PASAL-PASAL DALAM UUD 1945 YANG MENGATUR TENTANG HAM

1) Pasal 27 UUD 1945, berbunyi: (1) “Segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjungjung hukum dan pemerinatah itu dengan tidak ada kecualinya”. (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. (3) “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.” 2) Pasal 28 UUD 1945 ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang” 3) Pasal 28 A Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya 4) Pasal 28 B (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (2) Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi 5) Pasal 28 C (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. (2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya 6) Pasal 28 D (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum (2) Setiap orang berhak untuk berkerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja (3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalm pemerintahan

(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan 7) Pasal 28 E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. 8) Pasal 28 F Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. 9) Pasal 28 G (1) Setiap orang berhak atas perlindung diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. 10) Pasal 28 H (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan (3) Setiap orang berhak atas imbalan jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih sewenang-wenang oleh siapapun. 11) Pasal 28 I (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang

berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. (2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yanbg bersifat diskriminatif atas dasar apaun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. (4) Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara terutama pemerintah (5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asaso manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokrastis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. 12) Pasal 28 J (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (2) Dalam menajlan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimabangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrastis. 13) Pasal 29 (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk berinadah menurut agama dan kepercayaannya itu. 14) Pasal 30 ayat (1) (1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. 15) Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. 16) Pasal 32 AYAT (1) (1) Negara mamajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Bopeng hitam orde baru dengan serta merta disulap menjadi tidak nampak.1998 tidak berarti jatuhnya orde baru tidaklah diragukan oleh publik. Tentu saja timbul keheran-heranan dari banyak kalangan : Mengapa Suharto dan kawan-kawan sangat sukar diajukan ke pengadilan? * Penghalang jalan ke pengadilan pelanggaran HAM berat masa lampau * Sesungguhnya dari titik pandang politik masalah sukarnya Suharto dan kawankawan diajukan ke pengadilan HAM adalah jelas. 18) Pasal 34 (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. bahkan berteriak reformasi paling keras. sehingga banyak kalangan terkecoh. karena meninggal dunia dan/atau menjadi pikun satu demi satu. Tidak berhenti sampai itu saja. KASUS PELANGGARAN HAM BERAT MENURUT PASAL 28 (i) ayat 1 Masalah. Karena pada waktu itu gelombang semangat reformasi begitu dahsyat. Penyelesaian secara tuntas dan adil kasus pelanggaran HAM berat masa lampau oleh rejim Suharto yang sudah bertumpuk-tumpuk jumlahnya mengalami hambatan serius. yang seharusnya bisa diajukan ke pengadilan makin lama makin habis. korban dan saksi dalam tindak pelanggaran HAM berat. Hal itu dijajakan di media massa sedemikian rupa. mereka menyebar dan menyelinap ke setiap organisasi politik dengan mudah. Sayang hal yang jelas tersebut dijadikan tidak jelas oleh kalangan-kalangan tertentu yang merasa terancam kepentingannya kalau masalah tersebut menjadi jelas. Padahal tokoh-tokoh penting yang terlibat sebagai pelaku. Gebrakan-gebrakan pemerintahan Habibie di bidang politik dan perundangundangan tidak lain hanyalah “upaya” agar mendapat pengakuan sebagai pemerintahan reformis. legislatif dan yudikatif. maka mereka pun menyesuaikan diri ikut hanyut dalam arus gelombang reformasi. Peristiwa tersebut hanya suatu pergantian pimpinan kekuasaan belaka. yaitu karena status quo peta politik dewasa ini tidak memungkinnya hal itu terjadi. (3) Bumi.17) Pasal 33 (1) Perekonomian kekeluargaan disusun sebagi usaha bersama berdasarkan atas azas (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Bahwasanya turunnya Suharto dari panggung kekuasaan pada th. air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. sedang papan bawahnya masih utuh di semua lapangan: eksekutif. Akibatnya bisa kita lihat .

Tidak bisa dibayangkan berapa banyak tokoh-tokoh orba tersangkut dalam kasus pelanggaran HAM dan kasus kriminal KKN yang harus diadili. Bahkan pemberlakuan asas RETROAKTIF secara jelas dikwalifikasikan sebagai PELANGGARAN HAM Dengan demikian kalau tuntutan tanggung jawab Suharto atas pelanggaran HAM berat masa lampau (misalnya yang berkaitan kasus tahun 1965-1966. Bahwasanya Suharto sukar diajukan ke pengadilan adalah juga hasil skenario rekayasa yuridis orde baru. Jadi Suharto tidak hanya sukar diadili atas kejahatan HAM berat masa lalu. yang menetapkan penolakan asas RETROAKTIF. Karena RI adalah negara hukum. para advokat orde baru telah siap dan akan dengan mudah menangkis tuntutan tersebut atas dasar Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945 (disyahkan 18 Agustus 2000). tapi bahkan tidak bisa diadili di Pengadilan HAM. Peraturan Pemerintah.bagaimana kacau balaunya kehidupan parpol-parpol dewasa ini. di mana Pasal 43 ayat 1 memberlakukan asas retroaktif . tapi tidak dalam masalah menghadapi pengadilan HAM. kasus Tanjung Priok dll) diajukan ke pengadilan HAM. Kekuatan Orde baru yang praktis masih utuh di semua lembaga tinggi negara – terutama MPR – dengan sangat lihay dan mulus memenangkan amandemen UUD 1945 dengan masuknya Pasal 28 (i) ayat 1. Keppres dll)? Jadi dengan demikian sesungguhnya semua kasus pelanggaran HAM yang terjadi sebelum terbentuknya (disyahkannya) amandemen UUD 1945 tentang Pasal 28 (i) ayat 1. Memang diantara tokoh-tokoh orde baru terdapat perbedaan-perbedaan tertentu dalam strategi dan taktik untuk tetap berkuasa. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM Ad Hoc. secara hukum tidak bisa diajukan ke pengadilan. Bahkan UU Pengadilan HAM tersebut ab ovo (dari permulaan) batal secara hukum. Perpu. Itulah kesukaran pertama dari spektrum politik makro di Indonesia mengapa Suharto dkk sukar diajukan ke pengadilan. maka aspek yuridislah yang merupakan pilihan tepat dan penting mereka dalam penggarapan untuk membuat rambu-rambu agar pengadilan terhadap Suharto dapat dicegah. . Maka tidak mengherankan dalam situasi di mana peta politik didominasi kekuatan orba betapa sukar Suharto dan kawan-kawan diadili. Sangatlah aneh adalah munculnya UU No. Usaha menyelamatkan Suharto dari tanggung jawab hukum adalah suatu kebijakan yang menyangkut kepentingan mereka bersama juga. tidak tergantung apakah HAM tersebut sifatnya ad hoc atau bukan. yang dengan demikian bertentangan dengan Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945. II) Bukankah UUD mempunyai kekuatan hukum tertinggi atas semua peraturan-peraturan hukum lainnya (UU.

Diponegoro. pakar-pakar hukum peduli keadilan semuanya kena obat bius. padahal jelas hitam di atas putih pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945 mengganjalnya. yang sesungguhnya secara yuridis sudah tidak mungkin. Padahal Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945 secara riil bisa diterapkan untuk menghadang agar kasus pelanggaran HAM masa lalu (Pembunuhan dan penahanan massal 1965-1966. Apakah situasi “kacau” tersebut suatu kebetulan? Ataukah memang suatu rekayasa tingkat tinggi? Ataukah suatu kelalaian dari yang mulia para anggota MPR-DPR? Demikianlah antara lain pertanyaan-pertanyaan semrawut tapi wajar yang timbul di kalangan masyarakat. . Apalagi semua anggota DPR berdasarkan UUD 1945 adalah juga anggota MPR. Di sinilah suatu keanehan yang tidak aneh terjadi di Indonesia. sedang DPR – menciptakan UU Pengadilan HAM. kasus Tanjung Priok. Dengan demikian terkesan para korban dininabobokkan dengan nyanyian harapan penuntutan keadilan atas pelakunya. Sepertinya lembaga-lembaga pembela HAM. teler dan tidak melihat keanehan yang muncul di lapangan hukum di Indonesia. Mengapa kedua lembaga negara tersebut melahirkan peraturan perundang-undangan yang isinya bertolak belakang? MPR – menciptakan Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945. yang memperbolehkan asas Retroaktif. di mana tindak tuna moral dan tuna keadilan secara politis dan yuridis ditunjang penguasa selama 32 tahun. di mana belum ada kepastian hukum.Tetapi mengapa sampai saat ini para peduli dan pembela HAM membiarkan atau membuta adanya masalah kontraversial di dalam perundang-undangan berkaitan kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi masa lampau? Seakan-akan kasus tersebut absolut bisa diajukan ke pengadilan HAM. Yang juga mengherankan adalah tidak adanya kegiatan atau gerakan menentang RANCANGAN Amandemen yang menghasilkan Pasal 28 (i) ayat 1 tersebut ketika itu. kasus Mei 1998 dll) tidak bisa diajukan ke pengadilan. kasus Trisakti. Pada hal proses pembuatan dua dokumen penting yang kontraversial tersebut terjadi di suatu kompleks bangunan MPR-DPR yang jaraknya hanya satu langkah. Misterius sekali timbulnya Amandemen UUD (Pasal 28 i ayat 1) yang kemudian disusul lahirnya UU Pengadilan HAM. di mana hukum dijadikan sarana untuk menggaruk kekayaan (ingat ungkapan “UUD = ujung-ujungnya-duit”). sehingga para pelanggar HAM bebas dari tanggung jawab hukum dan bersamaan dengan itu impunity terus berdominasi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. yang melarang azas Retroaktif. Kasus Jl.

Kalau hal ini tidak diterima oleh MPR. Tapi mengingat moral kebanyakan para birokrat sudah terperosok ke dalam kubangan budaya KKN. sepanjang menyangkut masalah pelanggaran HAM BERAT. Maka perlu usaha gebrakan untuk mengadakan amandemen terhadap pasal 28 (i) ayat 1 tersebut: cukup dengan penambahan kata-kata “kecuali mengenai pelanggaran HAM berat. sebab dengan Surat Keterangan Dokter saja sudah cukup untuk mencegah diajukannnya Suharto ke meja hijau . maka akan jelaslah di mana MPR berdiri menghadapi masalah keadilan bagi korban HAM masa lampau dan untuk kepentingan siapa MPR sesungguhnya melakukan fungsinya. Dalam peta politik yang penuh rekayasa dewasa ini pertanyaan pemimpi di siang bolong di atas tidak mungkin akan mendapat jawaban yang sesuai dengan keadilan. Tidak perlu heran kalau Menteri Pertahanan (Menhan) memberi peringatan kepada Tim Penyelidikan Kasus Penghilangan Orang Tahun 1997-1998 Komnas HAM bahwa “UU HAM tidak bisa berlaku surut karena UU itu lahir setelah peristiwa terjadi. apalagi sudah tercantum lama di dalam hukum acara kita. tentunya akan meragukan peranan positif “kunci” tersebut. kecuali kalau penghalangnya diretool lebih dulu. yaitu Pasal 28 (i) ayat 1 diamandemen kembali lebih dulu sehingga asas retroaktif dapat diberlakukan terhadap kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. di mana belum menyangkut materi kasus pelanggaran HAM. Dengan demikian tidak ada kontradiksi antara UUD (Pasal 28 (i) ayat 1) dan UU Pengadilan HAM ad Hoc dalam masalah asas retroaktif.Tentu saja rambu-rambu yuridis dari Pasal 28 (i) ayat 1 tersebut harus diletakkan pada posisi demi keadilan. yang diatur selanjutnya dalam UU”. Sementara ini para pendukung ordebaru tidak tergesa-gesa memanfaatkan Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945. Ketentuan demikian memang manusiawi dan berlaku di banyak negara di dunia. Rambu-rambu yuridis lainnya adalah ketentuan dalam Hukum Acara (Perdata maupun Pidana) di mana dikatakan bahwa tergugat/terdakwa dalam keadaan sakit tidak dapat diajukan ke sidang pengadilan. Inilah kuncinya. . Kapan kasus pelanggaran HAM Suharto dan kawankawan bisa digelar benar-benar? Pasal 28 (i) ayat 1 akan diluncurkan kalau masalah substansi pelanggaran HAM sudah dibuka di pengadilan. Masalahnya adalah terletak pada independensi dan obyektivitas dokter yang memberi visum tersebut.

Sebab pasal 24 Rome Statute of the International Criminal Court” menyatakan tidak berlakunya Asas Retroaktif. tapi ada juga yang tidak bisa mengadili kejahatankejahatan HAM masa lalu atas dasar asas Non-retroaktif (International Criminal Court di Den Haag). Jelas mahkamah tersebut tidak bisa menangani kasus Suharto. Tentu saja seruan tersebut tidak tepat dan salah alamat. Mahkamah internasional yang pertama – “International Court of Justice”. Mahkamah internasional yang kedua — “International Criminal Tribunal for Former Yugoslavia”. sebab Suharto bukan negara dan bukan organisasi internasional. bahwa Mahkamah Internasional ada yang bisa mengadili kejahatan HAM masa lalu atas asas retroaktif ( Pengadilan Neurenberg. Mahkamah internasional yang ketiga — “International Criminal Court (berdasakan Rome Statute) juga tidak bisa mengadili kasus Suharto. sebab Suharto bukanlah orang Yugoslavia. Pengadilan Yugoslavia dan Rwanda). Jadi ICC tidak punya kompetensi mengadili kasus Suharto. yang mengadili perkara-perkara kejahatan perang yang dilakukan oleh orang-orang bekas Yugoslavia. Sedang hukum internasional sendiri tidak mesti berlaku di . antara organisasi-organisasi internasional atau antara suatu negara dengan organisasi internasional. Sebab dari tiga mahkamah internasional di Den Haag tidak ada satu pun yang mempunyai kompetensi untuk mengadili kasus Suharto dan kawan-kawannya. Jelas kasus Suharto tidak menjadi kompetensi mahkamah tersebut. yang didirikan PBB setelah Perang Dunia II hanya mengadili perkara perselisihan antara negara dengan negara anggota PBB. Tidak sedikit orang beranggapan bahwa berdasarkan hukum internasional Mahkamah Internasional dapat mengadili kejahatan-kejahatan HAM berat.Di dalam media massa atau dalam diskusi/seminar sering diserukan agar Suharto diajukan ke Mahkamah Internasional di Den Haag. IV ) Kasus Suharto adalah kasus yang terjadi lama sebelum ICC berdiri. Jadi dengan demikian. Perlu untuk diketahui saja. di samping Indonesia sendiri belum meratifikasi Rome Statute. penanganan kasus Suharto dkk sebagai pelanggar HAM berat masa lampau tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri menghadapi kesukaran yang serius.

Inilah kehebatan dan kelihaian Orde Baru. yang secara substantif masih yang dulu-dulu juga. Di dalam kabinet Gus Dur dan Mega pun kekuatan-kekuatan ordebaru tidak kecil peranannya. Bahkan Gus Dur. termasuk LSM dan lembaga HAM.semua negara dan tidak harus mempunyai kekuatan hukum lebih tinggi dari konstitusi negara bersangkutan. MPR. * Jalan lain penyelamatan pelaku pelanggaran HAM berat masa lampau * Memang masalah penuntasan pelanggaran HAM berat tidak hanya terletak pada kemauan politik pemerintah atau presiden semata seperti dikatakan sementara kalangan. Tapi semuanya mengalami kegagalan.. Mengenai tema ini perlu pembahasan tersendiri. Tapi “kesuksesan” mereka di satu pihak. Maka dalam rangka menunjukkan “kepeduliannya” terhadap keadilan dan HAM. KESIMPULAN Dari uraian di atas jelas bagaimana beragamnya usaha-usaha kekuatan orba untuk menyelamatkan Suharto dkk dari jeratan tanggung jawab hukum. sebagai negara yang masih mempertahankan impunity bagi rejim otoriter orba. Jelaslah. Mereka bahkan telah berhasil melakukan konsolidasi dan mimikri ke semua lembaga negara dan kepartaian. tetapi juga lembaga-lembaga negara lainnya (DPR. Yudikatif) yang masih dikangkangi oleh kekuatan ordebaru. sebab tanpa mengakomodasi unsur –unsur dari partai lainnya (meskipun terindikasi orba) tidak mungkin eksis kabinet Gus Dur dan Megawati. mereka para pendukung orba tidak menyia-nyiakan kesempatan melakukan jurus . Megawati meskipun tidak berkoar-koar. toh peranannya terus dilanjutkan oleh para pemainnya yang masih aktif. tetapi melalui fraksi PDIP (satu-satunya) di DPR berusaha keras membela orang-orang mantan PKI di dalam perdebatan mengenai UU Pemilu yang diskriminatif. sampai-sampai mengusulkan pencabutan TAP XXV MPR. di pihak lain menimbulkan reaksi di tingkat nasional dan internasional. yang masih memikul dosa pelanggaran HAM. sebab peta politik di MPR/DPR memang tidak memungkinkan. bahwa meskipun Suharto sudah istirahat di dalam kotak politik. ketika menjabat presiden berusaha untuk membela para korban pelanggaran HAM berat. sebagai negara yang penuh dengan pelanggaran HAM. Hal itu bisa dimaklumi. baik pemain utama maupun figuran. yang menuding Indonesia sebagai negara yang tidak menghiraukan keadilan.

Komisi harus menegakkan keadilan dengan memberikan keputusan kompensasi dan rehabilitasi kepada korban. yang dijajakan sebagai barang reklame di pasar HAM nasional dan internasional. permintaan maaf oleh pelaku dan pemberian amnesty kepada pelaku. berdasarkan Pasal 27 UU KKR kompensasi dan rehabilitasi dapat diberikan kepada korban apabila permohonan amnesti pelaku dikabulkan . dengan demikian pelaku pelanggaran/kejahatan HAM akan selamat dari tanggung jawabnya? Dapat disimpulkan bahwa perspektif akibat Pasal 27 dan 29 ayat 3 UU KKR dapat menjurus kepada peniadaan kompensasi dan rehabilitasi bagi para korban pelanggaran HAM berat masa lalu. sedang pelakunya tidak dapat diproses dalam Pengadilan HAM atas dasar asas non-retroaktif dari Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945. Sementara kasus Soeharto dan pelanggar HAM berat lainnya ditendang jauh keluar dari lapangan keadilan. Misalnya. Komisi harus mengungkapkan kebenaran tentang adanya pelanggaran HAM secara obyektif.. V) Jadi ketentuan pasal tersebut sangat tidak adil.gerak zigzag di jalur rekonsiliasi sebagaimana tertuang dalam UU KKR. Sebab dalam UU KKR terdapat ketentuan-ketentuan yang sangat merugikan para korban HAM.27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) sebagai gantinya. tidak tergantung ada-tidaknya pengakuan. Bersamaan dengan diungkapkannya kebenaran tersebut di atas. VI) Kembali lagi persoalannya ialah apakah pengadilan HAM tersebut tidak akan terganjal oleh Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945. Dengan mencermati apa yang tertuang di dalam UU KKR. . maka dia bisa diajukan ke Pengadilan HAM (Pasal 29 ayat 3 UU KKR). Dan lagi kalau pelaku dalam sidang komisi KKR mengakui kesalahannya tapi tidak mau minta maaf dan kemudian permohonan amnestinya ditolak. korban harus dengan sendirinya sudah berhak menerima kompensasi dan rehabilitasi. Seharusnya dengan adanya pengakuan dari pelaku tentang telah dilakukannya tindak pelanggaran HAM. maka secara “dipaksakan” melalui Dewan Perwakilan Rakyat keluarlah UU No. Inilah esensi penting yang seharusnya terkandung dalam UU KKR. tampak bahwa UU tersebut tidak merupakan panacea bagi penderitaan korban pelanggaran HAM masa lampau.

yang nilainya hanya Rp 5. sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah “Bagaimana keadilan dapat ditegakan jika didalam peradilan itu sendiri masih terjadi kasus-kasus yang mencoreng nama baik hukum. si Minah. dihukum 1.5 bulan penjara oleh pengadilan. Setinggi-tingginya uang yang diberikan kepada aparat penegak hukum jumlahnya hanya milyaran rupiah. Pengaruhnya di mana-mana. bau busuknya menyengat. dan tidak akan pernah diangkat lagi. Menguasai sendi-sendi lembaga penegak hukum. yang mendapat uang dari Anggodo. Faktanya. hak untuk tidak disiksa. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. justru lembaga penegak hukum itu. bila dibandingkan dengan tingkat kerugian negara. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Tidak sepadan bila dibandingkan dengan tingkat kerugian negara. sementara Anggodo Widjojo. seperti belum lama ini. yang akan digunakan untuk ‘memoles’ aparat penegak hukum. hak beragama. sebenarnya tak banyak uang yang ‘disodorkan’ kepada aparat penegak hukum. tetapi mereka juga dapat ‘melipat’ para aparat penegak hukum. yang selama ini menjadi tumpuan rakyat untuk mendapatkan keadilan. Anehnya. tapi rakyat tidak dapat melihat sosok dari mafia peradilan. 1 milyar. Inilah yang menyebabkan berbagai paradok. Kasus Pasal 28 D Pada pasal 28 D menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak atas pengakuan. Seperti pengakuan Ary Muladi. bahkan bisa mencapai triliun rupiah.??!!”. yang jumlah kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah. Mereka bukan saja dapat mempengaruhi keputusan pengadilan. ibaratnya seperti ‘kentut’ (maaf). yang mengambil dua buah kakao. . tak tersentuh oleh siapapun. dan kasusnya kini sudah terkubur. Awalnya. jaminan. Nah. Kasusnya bukan hanya berkaitan dengan Bank Century saja.Contohnya adalah kasus berikut. perlindungan. yang namanya mafia peradilan.. yang jumlah bisa mencapai ratusan milyar. hak untuk tidak diperbudak. Kasus Mafia peradilan di Indonesia sudah sangat sistemik. tapi rakyat tidak dapat melihat wujudnya. sudah bengkok oleh praktik-praktif mafia peradilan. hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun . termasuk BLBI.I ) Pasal 28 (i) ayat 1 UUD 1945: “Hak untuk hidup. tapi kasus-kasus lainnya yang lebih besar.

Para penegak hukum bukan hanya menghadapi para mafia.Pgl/2351/X/2003/Dit Reskrim dan panggilan kedua No Pol : S. Mereka menggunakan para mafia peradilan. yang tujuannya mempengaruhi keputusan pengadilan. KASUS HUMAN RIGHT DEFENDER pasal 28 (g) ANCAMAN TUNTUTAN HUKUM (KRIMINALISASI) TERHADAP DIREKTUR WALHI SULSEL OLEH MAPOLDA SULSEL Korban : Indah Fatinaware ( Direktur Eksekutif Walhi Sulsel) Pada Bulan Oktober 2003 Mapolda Sulawesi Selatan telah mengirimkan surat panggilan pertama No Pol: S. yaitu kalangan ‘pengusaha’ (hitam) sebagai pemilik modal. contoh yang paling mutakhir.A/X/2003/Dit Reskrim terhadap Indah Fatinaware.Mafia peradilan ini sudah sangat sistemik. apakah itu ditangkap atau ditahan. yang terang-terangan berani menyebut nama Presiden dalam percakapannya. tapi sampai sekarang tidak dapat disentuh. yang menimbulkan kerugian negara. Dapatkah langkahlangkah Presiden nanti terwujud? Karena. dan polisi mengatakan tidak ada dasar yang dapat dijadikan alasan menangkap Anggodo. Surat Panggilan ini dikeluarkan oleh Mapolda Sulsel untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan . dan setiap usaha ingin menghilangkannya. para mafia itu. yang mereka dalam bisnisnya menggunakan praktik-praktik yang tidak sehat. Tentu. yang mempunyai kepentingan yang lebih luas. sudah berkait dengan kekuasaan. menjadi rumit dan sangat sulit. yang kemudian menyogok para penegak hukum. termasuk tidak pernah dapat diselesaikan dengan pendekatan hukum semata-mata.Pgl/1295. dan menghabiskan energi. yaitu kasus Anggodo Widjojo. tetapi terkadang bila kasus pelanggaran hukum itu. dan menguasai kehidupan. tak lain juga terkait dengan kekuasaan lainnya. Direktur Walhi Sulawesi selatan di Jl Rs Faisal X No 2 Makassar. pasti akan gagal. Sekarang Presiden SBY mempunyai komitmen ingin memberantas mafia peradilan.

Selain melakukan penggusuran dan penyerobotan. Pernyataan sikap tersebutlah yang dianggap Polda Sulsel telah mencemarkan nama baik insititusi mereka. Dalam surat tersebut korban di wajibkan menghadap kepada penyidik di Polda Sulsel. Tuduhan yang dilakukan terhadap korban berkaitan dengan dikeluarkannya pernyataan sikap bersama terhadap insiden penembakan dan penangkapan petani Kasus Bulukumba. penyerobotan terhadap tanah-tanah warga masyarakat Desa Bonto Mangiring. Lonsum berkolaborasi dengan aparat negara untuk membebaskan tanah garapan yang dikuasai masyarakat adat Kajang. yang ditandatangani oleh korban pada tanggal 4 Oktober 2003 lalu. Lonsum berawal ketika pada tahun 1980-an PT. . Konflik ini terus menerus terjadi sampai dengan tahun 2000-an.tindak pidana. POLDA Sulsel terutama Kapolda Sulsel yakni Irjen (Pol). dimana PT. Dalam aksi tersebut terlihat ada salah satu mandor PT. Lonsum yang membawa massa antara 400-500 orang dan dibantu aparat kepolisian dari Polres Bulukumba melakukan penggusuran. Latar Belakang Konflik antara warga masyarakat adat Kajang dengan PT. Lonsum mencuat kembali pada tanggal 5-8 Maret 2003. Persengketaan antara warga masyarakat dengan PT. dalam tindakan tersebut dilakukan juga pembakaran 5 (lima) rumah warga masyarakat. Jusup Manggarabarani. Lonsum mulai membuka areal perkebunan di wilayah Kecamatan Bulukumba. Korban dalam surat panggilan tersebut diperiksa dan dimintai keterangannya selaku tersangka dalam perkara tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan secara tertulis dan atau penghinaan dan atau pencemaran nama baik terhadap institusi Polri (Polda Sulsel) sebagaimana dimaksud dalam rumusan Pasal 335 ayat (2) Subsider Pasal 311 lebih Subs Pasal 310 lebih Subsider lagi Pasal 316 dan atau Pasal 55 dan 56 KUHP. Konflik ini bertambah keruh karena PT. Lonsum yang bernama Abdul Malik atau Makking membawa senjata api dan melakukan penembakan terhadap warga masyarakat.

Lonsum.5 bulan. dimana pada tanggal 21 Juli 2003. Selain itu. Akibat tindakan aparat ini telah mengakibatkan 3 orang tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka. penangkapan.” LEMBAGA STUDI DAN ADVOKASI MASYARAKAT (ELSAM) sangat khawatir terhadap kondisi ini. Seharusnya negara maupun aparat negara lah yang melakukan perlindungan dan mensuport aktifitas-aktifitas para pekerja Hak Asasi Manusia bukan malah membelenggu aktifitas mereka atau mengancam aktifitas tersebut dengan penggunaan kekerasan aparatur penegak hukumnya. ELSAM menilai Negara masih gagal dalam melindungi hak-hak para pekerja Hak Asasi Manusia yang tertuang dalam Deklarasi Pembela Hak Asasi Manusia yang disahkan oleh Majelis Umum PBB tanggal 9 Desember 1998 dan berpendapat bahwa peristiwa ini telah melanggar berbagai instrumen Hukum dan Hak Asasi Manusia yakni : . Namun. sekitar 1500 orang petani dari Desa Bonto Biraeng dan Bonto Mangiring berkumpul di pos Aliansi Suara Petani (ASP) yang berada di Kampung Tangaya Desa Bonto Mangiring Kecamatan Bulukumba. Tindakan masyarakat ini mendapat represi aparat Kepolisian Resort Bulukumba yang didukung langsung Kapolda Sulawesi Selatan dengan melakukan pengejaran. dimana ancaman dan kriminalisasi terhadap para pembela Hak Asasi Manusia (Human Right Defender) masih terus terjadi. aparat kepolisian resort Bulukumba juga telah melakukan penahanan terhadap 36 orang petani. Sementara itu sekitar 30 orang berjaga-jaga di pertigaan Lapangan-Panyingkulu dan Batulapisi. Lonsum) untuk menutup jalan produksi di Dusun Batulapisi Desa Bonto Mangiring dan ke arah Desa Tammato. penahanan dan bahkan penembakan terhadap orang-orang atau masyarakat yang diduga melakukan penebangan di areal perkebunan PT.Tindakan PT. 24 orang petani ditahan di lembaga pemasyarakatan (LP) dan lima petani telah dihukum penjara 4. setelah datang 6 (enam) orang polisi dari arah Bukia (dari arah Panyingkulu Desa Tammato). Lonsum ini mendapat tanggapan dari warga masyarakat. Lonsum. Bulukumba yang tidak termasuk dalam HGU PT. Selanjutnya massa mulai menebangi pohon-pohon karet yang ada di Divisi Kukumba (tetapi tidak termasuk HGU milik PT. Massa yang membawa 8 (delapan) buah Senso (gergaji) tersebut berniat untuk masuk ke lokasi perkebunan karet Division Kukumba di Desa Bonto Mangiring Kec. massa yang berjaga-jaga tersebut kemudian melarikan diri ke arah Dusun Batulapisi dimana massa yang lainnya sedang melakukan penebangan.

Mendesak agar Ketua DPRD TK I Sulsel memperhatikan secara serius peristiwa ini. Kapolri agar mengawasi para bawahannya agar tidak melakukan abuse of power dan menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangannya sebagai aparat penegak hukum. pasal 71. pasal 24. pasal 17. UU No. pasal 4. pasal 9. pasal 7. Di dalam surat itu mohon dituliskan hal-hal yang bersifat mendukung para korban penangkapan dan korban lainnya . dan menekan Pemerintah Republik Indonesia agar segera: 1. Mendesak agar aparat Kepolisian Daerah Sulsel segera menghentikan ancaman terhadap para pekerja dan pembela hak asasi manusia dalam kasus Bulukumba . dan pasal 72. ketentuan 10. Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik terutama pasal 6. pasal 17. 4. Pemerintah RI dalam hal ini Presiden Republik Indonesia agar melindungi hak-hak warga negaranya terutama para pekerja dan pembela Hak Asasi Manusia 2. dan pasal 10 5. pasal 28 G ayat 1. Mendesak agar aparat pemerintah. Pasal 28 I dan pasal 28 J 2. Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia terutama pasal 3. dan ketentuan 11 AKSI DUKUNGAN Kami mengharapkan pihak lain yang concern untuk membuat surat dukungan bagi para korban. pasal 7. 5. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia terutama pasal 14. Deklarasi Human Right Defender terutama ketentuan 9. yakni aparat Pemda Sulsel memperhatikan secara serius peristiwa ini. Kode etik aparatur penegak hukum pasal 1 dan pasal 2 6. 3. dan pasal 22 4. pos atau email kepada para pejabat yang berwenang menangani kasus ini (lihat table). 3.1. Surat dukungan ini dapat dikirimkan melalui fax. pasal 9. UUD 1945 terutama pasal 28 F.

Mendesak kepada Komisi Hak Asasi Manusia Nasional RI agar segera melakukan Pemantauan dan penyelidikan berkelanjutan dalam kasus ini. naungan bagi Hak Asasi Manusia PASAL 28 B AYAT 1 Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. Mendesak agar aparat Kepolisian Daerah Sulsel tidak melanggar prinsip prinsip di dalam deklarasi pembela hak asasi manusia 7.6. Pasal 28 UUD 1945. Pernahkah Anda mendengar istilah nikah siri? .

yaitu mewujudkan sebuah pernikahan yang sah di mata agama dan di mata hukum dan menghindari permasalahan-permasalah yang berkaitan dengan administrasi dan kependudukan. Diantaranya adalah ketidakadaannya biaya untuk melangsungkan pernikahan secara legal dimata negara dan hukum. Saya mendengar dan memahami makna istilah tersebut dari tayangantayangan infotainment di televisi serta bacaan umum lainnya. serta sifat tradisional yang masih melekat. Baru-baru ini. tapi tidak terdaftar di catatan KUA. Banyak pasangan yang menikah tanpa bukti tertulis akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari. dimana seharusnya pernikahan adalah sebuah proses sakral dalam kehidupan yang harus memberikan kenyamanan dan tidak merugikan.Jujur. Anak-anak yang lahir dari pernikahan siri juga tidak mendapat fasilitas akte kelahiran karena kedua orangtua mereka tidak terdaftar dalam catatan KUA. saya pribadi belum pernah mempelajarinya secara formal melalui instansi pendidikan. Mengapa? Nikah siri dinilai merugikan kaum istri karena mereka dinikahi tanpa adanya suratsurat resmi seperti layaknya pernikahan normal. saya membaca sebuah artikel di sebuah situs internet. Hal ini disebabkan karena nikah siri semakin memudarkan nilai kesucian hubungan suami-istri. Masyarakat umum sering menjulukinya “nikah di bawah tangan”. . Pemerintah mulai menekan fenomena nikah siri dengan beberapa kali mengadakan acara nikah masal secara gratis di pelosok-pelosok daerah. Hal inilah yang dikhawatirkan berbagai pihak karena semakin memperluas potensi zina. Banyak sekali faktor yang menyebabkan seseorang melakukan nikah siri. bahwa MUI akan memberikan fatwa haram terhadap nikah siri serta mendukung hukuman pidana yang diusulkan Kementrian Agama. Tujuannya jelas. serta masih banyak kerugian-kerugian lainnya. Pengertian nikah siri secara garis besar adalah proses pernikahan yang sah menurut agama. Ada dua pihak yang dirugikan disini : wanita dan anak-anak.

Hmm. poligami dan kawin kontrak kepada Presiden SBY. sebuah pernikahan itu sah apabila syarat-syaratnya mencukupi. setelah ini kira-kira masih adakah yang berniat nikah sirih? . Dalam agama islam sendiri.Alasan-alasan diatas rasanya sudah cukup menjadi landasan hukuman pidana bagi pelaku nikah siri. Tapi akan menjadi haram apabila timbul pihak-pihak yang dirugikan. Sebelumnya Kementerian Agama sudah menyerahkan RUU Peradilan Agama Tentang Perkawinan yang membahas nikah siri. Dalam RUU tersebut jika melakukan nikah siri akan dipidanakan dan akan ada hukuman kurungan maksimal 3 bulan serta denda maksimal 5 juta.

Sejak dulu sampai sekarang. .PASAL 28 E AYAT 3 Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. berkumpul dan mengeluarkan pendapat tidak hanya terjalin dalam bentuk yang formal dan serius. Misalnya perkumpulan Karang Taruna disekitar tempat tinggal. dan mengisi satu sama lain sehingga merasa nyaman untuk bergerak bersama dalam mewujudkan tujuan bersama. apa yang menyebabkan seorang individu merasa nyaman dan senang berserikat dengan sesamanya? Berikut ini adalah jawaban yang logis untuk pertanyaan tersebut : Adanya kesamaan sudut pandang dan pemikiran . MPK dan perkumpulan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga bisa dengan mudah menemukannya. kesadaran ini tak pernah lepas dan terus melekat erat di masing-masing individu. Mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Manusia adalah individu yang dilahirkan dengan naluri atau keinginan bersosialisasi yang tinggi. serta merambah ke instansi pendidikan seperti OSIS. organisasi PKK. dan mengeluarkan pendapat. berkumpul. melindungi. arisan RT. menyebabkan terciptanya komunikasi yang selaras dan berkesinambungan Adanya perasaan saling melengkapi. Sebenarnya. Hak asasi yang berkaitan dengan kebebasan dalam berserikat.

Manusia. Mengapa kita tidak bisa lagi dengan bebasnya mengeluarkan pendapat? Sebagai manusia tentunya kita sangat sadar bahwa mengeluarkan uneguneg itu wajar-wajar saja. seiring dengan keganjilan-keganjilan yang terlihat dalam kasus ini. Ibu dua anak yang terseret kasus pencemaran nama baik hanya karena “curhat” di dunia maya tentang ketidakpuasannya dengan pelayanan RS Omni Internasional. Tentunya kita masih ingat kasus Prita Mulyasari. baik itu di dalam ataupun di luar perkumpulannya pasti mempunyai pemikiran-pemikiran yang berlawanan. serta keinginan untuk mengeluarkan keluh kesah dari sebuah permasalahan. waktu serta cara yang tepat dan bijak dalam mengeluarkan pendapat. Misalnya seperti perkumpulan geng motor yang kerap meresahkan warga sekitar karena perilaku mereka yang buruk. tapi alangkah baiknya apabila kita dapat memilih media. hak asasi manusia yang lainnya adalah kebebasan mengeluarkan pendapat. Kasus ini begitu menyita perhatian dan simpati publik. Selain itu. Dari kasus tersebut. keinginan untuk melakukan perubahan. dan perkumpulan negatif lainnya. Bukan berpendapatnya yang salah. Hal ini tentunya menyimpang dan harus segera diluruskan.Adanya kesenangan atau hobi yang sama Adanya kesamaan asal-usul atau bersifat kedaerahan Perserikatan atau organisasi mayoritas berdampak baik dan disadari atau tidak akan meningkatkan tali silaturahmi serta menambah wawasan dan pertemanan. Tetapi. perkumpulan segelintir masyarakat yang hendak melakukan teror. saya pribadi jadi sadar akan tanda tanya besar dalam makna ‘Kebebasan berpendapat’. sekarang ini banyak sekali perkumpulan-perkumpulan yang menjurus ke arah negatif dan memberontak. Kasus-Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia .

yaitu : a. membatasi dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Keinginan berbuat jahat itulah yang menimbulkan dampak pada pelanggaran hak asasi manusia.Menurut Pasal 1 Angka 6 No. menjarah dan lain-lain. meliputi : Pemukulan Penganiayaan Pencemaran nama baik Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya Menghilangkan nyawa orang lain Setiap manusia selalu memiliki dua keinginan. menghalangi. Hampir dapat dipastikan dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemukan pelanggaran hak asasi manusia. merampas harta milik orang lain. baik secara perorangan ataupun kelompok. bisa dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. . Kasus pelanggaran HAM ini dapat dikategorikan dalam dua jenis. dan keinginan berbuat jahat. meliputi : Pembunuhan masal (genisida) Pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan Penyiksaan Penghilangan orang secara paksa Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis b. Kasus pelanggaran HAM yang biasa. Pelanggaran itu. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan pelanggaran hak asasi manusia setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara. Kasus pelanggaran HAM yang bersifat berat. baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain. yaitu keinginan berbuat baik. baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. seperti membunuh.

Jatim (1994) Marsinah adalah salah satu korban pekerja dan aktivitas yang hak-hak pekerja di PT Catur Putera Surya. baik dari pihak aparat maupun penduduk sipil yang tidak berdosa. Apabila dilihat dari perkembangan sejarah bangsa Indonesia. yang sering terjadi adalah antara aparat pemerintah dengan masyarakat. b. Peristiwa penculikan para aktivis politik (1998) . Peristiwa Aceh diduga dipicu oleh unsur politik dimana terdapat pihak-pihak tertentu yang menginginkan Aceh merdeka.Pelanggaran hak asasi manusia dapat terjadi dalam interaksi antara aparat pemerintah dengan masyarakat dan antar warga masyarakat. seperti : a. Porong Jawa Timur. e. dianiaya oleh orang tak dikenal dan akhirnya ditemukan sudah tewas. Kasus terbunuhnya Marsinah. Kasus terbunuhnya wartawan Udin dari harian umum bernas (1996) Wartawan Udin (Fuad Muhammad Syafruddin) adalah seorang wartawan dari harian Bernas yang diduga diculik. penganiayaan dan pembunuhan. c. d. seorang pekerja wanita PT Catur Putera Surya Porong. Namun. ada beberapa peristiiwa besar pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dan mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Kasus Tanjung Priok (1984) Kasus tanjung Priok terjadi tahun 1984 antara aparat dengan warga sekitar yang berawal dari masalah SARA dan unsur politis. Peristiwa Aceh (1990) Peristiwa yang terjadi di Aceh sejak tahun 1990 telah banyak memakan korban. Dalam peristiwa ini diduga terjadi pelanggaran HAM dimana terdapat rarusan korban meninggal dunia akibat kekerasan dan penembakan. Dia meninggal secara mengenaskan dan diduga menjadi korban pelanggaran HAM berupa penculikan.

dan 13 orang lainnya masih hilang). Kasus Poso (1998 – 2000) Telah terjadi bentrokan di Poso yang memakan banyak korban yang diakhiri dengan bentuknya Forum Komunikasi Umat Beragama (FKAUB) di kabupaten Dati II Poso. . i. Kasus Ambon (1999) Peristiwa yang terjadi di Ambon ni berawal dari masalah sepele yang merambat kemasala SARA. j. Kasus TKI di Malaysia (2002) Terjadi peristiwa penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Wanita Indonesia dari persoalan penganiayaan oleh majikan sampai gaji yang tidak dibayar. sehingga dinamakan perang saudara dimana telah terjadi penganiayaan dan pembunuhan yang memakan banyak korban.Telah terjadi peristiwa penghilangan orang secara paksa (penculikan) terhadap para aktivis yang menurut catatan Kontras ada 23 orang (1 orang meninggal. g. k. f. h.Timor Leste kepada dua kepala negara terkait. Peristiwa kekerasan di Timor Timur pasca jejak pendapat (1999) Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia menjelang dan pasca jejak pendapat 1999 di timor timur secara resmi ditutup setelah penyerahan laporan komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia . Peristiwa Trisakti dan Semanggi (1998) Tragedi Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998 (4 mahasiswa meninggal dan puluhan lainnya luka-luka). 9 orang dilepaskan. Kasus Dayak dan Madura (2000) Terjadi bentrokan antara suku dayak dan madura (pertikaian etnis) yang juga memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998 (17 orang warga sipil meninggal) dan tragedi Semanggi II pada 24 September 1999 (1 orang mahasiswa meninggal dan 217 orang luka-luka).

l. disetrap di depan kelas atau dijemur di tengah lapangan). Siswa memalak atau menganiaya siswa yang lain. yaitu tahun 2002 dan tahun 2005 yang dilakukan oleh teroris dengan menelan banyak korban rakyat sipil baik dari warga negara asing maupun dari warga negara Indonesia sendiri. Contoh kasus pelanggaran HAM di masyarakat antara lain : Pertikaian antarkelompok/antargeng. Orang tua menyiksa/menganiaya/membunuh anaknya sendiri. dilingkungan sekolah atau pun dilingkungan masyarakat. memilih pekerjaan. Majikan dan atau anggota keluarga memperlakukan pembantunya sewenangwenang dirumah. Contoh kasus pelanggaran HAM dilingkungan keluarga antara lain: Orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anaknya (tentang masuk sekolah. Kasus-kasus lainnya Selain kasusu-kasus besar diatas. m. dicubit. atau antarsuku(konflik sosial). . Siswa mengejek/menghina siswa yang lain. kekayaan. Siswa melakukan tawuran pelajar dengan teman sekolahnya ataupun dengan siswa dari sekolah yang lain. terjadi juga pelanggaran Hak Asasi Manusia seperti dilingkungan keluarga. dipaksa untuk bekerja. Guru memberikan sanksi atau hukuman kepada siswanya secara fisik (dijewer. Kasus bom Bali (2002) DAN beberapa tempat lainnya Telah terjadi peristiwa pemboman di Bali. memilih jodoh). Contoh kasus pelanggaran HAM di sekolah antara lain : Guru membeda-bedakan siswanya di sekolah (berdasarkan kepintaran. ditendang. Anak melawan/menganiaya/membunuh saudaranya atau orang tuanya sendiri. atau perilakunya).

00. Pelanggaran HAM oleh TNI mencapai puncaknya pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. ada ketakutan di masyarakat akan diberlakukannya Daerah Operasi Militer di Ambon dan juga ada pemahaman bahwa umat Islam dan Kristen akan saling menyerang bila Darurat Sipil dicabut. dimana perlawanan rakyat semakin keras. ribuan rumah. ratusan sekolah hancur serta terdapat 692.000 jiwa sebagai korban konflik yang sekarang telah menjadi pengungsi di dalam/luar Maluku. 2. Penyusup masuk ke wilayah perbatasan dan melakukan pembunuhan serta pembakaran rumah. Merusak sarana/fasilitas umum karena kecewa atau tidak puas dengan kebijakan yang ada. sementara di kawasan Maluku Tengah (Pulau Ambon. Selain itu masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Masyarakat kini semakin tidak percaya dengan dengan upaya – upaya penyelesaian konflik yang dilakukan karena ketidak-seriusan dan tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyelesaian konflik. Saat ini masyarakat telah membuat sistem pengamanan swadaya untuk wilayah pemukimannya dengan membuat barikade-barikade dan membuat aturan orang dapat masuk/keluar dibatasi sampai jam 20.Perbuatan main hakim sendiri terhadap seorang pencuri atau anggota masyarakat yang tertangkap basah melakukan perbuatan asusila. PELANGGARAN HAM OLEH TNI umumnya terjadi pada masa pemerintahan Presiden Suharto. . di antaranya yaitu sebagai berikut : 1. Maluku Tenggara 100% aman dan relatif stabil. Seram dan Buru) sampai saat ini masih belum aman dan khusus untuk Kota Ambon sangat sulit diprediksikan. suasana kota sampai saat ini masih tegang. juga masih terdengar suara tembakan atau bom di sekitar kota. beberapa waktu yang lalu sempat tenang tetapi sekitar 1 bulan yang lalu sampai sekarang telah terjadi aksi kekerasan lagi dengan modus yang baru ala ninja/penyusup yang melakukan operasinya di daerah – daerah perbatasan kawasan Islam dan Kristen (ada indikasi tentara dan masyarakat biasa). perkantoran dan pasar dibakar. untuk Maluku Utara 80% relatif aman. KASUS PELANGGARAN HAM YANG TERJADI DI MALUKU Konflik dan kekerasan yang terjadi di Kepulauan Maluku sekarang telah berusia 2 tahun 5 bulan. sekitar 4000 orang luka – luka. Saparua. Akibat konflik/kekerasan ini tercatat 8000 orang tewas. Haruku. dimana (dikemudian hari berubah menjadi TNI dan Polri) menjadi alat untuk menopang kekuasaan.

PELANGGARAN HAM ATAS NAMA AGAMA Kita memiliki banyak sejarah gelap agamawi. entah dari aliran lainnya. Belum ada media informasi yang dianggap independent oleh kedua pihak. kita melupakan kasih. Perkembangan situasi dan kondisis yang terakhir tidak ada pihak yang menjelaskan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi sehingga masyrakat mencari jawaban sendiri dan membuat antisipasi sendiri. entah itu dari kalangan gereja Protestan maupun gereja Katolik. Masyarakat Maluku sangat sulit mengakses pelayanan kesehatan. Komunikasi sosial masyarakat tidak jalan dengan baik. ada media yang selama ini melakukan banyak provokasi tidak pernah ditindak oleh Penguasa Darurat Sipil Daerah (radio yang selama ini digunakan oleh Laskar Jihad (radio SPMM/Suara Pembaruan Muslim Maluku). dokter dan obat – obatan tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dan harus diperoleh dengan harga yang mahal. yaitu kasih yang menjadi ‘atribut’ . sehingga perasaan saling curiga antar kawasan terus ada dan selalu bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang menginginkan konmflik jalan terus. bingung dan trauma terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di Ambon ditambah dengan ketidak-jelasan proses penyelesaian konflik serta ketegangan yang terjadi saat ini. Wilayah pemukiman di Kota Ambon sudah terbagi 2 (Islam dan Kristen). masih dalam keadaan trauma. yang diberitakan oleh media cetak masih dominan berita untuk kepentingan kawasannya (sesuai lokasi media). transportasi menggunakan jalur laut tetapi sekarang sering terjadi penembakan yang mengakibatkan korban luka dan tewas. Pendidikan sangat sulit didapat oleh anak – anak korban langsung/tidak langsung dari konflik karena banyak diantara mereka sudah sulit untuk mengakses sekolah. program Pendidikan Alternatif Maluku sangat tidak membantu proses perbaikan mental anak malah menimbulkan masalah baru di tingkat anak (beban belajar bertambah) selain itu masyarakat membuat penilaian negatif terhadap aktifitas NGO (PAM dilakukan oleh NGO). 3. Bahwa kadang justru dengan simbol agamawi. serta jalur – jalur distribusi barang ini biasa dilakukan diperbatasan antara supir Islam dan Kristen tetapi sejak 1 bulan lalu sekarang tidak lagi juga sekarang sudah ada penguasa – penguasa ekonomi baru pasca konflik. masyarakat dalam melakukan aktifitasnya selalu dilakukan dilakukan dalam kawasannya hal ini terlihat pada aktifitas ekonomi seperti pasar sekarang dikenal dengan sebutan pasar kaget yaitu pasar yang muncul mendadak di suatu daerah yang dulunya bukan pasar hal ini sangat dipengaruhi oleh kebutuhan riil masyarakat.Banyak orang sudah putus asa. puskesmas yang ada banyak yang tidak berfungsi.

The Headman. Atas nama ‘agama yang suci’ mereka melakukan ‘pelecehan yang tidak suci’ kepada sesamanya manusia. mereka justru melakukan kejahatan kemanusiaan (crimes against humanity) entah itu Kristen. Salah satu contohnya dalam film The Scarlet Letter. misalnya kelompok Al-Qaeda dan sejenisnya menteror dengan bom. Karena ia berada dalam posisi yang sulit : menuruti tuntutan dalam negeri ataukah menuruti tuan Bush. namun pasukan mereka babak-belur dalam ‘perang-kota’. Hal-hal ini dicatat dalam buku sejarah dan beberapa kali kisah-kisah tentang kekejaman gereja difilmkan. Inggris misalnya. Kegagalan pasukan AS mendapat kecaman dari dalam negeri.Tuhan kita Yesus Kristus. Invasi AS ke Iraq. Kisah-kisah kekejamannya juga terekam dalam lukisan-lukisan karya Seniman Spanyol Francisco Goya (1746– 1828 ). dan olehnya mungkin sebagian dari kita telah prejudice menempatkan orang-orang Muslim di sekitar kita sama jahatnya dengan kelompok ‘Al-Qaeda’. yang diproduksi oleh Saul Zaentz dan disutradarai oleh Milos Forman. Tentu saja apa- . bahkan sekutunya. contoh Bom Bali dan sejenisnya di seluruh dunia. karena gaya Bush yang sering ‘secara implisit’ terbaca dimana ia menempakan dirinya sebagai penganut Kristiani yang memerangi terorisme dari para teroris Muslim Fundamentalis. juga film A Song for A Raggy Boy. Tapi tidak menutup kemungkinan Presiden Amerika Serikat. namun apa yang dikemukakan oleh Zaentz dan Forman. George Bush adalah juga seorang ‘Fundamenalis’ dalam ‘Agama’ yang dianutnya. telah hadir film yang lumayan baru. Kini. Di sisi lain Amerika Serikat (AS) sebagai ‘polisi dunia’ sering memakai ‘isu terorisme yang dilakukan Al-Qaeda’ untuk melancarkan macam-macam agendanya. Islam atau agama apapun. berlindung dalam lembaga agama. Tekanan-tekanan ini membuat PM Inggris Tony Blair memilih mengakhiri karirnya sebelum waktunya baru-baru ini. adalagi film The Magdalene Sisters. Kita telah mengenal banyak sekelompok manusia dengan atribut agama. dua nama ini cukup memberi jaminan bahwa film yang dibuat mereka selalu bagus yaitu film GOYA’s GOST. Mungkin saja film GOYA’s GOST ini akan membuat ‘marah’ sebagian kelompok. film tentang hyprocricy Gereja Potestan yang ‘menghakimi’ seorang pezinah dan kelompok-kelompok yang dianggap bidat. sebagaimana kekejaman “Inkuisisi” telah tercatat dalam sejarah hitam Gereja. Akhir abad 20 atau awal abad 21. akhir-akhir ini kita disuguhi sajian-sajian berita akan kebobrokan manusia yang beragama melanggar hak asasi manusia. mungkin pada awalnya terlihat AS dengan sejatanya yang super-canggih menguasai Iraq dalam sekejap. yang menjadi tokoh sentral dari film GOYA’s GOST ini. ini mengingatkan kembali sejarah buruk. dan masih banyak lainnya. “The Name of the Rose” . Namun kehadiran pasukan AS dan sekutunya di Iraq tidak berdampak baik. dimana mereka juga kalah dalam perang gerilya di Vietnam. Memang kita akui banyak kebrutalan yang dilakukan oleh para teroris kalangan Islam Fundamentalis. penyerangan ke Afganistan dan negara-negara lain yang disinyalir ‘ada terorisnya’.

melainkan sebagai perenungan apakah perlakuan seseorang melawan/menindas orang lain yang tidak ‘seagama’ itu tujuannya membela Allah? membela tradisi? membela doktrin. Beberapa hal yang dapat disimak dari keputusan pengadilan tersebut adalah sebagai berikut ini. bukan berniat melecehkan suatu Agama/ Aliran tertentu. Film The Kingdom of Heaven adalah sebuah ‘otokritik’ bagi Kekristenan. sutradara Inggris. Sebuah keputusan majelis hakim yang bukan saja meragukan tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar apakah vonis hakim tersebut benar-benar berdasarkan rasa keadilan atau hanya sebuah pengadilan untuk mengamankan suatu keputusan politik yang dibuat Pemerintah Indonesia waktu itu dengan mencari kambing hitam atau tumbal politik. tentang kejahatan dibawah payung Agama. sama dengan tuntutan jaksa. Bahwa perang Salib yang telah terjadi selama 4 abad itu bukanlah suatu kesaksian yang baik. Bagi orang yang awam dalam bidang hukum. barangkali bisa juga digunakan untuk menyindir Presiden Bush yang sering menggunakan kata “crusades” dalam pidatonya. Padahal Majelis Hakim yang diketuai Marni Emmy Mustafa menjatuhkan vonis 3 tahun penjara dengan denda Rp 5. PELANGGARAN HAM OLEH MANTAN GUBERNUR TIM-TIM Abilio Jose Osorio Soares. Sebab alternatifnya adalah apabila terdakwa terbukti bersalah melakukan pelanggaran HAM berat hukumannya . yang diadili oleh Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) ad hoc di Jakarta atas dakwaan pelanggaran HAM berat di Timtim dan dijatuhi vonis 3 tahun penjara. Sebelumnya. tetapi lebih merupakan sejarah hitam. dapat diartikan bahwa hakim raguragu dalam mengeluarkan keputusannya. ataukah membela diri sendiri? 4. Ridley Scott memproduksi film The Kingdom of Heaven. vonis hakim terhadap terdakwa Abilio sangat meragukan karena dalam Undang-Undang (UU) No 26/2000 tentang Pengadilan HAM Pasal 37 (untuk dakwaan primer) disebutkan bahwa pelaku pelanggaran berat HAM hukuman minimalnya adalah 10 tahun sedangkan menurut pasal 40 (dakwaan subsider) hukuman minimalnya juga 10 tahun. ditengah-tengah ‘isu anti terorisme (Islam)’. bermakna tidak baik. dan sajian ‘ironisme’ dari ajaran Kristus yang penuh kasih.apa yang mengandung “fundamentalis” entah itu Islam/ Kristen/ agama yang lain. mantan Gubernur Timtim. Dibawah ini review dari sebuah film. Pertama.000 kepada terdakwa Abilio Soares.

Kedua. publik dapat merasakan suatu perlakuan “diskriminatif” dengan keputusan terhadap terdakwa Abilio tersebut karena terdakwa lain dalam kasus pelanggaran HAM berat Timtim dari anggota TNI dan Polri divonis bebas oleh hakim. perkara seputar peristiwa G30S bagi KKR bakal menjadi kasus kontroversial. Horta mengatakan. Percobaan kudeta 1 Oktober. lebih mudah rekonsiliasi. Saya hanya khawatir rakyat Timor Timur yang akan membayar semua dosa yang dilakukan oleh orang Indonesia” 5. sore harinya keluar pengumuman Peperalda Jaya yang melarang semua surat kabar terbit –kecuali Angkatan Bersenjata (AB) dan Berita Yudha. Kontroversi G30S Di antara kasus-kasus pelanggaran berat HAM. Asvi menjelaskan. Dari 39 artikel yang . Banyak sumber yang memberitakan perihal jumlah korban pembantaian pada 1965/1966 itu tidak mudah diketahui secara persis.000 tewas. “Bagi saya bukan fair atau tidaknya keputusan tersebut. kalau pembantaian sebelum 1 Oktober 1965 yang memakan banyak korban dari pihak Islam. Peneliti LIPI Asvi Marwan Adam melihat. Dengan begitu. karena pelakunya sama-sama sipil. Komentar atas itu justru datang dari Jose Ramos Horta.” jelasnya. Persoalan muncul ketika KKR mencoba menyesaikan pembantaian yang terjadi pasca G30S.minimal 10 tahun dan apabila terdakwa tidak terbukti bersalah ia dibebaskan dari segala tuduhan. begitu Soeharto pada 1 Oktober 1965 berhasil menguasai keadaan. seluruh informasi dikuasai tentara. ”Anggaplah kasus ini selesai. Informasi itu kemudian diserap oleh koran-koran lain yang baru boleh terbit 6 Oktober 1965. Dilema bisa muncul dengan terlibatnya KKR untuk memangani kasus pembersihan para aktivis PKI. kemudian diikuti pembantaian massal di Indonesia. Berita yang terbit oleh kedua koran itu kemudian direkayasa untuk mengkambinghitamkan PKI sebagai dalang G30S yang didukung Gerwani sebagai simbol kebejatan moral. yang mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kemungkinan hanya rakyat Timor Timur yang akan dihukum di Indonesia yang mendukung berbagai aksi kekerasan selama jajak pendapat tahun 1999 dan yang mengakibatkan sekitar 1.

budaya amuk massa. dalam banyak kasus. koran AB dan Berita Yudha. pembunuhan baru dimulai setelah datangnya kesatuan elit militer di tempat kejadian yang memerintahkan tindakan kekerasan. militer yang diduga berperan dalam menggerakkan massa.” Proses pembunuhan berlangsung cepat. Karena itu. Keempat.590 orang. Ketiga. pembantaian itu dilakukan dengan cara sederhana. Asvi mengingatkan bahwa peristiwa pembunuhan massal pada 1965/66 perlu dipisahkan antara konflik antar masyarakat dengan kejahatan yang dilakukan oleh negara. ”Mereka menggunakan alat pisau atau golok. Orang yang dieksekusi juga tidak dibawa ke tempat jauh sebelum dibantai. masih kata Cribb. Sebuah sarasehan Generasi Muda Indonesia yang diselenggarakan di Univesitas Leuwen Belgia 23 September 2000 dengan tema ”Mawas Diri Peristiwa 1965: Sebuah Tinjauan Ulang Sejarah”. Biasanya mereka terbunuh di dekat rumahnya. meski memakan banyak korban bisa diselesaikan. Ciri lain. Pertama. yaitu berupa pembantaian massal yang dikatakan tiada taranya dalam sejarah modern Indonesia. bahkan mungkin dunia.” ujarnya. secara tegas menyimpulkan agar dalam memandang peristiwa G30S harus dibedakan antara peristiwa 1 Oktober dan sesudahnya.dikumpulkan Robert Cribb (1990:12) jumlah korban berkisar antara 78. menyangkut dugaan keterlibatan militer (terutama di Jawa Tengah) dalam berbagai bentuk penyiksaan dan pembunuhan. ”Atau militer setidaknya memberi contoh. Peran media militer. menurut Cribb. ada empat faktor yang menyulut pembantaian masal itu. untuk menciptakan kerumitan permasalahan.” urai Cribb. Tidak ada kamar gas seperti Nazi. faktor provokasi media yang menyebabkan masyarakat geram. Kedua. Berita tentang kekejaman Gerwani itu memicu kemarahan massa. konflik antara golongan komunis dengan para pemuka agama islam yang sudah berlangsung sejak 1960-an. Yang lebih parah adalah kejahatan yang dilakukan negara terhadap masyarakat. ”Kejadian itu biasanya malam. hanya beberapa bulan. Keterlibatan militer ini. Media inilah yang semula menyebarkan berita sadis tentang Gerwani yang menyilet kemaluan para Jenderal. Ini perlu diusut. menurutnya. sampai hari ini. semakin banyak tangan yang akan menentang kebangkitan kembali PKI dan dengan demikian tidak ada yang bisa dituduh sebagai sponsor pembantaian. Cribb menambahkan.000 sampai dua juta jiwa. . Semakin banyak tangan yang berlumuran darah dalam penghancuran komunisme. berdasarkan visum. Nazi memerlukan waktu bertahun-tahun dan Khmer Merah melakukannya dalam tempo empat tahun. Padahal. Pertikaian antar masyarakat. juga sangat krusial. Menurut Cribb. atau rata-rata 432. Cribb mengatakan. sebagai unsur penopang kekerasan. seperti diungkap Ben Anderson (1987) para jenazah itu hanya mengalami luka tembak dan memar terkena popor senjata atau terbentur dinding tembok sumur.

” Tapi setelah kami mempelajari masalahnya.” Mantan tahanan politik 1966-1979 ini kemudian bercerita. Hardoyo. pasca 1 Oktober versus sebelum 1 Oktober. Bisa jadi memang benar. . Sang ayah yang anggota PGRI itu dibunuh awal November 1965. ”Apakah Anda menyimpan dendam?” Sang anak menjawab. dalam soal G30S atau soal PKI pada umumnya.” Menurut pengakuan sang putera yang pada 1965 berusia 14 tahun. “saya pernah mewawancarai seorang putera dari sepasang suami-isteri guru SD di sebuah kota di Jawa Tengah. peran KKR kelak harus memilah secara tegas. Hardoyo menambahkan: kemudian saya tanya. juga bagian dari korban sejarah dalam berbagai bentuk dan sisinya. merupakan kenyataan gamblang yang pernah disaksikan banyak orang dan masih menjadi memoar kolektif sebagian mereka yang masih hidup. seorang mantan anggota DPRGR/MPRS dari Fraksi Golongan Karya Muda.Peritiwa inilah. tambah Hardoyo. Pimpinannya itu kemudian mengakui bahwa mereka hanya meneruskan perintah yang berwajib. simpul pertemuan itu. Sang ibu yang masih hamil tua sembilan bulan dibiarkan melahirkan putera terakhirnya. dendam saya hilang. ”Biar adil mestinya langkah itu yang kita lakukan. ”Mereka hanyalah pelaksana yang sebenarnya tak tahu menahu masalahnya. satu ide dengan hasil pertemuan Belgia. Sedangkan Ormas tertentu yang menggeroyok dan menangkap orang tuanya mengatakan bahwa mereka diperintah oleh pimpinannya karena jika tidak merekalah yang akan dibunuh. dan tiga hari setelah sang anak lahir ia diambil dari rumah sakit persalinan dan langsung dibunuh. keluarga dari pelaku pembunuhan orang tuanya itu mengirim pengakuan bahwa mereka itu terpaksa melakukan pembunuhan karena diperintah atasannya. ”Semula Ya.” Mereka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful