. Letaknya sangat strategis untuk menarik pembaca berkunjung ke taman bacaan masyarakat yang dikelola oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya ini. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo inipun memiliki tujuan sebagai penyelenggara pendidikan nonformal yang diharapkan dengan adanya taman bacaan masyarakat ini warga sekitar terutama anak-anak sekolah dapat berkunjung ke taman bacaan masyarakat untuk menambah ilmu dengan membaca buku-buku yang

disediakan. Bahkan dapat berdiskusi dengan teman-teman sebayanya ataupun bertanya langsung dengan pengelola taman bacaan masyarakat tersebut. Karena selain sebagai tempat membaca buku-buku yang ada, taman bacaan masyarakat Rusun Bangunrejo juga sering melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan minat dan bakat siswa sekolah. Dengan melakukan kegiatan lomba menggambar dan mewarnai di harihari tertentu untuk membuat pengunjung terutama anak di usia sekolah berkompetisi secara sportif sejak dini. Hal ini dikarenakan adanya sebuah penghargaan yang diberikan pihak pengelola taman bacaan masyarakat dengan memberikan alat-alat tulis buat sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut memotivasi warga Rusun Bangunrejo yang berada di sekitar taman bacaan masyarakat ini akan lebih sering berkunjung ke taman bacaan masyarakat tersebut untuk sekedar membaca buku. Apabila banyak pengunjung yang datang ke taman bacaan masyarakat telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu menjadikan taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem pengelolaan taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal yang terdapat di Rusun Bangunrejo Surabaya. Lebih lanjut juga untuk mengetahui peran, penunjang dan kendala dalam mengelola taman bacaan masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat

Rusun Bangunrejo Surabaya. Sehingga semua yang diharapkan dapat terlaksana dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar Rusun Bangunrejo Surabaya.

KAJIAN PUSTAKA
Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan nonformal merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan, oleh sebab itu pengelolaan taman bacaan masyarakat termasuk dalam pengelolaan pendidikan. Menurut Sobri, dkk (2009:3) dalam bukunya yang berjudul Pengelolaan Pendidikan menjelaskan bahwa pengelolaan pendidikan merupakan rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakan di lingkungan/organisasi pendidikan. Taman Bacaan Masyarakat itu sendiri yang bermula dari Taman Pustaka Rakyat pada tahun 50-an, merupakan bagian dari perpustakaan umum. Dalam Pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (2006:1), Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga yang menyediakan berbagai jenis bahan belajar yang dibutuhkan oleh masyarakat, tempat menyelenggarakan pembinaan kemampuan membaca dan belajar, serta tempat masyarakat memperoleh informasi. AECT (1977:16) fungsi pengelolaan bertujuan mengarahkan atau mengontrol satu atau lebih pengembangan pendidikan/instruksional atau fungsi

pengelolaan pendidikan/instruksional lainnya untuk menjamin agar semuanya dapat beroperasi dengan efektif. Menurut Terry dalam Sobri, dkk (2009:1) mengartikan pengelolaan sebagai usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya melalui usaha orang lain. Sedangkan menurut John D. Millet dalam Burhanuddin (1994:34) pengelolaan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian fasilitas kerja kepada orang yang diorganisasikan dalam kelompok formal untuk mencapai tujuan. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, pengelolaan adalah suatu kegiatan terencana dan terkontrol yang dikerjakan dua orang atau lebih dengan pemberian fasilitas untuk mengarahkan instruksional sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif. Fungsi pengelolaan yang dikemukakan John F. Mee sebenarnya hampir sama dengan konsep fungsi pengelolaan George R. Terry, hanya saja “actuating” diperhalus menjadi “motivating” yang kurang lebih artinya sama. Dari pendapat para ahli diatas, maka penulis menggunakan konsep fungsi pengelolaan George R. Terry pada penelitian ini. Berikut penjelasan singkat dari macam-macam fungsi pengelolaan tersebut. (a)Perencanaan (Planning) adalah pemilihan faktafakta dan usaha menghubungkan antara fakta satu dengan lainnya, kemudian membuat perkiraan dan peramalan tentang keadaan dan perumusan tindakan untuk masa yang akan datang yang sekiranya diperlukan untuk mencapai hasil yang dikehendaki. Merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan untuk mengelola TBM sehingga banyak yang datang ke

TBM untuk membaca buku. Kegiatan yang akan direncanakan seperti mengikuti lelang buku untuk menambah koleksi bacaan TBM, memberikan pelatihan kepada pengelola TBM, dan mencari dana untuk memenuhi kebutuhan TBM demi kelancaran penyelenggaraan pendidikan nonformal. (b)Pengorganisasian (Organizing) diartikan sebagai kegiatan mengaplikasikan seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan antara kelompok kerja dan menetapkan wewenang tertentu serta tanggung jawab sehingga terwujud suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Mengorganisasikan kegiatan mengelola TBM agar semua hal yang telah direncanakan dapat tercapai. (c)Penggerakan (Actuating) adalah menempatkan semua anggota dari pada kelompok agar bekerja secara sadar untuk mencapai suatu tujuan yang ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi. Semua pihak yang terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan nonformal baik BARPUS, pengelola TBM, maupun masyarakat itu sendiri harus berperan aktif dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan. (d)Pengawasan (Controlling) diartikan sebagai proses penentuan apa yang dicapai, pengukuran dan koreksi terhadap aktivitas pelaksanaan dan bilamana perlu mengambil tindakan korektif sehingga pelaksanaan dapat berjalan menurut rencana. Pihak BARPUS melakukan monitoring terhadap kinerja yang dilakukan oleh pengelola TBM dalam menyelenggarakan pendidikan nonformal. Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga yang menyediakan

berbagai jenis bahan belajar yang dibutuhkan oleh masyarakat, tempat menyelenggarakan pembinaan kemampuan membaca dan belajar, dan tempat masyarakat memperoleh informasi. (Pedoman pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat 2006:1). Taman bacaan juga dapat dijadikan sarana pertemuan bagi mereka membutuhkan tempat untuk berbagi pengalaman maupun hanya sekedar bersenang-senang mencari hiburan melalui bacaan. Menurut Basuki Sulistyo (1991) Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan jika ingin mendirikan taman bacaan agar kelak dapat langgeng tidak sekedar datang dan berlalu begitu saja. (a)Koleksi. Apakah telah tersedia bacaan baik dalam bentuk tercetak maupun digital (e-book, web, CD-ROM ). Jika telah tersedia, usahakan terus ada pengadaan koleksinya. Pilih topik bacaan yang sesuai dengan kebutuhan penduduk setempat, dan kelompok pembacanya. Tidak perlu semua subyek harus ada. (b)Pustakawan. Apakah ada tenaga yang mampu mengelola taman bacaan tersebut. Pilih tenaga perpustakaan yang mengerti pengelolaan perpustakaan. Tidak harus berpendidikan formal perpustakaan, pernah mendapatkan pelatihan perpustakaan selama 6 bulan atau pernah magang di perpustakaan yang berkualitas. (c)Peraturan dan Tata Tertib (P&T). Tersedia peraturan dan tata tertib yang mempermudah pengunjung memanfaatkan taman bacaan. Disarankan P&T tidak terlalu banyak, yang paling penting bagaimana membuat pengunjung kerasan membaca dan mau berkunjung lagi. Misalnya, taman bacaan memperbolehkan semua

pengunjung membaca hingga 24 jam. (d)Sumber Dana. Selalu tersedia dana untuk operasional (membeli buku baru, alat tulis, rak buku, promosi), dana untuk promosi (pameran, kegiatan atau lombalomba dana untuk pengelolanya). Sumber dana dapat diperoleh melalui donatur, iuran anggota, penjualan produk yang dihasilkan oleh taman bacaan itu sendiri, misalnya, menerbitkan majalah yang dijual ke umum atau anggota. (e)Layanan. Semua kebutuhan masyarakat yang telah tersedia, maka bentuk layanan menjadi suatu yang penting. Untuk itu taman bacaan masyarakat harus memberikan layanan yang prima kepada pengunjungnya. Memberikan layanan terbuka yang memungkinkan pengunjung dapat membaca seperti di rumah mereka sendiri. (f)Fasilitas. Sediakan ruang yang nyaman (AC) atau di tempat terbuka yang teduh, misalnya, di taman-taman. Meskipun tempat taman bacaan itu di tempat keramaian tetapi pengunjung hendaknya tidak terganggu dengan cara membuat rambu-rambu yang meminta pengunjung untuk turut menjaga ketenangan. Berikan penerangan yang cukup yang membuat pengunjung tidak kesulitan dalam membaca. Jika memang disediakan perangkat komputer, maka dapat dipergunakan sebagai alat temu kembali koleksi dan sarana pengunjung menggunakan fasilitas internet. Disamping itu yang sering terabaikan ketika membuat taman bacaan adalah tidak adanya fasilitas umum seperti toilet, mushola dan kantin. (g)Komitmen. Jika memang berniat mendirikan taman bacaan, kuatkan niat bahwa taman bacaan adalah bentuk usaha yang bersifat sosial jauh dari pendapatan untung yang besar dalam bentuk materi

(uang) oleh karena itu, jika memang akan menjadikan taman bacaan itu menjadi ladang mencari nafkah maka akan kecewa. Namun tidak perlu kecewa jika memilih profesi sebagai pengelola taman bacaan karena walaupun tidak akan memperoleh banyak materi dari taman bacaan, masih dapat melakukan pekerjaan sampingan misalnya, membuka kelas-kelas kursus, pelatihan keterampilan, menjual merchandise yang kadang-kadang berkembang menjadi sumber keuangan yang menyenangkan. (h)Keluhan dan Saran. Hanya sedikit taman bacaan yang bertahan dalam waktu lama. Banyak sebab yang mengakibatkan taman bacaan tutup karena ditinggal pengunjungnya. Pengelola harus mau mendengar keluhan dan saran dari pengunjung. (i)Pengunjung. Kenali pengunjung. Jika sebagai pengelola taman bacaan tidak mengetahui kebutuhan pengunjung maka dapat dipastikan akan kehilangan pengunjung. Bentuk suatu keanggotaan yang mendorong pengunjung memiliki perasaan memiliki. Jangan biarkan hanya sekedar datang dan membaca tetapi lebih dari itu, ajaklah untuk memikirkan kelangsungan taman bacaan yang dikelola. Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 (UU RI No. 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 26 ayat 3 dan 4 menyatakan bahwa Pendidikan Nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan dan pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan

kemampuan warga belajar. Satuan Pendidikan Nonformal terdiri atas lembaga kursus, taman bacaan masyarakat, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Yang pelaksanaannya sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dilaksanakan melalui 3 jalur, yaitu: jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. Secara umum, penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (a)Penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif lainnya. (Moleong, 2005:6) (b)Penelitian kuantitatif, yaitu sesuai dengan namanya banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut serta penampilan dari hasilnya. (Arikunto, 2002:10). Berdasarkan konsep umum tentang penelitian di atas, maka penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif, yaitu dari data dan fakta yang diperoleh dalam penelitian ditarik kesimpulan dalam bentuk kalimat pernyataan serta hasil penelitian dapat memberikan gambaran tentang keadaan yang terjadi pada saat penelitian. Penelitian kualitatif menyajikan data yang diperoleh secara lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna (Sugiono, 2008:3). Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang merupakan suatu nilai dibalik data yang tampak. Menurut Lofland dalam Moleong (2005:157) mengatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi dan lain-lain. Secara keseluruhan, sumber data dalam penelitian ini disesuaikan

METODE PENELITIAN
Sebelum melaksanakan penelitian, maka terlebih dahulu harus memahami ragam jenis-jenis penelitian sehingga dapat menentukan jenis penelitian yang

dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dalam penelitian kualitatif, sumber data dipilih dan mengutamakan perspektif emic, artinya mementingkan pandangan narasumber, yakni bagaimana narasumber memandang dan menafsirkan dunia dari pendiriannya sendiri, tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk memperoleh data yang diinginkan. Sesuai dengan fokus masalah penelitian, maka sumber data utama dalam penelitian ini adalah (1)Pengelola TBM dalam hal ini yang berkaitan dengan penyelenggara pendidikan nonformal. (2)Kepala Bidang Layanan Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. (3)Masyarakat sekitar TBM. (4)Pengunjung TBM. Metode pengumpulan data mempunyai kedudukan yang penting dalam sebuah penelitiaan, tanpa adanya metode pengumpulan data maka tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara, observasi dan dokumentasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo yang terletak di Jalan Dupak Bangunrejo II, secara geografis letaknya sangat strategis dikarenakan selain tempatnya berada di pendopo (ruang pertemuan wargawarga rusun) juga posisinya tepat di tengah-tengah Blok warga rusun seperti, Blok A, Blok B, Blok D,

Blok E, dan Blok F. Selain itu juga lokasi di Taman Bacaan Masyarakat merupakan jalan tembusan yang mengarah ke Jalan Lasem Barat dan Jalan Bangunrejo Gang Tengah serta juga Jalan Tambak Asri. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo yang di launching tahun 2010 dan dihadiri oleh Bapak Walikota Surabaya Drs. Bambang D.H, M.Pd., yang waktu itu diwakili oleh istrinya Ibu Dyah Katarina. Serta dihadiri oleh Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Ibu Arini Pakistyaningsih S.H.,MM beserta staf dan wargawarga Rusun Bangunrejo Surabaya yang sejak dari awal sangat mendukung dengan adanya Taman Bacaan Masyarakat di lingkungan mereka. Jumlah pengunjung di Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya 30 orang dalam sehari antara bulan Mei sampai Juni. Namun, besarnya minat baca pengunjung untuk mengunjungi Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo ini tidak diimbangi dengan jumlah buku yang tersedia di Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo. Oleh sebab itu, pengelola Taman Bacaan Masyarakat berusaha untuk memberikan layanan kepada para pengunjung dengan cara seminggu sekali meminjam/menukar buku-buku yang ada dengan pengelola Taman Bacaan Masyarakat lainnya di Surabaya. Hal ini dilakukan agar para pengunjung Taman Bacaan Masyarakat khususnya anak-anak bersemangat untuk berkunjung karena jenis bacaan yang bervariasi. Selain itu sebagai siasat untuk meningkatkan jumlah pengunjung agar terus bertambah tiap harinya.

Taman Bacaan Masyarakat di Rumah Susun (Rusun) Bangunrejo telah berjalan 2 tahun seperti yang telah disebutkan yang tidak lain dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat Kota Surabaya khususnya untuk warga yang berada di sekitar Rusun Bangunrejo. Terdapat ±820 jenis buku bacaan yang dapat dibaca oleh pengunjung untuk melangsungkan kegiatan pendidikan nonformal yang telah direncanakan. Selain jumlah buku bacaan yang terdapat di Taman Bacaan Masyarakat Rumah Susun (Rusun) Bangunrejo adanya fasilitas pendukung untuk membantu warga dalam membaca. Seperti tersedianya meja untuk membaca, meja untuk meletak buku sesuai kualifikasinya, lemari untuk meletak buku-buku secara rapi, dan juga terdapat karpet untuk membaca buku secara santai. Pengelola Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya melakukan inovasi untuk memperbaharui bacaan dengan menukar/meminjam buku-buku di Taman Bacaan Masyarakat lain seSurabaya. Taman Bacaan Masyarakat Rumah Susun (Rusun) Bangunrejo Surabaya memberikan pelayanan tiap hari, Senin-Kamis melayani dari jam 08.00-16.00 Wib. Sedangkan Jumat-Minggu melayani dari jam 08.00-15.00 Wib, dengan jangka waktu istirahat dari jam 11.30-12.30 Wib. Namun ada dispensasi yang diberikan kepada pengelola Taman Bacaan Masyarakat se-Surabaya dari Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, setiap 2 (dua) minggu sekali libur dan tanggal merah juga libur untuk menjaganya. Taman Bacaan Masyarakat yang baik harus disertai dengan

adanya layanan yang baik pula kepada pengunjungnya. Buku-buku yang dimiliki oleh Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya adalah salah satu sumber belajar yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan nonformal, untuk itu perlu adanya pengelolaan layanan yang baik kepada pengunjung taman bacaan masyarakat, baik usia anakanak maupun dewasa agar dapat membaca buku dengan baik dan nyaman. Layanan yang diberikan Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. TBM bertujuan untuk memfasilitasi pengunjung dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Disinilah salah satu tugas pengelola untuk memberikan layanan yang baik sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan pengelola TBM Rusun Bangunrejo Surabaya. Selain untuk menunjang kegiatan baca membaca, TBM juga melakukan kegiatan bimbingan belajar kepada anak-anak sekitar TBM. Serta melakukan perlombaan untuk memperingati hari besar, juga untuk mengetahui minat dan bakat anakanak. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pemberian layanan di TBM Rusun Bangunrejo saat kegiatan pengunjung membaca baik terlihat dari persentase hasil observasi yang mencapai 72%. Hal ini dapat terlihat dalam layanan yang diberikan dalam penyediaan jenis dan kualifikasi buku bacaan yang baru tersebut dengan tanggap dan cekatan sehingga pengunjung menjadi nyaman berkunjung di Taman Bacaan Masyarakat dengan bantuan pengelola. Kebersihan

ruangan selalu diutamakan, perawatan buku-buku, meja, lemari dan karpet juga dilakukan dengan baik. Untuk dapat mewujudkan TBM yang baik tentunya harus didukung dengan adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik pula. Dari hasil wawancara mengenai SDM yang dimiliki sebagai pengelola TBM, ternyata BARPUS Surabaya belum mempunyai SDM ahli yang khusus untuk mengelola TBM. Sumber Daya Manusia yang ada sekarang kurang memiliki kompetensi khusus di bidang pengelolaan maupun pengembangan TBM. Pengelolaan yang dilakukan, cenderung untuk menjaga dan melakukan perawatan pada komponen yang ada, tidak ada upaya pengembangan khusus yang dilakukan untuk membuat TBM semakin optimal sebagai sarana belajar warga sekitar. Hanya 1 (satu) orang pengelola TBM yang fokus untuk melayani pengunjung TBM beserta perlengkapan yang ada. Kurangnya SDM ahli di bidang perpustakaan inilah salah satu faktor kurang optimalnya TBM tersebut sehingga hal tersebut harus diatasi untuk dapat mewujudkan TBM yang baik yang mampu memberikan kontribusi yang baik pula pada kegiatan pembelajaran. Idealnya jumlah orang yang mengelola TBM adalah 3 (tiga) orang, dimana 1 (satu) orang sebagai koordinator, 1 (satu) orang bertugas sebagai administrasi, dan 1 (satu) orang lagi bertugas untuk membantu pengunjung dalam mencari bukubuku bacaan. Dari apa yang telah ditemukan di lapangan nampak jelas bahwa dalam menjalankan kegiatan pengelolaan TBM masih ada

kekurangan seperti tata letak bahan bacaan yang berdasarkan hasil observasi hanya mencapai 40%, tetapi juga ada kelebihan dari pengelolaan TBM itu. Hal ini dijelaskan dengan temuan tentang bergesernya fungsi TBM sangat signifikan. Dimana biasanya tempattempat TBM itu untuk lokasi membaca dalam memperoleh informasi dari sumber buku yang ada. Tetapi sekarang-sekarang ini TBM menjelma sebagai penyelenggara pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan untuk melengkapi segala yang di dapat dari pendidikan formal di sekolah. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara kuantitas jumlah tenaga pengelola TBM sangat kurang karena hanya terdiri dari 1 orang. Tentu saja hal ini sangat berdampak pada pelayanan TBM yang kurang efektif. Karena untuk mengurus segala hal dari perawatan sarana prasarana TBM, administrasi peminjaman dan pengembalian buku hingga membantu pengunjung dalam membimbing belajar untuk menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara pendidikan nonformal hanya dilakukan oleh 1 orang pengelola TBM tersebut. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa selain kekurangan tenaga untuk mengelola TBM, tenaga pengelola TBM tidak memiliki kompetensi untuk mengelola TBM. Karena pengelola tidak memiliki ilmu keperpustakaan secara mendalam. Sehingga sebelum bertugas mengelola TBM setiap pengelola mendapat pelatihan terlebih dahulu yang diadakan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan (BARPUS) Kota Surabaya. Setelah

mengikuti pelatihan tersebut baru disebar ke TBM yang ada di Surabaya. Komponen penunjang dalam pengelolaan TBM yang dimaksud adalah sarana prasarana termasuk didalamnya sumber-sumber belajar dan pendanaan TBM. Dari hasil temuan yang ditemukan selama berada di tempat penelitian menunjukkan bahwa cukup memadai, namun secara kuantitas jumlahnya tidak cukup jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung TBM. Tentu saja dalam hal ini keberadaan pengelola TBM belum dapat memberikan layanan yang optimal bagi pengunjung dan menunjang implementasi pendidikan nonformal untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal setidaknya dalam pengadaan sumber belajar. Selain hal penunjang sarana prasarana TBM, pendanaan merupakan faktor yang terpenting dalam kegiatan pengelolaan TBM, tanpa adanya dana yang memadai tidak mungkin TBM dapat menjalankan kegiatannya. Hasil penelitian menunjukkan TBM tidak memiliki pendanaan yang cukup, hal ini diakibatkan karena kurangnya penyebaran dana ke setiap TBM yang ada. Dalam memenuhi kebutuhan pendanaan pengelola TBM telah berkoordinasi dengan BARPUS Kota Surabaya serta pihakpihak yang peduli dengan dunia pendidikan.

KESIMPULAN
Peranan TBM sebagai Penyelenggara Pendidikan Nonformal 1. Memberikan Bimbingan Belajar kepada anak-anak sekolah yang memiliki tugas dari sekolahnya.

2. Selain memberikan bimbingan belajar kepada anakanak TBM juga berperan menyediakan akses informasi dari berbagai literatur untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal. 3. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya juga sering menyelenggarakan kegiatan perlombaan untuk mengetahui minat dan bakat anak-anak sekitar Rusun, seperti lomba melukis dan lomba mewarnai. Penunjang dan Kendala Taman Bacaan Masyarakat 1. Penunjang a. Taman Bacaan Masyarakat Rusun Bangunrejo Surabaya memperbaharui koleksi bahan bacaan maupun perlengkapan lainnya untuk menyelenggarakan pendidikan nonformal. b. Setiap pengelola TBM mendapatkan pelatihan dan pendidikan dalam mengelola TBM agar memperlancar kegiatan pendidikan nonformal yang akan diselenggarakan. c. Pengelola TBM melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan fungsi TBM sehingga TBM menarik bagi semua umur untuk membaca buku-buku bahkan mengembangkan kreatifitasnya di TBM. 2. Kendala a. Koleksi bahan bacaan yang terbatas di TBM Rusun Bangunrejo Surabaya menjadi kendala untuk penyelenggaraan pendidikan nonformal sehingga harus

ditambahkan koleksi bahan bacaannya. b. Masyarakat sekitar TBM Rusun Bangunrejo Surabaya masih belum antusias untuk berkunjung ke TBM untuk membaca, sehingga perlu dilakukan kegiatan yang bisa menarik antusias masyarakat berkunjung ke TBM. Cara Mengatasi Kendala Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat 1. Pihak BARPUS mengikuti lelang buku untuk memenuhi kebutuhan bahan bacaan seluruh Taman Bacaan Masyarakat. 2. BARPUS juga melakukan kerjasama dengan pihak yang peduli untuk menyediakan bukubuku baik pihak swasta maupun pemerintahan.

nonformal dapat ditingkatkan, seperti mengikuti acara lelanglelang buku untuk menambah koleksi bacaan di TBM dan mencari pihak swasta yang dapat membantu mendanai TBM dalam pemenuhan sarana dan prasarana. 4. Pengelola TBM dan Barpus Surabaya berusaha untuk meminimalisir kendala yang dihadapi dalam menyelenggarakan pendidikan nonformal dengan melakukan kegiatan positif di lingkungan TBM agar masyarakat sekitar mau berkunjung ke TBM serta menambahkan segala kualifikasi bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan TBM tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia. Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Naskah Akademik Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Nonformal, Jakarta Hakim, Heri Abi Burachman. 2009. Perpustakaan Sekolah Sarana

SARAN
Adapun beberapa rekomendasi dan saran dalam penelitian ini antara lain: 1. Taman Bacaan Masyarakat merupakan sarana penunjang pendidikan, sehingga peranannya mesti ditingkatkan lagi bukan hanya sebagai tempat membaca buku saja. Tapi mesti menjadi tempat pelayanan dan menyediakan akses informasi untuk pemyelenggaraan pendidikan nonformal. 2. Dalam menyelenggarakan pendidikan nonformal pengelola TBM atau pihak Barpus Surabaya harus memperhatikan kebutuhan bahan bacaan yang tepat untuk masyarakat sekitar TBM. 3. Pengelola TBM dan Barpus Surabaya melakukan berbagai cara agar penunjang penyelenggaraan pendidikan

Peningkatan Minat Baca. www.heri_abi.staff.ugm.ac.id Hikmat. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta Rusijono & Mustaji. 2008. Penelitian Teknologi Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press. Seels, Barbara & Richey, Rita. 1994. Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Unit percetakan Universitas Negeri Jakarta. Seri Pustaka Teknologi Pendidikan. 1977. Definisi Teknologi

Pendidikan. Satuan Tugas, Definisi dan Terminologi AECT. Universitas Terbuka: PT. Rajagrafindo Persada Sobri. Dkk. 2009. Pengelolaan Pendidikan. Yogyakarta: Multi Pressindo Sudjana SF, Djudju. (1983). Pendidikan Nonformal (Wawasan-Sejarah-Azas), Theme, Bandung. Sudomo, M.,1989. Pendidikan Luar Sekolah ke Arah Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud. Sugiono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Syukur, Fatah. 2005. Teknologi Pendidikan. Semarang: RaSAIL Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. 2008. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->