BAB I LANDASAN TEORI

1.1

Pengertian Strain adalah “tarikan otot” akibat penggunaan berlebihan, peregangan berlebihan (Smeltzer Suzame, KMB Brunner dan Suddarth). Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplit dengan perdarahan kedalam jaringan (Smeltzer Suzame, KMB Brunner dan Suddarth).

1.2

Anatomi Fisiologi 1.2.1 Otot Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang kerangka tubuh oleh tendon, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit. Fungsi sistem muskuler/otot:
A. Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot

tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh. B. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi. C. Produksi panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mepertahankan suhu tubuh normal.

1.2.2

Tendon Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yang terbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan otot.

1.3

Etiologi 1.3.1 Pada strain akut : Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak 1.3.2 Pada strain kronis : Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang

berlebihan/tekanan berulang-ulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). 1.4 Patofisiologi Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera memar dan membengkak.

dan keterbatasan lingkup gerak sendi. kehilangan kekuatan. Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang.Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa nyeri. spasme otot. . menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh. pemain tenis bisa mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-ulang.

5 Web Of Caution/Pathway Penggunan berlebihan.1. tekanan yang berulang. peregangan yang berlebihan ↓ Cedera otot → ↓ Spasme otot ↓ Gerakan minimal ↓ Keterbatasan mobilitas fisik ← Nyeri Akut → Hospitalisasi ↓ ↓ pengetahuan ↓ Anxietas ↓ Laserasi kulit Perubahan jaringan sekitar ↓ Resti infeksi .

Berupa robekan penuh pada otot dan ligament yang ketidakstabilan sendi.1 Derajat I/Mild Strain (ringan) Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit muskulotendinous yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada otot/ligament.7 Tanda dan Gejala 1. terlebih jika otot berkontraksi. 1. .3 Derajat III/Strain Severe (berat) Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat.1.6 Klasifikasi 1. 1.6.7.6. 1.2 Strain total didiagnosa sebagai otot tidak bisa berkontraksi dan terbentuk benjolan 1. pada cidera menghasilkan strain rasa sakit adalah nyeri yang menusuk pada saat terjadi cedera.7.1 Strain ringan ditandai dengan kontraksi otot terhambat karena nyeri dan teraba pada bagian otot yang mengaku.2 Derajat II/Medorate Strain (ringan) Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang berlebihan.7. 1.6.3 Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu.

pada bagian memar terjadi perubahan warna. 1.4 Nyeri menyebar keluar dengan kejang atau kaku otot. Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut. Penangan pada strain biasanya dilakukan sperti berikut : 1.5 Cidera strain membuat daerah sekitar cedera memar dan membengkak. dan otot mengalami kekejangan. Setelah 24 jam. istirahatkan bagian yang cedera.8.2 Tinggikan daerah yang cedera. Tujuannya untuk mengurangi pembengkakan yang berlebihan.7. Segera berhenti melakukan segala aktivitas. pepatah “no pain no gain” yang dianut beberapa olahragawan tidak dapat dibenarkan dalam kasus ini.8. 1. ligament atau tendon yang kram akan memperoleh kembali fungsinya secara penuh setelah diberikan perawatan konservatif.1.1 Letakkan penderita dalam posisi yang nyaman.8 Penanganan Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 – 72 jam sedangkan mati rasa biasanya menghilang dalam 1 jam. 1. Perdarahan biasanya berlangsung selama 30 menit atau lebih kecuali jika diterapkan tekanan atau dingin untuk menghentikannya. Otot. .7. ada tandatanda perdarahan pada otot yang sobek.

. warna merah. maka prinsip pemberian kompres hangat bisa dilakukan 1. nyeri hebat sudah hilang.4 Balut tekan (pressure bandage) dan tetap tinggikan. Saat cedera baru berlangsung. Sebaliknya.1. Jangan terlalu erat. pembuluh darah sekitar tempat cedera juga akan melebar (dilatasi) sebagai respon peradangan. bisa dilakukan dengan perban/dibalut. Tujuannya untuk mengurangi pembengkakan yang berlebihan. Kompres dingin bisa dilakukan 1-2 kali sehari. Kompres/penekanan pada bagian cedera. tanda2 peradangan seperti bengkak. 1.3 Beri kompres dingin. saat cedera sudah kronik.5 Tinggikan daerah yang cedera.8. Pemberian kompres dingin/es akan “menyempitkan” pembuluh darah yg melebar sehingga mengurangi bengkak.8. ulangi setiap jam bila perlu. jangan lebih dari 20 menit karena justru kan mengganggu sirkulasi darah. Tekanlah pada daerah cedera sampai nyeri hilang (biasanya 7 sampai 10 hari untuk cedera ringan dan 3 sampai 5 minggu untuk cedera berat. selama 30 menit.8. tujuannya untuk mengurangi pembengkakan dan dalam penekanan tetap ditinggikan. akan terjadi robekan pembuluh darah yang berakibat keluarnya “isi” pembuluh darah tersebut ke jaringan sekitar nya sehingga bengkak.

3 Kemotherapi Dengan analgetik seperti Aspirin (300 – 600 mg/hari) atau Acetaminofen (300 – 600 mg/hari).1.9.6 Jika dibutuhkan. . gunakan tongkat penopang ketika berjalan. akan meningkatkan pembengkakan C. M : Massage. Dan hindari HARM. 1.9.9. atau exercise terlalu dini akan memburuk cidera D.tujuannya peninggian akan mengontrol pembengkakan.8. yaitu A. A :Alkohol.2 Meninggikan bagian yang sakit. tidak boleh diberikan pada masa akut karena akan merusak jaringan.9 Penatalaksanaan 1.4 1. Bila ragu rawat sebagai patah tulang lakukan foto rontgen dan rujuk ke fasilitas kesehatan. 1. H : Heat. 1.1 Istirahat Akan mencegah cidera tambah dan mempercepat penyembuhan 1.5 Elektromekanis. pemberian panas justru akan meningkatkan perdarahan B.9. R : Running. Pemberian kompres dingin Kompres dingin basah atau kering dengan diberikan secara intermioten 20-48 jam pertama yang akan mengurangi perdarahan edema dan ketidaknyamanan.9.

C. Dengan pembalutan atau pengendongan bagian yang sakit. B. Pembalutan atau wrapping eksternal. Penyangga beban. Posisi ditinggikan atau diangkat. Dengan ditinggikan jika yang sakit adalah ekstremitas. Semampunya dilakukan penggunaan secara penuh. .A. Latihan pelan-pelan dan penggunaan semampunya sesudah 48 jam. Latihan ROM.

Airway Ada atau tidanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk. . Area Critical care). Waktu tunggu 30 menit. kursi roda atau jalan kaki. Prioritas 2 atau Urgent : Pasien dengan penyakit yang akut.1 Pengkajian 2.2 Pengkajian Primer A. P2 (Kuning : Prioritas Sedang : Tanpa gangguan ABC tapi bisa memburuk perlahan.1 Triage Gambaran triage pada kasus strain biasanya ditemukan sebagai berikut: A. Mungkin membutuhkan trolley. Mungkin membutuhkan trolley.1.1. P2 (Merah : Prioritas Pertama : Gangguan ABC. kursi roda atau jalan kaki. B. Area Critical care). Kuning. Merah.BAB II ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWAT DARURATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSKULUSKELETAL “STRAIN” 2. 2. Prioritas 2 atau Urgent : Pasien dengan penyakit yang akut. Waktu tunggu 30 menit.

Bayi baru lahir : 12-20 kali/menit : 15-30 kali/menit : 30-50 kali/menit Pada orang dewasa. . Anak c. penggunaan otot bantu pernapasan. 4. Listen : suara nafas tambahan seperti ronchi dan wheezing 3. Look :Kesimetrisan bising nafas kanan dan kiri dan mungkin juga dijumpai sianosis. Respirasi : a.B. abnormal bila pernapasan >30 kali/menit atau <10 kali/menit. juga diperiksa peranjakan paru apakah simetris atau tidak dan dilihat adanya tanda apnea. ritme dan bentuk pernapasan. Breathing 1. 2. Feel : adanya hembusan nafas Palpasi : rate. Dewasa b.

Circulation TD dapat normal atau meningkat. CRT. tempat pemeriksaan dibawah klavikula dan pada garis aksilaris anterior. 6. kulit dan membran mukosa pucat. brakikardia. Voice respons. bising napas harus simetris kanan dan kiri. bunyi jantung normal pada tahap dini. pada daerah jantung menjadi pekak dan di atas lambung menjadi tympani. mungkin juga adanya gejala syok dan henti jantung. Aukskultasi : bising napas vesikuler tanpa ronkhi. takikardi. pikirkan adanya kerusakan CNS sampai terbukti lain. Perkusi : pada daerah paru selalu sonor. Bila hipoksia dan hipovolemia pada penderita dengan gangguan kesadaran dapat disingkirkan. Pain respons dan Uniresponsive). dingin. . C. denyut nadi. Disability Pemeriksaan neurologist secara cepat dapat dilakukan dengan metode AVPU (Allert.5. Pemeriksaan dengan CGS secara periodic dapat dilakukan untuk hasil yang lebih detail pada survey secunder. sianosis pada tahap lanjut. D. juga perkusi harus simetris kanan dan kiri.

Sing & syptomp : Nyeri. Dimulai dengan anamnesa singkat yang meliputi SAMPLE : A. edema. otot dan tendon. Pemeriksaan penunjang pada umumnya tidak dilakukan pada survey primer. Pemeriksaan dikerjakan tanpa menunda / menghentikan proses survey primer. perdarahan. Environment/exposure Pemeriksaan seluruh bagian tubuh harus dilakukan disertai tindakan untuk mencegah hipotermia. baik pada tubuh bagian depan maupun belakang. perubahan mobilitas / ketidakmampuan untuk menggunakan sendi.3 Pengkajian Sekunder Prinsip pada pemeriksaan sekunder adalah memeriksa ulang tubuh dengan lebih teliti mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki (head to toe). pemeriksaan saturasi oksigen dengan pulse oksimetri. foto cervical.1. Yang dapat dilakukan pada survey primer adalah . kateter dan NGT. 2. Pemasangan bidai atau vacuum matras untuk menghentikan perdarahan dapat juga dilakukan pada fase ini.E. . mati rasa. kelemahan. Tindakan lainnya yang dapat dilakukan pada survey primer adalah pemasangan monitor EKG. foto thoraks dan foto polos abdomen.

Allergy : Berkaitan dengan ada atau tidaknya riwayat alergi obat-obatan. Last meal : Makan terakhir yang dilakukan oleh klien. pernafasan. F. E. Medication : Berkaitan dengan ada atau tidaknya riwayat penggunaan obatobatan (anti hipertensi. C. dsb. antibiotik). D. . Even lead to injury : Gambaran tentang bagaimana awal terjadinya strain hingga klien sampai ke rumah sakit dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Past medical history Berkaitan dengan ada : atau tidaknya riwayat gangguan kardiovaskuler.B.

Apa penyebab nyeri 2. R(region/tempat) : meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri terasa.4 Focus Assement A. Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien. 1. C. Faktor yang meringankan nyeri 3. ditusuk-tusuk.1. Penyebaran nyeri 3. di iris-iris. Obat_obatan yang diminum B. di gigit. 1. Bagaimana rasa nyerinya : terbakar. di pukul-pukul dan lain-lain. klien mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya sendiri. menetap atau terasa pada menyebar. . Lokasi nyeri 2.2. Penyebaran ini apakah sama intensitasnya dengan lokasi sebenarnya. Q (Quality) : menggambarkan nyeri yang dirasakan. Faktor yang memperlambat nyeri 4. P (penyebab) : faktor yang menyebabkan nyeri itu datang. bila klien tidak mampu menggambarkan nyeri yang dirasakan.

2. 2. Apakah nyeri mengganggu aktivitasnya : gangguan motorik.1 Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot.2. 1. ligament atau tendon ditandai dengan kelemahan. mati rasa. sore. siang. 2. malam.2 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi.D. Serangan tiba-tiba atau perlahan-lahan. Apakah nyeri semakin bertambah atau E. 3.3 Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit.2.2 Diagnosa Keperawatan 2.2. prosedur invasif/traksi tulang) . S (skala) : untuk mengukur tingkat nyeri klien di suruh untuk menunjukan tingkat nyeri tersebut dengan menggunakan skala nyeri yang di beri oleh perawat. edema. Berapa kali serangannya dalam sehari. taruma jaringan lunak. 2. T (Time/waktu) : kapan nyeri itu tersa atau datag dan lama nyeri tersebut. Berapa berkurang skala nyeri 2. Kapan terasa nyari : pagi. otot dan tendon. gangguan kesadaran. perdarahan. 3. 1.

ligament atau tendon ditandai dengan kelemahan.2. Pantau TTV R/ Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh nyeri terhadap sistem tubuh lain C.3.5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit. kualita dan intensitas nyeri R/ Hasil kajian dapat membantu penentuan perawatan dan terapi pengobatan. skala nyeri berkurang Intervensi: A. perdarahan.3 Rencana Keperawatan 2. mati rasa. B. Kaji lokasi. 2. 2.2. Tujuan : Setelah diberikan perawatan nyeri dapat berkurang dan akhirnya hilang.4 Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Anjurkan klien untuk mengatur posisi tubuhnya agar daerah . tidak nampak meringis C. klien tidak mengeluh sakit B.2.1 Nyeri akut berhubungan dengan peregangan atau kekoyakan pada otot. kurang pengetahuan. edema. Kriteria : A.

koran. kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien.3. meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri. otot dan tendon. Kolaborasi pemberian obat penghilangnyeri dan antibiotik untuk mencegah penyebab luka lebih lanjut. Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksimpada klien dan keluarga. Anjurkan dan dukung untuk menciptakan suasana yang nyaman. R/ Untuk melancarkan vaskularisasi D. F. membantu menurunkan isolasi sosial. A. R/ keadaan lingkungak berpengaruh pada sensitifitas sensasi seseorang. 2. B. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio. E. R/ Memfokuskan perhatian. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien . R/ Tehnik napas dalam dapat meminimalisir nyeri yang dirasakan dengan terpenuhinya kebutuhan O2 jaringan.luka tidak tertekan.2 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidakmampuan untuk mempergunakan sendi.

Berikan diet TKTP. R/ Mempertahankan posis fungsional ekstremitas. gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi. Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari. gerak sendi. E. C. R/ Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mem-pertahankan fungsi fisiologis tubuh. G.R/ Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal. D. mempertahankan tonus otot. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien. men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi. mempertahakan mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi. R/ Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien. penumonia) F. atelektasis. . R/ Mempertahankan hidrasi adekuat. Berikan papan penyangga kaki. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien. R/ Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus.

2.3 Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. R/ Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual I. dan imun dalam batas normal. R/ Menilai perkembangan masalah klien. R/ Mencegah infeksi silang dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi.H. pernapasan. Status gastrointestinal. D. taruma jaringan lunak. TTV dalam batas normal. genitourinaria. . B. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi. prosedur invasif/traksi tulang) Kriteria Hasil: A. Tidak ada tanda tanda dan gejala infeksi (rucatudolof). Pertahankan tehnik aseptik pada klien dengan penggunaan antiseptik dan cucitangan sebelum dan sesudah tindakan. Kaji TTV dan tanda-tanda serta gejala infeksi R/ Mendeteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko. B. Higien klien adekuat C. Intervensi: A.3. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi.

Hitung granulosit absolut. Tujuan: Cemas berkurang Kriteria Hasil: A. Anjurkan keluarga untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien.3. R/ Segera dapat diketahui apabila terjadi infeksi. D. Anjurkan dan motivasi klien untuk mengingkatkan asupan makanan yang bergizi R/ Terpenihunya kebutuhan gizi akan menigkatkan status imunitas tubuh. R/ Mencegah infeksi silang.C. dan hasil-hasil yang berbeda). E. Kolaborasi pemberian antibiotik R/ Adanya indikasi yang jelas sehingga antibiotik yang diberikan dapat mengatasi organisme penyebab infeksi. apalagi keluarga klien mempunyai intensitas serta frekwensi yang lebih banyak beada dekat dan berhubungan dengan klien. Pantau hasil laboratorium (DPL. albumin. F.4 Anxietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Kontrol agresi (tidak menunjukan perilaku agresif) . kurang pengetahuan. 2. protein serum.

tidak adamanifestasi kecemasan secara fisik). . Gunakan komunikasi terapeutik.B.) D. B. R/ Memperkirakan sejauh apa ketergantungan klien dan koping yang dimiliki. Keterampilan interaksi sosial efektif Intervensi: A. R/ Mengetahui perkembangan kecemasan klien membantu dalam menetapkan intervensi dan indakan siaga. dengan menyesuaikan dengan kondisi serta situasi klien. melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. R/ Penggunaan kata-kata yang tidak tepat dapat menyakiti klien dan menghilangkan atau mengurangi rasa keperayaan klien terhadap perawat. Kontrol cemas (klien mampu mengidentifikasi gejala yang merupakan indikator kecemasan klien. Koping efektif (klien mengkomunikasikan kebutuhan dna perasaan negatif secara tepat. C. tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. C. Kaji dan dokumentasi tingkat kecemasan klien setiap harinya. Identifikasi kemampuan klien untuk mengurangi kecemasan dimasa lalu.

F. Bantu klien untuk memfokuskan pada situasi saat ini R/ Sebagai alat untuk mengidentifikasikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas. Beri dorongan pada klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan ijinkan klien untuk menangis. R/ Tehnik relaksasi dapat memberi perasaan nyaman dengan menstimulasi sekresi endorpin. I. Sediakan informasi faktual menyangkut diagnosis. R/ Mengeksternalisasikan kecemasan. termasuk sensasi yang biasanya dirasakan. Ajarkan tehnik relaksasi. dan anjurkan klien untuk menggunakan tehnik relaksasi.D. kontak yang terbatas dengan orang lain. H. Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang tenang. perawatan dan prognosis R/ Pengetahuan yang cukup dan benar mengenai kondisi klien akan mengurangi kecemasan klien terhadpa ketidakpastian kondisinya. E. G. saling memberi empatik secara verbal maupun non-verbal. . R/ Kepercayaan klien dapat mempermudah pemberin intervensi. Yakinkan klien kembali dengan menyentuh. dan jelaskan semua prosedur.

Tentukan kebutuhan pengajaran klien dengan melakukan penilaian tingkat pengetahuan klien dan pemahamannya. Komplikasi E. Tujuan: Menunjukan pengetahuan. Tanda dan gejala D. Tentukan kemampuan klien untuk mempelajari informasi khusus (misalnya: tingkat perkembangan. B.R/ Suasana tenang akan memberikan perasaan nyaman 2. ditandai dengan Kriteria Hasil:klien dan keluarga mengetahui mengenai A.3. R/ Untuk mengetahui kenbutuhan klien akan informasi/bahan pembelajaran. status psikologis. Strain B. kemoterapi.5 Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit. Penyebab C. dll) dan kondisi2 yang biasanya muncul pada setiap pemberian penaganan Intervensi: A. Penanganan (misal: peembedahan. .

Berikan pengajaran sesuai dengan tingkat pemahaman klien R/ Ketidaksesuaian antara tingkat pemahaman dengan tehnik pembelajaran akan menghambat transformasi ilmu. Kaji feed back klien dan keluarga.orientasi. R/ Sikap menggurui dapat mengundang ketersinggungan dan/atau rendah diri pada klien. R/ Untuk menentukan tehnik pemberian bahan ajaran. C. video. Gunakan alat bantu pembelajarran jika diperlukan (Misalnya: leafflet. dll) R/ Membantu pemahaman dan proses mengingat G. sehingga akan menghambat proses belajar. keadaan emosional. R/ Mengurangi kecemasan. nyeri. . alat peraga. keletihan. dan adaptasi terhadap sakit). Bantu klien untuk memahami dan mengetahui secara mental mengenai pembedahan serta periode pemulihan pascaoperasi. E. D. F. R/ Peningkatan intensitas pemaparan bahan ajaran akan membantu kemampuan mengingat. Ulangi informasi jika dibutuhkan. H. Berinteraksi kepada klien dengan cara tidak menghakimi untuk memfasilitasi pengajaran.

R/ Mengetahui sejauh mana penerimaan klien terhadap informasi yang telah diberikan. 2. atau SOAPIE pada masalah yang tidak terselesaikan atau teratasi sebagian. dengan memperhatikan respon hasil serta waktu yang ditetapkan. .4 Implementasi Keperawatan Implementasi dilakaukan sesuai dengan intervensi tiap-tiap masalah. 2.5 Evaluasi Hal hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan berfokus pada criteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan pedoman pembuatan SOAP.

com.DAFTAR PUSTAKA Smeltzer. Elly. Panduan Dignosa Keperawatan Nanda 2005-2006. Buku Saku Prosedur Keperawatan Medical Bedah.multiply. www. 2010.35 WITA. 2005. Ariefboy.42 WITA .com. 28 Maret 2011 pukul 21. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Budi. Adril. Wilkinson. EGC : Jakarta.www.amrilidris. Suzanne C. Cedera Strain. Edisi 8. EGC : Jakarta Santosa. Jakarta. 28 Maret pukul 21. 2008. 1989. Prima Medika : Jakarta Nurachman. Idris. Askep. Penerbit : EGC. 2006. judith M.ariefboy. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth.blogspot. 2001.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful