P. 1
Retensio

Retensio

|Views: 57|Likes:
Published by Puji Lestari
perlekatan plasenta
perlekatan plasenta

More info:

Published by: Puji Lestari on Feb 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/10/2013

pdf

text

original

Retensio Plasenta

4 04 2009

Retensio Plasenta by.rara

Definisi keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam setelah bayi lahir. Epidemiologi 16-17 % dari kasus perdarahan postpartum Penyebab 1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya : a. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam. b. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium. c. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa. d. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim. 2. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata). Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.

Melaksanakan pemeriksaan umum 4.periksa dalam 6. b.tensi. Tindakan penanganan retensio plasenta : 1. DD/ Berdasarkan penyebab perdarahan postpartum 1.8%). Penatalaksanaan Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila plasenta belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai perdarahan.5-0. 3. Melaksanakan pemeriksaan kebidanan a. Mengukur vital sign. Mengamati adanya gejala dan tanda retensio plasenta . Sisa plasenta (23-24%). uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang. Laserasi jalan lahir (4-5%).palpasi. Memakai sarung tangan steril 7. 2.suhu. Kelainan darah (0. Mencuci tangan secara efektif 3. c.Penegakan diagnosis Plasenta belum lahir selama 1jam setelah bayi lahir Faktor Risiko Manifestasi Klinik Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera. Retensio plasenta (16-17%). Memberikan informasi kepada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan 2. Melakukan vulva hygiene 8. 5.pernafasan 5.inspeksi.nadi. 4. Atoni uteri (50-60%).

Komplikasi Perdarahan menyebabkan syok hemoragik yang berakibat pada kematian.9. Memasang infus cairan dekstrose 5%. 4. tangan kanan dimasukkan dalam rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun. 3. Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi Prognosis Tergantung penanganan perdarahan. Berikan cairan infus NACL atau RL secara guyur untuk mengganti cairan KAlo yang itu kepanjangan yang ini aja juga boleh: 1. Memberikan obat-obatan misalnya uterotonika dan antibiotik. Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan bersihkanlah. Manual plasenta : 1.maka placenta harus dilahirkan secara manual 11. 3. Memberikan transfusi darah bila perdarahan banyak.kemudian coba melahirkan plasenta dengan menggunakan peregangan tali pusat terkendali 10. pastikan bahwa kandung kencing kosong dan tunggu terjadi kontraksi. 2.maka berikan oxytocin 10 IU IM. Bila placenta tidak lahir dalam 30 menit sesudah lahir. Coba 1-2 kali dengan perasat Crede. 2. . Tepi plasenta dilepas – disisihkan dengan tepi jari-jari tangan – bila sudah lepas ditarik keluar.atau terjadi perdarahan sementara placenta belum lahir. Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam keadaan suci hama. Bila dengan tindakan tersebut placenta belum lahir dan terjadi perdarahan banyak. Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta). Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri.

polip plasenta dan terjadi degenerasi ganas korio karsinoma. Darah ibu yang berada di ruang interviller berasal dari spiral arteries yang berada di desidua basalis. sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta). atau b). Damanhuri Barabai. beratnya rata-rata 500 gram. Darah tersebut membasahi semua vili koriales dan kembali perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua. selama 3 tahun (1997-1999) didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta. mengeluarkan sisa metabolisme janin. yaitu vili koriales yang berasal dari korion. Plasenta harus dikeluarkan karena dapat menimbulkan banyak perdarahan. Sedangkan sisa plasenta (rest placenta) merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam rongga rahim yang dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini (early postpartum hemorrhage) atau perdarahan post partum lambat (late postpartum hemorrhage) yang biasanya terjadi dalam 6-10 hari pasca persalinan. serta penyalur berbagai antibodi ke janin. b. disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III. Plasenta berfungsi: sebagai alat yang memberi makanan pada janin. dan sebagian kecil dari bagian ibu yang berasal dari desidua basalis. B. pangkal dari kotiledon-kotiledon janin. Sebab-sebabnya plasenta belum lahir bisa oleh karena: a). C.5 cm. dapat terjadi plasenta inkarserata. Bila diteliti benar.ANATOMI Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15 sampai 20 cm dan tebal lebih kurang 2. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena: a.Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri. Dari sejumlah kasus tersebut.A.Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva).Plasenta melekat erat pada dinding uterus karena vili korialis menembus desidua sampai miometrium. infeksi karena sebagai benda mati. memberi zat asam dan mengeluarkan CO2. maka plasenta sebenarnya berasal dari sebagian besar dari bagian janin. terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya.sampai di bawah peritoneum (plasenta akreta-perkreta).68%) berakhir dengan kematian ibu. Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar. Pada sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate. terdapat satu kasus (0. . Apabila plasenta belum lahir sama sekali. akan tetapi belum dilahirkan. jika lepas sebagian.INSIDEN Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%–60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia.PENGERTIAN RETENSIO PLASENTA Retensio plasenta (placental retention) merupakan plasenta yang belum lahir atau terlambatnya dalam kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi setelah janin lahir. membentuk hormon. Insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16%–17% Di RSU H. tidak terjadi perdarahan. Tali-pusat berhubungan dengan plasenta biasanya di tengah (insertio sentralis). Plasenta belum lepas dari dinding uterus. Plasenta sudah lepas.

yang mengurangi permukaan tempat melekatnya plasenta. yaitu anomali dari uterus atau serviks. ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari ketebalan kurang dari 1 cm menjadi > 2 cm). Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase.Kelainan dari uterus sendiri. serta pembentukan constriction ring. Dengan kontraksi yang berlangsung kontinyu.Fase kontraksi. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta. 2.Fase pengeluaran. yaitu: 1. uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat. Sesudah berkontraksi. Pengecian mendadak uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta. uterus secara spontan berkontraksi. 3. Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. dimana plasenta bergerak meluncur. miometrium menebal secara progresif. bukan sebab. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat oto miometrium yang saling bersilangan. Umumnya.Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina. dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu.ETIOLOGI DAN PATOGENESIS Setelah bayi dilahirkan. Kadang-kadang. dan kavum uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat mengeluarkan plasenta secara spontan.D. dibutuhkan tindakan artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan plasenta. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase kontraksi. Namun. namun dinding uterus tempat plasenta melekat masih tipis. Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga persalinan.Fase laten. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus. kontraksi yang tetanik dari uterus. melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal.Fase pelepasan plasenta. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti. Akibatnya sobek di lapisan spongiosa. . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Plasenta : 1. fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari dinding uterus dan lepas. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan. plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal. Saat plasenta bergerak turun. daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga rahim. serta tali pusat yang keluar lebih panjang. 89% plasenta lepas dalam waktu satu menit dari tempat implantasinya. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan akibat. Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat. 4. ditandai oleh menebalnya duding uterus yang bebas tempat plasenta. Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang mendadak. sel miometrium tidak relaksasi. kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus.

Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah. Pada keadaan yang disertai dengan infeksi. Ini penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor lain.Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta.Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta.GEJALA KLINIS a.Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time (PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc. tali pusat putus. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.Kelainan dari plasenta.PEMERIKSAAN PENUNJANG a. melihat adanya trombositopenia. tekanan darah dan saturasi oksigen.Anamnesis.Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Hct). leukosit biasanya meningkat. Monitor jantung. jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. versi ekstraksi. meliputi pertanyaan tentang periode prenatal. b. d. pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta. apabila memungkinkan). perforasi. g. dan adanya plasenta akreta.Resusitasi. c. f. seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi. dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir. . retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir. G. meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase.Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. nadi. F. E. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan. dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi. b.Drip oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0. e. b. serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. implantasi di cornu.PENATALAKSANAAN Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah: a.Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan.2.Pada pemeriksaan pervaginam. serta jumlah leukosit.Kesalahan manajemen kala tiga persalinan . 3. misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa. plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus. Pemberian oksigen 100%. serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. paritas.Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews.

3. 3. Kejadian retensio plasenta berkaitan dengan : 1. Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ. 4. 2. PLASENTA MANUAL Plasenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio plasenta. 1. 4.H. Eknik operasi plasenta manual tidaklah sukar. Sebaiknya dengan narkosa Desinfektan untuk genitalia eksterna.Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan. Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam. sehingga perdarahan tidak terjadi. Seandainya masih terdapat kesempatan penderita retensio plasenta kdapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat. Pada pertolongan persalinan dengan narkosa. Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infuse dan . Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah. Maka tangan dikeluarkan bersama dengan plasenta. Kontraksi uterus ditumbulkan dengan memberikan uterotonika.Plasenta manual dengan segera dilakukan : Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang. Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc. Tepi plasenta dilepaskan dengan bagian ulnar tangan kanan sedangkan tangan kiri menahan fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak selanjutnya. Plasenta inkreta dan plasenta perkreta. Persiapan plasenta manual : Peralatan sarung tangan steril . 2. tetapi harus diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita.Sepsis yaitu keadaan menyebarnay mikroorganisme patogen atau toksinnyake dalam darah atau jaringan.Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan : Darah penderita terlalu banyak hilang.Grandemultipara dengan implantasi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive plasenta akreta.KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi meliputi: . Tangan kanan dimasukkan secara obsteris sampai mencapai tepi plasenta dengan menelusuri tali pusat. Setelah seluruh plasenta dapat dilepaskan. Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa plasenta atau membrannya. Perdarahan diobservasi. Bagaimana sikap bidan berhadapan dengan retensio plasenta ? Bidan hanya diberikan kesempatan untuk melakukan plasenta manual dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan teriadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). Desinfektan untuk genitalia eksterna Teknik.Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.

Pada saat itu umumnya uterus sudah berkontraksi sehingga apeks dapat terjangkau. perimetritis. sebaiknya dibiarkan saja. Adanya selaput foetus di dalam cervix cenderung menghambat kontraksi cervix.memberikan cairan dan dalam persalinan diikuti oleh tenaga yang dapat memberikan pertolongan darurat. distokia dan kondisi patologik lainnya. Walaupun selaput foetus sudah dapat dilepaskan dalam waktu 12 sampai 24 jam sesudah partus. Pemeriksaan terhadap selaput foetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensio atau tidak. Pelepasan secundinae sebaiknya jangan dilakukan sebelum 72 jam sesudah partus. penyingkiran plasenta harus dilakukan secara halus dan cepat dalam waktu 5 sampai 20 menit dengan cara higienik dan frekuensi pemasukkan dan pengeluaran tangan sesedikit mungkin. Penyakit-penyakit tersebut adalah penimbunan cairan di dalam selaput foetus. vaginitis nekrotik. Pada kasus yang berat. retensio secundinae dapat disertai dengan mastitis. jangan dipaksakan. metritis septik.EFEK DAN MANIPULASI RETENSI PLASENTA (RETENSIO SECUNDINAE) Retensio secundinae terjadi pada 69 % sapi dari suatu kelompok ternak tersebut yang diberikan makanan dengan kadar karotin yang. Anastesi epidural sangat membantu mencegah pengejanan dan defekasi. Kejadian retensio secundinae berbeda-beda antara satu kelompok ternak dengan kelompok lainnya pada waktu yang berbeda. peningkatan suhu tubuh atau gejala septikemia yang lain. Kelemahan dan atoni uterus karena berbagai penyakit dapat menyebabkan retensio secundinae. Kadar vitamin A yang rendah memudahkan terjadinya infeksi. Pada kasus retensio secundinae kerugian yang diderita peternak bersifat ekonomis karena produksi susu agak menurun dan kelambatan involusi dan konsepsi. torsio uteri. Gejala retensio secundinae cukup jelas. Pemeriksaan melalui uterus harus dilakukan dalam waktu 24 sampai 36 jam postpartum. Retensio secundinae jarang terjadi pada sapi potong dibandingkan dengan sapi perah yang dipelihara di kandang untuk waktu lama. metritis abortus dan retensio secundinae. 1971). Apabila kedapatan bahwa cervix sudah menutup dan pelepasan plasenta sulit dilakukan. kembar. abortus atau distokia. Cara yang masih populer di kalangan dokter hewan praktek adalah menyingkirkan selaput foetus secara manual dan memberikan obat seperti antibiotika dan preparat hormon. paresis pueruralis dan acetonameia. yaitu sebagian selaput foetus menggantung keluar dari vulva 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal. Sekali terjadi retensio pada seekor sapi. monstrositosis. Avitaminose-A menyebabkan hiperkeratosis. Berbagai cara dan sarana telah dipakai untuk menangani retensio secundinae. angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi satu sampai dua persen. Apabila ditangani dengan segera dan baik maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Kadang-kadang selaput foetus tidak keluar melewati vulva tetapi menetap di dalam uterus dan vagina. tetapi terbaik dilakukan sesudah 24 jam sampai 48 jam postpartus. Cervix biasanya masih membuka dan tangan dapat dimasukkan ke uterus tanpa menimbulkan trauma. dan hanya dapat diberikan preparat antibiotika dan hormon (Robert. Pada kasus yang tidak terkomplikasi. Kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. kecuali apabila terjadi anorexia. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak ada selaput foetus di dalam cervix. tetapi terbaik dilakukan sesudah 24 jam sesudah partus. peritonitis. Pelepasan plasenta foetalis dilakukan dengan menempatkan tangan diantara endometrium dan . terdapt 20 persen kemungkinan bahwa sapi tersebut menderita lagi retensio pada partus berikut. Kapan pun waktunya. I.

Semua selaput foetus harus dikeluarkan secara keseluruhan tanpa meninggalkan sisa di dalam uterus karena dapat berfungsi sebagai tempat infeksi. Gerakan ini dibantu dengan tarikan oleh tangan yang lain terhadap selaput foetus yang terdekat. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Kotiledon dekat dengan cervix dilepaskan terlebih dahulu dari karunkel dan dengan tangan lain dari luar plasenta ditegangkan sewaktu pelepasan serta pengupasan kotiledon diteruskan ke bagian tengah cornue uteri mendekati cervix dan membantu pelepasan kotiledon di daerah tersebut. mengupas. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir. Chlortetracyclyn (Aureomycin) atau Tetracyclin kini terbukti lebih efektif bila diberikan secara lokal intrauterin dibandingkan dengan penicillin. Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam anak lahir. Dapat pula diberikan dalam bentuk bolus RETENSIO PLASENTA Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih 500 ml selama 24 jam setelah anak lahir. streptomycin atau preparat-preparat sulfa. dan dengan ibu jari dan jari telunjuk kedua struktur itu dipisahkan secara hati-hati dengan gerakan menggulung. 2. Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh persalinan. Biasanya hari ke 5-15 post partum. Pembagian perdarahan post partum : 1. Mencegah timbulnya syok.chorion di ruang interkotiledoner dan kotiledon foetal serta karunkelnya dipegang secara individual. Preparat antibiotika berspketrum luas dalam berbagai nama kini dapat diperoleh di pasaran. 3. Di samping itu uterus di bawah pengaruh estrogen dapat lebih mengatasi infeksi.Pemberian preparat antibiotika berspektrum luas seperti Oxytetracyclin (Terramycin). Preparat-preparat hormon telah dipakai secara meluas pada pengobatan retensio secundinae. 2. Perdarahan post partum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi selama 24 jam setelah anak lahir. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum : 1. mendorong dan menekan. Menghentikan perdarahan. Penyuntikan oxytocin segera sesudah partus akan mencegah terjadinya retensio. Estrogen mempengaruhi uterus dengan meningkatan tonus dan aktivitas muskulernya. Berdasarkan . Antibiotika tersebut diberikan dalam jumlah satu sampai 3 gram di dalam larutan 100 sampai 300 ml air suling atau NaCl fisiologik. ditekan. serta relaksasi cervix. Mengganti darah yang hilang. Manfaat pemberian hormon ini sesudah 24 sampai 48 jam postpartum masih menjadi tanda tanya.

4. forniks dan rahim. .Pre eklampsia dan eklampsia. Melakukan eksplorasi kavum uteri untuk mencari : . .Sisa plasenta dan ketuban. 3. uterus couvelair pada solusio plasenta. Cara membuat diagnosis perdarahan post partum : 1.Kelainan pada uterus seperti mioma uterii. Etiologi perdarahan post partum : 1. serviks.8%). 4. hemoglobin. Oleh karena itu penting sekali . Penyakit darah Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia yang sering dijumpai : . Atoni uteri (50-60%). . vagina. clot observation test (COT). 2.Uterus terlalu regang dan besar misalnyaa pada gemelli. 4. .Robekan rahim. 5. Laserasi jalan lahir (4-5%). Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri : . 3. dan lain-lain. Palpasi uterus : bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uterus. vagina dan varises yang pecah. .Umur .Perdarahan yang banyak.Partus lama dan partus terlantar. hepatitis dan syok septik. Jalan lahir : robekan perineum. Memeriksa plasenta dan ketuban : apakah lengkap atau tidak. Sisa plasenta dan selaput ketuban.Kematian janin yang lama dalam kandungan. Pemeriksaan laboratorium : periksa darah.Infeksi.Paritas .Solusio plasenta. . Kelainan darah (0. hidramnion atau janin besar. .5-0. . . 2. 2. Sisa plasenta (23-24%). Inspekulo : untuk melihat robekan pada serviks.penyebabnya : 1. Retensio plasenta (16-17%). .Plasenta suksenturiata. 3. 5. Atoni uteri. Perdarahan post partum adakalanya merupakan perdarahan yang hebat maupun perdarahan perlahan-lahan tetapi terus-menerus.Faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi.Obstetri operatif dan narkosa. Keduanya dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan dapat menjadi syok.

kepala janin mulai membuka vulva. golongan darah dan bila mungkin tersedia donor darah.Menyangka akan terjadi perdarahan post ppartum. Pengeluaran plasenta dengan tangan segera sesudah janin lahir dilakukan bila : . . . Jika disebabkan oleh luka-luka jalan lahir. dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan penguat rahim (uterotonika). . . Beberapa menit setelah janin lahir.Mengeluarkan plasenta dengan tangan. kadar hemoglobin.Riwayat perdarahan post partum pada perssalinan yang lalu.Memberikan oksitosin. Sambil mengawasi persalinan. Jika masih ada sisa-sisa plasenta yang agak melekat dan masih terdapat perdarahan segera lakukan utero-vaginal tamponade selama 24 jam.Melakukan tindakan obstetri dalam narkossa. serta pengawasan tekanan darah. biasanya mulai terjadi proses pelepasan plasenta disertai sedikit perdarahan. . . diikuti pemberian uterotonika dan antibiotika selama 3 hari berturut-turut dan pada hari ke-4 baru dilakukan kuretase untuk membersihkannya. . infus dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan 1 ampul methergin atau kombinasi dengan 5 satuan sintosinon (sintometrin intravena).Perdarahan banyak (lebih 500 cc). Setelah ketuban pecah. Bila plasenta sudah lepas dan turun ke bagian bawah rahim maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta (his pengeluaran plasenta).Mengeluarkan plasenta menurut cara Credee (1-2 kali). Hasilnya biasanya memuaskan. luka segera dijahit dan perdarahan akan berhenti.Retensio plasenta. mengobati perdarahan kala uri dan mengobati perdarahan post partum pada atoni uteri. Cara mencegah perdarahan post partum yaitu memeriksa keadaan fisik. keadaan umum.pada setiap ibu bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin. kontraksi uterus dan perdarahan selama 1 jam. Cara mengobati perdarahan kala uri : . nadi dan pernapasan ibu. Penanganan Perdarahan Post Partum __________________________________ Penanganan perdarahan post partum berupa mencegah perdarahan post partum.

d. Menurut tingkat perlekatannya : a. 2. Tahap I : perdarahan yang tidak banyak dapat diatasi dengan memberikan uterotonika. . Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata). Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.Perasat (manuver) Zangemeister. Tahap III : bila belum tertolong maka usaha terakhir adalah menghilangkan sumber perdarahan dengan 2 cara yaitu meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi. .Kompresi bimanual.Perasat (manuver) Fritch. Penyebab retensio plasenta : 1.Jepit arteri uterina dengan cara Henkel. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa. . . c. . Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan. 3.Pengobatan perdarahan post partum pada atoni uteri tergantung banyaknya perdarahan dan derajat atoni uteri yang dibagi dalam 3 tahap : 1. Ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. 2. Retensio Plasenta _________________ Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam setelah bayi lahir. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan.Tamponade utero-vaginal. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Tahap II : bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak. selanjutnya berikan infus dan transfusi darah lalu dapat lakukan : .Kompresi aorta. b. mengurut rahim (massage) dan memasang gurita. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. .

Pembagian inversio uteri : 1. 4.Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila plasenta belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai perdarahan. Uterus yang lembek. Penyebab inversio uteri : 1. Tepi plasenta dilepas . 2. lemah. Tindakan : cara Crade yang berlebihan. Coba 1-2 kali dengan perasat Crede. tipis dindingnya. 2. kelemahan alat kandungan. Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan bersihkanlah. Spontan : grande multipara. Tindakan penanganan retensio plasenta : 1. Memasang infus cairan dekstrose 5%. . Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri : 1. tarikan tali pusat. manual plasenta yang dipaksakan. 3. 3. atoni uteri. Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi. 2. 2.bila sudah lepas ditarik keluar. Manual plasenta : 1. Tarikan tali pusat yang berlebihan. Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam keadaan suci hama. Memberikan transfusi darah bila perdarahan banyak.disisihkan dengan tepi jari-jari tangan . Memberikan obat-obatan misalnya uterotonika dan antibiotik. Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta). tekanan intra abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk). 2. Inversio uteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri namun belum keluar dari ruang rongga rahim. 3. Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri. Inversio Uteri _______________ Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. perlekatan plasenta pada dinding rahim. Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina. Inversio uteri sedang : terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina. tangan kanan dimasukkan dalam rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun.

Pemeriksaan dalam : . Paritas ibu yang bersangkutan mempengaruhi morbiditas dan mortalitas ibu dan anak. Bila telah terjadi maka terapinya : . . Frekuensi inversio uteri : angka kejadian 1 : 20. perdarahan yang banyak sampai syok.000 persalinan. 2.2002). PARITAS vs PERDARAHAN POSTPARTUM 1. jangan terlalu mendorong rahim atau melakukan perasat Crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam menarik tali pusat serta melakukan pengeluaran plasenta dengan tajam. . 2000.Segera itu segera lakukan reposisi kalau perlu dalam narkosa. Paritas a. Cahyono.Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik). Diagnosis dan gejala klinis inversio uteri : 1.Bila tidak berhasil maka lakukan tindakan operatif secara per abdominal (operasi Haultein) atau per vaginam (operasi menurut Spinelli). berikan infus dan transfusi darah serta perbaiki keadaan umum.akan tetapi risiko ini tidak dapat di hindari. 1998). . Paritas adalah keadaan pada wanita yang telah melahirkan janin yang beratnya 500 gram atau lebih. Paritas adalah seseorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat hidup (Harjono. 2000) b. Kemudian risiko itu menuru pada paritas kedua dan ketiga serta meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya (Mochamad. . Risiko terhadap ibu dan anak pada kelahiran bayi pertama cukup tinggi. yaitu 2-4 kali . Pencegahan : hati-hati dalam memimpin persalinan.Bila komplit.Bila ada perdarahan atau syok. Apalagi bila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis. Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat. Pengertian Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viabel) (Wiknjosastro. Patulous kanalis servikalis. 2.3. Penanganan inversio uteri : 1.Di luar rumah sakit dapat dibantu dengan melakukan reposisi ringan yaitu dengan tamponade vaginal lalu berikan antibiotik untuk mencegah infeksi. .Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam. mati atau hidup dan apabila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur gestasi 22 minggu terhitung dari hari pertama haid terakhir yang normal (UNPAD. Jenis 1) Nullipara Seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kali 2) Primipara Wanita yang telah melahirkan bayi yang viabel untuk pertama kalinya 3) Multipara (pleuripara) Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel beberapa kali. di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak.1996).

1998). Pelepasan ini dapat dimulai dari tengah (sentral menurut Schultze). uterus masih mengadakan kontraksi yang mengakibatkan penciutan cavum uteri. Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml. Manuaba. 1997). berkeringat dingin. 2002). atau pinggir plasenta (marginal menurut Mathews-Duncan). Perdarahan postpartum adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah lahirnya bayi (Pritchard. Llewellyn. Apabila sebagian plasenta lepas sementara sebagian lagi belum terlepas.60% Retensio plasenta 16% . 1998).17% Plasenta restan 23% . sedangkan tentang jumlah perdarahan. biasanya antara hari ke-5 sampai 15 post partum. Wiknjosastro. tempat implantasi plasenta. Akibatnya. Definisi yang paling umum diterima dari perdarahan post partum adalah kehilangan darah yang melebihi 500 ml segera setelah partus. Namun bila kehilangan darah diukur dengan baik.8% Penyebab perdarahan post partum berdasarkan waktu terjadinya adalah sebagai berikut (Manuaba. Sedangkan cara yang kedua ditandai dengan adanya perdarahan pervaginam apabila plasenta mulai terlepas.5% Kelainan darah 0. bila lebih maka tergolong patologik ( Sarwono. di sebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital (pasien mengeluh lemah. kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah (Sarwono.sinus maternalis di tempat insersinya pada dinding uterus terbuka. limbung. tekanan darah sistolik <90>100x/menit. hiperpnea. menggigil. plasenta akan lepas dari tempat implantasinya. 2. setelah janin lahir. 2001). Oleh karena itu. 5) Great grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel 10 kali atau lebih. Perdarahan postpartum bisa dikendalikan melalui kontraksi dan retraksi serat-serat . kadar Hb <8>(Prawiroharjo. sebab kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menekan pambuluh-pembuluh darah yang terbuka sehingga lumennya menutup. yaitu : 1) Kehilangan rata-rata darah pada persalinan melalui vagina berjumlah hampir 600 ml 2) Hanya sekitar 5% wanita yang kehilangan darah lebih dari 1000 ml 3) Perkiraan darah yang hilang selalu kira-kira separuh dari kehilangan darah yang jumlahnya diukur dengan baik b.2002). Selanjutnya apabila sebagian plasenta sudah lahir. Biasanya perdarahan itu tidak banyak.1997). atau serempak dari tengah dan dari pinggir plasenta.5% .4) Grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viabel lima kali atau lebih. Cara yang pertama ditandai oleh makin panjang keluarnya tali pusat dari vagina ( tanda ini di keluarkan oleh Ahlfeld) tanpa adanya perdarahan pervaginam. maka akan terjadi perdarahan karena uterus tidak bisa berkontraksi dangan baik pada batas antara dua bagian itu.1998). 1) Perdarahan post partum primer Beberapa penyebab dari perdarahan post partum primer adalah sebagai berikut : a) Atonia Uteri Atonia uteri adalah ketidakmampuan rahim berkontraksi dengan baik setelah persalinan (Friedman. temuan berikut lebih diobservasi secara konsisten. (UNPAD. 2001. Atonia uteri 50% . 1998. Etiologi Berdasarkan penyebabnya diperoleh sebaran sebagai berikut (Mochtar. 2) Perdarahan post partum sekunder (late post partum hemorrhage) Yang terjadi setelah 24 jam.29% Laserasi jalan lahir 4% . 1998. Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : 1) Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage) Yang terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir. Fisiologi perdarahan postpartum Umumnya pada persalinan yang berlangsung normal. Pengertian Perdarahan postpartum adalah perdarahan setelah bayi lahir. (William. Terbanyak dalam 2 jam pertama. Perdarahan Post Partum a.0. 1997). 1991). pada pelepasan plasenta selalu diikuti oleh perdarahan karena sinus. c. tetapi sebagian kecil masih melekat pada dinding uterus maka dapat timbul perdarahan pada masa nifas (Sarwono.

1998). induksi persalinan. Penyebab retensio plasenta adalah : (1) Fungsionil (a) His kurang kuat (b) Plasenta sukar terlepas karena : . Paritas tinggi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya perdarahan postpartum ( Pritchard. 1998). Atonia uteri pada ibu dengan paritas tinggi terjadi karena kondisi miometriunm dan tonus ototnya sudah tidak baik lagi sehingga menimbulkan kegagalan kompresi pembuluhdarah pada tempat implantasi plaseta yang akibatnya terjadi perdarahan postpartum. kehamilan kembar dan polihidramnion cenderung mempunyai daya kontraksi yang jelek (Depkes RI. 1999). (4) Kelelahan akibat partus lama Bukan hanya rahim yang lelah cenderung berkontraksi lemah setelah melahirkan tetapi juga ibu yang kelelahan kurang mampu bertahan terhadap kehilangan darah (5) Pimpinan persalinan yang salah dalam kala uri Kesalahan yang paling sering adalah mencoba mempercepat kala III. (3) Faktor uterus (Friedman. (a) Riwayat perdarahan post partum (b) Eklampsi. hepatitis. Dorongan dan pemijatan uterus mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta dan dapat menyebabkan pemisahan sebagian plasenta yang mengakibatkan perdarahan. Wiknjosastro. atonia uteri dan perdarahan post partum. (a) Anemia (b) Penyakit-penyakit lain. misalnya kencing manis. gangguan terhadap kemampuan uterus berkontraksi juga bisa disebabkan oleh sisa plasenta atau selaput ketuban dan kandung kemih yang penuh. bedah sesar. Terjadi relaksasi miometrium yang berlebihan. yang menembus lebih dalam ke dalam miometrium tetapi belum menembus serosa. berseptum) (b) Mioma uterus (c) Riwayat tindakan pada uterus yaitu tindakan bedah sesar. 1999). DIC (Dissemined Intra Vascular Coagulation/pembekuan darah intra vaskuler merata). (3) Kerja uterus tidak efektif pada kala I dan kala II.1991). Kontraksi dan retraksi ini menyebabkan terlipatnya pembuluh-pembuluh darah sehingga aliran darah ke tempat plasenta menjadi terhenti. Hal ini disebabkan pada ibu dengan paritas tinggi yang mengalami persalinan cenderung terjadi atonia uteri. (6) Perlekatan plasenta terlalu erat Seperti pada plasenta akreta partialis dimana kontraksi uterus terganggu. (2) Peregangan uterus yang berlebihan (over distensi) Uterus yang mengalami peregangan secara berlebihan akibat keadaan-keadaan seperti bayi besar. 1999). b) Retensio Plasenta Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir setengah jam sesudah bayi lahir (Wiknjosastro. (8) Faktor medis (Depkes. 2002. (9) Faktor obstetrik lainnya (Depkes. Manuaba.Mempunyai inersi di sudut tuba . kemungkinan besar akan diikuti oleh kontraksi serta retraksi miometrium yang jelek dalam kala III.Berbentuk plasenta membranasea atau plasenta anularis . dimana vili korealis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke miometrium (b) Plasenta akreta. 1998. operasi uterus yang . partus presipitatus. kegagalan kontraksi serta retraksi. (a) Kelainan bentuk uterus (bicornus. Kegagalan mekanisme akibat gangguan fungsi miometrium dinamakan atonia uteri dan keadaan ini menjadi penyebab utama perdarahan postpartum (Oxorn.Berukuran sangat kecil Plasenta yang sukar lepas karena sebab-sebab tersebut diatas disebut plasenta adesiva (2) Patologi anatomis (Mochtar. (7) Anestesi Anestesi inhalasi yang dalam dan lama dengan menggunakan bahan seperti halothan atau ether merupakan faktor yang sering menjadi penyebab. korioamnionitis atau endometritis. 2002) (a) Plasenta inkreta. dan hemoglobinopati. Adapun faktor predisposisinya antara lain sebagai berikut : (1) Multiparitas Uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efisien dalam semua kala persalinan. yang menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim.miometrium.1990). (c) Plasenta perkreta.

sehingga kemungkinan terjadinya laserasi lebih kecil (Suara Karya. sebuah kotiledon atau suatu fragmen plasenta yang tertinggal pada dinding uterus dapat menyebabkan perdarahan post partum. Retensio sebagian atau seluruh plasenta dalam rahim akan mengganggu kontraksi dan retraksi. bila terjadi laserasi yaitu : (1) Interval yang lama antara dilakukannya episiotomi dan kelahiran anak. abortus dan dilakukan kuretase yang bisa menyebabkan implantasi plasenta abnormal. Selain itu faktor-faktor lain yang menyebabkan kehilangan darah secara berlebihan. 1998). c) Plasenta Restan Adanya sisa plasenta yang sudah lepas tapi belum keluar ini akan menyebabkan perdarahan yang banyak. vagina dan serviks (3) Uterus yang ruptur Faktor-faktor predisposisi : (1) Anak besar (2) Persalinan dengan tindakan (operative delivery) seperti ekstraksi vakum. . yang akan menghalangi plasenta keluar (Mochtar. yang disertai penundaan terlalu lama mengeksplorasi uterus. (Hacker. karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III. sehingga vaskularisasi menjadi berkurang. menyebabkan sinus-sinus tetap terbuka. (5) Kemungkinan terdapatnya beberapa tempat cidera tidak terpikirkan (6) Ketergantungan pada obat-obat oksitosik. Tidak ada hubungan antara banyaknya bagian plasenta yang masih melekat dengan beratny perdarahan. (1) Lokasi episiotomi (2) Vulva. plasenta akan mengadakan perluasan implantasi dan vili khorialis akan menembus dinding uterus lebih dalam lagi sehingga akan terjadi plasenta adhesiva sampai perkreta. dan menimbulkan perdarahan post partum. 2000). Jalan lahir harus diinspeksi sesudah tiap kelahiran selesai sehingga sumber perdarahan bisa dikendalikan. (2) Perbaikan episiotomi setelah bayi dilahirkan tanpa semestinya yaitu ditunggu terlalu lama. Pada retensio plasenta baik seluruh atau sebagian lobus suksenturiata. Ashar Kimen mendapatkan angka kejadian tertinggi retensio plasenta pada multipara. (2) Umur Makin tua umur ibu maka akan terjadi kemunduran yang progresif dari endometrium sehingga untuk mencukupi kebutuhan nutrisi janin diperlukan pertumbuhan plasenta yang lebih luas. Hal yang perlu diperhatikan adalah derajat atau dalamnya perlekatan plasenta tersebut (Hacker. Bagian plasenta yang masih melekat melintangi retraksi miometrium dan perdarahan berlangsung terus sampai sisa organ tersebut terlepas serta dikeluarkan (Wiknjosastro.mencapai kavum uteri. (3) Persalinan pervaginam dengan riwayat bekas seksio sesaria dan operasi lain pada uterus (4) Manipulasi intrauterine (5) Persalinan yang belum berdilasi maksimal. Faktor-faktor predisposisi terjadinya retensio plasenta (1) Paritas Ibu Pada multipara akan terjadi kemunduran dan cacat pada endometrium yang mengakibatkan terjadinya fibrosis pada bekas implantasi plasenta pada persalinan sebelumnya. (4) Pemeriksaan inspeksi tidak dilakukan pada serviks dan vagina bagian atas. terjadinya laserasi jalan lahir semakin berkurang karena disebabkan makin tingginya paritas jalan lahir makin longgar. embriotomi dan ekstraksi cunam. Tempat-tempat perdarahan tersebut mencakup. Hubungan laserasi dengan paritas adalah semakin meningkatnya paritas. 2001). Sebabnya bisa karena atonia uteri. Begitu bagian plasenta terlepas dari dinding uterus. 2001). 2002). perdarahan terjadi dari daerah tersebut. 2004). d) Laserasi Jalan Lahir atau trauma jalan lahir Perdarahan yang cukup banyak dapat terjadi dan robekan yang dialami selama proses melahirkan baik yang normal ataupun dengan tindakan. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan janin. (3) Pembuluh darah yang putus pada ujung episiotomi tidak berhasil dijahit. sedangkan Puji Ichtiarti mendapatkan kejadian retensio plasenta tertinggi pada paritas 4-5 (Cahyono.

Terkadang perdarahan tertunda.1991). Pada keadaan tersebut. bagian yang tertinggal menggalami nekrosis dengan pembentukan fibrin . menyebabkan perdarahan yang tidak dapat dihentikan dengan yang biasanya dipakai untuk mengendalikan perdarahan. Jarang. atau dapat menerobos ke atas. 2) Perdarahan Post Partum Sekunder Terkadang perdarahan uterus yang serius terjadi bukan hanya pada 24 jam pertama tetapi juga setelah itu. Salah satu teori etiologik memperkirakan bahwa bahan tromboplastik yang timbul dari degenerasi dan otolisis desidua serta plasenta dapat memasuki sirkulasi maternal dan menimbulkan koagulasi intravaskuler serta penurunan fibrinogen yang beredar.e) Kelainan faktor bekuan darah Afibrinogemi atau hipofibrinogemi dapat terjadi setelah abrupsio / solusio plasenta. karena ketidakmam-puannya untuk membentuk bekuan darah yang stabil di tempat pelekatan plasenta (Hacker. dapat terjadi perdarahan banyak. Keadaan tersebut biasanya terjadi setelah perlukaan pada pembuluh darah tanpa adanya laserasi jaringan permukaan. Bila perdarahan terus terjadi. dan dapat terjadi pada kelahiran spontan maupun kelahihan operatif. mencapai bagian bawah diafragama ( Pritchard. . membentuk hematoma vulva dan hematoma vagina. Hematoma puerpuralis Perdarahan mungkin terjadi kearah jaringan ikat di bawah kulit yang menutupi genitalia eksterna atau di bawah mukosa vagina.biasanya terjadi pada akhir minggu pertama atau pada postpartum lanjut. Perdarahan sering kali disebaakan karena: a. hematoma membentuk pembengkakan yang mengarah ke bagian atas saluran vagina dan menutupi hampir seluruh lumennya. Pada waktu polip terlepas dari miometrium. Tertinggalnnya sebagian plasenta Biasanya. Pada permulaannya. 2001). Pasien dengan masalah pembekuan dapat menimbulkan perdarahan postpartum. janin mati yang lama di dalam rahim dan pada emboli cairan ketuban. Subinvolusio pada tempat implantai plasenta b. mungkin sebagai akibat terbukanya pembuluh darah yang semula mengalami nekrosis akibat penekanan yang lama. bahwa pembuluh darah yang robek tersebut berada di atas fascia pelvis. c. Kegagalan tersebut yaitu kegagalan pada mekanisme pembekuan. hematoma terjadi diatasnya. dan kemudian membentuk apa yang disebut polip plasenta. retensio uteri. Kelainan bekuan periportal adalah faktor yang beresiko tinggi pada perdarahan masa nifas tetapi umumnya sangat jarang terjadi. perdarahan tersebut menerobos ke arah jaringan retroperitoneal dan dengan demikian membentuk suatu tumor yang dapat diraba diatas ligamentum poupart.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->