Perancangan Kopling Toyota Vios

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam bidang permesinan daya dan putaran memegang peranan yang sangat penting, dimana daya dan putaran tersebut dari mesin ditransmisikan ke roda-roda. Mekanisme yang menimbulkan tenaga dari mesin keroda-roda disebut dengan pemindahan tenaga ( power train ). Pemindahan tenaga yang umum digunakan adalah kopling ( clutch ). Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan daya dan putaran dari mesin ke transmisi. Motor penggerak tidak dapat langsung tenaganya digunakan, tetapi digunakan dulu untuk menimbulkan sejumlah momen, kemudian barulah tenaganya digunakan perlahan-perlahan sehingga kendaraan mulai bergerak pelan-pelan. Karena itu diperlukan kopling yang letaknya diantara mesin dan transmisi.

1.2. Tujuan Sesuai dengan pemberian tugas oleh dosen pembimbing, laporan kopling ini adalah perancangan ulang ( redesign) kopling Toyota Vios, maka tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk merancang kembali ukuran-ukuran utama dari bagian-bagaian kopling Toyota Vios agar diperoleh rancangan yang safety berdasarkan perhitunganperhitungan ( teoritis ) yang telah dipelajari pada mata kuliah Elemen Mesin I dan II sebagai mata kuliah pendukung. Dengan penulisan ini pula penulis mampu merancang sebuah kopling sesuai dengan daya dan putaran yang diinginkan.

1.3. Batasan Masalah Ruang lingkup dari perencanaan tulisan ini adalah perhitungan dan perencanaan kopling pada mobil jenis Toyota Vios.

1

Perancangan Kopling Toyota Vios

Spesifikasi dari perancangan ini diperoleh dari brosur pada lampiran 1 yakni: Daya (N) Putaran (n) : 109 PS : 6000 rpm

Analisa perhitungan akan dilakukan pada poros, spline, naaf, plat gesek, pegas kejut, pegas matahari, paku keling, baut, bantalan.

2

Perancangan Kopling Toyota Vios

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Kopling adalah bagian dari komponen sistem transmisi yang berfungsi untuk menyambung dan memutuskan daya dan putaran yang dihasilkan dari poros input ke poros output. Kopling memegang peranan yang penting pada saat pergantian transmisi, dimana mesin harus bebas dan tidak berhubungan dengan sistem transmisi tersebut. 2.2. Kopling Sebagai Elemen Mesin Kopling merupakan komponen mesin yang banyak sekali digunakan dalam konstruksi mesin, sehingga untuk merencanakan kopling harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut ; a. aman pada putaran tinggi, getaran dan tumbukannya kecil. b. konstruksinya yang baik dan praktis c. pemasangan yang mudah dan cepat. d. material kopling harus tahan terhadap: • • • • 2.3. Jenis Kopling Menurut konstruksinya secara umum kopling dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: 1. kopling tetap 2. kopling tidak tetap Temperatur yang tinggi dan sifat penghantar arus Keausan dan goresan Koefisien gesek yang tinggi Sifat ductility yang baik.

3

1 Kopling Bus 2. Gambar 2. baling-baling kapal. Kopling tetap dibedakan lagi atas. kopling kaku. juga pada arah memanjang. dan juga pada poros baling-baling. Kopling Bus Kopling ini digunakan apabila dua buah poros saling disambungkan sentrik dengan teliti. Dalam beberapa hal naaf dapat dipasang paa poros dengan sumbu pres atau kerut. 4 . dan kopling universal.1. Yang termasuk kedalam kopling kaku adalah: 1. Kopling bus seperti terlihat pada gambar 2. kopling luwes. dimana sumbu kedua poros terletak pada satu garis lurus atau dapat berbeda sedikit letak sumbunya. Kopling Tetap Kopling tetap adalah elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip).1. • Kopling Kaku Kopling kaku digunakan bila kedua poros dihubungkan dengan sumbu segaris. Kopling ini banyak digunakan pada poros mesin dan transmisi umum dipabrik-pabrik.3. Pada konstruksinya ujung poros pada kopling ini harus dirapikan dan distel satu terhadap yang lainnya dengan teliti.Perancangan Kopling Toyota Vios 2. Kopling ini sering digunakan pada bubungan. Kopling Flens Kaku Kopling flens kaku terdiri atas naaf dengan flens yang terbuat dari besi cor atau baja dan dipasang pada ujung dengan diberi pasak serta diikat dengan baut pada flensnya.

2. Kopling Flens Tempa Kopling ini flensnya ditempa menjadi satu dengan poros pada ujung poros dan disebut poros flens tempa.3 Kopling Flens Tempa • Kopling Luwes Mesin –mesin yang dihubungkan dengan penggeraknya melalui kopling kaku memerlukan penyetelan yang sangat teliti agar kedua poros yang saling dihubungkan dapat menjadi satu garis lurus. Gambar 2. Keuntungannya adalah diameter flens dibuat kecil karena tidak memerlukan naaf. 5 . selain itu getaran dan tumbukan yang terjadi dalam penerusan daya antara poros penggerak dan yang digerakkan tidak dapat diredam sehingga memperpendek umur mesin serta menimbulkan bunyi berisik. Untuk menghindari kelemahan-kelemahan tersebut dapat digunakan kopling luwes terutama bila terdapat ketidaklurusan antara sumbu kedua porosnya.2 Kopling Flens Kaku 3.3.Perancangan Kopling Toyota Vios Kopling flens kaku seperti terlihat pada gambar 2. Kopling flens tempa seperti terlihat pada gambar 2. Gambar 2.

Pada lapisan karet ini diperkuat oleh rangkaian kawat dan dipasang oleh baut pada sekeliling poros. Kopling karet ban seperti terlihat pada gambar 2.5 Kopling Flens Luwes 6 . Kopling Karet Ban Kopling ini dihubungkan oleh suatu lapisan karet pada bagian luarnya.4 Kopling Karet Ban 2.4.Perancangan Kopling Toyota Vios Yang termasuk jenis kopling luwes adalah: 1. Gambar 2. Dengan adanya karet ban ini memungkinkan poros tidak pada satu garis lurus. Gambar 2. Kopling flens luwes seperti terlihat pada gambar 2. Kopling Flens Luwes Kopling ini adalah kopling tetap yang menggunakan baut untuk menghubungkan kedua poros dimana dilengkapi dengan bus karet atau kulit sehingga memungkinkan poros tidak pada satu garis.5.

7 Kopling Rantai 5. 7 . Kopling Karet Bintang Kopling ini juga hampir sama kerjanya dimana digunakan karet sehingga memungkinkan poros ikut berputar tidak pada satu garis seperti yang terlihat pada gambar 2. Gambar 2.6 Kopling Karet Bintang 4. Kopling Rantai Sesuai dengan namanya kopling ini menggunakan rantai untuk menghubungkan kedua buah poros seperti terlihat pada gambar 2. Kopling gigi seperti terlihat pada gambar 2. Gambar 2.6.Perancangan Kopling Toyota Vios 3. Kopling Gigi Kopling ini pada bagaian sillinder dalam terdapat gigi-gigi yang dihubungkan dengan silinder luar.7. Silinder luar ini dihubungkan dengan menggunakan baut. Pada kopling ini terdapat tempat untuk memasukkkan minyak.8.

Yang termasuk kopling tidak tetap antara lain: 1. Kopling Cakar Kopling ini meneruskan momen dengan kontak positif(tidak dengan perantaraan gesekan) hingga tidak dapat slip. Gambar 2.9. baik dalam keadaan diam maupun berputar.3.8 Kopling Gigi • Kopling Universal Salah satu jenis kopling universal yaitu kopling universal hook. yaitu kopling cakar persegi dan kopling cakar spiral. Kopling universal seperti terlihat pada gambar 2. Kopling ini dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memindahkan putaran walaupun poros tidak sejenis.Perancangan Kopling Toyota Vios Gambar 2. Ada dua bentuk kopling cakar.2 Kopling Tidak tetap Kopling tidak tetap adalah elemen mesin yang menghubungkan poros yang digerakkan dan poros penggerak dengan putaran yang sama dalam meneruskan daya serta dapat melepaskan hubungan kedua poros tersebut. Kopling cakar persegi dapat meneruskan 8 .9 Kopling Universal Hook 2.

Gambar 2. karena dapat terjadi slip maka kopling ini sekaligus juga dapat berfungsi sebagai pembatas momen. Dengan demikikan pembebanan yang berlebihan pada poros penggerak pada waktu dihubungkan dapat dihindari. Kopling disebut kering bila plat-plat gesek tersebut bekerja dalam keadaan kering dan disebut basah bila terendam atau dilumasi dengan minyak. kopling ini dibagi aatas kopling plat tunggal dan kopling plat banyak. hidrolik dan magnetik.11 Kopling Plat 9 . tetapi tidak dapat dihubungkan dalam keadaan berputar sebaliknya. Kopling Plat Kopling ini meneruskan momen dengan perantaraan gesekan.Perancangan Kopling Toyota Vios momen dalam dua arah putaran. Kopling cakar seperti terlihat dalam gambar 2. dan menurut cara pelayanannya dapat dibagi atas cara manual. Menurut jumlah platnya.10. Selain itu. Gambar 2.10 Kopling Cakar 2. kopling cakar spiral dapat dihubungkan dalam keadaan berputar tetapi hanya baik untuk satu putaran saja.

13. Kopling Friwil Dalam permesinan sering diperlukan kopling yang dapat lepas dengan sendirinya bila poros penggerak mulai berputar lebih lambat atau dalam arah berlawanan arah dari poros yang digerakkan. Kopling kerucut sepeti terlihat pada gambar 2.12 Kopling Kerucut 4. Kopling friwil seperti yang terlihat pada gambar 2. Gambar 2. Kopling Kerucut ( Cone Clutch) Kopling ini menggunakan bidang gesek yang berbentuk kerucut. Kopling ini mempunyai keuntungan dimana dengan gaya aksial yang kecil dapat ditransmisikan momen yang besar. Gambar 2. Kelemahannya adalah daya yang diteruskan tidak seragam.13 Kopling Friwil 10 .Perancangan Kopling Toyota Vios 3.12.

Perancangan Kopling Toyota Vios 2. 6. Pada saat kopling terhubung maka daya dan putaran akan diteruskan dari plat gesek ke poros yang digerakkan melalui naaf. Spline Spline adalah gigi luar yang terdapat pada permukaan poros yang berpasangan dengan gigi dalam yang terdapat pada naaf. Plat Gesek ( disc clutch ) Plat gesek ditempatkan diantara roda penerus dan plat penekan.4 Bagian –Bagian Utama Kopling Plat Tunggal Secara umum bagian-bagian utama dari sebuah kopling plat tunggal terdiri atas : 1. Pegas Matahari Pegas matahari berfungsi untuk menarik plat penekan menjauhi flywheel. 4. 11 . Naaf Naaf berfungsi untuk menghubungkan plat gesek dengan spline pada poros yang digerakkan. Pegas matahari ini akan menjalankan fungsinya saat pedal kopling ditekan. Flywheel ini akan berputar mengikuti putaran dari poros penggerak. Plat gesek ini berfungsi untuk meneruskan daya dan putaran dari roda penerus ke naaf saat kopling terhubung. Bantalan Pembebas ( Releasing Bearing ) Bantalan ini dapat digerakkan maju-mundur dengan menekan pedal kopling . 2. 3. Spline berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari plat gesek ke poros melalui perantaraan naaf. yang dengan demikian membebaskan plat gesek dan membuat kopling menjadi tidak terhubung. Plat Penekan ( Pressure Plat) Plat penekan berfungsi untuk menekan plat gesek kearah roda penerus pada saat kopling terhubung. 7. 5. Fungsinya adalah untuk meneruskan tekanan pada pedal kopling ke pegas matahari yang selanjutnya akan melepas hubungan kopling. Roda Penerus ( flywheel) Berupa sebuah piringan yang dihubungkan dengan poros penggerak (poros engkol) pada salah satu sisinya.

maka yang sering dipakai adalah jenis kopling tidak tetap. • Permukaaan gesek harus cukup keras untuk menahan keausan. • Koefisien gesekan dapat dipertahankan dibawah kondisi kerja. Kopling Plat Dapat dihubungkan dalam - keadaan berputar Terjadinya slip sangat kecil 3.1 Perbandingan Kelebihan dan Kekurangan Kopling No 1. maka dalam perancangan ini yang dipilih adalah kopling plat. Penutup ( Cover ) Penutup pada kopling ikut berputar bersama roda penerus. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan yaitu: • Gaya yang dibutuhkan kopling untuk memisahkan hubungan mesin ke transmisi tidak terlampau besar. kopling kerucut dan juga kopling friwil. yaitu kopling cakar. Fungsi penutup ini adalah sebagai tempat dudukan berbagai elemen yang membentuk kopling serta sebagai penahan bantalan pembebas. Tabel 2. Kopling Kerucut Kopling Friwil Gaya aksial kecil menghasilkan Dayanya tidak seragam momen torsi besar Kopling ini dapat lepas Tidak dapat dihubungkan dalam dengan sendirinya bila poros keadaan berputar kencang.Perancangan Kopling Toyota Vios 8. 12 . kopling plat. Perhatikan tabel 2.1 berikut ini. 2. “ Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin “ Dengan pertimbangan diatas. 5 Dasar Pemilihan Kopling Dalam merencanakan kopling untuk kendaraaan bermotor. penggerak mulai lambat Sumber: Sularso.Kiyokatsu Suga. Nama Kopling Kopling Cakar Dapat Kelebihan meneruskan momen Kekurangan Tidak dapat dihubungkan dalam keadaan berputar Hanya dapat memutar sekitar 50 rpm dalam dua arah putaran 2. 4.

13 . Kopling Dalam Keadaan Terhubung ( Pedal Kopling Tidak Ditekan ) Poros penggerak yang berhubungan dengan motor meneruskan daya dan putaran ke flywheel ( roda penerus ) melalui baut pengikat. Akibat putaran dari plat gesek.Perancangan Kopling Toyota Vios • Konduktifitas panas untuk permukaan dapat dipertanggungjawabkan dan juga dapat menghindari perubahan struktur dari komponennya. 2. Jenis kopling ini umumnya banyak dipakai pada kenderaan roda empat dan cukup bagus serta efisien untuk meneruskan daya dan putaran. 2. Jenis koplingnya adalah plat gesek. Cara Kerja Kopling Cara kerja kopling plat tunggal ini dapat ditinjau dari dua keadaaan.6. Daya dan putaran ini diteruskan ke plat gesek yang ditekan oleh plat penekan karena adanya tekanan dari pegas matahari . poros yang digerakkan ikut berputar dengan perantaraan spline dan naaf. Kopling Dalam Keadaan Tidak Terhubung ( Pedal Kopling Ditekan ) Bantalan pembebas menekan pegas matahari sehingga gaya yang dikerjakannya pada plat penekan menjadi berlawanan arah. 2. Hal ini menyebabkan plat penekan tertarik ke arak luar sehingga plat gesek berada dalam keadaan bebas diantara plat penekan dan flywheel.7.yaitu: 1. Berikut ini merupakan gambar Assembling dari kopling Toyota Vios. Gambar Assembling Assembling yang dipakai dapat dilihat pada gambar berikut ini. Pada saat ini tidak terjadi transmisi daya dan putaran. • Material tidak hancur pada temperatur dan beban apit kerja.

7. 14 . Berikut ini merupakan gambar Assembling dari kopling Toyota Vios. Jenis kopling ini umumnya banyak dipakai pada kenderaan roda empat dan cukup bagus serta efisien untuk meneruskan daya dan putaran. Gambar Assembling Assembling yang dipakai dapat dilihat pada gambar berikut ini. Jenis koplingnya adalah plat gesek.Perancangan Kopling Toyota Vios 2.

Paku Keling 14. Plat Gesek 4. Baut 13. Bantalan 10. Naaf 5. Roda Gila 3. Poros digerakkan 7. Pengungkit 18. Pegas Kejut 17. Paku Keling 16. Poros Penggerak 2. Plat Penekan 8. Bantalan 12. Rumah Kopling 11. Baut 15 . Paku Keling 9. Pegas Matahari 15. Spline 6.Perancangan Kopling Toyota Vios Keterangan Gambar: 1.

poros transmisi b. pully. lenturan. dll. Macam –Macam Poros Menurut pembebananya poros diklasifikasikan menjadi : a. poros harus dibuat dari bahan pilihan yang kuat dan tahan terhadap beban-beban tersebut. Poros ini mendapat beban puntir murni atau gabungan beban puntir dan lentur. roda gigi. 3. biasanya berpenampang bulat. akan mengakibatkan terjadinya getaran dan suara. Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar. Dalam perencanaan poros transimisi ini. dimana terpasang elemen-elemen seperti : kopling. dll. pully. Oleh karena itu disamping kekuatan poros. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Kekuatan poros Suatu poros transmisi harus dapat menahan beban seperti puntiran. poros spindle c. 16 . Pengertian Poros merupakan salah satu bagian terpenting dalam setiap mesin yang berfungsi untuk meneruskan daya dan putaran. poros gandar Dalam perancanaan kopling ini dipilih jenis ‘poros transmisi‘. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling.1. roda gila. roda gigi. tarikan dan tekanan. • Kekakuan poros Walaupun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tinggi tetapi jika lenturan atau defleksi puntirnya terlalu besar.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB III PERANCANGAN POROS 3.2. kekakuannya juga harus dipertimbangkan sesuai dengan jenis mesin yang dilayani. Oleh karena itu.

N ……………………………………………………………. Tabel 3. “ Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin “ 17 .8 – 1.2 .Kiyokatsu Suga. Pengerjaan dingin membuat poros menjadi keras dan kekuatannya menjadi besar 3.0 – 1.0 0. Penentuan Daya Perencanaan Poros yang akan dirancang adalah poros transmisi yang digunakan untuk mentransmisikan daya dan putaran.1 Jenis-jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang ditransmisikan Daya yang ditransmisikan Daya rata-rata yang diperlukan Daya maksimum yang diperlukan Daya normal fc 1. yang diperoleh dari brosur pada lampiran 4 adalah sebesar: N = 109 PS 1 PS = 0. Putaran ini harus dihindari dengan membuat putaran kerja lebih rendah dari putaran kritisnya.314 kW n = 6000 rpm Penentuan daya rencana (Pd) diperoleh dari rumus: Pd = fc.3.5 Sumber: Sularso. (3-1) Dimana: Pd = daya rencana ( kW ) fc = faktor koreksi N = daya nominal keluaran motor penggerak ( kW ) Ada beberapa jenis faktor koreksi sesuai dengan daya yang akan ditransmisikan sesuai dengan tabel 3..1.2 1.Perancangan Kopling Toyota Vios • Putaran Kritis Suatu mesin bila putarannya dinaikkan.2. • Bahan Poros Bahan poros transmisi biasa dibuat dari bahan yang ditarik dingin dan difinishing seperti baja karbon yang dioksidasikan dengan ferra silicon dan dicor.746 kW = 81. maka pada harga putaran tertentu akan terjadi getaran yang sangat besar dan disebut putaran kritis.746 kW = 109 x 0.

Perancangan Kopling Toyota Vios

Dalam perancangan ini yang digunakan adalah daya maximum yang mungkin terjadi pada saat start sehingga range faktor koreksinya adalah 0,8 – 1,2. Dalam hal ini dipilih besarnya 1,08 yang agak lebih kecil, karena juga akan memiliki faktor keamanan lainnya, seperti faktor keamanan sesuai dengan jenis bahan, bentuk dan lain-lain. Maka besarnya daya rencana adalah: Pd = 1,08 x 81,314 kW Pd = 87,819 kW Dengan adanya daya dan putaran, maka poros akan mendapat beban berupa momen puntir. Oleh karena itu dalam penentuan ukuran-ukuran utama poros akan dihitung berdasarkan beban puntir serta kemungkinan-kemungkinan kejutan/tumbukan dalam pembebanan, seperti pada saat motor mulai berjalan. Besarnya momen puntir yang dikerjakan pada poros dapat dihitung : M p = 9,74.10 5 Pd …...……….………………………………....... (3-2) n

Dimana: Mp = momen puntir ( N.mm) Pd = daya rencana ( kW ) n = putaran ( rpm ) Untuk daya rencana Pd = 87,819 kW dan putaran n = 6000 rpm, maka momen puntirnya adalah: Mp = 9,74 .105 x 87,819 6000

Mp = 14255,97 N.mm 3.4. Pemilihan Bahan Poros untuk mesin umum biasanya dibuat dari baja karbon yang diffinisi dingin (disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari ingot yang dikil (baja yang dioksidasikan dengan ferrosilicon dan dicor), kadar karbon terjamin. Jenis-jenis baja S-C beserta dengan sifat-sifatnya dapat dilihat dari tabel 3.2

18

Perancangan Kopling Toyota Vios

Tabel 3.2 Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis dingin untuk poros

Standar dan Macam

Lambang S 30 C S 35 C

Perlakuan Panas Penormalan Penormalan Penormalan Penormalan Penormalan Penormalan -

Kekuatan Tarik (kg/mm2) 48 52 55 58 62 66

Keterangan

Baja karbon konstruksi mesin JIS G 4501

S 40 C S 45 C S 50 C S 55 C

Ditarik dingin, Batang baja yang difinis dingin S 35 C-D S 45 C-D S 55 C-D 52 60 72 digerinda, dibubut, atau gabungan antara hal-hal tersebut.
Sumber: Sularso,Kiyokatsu Suga, “ Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin “.

Dalam pemilihan bahan perlu diketahui tegangan izinnya, yang dapat dihitung dengan rumus :

τa =

σb sf 1 .sf 2

dimana : τa = tegangan geser izin (kg/mm2) σb = kekuatan tarik bahan (kg/mm2) Sf1 = faktor keamanan yang tergantung pada jenis bahan, dimana untuk bahan S-C besarnya : 6,0. Sf2 = faktor keamana yang bergantung dari bentuk poros, dimana harganya berkisar antara 1,3 – 3,0. Dalam perancangan ini bahan yang dipilih adalah bahan yang memiliki kekerasan besar, karena poros ini akan mengalami beberapa aksi, seperti tekanan tumbuk, puntir, sehingga dipilih jenis baja S55C-D dengan kekuatan tarik 83 kg / mm 2.

19

Perancangan Kopling Toyota Vios

Dan faktor keamanan diambil yang besar, karena poros ini boleh dikatakan memiliki diameter yang kecil, sehingga supaya seimbang diambil faktor keamanan 6,0. Dan faktor koreksi yang disesuaikan dengan bentuknya berkisar 1,3 – 3,0, dimana bentuk poros dalam perencanaan ini memiliki spilne maka diambil faktor koreksi yang sedang yakni 1,4 karena spilne ini sangat berpengaruh dalam penimbulan puntiran khususnya pada bagian terluar poros. Maka tegangan geser izin adalah :

τa =

83 = 9,88 kg / mm 2 6 . 1,4

3.5. Perencanaan Diameter Poros Diameter poros dapat diperoleh dari rumus:  3 dp=  5,1 K t C b M p  ……………………………..………………….. (3-4) τ a  dimana : dp = diameter poros (mm) τa = tegangan geser izin (kg/mm2) Kt = faktor koreksi tumbukan, harganya berkisar 1,5 – 3,0. Cb = faktor koreksi untuk terjadinya kemungkinan terjadinya beban lentur, dalam perencanaan ini diambil 1,2 karena diperkirakan tidak akan terjadi beban lentur. Mp = momen puntir yang ditransmisikan (kg.m) Pada saat pertama (start) penghubungan poros input dengan poros output akan terjadi tumbukan dan ini terjadi setiap penghubungan kedua poros tersebut, sehingga faktor koreksi pada range 1,5 – 3,0 diambil Kt = 2,8, supaya poros aman dari tumbukan. Dan dalam mekanisme ini beban lentur yang terjadi kemungkinan adalah kecil karena poros adalah relatif pendek, sehingga faktor koreksi untuk beban lentur Cb = 1,2. Dengan
1

20

(3-5) dimana: τ p = tegangan geser akibat momen puntir ( kg/mm2 ) Mp = momen puntir yang terjadi ( kg.69 kg/mm2 Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa tegangan geser yang terjadi lebih kecil dari tegangan geser izinnya ( τp < τa) dimana τa = 9.8 maka diameter poros dapat ditentukan sebagai berikut : dp =  5.Perancangan Kopling Toyota Vios harga faktor koreksi terhadap tumbukan diambil sebesar Kt = 2.8 . Pengujian dilakukan dilakukan dengan memeriksa tegangan geser yang terjadi ( akibat momen puntir ) yang bekerja pada poros.mm ) dp = diameter poros ( mm ) Untuk momen puntir sebesar Mp=14255.1  .…………………………………………….mm.97 kg. dan diameter poros dp=35 mm. Pemeriksaan Kekuatan Poros Ukuran poros yang telah direncanakan harus diuji kekuatannya.97    5. maka tegangan gesernya adalah : 16.6. 14255.39 mm ≈ 35 mm 3. Besar tegangan geser akibat momen puntir yang bekerja pada poros diperoleh dari: τp = 16M p πd 3 p …………………. 21 . sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran poros yang direncanankan sudah cukup aman.2 . 1.88 kg/mm2. Apabila tegangan geser ini melampaui tegangan geser izin yang dapat ditahan oleh bahan maka poros mengalami kegagalan. 2.902    1/ 3 = 34.35 3 τp = τ p = 1.x14255.97 π .

Hal ini menyebabkan pemakaian spline lebih menguntungkan dilihat dari segi penggunaannya karena sambungannya lebih kuat dan beban puntirnya merata diseluruh bagian poros dibandingkan dengan pasak yang menimbulkan konsentrasi tegangan pada daerah dimana pasak dipasang. 4.1.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB IV PERANCANGAN SPLINE DAN NAAF 4.1. Selain itu jumlah spline pada suatu konstruksi telah tertentu ( berdasarkan standar SAE). mesin perkakas. Simbol-simbol yang dipakai dalam standar ini adalah : Gambar 4. Dengan berputarnya plat gesek maka poros yang digerakkan akan ikut berputar dengan perantaraan naaf dan spline. ataupun sebaliknya. Standard Dalam Perancangan Spline Untuk pemakaian spline pada kendaraan bermotor. sedangkan jumlah pasak ditentukan sendiri oleh perancangnya. perhitungannya dilakukan berdasarkan pada standar dari SAE ( Society Of Automotive Engineering).1.1 Spline 22 . yaitu meneruskan daya dan putaran dari poros ke komponen-komponen lain yang terhubung dengannya. Perbedaannya adalah spline menyatu atau menjadi bagian dari poros sedangkan pasak merupakan komponen yang terpisah dari poros dan memerlukan alur pada poros untuk pemasangannya. dan mesin produksi. Perancangan Spline Putaran dari poros penggerak akan diteruskan ke flywheel dan plat gesek melalui plat penekan. Pada dasarnya fungsi spline adalah sama dengan pasak.

(4-3) Dari perhitungan poros pada bab III diperoleh diameter poros adalah 34 mm.156 D ……………………………………………….156D 0.2.900D 0. Dari tabel 4.045D 0.075D 0.860D Under Load h d 0.Perancangan Kopling Toyota Vios Keterangan: D = diameter luar spline d = diameter dalam spline h = tinggi spline w = lebar spline L = panjang spline Ukuran spline untuk berbagai kondisi operasi telah ditetapkan dalam standar SAE dan dapat dilihat pada tabel 4.850D 0.910D 0.100D 0.095D 0.1 diperoleh data sebagai berikut: h = 0.860D 0.045D d 0.……………….800D 0.810D 0. Pemilihan Spline Pada kopling Toyota Vios ini. halaman 15) 4..1 Spesifikasi spline untuk berbagai kondisi operasi ( standar SAE ) Number of Spline 4 6 10 16 Permanent Fit h 0.095D 0. Tabel 4.1.850D 0.070D 0. jenis spline yang dipergunakan adalah spline dengan jumlah 10 (sepuluh) buah pada kondisi meluncur saat tidak dibebani ( to slide when not under load ).070D 0. (4-2) w = 0.750D 0. dimana harga ini adalah sama dengan diameter dalam (d) dari spline. 23 .910D To Slide When Not To Slide When All Fits Under Load h d 0.075D 0.1.250D 0. Dengan memasukkan harga ini kedata diatas diperoleh.070 D ………………………………………………………………….810D w 0.050D 0.098 (sumber: Mechanical hand book. (4-1) d = 0.241D 0.125D 0.860 D ………………………………………………………………….

4 mm 4 4 dan jari-jari tara-rata spline adalah: rm = 4.5mm 0.497kg 18.534 ) = 2.77 mm w = 0. ( 39.5 mm d2 (34) 2 D + d 39.534 ) = 6.156 D = 0.3.167 mm ≈ 6.534 + 34 = = 18.97 = 775.383mm ≈ 18.97 kg. dari perhitungan pada Bab III diperoleh 24 .534) 3 = = 53.rm ………………………………………………………….070 D = 0.Perancangan Kopling Toyota Vios D= d 34 = = 39.17 mm sedangkan panjang spline diperoleh dari: L= D 3 (39.070 ( 39.534 ≈ 39.860 0.860 h = 0.1.45mm ≈ 53.767 mm ≈ 2.mm). Analisa Beban Besarnya gaya yang bekerja pada spline diperoleh dari: Mp = F. (4-4) dimana: F = gaya yang bekerja pada spline ( kg ) Mp = 14255.mm rm = jari-jari rata spline ( mm ) dengan memasukkan harga Mp dan rm kepersamaan diatas diperoleh: F= Mp rm  F= 14255.383 Mp = momen puntir ( kg.156.

h. yaitu oleh tegangan tumbuk σ t dan kegagalan oleh tegangan geser τg ..1. yaitu baja jenis S55C-D dengan kekuatan tarik σ b = 83 kg/mm2.5.497 = 0.5243kg / mm 2 10 x 2. Pemilihan Bahan Karena spline menyatu dengan poros maka bahannya adalah sama dengan bahan untuk poros.L dimana: σ t = tegangan tumbuk ( kg/mm2) F = gaya yang bekerja pada spline ( kg ) i = jumlah spline L = panjang spline ( mm ) h = tinggi spline ( mm ) maka besar tegangan tumbuk yang bekerja adalah: 775.1. 4.45 σt = Jika tegangan tumbuk yang bekerja ( σ t ) lebih kecil dari tegangan tumbuk izin ( σ ti ) maka spline yang direncanakan adalah aman terhadap tegangan tumbuk.4.1.. 25 .5. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Tumbuk Tegangan pada spline dapat diperoleh dari: σt = F ……………………………………………………….3 kg / mm 2 ……………………………………. (4-6) i 10 Dari hasil diatas diperoleh harganya adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan tegangan tumbuk kerjanya ( σ t < σ ti ).1. sehingga spline aman dari kegagalan tegangan tumbuk. (4-5) i. 4. Pemeriksaan Kekuatan Spline Pemeriksaan kekuatan spline dilakukan terhadap dua jenis kemungkinan kegagalan.Perancangan Kopling Toyota Vios 4.767 x53. Tegangan tumbuk untuk bahan S 55 C-D yang diizinkan adalah: σ ti = σ b 83 = = 8.

789 kg/mm2 τgi Tegangan geser untuk bahan S55C-D jauh lebih besar dari tegangan geser kerjanya ( τ gi > τ g ).2. 26 .. namun dalam kondisi yang sebenarnya terdapat perbedaan ukuran yang sangat kecil antara spline dan naaf. (4-7) i. 8. Oleh karena pertimbangan kemungkinan putaran mesin yang tinggi. maka spline yang direncanakan adalah aman terhadap tegangan geser. besar tegangan geser yang bekerja adalah : 775.. Walaupun perbedaannya adalah kecil tetapi dapat menjadi sangat berpengaruh apabila mesin tersebut memerlukan ketelitian yang tinggi atau bekerja pada putaran tinggi. maka ukuran naaf akan dihitung sendiri berdasarkan pada ukuran spline dalam bab sebelumnya.235kg / mm 2 10 x6.4.1.2.L dimana: τg = tegangan tumbuk ( kg/mm2) F = gaya yang bekerja pada spline ( kg ) i = jumlah spline L = panjang spline ( mm ) w= lebar spline ( mm) Maka.577.497 = 0.577.………………………………………….167 x53.……………. σ ti …………………. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Geser Tegangan geser pada spline diperoleh dari: τg = F ………………………………………. (4-8) τgi = 0.45 τg = jika tegangan geser izin ( σ gi ) lebih besar dari tegangan geser kerjanya ( σ g ).. 4. Tegangan geser izin untuk bahan S55C-D adalah: τg i = 0. sehingga spline aman dari tegangan geser. Perancangan Naaf Kadang-kadang ukuran spline dan naaf disamakan dalam suatu rancangan.w.Perancangan Kopling Toyota Vios 4.3 = 4.

maka data untuk ukuran naaf adalah: h = 0.4.2.2.070 D d = 0.860 D w = 0. yaitu berdasarkan standar SAE ( Society Of Automotive Enginering ).1.Perancangan Kopling Toyota Vios 4. Simbol-simbol yang dipakai adalah: w L Gambar. Ukuran-ukuran tersebut dapat dilihat pada tabel 4-1 yang diberikan sebelumnya. Naaf Keterangan: D = diameter luar naaf d = diameter dalam naaf w = lebar gigi naaf h = tinggi gigi naaf L = panjang naaf Ukuran naaf untuk berbagai kondisi operasi telah ditetapkan dalam standar SAE dimana adalah sama dengan ukuran untuk ukuran spline.156 D D d H 27 . Pemilihan Naaf Sesuai dengan spesifikasi spline yang telah ditentukan pada bab sebelumnya. 4. Standar Dalam Perancangan Naaf Standar yang digunakan dalam perancangan naaf adalah sama dengan yang digunakan dalam perancangan spline.2.2.

534 mm ws = lebar spline.64mm 4 4 4. dari perhitungan pada Bab 3 sebesar 39.253mm ≈ 6.083 + 34.253 mm ke data diatas diperoleh: D= w 6.156 0.rm ……………………………….08 mm 0.2.860 D = 0.Perancangan Kopling Toyota Vios Dari data ukuran spline yang telah diketahui.47 mm sedangkan panjang naaf diperoleh dari : L= D 3 (40.156 h = 0.( 40.471 = = 18.083mm ≈ 40.167 ) = 6. yaitu 10 buah bn = tebal naaf maka: w = π (39.253 = = 40. lebar gigi naaf dapat diperoleh dari: w= πDs − iw s i …………………………………………………………… (4-9) di mana : w = lebar gigi naaf (mm) Ds = diameter luar spline.471 mm ≈ 34.2mm d 2 (34.195mm = 54.805 mm ≈ 2.083 ) = 2. dari perhitungan pada Bab 3 sebesar 6.083 ) = 34.( 40.534) − 10.81 mm d = 0..070 D = 0.083) 3 = = 54. Analisa Beban Besarnya gaya yang bekerja pada naaf diperoleh dari: Mp = F.25 mm 10 dengan memasukkan harga w = 6.167 mm i = jumlah spline / gigi naaf.070.……… (4-10) dimana: F = gaya yang bekerja pada naaf ( kg ) 28 .471) 2 dan jari-jari naaf diperoleh dari: rm = D + d 40.638mm ≈ 18.(6.860.3.

Perancangan Kopling Toyota Vios Mp = momen puntir yang bekerja pada poros. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Tumbuk σt = F ……………………………………………………………… (4-11) i.5. 4.mm.2.887 = 0.2.503kg / mm 2 10 x 2.887kg 18. yaitu baja 2 jenis S55C-D dengan kekuatan tarik σ b = 83kg / mm . dari perhitungan sebelumnya diperoleh sebesar 14255. Pemilihan Bahan Bahan untuk naaf dipilih sama dengan bahan untuk poros dan spline.4.195 σt = 29 . rm = jari-jari rata naaf ( mm ) dengan memasukkan harga Mp dan rm kepersamaan diatas diperoleh: F= F= Mp rm 14255. Pemeriksaan Kekuatan Naaf Seperti pada spline maka pemeriksaan kekuatan untuk naaf juga dilakukan terhadap dua jenis kemungkinan kegagalan.h.638 4.97 kg.5. yaitu kegagalan oleh tegangan tarik σ t dan kegagalan oleh tegangan geser τg 4.805 x54.1.97 = 764.2.L dimana: σ t = tegangan tumbuk ( kg/mm2) F = gaya yang bekerja pada naaf ( kg ) i = jumlah gigi naaf yaitu 10 (sepuluh) buah L = panjang naaf ( mm ) h = tinggi naaf ( mm ) maka besar tegangan tumbuk yang bekerja adalah: 764.

2.L dimana: τg = tegangan geser ( kg/mm2) F = gaya yang bekerja pada naaf ( kg ) i = jumlah gigi naaf. σ t < σ ti . sehingga naaf yang direncanakan aman dari kegagalan akibat tegangan tumbuk.w.Perancangan Kopling Toyota Vios Dari perhitungan sebelumnya tegangan tumbuk izin untuk bahan S 55C-D adalah σ ti = 8.226kg / mm 2 10 x6.3 kg / mm 2 .789 kg / mm 2 dimana harganya jauh lebih besar dari tegangan geser kerjanya ( τ gi > τ g ). (4-12) i. 30 . yaitu 10 (sepuluh) buah L = panjang naaf ( mm ) w= lebar gigi naaf ( mm) maka besarnya tegangan geser yang bekerja adalah: 764.195 dari perhitungan sebelumnya diperoleh tegangan geser izin untuk bahan S55C-D adalah τ gi = 4.887 = 0. maka naaf yang direncanakan adalah aman terhadap tegangan geser. Pemeriksaan Terhadap Tegangan Geser Tegangan geser pada naaf diperoleh dari: τg = F …………………………………………………….2. 4.. dimana harganya adalah jauh lebih besar bila dibandingkan dengan tegangan tumbuk kerjanya.253 x54.5.

1. Berikut adalah sketsa plat gesek yang akan dirancang beserta simbol yang digunakan : b 1 2 a Gambar 5. Pemilihan Bahan Koefisien gesekan µ antara berbagai permukaan diberikan pada tabel 5. Harga-harga koefisien gesekan dalam tabel tersebut ditentukan dengan memperhitungkan keadaan bidang gesek yang sudah agak menurun gesekannya karena telah terpakai beberapa waktu.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB V PERANCANGAN PLAT GESEK Plat gesek berfungsi untuk memindahkan daya dan putaran dari flywheel (roda penerus) ke poros yang digerakkan.1 Plat Gesek Keterangan: D = diameter luar plat gesek d = diameter dalam plat gesek a = tebal plat gesek b = lebar plat gesek 5.1. serta didasarkan atas harga tekanan yang diizinkan yang dianggap baik 31 . Transmisi daya dan putaran ini terjadi melalui gesekan antara flywheel dengan plat gesek yang ditekan oleh plat penekan.

Kiyokatsu Suga. Analisa Gaya dan Momen Gesek Tekanan pada bidang plat gesek tidak terbagi rata pada seluruh permukaan.65 : diambil harga rata-ratanya = 0.2.09-0.1.35 − 0.17 0.65 0. Pasangan asbes dan besi cor mempunyai koefisien gesek yang besar. Jika tekanan rata-rata pada bidang gesek adalah P. Alasan untuk pemakaian asbes dan besi cor adalah asbes mempunyai daya tahan terhadap temperatur yang sangat tinggi. ( D + d) ..05-0.1.F. (5-2) 32 .03 0.20 0.0385 N/mm2 5.03 Sumber: Sularso.10-0.07 0.12 0.08 0.007-0.Perancangan Kopling Toyota Vios Tabel 5.02-0.05-0.05-0.5 Pa = 0. maka besar gaya yang menimbulkan tekanan dan momen gesekan yang bekerja pada seluruh permukaan gesek berturut-turut dirumuskan sebagai : F= π 2 D − d 2 P …………………………………………………………… (5-1) 4 ( ) M g = µ. Koefisien gesek antara berbagai permukaan beserta tekanan yang diizinkan Bahan Permukaan Kontak Kering Besi cor dan besi cor Besi cor dan perunggu Besi cor dan asbes Besi cor dan serat Besi cor dan kayu 0.08-0.10-0. “ Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen Mesin “ Untuk perancangan plat gesek ini digunakan bahan asbes yang berpasangan dengan besi cor sebagai bahan flywheel dan plat penekan.35-0. makin jauh dari sumbu poros tekanannya makin kecil.10-0.005-0.07 N / mm 2 : diambil harga rata-ratanya = 0. 4 ………………………………………………………….10 - µ Dilumasi 0. koefisien gesek dan tekanan yang diizinkan untuk bahan asbes dan besi cor pada kondisi kering adalah: µ = 0.007 − 0.35 Pa ( N/mm2) 0. yaitu sampai sekitar 200oC.20 0. Sesuai dengan tabel 5.10-0.20 0.10 0.

4 I pk = sedangkan lingkaran yang kedua adalah 5πd 4 64 lingkaran biasa dengan momen inersia sama maka berlaku: I po ≈ I pk .5. Keduanya mempunyai titik pusat yang πd 3 t 5πd 4 ……………………………………………………………. besarnya adalah 0.761 = atau d 16 D 21 33 .Perancangan Kopling Toyota Vios dimana: F = gaya yang menimbulkan tekanan pada plat gesek (N) Mg = momen gesek yang bekerja pada plat gesek (N.mm) D = diameter luar plat gesek (mm) d = diameter dalam plat gesek (mm) P = tekanan rata-rata pada bidang gesek.0385 N/mm2. (5-3) = 4 64 dimana: t = D – d maka: πd 3 ( D − d ) 5πd 4 = 4 64 D 5 −1 = d 16 D 21 d 16 = = 0. Untuk mencari harga d/D. yang pertama adalah lingkaran besar dianggap seperti cincin dengan rumus pendekatan momen inersia: I po = π d3 t .besarnya adalah 0. Karena bagian bidang gesek yang terlalu dekat pada sumbu poros hanya mempunyai pengaruh yang kecil saja pada pemindahan momen. maka besarnya perbandingan d/D jarang lebih kecil dari 0. µ = koefisien gesekan antara permukaan plat gesek dengan flywheel/plat penekan. maka plat gesek dianggap terdiri dari dua buah lingkaran.5..

6 mm ≈ 25mm 2 2 34 .7 D ) .7 D = 0.7 D) 2 P 4 ( ) π 2 ( D − (0. Momen puntir Mp yang diperoleh dari perhitungan bab sebelumnya sebesar 14255. Dengan memasukkan harga-harga yang diketahui kepersamaan diatas maka diperoleh gaya F yang dinyatakan dalam D sebesar: F= F= π 2 D − (0. Penentuan Ukuran Plat Gesek Agar daya dan putaran dapat ditransmisikan. maka momen gesek Mg harus lebih besar atau sama dengan momen puntir Mp yang dikerjakan poros. 164 mm = 114.0154 D 2 . 4 5.0032725 D 3 ( D + 0.97 D ≥ 163. 0.5 .97 N. dengan memasukkan harga ini ke data yang telah diketahui diatas diperoleh: D = 164 mm d = 0.8 = = 24. (5-4) 0.7 .7.0032725D 3 ≥ 14255.Perancangan Kopling Toyota Vios Untuk perancangan plat gesek ini perbandingan d/D diambil 0.319 mm = 164mm Dalam perancangan plat gesek ini diameter luar plat gesek D diambil sebesar 164 mm.……………………………….0385 = 0.49D 2 )0. M g = 0. sehingga diperoleh: M g ≥ M p ……………………….3.mm.8 mm b= D − d 164 − 114.0154 D 2 4 Selanjutnya dengan memasukkan persamaan gaya diatas kepersamaan momen gesek maka diperoleh: M g = 0.

yaitu: L p Pg A g Wk ………………………………………………………………… (5-6) 35 .n.10 5.. yang mana dapat dipeoleh dari : Pg = dimana: Pg = daya yang hilang akibat gesekan (kW) Mg = momen gesek yang bekerja pada plat gesek ( N.0154(164) 2 = 414.0032725 D 3 = 0.198 N Mg = 0.t.. diambil t = 0.80 9. direncanakan 80 kali/jam.3600 M g . dari data brosur pada lampiran 1 yakni = 6000 rpm = waktu penyambungan kopling.10 5.3 detik = jumlah kerja tiap jam atau jumlah penyambungan dan pemutusan tiap jam.74.………………………. Dengan memasukkan harga-harga yang diketahui maka diperoleh: Pg = 0.592 kW Pg = 0.793 hp Selanjutnya tebal plat gesek dapat diperoleh dari: a= dimana : a = tebal plat gesek (cm) Lp = lama pemakaian plat gesek.Perancangan Kopling Toyota Vios Dari hasil perhitungan diatas. (164) 3 . direncanakan 1000 jam Pg = daya yang hilang akibat gesekan ( hp ) Ag =luas bidang gesek dari plat gesek.6000.3. maka harga F dan Mg dapat dicari: F = 0. terlebih dahulu perlu diketahui besarnya daya yang hilang akibat gesekan.0154 D 2 = 0.3600 ………………………. (5-5) Pg = 0.74.z 9.mm ) n t z = kecepatan sudut.mm Untuk menentukan tebal plat gesek yang sesuai.0032725 .814 N .0.0032725(164) 3 = 14434.

732 cm2 Wk = kerja yang menyebabkan kerusakan. dalam perencanaan ini diambil sebesar 8 hp jam/cm3.2 mm 36 .2 mm.8 2 ) 4 = 10773. untuk bahan asbes dan besi cor harganya berkisar antara 5 – 8 hp jam/cm 3. (5-7) 4 ( ) π (164 2 − 114.275 mm2 = 107.8 mm b = 25 mm a = 9. Maka tebal plat gesek yang direncanakan adalah: a= 1000 x0.793 107.9201 cm a = 9.201 mm ≈ 9.732 x 8 a = 0.Perancangan Kopling Toyota Vios Ag = = π 2 D − d 2 ………………………………………………………. Sebagai kesimpulan ukuran-ukuran dari plat gesek yang dirancang adalah: diameter luar diameter dalam lebar tebal : : : : D = 164 mm d = 114..

sehingga daya dan putaran dari flywheel tidak lagi diteruskan ke poros yang digerakkan. L2 L1 D h Gambar 6.1 Pegas Matahari Pegas matahari berfungsi untuk menarik plat penekan dalam arah menjauhi plat gesek untuk pemutusan hubungan.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB VI PERANCANGAN PEGAS 6. yakni apabila gaya diberikan pada salah satu ujungnya. dimana terjadinya defleksi pada pegas ini adalah sama seperti sistem kantilever beam.1. Prinsip kerja pegas matahari adalah tidak sama dengan pegas spiral. Hal ini akan menyebabkan plat gesek dalam keadaan bebas diantara plat penekan dan flywheel. Pegas Matahari Keterangan: D = diameter pegas d = diameter penampang pegas h = tebal pegas 37 .

Diagramnya adalah sebagai berikut: Fr Fp Fr’ Ft Fp’ Ft Fr’ Fp Fp’ Fr Gambar 6. dimana gaya ini akan menimbulkan reaksi Fr’ dan menarik plat penekan dengan memberi gaya yang berlawanan arah dengan gaya dari plat tekan sebesar Fp’.2 Diagram gaya-gaya yang bekerja pada pegas matahari Gambar (a): Pegas matahari beroperasi dalam keadaan normal (kopling dalam keadaaan terhubung) dan daya yang bekerja pada pegas adalah gaya Fp yang berasal dari pegas itu sendiri yang diimbangi oleh gaya Fr yang dihasilkan oleh flywheel. dan dari actuator akan diberikan perintah untuk menggerakkan bantalan pembebas yang akan menekan bagian dalam pegas matahari dan menarik plat penekan menjauhi flywheel. dan diteruskan ke actuator. Gambar (b): Bantalan pembebas menekan pegas dengan gaya Fr.1 Analisa Gaya Ketika sensor memberikan sinyal ke CPU.Perancangan Kopling Toyota Vios L1 = panjang daun pegas L2 = panjang daerah pengungkit 6.1. 38 .

..L2-Ft.2.396 N Besar Ft diperoleh sebesar: Ft = 828.351N 12 Fp'.396 ⋅ 25 = 460.. maka Ft = Dimana: Ft = gaya tekan yang dikerjakan oleh bantalan pembebas (N) Fp’= gaya yang diperlukan untuk melawan gaya tekan pegas yaitu Fp’=2Fp Fp = gaya yang menimbulkan tekanan pada plat gesek. Pemilihan Bahan Untuk pegas matahari dipilih kawat baja SUP4 berkekuatan σ = 115 N/ mm 2.22 = 38. 39 .L1=0..198 N Maka Fp’= 2 x 414.22 N 45 Gaya yang menekan masing-masing daun pegas adalah : Ft = Ft ……………………………………………………………………… (6-2) n 460.1.. dari perhitungan pada bab V diperoleh Fp = 414. dapat diperoleh hasil sebagai berikut: L1 = 45 mm L2 = 25 mm ∑ M=0 ………………………………………………………………………….18 = 828..Perancangan Kopling Toyota Vios Dengan menyamakan ukuran pegas matahari pada ukuran plat gesek yang telah dihitung pada bab V.L2 L1 Dimana n adalah jumlah daun pegas yang direncanakan sebanyak 12 buah sehingga: Ft = 6. Sedangkan modulus elastisitasnya E = 207 GPa. Bahan ini cocok karena kekuatan tarik dan modulus elstisitasnya yang tinggi sehingga pegas tidak akan mengalami deformasi plastis maupun fracture pada saat mengalami beban yang diberikan bantalan pembebas.. (6-1) Fp’.

0311mm h4 = Dan direncanakan tebal pegasnya adalah 4 mm sehingga lebarnya dapat dihitung: b = 4h = 4 x 4 = 16 mm b. (6-3) L2 Dengan δ2 merupakan jarak pindah antara plat gesek dengan plat penekan saat kopling tidak terhubung. Penentuan Ukuran Defleksi dari pegas matahari diperoleh dari: L1 .δ 2 …………………………………………………………………………. Jarak ini direncanakan sejauh 5 mm. supaya poros terhubung lebih cepat.448 N / mm 2 …………….L1 ………………………………………………………………………… (6-4) 2.E.δ 1 h = tebal pegas matahari (mm) Ft = gaya tekan tiap daun pegas matahari sebesar 38.L1 6 ⋅ 38. Sehingga defleksi δ1 adalah: 45 ⋅ 5 = 9mm 25 Dan tebal pegas matahari (h) diperoleh dari : h4 = Ft.351 N δ1= 9 mm Maka diperoleh harga tebal pegas matahari minimal: 38.351 ⋅ 45 = = 40.Perancangan Kopling Toyota Vios a.Ft.10 9 x9 h = 0. (6-5) 2 2 bh 16.351x 45 3 2 x 207.………………………. Pemeriksaan Kekuatan Pegas Tegangan lengkung yang terjadi pada pegas matahari dapat dihitung dari: 6.(4) 3 δ1 = δ1 = Dimana: σt = 40 .

Khusus pada perancangan ini. yakni sebagai pengomtrol getaran.125 N 4 41 .Perancangan Kopling Toyota Vios Dari perhitungan diatas terlihat bahwa σt < σ . Pegas kejut banyak kegunaannya dalam konstruksi mesin. dan tegangan yang dialami oleh pegas.1 Analisa Gaya Besarnya gaya tekan yang harus diberikan oleh tiap pegas adalah: F= Zp.503 N/mm2 dari bab IV. maka pegas matahari ini aman digunakan untuk perancangan ini. 6. F d L D Gambar 6. A ………………………………………………………………………….2 Pegas Kejut Perancangan pegas kejut biasanya berhubungan dengan gaya. A = luas rata-rata bidang tekan untuk pegas sebesar 1 mm2. khususnya untuk tegangan tarik. (6-6) n Dimana: F = gaya tekan tiap pegas (N) Zp= tekanan rata-rata pada bidang pegas yaitu sebesar 0. defleksi.2. direncanakan 4 buah.503 ⋅ 1 = 0.. n = jumlah pegas. Maka: F= 0. pegas kejut digunakan untuk meredam kejutan pada saat kopling terhubung. momen torsi.3 Pegas Kejut 6.

4.……………………….d 2 d 6.787 = 2 π . dalam perancangan ini dipilih 4 k = faktor tegangan wahl.5.0.……………………………………………………. Maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah: Sys = 0.622 = 0.404.615 + = + = 1.Perancangan Kopling Toyota Vios 6. (6-9) d2 42 .125 1.c. Maka : 0.36 N/mm2 6.Sy ………………………………………………………………………… (6-7) = 0.404 4c − 4 c 4(4) − 4 4 F= gaya tekan tiap pegas (N) d = diameter penampang pegas (mm) Sehingga : Z= 8.2 Pemilihan Bahan Untuk bahan pegas tetap dipilih baja karbon jenis SUS 302 dengan kekuatan tarik mulur (tensile yield strength) Sy= 0.F ………………….3 Analisa Tegangan Geser Tegangan geser yang bekerja pada tiap pegas adalah: Z= 8.0.5.36 ≥ 1.615 4(4) − 1 0.d 2 Dimana: Z= tegangan geser tiap pegas (N/mm2) c = indeks pegas.2..k . yaitu: k= 4c − 1 0.622 N/mm2.2. maka tegangan geser izin harus lebih besar atau sama dengan tegangan geser yang timbul.787 ……………………………………….1.2. (6-8) π .4. Penentuan Ukuran Agar pegas aman terhadap tegangan geser.

. (6-12) Dimana: Lo = panjang pegas pada operasi normal (mm) L = panjang pegas pada pembebanan maksimum (mm) h = D/3 = 12/3= 4 mm i = jumlah lilitan pegas (dipilih 4 lilitan) d = diameter penampang pegas (mm) Maka: Lo= 16. diameter penampang pegas dipilih d = 3 mm. (6-10) D = 4. Sedangkan panjang pegas pada operasi normal adalah: Lo = L+i(h-d) …………………………………………………………………….5 mm. sehingga diameter pegas adalah : D = c. (6-11) Dimana: L = panjang pegas pada saat pembebanan maksimum (mm) i = jumlah lilitan pegas (dipilih 4 lilitan) d = diameter penampang pegas (mm) Sehingga diperoleh: L= (4+1.36 d 2 ≥ 1.5)3 = 16.Perancangan Kopling Toyota Vios 0.787 d ≥ 2. 43 .3 = 12 mm Panjang pegas pada saat pembebanan maksimum adalah: L = (i+1.227 mm Dalam perancangan ini.3) = 20..5 + 4 (4 .d …………………………………………………………………………….5)d ……………………………………………………………………….5 mm.

plat pembawa 6. Sambungan lempengan gesek (yang terbuat dari asbes) dengan lingkar pembawanya. 3. Ukuran dan bahan paku keling untuk ketiga sambungan tersebut akan diranv\cang pada bagian berikut : 1 2 3 4 7 5 6 Gambar 7. paku keling untuk sambungan lempengan gesek dengan lingkar pembawa 3. yaitu: 1.1 Susunan paku keling Keterangan: 1. paku keling untuk sambungan plat pembawa dengan naaf 7. lingkar pembawa 4. 2.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB VII PERANCANGAN PAKU KELING Pada konstruksi plat gesek dan naaf digunakan paku keling pada tiga sambungan. paku keling untuk sambungan lingkar pembawa dengan plat pembawa 5. Sambungan lingkar pembawa pada plat gesek dengan plat pembawa. lempengan gesek 2. naaf 44 . Sambungan plat pembawa dengan naaf.

yaitu D+d …………………………………………………………………………. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah 45 . Jumlah paku keling yang digunakan adalah disesuaikan dengan lebar permukaan lempengan.7 Dimana: F1 n1 r1 r1 = Mp = momen puntir yang ditransmisikan yaitu sebesar 14255. (7-1) n1 .97 F1 = = 17. sehingga lempengan akan terikat dengan baik.83 N/mm2.8 = 69.Perancangan Kopling Toyota Vios 7.r1 = gaya yang bekerja pada tiap paku keling = jumlah paku keling yaitu 12 buah = jarak paku keling ke sumbu poros.97 N. Jumlah yang digunakan adalah 12 buah.1 Paku Keling untuk Sambungan Lempengan gesek dengan Lingkar Pembawa Paku keling ini berfungsi untuk mencegah terjadinya slip antara lempengan gesek dengan lingkaran pembawa yang mana akan mengurangi momen puntir yang diteruskan dari flywheel yang akan menimbulkan kerugian. (7-2) 4 d = diameter dalam plat gesek = 114. a. Pemilihan Bahan Bahan paku keling untuk perancangan ini dipilih jenis bahan baja tipe SAE/AISI 1010 yang dirol panas (hot roller) dengan kekuatan tarik Sy = 1.7 mm 4 14255.mm Dimana: D= diameter luar plat gesek = 164 mm b. Analisa Gaya Gaya yang bekerja pada setiap paku keling adalah: F1 = Mp ………………………………………………………………………….044 N 12 ⋅ 69..8 mm Maka dengan memasukkan harga-harga yang diketahui diperoleh: r1 = 164 + 114.

85 d1 2 τ1 = ≤ 0.1. tegangan geser kerja τ1 harus lebih kecil atau sama dengan kekuatan geser mulurnya Sys dimana tegangan gesernya adalah: τ1 ≤ Sys …………………………………………………………………………. Penentuan Ukuran Tegangan geser yang timbul akibat gaya F1 adalah F1 = 2.044 10. d 1 4 Untuk menjaga keamanan konstruksi.5..Sy ………………………………………………………………………… (7-3) = 0. Hal ini disebabkan paku ini dipasang diantaranya dan jumlah yang cocok diambil 8 buah. Jumlah paku keling disesuaikan dengan diameter dalam plat gesek dan diameter luar plat pembawa.5.443 mm Dengan mempertimbangkan keamanan konstruksi.83 = 0.2 Paku Keling untuk Sambungan Lingkaran Pembawa dengan Plat Pembawa Paku keling pada posisi ini berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari plat gesek ke plat pembawa dan selanjutnya ke naaf dan poros yang digerakkan. (7-5) 10.. 7.915 d1 ≥ 3. A1 F1 ………………………………………………………………. 46 . (7-4) π 2 d12 4 τ1= Dimana: τ1 = tegangan geser yang timbul (N/mm2) F1 = gaya yang bekerja pada paku keling (N) A1 = luas penampang paku keling (mm2) d1 = diameter paku keling (mm) 17.85 = 2 π 2 d1 2.Perancangan Kopling Toyota Vios Sys = 0.915 N/mm2 c. maka diameter paku keling diambil d1 = 4 mm.

Analisa Gaya Sesuai dengan prosedur pada bagian 7.1..83 N/mm2. Pemilihan Bahan Bahan paku keling untuk perancangan ini dipilih jenis bahan baja tipe SAE / AISI 1010 yang dirol panas (hot roller) dengan kekuatan tarik Sy = 1.226mm 4 14255.8 + 2 ⋅ (6. dari perhitungan pada bab IV sebesar 40.………………………………………………………………………… (7-6) n2 .083 + 114.253) = 51.253 mm Maka: r2 = 40. (7-7) 4 Dimana: r2 Dn dg bn = jarak paku keling ke sumbu poros = Diameter luar naaf.Perancangan Kopling Toyota Vios a..786 N 8 ⋅ 51.8 mm = tebal naaf.97 = 34.bn ……………………………………………………………….226 Sehingga: F2 = b . Jarak r2 yang merupakan jarak paku keling ke sumbu poros diperoleh dari : r2 = Dn + dg + 2.915 N/ mm2. dari perhitungan pada bab V sebesar 114.. 47 .083 mm = diameter dalam plat gesek. yaitu sebesar 6. gaya yang bekerja pada tiap paku keling adalah : F2 = Mp .r2 Dengan jumlah paku keling n2 = 8 buah. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah 0.

a.3 Paku Keling untuk Sambungan Plat Pembawa dengan Naaf Paku keling pada posisi ini berfungsi untuk meneruskan momen puntir dari plat pembawa ke naaf dan poros yang digerakkan. Jumlah paku keling disesuaikan dengan diameter plat pembawa dan naaf serta diameter poros dan jumlah yang sesuai adalah 4 buah. maka diameter paku keling (d2) diambil 6 mm.915 d 2 ≥ 4.145 = = = 2 2 π 2 2.145 d2 2 ≤ 0. A2 d2 …………………………………………... (7-9) 22. (7-8) d2 2 d2 π 4 2 τ2 = τ 2 ≤ Sys ……………………………………………………………………….799 N 4 ⋅ 30 F3 = F3 = 48 ..Perancangan Kopling Toyota Vios c.786 22. Penentuan Ukuran Tegangan geser yang timbul akibat gaya F2 adalah: F2 F2 34.1. Analisa Gaya Sesuai dengan prosedur pada bagian 7.919 mm Dengan mempertimbangkan keamanan. gaya yang bekerja pada tiap paku keling adalah: Mp ………………………………………………………………………… (7-10) n3 .97 = 118.r3 Dengan jumlah paku keling n3 = 4 buah dan jarak r3 yang merupakan jarak paku keling ke sumbu poros direncanakan sejauh 30 mm. maka diperoleh : 14255. 7.

Perancangan Kopling Toyota Vios b ..………….. A3 d3 2 d3 4 τ 3 ≤ Sys …………………………………………………………………….029 d 3 ≥ 6. (72.577 ⋅ Sy …………………………………………………. maka diameter paku keling (d3) diambil 7 mm. (7-11) = 0.25 N/mm2.... 49 .029 N/mm 2 c.799 d3 2 τ3 = 12) ≤ 3. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah Sys = 0. Penentuan Ukuran Tegangan geser yang timbul akibat gaya F3 adalah: F3 F3 118.799 = = 2 π 2 ……………………………………….25 = 3.262 mm Dengan mempertimbangkan keamanan.577 ⋅ 5. Pemilihan Bahan Bahan untuk paku keling ini dipilih dari baja ST 24 dengan kekuatan tarik mulur (tensile yield strength) Sy = 5. (7-13) 118.

Perancangan Kopling Toyota Vios BAB VIII PERANCANGAN BAUT Pada konstruksi kopling Toyota Vios digunakan tiga jenis baut pengikat.1.1. Baut pengikat poros penggerak dengan flywheel 2. 8. poros penggerak baut pengikat poros penggerak dengan flywheel flywheel Jumlah baut yang dipakai pada ikatan poros penggerak dengan flywheel ini adalah 6 buah. pemilihan bahan. dan penentuan ukuran baut.1. Baut pengikat poros penggerak dengan flywheel Keterangan : 1. yaitu: 1. 8. Baut pengikat flywheel dengan penutup (cover) kopling. Baut Pengikat Poros Penggerak dengan Flywheel 3 2 1 Gambar 8.1 Analisa Gaya 50 . 3. Prosedur perancangan untuk baut ini meliputi: analisa gaya. 2. analisa tegangan. Baut pengikat pegas matahari dengan plat penekan 3. Perancangan dari ketiga jenis baut tersebut akan diuraikan dalam bagian berikut.

yaitu 59. (8-1) di mana: F1 = gaya yang bekerja pada tiap baut (N) Mp = momen puntir yang diteruskan dari poros. yaitu 6 buah R1 = jarak sumbu baut ke sumbu poros.630 = d1 2 51 .97 N⋅ mm n1 = jumlah baut.Perancangan Kopling Toyota Vios Gaya yang bekerja pada tiap baut adalah gaya geser yang besarnya diperoleh dari: F1 = Mp n1 ⋅ R1 ……………………………………………………………. yaitu sebesar14255.2 Analisa Tegangan Pada baut terjadi tegangan geser yang besarnya dapat ditentukan dari persamaan τ1 = di mana: F1 π 2 ⋅ d1 4 …………………………………………………………… (8-2) τ1 = tegangan geser yang bekerja (N/mm2) F1 = gaya yang bekerja..1.399 N d1 = diameter baut (mm) maka diperoleh τ1= 59.97 6 ⋅ 40 = 59. yaitu direncanakan sebesar 40 mm Maka : F1 = 14255.399 N 8.399 π ⋅ d1 2 4 75.

plat penekan baut pengikat pegas matahari dengan plat penekan pegas matahari 52 .2. (8-4) Dalam perencanaan ini diambil harga diameter baut sebesar d1 = 6 mm. 3.996 mm ………………………………………………….2.3. (8-3) = 0..Perancangan Kopling Toyota Vios Bahan untuk baut dipilih dari baja ST 24 dengan kekuatan tarik mulur (tensile yield strength) Sy = 5.. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah Sys = 0. 2. Baut pengikat pegas matahari dengan plat penekan Keterangan: 1.1.577 ⋅ 5.029 d1 ≥ 4. Baut Pengikat Pegas Matahari dengan Plat Penekan 1 2 3 Gambar 8. Penentuan Ukuran Agar konstruksi baut aman maka harus dipenuhi: τ 1 ≤ Sys 75.630 d1 2 ≥ 3.25 N/mm2.029 N/mm 2 8.630 ≤ 3. 8.25 = 3.029 d1 2 75.577 ⋅ Sy …………………………………………………….

.2. yaitu direncanakan sebesar 70 mm Dengan memasukkan harga-harga yang diketahui diperoleh: Fg 2 = 14255. 70 8. yaitu sebesar 14255. analisa tegangan berupa tegangan geser dan tegangan tarik. yaitu 6 buah R2 = jarak sumbu baut ke sumbu poros. dan penentuan ukuran baut.97 N⋅ mm n2 = jumlah baut. Besar dari kedua gaya ini dapat diperoleh dari: Fg 2 = di mana: Mp n2 R2 …………………………………………………………….2 Analisa Tegangan Tegangan geser yang terjadi pada baut diperoleh dari : τ2= Fg2 π ⋅ d2 2 4 ………………………………………………………….97 = 33. Analisa Gaya Gaya yang bekerja pada baut ini ada dua. (8-5) Fg2 = gaya gesek yang bekerja pada tiap baut (N) Mp = momen puntir yang diteruskan. yaitu gaya geser akibat momen puntir dan gaya tarik akibat tarikan pegas matahari terhadap plat penekan saat pedal kopling ditekan.2. 8.Perancangan Kopling Toyota Vios Jumlah baut yang dipakai untuk ikatan pegas matahari dengan plat penekan adalah 6 buah.1. Prosedur perancangan untuk baut ini meliputi: analisa gaya untuk gaya geser dan gaya tarik. (8-6) yang besarnya adalah: 33.217 τ2 = 2 d2 τ2 = 53 . pemilihan bahan.942 N 6 .942 π 2 d2 4 43.

029 N/mm 2 8. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah Sys = 0. (8-8) 43 .217 ≤ 3. 8.777 mm 2 1 3 Gambar 8. flywheel baut pengikat flywheel dengan penutup kopling penutup kopling 54 .2.577 ⋅ 5.25 = 3. 3.029 2 d2 Dari hasil yang diperoleh diambil harga diameter d2 = 5 mm.. Baut Pengikat Flywheel dengan Penutup Kopling d 2 ≥ 3.. Baut pengikat flywheel dengan penutup kopling Keterangan: 1. (8-7) = 0..3.3 Penentuan Ukuran Agar konstruksi aman maka harus dipenuhi: τ 2 ≤ S ys …………………………………………………………. 2.25 N/mm2.577 ⋅ Sy …………………………………………………….Perancangan Kopling Toyota Vios Bahan untuk baut dipilih dari baja ST 24 dengan kekuatan tarik mulur (tensile yield strength) Sy = 5..3.

yaitu 6 buah . Prosedur perancangan untuk baut ini adalah sama dengan prosedur perancangan untuk baut pengikat poros penggerak dengan flywheel pada bagian 8. Maka harga F3 adalah F3 = 14255. 8.1. (8-10) τ3 = 3 π 2 d3 4 23. yaitu direncanakan sebesar 100 mm.577 ⋅ Sy …………………………………………………….759 30.3...25 N/mm2.97 = 23.577 ⋅ 5..Perancangan Kopling Toyota Vios Jumlah baut yang dipakai pada ikatan flywheel dengan penutup kopling adalah sebanyak 6 buah. maka kekuatan geser mulurnya (shear yield strength) adalah Sys = 0. (8-9) dengan n3 adalah jumlah baut. serta R3 adalah jarak sumbu baut ke sumbu poros..3.1 Analisa Gaya Gaya geser yang bekerja pada tiap baut diperoleh dari: F3 = Mp n3 ⋅ R3 ………………………………………………………….25 = 3. 100 8.2 Analisa Tegangan Besar tegangan geser yang terjadi adalah F …………………………………………………………….252 τ3 = = π 2 d 32 d3 4 Bahan untuk baut dipilih dari baja ST 24 dengan kekuatan tarik mulur (tensile yield strength) Sy = 5.759 N 6 .. (8-11) = 0.029 N/mm 2 55 .

Perancangan Kopling Toyota Vios 8. (8-12) 30.029 d3 2 23.3. 56 .3.029 d3 ≥ 3.992 d3 2 ≥ 3. Penentuan Ukuran Agar konstruksi aman maka harus dipenuhi τ 3 ≤ Sys ……………………………………………………….252 ≤ 3..16 mm Dalam perencanaan ini diambil harga diameter baut sebesar d3 = 5 mm.

sebanyak dua buah. Pada konstruksi kopling Toyota Vios ini digunakan dua jenis bantalan yaitu: 1. masing-masing pada kedua ujung poros.1 Bantalan pendukung poros 57 . berupa bantalan bola radial untuk menahan poros pada tempatnya. Bantalan pendukung poros.1 Bantalan Pendukung Poros Bantalan yang digunakan untuk mendukung poros adalah bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal (single row deep groove radial ball bearing). Gambar 9. 9. berupa bantalan bola aksial untuk menekan pegas matahari saat pedal kopling ditekan. Sketsa bantalan pendukung poros ini beserta komponen-komponen lain yang terhubung dengannya ditunjukkan pada gambar berikut. 2.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB IX PERANCANGAN BANTALAN Bantalan berfungsi untuk menumpu poros beerbeban. Bantalan harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Bantalan pembebas (release bearing). aman dan panjang umur. Sehingga gerakan bolak balik atau putaran poros tersebut dapat berlangsung secara halus. Jika bantalan tidak berfungsi dengan baik maka prestasi seluruh sistem akan menurun atau tak dapat bekerja secara semestinya.

4712 ) ⋅ 54. Wn + Wg A Wp B L1 L2 L3 Ra L1 L2 L3 Rb Gambar 9.083 mm dN = diameter dalam naaf = 34.8⋅ 10-6 N/mm3 VN = volume naaf.Perancangan Kopling Toyota Vios 9.8 ⋅10 -6 ⋅17808.471 mm LN = panjang naaf = 54.083 2 .2 Diagram analisa gaya • WN = berat naaf WN = ρN ⋅ VN ………………………………………………………………….195 mm maka : VN = π ⋅ (40. (9-1) Dimana: ρN = massa jenis bahan naaf.925 mm 3 Maka berat naaf adalah WN = 7.195 4 = 17808. yaitu VN = π ⋅ (DN 2 .925 = 0.1.139 N 58 .34.1 Analisa Gaya Diagram benda bebas untuk gaya-gaya yang bekerja pada poros dan kedua bantalan pendukungnya diberikan dalam gambar berikut.dN 2 ) ⋅ LN 4 ………………………………………………… (9-2) Untuk : DN = diameter luar naaf = 40. untuk bahan baja S55C-D besarnya adalah 7.

yaitu : Vg = π ⋅ (Dg 2 . yaitu VL = besarnya π ⋅ (DL2 . (9-3) Dimana : ρL = massa jenis bahan lingkar pembawa.2 mm maka : π (164 2 − 114.2 ⋅ 10-6 N/mm3 VL = volume lingkar pembawa.2mm 4 V g = 99114.dL2 ) ⋅ bL 4 ……………………………….8 mm bg = tebal lempeng gesek = 9.………………… (9-4) untuk: DL = diameter luar lingkar pembawa = 164 mm dL = diameter dalam lingkar pembawa = 60 mm bL = tebal lingkar pembawa = 3 mm maka : π (164 2 − 60 2 ) x3 4 V L = 54889..Perancangan Kopling Toyota Vios • WG = berat plat gesek W G = berat lingkar pembawa + berat lempeng gesek = ρL ⋅ VL + ρg ⋅ Vg ………………….906 mm 3 VL = ρg = massa jenis bahan lempeng gesek.131 mm 3 Vg = 59 . untuk bahan asbes besarnya adalah 3.4⋅ 10-6 N/mm3 Vg = volume lempeng gesek.dg 2 ) ⋅ bg 4 ………………………………………………… (9-5) Untuk : Dg = diameter luar lempeng gesek = 164 mm dg = diameter dalam lempeng gesek = 114..8 2 ) x9. untuk bahan besi cor kelabu adalah 7.

yaitu π ……………………………………………………….55 mm 3 Maka berat poros adalah WP = 7..2.732 N + 3.906mm 3 W g = 0.10 −6 N / mm 2 . untuk bahan baja S55C-D besarnya adalah 7. 54889. (9-6) Dimana : ρP = massa jenis bahan poros.10 −6 N / mm 2 .131mm 3 • WP = berat poros W P = ρP ⋅ VP ………………………………………………………………. (9-7) VP = ⋅ dP 2 ⋅ LP 4 Untuk : dP = diameter poros = 35 mm LP = panjang poros = 200 mm Maka : VP = π ⋅ 35 2 ⋅ 200 4 = 192422.55 = 1.8⋅ 10-6 N/mm3 VP = volume poros. 99114.8 ⋅ 10 -6 ⋅ 192422.5 N • • • • • RA = gaya reaksi pada bantalan A RB = gaya reaksi pada bantalan B L1 = 50 mm L2 = 50 mm L3 = 100 mm 60 .4.Perancangan Kopling Toyota Vios Maka berat plat gesek adalah : W g = 7..

sedangkan resultan gaya aksialnya (Fa) adalah nol. (50 + 50 + 100) − 1..139 + 0.5 Fa = faktor aksial. ( L1 + L2 ) − (W N + WG ) .6 Fr = gaya radial = 1.50 = 0 R B .967 − (0. (9-8) R B . untuk bantalan pendukung poros ini besarnya nol 61 .2 Penentuan Beban Ekivalen Statik dan Dinamik Beban ekivalen statik diperoleh dari : P0 = X0 ⋅ Fr + Y0 ⋅ Fa . 9. ( L1 + L2 + L3 ) − WP . L1 = 0 R B . yaitu RA = 1.. (9-9) R A + R B − (W N + WG ) − WP = 0 R A + 0.732) − 1.Perancangan Kopling Toyota Vios Dari keseimbangan statik diperoleh : ∑M A = 0 ……………………………………………………..……………………………………….139 + 0.55 = 0 193.5 = 0 R A = 1.967 N RB = ∑F Y = 0 …………………………………………………………………………. untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal besarnya adalah 0.404 N Dari kedua gaya reaksi RA dan RB diambil harga terbesar sebagai resultan gaya radial Fr.404 N Yo = faktor aksial.5 .(50 + 50) − (0. untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal besarnya adalah 0.732).. 200 − 150 − 43.………………….55 200 R B = 0. (9-10) Dimana : Po = beban ekivalen statik ( N ) Xo = faktor radial.404 N.1.

0 Fr = gaya radial.6 . untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tungal besarnya adalah nol Fa = gaya aksial.842 N Untuk beban ekivalen dinamik diperoleh dari : P = X V Fr + Y Fa …………………………………………………… (9-11) dimana: P = beban ekivalen dinamik ( N ) X = faktor radial.404 N + 0 x 0 = 1. besarnya adalah 1.5 .0 x 1.842 N Sedangkan untuk basic dynamic load rating dapat diperoleh dari C = P ⋅ L1/3 …………………………………………………………. sehingga C0 = P o …………………………………………………………… (9-12) = 0. yaitu sebesar 1.0 V = faktor putaran. untuk bantalan pendukung poros ini besarnya adalah nol Maka : Beban ekivalen dinamik adalah .3 Penentuan Basic Static Load Rating dan Basic Dynamic Load Rating Besar basic static load rating adalah sebanding dengan beban ekivalen statik.…. diambil adalah Po = 0. untuk kondisi cincin dalam berputar besarnya 1.404 + 0.404 N 62 .404 N 9. untuk bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal. yaitu sebesar 1. 1. (9-13) Dimana : C = beban dynamik load rating ( N ) P = beban ekivalen dinamik.0 x 1.Perancangan Kopling Toyota Vios Maka: Po = 0.842 N Maka.1. 0 Po = 0. P = 1.404 N Y = faktor aksial.

direncanakan 6000 juta putaran Sehingga beban dynamik load rating adalah : C = 1.1. Pemilihan Bantalan Dari perhitungan-perhitungan di atas serta data dari bab-bab sebelumnya maka bantalan yang dipilih harus memenuhi syarat-syarat berikut : diameter lubang basic static load rating basic dynamic load rating kecepatan putaran maksimum : d = 35 mm : C0 ≥ 0.512 N : n ≥ 7000 rpm Dari katalog dipilih bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal dengan nomor 6207 yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : diameter luar diameter lubang lebar basic static load rating basic dynamic load rating kecepatan putaran maksimum : D = 62 mm : d = 35 mm : b = 17 mm : C0 = 1430 N : C = 2010 N : n = 10000 rpm Gambar 9.404 x 60001 / 3 C = 25.512 N 9.Perancangan Kopling Toyota Vios L = umur bantalan yang dinyatakan dalam juta putaran.3 Bantalan bola radial tunggal 63 .842 N : C ≥ 25.4.

(9-14) ……………………………………………………. Penentuan Beban Ekivalen Statik dan Dinamik Sesuai dengan prosedur perhitungan pada bagian 9.1 Analisa Gaya Penjumlahan gaya yang bekerja dalam arah radial dan aksial adalah sebagai berikut : Fr = 0 Fa = FT = 460.5 dan Y0 = 0. 2 Bantalan Pembebas Bantalan yang digunakan sebagai bantalan pembebas (release bearing) adalah bantalan bola aksial satu arah dengan bidang rata (single direction thrust ball bearing with flat back face).26.1 maka beban ekivalen statik diperoleh dari : P0 = X0 ⋅ Fr + Y0 ⋅ Fa Dengan: X0 = 0.2.22 N.22 N 9.2.. (9-15) 64 .2.Perancangan Kopling Toyota Vios 9. Diagram benda bebas untuk bantalan ini beserta komponenkomponen lain yang terhubung dengannya ditunjukkan pada gambar berikut. dari bab VI diperoleh sebesar 460.….4 Bantalan pembebas FT = gaya tekan yang diteruskan saat pedal kopling ditekan.     Gambar 9. ……………………………………………… (9-16) …………………………………………………. 9.

460.2.3 Penentuan Basic Static Load Rating dan Basic Dynamic Load Rating Sesuai dengan prosedur perhitungan pada bagian 9.657 N diperoleh sebesar : C = P ⋅ L1/3 …………………………………………………….6000)1/3 = 156.22 N = 644.657 N.657 N 65 .657 N diambil harga Po = 119.22 N = 119. besar Po adalah : Po = 0. (9-18) dan untuk umur bantalan sebesar 6000 juta putaran maka basic dynamic load rating = (644.6 ⋅ 1.308 N .0 ⋅ 0 + 1. Sedangkan untuk beban ekivalen dinamik diperoleh dari : P = X ⋅ V ⋅ Fr + Y ⋅ Fa ………………………………………………… (9-17) Dengan : X = 0. 0 + 0.2.4 Maka besar P adalah : P = 0.308 N 9.5 .Perancangan Kopling Toyota Vios Maka.1.4 Pemilihan Bantalan Dari perhitungan-perhitungan di atas serta data dari bab-bab sebelumnya maka bantalan yang dipilih harus memenuhi syarat-syarat berikut : diameter lubang basic static load rating : d = 35 mm : C0 ≥ 119. (9-19) ………………………………………………….4 ⋅ 460.0 Y = 1.2 maka basic static load rating diperoleh sebesar : C 0 = P0 = 119.945 N 9.6 V = 1.26 .

945 N : n ≥ 6000 rpm Dari katalog dipilih bantalan bola aksial satu arah dengan bidang rata dengan type 6007 yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : diameter luar diameter lubang lebar basic static load rating basic dynamic load rating kecepatan putaran maksimum : D = 62 mm : d = 35 mm : b = 14 mm : C0 = 915 N : C = 1250 N : n = 10000 rpm.Perancangan Kopling Toyota Vios basic dynamic load rating kecepatan putaran maksimum : C ≥ 156. 66 .

77 mm : w = 6.47 mm : h = 2. Spline Diameter luar Diameter dalam Tinggi Lebar Panjang Bahan 3.8 mm : b = 25 mm : a = 9.25 mm : baja S 55 C-D : D = 39. Plat Gesek Diameter luar Diameter dalam Lebar Tebal Bahan : D = 164 mm : d = 114.17 mm : L = 53.5 mm : d = 34 mm : h = 2.08 mm : d = 34.Perancangan Kopling Toyota Vios BAB X KESIMPULAN Sebagai kesimpulan dan ringkasan dari elemen-elemen mesin yang terdapat pada konstruksi kopling Toyota Vios yang sesuai dengan perhitungan/ perancangan pada babbab sebelumnya dan dilakukan pembulatan pada data-data yang diperoleh : 1.5 mm : baja S 55 C-D : N = 109 PS : n = 6000 rpm : dp = 35 mm : baja S 55 C-D 67 . Naaf Diameter luar Diameter dalam Tinggi Lebar Bahan 4. Poros Transmisi Daya Putaran Diameter Bahan 2.81 mm : w = 6.2 mm : asbes dan besi cor : D = 40.

Perancangan Kopling Toyota Vios 5. Baut pengikat pegas matahari dengan plat penekan 68 . Baut a. Pegas tekan Diameter pegas Diameter penampang pegas Jumlah lilitan Panjang pegas pada operasi normal Bahan 6. Pegas a. Paku Keling a. Baut pengikat poros dengan flywheel Diameter Bahan Diameter : d1 = 6 mm : baja ST 24 : d2 = 5 mm : d1 = 4 mm : baja SAE/AISI 1010 : d2 = 6 mm : baja SAE/AISI 1010 : d3 = 7 mm : baja SAE/AISI 1010 : D= 12 mm : d = 3 mm :n=4 : L0= 20.5 mm b. Untuk sambungan plat pembawa dengan naaf b. Untuk sambungan lingkar pembawa dengan plat pembawa c. Pegas matahari Panjang daun pegas Panjang daerah pengungkit Tebal pegas matahari Lebar daun pegas Bahan b.5 mm : SUS 302 : L1 = 45 mm : L2 = 25 mm :h= 4 mm : b = 16 mm : kawat baja SUP4 Panjang pegas pada pembebanan maksimum : LS= 16. Untuk sambungan lempengan gesek dengan lingkar pembawa Diameter Bahan Diameter Bahan Diameter Bahan 7.

Baut pengikat flywheel dengan penutup kopling : bantalan bola radial beralur dalam baris tunggal : 6207 : D = 62 mm : d = 35 mm : b = 17 mm : Co = 1430 N : C = 2010 N Kecepatan putaran maksimum : n = 10000 rpm : bantalan bola aksial satu arah dengan bidang rata : 6007 : D = 62 mm : d = 35 mm : b = 14 mm : Co = 915 N : C = 1250 N Kecepatan putaran maksimum : n = 10000 rpm. Bantalan pendukung poros Tipe Nomor seri Diameter luar Diameter lubang Lebar Basic static load rating Basic dynamic load rating b. 69 . Bantalan Pembebas Tipe Nomor seri Diameter luar Diameter lubang Lebar Basic static load rating Basic dynamic load rating : baja ST 24 : d3 = 5 mm : baja ST 24 c.Perancangan Kopling Toyota Vios Bahan Diameter Bahan 8. Bantalan a.

Edisi Kedua. 1994. Machine Design. Erlangga: Jakarta. 2. Erlangga: Jakarta. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin.E. 1991. Mekanika Bahan. John Wiley & Sons Inc: New York. Versi SI. Larry D. dan Gandhi Harahap (penerjemah). Sularso dan Kiyokatsu Suga. Edisi Keempat. 70 . Jilid 1. Mitchell. Stephen P. Kent’s. Umar Sukrisno. 1984 6. Shigley. Bagian-bagian Mesin dan Merencana. Joseph E. Joseph E. Addison – Wesley: USA. Larry D. Erlangga: Jakarta. 1996. 4. Design of Machine Elements. Wospakrik (penerjemah). James M. dan Hans J. Perencanaan Teknik Mesin. Jilid 2. 1984 8. Mechanical Engineers Handbook. Robert H Creamer.F Spotts & T.Perancangan Kopling Toyota Vios DAFTAR PUSTAKA 1. Mitchell. Shigley. 1998 7. edisi ke 3. Edisi Keempat. M. Perencanaan Teknik Mesin. Erlangga: Jakarta. Pradnya Paramita: Jakarta. edisi ke-12. Gere. Jilid 1. 1990 5. 3. Prentice Hall Int’l – Inc: USA. Shoup. 1991. dan Gandhi Harahap (penerjemah). Design and Production. Timoshenko.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful