P. 1
Modul 2 Materi UKA Matematika SD

Modul 2 Materi UKA Matematika SD

|Views: 142|Likes:
Published by didjital
Modul 2 Materi UKA Matematika SD
Bilangan Asli, Cacah, Bulat dan Operasionalnya
Modul 2 Materi UKA Matematika SD
Bilangan Asli, Cacah, Bulat dan Operasionalnya

More info:

Published by: didjital on Feb 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

11/12/2015

$0.99

USD

pdf

text

original

1

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR …………………………………………………………..... DAFTAR ISI …………………………………………………………………….... Kompetensi/sub kompetensi ……………………………………………………..... Peta Bahan Ajar …………………………………………………………………..... BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... A. Latar Belakang …………………………………………….......... B. Tujuan …………………………………………………............. C. Sasaran ......................................................................................... D. Ruang Lingkup …………………………………………............. BAB II i ii iii iv 1 1 1 1 1

KONSEP PENJUMLAHAN, PENGURANGAN, PERKALIAN DAN ... 2 PEMBAGIAN A. Pengantar .......................... .................................................... 2 B. Tujuan Pembelajaran, Kompetensi, Strategi Belajar, Media Belajar 2 F. Konsep Penjumlahan dan Pengurangan ........................................... 2 G. Konsep Perkalian dan Pembagian .....………… ............... ............ 6 Latihan 1 ...................................................................................... 15 H. Operasi Hitung Campuran ……………………. …………........ 16 Latihan 2 ...................................................................................... 16 PEMBELAJARAN KPK DAN FPB DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL …………………………………………………..... A. Tujuan Pembelajaran, Kompetensi, Strategi Belajar, Media Belajar E. Pembelajaran KPK …………………………………………….... F. Pembelajaran FPB ……………………………………………...... Latihan 3 ....................................................................................... BILAGAN PERSEGI, KUBIK, DAN PENARIKAN AKARNYA .... A. Tujuan Pembelajaran, Kompetensi ................................................ B. Bilangan Persegi ……………………………………………....... C. Bilangan Kubik …………………………………………........... D. Teknik Menguadratkan dan Menarik Akar …………………....... Latihan 4 …………………………………………………….......

BAB III

17 17 17 20 29 30 30 30 31 32 36

BAB IV

BAB V

BILANGAN BULAT DAN OPERASINYA ........................................ 38 A. Tujuan Pembelajaran, Kompetensi ................................................. 38 B. Konsep bilangan bulat ................................................................... 38 C. Operasi pada bilangan bulat ......................................................... 38 Latihan 5 ……………………………………………………....... 45 46 47 48

BAB VIII PENUTUP ………………………………………………………........ DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ Kunci Jawaban Soal-soal Latihan ............................................................................

2

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kurikulum 2004 atau yang dikenal sebagai kurikulum berbasis kompetensi mengamanatkan bahwa pembelajaran kepada siswa harus mengacu pada siswa mencapai kompetensi yang digariskan. Kompetensi merupakan pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai yang dapat ditunjukkan dalam berfikir dan bertindak oleh peserta didik di setiap saat. Materi bilangan Asli, Cacah, dan Bulat yang disajikan pada tulisan ini dirancang sesuai dengan tuntutan kurikulum agar siswa mampu mencapai kompetensi dari kenal masalah, paham masalah, dan trampil memecahkan soal. Untuk maksud tersebut pendekatan pembelajaran yang dikembangkan khususnya penawaran konsep untuk topik-topik esensial dimulai dari mengenal masalah, memecahkan masalah secara informal menggunakan kompetensi yang sudah dicapai sebelumnya, pendekatan formal secara matematis, dan diakhiri dengan pembinaan ketrampilan. B. TUJUAN Modul ini ditulis untuk para peserta Diklat Matematika Sekolah Dasar dengan tujuan setelah mengikuti diklat ini dapat: 1. Memperoleh pengetahuan secara konkrit materi-materi esensial bilangan asli, cacah, dan bulat di Sekolah Dasar. 2. Memperoleh alternatif pendekatan pembelajaran yang tepat termasuk alat peraga dan media pembelajaran yang diperlukan. 3. Memperoleh wawasan keilmuan mengenai materi metode dan strategi pembelajaran bilangan asli, cacah, dan bulat di Sekolah Dasar 4. Menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki kepada siswa di sekolahnya. 5. Mengimbaskan pengetahuan yang diperolehnya kepada rekan seprofesi. C. SASARAN Sasaran pengguna modul ini adalah guru SD peserta diklat pasca Uji Kompetensi Awal (UKA) D. RUANG LINGKUP Pokok-pokok materi yang dibahas melalui modul ini meliputi: 1. Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian, dan pembagian 2. KPK dan FPB 3. Bilangan kuadrat, kubik, dan penarikan akarnya 4. Bilangan Bulat dan operasinya.

3

BAB II KONSEP PENJUMLAHAN, PENGURANGAN, PERKALIAN, DAN PEMBAGIAN

A. PENGANTAR Menurut Psikologi Bruner (Bruner, 1967: 124) pembelajaran akan lebih bermakna dan lebih cepat mencapai tujuan jika dimulai dari tahapan konkret (enactive) yakni menggunakan obyek sesungguhnya, kemudian semi konkret (econic) yakni obyeknya diganti gambar, dan terakhir abstrak (symbolic) yakni sajiannya hanya dalam bentuk lambang/simbol yang hanya berupa huruf-huruf saja atau angka-angka saja. Menurut Bruner jika siswa mengalami pembelajaran matematika untuk setiap topiknya dengan perlakuan seperti ketiga tahapan tersebut, maka siswa akan mampu mengembangkan pengetahuannya jauh melampaui apa yang pernah mereka terima dari gurunya. Sajian Diklat untuk materi Bilangan Asli, Cacah, dan Bulat (ACB) ini dirancang mulai dari tahapan kedua yakni semi konkret (econic) dan kemudian abstraknya/bentuk symbolicnya yang hanya berupa huruf-huruf saja dan angka-angka saja. Tahapan kongkritnya langsung diperagakan saat tatap muka. Harapannya peserta Diklat dapat membayangkan tingkat kesuksesannya jika hal itu diterapkan di lapangan/sekolah masing-masing. B. TUJUAN PEMBELAJARAN Peserta diklat dapat memperagakan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang mampu dicerna peserta didik kelas rendah sebagai bekal untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya di kelas-kelas berikutnya hingga jenjang yang lebih tinggi. C. KOMPETENSI Peserta diklat menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran bilangan asli, cacah, bulat dan operasinya. D. STRATEGI BELAJAR Fasilitator menunjukkan garis besar isi modul, pemecahan masalah yang dikemukakan pada modul, dan meminta tanggapan peserta diklat. Peserta diklat menyimak, menyampaikan pendapat/gagasan, dan menanggapi pendapat pihak lain. E. MEDIA BELAJAR Bahan Ajar (Modul), Bahan Tayang, dan Alat Peraga (bila diperlukan). F. KONSEP PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN 1. Penjumlahan Untuk peserta didik kelas rendah (SD Kelas I, II, III) pengertian/konsep yang dapat diterima dengan jelas adalah penjumlahan sama dengan penggabungan 2 kumpulan benda 4

menjadi 1 kumpulan benda (Marsudi Raharjo, 2007: Laporan Hasil Praktek Konsultansi di SD Ngijon 1, Seyegan Sleman 2004 s.d 2007). Dari peragaan melalui beberapa gambar siswa kelas rendah dapat melihat suatu pola/kecenderungan tertentu sehingga dapat menyimpulkan sendiri di alam pikirannya bahwa ”ditambah = digabung” dan ”akibat dari ditambah adalah hasilnya akan menjadi lebih banyak”. Tahap kongkret/enactive pada penjumlahan. Contoh : 3 + 5 = ... Misalnya kita menggunakan tutup botol sebagai alat peraga. Langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Tunjukkan ada 1 kelompok isinya 3 tutup botol 2. Tunjukkan lagi ada 1 kelompok lainnya yang berisi 5 tutup botol 3. Tanyakan ke siswa jika kedua kelompok itu digabung hasilnya ada berapa tutup botol? Ayo coba berapa hasilnya? 4. Tanyakan ke siswa siapa yang dapat menunjukkan bagaimana cara menggabungkan keduanya (kedua kelompok itu) 5. Ajak siswa lainya mengamati bentuk gabungannya. 6. Guru: Mengucapkan sambil menuliskannya di papan tulis bahwa “3 ditambah dengan 5 hasilnya sama dengan 8” artinya bentuk yang kita tulis “3 + 5 = 8”. 7. Guru: memberikan 2 atau 3 soal sejenis lagi dengan kata kunci “digabung” sehingga secara kongkret sebanyak 3 hingga 4 contoh soal tersebut sudah cukup representatif dalam memberikan gambaran kepada siswa secara kongkret “arti penjumlahan”. Tahap semi kongkret/econic pada penjumlahan diawali dengan soal cerita yang kemudian disajikan dalam bentuk gambar. Contoh Gambar berikut berasal dari soal cerita yang berbunyi : 1. ayam Ali 4 ekor 2. Cahya memetik jambu ... buah ayam Budi 2 ekor memetik lagi ... buah ayam Ali digabung dengan ayam Budi berapa jambu Cahya sekarang? berapa Ayam mereka sekarang?. Soal seperti di atas bagi siswa SD kelas I jelas sulit untuk dipahami karena ada 4 kalimat. Akan sangat lain keadaannya jika sajian soal cerita itu diujudkan dalam bentuk gambar yang sajian medianya dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS). LKS adalah media pembelajaran tertulis yang memuat ciri-ciri konsep, sementara Lembar Tugas Siswa (LTS) adalah media pembelajaran tertulis yang sudah tidak memuat lagi ciri-ciri konsep. Ciri-ciri konsep sudah diperoleh siswa saat kegiatan kongkret (enactive) dan semi kongkret (econic) (Elly Estiningsih:1994, 17). Soal nomor 2 bahkan banyaknya jambu tidak diketahui, namun 5

Tahap terakhir abstrak/symbolic adalah tahapan pembelajaran yang bentuk soal-soalnya hanya berupa kalimat tanpa gambar. Sisanya 9 % siswa mendapat nilai 8. III). dan hanya 5 % saja yang mendapat nilai 5 asal LKS yang setiap nomor memuat gambar-gambar diberikan pada setiap siswa dan kelimat-kalimatnya dibacakan oleh gurunya. ayam Ali 1 ayam Budi digabung dengan ayam mereka sekarang? berapa 4 + … = … Cahya memetik jambu 2 6 7 jambu Cahya sekarang memetik lagi berapa … + … = … Jika kedua nomor soal tersebut dilanjutkan hingga 10 nomor dengan aneka macam kata kunci (Modul Bermutu 2009: Soal Cerita Penjumlahan dan Pengurangan halaman 17 – 19 dan lampiran halaman 67 – 68) hasilnya 68 % siswa kelas I (yang baru masuk sekolah 2 bulan) mendapat nilai maksimal 10.karena sajiannya dalam bentuk gambar siswa ternyata tetap dapat menyelesaikan soal yang dimaksud. Kalimat-kalimatnya hanya ditulis dalam bentuk hurufhuruf dan angka-angka saja. dan 4. II. Berikut adalah contoh bentuk LKS yang dimaksud. dan Lembar Tugas Siswa (LTS) nya diberikan ke setiap siswa dan kalimat-kalimatnya dibacakan oleh gurunya. pengertian dari pengurangan yang dapat mereka terima dengan baik secara kongkret/enactive melalui peragaan adalah 6 . 27 % mendapat nilai 9. 2. Hasilnya cukup fantastis persentase siswa yang mendapat nilai 10 bertambah menjadi 77 % siswa mendapat nilai maksimal 10. dan 6 dengan tak seorang siswapun mendapat nilai di bawah 5. Pengurangan Untuk peserta didik kelas rendah (SD Kelas I. 7.5 % siswa masing-masing mendapat nilai 9.

6 % mendapat nilai 7. sajian soal ceritanya seperti yang digambarkan pada LKS berikut ini.pengambilan sebagian dari sejumlah obyek (Marsudi Raharjo. Agar makna pengurangan ini cepat ditangkap siswa. 2009: Modul Bermutu Pembelajaran Operasi hitung Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di SD). asal Lembar Tugas Siswa (LTS) nya diberikan ke setiap siswa dan kalimatkalimatnya dibacakan oleh gurunya. dipinjam. Sehingga dalam bentuk gambar (semi kongkret/enactive) sisa yang diperagakan harus memperlihatkan bahwa bekas dari obyek terkena proses pengambilan adalah kosong. dan diberikan kepada.8 % siswa mendapat nilai 7. 6 % siswa mendapat nilai 8. Hasil pengurangannya adalah sisa obyek yang tidak terambil. 2009: 17 – 19 dan 67 – 68) hasilnya 41% siswa kelas I (yang baru masuk sekolah 2 bulan) mendapat nilai maksimal 10. Dalam bentuk kegiatan bermain peran kata-kata kunci yang nyaman digunakan adalah : diminta. dan 12% mendapat nilai 6 dengan tak satupun siswa memperoleh skor di bawah 6. Tahap terakhir abstrak/symbolic adalah tahapan pembelajaran yang bentuk soal-soalnya hanya berupa kalimat tanpa gambar hanya ditulis dalam bentuk huruf-huruf dan angkaangka saja. Hasilnya juga cukup fantastis ternyata 17 dari 22 siswa (41 %) mendapat nilai maksimal 10. 1 di piring ada jambu jambu yang masih ada di piring diambil … 2 – … berapa = … Budi punya kambing kambing Budi sekarang berapa dijual … – … = … Jika kedua nomor soal tersebut dilanjutkan hingga 10 nomor soal dengan aneka macam kata kunci (Marsudi Raharjo. 7 . Syaratnya tentu saja asal lembar kerjanya diberikan pada setiap siswa dan kelimat-kalimatnya dibacakan oleh gurunya. 35 % mendapat nilai 9. 11. dan 6 % siswa mendapat nilai 6. sementara siswa lainnya 29 % siswa mendapat nilai 9.

. 1 kambing kakinya = 4  1 × 4 = 4 2 kambing kakinya = 8  2 × 4 = 8 3 kambing kakinya = 12  3 × 4 = 12 8 .. Satu minggu ada 7 .... Jika ingin siswa lebih cepat hapal. PERKALIAN DAN PEMBAGIAN 1. Roda sepeda ada 2 ... dan seterusnya hingga 10 kambing 10 kambing kakinya berapa?  dijawab 40. guru menuliskan di papan tulis dan siswa diminta mencatatnya... Ada penjelasan dari fasilitator (atau gambar) bahwa.. Kepala orang ada 1 . Daun singkong ada 6 . pengalaman dengan anak sendiri yang sedang duduk di SD kelas II tahun ajaran 2007/2008 anak lebih cepat menghapal perkalian dasar bila teknik yang kita gunakan bersifat kontekstual.. Satu windu ada 8 . Perkalian Untuk perkalian. Contohnya antara lain adalah: Perkalian dengan 1  obyek kontekstualnya ”kepala”  1 orang = 1 kepala Perkalian dengan 2  obyek kontekstualnya ”sepeda”  1 sepeda motor = 2 roda Perkalian dengan 3  obyek kontekstualnya ”becak”  1 becak = 3 roda Perkalian dengan 4  obyek kontekstualnya ”kambing”  1 kambing = 4 kaki Perkalian dengan 5  obyek kontekstualnya ”tangan”  1 tangan = 5 jari Perkalian dengan 6  obyek kontekstualnya ”daun singkong”  1 daun singkong = 5 jari Perkalian dengan 7  obyek kontekstualnya ”minggu”  1 minggu = 7 hari Perkalian dengan 8  obyek kontekstualnya ”windu”  1 windu = 8 tahun.. anak kita beri pertanyaan: 1 kambing kakinya berapa?  dijawab 4 2 kambing kakinya berapa?  dijawab 8 3 kambing kakinya berapa?  dijawab 12 4 kambing kakinya berapa?  dijawab 16 5 kambing kakinya berapa?  dijawab 20. Kita sebagai guru mengusahakan agar pertanyaan di atas diulang-ulang hingga 3 kali. Roda becak ada 3 ... Setelah obyek kontekstualnya dikenalkan langsung ditindak lanjuti dengan bentuk perkalian yang bersesuaian.. Kaki Kambing ada 4 .. Sebagai contoh misalnya untuk perkalian dengan bilangan 4.....G..... Jari tangan orang ada 5 .

Cara 2: Diberikan satu demi satu sampai habis secara bergantian pada 2 orang temannya. Teknik seperti di atas berlaku untuk perkalian-perkalian dasar lainnya. ditulis 6 : 2 = 3. ditulis 6 : 2 = 3. dijawab 3 (tiga). Ternyata masih tersisa 2 buah sedotan. Jika susah mencari obyek kontekstualnya misal perkalian dengan 6. siswa dapat melakukan pembagiannya dalam 3 (tiga) cara. Dari pengalaman. yakni Cara 1: Langsung dibagikan kepada 2 orang temannya sama rata masing-masing sebanyak 3 buah sedotan. 2. Siswa diminta membagi 6 buah sedotan itu rata/sama banyak kepada 2 orang teman sekelasnya. Disediakan 6 buah sedotan minuman. Guru menegaskan sambil menuliskannya di papan tulis ” itu berarti bahwa 6 dibagi rata pada 2 orang hasilnya sama dengan 3”. Akhirnya tampak bahwa masing-masing teman mendapat 3 buah sedotan. dan 9 langsung ditulis bentuk perkaliannya saja kemudian siswa diminta untuk menghapalkan.1 Pembagian Dasar Untuk pembagian dasar (pembagian yang terkait dengan perkalian 2 bilangan 1 angka). Pembagian panjang bersifat lanjut. Cara 3: Diberikan terlebih dahulu dua-dua pada 2 orang temannya. 9 . Guru menegaskan sambil menuliskannya di papan tulis ”itu berarti bahwa 6 dibagi rata pada 2 orang hasilnya sama dengan 3”. Pembagian panjang adalah pembagian yang tak dapat diperoleh langsung dari hafalan perkalian dua bilangan 1 angka. Maka langkah selanjutnya pasti 2 buah sedotan sisanya dibagi rata kepada kedua orang temannya itu. 8. Mereka bebas membaginya dengan cara masing-masing. Ternyata masing-masing menerima sebanyak 3 buah sedotan. jadi sudah bukan merupakan pembagian dasar lagi.4 kambing kakinya = 16  4 × 4 = 16 5 kambing kakinya = 20  5 × 4 = 20 6 kambing kakinya = 24  6 × 4 = 24 7 kambing kakinya = 28  7 × 4 = 28 8 kambing kakinya = 32  8 × 4 = 32 9 kambing kakinya = 36  9 × 4 = 36 10 kambing kakinya = 40  10 × 4 = 40. Guru menegaskan sambil menuliskannya di papan tulis ”itu berarti bahwa ”6 dibagi rata pada 2 orang hasilnya sama dengan 3”. Pembagian 2. strategi pembelajaran pertama yang diberikan adalah seperti berikut. Guru menanyakan ke semua siswa masing-masing teman menerima berapa?. ditulis 6 : 2 = 3.

Maka 6 : 2 = 3. Hasil baginya adalah sejumlah sedotan yang diterima oleh kedua orang penerima. adalah ”karena dibagi rata pada 2 orang. Berikut adalah contoh peragaannya jika 6 buah bolpoin dibagi rata (sama banyak) kepada 2 orang yaitu Ali dan Budi. Pengambilan ke-2 sebanyak 2 buah kemudian dibagi rata masing-masing akan menerima 2 buah dan pengambilan ke-3 sebanyak 2 buah kemudian dibagi rata masing-masing akan menerima 3 buah. Catatan 1. yang didefinisikan adalah ”ada berapa kali pengambilan dua-dua (2 an) sampai habis pada bilangan 6? Jawabanya adalah 3. maka setiap kali mengambil sebanyak 2 sedotan. Perhatikan bahwa semula (sebelum dibagi rata/sama banyak kepada Ali dan Budi) terdapat kumpulan bolpoin sebanyak 6 buah... Secara formal matematika pembagian 6 : 2 = ... Ternyata hingga pengambilan terakhir (ke-3) dan kemudian dibagi rata. tetapi secara matematika ketiga cara di atas salah. Secara matematika aturan pembagian yang benar untuk 6 : 2 = . Hal itu berarti bahwa 6 : 2 = 3. 10 . Pengambilan ke-1 (pertama) sebanyak 2 buah kemudian dibagi rata pada Ali dan Budi masing-masing akan menerima 1 buah. masing-masing penerima (Ali dan Budi) akan menerima bolpoin sebanyak 3. Semula Pengambilan I Pengambilan II Pengambilan III Ali Budi Ali Budi Ali Budi Ali Budi Hasil akhir = 3. Kedua sedotan pada setiap kali mengambil itu kemudian dibagi rata (sama banyak) kepada kedua orang penerima hingga pengambilannya habis.Catatan Untuk diketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari ketiga cara di atas semua benar.

maka berarti 6 : 2 = 3. D. Sebagai contoh misalnya kita akan mencari hasil bagi dari 72 : 3 = ….Karena ada 3 kali pengambilan 2 an sampai habis pada bilangan 6. 2. 3. 11 .. 2. Sehingga pengertian 6 : 2 = . Pembagian dimulai dari bagian yang terbesar. artinya adalah ada berapa kali pengambilan sebanyak 2 an pada bilangan 6 tanpa tampak adanya proses membagi sama sekali tidak dapat diterima oleh siswa SD kelas II semester 2. dan bilangan hasil baginya diletakkan di bagian atasnya. Sleman. maka yang dibagi mulai dari bagian puluhan barulah bagian satuannya. bilangan pembaginya diletakkan disebelah kirinya.). Definisi selengkapnya untuk pembagian ”a : b = c” adalah a : b = c  a = b  c .. Untuk pembagian panjang lambang yang umum digunakan adalah “ “. Setelah aturan (definisi) pembagian pada catatan nomor 2 di atas diganti dengan nomor 1 ternyata dapat diterima/dipahami oleh mayoritas siswa di kelas II/2 SD Ngijon 1. kita tulis 3 7 2 . Bilangan yang dibagi diletakkan di dalam tanda itu. Itulah alasannya mengapa definisi pembagian yang seharusnya seperti nomor 2 diganti menjadi definisi pembagian seperti nomor 1 dengan tanpa mengubah makna definisi pembagian yang seharusnya seperti nomor 2.I Yogyakarta. sesudah itu baru bagian puluhan dan terakhir bagian satuan. Jika yang dibagi bilangan puluhan. Berikut adalah langkah-langkah peragaan dan proses penulisannya (peragaan dan proses penulisan harus seiring). Misalnya kalau bilangan yang dibagi berupa bilangan ratusan. Seyegan. maka yang dibagi dimulai dari bagian ratusan.1 Pembagian Lanjut Pembagian lanjut (pembagian panjang dengan cara bersusun) ialah pembagian yang tidak berhubungan langsung dengan perkalian dasar (perkalian 2 bilangan 1 angka.

Contoh: Tentukan hasil pembagian 72 : 3 = … Proses peragaan dan penulisannya adalah seperti berikut... Proses Peragaan 72 : 3 artinya ada satu kelompok isinya 72 dibagi rata pada 3 kotak. 7 2 6 1 sisa 12 . Ikatan puluhan ini harus dilepas sehingga menjadi satuan 3 yg terbagi 2. 3 7 2 2. No 1. masing-masing kotak mendapat berapa? Karena dibagi 3 maka yang 7 puluhan kita ambil tiga-tiga dengan setiap kali pengam-bilan tigaan dibagi rata ke seluruh kelompok Proses Penulisan . Terakhir sisanya 1 puluhan dan 2 satuan.. Sisa 1 puluhan itu dapat dibagi 3 jika ikatan puluhannya dilepas sehingga menjadi satuan.

ambil tiga-tiga dan bagi rata ke masing-masing anggota kelompok sampai habis. Gabungkan dengan satuan sebelumnya sehingga semuanya menjadi 12.No Proses Peragaan Setelah yang puluhan dilepas ikatannya akan menjadi satuan. Proses Penulisan 3. 3 yg terbagi 2.. 7 2 6 1 2 sisa 13 .

Pul 2 Pembagi Pul 2 3 yg terbagi Sisa 1 7 2 Puluhannya ada 7 dibagi pada 3 orang. dan kita tulis 6 di tempatnya yang lurus dengan tempat puluhan. maka hasil baginya 2 ikat puluhan dan sisanya 1 ikat puluhan Kita tulis hasil baginya 2 ikat di tempat hasil bagi puluhan. Proses Peragaan Proses Penulisan 2 4 7 2 6 1 2 1 2 0 3 yg terbagi sisa yg terbagi sisa akhir Artinya : 72 : 3 = 24. dan sisanya 1 ikat puluhan diletakkan lurus dengan puluhan. kita mulai dari kumpulan yang besar yaitu puluhan. Pul 2 3 7 2 Sat Langkah 3 14 3 Sat 7 2 Sat Hasil bagi Bil yg dibagi Langkah 1 72 dibagi 3.No 4. Pul 2 3 yg terbagi Sisa 7 6 1 2 Urusan dg pul . berapa ikat puluhan yang terbagi? Jawabannya tentu yang terbagi = 6 ikat puluhan. Dengan peragaan tersebut. Sat Langkah 2 Karena puluhan yang dibagi sebanyak 7 dan sisa pembagiannya 1. Hingga langkah ini berarti urusan dengan puluhan selesai. kerangka berpikir dalam pengoperasionalnya adalah sebagai berikut.

Masing-masing orang mendapat berapa dan sisanya berapa? Langkah 5 Jawabannya pertanyaan tadi tentu masing-masing orang mendapat 4 satuan (letakkan di kolom satuan pada hasil bagi) dan sisanya nol. Urusan dg pul Sat Langkah 4 Ternyata satuan 12 itu sama dengan kalau kita menurunkan bilangan 2 dari atas. Selanjutnya kita tulis 12 itu pada baris berikutnya. Berapakah hasil baginya? Jawab 15 . bagaimana caranya? Caranya tentu kita lepas 1 ikat puluhan sisa itu. Jadi 72 : 3 = 24. Contoh 2 Diskripsikan penggunaan alat peraga pada pembagian bilangan 504 dibagi kepada 12 orang. Pul 2 3 yg terbagi Sisa 7 6 1 1 2 Nah selanjutnya satuan sebanyak 12 ini kita bagi pada 3 orang. berarti yang terbagi adalah semuanya. yaitu semua dari 12 satuan. Puluhan yang tersisa 1 ikat itu kita jadikan satuan. setelah dilepas menjadi berapa satuan? Jawabannya tentu menjadi 10 satuan + satuan yang sudah ada sebelumnya hingga satuan seluruhnya ada 12.Urusan kita berikutnya adalah dengan satuan. 2 Pul 2 3 yg terbagi Sisa 7 6 1 1 yg terbagi Sisa 1 Sat 4 2 2 Urusan 2 dg sat 0 Karena sisanya 0 (nol).

dg rat 5 di sisa ratusan. Sama dengan kalau 0 nya diturunkan. Jika ikatan puluhan sebanyak 50 itu kita tambah dengan puluhan yang sudah ada sebelumnya (yakni nol puluhan) maka semuanya tetap 50 puluhan. dan terakhir satuan. sisanya 2 ikat sehingga yang terbagi ada 48 ikat (puluhan). Kita tulis 0 di hasil bagi ratusan. dan 0 0 di tempat yang terbagi. Ada berapa ikat puluhan setelah ikatan ratusannya dilepas? Jawabnya tentu menjadi 50 ikat puluhan. Untuk itu sisa ikatan ratusan seba-nyak 5 kita jadikan puluhan dengan cara melepas ikatannya. 4 Ikatan puluhan sebanyak 50 itu jika kita bagi rata pada 12 orang.Rat Pul 0 Sat Langkah 1 Urusan pembagian kita urut dari yang terbesar yaitu pertama dari ratusan. 5 (ikat ratusan) Dengan demikian hingga langkah ini urusan pembagian kita dengan ratusan selesai. 12 yg terbagi Sisa Ratusannya 5 dibagi pada 12 orang. sehingga yang terbagi sebanyak 0 ikat ratusan. 5 0 4 Urusan sisanya 5. Rat Pul 0 12 yg terbagi Sisa 5 0 5 0 Sat Langkah 2 Urusan pembagian kita selanjutnya adalah dengan ikatan puluhan. maka masing-masing orang akan mendapat 4 ikat. Hingga langkah ini urusan pembagian kita pada puluhan selesai. 0 (ikat pul) 8 2 (ikat pul) 16 . 4 0 (ikat pul) Rat Pul 0 12 yg terbagi Sisa yg terbagi Sisa 5 0 5 4 4 0 Sat Langkah 3 Urusan kita sekarang pada ikatan puluhan. maka hasil baginya 0. kedua baru puluhan.

Kita tulis 2 di tempat hasil bagi (atas) 0 sisanya (di sisa tempat terbawah) 24 di tempat yang terbagi. 4 0 (ikat pul) Untuk itu sisa ikatan puluhan sebanyak 2 ikat tadi kita lepas ikatannya sehingga menjadi satuan. Latihan 1 1. dan sisanya 0. yaitu (ikat sat) 4? Jawabnya tentu = 20 sat + 4 sat = 24 satuan.Rat Pul 0 12 yg terbagi Sisa yg terbagi Sisa 5 0 4 0 Sat Langkah 4 Urusan pembagian kita yang terakhir adalah dengan satuan. sama dengan kalau 4 nya diturunkan. Jadi 504 : 12 = 42. Ternyata hasil banginya 2. 5 Rat Pul 0 4 0 Sat Langkah 5 2 4 Urusan dg rat 12 yg terbagi Sisa 5 0 5 4 0 8 2 2 Urusan dg pul yg terbagi Sisa 4 Urusan 4 dg sat 0 Satuan sebanyak 24 ini kemudian kita bagi rata pada 12 orang. Jawabnya tentu 20 satuan. Berarti yang terbagi semuanya yakni 24. Hitunglah hasil bagi pada masing-masing pembagian berikut dengan teknik susun ke bawah 17 . Dan bagaimana setelah dijadikan satuan kemudian 4 2 ditambah dengan satuan yang sudah ada sebelmnya. Tentukan bilangan pada titik-titik isian di bawah ini 1) 32 : 4 = … 5) … : 8 = 3 2) 36 : 9 = … 6) … : 5 = 6 3) 45 : 5 = … 7) … : 7 = 4 4) 40 : 8 = … 8) … : 9 = 3 9) 10) 11) 12) 35 : … = 7 30 : … = 5 27 : … = 9 24 : … = 6. Menjadi berapa 4 8 satuan?. Hasil baginya tertulis 042 = 42. 2.

Dalam suatu soal hitungan yang menjadi prioritas untuk dihitung terlebih dahulu adalah bilangan-bilangan yang ada di dalam tanda kurung. Nah yang menjadi masalah adalah jika dalam soal operasi hitung campuran itu tidak ada tanda kurung. bagaimana aturan perhitungannya?. 3. Tambah dan kurang sama kuat (mana yang lebih kiri dikerjakan terlebih dahulu). teknik penulisan dan pengerjaannya adalah seperti berikut. 45 : 5 × 3 – 6 × 3 : 2 + 10 = … 5. OPERASI HITUNG CAMPURAN Operasi hitung campuran adalah operasi hitung yang melibatkan lebih dari satu macam operasi dalam suatu perhitungan (Wirasto. 7 × 4 : 2 + 18 : 2 × 3 – 6 = … BAB III 18 . Kali dan bagi sama kuat (mana yang lebih kiri dikerjakan terlebih dahulu). Latihan 2 Hitunglah! 1.912 : 14 = … H. 5 × 4 : 2 + 12 : 2 × 3 = … 2.848 : 12 = … 2. 1993: 54).838 : 7 = … 1.1) 2) 3) 4) 5) 528 : 4 = … 832 : 4 = … 5. 2. 7 × 4 : 2 + 18 : 3 × 2 = … 3. Ruas kiri = 48 : 3 × 2 + 24 × 4 : 2 – 5 = 16 × 2 + 96 : 2 – 5 = 32 + 48 – 5 = 80 –5 = 75. 1. Contoh Hitunglah 48 : 3 × 2 + 24 × 4 : 2 – 5 = … Jawab Berdasarkan aturan operasi hitung campuran di atas dan teknik penulisan yang nyaman untuk difahami siswa. secara internasional (dibuktikan menggunakan kalkulator bertanda “Scientific”) diberikan definisi (kesepakatan) sebagai berikut. Kali dan bagi lebih kuat dari tambah dan kurang. 24 : 2 × 3 – 2 × 3 : 2 = … 4. Untuk meng-hindari kesimpang siuran dalam penafsiran khususnya kalau dalam soal itu tidak ada tanda kurungnya.

dan meminta tanggapan peserta diklat. C. dan menanggapi pendapat pihak lain. PEMBELAJARAN KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) 1. b. pembinaan ketrampilan. D. Soal tentang lampu kedip Misalkan terdapat sebuah lampu berwarna merah dan sebuah lampu lagi berwarna kuning. dan Alat Peraga (bila diperlukan). Aktifitas siswa. MEDIA BELAJAR Bahan Ajar (Modul). STRATEGI BELAJAR Fasilitator menunjukkan garis besar isi modul. a. dan mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah B. KOMPETENSI Peserta diklat menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari 2 (dua) atau 3(tiga) bilangan. Bekerja kelompok mengisi LK tersebut dengan tanda-tanda centang () pada kolomkolom yang disediakan. Fasilitas yang perlu disiapkan guru Fasilitas yang perlu disiapkan berupa lembar kerja (LK) dalam bentuk tabel seperti berikut Lampu Berkedip pada detik ke … 1 Merah Kuning 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 c. TUJUAN PEMBELAJARAN Peserta diklat dapat memberikan contoh pembelajaran Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dimulai dari pendekatan kontekstual.PEMBELAJARAN KPK DAN FPB DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL A. Pendekatan kontekstual untuk KPK. menyampaikan pendapat/gagasan. Bahan Tayang. pemecahan masalah yang dikemukakan pada modul. Jika kedua lampu dinyalakan bersama-sama 1) pada detik ke berapa saja kedua lampu berkedip secara bersamaan. 2) pada detik ke berapa kedua lampu untuk pertama kalinya berkedip bersama. Hasil kerja kelompok yang diharapkan adalah: 19 . formal. Lampu merah berkedip setiap 2 detik sedangkan lampu kuning berkedip setiap 3 detik. Peserta diklat menyimak. E.

4. KPK secara matematis (oleh guru). 12 . 6 . Soal: Tentukan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dari bilangan-bilangan berikut a. 20. 12. 16. 18 . 6) = 12. 36. d.Lampu 1 Merah Kuning 2   3 4  5 6   7 Berkedip pada detik ke … 8   9 10  11 12   13 14   15 16  17 18   19 20  Dari tabel dapat dilihat bahwa 1) kedua lampu akan berkedip bersama-sama pada detik ke 6.3) = 6. … Kelipatan persekutuan dari 2 dan 3 adalah 6. 48. 25 dan 50 Jawaban yang diharapkan adalah: a. 3. mengawasi kerja kelompok. 18. 24 . menyiapkan LK. 12. … dan seterusnya. Pemberian soal-soal lain untuk KPK (oleh guru). Maka KPK dari 2 dan 3 hasilnya = 6. 24 . Menyiapkan soal. 4 dan 6 b. 6 . kelipatan persekutuan dari 10 dan 15 adalah 30. 3) = 6. … 20 memberikan . … terkecil Maka KPK (2. 12 . 90. klarifikasi/kejelasan tentang jawaban mana yang benar/paling benar. 15. 24. 10 dan 15 c. 2. 5 dan 10 e. 14. 21. b. Peran guru sebagai fasilitator. … sehingga KPK (4. 9. Ditulis KPK(2. 60. 24. 22. 2) kedua bola lampu berkedip bersama pertama kalinya pada detik ke-6. 8. … Kelipatan 3  3. 15 dan 20 d. Soal: Berapakah kelipatan persekutuan dari bilangan 2 dan 3? Berapakah kelipatan persekutuan yang terkecil (KPK) dari bilangan 2 dan 3? Jawab: Kelipatan 2  2. 18. 18 . kelipatan persekutuan dari 4 dan 6 adalah 12. 27. 10.

50) = 50. 15) = 30. … sehingga KPK (5. Ternyata KPK = Kelipatan persekutuan yang pertama kali muncul Dengan ciri tersebut maka uraian singkat untuk mencari KPK dari 2 bilangan adalah seperti berikut. a. … KPK (10. … KPK (4. kelipatan persekutuan dari 15 dan 20 adalah 60. 30. 20. 100 dan 150 g. KPK (5. kelipatan persekutuan dari 5 dan 10 adalah 10. 50 dan 75 f. kelipatan persekutuan dari 25 dan 50 adalah 50. 100. 8. 4 dan 6 b. 120. 15. KPK (4. a. b. 8 dan 10 d. Pembinaan keterampilan/mencongak untuk KPK (oleh guru).sehingga KPK (10. … d. 180. 9 dan 12 c. 20. … 5. 12. 15) = … Kelipatan 10  10. 150. Cara cepat memperoleh KPK (oleh guru). c.… sehingga KPK (15. 20. 4. 150 dan 200 h. 5. 6) = … Kelipatan 4  4. Guru mempersiapkan soal-soal KPK dari 2 bilangan atau 3 bilangan yang bisa dicongak. 30. 6) = 12 Kelipatan 6  6. 12. 10. KPK (10. Guru mengajak siswa mengamati uraian jawaban dari 5 soal tentang KPK pada langkah 3. 15) = 30 Kelipatan 15  15. 3. 10) = 10. 6. Pendekatan kontekstual untuk FPB. … KPK (5. 10) = 10 Kelipatan 10  10. Soal-soal yang dimaksud misalnya tentukan KPK dari bilangan-bilangan. 20 dan 30 F. 21 . Kerangka berpikir untuk mencongaknya seperti pada langkah 7 di atas. … 12 adalah kelipatan persekutuan yang pertama kali muncul. e. Pembelajaran FPB 1. 30. 10) = … Kelipatan 5  5. 15. … sehingga KPK (25. 20 dan 25 e. d. 20) = 60.

sedangkan guru mempersiapkan LK berupa isian tentang kemungkinan-kemungkinan tentang kedua kelompok kerikil itu dapat dibagi sama banyak kepada 2 orang. dan lain-lain). paling banyak kepada berapa orang jambu dan rambutan itu dapat dibagi secara merata (sama banyak). 4 orang. 2 orang A dan B jambu ramb A B 3 orang A. Soal tentang membagi sama banyak kepada beberapa orang Misalkan ada 12 jambu dan 18 rambutan.a. 3 orang. 5 orang. 3 orang. B. 2) Dari hasil-hasil penyelidikan tersebut. 6 orang. Untuk siswa setiap kelompok harus menyediakan kerikil-kerikil sesuai dengan warna dan jumlah yang dimaksud. 3) Adakah cara yang paling singkat untuk memperoleh jawaban yang ditanyakan pada pertanyaan b? b. Jambu dan rambutan sebanyak itu akan dibagi rata (sama banyak) kepada beberapa orang. 4 orang. 6 orang dan 8 orang seperi berikut. dan C Jambu ramb A B C Ada sisa/tidak 8 orang Jambu rambutan A B C D E F G H Ada sisa/tidak 4 orang jambu ramb A B C D Ada sisa/tidak Ada sisa/tidak 6 orang jambu rambutan A B C D E F Ada sisa/tidak 22 . Pertanyaan: 1) Yang memungkinkan jambu dan rambutan itu dapat dibagi sama banyak kepada berapa orang? (1 orang. 2 orang. Fasilitas yang pelru disiapkan.

18) = 6. 2 orang A dan B Jambu Ramb 12 18 A 6 9 B 6 9 3 orang A. yakni jambu dan rambutan itu dapat dibagi rata (sama banyak) kepada maksimal 6 orang? Jawabannya: Ada (oleh guru) Yaitu FPB (12. adakah cara yang lebih cepat untuk memperoleh jawaban tersebut. 2. Guru kemudian menanyakan. jadi tidak pada 6 orang mungkin dibagi 8 orang. FPB (12. dan C Jamb Ramb 12 18 A 4 6 B 4 6 C 4 6 Tanpa sisa jadi habis dibagi rata pada 3 orang 4 orang Jamb Ramb 12 18 A 3 4 B 3 4 C 3 4 D 3 4 Rambutan sisa 2 jadi tak habis dibagi rata pada 4 orang Tanpa sisa jadi habis dibagi rata pada 2 orang 6 orang jamb ramb 12 18 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 8 orang jamb ramb 12 18 A A 1 2 B B 1 2 C C 1 2 D D 1 2 E E 1 2 F F 1 2 G 1 2 H 1 2 Tanpa sisa sisa sisa 4 sisa 2 jadi habis dibagi rata Ada sisa.c. Maka FPB(12. barulah membahas FPB secara matematika. Kesimpulan: dibagi 8 orang Maksimal 12 jambu dan 18 rambutan dapat dibagi rata (sama banyak) pada 6 orang.18) = 6. Bentuk kegiatan Siswa secara berkelompok mengerjakan lembar kerja. Pembahasan FPB secara matematika. 18) = …? 23 . Jawaban yang diharapkan. guru mengawasi kegiatan siswa dan terakhir memberikan klarifikasi tentang jawaban yang benar. B.

4. b. FPB (40. Siswa boleh bekerja sama dalam memecahkan masalah tersebut. maka maksimal bola-bola itu dapat dibagikan sama banyak kepada 20 orang. ternyata nilai FPB yang dimaksud adalah FPB = bilangan terbesar yang dapat membagi habis bilangan-bilangan itu. 20) = 10. Jawaban akhir yang diharapkan adalah a. jeruk 12 buah. 20) = 40.Jawab: 12 1  12 26 34 18 1  18 29 36 Dari data akan dipeorleh Faktor dari 12  1 . a. telur ayam 30 buah. 20) = 10. 2 . duku 16 buah dan rambutan 20 buah. maka maksimal telur-telur itu dapat dibagikan sama banyak kepada 10 orang. Dari contoh-contoh yang telah dipelajari. telur bebek 20 buah. 2 . 30. c. 3 . 6 . 60) = 20. duku. dan rambutan itu dapat dibagikan sama banyak kepada 4 orang. b. 12 Faktor dari 18  1 . 18) = 6 Sehingga 12 jambu dan 18 rambutan itu dapat dibagi sama banyak maksimal pada 6 orang. FPB (30. 2 . Contoh: Paling banyak (maksimal) dapat dibagi sama banyak kepada berapa orang sekumpulan benda-benda berikut. 3. FPB (40. 40 bola merah dan 60 bola putih. 24 . 6 terbesar Maka FPB (12. 30 kelereng merah dan 20 kelereng putih. d. FPB (12. 16. 3 . d. 3 . 9. telur puyuh 40 buah. maka maksimal kelereng-kelereng itu dapat dibagikan sama banyak kepada 10 orang. siswa diajak mengamati hasilnya. Cara cepat menentukan FPB (oleh guru). c. maka maksimal jeruk. Sesudah itu guru dapat memberikan soal-soal lainnya untuk dapat dikerjakan dengan cara yang sama. 6 . 18 Faktor persekutuan dari 12 dan 18 ialah 1 .

yaitu KPK = hasil kali faktor prima yang ada maupun tak ada pasangannya FPB = hasil kali faktor prima yang ada pasangannya KPK = hasil kali faktor prima gabungan pangkat yang terbesar FPB = hasil kali faktor prima sekutu pangkat yang terkecil 25 .Contoh: Tentukan FPB (12. 30) = 10 b. Pembinaan keterampilan menentukan FPB. Maka (12. keduanya tak sukses) 6 (sukses dan yang terbesar) FPB (12. 50 dan 75 e. 18)  3 sebab masih ada 2 (sukses tapi kurang besar) bilangan lain yang lebih dari 3 yang 3 (sukses tapi kurang besar) dapat membagi habis 12 dan 18. 18) = … 1 (sukses membagi 12 dan sukses membagi 18. Guru kemudian memilih dan mempersiapkan bilangan-bilangan yang mudah dicongak dalam mencari FPB. 20 dan 30 b. Bilangan-bilangan itu misalnya: Tentukan FPB dari a. Menentukan KPK dan FPB dengan faktorisasi prima Faktorisasi prima digunakan untuk menyelesaikan permasalahan mencari KPK dan FPB dari bilangan-bilangan yang sulit dibayangkan/diangankan. FPB (25. 18) = 6. yakni menentukan FPB dari 2 bilangan atau lebih secara mencongak adalah seperti pada langkah 3. FPB (20. ada yang tak sukses) Bilangan itu adalah 6. 4 (salah. 150) = 50 5. Kaidah yang digunakan untuk membina keterampilan. 25 dan 50 d. Maka 5 (salah. 18) = … FPB Secara Mencongak Jawab: Dicoba 3 membagi habis (tanpa sisa) bilangan 12 FPB (12. 75) = 25 e. Teknik menentukan KPK dan FPB dengan faktorisasi prima dilakukan dengan 2 (dua) cara. 4. 18) = 6. tapi 3 membagi habis (tanpa sisa) bilangan 18. 100 dan 150 dan lain-lain. Jawaban yang diharapkan secara cepat (mencongak) adalah a. kurang besar) Tetapi FPB (12. 50) = 25 d. FPB (20. 40) = 20 c. FPB (100. 20 dan 40 c. Catatan Cara mencongak hanya tepat dilakukan untuk bilangan-bilangan yang mudah dibayangkan. FPB (50.

diperoleh KPK (300.350) = .350) = 2×5×5 = 50. Dengan faktorisasi prima teknik 2 KPK dan FPB dua atau beberapa bilangan diperoleh dengan cara seperti berikut.350) 10 (kurang besar) 20 (salah) sebab 20 sukses membagi 300 tetapi tidak sukses membagi 350 25 (kurang besar) 50 (tepat) Maka FPB(300. maka Kelipatan 1 2 3 4 5 6 7 300 600 900 1200 1500 1800 2100 350 700 1050 1400 1750 2100 KPK = 2100 FPB(300. Dengan pemfaktoran prima yang dimaksud adalah 350 300 yang ada pasangannya 2 175 2 150 300 = 2 × 2 × 3 × 5 × 5 = 22×3×52 35 5 75 2 350 = 2 × 5 × 5 × 7 = 2×52×7 5 7 3 25 yang ada dan tak ada pasangannya 5 5 Dengan demikian maka dari faktorisasi prima teknik 1. Dicoba FPB(300. Sementara FPB hasilnya sama dengan hasil kali faktorfaktor prima sekutunya pangkat yang terkecil. Secara mencongak. 350) = hasil kali faktor prima gabungan pangkat yang terbesar.. 300 = 22 × 3 × 52 350 = 21 × 52 × 7 2 KPK = 22  3  5  7 300 = 22 × 3 × 52 350 = 21 × 52 × 7 1 FPB = 2  52 KPK (300.350) = 50.Contoh Tentukan KPK dan FPB dari bilangan-bilangan 300 dan 350. Jawab 1. Berdasarkan fakta yang ada (konsep).. 26 .100 FPB (300. 2.350) = hasil kali faktor prima yang ada pasangannya dan yang tidak ada pasangannya = 2×2×3×5×5×7 = 2. Untuk KPK hasilnya sama dengan hasil kali faktor-faktor prima gabungannya pangkat yang terbesar. 3.

hingga hasil bagi terakhirnya = 1. Hitunglah 2 1 1    .. 400) = 10  5 = 50 KPK (300. 350. 350. Teknik lain untuk menentukan KPK dan FPB dari dua bilangan atau lebih juga dapat dilakukan dalam berbagai cara (Edi Prayitno. Terapan lain yang sudah dikenal umum untuk KPK adalah dalam hal menyamakan penyebut pada operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan. = 21  52 = 2  25 = 50. 400) = 10  5  23  3  7 = 8. Setelah semua bilangan menjadi prima relatif satu sama lain (nilai FPBnya = 1). Contoh 1 a.400 6. Bagilah semua bilangan itu dengan faktor/faktor prima persekutuannya 2. Sementara terapan FPB yang umum adalah dalam menyederhanakan pecahan ke bentuk yang paling sederhana. Jawab FPB KPK 10 5 2 2 2 3 7 300 30 6 3 3 3 1 1 350 35 7 7 7 7 7 1 400 40 8 4 2 1 1 1 Dari gambaran itu dapat disimpulkan bahwa: FPB (300. 350. FPB (300. bagilah hasil-hasilnya dengan faktor-faktor prima yang mungkin (untuk bilangan yang terbagi tentukan hasil baginya.. Terapan KPK dan FPB dalam kehidupan dan permasalahan lain yang relevan Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya dalam pendekatan kontekstual (di awal pembelajaran) lampu kedip merupakan salah satu terapan untuk KPK sedangkan pembagian rata yang dapat dilakukan secara maksimal pada sejumlah orang merupakan salah satu terapan dari FPB. 350) = hasil kali faktor prima sekutu pangkat yang terkecil.= 22  3  52  7 = 4  3  25  7 = (4  25)  (3  7) = 2100. Contoh Tentukan KPK dan FPB dari bilangan-bilangan 300. sedang yang tak terbagi tetaplah ditulis apa adanya). 1997) antara lain: 1. dan 400. 3 4 6 27 .

. Nyatakan dalam bentuk yang paling sederhana untuk pecahan Jawab 2 1 1 a. 2 2 Selisih waktu perjalanan antara Ali dan Budi = 1 28 . 96 96 48 24 12 6 3 Perhatikan bahwa bagian yang dicoret adalah FPB dari 72 dan 96 yakni FPB (72. Perhatikan bahwa: 1 1 Ali 1 jam menempuh jarak 20 km  1 jam = 1  20 km = 30 km. Satu setengah jam kemudian Budi menyusul Ali menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 30 km/jam. 6) = 12.    . Pada km berapa dan pada pukul berapa Budi menyusul Ali? Jawab 1 jam.... 96 2  2  2  2  2  3 2  2 4 72 . 3 4 6 12 12 12 12 12 12 12 b. 3 4 6 KPK penyebut = KPK (3. dan kecepatan. Dengan faktorisasi prima 72 2 2 2 3 36 18 9 3 2 2 2 2 2 Sehingga 72 2  2  2  3 3 3 3    . 96 96 : 24 4 Ada contoh terapan lainnya yang cukup menarik untuk pelajaran matematika SD adalah terapan KPK dalam perhitungan jarak. Maka : 2 1 1 .b. 96) = 2  2  2  3 = 24 Dengan begitu bila kita sudah mengetahui bahwa FPB (72. Contoh 2 Ali bersepeda dari kota P ke kota Q dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam berangkat pukul 07.00. .. waktu. 8 3 2 7          . Selisih waktu itulah yang nantinya 2 akan dipakai sebagai dasar perhitungan KPK. 96) = 24 maka untuk 72 72 : 24 3 menyederhanakan pecahannya dilakukan dengan cara   .. 4.. ..

00 + 4 jam = 11.1 1 jam = 1  30 km = 45 km.00 Ali 2 1 2 150 km 250 km 2 1 2 jm jm Q 07.30 Budi 1 1 jam 2 1 1 jam 2 | 10 | 20 | 30 | 40 | 50 | 60 | 70 | 80 | 90 | 100 km Diagram jarak.30 2 2  Untuk Budi waktu dihitung dari pukul 08.30 2 Contoh 3 Ali bersepeda motor berangkat dari kota P pukul 07. Pada saat yang bersamaan Budi berangkat dari kota Q menuju kota P dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam.00 Budi 29 40 km/jam 60 km/jam . waktu.00 menuju kota Q yang berjarak 250 km dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Pada km berapa dan pukul berapa Ali dan Budi berpapasan di jalan? Jawab : 100 km P 07.30 + 2  1 jam = 08. Pada km berapa dan pada pukul berapa Ali dan Budi berpapasan di jalan? b. dan kecepatan yang digambarkan di atas ternyata cukup dapat memberikan kejelasan bahwa : a) Budi menyusul Ali tepatnya pada km 90 = KPK (30. pengerjaannya sebagai berikut : Budi 1 jam menempuh jarak 30 km  1 1 1 jam 2 1 1 jam 2 1 1 jam 2 07. Jika waktu berangkatnya tidak bersamaan. Pertanyaan a.30. 45) b) Waktu Budi menyusul Ali adalah  Untuk Ali waktu dihitung dari pukul 07.30 + 3 jam = 11. yaitu Ali berangkat pukul 07.00.00 sementara Budi berangkatnya pukul 08.00 Ali | 0 08.30. yakni 1 pukul 08. yakni 1 1 pukul 07. 2 2 Berdasarkan uraian diatas apabila dibuat diagram.00 + 3  1 jam = 07.

30 Budi Ali telah menempuh jarak 40 Waktu keduanya berpapasan adalah 1 Ali = pukul 07. 2 Tempat keduanya berpapasan adalah km 1 Ali = 40  2 jam = 100 km (dari kiri/dari kota P) jam 2 km 1 Budi = 60  2 jam = 150 km (dari kanan/dari kota Q) jam 2 + Total = 250 km b. P 07. Itu berarti Ali dan Budi berpapasan di jalan setelah keduanya 2 100 1 melakukan perjalanan selama 2 jam yakni 2 1 pukul 07.30 Karena waktu berangkatnya tidak sama maka perhitungannya dimulai dari saat 1 keduanya mulai berjalan.30.00 + 2 jam = 09.a. 60 km 40 km/j R 190 km 40 km/j 60 km/j Q 08.30 yaitu 1 jam dari Ali mulai bergerak 2 barulah Budi mulai bergerak. berarti pukul 08. Dari pukul 08. Ali 1 jam menempuh jarak 40 km (dari kiri) Budi 1 jam menempuh jarak 60 km (dari kanan) Ali dan Budi 1 jam menempuh jarak 100 km.30 km 1  1 jam = 60 km (tiba di R). Karena 1 jam Ali dan Budi menempuh total jarak 100 km maka waktu pertemuannya 190 dicapai saat keduanya menempuh perjalanan selama jam = 1. Kini jarak yang harus jam 2 ditempuh keduanya = 250 km – 60 km = 190 km. Karena jarak yang harus mereka tempuh berdua = 250 km maka waktu tempuhnya = 1 250 jam = 2 jam.00 Ali 08.00 + 1 jam + 1 jam 54 menit 2 30 .9 jam = 1 jam 54 100 menit.

dan 12 40. 9 dan 12 b. 4. 20 dan 24 f. Pada km berapa dan pukul berapa Budi menyusul Ali? 5. Jika cat-cat itu akan dibagi rata (sama banyak) pada para tukang cat. satu setengah jam kemudian Budi menyusul berangkat dari tempat yang sama (kota A) dengan kecepatan 30 km/jam.00 + 1 jam 30 menit + 1 jam 54 menit = 10. 8 dan 16 d. Tentukan FPB dan KPK dari bilangan-bilangan berikut a.24 Budi = 08. Cat merah 150 kaleng.10.400. Jika untuk soal nomor 2 (jarak kota A ke kota B adalah 125 km) Eka berangkat dari kota B menuju kota A pukul 07. 12 dan 16 e.30. Misalkan tersedia cat-cat dalam kemasan kaleng-kaleng kecil.50. Pada saat yang bersamaan Eka berangkat dari kota B ke kota A denagn kecepatan 30 km/jam.00 dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam. dan 60 200.00. 8 dan 20 c. dan 400.24 Jarak keduanya berpapasan adalah km 9 Ali = 60 km + 40  1 jam = (60 + 76) km = 136 km jam 10 km 9 Budi = 60  1 jam = (60 + 54) km = 114 km jam 10 Total Latihan 3 1.30 + 1 jam 54 menit = 10. n. g. Jika sekarang ia bertemu di bank itu. Dodi bersepeda motor dari kota A ke kota B yang berjarak 125 km dengan kecepatan 20 km/jam berangkat pukul 07. Ali bersepeda dari kota A ke kota B dengan kecepatan 20 km/jam. Budi sekali dalam 15 hari. 10 dan 30 20 dan 25 40 dan 60 50 dan 60 80 dan 120 k. cat putih 120 kaleng dan cat kuning 90 kaleng. dan 600 250. Pada km berapa dari kota A dan pada pukul berapa keduanya berpapasan di jalan? 6. maksimal kepada berapa orang cat-cat itu dapat dibagi rata? 4. dalam berapa hari lagi mereka akan saling bertemu kembali pada bank tersebut? 3. Ali berkunjung ke bank sekali dalam 10 hari. i. m. o. 6. dan 9 8.00.= 07. Pada km berapa dari kota A dan pada pukul berapa Dodi dan Eka berpapasan di jalan? 31 . = 250 km + 2. j.300. h. l. berangkat pukul 07. Sementara Dodi berangkatnya dari kota A menuju kota B pada pukul 08.

memangkatkan tiga. . Luas persegi I = 1 a Gambar II : Panjang sisi = 2. 4 . . 9 . Luas persegi II = 4 m . B. menarik akar kuadrat suatu bilangan persegi. Gambar III : Panjang sisi = 3. . k e 2 Selanjutnya bilangan-bilangan 1. DAN PENARIKAN AKAR A. . menarik akar kuadrat suatu bilangan persegi. 16 . k III IV II h I i r Perhatikan bahwa panjang sisi dan luas dari masing-masing persegi itu adalah: j Gambar I : Panjang sisi = 1. BILANGAN KUADRAT/PERSEGI (SQUARE NUMBER) Sebagai pendekatan kontekstual. BILANGAN KUBIK. . dan menarik akar pangkat tiga suatu bilangan kubik hingga bilangan 1. Amati bahwa hubungan antara pola persegi dengan luas persegi itu (banyaknya persegi satuan penyusunnya) adalah seperti berikut. 4.000. . . 32 . KOMPETENSI Peserta diklat menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran menguadratkan suatu bilanagan asli. TUJUAN PEMBELAJARAN Peserta diklat dapat menguadratkan suatu bilanagan asli. pertama perhatikan pola pada 4 persegi berikut A . . . Luas persegi IV = 16. . .000. Luas persegi III = 9 Gambar IV : Panjang sisi = 4. 9. C. dan seterusnya masing-masing disebut bilangan . .BAB IV BILANGAN PERSEGI. . . persegi. memangkatkan tiga. .000.000. 16. Pola Luas 1 . dan menarik akar pangkat tiga suatu bilangan kubik hingga bilangan 1. . .

8. . dan bilangan yang tertulis disebut 10 bilangan persegi yang pertama. . Nah sekarang bagaimana kita dapat menentukan bilangan persegi berikutnya atau bagaimana kita dapat menentukan bilangan-bilangan persegi yang lain? Jawabannya adalah pola dari 1. maka untuk membentuk kubus yang panjang rusuknnya 1 satuan. 9. . 64. 100. . Selanjutnya 1. Volum kubus Gambar III : Panjang rusuk = 3 satuan. 4 . 4. . . 32. Volum kubus I = 1 satuan II = 8 satuan III = 27 satuan IV = 64 satuan. 33 . . 9 . Jika disediakan sejumlah kubus satuan. . Sehingga hubungan antara panjang rusuk dan volum dari masingmasing kubus itu adalah: Gambar I : Panjang rusuk = 1 satuan. . . III . . IV . Dengan begitu Bilangan kubik bersesuaian dengan volume kubus yang ukuran panjang rusuknya bulat. Volum kubus Gambar II : Panjang rusuk = 2 satuan. 4 satuan. 22. akan didapatkan pola seperti 1. 49. perhatikan pola dari 4 kubus dengan 4 macam ukuran seperti berikut . 36. . . . 16. 92 . 82.Bila bilangan-bilangan persegi tersebut dilanjutkan. 25. . 27. . sama dengan 12. 49. 52. Volum kubus Gambar IV : Panjang rusuk = 4 satuan. dan seterusnya masing-masing disebut bilangan kubik. dan seterusnya masing-masing akan diperlukan sebanyak 1. 102 . Pola itu dikenal sebagai pola bilangan persegi. 81. . 72 . . 81. D. 42 . II . BILANGAN KUBIK (CUBE NUMBER) Sebagai ilustrasi. . 3 satuan. dan 64 kubus satuan. 2 satuan. . 16. 36. 8. 62. . 25. 64. Sehingga bilangan persegi (square number) juga disebut sebagai bilangan kuadrat yakni bilangan yang diperoleh dengan menguadratkan suatu bilangan asli. I . 100. 27. 64. .

. . 13. 64. teknik menarik akar (akar kuadrat) pertama kali ditemukan oleh Calandra (seorang matematikawan India) pada tahun 1491. 216. . 27. 8 . 34 . sama dengan sehingga bilangan kubik (cube number) juga disebut sebagai bilangan berpangkat tiga yaitu bilangan yang diperoleh dengan memangkatkan tiga suatu bilangan asli. 27. 43 . 8 . 103 . 9 16 . 343. . 64. . 1000. 83 . 729. . B. 1000. 512. . 93 . 729. . . 125. 512. . . Untuk menarik akar (akar kuadrat ) digunakan teknik seperti berikut. 53 . 23. . Nah sekarang bagaimana kita dapat menentukan bilangan kubik berikutnya atau bagaimana kita dapat menentukan bilangan-bilangan kubik lainnya? Jawabannya adalah pola dari 1 . . 63 . 27 . Kesepuluh bilangan yang tertulis di atas disebut 10 bilangan kubik yang pertama. Teknik Menguadratkan Dilanjutkan Menarik Akar Kuadrat Teknik menguadratkan telah dibahas di bagian depan. akan didapatkan pola seperti 1. .Hubungan antara pola kubus dan volum kubus yang ditunjukkannya adalah sebagai berikut: Pola 1. . . . . 4 . 73 . 33. . . 64 . Volum Bila bilangan-bilangan kubik tersebut dilanjutkan. . 8. . TEKNIK MENGUADRATKAN DAN MENARIK AKAR 1. 125. 343. 216. 1 .

36 2  2 + 4 0  + 40 6  6 0 = 4 0 24 = 0 24 36 = 24 36 0 2 0 − − − Sisa terahir = 6 Maka: 42436 = 206 35 . Contoh 1 2062 = … 2062 200 6 206 6 2062 = 200  212 + 62 = (2212) 100 + 36 = 42400 + 36 = 42436 212 Teknik menarik akar 4. hasilnya tidak melebihi bilangan pada angka kedua yang diproses  cari sisa dari bilangan pada kelompok angka kedua yang diproses dikurangi dengan hasil kali yang dimaksud di atas.24 .  cari sisa dari bilangan pertama dikurangi dengan hasil kali dua bilangan sama yang dikalikan itu. sama adalah yang paling diharapkan. kemudian turunkan sekaligus dua angka yang ada di bagian angka paling kanan angka pertama yang diproses untuk dijadikan sebagai angka kedua yang akan diproses  jumlahkan dua bilangan sama besar itu untuk disambungkan dengan suatu bilangan 1 angka yang bila dikalikan dengan bilangan 1 angka yang dimaksud itu. hasil kali 2 bilangan yang sama itu tidak boleh melebihi bilangan yang dimaksud.Teknik menarik akar  pisahkan angka-angka dari bilangan yang ditarik akarnya dua angka-dua angka dari satuan (bagian pengelompokan paling kanan)  kerjakan mulai dari angka paling kiri (setelah ada pemisahan)  nyatakan angka paling kiri itu sebagai perkalian dua bilangan yang sama besar.

carilah hasilnya dengan teknik seperti yang telah dicontohkan di atas kemudian gunakan teknik penarikan akar yang dimaksud. 3.2.625 84 8 450 4 18 .Contoh 2 4252 = … Teknik menarik akar 4252 400 25 425 25 4252 = 400  450 + 252 = (4451000 + 625 = 180.625 = 425 Agar anda lebih tertantang cobalah untuk membuat soal sendiri misal 4152 = …. Ada suatu teknik menarik akar pangkat tiga dan teknik itu hanya berlaku efektif untuk penarikan akar pangkat tiga bilangan kubik hingga 1. Namun hingga kini belum ditemukan teknik yang berlaku secara umum. Teknik Menarik Akar Pangkat Tiga Bilangan Kubik Berbeda dengan penarikan akar kuadrat. Sudah banyak matematikawan yang berusaha ke arah itu diantaranya adalah matematikawan Italia Gerolamo Cardano (1501 – 1576) di tahun 1535.000.000 + 625 = 180.000. penarikan akar pangkat tiga tidak memiliki teknik yang bersifat umum seperti halnya penarikan akar pangkat dua (akar kuadrat). Teknik yang dilakukan menggunakan daftar seperti berikut.06 . 36 .25  4 + 2 = 16 2 06 = 1 64 42 25 − 2  + 5  − 5 = 42 25 0 4 2 − Sisa terakhir = 5 Maka: 180 .

000 8.823 = … Jawab : Letak bilangan kubik 103. maka 40 < 3 103 .000 103.000.000.000 729.000 < 103.Bilangan Kubik Dasar 3 1 1 23 8 3 3 27 43 64 3 5 125 63 216 3 7 343 83 512 93 729 3 10 1000 Contoh penggunaan tabel 103 203 303 403 503 603 703 803 903 1003 Bilangan Kubik Ribuan 1.823 < 125. sehingga disimpulkan bahwa Puluhannya 3 4 = 47.000 125. diperoleh 3 343 = 7.823 Tentukan akar pangkat tiga dari bilangan kubik 103.823 < 50 atau 3 103 . 7 103 . Maka satuannya = 7.823 adalah 64.000 1.000 27.823 adalah 3  Lihat bilangan kubik dasar yang angka terakhirnya sama dengan itu Bilangan kubik dasar yang angka terakhirnya 3 adalah 343  Lihat akar pangkat tiga dari bilangan kubik dasar yang dimaksud Berdasar tabel.823 = Satuannya 37 .000 512.823 = empat puluh sekian = 4 Langkah-langkah penyelidikan lebih lanjut adalah  Lihat angka terakhir dari bilangan kubik itu Angka terakhir dari 103.000 64.823. yakni tentukan 3 103 .000 216.000 343.

c.Latihan 4 1. 142 = . sifat a3 = a2  a. Setelah hasil penguadratan diperoleh tarik akarnya dan periksa hasilnya. Tentukan luas masing-masing persegi yang panjang sisinya diketahui seperti berikut a. 2072 = … e.225 cm2 99. 38 . 75 g.824 c. 5. 81 Setelah hasil ditemukan cobalah tarik akar pangkat tiga dari bilangan-bilangan yang Anda hasilkan itu. tentukan (coba tanpa kalkulator) pangkat tiga dari : a.192. 65 f. 14 cm 25 cm 55 m 94 m 3.96 j.357 h. b. 148. Hitunglah penguadratan berikut secara mencongak dengan cara seperti di atas. Dengan menggunakan cara menguadratkan seperti yang telah dicontohkan sebelumnya. 25 cm c.877 f. 97. 36 d. 571.704 g. 64 f.. 25 c. Tentukan volume kubus yang panjang rusuk-rusuknya adalah a.225 cm2 4. dan perkalian menggunakan batang Napier.653 cm3 b. 85 h. 49 e. 18 satuan g.787 cm3. 57 e. 225 l. a. d. Tentukan panjang rusuk kubus yang volumenya a. b. 6. 13. 16 b. 6. d. 140.608 cm3 c. Dengan menggunakan sifat a2 = (a + b)(a – b) + b2 .336 e. 4252 = … 2. cobalah untuk menguadratkan bilangan-bilangan berikut kemudian tariklah akarnya a. 48 d. 14 cm b.859 b.. 53 satuan h. 26 c. 804. 462 = … d. 65 satuan.224 cm3 d.768 d. b. 32. 592. Tentukan panjang sisi masing-masing persegi yang luasnya diketahui seperti berikut: a. 232 = … c. 512 8. 19 b. 50. 7. 405. 45 dm d. Hitunglah akar pangkat tiga dari bilangan-bilangan kubik a. 75 dm e. 108 k. 8 satuan f. 2 169 cm 784 cm2 18. 941. c. 88 i.

f.192. 941. 636.319 79.379 j.336 i. d. 205. g. h.507 97.688 l.056 k. 778. b.9. 2197 2744 4913 9261 e. Tanpa menggunakan kalkulator hitunglah akar pangkat tiga dari masing-masing bilangan kubik berikut. 39 . a. c. 50653 59.

nol. Dengan demikian bilangan bulat dapat berupa bilangan positip. . 0. Dipandang dari wawasan tentang himpunan. cukup menarik. cara penanaman konsepnya adalah sebagai berikut: Bermula dari titik pangkal nol dan menghadap ke kanan positip  maju tambah  terus Bilangan negatip  mundur Operasi nol  diam kurang  balik arah 40 . maka cara yang mudah. himpunan bilangan bulat yang dimaksud adalah B = {….BAB V BILANGAN BULAT DAN OPERASINYA A. KOMPETENSI Peserta diklat menguasai kompetensi pedagogik pembelajaran bilangan bulat dan operasinya. -1. TUJUAN PEMBELAJARAN Peserta diklat dapat menuliskan letak suatu bilangan bulat pada suatu garis bilangan jika titik pangkal 0 dari bilangan bulat itu diketahui dan mencari hasil operasi antara dua bilangan bulat. :) yakni penjumlahan. Sebagai contoh misalnya lawan dari 5 adalah –5 (baca “negatip lima”) sedangkan lawan dari –12 adalah 12. Bilangan negatip dipandang sebagai lawan dari bilangan positip demikian pula sebaliknya. 1. Perluasan yang dimaksud adalah keanggotaannya. Khusus untuk pembagian tidak diperlukan atas semua bilangan bulat tetapi hanya dikhususkan pada bilangan-bilangan tertentu sehingga hasil baginya juga bilangan bulat. –. Apabila digambarkan dengan garis bilangan bentuknya akan seperti berikut: … -3 -2 -1 0 1 2 3 … D. …}. 2. himpunan bilangan bulat merupakan perluasan dari himpunan bilangan cacah. -3. dan pembagian. Sehingga himpunan yang diperluas itu menjadi tertutup terhadap operasi pengurangan. Dalam bentuk himpunan. Karena penjumlahan dan pengurangan pada bilangan bulat bersesuaian dengan kaidah perhitungan vektor berdimensi satu. maupun bilangan negatip. pengurangan. demikian pula untuk yang lainnya. BILANGAN BULAT Pengertian Bilangan bulat adalah bilangan yang utuh dalam arti bukan berupa pecahan (sumber kutipan). dan mudah ditangkap oleh siswa SD. -2. C. B. OPERASI PADA BILANGAN BULAT 1. 3. Penjumlahan dan Pengurangan Operasi yang akan diterapkan pada bilangan bulat adalah (+.

Hasilnya 3. terus.Contoh : (a) – 2 + 5 = … (b) –3 – (–7) = … Jawab : Berangkat dari titik asal (pangkal) nol dan menghadap ke kanan (a) –2 + 5 = dari nol menghadap ke kanan . balik arah.dari nol menghadap ke kanan mundur 3. maju 5. mundur 2. Dari nol menghadap ke kanan. mundur 2 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 terus?… maju 5 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Sehingga –2 + 5 = 3 (b) –3 – (–7) = … . kemudian mundur 7. kemudian mundur 7 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 41 . kemudian mundur 3 –3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 terus?… dikurang 7 berarti balik arah.

amati polanya Dengan demikian maka 42 . amati polanya 0+5=… –1 + 5 = … –2 + 5 = … Dengan demikian maka –2 + 5 = 3 Pengamatan pola 3+5=8 2+5=7 turun 1 turun 1 1+5=6 turun 1 0+5=5 –1 + 5 = 4 –2 + 5 = 3 Soal 2 – (–3) = …  Pola yang diciptakan 2–3=… 2–2=… 2–1=… 2–0=… 2 – (–1) = … 2 – (–2) = … 2 – (–3) = … 2 – (–3) = 5 Pengamatan pola 2 – 3 = –1 2–2=0 2–1=1 2–0=2 2 – (–1) = 3 2 – (–2) = 4 2 – (–3) = 5 naik 1 naik 1 naik 1 Stop.–3 –2 –1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Ternyata hasil akhirnya 4. Cara lain untuk menemukan hasil-hasil operasi pada bilangan bulat secara umum adalah dengan menggunakan pola bilangan. Jadi –3 – (–7) = 4. Alasannya karena dengan pola bilangan akan diperoleh konsistensi hukum/kaidah/aturan yang sesuai dengan sifat matematika yang deduktif dan konsisten. Dengan pola bilangan bentuk langkah-langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut: Soal –2 + 5 = …  Pola yang diciptakan 3+5=… 2+5=… 1+5=… Stop.

43 . mengali adalah menghitung anggota seluruh kelompok benda bila masingmasing kelompoknya beranggota sama banyak. maka secara konsep mengali juga harus berupa bilangan positip. Karena secara konsep banyaknya kelompok juga harus berupa bilangan positip. Sebagai pemahaman makna dari konsep tersebut berikut diberikan peragaanperagaannya. a. Secara konsep membagi adalah menjadikan sekelompok benda menjadi beberapa kumpulan benda sama banyak. Berapakah isi masing-masing kelompok yang baru itu? Jawab: Dari hasil peragaan berarti secara konsep: (+6) : 3 = +2 atau cukup ditulis 6 : 3 = 2. a.2. Peragaan untuk 3  (–2) = –6       Jika 1 kelompok berisi + 2 (positip 2). berapakah isi dari 3 kelompok? Jawab: Isi dari: 3 kelompok = 3  (–2) = (–2) + (–2) + (–2) = –6 Untuk operasi pembagian demikian pula halnya. dijadikan 3 kelompok sama banyak. Peragaan untuk (+6) : 3 = +2 atau 6 : 3 = 2             Cara membacanya Ada satu kelompok berisi positip 6. berapakah isi dari 3 kelompok? Jawab: Isi dari 3 kelompok = 3  (+2) =32 =2+2+2=6 Jika 1 kelompok berisi –2 (negatip 2). Perkalian dan Pembagian Secara konsep. Peragaan untuk 3  2 = 6       b. Gambaran konsepnya adalah seperti berikut. Dengan demikian secara konsep bilangan pembagi juga harus berupa bilangan positip.

ide pengembangannya didasarkan atas pola bilangan. Dalam matematika. dijadikan 3 kelompok sama banyak. Terakhir dari terjawabnya tujuan yang dimaksud itu kemudian diadakan generalisasi. Bentuk yang lebih umum yang dimaksud adalah pengali maupun pembagi yang seharusnya berupa bilangan positip diusahakan dapat berlaku pula untuk bilangan negatip. Dari pola bilangan itu.b. pola bilangan digunakan untuk menjelaskan pengembangan pemikiran karena kaidah yang diperoleh dari pola itu memiliki azas konsisten sesuai dengan sifat matematika yang hakiki yakni bersifat deduktif dan konsisten. Nah dari pola kecenderungan yang diamati itulah kemudian pengembangan (yang sebenarnya berada di luar konsep) dapat ditentukan/dicari jawabannya hingga sampai pada tujuan yang dimaksud. para ahli kemudian mengembangkannya ke arah bentuk yang lebih umum walaupun tampaknya tidak sesuai dengan konsep yang semula. Berapakah isi dari masing-masing kelompok yang baru itu? Jawab: Dari hasil peragaan berarti secara konsep: (–6) : 3 = (–2) atau cukup ditulis –6 : 3 = –2. Peragaan untuk (–6) : 3 = (–2) atau –6 : 3 = 2. Mengingat matematika bukanlah ilmu yang bersifat diam. 44 . tetapi merupakan ilmu yang terus berkembang. Untuk maksud tersebut. jawaban-jawaban yang dihasilkan kemudian diamati pola kecenderungannya. Seperti telah diketahui bahwa secara konsep dapat dikemukakan bahwa bilangan positip dikalikan dengan bilangan negatip hasilnya adalah bilangan negatip. Sebab sifat dasar matematika adalah deduktif dan konsisten (GBPP Matematika SD 1994 : bagian pembukaan). Sedangkan bilangan negatip dibagi dengan bilangan positip hasilnya adalah bilangan negatip. Pertimbangan mereka adalah asal kaidahnya dapat bersifat konsisten.             Cara membacanya: Ada 1 kelompok berisi negatip 6. Kini dengan pola bilangan akan dijelaskan mengapa bilangan negatip dikalikan bilangan positip hasilnya berupa bilangan negatip.

1. Dengan mengadopsi hasil sebelumnya yakni bilangan positip  negatip = negatip. Bagaimana pengembangannya untuk pembagi yang berupa bilangan negatip. Pola yang dikembangkan Pola isian 4 baris yang Isian selengkapnya pertama 4  (-2) = … 3  (-2) = … 2  (-2) = … 1  (-2) = … 0 x (-2) = … -1  2 = … -2  2 = … -3  2 = … 4  (-2) = -8 3  (-2) = -6 2  (-2) = -4 1  (-2) = -2 0  (-2) = … -1  (-2) = … -2  (-2) = … -3  (-2) = … naik 2 naik 2 naik 2 Stop amati pola hasil isiannya 4  (-2) = -8 3  (-2) = -6 2  (-2) = -4 1  (-2) = -2 0  (-2) = 0 -1  (-2) = 2 -2  (-2) = 4 -3  (-2) = 6 Kesimpulan : Bilangan negatif  bilangan negatif = bilangan positif. Sebab untuk membuat pola akan berhadapan dengan bilangan 45 . Bilangan negatip  positip = bilangan negatip Pola yang dikembangkan 42=… 3x2=… 22=… 12=… 0x2=… -1  2 = … -2  2 = … -3  2 = … Pola isian 4 baris yang pertama 4  2 = 8 turun 2 3  2 = 6 turun 2 2  2 = 4 turun 2 Stop amati 1  2 = 2 pola hasil isiannya 02=… -1  2 = … -2  2 = … -3  2 = … Isian selengkapnya 42=8 32=6 22=4 12=2 02=0 -1  2 = -2 -2  2 = -4 -3  2 = -6 = Kesimpulan : Bilangan negatif  bilangan positif bilangan negatif 2. Pembagian Bilangan Bulat Seperti yang pernah dikemukakan sebelumnya bahwa secara konsep bilangan pembagi adalah bilangan positip. Bilangan negatip  negatip = bilangan positip. apakah juga dapat dilakukan menggunakan pola seperti perkalian? Jawabnya adalah tidak.

Oleh karena itu akan lebih baik bila ditanyakan ke siswa “apa hubungannya antara bilangan yang dibagi dengan pembagi dan hasil bagi” seperti misalnya apa hubungan antara: a. 15 dengan 3 dan 5 pada pembagian 15 : 3 = 5 b. (2) nol = nol bilangan 5  n  5 = 0  n ternyata tak ada nilai n yang 0 Sebab dari bentuk seperti adalah n = 0.nol. Padahal pembagian dengan bilangan nol hasilnya tak ada (does not exist). Setelah siswa menjawab “dikalikan” atau lebih lengkapnya “bilangan yang dibagi = pembagi kali hasil bagi” guru kemudian mengarahkan siswa pada bentuk umum: a : b = c bila dan hanya bila a = b  c Pernyataan itu dapat pula ditulis dengan notasi lainnya seperti: a:b=ca=bc atau a c a=bc b Dari bentuk umum itu guru dapat menjelaskan kasus-kasus seperti bilangan (yang dimaksud adalah bilangan tidak nol) dibagi nol. (3) 0  n  0 = 5  n maka n yang memenuhi agar 0 = 5  n 5 nol = tak tentu (semua bilangan memenuhi) nol 0  n  0 = 0  n maka berapapun nilai n yang 0 dimasukkan akan selalu memenuhi bentuk 0 = 0  n. 12 dengan 4 dan 3 pada pembagian 12 : 4 = 3 c. nol dibagi bilangan. Hasil yang dimaksud masing-masing adalah: (1) bilangan  tak ada (does not exist) nol Sebab dari bentuk seperti memenuhi. –6 dengan 3 dan –2 pada pembagian –6 : 3 = -2 dan lain-lain. Sebab dari bentuk seperti Latihan 5 46 . dan nol dibagi nol.

2 disebut lawan dari –2 b. – 4 × (– 20) = … c. – 20 : (– 4) = … d. 25 – 2 ×(10 – 5) = … h. – 5 ×10 + 75 =… 3. mundur sekian. dan hasilnya berapa.1. –2 + 2 = …. –2 – (–5) = … h. 15 + 4 ×(2 – 5) = … g. Hitunglah a. Hitunglah a. 4 – (–3) = … f. 16 ×( – 4) : 2 – 40 : ( – 4) × 2 = … 47 . –3 + 3 = …. Uraikan jawabannya dengan kata-kata seperti maju sekian. 3 disebut lawan dari –3 c. 4 + (–6) = … d. 100 : (– 4) = … e. 5 + (–3) = … e. 10 : (– 2) × 4 + 30 – 3 ×(– 4) = … b. –3 × (–7) = … 2. balik arah. terus. 10 – 4 × (– 2) = … f. 3 – (–5) = … g. 5 × (– 4) = … b. a.

pengu-rangan. Resep apa sebenarnya sehingga yang membuat matematika yang dibahas pada kegiatan diklat dapat menarik dan menyenangkan? Jawabnya tidak lain adalah karena sajian materinya diawali secara kontekstual (berangkat dari konteks kehidupan siswa seharihari) dan mengikuti teori Bruner. nol. KESIMPULAN Bilangan asli. jika sebagai guru pertama adalah yang untuk diterapkan di kelas yang diampunya. Menurut Bruner. Semuanya tentu tergantung kepada komitmen (niat baik) dan realisasi (pelaksanaan riil/ sesungguhnya) saat kembali ke tempat tugas masing-masing. yakni pembelajaran berangkat dari kongkrit. faktor persekutuan terbesr (FPB). Diskusikan rencana tindak lanjut Anda pasca pelatihan kepada kepala sekolah dan kepada pengawas 5. pemangkatan tiga. dan penarikan akar (pangkat dua dan tiga). Operasi (penjumlahan. Namun semuanya ternyata dapat dilalui secara menarik dan menyenangkan. Bersemboyanlah “ Apa yang terbaik yang saya miliki dan dapat saya perbuat untuk kemajuan bangsa ini sebagai andil dalam rangka mencerdaskan bangsa”. Pikirkan perangkat kerja apa saja yang mendesak untuk dibuat dan segera diterapkan/diimplementasikan di lapangan. penguadratan. Suatu lingkup bahasan yang cukup luas untuk dibahas dalam diklat guru Sekolah Dasar. mengapa siswa tidak mengalaminya?. tulus. Tuhan maha mengetahui dan pasti akan memberikan ganjaran yang patut disyukuri berupa sesuatu yang tak terduga di masa depan.BAB VI PENUTUP A. perkalian. dan iklas demi anak bangsa di masa depan 4. SARAN Bagi para alumni diklat yang berkomitmen untuk merealisasikan komitmennya pada anak didik agar mereka menjadi senang dengan pelajaran matematika diberikan saran-saran sebagai berikut. Sajian materi berikutnya adalah kelipatan persekutuan terkecil (KPK). maka siswa akan mampu mengembangkan pengetahuannya jauh lebih luas dari apa yang pernah mereka terima dari gurunya. dan bulat yang kita kenal sebagai bilangan ACB pada matematika Sekolah Dasar meliputi konsep bilangan dihubungkan dengan banyaknya satuan (unit) benda dalam suatu kumpulan. jika pembelajaran berjalan seperti itu. ditindaklanjuti dengan gambar-gambar (semi kongkrit). Laporkan kepada atasan langsung tentang pengalaman apa saja yang menarik selama menerima sajian akademik dalam kegiatan pelatihan 2. Susunlah perangkat tersebut dengan niat baik. negatip) dan operasinya. Apabila itu semua dialami oleh peserta diklat (guru). dan pembagian) adalah operasi biner (operasi yang menghubungkan antara 2 unsur/bilangan sehingga menghasilkan unsur tunggal) yang diterapkan pada bilangan. 48 . 1. serta bilangan bulat (positip. B. kemudian pada kegiatan KKG 3. cacah. dan diakhiri dengan lambang yang sifatnya abstrak. selanjutnya kepada sesama guru di sekolahnya.

(1978). Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (1997). Kurikulum 2004 (Standar Kompetensi Mata pelajaran Matematika SD/MI). New York: John Wiley & Sons. (1994). New York : John Wiley & Sons. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Inc. KBM Matematika di Sekolah Dasar (Makalah Penataran). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : PT. Yogyakarta: PPPG Matematika. Matematika Untuk Orang Tua Murid Dan Guru (Jilid I). An Introduction to the Theory of Numbers (Third Edition). -------------. 49 . Edi Prayitno. Estiningsih. Hurbert S. Inc. (1993). 1967. Wirasto. Elly. Niven. Toward a Theory of Learning. Yogyakarta : PPPG Matematika. DAFTAR PUSTAKA Bruner. Depdiknas. (2003). (2006). Indira. Ivan–Zuckerman. KPK dan FPB (Paket Pembinaan Penataran). Jerome.Amin.

50 2. 21 f. 13 b.832 g. 2. 4 f. 37 cm b. a. 200 o. 8. km 50 pukul 09.30 6. 262.KUNCI JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN Kunci Lat 1 (halaman 15) No.625 8. 4 c. 24 c.216 j. a. 117. 46 10) 6 5. 148. 21 e. 4. 39 l. 91. – 20 b. a. 180.877 h. 10 g. 14 c. a. 10 j. 4. km 32 pukul 09. Latihan 3 halaman 29 1. 13 cm b.0 b. a.875 dm3 e. No.849 e. 25 50 . 3 b. 74 cm d. 50. 836 cm2 3. 2. 46 i. 30 orang 4. a.25 5.625 l.06 Latihan 4 halaman 36 1. 98 6. 3. 10 n.625 c. 28 cm c. 98. 15. 42. 4 e. 43 h. 80 c. 196 b. a. 262. 5 h. 15 h. 676 c.125 dm3 d. 7. 5 3. 52 cm c. 53 f. a. 5.096 b. 4. 35.25 cm c. 4 d. 84 g. 83 cm 7. 86 k.744 cm b. 9 e. 11.144 f. 92 f.656 d. 421. 22 b.249 e.30 5. 529 c. a. 17 d. 18 h. 531.664 k. 8 d. 361 b. 9. 28 2.649 e. – 25 g. 33 4. 5 i. 196 cm b. 2. 3 e. 315 cm 3 3 4.744 i. 93 h. 2 m. 59 j. 625 cm2 c. 274. 2 2.225 g. a. Latihan 5 halaman 45 1. 46 e. 2 1) 132 2) 208 3) 834 4) 154 5) 208 Latihan 2 Halaman 16 1.225 h.025 cm2 d. 32 d. 135 cm d. km 90 pukul 11. 3. 37 g. a. 3 g. 512 f.625 2 2. a. 15. 19 b. a. 0 c. 5.441 f. 7. 1 l. 1 1) 8 2) 4 3) 9 4) 5 5) 24 6) 30 7) 28 8) 27 9) 5 11) 3 12) 4.144 9. – 2 d.116 d.304 d. 30 3. 26 3. 40 k. 7 f.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->