Contoh Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca

)
Untuk yang sudah lama tidak update, seperti saya, harap diketahui bahwa laporan keuanganyang dalam PSAK lama disebut “Neraca”, sekarang namanya berubah menjadi “Laporan Posisi Keuangan”. *Mikir: janganjangan cuma saya neh yang tidak update? Hahaha. Pertanyaannya:Apakah format Laporan Posisi Keuangan (baru) berbeda jika dibandingkan dengan format Neraca (lama)? Lewat tulisan ini saya ingin share contoh format laporan posisi keuangan alias Neraca. Seperti judul tulisan ini, saya akan tampilkan contoh formatnya—dari yang paling ringkas sampai yang sepanjang gerbong kereta api. Saya yakin sebagian besar pembaca, termasuk anda, pasti sudah pernah melihat format Neraca (yang sekarang disebut ‘Laporan Posisi Keuangan’). Yang kerap meragukan adalah bentuknya yang bervariasi—ada yang sangat ringkas nan pendek, ada juga yang begitu detail mencantumkan akun-demi-akun sehingga mirip rangkaian gerbong kereta api Argo Bromo Surabaya – Jakarta. Ada yang beralur horizontal (ke samping), ada juga yang alurnya vertical (menurun), mengikuti panjang halaman kertas. [quote]Dengan tulisan ini, saya berharap pembaca mendapat gambaran yang jelas (kalau bisa pasti) mengenai format Neraca (Laporan Posisi Keuangan). SEKALIGUS bisa melihat AKUN APA masuk ke kelompok APA.[/quote] Standar Akuntansi manapun (termasuk PSAK yang baru) TIDAK pernah menyatakan suatu format Neraca tertentu sebagai standar yang harus digunakan oleh semua akuntan dalam menyusun laporan keuangan. Pun demikian, ada halhal penting yang ditekankan dalam PSAK, sehubungan dengan penyajian laporan keuangan, yang akan saya ikut sertakan juga (dalam tulisan ini). Tetapi sebelum itu, ada hal penting yang tak kalah pentingnya untuk diketahui, sehubungan dengan neraca, yaitu: kelemahan informasi keuangan yang diperoleh dari sebuah Neraca (maaf, saya masih sering menggunakan kata Neraca.)

Misalnya: Di tahun tahun 2010. JAK membeli bangunan tempat usaha seharga Rp 2 milyar. Di Neraca PT. tanpa nilai sisa (no residual value). apa kelemahan Neraca sebagai penyaji laporan posisi keuangan? Kelemahannya yang paling mencolok adalah: tidak mewakili nilai aset dan liabilitas yang sesungguhnya.733.333. jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai pasar. lalu disusutkan selama 15 tahun dengan menggunakan metode garis lurus.333 itulah yang terlihat di Neraca sebagai nilai aset bangunan. termasuk Goodwil dan aset tak berwujud lainnya.333) = Rp 2 milyar – 266. Terutama aset tidak lancar. meskipun pada kenyataannya harga bangunan naik (Note: ada . selama kurun waktu antara transaksi dan pelaporan.333. Laporan Laba/Rugi.667 = Rp 1. nilai yang dicantumkan dalam Neraca adalah nilai aset dan liabilitas pada saat transaksi terjadi. sedangkan pelaporan baru dilakukan di akhir tahun. Nah. sudah sejak lama. nama lainnya ―Neraca‖ (Balance Sheet) adalah ―Laporan Posisi Keuangan‖.333. JAK per 2012. pada saat dilaporkan. dan Laporan Arus Kas. Nah. TIDAK diperhitungkan. PT.666.333 Nilai Rp 1. Bisa jadi karena lebih mudah disebutkan (singkat) dan tidak membingungkan ketika bersandingan dengan istilah ―Laporan Keuangan‖—yang terdiri dari: Neraca. Dengan kata lain. tetapi entah mengapa publik (termasuk pengatur standar) lebih suka menggunakan istilah ―Neraca‖.733. maka nilai buku bangunan tersebut menjadi (perhitungan saya sederhanakan): = Nilai Perolehan – Akumulasi penyusutan = Rp 2 milyar – [2 x (Rp 2 milyar/15) = Rp 2 milyar – [2 x Rp 133. di masa lalu. Laporan Perubahan Modal.Kelemahan Neraca (Di Masa Lalu) Sebagai Penyaji Laporan Posisi Keuangan Sebenarnya. Mengapa demikian? Karena nilai aset (aktiva) dan liabilitas (kewajiban) yang digunakan dalam Neraca (di masa lalu) menggunakan pendekatan cost histories (historical cost approach).

liabilitas dan ekuitas pemilik) yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.kecenderungan harga bangunan selalu naik). pada Neraca cenderung lebih besar dibandingkan kenyataannya (bila dijual misalnya). Penerapan nilai wajar (fair value). . diwujudkan dengan cara: mewajibkan perusahaan (terutama yang berstatus publik) untuk melakukan revaluasi berkala terhadap aset tak lancar mereka. peralatan dan kendaraan.  Note: Khusus Goodwill. Dengan penggunaan nilai wajar (fair value). sehubungan dengan hal ini. Bersama dengan perlakuan-perlakuan akuntansi yg lain (selain aset dan liabilitas). pada kenyataannya cenderung menurun lebih cepat jika dibandingkan dengan penyusutan yang dibebankan tiap periodenya—sehingga nilai aset jenis ini. dibuatkan jurnal koteksi ―Laba revaluasi’.‖ Jika sebaliknya. aset mesin. IASB mengeluarkan IFRS (yang sekarang telah diimplementasikan sepenuhnya dalam PSAK yang baru). HANYA SAJA. Kenyataan-kenyataan itu membuat investor (baik yang sudah berstatus pemegang saham maupun calon pembeli saham) merasa bahwa: [quote]Neraca (di masa lalu) belum menyajikan posisi keuangan (nilai aset.[/quote] Regulator (IASB untuk IFRS dan FASB untuk GAAP) merespon keluhan tersebut dengan membuat perombakan standar akuntansi yang nantinya bisa membuat Neraca mampu menyajikan laporan posisi keuangan yang lebih representative. Itu artinya. Perubahan standar akuntansi yang paling mencolok. Sebaliknya. maka dibuatkan jurnal koreksi ―rugi revaluasi. adalah: penentuan nilai aset—terutama aset tak lancar (aktiva tetap) termasuk goodwill dan aset tak berwujud lainnya. oleh IFRS. nilai aset bangunan yg di Neraca lebih rendah dari kenyataannya. Jika dahulu menggunakan “nilai perolehan” (historical cost) (seperti kasus aset bangunan di atas). kini IFRS telah menggunakan ―nilai wajar” (Fair value) (nilai wajar) sebagai acuan. Hasil revaluasi bisa jadi lebih kecil atau lebih besar jika dibandingkan dengan nilai buku di Neraca:  Jika hasil revaluasi (nilai terpulihkan/recoverable amount) lebih kecil dari nilai buku (carrying amount). diharapkan nilai aset tak lancar perusahaan yang tersaji di Neraca menjadi lebih representative. menggunakan impairment (penurunan nilai) sebagai pendekatan untuk menentukan nilai wajar.

Tetapi pada prakteknya. berat) atau karena tak laku dijual. melalui IAS 17 telah ditentukan agar barang yang kembali direvaluasi. Kita lanjut ke Penyajian ―Laporan Posisi Keuangan‖… Penyajian Laporan Posisi Keuangan Sesuai PSAK Baru (Konvergen IFRS) Seperti sudah saya singgung di awal tulisan. Oke ada banyak metode penentuan nilai persediaan yang diijinkan (kecuali LIFO). sedang. Bukan hanya di PSAK atau IFRS yang berlaku di Indonesia. Sedangkan format pastinya. Semoga saja suatu saat nanti ditemukan pendekatan yang lebih pas (dan bisa diterima oleh semua pihak). Pertanyaan selanjutnya: Sampai kapan kelemahan Neraca (Laporan Posisi Keuangan) ini bisa diperbaiki? Entahlah. sampai saat ini belum bisa diperbaiki sepenuhnya. kalangan bank masih enggan mengikuti standar yang baru (IFRS). sepanjang ketentuan-ketentuan dasar tersebut dipatuhi. Pada dasarnya.masih banyak wilayah lain (selain aset tak lancar) yang belum mewakili nilai yang sebenarnya. diserahkan ke perusahaan. tidak ada ketentuan pasti mengenai ―Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)‖ di dalam standar Akuntansi manapun. Sehingga meskipun sudah ditetapkan. Kecuali untuk barang kembali—entah itu karena cacat (ringan. di USGAAP yang direformasipun tidak ada. IFRS mencoba untuk membuat semua elemen aset dan liabilitas menggunakan nilai wajar (fair value). Tetapi sampai saat ini belum boleh mengakui nilai persediaan sesuai dengan harga pasar— tetap menggunakan historical cost (cost yang timbul saat barang dibuat). Yang ada adalah beberapa ketentuan dasar—yang (mungkin) diharapkan bisa menjamin isi Neraca menjadi tidak bias atau menyesatkan pembacanya. yang sedikit-banyaknya bisa membuat nilai inflasi tercover. logis dan mudah dipahami. Misalnya: Nilai persediaan. khususnya untuk instrument-instrumen investasi dan derivative bank. masih menjadi pro-dan-kontra. .

paragraph 52 menyebutkan agar ―minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut‖ (jika ada):           Aset tetap. (h) dan (i)). Utang dagang dan terutang lainnya. Investasi dengan menggunakan metode ekuitas. Kas dan setara kas.  . dan Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan     Mengenai pos-pos (akun-akun) yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca). Properti investasi. Piutang dagang dan piutang lainnya. Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58.Apa saja ketentuan-ketentuan dasar penyajian Laporan Posisi Keuangan sesuai PSAK baru? Berikut adalah kutipan beberapa bagian PSAK 1 yang penting-penting saja (untuk detailnya silahkan baca PSAK). Persediaan. Aset biolojik. dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya. perusahaan diminta untuk menyajikan informasi ini secara jelas (paragraph 49):  Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain. Aset tidak berwujud. Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas. Dalam sebuah Laporan Keuangan (dan Penjelelasan Rinci-nya). Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e). Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan. Mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52.

jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan perusahaan. Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58. Kepentingan non-pengendali. judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan BOLEH DISAJIKAN. akan tetapi ―Pajak Tangguhan‖ TIDAK BOLEH diklasifikasikan sebagai ―aset lancar‖ atau ―liabilitas jangka pendek‖. jika:  Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset.     Kewajiban diestimasi. atau Kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan. Lebih jauh mengenai ―Aset Lancar dan Tak lancar‖ dan ―Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang‖. PSAK 1 paragraph 64 dan 67 memberikan panduan khusus sebagai berikut: 1. Aset Lancar dan Tak Lancar – Perusahaan mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar. Liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l)). disajikan sebagai bagian dari ekuitas. atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya. dalam siklus operasi normal. Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan.   Pos-pos tambahan. Liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. Pengklasifikasian “aset lancar dan tidak lancar” dan “liabilitas jangka pendek dan jangka panjang” juga DIBOLEHKAN. Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan.    Note: Aset yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai ―Aset Tidak Lancar‖ . sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46. dan Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Liabilitas dan aset pajak tangguhan.

Itu saja point-point yang yang penting.2. . Contoh Format “Laporan Posisi Keuangan” alias “Neraca” Bisa dikatakan bahwa. Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan. baik oleh perusahaan yang sudah berstatus publik maupun yang belum. Entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan. tidak ada format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar akuntansi manapaun. Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang – Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:    Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya. atau Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan. liabilitas dan ekuitas pemegang saham) disertai jumlah saldo saat pelaporan. masing-masing elemen (aset. Dalam format ini. sehingga pembaca laporan posisi keungan bisa melihat bahwa: aset = liabilitas + ekuitas pemegang saham. Sekalilagi.  Note: Liabilitas yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai ―Liabilitas Jangka Panjang‖. Penyajian yang paling lumrah digunakan adalah format bersaldo seimbang (seperti yang saya gunakan dalam contoh dibawah). ada 2 macam yang lumrah digunakan. untul lebih jelasnya silahkan baca PSAK 1. Wujud atau bentuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) itu sendiri. adalah tradisi. Adapun format yang selama ini lumrah dipakai. sementara kelompok ―Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham‖ di sisi kanan laporan. kebiasaan yang lama-lama menjadi semacam kesepakatan tak tertulis antara para pembuat dan pengguna laporan keuangan. yaitu:  Bentuk yang menyerupai T-Account: Kelompok ―Aset‖ diletakkan di sisi kiri. di tempatkan di satu halaman.

. diikuti oleh kelompok ―Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham‖ di bawahnya. Dalam contoh berikut ini. Bentuk yang menyerupai Ledger (Buku Besar): Kelompok ―Aset‖ diletakan di bagian atas laporan. dalam dua versi: ringkas dan detail. saya hanya menggunakan bentuk yang kedua.

.

Dan. ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang agak detail: .

dan selamat beraktivitas untuk yang tidak libur. penjelasan dari masing-masing akun dalam format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) ini akan saya bahas di tulisan berikutnya. . Untuk sementara saya ucapkan selamat berlibur bagi yang libur.Karena keterbatasan ruang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful