Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa

Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalammilieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ionion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial, sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali.

Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Peningkatan permeabilitas. Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion). Peningkatan luas permukaan difusi. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. luas permukaan membran dan permeabilitas membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. 2. Jarak yang ditempuh untuk difusi. 4. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Transport aktif membutuhkan energi. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Berat molekul substansi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. 3.Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Transport aktif . Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran. maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Bila suatu substansi larut dalam air. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan. Jika tidak dapat menembusnya. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. Osmosis Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. konsentrasi air akan menurun.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut. maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. 5.

Tetapi. Seperti halnya keseimbangan air. 1. pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen. maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Sebaliknya. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Internal fluid exchange. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi.  Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. 2. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Contoh: Pompa Na-K. yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. eksternal fluid exchange. Water turnover dibagi dalam: 1. keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya.  Memeperhatikan keseimbangan garam.Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Pengaturan volume cairan ekstrasel. seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar. peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal . dan 2.

sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. semakin tinggi osmolaritas. Retensi Na+meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:  Perubahan osmolaritas di nefron Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH).Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. . Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. 2. Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel. semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel.  Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen.

yaitu: 1. pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat. Sedangkan dalam sistem endokrin.35. maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. 2. stres. pH darah arteri 7. Jika pH <7. katabolisme zat organik disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus. pH rata-rata darah adalah 7. 2. 2. perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber. osmoreseptor di hypotalamus. suhu lingkungan. perubahan eksitabilitas saraf dan otot. 3. dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. mengaktifkan sistem dapar kimia mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan . diet. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel.35 dikatakan asidosi.4. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus.45 dan darah vena 7.45 dikatakan alkalosis. pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. 3. dan cairan di dalam tubuh kembali normal. antara lain: 1. dan penyakit. dan jika pH darah >7. sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur. sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan. Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh.selain itu. Aldosteron.

Asidosis metabolik. yaitu: 1. Dapar bikarbonat. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan. sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut. Pembentukkan H2CO3 meningkat. disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat Dapar fosfat.. . Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1.3. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntahmuntah dan minum obat-obat alkalis. Pembentukan H2CO3menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. diare akut. Alkalosis metabolik. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel Dapar hemoglobin. Asidosis respiratori. fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. 4. olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. 4. Dapar protein. disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa. 2. 3. diabetes melitus. Alkalosis metabolik. 3. merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. karbohidrat. Komposisi Elektrolit Air melintasi membran sel dengan mudah. (2004). Sisanya adalah zat padat seperti protein. hipotiroid.KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting. yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. cairan peritoneum. oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda.  www. California: Brooks/ColeThomson Learning. Human Physiology: From cells to system. Selain ginjal. D. Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF. cairan persendian. sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. dll. Inc.com BAGAIMANA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DALAM TUBUH KITA Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. Human Physiology: An Integrated approach. Dehidrasi 2.perawatonline. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB. yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paruparu dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh. Daftar Pustaka  Sherwood. pasien mungkin mual. (2004). lemak. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Mg dan fosfat. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. Gangguan Keseimbangan Cairan 1. sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. Lauralee.  Silverthorn. 3th ed. • Jika Na plasma turun 10 . San Fransisco: Pearson Education. Syok hipovolemik Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal. 5th ed. muntah. dll. tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya. penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. gangguan ginjal dan sindroma nefrotik.U. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K. sakit kepala dan keram otot.

mungkin arefleksia. ataksia. penyakit Addison). 4. bisa terjadi sakit kepala hebat. reentry phenomena. Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3. terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. amplitudo gelombang P mengecil. Temuan-temuan lain meliputi parestesi.5 mEq/L) Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik. diuresis osmotik. kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). misalnya pada asidosis. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. uropati pasca obstruksi. emboli arteri akut. . atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. kejang. • Perpindahan dari intra ke ekstraseluler. tremor. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik.5 mEq/L). dan depresi segmen ST. bingung. hipotensi ortostatik. arefleksia dan paralisis ascenden. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. diuretik hemat kalium. • Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). gelombang U. diabetes insipidus. Ini disusul dengan interval PR memanjang. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5. penghambat ACE. disorientasi dan koma. letargi. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam. hemolisis. • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan.5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah. penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan. • Insufisiensi adrenal • Pseudohiperkalemia. Pada permulaan.mEq/L dalam satu jam. sedot nasogastrik. digitalisasi. penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. kelemahan. Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. 3. luka bakar. diare. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot. pembedahan mayor. dan kelainan konduksi. nefropati hiperkalsemik. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. sekrosis tubulus akut. sindrom malabsorpsi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful