Homepage Abu Salma

• • • • • • • •

Beranda Audio-Video Buku Elektronik Buku Tamu Kontak Maktabah Tautan Tentang Pengelola

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH
Februari 16, 2007 oleh abu salma

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

Oleh : Fadhilatusy Syaikh ’Abdullah bin Jibrin

Pertanyaan: Bagaimana cara memandikan jenazah itu? Dan bagaimana cara mengkafaninya?

Jawab: Memandikan jenazah adalah fardhu kifayah. Dan yang paling utama melakukannya, adalah seseorang yang sudah diwasiati oleh si mayit untuk itu. Setelah itu kerabatnya yang terdekat, kemudian siapa saja yang masih ada hubungan rahim dengannya. Seorang lelaki boleh memandikan istrinya, dan seorang istri boleh memandikan suaminya. Wanita juga boleh memandikan anak kecil lelaki yang

Kita tidak boleh menelungkupkan jenazah di atas wajahnya. Kemudian wajah sang mayit kita tutup. serta jenggotnya dengan busa air tersebut. Lalu kita membersihkan kepala. atau jika memungkinkan. Dan seorang lelaki boleh memandikan perempuan kecil yang belum berumur tujuh tahun. dan tidak pula mempersiapkan apapun dalam kematiannya. Seorang muslim tidak boleh memandikan orang kafir. dan menutupinya dari pandangan orang lain. maka jenazah itu harus ditutup auratnya jika berumur lebih dari tujuh tahun. Dan seorang lelaki tidak boleh memandikan wanita. Dan lebih utama jika tidak menyentuh seluruh anggota tubuh lainnya kecuali dengan sarung tangan atau kain yang dibelitkan ke tangan kita. selain seseorang yang membantu kita dalam proses pemandian. pada saat ini kita banyak-banyak menyiramkan air. Yakni jenazah itu diletakkan di dalam rumah yang beratap. Dan membasuh sekujur tubuhnya dengan sisa air tadi. ia hanya boleh mentayamumi mereka dengan debu. dan kedua lobang hidungnya. jenazah tersebut dimandikan di dalam tenda. Setelah itu kita menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Yang ditutupi adalah daerah antara pusar hingga lutut. Kemudian bahu hingga akhir telapak kakinya. meski wanita itu adalah ibu atau putrinya. Jika kita hendak memandikan jenazah. lalu samping yang kiri. 1 Lalu kita membelitkan kain ke tangan kita untuk membersihkan jenazah tadi dan menggosok-gosok kedua kemaluannya. Lalu membasuh sisi bagian kiri juga seperti itu. dimulai dari kulit lehernya.belum berumur tujuh tahun. Lalu kita membalikkannya sembari membasuh tubuhnya. Ia hanya boleh menimbunnya ke dalam tanah jika tidak ada seorang kafirpun yang menguburnya. Sedang mengucapkan basmalah adalah suatu kewajiban. Kita memijit perutnya pelan-pelan. tanpa memasukkan air ke dalam mulut atau hidung. Kemudian kita membasuhi seluruh anggota wudhunya. Tetapi seorang wanita tidak boleh memandikan lelaki. kita membelitkan sepotong kain pada kedua jari untuk membersihkan gigi-gigi. Tidak boleh ada orang lain hadir dalam pemandian ini. meski ia mahramnya sendiri. juga perlu mengasapi ruangan dengan kayu gaharu jika dikawatirkan ada sesuatu yang keluar dari perutnya. Kemudian kita membasuh bagian samping kanan. Kemudian kita menyiapkan air yang bercampur daun bidara atau bercampur sabun pembersih. Disini niat adalah syarat. Setelah itu kita mengangkat kepalanya hingga mendekati posisi duduk. Setelah itu. Kemudian ia melepaskan seluruh bajunya. kita tidak boleh menyentuh aurat jenazah yang sudah berumur tujuh tahun keatas kecuali dengan penghalang. . Kita mengangkat sisi bagian kanannya sambil membasuh punggung dan pantatnya.

menggunakan air panas adalah sangat dimakruhkan. maka kita mengelabang rambutnya menjadi tiga kali dan kita letakkan pada bagian belakang kepalanya. . maka ia hanya ditayammumi. Jika si mayit tidak memiliki harta. Sedang orang yang memandikan. Untuk kain kafan.Sedangkan yang sunnah adalah mengulang tiga kali cara mandi seperti ini. maka tempat keluar kotoran itu kita tutup dengan kapas. Dan kepalanya tetap dibiarkan terbuka. sebelum kita gunakan untuk melunasi hutang dan tanggungannya yang lain. Anak yang gugur (lahir dalam keadaan mati) jika sudah berumur empat bulan. maka kita mengambil uang untuk membeli kain kafan itu dari orang yang wajib menafkahinya. memulai yang kanan dari setiap sisi tubuhnya. Pada pemandian yang terakhir. Tubuhnya dibersihkan dengan sabun dan daun bidara jika perlu saja. juga orang-orang yang sulit dimandikan seperti yang mati terbakar dan yang hancur lebur. maka hal itu tak perlu dilakukan. Setelah itu tempat keluarnya kotoran itu kita bersihkan dan kita wudhui lagi jenazahnya. Mengkafani jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah. dan kita potong kukunya jika panjang-panjang. Lalu sebagian kain itu dibentangkan atas sebagian yang lain. kecuali saat diperlukan. kita mencampur airnya dengan kapur barus dan daun bidara. Demikian pula dengan membersihkan sela-sela gigi dan menggunakan air dingin. Dan sebelumnya kain-kain itu sudah disemprot dengan air. yaitu pada saat tak ada seorangpun yang berderma untuk membelikan kain kafan buat si mayit. Kemudian kita handuki. dikafani dengan tiga lembar kain putih dari katun atau semisalnya. ia wajib menutupi bagian tubuhnya yang buruk. Saat memandikan. Jenazah seorang lelaki. maka kita tambah hingga perut itu benar-benar bersih. meski hal itu kita lakukan hingga tujuh kali. maka kita menggunakan tanah yang panas. dan terus mengurutkan tangan pada perutnya pada setiap pemandian. Kecuali jika sang mayit dalam keadaan ihram dengan ibadah haji atau umrah. Jika jenazah yang kita mandikan adalah seseorang yang sedang ihram. Jika masih keluar sesuatu dari perut. maka kita memandikannya tanpa minyak wangi dan tanpa harum-haruman. Jika wanita. kita mengutamakan membelinya terlebih dahulu dari harta pribadinya. Jika tiga kali pengurutan belum juga membersihkan perut. Lalu kita cukur kumisnya. Jika kapas tidak mempan. Dan disunnahkan menghentikan pengurutan ini pada bilangan yang ganjil. kemudian diasapi dengan semisal kayu gaharu. padahal kita sudah mengurut perutnya sebanyak tujuh kali.

ditutupkan pada bagian kirinya. jika mengkafani jenazah lelaki dengan baju. wangi-wangian. kita mengambil sedikit harum-haruman lalu ditaruh pada kapas dan diletakkan diantara kedua pantatnya. Setelah itu kain paling atas.Bagian paling atas sendiri. seperti bentuk celana dalam. ****** Pertanyaan: Siapa sajakah yang diwajibkan untuk mengurusi jenazah? Jawab: Kepengurusan jenazah diwajibkan atas sanak kerabatnya. dan memberi parfum pada setiap lembar kain-kain tersebut . . Adapun biaya kepengurusannya. kita taruh kain yang terbaik. Kemudian seperti itu pula kita lakukan pada kain kedua dan ketiga. yang bisa mengikat erat antara dua pantat dan kandung kemihnya. Jika kita mengharumi seluruh tubuhnya. Dan kita menjadikan kain yang banyak lebihnya ada di bagian kepala. Kemudian kita mengikatnya dari atas dengan kain yang terbelah ujungnya. maka itu lebih baik. kemudian dua lembar kain yang ukurannya seperti kain kafan jenazah lelaki. kerudung untuk menutup kepala. maka ini semua diambil dari harta pribadi sang mayit. ia harus dikafani dalam lima kain. baju gamis yang dilobangi tengahnya untuk memasukkan kepala dari lobang tersebut. Ini lebih didahulukan ketimbang membayar hutang dan membayar tanggungan lainnya. Sarung untuk menutupi aurat. Lalu kita menebar harum-haruman diantara kain yang atas ini. adalah satu lembar kain yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Lalu bagian tengah setiap kain itu kita ikat. demikian pula dengan upah orang yang memandikan. Adapun yang disunnahkan pada jenazah seorang wanita. upah penggalian kubur. Setelah itu si mayit diletakkan di atasnya. Dan kain yang disebelah kiri ditutupkan pada bagian kanannya. Sedangkan yang wajib untuk kafan jenazah laki-laki dan perempuan. yang ada di sebelah kanan mayit. Kita juga dibolehkan. Ikatan itu baru dibuka kembali saat jenazah dimasukkan dalam kuburan. 2 Kemudian harum-haruman yang masih tersisa kita letakkan pada setiap lobang yang ada pada wajah dan anggota-anggota wudhunya. seperti kain kafan. sarung dan selembar kain. upah penggotongan jenazah –jika yang menggotongnya perlu dibayari-.

Jika sanak kerabat saling berselisih. yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu. Tetapi jika ada seseorang yang menyumbang untuk biaya kepengurusan jenazah tersebut. maka tidak boleh bagi para wanita untuk memandikan kaum lelaki. Tapi. perempuan.Jika si mayit tidak memiliki harta. baik jenazah itu laki-laki ataupun perempuan? Karena kami melihat beberapa lelaki masuk ke tempat pemandian jenazah. ataupun jenazah orang asing. seandainya si mayit berwasiyat kepada seseorang tertentu. Hal ini jika si mayit tidak meninggalkan wasiyat kepada siapapun. Sebab dua orang suami istri. Setiap jenis kelamin hanya memandikan yang sama dengan jenisnya. dari ayahnya. maka hal ini dibolehkan. dan pengkafanan. ****** Pertanyaan: Lelaki dan wanita manakah dari kerabat jenazah yang berhak memandikan jenazah. pemandian. dan tidak boleh pula bagi kaum lelaki untuk memandikan kaum perempuan. Tetapi boleh bagi seorang lelaki untuk memandikan istrinya.” Maka si fulan yang diberi wasiyat itulah yang berkewajiban memandikannya. tak peduli apakah itu jenazah lelaki. sanak kerabat. ia telah memandikan suaminya. Tetapi boleh bagi wanita untuk memandikan suaminya. Sedangkan jenazah wanita. kemudian yang paling dekat. meski seandainya si mayit meninggalkan banyak harta yang melimpah. setiap orang ingin menanggung kepengurusan. 4 5 Adapun selain suami istri. Allahu a`lam. maka lebih diutamakan yang paling dekat. kemudian putranya. dia berkata misalnya. Namun. masing-masing dari mereka boleh memandikan yang lainnya. yaitu Fatimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam . Demikian pula dengan Asma` binti Umais Radhiyallohu ‘anha. Dan masing-masing dari dua jenis ini tidak boleh melihat . Apakah tindakan seperti ini dibenarkan? 3 Jawab: Jenazah lelaki hanya dimandikan oleh kaum lelaki. maka didahulukan seseorang yang paling dekat hubungan rahim terhadap sang mayit. maka wajib bagi orang yang diharuskan menafkahinya untuk membayar semua biaya di atas. dan yang paling dekat. Karena Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu telah memandikan istrinya. “Tidak boleh memandikanku kecuali si fulan. jika si mayit tidak memberi wasiyat seperti yang diterangkan di atas. hanya dimandikan oleh kaum wanita.

Juga karena Ibrahim putra Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Maka untuk perhiasan yang ada di tangan. seperti disebutkan para ulama fiqih dalam kitab Al-Ahkam (pembahasan mengenai hukum-hukum) . 6 ****** Pertanyaan: Apakah benar jika seorang wanita mengurus pemandian anak kecil lelaki di bawah umur tujuh tahun? Jawab: Hal ini dibolehkan. Allahu a`lam. Tetapi kebutuhan mendesak. kadangkadang mengharuskan kaum lelaki untuk melakukannya. Meski lebih diutamakan jika yang memandikannya adalah kaum wanita. Boleh menyentuh auratnya dan langsung melihat kemaluannya. Karena anak kecil itu tidak ada aurat baginya. dan hidung. baik yang memandikan itu kaum lelaki dan perempuan. Kecuali anak kecil yang belum tamyiz . 7 Para ulama fiqih juga menyebutkan bahwa perempuan kecil di bawah umur tujuh tahun. Sebagaimana seorang ibu boleh mengurus kebersihannya di waktu kecil. wajib dilepaskan sebelum ia dikuburkan? Jawab: Benar! Hal itu adalah wajib. ia dimandikan oleh para wanita. maka tidak mengapa untuk memandikannya. ****** Pertanyaan: Apakah perhiasan seorang wanita yang meninggal. tidaklah berpengaruh terhadap wanita yang meninggal ini.aurat yang lain. Demikian pula dengan perhiasan yang ada di lengan. kaum lelaki boleh mengurus pemandiannya. telinga. Sang ibu mencebokinya dan langsung menyentuh kemaluannya padahal anak kecil itu hidup. karena anak kecil lelaki tidak mempunyai aurat. Karena hal itu memang diperlukan. tidak ada pengaruh ketika melepasnya. Karena melepas perhiasan tidaklah merusak badan sang wanita dan tidak pula berpengaruh padanya. Semua perhiasan ini jika dilepas. .

jika mata si mayit terbuka dan terus dibiarkan terbuka hingga meninggal dunia. banyak dari para jenazah. yang seandainya orang-orang yang memandikan itu membuka langit-langit mulutnya. Sebab membiarkan perhiasan itu terkubur bersamanya. Berdasarkan hal ini. Demikian pula ia harus menutup mulutnya.Karena itu maka wajib melepas semua perhiasan itu darinya dan tidak dibiarkan terkubur bersamanya. mereka tidak bisa menutupnya kembali. berarti kita sama dengan menghancurkan harta. apakah gigi itu diambil sebelum ia dikubur. juga dengan mencabutnya ini tidak bakal merusak mulut atau berpengaruh padanya. maka yang paling baik adalah menghindari pencabutan. atau saat meninggal dunia. ****** . maka sangat diharuskan bagi siapapun yang menghadiri saat-saat sekarat seseorang. dan orang yang hidup lebih berhak untuk memilikinya. seharusnya orang hidup itulah yang menjadi pemiliknya. atau dibiarkan saja? Jawab: Jika mencabutnya memang mudah. Karena sering kita perhatikan. untuk segera memejamkan kedua matanya sebelum ia meninggal dunia. Padahal orang yang hidup lebih membutuhkan perhiasan-perhiasan itu. ****** Pertanyaan: Jika seorang jenazah dalam mulutnya terdapat gigi emas. sehingga mulut itu terus tertutup dan mata terus terpejam. atau membuat pemandangannya semakin menakutkan. Allahu a`lam. karena si mayit sewaktu hidup biasa mencabut gigi tersebut. Sebab gigi emas itu mempunyai nilai. Tetapi jika dikawatirkan. Karena yang kita perhatikan. seandainya gigi itu dicabut maka mulutnya terus terbuka. maka harus dilakukan adalah mencabut gigi emas itu darinya. Dan yang serupa dengan mulut adalah mata. dan mulut itu tetap menganga. maka mata itu akan terus terbuka dan tidak bisa ditutup.

bahwa rambut itu dibiarkan saja tidak diutak-atik karena ia adalah aurat. kemudian dikubur bersama si mayit. apakah kita disyariatkan untuk membersihkan kumis. sama seperti rambut orang hidup tanpa ada rasa jijik dan lain sebagainya. atau bungkusan lainnya. Bahkan tidak halal bagi kita untuk menyentuh auratnya baik ia hidup atau mati. bulu ketiak. dan kuku yang diambil dari orang mati? Pertanyaan: Apa Jawab: Rambut dan kuku-kuku. Maka apa yang harus kami lakukan? Jawab: Jenazah ini dimandikan semampunya saja. atau potongan dagingnya kocar-kocir. ****** Pertanyaan: Ada seorang lelaki meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Adapun rambut kemaluan. maka pendapat yang sahih. demikian pula dengan bulu ketiak. maka . Badannya terluka sangat parah. Jika air bisa disiramkan ke sekujur tubuh dan tidak berpengaruh padanya. dibungkus bersama si mayit dalam sebuah tas kecil. ****** yang kita lakukan terhadap bulu kumis.memandikan jenazah. dan kuku-kuku. air akan merusak seluruh tubuhnya. Tetapi jika sang jenazah keluar otaknya. bulu kemaluan dan kuku-kukunya. kita disyariatkan membersihkan kumis. Dan aurat itu tidak boleh disentuh setelah pemiliknya meninggal dunia. ususnya terburai. seandainya dimandikan. maka kita harus menyiramkan air ke tubuhnya tanpa menggosok-gosok. Dan boleh pula membuangnya di tanah bersama sampah-sampah yang lain. ataukah kita membiarkannya begitu saja? Pertanyaan: Saat Jawab: Saat memandikan jenazah. bulu ketiak.

Karena disebutkan dalam sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda.disini kita hanya memandikan bagian tubuh yang bisa dimandikan. tetapi yang lebih baik adalah mengkafaninya dengan kain putih. ia tidak memiliki aurat baik laki-laki atau perempuan. Karena itu kita tidak wajib menutupi sesuatupun dari anggota tubuhnya saat memandikan. ****** Pertanyaan: Bolehkah kita mengkafani mayit dengan selain kain putih? Jawab: Boleh.” ****** . dan kafanilah dengannya orang-orang yang mati dari kalian. karena kain putih adalah sebaik-baik baju kalian. sedang yang lain cukup diusap saja. ****** Pertanyaan: Saat memandikan anak kecil. maka kita wajib menutupi anggotanya yang diantara pusar hingga lutut. apakah kita wajib menutup auratnya atau tidak? Jawab: Anak kecil yang berumur di bawah tujuh tahun. Tetapi jika jenazah itu lebih dari tujuh tahun. 8 ((‫))البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم‬ ْ ُ َ ْ َ َ ِ ُّ َ َ ْ ُ ِ َ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ َِّ َ َ َ ْ ُ ُ ِ َ ِ ْ ِ ُ َ ِْ “Pakailah untuk baju kalian kain-kain yang putih.

ia tetap dimandikan. kemudian sang muslim pembunuh ini diberi hukuman bunuh juga. apakah muslim yang pembunuh ini jika sudah dibunuh. untuk tidak menyalatinya. ia harus dimandikan dan dishalati? Pertanyaan: Ada Jawab: Benar. Tetapi ikatan ini boleh lebih dari itu sesuai dengan kebutuhan. Karena ia hanya berbuat maksiat dan tidak kafir.Pertanyaan: Berapakah jumlah tali yang kita ikatkan pada kafan sang mayit? Jawab: Yang disebutkan dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebanyak tujuh ikatan. Sebab bunuh diri hanyalah sebuah kemaksiatan bukan suatu kekafiran. dan dikubur di pekuburan kaum muslimin. Pertanyaan kami. Karena ini sebagai bentuk . Tetapi wajib bagi pemimpin tertinggi. ia tetap dimandikan. dishalati. Maka. ia harus dimandikan dan dishalati. ****** seorang muslim yang membunuh muslim lainnya. dan dikafani. Sudah masuk padanya ikatan pada kepala dan ikatan pada kedua kaki. dishalati. Sebab ia tidak keluar dari lingkaran agama Islam. dan orang-orang yang mempunyai jabatan penting. ****** Pertanyaan: Apakah seseorang yang bunuh diri harus dimandikan dan dishalati? 9 Jawab: Seseorang yang bunuh diri. jika ada seseorang yang melakukan bunuh diri –mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari perbuatan ini-.

“Mandi . Apakah saya berdosa dalam hal ini? Pertanyaan: Saya Jawab: Mengenai memandikan jenazah. maka ini baik sekali. hakim.” Hadits ini didhaifkan oleh kebanyakan para ulama`. dan sebagian ulama yang lain memilih berhenti (tawaqquf) pada matannya. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu. sultan. yaitu sabda beliau yang berbunyi.” Sedangkan sebagian ulama yang lain. ****** telah memandikan jenazah. sebagai bentuk pengingkaran dan pemberitahuan kepada para manusia bahwa ini adalah perbuatan yang salah. maka hendaklah ia mandi. karena orang yang memandikan jenazah tidak melakukan perbuatan apapun yang mengharuskannya mandi. Adapun para ulama yang mensahihkan hadits ini mereka meyakini bahwa mandi disini adalah hal yang mustahab. Kemudian saya mengerjakan banyak shalat. gubernur. Sedangkan ulama lainnya mensahihkannya. jika mereka tidak menyalati pelaku bunuh diri. sehingga tidak ada seorangpun yang menduga bahwa para petinggi itu meridhai perbuatan bunuh diri tersebut. atau bupati. Maka mereka berkata. “Apa yang membuat kita harus mandi. 10 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati. jika ternyata ia tidak mandi. mewajibkan berwudhu bagi orang yang memandikan. Jadi! Seorang pemimpin Negara.pengingkaran dari mereka. Para ulama yang memilih tawaqquf ini berkata. ada sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan sanad yang sahih. Tetapi kaum muslimin lainnya tetap harus menyalati pelaku bunuh diri itu. “Sesungguhnya mandi adalah mustahab bagi orang yang memandikan mayit.” Sebab itulah mereka memilih untuk tawaqquf pada matannya. tetapi saya tidak mandi setalah itu. Jadi mereka mengatakan.

hanyalah sunnah muakkadah. kemudian dikatakan kepada mereka. 11 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati. Adapun seseorang yang mendekap jenazah yang sudah meninggal. dimuroja’ah oleh : ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin. mereka tidak membawa apapun selain hanya kayu. . Penerbit : Dar ath-Thayibah. ada sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berbunyi. Riyadh. 1418 H/1997 M. ketika Abdullah bin Abbas Radhiyallohu ‘anha dan Abdullah bin Umar Radhiyallohu ‘anha membawa jenazah dalam keranda. penyusun : ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad al-‘Arifi. maka hendaklah ia berwudhu berdasarkan pada hadits di atas. “Berwudhulah!”. khusus buat orang yang mendekapnya bukan orang yang membawa jenazah dalam keranda.” ****** Pertanyaan: Jika saya membawa jenazah. dan tidak menyentuh apapun selain kayu belaka. Sehingga. keduanya menjawab. Dinukil dari al-Muqorrib li Ahkaamil Jana`iz : 148 Fatawa fil Jana`iz. atau mirip tanpa busana.” Barangkali maksud hadits di atas. yang bisa jadi dalam keadaan tanpa busana. maka hendaklah ia mandi. tetapi jika tidak mandi maka ia wajib berwudhu. apakah saya wajib berwudhu atau tidak? Jawab: Mengenai berwudhu bagi seseorang yang membawa mayit.” Maksudnya. ((‫))ما أتوضأ من حمل خشبة‬ ٍ َ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ُّ َ َ َ َ “Saya tidak perlu berwudhu hanya karena membawa kayu. wudhu inilah kewajiban yang paling sedikit atasnya. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu.

beliau menghukuminya hasan. 2/132 9 Syaikh Abdullah bin Baaz. Setelah terbakar asapnya akan mengeluarkan keharuman yang semerbak kemana-mana.1 Yaitu kayu yang harum baunya. 7 Lihat. 2/132. . 472. Manar As-Sabiil. Allahu a`lam. Ath-Thayalisi. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. Abu Dawud. dan Imam Ahmad. 433. yang dibakar di atas arang. 2/80. 472. 454. 1/166 8 HR. 2 Maksudnya kain-kain yang dibawahnya juga diberi parfum. beliau menghukuminya hasan. 2/132. 2/62-63. 454. Fatawa Islamiyyah. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. 11 HR. dan Imam Ahmad. Lihat pula. belum baligh dan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang buruk. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani. Irwa` Al-Ghalil. 2/176 dan At-Tirmidzi. Ath-Thayalisi. 3/162 5 Lihat. 3/408-411. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani. 456. 456. 2/62-63. At-Tirmidzi. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. 1/78 4 Lihat. At-Tirmidzi. 3 Shalih Al-Fauzan. Al-Muntaqa. 6 Di bawah umur tujuh tahun. 433. Abu Dawud. Abu Dawud. 2/455. 2/455. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani. 2/80. hadits ini dihukumi hasan oleh Al-Albani. 3/408-411. 2/62 10 HR. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful