Homepage Abu Salma

• • • • • • • •

Beranda Audio-Video Buku Elektronik Buku Tamu Kontak Maktabah Tautan Tentang Pengelola

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH
Februari 16, 2007 oleh abu salma

FATWA-FATWA TENTANG MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

Oleh : Fadhilatusy Syaikh ’Abdullah bin Jibrin

Pertanyaan: Bagaimana cara memandikan jenazah itu? Dan bagaimana cara mengkafaninya?

Jawab: Memandikan jenazah adalah fardhu kifayah. Dan yang paling utama melakukannya, adalah seseorang yang sudah diwasiati oleh si mayit untuk itu. Setelah itu kerabatnya yang terdekat, kemudian siapa saja yang masih ada hubungan rahim dengannya. Seorang lelaki boleh memandikan istrinya, dan seorang istri boleh memandikan suaminya. Wanita juga boleh memandikan anak kecil lelaki yang

belum berumur tujuh tahun. Kemudian bahu hingga akhir telapak kakinya. Setelah itu kita mengangkat kepalanya hingga mendekati posisi duduk. Kemudian kita membasuh bagian samping kanan. Setelah itu kita menyiramkan air ke sekujur tubuhnya. Kemudian kita membasuhi seluruh anggota wudhunya. Setelah itu. pada saat ini kita banyak-banyak menyiramkan air. jenazah tersebut dimandikan di dalam tenda. Kemudian ia melepaskan seluruh bajunya. dan tidak pula mempersiapkan apapun dalam kematiannya. Sedang mengucapkan basmalah adalah suatu kewajiban. Kemudian kita menyiapkan air yang bercampur daun bidara atau bercampur sabun pembersih. 1 Lalu kita membelitkan kain ke tangan kita untuk membersihkan jenazah tadi dan menggosok-gosok kedua kemaluannya. Kita mengangkat sisi bagian kanannya sambil membasuh punggung dan pantatnya. Dan membasuh sekujur tubuhnya dengan sisa air tadi. Kita memijit perutnya pelan-pelan. Seorang muslim tidak boleh memandikan orang kafir. Jika kita hendak memandikan jenazah. meski wanita itu adalah ibu atau putrinya. dimulai dari kulit lehernya. tanpa memasukkan air ke dalam mulut atau hidung. serta jenggotnya dengan busa air tersebut. Lalu membasuh sisi bagian kiri juga seperti itu. kita membelitkan sepotong kain pada kedua jari untuk membersihkan gigi-gigi. Dan seorang lelaki boleh memandikan perempuan kecil yang belum berumur tujuh tahun. Dan seorang lelaki tidak boleh memandikan wanita. Kemudian wajah sang mayit kita tutup. juga perlu mengasapi ruangan dengan kayu gaharu jika dikawatirkan ada sesuatu yang keluar dari perutnya. Disini niat adalah syarat. dan kedua lobang hidungnya. Tidak boleh ada orang lain hadir dalam pemandian ini. atau jika memungkinkan. dan menutupinya dari pandangan orang lain. lalu samping yang kiri. selain seseorang yang membantu kita dalam proses pemandian. maka jenazah itu harus ditutup auratnya jika berumur lebih dari tujuh tahun. Lalu kita membalikkannya sembari membasuh tubuhnya. Kita tidak boleh menelungkupkan jenazah di atas wajahnya. Yakni jenazah itu diletakkan di dalam rumah yang beratap. Yang ditutupi adalah daerah antara pusar hingga lutut. ia hanya boleh mentayamumi mereka dengan debu. Tetapi seorang wanita tidak boleh memandikan lelaki. Ia hanya boleh menimbunnya ke dalam tanah jika tidak ada seorang kafirpun yang menguburnya. . kita tidak boleh menyentuh aurat jenazah yang sudah berumur tujuh tahun keatas kecuali dengan penghalang. Dan lebih utama jika tidak menyentuh seluruh anggota tubuh lainnya kecuali dengan sarung tangan atau kain yang dibelitkan ke tangan kita. meski ia mahramnya sendiri. Lalu kita membersihkan kepala.

maka ia hanya ditayammumi. Anak yang gugur (lahir dalam keadaan mati) jika sudah berumur empat bulan. Jika si mayit tidak memiliki harta. Jika masih keluar sesuatu dari perut. meski hal itu kita lakukan hingga tujuh kali. dikafani dengan tiga lembar kain putih dari katun atau semisalnya. kita mencampur airnya dengan kapur barus dan daun bidara. Sedang orang yang memandikan. Jika jenazah yang kita mandikan adalah seseorang yang sedang ihram. Lalu kita cukur kumisnya. maka kita memandikannya tanpa minyak wangi dan tanpa harum-haruman. Dan sebelumnya kain-kain itu sudah disemprot dengan air. dan terus mengurutkan tangan pada perutnya pada setiap pemandian.Sedangkan yang sunnah adalah mengulang tiga kali cara mandi seperti ini. . Jika kapas tidak mempan. juga orang-orang yang sulit dimandikan seperti yang mati terbakar dan yang hancur lebur. Kecuali jika sang mayit dalam keadaan ihram dengan ibadah haji atau umrah. padahal kita sudah mengurut perutnya sebanyak tujuh kali. Pada pemandian yang terakhir. Tubuhnya dibersihkan dengan sabun dan daun bidara jika perlu saja. ia wajib menutupi bagian tubuhnya yang buruk. kemudian diasapi dengan semisal kayu gaharu. yaitu pada saat tak ada seorangpun yang berderma untuk membelikan kain kafan buat si mayit. dan kita potong kukunya jika panjang-panjang. kecuali saat diperlukan. menggunakan air panas adalah sangat dimakruhkan. memulai yang kanan dari setiap sisi tubuhnya. Jenazah seorang lelaki. Dan disunnahkan menghentikan pengurutan ini pada bilangan yang ganjil. maka kita mengambil uang untuk membeli kain kafan itu dari orang yang wajib menafkahinya. Setelah itu tempat keluarnya kotoran itu kita bersihkan dan kita wudhui lagi jenazahnya. Lalu sebagian kain itu dibentangkan atas sebagian yang lain. Jika tiga kali pengurutan belum juga membersihkan perut. Mengkafani jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah. maka kita mengelabang rambutnya menjadi tiga kali dan kita letakkan pada bagian belakang kepalanya. Saat memandikan. Dan kepalanya tetap dibiarkan terbuka. maka kita tambah hingga perut itu benar-benar bersih. maka hal itu tak perlu dilakukan. Demikian pula dengan membersihkan sela-sela gigi dan menggunakan air dingin. Untuk kain kafan. Kemudian kita handuki. Jika wanita. kita mengutamakan membelinya terlebih dahulu dari harta pribadinya. maka kita menggunakan tanah yang panas. maka tempat keluar kotoran itu kita tutup dengan kapas. sebelum kita gunakan untuk melunasi hutang dan tanggungannya yang lain.

upah penggalian kubur. Ikatan itu baru dibuka kembali saat jenazah dimasukkan dalam kuburan. wangi-wangian. . Adapun biaya kepengurusannya. Kita juga dibolehkan. adalah satu lembar kain yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. jika mengkafani jenazah lelaki dengan baju. Sedangkan yang wajib untuk kafan jenazah laki-laki dan perempuan. Lalu bagian tengah setiap kain itu kita ikat. baju gamis yang dilobangi tengahnya untuk memasukkan kepala dari lobang tersebut.Bagian paling atas sendiri. Sarung untuk menutupi aurat. kemudian dua lembar kain yang ukurannya seperti kain kafan jenazah lelaki. ****** Pertanyaan: Siapa sajakah yang diwajibkan untuk mengurusi jenazah? Jawab: Kepengurusan jenazah diwajibkan atas sanak kerabatnya. Dan kain yang disebelah kiri ditutupkan pada bagian kanannya. Kemudian seperti itu pula kita lakukan pada kain kedua dan ketiga. Ini lebih didahulukan ketimbang membayar hutang dan membayar tanggungan lainnya. seperti bentuk celana dalam. upah penggotongan jenazah –jika yang menggotongnya perlu dibayari-. Jika kita mengharumi seluruh tubuhnya. Kemudian kita mengikatnya dari atas dengan kain yang terbelah ujungnya. Lalu kita menebar harum-haruman diantara kain yang atas ini. kita taruh kain yang terbaik. Adapun yang disunnahkan pada jenazah seorang wanita. demikian pula dengan upah orang yang memandikan. ditutupkan pada bagian kirinya. maka itu lebih baik. 2 Kemudian harum-haruman yang masih tersisa kita letakkan pada setiap lobang yang ada pada wajah dan anggota-anggota wudhunya. Dan kita menjadikan kain yang banyak lebihnya ada di bagian kepala. kerudung untuk menutup kepala. yang ada di sebelah kanan mayit. Setelah itu si mayit diletakkan di atasnya. seperti kain kafan. maka ini semua diambil dari harta pribadi sang mayit. yang bisa mengikat erat antara dua pantat dan kandung kemihnya. dan memberi parfum pada setiap lembar kain-kain tersebut . Setelah itu kain paling atas. ia harus dikafani dalam lima kain. kita mengambil sedikit harum-haruman lalu ditaruh pada kapas dan diletakkan diantara kedua pantatnya. sarung dan selembar kain.

****** Pertanyaan: Lelaki dan wanita manakah dari kerabat jenazah yang berhak memandikan jenazah.” Maka si fulan yang diberi wasiyat itulah yang berkewajiban memandikannya. baik jenazah itu laki-laki ataupun perempuan? Karena kami melihat beberapa lelaki masuk ke tempat pemandian jenazah. meski seandainya si mayit meninggalkan banyak harta yang melimpah. yaitu Fatimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam . maka wajib bagi orang yang diharuskan menafkahinya untuk membayar semua biaya di atas. perempuan. ataupun jenazah orang asing. sanak kerabat. masing-masing dari mereka boleh memandikan yang lainnya. tak peduli apakah itu jenazah lelaki. Karena Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu telah memandikan istrinya. 4 5 Adapun selain suami istri. maka hal ini dibolehkan. yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu. Tapi. Sebab dua orang suami istri. dia berkata misalnya. kemudian putranya. jika si mayit tidak memberi wasiyat seperti yang diterangkan di atas. dan yang paling dekat. kemudian yang paling dekat. seandainya si mayit berwasiyat kepada seseorang tertentu. Hal ini jika si mayit tidak meninggalkan wasiyat kepada siapapun. maka lebih diutamakan yang paling dekat. “Tidak boleh memandikanku kecuali si fulan. Setiap jenis kelamin hanya memandikan yang sama dengan jenisnya. ia telah memandikan suaminya. Jika sanak kerabat saling berselisih. maka didahulukan seseorang yang paling dekat hubungan rahim terhadap sang mayit. Apakah tindakan seperti ini dibenarkan? 3 Jawab: Jenazah lelaki hanya dimandikan oleh kaum lelaki. dan tidak boleh pula bagi kaum lelaki untuk memandikan kaum perempuan. maka tidak boleh bagi para wanita untuk memandikan kaum lelaki. Dan masing-masing dari dua jenis ini tidak boleh melihat . Tetapi jika ada seseorang yang menyumbang untuk biaya kepengurusan jenazah tersebut. Allahu a`lam. setiap orang ingin menanggung kepengurusan. Tetapi boleh bagi wanita untuk memandikan suaminya. pemandian. Namun. Sedangkan jenazah wanita. dari ayahnya. Demikian pula dengan Asma` binti Umais Radhiyallohu ‘anha. Tetapi boleh bagi seorang lelaki untuk memandikan istrinya. dan pengkafanan.Jika si mayit tidak memiliki harta. hanya dimandikan oleh kaum wanita.

Allahu a`lam. kadangkadang mengharuskan kaum lelaki untuk melakukannya. seperti disebutkan para ulama fiqih dalam kitab Al-Ahkam (pembahasan mengenai hukum-hukum) . tidaklah berpengaruh terhadap wanita yang meninggal ini. Karena melepas perhiasan tidaklah merusak badan sang wanita dan tidak pula berpengaruh padanya. dan hidung. kaum lelaki boleh mengurus pemandiannya. Juga karena Ibrahim putra Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. ****** Pertanyaan: Apakah perhiasan seorang wanita yang meninggal. Karena anak kecil itu tidak ada aurat baginya. wajib dilepaskan sebelum ia dikuburkan? Jawab: Benar! Hal itu adalah wajib. Kecuali anak kecil yang belum tamyiz . Karena hal itu memang diperlukan. Maka untuk perhiasan yang ada di tangan. Sebagaimana seorang ibu boleh mengurus kebersihannya di waktu kecil. Demikian pula dengan perhiasan yang ada di lengan. telinga. ia dimandikan oleh para wanita. Tetapi kebutuhan mendesak. Sang ibu mencebokinya dan langsung menyentuh kemaluannya padahal anak kecil itu hidup. 7 Para ulama fiqih juga menyebutkan bahwa perempuan kecil di bawah umur tujuh tahun. . Meski lebih diutamakan jika yang memandikannya adalah kaum wanita. maka tidak mengapa untuk memandikannya. baik yang memandikan itu kaum lelaki dan perempuan. karena anak kecil lelaki tidak mempunyai aurat. 6 ****** Pertanyaan: Apakah benar jika seorang wanita mengurus pemandian anak kecil lelaki di bawah umur tujuh tahun? Jawab: Hal ini dibolehkan. Boleh menyentuh auratnya dan langsung melihat kemaluannya.aurat yang lain. tidak ada pengaruh ketika melepasnya. Semua perhiasan ini jika dilepas.

Karena itu maka wajib melepas semua perhiasan itu darinya dan tidak dibiarkan terkubur bersamanya. seharusnya orang hidup itulah yang menjadi pemiliknya. yang seandainya orang-orang yang memandikan itu membuka langit-langit mulutnya. dan orang yang hidup lebih berhak untuk memilikinya. maka mata itu akan terus terbuka dan tidak bisa ditutup. ****** Pertanyaan: Jika seorang jenazah dalam mulutnya terdapat gigi emas. Allahu a`lam. jika mata si mayit terbuka dan terus dibiarkan terbuka hingga meninggal dunia. ****** . mereka tidak bisa menutupnya kembali. sehingga mulut itu terus tertutup dan mata terus terpejam. Sebab gigi emas itu mempunyai nilai. maka sangat diharuskan bagi siapapun yang menghadiri saat-saat sekarat seseorang. apakah gigi itu diambil sebelum ia dikubur. atau dibiarkan saja? Jawab: Jika mencabutnya memang mudah. Padahal orang yang hidup lebih membutuhkan perhiasan-perhiasan itu. karena si mayit sewaktu hidup biasa mencabut gigi tersebut. Berdasarkan hal ini. Tetapi jika dikawatirkan. atau saat meninggal dunia. dan mulut itu tetap menganga. Dan yang serupa dengan mulut adalah mata. berarti kita sama dengan menghancurkan harta. untuk segera memejamkan kedua matanya sebelum ia meninggal dunia. maka yang paling baik adalah menghindari pencabutan. juga dengan mencabutnya ini tidak bakal merusak mulut atau berpengaruh padanya. atau membuat pemandangannya semakin menakutkan. maka harus dilakukan adalah mencabut gigi emas itu darinya. seandainya gigi itu dicabut maka mulutnya terus terbuka. Karena yang kita perhatikan. Sebab membiarkan perhiasan itu terkubur bersamanya. banyak dari para jenazah. Karena sering kita perhatikan. Demikian pula ia harus menutup mulutnya.

kemudian dikubur bersama si mayit. bulu ketiak. bulu kemaluan dan kuku-kukunya. Dan aurat itu tidak boleh disentuh setelah pemiliknya meninggal dunia. maka . sama seperti rambut orang hidup tanpa ada rasa jijik dan lain sebagainya. ususnya terburai. ****** yang kita lakukan terhadap bulu kumis. Jika air bisa disiramkan ke sekujur tubuh dan tidak berpengaruh padanya. ****** Pertanyaan: Ada seorang lelaki meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. dan kuku-kuku. demikian pula dengan bulu ketiak. Dan boleh pula membuangnya di tanah bersama sampah-sampah yang lain. atau bungkusan lainnya. dan kuku yang diambil dari orang mati? Pertanyaan: Apa Jawab: Rambut dan kuku-kuku. kita disyariatkan membersihkan kumis. ataukah kita membiarkannya begitu saja? Pertanyaan: Saat Jawab: Saat memandikan jenazah. bahwa rambut itu dibiarkan saja tidak diutak-atik karena ia adalah aurat. air akan merusak seluruh tubuhnya. apakah kita disyariatkan untuk membersihkan kumis. maka kita harus menyiramkan air ke tubuhnya tanpa menggosok-gosok. maka pendapat yang sahih. seandainya dimandikan.memandikan jenazah. Tetapi jika sang jenazah keluar otaknya. dibungkus bersama si mayit dalam sebuah tas kecil. bulu ketiak. atau potongan dagingnya kocar-kocir. Bahkan tidak halal bagi kita untuk menyentuh auratnya baik ia hidup atau mati. Adapun rambut kemaluan. Maka apa yang harus kami lakukan? Jawab: Jenazah ini dimandikan semampunya saja. Badannya terluka sangat parah.

tetapi yang lebih baik adalah mengkafaninya dengan kain putih. dan kafanilah dengannya orang-orang yang mati dari kalian. sedang yang lain cukup diusap saja.” ****** . apakah kita wajib menutup auratnya atau tidak? Jawab: Anak kecil yang berumur di bawah tujuh tahun. 8 ((‫))البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم وكفنوا فيها موتاكم‬ ْ ُ َ ْ َ َ ِ ُّ َ َ ْ ُ ِ َ ِ ِ ْ َ ْ ِ َ َِّ َ َ َ ْ ُ ُ ِ َ ِ ْ ِ ُ َ ِْ “Pakailah untuk baju kalian kain-kain yang putih. ia tidak memiliki aurat baik laki-laki atau perempuan. Karena disebutkan dalam sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda.disini kita hanya memandikan bagian tubuh yang bisa dimandikan. maka kita wajib menutupi anggotanya yang diantara pusar hingga lutut. Tetapi jika jenazah itu lebih dari tujuh tahun. ****** Pertanyaan: Saat memandikan anak kecil. karena kain putih adalah sebaik-baik baju kalian. ****** Pertanyaan: Bolehkah kita mengkafani mayit dengan selain kain putih? Jawab: Boleh. Karena itu kita tidak wajib menutupi sesuatupun dari anggota tubuhnya saat memandikan.

Tetapi wajib bagi pemimpin tertinggi. Tetapi ikatan ini boleh lebih dari itu sesuai dengan kebutuhan. ia tetap dimandikan.Pertanyaan: Berapakah jumlah tali yang kita ikatkan pada kafan sang mayit? Jawab: Yang disebutkan dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam sebanyak tujuh ikatan. Karena ia hanya berbuat maksiat dan tidak kafir. Sebab bunuh diri hanyalah sebuah kemaksiatan bukan suatu kekafiran. dishalati. dan dikubur di pekuburan kaum muslimin. dan orang-orang yang mempunyai jabatan penting. ia harus dimandikan dan dishalati? Pertanyaan: Ada Jawab: Benar. jika ada seseorang yang melakukan bunuh diri –mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari perbuatan ini-. Sudah masuk padanya ikatan pada kepala dan ikatan pada kedua kaki. ****** seorang muslim yang membunuh muslim lainnya. apakah muslim yang pembunuh ini jika sudah dibunuh. dan dikafani. ia harus dimandikan dan dishalati. untuk tidak menyalatinya. dishalati. ia tetap dimandikan. Pertanyaan kami. Karena ini sebagai bentuk . kemudian sang muslim pembunuh ini diberi hukuman bunuh juga. ****** Pertanyaan: Apakah seseorang yang bunuh diri harus dimandikan dan dishalati? 9 Jawab: Seseorang yang bunuh diri. Maka. Sebab ia tidak keluar dari lingkaran agama Islam.

Para ulama yang memilih tawaqquf ini berkata.” Hadits ini didhaifkan oleh kebanyakan para ulama`. gubernur.pengingkaran dari mereka. sebagai bentuk pengingkaran dan pemberitahuan kepada para manusia bahwa ini adalah perbuatan yang salah. hakim. dan sebagian ulama yang lain memilih berhenti (tawaqquf) pada matannya. Jadi mereka mengatakan.” Sebab itulah mereka memilih untuk tawaqquf pada matannya. 10 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati. mewajibkan berwudhu bagi orang yang memandikan. Maka mereka berkata. “Apa yang membuat kita harus mandi. atau bupati. Kemudian saya mengerjakan banyak shalat. Sedangkan ulama lainnya mensahihkannya. Apakah saya berdosa dalam hal ini? Pertanyaan: Saya Jawab: Mengenai memandikan jenazah. Jadi! Seorang pemimpin Negara. tetapi saya tidak mandi setalah itu. jika ternyata ia tidak mandi. ****** telah memandikan jenazah. karena orang yang memandikan jenazah tidak melakukan perbuatan apapun yang mengharuskannya mandi. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu. ada sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan sanad yang sahih. jika mereka tidak menyalati pelaku bunuh diri. “Sesungguhnya mandi adalah mustahab bagi orang yang memandikan mayit. Adapun para ulama yang mensahihkan hadits ini mereka meyakini bahwa mandi disini adalah hal yang mustahab. yaitu sabda beliau yang berbunyi. “Mandi . maka hendaklah ia mandi. Tetapi kaum muslimin lainnya tetap harus menyalati pelaku bunuh diri itu. sehingga tidak ada seorangpun yang menduga bahwa para petinggi itu meridhai perbuatan bunuh diri tersebut. sultan. maka ini baik sekali.” Sedangkan sebagian ulama yang lain.

kemudian dikatakan kepada mereka. ada sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berbunyi. apakah saya wajib berwudhu atau tidak? Jawab: Mengenai berwudhu bagi seseorang yang membawa mayit. Dinukil dari al-Muqorrib li Ahkaamil Jana`iz : 148 Fatawa fil Jana`iz. ((‫))ما أتوضأ من حمل خشبة‬ ٍ َ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ُّ َ َ َ َ “Saya tidak perlu berwudhu hanya karena membawa kayu.hanyalah sunnah muakkadah. penyusun : ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad al-‘Arifi.” Barangkali maksud hadits di atas. mereka tidak membawa apapun selain hanya kayu. maka hendaklah ia mandi. “Berwudhulah!”.” Maksudnya.” ****** Pertanyaan: Jika saya membawa jenazah. atau mirip tanpa busana. Adapun seseorang yang mendekap jenazah yang sudah meninggal. tetapi jika tidak mandi maka ia wajib berwudhu. 1418 H/1997 M. khusus buat orang yang mendekapnya bukan orang yang membawa jenazah dalam keranda. ketika Abdullah bin Abbas Radhiyallohu ‘anha dan Abdullah bin Umar Radhiyallohu ‘anha membawa jenazah dalam keranda. Riyadh. dimuroja’ah oleh : ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin. maka hendaklah ia berwudhu berdasarkan pada hadits di atas. Sedangkan siapapun yang menggotongnya maka hendaknya ia berwudhu. keduanya menjawab. wudhu inilah kewajiban yang paling sedikit atasnya. Sehingga. dan tidak menyentuh apapun selain kayu belaka. . 11 ((‫))من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضأ‬ ْ ّ َ َ َ ْ َ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ ً ّ َ َ ّ َ ْ َ “Barangsiapa memandikan orang mati. Penerbit : Dar ath-Thayibah. yang bisa jadi dalam keadaan tanpa busana.

belum baligh dan belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang buruk. 2 Maksudnya kain-kain yang dibawahnya juga diberi parfum. 3/408-411. 433. Abu Dawud. 456. 456. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. 454. Ath-Thayalisi. Al-Mushannaf fi Al-Ahaadits wa Al-Aatsaar karya Ibnu Abi Syaibah. Manar As-Sabiil. 454. dan Imam Ahmad. Irwa` Al-Ghalil. Allahu a`lam. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani. 2/62-63. Abu Dawud. 1/166 8 HR. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. 2/80. 6 Di bawah umur tujuh tahun. 2/176 dan At-Tirmidzi. 433. yang dibakar di atas arang. Lihat pula. At-Tirmidzi. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani. 7 Lihat. 2/132 9 Syaikh Abdullah bin Baaz. 2/455. hadits ini dihukumi hasan oleh Al-Albani. 2/62 10 HR. 2/62-63. 2/132. 3 Shalih Al-Fauzan. At-Tirmidzi. Al-Muntaqa. 2/80.1 Yaitu kayu yang harum baunya. 1/78 4 Lihat. Abu Dawud. dan Imam Ahmad. 2/132. 2/455. 3/162 5 Lihat. beliau menghukuminya hasan. 3/408-411. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Fatawa Islamiyyah. beliau menghukuminya hasan. . Ath-Thayalisi. 472. 11 HR. 472. Setelah terbakar asapnya akan mengeluarkan keharuman yang semerbak kemana-mana. juga Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq Ash-Shan`ani. Hadits ini dihukumi sahih oleh Al-Albani.