P. 1
03110036 Umi Masruroh

03110036 Umi Masruroh

|Views: 25|Likes:

More info:

Published by: Akhuithuwulan Apriliantiirvanaparttwo on Feb 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2013

pdf

text

original

PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT

TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QUR’AN-
HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI




SKRIPSI




Oleh:
Umi Masruroh
03110036











JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
OKTOBER, 2007


2
2
PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QUR’AN-
HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI



SKRIPSI


Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)


Oleh:
Umi Masruroh
03110036










JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
OKTOBER, 2007


3
3
HALAMAN PERSETUJUAN
PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QUR’AN-HADITS
DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam menyelesaikan Program Sarjana
Pendidikan Agama Islam


Oleh:
Umi Masruroh
03110036


Telah Diperiksa dan Disetujui Untuk Diujikan
Pada Tanggal 03 Oktober 2007


Oleh Dosen Pembimbing



Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M.Ag
NIP. 150227505


Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam


Drs. Moh. Padil, M. PdI
NIP. 150267235




4
4
PENGARUH METODE REWARD AND PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QUR’AN-HADITS
DI MAN KANDANGAN KEDIRI

SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh
Umi Masruroh (03110036)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji
pada tanggal 3 Oktober 2007 dengan nilai A
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam
(S.Pd.I)
Pada tanggal: 03 Oktober 2007

Dewan Penguji

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,



Drs.H.Su’aib H.Muhammad,M.Ag Hj. Rahmawati B. M.A
NIP.150227505 NIP.150318021




Penguji Utama,



Drs. A. Fatah Yasin, M.Ag
NIP.150287892



Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang




Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony
NIP. 150042031



5
5
Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Malang


NOTA DINAS PEMBIMBING


Hal : Skripsi Umi Masruroh Malang, 25 September 2007
Lamp. : 4 (Empat) Eksemplar



Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
Malang



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Umi Masruroh
NIM : 03110036
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Pengaruh Metode Reward And Punishment Terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits Di MAN
Kandangan Kediri

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.

Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.



Pembimbing,



Drs.H.Su’aib H.Muhammad,M.Ag
NIP. 150227505



6
6
SURAT PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan diterbitkan dalam daftar pustaka.










Malang, September 2007





Umi Masruroh




















7
7
PeR8emµAHAN PeR8emµAHAN PeR8emµAHAN PeR8emµAHAN


Tiodo sonjungon don pujion yong pofuf diucopkon seIoin honyo kepodo
AIIoh SWT don PosuIku Muhommoh SAW sebogoi ponufonku


Dengon kefuIuson hofi koryo ini ku persembohkon kepodo:


8opok don Ibundoku fersoyong yong dengon kesucion cinfonyo
yong menyejukkon jiwo, yong seIoIu berdo'o unfuk kesukseson buoh
hofinyo, Adikku Uswofun yong seIoIu memberi
semongof di sefiop Iongkohku

8opok, Ibu 0uruku don Dosen-dosenku, yong dengon
keikhIoson hofi mendidik don membimbing hinggo onok didiknyo sukses

Sohobofku yong omof oku soyongi mb Iin, Upi', Ano, Munu, Tufik, Eko,
Mifo, A;i;oh, serfo femonku keIompok observosi di IUA Iedung
Iondong, yong seIoIu memberi dukungon, bonfuon don menghiburku

Temon-femonku di HMI mos 8usry, mb Hofidhoh, mb LiIik, Mono,
Iiswofi, 8odowi, don seferusnyo, yong feIoh memberi pengoIomon yong
fok pernoh kudopofkon sebogoi bekoI hidup, sikop opfimis yokin usoho
sompoi "YAIUSA"

Semogo AIIoh SWT seIoIu membimbing kifo semuo doIom keboikon
menuju kesukseson yong diridhoi-Myo

AMIM










8
8
MOTTO



_.· ¯_.-, _!1.¸. ¸:¯¸: ¦¸,> .:¸, ¸_¸ _.´¸ ¯_.-, _!1.¸. ¸:¯¸: ¦´¸:
.:¸, ¸_¸



Artinya:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,
niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan
melihat (balasan)nya pula (Q.S. Zal-Zalah: 7-8)
1


























1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Qur’an, 2002), hlm. 600


9
9
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim
Alhamdulillah segala puji syukur segalanya penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, karena limpahan rahmat, hidayah serta inayahNya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai tugas akhir perkuliahan.
Shalawat serta salam senantiasa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad SAW, yang telah membimbing kita ke jalan yang benar, yaitu
jalan yang di ridhoi Allah SWT.
Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini penulis tidak akan terlepas
dari bimbingan dan dukungan dan bantuan dari semua pihak sehingga
terselesaikan skripsi ini, oleh karena itu penulis mengucapkan ungkapan terima
kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak dan Ibunda tercinta yang dengan sabar telah membimbing,
mendoakan, mengarahkan, memberi kepercayaan, dan bantuan moril serta
materiil
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Malang
3. Bapak Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony selaku Dekan Fakultas Tarbiyah
4. Bapak Padil M. Pdi selaku ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
5. Bapak Drs. H. Su’aib H. Muhammad M. Ag selaku Dosen Pembimbing
yang telah memberikan bimbingannya hingga skripsi ini selesai
6. Bapak Drs. Djamil Aly selaku Kepala Sekolah MAN Kandangan Kediri
yang telah memberi izin dan kerja samanya


10
10
7. Segenap Guru, karyawan serta siswa-siswi MAN Kandangan Kediri yang
telah memberikan bantuannya dalam memberikan data-data penelitian
8. Semua teman-temanku yaitu Tutik Astiani, Nurussobah, Azizah, Ana
Faizati, semua teman-temanku yang tidak bisa disebutkan satu persatu,
terima kasih atas segala bantuannya
9. Semua teman-teman ku di kost wartel A dan Istiqomah apartement
10. Semua pihak yang ikut mensukseskan skripsi ini (maaf tidak mungkin
disebutkan satu persatu)
Penulis manyadari bahwa penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna.
Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Semoga skripsi ini memberikan manfaat pada semua pihak. Tujuan saya dengan
karya ini setidaknya memberikan kontribusi bagi para pembaca karya ini, yang
peduli dengan dunia pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan.
Akhirnya hanya Allah SWT berserah diri dan semoga skripsi ini
bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan semua pihak pada umumnya,
semoga kita semua mendapat Hidayah-Nya. AMIN.


Penulis









11
11
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
HALAMAN PENGAJUAN........................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN. ...................................................................... iv
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING .............................................. v
HALAMAN SURAT PERNYATAAN......................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vii
HALAMAN MOTTO.................................................................................... viii
KATA PENGANTAR.................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................. xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. xv
ABSTRAK...................................................................................................... xvi
BAB I :PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1
B. Rumusan Masalah. ........................................................................ 8
C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 8
D. Manfaat Penelitian ....................................................................... 8
E. Hipotesis ........................................................................................ 9
E. Ruang Lingkup ............................................................................. 9
F. Sistematika Pembahasan ............................................................... 10
BAB II :KAJIAN PUSTAKA
A. Pembahasan Tentang Reward ...................................................... 13
1. Pengertian Reward ................................................................... 13
2. Macam-macam Reward ............................................................ 16
3. Tujuan Reward . ........................................................................ 21
B. Pemabahasan Tentang Punishment .............................................. 23
1. Pengertian Punishment ............................................................. 23
2. Macam-macam Punishment ..................................................... 30


12
12
3. Tujuan Punishment .................................................................. 40
C. Pembahasan Tentang Motivasi Belajar ...................................... 43
1. Pengertian Motivasi Belajar ....................................................... 43
2. Macam-macam Motivasi ............................................................ 46
3. Fungsi Motivasi .......................................................................... 54
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi ............................. 55
D. Pembahasan Tentang Qur’an-Hadits............................................. 57
1. Pengertian Qur’an ....................................................................... 57
2. Pengertian Hadits ........................................................................ 60
3. Fungsi Qur’an-Hadits.................................................................. 61
4. Tujuan Qur’an-Hadits ................................................................. 62
E. Pengaruh Metode Reward and Punishment terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Qur’an-Hadits ................................................... 62
BAB III :METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian.......................................................................... 65
B. Jenis Penelitian ............................................................................ 65
C. Data dan Sumber Data ................................................................. 65
D. Populasi dan Sampel . .................................................................. 67
E. Instrumen Penelitian ................................................................... 70
F. Pengumpulan Data ...................................................................... 71
G. Analisis Data ................................................................................ 75
1. Validitas dan Realibilitas Instrument ....................................... 75
2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas.......................................... 77
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Obyek Penelitian ................................................ 79
B. Deskripsi Data . ............................................................................ 91
1. Data Responden ....................................................................... 92
2. Data Deskripsi Hasil Penelitian ............................................... 93
BAB V : PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A. Pengaruh Metode Reward dan Punishment terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..... 98


13
13
B. Pengaruh Metode reward terhadap Peningkatan Motivasi
Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..................... 99
C. Pengaruh Metode Punishment terhadap Peningkatan Motivasi
Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri ..................... 101
BAB VI :KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................ 103
B. Saran-saran .................................................................................. 104
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



































14
14
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1 Skor Skala Likert Reward dan Punishment Terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits .................................... 73
Tabel 3.2 Blue Print Skala Metode Reward dan Punishment
Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits .................... 74
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Skala Metode Reward dan Punishment
Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits .................... 77
Tabel 4.1 Keadaan Guru MAN Kandangan Kediri .......................................... 82
Tabel 4.2 Data Siswa MAN Kandangan Kediri................................................ 83
Tabel 4.3 Data Keadaan Siswa Sejak Berdiri Sampai Sekarang ...................... 83
Tabel 4.4 Luas MAN Kandangan Kediri .......................................................... 84
Tabel 4.5 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Reward dan
Punishment ......................................................................................... 93
Tabel 4.6 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Reward ...................... 95
Tabel 4.7 Hasil Uji Regresi Linier Sederhana Variabel Punishment................ 96














15
15
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Penelitian
Lampiran 2. Struktur Organisasi MAN Kandangan Kediri
Lampiran 3. Denah Lokasi Ruang MAN Kandangan
Lampiran 4. Daftar Sarana Prasarana Kelas MAN Kandangan Kediri
Lampiran 5. Surat Keputusan Kepala MAN Kandangan Tentang Pembagian
Tugas Mengajar
Lampiran 6. Kuesioner yang Belum Valid
Lampiran 7. Kuesioner yang Sudah Valid
Lampiran 8. Hasil Uji Reliabel Reward
Lampiran 9. Hasil Uji Reliabel Punishment
Lampiran 10. Hasil Uji Reliabel Motivasi
Lampiran 11. Hasil Uji Regresi Reward dan Punisment
Lampiran 12. Hasil Uji Regresi Reward
Lampiran 13. Hasil Uji Regresi Punishment
Lampiran 14. Tabel Frekuensi

















16
16
ABSTRAK
Masruroh, Umi. Pengaruh Metode Reward and Punishment Terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri. Skripsi,
Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri
(UIN) Malang. Drs. H. Su’aib. H. Muhammad, M.Ag.

Metode pembelajaran merupakan suatu teknik untuk mencapai tujuan.
Dengan adanya metode pembelajaran diharapkan kegiatan belajar mengajar dapat
berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan, namun dalam kenyataannya masih ada
siswa yang tidak fokus pada pelajaran, untuk itu diperlukan metode yang sesuai
dan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Adapun salah satu metode yang
digunakan oleh guru MAN Kandangan Kediri adalah metode reward dan
punishment, dengan menerapkan metode reward dan punishment diharapkan
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, karena dengan metode reward akan
menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dengan diberikan
punishment ini diharapkan dapat menertibkan siswa yang mengganggu dalam
proses belajar mengajar. Kedua metode ini dapat menimbulkan motivasi sehingga
siswa akan antusias dalam belajar Qur’an-Hadits. Dalam kegiatan belajar
mengajar memang sangat penting diterapkan metode reward dan punishment
sebagai salah satu metode pembelajaran.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh
metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-
Hadits di MAN Kandangan Kediri, untuk mengetahui seberapa pengaruh metode
reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri.
Penelitian ini menggunakan Korelasi Product Moment serta dengan
menggunakan metode dokumentasi, kuesioner, dan observasi. Adapun metode
analisis yang digunakan adalah analisis statistik dengan taraf signifikan 0,05 dan
apakah ada pengaruh yang signifikan metode reward dan punishment terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits, dan untuk memperkuat analisis ini
digunakan analisis deskriptif yang digunakan untuk menganalisis hasil
pengamatan mengenai pengaruh metode reward dan punishment,
Hasil penelitian dari analisis data yang diperoleh dari hasil penelitian
mengenai pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri mempunyai pengaruh
yang signifikan untuk meningkatkan motivasi belajar Qur’an-Hadits yaitu sebesar
42%.


Kata kunci: Metode Reward dan Punishment, Motivasi belajar, Qur’an-Hadits







17
17

DEPARTEMEN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Gajayana NO. 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI

Nama : Umi Masruroh
NIM : 03110036
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Pembimbing : Drs. H. Su’aib H. Muhammad, M. Ag
Judul : Pengaruh Metode Reward and Punishment Terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Qur’an-Hadits Di MAN Kandangan Kediri

No Tanggal Hal Yang Dikonsultasikan Tanda Tangan
1 15-03-2007 Konsultasi Judul
2 19-04-2007 Konsultasi Judul
3 30-05-2007 Konsultasi Bab I
4 30-06-2007 Konsultasi Bab II
5 21-07-2007 Konsultasi Bab III + Angket
6 25-08-2007 Konsultasi Bab IV, V
7 13-09-2007 Konsultasi Bab V, VI
8 20-09-2007 Konsultasi Keseluruhan
9 25-09-2007 ACC Bab I, II, II, IV, V, dan VI


Malang, 25 September 2007

Mengetahui,

Dekan Fakultas Tarbiyah



Prof. Dr.HM. Djunaidi Ghony
NIP. 150042031






18
18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keyakinan bahwa pendidikan merupakan faktor yang penting untuk
kehidupan manusia memang ada sejak dulu sampai sekarang ini dapat dilihat
dari sebuah ayat Al-Qur’an yang menggambarkan tingginya kedudukan orang
yang mempunyai ilmu pengetahuan, ayat ini bisa menjadi motivasi untuk terus
mencari ilmu, adapun ayat itu adalah surat Al-Mujadalah: 11
2

¸_·¯¸ ,… ´<¦ _¸¸¦ ¦¡`..¦´ , ¯¡>.¸. _¸¸¦´¸ ¦¡.¸¦ ´¸l¸-l¦ ¸¸.>´¸: …
“ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...(Al-
Mujadalah: 11)

Dari ayat di atas kita dapat mengambil sebuah hikmah betapa pentingnya
pendidikan bagi manusia hingga Allah SWT akan meninggikan derajat bagi
orang-orang yang berilmu. Pendidikan dan manusia memang tidak dapat
dipisahkan dalam menjalani kehidupan, baik keluarga, masyarakat maupun
bangsa dan negara, ini sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang
RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu
“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif


2
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Qur’an, 2002), hlm. 544


19
19
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
3

Pendapat di atas mengingatkan kita pada pentingnya pendidikan,
pendidikan mempunyai peran untuk meningkatkan sumber daya manusia,
maka masyarakat dengan segala kesadarannya untuk menyekolahkan putra
dan putrinya. Hal ini dapat dilihat pada setiap ajaran baru, dalam setiap
tahunnya jumlah siswa semakin meningkat dan ini tidak menutup
kemungkinan timbul berbagai masalah yang dihadapi oleh para guru, dimana
jika kita melihat pendidikan sekarang ini yang berhubungan dengan tingkah
laku siswa, terjadi banyak penyimpangan dan tidak sesuai dengan harapan
yang diinginkan. Ini terbukti dengan banyaknya moral dan akhlak siswa yang
tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Misalnya: perkelahian antar
siswa, terlambat, melalaikan tugas, membolos, berisik di kelas, saling kirim
surat disaat pelajaran, membantah perintah dan sebagainya.
Penyimpangan lain dari siswa dalam kegiatan belajar mengajar yaitu
sering tidak fokus dan tidak memperhatikan pada pelajaran yang disampaikan
oleh guru yang di depan, dengan keadaan yang demikian seorang guru harus
bisa menguasai kelas dan mengkondisikan siswa yang perhatiannya mulai
terpecah, sebagai seorang guru haruslah mampu memberikan motivasi bagi
siswa, bagaimana caranya bahwa belajar itu tidak membosankan melainkan
menyenangkan, ini merupakan tantangan bagi guru, seorang guru harus tahu

3
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 3


20
20
cara yang tepat untuk membuat suasana belajar yang menarik terutama pada
mata pelajaran Qur’an-Hadits, sering kali siswa malas belajar Qur’an-Hadits
itu dikarenakan merasa jenuh, suasana belajar yang tidak nyaman dan
membosankan, karena dalam kegiatan belajar mengajar hanya menggunakan
metode ceramah dan hafalan saja, apalagi dalam proses belajar mengajar di
MAN Kandangan Kediri menerapkan sistem full day school, sehingga
seharian siswa akan berada di sekolah untuk belajar.
Sebagai seorang guru dalam menghadapi fenomena semacam ini
haruslah bijak dalam mengambil tindakan, karena sekecil apapun tindakan
guru nantinya akan menimbulkan dampak positif maupun negatif pada siswa.
Harus dipikirkan bagaimana membentuk kepribadian siswa menjadi baik
sesuai dengan tujuan pendidikan dan terbentuknya kepribadian siswa.
Untuk mengatasi masalah tersebut serta mampu memberi motivasi
belajar bagi siswa agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan
berhasil, maka diadakan upaya pencegahan dalam berbagai macam seperti
peraturan-peraturan tata tertib, peraturan itu harus ditaati dan dilaksanakan
oleh siswa demi meningkatkan kualitas dan prestasi belajar siswa, namun ada
cara lain yang bisa diterapkan yaitu dengan memberi motivasi belajar Qur’an-
Hadits dengan memberikan reward (ganjaran) dan punishment (hukuman),
reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) adalah sebagai salah satu alat
pendidikan untuk mempergiat usaha siswa untuk memperbaiki atau
mempertinggi prestasi yang telah dicapai.


21
21
Reward (ganjaran) adalah hadiah, pembalas jasa, alat pendidikan yang
diberikan kepada siswa yang telah mencapi prestasi baik.
4

Sedangkan pendapat yang lain tentang reward (ganjaran) adalah sebagai
alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena
perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan.
5

Reward (ganjaran) merupakan hal yang menggembirakan bagi anak, dan
dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi belajarnya murid.
6

Reward (ganjaran) yaitu segala yang diberikan guru berupa penghargaan
yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa atas dasar hasil
baik yang telah dicapai dalam proses pendidikan dengan tujuan memberikan
motivasi kepada siswa, agar dapat melakukan perbuatan terpuji dan berusaha
untuk meningkatkannya. Dalam agama Islam metode reward (ganjaran)
terbukti dengan adanya “pahala”, Allah SWT akan melipat gandakan pahala
bagi siapa saja yang berbuat kebaikan termasuk dalam hal memberi reward
(ganjaran), ini dikarenakan kita telah berbuat baik pada orang lain (siswa)
yaitu dengan memberi hadiah yang dapat menyenangkan hati siswa.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa reward (ganjaran)
merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan, reward (ganjaran)
juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa untuk belajar lebih
baik lagi.


4
M. Sastra Pradja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum (Surabaya: Usaha Nasional, 1978),
hlm. 169

5
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm.182

6
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 147


22
22
Reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) adalah alat pendidikan
yang represif. Namun kedua-duanya mempunyai prinsip yang bertentangan.
Mengenai pengertian tantang punishment (hukuman) adalah sebagai berikut
“punishment (hukuman) adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak didik
secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan nestapa. Dalam mana bahwa
dengan adanya nestapa itu, anak didik akan menjadi sadar akan perbuatannya
dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya”
7

Punishment (hukuman) adalah usaha edukatif untuk memperbaiki dan
mengarahkan siswa ke arah yang benar, bukan praktik hukuman dan siksaan
yang memasung kreativitas.
8

Dari pengertian di atas, punishment (hukuman) yang diberikan bukan
untuk balas dendam kapada siswa melainkan untuk memperbaiki tingkah laku
siswa yang kurang baik ke arah yang lebih baik dan dapat memberikan
motivasi belajar siswa.
Setelah memperhatikan pengertian di atas punishment (hukuman)
merupakan imbalan dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau
mengganggu jalannya proses pendidikan. Dapat dikatakan juga bahwa
punishment (hukuman) adalah penilaian terhadap belajarnya murid yang
bersifat negatif, sedang reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat
positif.
Dengan demikian, reward (ganjaran) dan punisment (hukuman), di
samping berfungsi sebagai alat-alat pendidikan, maka sekaligus berfungsi


7
Mahfudh Shalahuddin, dkk. Metodologi Pendidikan Agama (Surabaya: Bina Ilmu,1987), hlm.
85-86

8
Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 202


23
23
sebagai motivasi bagi belajar murid. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi
orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu
guna mencapai sesuatu tujuan.
9

Sedang menurut Tadjab motivasi belajar adalah "keseluruhan daya
penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,
menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan
belajar demi mencapai tujuan tertentu”
10


Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-
siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku.
11

Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian
prestasi. Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan
hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan
terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan dapat
melahirkan prestasi yang baik.
12

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa reward (ganjaran) dan
punishment (hukuman) disamping sebagai alat pendidikan juga sebagai
motivasi bagi siswa dalam mencapai prestasi belajar siswa setinggi-tingginya.
Untuk itu diperlukan adanya pemberian reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) di sekolah-sekolah.
MAN Kandangan Kediri adalah salah satu lembaga pendidikan formal
yang bersifat responsif untuk menerima pembaharuan, MAN Kandangan
Kediri letaknya memang strategis sehingga memudahkan peneliti untuk


9
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 70

10
Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hlm. 102

11
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2007), hlm. 23

12
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hlm. 85


24
24
mengambil data, selain dari itu MAN Kandangan Kediri dalam proses belajar
mengajar menerapkan sistem full day school, sehingga siswa seharian berada
di sekolah untuk belajar, maka secara tidak langsung siswa akan merasa jenuh
dan bosan dalam kegiatan belajar yang menggunakan metode ceramah saja,
sedangkan pada matapelajaran Qur’an-Hadits guru Qur’an-Hadits
menggunakan metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) dalam
kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa tidak akan merasa bosan dalam
kegiatan belajar mengajar yang menggunakan sistem full day school, dengan
menggunakan sistem full day school ini siswa akan merasa jenuh dalam
kegiatan belajar mengajar karena sejak pagi sampai sore siswa berada di
sekolah untuk belajar apalagi dalam kegiatan belajar mengajar hanya
menggunakan metode ceramah saja, dengan mengunakan metode reward
(ganjaran) dan punishment (hukuman) sehingga kegiatan belajar menjadi lebih
menyenangkan, terkendali, dan bervariasi, mengingat sangat pentingnya
pemberian metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) di sekolah,
maka untuk itu penulis bermaksud melakukan penelitian sejauhmana pengaruh
metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk
membahas masalah tersebut dalam judul: “PENGARUH METODE REWARD
AND PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR
QUR’AN-HADITS DI MAN KANDANGAN KEDIRI




25
25
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1. Adakah pengaruh metode reward and punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri?
2. Seberapa besar pengaruh metode reward terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri?
3. Seberapa besar pengaruh metode punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan
1. Mengetahui pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri
2. Mengetahui tingkat pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
3. Mengetahui tingkat pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat membantu dan memberikan kontribusi
kepada semua pihak antara lain:
1) Lembaga


26
26
a) Memberikan sebuah terobosan baru dalam belajar
b) Memberikan semangat belajar bagi siswa
c) Sebagai sebuah perbandingan dengan penggunaan metode baru
d) Sebuah terobosan baru dalam pengelolaan kelas
2) Pengembangan Ilmu Pengetahuan
a) Sebagai tambahan wawasan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar
banyak metode yang diterapkan dan mampu menciptakan semangat
belajar yang baru
b) Sebagai tambahan wawasan dalam mengelola sekolah bahwa sekolah
juga harus mengikuti perkembangan ilmu dan selalu terjadi perubahan
3) Penulis
a) Memberikan pengalaman yang baru tentang metode pembelajaran
b) Memberikan wawasan dalam mengelola kelas
c) Sabagai tambahan dalam wawasan berpikir

D. Hipotesis
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hipotesis alternatif
“Terdapat pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri”

E. Ruang Lingkup
Untuk membatasi dari pembahasan pada penelitian ini maka ruang
lingkup dari penelitian ini adalah berkisar pada pengaruh metode reward dan


27
27
punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri seperti yang dirumuskan dalam rumusan masalah yaitu:
1) Adakah pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
2) Seberapa besar pengaruh metode reward terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
3) Seberapa besar pengaruh metode punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri

F. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran mengenai isi laporan penelitian ini maka
sistematika pembahasannya disusun sebagai berikut:
Bab I. Pendahuluan, dimaksudkan untuk memberikan gambaran
terhadap skripsi ini agar pembaca mengerti apa yang dimaksud dalam
pembahasan selanjutnya. Pada bab ini berisi tentang latar belakang masalah
yang berfungsi untuk memberi gambaran tentang masalah yang akan diteliti,
rumusan masalah yang menjadi pertanyaan yang harus dijawab dalam
penelitian ini, tujuan dan kegunaan penelitian dimaksudkan agar hasil yang
diharapkan sesuai dengan penulisan skripsi ini sehingga penulisan dapat
mengarah pada sasaran yang dikehendaki, ruang lingkup dan batasan
penelitian ini adalah untuk mempermudah peneliti dalam penelitian sehingga
penelitian ini fokus pada apa yang akan diteliti, dan yang terakhir adalah
sistematika pembahasan yaitu menggambarkan secara garis besar susunan


28
28
penulisan dari skripsi ini untuk memberi kemudahan bagi pembaca yang ingin
mengambil manfaat dari skripsi ini.
Bab II. Akan menguraikan kajian pustaka yang menjadi landasan dalam
penulisan dan penelitian skripsi yang berisi pembahasan tentang reward
(ganjaran); pengertian reward (ganjaran), macam-macam reward (ganjaran),
tujuan reward (ganjaran), pembahasan tentang punishment (hukuman);
pengertian punishment (hukuman), macam-macam punishment (hukuman),
tujuan punishment (hukuman), dan pembahasan tentang motivasi; pengertian
motivasi belajar, macam-macam motivasi belajar, fungsi motivasi, faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar, serta pembahasan tentang pengertian Qur’an-
Hadits, fungsi Qur’an-Hadits, dan tujuan Qur’an-Hadits, pengaruh metode
reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits,
dengan pokok bahasan ini agar bisa memberikan dukungan yang mantap
sehingga mencerminkan konsep ideal sebagai landasan teori yang kuat. Hal ini
dimaksudkan agar dapat menyumbang kerangka pemikiran dalam pembahasan
berikutnya.
Bab III. Menguraikan metode penelitian yang digunakan untuk
mengumpulkan data yang berisi tentang lokasi penelitian, jenis penelitian, data
dan sumber data, populasi dan sampel, instrumen penelitian, pengumpulan
data, dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode dokumentasi,
angket, dan observasi, dan yang terakhir analisis data adalah sebagai cara
untuk menganalisa data yang telah penulis dapatkan dari obyek penelitian,
serta validitas dan reabilitas.


29
29
Bab IV. Membahas hasil penelitian berisi tentang latar belakang obyek
penelitian yang meliputi; sejarah berdirinya MAN Kandangan Kediri, serta
deskripsi data meliputi data responden, deskripsi data hasil penelitian yang
menggambarkan tentang data yang akan diolah dengan menggunakan statistik.
Bab V. Pembahasan hasil penelitian berisi tentang pembahasan
mengenai adakah pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits, seberapa
besar pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits, seberapa besar pengaruh metode punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits, serta
interpretasi data merupakan penafsiran mengenai kesesuaian antara teori
dengan kondisi lapangan, apakah antara dasar pemikiran dengan hasil
pemikiran ada kesesuaian, sehingga membantu pembaca skripsi mengetahui
sejauh mana hasil-hasil tersebut dapat diterapkan di dalam praktek.
Bab VI. Penutup berisi tentang kesimpulan dari apa yang telah diuraikan
pada bab di atas serta sebagai informasi yang telah teruji kebenaran penelitian
yang dilakukan setelah itu adalah saran yang relevan untuk membangun bagi
obyek penelitian yang bersumber atau merujuk pada materi yang ada.












30
30
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan Tentang Reward
1. Pengertian Reward (Ganjaran)
Metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) merupakan
suatu bentuk teori penguatan positif yang bersumber dari teori
Behavioristik. Menurut teori Behavioristik belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang
dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan
cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
13

Ganjaran menurut bahasa, berasal dari bahasa Inggris reward yang
berarti penghargaan atau hadiah
14

Sedangkan reward (ganjaran) menurut istilah ada beberapa pendapat
yang akan dikemukakan sebagai berikut, diantaranya adalah:
Menurut M. Ngalim Purwanto “reward (ganjaran) ialah alat untuk
mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan
atau pekerjaannya mendapat penghargaan”
15


Menurut Amir Daien Indrakusuma “reward (ganjaran) adalah
penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya siswa”
16



13
Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 20

14
John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996),
hlm. 485

15
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 182

16
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 159


31
31
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa reward
(ganjaran) adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang
menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena mendapat
hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa
melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji.
Peranan reward (ganjaran) dalam proses pengajaran cukup penting
terutama sebagai faktor eksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan
perilaku siswa. Hal ini berdasarkan atas berbagai pertimbangan logis,
diantaranya reward (ganjaran) biasanya dapat menimbulkan motivasi
belajar siswa, dan reward (ganjaran) juga memiliki pengaruh positif dalam
kehidupan siswa.
Manusia selalu mempunyai cita-cita, harapan dan keinginan. Inilah
yang dimanfaatkan oleh metode reward (ganjaran). Maka dengan metode
ini, seseorang mengerjakan perbuatan baik atau mencapai suatu prestasi
yang tertentu diberikan suatu reward (ganjaran) yang menarik sebagai
imbalan. Dengan demikian dengan melakukan sesuatu perbuatan atau
mencapai suatu prestasi.
17

Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan yang mudah
dilaksanakan dan sangat menyenangkan para siswa, untuk itu reward
(ganjaran) dalam suatu proses pendidikan sangat dibutuhkan
keberadaannya demi meningkatkan motivasi belajar siswa.


17
Mahfudh Shalahuddin, dkk. Metodologi Pendidikan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1987),
hlm. 81


32
32
Maksud dari pendidik memberi reward (ganjaran) kepada siswa
adalah supaya siswa menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki
atau mempertinggi prestasi yang telah dicapainya, dengan kata lain siswa
menjadi lebih keras kemauannya untuk belajar lebih baik.
18

Dalam agama Islam juga mengenal metode reward (ganjaran), ini
terbukti dengan adanya pahala. Pahala adalah bentuk penghargaan yang
diberikan Allah SWT kepada umat Nya yang beriman dan mengerjakan
amal-amal saleh seperti; sholat, puasa, membaca al-Qur’an dan perbuatan-
perbuatan lain yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk
berbuat kebaikan, yaitu dalam Q.S. al-Baqarah ayat 261
19

`_.. _¸¸¦ ¿¡1¸±.`, `¸¸l´¡.¦ _¸· ¸_,¸, . ¸<¦ ¸_:.´ ¸«´,> ¸.´,.¦ _¯,. _¸,!´.. _¸·
¸_´ ¸,.. «.!¸. ¸«´,> ´<¦´ ¸ ¸¸-..`, _.¸l ',!:¸ ´<¦´ ¸ _¸.´¸ '¸,¸l . ¸__¸¸

Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa metode reward (ganjaran)
mendidik kita untuk berbudi luhur, maka diharapkan agar manusia selalu


18
M. Ngalim Purwanto, loc. cit.

19
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Qur’an, 2002), hlm. 45


33
33
berbuat baik dalam upaya mencapai prestasi-prestasi tertentu dalam hidup
dan kehidupan di dunia.
Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian
reward (ganjaran) dalam konteks pendidikan dapat diberikan bagi siapa
saja yang berprestasi, dengan adanya reward (ganjaran) itu siswa akan
lebih giat belajar karena dengan adanya reward (ganjaran) itu siswa
menjadi termotivasi untuk selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik,
untuk itulah pentingnya metode reward (ganjaran) di terapkan di sekolah.

2. Macam-macam Reward (Ganjaran)
Reward (ganjaran) adalah penilaian yang bersifat positif terhadap
belajarnya murid. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada siswa
bentuknya bermacam-macam, secara garis besar reward (ganjaran) dapat
dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a. Pujian
Pujian adalah satu bentuk reward (ganjaran) yang paling mudah
dilakukan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus
sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat
sugesti. Misalnya: “Nah, lain kali akan lebih baik lagi.” “Kiranya kau
sekarang telah lebih rajin belajar” dan sebagainya. Disamping yang
berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertanda-
pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan
menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.


34
34
b. Penghormatan
Reward (ganjaran) yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk
dua macam pula.
Pertama berbentuk semacam penobatan. Yaitu anak yang mendapat
penghormatan diumumkan dan ditampilkan dihadapan teman-temannya.
Dapat juga dihadapan teman-temannya sekelas, teman-teman sekolah,
atau mungkin juga dihadapan para teman dan orang tua murid. Misalnya
saja pada malam perpisahan yang diadakan pada akhir tahun, kemudian
ditampilkan murid-murid yang telah berhasil menjadi bintang-bintang
kelas. Penobatan dan penampilan bintang-bintang pelajar untuk suatu
kota atau daerah, biasanya dilakukan di muka umum. Misalnya pada
rangkaian upacara hari proklamasi kemerdekaan.
Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk
melakukan sesuatu. Misalnya, kepada anak yang berhasil menyelesaikan
suatu soal yang sulit, disuruh mengerjakannya di papan tulis untuk
dicontoh teman-temannya.
c. Hadiah
Yang dimaksud dengan hadiah di sini ialah reward (ganjaran) yang
berbentuk pemberian yang berupa barang. Reward (ganjaran) yang
berupa pemberian barang ini disebut juga reward (ganjaran) materiil,
yaitu hadiah yang berupa barang ini dapat terdiri dari alat-alat keperluan
sekolah, seperti pensil, penggaris, buku dan lain sebagianya.



35
35
d. Tanda Penghargaan
Jika hadiah adalah reward (ganjaran) yang berupa barang, maka
tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak
dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti
halnya pada hadiah. Melainkan, tanda pengahargaan dinilai dari segi
“kesan” atau “nilai kenang”nya. Oleh karena itu reward (ganjaran) atau
tanda penghargaan ini disebut juga reward (ganjaran) simbolis. Reward
(ganjaran) simbolis ini dapat berupa surat-surat tanda jasa, sertifikat-
sertifikat.
20

Dari keempat macam reward (ganjaran) tersebut di atas, dalam
penerapannya seorang guru dapat memilih bentuk macam-macam
reward (ganjaran) yang cocok dengan siswa dan disesuaikan dengan
situasi dan kondisi, baik situasi dan kondisi siswa atau situasi dan
kondisi keuangan, bila hal itu menyangkut masalah keuangan.
Dalam memberikan reward (ganjaran) seorang guru hendaknya
dapat mengetahui siapa yang berhak mendapatkan reward (ganjaran),
seorang guru harus selalu ingat akan maksud reward (ganjaran) dari
pemberian reward (ganjaran) itu. Seorang siswa yang pada suatu ketika
menunjukkan hasil lebih baik dari pada biasanya, mungkin sangat baik
diberi reward (ganjaran). Dalam hal ini seorang guru hendaklah
bijaksana, jangan sampai reward (ganjaran) menimbulkan iri hati pada


20
Amir Daien Indrakusuma, op .cit., hlm. 159-161


36
36
siswa yang lain yang merasa dirinya lebih pandai, tetapi tidak mendapat
reward (ganjaran).
Kalau kita perhatikan apa yang telah diuraikan tentang maksud
reward (ganjaran), serta macam-macam reward (ganjaran) yang baik
diberikan kepada siswa, ternyata bukanlah soal yang mudah. Ada
beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru sebelum
memberikan reward (ganjaran) pada siswa yaitu:
a. untuk memberi reward (ganjaran) yang pedagogis perlu sekali guru
mengenal betul-betul siswanya dan tahu menghargai dengan tepat.
Reward (ganjaran) dan penghargaan yang salah dan tidak tepat dapat
membawa akibat yang tidak diinginkan.
b. Reward (ganjaran) yang diberikan kepada seorang siswa janganlah
hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati bagi siswa lain
yang merasa pekerjaannya juga lebih baik, tetapi tidak mendapat
reward (ganjaran).
c. Memberi reward (ganjaran) hendaklah hemat. Terlalu kerap atau
terus-menerus memberi reward (ganjaran) dan penghargaan akan
menjadi hilang arti reward (ganjaran) itu sebagai alat pendidikan.
d. Janganlah memberi reward (ganjaran) dengan menjanjikan lebih
dahulu sebelum siswa menunjukkan prestasi kerjanya apalagi bagi
reward (ganjaran) yang diberikan kepada seluruh kelas. Reward
(ganjaran) yang telah dijanjikan lebih dahulu hanyalah akan membuat


37
37
siswa terburu-buru dalam bekerja dan akan membawa kesukaran-
kesukaran bagi beberapa siswa yang kurang pandai.
e. Pendidik harus berhati-hati memberikan reward (ganjaran), jangan
sampai reward (ganjaran) yang diberikan pada siswa diterima sebagai
upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.
21

Ada beberapa pendapat para ahli pendidikan terhadap reward
(ganjaran) sebagai alat pendidikan berbeda-beda. Sebagian menyetujui
dan menganggap penting reward (ganjaran) itu dipakai sebagai alat
untuk membentuk kata hati siswa. Sebaliknya ada pula ahli-ahli
pendidikan yang tidak suka sama sekali menggunakan reward
(ganjaran). Mereka berpendapat bahwa reward (ganjaran) itu dapat
menimbulkan persaingan yang tidak sehat pada siswa. Menurut pendapat
mereka, seorang guru hendaklah mendidik siswa supaya mengerjakan
dan berbuat yang baik dengan tidak mengharapkan pujian atau reward
(ganjaran), tetapi semata-mata karena pekerjaan atau perbuatan itu
memang kewajibannya.
Sedangkan pendapat yang terakhir adalah terletak diantara
keduanya, sebagai seorang pendidik hendaknya menginsafi bahwa yang
dididik adalah siswa yang masih lemah kemauannya dan belum
mempunyai kata hati seperti orang dewasa. Dari mereka belumlah dapat
dituntut supaya mereka mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang
buruk atas kemauan dan keinsafannya sendiri. Perasaan kewajiban


21
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 184


38
38
mereka masih belum sempurna, bahkan pada siswa yang masih kecil
boleh dikatakan belum ada. Untuk itu, maka pujian dan reward
(ganjaran) sangat diperlukan pula dan berguna bagi pembentukan kata
hati dan kemauan.
22

Setelah mengetahui beberapa pendapat para ahli pendidikan di atas
dapatlah disimpulkan, reward (ganjaran) juga sangat penting tapi ada
juga dampak negatifnya, untuk itu seorang guru harus memberitahu
kepada siswa bahwa berbuat baik bukan karena mengaharap suatu pujian
atau reward (ganjaran), maka seorang guru harus selalu ingat akan
syarat-syarat reward (ganjaran) seperti yang diuraikan di atas.
Reward (ganjaran) adalah alat yang mendidik, maka dari itu reward
(ganjaran) tidak boleh berubah sifatnya menjadi upah. Upah adalah
sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatu pekerjaan
atau suatu jasa. Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga, pikiran,
atau pekerjaan yang telah dilakukan seseorang. Sedangkan reward
(ganjaran) sebagai alat pendidikan tidaklah demikian, untuk itu seorang
guru harus selalu ingat maksud dari pemberian reward (ganjaran) itu.
23


3. Tujuan Reward (Ganjaran)
Mengenai masalah reward (ganjaran), perlu peneliti bahas tentang
tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran). Hal ini
dimaksudkan, agar dalam berbuat sesuatu bukan karena perbuatan semata-


22
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 184 -185

23
Ibid. hlm. 182


39
39
mata, namun ada sesuatu yang harus dicapai dengan perbuatannya, karena
dengan adanya tujuan akan memberi arah dalam melangkah.
Tujuan yang harus dicapai dalam pemberian reward (ganjaran)
adalah untuk lebih mengembangkan motivasi yang bersifat intrinsik dari
motivasi ektrinsik, dalam artian siswa melakukan suatu perbuatan, maka
perbuatan itu timbul dari kesadaran siswa itu sendiri. Dan dengan reward
(ganjaran) itu, juga diharapkan dapat membangun suatu hubungan yang
positif antara guru dan siswa, karena reward (ganjaran) itu adalah bagian
dari pada penjelmaan dari rasa cinta kasih sayang seorang guru kepada
siswa.
Jadi, maksud dari reward (ganjaran) itu yang terpenting bukanlah
hasil yang dicapai seorang siswa, tetapi dengan hasil yang dicapai siswa,
guru bertujuan membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan
lebih keras pada siswa.
Seperti halnya telah disinggung di atas, bahwa reward (ganjaran)
disamping merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan,
reward (ganjaran) juga dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi siswa
untuk belajar lebih baik lagi.







40
40
B. Pembahasan Tentang Punishment
1. Pengertian Punishment (Hukuman)
Hukuman menurut bahasa berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata
Punishment yang berarti Law (hukuman) atau siksaan”.
24
Sedangkan
menurut istilah ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli
pendidikan tentang punishment (hukuman), diantaranya adalah sebagai
berikut:
Menurut Malik Fadjar “punishment (hukuman) adalah usaha edukatif
untuk memperbaiki dan mengarahkan siswa ke arah yang benar, bukan
praktik hukuman dan siksaan yang memasung kreativitas”
25


Menurut Roestiyah “punishment (hukuman) adalah suatu
perbuatan yang tidak menyenangkan dari orang yang lebih tinggi
kedudukannya untuk pelanggaran dan kejahatan, bermaksud memperbaiki
kesalahan anak”
26


Menurut M. Ngalim Purwanto “punishment (hukuman) adalah
penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh
seseorang (orang tua, guru, dan sebagainya) sesudah terjadi suatu
pelanggaran, kejahatan atau kesalahan”
27


Menurut Amir Daien “punishment (hukuman) adalah tindakan yang
dijatuhkan kepada anak secara sadar dan disengaja sehingga menimbulkan
nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan
perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya”
28







24
John M. Echole dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1996),
hlm. 456

25
Malik Fadjar, Holistika Pemikiran Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 202

26
Y. Roestiyah, Didaktik Metodik (Jakarta: Rineka Cipta, 1978), hlm. 63

27
M. Ngalim Purwanto. op. cit., hlm. 186

28
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 147


41
41
Menurut Ahmadi dan Uhbiyati dalam bukunya yang berjudul Ilmu
Pendidikan
Punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan, di mana kita secara
sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, yang baik
dari segi kejasmanian maupun dari segi kerohanian orang lain itu
mempunyai kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita, dan oleh
karena itu maka kita mempunyai tanggung jawab untuk
membimbingnya dan melindunginya
29


Dari beberapa pendapat di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan,
bahwa punishment (hukuman) adalah suatu perbuatan yang kurang
menyenangkan, yang berupa penderitaan yang diberikan kepada siswa
secara sadar dan sengaja, sehingga sadar hatinya untuk tidak mengulangi
lagi.
Punishment (hukuman) diberikan bukan sebagai bentuk siksaan baik
fisik maupun rohani, melainkan sebagai usaha mengembalikan siswa ke
arah yang baik dan memotivasinya menjadi pribadi yang imajinatif, kreatif
dan produktif.
30

Punishment (hukuman) sebagai alat pendidikan, meskipun
mengakibatkan penderitaan bagi si siswa yang terhukum, namun dapat
juga menjadi alat motivasi, alat pendorong untuk mempergiat aktivitas
belajar siswa (meningkatkan motivasi belajar siswa). Ia berusaha untuk
dapat selalu memenuhi tugas-tugas belajarnya, agar terhindar dari bahaya
hukuman.
31
Dengan adanya punishment (hukuman) itu diharapkan supaya


29
Abu Ahmadi dan Abu Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 150

30
Malik Fadjar, op. cit., hlm. 203

31
Abu Ahmadi dan Uhbiyati, op. cit. hlm. 156


42
42
siswa dapat menyadari kesalahan yang diperbuatnya, sehingga siswa jadi
berhati-hati dalam mengambil tindakan.
Dalam memberikan punishment (hukuman) guru tidak boleh
bertindak sewenang-wenang, punishment (hukuman) yang diberikan itu
harus bersifat pedagogis dan bukan karena balas dendam.
Punishment (hukuman) bisa dikatakan berhasil apabila dapat
menimbulkan perasaan penyesalan akan perbuatan yang telah
dilakukannya. Di samping itu punishment (hukuman) juga mempunyai
dampak sebagai berikut:
a. Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum. Ini adalah akibat dari
hukuman sewenang-wenang dan tanpa tanggung jawab.
b.Menyebabkan siswa menjadi lebih pandai menyembunyikan
pelanggaran.
c. Dapat memperbaiki tingkah laku si pelanggar.
d. Mengakibatkan si pelanggar menjadi kehilangan perasaan salah, oleh
karena kesalahannya dianggap telah dibayar dengan punishment
(hukuman) yang telah dideritanya.
e. Akibat yang lain adalah memperkuat kemauan si pelanggar untuk
menjalankan kebaikan.
32

Setelah mengetahui tentang akibat dari punishment (hukuman)
sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dengan adanya
punishment (hukuman) adalah agar siswa yang melakukan pelanggaran


32
M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 189


43
43
dapat memperbaiki perbuatannya dan tingkah lakunya yang tidak baik dan
diharapkan untuk tidak mengulangi pelanggaran yang pernah dilakukan.
Punishment (hukuman) merupakan alat pendidikan yang tidak
menyenangkan, bersifat negatif, namun demikian dapat juga menjadi
motivasi, alat pendorong untuk mempergiat belajarnya siswa. Siswa yang
pernah mendapat punishment (hukuman) karena tidak mengerjakan tugas,
maka ia akan berusaha untuk tidak memperoleh punishment (hukuman)
lagi. Ia berusaha untuk dapat selalu memenuhi tugas-tugas belajarnya agar
terhindar dari bahaya punishment (hukuman). Hal ini berarti bahwa ia
didorong untuk selalu belajar.
33

Metode punishment (hukuman) dalam Islam juga dianjurkan, karena
dengan adanya punishment (hukuman) itu, manusia akan berusaha untuk
tidak mendapat punishment (hukuman), dalam agama Islam dikenal
dengan dosa, berikut ayat yang menjelaskan tentang punishment
(hukuman), yaitu QS. Al-Baqarah ayat 179
34

¯¡>l´¸ _¸· ¸_!.¸1l¦ :¡´, > _¸|`¸!. , ¸¸.,l¸¦ ¯¡÷l - l ¿¡1`.. ¸¸__¸
Artinya: Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup
bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS. Al-
Baqarah: 179)

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa dengan adanya
punishment (hukuman), maka terpeliharalah kehidupan manusia. Sebab


33
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 165

34
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Qur’an, 2002), hlm. 28


44
44
orang akan lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dalam dunia
pendidikan juga menerapkan punishment (hukuman) tidak lain hanyalah
untuk memperbaiki tingkah laku siswa untuk menjadi lebih baik.
Punishment (hukuman) di sini sebagai alat pendidikan untuk memperbaiki
pelanggaran yang dilakukan siswa bukan untuk balas dendam.
Supaya punishment (hukuman) bisa menjadi alat pendidikan, maka
seorang guru sebelum memberikan punishment (hukuman) pada siswa
yang melakukan pelanggaran sebaiknya guru memperhatikan syarat-syarat
punishment (hukuman) yang bersifat pedagogis sebagai berikut:
a. Tiap-tiap punishment (hukuman) handaknya dapat dipertanggung
jawabkan. Ini berarti punishment (hukuman) itu tidak boleh sewenang-
wenang.
b. Punishment (hukuman) itu sedapat-dapatnya bersifat memperbaiki.
c. Punishment (hukuman) tidak boleh bersifat ancaman atau pembalasan
dendam yang bersifat perorangan
d. Jangan menghukum pada waktu kita sedang marah
e. Tiap-tiap punishment (hukuman) harus diberikan dengan sadar dan
sudah diperhitungkan atau dipertimbangkan terlebih dahulu.
f. Bagi si terhukum (siswa), punishment (hukuman) itu hendaklah dapat
dirasakan sendiri sebagai kedukaan atau penderitaan yang sebenarnya.
g. Jangan melakukan punishment (hukuman) badan sebab pada hakikatnya
punishment (hukuman) badan itu dilarang oleh Negara.


45
45
h. Punishment (hukuman) tidak boleh merusakkan hubungan baik antara si
pendidik dan siswa
i. Adanya kesanggupan memberikan maaf dari si pendidik, sesudah
menjatuhkan punishment (hukuman) dan setelah siswa itu menginsafi
kesalahannya.
35

Di samping persyaratan di atas, ada juga pendapat yang
mengemukakan tentang syarat-syarat yang diperhatikan dalam
memberikan punishment (hukuman), yaitu:
a. Pemberian punishment (hukuman) harus tetap dalam jalinan cinta kasih
sayang. Kita memberikan punishment (hukuman) kepada siswa, bukan
karena kita ingin menyakiti hati siswa, bukan karena ingin
melampiaskan rasa dendam, dan sebagainya. Kita menghukum siswa
demi kebaikan, demi kepentingan siswa, demi masa depan dari siswa.
Oleh karena itu, sehabis punishment (hukuman) dilaksanakan, maka
tidak boleh berakibat putusnya hubungan cinta kasih sayang tersebut.
b. Pemberian punishment (hukuman) harus didasarkan kepada alasan
“keharusan”. Artinya sudah tidak ada alat pendidikan yang lain yang
bisa dipergunakan. Seperti halnya di muka telah dijelaskan, bahwa
punishment (hukuman) merupakan tindakan terakhir kita laksanakan,
setelah dipergunakan alat-alat pendidikan lain tetapi tidak memberikan
hasil. Dalam hal ini kiranya patut diperingatkan bahwa kita hendaknya
jangan terlalu terbiasa dengan punishment (hukuman). Kita tidak boleh


35
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 191-192


46
46
terlalu murah dengan punishment (hukuman). Punishment (hukuman)
kita berikan kalau memang hal itu betul-betul diperlukan, dan harus kita
berikan secara bijaksana.
c. Pemberian punishment (hukuman) harus menimbulkan kesan pada hati
siswa. Dengan adanya kesan itu, siswa akan selalu mengingat pada
peristiwa tersebut. Dan kesan itu akan selalu mendorong siswa kepada
kesadaran dan keinsyafan. Tetapi sebaliknya, punishment (hukuman)
tersebut tidak boleh menimbulkan kesan yang negatif pada siswa.
Misalnya saja menyebabkan rasa putus asa pada siswa, rasa rendah diri,
dan sebagainya. Juga punishment (hukuman) tidak boleh berakibat siswa
memutuskan hubungan ikatan batin dengan gurunya. Artinya sudah tidak
mau menerima anjuran-anjuran, saran-saran yang diberikan oleh
gurunya.
d. Pemberian punishment (hukuman) harus menimbulkan keinsyafan dan
penyesalan pada siswa. Inilah yang merupakan hakekat dari tujuan
pemberian punishment (hukuman). Dengan adanya punishment
(hukuman) siswa harus merasa insyaf dan menyesali perbutannya yang
salah itu. Dan dengan keinsyafan ini siswa berjanji di dalam hatinya
sendiri untuk tidak mengulangi lagi.
e. Pada akhirnya, pemberian punishment (hukuman) harus diikuti dengan
pemberian ampun dan disertai dengan harapan serta kepercayaan.
Setelah siswa selesai menjalani hukumannya, maka guru sudah tidak lagi
menaruh atau mempunyai rasa ini dan itu terhadap siswa tersebut.


47
47
Dengan begitu guru dapat menunaikan tugas kembali dengan perasaan
yang lega, yang bebas, dan penuh dengan gairah dan kegembiraan. Di
samping itu, kepada siswa harus diberikan kepercayaan kembali serta
harapan bahwa siswa itu pun akan sanggup dan mampu berbuat baik
seperti teman-temannya yang lain.
36


2. Macam-macam Punishment (hukuman)
Pada bagian ini peneliti akan membahas tentang macam-macam
punishment (hukuman) yang diberikan, disini ada beberapa pendapat
mengenai macam-macam punishment (hukuman) adalah sebagai berikut:
a. Punishment (hukuman) preventif, yaitu punishment (hukuman) yang
dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran.
Punishment (hukuman) ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai
terjadi pelanggaran sehingga hal itu dilakukannya sebelum
pelanggaran dilakukan.
37

Adapun pendapat lain mengenai pengertian punishment
(hukuman) prefentif adalah hukuman yang bersifat pencegahan.
Tujuan dari hukuman prefentif ini adalah untuk menjaga agar hal-hal
yang dapat menghambat atau menggaggu kelancaran dari proses
pendidikan bisa dihindarkan.




36
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 155-156

37
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006), hlm. 189


48
48
Yang termasuk dalam punishment (hukuman) prefentif adalah
sebagai berikut:
1) Tata Tertib
Tata tertib ialah sederetan peraturan-peraturan yang harus
ditaati dalam suatu situasi atau dalam suatu tata kehidupan, misalnya
saja, tata tertib di dalam kelas, tata tertib ujian sekolah, tata tertib
kehidupan keluarga, dan sebagainya.
2) Anjuran dan Perintah
Anjuran adalah suatu saran atau ajakan untuk berbuat atau
melakukan sesuatu yang berguna. Misalnya, anjuran untuk belajar
setiap hari, anjuran untuk selalu menepati waktu, anjuran untuk
berhemat, dan sebagainya.
3) Larangan
Larangan sebenarnya sama saja dengan perintah. Kalau
perintah merupakan suatu keharusan untuk berbuat sesuatu yang
bermanfaat, maka larangan merupakan suatu keharusan untuk tidak
melakukan sesuatu yang merugikan. Misalnya larangan untuk
bercakap-cakap di dalam kelas, larangan untuk berkawan dengan
anak-anak malas.
4) Paksaan
Paksaan ialah suatu perintah dengan kekerasan terhadap
siswa untuk melakukan sesuatu. Paksaan dilakukan dengan tujuan,
agar jalannya proses pendidikan tidak terganggu dan terhambat.


49
49
5) Disiplin
Disiplin berarti adanya kesediaan untuk mematuhi
peraturan-peraturan dan larangan-larangan. Kepatuhan di sini bukan
hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan
kepatuhan yang didasari oleh adanya kesadaran tentang nilai dan
pentingnya peraturan-peraturan dan larangan tersebut.
38

b. Punishment (hukuman) represif, yaitu punishment (hukuman) yang
dilakukan oleh karena adanya pelanggaran, oleh adanya dosa yang
telah diperbuat. Jadi, punishment (hukuman) ini dilakukan setelah
terjadi pelanggaran atau kesalahan.
39

Pendapat lain mengenai punishment (hukuman) represif ialah
untuk menyadarkan anak, kembali kepada hal-hal yang benar, yang
baik yang tertib. Punishment (hukuman) represif diadakan bila terjadi
sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-
peraturan, atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan.
Adapun yang termasuk dalam punishment (hukuman) represif adalah
sebagai berikut:
1) Pemberitahuan,
Yang dimaksud pemberitahuan di sini ialah pemberitahuan
kepada siswa yang telah melakukan sesuatu yang dapat mengganggu
atau menghambat jalannya proses pendidikan. Misalnya siswa yang
bercakap-cakap di dalam kelas pada waktu pelajaran. Mungkin sekali


38
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 140-142

39
M. Ngalim Purwanto, loc., cit.


50
50
siswa itu belum tahu bahwa di dalam kelas bila ada pelajaran
dilarang bercakap-cakap dengan siswa yang lain. Oleh karena itu kita
harus memberitahu lebih dulu kepada siswa bahwa hal itu tidak
diperbolehkan.
2) Teguran
Jika pemberitahuan itu diberikan kepada siswa yang
mungkin belum mengetahui tentang suatu hal, maka teguran itu
berlaku bagi siswa yang telah mengetahui.
3) Peringatan
Peringatan diberikan kepada siswa yang telah beberapa
kali melakukan pelanggaran, dan telah diberikan teguran atas
pelanggarannya.
4) Hukuman
Hukuman adalah yang paling akhir diambil apabila teguran
dan peringatan belum mampu untuk mencegah siswa melakukan
pelanggaran-pelanggaran.
5) Ganjaran
Ganjaran adalah alat pendidikan yang sangat
menyenangkan. Ganjaran diberikan kepada siswa yang menunjukkan
hasil baik pada pendidikannya.
40




40
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 144-146


51
51
Pendapat lain tentang macam-macam punishment (hukuman) adalah
pendapat Wiliam Stern membedakan tiga macam punishment (hukuman)
yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak-anak yang menerima
punishment (hukuman).
a. Punishment (hukuman) Asosiatif
Umumnya, orang mengasosiasikan antara punishment (hukuman)
dan kejahatan atau pelanggaran, antara penderitaan yang diakibatkan
oleh punishment (hukuman) dengan perbuatan pelanggaran yang
dilakukan. Untuk menyingkirkan perasaan tidak enak (hukum) itu,
biasanya orang atau anak menjahui perbuatan yang tidak baik atau
yang dilarang.
b. Punishment (hukuman) Logis
Punishment (hukuman) ini dipergunakan terhadap anak-anak
yang telah agak besar. Dengan punishment (hukuman) ini, anak
mengerti bahwa punishment (hukuman) itu adalah akibat yang logis
dari pekerjaan atau perbuatannya yang tidak baik.
c. Punishment (hukuman) Normatif
Punishment (hukuman) normatif adalah punishment (hukuman)
yang bermaksud memperbaiki moral anak-anak. Punishment
(hukuman) ini dilakukan terhadap pelanggaran-pelanggaran mengenai
norma-norma etika, seperti berdusta, menipu, dan mencuri. Jadi,
punishment (hukuman) normatif sangat erat hubungannya dengan
pembentukan watak anak-anak. Dengan hubungan ini, pendidik


52
52
berusaha mempengaruhi kata hati anak, menginsafkan anak terhadap
perbuatannya yang salah, dan memperkuat kemauannya untuk selalu
berbuat baik dan menghindari kejahatan.
Di samping pembagian seperti tersebut di atas, punishment
(hukuman) itu dapat dibedakan seperti berikut ini:
a. Punishment (hukuman) Alam
Yang menganjurkan punishment (hukuman) ini ialah J.J.
Rousseau. Menurut Rousseau, anak-anak ketika dilahirkan adalah suci,
bersih dari segala noda dan kejahatan. Adapun yang menyebabkan
rusaknya anak itu ialah masyarakat manusia itu sendiri. Maka dari itu,
Rousseau menganjurkan supaya anak-anak dididik menurut alamnya.
Demikian pula mengenai punishment (hukuman) Rousseau
menganjurkan “hukum alam”. Biarlah alam yang menghukum anak
itu.
Tetapi, ditinjau secara pedagogis, punishment (hukuman) alam
itu tidak mendidik. Dengan punishment (hukuman) alam saja anak
tidak dapat mengetahui norma-norma etika-mana yang baik dan mana
yang buruk, mana yang boleh dan harus diperbuat dan yang tidak.
Anak tidak dapat berkembang sendiri ke arah yang sesuai dengan cita-
cita dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Lagi pula, punishment
(hukuman) alam itu sangat membahayakan anak, bahkan kadang-
kadang membinasakannya.



53
53
b. Punishment (hukuman) yang disengaja
Punishment (hukuman) ini sebagai lawan dari punishment
(hukuman) alam. Punishment (hukuman) macam ini dilakukan dengan
sengaja dan bertujuan. Sebagai contoh ialah punishment (hukuman)
yang dilakukan oleh si pendidik terhadap siswanya, punishment
(hukuman) yang dijatuhkan oleh seorang hakim kepada si terdakwa
atau pelanggar.
41

Bila ditinjau dari segi cara memberikan punishment (hukuman) maka
punishment (hukuman) dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a. Punishment (hukuman) dengan isyarat
Punishment (hukuman) semacam ini dijatuhkan kepada sesama
atau siswa dengan cara memberi isyarat melalui mimik dan juga
pantomimik, misalnya dengan mata, raut muka dan bahkan ganjaran
anggota tubuh. Punishment (hukuman) isyarat ini biasanya digunakan
terhadap pelanggaran-pelanggaran ringan yang sifatnya preventif
terhadap perbuatan atau tingkah laku siswa atau anak didik, namun
dengan isyarat ini merupakan manifestasi bahwa perbuatan yang
dikehendaki dan tidak berkenan di hati orang lain, atau dengan kata
lain tingkah lakunya salah.





41
M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 189-191


54
54
b. Punishment (hukuman) dengan perkataan
Punishment (hukuman) dengan perkataan dimaksudkan sebagai
punishment (hukuman) yang dijatuhkan kepada siswa dengan melalui
perkataan misalnya:
1) Memberi nasehat dan kata-kata yang mempunyai sifat kontruktif.
Dalam hal ini, siswa yang melakukan pelanggaran diberi tahu, di
samping juga diberi peringatan atau dituangkan benih-benih
kesadaran agar siswa tidak mengulangi lagi perbuatannya yang
keliru.
2) Teguran dan peringatan, hal ini diberikan kepada siswa yang masih
baru satu atau dua kali melakukan kesalahan atau pelanggaran. Bagi
siswa yang masih baru satu atau dua kali melakukan pelanggaran
tersebut, hendaknya hanya diberikan teguran saja. Namun jika dilain
waktu siswa melanggar lagi secara berulang-ulang maka siswa
tersebut diberi peringatan.
3) Ancaman, maksudnya adalah punishment (hukuman) berupa
ultimatum yang menimbulkan kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi dengan maksud agar siswa merasa takut dan berhenti dari
perbuatannya yang salah. Ancaman ini merupakan punishment
(hukuman) yang bersifat preventif atau pencegahan sebelum siswa
tersebut melakukan kesalahan.




55
55
c. Punishment (hukuman) dengan perbuatan
Punishment (hukuman) ini diberikan kepada siswa dengan
memberikan tugas-tugas terhadap siswa yang bersalah. Misalnya
dengan memberi pekerjaan rumah yang jumlahnya tidak sedikit,
termasuk memindahkan tempat duduk, atau bahkan dikeluarkan dari
kelas. Namun hal ini juga guru harus mempertimbangkan bila yang
dikeluarkan tersebut memang siswa yang bandel maka baginya hal ini
membuatnya merasa senang.
d. Punishment (hukuman) badan
Yang dimaksud dengan punishment (hukuman) badan ini adalah
punishment (hukuman) yang dijatuhkan dengan cara menyakiti badan
siswa baik dengan alat atau tidak, misalnya memukul, mencubit, dan
lain sebagainya.
42

Dari macam-macam punishment (hukuman) yang telah
disebutkan di atas dimaksudkan untuk memperbaiki perbuatan siswa
yang salah menjadi baik.
Menurut M. Athiyah al-Abrasyi maksud memberikan punishment
(hukuman) dalam pendidikan adalah punishment (hukuman) sebagai
tuntunan dan perbaikan, bukan sebagai hardikan atau balas dendam.
43

Punishment (hukuman) badan yang membahayakan bagi siswa
tidak sepantasnya diberikan dalam dunia pendidikan, karena
punishment (hukuman) semacam ini tidak mendorong siswa untuk


42
Abu Ahmadi, Pengantar Metodik Dedaktik (Bandung: Armico, 1987), hlm. 73

43
M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang,
1993), hlm. 153


56
56
berbuat sesuai dengan kesadarannya. Sehingga siswa trauma maka
siswa tidak akan mau untuk belajar bahkan akan minta berhenti dari
sekolah.
Dalam pemberian punishment (hukuman) badan harus memenuhi
beberapa syarat yaitu:
a. Sebelum berumur 10 tahun anak-anak tidak boleh dipukul
b. Pukulan tidak boleh lebih dari tiga kali. Yang dimaksud dengan
pukulan di sini ialah lidi atau tongkat kecil bukan tongkat besar.
c. Diberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bertobat dari apa
yang telah dia lakukan dan memperbaiki kesalahan tanpa perlu
menggunakan pukulan atau merusak nama baiknya (menjadikan ia
malu).
44

Bila kita ingin sukses di dalam pengajaran, kita harus memikirkan
setiap murid dan memberikan punishment (hukuman) yang sesuai
setelah kita timbang-timbang kesalahannya dan setelah mengetahui latar
belakangnya. Bila seorang siswa bersalah mengakui kesalahannya dan
merasakan betapa kasih sayang guru terhadapnya, maka ia akan sendiri
akan datang kepada guru minta dijatuhi punishment (hukuman) karena
merasa akan ada keadilan, mengharap dikasihani, serta ketetapan hati
buat tobat dan tidak lagi akan kembali kepada kesalahan yang sama.
Dengan jalan demikian akan sampailah kita kepada maksud utama dari
punishment (hukuman) sekolahan yaitu perbaikan.


44
Ibid., hlm. 153


57
57
3. Tujuan Punishment (hukuman)
Tujuan merupakan salah satu faktor yang harus ada dalam setiap
aktifitas, karena aktifitas yang tanpa tujuan tidak mempunyai arti apa-apa,
dan akan menimbulkan kerugian serta kesia-siaan. Sehubungan dengan
punishment (hukuman) yang dijatuhkan kepada siswa, maka tujuan yang
ingin dicapai sesekali bukanlah untuk menyakiti atau untuk menjaga
kehormatan guru atau sebaliknya agar guru itu ditaati oleh siswa, akan
tetapi tujuan punishment (hukuman) yang sebenarnya adalah agar siswa
yang melanggar merasa jera dan tidak akan mengulangi lagi.
Tujuan pemberian punishment (hukuman) ada dua macam, yaitu
tujuan dalam jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan dalam
jangka pendek adalah untuk menghentikan tingkah laku yang salah,
sedangkan tujuan dalam jangka panjang adalah untuk mengajar dan
mendorong siswa agar dapat menghentikan sendiri tingkah lakunya yang
salah.
45

Maksud guru memberi punishment (hukuman) itu bermacam-
macam, hal ini sangat erat hubungannya dengan pendapat orang tentang
teori-teori punishment (hukuman), maka tujuan pemberian punishment
(hukuman) berbeda-beda sesuai dengan teori punishment (hukuman) yang
ada.




45
Charles Schaefer, Bagaimana Mendidik Dan Mendisplinkan Anak (Jakarta: Kesain Blanc,
1986), hlm. 91


58
58
a. Teori pembalasan
Teori inilah yang tertua. Menurut teori ini, punishment (hukuman)
diadakan sebagai pembalasan dendam terhadap kelainan dan
pelanggaran yang telah dilakukan seseorang. Tentu saja teori ini tidak
boleh dipakai dalam pendidikan di sekolah.
b. Teori perbaikan
Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk membasmi
kejahatan. Maksud dari punishment (hukuman) ini adalah untuk
memperbaiki si pelanggar agar jangan berbuat kesalahan lagi.
c. Teori perlindungan
Menurut teori ini punishment (hukuman) diadakan untuk melindungi
masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tidak wajar. Dengan adanya
punishment (hukuman) ini, masyarakat dapat dilindungi dari kejahatan-
kejahatan yang telah dilakukan oleh pelanggar.
d. Teori ganti rugi
Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk mengganti
kerugian-kerugian yang telah diderita akibat dari kejahatan-kejahatan
atau pelanggaran itu. Punishment (hukuman) ini banyak dilakukan dalam
masyarakat atau pemerintah.
e. Teori menakut-nakuti
Menurut teori ini, punishment (hukuman) diadakan untuk
menimbulkan perasaan takut kepada si pelanggar akan akibat


59
59
perbuatannya yang melanggar itu sehingga ia akan takut melakukan
perbuatan itu dan mau meninggalkannya.
46

Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa setiap teori-
teori itu belum lengkap karena masing-masing hanya mencakup satu aspek
saja. Tiap-tiap teori tadi saling membutuhkan kelengkapan dari teori yang
lain. Untuk itu pemberian punishment (hukuman) pada siswa hanya
bersifat untuk memperbaiki tabiat dan tingkah laku siswa, untuk mendidik
kearah kebaikan.
Setelah mengetahui tujuan dari punishment (hukuman) dalam
pendidikan di atas maka kita harus mengetahui punishment (hukuman)
yang cocok untuk diterapkan dalam dunia pendidikan, tokoh-tokoh teori
behavioristik dalam menanggapi punishment (hukuman) mereka tidak
menganjurkan digunakannya punishment (hukuman) dalam kegiatan
belajar, berikut alasan Skinner mengapa tidak setuju dengan metode
punishment (hukuman);
a. Pengaruh punishment (hukuman) terhadap perubahan tingkah laku
sangat bersifat sementara
b. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi
bagian dari jiwa si terhukum) bila punishment (hukuman) berlangsung
lama
c. Punishment (hukuman) mendorong si terhukum mencari cara lain
(meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari punishment (hukuman).


46
M. Ngalim Purwanto, op. cit. hlm. 187-189


60
60
Dengan kata lain, punishment (hukuman) dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan
yang diperbuatnya.
47


C. Pembahasan Tentang Motivasi Belajar
1. Pengertian motivasi belajar
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.
Namun, sebelum kita lebih jauh membahas tentang motivasi belajar maka
perlulah dibedakan dahulu antara pengertian motivasi dan pengertian
belajar.
Sebelum sampai pada motivasi, maka penulis akan menjelaskan kata
“motif” terlebih dahulu, karena kata “motif” muncul terlebih dahulu
sebelum kata ’motivasi’.
Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai
kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu
tersebut bertindak atau berbuat. Motif adalah daya penggerak dalam diri
seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, demi mencapai tujuan
tertentu. Dengan demikian, motivasi merupakan dorongan yang terdapat
dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku
yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.
48
Kedua hal tersebut
merupakan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu.


47
Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 26

48
Hamzah, Teori Motivasi Dan Pengukuran Analisis Di Bidang Pendidikan (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 3


61
61
Setelah mengetahui pengertian dari motif dan motivasi, berikut ada
beberapa pendapat mengenai pengertian motivasi.
Tajdab mengemukakan ”motivasi adalah motif yang sudah menjadi
aktif pada saat-saat tertentu.
49


Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan
sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau
mengelakkan perasaan tidak suka itu.
50

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan yang dimaksud
dengan motivasi adalah dorongan yang terdapat dalam diri seseorang
untuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
Sedangkan istilah belajar menurut Hintzman adalah “suatu
perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan)
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku
organisme tersebut”
51


Secara umum belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan
tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari
pengalaman atau tingkah laku.
52

Selain penafsiran di atas ada pendapat lain tentang belajar yang
menyatakan bahwa, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan. Dalam interaksi ini terjadi
serangkaian pengalaman-pengalaman belajar.
53



49
Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan (Surabaya: Karya Abditama, 1994), hlm. 101

50
Sardiman, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2007), hlm. 75

51
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm. 90

52
Muhaimin dkk, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 43

53
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 28


62
62
Dengan penjelasan tentang pengertian motivasi dan belajar tersebut
di atas maka dapatlah dikemukakan pengertian motivasi belajar sebagai
berikut:
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam
diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan
kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi
mencapai suatu tujuan.
54

Menurut Amir Daien Indrakusuma “motivasi belajar adalah
kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan
kepada kegiatan belajar murid”
55


Motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-
siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku.
56

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi
dapat dipandang sebagai fungsi, berarti motivasi berfungsi sebagai daya
penggerak dari dalam individu untuk melakukan aktivitas tertentu dalam
mencapai tujuan. Motivasi dipandang dari segi proses, berarti motivasi
dapat dirangsang oleh faktor luar, untuk menimbulkan motivasi dalam diri
siswa yang melalui proses rangsangan belajar sehingga dapat mencapai
tujuan yang di kehendaki. Motivasi dipandang dari segi tujuan, berarti
motivasi merupakan sasaran stimulus yang akan dicapai. Jika seorang
mempunyai keinginan untuk belajar suatu hal, maka dia akan termotivasi
untuk mencapainya.


54
Tadjab, op. cit., hlm. 102

55
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 162

56
Hamzah, Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 23


63
63
2. Macam-macam Motivasi Belajar
Berbicara mengenai macam-macam motivasi belajar di sekolah dapat
dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu:
a. Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik
1) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu rangsangan dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu
57

Sedangkan menurut Oemar Hamalik motivasi intrinsik adalah hal
dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat
mendorongnya melakukan tindakan belajar.
58

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik
adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang dan tidak
memerlukan rangsangan dari luar karena memang sudah ada dalam
dalam diri setiap individu.
Menurut Amir Daien Indrakusuma dalam bukunya Pengantar
Ilmu Pendidikan disebutkan ada hal-hal yang dapat menimbulkan
motivasi intrinsik adalah sebagai berikut:
a) Adanya kebutuhan
Dengan adanya kebutuhan, maka hal ini menjadi pendorong
bagi siswa untuk berbuat dan berusaha. Misalnya saja anak ingin
mengetahui isi cerita dari buku komik. Keinginan untuk


57
Sardiman, op. cit., hlm. 89

58
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2006), hlm. 152


64
64
mengetahui isinya ini dapat menjadi pendorong yang kuat bagi
siswa untuk belajar membaca karena apabila ia telah dapat
membaca maka ia akan mengerti, maka ini dapat berarti bahwa
kebutuhannya ingin mengetahui isi cerita dari buku komik itu telah
bisa dipenuhi.
b) Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri.
Dengan siswa mengetahui hasil-hasil atau prestasinya
sendiri, dengan siswa mengetahui apakah dia ada kemajuan atau
sebaliknya ada kemunduran, maka hal itu dapat menjadi pendorong
bagi siswa untuk belajar lebih giat lagi.
c) Adanya aspirasi atau cita-cita
Mungkin bagi anak kecil belum mempunyai cita-cita, atau
jika mempunyai cita-cita, mungkin cita-cita itu masih begitu
sederhana. Tetapi semakin bertambahnya usia gambaran tentang
cita-cita itu akan semakin jelas, untuk itulah cita-cita itu akan
menjadi pendorong bagi seluruh kegiatan siswa, pendorong bagi
belajarnya. Di samping itu, cita-cita dari seorang siswa sangat
dipengaruhi oleh tingkat kemampuannya yang baik.
59
Dengan
adanya cita-cita ini siswa akan menjadi bersemangat dalam belajar
sehingga cita-cita itu sebagai motivasi bagi mereka untuk rajin
belajar supaya apa yang di cita-citakan itu bisa terwujud.



59
Amir Daien Indrakusuma, op. cit., hlm. 163-164


65
65
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik ialah motif-motif yang aktif dan berfungsinya
karena adanya perangsangan dari luar.
60

Yang dimaksud motivasi ekstrinsik adalah motivasi atau tenaga-
tenaga pendorong yang berasal dari luar dari siswa.
61

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil pengertian bahwa
motivasi ekstrinsik merupakan suatu dorongan dari luar diri siswa.
Berikut hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik
adalah sebagai berikut:
a) Ganjaran
Ganjaran adalah alat pendidikan represif yang bersifat
positif, ganjaran juga merupakan alat motivasi. Yaitu alat yang bisa
menimbulkan motivasi ekstrinsik. Ganjaran dapat menjadi
pendorong bagi siswa untuk belajar yang lebih baik, lebih giat lagi.
Macam-macam ganjaran telah dibahas di atas. Sehingga kita dapat
memilih ganjaran dengan disesuaikan dengan kondisi dan situasi
kita masing-masing.
b) Hukuman
Biar pun hukuman sebagai alat pendidikan yang tidak
menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif namun
demikian dapat menjadi motivasi, alat pendorong untuk
mempergiat belajar siswa. Siswa yang pernah mendapat hukuman


60
Sardiman, op. cit., hlm. 91

61
Amir Daien Indrakusuma, op.cit., hlm.164


66
66
karena lalai tidak mengerjakan tugas maka ia akan berusaha untuk
tidak mendapat hukuman lagi. Ini berarti, bahwa ia didorong untuk
selalu belajar. Bahkan tidak hanya ia sendiri yang terdorong untuk
selalu belajar, melainkan teman-temannya juga terdorong untuk
selalu belajar, agar mereka pun terhindar dari hukuman.
c) Persaingan (kompetisi)
Persaingan, sebenarnya adalah berdasarkan kepada
dorongan untuk kedudukan dan penghargaan. Kompetisi dapat
terjadi secara dengan sendirinya, tetapi dapat pula diadakan
kompetisi secara sengaja oleh Guru. Kompetisi yang diadakan oleh
guru dapat berbentuk bermacam-macam dan dalam berbagai
macam-macam mata pelajaran, misalnya lomba bintang kelas, kuis,
perlombaan cepat tepat menjawab soal dan lain sebagainya,
biasanya kompetisi yang sengaja diadakan oleh Guru ini selalu
diikuti dengan pemberian ganjaran, sesuai dengan bentuk dan
tingkat kompetisi tersebut.
62

Selain pendapat di atas, berikut juga menjelaskan tentang
beberapa hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik, antara
lain:
a) Pendidik memerlukan anak didiknya, sebagai manusia yang
berpribadi, menghargai pendapatnya, pikirannya, perasaannya,
maupun keyakinannya


62
Ibid., hlm. 164-165


67
67
b) Pendidik menggunakan berbagai metode dalam melaksanakan
kegiatan pendidikannya
c) pendidik senantiasa memberikan bimbingan dan juga pengarahan
kepada anak didiknya dan membantu, apabila mengalami
kesulitan, baik yang bersifat pribadi maupun akademis
d) pendidik harus mempunyai pengetahuan yang luas dan
penguasaan bidang studi atau materi yang diajarkan kepada
peserta didiknya
e) pendidik harus mempunyai rasa cinta dan sifat pengabdian kepada
profesinya sebagai pendidik.
63


Adapun yang menjadi indikator dari kedua motivasi di atas adalah
sebagai berikut:
a) Dorongan ingin tahu
Motivasi ini muncul karena ada kebutuhan, yaitu apabila seorang
siswa itu melakukan belajar karena betul-betul ingin mendapatkan
pengetahuan, nilai atau ketrampilan agar dapat berubah tingkah
lakunya secara konstruktif tidak karena tujuan yang lain-lain, jadi
dorongan ingin tahu dalam diri siswa itu bersumber dari atau pada
kebutuhan yang berisikan kehausan untuk menjadi terdidik dan
berpengetahuan.



63
Hamzah B. Uno, Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang Pendidikan
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 4


68
68
b) Dorongan ingin berhasil
Motivasi ini muncul karena kebutuhan yaitu apabila seorang
siswa melakukan belajar karena dilakukan dengan unsur
kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik bila
dibandingkan dengan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud,
dengan kesenjangan itu timbulnya dorongan ingin berhasil pada diri
siswa dalam belajar.
c) Dorongan bekerja sama
Dorongan bekerja sama ini adalah belajar kelompok dengan
teman sekelas atau teman yang lain yang dapat menyelesaikan
masalah pelajaran, sehingga dengan demikian dorongan belajar dapat
meningkat dengan belajar kelompok tersebut.
d) Dorongan rasa percaya diri
Dorongan percaya diri pada diri siswa adalah sangat penting,
karena hal ini berhubungan dengan harga diri. Seseorang akan
berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik
dengan menjaga harga dirinya, dengan berprestasi tersebut dorongan
percaya diri pada siswa akan semakin tinggi, sehingga dia akan
berusaha untuk mempertahankan prestasinya dengan belajar.
e) Frekuansi belajar di rumah
Yang di sini adalah berapa kali siswa belajar di rumah karena
dengan kita mengetahui frekuensi siswa belajar di rumah dapat
diketahui tingkat motivasi belajar siswa.


69
69
f) Disiplin masuk sekolah
Maksudnya adalah dengan masuk sekolah siswa akan lebih giat
belajar karena semua pelajaran dia ikuti, hal ini dapat menimbulkan
motivasi dalam belajar siswa.
g) Adanya aspirasi atau cita-cita yang tinggi
Cita-cita yang menjadi tujuan hidupnya ini merupakan
pendorong bagi seluruh kegiatan siswa, pendorong bagi belajarnya,
disamping itu cita-cita dari seorang siswa dipengaruhi oleh tingkat
kemampuannya. Anak yang mempunyai kemampuan yang baik
umumnya anak mempunyai cita-cita yang realistis bila dibandingkan
dengan anak yang mempunyai kemampuan yang kurang atau
rendah.
64

b. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
1) Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa
sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Misalnya; dorongan
untuk minum, makan, bekerja dan lain sebagainya.
2) Motif-motif yang dipelajari
Maksud motif-motif yang timbul karena dipelajari. Contoh;
dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan.




64
Kusumal, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional,1973), hlm. 164


70
70
c. Motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
1) motif atau kebutuhan organis, misalnya: kebutuhan untuk makan,
minum, beristirahat.
2) motif-motif darurat yaitu dorongan untuk menyelamatkan diri,
dorongan untuk membalas, untuk berusaha. Motivasi ini timbul
karena rangsangan dari luar.
3) motif-motif objektif, yaitu motif-motif yang muncul karena dorongan
untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
d. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi ini menjadi
dua yaitu motivasi jasmaniah dan rohaniah. Yang termasuk motivasi
jasmani seperti refleks, insting otomatis, nafsu, sedangkan yang
termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat
momen.
1) momen timbulnya alasan
2) momen pilih
3) momen putusan
4) momen terbentuknya kemauan
65






65
Sardiman, Interakasi Dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajagrafindo, 2007), hlm. 86-
89


71
71
3. Fungsi Motivasi belajar
Dari uraian di atas jelaslah bahwa motivasi mendorong timbulnya
kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Jadi, fungsi motivasi
itu meliputi berikut ini:
a. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi
maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan
kepencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi
mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya
suatu pekerjaan.
66

Motivasi itu berkaitan erat dengan suatu tujuan, suatu cita-cita. Makin
berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan makin kuat pula motivasinya.
Menurut M. Ngalim Purwanto fungsi dari motivasi adalah:
a. Mendorong manusia untuk berbuat
Motivasi berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang
memberikan kekuatan kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas.
b. Motivasi itu menentukan arah perbuatan
Yaitu kearah perwujudan suatu tujuan cita-cita. Motivasi mencegah
penyelewengan di jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu.
Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus
ditempuh.


66
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Dan Mengajar (Bandung: Sinar Baru: 1992), hlm. 175


72
72
c. Motivasi itu menyeleksi perbuatan kita
Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilakukan, yang
serasi guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang
tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
67

Dari beberapa fungsi motivasi belajar di atas dapat diartikan bahwa
motivasi merupakan pendorong untuk berbuat, menentukan arah perbuatan
dan menyeleksi perbuatan itu sendiri. Semakin jelas cita-cita yang ingin
dicapai maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Dengan
adanya tujuan yang akan dicapai maka siswa akan termotivasi untuk
belajar lebih giat lagi.

4. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Peranan motivasi sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar,
dengan adanya motivasi itu, siswa manjadi tahu arah dari tujuan yang ingin
dicapainya. selain dari hal itu ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
motivasi belajar, yaitu:
a. Kematangan
Dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, sosial dan psikis
haruslah diperhatikan, karena hal ini dapat mempengaruhi motivasi.
Seandainya dalam pemberian motivasi itu tidak memperhatikan
kematangan, maka akan mengakibatkan frustasi dan mengakibatkan hasil
belajar tidak optimal.


67
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 70-
72


73
73
b. Usaha yang bertujuan
Setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan yang ingin dicapai,
akan semakin kuat dorongan untuk belajar.
c. Pengetahuan mengenal hasil dalam motivasi
Dengan mengetahui hasil dari belajar, siswa terdorong untuk lebih giat
belajar, apalagi hasil belajar itu mengalami kemajuan siswa akan berubah
untuk mempertahankan dan meningkatkan intensitas belajarnya untuk
mendapatkan prestasi yang lebih baik dikemudian hari, untuk prestasi
yang rendah siswa giat belajar guna memperbaikinya.
d. Partisipasi
Dalam kegiatan belajar perlu memberikan kesempatan pada siswa
untuk berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan belajar. Dengan demikian
kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan akan terpenuhi,
karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.
e. Penghargaan dan hukuman
Pemberian penghargaan dapat membangkitkan siswa untuk
mempelajari sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan adalah
membangkitkan minat. Jadi penghargaan berperan untuk membuat
pendahuluan saja, penghargaan adalah alat atau sesuatu yang diberikan
untuk mencapai tujuan. Tujuan pemberian penghargaan karena telah
melakukan belajar dengan baik, ia akan melanjutkan kegiatan belajarnya


74
74
sendiri di luar kelas. Sedangkan hukuman dapat diberikan, tetapi kalau
diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadikan alat motivasi.
68

Motivasi belajar memang sangat penting untuk kegiatan belajar
mengajar, untuk itu supaya motivasi dapat berhasil dalam membangkitkan
minat belajar siswa maka seorang guru harus dapat memperhatikan faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yang telah disebutkan di
atas, dengan mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi
dalam motivasi belajar diharapkan guru dapat memberi motivasi bagi siswa
dan siswa dapat belajar lebih giat.

D. Pembahasan Tentang Qur’an-Hadits
1. Pengertian Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa adalah ”bacaan” atau ”yang di baca”
69
.
Al-Qur’an dengan arti tersebut, banyak diungkapkan dalam al-Qur’an,
antara lain sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Qiyamah 17-18
70

¿¸| !´.,l s .«-.- .«.¦´,¯¸·´ ¸ ¸¸_¸ ¦:¸|· «..¦¸· _¸,.!· .«.¦´,¯¸· ¸¸_¸
Artinya:
“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadamu)
dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai
mebacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah: 17-18)


68
Mulyadi, Psikologi Pendidikan (Malang: Biro FT. IAIN Sunan Ampel, 1991), hlm. 92-93

69
Abdul Muhith Ruba’I dan Lukman Hakim, Qur’an-Hadits I (Jember: MAN 1 Jember, 1997),
hlm. 1

70
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah dan Penjelasan Ayat Ahkam (Jakarta: Pena
Qur’an, 2002), hlm. 578


75
75
Al-Qur’an menurut istilah, terdapat bermacam-macam definisi.
Para ulama atau ahli berbeda pendapat tentang definisi Al-Qur’an tersebut.
Perbedaan pendapat itu disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam
masalah unsur-unsur penentu definisi tersebut.
Seperti definisi yang diciptakan ahli Hadits berbeda dengan
definisi dari golongan ahli ushul. Demikian pula definisi ciptaan ahli tafsir
tidak sama dengan ciptaan ulama Kalam, berikut beberapa pendapat
mengenai pengertian al-Qur’an:
a) Para ahli ilmu Kalam (teologi Islam) berpendapat, Al-Qur’an adalah
kalimat-kalimat yang maha bijaksana yang azali yang tersusun dari
huruf-huruf lafadhiyah, dzihniyah, dan ruhiyah. Atau al-Qur’an itu
adalah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW mulai
dari awal surah Al-Fatihah sampai dengan surah An-Nas, yang
mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang terlepas dari sifat-sifat
kebendaan dan azali.
71

b) Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuti (ahli kitab Hadits), dalam
kitabnya Itmannud Dirayah:
Al-Qur’an ialah Kalam Allah SWT yang diturunkan kepada nabi
Muhammad SAW untuk melemahkan golongan yang menentangnya,
walaupun hanya satu surat saja.
Di sini unsur pokok yang perlu diperhatikan ialah:
1) Firman Allah SWT


71
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), hlm. 8


76
76
2) diturunkan kepada nabi Muhammad SAW
3) berfungsi sebagai mu’jizat
c) Menurut Syekh Muhammad Khudlari Byk (ulama Ushul Fiqh) dalam
buku “Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami”
Al-Qur’an ialah firman Allah yang berbahasa Arab yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk difahami isinya
dan diingat selalu yang telah disampaikan kepada kita dengan secara
mutawatir dan sudah ditulis dalam mushaf dimulai dari surat Al-
Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas”.
Yang dianggap unsur pokok disini ialah:
1) firman Allah dalam bahasa Arab
2) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
3) disampaikan secara mutawatir kepada kita
4) telah ditulis dalam sebuah mushaf dengan diawali surat Al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat An-Nas
d) Menurut ulama Tafsir
Al-Quran ialah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya yaitu
Muhammad SAW yang dibaca dan mutawatir
Unsur yang ditonjolkan disini adalah:
1) firman Allah
2) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
3) dibaca dan mutawatir


77
77
Dari berbagai definisi tersebut, bila diperhatikan dari masing-
masing faktornya dapat dirangkum sebagai berikut:
Al-Qur’an ialah Kalam Allah SWT yang berbahasa Arab yang
diturunkan dengan berangsur-angsur melalui malaikat Jibril kepada Nabi
Muhammad SAW dan disampaikan kepada umat manusia secara
mutawatir dan ditulis serta dihafal oleh umat Islam sejak Nabi
Muhammad masih hidup sampai kini, berpahala bagi pembacanya,
diawali dari surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.
72


2. Pengertian Hadits
Secara bahasa kata Hadits mempunyai beberapa arti, antara lain:
- baru, kebaikan dari yang lama (qadim)
- dekat, belum lama terjadi
- khabar, berita, riwayat
Menurut istilah para ahli hadits (muhadditsin), antara lain Al-
Hafidh dalam Syarah Al-Bukhari menerangkan, bahwa Hadits ialah
perkataan-perkataan Nabi Muhammad SAW, perbuatan-perbuatan dan
keadaan beliau.
Menurut istilah ahli ushul hadits ialah segala perbuatan-perbuatan
dan taqrir Nabi SAW yang bersangkutan paut dengan hukum.
73

Setelah mengetahui pengertian dari Qur’an dan Hadits di atas,
tidak bisa dipungkiri memang sangat penting sekali mempelajari Qur’an-


72
Abdul Muhith Ruba’I dan Lukman Hakim, op. cit., hlm. 2-4

73
Abdul Muhith Ruba’I dan Lukman Hakim, op. cit., hlm. 46


78
78
Hadits maka dari itulah Qur’an-Hadits menjadi kurikulum pada
matapelajaran di madrasah-madrasah, dapat diketahui bahwa Qur’an-
Hadits merupakan unsur matapelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
pada madrasah yang memberikan pendidikan kepada siswa untuk
memahami al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam
dan mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk hidup dalam
kehidupannya sehari-hari.

3. Fungsi Qur’an-Hadits
Matapelajaran Qur’an–Hadits pada madrasah memiliki fungsi
sebagai berikut:
(1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan siswa
dalam meyakini kebenaran ajaran Islam yang telah dilaksanakan dalam
lingkungan keluarga maupun jenjang pendidikan sebelumnya;
(2) Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan,
pemahaman dan pengamalan ajaran Islam siswa dalam kehidupan
sehari-hari.
(3) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan
atau budaya lain yang dapat membahayakan diri siswa dan
menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.


79
79
(4) Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan, pendidikan dan
penanaman nilai-nilai al-Qur’an dan al-Hadits pada siswa sebagai
petunjuk dan pedoman dalam seluruh kehidupannya.
74


4. Tujuan Qur’an-Hadits
Pembelajaran Qur’an–Hadits bertujuan agar siswa bergairah untuk
membaca al-Qur’an dan al-Hadits dengan baik dan benar, serta
mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan
ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya sebagai petunjuk
dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya.

E. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) dan Punishment (Hukuman)
terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits
Pembahasan dalam hal ini merupakan rangkuman dari uraian yang
telah penulis paparkan pada pembahasan di depan, yaitu memadukan dua
variabel yaitu reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) dengan motivasi
belajar Qur’an-Hadits.
Penyajian kembali tentang pengertian reward (ganjaran) dan
punishment (hukuman) yang akan dibahas nanti merupakan inti sub bab ini,
sehingga dalam pembahasannya nanti lebih mengarah pada pokok masalah
dalam pembahasan skripsi ini.


74
Pengelola Kurikulum Berbasis Madrasah Mata Pelajaran Qur’an-Hadits Untuk Madrasah
Aliyah, Tim Penyusun Cipayung. Departemen Agama RI. 2003. hlm. 2


80
80
Kita telah mengetahui bahwa reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) merupakan alat pendidikan represif. Reward (ganjaran) merupakan
alat motivasi, yaitu alat yang bisa menimbulkan motivasi ekstrinsik. Dengan
reward (ganjaran) dapat menjadikan pendorong bagi siswa untuk belajar yang
baik, lebih giat lagi. Sedangkan punishment (hukuman) merupakan alat
pendidikan yang tidak menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif,
namun meski demikian dapat juga menjadi alat motivasi, alat pendorong
untuk mempergiat belajarnya siswa.
75

Dengan adanya reward (ganjaran) diharapkan agar siswa lebih giat
belajar, belajar lebih baik dan tekun. Dengan kata lain siswa menjadi lebih
keras kemauannya untuk mencapai prestasi belajar.
Sedangkan punishment (hukuman) bertujuan untuk memperlancar
jalannya proses pelaksanaan pendidikan, dapat juga menjadi alat pendorong
bagi siswa untuk berbuat lebih baik.
Dengan demikian peranan motivasi sangat diperlukan dalam kegiatan
belajar mengajar, dengan adanya motivasi itu, siswa menjadi tahu arah tujuan
yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, harus diperhatikan faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi motivasi belajar. Berikut faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi motivasi:
1. Kematangan, dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, social
dan psikis harus diperhatikan, karena hal ini dapat mempengaruhi
motivasi.


75
Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973),
hlm. 164-165


81
81
2. Usaha bertujuan, bahwa setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan
yang ingin dicapai, akan semakin kuat dorongan untuk belajar.
3. Pengetahuan mengenal hasil dalam motivasi, dengan mengetahui hasil dari
belajar, siswa terdorong untuk lebih giat belajar, apalagi hasil belajar itu
mengalami kemajuan siswa akan berubah untuk mempertahankan dan
meningkatkan intensitas belajarnya untuk mendapatkan prestasi yang lebih
baik dikemudian hari, untuk prestasi yang rendah siswa giat belajar guna
memperbaikinya.
4. Partisipasi, dalam kegiatan belajar perlu memberikan kesempatan pada
siswa untuk berpartisipasi dalam keseluruhan kegiatan belajar. Dengan
demikian kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan akan
terpenuhi, karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.
5. Penghargaan dan hukuman
Jadi, agar siswa mempunyai motivasi yang kuat perlu diberikan reward
(ganjaran) dan punishment (hukuman) yang pada akhirnya siswa diharapkan
termotivasi untuk belajar yang lebih baik. Dengan reward (ganjaran) dan
punishment (hukuman), diharapkan juga siswa akan menjadi lebih
bersemangat dan mempunyai pengalaman baru dalam kegiatan belajar,
sehingga kegiatan belajar tidak monoton yang akan menimbulkan siswa
bersemangat untuk belajar.








82
82
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di MAN Kandangan Kediri, Jalan Jombang
Kasreman Kandangan Kediri. Pemilihan lokasi ini atas beberapa pertimbangan
yaitu bahwa letaknya yang sangat strategis sehingga memudahkan peneliti
untuk mengumpulkan data dan mengambil data sebagai penunjang penelitian
ini tanpa kesulitan, MAN Kandangan Kediri dalam proses belajar mengajar
menerapkan sistem full day school, dan kontribusi penelitian ini juga akan
bermanfaat bagi guru dalam mengelola kelas.

B. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Sesuai dengan
namanya, banyak dituntut untuk menggunakan angka, mulai dari
pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari
hasilnya. Demikian juga pemahaman akan kesimpulan penelitian.
76


C. Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini data yang akan dikumpulkan diperoleh melalui dua
jenis data yaitu data dari responden dan dokumen yang ada disekolahan. Jenis
data dari sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah menggunakan


76
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 10-11


83
83
data primer dan data skunder, yang dimaksud dengan data primer adalah data
yang diperoleh dari tangan pertama, sedangkan data sekunder diperoleh dari
tangan kedua seperti laporan, dokumentasi, nilai raport, nilai ujian dan lain-
lain.
77

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti.
Adapun data primer dalam penelitian ini adalah berupa angket. Sedang data
skunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung oleh peneliti
melainkan melalui lembaga yang bersangkutan. Adapun data skunder dalam
penelitian ini adalah dokumen yang berisi tentang kondisi sekolah dan siswa.
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data-data dapat
diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner dalam pengumpulan
datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon
atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti yang terdapat dalam angket.
Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Person
Yaitu sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan
melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.
Dalam hal ini adalah kepala sekolah, wali kelas, guru dan siswa, tokoh
masyarakat.
2. Pleace
Yaitu sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam
(ruangan, kelengkapan alat, wujud benda, warna dan lain-lain) dan


77
Nana Sudjana, dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru,
1989), hlm. 98


84
84
bergerak (aktivitas, kinerja, kegiatan belajar mengajar dan lain
sebagainya).
3. Paper
Yaitu sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka,
gambar, atau simbol-simbol lain.
78

Data penelitian ini bersumber dari orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan
situasi yang ada pada latar penelitian. Sumber data yang diambil merupakan
sampel dari populasi yang telah ditentukan, sampel itu telah memberi
gambaran dari semua populasi.

D. Populasi dan Sampel
Untuk mengetahui pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits, maka
penulis menggunakan penelitian kuantitatif, yaitu prosedur pemecahan
masalah yang menggunakan data angka dan diolah melalui perhitungan
matematika dengan berbagai rumus statistik.
1. Populasi
Yang dimaksud dengan populasi adalah keseluruhan objek
penelitian.
79

Menurut Tulus Winarsunu dalam bukunya ‘Statistik dalam Penelitian
Psikologi dan Pendidikan’;


78
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 107

79
Suharsimi Arikunto, op. cit., hlm. 108


85
85
“Populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti,
dan yang nantinya akan dikenai generalisasi.”
80

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan
totalitas yang menjadi sasaran peneliti yang memiliki karakter tertentu dan
dapat diketahui dengan jelas.
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa
MAN Kandangan, yang masih aktif melakukan studinya di MAN
Kandangan. Data ini berisi pernyataan terhadap pengaruh metode reward
(ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits dan mengetahui sejauhmana pendapat responden
mengenai reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits. Dengan kuesioner responden
hanya menjawab pertanyaan yang sudah tersedia jawabannya dengan
memberi tanda cek ().
2. Sampel Penelitian
Dalam setiap penelitian memerlukan sejumlah orang yang harus
diteliti, atau keseluruhan populasi, namun apabila populasi terlampau besar,
maka dapat diambil sejumlah sampel yang mewakili keseluruhan populasi
itu.
Sampel adalah sebagian dari populasi disebut sampel, sampel adalah
sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi, juga sampel harus
mempunyai paling sedikit satu sifat yang sama.
81



80
Tulus Winarsunu, Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan (Malang: UMM
Press, 2004), hlm. 12

81
Sutrisno Hadi, Metodologi Research I (Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hlm. 70


86
86
Sehubungan dengan populasi yang terdiri dari beberapa kelompok
yang mempunyai kelompok bertingkat atau adanya strata (lapis-lapis). Di
sekolah misalnya adanya beberapa kelas yaitu kelas satu, dua, dan tiga,
dengan tingkat semester, maka peneliti menggunakan jenis sampel
“stratified sample”.
Pengambilan sampel yang dilakukan peneliti adalah sampel random
atau sampel acak, sampling ini diberi nama demikian karena dalam
pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam
populasi sehingga semua subjek dianggap sama.
Adapun populasi yang seharusnya menjadi objek penelitian adalah
meliputi seluruh guru, guru pembimbing dan seluruh siswa. Akan tetapi
karena keterbatasan waktu, biaya dan sebagainya, maka peneliti hanya
mengambil sebagian guru dan sebagian siswa sebagai sampel dengan
prosentase 15% atas dasar pertimbangan pendapat Suharsimi Arikunto,
yaitu;
“ Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100,
lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian
populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-
15% atau 20-25% atau lebih”
82


Pengambilan sampel secara random (tidak pandang bulu) yaitu cara
pengambilan elemen-elemen dari populasi sedemikian sehingga setiap
anggota elemen mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi


82
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 112


87
87
anggota sampel.
83
Jadi tidak pilih kasih atau obyektif. Prosedur
pengambilannya dengan cara undian.
Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah siswa MAN
Kandangan yang masih melakukan studinya di MAN Kandangan pada saat
penelitian berlangsung. Selanjutnya peneliti dalam penelitian ini cara yang
dipakai oleh peneliti adalah cara undian jadi yang terpilih adalah kelas X,
peneliti mengambil 15% dari jumlah siswa kelas X. Keseluruhan dari
populasi adalah 272 siswa, maka 15%nya adalah 40,8 siswa. Jadi
pengambilan sampelnya adalah dengan di undi jadi kelas X1 6 siswa, kelas
X2 5 siswa, kelas X3 5 siswa, X4 5 siswa, X5 6 siswa, kelas X6 7 siswa, dan
kelas X7 6siswa, sehingga jumlah keseluruhan adalah 40 siswa.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpulan data dapat menentukan kualitas suatu
penelitian. Data yang diperoleh dengan instrumen yang tidak sesuai dengan
masalah yang diteliti dapat menyebabkan mutu penelitiannya diragukan.
Pada penelitian ini, instrumen penelitiannya menggunakan angket.
Angket yang disusun berupa angket tertutup, angket yang berisi pertanyaan-
pertanyaan disertai dengan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di
dalam angket sudah memuat semua variabel.
Dalam penelitian ini instrumen yang dipilih oleh peneliti adalah,
dokumentasi, angket dan observasi.


83
Marzuki, Metodologi Riset Panduan Penelitian Bidang Bisnis dan Sosial (Yogyakarta:
Ekonisia, 2005), hlm. 51


88
88
1. Instrumen untuk metode dokumentasi adalah arsip, grafik, buku-buku,
peraturan-peraturan, catatan-catatan harian dan sebagainya. Melalui
metode ini data yang akan diperoleh antara lain:
a. Sejarah berdirinya MAN Kandangan Kediri
b. Data keadaan guru dan pegawai
c. Data siswa
d. Stuktur organisasi Madrasah Aliyah Negeri Kandangan Kediri
2. Instrumen untuk metode angket adalah blangko angket. Angket ini
diberikan kepada siswa, adapun yang ingin diketahui dengan metode ini
adalah:
a. Pengaruh metode reward (ganjaran) bagi siswa
b. Pengaruh metode punishment (hukuman) bagi siswa
c. Motivasi belajar siswa
3. Instrumen untuk metode observasi adalah berupa chek list. Metode ini
dipergunakan untuk mendapat data tentang:
a. Letak geografis
b. Sarana dan prasana Madrasah Aliyah Negeri Kandangan Kediri

F. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, ada beberapa metode yang peneliti gunakan
sehubungan dengan penelitian ini yaitu:
a) Metode Dokumentasi


89
89
Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya ‘Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek’;
“Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-
barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya”
84


Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh: data tentang
sejarah berdirinya lembaga yang diteliti, latar belakang objek penelitian,
jumlah siswa, data keadaan guru, keadaan siswa, serta karyawan di MAN
Kandangan dan beberapa data lainnya yang menunjang dalam penelitian
ini.
b) Metode Angket
Kuesioner atau angket adalah teknik pengumpulan data melalui
formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
untuk mendapat jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan
oleh peneliti.
Angket yaitu cara pengumpulan data berbentuk pengajuan
pertanyaan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan yang sudah
dipersiapkan sebelumnya.
85

Menurut Sanapiah Faizal, metode angket adalah:
“Metode angket adalah metode pengumpulan data melalui daftar
pertanyaan tertulis yang disusun dan disebarkan untuk mendapatkan
informasi atau keterangan dari sumber data yang berupa orang atau
responden”
86




84
Suharsimi Arikunto, op.cit., hlm.135

85
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta: RajaGrafindo, 2003), hlm. 27

86
Sanapiah Faizal, Dasar-dasar dan Teknik Menyusun Angket (Surabaya: Usaha Nasional,
1991), hlm. 2


90
90
Metode ini digunakan peneliti untuk mencari data tentang pendapat
siswa terhadap pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar yang telah ditawarkan
dalam kuesioner.
Skor yang digunakan dalam penyusunan skala pengaruh metode
reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan
motivasi belajar, ini menggunakan skala Likert. Berikut tabel skor skala
likert pada item favourable dan unfavourable.
TABEL 3.1
SKOR SKALA LIKERT

SKOR
JAWABAN
Favourable Unfavourable
Sangat Setuju (SS) 4 1
Setuju (S) 3 2
Tidak Setuju (TS) 2 3
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 4
Sumber Data: Angket

Pernyataan favourable (F) merupakan pernyataan yang berisi hal-hal
yang positif mengenai obyek sikap. Pernyataan unfavourable (UF)
merupakan pernyataan yang berisi hal-hal yang negatif yakni tidak
mendukung atau kontra terhadap obyek sikap yang hendak diungkap
87
.
Berikut blue print angket metode reward dan punishment terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di uji cobakan kepada 40
responden:




87
Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004 ), hlm. 98


91
91


TABEL 3.2
BLUE PRINT SKALA METODE REWARD DAN PUNISHMENT
TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR QUR’AN-
HADITS

Item Jml
Variabel

Aspek

Indikator

F UF
Reward - Pujian -Verbal 1,2 5, 6 4
-Non-verbal 3,4 7,8 4
- Penghormatan -Penobatan 9 11 2
-Pemberian kesempatan 10 12 2
- Hadiah -Berupa barang 13, 14 15,
16
4
- Tanda
Penghargaan
-Berupa simbol 17 18 2
Punishment -Preventif -Tata tertib 19 24 2
-Anjuran dan perintah 20 25 2
-Larangan 21 26 2
-Paksaan 22 27 2
-Disiplin 23 28 2
-Represif -Pemberitahuan 29 34 2
-Teguran 30 35 2
-Peringatan 31 36 2
-Hukuman 32 37 2
-Ganjaran 33 38 2
Motivasi -Intrinsik -Hasrat dan keinginan
untuk berhasil
39 42 2
-Dorongan kebutuhan
untuk belajar
40 43 2
-Harapan akan cita-cita 41 44 2
-Ekstrinsik -Adanya Ganjaran 45 48 2
-Adanya Hukuman 46 49 2
-Adanya Kompetisi 47 50 2


































Jumlah item 25 25 50
Sumber Data: Angket
c) Metode Observasi


92
92
Metode observasi yang juga disebut sebagai pengamatan, meliputi
kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan
seluruh alat indra.
88
Metode ini digunakan memperoleh data tentang letak
geografis dan sarana prasarana di MAN Kandangan.

G. Analisis Data
Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan rumus-
rumus statistika untuk menganalisa data penelitian yang diperoleh di lapangan.
Penggunaan statistika tersebut digunakan baik untuk uji instrumen maupun
analisa data penelitian. Berikut penjelasan mengenai metode analisa data yang
digunakan dalam penelitian ini. Penjelasan mengenai hal tersebut diawali dari
metode uji validitas dan reliabilitas instrumen, hasil uji validitas dan
reliabilitas instrument, kemudian dilanjutkan dengan teknik analisa data hasil
penelitian

1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.
89
Dikatakan valid apabila
mampu mengukur apa yang hendak diukur. Untuk mengetahui validitas
angket pada skala metode reward dan punishment terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits, dalam penelitian ini maka peneliti
menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson.


88
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), hlm. 133

89
Ibid., hlm. 144


93
93


Adapun rumus korelasi product moment tersebut yakni:
r
xy
=
( )( )
( ) { } ( ) { }


− −

2 2 2 2
Y Y N X X N
Y X XY N


Keterangan:
xy
r = Koefisien korelasi
N = Jumlah responden
X = Variabel yang pertama
Y = Variabel yang kedua

Reliabilitas adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan
bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya sebagai alat pengumpul
data. Uji reliabilitas ini dengan menggunakan rumus alpha chronbach.
Adapun rumusnya sebagai berikut:
r
11
= k 1-

σ
2
b

(k-1)
2
1
σ

Keterangan:
11
r = Reliabelitas instrumen
k = Banyaknya butir pertanyaan
σ
2
b
x = Jumlah varians butir pertanyaan
σy
2
= Varians total

Untuk mendapatkan nilai varians rumusnya:
σ
2
=

2
X - ( )

x
2

N
N



94
94
Pedoman nilai minimal reliabilitas untuk jumlah butir kuesioner
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus alpha cronbach
dengan nilai reliabilitas minimal 0,6.
2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Uji validitas dan reliabilitas angket dalam penelitian ini
menggunakan jasa SPSS versi 10.00. Uji validitas atau kesahihan item
instrumen dalam penelitian ini menghasilkan item valid dan gugur dengan
kriteria validitas 0.2 maka dikatakan valid. Berikut daftar item yang
valid dan gugur dalam uji coba instrumen.
TABEL 3.3
HASIL UJI VALIDITAS SKALA METODE REWARD DAN
PUNISHMENT TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI
BELAJAR QUR’AN-HADITS

ITEM
NO ASPEK
Valid Gugur
1 Reward
1,2,4,8,9,10,11,13,14,
15,16,17,18
12
2 Punishment
19,20,21,22,23,24,25,27
28,30,32,34,35,36,37,38
26,29,31,33
3 Motivasi
39,41,42,43,44,45,45,46
47,48,49,50
40
44 6
Jumlah
50
Sumber Data: Hasil Uji Validitas dengan SPSS

Berdasarkan tabel di atas maka hasil uji validitas skala metode
reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits yang di uji cobakan pada 40 responden
yang semula 50 item menjadi 44 item yang valid, karena 6 item lainnya
gugur, sehingga tidak dapat dijadikan item instrumen penelitian.


95
95
Adapun uji reliabilitas yakni derajat kepercayaan yang diperoleh
dari hasil angket sebagai metode pengumpulan data yakni menggunakan
kriteria 0.6 maka disebut reliabel. Berdasarkan penghitungan dengan
rumus alpha cronbach, skala metode reward (ganjaran) ini memiliki
derajat reliabilitas sebesar 0,824. Sedangkan skala punishment (hukuman)
memiliki derajat reliabilitas sebesar 0,810, dan motivasi memiliki derajat
reliabilitas sebesar 0,781. Hal ini berarti instrumen yang digunakan
peneliti dalam mengumpulkan data cukup dapat dipercaya sebagai alat
pengumpulan data (0,824 0.6, 0,810 0,6, dan 0,781 0.6). Dengan
demikian data hasil penelitian yang didapat memiliki obyektifitas yang
tinggi. Adapun mengenai output hasil analisa SPSS dapat di lihat
sebagaimana terlampir.





















96
96
BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. LATAR BELAKANG OBJEK
1. Sejarah Berdirinya MAN Kandangan Kediri
Dari dokumentasi yang penulis peroleh, berikut ini pemaparan tentang
latar belakang berdirinya MAN Kandangan Kediri
90
.
Madrasah Aliyah Kandangan berdiri tahun 1981 atas prakarsa tokoh
masyarakat dan tokoh agama di kecamatan Kandangan dan sekitarnya yang
diantaranya :
Bapak Muhary Ridwan L. Ph.
Bapak Fauzan Said, A. Md.
Bapak Munir
Bapak H. Kholil Ridwan
Ibu Hj. Maslihah, BA.
Dan tokoh-tokoh lainnya
Lokasi di Bobosan desa Kemiri dan diberi nama Madrasah Aliyah
Islakhiyah Bobosan. Dalam perkembangannya pada tahun 1984 Madrasah
Aliyah Islakhiyah statusnya meningkat menjadi Filial MAN Puwoasri.
Dan tahun 1987 proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, namun
sepeninggal bapak Muhary Ridwan L. Ph sebagai salah satu pendiri, ternyata
pada tahun 1989 perkembangannya mengalami penurunan, demi


90
Dokumentasi MAN Kandangan Kediri


97
97
perkembangan pada tahun 1990 dewan guru dan tokoh masyarakat termasuk
pendirinya yang masih ada sepakat untuk dipindahkan tempatnya di tengah
kota, menempati gedung SMP Diponegoro yaitu di Jalan Jombang Kandangan
dan proses belajar mengajar sore hari. Mengingat perkembangan jumlah siswa
selalu meningkat dan di gedung SMP Diponegoro tidak mencukupi, pada
tahun 1994 MAN Filial Purwoasri di Kandangan pindah menempati gedung
SMP Islam yayasan Walisongo di Gedangan Kandangan yang proses belajar
mengajarnya masuk pagi.
Pada tahun 1997 dari MAN Filial Purwoasri di Kandangan dinegerikan
oleh Menteri Agama menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kandangan
Kabupaten Kediri dengan SK. Nomor: 107 tanggal 17 Maret 1997.
Sejak dinegerikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kandangan semakin
meningkat perkembangan jumlah siswanya, sehingga gedung yang ada tidak
mencukupi, maka sebagian siswa ditempatkan di SMA Muhammadiyah
Kandangan dan di gedung Darul Aitam Pengkol Kandangan.
Pada tahun 1998 MAN Kandangan sudah dapat membeli tanah dan
tahun 1999 membangun 4 ruang di desa Kasreman Jalan Jombang Kandangan
sehingga siswa yang menempati gedung SMA Muhammadiyah Kandangan di
pindah ke gedung baru.
Dengan usaha yang keras dari pengurus BP3, dewan guru dan
masyarakat dengan pimpinan kepala MAN Kandangan bapak Drs. H. Djamil
Aly, Alhamdulillah pada tahun 2001 sudah dapat membangun gedung 10


98
98
lokal, sehingga semua bisa menempati lokasi gedung MAN Kandangan di
desa Kasreman Jalan Jombang Kandangan.
Dengan meningkatkan penerapan kedisiplinan dan pelayanan terhadap
siswa sehingga sampai tahun 2003 ini MAN Kandangan sudah dapat
membangun ±28 ruang yang 17 ruang digunakan untuk kegiatan belajar
mengajar.

2. Letak Geografis MAN Kandangan Kediri
MAN Kandangan Kediri ini berada di jalan Jombang Kandangan, yang
mana sekolah ini menghadap ke Barat yaitu tepatnya di sebelah Timur jalan
raya. Letak sekolah ini sangat strategis yaitu dapat dijangkau oleh siswa
dengan mudah, karena terdapat banyak angkutan umum yang melewati jalan
ini, sehingga siswa tidak takut terlambat kalau pergi ke sekolah. Ini dapat di
lihat pada lampiran.

3. Keadaan Guru MAN Kandangan Kediri
Keadaan guru di sekolah sangat menunjang dalam proses belajar
mengajar. Oleh karena itu di MAN Kandangan Kediri ini Guru sangat
diperhatikan. Adapun keadaan Guru di MAN Kandangan Kediri ini dapat di
lihat dalam tabel di bawah ini.





99
99
TABEL. 4.1
KEADAAN GURU MAN KANDANGAN KEDIRI

Peg.
Negeri
Pegawai
Tidak
Tetap
Pendidikan
N
o
Jenis
L P L P
Jml
SLTA
Sarmud/
D3
S1 S2
Jml
1
2
3
4
5
6

7
Guru
BP
TU
Pustakawan
Laboran
Tukang
Kebun
Satpam
9
-
1
-
-
-

-
6
-
-
-
-
-

-
17
-
4
1
-
1

1
15
1
1
-
-
-

-
47
1
6
1
-
1

1
-
-
3
-
-
1

1
2
-
-
-
-
-

-
37
1
3
1
-
-

-
8

-
-
-
-

-
47
1
6
1
-
1

1
Jumlah 10 6 24 17 57 5 2 42 8 57
Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri
Tingkat kemampuan Akademik Tenaga Kependidikan
Dari jumlah guru 47 orang 97 % berkelayakan, dalam arti 43 orang
mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan kesarjanaannya, dari jumlah
tersebut terdiri :
Guru Tetap (Negeri) : 15 orang
Guru Tidak Tetap : 32 orang
Tenaga perpustakaan 1 orang, (pernah mengikuti pelatihan)
Tenaga Laboran belum ada, (belum berkelayakan)
Tenaga BP 1 orang.
Untuk lebih jelas mengenai keadaan guru dapat di lihat pada lampiran.





100
100
4. Keadaan Siswa MAN Kandangan Kediri
Keadaaan siswa di MAN Kandangan Kediri memang benar-benar
menjadi sekolah favorit, karena siswanya banyak yang berprestasi baik di
bidang studinya maupun di bidang seni dan olah raga. Hal itu dapat dilihat
dari penghargaan-penghargaan dan piala-piala yang berada di samping ruang
kepala sekolah.
Dengan bertambahnya waktu, keadaan siswa MAN Kandangan Kediri
ini beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan.
Adapun jumlah keseluruhan siswa-siswi MAN Kandangan Kediri
dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
TABEL. 4.2
DATA SISWA MAN KANDANGAN KAB. KEDIRI
TAHUN PELAJARAN 2006/2007

Kelas X Kelas XI Kelas XII Total
N
o
Rom
bel
Jml
siswa
Rom
bel
BHS IPA IPS
Rom
bel
BHS IPA IPS
Rom
bel
Jml
siswa

1

7


272

5


40

33

92

5

44

44

77

17

602
Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri
Keadaan siswa dapat dilihat perkembangannya sejak didirikan tahun
1981 sampai dengan saat ini seperti tabel di bawah ini :
TABEL. 4.3
DATA KEADAAN SISWA SEJAK BERDIRI SAMPAI SEKARANG

No
Tahun Pelajaran Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah Ket
1
2
3
4
1981-1982
1982-1983
1983-1984
1984-1985
25
30
40
55
-
25
30
40
-
-
25
30
25
55
95
125
MAS


MAN
FILIAL


101
101
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
1985-1986
1986-1987
1987-1988
1988-1989
1989-1990
1990-1991
1991-1992
1992-1993
1993-1994
1994-1995
1995-1996
1996-1997
1997-1998
1998-1999
1999-2000
2000-2001
2001-2002
2002-2003
2003-2004
2004-2005
2005-2006
2006-2007
55
50
46
26
31
6
53
34
72
45
52
48
83
94
125
135
129
161
180
180
170
272
50
49
40
39
29
19
26
51
42
68
43
47
51
80
72
109
107
112
137
137
165
165
35
35
46
40
36
24
32
26
50
42
68
43
50
48
71
69
110
106
119
132
129
165
140
134
133
93
96
49
101
111
164
155
163
138
184
222
268
313
346
379
436
449
464
602
PUR
WO
ASRI












MAN





Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

5. a. Keadaan Fisik
Keadaan fisik terdiri dari tanah, gedung perabot/inventaris, keadaan
guru dan tenaga kependidikan lainnya, keadaan siswa.
1) Tanah
Luas keseluruhan MAN Kandangan 10.500 m
2

TABEL. 4.4
LUAS MAN KANDANGAN

Pengadaan
Tahun
Luas Harga
Sumber
dana
Ket
1998

2002

4000 m
2

2500 m
2

40.000.000

187.500.000

BP3

APBN

Sertifikat dalam
proses
Sudah
bersertifikat


102
102
2004 4000 m
2
360.000.000 APBN

Sudah
bersertifikat
Sumber Data: Dokumentasi MAN Kandangan Kediri

2) Gedung
Gedung yang telah dibangun MAN Kandangan sampai saat ini
mencapai ± 28 ruang.
b. Keadaan Non Fisik
Keadaan Non Fisik dapat dikategorikan antara lain kurikulum yang
diterapkan, proses belajar mengajar, kegiatan ekstra kurikuler, tingkat
kemampuan akademik, tenaga kependidikan dan tingkat kemampuan siswa.
1) Kurikulum
Madrasah Aliyah Negeri Kandangan memiliki 3 program/jurusan
untuk memenuhi minat dan kebutuhan siswa dalam menuntut ilmu,
yaitu Program BAHASA, Program IPA dan Program IPS. Untuk
Jurusan BAHASA, yang diajarkan antara lain Bahasa Inggris, Bahasa
Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Indonesia. Kurikulum yang dilaksanakan
MAN Kandangan adalah kurikulum 2006 tetapi dalam pelaksanaannya
ada perubahan-perubahan dalam alokasi waktu.
2) Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar pagi hari mulai jam 06.45 – 14.50 (full
day) untuk hari Senin sampai dengan hari Rabu, Jum’at 06.45 – 11.00.
Sedang hari Kamis dan Sabtu Jam 06.45–13.30 WIB.


103
103
Strategi belajar mengajar yang diterapkan menggunakan metode
ceramah, diskusi, tanya jawab dan tugas lainnya.
Proses belajar mengajar belum menggunakan media pembelajaran
yang lengkap masih menggunakan buku yang ditunjang perpustakaan
dan laboratorium IPA yang masih sederhana, laboratorium bahasa
sudah ada tetapi belum mencukupi jumlah siswa .
3) Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan Ekstrakurikuler yang dilaksanakan antara lain :
• Olah raga : Voli ball, sepak bola, Basket, Tenis Meja,
Bela diri, atletik, Bulu Tangkis
• Seni : Teater, MTQ, kaligrafi, Seni Baca Al- Qur’an,
Rebana
• Majalah dinding : Pelatihan jurnalistik
• Kepramukaan
• P M R (Palang Merah Remaja)
• K I R (Karya Ilmiah Remaja)
• Cetak Sablon
• Elektronika
6. Visi, Misi, dan Tujuan
VISI
Visi MAN Kandangan adalah sebagai berikut :
“ Terwujudnya Madrasah Berkualitas dan Menjadi Wahana Berprestasi “


104
104
Dari Visi tersebut di atas ada dua hal pokok yang menjadi perhatian yaitu :
1. Madrasah yang berkualitas
2. Menjadi wahana berprestasi
1. Madrasah yang berkualitas
Madrasah yang ingin diwujudkan oleh MAN Kandangan adalah
Madrasah yang berkualitas yaitu :
a. Yang mempunyai nilai-nilai keagamaan dan keilmuan, nilai output
dan outcame dalam masyarakat dan nilai budaya dan miniatur
masyarakat.
b. Madrasah yang dapat mencetak manusia yang terkait didalamnya
baik guru, tenaga pendidikan lainnya maupun siswa menjadi manusia
yang mempunyai:
1) Keimanan dan ketaqwaan yang tinggi
2) Akhlaqul karimah dan kepribadian yang mantap
3) Wawasan keilmuan yang tinggi dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi
4) Wawasan keterampilan hidup dan kemandirian
5) Wawasan kebangsaan sehingga bisa hidup bersama masyarakat
2. Menjadi Wahana Berprestasi
MAN Kandangan menginginkan madrasah ini menjadi :
a. Tempat menempa diri menuju prestasi
b. Tempat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bakat dan minatnya
menuju prestasi


105
105
c. Tempat untuk berlomba prestasi
Yang dimaksud prestasi dalam semua bidang, baik keagamaan,
keilmuan, keterampilan, Olah raga, seni dan lain-lainnya
MISI
Dari visi tersebut di atas, misi yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Mencukupi sarana dan prasarana yang mendukung KBM dan kegiatan
ekstra kurikuler
2. Meningkatkan profesionalisme semua tenaga kependidikan
3. Menerapkan managemen yang transparan dan meningkatkan pelayanan
yang baik
4. Menciptakan lingkungan yang tertib, disiplin, bersih, nyaman dan Islami
5. Mengembangkan PBM yang efektif, inovatif dan demokratis
6. Menumbuhkan kemandirian siswa dengan program keterampilan
7. Melaksanakan bording school dan full day school

TUJUAN
1. Memiliki gedung, perabot/mebelair, peralatan dan sumber belajar yang
cukup untuk mendukung KBM dan kegiatan ekstra kurikuler
2. Memiliki jumlah tenaga kependidikan yang cukup, profesional dan
berdedikasi tinggi.
3. Memiliki akuntabilitas dalam semua bidang khususnya bidang keuangan
dan pelayanan.
4. Terciptanya lingkungan yang tertib, disiplin, bersih, nyaman dan islami


106
106
5. Mempunyai lulusan yang hasil nilainya tinggi dan dapat meneruskan
pendidikannya ke Perguruan Tinggi.
6. Mempunyai lulusan yang mandiri dan life skill yang tinggi
7. Mempunyai group/klub olah raga, kesenian, KIR yang mampu menjuarai
setiap perlombaan

7. Tata Tertib Murid MAN Kandangan Kabupaten Kediri
Dalam setiap sekolah tentu mempunyai tata tertib untuk mendisplinkan
siswanya, berikut ini adalah tata tertib yang berlaku di MAN Kandangan
Kediri:
a. Kewajiban Murid
1. Semua murid harus hadir di sekolah selambat-lambatnya 5 menit
sebelum pelajaran dimulai
2. Siswa yang datang terlambat harus lapor/ minta izin kepada kepala
sekolah/ guru piket sebelum masuk sekolah
3. Murid yang absen pada waktu masuk kembali harus melapor kepada
kepala sekolah/ guru piket dengan membawa surat yang diperlukan
(surat dokter, dan atau surat wali murid)
4. Taat dan hormat kepada kepala sekolah, semua guru dan TU serta saling
menghargai pada sesama murid
5. Ikut bertanggung jawab atas kebersihan, keamanan dan ketertiban kelas
dan sekolah pada umumnya


107
107
6. Membantu kelancaran pelajaran baik dikelasnya maupun sekolah pada
umumnya
7. Membayar uang BP3 selambat-lambatnya tanggal 10 pada setiap bulan
yang bersangkutan
8. Melengkapi diri dengan keperluan-keperluan dan perlatan-peralatan
sekolah
9. Murid yang membawa kendaraan agar menempatkannya di tempat yang
telah ditentukan dalam keadaan terkunci
10. Setiap murid wajib memakai seragam sekolah lengkap sesuai dengan
ketentuan sekolah
11. Rambut, kuku agar dipotong rapi, bersih dan terpelihara
12. Pada waktu olah raga berpakaian sesuai dengan ketentuan sekolah
13. Menjaga nama baik sekolah, guru dan pelajaran pada umumnya, baik
di dalam maupun di luar sekolah
14. Ikut membantu agar tata tertib sekolah dapat berjalan dan ditaati
b. Larangan Murid
1. Meningggalkan sekolah sebelum jam pelajaran berlangsung, kecuali
dengan izin kepala sekolah/ guru piket
2. Membeli, mengedarkan, mengkonsumsi segala jenis narkoba dan
minuman keras baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah
3. Menerima surat-surat atau tamu di sekolah
4. Memakai perhiasan yang berlebihan serta berdandan yang tidak sesuai
dengan kepribadian muslim/ muslimah


108
108
5. Merokok di dalam maupun di luar sekolah
6. Mengganggu jalannya pelajaran baik terhadap kelasnya maupun
terhadap kelas lain
7. Berkelahi dan main hakim sendiri jika menemui persoalan antar teman
8. Mencoret-coret yang bukan tempatnya di lingkungan dan luar sekolah
9. Masuk kantor kecuali bila ada keperluan
c. Lain-lain
1. Setiap pelanggaran akan mendapat sanksi/ hukuman
2. Sanksi/ hukuman dapat berupa:
• Teguran secara lisan/ tertulis
• Tidak boleh masuk kelas/ mengikuti pelajaran
• Peringatan Skorsing dalam waktu tertentu
• Dikeluarkan/ dipindahkan dengan hormat
• Dikeluarkan dengan tidak hormat
• Sanksi-sanksi lain bersifat edukatif
3. Hal-hal yang belum dicantumkan dalam peraturan tata tertib ini akan
diatur oleh sekolah
4. Peraturan tata tertib ini berlaku sejak diumumkan

B. Deskripsi Data
Paparan data dalam penelitian ini terbagi menjadi data responden dan
data deskripsi hasil penelitian terhadap kedua variabel dalam penelitian ini
yakni variabel reward (ganjaran) dan punishment (hukuman). Data responden


109
109
memuat identitas responden yang disebarkan kepada 40 siswa sebagai sampel
penelitian. Sedangkan data deskripsi hasil penelitian merupakan data yang
memaparkan secara singkat hasil penelitian yang menjawab rumusan masalah
ke satu dan kedua pada kedua variabel penelitian.
1. Data Responden
Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini diambil
berdasarkan teknik stratified sampling, sehubungan dengan populasi yang
terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai kelompok bertingkat atau
adanya strata (lapis-lapis). Di sekolah dengan adanya beberapa kelas yaitu
kelas satu, dua, dan tiga, dengan tingkat semester merupakan alasan
menggunakan teknik stratified sampling.
Pengambilan sampel yang dilakukan peneliti adalah sampel
random atau sampel acak, sampling ini diberi nama demikian karena
dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di
dalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama.
Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah siswa MAN
Kandangan yang masih melakukan studinya di MAN Kandangan pada saat
penelitian berlangsung. Selanjutnya peneliti dalam penelitian ini cara yang
dipakai oleh peneliti adalah cara undian jadi yang terpilih adalah kelas X,
peneliti mengambil 15% dari jumlah siswa kelas X. Keseluruhan dari
populasi adalah 272 siswa, maka 15%nya adalah 40,8 siswa. Jadi
pengambilan sampelnya adalah dengan di undi jadi kelas X1 6 siswa, kelas
X2 5 siswa, kelas X3 5 siswa, X4 5 siswa, X5 6 siswa, kelas X6 7 siswa,
dan kelas X7 6siswa, sehingga jumlah keseluruhan adalah 40 siswa.


110
110
2. Data Deskripsi Hasil Penelitian
Paparan hasil penelitian ini menjawab rumusan masalah kesatu dan
kedua yang diajukan pada bab pertama, sekaligus memenuhi tujuan dari
penelitian asosiatif ini. Paparan hasil penelitian ini berdasarkan analisa
data dengan menggunakan SPSS versi 10.00 dengan menggunakan
statistik deskriptif. Berikut peneliti sajikan hasil penelitian tersebut.

a. Pengujian Hipotesis
Sub bab ini menjawab rangkaian rumusan masalah yang ketiga
dalam penelitian yakni “Apakah ada pengaruh metode reward dan
punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri?”
Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti
menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan jasa
SPSS versi 10.00. Adapun hipotesis penelitian ini adalah “Terdapat
pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri”. Berikut tabel hasil
pengujian hipotesis dengan regresi linier yang dimaksud.
TABEL 4.5
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of The
estimate
F Sig
0.671 0.450 0.420 3.29 15.126 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS


111
111
Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel pengaruh metode
reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-
Hadits di MAN Kandangan Kediri, menggunakan angka R Square atau
angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien
determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai
koefisien determinasinya adalah 0,420 atau sama dengan 42% (rumus
menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% = 0,420 x
100% = 42%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat
pengaruh metode reward dan punishment terhadap peningkatan motivasi
belajar Qur’an-Hadits dengan pengaruh sebesar 42% sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun output hasil analisa SPSS
dapat dilihat sebagaimana terlampir.

b. Deskripsi Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits
Sub bab ini mendeskripsikan metode reward (ganjaran)
terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri.
Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti
menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan
jasa SPSS versi 10.00. Adapun yang akan di uji dalam rumusan
masalah penelitian ini adalah “Terdapat pengaruh metode reward
(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di


112
112
MAN Kandangan Kediri”. Berikut tabel hasil pengujian dengan regresi
linier yang dimaksud.
TABEL 4.6
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of The
estimate
F Sig
0.532 0.283 0.264 3.17 15.011 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS
Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel reward
(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri yakni menggunakan angka R Square atau
angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien
determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai
koefisien determinasinya adalah 0,264 atau sama dengan 26,4%
(rumus menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% =
0,264 x 100% = 26,4%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
terdapat pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits dengan pengaruh sebesar 26,4%
sedangkan sisanya dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun output
hasil analisa SPSS dapat dilihat sebagaimana terlampir.






113
113
c. Deskripsi Pengaruh Metode Punishment (Hukuman) terhadap
Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits
Sub bab ini mendeskripsikan metode punishment (hukuman)
terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri.
Untuk mengetahui adanya pengaruh tersebut, maka peneliti
menggunakan rumus regresi linier sederhana dengan menggunakan
jasa SPSS versi 10.00. Adapun yang akan di uji dalam rumusan
masalah penelitian ini adalah “Terdapat pengaruh metode punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri”. Berikut tabel hasil pengujian dengan regresi
linier yang dimaksud.
TABEL 4.7
HASIL UJI REGRESI LINIER SEDERHANA

R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error
of The
estimate
F Sig
0.626 0.392 0.376 3.14 24.481 0.000
Sumber Data: Hasil Uji Regresi dengan SPSS

Untuk menghitung besarnya pengaruh variabel punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri yakni menggunakan angka R Square atau
angka korelasi yang dikuadratkan, yang disebut juga sebagai koefisien
determinasi. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai
koefisien determinasinya adalah 0,376 atau sama dengan 37,6%


114
114
(rumus menghitung koefisien determinasi adalah R Square x 100% =
0,376 x 100% =37,6%). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
terdapat pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits dengan pengaruh sebesar
37,6% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Adapun
output hasil analisa SPSS dapat dilihat sebagaimana terlampir.



































115
115
BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) dan Punishment (Hukuman)
terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri
Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan represif yang
menyenangkan, reward (ganjaran) juga dapat menjadi pendorong atau
motivasi bagi siswa untuk belajar lebih tekun, lebih baik. Tidak hanya reward
(ganjaran) saja yang dapat memberi dorongan belajar bagi siswa, punishment
(hukuman) bertujuan untuk memperlancar jalannya proses pelaksanaan
pendidikan, dapat pula menjadi alat pendorong bagi siswa untuk berbuat lebih
baik, belajar lebih baik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di MAN Kandangan Kediri
membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara metode reward
(ganjaran) dan punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar
Qur’an-Hadits sebesar 42%. Atau dengan kata lain motivasi belajar Qur’an-
Hadits dipengaruhi oleh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman), sedangkan 58% dipengaruhi oleh sebab-sebab lain. Sebab-sebab
lain tersebut tidak dapat terindentifikasi secara rinci melalui proses penelitian
ini karena bukan merupakan bagian dari tujuan penelitian.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa metode reward (ganjaran)
dan punishment (hukuman) cukup berpengaruh terhadap motivasi belajar


116
116
Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri. Hal ini sesuai dengan teori tentang
reward (ganjaran), dan punishment (hukuman) dapat menjadi pendorong bagi
siswa untuk belajar lebih baik, dengan hasil penelitian tersebut dapat
disimpulkan ada kesesuaian antara teori dengan keadaan sebenarnya.

B. Pengaruh Metode Reward (Ganjaran) Terhadap Peningkatan Motivasi
Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
Reward (ganjaran) merupakan alat pendidikan yang menyenangkan,
dengan reward (ganjaran) ini diharapkan dapat mengembalikan semangat
siswa yang mulai pudar yang diakibatkan oleh suasana belajar yang
membosankan, malas, sehingga dengan reward (ganjaran) ini dapat
meningkatkan motivasi belajar Qur’an-Hadits.
Indikator yang dipakai untuk mengukur variabel reward (ganjaran)
adalah pujian, penghormatan, hadiah, dan tanda penghargaan. Dengan kempat
indikator tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat belajar Qur’an-
Hadits.
Indikator mengenai pujian dimaksudkan adalah untuk memberi pujian
bagi siswa yang telah mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pujian
dapat berupa kata-kata, dan isyarat. Dengan pujian tersebut diharapkan dapat
meningkatkan semangat belajar Qur’an-Hadits.
Indikator mengenai penobatan ini dapat diberikan bagi siswa yang
telah menjadi yang terbaik dalam pelajaran Qur’an-Hadits, siswa yang
menjadi yang terbaik akan di umumkan di depan teman yang lain, sehingga


117
117
dengan penobatan ini diharapkan siswa akan terus rajin belajar untuk menjadi
yang terbaik dalam pelajaran Qur’an-Hadits. Dan bagi siswa yang mampu
mengerjakan tugas Qur’an-Hadits akan mendapat kesempatan untuk
mengerjakan di depan teman yang lain, dan ini akan mampu membuat siswa
percaya diri dengan kemampuan yang dimilikinya.
Indikator tentang pemberian hadiah ini dapat berupa barang seperti
alat-alat sekolah, juga berupa uang. Dalam penelitian ini dengan adanya
hadiah diharapkan siswa bersemangat dalam mengikuti palajaran Qur’an-
Hadits.
Sedangkan indikator mengenai pemberian tanda penghargaan ini dapat
berupa sertifikat, piala, surat tanda penghargaan, ini diharapkan siswa akan
bangga dengan penghargaan ini sehingga mereka berusaha untuk memperoleh
tanda penghargaan tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab
sebelumnya, pengaruh metode reward (ganjaran) terhadap peningkatan
motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri dengan prosentase
26,4%.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh metode reward
(ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri tidak begitu berpengaruh. Ini mungkin diakibatkan oleh
faktor lain yang kurang mendukung.




118
118
C. Pengaruh Metode Punishment (Hukuman) terhadap Peningkatan
Motivasi Belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
Punishment (hukuman) merupakan alat pendidikan yang tidak
menyenangkan, tujuan dari punishment (hukuman) itu adalah untuk
memperlancar jalannya proses pelaksanaan pendidikan, dan dapat pula
menjadi alat pendorong bagi siswa untuk berbuat yang lebih baik, belajar yang
baik. Adapun yang termasuk dalam indikator punishment (hukuman) adalah
punishment (hukuman) preventif dan represif.
Punishment (hukuman) preventif bersifat mencegah, terdiri dari tata
tertib, anjuran dan perintah, larangan, paksaan, dan disiplin. Dengan adanya
punishment (hukuman) preventif diharapkan siswa tidak mengganggu
kelancaran proses belajar dalam pelajaran Qur’an-Hadits sehingga akan
tercapai tujuan yang diinginkan.
Sedangkan yang kedua yaitu punishment (hukuman) represif bertujuan
untuk menyadarkan siswa kembali kepada hal-hal yang benar, yang baik, yang
tertib. Yang termasuk didalamnya adalah pemberitahuan, teguran, peringatan,
hukuman, dan ganjaran. Dalam proses belajar mengajar sering sekali siswa
melakukan kesalahan, untuk itu guru tidak boleh langsung menghukum siswa,
namun guru harus memberi tahu hal-hal yang dapat mengganggu belajar,
mungkin siswa belum tahu tentang hal-hal yang dapat mengganggu proses
belajar, jika sudah diberi tahu tentang hal-hal yang dapat mengganggu tetapi
masih tetap melanggar, maka guru harus memberi teguran, jika masih
melanggar maka perlu diberi peringatan, yang terakhir diberikan adalah


119
119
hukuman jika memang terpaksa digunakan. Dengan diberikan punishment
(hukuman) itu diharapkan siswa terdorong untuk lebih giat belajar Qur’an-
Hadits.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab
sebelumnya, mengenai pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
dengan prosentase 37,6%. Pengkategorisasian tersebut lebih tinggi dari
variabel reward (ganjaran) dalam penelitian ini.
Hasil prosentase dari pengkategorisasian variabel metode punishment
(hukuman) ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil prosentase variabel
metode reward (ganjaran). Maka dari itu punishment (hukuman) lebih
berpengaruh dari pada metode reward (ganjaran) di MAN Kandangan Kediri.
Metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) mempunyai pengaruh
yang cukup baik dalam meningkatkan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri. Meskipun pengaruh metode punishment (hukuman)
hasilnya lebih tinggi dari metode reward (ganjaran), sebaiknya jangan terlalu
sering menggunakan punishment (hukuman) sebagai alat pendidikan yang
dapat memberi motivasi belajar Qur’an-Hadits.










120
120
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sesuai dengan rumusan masalah dan analisis data, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Adapun pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman)
terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits, berdasarkan hasil
penelitian atas uji hipotesis pengaruh metode reward (ganjaran) dan
punishment (hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits
di MAN Kandangan Kediri 42%, sedangkan sisanya yakni 58% merupakan
pengaruh dari faktor lain.
2. Reward (ganjaran) adalah alat untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat
merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa pengaruh metode
reward (ganjaran) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di
MAN Kandangan Kediri mempunyai pengaruh sebesar 26,4%.
3. Sedangkan punishment (hukuman) adalah tindakan yang dijatuhkan kepada
anak secara sadar dan disengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan
adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji
untuk tidak mengulanginya lagi. Berdasarkan hasil penelitian dapat
dikemukakan bahwa pengaruh metode punishment (hukuman) terhadap


121
121
peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN Kandangan Kediri
mempunyai pengaruh sebesar 37,6%.

B. SARAN
1. Mengingat adanya pengaruh metode reward (ganjaran) dan punishment
(hukuman) terhadap peningkatan motivasi belajar Qur’an-Hadits di MAN
Kandangan Kediri, meskipun ada faktor lain yang lebih berpengaruh, namun
metode reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) masih digunakan.
2. Meskipun punishment (hukuman) lebih berpengaruh dari pada reward
(ganjaran) terhadap peningkatan motivsi belajar Qur’an-Hadits, namun
sebaiknya punishment (hukuman) dapat digunakan kalau dalam keadaan
terpaksa saja, dan guru Qur’an-Hadits bersedia memaafkan siswa yang telah
melakukan kesalahan tanpa ada rasa dendam.
3. Para guru sering mengadakan kompetisi dalam proses belajar mengajar
karena akan memotivasi siswa untuk lebih rajin belajar.










122
122
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 1987. Pengantar Metodik Dedaktik. Bandung: Armico.
Ahmadi, Abu, dan Uhbiyati, Abu. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Al-Abrasyi, Athiyah. M. 1993. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta:
Bulan Bintang.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Agama RI. 2002. Al-Qur’an Terjemah Juz 1-30. Jakarta: Pena.
Djalal, Abdul. 2000. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu.
Echols, John. M, dan Shadily, Hasan. 1993. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:
Gramedia.

Fadjar, Malik. 2005. Holistika Pemikiran Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo.
Faizal, Sanapiah. 1991. Dasar-Dasar Dan Teknik Menulis Angket. Surabaya:
Usaha Nasional.

Hadi, Sutrisno. 1990. Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Offset.
Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar Dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
2004. Proses Belajar Mengatar. Jakarta: Bumi Aksara.
Indrakusuma, Amir Daien. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional.

Kusumal. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Marzuki. 2005. Metodologi Riset. Yogyakarta: Ekonisia.
Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media.
Mulyadi. 1991. Psikologi Pendidikan. Malang: FT. IAIN Sunan Ampel.


123
123
Pradja, Sastra. M. 1978. Kamus Istilah Pendidikan Dan Umum. Surabaya: Usaha
Nasional.

Purwanto, Ngalim. M. 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

2006. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Roestiyah, Y. 1978. Didaktik Metodik. Jakarta: Rineka Cipta.
Sardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali
Pers.

Schaefer, Charles. 1986. Bagaimana Mendidik Dan Mendisiplinkan Anak. Jakarta:
Kesain Blanc.

Shalahuddin, Mahfudh, dkk. 1987. Metodologi Pendidikan Agama. Surabaya:
Bina Ilmu.

Sudijono, Anas. 2003. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo.
Sudjana, Nana, dan Ibrahim. 1989. Penelitian Dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru.

Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Tadjab. 1994. Ilmu Jiwa Pendidikan. Surabaya: Karya Abditama.
Uno, Hamzah. B. 2007. Teori Motivasi Dan Pengukurannya Analisis Di Bidang
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Winarsunu, Tulus. 2004. Statistik Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan.
Malang: UMM Press.

2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Bandung: Citra Umbara.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->