Homepage Abu Salma

• • • • • • • •

Beranda Audio-Video Buku Elektronik Buku Tamu Kontak Maktabah Tautan Tentang Pengelola

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH
Februari 16, 2007 oleh abu salma

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

Oleh : Fadhilatusy Syaikh ’Abdullah bin Jibrin

Pertanyaan: Bagaimana cara memandikan jenazah itu? Dan bagaimana cara mengkafaninya?

Jawab: Memandikan jenazah adalah fardhu kifayah. Dan yang paling utama melakukannya, adalah seseorang yang sudah diwasiati oleh si mayit untuk itu. Setelah itu kerabatnya yang terdekat, kemudian siapa saja yang masih ada hubungan rahim dengannya. Seorang lelaki boleh memandikan istrinya, dan seorang istri boleh memandikan suaminya. Wanita juga boleh memandikan anak kecil lelaki yang

atau jika memungkinkan. Kemudian kita membasuh bagian samping kanan.belum berumur tujuh tahun. dan menutupinya dari pandangan orang lain. Dan seorang lelaki tidak boleh memandikan wanita. pada saat ini kita banyak-banyak menyiramkan air. Kita tidak boleh menelungkupkan jenazah di atas wajahnya. Kemudian kita menyiapkan air yang bercampur daun bidara atau bercampur sabun pembersih. Kita mengangkat sisi bagian kanannya sambil membasuh punggung dan pantatnya. tanpa memasukkan air ke dalam mulut atau hidung. selain seseorang yang membantu kita dalam proses pemandian. Ia hanya boleh menimbunnya ke dalam tanah jika tidak ada seorang kafirpun yang menguburnya. Setelah itu. serta jenggotnya dengan busa air tersebut. jenazah tersebut dimandikan di dalam tenda. dan tidak pula mempersiapkan apapun dalam kematiannya. kita membelitkan sepotong kain pada kedua jari untuk membersihkan gigi-gigi. Jika kita hendak memandikan jenazah. Dan seorang lelaki boleh memandikan perempuan kecil yang belum berumur tujuh tahun. lalu samping yang kiri. Disini niat adalah syarat. 1 Lalu kita membelitkan kain ke tangan kita untuk membersihkan jenazah tadi dan menggosok-gosok kedua kemaluannya. Kemudian kita membasuhi seluruh anggota wudhunya. ia hanya boleh mentayamumi mereka dengan debu. Lalu kita membalikkannya sembari membasuh tubuhnya. Kemudian wajah sang mayit kita tutup. meski ia mahramnya sendiri. Lalu membasuh sisi bagian kiri juga seperti itu. Kita memijit perutnya pelan-pelan. kita tidak boleh menyentuh aurat jenazah yang sudah berumur tujuh tahun keatas kecuali dengan penghalang. Tidak boleh ada orang lain hadir dalam pemandian ini. . juga perlu mengasapi ruangan dengan kayu gaharu jika dikawatirkan ada sesuatu yang keluar dari perutnya. Kemudian ia melepaskan seluruh bajunya. Seorang muslim tidak boleh memandikan orang kafir. Sedang mengucapkan basmalah adalah suatu kewajiban. maka jenazah itu harus ditutup auratnya jika berumur lebih dari tujuh tahun. Tetapi seorang wanita tidak boleh memandikan lelaki. Kemudian bahu hingga akhir telapak kakinya. Dan lebih utama jika tidak menyentuh seluruh anggota tubuh lainnya kecuali dengan sarung tangan atau kain yang dibelitkan ke tangan kita. Setelah itu kita menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Yakni jenazah itu diletakkan di dalam rumah yang beratap. Setelah itu kita mengangkat kepalanya hingga mendekati posisi duduk. Dan membasuh sekujur tubuhnya dengan sisa air tadi. dan kedua lobang hidungnya. Yang ditutupi adalah daerah antara pusar hingga lutut. meski wanita itu adalah ibu atau putrinya. dimulai dari kulit lehernya. Lalu kita membersihkan kepala.

. menggunakan air panas adalah sangat dimakruhkan. kita mengutamakan membelinya terlebih dahulu dari harta pribadinya. Untuk kain kafan. Jika wanita. Jika kapas tidak mempan. maka kita mengambil uang untuk membeli kain kafan itu dari orang yang wajib menafkahinya. kemudian diasapi dengan semisal kayu gaharu. dikafani dengan tiga lembar kain putih dari katun atau semisalnya. sebelum kita gunakan untuk melunasi hutang dan tanggungannya yang lain. Lalu sebagian kain itu dibentangkan atas sebagian yang lain. juga orang-orang yang sulit dimandikan seperti yang mati terbakar dan yang hancur lebur. maka hal itu tak perlu dilakukan. kecuali saat diperlukan. dan kita potong kukunya jika panjang-panjang. maka kita menggunakan tanah yang panas. ia wajib menutupi bagian tubuhnya yang buruk. meski hal itu kita lakukan hingga tujuh kali. Demikian pula dengan membersihkan sela-sela gigi dan menggunakan air dingin. Jika masih keluar sesuatu dari perut. maka kita memandikannya tanpa minyak wangi dan tanpa harum-haruman. Mengkafani jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah. Dan sebelumnya kain-kain itu sudah disemprot dengan air.Sedangkan yang sunnah adalah mengulang tiga kali cara mandi seperti ini. maka tempat keluar kotoran itu kita tutup dengan kapas. dan terus mengurutkan tangan pada perutnya pada setiap pemandian. Jika jenazah yang kita mandikan adalah seseorang yang sedang ihram. Dan kepalanya tetap dibiarkan terbuka. Kemudian kita handuki. Kecuali jika sang mayit dalam keadaan ihram dengan ibadah haji atau umrah. Sedang orang yang memandikan. Saat memandikan. yaitu pada saat tak ada seorangpun yang berderma untuk membelikan kain kafan buat si mayit. Jenazah seorang lelaki. padahal kita sudah mengurut perutnya sebanyak tujuh kali. maka kita tambah hingga perut itu benar-benar bersih. Setelah itu tempat keluarnya kotoran itu kita bersihkan dan kita wudhui lagi jenazahnya. memulai yang kanan dari setiap sisi tubuhnya. maka ia hanya ditayammumi. Jika si mayit tidak memiliki harta. Anak yang gugur (lahir dalam keadaan mati) jika sudah berumur empat bulan. Jika tiga kali pengurutan belum juga membersihkan perut. Dan disunnahkan menghentikan pengurutan ini pada bilangan yang ganjil. Tubuhnya dibersihkan dengan sabun dan daun bidara jika perlu saja. maka kita mengelabang rambutnya menjadi tiga kali dan kita letakkan pada bagian belakang kepalanya. Lalu kita cukur kumisnya. Pada pemandian yang terakhir. kita mencampur airnya dengan kapur barus dan daun bidara.

yang bisa mengikat erat antara dua pantat dan kandung kemihnya. Lalu kita menebar harum-haruman diantara kain yang atas ini. Adapun yang disunnahkan pada jenazah seorang wanita. baju gamis yang dilobangi tengahnya untuk memasukkan kepala dari lobang tersebut. . seperti kain kafan. maka ini semua diambil dari harta pribadi sang mayit. upah penggotongan jenazah –jika yang menggotongnya perlu dibayari-. ditutupkan pada bagian kirinya. ****** Pertanyaan: Siapa sajakah yang diwajibkan untuk mengurusi jenazah? Jawab: Kepengurusan jenazah diwajibkan atas sanak kerabatnya. ia harus dikafani dalam lima kain. Ini lebih didahulukan ketimbang membayar hutang dan membayar tanggungan lainnya. wangi-wangian. Setelah itu kain paling atas.Bagian paling atas sendiri. Ikatan itu baru dibuka kembali saat jenazah dimasukkan dalam kuburan. Sedangkan yang wajib untuk kafan jenazah laki-laki dan perempuan. Dan kain yang disebelah kiri ditutupkan pada bagian kanannya. seperti bentuk celana dalam. Kita juga dibolehkan. dan memberi parfum pada setiap lembar kain-kain tersebut . Sarung untuk menutupi aurat. Kemudian kita mengikatnya dari atas dengan kain yang terbelah ujungnya. adalah satu lembar kain yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Adapun biaya kepengurusannya. Dan kita menjadikan kain yang banyak lebihnya ada di bagian kepala. Lalu bagian tengah setiap kain itu kita ikat. 2 Kemudian harum-haruman yang masih tersisa kita letakkan pada setiap lobang yang ada pada wajah dan anggota-anggota wudhunya. Kemudian seperti itu pula kita lakukan pada kain kedua dan ketiga. kemudian dua lembar kain yang ukurannya seperti kain kafan jenazah lelaki. demikian pula dengan upah orang yang memandikan. sarung dan selembar kain. yang ada di sebelah kanan mayit. kita taruh kain yang terbaik. Setelah itu si mayit diletakkan di atasnya. maka itu lebih baik. upah penggalian kubur. kita mengambil sedikit harum-haruman lalu ditaruh pada kapas dan diletakkan diantara kedua pantatnya. kerudung untuk menutup kepala. Jika kita mengharumi seluruh tubuhnya. jika mengkafani jenazah lelaki dengan baju.

perempuan. dan tidak boleh pula bagi kaum lelaki untuk memandikan kaum perempuan. Allahu a`lam. ataupun jenazah orang asing. Demikian pula dengan Asma` binti Umais Radhiyallohu ‘anha. ia telah memandikan suaminya. maka didahulukan seseorang yang paling dekat hubungan rahim terhadap sang mayit. Hal ini jika si mayit tidak meninggalkan wasiyat kepada siapapun. “Tidak boleh memandikanku kecuali si fulan. Karena Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu telah memandikan istrinya. kemudian yang paling dekat. Dan masing-masing dari dua jenis ini tidak boleh melihat . yaitu Fatimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam . tak peduli apakah itu jenazah lelaki. maka tidak boleh bagi para wanita untuk memandikan kaum lelaki. meski seandainya si mayit meninggalkan banyak harta yang melimpah. Setiap jenis kelamin hanya memandikan yang sama dengan jenisnya. Apakah tindakan seperti ini dibenarkan? 3 Jawab: Jenazah lelaki hanya dimandikan oleh kaum lelaki. seandainya si mayit berwasiyat kepada seseorang tertentu. 4 5 Adapun selain suami istri. Tapi. kemudian putranya. hanya dimandikan oleh kaum wanita. pemandian. ****** Pertanyaan: Lelaki dan wanita manakah dari kerabat jenazah yang berhak memandikan jenazah. maka hal ini dibolehkan. Sebab dua orang suami istri.Jika si mayit tidak memiliki harta. masing-masing dari mereka boleh memandikan yang lainnya. Sedangkan jenazah wanita. sanak kerabat. dan yang paling dekat. maka lebih diutamakan yang paling dekat. setiap orang ingin menanggung kepengurusan. Namun. dari ayahnya. maka wajib bagi orang yang diharuskan menafkahinya untuk membayar semua biaya di atas. yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu. Tetapi boleh bagi seorang lelaki untuk memandikan istrinya. Tetapi jika ada seseorang yang menyumbang untuk biaya kepengurusan jenazah tersebut.” Maka si fulan yang diberi wasiyat itulah yang berkewajiban memandikannya. Tetapi boleh bagi wanita untuk memandikan suaminya. baik jenazah itu laki-laki ataupun perempuan? Karena kami melihat beberapa lelaki masuk ke tempat pemandian jenazah. jika si mayit tidak memberi wasiyat seperti yang diterangkan di atas. dan pengkafanan. dia berkata misalnya. Jika sanak kerabat saling berselisih.

****** Pertanyaan: Apakah perhiasan seorang wanita yang meninggal. kaum lelaki boleh mengurus pemandiannya. . 6 ****** Pertanyaan: Apakah benar jika seorang wanita mengurus pemandian anak kecil lelaki di bawah umur tujuh tahun? Jawab: Hal ini dibolehkan. ia dimandikan oleh para wanita. kadangkadang mengharuskan kaum lelaki untuk melakukannya. Semua perhiasan ini jika dilepas. Sang ibu mencebokinya dan langsung menyentuh kemaluannya padahal anak kecil itu hidup. dan hidung. Karena anak kecil itu tidak ada aurat baginya. Meski lebih diutamakan jika yang memandikannya adalah kaum wanita. tidak ada pengaruh ketika melepasnya. Karena hal itu memang diperlukan. maka tidak mengapa untuk memandikannya. Maka untuk perhiasan yang ada di tangan. Karena melepas perhiasan tidaklah merusak badan sang wanita dan tidak pula berpengaruh padanya. baik yang memandikan itu kaum lelaki dan perempuan. karena anak kecil lelaki tidak mempunyai aurat. Juga karena Ibrahim putra Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. 7 Para ulama fiqih juga menyebutkan bahwa perempuan kecil di bawah umur tujuh tahun. telinga. Tetapi kebutuhan mendesak. Demikian pula dengan perhiasan yang ada di lengan. Sebagaimana seorang ibu boleh mengurus kebersihannya di waktu kecil. Boleh menyentuh auratnya dan langsung melihat kemaluannya. tidaklah berpengaruh terhadap wanita yang meninggal ini. Allahu a`lam.aurat yang lain. Kecuali anak kecil yang belum tamyiz . seperti disebutkan para ulama fiqih dalam kitab Al-Ahkam (pembahasan mengenai hukum-hukum) . wajib dilepaskan sebelum ia dikuburkan? Jawab: Benar! Hal itu adalah wajib.

****** Pertanyaan: Jika seorang jenazah dalam mulutnya terdapat gigi emas. ****** . dan orang yang hidup lebih berhak untuk memilikinya. apakah gigi itu diambil sebelum ia dikubur. mereka tidak bisa menutupnya kembali. banyak dari para jenazah. Padahal orang yang hidup lebih membutuhkan perhiasan-perhiasan itu. atau dibiarkan saja? Jawab: Jika mencabutnya memang mudah. Karena sering kita perhatikan.Karena itu maka wajib melepas semua perhiasan itu darinya dan tidak dibiarkan terkubur bersamanya. seandainya gigi itu dicabut maka mulutnya terus terbuka. Karena yang kita perhatikan. maka mata itu akan terus terbuka dan tidak bisa ditutup. atau membuat pemandangannya semakin menakutkan. dan mulut itu tetap menganga. karena si mayit sewaktu hidup biasa mencabut gigi tersebut. atau saat meninggal dunia. Tetapi jika dikawatirkan. Allahu a`lam. yang seandainya orang-orang yang memandikan itu membuka langit-langit mulutnya. Dan yang serupa dengan mulut adalah mata. untuk segera memejamkan kedua matanya sebelum ia meninggal dunia. Sebab gigi emas itu mempunyai nilai. seharusnya orang hidup itulah yang menjadi pemiliknya. Demikian pula ia harus menutup mulutnya. maka yang paling baik adalah menghindari pencabutan. Sebab membiarkan perhiasan itu terkubur bersamanya. maka sangat diharuskan bagi siapapun yang menghadiri saat-saat sekarat seseorang. jika mata si mayit terbuka dan terus dibiarkan terbuka hingga meninggal dunia. berarti kita sama dengan menghancurkan harta. sehingga mulut itu terus tertutup dan mata terus terpejam. Berdasarkan hal ini. juga dengan mencabutnya ini tidak bakal merusak mulut atau berpengaruh padanya. maka harus dilakukan adalah mencabut gigi emas itu darinya.

dan kuku yang diambil dari orang mati? Pertanyaan: Apa Jawab: Rambut dan kuku-kuku. Badannya terluka sangat parah. Dan aurat itu tidak boleh disentuh setelah pemiliknya meninggal dunia. maka kita harus menyiramkan air ke tubuhnya tanpa menggosok-gosok. ****** yang kita lakukan terhadap bulu kumis. ususnya terburai. Jika air bisa disiramkan ke sekujur tubuh dan tidak berpengaruh padanya. demikian pula dengan bulu ketiak. sama seperti rambut orang hidup tanpa ada rasa jijik dan lain sebagainya. apakah kita disyariatkan untuk membersihkan kumis. atau potongan dagingnya kocar-kocir. ****** Pertanyaan: Ada seorang lelaki meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. kemudian dikubur bersama si mayit. bulu ketiak. Tetapi jika sang jenazah keluar otaknya. bulu kemaluan dan kuku-kukunya. Maka apa yang harus kami lakukan? Jawab: Jenazah ini dimandikan semampunya saja. atau bungkusan lainnya. ataukah kita membiarkannya begitu saja? Pertanyaan: Saat Jawab: Saat memandikan jenazah. Bahkan tidak halal bagi kita untuk menyentuh auratnya baik ia hidup atau mati. air akan merusak seluruh tubuhnya. maka . kita disyariatkan membersihkan kumis.memandikan jenazah. Adapun rambut kemaluan. Dan boleh pula membuangnya di tanah bersama sampah-sampah yang lain. dan kuku-kuku. maka pendapat yang sahih. dibungkus bersama si mayit dalam sebuah tas kecil. seandainya dimandikan. bahwa rambut itu dibiarkan saja tidak diutak-atik karena ia adalah aurat. bulu ketiak.

disini kita hanya memandikan bagian tubuh yang bisa dimandikan. Karena disebutkan dalam sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda. ia tidak memiliki aurat baik laki-laki atau perempuan. ****** Pertanyaan: Bolehkah kita mengkafani mayit dengan selain kain putih? Jawab: Boleh. maka kita wajib menutupi anggotanya yang diantara pusar hingga lutut. Tetapi jika jenazah itu lebih dari tujuh tahun. 8 ((‫))البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم‬ ْ ُ َ ْ َ َ ِ ُّ َ َ ْ ُ ِ َ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ َِّ َ َ َ ْ ُ ُ ِ َ ِ ْ ِ ُ َ ِْ “Pakailah untuk baju kalian kain-kain yang putih. tetapi yang lebih baik adalah mengkafaninya dengan kain putih. karena kain putih adalah sebaik-baik baju kalian. ****** Pertanyaan: Saat memandikan anak kecil. dan kafanilah dengannya orang-orang yang mati dari kalian. sedang yang lain cukup diusap saja. Karena itu kita tidak wajib menutupi sesuatupun dari anggota tubuhnya saat memandikan. apakah kita wajib menutup auratnya atau tidak? Jawab: Anak kecil yang berumur di bawah tujuh tahun.” ****** .

Sudah masuk padanya ikatan pada kepala dan ikatan pada kedua kaki. dan dikafani. ****** seorang muslim yang membunuh muslim lainnya. ia tetap dimandikan. kemudian sang muslim pembunuh ini diberi hukuman bunuh juga.Pertanyaan: Berapakah jumlah tali yang kita ikatkan pada kafan sang mayit? Jawab: Yang disebutkan dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebanyak tujuh ikatan. jika ada seseorang yang melakukan bunuh diri –mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari perbuatan ini-. dan dikubur di pekuburan kaum muslimin. Pertanyaan kami. dishalati. Sebab bunuh diri hanyalah sebuah kemaksiatan bukan suatu kekafiran. ia tetap dimandikan. Sebab ia tidak keluar dari lingkaran agama Islam. ia harus dimandikan dan dishalati? Pertanyaan: Ada Jawab: Benar. Tetapi wajib bagi pemimpin tertinggi. ****** Pertanyaan: Apakah seseorang yang bunuh diri harus dimandikan dan dishalati? 9 Jawab: Seseorang yang bunuh diri. Karena ini sebagai bentuk . ia harus dimandikan dan dishalati. dan orang-orang yang mempunyai jabatan penting. dishalati. Tetapi ikatan ini boleh lebih dari itu sesuai dengan kebutuhan. untuk tidak menyalatinya. apakah muslim yang pembunuh ini jika sudah dibunuh. Karena ia hanya berbuat maksiat dan tidak kafir. Maka.

mewajibkan berwudhu bagi orang yang memandikan. Apakah saya berdosa dalam hal ini? Pertanyaan: Saya Jawab: Mengenai memandikan jenazah.” Sebab itulah mereka memilih untuk tawaqquf pada matannya. Maka mereka berkata. Para ulama yang memilih tawaqquf ini berkata. Tetapi kaum muslimin lainnya tetap harus menyalati pelaku bunuh diri itu. ****** telah memandikan jenazah. maka hendaklah ia mandi. Adapun para ulama yang mensahihkan hadits ini mereka meyakini bahwa mandi disini adalah hal yang mustahab. “Sesungguhnya mandi adalah mustahab bagi orang yang memandikan mayit. tetapi saya tidak mandi setalah itu. hakim. atau bupati. sultan. Kemudian saya mengerjakan banyak shalat. ada sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan sanad yang sahih. Jadi! Seorang pemimpin Negara. yaitu sabda beliau yang berbunyi.” Hadits ini didhaifkan oleh kebanyakan para ulama`. “Mandi . gubernur. Jadi mereka mengatakan. Sedangkan ulama lainnya mensahihkannya. karena orang yang memandikan jenazah tidak melakukan perbuatan apapun yang mengharuskannya mandi. maka ini baik sekali. jika ternyata ia tidak mandi. “Apa yang membuat kita harus mandi.” Sedangkan sebagian ulama yang lain. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu. jika mereka tidak menyalati pelaku bunuh diri. sehingga tidak ada seorangpun yang menduga bahwa para petinggi itu meridhai perbuatan bunuh diri tersebut. dan sebagian ulama yang lain memilih berhenti (tawaqquf) pada matannya.pengingkaran dari mereka. sebagai bentuk pengingkaran dan pemberitahuan kepada para manusia bahwa ini adalah perbuatan yang salah. 10 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati.

((‫))ما أتوضأ من حمل خشبة‬ ٍ َ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ُّ َ َ َ َ “Saya tidak perlu berwudhu hanya karena membawa kayu. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu. . Sehingga.hanyalah sunnah muakkadah. Penerbit : Dar ath-Thayibah. “Berwudhulah!”. apakah saya wajib berwudhu atau tidak? Jawab: Mengenai berwudhu bagi seseorang yang membawa mayit.” ****** Pertanyaan: Jika saya membawa jenazah. wudhu inilah kewajiban yang paling sedikit atasnya. tetapi jika tidak mandi maka ia wajib berwudhu. 11 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati. ketika Abdullah bin Abbas Radhiyallohu ‘anha dan Abdullah bin Umar Radhiyallohu ‘anha membawa jenazah dalam keranda. ada sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berbunyi. yang bisa jadi dalam keadaan tanpa busana.” Maksudnya. mereka tidak membawa apapun selain hanya kayu. khusus buat orang yang mendekapnya bukan orang yang membawa jenazah dalam keranda. dimuroja’ah oleh : ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin. kemudian dikatakan kepada mereka. dan tidak menyentuh apapun selain kayu belaka. Adapun seseorang yang mendekap jenazah yang sudah meninggal. maka hendaklah ia mandi. Dinukil dari al-Muqorrib li Ahkaamil Jana`iz : 148 Fatawa fil Jana`iz. maka hendaklah ia berwudhu berdasarkan pada hadits di atas. atau mirip tanpa busana. 1418 H/1997 M. penyusun : ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad al-‘Arifi.” Barangkali maksud hadits di atas. keduanya menjawab. Riyadh.

. 433. 2/176 dan At-Tirmidzi. 454. 7 Lihat.1 Yaitu kayu yang harum baunya. 456. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani. Fatawa Islamiyyah. 472. 433. 2/132. 472. Abu Dawud. 456. At-Tirmidzi. 1/166 8 HR. dan Imam Ahmad. 3/408-411. Ath-Thayalisi. Abu Dawud. dan Imam Ahmad. 2/455. Manar As-Sabiil. 3/408-411. 2/62-63. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani. Lihat pula. beliau menghukuminya hasan. 2/80. 454. Irwa` Al-Ghalil. 1/78 4 Lihat. 6 Di bawah umur tujuh tahun. yang dibakar di atas arang. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. 3 Shalih Al-Fauzan. 3/162 5 Lihat. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani. 2 Maksudnya kain-kain yang dibawahnya juga diberi parfum. beliau menghukuminya hasan. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. belum baligh dan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang buruk. Al-Muntaqa. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Abu Dawud. 2/62-63. hadits ini dihukumi hasan oleh Al-Albani. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. Ath-Thayalisi. Allahu a`lam. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani. 2/455. At-Tirmidzi. 11 HR. 2/80. 2/132 9 Syaikh Abdullah bin Baaz. 2/62 10 HR. Setelah terbakar asapnya akan mengeluarkan keharuman yang semerbak kemana-mana. 2/132.