Contoh Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca

)
Untuk yang sudah lama tidak update, seperti saya, harap diketahui bahwa laporan keuanganyang dalam PSAK lama disebut “Neraca”, sekarang namanya berubah menjadi “Laporan Posisi Keuangan”. *Mikir: janganjangan cuma saya neh yang tidak update? Hahaha. Pertanyaannya:Apakah format Laporan Posisi Keuangan (baru) berbeda jika dibandingkan dengan format Neraca (lama)? Lewat tulisan ini saya ingin share contoh format laporan posisi keuangan alias Neraca. Seperti judul tulisan ini, saya akan tampilkan contoh formatnya—dari yang paling ringkas sampai yang sepanjang gerbong kereta api. Saya yakin sebagian besar pembaca, termasuk anda, pasti sudah pernah melihat format Neraca (yang sekarang disebut ‘Laporan Posisi Keuangan’). Yang kerap meragukan adalah bentuknya yang bervariasi—ada yang sangat ringkas nan pendek, ada juga yang begitu detail mencantumkan akun-demi-akun sehingga mirip rangkaian gerbong kereta api Argo Bromo Surabaya – Jakarta. Ada yang beralur horizontal (ke samping), ada juga yang alurnya vertical (menurun), mengikuti panjang halaman kertas. [quote]Dengan tulisan ini, saya berharap pembaca mendapat gambaran yang jelas (kalau bisa pasti) mengenai format Neraca (Laporan Posisi Keuangan). SEKALIGUS bisa melihat AKUN APA masuk ke kelompok APA.[/quote] Standar Akuntansi manapun (termasuk PSAK yang baru) TIDAK pernah menyatakan suatu format Neraca tertentu sebagai standar yang harus digunakan oleh semua akuntan dalam menyusun laporan keuangan. Pun demikian, ada halhal penting yang ditekankan dalam PSAK, sehubungan dengan penyajian laporan keuangan, yang akan saya ikut sertakan juga (dalam tulisan ini). Tetapi sebelum itu, ada hal penting yang tak kalah pentingnya untuk diketahui, sehubungan dengan neraca, yaitu: kelemahan informasi keuangan yang diperoleh dari sebuah Neraca (maaf, saya masih sering menggunakan kata Neraca.)

lalu disusutkan selama 15 tahun dengan menggunakan metode garis lurus. TIDAK diperhitungkan.333. pada saat dilaporkan.333) = Rp 2 milyar – 266. JAK membeli bangunan tempat usaha seharga Rp 2 milyar. jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai pasar. maka nilai buku bangunan tersebut menjadi (perhitungan saya sederhanakan): = Nilai Perolehan – Akumulasi penyusutan = Rp 2 milyar – [2 x (Rp 2 milyar/15) = Rp 2 milyar – [2 x Rp 133. nama lainnya ―Neraca‖ (Balance Sheet) adalah ―Laporan Posisi Keuangan‖.333. apa kelemahan Neraca sebagai penyaji laporan posisi keuangan? Kelemahannya yang paling mencolok adalah: tidak mewakili nilai aset dan liabilitas yang sesungguhnya. tanpa nilai sisa (no residual value). Misalnya: Di tahun tahun 2010. Nah. Laporan Perubahan Modal.333 itulah yang terlihat di Neraca sebagai nilai aset bangunan. Dengan kata lain. tetapi entah mengapa publik (termasuk pengatur standar) lebih suka menggunakan istilah ―Neraca‖.Kelemahan Neraca (Di Masa Lalu) Sebagai Penyaji Laporan Posisi Keuangan Sebenarnya. Bisa jadi karena lebih mudah disebutkan (singkat) dan tidak membingungkan ketika bersandingan dengan istilah ―Laporan Keuangan‖—yang terdiri dari: Neraca. Terutama aset tidak lancar. Mengapa demikian? Karena nilai aset (aktiva) dan liabilitas (kewajiban) yang digunakan dalam Neraca (di masa lalu) menggunakan pendekatan cost histories (historical cost approach). termasuk Goodwil dan aset tak berwujud lainnya. Di Neraca PT. Nah. sedangkan pelaporan baru dilakukan di akhir tahun. JAK per 2012. Laporan Laba/Rugi. selama kurun waktu antara transaksi dan pelaporan. sudah sejak lama. meskipun pada kenyataannya harga bangunan naik (Note: ada .666.667 = Rp 1.333 Nilai Rp 1. dan Laporan Arus Kas.333. nilai yang dicantumkan dalam Neraca adalah nilai aset dan liabilitas pada saat transaksi terjadi. di masa lalu. PT.733.733.

pada Neraca cenderung lebih besar dibandingkan kenyataannya (bila dijual misalnya). pada kenyataannya cenderung menurun lebih cepat jika dibandingkan dengan penyusutan yang dibebankan tiap periodenya—sehingga nilai aset jenis ini. diwujudkan dengan cara: mewajibkan perusahaan (terutama yang berstatus publik) untuk melakukan revaluasi berkala terhadap aset tak lancar mereka. liabilitas dan ekuitas pemilik) yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.  Note: Khusus Goodwill.[/quote] Regulator (IASB untuk IFRS dan FASB untuk GAAP) merespon keluhan tersebut dengan membuat perombakan standar akuntansi yang nantinya bisa membuat Neraca mampu menyajikan laporan posisi keuangan yang lebih representative. kini IFRS telah menggunakan ―nilai wajar” (Fair value) (nilai wajar) sebagai acuan. Bersama dengan perlakuan-perlakuan akuntansi yg lain (selain aset dan liabilitas). peralatan dan kendaraan. Jika dahulu menggunakan “nilai perolehan” (historical cost) (seperti kasus aset bangunan di atas).‖ Jika sebaliknya. Perubahan standar akuntansi yang paling mencolok. Dengan penggunaan nilai wajar (fair value). Hasil revaluasi bisa jadi lebih kecil atau lebih besar jika dibandingkan dengan nilai buku di Neraca:  Jika hasil revaluasi (nilai terpulihkan/recoverable amount) lebih kecil dari nilai buku (carrying amount). Penerapan nilai wajar (fair value). oleh IFRS. adalah: penentuan nilai aset—terutama aset tak lancar (aktiva tetap) termasuk goodwill dan aset tak berwujud lainnya. menggunakan impairment (penurunan nilai) sebagai pendekatan untuk menentukan nilai wajar. HANYA SAJA. Sebaliknya. . sehubungan dengan hal ini. Kenyataan-kenyataan itu membuat investor (baik yang sudah berstatus pemegang saham maupun calon pembeli saham) merasa bahwa: [quote]Neraca (di masa lalu) belum menyajikan posisi keuangan (nilai aset. maka dibuatkan jurnal koreksi ―rugi revaluasi. dibuatkan jurnal koteksi ―Laba revaluasi’.kecenderungan harga bangunan selalu naik). IASB mengeluarkan IFRS (yang sekarang telah diimplementasikan sepenuhnya dalam PSAK yang baru). aset mesin. nilai aset bangunan yg di Neraca lebih rendah dari kenyataannya. diharapkan nilai aset tak lancar perusahaan yang tersaji di Neraca menjadi lebih representative. Itu artinya.

logis dan mudah dipahami. Pada dasarnya. Yang ada adalah beberapa ketentuan dasar—yang (mungkin) diharapkan bisa menjamin isi Neraca menjadi tidak bias atau menyesatkan pembacanya. Semoga saja suatu saat nanti ditemukan pendekatan yang lebih pas (dan bisa diterima oleh semua pihak). Tetapi pada prakteknya. tidak ada ketentuan pasti mengenai ―Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)‖ di dalam standar Akuntansi manapun. Bukan hanya di PSAK atau IFRS yang berlaku di Indonesia. Sedangkan format pastinya. IFRS mencoba untuk membuat semua elemen aset dan liabilitas menggunakan nilai wajar (fair value). sepanjang ketentuan-ketentuan dasar tersebut dipatuhi. Kecuali untuk barang kembali—entah itu karena cacat (ringan. kalangan bank masih enggan mengikuti standar yang baru (IFRS). Misalnya: Nilai persediaan. di USGAAP yang direformasipun tidak ada. Sehingga meskipun sudah ditetapkan. diserahkan ke perusahaan. Oke ada banyak metode penentuan nilai persediaan yang diijinkan (kecuali LIFO). Kita lanjut ke Penyajian ―Laporan Posisi Keuangan‖… Penyajian Laporan Posisi Keuangan Sesuai PSAK Baru (Konvergen IFRS) Seperti sudah saya singgung di awal tulisan.masih banyak wilayah lain (selain aset tak lancar) yang belum mewakili nilai yang sebenarnya. Pertanyaan selanjutnya: Sampai kapan kelemahan Neraca (Laporan Posisi Keuangan) ini bisa diperbaiki? Entahlah. masih menjadi pro-dan-kontra. berat) atau karena tak laku dijual. sedang. Tetapi sampai saat ini belum boleh mengakui nilai persediaan sesuai dengan harga pasar— tetap menggunakan historical cost (cost yang timbul saat barang dibuat). yang sedikit-banyaknya bisa membuat nilai inflasi tercover. khususnya untuk instrument-instrumen investasi dan derivative bank. . sampai saat ini belum bisa diperbaiki sepenuhnya. melalui IAS 17 telah ditentukan agar barang yang kembali direvaluasi.

Aset biolojik. Dalam sebuah Laporan Keuangan (dan Penjelelasan Rinci-nya). Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan.  . dan Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan     Mengenai pos-pos (akun-akun) yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca). dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya. Aset tidak berwujud. (h) dan (i)). Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas. paragraph 52 menyebutkan agar ―minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut‖ (jika ada):           Aset tetap.Apa saja ketentuan-ketentuan dasar penyajian Laporan Posisi Keuangan sesuai PSAK baru? Berikut adalah kutipan beberapa bagian PSAK 1 yang penting-penting saja (untuk detailnya silahkan baca PSAK). Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. Properti investasi. perusahaan diminta untuk menyajikan informasi ini secara jelas (paragraph 49):  Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain. Persediaan. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas. Utang dagang dan terutang lainnya. Kas dan setara kas. Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e). Mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52. Piutang dagang dan piutang lainnya.

Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. jika:  Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset. Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan. dalam siklus operasi normal. Liabilitas dan aset pajak tangguhan. Lebih jauh mengenai ―Aset Lancar dan Tak lancar‖ dan ―Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang‖. Kepentingan non-pengendali. akan tetapi ―Pajak Tangguhan‖ TIDAK BOLEH diklasifikasikan sebagai ―aset lancar‖ atau ―liabilitas jangka pendek‖. jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan perusahaan. disajikan sebagai bagian dari ekuitas. Aset Lancar dan Tak Lancar – Perusahaan mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar.     Kewajiban diestimasi.   Pos-pos tambahan. atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya. Liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan BOLEH DISAJIKAN. Liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l)). PSAK 1 paragraph 64 dan 67 memberikan panduan khusus sebagai berikut: 1. dan Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan. atau Kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.    Note: Aset yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai ―Aset Tidak Lancar‖ . sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. Pengklasifikasian “aset lancar dan tidak lancar” dan “liabilitas jangka pendek dan jangka panjang” juga DIBOLEHKAN.

tidak ada format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar akuntansi manapaun. untul lebih jelasnya silahkan baca PSAK 1. Dalam format ini. liabilitas dan ekuitas pemegang saham) disertai jumlah saldo saat pelaporan. Wujud atau bentuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) itu sendiri. . Contoh Format “Laporan Posisi Keuangan” alias “Neraca” Bisa dikatakan bahwa.2. Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang – Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:    Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya. kebiasaan yang lama-lama menjadi semacam kesepakatan tak tertulis antara para pembuat dan pengguna laporan keuangan. sehingga pembaca laporan posisi keungan bisa melihat bahwa: aset = liabilitas + ekuitas pemegang saham. Itu saja point-point yang yang penting. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan. yaitu:  Bentuk yang menyerupai T-Account: Kelompok ―Aset‖ diletakkan di sisi kiri. Adapun format yang selama ini lumrah dipakai. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan. ada 2 macam yang lumrah digunakan. baik oleh perusahaan yang sudah berstatus publik maupun yang belum. atau Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.  Note: Liabilitas yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai ―Liabilitas Jangka Panjang‖. di tempatkan di satu halaman. sementara kelompok ―Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham‖ di sisi kanan laporan. Sekalilagi. Penyajian yang paling lumrah digunakan adalah format bersaldo seimbang (seperti yang saya gunakan dalam contoh dibawah). adalah tradisi. masing-masing elemen (aset.

saya hanya menggunakan bentuk yang kedua. . diikuti oleh kelompok ―Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham‖ di bawahnya. Bentuk yang menyerupai Ledger (Buku Besar): Kelompok ―Aset‖ diletakan di bagian atas laporan. Dalam contoh berikut ini. dalam dua versi: ringkas dan detail.

.

Dan. ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang agak detail: .

Karena keterbatasan ruang. dan selamat beraktivitas untuk yang tidak libur. Untuk sementara saya ucapkan selamat berlibur bagi yang libur. penjelasan dari masing-masing akun dalam format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) ini akan saya bahas di tulisan berikutnya. .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.