Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa

Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalammilieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ionion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial, sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali.

4. Jika tidak dapat menembusnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion).Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut. 2. Peningkatan permeabilitas. Bila suatu substansi larut dalam air. luas permukaan membran dan permeabilitas membran. 3. Transport aktif membutuhkan energi. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan. maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Transport aktif . Osmosis Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan. Jarak yang ditempuh untuk difusi. konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Berat molekul substansi. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. 5. maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. konsentrasi air akan menurun. Peningkatan luas permukaan difusi. maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah: 1.Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif.

1. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap. eksternal fluid exchange. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting. seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Tetapi. peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Internal fluid exchange. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Pengaturan volume cairan ekstrasel. 2. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Seperti halnya keseimbangan air. pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.  Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Water turnover dibagi dalam: 1. seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen. keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya.  Memeperhatikan keseimbangan garam. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Sebaliknya. mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal . dan 2. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Contoh: Pompa Na-K. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.

sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. 2. Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH). Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH).  Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:  Perubahan osmolaritas di nefron Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal. yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air. Retensi Na+meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat. . Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah).Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik.Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. semakin tinggi osmolaritas. sedangkan di dalam cairan intrasel. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan.

dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat. diet. sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. antara lain: 1.45 dikatakan alkalosis. pH rata-rata darah adalah 7.35 dikatakan asidosi. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan.selain itu. dan cairan di dalam tubuh kembali normal. dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. dan penyakit. hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II. mengaktifkan sistem dapar kimia mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan . 3. Sementara. misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat. sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. pH darah arteri 7. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel. Aldosteron. rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus. stres.4. Jika pH <7. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1.35.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. perubahan eksitabilitas saraf dan otot. katabolisme zat organik disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia. suhu lingkungan. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. osmoreseptor di hypotalamus. perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus. maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. 2. yaitu: 1. Sedangkan dalam sistem endokrin. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber. 2. dan jika pH darah >7. 3. Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh.45 dan darah vena 7. 2. jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh.

3. kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. Pembentukan H2CO3menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. 2. Alkalosis metabolik. 3. yaitu: 1. merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Asidosis respiratori. Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat. 3. 4. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat Dapar fosfat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntahmuntah dan minum obat-obat alkalis. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat.. asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. 4. diabetes melitus. maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan. sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1. sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Dapar protein. dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa. Alkalosis metabolik. Asidosis metabolik. fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. Pembentukkan H2CO3 meningkat. terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut. Dapar bikarbonat. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel Dapar hemoglobin. disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. . diare akut.

penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. pasien mungkin mual. Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF.com BAGAIMANA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DALAM TUBUH KITA Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB. (2004). hipotiroid. D. Selain ginjal. muntah.U. 5th ed. Daftar Pustaka  Sherwood. Syok hipovolemik Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1. sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl. Komposisi Elektrolit Air melintasi membran sel dengan mudah. Human Physiology: An Integrated approach. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paruparu dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh. tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya. Inc. gangguan ginjal dan sindroma nefrotik.perawatonline. cairan persendian. dll. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K. dll.  Silverthorn. Dehidrasi 2. San Fransisco: Pearson Education. yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. California: Brooks/ColeThomson Learning. sakit kepala dan keram otot. Mg dan fosfat. (2004). cairan peritoneum. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal.  www. Gangguan Keseimbangan Cairan 1. 3th ed. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB. Human Physiology: From cells to system.KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting. Sisanya adalah zat padat seperti protein. karbohidrat. lemak. Lauralee. yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. sedangkan pada dewasa wanita 50% BB. • Jika Na plasma turun 10 .

bingung. terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. misalnya pada asidosis. kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia. arefleksia dan paralisis ascenden.mEq/L dalam satu jam. kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). dan depresi segmen ST. diuretik hemat kalium. digitalisasi. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. reentry phenomena. letargi. kejang. • Insufisiensi adrenal • Pseudohiperkalemia. sekrosis tubulus akut. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. . diabetes insipidus. dan kelainan konduksi. sindrom malabsorpsi. diuresis osmotik. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. disorientasi dan koma. penyakit Addison). penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan.5 mEq/L). bisa terjadi sakit kepala hebat. Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam.5 mEq/L) Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. hipotensi ortostatik. emboli arteri akut. 3. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan. nefropati hiperkalsemik. • Perpindahan dari intra ke ekstraseluler.5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah. sedot nasogastrik. hemolisis. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti gagal jantung. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik. gelombang U. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot. Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. uropati pasca obstruksi. penghambat ACE. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik. Temuan-temuan lain meliputi parestesi. tremor. diare. kelemahan. • Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). 4. atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. ataksia. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. mungkin arefleksia. pembedahan mayor. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. amplitudo gelombang P mengecil. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5. luka bakar. Pada permulaan. Ini disusul dengan interval PR memanjang. Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful