Kecemasan dan Depresi pada Remaja dan Dewasa Muda Penderita Asma

Evagelia Kotrotsiou, Georgios Krommydas, Ioanna Papathanasiou, Stiliani Kotrotsiou, Theodosios Paralikas, Eleni Lahana, Georgia Kiparissi Health Science Journal 2011; 3: 229-236

Latar Belakang Faktor psikologis mempengaruhi perjalanan penyakit asma dan melalui pengamatan klinis menunjukkan bahwa asma dan stres berhubungan erat satu sama lain Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi prevalensi asma pada remaja dan dewasa muda dan untuk menyelidiki hubungan antara asma, kecemasan dan depresi. Bahan dan Metode Sampel penelitian ini terdiri dari 1148 siswa berusia 15-25 tahun. Kuesioner pada asma (Kuesioner Survei Komunitas Kesehatan Respirasi Eropa), depresi dan kecemasan (kuesioner Bedford & Foulds) digunakan. Tingkat pentingnya adalah 0,05. SPSS for Windows, 8,0 versi yang digunakan untuk pengolahan statistik. Hasil 31,1% dari peserta adalah laki-laki dan perempuan sebesar 68,9%. Usia rata-rata adalah 18,9 tahun. Frekuensi asma sebesar 9,3%, sedangkan krisis asma tahun lalu (asma saat ini) sebesar 3,4%. Kecemasan dan depresi secara statistik lebih umum di kalangan orang-orang penderita asma, dibandingkan dengan siswa tanpa asma dan sehat individu, p <0,005. 75% dan 50% dari siswa dengan asma mencapai nilai di atas 6 dalam skala kecemasan dan depresi masingmasing, sedangkan persentase non-asma anak adalah 12% dan 9% masing-masing. Kesimpulan Kecemasan dan depresi sering terjadi di kalangan anak muda dengan asma. Disarankan adanya studi lebih lanjut mengenai hubungan antara asma dan sistem saraf pusat.

PENDAHULUAN Adanya hubungan antara penyakit asma dan faktor psikologis pertama kali diamati di masa lalu terpencil. Serangkaian pengamatan klinis menunjukkan bahwa asma dan stres berhubungan erat satu dengan yang lain.1-5

1

Meskipun hubungan antara asma bronkial dan faktor psikologis dianggap ada. 5 Penelitian faktor psikologis saat ini dianggap penting mengingat faktor lingkungan tradisional yang dianggap bertanggung jawab atas penyakit ini tidak menjelaskan mengapa terjadi peningkatan prevalensi penyakit dalam tahun-tahun terakhir. diikuti penelitian yang memberikan bukti nyata bahwa emosi berperan dalam asma. Akibatnya jumlah akhir dari kuesioner tidak sama dalam semua kasus. Dalam kasus asma. memiliki dimensi psikologisnya sendiri. Kuesioner dengan jenis pertanyaan tertutup digunakan untuk pengumpulan data. Beberapa siswa tidak menjawab semua pertanyaan (umur. mungkin terdapat pengaruh substrat genetik umum terhadap penyakit kejiwaan yang diamati dalam keluarga. atau bagian yang mengacu pada depresi). sehingga membuat latar belakang kejiwaan individu dan keluarga mereka sebagai parameter penting untuk gejala dan tentu saja dari asma bronkial. agar tidak kehilangan informasi. 4 Asma. karena banyak mekanisme belum sepenuhnya dipahami. Perkiraan status psikologis (kuesioner cemas & depresi DSSI/SAD): kuesioner DSSI/SAD dari Bedford dan Foulds7. Penelitian di bidang ini diharapkan dapat menjelaskan lebih patogenesis asma dan hubungannya dengan saraf pusat dan sistem endokrin. versi pendek. Kuesioner ini terdiri 2 . Di sisi lain. fase 2. asma dianggap penyakit yang disebabkan murni oleh faktor psikogenik dan sering disebut "asma nervosa''. dua dekade terakhir telah terlihat eksplisit pentingnya sistem neuroendokrin dalam perkembangan penyakit dimana proses inflamasi memainkan peran fundamental. Kemudian.Sebelum menjadi jelas bahwa dasar dari penyakit adalah peradangan saluran pernafasan.3. Kuesioner yang belum penuh ini tetap dilibatkan dalam penelitian. seperti misalnya penyakit rematik.148 orang mengambil bagian dalam studi ini. simtomatologi dan perkembangan penyakit masih belum jelas.5%). asma saat ini.8 meneliti gejala stres dan depresi. 626 siswa akhirnya menanggapi (laju respon 54. Estimasi asma: kuesioner ECRHS digunakan namun dimodifikasi.4-6 BAHAN DAN METODE 1. melalui pendekatan psikologis. acak bertingkat dari sekolah tinggi di daerah perkotaan dan pedesaan wilayah Larissa serta sampel siswa TEI sebanyak 1148 siswa secara total dipilih. Sebuah sampel.4. situasi mental individu ikut mempengaruhi kesehatan tubuhnya dan perjalanan suatu penyakit. Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dan digunakan sebagai tes skrining. Di sisi lain. peran kedua dalam patofisiologi. sebagai penyakit kronis.

depresi) adalah jumlah dari hasil di masingmasing pertanyaan (rentang 0-21). Data diperiksa kemudian dengan tabel korelasi silang dan konstanta yang sesuai dari korelasi silang (koefisien kontingensi) untuk variabel kualitatif dihitung. karena sudah diketahui bahwa kedua entitas diperiksa bersamasama. Variabel derivatif juga dibuat dengan kode yang sesuai. Dapat digunakan sebagai tes skrining. Hal ini juga dianjurkan untuk variabel kuantitatif. seperti misalnya dengan K2 untuk simtomatologi sedang dalam skala depresi. Kontrol yang terakhir itu dilakukan 3 . juga sebagai indikator tingkat keparahan dari gejala stres dan depresi. Jumlah total untuk setiap skala (stres. Hasil tes memberikan estimasi yang singkat dan cepat terhadap stres dan depresi. Delapan puluh dua persen dari populasi umum memberikan hasil di bawah 3 dan mereka harus dianggap bebas dari gejala. Jumlah kritis untuk masing-masing kategori adalah 3. yang meneliti stres dan depresi tampaknya paling cocok digunakan untuk penelitian pada pasien. Tabel 1. Kuesioner seperti itu. ketika tidak mengikuti distribusi biasa. Sebelas persen dipindahkan antara 3 dan 6 dan dianggap bahwa mereka memiliki beberapa bentuk simtomatologi kejiwaan marginal. Tabel frekuensi dibuat untuk karakteristik epidemiologi umum berupa sampel dan karakteristik asma untuk tiap individu yang mengambil bagian dalam studi ini. bagi orang-orang dengan gejala kejiwaan untuk diidentifikasi. Tes Mann-WhitneyU juga digunakan untuk distribusi non-parametrik. sementara tujuh persen yang ditemukan di atas 6 dan dianggap bahwa mereka mengalami psikopatologi yang serius. tujuh mengenai stres dan tujuh depresi. Karakteristik Demografi Sampel Statistik: Sistem pengkodean dan pengobatan: awalnya variabel diberi kode. K3 untuk gejala yang serius dan sebagainya.dari empat belas pertanyaan. Orang-orang ini dari sudut pandang kejiwaan bisa juga dianggap sebagai pasien. Tes ini secara eksklusif berfokus pada simtomatologi saat tanpa terkait dengan struktur kepribadian atau komponen lainnya. menurut untuk urutan kemunculannya di kuesioner.

4% ke (tabel 2). Tingkat kepentingan adalah 0.9 Frekuensi asma anak-anak di Eropa berkisar antara 7% dan 11%. Rata-rata usia adalah 18.9%. sedangkan persentase anak non-asma masing-masing untuk cemas dan depresi sebesar 12% dan 9%. Frekuensi bersin.1%.9 tahun.10. dimana perbandingan untuk nilai (skor) antara individu dengan asma dan individu tanpa asma mengenai kecemasan dan depresi disajikan. DISKUSI Frekuensi asma yang ditentukan dalam penelitian ini adalah 9. serta asma telah meningkat bertahap dalam 30 tahun terakhir. Tabel 2. Variabel kualitatif diperiksa dengan menggunakan x2 dari Pearson dengan koreksi kontinuitas Yates. Perbedaan besar diamati dalam frekuensi 4 . SPSS for Windows. angka yang mendekati hasil studi internasional yang dilaporkan tahun lalu. Didapatkan frekuensi asma sebesar ke 9. Ditemukan bahwa peningkatan frekuensi asma ini jauh lebih besar daripada frekuensi bersin. dibandingkan istilah "asmatik" atau "bronkitis alergi" yang digunakan di masa lalu.1% dari siswa laki-laki dan perempuan 68.3%.dengan uji Kolmogorov-Smirnov. 8. 75% dan 50% dari siswa dengan asma mnunjukkan nilai di atas 6 dalam skala cemas dan depresi masing-masing. mendekati persentase yang diamati dalam populasi umum. sedangkan krisis asma tahun lalu (asma saat ini) sebesar 3. Distribusi Sampel menurut Variabel Klinis HASIL 31. Perbedaan signifikan secara statistik ditunjukkan dalam tabel 5.05. di mana mereka dibutuhkan. Distribusi stres dan depresi pada individu penderita asma dan perbandingan mereka dengan persentase yang diharapkan pada populasi umum ditunjukkan dalam tabel 3 dan 4. Karakteristik epidemiologi dari sampel tampak pada tabel 1.11 Ini memperkuat poin bahwa alasan penting terjadinya peningkatan frekuensi dan istilah "asma" muncul lebih sering.0 versi yang digunakan untuk pengolahan statistik.

Distribusi Stres pada Individu Penderita Asma (DSSI / SAD) dan Perbandingan dengan Populasi Umum. Metodologi yang berbeda dan kriteria yang digunakan adalah bertanggung jawab kepada adanya perbedaan ini.asma antara berbagai daerah. 5 . Distribusi Stres pada Individu Penderita Asma (DSSI / SAD) dan Perbandingan dengan Populasi Umum. serta pada berbagai penelitian9. Tabel 3. Tabel 4.

frekuensi asma meningkat hingga 71% dan mengi mencapai 24% dalam beberapa tahun.U) Namun. hingga 0. Perbandingan Cemas dan Depresi pada Individu dengan Asma dan Tanpa Asma (tes Mann . Jika peningkatan insiden didasarkan hanya pada fakta bahwa diagnosis asma ditegakkan lebih sering. 77.15 Serupa juga temuan penelitian epidemiologi yang diadakan di Israel dan termasuk studi sejumlah besar anak laki-laki dan perempuan dari usia 17 tahun.3% anak laki-laki dan 80.13 Penelitian lain pada dua tahun terakhir memastikan terus terjadi peningkatan frekuensi asma.79% pada tahun 1989. namun frekuensi penyakit di kalangan anak-anak dari keluarga miskin jauh lebih banyak.Whitney .1% pada tahun 1980 menjadi 5. tampaknya diluar pengenalan penyakit ini dan apapun masalah dalam metodologi.29% pada tahun 1996 dan mencapai 1. Persentase anak-anak yang terus mengalami episode asma saat usia 17 tahun adalah 18%.16 Di Yunani prevalensi asma pada usia 13-14 6 .4% pada tahun 1994.14 Frekuensi serangan saat krisis kambuh sesuai dengan perkiraan yang diharapkan yakni mengalami penurunan seiring dengan pertumbuhan pasien.Tabel 5.12 Di Finlandia peningkatan frekuensi asma diamati dalam rentang antara 0. kenaikan riil insiden tetap ada. Temuan serupa dilaporkan dalam studi di Inggris dan merujuk kepada anak-anak yang berada dalam pengamatan dari saat berusia 7 sampai mereka berusia 30 tahun. Di Hong Kong. seharusnya terdapat 95% insiden sebelum 1966 telah menyelipkan diagnosis yang tepat.08% pada tahun 1961. diperiksa oleh ahli paru berpengalaman dan mereka diikutkan dalam tes fungsional dan tes tantangan (challenge test). Anak-anak ini diperiksa oleh dokter untuk bergabung dalam angkatan bersejata di negara mereka. Ditemukan bahwa pada usia 17 tahun.9 Di Amerika Serikat frekuensi asma telah meningkat dari 3. kira-kira 2 dari 10 anak-anak terus menunjukkan gejala asma. Semua anak-anak yang menunjukkan gejala asma atau melaporkan riwayat gejala yang sama. bebas dari gejala asma.2% anak perempuan penderita asma. Artinya.

Jika asma berdampingan dengan gangguan stres. emosional dan gangguan stres dianggap sebagai kendala dalam pengobatan penyakit.. dibandingkan dengan anak-anak yang menderita penyakit diabetes juvenil yang dianggap menjadi penyebab meningkatnya kebutuhan dari orang tua dan anak-anak. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 93 anak dengan asma bronkial keparahan sedang. ditemukan bahwa anak-anak tersebut mengalami gejala kejiwaan dalam persentasi lebih besar.20. Melampaui kemungkinan ikut berperannya dalam patogenisitas penyakit dan kerusakan penyakit. maka dokter harus menduga adanya masalah psikologisfungsional.18 Hal ini juga menarik mengenai fakta bahwa anak-anak dengan asma membawa lebih banyak masalah bahkan ketika mereka dibandingkan dengan anak-anak dengan diabetes. Mungkin terdapat latar belakang patogenetik yang membuat seorang penderita asma rentan terhadap penyakit mental.17 Dalam kerabat para remaja penderita asma. jika asma berdampingan 7 . sebuah fakta yang bisa membebani secara serius. Ketika seorang pasien datang dengan gejala yang tidak khas atau mereka kurang berespon terhadap pengobatan. penyalahgunaan zat dan kepribadian antisosial yang cukup tinggi. Menurut Rietveld et al. terlebih jika keluarga berada pada situasi sosioekonomi yang buruk.21 Namun tetap saja ada gangguan kejiwaan bahkan pada pasien dengan asma ringan.22 Stresor memberikan kontribusi pada penurunan penyakit dan banyak bukti menunjukkan hubungan antara stres dan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh khususnya di pada hewan.23 Tampaknya bahwa hubungan biologi-genetik antara asma dan gangguan kejiwaan mungkin ada. Stres dalam keluarga dan latar belakang gangguan afektif yang dilaporkan dalam keluarga dengan anak-anak penderita asma. terutama gangguan kecemasan. didapatkan proporsi insiden depresi.561 anak diperkirakan sekitar 5% (ISAAC studi). dari angka terendah secara internasional9. karena setidaknya saat dimulai krisis asma dapat mengakibatkan kejadian panik.24 sangat penting dilakukan penilaian awal terhadap masalah emosional. Sebaliknya. penelitian menunjukkan tingginya prevalensi gejala kejiwaan pada remaja dan dewasa muda. mania. Para penderita penyakit kronis seperti asma ternyata menjadi sumber stres bagi keluarga. Mengenai asma dan faktor psikologis. di luar hubungan tidak langsung melalui tekanan psikologis.tahun dalam sampel 2. Disfungsi keluarga dan masalah psikologis ibu ditambah dengan morbiditas yang tinggi pada anak-anak penderita asma. konfrontasi asma datang pertama. Estimasi kejiwaan bisa mengkonfirmasi masalah ini.19 Kebanyakan penelitian berurusan dengan asma sedang atau sangat parah.

tetapi juga setiap orang tua untuk membaca kuesioner di rumah dan mengisinya di sana.25 Jika stres yang menonjol.dengan depresi. Dalam kasus pasien. Dalam tingkat massa. Itu pelaksanaan instruksi Komite Etis Institut Pedagogik untuk orang tua 'dalam menulis (karena perlindungan data pribadi). dapat diterapkan dalam individual.8. yang disebut sekolah asma. Banyak parameter dan kesalahan yang mungkin harus dipertimbangkan dalam penelitian ini. jika tidak ada komunikasi langsung dengan dokter pribadi siswa. sebaiknya dirujuk ke ahlinya. di mana orang tua diberitahu adanya kontribusi stres terhadap munculnya gejala. pengaruh psikologis awalnya dicari dengan menggunakan kuesioner spesifik seperti kuesioner Beck. Dalam hal gejala depresi terdeteksi. Juga. studi parameter psikologis penyakit dapat diterapkan di sekolah-sekolah.24 Berdasarkan hal diatas. banyak yang tidak tahu bahwa bronkitis alergi atau spastik merupakan persamaan asma. Dalam setiap kasus orang tua anak harus mendapat evaluasi psikologis. karena ada bias dalam keparahan penyakit. konfrontasi depresi menjadi prioritas. Dalam kasus di mana simtomatologi kejiwaan metetap. Sebuah kelemahan dari protokol adalah bahwa tidak termasuknya konfirmasi diagnosis dari catatan riwayat kesehatan siswa. sementara itu mungkin akan mengarah pada kesimpulan tidak dapat diandalkan. Bedford dan Foulds et al. konfrontasi segera dilakukan. Perlu dicatat juga bahwa direktur sekolah diminta untuk memastikan waktu pengumpulan yakni pada hari terakhir dalam minggu. Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan.pengembalian kuesioner yang mencapai waktu seminggu. Mungkin beberapa orang menganggap beberapa pertanyaan yang terlalu pribadi 8 . karena jika konfrontasi asma telah dibuktikan bahwa tidak terlalu berpengaruh. di mana kita mengharapkan respon klinis dalam pengobatan antiasma dan kemudian tingkat stres yang direvaluasi. mengakibatkan lamanya waktu penyelesaian . Yang paling penting adalah kehilangan saat pengumpulan kuesioner. serta di tingkat massa. Masih ada kemungkinan bahwa jawaban yang diberikan tidak benar. Jawaban dari orang tua yang disebut riwayat kesehatan keluarga mereka mungkin tidak dapat diandalkan. agar tidak mengganggu jam mengajar lebih lanjut. Dalam kondisi tertentu fungsi dari sistem kesehatan nasional di negara kita dan tanpa lembaga dokter keluarga.1% laki-laki. Diperkirakan bahwa hal ini akan lebih menghambat pengumpulan data. disertai juga bertambahnya kehilangan. Juga komposisi akhir dari sampel meliputi 31. studi tentang faktor psikologis. Asma sering dibingungkan dengan penyakit seperti penyakit paru-paru obstruktif kronis atau gagal jantung. hal ini terutama karena hanya sedikit laki-laki yang tergabung dalam departemen keperawatan. pendekatan semacam itu dikecualikan. masa tindak lanjut berlangsung.

Akhirnya.9 tahun.9% perempuan.3%. Adapun yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh faktor psikologis terhadap perjalanan penyakit asma dan melalui pengamatan klinis untuk menunjukkan bahwa asma dan stres berhubungan erat satu sama lain. jika asma berdampingan dengan depresi. menunjukkan hubungan umum antara asma. Sebaliknya. KESIMPULAN Temuan dari penelitian ini menggarisbawahi peran penting dari lingkungan psikologis dalam perkembangan asma dan beban psikologis individu penderita asma. tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti.4% . Kehilangan saat pengumpulan kuesioner. Rata-rata usia sampel adalah 18. 9 . Terdapat 75% dan 50% dari siswa dengan asma mnunjukkan nilai di atas 6 dalam skala cemas dan depresi masing-masing. Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan. konfrontasi depresi menjadi prioritas. mendekati persentase yang diamati dalam populasi umum. karena jika konfrontasi asma telah dibuktikan bahwa tidak terlalu berpengaruh. Akhirnya. masih ada kemungkinan bahwa jawaban yang diberikan tidak benar. dikonfirmasi adanya kecenderungan augmentatif dalam insiden asma selama tahun terakhir. Sangat penting dilakukan penilaian awal terhadap masalah emosional. Jika asma berdampingan dengan gangguan stres.dan mereka tidak menjawab dengan terus terang. konfrontasi asma datang pertama. karena ukuran sampel kecil dari siswa. sedangkan persentase anak non-asma masingmasing untuk cemas dan depresi sebesar 12% dan 9%. sistem saraf pusat dan gangguan psikologis. tidak termasuknya konfirmasi diagnosis dari catatan riwayat kesehatan siswa. sedangkan krisis asma tahun lalu (asma saat ini) sebesar 3. Sampel penelitian terdiri atas 31. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner yakni kuesioner pada asma berupa Kuesioner Survei Komunitas Kesehatan Respirasi Eropa. komposisi akhir dari sampel meliputi 31. Tingkat korelasi asma dan psikopatologi pada penderita.1% laki-laki. Didapatkan frekuensi asma sebesar ke 9. karena setidaknya saat dimulai krisis asma dapat mengakibatkan kejadian panik.1% siswa laki-laki dan 68. RESUME Penelitian yang ini membahas tentang hubungan antara angka kejadian asma dengan kecemasan dan depresi pada remaja dan dewasa muda. karena ukuran sampel kecil dari siswa. karena ada bias dalam keparahan penyakit. tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti. Pada saat yang sama. sedangkan untuk depresi dan kecemasan digunakan kuesioner Bedford & Foulds. Penelitian dilakukan pada total sampel 1148 siswa berusia 15-25 tahun. tidak ada komunikasi langsung dengan dokter pribadi siswa.

Deary IJ. Br J Soc Clin Psychol 1976: 15: 387 – 94 8. 2009. Wong G. Miller G. The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) Steering Committee. Caitinen LA. Molyvdas PA. Bussing R. England. Cole SW. Anderson HR. Australian children? J an international comparison using the ISAAC Respir 1993 Nov. Pediatr Asthma Aller 2002:15:145-152 6. Strachan D. Yolbe J. Person Individ Diff 1997. Langridge P. Left-handedness parental psychopathology in the course of bronchial asthma in childhood. 2009 . Andreou G. Halfon N. personal disturbance scale: use and structure. 22 : 493-510 9.Daftar Pustaka 1. Biorksten F. Bienenstock J. Prevalence of behavior problems in US children with asthma. Luczynska C. Bernadette B. 1997 10 . Jarvis D. Haahtela T. Vamos M. Pearce N. Eur Resp J. 1994: 7:954-60 7. Annu Rev Psychol. Koskenvuo K. Van Lieshout RJ. Prevalence of asthma and allergy in Hong Kong schoolchildren: an ISAAC Feb. et al.6(10):1455-61. Lau J. Chan JK. Burney PG. allergic rhinoconjunctivitis and atopic eczema: ISAAC. Psychological factors in several chronic asthma. Sheffield BF. Health psychology: developing biologically plausible models linking the social world and physical health. Choy D. Chen E. 12. A review of candidate pathways underlying the association between asthma and major depressive disorder. The European Community Respiratory Health Survey.71:187-95 4. Prevalence of asthma in finnish young men. A new DSSI/sAD. Lancet 1998: 351:1225-32 10. Kenneth WB. Weiland S. Lindholm H. Angelopoulos NV. Ho A. MacQueen GM. Arch Pediatr Adolesc Med 1995:149: 565-572 3. Zealand: children in Australia. Bauman A. Has the prevalence of asthma symptoms increased in Pediatr Child Health 1993: 29: 424-428 11. Leung R. Gourgoulianis and KI. Bedford A. Foulds GA. Chinn S. The personal disturbance scale (DSSI/sAD):development. Bedford A. Aust N Z J Psychiatry 1999:33: 538-44 2. 13. Worldwide variation in prevalence of symptoms of asthma. Eur Respir J. Keil U.60:501-24 5. Psychosom Med. Krommydas G. Selfreported prevalence of asthma symptoms in Germany protocol.10(2):354-60. et al. Eur and New J. BMJ 1990: 301:266-301. study.

Nollet-Clemenson C. Rickets K. 20. Molyvdas with asthma. Psychiatry 1999: 44:562-9. Morey PJ. 1992. 22. Childhood chronic illness as a family stressor. Creer TL: Psychiatric factors in asthma: implications for diagnosis and therapy: Am J Respir Med :2003. Rodriguez M. Jones K. Natural history of childhood asthma.47.3rd ed. 1974. Childhood therapy in asthma. Hamlett KW. Pellegrim DS. Short form of Depression Inventory: Cross-validation: Psychological-Reports. Vera M. J Asthma 1993. diabetes Can J. Krommydas GC. 53:1066 – 1074 24. Rietveld S. Raftopoulos V. 17.34:1184-1186 11 . Jouvent R. Psychological factors in fatal childhood asthma. Psychiatric morbidity in patients with life threatening asthma: initial report of a controlled study. Wright JR. Gourgoulianis KI. Med J Aust 1988. Norris A. Lewiston NJ.:30:271-6.82: 233-48. Poulter CW. 23. Schnekel B. 19. 57: 253 – 257.98:220-22. Respiratory PA: Depression and pulmonary function in outpatients Medicine 2004. Prevalence of DSM-IV disorders inchildren and adolescents with asthma v.Lung function and immunopathological changes after inhaled corticosteroid Respir J. Rubestein S. Condez A. Rial W Y. et al . Asthma. Cohen S. de Blic J. Burke C. Ruffin R. Review of psychosocial stress and asthma: an intergrated biopsychosocial approach. J Pediatr Psychol 1992: 17: 33. and asthma. Power CK. Κotrotsiou E. Sly RM. In Clark TJH. Thorax 1998.14. Robert JJ. Asthma Allergy 15. 16.2:1-10 25.146: 246 – 249. Am J Orthopsychiatry 1987. 21. Past maternal experience of asthma. Katz KS. London 1992: 559-563. Haynes S. Godfrey S. Yellowlees P. Godfrey S and Lee TH . Beck AT. Potts N. Chapman and Hall.eds. Changing prevalence of allergic rhinitis Immunol: 1999. Eur morbidity and the psychosocial impact of the disorder. Fritz GK. 5:73-79. Vila G. 18.

Hasil tes memberikan estimasi yang singkat dan cepat terhadap stres dan depresi. Usia rata-rata adalah 18. dimodifikasi. Sedangkan untuk perkiraan status psikologis (kuesioner cemas & depresi DSSI/SAD): kuesioner DSSI/SAD dari Bedford dan Foulds meneliti gejala stres dan depresi. Kuesioner ini terdiri dari empat belas pertanyaan. Theodosios Paralikas. p <0. Bahan dan Metode Sampel penelitian ini terdiri dari 1148 siswa berusia 15-25 tahun. Tingkat pentingnya adalah 0. 12 . dibandingkan dengan siswa tanpa asma dan sehat individu. Hasil 31.9 tahun. sedangkan krisis asma tahun lalu (asma saat ini) sebesar 3.05.3%. fase 2. tujuh mengenai stres dan tujuh depresi.0 versi yang digunakan untuk pengolahan statistik. Stiliani Kotrotsiou. 3: 229-236 Latar Belakang Serangkaian pengamatan klinis menunjukkan bahwa asma dan stres berhubungan erat satu dengan yang lain. kecemasan dan depresi. Kecemasan dan depresi secara statistik lebih umum di kalangan orangorang penderita asma. SPSS untuk Windows. Faktor psikologis mempengaruhi perjalanan penyakit asma dan melalui pengamatan klinis menunjukkan bahwa asma dan stres berhubungan erat satu sama lain. Eleni Lahana. Kuesioner pada asma digunakan kuesioner ECRHS (Kuesioner Survei Komunitas Kesehatan Respirasi Eropa). bagi orang-orang dengan gejala kejiwaan untuk diidentifikasi. Ioanna Papathanasiou.005.4%. Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dan digunakan sebagai tes skrining. Georgios Krommydas.Kecemasan dan Depresi pada Remaja dan Dewasa Muda Penderita Asma Evagelia Kotrotsiou. Frekuensi asma sebesar 9. Penelitian faktor psikologis saat ini dianggap penting mengingat faktor lingkungan tradisional yang dianggap bertanggung jawab atas penyakit ini tidak menjelaskan mengapa terjadi peningkatan prevalensi penyakit dalam tahun-tahun terakhir. Georgia Kiparissi Health Science Journal 2011.1% dari sampel penelitian adalah laki-laki dan 68. Situasi mental individu ikut mempengaruhi kesehatan tubuhnya dan perjalanan suatu penyakit. 8. versi pendek. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi prevalensi asma pada remaja dan dewasa muda dan untuk menyelidiki hubungan antara asma. Dapat digunakan sebagai tes skrining. juga sebagai indikator tingkat keparahan dari gejala stres dan depresi.9% adalah perempuan.

jika asma berdampingan dengan depresi. 13 . Kesimpulan Kecemasan dan depresi sering terjadi di kalangan anak muda dengan asma. Jika asma berdampingan dengan gangguan stres. karena jika konfrontasi asma telah dibuktikan bahwa tidak terlalu berpengaruh. konfrontasi depresi menjadi prioritas. konfrontasi asma datang pertama. Disarankan adanya studi lebih lanjut mengenai hubungan antara asma dan sistem saraf pusat. Ketika seorang pasien datang dengan gejala yang tidak khas atau mereka kurang berespon terhadap pengobatan. Estimasi kejiwaan bisa mengkonfirmasi masalah ini. sedangkan persentase non-asma anak adalah 12% dan 9% masingmasing.75% dan 50% dari siswa dengan asma mencapai nilai di atas 6 dalam skala kecemasan dan depresi masing-masing. maka dokter harus menduga adanya masalah psikologisfungsional. karena setidaknya saat dimulai krisis asma dapat mengakibatkan kejadian panik. Sebaliknya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful